KhadijahHanif_Cerpen Harapan Suci
HARAPAN SUCI
By: Khadijah Hanif
“Ada yang tahu kenapa
Suciati nggak hadir, Adik-adik?” tanyaku saat mengabsen kehadiran santri
peserta pesantren kilat Ramadan.
Berbagai jawaban
bersahutan sampai aku kesulitan mengingat siapa yang menjawab pertanyaanku.
“Suci lagi males, Teteh. Kabiasaan manehna mah. Lup-lep.” Suara riuh rendah tawa anak-anak membuatku
jengah.
“Mungkin neneknya lagi sakit, Teh. Soalnya usianya udah tua.” Seorang gadis berjilbab biru menimpali. Dia teman sekelas Suciati di SMP kecamatan.
“Biasana Suci diwagel
ku indungna. Indungna teh, baong pisan.” Satu suara dari barisan depan menyahut.
“Tak baik kita menuduh seperti itu. Panginten Suci gaduh alasan kiat matak teu
datang oge. Teu kenging awon
sangki. Eta namina suuzon. Berprasangka buruk akan menjadi dosa yang
dapat mengurangi pahala puasa kita.” Aku
mencoba menenangkan dan memberi pengertian pada mereka yang masih bersih.
Hari ini hari ketiga
Suciati tidak hadir. Sebagai salah satu
pengajar pesantren kilat Ramadan aku merasa bertanggung jawab untuk mengetahui
penyebab ketidakhadirannya.
Oya, mengadakan pesantren Ramadan sudah
menjadi agenda tahunan pesantren kami, Raudhatul Jannah. Sebagai pengurus Majelis Syura Thalabah
(MST), kami santri tingkat V mendapat tugas menjadi panitia penyelenggaraan
pesantren kilat ini.
Terus terang saja,
kegiatan ini menjadi kegiatan favorit kami.
Berada di daerah asing menjadi tantangan
yang mengasyikkan buat kami. Bertemu orang-orang
baru, lingkungan baru. Dan tentu kondisi
cuaca yang sedikit berbeda.
Aku berniat mengajak Meliana
sahabat dekatku di pesantren. untuk mengunjung rumah Suciati.
“Meli, ada proyek,
nih. Ayo temenin aku?”
“Gayamu, Ria, kaya mahasiswi
dapet proyek dari dosen aja. Atau
anggota dewan terhormat yang memuluskan proyek pejabat.” Meli meledekku tanpa beban.
“Maksudku proyek amal
bulan berkah. Ada santriwati peskil kita
yang perlu pendekatan. Aku punya rencana
ngajakin kamu.”
Akhirnya kami
terlibat diskusi serius tentang Suciati.
Dari informasi yang kami kumpulkan ternyata Suciati berasal dari
keluarga kurang mampu. Ayah dan ibunya
bercerai sejak Suciati masih berumur dua tahun.
Ayahnya tidak memberikan nafkah bahkan praktis Suciati belum pernah
elihat wajah sang ayah. Mereka hanya
tinggal bertiga, nenek yang sudah renta.
Ibunya yang terhinggapi penyakit materialisme dan Suciati.
“Menurut pendapatku,
kita harus menerapkan strategi jitu dalam melakukan pendekatan ini. Intinya harus tepat sasaran tepat cara, dan
tepat tujuan.” Meli selalu saja
kocak. Berlagak serius seakan ia seorang
komandan penaklukkan musuh. “Begini. Pikat dulu hati keluarga Suci. Buat mereka simpati dan mendukung perjuangan
kita. Kalau dari latar belakang keluarganya,
sepertinya mereka mendapatkan kesulitan ekonomi. Berarti kita bisa menggunakan dana bakti sosial
untuk menarik simpati mereka,” lanjut Riska
“Pintar kamu, Mel. Nggak percuma aku punya kawan cerdik kayak
kamu.”
“Siapa dulu, dong! Meli!’
Seperti biasa gayanya menepuk dada membuat aku gemas.
“Istighfar, Mel. Kebiasaan kamu, tuh! Awas takabur!” Meliana nyengir dan minta maaf padaku. Memang Meli suka sekali bercanda.
Usulan kami
menggunakan sebagian dana baksos untuk keluarga Suciati medapat persetujuan
dari tim. Beras, minyak sayur, gula dan
uang untuk mengisi tabung gas akan kami hadiahkan untuk Suci dan keluarganya.
Di depan rumah Suci
aku tertegun. Rumah panggung berukuran
lima kali lima meter itu bercat kapur putih.
Bahannya hanya anyaman bambu.
Atapnya genting tua yang terlihat rapuh.
Lantainya masih berupa tanah. Ada
beberapa rumah seperti ini di kampung tempat kami peskil. Sekitar enam atau tujuh rumah.
“Assalamualaikum?” Aku mengawali salam. Senyap, tidak ada jawaban. Setelah tiga kali mengucap salam, aku
putuskan untuk menunggu.
Pandanganku tertuju
pada tas yang tergantung di paku. Tas
lusuh yang biasa dipakainya belajar itu bertempelkan tulisan, Aku penasaran dan mendekati tas itu. “Buat Teteh
pengajar peskil.” Kami mengambilnya
kemudian kembali ke bascamp.
Malam hari selepas
salat Tarawih, ada rasa kehilangan yang mendalam. Buatku membekali ilmu pada satu orang anak, tak
bisa dibandingkan dengan urusan dunia. Aku
mencoba membuka-buka buku yang ada di dalam tas lusuh Suciati. Tiga buku perpustakaan peskil dan satu buku
tulis dan selembar kertas.
“Buat yang membaca
tulisan ini. Sampaikan terimakasih saya
buat teteh dan aa pengajar peskil.
Nasihat dan ilmunya akan saya amalkan Insya Allah. Kata emak, saya harus bantu-bantu di rumah Om
Frans. Saya merasa ada niatan nggak baik
dari Om Frans. Saya takut. Ini
nomor hp emak saya semoga teteh dan aa masih sudi bersahabat dengan saya.”
Barisan angka dua
belas digit mengakhiri pesan singkat itu.
Dalam benakku, aku harus menghubunginya
Walaupun aku tidak yakin apakah aku bisa banyak membantu memperbaiki
masa depannya? Entahlah.
Glosarium:
1. Kabiasaan manehna, mah. Lup-lep= Kebiasaan dia, sih. Angin-anginan.
2. Biasana Suci diwagel ku indungna. Indungna teh, baong pisan= Biasanya Suci
dilarang sama ibunya. Ibunya tuh nakal sekali.
3. Panginten
Suci gaduh alasan kiat matak teu datang oge.
Teu kenging awon sangki. Eta
namina suuzon = Mungkin Suci punya alasan kuat makanya nggak datang juga. Nggak
boleh buruk sanga. Itu namanya suuzon.
Komentar
Posting Komentar