Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Dongeng anak ke-8 MISTERI ALAM BUNIAN

#RabuBedahKarya #DongengKeberanian MISTERI ALAM BUNIAN Belakangan ini, kampungku dihebohkan oleh hilangnya seorang anak seusia kelas dua SD.    Sedihnya, m akin hari, makin banyak saja orang yang dinyatakan hilang.   Korbannya pun tidak pandang bulu.   Anak-anak, remaja, orang dewasa bahkan kakek-kakek.   Tentu keadaan ini makin meresahkan warga kampung kami. Hampir semua warga menjadi korban ketakutan, kecemasan  dan kekhawatiran.  Takut nasib yang sama menimpa anggota keluarga kami.  Kehilangan secara tiba-tiba tanpa tahu sebab dan kemana hilangnya mereka.  Sungguh mengerikan. “Ini tidak bisa dibiarkan.   Semua orang kampung jadi takut keluar rumah.   Khawatir anaknya   atau anggota keluarganya hilang.”   Tsani memulai diskusi serius kami di sekolah. “Betul, Tsan.   Kita jadi kerepotan buat latihan sepak bola.   Ayah dan ibuku hanya ngizinin aku buat pergi sekolah doang.   Selebihnya ...

Dongen Anak-9 HADIAH BUAT USTADZAH-DONGENG ANAK

          Windi terburu-buru mengambil perlengkapan mengaji ba’da Maghrib, sore ini. Dilihatnya jam dinding, jarum pendek di angka 4 dan jarum panjang di angka 12. Biasanya dia berangkat sekitar jam lima.           Gadis kecil kelas lima SD itu menemui bunda yang sedang menyelesaikan jahitannya di ruang khusus menjahit. Ya, Bunda Windi penjahit yang ulet. Menerima pesanan apa saja model bentuk dan jenis pakaian. Tak heran pelanggannya begitu banyak.           Windi mencium tangan bunda dan pergi setengah berlari.           “Windi, sebentar Nak!” Bunda mengambil buku catatan penjahit yang harus ditagih karena terlalu lama tidak membayar. Karena kebaikan Sang Bunda, para pelanggan diperbolehkan mencicil seminggu sekali.           “Ada apa, Bunda? Windi janjian sama temen-temen buat nengok ustadzah sore ini. Ustadzah lagi sakit.”       ...

TUGAS NOVEL TEENLIT-TERJAL

PENUGASAN OUTLINE NOVEL TEENLIT A.                 SINOPSIS NOVEL TEENLIT Ada energi dalam hidupku yang kudengar lewat tutur bijak ayahku.  “Besi tidak akan pernah menjadi pisau yang tajam sebelum dia dipanggang di atas api hingga membara. Setelah itu, dia akan dipukul-pukul oleh ahlinya hingga menghasilkan bentuk yang diinginkan.  Demikian juga hidup manusia.  Makin ditempa dengan penderitaan dan kesulitan oleh Yang Mahakuasa maka ia seolah sedang dibentuk menjadi manusia yang baik.  Sedangkan sebaik-baik manusia adalah mereka yang membawa manfaat buat orang lain.” Kata-kata bijak itu menginspirasiku untuk terus mendaki tebing terjal kehidupan yang harus kulalui.  Seolah menghitung hari demi hari, setapak demi setapak perjalanan yang jauh berbeda dengan orang lain yang dikaruniai kesempurnaan fisik. Aku dilahirkan sebagai anak tertua dari tiga b...