Dialog Keimanan
Aku bersyukur masih sempat dan mungkin sering aku ditanya si bungsu tentang apa yang menjadi kegundahan hatinya. Justru ketika dia bertanya, aku punya kesempatan buat menjelaskan dan memberi kepahaman padanya.
Kalaupun dia nggak bertanya sesuatu, aku yang biasa memancing dia dengan pertanyaan lebih dulu.
Dialog penting itu kurekam lagi, suatu pagi di hari Ahad.
De Muya: Mi, kenapa agama tuh bisa berbeda-beda ya?
(Aku tersentak dengan pertanyaan yang cukup berat ini)
Ummi: Eh...karena setan selalu berusaha membelokkan manusia dari jalan yang lurus.
De Muya: Contohnya gimana, Mi.
Ummi: Misalnya dulu ketika Nabi Musa diutus menyelamatkan Bani Israil dari kekejaman Fir'aun. Nabi Musa meninggalkan kaumnya selama 40 hari menuju bukit Tursina. Kaumnya dititipkan pada saudaranya, Nabi Harun.
De Muya: Oh, Muya udah pernah denger ceritanya. Ada seseorang bernama Samiri membuat patung emas yang dapat bicara dan mengabulkan permintaan Bani Israil.
Ummi: Pinter anak ummi.
De Muya: Terus peran setan di sini apa?
Ummi: Selain mereka yang menggoda Samiri untuk berkhianat dan membangkang. Setan juga masuk kedalam patung emas itu, membuat patung bisa bersuara. Juga mereka bersekutu, bekerja keras untuk mewujudkan permintaan mereka.
De Muya: Jahat sekali setan tuh, ya?
Ummi: Memang begitu kerjaannya. Kita udah dikasih tahu sama Alloh melalui petunjukNya maka harus waspada dan jangan lupa berdoa.
De Muya: Jadi dulunya agama-agama itu benar?
Ummi: Dalam Alqur'an Alloh berfirman dalam surat Yunus ayat 47
وَلِكُلِّ أُمَّةٍۢ رَّسُولٌۭ ۖ فَإِذَا جَآءَ رَسُولُهُمْ قُضِىَ بَيْنَهُم بِٱلْقِسْطِ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya.
De Muya: Terus kenapa jadi berbeda nggak nyembah Alloh lagi?
Ummi: Sebenarnya sebutan terhadap Tuhan juga memang tak selalu sama tapi esensi keyakinan terhadap yang berhak disembah itu yang pasti sama, kalau petunjuk itu belum diselewengkan setan.
De Muya: Contohnya?
Ummi: Dalam ajaran Hindu tertulis dalam Weda bahwa Tuhan tidak berwujud materi, tidak boleh dan tidak dapat digambar bahkan bukan bula yang dibayangkan oleh pikiran. Dalam perkembangannya, hal ini dilanggar sehingga terpahatlah patung tuhan. Jadilah manusia tersesat dari petunjuk. Jangankan yang bertahun-tahun, berabad-abad. Masih ada nabinya di depan mata pun terus mereka sesatkan.
De Muya: Nah, sekarang gimana kalau dari sekian agama yang saling berbeda tapi semua pemeluknya menganggap agamanya saja yang benar?
Ummi: Ya memang seharusnya begitu. Kalau sudah berkeyakinan harus mantap dengan keyakinannya itu. Jangan malah menganggap semua benar. Menganggap semua benar adalah awal mula menganggap semua salah. Karena nggak masuk akal. Itulah awal mula atheisme mereka menganggap agama nggak masuk akal. Akhirnya meninggalkan semua agama dan menganggap Tuhan itu nggak ada. Atau sebaliknya, menganngap semua agama salah. Tapi meyakini Tuhan ada. Tuhan menurut persepsi masing-masing.
De Muya: Ah, bingung!
Ummi: Misalnya, ada yang bilang 2+1=3 ada yang bilang 2+1=4 ada yang bilang 2+1=5. Jelas jelas pernyataan itu beragam. Kemudian ada yang bilang. Semuanya benar.
De Muya: Hanya yang bisa ngitung yang bakal tahu mana yang benar.
Ummi: Bener banget. Hanya yang tahu, yang paham, yang mengerti. Yang bisa menggunakan akalnya yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
De Muya: Kalau begitu ilmu penting banget ya, Mi?
Ummi: Sangat penting. Ilmu itu cahaya yang dapat menunjukkan jalan yang lurus.
De Muya: Sebenarnya kalau saja manusia mau sedikit berpikir. Pencipta langit dan bumi misalnya, sama-sama disebut Tuhan tapi kok wujudnya berbeda-beda. Aturan mah....yang menciptakan pasti yang paling hebat diantara semua Tuhan dari masing-masing orang di bumi ini ya?
Ummi: Nah, diri kita masing-masinglah yang bisa memilih mana Tuhan dari sekalian yang disembah manusia yang terhebat.
De Muya: Itu mah gampang. Ya pasti Alloh lah Mi....
Ummi: Untuk orang yang beriman dengan ilmu pasti itu jawabannya. Bukankan Alloh itu ada, terdahulu, tiada akhir lagi kekal, tidak ada yang menandingi, berdiri sendiri, hanya satu, tidak ada apa pun yang serupa dengan Dia, Maha Menentukan lagi Berkehendak, Yang Hidup lagi tak pernah mati, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat. Sungguh Maha Sempurna.
De Muya: Kalau saja mereka mengetahui dan kenal Alloh Tuhan kita ya Mi?
Ummi: Itulah tugas kita menyampaikan apa yang kita ketahui dengan cara yang baik, lembut. Dan jangan lupa rasa kasih sayang bukan amarah terhadap kekafiran mereka.
De Muya: Susah kali Mi...kadang Muya juga heran, kemana akal mereka?
Ummi: Eh...nggak boleh bilang begitu kan ada setan yang menghalangi mata batin mereka. Kita harus membantu mengusir kegelapan itu dengan berbagai cara yang baik untuk mereka membuka hati menerima hidayah.
De Muya: Iya juga ya...kasihan masak mereka yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng itu masuk neraka?
Ummi: Deh....yang udah tahu mana yang cantik....
De Muya: Ya tahulah mi. Perempuan pasti cantik, lelaki pasti ganteng. Justru kalo terbalik itu bahaya.
Ummi: Itu namanya LGBT.
De Muya: Wah kebetulan nih! Muya mau nanya tentang LGBT
(Glek....wah gawat aku belum siap ngejawabnya. Harus cari referensi dulu lah!)
Ummi: Kayaknya masakan Ummi gosong De. Nanti lagi ya kapan-kapan (aku ngeles dan menuju dapur)
Nampaknya aku harus banyak baca tentang LGBT buat menghadapi serangan selanjutnya. Akhirnya kami asik dengan kesibukan masing-masing. Aku masak dan Muya tenggelam lagi dengan youtubenya. Tentu lengkap dengan pesan panjangku: Browsing yang manfaat, nambah ilmu, nambah iman, jangan dilihat kalau ada auratnya meskipun sehelai rambut!!!! Nanti ummi buka historinya awas!!!!!
Kalaupun dia nggak bertanya sesuatu, aku yang biasa memancing dia dengan pertanyaan lebih dulu.
Dialog penting itu kurekam lagi, suatu pagi di hari Ahad.
De Muya: Mi, kenapa agama tuh bisa berbeda-beda ya?
(Aku tersentak dengan pertanyaan yang cukup berat ini)
Ummi: Eh...karena setan selalu berusaha membelokkan manusia dari jalan yang lurus.
De Muya: Contohnya gimana, Mi.
Ummi: Misalnya dulu ketika Nabi Musa diutus menyelamatkan Bani Israil dari kekejaman Fir'aun. Nabi Musa meninggalkan kaumnya selama 40 hari menuju bukit Tursina. Kaumnya dititipkan pada saudaranya, Nabi Harun.
De Muya: Oh, Muya udah pernah denger ceritanya. Ada seseorang bernama Samiri membuat patung emas yang dapat bicara dan mengabulkan permintaan Bani Israil.
Ummi: Pinter anak ummi.
De Muya: Terus peran setan di sini apa?
Ummi: Selain mereka yang menggoda Samiri untuk berkhianat dan membangkang. Setan juga masuk kedalam patung emas itu, membuat patung bisa bersuara. Juga mereka bersekutu, bekerja keras untuk mewujudkan permintaan mereka.
De Muya: Jahat sekali setan tuh, ya?
Ummi: Memang begitu kerjaannya. Kita udah dikasih tahu sama Alloh melalui petunjukNya maka harus waspada dan jangan lupa berdoa.
De Muya: Jadi dulunya agama-agama itu benar?
Ummi: Dalam Alqur'an Alloh berfirman dalam surat Yunus ayat 47
وَلِكُلِّ أُمَّةٍۢ رَّسُولٌۭ ۖ فَإِذَا جَآءَ رَسُولُهُمْ قُضِىَ بَيْنَهُم بِٱلْقِسْطِ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya.
De Muya: Terus kenapa jadi berbeda nggak nyembah Alloh lagi?
Ummi: Sebenarnya sebutan terhadap Tuhan juga memang tak selalu sama tapi esensi keyakinan terhadap yang berhak disembah itu yang pasti sama, kalau petunjuk itu belum diselewengkan setan.
De Muya: Contohnya?
Ummi: Dalam ajaran Hindu tertulis dalam Weda bahwa Tuhan tidak berwujud materi, tidak boleh dan tidak dapat digambar bahkan bukan bula yang dibayangkan oleh pikiran. Dalam perkembangannya, hal ini dilanggar sehingga terpahatlah patung tuhan. Jadilah manusia tersesat dari petunjuk. Jangankan yang bertahun-tahun, berabad-abad. Masih ada nabinya di depan mata pun terus mereka sesatkan.
De Muya: Nah, sekarang gimana kalau dari sekian agama yang saling berbeda tapi semua pemeluknya menganggap agamanya saja yang benar?
Ummi: Ya memang seharusnya begitu. Kalau sudah berkeyakinan harus mantap dengan keyakinannya itu. Jangan malah menganggap semua benar. Menganggap semua benar adalah awal mula menganggap semua salah. Karena nggak masuk akal. Itulah awal mula atheisme mereka menganggap agama nggak masuk akal. Akhirnya meninggalkan semua agama dan menganggap Tuhan itu nggak ada. Atau sebaliknya, menganngap semua agama salah. Tapi meyakini Tuhan ada. Tuhan menurut persepsi masing-masing.
De Muya: Ah, bingung!
Ummi: Misalnya, ada yang bilang 2+1=3 ada yang bilang 2+1=4 ada yang bilang 2+1=5. Jelas jelas pernyataan itu beragam. Kemudian ada yang bilang. Semuanya benar.
De Muya: Hanya yang bisa ngitung yang bakal tahu mana yang benar.
Ummi: Bener banget. Hanya yang tahu, yang paham, yang mengerti. Yang bisa menggunakan akalnya yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
De Muya: Kalau begitu ilmu penting banget ya, Mi?
Ummi: Sangat penting. Ilmu itu cahaya yang dapat menunjukkan jalan yang lurus.
De Muya: Sebenarnya kalau saja manusia mau sedikit berpikir. Pencipta langit dan bumi misalnya, sama-sama disebut Tuhan tapi kok wujudnya berbeda-beda. Aturan mah....yang menciptakan pasti yang paling hebat diantara semua Tuhan dari masing-masing orang di bumi ini ya?
Ummi: Nah, diri kita masing-masinglah yang bisa memilih mana Tuhan dari sekalian yang disembah manusia yang terhebat.
De Muya: Itu mah gampang. Ya pasti Alloh lah Mi....
Ummi: Untuk orang yang beriman dengan ilmu pasti itu jawabannya. Bukankan Alloh itu ada, terdahulu, tiada akhir lagi kekal, tidak ada yang menandingi, berdiri sendiri, hanya satu, tidak ada apa pun yang serupa dengan Dia, Maha Menentukan lagi Berkehendak, Yang Hidup lagi tak pernah mati, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat. Sungguh Maha Sempurna.
De Muya: Kalau saja mereka mengetahui dan kenal Alloh Tuhan kita ya Mi?
Ummi: Itulah tugas kita menyampaikan apa yang kita ketahui dengan cara yang baik, lembut. Dan jangan lupa rasa kasih sayang bukan amarah terhadap kekafiran mereka.
De Muya: Susah kali Mi...kadang Muya juga heran, kemana akal mereka?
Ummi: Eh...nggak boleh bilang begitu kan ada setan yang menghalangi mata batin mereka. Kita harus membantu mengusir kegelapan itu dengan berbagai cara yang baik untuk mereka membuka hati menerima hidayah.
De Muya: Iya juga ya...kasihan masak mereka yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng itu masuk neraka?
Ummi: Deh....yang udah tahu mana yang cantik....
De Muya: Ya tahulah mi. Perempuan pasti cantik, lelaki pasti ganteng. Justru kalo terbalik itu bahaya.
Ummi: Itu namanya LGBT.
De Muya: Wah kebetulan nih! Muya mau nanya tentang LGBT
(Glek....wah gawat aku belum siap ngejawabnya. Harus cari referensi dulu lah!)
Ummi: Kayaknya masakan Ummi gosong De. Nanti lagi ya kapan-kapan (aku ngeles dan menuju dapur)
Nampaknya aku harus banyak baca tentang LGBT buat menghadapi serangan selanjutnya. Akhirnya kami asik dengan kesibukan masing-masing. Aku masak dan Muya tenggelam lagi dengan youtubenya. Tentu lengkap dengan pesan panjangku: Browsing yang manfaat, nambah ilmu, nambah iman, jangan dilihat kalau ada auratnya meskipun sehelai rambut!!!! Nanti ummi buka historinya awas!!!!!



Komentar
Posting Komentar