Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR
#RabuBedahKarya
#DongengBerbagi
#AlumniWonderlandCreative
KISAH
PAK PANDIR
By:
Khadijah Hanif
Pak Pandir akhirnya
harus menghuni penjara Kerajaan Kaliandra.
Semua terjadi karena kepandirannya dalam menjalani hidup. Yuk kita
simak, mengapa dia sampai dipenjara dan apa yang dialaminya selama di sana?
“Pinjami saya uang
barang tiga ribu Tali saja.” Inilah
senjata yang dipakainya demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Tali adalah mata uang Kerajaan Kaliandra yang
senilai dengan 200 rupiah mata uang kita.
Jadi semua senilai enam ratus ribu rupiah.
Begitu mendapatkan
pinjaman ia akan berfoya-foya dan menghabiskan uang dalam waktu beberapa hari
saja.
“Waduh, uangku tinggal
dua tali. Bagaimana aku mengisi perutku?” Pak Pandir kebingungan.
Pak Pandir mengumpulkan
atribut penipuannya. Kali ini ia
berdandan bak saudagar kaya, penjual batu mulia. Dikumpulkannya batu imitasi berharga tinggi
layaknya barang bergengsi.
“Saya butuh modal untuk
jual beli batu mulia ini, Tuan! Batu ini
bukan sembarang batu. Banyak peminatnya
dari kerajaan sebelah. Kalau Tuan
memberi modal dua ribu tali saja, dalam seminggu modal kembali. Selebihnya keuntungan akan mengalir tanpa
keringat.”
“Wah, menggiurkan
sekali usaha Pak Pandir ini. Saya
mau. Apa jaminan yang Pak Pandir punya,” tuan Ghani mulai tertarik dan masuk perangkap
Pak Pandir.
“Waktu peminjaman hanya
seminggu, Tuan? Saya rasa tak perlu
jaminan. Atau Tuan tidak percaya dengan
saya?”
Bukannya saya tidak percaya.
Tapi supaya saya tenang.”
Tanpa banyak kesulitan,
Pak Pandir menyodorkan barang penjamin.
Apa lagi kalau bukan batu imitasinya?
Begitulah ulah Pak Pandir
makin menjadi. Kini korbannya memasuki urutan
kesembilan. Celakanya. Korban terakhir ini memiliki hubungan
kekerabatan dengan korban sebelumnya.
“Rupanya kamu belum
insyaf membohongi kami? Aku akan
membawamu ke gardu punggawa kerajaan yang bertugas di wilayah ini.” Kali ini Pak Pandir tidak beruntung. Tuan
Malik membawanya pada punggawa kerajaan.
Sidang kerajaan memutuskan Pak Pandir bersalah dan memenjarakannya
selama lima tahun.
&&&&
Berbagai kisah suka duka dalam penjara Pak Pandir
alami. Ada satu hal yang membuatnya
merasa beruntung. Pertemuan dengan sipir
penjara. Nama sipir itu Pak Darmawan.
Pak Darmawan sangat berbeda dengan sipir yang lain. Ia seolah menikmati tugasnya sebagai penjaga
tempat rehabilitasi sosial. Ia ingin
narapidana yang dirundung masalah itu dapat kembali hidup normal di masyarakat.
Pak Darmawan peduli dengan permasalahan yang dihadapi para narapidana. Ia
menyempatkan diri mengetahui banyak hal dari para narapidana.
“Pak Pandir, bisa cerita kenapa masuk ke penjara
ini?” tanya Pak Darmawan suatu hari
“Pak Sipir ini aneh.
Pasti Tuan tahu satu per satu kejahatan yang kami lakukan.” Pak Pandir menjawab dengan enggan.
“Tentu saya tahu, Pak Pandir. Tapi saya ingin tahu langsung dari Pak
Pandir. Semoga Pak Pandir tidak keluar
masuk penjara seperti sebagian yang lain.”
Pak Darmawan mencoba untuk menjalin keakraban.
“Dulu saya pengrajin kayu. Alat bubut dicuri salah satu pekerja yang saya percaya.
Saya kehilangan pekerjaan, kehilangan keluarga dan segalanya. Terpaksa saya menipu untuk menyambung hidup. Mendapatkan uang hanya dengan omongan.”
“Kenapa uang itu tidak Pak Pandir gunakan sebagai
modal?”
“Percuma kalau nanti toh ada yang mencuri lagi. Hanya capek dan hal menyakitkan yang saya
dapat.”
“Hidup ini penuh warna Pak Pandir. Kegelapan masa lalu tidak selalu hadir dengan
cara yang sama. Bila kita berbaik sangka
pada Yang Kuasa, kebahagiaan akan menggantikan penderitaan kita.”
Demikianlah Pak Darmawan selalu memberkan petuah
baik pada semua narapidana. Sedikit-demi
sedikit harapan baik bermunculan di hati penghuni penjara. Tak terkecuali Pak Pandir.
Suatu hari, Pak Darmawan memberi kejutan pada Pak
Pandir.
“Pak Pandir, saya membawakan sesuatu buat Pak
Pandir.” Sebuah benda terbungkus kain.
“Apa ini Tuan?”
tanya Pak Pandir keheranan.
“Ini alat bubut pusaka leluhur saya. Mendiang kakek saya seorang pengrajin kayu
ternama di negeri ini. Jadi alat bubut
ini bukan sembarang alat bubut. Sudah
berpuluh tahun tidak kami pakai. Tidak
ada satu pun anggota keluarga yang meneruskan keahlian kakek kami.”
“Wah, benarkah?
Pak Darmawan baik sekali.” Pak
Pandir tersenyum lebar penuh kebahagiaan.
Ia merasa kejayaan usaha masa lalunya akan kembali.
“Apakah keluarga Pak Darmawan tidak keberatan barang
ini menjadi milik saya?”
“Tentu tidak.
Saya telah berhasil meyakinkan mereka bahwa barang ini akan bermanfaat
di tangan ahlinya. Lagi pula rejeki yang
sebenarnya bukan yang kita simpan tanpa manfaat. Tapi apa yang kita berikan untuk kebaikan
sesama, bukan?”
&&&&
Sejak saat itu, Pak Pandir mulai asyik dengan alat
bubutnya. Ajaibnya alat bubut itu bisa
berbicara dengannya saat mereka hanya berdua.
“Jangan khawatir Pak Pandir, aku senang menjadi
milikmu. Berpuluh tahun aku dibiarkan
begitu saja tanpa membawa manfaat.”
“Aku juga bahagia bersahabat denganmu. Hanya satu yang aku khawatirkan. Kau dicuri orang. Aku hanya punya keahlian menggunakan kamu.”
“Tenang Pak Pandir, aku akan memberitahumu sebelum
seseorang mencuri aku.”
Pak Pandir makin senang menghabiskan waktu dengan alat
bubutnya. Barang yang dihasilkan makin
beragam dan makin indah sempurna. Pak
Darmawan membantu menjualkan barang-barang kerajinan kayu yang indah pada siapa
saja yang meminatinya.
“Pak Pandir, saya rasa nama Bapak lebih cocok bila
diganti Pak Mahir. Bukankah nama itu
berarti juga doa untuk pemiliknya?”
“Sebenarnya pandir itu hanya sebutan dari
orang-orang atas kesialan saya yang selalu ditipu orang. Bahkan oleh orang kepercayaan saya sekalipun.”
Siang itu seluruh penghuni penjara merayakan
pergantian nama Pak Pandir. Semua
keperluan syukuran itu dibiayai oleh Pak Mahir sendiri dari hasil penjualan
kerajinan kayunya.
Komentar
Posting Komentar