Cerpen Thriller_Nyaris



NYARIS
By: Khadijah Hanif

Arman menatap wajah istrinya, Nina lekat-lekat.  Penuh rasa iba dibelainya rambut Nina yang makin tak terawat, Bun, ingatlah masa-masa indah kita.  Saat awal kita berjumpa dan membangun mahligai rumah tangga.  Juga saat kita bersama menyusuri pantai sekeluarga,” tutur Arman lembut.  Mengharapkan jawaban dari istri tercintanya yang hampir sepekan tidak menunjukkan respon positif.
“Sudah! Cukup! Aku tidak kenal kalian semua!” teriak Nina penuh kemarahan.  Wajahnya merah merona.  Suaranya pun berat, seakan erangan harimau.  Suara itu tidak seperti  dulu yang selalu lembut dan penuh kasih sayang. “Aku tidak mengerti dengan segala cerita kamu itu.  Aku tidak pernah bersama kalian sebelum ini!”  Nina kembali mengelak.
Semua tertunduk sedih.  Nina tak ubahnya jasad yang terisi jiwa yang lain.  Entah siapa dan darimana, dan kemana jiwa Nina tersembunyi?  Air mata mulai mengalir di pipi Salsa, anak pertama mereka yang sudah menginjak usia tiga belas tahun.  Sementara adiknya Lania dan Farhan, baru berusia enam tahun, kembar.  Kedua anak itu belum mengerti apa yang terjadi.   Ketakutan menyelimuti wajah mereka.
“Aku bukan Nina, ha...ha...ha....!  Aku akan kembalikan Nina di tengah kalian.  Aku juga akan segera pergi asalkan salah satu anggota keluarga ini mau ikut bersamaku!”  Tatapan mata tajam Nina tertuju pada anak pertama mereka, Salsa.
“Tidak! Aku tidak mau!”  Salsa berteriak meninggalkan kamar itu.  Berlari menuju rumah kakeknya yang hanya terpisahkan gang sempit.
“Salsa, jangan tinggalkan rumah.  Kita harus selalu bersama!  Kita dalam masalah!”  Arman meraih tangan Salsa.  Keadaan begitu makin mengkhawatirkan.  Ancaman-ancaman dari ruh lain itu menghantui semuanya.
Mereka kembali bersama di kamar lima kali enam meter itu.  Cat biru dan merah muda tidak lagi memancarkan serinya. Nina hanya bisa terbaring di atas springbed dikelilingi orang-orang terdekatnya.  Sesekali Nina tertidur atau lebih tepatnya ruh jahat itu meninggalkan jasad Nina.  Nina akan terlihat seperti seseorang yang tertidur pulas dan dalam.
“Salsa, Lania dan Farhan.  Ayah mengkhawatirkan keselamatan kalian. Ayah tidak bisa mengabaikan ancaman ruh yang memasuki raga bunda.  Maka semua harus saling bantu.  Ayah yakin, kalau kita mengikuti nasihat kakek, kita semua akan selamat.”  Ayah Arman seorang ajengan, ulama yang ‘alim tetapi tidak termasyhur.  Uniknya, meskipun tidak masyhur, ia banyak didatangi tetamu.
Ada amalan yang terus mereka lakukan.  Lania dan Farhan memegang tasbih untuk berzikir kalimat tauhid sebanyak mungkin.  Sementara ayah dan Salsa harus mengkhatamkan Alquran setiap pekannya.  Bacaan-bacaan itulah yang membuat mereka terus bertahan.
***
Malam ini, ruh jahat itu pergi entah kemana.  Jasad Nina terbujur kaku, ada nafas satu-satu tapi Nina belum juga terjaga.  Koma.
“Pak, izinkan saya membawa Nina untuk suluk ke lembah Ciwulan.  Saya mendapat firasat untuk membersihkan jasadnya.  Pengaruh makhluk gaib yang selama ini memasuki jasadnya harus segera kita kalahkan.”  Arman meminta izin kepada mertuanya.
Lembah Ciwulan adalah lembah yang cukup dalam, dibelah oleh Sungai yang masih asri dan berair bening.  Sebuah saung milik keluarga Nina yang selama ini kosong akan digunakan Arman untuk proses pemulihan Nina.
“Bapak nggak keberatan, Arman.  Bapak sebenarnya ingin menemani kamu membantu kesembuhan Nina.  Tapi anak-anak harus dijaga juga.  Sekolah mereka juga tidak boleh terganggu.”
“Nggak apa-apa, Pak.  Biar saya berdua dengan Nina.  Kami justru meminta maaf harus membebani Bapak dan Emak dengan anak-anak.  Saya khawatir dengan keadaan Nina.  Bapak lihat sendiri.  Dia terlalu lama tak sadarkan diri.  Badannya makin kurus.  Saya pikir akan sangat berbahaya kalau dia dekat dengan anak-anak.  Sewatu-waktu, ruh jahat itu bisa merasuki tubuhnya.”  Arman tertunduk lesu.  Beban hidup terasa begitu berat.  Beruntung bos tempatnya kerja mengizinan cuti sampai keadaan Nina membaik.  Kadang terlintas rasa tidak enak hati terutama pada rekan kerjanya.  Akan tetapi buat Arman, keluarga adalah segala-galanya.
Arman memberitahukan ancaman terakhir ruh jahat pada keluarganya.  Pak Sadeli, mertua Arman hanya bisa mengurut dada dan berusaha menenangkan menantunya itu.
“Mantapkan hatimu, Arman.  Biar aku yang menjaga anak-anak.  Berangkatlah!”
Perbincangan mereka tiba-tiba terhenti oleh sesuatu yang aneh.
“Perasaan nggak hujan, tapi…kenapa atap kita bocor, Pak?”  Arman mendongak ke arah atap, tepat di atasnya. Dan….
“Arman, di muka kamu, ada tetesan….darah!  Cepat kau basuh, Bapak merasa ada yang janggal.  Sebelum darah itu memengaruhi kamu.”
Arman tersentak bau hanyir darah itu busuk. Diusapnya tetesan itu dengan jemarinya.  Merah tua.  Kalimat istighfar, istirja’ keluar dari lisannya.  Tak berhenti.  Panik.  Apa yang terjadi dengan keluarganya?   Nina, Salsa, Lania dan Farhan.  Wajah orang-orang terdekat memekatkan pandangannya.
Sementara itu….
Di rumah, ketiga anaknya ditemani seorang pembantu terus menjaga Nina.  Ini adalah hari pertama Bi Timah mendapat amanah menjaga anak-anak sebelum Arman membawa Nina menuju lembah Ciwulan.
“Kasihan sekali Neng Nina ini.  Dulu wajahnya cantik.  Sekarang mulai membiru dan kurus.  Wajahnya jadi mengerikan.  Matanya cekung, rambutnya kusut.  Aku akan mencoba merapikan rambutnya.  Kebetulan aku punya minyak kletik yang aku tuangkan di daun pandan.  Pasti akan mudah merapikannya.”  Sedikit ragu Bi Timah mendekati raga yang hanya terdiam itu.  Bulu kuduknya meremang.  Tapi mengingat kebaikan hati dan kedermawanan Nina,  dalam hati Bi Timah timbul rasa kasih dan iba.
Wanita paruh baya itu mendekati Nina.  Wajahnya yang sederhana memancarkan kesalehan. Disentuhnya rambut kusut itu sambil terus melantunkan salawat.
Punten ya, Neng.  Saya lancang. Allahumma sholli ‘ala nuril anwar wa sirril asrar wa tiryaqil aghyar wa miftahi babil yasar sayyidina wa maulana muhammadinil mukhtar wa alihil ath-har wa ash-habihil akhyar ‘adada ni’amillahi wa ifdhalih.”  Berkali-kali salawat itu terlantun dengan merdu.
Bi Timah begitu sabar menyisir rambut itu hingga rapih.  Tiba-tiba sentuhan tangan lemah memegang tangan kisutnya.  Bersamaan dengan itu cahaya putih memasuki raga Nina.
Masya Allah, cahaya apa yang masuk ke badan Neng Nina?” Bi Timah mempercepat dan mengeraskan salawatnya.
“Siapa ini? Salsakah?”  Suara lemah Nina mengagetkan Bi Timah.
“Eh, Neng Nina.  Alhamdulillah, Neng sudah sadar?  Saya Bi Timah, Neng.  Neng Nina ingat saya, nggak?” tanya Bi Timah tanpa rasa takut.  Beruntung kabar tentang penyakit Nina hanya diketahui keluarga Arman dan mertuanya.  Para tetangga tidak dibiarkan mengetahui secara detail.  Termasuk juga Bi Timah.
Nina mulai mengangkat tangannya.  Tenaganya belum sepenuhnya pulih. “Berapa lama aku tertidur, Bi?  Kenapa aku jadi kurus begini?”
“Kata Jang Arman, udah dua pekan, Neng!”
“Anak-anak saya mana?”
“Ada, Neng.  Sedang belajar di ruang tengah.”
Di kamarnya, Salsa keluar dari toilet, mengambil wudlu.  Hari ini tinggal satu juz ia dan ayahnya akan mengkhatamkan dua kali Alquran.  Baru saja tangannya ingin menyentuh Alquran, sesuatu yang tak lazim terjadi.  Semua badannya tiba-tiba kaku.  Segaris merah darah tergores di dinding warna biru muda kamarnya.
“Agh...agh….!!!” suara erangan kesakitan seakan muncul dari dinding bergores darah itu.  Tetesan segarnya membercak di atas bedcover pink Salsa. ”Aku tak kan biarkan kalian lepas begitu saja.  Ibu kalian bisa kembali tapi, kau harus ikut aku!”  Suara yang sama dengan ruh jahat itu menggetarkan tubuh Salsa yang kini kaku, terpaku pada tempatnya berpijak.
“Tolong, Ayah!!!! Lania, Farhan, Bi Timah!!!!”  Salsa berusaha memanggil siapa saja di tengah isak tangis yang makin pilu.
Lania dan Farhan bergegas menuju kamar Salsa.  Dua anak kecil itu ingin meraih tangan Salsa.  Namun jasad itu memudar bersama tawa kemenangan ruh jahat pengganggu Nina selama ini.
“Teh Salsa, jangan pergi! Teh, Nia takut!” teriak Lania
“Iya, Teh, bunda juga belum kembali kenapa Teteh harus pergi. Hai, Iblis, kamu jahat sama keluarga kami!  Kami akan membalas!”  Farhan mengepalkan tangan geram.  Mereka belum tahu bahwa Nina, ibu mereka sudah sadar dari komanya.
Mereka tidak menuju ke kamar ibunya, tapi mencari ayah mereka.  Sore itu sebelum azan Maghrib berkumandang.  Dua anak kembar berlarian menuju rumah kakek mereka.
“Ayah, Kakek, Teh Salsa hilang!”  Farhan dan Lania menangis sejadi-jadinya.  Ketakutan yang makin pekat.  Mereka menghambur pada pelukan ayahnya. “Ayah, Farhan nggak mau pulang lagi ke rumah kita,” ungkap Farhan.
Lania mencoba mengatur napas dan suaranya.  Kemudian bercerita.  “Tadi Teh Salsa tiba-tiba hilang, hanya jeritan suaranya yang kami dengar.  Dia minta tolong.  Kasihan Teh Salsa.  Suaranya terdengar sedih, Ayah!”
Arman makin bimbang.  Dia berusaha tetap tenang meskipun hatinya berkeping-keping.
“Sabar, sayang.  Semua akan segera baik.  Ayah akan mengobati bunda.  Setelah itu Teh Salsa akan kembali.”  Arman baru teringat bahwa hari ini tepat sebelum Subuh, ia dan Salsa    seharusnya telah mengkhatamkan Alquran.  Tinggal satu juz.  Berarti syarat keselamatan keluarganya tidak terpenuhi.  Rupanya ancaman  ruh jahat itu tidak main-main.
Ingatannya kembali pada Nina.  Ia sedang ada di rumah bersama Bi Timah.
“Pak, saya harus segera menemui Nina.  Saya juga harus berusaha menyelamatkan Salsa.” Arman menahan rasa sedih yang hampir pecah.  Tak ada air mata.  Hanya rasa duka tertahan membekaskan warna merah pada dua matanya.
***
Hari ketiga kepergian Salsa.  Semua masih dirundung duka.  Bi Minah masih setia membersihkan bekas garis-garis merah pada dinding kamar Salsa.  Semampunya dibasuh warna itu hingga tak berbekas.  Bau anyir itu lama kelamaan sirna juga dengan minyak gaharu yang disapukannya pada dinding, hingga cat biru mudanya turut memudar. Lagi-lagi salawat membasahi bibirnya yang tak pernah kering dari zikir.  Keluarga Arman beruntung memiliki asisten rumah tangga sebaik Bi Timah.
“Allahumma sholli ‘ala nuril anwar wa sirril asrar wa tiryaqil aghyar wa miftahi babil yasar sayyidina wa maulana muhammadinil mukhtar wa alihil ath-har wa ash-habihil akhyar ‘adada ni’amillahi wa ifdhalih”
Arman ikut memerhatikan kebiasaan Bi Timah yang tak biasa itu.  Dia sangat berbeda dari semua pembantu yang pernah bekerja di rumahnya.
“Bi Timah, coba Bibi ceritakan apa yang terjadi sore itu.  Saat Nina mulai tersadar,” tanya Arman di ruang tengah.  Semua anggota keluarga berkumpul kecuali Salsa.
Bi Timah menceritakan semua yang dialaminya saat menemani Nina.
“Bunda kelihatannya sudah agak sehat.  Sudah tidak pucat lagi.  Bisa menceritakan apa yang Bunda alami dalam dua pekan Bunda meninggalkan kami?”  Arman bertanya lembut.  Semua kejadian yang menimpa Nina membuat dia makin sayang pada Nina dan ingin menjaganya.
Dibalut setelan hijab syari kasual, warna dominan ungu muda, bermotif bunga ungu tua.  Cantik dan anggun.  Matanya sembab oleh air mata yang tak juga berhenti, memikirkan Salsa, anak sulungnya.
“Bunda seakan meninggalkan jasad malam itu.  Bunda tahu ayah sedang salat malam.  Bunda juga bisa melihat jasad Bunda sendiri.  Tiba-tiba datang sosok yang mengerikan.”
***
“Kamu harus ikut aku!”  Sosok berwajah hitam legam.  Berkepala harimau tapi tubuhnya manusia.  Suaranya berat setengah mengaum.  Seperti seekor macan.
“Aku tidak mau.  Aku tidak ada urusan sama kamu!” Bunda berontak.  “Kenapa aku harus ikut kamu.  Aku punya keluarga dan anak-anak yang tak bisa aku tinggalkan begitu saja.”
Sosok itu membeberkan semua yang akan menimpaku.  Katanya ada leluhur kita yang akan memakai jasad Bunda dan akan membawa manfaat bagi mereka yang mengalami gangguan jin.
“Aku dari bangsa jin.  Pekerjaanku mengganggu manusia.  Kalau aku biarkan kamu tinggal di dunia,  jasadmu bisa dipakai leluhurmu untuk melepaskan penderitaan manusia dari gangguanku.”
Makhluk itu mengikatku dengan rantai besi.  Aku tidak bisa kemana-mana.  Entah berapa lama.  Di sana aku tidak diberi makan sedikitpun.  Sampai datang sekelebat cahaya, berpakaian serba putih.  Serban dan jubahnya pun putih.  Aku tidak bisa melihat wajahnya.  Dialah yang melepaskan aku dari rantai besi dan kembali.
“Anaking, Nina.  Pejamkan mata dan pegang erat lengan saya.  Saya akan membantu mengembalikan kamu pulang.”
“Bapak siapa? Saya tidak kenal.”
“Kamu tidak perlu mengenal saya.  Yang jelas saya tidak akan menyusahkan kamu.  Ikhlaskan jika saya akan hadir saat ada yang membutuhkan.”
***
Semua mendengar dengan seksama cerita dari Nina.  Tiba-tiba Nina kembali pingsan.
“Bunda, jangan tinggalkan kami lagi!” Arman panik dan trauma pada kejadian yang menimpa keluargannya.  Salsa yang belum juga kembali, Nina yang dibawa jin berkepala harimau.  Ah…sampai kapan derita ini terus mendera?
Tidak lama kemudian, Nina terbangun.  Tapi lagi-lagi keanehan terjadi.  Suara yang berbeda keluar dari lisan Nina.  Kali ini suara orang tua, parau dan berat.  Perkataannya lembut dan sorot matanya teduh.
“Sabar, Anaking Salsa dalam pengawasan saya.  Saya akan berusaha membebaskannya dari jerat jahat jin harimau.  Tapi ada syarat yang harus kalian lakukan.  Salatlah tepat jam duabelas malam, setelah bangun tidur. Tempatnya harus sama dengan saat Salsa menghilang.  Baca ayat ruqyah dari ma’tsurat qubra.  Tutup dengan salawat Nuril Anwar.  Begitu tercium aroma wewangian, bacalah basmalah tiga kali.  Panggil namanya.  Kamu akan melihat sekelebat sosok Salsa.  Peluk erat-erat dia, dia akan kembali.”
“Apakah Anda yang menyelamatkan istri saya?  Siapa Anda sebenarnya?  Dan bagaimana kami harus memanggil nama Anda?”  Arman mencoba mengetahui ruh atau entah apa namanya yang telah memasuki jasad Nina itu.
“Itu tidak penting.  Pangil saja saya, Aki.  Jangan lupa berterimakasih pada Bi Timah, lantunan salawatnya memudahkan aku membantu istrimu pulang.  Yang lebih utama, kalian ikuti saranku bila ingin Salsa selamat.   Saya harus pergi sekarang juga.   Ingat kesempatannya hanya sekali dan hanya malam ini.  Saya akan bantu Salsa untuk bisa kembali. Wassalamu’alaikum
Waalaikumussalam.  Terimakasih, Aki.”
Raga Nina tiba-tiba pingsan kembali untuk kemudian sadarkan diri.
“Eh….apa yang terjadi?  Tadi sampai mana Bunda cerita.  Oh, iya, Bunda akhirnya selamat dan bisa pulang kembali.  Alhamdulillah.
Semua terdiam.  Keanehan demi keanehan begitu menyisakan teka-teki.  Buat Arman semua menjadi tidak penting karena yang paling penting adalah kembalinya Salsa.
***
Arman sengaja tidur lepas salat Isya.  Sepulang dari salat berjamaah di masjid, Arman tidur di kamar Salsa.  Ditemani Nina.
Ada kesedihan saat mereka mulai memasuki kamar itu.  Air mata mengalir tak henti dari mata Nina.  Seorang ibu tentu sangat mengkhawatirkan keadaan anaknya.
“Ya Allah, hindarkan Salsa dari penderitaan.  Kembalikan dia bersama kami.”
Setelah mengambil air wudhu, bersiwak dan salat dua rakaat, mereka mulai memejamkan mata.  Nina tidak bisa tidur.  Isak tangisnya tertahan karena khawatir mengganggu istirahat suaminya.  Hanya air mata yang tak henti mengalir hingga menjelang tengah malam.  Akhirnya Nina kembali pingsan dan jiwa yang lain itu datang……
“Anaking, bangun!”  Suara parau dan berat itu kembali keluar dari lisan Nina
Arman terkejut mendengar suara parau itu.  “Ini pasti bukan Nina, tapi seseorang yang memperkenalkan diri dengan nama Aki.”  Arman membatin.
Mereka bangun, mengambil air wudhu dan salat malam bersama.  Jam meja Salsa menunjukkan waktu tepat 12.00.  Zikir dan salawat mulai mereka lantunkan bersama.  Seirama dengan detak detik jarum jam, satu-satu.
Aki, saya sudah merasakan aroma itu.  Apa yang harus aku lakukan?”
“Bacalah basmalah tiga kali satu napas.  Cepat, sekarang juga Arman!  Kita tidak punya banyak waktu.”
Bismillahir rahmanir rahiim.  Bismillahir rahmanir rahiim. Bismillahir rahmanir rahiim!”  Arman berusaha melafalkannya dalam satu napas.
“Panggil nama anakmu, sekarang juga!”
“Salsabila Anindia binti Arman.  Ini ayah! Kemarilah!”  Suara Arman bergetar, cemas.
Sesosok halus berkelebat menghampiri Arman.  Antara percaya dan tidak, antara takut gagal dan harapan ingin berhasil memeluk anaknya membuat jantung Arman berdegup kencang.
“Ayah……!!!!!”  Suara itu sangat dikenalnya.  Salsa.  Ya, Salsabila telah kembali di pelukan Arman. Tangisan haru pecah dari seseorang yang selama ini teramat tegar menghadapi ujian hidup.  Betapa tidak?  Pertaruhan antara kehilangan Salsa selama-lamanya atau bersatu kembali terjadi di keheningan malam ini.
Wajah Salsa terlihat pucat.  Dibenamkan wajah itu dalam-dalam pada dada bidang sang ayah.  Terasa begitu damai dan tenteram.  Isaknya pecah, perlahan mereda bersama usapan lembut tangan kekar Arman.
“Alhamdulillah.  Terimakasih ya Allah, Kau kembalikan anak dan istriku.  Mereka semua titipanMu yang harus kujaga.  Izinkan kami utuh saat menghadapMu di syurga nanti.”  Arman berdoa tulus.
“Ayah, Salsa lelah,” ucap Salsa lirih.
“Ayah mengerti, Nak.  Istirahat dulu, ya, Salsa.  Jangan pernah takut.  Teruslah meminta perlindungan sama Allah.  Kita akan lanjutkan baca Alquran bersama, ya.  Syukur-syukur kita bisa menghafal sehari satu ayat.”  Arman membopong tubuh Salsa dan membaringkannya di atas dipan.  Di kecupnya kening Salsa sambil mengucap doa sebelum tidur.
“Nggak lapar Salsa?  Sudah tiga hari kamu nggak makan?”
“Tidak, Ayah.  Ada seorang kakek yang baik.  Dia memberi makanan yang belum pernah Salsa makan sebelumnya.  Enak…banget.”  Salsa tersenyum manis.  Seakan tak ingin melepaskan kenangan indah bersama seseorang di alam lain yang menjumpainya.
“Oh, Ayah tahu.  Pasti dia bernama Aki?!”
“Kok, Ayah tahu?”
Arman tersenyum.  “Ceritanya panjang sayang.  Insya Allah masih ada hari esok buat kita saling berbagi cerita.  Sudah malam, tidurlah!”
“Salsa ingin tahu satu hal, Ayah?
“Apa, sayang….”
“Kata Aki, Bunda sudah pulang. Benarkah?”
Alhamdulillah, lihat siapa yang tertidur di atas sajadah itu?”
Salsa mencoba bangun.  Arman membantu mendudukkan anak gadisnya. Salsa tersenyum.  Ia ingin memeluk bundanya, tapi melihat Nina begitu lelap ia mengurungkan niatnya.
Salsa segera tertidur.  Kepalanya di sebelah barat.  Ia memiringkan badan  ke kanan.  Tangan kanannya diletakkan di bawah pipi.  Tidur sunah yang Arman ajarkan sejak kecil begitu mudah Salsa lakukan.  Senyum bahagia mengembang di bibir Arman.  Tidak terasa sudut matanya melembab. 
Perhatian Arman tertuju pada sosok di sebelahnya.  Tergolek di atas sajadah masih lengkap dengan mukenanya.
“Nina, agak sulit menerima kenyataan ini.  Antara anugerah dan ujian.  Kini ada jiwa lain dalam jasadmu.  Semoga aku bisa menerima takdir ini, apa adanya.  Bagaimanapun aku bersyukur.  Karena takdir ini juga yang telah menjadi wasilah kita utuh berkumpul kembali.”  Arman mengusap lembut kepala dan punggung istrinya itu.  Penuh kasih sekaligus kerinduan.
Nina terusik dengan belaian Arman. “Innalillahi, Ayah!  Jam berapa sekarang?  Jangan sampai terlambat!  Salsa harus kita selamatkan!”  Nina terkejut dari tidurnya.
“Stttt! Tenang, Bun!”  Arman memberi isyarat supaya Nina tenang. ”Lihat siapa yang berbaring di atas dipan?”
Alhamdulillah!  Salsa, kau sudah pulang, Nak!”  Nina bangkit dan memeluk Salsa yang tertidur pulas.
            Keluarga ini kembali utuh setelah melewati masa yang nyaris merusak keutuhannya.   
Babak baru dari kisah hidup keluarga Arman baru saja dimulai.  Satu per satu kisah penuh misteri menyambangi kehidupan Nina. Ya, melepaskan bani Adam dari berbagai gangguan di luar nalar dan logika.  Akan tetapi nyata dan sangat lekat dengan kehidupan manusia.

Profil Penulis:
Khadijah Hanif, lahir di kaki Gunung Sumbing Tenanggung Jawa Tengah, pada tanggal 11 Desember.  Tertarik pada dunia tulis menulis sejah usia sekolah dasar akan tetapi baru tersalurkan setelah bergabung dengan banyak komunitas menulis.  Hobbi lainnya adalah membaca, menggambar, travelling dan bercocok tanam.  Alumni IPB angkatan 29 ini tengah aktif dalam dunia dakwah dan tarbiah melalui pendidikan pesantren.  Kesibukannya kini adalah sebagai Badan Pengelola Pesantren Terpadu Nurul Amanah, Salawu Tasikmalaya dan anggota Yayasan Pesantren Terpadu Aminul Ummah Wanaraja Garut.  Obsesi terbesarnya, ingin menghasilkan karya best seller dan membangun pesantren di atas wakaf ayahnya di Temanggung Jawa Tengah.  Penulis juga kontributor berbagai jenis puisi dan cerpen pada lebih sepuluh antalogi.  Karya solo pertama berupa sebuah novel berjudul Talbiyah Cinta dari Kampung Naga.  Aktif ngeblog di TITINHASTUTI’S BLOG.  Bisa dihubungi lewat email khadijahhanif313@gmail.com, akun ig khadijahhanif313 dan facebook Titin Harti Hastuti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA