RETAK

Aku nggak menyangka, takdir ini menghampiri Sinta.  

Gadis yang begitu cantik, penurut, pintar bahkan cerdas.  Senyuman selalu ada wajah hitam manisnya.  Rasanya tak akan habis aku menceritakan segala kebaikan lahir batin dari sosok Sinta, teman terbaikku.

Terakhir aku melihatnya, sebulan yang lalu saat Ibu Maruti (nama ibu Sinta) menjemputnya di sekolah dengan wajah yang semrawut.  Sinta hanya sempat melambaikan tangan padaku dengan wajah ketakutan.

Sepulang sekolah notifikasi whatsap-ku berdencing.  Aku segera memeriksa pesan yang masuk. Dan....

"Nabila.....maaf  ibu minta tolong.  Sinta depresi berat."

Jantungku hampir copot.  Ada rasa nggak rela.  Walaupun bukan hakku untuk membiarkan perasaan itu.  Tapi bagaimana mungkin gadis sebaik, semanis dan sesabar dia bisa depresi?  Ataukah ada masalah yang mencoba dia tanggung dan itu di luar batas kemampuan nya?  Entahlah.....

"Maaf Bu, apa yang bisa aku bantu?"

"Dalam buku hariannya juga banyak tertulis nama Yudi Nugraha.  Barangkali Nabila kenal nama itu? Nabila teman terdekat Sinta kan?"

Tentu saja aku kenal Yudi Nugraha.  Kakak kebanggaanku.  Aktifis mahasiswa yang selalu kritis dengan keadaan.  Prestasi akademik dan nonakademiknya selalu membuatku teriri-iri sekaligus terinspirasi.  Dan aku tahu Sinta sering mengekspresikan kekagumannya pada Mas Yudi.  Selama kami berteman akrab, Sinta beberapa kali datang ke rumahku dan mengenal Masku semata wayang itu.

“Dia kakak aku.  Terus apa yang  Sinta  inginkan dari Mas Yudi, Bu?”

“Datanglah ke rumah, mungkin kehadiran Yudi akan sedikit membantu Sinta mengeluarkan beban batinnya.”

Tapi aku nggak yakin Mas Yudi mau.  Dia termasuk pemuda kolot menurutku.  Kerjaannya selain kuliah, ikut kajian melulu.

Sebelum aku melibatkan Mas Yudi aku ingin mengorek penyebab depresi Sinta.  Beberapa hari aku chattingan terus sama Tante Maruti. Akhirnya aku tahu penyebab depresi Sinta.

Orang tua Sinta menumpahkan segala masalah rumah tangga, bisnis, hingga keretakan hubungan keduanya pada Sinta.  Mereka menganggap Sinta anak yang perfect.  Mereka beranggapan, Sinta gadis yang dewasa karena sifatnya yang penyabar.  Ia senang mendengarkan keluhan orang lain bahkan memberi nasihat-nasihat bijak.
Terakhir Sinta memilih untuk berhenti sekolah dan minta menikah.  Sosok yang didambakannya adalah kakak idealku, Mas Yudi.

Alih-alih mendapat restu orang tuanya Sinta justru dipukul ayahnya.  Permintaan Sinta dianggap tidak wajar, sangat mengecewakan dan harus dibuang jauh-jauh dari benaknya.  Anak sepintar dan seberprestasi Sinta seharusnya belajar dan terus belajar.  Pernikahan tentu dianggap gunting pemotong tajam segala cita-cita keluarganya.

Aku sendiri mencoba berani menyimpulkan.  Pantaslah Sinta minta menikah.  Sebenarnya beban masalah orang dewasa telah terlalu berjibun di kepalanya dan ia mendambakan seseorang yang mau meringankan bebannya.  Salah satu jalannya yaitu….. mendapat bbf (best friend forever).

Ah….mampukah aku membantu Sinta keluar dari masalahnya ini?  Akan aku coba.

***

Dering hpku menghentikan kegiatan bacaku sore ini.  Tante Maruti…..layar berpendar bertuliskan nama itu.  Aku mulai berdebar-debar menerima apapun dari beliau.  Dari hari kehari kabar buruk makin membuatku tertuntut buat ngebantu Sinta.

“Nabila,  Sinta mulai menyakiti diri.  Mohon bantuanmu, Nak?  Dia makin nggak bisa diajak bicara.  Tidak ada sepatah kata pun yang bisa”  Suara dari seberang sana parau diiringi isak tangis.

“Iya Bu…. Akan aku  usahakan segera.”  Aku ngejawab sekenanya.  Yang penting Tante Maruti dan Sinta membaik.

Tiba-tiba pintu kamarku diketuk seseorang dari luar.  Mungkin papa atau mama…..
“Masuk aja nggak dikunci, Pah …Mah.”

“Asalamu’alaikum  ukhti cantik?”

Aku kaget bukan main ternyata Mas Yudi.  Tumben dia nyempetin pulang dari kosannya.  Rumah kami cukup jauh dari kampusnya.  Makanya dia milih kos untuk memperlancar aktivitasnya yang berjibun.

“Alhamdulillah, ini bener Mas Yudi?”  Aku langsung peluk Masku yang sudah empat bulan nggak nongol-nongol.

“Memang kamu  punya kakak kembar?  Atau ada kloninganku gitu?”  Mas Yudi bercanda sambil menyubit pipiku.

Aku segera menumpahkan segala beban yang menggelayuti pikiranku.  Mas Yudi mendengarkan satu-satu dengan sabar.  Harap-harap cemas aku menunggu ekspresi yang bakal keluar dari ucapannya.  Mas Yudi baru masuk semester tiga.  Tantangan menikah untuk membantu Sinta mungkinkah?  Sementara Sinta baru kelas duabelas.  Seumuran dengan aku 17 tahun.

“Sebenarnya aku maksain pulang juga karena beberapa hari ini aku mimpiin kamu terus, Bila….  Ternyata kamu sedang punya masalah.  Sudah berapa lama kamu  kontak dengan Tante Maruti?”

“Seminggu, Mas.”

“Kenapa kamu nggak langsung kontak ke Mas?  Kalau makin cepat kamu cerita tentu kamu nggak ikut-ikutan depresi kan?”

Mas Yudi selalu saja humoris.  Padahal aku udah cemas bukan main takut dia marah karena datang-datang udah ditawari problem.  Tapi lagi-lagi kalimat bijak yang aku terima.  Dia bilang kalau memang jodoh pasti manusia takkan pernah bisa mengelak.  Semua tergantung hasil istikharah Mas Yudi. Apalagi disertai niatan tulus membantu kesembuhan Sinta. Semoga keputusan terbaik selalu ada.

Aku segera mengabari progress PDKTku ke Tante Maruti.

“Tante, banyak berdoa ya Tan….soalnya Mas Yudi sedang istikharah buat memutuskan jodohnya sebenarnya siapa.  Sinta atau bukan.”  Chat Fb-ku sama Tante Maruti suatu hari.  Aku hanya bisa komunikasi dengan Tante Maruti karena Sinta sudah tidak bisa merespon komunikasi dengan baik.

***
“Bila, temenin Mas Yudi ke rumah Sinta ya?”  Mas Yudi mengagetkanku.  Hampir-hampir aku tersedak seblak, jajan favoritku.

“Secepat ini Mas?”

“Kan kamu pingin Sinta cepet baik lagi?”

“Nggak sama mama-papa?”

“Waduh memang Mas mau ngelamar Sinta?”

“Maksudku, Mas Yudi mau jadian sama Sinta?”

“Ya ampun Bila…..kamu pikir ada kamus pacaran buat Mas Yudi?”

“Ntar kalo ada aku Mas nggak bakalan keganggu?!  Barangkali ada perbincangan rahasia….”  Aku mengedipkan mata kiriku.  Maksudku buat nggodain Mas Yudi.

“Ini anak, makanya ngajilah calon ukhti…. Berdua-duaan itu yang ketiganya setan.”  Kepalan tangan Mas Yudi menjenggung  kepalaku  pelan.

Sampai saat ini aku belum bisa mengerti jalan pikiran Mas Yudi.  Bagaimanapun aku memandangnya aneh, kolot, tertutup sama cewek.  Pokoknya nggak nyambung ngobrol sama beliau.  Aku banyak nggak ngertinya.

Aku makin penasaran kira-kira apa yang bakalan dilakukan Mas Yudi ke Sinta.  Tapi aku yakin Mas Yudi pasti bakalan ngasih solusi brillian yang tak terduga.  Aku menurut saja apa maunya Mas Yudi.

Menaiki motor gedhe Mas Yudi, aku dibonceng di belakang.  Melintasi jalan tikus yang aku sendiri nggak kenal jalan itu.  Soal rute kota kami Mas Yudi memang jagoan.  Maklumlah aktivis mahasiswa.

Sepuluh menit kami sampai.  Tante Maruti menerima kami dengan senyum lebar.  Kami segera dipersilahkan masuk ke rumah besar Sinta.  Rumah tingkat bercat krem.  Frame jendela merah marun.  Ruang tamu dua kali ruang tamu rumahku yang cukup dua set sofa dan buffet besar koleksi buku ayah Sinta

Tak lama kemudian Tante Maruti dan Sinta disusul bibi yang membawa minuman sirup strowberi dingin.

Aku langsung memeluk Sinta.  Kangen, kasihan, sedih bercampur aduk di dadaku.  Tapi aku menahan segala air mata agar tak tumpah ruah.  Kata Mas Yudi jangan menampakkan kesedihan.

Sederetan kata-kata yang harus kukatakan sudah aku hafal berikut kalimat yang nggak boleh aku ucapin.  Aku menurut saja sama calon psikater yang tentu banyak tahu bagaimana memperlakukan penderita depresi.
Sinta tidak bicara sepatah kata pun.  Aku mengucapkan kata-kata yang diajarin Mas Yudi di telinganya.  Ekspresi positif dapat kurasakan dari tarikan nafas panjang dan hembusannya yang kuat.  Seolah tanda Sinta sedang berusaha melepas beban beratnya.
Kami duduk berempat.  Senyuman Sinta begitu lepas saat menatap wajah Mas Yudi.  Entah apa yang dipikirkannya.  Sementara Mas Yudi banyak  mengarahkan pandangannya padaku.
“Sinta, kamu sangat penting untuk  aku  juga Nabila. Hidupmu penting bagi kami. Saat kamu merasa ingin menyerah, katakan pada dirimu sendiri bahwa kamu akan bertahan untuk satu hari lagi, satu jam lagi, satu menit lagi, berapa lama yang kamu mampu.  Aku dan Nabila akan selalu ada dan hadir untukmu.”
Sinta tersenyum dan berusaha mengucap sepatah dua patah kata yang terdengar lirih, ”Terimakasih, Mas Yudi.”  Kata-kata yang hampir sebulan terpendam dalam hatinya
Hari ini, kehadiran kami seolah merajut kembali jiwa Sinta yang hampir saja retak dan pecah terburai.  Tante Maruti tersenyum  bahagia dan memeluk erat Sinta.
“Maafin Ibu, Sinta….Ayah dan Ibu baik-baik saja.  Keluarga kita akan tetap utuh.  Ayah dan Ibu janji.  Everything is OK and will be OK”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA