KhadijahHanif_CerIns “MAAFKAN KETELANJURKU, SAHABAT!”
“MAAFKAN KETELANJURKU,
SAHABAT!”
By: Khadijah Hanif
“Ummi
Zulfan, sekarang giliran iuran Ummi.
Soalnya saya akan bayar Mang Jana awal bulan depan.” Gawai sudah
berdenting lagi. Tagihan pemeliharaan
kebun bersama menjadi hal yang sangat mengganggu buat Bu Yuni di saat sulit
begini.
“Insya
Allah, Bu, maaf saya terlambat terus. Zulfan
mau daurah butuh uang satu juta. Saya
nggak tahu mesti dari mana nyari tambahan.
Untuk daurah memang di luar budget Nizar sudah dua bulan belum bayar uang syahriah
di pondoknya. Belum lagi Tifah belum
saya penuhi daftar ulangnya tahun ini.
Mohon pengertian dari Ibu.” Panjang lebar Bu Yuni menulis balasan pesan
pribadi dari Bu Kania.
“Ya,
sudah saya tunggu sampai Sabtu, ya, Ummi.”
Jawaban pendek itu sedikit membuat lega Bu Yuni. Artinya, masih ada lima hari ke depan ia bisa
berusaha mencari uang tiga ratus ribu dalam waktu dekat ini.
Ditatapnya
barisan buku bacaan yang selama ini ia tawarkan pada siapa saja yang
datang. Atau untuk kali ini, Bu Yuni harus
bawa kemana pun ia pergi dan bertandang ke rumah orang lain. Sebagai ibu rumah tangga, Bu Yuni memilih
menjadi penulis untuk menambah penghasilan keluarga.
“Ibu,
saya bawa buku cerita anak. Isinya bagus
buat pendidikan mereka insya Allah dari legenda ini banyak nilai-nilai positif
yang bisa ditanamkan buat anak kita.” Bu
Yuni tidak kenal kata putus asa. Tentu
saja tagihan dari Bu Kania menjadi semangat terbesarnya. Rasa malu untuk menawarkan dagangan door
to door, menjadi mental block buatnya. Akan tetapi sejak sore itu, ia mampu
meruntuhkan penghalang terbesar. Jaga image
untuk sesuatu yang baik dan bahkan sunah adalah kebodohan.
Rasa
syukur yang tidak terkira, ternyata menjajakan barang jualannya kali ini cukup
untuk membayar tagihan Bu Kania.
Keuntungan tiga ratus ribu rupiah ia peroleh dalam lima hari
perjuangannya. Tidak menunggu lama, ia
segera membayarkan uang itu. Khawatir
akan terpakai bila dibiarkan dalam dompet.
Maklumlah, kebutuhan harian sekarang makin terasa melilit, terutama
sangat terasa buat ibu rumah tangga.
Kadang dambaan perubahan menjadi impian besar buat emak-emak.
Kebun
bersama menjadi milik mereka bertiga, Bu
Yuni, Bu Kania dan Bu Zenab memang.
Dalam kondisi sulit, kebun itu menjadi buah simalakama terutama buat Bu
Yuni. Bagaimana tidak kebun itu mereka
beli bertiga dengan alasan membantu sahabat mereka yang anaknya akan dioperasi. Butuh uang yang cukup besar untuk pengobatan
anak perempuan satu-satunya Bu Rima.
Tumor saluran pencernaan. Bila
tidak dioperasi akan berkembang menjadi kanker.
Sekarang kebon yang tidak bertanda batas itu dirawat oleh Mang
Jana. Iuran perempatbulannya tiga ratus
ribu. Dalam keadaan tertentu iuran itu
terasa berat buat Bu Yuni. Apalagi kalau
dibandingkan dengan hasilnya yang bisa dibilang nihil. Tanaman kayu yang ada di kebon itu akan panen
lima hingga sembilan tahun ke depan.
Penantian yang lama dan memberatkan.
Sore
itu Bu Yuni menuju rumah Bu Lala untuk menyerahkan uang iuran. “Ibu,
Alhamdulillah udah ada buat iurannya,” ucap Bu Yuni begitu pintu rumah terbuka
dan Bu Kania menjawab salamnya.
“Makasih
ya, Bu. Ini buat gaji Mang Jana. Saya hanya membantu mengelola keuangan kebun
kita. Jadi maaf kalau saya cerewet nagih
sana-sini berulang kali.”
“Justru
saya yang minta maaf, Bu. Kadang-kadang
suka telat dan ngeropotin Ibu.”
Mereka
memang sahabat akrab sejak SMA. Satu
sama lain saling tahu keadaan dan kesulitan, kecuali hal-hal yang sangat
privasi. Meskipun dari dulu selalu
bersama, nasib dan keadaan ekonomi keluarga mereka sangatlah jauh berbeda. Keluarga Bu Yuni sangat sederhana dengan
suaminya yang menjadi karyawan swasta.
Sementara Bu Kania dan suaminya, sama-sama menjadi PNS.
Kadang
Bu Yuni menghela nafas panjang.
Membatin, ”Bukankan aku dulu lebih berprestasi dari pada Kania? Nilai-nilaiku lebih bagus Aku selalu menempati tiga besar, sementara
Kania selalu sepuluh besar dari belakang.
Ternyata prestasi tak berbanding lurus dengan rezeki?!”
***
Waktu
terus berpacu sesuai kehendak Yang Kuasa.
Ramadan sudah tiba kembali tahun ini.
Masa-masa daurah Alquran yang diminta Zulfan tinggal satu pekan
lagi.
“Ummi,
jangan lupa ya, Zulfan mau ikut daurah tiga pekan. Biayanya satu juta.” Dari seberang sana suara Zulfan terdengar
penuh harap.
“Sabar,
Sayang, Ummi masih mau berusaha seminggu ini.
Baru ada lima ratus ribu, Nak. Semoga
ada rezeki buat daurah kamu.
Doakan Ummi, ya. Baca Waqiah sesudah
salat Asar tiga kali. Ummi minta
bantuan, ya, Sayang.” Bu Yuni melipur anaknya.
Daurah ini penting untuk memperbaiki hafalan Alqurannya yang kini baru
masuk juz ke-20. Sementara Fariz, anak
pertama Bu Kania sudah masuk juz ke-30.
Tidak bisa dipungkiri Fariz lebih cepat menghafal dibandingkan Zulfan. Banyak faktor penyebabnya, diantaranya tentu
berbagai kemudahan fasilitas menghafal yang mendapat dukungan penuh dari kedua
orang tuanya. Berbeda sekali dengan
Zulfan yang harus banyak mujahadah.
Sebagai sahabat sekelas dan satu pesantren, kadang ada kerendahdirian
Zulfan bila melihat kemajuan Faris. Bu
Yuni memahami perasaan hati buah hatinya itu.
Maka sedapat mungkin ia tidak pernah menuding Zulfan atas prestasi
belajarnya. Ia khawatir Zulfan akan
makin tertekan bila ia menuntut banyak.
Baginya dua puluh juz itu untuk disyukuri bukan untuk dipermasalahkan.
Pagi
itu hari kedua bulan Ramadan.
“Bu,
saya pamit dulu, ya. Mau menjemput dan mengantar Fariz daurah di Bekasi.” Ada rasa gemuruh di dada Bu Yuni saat
mendengar Bu Kania berpamitan.
“Oh,
kapan berangkatnya, Bu?” tanya Bu Yuni menyembunyikan segala rasa agar tidak
terbaca oleh sahabatnya itu.
“Hari
ini. Mohon doanya, ya. Semoga lancar. Programnya untuk tiga puluh juz mutqin.”
“Iya,
Bu. Semoga dilancarkan segala
sesuatunya.” Ada rasa yang mendesak dari
dadanya. Membekaskan rasa panas di
pelupuk matanya. Bu Yuni segera masuk ke
dalam rumah. Bukan iri dengki yang
mendera hatinya, tapi sebentuk ketakberdayaan.
“Ya
Rabb. Cukupkan hamba dengan merelakan
segenap nikmat dan karunia yang Kau limpahkan pada saudaraku seiman. Rabb hamba rela dengan semua kenikmatan yang
Kau Takdirkan pada sahabat hamba, Kania.
Bahkan pada setiap hamba yang Kau Kehendaki. Bahkan pada seluruh makhluk yang Kau bagikan kasih
pada mereka.” Cucuran air
mata tak terbendung lagi. Di bawah
selimut waktu Dhuha yang syahdu, Bu Yuni bersimpuh penuh kepasrah.
Hingga
suara salam memecah khusyuknya.
“Ummi,
ternyata Fariz mengikuti daurah ini.”
Ustaz Arsyad, suami Bu Yuni menunjukkan sebuah flyer daurah
gratis di Bekasi.
“Terakhir
pendaftarannya kapan, Abi?”
“Dua
hari kemarin.”
Bu
Yuni tak bisa menyimpan kesedihannya lebih lama. Air mata makin deras bercucuran.
“Ummi
kenapa sedih?”
“Abi,
gimana nggak sedih. Bu Kania itu temen
deket Ummi sejak SMA. Dia tahu persis
kesulitan kita. Bahkan saya pernah
bilang kalau Zulfan mau ikut daurah tapi Ummi nggak ada budget ke
sana. Dia tahu Abi. Tapi kenapa dia menutupi informasi daurah
Fariz ke Bekasi yang gratis ini. Coba
Abi bayangkan. Persahabatan macam apa
ini?” Bu Yuni menangis tersedan. Air matanya menganak sungai. Ustaz Arsyad hanya bisa mendekapnya erat,
sambil terus berusaha mengobati lara istrinya tercinta.
“Sabar,
Ummi. Kalau Allah nggak mengizinkan
sesuatu hal pasti ada hikmah di balik semua itu. Berbaiksangkalah pada Dia Yang Maha Tahu
segalanya.”
“Ummi
rela Abi dengan ketentuan Allah Apapun
itu. Tapi untuk sikap Kania, Ummi belum
bisa mencari jalan untuk bisa memakluminya.”
Ustaz
Arsyad hanya bisa membelai orang terdekatnya dengan mengusap lembut kepala yang
terbalut mukena itu. Hatinya pun ikut
merasakan kepedihan yang dirasakan isrinya.
“Mungkin
ada alasan tertentu yang membuat Bu Kania nggak cerita. Yang entah apa alasannya.”
“Abi,
kenapa membela Kania. Apa Abi nggak bisa
merasakan kepedihan hati Ummi. Dalam
segala hal memang kita lebih lemah dari mereka.
Tapi setidaknya kalau ada peluang baik yang bisa meringankan beban kita,
kenapa dia nggak mau berbagi?”
“Ummi,
maafin Abi. Sebagai kepala keluarga yang
berkewajiban memenuhi kebutuhan belum bisa memenuhi harapan Ummi dan anak-anak.” Ustaz Arsyad mencium kening istrinya itu,
penuh kasih. ” Ini ada sedikit rezeki.
Tadi ada yang memberi uang jasa reparasi komputer dan install ulang. Ada beberapa komputer yang Abi betulkan. Semoga cukup untuk daurah Zulfan.
Bu
Yuni menatap raut rupawan di hadapannya, haru.
Pengorbanan suaminya yang sering kali pulang malam karena lembur
reparasi komputer, ia terima dengan penuh rasa syukur. Sepuluh amplop putih itu masih utuh. Isinya pun belum tersentuh oleh
Ustaz Arsyad.
“Semoga
sedikit mengobati luka hatimu, Sayang.”
Ustaz Arsyad membatin penuh harap.
Bu
Yuni masih khusyuk. Tenggelam dalam doa
dan munajat yang makin menggoreskan rasa kehambaan.
“Ya
Rabb, berikan kesabaran buat hamba, untuk bisa kembali pada pengakuan atas
kebesaran-Mu. Semua terjadi karena
kerendahan kedudukanku di sisiMu. Karena
dosa-dosaku. Wahai Allah, janganlah
hubunganku dengan anakku, Muhammad Zulfan bin Arsyad Al Jundi selama ini
menjadi penghalang karunia-Mu untukNya.
Aku ikrarkan keridaan hatiku, ya Rabb. Janganlah kekecewaanku pada Zulfan menghalangi
karunia-Mu untuknya. Ya Rabb, hamba
selalu berusaha menerima segala ketentuan-Mu.
Qada dan qadar-Mu. Hamba selalu
memohon pada-Mu atas kisah hidup yang lebih baik lagi Engkau ridai. Juga untuk keluarga kami.
Wahai Rabb, salahkah hamba yang merasa kecewa
pada ketidakpedulian sahabat atas kesulitan diri ini? Yang tahu keadaan hamba, masalah hamba tapi
tidak ada empati untuk memudahkan jalan hamba?
Rabb, bukankah dia tahu kesusahan hamba.
Bukankah dia tahu hamba sedang kesulitan mengirimkan Zulfan untuk ikut
daurah. Lalu kenapa dia sembunyikan
kabar ini? Rabb ampuni hamba yang sedang
dipenuhi prasangka ini.
Rabb,
untuk segala nikmat-Mu yang menjadi bagian dia dan siapapun juga, hamba
rela. Dan untuk segala karunia yang Kau
takdirkan bagi hamba dan keluarga hamba bersyukur. Berilah kelapangan dari segala kesempitan
hati ini.”
Perlahan
tangisan Bu Yuni mereda. Wajah muramnya
sedikit tersaput senyuman. Hanya
membekaskan sembab merah di kedua matanya yang sayu. Makin sayu.
Seperti
biasa, saat hatinya terselimuti gulana, ia ambil pena untuk mengabadikan tiap
peristiwa yang penting dalam hidupnya.
Diary yang dipenuhi puisi-puisi menguras perasaan. Bukan hanya sedih, tapi juga haru, bahagia,
marah, malu. Penuh warna.
HANYA KAMU, 2
RAMADAN 1436 H
Tak ada pilihan
Untuk hatiku
yang teserpih
Terlanda
gelombang tanya menggelora
Ketika iba tak
hendak dia lontarkan
Sedang diri
ingin berbagi kemudahan
Membuntal
segala peluang gembira
Menutup rapat
meski hanya sebentuk aroma
Atau secuil
kabar pengantar senyuman
Sedang dia tahu
segala curahan gelisahku
Kesulitan yang
membelit tangan, kaki bahkan anggota
Ketika siang
itu aku ungkap
Kata maaf atas
segala ketakberdayaan
Tentang harapan
buah hati
Yang terlalu
sulit tuk kepenuhi
Dan dia hanya
bungkam seribu bahasa
Tentang
kemudahan bebas biaya
Sampailah saat
aku tahu untuk waktu yang tak bersisa
Hanya
menyisakan kecewa dan tanda tanya
Tuhan, sungguh
bukan ketentuanMu yang kugugat
Dan bukan pula
hakku menuntut qadarMu
Tapi segenap
rasa kemanusiaanku mendera
Bertanya
mengapa, bukankah telah diungkap
Segala kesah
tentang kepapaan
Rabb, hamba
mohon kebaikan diri dan juga dia
Biar kulebur
semua tanya pada DiriMu Yang Serba Agung
Beri hamba
jalan terbaik
Melepaskan
semua gundah pada sesama
Biar Kau saja
pemberi jalan terindah
Rabb beri aku
daya dan upaya
Meraih
kerelaanMu
Bu Yuni menutup kembali diary
puisinya dan melarutkan segala rasa.
Mencoba memaafkan. Dan tampaknya
berkah Ramadan lebih membuatnya cepat membebaskan beban dengan sesama.
***
Tak sabar, selepas Zuhur, ia ingin
segera memberi kabar baik buat Zulfan. Diputuskannya untuk menelfon anak
sulungnya itu. Apalagi kalau bukan
keputusan mengikuti daurah Alquran selama Ramadan.
“Assalamualaikum, Zul. Ini Ummi. Zulfan sehat?”
“Waalaikumsalam. Alhamdulillah Ummi. Ummi dan Abi sehat di rumah?”
Keakraban itu sedikit melepas
kerinduan. Jarak terjeda cukup
jauh. Kudus dan Tasikmalaya, membuat
mereka harus cukup puas bertemu setengah putaran matahari.
“Zulfan, Alhamdulillah uang untuk daurahnya
ada, Sayang. Kamu daftar aja. Nanti Ummi transfer, ya?! O’ya, kalau Ummi boleh tahu, kenapa kamu
nggak ikutan daurah bareng Fariz?” tanya Bu Yuni hati-hati.
“Maafin Zulfan, Ummi. Zulfan sudah mencoba daftar dan ikut
seleksi. Ternyata hanya tiga terbaik
yang diambil dan Zulfan gagal. Lagi pula
daurah itu hanya untuk yang pernah hafal tiga puluh juz, Ummi. Maafin Zulfan. Zulfan tahu kalau Zulfan berhasil tentu akan
sangat meringankan beban Ummi.” Ada isak
tangis dari seberang sana. Isak tangis
yang menyapu terbang semua kecurigaan pada sahabat dekatnya, Bu Kania.
“Jangan sedih, Sayang. Yang penting Allah memberikan jalan buat kamu
ikutan daurah. Caranya bisa
seribu satu cara, bukan? Dapat gratisan,
rezeki minallah. Dapat biaya ikut
daurah juga rezeki dari-Nya.
Bahkan dengan infak berarti tangan kita sedang ada di atas. Jadi Allah beri kita rezeki sekaligus
kemuliaan berinfak.” Bu Yuni berusaha meredakan
gejolak hati Zulfan. Perlahan isak
tangis pilu itu berubah menjadi haru.
Begitu menutup perbincangan dengan
Zulfan, Bu Yuni kembali diliputi perasaan bersalah. Prasanga buruk pada sahabatnya tertepis
sudah, tanpa sisa.
“Aku harus mengucapkan selamat untuk
keberhasilan Fariz lolos seleksi. Bahkan
menjadi kabar membanggakan untuk keberhasilan Faris hafal tiga puluh juz.” Bu Yuni membatin. Ia pun mulai membuka WA dan membariskan
huruf-huruf pada layar pendar gawainya.
“Assalamu’alaikum, Bu Kania,
selamat, ya. Saya baru dapat kabar dari Zulfan
kalau Fariz lolos seleksi hafiz tiga puluh juz.
Wah, ikut bangga dan bahagia, Bu.
Semoga bisa mutqin di daurah Ramadan ini.”
Ceklis biru sudah tampak di layar
pendar. Biasanya Bu Kania akan segera
membalas.
“Waalaikumsalam. Makasih doanya, Ummi. Semoga Fariz bisa istikamah dan dapat memanfaatkan
ilmunya.”
“Salam buat Fariz. Minta doa dari Fariz, ya, Bu. Doakan saya dan keluarga bisa menjadi ahlulquran
yang benar-benar mencintai Alquran. Bilkhusus
buat Fariz. Semoga hafalannya juga bisa
makin banyak dan baik. Insya Allah doa
dari penghafal Alquran makbul.”
“Insya Allah, amiin.”
“Tapi ada satu yang mau saya
sampaikan. Sekali lagi maaf ya, Bu. Sepertinya saya kan lepas kebon saya. Saya merasa terlalu berat buat iuran
pemeliharaan bersama.”
“Nggak sayang sama pohon kayu kita,
Ummi? Lima sampai Sembilan tahun lagi
harganya bakalan lumayan. Sepohon bisa
nyampai enam juta, lho. Sepertinya
begitu Faris dan Zulfan masuk kuliah bisa kita jual kayunya. Lumayan buat ngeringanin biaya kuliah mereka.”
“Tapi
saya butuh banyak uang untuk anak-anak, Bu.
Rasanya tidak perlu saya tuliskan lagi kesulitan saya. Kalau Ibu bersedia saya mau tawarkan ke Ibu
saja bagaimana?”
“Wah,
boro-boro buat nggantiin tanah Ummi.
Saya juga banyak keperluan. Coba Ummi tawarin aja ke Bu Zenab! Barangkali beliau mau. Untuk iuran bisa cicil lima puluh ribu
perbulan, kok. Masak ummi masih
keberatan?”
Bu
Yuni enggan menjawab pesan terakhir kiriman Bu Kania. Kadang tidak semua kesusahan dibeberkan
dengan vulgar. Cukup satu kali saja,
saat terdesak oleh tagihan Bu Kania.
Sejak kesedihan yang dialaminya hari ini ia bertekat untuk bicara hanya
pada Tuhan. Setelah itu baru suami. Selebihnya terasa sangat hampa, sia-sia.
Pikir
Bu Yuni, masih ada jalan lain untuk menghindari iuran. Ia akan menawarkan kebon itu ke Bu Zenab. Melalui pesan WA, ia mencoba menawarkan kebon
bagiannya. Setelah negosiasi yang
panjang, tawaran Bu Yuni ternyata mendapat
penolakan yang halus dari Bu Zenab.
Rupanya
Bu Zenap menceritakan niat Bu Yuni pada Bu Kania. Hingga suatu hari, Bu Kania menyanggupi
tawaran kebon itu dengan harga pantas.
Bu Yuni merasa tertolong dengan bantuan Bu Kania. Paling tidak biaya pendidikan anak-anaknya
tertutupi dari hasil penjualan tanah itu.
***
Lima
tahun bukan waktu yang lama. Saat-saat
kuliah Zulfan dan Fariz pun makin dekat.
Zulfan yang telah hafal tiga puluh juz dalam waktu lima tahun pendidikan
pesantren, ingin melanjutkan ke Yaman.
Ia berhasil menyusul hafalan sahabat dekatnya itu. Sementara Fariz berhasil lolos seleksi dengan
hafalan Alquran. Jalur tahfiz menjadi
wasilah keberhasilannya meraih satu
kursi di perguruan tinggi negeri terbaik.
Setiap selesai
sholat fardu, Bu Yuni memohon lewat
bacaan Alquran satu juz sebelum beranjak dari bentangan sajadah panjangnya. Satu permohonan yang selalu dipanjatkannya, Zulfan bisa meneruskan kuliah ke Yaman.
“Assalamualaikum.” Seseorang membunyikan bel dan mengucap salam.
Ternyata Bu
Kania. Tidak biasanya dia berkunjung
tanpa mengirim pesan wa.
“Masya Allah, Bu
Kania. Selamat, ya, Fariz udah diterima
lewat jalur tahfiz.” Bu Yuni segera
mengucapkan selamat untuk keberhasilan Fariz memasuki bangku kuliah.
“Saya dapat kabar
dari Fariz kalau Zulfan juga diterima di Tanim, Yaman. Saya ikut bangga. Semoga bisa jadi dai kondang seperti Ustaz
Somad atau Ustaz Adi atau Buya Yahya.”
Bu Yuni tersipu
malu dengan ucapan tulus sahabatnya itu.
Dalam hatinya berkelebat rasa bersalah yang dulu sempat singgah. Kadang rasa bersalah itu membuatnya
jenggah. Tapi Alhamdulillah muamalah
yang terjaga baik makin mengikis rasa tidak etis itu. Dalam hati Bu Yuni, selalu terucap kata maaf yang tak mencoba ia
ucapkan. Karena akan membuka luka lama
yang hanya disebabkan kata ‘tahu’.
“Dulu, waktu saya
beli kebun Ummi, saya niatkan ngasih pinjaman aja, Ummi. Kemarin ada yang menawar kayu kita. Alhamdulillah semua terjual dengan harga
sepatutnya. Semua ada sembilan puluh pohon. Satu pohonya rata-rata terjual empat
juta. Semua jadi 364.000.000. Bagian ibu 121.333.000. Dipotong pinjaman 21.000.000 dan pemeliharaan
selama lima tahun sebesar satu juta rupiah.
Jadi saya serahkan ini sebesar 99.333.000. Semoga bisa digunakan buat uang sekolah
anak-anak. “
Bu Yuni kehilangan
kata-kata. Sesuatu yang tak pernah
dibayangkannya sebelum ini. Dipeluknya
sahabat terbaiknya selama ini. Betapa
tulus dan mulia tawaran bantuan dari sosok sahabat sejati. Selama
ini ia terlanjur berprasangka buruk bahkan memendam selapis rasa iri.
Berbaris bait pada
diary puisi Bu Yuni, kembali menanti
pena menari di atasnya.
KETULUSAN, 17
Ramadan 1440 H
Berjuta kisah
kita lalui bersama
Kau biasa-biasa
saja
Membidikku
dengan cerita yang lebih indah berseri
Dan aku telan
sendiri segala keterbatasan hati
Tidak ada yang
istimewa selain ketersisihan
Ketakberdayaan,
keterbatasan
Berkali
menggoreskan luka yang dalam
Teramat letih
untuk kurajut
Dengan benang
pesahabatan dan jarum kesenjangan
Terselubungi
senyum kepura-puraan
Semua sirna
sudah
Melibas debu-debu
yang hinggap
Pada pekat
hari, mungkin iri dengki
Juga prasangka
yang menjadi prahara
Terlumatkan
oleh ketulusanmu sore ini
Menjelang malam
lebih mulia dari seribu bulan
Turunnya
Alquran yang menyinari kegelapan
Kau cahayai
hatiku dengan tulusnya persahabatan
Dan aku kembali
malu
Bersimpuh di
hadapanMu yang serba tahu
Terimakasih
untuk teguranMu yang indah
Tanda kasih
yang tak kan pernah kulupa
KehendakMu
mengalahkan segala
Juga kerak
hitam di dasar hati
Atas nama
ketelanjuran yang menuntut
Kata maaf dan
pertaubatan.
Diary itu akan mengikuti kemanapun Bu
Yuni Pergi. Baris huruf dan kata menunggu terangkai hikmah demi hikmah.
Pahala Allah selalu menanti bahkan
untuk setiap kebaikan yang dipilih setiap insan. Baik urusan lahir maupun batin. Urusan dunia dan akhirat. Semua akan dimintai pertanggungjawaban pada-Nya. Dan selalu ada kata maaf memaafkan yang berpendar
indah. Seindah kilauan pengampunan Rabb
pada hambanya yang bertaubat.
PROFIL PENULIS:
Khadijah
Hanif, lahir di kaki Gunung Sumbing Tenanggung Jawa Tengah, pada tanggal 11
Desember. Tertarik pada dunia tulis menulis
sejah usia sekolah dasar akan tetapi baru tersalurkan setelah bergabung dengan
banyak komunitas menulis. Hobbi lainnya adalah
membaca, menggambar, travelling dan bercocok tanam. Alumni IPB angkatan 29 ini tengah aktif dalam
dunia dakwah dan tarbiah melalui pendidikan pesantren. Kesibukannya kini adalah sebagai Badan
Pengelola Pesantren Terpadu Nurul Amanah, Salawu Tasikmalaya dan anggota
Yayasan Pesantren Terpadu Aminul Ummah Wanaraja Garut. Obsesi terbesarnya, ingin menghasilkan karya
best seller dan membangun pesantren di atas wakaf ayahnya di Temanggung Jawa
Tengah. Penulis juga menjadi juara satu lomba menulis
kisah inspiratif tingkat nasional yang terabadikan dalam antologi Harmonisasi
Antar Umat Beragama. Karya solo
pertama berupa sebuah novel berjudul Talbiyah Cinta dari Kampung Naga. Aktif ngeblog di TITINHASTUTI’S BLOG. Bisa dihubungi lewat email khadijahhanif313@gmail.com, akun ig khadijahhanif313 dan facebook Titin
Harti Hastuti.
Komentar
Posting Komentar