BERJUTA RASANYA Oleh : Titin Harti Hastuti (Khadijah Hanif)



Pemilihan ketua OSIS di SMA Cendikia akan dilakukan hari ini.  Seluruh anggota kelas sudah kasak-kusuk  tentang siapa yang menjadi kandidat mereka masing-masing.  Tak terkecuali tiga sahabat yang mendapat julukan Trio Kancil karena kelincahannya.
Trio Kancil tidak bisa dianggap genk karena anggotanya terlalu sedikit.  Kasamaan karakter dan kegemaran  yang membuat mereka mengalami nasib sama, yaitu mendapat label Trio Kancil.  Tiga siswi kelas satu SMA bernama Safira, Reni dan Rania.  Mereka bertubuh mungil, lincah dan kreatif untuk menjadi usil.  Ada saja ide aneh yang selalu mereka munculkan saat satu kelas mengadakan kegiatan bersama.  Keakraban diantara ketiganya makin terjalin sejak mendapat julukan Trio Kancil.
Kembali pada pemilihan ketua OSIS di sekolah Trio Kancil.  Keriuhan masih melebah di lapangan karpet hijau yang dipenuhi warna putih-abu.
“Safira, kamu mau milih siapa? Kita kompakan yuk!”  Reni ingin kompak, meskipun untuk sesuatu yang dianjurkan berahasia dalam pembelajaran demokrasi di sekolah.
“Eem…kayaknya enggak deh untuk kali ini.  Sorry banget ya?!”  Safira keberatan karena nampaknya ada sesuatu yang dia sembunyikan di lubuk hati terdalam.
“Kok, kamu nggak kompak sih.  Inikan pemilihan ketua OSIS doang.  Nggak apa kali kalau ketahuan.  Apalagi sesama anggota Trio Kancil.  Atau jangan-jangan ada rahasia terdalam di hatimu kah? ”  Rania menebak-nebak apa yang tersembunyi di hati Safira.
Pengumuman dari Bagian Kesiswaan  tiba-tiba membuat dengungan melebah itu senyap.  Himbauan untuk menerapkan prinsip LUBER (langsung-umum-bebas dan rahasia) seakan membantu Safira terlepas dari desakan kekompakan Trio Kancil.  Terlebih ketika diingatkan untuk tidak saling bermusuhan meskipun pilihannya berbeda.
Satu persatu kandidat ketua diberi kesempatan menaiki podium untuk berorasi.  Giliran Huda Yunadi menyampaikan orasinya.  Tiba-tiba Safira meninggalkan barisan kelas I MIPA-2.
“Rania, aku pamit ke toilet. Sakit perut nggak kuat nih!”  Rania yang menjadi ketua kelas hanya manggut-manggut dan sedikit keheranan melihat muka Safira kemerahan.
“Ngapain tuh muka Safira merah kayak udang rebus?”  Reni tak mampu  menahan keheranannya.

“Mungkin Safira menahan sakit makanya mukanya merah.  Tapi kalau menahan sakit bukannya malah pucat?  Curiga aku jangan-jangan dia milih Kak Adi kali ya?”  Rania masih sempat mengeluarkan kemampuan analisanya.  Adi adalah nama panggilan dari Huda Yunadi.
“Kalau milih Kak Adi justru dia akan tetep tinggal di sini menunggu kandidatnya menyampaikan programnya.”
Sepuluh menit hingga lima belas menit Safira tidak kunjung datang.  Reni mulai mencemaskan sahabat dekatnya itu. 
“Rania, aku mau cari Safira dulu.  Lama banget dia.  Khawatir dia bener-bener sakit.”
“Kamu ini, cepetan.  Lihatin tuh ibu wali kelas ngeliatin barisan kita.  Jangan pada pergi trus nggak kembali.”  Rania mulai sewot.
Reni meninggalkan lapangan dan mencari gadis bermata sipit, berkaca mata biru metalik, berjilbab khas merek ternama ke beberapa sudut sekolah.  UKS, kantin, toilet dan akhirnya di lapangan basket,   area terjauh dari lapangan utama sekolah.
Reni mendekati gadis di  pinggir lapangan  basket itu.  Safira menantang matahari pada bangku penonton  pada step kedua dari atas.  Lapangan basket di SMA Cendikia memang tergolong keren.   Tempat penonton dibuat nyaman.  Tentu untuk mensupport perbasketan di sekolah itu.
Ada ide usil yang muncul di benak Reni.  Ia mengendap-endap supaya kehadirannya tidak diketahui Safira.  Reni jongkok di belakang Safira dan mendengar grambling Safira dengan jelasnya.
“Kenapa sih aku harus punya perasaan ini.  Nggak berani ngedenger orasi Kak Adi.  Takut dia salah ngomong.  Ya Kariim….Kenapa jadi aku yang kesusahan begini.  Dia yang orasi aku yang nervous.  Lagian dia bukan siapa-siapa aku!”  Safira mulai kesal pada dirinya.
Reni mencoba mengorek lebih jauh rahasia Safira.  Dikosongkannya botol air yang selalu dibawa kemanapun ia pergi.  Efek dengung dari botol kosong itu diharapkan tidak dicurigai Safira.
“Tenanglah cucuku….Ini nenek, yang ikut melihat kesulitanmu…. Ayo ceritakan masalahmu sama Nenek.”  Reni menggetarkan suaranya.  Maklum sebagai anak teater dia piawai betul berperan karakter.
Safira tersentak dan diam sejenak.  Gawat ada yang mengetahui perasaan hatinya.  Safira segera mencari sumber suara.
“Reni!  Jahat banget ya kamu memata-matai aku!“  Cubitan Safira mendarat di lengan Reni.
“Ampun…ampun…ampun!  Cubitanmu itu kurang kecil tau!!!!”
Keributan kecil akhirnya tak terhindarkan.  Rasa penasaran disertai remang-remang analisa kenapa Safira mukanya memerah dan menghindari arena pemilihan ketua OSIS (PILKASIS) sedikit terkuak.
***
Hasil pemilihan ketua OSIS diumumkan hasilnya.  Adi akhirnya memenangkan kontestasi.  Eksistensinya makin berkibar.  Ironisnya justru Safira yang makin menderita.
Setiap kali Adi lewat di depan kelasnya ia akan menghindar. Jauuuuh!!  Sesuatu yang aneh untuk ukuran remaja yang sedang jatuh cinta.  Jangankan berpapasan, melihat dari jauh pun, Safira langsung segera menutupi mukanya.
Suatu siang, empat bulan setelah pemilihan ketua OSIS, ketika Trio Kancil pulang sekolah bertiga.  Adi dengan motornya berlawanan arah menuju sekolah.
“ Ya Alloh Ya Karim, aku nggak bisa lewat jalan ini.  Sorry aku harus pergi.”  Safira mencari jalan supaya tidak berpapasan dengan Adi.  Ia menyeberang jalan tanpa melihat kendaraan yang berlalu lalang di jalan dekat sekolah.  Di seberang sana ada selokan yang airnya cukup deras.  Menyeberang sambil berlari cepat dan disertai gugup membuat Safira tidak mampu mengendalikan kecepatan.
Dan…Safira terperosok ke dalam selokan yang cukup dalam. Pergelangan tangan kanannya  yang dipakai menopang badan, terkilir.  Ia terduduk pasrah menunggu bantuan datang.  Lecet di bagian dagu,  kaki dan tangan  mengeluarkan warna merah berasa perih.  Kaca mata mahalnya loncat entah kemana. Beruntung tidak ada pecahan kaca yang melukai matanya.
“Innalillahi!  Safira kenapa kamu?” Rania dan Rena segera membantu.  Mereka menyebrang untuk menolong Safira yang terjerembab.  Sayangnya Rania menyeberang terlalu cepat tanpa memperhatikan  kendaraan yang lalu lalang.
Adi yang mengendarai motor kaget dan mengerem mendadak.  Akibatnya  Adi kehilangan keseimbang sehingga terjatuh.  Lengan dan tangan kanannya  membesut sudut trotoar.  Rania terbengong-bengong.  Ia tak menyangka keinginannya segera menolong Safira telah membahayakan keselamatan orang lain.
Sementara Reni dan beberapa orang  siswi kelas satu sudah berhasil mengangkat Safira.  Dzikir lirih dan air mata mengalir di pipi putihnya.  Sementara matanya tetap terpejam menahan sakit atau tak mau melihat Adi yang bernasib sama dengannya siang ini.  Terkena musibah.
Keadaan menjadi hiruk pikuk.  Bantuan segera datang.  Kendaraan milik sekolah  melarikan Adi dan Safira ke klinik terdekat.  Takdir ini telah menggagalkan Safira lari dari seseorang yang sangat mengganggunya perasaannya selama ini.
Di klinik Az-Zahra Medical Center.  Pertolongan pertama telah diberikan.  Beruntung Safira tidak mengalami luka serius.  Hanya pergelangan tangannya yang terkilir sedikit membengkak. 
            “Kamu baik-baik saja Fira?”  Adi memberanikan diri buat menyapa.  Ia ikut serba salah karena berita tentang sikap aneh Safira padanya telah memenuhi langit sekolah.  Ia ingin mengakhiri isu yang nggak mengenakkan hatinya.  Terlebih lagi rasa ibanya tiap nama Safira disebut dan dijadikan bahan tertawaan teman-teman mereka. 
            Adi memilih untuk diam di benaknya masih terngiang olok-olok kawannya sesame pejabat teras pengurus OSIS.
            “Adi, Safira itu kalau ketemu kamu dia bak kancil bertemu buaya.  Kasihan dia.  Lebih baik kamu samperin aja. Tanya langsung perasaan dia ke kamu seperti apa.  Kamu ini adem-adem aja.  Malah aku yang jadinya penasaran.”     
            Safira masih memejamkan mata.  Desiran di dadanya makin kencang.  Bahkan dia tahu persis wajah putihnya pasti memerah bak udang rebus.  Dalam hatinya dia mulai menenangkan diri.
            “Safira ayo kalahkan segala rasa anehmu itu.  Hari ini kamu telah membuat orang yang kamu kagumi celaka bahkan bisa jadi kehilangan nyawa.  Kamu bisa bayangkan  kalau ada kendaraan melaju cepat di belakangnya.”  Suara-suara batin itu begitu kental menghembuskan energi  untuk mengalahkan rasa malu dalam hatinya.
            “Siapa kamu?”  Safira mencoba mengenali suara batinnya.
            “Aku logika kamu.  Akal sehat kamu.  Aku rasa kamu harus mulai memikirkan keselamatan diri dan orang lain daripada mengikuti perasaan malu kamu.  Mungkin kau menikmati berjuta rasanya jatuh cinta.  Tapi buat apa kalau harus berakhir dengan musibah seperti ini?”
            Suara yang lain ikut mengerumuninya dalam ruang hati yang gelap diselingi kilauan cahaya mata hati.
            “Apa sih yang membuat kamu malu? Kamu cantik, pintar, mendapatkan julukan Trio Kancil dalam hal positif.” 
            “Siapa lagi kamu ikut mencampuri urusanku?
            “Aku kepercayaandirimu.  Yang selama ini selalu menemanimu kecuali kalau kamu melihat Kak Adi.  Mulai saat ini aku akan selalu ada.  Menjagamu supaya musibah konyol ini nggak terjadi lagi.  Percayalah.  Sekarang, esok dan selamanya.”
            Perlahan-lahan Safira membuka mata. Rania, Rena, Adi dan Ibu Wali Kelas X duduk berkeliling di ruang perawatan
            Semua tersenyum melihat Safira membuka mata.  Tertutup  rapatnya mata itu terpejam, membuat orang-orang mengira Safira pingsan.
“Alhamdulillah.”  Seisi ruangan mengucap syukur.  Terlebih-lebih Reni yang tahu persis perasaan Safira pada Adi.
***
Keadaan telah jauh membaik, Safira dan Adi telah sembuh total dan beraktifitas kembali di sekolah.
Reni dan Rania ingin menguji kesembuhan batin Safira dari rasa malu yang aneh dan berlebihan.  Rania sebagai ketua kelas dan Reni bagian minat bakat, mereka bersepakat mengutus Safira sebagai perwakilan kelas untuk lomba baca puisi antar kelas di sekolah.  Selain Safira punya kemampuan itu, mereka juga ingin mengembalikan nama Safira yang menjadi bahan perbincangan atas keanehan sikapnya.
Hari ini teknikal meeting di ruang OSIS untuk pelaksanaan lomba baca puisi.  Safira datang lebih awal dengan stelan pramuka lengkap, seragam tiap hari Sabtu.  Sejak peristiwa jatuh di sekolan dua minggu yang lalu, Safira makin tampil natural.  Tidak ada polesan sedikitpun. Ia tampak lebih percaya diri bahkan di depan orang yang dikaguminya selama ini.
Rapat teknikal meeting dimulai.  Huda Yunadi memasuki ruang rapat.  Safira mulai menarik nafas dan mengafirmasi diri.
“Safira kamu juga punya sisi mengagumkan di hadapan sosok Huda Yunadi yang kau anggap sempurna itu.”  Desiran rasa itu tetap ada tapi terkendali penuh oleh logika dan kepercayaan dirinya.
Rapat berjalan lancar tanpa kendala yang berarti. Giliran pertanyaan dan usulan dari para peserta lomba.
“Saya rasa prosedur pelaksanaan sudah lengkap dan sangat jelas.  Hanya saja saya mengusulkan untuk aspek penilaian juga dinilai masalah keselarasan antara intonasi, gerak dan rasa yang ditimbulkan oleh tiap baris puisi.  Untuk penampilan  akan lebih fair kalo persentasenya dikurangi karena penilaian penampilan akan sangat subjektif kecuali bila dirinci  dalam kriteria yang jelas.  Misalnya sopan, tidak berlebihan, selaras dan seterusnya”
Pendapat bernas dari Safira disambut dengan tepuk tangan riuh dari semua peserta rapat.
Dari luar ruang rapat, Rania dan Rena tersenyum lega.  Demikian juga Adi, ia turut bahagia dan mengagumi Safira yang telah menemukan perasaan positifnya.
“Seseorang mungkin saja mengubah rasanya padamu, tapi seorang pecinta sejati tak pernah peduli apa yang didapatkannya.  Ia akan bahagia saat seseorang yang dicintainya menemukan kebaikannya dan terlepas dari pandangan buruk orang lain”
Sebuah status medsos bernama adihudayunadi_13 yang menambah rasa kagum Safira pada sosok yang pernah sangat mengganggu perasaan hatinya.
Balasan status cantik segera disiapkannya, ”Selamat tinggal rasa yang aneh, karena aku mulai menikmati berjuta rasa jatuh cinta dengan memahami cinta dalam makna yang sesungguhnya.”
Profil Penulis
Titin Harti Hastuti, anggota dari Badan Pengelola Pesantren Terpadu Nurul Amanah Tasikmalaya dan Pengurus Yayasan Aminul Ummah Garut.  Ibu dari tiga orang anak ini lahir di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.  Saat ini sedang merintis dunia tulis menulis dengan banyak bergabung dengan komunitas penulis salah satunya Wonderland Creative.  Penulis sedang merintis pesantren di Temanggung Jawa Tengah.  Aktif ngeblog dengan tajuk TITINHASTUTI’S BLOG dan bisa dihubungi melalui facebook dengan akun Titin Harti Hastuti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA