BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III
KUMPULAN
KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III
OLEH:
KHADIJAH HANIF
(Kumpulan
Antologi dari Event Nubar Area)
PTNA-SALAWU
2020-2021
DAFTAR ISI
1. NUBAR AREA
SUMATRA_ROMANSA CINTA MONYET_SUARA PENEBAR CINTA
2. NUBAR
AREA_ANTOLOGI OKTOBER_BE ABLE FROM DISABLE
3. NUBAR AREA
SUMATERA_TOKBA2_AGAR SI KECIL GEMAR BERSEDEKAH
4. NUBAR AREA_DEAR MY BESTIE_REAL
FRIEND’S LOVE
5. NUBAR AREA_ FAKSI FIKSI DONGENG ANAK_KISAH MUEZZA KUCING KESAYANGAN RASULULLAH
6. NUBAR
AREA_KIAT SEHAT HERBAL ALA RUMAHAN_AKHIRNYA TUMOR ITU TERJINAKKAN JUGA
7. NUBAR
AREA_KIAT SEHAT HERBAL ALA RUMAHAN_ANEKA HERBAL UNTUK BATUK
8. NUBAR
AREA_RINDU TERKEMBANG MENJADI DOA_INSPIRASI BUAH HATI
9. NUBAR
AREA_KISAH PARA PEJUANG NAFKAH_RAIHLAH PERMATMU
10. NUBAR
AREA_SKY IN MARCH_MERINDU DEKAPAN SENJA
11. NUBAR
AREA_DEAR MY BELOVED_LOVE MY JOB
12. NUBAR AREA_SHINE
LIKE A DIAMOND_PELABUHAN CINTA
13. NUBAR
AREA_KETIKA JIWA TERLAHIR KEMBALI_KEMBALINYA CINTA KEVIN
14. NUBAR
AREA_MENYIKAPI DRAMA_HALUSINASI
NUBAR AREA SUMATRA_ROMANSA CINTA MONYET_SUARA PENEBAR CINTA_KHADIJAH
HANIF
Belakangan ini Auliya benar-benar
tenggelam dalam kegemaran barunya, memasang telinga di radio android
barunya.
“Assalamualaikum, jumpa lagi dengan
saya Aditia Anggara, di ANR (Audience Nasyid Request) tiap Jumat sore
lepas Asar, tepatnya pukul 16.00-17.30 WIB. Para pendengar setia radio Radio
Saujana, Radio Dakwah untuk Kawula Muda (Ridakamu).” Suara merdu, jernih, empuk namun jelas itu
membuat Aulia enggan menyentuh layar
gawainya. Dibiarkan angka 105.3
terpampang di layar pendar.
“MasyaAllah, aku nggak salah
denger, nih? Mirip banget sama suaranya
Bang Maher Zain!” Auliya terbeliak, mulutnya ternganga. Dia memang terlalu gandrung dengan pemilik
suara emas andalan Awakening Record itu.
Yang membuat tingkahnya makin lucu, di hadapan teman-temannya ia selalu
menyematkan sebutan Bang untuk idolanya yang satu ini. “Aku nggak harus
menunggu event buat menikmati suara merdu Bang Zain. Cukup di Radio Saujana Ridakamu aja!” seru
Auliya girang.
Untuk momen yang mengejutkan ini,
Auliya langsung membuat vlog. Ia
mulai membuat channel baru. Channel
Youtube yang berbeda. Ia memilih Klara
Kristy Channel. Sebenarnya nama itu
lebih cocok untuk dimiliki penyanyi dangdut ketimbang seorang pelajar dengan
segudang prestasi. Tapi itulah nama yang
dipilih Auliya Mardiyati untuk berkamuflase dari orang-orang yang mengenalnya.
Auliya memang hobi ngevlog
dengan berbagai nama dan topik. Selama
ini ia lebih senang mengunggah cara penyelesaian soal atau cara membuat produk
keterampilan yang didapat dari guru prakaryanya.
Video perdana untuk channel barunya sudah siap, Auliya merekaman
suara Aditya Anggara berikut reaksi Auliya yang sarat komentar spontan dan
lincah.
Assalamualaikum, Gais! Salam
jumpa dengan aku, Klara Kristy. Ini
adalah video perdana aku yang temanya Radio Broadcast Reaction,” sapa Auliya khas style para youtuber
muda. “Aku punya berita keren buat
kalian. Baru kali ini aku nemuin
frekwensi radio di androidku yang bikin aku betah stay tune di
sana. Kalian pasti penasaran kenapa di
era serba tervisualisasi justru aku memilih media audio. “ Auliya menjelaskan dengan gamblang segala
kelebihan Radio Radio Saujana Ridakamu sebagai radio dakwah sarat konten bagus
dan mendidik. “Nih, aku bacain siaran
apa aja yang mengudara lewat pemancar 103,5 MHz itu. Ada Tips and Trik Menjadi Pelajar Berprestasi,
ada Fikih Remaja Kamu Harus Tahu, ada Ngopi-Ngobrol Perkara
Iman, Sandiwara Radio-Hidayah, dan siaran favorit Auliya Audience Nasyid
Request. Jadi Gais, kalian nggak
cuman dapet hiburan di Saujana tapi juga ilmu.
Itulah aku jadi pendengar setia Saujana sekarang. Yuk, ikuti langkahku menimba ilmu.”
Kegiatan baru Auliya yang cukup menyita waktu. Tidak terasa sudah lebih sepuluh video ia
unggah di Klara Kristy Channel.
Kemampuan komunikasi Aulia telah meraup lebih dari lima ribu subscriber
dalam satu pekan. Kemajuan yang sangat
memuaskan.
“Liya, ngapain kamu di kamar lama
banget. Bantuin Mama, Nak. Banyak pesanan, nih!” teriak Ibu Mila, mama
Auliya. Ibu Mila pandai membuat
roti. Pesanan produk buatannya sudah
sampai ke kabupaten sebelah. Kadang
kewalahan saat banyak pesanan. Meskipun
sudah ada empat pekerja di rumahnya, tetap saja bantuan Auliya dibutuhkan pada
kondisi tertentu.
Auliya yang sedang asyik membuat
video RBR-nya terhenyak. Ia tidak
kekurangan akal. Direkamnya suara dari
Radio Radio Saujana, pikirnya, video bisa ia lanjutkan setelah membantu
mamanya.
“Oke, Mama, Liya segera datang!” sahut
Liya dari dalam kamar,” Ok, Gais aku ada panggilan wajib dari mama
tersayang. Tahu nggak kenapa mama
panggil aku? Aku kasih tahu ya, mamaku
itu pembuat roti terhebat di seantero kota.
Jadi boleh dong aku sambil promo di sini. Kalau kalian mau pesan roti terenak sedunia,
hubungi mama aku.” Auliya menjeda
rekamannya setelah menyebutkan nomor wa mamanya.
“Liya, Mama lihat kamu sibuk sekali,
Nak. Mama selalu perhatikan kamu
mengunci diri di kamar tiap sore. Bikin
Mama penasaran aja kamu.” Ibu Mila
menegur buah hatinya dengan hati-hati.
Ia khawatir Liya anak semata wayangnya terbawa arus informasi global
yang sulit ditebak arahnya. Sepeninggal
suaminya Bu Mila makin protektif pada Auliya.
“Mama jangan khawatir, selama ini
Mama tahu hobi Liya,kan?”
“Iya, Sayang. Mama nggak ngelarang kamu bikin video dan
mengunggahnya di Youtube, asal yang kamu unggah membawa manfaat dan
membagi informasi yang baik.”
Berbagai nasihat bijak mengalir dari
lisan Ibu Mila. Sosok ibu yang sangat
perhatian. Auliya selalu merasa hangat
dan tenang di dekat mamanya.
***
“Anak-anak, hari ini kalian Jumatan di sekolah. Bapak mau memberikan jam tambahan setelah
Zuhur.” Pak Abbas guru Fisika
memberikan pengumuman yang tidak mengenakkan buat anak-anak, terlebih-lebih
Auliya. Ia menggaruk-garuk kepalanya
yang tak gatal, beringsut-ingsut di tempat duduknya, gelisah.
“Ngapain kamu, Liya. Aku juga
nggak pingin ada jam tambahan. Tapi aku
nggak serisau kamu. Biasanya kamu senang
dengan tambahan waktu dari guru, kan?”
Susan menatap sahabat sebangkunya itu dengan pandangan aneh.
“Aku bakalan kehilangan suara merdu Mas Angga sore ini. Kamu tahu dia on air cuma hari Jumat sore jam empat sampai
setengah enam.”
Muka Auliya memerah. Ia akan
kehilangan momen yang penuh sensasi rasa saat pesan medsosnya dibacakan penyiar
kesayangannya itu. Mereka membuat
komunitas Saujana Fans Club yang bisa merequest nasyid-nasyid atau lagu
religi ber-genre apapun di ANR.
“Gara-gara video RBR kamu aku juga suka ngedenger Anggara siaran. Aku juga demen banget ngedenger suara
seksinya.” Mata nakal Susan menunjukkan
bahwa dia tak kalah tertarik pada Anggara. “Kalau begitu aku tantang kamu,
siapa yang berhasil menjadi pendengar kesayangan Anggara.”
Auliya terdiam. Ada perasaan
tidak nyaman saat Susan mengajaknya bersaing.
Lagi pula selama ini Auliya selalu menang untuk persaingan prestasi
belajar. Tapi untuk bersaing hati,
rasanya Auliya takkan mampu mengalahkan Susan.
Gadis teman sebangkunya itu terlalu cantik dan tajir untuk
disaingi. Seorang anak pengusaha
terkenal di kota ini. Tinggi badannya
ideal dan kulitnya putih kemerahan karena rajin perawatan. Hidungnya mungil tapi tajam. Matanya bulat lengkap dengan kontak lensa yang
bisa berganti setiap saat. Secara fisik,
ia sosok gadis idaman.
“Aku nggak berani saingan sama kamu, Susan. Pasti Mas Angga bakalan milih kamu. Sudahlah kita lupakan saja idola kita
itu. Kita siap-siap salat Zuhur aja,
sebentar lagi masjid bakalan kosong.
Jumatannya udah selesai.” Auliya
mengalihkan obrolan yang tidak mengenakkan itu.
“Hmmm, baru dapat tantangan segitu aja kamu udah takut, Liya. Nggak pede banget jadi orang. Padahal aku tadinya yakin bakal kalah,
lho!” Susan tersenyum penuh kemenangan.
Mereka berjalan santai menuju masjid.
Tiba-tiba….
“Assalamualaikum, Adik-adik manis. Boleh aku bertanya?” Seseorang dengan suara yang sangat mereka
kenal menyapa. Suara yang selama ini
membuat mereka sangat ingin bertemu langsung dan berkenalan. Aditia Anggara.
“Waalaikumsalam. Kakak, Mas Angga?
Penyiar Radio Saujana?!” Auliya
melonjak kegirangan. Hampir-hampir ia
memeluk sosok di depannya. Beruntung
baju muslimah yang dipakainya menahan segala keinginan yang naif dan tidak
masuk dalam nuraninya. Ia hanya mampu
menatap wajah elok di depannya. Untuk
kemudian ia palingkan karena rasa malu yang tiba-tiba melambung dari dasar
hatinya.
Auliya mencoba menata detak jantung yang makin kencang oleh desiran hati
yang makin tak mau diajak kompromi. Benar-benar mirip Maher Zain usia dua puluhan
tahun. Bukan hanya suaranya tapi juga
wajahnya. Tiba-tiba ia ingat cerita dari
Ustaz Kamal yang mengisi siaran kajian Ngopi-Ngobrol
Perkara Iman di Saujana setiap pekan sekali, Sabtu lepas Isya. ”Di dunia ini tujuh pemirip kita dalam satu
masa.”
Sementara itu, Susan lepas kendali.
Ia mencoba memeluk Anggara tapi gagal.
Anggara berkelit dengan kembali duduk untuk memakai sepatu yang
dilepasnya saat memasuki masjid sebelum Jumatan tadi.
“Sial, sombong sekali Anggara.
Menolak gadis secantik dan setajir aku.
Dia bakal menyesal kalau tahu siapa aku.” Susan membatin kesal.
“Mas Angga ngapain jauh-jauh dari Jogja ke kota kami?” tanya Auliya
setelah berhasil mengembalikan kesadarannya.
“Sebenarnya aku tinggal di kota ini juga. Sepekan sekali saja aku ke Jogja buat siaran
di Saujana.”
“Oh….” Auliya dan Susan
terbengong bersamaan.
“Terus ngapain datang ke sekolah kami?”
“Aku dapet tugas dari manajemen Saujana buat mencari Klara Kristy yang
katanya sekolah di SMA Negeri III. Nah,
makanya aku ke mari.”
Susan yang merasa kalah dalam bersaing langsung undur diri. Pastilah Anggara mencari Auliya karena Klara
Kristy Channelnya yang mampu melambungkan nama Radio Saujana. Channel itu menjadi iklan gratis buat
Saujana. Pihak manajemen pasti merasa
hutang budi sama Klara Kristy yang tidak lain ya, Auliya Mardiyati.
“Susan, tunggu! Kata mama, aku
nggak boleh ditinggal berdua sama yang bukan muhrim. Itu materi terakhir Ustaz Kamal pekan ini. Mas Angga nyari Klara Kristy, bukan aku.” Auliya berusaha mengejar Susan.
“Siapa yang nggak tahu kalau Klara Kristy itu kamu. Biarkan aku sendiri Liya. Kamu memang selalu menang. Prestasi di kelas dan sekarang Anggara lebih
perhatian sama kamu.” Susan berpaling ketus. Wajahnya memandangi kolam ikan di depan
masjid sekolah, juga tanaman hias yang mengelilingi kolam itu.
“Kamu jangan marah begitu. Kamu
harus bersyukur. Kamu lebih cantik
berkali lipat dibanding aku. Kamu lebih
kaya. Ortu kamu masih lengkap. Nikmat Allah mana yang kamu dustakan? Kalau aku mengembangkan channel youtube-ku,
itu karena aku berusaha ngebantu mama yang banyak kesulitan uang, itu bukan
prestasi dan kemenangan. Itu
keterpaksaan.” Auliya terus membujuk
Susan, lucu. Sejak mengikuti kajian Ngopi-Ngobrol
Perkara Iman di Saujana, Auliya
mengalami pendewasaan yang luar biasa.
Susan bergeming, urung salat Zuhur dan meninggalkan Auliya sendiri. Perasaan Auliya terpecah. Antara berbunga-bunga bertemu pujaan hati dan
kekacauan perasaan kehilangan hubungan baik dengan teman sebangkunya.
Sementara itu, Anggara tetap sabar menunggu di teras masjid. Sedikit banyak ia tahu dari keributan kecil
dua sahabat itu, bahwa Auliya adalah pemilik channel Klara Kristy.
Merasa sia-sia membujuk Susan,
Auliya menghampiri Anggara dengan perasaan malu.
“Mas Angga, aku salat dulu. Mohon
maaf ada sedikit keributan antara aku sama Susan barusan.” Auliya tidak tahan untuk menatap lama idola
di depan batang hidungnya. Salah tingkah
yang sangat ketara tertangkap oleh Anggara.
“Tidak apa, Klara, biasanya teman dekat itu senang berekspresi. Jadi itu tanda kedekatan aja. Aku cari mahram dulu, ya. Kamu bilang sama Susan tadi perlu teman
supaya kita tidak berdua-duaan?”
Pertanyaan Anggara seperti panah yang menusuk hatinya. Ada nyeri-nyeri sedap, blink-blink tajam
menikam. Malu karena ada serpihan hati
yang terdeteksi oleh sang idola. Sebuah
rasa kagum yang amat sangat namun berusaha ia sembunyikan dalam jati dirinya
sebagai Auliya.
Auliya segera mengambil air wudhu.
Kesejukan memasuki pori-pori mukanya yang memerah bak udang rebus.
Perlahan dinikmatinya bacaan salat yang baru dua pekan ini dia pahami
maknanya. Itu pun karena dapat tugas
dari Anggara saat siaran ANR. Awalnya
berat, tapi setelah merasakan manfaatnya, Auliya bersyukur mengikuti saran Sang
Idola.
Digantungkannya mukena wangi itu di lemari masjid, memakai kaus kaki dan
mematut diri pada cermin di samping lemari.
Auliya bergegas menemui Anggara yang kini tak lagi sendiri. Ada sosok anggun di sampingnya, memakai
stelan syar’i dengan variasi pink abu, lengkap dengan niqab.
Bunga-bunga di hatinya tiba-tiba layu sebelum berkembang. Siapa gerangan wanita yang ada di samping
Anggara? Auliya benar-benar lunglai.
“Ah, kenapa aku harus jatuh cinta kalau harus kecewa seperti ini?”
batinnya meratap
“Nah, sekarang kita aman berbincang bertiga di taman masjid ini. Perkenalkan, Klara, ini kakakku, Mbak
Luthfiah, pengisi siaran Fikih Remaja di Saujana.”
Tiba-tiba gairah hidup Auliya bersemi kembali. “Alhamdulillah ya Allah, Engkau tak
membiarkan hamba kecewa. Paling tidak
ada perpanjangan waktu untuk terus berharap.
Sampai tiba saatnya Kau tentukan siapa sebenarnya yang Kau takdirkan
sebagai bidadari Mas Angga. Semoga
apapun yang Kau takdirkan suatu saat nanti, aku telah menjadi seseorang yang
selalu siap menerima ketentuanMu.” Hati
Auliya terus bercengkerama bersama Tuhan yang setia memenuhi dialog hatinya.
***
“Mas, kita silaturahim ke rumah
Liya, yuk! Dia habis melahirkan baby
pertamanya.” Susan menghubungi Anggara
dengan gawai di tangan kanannya. Tangan
kirinya menuntun Kiara, gadis mungil berusia tiga tahun buah cinta Susan dan
Anggara.
Sedangkan Auliya berjodoh dengan
manajer Saujana. Ternyata cinta yang
selama ini berusaha dijaga tetap akan bermuara pada takdir Sang Penentu
segalanya.
BE
ABLE FROM DISABLE
By:
Khadijah Hanif
Ada energi dalam hidupku yang
kudengar lewat tutur bijak ayahku. “Besi
tidak akan pernah menjadi pisau yang tajam sebelum dia dipanggang di atas api
hingga membara. Setelah itu, dia akan
dipukul-pukul oleh ahlinya hingga menghasilkan bentuk yang diinginkan. Demikian juga hidup manusia. Makin ditempa dengan penderitaan dan
kesulitan oleh Yang Mahakuasa maka ia seolah sedang dibentuk menjadi manusia
yang baik. Sedangkan sebaik-baik manusia
adalah mereka yang membawa manfaat buat orang lain.”
Kata-kata bijak itu menginspirasiku
untuk terus mendaki tebing terjal kehidupan yang harus kulalui. Seolah menghitung hari demi hari, setapak
demi setapak perjalanan yang jauh berbeda dengan orang lain yang dikaruniai
kesempurnaan fisik.
Aku dilahirkan sebagai anak tertua
dari tiga bersaudara. Awalnya aku terlahir
sempurna tanpa cacat fisik, kecuali benjolan di daerah tulang punggung, sejajar
dengan lingkar pinggang. Aku tidak
begitu mengerti apa penyebab benjolan itu.
Selama tidak ada keluhan sakit aku tak pernah memedulikannya.
Sampai kejadian itu menimpaku. Di usia sebelas tahun aku bermain bola sambil
berhujan-hujanan. Aku terjatuh agak
keras dan benjolan di punggungku mengalami benturan. Tidak ada rasa sakit yang berarti, hanya di
malam harinya panas tubuhku sangat tinggi.
Seorang mantri kesehatan kepercayaan
keluarga kami dipanggil untuk memeriksa keadaanku. Aku diberi suntikan dan obat beberapa
macam. Semua saran dari mantri kesehatan
aku lakukan, termasuk menghabiskan obat yang diberikannya.
Harapan
untuk sembuh tidak kunjung datang. Yang
aku rasakan justru rasa nyeri di benjolan punggungku. Kian hari kian tak tertahankan. Aku hanya bisa menagis dan mengeluh pada
kedua orang tuaku. Aku tetap mencoba
bertahan dan tidak meraung karena takut membuat orang tuaku cemas.
Akhirnya aku
diopname di RSUD Temanggung untuk pertama kali di usia kelas satu SMP. Sejak itu aku menjadi penghuni rutin dari
rumah sakit ke rumah sakit. RSU Temanggung menyarankan agar aku dioperasi di
RSUD Magelang karena keterbatasan alat.
Di RSUD Magelang aku didiagnosa mengidap tumor yang berupa benjolan
sebesar setengah bola tenis itu. Aku
menjalani operasi namun tidak berhasil dan dirujuk untuk ke RSUP Yogyakarta,
Rumah Sakit Dr Sardjito.
Diagnosa tim
dokter mengatakan bahwa sumsum tulang belakangku mengalami kebocoran dan
berlubang. Lubang ini harus ditutup
dengan menempelkan tulang pada lubang itu.
Ibuku awalnya bersedia mengorbankan kelingking kakinya, akan tetapi
dokter mengambil keputusan untuk mengambil bagian lain tulangku yang
memungkinkan untuk disayat.
Operasi dinyatakan
berhasil. Akan tetapi keanehan
selanjutnya terjadi. Kram kaki yang tak
terkendalikan membuat kaki kananku memendek dan kepekaannya sangat-sangat
berkurang. Kakiku yang awalnya normal
dapat dipakai berjalan, lama kelamaan tak mau diajak kompromi. Otakku seakan tak bisa memerintah kakiku
untuk melangkah. Kesedihan luar biasa
menyelimuti hatiku dan tentu juga kedua orang tuaku. Aku yang awalnya begitu bebas dapat bermain
bahkan ikut berburu ke hutan bersama ayah, menghirup alam bebas, tiba-tiba
hanya bisa berjalan merayap berpegangan apa saja yang ada di sekitarku, Dari kursi ke kursi dengan berpegangan meja
atau apa saja yang dapat menopang badanku.
Kaki ini sama sekali tak terkontrol oleh keinginanku, kecuali dengan gerakan
yang sangat lemah.
Aku
dinyatakan lumpuh dan harus mengunakan
kaki empat (walker) untuk menyangga tubuhku.
Aku harus menerima kenyataan untuk menjadi penderita disabilitas. Langkahku sangat terbatas. Awal-awal latihanku untuk berjalan dengan
kaki empat bukanlah hal mudah untuk kuterima begitu saja. Antara sedih, kecewa dan bertanya mengapa
takdir ini harus kualami. Mengapa aku
mendapatkan perlakuan berbeda dari Tuhan?
Atau kadang marah memaksa kaki ini untuk berjalan. Tapi semua itu sia-sia.
Aku mencoba
mengungkap segenap perasaanku pada kedua orang tuaku terutama ayah. Kata-kata yang mengalir dari tuturnya
membuatku kuat dan menerima keadaan.
“Pakailah ilmu
santan. Kelapa harus dijatuhkan saat
diambil petani. Di bawah ia harus siap
untuk dikuliti. Batok kelapapun diambil
dengan cara yang tak mudah. Daging buah
kelapa harus dicukil dari tempurungnya.
Kulit daging buah harus dibersihkan untuk menghasilkan santan yang
jernih, putih dan bersih. Tidak cukup sampai di situ, kelapa akan diparut dengan
ratusan duri, baru kemudian diperas untuk diambil santannya.”
Aku memutuskan
untuk “move on” dari segala perasaan negatifku.
Aku mulai membangun harapan demi harapan dengan terus belajar dan
belajar apa saja. Tentu saja dengan
dukungan ayah yang selalu membawakan aku bahan bacaan dari perpustakaan tempat
beliau mengajar. Waktu luangku aku
gunakan untuk belajar sendiri (autodidak) tentang bagaimana melukis. Dan aku bisa melukis mulai sketsa pensil,
dengan cat air hingga cat minyak dengan media kanvas. Aku juga belajar fotografi dan cuci cetak
foto hingga pernah bisa menghasilkan uang dari keahlianku itu. Aku juga belajar membuat bonsai, hobbi yang
hingga saat ini terus aku jalani. Ya,
dalam keluangan waktuku yang tak ada kemampuan untuk bermain aku berkesempatan
membaca dan mempraktikannya hingga memiliki keterampilan.
Selama bangku SMP
aku praktis belajar di rumah. Beruntung
aku memiliki sekolah yang melayani siswa berkebutuhan khusus sepertiku. Karena waktuku habis dari rumah sakit ke
rumah sakit, maka aku diizinkan tidak menempuh pendidikan seperti siswa
lain. Segala bentuk tugas sekolah,
testing dan ujian akhir kelas tiga diantarkan dimanapun aku berada. Bahkan
pernah aku sengaja diopname hanya untuk ujian akhir sekolah.
Lulus SMP, ayahku
memutuskan bahwa aku harus menjalani pendidikan seperti siswa lain di tingkat
SMA. Hal ini sangat memungkinkan karena
ayah melakukan pendekatan pada pihak sekolah untuk memberikan fasilitas jalan
yang bisa aku lalui. Alhamdulillah aku
mendapatkan kelas yang mendukungku untuk dapat memasuki ruangan itu.
Awalnya aku
diantar jemput dengan mobil sewa yang pada waktu itu terasa cukup mahal untuk
keluargaku. Akhirnya ayah memutuskan
memboncengku dengan vespa. Dan ternyata
aku bisa dibonceng oleh ayah, suatu kebahagiaan yang luar biasa.
Suka duka aku
lalui selama sekolah di bangku SMA.
Kejadian yang memilukan dan sekaligus memalukanku, karena kontrol
terhadap alat ekskresi yang sangat lemah membuatku mengganggu seisi kelas. Kejadian yang hampir membuatku enggan
berangkat ke sekolah di hari-hari selanjutnya.
Selain malu aku juga trauma kejadian itu terulang kembali. Yang sangat aku syukuri adalah dukungan dari
kawan sekelas. Semua seolah ingin
membantuku untuk sama-sama harus lulus dari sekolah ini, SMAN I
Temanggung. Dan akhirnya aku selesai
juga menjalani masa SMA-ku.
Berhenti satu
tahun, orang tuaku kembali berikhtiar untuk kesembuhanku. Ketika jalur pengobatan konvensional gagal,
kami menempuh jalur alternatif. Satu
tahun ikhtiar, tidak ada hasil yang berarti.
Kami pun menyerah.
Ayah
menganjurkanku untuk kuliah. Pilihanku
jatuh pada universitas terbuka.
Satu-satunya jalur yang mungkin ku tempuh. Yang membuatku sangat terpaksa adalah
keterpaksaanku mengambil FISIP-Jurusan Tata Negara. Bayangkan, cita-citaku menjadi teknisi. Kegemaranku ilmu eksak terutama matematika
dan Fisika, jurusanku di SMA pun jurusan Fisika (A1 untuk istilah waktu itu).
Aku hampir
kehilangan semangat belajar. Apalagi di
UT (Universitas Terbuka) semua harus serba sendiri dan mandiri. Sementara modul setebal-tebal kitab suci
terjemahan Depag cetakan pertama.
Saat kesulitan
memahami mata kuliah tertentu, kadang akau memukuli kakiku. Karena dialah aku harus berkubang pada
ketidaksukaan yang memaksa.
Akan tetapi
lagi-lagi nasehat ayah menjadi spirit bagiku. “Belajar itu menjadi bukti rasa
syukur kamu di hadapan Alloh. Bukankan
banyak orang yang ingin kuliah tapi tidak punya kesempatan. Ada yang mampu tapi tak mau. Ada yang mau tapi tidak mampu. Bersyukur ayah mampu menguliahkan kamu. Kesempatan pun ada meskipun harus belajar
sendiri di UT. Program ini Alloh
sediakan untuk kamu yang Dia uji dengan sakit seperti ini. Bukankah ini kemudahan dariNya?”
Akhirnya aku “move
on” untuk kesekian kalinya. Aku mulai
mencoba cara belajar gayaku sendiri. Aku
bagi buku-buku tebal itu sesuai waktu yang tersedia sampai mata kuliahnya
diujikan. Ada target halaman perhari,
target perminggu, target perbulan.
Sementara hari minggu aku pakai untuk mengulang apa yang telah aku baca
setiap harinya.
Dengan cara
belajar ini akhirnya aku dapat melalui masa kuliahku yang cukup berat untuk
belajar sesuatu yang tidak aku suka.
IPK-ku berada dalam predikat sangat memuaskan dengan nilai lebih dari
3,5. Hanya saja karena ada beberapa
biji bernilai C, aku tidak mendapat predikat cumlaude. Alhamdulillah tidak sia-sia segala keringat, air mata dan kesedihan.
Selesai kuliah aku
tidak segera melamar pekerjaan. Aku
meminta pada ayah untuk bisa mengikuti kursus komputer. Di awal tahun sembilan puluhan, belajar
komputer adalah sesuatu yang sangat keren dan keakhian bidang ini dibutuhkan
oleh banyak lembaga.
Aku menjalani
kursus dengan sangat senang hati. Aku
merasa menemukan kegemaranku yang terpasung dalam empat tahun aku kuliah. Dalam kursus setengah tahun ini aku
manfaatkan benar untuk belajar dari tahap dasar hingga belajar bahasa
pemrograman. Lagi-lagi Alloh memberiku
kemudahan dan aku berhasil menjadi programmer.
Memasuki dunia
kerja untuk pertama kali, aku menjadi guru honorer di almamater tercintaku, SMA
I Temanggung. Aku menjadi pengajar TIK,
sambil terus mencoba mengikuti test PNS.
Semua tahap berhasil kulalui.
Bahkan dengan nilai tes tulis tertinggi, tapi selalu terjagal di tes kesehatan. Hingga berkat doa ayah dan terutama ibuku,
aku dimudahkan oleh seseorang berhati mulia.
Kepala BBRSBG (Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita) yang saat
itu bernama RPCM (Rehabilitasi Penderita Cacat Mental) membantuku sepenuhnya
untuk menjadi tenaga ahli administrasi dan manajemen teknologi informasi di
kantor itu.
Alhamdulillah
akhirnya aku diterima sebagai PNS.
Sesuatu yang jauh tak terbayangkan olehku saat aku baru saja menjadi
penderita disabilitas. Sesuatu yang
membuatku merasa tak akan bisa berbuat apa-apa, tidak mampu menjadi apa-apa.
Perjalanan waktu
mengajariku untuk terus bersyukur.
Pendakianku pada tebing terjal kehidupan ini selalu memberiku pengalaman
hidup yang kadang tak pernah aku duga.
Sekian banyak doa mungkin tak menghampiri kenyataan hidupku, namun
sebaliknya hadiah indah Alloh berikan tanpa aku memintanya. Salah satunya terpilihnya aku menjadi
instruktur nasional manajemen perkantoran yang terkomputerisasi. Kesempatan ini membuatku begitu mudah menaiki
pesawat dari satu pulau ke pulau lainnya di Indonesia. Dari satu hotel berbintang ke hotel
berbintang lainnya.
Fabiayi
aalairobbikama tukadzdziban. Maka nikmat
Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kamu dustakan.
Terimakasih yang
tak terkira buat kedua orang tuaku. Tiap
tetesan keringatnya dapat kurasakan kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi
segala kesulitan membesarkan aku. Tiap
helaan napasnya aku dapat merasakan kesyukuran menyertai tiap kemajuan yang aku
raih. Lalu Allah SWT memberikan karunia
demi karunia sebagai tambahan nikmat dari tiap kesukuran itu. Akhirnya aku bisa menakhlukkan
keterbatasanku. Innalillah
walhamdulillah
NUBAR AREA SUMATERA_TOKBA2_AGAR SI KECIL
GEMAR BERSEDEKAH_KHADIJAH HANIF
Sedekah merupakan amal ibadah yang sangat penting bagi
orang-orang yang beriman. Mengapa
demikian? Kita bisa menemukan jawabannya
dari firman Allah SWT dalam Alquran surat Almunafiqun ayat 10:
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ
قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي
إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya: Dan belanjakanlah
sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian
kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa
Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang
menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"
Dari firman Allah SWT ini kita bisa
menyimpulkan bahwa amalah yang paling meringankan siksa kubur adalah
sedekah. Dengan demikian peranan sedekah
juga sangat terkait dengan nikmat kubur yang dialami oleh orang-orang yang
beriman.
Penyesalan di alam barzakh adalah
penyiksaan yang sangat mengerikan, karena ruh tidak memiliki kesempatan lagi
untuk memilih. Kehendak bebas telah
dicabut dengan berakhirnya masa hidup di alam dunia. Itulah penyesalan sesungguhnya, penyesalan
yang tak berujung.
Nah, Allah SWT mengingatkan kita untuk
menjaga diri dan keluarga dari siksa setelah kematian. Salah satu upaya menjaga diri dan keluarga
adalah dengan memerhatikan pendidikan anak-anak kita. Apalagi anak-anak merupakan amanah langsung
dari Allah yang ditiupkan dalam rahim ibu dan lahir sebagai insane ciptaan
terbaik, fii ahsani takwim.
Kembali lagi pada pentingnya sedekah, sifat
pemurah menjadi sangat penting untuk melekat pada diri kita dan anak-anak
kita. Sebagaimana mengukir jiwa dengan
kepribadian yang ada empat tahap yang
perlu diupayakan, yaitu mengetahui, mengerti, memahami, menghayati, mengamalkan
dan melekatkan dalam sifat.
Keenam tahapan ini tidak terpisah satu sama
lain tetapi merupakan serangkaian yang tidak terpisahkan. Apalagi untuk tahapan usia 4-10 tahun, pada
masa ini pengetahuan mesti diberikan dengan cara yang ringan, menyenangkan agar
mudah dipahami.
I.
Tahap Mengetahui dan Mengerti
Pada usia 4-10 tahun, pengetahuan
bisa diberikan dalam bentuk kisah-kisah teladan dengan tampilan yang menarik
dan tidak membosankan, baik audio, visual maupun video. Orang tua bisa memberi informasi melalui
cerita atau mendongeng baik dibantu gambar maupun tidak. Untuk memberitahu melalui video, pendampingan
oleh orang tua tetap diperlukan untuk membuka ruang kreatif. Disinilah orang tua dapat berinteraksi dengan
anak melalui tanya jawab.
Beberapa hal tentang sedekah yang sebaiknya menjadi pengetahuan anak:
a.
Sedekah Dapat Menghapus Dosa
Rasulullah SAW bersabda dalam HR. Tirmidzi:
“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan
api“.
b.
Sedekah Melipatgandakan Rejeki
Allah SWT berfirman dalam Alquran surat
Albaqarah ayat 261:
c.
Sedekah Melipatgandakan Pahala
Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Albaqarah ayat 261:
“Sesungguhnya
orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki maupun perempuan, dan meminjamkan
kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan
(pahalanya) kepada mereka dan bagi mereka pahala yang banyak“.
d.
Sedekah Menjadi Penolong di Hari Akhir
Sesungguhnya, sedekah itu memadamkan panasnya kubur dan hanyalah
seorang Mukmin yang mendapatkan naungan pada hari kiamat nanti dengan
sedekahnya.” (HR Thabrani dan Baihaqi).
Untuk sekedar mengetahui seseorang hanya memerlukan indra
pengelihatan dan pendengaran. Sementara
itu mengerti melalui tahapan literatif yang meliputi baca, mengolah bacaan dan
mengungkapkan kembali apa yang dibacanya.
Dari definisi ini anak akan mengerti bila proses belajar mereka sudah
sampai pada mampu membaca.
II. Tahap Memahami dan Menghayati
Memahami merupakan
proses berfikir, tahap lanjut setelah tahu dan mengerti. Ada peranan af’idah (jamak dari fu’ad) yang
membuat pengetahuan dan pengertian menyentuh cara pandang dan tata nilai. Sedangkan menghayati disetai dengan
pengalaman batin, merasakan dengan pengalaman batin.
Pada tahapan
ini, orang tua perlu mengajak anak untuk lebih memahami dan menghayati
pentingnya sedekah dengan langsung melihat mereka yang memerlukan sedekah
tersebut. Sentuhan batin perlu dilakukan
pada tahap ini .
Beberapa
kegiatan yang bisa dilakukan untuk melembutkan hati buah hati dan menambah rasa
kesyukuran atas nikmat sekaligus kepekaan untuk gemar bersedekah.
a.
Mengunjungi Panti Asuhan
Orang tua dapat memberikan cerita yang menyentuh tentang
penderitaan mereka yang tidak memiliki orang tua. Pertanyaan-pertanyaan yang sederhana bisa
disampaikan untuk melatih proses merasakan kesulitan yang dialami orang lain
b.
Mengunjungi Panti Jompo
Orang tua bisa memancing kesadaran tentang hal-hal yang bisa
membuat penghuni panti jompo merasakan kebahagiaan.
c.
Mengunjungi Pasien di Rumah Sakit
Orang tua dapat memberi ingatan tentang nikmat sehat yang selama
ini Allah SWT karuniakan. Penanaman rasa
syukur dan keinginan membantu yang sakit dapat ditanamkan
d.
Mengunjungi Tempat Pengungsian Bencana
Orang tua dapat menyadarkan buah hati tentang nikmat terlindungi
dari bala bencana. Kesyukuran atas
nikmat Allah ini harus diwujudkan dengan memberikan bantuan pada mereka yang
sedang mengalami kesulitan dan kesusahan.
Apabila orang
tua tidak bisa mengajak anak langsung mengunjungi tempat-tempat tersebut maka
bisa dengan menggunakan media tayangan video yang menggugah perasaan si
kecil.
Pada tahap ini,
pembiasaan bersedekah bisa dilaksanakan secara bersamaan dengan membawa bantuan
langsung pada mereka yang dikunjungi.
III. Mengamalkan dengan Pembiasaan
Pembiasaan
merupakan tahapan yang terpisah dari empat tahapan yang telah disebutkan
sebelumnya. Artinya, pembiasaan dapat
dilakukan bahkan sejak si kecil masih di dalam kandungan lagi. Salah satunya dengan mengajak dialog saat
janin sudah ada dalam kandungan saat kita bersedekah. Tentu saja pembiasaan setelah si kecil dapat
berinteraksi dengan orang tua akan menjadi lebih intensif.
Diantara
pembiasaan yang perlu dilakukan adalah:
a. Menyediakan Kotak Infak dan Sedekah
di Rumah
Orang tua dapat memberi contoh langsung berinfak dan bersedekah di
kotak tersebut. Sejak dini anak bisa
dibiasakan memasukkan uang pada kotak yang tersedia. Sambil member pengetahuan, pengertian,
pemahaman dan penghayatan, pembiasaan bisa dilakukan secara beriringan. Bila empat tahap awal masuk dalam pengetahuan
kognitif dan metakognitif (kesadaran berpikir seseorang tentang proses berpikirnya sendiri) maka
pembiasaan sudah masuk dalam ranah keterampilan. Pembiasaan tidak selalunya didasari
kesadaran pada tahap usia tertentu. Akan
tetapi pembiasaan akan lebih melekat pada diri anak ketika kesadaran batinnya
telah muncul oleh dorongan ilmu pengetahuan dan pengertian.
b. Mengisi Kotak Amal
Ada sisi positif dari banyaknya kotak amal di tengah masyarakat
kita. Di depan atau di dalam masjid, di
depan toilet, bahkan di toko-toko dengan mudah dapat kita temui. Orang tua memiliki peranan penting dalam
member keteladanan berinfaq pada anak-anak.
Sesekali orang tua bisa memberikan uang dan meminta anak memasukkannya
pada kotak tersebut.
c. Membagi Rejeki pada yang
Membutuhkan
Kelembutan hati
merupakan anugerah indah dari Allah SWT.
Di tengah masyarakat kita masih banyak mereka yang kesusahan. Tukang parkir, pak ogah, para peminta-minta,
pengamen mereka mengumpulkan uang pemberian secara suka rela dari orang
lain. Memberi contoh pada anak untuk
berbagi pada mereka adalah hal yang mulia.
Semoga sifat pemurah terbentuk dengan empati kita pada sesama.
Orang tua dapat
membiasakan anak untuk memberi hadiah kepada penghuni panti asuhan, panti
jompo, pasien rawat inap di rumah sakit atau klinik, juga pada korban
bencana. Pada tahap penghayatan dengan
mengunjungi mereka, kita bisa melakukan pembiasaan dengan membawa sesuatu yang
mereka butuhkan. Pengalaman melihat
langsung ekspresi kebahagiaan mereka akan member kekayaan bati yang luar biasa
pada diri anak.
IV. Melekatkan pada Sifat
Tahap
ini merupakan puncak dari semua rangkaian proses mendidik anak. Hasil akhir yang akan membuat anak gemar,
cinta dan sangat ringan bersedekah.
Dalam
istilah tasawuf, untuk mencapai tahap ini masih diperlukan latihan yang
meliputi tiga tahapan yaitu takhalli (mengosongkan dari sifat buruk), tahalli
(menghiasi dengan sifat baik), dan tajalli (merasakan kehadiran sifat dengan
sendirinya). Pada tahap takhali, anak
akan merasakan nikmatnya bersedekah dengan sifat pemurah yang ada pada
dirinya.
Pada
tahap takhalli anak memerlukan pengetahuan, pengertian, pemahaman dan
penghayatan. Sementara tahalli lebih
dituntut pembiasaan untuk menghiasi hati dengan sifat baik. Hasil akhirnya, tajalli. Dalam mendidik anak
agar gemar bersedekah, takhalli dilakukan dengan membuang sifat kikir, pelit,
egois dan mementingkan diri sendiri.
Proses tahalli dengan mengganti sifat buruk tadi dengan sifat sebaliknya
yaitu pemurah, memahami kebutuhan orang lain, dan senang berbagi. Pada tahap ini anak akan berlatih melawan apa
sifat buruk pada dirinya. Cara efektif
dalam tahalli adalah melakukan pembiasaan-pembiasaan.
Masing-masing
individu memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda dalam bermujahadah
terhadap sifat buruknya. Akan tetapi
pada usia awal tumbuh kembangnya akan lebih mudah membuang sifat buruk dan
ditanamkan sifat baik daripada menjelang akil balig. Pada usia dini fitrah anak belum banyak
terwarnai oleh hal-hal negative dari luar diri dan keluarganya.
Nah,
inilah beberapa tips yang bisa kita lakukan dalam rangka mendidik buah hati
agar gemar bersedekah. Dari sekian
tahapan dan langkah mendidik anak, tentu yang sangat penting, utama dan tidak
boleh diabaikan adalah doa. Doa
merupakan senjata bagi orang beriman, doa juga yang mengubah keadaan dengan
izin Allah SWT.
Semoga
kita dapat meninggalkan generasi yang kuat.
Kuat melawan sifat egoisnya dengan sifat pemurah dan gemar bersedekah.
DAFTAR PUSTAKA:
1.
Tea, Taufik. 2009. Inspiring Teaching Mendidik Penuh Inspirasi.
Jakarta: Gema Insani Press. 239h
2.
Istandi, Irawati. 2017.
Rumahku Tempat Belajarku Menjadikan Rumah Sebagai Basis Peradaban.
Yogyakarta: Pro-U Media. 266H.
3.
Erawati, Eny. 2012. Mengetahui, Mengerti dan Memahami. https://enyerawati.wordpress.com/2017/03/04/mengetahui-mengerti-dan-memahami/. Diakses 1 Oktober 2019.
4.
Togala, Zulrahmat.
2013. Metakognitif dalam
Pembelajaran. https://zultogalatp.wordpress.com/2013/06/15/metakognitif-dalam-pembelajaran/. Diakses 30 September 2019.
REAL FRIEND’S
LOVE
by: Khadijah
Hanif
Gawaiku
berdenting lagi. Aku segera meninggalkan
barisan huruf pada layar pendar laptop di meja kerjaku. Aku selalu berusaha menghindari slow
respon, khawatir ada hal penting yang perlu segera ditanggapi.
“Assalamualaikum,
kami mengundang anti dalam acara milad guru kita, Abuya Syeikh Imam Asyari
Muhammad Attamimi.”
Aku
terhenyak, pesan tanpa nama pengontak itu benar-benar membuatku penasaran. Aku beringsut dari depan laptop mencari
posisi nyaman untuk segera tahu pengirim chat misterius ini.
“Waalaikumsalam,
mohon maaf ini dengan siapa, ya?”
Kami
saling berbalas pesan. Akhirnya anganku
terbang jauh pada sahabatku yang sudah lebih dari sepuluh tahun tidak
bertemu. Kak Aisyah namanya. Kami pernah bersama-sama memintal kisah dalam
satu komunitas sunnah Rasulullah SAW.
Berada dalam satu wisma, saling mengingatkan dalam kebenaran dan
kesabaran. Terbimbing oleh guru yang
selalu mengarahkan bahkan mencontohkan kehidupan islami. Kami benar-benar berusaha mengukir amalan
seperti perikehidupan Rasulullah dari
bangun hingga menjelang tidur.
Ada
rasa rindu berdesir di sela-sela ruang batinku.
Segala kenangan indah itu kembali hadir, meskipun dalam serpihan puzzle
peristiwa yang tak mampu kususun dalam urutan yang sempurna.
Penantian ini membuat waktu merayap
perlahan. Akan tetapi matahari yang
selalu setia menemui kami, terus mengganti hari. Saat penting itu pun bertandang juga. Hotel berbintang di tengah kota Bandung
menjadi tempat yang dipilih keluarga Kak Aisyah untuk mengundang kami. Seakan menjadi reuni akbar seluruh alumni komunitas
sunah.
“Masyaallah,
Kak Aisyah. Terimakasih sudah sudi
mengundang saya.” Aku mencium takzim
tangannya. Kami berpelukan melepas rindu
yang selama ini membelenggu. Jeda ruang
dan waktu benar-benar tertepis oleh media sosial yang kian marak.
“Saya
yang berterimakasih. Ukhti bersedia
memenuhi undangan kami.” Kerendahhatian
itu selalu saja menyejukkan kami.
Aku
dan suami memasuki ruangan acara dengan decak kagum. Qadarullah, ruang pertemuan ini telah
di-booking oleh keluarga Kak Aisyah untuk kami, sahabat-sahabat
lamanya. Semua free kami tidak
mengeluarkan biaya sepeserpun.
Aku
mencoba menerka, mungkin lebih dari lima puluh juta yang Kak Aisyah dan
keluarganya infakkan untuk kami. Bukan
hanya makan malam dan snack yang seba gratis, kamar hotel terbuka lebar untuk
tamu jauh yang menginap.
Sungguh
aku takkan pernah mampu mengejar laju sedekahnya yang seumpama angin ini. Bagi kebanyakan orang di zaman serba
materialistis ini, Kak Aisyah adalah sosok dalam ranah kemustahilan. Saat banyak yang menumpuk harta, Kak Aisyah
justru membagikannya. Saat orang
berpikir tentang peninggalan untuk keturunannya, Kak Aisyah belum sempat
menyisihkan untuk sekedar inventaris tanah atau rumah.
Lebih
dari seratus lima puluh tamu undangan hadir malam itu. Kami dimanjakan dengan kemeriahan acara
milad. Lampu warna-warni, grup nasyid
yang mendayu, membawakan nasyid-nasyid perjuangan di era 90-an ciptaan
Abuya. Terimakasih guruku, semua ilmu,
pemahaman dan penghayatan itu terus menjadi penyuluh hati kami. Berkat didikanmu pula ukhuwah persahabatan
ini terus terjalin erat. Terimakasih
sahabat, kau resap ilmu dari guru kita untuk terus menjalin silaturahim.
Layaknya
sebuah acara reuni, kami saling menyambangi.
Beberapa sahabat yang pernah satu wiswa aku temukan di ruangan ini. Kami saling bincang tentang rindu, keluarga,
tempat tinggal, apa saja. Terakhir, kami
saling bertukar nomor kontak.
“Kak
Aisyah, kemuliaan hatimu telah menyambungkan silaturahim diantara kami. Semoga naungan Allah SWT pada hari dimana
tiada naungan selain naungan-Nya, Kak Aisyah dapatkan kelak.” Doa tulus mengalir dari lubuk hatiku.
Acara
itu menggoreskan kesan dan teladan indah buat kami. Tentang pengorbanan dan sifat pemurah dari
sahabat. Tentang ketulusan cinta tanpa
harapan akan balasan. Aku benar-benar speechless
untuk mengungkap segala rasa terimakasih ini.
“Kak,
semoga Allah SWT senantiasa melapangkan dan mencurahkan rejeki-Nya buat Kak
Aisyah sekeluarga. Hanya doa-doa yang
kami punya. Jazakummullah khairan
katsiraa.” Para tamu undangan
berpamitan dengan doa tulus lisan-lisan
kami. Ya, untuk saat ini, hanya itu yang
bisa kami tumpahkan.
“Dalam
waktu dekat ini, siapkan paspor. Kita
akan mengadakan lawatan tujuh hari ekspedisi ke Malaysia, terutama ziarah makam
Abuya. Selebihnya bersilaturahim dengan
sahabat komunitas sunah di Malaysia.”
Kak Aisyah berbisik di telingaku saat pelukan perpisahan kami. Seakan buaian untuk si upik menjelang
tidurnya. Hanya saja jauh dari terlena
aku justru terperanjat.
“Serius,
Kak!” Aku terbeliak tak percaya. Entah ekspresi apa yang akan aku tumpahkan
seandainya tidak ada antrian panjang para tamu yang ingin berpamitan. Hanya ada satu kata, ‘siap’.
Sebulan
kami tenggelam dalam rutinitas kami masing-masing. Hanya saling sapa dalam berbalas pesan yang
tak begitu penting, namun merekatkan persahabatan. Menjelang keberangkatan ke Malaysia di bulan
Januari, perbincangan pun mulai serius.
“Kita
akan memberangkatkan sebelas rombongan dari Indonesia. Tiket sudah di-booking untuk
pemberangkatan tanggal enam Januari.
Kita berkumpul di rumah kami, Wangsakerta Kota Baru Parahyangan.”
Buat aku yang terbiasa hidup pas-pasan (pas
butuh baru ada), ini menjadi tawaran
ajaib. Aku tak ingin segera percaya bahwa
aku akan terbang ke negeri jiran.
Bagaimanapun seumur hidupku, aku belum pernah menaiki pesawat.
Pagi
hari pukul delapan, rombongan kami sudah berada di Bandar Udara Internasional
Juanda. Cuaca buruk membuat pesawat delay
selama satu jam. Musim hujan membuat
mendung menggantung di atas kota Bandung.
“Abi,
ini pengalaman pertamaku naik pesawat.
Tolong tenangkan aku, ya,”
bisikku pada suami.
“Tenang,
Sayang. Abi udah sering naik
pesawat. Bagian mendebarkannya saat take
off, melewati awan dan landing.
Di luar itu, lebih nyaman daripada naik angkot di jalan aspal,” jelas
suamiku menenangkan.
“Abi
harus duduk dekat Ummi. Tukar saja sama
Anwar. Nomor di samping ummi dipegang
Anwar.” pintaku.
“Semua
udah diatur sama amir thariq kita, Syeikh Dzul, suami Kak Aisyah. Beliau hanya akan menyandingkan yang
muhrim. Itu ajaran Abuya, guru
kita.”
Aku
menghela napas lega. Betapa beruntungnya
memiliki sahabat perjuangan yang paham syariat Allah dan Rasul-Nya.
Tujuh
hari ekspedisi Malaysia menjadi pengalaman tak terlupakan. Terutama saat-saat paling mengharukan di
makam guru kami Abuya. Aku tak mampu
menahan telaga di pelupuk mataku.
Kubiarkan tumpah ruah mengenang pengorbanan Abuya. Cintanya pada Alquran dan sunah Rasulullah,
beliau contohkan pada anak didiknya.
Cintanya pada agama beliau buktikan dengan pengorbanan pikiran, raga,
harta bahkan jiwa.
Banyak
berkah yang kami terima. Pertemuan
dengan putra Abuya, Syeikh Fahrurrazi dan keluarga juga sangat membahagiakan
kami, sedikit memupus rasa rindu pada Abuya.
Demikian juga perjumpaan dengan sahabat seperjuangan yang terus
mengamalkan sunah pada komunitasnya masing-masing.
Semua
berkah tak terlepas dari jasa sahabat sejatiku, Kak Aisyah dan keluarga. Segala perlakuan istimewa kami rasakan dalam
tujuh hari perjalanan ini. Jujur, kami
tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk home stay, sewa kendaraan dan
makan. Semua ditanggung Kak Aisyah. Aku mencoba menebak pengorbanannya, tentu
lebih dari 150 juta. Rabb betapa pemurahnya
Engkau. Sedangkan pada hakikatnya,
pemurahnya hamba-Mu pun atas apa yang Engkau izinkan.
Kasih
sayang dan persaudaraan dalam iman terus bertubi-tubi memanjakan kami. Bukan hanya pengorbanan harta tapi juga
peluang dan kesempatan.
“Syekh
Zul sudah menghubungi DKM Al Irsyad Kota Baru, Ustaz Fahmi kebagian jadi khatib
Jumat pertama bulan depan,” ungkap Kak Aisyah saat kami berkunjung ke rumahnya.
“Ustaz
sampaikan kembali minda-minda guru kita, Abuya,” pinta Syekh Zulfansyah.
Sebuah
kesempatan berharga. Kepercayaan dari
sahabat yang cukup menantang. Masjid Al
Irsyad bukanlah masjid kecil. Kami harus
mempersiapkan dengan sungguh-sungguh.
Apalagi permintaan ini datang dari sahabat istimewa kami.
Bukan
sekali dua kali keluarga Kak Aisyah memberikan kesempatan pada kami. Setiap ada acara penting, suamiku selalu diberi kesempatan untuk
mengisi acara. Kami merasa tersanjung
mendapatkan anugerah berbagai penghormatan ini.
Terus terang, kami merasa tak layak mendapatkannya. Akan tetapi persahabatan sejati ini selalu
saja membesarkan hati kami.
Di
antara hal yang tak terlupakan dari pesahabatan kami adalah sesuatu yang selalu
saja membuat kami nyaman saat bertamu.
“Ayo
kita makan dulu. Ini rejeki bighoiri
hisab. Nggak akan dihisab di akhirat
nanti,” ungkap Syekh Zulfansyah. Satu
cara menawarkan makanan pada tamu yang dicontohkan Abuya. Seperti itu juga yang Kak Aisyah katakan pada
tamu-tamunya. Ihtiramudduyuf yang luar biasa.
Bila
waktu berpamitan tiba, kami dibuat salah tingkah oleh segala kebaikannya.
“Ummi,
tolong bensin buat Ustaz Fahmi.” Kalimat
pendek dari Syeikh Zul itu terlalu sering kami dengar.
“Masya
Allah, Syekh janganlah kami dibuat terus merepotkan antum.” Suamiku kehilangan cara buat menolak tiap
titik kebaikan sahabat kami ini.
“Kami
yang berterimakasih, kedatangan tamu itu membawa berkah. Membuat dosa kami diampuni Allah SWT.” Kak Aisyah tahu benar bagaimana mencairkan
rasa kikuk yang melanda hati kami.
Sepanjang
perjalanan pulang, kami berbincang tentang kemuliaan sahabat kami itu.
“Abi,
di zaman sekarang ini, Kak Aisyah dan keluarganya seperi manusia-manusia
langka, ya?” Aku duduk di samping
suamiku, mengawali perbincangan.
“Itulah
orang-orang yang mendapat gelaran ikhwan. Kasih sayang dan pengorbanan pada sesama
saudara seiman bahkan pada sesama makhluk-Nya pun amat besar.”
“Benar,
Abi. Ummi lihat binatang piaraannya
sangat banyak. Kucing sampai lebih dari
tigapuluh. Juga kelincinya sudah ada dua
puluh lima ekor. Semua terpelihara
dengan baik. Bahkan mendapatkan
perawatan rutin dari dokter hewan.”
“Khoirunnas
anfauhum linnas. Sebaik-baik manusia
adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dari memelihara kucing saja mereka sudah
menjadi perantara nafkah bagi penjual makanan kucing, perusahaan pembuat makanan kucing berikut
pekerjanya.” Panjang lebar suamiku
menjelaskan
“Pemelihara
binatang piaraan dan dokter hewannya juga mendapat berkah, Abi.”
Tidak
ada habisnya kalau kami sudah berbincang tentang kebaikan Kak Aisyah dan
keluarganya. Kami teringat pesan
Rasulullah. Akan tiba suatu masa
orang-orang akan sangat pemurah. Mereka
memberikan hartanya bercurah-curah.
Allah pun membukakan keberkahan dari langit dan bumi-Nya.
Untuk
sahabat perjuanganku, semoga Allah mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya pada
keluarga kalian. Tolong doakan kami
untuk bisa mengikuti jejak langkah kalian.
Meski hanya dengan senyuman dan sedekah kebaikan, karena tiap insan
memiliki takaran yang berbeda.
Kami
selalu merasa terberkahi bisa bertemu dengan sahabat seperti kalian. Semoga begitu juga keadaan kami mengisi hati
kalian. Aamiin ya Rabb, ya
Mujibassailin.
Glosarium:
1.
Jazakummullah khairan katsiraa =semoga Allah membalas dengan kebaikan yang banyak
2.
Khairunnas anfauhum linnas= hadits Rasulullah yang artinya, sebaik-baik manusia adalah yang
paling bermanfaat untuk orang lain
3.
Aamiin ya Rabb, ya Mujibassailin=kabulkan doaku ya Tuhan, Yang Maha Mengabulkan doa orang-orang yang
berdoa
4.
Bighairi hisab=tanpa
perhitungan (tidak dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita makan dari
hidangan/jamuan)
5.
Amir Thariq=pemimpin
perjalanan
6.
Ihtiramudduyuf=penghormatan
pada tamu
FAKSI FIKSI
DONGENG ANAK
KISAH MUEZZA KUCING
KESAYANGAN RASULULLAH
By: KHADIJAH
HANIF
Assalamualaikum,
Teman-teman. Izinkan aku memperkenalkan
diri, ya. Mungkin diantara kalian ada
yang belum kenal siapa aku.
Namaku Muezza,
nama yang sangat lucu, bukan? Aku senang
sekali dengan panggilan ini. Terlebih
lagi nama ini pemberian Rasulullah, lho!
Nama ini punya sejarah yang ingin aku kisahkan pada kalian. Oh, ya, bukan hanya itu tetapi kisah-kisah
indah tak terlupakan saat aku bersamanya!
Aku sangat
senang tiap kali mendengar Sayidina Bilal mengumandangkan azan. Suara tegas namun merdu. Ungkapan dalam kalimat azan sangat menyentuh
hati dan perasaanku.
“Meong….meong….meong……” Aku selalu ingin menjawab suara azan yang
kudengar. Meskipun aku tidak bisa
menjawab sesuai contoh Rasulullah, aku tetap ingin berzikir dengan cara dan sesuai
dengan kemampuanku.
“Wahai, kucing
yang baik. Kamu selalu saja mengeong
saat mendengar azan. Aku tahu kamu ingin
menjawab azan dari sahabat Bilal.
Baiklah, atas kebaikanmu itu, aku beri kamu nama Muezza.” Sejak saat itu, aku dipanggil dengan nama
Muezza.
Saat yang
paling membahagiakanku adalah saat berada di dekat kekasih kita,
Rasulullah. Rasulullah sering membelaiku
lembut penuh kasih sayang.
“Muezza, kamu
kucing yang manis. Ini susu dan makanan
kesukaanmu.” Rasulullah paling tahu saat
aku merasa lapar.
“Terimakasih,
ya, Rasulallah. Aku merasa nyaman untuk
berada di dekatmu, Yang Mulia.” Aku
mendesak-desakkan kepala dan tubuhku di
kakinya untuk membalas belaiannya.
Suatu saat
cuaca berubah dingin. Aku gigil. “Dingin sekali, aku tidak bisa tidur. Di mana-mana aku tidak merasa nyaman.” Aku mencari tempat untuk tidur, mana tahu ada
yang bisa menghangatkan tubuhku. “Wah,
ada jubah kesayangan Rasulullah. Aku
akan tidur di atasnya pasti hangat dan nyaman.”
Tanpa ragu aku menaiki dipan tempat jubah itu tergolek, “Hmmm, harum
tubuh Rasulullah tercium dari jubah ini.”
Aku pun terlena dan pulas.
Saking
pulasnya, aku tidak mendengar suara apapun di rumah Rasulullah. Padahal biasanya aku terbangun setiap ada
suara yang mencurigakan. Aku terlalu
larut dan tenggelam dalam mimpi indah malam itu.
Saat aku
terbangun, betapa kagetnya aku…..
“Masyaallah,
kenapa jubah Rasulullah terpotong? Yang
tersisa hanya secarik kain yang aku tiduri.”
Aku langsung mencari junjunganku,
Rasul mulia.
Belum sempat
aku mengungkap penyesalanku, Rasulullah sudah menyapaku terlebih dahulu.
“Muezza, kamu
sudah bangun?” sapa Rasulullah
lembut. Tidak ada gurat kemarahan
sedikitpun pada parasnya yang rupawan.
“Maafkan aku,
telah membuatmu kehilangan jubah kesayangan.”
Aku menunduk penuh penyesalan.
“Aku
mengerti. Cuaca tadi malam terlalu
dingin. Bersyukurlah pada Allah, jubah
itu sedikit menghangatkan tidurmu.”
Rasulullah kembali meraih dan menggendongku. Untuk kesekiankalinya kelembutan kasih sayang aku rasakan. Sungguh aku merasa tersanjung berada di dekat
Rasulullah.
Bukan hanya
pada keadaan tak resmi Rasulullah mengistimewakan aku. Saat ada tamu penting pun aku sering berada
di sampingnya.
Suatu hari …….
“Assalamualaikum.” Seseorang mengucap salam dari luar rumah Rasulullah
“Waalaikumsalam
warahmatullah.” Rasulullah menjawab
salam dengan jawaban yang lebih baik.
Aku melihat
dari kejauhan. Sepertinya tamu penting
yang akan membicarakan masalah umat.
Wajahnya tampak serius.
Seperti biasa
mereka berpelukan. Keakraban terasa
kental. Aku hanya diam di tempatku,
khawatir mengganggu. Akan tetapi di luar
dugaan, Rasulullah justru memanggilku.
“Muezza,
kemarilah!” pinta Rasulullah
Aku enggan
untuk mendekatinya. Bukan maksudku tidak
menaati panggilan Rasulullah.
“Tidak, ya, Rasulallah, biarkan aku di
sini. Engkau dan tamumu pasti akan
membicarakan masalah serius. Aku takut
akan mengganggu.”
Beberapa kali
Rasulullah mengulangi panggilannya.
Akhirnya kekhawatiranku hilang juga.
Mungkin dalam keadaan apapun Rasulullah tak pernah merasa terganggu
dengan kehadiranku.
Akhirnya aku
mendekat. Rasulullah meraihku dan
mendudukkan di pahanya yang mulia. Hmmm,
aku merasa nyaman sekali. Sambil
berbincang dengan sahabatnya, Rasulullah membelaiku.
Atas rasa cinta
ini, hatiku mengalunkan dentingan puisi untuknya. Bahkan apa yang ada dalam zikir tasbihku
hanya ada Allah dan Rasul-Nya. Yuk, kita
dengarkan puisi cintaku untuk Rasulullah.
Cinta Sejatiku
Aku bukan sesiapa
Menjalani takdir berserah sempurna
Dalam gulir waktu yang sahaja
Di sisimu aku bahagia
Darimu hanya kelembutan
Bukan kemarahan
Darimu hanya kemuliaan
Bukan kenistaan
Pada dirimu hanya cinta
Bukan bala
Pada dirimu hanya maaf
Melebur semua khilaf
Rasa cinta tak mampu kupendam
Hanya akan jadi bara yang tak pernah padam
Satu yang ingin kubalas
Atas segala kasihmu yang ikhlas
Menjadi saksi atas indahmu
Mengajak manusia mencintaimu
Meraih kemuliaan dalam
mencintaimu yang mulia
Itulah jalan utama
Untuk akhirat juga dunia
Ada hal lain
yang ingin kusampaikan. Jika Rasulullah
ada di rumah, setiap saat aku bisa menyaksikan kesempurnaan akhlaknya. Apa yang dilakukannya adalah atas bimbingan
wahyu. Tidak heran bila ibunda Aisyah
pernah mengungkapkan bahwa akhlak Rasulullah. adalah Alquran.
Kalian tentu
bertanya-tanya seperti apa keindahan akhlaknya.
Dari kisahku ini kalian bisa membayangkan betapa kasihnya Rasul. Pada seekor kucing sepertiku saja ia sangat
lembut apalagi pada sesama manusia.
Nah, diantara
keutamaan Rasulullah yang aku tahu dan aku rasakan sendiri tergambar dalam
Alquran ayat terakhir Attaubah ayat 128-129:.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ
أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ
رَءُوفٌ رَحِيمٌ
فَإِنْ
تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ
تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
Artinya: Sungguh telah datang seorang Rasul
dari kaummu sendiri, berat terasa penderitaanmu, sangat menginginkan keimanan
dan keselamatan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang
mukmin. Jika mereka berpaling dari keimanan, maka katakanlah: “Cukuplah Allah
bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia.
Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arsy
yang agung.”
Rasulullah
adalah peribadi agung dengan sifat kasih sayang, selalu ingin memberi
keselamatan pada siapa pun. Terhadap
yang menolak kerasulannya pun Rasulullah
selalu memaafkan dan berserah pada kekuasaan Allah SWT.
Jadi,
tidak ada alasan buat kita untuk tidak cinta Rasulullah. Percayalah kecintaan kita pada Rasulullah
bukan untuk Rasulullah, tetapi akan kembali lagi kepada kita. Dengan cinta Rasulullah kita akan dapat lebih
mudah meneladani akhlaknya. Jika kita
berperilaku dengan akhlak Rasulullah maka
keberkahan hidup akan kita dapati.
Banyak saudara, banyak rejeki dan
banyak kemudahan hidup. Yuk, ikuti
jejakku mencintai Rasulullah. Aku yakin
kalian bisa.
Wah,
aku hampir lupa! Saat perjumpaan kita
aku mengucap salam pada kalian. Sekarang
tiba saatnya aku undur diri dan berpamitan.
Aku ucapkan terimakasih pada kalian yang sudah sudi menyimak
kisahku. Sampai jumpa lagi, ya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
AKHIRNYA TUMOR
ITU TERJINAKAN JUGA
By: Khadijah
Hanif
Aku punya tamu yang sangat
setia. Emak Nunung namanya. Datang dua pekan sekali, menawarkan dagangan apa saja. Kecuali dua pekan terakhir, dia tak juga
menampakkan batang hidungnya.
Suatu
hari ia datang kembali dengan wajah bermuram durja. Ada mendung singgah di sana.
“Ibu, saya sudang tiga bulan bengkak
di leher. Kadang terasa sakit sekali,
panas. Dua minggu ini, saya tidak jualan
keliling. Nggak kuat, Bu.” Wajahnya memelas.
“Nggak coba diperiksa ke puskesmas
atau rumah sakit, Mak?” tanyaku.
“Sudah, Bu. Mohon doanya, dua minggu lagi, saya
operasi. Semua administrasi sedang
diurus anak saya. Tapi saya selalu
memohon pada Allah, semoga tidak harus dioperasi.” Suaranya berat menahan sakit.
Aku hanya bisa turut mendoakan
semoga dia cepat sembuh. Sambil melihat
benjolan di lehernya yang sudah sebesar bola pingpong.
Dua bulan lamanya dia tidak juga
datang. Rasanya ingin menjenguknya saat
dioperasi. Tetapi keterbatasannya
membuat kami tidak bisa saling berkomunikasi.
Kadang aku kangen dengan kejutan
barang yang dia bawa, terutama buah-buahan.
Aku tidak harus jauh-jauh cari buah.
“Assalamualaikum.” Saat aku ingat Emak Nunung tiba-tiba aku
dikagetkan oleh suara yang sangat aku kenal.”
“Waalaikumsalam, Eh, Emak? Alhamdulillah, Emak kelihat seger dan
sehat. Sudah berhasil operasinya?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.
Emak Nunung menceritakan kisah
kesembuhan dan bebas dari operasi padaku dengan resep herbal yang diberikan
oleh bapaknya.
***
Bahan:
Obat luar:
|
Hari Lahir |
Pucuk Daun Bandotan |
Pucuk Daun Cengkih |
Bawang Putih |
Sabun
Batangan |
Minyak Kelapa |
|
Senin |
4 buah |
4 buah |
Satu Siung
atau seikuran jari kelingking |
Sebesar ibu
jari |
Satu Sendok
makan (5 ml) |
|
Selasa |
3 buah |
3 buah |
|||
|
Rabu |
7 buah |
7 buah |
|||
|
Kamis |
8 buah |
8 buah |
|||
|
Jumat |
6 buah |
6 buah |
|||
|
Sabtu |
9 buah |
9 buah |
|||
|
Ahad |
5 buah |
5 buah |
Obat dalam:
Garam 1 sendok
teh
Air putih hangat
200 ml (segelas)
Cara membuat
dan cara pemakaian:
Obat luar:
1.
Seluruh bahan dilumatkan.
2.
Tambahkan minyak kelapa satu cendok makan. Campurkan merata.
3.
Balurkan pada benjolan setiap malam menjelang tidur, 40 hari
berturut-turut
Obat dalam:
1.
Campurkan garam dengan 200 ml air hangat.
2.
Aduk hingga rata.
3.
Minum seminggu sekali atau setiap merasa sakit
***
Kita perlu
tahu:
Daun Bandotan memiliki nama ilmiah Agentum
conyzoides. Babadotan adalah nama
daerah Sunda, sedangkan dalam bahasa Jawa disebut Wedusan. Sebagai tumbuhan terna, Babadotan mudah
tumbuh liar dan tersebar di banyak negara tropika dan subtropika. Tinggi tumbuhan bisa mencapai 30-80 cm.1)
Di masing-masing negara Babadotan
dikenal dengan khasiat yang beragam. Di
Afrika Tengah misalnya, Babadotan biasa digunakan untuk obat pneumonia,
mengobati luka bakar. Di India digunakan
sebagai bakterisida, obat disentri dan mengobati batu ginjal.
Berbagai khasiat Bandotan erat
kaitannya dengan zat yang dikandungnya. Berdasarkan laporan dari jurnal Agentum
conyzoides: A Tropical Source and Agricultural Products, tanaman
ini mengandung flavonoid, alkaloid,
kumarin, minyak esensial dan tannin.2)
***
Sumber:
1)
Anonim. 2019. Bandotan.
Https://id.wikipedia.org/wiki/Bandotan. Diakses 26 Juli 2019
2)
Wijaya, Cindy. 2018. Daun Bandotan:Ciri-ciri Kandungan dan
Khasiatnya. Https://deherba.com/Daun-Bandotan-Ciri-ciri-Kandunga-dan-Khasiatnya. Diakses 28 Juli 2019
ANEKA HERBAL UNTUK BATUK
Setiap bulan September tiba, cuaca ekstrim sering kali
bertandang. Angin kencang bertiup disertai hujan deras. Sesaat sebelum hujan turun suhu tiba-tiba
menghangat, setelah hujan turun, suhu mendadak menjadi dingin.
Kondisi
ini tentu jauh dari nyaman, terutama untuk santri yang tinggal di asrama. Mereka yang jauh dari orang tua sangat
membutuhkan perhatian khusus untuk penjagaan kesehatan mereka.
“Ummi,
anak-anak banyak yang batuk di asrama.”
Salsa pengurus di asrama
menemuiku suatu sore. Ia mengeluhkan
banyaknya anak santri putri yang sakit.
“Apa
yang mereka keluhkan, Salsa?” tanyaku serius.
“Demam,
panas dan batuk, Ummi. Tapi kebanyakan
pada batuk,” jelas Salsa.
Aku
mencoba membuka buku catatan ibu yang aku bawa.
Buku itu berisi berbagai resep herbal yang biasa kami gunakan sebagai
obat keluarga. Ada beberapa resep
berjajar di atas kertas yag mulai kusam itu.
Aku memilih resep dengan bahan yang tersedia di rumah dan pekarangan
sempit di depan rumah. Dengan dibantu
Salsa, aku membuat beberapa resep supaya cukup untuk semua sepuluh santri putri
yang sakit.
Alhamdulillah,
tiga hari kemudian santri putri yang berada di ruang kesehatan tinggal dua
orang.
Nah,
berikut obat herbal yang kami berikan pada santri putri di asrama saat mereka
terserang sakit batuk.
***
Resep I:
Bahan:
1. Lemon satu buah
2. Jeruk nipis satu buah
3. Madu satu sendok makan
4. Air hangat satu gelas
Cara membuat dan cara pemakaian:
1. Cuci lemon dan jeruk nipis
2. Iris lemon dengan arah membujur
sampai kulit habis, peras lemon di atas saringan dan tampung pada gelas
3. Iris jeruk nipis arah melintang ,
peras jeruk nipis di atas saringan dan tamping pada gelas berisi air lemon
4. Masukkan satu sendok madu
5. Tambahkan air hingga 200 ml atau
satu gelas
6. Minum dalam keadaan hangat dua kali,
yaitu sesudah makan pagi dan sesudah makan malam
Resep II:
Bahan:
1.
Daun sirih lima lembar
2.
Jahe sebesar dua ibu jari orang dewasa
3.
Air 400 ml
Cara membuat
dan cara pemakaian:
1.
Cuci bersih semua bahan
2.
Iris tipis jahe
3.
Tambahkan 400 mililiter air
4.
Rebus hingga bersisa setengahnya (200 ml)
5.
Minum dua sendok makan tiap kali terasa gatal, untuk penderita
batuk kering
Resep III:
Bahan:
1.
Kunyit sebesar ibu jari
2.
Setengah sendok teh garam
Cara membuat
dan cara pemakaian:
1.
Cuci bersih kunyit, parut dan peras
2.
Tambahkan pada perasan kunyit setengah sendok teh garam
3.
Minum langsung untuk penderita batuk berdahak maupun kering
***
Kita perlu
tahu:
1.
Lemon memiliki nama ilmiah Citrus limon. Sedangkan jeruk nipis memiliki nama ilmiah Citrus
aurantifolia. Keduanya termasuk
dalam famili Rutaceae. Lemon dan
jeruk nipis mengandung banyak vitamin C yang berfungsi untuk meningkatkan daya
tahan tubuh dan membantu proses penyembuhan.
Vitamin C juga berfungsi sebagai antioksidan yang dapat mengikat radikal
bebas dalam tubuh juga antibakteri.
2.
Daun sirih memiliki nama ilmiah Piper betle. ” Tanaman yang
tumbuh menyulur ini, memiliki daun lebar, kaya akan kandungan saponin, tannin,
eugenol dan berbagai minyak esensial.”1) Dengan berbagai kandungan ini, daun sirih
memiliki banyak khasiat sebagai antiseptik dan antibakteri.
3.
Kunyit memiliki nama ilmiah Curcuma domestica. “Kandungan utama kunyit adalah kurkumin dan minyak
atsiri yang berfungsi untuk pengobatan hepatitis, anti-oksidan, anti-mikroba dan mengatasi
gangguan pencernaan. “2)
4.
Jahe memiliki nama ilmiah Zingiber officinale. “Kandungan nutrisinya cukup lengkap terutama
vitamin dan mineral, seperti vitamin A, C, D, E, B1, B2, B3, B5, B9, Kalsium,
Zat Besi, Magnesium, Fosfor, Kalium, Sodium dan Seng. Dengan kandungan vitamin dan mineral yang
banyak ini, Jahe memiliki khasiat antara lain, mencegah kanker, melancarkan
sistem pencernaan, mengurangi mual, mengendalikan tekanan darah,
anti-kolesterol, menghilangkan bau mulut, dan mengurangi bengkak karena
peradangan.”3)
***
Sumber:
1)
Setyorini, Tantri. 2018. Manfaat Daun Sirih Merah dan Hijau. https://www.merdeka.com/sehat/manfaat-daun-sirih-merah-dan-hijau-kln.html/.Diakses
30 Juli 2019.
2)
Anonim. 2019. Kunyit.
Https://id.wikipedia.org/wiki/Kunyit. Diakses 30
Juli 2019
3)
Dickson. 2019. Kandungan
Gizi Jahe dan Manfaat Jahe Bagi Kesehatan.
https://ilmupengetahuanumum.com/kandungan-gizi-jahe-manfaat-jahe-bagi-kesehatan/. Diakses 30 Juli 2019
INSPIRASI BUAH HATI
Berpisah dariku sejak berusia
sebelas tahun, membuatnya makin matang dan mandiri. Ketika mengingat usia
sekolah dasar, aku hampir tak mampu mengusir keraguanku. Akankah
putriku yang satu ini bisa mandiri dan dewasa.Sejak kecil khadimah selalu saja
membuat anak-anak merasa keenakan. Pembagian tugas di rumah pun menjadi kurang
efektif.
"Bibi, biarlah itu
pekerjaan bagian Kak Aisy. Jangan dikerjakan sama Bibi. Bagaimana
mereka bisa menghargai pekerjaan Bibi kalau nggak pernah tahu bagaimana
susahnya kerjaan rumah."
"Biarlah Bu, Bibi merasa
nggak enak kalau pulang meninggalkan pekerjaan yang belum selesai."
"Pokoknya begitu bagian
Bibi selesai, Bibi harus segera pulang. Ini bagian pendidikan buat
anak-anak saya." Aku memberi pesan terakhir itu hampir setiap
hari. Tapi aku tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan pembagian kerja
itu. Pekerjaan di kantor membuatku pulang hingga pukul tiga
sore. Yang aku tahu setiap kali pulang semua sudah beres.
Hingga suatu hari.
"Kak Aisy, kenapa cucian
piringnya masih kotor? Kan tiap hari Ummi kasih tugas yang sama buat
Kakak?"
"Maafin Aisy,
Mi...sebenarnya Bibi selalu melarang Aisy buat ngerjain tugas Kakak. Tiap Aisy
pulang sekolah selalu saja seluruh pekerjaan sudah rapi. Jadi Aiy belum begitu
bisa melakukan dengan baik. Ummi jangan marah ya....?"
Demi melihat wajah memelasnya,
aku meredam segala kecewa.
"Aisy berjanji akan
melakukan tugas Aisy sebelum Bibi datang."
Aku tersenyum mendengar
kejujuran dan ketulusan janjinya. Padahal kalau mau bisa saja dia
bohong. Mengatakan bahwa tugasnya benar-benar dia lakukan. Toh
aku tidak melihat langsung tugasnya dikerjakan bibi.
Sayangnya, kesadaran Aisyah
ada di minggu terakhir sebelum ia masuk pesantren. Aku dan Abi Aisy
sepakat memasukkannya ke pesantren putri. Ada banyak pertimbangan kami
dalam memutuskan pendidikan anak kami. Kemandirian, pemahaman agama
sebagai modal hidup merupakan pertimbangan utama kami.
Malam itu, kami sekeluarga
mengelilingi hidangan sederhana. Nasi putih, sayur lodeh hangat, sambal
goreng teri kacang, sambal tomat dan sesisir pisang ambon. Aku, Abi , Aisy
dan dua anak kami yang lain, Kamilah dan Zulfikri menikmati makan bersama
"Kak, Ummi dan Abi ingin
kamu menimba ilmu di Pesantren Terpadu Darul Akhirah. Alasannya, ini akan
menjadi latihan awal kamu berpisah dari Abi dan Ummi. Kalau ada apa-apa,
Abi-Ummi nggak kesulitan nengokinnya?" Abi berbicara pelan mengungkap
maksud kami
“Bagaimana kamu siap untuk
mondok?” tanyaku.
Sebetulnya dunia pesantren
bukan hal yang asing buat Aisyah. Dia sering ikut Abinya yang mengajar di
pesantren mewakafkan diri. Kekhawatiranku lebih pada bagaimana ia bisa
berpisah dengan teman dekatnya di SD yang menerut cerita Aisy, ia tidak akan
mesantren.
Kami terdiam sejenak.
“Aisy mah, gimana baiknya Abi
Ummi saja. Aisy ikut keputusan Abi-Ummi,” ucap Aisy ringan tanpa beban.
Dalam
perjalanan waktu Aisy membuktikan perkataannya itu”Aisy ikut keputusan
Abi-Ummi”
Tiga tahun di Pesantren Darul
Akhirah, hasil belajarnya belum memenuhi harapan kami. Libur akhir tahun,
kami kirim Aisy ke salah satu pesantren kawan dekat suamiku. Tujuan
kami supaya Aisy dapat memperlancar dan memperbaiki bacaan Alqurannya.
Tidak lama, hanya satu bulan. Dan ia menurut.
Suatu saat, Abi punya harapan
Aisy untuk menguasai ilmu alat (nahwu-shorof). Kini tak tanggung-tanggung
kami mengirimnya ke Jepara. Perjalanan 14 jam dari tempat tinggal kami,
Pesantren Amtsilati.
“Aisy, Abi ingin Aisy bisa
membaca kitab kuning. Aisy kan baru berumur 13 tahun. Berhenti
sekolah untuk belajar bahasa Al Qur’an bukan sesuatu yang merugikan.” Untuk
kesekian kali kami berunding saat itu.
Aisy memang masuk sekolah
dasar di usia lima tahun. Ia menjadi yang termuda di kelasnya.
Seperti biasa ia katakan,”
Aisy ikut bagaimana baiknya aja.”
Satu bulan setelah Aisy
memperbaiki bacaan Qur’an, kami bertiga berangkat. Menaiki bis dari
Tasikmalaya jam tujuh malam. Jam sembilan kami memasuki pesantren
Amtsilati. Dari tepi jalan kami berhenti, hanya tiga menit berjalan kaki,
kami sudah memasuki kawasan pesantren.
Sebuah pesantren besar dengan
ribuan santri. Berbagai jenis bangunan mengelilingi pelataran yang cukup
luas. Masing-masing bangunan diberi nama sesuai fungsinya. Rumah pimpinan,
masjid, ruang tunggu tamu dan rumah pengasuh santri agak terpisah jauh.
Kami menanyakan banyak hal
pada resepsionis (petugas penerima tamu). Setelah semuanya jelas,
kami menyelesaikan segala urusan administrasi.
Hingga tiba waktu berpisah
itu.
“Aisy, semua sudah beres,
Abi-Ummi mau pulang dulu, ya.” Kami berdiri dan berpamitan pada Ustadzah
Ulfa.
Mata Aisy berkaca-kaca.
Dia mengikuti kami hingga ke pintu.
“Kalau boleh, Aisy mau ikut
pulang dulu.” Air matanya menganak sungai.
“Aisy, kalau kamu pulang lagi,
kapan mulai belajarnya? Pertimbangkan juga pengorbanan waktu dan biaya
yang harus keluarkan,” jawabku lembut dan hati-hati.
Aisy tertunduk dan diam.
Kucium pipi dan keningnya. Dibalasnya dengan cium tangan takdzimnya pada
kami.
Tanpa menoleh lagi ke belakang
kami berjalan dan aku tak tahu ekspresi terakhirnya saat kami tak terlihat
lagi. Ada haru menggelayuti hatiku. Seolah bermain di telaga air
mata yang hampir berkecipak. Aku tahan agar tak jatuh. Kuganti
dengan doa tulus, doa ketegaran yang kumohonkan untuk anakku.
‘Ya Rabb, bimbing anak hamba
yang sedang berjalan fisabilillah. Lapangkan hatinya, bahagiakan dia dalam
mengarungi samudera ilmuMu. Berikan karunia ilmu yang berkah dan
manfaat. Ilmu yang mendekatkan dirinya padaMu. Ilmu yang membuatnya
rendah hati dan menyadari kebesaranMu.’ Bisik hatiku tak pernah berhenti
bermunajat padaMu.
‘Ya Rabb, kirimkan teman yang
baik, ustadz-ustadzah yang penyayang, yang membuatnya nyaman dalam bergaul dan
menuntut ilmu.’
Di awal-awal berpisah jauh,
Aisy banyak mengalami gangguan kesehatan. Scabies di bagian perut dan
kepala, infeksi telinga, sakit gigi dan yang terakhir ini samapi berobat di Temanggung,
dirawat oleh kakak pertamaku yang tinggal di Temanggung Jawa Tengah.
Tiga bulan pertama, keluhannya
hampir meruntuhkan ketegaranku.
“Aisy, bagaimana mau uterus
atau pindah saja?” Suatu saat aku menguji ketegarannya
“Nggak Ummi, pingin bisa diwisuda
bareng yang lainnya.”
“Sekarang sudah ke jilid
berapa?”
“Baru jilid dua, Mi?”
“Kira-kira bakal selesai nggak
target wisuda satu tahun?”
“Insya Alloh, Mi. Kalau
Aisy sehat dan nggak banyak gangguan sakit sepertinya bakalan cepat.”
“Ya udah kalau Aisy yakin,
Ummi selalu bantu doa dan biaya buat Aisy.”
Kedewasaannya makin nampak di
usia ke-13. Aku menghitung target satu tahun tinggal tersisa sembilan
bulan untuk mengejar empat jilid kitab Amtsilati ditambah kitab Qaidati dan
Shorfiyah.
Alhamdulillah di bulan ke-4 Aisy di
Jepara. Dering telepon tidak begitu sering aku dengar. Malahan aku
yang sebulan sekali memberi kabar tentang transfer biaya mesantren sambil
menanyakan hasil belajar dan keadaan Aisy pada Ustadzah Ulfa.
“Ustadzah, bagaimana hafalan amtsilati
Aisy?” tanyaku di bulan ke delapan.
“Alhamdulillah Bu, sudah masuk jilid ke lima.”
“Bagaimana dengan nilainya?”
“Sebentar Bu, saya lihat di lembar setoran
hafalannya.”
Aku menunggu sejenak sementara suara di
seberang sana terhenti.
“Ibu, hasilnya bagus. Selalu mencapai
target nilai di atas sembilan.”
Aku menarik napas lega penuh kesyukuran,
nampaknya Aisy sudah mulai bisa mengalahkan kesulitannya. Adaptasi yang
cukup sulit, tiga bulan dirundung penyakit.
Bulan kesepuluh Aisy di
Amtsilati. Kami berniat mencarikan sekolah menengah untuk menyambung
pendidikan formal yang terputus satu tahun. Ada dua pilihan, tetap di Amtsilati
sambil sekolah atau keluar melanjutkan sekolah sambil mesantren di tempat lain.
Sampailah pada wasilah yang Alloh dekatkan.
Teman Aisy yang mesantren di Jakarta mengalami depresi atau entah apa yang
membuatnya sering berteriak tidak jelas. Orang tuanya sangat mengharap
Aisy bisa menemaninya di Al Mawaddah- Jakarta.
“Aisy, ada yang membutuhkan bantuan kamu.”
Tanyaku melalui telfon di bulan ke sebelas Aisy belajar di Jepara.
“Ada apa, Ummi. Selagi Aisy bisa tentu
akan Aisy lakukan.”
Aku bercerita panjang lebar tentang keadaan
kawan baiknya waktu di Pesantren Darul Akhirah.
“Sebenarnya Aisy sudah mulai betah tinggal di
Jepara. Teman-teman juga sudah saling memahami. Tapi kalau itu
keputusan Abi Ummi, Aisy ikut aja sih…..” Sekali lagi kalimat itu
diucapkannya untuk kesekian kali. Sesuatu yang membuatku menitikkan air
mata haru dan bahagia. Rabb…semoga dia tidak menentang bathinnya.
Berpamitan dari Amtsilati, Aisy mengikuti
seleksi masuk di pesantren barunya. Mungkin saat ini dia bersedih karena
berpisah dengan ma’had dan teman-teman yang sudah mulai dicintainya.
Pengumuman seleksi memutuskan Aisy diterima di
Pesantren.
Berbeda dengan pesantrennya di Jepara,
pesantrennya di Jakarta lebih memberinya ujian mental. Betapa tidak?
Sebuah pesantren bebas biaya full untuk yatim dan atau dhuafa ini, kadang
membuatnya protes.
“Ummi sebenernya, ada kesalahan kenapa ummi
memasukkan Aisy di sini. Ini pesantren untuk yatim atau dhuafa.”
“Aisy, di sini ada latihan mental buat kamu.
Selama kamu lulus seleksi, tidak ada yang salah dengan langkah kita.”
“Iya juga….tapi Aisy takut memakan hak orang
yang lebih berhak.”
“Memangnya, Aisy malu disebut dhuafa?
Bukankah kita semua ini dhuafa. Andai kita kuat sekalipun, bukankah
kekuatan itu sebenarnya bukan milik kita? Semua titipan dan pemberian
Alloh. Lagi pula Aisy sedang menemani teman dekat yang sakit
bukan?”
Panjang lebar aku memberi pengertian buat buah
hatiku. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang membuat dia begitu ingin
keluar dari pesantrennya. Terlalu besar pengorbanan yang harus
dikeluarkan seandainya Aisy harus keluar ditengah jalan. Biaya tebusan untuk
ijazah SMP dan Raportnya mencapai satu juta perbulan. Sedangkan Aisy
sudah berada di ujung tahun ke dua.
Alasan beratnya biaya yang harus dikeluarkan
akhirnya menghentikan rengekan Aisy. Akan tetapi cerita yang kudengar
membuatku tak kuasa menahan tangis. Sebuah cerita yang tak pernah kuduga
sebelumnya. Kudengar dari seseorang yang juga mesantren di tempat yang
sama.
“Dik Laras, coba ceritakan apa sih yang dialami
Kak Aisyah sampai dia maksa harus keluar?” tanyaku penasaran
“Begini ummi, Kak Aisy pernah dihukum karena
sesuatu yang tidak pernah dilakukannya. Kak Aisy pinjam uang. Kata
kak Aisy udah dikembalikan. Sementara yang member pinjam bilang belum.
Sepertinya pihak pengurus lebih percaya pada yang ngasih pinjam.”
“Terus akhirnya gimana?”
“Kak Aisy kena marah dan hukuman di depan kami,
dipukul di bagian muka pakai piring plastik sampai belah di adik-adik
tingkatnya.”
“Kak Aisy sudah mengasih kembali uang
pinjamannya belum?” Aku agak geram. Rasanya aku tidak pernah terlambat
mentransfer uang.
“Setelah hukuman itu, beberapa hari kemudian
yang ngasih pinjam ke Kak Aisy minta maaf. Dia terpaksa membuat cerita
bohong untuk menutupi kesalahan. Dia katakan uangnya dipinjam Kak Aisy.”
Ya Allah, rasa bersalah dan bergemuruh di dada, membersitkan
kerinduan yang dalam. Tak terasa air mata
ini mengalir deras. Aku ambil wudu, aku
gelas sajadah mengirim doa tulus buat Aisy.
Rabb, aku titipkan buah hatiku padamu, segenap jiwa dan
raganya. Ikhlaskan dia menerima tiap
detik ketentuanMu. Dalam tiap helaan
napasnya jadikan dia selalu mengingatiMu, bersandar hanya padaMu.
Lalu aku tuliskan barisan kata, inspirasi untuk buah hatiku.:
Orang Istimewa bukanlah orang yang dikelilingi
oleh kemudahan, tetapi mereka yang mampu menakhlukkan kesulitan.
Menakhlukkan kesulitan tidak selalu mengubahnya menjadi kemudahan, tetapi
juga menumbuhkan kesyukuran dan kesabaran dalam kesulitan.
PELABUHAN CINTA
By : Khadijah
Hanif
“Ibu,
aku mau menikah dengan Kang Angga. Kami
sudah sama-sama cocok. Apalagi Kang
Angga itu pekerja keras.” Melati merajuk
pada ibunya yang sudah mulai renta.
Maklum meski punya wajah cantik, Melati yang sudah berusia dua puluh lima tahun tak juga
mendapatkan jodohnya. Ibunya terlalu selektif memilih calon suami
untuk Melati. Kriteria sang ibu selalu
terkait dengan isi kantong. Asal mapan tak peduli wajah apalagi akhlak
dan perilaku, sama sekali tidak menjadi pertimbangan Ibu Lastri.
“Ibu
nggak keberatan, tapi kamu harus pastikan masa depanmu akan bahagia bersama
Angga. Kamu harus tahu apa pekerjaannya,
berapa penghasilannya. Kalau
penghasilannya kurang, kamu akan kerepotan meneruskan profesimu sebagai
biduwanita. Ibu sudah kewalahan dengan
pengeluaran kamu. Perawatan kecantikan,
fitness, kostum kamu. Semua butuh biaya
besar. Sedang jadwal mentas kamu belum
bisa menutupi apa yang ibu keluarkan.”
Begitulah
gambaran keruwetan hubungan Melati dan ibunya.
Melati berprofesi sebagai biduwanita grup musik dangdut di Kampung
Asri. Tidak ada yang berselisih tentang
kecantikan dan kemolekan.
Beberapa
hari ini Melati merasa jatuh cinta pada Angga.
Pemuda menjelang tiga puluh tahun yang membuatnya kagum dan terobsesi
untuk menjadi istrinya. Meskipun
terkesan tergesa-gesa, Melati merasa yakin bahwa Angga seorang pemuda
dengan masa depan yang jelas.
Pasalnya,
ketika sedang berpentas di acara pernikahan di kampung sebelah, Melati melihat
Angga mengendarai colt bak yang penuh dengan barang bekas. Kardus, perabot logam bekas memenuhi bak
belakang. Melati yang sedang menunggu
pentas dimulai, tiba-tiba dihinggapi bisikan halus yang tak bisa ditelusuri dari mana asalnya.
“Melati, kamu gagal terus menikah gara-gara ibumu hanya menyetujui
calon suami berkantong tebal. Lihat tuh
di depan kamu ada bos barang bekas.
Pasti ekonominya mapan, prospek usahanya juga cerah. Bukankan Mang Arul juga menjadi orang terkaya
di kampung gara-gara menjadi pengepul barang rongsokan?” Suara itu begitu menggoda
Melati untuk kenal dengan penjual barang
bekas itu yang akhirnya Melati tahu, namanya Angga.
Kebanyakan
orang memandang sosok Arul dengan penuh penghormatan sebagai orang terkaya dari
usaha menggumpulkan barang bekas .
Profesi Angga yang juga sebagai penjual barang bekas, ternyata menarik
hati Melati untuk mengenalnya lebih jauh.
Bahkan untuk menjadi istrinya.
*****
Takdir telah meluluskan harapan Melati menjadi istri Angga. Permulaan yang sangat membahagiakan buat
Melati. Gadis cantik, penyanyi dangdut
yang selalu segar dipandang siapapun.
“Beruntung banget si Angga bisa
mempersunting Melati. Sayangnya jauh
banget, ya. Yang satu pemuda culun dan
yang satunya, gadis penyanyi yang selalu
glaumor dengan perawatan wajah dan kostum menantang.” Begitulah perbincangan banyak orang,
tetangga, kerabat juga siapa pun yang mengenal Angga.
Tiga bulan berlalu. Segala rahasia antara dua insan itu terungkap
sudah. Bahkan untuk setitik tanda dan
rasa yang tersimpan dalam hati sekalipun.
Berawal dari keributan kecil, terutama terkait dengan keinginan Melati
yang makin tidak tertanggung oleh Angga.
“Kang, aku pikir kamu itu bos dengan
masa depan cerah seperti Mang Arul. Bos
barang bekas terkaya di kampungku. Mobil
berjajar, rumah mewah dan nama yang
terhormat. Nggak tahunya kamu cuma punya
colt bak. Jual rongsokan hanya sebulan
sekali. Keuntungan dua ratus ribu dalam
sebulan. Cukup buat apa Kang, uang
segitu zaman now?”
Angga hanya bisa diam membisu dengan
sedikit nasihat yang tak memiliki daya ubah sedikit pun. “Sabar Melati sayang, rejeki itu akan
menghampiri kita. Asal kita dekat dengan
Yang Maha Memberi Rejeki. Insya Allah
akan Dia kasih kemudahan.”
“Omong kosong, dari dulu kamu rajin
salat. Tapi kamu tetap saja nebeng
penghasilan menyanyi aku. Mana cukup,
modal aku menjadi penyanyi kadang melebihi honor manggung aku. Aku malah harus memenuhi kebutuhan kamu.”
Angga mengurut dada dengan tingkah wanita
cantik yang menyita rasa cinta dalam hatinya.
“Maafkan aku yang belum bisa mencukupi kebutuhanmu.” Kalimat ini begitu sering diucapkannya sambil
mengakui segala kelemahan diri.
Biduk rumah tangga Angga
hampir-hampir tak bisa dipertahankan lagi.
Tingkah Melati yang makin menjadi makin tak terkendali dengan ucapan
miring dari kanan kiri.
“Angga, kamu tidak pantas
mendapatkan wanita seperti Melati. Bagai
bumi dengan langit. Sudahlah, buat apa
dipertahankan lagi. Dia memang cantik
tapi bikin kamu makan hati sampai kurus kering begini,” ucap ibu Angga suatu
ketika.
Berbagai ucapan dari simpati,
kasihan hingga cibiran makin membisingkan telinga Angga. “Kamu nggak ngaca,
Angga. Buat apa kamu membanggakan diri
punya istri aduhai, tapi sesungguhnya
tidak mencintai kamu. Melati hanya
tertipu dengan pandangan salahnya atas diri kamu. Dia pikir kamu calon pengusaha sukses yang
berpotensi jadi orang kaya. Kasihan, deh
kamu.”
Kini
takdir berikutnya sungguh membuat hati Angga berkeping-keping.
“Kang,
aku minta cerai. Aku sudah nggak tahan
dengan keadaan kita yang serba susah.
Belum lagi desakan kanan kiri.
Aku nggak bisa menutup telinga lagi.”
Melati pulang sore itu meninggalkan Angga bersama senja yang makin
sepi. Menunggu Magrib yang setia
menghampirinya tiap hari. Menggigit dan
pahit.
*****
Beruntung,
kebiasaan salat berjamaah lima waktu di masjid menguatkan kaki Angga untuk
tetap berpijak pada kenyataan.
Dari
sekian banyak orang yang mengenal Angga, ada seseorang yang sangat
memahaminya. Pak RT yang sekaligus juga
menjadi ketua DKM Al Ikhlas, Ajengan Lukman. Seseorang yang menjadi tokoh dan sesepuh di
kampungnya.
“Angga,
Bapak tahu kesulitan yang sedang kamu rasakan.
Tidak mudah berpisah dengan orang terdekat dan yang paling tahu detail
rahasia kita. Bapak bersyukur kamu tetap
menjadi ahlul masjid. Keistikamahan
kamu sedikit banyak membantu kamu mengobati luka dan kesedihan hatimu. Manusia memang dipenuhi kelemahan. Segala yang berlaku tak lepas dari kehendak
Yang Kuasa. Kita sekedar ikhtiar, berdoa
dan selanjutnya bertawakal. Apapun yang
terjadi terjadilah, yang penting kita jaga hubungan dekat dengan Sang
Khalik. Yang paling penting sebisa
mungkin kita hindari dari durhaka pada Dia.”
Angga
hanya tertunduk di hadapan sosok yang bijaksana itu. Kalimat-kalimat hikmahnya mengalir deras. Tiba-tiba pertanyaan Ajengan Lukman
yang tak terduga menohok akal sehat Angga.
“Kalau Bapak boleh tahu, apa alasan Angga menikah dengan Melati? Bukankah kalian punya sifat yang sangat jauh
berbeda?”
“Iya,
Pak, saya merasa iba dengan gaya hidup Melati.
Terus terang kecantikannya juga sangat menggoda siapa saja yang
melihatnya. Saya pikir itu hal yang
wajar dirasakan laki-laki normal seperti saya, Pak Haji.”
“Apa
kamu lupa pada pesan Rasulullah bahwa menikahi wanita diutamakan atas dasar
kebaikan agamanya. Cantik, kaya dan
kemuliaan keturunan boleh menjadi alasan kita menambatkan hati pada
perempuan. Tapi agama menjadi alasan
paling kuat dalam menentukan pilihan.”
“Saya
pikir sedikit demi sedikit Melati bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan
saya. Mau mendengar nasihat saya. Ternyata…..”
Suara Angga tercekat oleh kesadaran atas kelalaiannya dalam membuat
keputusan.
“Begini
Angga, Bapak sudah mulai tua. Banyak
kegiatan masjid yang tidak bisa diadakan dengan baik. Bapak melihat kecintaanmu pada masjid. Setidaknya kamu selalu berjamaah salat
wajib. Maukah kamu menggantikan Bapak
sebagai ketua DKM? Bantuanmu mengajar
mengaji setelah Magrib dan keterlibatanmu pada hampir semua kegiatan di masjid
kita adalah alasan mengapa Bapak memilih kamu.”
Angga
tersedak napasnya sendiri saking kagetnya.
Spontan ditolaknya tawaran Ajengan Lukman. Namun tekad sesepuh itu tak bisa ditahan oleh
penolakan Angga. Rapat pengunduran diri
dan penentuan ketua DKM baru menjatuhkan amanah itu pada Angga Alamsyah. Pemuda dengan fitrah yang lurus dan tulus dalam membantu DKM Al Ikhlas
meskipun tidak menjabat apapun.
Hari-hari
masih terasa berat dalam kesendirian Angga.
Sesekali bayangan atas kehadiran Melati masih mewarnai kesenduan
hatinya. Kelebat sosok Melati berhijab
rapi seolah menyelip di antara jamaah pengajian perempuan. Segera ditepis segala bayangan menyiksa itu
dalam doa yang mendalam, ”Melati, semoga suatu saat hatimu mendapat cahaya
hidayah Allah SWT. Semoga hatimu bisa
secantik wajahmu. Oh, cinta, kemanakah segenap rasa ini harus berlabuh?”
Sejak
amanah ketua DKM diterimanya, kecintaannya pada masjid makin menghibur
kesedihannya selama ini. Perlahan Angga
dapat melupakan Melati. Kesibukannya
memakmurkan masjid menunjukkan kerinduannya pada janji Allah, bahwa naungan di
Padang Mahsyar akan diberikan pada pemuda yang hatinya terpaut pada masjid.
“Ibu-ibu,
untuk memakmurkan masjid kita, saya mohon untuk hadir di pengajian sepekan
sekali. Bagaimana kalau kita bersepakat
yang tidak hadir mengganti amalannya dengan infaq dan sedekah?” Ide-ide baru sering kali keluar dari rasa
cintanya untuk memakmurkan Al Ikhlas.
Suara
riuh rendah diantara ibu-ibu jamaah pengajian menanggapi usul Angga.
“Ibu-ibu
jangan merasa keberatan. Ibu-ibu tinggal
memilih hadir atau infak. Keduanya amal
ibadah utama bila kita niatkan karena Allah SWT. Bila Ibu-ibu hadir berarti sudah memakmurkan
majelis ilmu Allah. Bila Ibu berinfak
berarti turut memakmurkan rumah Allah.
Uang infak Ibu-ibu akan saya catat dengan rapi berikut laporan
penggunaannya. Insya Allah harta yang
kita infakkan, itulah rejeki kita yang sesungguhnya. Rejeki abadi yang akan kita nikmati di hari
pembalasan kelak.”
“Saya
sependapat dengan Ustaz Angga. Saya rasa
ini bagus untuk direalisasikan.
Hitung-hitung menjadi motivasi untuk hadir. Bila kita mendapat ilmu, kita juga yang
beruntung. Janji Allah SWT tidak pernah
diingkariNya. Bukankah orang berilmu
akan dinaikkan beberapa derajat?”
Suasana
majelis taklim menjadi cair dengan kesepakatan yang membahagiakan ini. Keberkahan Masjid Al Ikhlas makin dirasakan
masyarakat. Majelis taklimnya ramai oleh
kehadiran para ibu.
Pendanaan
bukan sesuatu yang terlalu merisaukan buat Angga. Selain dari infak ibu-ibu majelis
taklim, Angga juga makin bersemangat
mencari dan menjual barang bekas. Yang awalnya hanya sebulan sekali, sekarang
seminggu tiga kali dia mengumpulkan barang bekas dan menjual pada
pengepul. Barang bekas itu diterimanya
dari para pemulung. Hasil penjualan dapat
mencapai tiga juta dalam sebulan.
Diambilnya dari hasil penjualan itu sedikit untuk makan sehari-hari dan
selebihnya untuk kas masjid.
Melihat
perkembangan Al Ikhlas, Ajengan Lukman tersenyum bahagia. ”Angga, tak salah aku mengusulkan
namamu. Lihatlah suara riuh anak-anak
itu. Dulu waktu aku menjadi ketua hanya
dua puluh anak ngaji lepas Magrib.
Sekarang lebih dari empat puluh. Perkembangan yang membahagiakan.”
“Ini
semua berkat dukungan dan doa Pak Haji.
Mereka menerima saya karena menaati kata Pak Haji juga, “ kata Angga
penuh kerendahan hati.
“Keikhlasan
adalah kunci dari semuanya. Dan tidak
ada keikhlasan tanpa cinta. Kamu sudah melabuhkan cinta pada tempat yang
tepat. Pada masjid ini. Lihatlah hiasan lampu warna-warni yang
meramaikan lomba Muharaman itu. Begitu
indah. Aku tahu ada keringatmu di
sana. Ada pengorbanan tenaga, pikiran
dan harta.”
Angga
hanya menunduk tersipu dalam hatinya mengagumi ketepatan ucapan kata bijak Ajengan
Lukman. Kesyukuran atas dermaga cinta
yang baru. Cinta yang akan menaunginya
di syurga.
Nama
baik Angga makin tersebar memenuhi para pemerhati kebaikan. Penghargaan sebagai pemuda penggerak kegiatan
agama dari DMI (Dewan Masjid Indonesia).
Berita ini menghampiri telinga Melati, dari mulut ke mulut. Penghargaan dan hadiah yang diterima Angga
menggiurkan Melati untuk kembali.
“Kang
Angga, maafkan kekhilafan aku.
Sebenarnya aku mencintaimu dan ingin kembali. Sampai saat ini Melati masih sendiri. Ibuku tak mengizinkan aku menikah dengan
calon suami yang mendekati aku. Dari
sekian banyak lali-laki yang aku kenal, Kang Angga yang paling baik dan nggak
pernah nyakitin aku.” Pesan wa terbaca
saat Angga sibuk menyiapkan proposal peluasan Masjid Al Ikhlas.
“Maafkan
aku Melati, sampai saat ini aku belum ingin memikirkan cinta yang lain. Al Ikhlas membutuhkan tenaga, pikiran dan
waktuku. Kecuali kita bisa bersama
melabuhkan cinta pada dermaga yang sama memakmurkan syiar di Masjid Al
Ikhlas.” Jawaban tegas dikirimkan Angga
untuk Melati.
Di
seberang sana, Melati menitikkan air mata.
Satu tekat membara untuk hijrah sepenuhnya. Menuju pelabuhan cinta yang sama.
KEMBALINYA
CINTA KEVIN
By: Khadijah Hanif
Bunda Kirana
kebingungan dengan sikap Kevin yang makin menjadi. Kevin kini bukan Kevin lima tahun yang
lalu. Ia sangat sulit buat mencermati
pesan bundanya. Seakan semua yang
dikatakan bunda tidak penting buat Kevin.
“Kevin, coba,
deh. Kalau Bunda lagi bicara, kamu diam
barang sebentar. Dengerin baik-baik.” Bunda
Kirana memegang lengan Kevin keras-keras. Kevin mengibaskan lengannya tanpa
rasa bersalah.
“Sudahlah,
Bunda. Kevin baik-baik aja. Aku nggak apa-apa.”
Kevin meninggalkan Bunda yang terbengong-bengong menghadapi sikap Kevin
yang makin aneh satu tahun terakhir ini.
Sebenarnya
Bunda Kirana menyadari perubahan itu sejak Kevin memasuki bangku SMP. Kevin sudah tidak mau lagi mengaji di diniyah
sore ataupun lepas Magrib. Setiap kali
Bunda Kirana menyuruhnya belajar agama, selalu ada alasan buat menolaknya.
“Bunda, Kevin
udah besar sekarang. Di diniyah udah nggak ada anak seusia aku lagi. Paling
besar kelas enam esde.” Alasan inilah
yang menyebabkan Kevin berhenti sekolah agama.
Bunda Kirana
tidak mau kehilangan akal. Ia memanggil Ustaz Sofyan untuk memberikan privat
buat Kevin dan Nadia. Di awal-awal kehadiran Ustaz Sofyan Kevin masih mau ikut
belajar. Akan tetapi hal itu tidak bertahan lama. Kevin makin jarang mengikuti
jadwal kedatangan Ustaz Sofyan. Atau
lebih tepatnya menghindar. Kevin selalu
berdalih dengan berbagai alasan, ada ekskul lah di sekolah, ada guru yang
menambah jam belajar lah, ada kegiatan
mendadak atau apa saja yang penting dia tidak
harus berhadapan dengan Ustaz Sofyan.
Makin hari
perubahan yang ada pada Kevin sudah memasuki taraf menghawatirkan. Hari Ahad pagi Kevin bergegas dengan tas
punggungnya. Kegiatan ke gunung yang sejak
kelas satu SMA sangat digemarinya.
“Bunda Kevin
berangkat dulu.” Hanya itu kalimat yang
Kevin lontarkan. Tanpa minta izin dan
tanpa cium tangan takzim apalagi minta doa restu orang tua. Kevin memacu motornya untuk sampai ke
sekolah. Setelah itu sewa colt bak dan hiking.
Karena terburu-buru Kevin tidak menyadari bahwa gawainya tertinggal di atas meja
belajar. Gawainya menjuntai, masih dicharge.
“Ya Allah,
Kevin kamu ketinggalan gadget kamu. Pasti kamu bakal kelimpungan begitu nyadar
hp kamu nggak terbawa,” gumam Bunda Kirana.
Dalam benaknya, ada baiknya juga gawai itu tertinggal. Bunda Kirana
berniat mengetahui perkembangan sulungnya itu.
Satu persatu
media sosial dibukanya. Mulai dari wa, ig, tweeter dan terakhir FB. Betapa terperanjatnya Bunda. Berbagai grup dengan konten yang berbeda-beda
diikuti Kevin. Mulai dari B4BNG4G (Boy
for Boy and Girl for Girl) yang terindikasi grub LGBT, Neofreeboy yang
terindikasi satanis dan liberalis, hingga Hijrah Lillah ESQ.
Bunda
mencermati satu persatu grup medsos Kevin sambil terus berharap Kevin tidak
akan pulang balik untuk mengambil gawainya.
Sebagai orang tua Bunda berkewajiban mengendalikan aktifitas buah
hatinya. Tapi jarak seakan memisahkan mereka. Pencipta jarak itu gawai yang
lebih menyita hari-hari Kevin. Mengerjakan tugas sekolah mengakrabi gadget,
ingin pesan makanan kesukaan memanfaatkan gadget, ingin melihat hiburan, video
betebaran di youtube.
Sangat berbeda
dengan masa remaja Bunda Kirana. Ada tugas sekolah minta diantar orang tua ke
perpustakaan atau toko buku. Ingin makanan enak minta dibikinkan mama atau
mereka memasak bersama. Ingin hiburan
mereka duduk di ruang keluarga sambil mencari chanel yang mereka sepakati
bersama.
“Hmmmm,
kehidupan telah berubah tanpa mampu aku kendalikan. Padahal aku nggak banyak membelikan data buat
Kevin. Tapi kenapa jaringan internet Kevin terus terhubung ke gawainya?” Bunda Kirana hanya memberikan dua puluh lima
ribu untuk membeli data, tidak lebih.
Banyak keanehan yang nggak Bunda Kirana tahu.
Bunda masih mencermati
grup medsos Kevin, satu grup Hijrah-Lillah ESQ.
Kevin tidak aktiv di grup itu.
Hanya ada beberapa flyer kegiatan training untuk remaja. Ada datu flyer yang menarik perhatian Bunda,
“Kalian yang punya problem kedekatan dengan orang tua, merasa kurang perhatian
karena nyokap dan bokap sibuk? Gabung dengan kita-kita di Hijrah Lillah-ESQ.”
Bunda mencatat
tempat dan waktu pelatihan. Berapapun
biaya yang harus dikeluarkan, Bunda akan siapkan. Semoga Kevin mau apalagi trainingnya dihadiri
artis hijrah papan atas.
Denting
notifikasi dari wa-grup Neofreeboy mengagetkan Bunda Kirana. Bunda segera membuka pesan wa terbaru itu.
“Lo jgn lupa
pesenan gue si biru dan orange. Persedian gue hbs. Gile lo bikin gue kelimpungan.” Bunda Kirana
segera memanjat chat wa Kevin dengan Edwan.
Hasilnya sangat mengecewakan bahkan mencemaskan. Dada Bunda Kirana seakan tertebas palu godam
berton-ton
“Ya Rabb,
separah inikah Kevin melangkah. Maafkan Bunda, Nak. Bunda nggak tahu perkembangan kamu.” Kesibukan Bunda Kirana sebagai karyawan
swasta perusahaan asing telah membuat jarak dengan anak-anak teramat
renggang. Sementara suaminya bekerja di
luar negeri. Rasanya beban di pundak Bunda
makin menggelayut.
Tiba-tiba Bunda
Kirana terasa berat untuk berdiri. Tangannya bergetar tak mampu memegang
gawai. Tubuh separuh baya itu jatuh
terkulai, lunglai.
Bunda mencoba beringsut dari posisi jatuhnya, tetapi terasa begitu
sulit. Kekhawatiran seandainya Kevin
memakai dan mengedarkan pil setan itu sangat memukul hati, pikiran dan jiwanya. Berbagai bisikan yang menyalahkan dirinya
makin kuat berputar-putar di benaknya.
Belum lagi bayangan kemarahan suami yang telah memercayakan sepenuhnya
pendidikan anak-anak.
Setengah jam, Bunda tidak bisa keluar dari kamar Kevin. Ia memaksakan diri terus bergerak karena asap
gosong roti yang dipanggangnya di dapur tercium menyengat.
“Ya Allah tolong hambaMu ini. “
Hati Bunda Kirana menjerit. Nadia
sedang les teater sementara hari Ahad, semua pembantu libur. Bunda Kirana benar-benar seorang diri di
rumah.
Saat api sudah mendekati horden jendela dapur, asap pekat mungeluarkan
bau bakaran tak sedap. Beruntung
tetangga terdekat melihat asap dan mereka beramai-ramai mengendalikan api.
“Bunda Kirana, ada apa ini?” Tante
Prita mencoba memapah Bunda Kirana yang terkena gejala stroke. Bibir Bunda Kirana kelu, tetesan air mata
bening deras di sudut mata sayunya.
Kini Bunda Kirana tergolek di atas dipan Kevin. Kamar tiga puluh meter persegi bercat nuansa
biru itu tiba-tiba terasa sempit. Meja
belajar Kevin yang biasanya berantakan baru saja Bunda tata rapi.
“Api sedikit lagi, tinggal yang ada di bingkai jendela.” Teriakan tetangga yang membantu memadamkan
api terdengar mulai lega. Bersyukur api
tidak melelehkan selang gas. Masih ada
perlindungan Allah untuk keluarga mereka.
Api benar-benar telah dikendalikan. Tiba-tiba Kevin masuk kamar, tanpa salam.
“Kevin, ini Bunda kamu sakit.
Terjatuh dan tidak bisa bergerak.”
Kevin bergeming. Selama ini Bunda
selalu kuat dan terkesan sebagai ibu yang perkasa. Air mata bening yang mengalir di sudut
matanya melembutkan hati Kevin seketika itu juga.
“Bunda nggak boleh sakit. Bunda harus sembuh. Tante, tolong bantu Kevin membawa Bunda ke
rumah sakit. Sekarang juga.” Kevin memohon dengan sangat Tante Prita mau
membantunya untuk kebaikan Bunda.
Tante Prita merasa terharu. Keluarga mereka tidak punya sanak saudara di
kota. Yang menjadi pengganti saudara
mereka hanya tetangga dekat di kompleks.
Lima tahun lalu sebelum bertugas ke luar negeri, Pak Benny, suami Bunda
Kirana menjadi ketua RT. Berkat Bunda
Kirana yang selalu care dan dermawan,
persaudaraan di kompleks itu begitu erat.
Kini mereka seakan saling belomba membalas kebaikan Bunda Kirana selama
ini.
“Bunda, cepat sembuh, ya. Kalau
Bunda sembuh Kevin bakal ikut kata Bunda.”
Kevin menciumi wajah dan dua telapak tangan Bunda yang kaku. Baru kali ini Kevin menangis melihat keadaan
Bunda.
***
Di sebuah gedung pertemuan, seorang pemuda atletis memeluk erat
bundanya. Bunda Kirana mengusap wajah
pemuda itu. Meski cidera syaraf bekas
strokenya belum pulih benar, senyum bahagianya begitu kental. Seindah
senyum ibu yang melahirkan buah hatinya.
Bahkan kebahagiaan itu berkali lipat dirasakan Bunda Kirana.
“Maafkan Kevin, Bunda. Tanpa
hadirnya Bunda, Kevin nggak akan pernah ada.
Mungkin aku hanya sedutir debu tanpa arti. Kehadiran Bunda telah mengenalkan Kevin pada
Tuhan kita, Allah SWT. Maafkan Kevin
yang melupakan jasa terbesar Bunda pada Kevin.”
“Anakku, Bunda pun minta keikhlasan darimu, Nak. Kadang Bunda tak bisa mendampingi saat-saat
penting kamu. Bunda tahu ada goresan
luka saat Bunda tidak hadir memberimu perhatian. Saat tim basket kamu menerima penghargaan,
hanya Bunda yang tidak bisa hadir di antara orang tua-orang tua yang lain. Tapi percayalah Bunda selalu ingin membagi
perhatian buat Kevin, meskipun saat itu kamu merasa tidak butuh perhatian
Bunda.” Air mata Kevin tumpah ruah,
berbaur dengan isak suara Kevin yang makin serak.
Binar indah gemintang menari di atas gedung pertemuan itu. Mereka turut menjadi saksi kedamaian dan
harapan pada dua anak manusia. Dua
generasi yang sedang saling bergandeng tangan melintasi rintangan ujian hidup
di akhir zaman. Demi keridaan Allah SWT.
***
PANGGILAN KASIH ILAHI
Di antara rukun iman yang enam kita wajib beriman pada qadha dan
qadar. Sebagian ulama memaknainya iman
pada takdir baik dan takdir buruk.
Takdir buruk dikaitkan dengan ketetapan yang telah menjadi ketentuan
dimana ketentuan itu tidak bersesuaian dengan keinginan kita. Sementara dikatakan takdir baik bila ianya
bersesuaian dengan keinginan kita.
Berdasarkan makna katanya, qadha bermakna ketetapan yang telah tertulis
tapi belum kita lalui. Qadha ada dua,
yaitu ada yang bisa diubah dan ada yang tak dapat diubah. Maka Allah SWT mewajibkan doa dan ikhtiar
untuk tiap ketetapan yang belum terjadi.
Sementara qadar adalah ketentuanNya, yaitu ketetapan yang tertulis
kemudian terjadi dalam kehidupan ini.
Bagi seorang yang beriman, hendaklah dirinya senantiasa berbaik sangka
pada Allah. Mengapa demikian? Karena diantara akhlak kepada Allah SWT
adalah selalu berhusnuzan padaNya.
Sebagaimana firmannya dalam Hadits Qudsi (yaitu hadits nabi yang
merupakan firman Allah SWT)
انا علي ظن عبدي به
Artinya: Aku
mengikuti prasangka hambaku kepadaku.
Di sini Allah SWT mengajarkan kita
untuk senantiasa bersangka baik padaNya.
Apapun yang terjadi selalu ada hikmah di balik itu. Bukankah Allah menjanjikan ketinggian derajat
saat kita sabar tertimpa ujian kesulitan, derita dan bencana? Bukankah Allah menjanjikan penghapusan dosa
atas kepahitan dan kesulitan hidup yang mendera. Atau Allah ingin kita kembali padanya mana
kita lalai dan berbuat salah?
Bukankah Allah Maha Pengasih dan Penyayang? Sehingga tak henti-hentinya
Dia menurunkan karunia agar kita selalu bersyukur dan ingat padaNya,
bertambahlah cinta kita, bertambahlah ibadah kita.
Selalu ada keindahan dan kasih
sayangNya dibalik ketentuan yang Dia berikan pada kita. Semua tergantung dari bagaimana kita
menanggapi ketentuannya itu. Saat kita
bisa bersangka baik padaNya maka kita akan makin dekat denganNya. Dengan baik sangka, kita dapat menemukan
titik hidayah, titik taubat, titik kesadaran atas kekurangan dan dosa. Bahwa apa yang tjadi adalah panggilan Allah
agar kita mendekatinya.
Sebaliknya bila kita bersangka buruk, kita akan makin jauh dari
keimanan. Itulah seburuk-buruk
ketentuan. Jauh dari Allah SWT bahkan
bisa sampai kehilangan iman, kufur terhadap karunia yang Ia bagikan. Nauzubillahi minzalik.

Komentar
Posting Komentar