PESAN CINTA KAMPUNG NAGA-SEBUAH NOVEL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL NUSANTARA
KATA PENGANTAR
Pujian hanya
milik Alloh SWT, yang telah memberikan irodahNya kepada penulis sehingga buku
sederhana ini dapat terselesaikan.
Dalam menulis
kisah budaya ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, antara
lain Bapak Tatang (Pemandu Wisata Kampung
Naga) beserta Ibu Iis Herlina
yang telah berkenan memberikan informasi seputar Kampung Naga. Lebih dari itu beliau mengizinkan rumah tinggal beliau juga
beberapa lokasi di kampung Naga sebagai
bahan ilustrasi buku ini. Juga kepada Ust. Muhammad Al Fatih (pengasuh
santri Pesantren Terpadu Nurul Amanah) yang telah mendukung sepenuhnya
penyusunan buku ini.
Penulis
menyadari bahwa buku ini masih banyak memiliki kekurangan sehingga penulis
mengharapkan masukan dari pembaca untuk memperbaikinya.
Teriring doa,
semoga buku ini memberi manfaat bagi siapa saja yang membacanya.
Salawu,
12 April 2017
Yang
Dhoif dan Fakir
PENULIS
DAFTAR ISI
Hal
|
|
Halaman Judul………………………………………….....
|
1
|
Kata
Pengantar....................................................................
|
2
|
Daftar Isi…………………………………………………..
|
3
|
1.
Liburan yang
Tak Menyenangkan
|
4
|
2.
Kekaguman
pada Pandang Pertama
|
12
|
3.
Surga Itu
Dekat
|
22
|
4.
Keluhuran
Budaya Naga
|
31
|
5.
Petualangan
di Hutan Larangan
|
46
|
6.
Tangan
Terampil Nan Mempesona I
|
58
|
7.
Tangan
Terampil Nan Mempesona II
|
68
|
8.
Kebimbangan
Masa Depan
|
75
|
9.
Tekad yang
Membara
|
80
|
10. Pesan Cinta Kampung Naga
|
86
|
LAMPIRAN-LAMPIRAN
|
89
|
Biodata
Penulis........................................................................
|
90
|
Glosarium………………………………………………...….
|
91
|
Daftar Pustaka…………………………………………........
|
93
|
Lampiran Foto ………………………………………........
|
95
|
Sumber Foto……………………………………………..…..
|
102
|
LIBURAN YANG
TAK MENYENANGKAN
Bete. Fadli melempar tas sekolahnya diatas dipan
bambu di kamar. Duduk dan membantingkan
tubuh di atasnya. Menimbulkan suara
deritan yang sudah lama akrab dengannya.
Kamar tidur
yang selalu ia terima apa adanya, tiba-tiba terasa menghimpit dan tak
bersahabat. Iseng, disisirnya tiap detail kamar tidurnya. Langit-langit triplek warna kapur putih,
berdinding papan kayu yang dibiarkan tanpa cat hanya plitur. Lantai kayu yang selalu memberi kesan hangat,
justru memojokkannya. Seolah mereka
berkata,” Ini alasan teman-temanmu
membatalkan rencana liburan. Kamu
terlihat miskin dan….mereka nggak yakin kamu bisa berlibur dengan mereka.” Pikiran Fadli makin memojokkannya dalam sudut
kecewa.
‘Rencanaku
buyar semua. Dijamin aku akan pergi ke
sawah tiap hari. Membantu diladang,
mencangkul. Membawa kiriman makanan buat
Abah.’ Fadli bicara pada dirinya sendiri.
‘Bagaimana aku akan dapat bahan artikel touris-port kalau begini
caranya.’
Fadli beranjak
dari dipannya dan mencari selembar pamphlet dari dalam tas sekolah coklat yang
setia menemaninya dua tahun belakangan.
LOMBA MENULIS ARTIKEL. TULISLAH DESTINASI WISATA DAERAHMU YANG PERNAH
KALIAN KUNJUNGI. Berhadiah uang
tunai……..
Dilipatnya
kembali pamflet dengan wajah tertekuk. Fadli
harus mengubur impian memenangkan hadiah yang rencananya akan ia belikan
sepeda. Lumayan mengirit uang jajan
harian.
Ya. Danang dan empat kawannya yang tergabung
dalam five brothers berniat mengisi liburan ke sekitar Kawah Kamojang. Mereka
akan bermalam barang tiga atau empat hari di rumah nenek Bambang, salah satu
mereka berlima. Nenek Bambang memang
tinggal di Samarang-Garut.
Semua rencana
matang yang terurai rinci hingga biaya yang harus mereka sediakan. Seratus ribu untuk transport pulang
pergi. Seratus lima puluh ribu untuk uang
saku.
Dipandanginya cengcelengan kendi tanah liat berbentuk
ayam jago yang hari ini tidak jadi dipecahkannya. Ia masih bertengger gagah di atas lemari kayu
pakaian, di samping jendela kamar. Menatap
mata ayam jago itu seolah meledeknya. ’Ye kamu nggak jadi memecah aku. Masih ada umur aku nampaknya. Bakal setia menemanimu lebih lama. Di kamar
ini.’
***
Tadi pagi di
sekolah setelah penerimaan rapot.
Dua sahabat,
Bambang dan Fadli berjalan menuju tempat yang teduh.
“Fadli, ranking
berapa kamu?” Bambang dan Fadli duduk di
depan kantin untuk melihat-lihat nilai rapotnya.
“Mana ada rapot
sekarang tertulis ranking?” Fadli menjawab santai.
“Memang sih
nggak ada kolom keterangannya. Tapi ini lihat ada coretan angka dengan pensil
di sini.” Bambang menunjuk coretan angka
dengan pensil di sekat nilai rata-rata.
Ternyata Fadli
peringkat dua, naik satu tingkat lebih baik dari semester sebelumnya.
“Selamat
ya?” Bambang menyodorkan tangannya.
“Terimakasih. Kamu sendiri peringkat berapa?”
Bambang tidak
segera menjawab. Tak segera diambilnya
rapot dari tas punggung merah marun miliknya.
“Aku nggak
berani ngeliatnya.”
“Ah…percaya deh
kamu pasti rangking satu, seperti biasanya.”
“Aku nggak
begitu pede, Nang. Masalahnya ujian
akhir semester kemarin ada satu mata pelajaran yang diremidi. Sebenarnya bukannya aku takut menghadapi
kenyataan, tapi kalau aku nggak bisa bertahan di peringkat pertama. Rencana hiking kita ke Kawah Kamojang
terancam gagal. Dengan sangat menyesal
dan aku mohon maaf setulusnya dari kalian”
Fadli ikut
kaget dengan syarat yang selama ini memang tidak mereka ketahui. Bayangan tentang berfoto ria, mengunggah di
medsos dan terutama mengumpulkan bahan tulisan untuk lomba meredup dari
harapannya.
“Siapa tahu
kamu rangking satu, jangan berburuk sangka dulu lah! Biar aku yang melihat kalau kamu nggak
sanggup melihatnya.” Fadli berdiri di belakang Bambang dan membuka tas
punggung milik temannya itu.
Perlahan dengan
penuh rasa berdebar Fadli mengambil buku rapot bersampul plastik merah tua. Dalam hatinya Fadli berdoa sekuat tenaga,’Ya
Alloh semoga Bambang peringkat pertama.’
Dibukanya
halaman demi halaman, semester demi semester. Goresan pensil itu bertulis angka
2-1-1-…….. Tiga.
“Innalillahi wa
inna ilaihi raajiuun” Refleks Fadli
beristirja’ untuk menenangkan hatinya dari ancaman kegagalan hiking bersama.
“Tuh kan…..aku
memang kecewa dengan turunnya peringkat aku.
Tapi aku merasa lebih kecewa dan
bersalah dengan gagalnya rencana kita.
Maafkan aku.”
Bambang
melangkah gontai mencari anggota five brothers yang lain. Ahmad, Danang dan Miftah. Dengan berat hati Ia menjelaskan pada keempat
sahabatnya itu. Ada kecewa di wajah five
broters tapi mereka tetap berusaha tersenyum agar Bambang tak bersedih
berkali-kali di samping peringkatnya yang sedang turun.
“Tidak
apalah. Kita bisa merencanakan hal lain
atau menundanya lain kali.” “Nggak masalah, semester depan saja biar kamu
tambah semangat belajar buat ranking satu kembali.” “Aku juga diajak ke Bali
sama ayah. Jadi ada dua pilihan buat
aku.” Satu per satu anggota five brothers
memaklumi dan mengerti keadaannya. Hal
ini membuat Bambang tersenyum.
***
Fadli larut
dalam lamunannya. Untuk kemudian pecah oleh bunyi pintu diketuk dari luar.
“Assalamu’alaikum,
Fadli….boleh Teh Maryam Masuk?” Suara
lembut Teh Maryam mengagetkannya.
“Waalaikum
salam. Lho Teteh, Kapan pulang dari
Jogja?” Fadli terkejut kakak semata
wayangnya sudah berada di rumah. Rupanya perasaan kecewanya membuat Fadli tak
begitu menyadari tanda-tanda kedatangan sang kakak. Selama ini Teh Maryam
kuliah dan kos di Jogjakarta. Mahasiswi
semester enam di sebuah universitas
ternama di kota itu.
“Tadi Teteh
sampai jam sembilan. Kamu masih di
sekolah. Kata Emak hari ini kamu terima rapot. Bagaimana prestasimu.”
Fadli tidak
banyak bercerita. Diambilnya rapot dan
diserahkan pada Teh Maryam.
“Prestasimu
bagus tapi ada apa kamu terlihat murung begini?”
Fadli
mengungkapkan perasaan kecewanya pada Teh Maryam. Sosok cantik dan shalehah di depannya
tersenyum mendengarkan dengan setia curhat adik satu-satunya itu.
“Masya Alloh,
itu permasalahannya?! Teteh punya
ide. Bagaimana kalau kamu temenin Teteh observasi
ke Kampung Naga? Teteh memang ada tugas
dari kampus untuk mengunjungi masyarakat adat yang masih melestarikan budaya
tradisional.”
Fadli berusaha
mengingat-ingat nama kampung yang pernah beberapa kali didengarnya. Bibi Nury, adik Emak yang tinggal di
Tasikmalaya pernah sedikit bercerita tentang kampung itu.
“Jadi kita
nggak perlu khawatir tentang tempat menginap.
Bibi Nury akan senang kita kunjungi.
Kita nggak akan merasa canggung karena Bibi Nury bukan orang lain.” Teh
Maryam berusaha meyakinkan Fadli untuk mau bersamanya mengunjungi Kampung Naga
liburan kali ini.
Senyuman Fadli
mengembang kembali. Harapannya untuk
mendapat bahan tentang daerah wisata menyusupi hati. Semangatnya untuk ikut lomba, cita-citanya
meringankan beban pengeluaran transportasi ke sekolah tumbuh lagi.
“Teh, boleh
ngajak teman aku nggak?”
“Boleh, tapi
jangan banyak-banyak satu atau dua orang.
Supaya nggak terlalu ngerepotin Bi Nury.”
Fadli segera
menghubungi satu per satu five brothers.
Bambang tidak ada izin dari orang tuanya. Ahmad sudah berlibur ke rumah pamannya. Miftah membantu orang tua yang sedang sibuk
panen. Terakhir Danang yang ternyata bersedia.
“Nang, jangan
lupa bawa kamera LSR kamu ya, aku butuh buat ngambil obyek.”
“Tenang aku
dukung penuh rencanamu ikut lomba nulis. Tapi jangan lupa kalo menang traktir
aku. Biar aku makin kenceng ngedoain
kamu supaya menang.” Suara tawa
terdengar dari seberang sana.
“Siiip. Aku
siap nraktir dan doa kamu aku tagih ya.”
Fadli tak mampu
menahan suka cita. Senandungnya tak
henti-henti kecuali setelah rasa lapar menggodanya untuk makan siang ini.
KEKAGUMAN PADA
PANDANG PERTAMA
Siang yang cukup
terik, sebuah minibus menurunkan tiga
penumpang di seberang sebuah pesantren.
Mereka adalah Teh Maryam, seorang mahasiswi Jurusan Teknik
Lingkungan di salah satu universitas ternama di Yogyakarta. Dua anak yang lainnya bernama Fadli adik Teh Maryam
dan Danang teman sekelas Fadli yang masih duduk di kelas lima SD. Mereka mengisi liburan ke tempat wisata untuk
bahan mengikuti lomba, sekaligus
menemani Teh Maryam dalam melakukan penelitian tentang pengaruh kearifan budaya
lokal terhadap konservasi lingkungan.
Teh Maryam
mengamati apa yang diarahkan Bibi Nury melalui medsos yang mereka gunakan. Petunjuk pertama plang besar bertuliskan
Pesantren Terpadu Nurul Amanah, Jalan Raya Tasikmalaya Garut Km. 31.
Menurut informasi
dari Bibi Nury, dari seberang gerbang pesantren itu mereka harus berjalan ke
kiri. Ada jalan kecil ke arah
kanan. Ikuti jalan utama, kira-kira empat
ratus meter, ada bangunan rumah panggung satu-satunya di sebelah kanan jalan.
Setelah sholat
Dzuhur di mushola terdekat, mereka meneruskan rute yang diberikan Bibi Nury
melalui WA. Selang lima belas menit setelah
selesai sholat Dzuhur, mereka sampai di rumah Bibi Nury.
Rumah
itu sederhana dan cukup luas. Bibi Nury
dan Amang Sunarya hanya tinggal berdua karena belum dikaruniai momongan.
Jadi rumahnya cukup untuk digunakan menginap
mereka bertiga.
Baru kali ini
mereka mengunjungi Bibi Nury adik dari Ibu Lala, orang tua Teh Maryam dan Fadli.
Biasanya Bibi Nury dan Amang Sunarya yang mengunjungi orang tua mereka di
Ciamis.
Mereka disambut
ramah oleh Bibi dan Amang. Bukannya langsung memasuki rumah, mereka
malah terkesima oleh jajaran kerajinan anyaman bambu yang beraneka rupa. Ada bentuk mirip dengan vas bunga, piring,
lampion, semua terlihat indah. Uniknya
lagi semua terbuat dari bambu .
“Bibi bagus sekali hasil kerajinan ini. Bibi membuatnya sendiri?” Teh Maryammeletakkan ransel beratnya begitu
saja di
halaman rumah yang masih berupa tanah itu. “Subhanalloh bagus
banget!”
Fadli dan Danang
ikut berdecak kagum pada orang yang sedang menganyam dengan terampilnya.
“Kalian ini baru juga datang sudah terheran heran
dengan warisan ilmu orang-orang Naga.
Hebat bukan?”
“Bukan hebat lagi…. Ini keterampilan yang akan
mendunia terbebas dari krisis energi tidak seperti pabrik yang serba
mesin. Maryam di kuliahan dapat materi
budaya konservatif ternyata ada peradaban yang ramah lingkungan yang masih
bertahan hingga kini.”
“Maryam, kamu ini siga mendakan intan
mutiara. Pirage anyaman awi . Bibi juga sekarang udah bisa lebih dari
sepuluh jenis anyaman. Menikah dua puluh
tahun dengan Amang justru Bibi yang dapat berkah ilmu menganyam. Sekarang kalian istirahat dulu. Baru sampai udah ngeributin anyaman bambu.”
***
Rumah itu terdiri
dari enam ruangan. Satu ruangan besar untuk menerima tamu, tiga ruang tidur,
satu ruang keluarga berada di tengah dan belakang ruang dapur. Ada ruang produksi di luar, di samping kanan
rumah panggung. Sementara MCK berada di halaman belakang. Antar sumur dan jamban terpisah agak
jauh. Tidak ada rumah lain yang dekat
rumah bibi, tetangga terdekat sekitar seratus meter.
Kerimbunan pohon menghijau membuat suasana sejuk makin pekat.
Teh Maryam
mendapat bagian kamar sendirian terpisah dari Fadli dan Danang. Mereka menikmati kesederhanaan namun bersih
dan asri itu. Tidak ada dipan dan perabotan mewah. Rak pakaian pun terbuat dari
bambu yang dianyam amat arsistik.
“Kalian makanlah
dulu, pasti kalian lapar dari Ciamis ke Rancak ini cukup jauh. Bibi pikir dua sampai tiga jam perjalanan
kalian sampai kemari.”
Mereka bertiga
hampir bersamaan menyerbu hidangan. Ada ikan goreng , aneka lalap, sambal
terasi-tomat, dan ayam kampung goreng.
Menggugah selera makan mereka.
“Masyaallah Bibi……
mewah sekali makan siangnya. Kami bertiga merepotkan, ya?!” Teh Maryam memandang Bibi dengan rasa bersalah .
“Merepotkan kumaha semua ini Bibi petik
dari perkarangan belakang rumah. Memang Amang selalu berpesan selagi bisa
tangan kita mengais rejeki selagi alam masih menyediakan air dan tanah
subur, tanam apa yang bisa kita
tanam. Ikan, ayam, sayur sayuran semua
Amang yang memelihara.
“Wah, Mamang dan Bibi ternyata pasangan ideal. Bibi pandai menganyam dan memasak, paman yang
menanam dan memeliharanya. Jangan-jangan bambu untuk anyaman itu paman juga
yang menanam.’ Fadli bicara dengan polosnya.
“Betul Fadli, lihat itu rumpun bambu di bawah
sana. Itu hasil karya Amangmu.” Bibi
Nury membuka lebar jendela samping ruang makan.
Sejauh mata memandang tampak sawah, rumpun bambu dan pepohonan
menghijau.
Mereka memandangi
rumpun bambu yang terlihat indah dari kejauhan di lembah yang lebih dalam. Lebih dari satu kilometer semua gundukan
rumpun bambu itu menyuarakan keindahan alam pedesaan yang penuh nasihat
kebijakan .
***
Malam ini udara
sejuk Kampung Rancak mengigit tulang. Suara alam, jangkrik, katak, tongeret bersahutan membuat irama yang
indah luar biasa. Rembulan berwajah
penuh, tersenyum menjalani ketaatan pada Sang Pencipta dan Pengatur segalanya.
Fadli memendam
sejuta tanya pada Teh Maryam atas apa yang terjadi siang hari ini. Ekspresi kekaguman yang tak pernah dimengerti
Fadli hingga Bibi Nury menganggap Teh Maryam seolah menemukan bongkahan
mutiara.
“Assalamualaikum…kak belum
istirahat?,” Fadli mengetuk pintu penuh
sopan santun. Memang segala kebaikan
akhlak Teh Maryam membuat Fadli begitu hormat pada kakak semata wayangnya.
“Waalikumsalam, masuk aja Fad. Nggak dikunci
kok pintunya.” Teh Maryam tengah menulis
deretan pertanyaan untuk interview besok pagi.
Fadli duduk di
hamparan kasur tipis tak lebih dari 4 atau 5 cm itu. Teh Maryam masih terus asyik mempersiapkan
bahan wawancara. Fadli menyimpan kembali
rasa penasaran dengan diam.
“Kok diam saja,
Fad?” Teh Maryam menghentikan
kesibukannya dan mendekati Fadli.
“Nampaknya ada yang mau kamu ceritakan ke Teteh?”
“Takut gangguin Teteh. Kelihatannya Teteh sedang super sibuk!”
“Enggak kok, udah
selesai nyusun interviewnya, tinggal persiapan bekal makanan dan minuman buat
besok.”
“Fadli penasaran kok Teteh bisa segitu
kagumnya melihat anyaman bambu itu. Sampai-sampai Bibi Nury menganggap Teteh
nemuin bongkah mutiara berharga.”
Teh Maryam tersenyum mendengar pertanyaan Fadli, kisah
yang tidak pernah dibicarakan keluarga mereka sebelumnya, seolah ingin
menguburnya dalam-dalam.
***
Teh maryam memulai
kisahnya, kejadian sepuluh tahun yang lalu:
Fadli, waktu
kamu masih berumur satu tahun, dan Teteh waktu itu berumur sembilan tahun
keluarga kita tinggal di Jakarta. Bapak
sama ibu merantau di ibu kota, menjadi penjual barang kreditan. Alhamdulillah keluarga kita sukses. Dalam waktu enam tahun sudah memiliki stokis
barang kredit sendiri. Kita sekeluarga
hidup berkecukupan, hingga datang seseorang yang tak dikenal hampir setiap hari
ke rumah kita.
“Ibu, Bapak kami mohon untuk mendukung program
kami. Kawasan ini akan kami jadikan
kawasan industri. Kami akan tukar rumah
ibu ini dengan harga empat ratus juta.
Bukankah itu penukaran yang lebih dari cukup?” bujuk orang asing itu.
“Saya bukan tidak
mendukung program ini. Apalagi katanya
ini proyek pemerintah. Tapi kami sebagai
tukang kredit akan kehilangan jejak pelanggan yang masih berhutang pada kami.”
“Memang berapa
modal kredit Bapak yang masih ada di pelanggan?
Kami akan tutup modal usaha kredit Bapak yang masih menjadi hutang
pelanggan.”
Bapak dan Ibu
terus menolak dengan alasan ada ikatan hak dan kewajiban antara penjual dan
pembeli yang harus saling tertunaikan.
Khawatir hutang yang seharusnya terbayar di dunia menghalangi pintu
syurga buat yang masih berhutang.
Ibu dan Bapak
keberatan dengan penawaran itu tapi apa boleh buat, rupanya hanya keluarga kita
menolak sedangkan yang lain menerima.
Benar saja, apa
yang Bapak khawatirkan terjadi. Pelanggan
tidak ketahuan kemana pindahnya. Warga
kompleks tercerai-berai. Uang memang
selalu menggiurkan bagi para pencintanya.
Usaha keluarga
kita tidak berjalan bahkan bangkrut.
Dua tahun setelah pengusuran itu, kita pindah kontrakan dua ratus
meter dari batas perusahaan itu. Dengan harapan masih bisa menelusuri
pelanggan dan meneruskan usaha. Dari
uang ganti rugi itu sebagian digunakan buat menambah modal usaha kredit.
Perlahan usaha
mulai berjalan, tapi setelah tiga tahun perusahaan itu berdiri, air sumur kita menjadi kotor terkena
limbah. Sulit mencari air bersih. Bau limbah kemana-mana. Warga sekitar protes
menuntut penyediaan air bersih .
Suasana tidak nyaman
lagi di tempat itu. Dengan sisa uang
gusuran itu kita pindah ke Ciamis.
***
“Lalu apa
hubungannya dengan anyaman bambu,Teh?”
“Ya…. tentu
ada. Anyaman bambu itu mengingatkan
Teteh bahwa alam menyediakan banyak
untuk manusia. Namun keserakahan
telah membuat manusia mencari sesuatu yang di luar kemaslahatan bahkan jauh
dari maslahat.”
“Betul juga, Teh. Berapa banyak korban dan pendirian
industri-industri itu? Kalau ada 100
pabrik yang menggusur rumah warga
seperti yang kita alami, berarti
ada beribu-ribu keluarga yang terganggu mata pencahariannya. Belum lagi asap pabrik, limbah yang mencemari
air sumur, mungkin juga sawah akan rusak, kebun tidak bisa ditanami lagi ”
“Pintar adik
Teteh! Sekarang kamu istirahat dulu…….
Besok pagi pagi benar kita akan turun ke lembah Kampung Naga
“Sebentar Teh …..kalau
saja kerajinan asli Kampung Naga itu menggantikan bahan sintetis seperti
plastik, piring, gelas, setreofoam yang sulit lapuk, tentu sampah yang banyak
numpuk di TPS itu akan bisa terkendalikan ya Teh!”
“Wah wah, kamu
sudah seperti mahasiswa teman Teteh bikin analisisnya. Agama telah mengingatkan berabad-abad silam
bahwa ‘Telah tampak kerusakan di
darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah
merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka
kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: 'Lakukanlah perjalanan di muka bumi
dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dulu. Kebanyakan dari
mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukanNya’.
Fadli
mengangguk-angguk, bertambah kekagumannya pada Teteh aktivis dakwah kampus yang
satu ini.
“Teh, karena Fadli
udah nemenin Teteh, nanti Fadli nebeng hasil pengamatan teteh untuk bahan
menulis, boleh?”
“Tentu saja boleh,
Teteh akan bantu. Tapi pengembangan
tulisan harus dari kamu sendiri. Dan tekanan
penulisan tentu lebih bersifat ekspositoris deskriptif.”
“Apa itu ekspositoris deskriptif?”
Teh Maryam
menjelaskan panjang lebar bahwa tulisan Fadli harus berupa pemaparan detail
yang dapat melukiskan obyek wisata yang dikunjunginya.
“Sekarang susun
rencana penulisan kamu. Sini Teteh
bantu.”
Diambilnya
secarik kertas kosong dari block-note miliknya.
Sebatang pensil mulai menggoreskan ide-ide pokok yang ingin dijadikan
fokus tulisan Fadli. Rute perjalanan
mencapai obyek wisata, ciri khas pembeda atau keunikannya, tipografi dan
keindahan alamnya. Hal lain bisa ditulis
saat berkunjung bila ada hal baru yang mereka temui.
Fadli cukup
cerdas dan mudah mengerti arahan Teh Maryam.
Ia segera pamit menuju kamarnya untuk tidur malam ini.
SYURGA ITU
DEKAT
Bibi Nury dibantu
Teh Maryam menyiapkan sarapan di dapur.
Sedangkan Fadli dan Danang merapihkan kamar dan menyapu lantai. Paman Sunarya tersenyum melihat kekompakan
mereka. Pagi menjadi begitu terasa
indah. Kehadiran Fadli, Danang dan Teh Maryam
mengusir kesepian tanpa kehadiran generasi pengganti di rumah ini.
“Sarapan sudah
siap.” Teteh Maryam meletakkan nasi goreng, lalap slada dan irisan mentimun,
sambal hijau dan ikan bawal goreng yang tercium harum sekali. Mereka makan lesehan di atas tikar anyaman
pandan.
“Wah, jadi
perbaikan gizi di sini.” Danang
tersenyum lebar disambut tawa semua peserta upacara wajib sarapan pagi.
“Kalian pagi ini
jadi ke Kampung Naga ?” tanya Amang Sunarya .
“Insyallah jadi, Amang. Setelah sarapan kami langsung pamit mungkin
sampai sore kami baru pulang . Teteh Maryam membetulkan posisi duduk sunnah
makannya sambil meraih irisan mentimun.
“Ayo Fadli pimpin
doa makannya dan jangan lupa duduk sunnahnya. Kaki kiri didudukin, kaki kanan
ditekuk payuneun dada.” Amang Sunarya memberi contoh cara duduk ketika
makan.
***
Selesai sarapan
mereka berpamitan pada Amang dan Bibi untuk memulai perjalanan ke Kampung Naga
Dua puluh lima
menit berjalan kaki, akhirnya mereka sampai di
terminal Kampung Naga disambut tulisan Selamat Datang di Cagar Budaya Kampung
Naga, lengkap dengan aksara Sunda.
Mereka menuruni
jalan beraspal dengan kemiringan yang cukup curam. Parkiran kawasan wisata Kampung Naga
dikelilingi toko-toko pernak-pernik asesoris kerajinan Naga dan juga produksi
khas Tasikmalaya. Semua serba anyaman,
ada anyaman bamboo, pandan, eceng gondok, mengkuang dan rotan. Produk anyaman seperti yang di buat Bibi Nury
juga ada. Piring, vas bunga, keranjang
bunga, keranjang sampah, wadah parcel, boboko, aseupan dll. Disebelah kanan terdekat ada rumah panggung
yang memproduksi kerajinan anyaman bambu.
Selebihnya warung penjual makanan cepat saji seperti baso, mie ayam dan jajanan ringan.
Perhatian mereka
selanjutnya adalah Tugu Kujang Pusaka. Tugu dengan kujang terbesar itu leburan
dari beberapa kujang dari seluruh tataran Sunda.
“Fadli bantuin
Teteh ya …..”kata Teh Maryam memecahkan keheningan di antara mereka bertiga
yang sedang asik dengan perhatian masing-masing, ”Teteh mau membuat perkiraan
tinggi tugu ini.”
Teh Maryam
mempraktekkan pengetahuan pramukanya
dalam menentukan ketinggian Tugu Kujang Pusaka
“Fadli tolong ukur 10 meter atau 20 kali stik ini,” Teh Maryam
menyerahkan stik 50 cm yang sudah dipersiap untuk mengukur obyek pengamatan
sewaktu-waktu dibutuhkan. Danang berdiri dengan tongkat ini, lalu maju 1m dari
tongkat ini. Fadli tiarap ya..”
“Teteh, aku
malu dilihat banyak orang. Masak tiarap
disini memang nggak ada yang bisa ditanyai.
Atau teteh tanya aja ke Google.”
Fadli bersungut-sungut.
Teh Maryam menarik
nafas panjang , ”Fadli memang begini cara yang harus Teteh lakukan. Nggak
mungkin juga Teteh naikin tugu. Kalau
pake internet nggak diperbolehkan semua harus langsung dari lapangan.” Teh Maryam
terus membujuk Fadli. Tiba-tiba seseorang menghampiri mereka bertiga .
“Assalamualaikum, maaf katingalina adik-adik ini mau
mengukur tinggi Monumen Kijang Pusaka …?”
Seseorang dengan pakaian adat Sunda, celana hitam serba gombrang, celana
berada diantara lutut hingga mata kaki lengkap dengan tutup kepala adat Sunda.
Wajahnya putih
bercahaya, nampak masih muda mungkin usianya
baru kepala tiga. Yang membuat mereka kaget karena wajah itu mirip Harris J,
tapi dalam usia tigapuluhan. Penyanyi
Inggris yang sedang naik daun dan menjadi artis muslim kebanggaan mereka
bertiga.
“Walaikum salam. Benar Pak, banyak informasi yang ingin saya
dapat untuk tugas konsevasi lingkungan hidup yang terkait budaya di sini, tapi
saya tidak kenal pemandu wisata disini,” Teh Maryam menjawab tersipu.
“Apa bapak bisa
mempertemukan kami dengan Kuncen Kampung Naga ?” Fadli ingat pesan Bibi Nury bahwa informasi
apapun yang kita inginkan bisa ditanyakan ke Kuncen .
“Saya sendiri yang
bertugas menjadi badal Kuncen hari ini. Pak
Kuncen sedang ada urusan keluar. Kebetulan
tidak ada tamu turis asing. Jadi saya
punya cukup waktu untuk menjawab pertanyaan adik-adik.”
Teh Maryam
tersenyum lebar, senang sekali dengan kemudahan yang Tuhan izinkan untuk
mereka.
“Sambil menjawab pertanyaan adik-adik kita bisa menuruni tangga supaya kita bisa melihat langsung kampung ini selain informasi dari saya.”
“Sambil menjawab pertanyaan adik-adik kita bisa menuruni tangga supaya kita bisa melihat langsung kampung ini selain informasi dari saya.”
“Sa teu acana terimakasih
banyak, Pak. Bapak sudah
mempermudah urusan saya hanya Allah yang dapat membalas kebaikan Bapak.” Teh Maryam membuka daftar pertanyaan yang
telah dipersiapkannya semalam.
“Sudah tugas saya
membantu mereka yang ingin tahu banyak tentang Kampung Naga ini. Saya harap kebijakan yang dipesankan Kampung
Naga ini bisa menginspirasi orang-orang di luar sana untuk menyadari bahwa
segala yang disediakan alam lebih dari cukup memenuhi kebutuhan manusia!”
***
“Bapak bisa
menceritakan pada kami tentang Monumen Kijang Pusaka ini?” Teh Maryam membuka pertanyaan.
“Tugu Kujang
Pusaka Kampung Naga diresmikan langsung oleh bapak Gubernur Ahmad Heryawan di
tanggal 16 April 2009. Menjadi lambang
kuatnya budaya Sunda di Jawa Barat.
Senjata inilah yang menjadi andalan leluhur kita dalam menpertahankan
diri dari penjajah. Ketinggiannya
sekitar 3 meter, logam kujang ini hasil peleburan 900 kujang milik raja-raja di
tataran Sunda. Membuatnya dilakukan 40
empu dalam waktu 40 hari.”
“Saya pernah baca
bahwa dulu kujang itu di isi kekuatan
lain?” Danang bertanya penasaran.
“Ya sangat
mungkin, karena tanpa ditambah kekuatan ghaib dalam izin Allah, kita sangat
sulit menghadapi senjata lengkap dan lebih
modern para penjajah. Menurut saya itu
bagian kasih sayang Tuhan untuk memberikan perlindungan pada hambaNya”.
“Tapi ada yang
mengatakan itu bagian dari sihir dan syirik….”
Fadli mengungkapkan rasa penasarannya.
“Syirik itu bila kita
meyakini bahwa itu sebagai kekuatan yang berdiri sendiri. Semua itu masih dalam
izin Allah SWT untuk menjadi wasilah pertolongan pada manusia. Bukankah khazanah pengetahuan itu juga yang
menjadi wasilah perlindungan. Banyak
pejuang kemerdekaan yang mengusir penjajah dibantu kekuatan ghaib. Pernah dengar kisah Si Pitung, seorang jawara
Betawi yang menolak penjajah zaman dulu? Semua yang ada tidak pernah lepas dari
kekuatan yang tak terlihat oleh mata.
Selagi kita meyakini itu bagian dari kerajaan Allah yang menjadi
penguasaan tertinggi, jangan terlalu
mudah mencap seseorang melakukan perbuatan syirik.” Kuncen Muda menerangkan
dengan penuh kesabaran pada anak-anak yang dipenuhi rasa ingin tahu itu .‘’Yang
tidak boleh itu menyembahnya dan menyandarkan diri pada kekuatan yang Allah
izinkan pada makhluk .” Kuncen Muda
melanjutkan.
“Fadli, Danang, kalian
harus Teteh panggilkan guru khusus tauhid nih.
Kalau kalian nanyanya dalam-dalam ntar Teteh nggak dapat data
laporan.”
Mereka melanjutkan
perjalanan menuruni tangga Naga yang melegenda itu.
“Coba kalian
hitung anak tangga ini pasti hasilnya berbeda-beda. Yang benar hitungnya akan saya beri
hadiah.” Seseorang yang mereka anggap Kuncen
Muda menawarkan game yang cukup menantang.
‘Fadli dan
Danang sibuk menghitung anak tangga.
Kesempatan aku dapat banyak data sekarang.’ Teh Maryam membatin.
“Lihat itu Neng
dari anak tangga sebelah sini Neng dapat melihat kampung ini ditata dengan
apik.” Kuncen Muda menunjukan posisi
pemotretan yang menghasilkan gambar terbaik.
“Turis dari luar negeri senang menggambil gambar dari posisi ini.”
“Subhanallah…pemandangan
seperti ini pernah saya lihat sekali-kalinya dulu di Bali. Terasering sawah
menghijau dan sebagian menguning. Kami
sekelurga pernah tamasya kesana saat
umur saya baru enam tahun. Kalau Bali dikatakan Pulau Dewata saya pikir layak
kampung ini disebut Syurga Priangan.”
“Neng ini
ada-ada saja syurga mah tidak bisa dibayangkan atuh Neng, saking bagusnya!”
“Bukan begitu
Pak, maksud saya … warga disini begitu ikhlas berada dalam kebersamaan. Rumah mereka yang serba sama mengingatkan
saya pada nasihat agama untuk menghindari berlomba dalam kemewahan dan
kemegahan. ‘Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk di
dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak
kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu.
Kemudian sekali-kali tidak kamu akan mengetahui. Sekali-kali tidak sekiranya kamu mengetahui
dengan pasti niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahim. Kemudian kamu akan melihat dengan mata kepalamu
sendiri. Kemudian kamu benar-benar akan
ditanya pada hari itu tentang kenikmatan yang megah di dunia ini.’
Teh Maryam
berkaca-kaca. Ia berusaha sekuat mata tenaga menahan air mata itu agar tidak
menganak sungai. Ingatannya menerawang jauh ke teman –teman yang sering berganti
kendaraan dari yang murah hingga termewah atau ponsel dari yang terawal hingga
harga termahal. Dulu pernah ia merasakan
keresahan hati saat belum mengikuti pengajian kampus. Berlomba untuk paling wah telah mencabik
cabik hatinya dari ketenangan. Ia kini
telah merasakan bahagianya kesederhanaan dan keluar dari lintasan perlombaan
itu.
Apalagi mereka
yang rela tinggal di kampung ini…. Mereka pasti bukan insan biasa. Syurga di hati Teh Maryam juga dimiliki warga
Kampung Naga ini.
KELUHURAN
BUDAYA NAGA
Mereka sampai
di akhir tangga terbawah. Danang dan Fadli
menyebutkan angka hampir bersamaan.
“495 anak
tangga Pak…”Fadli menyebutnya duluan,
disusul Danang ,"489 Pak.”
“Belum
tepat. Hadiah tidak saya kasih ke
kalian. Tapi masih ada kesempatan nanti kalian hitung lagi dari bawah ke
atas. Siapa yang tepat masih bisa dapat
hadiahnya.”
“Oke siap sekarang juga mau. Penasaran sama
hadiahnya. Sekarang saja yuk…!!!” teriak
Danang
“Eh…teu kaci
nanti kalian kelelahan sabar kalau rizki tidak kemana, tergesa-gesa itu sifat
setan.” Kuncen Muda menasihati mereka
dengan bijak .
***
Kuncen Muda itu
mengajak mereka bertiga beristirahat disebuah rumah adat yang bisa dikatakan
rumah dinas Kuncen karena khusus diperuntukan dari satu Kuncen ke Kuncen
berikutnya.
Rumah panggung
didirikan di atas bongkah-bongkah batu yang jumlah nya bervariasi tergantung
ukuran rumahnya. Ukuran rumah tergantung jumlah anggota keluarga yang
menghuninya Untuk ukuran rumah yang rata-rata 7X8 meter cukup di bangun di atas
25 umpak batu. Seperti rumah yang lain
rumah ini berbentuk segitiga berlantai papan berketinggian 40-60 cm dari tanah
.
“Menurut saya, hanya
orang-orang yang menjauhkan diri dari cinta dunia yang sanggup hidup dari
kesetaraan seperti ini. Konstruksi rumah
semua hampir sama, menghadap ke arah yang sama.
Kalau boleh saya tahu kira-kira kebijakkan apa yang tersimpan dari
setiap detail ini? “ Teh Maryam membuka pertanyaan seriusnya.
Kuncen Muda tidak langsung menjawab pertanyaan Teh Maryam. Ia mengangambilkan air dari bagian
dapur. Cangkir dari batok kelapa yang dihaluskan
dan kendi berisi air putih disediakan sendiri oleh Kuncen Muda.
Dalam hati Teh Maryam
ingin bertanya kemana keluarganya. Namun
rasa penasaran itu diurungkannya demi menghargai hal-hal pribadi Kuncen
Muda.
“Kolong di antara
batu umpak berfungsi memperlancar sirkulasi udara dan menjaga kelembaban. Bila langsung bersentuhan dengan tanah tentu
bangunan cepat rusak oleh air dan serangan binatang. Sejak dulu, rumah panggung
Naga tidak pernah tergoncang gempa bumi hingga gempa dahsyat tahun 2006 pun tak
berpengaruh terhadap rumah adat.
Teh Maryam
mengangguk angguk . ” Ya… saya ingat pelajaran geografi dulu di SMA, guru saya
pernah menerangkan bahwa rumah panggung paling aman terhadap gempa.”
“Kekhasan yang
lain, dinding rumah dari anyaman bambu yang tidak boleh dicat tapi hanya boleh
dikapur. Dalam hal ini kapur lebih aman daripada cat yang biasa di gunakan
orang. Kapur dari batu kapur juga bahan alami bukan?”
“Kalau bangunan
yang di buat sehadap ini apa tujuannya, Pak?”
“Bangunan disini
semua beratap ijuk dan menghadap ke arah kiblat sehingga sehadap pula dengan
masjid. Itu sesuai dengan nasihat
kanjeng Rosul bahwa di manapun kamu berada hadapkan wajahmu ke baitulloh”
“Tapi maksud hadis
ini lebih pada kekhusyuan hati kita untuk selalu tersambung mengingat pusat
segala sesuatu?”
“Itu tujuan
batinnya, bukti lahirnya diwujudkan dengan arah konstruksi bangunan adat ini. Tujuan lain adalah untuk mengoptimalkan ventilasi cahaya”
“Wah… ternyata bangunan sederhana ini banyak
penuh hikmah ya Pak ?
“Betul sekali,
Neng. Ventilasi udara cukup bagus sesuai
dengan syarat rumah sehat. Atap juga
terbuat dari injuk dapat menjaga keseimbangan suhu. Siang tidak terlalu panas dan malam tidak terlalu
dingin. Banyak untuk diungkap kebijakan
dari satu jenis kebudayaan di sini.
Pembagian rumah secara vertikal terdiri dari tiga bagian juga
mengandungi hikmah. Demikian juga secara horizontal”
“Maksud Bapak semua rumah
memiliki pembagian vertikal dan horizontal yang sama?”
“Betul secara
prinsip sama, ukurannya saja yang agak berbeda tergantung jumlah anggota
keluarga. Sebentar saya ambilkan foto
bagian rumah adat.”
“Saya juga pamit
keluar sebentar Pak, mau ambil air wudhu di sebelah masjid.” Teh Maryam telah lama membiasakan diri
menjaga wudhu tiap kali batal.
Kuncen Muda
memasuki kamar untuk sementara. Teh Maryam
keluar sejenak mengambil gambar masjid di sebelah kanan rumah Kuncen. Disempatkannya berwudhu dengan air yang
sangat bening dan dingin di sebelah kanan masjid.
Tak berapa lama perbincangan mereka mulai kembali. Kuncen Muda
memperlihatkan foto detail rumah adat Naga.
“Arah vertikal
rumah adat dibagi tiga sebagaimana pembagian alam ini. Ada dunia bawah, tengah
dan atas. Dunia bawah di wakili oleh
pondasi yang terbuat dari umpak batu. Dunia tengah adalah alam semesta yang
terpusat pada manusia sehingga bagian tengah ini yang dihuni manusia.”
Mereka melanjutkan
perbincangan sementara Fadli dan Danang melihat lihat foto hasil bidikan
Danang atau mungkin mereka main game di
android yang mereka bawa di sudut rumah adat itu
“Selain bangunan
rumah adat ada bangunan apa lagi Pak?”
Teteh Maryam melanjutkan wawancara dan sibuk mencatat hal-hal penting
yang di butuhkannya maklum mereka tidak
membawa alat perekam apa pun.
Sementara Fadli
sesekali saja membuka catatan, pikirnya dia bisa meminjam catatan dari Teh Maryam.
“Kalau Neng lihat
di sebelah kamar rumah ini. Itu adalah
bangunan yang sengaja dibuat paling bagus, nyaman, cukup luas dan bersih. Masjid ini di gunakan untuk jum’atan, solat lima waktu bahkan hajat sasih
pun dimulai dari masjid.
“Subhanalloh air
disini begitu tercurah yah Pak…berkah benar tempat ini. Juga bening airnya.Tadi
saya ambil air wudhu di sana
waktu bapak mengambil foto ini.
Dingin banget. Kayaknya saya akan
betah menjadi warga di sini.
“Masak sih…Neng
bakal betah tanpa listrik? Bagaimana
Neng mau menyelesaikan tugas yang banyak bergantung sama wifi, laptop dan
listrik?”
“Maaf kalau boleh
saya tau…..wawasan Bapak begitu luas.
Bapak asli warga Naga?” Teh Maryam tidak ingin menjawab pertanyaan
itu. Khawatir mereka terjebak
perbincangan pribadi yang tidak berkaitan dengan obyek pengamatannya. Dan membuat hati menjadi rawan terfitnah
cinta.
“NengMaryam
ini kritis benar ya? Saya jarang
mendapat pertanyaan sulit begitu rupa.”
“Kalau Bapa
keberatan menjawab pertanyaan saya, saya mohon maaf.” Teh Maryam merasa bersalah.
“Saya tidak
keberatan teu kunanaon. Saya
warga keturunan Naga asli tapi saya belajar di luar dan memang sebaiknya Kuncen
maupun pemandu wisata memiliki kelebihan dalam wawasan supaya bisa melakukan
upacara adat sekaligus menghadapi turis yang selalu datang ke Kuncen untuk
bertanya banyak hal. Jadi Kuncen harus
bisa menjadi sumber informasi. “ ‘
Alhamdulillah
Bapak Kuncen ini baik hati benar. Dia
tidak mencurigai pertanyaanku yang setengah menyelidik,’ Teh Maryam menunduk, penuh kesyukuran.
“Saya tadi melihat
rumah di tempat yang paling atas. Itu
bangunan apa, Pak? Agak berbeda dan
dikelilingi pagar bambu bersilangan yang cukup tinggi. Juga terdapat pagar tanaman hidup seperti
tanaman hanjuang”
“Bangunan itu
namanya Bumi Ageung yang berfungsi sakral karena tempat menyimpan benda
pusaka.”
“Kalau yang itu
apa Pak?” Teh Maryam menunjuk bentukan bangunan selain rumah dengan bentuk agak
berbeda.
“Kami menyebutnya leuit
atau lumbung padi bangunan penyimpanan padi hasil panen sebagai sumbangan atau
infak warga. Hasil kumpulan ini dapat
digunakan bila ada acara khusus seperti kegiatan pamugaran masjid, penggantian
suhunan Bumi Ageung dan kepentingan bersama lainnya.”
“Ada satu yang
membuat kami sebagai masyarakat tradisional yang dianggap terbelakang
bangga. Di Naga ini ada pembagian
kawasan menjadi tiga bagian. Kawasan suci yang terdiri dari area yang tak boleh
dijamah, diganggu dan diubah seperti Sungai Ciwulan, hutan larangan atau hutan
keramat dan hutan lindung. Kawasan bersih
yang meliputi rumah pemukiman warga, masjid bale patemon dan bumi
ageung. Sedang yang sebagian yang lain
di sebut kawasan kotor, terdiri dari rumah ternak atau kandang, MCK, kawasan
perikanan dan tempat pelakeun untuk berkebun semacam pekarangan yang
tidak begitu luas, tempat saung
lisung untuk menumbuk padi. Kami
memisahkan dua kawasan ini supaya kesucian dalam ibadah tetap terjaga,”
Informasi panjang
lebar Kuncen Muda cukup memberikan informasi berharga untuk tugas mata kuliah
konservasi lingkungan hidup Teh Maryam.
***
Suara bedug tanda
sholat Dzuhur menghentikan perbincangan mereka. Mereka semua pergi ke
masjid. Fadli dan Danang tidak terlalu
sulit disuruh, karena Teh Maryam tidak sekedar menyuruh tetapi juga memberi
contoh.
‘Betul juga kata Kuncen
Muda itu, masjid ini bangunan terindah di Kampung Naga.’ Maryam membatin. ’Sebenarnya
belum pantas dia di sebut Bapak.
Wajahnya masih muda dan nampak bersih bercahaya ada pesona di sana. Perawakannya yang tinggi besar dan wajah yang
mengingatkan Teh Maryam pada Harris J, penyanyi religi kebanggannya. Keteguhan iman Teh Maryam untuk selalu
menjaga hati dari jatuh cinta dan dari kisah-kisah yang mengiringinya sedikit
tergoyahkan hari ini.
Belum lagi
perhatian, pelayanan yang teramat baik, juga keselarasan pahaman Kuncen Muda
dengan apa yang selama ini dia pelajari dan dia yakini.
‘Astagfirulloh…Maryam,
sudah berhentilah dari pikiran yang macam-macam. Bapak itu pasti sudah ada yang punya meskipun
di rumahnya tidak ada tanda-tanda dia telah berkeluarga belum tentu ia masih
sendiri….,’ batin Maryam. Diputuskannya
kembali mengambil air wudhu untuk menggugurkan percakapan batin yang mulai
menceracau.
Solat Zuhur hari
ini menjadi solat yang istimewa. Mungkin
karena hati Teh Maryam sedang berbunga-bunga oleh kebaikan seseorang yang
akhlaknya mempesona. Atau oleh
kebersihan masjid, kesejukan yang ditimbulkan oleh keberkahan tempat
beribadah. Mungkin keduanya ditambah
lagi konstuksi masjid yang selalu memungkinkan banyak udara masuk.
Bangunan artistik
berukuran 10x10 meter berikut tempat wudhunya.
Bahan bangunan dari batu umpak, kayu anyaman bambu dan atap injuk sama
seperti bangunan lain. Dari luar berwarna
putih tapi bagian dalam didominasi warna coklat muda, kecuali dinding anyaman
bambu yang semuanya serba putih. Ventilasi yang ada di samping kanan, kiri dan
belakang bangunan menambah suasana segar dan tenang.
Selesai solat
mereka bertiga menuju rumah Kuncen Muda untuk mengambil tas dan barang bawaan
yang mereka titipkan disana.
Belum juga mereka
mengucapkan salam, Kuncen Muda itu telah berlebih dulu membukakan pintu. Di ruang tamu itu sudah tersedia berbagai
hidangan untuk makan siang.
‘Tuh kan Maryam,
istrinya sudah menyediakan semua makanan ini jangan GR kamu ya?’ Batin Teh Maryam
kembali menggelitik.
“Masyaallah Pak, kami
jadi merasa merepotkan sekali. Sudahlah kami menyita waktu Bapak.......,” suara
Teh Maryam tercekat
“Bukannya Bapak
dari tadi di mesjid dan pulang bersama kami, bagaimana Bapak bisa menyediakan
semuanya begitu cepat?” Danang tak mampu
membendung rasa penasarannya.
“Sedangkan saya
tidak melihat siapa-siapa di rumah ini?” Fadli yang memang punya rasa ingin
tahu cukup besar itu bertanya penuh keheranan.
“Maafkan adik-adik
saya ini, Pak. Kadang mereka menanyakan
segala hal yang mereka anggap aneh.”
“Tak apa Neng Maryam,
saya maklum. Tapi tenang saja. Semua ini warga tetangga saya yang
menyiapkan. Saya yang memesannya.”
Fadli dan Danang
bengong. Mereka melirik ke arah Teh Maryam. Teh Maryam menjadi salah tingkah dengan
pandangan aneh mereka berdua seolah mereka hendak berkata, ‘ini gara-gara
pesona Teh Maryam.’
“Sudah jangan
bengong ayo makan dulu. Insyaalloh aman dan halal.”
Akhirnya mereka
duduk melingkar mengelilingi hamparan hidangan di atas piring-piring anyaman
bambu dengan berbagai ukuran dengan beralas daun pisang di atas piring anyaman
bambu itu.Ayam kampung bakar, goreng ikan asin ipis, sayur lodeh terong,
lalap surawung leunca, dan lengkap dengan sambel atah khas Naga. Tidak lupa juga goreng ikan mujair yang diguyur
irisan cabe rawit campur kecap. Hidangan
termewah selama mereka liburan. Sungguh makan siang yang nikmat. Apalagi mereka
lelah dan lapar setelah berjalan mengelilingi Kampung Naga.
Perbincangan
tentang Naga antara Teh Maryam dan Kuncen Muda itu berlanjut.
“Di masing-masing
daerah di tataran Sunda selalu ada larangan yang diistilahkan dengan pamali
. Apakah di Kampung Naga ada pamali yang
disepakati untuk dihindari bersama ?
Kuncen muda
berpikir sejenak sambil menghirup teh manis yang juga disediakan untuk para
tamunya hari ini .
“Untuk masalah
larangan dan perintah, kami sama dengan umat Islam yang menjadikan Alqur’an dan
Sunnah sebagai pedoman. Kami tidak boleh membuang air menghadap
kiblat bahkan menyelonjorkan kaki kearah kiblat juga dilarang. Ada lima pokok larangan berzina atau
ngawadon, ngadu atau berjudi, ngamadat atau mabok-mabokan, ngawadul atau berbohong,
janglir janji atau ingkar janji, suudzon
atau buruk sangka, iri, dengki,
dzolim dan dianiaya. Perasaan-perasaan hati yang baik seperti nyaahan,
deudeuhan, welasan, asihan, nulung kanu butuh, nganter kanu sieun,
ngahudangkeun kanu labuh, nalang kanu susah, nyaangan kanu poekeun,
ngahudangkeun kanu titeuleum.
Ada tiga falsafah agama yang dipegang disini yaitu parentah
gancang lakonan,panyaur gancang temoan, pamundut gancang eusian.
“Apa artinya
itu Pak,” ucap Danang yang asli kelahiran Jakarta tetapi ikut neneknya setengah tahun ini. Jadi belum begitu paham bahasa Sunda.
“Maksudnya
perintah segera jalankan, panggilan segera temui, seruan infak dan sumbangan
segera diserahkan. Semua itu mengandung
unsur ketaatan.
“Maaf Pak, yang
saya maksud pamali ini kepercayaan untuk tidak melakukan sesuatu. Dan bila dilanggar
akan mendatangkan celaka.“ Teh Maryam
belum merasa pertanyaannya terjawab.
Nampaknya Kuncen
Muda itu enggan menceritakannya. Namun
beberapa saat kemudian dia berucap, ”Baiklah saya jelaskan saya harap Neng dan
adik-adik ini bisa menarik esensi dan penjelasan saya tentang pamali di Naga.
“Pamali disini terkait pesan moral dibalik
pamali itu bukan pada benar tidaknya ancaman yang dilontarkan. Hal yang diyakini disini, ada pantangan yang
kami percaya, pertama hutan larangan di seberang Sungai Ciwulan. Tidak boleh memasuki hutan larangan tanpa
alasan yang dibenarkan. Siapa yang yang melanggar takkan dapat kembali lagi. Yang kedua hutan lindung yang ada di atas Kampung
Naga ini. Yang ketiga Bumi Ageung tempat
menyimpan benda pusaka. Dilarang
mendekati rumah itu kecuali Kuncen dan penjaganya yaitu wanita yang telah
menopouse. Yang keempat Sungai Ciwulan,
tidak diperkenankan sembarangan turun memasuki Sungai Ciwulan karena ada palung curam yang bisa
menenggelamkan mereka yang memasukinya, cukup Neng informasinya?”
Nampaknya
penjelasan tentang pamali ini menutup pembincangan mereka berempat.
Dengan sepenuh
rasa terima kasih mereka bertiga berpamitan.
Pertemuan yang singkat itu sangat berkesan mereka berpamitan dilepaskan
dengan senyuman penuh makna dari Kuncen Muda.
Dua bingkisan buat Danang dan Fadli pun dibekalkan pada mereka berdua
meskipun mereka gagal menghitung anak tangga yang sebenarnya berjumlah 493
buah.
Sesampai di
terminal atas Naga mereka membuka bingkisan dengan penasaran.
“Yah tas
perempuan, ini mah ngasih hadiahnya ke Teh Maryam. Bener-bener ini mah ada apa-apanya.” Fadli cengar cengir menggoda Teteh Maryam.
“Dan ini sandal
perempuan…..yah ini buat Teh Maryam juga.
Aku nggak mau makainya.” Danang
ikut melirik Teh Maryam dengan pandangan mata aneh.
“Kalian menggoda
Teteh mulu apa-apaan sih. Kalau kalian
nggak mau makai kenapa harus Teteh yang makainya. Bisa saja untuk Ibu atau
Nenek Danang, kan?.” Teh Maryam mencubit lengan Fadli gemas.
“Hey lihat ini ada
tulisannya,” Fadli mengambil dan membaca tulisan itu agak keras, “Terimakasih
banyak atas kunjungan kalian. Kalian
masih muda, perjalanan kalian masih panjang.
Ikuti jejak teteh kalian. Jarang
anak muda yang memiliki kejernihan hati seperti Teh Maryam. Keindahan budinya membuatnya cantik
luar-dalam.”
Tak dapat dipungkiri
ada Syurga dari Kampung Naga yang singgah di hati Teh Maryam. Meski sekuat tenaga dzikir hatinya meminta
ampunan bila rasa itu menjauhkan dirinya dari Sang Pencipta, keindahan itu kini
ada di dalam dirinya.
PETUALANGAN DI HUTAN LARANGAN
Sesampai di rumah
Bibi Nury dan Amang Sunarnya,Fadli dan Danang sering membicarakan suatu
rahasia.
“Fadli…kamu tidak
boleh merencanakan hal-hal aneh dan merahasiakannya dari Teteh.” Kekhawatiran Teh Maryam akhirnya terungkap.
“Kamu dan Danang tanggung jawab Teteh.
Tidak boleh kekompakan kita terpecah.
Kita datang bersama punya kegiatan bersama,dan pulang bersama.
Melihat wajah
memelas Teh Maryam benteng rahasia Fadli bobol juga. “Fadli sudah mengantar Teteh mendapat banyak
informasi tentang Naga. Sekarang giliran
Fadli dan Danang ingin berpetualang di hutan larangan. Fadli ingin terus terang dari awal tapi pasti
Teteh bakalan nggak setuju…”
“Fadli, kamu sudah
dengar penjelasan Kuncen tadi pagi
bukan? Bahwa kita dan siapa pun tidak boleh memasuki hutan itu tanpa hak?
Bahkan ancamannya tidak akan bisa pulang!
“Jadi Teteh percaya tahayul begitu kalau masuk
hutan larangan bakal hilang. Memang sulap manusia bisa hilang begitu saja.”
Teteh Maryam
memegang dua lengan Fadli agak keras.
Teteh benar-benar marah setelah bujukannya pada Fadli selalu
mendapat bantahan. Dengan pandangan serius Teh Maryam berkata, ”Fadli….bukan
masalah Teteh percaya atau tidak, tapi lebih bagaimana kita menghargai aturan
daerah orang lain. Kita boleh
penasaran, punya rasa ingin tahu dan
seterusnya. Tapi bukan dengan menginjak
harga diri orang lain dan menentang mereka.”
“Tapi itu membunuh
rasa ingin tahu Teh, membunuh kreatifitas dengan menakut-nakuti dan yang lebih
berdosa lagi menutup peluang mempelajari ilmu, bukanlah Teteh pernah bilang
bumi ini di tundukan untuk manusia?”
“Fadli!! Pokoknya Teteh nggak ngijinin. Teteh nggak mau tahu kalau perlu Teteh ikat
kaki dan tanganmu, biar kamu tahu kalau Teteh sangat-sangat-sangat tidak setuju
dengan rencana kamu!”
Teteh buru-buru
meninggalkan kamar Fadli dengan marah. Teteh berharap kemarahan tadi dapat
merendam hasrat Fadli. Meskipun ada
keraguan terselip dalam batinnya,
mengingat sifat Fadli yang selalu ingin tahu sejak mengenal bangku
sekolah.
Dalam solat
Hajatnya malam ini Teh Maryam menyelipkan doa panjang kiranya Fadli
mengurungkan keinginannya untuk berpetualang ke hutan larangan. Hingga larut
malam Teh Maryam tak mampu memejamkan mata.
Ia putuskan untuk duduk di ruang tengah sambil mencorat coret bahan
laporannya. Tak terasa jam demi jam
terlalui hingga larut, teteh tertidur juga.
***
Fajar belum
menandai waktu Subuh. Fadli dan Danang
menuruni jendela kamar tempat mereka tidur dengan hati-hati sekali. Ransel di punggung dan
lampu senter dalam genggangan mereka masing-masing.
“Danang kita harus
berhasil memasuki hutan larangan. Aku yakin hutan itu tidak terlalu luas. Kamu
lihat foto ini?“ Fadli memperlihatkan foto hasil bidikan Danang dengan kamera
SLR yang dibawanya .
“Benar aku pikir
karena ini terhubung dengan sawah terasering ini, kita bisa memasuki lewat
sawah-sawah ini.”
“Sip…tos
dulu!” Mereka mengangkat kepala tinju
dan saling menyilangkan di udara. Fadli
dan Danang begitu yakin petualangan mereka akan menyenangkan dan penuh kenangan.
“Kita bikin cerita indah buat ngabibita mereka, biar mereka
menyesal. Suruh siapa liburan nggak
kompak,” ujar Fadli.
“Ya, kita foto semua yang kita temui di hutan
larangan. Mereka akan mengakui bahwa kita pemberani nggak kayak mereka.”
“Kita harus
bergegas jangan sampai saat subuh belum sampai di hutan larangan itu. Teteh Maryam biasa bngun setengah empat
sebelum Subuh. Begitu ketahuan kita nggak ada di rumah pasti dia bakal nyusul
kita. Rencana ini bisa berantakan.”
Tepat adzan Subuh,
mereka berdua telah sampai di mushola di bagian tengah tangga curam Naga.
“Kita solat di
sini, Danang. Alhamdulilah mushola ini ada listrik jadi tidak terlalu gelap.”Mereka
wudhu dan sholat dua rokaat Subuh. Agak
bergegas mereka solat tanpa rowatib qobliah.
Perasaan mereka berkata Teteh Maryam sudah bangun dan sedang menyusul
mereka.
Begitu selesai
sembahyang Subuh mereka berdua mengendong kembali ransel. Tangan kanan Fadli menggenggam bedog dan
lampu senter di sebelah kiri. Sepuluh menit kemudian mereka sudah menyebrangi Sungai
Ciwulan melalui jembatan beton penghubung Kecamatan Cigalontang dan
Salawu. Sinar rembulan cahaya penuh
banyak membantu perjalanan mereka.
“Danang, kita
sudah sampai ke sawah terasering seberang sungai artinya sebentar lagi kita
sampai ke hutan larangan.” Fadli
memandangi langit, belum nampak semburat cahaya matahari terbit.
“Fad, aku nggak
berani memasuki hutan larangan dalam keadaan gelap begini kita harus menunggu
matahari terbit,” Danang tak mampu
menyembunyikan rasa takutnya.
“Jangan jadi penakut, Nang. Bulan purnama penuh begini cukup
membantu kita melihat sekeliling, lagian kita bawa senter. Tidak mungkin kita berhenti disini. Sebentar lagi Teteh, Bibi dan penduduk
Kampung Rancak pasti mencari kita disini.
Mereka berjalan menyusuri pematang sawah. Mengikuti jalur yang
paling mudah kadang turun dan kadang naik. Beruntung kali ini hujan sudah mulai
jarang dan pematang sawah tidak licin sehingga terlewati dengan mudah.
Beberapa saat
setelah matahari terbit, mereka sudah sampai di perbatasan sawah terasering dan hutan larangan. Cukup sulit
mereka memasuki hutan itu karena ranting-ranting tumbuh tak beraturan
menghalangi orang yang hendak memasukinya.”
“Kalau begitu kita
cari saja jalan termudah yang biasa dilalui peserta upacara adat Naga.” kata
Danang sambil mengeluarkan kamera SLR nya mengambil gambar yang menakjubkan
itu. Hutan lebat yang sangat perawan.
Tidak ada tangan yang berani menjamahnya. Cabang dan ranting pohon bersilangan. Ranting-ranting kering tidak ada yang berani
mengambilnya.
“Kita tidak punya
banyak waktu untuk mengundi nasib dengan mencari jalan lain yang belum tentu
ada. Salah perhitungan kita bakal
tersusul mereka. Lihat itu di puncak tangga Naga orang-orang menuruni tangga pasti
mereka warga kampung Rancak yang mencari kita.
Kita mau sembunyi dimana?” Danang
cemas rencana petualangan ini akan gagal.
“Tenang aja dari
tangga itu ke sini butuh waktu tiga
puluh menit. Orang-orang nggak mungkin
mengebrangi sungai pasti mereka menggunakan jalur yang sama dengan kita,
berputar lewat jembatan. Kita punya
waktu membuka jalan ke dalam hutan dengan golok ini.” Fadli mengeluarkan golok dari sarungnya.
Fadli mulai
menebas ranting dan cabang sekuat tenaga.
Benar saja dalam sepuluh menit mereka sudah berhasil membuat jalan
masuk. Ternyata ranting bersilangan itu
masih ada di hadapan mereka sepanjang mata memandang .
“Kayanya cukup
sulit juga menembus pagar alam ranting berduri ini. Aah… aku terkena duri.
“Danang memegang lengan nya yang tertusuk duri.
Fadli mencabut duri panjang itu sedangkan tangannya, sudah dari tadi
berdarah di sana sini oleh goresan ranting dan duri.
Fadli terus
menebas ranting dengan penuh semangat . ternyata ranting bersilangan itu hanya
sekitar 3 meter. Selebih nya benar benar
menakjukan.
“Wah…..indah benar
hutan ini. Ada banyak pohon besar yang
berumur mungkin ratusan tahun. Danang
mencoba mendekap satu pohon terbesar di depannya. Ujung-ujung jarinya tak mampu saling
bersentuhan saking besarnya pohon itu.
Danang tak
puas–puas mengambil gambar dengan kamera SLR-nya. Meski remang-remang blitz dari kamera bagus itu cukup menghasilkan
gambar yang jelas.
“Aku menemukan
angrek-angrek hutan. Lihat bunganya
sedang bermekaran aku akan mengambilnya buat dipelihara di rumah. Pasti Ibu senang. “ Fadli mencongkel angrek
itu dari inangnya dengan golok. Berbagai
jenis tumbuhan obat mereka temui.
Semua yang menarik tak lepas dari bidikan Danang.
“Fadli lihat ada
bunga langka di sini. Bunga besar ,
inikah yang disebut Raflesia arnoldi
yang terkenal itu? Anehnya bunga ini
tidak mengeluarkan bau busuk. Berbeda
dengan cirinya yang kita pelajari di pelajaran IPA.”
Fadli menghampiri
Danang. “Kamu harus mengambil
gambarnya. Ini akan menjadi berita
heboh. Nanti kita posting, kita kirim ke
koran terkenal ibu kota.” Fadli begitu riang membayangkan ketenaran yang sedang
menanti mereka.
Ketika sedang
asik-asiknya mereka mengambil gambar dan video seseorang merengut dari belakang
.
Danang dan Fadli terlonjak karena kaget bukan
kepalang. Di belakang mereka berdiri sosok pendek gempal dengan wajah seram
karena marah. Kerut di keningnya
menambah aura mengerikan. Kulitnya
hitam legam dan jambang memenuhi setengah pipinya.
“Kalian telah
melanggar tata karma yang kami
tentukan. Kalian telah
menginjak-injak kehormatan kami dan keluhur kami . Jangan salahkan aku. Aku akan mengikat kalian di pohon ini.” Sosok
itu menjalankan semua yang telah dikatakannya .
Fadli memejamkan
mata. Ia memenuhi batinnya dengan
doa-doa dan permohonan maaf pada Teteh Maryam .
“Sebelum kalian
menerima hukuman, kalian harus menjawab
pertanyaanku dengan jujur. Makin kalian
bohong , makin berat hukumannya. “Kuer
naon maraneh aya di dieue, anak yang
tak tahu adab?”
“Kami hanya ingin
mengenal hutan ini seperti apa sebenarnya.
Kami ingin memperkenalkan keindahan hutan ini pada semua orang. Pasti mereka akan banyak mendapatkan manfaat ilmu dari hutan ini.” Fadli menjawab sambil memejamkan mata, tak ingin
melihat wajah seram pemiliknya.
“Kalian anak anak
kecil yang hanya berpikir sesaat. Pernahkah kalian berpikir, diluar sana
teramat banyak orang –orang serakah yang menginginkan hutan ini, menginginkan
anggrek ini, menginginkan pohon-pohon untuk
dijadikan apa saja kebutuhan yang tidak ada habisnya. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka
selain kematian.”
Suara berat dan
parau sosok itu merontokan dinding keberanian di hati Fadli dan Danang.
”Lalu apa yang
harus kami perbuat?” suara Danang setengah menangis.
”Aku akan
mengambil kameramu dan aku harus membungkam mulut kalian supaya tidak
menyebarkan berita tentang hutan larangan ini,”
Fadli dan Danang memohon-mohon supaya mereka dilepaskan namun
sia-sia. Meskipun tangisan mereka pecah,
tetap saja membuat sosok itu bergeming.
“Kalian tahu apa
yang akan terjadi bila pohon itu ditebangi?
Ciwulan akan kering, sawah yang menghampar hijau akan sirna kehilangan air, orang-orang
kampung itu akan kehilangan mata pencaharian hancur semuanya. Belum lagi
bencana longsor mengintai lembah ini bila hutan lindung, hutan larangan dan
hutan keramat dijamak manusia serakah penjajah alam. Kita hidup bukan di alam tapi kita hidup bersama alam.
Jangan pernah menzoliminya.”
Sosok itu menahan marah menyisakan suara gemerutuk gigi-gigi putihnya
yang besar-besar itu.
Fadli menunduk makin dalam.
Teringat cerita Teh Maryam yang menyaksikan sendiri bagaimana
keserakahan manusia membekaskan derita pada manusia lain. Sementara manusia serakah menikmati segala
kenikmatan dan kemewahan.
Air bersih yang
menjadi sahabat manusia terkotori perbuatan manusia tak berperikemanusian. Mereka selalu merasa menjadi pengelola bumi yang bijak atas nama
kemudahan, kesenangan, kemewahan,
kesejahteraan. Tapi semua bohong, semua fasilitas itu dinikmati hanya oleh
beberapa gelintir orang pemilik modal. Mereka yang serakah itu memperdaya
pekerja yang mereka peras keringatnya.
Tiba-tiba
terdengar dari luar suara memanggil nama mereka berdua.
“Fadli, Danang,
dimana kalian?” Suara itu terdengar dari
kejauhan seolah tak dapat menjangkau
keberadaan mereka.
“Teteh,.Fadli disini!!!!!!!!,” Fadli berteriak sekuat tenaga. Suara itu terus memanggil tanpa menanggapi teriakan Fadli dan Danang
seolah ada dinding yang membatasi.
“Teteh Maryam kami di ikat di bawah
pohon besar kami dalam bahaya!!!,”
Danang tak mampu lagi menahan tangisnya yang makin pecah.
Mereka berdua
akhirnya pasrah, ”Kami mengaku salah. Apapun hukumannya kami terima.” Fadli tidak lagi menangis, dan meronta. Ia tahu semua usahanya sia-sia. Tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti
semua keinginan sosok itu.
“Aku akan melepas
kalian, tapi jangan coba-cba
lari…….jangan melawan!” Sosok itu
melakukuan semua yang ia katakan. Cengkraman
kuat tangan sosokitu memaksa mereka melepas semua perbekalan. Tas ransel, kamera SLR, golok, senter, mereka
tinggalkan begitu saja di hutan larangan.
“Fadli
….Danang….kalian dimana, Teteh janji nggak akan marah asal kalian mau pulang
sekarang,” Suara Teh Maryam mulai terisak.
Ternyata mereka
dibawa ke sebuah sumur. Fadli dan Danang tidak lagi menyelidiki segala yang ada
di hutan itu. Terganti dengan kecemasan
akan nasib diri entah akan dibawa kemana .
“’Jadilah kalian
mahluk penghuni sumur mati ini.” Sosok
itu mengangkat mereka berdua bersamaan dan…,,
“Aahhh….tolong…,”
teriakan takut dan kesedihan yang tak terkira sungguh menyayat hati siapapun
yang mendengarnya.
***
“Fadli…. Danang….
Ada apa? Buka pintunya ini Teteh Maryam.
Kalian kenapa?”
“Nggak
apa-apa Teh, Fadli ngelindur, ” jawab
Danang yang juga terkagetkan oleh teriakan Fadli.
“Alhamdulillah
hanya mimpi…” Fadli membuka pintu dan
menghambur memeluk tetehnya,” Maafin Fadli Teh….Fadli akan menuruti kata-kata Teteh. Nggak akan melawan lagi. Janji.
Amang Sunarya turut terbangun dan menenangkan Fadli. Dijelaskannya bahwa hutan larangan tertutup
untuk umum. Tapi kalau Fadli penasaran ingin
memasukinya. Amang menawarkan Fadli
untuk ikut upacara adat di bulan Muharam.
Ada tata cara khusus untuk memasukinya.
Tentu tujuannya
supaya hutan itu tetap perawan dan tidak dijamah secara sembarangan oleh
orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Fadli tersipu
malu. Kemarin dia menuduh pamali itu
sebagai pembatasan pengembangan ilmu dan membunuh rasa ingin tahu. Ternyata……
TANGAN TERAMPIL NAN MEMPESONA I
Matahari
begitu setia mentaati keberadaannya. Tiga putaran sudah mereka berada di rumah Bibi Nury. Hari ini Teh Maryam ingin belajar menganyam atau
paling tidak mengetahui cara membuat serat bambu dan memprosesnya hingga
menjadi handicraft bambu.
Hari masih pagi. Amang pantang tidur setelah sholat
Subuh. Jam enam mereka membagi tugas. Bertiga, Amang, Danang dan Fadli sudah siap menuju kebun bambu. Amang membawa bedog dan gergaji. Memakai
sepatu boat dan sarung tangan. Baju
lengan panjang dan kupluk yang menutupi leher.
Sementara Bibi Nury dan Teh Maryam menyiapkan sarapan dan membereskan
rumah tentunya.
“Amang,
atributnya keren banget,” Fadli mengamati kostum pamannya.
“Ya,
kita harus memperhatikan keselamatan kerja.
Teu kenging lalawora. Harus serius dalam segala hal biar bisa jadi
orang sukses. Amang pakai sepatu boat
biar aman dari kacugag. Pakai sarung tangan, kupluk dan lengan
panjang biar nggak terkena bulu bambu.”
Amang menjelaskan
Rumpun
bambu itu dekat rumah Amang, sekitar 200 meter ke belakang rumah. Melewati
jalan setapak berbatu yang tertata rapi.
Dikanan kirinya tanaman pagar berjajar rapi. Makin menambah indah suasana kampong itu.
Sampai
di kebun, Amang mulai menjelaskan bambu yang cukup umur dan paling baik untuk
dipanen.
“Bambu yang
baik untuk bahan anyaman itu berusia 3-5 tahun,
Cirinya kalau kita tidak tahu persis umurnya, Tanaman bambu dapat dipanen bila
kulit batang yang semula berwarna hijau muda sudah berubah menjadi hijau tua
atau kebiru-biruan, dan kulit seakan-akan tertutup oleh lapisan lilin yang
akhirnya akan menghilang. Batang yang demikian keadaannya masih keras tetapi
sudah cukup tua.” Amang menujuk pada beberapa pohon dalam satu rumpun bambu.
“Terus
untuk ukuran ruasnya bagaimana, Mang? Ada
ada yang panjang dan ada yang lebih pendek?” Danang mengamati panjang ruas bambu yang
berbeda-beda.
“Memang
begitu. Dalam satu pohon pun panjang
ruasnya berbeda-beda. Panjang ruas tidak menentukan waktu panen,
tapi lebih pada umur dan ciri ketuaannya.
Kemarau adalah waktu yangtepat untuk panen. Karena
pada musim ini tunas muda sudah tumbuh dalam ketinggian maksimumnya. Daun-daun mulai tumbuh pada bagian
atasnya. Batang bambu dewasa ada pada
kondisi terkuatnya . Kalau ada daerah
yang membiasakan panen di saat bulan purnama, itu bukan mitos tapi ada
tujuannya.”
“Oh,
pantesan teman sekolahku pernah ikut ayahnya memotong pohon bambu saat
purnama,” Danang memotong cerita paman,
” Tujuannya apa , Mang.”
“Sebenarnya
ini bisa membantu pencegahan hama penggerek pada bambu dan juga bambu berkurang
kadar airnya saat itu. Kualitas bambu
yang dihasilkan akan bagus.”
“Selain
saat musim hujan, kapan saja waktu yang sebaiknya dihindari dari memotong bambu, Mang?” Fadli tidak kalah penasaran.
“Hindari
pemanenan saai musim tunas atau musim rebung.
Saat itu tunas sedang menyusu dari ibunya. Kadar air dan gula bambu sedang
meningkat. Rebung akan terganggu dan
kualitas batang bambu kurang bagus untuk bahan bangunan maupun bahan serat
anyaman.” Amang menjelaskan panjang lebar.
Amang
mulai menebang dengan bedog. Terampil sekali, tanpa mengganggu bambu yang
lain. Tak berapa lama, batang bambu
sudah bersih dari daun.
Batang
bambu sepanjang enam meter itu mereka gotong bertiga menuju ke rumah untuk
digergaji dan dibuang ruasnya.
“Mang,
bagian yang kata Amang ada bulu yang bikin gatal itu mana?” tanya Fadli,”dari
tadi saya nggak merasa gatal?
“Bambu
yang sudah tua dan cukup untuk ditebang memang tidak lagi memiliki bulu. Hikmahnya, bahwa sebelum saatnya ditebang
maka bambu seolah dibekali senjata untuk mempertahankan dirinya dari gangguan.”
Fadli
dan Danang merasa takjub dengan fenomena alam yang baru saja mereka ketahui,
bahwa Alloh SWT menjaga makhluknya dengan bekal mempertahankan diri untuk tetap
lestari.
Sesampai
di rumah, amang menggergaji bagian ruas untuk dibuang.
“Mang,
ruas ini dibuang begitu saja?” Tanya Danang
“Tentu
ada manfaatnya. Bisa digunakan untuk gelas.
Atau kayu bakar. Kalaupun dibuang
maka ia akan lapuk dan menjadi nutrisi tanah yang menyuburkan.”
Mereka
membawa potongan bambu itu ke ruang produksi anyaman untuk dibuat serat
anyaman. Teh maryam dan Bibi Nury pun
bergabung.
“Pertama
kali potong bambu dengan panjang sesuai kebutuhan. Kalau untuk produk ini, cukup 65 cm.” Amang
mengambil dan menunjukkan salah satu produk anyaman unik dan indah. Fungsinya sebagai wadah anggur, permen atau
butiran buah serupa anggur.
“Keren
banget.” Ucap Danang, “ seumur-umur saya belum pernah melihat wadah buah
seperti ini. Apalagi waktu di Jakarta.
Bibi
menunjukkan alat yang harus ada untuk membuat serat anyaman dari mulai bedog
dan gergaji untuk menebang dan memotong ruas bambu. Pisau hua untuk meraut, gunting besar untuk
merapihkan atau memotong serat sesuai panjang yang dibutuhkan, gergaji besi
untuk merapikan serat tebal.
Danang
mengambil gambar dengan SLRnya, satu persatu alat yang dibutuhkan. Dia juga sibuk mengambil gambar tiap produk
anyaman yang ada di ruang produksi.
“Langkah
selanjutnya, membelah gelondong bambu dengan arah membujur, lebarnya sesuai
kebutuhan. Untuk keranjang ini,
lebarnya 5 mm.”
Amang membelah bambu itu menjadi bagian kecil selebar 5 mm dan panjang 65 cm.
Sementara
itu Bibi Nury merapihkan batangan kecil itu dari serabut serat. Dibuangnya bagian depan dan bagian sembilu atau hinis. Selapis demi selapis
bambu dibilah arah melintang.
“Kalau untuk piring dan beberapa priduk lain
bilah seratnya membujur bukan melintang begini.
Nanti Bibi contohkan bagaimana serat membujurnya.”
Begitu
terampil bibi membuat serat bambu.
Maryam, Fadli dan Danang ngilu melihatnya takut pisau itu meleset ke
tangan. Tapi sungguh mengagumkan. Serat hasil sayatan bibi benar-benar tipis
sempurna dan rapi.
Mereka
mencoba untuk ikut membuat serat. Dengan
hati-hati sekali karena takut terluka.
Hasil serat bambu mereka tebal
dan tidak rapih.
“Serat
tebal begini bisa ditipiskan lagi dengan dibelah dua atau tiga bagian. Perhatikan ini.” Bibi Nury membelah hasil sayatan Danang dan
benar saja … tipis sempurna.
“Subhanalloh,
Bibi hebat banget.” Tiga anak muda itu terkagum-kagum.
“Nah
ini punya Teh Maryam hamper sempurna.
Kalau terlatih terus akan makin sempurna.” Puji Bibi Nury membuat Teh Maryam tersenyum
simpul.
“Kenapa
harus ipis-ipis pisan, Bi? Fadli geregetan hasil sayatannya tidak juga
benar.
“Ya….kalau
kandel teuing moal tiasa keur nganyam. Nggak lentur Fadli, gimana mau dibentuk kalau
kaku.
“Iya
juga ya?!” Fadli bersungut-sungut
membenarkan.
Pelajaran
pertama pagi ini sudah selesai. Pukul
delapan pagi memunculkan sinar mentari hangat dari pintu sebelah timur yang
mereka buka lebar-lebar.
“Sekarang waktunya sarapan pagi. Bibi dan Teh Maryam siapkan lengko
buat kalian.” Bibi mengajak sarapan pagi di ruang tengah.
Benar
saja telah siap lima piring lengko. Nasi lepet diiris kotak, diguyur dengan
santan kental panas, ditabur bawang goreng. Lengkap dengan suwiran daging ayam
dan sebutir telur. Irisan seldri dan
daun bawang juga sambel dibiarkan terpisah.
Biar mereka bisa mengambil sesuai selera.
Rasa
lapar makin berselera karena wangi lezat lengko di depan mereka. Alhamdulillah.
TANGAN TERAMPIL NAN MEMPESONA II
Hari ini matahari panas terik. Serat hasil sayatan tadi pagi terjemur rapih
di halaman rumah.
Dua pekerja yang biasa membantu Bibi
Nury dan Amang Sunarya sudah datang jam sembilan pagi. Di ruang produksi mereka bergabung. Kecuali Amang Sunarya yang pergi ke sawah
untuk menyiapkan ladang
“ Hari ini ada pesanan apa, Bi?” tanya
Teh Maryam.
“ Hari
ini harus selesai 150 keranjang tangkai dan 100 tempat mie gelas.
“Banyak
sekali Bi, apa yang bisa saya bantu?”
“Nanti
ada bagian pinising, Cuma menggunting
sisa bagian sisi dan mengelem wengku.”
Dalam
waktu tiga jam mereka sudah menyelesaikan 150 keranjang tangkai dan 30 wadah
mie gelas. Teh maryam menghitung kecepatan kerja mereka. Tiga menit satu
produk. Dalam tiga jam berarti
satu orang telah menganyam 60 produk. Begitu cepat, keterampilan yang mengaguman.
Adzan Dzuhur
berkumandang. Semua berhenti untuk
sholat Dzuhur berjamaah kemudian makan siang.
***
Selesai
sholat dan makan, Bibi Nury mengajari Teh Maryam membuat anyaman keranjang
anggur. Mereka berdua menganyam di ruang
tengah.
Serat
yang dijemur dari tadi pagi sudah mengeing dan siap dianyam. Teh Maryam mengambilnya dari halaman rumah.
“Bismillah. Ini Bi, sudah pada kering. Jadi tambah mengkilap ya, kelihatan bagus.”
Apa saja yang pingin kamu ketahui selain
cara menganyamnya, Teh?”
“Tentu saja alat dan bahan, cara membuat
serat dan cara menganyamnya,Bi.”
Dengan sabar Bibi Mury menjelaskan. Sementara Teh Maryam mencatat dengan seksama.
Alat dan baham dari awal penebangan
bambu adalah bedog dan gergaji. Alat membuat serat berupa bedog, pesau
hua. Alat dan bahan menganyam, yaitu
serat bambu, tali janur dan gunting.
“Jenis kerajinan anyaman ini sangat
hemat bahan karena tetapi hanya membutuhkan satu jenis serat. Tapi tidak
mengurangi seni dan estetika dari kerajinan ini. Lihatlah barang jadinya, indah
bukan?”
“Indah banget Bi…kecil mungil dan
lucu. Ini Bibi rancang sendiri atau
belajar dari orang lain?”
Bibi menceritakan proses kreatif
pembuatan keranjang itu. Awalnya ada
orang yang memesan wadah kecil sekira-kira muat ½ kg buah anggur. Dicobalah beberapa bentuk dan inilah yang
paling pas. Mudah, ekonomis dan cepar membuatnya.
Beberapa disain yang berhasil direka
bentuk ditunjukkan pada pemesan dengan beberapa tawaran harga. Pemesan menentukan pilihan bentuk yang paling
cocok.
“Cara membuat serat seperti kamu ketahui
tadi pagi.
Serat
yang diperlukan untuk membuat keranjang anggur ini hanya 1 jenis , yaitu:
potong bambu sepanjang 65 cm,belah membujur dengan lebar 5 mm”
Bibi Nury menjelaskan sambil
mempraktik cara menganyam serat-serat itu. Disusunya serat 10 kolom dan 14
baris dengan kolom rapat dan baris renggang. Jarak antar tiap 2 baris serat dengan jarak 1 cm, atur sehingga ayaman alas
tepat ditengah-tengah anyaman bambu.
Serat
tepi untuk mengunci bagian alas. Satu
serat dianyamkan sebagai tepian alas dengan
pola 2-2 dan tiap sudut dilipat, dibentuk 900 sehingga sisi yang
nampak adalah sisi lain dari serat tersebut.

Sisa serat alas yang belum teranyam dilipat
90 tegak lurus dengan alas keranjang .
Bibi Nury menyilangkan serat yang
dilipat ini. Silangan dibuat dari dua
serat yang saling berjauhan. Sehingga
menjadi bagian sisi keranjang.
Langkah selanjutnya, Bibi Nury
menyisipkan serat untuk membuat pola sisi.
Maka terbentuklah anyaman bintang
heksagonal.
Demikian
seterusnya sehingga sampai dapat 4 baris pita serat sisi.
Teh Maryam menyaksikan dengan penuh
kesabaran dan mengikuti langkah yang dilakukan Bibi Nury. Sesekali Teh Maryam minta diulang saat
tertinggal dari Bibi.
“Kalu bagian tangkainya gimana, Bi?”
“Tangkai haruslah dari bahan tertentu. Yang mudah dililitkan, cukup kuat dan mudah
di dapat. Misalnya janur kuning.
Bibi Nury mengambil tali janur
kuning yang telah jadi di daput.
“Ambil
janur kelapa masukan ke dalam air, didihkan air dan ambil janur sesaat setelah
air mendidih, dinginkan janur”
“Sisa serat dibagi seimbang kekanan
kekiri dengan dibagian tengahnya disilangkan.”
“Terakhir, belitkan rebusan janur
sebesar setengah lebarnya diputar serapih
mungkin menutupi dan menggabungkan seluruh sisa serat.
“Keranjang anggur siap digunakan.
Cantik bukan?”
Teh Maryam memandangi hasil anyaman
Bi Nury dan membandingkan dengan hasil buatannya. ‘Ah, nggak terlalu
jelek. Tapi bagaimanapun lebih rapi
punya Bi Nury. Tangan terampilnya
mempesona. Ditambah kreatifitasnya dalam
reka bentuk seharusnya dihargai sebagai keahlian yang langka.
KEBIMBANGAN
MASA DEPAN
Dua ilmu yang Teh
Maryam pelajari hari ini cukup memberikan inspirasi konservasi alam yang
menjadi impiannya. Membuat serat bahan
anyaman dan produk anyaman indah.
Keranjang anggur mungil nan cantik.
Tak terasa
kelelahan yang dirasakan selama belajar menganyam hari ini membuat Teh Maryam
terlelap di sudut ruang keluarga.
***
Menjelang Asar. Cahaya membara di langit. Melesat dari timur ke barat. Mehasilkan suara menggelegar. Suara itu seolah terdengar oleh seluruh
manusia di bumi.
Semua orang
menghambur ke luar rumah. Amang, Bibi, Teh Maryam, Fadli dan Danang.
Suara takbir dan
adzan menggema dari masjid dan mushola.
“Masya Alloh ada
apa ini? Inikah yang disebut kiamat?” Bibi Nury menahan isakannya.
“Bukan Bi, masih
ada beberapa peristiwa sebelum kiamat. Mungkin ini saatnya muncul dukhan?” Teh Maryam menjelaskan hadits
tentang dukhan. “Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut
yang nyata yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih(Mereka berdoa): “Ya
Tuhan kami, lenyapkanlah dari kami azab itu. Sesungguhnya kami akan beriman. (QS. ad-Dukhan: 10 – 12)
Bila datang suara menggelegar dari langit dan terdengar seluruh
penduduk bumi, maka kita harus menutup rapat rumah dan semua lubang udaranya.”
Teh Maryam mencari
kain dan tissue untuk menutup tiap bagian rumah. Bibi Nury, Danang dan Fadli membantu
sebisanya. Sementara Amang menuju ke
masjid bersama warga laki-laki yang lain.
Semua
bertanya-tanya tentang peristiwa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak ada
guncangan. Kalaupun yang merah menyala
di langit itu asteroid, ada dua kemungkinan asteroititu hancur oleh sabuk medan
magnet bumi, atau dapart menembus bumi dan jatuh di suatu tempat.
Tak berapa lama
dentuman kedua terdengar lebih kuat, selang beberapa detik guncangan kuat
terasa dan langit menjadi gelap. Sinar
matahari tertutup sempurna.
Jeritan dan
tangis ketakutan mulai terdengar. Fadli
mencoba menyalakan lampu listri.
“Teh,
mati…..tidak ada lampu.”
“Fadli coba
periksa HP Teteh. Masih menyala atau
tidak?”
Fadli
mencari-cari HP Teh Maryam sambil meraba-raba karena gelap.”Dimana Teh?
“Terakhir Teteh
pakai dekat pojok ruang tengah ini.”
Susah payah
fadli mencari dan akhirnya ketemu.
Ditekannya tombol pengaktifan. Dan….nihil.
“Innalillahi wa
inna ilaihi raaji’un. Shadaqalloh wa
shadaqarasululloh SAW. Dukhan telah
hadir di zaman kita. Nyalakan lilin di
tas kakak dan ada korek api di dalamnya.
Teteh selalu mempersiapkan bila sewaktu waktu Dukhan datang…….” Suara Teh
Maryam melemah dan lirih.
***
“Teh ada apa. Bangun Teh.” Fadli mengguncang-guncang bahu
Tetehnya.”
Teh Maryam kaget
dan segera bangun,”Masya Alloh. Dukhan…dukhan.
Tutup pintu dan jendela, nyalakan lilin….Fadli”
Fadli
terpingkal-pingkal. Giliran Teteh Maryam
yang mimpi aneh.
“Teteh kebanyakan
ndengerin kajian akhir zaman ya?”
“Fadli, lebih baik
kita tahu sebelum terjadi dari pada buta sama sekali. Kalau yang nggak siap dia akan terkaget-kaget
dan syok dengan keadaan.”
“Justru Teteh yang
duluan terkaget-kaget sebelum ada Dukhan beneran. Tuh buktinya.” Fadli tak henti-hentinya menertawakan Teh
Maryam.
Teh Maryam
bersungut-sungut, berdiri meninggalkan Fadli.
“Alhamdulillahiladzi ahyana ba’damaa amaatanaa wa ilahin nushur.” Doanya
sambil berjalan gontai menuju kamarnya.
‘Tunggu dulu Teh,
boleh dong cerita mimpi Teteh barusan?”
Fadli merajuk.
“Sama seperti yang
pernah Teteh ceritakan ke kamu. Tentang
berita akhir zaman.”
Fadli terdiam
berarti mimpi Teh Maryam seperti hadids nabi juga ayat alqur’an tentang akhir
zaman? “Ih..serem,” pikir Fadli
Ada bagian yang
membuat Fadli bimbang kalau Teh Maryam sudah bercerita tentang penghujung alam
dunia. Teh Maryam sering mengutip
pernyataan Stave Jobs penemu android.
Juga Albert Einstein, ahli Fisika Modern. Bahwa perang nuklir tidak akan pernah ada.
Kalau pun ada perang maka senjata manual seperti panah, tombak,sumpit akan
menggantikan mesin tembak otomatis.
Teknologi manusia
modern abad mutakhir akan terkalahkan oleh kuasa Alloh SWT. Bahwa kesombongan dan keangkuhan teknologi
akan berakhir. Induksi elektromagnetik
Maha Dahsyat akan melibas semua keangkuhan itu.
Semua akan kembali
pada teknik manual. Karena semua teknologi
yang melibatkan listrik akan terinduksi dan merusak system kerja mesin.
Alat yang serba
mesin akan berganti serba keterampilan tangan langsung. Pantaslah Teh Maryam begitu semangat mengkaji
konservasi alam. Juga ketertarikannya
pada keterampilan manual menganyam, nampaknya banyak terinspirasi dari berita
akhir zaman.
Tapi kapankah itu
akan terjadi? Hanya Tuhan pemilik
semesta yang tahu. Fadli tak ingin
banyak memusingkannya. Usianya masih
amat belia dan masih polos untuk tahu banyak hal tentang masa depan.
Dalam hatinya ia berkata,
Wallohua’lam.
TEKAD YANG
MEMBARA
Hari ini liburan Fadli
dan Danang berakhir. Mereka sebenarnya
masih betah tinggal di rumah Bibi Nury,
tapi apa boleh buat besok harus kembali sekolah.
Pagi-pagi jam tujuh mereka sarapan surabi
tabur daging ayam kampung ditemani saus
mayones. Singkong dan talas goreng aneka rasa siap menggoyang
lidah mereka. Air minum susu kambing
perahan Amang Sunarya. Nikmat, sehat,
alami dan penuh sensasi rasa.
“Setelah kalian berada disini dalam lima hari
ini apa yang kalian dapat? “ Bibi Nury
membuka obrolan.
“Tak terkatakan Bi….. yang paling seru kasih lima jam dua sejoli di kampung seindah syurga. Sayang kisahnya baru bersemi belum mekar
apalagi berbuah.” Danang melontarkan
candaanya agak keterlaluan.
“Wah antara siapa dengan siapa ini…..?
“Siapa lagi kalo bukan Teh sholehah dan
pengagum kesolehannya.” Fadli menimpali.
“Memang kamu
bertemu siapa disana?”
“Kuncen Muda yang
wajahnya bersih bercahaya, mirip Harris J.
Bibi kenal Harris J nggak? Ini
posternya.” Fadli mengeluarkan foto
ukuran postcard artis idolanya.
“Sama Kuncen Kampung
Naga, Bibi Kenal. Tapi bukan mirip....
siapa tadi, Harris J? Kalian tahu nama
orang yang menyebut dirinya Kuncen itu?
Jabatan Kuncen itu sacral dan tertinggi kedudukannya di Kampung Naga
jadi tidak boleh disematkan pada sembarang orang. Kuncen itu pimpinan adat tertinggi setelah
patunggon Bumi Ageung, jajaran sepuh, punduh adat dan lebe.”
“Innalillahi…ia
kita nggak kepikiran buat nanya siapa namanya.
Memang dia juga bilang badal Kuncen.
Tapi buat mudahnya kita sebut aja Kuncen Muda.” Fadli menjelaskan.
“Orangnya
terlalu berwibawa, sampai-sampai kami memanggil dia Pak padahal masih
muda. Akhlaknya mulia dan menambatkan hati
pada yang berakhlak mulia juga. ” Bergantian
Danang yang menggoda Teh Maryam.
“Sudah….kalian
jangan keterlaluan menggoda Teh Maryam kasihan dia jadi tersipu malu begitu. Oh
iya….Bibi ingat dia itu mungkin keponakan Kuncen yang sering mengantikan posisi
Kuncen kalau lagi keluar. Ketua karang
taruna tetangga desa ini. Tapi Bibi lupa
siapa namanya. Dia bisa dibilang pemandu
wisata yang paling dipercaya Kuncen Naga.”
“Ini kewajiban
Bibi mencari jodoh buat keponakannya,”
ucap Danang.
“Menurutku ada
yang lebih seru lagi…mimpiku malam itu yang tak pernah ada yang tahu kecuali
aku!” kata Fadli.
“Nah tentang Fadli, Teteh pun penasaran
ceritanya sampai sampai baju Fadli basah dengan keringat.”
“Beruntung nggak
basah dengan ompol, Teh.” Danang mengganti
sasaran godaannya pada Fadli.
Fadli
menceritakan mimpinya dengan penuh semangat, sesekali Danang meneruskan cerita
mimpi Fadli dan Fadli
membenarkannya. Kisah mimpi yang aneh.
“Intinya mah, jangan melawan nasehat bijak
seorang Teh Maryam. Kalau tidak, bisa
terjebak oleh rasa penasaran yang tidak
layak” Bibi Nury menasehati.
“Keinginan dan ide
kita untuk memasuki kita hutan larangan
itu kebawa mimpi. Hampir-hampir aku juga
mimpi bertualang ke hutan larangan. Tapi
waktu Fadli membuka jalan dengan memotong dahan dan ranting bersilangan, aku
memutuskan mencari jalan yang mudah yang biasa dilalui saat upacara adat.
Begitulah aku terus berputar-putar lama sekali dan tidak menemukan jalan itu.
Tiba-tiba aku dengar Fadli berteriak. Jadi ikut bangun, deh!”
“Mimpi kalian aneh
kok bisa mirip? Aneh, tapi bagaimanapun
Allah Maha Berkehendak atas segala
sesuatu.” Teteh menyimpulkan apa yang terjadi antara Fadli dan Danang
Fadli juga
mengungkapkan pengalaman paling seru yaitu mimpi Teh Maryam di siang bolong. Asteroit, dhuhan suara menggelegar dan masa
depan. Diiringi derai tawa semua yang
ada di ruang tengah itu.
“Kalau teteh
sendiri ingin sesuatu saat nanti menulis buku tentang bagaimana berkreasi
dengan anyaman bambu dan membuatnya,
supaya budaya anyaman bambu yang ramah lingkungan ini lestari. Terus teteh ingin memperkenalkan
produk-produk anyaman melalui ekspo produk back
to nature. Terus membuka jalur
ekspor ke berbagai negara.”
“Wah, Bibi setuju
sekali Maryam. Bibi bisa menjelaskan semua jenis anyaman yang Bibi bisa tapi Bibi
kira butuh waktu yang agak panjang untuk menjelaskan satu persatu lestari
anyaman bambu ini.”
“Kemarin
seharian kalian nggak ngodain Teteh, kok
sekarang kumat lagi?” Teh Maryam protes
dengan kelakuan dua anak itu.
“Biar kisah ini
nyampai ke Bibi. Siapa tahu beliau mau
ngecomblangin.” Fadli menimpali.
“Insyaallah, Bi….liburan
semester depan aku akan menginap agak lama di rumah Bibi. Semoga nggak ada halangan, ya Bi…..
“Bagaimana kalau
pas libur semester justru Teteh udah jadi warga Kampung Naga?’ Danang asal
berucap.
“Hanya Allah yang tahu kisah cerita setiap
hambaNya.” Teh Maryam menanggapi dengan bijak.
“Bibi tidak sabar
ingin buku itu segera jadi dan terbit.”
“Selain produk
anyaman saya juga ingin memperkenalkan konstruksi bangunan rumah adat Naga yang
telah dimodifikasi menjadi rumah panggung yang seperti rumah Bibi dan Amang
buat. Selain bentukan yang artistic dan
penuh hikmah ini akan membantu menyelamatkan manusia dari resiko gempa yang belakangan ini makin sering terjadi. Daya rusak gempa membahayakan rumah permanen,
tapi rumah panggung sangat aman dan dapat menyesuaikan dengan getaran gempa. Beribu
nyawa dan banyak harta dapat terselamatkan dengan konstruksi rumah panggung
ini.
“Sebuah perjalanan
panjang dan mulia tapi dengan tekad dan kemauan baik insyaallah akan sampai.”
“Aamiin” mereka
berempat mengaminkan cita-cita Teh Maryam hampir bersamaan.
PESAN CINTA KAMPUNG NAGA
Mereka bertiga teramat berkesan dengan kehidupan warga Naga,
terutama Teh Maryam. Digoreskannya
kenangan indah itu dalam liris prosa, tanda cintanya pada Kampung Naga, seiring
cita-cita memperkenalkan budaya Naga pada dunia:
Belum seratus langkahku, Berburu
nafas terputus
Tulus kagumku menatap indahmu
Kau begitu belia tuk berpacu dengan
deru zaman
Debu-debu permainan kotor, tak mampu
hinggap di alam perawanmu
Kau seolah membisu, Tak bergeming
Meski lambaian kemegahan begitu
menggoda
Naga…..Sebutanmu begitu gagah
seolah penjaga sebentuk kelestarian
Pengusir tangan-tangan jahil perusak
alam
Namun seribu keindahanm, tak
tergambar atas namamu
Permadani hijau dan hamparan emas,
membuai lembut mataku
Lenggokan Ciwulan biaskan
binar-binar mentari,
bak mutiara bening menyilaukan
Rindangnya hutan alam, memutar air
kehidupan abadi
Naungan-naungan sederhana berbaris
bersahaja
Tanpa jurang pembeda
Tergoda rasa hatiku, tuk mencari
rahasia daya pikatmu
Memanggil manusia hingga ujung dunia
Inikah rahasia harmoni, tradisi
lestari beriringan jiwa-jiwa suci?
Tiada pergulatan materi terbalut iri
dengki
Tiada pongah jumawa, Seolah pesan
kerendahhatian
Senyum tulus menyambut siapa jua, kemana himpitan beban dunia?
Menyusup sejuk di kelopak batinku,
menuai hikmah keanggunan Naga
Nurani hatiku tersentuh haru, oleh
cinta yang Kau tawarkan
Khayal melambung mencipta angan
Andai tiada materialisme itu....,
maka terganti rakus dengan sahaja
Andai tiada individualisme itu…,
niscaya peduli akan menyapa
Andai tiada liberalisme itu…, tentu
tatanan akan bicara.
Dalam diammu, kau sampaikan nasihat
bijaksana
Sebingkai kanvas kehidupan,
Penuh rahmat dan ketenangan
Jauhkan bala bencana teguran alam
Mutiara terpendam
Menanti untuk dibawa serta
Pada kearifanmu bersama semesta
Tuk menjawab segala tantangan hingga
ke penghujung zaman
Wahai Kampung Naga, tegarlah engkau
dari himpitan ketiak zaman
Tetaplah bersahabat dengan alam, Sungguh
Tuhan benci kerusakan
Akibat tangan zalim manusia, yang
tak pernah puas berbuat angkara
Maka jangan kau berubah, dunia ini
butuhkan pesan cintamu
Inspirasi cinta
ini menguatkan tiap tarikan napasnya untuk wujudkan mimpi indah itu
menjadi kenyataan.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Biodata Penulis
Nama
lengkap: Titin Harti Hastuti, S.P
Ponsel
: 087827619101
Pos-el : khadijahhanif313@gmail.
com
Akun
Facebook : Titin Harti Hastuti
Alamat
kantor : Pesantren Terpadu Nurul Amanah, Jalan Raya tasikmalaya-Garut Km
31 Rancak Neglasari Salawu Tasikmalaya 46471
Bidang
keahlian : Guru IPA dan FISIKA
|
Riwayat pekerjaan/profesi (10 tahun terakhir):
1.
1997-kini : Guru IPA, Fisika dan Bahasa Inggris
2.
2007-kini : Bagian
Kurikulum Pesantren Terpadu Nurul Amanah
3.
2007-kini : Pembimbing
Ekskul Hidroponik, Sanggar Sastra
Pesantren Terpadu Nurul Amanah
4.
2007-kini : Perintis buletin pesantren Annasihah
5.
2013-kini : Anggota Yayasan Aminul Ummah Divisi Kurikulum
6.
2016-kini : Perintis
Literasi Sekolah di Pesantren terpadu Nurul
Amanah
7. 2016-kini : Pengurus Taman Baca Abu Bakar PTNA
7. 2016-kini : Pengurus Taman Baca Abu Bakar PTNA
Riwayat
Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
1.
S-1: IPB Angkatan 1992
Informasi
Lain:
Lahir di Temanggung, 11 Desember 1974. Telah menikah
dengan Muhammad Erwin Kurniawan Al Fatih dan berputera tiga (Siti Sofuroh Al
Mujaddidah, Muhammad Usamah Syamil Abdullah dan Muhammad Muyasar Nashir
Abdullah). Menggeluti hal-hal yang berbau sastra, kependidikan dan pengembangan
pesantren. Aktif dalam organisasi dakwah dan keguruan.
GLOSARIUM
Amang = Paman
asihan= mudah mengasihi
bale patemon= balai
pertemuan
bedog= golok (pisau besar)untuk menebang pohon
bumi ageung= rumah besar
deudeuhan= punya rasa
empati
cengcelengan =celengan
ipis-ipis
pisan= tipis-tipis sekali
kandel
teuing moal tiasa keur nganyam= kalau tebal tidak bisa dianyam
kacugag=tertusuk
katingalina= kelihatannya
keur naon maraneh didieui= sedang
apa kalian disini
kumaha = gimana
leres= benar
mah= sih
nalang kanu susah= memberi
pinjaman pada yang susah
neng=sebutan sayang
gadis sunda
ngabibita=membuat inginnyaahan=
mudah iba
ngahudangkeun kanu labuh= membangunkan
yang jatuh
ngahudangkeun kanu titeuleum= membangunkan
yang tenggelam
nganter kanu sieun= mengantarkan
yang takut
nulung kanu butuh= membantu
pada yang membutuhkan
nyaangan kanu poekeun= menerangi
yang dalam kegelapan
pamali = larangan yang
tidak diperbolehkansiga mendakan intan pelakeun= tanaman
pamundut gancang eusian= seruan
infak segera diisi
panyaur gancang temoan=
panggilan segera temui
parentah gancang lakonan= perintah
segera jalani
payunen = depannya
pelakeun=untuk ditanami
pirage anyaman awi =
padahal Cuma anyaman bambu
punten= maaf
Sa teu acana = sebelumnya
sambel atah=Sambal Mentah
saung lisung= rumah
penumbukan padi
siga mendakan=seperti
menemukan
tapina Bibi hilap saha namina nya= Tapi bibi lupa siapa namanya
ya
teteh, teh=sebutan
kakak perempuan
teu kaci = tidak
boleh
teu
kenging lalawora= tidak boleh
sembarangan
teu kunanaon= tidak apa-apa
welasan= mudah kasihan
DAFTAR PUSTAKA
http://tugaskab.blogspot.co.id/2013/01/kampung-Naga-dari-alam-kembali-ke-alam_8303.html
/10-3-2017
http://trevelsia.com/mengintip-kearifan-lokal-di-kampung-Naga-tasikmalaya/10-3-2017
http://clara-indonesia.com/suatu-pagi-di-kampung-Naga/10-3-2017
http://jabar.pojoksatu.id/wisata/2015/09/20/seperti-ini-asal-usul-kampung-Naga/10-3-2017
http://www.kompasiana.com/aseprizal/kampung-Naga-sebuah-legenda-dari-kabupaten/10-3-2017
http://makalahkampungadat.blogspot.com/2015/05/makalah-kampung-Naga.html/10-3-2017
Suganda, Her. 2006. Kampung Naga Mempertahankan Tradisi.
http://belajar-ngepoting.blogspot.co.id/2016/02/makalah-tentang-kampung-Naga-tasikmalaya.html/10-3-2017
http://katumbiri-fitri.blogspot.co.id/2013/02/makalah-kampung-Naga-laporan-kuliah.html/10-3-2017
https://es.slideshare.net/abassialibilhad/makalah-sistem-kehidupan-kampung-Naga/10-3-2017
LAMPIRAN FOTO
Foto Alam dan
Budaya Kampung Naga
Pembagian
Kawasan
1.
KAWASAN
SUCI (Sungai Ciwulan, Hutan Larangan/Hutan Keramat, Hutan Lindung,
2. KAWASAN BERSIH (Bumi Ageung, Masjid,
Pemukiman Penduduk dan Lumbung Padi)
3. KAWASAN
KOTOR (Perikanan dan Peternakan, Saung Lisung, MCK, dan Tempat Sampah,
MODIFIKASI ARSITEKTUR SEKITAR KAMPUNG NAGA
SYURGA TATARAN SUNDA DALAM TATA NILAI DAN KEHARMONIAN DENGAN ALAM
Sumber Foto
Koleksi Pribadi (tanpa tanda nomor)
4.
http://www.zhaloedistrosunda.com/2014/12/bedog-sunda-atau-golok.html
6. http://travel.kompas.com/read/2013/09/18/0812396/ Mengunjungi.dan.Mempelajari.Budaya.Kampung.Naga/15-3-2017
7.
http://log.viva.co.id/news/read/777288-menikmati-kearifan-lokal-di-kampung-Naga/15-3-2017
8.
http://rosemarinebelle.blogspot.co.id/2013/05/kampung-Naga.html./15-3-2017
9.
http://anrctect.blogspot.co.id/2011/06/one-day-trip-to-kampung-Naga.html/15-3-2017
























Komentar
Posting Komentar