CERPEN-TAMU

TAMU (Part I)

Siang terik hari ini sebelum dzuhur, aku langsung pulang untuk melepas penat setelah pulang kantor.  Tempat yang terindah yang aku dambakan bisa memutuskan segala beban kerja adalah rumah. Ya, meskipun rumah kami sederhana, berukuran tidak lebih dari delapan kali delapan meter.  Rumah bercat putih yang mulai lusuh dan terkelupas di sana sini karena lembab.  Rumah yang hanya terbagi enam ruang, dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang tengah atau ruang serba guna, satu ruang dapur dan satu kamar mandi.  Kami bersyukur tinggal di rumah sederhana ini karena rumah inilah yang menghimpun kami dalam kasih sayang, saling mengerti dan saling berbagi apa saja.

Begitu memasuki rumah, aku mencoba mencari sesuatu yang dapat diminum di dalam kulkas.  Masya Alloh begitu terkejutnya aku, kulkas penuh dengan berbagai macam buah-buahan. Nanas yang ranum masih dengan tunasnya ada enam.   Alpukat besar-besar entah berapa jumlahnya aku enggan menghitung.  Sirsak lima buah sebagian sudah empuk dan yang lainnya hampir matang, papaya masak empat buah mungkin satu kiloan beratnya.

Rasa hausku tiba-tiba lenyap oleh rasa kaget.
“Bibi, kemari sebentar!” Aku panggil bibi yang sedang sibuk menyetelika baju di ruang tengah.  “Bi, ini buah-buahan banyak sekali siapa yang mengirim?” To Teh point aku interogasi bibi.

Sosok sederhana, terbalut baju muslimah yang sudah usang itu hanya menundukkan kepala dalam-dalam.  Mungkin panggilanku tadi terlalu keras saking kagetnya.  Mengingat segala kebaikannya, pengorbanannya mendampingi tugasku di rumah, bibi adalah pahlawan buatku.  Tanpa bantuannya entah bagaimana aku menyelesaikan tugas-tugas kantor yang kadang terkejar dead line, sementara deretan kerja rumah menumpuk tiada henti.

“Kenapa Bi, nunduk terus. Ibu nggak marah kok. Kalau manggil Bibi agak kenceng itu karena kaget aja.  Itu kulkas penuh amat sama buah-buahan dari mana ya?”

“Itu Bu, tadi ada tamu yang menitip barang-barang itu.  Katanya tolong diterima dulu, besok dia akan kemari lagi.”  Bibi mulai sedikit mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk.

“Bibi tanya nggak siapa orang itu.  Maksud saya kalau yang datang bukan orang baik-baik atau ternyata barang itu barang curian, akan berbahaya buat kita.  Kalau ada orang yang mau memfitnah kita maka akan dengan mudah kita jadi sasaran empuknya.” Aku menjelaskan panjang lebar.

“Maafkan saya Bu, saya cuma kasihan sama orang itu.  Sepertinya datang dari jauh membawa barang ini sendirian. Usianya juga sudah sepuh, saya yakin orang itu bukan orang jahat.  Pakaiannya juga tertutup rapih, tutur katanya halus.”  Bibi berusaha meyakinkanku.

Aku memutuskan untuk diam dan menghentikan perdebatan ini.  Khawatir membuat bibi makin merasa bersalah,” Yang sudah terlanjur nggak apa-apa Bi.  Semoga tidak ada apa-apa.   Semoga tamu kemarin orang baik-baik.  Tapi pesan saya jangan diterima kalau ijab kabulnya nggak jelas.  Apapun barangnya, apalagi kalau barangnya barang berharga.  Alhamdulillah ini hanya buah-buahan.”

Bibi melanjutkan pekerjaannya dan aku memutuskan untuk segera berwudhu sepuluh menit lagi waktu Dzuhur tiba

***

Sehari dua hari kami menunggu tamu itu tidak datang juga.  Buah-buahan sudah mulai mubadzir kalau tidak dimanfaatkan.  Hari ini hari Kamis, kami biasa mengadakan Majelis Yatama.  Anggotanya anak yatim atau piatu atau yatim piatu yang mesantren di pondok kami.  Seperti biasa anak-anak santri dan santriwati puasa Senin-Kamis.  Jam lima sore kami sibuk menyiapkan makanan buat takjil yatama. 

“Ukhti Annisa, tolong kupas nanasnya ya. Caranya seperti ini. Kupas merata tidak perlu terlalu dalam yang penting kulitnya habis, mata yang tersisa dibersihkan dengan arah miring melingkar. “ Aku memberi contoh pada salah satu santriwati anggota Yatama tingkat lima.

“Subhanalloh Ummi…banyak sekali buah-buahannya.  Ummi habis panen?” Annisa terheran-heran karena memang tidak biasanya acara Majelis Yatama kami menyajikan buah-buahan begitu banyak.

“Panen dari mana Ukhti,” aku biasa memanggil para santriwati dengan sebutan ukhti,” ini dari tamu yang datang hari Selasa kemarin.  Meninggalkan begitu saja buah-buahan ini.  Sampai sekarang tidak jelas ini milik siapa.”

“Barang subhat dong Bu?” Lulu yang aku suruh membuat jus alpukat menimpali.

“Bagaimana lagi, kalau mubadzir berteman dengan syetan bukan?” Annisa mendahului jawabanku

“Jangan-jangan yang datang itu bukan manusia biasa.  Malaikat kali menyerupai manusia, mengirim buah-buahan ini, sebagai balasan Ummi yang selalu baik ke kita-kita.” Lulu asik mengarang  imajinasinya sendiri.

“Allohua’lam.  Kita serba tidak tahu. Kita doakan saja ini barang halal.  Kalau suatu saat pemiliknya datang tinggal kita beli.” Aku mengambil kesimpulan untuk menenangkan mereka.

Seperempat jam menjelang Maghrib, aku baru dua langkah meninggalkan rumah untuk menuju Aula tempat kegiatan yatama dilakukan……

“Assalamu’alaikum.”  Seseorang tak dikenal datang, aku masih ingat ciri-ciri tamu yang diceritakan bibi padaku.

“Waalaikum salam.” Aku mengurungkan langkahku menghadiri Majelis Yatama, “Oh….Ibu yang hari Selasa kemarin membawa buah-buahan kemari?” 

Aku mempersilahkan tamu itu untuk masuk rumah dan duduk di ruang tamu di atas karpet bludru.  Tidak ada shofa di rumah kami kecuali meja-meja pendek dan kami duduk lesehan.  Aku pergi ke dapur untuk mengambil air minum dan sedikit kue yang biasa kami sediakan buat tamu yang datang.”

“Silahkan Bu, diminum dulu.”

“Apa sudah maghrib Bu?”

“Dua menit lagi.  Ibu puasa?” Tanyaku agak lega.  Minimal aku yakin Ibu ini baik dan shalihah dan buah-buahan itu tidak menyisakan masalah.

Adzan Maghrib berkumandang dari arah Masjid Jami’ Al Kautsar.  Kami buka bersama kemudian aku persilahkan tamu itu untuk mengambil wudhu dan sholat.  Tapi ternyata wanita berusia sekitar 60-an tahun itu telah berwudhu.  Ternyata dia biasa mendawamkan wudhu.


TAMU (PART II) By Khadijah Hanif

Aku meletakkan nasi dan lauk pauk ala kadarnya di atas meja makan. Acar ikan patin, sayur lodeh, kerupuk dan sambal.  Semua bikinan bibi yang memang pandai memasak. 

Aku perhatikan tamuku yang satu ini begitu istimewa. Tertib sekali dia makan, menandakan ia berilmu.  Mencuci tangan, mengelap dengan tissue, mengangkat tangan dan berdoa.  Aku terus perhatikan dia memperbaiki cara duduknya. Telapak kaki kiri diduduki dan kaki kanan dilipat depan dada.

“Ibu maaf ada garam?”

“Ada.  Sebentar saya ambil dulu. ” Aku lupa menyediakan garam.  Biasanya kalau aku makan bersama suamiku, aku sediakan garam meja untuk sedikit dicicipi pada jilatan pertama.  Tamuku kali ini benar-benar istimewa itu kesimpulan pertama yang aku ambil. Tidak semua orang tahu bahwa menjilat garam sebelum makan adalah sunnah.

“Maaf kalau saya kurang sopan dan banyak permintaan.”

“Tidak mengapa Bu…malah saya berterima kasih sudah diingatkan.”

Aku mencoba membuka pembicaraan tentang buah-buahan itu. “Ibu mohon maaf buah-buahan yang ibu titipkan pada kami saya manfaatkan sebagian.  Saya khawatir busuk dan mubadzir kalau nunggu dikupas besok.  Alhamdulillah hari ini ada Majelis Yatama jadi kami gunakan untuk jamuan anak-anak Yatim.”

“Saya justru yang minta maaf, sebenarnya buah-buahan itu bukan kepunyaan saya.”

Aku hampir tersedak demi mendengar kalau buah-buah itu milik orang lain. Aku tahan dengan segera minum air putih.

“Tapi jangan khawatir, buah-buahan itu bukan barang curian.”

***

Kampung saya ada di kaki Gunung Cikijing.  Jauh dari jalan raya.  Tidak ada kendaraan yang bisa memasuki kampung kami karena jalanan rusak dan berbatu.  Lalu lalang kendaraan bermuatan kayu merusak jalan desa.  Kikisan hujan tahun ini makin membuat jalan rusak menjadi mirip sungai kering. 

Kebanyakan kami adalah petani yang menurut ukuran orang kota ‘miskin’.  Tapi Alhamdulillah kami tidak pernah merasa miskin.  Bagi kami bisa makan, minum, berpakaian dan ada rumah panggung buat berteduh, itu sudah lebih dari cukup. 

Kami juga memiliki masjid dan majelis taklim yang diisi oleh dua ajengan di sana.

Dulu desa kami  hijau ridang dan Gunung Cikijing masih banyak memiliki hutan alami.  Keadaan nyaman ini mulai terusik dengan berkurangnya pohon di puncak gunung.  Seiring dengan penebangan pohon, pelahan-lahan air sumur di tengah kampung mulai mongering.  Penggali sumur makin sulit mendapatkan air pada kedalaman biasa.  Malangnya lagi sungai yang bisa mengairi lahan pertanian kami tidak lagi sederas dulu, leuwi nya sudah mulai hilang.  Sawah kami mulai mengandalkan hujan dan sebagian beralih menjadi ladang.

Aku mendengar dengan tekun kalimat demi kalimat yang mengalir begitu tertib.  Aku yakin ibu di depanku ini bukan wanita kampung biasa.  Kata-katanya tertata dan kalimatnya menandakan tingkat intelektualitasnya.  Kemudian ia melanjutkan kisahnya.

Jalan yang kami miliki mulai rusak karena truk besar memaksa masuk membawa kayu hasil tebangan.  Jalan desa yang ada cukup untuk masuk kendaraan kolbak yang mengambil hasil bumi ke kota.  Pencari hasil bumi  biasa memasuki desa kami.  Kami tinggal diam saja para pencari hasil bumi berdatangan mengambil hasil bumi kami.  Tapi sejak jalan rusak dan diperparah dengan kikisan air hujan, kami seolah terperangkap.

Kebutuhan hidup memaksa kami berpikir keras bagaimana menukar hasil bumi ini dengan uang.  Akhirnya kami berbagi tugas, harus ada yang mau jalan ke kota.  Harus ada yang mau keluar membawa hasil lading dan sawah kami kemana saja.  Salah satunya saya.

Jadi buah-buahan yang saya bawa dua hari yang lalu milik beberapa orang.

Kisah tamuku membuka segala misteri yang membuatku penasaran beberapa tiga hari ini.  Banyak pelajaran berharga yang bisa kudapat dari kisahnya, tapi ada satu yang sangat mengganjal.  Ternyata perbuatan dosa dan dzalim seseorang (dalam hal ini pengusaha kayu), bisa membuat menderita penduduk satu desa bahkan mungkin lebih.  Aku pikir semua yang menggunakan jalan rusak itu merasa terganggu.  Sementara semua yang membuat rusak jalan itu menikmati hasil usahanya untuk memenuhi isi kantongnya

Kisah ini hanya miniatur kecil kisah-kisah serupa betapa rakyat kecil sering kali menderita oleh ulang penguasa dan pengusaha.


Aku masih menemani tamu istimewaku. Kami berbincang kecil untuk sekedar tahu dan kenal keluarga kami masing-masing.

“Ibu sampai maghrib begini dari mana saja?”

“Biasa Neng, membawa hasil bumi.  Kali ini saya menitipkan ke warung.  Setelah laku semua nanti baru bisa saya ambil hasilnya.”

“Kalau buah-buahan yang ibu bawa kemarin berapa harganya?  Kita belum sepakat apakah harganya satuan, atau kiloan.  Lagi pula kalau kiloan saya lupa menimbang alpokat yang sebagian sudah dibuat jus sama anak-anak.”

“Untuk yang kemarin teu langkung Neng. Berapapun saya terima. Lagi pula itu kesalahan saya meletakkan barang dagangan tanpa akad.”

Aku kebingungan sendiri. Kira-kira berapa uang yang harus aku bayar untuk membeli semuanya.  Tanpa pikir panjang aku ambil amplop vakasi mengawas ujian nasional selama empat hari.  Aku berikan utuh dan amplopnya pun masih tertutup.  Niatku bukan membayar barang dagangan tapi menghargai pengorbanan tamuku juga sedikit menghibur kesusahannya.

Ibu itu langsung memasukkan amplop pemberianku dalam dompet lusuhnya.  Tanpa membuka berapa isinya. Kemuadian dia pamit pulang.  Aku sempat membekalinya dengan sekantong beras sebelum kami berpisah.

“Ibu, sebaiknya ibu menginap saja.  Ada kamar kosong. Saya tinggal berdua sama suami.  Semua anak-anak saya sudah saya titipkan ke pesantren lain.  Ada yang di Jakarta, Jepara dan Gontor.”  Aku tidak tega membayangkan ibu ini berjalan sendiri malam-malam. Apa lagi keadaan sekarang banyak kriminalitas.  Miras dan oplosan tidak terkendalikan dengan baik oleh aparat.  Sementara ormas Islam anti-maksiat justru ditekan.

“Tidak usah Bu.  Saya harus segera membagikan uang ini sama mereka yang menitipkan hasil bumi.  Lagi pula saya biasa berjalan malam dan Alhamdulillah tidak ada apa-apa.” Tamuku tetap tidak bisa ditahan untuk tinggal barang semalam, “Terimakasih atas segala kebaikan Ibu.  Saya mohon diikhlaskan apa yang saya minum, apa yang saya makan, dan yang saya pakai. Assalamu’alaikum.”

“Ya sudah kalau Ibu tidak mau menginap.  Hati-hati ya Bu, semoga selamat sampai rumah. Waalaikumsalam"

Seraut wajah cerah dan senyumannya mengakhiri perjumpaanku dengannya petang ini.(Bersambung)

***
TAMU (PART III)- By: Khadijah Hanif

Hari ini jadwalku piket kantor, aku segera siap-aiap ke kantor, lengkap dengan seragam pramuka dan atributnya, kecuali topi.  Alhamdulillah disiplin di kelas, kantor guru dan kantor administrasi mulai bisa ditertibkan tahun ajaran ini.

Pertama yang aku jumpai di kantor seperti biasa, OB alias pesuruh.  Kami bersyukur punya OB yang rajin dan mau menjalani tugasnya dengan niat ibadah.  Namanya Teh Jujuk.  Dia begitu ringan tangan.  Kegemarannya menolong tak ada duanya.  Bahkan belum sempat kami suruhpun dia kadang lebih dulu tahu kebiasaan dan keinginan kami. Tak heran dia bertahan lebih dari lima tahun menjadi OB pesantren ini.

Orang seperti Teh Jujuk yang membuat kami betah kerja di kantor karena kantor selalu rapih dan bersih.  Begitu juga santri betah tinggal di asrama dan kelas yang tertata apik oleh tangan dingin Teh Jujuk dan crewnya yang semuanya ada empat orang.

“Ibu, ada kabar menyedihkan,” tergopoh gapah Teh Jujuk menghampiriku.

“Ada apa Teh…  Salam dulu atuh. Tergesa-gesa banget mau cerita aja.  Awas jangan ghibah alias ngerumpi.”

“Oh iya lupa. Assalamu’alaikum Ibu,” Teh Jujuk tersenyum lucu. 

“Waalaikum salam.  Nah gitu dong, dengan salam berarti kita saling doa selamat dan keberkahan.”

Seperti biasa dia cium tanganku dan aku balas mencium tangannya.  Tidak sabar Teh Jujuk menceritakan pengalamannya .  “Tadi malam di jalan simpang tiga dekat kampung saya ada kecelakaan.”

“Innalillahi wainna ilaihi raaji’un.  Terus siapa korbannya?” Aku menanggapi cerita Teh Jujuk dengan serius.  Aku tahu sifat Teh Juju yang selalu ingin menolong pasti mengambil berat kejadian sedih yang diketahuinya.

“Ibu-ibu, usianya mungkin 50 atau 60 tahun lebih. “

Masya Alloh mungkinkan ibu-ibu yang diceritakan Teh Jujuk tamuku tadi malam?  Rasa bersalah bergumul dalam bathinku.  Kenapa tidak paksa dia biar menginap di rumah barang semalam? Mengapa hanya sekali aku menawarkan dia untuk menginap?  Sebenarnya aku benar-benar kasihan kalau tadi malam ia pulang sendirian. 

Aku berusaha menata hati dan menahan rasa bersalahku.  Kalau tidak rasanya mata ini mulai memanas dan genangan di pelupuk mataku hampir tumpah.

“Sebentar Teh, ibu-ibu itu memakai baju terusan batik?”

“Iya, Bu.”

“Kerudung geblus biru tua?”

“Betul,Bu”

“Bawa selendang batik coklat dan tolombong?”

“Kok Ibu tahu.  Padahal saya tidak melihat Ibu di tempat kejadian tadi malam.” Teh Jujuk terheran-heran

“Ibu  itu datang ke rumah semalam.  Dia yang menawarkan buah-buahan itu hari Selasa minggu ini.  

Teka-teki tentang buah itu sudah terpecahkan.  Terus bagaimana keadaan ibu itu?”

Teh Jujuk memulai ceritanya.

***

Tadi malam saya pulang jam sepuluh lewat lima belas menit sama suami saya. Kami berdua habis mengikuti tabligh akbar Habibana di Singaparna.

Pas di pertigaan ke arah Desa Sindangmenang kami dikagetkan dengan kerumunan orang-orang.  Kami turun dan ikut dalam kerumunan itu.

“Pak, sudahlah lebih baik kita pulang saja, pasti sudah ada yang mengurusi.  Kita tidak usah ikutan.” Saya bujuk suami supaya langsung pulang. Terus terang saya suka nggak tegaan dan penakut kalau melihat orang celaka.

“Mamah, percuma tadi mendengarkan ceramah Habibana kalau nyali kita tetap penakut.  Tidak peka membantu orang lain.  Takut itu hanya sama Alloh dan takut jadi ummat yang tidak taat sama perintah Alloh.”

Saya tidak bisa lagi membujuk suami saya. Dan memang benar apa yang dikatakannya. Saya ikuti saja maunya dia.

“Siapa yang kenal Ibu ini? Kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Darahnya banyak keluar. 
Jangan hanya dikerumuni saja,” suami saya langsung merangsek dan mencoba membopong ibu yang sudah sepuh itu.

Tiba-tiba datang seseorang yang sepertinya dia tahu tentang medis.,” Coba saya periksa sebentar keadaannya.”  Sambil mengeluarkan peralatan yang dibawanya, laki-laki berjas panjang putih itu menyuruh suami saya membaringkan ibu itu di bangku pangkalan ojek lima meter dari pinggir jalan tempat kejadian.

Dengan cekatan laki-laki berjas putih mencari denyut nadi dan suara detak jantung korban. “Innalillahi wainna ilaihi raaji’uun, Ibu ini sudah meninggal dunia.   Sebaiknya kita antarkan pada keluarganya.   Apakah ada kartu identitasnya.”

Suami saya mencoba mencari di kantong baju korban tapi tidak ditemukan apapun yang menunjukkan identitasnya.

Dari arah timur beberapa orang berteriak-teriak……,”Ini dia pelakunya!!!  Kami berhasil menangkapnya di pertigaan Kampung Pengkol.   Anggota genk motor yang belakangan ini bikin resah.”

Sebagian orang tidak sabar ingin memukuli pemuda tanggung yang ternyata kondisinya mabuk.  Bau alcohol menyengat.  Wajahnya pucat, rambut bercat merah acak-acakan. Pipi lebam bekas kena pukul saat mencoba melarikan diri.

“Sudah jangan kita tambah masalah dan jatuh korban baru.  Biar saya yang membawa pemuda ini ke kantor polisi.  Tapi saya minta ada satu orang yang menjaga di belakang. Biar aman dan tidak lari lagi.” Suami saya membuat keputusan cepat.

“Eh, Bapak, Mamah pulang sama siapa?” Saya protes karena rumah kami masih 500 meteran dari tempat kejadian.

“Mamah manja banget.  Itu banyak ibu-ibu tetangga kita ikut melihat kesini.”  Saya baru sadar banyak orang yang saya kenal berkerumun di tempat itu.  Maklum masing-masing kaget dan ingin tahu kejadian itu.

Identitas korban akhirnya ditemukan di dompet lusuh yang digelandang pemuda bejat itu.   Korban diantarkan ke alamat yang bersangkutan oleh perangkat desa Sindangmenang disetai beberapa saksi.

***
Aku tertegun mendengar cerita Teh Jujuk.  Betapa makin banyaknya kemaksiatan.  Sementara penanganannya sangat minim.  Pembinaan masyarakat tidak menyisir tiap lapisan. Ilmu agama makin dijauhi sedangkan pemahaman agama menjadi harapan terakhir manusia menemukan taubat.

Bagaimana orang awam tidak makin jauh dari agama kalau ulama dikriminalisasi. Ummat dibuat ragu bahwa ilmu agama bisa menyelamatkan manusia dari perbuatan dosa dan keji.   Peristiwa yang menimpa Habibana menjadi bukti paling gamblang tentang itu.

Aku menarik napas panjang, ”Ya Alloh…kalau manusia tahu peristiwa yang akan terjadi.  Mungkin Ibu sudah memaksa Ibu itu untuk menginap di rumah.  Ibu jadi merasa bersalah tidak bisa menjaga sesama  saudara seiman Teh….,” Kali ini aku tidak bisa menahan air mata.

“Ibu sudah berusaha menahan tamu itu dan menawarkan untuk menginap, kan?”

“Betul, tapi rasanya Ibu belum sungguh-sungguh memintanya dengan sangat buat tinggal barang semalam.”

“Ibu musibah, hidup mati milik Alloh.  Manusia cuma diberi peluang berikhtiar selebihnya mah ketentuan Alloh.”  Ucapan bijak Teh Jujuk sangat menyejukkan hatiku.  Alhamdulillah aku dipertemukan dengan orang yang baik seperti Teh Jujuk.  Setidaknya kami bisa saling mengingatkan nilai-nilai dan pemahaman Islam yang kami miliki.


Aku memutuskan untuk segera pulang dan ambil air wudhu.  Sholat ghaib akan aku hantarkan untuk tamu istimewaku yang berhati mulia.  Semoga Alloh SWT menganugerahi khusnul khatimah dan derajad syahid untuk perjuangannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA