MODUL SANGGAR SASTRA



MODUL SANGGAR  SASTRA



Perhatikan contoh berikut!



……………………………
       “Aha…aku punya ide!  Daripada di sekolah bete ketemu temen-temen usilku, mending aku pura-pura sakit aja.  Aku bisa minta apapun ke bunda termasuk supaya bunda nggak ngantor.” 
        Noni anak semata wayang yang manja.  Meski sudah menginjak tujuh belas tahun tidak juga bisa memahami orang lain termasuk bundanya sendiri.  Ulah manjanya sering kali membuat bundanya pusing kepala.
        “ Tok…tok…tok………  Noni, buka pintunya sudah bangun belum?! Waktu Sholat Subuhnya sudah mau habis.”  Dari luar pintu kamar terdengar suara bunda agak keras berusaha membangunkan Noni.
        Noni yang sedari tadi sudah bangun terus memutar otak untuk sekenarionya hari ini.       …………………

SEMU

Mencari bunga
di rumpun-rumpun hedonis
Mengais senyum
di bongkah-bongkah individualis
Mencari derma
di bukit-bukit materialis

Pemimpi yang haus
Harapkan tetes air di padang
gersang
bertualang di antara fatamorgana

Pendamba cinta
Terjebak dalam kubangan syahwat  hina….
Semunya senyuman dunia
Bagi pecintanya
………………

Di sebuah kamar tidur yangcukup mewah, lengkap dengan spingbed kelas atas dan seperangkat computer dan meja belajar merk ternama. Di pagi Subuh.
Noni :”Aha..aku punya  ide! Daripada ke sekolah ketemu temen-temen usilku , mending aku pura pura sakit aja. Aku bisa minta macem-macem temasuk biar bunda nggak ngantor!”
(bicara sendiri sambil senyum- senyum di atas tempat tidurnya)

Dari luar kamar terdengar pintu diketuk
Bunda: “Noni, buka pintunya sudah bangun belum?! Waktu   Sholat  Subuhnya sudah  mau  habis.”
Noni   : “Iya, Bunda.  Masuk aja pintunya nggak dikunci kok.”
(mengambil selimut tebal dan dengan suara gemetar menggigil kedinginan)
……………………………..


Jenis karya sastra ada 3 macam, yaitu prosa, puisi dan drama
Ada juga yang menggolongkan menjadi 4 ditambah posa liris

Perhatikan jenis karya sastra di bawah ini!

Semunya Kesenangan Dunia

Mencari keindahan akhlak.  Takkan ada diantara manusia.  Yang gila pesta pora.  Atau mengharap bahagia.  Dengan mementingkan diri sendiri.  Mengharap dapat kenikmatan sedekah dengan menjadi pecinta materi

Ibarat kehausan di padang gersang,.  mengharap tetesan air.  Kian kemari hanya mendapati.  Kekecewaan.

Seperti pendamba cinta.  Namun terjebak dalam syahwat.  Nafsu yang mengantarkan pada kehinaan.  Kesenangan dunia bagi mereka yang cinta dunia hanya semu belaka

Cobalah dengan berdiskusi dengan kelompok sanggar kalian.
  1. Mana yang merupakan prosa, puisi drama dan prosa liris?
  2. Sebutkan perbedaannya masing-masing
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

PUISI

Periodisasi Puisi dan penggolongan jenisnya tidak terlepas dari perkembangan sastra di Indonesia.
Menurut HB. Jassin periodisasi sastra di Indonesia adalah sebagai berikut:
  1. Sastra Melayu Lama
  2. Sastra Indonesia Modern
    1. Angkatan 20
    2. Angkatan 33 (angkatan pujangga baru)
    3. Angkatan 45
    4. Angkatan 66

Jenis Puisi berdasarkan perkembangannya ada 4:
  1. Puisi Lama
  2. Puisi Peralihan
  3. Baru Baru
  4. Puisi Kontemporer
Sebagian berpendapat ada dua yaitu lama dan baru sebagian ada 3 lama,baru dan kontemporer

Puisi Lama:
Ciri puisi lama pada awal penciptaannya adalah:
  1. anonym (tidak diketahui pengarang pertamanya)
  2. tidak dipublikasikan karena belum ada alat secanggih sekarang
  3. penyebarannya hanya dari mulut ke mulut
  4. terikat oleh aturan aturan penulisan tertentu
  5. bersifat menghibur dan mendidik

Jenis-jenis puisi lama
1. Pantun adalah jenis puisi lama yang berasal dari Melayu
Ciri-ciri pantun:  -satu bait terdiri dari 4 baris, bersajak ab-ab
                            -satu baris 8-12 suku kata, dua baris pertama sampiran, dua baris terakhir isi
Contoh:_________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

2.  Pantun Kilat (karmina): pantun yang dipersingkat menjadi dua baris tiap baitnya
Ciri pantun kilat: -satu bait terdiri dari 2 baris, bersajak aa
                            -satu baris 8-12 suku kata, 1 baris pertama sampiran, 1 baris terakhir isi
Contoh:_________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

3.  Gurindam: jenis puisi lama dari tamil India
Ciri-ciri Gurundam:  -satu bait terdiri dari 2 baris, bersajak aa
                                  -satu baris 10-14 suku kata, satu baris pertama sebab, satu baris terakhir akibat, biasanya berisi nasihat
Contoh : _______________________________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
4.  Syair: Jenis puisi lama dari Arab
Ciri-ciri syair:  -satu bait terdiri dari 4 baris, bersajak aa-aa
                         -satu baris 8-12 suku kata, semua baris merupakan isi
Contoh:______________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
5. Talibun:  Jenis puisi lama asal melayu, sama dengan pantun tetapi jumlah baris lebih dari 4, umumnya 16-20 baris
Ciri Talibun:  -satu bait lebih dari 4 baris tetapi selalu genap, bersajak abc…….-abc……
                       -satu baris 8-12 suku kata, setengah baris pertama sampiran, setengah baris terakhir isi
Contoh:______________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________ ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
6.  pantun Berangkai
Seperti pantun biasa tapi sampiran barisan ke dua pada bait pertama  menjadi sampiran baris pertama bait berikutnya.  Isi baris keempat menjadi isi baris ketiga bait berikutnya.  Demikian seterusnya.
Contoh :
Dengarlah Pantun                                      
Buah ara batangnya rimbun                      
Mari dibantun dengan parang                    
Hai saudara dengarlah pantun                  
Pantun tidak mengata orang                      
                                                                   

Mari dibantun dengan parang                   
Berangan besar di dalam padi                  
Pantun tidak mengata orang                     
Jangan syak di dalam hati                         

Catatan: -Contoh jenis pantun, pantun muda-mudi(perkenalan, berkasihan, perceraian, iba hati, dagang), pantun tua   (nasihat, adat, agama), pantun jenaka, pantun anak (duka cita dan suka   cita)
               -Jenis syair: panji (kepahlawanan), cerita fantastis, cerita ghaib, kejadian zaman, terjemahan, moral religius  dikdaktik)

7. Seloka dari India
Ciri:    satu bait 4 baris, tiap baris 4 kata, jumlah suku kata sebarisnya ada 8-11, sajak aa-aa, 2 baris awal sampiran-2 baris akhir isi, memiliki kekhasan dalam irama (menurut  Hooykaas dalam Perintis Sastra)
Contoh: 
Ada seekor burung pelatuk                                          
Cari makan di kayu buruk                                            
Tuan umpama ayam pungguk                                        
Segan mengais rajin mematuk
Yang lain berpendapat bahwa seloka adalah pepatah, atau pantun berantai, sebagian lagi berpendapat bahwa seloka adalah syair dengan baris dua atau kelipatannya dengan syair sajak aa-bb-cc-dd dst

(Salah Satu Kegiatan Sanggar Sastra Nurul Amanah)


B. PUISI ZAMAN PERALIHAN
Ditandai dengan munculnya puisi lama dari Eropa yang sesungguhnya memiliki kebakuan cara penulisan, namun
Pada perkembangannya puisi ini berubah pola dan aturan sesuai kreatifitas penulis.  Puisi ini adalah SONETA.
Soneta pada bentuk aslinya merupakan puisi lama dari Italia sonetto=syair yang bersuara
Ciri:
-Jumlah baris 14 buah, 2 kwatryn sebagai oktaf dan 2 tersina yang merupakan sekstet
-pola sajak abba/abba/cdc/dcd, disebut sajak peluk.
-oktafnya merupakan buah persoalan dan sektetnya merupakan jawaban, oktaf biasanya melukiskan keadaan alam
-Tambahan baris setelah itu disebut coda, jumlahnya 2-14 baris
   
Dalam perkembangannya Sonetta memiliki ciri sesuai pengarangnya.  Pelopor pembawa soneta ke Indonesia adalah Muhammad Yamin dan Rustam Efendi. Namun yang dikenal sebagai Bapak Soneta Indonesia adalah Muhammad Yamin.  Sedangkan Rustam Effendi adalah perintis puisi baru.
Ciri Soneta Muhammad Yamin:
-    2 kwatryn 1 septima atau 2 terzina = 14 baris
-    Sajak abba-abba-ccc-ccc atau abab-abab-ccc-ddd
Ciri Soneta William Shakespeare
-    14 barisnya terdiri-dari 3 kwatryn dan 1 distichon
-    Sajak abab-cdcd-efef-gg

Contoh:
                             PAGI-PAGI                                     
                                                                                       
                  Teja dan cerawat masih gemilang                 
                  Memuramkan bintang mutiaranya             
                  Menjadi pudar padam cahaya                      
                                    Fajar di timur datang menjelang
                                    Membawa permata ke atas dunia
                                    Seri berseri sepantun mulia        
                                    Berbagai warna bersilang-silang 
                 Lambat laun seta berdandan                           
                 Timbullah matahari dengan perlahan             
                 Menyinari bumi dengan keindahan            
                                    Segala bunga harum pandan       
                                    Kembang terbuka, bagus gubahan
                                    Dibasahi embun, titik di dahan    
                            
PUISI BARU

           Puisi baru sering disebut puisi modern. Muncul sejak Soneta di bawa ke Indonesia dan dibuat dengan versi masing-masing penulisnya.  Dalam Perkembangan sastra puisi baru muncul pada angkatan pujangga baru
Dalam puisi baru:
-  Segala ciri yang ada pada puisi lama seolah lenyap,
-  Pengarang puisi baru telah mencantumkan namanya pada gubahannya,
-  Tema yang dimunculkan lebih membumi (berupa realita dan merupakan luahan perasaan), 
-  Sajak/rima sekedar memperindah bunyi dan bentuk ekspresi, sajak tidak berpola tertentu
-  Semua bagiannya merupakan isi.
-  Beredar di kalangan masyarakat dengan alat publikasi modern, bukan dari mulut ke mulut

Jenis puisi baru berdasarkan jumlah barisnya
1.     Distichon (bait pusi dua baris)
2.       Terzina (bait puisi tiga baris)
3.       Quatrain (bait puisi empat baris)
4.       Quint (bait puisi lima baris)
5.       Sektet (bait puisi enam baris)
6.       Septima (bait puisi tujuh baris)
7.       Stansa/Oktaf (bait puisi delapan baris)
8.       Soneta ‘baru’ (bait puisiempat belas baris)
9.       Bebas (bait puisi dengan jumlah baris bebas)

Berdasarkan isinya ada beberapa jenis puisi baru
1. Balada    : berisi kisah , hikayat, cerita romantis dan atau  sentimental, biasanya untuk dinyanyikan
2. Romance: puisi yang berupa ungkapan perasaan cinta
3. Elegi       : mengungkapkan perasan sedih (kemurungan)
4. Ode         : menyanjung seseorang berkaitan dengan peristiwa penting (kepahlawanan)
5. Himne     : Memuji  dan memuliakan Alloh SWT
6. Epigram  :berisi ajakan hidup atau semangat juang
7. Satire      : berisi kritikan/sindiran terhadap penyelewengan di tengah masyarakat
8. Idile        : melukiskan kehidupan yang sentosa

Contoh-Contoh Puisi Baru
MASIH ADAKAH                             
BIMBANG                                                        

MENGURAI DUKA                                        
DISINI
Masih adakah bimbang
Pada tegar bebatuan
Gemercik air, memilin putar
Adakah hati bergetar
Temukan sang Maha Pintar

Indah sempurna alam raya
Menebar pesona cahaya mutiara
Lebih hebat dari manusia
Tiada ruang buat jumawa

Seribu alasan untuk beriman                                                                                           Alam raya, air, bebatuan                   
Tiada bimbang dan keraguan            
Bagi pencari kebenaran                     
Guratan malam,                                                 
mengukir duka begitu dalam                              
pekatnya menghalang…kelam                          

Selaksa ingin mesti teredam                              
tika lunglai tangan menggapai                                                                                    Hanya sebatas tengadah                                     
wujudkan mimpi pada kuntum-kuntum doa      

Mata melihat, hati bicara                                       Mestikah kau pilih?
Telinga mendengar, asa menggelora                  
meski sebatas andaikata                                       

Nestapa….                                                                
Duka mengikis lorong hati                                 
Bilakah getir ini terurai                                                                                                   larut dalam samudra peristiwa
Lihatkah kau ?                                                                                               
si lemah yang tengadah
mengikat helaian susah
payah

Tergodakah kau ?
si kaya yang pongah
menghimpun segala mewah
megah

Mestikah kau pilih?
bila yang kau cari ada di sini 
dalam dirimu sendiri
hati

Kaya, miskin, bahagia,nestapa                                                                        
adalah dirimu 



MARSINAH

Marsinah, wanita buruh memeras peluh                   Marsinah, taburan bunga
mengais rejeki sisa konglomerat                                di atas gundukan pusaranya
tersenyum diatas orang melarat                                 menyiram kelopak asa keberanian
                                                                                        menebar rasa senasib sependeritaan       
Marsinah, pahlawan bagi keluarganya                     meniupkan angin keberpihakan
Selalu ditanya mana uang belanja             
tetesan keringat tak pernah cukup                            Marsinah, tumpahan darahmu
untuk hidup                                                                  masih merah
                                                                                       di tempat berpijaknya para demonsran
Marsinah, pembela bagi kaumnya                            hingga kini kobarannya tak pernah padam
Rela bertaruh nyawa                                                   menyerukan jawaban bagi kesewenangan
Meminta sebentuk rasa keadilan               
Hingga bertaruh hidup                              
Berakhir maut  

                                                                                                                                           Khadijah Hanif, 6 Maret 2007

 PUISI KONTEMPORER

           Jenis puisi kontemporer berkembang dalam kurun waktu terakhir.  Nuansa ekspresi keinginan untuk bebas  sangat mewarnai puisi ini.  Berbagai ketidak laziman muncul termasuk dalam struktur penyusunan kalimatnya.  Keindahan dan pemilihan kata kadang diabaikan tapi lebih mementingkan isi dan ekspresi.  Kadang beberapa puisi kontemporer mengabaikan isi dan lebih mementingkan ekspresi.  Akan tetapi tidak berarti menjadi kehilangan makna, karena puisi ini akan sangat jelas ketika dibaca secara uutuh, bukan per baris.
         Hal-hal inkonvensional dari puisi kontemporer adalah
1. Penggunaan jenis kata secara inkonvensional dalam satu kalimat yang bermaksud menggambarkan makna
    teramat dalam
    Contoh:  Laut yang laut, Karena Kaulah yang paling Kau
                   Umumnya laut dilukiskan dengan kata sifat demikian juga paling selalu diiringi kata sifat
2. Unsur bunyi sering kali menggunakan repetisi
    Contoh:  Berhenti mencela
                   Berhenti menghina
                   Berhenti mengada-ada
   Atau repetisi dalam satu baris (paralelisme)
   Contoh:   Tikus berdasi, tikus pencuri
                   Rakyat melarat, rakyat sekarat
3. Tipografi, baris atau bait membentuk susunan terpola
    Contoh:  
                   
TAK PASTI
B T
                Di  negeri
                 ini terjadi  Tiada
                        jawaban yang pasti
                             atas segala tanya dan
                                      peristiwa   tiada                     
                                   Tanya berbalas                          
                               titik namun                                                                                    
                             Koma atau                                            
                                 Tanya                                                                                     lagi                                                                                                ?                                                                     
Berita Termendung                      Tidak  Boleh  Tidak Baik
Berita Tak mendukung                Tidak        Boleh           bt Begini             Tumpukan             Tidak      Boleh       kalah
Bertumpuk      Tumpukan            T      e    r      u    b    a    h   Belum     Terkerjakan                    B T  T  e  r  j  a di      T B       
Bingung    Tiada                                         T   e  r  u s
Berujung Tepi                                             Berjuang   
Baru    Terasa    kini                                    T e  r  u s   
Bermalas          Terbalas                             B  erkarya
Benar waktu Tak menunggu                     T  e  t a p
dengan Taatnya Barisan setan                 Berbuat                     Begitu                   Terlalai                            Tetap        
Bahagia Tertawa Setan                            Berharap  
BT lah Insan                                                                                                                     
Enjambemen, yaitu pemotongan kalimat atau frasa di akhir baris dan dilanjutkan di baris selanjutnya
Contoh:
       PERJALANAN SANG WAKTU


       Ada orang berkata
       Waktu adalah Tuhan
       Benarkah?
       Bukan!
       Waktu adalah ciptaanNya
       Ia diberi kuasa untuk memaksa dengan
       izinNya Yang
       KUASA Ada orang berkata
       Waktu selalu  patuh
       Taat
       Mewadahi tiap peristiwa 
       Takdir
       Benar!
       Ia tak pernah berhenti berjalan
       kecuali bila Tuhan   
       PERINTAHKAN


Macam-macam Puisi Kontemporer:
  1. Puisi Mbeling, yaitu puisi blak-blakan, apa adanya seperti maksud penyair.  Tidak memperhatikan diksi, memakai bahasa sangat sederhana tanpa bunga-bunga bahasa.  Biasa berisi kritikan terhadap kehidupan masyarakat yang  pincang, dengan bahasa.  Karena keluguan bahasanya, puisi mbeling berkesan lucu dan tidak berat tetapi tajam.
Contoh:            
MAAF KUSEBUT KITA INI BODOH
                                Bangsa ini bangsa teraneh kalau tidak bisa disebut
                                Bodoh
                                Konon kabarnya terjajah oleh Amerika
                                dalam segala sisi kehidupan
                                Politik, terombang-ambing dalam
                                memilih kebijakan, bahkan untuk rakyatnya sendiri
                                Sosial Budaya, terpaksa ikut-ikutan
                                dalam model dan tren mereka
Musik, penampilan, gaya hidup,
hedonisme, liberalisme, materialisme, konsumerisme,
homoseksualisme, seks bebas
hingga satanisme
Ekonomi, terperah habis-habisan menguntungkan mereka
Beli song, beli sport, beli show, beli fashion, beli food dan beli
gengsi
dengan uang hutang dari para rentenir dunia yang juga
adalah Amerika
celaka bertubi-tubi
Ironisnya kita yang sadar keadaan ini tetap saja
Yang ada rasa cinta agama dan jihad
(katanya)
Kemana-mana bawa NOKIA,  MOTOROLA
Minumannya SPRITE, COCA COLA, FANTA
Susu untuk anak kita NESTLE dan kawan-kawannya
Makannya di McD, KFC, CFC dan Dunkin Donat
Bank-bank ribawi diamanahi mengurus uang kita
Ck…..ck….ck….
Celaka bertubi-tubi
Adakah kebodohan yang lebih bodoh dari ini?

  1. Puisi Tipografi, yaitu puisi yang memanfaatkan bentuk atau pola tertentu dalam menulis baris-baris puisinya, dengan maksud mengekspresikan perasaan dan juga isi yang terkandung dalam puisi tersebut. 
No
Bentuk
Ekspresi
Gambaran Isi
1
Tanda Tanya
keheranan
ketidaktahuan/keanehan/kepincangan
2
Koma
ketidakpahaman, penasaran
ketidakpastian yang belum terjawab /kekecewaan
3
Tanda seru
kemarahan/kekecewaan
kepincangan/ketidakadilan/ tidak sesuainya suatu keadaan dari harapan
4
Titik
keyakinan, kepastian
tentang sesuatu yang pasti, benar, tidak bisa dirubah
5
Lilin,
ketetapan hati karena ada cahaya atau petunjuk
keyakinan, ketenangan
6
Orang bersujud
Ketaatan hati, keyakinan  dan pengabdian kepada Allah
Taubat, Ibadah, kepercayaan atas sifatNya
7
Pohon yang rimbun
Kedamaian dalam lingkungan yang memadai, sentosa.
Lingkungan hidup, keadaan yang menentramkan
8
Tetesan Air
Ketenangan, Kedamaian
Kesejukan, bening indah sentosa
  1. Puisi ekspresionis yang membolak-balikan struktur kata sehingga terkesan acak. Tapi tidak demikian bila dibaca  utuh, justru akan terkesan konkret.
Contoh:                                                       
                                                                  BERITA AKHIR ZAMAN
,
Isi
Keluar            semua        perut bumi
                                                               Berat              bebannya            ruah                  tumpah
Panas api,                                       lava,                               lahar
Poranda                          porak                        luluh              lantak
Punggung                   bumi                    berharga                     tidak
Terbang,                                                                             laksana
bulu-bulu                                                                 melayang
                                                                   Manusia                      Kapas                         seperti
                                                                         ketakutan,      terhenyak  yang       terlambat
                                                                        sadar gugur janin            dari kandungan
                                                                           bayi-bayi     lahir   berkumis tanggal
gigi-gigi uban rambut    menjadi
tiada      naungan   berteduh
lumpuh    segala   tenaga
 tiada    kembali    noktah
ketiadaan bergulung,
nol sebelum ada
menjadi tiada
 kemudian
habis
.

MENULIS PUISI

Batasan Puisi
  1. Slamet Muljana: Puisi merupakan bentuk kesastraan yang menggunakan pengulangan suara sebagai ciri khas.  Pengulangan suara ini menghasilkan rima, ritma dan musikaris
  2. James Reeves: Puisi adalah ekspresi bahasa yang kaya dan penuh daya pikat
  3. Herbert Spencer : Puisi adalah bentuk pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan memperhatikan efek keindahan.
  4. P.B. Shelley: Puisi adalah rekaman saat-saat terbaik dan paling menyenangkan
  5. I.A. Richard: Struktur fisik puisi adalah medium untuk mengungkapkan makna yang hendak disampaikan oleh penyair.
Unsur-Unsur Puisi
  1. Tema, yaitu gagasan pokok  (subject-matter) yang dikemukakan oleh penyair.  Gagasan pokok pada puisi merupakan desakan kuat dalam jiwa penyair sehingga menjadi landasan pengucapannya (ekspresi jiwa yang dalam)
Puisi Bertema Ketuhanan:

Ingin Ku Kembali

Jiwaku lelah
Dalam ½ perjalanan yang belum pasti
Menapaki kerikil tajam keremangan
Luka berdarah, nanah

Riuh rendah suara amarah
Meredam indahnya bisikan swarni
Memaksa diri membuat angkara
Jiwaku terluka menahan derita
perang yang tak kunjung padam

Wahai Pencipta….
Kasihanilah diri ini
Jiwaku koyak tercabik nafsu
Hatiku remuk terjajah setan
Makin jauh jalanku bermula
Mampukah kudapati jalan kembali
Menghadap wajah-Mu
Yang Maha Tinggi



Puisi Bertema Kemanusiaan

Anak Jalanan

Wajah tirus kurus tak terurus
Baju lusuh menyimpan keluh
Sebutir nasi memeras peluh
Seteguk air menahan getir

Sebelia ini kau coba menimbang diri
Meski tak pernah terjawab mengapa?
Ketika gedung tinggi tak tersaingi
gubuk reotmu
Ketika mobil mewah tak terkejar
kaki kurusmu
Ketika mewahnya hidangan
sebatas mata dan khayalan
karena toh lidahmu tak pernah merasakan
dan perutmu tetap keroncongan

Akankah kau bertahan
Dari gelombang zaman kerakusan
Akankah kau tegar
Menantang arus pusaran kemaksiatan
Akankan kau rela
Membalas tatapan mata ketakpedulian                      
Puisi Bertema Cinta

Maafkan Aku

Bukan hatiku tak terpesona
Bukan pula tak ingin dicinta
Pabila kuntum-kuntum itu mekar
Kutak bisa bertahan

Meski mulutku diam
Pandanganku terhujam
Langkahku terpaku
Itu karena cinta
Mungkin kau bertanya
Bimbang menyelimuti rasa
Kau tunggu jawab hatiku

Maafkan aku
Satu keinginanku kau mencoba mengerti
Cinta sejati takkan berbuah dosa
Kecuali iman yang kian bersemi

Inilah bukti kesejatian cintaku
Biar siksa hati ini bersaksi
Hanya harapku……
kau temukan cinta abadi
Tentukan tema dari contoh-contoh puisi terdahulu:
Semu
Berita Akhir Zaman
Tak Pasti
Perjalanan Sang waktu
B T
Maaf Kusebut Kita Ini Bodoh
Marsinah
Mengurai Duka
Masih Adakah Bimbang
Disin
  1. (feeling), suasana hati penyair terhadap apa yang diungkapkan menjadu unsure tersurat dan tersirat yang dapat disimpulkan oleh pembaca.  Karena perasaan sangat spesifik untuk masing-masing penyair, maka tidak ada satu puisi yang sama meskipun tema yang dikemukakan sama.
Perasaan yang terkandung dalam puisi:
    1. Ingin Ku Kembali: bimbang, sesal dan pengharapan
    2. Anak Jalanan: iba, sedih, haru
    3. Maafkan Aku: gejolak dan derita cinta
    4. Semu:_________________________
    5. Berita Akhir Zaman: _______________________________________
    6. Tak Pasti: ___________________________________________
    7. Perjalanan Sang waktu: ____________________________________________
    8. B T : _________________________________
    9. Maaf Kusebut Kita Ini Bodoh: __________________________________
    10. Marsinah: ____________________________________________
    11. Mengurai Duka: ________________________________________
    12. Masih Adakah Bimbang : _____________________________________
    13. Disini: _________________________________________
  1. Nada dan Suasana Puisi
Nada adalah sikap tertentu dari penyair yang disampaikan kepada pembaca lewat bait-bait puisi.  Ada puisi yang bersifat menasehati, mengagumi, mengejek, menyindir, memberi tahu (menyampaikan informasi) atau sekedar bercerita secara lugas.
Nada pada puisi-puisi di atas:
    1. Ingin Ku Kembali: bercerita
    2. Anak Jalanan: bercerita dan menyindir lewat cerita
    3. Maafkan Aku: bercerita
    4. Semu:_________________________
    5. Berita Akhir Zaman: _______________________________________
    6. Tak Pasti: ___________________________________________
    7. Perjalanan Sang waktu: ____________________________________________
    8. B T : _________________________________
    9. Maaf Kusebut Kita Ini Bodoh: __________________________________
    10. Marsinah: ____________________________________________
    11. Mengurai Duka: ________________________________________
    12. Masih Adakah Bimbang : _____________________________________
    13. Disini: _________________________________________

Suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi tersebut atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembacanya.
Suasana pada puisi di atas:
    1.  Ingin Ku Kembali: duka, religius
    2. Anak Jalanan: sedih, haru
    3. Maafkan Aku: sedih
    4. Semu:_________________________
    5. Berita Akhir Zaman: _______________________________________
    6. Tak Pasti: ___________________________________________
    7. Perjalanan Sang waktu: ____________________________________________
    8. B T : _________________________________
    9. Maaf Kusebut Kita Ini Bodoh: __________________________________
    10. Marsinah: ____________________________________________
    11. Mengurai Duka: ________________________________________
    12. Masih Adakah Bimbang : _____________________________________
    13. Disini: _________________________________________

  1. Amanat (pesan)
Amanat adalah pesan yang hendak disampaikan kepada pembaca puisi.  Pembaca akan memahami amanat puisi setelah menelaah dan menghubungkan unsur-unsur puisi yang lain, yaitu tema, perasaan, nada dan suasana.  Amanat ini yang menjadi landasan dorongan penyair menggubah puisinya..
Perbedaan amanat dan tema.  Tema lebih bersifat lugas dan obyektif, pembaca dapat menentukan tanpa penelaahan.  Akan tetapi amanat bersifat subyektif dan interpretative, yaitu masing-masing pembaca memiliki interpretasi khas terhadap puisi tergantung pada cara telaah pembaca terhadap puisi.
Amanat pada puisi-puisi di atas:
    1. Ingin Ku Kembali: Kembalilah pada fitrah penciptaan manusia agar jiwa merdeka dan lepas dari deritanya
    2. Anak Jalanan: Pedulilah pada nasib anak jalanan
    3. Maafkan Aku: Cinta hakiki hendaklah dibuktikan dengan pengorbanan tertinggi, yaitu saling menjaga dari perbuatan dosa
    4. Semu:
    5. Akhir Zaman:
    6. Pasti:
    7. Sang waktu:
Bagian Fisik Puisi
1.  Bait
                Yaitu bagian puisi yang merupakan kumpulan dari beberapa kalimat (baris).  Puisi kadang terdiri dari beratus bait dan ada pula yang hanya satu bait.  Pada puisi lama satu baitnya telah memiliki pengertian yang lengkap.  Pada puisi baru pengertian (maknanya) terkandung pada seluruh bait secara utuh sehingga pemahaman didapat setelah membaca berulang kali.
2.  Sajak
                Yaitu pengulangan bunyi yang bersifat memperindah puisi.  Pada puisi lama pengulangan bunyi sering kali hanya di akhir baris.  Akan tetapi pada puisi baru sajak sering kali berada dalam satu baris yang sama.
a.  Menurut bunyinya
i.  Sajak sempurna, bila seluruh suku kata akhirnya sama
    contoh: mati-jati, dahulu-malu, awan-lawan, ujung-sanjung
ii. Asonansi, pengulangan vocal tiap suku kata
    contoh: kurang-bulan, benam-menang
iii.Aliterasi, pengulangan bunyi konsonan di awal kata
    contoh: Luluh-lantak-lelah-lunglai
iv.Disonansi (sajak rangka), bila konsonan sama sedang vocal berbeda
    contoh: junjung-jinjing, mondar-mandir, kepak-kapuk, pupa-papi-pipa
v. Sajak Mutlak, bila pengulangan terjadi pada satu kata utuh
    contoh: Bukannya aku tak tertawan
                 Kubuat nafsuku yang tertawan
vi.Sajak tak sempurna, hanya sebagian vocal atau konsonan suku terakhir saja yang sama
    contoh: panjang-senang, satu-ungu
b. Menurut letaknya dalam baris puisi
i. sajak awal
   contoh:  Sulitnya hidup ujian dunia
                   celaka mereka hilang kesabaran
                   sulitnya perjalanan di akhirat
                   celaka benar tanpa pertolongan
ii.sajak tengah
   contoh: Bila malam ternoda dosa insan
                begitu kelam sisa zaman menangis
iii.sajak akhir (belakang)
    contoh:  Senjata tajam mengelincirkan insan
                   sebab itu jagalah lisan
iv.sajak datar, dalam satu baris
    contoh: Tubuh kurus wajah tirus
                 Baju lusuh penuh peluh
v. sajak tegak, terdapat pada dua baris berurutan
    contoh: Kejahatan diri sembunyikan
                 kebajikan diri diamkan
c. Menurut letaknya dalam bait
i. sajak silang/sajak selengkang, baris pertama bersajak dengan baris ketiga, baris kedua bersajak dengan baris keempat berpola abab …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
ii. sajak berpeluk, baris 1 bersajak dengan baris 4, baris 2 bersajak dengan baris 3, berpola abba
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
iii. sajak terus (rangkai), semua baris bersajak sama berpola aaaa
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
iv. sajak pasangan, bila 2 baris awal bersajak sama dan 2 sajak akhir sama, demikian sebagai pasangan-pasangan, berpola aabb
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
v. sajak putus/pecah/patah, bila satu atau dua baris tidak mengalami persamaan bunyi, berpola aaab, abac, abbb, abcb
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
3.  Irama, yaitu pergantian naik-turun dan panjang-pendek, keras-lemah suara secara beraturan
    Dalam puisi lama irama puisi bersifat tetap sehingga dapat dibuat pola kaki sanjak (puisi), tetapi pada puisi baru irama 
    lebih ekspresif sesuai perasaan penyair

Cobalah untuk menulis Puisi baru atau puisi kontemporer pada lembar ini, minimal 3 puisi dengan tema berbeda.  Rajin-rajinlah berlatih insya Alloh akan berbuah!
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


PESAN NAGA PADA DUNIA

Belum seratus langkahku
Berburu nafas terputus
Tulus kagumku menatap indahmu
Kau begitu belia tuk berpacu dengan deru zaman
Debu-debu permainan kotor
Tak mampu hinggap di alam perawanmu
Kau seolah membisu
Tak bergeming
Meski lambaian kemegahan begitu menggoda

Naga…..
Sebutanmu begitu gagah
seolah penjaga sebentuk kelestarian
Pengusir tangan-tangan jahil perusak alam
Namun seribu keindahanmu
Tak tergambar atas namamu

Permadani hijau dan hamparan emas
Membuai lembut mataku
Lenggokan Ciwulan biaskan binar-binar mentari
Bak mutiara bening menyilaukan
Rindangnya hutan alammu
Memutar air kehidupan abadi
Naungan-naungan sederhana berbaris bersahaja
Tanpa jurang pembeda

Tergoda rasa hatiku
Tuk mencari rahasia daya pikatmu
Memanggil manusia hingga ujung dunia
Inikah rahasia harmoni
Tradisi lestari beriringan jiwa-jiwa suci?
Tiada pergulatan materi terbalut iri dengki
Tiada pongah jumawa
Seolah pesan kerendahhatian
Senyum tulus menyambut siapa jua
Kemana himpitan beban dunia?

Menyusup sejuk di kelopak batinku
Menuai hikmah keanggunan Naga
Nurani hatiku tersentuh haru
Khayal melambung  mencipta angan
Andai tiada materialisme itu………
Maka terganti rakus dengan sahaja
Andai tiada individualisme itu…….
Niscaya peduli akan menyapa
Andai tiada liberalisme itu….
Tentu tatanan akan bicara.

Dalam diammu
Kau sampaikan nasihat bijaksana
Sebingkai kanvas kehidupan
Penuh rahmat dan ketenangan
Jauhkan bala bencana teguran alam

Wahai Kampung Naga
Tegarlah engkau dari himpitan ketiak zaman
Tetaplah bersahabat dengan alam
Sungguh Tuhan membenci kerusakan
Akibat tangan-tangan zalim manusia
Yang tak pernah puas berbuat angkara
Maka jangan kau berubah
Dunia ini butuhkan pesanmu

Tasikmalaya, 23 Mei 2007


ASAL MULA LEUWI NINI

Berjalan menyusuri kampungku, Kampung Cibogo Desa Ciudian Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut tidak lengkap bila belum menikmati keindahan Sungai Leuwi Nini.  Sungai yang deras nan jernih dengan beberapa lengkungan air agak dalam (leuwi). Batu-batu besar seukuran meja belajar turut menambah keasrian sekaligus suasana magis.  Di kanan kiri sungai terdapat kebun dan sawah para petani. 
Sejak aku pindah ke Tasikmalaya kurang lebih dua tahun lalu, baru kali ini aku menikmati jernih dan sejuknya Sungai Leuwi Nini kembali.  Tiba-tiba aku terkenang peristiwa berpuluh tahun yang lalu, ketika itu aku masih belum lahir.  Sebuah peristiwa bersejarah hingga Sungai ini dinamakan Leuwi Nini.
Konon ketika penduduk kampung kami masih beberapa orang tinggalan sepasang kakek nenek yang bernama Kek Dullah dan Nek Ijji.  Mereka hidup dalam kesederhanaan.  Mata pencaharian mereka hanya dari memancing ikan di sungai untuk kemudian dijual.  Kehidupan mereka jalani dengan ikhlas meskipun hidup dengan pas-pasan.
Mereka biasa pergi pagi-pagi sekitar pukul enam, setelah Shalat Subuh berjamaah.  Mereka berdoa menengadahkan tangan agar dikuatkan menyambung hidup yang mungkin sudah tak berapa lama lagi.  Usia senja membuat mereka khusyuk menghadap Sang Khalik. 
“Kek, maafkan nenek yang selalu merepotkan kakek.  Kalau Kakek sendirian Kakek tidak harus mencarikan nafkah buat saya.  Cukup setengah penjualan ikan untuk Kakek dan setengahnya bias buat beli barang kebutuhan Kakek,”  Nek Ijji memecah kebekuan pagi itu.
“Ehh….pamali bilang begitu.  Dengar Nek, kalau aku sendirian siapa yang memasak buat aku.  Siapa yang tiap hari dimintai tolong.  Nek, tolong ini tolong itu.  Wah, tentu aku akan sangat repot.  Sudahlah jangan berpikir yang aneh-aneh. Tolong siapkan makanan buat bekal kita!”  Mereka pun sibuk dengan pekerjaan masing masing. Kakek Dulloh menyiapkan cacing umpan dan membungkusnya dengan daun alas sementara Nek Ijji menyiapkan nasi timbel lengkap dengan asin dan sambalnya.
Begitulah kehidupan sehari-hari sepasang suami-istri itu.  Rumah panggung yang terbuat dari bambu teramat sederhana menjadi saksi setiap kebersahajaan yang mereka jalani.  Tidak ada kemewahan yang dapat mereka kumpulkan dari hasil memancing ikan kecuali sesuap nasi penyambung hidup dari hari ke hari. 

Sesudah Ashar Kakek datang membawa hasil penjualan ikan dari pasar.  Dengan senyum lebar Nek Ijji menyambut kedatangan suaminya.  Disiapkannya secangkir kopi pahit dan singkong rebus di atas tikar.  Merekapun duduk santai sembari mengisi kesunyian hari mereka tanpa kehadiran anak ataupun cucu.
“Kek, sudah shalat Ashar belum? Di kamar sudah saya siapkan sarung.”  Nenek Ijji memecahkan keheningan sambil terus memijat kaki suaminya.
“Sudah Nek, tadi aku shalat dulu di mushala kampung sebelah begitu terdengar adzan.”
“O’ya…..  Kek, sepulang memancing tadi, saya tertidur sebentar setelah shalat Dzuhur.  Saya bermimpi melihat tiga ekor ikan mas yang besar-besar.”
“Itu pertanda baik,Nek. Mungkin akan ada rejeki kita yang besar di sungai itu.  Bisa jadi bukan hanya ikan tapi barang temuan lain.”  Kakek Dulloh asyik dengan khayalannya.  “Bagaimana kalau kita pergi sekarang juga.  Aku khawatir ikan-ikan itu atau mungkin barang berharga yang diibaratkan ikan mas dalam mimpimu itu hilang?”
“Kakek ini ada-ada saja.  Iye mah mimpi biasa.  Bunga tidur bukan firasat.  Lagi pula saya mimpinya di siang bolong.  Kakek jangan berkhayal begitu.  Kata orang bisa gila ”
Sejak mendengar mimpi istrinya itu Kek Dulloh tidak henti-hentinya berkhayal seolah hilang sifat kebersahajaannya.  Malam itu tidur Sang kakek tidak begitu lelap.  Hujan deras yang mengguyur seluruh kampung tidak sedikitpun mengurungkan niatnya menangkap tiga ekor ikan mas dalam mimpi istrinya.  Kecuali kekhawatiran bila ikan-ikan itu terbawa arus sungai yang deras setiap kali hujan deras turun.  Bahkan Shalat Subuh pagi itu dilaluinya tanpa kekhusyuan.
Bisikan untuk segera pergi ke sungai membuat Kek Dulloh lupa bahwa pagi masih gelap, 
”Nek, cepat siapkan bekal kita.  Aku heran kamu yang mimpi ada ikan emas besar di sungai itu kok tenang-tenang saja.  Aku mah sampai tidak nyenyak tidur.”  Kek Dulloh bersungut-sungut melihat istrinya yang tidak sesemangat dirinya.
“Kek tidak baik terlalu percaya sama mimpi.  Kaduhung saya ceritakan mimpi saya kemarin.  Apa tidak terlalu tergesa-gesa ke sungainya sekarang?  Ini masih terlalu pagi dan lihatlah langit masih gelap!” Tanya Nek Ijji keheranan.,”Lagi pula tadi malam hujan deras sekali sebaiknya kita tunggu surut dulu sungainya.”
“Pokoknya siapkan bekal.  Kalau kamu tidak mau ikut biar saya sendiri saja!” Kakek Dulloh agak marah mendengar panjang lebar saran istrinya.
Keributan kecil itu terhenti setelah Nek Ijji memutuskan untuk diam dan menuruti saja kemauan suaminya.  Kekakuan membuat rumah sempit itu makin menghimpit.  Nek Ijji menuju dapur untuk menyalakan tungku yang hanya satu-satunya.  Beruntung setelah Shalat Tahajud ia sudah memasak nasi.  Pekerjaannya kini hanya tinggal menggoreng ikan sisa penjualan di pasar kemarin.
Semua telah siap.  Umpan di daun talas, rantang wadah nasi lengkap dengan goring ikan dan sambal dan satu teko air the, seperangkat kebutuhan merokok Kek Dulloh pun tidak ketinggalan.                                                    Seolah ingin mengobati keributan kecil tadi pagi, Nek Ijji menambahkan lalap pada bawaannya kali ini.
“Kek, punten nyak keur tadi mungkin saya membuat Kakek marah.  Harusnya saya bersemangat seperti Kakek,” Nek Ijji mencoba mengalah dan memang selalu demikian bila keributan kecil hadir diantara mereka.
“Sudahlah, yang penting hari ini kita akan menangkap ikan dalam mimpimu itu.”  Merekapun tertawa sambil terbatuk-batuk.  Begitu riang layaknya pasangan remaja.  Suasana menjadi begitu tidak biasa.  Mungkinkah ini kebersamaan mereka yang terakhir?

                Lima ratus meter mereka berjalan dari rumah menyusuri pematang sawah menghijau gelap diselimuti kabut pagi yang dingin.  Seiring suara katak yang masih menikmati sisa-sisa air hujan semalam.  Kesejukan menyeruak siapa jua yang menikmati pagi itu.
                Suara derasnya air sungai menandakan beberapa langkah lagi mereka akan sampai.  Remang-remang terlihat arus sungai begitu deras karena hujan semalaman.
            “ Nampaknya kita harus mencari tempat yang paling tinggi.  Batu-batu besar yang biasa kita pakai memancing tertutup air,” Kek Dulloh mengatur strategi.
                “Hati-hati, Kek!  Batu-batu ini nampaknya licin kalau basah.”
            Mereka menaiki batu tertinggi dan terbesar di sungai itu.  Semua bekal dihamparkan.  Mata kail diberi umpan dan dilemparkan ke sungai.  Tidak seperti biasanya, meskipun semalam hujan deras, mata kail itu begitu mudah menangkap ikan. 1,2,3,4,5,6,7 mereka dapatkan hanya dalam satu jam.
                “Nek, rupanya benar firasat mimpimu itu.  Lihatlah belum sampai terbit matahari, kita sudah mendapatkan tujuh ekor ikan besar.”  Serak suara Kek Dulloh mengiringi senyum lebarnya. 
                “Alhamdulillah…semoga apa yang kita peroleh berkah.”
                “Nek, tolong gulungkan rokok buat kakek.  Yang lengkap dengan cengkeh dan kemenyannya, ya?  Ini koreknya.”  Kek Dulloh merogoh saku celananya dan……plung…“Aduh cilaka korek gasnya jatuh ke air.  Tolong pegangi kail ini, aku mau cari dulu  koreknya ke dalam leuwi”
                “Jangan Kek…perasaan saya tidak enak.  Saya khawatir leuwi ini cukup dalam.  Lebih baik kita beli lagi korek dari hasil penjualan ikan hari ini.”
                “Aku ingin sekarang merokoknya.  Sudah jangan khawatir, aku sudah biasa berenang di leuwi ini.”
                Tanpa menghiraukan saran istrinya, Kek Dulloh langsung menyelam. Nek Ijji hanya bisa pasrah dan berjuang mengalahkan kegundahannya.  Dipeganginya kail dengan perasaan tak menentu.  Sejak Kek Dulloh mencari korek tidak satu pun ikan memakan umpannya.  Tangan Nek Ijji gemetar ketika kekhawatiran atas keselamatan Kek Dulloh memuncak.  Hampir satu jam tak juga muncul Kek Dulloh dari leuwi itu.
                Tidak mungkin kakek bisa bertahan lebih dari satu jam di bawah air.  Apa yang terjadi denganmu, Kek?  Nek Ijji berbicara dengan dirinya sendiri.  Pikirannya tak menentu.
                “Ya Alloh, apa yang harus kulakukan? Bismillahirrahmanirrahim…..”  Nek Ijji memutuskan untuk menyelam mencari suaminya.  Dalam benaknya ia harus menyelamatkan Kek Dulloh.
                Akan tetapi hingga hari menjelang siang keduanya tak jua mencul kembali ke permukaan.

Salah seorang lelaki warga kampung yang melewati sungai itu keheranan menemukan perbekalan memancing dan ikan-ikan di dalam ember ditinggalkan pemiliknya.  Ia tahu benar bahwa barang barang itu milik Kek Dulloh dan Nek Ijji. 
Dibawanya barang-barang itu ke rumah Kek Dulloh.  Akan tetapi tiada sahutan seseorang pun di rumah panggung itu.  Kekhawatiran menghinggapi hati lelaki itu.  Dimasukinya rumah Kek Dulloh untuk memastikan apakah Kek Dulloh atau Nek Ijji ada di dalamnya.
Siang itu berita kehilangan Kek Dulloh dan Nek Ijji segera menyebar keseluruh warga.  Mereka berbondong-bondong untuk mencari Kek Dulloh dan Nek Ijji.  Tiga orang menyelam ke dalamnya. Tak berapa lama ditemukan Kek Dulloh di sela-sela batu, tetapi Nek Ijji….hingga kini tidak ditemukan dimana jenazahnya berada. Ataukah sebenarnya masih hidup atau meninggalkah Nek Ijji? 
Semua masih misteri yang hingga kini tidak terpecahkan.  Untuk mengabadikan kejadian misterius itu penduduk kampung menamai sungai ini Leuwi Nini

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR