CERNAK WONDERLAND CHALLENGE_Almumit
HAFALAN IMPIAN AYAH (ALMUMIT)
By: Khadijah Hanif
Sore itu,
menjelang Maghrib, Andika dan Pak Lukman, ayah Andika menyusuri pematang sawah
pulang menuju rumah. Dua generasi
berjalan beriringan bersama barisan burung bangau yang terbang entah
kemana. Warna semburat di ufuk barat
mulai tampak, pertanda matahari pun ingin pulang ke peraduannya.
Sesampai di
rumah, mereka bebenah menuju masjid kampung.
Mereka tidak langsung pulang selepas Magrib. Ada kegiatan yang mereka lakukan bersama,
mengajar anak-anak membaca Alquran.
Kalau salat Isya sudah selesai dan jamaah masjid sudah pulang, mereka
mematikan lampu masjid, kemudian menuju rumah.
Itulah rutinitas yang dilakukan Andika dan ayahnya setiap hari.
“Andika, Ayah ingin sekali mengajarkan hafalan
Alquran pada anak-anak di kampung ini.
Selama ini mereka hanya belajar Iqra dan melancarkan bacaan
Alquran. Sedikit ilmu yang Allah
titipkan pada Ayah, Alhamdulillah ada tambahan qiraah. Itupun hanya bayati dan saba yang
Ayah kuasai.”
“Maksud Ayah, kita akan membuka kegiatan
menghafal Alquran?”tanya Andika.
“Tahun depan kamu masuk jenjang SMP. Ayah ada rencana mengirimkan kamu ke
pesantren. Insyaalah besar
keberkahannya.”
Andika tertunduk diam. Belajar di pesantren berarti harus jauh dari
ayahnya. Rasanya berat buat Andika, ada
desakan halus mengisi rongga dada. Rasa
itu perlahan membuatnya sesak.
“Ayah mengerti, Ayah juga pernah merasakan hal
yang sama saat almarhum kakekmu menyuruh Ayah belajar di Nurul Hidayah. Bukan hal yang mudah menjalani hidup mandiri
saat itu. Bukan pula karena Ayah ingin
jauh dari kamu. Tapi kalau kamu belajar
tahfiz dan berhasil menjaga dan mengamalkan Alquran, maka rahmat Allah akan
bercurah untuk kampung kita ini.”
Selama perjalanan pulang dari masjid, Andika
lebih banyak diam. Sementara Ayah terus
memotivasi Andika dengan berbagai alasan mengapa Andika harus mau belajar pesantren. Sedikit banyak nasihat ayahnya membukakan
pintu hati Andika.
“Ayah, kalau menurut Ayah mondok itu
baik, insyaallah Andika mau. Doakan
Andika dapat memenuhi harapan Ayah.” Akhirnya
Andika memilih kalimat yang tepat.
Andika terngiang perkataan Nabi Ismail saat diminta Nabi Ibrahim,
ayahnya, untuk disembelih. Cerita itu
pernah ia sampaikan untuk anak ngaji lepas Magrib di masjid.
Ayah mendekap erat Andika tepat di depan pintu
rumah sederhana mereka.
***
Waktu yang mendebarkan pun tiba. Berpisah dengan ibu dan ayah untuk
mendapatkan ilmu agama. Tentu saja
motivasi terbesar Andika adalah segera menghafalkan juz-juz Alquran. Permintaan ayah menjadi pendorong terbesar
semangat belajar Andika. Apalagi
pengorbanan ayah untuk membiayai pendidikan di pesantren bukan hal yang
ringan. Terbayang dalam benak Andika,
ayah dan ibu pasti lebih keras lagi berjuang mendapatkan rejeki untuknya juga
tiga adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Andika, bersemangatlah dalam belajar. Jadikan perintah Allah dan Rasulnya dalam
menuntut ilmu menjadi niatan terdalam kamu untuk belajar. Kalau bisa raih target sesuai keinginan
pondok. Kalau bisa lebih cepat tentu itu
menjadi prestasi yang besar buat amu.”
“Insyaallah Ayah. Doakan Andika bisa memenuhi harapan Ayah.”
“Rajin-rajinlah belajar, ikuti aturan pondok
dan perintah ustaz di sini. Merekalah
penganti Ayah dan Ibu. Ayah dan Ibu akan
selalu mendoakan kamu, Nak!” Ayah
mengecup kening dan memeluk Andika erat.
“Andika, Ibu tidak banyak memberi pesan. Ibu hanya ingin, nasihat Ayah benar-benar
kamu jalankan.”Ibu tidak banyak berbicara.
Hati lembutnya tak mampu menahan linangan air mata. Genangan keharuan yang ditahannya beberapa
hari ini akhirnya tumpah juga.
Demi melihat isakan tangis Ibu, Andika tak
mampu menahan tangis, “Ibu, jangan sedih.
Insyaallah Andika akan menjalankan pesan Ayah. Andika janji.”
Perpisahan mengharukan itu menyisakan berbagai perasaan
pada hati mereka yang saling mencintai.
Akan tetapi kepedihan ini justru membuat Andika tegar. Dalam hatinya muncul tekad yang membara. Disiplin, kerja keras dan berprestasi.
“Memasuki triwulan pertama, Ustaz Iqbal akan
menguji hafalan kalian. Persiapkan
hafalan kalian minimal juz-27 sampai juz-30.
Bagi kalian yang berhasil akan mendapat sertifikat penghargaan. Bagi yang melampaui target, ada hadiah khusus
dari wali kelas masing-masing.” Amir
Yusuf, pendamping di Asrama Ihsan
memberi pengumuman.
“Alhamdulillah setoran hafalanku sudah masuk
juz-26. Jadi aku tinggal memperbaiki
bacaan dengan memperbanyak murajaah,”gumam Andika.
“Aduh bagaimana ini.
Aku baru masuk juz-27. Belum lagi
murajaahnya.”Ilham yang duduk bersebelahan dengan Andika mengeluh.
“Sabar, Ilham. Kita masih ada 10 hari lagi. Kamu pasti bisa, insyaallah.”Andika menghibur dan menyemangati kawan dekatnya itu.
“Sabar, Ilham. Kita masih ada 10 hari lagi. Kamu pasti bisa, insyaallah.”Andika menghibur dan menyemangati kawan dekatnya itu.
“Gimana, sih, supaya hafalan aku bisa secepat
kamu, Andika?”
“Aku biasa bangun jam 02.00 pagi. Alarm yang
aku pasang selalu aku jadikan ingatan buat menghafal. Kalau udah hafal, aku selalu memakainya buat
bacaan salat sunah.” Andika memberi
penjelasan.
“Hebat banget kamu bisa istikamah. Aku mah susah buat bangu sepagi itu. Kalau dibangunin pengurus baru aku
bangun. Kalau begitu tolong bangunin
aku, ya, Andika. Aku harus serius
sepuluh hari ini.”
Begitulah kehidupan yang dijalani Andika dan
kawan-kawannya di asrama pesantren Nurul Hidayah. Prestasi demi prestasi diukir Andika dengan
cara yang tidak mudah. Di saat kawan-kawannya
terlelap, ia selalu mencoba mendisiplinkan diri dalam belajar.
Mungkin lebih banyak duka yang Andika alami
daripada sukanya. Akan tetapi keikhlasan
hati dan keinginan membahagiakan kedua orang tua menjadi bara yang tak pernah
padam.
Tidak terasa liburan sekali setahun yang
ditunggu-tunggu santri tinggal satu
bulan lagi. Libur Ramadan menjadi
satu-satunya liburan yang dijadwalkan pesantren. Bulan Syakban menjadi bulan yang terasa
lama. Begitu juga dengan Andika. Keinginan mempersembahkan lima belas juz
hafalannya menumbuhkan bunga-bunga di hatinya. “Ayah, Andika janji tidak akan
mengecewakan Ayah. Andika ingin melihat
senyuman Ayah saat mendengar hafalanku libur Ramadan ini,”batin Andika.
Tiba-tiba pengeras suara dari Qismuli’ilan terdengar
membahana di atas langit Nurul Hidayah.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Adda’wah ilaa akhina Andika min Rancaekek-Bandung, yangtazir maa Amir
Yusuf fii diwan Asatidz alaan mubasaratan. Peace be upon you and mercy and
blessing from Allah. Calling for Andika from Rancekek-Bandung, waited by Amir
Yusuf at The Teacher Office now and soon.” Bagian informasi mengumumkan
panggilan untuk Andika dalam dua bahasa yang
sudah mualai Andika pahami maknanya.
Berdebar-debar dada Andika mendengar namanya
disebut. Ada apa kira-kira? Biasanya pemanggilan melalui bagian informasi
untuk mereka yang melanggar, mendapat paket, dikunjungi, atau......
“Andika, kamu dipanggil, tuh! Semoga dapet paketan atau ada yang
nengokin. Jangan lupa bagi-bagi oleh-olehnya,
ya!” Ilham berucap polos. Andika hanya tersenyum, enggan menanggapi
candaan terdekatnya itu.
Ruangan pengurus bagian informasi sepi. Hanya ada Amir Yusuf dan Amir
Muchtar sebagai pembaca i’lan di sana.
Andika mengucap salam dan duduk takzim di depan dua pengurus pesantren
itu.
“Andika, siap-siap untuk pulang, ya. Ada panggilan dari orang tuamu buat
pulang.” Amir Yusuf menjelaskan
maksud panggilan yang baru saja diumumkan.
“Ada apa, Amir? Bukankah sebulan lagi kami baru ada izin
pulang?”
“Ini ada acara khusus di rumah kamu. Apapun yang menjadi permintaan orang tua dan
sesuai izin pondok, kamu harus taat,” lanjut Amir Muchtar.
Ada perasaan aneh bermunculan pada hati
Andika. “Mungkinkah ada acara keluarga
di rumah? Paling juga khitanan Arman,” batin Andika.
***
Tiga jam dibonceng Amir Yusuf, badan terasa pegal
juga. Rasanya cukup lama menunggu saat
tiba di rumah. Gumpalan rindu mendesak
rongga hati Andika. Belum lagi hafalan
yang selalu dijaganya, diikat dalam kalbu agar tidak terkikis oleh lupa.
Kerumunan tetangga dan saudara yang menghadiri acara keluarga
sangat banyak. Andika mencoba menerobos
kerumunan itu. Yang ada dalam benaknya
adalah menemui ayah dan ibu. Memberikan
kabar gembira atas hapalan Alquran yang tersimpan rapih di dadanya.
“Assalamualaikum, Ayah, Ibu, ini Andika….” Suara Andika tercekat. Sesosok tubuh yang sangat dikenalnya terbujur
kaku. Sementara ibu duduk di sebelah
sosok itu. Membaca Alquran dengan
khusyuk dan tartil.
Andika tidak segera memeluk jasad itu. Ada sesuatu yang menyesakkan dada yang harus
ia keluarkan saat itu juga. Seakan palu
besar berton-ton menghempas dadanya.
Andika ingin melepaskan dan menolak hempasan itu. Ia memilih berlari. Pergi dari rumah menuju tajuk di sawah. Tempat terindah yang selalu ia rindukan
bersama ayah.
Mendung menggantung di atas langit Dusun Cijulang. Petir menggelegar pertanda hujan akan segera
mengguyur kampung itu. Andika tak
peduli. Langkahnya makin laju. Sekujur badannya kuyup.
“Ayaaaah!!!!!! Kenapa
Ayah pergi begitu cepat. Saat Andika
jauh dari Ayah. Ini hafalan dambaan
Ayah. Andika simpan untuk Andika
persembahkan buat Ayah. Andika kumpulkan
ayat demi ayat dengan susah payah.
Andika jaga dengan terus mengulangnya.
Semua untuk memenuhi harapan ayah.
Lalu kenapa Ayah tidak mau menunggu sampai Andika pulang.” Tangis pilu Andika pecah di dalam tajuk
mungil itu tersapu derai hujan yang makin pilu.
“Andika, ucapan terbaik adalah innalillahi wa inna ilahi
rajiun.” Suara lembut itu sangat
dikenalnya. Amir Yusuf
menyusulnya ke tajuk
“Amir, kenapa ayah meninggalakan Andika? Andika belum sempat membuat ayah bahagia. Bahkan harapan terbesar ayah menyaksikan
hafalanku pun belum sempat ia saksikan.”
Andika meluahkan kekecewaannya bersama isak tangis yang memilukan.
“Andika, di pondok kita belajar tauhid. Allah memiliki asma yang kita imani selama
ini. Ingat kisah yang Amir sampaikan
waktu itu bahwa Allah adalah Almumiit.
Artinya yang Maha Mematikan.
Allah SWT berfirman dalam surat Yunus ayat 56:
هُوَ يُحْيِي
وَيُمِيتُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Artinya: Dialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan dan
kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.”
“Andika tahu, Amir. Tapi kenapa harus sekarang?”
“Allah SWT Maha Mengetahui yang terbaik buat kita. Kematian juga bentuk kasih sayang Dia. Bukankan jasad yang sudah tidak mampu
mewadahi ruhnya akan menderita jika dipaksakan tetap ada dalam wadahnya. Semua ini karena Allah sayang sama hamba-Nya. Allah mengingatkan kita bahwa kematian itu
di luar hak dan kemapuan kita. Dalam
Alquran surah Aljumuah ayat 8 Allah mengingatkan kita:
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي
تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ
الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya:
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, makasesungguhnya
kematian itu akan menemui kamu kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah,
yang mengetahui yang gaib dan yang nyata.
Lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Isak tangis Andika mereda, Amir
Yusuf membisikkan istirja’,”Innalilahi wainna ilaihi rajiun, semua
berasal dari Allah dan semua akan kembali padaNya” dan kepasarahan yang
dalam, ”laahaula wa laaquwwata illabillahil ’aliyil ’adzim, tiada daya
upaya dan kekuatan melainkan atas kehendak dan izin dari-Nya”
“Andika, kematian itu hanyalah satu
bagian dari perjalanan hidup kita. Ayah akan tetap tersenyum di alam barzahnya.
Ruh akan tetap abadi dan mendapati kebahagiaan apabila amal salehnya diterima
Allah SWT. Juga ada tiga hal yang akan
selalu memberi keberuntungan pada mereka yang sudah meninggal dunia. Anak saleh yang selalu mendoakan, sedekah
jariah dan ilmu yang bermanfaat. Kamu
tetap memiliki kesempatan membahagiakan ayah.”
“Insyaallah,
Amir. Andika akan berusaha
mendapatkan derajat sebagai anak saleh.
Mohon bimbingan Amir selama saya belajar di Nurul Hidayah. Semoga ayah tidak pernah kecewa dengan
perbuatan saya.” Andika menyeka air
matanya. Untuk sementara hempasan keras
si dadanya berhasil tertepis dengan kehadiran Amir Yusuf.
Andika,
semoga ketegaran terus mengisi ruang hatimu.
Percayalah ayah akan selalu tersenyum untuk setiap amal kebaikan yang kau kerjakan.
Ket:
1.
Amir
= pemimpin, pendamping asrama
2.
Tajuk= musala kecil di sawah
Komentar
Posting Komentar