Dongeng Anak-12 BUTIR KOPI GENDIS
Butir Kopi Gendis
Hidup dalam keluarga sederhana bahkan sering kali kekurangan. Ibu Gendis harus menambah penghasilan dengan melakukan apapun yang diperintahkan orang lain kepadanya. Sejak kepergian ayahnya,entah kemana……Ibu gendis harus membesarkan tiga anaknya sendiri.
Gendis, gadis kecil berusia sebelas tahun berusaha ikut meringankan beban Ibu. Dia ikut memetik kopi di perkebunan milik tetangganya. Setiap kilo yang dipetiknya, ia akan mendapat sepersepuluh bagian.
“Gendis…. hari ini ibu tak akan bisa bekerja.” Ibu bertutur pelan. Demam tinggi membuatnya harus beristirahat. Praktis semua kebutuhan harian keluarganya harus Gendis tanggung.
“Ya Tuhan, aku harus bekerja lebih cepat dan menghasilkan butiran kopi lebih banyak.” Gendis bergumam dalam hati. “Aku akan memberikan pada Tuan Gani sebanyak yang biasa aku bawa, pasti dia tidak akan curiga. Selebihnya akan aku simpan buat kujual. Pasti aku bisa mendapat uang berkali lipat lebih banyak dari biasanya” Hati dan akal Gendis terus berputar bagaimana bisa membeli obat untuk ibunya.
Pagi itu, Gendis berangkat lebih awal. Mendahului para pekerja yang lain juga mandor kebun. Sebagai satu-satunya pemetik kopi yang lahir di daerah itu, Gendis tahu benar tentang seluk beluk perkebunan. Kebun seluas dua hektar milik Tuan Gani, orang terkaya di kampungnya.
Gendis menyiapkan lubang untuk mengubur kopi yang akan dicurinya. Sebuah lubang di bawah semak-semak. Kantong plastic telah siap menampung kopi ‘panas’ itu.
“Aduh, Gendis udah duluan ambil kopinya. Tumben ndak nunggu Lik Jam.” Suara Lik Jamilah mengagetkan Gendis yang sudah berada di atas pohon kopi.
“Oh, Lik Jam. Aku harus dapat butiran kopi lebih banyak Lik. Ibuku sedang sakit. Ndak kuat buat membantu kerja-kerja di rumah orang.”
Tidak ada yang curiga dengan kebiasaan Gendis yang menjadi lebih rajin. Mereka maklum justru kasihan pada gadis kecil yang kehilangan masa bermainnya itu. Apalagi setelah tahu Ibu Gendis sakit
Tiga hari setelah Gendis menyimpan kopi di lubang galiannya, kantong plastic itu telah penuh. Gendis berencana mengambilnya sore ini. Menjelang Maghrib, perkebunan itu sepi dan ia bermaksud mengambil butir kopi curiannya.
Kali ini Gendis tak ingin sendirian. Selain karena sepi, Gendis ingin ditemani menjual kopi itu ke warung milik orang tua Sumi, teman Suti. Suti adalah adik bungsu Gendis.
Menyusuri jalan setapak meninggalkan jalan beraspal terakhir.
Semburat jingga senja itu menyaksikan dua gadis kecil yang lemah. Langkah Gendis makin cepat, memburu matahari yang sebentar lagi beristirahat di peraduannya.
Semburat jingga senja itu menyaksikan dua gadis kecil yang lemah. Langkah Gendis makin cepat, memburu matahari yang sebentar lagi beristirahat di peraduannya.
“Kak, ngapain kita sore-sore begini ke perkebunan?” Tanya Suti keheranan.
“Kakak mau ngasih hadiah ke ibu sore ini. Biar ibu cepat sembuh. Pokoknya kamu ikut saja. Nanti antar Kakak ke warung teman kamu, ya?”
“Tapi kenapa keperkebunan, Kak? Ada apa di sana?”
“Kita lihat saja nanti.” Gendis enggan menceritakan perbuatannya.
Pertentangan dalam hatinya tak juga bisa diredakan. ‘Gendis, kamu bukan tergolong orang yang sabar kalau mengambil jalan ini. Mungkin maksudmu baik tapi cara kamu salah.’ Kalimat itu selalu hadir dalam hatinya entah dari mana. ‘Sudahlah jangan ragu-ragu. Kesembuhan ibumu dan makan untuk keluargamu lebih dari segalanya.’ Suara yang lain muncul. Dua kubu yang bertentangan itu saling sahut membisingkan batinnya.
Berjalan satu kilo dari rumah, lubang penyimpanan itu kini ada di depan Gendis dan Suti. Perlahan Gendis bersimpuh untuk menyingkap semak dan timbunan tanah di atas kantong plastik hitam.
Dibukanya perlahan plastic itu. Betapa terkejutnya Gendis. Butirkopi itu berloncatan dan membuat susunan huruf. Diejanya huruf itu ‘HARAM’
“Astaghfirulloh….” Gendis tersentah. Kedua tangannya menutup mulut. Dia tak ingin Suti melihat apa yang terjadi pada butir kopinya.
Sekali lagi dibukanya plastic itu. Gendis penasaran apa yang terjadi pada butir kopi petikannya. Kali ini huruf-hutuf itu tersusun kembali ‘HALAL’. Akan tetapi kali ini dengan ukuran yang sangat lebih kecil dari huruf sebelumnya.
Suti memperhatikan wajah kakaknya penuh keheranan,” Ada apa Kak?”
“Tidak ada apa-apa Suti. Cepat kita tinggalkan tempat ini. Sebentar lagi maghrib. Kakak tidak membawa senter.”
Gendis membawa kantong plastic berisi kopi di tangan kanannya dan tangan kirinya menuntun Suti.
Gendis dan Suti meninggalkan tempat itu setengah berlari. Jalan beraspal telah nampak di depan mereka. Gendis menghela napas lega.
“Kak, kenapa ke sini? Rumah teman aku yang punya warung bukan di sini.” Suti mengingatkan Gendis.
“Kakak tidak jadi ke warung Sumi. Kita mau ke rumah Lik Tarjo. Mandor perkebunan. Kamu tahu, kan?”
Gendis tidak punya pilihan lain. Rasa takutnya hilang sama sekali. Dia tidak peduli dengan kekhawatiran akan kemarahannya. Atau mungkin dia akan kehilangan peluang untuk memetik kopi di kebun itu. Yang diingatnya adalah pesan dari butir kopi petikannya.
Diketuknya rumah Lik Tarjo perlahan, teriring salam yang diucapnya. Laki-laki setengah baya dengan kumis dan jenggotyang mulai memutih beberapa helai, lengkap dengan baju takwanya. Nampaknya Lik Tarjo telah siap berangkat ke masjid.
Kedua anak itu dipersilahkan masuk di rumah yang cukup luas itu. Gendis mengungkapkan segala kesalahan yang telah dilakukannya.
“Maafkan Gendis, Lik. Gendis sudah punya niat buruk. Tapi percayalah ini adalah yang pertama sekaligus yang terakhir. Gendis mohon untuk diizinkan tetap memetik kopi di kebun kopi Tuan Gani.”
“Gendis, kamu anak yang baik. Berbakti pada orang tua. Lik bangga pada anak baik seperti kamu. Lain kali kalau ada kesulitan yang sangat mendesak bicara langsung sama Lik Tarjo. Lik merasa berkewajiban membantu kamu, Gendis. Justru kalau Lik Tarjo ndak membantu kamu, Lik akan turut berdosa.”
Hati Gendis berbunga-bunga. Hilang semua ketakutan yang membayangi kejujurannya. Mereka berdua segera pamit pulang.
“Sebentar Gendis, Lik Tarjo nitip sesuatu buat ibu kalian, ya?”
“Lik Tarjo ndak usah repot-repot. Dimaafkan dan diizinkan memetik kopi saja, Gendis sudah sangat senang.”
Lik Tarjo meninggalkan mereka di ruang tamu, untuk kemudian menemui mereka lagi, sambil membawa amplop.
“Ini buat biaya berobat ibumu, sekaligus hadiah buat kejujuran kamu.”
“Lik, ini bukan hasil keringat Gendis. Bagaimana Gendis boleh menerimanya?”
“Gendis, tidak semua rejeki itu berasal dari keringat kita. Ini namanya rejeki min haitsu la yahtashib. Rejeki dari jalan yang lain dan tak terduga. Rejeki karena kejujuran kamu. Juga Rejeki karena kesadaran bahwa manusia harus saling tolong bantu. Saling member dan menerima. Terimalah, Nduk!”
Senja ini adalah senja yang indah. Begitu banyak pelajaran dan ingatan yang diperoleh gendis tentang nilai kehidupan. Bahkan dari butir kopi sekalipun.
Komentar
Posting Komentar