Dongeng anak ke-8 MISTERI ALAM BUNIAN


#RabuBedahKarya
#DongengKeberanian

MISTERI ALAM BUNIAN

Belakangan ini, kampungku dihebohkan oleh hilangnya seorang anak seusia kelas dua SD.   Sedihnya, makin hari, makin banyak saja orang yang dinyatakan hilang.  Korbannya pun tidak pandang bulu.  Anak-anak, remaja, orang dewasa bahkan kakek-kakek.  Tentu keadaan ini makin meresahkan warga kampung kami.
Hampir semua warga menjadi korban ketakutan, kecemasan  dan kekhawatiran.  Takut nasib yang sama menimpa anggota keluarga kami. Kehilangan secara tiba-tiba tanpa tahu sebab dan kemana hilangnya mereka.  Sungguh mengerikan.
“Ini tidak bisa dibiarkan.  Semua orang kampung jadi takut keluar rumah.  Khawatir anaknya  atau anggota keluarganya hilang.”  Tsani memulai diskusi serius kami di sekolah.
“Betul, Tsan.  Kita jadi kerepotan buat latihan sepak bola.  Ayah dan ibuku hanya ngizinin aku buat pergi sekolah doang.  Selebihnya duduk manis dirumah.  Bosan banget aku.”  Satria menumpahkan kekesalan hatinya.
“Kalau begitu kita harus memecahkan kebuntuan di kampung kita.  Kalau tidak bisa-bisa kita menjadi korban selanjutnya.”  Aku membuka ide untuk kelompok kami,  kelompok ini kami beri label sendiri dengan sebutan Trio Ganteng Sanio (Gagah dan Tenang.  Sanio singkatan dari tiga nama kami Satria, Tsani dan Rio).
Dari hasil diskusi kali ini, kami sepakat untuk mencari tahu dari masing-masing keluarga korban.  Kami mencuri-curi waktu tiap pulang sekolah setengah jam untuk mendapatkan informasi penting dari empat keluarga yang kehilangan anggotanya.
“Rio, kenapa tiga hari ini kamu selalu pulang terlambat?  Ibu cemas, Nak.  Khawatir kamu ditelan siluman kampung ini.”  Ibuku memarahiku tiap aku datang terlambat.
“Ibu, tenang aja kami belajar bareng.  Sebentar lagi ujian akhir kelas enam harus kami lalui, Bu.”  Hanya alasan itu yang bisa menenangkan ibuku.  Toh aku tidak berbohong.  Kami sedang belajar bersama mengungkap masalah pelik ini.
Hasil observasi Trio Ganteng menemui titik terang dari hari ke hari.  Semua kejadian menunjukkan satu titik.  Semua peristiwa hilangnya penduduk kampung ada di dekat sumur tua yang disebut-sebut angker oleh penduduk kampung dan mereka selalu dalam keadaan sendiri saat hilang entah kemana? 
“Demi menyelesaikan masalah ini kita harus menyelidiki sumur angker itu.  Mau tidak mau.”  Satria menyimpulkan langkah solusi selanjutnya.
“Aku mah ogah banget.  Mau hilang kayak mereka?”  ucap Tsani enteng.
“Aku sih, setuju dengan pendapat Satria.  Dari keempat peristiwa orang hilang mereka semua sendirian di tempat itu sedangkan kita bertiga.  Semua Insya Alloh aman.”  Aku berusaha meyakinkan Tsani.
“Kamu yakin?” 
“Yakin seratus persen.  Soalnya banyak juga yang melewati daerah itu tapi nggak semua hilang, kan?  Aku juga pernah waktu pulang dari sawah bersama bapakku.” Satria menyampaikan analisa tak terbantahkan pada kami.
“OK.  Aku ikut pendapat kalian.”
***
            Minggu pagi kami pamit pada orang tua kami masing-masing dengan alasan sama.  Belajar bersama.  Ya, belajar menjadi detektif.
            Rencananya kami hanya memasang kamera otomatis di daerah angker itu.  Kamera yang aku pinjam dari Paman Jefri.   Dengan jaminan kalau rusak atau hilang aku berjanji menggantikannya.  Bagi  kami hal ini bukan masalah karena ada ayah Satria yang jadi pengusaha sukses di kampung kami.  Yang penting buat Trio Ganteng, penduduk kampung merasa aman dan tentram kembali.
            “Kira-kira kamera ini kita letakkan dimana?”  Satria mencari tempat aman supaya kamera itu bisa menangkap gambar 24 jam.  Blitz otomatis akan menyala saat malam tiba.
           “Sepertinya di atas batu ini akan sangat sesuai.  Kita tutup dengan rumput kering supaya nggak dicuri orang.”  Tsani memberi saran.
            Tidak bisa kami pungkiri jantung kami berdegup kencang.  Suasana pagi Minggu ini sangat sepi tidak ada orang lalu lalang kecuali kami bertiga.
           Tiba-tiba Tsani menginjak sesuatu dan....asap keluar dari botol yang diinjaknya. Aku berusaha berlari menjauh dari asap berwarna merah itu, sambil menarik tangan Tsani.  Tapi semua terlambat.  Tiba-tiba tubuh Tsani mengecil dan menjadi kurcaci bahkan lebih kecil lagi.  Aku dan Satria tak mampu melihatnya.
            “Aaah...tolong.  Rio, Satria.....aku kena!!!!!”   Suara Tsani menjerit mengecil kemudian hilang bersama hilang tubuhnya dari pengelihatan kami.
            Sekuat tenaga aku dan Satria menjauhi tempat aneh itu.  Segala rasa bersalah dan entah apa.  Takut, aneh, sedih, dsan entah rasa apa lagi aku tak bisa mengungkapkan lagi.  Hampir-hampir air mata ini tumpah ruah.  Dalam hatiku hanya satu, aku harus selamatkan Tsani.  Kami yang telah menyebabkan dia turut hilang.  Dia sudah menolak tapi kami bersikeras. 
            “Ya Alloh ya Rabb beri kami jalan.”  Aku terus berdoa.  Doa yang belum pernah sekhusyuk ini aku panjatkan terus dari lubuk hatiku yang terdalam. 
           “Rio aku menginjak botol!!!   Kita dalam bahaya!!!”  Satria berteriak.  Aku menarik tangannya menjauh dari asap yang keluar dari botol itu.  Tapi ada yang berbeda dari apa yang terjadi kali ini.  Asap yang keluar dari botol itu berwarna hijau dengan semburan yang lebih kuat.  Asap itu juga berbeda dari yang menelan Tsani. Kami tidak tertelan asap hijau kali ini.
            Kami berlari menjauh sambil mengamati dari jauh.  Ternyata doaku dikabulkan Alloh SWT.  Dari asap itu tiba-tiba muncul Tsani yang tadi sempat menghilang.
            Dari kejauhan kami memanggil Tsani, “Tsani, segera jauhi tempat ini!!!  Kita dalam bahaya.  Tsani kami ada di sini!”
         Wajah linglung Tsani menatap kami.  Antara sadar dan tidak Tsani berlari mendekati kami.  Sedikit sempoyongan dia berusaha sekuat tenaga mendekati kami.
           “Minum dulu, Tsan!” Aku mengeluarkan sebotol air putih untuk mengembalikan kesadarannya sebagian aku guyurkan di atas kepalanya.
           “Alhamdulillah.  Aku selamat.  Hampir saja aku jadi penghuni alam Bunian.”
           “Tsani, maafkan kami hampir saja kamu celaka.”  Satria mengungkap penyesalannya.
        “Kita justru harus bersyukur.  Dengan keberanian dan niat baik kita mengembalikan ketentraman kampung kita, aku mendapat pengetahuan berharga dari teka-teki yang melanda kampung kita.” 
            Tsani menceritakan apa yang dilihatnya di alam Bunian.  Keanehan yang bertubi-tubi menjadi pengetahuan kami.  Tsani melihat semua orang yang hilang di alam Bunian.  Mereka dijadikan budak oleh makhluk Bunian. 
Mereka hilang karena menginjak botol jebakan makhluk Bunian.  Ada dua macam botol yang tersebar di daerah angker itu.  Botol merah dengan asap merah penelan manusia dan botol hijau berasap hijau sebagai penawarnya.  Sebenarnya botol penawar itu disembunyikan oleh makhluk Bunian untuk melepas manusia yang membangkang. Namun mereka lalai menjaganya. 
Katanya orang-orang yang dijumpai Tsani di alam Bunian, ada dua lagi yang bisa menyelamatkan penduduk kampung yang hilang.
       “Syukurlah.  Akhirnya kita bisa memecahkan misteri ini.  Kabar baik ini harus segera kita sampaikan  pada sesepuh kampung.”
            Kami pulang dengan senyum lebar dan suka cita.  Setelah sujud syukur di tempat penuh kisah itu, kami pulang.  Sampai-sampai kami lupa kamera milik Paman Jefri yang kami letakkan di atas batu.  Yang memenuhi rongga dada kami adalah rasa gemuruh bahagia untuk menyampaikan kabar baik ini pada seluruh penduduk kampung.
        Ah, kamera mahal itu biar besok aku ambil bersama penduduk kampung.  Sambil menyisir botol-botol berasap itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA