Bara yang Tak Pernah Padam-Rev
Bara yang Tak Pernah Padam
Oleh: Titin Harti Hastuti
Pulang kampung untuk
bersilaturahim dengan keluarga sudah menjadi tradisi tahunan keluarga besarku. Segala kenangan tentang masa kecilku bersama
kakek muncul berkelebatan. Apalagi
melihat sawah luas menghijau, sebagian lagi menguning emas.
Dulu sawah-sawah ini bukan milik
keluarga besar kakek. Semua ditukar
dengan tetes demi tetes keringat kakekku.
Ah….kisah mengharukan sekaligus
membanggakan itu berkelebatan di antara lembaran-lebaran memoriku. Sebagaimana yang kakek tuturkan padaku saat
beliau masih hidup.
***
Saat itu aku belum
dewasa. Umurku baru sebelas tahun dan
adikku, Bagaskoro baru delapan tahun.
Aku teringat Paklik Jazuli memanggilku.
“Mad,
dengan sangat terpaksa aku harus menggadaikan sawah warisan bapakmu. Kebutuhan sehari-hari kamu dan adikmu Bagas,
tidak bisa aku cukupi dari hasil sawah ladang kita. Aku akan gunakan hasil menggadai sawah kalian
untuk modal usaha.” Paklik Jazuli meminta persetujuan dariku. Kami dua bersaudara berada dalam
pengasuhan Paklik Jazuli setelah kami yatim piatu.
Suatu
hari, saat usiaku sekitar 16 tahun seorang tetangga memberitahuku tentang
resiko terlepasnya hak kepemilikan tanah bila tidak ditebus.
“Mad,
tanah milikmu akan hilang bila tidak ditebus,” kata Pak Sastro, tetangga kami.
“Kenapa
bisa hilang Pak?” tanyaku polos.
“Tentu
saja bisa, karena paman kamu sudah menukarnya dengan uang yang senilai dengan
barang yang digadai. Nanti kamu tidak
akan punya apa-apa lagi.”
Aku
kaget dengan kenyataan ini. Aku baru
tahu kalau resikonya cukup besar.
Apalagi ketika diketahuinya bahwa usaha dagang Paklik Jazuli hanya cukup
untuk makan dan kebutuhan sehari-hari.
Bisa dibilang dagangannya sepi pembeli.
“Aku
harus berusaha menebus sendiri tanah dua petak itu. Aku tidak punya peluang lain kecuali
bertani.” Aku berpikir keras untuk bisa
mendapat penghasilan.
Suatu
pagi aku berjalan menyusuri pematang. Tanpa
tujuan kemana aku melangkah. Dalam
pikiranku aku memohon kiranya Alloh memberiku jalan keluar. Empat desa terlewati, kumendapati sebuah
sungai besar, berarus deras namun masih sangat jernih di 1930-an. Sungai itu bernama Luyung.
“Alhamdulillah,
aku ada ide.” Aku mencoba mencari cacing
dan dilepaskan ke danau lebar di tengah sungai.
Ikan-ikan besar bermunculan ke permukaan. Berebut cacing yang kulempar. ”Sudahku duga
sungai ini banyak ikannya.”
Sejak
saat itu, kuajak adikku Bagas yang usianya sudah menginjak 11 tahun. Kami mencari ikan di sungai itu. Sungai yang cukup jauh dari penduduk.
Kami
berbekal petromaks lampu mewah yang langka waktu itu. Aku meminjamnya dari Paklik Jazuli. Lengkap dengan pancing, umpan, obor minyak
tanah, dan jala. Obor digunakan untuk
jaga-jaga kalau ada binatang buas, terutama ular.
Berbagai peristiwa menyedih kami
jalani selama mencari ikan di Sungai Layung.
Mulai dari rasa takut dengan suara-suara malam. Gemersak suara binatang
buas. Suara srigala dari bukit di
kejauhan. Semua kami hadapi dengan
ketegaran sekaligus kepasrahan. Berserah
pada yang Maha Memberi kehidupan.
“Kang, ada ular besar. Lihat itu sebesar lenganku!” Bagas berteriak
ketakutan.
Beruntung
aku selalu menyediakan obor minyak tanah dan korek api. Kunyalakan obor itu, dan…..
“Bagas,
kita cukup menghalau saja binatang itu dengan nyala api. Mereka akan menyingkir. Asal jangan kita ganggu, tidak akan
membahayakan.” Kakek mengarahkan api
pada ular itu.
“Hah….alhamdulillah.” Bagas menghela napas lega.
Ada
juga cerita sedih menegangkan, tentang interogasi patroli tentara Belanda. Saat itu pergerakan-pergerakan nasional mulai
bermunculan. Akan tetapi tekanan di
bawah penjajah masih terasa.
Malam
itu malam Minggu. Kami mencari ikan
seperti biasa. Sekitar jam 02.00 pagi, kami menggelar sajadah untuk sholat
Tahajud di atas rumput di pinggir sungai.
Dua rekaat yang tak pernah kami tinggalkan. Setelah itu kami pun pulang. Satu ember penuh ikan rata-rata sebesar
telapak tangan.
Di tengah perjalanan, kami
mendengar suara kendaraan Jeep gunung
mendekat.
“Bagas,
matikan petromaxnya. Ada yang
patroli. Kita sembunyi di balik semak
ini. Perjalanan kita lanjutkan kalau
patrol sudah lewat.”
“Mas,
aku takut.” Bagas segera mematikan lampu
petromaks. Namun malang tak bisa
dihindari. Asap dari bekas lampu
petromaks mengepul dari balik semak-semak.
Seorang
bertubuh tinggi besar berkulit putih.
Seorang lagi pribumi setengah baya, berperawakan sepundak orang yang
berkulit putih.
“Wah…ada
inlander mau memata-matai kita rupanya.” Belanda putih tetap si atas Jeep
terbuka tanpa atap. Sementara Belanda
kulit hitam turun dari mobil dan menyibak semak-semak persembunyian kedua
kakekku.
“Hai
anak-anak kecil kenapa malam-malam kluyuran! Kalian santri dari Pesantren Kiai
Parak ya?” Belanda hitam itu mencurigai kami.
“Tidak,
Pak. Kami hanya keluar malam hanya
mencari ikan, belut atau apa saja buat kami makan, Pak.” Aku menjawab apa adanya.
Belanda
hitam itu memeriksa ember milik kakek dan mengambil paksa tanpa ampun.
“Innalillahi,
tega kebangetan yang namanya penjajah itu ya, Kang!”
Malam
itu kami tidak mendapat apapun kecuali capek, lelah dan pahala sabar atas
musibah yang menimpa.
Senang dan bersyukurnya kalau
kami berhasil membawa banyak ikan. Kami
tidak pernah mendapat tangkapan kurang dari 10 ekor. Lebih senang lagi saat kami bisa pulang
dengan selamat. Setelah sarapan pagi,
kami pergi ke pasar. Uang kasil menjual
ikan kami simpan di bawah tanah yang kami lubangi. Di dalam lubang itu ada kendi tempat menyimpan
uang yang aman.
Hari
demi hari, seminggu, sebulan hingga setahun kami lalui. Tabungan dari penjualan ikan sudah dapat
menebus tanah kami. Kesyukuran yang luar
biasa karena kami sudah dapat menggarap tanah sendiri mulai besok, setelah
penebusan hari itu.
“Bagas,
kita harus bekerjasama untuk membuat tanah peninggalan bapak ibu kita
berkah. Kalau kita menjaganya dengan
baik. Pahalanya akan mengalir pada
mereka berdua.”
“Insya
Alloh, Kang. Saya akan terus membantu Kang Ahmad. Rencana Kang Ahmad bagaimana dengan tanah ini
dan usaha kita ke depannya. Apakah kita
akan terus mencari ikan ke sungai?”
Aku
berpikir sejenak tentang rencana memberdayakan sawah dan ngobor di malam
hari. Suatu mata pencaharian yang sangat
berjasa mengembalikan sawah kami.
“Yang
jelas tiap jengkal sawah dan ladang ini tak boleh mubadzir. Kita akan menanam sesuai musimnya. Selain itu kita mesti tahu hasil bumi yang
sedang dibutuhkan di pasar. Pasti
harganya akan lumayan tinggi. Untuk
mencari ikan, kita tidak boleh berhenti.
Sayang kalau ada kesempatan meraih karunia-Nya kita lepas begitu saja.”
“Tapi
aku ada usul. Supaya tidak terlalu
capek, kita bisa taruh saja wuwu di sungai itu.
Kita tidak harus menunggui.
Pagi-pagi bisa kita ambil.”
“Pintar
juga kamu. Kita akan coba. Semoga Alloh luaskan rejeki-Nya untuk kita.”
Kami,
dua kakak beradik tanpa ayah dan ibu, bekerja siang malam. Berhenti hanya untuk sembahyang, makan dan
istirahat. Semua jenis ternak pernah kami
coba. Modalnya kami dapat dari mencari
ikan di sungai.
Semua
tetesan keringat kami tidak sia-sia.
Hingga tiba saatnya kami berpisah.
Menikah dengan pasangan kami masing-masing. Meskipun berpisah tempat tinggal, kami tetap
bekerja bersama di sawah, ladang, mengurusi ternak dan hasil pencarian ikan di
sungai.
***
Aku masih sempat menyaksikan betapa
sejahteranya kakek-nenekku. Waktu itu di
tahun 1980-an aku turut menikmati bagaimana memelihara berbagai macam
unggas. Ayam, itik, entok bahkan
angsa. Semua begitu mengesankan.
Binatang ternak yang sempat aku lihat,
sapi, kerbau dan kambing. Menurut cerita
kakek-nenek, ayah-ibu serta paman-pamanku, kakek bahkan pernah memelihara
kuda. Nampaknya seru sekali kalau kuda
itu masih ada. Ingin sekali rasanya aku
mencoba menaikinya. Sayangnya kuda itu
telah dijual dan ditukar dengan kebon kopi di depan rumah kakek.
“Kek, jadi kebon kopi ini seharga
seekor kuda?”
“Betul sekali Cucuku, bahkan masih
ada sisa untuk dibelikan beberapa gram emas.”
“Kakek dapat kuda dari mana?”
“Kakek beli dari tuan tanah
Belanda. Semua dari hasil mencari ikan
di Sungai Gintung dan Luyung.”
Aku terkagum-kagum. Betapa berkahnya tangan kakekku ini.
Beliau kemudian bercerita tentang
seluruh sawah yang dimilikinya. Awalnya
hanya dua petak. Dalam waktu 50 tahun
semua telah menjadi 10 hektar lebih.
Benarlah bahwa kesungguhan dan keistikomahan itu seperti melubangi
dinding tebal. Bila terus menerus, maka
akan sampai juga.
Aku penasaran menanyakan darimana
semangat dalam dada kakekku.
“Cucuku,
tanah adalah amanah dari Tuhan. Wasilahnya turun temurun sebagai warisan dari
orang tua kita dulu. Membiarkannya tanpa
tetesan keringat, berarti kita telah menyia-nyiakan nikmatNya. Mengapa tanah
air sering disebut tumpah darah? Karena
tiap jengkalnya harus dipertahankan dengan tetesan keringat bahkan darah. Jangan sampai mudah berpindah tangan. Apalagi berpindah tangan pada orang yang
salah. Karena resikonya akan kehilangan
kehormatan dan kemerdekaan.” Kakek
melanjutkan nasehat berharga yang
terus kuingat hingga kini.
Ternyata
nasehat itu menjadi kalimat berharga terakhir yang aku dengar. Sebulan kemudian kakekku pergi untuk
selamanya. Usiaku saat itu memasuki
angka sebelas.
Sawah,
ladang, kebun sepuluhan hektar itu dibagikan pada satu anak perempuan dan empat
anak laki-laki kakek.
***
Lembaran
memori itu aku tutup kembali. Di hadapan
setengah hektar petak sawah jasa kakek dan ayahku. Ya…mereka di alam keabadian menunggu
jawabanku untuk menjalankan amanah wakaf tanah ini.
Ya
Rabb, Ya Kariim. Sebuah perjuangan
panjang untuk menyalakan bara api itu di dadaku. Memelihara tiap jengkal untuk menumbuhkan
karunia demi karunia.
Tiba-tiba
aku memasuki relung afirmasi.
Tanah
ini akan menjadi pesantren agribisnis.
Tempat mendalami ilmu alqur’an-hadits tapi juga mengajarkan kemandirian
untuk memelihara tiap jengkalnya untuk menagih keberkahan dari-Nya.
Semua
yang pernah dilakukan kakek seakan kembali terjadi di hadapanku. Pagi ini.
Profil
Penulis
Titin Harti Hastuti, anggota dari
Badan Pengelola Pesantren Terpadu Nurul Amanah Tasikmalaya dan Pengurus Yayasan
Aminul Ummah Garut. Ibu dari tiga orang
anak ini lahir di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Saat ini sedang merintis dunia tulis menulis
dengan banyak bergabung dengan komunitas penulis, salah satunya Wonderland
Creative. Penulis sedang merintis
pesantren di Temanggung Jawa Tengah. Aktif ngeblog dengan tajuk
TITINHASTUTI’S BLOG dan bisa dihubungi melalui facebook dengan akun Titin Harti
Hastuti.
Komentar
Posting Komentar