Dongeng Anak-11 INTAN DAN TONGKAT PUTRI DELIMA

INTAN DAN TONGKAT PUTRI DELIMA
By: Khadijah Hanif

Intan, anak bungsu dari sebuah keluarga sederhana. Perempuan satu-satunya. Ayah bundanya memberi nama ketiga anaknya dengan permata. Mereka memandang nama sebagai pemberian orang tua yang paling berharga. Dua orang kakak Intan bernama Jauhar dan Rubi. Mereka tinggal berempat, Sang Bunda sudah lama meninggalkan mereka karena sakit yang tak terobati.

Meskipun Intan anak bungsu, namun ia adalah anak yang paling rajin. Setiap harinya dia paling dulu bangun dan membereskan semua.

“Masakan sudah siap. Kalian tinggal makan dan berangkat menuju aktifitas masing-masing,” ucap Intan dengan riang.

“Luar biasa adikku ini. Sebaiknya kau bangunkan aku lebih pagi, Intan,” pinta Rubi.

“Kalau aku sendiri saja bisa menyelesaikan semua mengapa harus membangunkan Kak Rubi yang manja?” Intan menatap Rubi nyinyir.

“Sudahlah kalian tak perlu berdebat. Sebaiknya kita segera berwudhu, salat Subuh dan menikmati santapan adik kita yang cantik ini. OK?” tukas Jauhar meredakan huru-hara diantara kedua adiknya.

Begitulah sehari-harinya yang dilakukan Intan. Tidak terasa muncul sedikit keangkuhan dalam hatinya. Pujian yang terus diterimanya telah membuatnya lupa bahwa ia membutuhkan bantuan orang lain.

“Ayah akan mengadakan pesta dirumah ini, anak-anakku. Pesta kesyukuran atas kenaikan pangkat ayah di kerajaan. Ayah menjadi kepala taman di Istana Kerajaan Mahkota.” Ayah mengungkap maksud baiknya saat mereka menyantap makan malam bersama.

“Tenang ayah, aku akan menyiapkannya untuk ayah,” Intan selalu yang paling tanggap dan paling percaya diri.

“Anakku, ini bukan acara main-main. Kamu harus menyiapkan dekorasi panggung untuk penampilan grup Marawis dan Hadroh terkemuka negeri ini. Belum lagi makanan untuk 200 tamu undangan.” Ayah menjelaskan.

Intan tertegun sejenak ada terselip ragu atas kemampuannya menyiapkan semua.

“Aku yakin bakalan bisa,” ucap Intan jumawa. “Berapa hari lagi pesta itu akan diadakan, Ayah?”

“Empat hari dari sekarang, Intan?” jawab ayah.

“Pikir-pikir dululah Intan, aku juga nggak keberatan menyiapkan semua demi ayah.” Jauhar menukas bijak.

“Kami percaya kamu bisa, Intan. Tapi bagaimana kami tega membiarkan kamu sendiri? Lagi pula ini kerja ekstra, bukan kerja rumah sehari-hari yang biasa kamu lakukan” Kali ini Rubi memandang Intan iba. Terbayang betapa sibuknya bila semua dikerjakan sendiri oleh Intan.

“Sudahlah, Kakak-kakakku yang baik. Kalian semua punya kegiatan di luar menghidupi aku. Berikan aku kesempatan untuk merasa berguna. OK?!“ pinta Intan sungguh-sungguh.

Akhirnya mereka menyerah dengan keinginan Intan. Intan mulai mengatur semuanya. Hari pertama setelah mendapatkan tugas itu, Intan mulai merancang kerja yang akan dilakukannya, berikut mengatur keuangan.

“Hari ini aku harus belanja keperluan dapur, memesan dekor dan panggung. Memanggil juru empat juru masak handal,” gumam Intan.

Hari pertama dan kedua, Intan masih bisa bekerja dengan tenang. Namun memasuki hari ketiga, ia mulai gelisah.

“Bagaimana ini aku belum mendapatkan juru masak. Semua sedang sibuk menyiapkan pesta orang lain. Bagaimana ini?” Intan berjalan dari dapur ke kamar kemudian ke halaman begitu berulang-ulang.

Seorang utusan pemilik panggung dan dekorasi pun menyatakan ketidaksanggupannya memenuhi pesanan Intan.  “Maaf kami tidak bisa mengantarkan panggung dan bahan dekorasi. Kendaraan kami mengalami kerusakan.  Ambil saja kemari, kami akan memotong harga sebesar biaya pengiriman.”

Intan makin lunglai dengan kedatangan tamunya itu.  Tangisnya pun pecah. Mengadu pada kakaknya malu, apalagi pada ayah. Ayah akan marah. Rasa takut gagal menghantuinya. Intan tergugu di dalam kamar.


“Anakku, kelihatannya kamu sedang bersedih?” Suara lembut mengagetkan Intan dari kesedihan yang dalam. “Sttt...jangan kaget, aku bidadari yang menjelma menjadi seorang putri. Aku mendapat tugas meringankan tugasmu karena kamu anak yang gigih dan rajin.” Seorang putri berbalut gamis merah indah gemerlapan, berhijab rapi dan mahkota berkilauan bertengger di atas kepalanya.

“Oh, benarkah? Terimakasih, Putri.” Mata Intan terbelalak antara percaya dan tidak.

"Tapi ada satu syarat yang harus kamu penuhi.”

“Akan saya lakukan Putri yang cantik.”

"Panggil saja aku Putri Delima. Syarat yang harus kau penuhi, kau harus menghapuskan kesombongan dalam dirimu, bahwa kamu bisa melakukan segalanya sendiri. Sadarilah kamu membutuhkan bantuan orang lain. Juga dari kakak-kakakmu.”

“Baiklah Putri. Aku sudah merasakan sendiri akibat kecerobohanku. Sekarang tolonglah aku. Besok semuanya harus siap. Tamu undangan akan datang pagi-pagi benar.”

“Kamu cukup membayangkan apa yang kau inginkan. Ucapkan lafaz basmallah dan arahkan tongkat ini ditempat yang kau inginkan. Insya Alloh dengan kunfayakun-Nya, harapanmu akan terpenuhi. Aku akan datang lagi mengambil tongkatku bila pesta ayahmu sudah selesai.  Tapi hanya bisa menggunakan tongkat ini saat kamu sendirian.  Manfaatkan waktu sebaik mungkin, Intan.”

Putri Delima memberikan tongkat itu kemudian menghilang.

“Putri, jangan tinggalkan aku! Bagaimana ini?” Intan kebingunggan. Satu-satunya jalan, ia mengikuti pesan dari Putri Delima.

Hari makin sore, sebentar lagi kakak dan ayah akan pulang dari pekerjaannya masing-masing.  Intan memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

“Bismillah!  Panggung dengan latar pemandangan indah tepi danau.  Tinggi satu meter, kanopi 3 meter, luas 4 kali 5 meter.  Kursi dua ratus lima puluh.”  Semua yang Intan inginkan tiba-tiba terwujud sesuai yang dibayangkannya.

“Alhamdulillah, panggung, dekor berikut kursi sudah ada.  Biarlah posisinya aku atur nanti, aku lupa menyebutkan posisinya,”  gumam Intan, “Sekarang tinggal mempersiapkan hidangan.”

Intan mengarahkan tongkat Putri Delima pada makanan yang siap dimasak di dapur.  “Bismillah. Ikan bakar sambal kecap paling enak.  Acar wortel, mentimun yang lezat.  Tumis Ikan Patin bumbu kare yang sangat yummy.”  Begitu sibuknya Intan menyiapkan semua bersama tongkat Putri Delima.  Tepat saat azan Magrib hidangan sudah lengkap tersedia. 

Usai salat Maghrib, Intan tertidur di atas sajadahnya karena terlalu lelah.  Jauhar dan Rubi begitu iba melihat adik mereka yang lelap tertidur.

“Subhanallah.  Intan....Intan.....nekat sekali adik kita ini, Mas.” ungkap Rubi

“Biarkan saja dia istirahat.  Kita pindahkan saja Intan ke atas dipannya.  Biar kita yang menyelesaikan sisa persiapan pesta.”  Jauhar menukas, “Panggung harus digeser, kursi juga harus ditata.”

Mereka berdua bekerja keras petang itu hingga larut malam.  Sementara Intan masih tidur lelap.

“Intan, kamu telah membuat pesta ayah berantakan.  Tamu sudah datang, panggung belum siap!  Ktanya kamu sanggup menyiapkan semuanya.  Makanya jangan menolak bantuan kakak-kakakmu!”  Ayah marah besar dengan segala ketidakberesan itu.

“Iya...Ayah, maafkan In....In.....Intan.  Intan mengaku salah.”  Intan mengigau, keringat dingin mengucur deras.  “Aku harus memperbaiki posisi panggung. Aku harus menata kursi.  Aku harus......”  Bergegas Intan meninggalkan dipannya.  Di depan jendela kamarnya Intan tertegun.  Semua sudah tertata rapih.
Dari kejauhan, ia melihat kedua kakaknya sedang membersihkan halaman rumah dan menata kursi.

Dalam hatinya ia ber-istighfar atas kesombongannya. Ternyata dia tidak mampu melakukan segalanya sendiri. Ia membutuhkan orang lain.  Hari ini Intan banyak menimba pelajaran berharga tentang saling bantu dan bekerjasama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA