RESENSI BUKU TENTANG KAMU (Mengungkap Fakta Sejarah Melalui Sebuah Karya Sastra)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
TITIN HARTI HASTUTI·30 DESEMBER 2016180 kali Dibaca
RESENSI BUKU
Judul Buku : Tentang Kamu
Penulis : TERE LIYE
Penerbit : Republika
Jumlah Halaman : 524
Mengungkap Fakta Sejarah Melalui Sebuah Karya Sastra
Zaman Zulkarnaen, lawyer muda asal Bandung Indonesia, bekerja di lembaga hukum Thompson and Co. lembaga hukum kenamaan di Belgrave Square, London Inggris. Ditugasi mengungkap harta warisan Sri Ningsih sebesar Rp.19 triliun, juga perusahaan IT milik mendiang suami Sri Ningsih (Hakan Karim) yang sedang berkembang.
Dengan berbekal informasi seadanya dari panti jompo persinggahan terakhir Sri Ningsih, La Cerisaie Maison de Retraite-Paris. Zaman Zulkarnaen memulai penulusuannya dari Dairy Sri Ningsih yang membuatnya sampai di Pulau Bungin Sumbawa. Zaman bertemu dengan orang tertua di pulau itu yang masih sempat bertemu dengan Sri Ningsih hingga kepergian Sri Ningsih ke Surakarta, bernama Oda…...
Sri Ningsih memulai hidupnya dengan gelimang kebahagiaan sebagai anak saudagar muda kaya raya bernama Nugroho dan Rahayu. Ia menjadi piatu saat dilahirkan karena Rahayu mengeluarkan terlalu banyak darah saat persalinan. Nugroho menikah dengan Nusi Marata dan dianugrahi seorang anak bernama Tilamuta.
Kehidupan Sri Ningsih berbalik 180 derajat ketika ayahnya meninggal dalam sebuah perjalanan dagang ke kota Surabaya. Saat itu cuaca kurang baik tapi Nugroho memaksakan diri berangkat karena ingin membelikan sepasang sepatu untuk Sri Ningsih di ulang tahunnya yang ke-9. Sri Ningsih berusaha tegar dan menerima kenyataan karena sebelum kepergiaannya Nugroho menyampaikan pesan terakhir agar Sri Ningsih menjaga adik dan ibunya, juga agar jangan pernah meneteskan air mata menghadapi kesusahan hidup. Sebaliknya, Nusi Marata justru menantang takdir, menyalahkan Sri Ningsih dan menyebutkannya sebagai anak pembawa kutukan. Sri Ningsih dan Tilamuta menjadi sasaran kemarahan Nusi Marata. Bahkan Sri Ningsih layaknya budak yang harus mengikuti semua perintah ibu tirinya.
Penderitaan ini berakhir ketika kebakaran melalap harta satu-satunya yang masih tersisa yaitu rumah panggung tempat tinggal mereka. Nusi Marata meninggal dalam keadaan mengerikan disertai permintaan maafnya pada Sri Ningsih. Sri Ningsih berusaha melawan api untuk menyelamatkan ibu tiri dan adiknya. Sulitnya keadaan membuat Sri Ningsih hanya mampu menyelamatkan Tilamuta.
Atas nasihat Tuan Guru Bajang (guru agama Sri Ningsih) mereka berdua dikirim untuk belajar di Madrasah Kiai Ma’sum Surakarta (almamater Tuan Guru Bajang).
Penelusuran Zaman berlanjut dengan berbekal foto 3 perempuan muda tahun 60-an, membuat Zaman bertemu dengan Ibu Nuraeni putri Kiai Ma’sum. Dari penuturan Bu Nura’ini, kisah Sri Ningsih berlanjut……
Selama lima tahun Sri Ningsih belajar di madrasah memberikan kesan baik pada hati semua orang kecuali Sulastri. Sri Ningsih dikenal sebagai seorang santriat yang cekatan, pekerja keras, serba ingin bisa dan pembelajar. Semua berjalan indah sebelum persahabatan Sulastri, Sri Ningsih dan Nura’ini terusik oleh kedengkian Musoh pada Arifin, suami Nura’ini, menantu Kiai Ma’sum. Musoh sebagai orang kepercayaan Kiai Ma’sum merasa tersisih dengan kehadiran Arifin, ia menarik diri dari kehidupan madrasah dan mendalami kegemarannya mempelajari buku-buku berideologi menyimpang. Hingga ia berhasil memengaruhi Sulastri bahwa Kiai Ma’sumlah yang membunuh ayah Sulastri, mengambil seluruh harta Sulastri dengan berpura-pura mengangkat Sulastri sebagai anak.
Dendam kesumat ini membuat Sulatri mengundurkan diri dari madrasah dan aktif dalam organisasi perempuan berpaham ‘kekiri-kirian’. Pengkhianatanpun terjadi, gerombolan Sulastri dan Musoh menculik Kiai dan Bu Nyai Ma’sum, Arifin juga Nura’ini. Mereka sekeluarga hendak dibakar hidup-hidup setelah penyiksaan yang mengerikan. Kiai dan Bu Nyai telah meninggal sebelum pembakaran terjadi. Sedangkan Nura’ini dan Arifin terselamatkan setelah datang bantuan tentara yang mendapatkan informasi penculikan dari Sri Ningsih dan Pak Anwar (Orang Suruhan Tauke China untuk menghabisi ayah Sulastri yang tidak mau membayar hutang, tetapi telah bertaubat dan menjadi pesuruh di madrasah Kiai Ma’sum).
Semua rencana bejat Sulastri dan Musoh gagal total. Dalam proses pengadilan, Sulastri divonis bersalah atas kesaksian Sri Ningsih. Sulatri diasingkan di sebuah pulau dengan membawa dendam kedua yang tak pernah padam.
Sri Ningsih memutuskan merantau ke Jakarta untuk mengubur segala duka terutama kabar meninggalnya Tilamuta yang dimutilasi oleh gerombolan Musoh dan Sulastri.
Kisah dari Bu Nura’ini berakhir hingga fase ini, tetapi Bu Nura’ini memberikan seluruh surat korespondensinya dengan Sri Ningsih selama merintis usaha di Jakarta dan London Inggris.
Sri Ningsih memulai kehidupan di Jakarta dengan menjadi guru madrasah sambil menjadi kuli panggul di pasar. Untuk menambah penghasilan ia menjadi pedagang gerobak beroda. Seiring bertambah banyaknya modal yang dimiliki ia membuka usaha armada taxi. Tapi peristiwa Malari menghabiskan harapannya mengembangkan armada transportasi. Ia beralih usaha ke industry toileters dan maju pesat. Akan tetapi bayang-bayang seseoang seolah menghantuinya, membuatnya meninggalkan Jakarta dan menggabungkan usaha toileters miliknya dengan perusahaan internasional. Ia berhasil mengantongi satu persen saham dari perusahaan internasional itu. Sri Ningsih tidak kehilangan kendali perusahaan yang telah dirintisnya itu karena ia berhasil menanam orang kepercayaannya bernama Chaterin untuk mengendalikan perusahaan itu.
Dari penuturan Chaterin yang berhasil ditemui Zaman di Jakarta, tiba-tiba Sri Ningsih memutuskan pergi ke Inggris dengan raut muka yang terancam. Yang kelak diketahui oleh zaman bahwa kepergian Sri Ningsih tak lepas dari teror Sulastri yang melarikan diri dari pulau pengasingan dan memburu Sri Ningsih untuk mengacaukan hidupnya.
Masih dari kotak surat dari Bu Nura’ini, Zaman mengetahui bahwa Sri Ningsih tinggal di London dari tahun 1980 hingga 1999. Selama di London Sri Ningsih bekerja sebagai supir bis perempuan satu-satunya dan sangat dikenal karena terpilih menjadi supir teladan kota London. Di situ juga Sri Ningsih bertemu dengan suaminya yang bernama Hakan Karim dari Turki yang bekerja menjadi teknisi di London dan merintis perusahaan IT yang terus berkembang. Dua kali kehilangan anak dan kehilangan suami, akhirnya Sri Ningsih memutuskan untuk berpindah ke Paris.
Melalui penuturan Aimee (pengasuh orang-orang jompo di La Cerisaie Maison de Retraite-Paris), Sri Ningsih menjadi penghuni favorit di panti jompo itu. Selalu aktif dan tidak pernah mau tinggal diam. Bahkan ia menjadi pelatih tari-tarian nusantara di sebuah sekolah dan berkeliling dunia mendampingi murid binaannya. Berhenti dari melatih tari, ia membuat perkebunan hidroponik di lantai teratas panti itu.
Dalam proses pencarian ini, Zaman tidak menemukan adanya surat wasiat selembar pun. Bahkan kasusnya diklaim oleh seseorang bernama Ningrum yang mengaku menjadi mertua Tilamuta, pewaris satu-satunya yang sah dari Sri Ningsih. Ningrum meminta bantuan lembaga hukum terkenal di Paris A & Z Law untuk memenangkan klaimnya.
Diantara keputusasaan karena tidak ada satu pun ahli waris yang dapat ditemui juga tidak ada surat wasiat dari Sri Ningsih, Zaman berusaha menanyakan sahabat terdekat Sri Ningsih yang mungkin mengetahui surat wasiat Sri Ningsih. Melalui kontak telepon dengan Bu Nura’ini, Zaman mengetahui bahwa surat wasiat itu ada dibagian terbawah dan teraman kotak surat Bu Nura’ini.
Berbekal surat wasiat dan insting Zaman sebagai pengacara, ia merasa bahwa Ningrum yang ditemuinya saat memenuhi undangan A & Z Law di Paris adalah Sulastri. Zaman memutuskan untuk langsung menuju sarang Ningrum dan para penjaganya. Dengan menyamar sebagai tukang pizza, Zaman berhasil menembus pertahanan basecamp Ningrum. Akhirnya Zaman berhasil membebaskan Tilamuta sekaligus menghabisi kejahatan Sulastri melalui tembakan pistol Murti, anak yang selama ini bergabung dengan kejahatan Sulastri tersadar oleh bujukan Zaman bahwa Murti harus membebaskan diri dari jerat kejahatan Sulastri.
Harta warisan Sri Ningsih dibagikan sesuai wasiat Sri Ningsih antara lain pada Madrasah Kiai Ma’sum Surakarta, Panti Jompo La Carisaie, sahabat-sahabat Sri di London yang mau membantunya hingga mendapat pekerjaan tetap, orang-orang dekatnya di Jakarta dan tentunya Tilamuta sebagai satu-satunya ahli waris sah Sri Ningsih.
Buku Tentang Kamu mengangkat tema perjuangan tokoh utama Sri Ningsih dalam memeluk takdir, namun bukan berarti pasrah pada keadaan tanpa daya dan upaya. Seseorang yang selalu berusaha mengalir seperti air, tetapi selalu berjuang menuju muaranya. Muara manusia adalah tempat kembali menghadap Penciptanya sehingga Sri Ningsih selalu berusaha mempersembahkan amalan terbaik sebagai bukti perjuangan dan kesungguhan saat hari pemeriksaan di akhirat. Sebagai framenya mengangkat perjuangan praktisi hukum yang jujur dan mengedepankan amanat yang diberikan klien pada firma hukum tempat para lawyer bekerja.
Dengan gaya penceritaan orang ketiga di luar jalan cerita, membuat penulis leluasa bercerita sebagai seseorang yang serba tahu terhadap perjalanan Zaman Zulkarnaen. Akan tetapi tidak serba tahu terhadap kehidupan tokoh lain seperti Sri Ningsih, pengetahuan pencerita dibatasi oleh pengetahuan Zaman Zulkarnaen. Suatu gaya penceritaan yang unik dan menarik.
Meskipun tergolong dalam cerita berbingkai dengan alur campuran antara alur maju dan mundur, pembaca dengan jelas dapat menggambarkan kembali alur cerita secara utuh tanpa kerancuan. Hanya orang-orang yang lihai dengan gaya penulisan yang sangat mengalirlah yang sanggup menulis begitu indah untuk dinikmati. Cerita yang berlapis-lapis menambah keindahan bagi penikmat fiksi bermutu sarat makna dari buku berjudul Tentang Kamu ini.
Setting waktu yang berkelok-kelok dari kekinian, 1945-1960, kekinian, 1960-1966, kekinian, 1967-1980, kekinian, 1980-1999, kekinian, 2000-1013, diakhiri dengan kekinian kembali, cukup membolak-balik memori pembaca namun tidak menimbulkan kerancuan. Juga setting tempat yang beragam mengajak pembaca berekreasi antar pulau bahkan antar negara. Mulai dari Pulau Bungin Sumbawa, Surakarta Jawa Tengah, Jakarta, London Inggris, Paris Perancis. Seperti kelebatan peristiwa di cakrawala kehidupan penuh imajinasi yang rekreatif, edukatif sekaligus inspiratif.
Kuatnya karakter tokoh dalam buku ini membuat garis tegas pemisah antara tokoh protagonis pada diri Sri Ningsih dan tokoh antagonis pada sosok Sulastri dan Nusi Marata. Walaupun ada sedikit rantai cerita yang terputus dari seorang Tilamuta. Tilamuta termasuk tokoh penting dalam buku ini, tetapi karakternya tidak tergambar dengan jelas. Demikian pula dengan keterkaitan antara proses pemasungan dan kabar mutilasi Tilamuta yang dilakukan Sulastri dan gerombolannya masih menjadi misteri yang menyisakan teka-teki bagi pembaca.
Kekejaman Nusi Maratta dan Sulastri adalah gambaran manusia yang kehilangan kemanusiaan karena menentang takdir. Sebaliknya sosok Sri Ningsih adalah pemeluk takdir yang setia sehingga keluhuran akhlaknya membuat jatuh cinta siapapun yang pernah bertemu dengannya. Meskipun demikian tetap ada orang yang menaruh dendam pada Sri Ningsih, yaitu orang yang terbunuh hatinya oleh dendam dan tidak berani menatap kebenaran.
Sri Ningsih digambarkan sebagai seseorang bertubuh gempal, pendek dan hitam, tetapi keindahan akhlak dan kesucian batinnya membuat pembaca lebih dominan melintaskan sosok Sri Ningsih sebagai tokoh yang cantik dan menyenangkan. Ini menjadi tanda bahwa inner beauty itu ada dan nyata. Meskipun Sri Ningsih sering merasakan takut untuk jatuh cinta karena tidak percaya diri dengan kecantikan jasadnya, tetap Alloh hadiahkan seseorang untuk jatuh cinta padanya. Pemuda Eropa, muslim yang taat, berwajah tampan dan berbadan tegap. Di sini terasa benar kasih sayang Yang Maha Pencipta, Sri Ningsih yang cantik batinnya bukan wanita pembawa fitnah karena keindahan fisiknya.
Roman ini memberi banyak hikmah bagi pembacanya, betapa kemampuan memeluk takdir adalah keterampilan batin yang harus dimiliki setiap orang yang ingin hidup diatas garis fitrah kemanusiaan. Sebaliknya menolak takdir hanya akan membuat seseorang berburuk sangka pada Tuhan dan lebih jauh dari itu berakhir pada menafikan keberadaan Sang Penentu Takdir.
Dengan cerdas tanpa menyebut ideology tertentu, penulis ingin mengungkap akar permasalahan kejadian bersejarah di tahun 60-an. Sebuah pengkhianatan yang membuat pembaca melek sejarah yang sejak reformasi ingin dibelokkan oleh orang-orang yang seideologi dengan Sulastri. Bahkan sejarah itu perlahan dihapuskan dari benak generasi yang terlahir sejak 1998 hingga kini. Karya Sastra ini dengan apik mengungkap kembali apa yang telah terjadi di tahun 1965 tanpa menyinggung secara eksplisit para pelaku pengkhianatan itu.
Pelajaran lain yang dapat kita tarik dari buku ini bahwa membaca buku harus disertai bimbingan guru. Jangan pernah lelah untuk bertanya ketika terdapat hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang telah kita pahami sebelumnya. Belajar dari buku tanpa guru dapat menimbulkan kerancuan pahaman seperti yang dialami Musoh. Seorang santri kepercayaan Kiai Ma’sum dapat dengan mudah tergelincir bila enggan menanyakan keanehan dari buku yang dibacanya.
Sumber dosa manusia yang dicontohkan oleh Iblis adalah sifat sombong, iri dengki dan berputus asa dari rahmat Alloh SWT. Karakter yang mewakilnya ada pada diri Musoh. Kesombongan yang menolak kehadiran orang yang lebih baik darinya yaitu Arifin. Iri dengki ketika ada orang lain yang memperoleh kenikmatan yang dulu pernah didapatinya juga keputusasaan menjauhi kehidupan yang baik menuju kehidupan bergumul dengan ajaran sesat menambah keterpurukan seorang Musoh. Tidak cukup dengan keterpurukan dirinya, diajaknya sebanyak mungkin orang menelan mentah-mentah fitnahan yang disebarkannya tentang Kiai Ma’sum. Pengungkapan fakta dan kebenaran dari Pak Anwar pun tidak sedikitpun menyadarkan kekeliruan pandangannya. Inilah ciri karakter mereka yang termakan bisikan Iblis yang pada dasarnya selalu menginginkan kesengsaraan jenis manusia. Dendam yang abadi hingga hari pembalasan.
Akhirnya…..buku ini bisa dijadikan rujukan pengungkapan sejarah pengkhianatan G-30-S kepada generasi muda. Dengan harapan, kejernihan hati saat membaca buku ini dapat menyatukan pandangan terhadap peristiwa dahsyat yang teramat penting. Bahwa kekejaman itu pernah terjadi, bahwa ideologi kiri adalah penyebabnya. Bahwa ajaran itu bisa merasuki siapa saja walaupun berpredikat santri dan kepercayaan kiai sekalipun. Selagi kita belum mampu mengalahkan sisi kehendak diri untuk memeluk takdir dan mengikuti kehendak Tuhan dengan penuh kerelaan, peluang ketersesatan itu tetap ada.
Kecuali bagi mereka yang rela menyerahkan dirinya pada kehendak Tuhan sebagaimana firmanNya: “Radhiallohu ‘anhum wa radhu’anhu, dzaalika liman khosyiya Rabbah”. (Tuhan ridha pada mereka dan mereka ridha pada Tuhan mereka, yang demikian itu bagi mereka yang memiliki rasa takut pada Tuhannya)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya


Komentar
Posting Komentar