BUKU SOLO II-JEJAK LITERASI
BUKU SOLO II
Kumpulan Naskah Lomba Menulis Jejak Publisher
2018-2020
KATA PENGANTAR
Bismillahirahmannirrahiim, Asshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa
alaa alihi washahbihi wasalam, wa ba’du
Tidak ada yang ingin penulis ucapkan
selain rasa syukur pada karunia dan kehendak Allah SWT yang telah
mengizinkan terselesaikannya buku solo kedua ini.
Penulis telah secara intens mengikuti event jejak sejak awal
2018-2020 dan vacum dari pertengahan
2020 hingga 2021. Dengan susah payah
serpihan naskah yang terserak dan tersembunyi di antara file laptop juga umpukan
email mencoba disusun oleh penulis
Tidak semua naskah yang terkumpul sempat dikirimkan ke panitia event
jejak. Sebagian besar naskah terkirim
teapi ada beberapa naskah yang terlewat deadline sehingga tidak mengikuti
kompetisi. Tujuh diantara seluruh naskah
berhasil dikontribusikan menjadi antologi terbitan Jejak Publisher.
Urutan naskah pada daftar isi tidak menggambarkan urutan event
secara kronologis tapi lebih pada ditemukannya serpihan naskah oleh penulis.
Penulis menyadari berbagai kekurangan dari naskah bunga rampai
dengan berbagai genre ini. Kritik, saran
yang tulus dan terbaik sangat penulis harapkan untuk memperbaiki dan
menyempurnakan buku ini.
Akhirnya penulis ucapkan selamat membaca, semoga berkah dan manfaat
dapat pembaca peroleh dari tulisan ini.
Jazakumullah khairan katsiraa karena penuls tanpa pembaca bukan
siapa-siapa, dan buku tanpa dibaca bukan apa-apa.
Tasikmalaya, Mei 2021 M-Ramadan 1442 H
Khadijah Hanif
1.
Event Jejak Ke-1_Cerita Kenangan
Bersama Kakek Nenek_BARA YANG TAK PERNAH PADAM
2.
Event Jejak Ke-2 _Cerpen Antariksa_IZINKAN KEPAK SAYAPKU
MENGANGKASA
3.
Event
Jejak Ke-3_Cerpen Antariksa_JADI MAKA JADILAH
4.
Event Jejak Ke-4_Cerita dari
Koding_BREAK THE LIMIT
5.
Event Jejak Ke-5_Perjuangan_TEBING
TERJAL PERJUANGAN
6.
Event Jejak Ke-6_Kisah di
Sekolah_BINAR EMBUN KEIKHLASAN
7.
Event Jejak Ke-7_Esai Pengorbanan_TETES KERINGAT UNTUK
GENERASI LITERAT
8.
Event Jejak Ke-8_Fiksi Anak_HIDANGAN
ISTIMEWA
9.
Event Jejak Ke-9_Mini Fiksi
Manusia Anomali_HALUSINASI
10.
Event Jejak Ke-10_MiniFiksi Nostalgia_TRAUMA
11.
Event Jejak Ke-11_Fiksi Mini Thriller_GADIS YANG
TERPASUNG
12.
Event Jejak Ke-12_Cerpen
Promise_HATI SELUAS SAMUDERA
13.
Event
Jejak Ke-13_Puisi Love Yourself_DEAR ME,
14.
Event Jejak Ke-14_Cerpen Tanda
Tanya_HARUSKAH KAMU PERGI, RATIH?
15.
Event Ke-15_Puisi Memiliki dan
Kehilangan_REMANG BAYANGMU
16.
Event Jejak Ke-16_Kisah
Inspiratis Harmonisasi Hubungan Antarummat Beragama_KARENA AKU SAYANG KAMU
17.
Event
Jejak Ke-17_Cerpen Di Penghujung Waktu_ENGKAU MENJELANG TIBA
18.
Event
Jejak Ke-18_Never Give Up_JALAN TANPA UJUNG
19.
Event
Jejak Ke-19_Puisi Perdamaian Dunia_DAMAILAH DALAM DAMAI
20.
Event
Jejak Ke-20_Cerpen Twin Series_SIAPA KAMU?
21.
Event
Jejak Ke-21_Tanda Tanya_KAUKAH IBUKU?
22.
Event
Jejak Ke-22_Lomba Cerpen Pekan Jurnalistik di Era Industri 4.0_AKU BUKAN KULI
TINTA
23.
Event
Jejak Ke-23_Lomba Essai Pekan Jurnalistik di Era Industri 4.0_PERAN NORMATIF
JURNALIS DALAM ERA INDUSTRI 4.0
24.
Event
Jejak Ke-24_Lomba Puisi Pekan Jurnalistik di Era Industri 4.0_TARIAN PENA SANG
JURNALIS
25.
Event
Ke-25 Jejak_Lomba Cerpen Anak Yatim_ MAKBUL
Event Jejak Ke-26_Lomba Puisi Love Your Self_SAJAK PENGEJA CINTA
Event Jejak Ke-27_Lomba Puisi New Hope_HIKMAH BERPISAH
Event Jejak Ke-28_Lomba Cerpen My Dream_SEMUA DARI NOL
Event
Jejak Ke-1_Cerita Kenangan Bersama Kakek Nenek
BARA
YANG TAK PERNAH PADAM
Pulang kampung untuk bersilaturahim dengan
keluarga sudah menjadi tradisi tahunan keluarga besarku. Segala kenangan tentang masa kecilku bersama
kakek muncul berkelebatan. Apalagi
melihat sawah luas menghijau, sebagian lagi menguning emas.
Dulu
sawah-sawah ini bukan milik keluarga besar kakek. Semua ditukar dengan tetes demi tetes
keringat kakekku.
Ah….kisah
mengharukan sekaligus membanggakan itu berkelebatan di antara lembaran-lebaran
memoriku. Sebagaimana yang kakek
tuturkan padaku saat beliau masih hidup.
***
Saat
itu aku belum dewasa. Umurku baru
sebelas tahun dan adikku, Bagaskoro baru delapan tahun. Aku teringat Paklik Jazuli memanggilku.
“Mad, dengan sangat terpaksa aku
harus menggadaikan sawah warisan bapakmu.
Kebutuhan sehari-hari kamu dan adikmu Bagas, tidak bisa aku cukupi dari
hasil sawah ladang kita. Aku akan
gunakan hasil menggadai sawah kalian untuk modal usaha.” Paklik Jazuli meminta
persetujuan dariku. Kami dua
bersaudara berada dalam pengasuhan Paklik Jazuli setelah kami yatim piatu.
Suatu hari, saat usiaku sekitar
16 tahun seorang tetangga memberitahuku tentang resiko terlepasnya hak
kepemilikan tanah bila tidak ditebus.
“Mad, tanah milikmu akan hilang
bila tidak ditebus,” kata Pak Sastro, tetangga kami.
“Kenapa bisa hilang Pak?”
tanyaku polos.
“Tentu saja bisa, karena paman
kamu sudah menukarnya dengan uang yang senilai dengan barang yang digadai. Nanti kamu tidak akan punya apa-apa lagi.”
Aku kaget dengan kenyataan
ini. Aku baru tahu kalau resikonya cukup
besar. Apalagi ketika diketahuinya bahwa
usaha dagang Paklik Jazuli hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Bisa dibilang dagangannya sepi pembeli.
“Aku harus berusaha menebus
sendiri tanah dua petak itu. Aku tidak
punya peluang lain kecuali bertani.” Aku
berpikir keras untuk bisa mendapat penghasilan.
Suatu pagi aku berjalan
menyusuri pematang. Tanpa tujuan kemana
aku melangkah. Dalam pikiranku aku
memohon kiranya Alloh memberiku jalan keluar.
Empat desa terlewati, kumendapati sebuah sungai besar, berarus deras
namun masih sangat jernih di 1930-an.
Sungai itu bernama Luyung.
“Alhamdulillah, aku ada
ide.” Aku mencoba mencari cacing dan
dilepaskan ke danau lebar di tengah sungai.
Ikan-ikan besar bermunculan ke permukaan. Berebut cacing yang kulempar. ”Sudahku duga
sungai ini banyak ikannya.”
Sejak saat itu, kuajak adikku
Bagas yang usianya sudah menginjak 11 tahun.
Kami mencari ikan di sungai itu.
Sungai yang cukup jauh dari penduduk.
Kami berbekal petromaks lampu
mewah yang langka waktu itu. Aku
meminjamnya dari Paklik Jazuli. Lengkap
dengan pancing, umpan, obor minyak tanah, dan jala. Obor digunakan untuk jaga-jaga kalau ada
binatang buas, terutama ular.
Berbagai
peristiwa menyedih kami jalani selama mencari ikan di Sungai Layung. Mulai dari rasa takut dengan suara-suara
malam. Gemersak suara binatang buas.
Suara srigala dari bukit di kejauhan.
Semua kami hadapi dengan ketegaran sekaligus kepasrahan. Berserah pada yang Maha Memberi kehidupan.
“Kang,
ada ular besar. Lihat itu sebesar
lenganku!” Bagas berteriak ketakutan.
Beruntung aku selalu menyediakan
obor minyak tanah dan korek api.
Kunyalakan obor itu, dan…..
“Bagas, kita cukup menghalau
saja binatang itu dengan nyala api.
Mereka akan menyingkir. Asal
jangan kita ganggu, tidak akan membahayakan.”
Kakek mengarahkan api pada ular itu.
“Hah….alhamdulillah.” Bagas menghela napas lega.
Ada juga cerita sedih
menegangkan, tentang interogasi patroli tentara Belanda. Saat itu pergerakan-pergerakan nasional mulai
bermunculan. Akan tetapi tekanan di
bawah penjajah masih terasa.
Malam itu malam Minggu. Kami mencari ikan seperti biasa. Sekitar jam
02.00 pagi, kami menggelar sajadah untuk sholat Tahajud di atas rumput di
pinggir sungai. Dua rekaat yang tak
pernah kami tinggalkan. Setelah itu kami
pun pulang. Satu ember penuh ikan
rata-rata sebesar telapak tangan.
Di
tengah perjalanan, kami mendengar suara
kendaraan Jeep gunung mendekat.
“Bagas, matikan
petromaxnya. Ada yang patroli. Kita sembunyi di balik semak ini. Perjalanan kita lanjutkan kalau patrol sudah
lewat.”
“Mas, aku takut.” Bagas segera mematikan lampu petromaks. Namun malang tak bisa dihindari. Asap dari bekas lampu petromaks mengepul dari
balik semak-semak.
Seorang bertubuh tinggi besar
berkulit putih. Seorang lagi pribumi
setengah baya, berperawakan sepundak orang yang berkulit putih.
“Wah…ada inlander mau
memata-matai kita rupanya.” Belanda putih tetap si atas Jeep terbuka tanpa
atap. Sementara Belanda kulit hitam
turun dari mobil dan menyibak semak-semak persembunyian kedua kakekku.
“Hai anak-anak kecil kenapa
malam-malam kluyuran! Kalian santri dari Pesantren Kiai Parak ya?” Belanda hitam itu mencurigai kami.
“Tidak, Pak. Kami hanya keluar malam hanya mencari ikan,
belut atau apa saja buat kami makan, Pak.”
Aku menjawab apa adanya.
Belanda hitam itu memeriksa
ember milik kakek dan mengambil paksa tanpa ampun.
“Innalillahi, tega kebangetan
yang namanya penjajah itu ya, Kang!”
Malam itu kami tidak mendapat
apapun kecuali capek, lelah dan pahala sabar atas musibah yang menimpa.
Senang
dan bersyukurnya kalau kami berhasil membawa banyak ikan. Kami tidak pernah mendapat tangkapan kurang
dari 10 ekor. Lebih senang lagi saat
kami bisa pulang dengan selamat. Setelah
sarapan pagi, kami pergi ke pasar. Uang
kasil menjual ikan kami simpan di bawah tanah yang kami lubangi. Di dalam lubang itu ada kendi tempat
menyimpan uang yang aman.
Hari demi hari, seminggu,
sebulan hingga setahun kami lalui.
Tabungan dari penjualan ikan sudah dapat menebus tanah kami. Kesyukuran yang luar biasa karena kami sudah
dapat menggarap tanah sendiri mulai besok, setelah penebusan hari itu.
“Bagas, kita harus bekerjasama
untuk membuat tanah peninggalan bapak ibu kita berkah. Kalau kita menjaganya dengan baik. Pahalanya akan mengalir pada mereka berdua.”
“Insya Alloh, Kang.
Saya akan terus membantu Kang Ahmad.
Rencana Kang Ahmad bagaimana dengan tanah ini dan usaha kita ke
depannya. Apakah kita akan terus mencari
ikan ke sungai?”
Aku berpikir sejenak tentang
rencana memberdayakan sawah dan ngobor di malam hari. Suatu mata pencaharian yang sangat berjasa
mengembalikan sawah kami.
“Yang jelas tiap jengkal sawah
dan ladang ini tak boleh mubadzir. Kita
akan menanam sesuai musimnya. Selain itu
kita mesti tahu hasil bumi yang sedang dibutuhkan di pasar. Pasti harganya akan lumayan tinggi. Untuk mencari ikan, kita tidak boleh
berhenti. Sayang kalau ada kesempatan
meraih karunia-Nya kita lepas begitu saja.”
“Tapi aku ada usul. Supaya tidak terlalu capek, kita bisa taruh
saja wuwu di sungai itu. Kita tidak
harus menunggui. Pagi-pagi bisa kita ambil.”
“Pintar juga kamu. Kita akan coba. Semoga Alloh luaskan rejeki-Nya untuk kita.”
Kami, dua kakak beradik tanpa
ayah dan ibu, bekerja siang malam.
Berhenti hanya untuk sembahyang, makan dan istirahat. Semua jenis ternak pernah kami coba. Modalnya kami dapat dari mencari ikan di
sungai.
Semua tetesan keringat kami
tidak sia-sia. Hingga tiba saatnya kami
berpisah. Menikah dengan pasangan kami
masing-masing. Meskipun berpisah tempat
tinggal, kami tetap bekerja bersama di sawah, ladang, mengurusi ternak dan
hasil pencarian ikan di sungai.
***
Aku
masih sempat menyaksikan betapa sejahteranya kakek-nenekku. Waktu itu di tahun 1980-an aku turut
menikmati bagaimana memelihara berbagai macam unggas. Ayam, itik, entok bahkan angsa. Semua begitu mengesankan.
Binatang
ternak yang sempat aku lihat, sapi, kerbau dan kambing. Menurut cerita kakek-nenek, ayah-ibu serta
paman-pamanku, kakek bahkan pernah memelihara kuda. Nampaknya seru sekali kalau kuda itu masih
ada. Ingin sekali rasanya aku mencoba
menaikinya. Sayangnya kuda itu telah
dijual dan ditukar dengan kebon kopi di depan rumah kakek.
“Kek,
jadi kebon kopi ini seharga seekor kuda?”
“Betul
sekali Cucuku, bahkan masih ada sisa untuk dibelikan beberapa gram emas.”
“Kakek
dapat kuda dari mana?”
“Kakek
beli dari tuan tanah Belanda. Semua dari
hasil mencari ikan di Sungai Gintung dan Luyung.”
Aku
terkagum-kagum. Betapa berkahnya tangan
kakekku ini.
Beliau
kemudian bercerita tentang seluruh sawah yang dimilikinya. Awalnya hanya dua petak. Dalam waktu 50 tahun semua telah menjadi 10
hektar lebih. Benarlah bahwa kesungguhan
dan keistikomahan itu seperti melubangi dinding tebal. Bila terus menerus, maka akan sampai juga.
Aku
penasaran menanyakan darimana semangat dalam dada kakekku.
“Cucuku, tanah adalah amanah dari Tuhan.
Wasilahnya turun temurun sebagai warisan dari orang tua kita dulu. Membiarkannya tanpa tetesan keringat, berarti
kita telah menyia-nyiakan nikmatNya. Mengapa tanah air sering disebut tumpah
darah? Karena tiap jengkalnya harus
dipertahankan dengan tetesan keringat bahkan darah. Jangan sampai mudah berpindah tangan. Apalagi berpindah tangan pada orang yang
salah. Karena resikonya akan kehilangan
kehormatan dan kemerdekaan.” Kakek
melanjutkan nasehat berharga yang
terus kuingat hingga kini.
Ternyata
nasehat itu menjadi kalimat berharga terakhir yang aku dengar. Sebulan kemudian kakekku pergi untuk
selamanya. Usiaku saat itu memasuki
angka sebelas.
Sawah,
ladang, kebun sepuluhan hektar itu dibagikan pada satu anak perempuan dan empat
anak laki-laki kakek.
***
Lembaran
memori itu aku tutup kembali. Di hadapan
setengah hektar petak sawah jasa kakek dan ayahku. Ya…mereka di alam keabadian menunggu
jawabanku untuk menjalankan amanah wakaf tanah ini.
Ya
Rabb, Ya Kariim. Sebuah perjuangan
panjang untuk menyalakan bara api itu di dadaku. Memelihara tiap jengkal untuk menumbuhkan
karunia demi karunia.
Tiba-tiba aku memasuki relung afirmasi.
Tanah
ini akan menjadi pesantren agribisnis.
Tempat mendalami ilmu alqur’an-hadits tapi juga mengajarkan kemandirian
untuk memelihara tiap jengkalnya untuk menagih keberkahan dari-Nya.
Semua
yang pernah dilakukan kakek seakan kembali terjadi di hadapanku. Pagi ini.
Event Jejak Ke-2_Cerpen Antariksa
IZINKAN KEPAK SAYAPKU MENGANGKASA
Namaku Gemi Setiti. Emak bilang
itu doa, supaya aku menjadi orang yang pandai menjaga harta. Padahal kami bukan orang kaya yang punya
harta benda. Ah, namanya juga doa. Toh harta tidak selalu berupa uang. Kesehatan, keimanan, waktu, kesempatan, nama
baik, semuanya juga harta. Kata ustadzku
di masjid dusun, semua karunia Allah itu harta juga.
“Gemi, sudahlah kau berhenti dari khayal yang aneh itu. Kamu hanya
menyakiti diri sendiri. Dan yang lebih sakit lagi emakmu ini!” Emak kembali mengurut dada.
Aku membiarkan emak mengatakan apa yang menurutnya baik untukku. Aku sendiri tetap asik dengan klipingku
tentang Jepang. Meskipun klipingku itu
aku buat dari koran bekas. Ya, emakku
seorang pemulung yang mencari barang rongsokan yang dari rumah ke rumah. Aku paling senang kalau emak membawa koran, majalah
atau buku bekas. Makanya sebelum barang
itu dibawa ke pengepul aku curi-curi kesempatan saat emak lengah.
Bagian
yang paling aku sukai kalau ada kolom hikmah atau seri motivasi. Sesuatu yang bisa langsung aku coba ikuti
dalam pola pikir maupun tindakan. Dan
satu lagi berita tentang Jepang.
“Ya, Allah, Gemi, kamu apakan barang rongsokan ini. Kenapa kamu acak-acak?” Emak sempat jengkel. Aku kurang sigap membereskan jejak pemburuanku.
Bude Parmi, budeku yang paling baik dan perhatian. “Anakmu itu lho, Surti! Jangan kau biarkan
liar dengan khayalannya! Ndak sedikit
mereka gila gara-gara ndak bisa meraih apa yang diimpikannya.” Bude Parmi
sering kali mengingatkan emak untuk mengendalikan semua keinginanku yang
menggebu ini.
Entahlah apa yang membuat aku ingin ke Jepang. Yang jelas aku sudah terlalu sering menahan
segala rasa. Rasa miskin dan tidak
mampu. Padahal aku juga ingin seperti
mereka.
Hanya rasa syukur yang bisa membuatku bertahan. Bagaimana tidak aku memiliki banyak kawan
yang beruntung menjadi anak orang berada.
“Gemi, ayo belajar di rumahku.
Aku ndak paham pelajaran Matematika, Fisika, Kimia. Semua simbul di rumus-rumus itu bikin aku
pusing.” Temanku, Sania memintaku
mengajarinya pelajaran eksakta. Inilah
yang aku maksudkan aku harus bersyukur.
Meskipun emakku menyuapiku dengan barang bekas, justru usaha halal itu
membuat otakku cukup encer. Keringat dan
air mata emak pasti bergumul dengan doa menjadi cahaya pemahaman saat aku
berusaha mengerti tutur dari guru.
“Ayo, Nia, aku ndak keberatan!
Apalagi kalau aku main di rumah kamu, kesempatan emas buatku menikmati
air dingin, ruangan dingin. Seolah aku
di surga dunia.”
“Wah, kamu ini udah macam oportunis aja, mengambil kesempatan diatas
kepusinganku.” Kami bercanda akrab.
Sepertinya aku sudah bisa menyimpulkan sediri kenapa aku ingin ke
Jepang, saat aku memasuki rumah Sania.
Aku seperti berada di Jepang.
Semua merek barang elektronik mewah ada di sana. Aku jadi makin ingin masuk jurusan teknik
mesin di salah satu universitas ternama di Jepang. Kalau aku tahu ilmunya, tentu aku bisa
membuat barang-barang elektronik ini.
Paling tidak aku bisa mereparasi mesin rusak yang acap kali emak bawa
dari hasil memulungnya.
Kegemaranku membaca apa saja menuntun mataku membaca satu pamflet. Masih dari tumpukan kertasbekas yang dibawa
emak. “Lomba Menulis Karya Ilmiah”,
temanya, ”Ancaman Lingkungan oleh Sampah dan Penanggulangannya” diadakan oleh
sebuah universitas ternama bekerjasama dengan Kedubes Jepang untuk
Indonesia.” Aku biarkan mata ini terus
memelototi huruf demi huruf “Deadline 28
Februari”. Juara pertama 10 juta dan
beasiswa kuliah di Jepang. Aku melonjak
kegirangan. Dalam hati aku bertekad, aku
harus ikut.
Demi mengejar akhir pengiriman online yang tinggal dua minggu lagi, aku
mengeram di perpustakaan tiap hari.
Tidak peduli uang jajanku habis untuk sewa internet sepulang
sekolah. Lebih baik aku puasa tapi karya
ilmiahku harus kelar.
“Gemi, kenapa kamu ndak mbantuin Emak mengepak barang-barang bekas,
Nak?” tanya emak sebelum tidur.
“Maaf, Mak, Gemi sedang berusaha membuat Emak bangga dan bahagia.”
“Kalau ingin bikin Emak bahagia, jangan main terus. Emak kecapekan seharian keliling
kampung. Sejak ayahmu meninggal Emak
harus mencari nafkah sendiri. Kamu sudah
besar, sebentar lagi kuliah. Biayanya
tentu lebih besar.” Emak, pengorbanan
emak luar biasa. Aku sayang emak, suatu
saat aku akan bisa membuktikannya.
Awalnya aku ingin memberi kejutan buat emak. Tapi aku tidak tega membuatnya sedih dengan
prasangka bahwa aku tidak mau lagi membantunya.
Akhirnya aku ceritakan semua tentang yang aku lakukan seminggu minggu
ini.
Emak membelai rambutku, ada cairan bening berkelindan di kelopak
matanya. Hampir tumpah. Di kecupnya keningku sambil bertutur lembut,
“Kalau ini jalan yang menjadi garis takdirmu, Emak rela kamu berusaha sampai
dapat. Emak akan bawa harapanmu itu
dalam sujud Emak. Sajadah lusuh ini akan
menjadi saksi kerelaan Emak padamu, nduk.”
Emak menunjuk sajadah satu-satunya yang selalu setia menemani emak berdoa.
Dukungan emak menambah energi untuk semua rencanaku. Aku makin disibukkan dengan karya ilmiah itu. Perpustakaan, laboratorium komputer dan
warnet menjadi tempat favoritku. Maklum
aku tidak mungkin bermimpi beli laptop.
Referensi tentang lingkungan, sampah, cara pemanfaatannya, bahayanya,
semua bertumpuk di meja baca perpustakaan di depanku. Tak lupa aku buka KBBI, kamus sinonim dan
PUEBI. Aku ingin tulisan ilmiahku enak
dibaca dan dinikmati, kaya diksi namun tetap ilmiah.
Aku merasa beruntung dengan
kegilaanku membaca. Lomba menulis ini
pun bukan yang pertama aku ikuti.
Apalagi di kegiatan literasi sekolah aku dinobatkan menjadi “Ratu Baca”. Jadi buat aku tidak terlalu sulit mebariskan
huruf demi huruf menjadi rangkaian kata dan kalimat.
Di hari ke sepuluh, aku terserang demam. Bagian pembahasan belum selesai
sepenuhnya. Belumlagi bagian penutup,
daftar pustaka dan abstrak dalam bahasa Inggris.
“Kamu terlalu memaksakan diri, Nduk.
Jadinya sakit begini.” Raut muka
dan sorot mata cemas orang yang paling aku sayangi. Satu-satunya hartaku yang paling berharga
adalah emak. Aku sama sekali tidak ingin
ada duka dalam hatinya.
“Ndak apa-apa, Mak. Gemi bakal
segera sembuh.”
“Kamu harus ke dokter, Emak ada sedikit simpanan persiapan kuliah kamu
tahun depan. Yang penting kau harus
sembuh .”
Perutku mual, aku menumpahkan sarapan pagi yang masih mengendap di
lambungku. Emak makin gundah. Akhirnya aku mau menuruti kemauan emak. Aku baru menyadari ternyata emak
bersungguh-sungguh ingin menguliahkan aku.
Ada haru mendesak-desak di dada dan sudut mataku.
Dua hari aku istirahat total, diatas dipan berkasur kapuk yang tak
pernah empuk. Selimut tebal kupakai
untuk mengusir kamuflase rasa dingin.
Padahal tubuhku panas. Menurut
saran dokter, aku harus dirawat. Tapi
karena tunggakan BPJS kami terlalu besar, emak memutuskan berobat jalan
saja. Aku terkena tifus dan BDB
sekaligus.
Menatap langit-langit dengan terus berdoa kiranya aku bisa mengejar
deadline yang tinggal dua hari lagi.
“Gemi, ini ada ramuan untuk menurunkan demam. Minumnya tiga jam setelah obat dari
dokter. Kamu harus makan yang
lembut-lembut, emak sudah buatin bubur buat kamu.” Segala macam makanan sehat yang boleh
menyambangi kerongkonganku disediakan emak dengan tulus dan penuh cinta.
“Mak, maafin Gemi, bukan meringankan Emak, tapi bikin Emak susah.”
“Gemi, kamu amanah Allah yang menjadi tanggung jawab Emak. Ndak
ada istilah kata merepotkan.
Kalau Emak membiarkan kamu justru dosa besar. Kamu ndak boleh banyak pikiran, insyaallah
besok kamu sudah baikan.”
Aku minum obat dari dokter lebih awal.
Supaya tiga jam berikutnya aku bisa minum ramuan dari emak. Luar biasa, aku merasa sesuatu yang baik memasuki tubuhku. Biasanya aku sulit buat tidur, tapi ramuan
itu benar-benar membuatku lelap.
“Gemi, ambillah sarang semut di batang pohon mahoni yang mongering di
kebun kita. Itu obat dari segala
penyakit.” Suara lembut itu menyapaku
bersamaan dengan suara azan dari masjid dusun kami.
“Bapak?!” Aku menyebut pemilik
suara itu. Namun dia begitu saja pergi
bersama kesadaranku yang pulih sepenuhnya dari lelap.
Benar saja pagi ini aku merasa benar-benar segar, apalagi setelah ibu
merebuskan aku sarang semut seperti pesan Bapak.
Aku segera melanjutkan karya ilmiahku.
Emak melarang, tapi aku memohon dengan sangat untuk diizinkan. Aku pergi ke warnet pagi ini untuk
menyelesaikan bagian perbagian yang belum kuselesaikan. Seperti berpacu dengan waktu hingga pukul
sebelas malam, aku minta emak menemaniku.
Sekaligus meminta izin pada pemilik warnet untuk menyelesaikan
tulisanku. Alhamdulillah mereka
memaklumi, meskipun dengan menambah biaya.
Kata penjaganya, uang lembur.
Seperempat jam, aku harus menyelesaikan abstrak dalam bahasa
Inggris. Dengan bantuan google translate
aku bisa menyelesaikan dengan lebih cepat.
Tinggal memperbaiki beberapa pilihan kata yang lebih tepat, memperbaiki
struktur dan bentuk kata kerjanya. Aku
berkali-kali melirik jam dinding warnet.
Sebelas lewat lima puluh tiga menit.
Keringat dingin mulai keluar.
Tapi aku berusaha untuk tetap tenang.
Aku membuka email. Semua file
dalam satu folder itu aku kirim satu persatu.
Alhamdulillah lima detik sebelum jam duabelas malam tepat, tertulis
notifikasi mail sent. Aku sujud syukur
saat itu juga. Di depan Emak yang penuh
cinta.
Hari Senin, aku sudah bisa berangkat ke sekolah. Bergabung kembali dengan teman-temanku para
pemburu mimpi dan harapan. Waktu seakan
selalu mau menang sendiri. Tak mau kalah
dengan seberapapun cepat kami melangkah.
Makin lama makin cepat, setahun serasa sebulan, sebulan serasa
sepekan. Sepekan serasa sehari dan
sehari serasa sekilatan api.
“Ndak kerasa kita sudah harus berpisah, ya, Gemi.” Sania menyadarkanku pilunya perpisahan
sambil membereskan tasnya. Kami keluar
dari laboratorium komputer tempat kami mengikuti UNBK. Sebelumnya kami pamit sama penanggung jawab
lab, Pak Muhtar.
“Gemi,
kamu ikut lomba karya ilmiah, ya?” tanya
Pak Muhtar mengagetkanku. Memang tiga
bulan ini kami focus mempersiapkan ujian nasional. Hampir-hampir aku lupa kapan pengumuman
lomba itu.
“Kok,
Bapak tahu?” tanyaku polos
“Apapun
yang kalian tulis dengan sarana komputer dari laboratorium ini di bawah
tanggung jawab dan pengawasan saya. Saya
juga melihat tulisanmu. Bagus dan punya
potensi buat memenangkan lomba itu. Ini
print out pengumuman pemenang lombanya.
Aku tatap dengan seksama deretan nama peserta yang jumlahnya lebih dari
lima ratus orang. Beberapa bercetak
tebal. Diantara yang bercetak tebal itu
ada namaku, juara I. Aku tidak percaya
dengan semua takdir yang menghampiriku.
Aku sungkurkan wajahku di atas karpet ruangan, mungkin inilah pertama
kali aku merasa benar-benar diperhatikan Tuhan.
***
Di
depanku kini bertengger gagah burung besi.
Pertama kalinya aku menaiki pesawat.
Kucium tangan Emak berkali-kali.
“Akhirnya
keinginanmu terkabul, Gemi. Pergilah,
Nduk. Raihlah karunia Allah
sebanyak-banyaknya. Dan jadilah kamu manusia yang bermanfaat untuk orang lain.”
Aku
tak mampu banyak berucap. Air mata ini
sudah lebih dari cukup untuk membahasakan segala rasa sesak di hati. “Mak, biarkan sayapku terbang tinggi. Aku akan kembali bersama gemintang yang
kupetik buat Emak. Atas nama cinta.”
Kupeluk
tubuh ringkih namun berhati baja di depanku.
Untuk kemudian terpisah ruang dan waktu.
Event Jejak
Ke-3_Cerpen Antariksa
JADI MAKA JADILAH
Siapa sih, yang mau
mendapat predikat keluarga paling miskin?
Pasti tidak ada yang mau menerima cap itu. Akan tetapi, semakin keluargaku menolaknya,
makin kuat bukti bahwa kami memang keluarga termiskin di kampung ini. Buktinya, demi melawan kemiskinan itu, aku
sebagai anak sulung harus menjadi asisten rumah tangga, begitu juga
adik-adikku. Semakin kuat julukan itu
tersemat untuk kami.
Pernah aku memergoki air mata
emak berlinang. Bude Sumi sedang memarahi
emak dengan kata-kata kasar. Sayup-sayup
aku mendengarnya dari luar rumah.
“Kamu itu memalukan keluarga
besar kita. Buat apa punya anak banyak
kalau tidak bisa kasih makan. Sudah aku
bilang jangan beranak terus. Kayak
kucing aja kamu. Sekarang kamu kesusahan
larinya ke aku. Giliran aku nggak punya
uang kamu jual tenaga anak-anak kamu.”
Mendengar kata-kata itu hatiku tidak bisa terima. Aku mengerjakan semuanya atas dasar rasa
kasih dan cintakuku pada kedua orang tuaku.
Ingin rasanya aku membalas. Tapi
aku urungkan niat karena nyaliku tidak mungkin melampaui rasa hormatku pada
Bude Sumi dan juga emak. Bisa-bisa yang
emak menjadi tumpuan cacian atas ketidak sopananku.
Aku hanya bertekad dalam hati
bahwa nasib keluarga ini harus berubah.
“Emak, suatu saat nanti aku akan membahagiakan Emak. Harga diri Emak tidak boleh direndahkan oleh
siapa pun.”
Di sela-sela hinaan mereka yang
memandang kami sebelah mata, aku merasa terhibur saat berada di tengah-tengah
keluarga Pak Subagja. Ternyata masih ada
yang memanusiakan kami.
“Liyah, bantu Ibu memetik kopi, ya!”
perintah Bu Parwati, istri Pak Bagja, majikanku. “Nanti kamu dapat tambahan dari banyaknya
kopi yang bisa kamu petik.” Tugas
memanen hasil kebon menjadi pekerjaan yang paling menyenangkan. Saat itulah aku berkesempatan menabung
sedikit demi sedikit. Meskipun aku tidak
berani bermimpi melanjutkan sekolah, aku terus menyisihkan hasil kerjaku tanpa
sepengetahuan emak.
Aku pergi ke kebon sore itu
bersama Neng Yunia. Salah satu puteri
majikanku, teman sekelasku. Kami
berteman karib, berbagai tugas rumah dan sekolah sering kami kerjakan
bersama.
“Liyah, aku dapet uang saku
tambahan dari Ibu,” kata Neng Yunia riang sambil memperlihatkan lembaran uang
seribuan. Waktu itu seribu masih sangat
berharga, cukup untuk membeli satu porsi besar mie-baso.
“Aku juga, Neng, Alhamdulillah.”
“Buat jajan baso, yuk!” ajak
Neng Yunia.
“Eemmmm, Maaf, Neng saya puasa
hari ini.” Aku terpaksa berbohong. Aku tidak mungkin menolak ajakannya dengan
alasan uangnya aku tabung.
Neng Yunia tampak kecewa dan
meninggalkanku sendirian.
Tiap akhir bulan aku menerima
gaji dari Ibu Parwati, dua puluh ribu.
Aku tidak berani sedikitpun memakai uang itu. Semua aku serahkan pada emak untuk kebutuhan
kami sekeluarga. Begitu pula adikku,
Lastri dia akan menyerahkan uang lima belas ribu untuk emak. Selebihnya, emak tidak pernah menanyakan apa
saja yang kami peroleh.
Aku terus memenuhi celengan
kaleng bikinan bapak. Aku tak ingin
mengusiknya, aku simpan bersama impian di dasar hati terdalam. Semua upah tambahan dari panen tembakau,
cengkih, kopi, jagung, kacang dan apa saja yang ditanam Pak Subagja di kebun,
sawah dan ladangnya yang luas.
Sampai tiba saat yang
menyakitkan buatku. Air mata ini tak
terbendung saat harus berpisah dengan Neng Yunia. Anak majikan sekaligus kawan karibku. Keluarga Subagja harus pindah ke kota karena
tugas dinas. Aku benar-benar lemas. Selama ini keluarga Subagja adalah majikan
yang paling baik yang pernah aku temui.
Selebihnya kebanyakan mengeksploitir tubuh beliaku. Bayangan esok makin tak menentu. Trauma menjadi asisten rumah tangga masih
lekat walaupun sedikit terobati setelah aku ikut keluarga Subagja.
“Neng Yunia, terus terang saya
berat berpisah dengan keluarga Neng Yuni.
Saya di sini merasa diperlakukan sebagai anggota keluarga, bukan
pembantu.” Aku mengadu kegalauan
hatiku.
“Aku juga nggak pingin pindah
jauh dari sini. Tapi apa boleh buat,
papa sudah membuat keputusan. Semoga
saja ada keluarga yang lebih baik dari kami, Liyah!”
Perpisahan
itu bagian dari takdirku. Aku harus
mencari tempat bernaung baru, memerah keringat, menegakkan punggung dari satu
pekerjaan ke pekerjaan lain tanpa jeda buat mengeluh.
Aku
sudah lulus dari sekolah menengah pertama.
Itu juga atas jasa baik Bu Parwati.
Tidak ada kendala untuk sekolahku.
Sebenarnya keterbatasan biaya membuat aku tak pernah bermimpi
melanjutkan sekolah. Kadang aku memotong
segala impian meskipun ianya masih di dasar hati dan belum sempat tumbuh untuk
kurangkai dalam pahatan doa-doa.
Penantian untuk kembali bekerja berakhir
juga, seseorang yang terlihat baik datang ke rumah kami untuk meminta aku jadi
asisten rumah tangga. Aku menerima
tawaran itu dengan sedikit ragu, tetapi mulut manisnya meluluhkan semua
kegamangan. Mang Darman, tetanggaku
menawari aku untuk bekerja di keluarga Aki Harja.
Hari
pertama aku bekerja di keluarga Aki Harja, aku tidak begitu memahami keadaan
sebenarnya. Aku hanya mendapatkan
gambaran dari Mang Darman yang menjadi perantara aku bekerja di sini. Aku menegarkan hati dengan niat untuk
membantu emak yang sudah sakit-sakitan.
Sementara bapak yang bekerja menjadi kuli di kota belum memberi kabar. Rasanya beban berat keluarga ini banyak
tertumpu padaku. Duh Gusti, berikan aku
kekuatan.
“Liyah,
ini upah kamu hari ini.” Mang Sulam,
menantu Aki Harja memanggilku. Aku menunduk malu bercampur takut. Aku sedikit memicingkan mataku. Sekelebat aku lihat kilatan matanya nakal dan
jalang.
Aku
melihat amplop tebal, upah harianku.
Meskipun aku membutuhkan uang tapi aku heran mengapa di hari pertama aku
sudah mendapat uang?
“Maaf,
Mang, saya baru sehari di sini kenapa saya sudah menerima upah?”
“Ambillah! Aku tahu ibumu membutuhkannya untuk berobat.”
Ragu
dan malu aku mengambil uang itu. Tapi
Mang Sulam memaksaku. Aku pun
mengambilnya.
“Eit,
tunggu dulu, ada syarat yang harus kau penuhi untuk menikmati uang itu. Ayo ikut aku!” Mang Sulam mengerdipkan
matanya. Aku tidak menaruh curiga, aku
pikir Mang Sulamlah orang terbaik di rumah ini.
Mang Sulam menarik tanganku. Aku
menurut saja, polos. Ia mengajakku ke
kamarnya. Tante Kartina, istri Mang
Sulam sedang pergi. Aku mulai takut dan
curiga dengan niat buruknya. Aku membaca
apapun yang penah diajarkan emak.
“A’udzubikalimatillahittaammah
min syari maa khalaq.” Akalku berputar
mencari cara buat menyelamatkan diri.
Napas Mang Sulam yang naik turun dengan kencang membuatku ketakutan. Ia mulai membuka pakaiannya. Jantungku berdetak kencang. Usiaku saat itu memasuki gerbang lima belas. Sedikit banyak sudah tahu gelagat orang yang
bersyahwat.
Mang
Sulam menyuruhku memijitnya. Aku
bergeming. Tiba-tiba ia menghampiriku
yang berdiri mematung di dekat pintu kamar.
Kakiku terpaku pada lantai papan rumah panggung besar dan antik
itu. Sorot matanya tajam seakan hendak
menelanku. Dalam sekejap pintu kamar
ditutup dan dikuncinya. Aku masih
terdiam. Di luar dugaanku Mang Sulam
menampar mukaku. Kerasnya membekaskan
gurat merah. Pedih.
“Maaf
Mang, saya belum pernah mengurut, takutnya malah salah urat.”
Tidak
ada pilihan lain, aku menurut saja.
Kalau tidak aku bisa babak belur.
Hatiku tak henti-hentinya berdoa.
Pertolongan Allah sangat dekat pada hambanya yang lemah. Tercium bau gosongnya masakan dari
dapur. Aku baru teringat sayur di atas
kompor belum diangkat, kompornya pun belum aku matikan.
“Mang,
saya lupa mematikan kompor. Minta izin
buat ke dapur sebentar.”
“Pembantu
sialan. Bisa-bisa kebakaran rumah ini
gara-gara kamu!” Mang Sulam marah
besar.
Aku mencari kesempatan buat lari sejauh
mungkin dari rumah yang mengerikan itu.
Aku tak bisa membayangkan kalau aku menjadi pembantu mereka. Tenagaku habis dan kehormatanku bisa tergadai
hanya dengan segepok uang. Aku pergi ke
dapur dan mematikan kompor. Mang Sulam
ada di belakangku. Mataku tertuju pada
cuka dapur di botol. Aku mengamuk
dengan garangnya. Aku percikkan senjata
ampuh itu tepat terkena matanya, entah darimana keberanian ini.
“Kurang ajar kamu. Jangan harap bisa lepas dari rumah ini.” Mang sulam mencari air untuk membasuh matanya
yang pedih. Aku mencari jalan lari dari
neraka ini jauh-jauh. Beruntung pintu
dapur hanya ditutup dengan palang bambu.
Aku membuka palang itu dan lari sekencang mungkin. Aku tidak peduli pakaianku dan semua bekalan
aku tinggalkan di rumah itu. Aku takut
Mang Sulam mengejarku dengan motornya.
***
Dengan bantuan tetanggaku yang sedang pergi
ke pasar kota, aku membonceng motornya untuk pulang ke kampung. Aku bersyukur bisa selamat dari ancaman
durjana di siang bolong itu.
Trauma dari keluarga Aki Harja membuat aku
enggan keluar rumah. Bayangan Mang Sulam
akan terus mencariku begitu lekat. Aku
hanya tinggal di rumah dan terus memohon pertolongan Allah.
Aku melepas mukena yang aku pakai untuk
salat Dhuha, aku kedatangan tamu. Kawan
sekelasku di sekolah dasar dulu. Ia
mengajakku bekerja di sebuah pabrik roti yang sedang membutuhkan pekerja. Aku tidak menyangka bahwa dari tempat kerja
itu nasibku sedikit banyak bisa berubah.
Tahun ketiga aku bekerja di sana, aku
bertemu dengan Mas Miftah. Ia berniat
melamarku. Aku tidak berani menolak,
apalagi setelah hasil istikharahku mengarah padanya. Ia datang dalam mimpiku, menjadi imam untuk
salatku di sebuah masjid. Entah dimana.
Hingga tahun kelima pernikahan kami.
keadaan ekonomi kami belum juga berubah.
Aku di bagian produksi dan Mas Miftah dibagian pemasaran. Sebagai buruh pabrik, penghasilan pas-pasan
saja. Kehadiran anak-anak sudah mulai
menuntut penghasilan lebih.
Kesedihan datang saat emak meninggal karena
penyakit hipertensi yang dideritanya.
Aku belum bisa menunaikan janjiku, meninggikan kehormatan emak yang
sering kali direndahkan orang.
“Mas, sepertinya kita harus memulai usaha
sendiri,” kataku pada suatu sore di
depan gubuk kecil kami. Ada tekad
mendalam untuk menunaikan janjiku pada emak.
Aku harus bisa membela bapak di masa tuanya, juga keenam adikku,
sebagaimana pesan emak semasa masih ada di antara kami.
Setelah terlibat perbincangan serius,
akhirnya kami memutuskan memulai usaha membuat roti kecil-kecilan. Awalnya hanya dititipkan di warung
tetangga. Segala suka duka kami lalui
sejak memutuskan berenti jadi buruh dan memulai usaha. Kami terus bersyukur bahwa kebutuhan makan
bisa terpenuhi dari hasil jualan itu.
“Aku tahu persis toko yang menerima
konsinyasi roti di kota ini. Kamu bisa
menambah produksi dan aku akan memasoknya ke beberapa toko yang selama ini
kenal baik dengan aku.” Mas Miftah makin
semangat membesarkan usaha kami.
Dengan ikhtiar yang terus menerus,
pemasaran roti kami merambah ke toko kue yang lebih besar. Kesyukuran yang tak pernah putus bahwa
produksi usaha kami sudah mencapai seratus kilogram tepung terigu. Modalnya aku dapat dari celengan buatan bapak
yang aku simpan di bawah kolong. Aku
baru tahu hikmah dari uang yang aku simpan itu.
Ternyata Allah menyediakannya untuk aku jadikan tambahan modal saat kami
membutuhkan.
Keuletan kami memproduksi roti dalam tiga
tahun telah membuahkan hasil yang manis.
Perlahan-lahan kami bisa menambah inventaris produksi, tiga oven besar,
tiga tabung gas, pernak-pernak pembuatan roti dan mesin penggiling adonan.
Tahun ketujuh kami sudah punya enam
pekerja, semua adik-adik dan kerabatku yang memerlukan pekerjaan. Termasuk sepupuku dari Bude Sumi. Aku tidak ingin dendam masa lalu memutuskan
silaturahmi di antara kami. Aku hapus
segala dendam dengan kesyukuran yang Allah anugerahkan.
Dari usahaku yang awalnya hanya membuat
roti, aku mengembangkan usaha lain yaitu ternak ayam dan penggemukan lele. Hasilnya lebih dari lumayan. Karyawanku kina ada duapuluh orang yang
begitu setia menjalankan tugasnya masing-masing
“Assalamu’alaikum, Bu Hajah Liyah, kami
panitia pemugaran masjid mengajak keluarga ibu untuk bersama-sama membangun
rumah Allah di kampung kita.” Seorang
tamu menawarkan surge sore itu. Aku tak
pernah menolak mereka bahkan aku merasa bersyukur saat ada orang yang datang
berarti kesempatan untukku beramal saleh.
“Saya ambil wakaf keramik dan kubah, Pak,”
ucapku pada Pak Muin sambil mengambil beberapa uang seratus ribuan dari
dompet. “Kalau masih kurang jangan
sungkan datang kemari lagi, ya, Pak.”
Aku tersenyum memandangi Pak Muin.
Dalam usia senjanya yang renta, ia masih semangat mengajak orang lain
untuk beramal.
Terasa benar nikmat berbagi yang sudah lama
aku impikan. Allah mengizinkan aku
mematahkan ketidakberdayaan yang membatasiku
untuk meletakkan tangan kananku di atas.
“Pak, doakan ya, tahun ini saya, Mas
Miftah, dan bapak mau ziarah ke tanah suci.
Semoga kami dapat menyempurnakan sarat dan rukunnya juga dapat pahala
haji mabrur,” pintaku tulus pada ahli ibadah di depanku itu.
“Masya Allah, Bapak ikut bahagia Bu,
akhirnya keluarga ini menjadi contoh tentang kebesaran Allah dan
karuniaNya. Kun fayakun dari Dia
Yang Mahakuasa telah menghilangkan segala keterbatasan dan ketakberdayaan.”
“Pak Muin, panggil saja saya Liyah. Seperti dulu Pak Muin memanggil saya. Saya tetap Liyah yang dulu.”
“Liyah, kalian memang selalu baik pada
siapa pun. Aku menjadi saksi pengorbanan
Mbak Yu Ginah, emak kamu. Dia selalu
berbagi walaupun kalian dalam kesempitan, karena sebetulnya aku lebih susah
dari kalian.”
Aku tertegun. “Terimakasih Emak, akhirnya keluarga kita
bisa melintasi semua keterbatasan, berkat kebaikan yang Emak tabur, kini kita
menuai buahnya.” Aku membatin teriring
doa dan Fatihah untuk emak yang telah mendahului kami sebelum aku sempat
berhaji bersamanya.
Event
Jejak Ke-4_Cerita dari Koding
BREAK
THE LIMIT
“Penderita
disabilitas” Predikat yang melekat pada
diriku, menyulut kebencian pada keadaan.
Cibiran demi cibiran sudah biasa aku jemput, dengan sekian kali ikut
testing CPNS. Gelar cumlaudeku, nilai
tertinggiku tiap testing menjadi sampah.
Semua terbentur pada test kesehatan.
“Bibi
bilang apa, Andika? Buat apa kamu
sekolah tinggi. Akhirnya nggak ada yang
mau nerima kamu.” Suara nyinyir Bibi
Shofia, adik ibuku yang satu ini selalu saja membuatku makin tersudut di pojok
kamarku yang selalu terasa sempit.
“Iyalah,
Bi. Aku tahu Bibi sakit hati sama
aku. Gara-gara ibu nekat nguliahin aku
dan nggak mau membantu memeriahkan pesta pernikahan Bibi Shofia waktu itu,
kan?” Aku nggak mau kalah.
“Bukan
begitu, maksud aku. Kamu cerdas,
Andika. Kenapa nggak ikut kursus
programmer komputer aja? Kamu bakal melewati disabilitas ini dengan lebih
merdeka.” Bibi memberiku saran yang
sulit kutangkap sinyal ketulusannya.
Biasanya dia yang paling membuat aku kecil hati. Lalu saran dia kali ini? Ah…entahlah!
Yang
jelas kini aku berada di ruang kursus computer milik Om Ibra, suami bibi. Baru aku menyadari nyinyiran bibi buat memantik
harga diri aku. Kadang-kadang tingkah
orang-orang terdekat sulit buat ditebak.
Aku
mulai tenggelam dalam kode-kode yang membuat kreativitasku tersalurkan. Rangkaian angka 1 dan 0 membuatku
tergila-gila dengan dunia maya. Semua
aku coba pelajari. Mulai dari bahasa
pemrograman C, C++, C#, PHP, Phyton, Java hingga Java Script. Dengan semua bahasa pemrograman itu aku lihai
membuat barcode, membuat aplikasi medsos, dan aplikasi finansial.
Jujur
aku berterimakasih pada bibiku yang satu ini.
Begitu aku mau mendalami bahasa pemrograman, aku langsung dimanja dan
diistimewakan dengan ruang khusus terlengkap di lembaga kursusnya. Ruang 6x7 meter persegi yang dilengkapi perangkat computer, wifi,
juga seperangkat server. Belum lagi spring bed dan kamar mandi khusus
ukuran 2x2 meter persegi. Juga lemari penuh buku referensi bahasa
pemrograman. Bikin aku makin betah.
“Melihat
perkembangan kamu, Bibi bangga, Dika!
Nggak salah aku sering menyebutmu jenius!” ucap Bi Shofia mengagetkan
kesendirianku.
“Semua
berkat fasilitas yang Bibi kasih juga.
Aku baru merasakan bahwa kehadiran orang terdekat itu penting.”
“Lho,
ini ruangan kamu sekat, ya, Dika? Buat
apa?” tanya Bi Shofia begitu menyadari ruangan ini sedikit lebh sempit.
“Betul
sekali, Bi. Maaf aku nggak minta izin
dulu. Ini ruang sembahyangku. Aku butuh relaksasi setelah seharian penuh
berkutat di depan computer.”
“O’ My
God, aku lupa kalau kau butuh musala khusus penderita disable. Sorry, Guys!
OK, aku nggak keberatan dengan sekat yang kau buat ini. Hanya bedeng dari kain tebal. Kamu kerjain sendiri sekat ini, Dika?”
“Bibi,
sekarang semua serba online buat apa aku susah-susah mengerjakan sendiri. Semua sudah menjadi ladang bisnis dan
pundi-pundi uang.”
Bi
Shofia tidak banyak bertanya lagi tentang ruangan itu. Ruang yang kurancang untuk menyatukan kode
rahasiaku dengan labirin Break The Limit (BTL), aplikasi rancangan terakhirku
yang hanya aku bagi pada orang yang tepat.
***
“Gempa
Lombok bukan gempa biasa. Jumlah gempa susulan sampai saat ini mencapai
355 kali setelah gempa utama adalah jumlah diluar kewajaran pengamatan BMKG.
Gempa ini sedang menjalar menuju Bali dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Indonesia dalam ancaman pihak yang tidak
bertanggung jawab.” Berita dari www.
inteligeNesia.com. Aku baca dengan seksama, aku mencoba meretas
programmer pengelola situs ini, terutama nama dan tanggal lahirnya. Aku menemukan nama Lilian juga kode
programernya, yess!!!
Aku
segera mengubah kode tanggal lahir 14041988
dalam barcode sederhana dalam kubus 8x8.
Muncul hitam putih. Hitam
mewakili angka 1 dan putih mewakili angka 0. Aku gabungkan dengan barcode
identitasku, 04121987. Aku memasuki
ruang BTL-ku. Dengan menyalakan tombol
infrared, ruang ini menjadi cukup gelap kemerahan. Barcodeku di ibujari kiri dan barcode Lilian
di ibu jari kanan. Aku cek Lilian, Online.
Ini akan menjadi pengalaman pertamaku memasuki labirin yang dipenuhi
kode digital 1-0.
Labirin Break The Limitku mendekati sempurna. Bismillah.
Aku menjadi susunan kode 1-0 yang teramat banyak dan Ahh!!!!!! Aku
memasuki labirin yang terus menyedotku dengan cepat. Dalam hitungan detik aku telah berada dalam
ruangan yang tidak pernah aku kenal sebelumnya…….
“Hai,
siapa kamu? Berani-beraninya memasuki
ruang kerjaku. Kamu terlalu lancang!
“ Gadis berkerudung biru, perpakaian
seragam militer bernuansa biru itu memarahiku sejadi-jadinya. Aku hampir kewalahan menjelaskan pada wanita
di depanku ini. Aku berikan saja secarik
kertas yang telahku siapkan sebelum memasuki labirin BTL-ku.
Dia
membaca dan mulai mengerti. Pandangan
iba mulai muncul dari sorot matanya begitu dia tahu aku lumpuh kaki. Aku yang terduduk di lantai, butuh tempat
duduk buat bersandar. Syukurlah
nampaknya dia wanita yang baik. Bukan
hanya kursi yang didekatkannya padaku tapi juga air minum dan makanan kecil
dari kulkas ruang kerjanya.
Perbincangan
kami mulai cair dengan kehadiran seorang wanita yang lain, namanya Mayor Viena
sedang Lilian berpangkat Mayor Jendral.
Karier yang cukup cepat untuk seorang wanita yang baru berusia 30
tahun. “Pasti karena kemampuan
kodingnya,” pikirku.
“Aku
merasa terpanggil untuk turut memperbaiki keadaan. Berita dari intelegeNesia begitu memaksaku
menyelesaikan aplikasi BTL-ku. Aku ingin
mematahkan semua keterbatasanku dengan aplikasi ini.” Aku menjelaskan panjang lebar.
“Aku
bisa memahami kebosananmu, Dika.
Berkutat dengan computer dan selalu dibatasi oleh dinding. Give applause buat kegigihan dan
keberhasilanmu menemukan aplikasi ini.”
Lilian dan Viena memberiku standing applause yang membuatku
tersanjung.
“Tapi
bagaimana dengan cara kamu kembali ke ruang BTL-mu, Dika? Jangan-jangan kamu takkan bisa kembali dan
keluargamu akan melaporkanmu sebagai orang hilang.” Lilian meragukanku, diiringi tawa renyah
Viena.
“Cukup
dengan menyalakan aplikasi BTL dan memindahkan Barcodeku yang tadi di kiri
menjadi di kanan dan barcode milikmu, Lilian, aku pindah ke kiri. Maka aku akan bisa kembali lagi”
Mereka
bernapas lega dengan penjelasanku. Kami
langsung membincangkan tentang ancaman pihak asing terhadap keselamatan
bangsa. Kami mulai membuka dan meretas
web yang berkali-kali mencoba hacking situs intelegeNesia. Langkah yang kulakukan untuk menemukan
identitas Lilian aku lakukan untuk menemukan web musuh. Dua jam kami berkutat tanpa henti dan
akhirnya berhasil. SolemnSo 23111986.
“Aku
terlalu lelah dengan pekerjaan kita kali ini.
Untuk menghentikan makar SolemnSo 23111986, kita membutuhkan ruang BTL di lembaga kursus
bibiku. Jadi kita harus berhenti untuk
hari ini,” kataku memutuskan.
“Jadi
kamu nggak butuh bantuan kita?” Tanya Viena polos.
“Tentu
aku butuh. Lagi pula kalian tega
melihatku ketahuan musuh dan menjadi sasaran kemarahan mereka?”
“Tentu
tidak, Dika. Kami butuh pemuda brillian
macam kamu. Aplikasimu akan aku
promosikan untuk badan intelijen kita.”
Lilian memujiku untuk entah yang ke berapa kali. Hampir-hampir membuatku merasa disukai. Ahhhh, enyahlah virus merah jambu yang lama
aku kubur bersama disabilitasku.
***
Banyak
kebahagiaan aku dapat hari ini.
Keberhasilan BTL-ku pulang dan pergi nyaris sempurna. Terlebih lagi pertemuanku dengan Lilian yang
memantik bahaga yang telah lama layu.
Langkah
pertama yang kulakukan tentu memasang pengumuman di depan pintu ruang kursusku.
“TIDAK
BISA DIGANGGU DALAM TIGA HARI INI!!!”
Targetku
mengendalikan situasi aku percepat, kasihan pada korban yang makin banyak dan
luasan bencana yang makin menyebar.
Notifikasi
Wa-ku berdenting, pesan dari Lilian masuk.
Dia dan Viena akan datang siang ini.
Mereka sengaja datang hari Ahad karena tempat kursus Om Ibra libur. Hanya aku yang menempati lembaga kursus ini.
Dengan
bantuan aplikasi google map, Lilian dan Viena hanya butuh waktu 15 menit
menemukan lembaga kursus Prince Computer ini.
Kami
segera memasuki ruang BTL dan barcode Mr SolemnSo sudah aku cetak rangkap tiga,
tiga barcode yang lain, milk kami masing-masing.. Applikasi BTL dari kami bertiga telah
aktif. Situs SolemnSo pun terdeteksi
online.
“Ingat
jangan sampai salah tempel, barcode tujuan harus ada di ibu jari tangan kanan
kita. Siap?” Aku nyalakan lampu infrared dan menjadi
komandan kali ini. Bismillah. Aku sentuh layar penghubung server. Lilian dan Viena mengikuti apa yang
kulakukan. Kami bertiga bertranformasi
dalam kode digital 1-0 dan tersedot menyusuri labirin sangat panjang.
Hanya
aku yang tampak tenang karena ini pengalaman ketigaku memasuki labirin digital
buatanku sendiri. Aku biarkan Lilian dan
Vena menjerit. Pikirku, wajar untuk
pengalaman pertama.
“Kalian
terlalu lama berteriak, kita bergerak makin cepat, berarti sebentar lagi kita
akan sampai. Jaga suara kalian atau kita
tertangkap.”
Akhirnya
Lilian dan Viena memilih diam.
Kami
berusaha sampai pada posisi yang tepat, sesuai dengan imajinasi kami masing-masing. Syukurlah aku berhasil menduduki kursi di
ruang itu. Tanpa bersuara. Lilian berdiri tegak sambil memegang sandaran
kursiku. Satu lagi yang membuatku
berbunga, berarti posisi yang pertama dibayangkannya adalah menyediakan kursi
untukku.
Ruangan
ini kosong. Yang bisa kukenal hanya
foto-foto mirip alien. Salah satu foto
SolemnSo, makhluk apa ini? Kepalanya
kecil matanya hanya segaris strip, telinganya menggelambir ke bawah.
“Kita
ada di ruang angkasa nampaknya. Atau di
planet alien?” Bibir Viena bergetar tak
dapat menyembunyikan rasa ngerinya.”
“Kita
tidak banyak waktu, sebelum SolemnSo datang, kita harus menemukan
sesuatu.” Lilian menegarkan diri.
“Lihat
layar itu,” Aku menunjuk ke layar peta bumi.
Lilian menyeret kursiku, bunyi deritnya mengkhawatirkan kami. Aku segera memperbesar zoom layar. Pulau Lombok berada pada tanda merah dan
terdapat garis tembak gelombang dari atas dan tertulis SolemnSo.
“Subhanallah! Nggak salah lagi kita harus mematikan layar
ini. Dan semua permainan akan usai!” Aku bergerak cepat mencari tombol power. Berhasil!!
Pada layar tertulis huruf capital warna merah, Attacking Stopped.
“Brak!!!“ Pintu ruangan dibuka oleh makhluk yang
mungkin….SolemnSo.
Kami
tidak peduli dengan kehadiran makhluk aneh itu.
Suaranya lebih mirip tabuhan kaleng seng. Sebelum resiko buruk menimpa kami, BTL-app kami aktifkan dan barcode kami tukar
supaya kami bisa pulang ke ruang BTL dan Bismillah. Kami memasuki labirin digital meninggalkan
makhluk aneh itu marah tidak karuan.
Event
Jejak Ke-5_Perjuangan
TEBING TERJAL PERJUANGAN
Ada
energi dalam hidupku yang kudengar lewat tutur bijak ayahku. “Besi tidak akan pernah menjadi pisau yang
tajam sebelum dia dipanggang di atas api hingga membara. Setelah itu, dia akan dipukul-pukul oleh
ahlinya hingga menghasilkan bentuk yang diinginkan. Demikian juga hidup manusia. Makin ditempa dengan penderitaan dan
kesulitan oleh Yang Mahakuasa maka ia seolah sedang dibentuk menjadi manusia
yang baik. Sedangkan sebaik-baik manusia
adalah mereka yang membawa manfaat buat orang lain.”
Kata-kata
bijak itu menginspirasiku untuk terus mendaki tebing terjal kehidupan yang
harus kulalui. Seolah menghitung hari
demi hari, setapak demi setapak perjalanan yang jauh berbeda dengan orang lain
yang dikaruniai kesempurnaan fisik.
Aku
dilahirkan sebagai anak tertua dari tiga bersaudara. Awalnya aku terlahir sempurna tanpa cacat
fisik, kecuali benjolan di daerah tulang punggung, sejajar dengan lingkar
pinggang. Aku tidak begitu mengerti apa
penyebab benjolan itu. Selama tidak ada
keluhan sakit aku tak pernah memedulikannya.
Sampai
kejadian itu menimpaku. Di usia sebelas
tahun aku bermain bola sambil berhujan-hujanan.
Aku terjatuh agak keras dan benjolan di punggungku mengalami benturan. Tidak ada rasa sakit yang berarti, hanya di
malam harinya panas tubuhku sangat tinggi.
Seorang
mantri kesehatan kepercayaan keluarga kami dipanggil untuk memeriksa
keadaanku. Aku diberi suntikan dan obat
beberapa macam. Semua saran dari mantri
kesehatan aku lakukan, termasuk menghabiskan obat yang diberikannya.
Harapan
untuk sembuh tidak kunjung datang. Yang
aku rasakan justru rasa nyeri di benjolan punggungku. Kian hari kian tak tertahankan. Aku hanya bisa menagis dan mengeluh pada
kedua orang tuaku. Aku tetap mencoba
bertahan dan tidak meraung karena takut membuat orang tuaku cemas.
Akhirnya
aku diopname di RSUD Temanggung untuk pertama kali di usia kelas satu SMP. Sejak itu aku menjadi penghuni rutin dari
rumah sakit ke rumah sakit. RSU Temanggung menyarankan agar aku dioperasi di
RSUD Magelang karena keterbatasan alat.
Di RSUD Magelang aku didiagnosa mengidap tumor yang berupa benjolan
sebesar setengah bola tenis itu. Aku
menjalani operasi namun tidak berhasil dan dirujuk untuk ke RSUP Yogyakarta,
Rumah Sakit Dr Sardjito.
Diagnosa
tim dokter mengatakan bahwa sumsum tulang belakangku mengalami kebocoran dan
berlubang. Lubang ini harus ditutup
dengan menempelkan tulang pada lubang itu.
Ibuku awalnya bersedia mengorbankan kelingking kakinya, akan tetapi dokter
mengambil keputusan untuk mengambil bagian lain tulangku yang memungkikan untuk
disayat.
Operasi
dinyatakan berhasil. Akan tetapi
keanehan selanjutnya terjadi. Kram kaki
yang tak terkendalikan membuat kaki kananku memendek dan kepekaannya
sangat-sangat berkurang. Kakiku yang
awalnya normal dapat dipakai berjalan, lama kelamaan tak mau diajak
kompromi. Otakku seakan tak bisa
memerintah kakiku untuk melangkah.
Kesedihan luar biasa menyelimuti hatiku dan tentu juga kedua orang
tuaku. Aku yang awalnya begitu bebas
dapat bermain bahkan ikut berburu ke hutan bersama ayah, menghirup alam bebas,
tiba-tiba hanya bisa berjalan merayap berpegangan apa saja yang ada di
sekitarku, Dari kursi ke kursi dengan
berpegangan meja atau apa saja yang dapat menopang badanku. Kaki ini sama sekali tak terkontrol oleh
keinginanku, kecuali dengan gerakan yang sangat lemah.
Aku
dinyatakan lumpuh dan harus mengunakan
kaki empat (walker) untuk menyangga tubuhku.
Aku harus menerima kenyataan untuk menjadi penderita disabilitas. Langkahku sangat terbatas. Awal-awal latihanku untuk berjalan dengan
kaki empat bukanlah hal mudah untuk kuterima begitu saja. Antara sedih, kecewa dan bertanya mengapa
takdir ini harus kualami. Mengapa aku
mendapatkan perlakuan berbeda dari Tuhan?
Atau kadang marah memaksa kaki ini untuk berjalan. Tapi semua itu sia-sia.
Aku
mencoba mengungkap segenap perasaanku pada kedua orang tuaku terutama
ayah. Kata-kata yang mengalir dari
tuturnya membuatku kuat dan menerima keadaan.
“Pakailah
ilmu santan. Kelapa harus dijatuhkan
saat diambil petani. Di bawah ia harus
siap untuk dikuliti. Batok kelapapun
diambil dengan cara yang tak mudah.
Daging buah kelapa harus dicukil dari tempurungnya. Kulit daging buah harus dibersihkan untuk
menghasilkan santan yang jernih, putih dan bersih. Tidak cukup sampai di situ,
kelapa akan diparut dengan ratusan duri, baru kemudian diperas untuk diambil
santannya.”
Aku
memutuskan untuk “move on” dari segala perasaan negatifku. Aku mulai membangun harapan demi harapan
dengan terus belajar dan belajar apa saja.
Tentu saja dengan dukungan ayah yang selalu membawakan aku bahan bacaan
dari perpustakaan tempat beliau mengajar.
Waktu luangku aku gunakan untuk belajar sendiri (autodidak) tentang
bagaimana melukis. Dan aku bisa melukis
mulai sketsa pensil, dengan cat air hingga cat minyak dengan media kanvas. Aku juga belajar fotografi dan cuci cetak
foto hingga pernah bisa menghasilkan uang dari keahlianku itu. Aku juga belajar membuat bonsai, hobbi yang
hingga saat ini terus aku jalani. Ya,
dalam keluangan waktuku yang tak ada kemampuan untuk bermain aku berkesempatan
membaca dan mempraktikannya hingga memiliki keterampilan.
Selama
bangku SMP aku praktis belajar di rumah.
Beruntung aku memiliki sekolah yang melayani siswa berkebutuhan khusus
sepertiku. Karena waktuku habis dari
rumah sakit ke rumah sakit, maka aku diizinkan tidak menempuh pendidikan
seperti siswa lain. Segala bentuk tugas
sekolah, testing dan ujian akhir kelas tiga diantarkan dimanapun aku berada. Bahkan
pernah aku sengaja diopname hanya untuk ujian akhir sekolah.
Lulus
SMP, ayahku memutuskan bahwa aku harus menjalani pendidikan seperti siswa lain
di tingkat SMA. Hal ini sangat
memungkinkan karena ayah melakukan pendekatan pada pihak sekolah untuk memberikan
fasilitas jalan yang bisa aku lalui.
Alhamdulillah aku mendapatkan kelas yang mendukungku untuk dapat
memasuki ruangan itu.
Awalnya
aku diantar jemput dengan mobil sewa yang pada waktu itu terasa cukup mahal
untuk keluargaku. Akhirnya ayah memutuskan
memboncengku dengan vespa. Dan ternyata
aku bisa dibonceng oleh ayah, suatu kebahagiaan yang luar biasa.
Suka
duka aku lalui selama sekolah di bangku SMA.
Kejadian yang memilukan dan sekaligus memalukanku, karena kontrol
terhadap alat ekskresi yang sangat lemah membuatku mengganggu seisi kelas. Kejadian yang hampir membuatku enggan
berangkat ke sekolah di hari-hari selanjutnya.
Selain malu aku juga trauma kejadian itu terulang kembali. Yang sangat aku syukuri adalah dukungan dari
kawan sekelas. Semua seolah ingin
membantuku untuk sama-sama harus lulus dari sekolah ini, SMAN I
Temanggung. Dan akhirnya aku selesai
juga menjalani masa SMA-ku.
Berhenti
satu tahun, orang tuaku kembali berikhtiar untuk kesembuhanku. Ketika jalur pengobatan konvensional gagal,
kami menempuh jalur alternatif. Satu
tahun ikhtiar, tidak ada hasil yang berarti.
Kami pun menyerah.
Ayah
menganjurkanku untuk kuliah. Pilihanku
jatuh pada universitas terbuka.
Satu-satunya jalur yang mungkin ku tempuh. Yang membuatku sangat terpaksa adalah
keterpaksaanku mengambil FISIP-Jurusan Tata Negara. Bayangkan, cita-citaku menjadi teknisi. Kegemaranku ilmu eksak terutama matematika
dan Fisika, jurusanku di SMA pun jurusan Fisika (A1 untuk istilah waktu itu).
Aku
hampir kehilangan semangat belajar.
Apalagi di UT (Universitas Terbuka) semua harus serba sendiri dan
mandiri. Sementara modul setebal-tebal
kitab suci terjemahan Depag cetakan pertama.
Saat
kesulitan memahami mata kuliah tertentu, kadang akau memukuli kakiku. Karena dialah aku harus berkubang pada
ketidaksukaan yang memaksa.
Akan
tetapi lagi-lagi nasehat ayah menjadi spirit bagiku. “Belajar itu menjadi bukti
rasa syukur kamu di hadapan Alloh.
Bukankan banyak orang yang ingin kuliah tapi tidak punya kesempatan. Ada yang mampu tapi tak mau. Ada yang mau tapi tidak mampu. Bersyukur ayah mampu menguliahkan kamu. Kesempatan pun ada meskipun harus belajar
sendiri di UT. Program ini Alloh
sediakan untuk kamu yang Dia uji dengan sakit seperti ini. Bukankah ini kemudahan dariNya?”
Akhirnya
aku “move on” untuk kesekian kalinya.
Aku mulai mencoba cara belajar gayaku sendiri. Aku bagi buku-buku tebal itu sesuai waktu
yang tersedia sampai mata kuliahnya diujikan.
Ada target halaman perhari, target perminggu, target perbulan. Sementara hari minggu aku pakai untuk
mengulang apa yang telah aku baca setiap harinya.
Dengan
cara belajar ini akhirnya aku dapat melalui masa kuliahku yang cukup berat
untuk belajar sesuatu yang tidak aku suka.
IPK-ku berada dalam predikat sangat memuaskan dengan nilai lebih dari
3,5. Hanya saja karena ada beberapa
biji bernilai C, aku tidak mendapat predikat cumlaude. Alhamdulillah tidak sia-sia segala keringat, air mata dan kesedihan.
Selesai
kuliah aku tidak segera melamar pekerjaan.
Aku meminta pada ayah untuk bisa mengikuti kursus komputer. Di awal tahun sembilan puluhan, belajar
komputer adalah sesuatu yang sangat keren dan keakhian bidang ini dibutuhkan
oleh banyak lembaga.
Aku
menjalani kursus dengan sangat senang hati.
Aku merasa menemukan kegemaranku yang terpasung dalam empat tahun aku
kuliah. Dalam kursus setengah tahun ini
aku manfaatkan benar untuk belajar dari tahap dasar hingga belajar bahasa
pemrograman. Lagi-lagi Alloh memberiku
kemudahan dan aku berhasil menjadi programmer.
Memasuki
dunia kerja untuk pertama kali, aku menjadi guru honorer di almamater
tercintaku, SMA I Temanggung. Aku
menjadi pengajar TIK, sambil terus mencoba mengikuti test PNS. Semua tahap berhasil kulalui. Bahkan dengan nilai tes tulis tertinggi,
tapi selalu terjagal di tes
kesehatan. Hingga berkat doa ayah dan
terutama ibuku, aku dimudahkan oleh seseorang berhati mulia. Kepala BBRSBG (Balai Besar Rehabilitasi
Sosial Bina Grahita) yang saat itu bernama RPCM (Rehabilitasi Penderita Cacat Mental)
membantuku sepenuhnya untuk menjadi tenaga ahli administrasi dan manajemen
teknologi informasi di kantor itu.
Alhamdulillah
akhirnya aku diterima sebagai PNS.
Sesuatu yang jauh tak terbayangkan olehku saat aku baru saja menjadi
penderita disabilitas. Sesuatu yang
membuatku merasa tak akan bisa berbuat apa-apa, tidak mampu menjadi apa-apa.
Perjalanan
waktu mengajariku untuk terus bersyukur.
Pendakianku pada tebing terjal kehidupan ini selalu memberiku pengalaman
hidup yang kadang tak pernah aku duga.
Sekian banyak doa mungkin tak menghampiri kenyataan hidupku, namun
sebaliknya hadiah indah Alloh berikan tanpa aku memintanya. Salah satunya terpilihnya aku menjadi instruktur
nasional manajemen perkantoran yang terkomputerisasi. Kesempatan ini membuatku begitu mudah menaiki
pesawat dari satu pulau ke pulau lainnya di Indonesia.
Fabiayi
aalairobbikama tukadzdziban. Maka nikmat
Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kamu dustakan.
Event Jejak Ke-6_Kisah di Sekolah
BINAR EMBUN KEIKHLASAN
“Ayolah,
Miqdam, kamu harus segera kembali ke pondok! Sudah sebulan kamu di rumah. Banyak waktu mubazir, Nak. Tidur, nonton tivi, main ke rumah temen. Mama lihat kerjaanmu itu saja. Sayang dengan ibadahmu yang begitu banyak di
pondok tidak bisa kau istiqamahkan di rumah.”
Mama berulang kali membujukku dengan berbagai cara. Tapi aku bergeming. Belum ada gerakan hatiku untuk segera
berangkat ke pondok lagi.
“Mama, Miqdam masih gatal, nih. Belum sembuh benar. Nanti kalau kambuh, Mama lagi yang
repot. Please, Ma, Miqdam belum siap
buat pulang ke pondok. Miqdam janji
bakalan mejaga amalan yang Miqdam kerjakan di pesantren.”
Keputusan harus segera aku ambil, terus
atau putus. Bekas guratan sakit kulit
menyisakan rasa malas kembali ke pesantren.
Hatiku seakan digelayuti beban berton-ton. Di atas dipan kamarku aku sapukan pandangan
ke seluruh ruangan. Mataku terhenti pada
sebingkai hiasan dinding. Tulisan tangan
berisi bait-bait nasihat, entah siapa
yang menulis dengan guratan indah itu, mungkin kakek. Ia seorang wartawan sekaligus seniman yang
belum terbuncah ke permukaan dengan kemasyhuran.
Baru kali ini aku melihat tulisan itu. Aku yakin ibu yang menggantungkannya di
dinding kamarku. Tiba-tiba aku ingin
membaca.
“Anak-anakku yang kucintai. Kini aku relakan engkau berjalan dan
kuikhlaskan engkau pergi. Semoga engkau
mendapat tuntunan iman dan petunjuk Allah yang Mahasuci. Sekarang ini saya sudah tua, siap menunggu
panggilan. Doakan Husnul Khatimah dan
Pesantren tetap menjadi medan
ibadah. Allahumma Aamiin.”
Berjalanlah anakku... Tujulah pulau idaman. Sebarkan benih di tangan... Tuhan Allah menyertaimu. Tunjukkan baktimu pada ummat, perlihatkanlah
darmamu pada masyarakat. Maskipun hanya
guru ngaji di langgar kecil, ganjarannya mungkin melebihi pembesar Negara. Allah Yang Maha Mengetahui akan memberimu
rahmat.
Selamat jalan anakku... Selamat jalan pahlawan! Ya Allah lindungilah
dia!”
(Wasiat KH. Zainal Arifin, Pelepasan
yang Mengharukan)
Ternyata nasihat itu dari Pak Yai tempat
aku mondok. Barisan kalimat itu
menamparku lembut. Aku seakan mendapat
teguran dari sana, “Kalau kamu mundur, kamu bukan pahlawan tapi pecundang. Kalau kamu terus berarti kamu lulus. Insya Allah tidak akan sia-siakan segala
pengorbananmu sejauh ini. Dapatkan benih-benih
ilmu dan amalan yang akan kau semai di tengah umat dan masyarakat. Berbakti meskipun menjadi guru mengaji dengan
hanya satu santri.” Batinku turut
menguatkanku untuk segera kembali ke pesantren.
Saat aku datang, teman-teman satu kamarku
berekspresi gembira. Ingatanku pada
keseruan berakitifitas bersama mereka adalah bahan bakar yang penuh energi
untukku berjuang.
Aku bersyukur berada di tempat ini,
mendapat guru dan sekaligus orang tua.
Di masa tumbuh kembang usia belasan tahun, saat masih dalam tahap
pencarian jati diri Allah rezekikan aku
mendapat bimbingan dari guru. Seseorang
yang begitu ikhlas mendedikasikan hidup untuk membentuk insan Rabbani. Beliaulah KH. Zainal Arifin.
Aku takkan pernah melupakan didikan beliau
yang tulus. Tidak pernah 'nuput' (bahasa
kami untuk mereka yang menjaga wibawa atau jaga image alias jaim untuk bahasa
anak sekarang). Saking ikhlasnya, beliau
tidak pernah peduli pandangan manusia terhadap dirinya. Yang beliau pedulikan adalah pandangan Allah
dan bagaimana santri bisa berkembang menjadi insan yang baik dan mulia.
Pelajaran berharga yang aku rasakan adalah
nilai-nilai kedisiplinan dan kesungguh sungguhan. Karena tuntutan itu, kami selalu berusaha
melakukan tugas sebaik mungkin.
"Miqdam, You have to be MC for the
important event tomorrow?"
tanya Mahrus saat aku berlatih membaca susunan acara.
"Yes, wish me lucky, OK?"
Saat itu pekan bahasa Inggris sedang diterapkan di asrama.
Keistimewaan pondokku, semua kegiatan
selalu harus rapi dan berjalan lancar.
Kuncinya pada gladi kotor bersama pengurus dan gladi resik langsung dipantau oleh
pimpinan pesantren, KH. Zainal Arifin.
Malam itu, aku optimis akan dapat menjalankan latihan sebagai MC dengan
baik. Saat gladi kotor tidak ada
kendala.
"Do your job well, don't make our rois
dissappointed!" Akhi Junaidi sebagai penanggung jawab kepanitiaan
mengingatkanku
Aku menaiki panggung aula dengan percaya
diri. Pak Zain (demikian panggilan akrab
kami pada KH. Zainal Arifin yang penuh wibawa itu) berdiri tegap mengawasi kami.
"Susunan acara penyambutan tamu resmi
Pondok Pesantren Modern Darul Akhirah , 23 November 1984, pertama pembukaan,
kedua......"
"Tolol... Tolol...
Tolol..." Tiga perkataan
yang sering kami dengar saat beliau tidak berkenan. Aku langsung menghentikan pembacaan. Jantungku berpacu tiga kali lebih cepat. Keringat dingin merayapi punggung dan mukaku.
Innalillahi wainna ilaihi raaji'un. Lajaula walaaquwata illa billahil 'aliyil
aziim. Aku penuhi hatiku dengan
dzikir. Adakah yang tidak beres dariku.
Penampilan, cara membaca teks atau apa? Aku galau sendiri, aku merasa tidak
berbeda dengan cara aku membaca saat gladi kotor.
"MC terlalu lambat membawakan
acaranya, ganti!" Keputusan beliau
tidak bisa diganggu gugat, aku harus tahu diri dan segera turun dari panggung
aula. Mungkin wajahku saat itu sudah
pucat pasi.
"So sorry, Miqdam I have to shift
your job." Mahrus yang sudah terbiasa menjadi MC langsung ditunjuk Pak
Zain menggantikanku.
Ada rasa kecewa sesaat atas gagalnya
penampilanku. Anehnya rasa kecewa itu
justru membuatku ingin berhasil suatu saat nanti. Aku baru menyadari dengan berjalannya waktu,
bahwa keikhlasan beliau telah menjadi bagian dari proses pembentukanku. Pembentukan untuk menjadi insan yang utuh,
selalu siap menerima keadaan apapun. Ada
pelajaran berharga untuk selalu berbaik sangka pada guru.
Terlalu banyak kenangan indah bersamanya,
pengorbanan demi pegorbanan membinarkan pancaran keikhasan hati. Meskipun organisasi pelajar selalu siap
untuk menjadi perpanjangan tangan Pak Yai tapi beliau selalu terdepan
membimbing kami. Membangunkan
qiyamullail, mendampingi salat wajib, membimbing halaqah, memberi tausiah
adalah kegiatan rutinnya. Bukan hanya
itu, bahkan saat makan pun ia selalu berusaha hadir. Tak mengherankan, kami sangat dekat
dengannya, meskipun ada rasa segan karena takut salah di mata beliau.
“Kalau aku meninggal jangan kalian tangisi
dengan air mata dan ratapan, tapi hiasi perbuatan kalian dengan nasihat dan
pesan-pesanku,” pesan Pak Yai beberapa hari sebelum dirawat.
Dalam kondisi kritisnya, kami sedang
belajar di pondok. Kami menerima kabar
kewafatan begitu jenazah alahuyarham enam petang. Karena tidak ingin mengganggu santri yang
sedang ujian, beliau berpesan unntuk dibawa ke pesantren sekitar pukul sebelas
malam. Aku yakin ia tidak ingin disambut
dengan kesedihan para santi.
Kesedihan meliputi langit di atas Darul
Akhirah. Seluruh keluarga besar pondok
pesantren modern bergerak cepat. Semua hak terhadap jenazah segera dilakukan.
Memandikan, Mengafani bukan oleh kami
karena pengumuman kewafatannya pun hanya dari telinga ke telinga. Luar biasa sampai pada saat wafatnya pun
beliau tidak mau mengganggu proses belajar santri.
Bakda Asar beliau disholatkan oleh seluruh
keluarga besar pondok. Selamat tinggal
wahai guru, nasihatmu akan kami amalkan, ilmu darimu akan kami sebar luaskan
dan cita-citamu akan kami realisasikan sekemampuan kami.
Mataku menghangat, ada rasa pedih di sana.
Pandanganku perlahan buram, genangan itu siap untuk tumpah. Bagaimana kami tidak bersedih ditinggalkan
oleh seseorang yang mewakafkan dirinya, mengorbandan waktunya untuk
perkembangan kami. Sebagian santri sampai pingsan kehilangan guru yang amat
berjasa. Kami tak peduli sebutan cengeng
atau lemah. Tapi ekspresi mahabah telah memenuhi hati dan perasaan kami
KH. Zainal Arifin dimakamkan di pemakaman
keluarga, tepat di samping asrama kami
Guruku, banyak hal yang aku dapat selama kita bertemu. Keikhlasanmu
adalah cermin yang aku bawa kemanapun aku pergi.
Masih terbayang betapa kemarahanmu adalah
bagian dari perjuangan karena Allah. Kau akan berdiri paling depan saat
disiplin santri, pengurus hingga ustaz sekalipun tidak ditegakkan. Di hadapanku
engkau bagaikan singa Allah dalam dakwah dan tarbiyah.
Berbaris-baris bahkan ribuan baris kata
hikmah, keikhlasan nasihat darimu masih berjajar rapih di buku harianku.
“Ada keindahan dalam memaafkan dan meminta
maaf
Bila
datang berita ada seseorang membencimu maka kirimkan hadiah untuk yang
membencimu itu. Insya Allah akan berubah menjadi cinta dan kasih sayang
Ketika kesusahan dan kesulitan
datang...berbahagialah karena Allah akan memberikan kemudahan, nantikan dengan
penuh kerinduan kejutan dariNya, entah apa karena masih rahasia. Maka
tetaplah tersenyum
Biarlah segala kekurangan ini membuatku ingin
mendekatiMu, merasa membutuhkan pertolonganMu
Tiap peristiwa adalah panggilanNya. Kita
dapat rasakan panggilan mana yang paling indah...Sungguh segala rasa kehambaan
itu seperti janatun al ajilah
Kebahagiaan
sejati adalah saat kita menjadi jalan bagi kebahagiaan orang lain.
Bila dua hamba saling berkasih sayang di
jalanNya maka karunia Allah menyertai mereka, kelapangan dada adalah nikmat
yang sangat indah.
Jangan pernah mengorek masalah karena masalah
itu akan bertambah besar menyelimuti hati kita. Bila ada masalah pikirkan
bagaimana kita menjadi bagian dari solusi
Cukupkan bahagia itu dengan selalu ingin
menghargai orang lain. Sekecil apapun penghargaan akan bermakna bila diliputi
keikhlasan.
Milik kita adalah hari ini. Karena hari yang
lalu tak mungkin kembali tuk diperbaiki. semua tertulis dan tercatat, tidak
pula terhapuskan. Sedangkan hari esok masih sangat2 rahasia. Berbuat sebaik
mungkin di hari ini berarti memberi kebaikan untuk diri sendiri. Segala
perbuatan akan kembali pada yang berbuat apapun itu.
Dari bangun tidur hingga tidur lagi kita
jumpai sekian banyak pilihan kata, pilihan sikap dan keputusan. Beruntunglah
yang dapat memilih dengan berserah pada keredhoan Allah
Tidak ada yang salah dengan masalah, masalah
sebenarnya timbul ketika kita salah menyikapi masalah. Tidak ada yang harus
disedihkan dari penderitaan justru kesedihan muncul ketika salah menykapi
penderitaan itu sendiri.
Dicaci adalah anugerah bila dengan dicaci itu
menambah kedekatan kita pada Allah SWT. sanjungan menjadi musibah bila membuat
kita sombong dan jauh dari Allah SWT.
Begitu pula keterbatasan dan kelebihan yang kita miliki. Tidak perlu
khawatir dengan keadaan yang menimpa kita yang harus kita khawatirkan adalah
bila suatu keadaan membuat kita jauh dariNya.
Pakailah ilmu kelapa, jatuh dari ketinggian, dicabik hingga
gundul, dipukul hingga pecah, dicukil dan dikuliti, diparut dan diperas,
barulah ia menghasilkan santan yang berguna. Itulah saripati tauhid akan hadir
setelah melewati berbagai rintangan, celaan, hinaan dan ujian hidup. Makin
sabar makin dekat seseorang dengan hakikat kebenaran.
Ciri kesombongan adalah merasa diri kita
lebih baik dari orang lain atau merasa orang lain lebih buruk dari kita
Keberuntungan terbesar adalah mengenal Allah,
memungkinkan kita memohon dan berharap hanya pada-Nya
Di antara sebab yang membuat penolakan
seseorang untuk nikmat Allah itu adalah berpikir begitu berat pada kedatangan
ujian, sehingga melupakan nikmat yang tak terhitung jumlahnya dari Allah, fa
biayyi aalaai robbikumatukadzibaan.
Salah satu tingkatan yang tinggi dalam sabar
adalah meninggalkan sesuatu demi keridhoan Allah SWT. Mungkin ada kesedihan,
ada kehilangan dan merasakan berbagai hal yang tidak menyenangkan menurut
nafsu. Namun yakinlah ketika kita berhasil meninggalkannya akan terasa manisnya
iman buah dari rasa penghambaan. Sebaliknya bermaksiat pada Allah mungkin akan
menimbulkan kesenangan, kegembiraan sesaat menurut nafsu. Namun ketahuilah di
sebalik itu siksaan karena hilangnya kemanisan iman akan membuat derita yang
berkepanjangan.
Rasulullah SAW berpesan bahwa perbedaan itu rahmat dan
perpecahan itu laknat. Bukankan perbedaan muncul karena proses belajar,
mengaji, mendalami untuk memperoleh pemahaman Islam? Proses itu pula terjadi
karena adanya kecintaan pada Agama, anggapan bahwa agama harus dipelajari,
dipahami dan dipentingkan sebagai bimbingan hidup.
Perbedaan pandangan dan perbedaan pendapat
tentang Islam tidak akan pernah muncul diantara mereka yang lalai terhadap
agamanya. Jangankan untuk berpendapat dalam hal agama, menganggap penting
agamanya pun tidak.
Jadi tidak ada gunanya saling bertentangan
dan berpecah belah...yang terbaik adalah saling memahami mengapa pendapat yang
berbeda itu muncul dan mencari jawaban mengapa saudara kita berpendapat sedemikian
rupa.
Allah SWT menciptakan segala sesuatu
berpasangan, silih berganti senang dan susah, kesulitan dan kemudahan. Bila
kesulitan dan kesusahan datang....cukuplah itu menjadi jalan kita merasakan
betapa Allah sayang, menegur kita untuk mengurangi beratnya hari pembalasan,
Hisablah kesalahan dan dosa diri hingga air mata pengakuan dan penghambaan itu
menjadi kenikmatan batin dan pengalaman rohani yang teramat sangat indahnya.
Yang mungkin hanya bisa kita rasakan saat kesulitan dan keterbatasan datang.
Allah swt berfirman:"Dan Sungguh akan
Kamiberikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekuranganharta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada
orang-orangyang sabar." (QS 2: 155)
Yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar
pada ayat di atas: "(yaitu)orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka
mengucapkan "Inna lillahiwa inna ilaihi rajiun". (Qs 2: 156)
Bila semua ada dalam genggaman Allah SWT
dengan segala kesempurnaan pengetahuanNya...maka tidak ada alasan untuk takut,
khawatir ataupun ragu menghadapi rahasia yang belum terjadi.
Ikhlas itu berbuat hanya untuk Allah SWT,
tidak peduli hasilnya ternikmati atau tidak oleh kita. Bahkan mungkin yang akan
menikmati adalah orang yang tidak menyukai kita. Yang jelas kebaikan akan
mengalir sebagai jariah yang tidak akan terputus hingga alam keabadian. Pujian
tidak menambah semangat dan cacian tidak membuat patah arang.
Ketika hatimu tidak rela menerima keadaan
yang kau alami, lapangkanlah hati untuk meyakini semua ketentuan adalah haq
Allah kemudin teruslah memilih tindakan dan rasa yang paling Allah cintai
Rasulullah adalah sosok yang membawa rahmat
bagi seluruh alam. Cinta, kasih, sayang
beliau begitu tulus, tak ingin menyakiti apapun dan siapapun. Beliau tak pernah pedulikan apa yang beliau
dapat sebagai balasan kasih yang dipancarkannya. Meskipun hinaan, cacian,
makian sering beliau terima namun lantunan doa selalu beliau mohonkan untuk
kebaikan dan hidayah bagi mereka yang membenci, mencaci dan menghinanya.
Ridho dengan tiap ketentuan Allah adalah
sumber kebahagiaan, meski kadang kenyataan sangat jauh dari apa yang
diinginkan. Maka tiap orang memiliki peluang yang sama untuk meraih kebahagiaan
tanpa terikat materi ataupun hal yang bersifat lahiriah. Disinilah kita sadari
betapa Maha Adilnya Allah SWT.
Berbuat baik dengan ikhlas karena Allah tidak
pernah menakar apa yang didapat atau balasan apa yang diterima dari orang lain
tetapi kebaikan apa yang bisa diberikan untuk orang lain
Bila Allah SWT mencintai seorang hamba maka
Ia akan mengambil apa-apa yang dicintainya hingga cinta hamba itu hanya untuk
Allah SWT saja.
Kebahagiaan dan kesyukuran ketika Kau bimbing
aku menyuarakan kebenaran...atau paling tidak hati ini mau menerima kebenaran
terima kasih wahai yang paling penyayang diantara yang penyayang
Bila ada hiburan yang baik dan bukan sekedar
tontonan, tidak ada alasan memilih hiburan yang jauh dari tuntunan.
Bagi orang yang beriman tiap peristiwa adalah
sapaan Allah SWT agar kita kembali pada jalanNya. Namun bagi orang yang lalai
tiap peristiwa tidak menyisakan pintu hidayah sedikitpun karena dianggapnya
dosa bagaikan lalat yang hinggap di wajahnya, dengan mudah diusirnya kemudian
seperti tidak ada apa-apa.
Tidak ada gunanya dendam, iri dan dengki
meski itu tertuju pada orang yang mendzolimi kita. Tetaplah pada jalan yang
lurus maka saksikanlah suatu saat Allah SWT akan menampakkan ke-Maha AdilanNya
Mengapa iri dengki sangat dilarang? Karena
hati yang dipenuhi iri dengki berarti penentangan terhadap sifat rahman rahimNya
Allah SWT yang berarti tidak merelakan Sang Maha Kasih memberikan karuniaNya
pada orang lain.
Kala terasa tiada cinta yang menyapa cukuplah
keyakinan bahwa tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.
Berusaha memberi cinta tanpa menanti balasan rasa seperti contoh Rasulullah
dalam mewujudkan rahman rahimNya
Dibutuhkan cara pandang yang berbeda untuk
merasakan kebahagiaan pada tiap keadaan. Yaitu ketika sumber bahagia itu ada
pada ridho Allah dan keyakinan atas karuniaNya yang akan selalu mengiringi
ketaatan padaNya.
Dia tahu segala sesuatu hingga apa yang ada
dalam hati kita. Maka jangan pernah kehilangan harapan untuk menjadi lebih baik
hari demi hari
Mata diciptakan Allah sebagai bekal manusia
menemukan Dia lewat kebesaranNya yang hadir tiap saat dan dapat kita lihat.
Telinga diciptakanNya untuk mendengar panggilanNya hingga kita sampai pada
keimanan. Hati diciptakan untuk merasakan keberadaanNya di tiap detik waktu.
Akal diciptakan untuk memikirkan ciptaanNya hingga kita sampai padaNya.
Cinta, Siang, Malam, Harta, Doa semua
untukMu...Adalah ungkapan kemerdekaan sejati seorang hamba. Maka tiada satu pun
rasa hina dan berat untuk beramal, semua karena Allah bukan karena manusia.
Hingga amalan itu menjadi amalan akhirat yang kekal, mendampingi kita saat
perjumpaan dengan Allah SWT.
Hamba Allah yang beruntung adalah mereka yang
memiliki rasa
1.
Beruntung mengenal Tuhan yang Maha Sempurna. Yang padaNya kita menggantungkan
segala harap dan permohonan
2.
Beruntung ketika hatinya selalu rela pada apa yang dipilihkan TuhanNya
3.
Beruntung ketika cinta, hidup, siang, malam, harta, doa, usaha semua untuk
Tuhannya
Tiga ciri jalan dakwah:
1.
pengikutnya sedikit
2.
rintangannya banyak
3.
ujung yang dituju masih sangat panjang
Perjalanan
yang melelahkan, kecuali yang ikhlas bergantung pada Allah
Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita untuk
tidak benci/cinta secara berlebihan karena kadang keadaan begitu mudah
berbalik. Atau jangan pernah memperolokkan nasib seseorang sekecil apapun
olokan itu...karena betapa seringnya orang yang memperolokkan itu bernasib sama
suatu saat/suatu ketika. Meski keadaan tak akan serba sama, namun nuansanya
serupa.
Diantara salah satu sunnah Rasulullah yang
utama adalah membalas keburukan orang lain dengan kebaikan. Maka akan terasa
indahnya keimanan
Kita sesungguhnya bukan penduduk bumi ini,
kita hanya menggantikan orang-orang terdahulu. Dan kelak kita akan digantikan
oleh orang-orang kemudian. Sesungguhnya tiada harta yang kita punya, kita hanya
memakai apa-apa yang pernah dipakai orang-orang sebelum kita. Kalaupun ada yang
baru dibuat atau diciptakan fanaadanya dan akan kita tinggalkan.
Pakailah ilmu kelapa, jatuh dari ketinggian,
dicabik hingga gundul, dipukul hingga pecah, dicukil dan dikuliti, diparut dan
diperas, barulah ia menghasilkan santan yang berguna. Itulah saripati tauhid
akan hadir setelah melewati berbagai rintangan, celaan, hinaan dan ujian hidup.
Makin sabar makin dekat seseorang dengan hakikat kebenaran.
Mengapa kita mesti marah atau kecewa bila
datang ujian berupa sesuatu yang tidak mengenakkan. Bukankah dengan begitu akan
datang berita gembira berupa kemudahan. Jadi apa pun keadaannya....yang penting
nikmati aja. Itulah bahagia.
Dunia dan seisinya tidak akan mendatangkan keajaiban
apapun, sesungguhnya Allahlah pemilik keajaiban itu. Segala sesuatu terjadi
atas izinNya, mengapa tidak kita ketuk pintuNya untuk memohon izin atas
permintaan, harapan dan keinginan kita. Ketukan yang penuh adab, penuh harap
dan kesungguhan. Maka tunggulah keajaiban itu akan datang sebagai jawaban atas
segala masalah dan keadaan”
Aku merasa beruntung mengenal
sosok Pak Yai. Bening binar pendar keikhlasan itu terpancar dalan kata,
tindak tanduk dan nasihat yang terabadikan dalam cerotan pena di atas buku
harianku ini.
Event Jejak Ke-7_Esai
Pengorbanan_
TETES KERINGAT UNTUK GENERASI LITERAT
Kerisauan akan rendahnya
minat baca terbaca ketika peserta didik dari Indonesia menempati peringkat
ke-57 di tahun 2009 pada even PISA (Programme
for International Student Assessment ). Bahkan di tahun-tahun
selanjutnya peringkat kita lebih buruk lagi ,
yaitu ke-64 di tahun 2012 dengan skor yang sama yaitu 396. Skor ini
tertinggal jauh dari skor rata-rata 65 negara sebesar 493.
Rendahnya
skor yang diperoleh peserta didik disebabkan beberapa faktor terutama rendahnya
daya baca dan secara otomatis menjadi kendala bagi siswa dalam memahami dan
mengidentifikasi masalah. Ketika kemampuan mengidentifikasi masalah
kurang, maka lebih sulit lagi untuk memecahkan permasalahan. Bagaimana
mungkin kita mampu memecahkan permasalahan sedangkan masalahnya apa kita tidak
mengetahuinya.
Patut
disyukuri bila pemerintah mencanangkan program GLS (Gerakan Literasi Sekolah)
dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23
Tahun 2015 sebagai payung hukumnya . Kegiatan utama yang dicanangkan pemerintah
berupa pembiasan membaca 15 menit perhari sebelum kegiatan belajar
dimulai. Harapannya, peserta didik memiliki minat baca yang tinggi,
daya serap terhadap informasi membaik, sehingga penguasaan terhadap ilmu
pengetahuan meningkat bahkan bisa teraplikasi pada tingkat teknis.
Beberapa
kiat membudayakan literasi di sekolah dari tahap pembiasaan membaca,
peningkatan kemampuan menulis, berkomunikasi bahkan hingga aplikasi hasil baca
dapat dilakukan dengan beberapa hal:
A. SOSIALISASI KEGIATAN LITERASI SEKOLAH
Fungsi
kegiatan sosialisasi adalah untuk menyamakan persepsi tentang kegiatan literasi
di sekolah, bahwa kegiatan ini adalah kegiatan resmi yang didukung sekolah dan
pemerintah. Penting untuk disosialisasikan bahwa kegiatan ini memiliki
tujuan mulia yaitu meningkatkan kualitas peserta didik dan lembaga pendidikan
khususnya dan pendidikan nasional umumnya.
Dalam
kegiatan sosialisasi ini keterlibatan dan kehadiran berbagai pihak pemangku
kepentingan (stakesholder) diperlukan. Pengurus yayasan (pada sekolah swasta),
komite sekolah, orang tua siswa, kepala sekolah, guru dan semua warga sekolah
sebagai pelaku pembudayaan literasi sekolah harus memahami benar pentingnya
literasi sekolah.
Manfaat dari kegiatan sosialisasi terutama adalah menghindari benturan antar
pemangku kepentingan, karena kegiatan ini diketahui bahkan disepakati
bersama. Dengan sosialisasi yang baik akan terjadi sinergi antar warga
sekolah untuk mewujudkan budaya literasi.
Sosialisasi yang efektif dan menjangkau banyak pihak adalah dengan penyebaran
brosur yang berisi program kegiatan. Di dalamnya dapat dicantumkan latar
belakang, tujuan, jenis kegiatan, penjadwalan, penanggung jawab bahkan hingga
pada estimasi pembiayaan.
B.
PENYEDIAAN BAHAN BACAAN
Salah satu kendala terbesar dalam membudayakan literasi adalah ketersediaan
bahan bacaan. Terdapat beberapa cara menyediakan bahan bacaan dan
mendekatkannya pada warga sekolah antara lain:
1. Bekerjasama dengan perpustakaan sekolah untuk
menyediakan bahan bacaan di kantor, di kelas, di masjid sekolah dan
tempat strategis lainnya dengan pojok baca, lapak baca dan sejenisnya.
Terdapat kendala ketika program ini dijalankan, yaitu tercecernya buku. Solusinya
dengan pencatatan yang baik untuk tiap buku yang keluar dari
perpustakaan. Pelacakan buku perminggu juga dapat meminimalisir
kehilangan.
2. Hunting buku
murah namun berkualitas bersama siswa. Kegiatan ini akan memacu minat
siswa pada buku. Dengan didampingi guru, peserta didik akan lebih terarah
dalam memilih buku bacaannya. Tanpa pendampingan, bukan tidak mungkin
peserta didik memilih buku yang kurang mendidik dan membahayakan tumbuh
kembangnya.
3. Pembentukan
Organisasi Perpustakaan Kelas.
Perpustakaan kelas merupakan
kepanjangan tangan dari perpustakaan sekolah sekaligus ujung tombak pelaksanaan
kegiatan literasi sekolah.
Tugas dari pustakawan kelas
antara lain:
- meminjam buku
perpustakaan sejumlah siswa dalam kelas
- mengabsen kegiatan
membaca harian 15 - 30 menit
- membagikan buku
bacaan dan buku ringkasan hasil baca dalam kegiatan mingguan
readathon
42 menit
- menarik kembali buku
bacaan dan ringkasan hasil baca
- mengontrol keberadaan
dan kondisi buku
- menggilir bahan bacaan
pada peserta didik
- mengembalikan buku ke
perpustakaan
Dengan dibekali pembukuan dan kontroling yang intensif, perpustakaan kelas juga
melatih peserta didik tentang keperpustakaan sederhana.
C. PROGRAM LITERATIF
UNGGULAN
Sebagaimana termaktub dalam QS Iqro ayat 1-5, perintah tersirat dan tersurat
dari kegiatan literasi ada beberapa tahap, yaitu membaca, menulis dengan kalam
dan mengajarkan kembali ilmu yang telah diperolehnya melalui perantaraan kalam
(pena). Sebagai tujuan akhirnya mendekatkan manusia pada Sang Khalik
dengan selalu mengingat kenikmatan dariNya sebagai tanda kesyukuran.
Memaknai literasi dengan utuh akan menumbuhkan kesadaran bahwa literasi seolah
menjadi pondasi, akar dari segala perintah, tidaklah mengherankan bila perintah
pertama yang turun pada Rasululloh SAW adalah iqro (bacalah).
Program literasi unggulan yang sangat mungkin dibudayakan di sekolah, yaitu:
1. Pembiasaan
membaca minimal 15 menit perhari. Program ini menjadi target minimum
pembiasaan. Makin lama makin bagus hingga terasa benar bahwa makin lama
kita membaca, makin terasa manfaatnya.
2. Pembiasaan
membaca senyap tanpa aktivitas apapun untuk seluruh warga sekolah tanpa kecuali.
Lama waktunya 42 menit dan 15 menit untuk menulis hasil membaca
dalam bentuk ringkasan ataupun review.
3. Pembiasaan
menulis dengan meringkas, mereview dan menulis pada majalah dinding.
4. Presentasi
hasil membaca untuk berbagi pengetahuan hasil baca dan melatih komunikasi di
depan umum. Presentasi ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok ataupun
pada kegiatan khusus seperti upacara bendera.
5. Pembiasaan
berkomunikasi di depan umum lainnya seperti munaqosah (debating) dan muhadhoroh
(orasi). Kemampuan berdebat dan orasi sangat erat kaitannya dengan
wawasan peserta didik. Salah satu yang dapat meningkatkan wawasan adalah
kegiatan membaca.
D. KEGIATAN
APLIKATIF PRODUKTIF
Ilmu dikatakan berkah bila kebaikanan manfaatnya makin
dapat dinikmati orang banyak. Ilmu bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan
atau diaplikasikan baik berupa transfer ilmu atau transfer ilmu menjadi
praktik. Sekolah memiliki ruang yang cukup leluasa untuk siswa
mempraktikan hasil bacanya terutama untuk bahan bacaan aplikatif
prosedural. Penjadwalan kegiatan praktik hasil baca bisa dilakukan
melalui ekskul ataupun pembelajaran prakarya.
Sebagaimana
menarik bahan literature ke dalam praktik, praktik pun dapat ditransformasi kembali
dalam bentuk literatur. Bukankah kedua hal ini sangat baik untuk
dipadukan?
Dari semua ikhtiar pembudayaan literasi, sesuatu yang tidak kalah penting
adalah kesungguhan praktisi literasi, pembudaya literasi untuk senantiasa
memohon keberkahan daya dan upaya. Sesungguhnya tiada daya upaya selain
atas izinNya. Doa menjadi kunci
utama. Semoga Indonesia terpilih untuk menjadi negeri unggul dengan
generasi emasnya yang literat.
Event Jejak
Ke-8_Fiksi Anak
HIDANGAN
ISTIMEWA
“Nuni, ayo temenin Ayah ke
kebun! Kita akan panen cengkih sore
ini,” ajak ayah, sesaat setelah kami makan siang. Sebenarnya ada PR yang harus kuselesaikan. Tapi melihat wajah tirusnya, aku tidak tega
menolak ajakan Ayah. Pikirku, aku bisa
mengerjakannya nanti malam.
“Baik Ayah, apa saja yang harus Nuni bawa?”
“Cukup boboko besar saja,
Nuni. Ayahmu sudah menyimpan gantar di kebun kita. Jangan lupa bawa bekal yang sudah ibu
siapkan,” kata ibu menjelaskan.
Kami berangkat dengan riang.
Berharap rejeki hasil panen nanti cukup buat memenuhi kebutuhan
sehari-hari juga sekolahku. Ayah
berjalan di depan. Aku tidak berani
mendahuluinya. Kata Rasulullah, yang
muda harus menghormati yang tua. Itu
juga yang dicontohkan Sahabat Ali.
“Anak-anak, saking hormatnya Sayidina Ali pada seorang kakek tua,
pernah suatu hari beliau terlambat masuk masjid untuk berjamaah bersama
Rasulullah SAW. Ketika itu di depan
Sayidina Ali ada seorang kakek tua, beliau tidak mau mendahului langkah sang
kakek. Ternyata kakek tersebut tidak memasuki
masjid untuk berjamaah salat, bahkan kakek itu seorang Nasrani. Nah, kita diajarkan untuk hormat pada yang
lebih tua tak memandang apa suku dan agamanya.” Begitulah nasihat Ustaz Usman suatu sore,
yang aku coba lakukan. Ya, dengan
berjalan d belakang ayah.
Tujuan kami memanen 5 pohon cengkih dari 16 pohon yang ada, selesai
sudah. Kami duduk dan membuka
perbekalan. Aku tidak berani
mengambilnya sebelum ayah mengambil terlebih dahulu. Itulah yang selalu dipesankan ibu padaku.
“Ayah, kalau Ayah tidak keberatan, Nuni mau praktik masak di sekolah.”
“Pasti ada iuran, betul kan?”
Ayah memotong penjelasanku. Dalam
hati aku bersyukur tidak harus meminta pada Ayah. ”Nuni, kalau ada biaya ataupun iuran di
sekolah, kamu nggak usah takut meminta pada Ayah. Itu sudah menjadi kewajiban dan tanggung
jawab Ayah sebagai orang tua.”
“Terimakasih, Ayah. Nanti akan
Nuni siapkan hidangan spesial hasil praktik Nuni.”
Azan Asar berkumandang, memotong perbincangan kami. Kami segera menuju tajuk untuk wudu dan salat
***
“Jam istirahat pertama akan segera dimulai, semua siswa harus
meninggalkan ruang kelas.” Bell
informasi dari kantor guru menandai waktu istirahat pertama.
Aku dan teman sekelompokku, Rafa, Laila, Julia, dan Bagas segera
menyiapkan alat memasak kami. Menu yang
akan kami hidangkan bertema nasi goreng lengkap, empat sehat lima
sempurna. Bahan-bahan sudah tersedia di
meja untuk memasak. Nasi putih, telor,
ampela, ati ayam sebagai lauknya. Hiasan
yang kami pilih kacang goreng, tomat, cabai merah besar, kacang panjang dan
seledri. Sebagai sayurnya, lalap,
kemangi, timun dan kubis lengkap dengan sambalnya. Sebagai hidangan penutup kami memilih sop
buah. Cukup praktis, susu dan buah
sekaligus dalam satu hidangan.
“Hmmm, baru lihat bahannya saja sudah terbayang lezatnya apalagi kalau
sudah masak, ya?” ujar Laila yang langsung diiyakan oleh kami, teman
sekelompoknya.
Kami berbagi tugas. Rafa dan
Bagas menyiapkan bahan, mengupas, mencuci dan mengiris sesuai resep yang
dituliskan Mama Rafa. Aku dan Laila
bagian masak dan Julia bagian menata dan menghias meja makan.
Syukurlah hanya dalam dua jam kami selesai memasak, tinggal menata
hidangan dan merapihkan alat bekas memasak.
Masakan kami banyak mendapat pujian dari para guru. Tidak salah lagi! Ini semua berkat Mama Rafa yang terkenal
sebagai ahli kuliner warung makan Sindang
Palay kebanggaan kampung kami.
Nah, waktu yang ditunggu-tunggu semua peserta praktik masak pun
tiba. Kami diizinkan untuk menghabiskan
makanan yang kami masak. Kali ini, Ibu
Yanti yang membimbing kelompokku
membagikan makanan supaya tidak berebut.
“Ayo, anak-anak, habiskan makanan kalian, jangan sampai ada yang mubazir!“ perintah Ibu Yanti. “ Nuni,
kenapa kamu tidak makan?” tanya Ibu Yanti keheranan.
“Tidak Bu, di keluarga kami, apapun yang kami makan selalu untuk ayah
dan ibu dulu,” jelasku.
“Keluarga Nuni memang aneh dan kuno, Bu,” celoteh Julia.
“Oh...bagus itu. Dulu ada kisah
tiga orang tertutup batu di dalam gua.
Mereka berdoa dengan perantaraan amal soleh mereka masing-masing. Salah satunya amalan seseorang yang selalu
memberikan susu untuk orang tuanya terlebih dahulu,” kata Bu Yanti membelaku
Acara menghabiskan makanan pun usai sudah. Kami pulang dengan rasa puas.
“Nuni, apa yang kau bawa di wadah nasi itu?” Aku dikagetkan pertanyaan Dudu. Anak yang paling suka iseng di kelas kami.
“Wah, boleh dong aku mencicipi masakan terbaik yang dipuji guru-guru
kita?” Tanpa menunggu jawaban dariku, Dudu
menarik wadah nasi. Aku tak sempat
menahannya dan nasi itu terburai di jalanan.
Aku memandanginya dengan sedih.
Ayam-ayam milik penduduk kampung berpesta pora. Aku hanya bisa menangis.
“Maaf Nuni, aku hanya mau mencicipi sedikit saja.” Dudu meminta maaf
tulus.
Aku memutar otak untuk tidak mengecewakan ayah. Aku sudah berjanji mau membawa hasil praktik
masak kami. Tiba-tiba aku ada ide, “Aku
maafin kamu, tapi kamu harus menggantikan nasi goreng yang telah kau tumpahkan
ini.” Harap-harap cemas aku menunggu
jawaban Dudu, semoga dia mau bertanggung jawab.
“Wah, gampang. Ayo kita mampir
dulu ke rumah aku. Persediaan makanan di
kulkas aku banyak banget. Biar ibuku
memasakkan nasi goreng spesial untukmu.
Aku yang akan menjelaskan permasalahannya.”
Aku bersyukur sekali. Ternyata
Dudu tidak seperti yang aku duga.
Mungkin dia iba dengan tangisanku.
Panjang lebar Dudu bercerita termasuk alasanku membawa hidangan dari
sekolah buat kedua orang tuaku.
“Memang seharusnya demikian, Dudu.
Sopan santun dan penghormatan Nuni pada orang tuanya harus menjadi contoh buat kamu.” Ibu Dahlia, orang tua Dudu memujiku. Aku jadi tersipu malu.
Diluar dugaan, aku mendapatkan berkah luar biasa hari ini. Bukan hanya nasi goreng istimewa yang aku
bawa, Bu Dahlia memberiku bingkisan yang sangat banyak. Aku
berterimakasih dan mendoakan keluarga Dudu untuk mendapat balasan yang
lebih baik dan banyak dari Tuhan.
Event Jejak Ke-9_Manusia Anomali
HALUSINASI
Sania masih menutup muka dengan
telapak tangannya. Hari ini adalah untuk pertama kalinya dia mengikuti acara
lomba tumpeng di sekolah. Acara khas
yang selalu diadakan diadakan di sekolahnya tiap 17 Agustus.
Tidak banyak yang memerhatikan
perubahan pada raut wajah Sania. Semua
orang asik menikmati hidangan yang dihias oleh kelompoknya masing-masing.
Keringat dingin mulai bercucuran
membasahi punggung Sania. Sania memberanikan diri bangkit dari tempat
kelompoknya mengelilingi nampan yang
berisi nasi kuning berikut lauk pengiringnya. Teri kacang, tekur iris, suwiran daging. Berbagai hiasan buah dan sayur berikut sambal
hijau seharusnya mengundang selera makannya.
Berbeda dengan Sania, semua justru seperti monster yang siap menyiksanya
“Sania kamu mau kemana?” Balqis yang sekelompok dengan Sania
memanggil.
Sementara
Sania terus menjauh tak memedulikan panggilan Balqis.
“Hai! Aku ingin merayap masuk ke
kerongkonganmu, Sania!!!! Biar aku masuk
dan memakan isi perut kamu!” Belatung
yang dilihatnya di nampan itu satu persatu bergerak-gerak. Seolah mendekatinya dan memaksa merayapi
mulut kemudian masuk kerongkongannya.
Tiba-tiba.....Sania tak kuat
lagi dan isi perutnya terburai lima langkah setelah ia meninggalkan
ruangan. Susah payah Sania berlari
mencari air untuk membersihkan cairan menjijikkan dari perutnya.
“Ya Tuhan...jangan sampai merka
terganggu dengan keadaanku ini biarlah aku yang merasakan kesusahan ini, Jangan sampai orang lain melihat keadaanku
ini, Ya Rabb”
Namun
malangnya seorang office boy menghampirinya. Sumpah serapah akhirnya tumpah
juga menghampiri kemalangannya.
“Kalau sakit tidak usah ikut
acara makan-makan. Sudah di rumah
saja. Kamu sudah mengganggu semua
orang. Lihat ada kepala sekolah,
guru-guru, teman-teman kamu juga wali murid.
Kamu harusnya tahan sampai ke kamar mandi baru muntah. Emangnya kamu hamil?” Kalimat-kalimat itu tidak bernada tinggi tapi
isinya sungguh menyesakkan dada Sania.
***
Gangguan
ini makin lama makin menjadi. Bentuknya
pun bermacam-macam. Orang-orang menyebut
Sania dengan Putri Halusinasi. Begitu
mengetahui keadaan anaknya, Ibunda
Sania berkonsultasi pada seorang ulama yang mengetahui tentang rukyah.
“Ustadz,
anak saya punya masalah yang cukup serius.”
Bunda Sania mengawali konsultasinya sore itu.” Dia mengalami hal yang tidak sama dengan apa
yang dialami orang lain. Apa yang dia
lihat, apa yang dia dengar berbeda dengan orang lain. Tapi anehnya ustadz, apa yang dialaminya ini
hanya lima sampai tujuh hari setiap bulannya.
Seperti wanita yang mengalami haidh.”
“Kalau boleh tahu apakah
gangguan itu bersamaan dengan waktu menstruasinya?”
“Justru itu ustadz, Sania belum
mengalami menstruasi.”
“Baiklah saya akan mencoba
merukyah putri ibu. Sudah sejak umur
berapa gangguan ini, Bu?” Ustadz Shobri
mengambil sepasang sarung tangan dan memakainya.
“Dua tahun yang lalu, waktu
usianya 13 tahun.”
Ustadz Shobri mulai meruqyah
dengan berbagai bacaan dan Sania tidak memberi reaksi apa-apa kecuali
pingsan. Tidak ada dialog yang bisa ikut
didengar oleh Bunda Sania. Beberapa hal
dipesankan Ustadz Shobri. Sania
mengalami gangguan karena darah kotor yang seharusnya dikeluarkan melalui haid tidak
keluar. Darah kotor ini mengganggu
fungsi syaraf otak sehingga muncul halusinasi.
“Ibu, untuk lebih jelasnya, Ibu
bisa berkonsultasi pada dokter kandungan.
Apakah organ reproduksi putri Ibu normal atau tidak. Untuk gangguan jin, saya agak kesulitan
mendeteksinya karena pasien pingsan.”
Sejak terapi ruqyah, Sania
berulangkali ke dokter untuk menjalani pengobatan halusinasinya. Namun keadaannya tidak juga membaik. Bisikan-bisikan buruk makin menjadi-jadi. Untuk kesekian kalinya pada setiap bulannya
Bunda Sania tidak pernah lupa melingkari massa haidnya.
Penjagaan ekstra Bunda selalu
mengiringi Sania dalam keadaan apapun.
Berlembar-lembar memori mengerikan itu tersimpan rapi dalam kisah
pengasuhan Bunda.
Pernah di sebuah rumah sakit,
saat menjaga ayah yang sedang diopname, Sania tiba-tiba ketakutan. Gorden di kamar itu tiba-tiba bergerak
tertiup angin. Bergerak sendiri ke kanan
ke kiri tanpa ada seorang pun yang menggerakkannya.
“Ah.....Ibu Sania takut ada yang
memainkan gorden itu. Lihat ibu orang itu menatap Sania. Sania takut Ibu!!!!!.”
Event Jejak Ke-10_MiniFiksi Nostalgia
TRAUMA
Sudah menjadi
suratan takdirku menjadi anak perempuan satu-satunya dan sekaligus bungsu. Kenyataan ini membekaskan kenangan yang penuh
suka dan duka buatku. Kenangan indah
karena aku selalu dimanja dan dibela oleh ayah ibuku dihadapan dua kakak
lelakiku. Kenangan pahitnya, karena
sikap protektif kedua orang tuaku yang membuatku tidak bebas menghadapi
tantangan bahkan cenderung dikekang.
Tahun 80-an saat usiaku
masuk angka lima, aku sudah mulai bisa merekan kenangan. Pada usia itu, kejadian-kejadian berkesan
masih tersimpan rapi dalam lembar memoriku, hingga sekarang.
Suatu pagi di hari
Minggu, semua anggota keluarga sibuk dengan acara masing-masing, kecuali
aku. Ayah dan Mas Joko (kakak keduaku)
sedang siap-siap berburu. Sementara ibu
dan Mas Bowo (kakak pertamaku) sedang membereskan cucian mingguan kami di
toilet.
“Ayah, boleh aku
ikut berburu?” Aku memberanikan diri
buat minta izin pada ayah yang sedang menyiapkan senapan angin dengan oli
pelumas.
“Perempuan buat apa
ikut berburu. Sudah kamu tinggal di
rumah saja.” Ayah menjawab tanpa
memandang ke arahku. Dengan kostum
lengkap berburunya, ayah terus sibuk menyiapkan perbekalan. Tas punggung, senapan angin dan perbekalan
makan minum.
Hatiku langsung
ciut dan menahan segala bayangan indah tentang hutan, Nyanyian burung, anggrek
di pohon-pohon besar. Ya….saat itu
keadaan alam masih sangat asri. Hutan
masih banyak dan belum terjamah para pengusaha kayu ataupun terkonversi menjadi
lahan budi daya.
Ayah dan Mas Joko
berangkat, sementara aku tidak punya kegiatan apapun. Sambil menahan air mata kecewa. Dari halaman
depan rumah aku melepas kepergian ayah, membantu membawakan bekal, untuk
kemudian masuk mencari kesibukan sendiri.
Pandanganku
mengarah kompor minyak tanah di dapur yang tidak menyala. Entah apa yang kupikirkan waktu itu, aku
ingin menirukan bagaimana ibu menyalakan kompor.
“Sepertinya ibu
menggunakan lidi ini buat menyalakan kompor.
Aku main masak-masakan aja ah….daripada nggak punya kegiatan.” Gumamku
sambil mencari sebatang lidi.
Persis seperti
gerakan ibu yang aku lihat saat menyalakan kompor. Lidi sepanjang tiga jengkalan tangan kecilku
aku masukkan ke lubang tangki minyak.
Setelah itu aku masukkan ke lingkaran sumbu. Begitu berulang-ulang, tiba-tiba…….
“Blug….blug….”
Suara api tiba-tiba menyambar pakaianku.
Sesuatu yang tak pernah aku sangka sebelumnya. Ternyata kompor itu belum dimatikan, hanya
dikecilkan saja nyala apinya. Aku mengira
kompornya sudah padam.
“Ibu tolong
kebakaran……!!!! Tolong kebakaran…….!!!!. Api…api….api…. !!!!!!!
Hu…..hu….hu……” Aku teriak semampuku dan
menangis sejadi-jadinya menuju halaman tengah rumah. Ketakutan yang tak terbayangkan saat itu
bersamaan dengan rasa panas luar biasa.
“Ada apa
nduk?!?!. Kamu kena api dari mana
ini?” Ibu lari tergopoh-gapah keluar
dari toilet. Tangannya langsung meremas
semua bagian baju yang terkena api. ”Sudah jangan menangis ada ibu. Lagi pula apinya sudah padam semua.”
Aku yakin ibuku
juga merasakan panas karena meremas kain yang sedang terlalap api. Namun demi aku ibu nekat mengabaikan
kesakitan yang dirasakannya.
“Periksa aku Bu,
aku mau ke rumah sakit, panas rasanya.”
Aku masih terus menangis,
“Iya, tapi berhenti
menangis ya….nanti ayah marah. Lagi pula
kalau kamu nangis terus, bikin panik semua orang.” Ibu terus membujuk dan
menenangkanku untuk berhenti menangis.
Ibu bergerak cepat
memberikan pertolongan pertama untuk luka bakarku. “Mas Bowo, ambilkan telor
ayam kampong di dapur cepat. Luka bakar
adikmu harus diolesi telor.”
Kakakku
mengambilkan telor dan memecahkannya di mangkok kecil. Ibu meratakan telor ke seluruh bagian ruam
tubuhku yang mengalami luka bakar. Rasa
dingin segera kurasakan menggantikan panas yang amat sangat.
Hingga saat ini,
bekas luka bakar itu masih ada di lengan bawah tangan kiriku. Trauma pada kompor dan api juga sedikit masih
membekas di hatiku. Tapi ada hikmah di
balik itu semua. Aku menjadi sangat
hati-hati dengan nyala api kompor. Tidak
akan kunyalakan sebelum semua dipastikan aman.
Ada bau gas sedikit saja pasti aku menjadi yang paling rewel dan cerewet
“Jangan dinyalakan
dulu masih ada bau gas. Ada suara gas
keluar. Copot lagi karburatornya. Ganti kelepnya. Tambahin dengan karet gelang ujung
tabungnya.” Sederetan intruksi sudah
kusiapkan saat bibi di rumah mau memasang tabung gas.
“Wah, trauma ibu
belum sembuh juga rupanya padahal udah puluhan tahun kejadiannya. Masih saja ibu takut api kompor.” Komentar suamiku menanggapi kerewelanku yang
entah berapa kali aku ucapkan seumur hidupku hingga kini.
Event Jejak
Ke-11_Fiksi Mini Thriller
GADIS YANG
TERPASUNG
Mimpi malam pekat
itu sangat menggangguku.
“Gayatri, tolong
aku. Bebaskan aku. Aku sangat menderita di sini!” Gadis manis dengan berhijab
rapi. Mukanya bersih bersinar. Sesaat kemudian tertukar dengan wajah kumal,
rambut tergerai acak. Meronta-ronta dengan kaki dan tangan terpasung.
Pada mimpiku yang
kesekian kali, gadis itu terlihat kurus tanpa daya. Tuturnya menampakkan keputusasaan.
“Gayatri, kau tak
juga iba padaku? Percayalah aku bukan sosok mengerikan yang kau lihat.
Sebenarnya aku seperti kamu juga. Bisa berpikir, merasa, bicara dengan baik.
Aku hanya korban ambisi orang-orang dekatku. Namaku Amrita Priyanti, dulu aku
penyanyi cilik.” Gadis kecil itu terus bercerita
Sore hari, aku
pulang sendiri setelah pemadatan UN. Aku
berselancar di dunia maya dengan Humble
Searching, mesin pencari buatan anak negeri.
Keluarga milyader
mengalami kecelakaan tragis. Semua anggota keluarga meninggal kecuali anak
tunggalnya. Artis cilik yang sedang naik
daun, Amrita Priyanti, tiga belas tahun. Ia mengalami depresi berat. Kerabat terdekat
yang memiliki hak perwalian Amrita memasung Amrita atas permintaan warga
sekitar. (www.daynewsindonesia/2016).
Keinginanku untuk
membantu Amrita makin kuat. Biasanya makin kuat keinginan, kemampuanku
berkomunikasi sudah tidak melalui mimpi lagi. Cukup dengan memejamkan mata dan
mengucapkan salam, wajah Amrita akan segera muncul. Bak layar kaca tipis penghubung
dua dunia. Perkembangan yang bagus.
Amrita menyebutkan
nama pulau kecil, Selahitam. Sebuah pulau milik ayahnya yang dikuasai sang
paman. Dia memintaku melihatnya melalui
aplikasi pencarian lokasi Humblemap.
“Pamanku
menginginkan seluruh harta ayah. Aku menjadi ancaman dari ambisinya itu. Aku diberi narkoba yang membuatku berperilaku
seperti orang gila. Paman menyebarkan berita bahwa aku depresi. Orang-orang di
sekitarku dibayar paman untuk melapor ke polisi. Kata mereka, aku berbahaya bila dibiarkan
bebas. Jadilah aku terpasung begini.”
“Lalu bagaimana
kamu bisa menemuiku dalam mimpi?” tanyaku penasaran.
“Itu karena aku
juga memiliki kemampuan seperti kamu. Aku memiliki indra keenam yang tidak
banyak diketahui orang.”
Amrita memberi
informasi bagaimana aku bisa mencapai Pulau Selahitam, sebuah pulau kecil
di selatan Pulau Natuna. Dari ceritanya,
terlalu banyak ranjau dipasang di pulau itu.
“Gayatri, aku meminta tolong ke kamu karena kamu anak indigo yang
salihah. Cukup dengan salat dua rekaat. Letakkan printscreen
dari Pulau Selahitam hasil Humble Searchingmu, kamu akan sampai! Jangan lupa
bawa pasir putih dan baca bismillah kemudian taburkan di sekelilingmu! Kamu
akan terhindar dari kejaran para penjaga Pulau Selahitam”
***
Tidak ada pilihan
lain. Aku genggam semua energi keberanian dalam dadaku. Beruntung aku masih menyimpan pasir putih
sisa akuarium air laut yang menghiasi ruang tamu keluargaku. Satu lagi, printscreen Pulau Selahitam.
Aku mengambil
wudhu, salat dua rekaat dan petualangan dimulai. Betapa merasa beruntungnya
aku, Amrita memberitahuku tentang kemampuan yang tak pernah aku sadari
sebelumnya
Kurapikan jilbabku
yang berantakan tertiup angin saat melewati labirin cukup mendebarkan.
Melintasi dua dimensi ruang dan waktu dan sampai di tempat asing.
“Lihat itu ada
orang asing memasuki pulau kita! Berani sekali dia. Bagaimana dia menemukan
tempat ini?” Dua body guard terperangah dengan kehadiranku. Aku selinglung
pengalaman jetlagku yang pertama, tak
kalah kaget. Yang ada dalam benakku, melarikan diri dari mereka.
“Cepat kejar!!”
Body guard bertubuh tambun kesulitan mengejarku. Namun seorang lagi tinggal
sejengkal meraih tanganku.
Aku merogoh kantong
celana yang berisi pasir putih dan menyebar ke sekelilingku.
“Kemana bocah nakal
itu? Tiba-tiba dia hilang!” Si Tegap terbengong-bengong kehilangan
tangkapannya.
Mereka putus asa
mencariku yang tak juga dapat mereka lihat. “Gembul, nampaknya sia-sia kita
mencari gadis misterius itu.” Si Tegap kesal.
“Lebih baik kita ke
ruang rahasia. Kalau sampai ada yang menculik Amrita. Kita bakal kehilangan
periuk nasi.”
Aku terus mengikuti
mereka dengan hati-hati. Kalau tidak, kejadian di depan pintu rahasia bisa
terjadi lagi. Ya, aku menjatuhkan kaleng yang membuat mereka curiga. Hampir
saja aku terkena pukul mereka yang membabi buta lantaran menganggapku siluman
penguntit.
Ruangan itu pengap,
gelap. Mirip ruang penjara bawah tanah.
Aku tak habis pikir, terbuat dari apa hati paman Amrita. Gadis cantik yatim
piatu itu dibiarkan tersiksa di usia belianya.
Setelah semua aman
aku mendekati Amrita. Tangisnya tak terbendung. Ada bahagia, sedih, penuh harap
dan entah apa lagi. Aku segera membuka lakban perekat di mulutnya. Keadaannya
kusam, lusuh tak terurus. Ia memintaku membuka seluruh ikatan yang memasungnya.
Amrita memelukku erat.
Kutebar pasir putih
di sekeliling Amrita, dia pun menjadi sedimensi denganku. Kami harus meninggalkan tempat terkutuk ini.
Event Jejak Ke-12_Promise
HATI SELUAS SAMUDRA
Tiga tahun terakhir, kondisi Pesantren
Nurussalam semakin terpuruk.
Meninggalnya muwakif, Haji Sadeli dan terhentinya donasi dari perusahaan
muwakif menjadi sebab utama. Wakaf
hampir saja diserahkan pada yayasan yang lebih kuat.
Akan tetapi, hari ini menjadi hari sangat
bersejarah untuk Nurussalam. Putri bungsu
Haji Sadeli dan suaminya bertekad menyelamatkan pesantren amanah orang tuanya
itu. Janji yang harus ditunaikan, bahwa
kehadiran mereka akan mengubah Nurussalam menjadi pesantren unggulan dan
terpandang di kabupaten.
Banyak yang mencibir rencana kehadiran
mereka, meskipun tidak berani berbicara langsung. “Percuma pimpinan pesantren diganti kalau
gaji Akang tetap dibayar 30%.” Bi Lela
mengungkapkan unek-unek di depan suaminya yang menjadi petugas keamanan pesantren. “Aku sih merdeka, siapapun pimpinannya nggak
ngaruh pada pemakai jasa laundry-ku.” Bi Lela melirik jumawa pada suaminya, Mang
Juha. Memang keduanya sering adu argumen
tentang penghasilan mereka masing-masing.
Mang Juha yang digaji hanya seperiga dari haknya sering mendapat protes
dari sang istri. Sementara Mang Juha
selalu membanggakannya sebagai amal jariah fisabilillah membela
pesantren yang sudah di ambang kebangkrutan.
“Jangan salah, Mak, kalau pesantren nggak
ada santrinya, kamu mau nyuci baju siapa?
Apa aku harus menggaji kamu karena nyuciin baju aku dan anak-anak?” Kali ini Mang Juha berganti menohok Bi Lela
diiringi tawa kemenangan.
Ustaz Lukman dan Ustadzah Ade, pasangan
yang belum dikarunia putra, berhijrah ke Pesantren Nurussalam. Tanpa upacara penyambutan, sepi dari tabuhan marhaban
dari kelompok marawis pesantren.
“Nampaknya tidak semua orang menginginkan
kehadiran kita, ya, Aa?” Ustadzah Ade mengeluarkan unek-unek
yang dia simpan rapi. Terutama tentang
keraguan kakak-kakaknya sesama pengurus yayasan. Dia tidak ingin membuat suaminya berkecil
hati dan mundur dari niat baiknya.
Mereka tidak segera turun dari Xenia yang membawa mereka ke
Nurussalam. Kaki mereka seolah terpaku
pada karpet alas mobil mereka. Mereka
pandangi gerbang dan halaman tempat parkir mobil mereka. Lingkungan pesantren yang kumuh,
rumput-rumputan panjang tak terpangkas.
Sebelah kiri terdapat syirkah yang hanya terisi sedikit barang
dagangan. Yang lebih aneh lagi, warung
itu tidak ada penjaganya.
“Kalau semua kita lakukan karena Allah,
kita tidak akan peduli dengan pandangan manusia. Fa idza
azzamta fa tawakal ‘alallah.”
Kalimat itu telah sering diucapkan Ustadz Lukman saat mendengar keluhan
dari pendamping hidupnya. “Kita sudah tahu segala resiko di depan kita. Berbaik sangka pada sesama saudara muslim
adalah pilihan hati yang terbaik.
Berbaik sangka pada Allah juga akan mendekatkan diri kita pada
pertolonganNya. Bismillah. Ayo, kita segera turun. Lihat itu Mang Juha
sudah menunggu kita turun. Dia sangat
ringan tangan membantu siapa saja. Tolong
siapkan amplop lima puluh ribu buat dia, Sayang!” Sebutan romantis itu menjadi tanda bahwa
permintaan Ustadz Lukman wajib diikuti istri tercintanya.
Begitu pintu mobil dibuka, sosok lugu
berpenampilan sangat sederhana itu mendekati mereka. “Assalamu’alaikum. Ustdz Lukman, Neng Ade, wilujeng sumping! Resep
pisan Neng Ade mau memegang pesantren ini.
Mang Juha selalu ingat Pak Haji Sadeli tiap lihat Neng Ade. Wajah beliau mirip sekali dengan Neng
Ade. Semoga Neng Ade bisa meneruskan
kebaikan dan kedermawanan beliau.” Sapa
ramah dan kalimat yang keluar dari lisan Mang Juha seperti menyuntikkan energi
luar biasa buat Ustaz Lukman dan istrinya.
“Wa’alaikumussalam. Terimakasih Mang Juha atas sambutannya. Juga saya ucapkan terimakasih
sebanyak-banyaknya untuk ketulusan Mang Juha menjadi ansharu ma’had sejak ma’had ini berdiri.” Ustazah Ade
membalas tulus sambutan Mang Juha.
Dengan sigap Mang Juha memindahkan semua
barang bawaan Ustadz Lukman dan Ustazah.
Tinggal dua koper besar yang tersisa di dalam mobil.
Tanpa ragu Ustazah Ade melangkahkan kaki
menuju rumah yayasan. Rumah besar ini
membekaskan kenangan indah buat Ustazah Ade.
Rumah nyaman dan cukup luas ini menjadi tempat pertemuan keluarga besar
Haji Sadeli sekaligus peristirahatan terakhir lepas masa pensiun dari tugasnya
di Jakarta.
Sebaliknya buat Ustaz Lukman, tempat ini benar-benar asing. Akan tetapi ia selalu berusaha menahan
keluh-kesah di depan istrinya. Apapun kegalauan
yang dirasa, disimpan rapi dalam ruang
hatinya. Untuk Ustaz Lukman, kebersamaan dengan Sang Pencipta adalah
segalanya.
Tanpa buang waktu, Ustaz Lukman bergerak cepat. Yang dilakukannya adalah bersilaturahmi ke
semua guru yang mukim dalam lingkungan pesantren. Beruntunglah ada satu keluarga yang sangat
dekat dengan Ustadzah Ade. Ya, keluarga
Ustadz Ahmad dan Ustadzah Rodiyah,
pernah berada dalam pesantren yang sama. Meskipun hanya tiga tahun
berkawan di pesantren Al Hamidi,
silaturahmi tetap berjalan lewat medsos.
Tentu dengan pengabdian Ustaz Ahmad di Nurussalam persahabatan makin
erat.
Perbincangan begitu akrab. Suasana menjadi cair dengan berbagai
nostalgia semasa di pesantren. Diiringi
tawa renyah dua keluarga bersahabat karib itu.
Perbincangan mulai serius saat menyentuh
permasalahan kemunduran Nurussalam.
Ustaz Ahmad bercerita tentang kondisi pesantren. Diurutnya mulai dari keadaan kantor
kesekretariatan, dapur, pengasuhan, pengajaran,
keuangan dan unit usaha.
"Ana awali dari pengasuhan.
Karena bidang ini yang ana pegang.
Minimnya pengabdian muda yang menjadi mudabir di tiap kamar anak. Sementara anak-anak butuh pendampingan 24
jam. Mudabir ini merupakan ujung tombak
di lapang untuk mendongkrak kualitas santri dalam kemampuan pengembangan diri
dan berjalannya sanggar. "
Ustaz Lukman memasang telinga dan merekam
dalam ingatan. Berbelanja masalah untuk
memperbaiki keadaan. Di bidang
pengajaran, masalah i'dad ala pesantren dan pertemuan guru menjadi titik
kelemahan. Fungsi pengawasan pun belum
berjalan dengan baik. Kaidah dasar yang
disusun yayasan masih menjadi buku sakti tanpa realisasi terutama untuk bagian
unit usaha yang membidangi cafe, laundry, syirkah dan dapur. Sampai saat ini belum ada orang yang cukup
amanah mengelola unit usaha.
“Sangat disayangkan, pemegang tanggung
jawab dapur kurang bisa menjalankan amanah.
Lauk pauk untuk santri jauh dari bergizi. Keluhan wali santri sangat memalukan pihak
pengelola. Akan tetapi kami tidak bisa
berbuat banyak. Pemegangnya adik kandung
almarhum Haji Sadeli. Perlu kekuatan
besar yayasan untuk mengawasi unit usaha.
Ada satu lagi permasalahan yang cukup serius. Beberapa orang dalam,
istri para ustaz diambil amanahnya.” Lanjut Ustaz Ahmad
“Penyebabnya apa kalau ana boleh tahu?”
“Lebih baik antum menanyakan pada
ustazah yang bersangkutan saja.
Khawatirnya ana dianggap namimah
sama pihak yang berkepentingan dengan amanah ini. Apalagi istri ana juga termasuk yang
dicopot dari jabatannya.” Ustaz Ahmad
berusaha menghindari perbincangan yang sensitif dan terlalu dalam.
Silaturahmi dan belanja masalah juga
dilakukan Ustazah Ade. Rumah pertama
yang dikunjunginya tentu Bibi Maemunah.
"Neng Ade, aku tahu kebijakkan kamu pasti tidak akan
jauh dari Kang Sadeli. Pasti Bibi akan
kehilangan nafkah dari dapur."
"Tidak, Bi. Bi Maemunah tetap akan
berada di dapur. Aa Lukman hanya minta
jatah makan santri direalisasikan sesuai anggaran. Supaya gizi santri terpenuhi. "
Bibi Maemunah langsung cemberut. "Usaha Bibi ini bentuknya ketering
jadi halal kan, kalau bibi ambil untung berapapun? "
Ade Ruqayah beristighfar dalam hati.
"Tapi bukannya Bibi anggota Badan Pengelola Pesantren Nurrussalam? "
"Bibi sudah kembalikan SK-nya. Jadi bibi bukan pengelola dapur tapi dapur
yang pesan ketering ke Bibi."
"Tapi gaji dari pesantren ada, Bi? "
"Lima ratus ribu itu bukan gaji tapi
tips tambahan tenaga Bibi" jawab Bi Maemunah enteng.
Ade menuturkan kembali oleh-oleh
silaturahminya pada sang suami. Ustaz
Lukman hanya menggeleng kepala. Ini yang
mungkin membuat ustaz Burhan kapok memimpin Nurussalam. Setiap kali Bibi
Maemunah digeser dari dapur, ia selalu saja menghubungi Haji Fauzan sebagai
ketua yayasan. Ia akan melaporkan bahwa
ada yang mengambil ladang usahanya. Konflik antar Bi Maemunah dan kepala dapur
yang baru menjadi iklim kurang sehat antara yayasan dan badan pengelola. Ini terjadi sejak Haji Sadeli sakit dalam
tiga tahun sebelum meninggal.
Ketidaknyamanan ini menjalar pada pertemuan
badan pengelola. Masing-masing ingin
menjaga perasaan. Kalaupun diadakan pertemuan,
selalu terkendala konsumsi, unit usaha menjadi bagian terisolir dari
bidang lain. Sedangkan pada
kenyataannya, dapur sangat bersinggungan langsung dengan santri dan berbagai
kegiatan pesantren.
"Ade,
nampaknya akar permasalahan pesantren ada di keuangan dan terputusnya
komunikasi antar badan pengelola. Aa ada niat bismillah, kita jual mobil
usaha kita untuk penerimaan santri baru.
Selain itu juga untuk mempererat hubungan antara Bi Maemunah dan para
asatidz."
"Maksud Aa, mobil usaha yang mana? Apa akang tega usaha terhenti dan karyawan
kehilangan pekerjaan? "
"Tentu saja tidak, Aa pikir usaha kita
bisa dipindah ke pesantren berikut para karyawan. Di sini distribusinya jelas ada 150
santri. Bukankah kita bisa menambah relasi
baru dari wali santri? Aa yakin Allah akan membukakan jalan untuk kita. Lagi
pula kita belum dikaruniai momongan.
Kebutuhan kita belum banyak. Biar kita buktikan bakti kita buat Almarhum
Bapak dan mengabdikan diri pada dakwah dan tarbiyah. Buat aku ini adalah puncak kebahagiaan kita
sebagai hambaNya? "
"Tapi Aa, bagaimana kalau mobil itu
tidak kembali lagi? "
"Ade,
dengarkan cerita ini, ya! "
Ustaz Lukman membacakan manaqib Ibunda Khadijah. Sementara Ustazah Ade mendengar sambil menggelayuti
pundak suaminya. Manja.
Ada satu bagian yang paling mengharu biru
dari kisah Ibunda Khadijah.
“Saat itu derita perjuangan mendera. Seluruh kekayaan Rasulullah dan Ibunda
Khadijah telah habis. Seringkali makanan
pun tak punya. Ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi
darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.
Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari
gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah seusai pulang berdakwah
dan menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu, berbaring di pangkuan
Khadijah.
Rasulullah menanyakan kesedihan apa
gerangan yang dirasakan Ibunda Khadijah, hingga meneteskan airmata.
Ibunda Khadijah menjawab, ”Wahai suamiku.
Wahai Nabi Allah. Dahulu aku memiliki
kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku
serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.
Dahulu aku adalah bangsawan.
Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan
untuk Allah dan Rasul-Nya. Wahai
Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus
memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan
perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah
lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak
memperoleh rakit ataupun jembatan. Maka
galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau
menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan
melanjutkan dakwahmu. Ingatkan mereka
tentang kebesaran Allah.Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.”*)
Rasa malu menyelinap dalam lubuk hati
Ustazah Ade. “Pengorbananku hanya
sebutir debu dibandingkan dengan pengorbanan Ibunda Khadijah,” ucapnya
membatin. Tak disadari Ustzah Ade
menumpahkan air mata. Perasaan hatinya
tersusupi kesadaran halus akan pengorbanan istri pada perjuangan suami. Suara
tangisnya tersedan oleh ketakberdayaan iman di hadapan ummul mukminin yang
seharusnya ia teladani. "Aa, Ade akan mendukung keputusan Aa. Tapi tolong bantu Ade buat ikhlas dan hati
Ade bisa seluas kelapangan hati Aa. "
Satu bulan berjalan, usaha konveksi dipindahkan ke pesantren
sekaligus menjadi tambahan program workshop untuk life skill
santri. Workshop menjadi program
unggulan yang digulirkan Ustaz Lukman sebagai daya tarik santri baru.
Langkah pengorbanan Ustaz Lukman tidak
sia-sia. Gaji untuk Bibi Maemunah sudah
disesuaikan kebutuhannya. Meskipun Ustaz
Lukman harus mengambil dari kocek sendiri,
tapi dia puas dengan menu santri.
Ada tambahan gizi dengan lauk daging seminggu dua kali, Senin dan Kamis. Buah dan susu sepekan sekali tiap hari
Jumat. Saat dilihatnya dapur
santri, anak-anak nampak begitu ceria dan
bersuka cita.
Program beasiswa setengah harga untuk
anak-anak yang berprestasi, dan beasiswa penuh untuk yatim dan dhuafa
digulirkan. Satu lagi, program sekali
infak biaya pendidikan saat awal masuk.
Uang itu menjadi kas berjalan pesantren yang digunakan untuk
mengembangkan usaha. Bila ada yang tidak
bertahan hingga akhir masa belajar, uang
sisa infak dikembalikan ke orang tua.
"Alhamdulillah, Ade, ikhtiar dan doa kita dikabulkan Allah. Syirkah dengan suntikan dana yang ada
bisa membesarkan warung yayasan. Dana
operasional yayasan tidak mengganggu keuangan pondok lagi. Setengah dari sisa
hasil usaha bisa kita transfer ke yayasan. "
"Maafin keluarga Ade, ya Aa. Jadi Aa Lukman yang berpikir keras
membangkitkan lagi pesantren ini. "
"Sudah menjadi kewajiban kita yang
masih muda buat berkarya. Didampingi
dengan penuh keikhlasan pun sudah cukup membahagiakan buat Aa. "
***
Tiga tahun kemudian.....
Ustaz Lukman berhasil membentuk Badan Wakaf
Nurussalam. Berbagai komponen masuk di dalamnya wakil dari badan pengelola,
alumni, yayasan, komite pesantren yang mewakili orang tua dan tokoh penting
dalam masyarakat.
Lagi-lagi keluarga Bibi Maemunah tidak suka
dengan terbentuknya badan wakaf.
Kekhawatiran tergeser dari unit usaha menjadi alasan utama, karena keluarga
ini tidak akan leluasa mendekati dan memengaruhi keputusan yayasan. Di antara keluarga Bibi Maemunah, Sumantri
sebagai pengelola kafe yang paling menunjukkan gelagat tidak baik. Kang Sumantri melaporkan hal-hal yang dia
anggap bisa melemahkan kedudukan Ustaz Lukman.
Kehadiran Ustaz Lukman terlalu dalam mengontrol unit usaha. Tidak ada banyak kesempatan lagi meraup
keuntungan dari syirkah dan dapur.
Tuntutan laporan bulanan menguras akal culasnya untuk memanipulasi
laporan. Itupun serba sulit karena bon harus dilampirkan.
Begitu besar kepentingan keluarga ini untuk
tetap berada pada unit usaha, membuat Sumantri berani menghadap Haji Fauzan.
"Kang Haji, Kang Lukman, sudah terlalu
jauh melangkah." Sumantri
menyempatkan diri menemui ketua yayasan untuk berita yang dipendamnya dalam
ruang gelap hatinya. Buruk sangka, iri,
dengki dan sifat namimah sambil mencari kesempatan untuk mereguk kesempatan.
"Aku sudah berjanji tidak akan
mencampuri sepak terjangnya. Selama pesantren tetap berjalan dengan baik dan
tidak menyalahi kaidah dasar, buat apa dirisaukan? Lagi pula Lukman yang sudah menyelamatkan
wakaf almarhum bapak."
"Memang jumlah santri sekarang sudah
tiga kali lipat. Tapi ada satu yang keluar dari kaidah dasar pesantren. Kang Lukman sudah membentuk badan
wakaf. Akang tahu tidak kalau Kang
Lukman bagi-bagi saldo operasional pesantren?
Yang menerima pun hanya ustaz mukimin. Saya rasa ini bukan perbuatan bijak.”
"Wah yang itu, saya kurang tahu."
"Itu dia, Kang, setelah ada badan
wakaf, akan banyak hal yang Akang tidak
tahu. Yang paling berbahaya ada
tokoh-tokoh penting yang terlibat organisasi terlarang. Kalau ini tercium aparat, bisa ditutup
Nurussalam. Kemarin ada dua polisi
mendatangi rumah Kang Lukman. Kang
Fauzan harus bertindak cepat"
"Sumatri, terimakasih atas berita ini.
Kami, seluruh pengurus yayasan akan mengadakan rapat segera."
"Jangan sampai salah langkah, ya Kang,
kasihan Uwa Haji" pesan Sumantri dengan wajah pura-pura prihatin. Untuk sementara dia puas dengan hasil
hasutannya. "Sebentar lagi
pesantren akan bersih dari manusia sok suci semacam Kang Lukman, " batin
Sumantri.
Hasil keputusan rapat yayasan, memanggil Ustaz Lukman untuk dimintai
keterangan. Akan tetapi hasutan Sumantri
sudah menyusup dalam lorong hati keluarga yayasan. Gelagat kurang baik sudah mulai menyebarkan
bau busuk fitnah dan namimah, merenggangkan hubungan keluarga yayasan
dengan Ustaz Lukman. Apapun keterangan
dari Ustaz Lukman tentang badan wakaf, tidak bisa diterima keluarga
Yayasan. Bahkan sudah menyekat lisan
kakak-kakak iparnya untuk sekedar bertegur sapa. Betapa sempitnya dunia ini dengan perpecahan
dan permusuhan yang tak seharusnya terjadi.
***
Program hari ini adalah rihlah
pesantren Nurussalam. Semua keluarga
besar pesantren diundang untuk mengadakan perjalanan wisata. Kali ini lokasi wisata yang dituju adalah
kawasan kaki Gunung Merapi. Tujuannya
untuk merajut kedekatan antar semua keluarga besar Pesantren Nurussalam. Akan tetapi tidak demikian kali ini.
Semua berkumpul di halaman penginapan
Kaliurang, kaki Gunung Merapi yang sejuk.
Halaman cukup luas itu dipenuhi 450-an keluarga besar Nurussalam. Sebuah lonjakan berarti karena tiga tahun
lalu, peserta rihlah hanya 150-an
orang.
Sebagian besar merasa adanya
kejanggalan. Di tahun-tahun sebelumnya,
Ustaz Lukman tidak mengumpulkan seluruh
rombongan di akhir rihlah seperti halnya saat ini. Semua bercengkerama dengan hatinya
masing-masing. Bermain dalam tebak menebak yang spekulatif dan rumit. Terutama untuk mereka yang berseberangan
dengan kebijakkannya.
"Mulai hari ini saya memohon izin
untuk mundur dari jabatan pimpinan pesantren.
Saya berdoa semoga sepeninggalan saya pesantren ini makin maju. Yang
baik datangnya dari Allah, teruskanlah. Yang buruk dari saya sendiri,
tinggalkanlah. Alasan pengunduran diri saya karena perusahaan yang saya
tinggalkan selama tiga tahun menunggu keterlibatan saya Saya berencana keuntungan perusahaan akan
digunakan menyokong operasional pesantren ”
Keputusan tak terduga itu meledakkan
keheningan. Suara riuh hingga isak tangis air mata haru, cinta, sekaligus
kekaguman. Juga senyum jumawa mereka yang merasa memenangkan pergumulan
kepentingan.
Haji Fauzan meninggalkan pertemuan menuju
penginapan dengan hati tak menentu.
Batinnya menolak pengunduran diri adiknya. Langkahnya terhenti oleh perbincangan
Sumantri dan istrinya di salah satu kamar penginapan tak jauh dari pintu masuk.
“Rencana kita berhasil. Kita akan bisa mengumpulkan keuntungan
seperti dulu lagi. Bahkan badan wakaf
itu terancam akan dibubarkan lagi. Kang
Fauzan akan mudah dikendalikan sama ibu.”
Mendengar percakapan dua orang itu, Haji
Fauzan segera menuju halaman penginapan untuk menanggapi sambutan Ustaz Lukman
dan menentukan sikapnya.
“Saya sebagai nadzir, sekaligus
ketua Yayasan Nurussalam menolak pengunduran diri Ustaz Lukman dan Badan Wakaf
Nurussalam tetap harus kita pertahankan.
‘Alaikum bil jamaah al jamatu rahmatun wal firqatu ‘adzabun. Dengan makin banyak orang terlibat memikirkan
kemaslahatan Nurussalam maka kemajuan dan keberkahan akan mudah diraih.”
Sambutan Haji Fauzan disambut rasa syukur
semua peserta rihlah. Haji Fauzan
menghambur ke arah Ustaz Lukman dan memeluknya erat. Hati seluas samudra selalu menghadirkan cinta
untuk mereka yang masih menghidupkan ketulusan.
*): Kitab Al Busyra fii Manaqib Sayidah
Khadijah Al Qubra, karya Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid
‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari
asy-Syadzili. Penerbit:Hai'ah
Ash-Shofwah al-Malikiyyah
Glosarium:
1.
Akhi: saudaraku (laki-laki)
2.
Ana: saya
3.
Antum: Kamu
4.
‘Alaikum bil jamaah, aljama’atu rahmatun
wal firaqu adzabun: hendaklah atas kalian berjamaah,berjamaaih itu rahmat
dan berpecah belah itu adzab
5.
Fa
idza azzamta fa tawakkal ‘alallah: jika sudah bertekat
maka bertawakallah pada Allah
6.
Laundry: jasa pencucian baju
7.
Life skill: keterampilan hidup
8.
Ma’had: Pesantren
9.
Muwaqif: pemberi wakaf
10.
Nadzir: penerima wakaf
11.
Namimah: adu domba
12.
Resep pisan: senang sekali
13.
Rihlah: Perjalanan
14.
Syirkah: koperasi
15.
Unek-unek: isi hati yang menjadi beban
16.
Wilujeng sumping: selamat datang
17.
Workshop: bengkel keterampilan
Event Jejak Ke-13_Puisi Love Yourself
DEAR
ME,
Untuk
padamnya segala nyala
Pada
goresan yang kesekian kalinya
Berdiri
aku, lelah
Pada
cermin buram terbelah
Rengatnya
menahanku dari buraian berkeping
Di
sana, wajahku terpahat seadanya
Segamang
puzzle, tak juga tertata sempurna
Tiap
kilatan pemisah itu memanggilku
Kembali,
menikmati luka
Sendiri
mengupas mimpi
Menyisakan
sampah cerita
Yang
kujadikan kubangan, masa lalu
Suara-suara
kelam menggapai-gapai
Meniupkan
rasa keindahan semu
Memasungku
pada kedalaman nestapa
Hingga
pada nadir akhir kisah getir
Bisikan
itu makin menggema
Pada
ruang rasa dan dinding batinku, dear me,
Kelembutan
cinta seindah suara surgawi
Aku temui
diriku
Hidup
kembali dengan jiwa baru
Penuh
rindu pada bahagia
Pusaran
rasa ada di sini
Saat
pilihanku terjatuh
Untuk
cinta pada diriku, sendiri
(Temanggung, 8 September, saat
sayatan itu hadir kembali)
Event Jejalk Ke-15_Puisi Kartini
WANITA PENGABDI CAHAYA
Mulia nama, megah silsilah
ketinggian derajat pangkat
tak membuatmu menjadi kristal mahal
dalam kaca berteralis
Kepedulian tatap mata welas asih
berkelindan pada hatimu yang bersih
pekat kepedihan derita kaummu
tak cukup dengan berpangku
bahagiamu bertumpu pada senyum sesama
Saat kau tak bisa,
kau kais bongkah-bongkah asa
berkutat bak penuntut pada si empunya
kau pencari cahaya sejati
ilmu yang tertoreh pada jiwa ulama
Cahaya yang kau kutip
tak rela hanya terintip
kau pancarkan kembali
pada majelis para gadis
juga kaummu, wanita-wanita terlunta
Pengabdi cahaya, gerakmu tak terhenti
aku kini, penikmat semangatmu
jasa itu tak tertukar oleh doa dan puisi
izinkan aku memanggilmu, IBU
Lalu penaku terus menari menjadi balerina
memekarkan senyumku
nyala
Event Jejak Ke-14_Cerpen Tanda Tanya
HARUSKAH KAMU PERGI, RATIH?
“Kamu harusnya bersyukur. Gusti Allah wis maringi rahmat sing
akeh.Wis pira cacahe anakmu kabeh? Kenapa tidak seorang pun cucuku yang kau
bawa?” Sorot mata tajam ibu menguliti hati
Ratih. Hanya air mata yang bisa ia
persembahkan buat orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Ibu.
“Kowe kudu bisa momong atine wong tuwa. Keriput di wajahnya selalu bertambah tiap
kali kamu pulang tanpa suami dan anak-anakmu.”
Mbak Yu Ginah ikut-ikutan mengeroyok Ratih tanpa ampun.
***
Pernikahan dengan Wisnu memang menjadi
dambaan Ratih. Diam-diam dalam tiga
tahun setelah Ratih lulus kuliah dan mendapat pekerjaan, ada seseorang yang
hinggap di hatinya. Tidak banyak alasan
yang dapat Ratih rangkum hingga menjatuhkan pilihan pada lelaki itu.
Teman sekantor Ratih di perusahaan
properti. Wisnu Prasetya, sosok yang
membuatnya kagum. Bukan karena
keramahan, romantisme, keakraban atau hal-hal lembut yang disukai perempuan. Ratih menyukai ketegasan yang ditampakkannya
saat menertibkan segala urusan kantor.
Manajer yang berwibawa
menurutnya. Kaku menurut orang lain. Tapi Ratih tidak peduli dengan penilaian
orang tentang diri Wisnu. Ratih tetap kukuh dengan penilaiannya sendiri. Segala bentuk kekaguman Ratih membuatnya
ingin tampil sempurna di depan
Wisnu. Semua tugas ingin Ratih
selesaikan . Ia ingin menjadi yang
terbaik di hadapan pujaan hatinya itu.
“Ratih, saya puas dan pas dengan hasil
kerja kamu. Saya bisa mempromosikan
kenaikan jabatan untuk prestasi yang sudah kamu tunjukkan.” Pujian dan janji jabatan yang Wisnu ungkapkan
bukan sekedar pemanis bibir. Dalam tiga
tahun sebelum pernikahan mereka, Ratih telah mengalami beberapa pemindahan
tugas yang lebih menjanjikan.
“Ratih, kantor kita sedang heboh. Kamu tahu, nggak?” tukas Kesih saat mereka berdua makan siang di
kantin kantor.
“Aku kurang banyak ngegosip bareng
temen-temen kantor, Kesih. Kamu tahu
sendiri, aku ketimbun tugas dari Pak Wisnu.
Selesai satu dokumen, dia akan memberiku tugas dokumen berikutnya.”
Rasa penasaran mengaduk-aduk hati Ratih
tentang gosip di kantor menyangkut dirinya dan Wisnu. Kesih mulai bercerita tentang suatu hal yang
membuatnya malu. Ada yang tahu detail
rahasia hatinya.
“Aku dapat tugas dari Pak Wisnu buat
mencari dokumen tiga tahun lalu, tentang detail kegiatan kantor kita. Seseorang petinggi KPK menemukan penyimpangan
keuangan yang dilakukan pejabat. Nah,
salah satu aliran dana yang pernah terendus KPK ke kantor kita. Kamu jangan marah, ya. Ternyata di gudang kantor itu ada diary
kamu. Maafkan aku dengan sangat terpaksa
aku baca.”
Ratih terbeliak seakan mimpi di siang
bolong. Kesibukan kantor membuatnya lupa
menyimpan baik-baik rahasia hati yang telanjur tertoreh pena. Ratih benar-benar speechless dengan
nasib naas yang menimpanya “Tahu bahwa rahasia hatinya diketahui orang lain.”
Ekspresi marahnya dituangkan dalam
diam. Kesih salah tingkah dengan respon
negatif Ratih.
Segala daya upaya Kesih kerahkan untuk
membuat Ratih tersenyum.
Ratih mencoba membongkar memori tentang
diary yang pernah hilang. Perlahan Ratih
ingat kembali diary pink hadiah ulang tahun dari Mbak Yu Ginah. Diary itu pernah dua hari membuatnya
uring-uringan. Mencari dan nihil.
Diary itu berisi kegiatan penting hariannya
di kantor, curahan hati dan perenungan diri.
Ratih masih sangat ingat perasaannya tentang Wisnu. Kekagumannya bukan hanya pada fisiknya yang
mendekati ideal tapi lebih pada profesionalisme sebagai rekan kerja.
“Ratih, maafkan aku, ya. Tapi tenanglah hanya aku dan Pak Wisnu yang
tahu rahasia kamu. Jadi kamu nggak perlu
malu.” Kesih mencoba menangkap rona
merah jambu di dua pipi Ratih. Ia sangat
memahami perasaan Ratih. Itulah yang
menjadi alasan kedekatan mereka.
“Justru aku nggak mau dia tahu. Kalau cuma kamu, aku nggak keberatan.”
“Apa yang membuatmu keberatan, Ratih. Bukankah ini kesempatan buat kamu keluar dari
siksaan hati? Aku menangkap ketulusan
hati pada diarymu. Sebagai teman
terdekat, pantaskah aku membiarkan rasa hatimu hampa?”
Kemurnian kasih pesahabatan tercium kental
pada ungkapan Kesih. Ratih mencoba
mengembangkan senyum. Mencairkan
kebekuan bersama harapan cinta yang akan terbalaskan.
“Aku nggak akan cerita ke kamu sebelum aku
yakin kalau cintamu bakal terbalaskan, Ratih. I can guarantee.”
“Terimakasih untuk pengertianmu,
Kesih. Lalu gosip apa yang beredar di
kantor?”
“Pak Wisnu akan melamar kamu.”
“Secepat ini, kah? Lalu kenapa bisa jadi gosip temen-temen
kantor?” tanya Ratih polos.
“Ratih, tiga tahun masih kamu anggap
cepat? Cukup sulit buat meyakinkan Pak
Wisnu bahwa kamu gadis yang pas untuk dia.
Perjuangan aku membuahkan hasil.
Keperluan lamaran, aku yang memesankan buat kalian. Lama-lama temen kantor pada tahu.”
Ratih merasa bersyukur dengan semua
pengorbanan Kesih. Siang itu Ratih
menyadari pentingnya kehadiran sahabat sejati.
***
Kedatangan keluarga Wisnu mengagetkan
keluarga Ratih. Ratih belum sempat
bercerita tentang rasa hatinya pada sang arjuna. Hari itu juga setelah Kesih menyampaikan niat
lamaran Wisnu, mereka sudah berada di depan rumah. Secepat kilat.
Ada tanya dalam hati Ratih. Benarkah Wisnu tipe dambaannya? Rasanya tidak. Tidak ada kemesraan yang membuatnya berbunga-bunga.
Setahun, dua tahun, lima tahun bahkan
hingga lima belas tahun, datar. Meskipun
begitu, lahir juga anak-anak mereka.
Juwita, Reza, Mufti, Farrah dan Zuma.
Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang lucu dan menyenangkan.
Semua kebahagiaan ini tak pernah lepas dari
kehadiran Kesih. Dia telah terlibat jauh
dalam kehidupan pribadi mereka bahkan sejak sebelum pernikahan Ratih dengan
Wisnu.
“Ma, kamu lebih cocok jadi istri kantorku
daripada istri di rumah. Semua urusan
rumah tangga kita banyak melibatkan Kesih.”
Seakan sambaran petir kalimat itu menyerang Ratih. Kesadaran akan keadaan ini menyeruak di
relung kalbuku. Ratih tidak bisa
mengelak dan pasrah dengan penilaian Wisnu.
“Bukankah Papa yang meminta dia mengurus
semuanya? Dia sekretaris pribadi
Papa. Sementara aku sekretaris
administrasi di kantor ini.”
Sekelebat senyum suaminya terbayang begitu
mesra pada Kesih. Bukan sekali dua
kali. Ratih tak pernah mendapatkan
senyuman itu. Senyuman itu berbeda. Lebih dari senyum yang ia dapat saat tugas
kantor terselesaikan rapih sesuai pesanan Wisnu.
“Ratih, ulang tahun Juwita yang ketiga belas
sudah aku urus. Keperluan syukuran
jangan sampai mengganggu tugas kantor yang banyak menyita waktu kamu.” Tawaran Kesih tak pernah mampu Ratih tolak, demi kelancaran urusan
rumah dan kantor. Kesih seperti wanita
lain dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Bahkan anak-anak pun begitu dekat dengan Kesih. Ratih dilanda cemburu tapi ia tak bisa
mengelak dari keterlibatan Kesih.
Bertubi-tubi tawaran jasa baiknya ternyiang
di telinga Ratih, tentang syukuran tujuh bulan anak-anaknya, ulang tahun
mereka, persiapan wisata bersama teman sekantor dan banyak hal lainnya.
Tiba-tiba dada Ratih sesak. Selama ini Ratih hanya menganggapnya sebagai
sahabat terbaik. Tidak lebih. Tapi setelah Wisnu mengungkit keterlibatan
Kesih, ada rasa yang lain dalam hatinya.
“Ma, kamu tidak memperhatikan nasib sahabat
baikmu itu?” tanya Wisnu di sela kesibukannya mengerjakan tugas kantor.
“Maksud Papa?” Ratih balik bertanya.
“Pernahkan kamu menanyakan kapan dia mau
menikah?”
Ratih memalingkan pandangannya dari layar
pendar. Tersadar bahwa ia terlalu
egois. Semua rutinitas membuatnya
seperti robot. Hidup dari satu file ke
file lain. Dari dokumen ke dokumen. Usia Kesih sudah memasuki kepala empat, dua
tahun di atasnya. Namun belum pernah ia
ikut membantu mencarikan atau sekedar memikirkan jodoh buat Kesih.
“Papa sebagai atasnya seharusnya bisa
mencarikan jodoh buat Kesih.” Ratih
ngeles untuk kemudian kembali memainkan tuts keyboard laptopnya.
“Aku berniat melamarnya. Dan itu butuh persetujuan kamu, Ma. Aku bisa terjerumus dalam dosa kalau kamu
tidak menerima dia dalam keluarga kita.”
Ratih hanya diam. Tanpa memberi jawaban. Sebuah tiket kereta api online ia pesan. “Aku harus pergi,” bisikan batinnya
berhembus terlampau kuat. “Biarlah Mas
Wisnu memilih Kesih. Aku bisa hidup di
apartemen dengan tabungan kerjaku selama ini.
Aku akan mencari peluang kerja di perusahaan lain.”
Gawai Ratih berdenting. “Ma, pulanglah. Perusahaan butuh kehadiran kamu. Aku tidak bisa mencari pengganti seterampil
kamu. Tanpa kamu perusahaan terancam
mundur.” Wisnu masih terus menghubungi
Ratih.
Dia tidak menceritakan keadaan
anak-anak. Anak-anak tidak menghubungi Ratih, sebagaimana
kerinduan anak pada ibunya. Ratih
sendiri tidak merasa kehilangan anak-anaknya.
Yang Ratih rasakan hanya nyeri, merasa tidak dicintai oleh suami
dan anak-anak. Dia merasa terasing.
Tidak ada keinginan lain. Ratih
tak ingin bertemu mereka kembali.
Digantinya nomor gawai. Ratih menghapus
semua nomor yang mengingatkannya pada kehidupan kantor dan rumah tangganya. Ratih ingin menjadi manusia baru.
***
“Kamu salah, Ratih! Lunga seka omah iku pada karo mlayu seka
medan perang! Lagi pula berpoligami
itu sah dalam ajaran agama kita. Kamu
terlalu egois. Lihat kesedihan ibu. Kemunduran perusahaan suami kamu. Semua berdampak pada perekonomian untuk
membesarkan anak-anak kamu!” Zizah,
kakak kedua Ratih menceramahinya dengan banyak dalil agama yang tak mampu ia
cerna.
“Aku ngerti Kesih iku sapa! Dia yang membantu kamu dalam banyak hal. Bahkan dia telah berjasa menjodohkan kamu
dengan seseorang yang kamu cintai. Lalu
saat Kesih tak juga mendapatkan pasangan, kamu tidak berempati sedikitpun. Mana perasaan hati kamu?” Mbak Yu Ginah menyambung tak kalah pedas.
“Memiliki madu itu bukan suatu kehinaan,
Ratih. Kalau kamu bisa menyelamatkan
rumah tangga, kenapa tidak. Emak yakin
Kesih wanita yang baik,” imbuh Zizah.
“Kalau memang kalian menerima poligami,
coba berikan contoh dulu. Aku mau bukti
rumah tangga kalian bakal lebih baik atau sebaliknya.” Ratih mulai melawan cecaran kakak-kakaknya.
Suasana sudah makin panas. Perdebatan terjadi hampir tiap mereka bertemu
dalam satu ruangan. Ratih ingin
meninggalkan rumah keluarga besarnya yang sudah menjadi neraka buatnya.
“Mbak, Ningrum punya banyak kawan yang bisa
menenangkan Mbak Ratih.” Bagi Ratih
hanya Ningrum menawarkan kesejukan. Dia,
adik bungsu yang tak pernah menyerangnya.
Kini Ratih bersama mereka. Orang-orang bebas di antara gemerlap lampu
warna-warni. Musik keras membahana. Tarian di atas panggung membuatnya lupa dari
mana ia berasal. Seteguk air dosa
mengajaknya menari di atas awan.
Berlari dari kebisingan jiwa.
Suara itu begitu kuat memanggilnya menikmati surga dunia.
Glosarium:
1. Gusti
Allah wis maringi rahmat sing akeh.Wis pira cacahe anakmu kabeh?=Tuhan sudah memberi rahmat yang
banyak. Sudah berapa semua anakmu?
2. Kowe
kudu bisa momong atine wong tuwa=Kamu harus memelihara perasaan hati orang
tua
3. Lunga
seka omah iku pada karo mlayu seka medan perang! =Pergi dari rumah itu sama
saja dengan lari dari medan peperangan
4. Aku
ngerti Kesih iku sapa!=Aku
tahu Kesih itu siapa!
Event Jejak Ke-15_Puisi
Memiliki dan Kehilangan
REMANG BAYANGMU
Rangu bejana hati
Terhampiri berkali-kali
Aku hanya merasa memiliki
Bermain sendiri, datang
dan pergi
Sang waktu tertuju
Memaksa memburu
Tak sekedar berlalu
Bertahta bak ratu
Bisikan surga memacu
Aku menata ayu
Saat rasa dipuja
Oleh balas sapa penuh
makna
Desiran kala jumpa, pahat
senyum lena
Kalbu mengukir rasa
Bebas membahana
Lupa segala
Liar jiwa bayang angkara
Gumul noda dosa
Kisah belum sempurna,
Sayang…..
Meniti jalan panjang
Makna cinta sejati
membentang
Bestari lisan memberi
timbang terlarang
Cahaya benderang, nanar,
kau pun hilang
Silu nafsu menembus remang
Cinta putih meretas gamang
Abadi tanpa memiliki
Memulas senyum kasih
hakiki
Tasikmalaya, 25 Dzulhijjah 1440 H
Event Jejak Ke-16_Kisah Inspiratis
Harmonisasi Hubungan Antarummat Beragama
KARENA AKU SAYANG KAMU
Sebuah tindakan konyol untuk menolak
pluralitas, bagaikan air yang tak ingin mengalir ke tempat yang lebih
rendah. Karena perbedaan adalah
sunatullah yang akan terus ada di muka bumi ini. Aku ingat sekali nasihat ustadz favoritku.
”Jika Allah menghendaki semua manusia
beriman sangat mudah bagi-Nya. Tapi
tidak demikian kenyataannya. Dia
menciptakan berbagai perbedaan untuk menjadi ujian bagi manusia, siapa yang
paling baik dan bijak dalam bersikap,” kata Ustaz Faqih memberi kami
kalimat-kalimat yang menyejukkan pada suatu kuliah Subuh
Nasihat ustaz sangat bermanfaat menjadi
bekal buatku dalam merajut persahabatan dengan teman-teman yang berbeda
keyakinan. Di sekolahku yang merupakan
sekolah unggulan di pusat kota kabupaten, pemeluk agama Islam memang mayoritas
namun ada beberapa yang beragama Kristen, Katholik, Budha bahkan satu orang
beragama Hindu, pindahan dari kota Denpasar Bali.
Aku
punya teman baik bernama Yusliana, seorang keturunan Tionghoa.Dia seorang gadis
yang cantik dan kuat memegang keyakinan agamanya.Kami saling memberi dan
menerima juga saling terbuka menerima prinsip masing-masing.
Sebagai teman sekelas, kami sering berada
dalam kelompok yang sama dalam mengerjakan tugas dari guru-guru kami. Suatu
saat kami harusmengerjakan tugas kelompok di rumah Yusliana.Awalnya aku ngeri
membayangkan keadaan rumahnya.Anjing penjaga, gambar-gambar Yesus dan Bunda
Maria juga kayu salib berkelebat silih berganti dalam benakku. Belum lagi sikap orang tuanya yang mungkin
akan berbeda karena aku berhijab.
Sesampai di rumahnya, semua yang
kubayangkan rontok dengan sendirinya.Keluarganya tidak memelihara anjing rumahan, hanya seekor
anjing dalam kurungan terpisah dari rumahnya.
“Yus, kamu nggak memelihara anjing
rumahan?”tanyaku bernada keheranan.
“Tidak, Dijah. Sebagian kerabat kami muslim. Kami nggak ingin mengganggu kenyamanan mereka
saat berkunjung kemari.Kata mereka air liurnya najis dan merepotkan mereka saat
hendak sembahyang,” jelas Yusliana.
Alhamdulillah satu kekhawatiranku menguap
begitu saja. Tentu sama seperti kerabat
muslim Yusliana, aku pun takut terkena najis dari air liur anjing.
Sebelum kami berempat, aku, Yusliana, Indri
dan Leni, memulai kerja kelompok,
Yusliana membawakan segelas es teh manis buat kami. Semua tersenyum lebar karena haus sudah
mendesak-desak kerongkongan kami.
Ya, kami berjalan kaki dari sekolah ke
rumah Yusliana.Guyuran sinar matahari lepas jam satu siang meronakan kulit dan
mengucurkan keringat kami. Keringnya
kerongkongan membuat Indri dan Leni segera menyentuh gelas berembun di depan
mereka. Tapi aku ragu dan memberanikan
diri buat bertanya.
“Sebaiknya jangan kalian minum dulu!Ada
sesuatu yang ingin aku tanyakan ke Yusliana,” kata-kataku tercekat.“Jangan
marah, ya, Yus!Kita sebagai sahabat sudah sepakat buat menghargai keyakinan
kita masing-masing.Setuju?”
“Jangan khawatir, Dijah.Aku paham sepenuhnya
kalau itu memang hal prinsip yang kalian pegang, aku siap memahami dan membantu
kalian buat taat.”Yusliana tetap tersenyum.Senyum yang membuatku makin sayang
pada ketulusan dan kelapangan hatinya.
Aku menjelaskan tentang kedudukan babi
dalam Islam. Bahwa babi dan segala
bagiannya adalah najis besar yang harus disucikan dengan cara khusus. Bila penyuciannya tidak benar maka barang itu
najis, berikut air minum yang dituangkan di dalamnya.
Yusliana segera mengangguk penuh
pengertian.Ia langsung menggantistrategi menyudahi haus kami dengan memesan es
jus di depan rumahnya.
Untuk berbagai hal ia kadang tergelitik
dengan aturan dalam Islam yang dipandang rumit.
“Dijah, aku pikir kalian repot banget ya,
menjalankan aturan agama kalian yang super ketat. Sholat harus lima kali. Babi dan anjing najis dan harus dibersihkan
dengan debu dan air tujuh kali. Aku sih
nggak kebayang bisasetaat kalian dalam ibadah,” katanya suatu saat di depan
kelas di jam istirahat.
“Yus, kami bisa menjalaninya karena ada
rasa cinta pada Tuhan dan bukti kesyukuran atas nikmat hidup yang kita sama
sekali nggak bersusah payah menyediakan semua kebutuhan dan semua tinggal pakai
gratis.Udara, matahari, air, bumi yang subur, laut yang indah.Pokoknya
semuanya.Jadi selagi kita masih mampu untuk taat kenapa tidak?”
Kami sering terlibat dalam diskusi serius,
hangat dan menyenangkan.
***
Hari ini ulang tahunku yang ke-16.Dalam
keluargaku tidak pernah ada tradisi merayakan ulang tahun.Paling kami saling
doa dan mengingatkan bahwa jatah hidup pada hari itu telah berkurang setahun.
“Dijah, aku bawa ini buat kamu.”Suara riang
Yusliana mengagetkanku saat bel istirahat pertama berbunyi.Aku sedang mengayun
langkahku menuju masjid sekolah buat sholat Dhuha.
“Apa ini?Nggak ada angin nggak ada hujan
kamu bawain hadiah?” tanyaku penasaran.
“Buat kawan sesalehah kamu, hadiah ini
nggak seberapa.Terimalah!”
“Makasih banyak, semoga balasan buat kamu
lebih-lebih-lebih dari apa yang kau berikan ini,” balasku sambil mendoakan
dalam hati agar suatu saat Yusliana mendapat hidayah Islam.Balasan yang dalam
keyakinanku lebih baik dari dunia dan seisinya.
Di mushala aku buka hadiah itu setelah
munajat Dhuhaku.
Sebentuk amplop yang berisi surat dan
sebatang coklat kesukaanku.
Untuk sahabat salehahku, Dijah
Selamat ulang tahun, moga panjang umur,
makin pinter dan bahagia.
Aku hanya ingin memberikan kalimat indah
dan tiada kalimat yang lebih indah melebihi kitab suci.”Mazmur, untuk korban
syukur. Bersorak-soraklah bagi Tuhan,
hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada
Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapannya dengan sorak soraiMasuklah
melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan
puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!Sebab Tuhan itu baik,
kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap
turun-temurun.(Mazmur 102:1-5)
Semoga dengan bertambahnya usia Dijah,
makin disayang Tuhan.
Salam hangat sahabatku
I love you.
Aku lipat secarik surat itu. Campur aduk perasaanku saat itu. Hatiku bertanya-tanya, apa maksud Yusliana
mengirimkan ayat-ayat agamanya? Aku
sedikit meragukan ketulusan persahabatannya.Aku curiga dia ingin mengajakku
memasuki agamanya.Surat itu aku simpan lebih dari seminggu dan tidak aku balas.
Di sekolah pun aku menghindari perbincangan
dengannya.Aku lebih memilih menyendiri di perpustakaan.Sampai nasihat Ustaz
Faqihmenjawab pertanyaanku di suatu kuliah Subuh meluluhkan semua kecurigaan
ini.
Akhirnya, yang kupikirkan adalah segera
membalas kebaikannya tanpa harus menunggu even penting Yusliana. Aku pikir akan terlalu lama menunggu dia
ulang tahun.
Sepulang sekolah aku mampir sebentar ke
sebuah toko buku.Aku ingin memberinya hadiah buku diary.Ada diary bagus
bertengger di salah satu rak penjualan.Seminggu yang lalu dia bilang diarynya
akan over dalam sepuluh hari ini. Artinya sekarang tinggal tiga halaman
lagi.Yusliana memang paling hobi nulis diary, jadi aku rasa hadiah ini paling
pas saat ini.Semoga Yusliana belum membeli diary yang baru.
Aku mulai merangkai kata yang paling pas
buat membalas suratnya.
Buat Yusliana yang berhati pualam,
Maafkan aku, Yus.Mungkin kau merasa aku
menghindari kamu dalam seminggu ini.Terus terang aku sempat meragukan tulusnya
persahabatan kita.Aku merasa curiga dengan kutipan ayat yang kau tulis itu.
Tapi aku sudah mendapatkan jawabannya dari
nasihat guruku, Ustaz Faqih, bahwa
bertukar pengetahuan agama boleh saja asal tidak memaksakan keyakinan kita
masing-masing. Sekali lagi maaf aku sudah
berburuk sangka.
Terimakasih banyak, coklatnya manis
banget. Semanis budi baik
kamu.Seumur-umur baru kali ini aku dapat hadiah ulang tahun.Hanya kamu yang
paling perhatian untuk bertambahnya umurku.
Meminjam kalimat indah yang kau tulis,
bahwa takada kalimat yang lebih indah dari kitab suci, perkenankan aku mengutip
firman-Nya: ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan
lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah)
agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah
kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Allah (QS. Ar Rum:30-31)
|
Yus, kalau boleh aku berkata
jujur, saling memperkenalkan kebenaran yang kita yakini adalah bagian
terindah dari persahabatan kita. Aku
yakin kau menyampaikan apa yang yakini karena kau menginkan kebagiaan buat
aku di dunia dan di syurga kelak.
Begitu juga dengan aku, aku ingin dan selalu berdoa petunjuk Tuhan
untukmu. Semoga diarynya bermanfaat. Salam sayang persahabatan dalam
kemanusiaan.
Persabahabat indah ini berlangsung tiga tahun lamanya. Setelah kelulusan dari SMA kami
berpisah. Aku ke Bogor, Yusliana ke
Semarang dan kami kehilangan kontak sampai saat ini. Sebagai hadiah perpisahan, kami bertukar
kitab suci kami masing-masing.
Yuslianamemberikan Bibel. Aku
buka halaman pertamanya bertuliskan doa ‘Semoga bahagia untuk sahabat salehahku’. Aku membayangkan di seberang sana Yusliana
sedang membuka Alquran terjemah yang aku berikan. Sambil tersenyum Yusliana membuka lembar
pertama yang aku bubuhi tanda tangan dan bertuliskan ‘Semoga petunjuk dan
bimbingan Tuhan untuk sahabat tulusku’.
Aku terkenang kembali pesan Ustaz Faqih yang tercatat rapi dalam buku
kajian rohani di sekolah sampai saat ini: “Bertukar ilmu pengetahuan tentang
keyakinan masing-masing itu tidak mengapa, asalkan kita tidak memaksakan
keimanan pada orang lain. Apalagi
dengan tekanan dan iming-iming duniawi.
Pluralitas ini harus dirawat tanpa harus mengakibatkan
pluralisme. Biarkan masing-masing
pemeluk agama meyakini bahwa agama dan keyakinannya saja yang benar. Asalkan jangan meyakini semua ajaran agama
sama dan benar semua. Memaksakan
sesuatu yang berbeda adalah sama justru berbahaya karena menyalahi akal dan
logika. Hal ini berpotensi menyalahkan
semua agama dan memunculkan atheisme.
Biarkan perbedaan ini tetap ada dalam harmonisasi dan kerukunan.” |
|
Event
Jejak Ke-17_Cerpen Di Penghujung Waktu
ENGKAU
MENJELANG TIBA
Napasku terengah, sesak. Pandangan mataku nanar, seakan terhalang
kabut pagi yang pekat. Kucoba mengingat
apa yang telah terjadi, tetapi gagal.
Aku tak bisa menghubungkan antara kehidupanku yang serba indah di masa
lalu dengan keadaanku sekarang. Sangat
kontras, nyaris tanpa rantai penghubung.
Aku berada dalam kondisi missing link.
Entah sampai kapan aku akan merasa terasing. Tuhan, berikan aku cahayaMu.
Aku usap mukaku, kuseka mata, berharap ada
secercah sinar yang memberiku informasi tentang dunia luar. Ah, percuma, mataku makin rabun. Sepertinya jemari yang aku pakai menyeka
mataku menambah buruk pandanganku.
“Aries, kamukah itu?” Sebentuk suara yang aku kenal menyejukkan
pendengaranku. Setidaknya aku tidak
sendirian. Rasa berbunga melambung dari
dasar hatiku, apalagi aku tahu itu suara gadis yang selama ini menyita
ingatanku, Atikah.
“Kamu Atikah?
Maaf aku tidak bisa mengenalimu kecuali dari pendengaranku. Mataku rabun parah.” Aku terpaksa mengungkapkan keadaanku yang
sebenarnya. Mungkin ini pertama kali aku
mengeluh pada perempuan. Sesuatu yang
sangat aku benci, tapi… Apa boleh
buat. “Aduh, kepalaku sakit!” jeritku saat
selembar kain jatuh di atas kepalaku.
Aku
baru teringat. Sebelum kesadaranku
hilang ada beberapa sepihan sebesar batu kerikil melesat dan menimpa kepalaku,
sangat keras sesaat setelah dentuman maha hebat itu terdengar. Kemudian semua menjadi gulita.
“Sebentar
Aries, aku ambilkan air untuk memperbaiki pengelihatan kamu.”
Aku
belum bisa membuka mataku lebar-lebar.
Pedih rasanya. Suara gemersik
langkah Atikah di atas pasir memberitahuku bahwa ia pergi kemudian datang
kembali tidak sendirian. Aku bisa
menduga ada tiga orang yang menghampiriku.
“Ini
kain bersih, air secukupnya dan larutan gula.
Semoga bisa menjernihkan matamu.”
“Terimakasih Atikah, kamu baik
sekali.” Aku tak bisa menyembunyikan
getaran halus yang memacu jantungku.
Kucelupkan
mataku pada larutan air gula yang disodorkan Atikah. Kupejam dan aku buka mataku perlahan pada
larutan itu. Ada rasa pedih yang
menggigit lalu perlahan hilang.
“Coba
sekarang basuh pakai air bening ini.
Semoga semua akan lebih baik.”
Suara yang berbeda dan tak kukenal memberikan saran. Aku terima saja apa yang mereka mau. Aku seperti anak kecil yang banyak kehilangan
kemampuan.
Alhamdulillah,
aku sudah bisa membuka mataku sempurna, meskipun ada rasa mengganjal di pelupuk
mata. Setidaknya aku sudah bisa melihat
wajah sendu Atikah, yang tak berani aku tatap berlama-lama. Aku segera mengalihkan pandangan ke langit.
Warna
jingga kekuningan menimbulkan rasa tidak nyaman pada siapa saja yang
menatapnya.
“Jam
berapa ini? Aku belum sembahyang…” Tuturku tercekat karena aku tidak tahu berapa
waktu salat yang sudah aku tinggalkan.
“Hmmm,
tidak ada yang tahu waktu dengan tepat, Aries, semua produk teknologi telah
berhenti beroperasi. Bersamaan dengan
gumpalan asap yang memenuhi atmosfer bumi kita.”
“Jadi
asteroid itu sudah membobol pertahanan Sabuk Van Allen yang melindungi bumi
kita?” Dugaan sekaligus kekhawatiran
besar kami akhirnya terjadi juga. Kajian
bersama Ustaz Zulkifli Ali yang banyak dicibir orang yang tidak memahami ilmu
tentang akhir zaman, akhirnya benar-benar menghampiri penghuni bumi. “Mana android paling tipis yang baru aku beli
dari Amerika?” tanyaku bernafsu. Aku
membelinya dengan mengeluarkan separuh dari tabunganku. Benar-benar gila, semua menjadi onggokan
sampah tanpa makna.
Aku
menimang-nimang android yang aku keluarkan dari saku celanaku. Percuma, tidak berguna. Aku banting benda mahal itu di atas debu
tebal yang mengendap di dataran tempat kami berkemah. Benar-benar Dukhan telah merenggut paksa
peradaban manusia.
Dari beberapa tenda terdengar suara peserta
kemah terbatuk-batuk. Bahkan ada yang
mukanya melepuh seperti terkena luka bakar.
Beginikah jejak yang dilukis asteroid untuk penghuni bumi?
Aku
bersyukur penderitaanku tidak seberat Thomas, Lukas, Anton dan Martalena. Sekarang bagian kami yang harus turut
membantu mengurangi penderitaan mereka.
Atikah, aku, Maryam dan Lukman berusaha mengobati luka-luka mereka
dengan apa saja yang bisa kami gunakan.
Sementara itu persediaan P3K sudah menipis, kami mencoba mencari
dedaunan hutan untuk membalur luka mereka.
Tapi malangnya, pepohonan di hutan itu pun terkena dampak Dukhan,
apalagi tumbuhan yang kecil, pepohonan besar pun melayu.
“Atikah,
tolong beritahu aku, berapa waktu salat yang harus aku ganti selama aku
terlena.” Aku masih mendesak Atikah
untuk menghitungkan salat yang dikerjakannya setelah Dukhan mengamuk.
Atikah
berpikir sejenak mengingat hari yang kehilangan pemandu waktu, jam dan matahari
sekaligus. Dia hanya mencoba menghitung
dari jam biologis kapan tertidur dan bangun kembali. Gadis yang tidak pernah kehilangan waktu
tahajud itu dengan mudah tahu waktu dari rutinitasnya.
“Lima kali Zuhur, Asar dan Magrib, empat kali
Isya dan Subuh,” jawabnya tanpa ragu.
“Jadi
aku pingsan menjelang Zuhur dan sadar setelah maghrib Maghrib? Pantaslah aku teramat kelaparan waktu
itu. Terima kasih untuk telor dadar dan
segelas susu yang membantu memulihkanku dari lunglai yang panjang, Tikah!”
“Kita
harus segera pulang meninggalkan perkemahan ini. Aku rindu ayah ibu dan adik-adikku di
rumah. Apa kabar mereka yang ada di
kota. Aku khawatir kalau asteroid itu
jatuh di laut. Tentulah mereka yang
tinggal di pesisir pantai sudah habis.”
Atikah menunduk sedih. Hatinya
yang lembut lagi-lagi membuatku mengaguminya.
“Kita
kehilangan fungsi kompas digital. Semoga
navigasi bisa terbantu dengan kompas manual.”
“Tidak
bisa, Aries, Arah kutub sudah bergeser beberapa derajat. Jalan satu-satunya menggunakan penanda cakra
yang kita goreskan selama perjalanan."
Maryam mulai cemas dengan semua keterbatasan yang menjerat mereka. Semua kemudahan yang memanjakan itu terenggut
paksa oleh keadaan. Raut muka imutnya
makin membuat kesan melankolis dipertegas oleh genangan telaga di pelupuk
matanya.
"Kita harus saling menguatkan. Apapun yang terjadi semua dalam genggaman
kuasaNya. No problem with our
limitation, toh semua merasakan hal yang sama dengan kita. So jalani dan nikmati apa yang akan Allah
tentukan buat kita. Bukankah semua yang
belum terjadi adalah rahasia. Anggap
rahasia itu seperti bentangan layar sinetron yang ditunggu-tunggu para
penontonnya, sama aja, kan?"
Retorika Lukman kadang penting juga pada kondisi serba susah ini.
"Dengerin, tuh, Maryam, bukannya kamu
paling hobi ngepiat drakor. Nah, drama kehidupan ini maha karya dari yang serba
Maha." Atikah menambahkan
wejangannya. Maryam tersenyum simpul
seakan membenarkan nasihat sahabatnya, padahal selama ini dia paling ribut
kalau kehilangan satu episode saja drama kesayangannya.
Kami terus menyusuri sungai yang kami
lewati saat berangkat kemah. Semuanya
sudah berubah, air sungai keruh oleh debu kosmik yang memasuki bumi.
Hari ini matahari sudah mulai tampak
normal, seperti mendung biasa. Warna
jingga sudah makin pudar. Suasananya
lebih mirip musim hujan berawan pekat.
Aku mencoba menghitung perjalanan hari sejak asteroid besar menabrak
bumi dan aku hilang kesadaran oleh benturan kerikil. Instingku mengatakan, ini sudah hari ke tiga
puluh lima. Berdasarkan ilmu akhir
zaman, lima hari ke depan matahari akan bersinar seperti biasa dengan
kemungkinan cuaca lebih kering, kadar air dan kelembaban udara akan berkurang.
"Aries, kenapa kita nggak menemukan
tanda silang merah di pepohonan itu, ya?
Jangan-jangan..." Atikah
tidak melanjutkan kata-katanya. Aku bisa
menangkap kecemasan yang dalam.
"Tetaplah
berdoa, Atikah. Allah tidak akan pernah meninggalkan kita." Aku mencoba
menenangkannya sambil memegangi bagian tengkuk yang masih nyeri.
"Kamu belum pulih, Aries?" tanya
Tikah.
Aku enggan menjawabnya, lebih baik aku pura
baik-baik saja, padahal masih bisa sadar pun aku bersyukur sekali.
Perbekalan kami sudah sepuluh hari
habis. Beruntung sungai besar ini
menyediakan rezekiNya untuk kami.
Kecemasan hilangnya jejak tanda silang merah membuat kami berhenti dulu.
Saat kami rehat, serombongan orang asing
berkuda menyusul perjalanan kami.
Perasaan hatiku layaknya berada di abad limabelasan, serba aneh. Mereka berwajah Arab atau lebih tepat
Pakistan atau Afghanistan bila melihat wajah dan pakaian stelan jubahnya. Perawakan tinggi, kurus berserban, menaiki
kuda lengkap dengan busur dan anak panah di punggungnya..
Semua kami tersenyum kecuali Maryam. Dia masih juga cemas, “Orang asing itu mau
apa kemari?”
“Tenang Maryam, mereka orang baik. Aku yakin mereka diutus untuk menyampaikan
kabar buat kita,” ungkapku seakan menemukan titik terang tentang hadirnya
pemimpin umat yang ditunggu kedatanhannya, Muhammad bin Abdullah.
Tanpa ragu aku hampiri mereka. Entah bahasa
apa yang mereka gunakan. Sedikit bekalan
bahasa Arab dari pondok barangkali besar manfaatnya.
“Assalamualaikum, afwan ya akhunaa. Kami kehilangan jejak untuk keluar wilayah
ini. Apakah antum bisa menunjuki kami
jalan?” Aku menyalami keenam penuntun
kuda itu. Alhamdulillah mereka cukup
ramah. Sementara Lukman menyusul di
belakangku.
“Waalaikum salam, kami sedang menuju kota
dengan menyusuri sungai ini saat pertemuan akak sungai dengan induknya, kota
tak akan jauh dari sana.” Aku
membenarkan pendapat pimpinan rombongan itu.
“Kalau boleh tahu apa tujuan antum ke
negeri ini?” Lukman bertanya dengan
bahasa Arabnya yang fasih
“Kami mendapat tugas menyampaikan berita
pada umat atas telah datangnya zuriat Rasulullah SAW. Seorang pemimpin yang adil dan mendapat
gelaran Imamul Mahdi.”
“Benarkah?
Lalu apa yang menjadi bukti bahwa pemuda itu Imam Mahdi?” Aku makin penasaran.
“Pasukan dari dua penjuru yang mengejarnya
telah ditelan bumi, tersisa satu orang dan orang itu adalah aku.”
“Antum saksi kunci berita ketibaan dan
kebenaran Almahdi, antum tidak merasa terancam jiwa dari musuh-musuh
Almahdi? Orang yang hasad dan menyimpan
kemunafikan?” Aku mencecar dengan
pertanyaan, terdorong rasa heran bahkan takjub dengan apa yang aku alami.
Selama ini aku belajar ilmu akhir zaman
dari hadis dan tutur para ulama yang ahli.
Aku menyediakan layar-layar lebar selembar demi selembar dalam ruang
imajinasi. Semua itu aku alami dalam
kenyataan di depan mata dengan izin Allah.
Banyak hal yang ingin aku ketahui dari
mereka. Kami meminta izin untuk
bergabung dengan rombongan mereka. Syukur Alhamdulillah, mereka tidak
keberatan. Terbayang olehku betapa pengalaman,
ilmu dan petualangan baru akan kami nikmati bersama mereka.
Event
Jejak Ke-18_Never Give Up
JALAN
TANPA UJUNG
Sayup
sampai
Suara
munsyid kesayangan
Membuai
dalam lamunan
Kakiku
masih tegak berdiri
Penuh
noda, luka, nanah, darah
Lalu
peluru tajam memaksaku tiarap
Bersama
bungkam auman singa-singa perkasa
Sayup
sampai
Senandung
mengharu biru
Melipur
lara lelah jiwa
Sekeping
hati yang berlari
Pada
jalan penuh onak duri
Jalanan
sepi tak diminati
Para
penikmat hina dunia
Aku
sendiri
Terpisah
dari kafilah pemberani
Tak
akan ‘ku berhenti
Meski
ujung tak bertepi
Pangkal
pun tak nampak lagi
Tak
mungkin ‘ku kembali
Biar
kunikmati
Perih
luka tertatih papa
Hingga
ajal mengakhiri kisah duka
Atau
hiburanNya membasuh nestapa
(Temanggung,
2 April 2016)
Event
Jejak Ke-19_Puisi Perdamaian Dunia
DAMAILAH
DALAM DAMAI
Jika
kau bertanya
Dimana
kedamaian?
Kala
cakar-cakar menampar
Lisan
yang terbasahi kebenaran
Hingga
pedang ulama terlempar di sudut penjara
Manusia
dalam Damai diperangi
Mencerabut
hak hidup azasi
Manusia
penggila tahta, harta, wanita
Merampas
napas dunia
Buta
pada makna kata sederhana
Sesungguhnya
hidup cukup pada suapan yang menguatkan
Papan
pelindung dari terik dan hujan
Sandang
yang menutup mata memandang
Waktu
pengabdian dalam rasa aman
Damai
tersungkur di antara puing-puing zaman
Meronta
besama luluh lantak dunia
Manusia
dan kemanusiaan hilang asa
Andai
saja insan menyapa hati dan jiwanya
Kelindan
asa ada di sana
Damai
fitrah yang tak berubah
Damai
ini jalan Tuhan
Damai
ini Jalan Selamat
Damai
ini Jalan Maslahat
Damailah
dalam Berserah
Damailah
dalam Damai
(Tasikmalaya, 5 Juni 2015)
Event Jejak Ke-20_Cerpen Twin Series
SIAPA
KAMU?
Event Jejak Ke-21_Tanda Tanya
KAUKAH IBUKU?
Liburan
semester yang dirindukan akhirnya datang juga. Pesantren Maryam
memberi tugas baksos pada tingkat lima untuk mengadakan baksos atau pengabdian
masyarakat. Hal ini sudah menjadi kegiatan rutin santri tingkat lima
saat liburan. Kata Pak Kyai, mereka harus mempraktikan apa yang mereka dapat di
pesantren. Menjadi rahmat bagi semesta.
Kelompok
Maryam ada lima orang. Nena, Puput, Rahma, Ghina dan
Maryam. Lima gadis dengan lima karakter unik. Nena yang
cekatan. Puput yang manja dan anak ummi banget. Rahma
yang selalu merasa cantik. Ghina yang anggun penampilannya tapi
tegas perkataannya. Maryam yang pendiam, paling muda namun
cerdas. Kelas akselerasi menjadi langganannya sejak SD.
“Kita
mau baksos dimana tahun ini? Kampung aku sudah. Kompleks
perumahan Puput dan Rahma sudah. Tinggal Ghina dan Maryam nih yang
belum kegilir.” Nena membuka diskusi siang ini di mushola pesantren.
“Aku
usul bagaimana kalau rumah pamanku. Di sana ada TPA punya
pamanku.” Ghina menawarkan tempat yang cukup menarik buat mereka
baksos sambil mengajar anak TPA.
“Lingkungannya
gimana, Ghina? Maksudku banyak orang yang masih tergolong menengah
ke bawah nggak?” tanya Maryam. ”Tempat baksos kita nggak
boleh jauh dari orang-orang dhuafa. Nanti sasarannya kurang
mengena. Lagi pula barang-barang yang kita bawa banyakan mie instan
dan pakaian layak pakai.”
“Sepertinya
sih, kebanyakan menengah ke atas. Pamanku tinggal di kompleks
perumahan pusat kota.“
“Kalau
kamu, Maryam. Ada nggak tempat kerabat kamu yang cocok buat baksos
kita?” Ghina menatap Maryam penuh harap. Kiranya Maryam
bisa memberi solusi.
Maryam
terdiam sesaat sambil mengingat-ingat satu persatu kerabatnya yang ada TPA atau
diniyah, PAUD atau apa saja tempat anak-anak kecil belajar. Namun juga
mudah mendapati orang dhuafa.
“Di
tempat nenek aku mungkin bisa. Nenekku punya tempat ngaji bakda
Maghrib. Anak ngajinya juga cukup banyak. Lebih dari tiga
puluh orang waktu aku terakhir mengunjungi beliau. Tapi sayangnya
tempatnya agak pelosok gitu. Nggak ada jalur angkota atau angkodes
yang lewat. Kendaraan yang bisa masuk cuman ojeg sama
delman.” Maryam menjelaskan panjang lebar.
“Nggak
masalah aku kira. Yang penting akses jalannya
bagus. Walaupun mungkin belum jalan aspal tapi rata nggak rusak
seperti sungai kering bebatuan, kan?” Rahma mengundang gelak mereka
berlima.
“Jalannya
aku jamin bagus. Walaupun nggak diaspal tapi batu-batu tua dan keras
tertata rapi. Artistik malah.”
Mereka
berlima merasa mendapat solusi dari kebuntuan tentang tempat baksos
mereka. Binar-binar bahagia memancar dari wajah lima gadis ayu,
berbalut gamis dan jilbab lebar rapih.
Pemberangkatan
seluruh santri akan dilakukan bakda Dzuhur, selepas mereka makan siang. Semua
disibukkan dengan bebenah barang perbekalan. Dari lima anggota
kelompok yang mereka namai MULIA (Mujahidah Lil ‘Alamin) itu, Maryamlah yang
paling sibuk. Karena dia harus memberi kabar pada Bibi Nisrina tentang
rencana baksos kali ini.
Diambilnya
Android dari bagian keamanan untuk mengirim pesan WA pada Bibi
Rina. Asyik bermain dengan tuts Android di pojok ruang asramanya,
senyuman merekah mulai menghiasi bibir mungilnya. Pertanda baik
kegiatannya direspon positif oleh keluarga nenek di Kampung
Banyuasih.
***
Empat
jam perjalanan dari pesantren dengan menaiki minibus. Perjalanan
yang cukup melelahkan bergumul dalam satu kendaraan dengan berbagai aroma
penumpang dan barang bawaan mereka. Belum lagi asap rokok menusuk
hidung. Makin menyesakkan keadaan yang sudah sarat
penumpang. Yang sedikit menolong mereka adalah membuka lebar-lebar
jendela minibus.
Akhirnya mereka samapi pada
pertigaan menuju kampung Nenek Maryam. Benar juga kata Maryam,
pemandangan yang begitu indah. Sejauh mata memandang selalu bertemu
dengan bukit dan gunung. Jalanan hanya selebar empat
meter. Belum diaspal namun dipenuhi bebatuan yang tertata meratakan
jalan. Di kanan kiri jalan sawah dan ladang membinarkan harapan
petani yang menanamnya.
Mereka sepakat untuk berjalan
kaki sambil menunggu delman kosong yang sangat jarang
lewat. Kalaupun ada biasanya selalu penuh
penumpang. Satu-satunya cara menyewa delman yang menuju
kota. Itu juga kalau tidak membawa penumpang yang mau ke
kota.
“Aduh, Maryam...kenapa kamu
nggak bilang kalau kita harus jalan kaki begini. Lihat kulitku yang
putih jadi kian merona. Ntar bakal hitem mukaku
ini” Rahma bersungut-sungut sambil memandangi wajahnya di cermin
yang selalu di bawanya kemana-mana.
“Kakiku pegel banget. Kalau
ada mama pasti aku udah digendong, nih!” Puput makin meramaikan
suasana sore itu.
“Masya Alloh, kalian
santriwati. Nggak zamannya lagi manja macam anak mama dan berlagak
sok cantik macam artis. Malu sama julukan kalian
santriwati.” Nena menegur kemanjaan Puput dan Rahma.
“Ingat dong pesan Ustadzah
Nuri. Santriwati harus tangguh. Apalagi kelompok kita
Mujahidah. Mana ada mujahidah letoy nan gemulai.” Jurus
dalil Ghina mulai keluar.
Puput dan Rahma memilih diam
daripada harus menelan kalimat-kalimat dari Ghina. Gadis
anggun namun tugasnya sebagai bagian keamanan melatihnya berkata tegas hingga
pedas. Akhirnya Puput dan Rahma lebih memilih menghela napas panjang
saat keluh kesahnya tercekat rasa malu pada julukannya sebagai Santriwati Mulia.
Berjalan setengah jam, akhirnya
mereka sampai di depan rumah Nenek Maryam. Rumah besar dengan
interior rumah zaman Belanda. Rumah yang sudah langka di zaman
sekarang. Bagian depan ada empat anak tangga setinggi satu meter. Diantara
anak tangga dipisahkan oleh bidang miring selebar tiga jengkal orang
dewasa. Batu-batu keras menghiasi pondasi sejajar tangga, bercat
hitam di batasi warna putih.
Setelah mengucapkan salam,
muncul sosok wanita paruh baya menjawab salam mereka. Usianya
menjelang enam puluh tahun. Keriput di wajahnya mulai
bermunculan. Namun bekas-bekas kecantikan masih terlihat nyata pada
kulitnya yang putih bersinar. Cantik alami terpancar dari bekas
wudhu yang selalu membasahi wanita ahli ibadah itu.
“Maryam, akhirnya kalian sampai
juga. Nenek sudah menunggu sejak tadi. Cepat
masuk. Ajak teman kamu ke kamar yang sudah Nenek
sediakan. Setelah itu kalian ke meja makan. Lihatlah
kejutan apa yang Nenek hidangkan buat kalian!” Keramahan Nenek
Maryam sungguh tulus. Mereka berlima bahagia disambut sedemikian
rupa.
“Subhanalloh Nenek, selalu saja
bikin Maryam bahagia dan betah buat berlama-lama di sini.” Maryam
menaiki tangga dan mencium tangan keriput penuh berkah itu. Diikuti
keempat temannya.
Mereka berlima menuju kamar
tidur untuk melepas tas punggung mereka masing-masing. Belum lagi
dua tangan kanan kiri menjinjing tas sarat beban. Bekal pakaian dan bahan
baksos tentu saja.
“Ayo kita
makan! Jangan sampai nenekku kecewa dengan respon kalian yang
menunjukkan selera makan rendah. OK?!”
“Untuk urusan yang satu itu
tentu saja nggak ada malesnya, Maryam.” Nena selalu semangat untuk
urusan perut. Sesuailah dengan badannya yang paling tambun.
“Hitung-hitung perbaikan
gizi. Selama ini kita belajar qonaah, kan?” Puput tidak
mau kalah semangat
“ Sekarang saatnya belajar
bersyukur dengan makan besar.” Rahma dan Ghina saling menimpali hampir
bersamaan. Tertawa renyah memenuhi kamar untuk para gadis berukuran
enam kali lima meter itu.
Mereka segera menuju kamar
makan. Meja makan berbahan kayu mahoni berbentuk bundar, telah penuh
dengan segala jenis makanan khas kampung. Telor kampung mata
sapi. Gulai terong lalap campur daging ayam. Sambal tomat
segar. Goreng ikan sambel kecap. Lalap daun sawi dangur
rebus. Dan kerupuk udang. Yang membuat semua istimewa
karena makanan ini ada dari tetes keringat Nenek Maryam. Kecuali
kerupuk udang dan gulai.
“Aduh maaf
Maryam, Gulainya tumpah dikit. Taplak mejanya jadi kotor
deh.” Puput merasa bersalah menumpahkan kuah gulai yang diambilnya.
“Nggak papa cuman dikit, kok?
“ Maryam mengambil lap untuk menyusut kuah gulai. Ada
sesuatu di bawah taplak yang membuat gulai itu tumpah rupanya. “Pantesan tumpah
Put, ada yang mengganjal di bawah mangkuk gulainya,” Maryam berusaha
mengambil sesuatu dari bawah taplak meja. Gulungan kertas
putih. Dimasukkannya gulungan kertas itu ke dalam saku
gamisnya. Maryam sangat pantang membuang sampah
sembarangan. Lagi pula ia khawatir kertas itu barang berharga milik
nenek. Ia akan memeriksanya setelah makan dan menyerahkannya pada
nenek.
Semua begitu menikmati hidangan
petang itu. Adzan Maghrib memanggil, mengalun
merdu. Mereka segera berwudhu untuk berjamaah bersama
anak-anak ngaji bakda Maghrib di mushola samping rumah nenek. Bakda
Maghrib, mereka langsung membantu mengajar ngaji anak-anak
kampung. Kebahagiaan mewarnai silaturahim yang indah
ini. Mereka segera saling akrab oleh ketulusan kelompok MULIA.
***
Semua sudah pulas tertidur,
kecuali Maryam. Jarum jam terus berdetak, menemani kesendirian Maryam. Diliriknya
pemberi tahu waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Tulisan
pada gulungan kertas itu begitu mengganggunya.
Salam Rindu untuk anakku, Lusi.
Akhirnya ibu putuskan untuk
berterus terang padamu,Nak. Ibu menganggap kamu sudah cukup dewasa
untuk menerima berita ini. Semoga juga pengajaran yang kami dapat di
pesantren bisa membantumu menerima segala kenyataan ini.
Anakku, ayahmu merantau ke Aceh
saat kamu masih dalam kandungan. Peristiwa Tsunami
2004 menghilangkan jejaknya begitu saja. Kamu terlahir tanpa ayahmu
seminggu setelah peristiwa Tsunami. Ibu mengalami depresi sehingga
tidak dapat mengasuhmu dengan baik. Sepasang suami istri yang baik
hati, putra dari Ibu Supardi mengasuhmu sebagai anak angkat.
Ibu menulis surat ini atas izin
bapak dan ibu angkatmu supaya kamu tahu nasab yang sesungguhnya.
Anakku, bila kau berkenan,
temui ibu di rumah sebelah kanan SD terdekat. Bila kamu belum siap
tak mengapa. Ibu akan tetap menunggu perjumpaan kita.
Banyuasih, 13 Maret 2018
Semua yang tertera dalam surat
itu menyisakan misteri yang tak mudah untuk Maryam. Siapa Lusi dalam
surat itu? Lalu siapa Ibu Supardi? Nenek yang dikenalnya
bernama Zainab. Ibu dan ayah yang mengangkat Lusi sebagai
anak pun tidak tertera jelas dalam surat itu.
Hanya satu yang membuat Maryam
curiga bahwa dirinya bukan anak kandung dari ayah dan ibunya selama
ini. Ya...sejak usia balig, ayah mulai membatasi
keakrabannya. Ayah melarang Maryam melepas jilbab saat mereka
bersama.
“Ayah mengapa Maryam harus
terus berjilbab? Kan di rumah ini hanya ada kita
bertiga?” Tanya Maryam suatu saat.
“Untuk jaga-jaga Maryam, mana
tahu ada sepupu atau tamu yang bukan mahrom kita tiba-tiba
datang. Atau kalau tiba-tiba ada gempa. Kamu nggak perlu
repot-repot cari jilbab. Bisa langsung lari keluar ke tanah
lapang. Betul, kan?” Ayah Maryam memberi alasan yang
sangat masuk akal dan tak membuatnya curiga. Kecuali setelah membaca
secarik kertas itu.
Ingatan Maryam tertuju pada Ibu
Supardi. Siapa Supardi? Tiba-tiba Maryam teringat bahwa
nama almarhum kakek, suami nenek adalah Supardi. Tidak salah lagi
yang mengadopsi Lusi pasti putra dari nenek. Dan nenek hanya punya
dua anak, Bibi Nisrina dan seseorang yang dianggapnya ayah selama
ini. Sementara itu Bibi Nisrina hanya memiliki tiga anak, semuanya
laki-laki.
Air mata Maryam tak
terbendung. Keringat dingin keluar deras membasahi baju
tidurnya. Yang ia mau, pagi
segera datang dan ia akan menemui ibu kandungnya. Siapapun dia.
“Aku harus memastikan semua
pada nenek. Nenek pasti tahu banyak tentang
diriku.” Keputusan inilah yang membuat Maryam mampu memejamkan mata
pada akhirnya.
***
Selepas Subuh, Maryam
menanyakan nasabnya pada Nenek. Semua jamaah sudah meninggalkan
mushola, tinggal nenek yang masih meneruskan zikirnya.
“Nek, boleh Maryam menanyakan
sesuatu?” Maryam memulai pembicaraan hati-hati.
“Ada apa Maryam, nampaknya
penting sekali?” Nenek menghentikan putaran tasbihnya.
“Maryam menemukan gulungan
kertas ini, di bawah taplak meja makan. Apakah anak yang bernama
Lusi itu aku, Nek?”
Nenek tak segera menjawab, ada
gurat kekhawatiran pada wajah sepuhnya. Ada rasa iba hatinya pada
Maryam. Gadis salehah itu harus mengetahui kenyataan ini pada
akhirnya. Ada rasa takut kehilangan kasih sayang cucu perempuan
satu-satunya yang sangat ia sayangi.
“Maryam, kamu janji nggak marah
pada kami yang merahasiakan nasabmu, Nak?
“Tentu tidak,
Nek. Maryam yakin dengan ketulusan kasih sayang keluarga
ini. Semua pasti demi kebaikan Maryam. Bahkan Maryam
berterimakasih atas segala yang telah Maryam terima meskipun tidak ada ikatan
darah antara Maryam dan keluarga Nenek.”
“Kemarin, ibu kandungmu tahu
kamu akan datang. Dia membawakan semangkok besar gulai
ayam. Dia juga minta izin menyimpan surat ini. Nenek
tidak bisa melarangnya. Itu hak dia. Nenek berdosa kalau
memutuskan tali nasab antara kamu dan ibumu, Nak. Lusi dalam surat
itu adalah namamu, pemberian ibumu.”
Semua menjadi
jelas. Lusi adalah nama pemberian ibunya saat masih bayi.
Maryam segera meninggalkan
nenek yang melanjutkan putaran tasbihnya. Diciumnya tangan mulia
itu. Maryam bertekat menemui ibu kandungnya sekarang.
Keremangan pagi hari mulai
menyapa. Angin dingin menusuk kulit. Kabut pekat makin
mengajak manusia pemalas merapatkan balutan selimutnya.
Maryam meminta Ghina, kawan terdekatnya untuk menemaninya memecahkan
segala misteri yang menyesakkan dadanya.
Setengah kilometer mereka
menyusuri jalan mencari SD terdekat. Sebuah rumah di sebelah kanan
sekolah itu, masih tertutup rapat. Ragu-ragu Maryam menaiki tangga menuju
teras. Rumah itu sepertinya kosong. Tumah tingkat cukup
mewah untuk ukuran rumah di kampung itu. Bercat putih apel dengan
bingkai jendela dan pintu warna biru muda.
“Maryam, sepertinya rumah ini
kosong. Lihat tulisan di pintu itu.”
“Rumah ini menjadi hak milik
BPR Daerah Unit Banyuasih. Disegel mulai 13 Maret 2018.” Maryam
mengeja kalimat-kalimat yang menyesakkan dada untuk kedua kalinya.
Batinnya bergumul dengan
berbagai pikiran tentang siapa sebenarnya ibu kandungnya? Mengapa
rumah ibu disita? Apakah ibu bermain riba bank? Sebesar
apa hutang ibu hingga jaminannya sebesar rumah ini? Bagaimana cara
hidup ibu hingga harus terlilit hutang? Lalu kemana Maryam harus
menemui ibu kandungnya?
Segala tanya, kecewa, sedih
bercampur aduk dalam benaknya.
“Maryam, kamu yang sabar ya?
Ingat nasihat Pak Kyai di pondok. Seperti apapun orang tua kita,
kita tetap harus hormat pada mereka. Bahkan bila mereka menyembah
selain Alloh sekalipun, kita harus pergauli mereka dengan baik. Berbicara lemah
lembut pada mereka. Mengucapkan ‘ah’ pun tidak boleh, bukan?”
“Terimakasih Ghina, kamu
sahabatku yang baik. Bantu aku biar kuat menghadapi ujian ini
ya?” Maryam memeluk sahabat dekatnya itu. Isak tangisnya
tumpah juga. Seakan meminta dukungan dari beratnya masalah
yang dihadapi.
“Kamu pasti bisa
melaluinya. Percayalah! Aku akan membantumu sampai kamu
bisa bertemu ibu kandungmu.”
Segala ingatan tentang nasihat
Pak Kyai dari Ghina membuat Maryam tersenyum. Dalam hati Maryam
berjanji menerima seperti apapun keadaan ibu kandungnya, meskipun berat.
***
Gagal
menemui ibu kandungnya, membuat Maryam ingin bertanya banyak hal pada
nenek. Ia yakin neneknya pasti tahu. Siang menjelang
Dzuhur, Maryam menemui nenek di kamarnya.
Diketuknya
pintu perlahan, sambil mengucap salam. Suara lembut nenek menjawab
salamnya dan menyuruhnya masuk. Maryam segera masuk dan menutup
pintu kembali. Ia tak ingin banyak orang tahu tentang masalah yang
dihadapinya kecuali nenek dan Ghina.
“Bagaimana,
Nak. Kamu sudah bertemu ibumu?” Nenek begitu antusias
ingin mengetahui cerita dari Maryam.
Maryam
menceritakan apa yang ia temukan tadi pagi. Nenek begitu sabar
mendengarkan, ia sudah menduga kisah pilu yang akan ditemui cucu angkatnya itu
“Nenek
bisa membantu Maryam untuk bertemu ibu?”
“Tentu
cucuku. Tapi Nenek harap kamu tidak kaget atau kecewa dengan apa
yang terjadi dengan ibumu.”
“Supaya
tidak kaget, Maryam ingin dengar cerita dari nenek tentang ibu. Kenapa
rumah semewah itu bisa disegel pihak bank, Nek?”
Nenek
mulai bercerita panjang tentang ibu kandung Maryam, Gania. Ayah
Maryam tidak memberi kabar apa-apa dalam sepuluh tahun. Keluarga
Gania memutuskan untuk menikahkan anaknya. Kali ini seorang pedagang
kaya di Banyuasih yang terpesona dengan kecantikan Gania, meminangnya.
Kehidupan
Gania mulai berubah sejak itu. Kesederhanaan dan kekurangan berubah
menjadi serba kecukupan dan kemewahan.
“Rupanya
kemewahan itu sangat mudah menggelincirkan. Gaya hidup dan pergaulan
ibumu mulai berubah. Kegemarannya memperbaiki penampilan, teman
bergaulnya anggota kelap di tempat fitnessnya. Sebenarnya semua
warga sudah gerah dengan gaya hidupnya yang mencontohkan pergaulan bebas,” Nenek
terdiam menyadari ceritanya yang sudah terlalu dalam. Ada kekesalan
dalam sorot matanya pada perbuatan Gania, yang tidak mau mendengar nasihatnya.
Maryam
disampingnya terus setia mendengar kisah itu. Air mata mengalir
untuk kesekian kalinya hari ini.
“Teruskan,
Nek.” Pinta Maryam
“Tapi
kamu jangan pernah benci ibumu, Maryam. Cukup perbuatannya yang kita
hindari dan dijadikan pelajaran.”
“Maryam
paham, Nek. Beruntung Maryam tau. Maryam ingin menyelamatkannya,
sebisa mungkin. Sebelum terlambat. Sebelum ajal
menjemput.”
Nenek
mengambil sapu tangan menyeka air mata Maryam. Dalam hatinya, lebih
baik Maryam tahu darinya daripada dari orang lain. Akan lebih
menyakitkan hati cucu angkat kesayangannya itu.
“Gaya
hidupnya membuat ia meminjam uang di bank. Rumah mewah itu menjadi
jaminannya. Ayah tirimu sudah menebusnya dua kali dan untuk ketiga
kalinya dia menyerah. Keputusan terakhir, ayah tirimu menceraikan
Gania.”
“Ya,
Alloh, kasihan sekali ibu.....” Maryam bergumam lirih.
“Maryam,
bagaimanapun dia ibumu. Jaga rahasia dan
kehormatannya. Nenek tahu banyak tentang Gania, karena nenek selalu
berusaha menasihatinya selama ini. Semoga ujian yang diterimanya
kini membuatnya sadar. Nenek yakin kehadiranmu akan banyak
membantunya kembali ke jalan yang Alloh ridhoi.”
Harapan
yang nenek ucapkan mengembangkan senyum di bibir mungil
Maryam. Tekatnya untuk menemui ibu kandungnya dan membangkitkannya
dari keterpurukan dan dosa, makin kuat.
Semoga
kau berhasil Maryam, hatimu yang mulia, akan mendatangkan
rahmatNya. Insya Allah.
Event
Jejak Ke-22_Lomba Cerpen Pekan Jurnalistik di Era Industri 4.0_
AKU BUKAN KULI TINTA
Majalah
Sosiopolita di ambang kebangkrutan.
Wartawan muda sudah mulai meninggalkan meja redaksi satu persatu. Hanya beberapa wartawan senior yang masih
betah bertengger mengharap tinta yang melekat pada kertas cetakan itu masih
menarik minat pembaca untuk membelinya.
Kecuali Gunawan, Palupi dan Anggara.
“Zaman
begitu cepat berubah. Kita harus memutar
otak untuk tetap bisa menyampaikan informasi pada masyarakat secara
berimbang.” Bos Arman memimpin rapat
redaksi yang hanya dihadiri tujuh anggota tim yang masih mau bertahan.
“Saya
rasa harian online yang kita rintis harus kita kelola dengan lebih
professional, sungguh-sungguh dan berdaya saing dengan media online pesaing
kita.” Gunawan memberanikan diri
menerobos cara pikir Bos Arman yang masih stagnan pada media manual.
“Media
online kamu yang kamu banggakan itu tak mampu bersaing dengan media mainstream,
Gunawan. Judul yang kau tenggerkan pun
berkesan radikal untuk kalangan tertentu.
Al Ghuraba. Hmmmm, beda dikit
dengan Al Qaeda atau Al Qaidah. Cobalah
kamu pakai judul yang lebih inklusif.”
Bos Arman terus mencibir Sosiopolita Online (SOL-Al Ghuraba) besutan
Gunawan.
Gunawan
tiba-tiba muak dengan suasana rapat yang terasa makin sempit. “Percuma menjelaskan semua ini pada Bos Jadul
ini, aku harus buktikan SOL-Al Ghuraba bisa menjadi Media Online yang hebat dan
mendunia,” batin Gunawan sambil mengatupkan giginya rapat-rapat. Hampir bunyi gemeretuknya menunjukkan
kemarahan pemiliknya.
“Kalau
nama itu tidak kamu ubah, jangan pernah memakai nama Sosiopolita lagi. Perjuangkan sendiri Al Ghuraba kamu itu.”
“Wah,
Bos Arman serius? Sejauh ini SOL-Al
Ghuraba tidak sedikit pun merugikan perusahaan.
Justru Sosiopolita offline banyak ditopang dari SOLA.” Gunawan tak mau mengalah begitu saja pada
nyinyiran bosnya.
Sejenak
Arman terdiam terkena skakmat anak buah sendiri. Bukan hanya usianya yang kepala enam dan
kedudukannya sebagai bos yang membuat egonya meninggi tapi juga kehormatan di
depan anak buah. Kemudian meja pun menjadi
sasaran gebrakannya. Gunawan pasrah,
dipecat pun terserah bos.
“Kamu
memang keras kepala. Kalau saja kamu mau
pindah konten mengikuti arus media mainstream pasti SOLA sudah sangat
maju.”
“Berikan
dia waktu barang sebulan, Pak. Saya rasa
itu akan lebih adil.” Palupi, sekretaris
Arman menetralisir ketegangan di antara mereka.
Gadis berhijab syar’i namun terlihat modis dan trendy itu melirik ke
arah Gunawan. Saputan make-up tipis
menambah pesonanya tampak alami.
“Selalu
ada rasa yang berbeda tiap palupi mengarahkan pandangan padaku. Sayu dan sejuk. Hmmmm,Istigfar, Gun…..,” gumam Gunawan
menenangkan diri untuk kemudian memalingkan pandangan dari sergapan mata
Palupi.
Selama
ini saran Palupi memang selalu lebih didengar oleh Arman. Terlepas bagus atau tidak ide Palupi. Rupanya pesona gadis anggun nan ayu berusia
dua puluh tiga tahun itu lebih menguasai argumentasi Arman.
“Baiklah,
aku beri kamu kesempatan sekali lagi.
Bukan sebulan tapi dua minggu.
Atau kau menjadi kuli tinta selamanya!” ungkap Arman ketus. Ungapan kuli tinta untuk jurnalis yang
disematkan Arman seolah memaksa Gunawan untuk konsentrasi pada Sosiopolita
offline kebanggaan Arman.
Sebenarnya
SOL-Ghuraba yang dirilis Gunawan sudah menunjukkan kemajuan berarti. Dalam waktu dua tahun ada lima iklan yang
terpampang pada laman utama.
Pengunjungnya pun rata-rata mencapai lebih dari seribu. Mau tidak mau Gunawan harus memutar otak
bagaimana mendongkrak jumlah pengunjung dan meningkatkan minat perusahaan untuk
memasang iklan.
“Oke
Bos, dua minggu ini saya minta dua partner untuk serius di SOLA,” pinta Gunawan. Kali ini permintaannya dikabulkan Arman. Palupi dan Anggara akan konsentrasi penuh di
SOLA.
Mereka
bertiga berkomitmen untuk melejitkan SOLA.
Gunawan sebagai leadernya merancang beberapa langkah yang akan segera
mereka lakukan, korespodensi dengan jurnalis dari berbagai negara, membuat jaringan satu profesi dengan mereka
dan saling tukar informasi untuk yang paling uptodate. Sesuai dengan tajuk Al Ghuraba, konten yang
mereka pilih adalah perkembangan dunia Islam di lebih dari lima puluh
negara. Seluruh media sososial yang
paling popular menjadi selancar mereka bertiga.
“Bagaimana
Palupi, tiga hari ini perkembangan apa yang kamu dapat.” Gunawan menanyakan progress rencana
mereka pertigahari.
“Aku
sudah mendapatkan dua puluh partner dari enam belas negara.” Palupi tersenyum lebar dengan capaiannya.
“Hebat,
dua thumb buat kamu. Dengan cara yang sama, estimasiku, kamu bakal
dapat partner empat puluh orang dari tigapuluh negara. Bagaimana dengan kamu Anggara.”
Anggara
tersenyum simpul, ”Aku dapet dua puluh
empat partner dari sepuluh negara,” jawab Anggara singkat. Anggara memang yang dikenal sangat focus saat
berada di depan layar pendar sudah kembali pada berselancar menunaikan
tugasnya.
Kendala
terbesar tentu saja pada perbedaan bahasa, tetapi mesin translate telah
memudahkan target mereka.
“Aku
ada rencana merekrut anggota buat tim kita.”
Gunawan melontarkan ide pada dua rekannya yang terus sibuk menjalankan
tugasnya masing-masing.
Sesekali Anggara menyeruput
secangkir kopi panas di belakang laptopnya, takut tumpah. Sementara Palupi ditemani snack pelepas
penat.
“Kalau itu baik
menurutmu, aku setuju aja.” Palupi
mengalihkan fokus pada Gunawan yang duduk di sofa kantor. Gunawan bergeming memainkan gawai di
tangannya.
“Aku butuh
penghimpun informasi video dan tentu saja editor video yang handal.”
“Maksudmu?” Palupi penasaran, ide apalagi yang ada di
kepala Gunawan.
“Berita tidak
selalunya harus uptodate. Ada
juga berita yang menghibur, peristiwa-peristiwa unik dan menarik yang ada di
jagat raya ini bisa diakses dengan mudah, bukan? Mungkin konsumen kita agak malas membaca,
kita buat konten video dengan dubbing suara bahasa Indonesia aja di
laman kita. Aku rasa bakal banyak peminat.”
“Kamu memang my
brilliant new bos.” Pujian Palupi
hampir-hampir memerahkan wajah Gunawan. “Aku makin yakin SOLA bakal makin
berkibar.”
Dua pekan berlalu
sudah, keputusan Arman hari ini menjadi hal yang mendebarkan buat tim
Gunawan. Yang jelas mereka yakin bos
senior mereka akan memuji tampilan baru SOLA.
Rapat redaksi
mempertemukan mereka kembali pada ruangan enam kali lima meter itu. Ruangan bercat putih apple hampir senada
dengan wajah Palupi, sengaja dipilih Arman untuk sekretaris kesayangannya.
“Aku tidak terlalu
mementingkan tampilan laman SOLA. Yang
aku targetkan adalah profit dari laman itu.
Berhubung belum ada pemasukan yang signifikan, aku putuskan bahwa kita
akan mengelola Majalah Sosiopolita dengan lebih propesional. Bagi kalian yang tidak setuju berarti kalian
harus meninggalkan ruangan ini.” Arman
memutuskan secara sepihak tanpa meminta pandangan tim.
Gunawan beringsut
di atas kursinya dan menjauhi meja untuk kemudian berdiri dan meninggalkan
ruangan. Disusul Palupi dan
Anggara. Arman terbengong-bengong dengan
keputusan tiga jurnalis muda yang masih dimilikinya.
Event
Jejak Ke-23_Lomba Esai Pekan Jurnalistik di Era Industri 4.0_
PERAN NORMATIF JURNALIS DI ERA INDUSTRI 4.0
Kita berada dalam era revolusi industri
4.0, yaitu tren industri dengan ciri khas penggabungan antara teknologi
otomatisasi dan teknologi cyber. Ada
empat prinsip pada era ini yaitu interoperabilitas (kesesuaian) dengan media
internet, transparansi informasi digital, bantuan teknis dari sistem dalam
membuat kebijakan, keputusan mandiri dari siber fisik.
Wah, cepat sekali loncatannya! Bukankah dalam sejarah kita mengenal revolusi
industri dengan ditemukannya mesin uap?
Lalu mengapa tiba-tiba ada revolusi industry 4.0? Pertanyaan ini kerap kali dilontarkan
sebagian besar masyarakat kita. Baiklah
kita cermati perkembangan era revolusi industry sebelumnya:
a.
Revolusi Industri 1.0 (revolusi
mesin), ditandai dengan penemuan mesin uap dan teknologi berbasik mesin
uap. Perubahan drastis terjadi dalam
psikologi sosial peradaban manusia. Permulaan
kolonialisme terjadi pada era ini
b.
Revolusi industry 2.0 (revolusi
teknologi), diawali dengan system produksi mobil Ford dengan system
spesialisasi penanganan produksi sehingga mesin dapat dengan murah dan mudah
dibuat disbanding sebelumnya. Dampak
psikologi sosialnya adalah terjadinya Perang Dunia I dan II
c.
Revolusi Industri 3.0 (revolusi
digital), diawali dengan penemuan computer dan berkembang dengan teknologi
digitalnya.
d.
Revolusi Industri 4.0 (revolusi
robotik), diawali dengan penemuan internet dan perkembangannya.
Terkait dengan empat perkembangan industri
di atas, mau tidak mau kita telah berada di era Industri 4.0. Dalam keseharian kita, internet tidak dapat
dipisahkan dari aktifitas. Menurut
catatan Kementerian Komunikasi dan
Informatika (Kemenkominfo), pengguna
internet di Indonesia sudah mencapai 171 jiwa atau 64,8 % dari jumlah
penduduk. Ada kenaikan pengguna hingga
10,2 persen atau 27 juta per tahun (republika..co.id, 2019).
Angka ini
cukup fantastif, terlepas konten apa yang banyak dikonsumsi oleh
masyarakat. Semakin tinggi tingkat
pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya ilmu pengetahuan dan
pemberitaan, maka konten yang dikonsumsi akan bergeser dari hiburan ke konten
yang lebih serius.
Dengan
pangsa pasar yang cukup luas ini, peran jurnalis menjadi sangat penting untuk
menyajikan informasi yang berimbang.
Ada beberapa
peran normatif wartawan dalam era ini:
1.
Penyampai Informasi yang
Akurat, Dapat Dipercaya
Ketika setiap
individu berpeluang saling menyebarkan informasi, hoax pun menjadi santapan
tidak sehat yang mudah didapat. Bukan
hanya dampak pembodohan publik tapi juga potensi konflik bisa ditimbulkan
dengan hoax ini. Sesuai dengan kode etik
jurnalistik, jusnalis memiliki tanggung jawab besar mengkanter hoax.
Jadi wartawan
memiliki peran meluruskan apa bila ada arus informasi yang salah di tengah
masyarakat. Hal ini dapat menyelamatkan
nasib banyak orang bahkan jiwa orang banyak.
2.
Pengontrol
Sosial yang Jujur
Berita yang
diungkap oleh seorang jurnalis kredibel akan lebih mudah dipercaya oleh
masyarakat. Jurnalis yang masih idealis
untuk menyampaikan kebenaran. Jurnalis
yang jauh dari sifat materialis sehingga yang ditulis tidak berdasarkan urusan
bisnis atau kecamuk kepentingan
politis. Akan tetapi murni dari hati
nurani untuk menyampaikan informasi.
Tipe jurnalis seperti inilah yang akan membantu
mengerem berbagai pihak dari terjerumus pada kebobrokan kolektif maupun
individu dalam masyarakat kita.
3.
Agen Perubahan Saat Diperlukan
Kehidupan bukanlah sesuatu yang statis, ada
dinamika maka disanalah ada kehidupan.
Perubahan-perubahan selalu ada baik perubahan ringan maupun perubahan
mendasar yang menyangkut kihidupan banyak orang. Apapun bentuk perubahan yang terjadi, setiap
insan memiliki kewajiban untuk membuat perubahan kea rah yang lebih baik dan
bukan sebaliknya.
Penilaian atas baik buruknya sesuatu menjadi
relatif bila tidak ada alat ukur yang baku.
Salah satu alat ukur baku itu adalah apa yang disebut hati nurani atau
kebaikan dan kebenaran universal. Jurnalis
memiliki tanggung jawab untuk turut memelihara, menyampaikan, menanamkan nilai
kebaikan universal ini pada sebanyak mungkin umat manusia, misalnya: kasih
sayang, empati,
Era Industri 4.0 yang berbasis pada internet dan
sistem robotik memiliki peluang tanpa batas untuk menyampaikan kebaikan dari
nilai universal ini. Jurnalis memiliki
keleluasaan tanpa batas ruang dan waktu untuk menyisir pengguna internet. Dengan cara-cara yang kreatif dan
inovatif minat pengguna internet akan
melirik dan mengunjungi laman yang berisi pesan jurnalis tersebut.
4.
Benteng Peradaban dari
Perubahan Tata Nilai
Dua arus negatif yang sulit dibendung di era
Industri 4.0 adalah budaya individualis dan liberalis. Arus ini akan mengikis budaya luhur bangsa
yang cenderung saling kerjasama, bergotong royong dan penuh pengendalian
diri. Jurnalis sebagai pemilik informasi
dapat memberikan pendidikan di tengah pengguna internet untuk tetap
membudayakan saling kerjasama, bergotong royong dan penuh pengendalian
diri. Tentu dengan konten informatif,
edukatif bahkan interaktif tentang pelestarian tata nilai ini.
Jurnalis sangat mungkin untuk membuat potret
kehidupan seseorang, keluarga atau masyarakat yang masih kental dengan tata
nilai positif ini. Sajian audio visual,
dengan konten menarik dan dapat diviralkan akan menjadi sajian bermanfaat.
Tentu kita sering kali mendapat potongan video
yang mengunggah kisah-kisah inspiratif hingga melinangkan air mata. Nah, dibutuhkan keterampilan seorang jurnalis
dalam menyajikan informasi yang normatif.
5.
Memperbaiki Keadaan Pada Daerah Bencana dan Konflik
Menyebarkan informasi dini dan
secepat mungkin dari daerah bencana alam maupun
bencana sosial tentu sangat diperlukan oleh masyarakat yang sedang
terkena bencana tersebut. Jurnalis yang
mampu menembus daerah semacam ini akn
menjadi pahlawan kemanusiaan.
Para pemangku kebijakan ataupun
orang penting yang memiliki kekuasaan dapat turut memecahkan permasalahan yang
diderita masyarakat berkat informasi yang disampaikan Sang Jurnalis.
Nah, dari sekian banyak peranan
ini, jurnalis dapat memanfaatkan deras arus informasi dengan membentuk jaringan
orang dalam tempatan. Jurnalis tidak
harus memiliki mobilitas tinggi menembus tempat kejadian tetapi dengan membuat
komunitas berbagi informasi dengan akurasi tinggi dan terhindar dari hoax. Jaringan yang dibangun mestilah solid dan
menghimpun personal bervisi dan misi sama dan dapat memegang kodi etik
jurnalistik.
Event Jejak Ke-24_Lomba Puisi
Pekan Jurnalistik di Era Industri 4.0_
TARIAN
JARI SANG JURNALIS
Deru debu kota,
lama tak menyapa
Para pengabdi
berita tak lagi memburu matahari
Tiap detik kisah
berubah secepat kilat
Pada sentuhan yang
terus mencari
Di belakang meja di
atas kursi
Deras mengalir
baris-baris kabar
Gambar , rekaman
memenuhi layar pendar
Rangkaian berita
berpusar pada nalar
Deret opini
memenatkan pagar batas pendapatnya sendiri
Terangkai dalam
konstruksi tarian indah pena
Bukan berujung
tinta namun jemari pada papan kalam
Menggedor kesadaran
nitizen makin terpana
Semua terbuka tanpa
batas buta
Secepat usapan pada
pedihnya mata
Menatap cahaya
pembawa pesan
Sekian banyak byte
mengisi memori
Kolaborasi cerdas
artifisial dan kemanusiaan
Menambah indah
tarian pena bak gemulai balerina
Cantiknya
mengguncang dunia
Menata ulang sebentuk
kesadaran
Pada insan yang
inginkan perubahan
Kini Sang Jurnalis
tersenyum manis
Puas menari pada
awan-awan memori
Menghibur
peselancar dunia maya
Indahnya
berbagi manfaat
Menjadi pembuka
jendela
Kanal karunia
peradaban anak manusia
(Tasikmalaya, 25
September 2019)
Event Ke-26 Jejak_Lomba Cerpen Anak Yatim_
MAKBUL
“Nak Mas Thufail,
Bapak minta tolong dengan sangat. Bapak
dalam kesulitan besar yang harus diselesaikan segera.” Ahmad Thufail Baihaqi memerhatikan
dengan sabar perkataan laki-laki berumur 40-an di depannya.
Hingga usianya yang
menginjak tiga belas tahun, Thufail
masih disibukkan olehtamu yang datang dengan berbagai masalah hidup. Mulai dari jual rumah, tanah, mobil dan
barang mewah lainnya hingga masalah hutang piutang yang tak kunjung lunas sudah
biasa ia tangani. Dari perjodohan yang
rumit hingga kasus perceraian alot suami istri.
Jika musim pemilu, pilkada atau
pilihan kepala desa tiba, tamunya akan berkonsultasi tentang bagaimana
memenangkan kotestasi.
“Sepertinya panjenengan keberatan buat menceritakan
permasalahan yang panjenengan hadapi. Monggo
kulo aturi nyerat kemawon. Mohon untuk tidak membuka lembaran lain
sebelumnya. Saya harus menjaga privasi
tamu saya yang lain. Lembaran untuk
Bapak hanya yang terbuka di hadapan panjenengan.” Thufail menunjukkan buku yang oleh sebagian
tamunya dianggap sakti. Bagaimana
tidak? Keinginan yang tertera di buku
tamunya itu hampir sembilan puluh persen sesuai suratan takdir Yang Mahakuasa.
Tamu itu mengambil
buku dan membaca dengan teliti kolom yang ada di depannya, hati/tanggal, nama
lengkap, nama orang tua, alamat lengkap, nomor hp/wa, dan terakhir permasalahan
yang dihadapi.
Saya dikejar-kejar orang tak dikenal.
Dia mengaku telah memberi piutang pada istri saya. Jumlahnya sampai tiga ratus juta. Sedangkan istri saya, Lastri, sudah dua tahun
tidak pulang. Ia menjadi TKW di negeri
asing. Saya tak tahan mendengar sumpah
serapah dan ancaman dari penagih hutang itu.
Tamu itu mengembalikan buku di hadapan Thufail. Masalah yang cukup rumit, tetapi pantang buat
Thufail menolak permintaan tolong tetamunya.
“Nama Bapak, Andi
Raharja bin Saliman?”
“Benar, Nak Mas.”
“Bapak ingin
didoakan untuk bisa bayar hutang atau supaya tidak ditagih lagi?”
“Sebaiknya
bagaimana, Nak Mas? Soalnya kalau untuk
bayar hutang, rasanya mustahil saya bisa melakukannya.”
“Hutang wajib
dibayar, Pak. Allah Mahakaya. Jangankan tiga ratus juta, dunia dan seisinya
Dia yang punya.” Makin banyak tetamu
bertanya, Thufail makin tumbuh lebih dewasa dari usianya.
“Kalau begitu saya
ingin dapat uang sebanyak hutang istri saya itu, atau kalau bisa lebih biar
saya bisa hidup lebih layak, Nak Mas.”
Andi berpamitan setelah
menerima secarik kertas berisi doa dan cara mengamalkannya. Sebuah amplop berisi lebaran merah ratusan libu
rupiah masuk pada kotak yang di sediakan di pojok ruang tamu. Sementara Thufail mencermati tulisan di
hadapannya. Dahinya bekernyit, mengingat
kisah yang serupa dengan keluhan tamunya siang ini.
Thufail mencari buku tamu dua
bulan yang lalu. Dibukanya lembar demi
lembar dan sejurus kemudian matanya tertambat
pada tulisan berhuruf kapital semuanya.
Tulisan unik itu membuatnya dengan mudah mendapati permasalahan tamu
yang dicarinya.
Dino Alamsyah bin
Alamsyah, Thufail melanjutkan penelusuran dengan penuh rasa penasaran. Adakah Dino Alamsyah dan Andi Raharja adalah dua
orang yang sedang terlibat masalah dalam bermuamalah?
Teman usaha saya, namanya Lastri membawa lari uang kerjasama kami. Kami sudah sepakat bahwa uang itu untuk
membeli ruko dan modal awal usahanya, tapi sudah dua tahun dia menghilang. Jumlah hutang dia 200 juta, kalau dihitung
dengan bunga selama dua tahun yang dia janjikan, maka hutang dia sudah 300 juta
sampai dengan sekarang.
Thufail yakin Lastri
yang ada pada tulisan Dino dan Andi adalah orang yang sama. Sejenak ia menyesali profesinya sebagai
tempat bertanya. Sesuatu yang ada di
luar kendali dan keinginannya. Semua berawal
dari kabar viral di sebuah media sosial sepuluh tahun yang lalu. Seseorang bertemu kembali dengan anaknya
setelah tiga tahun tak tentu rimbanya.
Judul yang menggelitik membuat video tentangnya mencapai ribuan viewers
hanya dalam hitungan jam. ‘Seorang Anak Yatim Sejak dalam Kandungan Menemukan
Anakku’
Kilatan rasa
bersalah memenuhi ruang hatinya. Ia merasa bahwa doa-doanya telah menimbulkan
masalah buat Andi. Konflik yang timbul antara Dino dan Andi jelas
melibatkan dirinya. Bayangan buruk permusuhan
dua orang yang berujung kematian berkelebat dalam pikirannya. Thufail merasakan kepalanya makin berat.
“Pertanda apakah
ini? Aku harus menunda doaku,” gumam Thufail.
***
Selepas salat
berjamaah, Thufail menghabiskan waktunya membaca Alquran.
Di samping mimbar
seorang imam masjid sesekali melirik ke arahnya. Pandangan menyiratkan rasa khawatir. Haji Akbar, Imam Masjid sekaligus pimpinan
Pesantren Baitul Izzah di kampung Thufail.
Ia selalu perhatian pada Thufail, menganggap Thufail seperti anaknya
sendiri, bahkan lebih. Haji Akbar selalu
mengingat pesan Rasulullah SAW, bahwa kedudukan nabi dan seseorang yang
memelihara anak yatim itu ibarat ibu jari dengan jari tengah. Secara materi Thufail tidak pernah kekurangan
tapi perhatian dan kasih sayang sangat ia butuhkan.
Punggung Thufail
terguncang-guncang oleh tangisan yang tertahan diiringi bacaan Alquran yang
menyentuh hatinya. Matanya tertuju pada
makna ayat kesepuluh Surat Alhujurat.
Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, karena itu damaikanlah
antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu
mendapat rahmat.
Haji Akbar beringsut
dari sajadahnya, kemudian berdiri menghampiri Thufail.
“Assalamualaikum, yaabunayya,” sapa Haji Akbar lembut.
Thufail tersentak
dan segera menghapus air matanya. Ia
sangat menaruh hormat pada sosok di depannya itu. Orang tua sekaligus guru yang selama ini
menggantikan figur ayah yang tak pernah dilihatnya sejak bayi.
Thufail menjawab
salam di antara isak tangis yang dipaksanya untuk berhenti.
“Ada apa,
Thufail? Biasanya kau langsung
menghubungi Bapak kalau ada permasalahan.
Coba ceritakan. Jangan pernah
sungkan! Apapun akan Bapak lakukan untuk
mengembalikan senyummu.” Haji Akbar
memang pandai menyenangkan siapa saja.
Seulas senyuman bertengger di sudut bibir Thufail.
“Saya merasa akan ada hal buruk yang menimpa dua orang yang sama-sama
mengadukan permasalahannya pada saya, Pak Haji.” Thufail menceritakan semua yang terjadi,
tentang dia orang tamu yang sama-sama berhubungan dengan Lastri. Haji Akbar mendengar dengan penuh
perhatian. Sesekali kepalanya mengangguk
untuk meyakinkan Thufail bahwa ia mendengarkan sepenuhnya masalah yang dihadapi
Thufail.
“Anakku, boleh Bapak berikan saran dan pertimbangan?” tanya Haji Akbar penuh
penghormatan pada anak istimewa di hadapannya itu. “Langkah pertama, hilangkan
bayangan buruk di benakmu. Ingatlah firman Allah bahwa Allah bersama
dengan prasangka hambaNya. Maka berbaik
sangka pada Allah adalah salah satu dari beradab dan berakhlak pada Tuhan,
Pencipta kita. Semakin kita terpaku pada
bayangan buruk itu, makin besar kemungkinan apa yang kita sangkakan akan
terjadi.”
“Bagaimana saya menghapus bayangan itu, Pak Haji?”
“Bayangkan hal yang sebaliknya.
Alihkan bayangan buruk menjadi bayangan baik, lalu sertakan itu dalam
bentuk doa pada Allah SWT.”
Thufail mengangguk tanda mengerti.
“Akan saya coba, Pak Haji.”
“Sekarang cobalah untuk menghadirkan hal positif dalam benakmu, Nak. Bayangkan Pak Dino dan Pak Andi saling
bertemu. Mereka berdua bertamu secara
bersamaan ke rumahmu. Jangan lupa doakan
supaya Lastri ingat hutang-hutangnya.
Merasa bahwa hutangnya di dunia akan menjadi penghalang saat akan
memasuki pintu surga? Begitu juga Pak Dino,
doakan agar dia mau meninggalkan bunga yang seratus juta. Semoga dia merasa cukup dengan pinjaman
pokoknya saja.”
Thufail tersenyum lebar. Gigi-gigi
putihnya tampak berjajar rapih, menambah tampan wajah imut remaja belasan tahun
itu.
Mereka berdua berdiri beriringan. Haji
Akbar menuntun tangan kiri Thufail, meninggalkan masjid menuju pesantren untuk
menikmati makan siang yang sudah disediakan Bu Nyai.
***
Sepuluh hari berlalu, doa-doa yang diajarkan Haji Akbar menemui
takdirNya.
“Jadi kamu meminta bantuan Nak Mas Thufail juga, tho?” tuding Dino sengit, ”Pantas uangku ndak kembali juga. Nikahan anakku tinggal setengah bulan
lagi. Aku stress gara-gara istri culasmu
itu.”
“Mohon maaf alangkah baiknya kalau kita menghargai tuan rumah. Juga saya sebagai bapak angkatnya.” Haji Akbar menyela dengan tenang tapi penuh
wibawa.
“Jangan emosi dulu Pak Dino, saya ke sini membawa kabar baik, kabar
gembira, kabar maslahat. Istriku, Lastri
mengirim dua ratus juta, hasil kerjanya selama dua tahun ia tabung. Ternyata dia ke luar negeri untuk bisa
melunasi hutang-hutangnya.”
Dino menurunkan volume tegangnya.
Solusi biaya pernikahan anaknya perlahan menghadirkan senyum tipis di
bibirnya. “Tapi kenapa hanya dua ratus
juta?”
Thufail berusaha menjelaskan dasar-dasar hukum riba dan dalil yang
melarangnya. Apa yang dipelajari dari Haji
Akbar sungguh membawa manfaat besar pada dua tetamunya menjelang senja hari
itu.
Event Jejak Ke-26_Love Yourself
SAJAK PENGEJA CINTA
Terguncang jiwa seseorang
Berdiri terpaku antara
yang terkasih
Bertindak bagai sosok
tercabik
Mencoba mengejakan kata
cinta untuk dua insan belia
Dalam ikatan suci lillah
Tak peduli panah setan
mengancam jiwanya
Dalam balutan basmallah
dan shalawat
Pelukan penuh kasih ikhlas
Ada getar rasa tak biasa
Ditepisnya sekuat daya
upaya lelahnya
Murni kasih lillah
Kecupan demi kecupan tulus
Bangkitkan rasa yang
hampir padam
Beku oleh diam dan
ketakpedulian
Seseorang kembali menahan
segala sesak di dada
Tusukan sembilu di ruang
rasa
Tiap canda tawanya bahkan
tarikan nafasnya
Hilang derita oleh cinta
yang ingin dihujamkan
Pada dua pasangan muda
rawan nestapa
Pandangan kasihnya untuk
buah hati ikatan syariat
Terukir sempurna pada bashirahnya
yang terselimuti hidayah
Kumpulan sifat mulia ada pada
pemuda
Sabar, penuh kasih,
penyayang, pengertian
Kerja keras, amanah
mencintai jerih payah
Pemurah, meletakkan dunia
di tangan mudah untuk membagikan
Keyakinan akan
perlindungan Tuhan
Mengharap penuh pada Yang
Maha Menyaksikan
Tiada khawatir hilang
dunia seakan penuh pengabdian
Ia sedang melepaskan hati
dan jiwanya dari ikatan syahwat dunia
Siapa tak terpesona
Hati-hati putih mendamba
ikatan dengannya
Lembut hati tak bersisa
amarah di ruang hatinya
Relung jiwanya bersih
tersinari cahaya kalamNya
Hati suci berjiwa seni
Suara merdu lembut serindai
Pada lantunan ayat suci
Pada bait-bait syair
nasyid Islami
Juga tarian penanya
mengukir kalam dalam indah kaligrafi
Garis keras di wajah dan
tangannya memegang kerja-kerja perkasa
Seringan tangan secepat
kaki membantu sesama
Berharap dipetik bunga
rawan di taman hati
Putri kesayangan
Jauh dari sempurna penuh
kekurangan
Satu yang dimilikinya,
ketaatan
Sejak mengenal dunia
hingga beranjak dewasa
Hadiah Allah membawa serta
mahar pemuda mulia
Perjuangan cinta ditangkap
sebagai tirani paksa
Ragu cinta dari pemuda perkasa
Sosok arif seakan naif
Inikah derita menggenggam
bara api
Menjaga syariat tanpa
syahwat
Pada permulaan jumpa yang
terlalu pualam
Pengeja cinta bertutur
penuh kasih
Anakku, kini saatnya
bahagiakan dirimu sendiri
Bebaskan dari belenggu
kekurangan diri
Kau hadir bukan untuk
sakiti diri atau disakiti
Kau hadir untuk dicinta
dan mencintai
Dimuliakan dan
dibahagiakan
Seorang pengeja cinta mendekap
erat dua yang tercinta
Bersama mengeja cinta
lillah
Berbuah jannah
Harapan
agungnya mengantarkan dua belia
Menemui
Tuhan secepat kilatan cahaya
Menuju
pintu syurgaNya
Benar
sikapmu aku mengaku
Sempurna
sikap tak sebati lathi
Cacat
menggores nurani
Ucapnya
Sanjungan
dan kasih akan bertukar benci
Penjara
suci tak pungut materi berakhir rodi
Rasa
kasih akan bermuara pada neraka
Sudahlah,
kita tutup kisah durjana
Peragu
bukan terbaik untukmu
Jangan
biarkan rasa tak pantas dicinta
Buah
sikapnya yang tak tandakan rasa
Kemudian
seseorang berjiwa tercabik berbisik
Siapa
kenal dirinya maka ia kenal Tuhannya
Siapa
cinta dirinya maka ia cinta Tuhannya
Cintai
dirimu, abaikan sejenak segala pinta yang menyiksa
Cintai
dirimu bukan nafsumu tapi nurani
Dirimu
yang sejati
HIKMAH BERPISAH
Adakah harapan untuk suatu yang mengundang cibiran
Gelaran yang tersemat amat melukai kanvas rasa
Namun apa hendak dikata
Secawan anggur cinta tak juga hadir di sana
Hampir dua putaran mentari, duapuluh putaran rembulan
Bukan mudah menghadapi kenyataan
Sesuatu yang dianggap pemaksaan
Hanya hadirkan siksaan
Dua insan dewasa merdeka
Beranikan diri genggam bara teredup
Setidaknya luka tak begitu nganga
Karena luka di atas luka
Telah mereka lalui bersama
Kehampaan bahtera tanpa senyuman
Saling sapa hanya sekedar bahasa basi
Tiada kehangatan hambar hilang seri
Buat apa bersama tanpa cinta
Saat ikrar suci pernikahan
Membuahkan dosa-dosa tanpa tepi
Baiklah kita sudahi
Semoga kebencian Tuhan menghala pada keridaan
Setelah pertaubatan
Senyuman itu hadir kembali
Karena saputan dosa telah terakhiri
(Temanggung, 21 JumadilAkhir 1443-24 Januari 2022)
Event
Jejak Ke-28_Lomba Cerpen My Dream_
SEMUA DARI NOL
Arimbi menyusul suaminya ke
pekarangan yang hanya sepetak sempit.
Luasnya tak lebih dari empat kali tiga meter persegi. Dengan baju tidur sederhana dan kerudung
kecil menutup sebagian rambutnya.
“Akang buat apa nanem talas ndak
berguna ini. Apa yang bisa kita
dapet dari tanaman ini?” Arimbi mencabut acak gagang bonggol talas
yang baru saja ditanam Harun, suaminya.
Harun hanya bisa menggelengkan
kepala melihat tangan lembut istrinya memusnahkan jerih payahnya. Tiga tahun pernikahan berlalu dengan penuh
kepedihan. Arimbi yang manja dan
berwajah rupawan tidak pernah mau memikirkan perbaikan nasib rumah tangga
mereka. Harun lebih banyak mengalah. Cintanya yang terlalu besar pada Arimbi
membuat Harun tak berkutik.
Bukan sekali dua kali ia harus
menelan pil pahit akibat kemiskinan yang terlanjur disandangnya. Beberapa kali tawaran bedah rumah dari pihak
kantor desa maupun tetangga menyambangi telinganya. Semua tanpa realisasi hingga terkesan sebagai
cibiran daripada simpati dan empati.
“Pak Har, rumah ini sudah semi
permanen, sudah ada pondasinya. Tinggal
mengubah dinding dan atap akan menjadi rumah layak huni. Keberadaan rumah ini sering menjadi sorotan
dan point negatif nilai kelurahan kita,” ungkap Suganda, kepala desa saat
bertandang ke rumah mereka.
Rumah mereka memanglah hunian
terburuk di kampung itu. Saat membuat
pondasi, Harun masih bisa bernapas lega dengan gaji bulanan sebagai karyawan
swasta. Tapi nasib tak selamanya
berpihak pada keinginan manusia.
Perusahaan tempatnya bekerja terjerat kasus kredit macet. Ratusan karyawan dirumahkan sebelum rumahnya
selesai dibangun. Dengan sisa
tabungannya, Harun hanya mampu membeli bilik untuk bernaung bersama Arimbi.
“Akang, biarkan aku pulang
saja. Sepertinya keberadaanku hanya
menambah beban kamu.” Lamunannya tentang
nasib yang menimpa tiba-tiba terkagetkan oleh teriakan Arimbi.
“Jangan sayang, biarlah aku melarat
yang penting kamu tetap ada di rumah,” bujuk Harun mencegah kenekatan
Arimbi. Tapi apa boleh buat, Arimbi
sudah memesan ojek online dan pergi begitu saja meninggalkan Harun. Lambaian rok hitam menggantikan lambaian
tangan Arimbi yang harusnya ia dapati saat hendak berpisah, layaknya pasangan
yang saling mencintai.
Hampir saja genangan air di sudut
mata Harun tak terbendung, ia memandangi talas yang belum selesai ia bereskan.
“Sabarlah
Harun, mungkin kata-kata istrimu itu benar adanya. Justru kalau kamu sendiri tak ada yang akan
menghalangi ikhtiar kamu. Tidak
akan nada cibiran ketus pada tiap
langkah yang kau pilih. Setidaknya beban
kesulitan hidup akan berkurang dengan kepergian Arimbi.” Suara batin Harun seakan tetesan gutasi di
siang hari terik.
Harun merapikan kembali serakan
batang talas yang ia dapat dari tempat pembuangan sampah pagi tadi. Bibirnya tak lepas dari salawat yang ia baca
tiap menghadapi perasaan hati yang amat berat.
Perlahan dadanya lapang dan tenang.
Sebenarnya Harun memiliki banyak
kelebihan wajahnya di atas rata-rata, tingginya seratus tujuh puluhan. Kesabarannya juga luar biasa. Pria usia tiga puluh tiga tahun itu lulusan
sebuah universitas ternama. Hanya saja
ujian finansial seakan melemparnya di sudut-sudut kehidupan yang kian materialistis
ini.
***
Empat bulan berlalu talas di
pekarangan rumah seakan berpihak pada harapan Harun. Mereka tumbuh subur dan menambah indah
pekarangan yang lama tak disentuh tangan perempuan itu.
“Kesukaanku talas Bogor, Har. Selama aku kuliah di IPB dan pulang kampung
aku selalu bawa talas untuk ibu. Nah,
sampai sekarang ibuku selalu pesan talas kalo aku pulang,” ungkap Hayati saat
bertandang ke rumah Harun ditemani Laila, adik bungsunya. Mereka berteman saat di SMA. Pernah satu kelas dan cukup akrab. Hanya nasib yang membedakan keduanya. Selepas SMA Harun ke Semarang, sementara
Hayati ke Bogor.
“Apa kamu mau beli talas ini, Ati?”
“Bukannya aku nggak mau, bahkan
ibuku akan sangat suka. Tapi aku punya
ide. Bagaimana kalau kamu olah aja talas
ini. Barang jadi akan membuatmu untung
berkali lipat bahkan bias sampai tiga kali daripada dijual mentah. Nah, nanti batangnya bisa kamu tanam lagi
tanpa harus mencari bibitnya lagi.”
Hayati memberi masukan dengan tulus.
Ia ikut prihatin dengan ujian yang sedang menimpa Harun saat ini. Ia teringat kebaikan Harun saat masih sekolah
dulu. Ia banyak minta bantuan Harun jika
ada tugas yang menurutnya sulit. Harun
akan selalu bersabar membantunya memahami pelajaran. Hayati berpikir, bahwa ini saatnya ia membalas
jasa kebaikan Harun.
Dengan bantuan googling dan browsing
Youtube Hayati menawarkan beberapa resep yang dicatat rapih.
“Aku bawa bumbu ini buat kamu,
Har. Cobalah beberapa resep yang aku
googling ini. Semoga pas di lidah dan
bikin pembeli keripik talas kamu ketagihan.”
“Terima kasih, Hayati. Dari dulu kamu sahabat terbaikku.” Dua sahabat itu saling mendoakan sebelum
kemudian berpisah. Hayati akan kembali
ke Bogor untuk urusan kerjanya.
Perjumpaan mereka yang hanya tiga
hari itu membawa arti buat semangat Harun yang sempat menemaram. Awalnya ia ingin menjual langsung panen
talasnya. Dengan tambahan kesabaran,
keuletan dan kerja keras, Harun harus menikmati proses produksi kripik
talasnya.
Dengan berbagai kemasan dan sasaran
konsumen yang berbeda-beda Harun menitipkan keripik talesnya ke beberapa
warung.
Usahanya kali ini memicu Harun
banyak membaca zikir dan doa penarik rezeki.
Salawat tak pernah lepas dari lisannya.
Tiap pagi jelang bekerja Harun menyempatkan diri berdoa dan membaca Surat
Waqiah. Amalan baru yang ia dapat dari
Hayati. Sejak kuliah di Bogor Hayati
banyak mengalami perubahan, penampilannya islami. Gadis itu berbalut gamis dan hijab
syar’i. Pembawaannya pun lebih tenang
dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Sangat berbeda dengan Hayati remaja dulu.
“Kalau
aku belum menikahi Arimbi, sepertinya Hayati sangat baik untuk menjadi ibu
anak-anakku,”gumam Harun sambil membungkus keripik renyah bikinannya. “Jangan mimpi Harun, Hayati gadis matang yang
mapan. Ia punya jodohnya sendiri yang
sekufu.” Harun masih asyik dengan
lamunannya tentang Hayati.
Dua hari setelah menitipkan keripik
buatannya, Harun mencoba menanyakan perkembangan dagangan yang ia titipkan
itu. Di luar dugaannya semua habis
terjual. Resep yang diberikan Hayati
benar-benar bisa diterima penikmat keripiknya.
Harun meraih gawai jadul yang masih
bias dia pakai menghubungi Hayati. Tak
sabar Harun ingin berterima kasih atas segala kebaikan Hayati. Terutama resepnya.
[Hayati, terima kasih udah peduli
sama aku. Aku nggak bisa bayangin kalau
kamu nggak hadir tiga hari di kampung kita.
Keripik buatanku benar-benar acceptable.]
[Wasyukrulillah. Semua atas kasih saying Allah atas kesabaran
kamu. Kalau kita tekunin satu hal, focus
maka kita akan expert dalam bidang
itu].
Chat antara Harun dan Hayati menjadi
energy tersendiri buat Harun. Semangat,
harapan, kesungguhan, keuletan terbangun dari sana. Sementara Arimbi tak pernah membuka chat
Harun hanya checklist dua tanpa
warna.
Dalam satu bulan, Harun sudah
mendapat modal dari hasil jualannya lebih dari dua juta. Siuang malam di sela-sela ibadahnya, Harun terus mengakrabi talas. Sesekali idenya muncul membuat produk baru
yang sekiranya marketable. Untuk menembus pasaran anak muda, Ia mencoba
membuat grobi talas isi. Aneka rasa ia
masukan di tengah grobi talas. Rasanya
luar biasa. Coklat, keju, perisa kopi ia
coba. Produk ini ternyata dua kali lebih
cepat habis daripada kripik original.
Satu tahun berlalu, ia telah
membuktikan perkataan Hayati. Harun
makin expert dalam pembuatan aneka makanan berbahan talas. Harun memberanikan
diri membuat kios kecil “Aneka Talas Oleh-Oleh Khas-Ultra Rasa”. Ia tak peduli perkataan orang yang mencibir
rumahnya, ia ingin usahanya berkembang dan stabil.
Online marketing mulai ia
jajaki. Gawai jadulnya telah ia ganti
dengan seri yang terbaru dari merek yang sama.
Tentu hal ini lebih memudahkan pemasaran produk talasnya.
[Dua puluh kilo grobi talas isi
keju, dua puluh lima kilo grobi isi coklas, lima kilo keripik talas
original]. Pesan wa dari pelanggan
menghampiri gawainya, tiap hari bias masuk lima pesanan partai besar. Belum lagi partai sedang dan kecil. Hari demi hari, Harun harus menambah
karyawan, peralatan juga prasarana produksi.
Perlahan tapi pasti, petak-petak
sawak dan kebun di sekitar rumahnya ia beli untuk perluasan. Rumahnya sudah seratus persen permanen dengan
keramik biru tua, warna kesayangannya.
Mobil pick up untuk usaha dan mobil pribadi untuk mobilitasnya
bertengger di garasi samping kanan rumahnya.
Meskipun meraih banyak hal yang ia
harapkan, Harun tak pernah lepas dari amalan shalawat dan bacaan waqiah dari
Hayati
***
Di sebuah aula gedung Kementrian
Tenaga Kerja sepasang mempelai berusia empat puluhan terhias bak pangeran dan
putri cantik natural.
Harun telah meraih bintang berkat kesabaran dan ketekunannya. Menjadi tokoh entrepreneur muda ternama di
kotanya. Karena prestasinya ia direkrut
untuk menjadi motivator bagi pemilik UKM di beberapa wilayah kabupaten di
provinsi yang sama.
Di satu sudut ruangan Arimbi tertunduk malu penuh penyesalan hatinya
berdenting syahdu, ”Seandainya Mas Harun
masih bias memaafkan aku, akan aku akui segala kesalahanku, menjadi
pendampingnya di sisi Hayati pun aku rela.”
Dari atas panggung mempelai, tiba-tiba Hayati menuruni tangga,
seakan mengetahui isi hati Arimbi.
“Assalamu’alaikum, Arimbi, kaukah itu?” sapa lembut Hayati memecah
lamunan Arimbi.
“Aku…aku…ucapin selamat, Hayati.
Kau memang pantas mendapatkan Mas Harun.” Genangan di sudut mata Arimbi hampir
terjatuh.
“Arimbi, aku tahu Mas Harun sangat mencintaimu. Aku tak ingin merenggut kebahagiaanmu. Aku juga bukan orang yang memandang hina
pernikahan dua sampai empat istri. Aku
relakan kau menjadi hadiah pernikahanku dengan Mas Harun. Tiga tahun mendampingi Mas Harun dalam
penderitaan, aku ingin kita bias bahagia bersama.
Pecah tangisan dua wanita cantik itu. Mereka saling berpelukan menyita perhatian
para tamu undangan. Harun menghampiri
dua wanita yang sangat dicintainya itu.
Ia memeluk keduanya dengan penuh kasih.
“Istri-istriku, kalian adalah cahaya mata buatku seperti yang
kupinta dalam tiap salatku. Aku bukan
membagi cinta, tapi kita bersama akan saling berbagi kasih sesuai tuntunan
syariatNya. Aku cinta kalian, dan kalian
juga bisa saling berkasih sayang dalam batas keridhoan Tuhan.”
Hari itu menjadi hari terindah tentang kasih sayang. Impian bagi semua insan di bumi yang makin
gersang dan tandus keimanan. Mereka
memiliki tugas baru untuk membuktikan keharmonisan seatap banyak cinta dari titik
nol.
Tentang Penulis
Khadijah Hanif, anggota dari Badan Pengelola
Pesantren Terpadu Nurul Amanah Tasikmalaya dan Pengurus Yayasan Aminul Ummah
Garut. Berprifesi sebagai Guru Fisika dan bahasa Inggris di
SMPIT-SMAIT Nurul Amanah.
Karya novel solonya berjudul Talbiyah Cinta dari Kampung Naga terbit
di tahun 2018. Buku ini adalah
buku solo ke-2 yang merupakan kumpulan dari seluruh naskah yang ditulis unuk
menikuti event Jejak Publisher, bertajuk
Jejak Literasi
Memenangkan beberapa event perlombaan menuli
antaralain:
1. Juara 1 event jejak bertema Harmonisasi Kerukunan Atara Umat
Beragama
2. Penulis naskah terbaik dalam event menulis cerpen Break Your Limit
berjudul Jadi Maka Jadilah
3. Penulis naskah terpilih dalam lima event Jejak Publisher lainnya
4. Juara 1 lomba menulis cerpen, Juara 3 lomba menulis cerpen dan
Juara 1 lomba menulis berita yang diadakan Komunitas Literasi IAIC Cipasung
dalam Event Gerimis 2019
5. Penulis dua naskah terbaik pada event menulis Nubar Area yang
diselenggarakan Rhumedia
Sampai saat ini penulis telah berkontribusi pada
lebih dari 60 antologi dengan berbagai genre diterbitkan oleh Jejak Publisher,
Rhumedia, Wonderland Publishing, dan Dandelion Authors . Delapan buku solo berupa novel, legenda
dunia, kisah inspiratif, puisi dan quotes menunggu untuk diterbitkan.
Ibu dari tiga putra-putri ini dapat dihubunyi melalui khadijahhanif313@gmail.com, fb. Titin Harti
Hastuti, ig. titinhartihastuti_313 dan
TITINHASTUTI’S BLOG

Komentar
Posting Komentar