Dongeng ke-4 PERMINTAAN PUTRI NAIRA


#RabuBedahKarya
#DongengBerbagi
#AlumniWonderlandCreative

PERMINTAAN PUTRI NAIRA

“Bibi Lumintang, temani aku, ya?  Bibi nggak keberatan, kan?” tanya Putri Naira penuh sopan santun.  Ahad pagi ini Putri Naira ingin berjalan-jalan ke hutan kota.

“Tentu tidak Tuan Putri.  Saya justru sangat ingin mendampingi Tuan Putri.”  Pramusiwi kerajaan Kamulan itu bangga dengan ajakan Putri Naira.

Siapa yang tidak ingin dekat dengan Putri Naira.  Sosok gadis belia yang anggun dan penuh kelembutan.  Semua penghuni istana terpikat dengan kemuliaan akhlaknya.

Mereka bersiap-siap menuju hutan kota.  Lengkap dengan perbekalan dan kuda tunggangan.  Putri Naira menaiki Si Putih.  Bibi Lumintang menaiki Si Hitam.

“Bibi Lumintang, kebun buah ini begitu menakjubkan.  Aku heran dengan buah-buahan ajaib ini.”

“Iya, Tuan Putri.  Ini ada jeruk, buahnya berbentuk pepaya.”  Bibi Lumintang menumpali.

“Aku ingin memetik buah mangga itu.  Bentuk dan warnanya persis buah apel.”  Naira terbeliak,” Pantaslah ayahanda sangat bangga dengan hutan kotanya ini.

Mereka terus menyusuri hutan kota, sambil memetik dan mencicipi buah-buah itu.  Ada pepaya berasa jeruk.  Ada mangga berasa apel.

“Masya Allah, aku bisa memakan nanas tanpa repot mengupasnya pada pisang ini.”  Putri Naira terus berekreasi dengan aneka rasa buah di lidahnya.

Tiba-tiba sosok sangat sederhana menyapanya. “Nampaknya kalian begitu menikmati keajaiban hutan kota ini?”

“Hai, gadis belia!  Kamu tidak tahu siapa yang berdiri di depanmu ini?”  Bibi Lumintang hampir tersedak.

“Mohon maaf, memang aku tidak mengenal kalian.  Tapi aku di sini hanya menjalankan tugas dari Tuan Raja Kuncara.  Aku ditugaskan memelihara dan menjaga hutan ini,” kata Lalita gadis penjaga hutan tanpa takut dan ragu sedikit pun.

“Aku akan laporkan sikapmu ini pada Tuan Raja!”  Bibi Lumintang tetap tidak menerima sikap Lalita.

“Sudahlah Bibi, Lalita hanya menjalankan tugas.  Dia tidak bersalah.  Ayahanda pasti senang dengan sifatnya yang amanah dan penuh tanggung jawab,” tukas Putri Naira

Mereka saling diam beberapa saat.  Suasana tegang segera mereda oleh sikap lembut Putri Naira.

“Siapa namamu?  Sebaiknya kita bersahabat.  Aku rasa umur kita tak jauh berbeda.”  Putri Naira mengulurkan tangan menyalami Lalita sambil memperkenalkan diri.

“Namaku Lalita, pemelihara hutan ini.”

“Latita, aku kagum dengan caramu memelihata hutan ini.  Para tamu kerajaan tak pernah melewatkan kunjungannya ke sini.”

“Tuan Putri terlalu menyanjung.”

“Memang begitu kenyataannya.  Maukah kau memberitahuku bagaimana kau memelihara hutan kota ini?”

Mereka bertiga menuju pohon buah yang sedang berbunga.  Lalita menunjukkan bagaimana persilangan antar putik dan serbuk sari dari bunga berbeda dilakukannya dengan penuh ketelitian dan kesabaran.  Lalita begitu senang dan menikmati kegemarannya bercocok tanam.

“Sekarang sudilah kiranya Tuan Putri dan Bibi Lumintang singgah di gubukku.”  Lalita mengajak mereka memasuki rumah yang sangat sederhana.  Hanya ada tiga ruangan di sana.  Ruang menerima tamu, dapur dan kamar istirahat.  Kamar mandi dan sumur terpisah lima meter dari rumah.

“Kamu tinggal sendiri, Lalita?” tanya Bibi Lumintang.  Ada perasaan sedih, bangga juga haru atas keadaan Lalita.

“Aku bersyukur dengan keadaanku sekarang.  Dulu aku hidup dari sampah ke sampah.  Sampai kemampuanku memelihara tanaman buah diketahui Tuan Raja.  Tinggallah aku di sini.”

&&&&&

Sepulang dari kunjungannya ke hutan kota, Putri Naira tak bisa melepas ingatannya dari Lalita.  Gadis yang hidup seorang diri.  Menjadi pemelihara hutan.  Usia enam belas tahun tanpa keluarga dan kerabat.

“Aku harus membawanya kemari.  Aku harus bisa membujuk ayahanda.”

Tanpa pikir panjang Putri Naira menjumpai ayahnya.  Ia menceritakan perjumpaannya dengan Lalita.  Naira meminta Lalita menjadi adik angkatnya.

“Tidak bisa Naira,  Hutan kita adalah mahkota kerajaan.  Ayah tak bisa membayangkan kalau hutan itu ditinggalkan tangan dingin Lalita.”

“Ayah, Lalita tak bisa  dibiarkan sendiri.  Penjahat bisa setiap saat mengintai tidur lelapnya.  Kita bisa berbagi kehangatan dan kebersamaan di sini.”

“Naira, ayah tahu keadaan negeri kita. Aman. Lalita sudah jauh lebih nyaman dibanding  saat ayah menemukannya di pinggir jalan.  Ayah juga tidak tahu dari mana dia berasal.  Bagaimana kalau darah hitam mengalir di tubuhnya.  Keturunan orang jahat misalnya?”

“Bukankah Ayah selalu menasihati aku bahwa tidak ada dosa turunan?  Bahwa manusia selalu berkesempatan berubah menjadi lebih baik?  Bahwa manusia memiliki titik balik siapapun dia.  Tuhan pun selalu memberi harapan pada makhlukNya?”

“Naira, kau terlalu banyak menasihati ayah!”

“Bukan begitu, Ayah.  Coba sekarang Ayah bayangkan.  Seandainya Lalita mendapat perlakuan jahat sebelum sempat membagikan pengetahuan dan keterampilannya.  Hutan kebanggaan kita akan habis.  Berbeda bila kita mengambil Lalita.  Ia bisa menjadi pelatih tukang kebun kita.”

Raja Kuncara diam sejenak.  Dalam hatinya ia bangga dan membenarkan ucapan putri kesayangannya.  Diusapnya kepala Naira. “Kau cerdas dan bijak, Naira.  Ayah bangga padamu.  Baiklah Lalita akan Ayah jemput besok.  Dia harta berharga kerajaan kita.”

“Alhamdulillah, aku akan mempunyai teman baru yang pintar, bertanggung jawab lagi pekerja keras.  Terimakasih Ayah.”  Naira membatin di balik senyum lebarnya menikmati keindahan hati dalam  saling berbagi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA