Dongeng Anak-10 SAHABAT-SAHABAT ANINDIA
SAHABAT-SAHABAT ANINDIA
By: Khadijah Hanif
Anindia menatap heran pada sarang lebah yang dipelihara Ayah.
Diperhatikannya satu persatu satang itu begitu rapih tanpa cacat. Sengaja dia menuju peternakan lebah milik Ayah
karena sekali lagi siang ini, ia mendapat peringatan keras dari Bunda.
“Nindi, kamu ini seharusnya mau mengajari adikmu membuat istana
pasir. Kalian bisa bekerjasama untuk
mendapat istana yang lebih indah dan megah.
Gara-gara kamu, Lukita terus saja menangis. Dia ingin istana pasir sebagus punyamu.”
Anindia memang paling egois kalau sudah bermain istana
pasir. Dia selalu ingin membuat yang
terindah tidak peduli adiknya Lukita menangis ingin dibuatkan juga.
“Selalu aku yang disalahkan.
Aku mau ngadem di kebon kopi sambil lihat sarang lebah ayah,” gumam Anindia
sesaat setelah bunda menyudahi nasihatnya.
Tampaknya Anindia begitu akrab dengan lebah-lebah itu. Sahabat di kala gundah.
“Nindi, kamu sedang sedih, ya?” tanya Lawa si lebah lincah. “Aku
tahu bunda baru saja memarahimu. Dan
semua nasihat beliau benar, Nindi.”
“Iya, Lawa! Selalu aku yang
salah.” Nindi cemberut sambil
memanyunkan bibirnya.
“Jangan marah, Nindi! Kamu
mau bermain di kerajaanku?”
“Tentu, Lawa. Tapi bagaimana
caranya?”
“Makanlah nektar ajaib makananku ini. Ini bukan sembarang nektar. Kamu akan menjadi seperti aku!”
“Aku nggak mau. Nanti aku
kehilangan keluarga dan temanku.”
“Tenang, aku punya penawarnya.
Nektar pemulih.”
“Kalau begitu aku mau.”
Anindia mulai memakan nektar ajaib dan sesuatu yang menakjubkan
terjadi. Tubuhnya mengecil sebesar Lawa
sahabatnya. Dua pasang sayap besar dan
kecil bertengger di punggungnya. Anindia
begitu riang mencoba untuk terbang dan dia berhasil!!!
Perjalanan ini sangat mengasikkan buat Anindia. Anindia menjadi lebah pekerja sebagaimana Lawa.
“Nindi, kita akan mengeliliki kerajaanku. Kami merupakan koloni yang tidak akan hidup
tanpa kerja sama.”
“Lawa, ternyata kalian berbeda-beda ya? Aku pikir kalian hanya sejenis.”
“Ayo, aku perkenalkan temanku yang lain.” Mereka terbang menemui sahabat Lawa yang
lain. Laja si lebah jantan, Leri si
lebah pencari, Leka si lebah pengumpul dan terakhir Queen Bee si ratu
lebah. Lawa sendiri merupakan lebah
perawat.
“Subhanallah, Lawa. Apakah
kalian punya tugas berbeda sampai-sampai nama kalian pun tak sama?”
“Betul Nindi, aku Laja, tugasku hanya membersihkan sarang, menjaga
sarang dan membuai ratu kami. Setelah
tugas utamaku yaitu membuahi ratu, aku akan kehilangan nyawaku.”
“Begitukah? Besar sekali
resiko tugasmu, Laja. Lalu kenapa kau
bersedia kalau akhirnya kau harus mati?”
“Bagi kami kerja sama dan kelangsungan kehidupan koloni ini adalah
segalanya,” jawab Laja penuh kebanggaan.
“Perkenalkan aku Leri, tugasku mencari sumber makanan baik pollen, nektar
ataupun propolis. Bila aku sudah
mendapat tempat sumber makanan aku akan segera memberikan informasi pada
temanku sesama lebah pencari. Lihat
tarianku ini?” Leri berputar-putar
dengan kepakan sayap yang sangat banyak.
Anindia binggung dibuatnya.
“Tarianmu sangat indah dan cepat sekali Leri, aku tak mengerti apa
maksudnya.”
“Itu menunjukkan arah terbangku dan jumlah kepakan sayap yang
kulakukan. Teman-temanku akan dengan
mudah menirukan tarianku tadi tanpa kesalahan sedikitpun. Mereka pun akan segera mendapatkan sumber
makanan kami.”
“Luar biasa. Di bangsa kami
manusia, masih jarang yang mau berbagi seperti kalian. Iri dan dengki membuat kami mudah berpecah,”
ungkap Nindi tersipu malu.
“Kalau aku, Leku, tugasku mengumpulkan pollen dari bunga yang
setipe sehingga kamu mengenal madu dengan aroma bunga tertentu.”
“Iya, aku ingat. Ayah pernah
membeli madu dengan berbagai jenis. Ada
madu kopi, madu randu. Ternyata kalian
yang mengumpulkannya?” ucap Nindi mengerti, “Kalau kamu Lawa, apa tugasmu?
“Aku lebah perawat. Tugasku khusus
merawat ratu lebah dan anak-anaknya yang disebut larva. Aku dan teman-temanku bertanggung jawab untuk memproduksi royal
jelly, serta memberi makan ratu dengan royal jelly, bee pollen dan madu.”
“Berkat
kerja sama kami ini, nama kami terabadikan dalam Alquran surat Annahl yang
sering kamu baca itu, Nindi,” tukas Laja.
“Iya, aku
ingat. Madu yang kalian hasilkan sangat berkhasiat dan menjadi obat dari segala
macam penyakit.”
Selesai
perbincangan mereka yang akrab, Lawa mengajak Anindia mengunjungi Queen Bee si
ratu lebah. Tubuhnya hampir tiga kali lebih berat dari
lebah pekerja.
“Nindi,
aku tak bisa berlama-lama berada di sini.”
“Memang
ada apa Queen?”
“Hari ini
ada ratu baru yang siap memimpin koloni ini aku akan pergi bersama beberapa
pengikutku yang setia.”
“Kenapa
Queen? Tidakkah kalian berdua bisa
memimpin kerajaan ini?”
“Tidak
bisa Nindi, rakyatku akan sangat kerepotan dalam pengabdian mereka pada kami.”
Sore itu
Queen Bee bersiap pergi dan benar saja pengikut setia yang hanya berjumlah puluhan memisahkan diri
dari koloni mereka.
“Lawa,
aku kasihan pada Queen. Dia begitu baik
mau menyerahkan kerajaan ini pada ratu yang baru.”
“Apa yang
akan kau lakukan untuk Queen Bee, Nindi?” tanya Lawa.
“Aku akan
bilang sama ayah, ada ratu yang membutuhkan sarang yang sudah ayah
persiapkan. Aku tahu dari ayah kalau
sarang-sarang yang dibiarkan kosong itu untuk mengembangkan koloni lebah. Beri aku nektar pemulih, Lawa! Sebelum semut menyerang Queen Bee.
Aku kasihan pada Queen.” Nindi
terus meminta dengan cemasnya. Dia
teringat pesan ayah untuk selalu memberi air pada kaki kotak sarang lebah. Kata ayah, supaya semut tidak memasuki
sarang.
Benar
saja, di luar sana Queen Bee dan para pengikutnya sedang berjuang keras adari
serangan semut merah.
“Jangan
kau ganggu ratuku! Nyawa kami taruhannya!" Semua lebah jantan dan betina berlomba-lomba
membentengi ratu mereka. Semut-semut itu
tak kalah garang meskipun dihempas sayap dan kaki para lebah. Sementara tubuh semut yang kecil tidak mempan sengatan.
“Nindi ini nektar pemulih dan segera selamatkan Queen Bee dari
semut-semut itu.”
Nindi segera memakan nektar pemulih. Ia kembali dalam wujudnya semula. Napasnya terengah-engah mencari ayah.
“Ayah, ada ratu lebah yang keluar dari koloni. Sekarang terancam serangan semut merah, Ayah!”
“Benarkah? Kita harus
selamatkan ratu lebah itu." Ayah segera berkostum lengkap petani lebah. Tentu untuk menghindari sengatan mereka.
Ayah dan Anindia segera menyelamatkan Queen Bee dan para pengawalnya. Kemudian memindahkan mereka pada sarang yang baru.
Alhamdulillah
koloni lebah kita akan makin banyak dan madu yang bisa kita panen makin banyak
juga,” sahut ayah senang.
"Terima kasih Nindi, kau baik sekali. Aku akan membalas budi baikmu dengan madu kami yang banyak." Queen Bee tersenyum bahagia.
'Ternyata kelangsungan hidup di alam ini karena ada kerja
sama. Seandainya aku mau membantu Luki
membuat istana pasir, tentu dia tak perlu sedih dan bunda tak harus marah.' Nindi membatin mengakui kesalahannya.
Komentar
Posting Komentar