Dongeng Anak-5 Alas Kaki Windi


ALAS KAKI WINDI
By: Khadijah Hanif

“Windi, pakai ini alas kakinya!  Kaki kamu bisa nginjak najis di luar rumah.  Nanti lantai rumah kita najis!” 
Ini adalah peringatan untuk kesekian kalinya buat Windi, dalam satu hari ini saja.  Ya, Windi enggan memakai alas kaki tiap mau keluar rumah.  Bukan karena tidak ada sandal atau kakinya sakit kalau memakai sandal, tapi lebih pada keusilan teman-teman yang selalu menyembunyikan alas kakinya.  Bahkan pernah dibuang ke selokan.
Kali ini mama jengkel dan menghukum Windi untuk tidak keluar rumah.
“Mama, Windi nggak mau pakai alas kaki karena kasihan sama Mama.  Harus sering membeli sandal buatku.”  Windi merajuk sedih.
“Iya Mama tahu kamu sering kehilangan sandal.  Mama sendiri sudah pusing dengan ulah teman kamu itu.  Tapi bukan berarti kamu boleh keluar tanpa alas kaki.  Kamu bisa menyimpannya di kantong dan memasukkannya di tas.  Kamu dihukum supaya kebiasaanmu ini bisa dihilangkan.” 
“Kenapa Mama nggak menegur Runi aja yang ngumpetin sandalku?” protes Windi masih tidak menerima hukuman mamanya.
“Mama sudah berusaha ngingetin  Runi, bahkan ke ibunya.  Malahan Ibu Runi yang nggak mau terima.  Apa Windi mau Mama ribut sama keluarga Runi?”
Windi hanya menunduk.  Kali ini demi mamanya, ia mau menerima hukuman untuk tidak keluar rumah selama tiga hari.  Kebetulan dua minggu ini sekolah libur akhir semester.
“Ma, Windi pusing,” keluh Windi.
“Kamu pusing kenapa? Keberatan dengan hukuman Mama?”
“Bukan Mama, ujung ibu jari kaki Windi sakit.”
Mama kaget dan memeriksa jari kaki Windi.  Ternyata ada luka bernanah di ujung ibu jari kaki Windi.  Disentuhnya kening dan leher Windi, demam dan panas tinggi.
“Windi, kamu infeksi sepertinya.  Ini karena kamu nggak mau pakai alas kaki.  Ada kuman yang masuk saat kakimu terluka, Nak.”
Mama segera membawa Windi ke dokter.  Setelah diperiksa dan mendapatkan obat, mereka pulang kembali.  Namun hukuman buat Windi tetap berlanjut.
***
Memasuki hari kedua hukumannya, keadaan Windi sudah membaik.  Di dalam kamar Windi ditemani buku-buku kesayangannya.  Buku terbitan Wonderland Publisher yang menjadi koleksi terlengkap Windi.
Saat lelah menyergap, Windi hampir tertidur.  Tiba-tiba Bunda Peri dari buku dongeng yang dibacanya menjelma dalam perjumpaan yang indah.  Ya, Bunda Peri menemui Windi di kamarnya.  Berbaju ungu indah gemerlap.  Sayap putihnya begitu lembut terkepak.  Jilbab pinknya tergerai anggun.
“Windi, jangan bersedih Bunda Peri punya hadiah buat kamu yang selalu sabar.  Pengorbananmu untuk mamamu sangat mulia.”
“Wah, Bunda Peri yang cantik, terimakasih sudah sudi menemui aku.  Kiranya apa hadiah dari Bunda Peri?”
Bunda Peri menunjuk beberapa sepatu dan sandal Windi dengan tongkat bintangnya yang berwarna emas.
“Ya Mukmin, Ya Muhaimin, Ya Salam.”  Bunda Peri mengucapkan doa permohonan pada Yang Memberi Keamanan, Pemeliharaan dan Keselamatan. “Anakku, jangan lupa doa ini saat kamu mau memakai sepatu atau sandal kamu.  Dan semua akan baik-baik saja.”
Belum sempat Windi berterimakasih, Bunda Peri kembali mengepakkan sayapnya dan masuk ke dalam lembar-lembar buku kesayangan Windi.
“Terimakasih Bunda Peri yang baik.  Aku akan mengucapkan doa itu.”
Windi segera mencari mamanya dengan wajah berseri.
“Mama, Windi izin mau main dulu.  Windi berjanji akan selalu memakai alas kaki kalau ke luar rumah.”
“Tapi kamu harus istirahat.  Kamu masih sakit, Windi.”
Mama  menyentuh kening Windi panas badannya sudah kembali normal.  Diperiksanya jempol kaki Windi yang diperban oleh dokter, sudah tidak bengkak lagi.  Lukanya sudah mulai kering.  Mama mengganti perban setelah salep dari dokter dioleskan ke luka Windi.
“Tuh, kan, Mama, Windi udah sembuh.  Aku nggak akan ikut main, Mama.  Pingin melihat permainan mereka aja.  Boleh, kan?”  Dalam hatinya, Windi ingin tahu keajaiban apa yang dihadiahkan Bunda Peri untuk sandal dan sepatunya.
Akhirnya mama mengizinkan Windi bermain sore ini. 
Windi memakai alas kakinya dengan doa yang diajarkan Bunda Peri.  “Bismillah, Ya Mukmin, Ya Muhaimin, Ya Salam.”
Ia segera bergabung dengan teman-temannya yang sedang bermain petak umpet.  Sesuai janjinya, ia hanya duduk melihat keceriaan teman-temannya dari masjid.   Sementara itu, Runi sudah melirik menunggu kelengahan Windi.   Sebaliknya, Windi penasaran dengan kejutan yang dihadiahkan Bunda Peri. 
“Sebaiknya aku baca buku aja ke perpustakaan masjid.  Semoga ada buku terbaru dari Wonderland.  Lagi pula kasihan Runi sudah melirik sandalku terus.”  Windi membatin.
Sambil terus mengawasi Runi dari balik kaca masjid, Windi mulai tenggelam dengan buku-buku bacaan.
“Windi, tolong…..tolong….!!!!” teriak Runi setengah tertahan.  Mungkin dia malu ketahuan sifat jailnya.
Windi segera keluar, dilihatnya Runi menahan sakit.  Sandal itu seolah menjepit tangan Runi.  Meskipun dikibas-kibaskannya sandal itu tak juga mau lepas.
“Kamu kenapa Runi?” tanya Windi kaget.
“Maafkan aku sudah sering jahat sama kamu.  Memang aku yang selama ini menghilangkan sandal juga sepatu kamu.  Tolong lepaskan sandal ini dari tanganku!” pinta Runi memelas.
Beruntung Windi segera ingat doa yang diajarkan Bunda Peri.
“Bismillah, Ya Mukmin, Ya Muhaimin, Ya Salam,” doa Windi tulus.
Perlahan, tangan Runi kembali normal.  Ia tak merasakan jepitan dari sandal Windi.
Hari ini begitu banyak pengalaman sekaligus pelajaran yang dapat Windi petik.  Tentang kekuatan doa, penyesalan, kemaafan dan ketulusan untuk persahabatan.

Profil Penulis:
Khadijah Hanif adalah nama pena dari Titin Harti Hastuti.  Alumni IPB angkatan 29 ini memiliki hobi menulis sejak SMP.  Akan tetapi baru satu tahun belakangan ini, tulisannya dipublikasikan.  Penulis novel Talbiyah Cinta dari Kampung Naga ini menjadi kontributor dalam antologi Garut di Mataku, Dunia Merah Jambu, Harmonisasi Antar Umat Beragama, Rinai Aksara, Ibu Kartini, Mini Fiksi Thriller, Fruit and Vegetable Stories dll.  Kesibukannya kini menjadi guru Fisika di SMAIT Nurul Amanah, menulis cernak, cerpen dan novel juga mengelola pesantren.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA