TRAUMA-PARTISIPAN JEJAK PUBLISHER
TRAUMA
Oleh:Titin Harti
Hastuti
Sudah menjadi suratan takdirku
menjadi anak perempuan satu-satunya dan sekaligus bungsu. Kenyataan ini membekaskan kenangan yang penuh
suka dan duka buatku. Kenangan indah
karena aku selalu dimanja dan dibela oleh ayah ibuku dihadapan dua kakak
lelakiku. Kenangan pahitnya, karena
sikap protektif kedua orang tuaku yang membuatku tidak bebas menghadapi
tantangan bahkan cenderung dikekang.
Tahun 80-an saat usiaku masuk
angka lima, aku sudah mulai bisa merekan kenangan. Pada usia itu, kejadian-kejadian berkesan
masih tersimpan rapi dalam lembar memoriku, hingga sekarang.
Suatu pagi di hari Minggu,
semua anggota keluarga sibuk dengan acara masing-masing, kecuali aku. Ayah dan Mas Joko (kakak keduaku) sedang
siap-siap berburu. Sementara ibu dan Mas
Bowo (kakak pertamaku) sedang membereskan cucian mingguan kami di toilet.
“Ayah, boleh aku ikut
berburu?” Aku memberanikan diri buat
minta izin pada ayah yang sedang menyiapkan senapan angin dengan oli pelumas.
“Perempuan buat apa ikut
berburu. Sudah kamu tinggal di rumah
saja.” Ayah menjawab tanpa memandang ke
arahku. Dengan kostum lengkap
berburunya, ayah terus sibuk menyiapkan perbekalan. Tas punggung, senapan angin dan perbekalan
makan minum.
Hatiku langsung ciut dan menahan
segala bayangan indah tentang hutan, Nyanyian burung, anggrek di pohon-pohon
besar. Ya….saat itu keadaan alam masih
sangat asri. Hutan masih banyak dan
belum terjamah para pengusaha kayu ataupun terkonversi menjadi lahan budi daya.
Ayah dan Mas Joko berangkat,
sementara aku tidak punya kegiatan apapun.
Sambil menahan air mata kecewa. Dari halaman depan rumah aku melepas
kepergian ayah, membantu membawakan bekal, untuk kemudian masuk mencari
kesibukan sendiri.
Pandanganku mengarah kompor
minyak tanah di dapur yang tidak menyala.
Entah apa yang kupikirkan waktu itu, aku ingin menirukan bagaimana ibu
menyalakan kompor.
“Sepertinya ibu menggunakan
lidi ini buat menyalakan kompor. Aku
main masak-masakan aja ah….daripada nggak punya kegiatan.” Gumamku sambil
mencari sebatang lidi.
Persis seperti gerakan ibu
yang aku lihat saat menyalakan kompor.
Lidi sepanjang tiga jengkalan tangan kecilku aku masukkan ke lubang
tangki minyak. Setelah itu aku masukkan
ke lingkaran sumbu. Begitu
berulang-ulang, tiba-tiba…….
“Blug….blug….” Suara api
tiba-tiba menyambar pakaianku. Sesuatu
yang tak pernah aku sangka sebelumnya.
Ternyata kompor itu belum dimatikan, hanya dikecilkan saja nyala
apinya. Aku mengira kompornya sudah
padam.
“Ibu tolong kebakaran……!!!! Tolong
kebakaran…….!!!!. Api…api….api…. !!!!!!! Hu…..hu….hu……” Aku teriak semampuku dan menangis
sejadi-jadinya menuju halaman tengah rumah.
Ketakutan yang tak terbayangkan saat itu bersamaan dengan rasa panas
luar biasa.
“Ada apa nduk?!?!. Kamu kena api dari mana ini?” Ibu lari tergopoh-gapah keluar dari
toilet. Tangannya langsung meremas semua
bagian baju yang terkena api. ”Sudah jangan menangis ada ibu. Lagi pula apinya sudah padam semua.”
Aku yakin ibuku juga merasakan
panas karena meremas kain yang sedang terlalap api. Namun demi aku ibu nekat mengabaikan
kesakitan yang dirasakannya.
“Periksa aku Bu, aku mau ke
rumah sakit, panas rasanya.” Aku masih
terus menangis,
“Iya, tapi berhenti menangis
ya….nanti ayah marah. Lagi pula kalau
kamu nangis terus, bikin panik semua orang.” Ibu terus membujuk dan
menenangkanku untuk berhenti menangis.
Ibu bergerak cepat memberikan
pertolongan pertama untuk luka bakarku. “Mas Bowo, ambilkan telor ayam kampong
di dapur cepat. Luka bakar adikmu harus
diolesi telor.”
Kakakku mengambilkan telor dan
memecahkannya di mangkok kecil. Ibu
meratakan telor ke seluruh bagian ruam tubuhku yang mengalami luka bakar. Rasa dingin segera kurasakan menggantikan
panas yang amat sangat.
Hingga saat ini, bekas luka
bakar itu masih ada di lengan bawah tangan kiriku. Trauma pada kompor dan api juga sedikit masih
membekas di hatiku. Tapi ada hikmah di
balik itu semua. Aku menjadi sangat hati-hati
dengan nyala api kompor. Tidak akan
kunyalakan sebelum semua dipastikan aman.
Ada bau gas sedikit saja pasti aku menjadi yang paling rewel dan cerewet
“Jangan dinyalakan dulu masih
ada bau gas. Ada suara gas keluar. Copot lagi karburatornya. Ganti kelepnya. Tambahin dengan karet gelang ujung
tabungnya.” Sederetan intruksi sudah
kusiapkan saat bibi di rumah mau memasang tabung gas.
“Wah, trauma ibu belum sembuh
juga rupanya padahal udah puluhan tahun kejadiannya. Masih saja ibu takut api kompor.” Komentar suamiku menanggapi kerewelanku yang
entah berapa kali aku ucapkan seumur hidupku hingga kini.
Komentar
Posting Komentar