Dongeng Anak ke-7 PUTRI NABILA DAN APEL MERAH

By: Khadijah Hanif
Di tepi sebuah laut ada sebuah istana terapung yang nampak ajaib dan mengagumkan. Sebenarnya istana itu tidak benar-benar terapung, tapi dibangun diatas karang kokoh yang luas. Karangnya tidak nampak karena tertutup sempurna bangunan istana.
Yang membuat sangat unik, rakyat kerajaan itu berada di tepi pantai. Untuk memudahkan pertemuan dengan rakyatnya, raja membangunkan jembatan penghubung yang panjang dan indah sepanjang dua kilometer.
Kini, keceriaan di Istana Kumambang terusik oleh penyakit yang diderita Bunda Permaisuri. Penyakit yang sangat aneh. Bunda Permaisuri tidak dapat mengingat peristiwa apapun yang telah terjadi. Memorinya seolah kosong, yang diingatnya hanya nama orang dan benda.
“Nabila, kenapa kamu memakai baju bernuansa pink anakku? Bunda sudah siapkan baju kita yang senada. Bunda ingin kita memakai baju biru muda untuk acara pertemuan kita dengan rakyat di pantai seberang sana.”
“Bunda, inikan dandanan Bunda?! Bunda yang memakaikan gamis dan hijab ini.”
Bunda menatap Putri Nabila dalam-dalam. Keheranan terpancar dari sorot matanya. "Kamu jangan permainkan Bunda, Nak! Kamu pasti berdandan sendiri. Ini baju senada kita.” Bunda Permaisuri meletakkan dua setel pakaian warna biru yang ingin dipakainya, juga Putri Nabila.”
Putri Nabila menghela napas panjang. Menahan kekesalan yang tak ingin ditumpahkan pada Bundanya tercinta.” Ya, Alloh, berikan hambamu ini kesabaran,” gumamnya lirih.
Setelah diam sesaat, Putri Nabila mencoba meyakinkan Bunda Permaisuri,” Bunda, Nabila suka sekali dengan dandanan ini, lihat aku terlihat cantik bukan? Tadi Bunda mendandani Nabil selama satu jam. Kalau ganti pakaian lagi kita akan terlambat menemui rakyat kita.”
“Anakku kita harus tampil kompak dan Bunda akan puas bila bunda yang merias kamu.”
Putri Nabila mencari akal untuk membuat Bunda percaya. Dipanggilnya dayang istana untuk menjadi saksi perkataannya, “Dayang, bagaimana penampilanku sekarang. Ini hasil riasan Bunda. Hebat bukan?”
“Tentu saja Tuan Putri, ini riasan tercantik yang pernah saya lihat. Bunda Permaisuri merias Tuan Putri dengan sempurna.”
“Dayang, kamu berani bersumpah bahwa ini riasanku?” Bunda Permaisuri mulai mengalah.
“Saya berani dikeluarkan dari istana kalau saya berbohong, Paduka Permaisuri.”
Bunda Permaisuri memutuskan berpakaian pink senada dengan Putri Nabila. Ada kesedihan tersirat di raut wajah Bunda. Bukan karena pakaian yang harus dikenakannya tapi karena kekosongan ingatan tentang apa yang telah terjadi. Matanya berkaca-kaca dan butiran bening menetes tak terbendung.
Kejadian serupa tidak hanya sekali dua kali terjadi. Bahkan teramat sering. Hingga Bunda Permaisuri memutuskan untuk tidak bertemu siapapun. Bunda takut dengan keanehan yang menimpanya. Di samping itu Bunda tidak ingin keributan terjadi dengan orang-orang terdekatnya karena penyakitnya itu.

Kerinduan mendera hati Putri Nabila. Ia rindu belaian kasih Bunda Permaisuri. Perhatiannya, nasihatnya, peringatan tegasnya saat Putri Nabila bersalah. Semuanya.
Ia hanya bisa berdoa, bermunajat pada Alloh untuk kesembuhan Sang Bunda.
“Ya Rabb, ampunilah dosa kami bila itu mendatangkan kemurkaanMu. Angkatlah penyakit Bunda kami. Kembalikan keceriaan di istana kami. Agar kami dapat lebih banyak berkhitmat untuk memperbaiki kehidupan rakyat kami. Jangan biarkan kesedihan meliputi hati Ayahanda, Bunda Permaisuri dan juga hamba. Banyak permasalahan rakyat yang tak bisa kami tangani dengan sakitnya Bunda. Rabb, kabulkan permohonanku. Berikan jalan untuk kesembuhan Bunda.” Putri Nabila larut dalam doa panjangnya.
Malam itu, usai salat hajatnya, Putri Nabila tertidur di atas sajadah bersama permohonan tulus untuk Bunda.
“Nabila, bangun, Nak. Doamu diijabah, ada teka-teki dari jam dinding di kamarmu yang harus kau pecahkan,” Sosok Bunda menemuinya dalam mimpi.
Dirapihkannya mukena dan ditatapnya jam dinding di kamarnya.
Jam dinding itu berdetak aneh loncat-loncat dengan pola berbeda seolah rangkaian huruf. Satu huruf satu pola tertentu. Sebuah sandi yang rumit untuk dipecahkan. Satu jam lebih dipandanginya jarum-jarum pada jam dinding itu.
“Ah...aku tahu jarum detik ini menunjukkan urutan huruf! “ Putri Nabila berteriak kegirangan. Ditulisnya angka-angka yang ditunjuk jarum detik. Satu untuk A, dua untuk B, tiga untuk C dan seterusnya.
Dengan sabar dan telaten Putri Nabila menulis urutan detik yang ditunjuk oleh jarum panjang, 15-2-1-20-21 ............
Rangkaian angka itu membentuk kalimat pesan,
“Obat untuk ibumu ada di puncak bukit itu. Sebuah Apel Merah. Bila apel itu direndam dalam air bersama gerusan bijinya, maka air itu akan berkhasiat memperbaiki kemampuan mengingat Bunda Permaisuri. Apel itu dijaga seorang pemuda yang baik hati. Tapi ada banyak rintangan yang harus Tuan Putri hadapi. Bila Tuan Putri berhasil mencapai bukit maka pemuda itu akan memberikan Apel Merahnya.”
Putri Nabila berlari riang, segera menemui Ayahanda Sultan untuk memberi kabar gembira ini dan meminta izin keberangkatannya ke bukit kerajaan sebelah. Awalnya Sang Sultan keberatan. Tapi...demi melihat kegigihan dan kesungguhan putri semata wayangnya, akhirnya rencana Putri Nabila mendapat izin dari Sang Ayah.
“Baiklah anakku, tapi kamu harus ditemani dua dayang istana terlatih.” Dayang istana terlatih adalah punggawa wanita yang bertugas menjaga putri dan permaisuri kerajaan bila ada perjalanan keluar. Mereka dibekali kemampuan bela diri dan memainkan senjata. Tentu saja Putri Nabilah pun mendapatkan latihan yang sama.

Tujuh hari perjalanan mereka.......
“Tuan putri, hati-hati di depan kita ada rawa-rawa. Kita harus memperlambat kuda kita.” Dayang Seruni mengingatkan.
“Masya Alloh, benar katamu, Dayang. Biar aku turun mengamati batas rawa itu.”
“Jangan, Tuan Putri!” Dayang Srigunting berusaha mencegah tapi Putri Nabila sudah turun dan berlari menuju rawa.
“Lihat, ada lintah-lintah yang mencium kedatangan kita. Mereka menghampiri kita. Kita harus berbalik arah meninggalkan tempat ini.”
Dua tiga lintah sudah menaiki kaki Putri Nabila. Ribuan lintah yang lain sedang terus menuju mereka. Putri Nabila tidak pedulikan tiga lintah itu mulai mengisap darahnya. Ia segera lari sekencang mungkin. Menaiki kuda dan memacu kuda menjauhi hutan rawa itu.
“Tuan Putri, lintah-lintah itu harus segera tuan putri lepaskan. Saya khawatir rawa ini beracun.” Dayang Seruni mengingatkan
“Benar juga Dayang. Rasanya ada yang aneh dengan tubuhku. Aku mulai merasa kedinginan, sendi-sendiku ngilu dan sakit.” Merekapun beristirahat setelah merasa cukup jauh dari rawa. Dibantu Dayang Srigunting, lintah itu dilepaskan dari tempat mengisapnya.
“Biarkan saya mencari daun penawar racun, Tuan Putri,” ucap Dayang Seruni seraya mencari Daun Peluruh.
Setelah mengunyah Daun Peluruh Racun, Putri Nabila merasa cukup segar untuk meneruskan perjalanan.
Demikian banyaknya mereka menemui rintangan. Harimau hutan, ular sanca besar dan terakhir hutan berduri. Hampir-hampir mereka menyerah. Belum lagi bukit terjal bernatu tajam. Akan tetapi cita-cita atas kesembuhan Sang Bunda, membuat Putri Nabila dan dua dayangnya tetap meneruskan perjalanan.
Setengah bulan perjalanan mereka lalui bersama. Perbekalan pun semakin menipis. Beruntung, binatang hutan seringkali mereka temui sehingga sedikit menghemat perbekalan.
“Dayang, hati-hati. Nampaknya batu tempat berpijak kudamu itu tidak begitu tegar. Aku khawatir kudamu tergelincir!” Belum selesai Putri Nabila mengingatkan, batu itu bergeser.
“Benar Tuan Putri. Tolong Srigunting, mendekatlah kemari. Aku harus meloncat ke punggung kudamu. Batunya bergetar.... Hya......!” Seruni meloncat menuju kuda Srigunting. Sementara kaki kuda Seruni terpeleset bersama batu besar yang menggelinding.
“Innalillahi, aku kehilangan kudaku! Maafkan saya, Tuan Putri.” Dayang Seruni merasa bersalah.
“Tidak mengapa Seruni. Yang penting kau selamat. Aku juga berhutang budi padamu, membebaskanku dari racun lintah di rawa itu.
Mereka memandangi kuda mereka yang jatuh dengan perasaan iba. Apa boleh buat, mereka hanya bermohon pada Alloh. Semoga ada pejalan kaki atau siapa saja yang lewat di bawah sana. Menolong kuda mereka.
Sedikit lagi mereka mencapai puncak bukit.
“Alhamdulillah, kita telah berhasil melewati jalan terjal berbatuan ini,” tutur Putri Nabila penuh rasa syukur.
Tempatnya yang landai membuat mereka menikmati keindahan bukit. Jalan setapak dengan pohon rindang beraneka macam di kanan kirinya. Saatnya mereka menikmati buah-buahan liar di hutan itu. Ranti masak, anggur liar, arben, murbei dengan berbagai jenis. Sungguh menyenangkan dan menghibur hati yang penat oleh segala rintangan.
“Hai, Nisanak, siapa kalian? Berani sekali memasuki daerah ini?” Seorang pemuda tegap dengan wajah cerah bersinar mengagetkan mereka.
“Emmh...maafkan kami, kisanak. Adakah kedatangan kami tidak engkau sukai?” tanya Putri Nabila.
“Tentu tidak! Ini bukan daerah larangan. Siapapun yang bisa mengalahkan segala rintangan di bawah sana berhak untuk berada di tempat ini. Hanya saja, Subhanalloh! Saya kagum dengan kegigihan, keberanian dan ketangguhan nisanak semua hingga mampu sampai ke puncak bukit ini.”
“Terimakasih atas penerimaan kisanak.” Putri Nabila merasa lega, pemuda di depannya bukan bagian dari rintangan untuk mencapai bukit.
Mereka berbincang tentang maksud kedatangan mereka di tempat itu. Seperti yang dipesankan jam dinding ajaib, pemuda itu begitu baik ternyata penjaga Apel Merah. Ia memberikan Apel Merah pada Putri Nabila. Apel Merah yang berbeda dan belum pernah dijumpai Putri Nabila. Bentuknya seperti mangga, kulitnya tebal berwarna merah tua. Anehnya bijinya kecil-kecil seperti biji cabai.
“Kupaslah buah apel merah ini. Gerus bijinya. Rendam kulit dan gerusan biji selama satu hari. Esok harinya minumkan pada Bunda Permaisuri. Insya Alloh penyakitnya akan sembuh segera.”
“Terimakasih kisanak, semoga balasan dari Alloh SWT senantiasi dilimpahkan untuk kisanak.”
Putri Nabila dan dua dayangnya berpamitan. Mereka melewati jalan yang aman dan jauh dari rintangan. Pemuda itu yang menunjukan jalur aman menuruni bukit.
Tidak sampai lima hari, Putri Nabila dan dua dayangnya pulang sampai ke istana. Air rendaman kulit Apel Merah dan gerusan bijinya telah siap diminum oleh Bunda.
Bunda Permaisuri meminum ramuan itu dan penyakit lupanya segera terobati. Seisi Istana Kumambang dan rakyat kerajaan bersuka cita. Semua mengelu-elukan kegigihan Putri Nabila.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA