Senyum Naila-Arrahman
ARRAHMAN–SENYUM
NAILA
Sekolah Naila mulai lengang. Hanya Naila dan Marta yang masih duduk di
depan gerbang sekolah.
“Marta, kenapa kamu masih di sini?”
tanya Ila.
“Aku bingung, Ila. Kalau naik angkutan umum uangku kurang. Kalau mau jalan, rumahku jauh. Pasti aku bakal kecapaian.”
“Oh, kenapa kamu nggak bilang dari
tadi? Ini aku ada sisa uang jajan. Semoga aja cukup.” Naila memberikan selembar uang lima ribuan
pada Marta.
“Ini terlalu besar, Ila.”
“Nggak apa-apa, pakai aja. Rumah aku deket bisa jalan kaki.”
Bukan sekali ini Ila merelakan uang
atau barang yang ia punya untuk kawan dan siapapun yang membutuhkan. Padahal Naila sedang menahan diri untuk tidak
jajan. Ada buu cerita yang ingin
dibelinya. Tapi dia selalu saja
menemukan mereka yang sedang kesusahan.
Di hari Jumat, Bu Sania, guru kelas
empat mengumumkan kegiatan pramuka hari Sabtu.
“Anak-anak, hari Sabtu besok kegiatan pramuka kita, lomba masak untuk
kelas empat, lima dan enam. Kalian
diminta patungan dari uang jajannya, ya?
Kumpulkan di Afifah setelah jam istirahat. Makin banyak berinfak, pahala kalian akan
makin banyak pula. Usahakan semua
berinfak minimal lima ribu.”
Naila menyimpan uang tiga puluh ribu
di tasnya. Uang itu ia kumpulkan dalam
satu pekan ini. Dua puluh ribu lagi,
buku impiannya akan ada dalam genggaman.
Akan tetapi Ila sibuk mencari muka masam dari teman sekelasnya. Beberapa anak ditemukannya bermuram durja.
Waktu istirahat tiba, anak-anak
menuju musala untuk Salat Duha yang digalakkan di sekolahnya.
“Intan, kamu kelihatan murung, ada
apa?”
“Ah, enggak, kok. Biasa aja Ila.” Intan mengelak.
“Bilang aja Intan, jangan malu. Aku nggak akan cerita sama siapa-siapa kalau
kamu sedang ada masalah.” Naila terus
mendesak.
“Sepertinya aku nggak bakalan infak.”
Intan tertunduk malu.
“Tenang aja, Intan. Aku bawa uang lebih. Ini buat kamu.” Intan menyerahkan uang tiga lembar dua ribuan buat Intan tanpa ada
yang tahu.
Begitulah kepekaan hati Naila. Ia berusaha menemui beberapa temannya yang
lain, Maya, Marta dan Anwar. Uang di
tasnya tersisa lima ribu lagi. Ada rasa
campur aduk dalam hatinya. Puas saat
bisa membantu sesama. Senyuman Naila
saat berbagi menghapus bersitan rasa kecewa karena ia harus lebih lama bersabar
mendapatkan buku bacaan dambaannya.
Pukul sebelas anak-anak kembali ke
rumah mereka masing-masing. Seperti
biasa Naila berjalan sendiri menuju rumahnya yang berjarak kurang dari lima
ratus meter dari sekolah. Kali ini
langkahnya gontai. Rasanya lama ia tak
sampai ke rumah.
Beberapa puluh meter lagi ia akan
sampai. Naila tertegun sejenak. Seseorang yang tak dikenalnya duduk di
samping Bunda.
“Ila, cepat kemari, Nak. Kamu ditunggu Tante Zona dari tadi.” Bunda mendekati Ila dan menuntunnya. Tante Zona, ibu Marta baru pulang dari perantauannya
di luar negeri.
“Ila, terimakasih kamu sudah mau
menjadi teman baik Marta. Dia sering
cerita kebaikan kamu selama ini. Padahal
banyak perbedaan antara kita. Jarang
orang yang mau mengasihi sesama tak pandang suku dan agamanya. Puji Tuhan.”
Tante Zona memeluk Naila.
Siang itu Tante Zona memberikan
hadiah beberapa buku bacaan yang Naila dambakan selama ini. Ternyata Marta banyak bercerita tentang
Naila, juga tentang buku yang selama ini ingin dimiliki Naila.
“Alhamdulillah. Terimakasih, Tante. Akhirnya aku dapat buku ini tanpa harus
meminta sama mama. Tapi maafin
Naila. Tante jadi repot nyariin buku
buat Naila.” Naila menciumi buku cerita
itu penuh rasa syukur. Bagaimanapun
senyum kebahagiaan Naila saat menerima tak semerekah saai ia berbagi.
***
Allah
SWT memiliki asma yang indah, Arrahman.
Dialah yang Maha Pemurah terhadap seluruh makhluk-Nya. Tidak pandang apa ataupun siapa, Allah
mencurahkan karunia-Nya pada yang Ia kehendaki.
Sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surat Albaqarah ayat 163,
وَإِلَٰهُكُمْ
إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ
Artinya: Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa;
tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Nah,
kita sebagai hamba-Nya hendaklah meneladani sifat Allah Yang Maha Pemurah. Sifat pemurah akan mendatangkan rasa kasih
sayang di antara sesama manusia. Sifat
kasih juga akan dapat menghilangkan permusuhan, dendam, iri dengki dan penyakit
hati lainnya
Komentar
Posting Komentar