Dongeng Anak-1 Berkah Sayang Ayah


BERKAH SAYANG AYAH
By: Khadijah Hanif

 “Nuni, ayo temenin Ayah ke kebun!  Kita akan panen cengkih sore ini, ajak ayah, sesaat setelah kami makan siang.  Sebenarnya ada PR yang harus kuselesaikan.  Tapi melihat wajah tirusnya, aku tidak tega menolak ajakan Ayah.  Pikirku, aku bisa mengerjakannya nanti malam.
“Baik Ayah, apa saja yang harus Nuni bawa?”
“Cukup boboko besar saja, Nuni.  Ayahmu sudah menyimpan gantar di kebun kita.  Jangan lupa bawa bekal yang sudah ibu siapkan,” kata ibu menjelaskan.
Kami berangkat dengan riang.  Berharap rejeki hasil panen nanti cukup buat memenuhi kebutuhan sehari-hari juga sekolahku.  Ayah berjalan di depan.  Aku tidak berani mendahuluinya.  Kata Rasulullah, yang muda harus menghormati yang tua.  Itu juga yang dicontohkan Sahabat Ali. 
“Anak-anak, saking hormatnya Sayidina Ali pada seorang kakek tua, pernah suatu hari beliau terlambat masuk masjid untuk berjamaah bersama Rasulullah SAW.  Ketika itu di depan Sayidina Ali ada seorang kakek tua, beliau tidak mau mendahului langkah sang kakek.  Ternyata kakek tersebut tidak memasuki masjid untuk berjamaah salat, bahkan kakek itu seorang Nasrani.  Nah, kita diajarkan untuk hormat pada yang lebih tua tak memandang apa suku dan agamanya.”   Begitulah nasihat Ustaz Usman suatu sore, yang aku coba lakukan.  Ya, dengan berjalan di belakang ayah.
Tujuan kami memanen 5 pohon cengkih dari 16 pohon yang ada, selesai sudah.  Kami duduk dan membuka perbekalan.   Aku tidak berani mengambilnya sebelum ayah mengambil terlebih dahulu.  Itulah yang selalu dipesankan ibu padaku.
“Ayah, kalau Ayah tidak keberatan, Nuni mau praktik masak di sekolah.”
“Pasti ada iuran. Betul, kan?”  Ayah memotong penjelasanku.  Dalam hati aku bersyukur tidak harus meminta pada Ayah.  ”Nuni, kalau ada biaya ataupun iuran di sekolah, kamu nggak usah takut meminta pada Ayah.  Itu sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab Ayah sebagai orang tua.”
“Terimakasih, Ayah.  Nanti akan Nuni bawakan masakan hasil praktik Nuni.”
Azan Asar berkumandang, memotong perbincangan kami.  Kami segera menuju tajuk untuk wudu dan salat
***
“Jam istirahat pertama akan segera dimulai, semua siswa harus meninggalkan ruang kelas.”  Bell informasi dari kantor guru menandai waktu istirahat pertama.
Aku dan teman sekelompokku, Rafa, Laila, Julia, dan Bagas segera menyiapkan alat memasak kami.  Menu yang akan kami hidangkan bertema nasi goreng lengkap, empat sehat lima sempurna.  Bahan-bahan sudah tersedia di meja untuk memasak.  Nasi putih, telor, ampela, ati ayam sebagai lauknya.  Hiasan yang kami pilih kacang goreng, tomat, cabai merah besar, kacang panjang dan seledri.  Sebagai sayurnya, lalap, kemangi, timun dan kubis lengkap dengan sambalnya.  Sebagai hidangan penutup kami memilih sop buah.  Cukup praktis, susu dan buah sekaligus dalam satu hidangan.
“Hmmm, baru lihat bahannya saja sudah terbayang lezatnya apalagi kalau sudah masak, ya?” ujar Laila yang langsung diiyakan oleh kami, teman sekelompoknya.
Kami berbagi tugas.  Rafa dan Bagas menyiapkan bahan, mengupas, mencuci dan mengiris sesuai resep yang dituliskan Mama Rafa.  Aku dan Laila bagian masak dan Julia bagian menata dan menghias meja makan.
Syukurlah hanya dalam dua jam kami selesai memasak, tinggal menata hidangan dan merapihkan alat bekas memasak.  Masakan kami banyak mendapat pujian dari para guru.  Tidak salah lagi!  Ini semua berkat Mama Rafa yang terkenal sebagai ahli kuliner warung makan Sindang Palay kebanggaan kampung kami.
Nah, waktu yang ditunggu-tunggu semua peserta praktik masak pun tiba.  Kami diizinkan untuk menghabiskan makanan yang kami masak.  Kali ini, Ibu Yanti yang membimbing kelompokku  membagikan makanan supaya tidak berebut. 
“Ayo, anak-anak, habiskan makanan kalian, jangan sampai ada yang mubazir!“ perintah Ibu Yanti. “ Nuni, kenapa kamu tidak makan?” tanya Ibu Yanti keheranan.
“Tidak Bu, di keluarga kami, apapun yang kami makan selalu untuk ayah dan ibu dulu,” jelasku.
“Keluarga Nuni memang aneh dan kuno, Bu,” celoteh Julia.
“Oh...bagus itu.  Dulu ada kisah tiga orang tertutup batu di dalam gua.  Mereka berdoa dengan perantaraan amal soleh mereka masing-masing.  Salah satunya amalan seseorang yang selalu memberikan susu untuk orang tuanya terlebih dahulu,” kata Bu Yanti membelaku
Acara menghabiskan makanan pun usai sudah.  Kami pulang dengan rasa puas. 
“Nuni, apa yang kau bawa di wadah nasi itu?”  Aku dikagetkan pertanyaan Dudu.  Anak yang paling suka iseng di kelas kami. “Wah, boleh dong aku mencicipi masakan terbaik yang dipuji guru-guru kita?”  Tanpa menunggu jawaban dariku, Dudu menarik wadah nasi.  Aku tak sempat menahannya dan nasi itu terburai di jalanan.  Aku memandanginya dengan sedih.  Ayam-ayam milik penduduk kampung berpesta pora. Aku hanya bisa menangis.
“Maaf Nuni, aku hanya mau mencicipi sedikit saja.” Dudu meminta maaf tulus.
Aku memutar otak untuk tidak mengecewakan ayah.  Aku sudah berjanji mau membawa hasil praktik masak kami.  Tiba-tiba aku ada ide, “Aku maafin kamu, tapi kamu harus menggantikan nasi goreng yang telah kau tumpahkan ini.”  Harap-harap cemas aku menunggu jawaban Dudu, semoga dia mau bertanggung jawab.
“Wah, gampang.  Ayo kita mampir dulu ke rumah aku.  Persediaan makanan di kulkas aku banyak banget.  Biar ibuku memasakkan nasi goreng spesial untukmu.  Aku yang akan menjelaskan permasalahannya.”
Aku bersyukur sekali.  Ternyata Dudu tidak seperti yang aku duga.  Mungkin dia iba dengan tangisanku.
Panjang lebar Dudu bercerita termasuk alasanku membawa hidangan dari sekolah buat kedua orang tuaku.
“Memang seharusnya demikian, Dudu.  Sopan santun, penghormatan dan kasih sayang Nuni pada orang tuanya harus  menjadi contoh buat kamu.”  Ibu Dahlia, orang tua Dudu memujiku.  Aku jadi tersipu malu.
Diluar dugaan, aku mendapatkan berkah luar biasa hari ini.  Bukan hanya nasi goreng istimewa yang aku bawa, Bu Dahlia memberiku bingkisan yang sangat banyak.  Aku  berterimakasih dan mendoakan keluarga Dudu untuk mendapat balasan yang lebih baik dan banyak dari Tuhan.
.

Khadijah Hanif adalah nama pena dari Titin Harti Hastuti.  Alumni IPB angkatan 29 ini berprofesi sebagai Guru Fisika, Kimia dan Bahasa Inggris di Pesantren Terpadu Nurul Amanah Salawu-Tasikmalaya.  Anggota Yayasan Aminul Ummah Wanaraja-Garut ini sedang merintis Taman Baca Darul Akhirah Syamil Assamudiyah di kota kelahirannya, Temanggung, yang menjadi embrio lahirnya pesantren literat agribisnis.  Penulis bergabung dengan berbagai komunitas menulis dan aktif ngeblog dengan tajuk TITINHASTUTI’S BLOG.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA