TUGAS NOVEL TEENLIT-TERJAL


PENUGASAN OUTLINE NOVEL TEENLIT

A.                SINOPSIS NOVEL TEENLIT

Ada energi dalam hidupku yang kudengar lewat tutur bijak ayahku.  “Besi tidak akan pernah menjadi pisau yang tajam sebelum dia dipanggang di atas api hingga membara. Setelah itu, dia akan dipukul-pukul oleh ahlinya hingga menghasilkan bentuk yang diinginkan.  Demikian juga hidup manusia.  Makin ditempa dengan penderitaan dan kesulitan oleh Yang Mahakuasa maka ia seolah sedang dibentuk menjadi manusia yang baik.  Sedangkan sebaik-baik manusia adalah mereka yang membawa manfaat buat orang lain.”
Kata-kata bijak itu menginspirasiku untuk terus mendaki tebing terjal kehidupan yang harus kulalui.  Seolah menghitung hari demi hari, setapak demi setapak perjalanan yang jauh berbeda dengan orang lain yang dikaruniai kesempurnaan fisik.
Aku dilahirkan sebagai anak tertua dari tiga bersaudara.  Awalnya aku terlahir sempurna tanpa cacat fisik, kecuali benjolan di daerah tulang punggung, sejajar dengan lingkar pinggang.  Aku tidak begitu mengerti apa penyebab benjolan itu.  Selama tidak ada keluhan sakit aku tak pernah memedulikannya.
Sampai kejadian itu menimpaku.  Di usia sebelas tahun aku bermain bola sambil berhujan-hujanan.  Aku terjatuh agak keras dan benjolan di punggungku mengalami benturan.  Tidak ada rasa sakit yang berarti, hanya di malam harinya panas tubuhku sangat tinggi.
Seorang mantri kesehatan kepercayaan keluarga kami dipanggil untuk memeriksa keadaanku.  Aku diberi suntikan dan obat beberapa macam.  Semua saran dari mantri kesehatan aku lakukan, termasuk menghabiskan obat yang diberikannya.
Harapan untuk sembuh tidak kunjung datang.  Yang aku rasakan justru rasa nyeri di benjolan punggungku.  Kian hari kian tak tertahankan.  Aku hanya bisa menagis dan mengeluh pada kedua orang tuaku.  Aku tetap mencoba bertahan dan tidak meraung karena takut membuat orang tuaku cemas.
Akhirnya aku diopname di RSUD kabupaten untuk pertama kali di usia kelas satu SMP.  Sejak itu aku menjadi penghuni rutin dari rumah sakit ke rumah sakit. RSU menyarankan agar aku dioperasi di RSUD kota, karena keterbatasan alat.  Di RSUD ini aku didiagnosa mengidap tumor yang berupa benjolan sebesar setengah bola tenis itu.  Aku menjalani operasi namun tidak berhasil dan dirujuk untuk ke RSUP Yogyakarta, Rumah Sakit Dr Sardjito.
Diagnosa tim dokter mengatakan bahwa sumsum tulang belakangku mengalami kebocoran dan berlubang.  Lubang ini harus ditutup dengan menempelkan tulang pada lubang itu.  Ibuku awalnya bersedia mengorbankan kelingking kakinya, akan tetapi dokter mengambil keputusan untuk mengambil bagian lain tulangku yang memungkikan untuk disayat.
Operasi dinyatakan berhasil.  Akan tetapi keanehan selanjutnya terjadi.  Kram kaki yang tak terkendalikan membuat kaki kananku memendek dan kepekaannya sangat-sangat berkurang.  Kakiku yang awalnya normal dapat dipakai berjalan, lama kelamaan tak mau diajak kompromi.  Otakku seakan tak bisa memerintah kakiku untuk melangkah. Kesedihan luar biasa menyelimuti hatiku dan tentu juga kedua orang tuaku.  Aku yang awalnya begitu bebas dapat bermain bahkan ikut berburu ke hutan bersama ayah, menghirup alam bebas, tiba-tiba hanya bisa berjalan merayap berpegangan apa saja yang ada di sekitarku,  Dari kursi ke kursi dengan berpegangan meja atau apa saja yang dapat menopang badanku.  Kaki ini sama sekali tak terkontrol oleh keinginanku, kecuali dengan gerakan yang sangat lemah.
Aku dinyatakan  lumpuh dan harus mengunakan kaki empat (walker) untuk menyangga tubuhku.  Aku harus menerima kenyataan untuk menjadi penderita disabilitas. Langkahku sangat terbatas.  Awal-awal latihanku untuk berjalan dengan kaki empat bukanlah hal mudah untuk kuterima begitu saja.  Antara sedih, kecewa dan bertanya mengapa takdir ini harus kualami.  Mengapa aku mendapatkan perlakuan berbeda dari Tuhan?  Atau kadang marah memaksa kaki ini untuk berjalan.  Tapi semua itu sia-sia.
           Aku mencoba mengungkap segenap perasaanku pada kedua orang tuaku terutama ayah. Kata-kata yang mengalir dari tuturnya membuatku kuat dan menerima keadaan.
“Pakailah ilmu santan.  Kelapa harus dijatuhkan saat diambil petani.  Di bawah ia harus siap untuk dikuliti.  Batok kelapapun diambil dengan cara yang tak mudah.  Daging buah kelapa harus dicukil dari tempurungnya.  Kulit daging buah harus dibersihkan untuk menghasilkan santan yang jernih, putih dan bersih. Tidak cukup sampai di situ, kelapa akan diparut dengan ratusan duri, baru kemudian diperas untuk diambil santannya.”
Aku memutuskan untuk “move on” dari segala perasaan negatifku.  Aku mulai membangun harapan demi harapan dengan terus belajar dan belajar apa saja.  Tentu saja dengan dukungan ayah yang selalu membawakan aku bahan bacaan dari perpustakaan tempat beliau mengajar.  Waktu luangku aku gunakan untuk belajar sendiri (autodidak) tentang bagaimana melukis.  Dan aku bisa melukis mulai sketsa pensil, dengan cat air hingga cat minyak dengan media kanvas.  Aku juga belajar fotografi dan cuci cetak foto hingga pernah bisa menghasilkan uang dari keahlianku itu.  Aku juga belajar membuat bonsai, hobbi yang hingga saat ini terus aku jalani.  Ya, dalam keluangan waktuku yang tak ada kemampuan untuk bermain aku berkesempatan membaca dan mempraktikannya hingga memiliki keterampilan.
Selama bangku SMP aku praktis belajar di rumah.  Beruntung aku memiliki sekolah yang melayani siswa berkebutuhan khusus sepertiku.  Karena waktuku habis dari rumah sakit ke rumah sakit, maka aku diizinkan tidak menempuh pendidikan seperti siswa lain.  Segala bentuk tugas sekolah, testing dan ujian akhir kelas tiga diantarkan dimanapun aku berada. Bahkan pernah aku sengaja diopname hanya untuk ujian akhir sekolah.
Lulus SMP, ayahku memutuskan bahwa aku harus menjalani pendidikan seperti siswa lain di tingkat SMA.  Hal ini sangat memungkinkan karena ayah melakukan pendekatan pada pihak sekolah untuk memberikan fasilitas jalan yang bisa aku lalui.  Alhamdulillah aku mendapatkan kelas yang mendukungku untuk dapat memasuki ruangan itu. 

Awalnya aku diantar jemput dengan mobil sewa yang pada waktu itu terasa cukup mahal untuk keluargaku.  Akhirnya ayah memutuskan memboncengku dengan vespa. Dan ternyata aku bisa dibonceng oleh ayah, suatu kebahagiaan yang luar biasa.
Suka duka aku lalui selama sekolah di bangku SMA.   Kejadian yang memilukan dan sekaligus memalukanku, karena kontrol terhadap alat ekskresi yang sangat lemah membuatku mengganggu seisi kelas.  Kejadian yang hampir membuatku enggan berangkat ke sekolah di hari-hari selanjutnya.  Selain malu aku juga trauma kejadian itu terulang kembali.  Yang sangat aku syukuri adalah dukungan dari kawan sekelas. Semua seolah ingin membantuku untuk sama-sama harus lulus dari sekolah ini, SMA negeri terfavorit di kotaku.  Dan akhirnya aku selesai juga menjalani masa SMA-ku.
Berhenti satu tahun, orang tuaku kembali berikhtiar untuk kesembuhanku.  Ketika jalur pengobatan konvensional gagal, kami menempuh jalur alternatif.  Satu tahun ikhtiar, tidak ada hasil yang berarti.  Kami pun menyerah.
Ayah menganjurkanku untuk kuliah.  Pilihanku jatuh pada universitas terbuka.  Satu-satunya jalur yang mungkin ku tempuh.  Yang membuatku sangat terpaksa adalah keterpaksaanku mengambil FISIP-Jurusan Tata Negara.  Bayangkan, cita-citaku menjadi teknisi.  Kegemaranku ilmu eksak terutama matematika dan Fisika, jurusanku di SMA pun jurusan Fisika (A1 untuk istilah waktu itu).
Aku hampir kehilangan semangat belajar.  Apalagi di UT (Universitas Terbuka) semua harus serba sendiri dan mandiri.  Sementara modul setebal-tebal kitab suci terjemahan Depag cetakan pertama. 
Saat kesulitan memahami mata kuliah tertentu, kadang akau memukuli kakiku.  Karena dialah aku harus berkubang pada ketidaksukaan yang memaksa.
Akan tetapi lagi-lagi nasehat ayah menjadi spirit bagiku. “Belajar itu menjadi bukti rasa syukur kamu di hadapan Alloh.  Bukankan banyak orang yang ingin kuliah tapi tidak punya kesempatan.  Ada yang mampu tapi tak mau.  Ada yang mau tapi tidak mampu. Bersyukur ayah mampu menguliahkan kamu.  Kesempatan pun ada meskipun harus belajar sendiri di UT.  Program ini Alloh sediakan untuk kamu yang Dia uji dengan sakit seperti ini.  Bukankah ini kemudahan dariNya?”
Akhirnya aku “move on” untuk kesekian kalinya.  Aku mulai mencoba cara belajar gayaku sendiri.  Aku bagi buku-buku tebal itu sesuai waktu yang tersedia sampai mata kuliahnya diujikan.  Ada target halaman perhari, target perminggu, target perbulan. Sementara hari minggu aku pakai untuk mengulang apa yang telah aku baca setiap harinya.
Dengan cara belajar ini akhirnya aku dapat melalui masa kuliahku yang cukup berat untuk belajar sesuatu yang tidak aku suka.  IPK-ku berada dalam predikat sangat memuaskan dengan nilai lebih dari 3,5.   Hanya saja karena ada beberapa biji bernilai C, aku tidak mendapat predikat cumlaude.  Alhamdulillah tidak sia-sia  segala keringat, air mata dan kesedihan.
Pada bagian Epilog, aku menjalani masa dewasaku dengan berhasil menjadi sekaligus programmer computer.  Ilmu inilah yang paling terasa keberkahannya.  Ilmu yang kudapat dari kursus dan ketersediaan waktu yang cukup buat aku mendalami bahasa peprogram. Dengan bekali keterampilanku, aku diterima mencadi PNS setelah dua kali gagal lolos seleksi karena gagal dalam tes kesehatan.
Atas ketulusan hati pejabat di lembaga social, aku diterima bekerja di lembaganya, menjadi PNS sekaligus instruktur dan motivator di dinas tempat aku bekerja.  Seseorang yang dianggap tidak bisa apa-apa kini dengan mudah terbang dari satu pulau ke pulau lain di Indonesia. Be Able from Disable.
Termasuk menjalani kehidupan rumah tangga. Yang awalnya bimbang akan jodoh, ternyata Tuhan telah sediakan seseorang berhati mulia mau mendampingiku. 



B. OUTLINE NOVEL TEENLIT

Judul                           : BE ABLE FROM DISABLE
Alternatif judul           :
1.  TERJAL
2.  ASA BARA

Kelebihan Naskah:
      1.      Mengisahkan derita batin seseorang yang tiba-tiba mengalami disabilitas
     2.      Mengungkap kegigihan ikhtiar penuh asa, mengalami berulang kali kegagalan hingga diputuskan tidak bisa berjalan.  Guncangan batin kembali hadir untuk kemudian memeluk takdir itu dengan hadirnya sosok ayah yang bijaksana dan ibu yang penyayang.
    3.      Melawan keterbatasan dengan apapun yang bisa dilakukan dan akhirnya satu per satu karunia Alloh SWT hadir
     4.      Mengalami jatuh cinta, dan putus di tengah jalan.  Putus asa kemudian menemukan jawabannya pada kata bijak dalam ayat-ayat cintaNya
    5.      Merasakan sekolah dengan kondisi khusus, suka duka.  Semua tersemangati dengan hadirnya sahabat setia.
      6.      Mengungkap cara belajar yang mengantarkan ‘aku’ meraih sukses.
      7.      Terinspirasi dari kisah nyata.

Buku Pembanding: Novel Tentang Kamu tentang Memeluk Takdir

      Target Halaman : 150-200 
       Daftar Isi:
BE ABLE FROM DISABLE
0.    Prolog
1.    Masa Kecil yang Indah
2.    Terputus
3.    Vonis
4.    Sekolah Tak Biasa
5.    Go to School
6.    Selamat Datang Cinta
7.    Terpuruk
8.    Malaikat Tanpa Sayap Vs Setan Tanpa Tanduk
9.    Semua karena Sahabat
10.  Saat Nyata Tak Seindah Ingin
11.  Aku Bisa
12.  Epilog

0.       Prolog
            Novel ini menyajikan kisah perjuangan dan kegigihan sebuah keluarga.  Kegagalan yang berulang kali namun dihadapi dengan sabar dan tawakal. Tentang meridhoi takdir, tentang menyempurnakan ikhtiar dan selalu mengiringinya dengan tawakal.
Tokoh aku bernama Bara Pratama, yang lahir dalam keadaan normal tanpa keluahan apa-apa, tiba-tiba harusmengalami kelumpuhan dalam waktu tidak lebih dari tiga bulan.  Gunjangan yang dialami seorang anak berisia 12 tahun, yang harus terenggut segala kebebasan dan kebahagiaan hidupnya.
Menjalani usia remaja dari rumah sakit ke rumah sakit.  Dari terapi ke terapi.  12 tahun terus berusaha berobat tanpa hasil, kemudian tiba saat berserah.  Disela-sela deritanya menghadapi penyakit, dia tetap berusaha menjalani tahap pendidikan semampu mungkin dengan dukungan malaikat tanpa sayap dan kedua orang tuanya.
Hadirnya tokoh antagonis, bibi ipar bernama Wiganti makin mengaduk perasaan dalam diri dan keluarganya.  Tidak hanya mengecilkan hati Bara untuk terus berjuang tapi juga menambah masalah retaknya hubungan ayah dan ibu Bara.
Semua prahara itu dapat dilalui dengan intrik yang pelik.
1.       Masa Kecil yang Indah
            Namaku Bara Pratama.  Anak sulung dari keluarga sederhana. 
Ibuku, ibu rumah tangga.  Yang sebenarnya tergolong berpendidikan cukup tinggi.  Lulusan SMA perempuan di tahun 60-an sangat langka dan mendapat berderet-deret tawaran kerja.  Namun begitu patuhnya ibuku pada ayah untuk tetap tinggal di rumah mendidik kami seutuhnya
Ayahku seolah guru sekolah menengah.  Disela-sela mengajarnya, ayahku seorang petualang yang senang menundukkan alam.  Bukan hanya menundukkan tapi juga memindahkan apa yang di alam dan dibudidayakan ke rumah kami.
            Mencari lebah untuk diternakkan, jadilah di kebun kami berkotak-kotak koloni lebah.  Mencari lele untuk dibudidayakan, dipijahkan.  Mencari anggrek untuk disilangkan, menghasilkan anggrek yang penuh warna.
            Bisa dibayangkan aku sebagai anak sulung, waktu itu sangat dekat dengan ayah.  Kemanapun ayah pergi aku selalu ikut.  Bernapas menghirup udara bebas di alam lepas.   Suka cita yang terlalu indah untuk dikenang. 
            Selain hobi menjelajah alam, aku juga hobi bermain olah raga bersama kawan.  Bermain sepak bola.  Waktu kecilku aku menjadi kapten buat mereka, sekaligus bagian penyerang.  Berbagai kejuaraan pernah aku ikuti dan aku top scorernya.  Cita-citaku menjadi pemain bola internasional.  Bintang kebanggaanku  di awal tahu 90-an Marco van Basten dari Belanda, Gabriel Batistuta dari Argentina dan Ronaldo dari Brazil.
2.       Terputus
            Suatu sore, aku dan kawan-kawanku sedang berlatih sepakbola di lapangan desa.  Kondisi hujan dan lapangan becek membuat kami berkali-kali jatuh.  Dalam latihan, kami biasa jatuh.  Tetapi sore itu aku merasakan ada yang aneh dengan punggungku.  Benjolan setengah bola bekles di punggungku, sejajar lingkar pinggang, mengalami rasa nyeri yang tak biasa.
            Malam harinya aku panas demam tinggi.  Mantri keluarga segera dipanggil dan beliau datang.  Beliau menyuntikku dan memberi obat.  Anehnya panas tubuhku tidak juga turun.  Rasa nyeri di tulang belakangku makin tak tertahan.  Kutahan semampuku untuk tidak membuat ayah ibuku panik.
            Akhirnya aku dirawat di RSU kabupaten.  RSU tidak sanggup dengan alas an keterbatasan alat.  Aku dirujuk ke RSU kota.  RSU kota pun tak sanggup.  Mereka hanya menyayat benjolan dan tak menemukan apa-apa selain benjolan yang mereka anggap bukan tumor.  Tanpa dijahit kembali dan hanya dibalut perban, hari itu juga aku dibawa ke RSUP Yogyakarta, Dr. Sardjito.  Dalam satu bulan penuh aku berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain.  Aku mulai sangat akrab dengan bau obat-obat dan anti septic.  Sesuatu yang awalnya menyesakkan akhirnya aku nikmati juga.
            Diam-diam aku menangis.  Aku rindu gemercik air sungai.  Mencari ikan dan membawanya pulang.  Aku rindu aroma hutan yang membebaskan napasku.  Aku rindu bermain sepak bola.  Oh cita-citaku menjadi sehebat Pele dan Tepes masihkah mungkin aku raih?  Dengan rasa nyeri yang amat sangat ini?
            Kehadiran Bibi Wiganti, istri paman dari ayahku makin membuatku larut dalam kesedihan.  Tanpa perkataannya yang takdisaring dari dia pun aku sudah lunglai.  Ditambah kalimat yang kadang penuh rasa mengagetkan makin membuat hidup ini terasa getir.
3.     Vonis
            Aku menjalani treatment millografi yaitu penyuntikan cairan kontras sebelum dironsen.  Setelah perlakuan itu aku merasakan kakiku makin tak dapat aku gerakkan.
Kali ini operasi dinyatakan berhasil.  Lubang  di tulang belakangku membuat sumsum tulang belakangku keluar telah di tutup.  Rasa nyeri di punggungku telah hilang.  Aku diperbolehkan pulang.  Harapanku kembali kembali bersemi.  Kebahagia yang luar biasa. 
Di rumah aku berlatih berjalan untuk melatih kakiku yang terasa kaku karena banyak dipakai berbaring.  Juga pengaruh dari obat bius yang beberapa kali dilakukan, apalagi efek millografi diberikan membuatku terasa kurang bertenaga. 
Keanehan terjadi beberapa seminggu setelah operasi penuh harapan itu.  Kedua kakiku keram terus menerus.  Sakit sekali rasanya.  Kaki kiriku lebih sering kram sehingga lebih pendek dan lama-kelamaan kakiku kaku.  Keinginan melangkah tidak direspon oleh kedua kakiku bahkan berdiri tegak pun tak mampu.
Aku kembali masuk rumah sakit  Dr. Sardjito.  Hasil pengecekan syaraf dan tulang menyatakan aku lumpuh.  Vonis yang sangat menyakitkan.  Dokter  tidak memutuskan apa-apa kecuali aku harus diterapi strum untuk mengaktifkan syarafku.  Setiap sebulan sekali aku harus control ke sebuah rumah sakit swasta terbesar di Yogyakarta.
Semua tidak membuat kakiku membaik.  Akhirnya aku harus menerima bahwa syarafku dari batas bekas operasi hingga ujung kaki tak bisa mengirim informasi dan menerima informasi dengan baik.
4.     Sekolah Tak Biasa
          Tiga tahun di bangku SMP adalah waktu yang terasa sangat lama.  Waktu yang habis dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain.  Beruntung aku masih diizinkan mengikuti proses pendidikan.  Namaku masih tercatat di SMP Negeri terbaik di kotaku.
            Kesabaran guru-guruku membangkitkan asaku bahwa aku tidak boleh putus sekolah.  Aku biasa mengerjakan ulangan harian di rumah.  Ayahku yang mengambil soal-soal dari sekolahku. 
Bila ulangan semesteran tiba , aku harus diopname di rumah sakit.  Sesuatu yang aku sangat tidak sukai.  Aku dirawat hanya untuk ujian, bukan untuk mengobati kelumpuhanku.  Pihak sekolah mengatakan bahwa ujian boleh tidak dilakukan di sekolah dengan syarat siswa sedang sakit.  Demi kelancaran pendidikanku, orang tuaku rela mengeluarkan biaya rawat inap selama tiga hari.  Praktis tiap hari aku harus menyelesaikan 3-4 mata pelajaran.
            Kadang aku berpikir buat apa aku sekolah kalau toh nanti nggak akan bisa berbuat apa-apa.  Hanya di rumah.  Tapi ayahku begitu rajin membawakan buku kehebatan orang-orang yang memiliki ketidak sempurnaan fisik.  Justru sekolahku yang tak biasa inilah yang membuatku banyak membaca.  Banyak belajar sendiri.
            Aku menjadi tahu banyak hal bahkan tentang pemahaman agama adik-adikku justru aku yang mendisiplinkan mereka.  Menanyakan apakah mereka sudah sholat atau belum, tentang memaknai bacaan sholat.  Akulah yang membimbing mereka. Sesuatu yang tidak pernah aku pelajari saat aku dalam kondisi normal.        
5.     School I’am Coming
            Tahun pertama di bangku SMA aku masih menjalani masa sekolah seperti waktu di SMP.  Sampai ayahku memutuskan aku harus bisa bergaul dengan orang sebayaku dan memiliki banyak teman. 
Ayahku melobi pihak sekolah supaya aku diizinkan masuk sekolah dengan ruanga paling representative yang memungkinkan orang berkebutuhan khusus seperti aku masuk ruangan dengan leluasa.
Ruang paling dekat dengan kamar mandi dengan talan bertangga yang di lebarkan untuk aku dan kaki empatku (walker) bisa memasuki ruangan. 
Masa bersama dengan kawan sekelasku sungguh masa yang paling menyenangkan.  Ada rasa tidak percaya diri yang akhirnya bisa ku lawan.
Keputusan ini bukan tanpa resiko biaya tinggi karena aku harus diantar jemput oleh sopir pemilik mobil sewa.  Tidak tanggung-tanggung pengeluarannya seperempat gaji ayah sebagai PNS.
Pengorbanan dua super hero yang menjadi malaikat tak bersayap dalam hidupku.  Yang mereka utamakan selalu saja pendidikanku.  Meskipun untuk itu kami harus rela sarapan dua telor dipotong lima.
6.     Selamat Datang Cinta
            Sesuatu yang diluar dugaanku seseorang mengirim surat melalui adikku.  ( Saat itu informasi belum selancar  sekarang, belum ada hp apalagi internet).   Surat yang dikirim melalui adikku, Tita.  Lengkap dengan foto, gadis yang cantik.  Aku seolah mendapatkan bingkisan terindah dan teramat menyenangkan.  Meskipun aku belum pernah melihatnya, surat itu membuatku berbunga-bunga.
            Kisah cinta ini membawaku pada rasa yang amat berbeda.  Aku yang awalnya merasa sangat tak berarti.  Perasaan tidak berharga bahkan cenderung merasa sangat merepotkan ayah dan ibu seketika menjadi rasa bangga.  Bahwa aku pantas dicintai.  Ternyata seseorang penuh kelemahan seperti aku berkesempatan meraih cinta.
            Keadaanku menuntut paksa si dia lebih aktif dan sering mengunjungi aku.  Tentu saja karena aku terpaku tinggal di rumah kecuali saat diantar jemput mobil sewa ke sekolah. 
7.     Terpuruk
            Kisah cintaku ini ternyata hanya bertahan satu tahun.  Nila tiba-tiba melayangkan surat melalui adikku.  Kalimat yang teramat menyakitkan, intinya terangkai dalam satu kalimat yang sangat mewakili kenyataan pahit ‘kau hanya pelarian sementaraku’
            Cinta pertama Nila kembali lagi dan Nila memilih dia.
             Seperti terlepas seluruh tulang penyangga tubuhku.  Aku benar-benar terpuruk.  Lebih dari sakitnya menerima kenyataan saat aku divonis lumpuh.
8.     Malaikat Tanpa Sayap Vs Setan Tanpa Tanduk
            Setelah putus dengan seseorang yang membangkitkan gairah hidupku, aku mengalami sakit yang tidak biasa.  Ya, aku tidak ingin berbuat apa-apa kecuali tidur.
            Perasaanku makin teraduk-aduk saat Bibi Wiganti menjengukku hanya untuk mencibirku.  Bukan itu saja, tiba-tiba antara ayah dan ibu timbul konflik karena ulah Bibi Wiganti yang menggoda iman ayah.  Dua masalah berat yang hampir membuatku ingin pergi untuk selamanya.
            Dalam tiga hari sakit batinku itu ayah begitu setia menghampiri aku sebelum berangkat kerja, sepulang kerja.  Kata-kata yang keluar dari ketulusan dan keikhlasan seorang ayah.  Nilai-nilai kesyukuran yang terus menerus memotivasi aku.
            Ayahku juga membawakanku bacaan dari perpustakaan sekolah untuk membangkitkanku dari keterpurukan, novel pembangun jiwa.
          Sementara itu ayah dan ibu dapat menyelesaikan masalah rumah tangganya setelah mereka melihat kondisi psikologisku yang menghadapi berbagai masalah berat.
9.     Sahabat
            Sahabat-sahabat yang tulus selalu hadir menyemangatiku untuk bertahan.  Seorang Keturunan Tionghwa bernama Tan Hwa King dan Ahmad Fauzan.  Kami bertiga menjadi sahabat karib yang saling melengkapi.
            Dengan segera aku bisa melupakan kehancuran hatiku.  Serpihan itu kembali kususun bersama ayah, ibu dan sahabat-sahabatku.  Hatiku kini tak terburai lagi meskipun bekas retakannya masih ada.
            Dari dorongan mereka semua, aku makin semangat buat belajar dan belajar.  Dari Ahmad Fauzan aku banyak tahu hal tentang Islam dan dari Tan aku belajarcuci cetak foto.  Dari buku yang ayah bawa dari perpustakaan, aku belajar bonsai.  Kesibukanku untuk terus berkarya dan berbuat, menyembukan luka cintaku.
10.     Saat Nyata tak Seindah Ingin
            Dua tahun benar-benar menikmati bangku sekolah.  Banyak teman, banyak tugas, berpakaian seragam.  Menjadi bagian terindah dalam hidupku meskipun hanya dua tahun.  Karena saat itulah aku benar-benar bisa bersosialisasi.
            Saat berpisah begitu menyedihkanku.  Akankah aku menemukan orang-orang seperti mereka setelah bangku SMA.
            This life must go in.  Mereka banyak berkesempatan memasuki perguruan tinggi dambaan dengan jurusan yang mereka sukai.  Paling tidak itulah yang aku sangkakan terjadi pada mereka.  Sedangkan aku kebingungan antara kuliah dan tidak.
            Lagi-lagi ayah memberku semangat bahwa aku harus kuliah, as possible as yang aku bisa jalani.  Akhirnya tidak ada pilihan lain aku harus kuliah di UT dengan jurusan FISIP-Administrasi Negara.  Sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan keinginanku yang gandrung dengan ilmu-ilmu eksakta.
            Hari-hari berat kulalui, belajar mandiri semua mata kuliah yang rata-rata tidaka kusukai.  Ditambah lagi modul-modul tebal menyebalkan.  Lagi-lagi Bibi Wiganti yang selama ini tak pernah mendukungku mencibir habis
            Aku banting stir.  Cibiran itu berubah menjadi pemantik yang pada akhirnya kusyukuri.  Kuterjang segala rasa tak suka, sampai aku temukan cara belajar versiku sendiri.
10.   Aku Bisa
            Pola belajarku yang terbiasa autodidak sejak usia SMP, membentukku menjadi manusia pembelajar.  Mudah memahami segala sesuatu sendiri dan selalu ingin mempraktikannya.
          Aku seolah mengulang masa awal kelumpuhanku, bertemu dosen hanya untuk ujian.  Ujiannya pun jauh dari tempat aku lahir.  Dua jam perjalanan dengan mobil sewa.  Suka duka aku lalui bersama sopir sewa, 8 kali perjalanan khusus untuk menajalani ujian.  Berbagai kisah unik aku alami.
Masa kuliah aku lalui dengan nilai-nilai yang baik. IPK-ku 3,6.  Predikatku sangat memuaskan karena ada nilai C. 
Setahun setelah lulus aku tidak langsung bekerja.  Aku memilih kursus computer dari dasar hingga bahasa pemprograman.  Baru kali ini aku belajar prnuh suka cita setelah empat tahun berada dalam tempat yang salah.
11.   Epilog
            Setelah lulus berbagai rintangan memasuki dunia kerja kembali mengujiku.  Salah satunya ujian CPNS yang selalu menggugurkanku pada test kesehatan.  Meskipun semua tahap aku lulus dengan nilai tertinggi.
Ujian kesabaran hadir lagi, terutama peluang menjadi PNS dengan tarif tertentu. Tiga kali aku mengikuti prosedur dan selamat dari jalur khusus yang berbahaya ini.
 Hingga hadir seseorang yang penuh kasih sayang membantuku dengan alasan aku adalah programmer yang sangat dibutuhkan di kantor yang beliau pimpin. Ibu Palupi pejabat teras di dinas social di kotaku.
Berkat kemampuan menguasai teknologi computer, aku menjadi instruktur nasional pengembangan sistem komputerisasi untuk perkantoran dinas sosial.
Sesuatu yang tak yakin akan aku jalani adalah kehidupan berumah tangga.   Sejak putus cinta sepuluh tahun yang lalu.   Begitu kasihnya Alloh padaku.
Fabiayi ‘alairobika mukadziban.

Biodata Penulis


Nama lengkap              : Titin Harti Hastuti, S.P
Ponsel                          : 081909621313
Pos-el                           : khadijahhanif313@gmail. com 
Akun Facebook            : Titin Harti Hastuti
Alamat kantor      : Pesantren Terpadu Nurul Amanah, Jalan Raya tasikmalaya-Garut Km 31 Rancak Neglasari Salawu Tasikmalaya 46471
Bidang keahlian           :    Guru IPA dan FISIKA

Riwayat pekerjaan/profesi (10 tahun terakhir):  
    1.    1997-kini : Guru IPA dan Fisika
    2.    2007-kini : Bagian Kurikulum Pesantren Terpadu Nurul Amanah
    3.    2007-kini : Pembimbing Sanggar Sastra Pesantren Terpadu Nurul Amanah
    4.    2007-kini: Perintis buletin pesantren Annasihah dan Iqra
    5.    2013-kini: Pengurus Yayasan Aminul Ummah Wanaraja Garut
    6.    2016-kini : Perintis Literasi Sekolah di Pesantren terpadu Nurul Amanah

Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
     1.    S-1: IPB Angkatan 1992

Informasi Lain:
Lahir di Temanggung, 11 Desember 1974. Telah menikah dengan Muhammad Erwin Kurniawan Al Fatih dan berputera tiga (Siti Sofuroh Al Mujaddidah, Muhammad Usamah Syamil Abdullah dan Muhammad Muyasar Nashir Abdullah). Menggeluti hal-hal yang berbau sastra, kependidikan dan pengembangan pesantren. Aktif dalam organisasi dakwah dan keguruan.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA