MAHKOTA UNTUK AYAH-OUTLINE NOVEL

PEMBUATAN OUTLINE CERITA ANAK

Judul               : Bacaan Ayat Amanda
Alternatif judul           :
1.  Hafalan Ayat Amanda
2.  Mahkota untuk Ayah
3.  Bakti Cinta Amanda

Kelebihan Naskah: 
      1.      Mengisahkan fitrah murni seorang anak yang mampu mengalahkan kesombongannya untuk bergaul dengan sesama dengan strata ekonomi yang lebih rendah daripada dirinya.
      2.      Mengungkap makna kebahagiaan sejati yang dimunculkan oleh ketenangan bukan kekayaan dan kemewahan
      3.      Tentang kegigihan seorang anak dari keluarga awam tentang agama, sehingga dapat menumbuhkan kecintaan pada agama tanpa dukungan dari orang tua
      4.      Mengungkap peran anak dalam menghadirkan kesadaran beragama pada orang tuanya
      5.      Terinspirasi dari kisah nyata para penghafal Alqur’an

Buku Pembanding:
1.      Sembilan Metode Menghafal Alqur’an
2.      Kisah para Belia Penghafal Qur’an

Target Halaman : 100-120 halaman

Daftar Isi:
BACAAN AYAT AMANDA

1.                  Duka Hati Amanda
Amanda sebagai anak tunggal selalu merasa kesepian.  Di rumahnya ia hanya ditemani oleh pembantu yang sekaligus juga teman sekelasnya yang bernama Sufiah.  Ayahnya sibuk bekerja di kantor dari jam 06.00 untuk menghindari kemacetan dan pulang jam 11.00.  Sedangkan sang Ibu seorang pengusaha yang membawahi bisnis frencise kuliner dengan banyak mitra.  Kesibukannya membuat Sang Ibu hanya sempat menyiapkan sarapan, untuk pergi ke sekolah bersama dan pulang larut malam juga.  Akhirnya hanya Sufiah yang memahami keadaannya.  Sering menghiburnya dan mengajak Amanda pergi ke rumahnya.
2.                  Keluarga Lain Amanda
Kebaikan hati Sufiah untuk selalu mengajak Amanda ke rumahnya sedikit menghibur Amanda.  Ayah-Ibunya tidak keberatan Amanda menghilangkan kesepiannya dengan mengisi penantian kepulangan orang tuanya di rumah Sufiah.  Keluarga Sufiah sudah lama akrab kerabat dengan Keluarga Amanda.  Karena Ayah Amanda selalu berkonsultasi pada Kakek Sufiah sebagai pembimbing spiritualnya, terutama saat mendapati masalah dalam kehidupannya.  Atau pada saat ada keinginan meraih sesuatu, Ayah Amanda sering kali bertanya pada Kekek Sufiah.
3.                  Hari Pertama Mengaji
Keluarga sederhana Sufiah yang baru Amanda kenal lebih dekat ternyata mengelola kegiatan mengaji ba’da Maghrib.  Amanda bersama tiga puluh santri yang lain belajar bersama-sama.  Secara bergiliran anak-anak itu menyetor bacaan iqronya.  Ada pula ya sudah bisa membaca Alqur’an.  Sebagian sudah menyetor hafalan qur’an pada ayah Sufiah.  Berbagai rintangan Amanda alami.  Termasuk bully dari mereka yang menganggap Amanda terlambat belajar Alqur’an.  Amanda baru belajar sampai iqro tiga sedangkan teman-teman seusianya sudah mulai menghafal Juz Amma.  Berbagai rintangan berat mampu dihadapi Amanda hingga dia bisa lancer membaca Alqur’an pada bulan keenam setelah ia mulai belajar mengaji.
4.                  Indahnya Hafalan Amanda
Berkat kegigihannya, Amanda sampai pada setoran hafalan pertama.  Di luar dugaan Amanda menyetor hafalan berikut kefahaman arti dari tiap ayat yang dibacanya.  Lebih dari itu Amanda tahu persis posisi ayat, nomor surat dan ayatnya.  Sejak itulah kawan-kawan yang awalnya membully berubah dengan penghargaan atas kemampuannya yang tidak biasa itu.  Bahkan kawan-kawannya banyak yang mencari tahu bagaimana cara dia memperoleh hafalannya
5.                  Keributan yang Tak Biasa
Kenaikan kelas tinggal beberapa hari lagi.  Biasanya ibu tidak pernah protes dengan kebiasaan ayah yang enggan mendampingi Amanda. Namun hari itu, Ibu begitu marah bahkan memaksa ayah untuk menemani Amanda.  Konflik a lot di keluarga Amanda membuat Amanda menawarkan Ibu Sufiah untuk mengambil rapot Amanda. Ibu tidak terima dengan sikap ayah.  Memang hari Sabtu minggu ke tiga bulan Juni, Ibu ada meeting deal friendcise dengan klien yang tidak bisa ditinggalkannya.  Ancaman Ibu meluluhkan hati ayah.  Ayah pun mengalah dan hadir
6.                  Persembahan Amanda
Di sekolah Amanda, sudah menjadi tradisi untuk melngadakan Samenan (pentas kreasi siswa).  Di panggung itu masing-masing siswa yang bersedia menampilkan kemampuannya, berekspresi.  Tarian, nyanyian, baca pusisi, baca cerita, berbagai tarian daerah silih berganti.  Giliran Amanda di panggil.  Sebelum pementasan, Amanda memanggil Guru Mengaji untuk mendampinginya di atas panggung.  Semua bertanya-tanya mengapa harus dengan gurunya.  Amanda bermaksud meminta bantuan dari gurunya untuk menguji hafalannya.  Pertunjukan menghafal Alqur’an membuat banyak orang tua terpukau dan berdiri untuk bertepuk tangan.  Sebaliknya ayah tampak kecewa dengan pilihan Amanda memanggil guru mengajinya.
7.                  Mahkota untuk Ayah
Di sesi terakhir, sesuatu yang mengharukan terjadi.  Saat sesi wawancara dari MC yang juga guru agama Amanda, terjadi dialog seorang anak yang demikian mendamba cinta orang tuanya.  Di sela-sela dambaannya, ia telah mampu menyematkan cinta dan doa yang besar untuk kedua orang tuanya.  Amanda menyampaikan bahwa ia ingin berkumpul dengan kedua orang tuanya sebagaimana Sufiah. Amanda ingin kesepiannya hanya di dunia saja.  Di akhirat ia ingin kumpul bersama selamanya di syurga.  Untuk itulah ia bersungguh-sungguh menghafalkan Alqur’an untuk menagih janji Alloh SWT, bahwa seorang anak penghafal Alqur’an akan menjadi penolong kedua orang tua bahkan menyematkan mahkota keindahan pada mereka.  Keharuan menyiram lahir batin sang ayah.  Ayah menghambur ke depan, di atas panggung dipeluknya Amanda dengan deaian air untuk kemudian Amanda digendongnya menuju rumah
8.                  Janji Ayah
Di sepanjang perjalanan Ayah dan Amanda berbincang tentang keutamaan belajar ilmu Alloh SWT.  Ayah pun berjanji bahwa Ayah Ibu  dan Amanda akan bersama-sama mencintai Alqur’an.  Kini Amanda tidak berjuang sendiri untuk meraih keridhoan Alloh melalui Alqur’an.  Ayah dan Ibu membuat komitmen bersama belajar membaca dan menghafal Alqur’an.  Ibu ternyata ada dirumah sedang mengeluhkan penggagalan mitra mereka dalam friencise. Tapi demi melihat video rekaman ayah tentang tampilan Amanda di atas panggung, Ibu menangis haru, meninta maaf pada Amanda dan berjanji untuk mengaji bersama, menympatkan waktu dengan memanggil ustadz mengajar ke rumah mereka.

SINOPSIS:
            Amanda, putri tunggal dari Pak Hardan dan Ibu Mariah.  Amanda seorang anak yang penurut walaupun sebenarnya kurang mendapat perhatian dari kedua orang tuannya.  Sifat baik Amanda justru banyak terilhami dari Sufiah, seorang gadis dari keluarga sederhana namun taat beragama.
Ayah Sufiah bernama Pak Miftah dan Ibunya, Ibu Maimunah.  Keduanya guru mengaji ba’da Maghrib yang mengajarkan Alqur’an dan Iqra’ pada anak-anak kampung sebelah.  Mereka adalah orang-orang langka yang masih tersisa di zaman serba uang dan materialistis ini.  Mereka ikhlas mengajar mengaji tanpa memungut apapun dari mereka yang belajar.
Keakraban Amanda mendapat restu dari ayah-ibu Amanda.  Justru ayah ibu Amanda merasa tenang ketika Amanda bersama keluarga Pak Miftah. 
Hubungan antara keluarga Amanda dan keuarga Sufiah sudah terjalin lama.  Kakek Sufiah menjadi pembimbing spiritual Ayah Amanda pada kondisi tertentu.  Meskipun Pak Hardan tidak begitu mempedulikan praktik agama, untuk amalah wajib masih dikerjakan dengan kualitas asal gugur kewajiban.  Peran Abah Hasan, kakek Sufiah cukup besar dalam hal ini.  Akan tetapi untuk belajar ilmu agama lebih serius, belum dilakukannya termasuk memperhatikan pendidikan agama untuk Amanda.
Keluarga Sufiah seolah menjadi penyeimbang bagi kedahagaan cinta Amanda.  Sekolah di SD yang sama mereka belajar.  Sufiah dan Amanda pulang ke rumah Amanda untuk membereskan semua kerja-kerja rumah kecuali memasak.  Setelah Asar, mereka menuju rumah Sufiah hingga Isya.  Amanda menunggu dijemput Ibu Mariah untuk pulang dan tidur di rumah.
Ba’da Maghrib menjadi waktu yang cukup menyenangkan buat Amanda.  Sampai memasuki umur 10 tahun, Amanda belum mengenal huruf Hijaiyah.  Ia memberanikan diri untuk mengaji bersama anak-anak yang lain.  Seumur Amanda sudah banyak yang bisa membaca Qur’an.  Beberapa baru sampai Iqro 4.  Akan tetapi Amanda baru mulai dari jilid satu.
Perlakuan beberapa teman yang membulinya hampir membuatnya berhenti.  Tetapi dilawannya bisikan buruk dalam hatinya, terganti dengan bisikan baik ketika Amanda menanggapi perlakuan buruk itu hanya sebagai candaan biasa.
Ternyata Amanda anak yang cukup cerdas dan tekun.  Dalam waktu satu bulan ia sudah mengalahkan mereka yang terlebih dulu belajar.  Saat yang lain inginnya hanya 3 baris, Amanda ingin selesai dua lembar.  Lembaran-lembaran itu dia baca dengan lancar.  Kalau tidak dicegah untuk tidak tergesa-gesa, Pak Miftah agak kesulitan  untuk menghentikan bacaan Amanda.
Selesai Iqro, Amanda memasuki kelompok membaca Alqur’an dan menghafal juz Amma.  Di rumahnya Amanda rajin mengakses untuk mencari informasi tentang bagaimana menghafal Alqur’an.  Ketertarikannya pada menghafalkan Alqur’an mengantarkannya kenal pada metode menghafal Alqur’an yang dikemukakan oleh Ust Adi Hidayat.  Ustadz muda yang mumpuni dalam bidang hadits dan perbandingan mahzab, hafal alqur’an hingga makna, tafsir dan posisi ayatnya.  Amanda begitu antusias dan terobsesi memiliki kemampuan seperti ulama favoritnya itu.
Melalui Pak Miftah, Amanda mendapatkan Alqur’an khusus yang mengantarkannya untuk hafal juz Amma dengan sempurna.  No ayat, makna dan posisinya seolah melekat dalam ingatannya.
Waktu kenaikan kelas menjadi waktu yang traumatik buatnya.  Keributan antara ayah dan ibu hampir tidak bisa dihindari.  Keharusan mengambil rapot oleh orang tua yang menjadi penyebabnya.  Biasanya setelah percekcokan alot, ibu yang akhirnya mengalah untuk mengambil rapot Amanda. Dengan satu alasan, ayah terikat jadwal kantor yang tidak ada liburnya.  Sementara ibu lebih leluasa karena kegiatannya hanya mengontrol outlet. 
Akan tetapi kali ini berbeda, ibu benar-benar tidak bisa kompromi.  Dengan satu ancaman,  ibu memenangkan pertentangan hari itu.  Berpisah kalau ibu gagal menjalin kerjasama francise dengan koleganya.  Akhirnya ayah pamit dari kantor untuk mendampingi Amanda.
Berada di tempat tak biasa, membuat Pak Hardan tidak nyaman.  Tampilan lucu anak-anak dengan kemampuannya masing-masing itu tidak dinikmatinya sama-sekali.  Tarian, baca puisi, baca cerita, pidato, terasa begitu lama.  Hingga tiba saatnya panggilan untuk Amanda.  Amanda naik ke panggung dengan gaun muslimahnya yang anggun.
Sebelum menampilkan kemampuannya, Amanda meminta Pak Miftah untuk menaiki panggung.  Mengapa Amanda meminta Pak Miftah bukan Pak Hardan, karena Amanda membaca utuh ayat yang dihafalnya sedangkan Pak Miftah menguji pemahaman Amanda tentang nomor ayat, makna dan posisinya.  Pak Hardan kecewa dengan perlakuan takzim Amanda yang diberikan pada Pak Miftah, bukan pada dirinya.
Semua yang hadir terkesima dengan kemampuan Amanda yang tidak biasa itu.  Hingga yang hadir pun penasaran ingin mengetahui bagaimana Amanda bisa menghafal dengan baik.  Ada hal yang menyentuh hati Pak Hardan ketika ada yang menanyakan alasan Amanda menampilkan hafalannya.
Amanda menjawab dengan satu hal yang sangat mengharukan.  Diawali dengan pemahaman Amanda dari Pak Miftah tentang nasib manusia di hari Akhirat.  Perjalanan yang berat diceritakan hingga membuat semua yang hadir menitikkan air mata haru.  Satu hal yang menyentuh hati Pak Hardan, bahwa selama ini Amanda seolah kehilangan kedua orang tuanya.  Ia tak ingin rasa sakit kehilangan orang tuanya terjadi juga di akhirat.  Untuk itu ia bercita-cita menghafal Alquran yang dijamin Alloh SWT dapat bertemu dengan orang tuanya.  Bahkan ia bercita-cita menyematkan mahkota di atas kepala ayah dan bundanya.
Mendengar niat tulus Amanda, Pak Hardan menangis penuh haru.  Disusulnya Amanda di atas panggung, dipeluk dan digendongnya menuju ke mobil untuk pulang.  Pak Hardan tak mampu menahan keharuan dan khawatir tangisnya pecah di sekolah. 
Mereka segera menuju rumah,  Ternyata rekan ibu membatalkan pertemuan hari ini karena sesuatu hal.  Pak Hardan menunjukkan vedio tampilan Amanda.  Ibu tak mampu menahan air mata bahagia dan keharuan. 
Saat itu juga mereka berkomitmen memanggil Pak Miftah menjadi guru untuk keluarga mereka.  Amanda tersenyum bahagia akhirnya ayah dan ibu mengikuti jejaknya mendekati kalam Alloh SWT.




Biodata Penulis

Nama lengkap  :     Titin Harti Hastuti, S.P
Ponsel               :    087827619101
Pos-el                : khadijahhanif313@gmail. com
Akun Facebook :    Titin Harti Hastuti
Alamat kantor :    Pesantren Terpadu Nurul Amanah, Jalan Raya tasikmalaya-Garut Km 31 Rancak Neglasari Salawu Tasikmalaya 46471
Bidang keahlian     :    Guru IPA dan FISIKA




Riwayat pekerjaan/profesi (10 tahun terakhir):
1.    1997-kini : Guru IPA dan Fisika
2.    2007-kini : Bagian Kurikulum Pesantren Terpadu Nurul Amanah
3.    2007-kini : Pembimbing Sanggar Sastra Pesantren Terpadu Nurul Amanah
4.    2007-kini: Perintis buletin pesantren Annasihah
5.    2013-kini: Pengurus Yayasan Aminul Ummah Wanaraja Garut
6.    2016-kini : Perintis Literasi Sekolah di Pesantren terpadu Nurul Amanah
7.  2016-kini: Pengurus Tabab (Taman Baca Abu Bakar)

Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
1.    S-1: IPB Angkatan 1992

Informasi Lain:
Lahir di Temanggung, 11 Desember 1974. Telah menikah dengan Muhammad Erwin Kurniawan Al Fatih dan berputera tiga (Siti Sofuroh Al Mujaddidah, Muhammad Usamah Syamil Abdullah dan Muhammad Muyasar Nashir Abdullah). Menggeluti hal-hal yang berbau sastra, kependidikan dan pengembangan pesantren. Aktif dalam organisasi dakwah dan keguruan.


CONTOH NASKAH
DUKA HATI AMANDA

              Rumah besar dan indah kadang tidak menjanjikan kebahagiaan para penghuninya.  Seperti juga yang dialami keluarga Amanda.  Rumah besar berlantai dua, bercat dominan biru pastel.  Bagian pintu dan jendela becat merah marun.  Lantai pertama seluas 15 x 15 meter itu memiliki satu ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan ruang makan, tiga ruang tidur yang lengkap dengan kamar mandi.  Belum lagi lantai atas dengan tiga ruang tidur serupa, di bagian tengah ada ruangan luas untuk bermain.  Rumah itu terlalu besar untuk dihuni tiga anggota keluarga.  Lantai dua lebih sering hanya dipakai ketika ada pertemuan keluarga besar ayah atau ibunya di saat lebaran atau liburan sekolah.
              “Amanda,  Ibu pulang lebih malam hari ini.  Jadi sabar dulu kamu tinggal di rumah Sufiah sampai ibu jemput.  Kalau kamu terlalu mengantuk, tidur aja.  Biar Pak Farid gendong kamu  ke mobil.”  Ibu berpesan satu hari.
              “Ibu ada kesibukan apa hari ini?”
              “Ada pembukaan outlet baru bisnis kuliner Ibu.  Tempatnya di kabupaten sebelah, jadi agak lama.”
              “Sebenarnya ada tugas yang harus dikumpulkan besok.  Manda pingin dibantuin sama Ibu. Pasti Ibu bisa.  Ada bahan-bahan yang harus disediakan.”  Amanda menyampaikan keperluannya dengan hati-hati.  Sambil berharap ibu tidak akan marah
              “Tugas itu sejak kapan Manda terima?”
              “Seminggu yang lalu.”
              “Manda, kenapa baru bilang.  Kalau jauh hari kamu bilang keperluan kamu, pasti udah ibu sediakan.  Kalau hari ini Ibu tidak akan bisa bantu Manda.  Makanya jangan lalai apalagi malas.  Ibu bisa sukses seperti sekarang karena terbiasa kerja rapi, tidak menunda-nunda pekerjaan.  Begitu ada tugas langsung dikerjakan! Nggak seperti kamu!  Tugas seminggu baru kepikiran sekarang!”
              Ibu terus mengungkap kekesalannya pada Amanda.  Hatinya kesal kenapa Amanda baru bicara tentang tugasnya sekarang.  Meskipun ada juga rasa sesal karena tidak bisa membantu meringankan tugas anaknya.  Antara kesal dan kasihan, namun justru mengucapkan hal yang membuat Amanda makin bersedih.
              ‘Ibu, bukannya Amanda melalaikan tugas, Amanda sudah berusaha.  Saat Amanda benar-benar tidak bisa, Amanda terpaksa bilang sama Ibu.  Bukankah Ibu yang selalu bilang Amanda harus berusaha dan jangan mudah menyerah?  Amanda juga paham bahkan kasihan melihat Ibu sibuk terus. Manda nggak ingin merepotkan Ibu.’  Amanda membatin sedih.  Apa yang dilakukannya seolah tak sejalan dengan Ibu. 
              Air mata yang ditahannya menetes juga.  Segera disekanya air mata itu supaya tidak ketahuan ibunya.  Ibu pasti akan memarahinya bila ketahuan menangis. 
              “Kamu menangis, Manda?” 
              “Tidak, Bu. Nih lihat nggak ada air mata kan?”  Amanda pura-pura tersenyum, mengubah wajah sedihnya.  Ia paham benar kalau dia menangis maka ibu akan menasehatinya dengan kata-kata pedas.
              “Meskipun kamu perempuan, kamu nggak boleh mudah menangis.  Ketegaran ketika kita bermasalah itu penting.  Ibu dari dulu susah dan biasa mendapati kesedihan.  Ibu nggak pernah nangis, makanya lihat sendiri sama kamu, Ibu bisa meraih banyak hal yang Ibu inginkan.  Kamu harus tahu, Amanda.  Ibu dulu hidup perih.”
              Kalau Ibu Mariah sudah bercerita masa lalunya, tidak ada yang bisa menghentikannya.  Tentang keluarga besarnya yang serba susah.  Tentang tugas-tugas yang dibebankan padanya.  Tentang jualan kantong di pasar untuk menambah penghasilan orang tuanya.  Dan Amanda selalu mendengakan dengan setia.  Tumbuh benih-benih kekaguman pada sosok ibu yang menurutnya sangat kuat.
              Amanda memilih untuk diam. Mencoba memaklumi semua yang harus diterimanya. Kadang ia ingin seperti Sufiah yang selalu dekat dengan abi dan umminya.  Yang bila ada keluhan selalu terjawab oleh  kedua orang tuanya.  Namun rasa syukur atas fasilitas yang dia terima dari ayah dan ibu.  Segala kemudahan yang ada membuatnya berhenti menyalahkan ayah dan ibu.
              Kemudahan antar jemput saat pergi sekolah.  Amanda tidak harus bersusah payah, berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk sampai ke sekolah seperti yang dialami beberapa temannya yang lain. Sebagian karena tidak punya cukup uang saku.  Sebagian memilih uang transportnya dipakai untuk membeli pulsa.
              Memang memprihatinkan, saat kebutuhan membeli pulsa jadi prioritas mengalahkan kebutuhan lain yang lebih penting.  Mending kalau mereka bisa menggunakan internet dengan baik.  Kalu tidak….apapun bisa masuk ke kepala meeka.  Sungguh pertarungan yang berat untuk anak usia SD seperti Amanda dan kawan-kawannya.
              Kembali ke Amanda dan Ibu.
              “Keperluan kamu buat mengerjakan tugas akan Ibu penuhi.  Kira-kira apa saja yang harus kamu beli?”
              Amanda kebingungan kalau harus menyebutkan harga seluruh kebutuhannya.  Sebenarnya bukan ini yang dia mau. Amanda ingin Ibu menuntunnya mencari bahan yang sesuai.  Bersama-sama mendiskusikan tugas untuk hasil terbaik.
              “Kok kamu diam saja, Manda? Jangan-jangan kamu tidak tahu apa yang harus kamu beli.  Apalagi berapa kebutuhannya.”
              Amanda tetap diam, guratan sedih diwajahnya hampir membuatnya menangis. Sementara Ibu Mariah menyetir mobil sambil sesekali menengok wajah putri sematawayangnya.
              “Nggak papa kok Bu, Manda akan mendiskusikannya dengan Sufiah, sepulang sekolah nanti.”
              “Ya sudah, ini ibu kasih uang buat menyediakan bahannya.  Kalau kalian kesulitan bisa minta tolong  sama Bu Maimunah, Ummi Sufiah.”  Ibu Mariah mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu dari dalam dompetnya.
              “Kalau begitu, Manda minta izin untuk Sufiah nggak kerja hari ini ya, Bu…” 
              “Wah nggak bisa, Ibu hanya member izin setelah Asar. Sepulang sekolah, Sufiah harus tetap kerja di rumah.  Ibu nggak mau pulang kerja semua masih berantakan.”
              Begitulah keseharian Amanda.  Berangkat ke sekolah diantar Ibu.  Pulang sekolah dijemput oleh sopir ayah.  Dia pulang bersama Sufiah yang bertugas menemaninya di rumah besar itu sambil melakukan kerja-kerja rumah selain memasak.  Mereka berdua mencuci perabot, mencuci baju,  menyetelika, menyapu dan mengepel. 
              Sebenarnya Amanda tidak harus membantu Sufiah.  Kelembutan hati Amanda membuatnya selalu saja membantu Sufiah.  Mereka menyelesaikan rumah bersama-sama.
              “Sekarang pembagian tugas ya.”  Amanda membagi pekerjaan Sufiah supaya tidak terlalu berat.
              “Nggak usah Manda, ini pekerjaan aku.”
              “Nggak mungkin aku membiarkan teman terbaikku melakukan kerja-kerja rumah sendirian.  Mending aku main aja keluar rumah.  Biar nggak ngeliat kamu kerja sendiri”
              “Jangan.  Nanti aku kena marah ibumu.  Aku disini bertugas nemenin kamu juga.  Begini aja kita bareng kerjanya.  Sama aja kan?”
              Setiap harinya, waktu kerja Sufiah hanya sampai Maghrib.  Selepas Maghrib, Amanda ikut ke rumah Sufiah.  Jarak rumah mereka tidak sampai 1000 meter.  Melewati jembatan perbatasan kampung.  Dua kampung yang berdekatan. Meskipun dekat namun kondisi sosial ekonominya sangat berbeda.  Kampung Amanda dihuni orang-orang kelas menengah keatas, sedang kampung Sufiah menengah ke bawah.  Sebagian malah masih di bawah garis kemiskinan      Bila malam mulai larut, biasanya jam sembilan malam atau bahkan lebih. Ibu Mariah akan menjemput Amanda dari rumah Sufiah.
              Sore ini tidak seperti biasanya.  Amanda mengajak keluar rumah sesudah Asar. Mereka berdua berada di ruang tidur kosong di lantai dua.  Mereka tata ruang itu untuk dijadikan mushola. 
              “Alhamdulillah, lega rasanya sudah sholat Asar,” ucap Sufiah yang menjadi imam untuk sholat berjamaah Asar.
              “Sufi, kamu sudah selesai mengerjakan tugas keterampilannya?”
              “Aku udah selesai sejak empat hari lalu.”
              “Kamu kerjakan sendiri?”
              “Nggak, aku dibantu Ummi.  Ummi yang memperkirakan kebutuhan dan membelikannya di warung.  Kalau nggak ada ummi belanja ke pasar.”
              Amanda terdiam sambil melipat mukena yang mereka pakai.  Rasanya tak sanggup ingin meneruskan pertanyaan berikutnya.  Seperti biasa kalau mereka sudah berbincang tentang keluarga mereka masing masing, berakhir dengan iri di hati Amanda dan kasihan menyusup di hati Sufi.  Beruntung Sufiah seorang anak yang salehah.  Bila Amanda kesusahan Sufiah selalu menawarkan bantuan.  Sebagaimana Amanda yang selalu membantu Sufiah kerja-kerja di rumah Amanda.
              “Kamu sampai dimana mengerjakan tugasnya?’  Sufiah memecah kekakuan.
              “Aku sama sekali belum mulai.  Kamu tahu sendiri bagaimana sibuknya ibuku.”
              “Tenang Manda, bahan-bahan yang dibelikan Ummiku masih tersisa dan cukup untuk membuat satu barang lagi.”
              “Hebat ya,  ummi kamu.  Kalau aku boro-boro, satu pun tidak.”
              “Nggak gitu juga Manda, ummi beli dua karena takut barang yang udah jadi dirusak sama adik-adikku yang masih kecil.  Pernah dulu ummi Cuma beli satu, ternyata diacak-acak sama Salman dan Riza.  Akhirnya ummi mencari gantinya dengan susah payah.”
              Amanda sudah tidak sabar mengerjakan tugas keterampilan di rumah Sufiah. Pekerjaan rumah sudah terselesaikan, kecuali menyetelika baju.
              “Sufi, ayolah kita ke rumahmu.  Aku takut tugasku nggak selesai.”
              “Bagaimana dengan setelika bajunya. Ntar ibu kamu marah lagi.”
              “Nggak akan, aku jamin.  Aku udah pamitin kamu sampai Asar aja.  Kata ibuku, aku harus mengerjakan tugas di rumah kamu.  Kalau perlu bantuan ke ummi kamu aja.  Soalnya ibu aku bakal pulang agak malaman.”
              “Kalau begitu, kamu harus tambah bekalan.  Bukan hanya mukena,  tapi juga alat mandi.”
              “Siiip, udah aku masukan ke tas punggungku.”
              Mereka bergegas menumpuk pakaian kering yang telah selesai di lipat ke ruang setelika.  Semua pintu ditutup dengan rapi.  Terakhir pintu gerbang depan setinggi dua meter.bercat besi merah marun.  Mereka tinggalkan rumah besar yang dikelilingi tanaman pagar hijau setinggi dua setengah meter itu.  Makin sepi saja bangunan itu tanpa penghuni.
              Saat-saat seperti inilah yang menceriakan hati Amanda.  Keluar dari rumah yang sama sekali tidak menjanjikan bahagia.  Rumah yang penghuninya tidak saling menyapa hangat.  Yang dirasakannya hanya tuntutan demi tuntutan untuk selalu sempurna dan dewasa.  Jauh dari harapannya sebagai anak yang baru berumur sebelas tahun, yang masih banyak meminta perhatian dan bantuan.



KELUARGA LAIN AMANDA

Tiga tahun yang lalu, Amanda tinggal bersama neneknya.  Usaha yang dirintis ibu mulai maju.  Tidak mungkin Amanda ditinggal sendirian di rumah.  Untuk menitipkan Amanda pada pramusiwi, Ibu Mariah tidak berani.  Maklum waktu itu sedang marak-maraknya kasus trafficking,  penganiayaan oleh babysitter dan berbagai tindak criminal pada anak.
Pak Hardan sering kali menemui Kakek Suti saat ada masalah yang sulit dipecahkannya sendiri.  Kali ini Pak Hardan mengunjungi Abah Hasan untuk kesekian kalinya.
Di ruang tamu sebuah rumah sederhana, tanpa sofa dan meja.  Hanya tergelar karpet usang yang diwariskan dari generasi ke generasi.  Dindingnya bercat putih bersih.  Satu buffet setinggi satu setengah meter, dipenuhi kitab-kitab klasik menghadap pintu masuk.  Meskipun sederhana, rumah itu berkesan sejuk dan menenangkan
“Abah, maaf.   Saya kembali merepotkan Abah.”
“Ada apa Nak Hardan.  Selama Abah bisa membantu, akan Abah usahakan walaupun dengan doa.”
Pak Hardan menceritakan tentang Amanda yang selama ini dititipkan di rumah neneknya, orang tua Pak Hardan.  Ibunya mulai sepuh dan sakit-sakitan, dibawah perawatan kakaknya.  Pak Hardan sudah mendapat keluhan dari kakaknya, sulit merawat Amanda sekaligus merawat Ibu mereka.
“Nak Hardan, sebetulnya saya punya cucu sebaya Amanda.  Rumah kita ini hanya terpisah satu kilometer saja.  Kalau Nak Hardan percaya pada keluarga kami, Amanda bisa dititipkan di sini sampai Nak Hardan pulang kantor.”
Seperti mendapat solusi jitu, Pak Hardan berkali-kali mengucap terima kasih.


Referensi:
      A.    Judul: Journey Through The Quran (Pengembaraan Meniti Mutiara Al-Qur’an (Panduan Praktis Memahami 114 Surat dalam Al Qur’an dengan Mind Map)
Penulis: Aharif Hasan Al Banna
Penerbit: Cordoba International-Indonesia-BANDUNG
Tahun Terbit: 2016
Jumlah Halaman: 478 h
      B.     Judul: 9 Cara Praktis Menghafal Alqur’an
Penulis: H. Sa’adulloh SQ
Penerbit: Gema Insani Press
Tahun Terbit: 2008

Jumlah Halaman: 120 h

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA