Permadani Surga
Sepulang sekolah,seorang gadis kecil mengintai teman-temannya yang akan berangkat ke mesjid untuk mengaji.Ia terus mengintai temannya sampai mengintip di jendela.Disana teman-temannya sedang khusyu mengaji,sedangkan gadis itu hanya bisa mengitip di balik jendela.
"Wah....seru sekali! Nailil ingin sekali ikut mengaji bersama mereka" Ucap Nailil penuh harap.
Tiba-tiba di balik pintu seorang ustadz memergokinya."Hai gadis manis sedang apa disini? Ayo masuk ke dalam sebelum pengajian di mulai!"
Nailil sedikit terheran,namun sebenarnya ia ingin mengaji bersama teman-temannya.Tetapi itu tidak mungkin karena ibunya pasti melarangnya.
"Pak ustadz...Nailil sebenarnya...." Seketika ucapan Nailil terpotong karena sesosok wanita tua meneriakinya dari jauh lalu menghampirinya.
"Nai....sedang apa kamu disini? Ayo kita pulang! Ngapain kamu disini lama-lama disini bikin mumet saja."
Naililpun sedikit menyentak kepada ibunya karena ia merasa kesal atas sikap ibunya."Ibu...! Ibu jangan bicara seperti itu! Nailil hanya ingin ikut mengaji saja Bu."
Ibu Nailil langsung memegang tangan Nailil dengan eratnya.Sembari menarik-menarik tangan Nailil.
Pak Ustadzpun mencoba mencegahnya,tapi semua itu hanya sia-sia.
"Bu... Nai hanya ingin mengaji disini, ia tidak akan macam-macam, insyaallah!"
"Lahh.... ga usah ngaji! Emang ngaji bisa menghasilkan uang?"
Pak Ustadzpun terperanjat kaget mendengar ucapan ibunya Nailil.
"Astagfirullah..., Ibu ini bicara apa? Mengaji itu untuk mempelajari ilmu agama, bukan untuk menghasilkan uang. Memangnya hidup di dunia ini hanya memikirkan dunia saja Bu?"
Ibu Naililpun hanya membuang muka sambil menggerutu tidak karuan.
"Alah... Pak Ustadz ini bisanya ceramah saja. Ayo Nai kita pulang! Cape kuping Ibu mendengar ceramahan mulu dari tadi."
"Ibu...!"
Bentak Nailil sambil melepaskan tangan Ibunya. Tetapi Ibunya merangkul kembali.
"Kamu ini... Ayo!"
Nailil dan ibunya pulang ke rumah dengan tergesa-gesa. Setelah sampai di rumah, Nailil langsung masuk ke kamar sambil meneteskan air mata.
"Hiks... hiks... Ibu jahat, padahalkan Nailil ingin sekali ngaji. Tapi kenapa Ibu sangat melarangku? Ibu memang jahat. Hiks... hiks..." Sambil memukul-mukuli bantal kesayangannya itu.
Seketika pintu kamar Nailil terbuka. Ternyata di balik pintu itu ada seorang lelaki tua yaitu bapaknya Nailil yang tanpa sengaja mendengar Nailil menangis.
"Nai..." Sembari menghampiri Nailil dan mengelus-ngelus rambut panjang Nailil.
"Iya Pak... hiks...hiks... Ada apa?"
"Sudah, kamu jangan menangis. Jelek loh kalau Nai nangis!"
"Tapi Pak, Ibu jahat! Masa Nai mau ngaji juga dilarang, padahal Nai ingin sekali belajar ngaji."
Bapaknya Nailil hanya tersenyum saat mendengar ocehan anak gadis manisnya itu.
"Ya sudah, nanti juga Ibu Nai akan membolehkan Nai ngaji."
"Iya tapi kapan pak?"
"Ya... kamu harus sabar dan berdo'a kepada Allah SWT, supaya Ibu Nai mengizinkan Nai mengaji."
Nialil berfikir sejenak dan terdiam seketika.
"Nai...?"
"Pak, Nai bingung!"
"Loh bingung kenapa Nai?"
"Iya Pak, Nai mau berdo'a kepada Allah SWT. Tapi Nai bingung bagaimana caranya?"
Bapak Naililpun tersenyum kembali.
"Nai, kamu ingin bisa berdo'a kepada Allah?"
"Iya Pak, Nai ingin sekali bisa berdo'a kepada Allah."
"Mmmm coba Nai dengarkan Bapak ya!"
"Ya Pak..." Ucap Nailil yang begitu semangat.
"Ya Allah... "
Naililpun mengikuti ucapan Bapaknya. " Ya Allah "
"Nai ingin sekali mengaji, tapi ibu Nai melarangnya. Ya Allah semoga Engkau membukakan pintu hati Ibu Nai, agar Nai diizinkan untuk mengaji."
Naililpun mengikuti perkataan Bapaknya kembali lalu berucap "Aminnn..."
"Mmm Pak, Jadi kalau kita mau berdo'a itu harus mengangkat tangan dan mencurahkan segala hajat kita ya Pak?"
"Iya Nai sayang"
"Oh sekarang Nai baru mengerti. Makasih ya Pak, Bapak sudah mengajarkan Nai bagaimana cara berdo'a. Nai sayang Bapak" Sambil memeluk Bapaknya.
"Sama Bapak juga sayang sama Nai.Nai, Bapak harap kamu bisa belajar tentang ilmu agama. Jangan seperti Bapak ya!"
"Ya Pak, Nai pasti belajar ilmu agama. Itu kan cita-cita loh Pak"
"Wah... Kalau begitu bagus dong! Bapak sangat kagum padamu nak" Sembari memeluk dan mengelus-ngelus rambut Nai dengan manjanya.
###
Di kejauhan mata, suara-suara lantunan Al-Qur'an terdengar begitu indahnya. Nailil yang menggendong tas dengan lincahnya itu terhenti sejenak.
"Ya Allah suara yang sangat merdu dari mana itu? Oh sepertinya dari belakang masjid"
Nailil yang beranjak pergi untuk mencari letak suara-suara yang merdu itu. Terlihat, Nailil mulai menemukannya di belakang mesjid. ternyata, suara-suara itu adalah lantunan Al-Qur'an yang diserukan oleh para murid pengajian.
Naililpun masuk.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, Hai Nai! Mau ikutan mengaji?"
Ustadz yang membalas salam dengan lembutnya.
Nailil yang terdiam di pintupun menggaruk kepala.
"Ya sudah, ayo sini masuk! Jangan malu-malu."
Naililpun masuk dan duduk di sebelah Pak Ustad dengan manisnya.
"Pak Ustadz..."
Nailil yang ingin bertanya tetapi ia ragu karena malu.
"Ya Nailil, ada apa?"
"Sebenarnya, kita mau belajar apa sekarang Pak? kalau Nailil sih ingin belajar mengaji Pak Ustadz"
"O ya sudah, kita belajar mengaji saja!" Tiba-tiba, suara adzan menyerukan kaum muslilmin agar beribadah menghadap sang rabbi.
"Mmmh Nai..."
"Ya Pak Ustadz"
"Sepertinya, kita harus salat dulu. Nanti, setelah salat baru kita mengaji"
Nailil sedikit terheran dan menggaruk-garuk kepala.
"Pak Ustadz, ma'af sekali" Nailil yang sembari mengangkat tangan memohon-mohon kepada Pak Ustadz.
"Ma'af kenapa Nai?" Tanya Pak Ustadz yang setengah kebingungan.
"Nai mau salat, tapi..." Nai memotong pembicaraannya sendiri.
"Tapi apa Nai?" Ustadz yang dari tadi hanya bisa mendengarkan kata-kata yang dilontarkan Nai.
"Nai gak punya mukena, kerudungpun Nai gak punya. Ma'af ya Pak Ustadz, Nai juga gak paham bagaimana caranya salat."
Pak Ustadz hanya tersenyum karena melihat anak kecil yang baru berumur 7 tahun itu ingin sekali mengenal Tuhannya.
"Ya sudah, Nai pakai mukena yang di mesjid saja ya! Nanti Pak Ustadz ajarkan Nai slalat."
"Wah... benarkah Pak Ustadz? Terimakasih ya Pak Ustadz."
Nailil yang terlihat sangat senang karena ia mau diajarkan salat oleh Pak Ustadz.
Haripu semakin sore, burung-burung bersiul menjemput malam. Nailil yang sedari tadi belajar mengaji dari pulang sekolah hingga sore tiba.
"BIsmillahirahmanirrahim" Nailil yang sedang belajar iqra itu, mengeja satu demi satu huruf hijaiyyah.
"Sodaqollohul'adzim.. Pak Ustadz, Nai senang sekali!"
"Senang kenapa Nai?"
"Ya kan Pak Ustadz sudah mengajarkan Nai mengaji. Terimakasih ya Pak Ustadz"
Nailil yang daritadi memuji-muji Pak Ustadz tanpa henti.
"Hahahaha.... Nai... Nai... itu kan sudah kewajiban Pak Ustadz untuk mengajarkan anak-anak mengaji. Jadi, Nai jangan bosan-bosan datang ke pengajian ya."
"Ya tentu Pak Ustad, Nai gak bakalan pernah bosan sama yang namanya mengaji" Ucap Nai yang penuh dengan ketekadan.
"Wah Nai ini semangat sekali ya! Pak Ustad jadi ikutan semangat"
Naipun tersenyum. Setelah lama berbincang, Naipun berpamitan pulang sambil mencium tangan Pak Ustadz.
Seketika itu awan berubah menjadi mendung, bahkan petir dan kilatpun saling berbalas, dengan diiringi hembusan angin malam. Sedangkan Nailil berjalan mengikuti hantaman kakinya. Tiba-tiba tanpa sadar Ibu Nailil sudah siap siaga di depan rumah dan Naililpun hanya bisa menundukkan kepalanya.
BERSAMBUNG....
"Wah....seru sekali! Nailil ingin sekali ikut mengaji bersama mereka" Ucap Nailil penuh harap.
Tiba-tiba di balik pintu seorang ustadz memergokinya."Hai gadis manis sedang apa disini? Ayo masuk ke dalam sebelum pengajian di mulai!"
Nailil sedikit terheran,namun sebenarnya ia ingin mengaji bersama teman-temannya.Tetapi itu tidak mungkin karena ibunya pasti melarangnya.
"Pak ustadz...Nailil sebenarnya...." Seketika ucapan Nailil terpotong karena sesosok wanita tua meneriakinya dari jauh lalu menghampirinya.
"Nai....sedang apa kamu disini? Ayo kita pulang! Ngapain kamu disini lama-lama disini bikin mumet saja."
Naililpun sedikit menyentak kepada ibunya karena ia merasa kesal atas sikap ibunya."Ibu...! Ibu jangan bicara seperti itu! Nailil hanya ingin ikut mengaji saja Bu."
Ibu Nailil langsung memegang tangan Nailil dengan eratnya.Sembari menarik-menarik tangan Nailil.
Pak Ustadzpun mencoba mencegahnya,tapi semua itu hanya sia-sia.
"Bu... Nai hanya ingin mengaji disini, ia tidak akan macam-macam, insyaallah!"
"Lahh.... ga usah ngaji! Emang ngaji bisa menghasilkan uang?"
Pak Ustadzpun terperanjat kaget mendengar ucapan ibunya Nailil.
"Astagfirullah..., Ibu ini bicara apa? Mengaji itu untuk mempelajari ilmu agama, bukan untuk menghasilkan uang. Memangnya hidup di dunia ini hanya memikirkan dunia saja Bu?"
Ibu Naililpun hanya membuang muka sambil menggerutu tidak karuan.
"Alah... Pak Ustadz ini bisanya ceramah saja. Ayo Nai kita pulang! Cape kuping Ibu mendengar ceramahan mulu dari tadi."
"Ibu...!"
Bentak Nailil sambil melepaskan tangan Ibunya. Tetapi Ibunya merangkul kembali.
"Kamu ini... Ayo!"
Nailil dan ibunya pulang ke rumah dengan tergesa-gesa. Setelah sampai di rumah, Nailil langsung masuk ke kamar sambil meneteskan air mata.
"Hiks... hiks... Ibu jahat, padahalkan Nailil ingin sekali ngaji. Tapi kenapa Ibu sangat melarangku? Ibu memang jahat. Hiks... hiks..." Sambil memukul-mukuli bantal kesayangannya itu.
Seketika pintu kamar Nailil terbuka. Ternyata di balik pintu itu ada seorang lelaki tua yaitu bapaknya Nailil yang tanpa sengaja mendengar Nailil menangis.
"Nai..." Sembari menghampiri Nailil dan mengelus-ngelus rambut panjang Nailil.
"Iya Pak... hiks...hiks... Ada apa?"
"Sudah, kamu jangan menangis. Jelek loh kalau Nai nangis!"
"Tapi Pak, Ibu jahat! Masa Nai mau ngaji juga dilarang, padahal Nai ingin sekali belajar ngaji."
Bapaknya Nailil hanya tersenyum saat mendengar ocehan anak gadis manisnya itu.
"Ya sudah, nanti juga Ibu Nai akan membolehkan Nai ngaji."
"Iya tapi kapan pak?"
"Ya... kamu harus sabar dan berdo'a kepada Allah SWT, supaya Ibu Nai mengizinkan Nai mengaji."
Nialil berfikir sejenak dan terdiam seketika.
"Nai...?"
"Pak, Nai bingung!"
"Loh bingung kenapa Nai?"
"Iya Pak, Nai mau berdo'a kepada Allah SWT. Tapi Nai bingung bagaimana caranya?"
Bapak Naililpun tersenyum kembali.
"Nai, kamu ingin bisa berdo'a kepada Allah?"
"Iya Pak, Nai ingin sekali bisa berdo'a kepada Allah."
"Mmmm coba Nai dengarkan Bapak ya!"
"Ya Pak..." Ucap Nailil yang begitu semangat.
"Ya Allah... "
Naililpun mengikuti ucapan Bapaknya. " Ya Allah "
"Nai ingin sekali mengaji, tapi ibu Nai melarangnya. Ya Allah semoga Engkau membukakan pintu hati Ibu Nai, agar Nai diizinkan untuk mengaji."
Naililpun mengikuti perkataan Bapaknya kembali lalu berucap "Aminnn..."
"Mmm Pak, Jadi kalau kita mau berdo'a itu harus mengangkat tangan dan mencurahkan segala hajat kita ya Pak?"
"Iya Nai sayang"
"Oh sekarang Nai baru mengerti. Makasih ya Pak, Bapak sudah mengajarkan Nai bagaimana cara berdo'a. Nai sayang Bapak" Sambil memeluk Bapaknya.
"Sama Bapak juga sayang sama Nai.Nai, Bapak harap kamu bisa belajar tentang ilmu agama. Jangan seperti Bapak ya!"
"Ya Pak, Nai pasti belajar ilmu agama. Itu kan cita-cita loh Pak"
"Wah... Kalau begitu bagus dong! Bapak sangat kagum padamu nak" Sembari memeluk dan mengelus-ngelus rambut Nai dengan manjanya.
###
Di kejauhan mata, suara-suara lantunan Al-Qur'an terdengar begitu indahnya. Nailil yang menggendong tas dengan lincahnya itu terhenti sejenak.
"Ya Allah suara yang sangat merdu dari mana itu? Oh sepertinya dari belakang masjid"
Nailil yang beranjak pergi untuk mencari letak suara-suara yang merdu itu. Terlihat, Nailil mulai menemukannya di belakang mesjid. ternyata, suara-suara itu adalah lantunan Al-Qur'an yang diserukan oleh para murid pengajian.
Naililpun masuk.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, Hai Nai! Mau ikutan mengaji?"
Ustadz yang membalas salam dengan lembutnya.
Nailil yang terdiam di pintupun menggaruk kepala.
"Ya sudah, ayo sini masuk! Jangan malu-malu."
Naililpun masuk dan duduk di sebelah Pak Ustad dengan manisnya.
"Pak Ustadz..."
Nailil yang ingin bertanya tetapi ia ragu karena malu.
"Ya Nailil, ada apa?"
"Sebenarnya, kita mau belajar apa sekarang Pak? kalau Nailil sih ingin belajar mengaji Pak Ustadz"
"O ya sudah, kita belajar mengaji saja!" Tiba-tiba, suara adzan menyerukan kaum muslilmin agar beribadah menghadap sang rabbi.
"Mmmh Nai..."
"Ya Pak Ustadz"
"Sepertinya, kita harus salat dulu. Nanti, setelah salat baru kita mengaji"
Nailil sedikit terheran dan menggaruk-garuk kepala.
"Pak Ustadz, ma'af sekali" Nailil yang sembari mengangkat tangan memohon-mohon kepada Pak Ustadz.
"Ma'af kenapa Nai?" Tanya Pak Ustadz yang setengah kebingungan.
"Nai mau salat, tapi..." Nai memotong pembicaraannya sendiri.
"Tapi apa Nai?" Ustadz yang dari tadi hanya bisa mendengarkan kata-kata yang dilontarkan Nai.
"Nai gak punya mukena, kerudungpun Nai gak punya. Ma'af ya Pak Ustadz, Nai juga gak paham bagaimana caranya salat."
Pak Ustadz hanya tersenyum karena melihat anak kecil yang baru berumur 7 tahun itu ingin sekali mengenal Tuhannya.
"Ya sudah, Nai pakai mukena yang di mesjid saja ya! Nanti Pak Ustadz ajarkan Nai slalat."
"Wah... benarkah Pak Ustadz? Terimakasih ya Pak Ustadz."
Nailil yang terlihat sangat senang karena ia mau diajarkan salat oleh Pak Ustadz.
Haripu semakin sore, burung-burung bersiul menjemput malam. Nailil yang sedari tadi belajar mengaji dari pulang sekolah hingga sore tiba.
"BIsmillahirahmanirrahim" Nailil yang sedang belajar iqra itu, mengeja satu demi satu huruf hijaiyyah.
"Sodaqollohul'adzim.. Pak Ustadz, Nai senang sekali!"
"Senang kenapa Nai?"
"Ya kan Pak Ustadz sudah mengajarkan Nai mengaji. Terimakasih ya Pak Ustadz"
Nailil yang daritadi memuji-muji Pak Ustadz tanpa henti.
"Hahahaha.... Nai... Nai... itu kan sudah kewajiban Pak Ustadz untuk mengajarkan anak-anak mengaji. Jadi, Nai jangan bosan-bosan datang ke pengajian ya."
"Ya tentu Pak Ustad, Nai gak bakalan pernah bosan sama yang namanya mengaji" Ucap Nai yang penuh dengan ketekadan.
"Wah Nai ini semangat sekali ya! Pak Ustad jadi ikutan semangat"
Naipun tersenyum. Setelah lama berbincang, Naipun berpamitan pulang sambil mencium tangan Pak Ustadz.
Seketika itu awan berubah menjadi mendung, bahkan petir dan kilatpun saling berbalas, dengan diiringi hembusan angin malam. Sedangkan Nailil berjalan mengikuti hantaman kakinya. Tiba-tiba tanpa sadar Ibu Nailil sudah siap siaga di depan rumah dan Naililpun hanya bisa menundukkan kepalanya.
BERSAMBUNG....
Komentar
Posting Komentar