CERNAK WONDERLAND CHALLENGE_Alhadi
TANDA CINTA UNTUK MAMA (ALHADI)
By: Khadijah Hanif
“Anak-anak, Ustazah akan bercerita tentang bagaimana Rasulullah SAW
menegur sabahiyah dalam berpakaian.”
Ustazah Fatimah memulai kisahnya, sebelum kami pulang dari Madrasah
Diniyah. Sesuatu yang selalu aku
tunggu-tunggu sebagai bekal paling mengasyikkan sebelum kami pulang ke rumah
masing-masing.
“Asyik, aku mau duduk di bangku depan.” Aqila menghindari keributan
teman-teman yang menyiapkan buku dan alat tulis untuk pulang.
“Nah, dengarkan baik-baik, Anak-anak! Suatu ketika Asma, putri dari Sayidina Abu
Bakar memasuki ruangan Nabi SAW. Saat
itu dia memakai pakaian yang tipis. Maka
Rasulullah mengatakan bahwa, sesungguhnya wanita yang telah balig (mengalami haid), tidak pantas untuk
menampakkan tubuhnya, kecuali ini dan ini.
Rasulullah bersabda seraya
menunjuk dua telapak tangan dan wajahnya.
Sejak saat itu Asma selalu memakai pakaian yang rapih dan menutupi
seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan.”
Aqila termenung sejenak.
Mengingat bunda yang masih belum berpakaian tertutup sesuai pesan
Rasulullah.
“Ustazah, bagaimana kalau orang tua kita belum memakai jilbab?” tanya Aqila setelah ustazah menyelesaikan ceritanya.
“Hukumnya berdosa, Aqila.
Karena Allah SWT memerintahkan bagaimana seharusnya seorang perempuan
menutup auratnya.”
Ustazah Fatimah mengutip dua ayat tentang hijab. “ Allah SWT
berfirman dalam Alquran Surat Annur ayat 31, yang artinya, ‘Dan janganlah
mereka menampakkan perhiasan kecuali yang biasa (biasa) tampak dari mereka. Dan
hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada (dan leher) mereka’. Juga dalam surat Alahzab ayat 59, yang
artinya, ’Hai Nabi, katakanlah pada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan
istri-istri orang mukmin, hendaklan mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh
mereka.”
Aqila tertegun. Juga dua
orang sahabat di sampingnya, Hafsah dan Aris.
“Alhamdulillah kami sekeluarga sudah memakai hijab, Ustazah,” ungkap Syaila bangga.
Menjelang Maghrib, kelas diniyah sore itu telah usai. Mereka berempat meninggalkan ruang kelas
dengan berbagai pikiran yang berkecamuk.
Hanya Syaila yang telihat tanpa beban.
***
Keesokan
harinya, Aqila, Hafsah dan Aris terlibat
perbincangan serius tentang bunda mereka masing-masing.
“Aku merasa
kasihan sama mama. Cerita Ustazah
tentang hukuman akhirat bagi mereka yang masih belum memakai hijab, membuatku
ingin menyelamatkan mama.” Aris
mengawali perbincangan.
“Aku juga
merasakan hal yang sama, Ris. Tapi apa
daya kita yang masih dianggap anak kecil, kelas lima esde?” Aqila
melipat wajahnya, bimbang.
“Bagaimana
kalau kita minta pendapat sama Ustazah Fatimah aja? Mungkin beliau punya solusi?” Hafsah memberi usulan yang disetujui oleh dua
sahabatnya itu.
Sepulang sekolah
mereka menuju madrasah lebih awal dari kawan mereka yang lain. Melalui wa
Aqila memberitahukan rencana konsultasi mereka. Akhirnya bersepakat untuk berdiskusi di rumah
Ustazah Fatimah.
Satu jam sebelum
Asar mereka bertandang ke rumah Ustazah Fatimah. Mereka duduk melingkar di atas sofa di ruang
tamu ustazah Fatimah.
“Ustazah, kami
bertiga punya masalah yang sama. Orang
tua kami belum memakai hijab,” ungkap Aqila memulai perbincangan mereka.
“Benar,
Ustazah. Sedangkan Ustazah bilang kalau
memakai hijab itu wajib hukumnya. Kalau
udah balig, yang boleh kelihatan cuma muka sama telapak tangan. Apa yang harus kami lakukan supaya bunda mau
memakai hijab?” Aris meluahkan rasa
penasarannya.
Ketiga anak ini
memang tergolong kritis dan sering bertanya selama pembelajaran kelas agama di
madrasah. Ustazah merasa bangga dengan
respon mereka. Pembelajaran yang
berhasil adalah pembelajaran yang mendorong siswanya untuk berpengetahuan,
berkemampuan dan bersikap.
“Ustazah bangga
dengan respon kalian. Begitulah
seharusnya seorang penuntut ilmu mencerna ilmu yang didapatkannya.” Ustazah mengusap kepala Aqila dan Hafsah
dengan penuh kasih sayang, sambil mengarahkan pandangan dan senyum bahagianya
pada Aris. “Langkah apa yang sudah
kalian lakukan pada ibu kalaian?” tanya Ustazah Fatimah.
“Justru itu,
Ustazah, kami takut sekaligus ragu.
Takut kena marah mama. Masih
kecil sok mengatur orang tua.” Aris
menjelaskan kegalauan hatinya.
“Saya juga nggak
yakin, Ustazah. Ayah suka ngingetin bunda
tentang hijab. Tapi sampai saat ini
bunda masih bongkar pasang. Alasannya
karena lingkungan kerja di perusahaan asing,” imbuh Aqila.
“Kalau kamu
gimana, Hafsah?” tanya Ustazah Fatimah.
“Ibu sudah
mengumpulkan beberapa set hijab syar’i.
Tapi sebagai mualaf, keluarganya masih keberatan ibu berubah
penampilan,” tandas Hafsah tentang ibunya.
“Syukurlah kalian
belum melakukan langkah apapun. Karena
sebagian besar orang tua sulit menerima nasihat langsung dari anak-anaknya.”
“Ustazah, apakah
mungkin ibu kami mengukuti harapan kami untuk berhijab?” Aris ragu dengan apa
yang sedang mereka perjuangkan.
Ustazah Fatimah
memberikan pengertian pada ketiga murid cerdasnya itu.
“Dialah Allah,
Alhadi. Allah memiliki nama yang baik,
asmaul husna. Semua ada Sembilan puluh
Sembilan. Nah, Alhadi bermakna Yang Maha
Memberi Petunjuk. Jadi petunjuk itu
berasal dari Allah SWT. Kita hanya
berusaha menyampaikan. Tapi yang berhak
membolak-balikkan hati hanya Allah SWT.”
Aris, Hafsan dan
Aqila menganggukkan kepala tanda mengerti.
“Dalam Alquran Surat Alhajj ayat 54,
Allah SWT berfirman:
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ
مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْۗ وَإِنَّ اللَّهَ
لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا
إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya: Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini
bahwa Alquran itu haq, dari Tuhan-mu, lalu mereka beriman dan tunduk hati
mereka kepada-Nya dan sesungguhnya Allah adalah benar-benar Pemberi Petunjuk
bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.
Juga dalam Surat Alala ayat 2-3:
الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ
Artinya: Yang
menciptakan, dan Menyempurnakan
(penciptaan-Nya) dan Yang menentukan kadar dan Memberi Petunjuk.” Ustazah
Fatimah melanjutkan nasihat untuk meyakinkan anak-anak didik kesayangannya itu.
“Jadi kalau kita
sudah mendapatkan ilmunya, harus kita mengimani dan tunduk pada Allah yang
telah memberi petunjuk itu, ya, Ustazah?”
Aris mencoba menyimpulkan ayat yang didengarnya dari Ustazah Fatimah.
“Terus bagaimana
kita menyampaikan kebenaran pada orang tua kita, Ustazah?” tukas Aqila.
“Kita harus
bersandar sepenuhnya pada Alhadi.
Memohon dengan menyebut asmanya sebanyak mungkin setiap kali kita
ingat. Semoga denga begitu kita diberi
emudahan untuk menjadi wasilah atau jalan perantara petunjuk-Nya untuk orang
lain.”
“Selain doa ada
cara lain lagi nggak? Misalnya dengan
lisan atau perbuatan yang bisa membuka pintu hidayah.” Hafsah masih penasaran dan belum puas dengan
saran doa yang diberikan Ustazah Fatimah.
“Bagaimana kalau
aku memberikan kejutan hadiah pada hari istimewa mama. Kami sekeluarga selalu merayakan ulang tahun
kami masing-masing. Di akhir acara
selalu ada pemberian kado istimewa untuk yang berulang tahun.” Aris mengungkap ide cemerlangnya.
Ustazah Fatimah
mengangkat dua ibu jarinya untuk ide cemerlang Aris.
“Kalau bunda aku
sukanya pergi arisan bulanan dengan ibu-ibu kompleks tempat kami tinggal. Bunda suka memperbaiki penampilannya di depan
ibu-ibu itu. Aku ingin memberi hariah
baju baru untuk arisan bunda.” Aqila
menceritakan kebiasaan bundanya.
“Kalau hijab syar’i
ibuku sudah punya banyak. Hanya saja
bagaimana ibu berani memakainya tanpa mengecewakan pihak keluarga ibu.” Hafsah belum menemukan ide pendekatan pada
keluarga ibunya.
“Kalau begitu,
tunjukkan akhlak yang baik pada keluarga ibu kamu. Sering-seringlah berkunjung kepada
mereka. Apalagi Hafsah sudah
berkerudung. Insyaallah mereka akan
senang dan menerima prinsip kita dalam berhijab selagi kita menunjukkan sikap
yang baik. Jangan lupa bawakan hadiah
saat kamu mengunjungi mereka, Hafsah.”
***
Solusi yang mereka
temukan saat berbincang di rumah Ustazah Fatimah menyisakan satu tugas tambahan
bagi mereka bertiga. Mengumpulkan uang
tabungan yang mereka miliki di esde,
madrasah diniyah dan celengan mereka masing-masing di rumah.
“Kamu dapat berapa
Aris?” tanya Aqila
“Baru dua ratus
lima ribu. Kalian berapa?”
“Aku seratus tujuh
puluh lima.” Aqila menunduk lesu
“Aku baru seratus
lima puluh ribu.” Hafsah mencatat uang
yang dimilikinya pada notebook kecil.
“Baru sebulan kita menabung sejak masuk sekolah tahun ajaran ini. Jadinya tabungan kita masih sedikit,” lanjut
Hafsah.
Mereka memeras
otak menemukan ide untuk menutupi kekurangan biaya untuk memberi hadiah pada
ibu mereka. Aris yang punya hobi
menggambar akan menjual lembar kertas mewarnai untuk teman-teman esde dan
diniyah. Sementara Aqila berencana
menjual mainan stike upin-ipin yang sedang digemari di sekolah dan madrasah.
“Kalau aku gimana,
ya?” Hafsah kehabisan ide.
“Sebaiknya kamu
terus terang saja sama ibumu, Hafsah.
Niat baik ini pasti akan mendapat dukungan penuh dari ibumu. Tinggal jadwalkan aja kunjungan rutin ke
keluarga ibu.” Aqila memberi saran.
“Oh, iya,
terimakasih Aqila yang cerdas. Aku akan
bicarakan rencana ini sama ibuku.”
Sehari, dua hari
hingga seminggu, berbagai tantangan mereka hadapi dengan tabah.
“Aduh, sudah
pandai bisnis, ya, kalian!” Dudu
berkomentar yang tidak mengenakkan.
Beruntunglah ada
Ustazah Fatimah yang selalu mendukung upaya mereka.
“Rasulullah
memberi contoh pada kita untuk berdagang sedari remaja. Usia dua belas tahun, beliau sudah beberapa
kali ikut berdagang ke Syam dari Mekah.
Jarak yang tidak dekat.
Mengarungi gurun pasir. Panas menyengat
di siang hari dan dingin menggigit di malam hari. Jadi hindari sikap mengolok-olok pada
perbuatan yang Rasulullah contohkan.
Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwatkan Bukhari Muslim:
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
Artinya: Siapa yang membenci sunnahku maka ia bukan
termasuk golonganku.”
Ulang tahun
Mama Aris tinggal dua puluh hari lagi. Aris
menyerahkan uang yang sudah mencapai Rp 250.000,00. Sementara itu Aqila hampir menyusul Aris Rp
225.500,00.
“Saya terima
amanahnya. Kalau ada kekurangan, biar
saya yang menutupi. Kalau berlebih nanti
saya kembalikan, ya. Bagaimana dengan
Hafsah?” tanya Ustazah Fatimah.
“Alhamdulillah,
ibu sudah setuju dengan usulan aku.
Berkat bantuan Ustazah juga melalui japri wa, ibu sangat mendukung
rencana kita.”
“Semoga
Allah yang Maha Memberi Petunjuk selalu membukakan hidayahnya untuk kita.” “Aamiin ya Rabb.” Ujar mereka berempat
serempak. Sepenuh harapan mereka
panjatkan agar ajakan pada kebaikan selalu penuh hikmah dan tidak membekaskan
luka pada mereka yang akan menerima ajakan
kita.
Hari
mendebarkan yang ditunggu-tunggu Aris pun tiba.
Sebungkus kado yang disiapkan Ustazah Fatimah di serahkan pada mamanya. Demikian juga dengan hadiah dari ayah dan
kedua kakaknya.
“Terimakasih
ayah dan anak-anak yang Mama kasihi.
Semua akan Mama pakai. Tapi untuk
baju muslimah yang cantik ini, mama belum siap.
Maafkan Mama, ya, Aris.”
Aris
menunduk lunglai, tidak menyangka Mama Aris belum terbuka hatinya untuk
berhijab.
Sementara itu di tempat yang lain, Hafsah berjalan ceria
dengan ibunya. Mereka begitu serasi
dengan baju muslimah yang senada.
“Terimakasih, Hafsah dengan dukungan kamu, ibu bisa
mengenakan hijab tanpa harus bertentangan dengan keluarga ibu.”
Sebelum pengajian diniyah di mulai, Aris menemui Ustazah
Fatimah.
“Ustazah, Aris gagal,” ungkap Aris sedih.
“Tidak ada istilah gagal dalam berbuat kebaikan. Allah ingin kita terus berikhtiar dan
berdoa.”
“Bukanah saya berusaha atas dasar rasa sayang saya pada mama. Tapi kenapa mama seakan tak peduli dengan
perasaan saya. Apakah mama tidak
merasakan ketulusan saya, Ustazah?”
Ustazah Fatimah berusaha menenangkan Aris dengan membukakan
mushaf Alquran. Surat Alqasas halaman
392, sebelah kiri tepat di barisan tengah.
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ
يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya: Sesungguhnya kamu tidak
akan dapat memberi petunjuk kepada orangyang kamu kasihi, tetapi Allah memberi
petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui
orang-orang yang mau menerima petunjuk.
“Doakan
saya, Ustazah. Suatu saat Allah SWT
berkenan memberikan petunjuk-Nya pada mama.”
Aris mencoba tersenyum diantara genangan di kedua kelopak matanya. Ia tak ingin menjadi lemah, dengan sekuat hati ditahannya genangan itu agar tidak
tumpah. Ia segera pamit dari rumah
Ustazah Fatimah untuk berbaur dengan teman-temannya. Bermain kembali melupakan kepedihan hati. Ia tetap yakin Allah SWT, Alhadi akan
membukakan pintu hidayah untuk mama.
Entah kapan.
Komentar
Posting Komentar