Lomba Cerpen _Tanda Tanya_Haruskah Kamu Pergi, Ratih?


Haruskah Kamu Pergi, Ratih?
(by: Khadijah Hanif)

“Kamu harusnya bersyukur.  Gusti Allah wis maringi rahmat sing akeh.Wis pira cacahe anakmu kabeh?   Kenapa tidak seorang pun cucuku yang kau bawa?”   Sorot mata tajam ibu menguliti hati Ratih.  Hanya air mata yang bisa ia persembahkan buat orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Ibu.
Kowe kudu bisa momong atine wong tuwa.  Keriput di wajahnya selalu bertambah tiap kali kamu pulang tanpa suami dan anak-anakmu.”  Mbak Yu Ginah ikut-ikutan mengeroyok Ratih tanpa ampun.
***
Pernikahan dengan Wisnu memang menjadi dambaan Ratih.  Diam-diam dalam tiga tahun setelah Ratih lulus kuliah dan mendapat pekerjaan, ada seseorang yang hinggap di hatinya.  Tidak banyak alasan yang dapat Ratih rangkum hingga menjatuhkan pilihan pada lelaki itu.
Teman sekantor Ratih di perusahaan properti.  Wisnu Prasetya, sosok yang membuatnya kagum.  Bukan karena keramahan, romantisme, keakraban atau hal-hal lembut yang disukai perempuan.  Ratih menyukai ketegasan yang ditampakkannya saat menertibkan segala urusan kantor.  Manajer  yang berwibawa menurutnya.  Kaku menurut orang lain.  Tapi Ratih tidak peduli dengan penilaian orang tentang diri Wisnu.  Ratih  tetap kukuh dengan penilaiannya sendiri.  Segala bentuk kekaguman Ratih membuatnya ingin tampil sempurna di depan  Wisnu.  Semua tugas ingin Ratih selesaikan .  Ia ingin menjadi yang terbaik di hadapan pujaan hatinya itu.
“Ratih, saya puas dan pas dengan hasil kerja kamu.  Saya bisa mempromosikan kenaikan jabatan untuk prestasi yang sudah kamu tunjukkan.”  Pujian dan janji jabatan yang Wisnu ungkapkan bukan sekedar pemanis bibir.  Dalam tiga tahun sebelum pernikahan mereka, Ratih telah mengalami beberapa pemindahan tugas yang lebih menjanjikan.
“Ratih, kantor kita sedang heboh.  Kamu tahu, nggak?”  tukas Kesih saat mereka berdua makan siang di kantin kantor.
“Aku kurang banyak ngegosip bareng temen-temen kantor, Kesih.  Kamu tahu sendiri, aku ketimbun tugas dari Pak Wisnu.  Selesai satu dokumen, dia akan memberiku tugas dokumen berikutnya.”
Rasa penasaran mengaduk-aduk hati Ratih tentang gosip di kantor menyangkut dirinya dan Wisnu.  Kesih mulai bercerita tentang suatu hal yang membuatnya malu.  Ada yang tahu detail rahasia hatinya.
“Aku dapat tugas dari Pak Wisnu buat mencari dokumen tiga tahun lalu, tentang detail kegiatan kantor kita.  Seseorang petinggi KPK menemukan penyimpangan keuangan yang dilakukan pejabat.  Nah, salah satu aliran dana yang pernah terendus KPK ke kantor kita.  Kamu jangan marah, ya.  Ternyata di gudang kantor itu ada diary kamu.  Maafkan aku dengan sangat terpaksa aku baca.”
Ratih terbeliak seakan mimpi di siang bolong.  Kesibukan kantor membuatnya lupa menyimpan baik-baik rahasia hati yang telanjur tertoreh pena.  Ratih benar-benar speechless dengan nasib naas yang menimpanya “Tahu bahwa rahasia hatinya diketahui orang lain.”
Ekspresi marahnya dituangkan dalam diam.  Kesih salah tingkah dengan respon negatif Ratih.
Segala daya upaya Kesih kerahkan untuk membuat Ratih tersenyum.
Ratih mencoba membongkar memori tentang diary yang pernah hilang.  Perlahan Ratih ingat kembali diary pink hadiah ulang tahun dari Mbak Yu Ginah.  Diary itu pernah dua hari membuatnya uring-uringan.  Mencari dan nihil.
Diary itu berisi kegiatan penting hariannya di kantor, curahan hati dan perenungan diri.  Ratih masih sangat ingat perasaannya tentang Wisnu.  Kekagumannya bukan hanya pada fisiknya yang mendekati ideal tapi lebih pada profesionalisme sebagai rekan kerja.
“Ratih, maafkan aku, ya.  Tapi tenanglah hanya aku dan Pak Wisnu yang tahu rahasia kamu.  Jadi kamu nggak perlu malu.”  Kesih mencoba menangkap rona merah jambu di dua pipi Ratih.  Ia sangat memahami perasaan Ratih.  Itulah yang menjadi alasan kedekatan mereka. 
“Justru aku nggak mau dia tahu.  Kalau cuma kamu, aku nggak keberatan.”
“Apa yang membuatmu keberatan, Ratih.  Bukankah ini kesempatan buat kamu keluar dari siksaan hati?  Aku menangkap ketulusan hati pada diarymu.  Sebagai teman terdekat, pantaskah aku membiarkan rasa hatimu hampa?”
Kemurnian kasih pesahabatan tercium kental pada ungkapan Kesih.  Ratih mencoba mengembangkan senyum.  Mencairkan kebekuan bersama harapan cinta yang akan terbalaskan.
“Aku nggak akan cerita ke kamu sebelum aku yakin kalau cintamu bakal terbalaskan, Ratih. I can guarantee.”
“Terimakasih untuk pengertianmu, Kesih.  Lalu gosip apa yang beredar di kantor?”
“Pak Wisnu akan melamar kamu.”
“Secepat ini, kah?  Lalu kenapa bisa jadi gosip temen-temen kantor?” tanya Ratih polos.
“Ratih, tiga tahun masih kamu anggap cepat?  Cukup sulit buat meyakinkan Pak Wisnu bahwa kamu gadis yang pas untuk dia.  Perjuangan aku membuahkan hasil.  Keperluan lamaran, aku yang memesankan buat kalian.  Lama-lama temen kantor pada tahu.”
Ratih merasa bersyukur dengan semua pengorbanan Kesih.  Siang itu Ratih menyadari pentingnya kehadiran sahabat sejati.
***
Kedatangan keluarga Wisnu mengagetkan keluarga Ratih.  Ratih belum sempat bercerita tentang rasa hatinya pada sang arjuna.  Hari itu juga setelah Kesih menyampaikan niat lamaran Wisnu, mereka sudah berada di depan rumah.  Secepat kilat. 
Ada tanya dalam hati Ratih.  Benarkah Wisnu tipe dambaannya?  Rasanya tidak.  Tidak ada kemesraan yang membuatnya  berbunga-bunga. 
Setahun, dua tahun, lima tahun bahkan hingga lima belas tahun, datar.  Meskipun begitu, lahir juga anak-anak mereka.   Juwita, Reza, Mufti, Farrah dan Zuma.  Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang lucu dan menyenangkan.
Semua kebahagiaan ini tak pernah lepas dari kehadiran Kesih.  Dia telah terlibat jauh dalam kehidupan pribadi mereka bahkan sejak sebelum pernikahan Ratih dengan Wisnu.
“Ma, kamu lebih cocok jadi istri kantorku daripada istri di rumah.  Semua urusan rumah tangga kita banyak melibatkan Kesih.”  Seakan sambaran petir kalimat itu menyerang Ratih.  Kesadaran akan keadaan ini menyeruak di relung kalbuku.  Ratih tidak bisa mengelak dan pasrah dengan penilaian Wisnu.
“Bukankah Papa yang meminta dia mengurus semuanya?  Dia sekretaris pribadi Papa.  Sementara aku sekretaris administrasi di kantor ini.”
Sekelebat senyum suaminya terbayang begitu mesra pada Kesih.  Bukan sekali dua kali.  Ratih tak pernah mendapatkan senyuman itu.  Senyuman itu berbeda.  Lebih dari senyum yang ia dapat saat tugas kantor terselesaikan rapih sesuai pesanan Wisnu.
“Ratih, ulang tahun Juwita yang ketiga belas sudah aku urus.  Keperluan syukuran jangan sampai mengganggu tugas kantor yang banyak menyita waktu kamu.”   Tawaran Kesih tak pernah  mampu Ratih tolak, demi kelancaran urusan rumah dan kantor.  Kesih seperti wanita lain dalam kehidupan rumah tangga mereka.  Bahkan anak-anak pun begitu dekat dengan Kesih.  Ratih dilanda cemburu tapi ia tak bisa mengelak dari keterlibatan Kesih. 
Bertubi-tubi tawaran jasa baiknya ternyiang di telinga Ratih, tentang syukuran tujuh bulan anak-anaknya, ulang tahun mereka, persiapan wisata bersama teman sekantor dan banyak hal lainnya.
Tiba-tiba dada Ratih sesak.  Selama ini Ratih hanya menganggapnya sebagai sahabat terbaik.  Tidak lebih.  Tapi setelah Wisnu mengungkit keterlibatan Kesih, ada rasa yang lain dalam hatinya.
“Ma, kamu tidak memperhatikan nasib sahabat baikmu itu?” tanya Wisnu di sela kesibukannya mengerjakan tugas kantor.
“Maksud Papa?” Ratih balik bertanya.
“Pernahkan kamu menanyakan kapan dia mau menikah?”
Ratih memalingkan pandangannya dari layar pendar.  Tersadar bahwa ia terlalu egois.  Semua rutinitas membuatnya seperti robot.  Hidup dari satu file ke file lain.  Dari dokumen ke dokumen.  Usia Kesih sudah memasuki kepala empat, dua tahun di atasnya.  Namun belum pernah ia ikut membantu mencarikan atau sekedar memikirkan jodoh buat Kesih.
“Papa sebagai atasnya seharusnya bisa mencarikan jodoh buat Kesih.”  Ratih ngeles untuk kemudian kembali memainkan tuts keyboard laptopnya.
“Aku berniat melamarnya.  Dan itu butuh persetujuan kamu, Ma.  Aku bisa terjerumus dalam dosa kalau kamu tidak menerima dia dalam keluarga kita.”
Ratih hanya diam.  Tanpa memberi jawaban.  Sebuah tiket kereta api online ia pesan.   “Aku harus pergi,” bisikan batinnya berhembus terlampau kuat.  “Biarlah Mas Wisnu memilih Kesih.  Aku bisa hidup di apartemen dengan tabungan kerjaku selama ini.  Aku akan mencari peluang kerja di perusahaan lain.”
Gawai Ratih berdenting.  “Ma, pulanglah.  Perusahaan butuh kehadiran kamu.  Aku tidak bisa mencari pengganti seterampil kamu.   Tanpa kamu perusahaan terancam mundur.”  Wisnu masih terus menghubungi Ratih. 
Dia tidak menceritakan keadaan anak-anak.  Anak-anak  tidak menghubungi Ratih, sebagaimana kerinduan anak pada ibunya.  Ratih sendiri tidak merasa kehilangan anak-anaknya.  Yang Ratih rasakan hanya nyeri, merasa tidak dicintai oleh suami dan  anak-anak.  Dia merasa terasing.
Tidak ada keinginan lain.  Ratih  tak ingin bertemu mereka kembali.  Digantinya nomor gawai.   Ratih menghapus semua nomor yang mengingatkannya pada kehidupan kantor dan rumah tangganya.   Ratih ingin menjadi manusia baru.
***
“Kamu salah, Ratih!  Lunga seka omah iku pada karo mlayu seka medan perang!  Lagi pula berpoligami itu sah dalam ajaran agama kita.  Kamu terlalu egois.  Lihat kesedihan ibu.  Kemunduran perusahaan suami kamu.  Semua berdampak pada perekonomian untuk membesarkan anak-anak kamu!”   Zizah, kakak kedua Ratih menceramahinya dengan banyak dalil agama yang tak mampu ia cerna.
Aku ngerti Kesih iku sapa!  Dia yang membantu kamu dalam banyak hal.  Bahkan dia telah berjasa menjodohkan kamu dengan seseorang yang kamu cintai.  Lalu saat Kesih tak juga mendapatkan pasangan, kamu tidak berempati sedikitpun.  Mana perasaan hati kamu?”  Mbak Yu Ginah menyambung tak kalah pedas.
“Memiliki madu itu bukan suatu kehinaan, Ratih.  Kalau kamu bisa menyelamatkan rumah tangga, kenapa tidak.  Emak yakin Kesih wanita yang baik,” imbuh Zizah.
“Kalau memang kalian menerima poligami, coba berikan contoh dulu.  Aku mau bukti rumah tangga kalian bakal lebih baik atau sebaliknya.”  Ratih mulai melawan cecaran kakak-kakaknya.
Suasana sudah makin panas.  Perdebatan terjadi hampir tiap mereka bertemu dalam satu ruangan.  Ratih ingin meninggalkan rumah keluarga besarnya yang sudah menjadi neraka buatnya. 
“Mbak, Ningrum punya banyak kawan yang bisa menenangkan Mbak Ratih.”  Bagi Ratih hanya Ningrum menawarkan kesejukan.  Dia, adik bungsu yang tak pernah menyerangnya.
Kini Ratih bersama mereka.  Orang-orang bebas di antara gemerlap lampu warna-warni.  Musik keras membahana.  Tarian di atas panggung membuatnya lupa dari mana ia berasal.   Seteguk air dosa mengajaknya menari di atas awan.   Berlari dari kebisingan jiwa.  Suara itu begitu kuat memanggilnya menikmati surga dunia. 

Glosarium:
1.      Gusti Allah wis maringi rahmat sing akeh.Wis pira cacahe anakmu kabeh?=Tuhan sudah memberi rahmat yang banyak.  Sudah berapa semua anakmu?
2.      Kowe kudu bisa momong atine wong tuwa=Kamu harus memelihara perasaan hati orang tua
3.      Lunga seka omah iku pada karo mlayu seka medan perang! =Pergi dari rumah itu sama saja dengan lari dari medan peperangan
4.      Aku ngerti Kesih iku sapa!=Aku tahu Kesih itu siapa!
  
Biodata Penulis:
Khadijah Hanif, nama pena dari Titin Harti Hastuti, lahir pada tanggal 11 Desember, memiliki hobi menulis sejak sekolah dasar.  Hobinya tersalurkan sejak bergabung dengan komunitas menulis seperti Dandelion Autors, Wonderland, Jejak Publisher, Nubar Area Jatim dan Sumatra, juga FLP Garut.  Aktif dalam mengikuti perlombaan menulis, membuahkan beberapa kejuaraan yang berhasil diraihnya, antara lain juara I lomba menulis kisah inspiratif  bertema Kerukunan Antar Umat Beragama tingkat nasional yang diadakan Jejak Publisher dan Juara I lomba menulis cerpen yang diadakan Komunitas Penulis IAIC, dengan tajuk Harapan Suci.  Saat ini penulis masih aktif sebagai anggota Badan Pengelola Pesantren Terpadu Nurul Amanah Tasikmalaya dan anggota pengurus Yayasan Aminul Ummah Garut.  Obsesi besarnya adalah menjadi penulis best seller dan membangun Pesantren Literasi dan Tahfiz Quran di daerah kelahirannya, di Temanggung Jawa Tengah.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA