CERPEN 2-PANDANGLAH SESAMA DENGAN PANDANGAN KASIH
PANDANGLAH SESAMA
DENGAN KASIH
Sudah beberapa hari ini Nuni memperhatikan seorang tak
dikenal menghampiri rumahnya. Perempuan
itu berdiri mematung di depan pagar rumah Nuni.
Diperhatikannya perempuan itu, berambut panjang gimbal, membawa kantong
plastic besar penuh muatan, tak beralas kaki, pakaian sangat kumal. Kebiasaannya selalu menjulurkan tangan bila
pagar tertutup.
Rasa tidak tega menggelayuti hati Nuni tiap melihatnya. Nuni tidak pernah membiarkan perempuan itu meninggalkan
gerbang pagar rumahnya tanpa membawa sesuatu.
Beras, uang, pakaian, minuman atau apa saja yang bisa diberikan ia
bekalkan. Saat mendekati perempuan itu,
ingin rasanya Nuni menutup hidung. Bau
luar biasa tak sedap tercium, namun rasa belas kasihan membuatnya menahan
diri. Barangkali perbuatannya akan
membuat sedih dan tersinggung perempuan hilang ingatan itu.
Beruntung datangnya perempuan itu sekitar jam sembilan pagi,
saat Nuni sendirian di rumah. Suaminya
sudah berangkat ke kantor dan anak-anak ke sekolah. Kalau tidak, bisa-bisa anak-anaknya akan
ketakutan dan berteriak melihat perempuan itu.
Sebagai ibu muda, Nuni lebih memilih tinggal di rumah sambil
menjalankan bisnis online yang makin semarak belakangan ini. Ia merasa dengan bisnis online, waktu untuk
anak-anak tidak banyak tersita dan secara ekonomis ia bisa membantu suami
menambah penghasilan.
Kembali ke perempuan hilang ingatan itu, kepedulian Nuni tak
lepas dari pengalamannya waktu kecil.
Tiap kali perempuan itu datang, Nuni terkenang peristiwa sekitar dua
puluh tahun lalu di tahun 90-an.
***
Ibu Mirna (orang tua Nuni) pernah merawat saudara jauhnya
yang juga hilang ingatan, bernama Anton.
Begitu telaten dan penuh kasih sayang Ibu Mirna merawat Anton. Nuni tahu betul bagaimana Sang Ibu
memperlakukan Anton seperti memperlakukan dirinya. Kadang Nuni merasa cemburu, sesekali protes
dan menolak suruhan ibunya bila itu berkaitan dengan Anton.
Ada satu kenang-kenangan dari Anton yang masih disimpannya
hingga kini. Sebuah buku tulis tebal
berisi tulisan Anton. Setiap hari Anton
menulis buku itu dengan rapi. Kisah
menceracau yang memposisikan Anton sebagai pahlawan perang kemerdekaan,
Pangeran Diponegoro. Sesekali Nuni masih
membaca buku itu untuk sekedar hiburan dan mengenang kembali kemuliaan hati
Sang Ibu yang banyak memberi teladan hidup padanya.
Sedikit cuplikan tulisan Anton yang membuat Nuni tersenyum
sendiri:
‘Aku adalah Pangeran Diponegoro, tidak sudi diperintah oleh
Hindia Belanda. Setiap jengkal tanah
adalah milik sultan besama rakyatnya.
Kalian pendatang tak tahu diri. Merampas
harta dan aqidah kami……..’
Sesekali sosok Bu Mirna masuk dalam tulisan Anton, lucunya
lagi Anton memposisikan Bu Mirna sebagai abdi kesultanan yang melayani
keperluan Pangeran Diponegoro.
‘Beruntung aku punya abdi dalem yang luar biasa baik. Dialah
Mirna. Apapun tingkah lakuku dia selalu
sabar menerima. Apapun yang aku minta
Mirnalah yang menyediakan semuanya. Oh Mirna….terimakasih tiada tara.’
Semua tulisan itu seolah menghadirkan kembali peristiwa yang
mereka lalui bersama, Nuni, Ibu Mirna dan Anton. Ya, mereka hanya bertiga setelah Pak Mirna,
ayah Nuni meninggal karena serangan jantung.
Suatu malam, saat Ibu
Mirna dan Nuni remaja duduk santai, melepas penat setelah seharian sibuk dengan
urusannya masing-masing……
“Assalamu’alaikum, spada,”
Salam khas saat Anton kembali ke rumah setelah sekian hari tidak pulang.
Ibu Mirna bergegas melepas rajutan dari tangannya dan
meletakkannya di atas meja.
“Siapa, Mah?
Malam-malam begini bertamu?” Nuni heran bercampur takut
“Siapa lagi Nuni, pasti Anton. Mamah paham betul suara salam dia.” Ibu Mirna menuju ruang tamu.
“Anton, kamu sudah kumuh lagi?! Dua minggu minggu lalu Mamah
udah memandikan kamu. Ayo masuk! Malu kalau ada yang tahu.” Ibu Mirna menarik tangan Anton tanpa ragu.
“Iya Mamah, tapi Mamah jangan marah ya….,” ratap Anton
memelas.
Nuni yang masih berusia tiga belas tahun melihat Anton
dengan kesal dan kasihan. Terutama kasihan pada ibunya. Anton datang dengan rambut gimbal, pakaian
kumal dan bau menyengat. Saking tidak
tahannya ia menutup hidung.
“Nuni, Anton tahu kamu jijik sama Anton. Pake tutup hidung segala,” protes Anton
sambil melirik ke wajah Nuni.
Nuni baru sadar tingkahnya membuat Anton tersinggung.
Buru-buru dilepas tangan dari hidungnya.
Nuni membayangkan bila Anton marah dan menyakitinya, bukankah ada tipe
orang gila yang temperamental dan mudah mengamuk? Walaupun selama ini Anton tidak penah marah
dan mengamuk. Dia lebih sering menangis
atau menceracau tidak jelas. Atau
bertingkah di luar kebiasaan.
Ibu Mirna segera menuju ke dapur, memasak air panas untuk
memandikan Anton.
“Nuni, ambilkan handuk dan baju bersih di lemari Anton,”
ucap Bu Mirna sambil menyalakan kompor minyak tanah. Di tahun 90-an belum banyak yang memiliki
kompor gas seperti sekarang.
“Sama Anton saja Mamah, kan buat kepentingan dia.” Nuni
selalu ada alasan menolak perintah Ibu Mirna bila berkaitan dengan keperluan
Anton.
“Masya Alloh Nuni…..mana bisa dia disuruh. Ya sudah biar sama Mamah aja kalau kamu nggak
mau mbantuin!,” pungkas Ibu Mirna dengan
nada Marah.
Demi melihat Ibunya yang tiba-tiba sibuk dengan kedatangan
Anton, Nuni mau juga akhirnya membantu ikut merawat saudara jauhnya itu. Gunting rambut, potong kuku, minyak rambut,
minyak wangi, sisir, sikat gigi, baju lengkap satu set. Semua peralatan itu dikhususkan oleh Ibu
Mirna dalam satu wadah. Ketika Anton
datang Nuni dengan mudah menemukan peralatan-peralatan itu.
Prosesi pemandian, pemotongan rambut, pemotongan kuku,
sampai ganti pakaian dan siap untuk tidur.
Dilanjutkan dengan mencuci baju Anton memakan waktu dua jam tergantung
seberapa dekil keadaannya.
Kapanpun Anton datang walaupun jam satu malam, Ibu Mirna
langsung merapikan kondisi Anton dan tidak pernah menunggu sampai pagi. Sesuatu yang berkali-kali Nuni
saksikan. Malam ini entah untuk kali ke
berapa Ibunya merelakan waktu istirahatnya.
(BERSAMBUNG)
PANDANGLAH
SESAMA DENGAN KASIH (Part II)
Pagi itu Nuni dan Bu Mirna bangun agak
siang. Mungkin karena kelelahan
merapikan Anton. Biasanya mereka bangun
jam setengah empat pagi buat qiyamullail.
Kali ini jam lima pagi Bu Mirna bangun terlebih dahulu. Bu Mirna langsung membangunkan Nuni. Sementara Anton tidak dibangunkannya. Bu Mirna paham seseorang seperti Anton tidak
memiliki kewajiban agama. Kalaupun
disuruh akan percuma hanya menambah keributan pagi.hari.
Waktu sarapan pagi tiba. Nuni sudah rapih dan siap pergi ke sekolah.
Di meja makan telah siap sepiring nasi goreng, telor mata sapi, daun slada,
mentimun dan sedikit sambal. Ada tiga
piring tersedia di meja makan. Satu
piring untuk Bu Mirna dan satu piring buat Anton.
“Mamah, Nuni heran kok bisa begitu
sabar merawat Anton, sih? Apa manfaatnya
coba Mah?” Nuni memberanikan diri
bertanya untuk menjawab segala protes hatinya.
Menurutnya Anton hanya merepotkan dirinya dan juga Bu Mirna.
“Nuni, orang seperti Anton sudah bebas
dari tanggung jawab mukalaf. Dia tidak
punya dosa. Kewajiban yang sehat menutup
auratnya dan menghilangkan ketakutan manusia di sekelilingnya. Lagi pula Mamah punya kewajiban melaksanakan
wasiat Ibunya untuk merawat dia semampu kita.
Itulah pesan Ibu Anton sebelum meninggal.”
“Memang Ibu Anton itu siapa? Ada
hubungan kekeluargaankah dengan kita?
“Ada walaupun jauh. Mamah dan Ibu
Anton bertemu nasab di Uyut, jadi kakek Mamah dan Kakek Ibu Anton kakak
beradik.”
Tiba-tiba dari kamar terdengar
teriakan yang mengagetkan Bu Mirna dan Nuni,” Mamah, lapar……!!!!!!
“Astaghfirullah hal adziim, Anton
jangan teriak begitu. Malu sama tetangga
disangkanya ada apa-apa.” Bu Mirna bergegas menuju kamar Anton dan meninggalkan
begitu saja sarapan paginya.
Keadaan kamar sudah sangat berantakan
dan bau pesing Anton. Kamar lima kali
empat meter itu telah berubah menjadi sangat berantakan. Kasur sudah tidak berada ditempatnya. Rupanya Anton tidak mau tidur di atas
ranjang. Pakaian di lemari dikeluarkan
dalam keadaan berserakan.
Bu Mirna mengurut dada dan mencoba
bersabar. Dibantunya Anton menuju kamar
kecil, sambil mengambil seprai dan selimut yang basah oleh najis. Sisa air panas dalam termos semalam masih
bisa digunakan untuk memandikan Anton.
Anton segera menuju meja makan untuk
sarapan. Namun tiba-tiba dia menangis,”Aku nggak mau makan makanan ini. Apaan
nggak doyan.”
“Anton, dicoba dulu. Enak kok.
Kasihan Mamah udah capek nyiapin buat kita.” Nuni mencoba bermanis-manis
membujuk Anton. Namun percuma segala usahanya.
“Mamah, Anton nggak mau makan nasi,
mau cabe aja satu kilo.”
“Masya Alloh Anton.... satu kilo mau
kau apakan cabe itu?”
Anton langsung menangis seperti anak
kecil. Dan seperti biasanya, amukan Anton membuat Bu Mirna menyerah.
“Nuni, belikan cabe di warung
sebelah. Ini uangnya.”
Waktu itu harga cabe 1kg masih 2000
rupiah. Tanpa pikir panjang dan bertanya, Nuni langsung lari ke warung
tetangga. Takut rengekan Anton berubah menjadi amukan. Meskipun sebenarnya Nuni donkol dan kesal
tapi demi sang ibu, Nuni rela menunda sedikit keberangkatannya ke sekolah.
Nuni menyiapkan cabe itu di wadah nasi
setelah mencucinya. Dia bergegas pamit
berangkat sekolah setelah mencium tangan Bu Mirna. Dalam hatinya ada bimbang saat meninggalkan
Sang Ibu bersama Anton. Kadang
pikirannya dihantui kekhawatiran. ’Bagaimana kalau Anton mengamuk dan mencelakai
Mamah’ bathinnya.
“Sudahlah Nuni, berangkat saja. Mamah akan baik-baik saja. Anton akan menurut saat Mamah pelototi. Mama udah tahu bagaimana mengendalikan amukan
dia. Lagi pula selama ini dia lebih
memilih merengek daripada mengamuk.”
Kata-kata Ibu Mirna membuat Nuni lega.
Sepanjang jalan Nuni mendoakan kebaikan ibunya.
“Anton ini cabe yang kamu minta.
Bukannya Mamah tidak mau membelikan cabe yang .kau pinta, tapi takut kau sakit
perut dan jadi penyakit,” Ibu Mirna
memandang prihatin.
Anton menyantap satu genggam demi satu
genggam cabe di depannya. Serba aneh apa yang dia lakukan, seolah sensor rasa
pedas dia sudah hilang. Anton menyantap cabe layaknya makan nasi. dan anehnya
dia tidak pernah merasa pedas.
Bu Mirna dengan sabar menunggui Anton
makan hingga selesai.
“Mah, Anton mau berangkat kerja
dulu ya.” Itulah yang selalu Anton lalukan setelah keadaannya rapih dirawat Bu
Mirna dan memakan cabe satu kilo.
Biasanya Anton akan pergi berbulan-bulan untuk kemudian pulang lagi
dalam kondisi yang sama dengan keadaannya semalam.
Berulang kali peristiwa serupa walaupun
tak sama persis terjadi antara Bu Mirna, Nuni dan Anton. Hingga suatu saat Anton meninggal. Warga menemukan Anton meninggal di dekat TPS
di kecamatan lain. Mereka terutama Bu
Mirna merasa kehilangan atas kepergian Anton.
Bagaimanapun repotnya merawat Anton, Bu Mirna merasa hal itu sebagai
bagian dari ibadah dan pelaksanaan wasiat Ibu Anton saat meninggal.
Seseorang yang telah bebas dari
hisab karena tidak sempurna akalnya, banyak
mengajari Nuni tentang kesabaran, keikhlasan.
Berbagai rahasia tentang kesadaran otak dan mekanisme pada tubuh
manusia. Keanehan saat cabe satu kilogram
tak membuatnya sakit. Tentang anggapan dirinya sebagai Pangeran Diponegoro
dalam tulisan-tulisannya. Tentang
niatnya berangkat kerja saat meninggalkan rumah. Semua penuh misteri yang hanya dipahami oleh
Anton dan Sang Maha Tahu.
BERSAMBUNG
***
PANDANGLAH
SESAMA DENGAN KASIH (Part III)
Kedatangan sosok tak sempurnaan akal
ke rumahnya mengingatkan Nuni pada kasih sayang Ibunya pada seseorang yang telah dikatakan “gila”.
Hari itu untuk kelima kali Nuni melihatnya. Diambilnya baju satu setel lengkap dengan
kerudung untuk diberikan pada perempuan itu.
Ia terima dengan penuh rasa
senang. Senyumnya meyibakkan
gigi-giginya yang telah tanggal sana sini. Nuni mencoba bertanya dengan satu niat, kalau perempuan itu mau, Nuni akan
memandikan dan membersihkannya. Kalau
Nuni beranikan buat memandikannya, mungkin banyak orang yang lebih menghargai dia. Minimal anak-anak kecil yang melihat dan
berpapasan dengannya tidak lagi ketakutan.
“Teh, nama teteh siapa?”
Yang ditanya bengong tidak menjawab hanya
menyeringai. Tatapan matanya kosong
tanpa ekspresi.
Setelah tiga kali Nuni bertanya,
suaranya baru pertama kali terdengar parau. Terbata-bata.
“E...neng, Bu?”
“Neng dari mana asalnya?”
Dia tidak manjawab hanya menunjuk
arah timur agak ke tenggara yang akhirnya Nuni tak pernah tahu darimana asal
perempuan itu.
“Neng punya keluarga? Maksudnya
ayah, ibu, saudara?”
“Punya”
“Punya suami?”
“Punya.” Jawabnya pendek.
Baunya yang menyengat tak
terkatakan. ‘Bau macam apa ini, mirip dengan bau Anton, tapi lebih menyengat’
bathin Nuni. Hampir-hampir refleks Nuni
menutup hidungnya. Tapi bayangan lirik mata Anton mencegahnya.
Tiba-tiba .... entah kekuatan
dari mana Nuni memberanikan diri buat merapikan sosok menakutkan di depannya Terbesit keinginan mencontoh kebaikan Ibu
Mirna 20 tahun lalu.
“Neng kalau saya mandikan mau?”
Pikir Nuni, mumpung sendirian di rumah.
“Ma...mau bu!” katanya sambil
mengangguk.
“Kalau mau tunggu saya di
sini. Jangan dulu pergi ya?!”
Nuni bergegas ke dalam rumah
mengambil sisir, gunting, alat mandi dan handuk. Kemudian setengah berlari menuju pagar halaman
rumahnya. ‘Alhamdulillah dia masih ada,’ batinnya.
Di ajaknya perempuan itu masuk
rumah. ‘Bismilahirrahmannirahiim, kalau
ada kebaikannya aku memandikan perempuan ini, aku niatkan pahala kebaikannya
jika ada untuk almarhum ibu dan ayahku. Aku niatkan kalau apa yang ku lakukan ada
kebaikannya semoga bisa membuat perempuan ini menjadi lebih baik, mau mandi
sekarang dan seterusnya. Jadi aku nggak perlu terus menerus memandikan dia
seperti yang mamah lakukan pada Anton.’
Tidak lupa selembar kain basahan
Nuni pakaikan untuknya. Cara mandi sesuai sunnah yang diajarkan Rasululloh
SAW. Sedikit bergetar tangan Nuni
menyiramkan air ke rambut gimbal itu.
“Neng, Ibu potong rambutnya mau?”
“Mau Bu....” dia terus menuruti
apa yang Nuni tawarkan lakukan.
Proses pembersihan yang cukup
berat itupun akhirnya selesai. Ia nampak bersih dan cantik setelah selesai dibersihkan,
dipotong rambutnya dan disisir. Semua alat mandi tadi Nuri berikan pada
perempuan yang mengaku bernama Eneng itu.
“Jangan nunggu terlalu kotor baru
mandi. Ntar kalo pingin mandi, pakai
saja ini yang ibu bekalkan buat kamu ya...
“Makasih, Bu..,” perkataannya
datar tanpa ekspresi. Ia pergi meninggalkan rumah Nuni dalam keadaan bersih.
Dalam hati Nuni terus berdoa semoga Eneng bisa merawat dirinya hari ini dan
seterusnya.
Dua tiga hari ia tidak nampak
datang ke rumahnya. Nuni penasaran,
ingin tahu sudahkah dia berubah atau seperti halnya Anton yang selalu datang
dalam keadaan kumal? Belum selesai
lamunan Nuni tentang Eneng, tiba-tiba terdengar suara yang salam. Masya Alloh Si
Eneng datang dengan penampilan yang berbeda. Bibir berlipstik dan muka di
taburi bedak...
“Bu minta makan, Neng belum
makan?”
“Wa’alaikumsa salam. Eh Eneng, Alhamdulillah kamu sudah berubah
tambah cantik saja.”
“Terima kasih Bu, Neng laper…..” ucapnya manja.
“Mak Ijih, tolong ambilkan nasi
sama lauknya buat eneng.” Kata Nuni pada Mak Ijih, asisten packing bisnis onlinenya. Hari ini hari kedua karyawan baru dan
satu-satunya bisnis Nuni yang makin hari makin maju. Nuni sedikit kewalahan melayani pesanan dari
pelanggan. Mak Ijih yang ringan tangan
tak bisa diam melihat pekerjaan rumah tangga Nuni. Akhirnya akad kerja packing
merangkap jadi khadimat.
“Iya Bu, sebentar,” jawab Mak
Ijih
Tak lama kemudian Mak Ijih membawa
kantong plastik berisi nasi dan lauk.
“Mak, kenapa pake plastik? Memang
nggak ada piring?”
“Bu jangan pakai piring ntar piringnya
kita pakai buat makan, asa geuleuh.”
“Nggak papa atuh Mak, kan habis
dimakan sama Neng bakal kita cuci lagi kenapa harus jijik?!”
“Dia kan orang gila Bu?”
“Mak Ijih, orang gila itu punya
keistimewaan. Perbuatannya bebas hisab. Jadi nggak ada alasan buat memandangnya hina. Bisa jadi kita yang masih suka berbuat dosa
ini yang lebih hina.”
“Maafin Emak, Bu? Besok Insya
Alloh saya wadahin di piring deh...”
Nuni memperhatikan Neng dari
jendela ruang tamu. Ia sedang melahap makanan di kantong kresek.
‘Ya Alloh
maafkan kami bila memperlakukannya seperti binatang. Ya... kami menggunakan
kantong plastik untuk memberi makan kucing yang datang.’ Nuni membatin. Pelahan rasa berdosa merayap dalam menyusuri
ruang rasa.
Suami Nuni, Ustadz Bambang baru
pulang dari masjid menegur Nuni, membuatnya kaget.
“Ummi itu ada orang kok makan
pake kresek siapa yang kasih dia makan?”
“Eh..em barusan Mak Ijih yang
mengambilkan!”
“Masya Alloh, kok Ummi biarkan
saja emang ndak ditegur Mak Ijihnya?”
“Udah Ummi kasih tahu. Katanya
besok aja kalau datang lagi bakal pakai piring.”
Suamiku langsung ke dapur
mengambil nasi ke piring dan melengkapi dengan ikan goreng, sayur lodeh, sambal
dan kerupuk bikinan Mak Ijih. Lengkap sama dengan yang mereka makan.
“Teh ini makannya pake piring,
yang di kresek pindahin ke piring ya?!”
Neng tersenyum lebar, dua kali
ekspresi bahagia itu muncul di wajah Eneng.
Selesai dimandikan dua hari yang lalu dan hari ini setelah mendapatkan
nasi beralaskan piring.
Kalau ia bisa mengekspresikan,
kurang lebih mungkin ini kata hatinya,’Terima kasih Pak Ustadz. Belum ada yang
setulus ini memberi makan pada saya. Seperti juga belum ada yang tulus
memandikan saya dua hari yang lalu. Ada pandangan kasih dari bapak dengan
membiarkan saya makan dalam wadah yang layak. A da pandangan kasih dari ibu
yang mau membersihkan tubuh dekil saya.’
PANDANGLAH SESAMA DENGAN KASIH (Part
IV-Tamat)
Seminggu setelah Nuni merubah penampilan Eneng...
Mereka sedang duduk berdua di ruang tamu, menunggu
kedatangan sepupu Ustadz Bambang, Mas Danang dari Solo. Nuni mempersiapkan ruang tamunya hanya ada berhamparkan
permadani. Tanpa shopa dan perabot mewah
hanya kursi santai terbuat dari rotan di pojok ruangan, satu set.
Semua makanan kecil yang ada disiapkan di atas
meja. Ada ranginang, kacang goreng dan
bolu pisang lengkap dengan kopi susu sachet siap seduh. Juga seteko teh buat
antisipasi kalau-kalau Mas Dadang tidak minum kopi.
Hari ini Mas Danang dari Solo akan mampir ke rumah
Nuni, sebelum melakukan meeting dengan koleganya di Jakarta..
“Assalamu’alaikum.” Suara Mas Danang sudah tak asing lagi buat
Ustadz Bambang yang sering kontak telepon dengannya.
“Wa’alaikum salam. “ Ustadz Bambang langsung
menghambur dan memeluk kakak sepupunya itu penuh kerinduan. Sementara Nuni tak mengulurkan tangan karena
Mas Danang bukan mahromnya. Sebagai
penghormatan ditangkupkan dua telapak tangannya di bawah dagu. Itulah cara Nuni mencoba mempertahankan
syariat pada tingkat diri.
Sosok tinggi tegap itu tampak tidak berubah dan
awet muda. Hanya jambang di dagunya yang membuatnya tampak berwibawa. Memakai jaket kulit hitam
dan sepatu mengkilap. Kakakku yang satu ini memang selalu kelihatan necis dari
dulu.
“Mas Danang sendirian? Mana Mbak Lala sama Salsa?”
tanya Nuni yang merindukan saudara sekaligus soulmate seluler saling berbagi
selama ini.
“Mereka ndak ikut, aku sendiri karena ada urusan
bisnis agak lama di Jakarta!”
“Masuk Mas ada makanan kesukaan Mas Danang. Nuni istriku yang cantik
ini bikin sendiri lho?!”
“Wah, pasti bolu pisang,” Mas Danang menebak
“Tepat sekali. Mari masuk Mas,” ucap Nuni. Mereka baru tersadar sedari tadi berdiri di
depan pintu.
Ustadz Bambang membawa masuk tas laptop Mas Danang.
“Ini ada oleh-oleh dari Lala.
Kesukaan Dik Bambang, rempeyek kacang yang ndak pelit kaya di warung.”
“Wah Mbak Lala perhatian banget sama aku. Tahu aja aku doyan rempeyek.”
Mereka bertiga masuk ker ruang tamu
dan mulai membincangkan segala hal dari yang ringan
sampai berat.
“Sebenarnya aku punya rencana penting buat kalian!” Mas Danang mulai
serius.
“Apa ngobrol seriusnya nggak ditunda besok saja? Mas Danang pasti capek dari perjalanan jauh.
Istirahat dulu aja Mas? “ Ustadz Bambang
memberi saran dan diiyakan istrinya.
“Bukannya nggak mau berlama-lama di sini, tapi kolegaku sudah menunggu
sejak kemarin. Dia punya waktu di
Jakarta hanya sampai besok. Jadi aku
hanya sebentar di sini. Maaf sekali aku
nggak bisa nginap.”
Mas Danang menceritakan keperluannya di Jakarta bahwa dia sedang
mendapat proyek besar, yaitu pengolahan limbah plastic untuk dijadikan bahan
pengganti aspal. Toko buku miliknya yang
dikelola istrinya di Solo akan terbengkalai.
Apalagi belakangan ini hobi
kuliner istri Mas Danang mulai minta perhatian serius karena banyaknya
pelanggan.
“Maksud Mas Danang kita disuruh mengurus toko buku itu, dan menjaganya
di Solo?” Nuni menyimpulkan pembicaraan Danang.
“Bukan begitu Dik, pesantren tempat Dik Bambang juga bagian dari
perjuangan penting suamimu. Jangan sampai bagian dari perjuangan yang lebih penting dan
utama kalian tinggalkan. Maksudku, aku mau kosongkan toko di Solo buat
di sewakan. Aset toko akan aku pindahkan
ke sini. Terserah kalian, kalau mau sewa kios nanti aku kasih modal sewanya.”
“Aku rasa kalau di rumah ini nggak mungkin, lagian kurang strategis
tempatnya, Kalau buat sewa toko di
Jakarta ini tentu akan terlalu mahal kasihan Mas Danang. Hasil sewa toko di Solo mungkin hanya
setengahnya dari biaya sewa di Jakarta.” ucap Nuni.
Ustadz Bambang mengambil Telpon untuk menghubungi pihak yayasan
Pesantren tempat dia mengajar. “Coba saya hubungi pihak pesantren, kebetulan
belum ada toko buku bacaan, yang ada hanya buku pelajaran. Untuk konsumen aku rasa sangat mudah jumlah
santri kami 600-an orang tentu akan menjadi pelanggan setia,”
“Wah, itu ide cemerlang Dik Bambang.
Mas Danang setuju. Semoga
pesantren setuju dengan rencana kita. Untuk sistemnya kita buat kesepakatan
dengan pesantren. Bisa bagi hasil atau
system sewa tempat terserah kesepakatan kalian dengan pesantren.” Mas Danang terlihat senang dengan ide Ustadz Bambang.
“Aku yakin pesantren tidak keberatan karena buku-buku yang Mas Danang
jual buku yang menunjang pembelajaran pesantren. Tapi Mas apa Mas Danang nggak sayang dengan
pelanggan yang udah ada di Solo. Apa
nggak ada pertimbangan mencari pekerja saja? ”
“Justru itu Dik, Mas ndak akan sempat ngontrol pegawai toko. Begitu
juga dengan Lala. Daripada tambah beban
pikiran, lebih baik kalian saja yang kelola. ”
Ustadz Bambang berbicara dengan sesorang di seberang sana. Harap-harap cemas Nuni dan Mas Danang
menunggu jawaban dari pesantren.
“Terimakasih, Pak Kyai. Saya
pikir kerjasama ini akan lebih mengembangkan bidang usaha pesantren. Dan insya Alloh saya jamin buku Islaminya
sangat sesuai dan menunjang dirosah Islamiyah di pesantren Pak Kyai.”
Ustadz Bambang meletakkan hp-nya setelah menutup perbincangan dengan
salam, “ “Alhamdulillah nampaknya Pak Kyai menyetujui rencana kita. Tinggal
MOU-nya minta dibuatkan supaya kerjasama ini lebih jelas secara tertulis. “
Mas Dadang langsung sujud syukur.
“Mas, nggak biasanya Mas Danang mengekspresikan rasa syukur dengan
sujud syukur. Nampaknya kami wajib menerima tawaran Mas Danang?! Ustadz Bambang bertanya penuh keheranan.
“Masalahnya barang-barang sudah aku bawa, dua truk besar aku sewa dari
Solo. Ndak kebayang kalau kalian ndak sanggup nerima tawaran ini. “
“Wah, Mas Danang ini nekat banget lho…… ,” imbuh Nuni
“Maklum pengusaha memang orang yang paling senang sama resiko dan
tantangan,” Bambang menimpali.”Kalau begitu kita harus segera membawa
barang-barang itu ke pesantren. Pak Kyai pasti senang melihat peluang jihad
maliyah ini makin terbuka di pondok.”
“Sebentar tho Mas Bambang, kasihan Mas Danang masih capek. Ini masih pagi, baru jam Sembilan lewat
sepuluh menit”
“Justru karena aku kasihan sama Mas Danang. Sewa dua truk nambah hari nambah mahal
biaya. Lagi pula Mas Danang buru-buru
mau ketemu rekan bisnisnya di Jakarta ini. Kasihan kalau sampai nggak ketemu.”
Mereka mengakhiri perbincangan setelah mencicipi kue bolu pisang dan
secangkir the manis yang dihidangkan Nuni.
Rasa kesyukuran yang dalam Nuni panjatkan pada Alloh SWT. Nuni yakin
Alloh SWT telah menggerakkan hati Mas Danang untuk belas kasih padanya. Adik
sepupu Danang yang tergolong paling belum mapan ekonominya.
Ternyata Alloh tidak pernah menyia-nyiakan perbuatan baik
hambaNya. Semua tak lepas dari pandangan
kasih Nuni yang Nuni bagi untuk orang lain selama ini, termasuk pada Anton dan
Neng .

Komentar
Posting Komentar