CERPEN-HATI SELUAS SAMUDRA


HATI SELUAS SAMUDRA
By: Khadijah Hanif

Tiga tahun terakhir, kondisi Pesantren Nurussalam semakin terpuruk.  Meninggalnya muwakif, Haji Sadeli dan terhentinya donasi dari perusahaan muwakif menjadi sebab utama.  Wakaf hampir saja diserahkan pada yayasan yang lebih kuat.
Akan tetapi, hari ini menjadi hari sangat bersejarah untuk Nurussalam.  Putri bungsu Haji Sadeli dan suaminya bertekad menyelamatkan pesantren amanah orang tuanya itu. 
Banyak yang mencibir rencana kehadiran mereka, meskipun tidak berani berbicara langsung.  “Percuma pimpinan pesantren diganti kalau gaji Akang tetap dibayar 30%.”  Bi Lela mengungkapkan unek-unek di depan suaminya yang menjadi petugas keamanan pesantren.  “Aku sih merdeka, siapapun pimpinannya nggak ngaruh pada pemakai jasa laundry-ku.”  Bi Lela melirik jumawa pada suaminya, Mang Juha.  Memang keduanya sering adu argumen tentang penghasilan mereka masing-masing.  Mang Juha yang digaji hanya seperiga dari haknya sering mendapat protes dari sang istri.  Sementara Mang Juha selalu membanggakannya sebagai amal jariah fisabilillah membela pesantren yang sudah di ambang kebangkrutan.
“Jangan salah, Mak, kalau pesantren nggak ada santrinya, kamu mau nyuci baju siapa?  Apa aku harus menggaji kamu karena nyuciin baju aku dan anak-anak?”  Kali ini Mang Juha berganti menohok Bi Lela diiringi tawa kemenangan.
Ustaz Lukman dan Ustadzah Ade, pasangan yang belum dikarunia putra, berhijrah ke Pesantren Nurussalam.  Tanpa upacara penyambutan, sepi dari tabuhan marhaban dari kelompok marawis pesantren.
“Nampaknya tidak semua orang menginginkan kehadiran kita, ya, Aa?”  Ustadzah Ade mengeluarkan unek-unek yang dia simpan rapi.  Terutama tentang keraguan kakak-kakaknya sesama pengurus yayasan.  Dia tidak ingin membuat suaminya berkecil hati dan mundur dari niat baiknya.
Mereka tidak segera turun dari Xenia yang membawa mereka ke Nurussalam.  Kaki mereka seolah terpaku pada karpet alas mobil mereka.  Mereka pandangi gerbang dan halaman tempat parkir mobil mereka.  Lingkungan pesantren yang kumuh, rumput-rumputan panjang tak terpangkas.  Sebelah kiri terdapat syirkah yang hanya terisi sedikit barang dagangan.  Yang lebih aneh lagi, warung itu tidak ada penjaganya.
“Kalau semua kita lakukan karena Allah, kita tidak akan peduli dengan pandangan manusia.  Fa idza azzamta fa tawakal ‘alallah.”  Kalimat itu telah sering diucapkan Ustadz Lukman saat mendengar keluhan dari pendamping hidupnya. “Kita sudah tahu segala resiko di depan kita.  Berbaik sangka pada sesama saudara muslim adalah pilihan hati yang terbaik.  Berbaik sangka pada Allah juga akan mendekatkan diri kita pada pertolonganNya.  Bismillah.  Ayo, kita segera turun. Lihat itu Mang Juha sudah menunggu kita turun.  Dia sangat ringan tangan membantu siapa saja.  Tolong siapkan amplop lima puluh ribu buat dia, Sayang!”  Sebutan romantis itu menjadi tanda bahwa permintaan Ustadz Lukman wajib diikuti istri tercintanya.
Begitu pintu mobil dibuka, sosok lugu berpenampilan sangat sederhana itu mendekati mereka. “Assalamu’alaikum.  Ustdz Lukman, Neng Ade, wilujeng sumping!  Resep pisan Neng Ade mau memegang pesantren ini.  Mang Juha selalu ingat Pak Haji Sadeli tiap lihat Neng Ade.  Wajah beliau mirip sekali dengan Neng Ade.  Semoga Neng Ade bisa meneruskan kebaikan dan kedermawanan beliau.”  Sapa ramah dan kalimat yang keluar dari lisan Mang Juha seperti menyuntikkan energi luar biasa buat Ustaz Lukman dan istrinya.
Waalaikumussalam.  Terimakasih Mang Juha atas sambutannya.  Juga saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya untuk ketulusan Mang Juha menjadi ansharu ma’had sejak ma’had ini berdiri.” Ustazah Ade membalas tulus sambutan Mang Juha.
Dengan sigap Mang Juha memindahkan semua barang bawaan Ustadz Lukman dan Ustazah.  Tinggal dua koper besar yang tersisa di dalam mobil. 
Tanpa ragu Ustazah Ade melangkahkan kaki menuju rumah yayasan.  Rumah besar ini membekaskan kenangan indah buat Ustazah Ade.  Rumah nyaman dan cukup luas ini menjadi tempat pertemuan keluarga besar Haji Sadeli sekaligus peristirahatan terakhir lepas masa pensiun dari tugasnya di Jakarta.
Sebaliknya buat Ustaz Lukman,  tempat ini benar-benar asing.  Akan tetapi ia selalu berusaha menahan keluh-kesah di depan istrinya.  Apapun kegalauan yang dirasa,  disimpan rapi dalam ruang hatinya.  Untuk Ustaz Lukman,  kebersamaan dengan Sang Pencipta adalah segalanya.
Tanpa buang waktu,  Ustaz Lukman bergerak cepat.  Yang dilakukannya adalah bersilaturahmi ke semua guru yang mukim dalam lingkungan pesantren.   Beruntunglah ada satu keluarga yang sangat dekat dengan Ustadzah Ade.  Ya, keluarga Ustadz Ahmad dan Ustadzah Rodiyah,  pernah berada dalam pesantren yang sama. Meskipun hanya tiga tahun berkawan di pesantren Al Hamidi,  silaturahmi tetap berjalan lewat medsos.  Tentu dengan pengabdian Ustaz Ahmad di Nurussalam persahabatan makin erat.                                                                             
Perbincangan begitu akrab.   Suasana menjadi cair dengan berbagai nostalgia semasa di pesantren.  Diiringi tawa renyah dua keluarga bersahabat karib itu.
Perbincangan mulai serius saat menyentuh permasalahan kemunduran Nurussalam.  Ustaz Ahmad bercerita tentang kondisi pesantren.  Diurutnya mulai dari keadaan kantor kesekretariatan,  dapur, pengasuhan,  pengajaran,  keuangan dan unit usaha.
"Ana awali dari pengasuhan. Karena bidang ini yang ana pegang.  Minimnya pengabdian muda yang menjadi mudabir di tiap kamar anak.  Sementara anak-anak butuh pendampingan 24 jam.  Mudabir ini merupakan ujung tombak di lapang untuk mendongkrak kualitas santri dalam kemampuan pengembangan diri dan berjalannya sanggar. "
Ustaz Lukman memasang telinga dan merekam dalam ingatan.  Berbelanja masalah untuk memperbaiki keadaan.  Di bidang pengajaran, masalah i'dad ala pesantren dan pertemuan guru menjadi titik kelemahan.   Fungsi pengawasan pun belum berjalan dengan baik.  Kaidah dasar yang disusun yayasan masih menjadi buku sakti tanpa realisasi terutama untuk bagian unit usaha yang membidangi cafe, laundry, syirkah dan dapur.  Sampai saat ini belum ada orang yang cukup amanah mengelola unit usaha.
“Sangat disayangkan, pemegang tanggung jawab dapur kurang bisa menjalankan amanah.  Lauk pauk untuk santri jauh dari bergizi.  Keluhan wali santri sangat memalukan pihak pengelola.  Akan tetapi kami tidak bisa berbuat banyak.  Pemegangnya adik kandung almarhum Haji Sadeli.  Perlu kekuatan besar yayasan untuk mengawasi unit usaha.  Ada satu lagi permasalahan yang cukup serius. Beberapa orang dalam, istri para ustaz diambil amanahnya.” Lanjut Ustaz Ahmad
“Penyebabnya apa kalau ana boleh tahu?”
“Lebih baik antum menanyakan pada ustazah yang bersangkutan saja.  Khawatirnya ana dianggap namimah sama pihak yang berkepentingan dengan amanah ini.  Apalagi istri ana juga termasuk yang dicopot dari jabatannya.”  Ustaz Ahmad berusaha menghindari perbincangan yang sensitif dan terlalu dalam.
Silaturahmi dan belanja masalah juga dilakukan Ustazah Ade.  Rumah pertama yang dikunjunginya tentu Bibi Maemunah.
"Neng Ade,  aku tahu kebijakkan kamu pasti tidak akan jauh dari Kang Sadeli.  Pasti Bibi akan kehilangan nafkah dari dapur."
"Tidak, Bi. Bi Maemunah tetap akan berada di dapur.  Aa Lukman hanya minta jatah makan santri direalisasikan sesuai anggaran.   Supaya gizi santri terpenuhi. "
Bibi Maemunah langsung cemberut.    "Usaha Bibi ini bentuknya ketering jadi halal kan, kalau bibi ambil untung berapapun? "
Ade Ruqayah beristighfar dalam hati. "Tapi bukannya Bibi anggota Badan Pengelola Pesantren Nurrussalam? "
"Bibi sudah kembalikan SK-nya.  Jadi bibi bukan pengelola dapur tapi dapur yang pesan ketering ke Bibi."
"Tapi gaji dari pesantren ada,  Bi? "
"Lima ratus ribu itu bukan gaji tapi tips tambahan tenaga Bibi" jawab Bi Maemunah enteng.
Ade menuturkan kembali oleh-oleh silaturahminya pada sang suami.  Ustaz Lukman hanya menggeleng kepala.  Ini yang mungkin membuat ustaz Burhan kapok memimpin Nurussalam. Setiap kali Bibi Maemunah digeser dari dapur, ia selalu saja menghubungi Haji Fauzan sebagai ketua yayasan.  Ia akan melaporkan bahwa ada yang mengambil ladang usahanya. Konflik antar Bi Maemunah dan kepala dapur yang baru menjadi iklim kurang sehat antara yayasan dan badan pengelola.  Ini terjadi sejak Haji Sadeli sakit dalam tiga tahun sebelum meninggal.
Ketidaknyamanan ini menjalar pada pertemuan badan pengelola.  Masing-masing ingin menjaga perasaan. Kalaupun diadakan pertemuan,  selalu terkendala konsumsi, unit usaha menjadi bagian terisolir dari bidang lain.  Sedangkan pada kenyataannya, dapur sangat bersinggungan langsung dengan santri dan berbagai kegiatan pesantren.
"Ade,  nampaknya akar permasalahan pesantren ada di keuangan dan terputusnya komunikasi antar badan pengelola. Aa ada niat bismillah, kita jual mobil usaha kita untuk penerimaan santri baru.  Selain itu juga untuk mempererat hubungan antara Bi Maemunah dan para asatidz."
"Maksud Aa,  mobil usaha yang mana?  Apa akang tega usaha terhenti dan karyawan kehilangan pekerjaan? "
"Tentu saja tidak, Aa pikir usaha kita bisa dipindah ke pesantren berikut para karyawan.  Di sini distribusinya jelas ada 150 santri.  Bukankah kita bisa menambah relasi baru dari wali santri? Aa yakin Allah akan membukakan jalan untuk kita. Lagi pula kita belum dikaruniai momongan.  Kebutuhan  kita belum banyak.  Biar kita buktikan bakti kita buat Almarhum Bapak dan mengabdikan diri pada dakwah dan tarbiyah.  Buat aku ini adalah puncak kebahagiaan kita sebagai hambaNya? "
"Tapi Aa, bagaimana kalau mobil itu tidak kembali lagi? "
"Ade,  dengarkan cerita ini, ya! "  Ustaz Lukman membacakan manaqib Ibunda Khadijah.  Sementara Ustazah Ade mendengar sambil menggelayuti pundak suaminya. Manja.
Ada satu bagian yang paling mengharu biru dari kisah Ibunda Khadijah.
Saat itu derita perjuangan mendera.  Seluruh kekayaan Rasulullah dan Ibunda Khadijah telah habis.  Seringkali makanan pun tak punya. Ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.
Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur.  Rasulullah yang lelah seusai pulang berdakwah dan menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu, berbaring di pangkuan Khadijah.
Rasulullah menanyakan kesedihan apa gerangan yang dirasakan Ibunda Khadijah, hingga meneteskan airmata.
Ibunda Khadijah menjawab, ”Wahai suamiku. Wahai Nabi Allah.  Dahulu aku memiliki kemuliaan.  Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.  Dahulu aku adalah bangsawan.  Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.  Dahulu aku memiliki harta kekayaan.  Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.  Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit ataupun jembatan.  Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku.  Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu.  Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah.Ingatkan mereka kepada yang hak.  Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.”*)
Rasa malu menyelinap dalam lubuk hati Ustazah Ade.  Pengorbananku hanya sebutir debu dibandingkan dengan pengorbanan Ibunda Khadijah,” ucapnya membatin.  Tak disadari Ustzah Ade menumpahkan air mata.  Perasaan hatinya tersusupi kesadaran halus akan pengorbanan istri pada perjuangan suami. Suara tangisnya tersedan oleh ketakberdayaan iman di hadapan ummul mukminin yang seharusnya ia teladani.  "Aa,  Ade akan mendukung keputusan Aa.  Tapi tolong bantu Ade buat ikhlas dan hati Ade bisa seluas kelapangan hati Aa. "
Satu bulan berjalan,  usaha konveksi dipindahkan ke pesantren sekaligus menjadi tambahan program workshop untuk life skill santri.  Workshop menjadi program unggulan yang digulirkan Ustaz Lukman sebagai daya tarik santri baru.
Langkah pengorbanan Ustaz Lukman tidak sia-sia.  Gaji untuk Bibi Maemunah sudah disesuaikan kebutuhannya.  Meskipun Ustaz Lukman harus mengambil dari kocek sendiri,  tapi dia puas dengan menu santri.  Ada tambahan gizi dengan lauk daging seminggu dua kali,  Senin dan Kamis.  Buah dan susu sepekan sekali tiap hari Jumat.   Saat dilihatnya dapur santri,  anak-anak nampak begitu ceria dan bersuka cita.
Program beasiswa setengah harga untuk anak-anak yang berprestasi, dan beasiswa penuh untuk yatim dan dhuafa digulirkan.  Satu lagi, program sekali infak biaya pendidikan saat awal masuk.  Uang itu menjadi kas berjalan pesantren yang digunakan untuk mengembangkan usaha.  Bila ada yang tidak bertahan hingga akhir masa belajar,  uang sisa infak dikembalikan ke orang tua.
"Alhamdulillah, Ade,  ikhtiar dan doa kita dikabulkan Allah.  Syirkah dengan suntikan dana yang ada bisa membesarkan warung yayasan.  Dana operasional yayasan tidak mengganggu keuangan pondok lagi. Setengah dari sisa hasil usaha bisa kita transfer ke yayasan. "
"Maafin keluarga Ade, ya Aa.  Jadi Aa Lukman yang berpikir keras membangkitkan lagi pesantren ini. "
"Sudah menjadi kewajiban kita yang masih muda buat berkarya.  Didampingi dengan penuh keikhlasan pun sudah cukup membahagiakan buat Aa. "
&&&&&
Tiga tahun kemudian.....
Ustaz Lukman berhasil membentuk Badan Wakaf Nurussalam. Berbagai komponen masuk di dalamnya wakil dari badan pengelola, alumni, yayasan, komite pesantren yang mewakili orang tua dan tokoh penting dalam masyarakat.
Lagi-lagi keluarga Bibi Maemunah tidak suka dengan terbentuknya badan wakaf.  Kekhawatiran tergeser dari unit usaha menjadi alasan utama, karena keluarga ini tidak akan leluasa mendekati dan memengaruhi keputusan yayasan.  Di antara keluarga Bibi Maemunah, Sumantri sebagai pengelola kafe yang paling menunjukkan gelagat tidak baik.  Kang Sumantri melaporkan hal-hal yang dia anggap bisa melemahkan kedudukan Ustaz Lukman.  Kehadiran Ustaz Lukman terlalu dalam mengontrol unit usaha.  Tidak ada banyak kesempatan lagi meraup keuntungan dari syirkah dan dapur.  Tuntutan laporan bulanan menguras akal culasnya untuk memanipulasi laporan. Itupun serba sulit karena bon harus dilampirkan.
Begitu besar kepentingan keluarga ini untuk tetap berada pada unit usaha, membuat Sumantri berani menghadap Haji Fauzan.
"Kang Haji, Kang Lukman, sudah terlalu jauh melangkah."  Sumantri menyempatkan diri menemui ketua yayasan untuk berita yang dipendamnya dalam ruang gelap hatinya.  Buruk sangka, iri, dengki dan sifat namimah sambil mencari kesempatan untuk mereguk kesempatan.
"Aku sudah berjanji tidak akan mencampuri sepak terjangnya. Selama pesantren tetap berjalan dengan baik dan tidak menyalahi kaidah dasar, buat apa dirisaukan?  Lagi pula Lukman yang sudah menyelamatkan wakaf almarhum bapak."
"Memang jumlah santri sekarang sudah tiga kali lipat. Tapi ada satu yang keluar dari kaidah dasar pesantren.   Kang Lukman sudah membentuk badan wakaf.  Akang tahu tidak kalau Kang Lukman bagi-bagi saldo operasional pesantren?  Yang menerima pun hanya ustaz mukimin.  Saya rasa ini bukan perbuatan bijak.”
"Wah yang itu,  saya kurang tahu."
"Itu dia, Kang, setelah ada badan wakaf,  akan banyak hal yang Akang tidak tahu.  Yang paling berbahaya ada tokoh-tokoh penting yang terlibat organisasi terlarang.   Kalau ini tercium aparat, bisa ditutup Nurussalam.   Kemarin ada dua polisi mendatangi rumah Kang Lukman.  Kang Fauzan harus bertindak cepat"
"Sumatri, terimakasih atas berita ini. Kami, seluruh pengurus yayasan akan mengadakan rapat segera."
"Jangan sampai salah langkah, ya Kang, kasihan Uwa Haji" pesan Sumantri dengan wajah pura-pura prihatin.  Untuk sementara dia puas dengan hasil hasutannya.  "Sebentar lagi pesantren akan bersih dari manusia sok suci semacam Kang Lukman, " batin Sumantri.
Hasil keputusan rapat yayasan,  memanggil Ustaz Lukman untuk dimintai keterangan.  Akan tetapi hasutan Sumantri sudah menyusup dalam lorong hati keluarga yayasan.  Gelagat kurang baik sudah mulai menyebarkan bau busuk fitnah dan namimah, merenggangkan hubungan keluarga yayasan dengan Ustaz Lukman.   Apapun keterangan dari Ustaz Lukman tentang badan wakaf, tidak bisa diterima keluarga Yayasan.  Bahkan sudah menyekat lisan kakak-kakak iparnya untuk sekedar bertegur sapa.  Betapa sempitnya dunia ini dengan perpecahan dan permusuhan yang tak seharusnya terjadi.
&&&&&
Program hari ini adalah rihlah pesantren Nurussalam.  Semua keluarga besar pesantren diundang untuk mengadakan perjalanan wisata.  Kali ini lokasi wisata yang dituju adalah kawasan kaki Gunung Merapi.  Tujuannya untuk merajut kedekatan antar semua keluarga besar Pesantren Nurussalam.   Akan tetapi tidak demikian kali ini.
Semua berkumpul di halaman penginapan Kaliurang, kaki Gunung Merapi yang sejuk.  Halaman cukup luas itu dipenuhi 450-an keluarga besar Nurussalam.  Sebuah lonjakan berarti karena tiga tahun lalu,  peserta rihlah hanya 150-an orang.
Sebagian besar merasa adanya kejanggalan.  Di tahun-tahun sebelumnya, Ustaz  Lukman tidak mengumpulkan seluruh rombongan di akhir rihlah seperti halnya saat ini.  Semua bercengkerama dengan hatinya masing-masing. Bermain dalam tebak menebak yang spekulatif dan rumit.   Terutama untuk mereka yang berseberangan dengan kebijakkannya.
"Mulai hari ini saya memohon izin untuk mundur dari jabatan pimpinan pesantren.  Saya berdoa semoga sepeninggalan saya pesantren ini makin maju. Yang baik datangnya dari Allah, teruskanlah. Yang buruk dari saya sendiri, tinggalkanlah. Alasan pengunduran diri saya karena perusahaan yang saya tinggalkan selama tiga tahun menunggu keterlibatan saya   Saya berencana keuntungan perusahaan akan digunakan menyokong operasional pesantren ”
Keputusan tak terduga itu meledakkan keheningan. Suara riuh hingga isak tangis air mata haru, cinta, sekaligus kekaguman. Juga senyum jumawa mereka yang merasa memenangkan pergumulan kepentingan.
Haji Fauzan meninggalkan pertemuan menuju penginapan dengan hati tak menentu.  Batinnya menolak pengunduran diri adiknya.  Langkahnya terhenti oleh perbincangan Sumantri dan istrinya di salah satu kamar penginapan tak jauh dari pintu masuk.
“Rencana kita berhasil.  Kita akan bisa mengumpulkan keuntungan seperti dulu lagi.  Bahkan badan wakaf itu terancam akan dibubarkan lagi.  Kang Fauzan akan mudah dikendalikan sama ibu.”
Mendengar percakapan dua orang itu, Haji Fauzan segera menuju halaman penginapan untuk menanggapi sambutan Ustaz Lukman dan menentukan sikapnya.
“Saya sebagai nadzir, sekaligus ketua Yayasan Nurussalam menolak pengunduran diri Ustaz Lukman dan Badan Wakaf Nurussalam tetap harus kita pertahankan.  ‘Alaikum bil jamaah al jamatu rahmatun wal firqatu ‘adzabun.  Dengan makin banyak orang terlibat memikirkan kemaslahatan Nurussalam maka kemajuan dan keberkahan akan mudah diraih.”
Sambutan Haji Fauzan disambut rasa syukur semua peserta rihlah.  Haji Fauzan menghambur ke arah Ustaz Lukman dan memeluknya erat.  Hati seluas samudra selalu menghadirkan cinta untuk mereka yang masih menghidupkan ketulusan.

*): Kitab Al Busyra fii Manaqib Sayidah Khadijah Al Qubra, karya Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid 'Alawi ibn Sayyid 'Abbas ibn Sayyid 'Abdul 'Azis al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy'ari asy-Syadzili. Penerbit: Hai'ah Ash-Shofwah al-Malikiyyah   

Glosarium:
1.                  Akhi: saudaraku (laki-laki)
2.                  Ana: saya
3.                  Antum: Kamu
4.                   Alaikum bil jamaah, aljama’atu rahmatun wal firaqu adzabun: hendaklah atas kalian berjamaah,berjamaaih itu rahmat dan berpecah belah itu adzab
5.                  Fa idza azzamta fa tawakkal ‘alallah: jika sudah bertekat maka bertawakallah pada Allah
6.                  Laundry: jasa pencucian baju
7.                  Life skill: keterampilan hidup
8.                  Ma’had:  Pesantren
9.                  Muwaqif: pemberi wakaf
10.              Nadzir: penerima wakaf
11.              Namimah: adu domba
12.              Resep pisan: senang sekali
13.              Rihlah: Perjalanan
14.              Syirkah: koperasi
15.              Unek-unek: isi hati yang menjadi beban
16.              Wilujeng sumping: selamat datang
17.              Workshop: bengkel keterampilan

PROFIL PENULIS:
Khadijah Hanif, anggota dari Badan Pengelola Pesantren Terpadu Nurul Amanah Tasikmalaya dan Pengurus Yayasan Aminul Ummah Garut.  Ibu dari tiga orang anak ini lahir di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah 11 Desember 1974.  Saat ini sedang memulai dunia tulis menulis dengan banyak bergabung dengan komunitas penulis, antara lain Jejak Publiser, Dandelion Authors, Forum Lingkar Pena-Garut, Nulis Bareng (Nubar), Sahabat Kabol Menulis dan Wonderland Creative. Diantara Antologi yang melibatkan tulisannya adalah:
a. Rinai Aksara, A Journey of Life, Senjaku Tak Hilang bersama Dandelion's Authors
b. Puisi untuk Ibu Kartini,  Thriller, Cerita dari Koding, dan Harmonisasi Hubungan Antar Umat Beragama bersama Jejak Publisher
c. Friut and Vegetable Stories, Dunia Merah Jambu bersama Wonderland Publisher
Penulis pernah menjadi Juara Satu penulisan kisah inspiratif yang diadakan oleh Jejak Publisher.  Novel perdana yang diterbitkan oleh Jejak Publisher berjudul Talbiyah Cinta dari Kampung Naga.  Saat ini penulis sedang merintis pesantren literatif-qurani dan agribisnis di Temanggung Jawa Tengah.Aktif ngeblog dengan tajuk TITINHASTUTI’S BLOG dan bisa dihubungi melalui facebook dengan akun Titin Harti Hastuti, tweeter titinhastuti_212, dan instagram khadijahhanif_313


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA