TEBING TERJAL PERJUANGAN (BE ABLE FROM DISABLE) - Sebuah Esai Perjuangan


Oleh: Titin Harti Hastuti

Ada energi dalam hidupku yang kudengar lewat tutur bijak ayahku.  “Besi tidak akan pernah menjadi pisau yang tajam sebelum dia dipanggang di atas api hingga membara.  Setelah itu, dia akan dipukul-pukul oleh ahlinya hingga menghasilkan bentuk yang diinginkan.  Demikian juga hidup manusia.  Makin ditempa dengan penderitaan dan kesulitan oleh Yang Mahakuasa maka ia seolah sedang dibentuk menjadi manusia yang baik.  Sedangkan sebaik-baik manusia adalah mereka yang membawa manfaat buat orang lain.”

Kata-kata bijak itu menginspirasiku untuk terus mendaki tebing terjal kehidupan yang harus kulalui.  Seolah menghitung hari demi hari, setapak demi setapak perjalanan yang jauh berbeda dengan orang lain yang dikaruniai kesempurnaan fisik.

Aku dilahirkan sebagai anak tertua dari tiga bersaudara.  Awalnya aku terlahir sempurna tanpa cacat fisik, kecuali benjolan di daerah tulang punggung, sejajar dengan lingkar pinggang.  Aku tidak begitu mengerti apa penyebab benjolan itu.  Selama tidak ada keluhan sakit aku tak pernah memedulikannya.

Sampai kejadian itu menimpaku.  Di usia sebelas tahun aku bermain bola sambil berhujan-hujanan.  Aku terjatuh agak keras dan benjolan di punggungku mengalami benturan.  Tidak ada rasa sakit yang berarti, hanya di malam harinya panas tubuhku sangat tinggi.

Seorang mantri kesehatan kepercayaan keluarga kami dipanggil untuk memeriksa keadaanku.  Aku diberi suntikan dan obat beberapa macam.  Semua saran dari mantri kesehatan aku lakukan, termasuk menghabiskan obat yang diberikannya.

Harapan untuk sembuh tidak kunjung datang.  Yang aku rasakan justru rasa nyeri di benjolan punggungku.  Kian hari kian tak tertahankan.  Aku hanya bisa menagis dan mengeluh pada kedua orang tuaku.  Aku tetap mencoba bertahan dan tidak meraung karena takut membuat orang tuaku cemas.

Akhirnya aku diopname di RSUD Temanggung untuk pertama kali di usia kelas satu SMP.  Sejak itu aku menjadi penghuni rutin dari rumah sakit ke rumah sakit. RSU Temanggung menyarankan agar aku dioperasi di RSUD Magelang karena keterbatasan alat.  Di RSUD Magelang aku didiagnosa mengidap tumor yang berupa benjolan sebesar setengah bola tenis itu.  Aku menjalani operasi namun tidak berhasil dan dirujuk untuk ke RSUP Yogyakarta, Rumah Sakit Dr Sardjito.

Diagnosa tim dokter mengatakan bahwa sumsum tulang belakangku mengalami kebocoran dan berlubang.  Lubang ini harus ditutup dengan menempelkan tulang pada lubang itu.  Ibuku awalnya bersedia mengorbankan kelingking kakinya, akan tetapi dokter mengambil keputusan untuk mengambil bagian lain tulangku yang memungkikan untuk disayat.

Operasi dinyatakan berhasil.  Akan tetapi keanehan selanjutnya terjadi.  Kram kaki yang tak terkendalikan membuat kaki kananku memendek dan kepekaannya sangat-sangat berkurang.  Kakiku yang awalnya normal dapat dipakai berjalan, lama kelamaan tak mau diajak kompromi.  Otakku seakan tak bisa memerintah kakiku untuk melangkah.  Kesedihan luar biasa menyelimuti hatiku dan tentu juga kedua orang tuaku.  Aku yang awalnya begitu bebas dapat bermain bahkan ikut berburu ke hutan bersama ayah, menghirup alam bebas, tiba-tiba hanya bisa berjalan merayap berpegangan apa saja yang ada di sekitarku,  Dari kursi ke kursi dengan berpegangan meja atau apa saja yang dapat menopang badanku.  Kaki ini sama sekali tak terkontrol oleh keinginanku, kecuali dengan gerakan yang sangat lemah.

Aku dinyatakan  lumpuh dan harus mengunakan kaki empat (walker) untuk menyangga tubuhku.  Aku harus menerima kenyataan untuk menjadi penderita disabilitas.  Langkahku sangat terbatas.  Awal-awal latihanku untuk berjalan dengan kaki empat bukanlah hal mudah untuk kuterima begitu saja.  Antara sedih, kecewa dan bertanya mengapa takdir ini harus kualami.  Mengapa aku mendapatkan perlakuan berbeda dari Tuhan?  Atau kadang marah memaksa kaki ini untuk berjalan.  Tapi semua itu sia-sia.

Aku mencoba mengungkap segenap perasaanku pada kedua orang tuaku terutama ayah.  Kata-kata yang mengalir dari tuturnya membuatku kuat dan menerima keadaan.

“Pakailah ilmu santan.  Kelapa harus dijatuhkan saat diambil petani.  Di bawah ia harus siap untuk dikuliti.  Batok kelapapun diambil dengan cara yang tak mudah.  Daging buah kelapa harus dicukil dari tempurungnya.  Kulit daging buah harus dibersihkan untuk menghasilkan santan yang jernih, putih dan bersih. Tidak cukup sampai di situ, kelapa akan diparut dengan ratusan duri, baru kemudian diperas untuk diambil santannya.”

Aku memutuskan untuk “move on” dari segala perasaan negatifku.  Aku mulai membangun harapan demi harapan dengan terus belajar dan belajar apa saja.  Tentu saja dengan dukungan ayah yang selalu membawakan aku bahan bacaan dari perpustakaan tempat beliau mengajar.  Waktu luangku aku gunakan untuk belajar sendiri (autodidak) tentang bagaimana melukis.  Dan aku bisa melukis mulai sketsa pensil, dengan cat air hingga cat minyak dengan media kanvas.  Aku juga belajar fotografi dan cuci cetak foto hingga pernah bisa menghasilkan uang dari keahlianku itu.  Aku juga belajar membuat bonsai, hobbi yang hingga saat ini terus aku jalani.  Ya, dalam keluangan waktuku yang tak ada kemampuan untuk bermain aku berkesempatan membaca dan mempraktikannya hingga memiliki keterampilan.

Selama bangku SMP aku praktis belajar di rumah.  Beruntung aku memiliki sekolah yang melayani siswa berkebutuhan khusus sepertiku.  Karena waktuku habis dari rumah sakit ke rumah sakit, maka aku diizinkan tidak menempuh pendidikan seperti siswa lain.  Segala bentuk tugas sekolah, testing dan ujian akhir kelas tiga diantarkan dimanapun aku berada. Bahkan pernah aku sengaja diopname hanya untuk ujian akhir sekolah.

Lulus SMP, ayahku memutuskan bahwa aku harus menjalani pendidikan seperti siswa lain di tingkat SMA.  Hal ini sangat memungkinkan karena ayah melakukan pendekatan pada pihak sekolah untuk memberikan fasilitas jalan yang bisa aku lalui.  Alhamdulillah aku mendapatkan kelas yang mendukungku untuk dapat memasuki ruangan itu. 

Awalnya aku diantar jemput dengan mobil sewa yang pada waktu itu terasa cukup mahal untuk keluargaku.  Akhirnya ayah memutuskan memboncengku dengan vespa.  Dan ternyata aku bisa dibonceng oleh ayah, suatu kebahagiaan yang luar biasa.

Suka duka aku lalui selama sekolah di bangku SMA.   Kejadian yang memilukan dan sekaligus memalukanku, karena kontrol terhadap alat ekskresi yang sangat lemah membuatku mengganggu seisi kelas.  Kejadian yang hampir membuatku enggan berangkat ke sekolah di hari-hari selanjutnya.  Selain malu aku juga trauma kejadian itu terulang kembali.  Yang sangat aku syukuri adalah dukungan dari kawan sekelas.  Semua seolah ingin membantuku untuk sama-sama harus lulus dari sekolah ini, SMAN I Temanggung.  Dan akhirnya aku selesai juga menjalani masa SMA-ku.

Berhenti satu tahun, orang tuaku kembali berikhtiar untuk kesembuhanku.  Ketika jalur pengobatan konvensional gagal, kami menempuh jalur alternatif.  Satu tahun ikhtiar, tidak ada hasil yang berarti.  Kami pun menyerah.

Ayah menganjurkanku untuk kuliah.  Pilihanku jatuh pada universitas terbuka.  Satu-satunya jalur yang mungkin ku tempuh.  Yang membuatku sangat terpaksa adalah keterpaksaanku mengambil FISIP-Jurusan Tata Negara.  Bayangkan, cita-citaku menjadi teknisi.  Kegemaranku ilmu eksak terutama matematika dan Fisika, jurusanku di SMA pun jurusan Fisika (A1 untuk istilah waktu itu).

Aku hampir kehilangan semangat belajar.  Apalagi di UT (Universitas Terbuka) semua harus serba sendiri dan mandiri.  Sementara modul setebal-tebal kitab suci terjemahan Depag cetakan pertama. 

Saat kesulitan memahami mata kuliah tertentu, kadang akau memukuli kakiku.  Karena dialah aku harus berkubang pada ketidaksukaan yang memaksa.

Akan tetapi lagi-lagi nasehat ayah menjadi spirit bagiku. “Belajar itu menjadi bukti rasa syukur kamu di hadapan Alloh.  Bukankan banyak orang yang ingin kuliah tapi tidak punya kesempatan.  Ada yang mampu tapi tak mau.  Ada yang mau tapi tidak mampu.  Bersyukur ayah mampu menguliahkan kamu.  Kesempatan pun ada meskipun harus belajar sendiri di UT.  Program ini Alloh sediakan untuk kamu yang Dia uji dengan sakit seperti ini.  Bukankah ini kemudahan dariNya?”

Akhirnya aku “move on” untuk kesekian kalinya.  Aku mulai mencoba cara belajar gayaku sendiri.  Aku bagi buku-buku tebal itu sesuai waktu yang tersedia sampai mata kuliahnya diujikan.  Ada target halaman perhari, target perminggu, target perbulan.  Sementara hari minggu aku pakai untuk mengulang apa yang telah aku baca setiap harinya.

Dengan cara belajar ini akhirnya aku dapat melalui masa kuliahku yang cukup berat untuk belajar sesuatu yang tidak aku suka.  IPK-ku berada dalam predikat sangat memuaskan dengan nilai lebih dari 3,5.   Hanya saja karena ada beberapa biji bernilai C, aku tidak mendapat predikat cumlaude.  Alhamdulillah tidak sia-sia  segala keringat, air mata dan kesedihan.

Selesai kuliah aku tidak segera melamar pekerjaan.  Aku meminta pada ayah untuk bisa mengikuti kursus komputer.  Di awal tahun sembilan puluhan, belajar komputer adalah sesuatu yang sangat keren dan keakhian bidang ini dibutuhkan oleh banyak lembaga.

Aku menjalani kursus dengan sangat senang hati.  Aku merasa menemukan kegemaranku yang terpasung dalam empat tahun aku kuliah.  Dalam kursus setengah tahun ini aku manfaatkan benar untuk belajar dari tahap dasar hingga belajar bahasa pemrograman.  Lagi-lagi Alloh memberiku kemudahan dan aku berhasil menjadi programmer.

Memasuki dunia kerja untuk pertama kali, aku menjadi guru honorer di almamater tercintaku, SMA I Temanggung.  Aku menjadi pengajar TIK, sambil terus mencoba mengikuti test PNS.  Semua tahap berhasil kulalui.  Bahkan dengan nilai tes tulis tertinggi, tapi  selalu terjagal di tes kesehatan.  Hingga berkat doa ayah dan terutama ibuku, aku dimudahkan oleh seseorang berhati mulia.  Kepala BBRSBG (Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita) yang saat itu bernama RPCM (Rehabilitasi Penderita Cacat Mental) membantuku sepenuhnya untuk menjadi tenaga ahli administrasi dan manajemen teknologi informasi di kantor itu. 

Alhamdulillah akhirnya aku diterima sebagai PNS.  Sesuatu yang jauh tak terbayangkan olehku saat aku baru saja menjadi penderita disabilitas.  Sesuatu yang membuatku merasa tak akan bisa berbuat apa-apa, tidak mampu menjadi apa-apa.

Perjalanan waktu mengajariku untuk terus bersyukur.  Pendakianku pada tebing terjal kehidupan ini selalu memberiku pengalaman hidup yang kadang tak pernah aku duga.  Sekian banyak doa mungkin tak menghampiri kenyataan hidupku, namun sebaliknya hadiah indah Alloh berikan tanpa aku memintanya.  Salah satunya terpilihnya aku menjadi instruktur nasional manajemen perkantoran yang terkomputerisasi.  Kesempatan ini membuatku begitu mudah menaiki pesawat dari satu pulau ke pulau lainnya di Indonesia.

Fabiayi aalairobbikama tukadzdziban.  Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kamu dustakan.

(*) Ditulis kembali dari penuturan kakak kandungku, penderita disabilitas.
Titin Harti Hastuti, lahir di Temanggung, 11 Desember 1974.  Hobi menulis sejak menggandrungi pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar.  Saat ini penulis menjadi Badan Pengelola Pesantren Nurul Amanah Salawu Tasikmalaya  dan Bagian Kurikulum di Yayasan Aminul Ummah Wanaraja Garut.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA