TETES KESADARAN DARI KETULUSAN DOA IBU


TETES KESADARAN DARI KETULUSAN DOA IBU
By: Khadijah Hanif

“Lora, cepat berangkat, itu ayah sudah menunggu di depan rumah!”  Ibu meneriaki Lora yang tak juga keluar dari kamarnya.
Hampir setiap pagi suasana tegang itu mewarnai keluarga Lora.  Gara-garanya, selalu saja Lora melakukan slow motion dalam tiap hal yang di lakukannya.  Bangun dan salat Subuh telat.  Menjelang beberapa menit menjelang terbit baru bangun.  Bahkan lewat terbit matahari baru memulai aktifitas.
“Kamu itu bagaimana? Ayah malu kalau harus terlambat ngantor.  Hanya gara-gara menunggu kamu.”  Gantian ayah yang tak bisa memendam kekesalan.  Pasalnya, Lora berangkat sekolah selalu bersama ayahnya, Pak Surya.  Kebiasaan telatnya membuat Pak Surya tidak tega membiarkan Lora berangkat sendiri.  Pasti akan makin terlambat dan terancam tidak bisa memasuki gerbang sekolah.  Satpam akan mengunci pintu gerbang lima menit setelah tanda bel masuk. 
Pak Surya adalah salah satu guru di sekolah itu.  Selalu saja beliau bisa melewati pintu gerbang meskipun terlambat.  Dengan begitu Lora pun bebas dari hukuman keterlambatannya.  Hanya saja Pak Surya selalu dihinggapi rasa jengah pada satpam, kepala sekolah, rekan guru, karyawan, juga murid-muridnya.
Beberapa kali Pak Surya ingin memberi pelajaran pada Lora dengan meninggalkannya.   Tapi alih-alih Lora bergerak cepat malah Pak Surya yang memutar arah kembali menjemput Lora dengan bentakan marah.
“Kamu ingin Ayahmu ini stress, ya?   Kamu nggak lihat sekarang ini banyak orang stroke gara-gara hal sepele .  Apalagi kalau tiap hari harus terlambat gara-gara menunggu kamu!”
Suatu saat Pak Surya benar-benar meninggalkannya.  Akibatnya Lora berangkat dari rumah pukul tujuh pagi.  Sedangkan sekolah dimulai pada jam tersebut.  Bisa dibayangkan Lora yang tinggal di kampung harus berjalan kaki menuju jalan utama untuk mendapatkan angkutan umum.  
Pukul delapan Lora baru sampai ke sekolah.  Sebuah dilemma buat satpam sekolah.  “Mas Lora kok berangkat sendiri.  Nggak sama bapak?” tanya Pak Pardi, satpam sekolah.
“Ia, Pak.  Maaf saya terlambat.  Tadi ayah marah dan  meninggalkan saya.  Saya harus jalan kaki.”  Lora berkata memelas tanpa menjelaskan bahwa dia yang bersalah karena lambat dalam segala hal. 
“Ya sudah.  Pak Pardi mau bantu tapi jangan diulang lagi.  Saya akan membuka pintu gerbang.  Mas Lora langsung ke ruang UKS.  Jangan sampai melewati kantor.  Nanti saya yang akan ditegur kepala sekolah.”  Kerjasama itu berjalan baik.  Lora berpura-pura sakit di UKS di jam pertama hingga istirahat pertama.  Tentu dengan bantuan Pak Pardi yang menyampaikan informasi bahwa Lora sakit di UKS.
Keadaan ini sangat berbeda dengan Salma, Adiknya.  Salma selalu cekatan dan sigap.  Salma yang sekolah di tempat yang sama, sering jadi sasaran pujian tapi juga ledekan dari sahabatnya.
“Kamu beda banget ya sama Mas Lora.  Bagai bumi dan langit.  Sepertinya ibu kamu dulu seneng ngelat slow motion show pas hamilnya Mas Lora.  Atau jijik dan kesel  sama siput.  Jadinya Mas Lora suka gerak lambat.”
Salma hanya bisa tersenyum kecut.  Kemudian mengadukan hal itu pada ibunya,  Bu Atikah.
“Ibu juga sudah kehabisan akal menasihati kakakmu yang satu itu, Salma.  Kamu tahu sendiri bagaimana Ayah dan Ibu mengajaknya bicara untuk mengubah sikap.”
Kebiasaan serba terlambat ini tidak hanya saat mau berangkat sekolah saja tapi dalam segala hal.  Termasuk mengerjakan suruhan ayah dan ibunya.  Yang uniknya lagi, gerak lambat itu ternyata disebabkan was-was yang menggelayuti hati dan akal pikirannya.  Saat menutup pintu, Lora akan membuka dan menutupnya sampai lebih dari lima kali.  Begitu juga saat membuka dan menutup kembali laci meja atau lemari.  Bahkan saat membetulkan posisi kursi maka ia akan mengulangi gerak itu berkali kali. Seperti orang gagap dalam bentuk perbuatan bukan perkataan.
Bu Atikah mencermati hal ini.  Ternyata hampir pada semua yang dilakukan Lora selalu diulang-ulang.  Hari Ahad pagi, Lora mendapat bagian menjemur baju.  Bu Atikah dan Salma yang mencuci.
“Salma, coba perhatikan Mas Lora saat ngejemur apakah dia mengulangi gerakannya?”
Salma berdiri dan melihat bagaimana Lora menjemur pakaian.  Setiap sisi akan dibuatnya simetris.  Kalaupun sudah simetris, tidak membuat puas sampai di situ.  Ia akan mengulangi tiga hingga lima kali.
Melihat keadaan ini, Bu Atikah merasa prihatin.  Ia sangat khawatir bila anak sulungnya terhambat dalam segala hal.  Gejala ini makin parah ketika melihat nilai-nilai Lora yang jeblok.  Bukan karena salah mengerjakan, tapi dari soal yang diberikan guru, Lora hanya mengerjakan kurang dari setengahnya.  Tentu saja nilainya selalu di bawah lima.
Julukan slow motion boy  beralih ke repetition boy.
Bu Atikah mulai gusar.  Doa yang selalu dipanjatkannya untuk anak-anak semakin kuat.  Teristimewa untuk Lora.  Bangun tengah malam sekitar jam dua tidak pernah terlalaikan.  Di pekatnya malam, Bu Atikah mengambil wudu.  Tidak peduli cuaca dingin ataupun cuaca hujan, ia selalu mengambil wudu di jamban yang terpisah tiga meter dari rumah.
Sajadah dihamparnya di kamar Lora.  Di samping dipan, Bu Atikah terisak untuk kebaikan buah hatinya.
“Astaghfirullahal’adzim.  Astaghfirullahal’adzim. Astaghfirullahal’adzim.  Lanaa waliwaalidainaa warhamhumaa kamaa rabbayaanaa shighaaraa.  Allahumma shalli wassalim ‘alaa sayyidinaa wa maulanaa Muhammad wa’ala alihi wa shahbihi wassalam.  Waradhiallahu tabaraka wa  ta’ala ankulli shahaabati rasuulillahi ajmaiin.
Rabb, Engkau adalah Pencipta kami, dan kami ini hanyalah hambaMu yang lemah.  Tiada daya upaya dan kekuatan hanya milikMu, Ya Rahman.  Hamba menghadapMu malam ini, di tengah malam yang hening.  Untuk memohon dan berharap semata-mata padaMu.
Hamba bawa serta nama anak yang Kau titipkan ini Lora Fauzi Wibawa bin Suryadinata, dengan segala keadaannya.  Dia sedang mendapat ujian keraguan dalam hatinya.  Wahai Yang Menggenggam dan membolak-balikkan hati kembalikan keteguhan hati yang dulu pernah dimilikinya.  Hindarkan dia dari keraguan dalam tiap langkah dan tindakannya.
Rabb, hamba khawatir kebiasaan buruknya mengulang gerakannya akan merugikan masa depannya.  Maka kembalikan dia dalam keadaan normalnya dulu wahai Yang Menguasai setiap makhluk.
Bila ada perbuatan dosa kami yang membuat anak kami terlilit rasa ragu, kami mohon ampuni kami.  Tunjuki kami jalan selamat untuk terhindar dari dosa dan maksiat.  Baik itu yang kami sadari atau tidak.
Rabb, Engkau satu-satunya Tuhan tempat kami bermohon.  Menggantungkan harapan, bila Engkau tidak perkenankan maka kepada siapa lagi kami harus memohon.  Maka perkenankan doa kami.  Beri kami jalan kesadaran untuk anak kami.  Dengan cara-Mu, dengan kuasa-Mu.
Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanah wa fil’aakhirati hasanah waqinaa ‘adzaabannar.  Subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yasifuun wassalamun’alal mursaliin walhamdulillahi rabbil’aalamiin.
Pundak Bu Atikah berguncang, tenggelam dalam tangisan yang tak pernah disadari Lora yang tertidur lelap.
***
            Seluruh anggota keluarga perlahan memahami kelemahan yang dihadapi Lora.  Nasihat-nasihat lembut mulai mengganti kemarahan yang meledak dari Pak Surya.
            “Lora, cobalah untuk mengurangi gerakan ulangmu itu dari lima kali, cukup tiga kali misalnya.  Insya Allah akan makin berkurang.  Apa yang kamu ulang-ulang itu tidak perlu alias mubazir.  Mubazir bukan sekedar berlebihan dalam makan, minum, berpakaian atau menikmati karunia Allah lainnya.  Termasuk dalam tindakan, gerak dan perbuatan yang diulang tanpa manfaat, itu juga mubazir..”
            Perbincangan dan nasihat berulang kali disampaikan, tapi perubahan berarti belum tampak.  Sampai akhirnya Lora meminta kendaraan bermotor di kelas tiga SMA.
            “Ibu, kasihan ayah, masih juga terlambat.  Ini berarti aku sudah dua tahun menyusahkan ayah.  Boleh aku pakai motor Ibu buat ke sekolah?” tanya Lora suatu sore akhir pekan yang santai.
            Pak Surya yang sudah pusing dengan teguran kepala sekolah langsung setuju dengan permintaan Lora. “Kalau begutu segera urus SIM sama paman kamu di kepolisian.  Semua akan lancar dengan bantuan dia sebagai polisi di polsek kita.  Lagi pula kamu sudah tujuh belas tahun lebih.  Ayah rasa sudah waktunya kamu punya tanggung jawab sendiri.”
            “Tapi Ayah, bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Lora.  Dia masih belum lepas dari kebiasaan repetisinya.” Bu Atikah mengungkap kekhawatirannya.
“Sudahlah, Bu.  Semua orang memiliki titik balik.  Apalagi kebiasaan buruk Lora bukan bawaan lahir.  Kita doakan saja akibat baik buat anak kita.”  Pak Surya tetap memutuskan untuk mengizinkan Lora memakai kemdaraan sendiri ke sekolah.
Dalam hati Bu Atikah, doa-doa tulus terus diucapkannya., “ Rabb kabulkan permohonan kami untuk kebaikan Lora dengan cara terbaik yang engkau pilihkan.”
Pengurusan SIM berjalan lancar.  Dengan berbekal KTP dan kemampuan menaiki sepeda motor keliling kampung selama ini, Lora lulus mendapatkan SIM-C.
Pak Surya bisa sedikit bernapas lega. Ia tidak harus terlambat karena Lora.  Kini di belakangnya, ia membonceng Salma yang selalu membuatnya bangga. Rajin, berprestasi, tidak penah melanggar, terutama tidak pernah terlambat masuk sekolah.
Sementara itu Lora berusaha bangun lebih pagi sebagai kompensasi izin memakai motor.  Bagaimanapun tetap dia sampai di sekolah tepat saat pintu gerbang mau ditutup.
Ada sedikit perkembangan baik tapi prestasi belajarnya tetap jeblok.  Lora belum bisa mengatasi repetition act-nya .  Hingga siang itu, kehendak Allah mengubah semuanya.
Motor milik ibunya selalu setia menemani Lora sepanjang hari hingga pulang sekolah.  Lora sering pulang terlambat dibanding Salma dan Pak Surya.  Ada saja alasannya.  Perlajaran tambahan, belajar bersama hingga ikut bimbingan belajar.  Ayahnya berusaha memperoleh kebenaran alasan Lora dari wali kelas dan teman sekelasnya, ternyata Lora tidak berbohong.  Pak Surya pun maklum, kelas XII sedang mendapat pemadatan menghadapi UNBK dan SMNPTN.  Sebagai ayah,  Pak Surya tidak pernah keberatan memenuhi kebutuhan finansial untuk kemajuan belajar Lora.
Sepulang sekolah di bawah hujan gerimis yang kian akrab.  Lora memacu sepeda motor matik milik ibunya.  Sesampai  di tempat bimbingan, Lora mengunci motor dan menyimpan kunci itu di saku celana.
Menjelang Magrib,  bimbingan belajar berakhir.  Keributan terjadi di depan lembaga bimbingan belajar itu.
“Mana motor saya.  Tadi saya parkir di sini diantara motor ninja dan vespa ini.  Kok, sekarang nggak ada?”  Lora tidak habis pikir.  Sedangkan tempat ini dijaga satpam.  Tidak mungkin motornya dicuri.  Ia sudah merasa rapi menguncinya.  Bahkan seperti biasa berulang kali memutar kunci, buka-kunci-buka-kunci. 
Semua persendianya terasa lemas.  Lora terjongkok di tempat ia memarkir motor.  Kedua tangannya diletakkan di tengkuk.  Frustasi.
“Tadi memang ada yang menuntun dan menyalakan motor ini.  Tapi tidak ada yang mencurigakan.  Begitu mudah mereka menggeser motor ini.  Mungkin kamu lupa menguncinya?”  Satpam lembaga kursus itu menjelaskan.  Dalam hatinya ketar-ketir takut disalahkan oleh Lora atau mungkin kena tegur pemilik lembaga karena kurang mampu  menjaga keamanan.
Lora mencoba mengingati penyebab hilangnya motor itu.  Ia baru ingat saat putaran kunci yang berulang-ulang itu, sangat mungkin dia mencabut kunci dalam posisi buka.
“Sandi, tolong anter aku pulang!  Aku harus segera minta maaf pada orang tuaku,” pinta Lora pasrah.
Mereka menerobos hujan tanpa peduli.  Dalam dada Lora ada gemuruh penyesalan yang ingin segera dilumatkankan dalam satu kata maaf.
Sesampai di halaman rumah.  Bu Atikah sudah melihat gelagat kurang baik.  Melihat Lora yang gontai menjinjing helm tanpa motornya.  Begitu pintu depan dibuka Lora menghambur dan mencium dua kaki ibunya.  Menangis, meminta maaf.
“Ibu maafin Lora.  Ini semua karena Lora nggak juga menghentikan kebiasaan buruk mengulang perbuatan yang nggak perlu.  Saat memutar kunci motor berulang-ulang, aku mencabut pada posisi tidak terkunci.”
Bu Atikah meraih pundak anak jejaka tunggalnya itu untuk tegak berdiri.  Dipeluknya penuh kasih tanpa berbicara apapun.  Hanya sebait doa dari hatinya yang sunyi.”Ya Rabb, hamba rela atas musibah ini asalkan anakku Kau sembuhkan dari kebiasaan buruknya.  Kembalikan Lora yang dulu.  Yang melakukan segala sesuatu dengan cekatan tanpa keraguan.  Air mata Bu Atikah membasahi punggung Lora yang kuyup oleh rinai hujan.
Doa yang selalu dipanjatkannya tidak sia-sia.  Meskipun harus dibayar dengan hilangnya sebuah sepeda motor.  Akan tetapi perkembangan positif buah hatinya lebih berharga dari apapun.  Hari demi hari Lora membuktikan kesadarannya.  Datang ke sekolah lebih cepat, nilainya perlahan terus membaik.  Julukan repetition boy pun mulai lepas dari dirinya.
Di akhir tahun, nilai UNBK-nya mendekati rata-rata delapan.  Meskipun tidak lulus SMNPTN, Lora terus berpacu dengan peluang.  Nilainya yang kurang bagus di kelas X dan XI ditebus dengan persiapan tembus test bersama.  Doa ibu yang selalu mengiringinya.  Sejalan juga dengan usaha sungguh-sungguh selama kelas XII membuatnya lulus SBMPTN.  Sebuah perguruan tinggi bergengsi menunggu kehadirannya tahun ini.

Profil Penulis:
Khadijah Hanif, nama pena dari Titin Harti Hastuti, alumnus IPB angkatan ke-29.  Lahir di Temanggung, sebagai bungsu dari empat bersaudara.  Memulai serius menulis sejak satu tahun terakhir.  Antologi yang melibatkannya sebagai kontributor antaralain: Kumcer Teenlit Dunia Merah Jambu, kumpulan Mini Fiksi Thriller, kumpulan Cerita dari Koding, Kisah Inspiratis Harmonisasi Antar Umat Beragama (penulis sebagai juara pertama event menulis tingkat nasional ini), kumpulan Puisi untuk Ibu Kartini, kumpulan puisi Rinai Aksara, Kisah Inspiratif Hijrah Life is A Journey, kumpulan cerita anak Fruit and Vegetable Story, dan lain-lain.  Novel pertamanya berjudul Talbiah Cinta dari Kampung Naga merupakan novel budaya, pariwisata, dan kearifan lokal sekaligus kritik peradaban berbalut sisi romantisme manusia.  Penulis aktif ngeblog dengan tajuk TITINHASTUTI’S BLOG.  Dapat dihubungi melalui akun fb. Titin Harti Hastuti dan ig. Khadijah Hanif_313.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA