Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Dongeng Anak-10 SAHABAT-SAHABAT ANINDIA

SAHABAT-SAHABAT ANINDIA By: Khadijah Hanif Anindia menatap heran pada sarang lebah yang dipelihara   Ayah.   Diperhatikannya satu persatu satang itu begitu rapih tanpa cacat.      Sengaja dia menuju peternakan lebah milik Ayah karena sekali lagi siang ini, ia mendapat peringatan keras dari Bunda. “Nindi, kamu ini seharusnya mau mengajari adikmu membuat istana pasir.   Kalian bisa bekerjasama untuk mendapat istana yang lebih indah dan megah.   Gara-gara kamu, Lukita terus saja menangis.   Dia ingin istana pasir sebagus punyamu.”             Anindia memang paling egois  kalau sudah bermain istana pasir.   Dia selalu ingin membuat yang terindah tidak peduli adiknya Lukita menangis ingin dibuatkan   juga.             “Selalu aku yang disalahkan.   Aku mau ngadem di kebon kopi sambil lihat sarang lebah a...

Dongeng Anak-11 INTAN DAN TONGKAT PUTRI DELIMA

INTAN DAN TONGKAT PUTRI DELIMA By: Khadijah Hanif Intan, anak bungsu dari sebuah keluarga sederhana. Perempuan satu-satunya. Ayah bundanya memberi nama ketiga anaknya dengan permata. Mereka memandang nama sebagai pemberian orang tua yang paling berharga. Dua orang kakak Intan bernama Jauhar dan Rubi. Mereka tinggal berempat, Sang Bunda sudah lama meninggalkan mereka karena sakit yang tak terobati. Meskipun Intan anak bungsu, namun ia adalah anak yang paling rajin. Setiap harinya dia paling dulu bangun dan membereskan semua. “Masakan sudah siap. Kalian tinggal makan dan berangkat menuju aktifitas masing-masing,” ucap Intan dengan riang. “Luar biasa adikku ini. Sebaiknya kau bangunkan aku lebih pagi, Intan,” pinta Rubi. “Kalau aku sendiri saja bisa menyelesaikan semua mengapa harus membangunkan Kak Rubi yang manja?” Intan menatap Rubi nyinyir. “Sudahlah kalian tak perlu berdebat. Sebaiknya kita segera berwudhu, salat Subuh dan menikmati santapan adik kita yan...

PUISI KARYA PESERTA FLP PTNA-Khanifeus Suchy Warisi (KHASWA)

#PRPENULISAN PUISI   FLP #BALASAN PUISI SABTU MALAM MENUNGGU By: Khadijah Hanif Lipatan waktu mengukir masa lalu Kusibak tirai jendela memandang temaram Kelindan rindu pada hati yang perawan Pengelana alam yang enggan tenggelam Menyenyumiku dari kejauhan gelap malam Atas kesendirianku yang tertegun dalam Sesaat angin meruyup Di balik kaca jendela mengecup Mejagakanku, ini waktu untuk para perindu Sekian kali terulang lagi Sendiri   menggigitku dalam sepi Sunyi Untuk pemilik cintaku Pada saat yang tak pernah bercerita Akankah kau mengajakku Mengukir bingkai Pada gerbang setengah tiang aku bersandar Hingga keindahan surga berpendar-pendar #PRPENULISAN PUISI   FLP #BALASAN PUISI PERTEMUAN SYAIR CALON PUJANGGA By: Khadijah Hanif Terlalu megah elastis kata tertata puitis di depan bait ajaibmu aku mati kutu Aku bukan pujangga yang lihai bermain kata merajai bahasa seelok perangkai bunga pena...