BUKU SOLO II-JEJAK LITERASI

BUKU SOLO II


Kumpulan Naskah Lomba Menulis Jejak Publisher


2018-2020




KATA PENGANTAR


Bismillahirahmannirrahiim, Asshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa alaa alihi washahbihi wasalam, wa ba’du

Tidak ada yang ingin penulis ucapkan  selain rasa syukur pada karunia dan kehendak Allah SWT yang telah mengizinkan terselesaikannya buku solo kedua ini. 

Penulis telah secara intens mengikuti event jejak sejak awal 2018-2020 dan vacum  dari pertengahan 2020 hingga 2021.  Dengan susah payah serpihan naskah yang terserak dan tersembunyi di antara file laptop juga umpukan email mencoba disusun oleh penulis

Tidak semua naskah yang terkumpul sempat dikirimkan ke panitia event jejak.  Sebagian besar naskah terkirim teapi ada beberapa naskah yang terlewat deadline sehingga tidak mengikuti kompetisi.  Tujuh diantara seluruh naskah berhasil dikontribusikan menjadi antologi terbitan Jejak Publisher.

Urutan naskah pada daftar isi tidak menggambarkan urutan event secara kronologis tapi lebih pada ditemukannya serpihan naskah oleh penulis.

Penulis menyadari berbagai kekurangan dari naskah bunga rampai dengan berbagai genre ini.  Kritik, saran yang tulus dan terbaik sangat penulis harapkan untuk memperbaiki dan menyempurnakan buku ini.

Akhirnya penulis ucapkan selamat membaca, semoga berkah dan manfaat dapat pembaca peroleh dari tulisan ini.

Jazakumullah khairan katsiraa karena penuls tanpa pembaca bukan siapa-siapa, dan buku tanpa dibaca bukan apa-apa.

 

 

                                  Tasikmalaya, Mei 2021 M-Ramadan 1442 H

Khadijah Hanif

 

Daftar Isi

 

1.       Event Jejak Ke-1_Cerita Kenangan Bersama Kakek Nenek_BARA YANG TAK PERNAH PADAM

2.       Event Jejak Ke-2 _Cerpen Antariksa_IZINKAN KEPAK SAYAPKU MENGANGKASA

3.       Event Jejak Ke-3_Cerpen Antariksa_JADI MAKA JADILAH

4.       Event Jejak Ke-4_Cerita dari Koding_BREAK THE LIMIT

5.       Event Jejak Ke-5_Perjuangan_TEBING TERJAL PERJUANGAN

6.       Event Jejak Ke-6_Kisah di Sekolah_BINAR EMBUN KEIKHLASAN

7.       Event Jejak Ke-7_Esai Pengorbanan_TETES KERINGAT UNTUK GENERASI LITERAT

8.       Event Jejak Ke-8_Fiksi Anak_HIDANGAN ISTIMEWA

9.       Event Jejak Ke-9_Mini Fiksi Manusia Anomali_HALUSINASI

10.    Event Jejak Ke-10_MiniFiksi Nostalgia_TRAUMA

11.    Event Jejak Ke-11_Fiksi Mini Thriller_GADIS YANG TERPASUNG

12.    Event Jejak Ke-12_Cerpen Promise_HATI SELUAS SAMUDERA

13.    Event Jejak Ke-13_Puisi Love Yourself_DEAR ME,

14.    Event Jejak Ke-14_Cerpen Tanda Tanya_HARUSKAH KAMU PERGI, RATIH?

15.    Event Ke-15_Puisi Memiliki dan Kehilangan_REMANG BAYANGMU

16.    Event Jejak Ke-16_Kisah Inspiratis Harmonisasi Hubungan Antarummat Beragama_KARENA AKU SAYANG KAMU

17.    Event Jejak Ke-17_Cerpen Di Penghujung Waktu_ENGKAU MENJELANG TIBA

18.    Event Jejak Ke-18_Never Give Up_JALAN TANPA UJUNG

19.    Event Jejak Ke-19_Puisi Perdamaian Dunia_DAMAILAH DALAM DAMAI

20.    Event Jejak Ke-20_Cerpen Twin Series_SIAPA KAMU?

21.    Event Jejak Ke-21_Tanda Tanya_KAUKAH IBUKU?

22.    Event Jejak Ke-22_Lomba Cerpen Pekan Jurnalistik di Era Industri 4.0_AKU BUKAN KULI TINTA

23.    Event Jejak Ke-23_Lomba Essai Pekan Jurnalistik di Era Industri 4.0_PERAN NORMATIF JURNALIS DALAM ERA INDUSTRI 4.0

24.    Event Jejak Ke-24_Lomba Puisi Pekan Jurnalistik di Era Industri 4.0_TARIAN PENA SANG JURNALIS

25.    Event Ke-25 Jejak_Lomba Cerpen Anak Yatim_ MAKBUL

Event Jejak Ke-26_Lomba Puisi Love Your Self_SAJAK  PENGEJA CINTA

Event Jejak Ke-27_Lomba Puisi New Hope_HIKMAH BERPISAH

Event Jejak Ke-28_Lomba Cerpen My Dream_SEMUA DARI NOL


 

 

Event Jejak Ke-1_Cerita Kenangan Bersama Kakek Nenek

BARA YANG TAK PERNAH PADAM

 

                Pulang kampung untuk bersilaturahim dengan keluarga sudah menjadi tradisi tahunan keluarga besarku.  Segala kenangan tentang masa kecilku bersama kakek muncul berkelebatan.  Apalagi melihat sawah luas menghijau, sebagian lagi menguning emas.

                Dulu sawah-sawah ini bukan milik keluarga besar kakek.  Semua ditukar dengan tetes demi tetes keringat kakekku.

                Ah….kisah mengharukan sekaligus membanggakan itu berkelebatan di antara lembaran-lebaran memoriku.  Sebagaimana yang kakek tuturkan padaku saat beliau masih hidup.

***

                Saat itu aku belum dewasa.  Umurku baru sebelas tahun dan adikku, Bagaskoro baru delapan tahun.  Aku teringat Paklik Jazuli memanggilku.

                “Mad, dengan sangat terpaksa aku harus menggadaikan sawah warisan bapakmu.  Kebutuhan sehari-hari kamu dan adikmu Bagas, tidak bisa aku cukupi dari hasil sawah ladang kita.  Aku akan gunakan hasil menggadai sawah kalian untuk modal usaha.” Paklik Jazuli meminta persetujuan dariku.       Kami dua bersaudara berada dalam pengasuhan Paklik Jazuli setelah kami yatim piatu.

                Suatu hari, saat usiaku sekitar 16 tahun seorang tetangga memberitahuku tentang resiko terlepasnya hak kepemilikan tanah bila tidak ditebus.

                “Mad, tanah milikmu akan hilang bila tidak ditebus,” kata Pak Sastro, tetangga kami.

                “Kenapa bisa hilang Pak?” tanyaku polos.

                “Tentu saja bisa, karena paman kamu sudah menukarnya dengan uang yang senilai dengan barang yang digadai.  Nanti kamu tidak akan punya apa-apa lagi.”

                Aku kaget dengan kenyataan ini.  Aku baru tahu kalau resikonya cukup besar.  Apalagi ketika diketahuinya bahwa usaha dagang Paklik Jazuli hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari.  Bisa dibilang dagangannya sepi pembeli.

                “Aku harus berusaha menebus sendiri tanah dua petak itu.  Aku tidak punya peluang lain kecuali bertani.”  Aku berpikir keras untuk bisa mendapat penghasilan.

                Suatu pagi aku berjalan menyusuri pematang.  Tanpa tujuan kemana aku melangkah.  Dalam pikiranku aku memohon kiranya Alloh memberiku jalan keluar.  Empat desa terlewati, kumendapati sebuah sungai besar, berarus deras namun masih sangat jernih di 1930-an.  Sungai itu bernama Luyung.

                “Alhamdulillah, aku ada ide.”  Aku mencoba mencari cacing dan dilepaskan ke danau lebar di tengah sungai.  Ikan-ikan besar bermunculan ke permukaan.  Berebut cacing yang kulempar. ”Sudahku duga sungai ini banyak ikannya.”

                Sejak saat itu, kuajak adikku Bagas yang usianya sudah menginjak 11 tahun.  Kami mencari ikan di sungai itu.  Sungai yang cukup jauh dari penduduk. 

                Kami berbekal petromaks lampu mewah yang langka waktu itu.  Aku meminjamnya dari Paklik Jazuli.  Lengkap dengan pancing, umpan, obor minyak tanah, dan jala.  Obor digunakan untuk jaga-jaga kalau ada binatang buas, terutama ular. 

Berbagai peristiwa menyedih kami jalani selama mencari ikan di Sungai Layung.  Mulai dari rasa takut dengan suara-suara malam. Gemersak suara binatang buas.  Suara srigala dari bukit di kejauhan.  Semua kami hadapi dengan ketegaran sekaligus kepasrahan.  Berserah pada yang Maha Memberi kehidupan.

“Kang, ada ular besar.  Lihat itu sebesar lenganku!” Bagas berteriak ketakutan. 

                Beruntung aku selalu menyediakan obor minyak tanah dan korek api.  Kunyalakan obor itu, dan…..

                “Bagas, kita cukup menghalau saja binatang itu dengan nyala api.  Mereka akan menyingkir.  Asal jangan kita ganggu, tidak akan membahayakan.”  Kakek mengarahkan api pada ular itu.

                “Hah….alhamdulillah.”  Bagas menghela napas lega.

                Ada juga cerita sedih menegangkan, tentang interogasi patroli tentara Belanda.  Saat itu pergerakan-pergerakan nasional mulai bermunculan.  Akan tetapi tekanan di bawah penjajah masih terasa.

                Malam itu malam Minggu.  Kami mencari ikan seperti biasa. Sekitar jam 02.00 pagi, kami menggelar sajadah untuk sholat Tahajud di atas rumput di pinggir sungai.  Dua rekaat yang tak pernah kami tinggalkan.  Setelah itu kami pun pulang.  Satu ember penuh ikan rata-rata sebesar telapak tangan.

Di tengah perjalanan, kami mendengar  suara kendaraan Jeep gunung mendekat.

                “Bagas, matikan petromaxnya.  Ada yang patroli.  Kita sembunyi di balik semak ini.  Perjalanan kita lanjutkan kalau patrol sudah lewat.”

                “Mas, aku takut.”  Bagas segera mematikan lampu petromaks.  Namun malang tak bisa dihindari.  Asap dari bekas lampu petromaks mengepul dari balik semak-semak.

                Seorang bertubuh tinggi besar berkulit putih.  Seorang lagi pribumi setengah baya, berperawakan sepundak orang yang berkulit putih.

                “Wah…ada inlander mau memata-matai kita rupanya.” Belanda putih tetap si atas Jeep terbuka tanpa atap.  Sementara Belanda kulit hitam turun dari mobil dan menyibak semak-semak persembunyian kedua kakekku.

                “Hai anak-anak kecil kenapa malam-malam kluyuran! Kalian santri dari Pesantren Kiai Parak ya?”  Belanda hitam itu mencurigai kami.

                “Tidak, Pak.  Kami hanya keluar malam hanya mencari ikan, belut atau apa saja buat kami makan, Pak.”  Aku menjawab apa adanya.

                Belanda hitam itu memeriksa ember milik kakek dan mengambil paksa tanpa ampun.

                “Innalillahi, tega kebangetan yang namanya penjajah itu ya, Kang!”

                Malam itu kami tidak mendapat apapun kecuali capek, lelah dan pahala sabar atas musibah yang menimpa.

Senang dan bersyukurnya kalau kami berhasil membawa banyak ikan.  Kami tidak pernah mendapat tangkapan kurang dari 10 ekor.  Lebih senang lagi saat kami bisa pulang dengan selamat.  Setelah sarapan pagi, kami pergi ke pasar.  Uang kasil menjual ikan kami simpan di bawah tanah yang kami lubangi.  Di dalam lubang itu ada kendi tempat menyimpan uang yang aman.

                Hari demi hari, seminggu, sebulan hingga setahun kami lalui.  Tabungan dari penjualan ikan sudah dapat menebus tanah kami.  Kesyukuran yang luar biasa karena kami sudah dapat menggarap tanah sendiri mulai besok, setelah penebusan hari itu.

                “Bagas, kita harus bekerjasama untuk membuat tanah peninggalan bapak ibu kita berkah.  Kalau kita menjaganya dengan baik.  Pahalanya akan mengalir pada mereka berdua.”

                “Insya Alloh,  Kang.  Saya akan terus membantu Kang Ahmad.  Rencana Kang Ahmad bagaimana dengan tanah ini dan usaha kita ke depannya.  Apakah kita akan terus mencari ikan ke sungai?”

                Aku berpikir sejenak tentang rencana memberdayakan sawah dan ngobor di malam hari.  Suatu mata pencaharian yang sangat berjasa mengembalikan sawah kami.

                “Yang jelas tiap jengkal sawah dan ladang ini tak boleh mubadzir.  Kita akan menanam sesuai musimnya.  Selain itu kita mesti tahu hasil bumi yang sedang dibutuhkan di pasar.  Pasti harganya akan lumayan tinggi.  Untuk mencari ikan, kita tidak boleh berhenti.  Sayang kalau ada kesempatan meraih karunia-Nya kita lepas begitu saja.”

                “Tapi aku ada usul.  Supaya tidak terlalu capek, kita bisa taruh saja wuwu di sungai itu.  Kita tidak harus menunggui.  Pagi-pagi bisa kita ambil.”

                “Pintar juga kamu.  Kita akan coba.  Semoga Alloh luaskan rejeki-Nya untuk kita.”

                Kami, dua kakak beradik tanpa ayah dan ibu, bekerja siang malam.  Berhenti hanya untuk sembahyang, makan dan istirahat.  Semua jenis ternak pernah kami coba.  Modalnya kami dapat dari mencari ikan di sungai.

                Semua tetesan keringat kami tidak sia-sia.  Hingga tiba saatnya kami berpisah.  Menikah dengan pasangan kami masing-masing.  Meskipun berpisah tempat tinggal, kami tetap bekerja bersama di sawah, ladang, mengurusi ternak dan hasil pencarian ikan di sungai.

***

                Aku masih sempat menyaksikan betapa sejahteranya kakek-nenekku.  Waktu itu di tahun 1980-an aku turut menikmati bagaimana memelihara berbagai macam unggas.  Ayam, itik, entok bahkan angsa.  Semua begitu mengesankan.

                Binatang ternak yang sempat aku lihat, sapi, kerbau dan kambing.  Menurut cerita kakek-nenek, ayah-ibu serta paman-pamanku, kakek bahkan pernah memelihara kuda.  Nampaknya seru sekali kalau kuda itu masih ada.  Ingin sekali rasanya aku mencoba menaikinya.  Sayangnya kuda itu telah dijual dan ditukar dengan kebon kopi di depan rumah kakek.

                “Kek, jadi kebon kopi ini seharga seekor kuda?”

                “Betul sekali Cucuku, bahkan masih ada sisa untuk dibelikan beberapa gram emas.”

                “Kakek dapat kuda dari mana?”

                “Kakek beli dari tuan tanah Belanda.  Semua dari hasil mencari ikan di Sungai Gintung dan Luyung.”

                Aku terkagum-kagum.  Betapa berkahnya tangan kakekku ini.

                Beliau kemudian bercerita tentang seluruh sawah yang dimilikinya.  Awalnya hanya dua petak.  Dalam waktu 50 tahun semua telah menjadi 10 hektar lebih.  Benarlah bahwa kesungguhan dan keistikomahan itu seperti melubangi dinding tebal.  Bila terus menerus, maka akan sampai juga.

                Aku penasaran menanyakan darimana semangat dalam dada kakekku.

“Cucuku, tanah adalah amanah dari Tuhan. Wasilahnya turun temurun sebagai warisan dari orang tua kita dulu.  Membiarkannya tanpa tetesan keringat, berarti kita telah menyia-nyiakan nikmatNya. Mengapa tanah air sering disebut tumpah darah?  Karena tiap jengkalnya harus dipertahankan dengan tetesan keringat bahkan darah.  Jangan sampai mudah berpindah tangan.  Apalagi berpindah tangan pada orang yang salah.  Karena resikonya akan kehilangan kehormatan dan kemerdekaan.”  Kakek melanjutkan nasehat berharga yang terus kuingat hingga kini.

                Ternyata nasehat itu menjadi kalimat berharga terakhir yang aku dengar.  Sebulan kemudian kakekku pergi untuk selamanya.  Usiaku saat itu memasuki angka sebelas.

                Sawah, ladang, kebun sepuluhan hektar itu dibagikan pada satu anak perempuan dan empat anak laki-laki kakek.

***

                Lembaran memori itu aku tutup kembali.  Di hadapan setengah hektar petak sawah jasa kakek dan ayahku.  Ya…mereka di alam keabadian menunggu jawabanku untuk menjalankan amanah wakaf tanah ini.

                Ya Rabb, Ya Kariim.  Sebuah perjuangan panjang untuk menyalakan bara api itu di dadaku.  Memelihara tiap jengkal untuk menumbuhkan karunia demi karunia. 

Tiba-tiba aku memasuki relung afirmasi.

                Tanah ini akan menjadi pesantren agribisnis.  Tempat mendalami ilmu alqur’an-hadits tapi juga mengajarkan kemandirian untuk memelihara tiap jengkalnya untuk menagih keberkahan dari-Nya.

                Semua yang pernah dilakukan kakek seakan kembali terjadi di hadapanku. Pagi ini.


 

Event Jejak Ke-2_Cerpen Antariksa

IZINKAN KEPAK SAYAPKU MENGANGKASA

 

Namaku Gemi Setiti.  Emak bilang itu doa, supaya aku menjadi orang yang pandai menjaga harta.  Padahal kami bukan orang kaya yang punya harta benda.  Ah, namanya juga doa.  Toh harta tidak selalu berupa uang.  Kesehatan, keimanan, waktu, kesempatan, nama baik, semuanya juga harta.  Kata ustadzku di masjid dusun, semua karunia Allah itu harta juga.

“Gemi, sudahlah kau berhenti dari khayal yang aneh itu. Kamu hanya menyakiti diri sendiri. Dan yang lebih sakit lagi emakmu ini!”  Emak kembali mengurut dada. 

Aku membiarkan emak mengatakan apa yang menurutnya baik untukku.  Aku sendiri tetap asik dengan klipingku tentang Jepang.  Meskipun klipingku itu aku buat dari koran bekas.  Ya, emakku seorang pemulung yang mencari barang rongsokan yang dari rumah ke rumah.  Aku paling senang kalau emak membawa koran, majalah atau buku bekas.  Makanya sebelum barang itu dibawa ke pengepul aku curi-curi kesempatan saat emak lengah.

                Bagian yang paling aku sukai kalau ada kolom hikmah atau seri motivasi.  Sesuatu yang bisa langsung aku coba ikuti dalam pola pikir maupun tindakan.  Dan satu lagi berita tentang Jepang.

“Ya, Allah, Gemi, kamu apakan barang rongsokan ini.  Kenapa kamu acak-acak?”  Emak sempat jengkel.  Aku kurang sigap membereskan jejak pemburuanku.

Bude Parmi, budeku yang paling baik dan perhatian.  “Anakmu itu lho, Surti! Jangan kau biarkan liar dengan khayalannya!  Ndak sedikit mereka gila gara-gara ndak bisa meraih apa yang diimpikannya.” Bude Parmi sering kali mengingatkan emak untuk mengendalikan semua keinginanku yang menggebu ini.

Entahlah apa yang membuat aku ingin ke Jepang.  Yang jelas aku sudah terlalu sering menahan segala rasa.  Rasa miskin dan tidak mampu.  Padahal aku juga ingin seperti mereka.

Hanya rasa syukur yang bisa membuatku bertahan.  Bagaimana tidak aku memiliki banyak kawan yang beruntung menjadi anak orang berada.

“Gemi, ayo belajar di rumahku.  Aku ndak paham pelajaran Matematika, Fisika, Kimia.  Semua simbul di rumus-rumus itu bikin aku pusing.”  Temanku, Sania memintaku mengajarinya pelajaran eksakta.  Inilah yang aku maksudkan aku harus bersyukur.  Meskipun emakku menyuapiku dengan barang bekas, justru usaha halal itu membuat otakku cukup encer.  Keringat dan air mata emak pasti bergumul dengan doa menjadi cahaya pemahaman saat aku berusaha mengerti tutur dari guru. 

“Ayo, Nia, aku ndak keberatan!  Apalagi kalau aku main di rumah kamu, kesempatan emas buatku menikmati air dingin, ruangan dingin.  Seolah aku di surga dunia.”

“Wah, kamu ini udah macam oportunis aja, mengambil kesempatan diatas kepusinganku.”  Kami bercanda akrab.

Sepertinya aku sudah bisa menyimpulkan sediri kenapa aku ingin ke Jepang, saat aku memasuki rumah Sania.  Aku seperti berada di Jepang.  Semua merek barang elektronik mewah ada di sana.  Aku jadi makin ingin masuk jurusan teknik mesin di salah satu universitas ternama di Jepang.  Kalau aku tahu ilmunya, tentu aku bisa membuat barang-barang elektronik ini.  Paling tidak aku bisa mereparasi mesin rusak yang acap kali emak bawa dari hasil memulungnya. 

Kegemaranku membaca apa saja menuntun mataku membaca satu pamflet.   Masih dari tumpukan kertasbekas yang dibawa emak.   “Lomba Menulis Karya Ilmiah”, temanya, ”Ancaman Lingkungan oleh Sampah dan Penanggulangannya” diadakan oleh sebuah universitas ternama bekerjasama dengan Kedubes Jepang untuk Indonesia.”  Aku biarkan mata ini terus memelototi huruf demi huruf  “Deadline 28 Februari”.    Juara pertama 10 juta dan beasiswa kuliah di Jepang.   Aku melonjak kegirangan.  Dalam hati aku bertekad, aku harus ikut.

Demi mengejar akhir pengiriman online yang tinggal dua minggu lagi, aku mengeram di perpustakaan tiap hari.  Tidak peduli uang jajanku habis untuk sewa internet sepulang sekolah.  Lebih baik aku puasa tapi karya ilmiahku harus kelar.

“Gemi, kenapa kamu ndak mbantuin Emak mengepak barang-barang bekas, Nak?” tanya emak sebelum tidur.

“Maaf, Mak, Gemi sedang berusaha membuat Emak bangga dan bahagia.”

“Kalau ingin bikin Emak bahagia, jangan main terus.  Emak kecapekan seharian keliling kampung.  Sejak ayahmu meninggal Emak harus mencari nafkah sendiri.  Kamu sudah besar, sebentar lagi kuliah.  Biayanya tentu lebih besar.”  Emak, pengorbanan emak luar biasa.  Aku sayang emak, suatu saat aku akan bisa membuktikannya.

Awalnya aku ingin memberi kejutan buat emak.  Tapi aku tidak tega membuatnya sedih dengan prasangka bahwa aku tidak mau lagi membantunya.  Akhirnya aku ceritakan semua tentang yang aku lakukan seminggu minggu ini.

Emak membelai rambutku, ada cairan bening berkelindan di kelopak matanya.  Hampir tumpah.  Di kecupnya keningku sambil bertutur lembut, “Kalau ini jalan yang menjadi garis takdirmu, Emak rela kamu berusaha sampai dapat.  Emak akan bawa harapanmu itu dalam sujud Emak.  Sajadah lusuh ini akan menjadi saksi kerelaan Emak padamu, nduk.”  Emak menunjuk sajadah satu-satunya yang selalu setia menemani emak berdoa.

Dukungan emak menambah energi untuk semua rencanaku.  Aku makin disibukkan  dengan karya ilmiah itu.  Perpustakaan, laboratorium komputer dan warnet menjadi tempat favoritku.  Maklum aku tidak mungkin bermimpi beli laptop.

Referensi tentang lingkungan, sampah, cara pemanfaatannya, bahayanya, semua bertumpuk di meja baca perpustakaan di depanku.   Tak lupa aku buka KBBI, kamus sinonim dan PUEBI.  Aku ingin tulisan ilmiahku enak dibaca dan dinikmati, kaya diksi namun tetap ilmiah.

 Aku merasa beruntung dengan kegilaanku membaca.  Lomba menulis ini pun bukan yang pertama aku ikuti.  Apalagi di kegiatan literasi sekolah aku dinobatkan menjadi “Ratu Baca”.  Jadi buat aku tidak terlalu sulit mebariskan huruf demi huruf menjadi rangkaian kata dan kalimat.

Di hari ke sepuluh, aku terserang demam.  Bagian pembahasan belum selesai sepenuhnya.  Belumlagi bagian penutup, daftar pustaka dan abstrak dalam bahasa Inggris.  

“Kamu terlalu memaksakan diri, Nduk.  Jadinya sakit begini.”  Raut muka dan sorot mata cemas orang yang paling aku sayangi.  Satu-satunya hartaku yang paling berharga adalah emak.  Aku sama sekali tidak ingin ada duka dalam hatinya.

“Ndak apa-apa, Mak.  Gemi bakal segera sembuh.”

“Kamu harus ke dokter, Emak ada sedikit simpanan persiapan kuliah kamu tahun depan.  Yang penting kau harus sembuh .”

Perutku mual, aku menumpahkan sarapan pagi yang masih mengendap di lambungku.  Emak makin gundah.  Akhirnya aku mau menuruti kemauan emak.  Aku baru menyadari ternyata emak bersungguh-sungguh ingin menguliahkan aku.  Ada haru mendesak-desak di dada dan sudut mataku. 

Dua hari aku istirahat total, diatas dipan berkasur kapuk yang tak pernah empuk.  Selimut tebal kupakai untuk mengusir kamuflase rasa dingin.  Padahal tubuhku panas.  Menurut saran dokter, aku harus dirawat.  Tapi karena tunggakan BPJS kami terlalu besar, emak memutuskan berobat jalan saja.   Aku terkena tifus dan BDB sekaligus.

Menatap langit-langit dengan terus berdoa kiranya aku bisa mengejar deadline yang tinggal dua hari lagi.

“Gemi, ini ada ramuan untuk menurunkan demam.  Minumnya tiga jam setelah obat dari dokter.  Kamu harus makan yang lembut-lembut, emak sudah buatin bubur buat kamu.”  Segala macam makanan sehat yang boleh menyambangi kerongkonganku disediakan emak dengan tulus dan penuh cinta.

“Mak, maafin Gemi, bukan meringankan Emak, tapi bikin Emak susah.”

“Gemi, kamu amanah Allah yang menjadi tanggung jawab Emak.  Ndak  ada istilah kata merepotkan.  Kalau Emak membiarkan kamu justru dosa besar.  Kamu ndak boleh banyak pikiran, insyaallah besok kamu sudah baikan.”

Aku minum obat dari dokter lebih awal.  Supaya tiga jam berikutnya aku bisa minum ramuan dari emak.  Luar biasa, aku merasa sesuatu  yang baik memasuki tubuhku.  Biasanya aku sulit buat tidur, tapi ramuan itu benar-benar membuatku lelap.

“Gemi, ambillah sarang semut di batang pohon mahoni yang mongering di kebun kita.  Itu obat dari segala penyakit.”  Suara lembut itu menyapaku bersamaan dengan suara azan dari masjid dusun kami.

“Bapak?!”  Aku menyebut pemilik suara itu.  Namun dia begitu saja pergi bersama kesadaranku yang pulih sepenuhnya dari lelap.

Benar saja pagi ini aku merasa benar-benar segar, apalagi setelah ibu merebuskan aku sarang semut seperti pesan Bapak.

Aku segera melanjutkan karya ilmiahku.  Emak melarang, tapi aku memohon dengan sangat untuk diizinkan.  Aku pergi ke warnet pagi ini untuk menyelesaikan bagian perbagian yang belum kuselesaikan.  Seperti berpacu dengan waktu hingga pukul sebelas malam, aku minta emak menemaniku.  Sekaligus meminta izin pada pemilik warnet untuk menyelesaikan tulisanku.  Alhamdulillah mereka memaklumi, meskipun dengan menambah biaya.  Kata penjaganya, uang lembur.

Seperempat jam, aku harus menyelesaikan abstrak dalam bahasa Inggris.  Dengan bantuan google translate aku bisa menyelesaikan dengan lebih cepat.  Tinggal memperbaiki beberapa pilihan kata yang lebih tepat, memperbaiki struktur dan bentuk kata kerjanya.  Aku berkali-kali melirik jam dinding warnet.  Sebelas lewat lima puluh tiga menit.  Keringat dingin mulai keluar.  Tapi aku berusaha untuk tetap tenang.  Aku membuka email.  Semua file dalam satu folder itu aku kirim satu persatu.  Alhamdulillah lima detik sebelum jam duabelas malam tepat, tertulis notifikasi mail sent.  Aku sujud syukur saat itu juga.  Di depan Emak yang penuh cinta.

Hari Senin, aku sudah bisa berangkat ke sekolah.  Bergabung kembali dengan teman-temanku para pemburu mimpi dan harapan.  Waktu seakan selalu mau menang sendiri.  Tak mau kalah dengan seberapapun cepat kami melangkah.  Makin lama makin cepat, setahun serasa sebulan, sebulan serasa sepekan.  Sepekan serasa sehari dan sehari serasa sekilatan api.

“Ndak kerasa kita sudah harus berpisah, ya, Gemi.”   Sania menyadarkanku pilunya perpisahan sambil membereskan tasnya.  Kami keluar dari laboratorium komputer tempat kami mengikuti UNBK.  Sebelumnya kami pamit sama penanggung jawab lab, Pak Muhtar.

                “Gemi, kamu ikut lomba karya ilmiah, ya?”  tanya Pak Muhtar mengagetkanku.  Memang tiga bulan ini kami focus mempersiapkan ujian nasional.   Hampir-hampir aku lupa kapan pengumuman lomba itu.

                “Kok, Bapak tahu?” tanyaku polos

                “Apapun yang kalian tulis dengan sarana komputer dari laboratorium ini di bawah tanggung jawab dan pengawasan saya.  Saya juga melihat tulisanmu.  Bagus dan punya potensi buat memenangkan lomba itu.  Ini print out pengumuman pemenang lombanya.        

Aku tatap dengan seksama deretan nama peserta yang jumlahnya lebih dari lima ratus orang.  Beberapa bercetak tebal.  Diantara yang bercetak tebal itu ada namaku, juara I.  Aku tidak percaya dengan semua takdir yang menghampiriku.  Aku sungkurkan wajahku di atas karpet ruangan, mungkin inilah pertama kali aku merasa benar-benar diperhatikan Tuhan.

***

                Di depanku kini bertengger gagah burung besi.  Pertama kalinya aku menaiki pesawat.  Kucium tangan Emak berkali-kali.

                “Akhirnya keinginanmu terkabul, Gemi.  Pergilah, Nduk.  Raihlah karunia Allah sebanyak-banyaknya. Dan jadilah kamu manusia yang bermanfaat untuk orang lain.”

                Aku tak mampu banyak berucap.  Air mata ini sudah lebih dari cukup untuk membahasakan segala rasa sesak di hati.  “Mak, biarkan sayapku terbang tinggi.  Aku akan kembali bersama gemintang yang kupetik buat Emak.  Atas nama cinta.”

                Kupeluk tubuh ringkih namun berhati baja di depanku.  Untuk kemudian terpisah ruang dan waktu. 


 

Event Jejak Ke-3_Cerpen Antariksa

JADI MAKA JADILAH

 

                Siapa sih, yang mau mendapat predikat keluarga paling miskin?  Pasti tidak ada yang mau menerima cap itu.  Akan tetapi, semakin keluargaku menolaknya, makin kuat bukti bahwa kami memang keluarga termiskin di kampung ini.  Buktinya, demi melawan kemiskinan itu, aku sebagai anak sulung harus menjadi asisten rumah tangga, begitu juga adik-adikku.  Semakin kuat julukan itu tersemat untuk kami.

                Pernah aku memergoki air mata emak berlinang.  Bude Sumi sedang memarahi emak dengan kata-kata kasar.  Sayup-sayup aku mendengarnya dari luar rumah.

                “Kamu itu memalukan keluarga besar kita.  Buat apa punya anak banyak kalau tidak bisa kasih makan.  Sudah aku bilang jangan beranak terus.  Kayak kucing aja kamu.  Sekarang kamu kesusahan larinya ke aku.  Giliran aku nggak punya uang kamu jual tenaga anak-anak kamu.”  Mendengar kata-kata itu hatiku tidak bisa terima.  Aku mengerjakan semuanya atas dasar rasa kasih dan cintakuku pada kedua orang tuaku.  Ingin rasanya aku membalas.  Tapi aku urungkan niat karena nyaliku tidak mungkin melampaui rasa hormatku pada Bude Sumi dan juga emak.  Bisa-bisa yang emak menjadi tumpuan cacian atas ketidak sopananku.

                Aku hanya bertekad dalam hati bahwa nasib keluarga ini harus berubah.  “Emak, suatu saat nanti aku akan membahagiakan Emak.  Harga diri Emak tidak boleh direndahkan oleh siapa pun.”

                Di sela-sela hinaan mereka yang memandang kami sebelah mata, aku merasa terhibur saat berada di tengah-tengah keluarga Pak Subagja.  Ternyata masih ada yang memanusiakan kami.

“Liyah, bantu Ibu  memetik kopi, ya!” perintah Bu Parwati, istri Pak Bagja, majikanku.  “Nanti kamu dapat tambahan dari banyaknya kopi yang bisa kamu petik.”  Tugas memanen hasil kebon menjadi pekerjaan yang paling menyenangkan.  Saat itulah aku berkesempatan menabung sedikit demi sedikit.  Meskipun aku tidak berani bermimpi melanjutkan sekolah, aku terus menyisihkan hasil kerjaku tanpa sepengetahuan emak.

                Aku pergi ke kebon sore itu bersama Neng Yunia.  Salah satu puteri majikanku, teman sekelasku.  Kami berteman karib, berbagai tugas rumah dan sekolah sering kami kerjakan bersama. 

                “Liyah, aku dapet uang saku tambahan dari Ibu,” kata Neng Yunia riang sambil memperlihatkan lembaran uang seribuan.  Waktu itu seribu masih sangat berharga, cukup untuk membeli satu porsi besar mie-baso.

                “Aku juga, Neng, Alhamdulillah.”

                “Buat jajan baso, yuk!” ajak Neng Yunia.

                “Eemmmm, Maaf, Neng saya puasa hari ini.”  Aku terpaksa berbohong.  Aku tidak mungkin menolak ajakannya dengan alasan uangnya aku tabung.

                Neng Yunia tampak kecewa dan meninggalkanku sendirian.

                Tiap akhir bulan aku menerima gaji dari Ibu Parwati, dua puluh ribu.  Aku tidak berani sedikitpun memakai uang itu.  Semua aku serahkan pada emak untuk kebutuhan kami sekeluarga.  Begitu pula adikku, Lastri dia akan menyerahkan uang lima belas ribu untuk emak.  Selebihnya, emak tidak pernah menanyakan apa saja yang kami peroleh.

                Aku terus memenuhi celengan kaleng bikinan bapak.  Aku tak ingin mengusiknya, aku simpan bersama impian di dasar hati terdalam.  Semua upah tambahan dari panen tembakau, cengkih, kopi, jagung, kacang dan apa saja yang ditanam Pak Subagja di kebun, sawah dan ladangnya yang luas.

                Sampai tiba saat yang menyakitkan buatku.  Air mata ini tak terbendung saat harus berpisah dengan Neng Yunia.  Anak majikan sekaligus kawan karibku.  Keluarga Subagja harus pindah ke kota karena tugas dinas.  Aku benar-benar lemas.  Selama ini keluarga Subagja adalah majikan yang paling baik yang pernah aku temui.  Selebihnya kebanyakan mengeksploitir tubuh beliaku.  Bayangan esok makin tak menentu.  Trauma menjadi asisten rumah tangga masih lekat walaupun sedikit terobati setelah aku ikut keluarga Subagja.

                “Neng Yunia, terus terang saya berat berpisah dengan keluarga Neng Yuni.  Saya di sini merasa diperlakukan sebagai anggota keluarga, bukan pembantu.”   Aku mengadu kegalauan hatiku.

                “Aku juga nggak pingin pindah jauh dari sini.  Tapi apa boleh buat, papa sudah membuat keputusan.  Semoga saja ada keluarga yang lebih baik dari kami, Liyah!”

                Perpisahan itu bagian dari takdirku.  Aku harus mencari tempat bernaung baru, memerah keringat, menegakkan punggung dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tanpa jeda buat mengeluh. 

                Aku sudah lulus dari sekolah menengah pertama.  Itu juga atas jasa baik Bu Parwati.   Tidak ada kendala untuk sekolahku.  Sebenarnya keterbatasan biaya membuat aku tak pernah bermimpi melanjutkan sekolah.  Kadang aku memotong segala impian meskipun ianya masih di dasar hati dan belum sempat tumbuh untuk kurangkai dalam pahatan doa-doa. 

Penantian untuk kembali bekerja berakhir juga, seseorang yang terlihat baik datang ke rumah kami untuk meminta aku jadi asisten rumah tangga.  Aku menerima tawaran itu dengan sedikit ragu, tetapi mulut manisnya meluluhkan semua kegamangan.  Mang Darman, tetanggaku menawari aku untuk bekerja di keluarga Aki Harja.

                Hari pertama aku bekerja di keluarga Aki Harja, aku tidak begitu memahami keadaan sebenarnya.  Aku hanya mendapatkan gambaran dari Mang Darman yang menjadi perantara aku bekerja di sini.  Aku menegarkan hati dengan niat untuk membantu emak yang sudah sakit-sakitan.  Sementara bapak yang bekerja menjadi kuli di kota belum memberi kabar.  Rasanya beban berat keluarga ini banyak tertumpu padaku.  Duh Gusti, berikan aku kekuatan.

                “Liyah, ini upah kamu hari ini.”  Mang Sulam, menantu Aki Harja memanggilku. Aku menunduk malu bercampur takut.  Aku sedikit memicingkan mataku.  Sekelebat aku lihat kilatan matanya nakal dan jalang.

                Aku melihat amplop tebal, upah harianku.  Meskipun aku membutuhkan uang tapi aku heran mengapa di hari pertama aku sudah mendapat uang?

                “Maaf, Mang, saya baru sehari di sini kenapa saya sudah menerima upah?”

                “Ambillah!  Aku tahu ibumu membutuhkannya untuk berobat.”

                Ragu dan malu aku mengambil uang itu.  Tapi Mang Sulam memaksaku.  Aku pun mengambilnya.   

                “Eit, tunggu dulu, ada syarat yang harus kau penuhi untuk menikmati uang itu.  Ayo ikut aku!” Mang Sulam mengerdipkan matanya.  Aku tidak menaruh curiga, aku pikir Mang Sulamlah orang terbaik di rumah ini.  Mang Sulam menarik tanganku.  Aku menurut saja, polos.  Ia mengajakku ke kamarnya.  Tante Kartina, istri Mang Sulam sedang pergi.   Aku mulai takut dan curiga dengan niat buruknya.  Aku membaca apapun yang penah diajarkan emak.

                “A’udzubikalimatillahittaammah min syari maa khalaq.”  Akalku berputar mencari cara buat menyelamatkan diri.  Napas Mang Sulam yang naik turun dengan kencang membuatku ketakutan.  Ia mulai membuka pakaiannya.  Jantungku berdetak kencang.  Usiaku saat itu memasuki gerbang lima belas.  Sedikit banyak sudah tahu gelagat orang yang bersyahwat.

                Mang Sulam menyuruhku memijitnya.  Aku bergeming.  Tiba-tiba ia menghampiriku yang berdiri mematung di dekat pintu kamar.  Kakiku terpaku pada lantai papan rumah panggung besar dan antik itu.  Sorot matanya tajam seakan hendak menelanku.  Dalam sekejap pintu kamar ditutup dan dikuncinya.  Aku masih terdiam.  Di luar dugaanku Mang Sulam menampar mukaku.  Kerasnya membekaskan gurat merah.  Pedih.

                “Maaf Mang, saya belum pernah mengurut, takutnya malah salah urat.”

                Tidak ada pilihan lain, aku menurut saja.  Kalau tidak aku bisa babak belur.   Hatiku tak henti-hentinya berdoa.  Pertolongan Allah sangat dekat pada hambanya yang lemah.  Tercium bau gosongnya masakan dari dapur.  Aku baru teringat sayur di atas kompor belum diangkat, kompornya pun belum aku matikan.

                “Mang, saya lupa mematikan kompor.  Minta izin buat ke dapur sebentar.”

                “Pembantu sialan.  Bisa-bisa kebakaran rumah ini gara-gara kamu!”  Mang Sulam marah besar. 

Aku mencari kesempatan buat lari sejauh mungkin dari rumah yang mengerikan itu.  Aku tak bisa membayangkan kalau aku menjadi pembantu mereka.  Tenagaku habis dan kehormatanku bisa tergadai hanya dengan segepok uang.  Aku pergi ke dapur dan mematikan kompor.  Mang Sulam ada di belakangku.  Mataku tertuju pada cuka dapur di botol.   Aku mengamuk dengan garangnya.  Aku percikkan senjata ampuh itu tepat terkena matanya, entah darimana keberanian ini.

“Kurang ajar kamu.  Jangan harap bisa lepas dari rumah ini.”  Mang sulam mencari air untuk membasuh matanya yang pedih.  Aku mencari jalan lari dari neraka ini jauh-jauh.  Beruntung pintu dapur hanya ditutup dengan palang bambu.  Aku membuka palang itu dan lari sekencang mungkin.  Aku tidak peduli pakaianku dan semua bekalan aku tinggalkan di rumah itu.  Aku takut Mang Sulam mengejarku dengan motornya. 

***

Dengan bantuan tetanggaku yang sedang pergi ke pasar kota, aku membonceng motornya untuk pulang ke kampung.  Aku bersyukur bisa selamat dari ancaman durjana  di siang bolong itu.

Trauma dari keluarga Aki Harja membuat aku enggan keluar rumah.  Bayangan Mang Sulam akan terus mencariku begitu lekat.  Aku hanya tinggal di rumah dan terus memohon pertolongan Allah. 

Aku melepas mukena yang aku pakai untuk salat Dhuha, aku kedatangan tamu.  Kawan sekelasku di sekolah dasar dulu.  Ia mengajakku bekerja di sebuah pabrik roti yang sedang membutuhkan pekerja.  Aku tidak menyangka bahwa dari tempat kerja itu nasibku sedikit banyak bisa berubah.

Tahun ketiga aku bekerja di sana, aku bertemu dengan Mas Miftah.  Ia berniat melamarku.  Aku tidak berani menolak, apalagi setelah hasil istikharahku mengarah padanya.  Ia datang dalam mimpiku, menjadi imam untuk salatku di sebuah masjid.  Entah dimana.

Hingga tahun kelima pernikahan kami. keadaan ekonomi kami belum juga berubah.  Aku di bagian produksi dan Mas Miftah dibagian pemasaran.  Sebagai buruh pabrik, penghasilan pas-pasan saja.  Kehadiran anak-anak sudah mulai menuntut penghasilan lebih.

Kesedihan datang saat emak meninggal karena penyakit hipertensi yang dideritanya.  Aku belum bisa menunaikan janjiku, meninggikan kehormatan emak yang sering kali direndahkan orang.

“Mas, sepertinya kita harus memulai usaha sendiri,” kataku pada  suatu sore di depan gubuk kecil kami.   Ada tekad mendalam untuk menunaikan janjiku pada emak.  Aku harus bisa membela bapak di masa tuanya, juga keenam adikku, sebagaimana pesan emak semasa masih ada di antara kami.

Setelah terlibat perbincangan serius, akhirnya kami memutuskan memulai usaha membuat roti kecil-kecilan.  Awalnya hanya dititipkan di warung tetangga.  Segala suka duka kami lalui sejak memutuskan berenti jadi buruh dan memulai usaha.   Kami terus bersyukur bahwa kebutuhan makan bisa terpenuhi dari hasil jualan itu.

“Aku tahu persis toko yang menerima konsinyasi roti di kota ini.  Kamu bisa menambah produksi dan aku akan memasoknya ke beberapa toko yang selama ini kenal baik dengan aku.”  Mas Miftah makin semangat membesarkan usaha kami.

Dengan ikhtiar yang terus menerus, pemasaran roti kami merambah ke toko kue yang lebih besar.   Kesyukuran yang tak pernah putus bahwa produksi usaha kami sudah mencapai seratus kilogram tepung terigu.  Modalnya aku dapat dari celengan buatan bapak yang aku simpan di bawah kolong.  Aku baru tahu hikmah dari uang yang aku simpan itu.  Ternyata Allah menyediakannya untuk aku jadikan tambahan modal saat kami membutuhkan.

Keuletan kami memproduksi roti dalam tiga tahun telah membuahkan hasil yang manis.  Perlahan-lahan kami bisa menambah inventaris produksi, tiga oven besar, tiga tabung gas, pernak-pernak pembuatan roti dan mesin penggiling adonan.

Tahun ketujuh kami sudah punya enam pekerja, semua adik-adik dan kerabatku yang memerlukan pekerjaan.  Termasuk sepupuku dari Bude Sumi.  Aku tidak ingin dendam masa lalu memutuskan silaturahmi di antara kami.  Aku hapus segala dendam dengan kesyukuran yang Allah anugerahkan.

Dari usahaku yang awalnya hanya membuat roti, aku mengembangkan usaha lain yaitu ternak ayam dan penggemukan lele.  Hasilnya lebih dari lumayan.  Karyawanku kina ada duapuluh orang yang begitu setia menjalankan tugasnya masing-masing

“Assalamu’alaikum, Bu Hajah Liyah, kami panitia pemugaran masjid mengajak keluarga ibu untuk bersama-sama membangun rumah Allah di kampung kita.”  Seorang tamu menawarkan surge sore itu.  Aku tak pernah menolak mereka bahkan aku merasa bersyukur saat ada orang yang datang berarti kesempatan untukku beramal saleh.

“Saya ambil wakaf keramik dan kubah, Pak,” ucapku pada Pak Muin sambil mengambil beberapa uang seratus ribuan dari dompet.  “Kalau masih kurang jangan sungkan datang kemari lagi, ya, Pak.”  Aku tersenyum memandangi Pak Muin.  Dalam usia senjanya yang renta, ia masih semangat mengajak orang lain untuk beramal. 

Terasa benar nikmat berbagi yang sudah lama aku impikan.  Allah mengizinkan aku mematahkan ketidakberdayaan yang membatasiku  untuk meletakkan tangan kananku di atas.

“Pak, doakan ya, tahun ini saya, Mas Miftah, dan bapak mau ziarah ke tanah suci.  Semoga kami dapat menyempurnakan sarat dan rukunnya juga dapat pahala haji mabrur,” pintaku tulus pada ahli ibadah di depanku itu.

“Masya Allah, Bapak ikut bahagia Bu, akhirnya keluarga ini menjadi contoh tentang kebesaran Allah dan karuniaNya.  Kun fayakun dari Dia Yang Mahakuasa telah menghilangkan segala keterbatasan dan ketakberdayaan.”

“Pak Muin, panggil saja saya Liyah.  Seperti dulu Pak Muin memanggil saya.  Saya tetap Liyah yang dulu.”

“Liyah, kalian memang selalu baik pada siapa pun.  Aku menjadi saksi pengorbanan Mbak Yu Ginah, emak kamu.  Dia selalu berbagi walaupun kalian dalam kesempitan, karena sebetulnya aku lebih susah dari kalian.” 

Aku tertegun.  “Terimakasih Emak, akhirnya keluarga kita bisa melintasi semua keterbatasan, berkat kebaikan yang Emak tabur, kini kita menuai buahnya.”  Aku membatin teriring doa dan Fatihah untuk emak yang telah mendahului kami sebelum aku sempat berhaji bersamanya.

 


 

Event Jejak Ke-4_Cerita dari Koding

BREAK THE LIMIT

 

                “Penderita disabilitas”  Predikat yang melekat pada diriku, menyulut kebencian pada keadaan.  Cibiran demi cibiran sudah biasa aku jemput, dengan sekian kali ikut testing CPNS.  Gelar cumlaudeku, nilai tertinggiku tiap testing menjadi sampah.  Semua terbentur pada test kesehatan.

                “Bibi bilang apa, Andika?  Buat apa kamu sekolah tinggi.  Akhirnya nggak ada yang mau nerima kamu.”  Suara nyinyir Bibi Shofia, adik ibuku yang satu ini selalu saja membuatku makin tersudut di pojok kamarku yang selalu terasa sempit.

                “Iyalah, Bi.  Aku tahu Bibi sakit hati sama aku.  Gara-gara ibu nekat nguliahin aku dan nggak mau membantu memeriahkan pesta pernikahan Bibi Shofia waktu itu, kan?”  Aku nggak mau kalah.

                “Bukan begitu, maksud aku.  Kamu cerdas, Andika.  Kenapa nggak ikut kursus programmer komputer aja?  Kamu bakal  melewati disabilitas ini dengan lebih merdeka.”  Bibi memberiku saran yang sulit kutangkap sinyal ketulusannya.  Biasanya dia yang paling membuat aku kecil hati.  Lalu saran dia kali ini?   Ah…entahlah!

                Yang jelas kini aku berada di ruang kursus computer milik Om Ibra, suami bibi.  Baru aku menyadari nyinyiran bibi buat memantik harga diri aku.  Kadang-kadang tingkah orang-orang terdekat sulit buat ditebak.

                Aku mulai tenggelam dalam kode-kode yang membuat kreativitasku tersalurkan.  Rangkaian angka 1 dan 0 membuatku tergila-gila dengan dunia maya.  Semua aku coba pelajari.  Mulai dari bahasa pemrograman C, C++, C#, PHP, Phyton, Java hingga Java Script.  Dengan semua bahasa pemrograman itu aku lihai membuat barcode, membuat aplikasi medsos, dan aplikasi finansial. 

Jujur aku berterimakasih pada bibiku yang satu ini.  Begitu aku mau mendalami bahasa pemrograman, aku langsung dimanja dan diistimewakan dengan ruang khusus terlengkap di lembaga kursusnya.  Ruang 6x7 meter persegi  yang dilengkapi perangkat computer, wifi, juga seperangkat  server.  Belum lagi spring bed dan kamar mandi khusus ukuran 2x2  meter persegi.  Juga lemari penuh buku referensi bahasa pemrograman.  Bikin aku makin betah.

“Melihat perkembangan kamu, Bibi bangga, Dika!  Nggak salah aku sering menyebutmu jenius!” ucap Bi Shofia mengagetkan kesendirianku.

“Semua berkat fasilitas yang Bibi kasih juga.  Aku baru merasakan bahwa kehadiran orang terdekat itu penting.”

“Lho, ini ruangan kamu sekat, ya, Dika?  Buat apa?” tanya Bi Shofia begitu menyadari ruangan ini sedikit lebh sempit.

“Betul sekali, Bi.  Maaf aku nggak minta izin dulu.  Ini ruang sembahyangku.  Aku butuh relaksasi setelah seharian penuh berkutat di depan computer.”

“O’ My God, aku lupa kalau kau butuh musala khusus penderita disable.  Sorry, Guys!  OK, aku nggak keberatan dengan sekat yang kau buat ini.  Hanya bedeng dari kain tebal.  Kamu kerjain sendiri sekat ini, Dika?”

“Bibi, sekarang semua serba online buat apa aku susah-susah mengerjakan sendiri.  Semua sudah menjadi ladang bisnis dan pundi-pundi uang.”

Bi Shofia tidak banyak bertanya lagi tentang ruangan itu.  Ruang yang kurancang untuk menyatukan kode rahasiaku dengan labirin Break The Limit (BTL), aplikasi rancangan terakhirku yang hanya aku bagi pada orang yang tepat.

***

“Gempa Lombok bukan  gempa biasa.  Jumlah gempa susulan sampai saat ini mencapai 355 kali setelah gempa utama adalah jumlah diluar kewajaran pengamatan BMKG. Gempa ini sedang menjalar menuju Bali dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.  Indonesia dalam ancaman pihak yang tidak bertanggung jawab.”  Berita dari www. inteligeNesia.com.  Aku baca dengan seksama, aku mencoba meretas programmer pengelola situs ini, terutama nama dan tanggal lahirnya.  Aku menemukan nama Lilian juga kode programernya, yess!!!

Aku segera mengubah kode tanggal lahir 14041988  dalam barcode sederhana dalam kubus 8x8.  Muncul hitam putih.  Hitam mewakili angka 1 dan putih mewakili angka 0. Aku gabungkan dengan barcode identitasku, 04121987.  Aku memasuki ruang BTL-ku.  Dengan menyalakan tombol infrared, ruang ini menjadi cukup gelap kemerahan.  Barcodeku di ibujari kiri dan barcode Lilian di ibu jari kanan.   Aku cek Lilian,  Online.  Ini akan menjadi pengalaman pertamaku memasuki labirin yang dipenuhi kode digital 1-0.

 Labirin Break The Limitku mendekati sempurna.  Bismillah.  Aku menjadi susunan kode 1-0 yang teramat banyak dan Ahh!!!!!! Aku memasuki labirin yang terus menyedotku dengan cepat.  Dalam hitungan detik aku telah berada dalam ruangan yang tidak pernah aku kenal sebelumnya…….

“Hai, siapa kamu?  Berani-beraninya memasuki ruang kerjaku.  Kamu terlalu lancang! “  Gadis berkerudung biru, perpakaian seragam militer bernuansa biru itu memarahiku sejadi-jadinya.  Aku hampir kewalahan menjelaskan pada wanita di depanku ini.  Aku berikan saja secarik kertas yang telahku siapkan sebelum memasuki labirin BTL-ku.

Dia membaca dan mulai mengerti.  Pandangan iba mulai muncul dari sorot matanya begitu dia tahu aku lumpuh kaki.  Aku yang terduduk di lantai, butuh tempat duduk buat bersandar.  Syukurlah nampaknya dia wanita yang baik.  Bukan hanya kursi yang didekatkannya padaku tapi juga air minum dan makanan kecil dari kulkas ruang kerjanya.

Perbincangan kami mulai cair dengan kehadiran seorang wanita yang lain, namanya Mayor Viena sedang Lilian berpangkat Mayor Jendral.  Karier yang cukup cepat untuk seorang wanita yang baru berusia 30 tahun.  “Pasti karena kemampuan kodingnya,” pikirku.

“Aku merasa terpanggil untuk turut memperbaiki keadaan.  Berita dari intelegeNesia begitu memaksaku menyelesaikan aplikasi BTL-ku.  Aku ingin mematahkan semua keterbatasanku dengan aplikasi ini.”  Aku menjelaskan panjang lebar.

“Aku bisa memahami kebosananmu, Dika.  Berkutat dengan computer dan selalu dibatasi oleh dinding.  Give applause buat kegigihan dan keberhasilanmu menemukan aplikasi ini.”  Lilian dan Viena memberiku standing applause yang membuatku tersanjung. 

“Tapi bagaimana dengan cara kamu kembali ke ruang BTL-mu, Dika?  Jangan-jangan kamu takkan bisa kembali dan keluargamu akan melaporkanmu sebagai orang hilang.”  Lilian meragukanku, diiringi tawa renyah Viena.

“Cukup dengan menyalakan aplikasi BTL dan memindahkan Barcodeku yang tadi di kiri menjadi di kanan dan barcode milikmu, Lilian, aku pindah ke kiri.  Maka aku akan bisa kembali lagi”

Mereka bernapas lega dengan penjelasanku.  Kami langsung membincangkan tentang ancaman pihak asing terhadap keselamatan bangsa.  Kami mulai membuka dan meretas web yang berkali-kali mencoba hacking situs intelegeNesia.  Langkah yang kulakukan untuk menemukan identitas Lilian aku lakukan untuk menemukan web musuh.  Dua jam kami berkutat tanpa henti dan akhirnya berhasil.  SolemnSo 23111986.

“Aku terlalu lelah dengan pekerjaan kita kali ini.  Untuk menghentikan makar SolemnSo 23111986,  kita membutuhkan ruang BTL di lembaga kursus bibiku.  Jadi kita harus berhenti untuk hari ini,”  kataku memutuskan.

“Jadi kamu nggak butuh bantuan kita?” Tanya Viena polos.

“Tentu aku butuh.  Lagi pula kalian tega melihatku ketahuan musuh dan menjadi sasaran kemarahan mereka?”

“Tentu tidak, Dika.  Kami butuh pemuda brillian macam kamu.  Aplikasimu akan aku promosikan untuk badan intelijen kita.”  Lilian memujiku untuk entah yang ke berapa kali.  Hampir-hampir membuatku merasa disukai.  Ahhhh, enyahlah virus merah jambu yang lama aku kubur bersama disabilitasku.

***

Banyak kebahagiaan aku dapat hari ini.  Keberhasilan BTL-ku pulang dan pergi nyaris sempurna.  Terlebih lagi pertemuanku dengan Lilian yang memantik bahaga yang telah lama layu.

Langkah pertama yang kulakukan tentu memasang pengumuman di depan pintu ruang kursusku.

“TIDAK BISA DIGANGGU DALAM TIGA HARI INI!!!”

Targetku mengendalikan situasi aku percepat, kasihan pada korban yang makin banyak dan luasan bencana yang makin menyebar.

Notifikasi Wa-ku berdenting, pesan dari Lilian masuk.  Dia dan Viena akan datang siang ini.  Mereka sengaja datang hari Ahad karena tempat kursus Om Ibra libur.  Hanya aku yang menempati lembaga kursus ini.

Dengan bantuan aplikasi google map, Lilian dan Viena hanya butuh waktu 15 menit menemukan lembaga kursus Prince Computer ini.

Kami segera memasuki ruang BTL dan barcode Mr SolemnSo sudah aku cetak rangkap tiga, tiga barcode yang lain, milk kami masing-masing..  Applikasi BTL dari kami bertiga telah aktif.  Situs SolemnSo pun terdeteksi online.

“Ingat jangan sampai salah tempel, barcode tujuan harus ada di ibu jari tangan kanan kita.  Siap?”  Aku nyalakan lampu infrared dan menjadi komandan kali ini.  Bismillah.  Aku sentuh layar penghubung server.  Lilian dan Viena mengikuti apa yang kulakukan.  Kami bertiga bertranformasi dalam kode digital 1-0 dan tersedot menyusuri labirin sangat panjang.

Hanya aku yang tampak tenang karena ini pengalaman ketigaku memasuki labirin digital buatanku sendiri.  Aku biarkan Lilian dan Vena menjerit.  Pikirku, wajar untuk pengalaman pertama.

“Kalian terlalu lama berteriak, kita bergerak makin cepat, berarti sebentar lagi kita akan sampai.  Jaga suara kalian atau kita tertangkap.”

Akhirnya Lilian dan Viena memilih diam.

Kami berusaha sampai pada posisi yang tepat, sesuai dengan imajinasi kami masing-masing.  Syukurlah aku berhasil menduduki kursi di ruang itu.  Tanpa bersuara.  Lilian berdiri tegak sambil memegang sandaran kursiku.  Satu lagi yang membuatku berbunga, berarti posisi yang pertama dibayangkannya adalah menyediakan kursi untukku. 

Ruangan ini kosong.  Yang bisa kukenal hanya foto-foto mirip alien.  Salah satu foto SolemnSo, makhluk apa ini?  Kepalanya kecil matanya hanya segaris strip, telinganya menggelambir ke bawah.

“Kita ada di ruang angkasa nampaknya.  Atau di planet alien?” Bibir Viena bergetar  tak dapat menyembunyikan rasa ngerinya.”

“Kita tidak banyak waktu, sebelum SolemnSo datang, kita harus menemukan sesuatu.”  Lilian menegarkan diri.

“Lihat layar itu,” Aku menunjuk ke layar peta bumi.  Lilian menyeret kursiku, bunyi deritnya mengkhawatirkan kami.  Aku segera memperbesar zoom layar.  Pulau Lombok berada pada tanda merah dan terdapat garis tembak gelombang dari atas dan tertulis SolemnSo.

“Subhanallah!  Nggak salah lagi kita harus mematikan layar ini.  Dan semua permainan akan usai!”  Aku bergerak cepat mencari tombol power.  Berhasil!!  Pada layar tertulis huruf capital warna merah, Attacking Stopped.

“Brak!!!“  Pintu ruangan dibuka oleh makhluk yang mungkin….SolemnSo.

Kami tidak peduli dengan kehadiran makhluk aneh itu.  Suaranya lebih mirip tabuhan kaleng seng.  Sebelum resiko buruk menimpa kami,  BTL-app kami aktifkan dan barcode kami tukar supaya kami bisa pulang ke ruang BTL dan Bismillah.   Kami memasuki labirin digital meninggalkan makhluk aneh itu marah tidak karuan.


 

Event Jejak Ke-5_Perjuangan

TEBING TERJAL PERJUANGAN

 

                Ada energi dalam hidupku yang kudengar lewat tutur bijak ayahku.  “Besi tidak akan pernah menjadi pisau yang tajam sebelum dia dipanggang di atas api hingga membara.  Setelah itu, dia akan dipukul-pukul oleh ahlinya hingga menghasilkan bentuk yang diinginkan.  Demikian juga hidup manusia.  Makin ditempa dengan penderitaan dan kesulitan oleh Yang Mahakuasa maka ia seolah sedang dibentuk menjadi manusia yang baik.  Sedangkan sebaik-baik manusia adalah mereka yang membawa manfaat buat orang lain.”

                Kata-kata bijak itu menginspirasiku untuk terus mendaki tebing terjal kehidupan yang harus kulalui.  Seolah menghitung hari demi hari, setapak demi setapak perjalanan yang jauh berbeda dengan orang lain yang dikaruniai kesempurnaan fisik.

                Aku dilahirkan sebagai anak tertua dari tiga bersaudara.  Awalnya aku terlahir sempurna tanpa cacat fisik, kecuali benjolan di daerah tulang punggung, sejajar dengan lingkar pinggang.  Aku tidak begitu mengerti apa penyebab benjolan itu.  Selama tidak ada keluhan sakit aku tak pernah memedulikannya.

                Sampai kejadian itu menimpaku.  Di usia sebelas tahun aku bermain bola sambil berhujan-hujanan.  Aku terjatuh agak keras dan benjolan di punggungku mengalami benturan.  Tidak ada rasa sakit yang berarti, hanya di malam harinya panas tubuhku sangat tinggi.

                Seorang mantri kesehatan kepercayaan keluarga kami dipanggil untuk memeriksa keadaanku.  Aku diberi suntikan dan obat beberapa macam.  Semua saran dari mantri kesehatan aku lakukan, termasuk menghabiskan obat yang diberikannya.

                Harapan untuk sembuh tidak kunjung datang.  Yang aku rasakan justru rasa nyeri di benjolan punggungku.  Kian hari kian tak tertahankan.  Aku hanya bisa menagis dan mengeluh pada kedua orang tuaku.  Aku tetap mencoba bertahan dan tidak meraung karena takut membuat orang tuaku cemas.

                Akhirnya aku diopname di RSUD Temanggung untuk pertama kali di usia kelas satu SMP.  Sejak itu aku menjadi penghuni rutin dari rumah sakit ke rumah sakit. RSU Temanggung menyarankan agar aku dioperasi di RSUD Magelang karena keterbatasan alat.  Di RSUD Magelang aku didiagnosa mengidap tumor yang berupa benjolan sebesar setengah bola tenis itu.  Aku menjalani operasi namun tidak berhasil dan dirujuk untuk ke RSUP Yogyakarta, Rumah Sakit Dr Sardjito.

 

                Diagnosa tim dokter mengatakan bahwa sumsum tulang belakangku mengalami kebocoran dan berlubang.  Lubang ini harus ditutup dengan menempelkan tulang pada lubang itu.  Ibuku awalnya bersedia mengorbankan kelingking kakinya, akan tetapi dokter mengambil keputusan untuk mengambil bagian lain tulangku yang memungkikan untuk disayat.

                Operasi dinyatakan berhasil.  Akan tetapi keanehan selanjutnya terjadi.  Kram kaki yang tak terkendalikan membuat kaki kananku memendek dan kepekaannya sangat-sangat berkurang.  Kakiku yang awalnya normal dapat dipakai berjalan, lama kelamaan tak mau diajak kompromi.  Otakku seakan tak bisa memerintah kakiku untuk melangkah.  Kesedihan luar biasa menyelimuti hatiku dan tentu juga kedua orang tuaku.  Aku yang awalnya begitu bebas dapat bermain bahkan ikut berburu ke hutan bersama ayah, menghirup alam bebas, tiba-tiba hanya bisa berjalan merayap berpegangan apa saja yang ada di sekitarku,  Dari kursi ke kursi dengan berpegangan meja atau apa saja yang dapat menopang badanku.  Kaki ini sama sekali tak terkontrol oleh keinginanku, kecuali dengan gerakan yang sangat lemah.

                Aku dinyatakan  lumpuh dan harus mengunakan kaki empat (walker) untuk menyangga tubuhku.  Aku harus menerima kenyataan untuk menjadi penderita disabilitas.  Langkahku sangat terbatas.  Awal-awal latihanku untuk berjalan dengan kaki empat bukanlah hal mudah untuk kuterima begitu saja.  Antara sedih, kecewa dan bertanya mengapa takdir ini harus kualami.  Mengapa aku mendapatkan perlakuan berbeda dari Tuhan?  Atau kadang marah memaksa kaki ini untuk berjalan.  Tapi semua itu sia-sia.

                Aku mencoba mengungkap segenap perasaanku pada kedua orang tuaku terutama ayah.  Kata-kata yang mengalir dari tuturnya membuatku kuat dan menerima keadaan.

                “Pakailah ilmu santan.  Kelapa harus dijatuhkan saat diambil petani.  Di bawah ia harus siap untuk dikuliti.  Batok kelapapun diambil dengan cara yang tak mudah.  Daging buah kelapa harus dicukil dari tempurungnya.  Kulit daging buah harus dibersihkan untuk menghasilkan santan yang jernih, putih dan bersih. Tidak cukup sampai di situ, kelapa akan diparut dengan ratusan duri, baru kemudian diperas untuk diambil santannya.”

                Aku memutuskan untuk “move on” dari segala perasaan negatifku.  Aku mulai membangun harapan demi harapan dengan terus belajar dan belajar apa saja.  Tentu saja dengan dukungan ayah yang selalu membawakan aku bahan bacaan dari perpustakaan tempat beliau mengajar.  Waktu luangku aku gunakan untuk belajar sendiri (autodidak) tentang bagaimana melukis.  Dan aku bisa melukis mulai sketsa pensil, dengan cat air hingga cat minyak dengan media kanvas.  Aku juga belajar fotografi dan cuci cetak foto hingga pernah bisa menghasilkan uang dari keahlianku itu.  Aku juga belajar membuat bonsai, hobbi yang hingga saat ini terus aku jalani.  Ya, dalam keluangan waktuku yang tak ada kemampuan untuk bermain aku berkesempatan membaca dan mempraktikannya hingga memiliki keterampilan.

                Selama bangku SMP aku praktis belajar di rumah.  Beruntung aku memiliki sekolah yang melayani siswa berkebutuhan khusus sepertiku.  Karena waktuku habis dari rumah sakit ke rumah sakit, maka aku diizinkan tidak menempuh pendidikan seperti siswa lain.  Segala bentuk tugas sekolah, testing dan ujian akhir kelas tiga diantarkan dimanapun aku berada. Bahkan pernah aku sengaja diopname hanya untuk ujian akhir sekolah.

                Lulus SMP, ayahku memutuskan bahwa aku harus menjalani pendidikan seperti siswa lain di tingkat SMA.  Hal ini sangat memungkinkan karena ayah melakukan pendekatan pada pihak sekolah untuk memberikan fasilitas jalan yang bisa aku lalui.  Alhamdulillah aku mendapatkan kelas yang mendukungku untuk dapat memasuki ruangan itu. 

                Awalnya aku diantar jemput dengan mobil sewa yang pada waktu itu terasa cukup mahal untuk keluargaku.  Akhirnya ayah memutuskan memboncengku dengan vespa.  Dan ternyata aku bisa dibonceng oleh ayah, suatu kebahagiaan yang luar biasa.

                Suka duka aku lalui selama sekolah di bangku SMA.   Kejadian yang memilukan dan sekaligus memalukanku, karena kontrol terhadap alat ekskresi yang sangat lemah membuatku mengganggu seisi kelas.  Kejadian yang hampir membuatku enggan berangkat ke sekolah di hari-hari selanjutnya.  Selain malu aku juga trauma kejadian itu terulang kembali.  Yang sangat aku syukuri adalah dukungan dari kawan sekelas.  Semua seolah ingin membantuku untuk sama-sama harus lulus dari sekolah ini, SMAN I Temanggung.  Dan akhirnya aku selesai juga menjalani masa SMA-ku.

                Berhenti satu tahun, orang tuaku kembali berikhtiar untuk kesembuhanku.  Ketika jalur pengobatan konvensional gagal, kami menempuh jalur alternatif.  Satu tahun ikhtiar, tidak ada hasil yang berarti.  Kami pun menyerah.

                Ayah menganjurkanku untuk kuliah.  Pilihanku jatuh pada universitas terbuka.  Satu-satunya jalur yang mungkin ku tempuh.  Yang membuatku sangat terpaksa adalah keterpaksaanku mengambil FISIP-Jurusan Tata Negara.  Bayangkan, cita-citaku menjadi teknisi.  Kegemaranku ilmu eksak terutama matematika dan Fisika, jurusanku di SMA pun jurusan Fisika (A1 untuk istilah waktu itu).

                Aku hampir kehilangan semangat belajar.  Apalagi di UT (Universitas Terbuka) semua harus serba sendiri dan mandiri.  Sementara modul setebal-tebal kitab suci terjemahan Depag cetakan pertama. 

                Saat kesulitan memahami mata kuliah tertentu, kadang akau memukuli kakiku.  Karena dialah aku harus berkubang pada ketidaksukaan yang memaksa.

                Akan tetapi lagi-lagi nasehat ayah menjadi spirit bagiku. “Belajar itu menjadi bukti rasa syukur kamu di hadapan Alloh.  Bukankan banyak orang yang ingin kuliah tapi tidak punya kesempatan.  Ada yang mampu tapi tak mau.  Ada yang mau tapi tidak mampu.  Bersyukur ayah mampu menguliahkan kamu.  Kesempatan pun ada meskipun harus belajar sendiri di UT.  Program ini Alloh sediakan untuk kamu yang Dia uji dengan sakit seperti ini.  Bukankah ini kemudahan dariNya?”

                Akhirnya aku “move on” untuk kesekian kalinya.  Aku mulai mencoba cara belajar gayaku sendiri.  Aku bagi buku-buku tebal itu sesuai waktu yang tersedia sampai mata kuliahnya diujikan.  Ada target halaman perhari, target perminggu, target perbulan.  Sementara hari minggu aku pakai untuk mengulang apa yang telah aku baca setiap harinya.

                Dengan cara belajar ini akhirnya aku dapat melalui masa kuliahku yang cukup berat untuk belajar sesuatu yang tidak aku suka.  IPK-ku berada dalam predikat sangat memuaskan dengan nilai lebih dari 3,5.   Hanya saja karena ada beberapa biji bernilai C, aku tidak mendapat predikat cumlaude.  Alhamdulillah tidak sia-sia  segala keringat, air mata dan kesedihan.

                Selesai kuliah aku tidak segera melamar pekerjaan.  Aku meminta pada ayah untuk bisa mengikuti kursus komputer.  Di awal tahun sembilan puluhan, belajar komputer adalah sesuatu yang sangat keren dan keakhian bidang ini dibutuhkan oleh banyak lembaga.

                Aku menjalani kursus dengan sangat senang hati.  Aku merasa menemukan kegemaranku yang terpasung dalam empat tahun aku kuliah.  Dalam kursus setengah tahun ini aku manfaatkan benar untuk belajar dari tahap dasar hingga belajar bahasa pemrograman.  Lagi-lagi Alloh memberiku kemudahan dan aku berhasil menjadi programmer.

                Memasuki dunia kerja untuk pertama kali, aku menjadi guru honorer di almamater tercintaku, SMA I Temanggung.  Aku menjadi pengajar TIK, sambil terus mencoba mengikuti test PNS.  Semua tahap berhasil kulalui.  Bahkan dengan nilai tes tulis tertinggi, tapi  selalu terjagal di tes kesehatan.  Hingga berkat doa ayah dan terutama ibuku, aku dimudahkan oleh seseorang berhati mulia.  Kepala BBRSBG (Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita) yang saat itu bernama RPCM (Rehabilitasi Penderita Cacat Mental) membantuku sepenuhnya untuk menjadi tenaga ahli administrasi dan manajemen teknologi informasi di kantor itu. 

                Alhamdulillah akhirnya aku diterima sebagai PNS.  Sesuatu yang jauh tak terbayangkan olehku saat aku baru saja menjadi penderita disabilitas.  Sesuatu yang membuatku merasa tak akan bisa berbuat apa-apa, tidak mampu menjadi apa-apa.

                Perjalanan waktu mengajariku untuk terus bersyukur.  Pendakianku pada tebing terjal kehidupan ini selalu memberiku pengalaman hidup yang kadang tak pernah aku duga.  Sekian banyak doa mungkin tak menghampiri kenyataan hidupku, namun sebaliknya hadiah indah Alloh berikan tanpa aku memintanya.  Salah satunya terpilihnya aku menjadi instruktur nasional manajemen perkantoran yang terkomputerisasi.  Kesempatan ini membuatku begitu mudah menaiki pesawat dari satu pulau ke pulau lainnya di Indonesia.

                Fabiayi aalairobbikama tukadzdziban.  Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kamu dustakan.


 

Event Jejak Ke-6_Kisah di Sekolah

BINAR EMBUN KEIKHLASAN

 

“Ayolah,  Miqdam, kamu harus segera kembali ke pondok!  Sudah sebulan kamu di rumah.  Banyak waktu mubazir, Nak.  Tidur, nonton tivi, main ke rumah temen.  Mama lihat kerjaanmu itu saja.  Sayang dengan ibadahmu yang begitu banyak di pondok tidak bisa kau istiqamahkan di rumah.”  Mama berulang kali membujukku dengan berbagai cara.  Tapi aku bergeming.  Belum ada gerakan hatiku untuk segera berangkat ke pondok lagi.

“Mama, Miqdam masih gatal, nih.  Belum sembuh benar.  Nanti kalau kambuh, Mama lagi yang repot.  Please, Ma, Miqdam belum siap buat pulang ke pondok.  Miqdam janji bakalan mejaga amalan yang Miqdam kerjakan di pesantren.”

Keputusan harus segera aku ambil, terus atau putus.  Bekas guratan sakit kulit menyisakan rasa malas kembali ke pesantren.  Hatiku seakan digelayuti beban berton-ton.  Di atas dipan kamarku aku sapukan pandangan ke seluruh ruangan.  Mataku terhenti pada sebingkai hiasan dinding.  Tulisan tangan berisi bait-bait  nasihat, entah siapa yang menulis dengan guratan indah itu, mungkin kakek.  Ia seorang wartawan sekaligus seniman yang belum terbuncah ke permukaan dengan kemasyhuran.  

Baru kali ini aku melihat tulisan itu.  Aku yakin ibu yang menggantungkannya di dinding kamarku.  Tiba-tiba aku ingin membaca.

Anak-anakku yang kucintai.  Kini aku relakan engkau berjalan dan kuikhlaskan engkau pergi.  Semoga engkau mendapat tuntunan iman dan petunjuk Allah yang Mahasuci.  Sekarang ini saya sudah tua, siap menunggu panggilan.  Doakan Husnul Khatimah dan Pesantren  tetap menjadi medan ibadah.  Allahumma Aamiin.”

Berjalanlah anakku...  Tujulah pulau idaman.  Sebarkan benih di tangan...  Tuhan Allah menyertaimu.  Tunjukkan baktimu pada ummat, perlihatkanlah darmamu pada masyarakat.  Maskipun hanya guru ngaji di langgar kecil, ganjarannya mungkin melebihi pembesar Negara.  Allah Yang Maha Mengetahui akan memberimu rahmat.

Selamat jalan anakku...  Selamat jalan pahlawan! Ya Allah lindungilah dia!” (Wasiat KH.  Zainal Arifin, Pelepasan yang Mengharukan)

Ternyata nasihat itu dari Pak Yai tempat aku mondok.  Barisan kalimat itu menamparku lembut.  Aku seakan mendapat teguran dari sana, “Kalau kamu mundur, kamu bukan pahlawan tapi pecundang.  Kalau kamu terus berarti kamu lulus.  Insya Allah tidak akan sia-siakan segala pengorbananmu sejauh ini.  Dapatkan benih-benih ilmu dan amalan yang akan kau semai di tengah umat dan masyarakat.  Berbakti meskipun menjadi guru mengaji dengan hanya satu santri.”  Batinku turut menguatkanku untuk segera kembali ke pesantren.

Saat aku datang, teman-teman satu kamarku berekspresi gembira.  Ingatanku pada keseruan berakitifitas bersama mereka adalah bahan bakar yang penuh energi untukku berjuang.

Aku bersyukur berada di tempat ini, mendapat guru dan sekaligus orang tua.  Di masa tumbuh kembang usia belasan tahun, saat masih dalam tahap pencarian jati diri  Allah rezekikan aku mendapat bimbingan dari guru.  Seseorang yang begitu ikhlas mendedikasikan hidup untuk membentuk insan Rabbani.  Beliaulah KH. Zainal Arifin.

Aku takkan pernah melupakan didikan beliau yang tulus.  Tidak pernah 'nuput' (bahasa kami untuk mereka yang menjaga wibawa atau jaga image alias jaim untuk bahasa anak sekarang).  Saking ikhlasnya, beliau tidak pernah peduli pandangan manusia terhadap dirinya.  Yang beliau pedulikan adalah pandangan Allah dan bagaimana santri bisa berkembang menjadi insan yang baik dan mulia.

Pelajaran berharga yang aku rasakan adalah nilai-nilai kedisiplinan dan kesungguh sungguhan.  Karena tuntutan itu, kami selalu berusaha melakukan tugas sebaik mungkin.

"Miqdam, You have to be MC for the important event tomorrow?" tanya Mahrus saat aku berlatih membaca susunan acara.

"Yes, wish me lucky, OK?"  Saat itu pekan bahasa Inggris sedang diterapkan di asrama.

Keistimewaan pondokku, semua kegiatan selalu harus rapi dan berjalan lancar.  Kuncinya pada gladi kotor bersama pengurus  dan gladi resik langsung dipantau oleh pimpinan pesantren, KH. Zainal Arifin.  Malam itu, aku optimis akan dapat menjalankan latihan sebagai MC dengan baik.  Saat gladi kotor tidak ada kendala.

"Do your job well, don't make our rois dissappointed!" Akhi Junaidi sebagai penanggung jawab kepanitiaan mengingatkanku

Aku menaiki panggung aula dengan percaya diri.  Pak Zain (demikian panggilan akrab kami pada KH. Zainal Arifin yang penuh wibawa itu) berdiri tegap mengawasi kami. 

"Susunan acara penyambutan tamu resmi Pondok Pesantren Modern Darul Akhirah , 23 November 1984, pertama pembukaan, kedua......"

"Tolol...  Tolol...  Tolol..."  Tiga perkataan yang sering kami dengar saat beliau tidak berkenan.  Aku langsung menghentikan pembacaan.  Jantungku berpacu tiga kali lebih cepat.  Keringat dingin merayapi punggung dan mukaku. Innalillahi wainna ilaihi raaji'un. Lajaula walaaquwata illa billahil 'aliyil aziim.  Aku penuhi hatiku dengan dzikir.  Adakah yang tidak beres dariku. Penampilan, cara membaca teks atau apa? Aku galau sendiri, aku merasa tidak berbeda dengan cara aku membaca saat gladi kotor.

"MC terlalu lambat membawakan acaranya, ganti!"  Keputusan beliau tidak bisa diganggu gugat, aku harus tahu diri dan segera turun dari panggung aula.  Mungkin wajahku saat itu sudah pucat pasi.

"So sorry, Miqdam I have to shift your job." Mahrus yang sudah terbiasa menjadi MC langsung ditunjuk Pak Zain menggantikanku.

Ada rasa kecewa sesaat atas gagalnya penampilanku.  Anehnya rasa kecewa itu justru membuatku ingin berhasil suatu saat nanti.  Aku baru menyadari dengan berjalannya waktu, bahwa keikhlasan beliau telah menjadi bagian dari proses pembentukanku.  Pembentukan untuk menjadi insan yang utuh, selalu siap menerima keadaan apapun.  Ada pelajaran berharga untuk selalu berbaik sangka pada guru.

Terlalu banyak kenangan indah bersamanya, pengorbanan demi pegorbanan membinarkan pancaran keikhasan hati.   Meskipun organisasi pelajar selalu siap untuk menjadi perpanjangan tangan Pak Yai tapi beliau selalu terdepan membimbing kami.  Membangunkan qiyamullail, mendampingi salat wajib, membimbing halaqah, memberi tausiah adalah kegiatan rutinnya.  Bukan hanya itu, bahkan saat makan pun ia selalu berusaha hadir.  Tak mengherankan, kami sangat dekat dengannya, meskipun ada rasa segan karena takut salah di mata beliau.

“Kalau aku meninggal jangan kalian tangisi dengan air mata dan ratapan, tapi hiasi perbuatan kalian dengan nasihat dan pesan-pesanku,” pesan Pak Yai beberapa hari sebelum dirawat.

Dalam kondisi kritisnya, kami sedang belajar di pondok.  Kami menerima kabar kewafatan begitu jenazah alahuyarham enam petang.  Karena tidak ingin mengganggu santri yang sedang ujian, beliau berpesan unntuk dibawa ke pesantren sekitar pukul sebelas malam.  Aku yakin ia tidak ingin disambut dengan kesedihan para santi.

Kesedihan meliputi langit di atas Darul Akhirah.  Seluruh keluarga besar pondok pesantren modern bergerak cepat. Semua hak terhadap jenazah segera dilakukan. Memandikan, Mengafani  bukan oleh kami karena pengumuman kewafatannya pun hanya dari telinga ke telinga.  Luar biasa sampai pada saat wafatnya pun beliau tidak mau mengganggu proses belajar santri.

Bakda Asar beliau disholatkan oleh seluruh keluarga besar pondok.  Selamat tinggal wahai guru, nasihatmu akan kami amalkan, ilmu darimu akan kami sebar luaskan dan cita-citamu akan kami realisasikan sekemampuan kami.

Mataku menghangat, ada rasa pedih di sana. Pandanganku perlahan buram, genangan itu siap untuk tumpah.  Bagaimana kami tidak bersedih ditinggalkan oleh seseorang yang mewakafkan dirinya, mengorbandan waktunya untuk perkembangan kami. Sebagian santri sampai pingsan kehilangan guru yang amat berjasa.  Kami tak peduli sebutan cengeng atau lemah. Tapi ekspresi mahabah telah memenuhi hati dan perasaan kami

KH. Zainal Arifin dimakamkan di pemakaman keluarga, tepat di samping asrama kami  Guruku, banyak hal yang aku dapat selama kita bertemu. Keikhlasanmu adalah cermin yang aku bawa kemanapun aku pergi.

Masih terbayang betapa kemarahanmu adalah bagian dari perjuangan karena Allah. Kau akan berdiri paling depan saat disiplin santri, pengurus hingga ustaz sekalipun tidak ditegakkan. Di hadapanku engkau bagaikan singa Allah dalam dakwah dan tarbiyah.

Berbaris-baris bahkan ribuan baris kata hikmah, keikhlasan nasihat darimu masih berjajar rapih di buku harianku.

Ada keindahan dalam memaafkan dan meminta maaf 

Bila datang berita ada seseorang membencimu maka kirimkan hadiah untuk yang membencimu itu. Insya Allah akan berubah menjadi cinta dan kasih sayang  

Ketika kesusahan dan kesulitan datang...berbahagialah karena Allah akan memberikan kemudahan, nantikan dengan penuh kerinduan kejutan dariNya, entah apa karena masih rahasia.  Maka tetaplah tersenyum 

Biarlah segala kekurangan ini membuatku ingin mendekatiMu, merasa membutuhkan pertolonganMu

Tiap peristiwa adalah panggilanNya. Kita dapat rasakan panggilan mana yang paling indah...Sungguh segala rasa kehambaan itu seperti janatun al ajilah 

Kebahagiaan sejati adalah saat kita menjadi jalan bagi kebahagiaan orang lain. 

Bila dua hamba saling berkasih sayang di jalanNya maka karunia Allah menyertai mereka, kelapangan dada adalah nikmat yang sangat indah.

Jangan pernah mengorek masalah karena masalah itu akan bertambah besar menyelimuti hati kita. Bila ada masalah pikirkan bagaimana kita menjadi bagian dari solusi 

Cukupkan bahagia itu dengan selalu ingin menghargai orang lain. Sekecil apapun penghargaan akan bermakna bila diliputi keikhlasan. 

Milik kita adalah hari ini. Karena hari yang lalu tak mungkin kembali tuk diperbaiki. semua tertulis dan tercatat, tidak pula terhapuskan. Sedangkan hari esok masih sangat2 rahasia. Berbuat sebaik mungkin di hari ini berarti memberi kebaikan untuk diri sendiri. Segala perbuatan akan kembali pada yang berbuat apapun itu.

Dari bangun tidur hingga tidur lagi kita jumpai sekian banyak pilihan kata, pilihan sikap dan keputusan. Beruntunglah yang dapat memilih dengan berserah pada keredhoan Allah 

Tidak ada yang salah dengan masalah, masalah sebenarnya timbul ketika kita salah menyikapi masalah. Tidak ada yang harus disedihkan dari penderitaan justru kesedihan muncul ketika salah menykapi penderitaan itu sendiri. 

Dicaci adalah anugerah bila dengan dicaci itu menambah kedekatan kita pada Allah SWT. sanjungan menjadi musibah bila membuat kita sombong dan jauh dari Allah SWT.   Begitu pula keterbatasan dan kelebihan yang kita miliki. Tidak perlu khawatir dengan keadaan yang menimpa kita yang harus kita khawatirkan adalah bila suatu keadaan membuat kita jauh dariNya.

                Pakailah ilmu kelapa, jatuh dari ketinggian, dicabik hingga gundul, dipukul hingga pecah, dicukil dan dikuliti, diparut dan diperas, barulah ia menghasilkan santan yang berguna. Itulah saripati tauhid akan hadir setelah melewati berbagai rintangan, celaan, hinaan dan ujian hidup. Makin sabar makin dekat seseorang dengan hakikat kebenaran. 

Ciri kesombongan adalah merasa diri kita lebih baik dari orang lain atau merasa orang lain lebih buruk dari kita

Keberuntungan terbesar adalah mengenal Allah, memungkinkan kita memohon dan berharap hanya pada-Nya

Di antara sebab yang membuat penolakan seseorang untuk nikmat Allah itu adalah berpikir begitu berat pada kedatangan ujian, sehingga melupakan nikmat yang tak terhitung jumlahnya dari Allah, fa biayyi aalaai robbikumatukadzibaan.

Salah satu tingkatan yang tinggi dalam sabar adalah meninggalkan sesuatu demi keridhoan Allah SWT. Mungkin ada kesedihan, ada kehilangan dan merasakan berbagai hal yang tidak menyenangkan menurut nafsu. Namun yakinlah ketika kita berhasil meninggalkannya akan terasa manisnya iman buah dari rasa penghambaan. Sebaliknya bermaksiat pada Allah mungkin akan menimbulkan kesenangan, kegembiraan sesaat menurut nafsu. Namun ketahuilah di sebalik itu siksaan karena hilangnya kemanisan iman akan membuat derita yang berkepanjangan.

 Rasulullah SAW berpesan bahwa perbedaan itu rahmat dan perpecahan itu laknat. Bukankan perbedaan muncul karena proses belajar, mengaji, mendalami untuk memperoleh pemahaman Islam? Proses itu pula terjadi karena adanya kecintaan pada Agama, anggapan bahwa agama harus dipelajari, dipahami dan dipentingkan sebagai bimbingan hidup. 

Perbedaan pandangan dan perbedaan pendapat tentang Islam tidak akan pernah muncul diantara mereka yang lalai terhadap agamanya. Jangankan untuk berpendapat dalam hal agama, menganggap penting agamanya pun tidak.

Jadi tidak ada gunanya saling bertentangan dan berpecah belah...yang terbaik adalah saling memahami mengapa pendapat yang berbeda itu muncul dan mencari jawaban mengapa saudara kita berpendapat sedemikian rupa.

Allah SWT menciptakan segala sesuatu berpasangan, silih berganti senang dan susah, kesulitan dan kemudahan. Bila kesulitan dan kesusahan datang....cukuplah itu menjadi jalan kita merasakan betapa Allah sayang, menegur kita untuk mengurangi beratnya hari pembalasan, Hisablah kesalahan dan dosa diri hingga air mata pengakuan dan penghambaan itu menjadi kenikmatan batin dan pengalaman rohani yang teramat sangat indahnya. Yang mungkin hanya bisa kita rasakan saat kesulitan dan keterbatasan datang. 

Allah swt berfirman:"Dan Sungguh akan Kamiberikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekuranganharta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orangyang sabar." (QS 2: 155)

Yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar pada ayat di atas: "(yaitu)orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan "Inna lillahiwa inna ilaihi rajiun". (Qs 2: 156) 

Bila semua ada dalam genggaman Allah SWT dengan segala kesempurnaan pengetahuanNya...maka tidak ada alasan untuk takut, khawatir ataupun ragu menghadapi rahasia yang belum terjadi.

Ikhlas itu berbuat hanya untuk Allah SWT, tidak peduli hasilnya ternikmati atau tidak oleh kita. Bahkan mungkin yang akan menikmati adalah orang yang tidak menyukai kita. Yang jelas kebaikan akan mengalir sebagai jariah yang tidak akan terputus hingga alam keabadian. Pujian tidak menambah semangat dan cacian tidak membuat patah arang.

Ketika hatimu tidak rela menerima keadaan yang kau alami, lapangkanlah hati untuk meyakini semua ketentuan adalah haq Allah kemudin teruslah memilih tindakan dan rasa yang paling Allah cintai

Rasulullah adalah sosok yang membawa rahmat bagi seluruh alam.  Cinta, kasih, sayang beliau begitu tulus, tak ingin menyakiti apapun dan siapapun.   Beliau tak pernah pedulikan apa yang beliau dapat sebagai balasan kasih yang dipancarkannya.  Meskipun hinaan, cacian, makian sering beliau terima namun lantunan doa selalu beliau mohonkan untuk kebaikan dan hidayah bagi mereka yang membenci, mencaci dan menghinanya.

Ridho dengan tiap ketentuan Allah adalah sumber kebahagiaan, meski kadang kenyataan sangat jauh dari apa yang diinginkan. Maka tiap orang memiliki peluang yang sama untuk meraih kebahagiaan tanpa terikat materi ataupun hal yang bersifat lahiriah. Disinilah kita sadari betapa Maha Adilnya Allah SWT.

Berbuat baik dengan ikhlas karena Allah tidak pernah menakar apa yang didapat atau balasan apa yang diterima dari orang lain tetapi kebaikan apa yang bisa diberikan untuk orang lain

Bila Allah SWT mencintai seorang hamba maka Ia akan mengambil apa-apa yang dicintainya hingga cinta hamba itu hanya untuk Allah SWT saja.

Kebahagiaan dan kesyukuran ketika Kau bimbing aku menyuarakan kebenaran...atau paling tidak hati ini mau menerima kebenaran terima kasih wahai yang paling penyayang diantara yang penyayang

Bila ada hiburan yang baik dan bukan sekedar tontonan, tidak ada alasan memilih hiburan yang jauh dari tuntunan.

Bagi orang yang beriman tiap peristiwa adalah sapaan Allah SWT agar kita kembali pada jalanNya. Namun bagi orang yang lalai tiap peristiwa tidak menyisakan pintu hidayah sedikitpun karena dianggapnya dosa bagaikan lalat yang hinggap di wajahnya, dengan mudah diusirnya kemudian seperti tidak ada apa-apa.

Tidak ada gunanya dendam, iri dan dengki meski itu tertuju pada orang yang mendzolimi kita. Tetaplah pada jalan yang lurus maka saksikanlah suatu saat Allah SWT akan menampakkan ke-Maha AdilanNya

Mengapa iri dengki sangat dilarang? Karena hati yang dipenuhi iri dengki berarti penentangan terhadap sifat rahman rahimNya Allah SWT yang berarti tidak merelakan Sang Maha Kasih memberikan karuniaNya pada orang lain.

Kala terasa tiada cinta yang menyapa cukuplah keyakinan bahwa tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Berusaha memberi cinta tanpa menanti balasan rasa seperti contoh Rasulullah dalam mewujudkan rahman rahimNya    

Dibutuhkan cara pandang yang berbeda untuk merasakan kebahagiaan pada tiap keadaan. Yaitu ketika sumber bahagia itu ada pada ridho Allah dan keyakinan atas karuniaNya yang akan selalu mengiringi ketaatan padaNya.

Dia tahu segala sesuatu hingga apa yang ada dalam hati kita. Maka jangan pernah kehilangan harapan untuk menjadi lebih baik hari demi hari

Mata diciptakan Allah sebagai bekal manusia menemukan Dia lewat kebesaranNya yang hadir tiap saat dan dapat kita lihat. Telinga diciptakanNya untuk mendengar panggilanNya hingga kita sampai pada keimanan. Hati diciptakan untuk merasakan keberadaanNya di tiap detik waktu. Akal diciptakan untuk memikirkan ciptaanNya hingga kita sampai padaNya. 

Cinta, Siang, Malam, Harta, Doa semua untukMu...Adalah ungkapan kemerdekaan sejati seorang hamba. Maka tiada satu pun rasa hina dan berat untuk beramal, semua karena Allah bukan karena manusia. Hingga amalan itu menjadi amalan akhirat yang kekal, mendampingi kita saat perjumpaan dengan Allah SWT.

Hamba Allah yang beruntung adalah mereka yang memiliki rasa

1. Beruntung mengenal Tuhan yang Maha Sempurna. Yang padaNya kita menggantungkan segala harap dan permohonan

2. Beruntung ketika hatinya selalu rela pada apa yang dipilihkan TuhanNya

3. Beruntung ketika cinta, hidup, siang, malam, harta, doa, usaha semua untuk Tuhannya

Tiga ciri jalan dakwah:

1. pengikutnya sedikit

2. rintangannya banyak

3. ujung yang dituju masih sangat panjang

Perjalanan yang melelahkan, kecuali yang ikhlas bergantung pada Allah

Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita untuk tidak benci/cinta secara berlebihan karena kadang keadaan begitu mudah berbalik. Atau jangan pernah memperolokkan nasib seseorang sekecil apapun olokan itu...karena betapa seringnya orang yang memperolokkan itu bernasib sama suatu saat/suatu ketika. Meski keadaan tak akan serba sama, namun nuansanya serupa.

Diantara salah satu sunnah Rasulullah yang utama adalah membalas keburukan orang lain dengan kebaikan. Maka akan terasa indahnya keimanan

Kita sesungguhnya bukan penduduk bumi ini, kita hanya menggantikan orang-orang terdahulu. Dan kelak kita akan digantikan oleh orang-orang kemudian. Sesungguhnya tiada harta yang kita punya, kita hanya memakai apa-apa yang pernah dipakai orang-orang sebelum kita. Kalaupun ada yang baru dibuat atau diciptakan fanaadanya dan akan kita tinggalkan.

Pakailah ilmu kelapa, jatuh dari ketinggian, dicabik hingga gundul, dipukul hingga pecah, dicukil dan dikuliti, diparut dan diperas, barulah ia menghasilkan santan yang berguna. Itulah saripati tauhid akan hadir setelah melewati berbagai rintangan, celaan, hinaan dan ujian hidup. Makin sabar makin dekat seseorang dengan hakikat kebenaran.

Mengapa kita mesti marah atau kecewa bila datang ujian berupa sesuatu yang tidak mengenakkan. Bukankah dengan begitu akan datang berita gembira berupa kemudahan. Jadi apa pun keadaannya....yang penting nikmati aja. Itulah bahagia.

                Dunia dan seisinya tidak akan mendatangkan keajaiban apapun, sesungguhnya Allahlah pemilik keajaiban itu. Segala sesuatu terjadi atas izinNya, mengapa tidak kita ketuk pintuNya untuk memohon izin atas permintaan, harapan dan keinginan kita. Ketukan yang penuh adab, penuh harap dan kesungguhan. Maka tunggulah keajaiban itu akan datang sebagai jawaban atas segala masalah dan keadaan”

                Aku merasa beruntung mengenal sosok Pak Yai.  Bening binar  pendar keikhlasan itu terpancar dalan kata, tindak tanduk dan nasihat yang terabadikan dalam cerotan pena di atas buku harianku ini.

 


Event Jejak Ke-7_Esai Pengorbanan_

TETES KERINGAT UNTUK GENERASI LITERAT

 

Kerisauan akan rendahnya minat baca terbaca ketika peserta didik dari Indonesia menempati peringkat ke-57 di tahun 2009 pada even PISA (Programme for International Student Assessment ).  Bahkan di tahun-tahun selanjutnya peringkat kita lebih buruk lagi , yaitu ke-64 di tahun 2012 dengan skor yang sama yaitu 396.  Skor ini tertinggal jauh  dari skor rata-rata 65 negara sebesar 493.  

Rendahnya skor yang diperoleh peserta didik disebabkan beberapa faktor terutama rendahnya daya baca dan secara otomatis menjadi kendala bagi siswa dalam memahami dan mengidentifikasi masalah.  Ketika kemampuan mengidentifikasi masalah kurang, maka lebih sulit lagi untuk memecahkan permasalahan.  Bagaimana mungkin kita mampu memecahkan permasalahan sedangkan masalahnya apa kita tidak mengetahuinya.

Patut disyukuri bila pemerintah mencanangkan program GLS (Gerakan Literasi Sekolah) dengan Peraturan  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 sebagai payung hukumnya . Kegiatan utama yang dicanangkan pemerintah berupa pembiasan membaca 15 menit perhari sebelum kegiatan belajar dimulai.  Harapannya, peserta didik memiliki minat baca yang tinggi,  daya serap terhadap informasi membaik, sehingga penguasaan terhadap ilmu pengetahuan meningkat bahkan bisa teraplikasi pada tingkat teknis.

Beberapa kiat membudayakan literasi di sekolah dari tahap pembiasaan membaca, peningkatan kemampuan menulis, berkomunikasi bahkan hingga aplikasi hasil baca dapat dilakukan dengan beberapa hal:

 

A.  SOSIALISASI KEGIATAN LITERASI SEKOLAH

Fungsi kegiatan sosialisasi adalah untuk menyamakan persepsi tentang kegiatan literasi di sekolah, bahwa kegiatan ini adalah kegiatan resmi yang didukung sekolah dan pemerintah.  Penting untuk disosialisasikan bahwa kegiatan ini memiliki tujuan mulia yaitu meningkatkan kualitas peserta didik dan lembaga pendidikan khususnya dan pendidikan nasional umumnya.

Dalam kegiatan sosialisasi ini keterlibatan dan kehadiran berbagai pihak pemangku kepentingan (stakesholder) diperlukan. Pengurus yayasan (pada sekolah swasta), komite sekolah, orang tua siswa, kepala sekolah, guru dan semua warga sekolah sebagai pelaku pembudayaan literasi sekolah harus memahami benar pentingnya literasi sekolah.

           Manfaat dari kegiatan sosialisasi terutama adalah menghindari benturan antar pemangku kepentingan, karena kegiatan ini diketahui bahkan disepakati bersama.  Dengan sosialisasi yang baik akan terjadi sinergi antar warga sekolah untuk mewujudkan budaya literasi. 

            Sosialisasi yang efektif dan menjangkau banyak pihak adalah dengan penyebaran brosur yang berisi program kegiatan.  Di dalamnya dapat dicantumkan latar belakang, tujuan, jenis kegiatan, penjadwalan, penanggung jawab bahkan hingga pada estimasi pembiayaan.

 

B.  PENYEDIAAN BAHAN BACAAN

            Salah satu kendala terbesar dalam membudayakan literasi adalah ketersediaan bahan bacaan.  Terdapat beberapa cara menyediakan bahan bacaan dan mendekatkannya pada warga sekolah antara lain:

1.   Bekerjasama dengan perpustakaan sekolah untuk menyediakan bahan bacaan di kantor, di kelas, di masjid sekolah  dan tempat strategis lainnya dengan pojok baca, lapak baca dan sejenisnya.  Terdapat kendala ketika program ini dijalankan, yaitu tercecernya buku.  Solusinya dengan pencatatan yang baik untuk tiap buku yang keluar dari perpustakaan.  Pelacakan buku perminggu juga dapat meminimalisir kehilangan.

2.   Hunting buku murah namun berkualitas bersama siswa.  Kegiatan ini akan memacu minat siswa pada buku.  Dengan didampingi guru, peserta didik akan lebih terarah dalam memilih buku bacaannya.  Tanpa pendampingan, bukan tidak mungkin peserta didik memilih buku yang kurang mendidik dan membahayakan tumbuh kembangnya.

3.  Pembentukan Organisasi Perpustakaan Kelas. 

Perpustakaan kelas merupakan kepanjangan tangan dari perpustakaan sekolah sekaligus ujung tombak pelaksanaan kegiatan literasi sekolah. 

Tugas dari pustakawan kelas antara lain:

-  meminjam buku perpustakaan sejumlah siswa dalam kelas

-  mengabsen kegiatan membaca harian 15 - 30 menit

-  membagikan buku bacaan dan buku ringkasan hasil baca dalam kegiatan mingguan  

    readathon 42 menit

-  menarik kembali buku bacaan dan ringkasan hasil baca

-  mengontrol keberadaan dan kondisi buku

-  menggilir bahan bacaan pada peserta didik

-  mengembalikan buku ke perpustakaan

            Dengan dibekali pembukuan dan kontroling yang intensif, perpustakaan kelas juga melatih peserta didik tentang keperpustakaan sederhana.

 

C.  PROGRAM LITERATIF UNGGULAN

                        Sebagaimana termaktub dalam QS Iqro ayat 1-5, perintah tersirat dan tersurat dari kegiatan literasi ada beberapa tahap, yaitu membaca, menulis dengan kalam dan mengajarkan kembali ilmu yang telah diperolehnya melalui perantaraan kalam (pena).  Sebagai tujuan akhirnya mendekatkan manusia pada Sang Khalik dengan  selalu mengingat kenikmatan dariNya sebagai tanda kesyukuran.

                        Memaknai literasi dengan utuh akan menumbuhkan kesadaran bahwa literasi seolah menjadi pondasi, akar dari segala perintah, tidaklah mengherankan bila perintah pertama yang turun pada Rasululloh SAW adalah iqro (bacalah).

                        Program literasi unggulan yang sangat mungkin dibudayakan di sekolah, yaitu:

1.      Pembiasaan membaca minimal 15 menit perhari.  Program ini menjadi target minimum pembiasaan.  Makin lama makin bagus hingga terasa benar bahwa makin lama kita membaca, makin terasa manfaatnya.

2.      Pembiasaan membaca senyap tanpa aktivitas apapun untuk seluruh warga sekolah tanpa kecuali.  Lama waktunya 42 menit  dan 15 menit untuk menulis  hasil membaca dalam bentuk ringkasan ataupun review. 

3.      Pembiasaan menulis dengan meringkas, mereview dan menulis pada majalah dinding.

4.      Presentasi hasil membaca untuk berbagi pengetahuan hasil baca dan melatih komunikasi di depan umum.  Presentasi ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok ataupun pada kegiatan khusus seperti upacara bendera.

5.    Pembiasaan berkomunikasi di depan umum lainnya seperti munaqosah (debating) dan muhadhoroh (orasi).  Kemampuan berdebat dan orasi sangat erat kaitannya dengan wawasan peserta didik.  Salah satu yang dapat meningkatkan wawasan adalah kegiatan membaca.

 

D.   KEGIATAN APLIKATIF PRODUKTIF

                       Ilmu dikatakan berkah bila kebaikanan manfaatnya makin dapat dinikmati orang banyak.  Ilmu bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan atau diaplikasikan baik berupa transfer ilmu atau transfer ilmu menjadi praktik.  Sekolah memiliki ruang yang cukup leluasa untuk siswa mempraktikan hasil bacanya terutama untuk bahan bacaan aplikatif prosedural.  Penjadwalan kegiatan praktik hasil baca bisa dilakukan melalui ekskul ataupun pembelajaran prakarya.

              Sebagaimana menarik bahan literature ke dalam praktik, praktik pun dapat ditransformasi kembali dalam bentuk literatur.  Bukankah kedua hal ini sangat baik untuk dipadukan?

               Dari semua ikhtiar pembudayaan literasi, sesuatu yang tidak kalah penting adalah kesungguhan praktisi literasi, pembudaya literasi untuk senantiasa memohon keberkahan daya dan upaya.  Sesungguhnya tiada daya upaya selain atas izinNya.  Doa menjadi kunci utama.  Semoga Indonesia terpilih untuk menjadi negeri unggul dengan generasi emasnya yang literat.


 

Event Jejak Ke-8_Fiksi Anak

HIDANGAN ISTIMEWA

 

 “Nuni, ayo temenin Ayah ke kebun!  Kita akan panen cengkih sore ini,” ajak ayah, sesaat setelah kami makan siang.  Sebenarnya ada PR yang harus kuselesaikan.  Tapi melihat wajah tirusnya, aku tidak tega menolak ajakan Ayah.  Pikirku, aku bisa mengerjakannya nanti malam.

“Baik Ayah, apa saja yang harus Nuni bawa?”

“Cukup boboko besar saja, Nuni.  Ayahmu sudah menyimpan gantar di kebun kita.  Jangan lupa bawa bekal yang sudah ibu siapkan,” kata ibu menjelaskan.

Kami berangkat dengan riang.  Berharap rejeki hasil panen nanti cukup buat memenuhi kebutuhan sehari-hari juga sekolahku.  Ayah berjalan di depan.  Aku tidak berani mendahuluinya.  Kata Rasulullah, yang muda harus menghormati yang tua.  Itu juga yang dicontohkan Sahabat Ali. 

“Anak-anak, saking hormatnya Sayidina Ali pada seorang kakek tua, pernah suatu hari beliau terlambat masuk masjid untuk berjamaah bersama Rasulullah SAW.  Ketika itu di depan Sayidina Ali ada seorang kakek tua, beliau tidak mau mendahului langkah sang kakek.  Ternyata kakek tersebut tidak memasuki masjid untuk berjamaah salat, bahkan kakek itu seorang Nasrani.  Nah, kita diajarkan untuk hormat pada yang lebih tua tak memandang apa suku dan agamanya.”   Begitulah nasihat Ustaz Usman suatu sore, yang aku coba lakukan.  Ya, dengan berjalan d belakang ayah.

Tujuan kami memanen 5 pohon cengkih dari 16 pohon yang ada, selesai sudah.  Kami duduk dan membuka perbekalan.   Aku tidak berani mengambilnya sebelum ayah mengambil terlebih dahulu.  Itulah yang selalu dipesankan ibu padaku.

“Ayah, kalau Ayah tidak keberatan, Nuni mau praktik masak di sekolah.”

“Pasti ada iuran, betul kan?”  Ayah memotong penjelasanku.  Dalam hati aku bersyukur tidak harus meminta pada Ayah.  ”Nuni, kalau ada biaya ataupun iuran di sekolah, kamu nggak usah takut meminta pada Ayah.  Itu sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab Ayah sebagai orang tua.”

“Terimakasih, Ayah.  Nanti akan Nuni siapkan hidangan spesial hasil praktik Nuni.”

Azan Asar berkumandang, memotong perbincangan kami.  Kami segera menuju tajuk untuk wudu dan salat

***

“Jam istirahat pertama akan segera dimulai, semua siswa harus meninggalkan ruang kelas.”  Bell informasi dari kantor guru menandai waktu istirahat pertama.

Aku dan teman sekelompokku, Rafa, Laila, Julia, dan Bagas segera menyiapkan alat memasak kami.  Menu yang akan kami hidangkan bertema nasi goreng lengkap, empat sehat lima sempurna.  Bahan-bahan sudah tersedia di meja untuk memasak.  Nasi putih, telor, ampela, ati ayam sebagai lauknya.  Hiasan yang kami pilih kacang goreng, tomat, cabai merah besar, kacang panjang dan seledri.  Sebagai sayurnya, lalap, kemangi, timun dan kubis lengkap dengan sambalnya.  Sebagai hidangan penutup kami memilih sop buah.  Cukup praktis, susu dan buah sekaligus dalam satu hidangan.

“Hmmm, baru lihat bahannya saja sudah terbayang lezatnya apalagi kalau sudah masak, ya?” ujar Laila yang langsung diiyakan oleh kami, teman sekelompoknya.

Kami berbagi tugas.  Rafa dan Bagas menyiapkan bahan, mengupas, mencuci dan mengiris sesuai resep yang dituliskan Mama Rafa.  Aku dan Laila bagian masak dan Julia bagian menata dan menghias meja makan.

Syukurlah hanya dalam dua jam kami selesai memasak, tinggal menata hidangan dan merapihkan alat bekas memasak.  Masakan kami banyak mendapat pujian dari para guru.  Tidak salah lagi!  Ini semua berkat Mama Rafa yang terkenal sebagai ahli kuliner warung makan Sindang Palay kebanggaan kampung kami.

Nah, waktu yang ditunggu-tunggu semua peserta praktik masak pun tiba.  Kami diizinkan untuk menghabiskan makanan yang kami masak.  Kali ini, Ibu Yanti yang membimbing kelompokku  membagikan makanan supaya tidak berebut. 

“Ayo, anak-anak, habiskan makanan kalian, jangan sampai ada yang mubazir!“ perintah Ibu Yanti. “ Nuni, kenapa kamu tidak makan?” tanya Ibu Yanti keheranan.

“Tidak Bu, di keluarga kami, apapun yang kami makan selalu untuk ayah dan ibu dulu,” jelasku.

“Keluarga Nuni memang aneh dan kuno, Bu,” celoteh Julia.

“Oh...bagus itu.  Dulu ada kisah tiga orang tertutup batu di dalam gua.  Mereka berdoa dengan perantaraan amal soleh mereka masing-masing.  Salah satunya amalan seseorang yang selalu memberikan susu untuk orang tuanya terlebih dahulu,” kata Bu Yanti membelaku

Acara menghabiskan makanan pun usai sudah.  Kami pulang dengan rasa puas. 

“Nuni, apa yang kau bawa di wadah nasi itu?”  Aku dikagetkan pertanyaan Dudu.  Anak yang paling suka iseng di kelas kami. “Wah, boleh dong aku mencicipi masakan terbaik yang dipuji guru-guru kita?”  Tanpa menunggu jawaban dariku, Dudu menarik wadah nasi.  Aku tak sempat menahannya dan nasi itu terburai di jalanan.  Aku memandanginya dengan sedih.  Ayam-ayam milik penduduk kampung berpesta pora. Aku hanya bisa menangis.

“Maaf Nuni, aku hanya mau mencicipi sedikit saja.” Dudu meminta maaf tulus.

Aku memutar otak untuk tidak mengecewakan ayah.  Aku sudah berjanji mau membawa hasil praktik masak kami.  Tiba-tiba aku ada ide, “Aku maafin kamu, tapi kamu harus menggantikan nasi goreng yang telah kau tumpahkan ini.”  Harap-harap cemas aku menunggu jawaban Dudu, semoga dia mau bertanggung jawab.

“Wah, gampang.  Ayo kita mampir dulu ke rumah aku.  Persediaan makanan di kulkas aku banyak banget.  Biar ibuku memasakkan nasi goreng spesial untukmu.  Aku yang akan menjelaskan permasalahannya.”

Aku bersyukur sekali.  Ternyata Dudu tidak seperti yang aku duga.  Mungkin dia iba dengan tangisanku.

Panjang lebar Dudu bercerita termasuk alasanku membawa hidangan dari sekolah buat kedua orang tuaku.

“Memang seharusnya demikian, Dudu.  Sopan santun dan penghormatan Nuni pada orang tuanya harus  menjadi contoh buat kamu.”  Ibu Dahlia, orang tua Dudu memujiku.  Aku jadi tersipu malu.

Diluar dugaan, aku mendapatkan berkah luar biasa hari ini.  Bukan hanya nasi goreng istimewa yang aku bawa, Bu Dahlia memberiku bingkisan yang sangat banyak.  Aku  berterimakasih dan mendoakan keluarga Dudu untuk mendapat balasan yang lebih baik dan banyak dari Tuhan.


 

Event Jejak Ke-9_Manusia Anomali

HALUSINASI

 

                Sania masih menutup muka dengan telapak tangannya. Hari ini adalah untuk pertama kalinya dia mengikuti acara lomba tumpeng di sekolah.  Acara khas yang selalu diadakan diadakan di sekolahnya tiap 17 Agustus.

                Tidak banyak yang memerhatikan perubahan pada raut wajah Sania.  Semua orang asik menikmati hidangan yang dihias oleh kelompoknya masing-masing. 

                Keringat dingin mulai bercucuran membasahi punggung Sania. Sania memberanikan diri bangkit dari tempat kelompoknya mengelilingi nampan yang  berisi nasi kuning berikut lauk pengiringnya.  Teri kacang, tekur iris, suwiran daging.  Berbagai hiasan buah dan sayur berikut sambal hijau seharusnya mengundang selera makannya.  Berbeda dengan Sania, semua justru seperti monster yang siap menyiksanya

                “Sania kamu mau kemana?”  Balqis yang sekelompok dengan Sania memanggil.

Sementara Sania terus menjauh tak memedulikan panggilan Balqis.

                “Hai! Aku ingin merayap masuk ke kerongkonganmu, Sania!!!!  Biar aku masuk dan memakan isi perut kamu!”  Belatung yang dilihatnya di nampan itu satu persatu bergerak-gerak.  Seolah mendekatinya dan memaksa merayapi mulut kemudian masuk kerongkongannya.

                Tiba-tiba.....Sania tak kuat lagi dan isi perutnya terburai lima langkah setelah ia meninggalkan ruangan.  Susah payah Sania berlari mencari air untuk membersihkan cairan menjijikkan dari perutnya.

                “Ya Tuhan...jangan sampai merka terganggu dengan keadaanku ini biarlah aku yang merasakan kesusahan ini,  Jangan sampai orang lain melihat keadaanku ini, Ya Rabb”

Namun malangnya seorang office boy menghampirinya. Sumpah serapah akhirnya tumpah juga menghampiri kemalangannya.

                “Kalau sakit tidak usah ikut acara makan-makan.  Sudah di rumah saja.  Kamu sudah mengganggu semua orang.  Lihat ada kepala sekolah, guru-guru, teman-teman kamu juga wali murid.  Kamu harusnya tahan sampai ke kamar mandi baru muntah.  Emangnya kamu hamil?”  Kalimat-kalimat itu tidak bernada tinggi tapi isinya sungguh menyesakkan dada Sania.

***

                Gangguan ini makin lama makin menjadi.  Bentuknya pun bermacam-macam.  Orang-orang menyebut Sania dengan Putri Halusinasi.  Begitu mengetahui keadaan anaknya,      Ibunda Sania berkonsultasi pada seorang ulama yang mengetahui tentang rukyah. 

“Ustadz, anak saya punya masalah yang cukup serius.”  Bunda Sania mengawali konsultasinya sore itu.”  Dia mengalami hal yang tidak sama dengan apa yang dialami orang lain.  Apa yang dia lihat, apa yang dia dengar berbeda dengan orang lain.  Tapi anehnya ustadz, apa yang dialaminya ini hanya lima sampai tujuh hari setiap bulannya.  Seperti wanita yang mengalami haidh.”

                “Kalau boleh tahu apakah gangguan itu bersamaan dengan waktu menstruasinya?”

                “Justru itu ustadz, Sania belum mengalami menstruasi.”

                “Baiklah saya akan mencoba merukyah putri ibu.  Sudah sejak umur berapa gangguan ini, Bu?”  Ustadz Shobri mengambil sepasang sarung tangan dan memakainya.

                “Dua tahun yang lalu, waktu usianya 13 tahun.”

                Ustadz Shobri mulai meruqyah dengan berbagai bacaan dan Sania tidak memberi reaksi apa-apa kecuali pingsan.  Tidak ada dialog yang bisa ikut didengar oleh Bunda Sania.  Beberapa hal dipesankan Ustadz Shobri.  Sania mengalami gangguan karena darah kotor yang seharusnya dikeluarkan melalui haid tidak keluar.  Darah kotor ini mengganggu fungsi syaraf otak sehingga muncul halusinasi.

                “Ibu, untuk lebih jelasnya, Ibu bisa berkonsultasi pada dokter kandungan.  Apakah organ reproduksi putri Ibu normal atau tidak.  Untuk gangguan jin, saya agak kesulitan mendeteksinya karena pasien pingsan.”

                Sejak terapi ruqyah, Sania berulangkali ke dokter untuk menjalani pengobatan halusinasinya.  Namun keadaannya tidak juga membaik.  Bisikan-bisikan buruk makin menjadi-jadi.  Untuk kesekian kalinya pada setiap bulannya Bunda Sania tidak pernah lupa melingkari massa haidnya.

                Penjagaan ekstra Bunda selalu mengiringi Sania dalam keadaan apapun.  Berlembar-lembar memori mengerikan itu tersimpan rapi dalam kisah pengasuhan Bunda.

                Pernah di sebuah rumah sakit, saat menjaga ayah yang sedang diopname, Sania tiba-tiba ketakutan.  Gorden di kamar itu tiba-tiba bergerak tertiup angin.  Bergerak sendiri ke kanan ke kiri tanpa ada seorang pun yang menggerakkannya.

                “Ah.....Ibu Sania takut ada yang memainkan gorden itu. Lihat ibu orang itu menatap Sania.  Sania takut Ibu!!!!!.”

 

 


 

Event Jejak Ke-10_MiniFiksi Nostalgia

TRAUMA

 

Sudah menjadi suratan takdirku menjadi anak perempuan satu-satunya dan sekaligus bungsu.  Kenyataan ini membekaskan kenangan yang penuh suka dan duka buatku.  Kenangan indah karena aku selalu dimanja dan dibela oleh ayah ibuku dihadapan dua kakak lelakiku.  Kenangan pahitnya, karena sikap protektif kedua orang tuaku yang membuatku tidak bebas menghadapi tantangan bahkan cenderung dikekang.

Tahun 80-an saat usiaku masuk angka lima, aku sudah mulai bisa merekan kenangan.  Pada usia itu, kejadian-kejadian berkesan masih tersimpan rapi dalam lembar memoriku, hingga sekarang.

Suatu pagi di hari Minggu, semua anggota keluarga sibuk dengan acara masing-masing, kecuali aku.  Ayah dan Mas Joko (kakak keduaku) sedang siap-siap berburu.  Sementara ibu dan Mas Bowo (kakak pertamaku) sedang membereskan cucian mingguan kami di toilet.

“Ayah, boleh aku ikut berburu?”  Aku memberanikan diri buat minta izin pada ayah yang sedang menyiapkan senapan angin dengan oli pelumas.

“Perempuan buat apa ikut berburu.  Sudah kamu tinggal di rumah saja.”  Ayah menjawab tanpa memandang ke arahku.  Dengan kostum lengkap berburunya, ayah terus sibuk menyiapkan perbekalan.  Tas punggung, senapan angin dan perbekalan makan minum.

Hatiku langsung ciut dan menahan segala bayangan indah tentang hutan, Nyanyian burung, anggrek di pohon-pohon besar.  Ya….saat itu keadaan alam masih sangat asri.  Hutan masih banyak dan belum terjamah para pengusaha kayu ataupun terkonversi menjadi lahan budi daya.

Ayah dan Mas Joko berangkat, sementara aku tidak punya kegiatan apapun.  Sambil menahan air mata kecewa. Dari halaman depan rumah aku melepas kepergian ayah, membantu membawakan bekal, untuk kemudian masuk mencari kesibukan sendiri.  

Pandanganku mengarah kompor minyak tanah di dapur yang tidak menyala.  Entah apa yang kupikirkan waktu itu, aku ingin menirukan bagaimana ibu menyalakan kompor.

“Sepertinya ibu menggunakan lidi ini buat menyalakan kompor.  Aku main masak-masakan aja ah….daripada nggak punya kegiatan.” Gumamku sambil mencari sebatang lidi.

Persis seperti gerakan ibu yang aku lihat saat menyalakan kompor.  Lidi sepanjang tiga jengkalan tangan kecilku aku masukkan ke lubang tangki minyak.  Setelah itu aku masukkan ke lingkaran sumbu.  Begitu berulang-ulang, tiba-tiba…….

“Blug….blug….” Suara api tiba-tiba menyambar pakaianku.  Sesuatu yang tak pernah aku sangka sebelumnya.  Ternyata kompor itu belum dimatikan, hanya dikecilkan saja nyala apinya.  Aku mengira kompornya sudah padam.

“Ibu tolong kebakaran……!!!! Tolong kebakaran…….!!!!. Api…api….api…. !!!!!!! Hu…..hu….hu……”  Aku teriak semampuku dan menangis sejadi-jadinya menuju halaman tengah rumah.  Ketakutan yang tak terbayangkan saat itu bersamaan dengan rasa panas luar biasa.

“Ada apa nduk?!?!.  Kamu kena api dari mana ini?”  Ibu lari tergopoh-gapah keluar dari toilet.  Tangannya langsung meremas semua bagian baju yang terkena api. ”Sudah jangan menangis ada ibu.  Lagi pula apinya sudah padam semua.”

Aku yakin ibuku juga merasakan panas karena meremas kain yang sedang terlalap api.  Namun demi aku ibu nekat mengabaikan kesakitan yang dirasakannya.

“Periksa aku Bu, aku mau ke rumah sakit, panas rasanya.”  Aku masih terus menangis,

“Iya, tapi berhenti menangis ya….nanti ayah marah.  Lagi pula kalau kamu nangis terus, bikin panik semua orang.” Ibu terus membujuk dan menenangkanku untuk berhenti menangis.

Ibu bergerak cepat memberikan pertolongan pertama untuk luka bakarku. “Mas Bowo, ambilkan telor ayam kampong di dapur cepat.  Luka bakar adikmu harus diolesi telor.”

Kakakku mengambilkan telor dan memecahkannya di mangkok kecil.  Ibu meratakan telor ke seluruh bagian ruam tubuhku yang mengalami luka bakar.  Rasa dingin segera kurasakan menggantikan panas yang amat sangat.

Hingga saat ini, bekas luka bakar itu masih ada di lengan bawah tangan kiriku.  Trauma pada kompor dan api juga sedikit masih membekas di hatiku.  Tapi ada hikmah di balik itu semua.  Aku menjadi sangat hati-hati dengan nyala api kompor.  Tidak akan kunyalakan sebelum semua dipastikan aman.  Ada bau gas sedikit saja pasti aku menjadi yang paling rewel dan cerewet

“Jangan dinyalakan dulu masih ada bau gas.  Ada suara gas keluar.  Copot lagi karburatornya.  Ganti kelepnya.  Tambahin dengan karet gelang ujung tabungnya.”  Sederetan intruksi sudah kusiapkan saat bibi di rumah mau memasang tabung gas.

“Wah, trauma ibu belum sembuh juga rupanya padahal udah puluhan tahun kejadiannya.  Masih saja ibu takut api kompor.”  Komentar suamiku menanggapi kerewelanku yang entah berapa kali aku ucapkan seumur hidupku hingga kini.


 

Event Jejak Ke-11_Fiksi Mini Thriller

GADIS YANG TERPASUNG

 

Mimpi malam pekat itu sangat menggangguku.

“Gayatri, tolong aku. Bebaskan aku. Aku sangat menderita di sini!” Gadis manis dengan berhijab rapi. Mukanya bersih bersinar. Sesaat kemudian tertukar dengan wajah kumal, rambut tergerai acak. Meronta-ronta dengan kaki dan tangan terpasung.

Pada mimpiku yang kesekian kali, gadis itu terlihat kurus tanpa daya. Tuturnya menampakkan keputusasaan.

“Gayatri, kau tak juga iba padaku? Percayalah aku bukan sosok mengerikan yang kau lihat. Sebenarnya aku seperti kamu juga. Bisa berpikir, merasa, bicara dengan baik. Aku hanya korban ambisi orang-orang dekatku. Namaku Amrita Priyanti, dulu aku penyanyi cilik.” Gadis kecil itu terus bercerita

Sore hari, aku pulang sendiri setelah pemadatan UN.  Aku berselancar di dunia maya dengan Humble Searching, mesin pencari buatan anak negeri.

Keluarga milyader mengalami kecelakaan tragis. Semua anggota keluarga meninggal kecuali anak tunggalnya.  Artis cilik yang sedang naik daun, Amrita Priyanti, tiga belas tahun.  Ia mengalami depresi berat. Kerabat terdekat yang memiliki hak perwalian Amrita memasung Amrita atas permintaan warga sekitar. (www.daynewsindonesia/2016).

Keinginanku untuk membantu Amrita makin kuat. Biasanya makin kuat keinginan, kemampuanku berkomunikasi sudah tidak melalui mimpi lagi. Cukup dengan memejamkan mata dan mengucapkan salam, wajah Amrita akan segera muncul. Bak layar kaca tipis penghubung dua dunia.  Perkembangan yang bagus.

Amrita menyebutkan nama pulau kecil, Selahitam. Sebuah pulau milik ayahnya yang dikuasai sang paman.  Dia memintaku melihatnya melalui aplikasi pencarian lokasi Humblemap.

“Pamanku menginginkan seluruh harta ayah. Aku menjadi ancaman dari ambisinya itu.  Aku diberi narkoba yang membuatku berperilaku seperti orang gila. Paman menyebarkan berita bahwa aku depresi. Orang-orang di sekitarku dibayar paman untuk melapor ke polisi.  Kata mereka, aku berbahaya bila dibiarkan bebas.  Jadilah aku terpasung begini.”

“Lalu bagaimana kamu bisa menemuiku dalam mimpi?” tanyaku penasaran.

“Itu karena aku juga memiliki kemampuan seperti kamu. Aku memiliki indra keenam yang tidak banyak diketahui orang.”

Amrita memberi informasi bagaimana aku bisa mencapai Pulau Selahitam, sebuah pulau kecil di  selatan Pulau Natuna. Dari ceritanya, terlalu banyak ranjau dipasang di pulau itu.  “Gayatri, aku meminta tolong ke kamu karena kamu anak indigo yang salihah.  Cukup dengan salat dua rekaat.  Letakkan printscreen dari Pulau Selahitam hasil Humble Searchingmu, kamu akan sampai! Jangan lupa bawa pasir putih dan baca bismillah kemudian taburkan di sekelilingmu! Kamu akan terhindar dari kejaran para penjaga Pulau Selahitam”

***

Tidak ada pilihan lain. Aku genggam semua energi keberanian dalam dadaku.  Beruntung aku masih menyimpan pasir putih sisa akuarium air laut yang menghiasi ruang tamu keluargaku. Satu lagi, printscreen Pulau Selahitam.

Aku mengambil wudhu, salat dua rekaat dan petualangan dimulai. Betapa merasa beruntungnya aku, Amrita memberitahuku tentang kemampuan yang tak pernah aku sadari sebelumnya

Kurapikan jilbabku yang berantakan tertiup angin saat melewati labirin cukup mendebarkan. Melintasi dua dimensi ruang dan waktu dan sampai di tempat asing.

“Lihat itu ada orang asing memasuki pulau kita! Berani sekali dia. Bagaimana dia menemukan tempat ini?” Dua body guard terperangah dengan kehadiranku. Aku selinglung pengalaman jetlagku yang pertama, tak kalah kaget. Yang ada dalam benakku, melarikan diri dari mereka.

“Cepat kejar!!” Body guard bertubuh tambun kesulitan mengejarku. Namun seorang lagi tinggal sejengkal meraih tanganku.

Aku merogoh kantong celana yang berisi pasir putih dan menyebar ke sekelilingku.

“Kemana bocah nakal itu? Tiba-tiba dia hilang!” Si Tegap terbengong-bengong kehilangan tangkapannya.

Mereka putus asa mencariku yang tak juga dapat mereka lihat. “Gembul, nampaknya sia-sia kita mencari gadis misterius itu.” Si Tegap kesal.

“Lebih baik kita ke ruang rahasia. Kalau sampai ada yang menculik Amrita. Kita bakal kehilangan periuk nasi.”

Aku terus mengikuti mereka dengan hati-hati. Kalau tidak, kejadian di depan pintu rahasia bisa terjadi lagi. Ya, aku menjatuhkan kaleng yang membuat mereka curiga. Hampir saja aku terkena pukul mereka yang membabi buta lantaran menganggapku siluman penguntit.

Ruangan itu pengap, gelap.  Mirip ruang penjara bawah tanah. Aku tak habis pikir, terbuat dari apa hati paman Amrita. Gadis cantik yatim piatu itu dibiarkan tersiksa di usia belianya.

Setelah semua aman aku mendekati Amrita. Tangisnya tak terbendung. Ada bahagia, sedih, penuh harap dan entah apa lagi. Aku segera membuka lakban perekat di mulutnya. Keadaannya kusam, lusuh tak terurus. Ia memintaku membuka seluruh ikatan yang memasungnya. Amrita memelukku erat.

Kutebar pasir putih di sekeliling Amrita, dia pun menjadi sedimensi denganku.  Kami harus meninggalkan tempat terkutuk ini.

Event Jejak Ke-12_Promise

HATI SELUAS SAMUDRA

 

Tiga tahun terakhir, kondisi Pesantren Nurussalam semakin terpuruk.  Meninggalnya muwakif, Haji Sadeli dan terhentinya donasi dari perusahaan muwakif menjadi sebab utama.  Wakaf hampir saja diserahkan pada yayasan yang lebih kuat.

Akan tetapi, hari ini menjadi hari sangat bersejarah untuk Nurussalam.  Putri bungsu Haji Sadeli dan suaminya bertekad menyelamatkan pesantren amanah orang tuanya itu.  Janji yang harus ditunaikan, bahwa kehadiran mereka akan mengubah Nurussalam menjadi pesantren unggulan dan terpandang di kabupaten. 

Banyak yang mencibir rencana kehadiran mereka, meskipun tidak berani berbicara langsung.  “Percuma pimpinan pesantren diganti kalau gaji Akang tetap dibayar 30%.”  Bi Lela mengungkapkan unek-unek di depan suaminya yang menjadi petugas keamanan pesantren.  “Aku sih merdeka, siapapun pimpinannya nggak ngaruh pada pemakai jasa laundry-ku.”  Bi Lela melirik jumawa pada suaminya, Mang Juha.  Memang keduanya sering adu argumen tentang penghasilan mereka masing-masing.  Mang Juha yang digaji hanya seperiga dari haknya sering mendapat protes dari sang istri.  Sementara Mang Juha selalu membanggakannya sebagai amal jariah fisabilillah membela pesantren yang sudah di ambang kebangkrutan.

“Jangan salah, Mak, kalau pesantren nggak ada santrinya, kamu mau nyuci baju siapa?  Apa aku harus menggaji kamu karena nyuciin baju aku dan anak-anak?”  Kali ini Mang Juha berganti menohok Bi Lela diiringi tawa kemenangan.

Ustaz Lukman dan Ustadzah Ade, pasangan yang belum dikarunia putra, berhijrah ke Pesantren Nurussalam.  Tanpa upacara penyambutan, sepi dari tabuhan marhaban dari kelompok marawis pesantren.

“Nampaknya tidak semua orang menginginkan kehadiran kita, ya, Aa?”  Ustadzah Ade mengeluarkan unek-unek yang dia simpan rapi.  Terutama tentang keraguan kakak-kakaknya sesama pengurus yayasan.  Dia tidak ingin membuat suaminya berkecil hati dan mundur dari niat baiknya.

Mereka tidak segera turun dari Xenia yang membawa mereka ke Nurussalam.  Kaki mereka seolah terpaku pada karpet alas mobil mereka.  Mereka pandangi gerbang dan halaman tempat parkir mobil mereka.  Lingkungan pesantren yang kumuh, rumput-rumputan panjang tak terpangkas.  Sebelah kiri terdapat syirkah yang hanya terisi sedikit barang dagangan.  Yang lebih aneh lagi, warung itu tidak ada penjaganya.

“Kalau semua kita lakukan karena Allah, kita tidak akan peduli dengan pandangan manusia.  Fa idza azzamta fa tawakal ‘alallah.”  Kalimat itu telah sering diucapkan Ustadz Lukman saat mendengar keluhan dari pendamping hidupnya. “Kita sudah tahu segala resiko di depan kita.  Berbaik sangka pada sesama saudara muslim adalah pilihan hati yang terbaik.  Berbaik sangka pada Allah juga akan mendekatkan diri kita pada pertolonganNya.  Bismillah.  Ayo, kita segera turun. Lihat itu Mang Juha sudah menunggu kita turun.  Dia sangat ringan tangan membantu siapa saja.  Tolong siapkan amplop lima puluh ribu buat dia, Sayang!”  Sebutan romantis itu menjadi tanda bahwa permintaan Ustadz Lukman wajib diikuti istri tercintanya.

Begitu pintu mobil dibuka, sosok lugu berpenampilan sangat sederhana itu mendekati mereka. “Assalamu’alaikum.  Ustdz Lukman, Neng Ade, wilujeng sumping!  Resep pisan Neng Ade mau memegang pesantren ini.  Mang Juha selalu ingat Pak Haji Sadeli tiap lihat Neng Ade.  Wajah beliau mirip sekali dengan Neng Ade.  Semoga Neng Ade bisa meneruskan kebaikan dan kedermawanan beliau.”  Sapa ramah dan kalimat yang keluar dari lisan Mang Juha seperti menyuntikkan energi luar biasa buat Ustaz Lukman dan istrinya.

Wa’alaikumussalam.  Terimakasih Mang Juha atas sambutannya.  Juga saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya untuk ketulusan Mang Juha menjadi ansharu ma’had sejak ma’had ini berdiri.” Ustazah Ade membalas tulus sambutan Mang Juha.

Dengan sigap Mang Juha memindahkan semua barang bawaan Ustadz Lukman dan Ustazah.  Tinggal dua koper besar yang tersisa di dalam mobil. 

Tanpa ragu Ustazah Ade melangkahkan kaki menuju rumah yayasan.  Rumah besar ini membekaskan kenangan indah buat Ustazah Ade.  Rumah nyaman dan cukup luas ini menjadi tempat pertemuan keluarga besar Haji Sadeli sekaligus peristirahatan terakhir lepas masa pensiun dari tugasnya di Jakarta.

Sebaliknya buat Ustaz Lukman,  tempat ini benar-benar asing.  Akan tetapi ia selalu berusaha menahan keluh-kesah di depan istrinya.  Apapun kegalauan yang dirasa,  disimpan rapi dalam ruang hatinya.  Untuk Ustaz Lukman,  kebersamaan dengan Sang Pencipta adalah segalanya.

Tanpa buang waktu,  Ustaz Lukman bergerak cepat.  Yang dilakukannya adalah bersilaturahmi ke semua guru yang mukim dalam lingkungan pesantren.   Beruntunglah ada satu keluarga yang sangat dekat dengan Ustadzah Ade.  Ya, keluarga Ustadz Ahmad dan Ustadzah Rodiyah,  pernah berada dalam pesantren yang sama. Meskipun hanya tiga tahun berkawan di pesantren Al Hamidi,  silaturahmi tetap berjalan lewat medsos.  Tentu dengan pengabdian Ustaz Ahmad di Nurussalam persahabatan makin erat.                                                                            

Perbincangan begitu akrab.   Suasana menjadi cair dengan berbagai nostalgia semasa di pesantren.  Diiringi tawa renyah dua keluarga bersahabat karib itu.

Perbincangan mulai serius saat menyentuh permasalahan kemunduran Nurussalam.  Ustaz Ahmad bercerita tentang kondisi pesantren.  Diurutnya mulai dari keadaan kantor kesekretariatan,  dapur, pengasuhan,  pengajaran,  keuangan dan unit usaha.

"Ana awali dari pengasuhan. Karena bidang ini yang ana pegang.  Minimnya pengabdian muda yang menjadi mudabir di tiap kamar anak.  Sementara anak-anak butuh pendampingan 24 jam.  Mudabir ini merupakan ujung tombak di lapang untuk mendongkrak kualitas santri dalam kemampuan pengembangan diri dan berjalannya sanggar. "

Ustaz Lukman memasang telinga dan merekam dalam ingatan.  Berbelanja masalah untuk memperbaiki keadaan.  Di bidang pengajaran, masalah i'dad ala pesantren dan pertemuan guru menjadi titik kelemahan.   Fungsi pengawasan pun belum berjalan dengan baik.  Kaidah dasar yang disusun yayasan masih menjadi buku sakti tanpa realisasi terutama untuk bagian unit usaha yang membidangi cafe, laundry, syirkah dan dapur.  Sampai saat ini belum ada orang yang cukup amanah mengelola unit usaha.

“Sangat disayangkan, pemegang tanggung jawab dapur kurang bisa menjalankan amanah.  Lauk pauk untuk santri jauh dari bergizi.  Keluhan wali santri sangat memalukan pihak pengelola.  Akan tetapi kami tidak bisa berbuat banyak.  Pemegangnya adik kandung almarhum Haji Sadeli.  Perlu kekuatan besar yayasan untuk mengawasi unit usaha.  Ada satu lagi permasalahan yang cukup serius. Beberapa orang dalam, istri para ustaz diambil amanahnya.” Lanjut Ustaz Ahmad

“Penyebabnya apa kalau ana boleh tahu?”

“Lebih baik antum menanyakan pada ustazah yang bersangkutan saja.  Khawatirnya ana dianggap namimah sama pihak yang berkepentingan dengan amanah ini.  Apalagi istri ana juga termasuk yang dicopot dari jabatannya.”  Ustaz Ahmad berusaha menghindari perbincangan yang sensitif dan terlalu dalam.

Silaturahmi dan belanja masalah juga dilakukan Ustazah Ade.  Rumah pertama yang dikunjunginya tentu Bibi Maemunah.

"Neng Ade,  aku tahu kebijakkan kamu pasti tidak akan jauh dari Kang Sadeli.  Pasti Bibi akan kehilangan nafkah dari dapur."

"Tidak, Bi. Bi Maemunah tetap akan berada di dapur.  Aa Lukman hanya minta jatah makan santri direalisasikan sesuai anggaran.   Supaya gizi santri terpenuhi. "

Bibi Maemunah langsung cemberut.    "Usaha Bibi ini bentuknya ketering jadi halal kan, kalau bibi ambil untung berapapun? "

Ade Ruqayah beristighfar dalam hati. "Tapi bukannya Bibi anggota Badan Pengelola Pesantren Nurrussalam? "

"Bibi sudah kembalikan SK-nya.  Jadi bibi bukan pengelola dapur tapi dapur yang pesan ketering ke Bibi."

"Tapi gaji dari pesantren ada,  Bi? "

"Lima ratus ribu itu bukan gaji tapi tips tambahan tenaga Bibi" jawab Bi Maemunah enteng.

Ade menuturkan kembali oleh-oleh silaturahminya pada sang suami.  Ustaz Lukman hanya menggeleng kepala.  Ini yang mungkin membuat ustaz Burhan kapok memimpin Nurussalam. Setiap kali Bibi Maemunah digeser dari dapur, ia selalu saja menghubungi Haji Fauzan sebagai ketua yayasan.  Ia akan melaporkan bahwa ada yang mengambil ladang usahanya. Konflik antar Bi Maemunah dan kepala dapur yang baru menjadi iklim kurang sehat antara yayasan dan badan pengelola.  Ini terjadi sejak Haji Sadeli sakit dalam tiga tahun sebelum meninggal.

Ketidaknyamanan ini menjalar pada pertemuan badan pengelola.  Masing-masing ingin menjaga perasaan. Kalaupun diadakan pertemuan,  selalu terkendala konsumsi, unit usaha menjadi bagian terisolir dari bidang lain.  Sedangkan pada kenyataannya, dapur sangat bersinggungan langsung dengan santri dan berbagai kegiatan pesantren.

"Ade,  nampaknya akar permasalahan pesantren ada di keuangan dan terputusnya komunikasi antar badan pengelola. Aa ada niat bismillah, kita jual mobil usaha kita untuk penerimaan santri baru.  Selain itu juga untuk mempererat hubungan antara Bi Maemunah dan para asatidz."

"Maksud Aa,  mobil usaha yang mana?  Apa akang tega usaha terhenti dan karyawan kehilangan pekerjaan? "

"Tentu saja tidak, Aa pikir usaha kita bisa dipindah ke pesantren berikut para karyawan.  Di sini distribusinya jelas ada 150 santri.  Bukankah kita bisa menambah relasi baru dari wali santri? Aa yakin Allah akan membukakan jalan untuk kita. Lagi pula kita belum dikaruniai momongan.  Kebutuhan  kita belum banyak.  Biar kita buktikan bakti kita buat Almarhum Bapak dan mengabdikan diri pada dakwah dan tarbiyah.  Buat aku ini adalah puncak kebahagiaan kita sebagai hambaNya? "

"Tapi Aa, bagaimana kalau mobil itu tidak kembali lagi? "

"Ade,  dengarkan cerita ini, ya! "  Ustaz Lukman membacakan manaqib Ibunda Khadijah.  Sementara Ustazah Ade mendengar sambil menggelayuti pundak suaminya. Manja.

Ada satu bagian yang paling mengharu biru dari kisah Ibunda Khadijah.

“Saat itu derita perjuangan mendera.  Seluruh kekayaan Rasulullah dan Ibunda Khadijah telah habis.  Seringkali makanan pun tak punya. Ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur.  Rasulullah yang lelah seusai pulang berdakwah dan menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu, berbaring di pangkuan Khadijah.

Rasulullah menanyakan kesedihan apa gerangan yang dirasakan Ibunda Khadijah, hingga meneteskan airmata.

Ibunda Khadijah menjawab, ”Wahai suamiku. Wahai Nabi Allah.  Dahulu aku memiliki kemuliaan.  Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.  Dahulu aku adalah bangsawan.  Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.  Dahulu aku memiliki harta kekayaan.  Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.  Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit ataupun jembatan.  Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku.  Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu.  Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah.Ingatkan mereka kepada yang hak.  Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.”*)

Rasa malu menyelinap dalam lubuk hati Ustazah Ade.  “Pengorbananku hanya sebutir debu dibandingkan dengan pengorbanan Ibunda Khadijah,” ucapnya membatin.  Tak disadari Ustzah Ade menumpahkan air mata.  Perasaan hatinya tersusupi kesadaran halus akan pengorbanan istri pada perjuangan suami. Suara tangisnya tersedan oleh ketakberdayaan iman di hadapan ummul mukminin yang seharusnya ia teladani.  "Aa,  Ade akan mendukung keputusan Aa.  Tapi tolong bantu Ade buat ikhlas dan hati Ade bisa seluas kelapangan hati Aa. "

Satu bulan berjalan,  usaha konveksi dipindahkan ke pesantren sekaligus menjadi tambahan program workshop untuk life skill santri.  Workshop menjadi program unggulan yang digulirkan Ustaz Lukman sebagai daya tarik santri baru.

Langkah pengorbanan Ustaz Lukman tidak sia-sia.  Gaji untuk Bibi Maemunah sudah disesuaikan kebutuhannya.  Meskipun Ustaz Lukman harus mengambil dari kocek sendiri,  tapi dia puas dengan menu santri.  Ada tambahan gizi dengan lauk daging seminggu dua kali,  Senin dan Kamis.  Buah dan susu sepekan sekali tiap hari Jumat.   Saat dilihatnya dapur santri,  anak-anak nampak begitu ceria dan bersuka cita.

Program beasiswa setengah harga untuk anak-anak yang berprestasi, dan beasiswa penuh untuk yatim dan dhuafa digulirkan.  Satu lagi, program sekali infak biaya pendidikan saat awal masuk.  Uang itu menjadi kas berjalan pesantren yang digunakan untuk mengembangkan usaha.  Bila ada yang tidak bertahan hingga akhir masa belajar,  uang sisa infak dikembalikan ke orang tua.

"Alhamdulillah, Ade,  ikhtiar dan doa kita dikabulkan Allah.  Syirkah dengan suntikan dana yang ada bisa membesarkan warung yayasan.  Dana operasional yayasan tidak mengganggu keuangan pondok lagi. Setengah dari sisa hasil usaha bisa kita transfer ke yayasan. "

"Maafin keluarga Ade, ya Aa.  Jadi Aa Lukman yang berpikir keras membangkitkan lagi pesantren ini. "

"Sudah menjadi kewajiban kita yang masih muda buat berkarya.  Didampingi dengan penuh keikhlasan pun sudah cukup membahagiakan buat Aa. "

***

Tiga tahun kemudian.....

Ustaz Lukman berhasil membentuk Badan Wakaf Nurussalam. Berbagai komponen masuk di dalamnya wakil dari badan pengelola, alumni, yayasan, komite pesantren yang mewakili orang tua dan tokoh penting dalam masyarakat.

Lagi-lagi keluarga Bibi Maemunah tidak suka dengan terbentuknya badan wakaf.  Kekhawatiran tergeser dari unit usaha menjadi alasan utama, karena keluarga ini tidak akan leluasa mendekati dan memengaruhi keputusan yayasan.  Di antara keluarga Bibi Maemunah, Sumantri sebagai pengelola kafe yang paling menunjukkan gelagat tidak baik.  Kang Sumantri melaporkan hal-hal yang dia anggap bisa melemahkan kedudukan Ustaz Lukman.  Kehadiran Ustaz Lukman terlalu dalam mengontrol unit usaha.  Tidak ada banyak kesempatan lagi meraup keuntungan dari syirkah dan dapur.  Tuntutan laporan bulanan menguras akal culasnya untuk memanipulasi laporan. Itupun serba sulit karena bon harus dilampirkan.

Begitu besar kepentingan keluarga ini untuk tetap berada pada unit usaha, membuat Sumantri berani menghadap Haji Fauzan.

"Kang Haji, Kang Lukman, sudah terlalu jauh melangkah."  Sumantri menyempatkan diri menemui ketua yayasan untuk berita yang dipendamnya dalam ruang gelap hatinya.  Buruk sangka, iri, dengki dan sifat namimah sambil mencari kesempatan untuk mereguk kesempatan.

"Aku sudah berjanji tidak akan mencampuri sepak terjangnya. Selama pesantren tetap berjalan dengan baik dan tidak menyalahi kaidah dasar, buat apa dirisaukan?  Lagi pula Lukman yang sudah menyelamatkan wakaf almarhum bapak."

"Memang jumlah santri sekarang sudah tiga kali lipat. Tapi ada satu yang keluar dari kaidah dasar pesantren.   Kang Lukman sudah membentuk badan wakaf.  Akang tahu tidak kalau Kang Lukman bagi-bagi saldo operasional pesantren?  Yang menerima pun hanya ustaz mukimin.  Saya rasa ini bukan perbuatan bijak.”

"Wah yang itu,  saya kurang tahu."

"Itu dia, Kang, setelah ada badan wakaf,  akan banyak hal yang Akang tidak tahu.  Yang paling berbahaya ada tokoh-tokoh penting yang terlibat organisasi terlarang.   Kalau ini tercium aparat, bisa ditutup Nurussalam.   Kemarin ada dua polisi mendatangi rumah Kang Lukman.  Kang Fauzan harus bertindak cepat"

"Sumatri, terimakasih atas berita ini. Kami, seluruh pengurus yayasan akan mengadakan rapat segera."

"Jangan sampai salah langkah, ya Kang, kasihan Uwa Haji" pesan Sumantri dengan wajah pura-pura prihatin.  Untuk sementara dia puas dengan hasil hasutannya.  "Sebentar lagi pesantren akan bersih dari manusia sok suci semacam Kang Lukman, " batin Sumantri.

Hasil keputusan rapat yayasan,  memanggil Ustaz Lukman untuk dimintai keterangan.  Akan tetapi hasutan Sumantri sudah menyusup dalam lorong hati keluarga yayasan.  Gelagat kurang baik sudah mulai menyebarkan bau busuk fitnah dan namimah, merenggangkan hubungan keluarga yayasan dengan Ustaz Lukman.   Apapun keterangan dari Ustaz Lukman tentang badan wakaf, tidak bisa diterima keluarga Yayasan.  Bahkan sudah menyekat lisan kakak-kakak iparnya untuk sekedar bertegur sapa.  Betapa sempitnya dunia ini dengan perpecahan dan permusuhan yang tak seharusnya terjadi.

***

Program hari ini adalah rihlah pesantren Nurussalam.  Semua keluarga besar pesantren diundang untuk mengadakan perjalanan wisata.  Kali ini lokasi wisata yang dituju adalah kawasan kaki Gunung Merapi.  Tujuannya untuk merajut kedekatan antar semua keluarga besar Pesantren Nurussalam.   Akan tetapi tidak demikian kali ini.

Semua berkumpul di halaman penginapan Kaliurang, kaki Gunung Merapi yang sejuk.  Halaman cukup luas itu dipenuhi 450-an keluarga besar Nurussalam.  Sebuah lonjakan berarti karena tiga tahun lalu,  peserta rihlah hanya 150-an orang.

Sebagian besar merasa adanya kejanggalan.  Di tahun-tahun sebelumnya, Ustaz  Lukman tidak mengumpulkan seluruh rombongan di akhir rihlah seperti halnya saat ini.  Semua bercengkerama dengan hatinya masing-masing. Bermain dalam tebak menebak yang spekulatif dan rumit.   Terutama untuk mereka yang berseberangan dengan kebijakkannya.

"Mulai hari ini saya memohon izin untuk mundur dari jabatan pimpinan pesantren.  Saya berdoa semoga sepeninggalan saya pesantren ini makin maju. Yang baik datangnya dari Allah, teruskanlah. Yang buruk dari saya sendiri, tinggalkanlah. Alasan pengunduran diri saya karena perusahaan yang saya tinggalkan selama tiga tahun menunggu keterlibatan saya   Saya berencana keuntungan perusahaan akan digunakan menyokong operasional pesantren ”

Keputusan tak terduga itu meledakkan keheningan. Suara riuh hingga isak tangis air mata haru, cinta, sekaligus kekaguman. Juga senyum jumawa mereka yang merasa memenangkan pergumulan kepentingan.

Haji Fauzan meninggalkan pertemuan menuju penginapan dengan hati tak menentu.  Batinnya menolak pengunduran diri adiknya.  Langkahnya terhenti oleh perbincangan Sumantri dan istrinya di salah satu kamar penginapan tak jauh dari pintu masuk.

“Rencana kita berhasil.  Kita akan bisa mengumpulkan keuntungan seperti dulu lagi.  Bahkan badan wakaf itu terancam akan dibubarkan lagi.  Kang Fauzan akan mudah dikendalikan sama ibu.”

Mendengar percakapan dua orang itu, Haji Fauzan segera menuju halaman penginapan untuk menanggapi sambutan Ustaz Lukman dan menentukan sikapnya.

“Saya sebagai nadzir, sekaligus ketua Yayasan Nurussalam menolak pengunduran diri Ustaz Lukman dan Badan Wakaf Nurussalam tetap harus kita pertahankan.  ‘Alaikum bil jamaah al jamatu rahmatun wal firqatu ‘adzabun.  Dengan makin banyak orang terlibat memikirkan kemaslahatan Nurussalam maka kemajuan dan keberkahan akan mudah diraih.”

Sambutan Haji Fauzan disambut rasa syukur semua peserta rihlah.  Haji Fauzan menghambur ke arah Ustaz Lukman dan memeluknya erat.  Hati seluas samudra selalu menghadirkan cinta untuk mereka yang masih menghidupkan ketulusan.

 

*): Kitab Al Busyra fii Manaqib Sayidah Khadijah Al Qubra, karya  Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili.   Penerbit:Hai'ah Ash-Shofwah al-Malikiyyah

 

 

Glosarium:

1.                   Akhi: saudaraku (laki-laki)

2.                   Ana: saya

3.                   Antum: Kamu

4.                    Alaikum bil jamaah, aljama’atu rahmatun wal firaqu adzabun: hendaklah atas kalian berjamaah,berjamaaih itu rahmat dan berpecah belah itu adzab

5.                   Fa idza azzamta fa tawakkal ‘alallah: jika sudah bertekat maka bertawakallah pada Allah

6.                   Laundry: jasa pencucian baju

7.                   Life skill: keterampilan hidup

8.                   Ma’had:  Pesantren

9.                   Muwaqif: pemberi wakaf

10.                Nadzir: penerima wakaf

11.                Namimah: adu domba

12.                Resep pisan: senang sekali

13.                Rihlah: Perjalanan

14.                Syirkah: koperasi

15.                Unek-unek: isi hati yang menjadi beban

16.                Wilujeng sumping: selamat datang

17.                Workshop: bengkel keterampilan


Event Jejak Ke-13_Puisi Love Yourself

DEAR ME,

 

Untuk padamnya segala nyala

Pada goresan yang kesekian kalinya

Berdiri aku, lelah

Pada cermin buram terbelah

Rengatnya menahanku dari buraian berkeping

Di sana, wajahku terpahat seadanya

Segamang puzzle,  tak juga tertata sempurna

Tiap kilatan pemisah itu memanggilku

Kembali, menikmati luka

 

Sendiri mengupas mimpi

Menyisakan sampah cerita

Yang kujadikan kubangan, masa lalu

 

Suara-suara kelam menggapai-gapai

Meniupkan rasa keindahan semu

Memasungku pada kedalaman nestapa

Hingga pada nadir akhir kisah getir

 

Bisikan itu makin menggema

Pada ruang rasa dan dinding batinku, dear me,

Kelembutan cinta seindah suara surgawi

Aku temui diriku

Hidup kembali dengan jiwa baru

Penuh rindu pada bahagia

 

Pusaran rasa ada di sini

Saat pilihanku terjatuh

Untuk cinta pada diriku, sendiri

 

(Temanggung, 8 September, saat sayatan itu hadir kembali)


 

Event Jejalk Ke-15_Puisi Kartini

WANITA PENGABDI CAHAYA

 

Mulia nama, megah silsilah

ketinggian derajat pangkat

tak membuatmu menjadi kristal mahal

dalam kaca berteralis

 

Kepedulian tatap mata welas asih

berkelindan pada hatimu yang bersih

pekat kepedihan derita kaummu

tak cukup dengan berpangku

bahagiamu bertumpu pada senyum sesama

 

Saat kau tak bisa,

kau kais bongkah-bongkah asa

berkutat bak penuntut pada si empunya

kau pencari cahaya sejati

ilmu yang tertoreh pada jiwa ulama

 

Cahaya yang kau kutip

tak rela hanya terintip

kau pancarkan kembali

pada majelis para gadis

juga kaummu, wanita-wanita terlunta

 

Pengabdi cahaya, gerakmu tak terhenti

aku kini, penikmat semangatmu

jasa itu tak tertukar oleh doa dan puisi

izinkan aku memanggilmu, IBU

 

Lalu penaku terus menari menjadi balerina

memekarkan senyumku

nyala


Event Jejak Ke-14_Cerpen Tanda Tanya

HARUSKAH KAMU PERGI, RATIH?

 

“Kamu harusnya bersyukur.  Gusti Allah wis maringi rahmat sing akeh.Wis pira cacahe anakmu kabeh?   Kenapa tidak seorang pun cucuku yang kau bawa?”   Sorot mata tajam ibu menguliti hati Ratih.  Hanya air mata yang bisa ia persembahkan buat orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Ibu.

Kowe kudu bisa momong atine wong tuwa.  Keriput di wajahnya selalu bertambah tiap kali kamu pulang tanpa suami dan anak-anakmu.”  Mbak Yu Ginah ikut-ikutan mengeroyok Ratih tanpa ampun.

***

Pernikahan dengan Wisnu memang menjadi dambaan Ratih.  Diam-diam dalam tiga tahun setelah Ratih lulus kuliah dan mendapat pekerjaan, ada seseorang yang hinggap di hatinya.  Tidak banyak alasan yang dapat Ratih rangkum hingga menjatuhkan pilihan pada lelaki itu.

Teman sekantor Ratih di perusahaan properti.  Wisnu Prasetya, sosok yang membuatnya kagum.  Bukan karena keramahan, romantisme, keakraban atau hal-hal lembut yang disukai perempuan.  Ratih menyukai ketegasan yang ditampakkannya saat menertibkan segala urusan kantor.  Manajer  yang berwibawa menurutnya.  Kaku menurut orang lain.  Tapi Ratih tidak peduli dengan penilaian orang tentang diri Wisnu.  Ratih  tetap kukuh dengan penilaiannya sendiri.  Segala bentuk kekaguman Ratih membuatnya ingin tampil sempurna di depan  Wisnu.  Semua tugas ingin Ratih selesaikan .  Ia ingin menjadi yang terbaik di hadapan pujaan hatinya itu.

“Ratih, saya puas dan pas dengan hasil kerja kamu.  Saya bisa mempromosikan kenaikan jabatan untuk prestasi yang sudah kamu tunjukkan.”  Pujian dan janji jabatan yang Wisnu ungkapkan bukan sekedar pemanis bibir.  Dalam tiga tahun sebelum pernikahan mereka, Ratih telah mengalami beberapa pemindahan tugas yang lebih menjanjikan.

“Ratih, kantor kita sedang heboh.  Kamu tahu, nggak?”  tukas Kesih saat mereka berdua makan siang di kantin kantor.

“Aku kurang banyak ngegosip bareng temen-temen kantor, Kesih.  Kamu tahu sendiri, aku ketimbun tugas dari Pak Wisnu.  Selesai satu dokumen, dia akan memberiku tugas dokumen berikutnya.”

Rasa penasaran mengaduk-aduk hati Ratih tentang gosip di kantor menyangkut dirinya dan Wisnu.  Kesih mulai bercerita tentang suatu hal yang membuatnya malu.  Ada yang tahu detail rahasia hatinya.

“Aku dapat tugas dari Pak Wisnu buat mencari dokumen tiga tahun lalu, tentang detail kegiatan kantor kita.  Seseorang petinggi KPK menemukan penyimpangan keuangan yang dilakukan pejabat.  Nah, salah satu aliran dana yang pernah terendus KPK ke kantor kita.  Kamu jangan marah, ya.  Ternyata di gudang kantor itu ada diary kamu.  Maafkan aku dengan sangat terpaksa aku baca.”

Ratih terbeliak seakan mimpi di siang bolong.  Kesibukan kantor membuatnya lupa menyimpan baik-baik rahasia hati yang telanjur tertoreh pena.  Ratih benar-benar speechless dengan nasib naas yang menimpanya “Tahu bahwa rahasia hatinya diketahui orang lain.”

Ekspresi marahnya dituangkan dalam diam.  Kesih salah tingkah dengan respon negatif Ratih.

Segala daya upaya Kesih kerahkan untuk membuat Ratih tersenyum.

Ratih mencoba membongkar memori tentang diary yang pernah hilang.  Perlahan Ratih ingat kembali diary pink hadiah ulang tahun dari Mbak Yu Ginah.  Diary itu pernah dua hari membuatnya uring-uringan.  Mencari dan nihil.

Diary itu berisi kegiatan penting hariannya di kantor, curahan hati dan perenungan diri.  Ratih masih sangat ingat perasaannya tentang Wisnu.  Kekagumannya bukan hanya pada fisiknya yang mendekati ideal tapi lebih pada profesionalisme sebagai rekan kerja.

“Ratih, maafkan aku, ya.  Tapi tenanglah hanya aku dan Pak Wisnu yang tahu rahasia kamu.  Jadi kamu nggak perlu malu.”  Kesih mencoba menangkap rona merah jambu di dua pipi Ratih.  Ia sangat memahami perasaan Ratih.  Itulah yang menjadi alasan kedekatan mereka. 

“Justru aku nggak mau dia tahu.  Kalau cuma kamu, aku nggak keberatan.”

“Apa yang membuatmu keberatan, Ratih.  Bukankah ini kesempatan buat kamu keluar dari siksaan hati?  Aku menangkap ketulusan hati pada diarymu.  Sebagai teman terdekat, pantaskah aku membiarkan rasa hatimu hampa?”

Kemurnian kasih pesahabatan tercium kental pada ungkapan Kesih.  Ratih mencoba mengembangkan senyum.  Mencairkan kebekuan bersama harapan cinta yang akan terbalaskan.

“Aku nggak akan cerita ke kamu sebelum aku yakin kalau cintamu bakal terbalaskan, Ratih. I can guarantee.”

“Terimakasih untuk pengertianmu, Kesih.  Lalu gosip apa yang beredar di kantor?”

“Pak Wisnu akan melamar kamu.”

“Secepat ini, kah?  Lalu kenapa bisa jadi gosip temen-temen kantor?” tanya Ratih polos.

“Ratih, tiga tahun masih kamu anggap cepat?  Cukup sulit buat meyakinkan Pak Wisnu bahwa kamu gadis yang pas untuk dia.  Perjuangan aku membuahkan hasil.  Keperluan lamaran, aku yang memesankan buat kalian.  Lama-lama temen kantor pada tahu.”

Ratih merasa bersyukur dengan semua pengorbanan Kesih.  Siang itu Ratih menyadari pentingnya kehadiran sahabat sejati.

***

Kedatangan keluarga Wisnu mengagetkan keluarga Ratih.  Ratih belum sempat bercerita tentang rasa hatinya pada sang arjuna.  Hari itu juga setelah Kesih menyampaikan niat lamaran Wisnu, mereka sudah berada di depan rumah.  Secepat kilat. 

Ada tanya dalam hati Ratih.  Benarkah Wisnu tipe dambaannya?  Rasanya tidak.  Tidak ada kemesraan yang membuatnya  berbunga-bunga. 

Setahun, dua tahun, lima tahun bahkan hingga lima belas tahun, datar.  Meskipun begitu, lahir juga anak-anak mereka.   Juwita, Reza, Mufti, Farrah dan Zuma.  Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang lucu dan menyenangkan.

Semua kebahagiaan ini tak pernah lepas dari kehadiran Kesih.  Dia telah terlibat jauh dalam kehidupan pribadi mereka bahkan sejak sebelum pernikahan Ratih dengan Wisnu.

“Ma, kamu lebih cocok jadi istri kantorku daripada istri di rumah.  Semua urusan rumah tangga kita banyak melibatkan Kesih.”  Seakan sambaran petir kalimat itu menyerang Ratih.  Kesadaran akan keadaan ini menyeruak di relung kalbuku.  Ratih tidak bisa mengelak dan pasrah dengan penilaian Wisnu.

“Bukankah Papa yang meminta dia mengurus semuanya?  Dia sekretaris pribadi Papa.  Sementara aku sekretaris administrasi di kantor ini.”

Sekelebat senyum suaminya terbayang begitu mesra pada Kesih.  Bukan sekali dua kali.  Ratih tak pernah mendapatkan senyuman itu.  Senyuman itu berbeda.  Lebih dari senyum yang ia dapat saat tugas kantor terselesaikan rapih sesuai pesanan Wisnu.

“Ratih, ulang tahun Juwita yang ketiga belas sudah aku urus.  Keperluan syukuran jangan sampai mengganggu tugas kantor yang banyak menyita waktu kamu.”   Tawaran Kesih tak pernah  mampu Ratih tolak, demi kelancaran urusan rumah dan kantor.  Kesih seperti wanita lain dalam kehidupan rumah tangga mereka.  Bahkan anak-anak pun begitu dekat dengan Kesih.  Ratih dilanda cemburu tapi ia tak bisa mengelak dari keterlibatan Kesih. 

Bertubi-tubi tawaran jasa baiknya ternyiang di telinga Ratih, tentang syukuran tujuh bulan anak-anaknya, ulang tahun mereka, persiapan wisata bersama teman sekantor dan banyak hal lainnya.

Tiba-tiba dada Ratih sesak.  Selama ini Ratih hanya menganggapnya sebagai sahabat terbaik.  Tidak lebih.  Tapi setelah Wisnu mengungkit keterlibatan Kesih, ada rasa yang lain dalam hatinya.

“Ma, kamu tidak memperhatikan nasib sahabat baikmu itu?” tanya Wisnu di sela kesibukannya mengerjakan tugas kantor.

“Maksud Papa?” Ratih balik bertanya.

“Pernahkan kamu menanyakan kapan dia mau menikah?”

Ratih memalingkan pandangannya dari layar pendar.  Tersadar bahwa ia terlalu egois.  Semua rutinitas membuatnya seperti robot.  Hidup dari satu file ke file lain.  Dari dokumen ke dokumen.  Usia Kesih sudah memasuki kepala empat, dua tahun di atasnya.  Namun belum pernah ia ikut membantu mencarikan atau sekedar memikirkan jodoh buat Kesih.

“Papa sebagai atasnya seharusnya bisa mencarikan jodoh buat Kesih.”  Ratih ngeles untuk kemudian kembali memainkan tuts keyboard laptopnya.

“Aku berniat melamarnya.  Dan itu butuh persetujuan kamu, Ma.  Aku bisa terjerumus dalam dosa kalau kamu tidak menerima dia dalam keluarga kita.”

Ratih hanya diam.  Tanpa memberi jawaban.  Sebuah tiket kereta api online ia pesan.   “Aku harus pergi,” bisikan batinnya berhembus terlampau kuat.  “Biarlah Mas Wisnu memilih Kesih.  Aku bisa hidup di apartemen dengan tabungan kerjaku selama ini.  Aku akan mencari peluang kerja di perusahaan lain.”

Gawai Ratih berdenting.  “Ma, pulanglah.  Perusahaan butuh kehadiran kamu.  Aku tidak bisa mencari pengganti seterampil kamu.   Tanpa kamu perusahaan terancam mundur.”  Wisnu masih terus menghubungi Ratih. 

Dia tidak menceritakan keadaan anak-anak.  Anak-anak  tidak menghubungi Ratih, sebagaimana kerinduan anak pada ibunya.  Ratih sendiri tidak merasa kehilangan anak-anaknya.  Yang Ratih rasakan hanya nyeri, merasa tidak dicintai oleh suami dan  anak-anak.  Dia merasa terasing.

Tidak ada keinginan lain.  Ratih  tak ingin bertemu mereka kembali.  Digantinya nomor gawai.   Ratih menghapus semua nomor yang mengingatkannya pada kehidupan kantor dan rumah tangganya.   Ratih ingin menjadi manusia baru.

***

“Kamu salah, Ratih!  Lunga seka omah iku pada karo mlayu seka medan perang!  Lagi pula berpoligami itu sah dalam ajaran agama kita.  Kamu terlalu egois.  Lihat kesedihan ibu.  Kemunduran perusahaan suami kamu.  Semua berdampak pada perekonomian untuk membesarkan anak-anak kamu!”   Zizah, kakak kedua Ratih menceramahinya dengan banyak dalil agama yang tak mampu ia cerna.

Aku ngerti Kesih iku sapa!  Dia yang membantu kamu dalam banyak hal.  Bahkan dia telah berjasa menjodohkan kamu dengan seseorang yang kamu cintai.  Lalu saat Kesih tak juga mendapatkan pasangan, kamu tidak berempati sedikitpun.  Mana perasaan hati kamu?”  Mbak Yu Ginah menyambung tak kalah pedas.

“Memiliki madu itu bukan suatu kehinaan, Ratih.  Kalau kamu bisa menyelamatkan rumah tangga, kenapa tidak.  Emak yakin Kesih wanita yang baik,” imbuh Zizah.

“Kalau memang kalian menerima poligami, coba berikan contoh dulu.  Aku mau bukti rumah tangga kalian bakal lebih baik atau sebaliknya.”  Ratih mulai melawan cecaran kakak-kakaknya.

Suasana sudah makin panas.  Perdebatan terjadi hampir tiap mereka bertemu dalam satu ruangan.  Ratih ingin meninggalkan rumah keluarga besarnya yang sudah menjadi neraka buatnya. 

“Mbak, Ningrum punya banyak kawan yang bisa menenangkan Mbak Ratih.”  Bagi Ratih hanya Ningrum menawarkan kesejukan.  Dia, adik bungsu yang tak pernah menyerangnya.

Kini Ratih bersama mereka.  Orang-orang bebas di antara gemerlap lampu warna-warni.  Musik keras membahana.  Tarian di atas panggung membuatnya lupa dari mana ia berasal.   Seteguk air dosa mengajaknya menari di atas awan.   Berlari dari kebisingan jiwa.  Suara itu begitu kuat memanggilnya menikmati surga dunia. 

 

Glosarium:

1.       Gusti Allah wis maringi rahmat sing akeh.Wis pira cacahe anakmu kabeh?=Tuhan sudah memberi rahmat yang banyak.  Sudah berapa semua anakmu?

2.       Kowe kudu bisa momong atine wong tuwa=Kamu harus memelihara perasaan hati orang tua

3.       Lunga seka omah iku pada karo mlayu seka medan perang! =Pergi dari rumah itu sama saja dengan lari dari medan peperangan

4.       Aku ngerti Kesih iku sapa!=Aku tahu Kesih itu siapa!

 


 

Event Jejak Ke-15_Puisi Memiliki dan Kehilangan

REMANG BAYANGMU

 

Rangu bejana hati

Terhampiri berkali-kali

Aku hanya merasa memiliki

Bermain sendiri, datang dan pergi

 

Sang waktu tertuju

Memaksa memburu

Tak sekedar berlalu

Bertahta bak ratu

Bisikan surga memacu

Aku menata ayu

 

Saat rasa dipuja

Oleh balas sapa penuh makna

Desiran kala jumpa, pahat senyum lena

Kalbu mengukir rasa

Bebas membahana

Lupa segala

Liar jiwa bayang angkara

Gumul noda dosa

 

Kisah belum sempurna, Sayang…..

Meniti jalan panjang

Makna cinta sejati membentang

Bestari lisan memberi timbang terlarang

Cahaya benderang, nanar, kau pun hilang

Silu nafsu menembus remang

Cinta putih meretas gamang

Abadi tanpa memiliki

Memulas senyum kasih hakiki

Tasikmalaya,  25 Dzulhijjah 1440 H


 

Event Jejak Ke-16_Kisah Inspiratis Harmonisasi Hubungan Antarummat Beragama

KARENA AKU SAYANG KAMU

 

Sebuah tindakan konyol untuk menolak pluralitas, bagaikan air yang tak ingin mengalir ke tempat yang lebih rendah.  Karena perbedaan adalah sunatullah yang akan terus ada di muka bumi ini.  Aku ingat sekali nasihat ustadz favoritku. ”Jika  Allah menghendaki semua manusia beriman sangat mudah bagi-Nya.  Tapi tidak demikian kenyataannya.  Dia menciptakan berbagai perbedaan untuk menjadi ujian bagi manusia, siapa yang paling baik dan bijak dalam bersikap,” kata Ustaz Faqih memberi kami kalimat-kalimat yang menyejukkan pada suatu kuliah Subuh

Nasihat ustaz sangat bermanfaat menjadi bekal buatku dalam merajut persahabatan dengan teman-teman yang berbeda keyakinan.  Di sekolahku yang merupakan sekolah unggulan di pusat kota kabupaten, pemeluk agama Islam memang mayoritas namun ada beberapa yang beragama Kristen, Katholik, Budha bahkan satu orang beragama Hindu, pindahan dari kota Denpasar Bali.

                Aku punya teman baik bernama Yusliana, seorang keturunan Tionghoa.Dia seorang gadis yang cantik dan kuat memegang keyakinan agamanya.Kami saling memberi dan menerima juga saling terbuka menerima prinsip masing-masing.

Sebagai teman sekelas, kami sering berada dalam kelompok yang sama dalam mengerjakan tugas dari guru-guru kami. Suatu saat kami harusmengerjakan tugas kelompok di rumah Yusliana.Awalnya aku ngeri membayangkan keadaan rumahnya.Anjing penjaga, gambar-gambar Yesus dan Bunda Maria juga kayu salib berkelebat silih berganti dalam benakku.  Belum lagi sikap orang tuanya yang mungkin akan berbeda karena aku berhijab.

Sesampai di rumahnya, semua yang kubayangkan rontok dengan sendirinya.Keluarganya  tidak memelihara anjing rumahan, hanya seekor anjing dalam kurungan terpisah dari rumahnya.

“Yus, kamu nggak memelihara anjing rumahan?”tanyaku bernada keheranan.

“Tidak, Dijah.  Sebagian kerabat kami muslim.  Kami nggak ingin mengganggu kenyamanan mereka saat berkunjung kemari.Kata mereka air liurnya najis dan merepotkan mereka saat hendak sembahyang,” jelas Yusliana.

Alhamdulillah satu kekhawatiranku menguap begitu saja.  Tentu sama seperti kerabat muslim Yusliana, aku pun takut terkena najis dari air liur anjing.

Sebelum kami berempat, aku, Yusliana, Indri dan Leni,  memulai kerja kelompok, Yusliana membawakan segelas es teh manis buat kami.  Semua tersenyum lebar karena haus sudah mendesak-desak kerongkongan kami.

Ya, kami berjalan kaki dari sekolah ke rumah Yusliana.Guyuran sinar matahari lepas jam satu siang meronakan kulit dan mengucurkan keringat kami.  Keringnya kerongkongan membuat Indri dan Leni segera menyentuh gelas berembun di depan mereka.  Tapi aku ragu dan memberanikan diri buat bertanya.

“Sebaiknya jangan kalian minum dulu!Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan ke Yusliana,” kata-kataku tercekat.“Jangan marah, ya, Yus!Kita sebagai sahabat sudah sepakat buat menghargai keyakinan kita masing-masing.Setuju?”

“Jangan khawatir, Dijah.Aku paham sepenuhnya kalau itu memang hal prinsip yang kalian pegang, aku siap memahami dan membantu kalian buat taat.”Yusliana tetap tersenyum.Senyum yang membuatku makin sayang pada ketulusan dan kelapangan hatinya.

Aku menjelaskan tentang kedudukan babi dalam Islam.  Bahwa babi dan segala bagiannya adalah najis besar yang harus disucikan dengan cara khusus.  Bila penyuciannya tidak benar maka barang itu najis, berikut air minum yang dituangkan di dalamnya.

Yusliana segera mengangguk penuh pengertian.Ia langsung menggantistrategi menyudahi haus kami dengan memesan es jus di depan rumahnya.

Untuk berbagai hal ia kadang tergelitik dengan aturan dalam Islam yang dipandang rumit.

“Dijah, aku pikir kalian repot banget ya, menjalankan aturan agama kalian yang super ketat.  Sholat harus lima kali.  Babi dan anjing najis dan harus dibersihkan dengan debu dan air tujuh kali.  Aku sih nggak kebayang bisasetaat kalian dalam ibadah,” katanya suatu saat di depan kelas di jam istirahat.

“Yus, kami bisa menjalaninya karena ada rasa cinta pada Tuhan dan bukti kesyukuran atas nikmat hidup yang kita sama sekali nggak bersusah payah menyediakan semua kebutuhan dan semua tinggal pakai gratis.Udara, matahari, air, bumi yang subur, laut yang indah.Pokoknya semuanya.Jadi selagi kita masih mampu untuk taat kenapa tidak?”

Kami sering terlibat dalam diskusi serius, hangat dan menyenangkan.

***

Hari ini ulang tahunku yang ke-16.Dalam keluargaku tidak pernah ada tradisi merayakan ulang tahun.Paling kami saling doa dan mengingatkan bahwa jatah hidup pada hari itu telah berkurang setahun.

“Dijah, aku bawa ini buat kamu.”Suara riang Yusliana mengagetkanku saat bel istirahat pertama berbunyi.Aku sedang mengayun langkahku menuju masjid sekolah buat sholat Dhuha.

“Apa ini?Nggak ada angin nggak ada hujan kamu bawain hadiah?” tanyaku penasaran.

“Buat kawan sesalehah kamu, hadiah ini nggak seberapa.Terimalah!”

“Makasih banyak, semoga balasan buat kamu lebih-lebih-lebih dari apa yang kau berikan ini,” balasku sambil mendoakan dalam hati agar suatu saat Yusliana mendapat hidayah Islam.Balasan yang dalam keyakinanku lebih baik dari dunia dan seisinya.

Di mushala aku buka hadiah itu setelah munajat Dhuhaku.

Sebentuk amplop yang berisi surat dan sebatang coklat kesukaanku.

 

Untuk sahabat salehahku, Dijah

Selamat ulang tahun, moga panjang umur, makin pinter dan bahagia.

Aku hanya ingin memberikan kalimat indah dan tiada kalimat yang lebih indah melebihi kitab suci.”Mazmur, untuk korban syukur.  Bersorak-soraklah bagi Tuhan, hai seluruh bumi!  Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapannya dengan sorak soraiMasuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.(Mazmur 102:1-5)

Semoga dengan bertambahnya usia Dijah, makin disayang Tuhan.

Salam hangat sahabatku

I love you.

 

Aku lipat secarik surat itu.  Campur aduk perasaanku saat itu.  Hatiku bertanya-tanya, apa maksud Yusliana mengirimkan ayat-ayat agamanya?  Aku sedikit meragukan ketulusan persahabatannya.Aku curiga dia ingin mengajakku memasuki agamanya.Surat itu aku simpan lebih dari seminggu dan tidak aku balas.

Di sekolah pun aku menghindari perbincangan dengannya.Aku lebih memilih menyendiri di perpustakaan.Sampai nasihat Ustaz Faqihmenjawab pertanyaanku di suatu kuliah Subuh meluluhkan semua kecurigaan ini.

Akhirnya, yang kupikirkan adalah segera membalas kebaikannya tanpa harus menunggu even penting Yusliana.  Aku pikir akan terlalu lama menunggu dia ulang tahun.

Sepulang sekolah aku mampir sebentar ke sebuah toko buku.Aku ingin memberinya hadiah buku diary.Ada diary bagus bertengger di salah satu rak penjualan.Seminggu yang lalu dia bilang diarynya akan over dalam sepuluh  hari ini.  Artinya sekarang tinggal tiga halaman lagi.Yusliana memang paling hobi nulis diary, jadi aku rasa hadiah ini paling pas saat ini.Semoga Yusliana belum membeli diary yang baru.

Aku mulai merangkai kata yang paling pas buat membalas suratnya.

 

Buat Yusliana yang berhati pualam,

Maafkan aku, Yus.Mungkin kau merasa aku menghindari kamu dalam seminggu ini.Terus terang aku sempat meragukan tulusnya persahabatan kita.Aku merasa curiga dengan kutipan ayat yang kau tulis itu.

Tapi aku sudah mendapatkan jawabannya dari nasihat guruku, Ustaz Faqih,  bahwa bertukar pengetahuan agama boleh saja asal tidak memaksakan keyakinan kita masing-masing.  Sekali lagi maaf aku sudah berburuk sangka.

Terimakasih banyak, coklatnya manis banget.  Semanis budi baik kamu.Seumur-umur baru kali ini aku dapat hadiah ulang tahun.Hanya kamu yang paling perhatian untuk bertambahnya umurku.

Meminjam kalimat indah yang kau tulis, bahwa takada kalimat yang lebih indah dari kitab suci, perkenankan aku mengutip firman-Nya: ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (QS. Ar Rum:30-31)

Yus, kalau boleh aku berkata jujur, saling memperkenalkan kebenaran yang kita yakini adalah bagian terindah dari persahabatan kita.  Aku yakin kau menyampaikan apa yang yakini karena kau menginkan kebagiaan buat aku di dunia dan di syurga kelak.  Begitu juga dengan aku, aku ingin dan selalu berdoa petunjuk Tuhan untukmu.

           Semoga diarynya bermanfaat.

           Salam sayang persahabatan dalam kemanusiaan.

 

           Persabahabat indah ini berlangsung tiga tahun lamanya.  Setelah kelulusan dari SMA kami berpisah.  Aku ke Bogor, Yusliana ke Semarang dan kami kehilangan kontak sampai saat ini.

Sebagai hadiah perpisahan, kami bertukar kitab suci kami masing-masing.  Yuslianamemberikan Bibel.  Aku buka halaman pertamanya bertuliskan doa ‘Semoga bahagia untuk sahabat salehahku’.  Aku membayangkan di seberang sana Yusliana sedang membuka Alquran terjemah yang aku berikan.  Sambil tersenyum Yusliana membuka lembar pertama yang aku bubuhi tanda tangan dan bertuliskan ‘Semoga petunjuk dan bimbingan Tuhan untuk sahabat tulusku’.

           Aku terkenang kembali pesan Ustaz Faqih yang tercatat rapi dalam buku kajian rohani di sekolah sampai saat ini:

“Bertukar ilmu pengetahuan tentang keyakinan masing-masing itu tidak mengapa, asalkan kita tidak memaksakan keimanan pada orang lain.  Apalagi dengan tekanan dan iming-iming duniawi.  Pluralitas ini harus dirawat tanpa harus mengakibatkan pluralisme.  Biarkan masing-masing pemeluk agama meyakini bahwa agama dan keyakinannya saja yang benar.  Asalkan jangan meyakini semua ajaran agama sama dan benar semua.  Memaksakan sesuatu yang berbeda adalah sama justru berbahaya karena menyalahi akal dan logika.  Hal ini berpotensi menyalahkan semua agama dan memunculkan atheisme.  Biarkan perbedaan ini tetap ada dalam harmonisasi dan kerukunan.”

 

 

 

 


 

Event Jejak Ke-17_Cerpen Di Penghujung Waktu

ENGKAU MENJELANG TIBA

 

Napasku terengah, sesak.  Pandangan mataku nanar, seakan terhalang kabut pagi yang pekat.  Kucoba mengingat apa yang telah terjadi, tetapi gagal.  Aku tak bisa menghubungkan antara kehidupanku yang serba indah di masa lalu dengan keadaanku sekarang.  Sangat kontras, nyaris tanpa rantai penghubung.  Aku berada dalam kondisi missing link.  Entah sampai kapan aku akan merasa terasing.  Tuhan, berikan aku cahayaMu.

Aku usap mukaku, kuseka mata, berharap ada secercah sinar yang memberiku informasi tentang dunia luar.  Ah, percuma, mataku makin rabun.  Sepertinya jemari yang aku pakai menyeka mataku menambah buruk pandanganku.

 “Aries, kamukah itu?”  Sebentuk suara yang aku kenal menyejukkan pendengaranku.  Setidaknya aku tidak sendirian.  Rasa berbunga melambung dari dasar hatiku, apalagi aku tahu itu suara gadis yang selama ini menyita ingatanku, Atikah.

 “Kamu Atikah?  Maaf aku tidak bisa mengenalimu kecuali dari pendengaranku.  Mataku rabun parah.”  Aku terpaksa mengungkapkan keadaanku yang sebenarnya.  Mungkin ini pertama kali aku mengeluh pada perempuan.  Sesuatu yang sangat aku benci, tapi…  Apa boleh buat.  “Aduh, kepalaku sakit!” jeritku saat selembar kain jatuh di atas kepalaku. 

                Aku baru teringat.  Sebelum kesadaranku hilang ada beberapa sepihan sebesar batu kerikil melesat dan menimpa kepalaku, sangat keras sesaat setelah dentuman maha hebat itu terdengar.  Kemudian semua menjadi gulita.

                “Sebentar Aries, aku ambilkan air untuk memperbaiki pengelihatan kamu.”

                Aku belum bisa membuka mataku lebar-lebar.  Pedih rasanya.  Suara gemersik langkah Atikah di atas pasir memberitahuku bahwa ia pergi kemudian datang kembali tidak sendirian.  Aku bisa menduga ada tiga orang yang menghampiriku.

                “Ini kain bersih, air secukupnya dan larutan gula.  Semoga bisa menjernihkan matamu.”

“Terimakasih Atikah, kamu baik sekali.”  Aku tak bisa menyembunyikan getaran halus yang memacu jantungku.

                Kucelupkan mataku pada larutan air gula yang disodorkan Atikah.  Kupejam dan aku buka mataku perlahan pada larutan itu.  Ada rasa pedih yang menggigit lalu perlahan hilang.

                “Coba sekarang basuh pakai air bening ini.  Semoga semua akan lebih baik.”  Suara yang berbeda dan tak kukenal memberikan saran.  Aku terima saja apa yang mereka mau.  Aku seperti anak kecil yang banyak kehilangan kemampuan.

                Alhamdulillah, aku sudah bisa membuka mataku sempurna, meskipun ada rasa mengganjal di pelupuk mata.  Setidaknya aku sudah bisa melihat wajah sendu Atikah, yang tak berani aku tatap berlama-lama.  Aku segera mengalihkan pandangan ke langit.

                Warna jingga kekuningan menimbulkan rasa tidak nyaman pada siapa saja yang menatapnya.

                “Jam berapa ini?  Aku belum sembahyang…”  Tuturku tercekat karena aku tidak tahu berapa waktu salat yang sudah aku tinggalkan.

                “Hmmm, tidak ada yang tahu waktu dengan tepat, Aries, semua produk teknologi telah berhenti beroperasi.  Bersamaan dengan gumpalan asap yang memenuhi atmosfer bumi kita.”

                “Jadi asteroid itu sudah membobol pertahanan Sabuk Van Allen yang melindungi bumi kita?”  Dugaan sekaligus kekhawatiran besar kami akhirnya terjadi juga.  Kajian bersama Ustaz Zulkifli Ali yang banyak dicibir orang yang tidak memahami ilmu tentang akhir zaman, akhirnya benar-benar menghampiri penghuni bumi.  “Mana android paling tipis yang baru aku beli dari Amerika?” tanyaku bernafsu.  Aku membelinya dengan mengeluarkan separuh dari tabunganku.  Benar-benar gila, semua menjadi onggokan sampah tanpa makna.

                Aku menimang-nimang android yang aku keluarkan dari saku celanaku.  Percuma, tidak berguna.  Aku banting benda mahal itu di atas debu tebal yang mengendap di dataran tempat kami berkemah.  Benar-benar Dukhan telah merenggut paksa peradaban manusia.

 Dari beberapa tenda terdengar suara peserta kemah terbatuk-batuk.  Bahkan ada yang mukanya melepuh seperti terkena luka bakar.  Beginikah jejak yang dilukis asteroid untuk penghuni bumi?

                Aku bersyukur penderitaanku tidak seberat Thomas, Lukas, Anton dan Martalena.  Sekarang bagian kami yang harus turut membantu mengurangi penderitaan mereka.  Atikah, aku, Maryam dan Lukman berusaha mengobati luka-luka mereka dengan apa saja yang bisa kami gunakan.  Sementara itu persediaan P3K sudah menipis, kami mencoba mencari dedaunan hutan untuk membalur luka mereka.  Tapi malangnya, pepohonan di hutan itu pun terkena dampak Dukhan, apalagi tumbuhan yang kecil, pepohonan besar pun melayu.

                “Atikah, tolong beritahu aku, berapa waktu salat yang harus aku ganti selama aku terlena.”  Aku masih mendesak Atikah untuk menghitungkan salat yang dikerjakannya setelah Dukhan mengamuk.

                Atikah berpikir sejenak mengingat hari yang kehilangan pemandu waktu, jam dan matahari sekaligus.  Dia hanya mencoba menghitung dari jam biologis kapan tertidur dan bangun kembali.  Gadis yang tidak pernah kehilangan waktu tahajud itu dengan mudah tahu waktu dari rutinitasnya.

 “Lima kali Zuhur, Asar dan Magrib, empat kali Isya dan Subuh,” jawabnya tanpa ragu.

                “Jadi aku pingsan menjelang Zuhur dan sadar setelah maghrib Maghrib?  Pantaslah aku teramat kelaparan waktu itu.  Terima kasih untuk telor dadar dan segelas susu yang membantu memulihkanku dari lunglai yang panjang, Tikah!”

                “Kita harus segera pulang meninggalkan perkemahan ini.  Aku rindu ayah ibu dan adik-adikku di rumah.  Apa kabar mereka yang ada di kota.  Aku khawatir kalau asteroid itu jatuh di laut.  Tentulah mereka yang tinggal di pesisir pantai sudah habis.”  Atikah menunduk sedih.  Hatinya yang lembut lagi-lagi membuatku mengaguminya.

                “Kita kehilangan fungsi kompas digital.  Semoga navigasi bisa terbantu dengan kompas manual.”

                “Tidak bisa, Aries, Arah kutub sudah bergeser beberapa derajat.  Jalan satu-satunya menggunakan penanda cakra yang kita goreskan selama perjalanan."  Maryam mulai cemas dengan semua keterbatasan yang menjerat mereka.  Semua kemudahan yang memanjakan itu terenggut paksa oleh keadaan.  Raut muka imutnya makin membuat kesan melankolis dipertegas oleh genangan telaga di pelupuk matanya.

"Kita harus saling menguatkan.  Apapun yang terjadi semua dalam genggaman kuasaNya.  No problem with our limitation, toh semua merasakan hal yang sama dengan kita.  So jalani dan nikmati apa yang akan Allah tentukan buat kita.  Bukankah semua yang belum terjadi adalah rahasia.  Anggap rahasia itu seperti bentangan layar sinetron yang ditunggu-tunggu para penontonnya, sama aja, kan?"  Retorika Lukman kadang penting juga pada kondisi serba susah ini. 

"Dengerin, tuh, Maryam, bukannya kamu paling hobi ngepiat drakor. Nah, drama kehidupan ini maha karya dari yang serba Maha."  Atikah menambahkan wejangannya.  Maryam tersenyum simpul seakan membenarkan nasihat sahabatnya, padahal selama ini dia paling ribut kalau kehilangan satu episode saja drama kesayangannya.

Kami terus menyusuri sungai yang kami lewati saat berangkat kemah.  Semuanya sudah berubah, air sungai keruh oleh debu kosmik yang memasuki bumi. 

Hari ini matahari sudah mulai tampak normal, seperti mendung biasa.  Warna jingga sudah makin pudar.  Suasananya lebih mirip musim hujan berawan pekat.  Aku mencoba menghitung perjalanan hari sejak asteroid besar menabrak bumi dan aku hilang kesadaran oleh benturan kerikil.  Instingku mengatakan, ini sudah hari ke tiga puluh lima.  Berdasarkan ilmu akhir zaman, lima hari ke depan matahari akan bersinar seperti biasa dengan kemungkinan cuaca lebih kering, kadar air dan kelembaban udara akan berkurang.

"Aries, kenapa kita nggak menemukan tanda silang merah di pepohonan itu, ya?  Jangan-jangan..."  Atikah tidak melanjutkan kata-katanya.  Aku bisa menangkap kecemasan yang dalam.

                "Tetaplah berdoa, Atikah. Allah tidak akan pernah meninggalkan kita." Aku mencoba menenangkannya sambil memegangi bagian tengkuk yang masih nyeri.

"Kamu belum pulih, Aries?" tanya Tikah.

Aku enggan menjawabnya, lebih baik aku pura baik-baik saja, padahal masih bisa sadar pun aku bersyukur sekali.

Perbekalan kami sudah sepuluh hari habis.  Beruntung sungai besar ini menyediakan rezekiNya untuk kami.  Kecemasan hilangnya jejak tanda silang merah membuat kami berhenti dulu.

Saat kami rehat, serombongan orang asing berkuda menyusul perjalanan kami.  Perasaan hatiku layaknya berada di abad limabelasan, serba aneh.  Mereka berwajah Arab atau lebih tepat Pakistan atau Afghanistan bila melihat wajah dan pakaian stelan jubahnya.  Perawakan tinggi, kurus berserban, menaiki kuda lengkap dengan busur dan anak panah di punggungnya..

Semua kami tersenyum kecuali Maryam.  Dia masih juga cemas, “Orang asing itu mau apa kemari?”

“Tenang Maryam, mereka orang baik.  Aku yakin mereka diutus untuk menyampaikan kabar buat kita,” ungkapku seakan menemukan titik terang tentang hadirnya pemimpin umat yang ditunggu kedatanhannya, Muhammad bin Abdullah.

Tanpa ragu aku hampiri mereka. Entah bahasa apa yang mereka gunakan.  Sedikit bekalan bahasa Arab dari pondok barangkali besar manfaatnya.

“Assalamualaikum, afwan ya akhunaa.  Kami kehilangan jejak untuk keluar wilayah ini.  Apakah antum bisa menunjuki kami jalan?”  Aku menyalami keenam penuntun kuda itu.  Alhamdulillah mereka cukup ramah.  Sementara Lukman menyusul di belakangku.

“Waalaikum salam, kami sedang menuju kota dengan menyusuri sungai ini saat pertemuan akak sungai dengan induknya, kota tak akan jauh dari sana.”  Aku membenarkan pendapat pimpinan rombongan itu.

“Kalau boleh tahu apa tujuan antum ke negeri ini?”  Lukman bertanya dengan bahasa Arabnya yang fasih

“Kami mendapat tugas menyampaikan berita pada umat atas telah datangnya zuriat Rasulullah SAW.  Seorang pemimpin yang adil dan mendapat gelaran Imamul Mahdi.”

“Benarkah?  Lalu apa yang menjadi bukti bahwa pemuda itu Imam Mahdi?”  Aku makin penasaran.

“Pasukan dari dua penjuru yang mengejarnya telah ditelan bumi, tersisa satu orang dan orang itu adalah aku.”

“Antum saksi kunci berita ketibaan dan kebenaran Almahdi, antum tidak merasa terancam jiwa dari musuh-musuh Almahdi?  Orang yang hasad dan menyimpan kemunafikan?”  Aku mencecar dengan pertanyaan, terdorong rasa heran bahkan takjub dengan apa yang aku alami.

Selama ini aku belajar ilmu akhir zaman dari hadis dan tutur para ulama yang ahli.  Aku menyediakan layar-layar lebar selembar demi selembar dalam ruang imajinasi.  Semua itu aku alami dalam kenyataan di depan mata dengan izin Allah.

Banyak hal yang ingin aku ketahui dari mereka.  Kami meminta izin untuk bergabung dengan rombongan mereka. Syukur Alhamdulillah, mereka tidak keberatan.  Terbayang olehku betapa pengalaman, ilmu dan petualangan baru akan kami nikmati bersama mereka. 


 

Event Jejak Ke-18_Never Give Up

JALAN TANPA UJUNG

 

Sayup sampai

Suara munsyid kesayangan

Membuai dalam lamunan

 

Kakiku masih tegak berdiri

Penuh noda, luka, nanah, darah

Lalu peluru tajam memaksaku tiarap

Bersama bungkam auman singa-singa perkasa

 

Sayup sampai

Senandung mengharu biru

Melipur lara lelah jiwa

 

Sekeping hati yang berlari

Pada jalan penuh onak duri

Jalanan sepi tak diminati

Para penikmat  hina dunia

 

Aku sendiri

Terpisah dari kafilah pemberani

Tak akan ‘ku berhenti

Meski ujung tak bertepi

Pangkal pun tak nampak lagi

Tak mungkin ‘ku kembali

Biar kunikmati

Perih luka tertatih papa

Hingga ajal mengakhiri kisah duka

Atau hiburanNya membasuh nestapa

(Temanggung, 2 April 2016)

 

 


 

Event Jejak Ke-19_Puisi Perdamaian Dunia

DAMAILAH DALAM DAMAI

 

Jika kau bertanya

Dimana kedamaian?

Kala cakar-cakar menampar

Lisan yang terbasahi kebenaran

Hingga pedang ulama terlempar di sudut penjara

Manusia dalam Damai diperangi

Mencerabut hak hidup azasi

 

Manusia penggila tahta, harta, wanita

Merampas napas dunia

Buta pada makna kata sederhana

Sesungguhnya hidup cukup pada suapan yang menguatkan

Papan pelindung dari terik dan hujan

Sandang yang menutup mata memandang

Waktu pengabdian dalam rasa aman

 

Damai tersungkur di antara puing-puing zaman

Meronta besama luluh lantak dunia

Manusia dan kemanusiaan hilang asa

 

Andai saja insan menyapa hati dan jiwanya

Kelindan asa ada di sana

Damai fitrah yang tak berubah

Damai ini jalan Tuhan

Damai ini Jalan Selamat

Damai ini Jalan Maslahat

Damailah dalam Berserah

Damailah dalam Damai

 

(Tasikmalaya,  5 Juni 2015)

 

 


 

 Event Jejak Ke-20_Cerpen Twin Series

SIAPA KAMU?

 


 

Event Jejak Ke-21_Tanda Tanya

KAUKAH IBUKU?

 

            Liburan semester yang dirindukan akhirnya datang juga.  Pesantren Maryam memberi tugas baksos pada tingkat lima untuk mengadakan baksos atau pengabdian masyarakat.  Hal ini sudah menjadi kegiatan rutin santri tingkat lima saat liburan. Kata Pak Kyai, mereka harus mempraktikan apa yang mereka dapat di pesantren.  Menjadi rahmat bagi semesta.

            Kelompok Maryam ada lima orang.  Nena, Puput, Rahma, Ghina dan Maryam.  Lima gadis dengan lima karakter unik.  Nena yang cekatan.  Puput yang manja dan anak ummi banget.  Rahma yang selalu merasa cantik.  Ghina yang anggun penampilannya tapi tegas perkataannya.  Maryam yang pendiam, paling muda namun cerdas.  Kelas akselerasi menjadi langganannya sejak SD. 

            “Kita mau baksos dimana tahun ini?  Kampung aku sudah.  Kompleks perumahan Puput dan Rahma sudah.  Tinggal Ghina dan Maryam nih yang belum kegilir.”  Nena membuka diskusi siang ini di mushola pesantren.

            “Aku usul bagaimana kalau rumah pamanku.  Di sana ada TPA punya pamanku.”  Ghina menawarkan tempat yang cukup menarik buat mereka baksos sambil mengajar anak TPA.

            “Lingkungannya gimana, Ghina?  Maksudku banyak orang yang masih tergolong menengah ke bawah nggak?”  tanya Maryam.  ”Tempat baksos kita nggak boleh jauh dari orang-orang dhuafa.  Nanti sasarannya kurang mengena.  Lagi pula barang-barang yang kita bawa banyakan mie instan dan pakaian layak pakai.”

            “Sepertinya sih, kebanyakan menengah ke atas.  Pamanku tinggal di kompleks perumahan pusat kota.“

            “Kalau kamu, Maryam.  Ada nggak tempat kerabat kamu yang cocok buat baksos kita?”  Ghina menatap Maryam penuh harap.  Kiranya Maryam bisa memberi solusi.

            Maryam terdiam sesaat sambil mengingat-ingat satu persatu kerabatnya yang ada TPA atau diniyah, PAUD atau apa saja tempat anak-anak kecil belajar.  Namun juga mudah mendapati orang dhuafa.

            “Di tempat nenek aku mungkin bisa.  Nenekku punya tempat ngaji bakda Maghrib.  Anak ngajinya juga cukup banyak.  Lebih dari tiga puluh orang waktu aku terakhir mengunjungi beliau.  Tapi sayangnya tempatnya agak pelosok gitu.  Nggak ada jalur angkota atau angkodes yang lewat.  Kendaraan yang bisa masuk cuman ojeg sama delman.”  Maryam menjelaskan panjang lebar.

            “Nggak masalah aku kira.  Yang penting akses jalannya bagus.  Walaupun mungkin belum jalan aspal tapi rata nggak rusak seperti sungai kering bebatuan, kan?”  Rahma mengundang gelak mereka berlima.

            “Jalannya aku jamin bagus.  Walaupun nggak diaspal tapi batu-batu tua dan keras tertata rapi.  Artistik malah.”

            Mereka berlima merasa mendapat solusi dari kebuntuan tentang tempat baksos mereka.  Binar-binar bahagia memancar dari wajah lima gadis ayu, berbalut gamis dan jilbab lebar rapih.

            Pemberangkatan seluruh santri akan dilakukan bakda Dzuhur, selepas mereka makan siang.  Semua disibukkan dengan bebenah barang perbekalan.  Dari lima anggota kelompok yang mereka namai MULIA (Mujahidah Lil ‘Alamin) itu, Maryamlah yang paling sibuk.  Karena dia harus memberi kabar pada Bibi Nisrina tentang rencana baksos kali ini.

            Diambilnya Android dari bagian keamanan untuk mengirim pesan WA pada Bibi Rina.  Asyik bermain dengan tuts Android di pojok ruang asramanya, senyuman merekah mulai menghiasi bibir mungilnya.  Pertanda baik kegiatannya direspon positif oleh keluarga  nenek di Kampung Banyuasih.

***

            Empat jam perjalanan dari pesantren dengan menaiki minibus.  Perjalanan yang cukup melelahkan bergumul dalam satu kendaraan dengan berbagai aroma penumpang dan barang bawaan mereka.  Belum lagi asap rokok menusuk hidung.  Makin menyesakkan keadaan yang sudah sarat penumpang.  Yang sedikit menolong mereka adalah membuka lebar-lebar jendela minibus.

Akhirnya mereka samapi pada pertigaan menuju kampung Nenek Maryam.  Benar juga kata Maryam, pemandangan yang begitu indah.  Sejauh mata memandang selalu bertemu dengan bukit dan gunung.  Jalanan hanya selebar empat meter.  Belum diaspal namun dipenuhi bebatuan yang tertata meratakan jalan.  Di kanan kiri jalan sawah dan ladang membinarkan harapan petani yang menanamnya.

Mereka sepakat untuk berjalan kaki sambil menunggu delman kosong yang sangat jarang lewat.  Kalaupun ada biasanya selalu penuh penumpang.  Satu-satunya cara menyewa delman yang menuju kota.  Itu juga kalau tidak membawa penumpang  yang mau ke kota.

“Aduh, Maryam...kenapa kamu nggak bilang kalau kita harus jalan kaki begini.  Lihat kulitku yang putih jadi kian merona.  Ntar bakal hitem mukaku ini”  Rahma bersungut-sungut sambil memandangi wajahnya di cermin yang selalu di bawanya kemana-mana.

“Kakiku pegel banget.  Kalau ada mama pasti aku udah digendong, nih!”  Puput makin meramaikan suasana sore itu.

“Masya Alloh, kalian santriwati.  Nggak zamannya lagi manja macam anak mama dan berlagak sok cantik macam artis.  Malu sama julukan kalian santriwati.”  Nena menegur kemanjaan Puput dan Rahma.

“Ingat dong pesan Ustadzah Nuri.  Santriwati harus tangguh.  Apalagi kelompok kita Mujahidah.  Mana ada mujahidah letoy nan gemulai.”  Jurus dalil Ghina mulai keluar.

Puput dan Rahma memilih diam daripada harus menelan kalimat-kalimat  dari Ghina.  Gadis anggun namun tugasnya sebagai bagian keamanan melatihnya berkata tegas hingga pedas.  Akhirnya Puput dan Rahma lebih memilih menghela napas panjang saat keluh kesahnya tercekat rasa malu pada julukannya sebagai Santriwati Mulia.

Berjalan setengah jam, akhirnya mereka sampai di depan rumah Nenek Maryam.  Rumah besar dengan interior rumah zaman Belanda.  Rumah yang sudah langka di zaman sekarang.  Bagian depan ada empat anak tangga setinggi satu meter.  Diantara anak tangga dipisahkan oleh bidang miring selebar tiga jengkal orang dewasa.  Batu-batu keras menghiasi pondasi sejajar tangga, bercat hitam di batasi warna putih. 

Setelah mengucapkan salam, muncul sosok wanita paruh baya menjawab salam mereka.  Usianya menjelang enam puluh tahun.  Keriput di wajahnya mulai bermunculan.  Namun bekas-bekas kecantikan masih terlihat nyata pada kulitnya yang putih bersinar.  Cantik alami terpancar dari bekas wudhu yang selalu membasahi wanita ahli ibadah itu.

“Maryam, akhirnya kalian sampai juga.  Nenek sudah menunggu sejak tadi.  Cepat masuk.  Ajak teman kamu ke kamar yang sudah Nenek sediakan.  Setelah itu kalian ke meja makan.  Lihatlah kejutan apa yang Nenek hidangkan buat kalian!”  Keramahan Nenek Maryam sungguh tulus.  Mereka berlima bahagia disambut sedemikian rupa.

“Subhanalloh Nenek, selalu saja bikin Maryam bahagia dan betah buat berlama-lama di sini.”  Maryam menaiki tangga dan mencium tangan keriput penuh berkah itu.  Diikuti keempat temannya. 

Mereka berlima menuju kamar tidur untuk melepas tas punggung mereka masing-masing.  Belum lagi dua tangan kanan kiri menjinjing tas sarat beban. Bekal pakaian dan bahan baksos tentu saja.

“Ayo kita makan!  Jangan sampai nenekku kecewa dengan respon kalian yang menunjukkan selera makan rendah. OK?!” 

“Untuk urusan yang satu itu tentu saja nggak ada malesnya, Maryam.”  Nena selalu semangat untuk urusan perut.  Sesuailah dengan badannya yang paling tambun.

“Hitung-hitung perbaikan gizi.  Selama ini kita belajar qonaah, kan?”  Puput tidak mau kalah semangat

“ Sekarang saatnya belajar bersyukur dengan makan besar.” Rahma dan Ghina saling menimpali hampir bersamaan.  Tertawa renyah memenuhi kamar untuk para gadis berukuran enam kali lima meter itu. 

Mereka segera menuju kamar makan.  Meja makan berbahan kayu mahoni berbentuk bundar, telah penuh dengan segala jenis makanan khas kampung.  Telor kampung mata sapi.  Gulai terong lalap campur daging ayam.  Sambal tomat segar.  Goreng ikan sambel kecap. Lalap daun sawi dangur rebus.  Dan kerupuk udang.  Yang membuat semua istimewa karena makanan ini ada dari tetes keringat Nenek Maryam.  Kecuali kerupuk udang dan gulai.

“Aduh maaf Maryam,  Gulainya tumpah dikit.  Taplak mejanya jadi kotor deh.”  Puput merasa bersalah menumpahkan kuah gulai yang diambilnya.

“Nggak papa cuman dikit, kok? “  Maryam mengambil lap untuk menyusut kuah gulai.  Ada sesuatu di bawah taplak yang membuat gulai itu tumpah rupanya. “Pantesan tumpah Put, ada yang mengganjal di bawah mangkuk gulainya,”  Maryam berusaha mengambil sesuatu dari bawah taplak meja.  Gulungan kertas putih.  Dimasukkannya gulungan kertas itu ke dalam saku gamisnya.  Maryam sangat pantang membuang sampah sembarangan.  Lagi pula ia khawatir kertas itu barang berharga milik nenek.  Ia akan memeriksanya setelah makan dan menyerahkannya pada nenek.

Semua begitu menikmati hidangan petang itu.  Adzan Maghrib memanggil, mengalun merdu.  Mereka  segera berwudhu untuk berjamaah bersama anak-anak ngaji bakda Maghrib di mushola samping rumah nenek.  Bakda Maghrib, mereka langsung membantu mengajar ngaji anak-anak kampung.  Kebahagiaan mewarnai silaturahim yang indah ini.  Mereka segera saling akrab oleh ketulusan kelompok MULIA.

***

Semua sudah pulas tertidur, kecuali Maryam.  Jarum jam terus berdetak, menemani kesendirian Maryam.  Diliriknya pemberi tahu waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.  Tulisan pada gulungan kertas itu begitu mengganggunya.

 

Salam Rindu untuk anakku, Lusi.

Akhirnya ibu putuskan untuk berterus terang padamu,Nak.  Ibu menganggap kamu sudah cukup dewasa untuk menerima berita ini.  Semoga juga pengajaran yang kami dapat di pesantren bisa membantumu menerima segala kenyataan ini.

Anakku, ayahmu merantau ke Aceh saat kamu masih dalam kandungan.  Peristiwa Tsunami 2004  menghilangkan jejaknya begitu saja. Kamu terlahir tanpa ayahmu seminggu setelah peristiwa Tsunami.  Ibu mengalami depresi sehingga tidak dapat mengasuhmu dengan baik.  Sepasang suami istri yang baik hati, putra dari Ibu Supardi mengasuhmu sebagai anak angkat.

Ibu menulis surat ini atas izin bapak dan ibu angkatmu supaya kamu tahu nasab yang sesungguhnya.

Anakku, bila kau berkenan, temui ibu di rumah sebelah kanan SD terdekat.  Bila kamu belum siap tak mengapa.  Ibu akan tetap menunggu perjumpaan kita.

Banyuasih, 13 Maret 2018

 

Semua yang tertera dalam surat itu menyisakan misteri yang tak mudah untuk Maryam.  Siapa Lusi dalam surat itu?  Lalu siapa Ibu Supardi?  Nenek yang dikenalnya bernama  Zainab.  Ibu dan ayah yang mengangkat Lusi sebagai anak pun tidak tertera jelas dalam surat itu.

Hanya satu yang membuat Maryam curiga bahwa dirinya bukan anak kandung dari ayah dan ibunya selama ini.  Ya...sejak usia balig, ayah mulai membatasi keakrabannya.  Ayah melarang Maryam melepas jilbab saat mereka bersama. 

“Ayah mengapa Maryam harus terus berjilbab?  Kan di rumah ini hanya ada kita bertiga?”  Tanya Maryam suatu saat.

“Untuk jaga-jaga Maryam, mana tahu ada sepupu atau tamu yang bukan mahrom kita tiba-tiba datang.  Atau kalau tiba-tiba ada gempa.  Kamu nggak perlu repot-repot cari jilbab.  Bisa langsung lari keluar ke tanah lapang.  Betul, kan?”  Ayah Maryam memberi alasan yang sangat masuk akal dan tak membuatnya curiga.  Kecuali setelah membaca secarik kertas itu.

Ingatan Maryam tertuju pada Ibu Supardi.  Siapa Supardi?  Tiba-tiba Maryam teringat bahwa nama almarhum kakek, suami nenek adalah Supardi.  Tidak salah lagi yang mengadopsi Lusi pasti putra dari nenek.  Dan nenek hanya punya dua anak, Bibi Nisrina dan seseorang yang dianggapnya ayah selama ini.  Sementara itu Bibi Nisrina hanya memiliki tiga anak, semuanya laki-laki.

Air mata Maryam tak terbendung.  Keringat dingin keluar deras membasahi baju tidurnya.  Yang  ia mau, pagi segera datang dan ia akan menemui ibu kandungnya.  Siapapun dia.

“Aku harus memastikan semua pada nenek.  Nenek pasti tahu banyak tentang diriku.”  Keputusan inilah yang membuat Maryam mampu memejamkan mata pada akhirnya.

***

Selepas Subuh, Maryam menanyakan nasabnya pada Nenek.  Semua jamaah sudah meninggalkan mushola, tinggal nenek yang masih meneruskan zikirnya.

“Nek, boleh Maryam menanyakan sesuatu?”  Maryam memulai pembicaraan hati-hati.

“Ada apa Maryam, nampaknya penting sekali?”  Nenek menghentikan putaran tasbihnya.

“Maryam menemukan gulungan kertas ini, di bawah taplak meja makan.  Apakah anak yang bernama Lusi itu aku, Nek?”

Nenek tak segera menjawab, ada gurat kekhawatiran pada wajah sepuhnya.  Ada rasa iba hatinya pada Maryam.  Gadis salehah itu harus mengetahui kenyataan ini pada akhirnya.  Ada rasa takut kehilangan kasih sayang cucu perempuan satu-satunya yang sangat ia sayangi. 

“Maryam, kamu janji nggak marah pada kami yang merahasiakan nasabmu, Nak?

“Tentu tidak, Nek.  Maryam yakin dengan ketulusan kasih sayang keluarga ini.  Semua pasti demi kebaikan Maryam.  Bahkan Maryam berterimakasih atas segala yang telah Maryam terima meskipun tidak ada ikatan darah antara Maryam dan keluarga Nenek.”

“Kemarin, ibu kandungmu tahu kamu akan datang.  Dia membawakan semangkok besar gulai ayam.  Dia juga minta izin menyimpan surat ini.  Nenek tidak bisa melarangnya.  Itu hak dia.  Nenek berdosa kalau memutuskan tali nasab antara kamu dan ibumu, Nak.  Lusi dalam surat itu adalah namamu, pemberian ibumu.”

Semua menjadi jelas.  Lusi adalah nama pemberian ibunya saat masih bayi.

Maryam segera meninggalkan nenek yang melanjutkan putaran tasbihnya.  Diciumnya tangan mulia itu.  Maryam bertekat menemui ibu kandungnya sekarang.

Keremangan pagi hari mulai menyapa.  Angin dingin menusuk kulit.  Kabut pekat makin mengajak manusia pemalas merapatkan balutan selimutnya. Maryam  meminta Ghina, kawan terdekatnya untuk menemaninya memecahkan segala misteri yang menyesakkan dadanya.

Setengah kilometer mereka menyusuri jalan mencari SD terdekat.  Sebuah rumah di sebelah kanan sekolah itu, masih tertutup rapat. Ragu-ragu Maryam menaiki tangga menuju teras.  Rumah itu sepertinya kosong.  Tumah tingkat cukup mewah untuk ukuran rumah di kampung itu.  Bercat putih apel dengan bingkai jendela dan pintu warna biru muda.

“Maryam, sepertinya rumah ini kosong.  Lihat tulisan di pintu itu.”

“Rumah ini menjadi hak milik BPR Daerah Unit Banyuasih. Disegel mulai 13 Maret 2018.”  Maryam mengeja kalimat-kalimat yang menyesakkan dada untuk kedua kalinya.

Batinnya bergumul dengan berbagai pikiran tentang siapa sebenarnya ibu kandungnya?  Mengapa rumah ibu disita?  Apakah ibu bermain riba bank?  Sebesar apa hutang ibu hingga jaminannya sebesar rumah ini?  Bagaimana cara hidup ibu hingga harus terlilit hutang?  Lalu kemana Maryam harus menemui ibu kandungnya?

Segala tanya, kecewa, sedih bercampur aduk dalam benaknya.

“Maryam, kamu yang sabar ya? Ingat nasihat Pak Kyai di pondok.  Seperti apapun orang tua kita, kita tetap harus hormat pada mereka.  Bahkan bila mereka menyembah selain Alloh sekalipun, kita harus pergauli mereka dengan baik. Berbicara lemah lembut pada mereka.  Mengucapkan ‘ah’ pun tidak boleh, bukan?”

“Terimakasih Ghina, kamu sahabatku yang baik.  Bantu aku biar kuat menghadapi ujian ini ya?”  Maryam memeluk sahabat dekatnya itu.  Isak tangisnya tumpah juga.  Seakan  meminta dukungan dari beratnya masalah yang dihadapi.

“Kamu pasti bisa melaluinya.  Percayalah!  Aku akan membantumu sampai kamu bisa bertemu ibu kandungmu.”

Segala ingatan tentang nasihat Pak Kyai dari Ghina membuat Maryam tersenyum.  Dalam hati Maryam berjanji menerima seperti apapun keadaan ibu kandungnya, meskipun berat. 

***

            Gagal menemui ibu kandungnya, membuat Maryam ingin bertanya banyak hal pada nenek.  Ia yakin neneknya pasti tahu.  Siang menjelang Dzuhur, Maryam menemui nenek di kamarnya.

            Diketuknya pintu perlahan, sambil mengucap salam.  Suara lembut nenek menjawab salamnya dan menyuruhnya masuk.  Maryam segera masuk dan menutup pintu kembali.  Ia tak ingin banyak orang tahu tentang masalah yang dihadapinya kecuali nenek dan Ghina.

            “Bagaimana, Nak.  Kamu sudah bertemu ibumu?”  Nenek begitu antusias ingin mengetahui cerita dari Maryam.

            Maryam menceritakan apa yang ia temukan tadi pagi.  Nenek begitu sabar mendengarkan, ia sudah menduga kisah pilu yang akan ditemui cucu angkatnya itu

            “Nenek bisa membantu Maryam untuk bertemu ibu?”

            “Tentu cucuku.  Tapi Nenek harap kamu tidak kaget atau kecewa dengan apa yang terjadi dengan ibumu.”

            “Supaya tidak kaget, Maryam ingin dengar cerita dari nenek tentang ibu.  Kenapa rumah semewah itu bisa disegel pihak bank, Nek?”

            Nenek mulai bercerita panjang tentang ibu kandung Maryam, Gania.  Ayah Maryam tidak memberi kabar apa-apa dalam sepuluh tahun.  Keluarga Gania memutuskan untuk menikahkan anaknya.  Kali ini seorang pedagang kaya di Banyuasih yang terpesona dengan kecantikan Gania, meminangnya.

            Kehidupan Gania mulai berubah sejak itu.  Kesederhanaan dan kekurangan berubah menjadi serba kecukupan dan kemewahan. 

            “Rupanya kemewahan itu sangat mudah menggelincirkan.  Gaya hidup dan pergaulan ibumu mulai berubah.  Kegemarannya memperbaiki penampilan, teman bergaulnya anggota kelap di tempat fitnessnya.  Sebenarnya semua warga sudah gerah dengan gaya hidupnya yang mencontohkan pergaulan bebas,”  Nenek terdiam menyadari ceritanya yang sudah terlalu dalam.  Ada kekesalan dalam sorot matanya pada perbuatan Gania, yang tidak mau mendengar nasihatnya.

            Maryam disampingnya terus setia mendengar kisah itu.  Air mata mengalir untuk kesekian kalinya hari ini.

            “Teruskan, Nek.” Pinta Maryam

            “Tapi kamu jangan pernah benci ibumu, Maryam.  Cukup perbuatannya yang kita hindari dan dijadikan pelajaran.”

            “Maryam paham, Nek.  Beruntung Maryam tau.  Maryam ingin menyelamatkannya, sebisa mungkin.  Sebelum terlambat.  Sebelum ajal menjemput.” 

            Nenek mengambil sapu tangan menyeka air mata Maryam.  Dalam hatinya, lebih baik Maryam tahu darinya daripada dari orang lain.  Akan lebih menyakitkan hati cucu angkat kesayangannya itu.

            “Gaya hidupnya membuat ia meminjam uang di bank.  Rumah mewah itu menjadi jaminannya.  Ayah tirimu sudah menebusnya dua kali dan untuk ketiga kalinya dia menyerah.  Keputusan terakhir, ayah tirimu menceraikan Gania.”

            “Ya, Alloh, kasihan sekali ibu.....”  Maryam bergumam lirih.

            “Maryam, bagaimanapun dia ibumu.  Jaga rahasia dan kehormatannya.  Nenek tahu banyak tentang Gania, karena nenek selalu berusaha menasihatinya selama ini.  Semoga ujian yang diterimanya kini membuatnya sadar.  Nenek yakin kehadiranmu akan banyak membantunya kembali ke jalan yang Alloh ridhoi.”

            Harapan yang nenek ucapkan mengembangkan senyum di bibir mungil Maryam.  Tekatnya untuk menemui ibu kandungnya dan membangkitkannya dari keterpurukan dan dosa, makin kuat.

            Semoga kau berhasil Maryam, hatimu yang mulia, akan mendatangkan rahmatNya.  Insya Allah.


 

Event Jejak Ke-22_Lomba Cerpen Pekan Jurnalistik di Era Industri 4.0_

AKU BUKAN KULI TINTA

 

                Majalah Sosiopolita di ambang kebangkrutan.  Wartawan muda sudah mulai meninggalkan meja redaksi satu persatu.  Hanya beberapa wartawan senior yang masih betah bertengger mengharap tinta yang melekat pada kertas cetakan itu masih menarik minat pembaca untuk membelinya.  Kecuali Gunawan, Palupi dan Anggara.

                “Zaman begitu cepat berubah.  Kita harus memutar otak untuk tetap bisa menyampaikan informasi pada masyarakat secara berimbang.”  Bos Arman memimpin rapat redaksi yang hanya dihadiri tujuh anggota tim yang masih mau bertahan.

                “Saya rasa harian online yang kita rintis harus kita kelola dengan lebih professional, sungguh-sungguh dan berdaya saing dengan media online pesaing kita.”  Gunawan memberanikan diri menerobos cara pikir Bos Arman yang masih stagnan pada media manual.

                “Media online kamu yang kamu banggakan itu tak mampu bersaing dengan media mainstream, Gunawan.  Judul yang kau tenggerkan pun berkesan radikal untuk kalangan tertentu.  Al Ghuraba.  Hmmmm, beda dikit dengan Al Qaeda atau Al Qaidah.  Cobalah kamu pakai judul yang lebih inklusif.”  Bos Arman terus mencibir Sosiopolita Online (SOL-Al Ghuraba) besutan Gunawan.

                Gunawan tiba-tiba muak dengan suasana rapat yang terasa makin sempit.  “Percuma menjelaskan semua ini pada Bos Jadul ini, aku harus buktikan SOL-Al Ghuraba bisa menjadi Media Online yang hebat dan mendunia,” batin Gunawan sambil mengatupkan giginya rapat-rapat.  Hampir bunyi gemeretuknya menunjukkan kemarahan pemiliknya.

                “Kalau nama itu tidak kamu ubah, jangan pernah memakai nama Sosiopolita lagi.  Perjuangkan sendiri Al Ghuraba kamu itu.”

                “Wah, Bos Arman serius?  Sejauh ini SOL-Al Ghuraba tidak sedikit pun merugikan perusahaan.  Justru Sosiopolita offline banyak ditopang dari SOLA.”  Gunawan tak mau mengalah begitu saja pada nyinyiran bosnya.

                Sejenak Arman terdiam terkena skakmat anak buah sendiri.  Bukan hanya usianya yang kepala enam dan kedudukannya sebagai bos yang membuat egonya meninggi tapi juga kehormatan di depan anak buah.  Kemudian meja pun menjadi sasaran gebrakannya.  Gunawan pasrah, dipecat pun terserah bos.

                “Kamu memang keras kepala.  Kalau saja kamu mau pindah konten mengikuti arus media mainstream pasti SOLA sudah sangat maju.”

                “Berikan dia waktu barang sebulan, Pak.  Saya rasa itu akan lebih adil.”  Palupi, sekretaris Arman menetralisir ketegangan di antara mereka.  Gadis berhijab syar’i namun terlihat modis dan trendy itu melirik ke arah Gunawan.  Saputan make-up tipis menambah pesonanya tampak alami.

                “Selalu ada rasa yang berbeda tiap palupi mengarahkan pandangan padaku.  Sayu dan sejuk.  Hmmmm,Istigfar, Gun…..,” gumam Gunawan menenangkan diri untuk kemudian memalingkan pandangan dari sergapan mata Palupi.

                Selama ini saran Palupi memang selalu lebih didengar oleh Arman.  Terlepas bagus atau tidak ide Palupi.  Rupanya pesona gadis anggun nan ayu berusia dua puluh tiga tahun itu lebih menguasai argumentasi Arman.

                “Baiklah, aku beri kamu kesempatan sekali lagi.  Bukan sebulan tapi dua minggu.  Atau kau menjadi kuli tinta selamanya!” ungkap Arman ketus.  Ungapan kuli tinta untuk jurnalis yang disematkan Arman seolah memaksa Gunawan untuk konsentrasi pada Sosiopolita offline kebanggaan Arman.

                Sebenarnya SOL-Ghuraba yang dirilis Gunawan sudah menunjukkan kemajuan berarti.  Dalam waktu dua tahun ada lima iklan yang terpampang pada laman utama.  Pengunjungnya pun rata-rata mencapai lebih dari seribu.  Mau tidak mau Gunawan harus memutar otak bagaimana mendongkrak jumlah pengunjung dan meningkatkan minat perusahaan untuk memasang iklan.

                “Oke Bos, dua minggu ini saya minta dua partner untuk serius di SOLA,”  pinta Gunawan.  Kali ini permintaannya dikabulkan Arman.  Palupi dan Anggara akan konsentrasi penuh di SOLA.

                Mereka bertiga berkomitmen untuk melejitkan SOLA.  Gunawan sebagai leadernya merancang beberapa langkah yang akan segera mereka lakukan, korespodensi dengan jurnalis dari berbagai negara,  membuat jaringan satu profesi dengan mereka dan saling tukar informasi untuk yang paling uptodate.  Sesuai dengan tajuk Al Ghuraba, konten yang mereka pilih adalah perkembangan dunia Islam di lebih dari lima puluh negara.  Seluruh media sososial yang paling popular menjadi selancar mereka bertiga.

                “Bagaimana Palupi, tiga hari ini perkembangan apa yang kamu dapat.”  Gunawan menanyakan progress rencana mereka pertigahari.

                “Aku sudah mendapatkan dua puluh partner dari enam belas negara.”  Palupi tersenyum lebar dengan capaiannya.

                “Hebat, dua  thumb buat kamu.  Dengan cara yang sama, estimasiku, kamu bakal dapat partner empat puluh orang dari tigapuluh negara.  Bagaimana dengan kamu Anggara.”

                Anggara tersenyum simpul, ”Aku dapet  dua puluh empat partner dari sepuluh negara,” jawab Anggara singkat.  Anggara memang yang dikenal sangat focus saat berada di depan layar pendar sudah kembali pada berselancar menunaikan tugasnya.

                Kendala terbesar tentu saja pada perbedaan bahasa, tetapi mesin translate telah memudahkan target mereka.

                “Aku ada rencana merekrut anggota buat tim kita.”  Gunawan melontarkan ide pada dua rekannya yang terus sibuk menjalankan tugasnya masing-masing. 

Sesekali Anggara menyeruput secangkir kopi panas di belakang laptopnya, takut tumpah.  Sementara Palupi ditemani snack pelepas penat.

“Kalau itu baik menurutmu, aku setuju aja.”  Palupi mengalihkan fokus pada Gunawan yang duduk di sofa kantor.  Gunawan bergeming memainkan gawai di tangannya.

“Aku butuh penghimpun informasi video dan tentu saja editor video yang handal.”

“Maksudmu?”  Palupi penasaran, ide apalagi yang ada di kepala Gunawan.

“Berita tidak selalunya harus uptodate.  Ada juga berita yang menghibur, peristiwa-peristiwa unik dan menarik yang ada di jagat raya ini bisa diakses dengan mudah, bukan?  Mungkin konsumen kita agak malas membaca, kita buat konten video dengan dubbing suara bahasa Indonesia aja di laman kita. Aku rasa bakal banyak peminat.”

“Kamu memang my brilliant new bos.”  Pujian Palupi hampir-hampir memerahkan wajah Gunawan. “Aku makin yakin SOLA bakal makin berkibar.”

Dua pekan berlalu sudah, keputusan Arman hari ini menjadi hal yang mendebarkan buat tim Gunawan.  Yang jelas mereka yakin bos senior mereka akan memuji tampilan baru SOLA.

Rapat redaksi mempertemukan mereka kembali pada ruangan enam kali lima meter itu.  Ruangan bercat putih apple hampir senada dengan wajah Palupi, sengaja dipilih Arman untuk sekretaris kesayangannya.

“Aku tidak terlalu mementingkan tampilan laman SOLA.  Yang aku targetkan adalah profit dari laman itu.  Berhubung belum ada pemasukan yang signifikan, aku putuskan bahwa kita akan mengelola Majalah Sosiopolita dengan lebih propesional.  Bagi kalian yang tidak setuju berarti kalian harus meninggalkan ruangan ini.”  Arman memutuskan secara sepihak tanpa meminta pandangan tim.

Gunawan beringsut di atas kursinya dan menjauhi meja untuk kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan.  Disusul Palupi dan Anggara.  Arman terbengong-bengong dengan keputusan tiga jurnalis muda yang masih dimilikinya.

 

 

Event Jejak Ke-23_Lomba Esai Pekan Jurnalistik di Era Industri 4.0_

PERAN NORMATIF JURNALIS DI ERA INDUSTRI 4.0

 

                Kita berada dalam era revolusi industri 4.0, yaitu tren industri dengan ciri khas penggabungan antara teknologi otomatisasi dan teknologi cyber.  Ada empat prinsip pada era ini yaitu interoperabilitas (kesesuaian) dengan media internet, transparansi informasi digital, bantuan teknis dari sistem dalam membuat kebijakan, keputusan mandiri dari siber fisik.

Wah, cepat sekali loncatannya!  Bukankah dalam sejarah kita mengenal revolusi industri dengan ditemukannya mesin uap?  Lalu mengapa tiba-tiba ada revolusi industry 4.0?  Pertanyaan ini kerap kali dilontarkan sebagian besar masyarakat kita.  Baiklah kita cermati perkembangan era revolusi industry sebelumnya:

a.        Revolusi Industri 1.0 (revolusi mesin), ditandai dengan penemuan mesin uap dan teknologi berbasik mesin uap.  Perubahan drastis terjadi dalam psikologi sosial peradaban manusia.  Permulaan kolonialisme terjadi pada era ini

b.       Revolusi industry 2.0 (revolusi teknologi), diawali dengan system produksi mobil Ford dengan system spesialisasi penanganan produksi sehingga mesin dapat dengan murah dan mudah dibuat disbanding sebelumnya.  Dampak psikologi sosialnya adalah terjadinya Perang Dunia I dan II

c.        Revolusi Industri 3.0 (revolusi digital), diawali dengan penemuan computer dan berkembang dengan teknologi digitalnya.

d.       Revolusi Industri 4.0 (revolusi robotik), diawali dengan penemuan internet dan perkembangannya.

Terkait dengan empat perkembangan industri di atas, mau tidak mau kita telah berada di era Industri 4.0.   Dalam keseharian kita, internet tidak dapat dipisahkan dari aktifitas.  Menurut catatan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo),  pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 171 jiwa atau 64,8 % dari jumlah penduduk.  Ada kenaikan pengguna hingga 10,2 persen atau 27 juta per tahun (republika..co.id, 2019).  

Angka ini cukup fantastif, terlepas konten apa yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat.  Semakin tinggi tingkat pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya ilmu pengetahuan dan pemberitaan, maka konten yang dikonsumsi akan bergeser dari hiburan ke konten yang lebih serius.

Dengan pangsa pasar yang cukup luas ini, peran jurnalis menjadi sangat penting untuk menyajikan informasi yang berimbang. 

Ada beberapa peran normatif wartawan dalam era ini:

1.    Penyampai Informasi yang Akurat, Dapat Dipercaya

Ketika setiap individu berpeluang saling menyebarkan informasi, hoax pun menjadi santapan tidak sehat yang mudah didapat.  Bukan hanya dampak pembodohan publik tapi juga potensi konflik bisa ditimbulkan dengan hoax ini.  Sesuai dengan kode etik jurnalistik, jusnalis memiliki tanggung jawab besar mengkanter hoax.

Jadi wartawan memiliki peran meluruskan apa bila ada arus informasi yang salah di tengah masyarakat.  Hal ini dapat menyelamatkan nasib banyak orang bahkan jiwa orang banyak.

2.    Pengontrol Sosial yang Jujur

Berita yang diungkap oleh seorang jurnalis kredibel akan lebih mudah dipercaya oleh masyarakat.  Jurnalis yang masih idealis untuk menyampaikan kebenaran.  Jurnalis yang jauh dari sifat materialis sehingga yang ditulis tidak berdasarkan urusan bisnis atau  kecamuk kepentingan politis.  Akan tetapi murni dari hati nurani untuk menyampaikan informasi.

Tipe jurnalis seperti inilah yang akan membantu mengerem berbagai pihak dari terjerumus pada kebobrokan kolektif maupun individu dalam masyarakat kita.

3.    Agen Perubahan Saat Diperlukan

Kehidupan bukanlah sesuatu yang statis, ada dinamika maka disanalah ada kehidupan.  Perubahan-perubahan selalu ada baik perubahan ringan maupun perubahan mendasar yang menyangkut kihidupan banyak orang.  Apapun bentuk perubahan yang terjadi, setiap insan memiliki kewajiban untuk membuat perubahan kea rah yang lebih baik dan bukan sebaliknya.

Penilaian atas baik buruknya sesuatu menjadi relatif bila tidak ada alat ukur yang baku.  Salah satu alat ukur baku itu adalah apa yang disebut hati nurani atau kebaikan dan kebenaran universal.  Jurnalis memiliki tanggung jawab untuk turut memelihara, menyampaikan, menanamkan nilai kebaikan universal ini pada sebanyak mungkin umat manusia, misalnya: kasih sayang, empati,

Era Industri 4.0 yang berbasis pada internet dan sistem robotik memiliki peluang tanpa batas untuk menyampaikan kebaikan dari nilai universal ini.  Jurnalis memiliki keleluasaan tanpa batas ruang dan waktu untuk menyisir pengguna internet.  Dengan cara-cara yang kreatif dan inovatif  minat pengguna internet akan melirik dan mengunjungi laman yang berisi pesan jurnalis tersebut.

4.    Benteng Peradaban dari Perubahan Tata Nilai

Dua arus negatif yang sulit dibendung di era Industri 4.0 adalah budaya individualis dan liberalis.  Arus ini akan mengikis budaya luhur bangsa yang cenderung saling kerjasama, bergotong royong dan penuh pengendalian diri.  Jurnalis sebagai pemilik informasi dapat memberikan pendidikan di tengah pengguna internet untuk tetap membudayakan saling kerjasama, bergotong royong dan penuh pengendalian diri.  Tentu dengan konten informatif, edukatif bahkan interaktif tentang pelestarian tata nilai ini.

Jurnalis sangat mungkin untuk membuat potret kehidupan seseorang, keluarga atau masyarakat yang masih kental dengan tata nilai positif ini.  Sajian audio visual, dengan konten menarik dan dapat diviralkan akan menjadi sajian bermanfaat.

Tentu kita sering kali mendapat potongan video yang mengunggah kisah-kisah inspiratif hingga melinangkan air mata.  Nah, dibutuhkan keterampilan seorang jurnalis dalam menyajikan informasi yang normatif.

5.   Memperbaiki Keadaan Pada Daerah Bencana dan Konflik

                Menyebarkan informasi dini dan secepat mungkin dari daerah bencana alam maupun  bencana sosial tentu sangat diperlukan oleh masyarakat yang sedang terkena bencana tersebut.  Jurnalis yang mampu menembus daerah  semacam ini akn menjadi pahlawan kemanusiaan.

                Para pemangku kebijakan ataupun orang penting yang memiliki kekuasaan dapat turut memecahkan permasalahan yang diderita masyarakat berkat informasi yang disampaikan Sang Jurnalis.

                Nah, dari sekian banyak peranan ini, jurnalis dapat memanfaatkan deras arus informasi dengan membentuk jaringan orang dalam tempatan.  Jurnalis tidak harus memiliki mobilitas tinggi menembus tempat kejadian tetapi dengan membuat komunitas berbagi informasi dengan akurasi tinggi dan terhindar dari hoax.  Jaringan yang dibangun mestilah solid dan menghimpun personal bervisi dan misi sama dan dapat memegang kodi etik jurnalistik.


Event Jejak Ke-24_Lomba Puisi Pekan Jurnalistik di Era Industri 4.0_

TARIAN JARI SANG JURNALIS

 

Deru debu kota, lama tak menyapa

Para pengabdi berita tak lagi memburu matahari

Tiap detik kisah berubah secepat kilat

Pada sentuhan yang terus mencari

Di belakang meja di atas kursi

 

Deras mengalir baris-baris kabar

Gambar , rekaman memenuhi layar pendar

Rangkaian berita berpusar pada nalar

Deret opini memenatkan pagar batas pendapatnya sendiri

Terangkai dalam konstruksi tarian indah pena

Bukan berujung tinta namun jemari pada papan kalam

Menggedor kesadaran nitizen makin terpana

 

Semua terbuka tanpa batas buta

Secepat usapan pada pedihnya mata

Menatap cahaya pembawa pesan

Sekian banyak byte mengisi memori

 

Kolaborasi  cerdas  artifisial  dan kemanusiaan

Menambah indah tarian pena bak gemulai balerina

Cantiknya mengguncang dunia

Menata ulang sebentuk kesadaran

Pada insan yang inginkan perubahan

 

Kini Sang Jurnalis tersenyum manis

Puas menari pada awan-awan memori

Menghibur peselancar dunia maya

Indahnya berbagi  manfaat

Menjadi pembuka jendela

Kanal karunia peradaban anak manusia

(Tasikmalaya, 25 September 2019)


Event Ke-26 Jejak_Lomba Cerpen Anak Yatim_

MAKBUL

 

                “Nak Mas Thufail, Bapak minta tolong dengan sangat.  Bapak dalam kesulitan besar yang harus diselesaikan segera.” Ahmad Thufail Baihaqi memerhatikan dengan sabar perkataan laki-laki berumur 40-an di depannya.

                Hingga usianya yang menginjak tiga belas  tahun, Thufail masih disibukkan olehtamu yang datang dengan berbagai masalah hidup.  Mulai dari jual rumah, tanah, mobil dan barang mewah lainnya hingga masalah hutang piutang yang tak kunjung lunas sudah biasa ia tangani.  Dari perjodohan yang rumit hingga kasus perceraian alot suami istri.  Jika musim pemilu,  pilkada atau pilihan kepala desa tiba, tamunya akan berkonsultasi tentang bagaimana memenangkan kotestasi.

                “Sepertinya panjenengan keberatan buat menceritakan permasalahan yang panjenengan hadapi.  Monggo kulo aturi nyerat kemawon. Mohon untuk tidak membuka lembaran lain sebelumnya.  Saya harus menjaga privasi tamu saya yang lain.  Lembaran untuk Bapak hanya yang terbuka di hadapan panjenengan.”  Thufail menunjukkan buku yang oleh sebagian tamunya dianggap sakti.  Bagaimana tidak?  Keinginan yang tertera di buku tamunya itu hampir sembilan puluh persen sesuai suratan takdir Yang Mahakuasa.

                Tamu itu mengambil buku dan membaca dengan teliti kolom yang ada di depannya, hati/tanggal, nama lengkap, nama orang tua, alamat lengkap, nomor hp/wa, dan terakhir permasalahan yang dihadapi.

                Saya dikejar-kejar orang tak dikenal.  Dia mengaku telah memberi piutang pada istri saya.  Jumlahnya sampai tiga ratus juta.  Sedangkan istri saya, Lastri, sudah dua tahun tidak pulang.  Ia menjadi TKW di negeri asing.  Saya tak tahan mendengar sumpah serapah dan ancaman dari penagih hutang itu.

                Tamu itu mengembalikan buku di hadapan Thufail.  Masalah yang cukup rumit, tetapi pantang buat Thufail menolak permintaan tolong tetamunya.

                “Nama Bapak, Andi Raharja bin Saliman?”

                “Benar, Nak Mas.”

                “Bapak ingin didoakan untuk bisa bayar hutang atau supaya tidak ditagih lagi?”

                “Sebaiknya bagaimana, Nak Mas?  Soalnya kalau untuk bayar hutang, rasanya mustahil saya bisa melakukannya.”

                “Hutang wajib dibayar, Pak.  Allah Mahakaya.  Jangankan tiga ratus juta, dunia dan seisinya Dia yang punya.”  Makin banyak tetamu bertanya, Thufail makin tumbuh lebih dewasa dari usianya.

                “Kalau begitu saya ingin dapat uang sebanyak hutang istri saya itu, atau kalau bisa lebih biar saya bisa hidup lebih layak, Nak Mas.”

                Andi berpamitan setelah menerima secarik kertas berisi doa dan cara mengamalkannya.  Sebuah amplop berisi lebaran merah ratusan libu rupiah masuk pada kotak yang di sediakan di pojok ruang tamu.  Sementara Thufail mencermati tulisan di hadapannya.  Dahinya bekernyit, mengingat kisah yang serupa dengan keluhan tamunya siang ini.

Thufail mencari buku tamu  dua bulan yang lalu.  Dibukanya lembar demi lembar dan  sejurus kemudian matanya tertambat pada tulisan berhuruf kapital semuanya.  Tulisan unik itu membuatnya dengan mudah mendapati permasalahan tamu yang dicarinya.

                Dino Alamsyah bin Alamsyah, Thufail melanjutkan penelusuran dengan penuh rasa penasaran.  Adakah Dino Alamsyah dan Andi Raharja adalah dua orang yang sedang terlibat masalah dalam bermuamalah?

                Teman usaha saya, namanya Lastri membawa lari uang kerjasama kami.  Kami sudah sepakat bahwa uang itu untuk membeli ruko dan modal awal usahanya, tapi sudah dua tahun dia menghilang.  Jumlah hutang dia 200 juta, kalau dihitung dengan bunga selama dua tahun yang dia janjikan, maka hutang dia sudah 300 juta sampai dengan sekarang.

                Thufail yakin Lastri yang ada pada tulisan Dino dan Andi adalah orang yang sama.  Sejenak ia menyesali profesinya sebagai tempat bertanya.  Sesuatu yang ada di luar kendali dan keinginannya.  Semua berawal dari kabar viral di sebuah media sosial sepuluh tahun yang lalu.  Seseorang bertemu kembali dengan anaknya setelah tiga tahun tak tentu rimbanya.  Judul yang menggelitik membuat video tentangnya mencapai ribuan viewers hanya dalam hitungan jam. ‘Seorang Anak Yatim Sejak dalam Kandungan Menemukan Anakku’

                Kilatan rasa bersalah memenuhi ruang hatinya. Ia merasa bahwa doa-doanya telah menimbulkan masalah buat Andi.   Konflik yang timbul antara Dino dan Andi jelas melibatkan dirinya.  Bayangan buruk permusuhan dua orang yang berujung kematian berkelebat dalam pikirannya.  Thufail merasakan kepalanya makin berat.

                “Pertanda apakah ini? Aku harus menunda doaku,” gumam Thufail.

***

                Selepas salat berjamaah, Thufail menghabiskan waktunya membaca Alquran.

                Di samping mimbar seorang imam masjid sesekali melirik ke arahnya.  Pandangan menyiratkan rasa khawatir.  Haji Akbar, Imam Masjid sekaligus pimpinan Pesantren Baitul Izzah di kampung Thufail.  Ia selalu perhatian pada Thufail, menganggap Thufail seperti anaknya sendiri, bahkan lebih.  Haji Akbar selalu mengingat pesan Rasulullah SAW, bahwa kedudukan nabi dan seseorang yang memelihara anak yatim itu ibarat ibu jari dengan jari tengah.  Secara materi Thufail tidak pernah kekurangan tapi perhatian dan kasih sayang sangat ia butuhkan.

                Punggung Thufail terguncang-guncang oleh tangisan yang tertahan diiringi bacaan Alquran yang menyentuh hatinya.  Matanya tertuju pada makna ayat kesepuluh Surat Alhujurat.

                Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.

                Haji Akbar beringsut dari sajadahnya, kemudian berdiri menghampiri Thufail.

                “Assalamualaikum, yaabunayya,” sapa Haji Akbar lembut.

                Thufail tersentak dan segera menghapus air matanya.  Ia sangat menaruh hormat pada sosok di depannya itu.  Orang tua sekaligus guru yang selama ini menggantikan figur ayah yang tak pernah dilihatnya sejak bayi.

                Thufail menjawab salam di antara isak tangis yang dipaksanya untuk berhenti.

                “Ada apa, Thufail?  Biasanya kau langsung menghubungi Bapak kalau ada permasalahan.  Coba ceritakan.  Jangan pernah sungkan!  Apapun akan Bapak lakukan untuk mengembalikan senyummu.”  Haji Akbar memang pandai menyenangkan siapa saja.  Seulas senyuman bertengger di sudut bibir Thufail.

“Saya merasa akan ada hal buruk yang menimpa dua orang yang sama-sama mengadukan permasalahannya pada saya, Pak Haji.”  Thufail menceritakan semua yang terjadi, tentang dia orang tamu yang sama-sama berhubungan dengan Lastri.  Haji Akbar mendengar dengan penuh perhatian.  Sesekali kepalanya mengangguk untuk meyakinkan Thufail bahwa ia mendengarkan sepenuhnya masalah yang dihadapi Thufail.

“Anakku, boleh Bapak berikan saran dan pertimbangan?” tanya Haji Akbar penuh penghormatan pada anak istimewa di hadapannya itu. “Langkah pertama, hilangkan bayangan buruk di benakmu.  Ingatlah firman Allah bahwa Allah bersama dengan prasangka hambaNya.  Maka berbaik sangka pada Allah adalah salah satu dari beradab dan berakhlak pada Tuhan, Pencipta kita.  Semakin kita terpaku pada bayangan buruk itu, makin besar kemungkinan apa yang kita sangkakan akan terjadi.”

“Bagaimana saya menghapus bayangan itu, Pak Haji?”

“Bayangkan hal yang sebaliknya.  Alihkan bayangan buruk menjadi bayangan baik, lalu sertakan itu dalam bentuk doa pada Allah SWT.”

Thufail mengangguk tanda mengerti.  “Akan saya coba, Pak Haji.”

“Sekarang cobalah untuk menghadirkan hal positif dalam benakmu, Nak.  Bayangkan Pak Dino dan Pak Andi saling bertemu.  Mereka berdua bertamu secara bersamaan ke rumahmu.  Jangan lupa doakan supaya Lastri ingat hutang-hutangnya.  Merasa bahwa hutangnya di dunia akan menjadi penghalang saat akan memasuki pintu surga?  Begitu juga Pak Dino, doakan agar dia mau meninggalkan bunga yang seratus juta.  Semoga dia merasa cukup dengan pinjaman pokoknya saja.”

Thufail tersenyum lebar.  Gigi-gigi putihnya tampak berjajar rapih, menambah tampan wajah imut remaja belasan tahun itu.

Mereka berdua berdiri beriringan.  Haji Akbar menuntun tangan kiri Thufail, meninggalkan masjid menuju pesantren untuk menikmati makan siang yang sudah disediakan Bu Nyai.

***

Sepuluh hari berlalu, doa-doa yang diajarkan Haji Akbar menemui takdirNya.

“Jadi kamu meminta bantuan Nak Mas Thufail juga, tho?” tuding Dino sengit, ”Pantas uangku ndak kembali juga.  Nikahan anakku tinggal setengah bulan lagi.  Aku stress gara-gara istri culasmu itu.”

“Mohon maaf alangkah baiknya kalau kita menghargai tuan rumah.  Juga saya sebagai bapak angkatnya.”  Haji Akbar menyela dengan tenang tapi penuh wibawa.

“Jangan emosi dulu Pak Dino, saya ke sini membawa kabar baik, kabar gembira, kabar maslahat.  Istriku, Lastri mengirim dua ratus juta, hasil kerjanya selama dua tahun ia tabung.  Ternyata dia ke luar negeri untuk bisa melunasi hutang-hutangnya.”

Dino menurunkan volume tegangnya.  Solusi biaya pernikahan anaknya perlahan menghadirkan senyum tipis di bibirnya.  “Tapi kenapa hanya dua ratus juta?”

Thufail berusaha menjelaskan dasar-dasar hukum riba dan dalil yang melarangnya.  Apa yang dipelajari dari Haji Akbar sungguh membawa manfaat besar pada dua tetamunya menjelang senja hari itu.


Event Jejak Ke-26_Love Yourself

SAJAK PENGEJA CINTA

 

Terguncang jiwa seseorang

Berdiri terpaku antara yang terkasih

Bertindak bagai sosok tercabik

Mencoba mengejakan kata cinta untuk dua insan belia

Dalam ikatan suci lillah

 

Tak peduli panah setan mengancam jiwanya

Dalam balutan basmallah dan shalawat

Pelukan penuh kasih ikhlas

Ada getar rasa tak biasa

Ditepisnya sekuat daya upaya lelahnya

Murni kasih lillah

Kecupan demi kecupan tulus

Bangkitkan rasa yang hampir padam

Beku oleh diam dan ketakpedulian

 

Seseorang kembali menahan segala sesak di dada

Tusukan sembilu di ruang rasa

Tiap canda tawanya bahkan tarikan nafasnya

Hilang derita oleh cinta yang ingin dihujamkan

Pada dua pasangan muda rawan nestapa

 

Pandangan kasihnya untuk buah hati ikatan syariat

Terukir sempurna pada bashirahnya yang terselimuti hidayah

Kumpulan sifat mulia ada pada pemuda

Sabar, penuh kasih, penyayang, pengertian

Kerja keras, amanah mencintai jerih payah

Pemurah, meletakkan dunia di tangan mudah untuk membagikan

Keyakinan akan perlindungan Tuhan

Mengharap penuh pada Yang Maha Menyaksikan

Tiada khawatir hilang dunia seakan penuh pengabdian

Ia sedang melepaskan hati dan jiwanya dari ikatan syahwat dunia

 

Siapa tak terpesona

Hati-hati putih mendamba ikatan dengannya

Lembut hati tak bersisa amarah di ruang hatinya

Relung jiwanya bersih tersinari cahaya kalamNya

 

Hati suci berjiwa seni

Suara merdu lembut serindai

Pada lantunan ayat suci

Pada bait-bait syair nasyid Islami

Juga tarian penanya mengukir kalam dalam indah kaligrafi

 

Garis keras di wajah dan tangannya memegang kerja-kerja perkasa

Seringan tangan secepat kaki membantu sesama

Berharap dipetik bunga rawan di taman hati

Putri kesayangan

Jauh dari sempurna penuh kekurangan

Satu yang dimilikinya, ketaatan

Sejak mengenal dunia hingga beranjak dewasa

Hadiah Allah membawa serta mahar pemuda mulia

 

Perjuangan cinta ditangkap sebagai tirani paksa

Ragu cinta dari pemuda  perkasa

Sosok arif seakan naif

 

Inikah derita menggenggam bara api

Menjaga syariat tanpa syahwat

Pada permulaan jumpa yang terlalu pualam

 

Pengeja cinta bertutur penuh kasih

Anakku, kini saatnya bahagiakan dirimu sendiri

Bebaskan dari belenggu kekurangan diri

Kau hadir bukan untuk sakiti diri atau disakiti

Kau hadir untuk dicinta dan mencintai

Dimuliakan dan dibahagiakan

Seorang pengeja cinta mendekap erat dua yang tercinta

Bersama mengeja cinta lillah

Berbuah jannah

Harapan agungnya mengantarkan dua belia

Menemui Tuhan secepat kilatan cahaya

Menuju pintu syurgaNya

 

Benar sikapmu aku mengaku

Sempurna sikap tak sebati lathi

Cacat menggores nurani

Ucapnya

Sanjungan dan kasih akan bertukar benci

Penjara suci tak pungut materi berakhir rodi

Rasa kasih akan bermuara pada neraka

 

Sudahlah, kita tutup kisah durjana

Peragu bukan terbaik untukmu

Jangan biarkan rasa tak pantas dicinta

Buah sikapnya yang tak tandakan rasa

 

Kemudian seseorang berjiwa tercabik berbisik

Siapa kenal dirinya maka ia kenal Tuhannya

Siapa cinta dirinya maka ia cinta Tuhannya

Cintai dirimu, abaikan sejenak segala pinta yang menyiksa

Cintai dirimu bukan nafsumu tapi nurani

Dirimu yang sejati


 Event Jejak Ke-27_Lomba Puisi New Hope_

HIKMAH BERPISAH

 

Adakah harapan untuk suatu yang mengundang cibiran

Gelaran yang tersemat amat melukai kanvas rasa

Namun apa hendak dikata

Secawan anggur cinta tak juga hadir di sana

 

Hampir dua putaran mentari, duapuluh putaran rembulan

Bukan mudah menghadapi kenyataan

Sesuatu yang dianggap pemaksaan

Hanya hadirkan siksaan

 

Dua insan dewasa merdeka

Beranikan diri genggam bara teredup

Setidaknya luka tak begitu nganga

Karena luka di atas luka

Telah mereka lalui bersama

Kehampaan bahtera tanpa senyuman

Saling sapa hanya sekedar bahasa basi

Tiada kehangatan hambar hilang seri

Buat apa bersama tanpa cinta

Saat ikrar suci pernikahan

Membuahkan dosa-dosa tanpa tepi

Baiklah kita sudahi

Semoga kebencian Tuhan menghala pada keridaan

Setelah pertaubatan

Senyuman itu hadir kembali

Karena saputan dosa telah terakhiri

(Temanggung, 21 JumadilAkhir 1443-24 Januari 2022)

 

 

 


Event Jejak Ke-28_Lomba Cerpen My Dream_

SEMUA DARI NOL

 

            Arimbi menyusul suaminya ke pekarangan yang hanya sepetak sempit.  Luasnya tak lebih dari empat kali tiga meter persegi.  Dengan baju tidur sederhana dan kerudung kecil menutup sebagian rambutnya. 

            “Akang buat apa nanem talas ndak berguna ini.  Apa yang bisa kita dapet  dari tanaman ini?”  Arimbi mencabut acak gagang bonggol talas yang baru saja ditanam Harun, suaminya.

            Harun hanya bisa menggelengkan kepala melihat tangan lembut istrinya memusnahkan jerih payahnya.  Tiga tahun pernikahan berlalu dengan penuh kepedihan.  Arimbi yang manja dan berwajah rupawan tidak pernah mau memikirkan perbaikan nasib rumah tangga mereka.  Harun lebih banyak mengalah.  Cintanya yang terlalu besar pada Arimbi membuat Harun tak berkutik.

            Bukan sekali dua kali ia harus menelan pil pahit akibat kemiskinan yang terlanjur disandangnya.  Beberapa kali tawaran bedah rumah dari pihak kantor desa maupun tetangga menyambangi telinganya.  Semua tanpa realisasi hingga terkesan sebagai cibiran daripada simpati dan empati.

            “Pak Har, rumah ini sudah semi permanen, sudah ada pondasinya.  Tinggal mengubah dinding dan atap akan menjadi rumah layak huni.  Keberadaan rumah ini sering menjadi sorotan dan point negatif nilai kelurahan kita,” ungkap Suganda, kepala desa saat bertandang ke rumah mereka.

            Rumah mereka memanglah hunian terburuk di kampung itu.  Saat membuat pondasi, Harun masih bisa bernapas lega dengan gaji bulanan sebagai karyawan swasta.  Tapi nasib tak selamanya berpihak pada keinginan manusia.  Perusahaan tempatnya bekerja terjerat kasus kredit macet.  Ratusan karyawan dirumahkan sebelum rumahnya selesai dibangun.  Dengan sisa tabungannya, Harun hanya mampu membeli bilik untuk bernaung bersama Arimbi.

            “Akang, biarkan aku pulang saja.  Sepertinya keberadaanku hanya menambah beban kamu.”  Lamunannya tentang nasib yang menimpa tiba-tiba terkagetkan oleh teriakan Arimbi.

            “Jangan sayang, biarlah aku melarat yang penting kamu tetap ada di rumah,” bujuk Harun mencegah kenekatan Arimbi.  Tapi apa boleh buat, Arimbi sudah memesan ojek online dan pergi begitu saja meninggalkan Harun.  Lambaian rok hitam menggantikan lambaian tangan Arimbi yang harusnya ia dapati saat hendak berpisah, layaknya pasangan yang saling mencintai.

            Hampir saja genangan air di sudut mata Harun tak terbendung, ia memandangi talas yang belum selesai ia bereskan.

            “Sabarlah Harun, mungkin kata-kata istrimu itu benar adanya.  Justru kalau kamu sendiri tak ada yang akan menghalangi ikhtiar kamu.  Tidak akan  nada cibiran ketus pada tiap langkah yang kau pilih.  Setidaknya beban kesulitan hidup akan berkurang dengan kepergian Arimbi.”  Suara batin Harun seakan tetesan gutasi di siang hari terik.

            Harun merapikan kembali serakan batang talas yang ia dapat dari tempat pembuangan sampah pagi tadi.  Bibirnya tak lepas dari salawat yang ia baca tiap menghadapi perasaan hati yang amat berat.  Perlahan dadanya lapang dan tenang.

            Sebenarnya Harun memiliki banyak kelebihan wajahnya di atas rata-rata, tingginya seratus tujuh puluhan.  Kesabarannya juga luar biasa.  Pria usia tiga puluh tiga tahun itu lulusan sebuah universitas ternama.  Hanya saja ujian finansial seakan melemparnya di sudut-sudut kehidupan yang kian materialistis ini.

***

            Empat bulan berlalu talas di pekarangan rumah seakan berpihak pada harapan Harun.  Mereka tumbuh subur dan menambah indah pekarangan yang lama tak disentuh tangan perempuan itu.

            “Kesukaanku talas Bogor, Har.  Selama aku kuliah di IPB dan pulang kampung aku selalu bawa talas untuk ibu.  Nah, sampai sekarang ibuku selalu pesan talas kalo aku pulang,” ungkap Hayati saat bertandang ke rumah Harun ditemani Laila, adik bungsunya.  Mereka berteman saat di SMA.  Pernah satu kelas dan cukup akrab.  Hanya nasib yang membedakan keduanya.  Selepas SMA Harun ke Semarang, sementara Hayati ke Bogor.

            “Apa kamu mau beli talas ini, Ati?”

            “Bukannya aku nggak mau, bahkan ibuku akan sangat suka.  Tapi aku punya ide.  Bagaimana kalau kamu olah aja talas ini.  Barang jadi akan membuatmu untung berkali lipat bahkan bias sampai tiga kali daripada dijual mentah.  Nah, nanti batangnya bisa kamu tanam lagi tanpa harus mencari bibitnya lagi.”  Hayati memberi masukan dengan tulus.  Ia ikut prihatin dengan ujian yang sedang menimpa Harun saat ini.  Ia teringat kebaikan Harun saat masih sekolah dulu.  Ia banyak minta bantuan Harun jika ada tugas yang menurutnya sulit.  Harun akan selalu bersabar membantunya memahami pelajaran.  Hayati berpikir, bahwa ini saatnya ia membalas jasa kebaikan Harun.

            Dengan bantuan googling dan browsing Youtube Hayati menawarkan beberapa resep yang dicatat rapih.

            “Aku bawa bumbu ini buat kamu, Har.  Cobalah beberapa resep yang aku googling ini.  Semoga pas di lidah dan bikin pembeli keripik talas kamu ketagihan.”

            “Terima kasih, Hayati.  Dari dulu kamu sahabat terbaikku.”  Dua sahabat itu saling mendoakan sebelum kemudian berpisah.  Hayati akan kembali ke Bogor untuk urusan kerjanya.

            Perjumpaan mereka yang hanya tiga hari itu membawa arti buat semangat Harun yang sempat menemaram.  Awalnya ia ingin menjual langsung panen talasnya.  Dengan tambahan kesabaran, keuletan  dan kerja keras,  Harun harus menikmati proses produksi kripik talasnya.

            Dengan berbagai kemasan dan sasaran konsumen yang berbeda-beda Harun menitipkan keripik talesnya ke beberapa warung.

            Usahanya kali ini memicu Harun banyak membaca zikir dan doa penarik rezeki.  Salawat tak pernah lepas dari lisannya.  Tiap pagi jelang bekerja Harun menyempatkan diri berdoa dan membaca Surat Waqiah.  Amalan baru yang ia dapat dari Hayati.  Sejak kuliah di Bogor Hayati banyak mengalami perubahan, penampilannya islami.  Gadis itu berbalut gamis dan hijab syar’i.  Pembawaannya pun lebih tenang dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.  Sangat berbeda dengan Hayati remaja dulu.

            “Kalau aku belum menikahi Arimbi, sepertinya Hayati sangat baik untuk menjadi ibu anak-anakku,”gumam Harun sambil membungkus keripik renyah bikinannya. “Jangan mimpi Harun, Hayati gadis matang yang mapan.  Ia punya jodohnya sendiri yang sekufu.”  Harun masih asyik dengan lamunannya tentang Hayati.

            Dua hari setelah menitipkan keripik buatannya, Harun mencoba menanyakan perkembangan dagangan yang ia titipkan itu.  Di luar dugaannya semua habis terjual.  Resep yang diberikan Hayati benar-benar bisa diterima penikmat keripiknya.

            Harun meraih gawai jadul yang masih bias dia pakai menghubungi Hayati.  Tak sabar Harun ingin berterima kasih atas segala kebaikan Hayati.  Terutama resepnya.

            [Hayati, terima kasih udah peduli sama aku.  Aku nggak bisa bayangin kalau kamu nggak hadir tiga hari di kampung kita.  Keripik buatanku benar-benar acceptable.]

            [Wasyukrulillah.  Semua atas kasih saying Allah atas kesabaran kamu.  Kalau kita tekunin satu hal, focus maka kita akan expert dalam bidang itu].

            Chat antara Harun dan Hayati menjadi energy tersendiri buat Harun.  Semangat, harapan, kesungguhan, keuletan terbangun dari sana.  Sementara Arimbi tak pernah membuka chat Harun hanya checklist dua tanpa warna.

            Dalam satu bulan, Harun sudah mendapat modal dari hasil jualannya lebih dari dua juta.  Siuang malam di sela-sela ibadahnya,  Harun terus mengakrabi talas.  Sesekali idenya muncul membuat produk baru yang sekiranya marketable.  Untuk menembus pasaran anak muda, Ia mencoba membuat grobi talas isi.  Aneka rasa ia masukan di tengah grobi talas.  Rasanya luar biasa.  Coklat, keju, perisa kopi ia coba.  Produk ini ternyata dua kali lebih cepat habis daripada kripik original.

            Satu tahun berlalu, ia telah membuktikan perkataan Hayati.  Harun makin expert dalam pembuatan aneka makanan berbahan talas. Harun memberanikan diri membuat kios kecil “Aneka Talas Oleh-Oleh Khas-Ultra Rasa”.  Ia tak peduli perkataan orang yang mencibir rumahnya, ia ingin usahanya berkembang dan stabil.

            Online marketing mulai ia jajaki.  Gawai jadulnya telah ia ganti dengan seri yang terbaru dari merek yang sama.  Tentu hal ini lebih memudahkan pemasaran produk talasnya.

            [Dua puluh kilo grobi talas isi keju, dua puluh lima kilo grobi isi coklas, lima kilo keripik talas original].  Pesan wa dari pelanggan menghampiri gawainya, tiap hari bias masuk lima pesanan partai besar.  Belum lagi partai sedang dan kecil.  Hari demi hari, Harun harus menambah karyawan, peralatan juga prasarana produksi.

            Perlahan tapi pasti, petak-petak sawak dan kebun di sekitar rumahnya ia beli untuk perluasan.  Rumahnya sudah seratus persen permanen dengan keramik biru tua, warna kesayangannya.  Mobil pick up untuk usaha dan mobil pribadi untuk mobilitasnya bertengger di garasi samping kanan rumahnya.

            Meskipun meraih banyak hal yang ia harapkan, Harun tak pernah lepas dari amalan shalawat dan bacaan waqiah dari Hayati

***

            Di sebuah aula gedung Kementrian Tenaga Kerja sepasang mempelai berusia empat puluhan terhias bak pangeran dan putri cantik natural. 

Harun telah meraih bintang berkat kesabaran dan ketekunannya.  Menjadi tokoh entrepreneur muda ternama di kotanya.  Karena prestasinya ia direkrut untuk menjadi motivator bagi pemilik UKM di beberapa wilayah kabupaten di provinsi yang sama.

Di satu sudut ruangan Arimbi tertunduk malu penuh penyesalan hatinya berdenting syahdu, ”Seandainya Mas Harun masih bias memaafkan aku, akan aku akui segala kesalahanku, menjadi pendampingnya di sisi Hayati pun aku rela.”

Dari atas panggung mempelai, tiba-tiba Hayati menuruni tangga, seakan mengetahui isi hati Arimbi.

“Assalamu’alaikum, Arimbi, kaukah itu?” sapa lembut Hayati memecah lamunan Arimbi.

“Aku…aku…ucapin selamat, Hayati.  Kau memang pantas mendapatkan Mas Harun.”  Genangan di sudut mata Arimbi hampir terjatuh.

“Arimbi, aku tahu Mas Harun sangat mencintaimu.  Aku tak ingin merenggut kebahagiaanmu.  Aku juga bukan orang yang memandang hina pernikahan dua sampai empat istri.  Aku relakan kau menjadi hadiah pernikahanku dengan Mas Harun.  Tiga tahun mendampingi Mas Harun dalam penderitaan, aku ingin kita bias bahagia bersama.

Pecah tangisan dua wanita cantik itu.  Mereka saling berpelukan menyita perhatian para tamu undangan.  Harun menghampiri dua wanita yang sangat dicintainya itu.  Ia memeluk keduanya dengan penuh kasih.

“Istri-istriku, kalian adalah cahaya mata buatku seperti yang kupinta dalam tiap salatku.  Aku bukan membagi cinta, tapi kita bersama akan saling berbagi kasih sesuai tuntunan syariatNya.  Aku cinta kalian, dan kalian juga bisa saling berkasih sayang dalam batas keridhoan Tuhan.”

Hari itu menjadi hari terindah tentang kasih sayang.  Impian bagi semua insan di bumi yang makin gersang dan tandus keimanan.  Mereka memiliki tugas baru untuk membuktikan keharmonisan seatap banyak cinta dari titik nol.

 

 

 

 

 

 


Tentang Penulis

 

Khadijah Hanif, anggota dari Badan Pengelola Pesantren Terpadu Nurul Amanah Tasikmalaya dan Pengurus Yayasan Aminul Ummah Garut.   Berprifesi sebagai Guru Fisika dan bahasa Inggris di SMPIT-SMAIT Nurul Amanah. 

Karya novel solonya berjudul  Talbiyah Cinta dari Kampung Naga terbit di tahun 2018.  Buku ini adalah buku solo ke-2 yang merupakan kumpulan dari seluruh naskah yang ditulis unuk menikuti event Jejak Publisher, bertajuk Jejak Literasi

Memenangkan beberapa event perlombaan menuli antaralain:

1.       Juara 1 event jejak bertema Harmonisasi Kerukunan Atara Umat Beragama

2.       Penulis naskah terbaik dalam event menulis cerpen Break Your Limit berjudul Jadi Maka Jadilah

3.       Penulis naskah terpilih dalam lima event Jejak Publisher lainnya

4.       Juara 1 lomba menulis cerpen, Juara 3 lomba menulis cerpen dan Juara 1 lomba menulis berita yang diadakan Komunitas Literasi IAIC Cipasung dalam Event Gerimis 2019

5.       Penulis dua naskah terbaik pada event menulis Nubar Area yang diselenggarakan Rhumedia

Sampai saat ini penulis telah berkontribusi pada lebih dari 60 antologi dengan berbagai genre diterbitkan oleh Jejak Publisher, Rhumedia, Wonderland Publishing, dan Dandelion Authors .  Delapan buku solo berupa novel, legenda dunia, kisah inspiratif, puisi dan quotes menunggu untuk diterbitkan.

Ibu dari tiga putra-putri ini dapat  dihubunyi melalui khadijahhanif313@gmail.com,  fb. Titin Harti Hastuti,  ig. titinhartihastuti_313 dan TITINHASTUTI’S BLOG


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA