MODUL SANGGAR SASTRA
MODUL SANGGAR SASTRA
Perhatikan contoh berikut!
……………………………
“Aha…aku punya ide! Daripada di sekolah bete ketemu temen-temen
usilku, mending aku pura-pura sakit aja.
Aku bisa minta apapun ke bunda termasuk supaya bunda nggak
ngantor.”
Noni anak semata wayang yang manja. Meski sudah menginjak tujuh belas tahun tidak
juga bisa memahami orang lain termasuk bundanya sendiri. Ulah manjanya sering kali membuat bundanya
pusing kepala.
“ Tok…tok…tok……… Noni, buka pintunya sudah bangun belum?!
Waktu Sholat Subuhnya sudah mau habis.”
Dari luar pintu kamar terdengar suara bunda agak keras berusaha
membangunkan Noni.
Noni yang sedari tadi sudah bangun
terus memutar otak untuk sekenarionya hari ini. …………………
SEMU
di rumpun-rumpun hedonis
Mengais senyum
di bongkah-bongkah
individualis
Mencari derma
di bukit-bukit materialis
Pemimpi yang haus
Harapkan tetes air di padang
gersang
bertualang di antara
fatamorgana
Pendamba cinta
Terjebak dalam kubangan syahwat hina….
Semunya senyuman dunia
Bagi pecintanya
………………
Di sebuah kamar tidur
yangcukup mewah, lengkap dengan spingbed kelas atas dan seperangkat computer
dan meja belajar merk ternama. Di pagi Subuh.
Noni :”Aha..aku punya
ide! Daripada ke sekolah ketemu temen-temen usilku , mending aku pura
pura sakit aja. Aku bisa minta macem-macem temasuk biar bunda nggak ngantor!”
(bicara sendiri sambil
senyum- senyum di atas tempat tidurnya)
Dari luar kamar terdengar
pintu diketuk
Bunda: “Noni,
buka pintunya sudah bangun belum?! Waktu
Sholat Subuhnya sudah mau
habis.”
Noni : “Iya,
Bunda. Masuk aja pintunya nggak dikunci
kok.”
(mengambil selimut tebal dan
dengan suara gemetar menggigil kedinginan)
……………………………..
Jenis karya sastra ada 3
macam, yaitu prosa, puisi dan drama
Ada juga yang menggolongkan menjadi 4 ditambah posa liris
Perhatikan jenis karya sastra
di bawah ini!
Semunya Kesenangan Dunia
Mencari keindahan akhlak. Takkan ada diantara manusia. Yang gila pesta pora. Atau mengharap bahagia. Dengan mementingkan diri sendiri. Mengharap dapat kenikmatan sedekah dengan
menjadi pecinta materi
Ibarat kehausan di padang gersang,. mengharap tetesan air. Kian kemari hanya mendapati. Kekecewaan.
Seperti pendamba cinta. Namun terjebak dalam syahwat. Nafsu yang mengantarkan pada kehinaan. Kesenangan dunia bagi mereka yang cinta dunia
hanya semu belaka
Cobalah dengan berdiskusi
dengan kelompok sanggar kalian.
- Mana yang merupakan prosa, puisi drama dan prosa liris?
- Sebutkan perbedaannya masing-masing
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
PUISI
Periodisasi Puisi dan
penggolongan jenisnya tidak terlepas dari perkembangan sastra di Indonesia.
Menurut HB. Jassin
periodisasi sastra di Indonesia
adalah sebagai berikut:
- Sastra Melayu Lama
- Sastra Indonesia Modern
- Angkatan 20
- Angkatan 33 (angkatan pujangga baru)
- Angkatan 45
- Angkatan 66
Jenis Puisi berdasarkan
perkembangannya ada 4:
- Puisi Lama
- Puisi Peralihan
- Baru Baru
- Puisi Kontemporer
Sebagian berpendapat ada dua
yaitu lama dan baru sebagian ada 3 lama,baru dan kontemporer
Puisi Lama:
Ciri puisi lama pada awal
penciptaannya adalah:
- anonym (tidak diketahui pengarang pertamanya)
- tidak dipublikasikan karena belum ada alat secanggih sekarang
- penyebarannya hanya dari mulut ke mulut
- terikat oleh aturan aturan penulisan tertentu
- bersifat menghibur dan mendidik
Jenis-jenis puisi lama
1. Pantun adalah jenis puisi
lama yang berasal dari Melayu
Ciri-ciri pantun: -satu bait terdiri dari 4 baris, bersajak
ab-ab
-satu baris 8-12
suku kata, dua baris pertama sampiran, dua baris terakhir isi
Contoh:_________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
2. Pantun Kilat (karmina): pantun yang
dipersingkat menjadi dua baris tiap baitnya
Ciri pantun kilat: -satu bait
terdiri dari 2 baris, bersajak aa
-satu baris 8-12
suku kata, 1 baris pertama sampiran, 1 baris terakhir isi
Contoh:_________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
3. Gurindam: jenis puisi lama dari tamil India
Ciri-ciri Gurundam: -satu bait terdiri dari 2 baris, bersajak aa
-satu baris
10-14 suku kata, satu baris pertama sebab, satu baris terakhir akibat, biasanya
berisi nasihat
Contoh :
_______________________________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
4. Syair: Jenis puisi lama dari Arab
Ciri-ciri syair: -satu bait terdiri dari 4 baris, bersajak
aa-aa
-satu baris 8-12 suku
kata, semua baris merupakan isi
Contoh:______________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
5. Talibun: Jenis
puisi lama asal melayu, sama dengan pantun tetapi jumlah baris lebih dari 4,
umumnya 16-20 baris
Ciri Talibun: -satu bait lebih dari 4 baris tetapi selalu
genap, bersajak abc…….-abc……
-satu baris 8-12 suku
kata, setengah baris pertama sampiran, setengah baris terakhir isi
Contoh:______________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
6. pantun
Berangkai
Seperti pantun biasa tapi sampiran barisan ke dua pada
bait pertama menjadi sampiran baris
pertama bait berikutnya. Isi baris
keempat menjadi isi baris ketiga bait berikutnya. Demikian seterusnya.
Contoh :
Dengarlah Pantun
Buah ara batangnya rimbun
Mari dibantun dengan parang
Hai saudara dengarlah pantun
Pantun tidak mengata orang
Mari dibantun dengan parang
Berangan besar di dalam padi
Pantun tidak mengata orang
Jangan syak di dalam hati
Catatan: -Contoh jenis pantun, pantun
muda-mudi(perkenalan, berkasihan, perceraian, iba hati, dagang), pantun
tua (nasihat, adat, agama), pantun
jenaka, pantun anak (duka cita dan suka
cita)
-Jenis syair: panji (kepahlawanan), cerita
fantastis, cerita ghaib, kejadian zaman, terjemahan, moral religius dikdaktik)
7. Seloka dari India
Ciri: satu bait 4 baris, tiap baris 4 kata,
jumlah suku kata sebarisnya ada 8-11, sajak aa-aa, 2 baris awal sampiran-2
baris akhir isi, memiliki kekhasan dalam irama (menurut Hooykaas dalam Perintis Sastra)
Contoh:
Ada seekor burung pelatuk
Cari makan di kayu
buruk
Tuan umpama ayam
pungguk
Segan mengais rajin
mematuk
Yang lain berpendapat
bahwa seloka adalah pepatah, atau pantun berantai, sebagian lagi berpendapat
bahwa seloka adalah syair dengan baris dua atau kelipatannya dengan syair sajak
aa-bb-cc-dd dst
(Salah Satu Kegiatan Sanggar Sastra Nurul Amanah)
B. PUISI ZAMAN PERALIHAN
Ditandai dengan
munculnya puisi lama dari Eropa yang sesungguhnya memiliki kebakuan cara
penulisan, namun
Pada perkembangannya
puisi ini berubah pola dan aturan sesuai kreatifitas penulis. Puisi ini adalah SONETA.
Soneta pada bentuk
aslinya merupakan puisi lama dari Italia sonetto=syair yang bersuara
Ciri:
-Jumlah baris 14
buah, 2 kwatryn sebagai oktaf dan 2 tersina yang merupakan sekstet
-pola sajak
abba/abba/cdc/dcd, disebut sajak peluk.
-oktafnya merupakan
buah persoalan dan sektetnya merupakan jawaban, oktaf biasanya melukiskan
keadaan alam
-Tambahan baris
setelah itu disebut coda, jumlahnya 2-14 baris
Dalam perkembangannya Sonetta memiliki ciri sesuai
pengarangnya. Pelopor pembawa soneta ke Indonesia
adalah Muhammad Yamin dan Rustam Efendi. Namun yang dikenal sebagai Bapak
Soneta Indonesia
adalah Muhammad Yamin. Sedangkan Rustam
Effendi adalah perintis puisi baru.
Ciri Soneta Muhammad
Yamin:
-
2 kwatryn 1
septima atau 2 terzina = 14 baris
-
Sajak
abba-abba-ccc-ccc atau abab-abab-ccc-ddd
Ciri Soneta William Shakespeare
-
14 barisnya
terdiri-dari 3 kwatryn dan 1 distichon
-
Sajak
abab-cdcd-efef-gg
Contoh:
PAGI-PAGI
Teja dan cerawat masih gemilang
Memuramkan bintang mutiaranya
Menjadi pudar padam cahaya
Fajar di
timur datang menjelang
Membawa
permata ke atas dunia
Seri
berseri sepantun mulia
Berbagai
warna bersilang-silang
Lambat laun seta berdandan
Timbullah matahari dengan perlahan
Menyinari bumi dengan keindahan
Segala
bunga harum pandan
Kembang
terbuka, bagus gubahan
Dibasahi
embun, titik di dahan
PUISI BARU
Puisi baru sering
disebut puisi modern. Muncul sejak Soneta di bawa ke Indonesia dan dibuat dengan versi
masing-masing penulisnya. Dalam
Perkembangan sastra puisi baru muncul pada angkatan pujangga baru
Dalam puisi baru:
- Segala ciri yang ada pada puisi lama seolah
lenyap,
- Pengarang puisi baru telah mencantumkan namanya
pada gubahannya,
- Tema yang dimunculkan lebih membumi (berupa
realita dan merupakan luahan perasaan),
- Sajak/rima sekedar memperindah bunyi dan
bentuk ekspresi, sajak tidak berpola tertentu
- Semua bagiannya merupakan isi.
- Beredar di kalangan masyarakat dengan alat
publikasi modern, bukan dari mulut ke mulut
Jenis puisi baru
berdasarkan jumlah barisnya
1. Distichon (bait pusi dua baris)
1. Distichon (bait pusi dua baris)
2. Terzina (bait puisi tiga baris)
3. Quatrain (bait puisi empat baris)
4. Quint (bait puisi lima baris)
5. Sektet (bait puisi enam baris)
6. Septima (bait puisi tujuh baris)
7. Stansa/Oktaf (bait puisi delapan baris)
8. Soneta ‘baru’ (bait puisiempat belas baris)
9. Bebas (bait puisi dengan jumlah baris bebas)
Berdasarkan isinya ada beberapa jenis puisi baru
1. Balada :
berisi kisah , hikayat, cerita romantis dan atau sentimental, biasanya untuk dinyanyikan
2. Romance: puisi yang berupa ungkapan perasaan cinta
3. Elegi :
mengungkapkan perasan sedih (kemurungan)
4. Ode :
menyanjung seseorang berkaitan dengan peristiwa penting (kepahlawanan)
5. Himne :
Memuji dan memuliakan Alloh SWT
6. Epigram :berisi
ajakan hidup atau semangat juang
7. Satire :
berisi kritikan/sindiran terhadap penyelewengan di tengah masyarakat
8. Idile :
melukiskan kehidupan yang sentosa
Contoh-Contoh Puisi Baru
MASIH ADAKAH
BIMBANG
|
MENGURAI DUKA
|
DISINI
|
Masih adakah bimbang
Pada tegar bebatuan
Gemercik air, memilin putar
Adakah hati bergetar
Temukan sang Maha Pintar
Indah sempurna alam raya
Menebar pesona cahaya mutiara
Lebih hebat dari manusia
Tiada ruang buat jumawa
Seribu alasan untuk beriman
Alam raya, air,
bebatuan
Tiada bimbang dan keraguan
Bagi pencari kebenaran
|
Guratan malam,
mengukir duka begitu dalam
pekatnya menghalang…kelam
Selaksa ingin mesti teredam
tika lunglai tangan menggapai
Hanya sebatas tengadah
wujudkan mimpi pada kuntum-kuntum doa
Mata melihat, hati bicara
Mestikah kau pilih?
Telinga mendengar, asa menggelora
meski sebatas andaikata
Nestapa….
Duka mengikis lorong hati
Bilakah getir ini terurai
larut
dalam samudra peristiwa
|
Lihatkah kau ?
si lemah yang tengadah
mengikat helaian susah
payah
Tergodakah kau ?
si kaya yang pongah
menghimpun segala mewah
megah
Mestikah kau pilih?
bila yang kau cari ada di sini
dalam dirimu sendiri
hati
Kaya, miskin, bahagia,nestapa
adalah dirimu
|
MARSINAH
Marsinah, wanita buruh memeras peluh Marsinah, taburan bunga
mengais rejeki sisa konglomerat di atas gundukan
pusaranya
tersenyum diatas orang melarat menyiram
kelopak asa keberanian
menebar rasa senasib sependeritaan
Marsinah, pahlawan bagi keluarganya meniupkan angin
keberpihakan
Selalu ditanya mana uang belanja
tetesan keringat tak pernah cukup Marsinah, tumpahan
darahmu
untuk hidup
masih merah
di tempat berpijaknya
para demonsran
Marsinah, pembela bagi kaumnya hingga kini
kobarannya tak pernah padam
Rela bertaruh nyawa
menyerukan jawaban bagi kesewenangan
Meminta sebentuk rasa keadilan
Hingga bertaruh hidup
Berakhir maut
Khadijah Hanif, 6 Maret 2007
PUISI
KONTEMPORER
Jenis
puisi kontemporer berkembang dalam kurun waktu terakhir. Nuansa ekspresi keinginan untuk bebas sangat mewarnai puisi ini. Berbagai ketidak laziman muncul termasuk
dalam struktur penyusunan kalimatnya.
Keindahan dan pemilihan kata kadang diabaikan tapi lebih mementingkan
isi dan ekspresi. Kadang beberapa puisi
kontemporer mengabaikan isi dan lebih mementingkan ekspresi. Akan tetapi tidak berarti menjadi kehilangan
makna, karena puisi ini akan sangat jelas ketika dibaca secara uutuh, bukan per
baris.
Hal-hal
inkonvensional dari puisi kontemporer adalah
1. Penggunaan jenis kata secara inkonvensional dalam satu
kalimat yang bermaksud menggambarkan makna
teramat
dalam
Contoh: Laut yang laut, Karena Kaulah yang
paling Kau
Umumnya laut dilukiskan dengan kata sifat demikian juga paling selalu
diiringi kata sifat
2. Unsur bunyi sering kali menggunakan repetisi
Contoh: Berhenti mencela
Berhenti menghina
Berhenti mengada-ada
Atau repetisi
dalam satu baris (paralelisme)
Contoh: Tikus berdasi, tikus pencuri
Rakyat melarat, rakyat sekarat
3. Tipografi, baris atau bait membentuk susunan terpola
Contoh:
TAK PASTI
|
B T
|
Di negeri
ini terjadi Tiada
jawaban yang pasti
atas segala tanya dan
peristiwa tiada
Tanya berbalas
titik namun
Koma atau
Tanya lagi
?
|
Berita Termendung Tidak Boleh Tidak
Baik
Berita Tak mendukung Tidak Boleh bt Begini Tumpukan Tidak Boleh kalah
Bertumpuk Tumpukan T e
r u b
a h Belum Terkerjakan B T T
e r j a
di T B
Bingung Tiada T e r u s
Berujung Tepi Berjuang
Baru Terasa kini T e
r u s
Bermalas Terbalas B erkarya
Benar
waktu Tak menunggu
T e t a p
dengan Taatnya Barisan setan Berbuat Begitu Terlalai Tetap Bahagia Tertawa Setan Berharap BT lah Insan |
Enjambemen, yaitu pemotongan kalimat atau frasa di akhir baris dan
dilanjutkan di baris selanjutnya
Contoh:
PERJALANAN SANG WAKTU
Ada
orang berkata
Waktu adalah Tuhan
Benarkah?
Bukan!
Waktu adalah ciptaanNya
Ia diberi kuasa untuk memaksa dengan
izinNya Yang
KUASA Ada orang berkata
Waktu selalu patuh
Taat
Mewadahi tiap peristiwa
Takdir
Benar!
Ia tak pernah berhenti berjalan
kecuali bila Tuhan
PERINTAHKAN
Macam-macam Puisi
Kontemporer:
- Puisi Mbeling, yaitu puisi blak-blakan, apa adanya seperti maksud penyair. Tidak memperhatikan diksi, memakai bahasa sangat sederhana tanpa bunga-bunga bahasa. Biasa berisi kritikan terhadap kehidupan masyarakat yang pincang, dengan bahasa. Karena keluguan bahasanya, puisi mbeling berkesan lucu dan tidak berat tetapi tajam.
Contoh:
MAAF
KUSEBUT KITA INI BODOH
Bangsa
ini bangsa teraneh kalau tidak bisa disebut
Bodoh
Konon kabarnya terjajah oleh
Amerika
dalam segala sisi kehidupan
Politik,
terombang-ambing dalam
memilih kebijakan, bahkan untuk rakyatnya sendiri
memilih kebijakan, bahkan untuk rakyatnya sendiri
Sosial Budaya, terpaksa
ikut-ikutan
dalam model dan tren mereka
Musik, penampilan, gaya hidup,
hedonisme, liberalisme, materialisme, konsumerisme,
homoseksualisme, seks bebas
hingga satanisme
Ekonomi, terperah habis-habisan menguntungkan mereka
Beli song, beli sport, beli show, beli fashion, beli
food dan beli
gengsi
dengan uang hutang dari para rentenir dunia yang juga
adalah Amerika
celaka bertubi-tubi
Ironisnya kita yang sadar keadaan ini tetap saja
Yang ada rasa cinta agama dan jihad
(katanya)
Kemana-mana bawa NOKIA, MOTOROLA
Minumannya SPRITE, COCA COLA, FANTA
Susu untuk anak kita NESTLE dan kawan-kawannya
Makannya di McD, KFC, CFC dan Dunkin Donat
Bank-bank ribawi diamanahi mengurus uang kita
Ck…..ck….ck….
Celaka bertubi-tubi
Adakah kebodohan yang lebih bodoh dari ini?
- Puisi Tipografi, yaitu puisi yang memanfaatkan bentuk atau pola tertentu dalam menulis baris-baris puisinya, dengan maksud mengekspresikan perasaan dan juga isi yang terkandung dalam puisi tersebut.
No
|
Bentuk
|
Ekspresi
|
Gambaran Isi
|
1
|
Tanda Tanya
|
keheranan
|
ketidaktahuan/keanehan/kepincangan
|
2
|
Koma
|
ketidakpahaman, penasaran
|
ketidakpastian yang belum
terjawab /kekecewaan
|
3
|
Tanda seru
|
kemarahan/kekecewaan
|
kepincangan/ketidakadilan/
tidak sesuainya suatu keadaan dari harapan
|
4
|
Titik
|
keyakinan, kepastian
|
tentang sesuatu yang pasti,
benar, tidak bisa dirubah
|
5
|
Lilin,
|
ketetapan hati karena ada
cahaya atau petunjuk
|
keyakinan, ketenangan
|
6
|
Orang bersujud
|
Ketaatan hati,
keyakinan dan pengabdian kepada Allah
|
Taubat, Ibadah, kepercayaan
atas sifatNya
|
7
|
Pohon yang rimbun
|
Kedamaian dalam lingkungan
yang memadai, sentosa.
|
Lingkungan hidup, keadaan
yang menentramkan
|
8
|
Tetesan Air
|
Ketenangan, Kedamaian
|
Kesejukan, bening indah
sentosa
|
- Puisi ekspresionis yang membolak-balikan struktur kata sehingga terkesan acak. Tapi tidak demikian bila dibaca utuh, justru akan terkesan konkret.
Contoh:
BERITA AKHIR ZAMAN
,
Isi
Keluar
semua perut bumi
Berat bebannya ruah tumpah
Panas api,
lava, lahar
Poranda porak luluh lantak
Punggung bumi berharga tidak
Terbang,
laksana
bulu-bulu
melayang
Manusia
Kapas
seperti
ketakutan, terhenyak yang
terlambat
sadar gugur janin dari
kandungan
bayi-bayi lahir berkumis tanggal
gigi-gigi uban rambut menjadi
tiada
naungan berteduh
lumpuh
segala tenaga
tiada kembali
noktah
ketiadaan bergulung,
nol sebelum ada
menjadi tiada
kemudian
habis
.
MENULIS PUISI
Batasan Puisi
- Slamet Muljana: Puisi merupakan bentuk kesastraan yang menggunakan pengulangan suara sebagai ciri khas. Pengulangan suara ini menghasilkan rima, ritma dan musikaris
- James Reeves: Puisi adalah ekspresi bahasa yang kaya dan penuh daya pikat
- Herbert Spencer : Puisi adalah bentuk pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan memperhatikan efek keindahan.
- P.B. Shelley: Puisi adalah rekaman saat-saat terbaik dan paling menyenangkan
- I.A. Richard: Struktur fisik puisi adalah medium untuk mengungkapkan makna yang hendak disampaikan oleh penyair.
Unsur-Unsur Puisi
- Tema, yaitu gagasan pokok (subject-matter) yang dikemukakan oleh penyair. Gagasan pokok pada puisi merupakan desakan kuat dalam jiwa penyair sehingga menjadi landasan pengucapannya (ekspresi jiwa yang dalam)
Puisi Bertema Ketuhanan:
Ingin Ku Kembali
Jiwaku lelah
Dalam ½ perjalanan yang
belum pasti
Menapaki kerikil tajam
keremangan
Luka berdarah, nanah
Riuh rendah suara amarah
Meredam indahnya bisikan
swarni
Memaksa diri membuat
angkara
Jiwaku terluka menahan
derita
perang yang tak kunjung
padam
Wahai Pencipta….
Kasihanilah diri ini
Jiwaku koyak tercabik nafsu
Hatiku remuk terjajah setan
Makin jauh jalanku bermula
Mampukah kudapati jalan
kembali
Menghadap wajah-Mu
Yang Maha Tinggi
|
Puisi Bertema Kemanusiaan
Anak Jalanan
Wajah tirus kurus tak
terurus
Baju lusuh menyimpan keluh
Sebutir nasi memeras peluh
Seteguk air menahan getir
Sebelia ini kau coba
menimbang diri
Meski tak pernah terjawab
mengapa?
Ketika gedung tinggi tak
tersaingi
gubuk reotmu
Ketika mobil mewah tak
terkejar
kaki kurusmu
Ketika mewahnya hidangan
sebatas mata dan khayalan
karena toh lidahmu tak
pernah merasakan
dan perutmu tetap
keroncongan
Akankah kau bertahan
Dari gelombang zaman
kerakusan
Akankah kau tegar
Menantang arus pusaran
kemaksiatan
Akankan kau rela
Membalas tatapan mata
ketakpedulian
|
Puisi Bertema Cinta
Maafkan Aku
Bukan hatiku tak terpesona
Bukan pula tak ingin
dicinta
Pabila kuntum-kuntum itu
mekar
Kutak bisa bertahan
Meski mulutku diam
Pandanganku terhujam
Langkahku terpaku
Itu karena cinta
Mungkin kau bertanya
Bimbang menyelimuti rasa
Kau tunggu jawab hatiku
Maafkan aku
Satu keinginanku kau
mencoba mengerti
Cinta sejati takkan berbuah
dosa
Kecuali iman yang kian
bersemi
Inilah bukti kesejatian
cintaku
Biar siksa hati ini
bersaksi
Hanya harapku……
kau temukan cinta abadi
|
Tentukan
tema dari contoh-contoh puisi terdahulu:
Semu
Berita Akhir Zaman
Tak Pasti
Perjalanan Sang waktu
B
T
Maaf Kusebut Kita Ini Bodoh
Marsinah
Mengurai Duka
Masih Adakah Bimbang
Disin
- (feeling), suasana hati penyair terhadap apa yang diungkapkan menjadu unsure tersurat dan tersirat yang dapat disimpulkan oleh pembaca. Karena perasaan sangat spesifik untuk masing-masing penyair, maka tidak ada satu puisi yang sama meskipun tema yang dikemukakan sama.
Perasaan
yang terkandung dalam puisi:
- Ingin Ku Kembali: bimbang, sesal dan pengharapan
- Anak Jalanan: iba, sedih, haru
- Maafkan Aku: gejolak dan derita cinta
- Semu:_________________________
- Berita Akhir Zaman: _______________________________________
- Tak Pasti: ___________________________________________
- Perjalanan Sang waktu: ____________________________________________
- B T : _________________________________
- Maaf Kusebut Kita Ini Bodoh: __________________________________
- Marsinah: ____________________________________________
- Mengurai Duka: ________________________________________
- Masih Adakah Bimbang : _____________________________________
- Disini: _________________________________________
- Nada dan Suasana Puisi
Nada
adalah sikap tertentu dari penyair yang disampaikan kepada pembaca lewat
bait-bait puisi. Ada puisi yang bersifat menasehati,
mengagumi, mengejek, menyindir, memberi tahu (menyampaikan informasi) atau
sekedar bercerita secara lugas.
Nada
pada puisi-puisi di atas:
- Ingin Ku Kembali: bercerita
- Anak Jalanan: bercerita dan menyindir lewat cerita
- Maafkan Aku: bercerita
- Semu:_________________________
- Berita Akhir Zaman: _______________________________________
- Tak Pasti: ___________________________________________
- Perjalanan Sang waktu: ____________________________________________
- B T : _________________________________
- Maaf Kusebut Kita Ini Bodoh: __________________________________
- Marsinah: ____________________________________________
- Mengurai Duka: ________________________________________
- Masih Adakah Bimbang : _____________________________________
- Disini: _________________________________________
Suasana
adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi tersebut atau akibat
psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembacanya.
Suasana
pada puisi di atas:
- Ingin Ku Kembali: duka, religius
- Anak Jalanan: sedih, haru
- Maafkan Aku: sedih
- Semu:_________________________
- Berita Akhir Zaman: _______________________________________
- Tak Pasti: ___________________________________________
- Perjalanan Sang waktu: ____________________________________________
- B T : _________________________________
- Maaf Kusebut Kita Ini Bodoh: __________________________________
- Marsinah: ____________________________________________
- Mengurai Duka: ________________________________________
- Masih Adakah Bimbang : _____________________________________
- Disini: _________________________________________
- Amanat (pesan)
Amanat
adalah pesan yang hendak disampaikan kepada pembaca puisi. Pembaca akan memahami amanat puisi setelah
menelaah dan menghubungkan unsur-unsur puisi yang lain, yaitu tema, perasaan,
nada dan suasana. Amanat ini yang
menjadi landasan dorongan penyair menggubah puisinya..
Perbedaan
amanat dan tema. Tema lebih bersifat
lugas dan obyektif, pembaca dapat menentukan tanpa penelaahan. Akan tetapi amanat bersifat subyektif dan
interpretative, yaitu masing-masing pembaca memiliki interpretasi khas terhadap
puisi tergantung pada cara telaah pembaca terhadap puisi.
Amanat
pada puisi-puisi di atas:
- Ingin Ku Kembali: Kembalilah pada fitrah penciptaan manusia agar jiwa merdeka dan lepas dari deritanya
- Anak Jalanan: Pedulilah pada nasib anak jalanan
- Maafkan Aku: Cinta hakiki hendaklah dibuktikan dengan pengorbanan tertinggi, yaitu saling menjaga dari perbuatan dosa
- Semu:
- Akhir Zaman:
- Pasti:
- Sang waktu:
Bagian Fisik Puisi
1. Bait
Yaitu
bagian puisi yang merupakan kumpulan dari beberapa kalimat (baris). Puisi kadang terdiri dari beratus bait dan
ada pula yang hanya satu bait. Pada
puisi lama satu baitnya telah memiliki pengertian yang lengkap. Pada puisi baru pengertian (maknanya)
terkandung pada seluruh bait secara utuh sehingga pemahaman didapat setelah
membaca berulang kali.
2. Sajak
Yaitu pengulangan bunyi yang bersifat memperindah
puisi. Pada puisi lama pengulangan bunyi
sering kali hanya di akhir baris. Akan
tetapi pada puisi baru sajak sering kali berada dalam satu baris yang sama.
a. Menurut bunyinya
i. Sajak sempurna, bila seluruh suku kata
akhirnya sama
contoh: mati-jati, dahulu-malu,
awan-lawan, ujung-sanjung
ii. Asonansi, pengulangan
vocal tiap suku kata
contoh: kurang-bulan,
benam-menang
iii.Aliterasi, pengulangan
bunyi konsonan di awal kata
contoh: Luluh-lantak-lelah-lunglai
iv.Disonansi (sajak rangka),
bila konsonan sama sedang vocal berbeda
contoh: junjung-jinjing,
mondar-mandir, kepak-kapuk,
pupa-papi-pipa
v. Sajak Mutlak, bila
pengulangan terjadi pada satu kata utuh
contoh: Bukannya aku tak tertawan
Kubuat nafsuku yang tertawan
vi.Sajak tak sempurna, hanya
sebagian vocal atau konsonan suku terakhir saja yang sama
contoh: panjang-senang, satu-ungu
b. Menurut letaknya dalam
baris puisi
i. sajak awal
contoh:
Sulitnya hidup ujian dunia
celaka
mereka hilang kesabaran
sulitnya
perjalanan di akhirat
celaka benar tanpa pertolongan
ii.sajak tengah
contoh: Bila malam ternoda dosa insan
begitu kelam sisa zaman
menangis
iii.sajak akhir (belakang)
contoh:
Senjata tajam mengelincirkan insan
sebab itu
jagalah lisan
iv.sajak datar, dalam satu
baris
contoh: Tubuh kurus wajah tirus
Baju lusuh penuh peluh
v. sajak tegak, terdapat pada
dua baris berurutan
contoh: Kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan
c. Menurut letaknya dalam
bait
i. sajak silang/sajak
selengkang, baris pertama bersajak dengan baris ketiga, baris kedua bersajak
dengan baris keempat berpola abab
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
ii. sajak berpeluk, baris 1
bersajak dengan baris 4, baris 2 bersajak dengan baris 3, berpola abba
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
iii. sajak terus (rangkai),
semua baris bersajak sama berpola aaaa
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
iv. sajak pasangan, bila 2
baris awal bersajak sama dan 2 sajak akhir sama, demikian sebagai
pasangan-pasangan, berpola aabb
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
v. sajak putus/pecah/patah,
bila satu atau dua baris tidak mengalami persamaan bunyi, berpola aaab, abac,
abbb, abcb
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
3. Irama, yaitu pergantian naik-turun dan
panjang-pendek, keras-lemah suara secara beraturan
Dalam puisi lama irama puisi bersifat tetap
sehingga dapat dibuat pola kaki sanjak (puisi), tetapi pada puisi baru
irama
lebih ekspresif sesuai perasaan penyair
Cobalah untuk menulis Puisi
baru atau puisi kontemporer pada lembar ini, minimal 3 puisi dengan tema
berbeda. Rajin-rajinlah berlatih insya
Alloh akan berbuah!
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PESAN NAGA PADA DUNIA
Belum seratus langkahku
Berburu nafas terputus
Tulus kagumku menatap indahmu
Kau begitu belia tuk berpacu dengan deru zaman
Debu-debu permainan kotor
Tak mampu hinggap di alam perawanmu
Kau seolah membisu
Tak bergeming
Meski lambaian kemegahan begitu menggoda
Naga…..
Sebutanmu begitu gagah
seolah penjaga sebentuk kelestarian
Pengusir tangan-tangan jahil perusak alam
Namun seribu keindahanmu
Tak tergambar atas namamu
Permadani hijau dan hamparan emas
Membuai lembut mataku
Lenggokan Ciwulan biaskan binar-binar mentari
Bak mutiara bening menyilaukan
Rindangnya hutan alammu
Memutar air kehidupan abadi
Naungan-naungan sederhana berbaris bersahaja
Tanpa jurang pembeda
Tergoda rasa hatiku
Tuk mencari rahasia daya pikatmu
Memanggil manusia hingga ujung dunia
Inikah rahasia harmoni
Tradisi lestari beriringan jiwa-jiwa suci?
Tiada pergulatan materi terbalut iri dengki
Tiada pongah jumawa
Seolah pesan kerendahhatian
Senyum tulus menyambut siapa jua
Kemana himpitan beban dunia?
Menyusup sejuk di kelopak batinku
Menuai hikmah keanggunan Naga
Nurani hatiku tersentuh haru
Khayal melambung
mencipta angan
Andai tiada materialisme itu………
Maka terganti rakus dengan sahaja
Andai tiada individualisme itu…….
Niscaya peduli akan menyapa
Andai tiada liberalisme itu….
Tentu tatanan akan bicara.
Dalam diammu
Kau sampaikan nasihat bijaksana
Sebingkai kanvas kehidupan
Penuh rahmat dan ketenangan
Jauhkan bala bencana teguran alam
Wahai Kampung Naga
Tegarlah engkau dari himpitan ketiak zaman
Tetaplah bersahabat dengan alam
Sungguh Tuhan membenci kerusakan
Akibat tangan-tangan zalim manusia
Yang tak pernah puas berbuat angkara
Maka jangan kau berubah
Dunia ini butuhkan pesanmu
Tasikmalaya, 23 Mei 2007
ASAL MULA LEUWI NINI
Berjalan menyusuri kampungku, Kampung Cibogo Desa
Ciudian Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut tidak lengkap bila belum menikmati
keindahan Sungai Leuwi Nini. Sungai yang
deras nan jernih dengan beberapa lengkungan air agak dalam (leuwi). Batu-batu
besar seukuran meja belajar turut menambah keasrian sekaligus suasana
magis. Di kanan kiri sungai terdapat
kebun dan sawah para petani.
Sejak aku pindah ke Tasikmalaya kurang lebih dua tahun
lalu, baru kali ini aku menikmati jernih dan sejuknya Sungai Leuwi Nini
kembali. Tiba-tiba aku terkenang
peristiwa berpuluh tahun yang lalu, ketika itu aku masih belum lahir. Sebuah peristiwa bersejarah hingga Sungai ini
dinamakan Leuwi Nini.
Konon ketika penduduk kampung kami masih beberapa
orang tinggalan sepasang kakek nenek yang bernama Kek Dullah dan Nek Ijji. Mereka hidup dalam kesederhanaan. Mata pencaharian mereka hanya dari memancing
ikan di sungai untuk kemudian dijual.
Kehidupan mereka jalani dengan ikhlas meskipun hidup dengan pas-pasan.
Mereka biasa pergi pagi-pagi sekitar pukul enam,
setelah Shalat Subuh berjamaah. Mereka
berdoa menengadahkan tangan agar dikuatkan menyambung hidup yang mungkin sudah
tak berapa lama lagi. Usia senja membuat
mereka khusyuk menghadap Sang Khalik.
“Kek, maafkan nenek yang selalu merepotkan kakek. Kalau Kakek sendirian Kakek tidak harus
mencarikan nafkah buat saya. Cukup
setengah penjualan ikan untuk Kakek dan setengahnya bias buat beli barang
kebutuhan Kakek,” Nek Ijji memecah
kebekuan pagi itu.
“Ehh….pamali bilang begitu. Dengar Nek, kalau aku sendirian siapa yang
memasak buat aku. Siapa yang tiap hari
dimintai tolong. Nek, tolong ini tolong
itu. Wah, tentu aku akan sangat
repot. Sudahlah jangan berpikir yang
aneh-aneh. Tolong siapkan makanan buat bekal kita!” Mereka pun sibuk dengan pekerjaan masing
masing. Kakek Dulloh menyiapkan cacing umpan dan membungkusnya dengan daun alas
sementara Nek Ijji menyiapkan nasi timbel lengkap dengan asin dan sambalnya.
Begitulah kehidupan sehari-hari sepasang suami-istri
itu. Rumah panggung yang terbuat dari
bambu teramat sederhana menjadi saksi setiap kebersahajaan yang mereka
jalani. Tidak ada kemewahan yang dapat
mereka kumpulkan dari hasil memancing ikan kecuali sesuap nasi penyambung hidup
dari hari ke hari.
Sesudah
Ashar Kakek datang membawa hasil penjualan ikan dari pasar. Dengan senyum lebar Nek Ijji menyambut
kedatangan suaminya. Disiapkannya
secangkir kopi pahit dan singkong rebus di atas tikar. Merekapun duduk santai sembari mengisi
kesunyian hari mereka tanpa kehadiran anak ataupun cucu.
“Kek,
sudah shalat Ashar belum? Di kamar sudah saya siapkan sarung.” Nenek Ijji memecahkan keheningan sambil terus
memijat kaki suaminya.
“Sudah
Nek, tadi aku shalat dulu di mushala kampung sebelah begitu terdengar adzan.”
“O’ya….. Kek, sepulang memancing tadi, saya tertidur
sebentar setelah shalat Dzuhur. Saya
bermimpi melihat tiga ekor ikan mas yang besar-besar.”
“Itu
pertanda baik,Nek. Mungkin akan ada rejeki kita yang besar di sungai itu. Bisa jadi bukan hanya ikan tapi barang temuan
lain.” Kakek Dulloh asyik dengan
khayalannya. “Bagaimana kalau kita pergi
sekarang juga. Aku khawatir ikan-ikan
itu atau mungkin barang berharga yang diibaratkan ikan mas dalam mimpimu itu
hilang?”
“Kakek ini ada-ada saja. Iye mah mimpi biasa. Bunga tidur bukan firasat. Lagi pula saya mimpinya di siang bolong. Kakek jangan berkhayal begitu. Kata orang bisa gila ”
Sejak mendengar mimpi istrinya itu Kek Dulloh tidak
henti-hentinya berkhayal seolah hilang sifat kebersahajaannya. Malam itu tidur Sang kakek tidak begitu
lelap. Hujan deras yang mengguyur
seluruh kampung tidak sedikitpun mengurungkan niatnya menangkap tiga ekor ikan
mas dalam mimpi istrinya. Kecuali
kekhawatiran bila ikan-ikan itu terbawa arus sungai yang deras setiap kali
hujan deras turun. Bahkan Shalat Subuh
pagi itu dilaluinya tanpa kekhusyuan.
Bisikan untuk segera pergi ke sungai membuat Kek
Dulloh lupa bahwa pagi masih gelap,
”Nek,
cepat siapkan bekal kita. Aku heran kamu
yang mimpi ada ikan emas besar di sungai itu kok tenang-tenang saja. Aku mah sampai tidak nyenyak
tidur.” Kek Dulloh bersungut-sungut
melihat istrinya yang tidak sesemangat dirinya.
“Kek tidak baik terlalu percaya sama mimpi. Kaduhung saya ceritakan mimpi saya
kemarin. Apa tidak terlalu tergesa-gesa
ke sungainya sekarang? Ini masih terlalu
pagi dan lihatlah langit masih gelap!” Tanya Nek Ijji keheranan.,”Lagi pula
tadi malam hujan deras sekali sebaiknya kita tunggu surut dulu sungainya.”
“Pokoknya siapkan bekal. Kalau kamu tidak mau ikut biar saya sendiri
saja!” Kakek Dulloh agak marah mendengar panjang lebar saran istrinya.
Keributan kecil itu terhenti setelah Nek Ijji
memutuskan untuk diam dan menuruti saja kemauan suaminya. Kekakuan membuat rumah sempit itu makin
menghimpit. Nek Ijji menuju dapur untuk
menyalakan tungku yang hanya satu-satunya.
Beruntung setelah Shalat Tahajud ia sudah memasak nasi. Pekerjaannya kini hanya tinggal menggoreng
ikan sisa penjualan di pasar kemarin.
Semua telah siap.
Umpan di daun talas, rantang wadah nasi lengkap dengan goring ikan dan
sambal dan satu teko air the, seperangkat kebutuhan merokok Kek Dulloh pun
tidak ketinggalan.
Seolah ingin mengobati keributan kecil tadi pagi, Nek Ijji menambahkan
lalap pada bawaannya kali ini.
“Kek, punten nyak keur tadi mungkin saya
membuat Kakek marah. Harusnya saya
bersemangat seperti Kakek,” Nek Ijji mencoba mengalah dan memang selalu
demikian bila keributan kecil hadir diantara mereka.
“Sudahlah, yang penting hari ini kita akan menangkap
ikan dalam mimpimu itu.” Merekapun
tertawa sambil terbatuk-batuk. Begitu
riang layaknya pasangan remaja. Suasana
menjadi begitu tidak biasa. Mungkinkah
ini kebersamaan mereka yang terakhir?
Lima ratus meter mereka berjalan dari rumah
menyusuri pematang sawah menghijau gelap diselimuti kabut pagi yang dingin. Seiring suara katak yang masih menikmati
sisa-sisa air hujan semalam. Kesejukan
menyeruak siapa jua yang menikmati pagi itu.
Suara
derasnya air sungai menandakan beberapa langkah lagi mereka akan sampai. Remang-remang terlihat arus sungai begitu
deras karena hujan semalaman.
“ Nampaknya kita harus mencari
tempat yang paling tinggi. Batu-batu
besar yang biasa kita pakai memancing tertutup air,” Kek Dulloh mengatur
strategi.
“Hati-hati,
Kek! Batu-batu ini nampaknya licin kalau
basah.”
Mereka menaiki batu tertinggi dan
terbesar di sungai itu. Semua bekal
dihamparkan. Mata kail diberi umpan dan
dilemparkan ke sungai. Tidak seperti
biasanya, meskipun semalam hujan deras, mata kail itu begitu mudah menangkap
ikan. 1,2,3,4,5,6,7 mereka dapatkan hanya dalam satu jam.
“Nek, rupanya benar firasat
mimpimu itu. Lihatlah belum sampai
terbit matahari, kita sudah mendapatkan tujuh ekor ikan besar.” Serak suara Kek Dulloh mengiringi senyum
lebarnya.
“Alhamdulillah…semoga apa yang
kita peroleh berkah.”
“Nek, tolong gulungkan rokok
buat kakek. Yang lengkap dengan cengkeh
dan kemenyannya, ya? Ini koreknya.” Kek Dulloh merogoh saku celananya
dan……plung…“Aduh cilaka korek gasnya jatuh ke air. Tolong pegangi kail ini, aku mau cari
dulu koreknya ke dalam leuwi”
“Jangan Kek…perasaan saya tidak
enak. Saya khawatir leuwi ini
cukup dalam. Lebih baik kita beli lagi
korek dari hasil penjualan ikan hari ini.”
“Aku ingin sekarang
merokoknya. Sudah jangan khawatir, aku
sudah biasa berenang di leuwi ini.”
Tanpa menghiraukan saran
istrinya, Kek Dulloh langsung menyelam. Nek Ijji hanya bisa pasrah dan berjuang
mengalahkan kegundahannya. Dipeganginya
kail dengan perasaan tak menentu. Sejak
Kek Dulloh mencari korek tidak satu pun ikan memakan umpannya. Tangan Nek Ijji gemetar ketika kekhawatiran
atas keselamatan Kek Dulloh memuncak.
Hampir satu jam tak juga muncul Kek Dulloh dari leuwi itu.
Tidak mungkin kakek bisa
bertahan lebih dari satu jam di bawah air.
Apa yang terjadi denganmu, Kek?
Nek Ijji berbicara dengan dirinya sendiri. Pikirannya tak menentu.
“Ya Alloh, apa yang harus
kulakukan? Bismillahirrahmanirrahim…..”
Nek Ijji memutuskan untuk menyelam mencari suaminya. Dalam benaknya ia harus menyelamatkan Kek Dulloh.
Akan
tetapi hingga hari menjelang siang keduanya tak jua mencul kembali ke
permukaan.
Salah seorang lelaki warga kampung yang melewati
sungai itu keheranan menemukan perbekalan memancing dan ikan-ikan di dalam
ember ditinggalkan pemiliknya. Ia tahu
benar bahwa barang barang itu milik Kek Dulloh dan Nek Ijji.
Dibawanya barang-barang itu ke rumah Kek Dulloh. Akan tetapi tiada sahutan seseorang pun di
rumah panggung itu. Kekhawatiran
menghinggapi hati lelaki itu.
Dimasukinya rumah Kek Dulloh untuk memastikan apakah Kek Dulloh atau Nek
Ijji ada di dalamnya.
Siang itu berita kehilangan Kek Dulloh dan Nek Ijji
segera menyebar keseluruh warga. Mereka
berbondong-bondong untuk mencari Kek Dulloh dan Nek Ijji. Tiga orang menyelam ke dalamnya. Tak berapa
lama ditemukan Kek Dulloh di sela-sela batu, tetapi Nek Ijji….hingga kini tidak
ditemukan dimana jenazahnya berada. Ataukah sebenarnya masih hidup atau
meninggalkah Nek Ijji?
Semua masih misteri yang hingga kini tidak
terpecahkan. Untuk mengabadikan kejadian
misterius itu penduduk kampung menamai sungai ini Leuwi Nini
Maaf teks belum rapi dalam penataannya, ada yang bis usulkan caranya?
BalasHapus