Dongeng Anak ke-6 SUARA EMAS PANGERAN FAWAZ

By: Khadijah Hanif
Hujan hari ini, hujan pertama yang membasahi Negeri Liliput. Lebih satu tahun, negeri itu tidah terbasahi air dari langit. Doa yang dipanjatkan untuk turunnya hujan telah berulang kali dilantunkan oleh seluruh penduduk negeri. Akhirnya harapan itu dijawab Sang Pemiliknya.
“Ayo kita lanjutkan pesta kesyukuran kita.” Pangeran Tufel sedang memimpin orkestra kerajaan. Lantunan musik indah membahana memenuhi seisi ruang pertunjukan. Begitu indah nan merdu.
Sesi kedua orkestra akan dilanjutkan usai ramah-tamah pada tamu undangan. Pangeran Fawaz meminta izin pada Pelatih orkestra kerajaan untuk memegang harpa.
“Aku akan bisa memainkannya, Paman. Jangan khawatir.” Pangeran Fawaz berusaha meyakinkan.
“Tapi jaminannya apa bahwa Pangeran akan tampil sempurna? Saya khawatir suasana kesyukuran akan terganggu. Jangan sampai Ayahanda Prabu malu di depan tamu undangan!”
“Aku telah sering berlatih. Pelatihku Kakanda Tufel. Percayalah, Paman!”
Dengan berat hati pelatih itu mengizinkan Pangeran Tufel menjadi anggota baru tim orkestra kerajaan. Ini adalah penampilan pertama pangeran Fawaz. Semua mata seolah tertuju padanya. Pemain termuda yang tentu masih sangat dipertanyakan kemampuannya.
Kali ini syair yang dibawakan adalah shalawat Raqata’ain. Semua nampak siap kecuali Pangeran Fawaz yang gelisah karena belum pernah ikut berlatih untuk shalawat yang satu ini. Sementara ada sesi tunggal memainkan harpa diantara lantunan syair. Keringat dingin mengalir. Benar saja, petikan harpa Pangeran Fawaz keluar dari nada harmonis yang diharapkan.
"Kita hentikan penampilan. Petugas, tutup tirai panggung pertunjukan," tegas Pangeran Tufel memerintah timnya. “Dimas, Pangeran Fawaz, turun dari panggung ini!  Kamu tidak boleh mempermalukan istana. Terutama Ayahanda Prabu di depan para tamu undangan!” Pangeran Tufel menunjukkan raut muka kejengkelannya.
“Maafkan aku, Kakanda,” ujar Pangeran Fawas menuruni panggung dengan hati sedih.
Pangeran Fawaz segera berlari dan meninggalkan tempat itu jauh-jauh. Menyelinap menuju taman istana.
“Anakku, Pangeran Fawaz. Kenapa kamu begitu murung, Nak?” Bunda Ratu mengagetkan lamunan Fawaz
“Fawaz ingin sendiri Ibu, biarkan Fawaz menikmati kesedihan ini sendiri. Bunda Ratu tak perlu mengusik Fawaz.”
Ibunda Ratu segera meninggalkan Fawaz seorang diri di depan kaca saung taman istana. Dipandanginya kolam istana yang menari oleh tetesan rintik hujan.
&&&&
Sebulan peristiwa itu berlalu. Rasa malu Pangeran Fawaz belum juga reda. Ia masih menggerutui dirinya sendiri. Ia lebih sering menyendiri di taman dan memandangi kolam atau apapun keindahan yang dijumpainya.
Yang mengusik hati Bunda Ratu, ia kehilangan selera makan. Tentu Bunda Ratu sangat mengkhawatirkan kesehatan Pangeran Fawaz.
“Anakku, jangan larut dengan kesedihanmu. Semua orang punya kemampuan dan bakatnya masing-masing. Bunda tahu kamu pandai bernyanyi. Suaramu merdu, Fawaz....” Bunda mencoba membangkitkan semangat dan rasa percaya diri Pangeran Fawaz.
“Benarkah suaraku bagus, Bu? Fawaz belum pernah mendengar pujian itu selain dari ibu.”
“Bunda akan mendatangkan pelatih istana khusus melatihmu. Biar pelatih itu menemukan bakat bawaanmu, Nak.”
Mulai saat itu Pangeran Fawaz belajar dengan lebih sungguh-sungguh. Setelah belajar di sanggar kerajaan, belajar ilmu agama dan ilmu umum, Pangeran Fawaz berlatih untuk sesuatu yang menjadi bakat dan kesenangannya.
Tanpa mengenal lelah belajar hingga menjelang Maghrib. Pada akhirnya pelatih kerajaan menemukan bakat suara emas Pangeran Fawaz. Tidak mudah untuk menyempurnakan suaranya. Olah nafas dengan beladiri pernafasan. Berlari mengelilingi istana yang sangat luas hingga sepuluh putaran perhari. Juga bernapas dengan beban di dadanya.
Berbulan-bulan setelah Pangeran Fawaz banyak berlatih, saatnya Bunda Ratu mengembalikan percaya diri Pangeran.
“Bunda ingin tahu hasil latihanmu, Anakku.”
“Aku belum bisa, Bunda.” Kali ini suara Pangeran Fawaz terdengar berbeda. Lebih empuk dan berkarakter. Sangat membius.
“Kalau tidak percaya, kita menyanyi bersama, ya? Lalu lihatlah apa yang akan terjadi!” kata Bunda Ratu begitu yakin. Dalam hatinya, bunda terus berdoa kiranya ada keajaiban yang akan mengobati kegundahan Pangeran Fawaz.
“Assalamu’alaika ya, ya Habiballoh. Assalamu’alaika ya Rasulalloh.......” Mereka melantunkan salawat dengan merdu.
Sesuatu yang tak terduga terjadi. Burung-burung beraneka ragam mulai berdatangan dan hinggap di dahan pepohonan taman istana. Mereka turut bersalawat sesuai kemampuan masing-masing tapi harmonisasinya begitu indah. Menyatu dengan alam seperti sebuah konser Maha Karya.
Cobalah pandang kolam di tengah istana. Ikan-ikan menari. Berloncatan di atas permukaan kolam memamerkan warna-warni hiasan indah. Berenang kian kemari membentuk formasi tarian yang indah.
Senyuman merekah dibibir Pangeran Fawaz. Senyuman yang selama ini hilang oleh rasa sedih, malu dan merasa tak berguna.
“Anakku, bagaimana? Sekarang kau harus percaya pada Bunda. Burung-burung itu sampai berdatangan mendengar salawat yang kau lantunkan.”
“Mungkin mereka turut bergembira karena lantunan salawat dari Bunda?”
“Tidak, Anakku. Coba kamu bersalawat sendiri.”
Pangeran Fawaz melantunkan sendiri salawatnya dan burung-burung kembali turut bedendang senang. Ikan-ikan pula berenang riang.
“Benar kata Bunda. Kini aku percaya.”
“Dalam waktu dekat ini akan ada tamu dari beberapa kerajaan. Kamu harus tampil anakku.”
“Aku takut, Bunda. Bagaimana kalau peristiwa waktu itu terjadi lagi. Tiba-tiba aku tidak bisa bahkan salah.”
“Tidak anakku, yakinlah. Keadaannya berbeda. Waktu itu kamu memaksa Paman Fuad mengizinkanmu bermain harpa. Tapi sekarang kamu sudah berlatih tiga bulan. Di bawah bimbingan Paman Bitiser. Apakah itu belum cukup meyakinkanmu?”
“Iya, Bunda. Akan aku coba.”
&&&&
Acara yang dinantipun tiba. Panggung penyambutan tamu kerajaan begitu megah. Pangeran Fawaz mengenakan pakaian terbaiknya.
"Kami panggil Pangeran Fawaz untuk menaiki panggung pertunjukkan istana. Kita saksikan bersama, apakah yang akan ditampilkannya? Kepada Pangeran Fawaz, dipersilahkan menaiki panggung."
"Bismillahirahmannirahiim," bisik Pangeran Fawas dengan keberserahan sepenuhnya.
Dilantunkannya satu persatu nasyid yang sangat dikuasainya. Berbagai alat musik mengiringi. Termasuk orkestra kerajaan yang menjadi suara latarnya.
Semua tamu undangan yang hadir begitu terpukau. Burung-burung kembali berdatangan seperti saat latihannya bersama Bunda Ratu.
Maha Karya alami berpadu dengan berbagai alat musik yang indah ditambah suara emas Pangeran Fawaz. Tentu juga syair-syair penggugah kesadaran batin hamba-hambaNya untuk senantiasa mengingat Dia dan taat padaNya.
Suasana magis yang menenangkan hati para pendengarnya. Bahkan seisi semesta. Bersama buah kegigihan Pangeran Fawaz untuk bangkit dari kegagalannya selama ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA