Dongen Anak-9 HADIAH BUAT USTADZAH-DONGENG ANAK
Windi terburu-buru mengambil perlengkapan mengaji ba’da Maghrib, sore ini. Dilihatnya jam dinding, jarum pendek di angka 4 dan jarum panjang di angka 12. Biasanya dia berangkat sekitar jam lima.
Gadis kecil kelas lima SD itu menemui bunda yang sedang menyelesaikan jahitannya di ruang khusus menjahit. Ya, Bunda Windi penjahit yang ulet. Menerima pesanan apa saja model bentuk dan jenis pakaian. Tak heran pelanggannya begitu banyak.
Windi mencium tangan bunda dan pergi setengah berlari.
“Windi, sebentar Nak!” Bunda mengambil buku catatan penjahit yang harus ditagih karena terlalu lama tidak membayar. Karena kebaikan Sang Bunda, para pelanggan diperbolehkan mencicil seminggu sekali.
“Ada apa, Bunda? Windi janjian sama temen-temen buat nengok ustadzah sore ini. Ustadzah lagi sakit.”
“Sebentar saja sayang, Bunda minta bantuannya setelah selesai nengok ustadzah, setuju?” Bunda Windi menyerahkan buku tagihan mingguan, ada lima rumah yang harus Windi kunjungi. Windi pun menuruti permintaan Bunda tanpa banyak bicara.
***
“Kita nggak jadi nengok ustadzah, uangnya belum terkumpul." Bukhari yang juga ketua kelas Diniyah Abu Bakar mengumumkan.
“Kita nggak jadi nengok ustadzah, uangnya belum terkumpul." Bukhari yang juga ketua kelas Diniyah Abu Bakar mengumumkan.
Anak-anak riuh rendah berkomentar karena banyak yang memaksakan diri hadir lebih awal ke masjid.
“Daripada menunggu temen-temen buat ngumpulin iuran, Ustadzah keburu sembuh....mendingan aku sendiri nengokinnya.” Windi menemukan idenya.
Sebelum menengok Ustadzah, Windi sempat melakukan apa yang dipesankan bunda, menagih uang jahitan. Beruntung, semua yang ditagihnya membayar sesuai cicilan.
Windi segera ke warung terdekat dengan rumah Ustadzah. Sekantong keresek putih berisi susu coklat, roti tawar terbaik, sebungkus gula dan sebungkus teh celup. Windi berlari kecil sangat riang.
Diketuknya pintu rumah Ustadzah Puri, sambil mengucapkan salam. Sesosok berjilbab lebar dengan gamis yang nampak anggun. Wajahnya masih nampak sayu dan belum sehat benar. Windi segera menyalami dan mencium tangan Ustadzah.
“Waalaikum salam. Masya Alloh Windi? Ayo masuk, Nak.” Ustadzah Puri menuntun lembut tangan Windi untuk duduk di hamparan karpet ruang tamu.
“Ustadzah ini ada titipan dari Bunda buat Ustadzah. Kami berdo’a semoga Ustadzah cepat sembuh. Syafakillah, Ustadzah.”
“Subhanalloh, jazakillah khoir. Sampaikan pada bunda, terimakasih banyak. Insya Alloh Ustadzah segera sembuh. Alhamdulillah hari ini sudah bisa jalan.”
Windi tersenyum lebar untuk kemudian pamit menuju masjid, mengaji bersama teman-temannya. Uang tagihan disimpannya rapih di dalam kantong kecil dari bundanya.
Semua anak duduk rapi di dalam masjid menunggu Maghrib. Seperti biasanya Ustadz Majid memberi taushiah ringan dengan bercerita kisah-kisah hikmah.
“Anak-anak, orang-orang sholeh, para wali, dan sahabat nabi memberi keteladanan pada kita untuk selalu bersikap hati-hati pada yang kita pakai apalagi yang kita makan.” Ucap Ustadz Majid mengawali kisahnya.
Suatu ketika Sayidina Abu Bakar menerima makanan dari khadimatnya. Karena sangat lapar Abu Bakar tidak menanyakan dari mana makanan itu berasal.
“Wahai Khalifah Rasulullah, biasanya anda menanyakan dari mana makanan yang aku bawa berasal. Nampaknya anda sangat lapar?” tanya khadimat pada Sayidina Abu Bakar.
Hampir tersedak Sayidina Abu Bakar diingatkan pembantunya itu.”Sungguh hari ini aku sangat lapar hingga lupa menanyakan itu padamu. Coba kamu jelaskan dari mana kamu mendapatkan makanan ini?”
Pembantu itu menceritakan bagaimana ia memperoleh makanan tersebit.”Dulu sebelum masuk Islam, aku seorang dukun. Suatu hari aku dimintai salah satu suku untuk membacakan mantra di kampung mereka. Mereka berjanji akan membalas jasa. Saat aku melewati kampung mereka, mereka sedang mengadakan pesta. Mereka ingat janji mereka dan memberikan makanan ini padaku. Jadi ini upah jasa perdukunanku pada mereka.”
Begitu mendengar cerita ini, Sayidina Abu Bakar langsung berusaha sekuat tenaga mengeluarkan makanan yang terlanjur masuk. Dimasukkannya jari pada kerongkongan beliau. Maka termuntahkanlah makanan itu seraya berkata,”Jika untuk mengeluarkan makanan itu aku harus menebus dengan nyawa, pasti akan aku lakukan karena aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada daging yang tumbuh dari makanan haram melainkan neraka layak untuk dirinya.”
Kisah dari Ustadz Majid, membuat Windi sangat gelisah. Ia tidak mampu meneruskan pengajian bakda Maghrib. Selesai sholat Windi berpamitan untuk pulang. Tiba-tiba badannya menggigil ketakutan.
Sesampai di rumah Windi langsung menuju kamar tidur. Di belakang ada bayangan berkelebat yang mengejarnya. “Windi kami tidak mau membuat Ustadzah Puri Celaka. Dia terlalu baik untuk memakan hasil curianmu dari uang menjahit bundamu. Windi...Windi....kemari. Jangan lari kamu.”
Bayangan hadiah untuk Ustadzah Puri dalam kantong plastik putih itu makin menakutkan Windi. Roti itu berwajah Spongebobs, sekaleng susu dan sekotak teh bertangan dan kaki. Sementara gula pasir seperti boneka pasir yang dibuatnya di tepi pantai tempo hari. Semua berlarian mengejarnya makin cepat.
Windi langsung menutup pintu kamar tidur. Di dalam kamar dia berpikir keras bagaimana menyelamatkan Ustadzah Puri dari makanan haram yang dihadiahkannya. Meskipun Ustadzah Puri tidak tahu, Windi ingin meminta uang dan hadiah itu dihalalkan oleh bundanya. Tapi Windi takut bundanya akan marah.
Dikuncinya pintu kamar tidur. Bayangan hadiah itu mengintip dari balik jendela.
“Tidak!!!!!! Pergi kalian. Jangan ganggu aku. Pergi!!!!! Jangan kalian buntuti aku seperti ini!!!” Teriakan keras Windi terdengar oleh bunda.
“Ada apa, Windi? Windi, buka pintunya Nak! Jangan membuat ibu khawatir.´ Dari luar Bunda Windi mengetuk pintu makin keras.
Tidak ada pilihan lain Windi harus membukakan pintu dan bicara jujur apa adanya.
“Mengapa kamu ketakutan, Nak! Siapa yang mengganggumu?”
Windi menceritakan apa yang telah dilakukannya pada bunda. Bahwa ia telah mengambil sebagian uang hasil jahitan untuk memberi hadiah pada Ustadzah Puri. Bahwa Ustadz Majid memberikan taushiah yang membuatnya sadar akan kesalahannya. Bahwa bayang-bayang hadiah itu mengejarnya karena tak mau dimakan Ustadzah Puri dan tak mau membuat Ustadzah Puri berdosa.
“Anakku, tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Bunda mengikhlaskan semua hadiah itu untuk Ustadzah Puri. Hanya saja jangan pernah kau ulangi perbuatan ini lagi ya? Bilang terus terang pada Bunda kalau kamu ingin memberi hadiah atau sedekah.”
“Iya Bunda, Windi tidak akan mengulanginya lagi. Windi akan mengganti uang Bunda dari jatah jajan Windi. Bolehkan, Bunda?”
“Anak Bunda yang salihah. Tentu boleh. Itu namanya kamu anak yang jujur dan mau bertanggung jawab.”
Windi tersenyum lebar dalam dekapan peluk bunda. Diliriknya jendela kamar dan hadiah-hadiah itu tersenyum padanya.
Komentar
Posting Komentar