BUKU SOLO X

5-AH SEPUTAR NIKAH

(Ibadah, Mudah, Murah, Berkah, Indah)


 (Sebuah buku pintar, kado pernikahan terlengkap)


 

HARI I

5-AH SEPUTAR NIKAH

(Ibadah, Mudah, Murah, Berkah, Indah)

A. Nikah Itu Ibadah

1. Ta'rif Nikah

2. Hukum Nikah dalam Islam

a. Pernikahan Wajib

b. Pernikahan Sunnah

c. Pernikahan Mubah

d. Pernikahan Makruh

e. Pernikahan Haram

3. Makna Ibadah

4. 5 Syarat Ibadah

5. Sifat Ibadah Nikah

a. Munculnya Kecenderungan Rasa Tentram dan Nyaman

b. Kecenderungan Ingin Selalu Bersama

c. Komitmen sepanjang hayat

d. Haram yang Dihalalkan

B. Nikah Itu Mudah dan Murah

1. Langkah Menuju Gerbang Nikah

a. Taaruf

b. Khitbah

c. Nikah

2. Walimah sesuai Sunnah

3. Kisah-Kisah Walimah Shohabiyah

C. Nikah Itu Indah

1. Malam Pertama yang Mendebarkan

2. Kiat Melahirkan Anak Salih yang Jenius

3. Agar Selalu Seindah Malam Pertama

D. Nikah Itu Berkah

1. Memberkahkan Pernikahan

a. Pasangan adalah Pakaian Penghias

b. Mengikat Persaudaraan

c. Poligami yang Tak Kontroversif

d. Cinta yang Evergreen

2. Membangun Peradaban Mulai dari Keluarga

a. Negara Kecil dalam Keluarga

b. Keluarga adalah Tim

c. Peran Kepemimpinan Ayah

E. Duri Qalbu dalam Rumah Tangga

1. Curiga

2. Cemburu

3. Dayyuts

4. Jenuh

5. Kemewahan atau Kesederhanaan

F. Ketika Prahara Melanda

1. Hadirnya The Other Person

2. Jika Rezeki Tak Juga Mencukupi

3. Mengapa Cinta Tak Kunjung Tiba

4. Perpisahan yang Solutif

5. Kisah Perceraian Syar'i

6. Agar Tidak Jadi Benci

A. Nikah Itu Ibadah

Sudah menjadi mafhum di kalangan para jomblo maupun para pasutri yang baru memasuki gerbang rumah tangga, bahasan nikah bak santapan baso di kala lapar atau camilan yang sulit dihentikan saat waktu senggang. Perbincangan tentang nikah akan selalu up to date untuk didiskusikan.

Sudah menjadi sunatullah bahwa setiap bani Adam menginginkan pelengkap hidup. Sebagaimana kakek kita yang merasa sepi diciptakan seorang diri. Meskipun surga penuh dengan kenikmatan, serasa ada yang kurang ketika Adam menghadapi semuanya sendiri. Allah Yang Mahatahu memenuhi keinginan hati Adam dengan menciptakan Hawa dari tulang rusuknya. Ini berarti, sudah menjadi fitrah murni manusia ingin menemukan pasangannya.

Walaupun terdapat beberapa kasus, banyak juga yang lebih nyaman hidup sendiri. Akan tetapi tentu saja hal itu di luar kelaziman. Menurut catatan statistic terdapat 5 % saja dari seluruh pria dewasa di Indonesia yang tidak pernah menikah dan hanya satu dari 10 responden yang benar-benar menginginkan hidup sendiri.

Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Ibnu Majah.,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِيْ فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي وَتَزَوَّجُوا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ” رواه ابن ماجه

Artinya: "Dari Aisyah, beliau berkata, bersabda Rasulullah SAW: Nikah itu sunnahku maka barang siapa yang tidak beramal dengan sunnahku maka mereka bukan dari bagianku. Menikahlah, sungguh aku membanggakan kalian di atas ummat-umat yang lain. Barang siapa yang memiliki kekayaan maka menikahlah. Barang siapa yang tidak mampu, maka berpuasalah, karena berpuasa itu adalah tameng."

Hadits ini menyampaikan bahwa sunnah itu membawa maslahat, lho. Tentu saja nikah yang bersesuaian dengan contoh dari Rasulullah SAW.

1. Ta'rif Nikah

Pernikahan dalam beberapa sumber literasi disebut dalam dua kata, yaitu (نكح) dan (زواج), digunakan dalam bahasa Arab dalam makna aslinya adalah hubungan seksual, hubungan badan antara dua orang pria dan wanita. Secara hokum, nikah adalah akad, perjanjian suci antara seorang pria dan seorang wanita yang dengan itu mereka telah dihalalkan dalam melakukan hubungan seksual. Ikatan ini bukan sekenar mainan lisan akan tetapi menjadi ikrar suci untuk membentuk keluarga bahagia selamanya.

Nah, untuk makna nikah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa nikah adalah ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Alhamdulillah, tata nilai ini melekat dalam akan budaya kita sehingga makna nikah tidak mengalami pergeseran yang menghawatirkan.

Berdasarkan peraturan perundang-undanga, ada upaya pihak-pihak tertentu yang ingin menggantikan difinisinya, tetapi sampai saat ini wakil rakyat kita masih konsisten mempertahankan makna nikah sesuai aturan agama. (Belakangan ini ada upaya untuk mengubahnya menjadi ikatan lahir batin antara dua insan tanpa menyebut jinsiahnya, tentu ini akan memberi peluang pada nikah sejenis. Naudzubillahimindzalik) Dalam undang-undang perkawinan, yaitu Undang-undang Nomor 1 tahun 1974, perkawinan (pernikahan) ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Jadi, menikah adalah komitmen panjang, sepanjang hayat masih dikandung badan. Bukan pada saat akad saja, selanjutnya terserah anda. Akan tetapi ada banyak hal yang bernilai ibadah di dalamnya apabila cara menjalankan keluarga sesuai dengan perintah Allah dan contoh dari Rasulullah SAW.

2. Lima Hukum Nikah

Kita mengenal ada lima hukum Islam. Wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah atau jaiz. Dari bangun tidur hingga tidur lagi sebagai ummat Islam, kita selalu terikat lima hukum ini. Haram bila sesuatu itu tidak diperbolehkan untuk diamalkan, atau harus ditinggalkan. Sunnah bila dianjurkan untuk dilakukan, artinya berpahala bila dilakukan dan tidak berdosa bila ditinggalkan. Sementara itu haram kebalikan dari wajib dan makruh kebalikan dari sunnah. Satu lagi ada yang dihukumi mubah, alias tidak mengapa, boleh diamalakan boleh juga tidak diamalakan

Tiga hukum nikah ini tentusaja dibaca secara kontekstual, sesuai masing-masing kasus yang terjadi.

a. Pernikahan Wajib

Pernikahan yang dihukumi wajib adalah pernikahan yang dapat menyelamatkan seseorang dari terjerumus dalam maksiat dan perzinahan. Jika cinta sudah bersemi di dalam hati, rindu dendam sudah membuat dua sijoli ingin terus bertemu, maka solusi wajibnmya adalah menikah.

Atau, seseorang yang karena kebutuhan biologisnya atau libidonya membuatnya ingin menyalurkan hasrat pada hal-hal yang dilarang agama. Kebutuhan biologisnya membuat dia tak mampu menahan pandangan. Ingatannya selalu ingin melihat hal-hal yang merusak kebeningan hati dan jiwanya, maka saluran yang paling menyelamatkan dan memuliakan dirinya adalah menikah.

Menikah dengan alasan di atas akan membuat seseorang mendapat pertolongan Allah SWT. Rasulullah bersabda pada hadits riwayat Ahmad

ثَلَاثٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُ: الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَالنَّاكِحُ الْمُسْتَعْفِفُ، وَالْمُكَاتَبُ يُرِيدُ الْأَدَاءَ

Artinya: ”Ada tiga kelompok manusia yang pasti ditolong oleh Allah: (1) mujahid di jalan Allah; (2) pemuda yang menikah untuk menjaga kehormatan diri; dan (3) budak yang berusaha memerdekakan diri (agar lebih leluasa beribadah).” (HR. Ahmad no. 7416.)

 

Hari ke-2

b. Pernikahan Sunnah

Tipe keadaan yang membuat pernikahan dinilai sunnah, atau sebaiknya dilakukan adalah bila seseorang telah mampu menikah baik dari segi usia maupun kesiapan materi. Akan tetapi tidak sampai jatuh pada hal-hal hal yang menjatuhkan kehormatan diri. Seseorang yang masih dalam taraf kemampuan mengendalikan diri tapi kemuliaannya akan bertambah apabila seseorang itu menikah.

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

Artinya: “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi)

Sunnah yang menyempurnakan agama seseorang adalah nikah. Setengah yang lainnya ada pada ketakwaan. Jadi dengan seseorang belum dikatakan meraih gelar takwa bila dia menolak pernikahn.

Kita pernah mendengar beberapa kisa ulama ataupun wali Allah yang memilih tidak menikah. Hal ini tidak akan kita bahas pada bagian ini karena ulama dan wali Allah memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Yang akan kita bahas adalah level kita sebagai orang kebanyakan.

Mereka punya alasan yang sangat urgen dengan keputusan tidak menikah. Misalnya, Syeikh Nawawi al Bantani tidak menikah karena tersibukkan dengan pengabdiannya pada ilmu, yang mencukupkan mereka meraih keutamaan di sisi Allah SWT. Akan tetapi mereka mengambil keputusan sebagai langkah personal, artinya tidak karena menolak syariat nikah dan tidak pula melakukan propaganda penolakan terhadap pernikahan.

c. Menikah Mubah

Salah satu ulama yang berpendapat hokum asal dari nikah itu mubah adalah Imam Syafi'i. Jika menikah tidak berdosa dan tidak pula berpahala. Demikian juga saat meninggalkannya. Istilah lain jaiz saja.

Pernikahan yang mubah hukumnya adalah pernikahan bagi mereka yang memiliki harta kekayaan, tetapi apabila tidak melakukan pernikahan tidak khawatir akan berkurang kemuliaan. Apa bila menikah pun tidak ada ke khawatiran akan saling menyia-nyiakan pasangan. Pernikahan hanya bertujuan untuk memenuhi kesenangan.

Contohnya, dua orang sudah ada rasa saling suka. Keduanya pun siap secara finansial berumah tangga. Tetapi mereka tidak sangat berhasrat hingga sering melakukan aktivitas pendekatan yang berlebihan.

Mungkin ada sedikit kebingungan antara kedudukan nikah sunnah dan mubah. Lebih sederhananya, nikah akan menjadi sunah bila tujuannya mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan akan mubah bila tujuannya mencari hiburan dan kesenangan saja.

Pada dasarnya hukum mubah ini bersifat fleksibel. Baik buruknya sangat tergantung pada masing-masing pengamalnya. Apalagi di dalam Alquran, Allah berfirman dalam beberapa ayat bahwa pernikahan sangat berkaitan dengan pasangan yang Allah ciptakan untuk masing-masing manusia. Sebagaimana firman Allah dalam Alqur'an Surat Annisa ayat pertama

يٰۤـاَيُّهَا النَّا سُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّا حِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَا لًا كَثِيْرًا وَّنِسَآءً ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهٖ وَا لْاَ رْحَا مَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."

Untuk mereka yang tidak berjodoh di duniapun akan memperoleh pasangannya di akhirat sebagai hadiah atas ketaatannya sebagai hamba Allah SWT.

d. Menikah Makruh

Wah, pernikahan bisa juga tidak disukai Allah, ya! Yang bagaimanakah pernikahan yang dibenci itu? Sebelumnya kita bahas sejenak makna makruh. Makhruh artinya dibenci atau cenderung dilarang. Bila dilakukan tidak berdosa tetapi bila ditinggalkan berpahala. Jadi sebaiknya jangan dilakukan.

Pernikahan jenis ini berlaku pada mereka yang mampu secara materi, mereka cukum mampu untuk menghindarkan diri dari perzinahan. Akan tetapi ada kekhawatiran salah satu pihak atau dua pihak tidak akan mampu melaksanakan kewajiban mereka masing-masing. Yang berarti juga aka nada pihak-pihak yang hak-haknya tidak tertunaikan.

Contoh kasus, dua orang yang cukup usia, memiliki materi yang cukup untuk menikah tetapi belum punya keinginan untuk berumah tangga. Sehingga rumah tangga yang mereka bangun akan terasa hambar dan akhirnya berpotensi untuk merusak binaan keluarga yang mereka bangun.

e. Menikah Haram

Kedudukan menikah jenis ini lebih mengerikan. Haram berarti dilarang, bila memaksa dilakukan hukumnya berdosa. Jika kita menghindarinya dan mencegahnya justru berpahala.

Pernikahan haram bagi orang yang belum berkeinginan serta tidak memiliki kemampuan secara materiil. Salah satu atau dua pihak tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan kewajiban-kewajiban pernikahan. Pernikahan semacam ini berpotensi akan menyengsarakan salah satu atau dua pihak. Pernikahan menjadi jembatan untuk saling melakukan penzaliman dan penzaliman itu dilarang dalam Islam.

Contoh kasus, seorang berniat menikahi seseorang karena kekayaannya dan tidak akan memenuhi kewajiban terhadap pasangannya karena alas an tidak cinta dan tidak berhasrat.

Adalagi pernikahan yang sangat dilarang bahkan dilaknat Agama. Yaitu pernikahan yang menyimpang karena dua pihak yang menikah haram hukumnya untuk dinikahi. Misalnya saja nikah satu gender dan juga nikah dengan mahram (nauzubillahi min zalik)

Jangan salah, di akhir zaman ini ada saja dalih penghalalan nikah sejenis, bahkan dalil Alquran menjadi alasan penyimpangan ini. Kira-kira apa,ya, alasan mereka untuk nikah sejenis?

Ini dia ayat itu, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا لِّتَسْكُنُوْۤا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."

(QS. Ar-Rum 30: Ayat 21)

Jangan sampai terkecoh. Sejenis disini maknanya sama-sama manusia

 

Hari ke-3

B. MAKNA IBADAH

Setelah berbincang tentang lima hukum nikah sesuai perspektif hukum Islam, kita bahas sejenak tentang apa itu ibadah. Hal ini penting karena kita akan lebih dalam memaknai nikah sebagai ibadah. Sebelum kolaborasi antara nikah dan ibadah, kita pahami dulu makna ibadah.

Ibadat atau ibadah berasal dari bahasa Arab "ibadah(عبادة). Yaitu suatu aktivitas yang menghubungkan antara hamba dengan Tuhannya, Allah Swt, karena perbuatan itu diniatkan untuk taat padaNya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia ibdah bermakna, perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah Swt., yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan makna ibadat sebagai padanan kata dari ibadah adalah, segala usaha lahir dan batin sesuai dengan perintah Tuhan untuk mendapatkan kebahagiaan dan keseimbangan hidup, baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat maupun terhadap alam semesta.

Menurut bahasa ibadah adalah merendahkan diri, ketundukan dan kepatuhan atas perintah-perintah agama. Sedangkan menurut istilah syar'i, ibadah mencakup segala sesuatu yang mendatangkan kecintaan pada Allah Swt dan diridhai-Nya. Baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (bathin) dan yang nampak (lahir).

Masya Allah, sangat luasnya makna ibadah menurut pandangan Islam. Betapa Mahabaiknya Allah Swt yang memandang setiap perbuatan baik itu digolongkan dalam ibadah. Tentu saja tiap ibadah ini akan mendapat balasan dari Allah SWT sebagaimana janji dalam FirmanNya dalam Quran Surat Azzalzalah ayat 7-8),

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ

"Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."

وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

"Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."

Berikut firman Allah dalam Alquran terkait siapa saja yang melakukan ibadah

1. Orang yang senantiasa beribadah adalah orang yang berada dalam jalan yang lurus (Shirathal Mustaqim), yaitu jalan yang di dalamnya penuh kenikmatan karena menetapi apa-apa yang Allah perintahkan. Sebagaimana yang termaktub dalam surat Yasin ayat 61

وَّاَنِ اعْبُدُوْنِيْ ۗ هٰذَا صِرَا طٌ مُّسْتَقِيْمٌ

"Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus"

dan Alfatihah ayat 6-7

صِرَا طَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّيْنَ

اِهْدِنَا الصِّرَا طَ الْمُسْتَقِيْمَ

"(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."

2. Orang yang beribadah adalah mereka yang menyelarasaskan hidupnya dengan tujuan penciptaannya, dimana penciptaan manusia bertujuan agar manusia itu senantiasa beribadah kepada Allah SWT (Adz-Dzariyat ayat 56).

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."

Dalam hal ini ibadah bukan hanya yang bersifat mahdhah atau ritual habluminallah yang bersifat vertical antara hamba dan Pencipta. Akan tetapi juga ibadah ghairu mahdhah yang bersifat horizontal, yang menghubungkan manusia dengan sesame ciptaanNya

3. Orang dikatakan berada dalam keadaan beribadah adalah apa bila senantiasa berpegang teguh pada apa-apa yang diwahyukan Allah Swt.

فَا سْتَمْسِكْ بِا لَّذِيْۤ اُوْحِيَ اِلَيْكَ ۚ اِنَّكَ عَلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ

"Maka berpegang teguhlah engkau kepada (agama) yang telah diwahyukan kepadamu. Sungguh, engkau berada di jalan yang lurus."Mereka yang dalam melangkah senantiasa mencari jalan terbaik dengan menggunakan petunjuk Allah. (Az Zuhruf ayat 43)

Nah, dari berbagai sumber di atas, di sini bisa kita simpulkan beberapa hal terkait ibadah sebagai berikut:

1. Ibadah adalah segala aktivitas yang diniatkan atas ketaatan pada Allah SWT

2. Ibadah diatur dan dijalankan sesuai petunjukNya

3. Ibadah menghasilkan kemaslahatan bagi sesama juga semesta.

C. LIMA SYARAT IBADAH

Seorang ulama besar yang berasal dari negeri jiran, Malaysia, Syeikh Asy'ari bin Muhammad Attamimi (1937-2010) menyampaikan pandangannya tentang syarat setiap perbuatan itu bernilai ibadah. Beliau adalah ulama yang mencoba menerapkan Islam pada tiap aspek kehidupan segaligus menjadikan segala sesuatu dapat dinilai ibadah oleh Sang Khaliq. Kenalkah kalian pada beliau?

Apa sajakah syarat-syarat tiap perbuatan menjadi ibadah?

1. Niat Harus Lillah

Sebagaimana dalam sebuah hadits yang sangat masyhur termaktub dalam kitan hadits riwayat Bukhari Muslim,

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

"Tiap amalan tergantung niatnya, dan seseorang hanya akan mendapatkan sesuai niatnya.

Barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya , maka hijrahnya kea rah mana sesuai yang diniatkannya."

Niat menjadi bagian terpenting sebelum kita melakukan suatu amalan. Bisa jadi ibadah mahdhah yang terlihat secara lahiriah tidak akan bernilai ibadah karena niatnya tidak lillahi ta'ala. Sebaliknya bias jadi sesuatu itu dianggap bukan ibadah karena berupa amalan perbuatan yang seakan amalan dunia, tapi karena niat yang tepat maka dinilai ibadah oleh Allah SWT.

Jadi, penting buat kalian yang mau menikah memperbaharui niat. Jangan sampai nikah karena ingin mendapatkan hartanya. Atau punya rencana memperdagangkan wajah pasangan karena kecantikan dan ketampanannya. Atau menikah karena ingin nebeng tenar dari pasangan. Itu namanya bukan lillah lagi.

Lalu bagaimana niat lillah itu, sih? Kita menikah atas dasar perintah sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran Surat Annur ayat 31

وَاَ نْكِحُوا الْاَ يَا مٰى مِنْكُمْ وَا لصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَا دِكُمْ وَاِ مَآئِكُمْ ۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ

"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui "

Demikian juga seruan Rasulullah SAW tentang menikah sangatlah banyak diantaranya adalah hadits berikut

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

Artinya:

“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan lainnya).

Dari dua nash ini jelaslah bahwa kita harus meniatkan nikah karena mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya

2. Perkara yang Diamalkan Bukan Perkara yang Haram

Artinya, hal yang dilakukan tidak menyimpang dari garis batas yang diperbolehkan. Terkait bahasan kita kali ini maka agar menjadi ibadah, jenis hokum nikahnya bukan makruh atau pun haram. Jadi nikah akan jadi ibadah bila jenis hokum nikahnya mubah, sunnah hingga wajib. Barulah pernikahan itu dapat dikatagorikan dalam ibadah

 

Hari ke-4

2. Perkara yang Diamalkan Bukan Perkara yang Haram

Artinya, hal yang dilakukan tidak menyimpang dari garis batas yang diperbolehkan. Terkait bahasan kita kali ini maka agar menjadi ibadah, jenis hukum nikahnya bukan makruh atau pun haram. Jadi nikah akan jadi ibadah bila jenis hokum nikahnya mubah, sunnah hingga wajib. Barulah pernikahan itu dapat dikatagorikan dalam ibadah.

Kalau demikian berarti saat melangkah gerbang nikah, kita harus tahu betul hukum nikah yang kita lakukan. Jika diawali dengan perkara haram dan makruh rasanya akan sulit untuk mengarahkan mahligai rumah tangga dalam katagori ibadah.

Sebagaimana makanan, ada dua jenis makanan haram yaitu berdasarkan zatnya atau berdasarkan hukumnya. Keharaman menikah bias jadi karena factor kondisional dari calon pasangan dan bias jadi karena cara melakukannya yang tidak sesuai syari'at

a. Haram dari Sisi Calon Mempelai

i. Pernikahan dengan mahram

Makna mahram adalah yang haram dinikahi karena kedekatan ikatan pertalian darah maupun pertalian hukum syariat melalui pernikahan.

Berikut ini mahram yang haram dinikahi:

*Mahram karena nasab:

ü Ayah dan anak perempuannya, ibu dan anak laki-lakinya

ü Saudara kandung

ü Paman dan keponakan perempuan, bibi dan keponakan laki-laki, baik dari

ü saudara perempuan maupun laki-laki

ü Kakek dengan cucu perempuan, nenek dan cucu laki-laki

*Mahram karena pernikahan

ü -Mertua laki-laki dengan menantu perempuan, mertua perempuan dengan menantu laki-laki

ü -Anak tiri laki-laki dengan ibu sambung, anak tiri perempuan dengan bapak sambung

ü -Mertua perempuan sambung dengan menantu laki-laki, mertua perempuan sambung dengan menantu perempuan

*Mahram karena persusuan

Ukuran persesusuan adalah bila telah lima kali menyusu hingga kenyang dan bayi tersebut menyusu sebelum usianya lewat dua tahun.. Adapun mahram karena persesusuan adalah:

ü suami dari ibu susu dan anak susu perempuan, ibu susu dan anak yang disusui

ü saudara sepersusuan laki-laki dan perempuan yang dipersusukan, saudara sepersusuan perempuan dan laki-laki yang dipersusukan

ü saudara laki-laki ibu susu dan perempuan yang dipersusukan, saudara perempuan ibu susu dari laki-laki yang dipersusukan

ü ayah dari wanita yang menyusui dan perempuan yang dipersusukan, ibu dari ibu susu dan laki-laki yang dipersusukan

ü mertua laki-laki ibu susu dan perempuan yang dipersusukan, mertua perempuan ibu susu dan laki-laki yang dipersusukan

ü ipar laki-laki ibu susu dan perempuan yang dipersusukan, ipar perempuan ibu susu dan laki-laki yang dipersusukan

ü laki-laki dan perempuan yang memiliki ibu susu yang sama

Subhanallah, betapa lengkapnya syariat Islam mengatur hubungan mahram ini. Selain tinjauan kesehatan dan pernikahan dengan kedekatan genetis, Islam juga mempertimbangkan keharmonisan muamalah yang perlu dijaga sehingga mahram dibahas detail dalam fiqih muamalah.

Hal ini penting dibahas, karena kecenderungan yang memprihatinkan di kalangan masyarakat, dimana batasan mahram dan bukan sudah tidak diperhatikan lagi. Padahal batasan ini selain menjadi koridor dakam menikahkan, juga dalam batasan aurat antara laki-laki dan perempuan. Semoga sedikit share ini menimbulkan kepahaman batas aurat dan batas pernikaha yang diharamkan.

ii. Pernikahan sesama jenis

Pernikahan seperti ini bukan hanya dilarang bahkan dilaknat dalam Islam.

اِنَّكُمْ لَـتَأْتُوْنَ الرِّجَا لَ شَهْوَةً مِّنْ دُوْنِ النِّسَآءِ ۗ بَلْ اَنْـتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ

"Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.""(QS. Al-A'raf 7: Ayat 81)

Juga pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ

"Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa umatku adalah perbuatan kaum Luth"

Dari dua nash di atas jelaslah bahwa pernikahan sejenis tidak dibenarkan. Meskipun mereka yang melaksanakannya saling suka, rasa suka yang menyimpang ini harus diupayakan terapi dan rehabilitasinya. Salah satu upaya pencegahan paling awal dari Rasulullah adalah larangan penyerupaan wanita seperti pria dan sebaliknya pria menyerupai wanita, baik dalam penampilan, tingkah laku, gaya bicara dal lain sebagainya.

iii. Pernikahan karena keterpaksaan, bukan atas dasar ridha birridha

Kedua mempelai mestilah memiliki rasa kecenderunga, suka, cinta atau paling tidak, tidak merasa terpaksa menjalani pernikahan. Untuk itulah perlunya ta'aruf. Tanpa taaruf akan terjadi kendala di kemudian hari yang tidak diinginkan.

Cinta bisa hadir dengan waktu tidak selamanya bisa dijadikan alas an untuk memaksa dua orang berbeda jenis, berbeda karakter, berbeda latar belakang dan pengalaman hidup itu memasiki gerbang nikah.

Meskipun ada juga yang menemukan cinta selepas nikah tapi elok tanyakan perasaan masing-masing tentang calon pasangannya.

iv. Pernikahan yang berpotensi menimbulkan penzaliman

Pernikahan yang dimana salah satu atau kedua pihak berniat tidak akan memenuhi kewajibannya. Bisa juga karena memang salah satu atau kedua pihak tidak dapat memenuhi kewajibannya. Misalnya, punya penyakit yang dirahasiakan dan akan mengakibatkan tidak akan mampu memenuhi kewajiban

v. Pernikahan beda agama

Baru-baru ini kita disajikan berita terutama infotainment tentang pernikahan beda agama dan sekaligus perpindahan agama. Jika pernikahan terjadi setelah keduanya memiliki kesamaan agama itu bukan hal yang meresahkan. Karena tiap agama mengatur hokum nikahnya masing-masing.

Allah SWT memmperingatkan dengan jelas dan tegas tentang larangan ini:

تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰٓئِكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّا رِ ۖ وَا للّٰهُ يَدْعُوْۤا اِلَى الْجَـنَّةِ وَا لْمَغْفِرَةِ بِاِ ذْنِهٖ ۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

"Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 221)

Alasan ketertarikan tidak seharusnya mengabaikan larangan Allah SWT, karena harga keimanan itu lebih berat timbangannya daru dunia dan seisinya.

Jadi hati-hatilah kita dalam menempatkan kecenderungan hati. Seseorang yang menempatkan cinta agung pada Allah SWT tentu akan ikut cemburu saat Allah SWT cemburu dan disekutukzn. Hati seseorang yang lurus imannya akan menfilter dengan sendirinya rasa jatuh cinta, suka, kenyaman pada mereka yang memiliki keyakinan sama.

 

Hari ke-5

ita masih membahas lanjutan lima syarat ibadah. Bagian kedua dari syarat setelah meluruskan niat adalah, bahwa amalan itu bukan sesuatu yang haram atau dilarang agama. Nah, bahasan tentang keharaman seputar nikah karena pelaksanaannya tidak sesuai dengan hokum pernikahan dalam islam

Masih semangat buat menyelami samudra wawasan pernikahan dengan segala pernak-perniknya? Yuk kita lanjut!

b. Haram dari hukum pelaksanaannya

i. Pernikahan yang tidak memenuhi syarat dan rukun nikah

Apa sajakah syarat itu? Bagi perempuan ada lima syarat, yaitu:

ü bukan dalam masa idah,

ü tidak dalam status sebagai istri orang lain,

ü tidak dalam haji dan umrah,

ü tidak dalam keadaan terpaksa,

ü bukan perempuan musyrik

Sementara itu untuk laki-laki ada tiga syarat:

ü tidak dalam keadaan terpaksa

ü tidak sedang melaksanakan haji dan umrah

ü beragama Islam

Sedangkan rukun nikah ada lima, yaitu:

ü ada mempelai pria

ü ada mempelai wanita

ü ada saksi dua orang laki-laki

ü ada mahar

ü ada wali.

Khusus untuk wali ada beberapa ketentuan. Nah berikut ini kita kupas siapa yang bisa menjadi wali:

*Wali Nasab

ü Ayah, kakek seterusnya keatas

ü Saudara laki laki kandung seayah seibu

ü Saudara laki-laki seayah berbeda ibu

ü Keponakan laki-laki dari saudara kandung laki-laki

ü Keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seayah

ü Paman sekandung dengan ayah

ü Paman seayah dengan ayah tapi berbeda ibu

ü Saudara sepupu, anak paman sekandung dengan ayah

ü Saudara sepupu, anak paman seayah dengan ayah

* Wali Hakim

Wali hakim adalah wali yang disediakan oleh kantor urusan agama untuk menikahkan dua mempelai.

Ada beberapa penyebab wali hakim bisa mengganti wali nasap, yuk kita bahas detail apa saja penyebab wali hakim bisa menggantikan wali nasab:

ü Wali nasab sudah tidak ada atau sudah meninggal, ini berarti ayah, kakek, paman dari pihak ayah, anak laki-laki paman dari pihak ayah dan seterusnya tidak ada atau telah meninggal dunia

ü Wali nasab kehilangan hak atas perwaliannya karena berpindah agama. Juga karena anak tersebut lahir tanpa pernikahan yang sah berdasarkan syariat. Sebagai contoh, hamil di luar nikah atau dinikahi saat hamil, atau nikahnya masih dalam masa iddah dan lain sebagainya

ü Wali nasab pergi jauh dan tak memungkinkan untuk hadir sedangkan ianya tidak memberi kuasa pada wali nasab yang lain

ü Wali nasab menolak menjadi wali dan melepas hak dan kewajiban perwaliannya

ü Wali nasab sedang haji atau umrah

ü Wali nasab menjadi mempelai laki-laki, dimana pernikahannya bukan sedarah, misalnya wanita yang menikah dengan sepupunya.

* Wali Muhakkam

Adalah wali pilihan terakhir jika mempelai perempuan tidak memiliki wali nasab dan juga tidak ada wali hakim yang sanggup menikahkan karena khawatir akan adanya konflik keluarga.

Contoh kasus, bila ada seorang laki-laki ingin menikahi seorang mualaf. Wanita ini tidak memiliki wali nasab yang seiman. Sementara itu wali hakim dari KUA tidak ada karena mengkhawatirkan kedudukan keluarganya. Maka mempelai pria boleh mencarikan dan mengangkat seorang wali untuk melangsungkan pernikahan.

ii. Nikah Mut'ah (Nikah Kontrak)

Makna nikah mut'ah adalah nikah dengan niat memutuskannya dalam jangka waktu tertentu sesuai kesepakatan atau bisa diktakan perkawinan sementara. Dari segi tujuannya, sangat jauh dari nikah yang disunahkan oleh Rasulullah SAW.

Ada formula khusus dalam prosesi nikah mut'ah yaitu lafaz "zawajtuka nafsi" (saya nikahkan diriku) dari pihak mempelai wanita dan jawaban dari mempelai pria "qabiltu al tajwiz" (saya terima nikahnya).

Ciri-ciri nikah mut'ah ini adalah:

ü Ijab qabul dengan kata nikah atau mut'ah

ü Terdapat batas waktu hubungan suami istri

ü Suami istri tidak saling mewarisi

ü Tidak menghadirkan wali

ü Tidak menghadirkan saksi

ü Tidak mengenal talak karena talak berlangsung dengan sendirinya setelah habis masa kontrak

Nikah jenis ini sangat jauh dari tujuan nikah sunnah, yaitu:

ü Menjalankan perintah Allah dan Rasulnya dengan menikah berarti melanjutkan keturunan, memenuhi bumi dengan generasi yang taat pada Allah dan RasulNya

ü Mengendalikan diri, menyalurkan hasrat kebutuhan seksual pada yang halal, menghindarkan manusia dari berlaku seperti binatang.

ü Menjalin hubungan persaudaraan yang erat antara dua keluarga mempelai.

Sementara itu ditinjau dari praktik pelaksanaan mut'ah maka nikah mut'ah keluar dari tujuan-tujuan mulia pernikahan. Meskipun dari segi nafsu dan keinginan manusia untuk bebas menikmati hubungan seksual mut'ah ini menggiurkan. Bahkan bisa menjadi prostitusi berkedok agama. Melaksanakan praktik prostitusi sambil menghilangkan rasa bersalah karena menganggapnya sah-sah saja di hadapan Allah dan RasulNya. Kita mesti berhati-hati untuk menjaga kemaluan dengan menolak praktik mut'ah. Disamping meyakini keharamannya di sisi hukum Allah, kita juga bisa menolak dari kemurnian fitrah nurani kita. Bukankan dengan mut'ah akan banyak wanita yang dirugikan? Resiko kehamilan dan pertanggungjawaban dari anak yang dikandung menjadi taruhannya.

Kita memasuki syarat amalan menjadi ibadah yang ketiga yaitu…

c. Cara melaksanakannya tidak melanggar apa-apa yang telah menjadi ketentuan agama

Kita akan bahas secara runut bagaimana agar pelaksanaan nikah sesuai dengan apa yang diperintah dan yang disunnahkan, terhindar dari apa-apa yang dilarang dan dibenci Allah SWT

Sebelum menikah ada beberapa langkah menuju ke gerbang nikah da nada beberapa ibadah paska nikah

ü Pranikah: taaruf dan khitbah

ü Pelaksanaan nikah: akad nikah dan walimatu 'urusy

ü Paska nikah: membangun biduk rumah tangga, menjalankan bahtera menuju destinasi

 

Hari ke-6

Kita memasuki syarat amalan menjadi ibadah yang ketiga yaitu…

c. Cara melaksanakannya tidak melanggar apa-apa yang telah menjadi ketentuan agama

Kita akan bahas secara runut bagaimana agar pelaksanaan nikah sesuai dengan apa yang diperintah dan yang disunnahkan, terhindar dari apa-apa yang dilarang dan dibenci Allah SWT

Sebelum menikah ada beberapa langkah menuju ke gerbang nikah da nada beberapa ibadah paska nikah

ü Pranikah: taaruf dan khitbah

ü Pelaksanaan nikah: akad nikah dan walimatu 'urusy

ü Paska nikah: membangun biduk rumah tangga, menjalankan bahtera menuju destinasi

Kita akan ngarah (ngebahas perkara ibadah) bareng secara sepintas tentang apa saja adab-adab dan cara-cara bermuamalah yang menjadikannya bernilai ibadah.

Secara detail ada pembahasan detail di bagian kedua tentang menuju gerbang nikah.

Islam sebagai tuntunan hidup yang sempurna mengatur semua aspek kehidupan termasuk adab-adab. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Mulai berakhlak pada khaliq, Akhlak pada sesame manusia, akhlak pada sesama makhluk Tuhan bahkan akhlak pada lingkungan dan benda mati.

Terkait dengan pernikahan kita akan bahas adap pergaulan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dalam Islam.

ü Tidak diperbolehkan berkhalwat atau berdua-dua dengan lawan jenis yang bukan mahram.

Sayidina Ummar bin Khathab suatu ketika pernah berkhutbah, menyampaikan sabda rasulullah SAW tentang khalwat.

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا

“Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiap yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad, sanad hadits ini shahih)

Larangan ini dikaitkan dengan keimanan bagi mereka yang berbesar hati dengan kebaikan dan merasa sedih dengan kebutrukan yang berpotensi menjerumuskan pada dosa.

Mengapa khalwat diiringi oleh setan sebagai pihak ketiga? Karena setan selalu menghembus-hembuskan godaannya agar manusia terjerumus dalam dosa. Apalagi dosa besar perzinahan, tarikan ini sangat kuat bila manusia tidak berhati-hati. Jangan heran bagi mereka yang sedang jatuh cinta akan memiliki dorongan berlipat-lipat melakukan apa saja untuk menyenangkan yang dicintainya. Di sinilah setan membisikkan hal buruk pada satu atau dua belah pihak untuk melakukan zina. Mulai dari zina fikiran atau hati, zina mata, zina tangan dan zina kemaluan. Nauzubillahi min zalik.

ü Menjaga aurat sesuai dengan batas yang disyariatkan:

Menjaga aurat ini ada tiga macam, yaitu dari segi bahan pakaian, bentuk pakaian dan batas bagian tubuh yang harus ditutup pakaian tersebut. Bahan pakaian mestilah tidak transparan atau tidak tembus pandang dan juga bukan bahan yang jatuh dan mudah melekat pada bagian tubuh kita. Model pakaiannya tidak ketat dan tidak membentuk tubuh,

Adapun batas aurat wanita yang harus ditutup menurut Imam Syafi'i ada beberapa kekentuan sesuai keadaan

i. Aurat dalam alat: seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan

ii. Aurat di luar salat dihadapan mahramnya dan di depan wanita muslimah: sebatas lutut sampai dengan pusar

iii. Aurat di luar salat di depan wanita tidak beriman: seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan

iv. Aurat di depan laki-laki yang bukan mahram: seluruh bagian tubuhnya

Memelihara aurat penting untuk dipahami agar perempuan tidak begitu saja memamerkan keindahan tubuhnya pada sembarang laki-laki termasuk yang serius ingin menjalin hidup berumah tangga.

Rasulullah bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi, shahih)

Agar klemurnian ketaatan itu bisa terus terjaga, saat bergaul dengan calon pasangan,

masing-masing harus saling menjaga auratnya.

Lalu bagaimana untuk batas aurat laki-laki? Yang perlu diperhatikan adalah antara pusar dengan lutut sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Ahmad.

Rasulullah SAW bersabda:

فَإِنَّ مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلَى رُكْبَتِهِ مِنَ الْعَوْرَةِ

Artinya: "Karena di antara pusar sampai lutut adalah aurat." (HR. Ahmad)

Meskipun batasan aurat pusar sampai lulut, Rasulullah memberi teladan bagaimana berpakaian sopan yang penuh adab dan terbalut rasa malu. Rasulullah menutup kepakanya dengan serban atau rida dan mengenakan jubah di atas mata kaki.

Adab berpakaian ini sangat terkait dengan saling menyelamatkan agar dua insan berbeda jenis dapat saling bantu menundukkan pandangannya.

ü Menundukkan Pandangan

Masa bermuamalah antara dua insan beda jenis dan bukan mahram akan terus terjaga kesuciannya dengan menundukkan pandangan. Betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW dan betapa kuatnya penjagaan beliau pada ummat yang disayanginya. Yuk, kita simak hadits dari Jabir bin Abdullah yang berkata:

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.

“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai pandangan

yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan

pandanganku.” (HR. Muslim)

Bagaimana kita menjaga pandangan di era yang deras dengan saling berbagi informasi saat ini, berbagi ucapan hingga memberikan perhatian? Bertukar foto hingga voice note dan video call? Dengan sedikit edit, filter dan berbagai aplikasi, semua wajah menjadi cantik dan rupawan. Rasanya ujian menundukkan pandangan berkali lipat lebih sulit dilakukan.

Caranya…tiap habis ada kiriman foto segera hapus. Bila ada ajakan video call, cobalah untuk membuat grup sehingga tidak hanya berdua-duaan dengan yang bukan mahram. Tambahkan peserta lain yang akan menghindarkan diri dari berkhalwat online. Jika lawan bicara tidak keberatan berarti kalian sudah memiliki persepsi yang sama tentang khalwat. Bila belum punya persepsi yang sama, saling memperbaiki persersi adalah jalan yang tepat untuk memberkahkan perhaulan dan muamalah.

Lagi-lagi filternya adalah keimanan. Untuk mempertebal iman kita bisa sering mendengarkan kajian atau mengikuti grup komunitas hijrah dan komunitas positif lainnya.

ü Menghindari ikhtilat, yaitu bercampur baur antara laki-laki perempuan yang bukan mahram. Kalupun ada pertemuan bersama cobalah untuk berada pada lingkungan yang menjaga batas hijab laki-laki dan perempuan. Hal ini lebih selamat dan menyelamatkan dari hal-hal yang tak diinginkan seperti pergaulan bebas.

Menjaga hijab berarti kita masih memelihara rasa malu. Rasa malu itu sebagian dari iiman.

ü Memelihara kemaluan. Dari sekian adap bergaul laki-laki dan perempuan di atas, pada tujuan pokoknya adalah menjaga kemaluan.

Allah SWT berfirman:

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ

Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.

Kesucian menjelang nikah yang selalu dipelihara insya Allah akan turut menentukan kesucian langkah berikutnya. Dengan demikian every singgle second kita akan terbimbing dalam kesucian oleh Yang Mahasuci, Allah SWT.

 

Hari ke-7

Kita masaih ngarah, nih! Ngebahas perkara ibadah. Cukup panjang juga bahasan ini. Karena memang ibadah adalah setengah dari tujuan manusia diciptakan sementara itu setengah tujuan penciptaan yang lain adalah sebagai khalifah di muka bumi. Dimana makna khalifah disini adalah wakil Allah untuk mengelola bumi sesuai dengan aturan yang Allah gariskan, tetapi mencakupi seluruh perbuatan. Ini berarti, pada setengah tujuan yang lain mesti dalam koridor niat beribadah pula. Pada bahasan kita sebelumnya tentang ibadah, disimpulkan bahwa ibadah adalah seluruh amalan dalam rangka taat pada Allah SWT.

Dalam proses taaruf, ada beberapa hal yang menjadi koridor muamalah dua insan berlawanan jenis yang bukan mahram. Demikian juga saat khitbah. Kita bahas hal-hal yang dilarang dalam khitbah:

ü Mengkhitbah tanpa proses taaruf. Kedua pihak atau salah satu pihak belum mengenal sama-sekali calon pasangannya. Padahal tujuan khitbah adalah untuk meminta persetujuan pihak perempuan melangkah ke jenjang yang lebih lanjut, yaitu pernikahan

ü Mengkhitbah seseorang yang berada dalam pinangan orang lain

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َلا يَخْطُبْ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ ، أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الْخَاطِبُ

“Tidak boleh seorang lelaki mengkhitbah di atas khitbah saudaranya, sampai pelamar pertama meninggalkan (menolak atau ditolak) sang wanita atau pelamar pertama mengizinkan Sekarang kita bahas syarat yang keempat agar perbuatan itu bernilai ibadah.

ü Mengkhitbah wanita yang masih dalam masa idah

ü Mengkhitbah seseorang yang berbeda iman dan keyakinan

ü Mengkhitbah dengan perasaan hati yang memaksa harus diterima

ü Mengkhitbah dalam posisi telah memiliki istri empat untuk dijadikan istri kelima

ü Mengkhitbah mahram

Tentang dasar hokum khitbah dan aturannya dapat kita tazaburi dari firman Allah SWT dalam Surat Albaqarah ayat 235:

وَلَا جُنَا حَ عَلَيْكُمْ فِيْمَا عَرَّضْتُمْ بِهٖ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَآءِ اَوْ اَکْنَنْتُمْ فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ سَتَذْكُرُوْنَهُنَّ وَلٰـكِنْ لَّا تُوَا عِدُوْهُنَّ سِرًّا اِلَّاۤ اَنْ تَقُوْلُوْا قَوْلًا مَّعْرُوْفًا ۗ وَلَا تَعْزِمُوْا عُقْدَةَ النِّکَاحِ حَتّٰى يَبْلُغَ الْكِتٰبُ اَجَلَهٗ ۗ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ فَا حْذَرُوْهُ ۗ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ

"Dan tidak ada dosa bagimu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kamu sembunyikan (keinginanmu) dalam hati. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut kepada mereka. Tetapi janganlah kamu membuat perjanjian (untuk menikah) dengan mereka secara rahasia kecuali sekadar mengucapkan kata-kata yang baik. Dan janganlah kamu menetapkan akad nikah sebelum habis masa idahnya. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun."

Sekilas tentang langkah selanjutnya, yaitu akad dan walimatul 'ursy

Akad dianggap tidah sah apa bila

ü Tidak menghadirkan wali

ü Tidak menghadirkan dua saksi laki-laki

ü Tidak menghadirkan salah satu atau dua calon pasangan

ü Tidak ada mahar

ü Pengucapan ijab qabul tidak menyertakan nama wanita yang akan ditikah, tidak menyebut mahar

ü Pengucapan ijab qabul oleh pihak pria tidak dalam satu kali nafas

ü Pasangan yang menikah bukan yang dipebolehkan menikah oleh syariaat

Adapun dalam melakukan walimatul ursy, kita mesti tahu dasar dan perintahnya.

Berdasarkan hadits dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, ia berkata:

أنَّ رسولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رأى على عبدِ الرَّحمنِ بنِ عوفٍ أثرَ صفرةٍ فقالَ: ما هذا ؟. فقالَ: إنِّي تزوَّجتُ امرأةً على وزنِ نواةٍ من ذَهبٍ . فقالَ: بارَكَ اللَّهُ لَكَ أولم ولو بشاةٍ

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melihat pada pakaian Abdurrahman bin Auf ada bekas minyak wangi. Nabi bertanya: ada apa ini Abdurrahman? Abdurrahman menjawab: saya baru menikahi seorang wanita dengan mahar berupa emas seberat biji kurma. Nabi bersabda: baarakallahu laka (semoga Allah memberkahimu), kalau begitu adakanlah walimah walaupun dengan seekor kambing” (HR. Tirmidzi no. 1094, An Nasa-i no. 3372, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Dalam beberapa hadits Rasulullah menyarankan hidangan yang berbeda-beda. Ini bermakna untuk ukuran sajian tidak ditetrapkan. Ada yang dengan dua mud gandum, ada yang dengan menyembelih seekor kambing, ada juga dengan sekeranjang kurma sebagaimana walimatul urusy antara Ibunda Shafiah dan Rasulullah.

Beberapa yang harus dihindarkan dalam walimatul Urusy agar tetap bernilai ibadah:

a. Utamakan kesederhanaan, tidah bermewah-mewah, hindarkan pemubaziran

b. Hindari hiburan yang dilarang agama, misalnya mengiringi walimah dengan music jahiliah yang mengundang syahwat serta menghalangi diri dari mengingat Allah SWT atau WO (Wedding Organizer) yang menghadirkan crew laki-laki menyerupai wanita atau sebaliknya laki-laki menyerupai wanita

c. Hindari dari menyiksa dan memaksakan diri untuk menikah mewah sehingga melibatkan riba sehingga dapat menimbulkan masalah awal dalam rumah tangga

d. Menghindari ikhtilat, sebaiknya ruang penerimaan tamu laki-laki dan perempuan di pisah agar tidak ada desak-desakan dan saling sentuh antar tamu yang bukan mahram

Lanjut!!!!! Kita memasuki syarat amal menjadi ibadah yang keempat, yaitu….

d. Tidak Meninggalkan Ibadah Azas

Ibadah azas bermakna ibadah pokok. Ibadah wajib yang terikat oleh waktu. Misalnya salat lima waktu, salat Jum'at bagi laki-laki, puasa wajib Bulan Ramadan, kewajiban zakat dan haji bagi yang mampu.

Mengapa yang wajib ini mesti di dahulukan? Karena tidak akan menjadi ibadah yang diterima apabila pada saat yang sama kita mengebalangkangkan perintahNya. Kita tidak bisa menjadi hamba yang taat dan dalam waktu bersamaan kita menjadi hamba yang durhaka.

Terkait dengan nikah kita bisa mengambil contoh-contoh kasus

ü Saat Taaruf

Ketika semua aturan syariat dipenuhi, taaruf tidak mengakibatkan berkhalwat dan berikhtilat. Semua telah terjaga senantiasa ada mahram yang mendampingi. Saat berbincang terdengar suara azan, maka perbincangan itu harus segera dijeda untuk mengutamakan panggilan Allah SWT. Hindarkan juga dari keakraban yang berlebihan hingga bermesraan dan berpegangan tangan.

ü Saat Khitbah

Silaturahim telah terjalin antara dua keluarga calon mempelai. Di tengah acara terdengar azan maka sebaiknya ada yang mengingatkan untuk salat tepat waktu berjamaah. Bila waktu khitbah sedang berpuasa di bulan Ramadan maka tidak boleh ada hidangan yang dapat membatalkan puasa meskipun alasannya menghormati tamu.

ü Saat Walimah

Seringkali saat walimah waktu salat diabaikan bahkan ada perlombaan suara toa antara music hiburan dan suara hiburan. Alangkah baiknya jika hiburan dihentikan, tamu undangan diingatkan oleh MC untuk menunaikan ibadah di masjid atau mushola terdekat. Jangan terlalu pedulikan hasil dari ingatan kita itu yang penting kewajiban menyampaikan kebenaran telah sampai.

Jadi agar amalan bernilai ibadah, jangan sampai mengabaikan ibadah yang lebih utama.

Bila dikaitkan dengan ibadah pokok yang lain seperti zakat dan haji, bisa dilakukan dengan mengutamakan zakat sesuai persentase dari nishob yang dimiliki, selebihnya bisa digunakan untuk persiapan pernikahan.

Lalu bagaimana dengan ibadah haji? Jika kita sudah ada kemampuan maka sebaiknya menabung sejak awal untuk dana haji. Karena sifatnya terikat kuota dan daftar antrian, maka sebatas ikhtiar yang bisa kita lakukan dengan menabung secara berkala. Bila ada kemampuan lebih dari itu bisa memenuhi simpanan untuk menentukan daftar tunggu.

Adakah muncul anggapan dalam hati kita Islam itu ribet? Nauzubillahi min zalik. Islam sama sekali tidak memberatkan umatnya sebagaimana firman Allah:

ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)

Ayat ini didahului penjelasan detail tentang Ramadan yzng di dzlzmmya diturunkan Alqur'an yang menjelaskan keringanan-keringanan dalam berpuasa bagi mereka yang mengalami kesulitan dalam mengamalkan ibadah saum. Kita bisa mengambil kesimpulan disini bahwa aturan-aturan dalam Islam bukan untuk membuat kita ribet tapi justru termudahkan dengan pegangan yang jelas. Bukankah hidup ini lebih ringan dan tertata, teratur jika ada koridor yang jelas?

 

Hari ke-8

e. Natijah atau hasil dan akibat beramalnya adalah sesuatu yang maslahat dan membawa manfaat ataupun keberkahan.

Kita sering mendengar bahwa hasil adalah hak Allah sedangkan ikhtiar adalah bagian hamba. Hal ini ada benarnya agar kita selalu bertawakal pada Allah atas hasil yang Allah karuniakan.

Allah SWT berfirman:

اِذْ يَقُوْلُ الْمُنٰفِقُوْنَ وَا لَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ غَرَّ هٰۤؤُلَآ ءِ دِيْنُهُمْ ۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَاِ نَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

"(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, "Mereka itu (orang mukmin) ditipu agamanya." (Allah berfirman), "Barang siapa bertawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (QS. Al-Anfal 8: Ayat 49)

Ayat di atas memerintahkan bertawakal. Dalam hal ini bisa dikatakan dalam bertawakal bila telah diiringi doa dan berikhtiar. Sebagaimana perintah ikhtiar pada ayat ke-11 surat Ar Ra'du

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ ۗ وَاِ ذَاۤ اَرَا دَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّا لٍ

"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 11)

Dalam berikhtiar kita harus terbiasa untuk menentukan target atau tujuan agar paling tidak hasilnya tidak terlalu meleset dari apa yang menjadi harapan. Seorang hamba yang beriman akan menentukan target yang baik-baik saja dan menghindarkan diri dari tujuan buruk.

Kembali pada tujuan nikah agar hasilnya maslahat harus dikembalikan sesuai petunjuk agama:

1. Menyelamatkan hati yang telah terbalut rasa cinta

2. Menyalurkan hasrat pada yang sah dan halal sebagai bentuk ibadah

3. Memenuhi bumi dengan generasi rabbani, pemuja Allah yang taat padaNya

4. Menjalin ukhuwah persaudaraan antara dua keluarga

Tujuan di atas bukan tujuan sepihak tapi tujuan bersama. Oleh karena itu dibutuhkan komitmen bersama. Komitmen bermakna janji yang saling disepakati bersama.

Nah, komitmen apa saja yang harus disepakati agar masing-masing tujuan tercapai?

1. Menyelamatkan hati yang telah terbalut rasa cinta

Komitmen yang terkait dengan perasaan cinta adalah untuk saling menjaga kasih saying dengan pasangan yang sah. Bila berkasih saying pasca nikah adalah ibadah, maka semangat untuk merawat rasa cinta mestinya semakin besar dan membara.

Hanya saja…sudah menjadi sifat syaithan senantiasa menunggangi nafsu untuk merusak ibadah manusia. Saat sebelun nikah ada potensi dosa dan maksiat maka hembusan cinta akan tertiup kencang. Sementara itu kasih saying dan cinta setelah menikah justru terasa lebih beras. Ada saja kreativitas nafsu berkolaborasi dengan syaithan yang tidak ingin manusia mengumpulkan pundi-pundi pahala.

Oleh karena itu keyakinan bahwa kasih saying yang ada dalam bingkai pernikahan adalah ibadah harus terus dipupuk dan disuburkan bahwa sapaan lembut ibadah. Kata-kata mesra berpahala. Sentuhan tangan berpahala, lirikan mata menjatangkan rahmatNya. Senyuman nakal seorang istri menggugurkan dosa. Balasan senyuman suami membuat syaithan menangis. Pesan

Rasulullah mencontohkan bagaimana beliau berkasih saying dengan istri-istrinya bahkan setelah istrinya meninggal

وَرَوَى أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِي مِنِ طَرِيْقِ مَسْرُوْق عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رسول الله صلى الله سلم لَا يَكَادُ يَخْرُجُ مِن الْبَيْتِ حَتَّى يَذْكُرُ خَدِيْجَةَ فَيُحُسِنُ الثَّنَاءَ عَلَيْهَا، فَذَكَرَهَا يَوْمًا مِن الْأَيَّامِ، فَأَخَذَتْنِي الغِيْرَةُ فَقُلْتُ: هَلْ كَانَتْ اِلَّا عَجُوْزًا قَدْ اَبْدَلَكَ الله خَيْرًا مِنْهَا؟. فَغَضَبَ ثُمَّ قَالَ: لَا واللهِ مَا أَبْدَلَنِي اللهُ خَيْرًا مِنْهَا، آمَنَتْ إِذْ كَفَرَ النَّاسُ، وَصَدَّقَنِي اِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ، وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَّمَنِي النَّاسُ، وَرَزَقَنِي اللهُ مِنْهَا الوَلَدُ دُوْنَ غَيْرِهَا مِنَ النِّسَاءِ.

Artinya:

Imam Ahmad dan Thabrani meriwayatkan dari Masruq dari Aisyah. Aisyah berkata: "Rasulullah itu hampir tidak keluar rumah kecuali menyebut Khadijah dan memuji-mujinya. Aku pun cemburu, lalu berkata pada beliau: 'Bukankah dia hanya perempuan tua yang telah diganti oleh Allah dengan yang lebih baik?' Beliau pun lalu marah. Kemudian berkata: 'Demi Allah, Allah tidak menggantinya dengan yang lebih baik. Dia beriman di saat orang-orang masih kufur. Dia mempercayaiku di saat yang lain mendustakanku. Dia membantuku di saat yang orang-orang menghalangiku. Allah telah memberikan rizki anak melalui dia dan tidak melalui yang lain'. Kemudian Aisyah berkata: "Dalam hati aku berkata, 'aku tidak akan menyebut Khadijah dengang sesuatu yang buruk selamanya'". (HR Ahmad dan Thabrani)

Diantara cara memupuk kasih saying, dengan mengingat segala kebaikannya dan melupakan atau memaafkan kekurangannya. Kekurangan seseorang adalah lading pahala kesabaran dan kesempatan saling memperbaiki antara suami dan istri

Oleh karena itulah Allah SWT mengajarkan kita untuk berdoa

وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا

"Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. " (QS. Al-Furqan 25: Ayat 74)

Kasih saying akan menghadirkan seseorang yang kita cintai itu sebagai qurata a'yun. Memandang mereka akan menyematkan senyuman di dalam hati dan bibir kita. Kasih saying yang murni itu seperti seorang ibu yang memandang anaknya diusia sebelum mumayiz. Tidak ada terselip kekesalan sebutir biji sawi sekalipun.

Akan tetapi berkasih saying bukan bermakna memenuhi segala keinginan yang kita sayangi sebagai bentuk kemanjaan atau memanjakan tetapi dalam bingkai yang jelas sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surat Attahrim ayat 66

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا وَّقُوْدُهَا النَّا سُ وَا لْحِجَا رَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَا ظٌ شِدَا دٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

Saling asah asih dan asuh di sini sangat terikat erat dengan tujuan saling menyelamatkan "kuu anfusakum wa ahlikum naaraa" Sehingga bukan termasuk dalam berkasih saying bila tidak saling mengingatkan untuk taat pada Allah, saling mengingatkan saat ada yang terjerumus dalam kedurhakaan padaNya

 

Hari ke-9

Kita memasuki komitmen yang harus dibuat dan dijaga untuk tujuan pernikahan yang kedua. Wah rasanya makin menjurus ke hal yang sensitif, nih. Writer sarankan bacanya habis berbuka puasa saja, ya…. Writer juga nulisnya malam hari kok, paginya tinggal posting.

2. Menyalurkan hasrat pada yang sah dan halal sebagai bentuk ibadah

Kata bijak ulama, tidak ada nikah bila tidak ada hubungan suami istri. Jadi salah satu yang harus dilakukan agar rumah tangga yang terjalin bisa awet dan menjadi ibadah seumur hidup sepanjang hayat adalah dengan melakukan hubungan ini. Ini juga yang membedakan relationship nikah dan bukan nikah.

Jadi bagi siapapun yang memasuki gerbang nikah jangan sampai tidak membuat komitmen yang sat ini. Kalau ternyata selepas nikah salah satu pihak atau dua pihak tidak mau melakukan hubungan suami istri maka siap-siap rumah tangganya bubar. Atau tidak selalunya begitu. Bila keduanya sepakat untuk sekedar saling memiliki teman hidup tanpa hubungan suami istri pun tidak masalah. Yang jelas pernyataan sikapnya dilakukan sebelum akad, bahwa memang karena kondisi tertentu mereka bersepakat tiadak melakukan hubungan suami istri. Contoh kasus lansia yang merasa kesepian dan memerlukan teman hidup.

Yang kita bahas lebih detail di sini bila pasangannya masih muda usia dan secara biologis membutuhkan hasrat seksual.

Bila dikaitkan dengan ibadah maka akan selalu terdapat landasan yang disepakati bersama oleh dua pasangan. Keduanya berkeyakinan bahwa menyalurkan hasrat adalah ibadah. Pengetahuan tentang hadits dan nash Alquran perlu menjadi bahan bacaan dan referensi pasangan yang hendak menikah.

Berikut ini writer ungkap kembali buat menambah keyakinan bahwa nikah itu ibadah karena di perintah.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِيْ فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي وَتَزَوَّجُوا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ” رواه ابن ماجه

Artinya: "Dari Aisyah, beliau berkata, bersabda Rasulullah SAW: Nikah itu sunnahku maka barang siapa yang tidak beramal dengan sunnahku maka mereka bukan dari bagianku. Menikahlah, sungguh aku membanggakan kalian di atas ummat-umat yang lain. Barang siapa yang memiliki kekayaan maka menikahlah. Barang siapa yang tidak mampu, maka berpuasalah, karena berpuasa itu adalah tameng."

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud ia berkata, Rasulullah bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“ Wahai pemuda, barangsiapa diantara kalian yang telah mampu memberi nafkah, maka hendaklah ia (segera) menikah. Karna ia lebih menindukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa belum mampu maka hendaklah ia berpuasa karna itu adalah pelindung baginya.”

Nash lain yang menguatkan adalah perintah Allah dalam Alqur'an

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

نِسَآ ؤُكُمْ حَرْثٌ لَّـكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوْا لِاَ نْفُسِكُمْ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّکُمْ مُّلٰقُوْهُ ۗ وَ بَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ

"Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 223)

Jika nikah diperintah, hubungan suami istri pun di atur maka komitmen untuk selalu menjaga hasrat pada pasangan yang sah adalah bentuk ibadah. Maka wahai pasutri jangan pernah mencoba menikmati selain dari pasangan masing-masing. Tidak ada penyaluran hasrat lewat suara seksi. Tidak ada penyaluran hasrat melalui video pada orang lain yang tidak sah. Barulah tujuan nikah yang akan menjamin nikah sebagai ibadah tetap terjalin.

Bagaimana bila ada godaan di layar kaca atau di layar pendar gawai masing-masing. Ada penampakan yang lewat menjadi panah setan. Solusinya kembali ke rumah temui pasangan dan beribadahlah.

Bukankah melakukan hal untuk menghindarkan diri dari maksiat juga merupakan bentuk ibadah?

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirmandalam Alquran Surat An-Najm 53 Ayat 32

اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰٓئِرَ الْاِ ثْمِ وَا لْفَوَا حِشَ اِلَّا اللَّمَمَ ۗ اِنَّ رَبَّكَ وَا سِعُ الْمَغْفِرَةِ ۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَ كُمْ مِّنَ الْاَ رْضِ وَاِ ذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ ۚ فَلَا تُزَكُّوْۤا اَنْفُسَكُمْ ۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى

"(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa."

Bila godaan dunia yang memuncakkan hasrat terkadang mampir ke mata kita (secara tidak sengaja) maka beristighfar dan segera menemui pasangan itulah ibadah yang menyelamatkan diri dari maksiat.

Kadang pula karena habis bepergian suami melihat hal-hal yang memicu hasrat di perjalanan…jangan pula istri jadi cemburu dengan mengatakan."Hayo, tadi mata Abang melihat apa. Pulang-pulang langsung minta. Makanya kalau nggak ada istri tuh tunduk pandangan Awas Abang ngadepin aku tapi bayangan ke yang lain-lain di jalanan tadi!"

Sambutan ini bisa menghilangkan hasrat yang seharusnya tersalurkan karena kecurigaan bisa membuat pasangan jadi penasaran dan melakukan hal yang tidak kita inginkan.

Sebaik-baiknya sambutan adalah sambutan mesra. Tersanjung karena pasangan kita masih membuat kehadiran kita berharga. Bahwa keberadaan kita menjadi pelindung pasangan kita dari berbuat maksiat.

Bentuk komitmen ini bisa dijabarkan dalam kalimat kesepakatan sebagai berikut:

1. Apabila salah satu membutuhkan penyaluran hasrat maka keduanya selalu siap untuk saling melayani

2. Apabila dalam kondisi terpaksa seperti terlalu lelah atau sakit maka kedua belah pikah siap untuk melakukan kompromi dan saling menghargai dan menunda hubungan suami istri sampai keadaan normal dan siap untuk saling melayani

3. Ibadah rutin hubungan suami istri akan dilakukan sesuai sunnah Rasulullah SAW yaitu malam Jum'at dan malam Senin

4. Tambahan waktu berhubungan suami istri bisa dilakukan atas kesepakatan kedua belah pihak bila dibutuhkan dan memungkinkan

5. Dan lain-lain sesuai keinginan calon pasangan suami istri (kenapa calon, karena komitmen disusun sebelum akad). Masya Allah, seperti perjanjian dalam negara ya, konstutusional. Iya, dong! Bukankan keluarga itu bentuk tatanan negara terkecil yang membentuk masyarakat dan masyarakat menyusun sebuah negara.

Lebih detail tentang hubungan suami istri akan kita bahas pada bab-bab selanjutnya. Jadi tetap pantengin buku di depan para reader semua. Okey???!!!

 

Hari ke-10

Natijah atau hasil amalan akan menjadikan suatu ibadah yang berkah bila sesuai dengan harapan atau paling tidak tetap membuahkan kebaikan meskipun tidak sama persis dengan target itu. Target membutuhkan kerjama pasangan suami istri untuk bisa meraihnya. Kerjasama bermakna perbuatan yang dilakukan dan diperjuangkan bersama. Kebersamaan akan terikat erat dengan komitmen.

Berarti komitmen adalah salah satu cara agar tujuan bersama dapat tercapai. Writer mengingatkan kembali tujuan nikah selanjutnya yang ketiga yaitu…

3. Memenuhi bumi dengan generasi rabbani, pemuja Allah yang taat padaNya

Tujuan ini sangat agung dan mulia. Tujuan ini pula sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. Bahkan ini tujuan mulia yang selalu diserukan para nabi dan rasul. Memenuhi bumi dengan insan yang dapat menemukan real God and the only God yang berhak dan wajib disembah. Bukan hanya itu bahkan menjadi insan yang bertakwa.

Bapak para nabi, Khalilullah Nabi Ibrahim berdoa pada Allah dengan sangat indahnya. Sebagaimana yang terabadikan dalam Alqur'an Surat Albaqarah ayat 128:

رَبَّنَا وَا جْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَـكَ وَ مِنْ ذُرِّيَّتِنَاۤ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ ۖ وَاَ رِنَا مَنَا سِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّا بُ الرَّحِيْمُ

"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak-cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah kami dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."

Juga doa Nabi Ibrahim yang satu ini

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku." (QS. Ibrahim 14: Ayat 40)

Selanjutnya, pada tingkat gelaran tertinggi sebagaimana pernah kita bahas sebelumnya pada Quran Surat Alfurqan ayat 74 tentang doa Nabi Ibrahim

وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا

"Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.""

Bukankan tujuan ini menjadi hal yang sangat urgen bahkan wajib diteruskan oleh kita sebagai ummat rasul dan hamba Allah SWT. Terdapat beberapa tujuan terkait dengan dzuriyat atau estafet penghambaan pada generasi baru melalui pernikahan ini

1. Melahirkan generasi muslim dengan sifat sebagai-berikut:

a. berserah diri pada aturan dan hukum Allah SWT

b. berserah dengan keputusan Allah SWT penuh kerelaan

2. Mencetak generasi yang senantiasa mendirikan salat dengan ciri:

a. mengadapkan wajah pada Allah SWT dengan kekhusyuan

b. melaksanakan falsafah salat sebagai bentuk pengamalan salat dalam kehidupan sehari-

hari

3. Membentuk keluarga yang penuh kebahagiaan, menyenangkan, menjadi hiburan karena ketakwaan anggota keluarga itu. Bukan hanya takwa tapi mutaqin yang diikuti ketakwaannya. Artinya bertakwa lagi mengajak pada ketakwaan.

Karena ketakwaan adalah darjat tertinggi, sebuah tingkatan yang didahului oleh keislaman seseorang kemiubian meningkat pada tahap beriman dan disempurnakan dengan ketakwaan, kita akan ngopata nih (ngobrolin perkara takwa)

Ada delapan syarat taqwa menurut seorang ulama besar dari negeri jiran Allahuyarham yang dikenal dengan gelaran Abuya Syeikh Imam Asy'ari bin Muhammad. Ulama Ahlussunah dan ahli tariqat yang teramat nyata wara'nya. Yuk, kita kupas satu satu. Ini terkait dengan komitn apa yang harus dibuat oleh dua calon pasangan sebelum melangsungkan akad.

1. Dapat Hidayah dari Allah SWT

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِ سْلَا مِ ۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَ نَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَآءِ ۗ كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

"Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman."(QS. Al-An'am 6: Ayat 125)

Meraih ketakwaan harus diawali dengan ketukan pertama untuk mengakui bahwa Islam adalah agama kebenaran. Bahwa Islam adalah petunjuk Allah SWT pada seluruh manusia sejah nabi Adam hingga akhir zaman agar manusia berada dalam jalan yang lurus.

2. Paham agama

Setelah mengakui Islam agama yang benar maka harus dilanjutkan dengan mendalami Islam hingga pada tingkat kepahaman.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ

“Barang siapa yang Allah hendak jadikan dia orang baik, maka dia akan diberi faham tentang Islam"

Kepahaman akan Islam harus diperoleh dengan memahami sumber utama hokum Islam yaitu Alquran dan hadits. Ada pengajian yang mendalam dengan bimbingan orang-orang yang mendalaminya terlebih dahulu. Mendengar bahasan Islam oleh para Asatiz dan masayikh, habaib dan ulama yang beramal dengan ilmunya.

Paham bermakna mengetahui disertai pembenaran oleh akal, hati dan ruh. Artinya tidak hanya tahu dan membenarkan secara akal tapi melalui proses bertanya, muzakarah, murajaah, muthalaah hingga meresap dalam hati. Karena hati ini yang merajai tubuh kita dan menjadi pusat gerakan bukan hanya lahir tetapi juga batin.

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).”(HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Terlalu banyak sumber yang Allah bentangkan saat ini melalui berbagai tayangan offline dan online juga tayangan offline yang di-online-kan.

3. Yakin Percaya Sepenuhnya

Yakin adalah perkara iman yang sudah mendarah daging. Tidak ada ragu sedikitpun. Tidak siselipi oleh Zan (25% tidak percaya, 75% percaya), Syak (50% tidak percaya 50% percaya), Wahn (75% tidak percaya, 25% percaya). Jadi yakin di sini sudah tidak menyisakan rasa tidak percaya, semua diyakini benar.

Ciri seseorang sudah yakin, akal, hati dan perbuatannya sudah menyatu dan mencerminkan keyakinan yang ada dalam dirinya. Yakin tidak akan menyisakan berbagai perkataan baik lahir maupun batin seperti, "Benarkah?" "Ah, mungkin bukan begini" "Menurut saya yang benar tuh begini"

Oleh karena itu, sifat keyakinan ini terlalu manis dan ia adalah nikmat yang luar biasa. Sami'na wa atha'na. Menjalankan segala sesuatu dengan ringan jika sudah dilandasi iman dan keyakinan.

Jadi iman itu adalah yakin hingga masuk ke dalam hati, terucap dalam lisan sebagai bukti penguatan, tercermin dalam perbuatan sebagai bukti dari iman itu sendiri.

Bahasan lanjutnya bisa kita teruskan besok ya…Nice to be read by you, thanks for reading. Jazakumullah khairan katsiraa

 

Hari ke-11

Ada yang tertinggal sedikit dari bahasan kemarin, kita coba hadirkan ta'rif iman dari sebuah hadits dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).

Jadi iman disini bermakna keyakinan dalam hati yang disertai dengan pengucapan oleh lisan dan perbuatan dengan amalan yang mencerminkan adanya iman dalam hati. Jadi konseklwensi dari iman itu adalan lisanya menyatakan dan amal perbuatannya pula mencerminkan apa yang diyakininya itu.

Tidak sempurna keimanan bila hanya salah satu diantara lisan dan perbuatannya saja yang membuktikan. Sementara keyakinan dalam hati dan ruh tidak bisa ditawar lagi, harus hadir.

Kita ngopata lagi, nih! Masih ingatkan apa itu Ngopata (ngobrolin perkara takwa). Langkah menggapai takwa sudah sampai pada tahap ketiga, yaitu hidayah, paham dan yakin. Kita masih ada empat steps lagi supaya ngopatanya tuntas.

4. Beramal

Beramal di sini sangat penting karena ianya menjadi manifestasi keyakinan seseorang. Keyakinan menjadi landasan bagi amal seseorang. Keyakinan pula hanya akan muncul bila seseorang itu paham. Kepahaman adalah tanda bahwa dia mendapat hidayah. Semua menjadi satu rangkaian syarat takwa yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

Amalan seseorang yang beriman akan tersuluh oleh imannya. Dalam tiap langkah hidup seorang mukmin mesti menimbang lima hokum Islam yang mengikat hidup dan kehidupannya dari bangun tidur hingga tidur lagi.

a. Wajib, terhadap yang wajib, seorang mukmin akan mengambil berat. Keinginannya kuat melaksanakan karena hal itu harus dilakukan. Bila tidak melakukannya, ia takut pada Allah Yang Mahatahu. Dirinya khawatir akan catatan amal yang dilakukan Raqib Atid mempermalukan wajahnya di akhirat kelak di hadapan Allah SWT.

b. Sunnah, terhadap yang sunah ia akan mengutamakan. Keyakinan akan kebenaran Rasulullah sebagai teladan terbaik akan mendorongnya mengamalkan yang sunah. Kebahagiaan baginya bila Allah tersenyum ridha padanya

c. Makruk, terhadap yang makruh seseornag yang beriman akan sensitive untuk menin ggalkannya. Tidak ada ruang kecil dalam hatinya rela mendapatkan kebencian dari Allah. Menghindari yang makruh adalah perkara utama.

d. Haram, terhadap yang haram,seseorang yang beriman akan segera dengan midah menghindarinya. Jika terhadap yang makruh seorang mukmin mampu menghindar maka apalagi untuk yang haram

e. Mubah atau jaiz, seorang yang beriman akan menempuh lima syarat jadi ibadah. Masih ingat? Yang pertama niat lillah, perkaranya diperbolehkan bukan haram, caranya sesuai syariat, dalam melakukannya tidak meninggalkan ibadah pokok yang wajib, hasilnya diusahakan sebaik mungkin

Amalan orang yang beriman pula sesuai dengan ilmu yang didapatnya, dipahaminya dan diyakininya.

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? [Ar Ra`ad:19].

Kedudukan ilmu ini juga disampaikan Rasulullah seperti termaktub dalam hadits riwayat Muslim nomor hadits 1718:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang beramal tanpa dasar dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Ulama tabiin yang ternama, Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata,

العَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ كَالسَّالِكِ عَلَى غَيْرِ طَرِيْقٍ وَالعَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ مَا يُفْسِدُ اَكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُ فَاطْلُبُوْا العِلْمَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِبَادَةِ وَاطْلُبُوْا العِبَادَةَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِلْمِ فَإِنَّ قَومًا طَلَبُوْا العِبَادَةَ وَتَرَكُوْا العِلْمَ

“Orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang sebenarnya. Orang yang beramal tanpa ilmu hanya membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh, namun jangan sampai meninggalkan ibadah. Gemarlah pula beribadah, namun jangan sampai meninggalkan ilmu. Karena ada segolongan orang yang rajin ibadah, namun meninggalkan belajar.”

Sementara itu ilmu tanpa amal pun berbahaya sebagaimana petikan nasihat ulama, Ibnu Qoyyim Aljauzi Rahimahullahu ta'ala:

كُلُّ عِلْمٍ وَعَمَلٍ لاَ يَزِيْدُ الإِيمَانَ واليَقِيْنَ قُوَّةً فَمَدْخُوْلٌ، وَكُلُّ إِيمَانٍ لاَ يَبْعَثُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدْخُوْلٌ

Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan dalam keimanan dan keyakinan maka telah termasuki (terkontaminasi), dan setiap iman yang tidak mendorong untuk beramal maka telah termasuki (tercoreng).

Kedudukan ilmu sebagai landasan amal sangatlah penting, maka belajar Islam adalah hal utama yang harus dilakukan.

Imam Alghazali pernah menasihati muridnya, beliau mengutip sebuah hadits Rasulullah SAW

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ عَالِمٌ لَا يَنْفَعُهُ اللهُ بِعِلْمِه

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Manusia yang paling berat mendapatkan siksa di hari kiamat, yaitu orang yang mempunyai ilmu, yang Allah tidak memberi manfaat atas ilmunya."

Nah, betapa konsekwensi jahiliah tanpa ilmu itu berbahaya dan konsekwensi berilmu tanpa amalan pun merusak dan mencoreng nama baik seseorang. Maka langkah terbaik adalah terus belajar sambil memohon pada Allah sebagaimana doa kita saat hendak belajar

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat". HR. Ibnu Hibban. Hadis hasan sahih

Ngopatanya kita lanjut dulu masih ada kesempatan nih sebelum batas deadline habis. Kita akan membahas syarat takwa yang kelima yaitu….

5. Mujahadatunnafsi

Mujahadatunafsi artinya bersungguh sungguh memerangi hawa nafsu. Karena sekuat apapun iman, sedalam apapun kepahaman, kesental apapun keyakinan, syaitan masih mengintip kelemahan dan kelengahan manusia melalui nafsunya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَ مَّا رَةٌ بِۢا لسُّوْٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang."(QS. Yusuf 12: Ayat 53)

Agar nafsu kita dirahmati Allah maka kita mesti bermujahadah memeranginya, mendidiknya agar nafsu yang jahad bisa berubah menjadi baik.

Adakah nafsu yang baik? Ada, yaitu nafsu yang dirahmati. Pada dasrnya nafsu bermakna keinginan. Jadi jika nafsu mazmumah yang buruk kita didik dengan baik, ia akan menjadi nafsu mahmudah atau keinginan, hasrat, dorongan yang baik.

Misalnya nafsu kita masih buruk yaitu kikir. Maunya menikmati semuanya sendiri. Atau kita masih didominasi sifat kikir, pelir, cap jahe kata Dai Kondang Baheula, KH Zainudin MZ. Maka harus dikikis, dibersihkan, dididik dengan memaksakan diri bersedekah . Tentu didorong pula dengan keyakinan bahwa rezeki akhirat kita adalah apa yang kita berikan untuk orang lain.

Kita harus kenali sifat nafsu kita mana yang lebih dominan. Kesombongan merasa diri lebih baik dari orang lain dan orang lain lebih baruk dari kita harus dididik agar berubah jadi tawadhu. Keluh kesah, kufur nikmat dan tidak sabaran harus dididik untuk menjadi sabar penuh kesyukuran, pandai mengingati nikmat dari pada kesulitan

Allah tidak akan menyia-nyiakan tiap ikhtiar pembersihan hati ini sebagaimana janjinya dalam Al Qur'an Surat Al-'Ankabut ayat 69)

وَا لَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik."

 

Hari ke-12

Dalam rangka ngobrolin perkara nikah (Ngopeni) kita udah ngarah (ngebahas perkara ibadah) dan ngopata (ngobrolin perkara takwa), nih! Maklum dalam rangka menggalakkan fungsi transportasi umum dan jaran rumah mempelai cukup jauh jadinya kita ngopata. Sabar ya, reader… Kita santai aja biar bacanya nggak stress sambil mikirin bekel khitbah dan resepsi nikah. Writer doakan semuanya lancer menuju ridhoNya.

Bahasan terakhir kita tentang mujahadatunnafsi. Ini bagian dari bekal calon pasutri supaya nikah niat lillah nikah dapat diarahkan sesuai tujuannya. Dan komitmen yang dibuat adalah dalam rangka mencapai tujuan itu.

Kedudukan mujahadatunnafsi sangat penting bahkan Rasulullah bersabda

قدمتم خير مقدم من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر . قالوا : وما الجهاد الأكبر ؟ قال : مجاهدة العبد هواه

“Kalian datang dengan sebaik-baik kedatangan, kalian datang dari jihad kecil menuju jihad besar.” Mereka bertanya: “Apakah jihda besar itu?” Beliau bersabda: Mujahadahnya seorang hamba terhadap hawa nafsunya. (HR. Al Baihaqi)

Mujahadah ini penting sekali tanpa mujahadah seseorang yang sudah puluhan tahun beribadah pada Allah SWT bila tidak bersungguh-sungguh bermujahadah bisa saja terjerumus dalam dosa besar. Kisah ini disampaikan oleh Sayidina Ali, yaitu kisah Barsisha.

Sayidina Ali berkisah: Ada seorang rahib yang dikenal rajin beribadah, sudah berlangsung selama 60 tahun. Syaitan ingin menggoda dan menjauhkannya dari beribadah. Kemudian syaitan pergi pada seorang wanita dan membuatnya menjadi gila. Wanita tersebut memiliki beberapa saudara. Syaitan berkata pada saudara-saudara perempuan itu, " Coba kalian bawa saudara perempuan kalian kepada rahib ini, dimana dia bisa mengobati saudara perempuan kalian"

Mereka mengikuti saran syaitan lantas membawa saudara perempuan mereka kepada rahib. Kemudian diobatilah perempuan itu oleh rahib. Wanita it uterus beradia di sisi rahib selama proses pengobatan. Suatu saat, rahib itu berada di sisi wanita itu. Lalu ketika itu timbul ketertarikan rahib dengannya, kemudian didatangi dan dihamilinya. Kemudian tanpa piker panjang rahib itu membunuhnya. Saudara dari wanita itu pun datang. Saat itulah syaitan datang dan berkata pada rahib tersebut, "Aku ini temanmu, aku bisa membantumu, aku bisa melakukan sesuatu untukmu, tapi taatlah kepadaku, aku akan melepaskanmu dari masalahmu. Cukup kau sujud dengan sekali sujud saja.

Rahib itu akhirnya sujud pada syaitan. Kemudian syaitan berkata, "Aku berpaling darimu. Aku sendiri sangat takut pada Allah Rabbul'alamiin."

Dari kisah ini kita mendapatkan pelajaran berharga betapa napsu harus dijaga harus dididik, dilatih agar tidak terjerumus ke dalam maksiat.

Allah tidak akan menyia-nyiakan tiap ikhtiar pembersihan hati ini sebagaimana janjinya dalam Al Qur'an Surat Al-'Ankabut ayat 69)

وَا لَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik."

Allah sanggat menganjurkan kita untuk membersihkan nafsu kita dan Dia akan memberikan jalanNya yang lurus. Bukan hanya itu bahkan Allah membersamai orang-orang yang berbuat kebaikan

Dalam Alqur'an Surat Asy Syam ayat 7-9

وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰٮهَا

فَاَ لْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰٮهَا

وَقَدْ خَا بَ مَنْ دَسّٰٮهَا

"Demi nafsu (jiwa) serta penyempurnaan (penciptaan) nya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya."

Jadi dalam diri kita ada potensi nafsu mazmumah (fujur) dan potensi nafsu mahmudah (takwa). Kewajiban kita adalah membersihkan potensi jahat dan menghidupkan potensi takwa. Barulah kita akan tergolong pada orang-orang yang beruntung.

Langkah takwa selanjutnya setelah bermujahadah adalah...

6. Istiqamah

Apa sih, makna istiqamah itu? Kata istiqamah berasal dari akar kata قام yang bermakna bangkit atau berdiri tegak. Sementara makna istiqomah bermakna kejujuran, integritas, kesehatan dan banyak makna yang lain. Sedangkan berdasarkan istilah syariat, istiqomah adalah tetap atau konsisten pada jalan yang lurus apapun yang berlaku.

Perintah istiqamah termaktup dalam banyak ayat Alqur'an. Kita sematkan dua diantaranya:

فَا سْتَقِمْ كَمَاۤ اُمِرْتَ وَمَنْ تَا بَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

"Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat terhadap apa yang kamu kerjakan."

(QS. Hud 11: Ayat 112)

فَلِذٰلِكَ فَا دْعُ ۚ وَا سْتَقِمْ كَمَاۤ اُمِرْتَ ۚ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَآءَهُمْ ۚ وَقُلْ اٰمَنْتُ بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنْ كِتٰبٍ ۚ وَاُ مِرْتُ لِاَ عْدِلَ بَيْنَكُمُ ۗ اَللّٰهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۗ لَـنَاۤ اَعْمَا لُـنَا وَلَـكُمْ اَعْمَا لُكُمْ ۚ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۗ اَللّٰهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۚ وَاِ لَيْهِ الْمَصِيْرُ

"Karena itu, serulah (mereka beriman) dan tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad) dan janganlah mengikuti keinginan mereka dan katakanlah, "Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu. Tidak (perlu) ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali.""

(QS. Asy-Syura 42: Ayat 15)

Adapun perintah agar istiqamah diatas jalan iman disampaikan Rasulullah SAW:

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

Dari Sufyan bin Abdullâh ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasûlullâh, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun setelah Anda!” Beliau menjawab: “Katakanlah, ‘aku beriman’, lalu istiqomahlah”. (HR Muslim, no. 38)

Untuk meraih takwa, kita mesti istiqamah dalam beramal dan tidak angin-anginan alias moody-an. Kalau ada mood baru beramal. Kalau tidak mood akhirnya mager, tidak mau beramal bahkan tidak mau beramal apapun. Seperti rebahan sambil menghibur diri dengan gawai. Bukankah itu menyia-nyiakan waktu?

Bagaimana, ya, supaya kita bisa terus istiqamah?

a. Biasakan diri secara rutin mendengar nasihat baik. Bisa membaca Alquran dan Hadits, membaca buku islami, mendengar kajian, melihat tayangan yang mencerahkan dan menambah iman. Nasihat ini akan membantu kita membersihkan jiwa dari yang fujur dan memenuhinya dengan takwa

b. Memahami, menghayati pentingnya istiqamah dan manfaatnya bagi kita. Bahwa amalan yang sedikit tapi istiqamah itu lebih dicintai Allah dari pada banyak tapi hanya sekali dua kali, lalu berhenti. Istiqamah itu seperti membuat lubang dengan bor, bila sabar, tekun, ulet dan terus menerus maka hasilnya aka nada. Natijahnya akan teraih. Seperti wise word experience makes perfection. Atau expert by sustainability and continuity

c. Berkumpul dengan orang-orang yang shalih, saling menularkan kebaikan dan takwa. Membatasi diri dari bergaul yang membuat kita cenderung berbuat fujur kecuali dengan tujuan dakwah

d. Meminta kepada Allah SWT untuk diberi keistiqamahan

 

Hari ke-13

Ngopata kita sudah memasuki poss yang ketujuh, yaitu…

7. Memiliki Guru Mursyid

Apa, sih, makna guru mursyid itu? Kita sering dengar seseorang berkata "guru mursyid saya" atau "mursyid saya" Biasanya kita temukan di kalangan ahli tariqat, yaitu orang-orang yang memiliki amalan tertentu sebagai thariq atau jalan untuk menuju Allah.

Makbna mursyid bisa dipahami dari akar katanya arsyada-yursyidu-rusydan, bermakna memperoleh petunjuk, menjadi lurus atau benar. Padanan katanya arsyada-yursyidu-irsyadan-mursyidan, bermakna jalan yang lurus. Sehingga mursyis bisa dimaknai mereka yang memiliki petunjuk jalan lurus sehingga bisa menunjuki jalan yang lurus pada orang lain. Jadi mursyid adalah guru yang sekaligus pemimpin, dapat membimbing muridnya meniti jalan lurus dan mendapat keridhaan Allah SWT.

Dalam Alqur'an, kata mursyid termaktup dalam surat Al Kahfi ayat 17:

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَتَرَى الشَّمْسَ اِذَا طَلَعَتْ تَّزٰوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَا تَ الْيَمِيْنِ وَاِ ذَا غَرَبَتْ تَّقْرِضُهُمْ ذَا تَ الشِّمَا لِ وَهُمْ فِيْ فَجْوَةٍ مِّنْهُ ۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ ۗ مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۚ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا

"Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari itu terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas di dalam (gua) itu. Itulah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya."

Pentingnya guru mursyid bahkan perintah memiliki mursyid bisa kita ungkap dari beberapa nash Alquran dan hadits berikut ini:

Rasulullah bersabda tentang guru mursyid ,

مَنْ لاَشَيْخٌ مُرْشِدٌ لَهُ فَمُرْشِدُهُ الشَّيْطَانُ

Artinya: “Barangsiapa yang tiada Mursyid (Guru) yang memimpinnya ke jalan Allah, maka syaitanlah yang menjadi gurunya"

عن دود عن ابن مسعود قال رسول الله ص م : كُنْ مَعَ اللهِ وَاِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ اللهِ فَكُنْ مَعَ مَنْ كَانَ مَعَ اللهِ فَإِنَّهُ يُوْصِلُكَ اِلَى اللهِ

Artinya: “Sertakan dirimu kepada Allah, jika kamu belum dapat menyertakan dirimu kepada Allah, maka sertakanlah dirimu kepada orang yang telah serta Allah, maka ia akan menyampaikan kepada kamu pengenalan kepada Allah.” (H.R. Abu Dawud)

Firman Allah Swt;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah / jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihatlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan." (QS. al Maidah : 35)

Guru mursyid bukan hanya sekedar 'alim tetapi ianya memperoleh ilmu yang berkah dan bermanfaat. Ilmu itu bisa menjadi cahaya untuk kehidupannya, dirinya dan keluarganya bahkan orang-orang yang mengikuti di belakangnya. Petunjuk yang Allah berikan benar-benar dijadikan pakaian, sehingga orang lain akan dengan mudah melihat keteladanan ittu terpancar pada perbuatannya. Perkataan, dan perbuatannya selaras dengan ilmu yang dimiliki.

Guru yang menjadikan petunjuk hidayah Islam bukan sekedar mental exercise tapi telah menjadi dinnul hayah, cara hidup dan berkehidupan. Mursyid mestilah orang yang bertakwa. Mungkin dari segi ilmu tidak selalunya unggul tapi dari segi ketakwaan, ianya termasuk orang yang taqarub kepada Allah SWT. Hatinya begitu luas menerima kebenaran. Iradahnya untuk menjalankan dan mengamalkan Islam begitu kuat. Sehingga ia memiliki magnet untuk menarik orang lain yang ingin selamat dan terselamatkan.

Adapun ciri mursyid adalah sebagai berikut:

1. Cenderung tersembunyi atau disembunyikan oleh Allah SWT. Peranannya besar tapi tidak disebut-sebut selayaknya ulama kondang. Ia hanya dikenal sangat baik dan dekat di kalangan para muridnya

2. Hidupnya sederhana, menghindari kemewahan dan pemubaziran

3. Ucapannya bijaksana, tidak suka mengklaim sebagai yang lebih benar apalagi paling benar

4. Rasa takutnya pada Allah sangat terlihat sehingga perbuatannya hati-hati dalam menghindari kemurkaan Allah SWT

5. Memiliki ilmu hikmah dan firasat yang tajam mampu menyibak rahasia Allah SWT

اتقوا فراسة المؤمن فاءنه ينظر بنور الله

Artinya: "Takutlah terhadap firasat seorang mukmin, sebab ia melihat dengan cahaya Allah, kemudian membaca ayat Inna fi dzalika li ayatin lilmutawassimin." (HR Tirmidzi)

6. Memiliki karamah dan firasat yang tajam tidak mengenal rasa takut

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اَ لَاۤ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

"Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih"

7. Hidupnya bergantung pada Allah SWT, sehingga seakan dia sangat percaya diri dan terhindar dari bersandar pada orang lain.

Itulah yang bisa kita intip di pos ketujuh ngopata kita. Kita lanjut ke pos yang kedelapan yuk…!!!

Ngopata kita sampai pada pos kedelapan, yaitu...

8. Berdoa

Senjata pamungkas seorang mukmin adalah doa. Meskipun pamungkas, bukan berarti kita letakkan di akhir langkah kita. Disebut pamungkas karena ianya menjadi sandaran yang kuat saat kita ikhtiar dan mentok sana mentok sini. Justru langkah pertama dalam melakukan sesuatu adalah doa. Bahkan sebelum melangkah pun diawali dengan doa. Bukankah basmallah juga doa.

Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Hibban Rasulullah SAW bersabda:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله فهو أبتر

Segala urusan penting yang tidak diawali bismillah, maka akan berkuran (atau bahkan hilang) keberkahannya. (HR. Ibnu Hibban)

Dalam hal ini urusan terpenting bagi hamba Allah SWT adalah meraih gelaran takwa. Gelar yang membuat seseorang mendapat jaminan pertolongan dunia dan akhirat

وَمَنْ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بَا لِغُ اَمْرِهٖ ۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS. At-Talaq 65: Ayat 2-3)

Betapa besar kedudukan takwa itu, ganjaran yang dijanjikan adalah selesainya segala permasalahan. Jalan keluar dari problematika kehidupan, rezeki min haitsu laa yahtashib, yang dating tanpa diduga ataupun diusahakan karena Allah SWT yang memperjalankan urusannya.

Kehidupan dunia pun berpihak pada orang yang bertakwa, apalagi kehidupan akhirat, sebagaimana firman Allah SWT dalam Alqur'an

لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

Jika kedudukan takwa itu menjadikan hamba Allah mendapatkan jaminan kehidupan dunia dan akhirat maka tentukah takwa ini menjadi perkara besar yang tak boleh ddianggap enteng, bukan?

 

Hari ke-14

Semua pos telah kita lalui bersama ngopata. Masih ingat kegiatan ngopata, kan? Ngobrol perkara takwa atau perihal takwa juga boleh. Ringkasnya, untuk meraih takwa kita mesti mendapat hidayah dari Allah SWT, paham Islam, yaqin, beramal dengan keyakinan, istiqamah beramal, mujahadatunnafsi, memiliki guru Mursyid dan terakhir doa.

Terkait dengan komitmen apa yang mesti disepakati agar derajat takwa bisa kita raih akan kita buat dalam daftar dalam subbagian syarat takwa

1. Meraih Hidayah.

Agar keluarga yang dibangun mudah meraih Hidayah Allah komitmen berikut bisa dicanangkan, misalnya:

a. Antar anggota keluarga harus saling menasihati dengan lapang hati dan niat lillah

b. Penyampaian nasihat dengan cara yang ahsan dan menghindari salah penerimaan

c. Keluarga menghidupkan kebiasaan positif untuk menciptakan suasana teduh penuh taushiyah dari berbagai media radio, televisi, internet, speaker aktif dan lain sebagainya

d. Menghidupkan suasana keilmuan dengan literasi terbimbing guru perpekan untuk menyentuh tingkat kesadaran

e. Mempersiapkan hati yang lapang dan terhadap nasihat dengan melantunkan zikir pelembut

2. Paham Islam

Setelah komitmen menjaring hidayah terbangun dengan kuat, maka perlu kesepakatan untuk bisa memahami Islam dengan langkah berikut:

a. Mengadakan diskusi untuk menyentuh tingkat kepahaman

b. Meluangkan waktu mengadakan muzakarah harian bila terkendala kesibukan maka dapat dengan memanfaatkan media sosial

c. Membuat daftar hal fardhu a'in yang wajib di PP ahami bersama:

*tauhid/usuludin untuk mengenal Allah SWT

*syari'ah/fiqih untuk mencukupkan sahnya ibadah

*akhlaq/tasawuf untuk memperbaiki hubungan lahir batin dengan Allah dan juga sesama makhlukNya

*Ihsan untuk merasakan kehadiran Tuhan dimanapun kita berada, apapun aktivitas kita

*ilmu akhir zaman yang mencukupkan persiapan lahir batin terhadap dahsyatnya fitnah akhir zaman.

3. Memperkuat Keyakinan

Keyakinan bermakna mendarahdagingkan kepahaman hingga akal, hati dan jiwa kita meyakininya. Yakin berkaitan dengan iman. Iman adalah keyakinan hati yang terucapkan dan terpancar dalam perbuatan. Kesepakatan untuk menguatkan iman, antara lain:

a. Mengaitkan apapun rangkaian peristiwa dengan dasar keyakinan yang dimiliki dengan mengembalikan tiap masalah dan persoalan dengan kacamata iman

b. Tidak melakukan tindakan apapun yang bercanggah dari pokok-pokok keimanan

c. Saling tolong bantu untuk menguatkan iman dengan menghadirkan keyakinan peranan Allah SWT di tiap detik kehidupan.

d. Menyandarkan segala urusan pada Allah SWT dengan ikhtiar sebagai bentuk ketaatan pada seruanNya untuk selalu berusaha.

4. Mengamalkan Kepahaman

Mengamalkan ilmu berarti mentransformasikan ilmu ke dalam tindakan praktis sehari-hari. Sesuai dengan pembagian fardhu'ain, pengamalan akan terkait dengan pp0Bersama-sama memahami pokok keimanan yang enam dan mengaplikasikan dalam keseharian.

b.syari'ah/fiqih untuk mencukupkan sahnya ibadah

*Bersama-sama memahami rukun Islam yang lima dan mengamalkan bersama dalam hidup berumah tangga.

*Bersyahadat dengan keyakinan, mengamalkannya dalam tiap nafas dan langkah tanpa lelah rasa dan jiwa

*Tidak meninggalkan sholat fardhu

*Mendirikan sholat fardhu 5 waktu dalam keadaan berjamaah

*Menunaikan puasa wajib dan sunnah minimal yaumil bidh, atau Senin Kamis

*Membayar zakat 2,5% dari penghasilan, 10% dari hasil pertanian dan lain sebagainya

*Membuka tabungan haji dan menyisihkan harta untuk memenuhi dana haji sebesar 10% dari penghasilan

c.akhlaq/tasawuf untuk memperbaiki hubungan lahir batin dengan Allah dan juga sesama makhlukNya

*Berakhlak pada Tuhan dengan selalu mengingatiNya

*Berakhlak pada nabi dan rasul dengan meneladani perbuatan mulia mereka

*Berakhlak pada para malaikat Allah dengan meyakini tugas dan sifatnya

*Berakhlak pada sesama makhluk Allah dengan menjaga keseimbangan kehidupan mereka dalam peranannya di alam

d.ihsan untuk merasakan kehadiran Tuhan dimanapun kita berada, apapun aktivitas kita

*Menjadikan zikrullah sebagai penghias lisan dan tindakan

*Menjaga tindakan dengan penuh rasa malu pada Zat yang selalu mengawasi tiap hambanya

*Menjaga kekhusyuan sebagai bentuk penghayatan ihsan

e. ilmu akhir zaman yang mencukupkan persiapan lahir batin terhadap dahsyatnya fitnah akhir zaman.

*Mempersiapkan diri dan keluarga dengan pengetahuan akan tanda-tanda akhir zaman

*Menjaga diri dan keluarga dari fitnah akhir zaman sesuai ciri-ciri negative yang dapat meengancam keselamatan keluarga

*Memagari diri dan keluarga dari media yang melalaikan dari kedekatan pada Allah SWT

*Turut mempersiapkan diri dan keluarga untuk menjadi bagian dari busyra akhir zaman

*Melayakkan diri menjadi ikhwan Rasulullah di akhir zaman dengan sifat mulia yaitu berkasih sayang, berjuang bagai singa di siang hari dan malamnya bagaikan rahib yang terhanyut dalam ibadah pada Allah SWT

*Menjaga kecintaan pada Rasulullah melebihi keluarga untuk melayakkan diri menjadi ikhwan Rasulullah SAW.

Baru empat point komitmen yang bisa disepakati bersama untuk meraih ketakwaan. Komitmen yang ditulis writer hanya sekedar contoh yang bisa diambil pasutri dalam mengarungi rumah tangga. Hal ini tidak bersifat sebagai hal yang mengerikan dalam rumah tangga karena saking banyaknya komitmen. Akan tetapi membuat komitmen tang lengkap ibarat buku putih di sebuah pesantren untuk santrinya. Semua mengarahkan pada disiplin dan mendekatkan anggota keluarga pada tujuan yang jelas dan lebih terarah

 

Hari ke-15

ita masih membahas tentang komitmen dalam rumah tangga untuk meraih takwa. Ngopiko (Ngobrolin perihal Komitmen), yuk, biar tidak ngantuk meneruskan tulisan ini. (Wah, bahaya, nih, kalau tulisan ini udah membuat jenuh!)

Kita lanjut syarat takwa dan komitmen apa yang bisa disepakati untuk meraihnya bersama-sama seutuhnya dalam satu keluarga.

5. Istiqamah Beramal

Untuk bisa beramal dengan berterusan atau berkesinambungan, pasutri harus memelihara kesemangatan dalam beramal. Fastabiqul khairat dengan menyediakan reward bagi mereka yang terbaik bisa diterapkan. Nah, untuk itu harus ada manajemen keluarga istiqamah beramal. Seandainya berjalannya waktu menghadirkan amanah momongan maka dapat dilakukan reorganisasi.

a. Membentuk kepengurusan kecil dalam keluarga dengan job deskripsi pelaksanaan amal istiqamah

b. Pemberian reward atas kedisiplinan anggota dan punishment bagi pelanggar kesepakatan amal istiqamah

c. Menyediakan anggaran khusus untuk menjalankan manajemen amal istiqamah

d. Saling mengingatkan jika ada tanda-tanda futur dari anggota keluarga

e. Mengadakan kegiatan di luar rumah untuk menjalankan amal istiqamah dalam rangka menghindari kejenuhan

f. Melalukan muhibah ke pesantren atau masjid untuk banyak melihat ahli ibadah yang istiqamah

g. Melihat tayangan secara bersama dari berbagai media untuk memupuk amal istiqamah

h. Memahami bersama Fadillah amal agar dapat menjaga amal dengan istiqamah

6. Mujahadatunnafsi

Pada bahasan tentang memerangi hawa nafsu kita telah bersama-sama ngopata hingga pada mengenali diri sendiri. Sifat mazmumah yang harus kita kenali, kita kosongkan kemudian kita isi dengan sifat mahmudah. Sampai kita benar-benar dapat menghadapi tiap detik hidup ini dengan pilihan rasa hati yang positif.

a. Komitmen membersihkan hati dari sifat mazmumah

*Menghilangkan sifat kufur nikmat dengan zikrullah, memujiNya dengan hamdalah dengan bilangan tertentu atau sebanyak mungkin, secara berjamaah ataupun sendiri-sendiri

*Menghilangkan sifat pemarah dengan mengedepankan dialog dan komunikasi agar muncul prasangka baik

*Menghilangkan perilaku syirik dengan meniadakan sandaran selain Allah SWT baik dalam hati maupun dalam tindakan

*Menghilangkan sifat kikir dengan keyakinan bahwa semua yang ada milik Allah dan atas kemurahan-Nya, menyisihkan sebagian harta dalam sedekah harian

*Menghilangkan sifat pendendam dengan menyebut kebaikan dari orang yang telah berbuat salah dan menghindari ghibah yang hanya menambah amarah

*Menghilangkan sifat iri dengki dengan menyadari segala karunia hamba adalah hak Allah untuk menganugerahkannya pada siapapun. Menyadari bahwa iri dengki akan menjadi tanda kufur dari nikmat yang telah Allah bagi buat kita.

*Menghilangkan sifat sombong, takabur, ujub dan sum'ah dengan menyadari tiada yang hebat kecuali Allah SWT. Menyadari bahwa segala yang ada atas izin Allah SWT termasuk tiap kebaikan adalah anugerahNya. Menghadirkan rasa sebaik-baik diri lebih baik orang lain, seburuk-buruk orang lain lebih buruk diri sendiri.

Merasakan bahwa selalu ada daging pada ikan yang kurus. Artinya, pandai menyebut kebaikan orang meskipun orang tersebut secara lahiriah banyak kekurangan hingga yang nampak kelebihannya saja. Caranya mengingat dua dan melupakan dua, yaitu mengingat kesalahan diri dan mengingat kebaikan sesama serta karunia Allah SWT. Sedangkan dua yang harus dilupakan agar terhindar dari takabur adalah lupa atas kebaikan diri dan keburukan orang lain

*Menghilangkan sifat rendah diri dengan menyadari segala ujian datang dariNya untuk menghapus dosa, meninggikan derajat, menjaga hambanya dari maksiat kesombongan

*Menghilangkan sifat mudah berprasangka buruk pada Khaliq dan makhluk. Caranya adalah dengan mengingat dua melupakan dua juga seperti terapi dari sifat sombong. Tetapi ada sedikit perbedaan disini, mengingat dua yaitu karunia Allah dan kebaikan sesama. Melupakan dua hal yaitu ujian Allah dan kesalahan sesama.

*Menghilangkan sifat malas dengan menyadari hidup yang hanya bersifat tentatif, sementara. Bahwa hidup harus diisi dengan bekalan menghadapNya yang sifatnya kekal abadi

b. Komitmen mengisi hati dengan sifat mahmudah

*Menghiasi hati dengan sifat syukur nikmat dengan menyebut dan mengingat nikmat Allah SWT. Merasakan tiap titik nikmat adalah atas kasih sayang Allah meskipun diri kita tak layak mendapat kasihNya karena dosa-dosa namun rahmatNya melebihi luasnya samudra

*Menghiasi hati dengan sifat sabar dengan mengedepankan dialog dan komunikasi untuk memahami kekhilafan orang lain, sabar dari amarah, sabar dari derita ujian dan musibah. sabar untuk menjadi insan yang taat, dan sabar menjaga diri dari maksiat

*Menghiasi hati dengan nilai-nilai tauhid, menyandarkan segala urusan hanya pada Allah, meyakini bahwa tiada sebutir debu terbang dan daun berguguran kecuali dalam pengetahuanNya dan atas izinNya

*Menghiasi diri dengan sifat pemurah, selalu berbagi baik dalam sempit maupun lapang. Merasakan bahagia dengan berbagi

*Menghiasi hati dengan sifat pemaaf, memaklumi bahwa manusia selalu terbalut dengan kelemahan dosa, khilaf, lupa dan tersilap

*Menghiasi diri dengan sifat rida, rela karena segala yang terjadi atas qadar Allah SWT. Rela adalah syarat seorang hamba mendapat Rida dari Allah SWT. Menyebut kerelaan atas nikmat orang lain secara sengaja untuk menghiasi hati dengan sifat rela. Mengucapkan selamat dan tahniah pada keberhasilan orang lain.

*Menghiasi diri dengan sifat dan sikap tawadhu, rendah hati, dengan dilandasi kesadaran bahwa diri kita sekedar hambaNya. Memiliki sesuatu hanya sekedar pinjaman sementara dari Allah SWT.

*Menghiasi diri dengan sifat optimis, percaya diri yang dilandasi keyakinan atas kasih sayang Allah SWT. Merasakan bahwa Rahmat Allah teramat luas melebihi kemurkaan atas maksiat hambanya. Bermula dari optimisme itu muncul perilaku enerjik, gesit selalu sigap berencana, berbuat dan melakukan amalan setelah selesai satu amalan. Pasutri dapat melakukan kesepakatan melakukan kegiatan bersama dalam jadwal yang tersusun ataupun pembagian tugas yang rapih dan tersepakati.

*Menghiasi hati dengan sifat berbaik sangka pada Khaliq dan makhluk. Cirinya, mengingat dua yaitu karunia Allah dan kebaikan sesama. Melupakan dua hal yaitu ujian Allah dan perilaku buruk orang lain udah menjadi hal yang lumrah. Tidak perlu latihan namun sudah mudah begitu saja di munculkan oleh perasaan hati.

*Menghiasi diri dengan sifat penuh semangat, rajin melakukan amal-amal baik. Faidza faraghta fanshob sudah menjadi pakaian dalam keseharian. Semua waktu yang Allah karuniakan tiap detiknya telah menjadi amalan istiqamah.

Komitmen yang dibuat untuk meraih gelar takwa hingga pos keenam seakan membawa kita pada tipikal keluarga syurgawi. Setujukah, Reader?

 

Hari ke-16

Ngopiko lagi kita, masih pada bahasan tentang komitmen dalam rumah tangga untuk meraih takwa. Makin semangat ya, Reader? Apalagi mereka-mereka yang sudah makin mendekati gerbang nikah harus lebih semangat ding, eh...maksudnya dong!

Dikarenakan rumah tangga itu bukan sekedar permainan cinta tapi ia sebuah organisasi terkecil dan menjadi terpenting untuk membentuk peradaban, maka perlu manajemen serius. Komitmen ibarat perencanaan matang dari sebuah organisasi.

Nah, tentu saja para penghuninya, pembangunnya, anggotanya harus berada dalam keteraturan tingkat tinggi. Pernah memperhatikan negeri semut, lebah ataupun rayap? Mereka adalah makhluk-makhluk Allah dengan job deskripsi yang sangat jelas, kedisiplinan dalam menjalankan tugas pun tak pernah berubah. Mereka sangat konsisten dan tidak bosan terus menyelesaikan targetnya.

Pos ngopiko kita sudah masuk pos ke-7.

7. Komitmen Mencari, Menentukan dan Belajar pada Mursyid yang Sama.

Mencari Mursyid menurut imam Al-Ghazali ibarat mencari jarum pada tumpukan jerami. Sulit kecuali atas petunjuk Allah SWT. Mursyid juga ibarat sekuntum bunga di taman firdaus, artinya ia mudah didapati apa bila kita sudah berada di tempat yang tepat. Apabila kita berada pada komunitas yang baik.

Komitmen Mencari mursyid sangat penting untuk menjadi pembimbing spiritual keluarga. Baik dalam kondisi keduanya belum bermursyid, salah satu sudah bermursyid atau keduanya memiliki Mursyid yang berbeda. Sebelum menentukan Mursyid, ada beberapa kriteria dan ciri yang pernah kita bahas saat ngopata bersama di pos ketujuh.

1. Cenderung tersembunyi atau disembunyikan oleh Allah SWT. Peranannya besar tapi tidak disebut-sebut selayaknya ulama kondang. Ia hanya dikenal sangat baik dan dekat di kalangan para muridnya

2. Hidupnya sederhana, menghindari kemewahan dan pemubaziran

3. Ucapannya bijaksana, tidak suka mengklaim sebagai yang lebih benar apalagi paling benar

4. Rasa takutnya pada Allah sangat terlihat sehingga perbuatannya hati-hati dalam menghindari kemurkaan Allah SWT

5. Memiliki ilmu hikmah dan firasat yang tajam mampu menyibak rahasia Allah SWT

6. Memiliki karamah dan firasat yang tajam tidak mengenal rasa takut

7. Hidupnya bergantung pada Allah SWT, sehingga seakan dia sangat percaya diri dan terhindar dari bersandar pada orang lain

Akan tetapi ada juga yang memberi kriteria berbeda. Menurut pendapat Prof. Dr. Kadirrun Yahya, MA:

1. dicerdikkan oleh Allah, bukan oleh yang lain-lain dengan mendapat izin Allah dan ridha-Nya.

2.ia adalah kamil lagi mukamil (sempurna lagi menyempurnakan) karena karunia Allah.

3. pengajarannya, (kalau ia mengajar atau berdo’a, maka berbekas pada murid, si murid berubah ke arah kebaikan)

4. masyhur ke sana ke mari

5. tidak dapat dicela oleh orang yang berakal akan pengajarannya, yakni tidak dicela oleh al Qur’an dan al Hadist serta ilmu pengetahuan.

6. wara', tidak kuat mengerjakan yang subhat dan yang sia-sia, umpamanya membuat hal-hal yang tidak murni halalnya.

7. tidak setengah kasih akan dunia, karena bulat hatinya. Ia kasih akan Allah, ia bergelora dalam dunia, bekerja keras untuk mengabdi kepada Allah SWT bukan untuk mencintai dunia.

Bila kita jumpai seseorang dengan kriteria di atas maka hal itu rezeki dari Allah SWT. Diantara kriteria yang bisa kita utamakan adalah beramal dengan ilmunya. Dia memberikan ilmu kemudian mudah diamalkan murid-muridnya.

Tentu akan mudah menandai kemursyidan seseorang yaitu kita mudah berubah. Mudah untuk hijrah dari keburukan pada kebaikan. Kita mudah mengamalkan ilmu setelah mendengar nasihatnya. Kehadirannya memudahkan kita meraih takwa dan menjalani delapan syaratnya. Bahkan melihat wajahnya saja sudah cukup menggetarkan jiwa membuat kita mudah mengingat Allah. Insya Allah jika kita dapati seseorang seperti ini maka dialah Mursyid kita.

Sebenarnya kita sedang ngopiko, ya? Jadi kita kembalikan pada kesepakatan apa yang bisa dibuat suami istri terkait pencarian guru Mursyid ada beberapa contoh kriteria berikut:

1. Mendiskusikan dengan serius untuk menentukan guru Mursyid keluarga

2. Menentukan guru Mursyid keluarga

3. Mendatangi guru Mursyid secara rutin minimal sepekan sekali dalam kunjungan jama'i

4. Melakukan tabaruan minimal sebulan sekali dalam kunjungan khusus pribadi

5. Menyisihkan dana keluarga untuk ilhtiram pada Mursyid.

6. Melakukan konsultasi pribadi sebulan sekali untuk memecahkan masalah keluarga dan anggotanya

7. Membuat daftar amalan nasihat mursyid, melakukan evaluasi keluarga terhadap keterlaksanaan amalan dala. Bentuk muthabaah yaumiyah

8. Menyusun mutabaah yaumiyah untuk mengukur perubahan diri dan keluarga.

9. Evaluasi perkembangan diri dan keluarga untuk mengevaluasi ketepatan pemilihan Mursyid, jika perubahan signifikan tidak didapati.

Masya Allah memilih guru ternyata tidak mudah, ya. Karena tujuan kita meraih takwa maka kita boleh mengukur ketakwaan kita. Bila tidak juga didapat, barangkali kita belum mendapat pembimbing yang tepat atau mungkin juga kita lupa untuk menjalani 6 langka sebelumnya. Jadi tidak semata-mata menyalahkan satu faktor pada pos ketujuh tapi lebih menekankan pada introspeksi pos sebelumnya. Akan tetapi jika 6 langkah sebelumnya lulus, otomatis guru yang kita pilih juga sudah tepat. Keetujuh faktor pada syarat takwa tidak saling berdiri sendiri.

Hidayah hadir, menerima Islam. Menerima Islam bermakna berusaha memahaminya. Kepahaman akan membawa kita pada keyakinan. Keyakinan yang shahih akan membuahkan amal. Amal yang salih akan melahirkan pribadi istiqamah dalam beramal. Amal istiqamah memudahkan seseorang membersihkan hawa nafsunya dan melahirkan akhlaq mulia. Semua itu harus diiringi dengan bimbingan Mursyid atau terasah menjadi amal istiqamah dengan bimbingan Mursyid. Awal dari semua itu adalah doa.

Lanjut ngopiko di pos doa. Kesepakatan terkait doa juga atas bimbingan Mursyid. Tiap Mursyid akan memberikan amal istiqamah. Sebagian orang mengatakan wirid atau zikir. Zikir wirid ini dikatakan sebagai thariqah, jalan menuju Allah. Guru Mursyid memiliki susunan doa dan amalan untuk dilakukan dan didirikan oleh murid secara istiqamah. Inilah rangkaian doa permintaan. Jalan untuk meraih gelar taqwa.

Lebih dalam ngopiko doa, ada beberapa kesepakatan yang bisa dissenaraikan sebagai berikut:

1. Mengambil sanad khusus yang merupakan rangkaian zikir, wirid dan doa dari guru Mursyid

2. Menghafalkan, mengerti, memahami, menjiwai doa untuk meraih kekhusyuan

3. Menjadikan shalat sebagai doa terpenting sesuaiakna sholat sebagai do'a

4. Membuat kesepakatan mengamalkan doa secara bersama ataupun sendiri-sendiri namun terpantau dalam mutabaah yaumiyah

5.Menjadikan doa sebagai bagian pencapaian darjat takwa yang diamalkan secara istiqamah oleh seluruh anggota keluarga

6. Menghadiri majelis zikir, wirid dan doa minimal sebulan sekali.

Selesai sudah ngopiko kita dalam rangka meraih takwa. Jangan lupa ya, bahasan kita sampai di sini terkait tujuan menikah untuk membentuk keluarga dan melahirkan generasi bertakwa. Memakmurkan bumi Allah dengan para pemujaNya, hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

 

Hari ke-17

KOMITMEN UNTUK MENYATUKAN DUA KELUARGA

Tujuan pernikahan yang telah kita bahas adalah mengikuti perintah Allah dan rasulnya agar menyalurkan hasrat pada yang halal, memakmurkan bumi Allah dengan generasi Rabbani yang bertakwa dan menjalin persaudaraan antar dua keluarga.

Kita akan bahas tujuan yang ketiga, yaitu mempersaudaraan dua insan dan keluarga yang berbeda. Penyatuan ini menjadi seni muamalah sepanjang hayat. Betapa sifat takwa yang berusaha diraih dalam beberapa langkah komitmen membina rumah tangga akan sangat membantu proses penyatuan ini.

Allah berfirman tentang keterlibatan dua keluarga dalam proses pernikahan ini

وَأَنكِحُوا اْلأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32)

Juga firman Allah dalam ayat berikut ini:

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَ مَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰٓئِكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّا رِ ۖ وَا للّٰهُ يَدْعُوْۤا اِلَى الْجَـنَّةِ وَا لْمَغْفِرَةِ بِاِ ذْنِهٖ ۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

"Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 221)

Ayat ini menunjukkan bahwa ada pihak yang terlibat dalam menikahkan. Dalam hal ini adalah wali nasab terdekatnya adalah ayah dari pihak wanita. Saat melepas masa lajang seorang perempuan berpindah tanggung jawab dari ayah ke suaminya. Sementara seorang suami akan tetap menjadi hak ibunya.

عَائِشَةَ ، قَالَتْ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ النَّاسِ أَعْظَمُ حَقًّا عَلَى الْمَرْأَةِ ؟ قَالَ : " زَوْجُهَا " ، قُلْتُ : فَأَيُّ النَّاسِ أَعْظَمُ حَقًّا عَلَى الرَّجُلِ ؟ قَالَ : " أُمُّهُ "

Maknanya : "Dari Asiyah : “Aku bertanya kepada Rasulullah saw”: “Siapa yang memiliki hak paling besar terhadap wanita?” Rasulullah saw, berkata : “Suaminya”. Aku berkata : “Maka siapa yang paling berhak atas laki-laki?” Rasulullah saw, berkata: “ibunya". (HR. Hakim, Bazzar dan Thabrani).

Keterlibatan keluarga dalam pernikahan diisyaratkan pula pada ayat berikut

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتًا غَيْرَ بُيُوْتِكُمْ حَتّٰى تَسْتَأْنِسُوْا وَتُسَلِّمُوْا عَلٰۤى اَهْلِهَا ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat."

(QS. An-Nur 24: Ayat 27)

Izin memasuki rumah bermakna pula seorang pria dewasa yang ingin menikahi wanita harus melibatkan keluarga wanit, meminta izin. Ketika sudah menjadi anggota dalam rumah pun senantiasa membawa nuansa keselamatan sebagaimana saat hendak memasuki rumah.

Betapa indahnya Islam, mengaitkan satu sama lain untuk menjadi satu kesatuan yang saling terhubung dan tak terpisaphkan. Saat wanita menjadi hak suaminya dan suami hak ibunya, Islam sedang mengikat dua keluarga agar tak terlepas begitu saja.

Lalu bagaimana dengan mertua dari pihak perempuan?

Seorang anak tidak akan pernah lepas dari kewajibannya terhadap orang tua, yaitu:

1. Terus berbakti pada orang tua

a. Berbuat baik selalu

b. Mengunjungi secara rutin

c. Selalu bersikap santun

2. Membahagiakan orang tua dalam bingkai ketaatan pada Allah SWT

a. Menafkahinya dengan yang halal dan baik

b. Memberikan hadiah yang menjadi permintaannya

c. Selalu menghadirkan suasana bahagia di depannya

d. Berlatih mengasah kemampuan komunikasi untuk keharmonisan dalam keluarga

3. Menyelamatkan dalam naungan taat dalam Islam

a. Menasihati saat mereka khilaf dengan cara yang ahsan

b. Meringankan beban kifarah dan fidyahnya serta ibadah lain yang tak dapat mereka lakukan dengan badal

4. Memelihara masa rentanya

a. Menawarkan diri memelihara keduanya dengan tinggal bersama

b. Memenuhi permintaan mereka saat ingin tinggal bersama kita

c. Memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya

5. Menjaga dan membela nama baiknya

a. Memelihara akhlak diri sebagai pakaian dalam rangka menjaga nama baik keluarga terutama kedua orang tua

b. Meluruskan dan membersihkan nama baiknya dari penilaian buruk orang lain ataupun kerabat.

Allah SWT berfirman dalam

وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا ۗ اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

وَا خْفِضْ لَهُمَا جَنَا حَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil."

(QS. Al-Isra' 17: Ayat 23-24)

Selain muamalah dengan kedua orang tua, ada hubungan baik dengan kerabat yang harus dipelihara. Intinya adalah mengekalkan hubungan kekeluargaan dan tidak memutuskannya. Kerabat pihak pria adalah kerabat juga bagi pihak wanita, sebaliknya kerabat pihak wanita menjadi kerabat pihak wanita. Bukankah ini menjadi wider relationship yang amazing dan menjadi berkah jika bersandar dengan sikap berkasih sayang?

Sementara itu hak kerabat yang perlu kita pahami adalah sebagai berikut:

1. Menyambungkan silaturahim dengan saling berkasih sayang dan saling mengunjungi

2. Mengutamakan dan mendahulukan kaum kerabat terdekat dibandikkan orang lain

3. Saling memaafkan, saling mendoakan, saling membantu

Ada beberapa kesepakatan yang bisa dibuat dalam rangka mencapai tujuan penyatuan dua keluarga:

1. Bersedia memenuhi keinginan orang tua untuk tinggal dalam pemeliharaan kita sebagai peluang meraih syurgaNya

2. Menafkahi dengan proporsi yang adil sesuai kebutuhan dan kemampuan untuk orang tua kedua belah pihak

3. Saling bantu dalam menyelesaikan kewajiban agama dari orang tua kedua belah pihak

4. Mengunjungi orang tua atau kerabat dalam jadwal yang disepakati bersama

5. Memasukkan nama orang tua dan kerabat dalam doa-doa rutin ibadah khusus maupun umum.

6. Menyisihkan kebutuhan khusus anggaran dari persentasi gaji untuk orang tua dan kaum kerabat

7. Menjalin komunikasi yang hangat dalam rangka merajut ukhuwah.

Akhirnya kita selesai juga ngopikonya. Cukup panjang juga ya Reader... Setelah ini kita bakalan ngabisani alias ngebahas sifat ibadah nikah

 

Hari ke-18

SIFAT IBADAH NIKAH

Di hari kedelapan belas kita akan ngabisani, ngebahas sifat ibadah nikah. Disebut ngabisani karena bahasan kita kali ini hanya bersifat penguatan dari bahasan panjang tentang Nikah adalah ibadah dalam 17 posting Sarapan Kata Jadi Buku di KMO Club.

GPL-gak Pake lama....yuk kita lanjut ngabisani bersama.

A. Munculnya Kecenderungan Rasa Tentram dan Nyaman

Sebelum melangkah dalam pernikahan Allah SWT memberikan sinyal perjodohan dengan munculnya rasa saling nyaman. Bahkan dari memandang wajahnya pun tanda-tanda berjodoh itu sudah ada sebagaimana firman Allah

وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا لِّتَسْكُنُوْۤا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."(QS. Ar-Rum 30: Ayat 21)

Tentram dan nyaman menjadi sinyal sebelum mengkhitbah dan mengucap akad. Nah, untuk mendapat kecenderungan ini, peranan istikharah, meminta petunjuk Allah SWT menjadi hal terpenting. Kadang kala wajah tidak bisa diandalkan untuk mendatangkan ketentraman. Keteduhan hadir dari wajahnya saat dipandang siapapun. Apalagi zaman tipu-tipu filter kamera ataupun make up natural yang bisa menyulap penampilan seseorang. Bisa juga wajah tidak mendatangkan ketenteraman padahal saat berada dalam rumah tangga sikap dan tutur katanya membuat kita dilimpahi keteduhan.

Tata cara istikharah perlu diketahui agar petunjuk Allah benar-benar hadir:

1. Awali dengan memperbanyak shaum, minimal tiga hari sebelum istikharah

2. Perbanyak istighfar, zikir, wirid untuk taqarab illallah

3. Iringi dengan sedekah terbaik, mohon agar istikharah kita tepat jawaban

4. Melakukan shalat dua rakaat dengan memperhatikan syarat rukun shalat istikharah, yaitu menyempurnakan wudhu, mengerjakan shalat dengan khusyuk, berdoa dengan sungguh-sungguh, tadharuk pada Allah agar diberi petunjuk

5. Menerima apapun petunjukNya baik berupa mimpi, nasihat baik hamba Allah yang Shalih, kemudahan langkah hingga takdir kemudahan proses sebagai bagian dari petunjuk Allah

6. Baik sangka dengan tiap ketentuanNya

b. Kecenderungan Ingin Selalu Bersama

Ketentraman dan ketenangan membuat kita cenderung untuk selalu bersama. Ada rasa rindu ingin berjumpa. Rasanya sepi tanpa kehadirannya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا

"Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."

(QS.Alfurqan:74)

Inilah anugerah batin saat nikah benar-benar bernilai ibadah. Tiap anggota keluarga selalu menghadirkan rasa cinta, kasih dan sayang. Ada rasa kehilangan bila tidak ada salah satu dari anggota keluarga. Ingin mengetahui kabar keadaan satu-sama lain. Maka hadirlah saling mendoakan satu sama lain.

Betapa nikah yang bernilai ibadah itu membahagiakan kita, menenangkan jiwa kita. Makin terasa bahwa Allah SWT Mahakasih Mahasayang, Sang Penyemat cinta pada makhlukNya. Terasa indah syariat Islam, terasa amat sangat bijaknya Sunnah Rasulullah SAW. Hingga ancaman para penolak Sunnah nikah ini terkeluar dari golongan Rasulullah SAW.

c. Komitmen ibadah sepanjang hayat

Pada kegiatan ngopiko kita, yang telah Reader baca di bab sebelumnya, kita sepakat, ya?! Bahwa rumah tangga yang dibangun selepas nikah adalah organisasi terkecil pembangun peradaban.

Komitmen juga terkait dengan natijah nikah harus maslahat. Natijah terkait syarat nikah jadi ibadah. Sementara natijah sangat terkait dengan niat dan tujuan nikah. Masih ingat tujuan nikah?

1. Menjaga kesucian diri. Menyalurkan hasrat pada yang dihalalkan

2. Melahirkan generasi bertakwa

3. Menyatukan keluarga dari dua belah pihak

Mohon maaf, ya, Reader, bahasan kita terulang-ulang. Namanya juga penguatan, makanya writer menekankan bagian penting dengan mengulangi.

Oleh karena itu, perlu ada buku putih komitmen berkeluarga. Di dalamnya ada kesepakatan yang harus dijalani bersama ada point reward dan punishment. Di bagian akhir buku ini Writer akan sajikan buku putih itu. Nantinya buku putih itu menjadi panduan keluarga samawa, sakinah mawadah warahmah.

Akan tetapi seperti yang kita diskusikan sebelumnya, komitmen bersifat fleksibel. Hasil diskusi dua pihak dan dirasa nyaman buat melaksanakan.Tanpa komitmen tidak ada keharmonisan dalam rumah tangga. Sebaliknya terlalu banyak komitmen tanpa realisasi dan disiplin tinggi, bukan komitmen sebutannya namun permainan belaka.

Agar komitmen dapat dijalankan, perlu suasana saling menyadarkan, memahamkan, mengingatkan dengan kasih sayang dalam keluarga. Kepemimpinan seorang ayah dan ketaatan seorang ibu menjadi tonggak awal taatnya tiap anggota keluarga.

d. Pembuka pintu rezeki

Saat masih sendiri, calon suami-istri adalah bagian dari keluarga orang tuanya. Saluran rezeki ada pada ayah ibunya hingga mereka mandiri. Ketika mereka membangun keluarga maka suami istri menjadi saluran rezeki buat menghidupi keluarga mereka sendiri. Hadirnya istri-istri juga akan menjadi tambahan jatah rezeki dari Allah SWT melalui anggota keluarga yang mandiri dan punya pintu rezeki. Demikian pula hadirnya anak-anak akan menambah jatah rezeki sebagaimana ketentuan rezeki Allah untuk tiap-tiap makhlukNya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ نِكَا حًا حَتّٰى يُغْنِيَهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ رٌ

"Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (dirinya), sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya." (Annur:33)

Ayat ini bermakna, karunia Allah bagi mereka yang menjaga kesucian diri. Pernikahan adalah pintu untuk menjaga kesucian diri. Allah-lah yang akan menjamin kelapangan rezeki untuk mereka dari jalan yang tak disangkakan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَا للّٰهُ جَعَلَ لَـكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا وَّ جَعَلَ لَـكُمْ مِّنْ اَزْوَا جِكُمْ بَنِيْنَ وَحَفَدَةً وَّرَزَقَكُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ ۗ اَفَبِا لْبَا طِلِ يُؤْمِنُوْنَ وَبِنِعْمَتِ اللّٰهِ هُمْ يَكْفُرُوْنَ

"Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?"

(QS. An-Nahl 16: Ayat 72)

Ditegaskan kembali dengan ayat di atas bahwa kehadiran anak cucu, jiwa-jiwa pada raga-raga yang baru. Allah-lah pencukup setiap kebutuhan makhluknya.

e. Haram yang Dihalalkan

Perjanjian besar berupa akad nikah, mengaitkan dua insan yang awalnya haram bersentuhan menjadi boleh bersentuhan. Keduanya dianugerahi pahala saat bersentuhan, bahkan dosa-dosa digugurkan.

Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالُوا لِلنَّبِىِّ -صلىالله عليه وسلم - يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ « أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

Dari Abu Dzar RA, dia berkata, “Sesungguhnya sebagian dari para sahabat berkata kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.”

Nabi SAW kemudian bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap tahmid adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah sedekah.“ Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jika salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah SAW menjawab, “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika dia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, dia mendapat pahala.” (HR Muslim no 2376)

Rasulullah juga meneladankan romantisme ibadah nikah

قَلَّ يَوْمٌ – إِلاَّ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَدْخُلُ عَلَى نِسَائِهِ فَيَدْنُو مِنْ كُلِّ امْرَأَةٍ مِنْهُنَّ فِى مَجْلِسِهِ فَيُقَبِّلُ وَيَمَسُّ مِنْ غَيْرِ مَسِيسٍ وَلاَ مُبَاشَرَةٍ. قَالَتْ ثُمَّ يَبِيتُ عِنْدَ الَّتِى هُوَ يَوْمُهَا

“Jarang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan rutinitas menemui istri-istrinya, lalu mendekat ke mereka, mencium mereka, membelai mereka tanpa hubungan badan dan bercumbu. Kemudian beliau tidur di rumah istri yang menjadi gilirannya. (HR. Daruquthni)

Pernikahan adalah karunia besar yang memungkinkan dua insan melepaskan batas aurat masing-masing ketika hanya berdua di dalam kamar. Meskipun Rasulullah mengajarkan kita menjaga pandangan pada sesuatu yang terlalu rahasia. Akan tetapi hikmah dari semua ini adalah kedua insan suami istri bisa saling menolong saat diperlukan untuk urusan pengobatan misalnya.

Bagian ini menjadi bahasan terakhir nikah sebagai ibadah. Kita akan ngebahas nikah yang mudah (ngenadah). Pada bahasan ini tidak akan sepanjang lebar ngarah karena hal yang paling mendalam dan harus sangat dipahami adalah ibadah.

Moga berkah, ya, Reader...mudah-mudahan tulisan ini mudah dipahami dan mudah diamalkan, dinilai ibadah di sisiNya. Belum juga membahas nikah mudah kita sudah menemukan kata mudah sebanyak enam kali. Mudah-mudahan semudah pembahasannya setelah ini Hmmm....setujukah?

 

Hari ke-19

NIKAH IBADAH MUDAH DAN MURAH

Ngebahas nikah yang mudah dan murah (kali ini sulit membuat akronimnya. Ngedarah? Ah, tidak cocok dan terkesan seram). Untuk bahasan kali ini rasanya akan muncul polemik. Tidak semua orang setuju dengan konsep yang satu ini. Apa lagi di zaman yang serba materialistis ini, dimana kemewahan menjadi bagian dari prestasi dan prestise. Atau argumen dengan wise word yang tidak selalunya wise. Easy come easy go, difficult come, difficult go. Ada yang beranggapan saat menikah bersusah payah dengan biaya yang besar tentu akan sayang juga untuk membiarkan pernikahan itu buyar dan kandas di tengah jalan. Berbeda dengan pernikahan yang terlampau mudah dan sederhana, rasanya tak akan ada pertimbangan mendalam dan pikir ulang untuk berpisah.

Ada juga pepatah Jawa, jer basuki mawa bea. Setiap kebaikan itu butuh biaya. Jadi orang berpendapat makin besar pengorbanan makin banyak kebaikan yang didapat. Dalam menikah juga perlu biaya besar supaya lebih berkah dan banyak kebaikan yang diraih.

Ditambah juga argumen begini...dengan adanya perjuangan mempersiapkan segalanya berarti akan menjadi tantangan buat laki-laki menyiapkan segalanya. Pria yang settle akan mudah memenuhi kebutuhan keluarganya. Problem rumah tangga paska nikah tidak akan banyak terjadi disebabkan faktor ekonomi sudah selesai.

Seakan-akan pendapat di atas benar, ya, Reader? Tapi tunggu dulu. Untuk menentukan hukum kita sepakat dengan Alquran, Hadits, Ijma dan Qiyas sebagai pegangan ahlussunah Wal jamaah.

Alquran sudah kita mafhum bersama bahwa ianya adalah petunjuk Allah SWT yang harus menjadi landasan pertama penentuan hukum. Sementara itu. Hadits adalah perkataan, perbuatan dan sikap Rasulullah terhadap kejadian yang dialami shahabat dan shahabiyah. Sedangkan Ijma adalah kesepakatan ulama dengan proses ijtihad bila perkara yang dijumpai tak secara gamblang tidak termaktub dalam Qur'an dan Hadits. Qiyas adalah mengambil hal sepadan dengan apa yang dilakukan Rasulullah disesuaikan dengan kondisi wilayah setempat.

Dalam hadits Rasulullah SAW termaktub pesan beliau, bagaimana agar kita mendapat petunjuk.

أصحابي كالنُّجومِ، بأيِّهم اقتَدَيْتم اهتَدَيْتُم

Sahabatku ibarat bintang di langit. Barang siapa diantara kalian meneladani mereka maka kalian mendapat petunjuk. Karena, para sahabat adalah pantulan atau cerminan dari sosok Nabi, baik dalam pola pikir maupun tindakannya. Bintang di sini juga bermakna cahaya yang nampak lebih redup dibandingkan bulan purnama.

Oleh karena itu kita perlu menggali contoh perikehidupan rasul, sahabat dan shahabiyah untuk menentukan sikap dan pendapat. Semoga dengan meneladani Rasulullah dan orang-orang dekat Rasulullah, kita akan meraih petunjukNya.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 110:

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَ كْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

"Kamu (umat Islam/Rasul dan para sahabat) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik."

Petunjuk ibarat cahaya atau tongkat penunjuk bagi si buta. Ataupun ibarat sandaran bagi mereka yang lelah melangkah. Sementara tanpa petunjuk, segala tata cara aturan syariatnya membuat hidup kita lebih mudah. Laaraiba fiihi, tidak ada keraguan dalam melangkah.

Kembali ke konsep nikah mudah dan murah, rasanya perlu dilakukan survey, apakah makin mewah makin terjamin langgengnya rumah tangga? Tapi Writer berani jamin bahwa perceraian ataupun keawetan usia pernikahan tidak tergantung sederhana tidaknya pernikahan, tapi lebih pada terpeliharanya tujuan nikah selama pasutri bermuamalah.

Rata-rata pernikahan artis selalu wah dan megah. Akan tetapi tren bercerai di kalangan artis justru termasuk yang sangat tinggi. Bahkan tren cerai lebih dulu dipelopori para artis.

Jadi setuju ya kita bahas nikah ibadah mudah murah yang akhirnya membawa berkah dan indah? Mudah disini terkait keseriusan kita mengikuti petunjuk Alah dan Rasulnya, murah terkait kesederhanaan yang dicontohkan pernikahan para sahabat dan shahabiyah.

Kita coba langkah pertama memudahkan nikah ini dengan cahaya petunjuk yang menuntun kita. Sebenarnya kita pernah bahas ini pada bagian ibadah tentang bagaimana proses nikah yang bernilai ibadah. Sekarang kita akan bahas yang lebih praktisnya sehingga memberi penguatan tentang bagaimana langkah-langkah nikah bisa dijalankan oleh calon mempelai

1.Langkah Menuju Gerbang Nikah

a. Ta'aruf

Ta'aruf bermakna saling mengenal. Dua insan yang akan melangkah seayun, serasi ibarat kaki kiri dan kanan, tangan kiri dan tangan kanan. Tidak boleh bergerak asal bersamaan, tetapi saling mendukung dalam keharmonisan.

Tujuan ta'aruf:

1. Mengikuti perintah Allah dan Rasulnya

2. Mengetahui latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, latar belakang lingkungan pergaulan sehingga lebih mudah mafhum sikap dan sifat pasangan

3. Mendekatkan pasangan pada keluarga baru yang akan mereka masuki

4. Memudahkan dalam menyamakan persepsi dan menyusun komitmen bersama

Tata cara ta'aruf:

1. Memakai curriculum vitae secara detail dan penuh kejujuran yang meliputi, data pribadi, data singkat anggota keluarga, pengalaman pendidikan, organisasi dan pendidikan, visi-missi dalam rumah tangga.

2. Melakukan pertemuan langsung dengan disertai mahram, bukan di tempat sepi dan tidak boleh berdua-dua

3. Melalui pihak ketiga yang dapat dipercaya, dimana pihak ketiga benar-benar orang dekat, terpelihara akhlak dan kejujurannya. Diutamakan dari kerabat aatau teman setia-soulmate.

4. Melalui media sosial, sehingga perlu alat untuk menghubungi calon pasangan. Koridornya tidak melewati larut malam karena setan siap-siap mengintai dan menggelincirkan. Cukup hingga jam 21.30 seperti layaknya etika bertamu. Untuk video call tidak dibenarkan hanya berduaan tapi sertakan satu orang yang dipercaya hingga menjadi grup vc.

4. Tidak terlalu lama sehingga melampaui masa tiga bulan menuju khitbah. Perlu ditopang semangat menegakkan syariat agar kuat tekat segera dihalalkan

Hal-hal yang perlu dihindari saat ta'aruf:

1. Khalwat yang menaikkan hasrat dan syahwat

2. Memberi rayuan yang melenakan

3. Menanyakan hal-hal pribadi yang sensitif dan rahasia sementara khitbah belum dilayangkan karena ta'aruf masih penjajakan yang kadar kepastian perjodohannya masih fifty- fifty

4. Menanyakan hal yang dapat menyinggung perasaan calon pasangan

b. Khitbah

Ada yang mengatakan khitbah adalah setengah nikah. Ada juga istilah tanda jadi atau DP dalam jual beli. Yang jelas khitbah adalah meminta kesediaan pihak wanita untuk dijadikan isteri.

Ayat khitbah:

Qur’an Surat Al-Baqarah 235.

وَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ فِيمَا عَرَّضۡتُم بِهِۦ مِنۡ خِطۡبَةِ ٱلنِّسَآءِ أَوۡ أَكۡنَنتُمۡ فِىٓ أَنفُسِكُمۡ ۚ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمۡ سَتَذۡكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِن لَّا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّآ أَن تَقُولُواْ قَوۡلًا مَّعۡرُوفًا ۚ وَلَا تَعۡزِمُواْ عُقۡدَةَ ٱلنِّكَاحِ حَتّٰى يَبۡلُغَ ٱلۡكِتَٰبُ أَجَلَهُۥ ۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُ ۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun

Tujuan khitbah:

1. Pernyataan keseriusan pihak pria menjadikan pihak wanita sebagai istrinya

2. Meminta kesediaan pihak wanita untuk dijadikan isteri atau ditikah

3. Saling memperkenalkan keluarga besar kedua belah pihak sebagai awal penyatuan dua keluarga

4. Mengikat wanita agar tidak menerima peluang ta'aruf dan khitbah dari pria lain

Tatacara khitbah:

1. Pihak pria dan keluarganya mengunjungi pihak wanita dengan adab kesopanan sebagai tamu antara lain:

a. Memberitahukan rencana kedatangan

b. Mengucap salam sebelum memasuki kediaman pihak perempuan

c. Kunjungan dilakukan pada waktu yang maslahat untuk bertamu, yaitu waktu di antara dua salat wajib yang tidak mengganggu ibadah pokok, tidak lewat dari pukul 21.00 juga tidak di waktu terlalu pagi sehingga mengganggu aktivitas pihak wanita

d. Mengutarakan maksud dengan adab dan sopan santun yang disunnahkan

e. Menyerahkan cinderamata dari pihak pria ke pihak wanita dan buah tangan yang mempererat silaturahim dua keluarga

2. Pihak wanita menerima kunjungan sesuai adab menerima tamu dan ihtiramudduyuf (penghormatan pada tamu)

a. Menyiapkan tempat yang nyaman sesuai jumlah tamu yang akan hadir

b. Menyediakan tempat yang tidak menimbulkan ihtilat campur baur laki-laki perempuan yang bukan mahram

c. Menyediakan akomodasi bagi yang ingin istirahat

d. Menyediakan fasilitas ibadah di mushola khusus di rumah atau menunjukkan tempat ibadah umum terdekat

e. Menyediakan jamuan yang baik tapi tidak memberatkan

3. Pihak pria mengungkap maksud kedatangan dengan santun. Berikut ini susunan ungkapan lamaran menikah dari pihak pria:

a. Ucapan salam

b. Ucapan basmalah, hamdalah, sholawat disertai penjabarannya dalam bahasa Indonesia

c. Sapaan pembuka kepada semua yang hadir di pihak wanita (tokoh masyarakat asatiz, masayikh, keluarga wanita dari yang tertua hingga dikhususkan pada orang tua pihak wanita)

d. Menyampaikan maksud:

Pertama: Silaturahim dari seluruh keluarga besar pihak pria(sebut nama pihak pria dan kedua orang tuanya)

Kedua: Menyampaikan maksud pihak pria dan kedua orang tuanya untuk meminta kesediaan menjadi pendamping pihak pria

Ketiga: Meminta maaf atas kelancangan pihak pria melamar pihak wanita dengan segala kekurangan adab dan kesopanan

Keempat: Berterimakasih atas segala penerimaan dari tuan rumah

e. Mengucapkan doa dan harapan baik hingga pelaksanaan nikah bila lamaran diterima

f. Menutup dengan salam

4. Pihak wanita menyampaikan jawaban atas khitbah pihak pria

a. Menjawab salam

b. Ucapan basmalah, hamdalah, sholawat disertai penjabarannya dalam bahasa Indonesia

c. Sapaan pembuka kepada semua yang hadir di pihak pria(tokoh masyarakat asatiz, masayikh, keluarga wanita dari yang tertua hingga dikhususkan pada orang tua pihak pria)

d. Menyampaikan jawaban:

Pertama: Menerima silaturahim dari seluruh keluarga besar pihak pria(sebut nama pihak pria dan kedua orang tuanya)

Kedua: Menyampaikan penerimaan pihak wanita dan kedua orang tuanya dan menyampaikan kesediaan menjadi pendamping pihak pria.

Ketiga: Meminta maaf atas kurangnya penerimaan dari keluarga pihak wanita sebagai tuan rumah dengan segala kekurangan adab kesopanan dan penghormatan.

Keempat: Berterimakasih atas kunjungan dari pihak tamu yang hadir.

e. Mengucapkan doa dan harapan baik hingga pelaksanaan nikah bila lamaran diterima

f. Menutup dengan salam

5. Saling bertukar cindera mata untuk mempererat persaudaraan. Tidak disarankan menukar cincin emas karena diharamkan laki-laki memakai cincin.

Yang dilarang setelah khitbah:

1. Menerima ta'aruf ataupun khitbah orang lain

2. Menganggap khitbah sebagai hubungan khusus yang melonggarkan batas hubungan pria dan wanita

3. Berkhalwat dengan calon pasangan

4. Saling memberi sebagai wujud pemenuhan kewajiban dan hak suami istri

5. Menunda-nunda pernikahan hingga menimbulkan fitnah hati antara dua belah pihak maupun pandangan buruk orang lain jika keduanya tidak bisa mengendalikan kedekatan satu sama lain.

 

Hari ke-20

Nikah Mudah Murah dari Akad Hingga Walimah

Akhirnya penantian panjang menuju halal sampai juga di depan kita. Khitbah telah berlalu. Keluarga sudah makin saling tahu dan makin dekat. Makin yakin. Jadi tunggu apa lagi. GPL-Gak Pake Lama.

Proses akad pernah kita bahas saat awal tulisan ini, yaitu pada bagian lima syarat menjadi ibadah. Di bagian ngedarah (ngebahas nikah mudah murah) ini kita akan kupas sedikit lagi.

Kita coba mengenang Rasulullah SAW dengan pesan-pesan indahnya, tentang nikah dan walimah, okey?

A. Hukum nikah dan walimah

Hukum nikah sudah pernah kita bahas saat ngarah, yaitu:

1. Wajib bila untuk menyelamatkan dari maksiat dengan menyalurkan hasrat pada yang halal

2. Sunnah bila untuk mencontohi rumah tangga Rasulullah

3. Mubah kalau hanya untuk bersenang-senang

4. Makruh jika berniat mencari harta atau tujuan keuntungan dunia secara sepihak

5. Haram bila bertujuan dan berakibat penzaliman satu atau dua pihak

Dalil-dalil terkait lima hukum nikah telah termaktub sebelumnya. Kini kita akan bahas hukum walimah dan dalil yang melandasinya.

1. Wajib

Berdasarkan hadits dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, ia berkata:

أنَّ رسولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رأى على عبدِ الرَّحمنِ بنِ عوفٍ أثرَ صفرةٍ فقالَ: ما هذا ؟. فقالَ: إنِّي تزوَّجتُ امرأةً على وزنِ نواةٍ من ذَهبٍ . فقالَ: بارَكَ اللَّهُ لَكَ أولم ولو بشاةٍ

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melihat pada pakaian Abdurrahman bin Auf ada bekas minyak wangi. Nabi bertanya: ada apa ini Abdurrahman? Abdurrahman menjawab: saya baru menikahi seorang wanita dengan mahar berupa emas seberat biji kurma. Nabi bersabda: baarakallahu laka (semoga Allah memberkahimu), kalau begitu adakanlah walimah walaupun dengan seekor kambing” (HR. Tirmidzi dan An Nasa-i).

Ada perintah adakah maka kedudukan amalnya menjadi wajib.

2. Mubah atau Mustahaq

Berdasarkan hadits dari Shafiyyah bintu Syaibah radhiallahu’anha, ia berkata:

أولَمَ النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم على بَعضِ نسائِه بمُدَّينِ مِن شَعيرٍ

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengadakan walimah pada pernikahan dengan sebagian istrinya dengan dua mud gandum.” (HR. Bukhari)

Sebagian di sini memiliki makna tidak semuanya di-walimah-kan. Atau bisa juga bermakna semua di-walimah-kan dengan jamuan yang berbeda-beda.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan:

أَعلِنوا النِّكاحَ

“Umumkanlah pernikahan!” (HR. Ahmad) Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan:

أَعلِنوا النِّكاحَ

“Umumkanlah pernikahan!” (HR. Ahmad).

Hukum walimah lebih condong kepada wajib dengan tujuan-tujuan yang utama.

Tujuan Walimah:

1. Memberitahukan kepada khalayak atas syahnya hubungan dua insan, laki-laki dan perempuan sebagai suami istri

2. Tasyakuran atas dihalalkannya dua insan melaksanakan ibadah nikah

3. Meminta doa restu agar pernikahan dan rumah tangga yang dibangun diberkahi Allah SWT dengan doa yang diajarkan Rasulullah SAW.

a. Doa saat akad

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah bersabda tentang doa saat akad:

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْكَمُاَ فِيْ خَيْرٍ

Artinya: “Semoga Allah Swt. memberikan berkah kepadamu, memberi keberkahan atasmu, dan semoga Dia mengumpulkan kalian berdua pada kebaikan.”

b. Doa setelah akad

Suami memegang ubun-ubun istri(meletakkan telapak tangan kanan sambil berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْ

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tetapkan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang Engkau tetapkan atas dirinya.”

c. Doa keharmonisan rumah tangga

Suami dan istri sering-sering melantunkan doa berikut

اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا

Artinya: “Ya Allah, karuniakanlah kami rahmat dari sisi-Mu, dan berilah kemudahan-kemudahan serta pimpinan kepada kami untuk keselamatan agama kami.”

d. Doa bersetubuh

*Doa sebelum bersetubuh

بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah Swt, ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.”

*Doa setelah keluar air mani

اَللّهُـــمَّ اجْعَــلْ نُطْفَتَــنَا ذُرّ ِيَّةً طَيِّــبَةً

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah nutfah kami ini menjadi keturunan yang saleh.”

*Doa setelah bersetubuh

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ المْـَــاءِ بَشَـــرًا

Artinya: “Segala puji bagi Allah Swt. yang telah menjadikan air mani ini menjadi keturunan.”

Adab Walimah:

1. Niat harus tepat karena mengikuti seruan Allah dan rasulNya, bukan riya' menginginkan pujian manusia ataupun keuntungan materi lain dari cindera mata dan amplop tamu undangan

2. Menyediakan tempat yang tidak membuat campur baur laki-laki dan perempuan, hijab yang menjaga dari ikhtilat

3. Menyajikan hidangan terbaik sesuai kemampuan dan tidak berlebihan

4. Mengundang kaum kerabat, tetangga dekat, sahabat dan kenalan

5. Mengundang fakir miskin, dhuafa dan yatim piatu

6. Tidak berlebihan dalam mengadakan resepsi

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰبَنِيْۤ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَا شْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."

(QS. Al-A'raf 7: Ayat 31)

Ciri dari berlebihan disini, walimah menyisakan masalah hutang dan melibatkan riba. Termasuk berlebihan juga adalah banyaknya makanan yang mubazir, terbuang karena sisa.

7. Tidak melibatkan perkara maksiat, misalnya:

Melibatkan hiburan yang mengurangi kesucian ibadah nikah atau menggunakan jasa WO yang mempromosikan eksistensi LGBT.

Yang harus dihindari dalam pelaksanaan walimah:

1. Israf, berlebihan dalam kemewahan dengan tujuan riya' ataupun memperoleh keuntungan materi dari resepsi walimah

2. Ikhtilat, bercampur baur tempat jamuan laki-laki dan perempuan

3. Ghaflah, lalai dalam melaksanakan ibadah wajib dengan mengulur waktu shalat, menyajikan makanan dan minuman haram, hiburan jahiliah yang mengekspos aurat dan lain-lain

Walimah yang khidmat, sederhana namun tetap menjaga sakralnya pernikahan telah dicontohkan melalui pernikahan masa pandemi. Covid-19 dengan segala polemik yang membalutnya telah memberikan hikmah yang besar. Terlepas dari berbagai dampak negatif yang merugikan ummat dari sisi pelaksanaan ibadah salat, peluang silaturahim, prosesi pemakaman dan lain sebagainya, pandemi ini memberi pelajaran berharga dalam pelaksanaan akad dan walimah tanpa mengesampingkan sarat rukun dan sahnya pernikahan.

Sedikit kilas balik akad dan walimah masa pandemi, berikut ini kesederhanaan yang membawa pada nikah mudah dan murah ala pandemi covid-19:

1. Pakai masker, cuci tangan, jaga jarak ber-impact pada terhindar dari ikhtilat dan pandangan syahwati

2. Pembatasan jumlah undangan yang hadir mengajarkan kita membersihkan hati dari riya' dan bermewah-mewah

3. Pembatasan waktu kunjungan bermakna menghindari ghaflah

4. Pembatasan hingar bingar hiburan bermakna kesederhanaan dan kesahajaan

Lalu bagaimana rasul dan para sahabat mencontohkan walimah mereka? Kita akan bahas pada sarkat berikutnya. Insya Allah.

 

Hari ke-21

KISAH WALIMAH SHAHABAT

Bicara tentang kisah sahabat sangatlah menarik karena selalu saja mengandung hikmah yang luar biasa. Ada beberapa kisah yang akan disajikan di sini.

1. Kisah Rabi'ah bin Ka'ab al-Aslami r.a.

Dalam rumah tangga Rasulullah Saw., terdapat beberapa khadimat atau pembantu rumah tangga. Tugas mereka melakukan berbagai pekerjaan untuk meringankan beban Rasulullah Saw., baik sebagai kepala keluarga, pemimpin bangsa, umat dan agama. Salah satu khadimat itu bernama Rabi'ah bin Ka'ab al-Aslami.

Kedudukan para khadimat di sisi Rasulullah Saw. tak ubahnya ahlul bait Rasulullah Saw. Rasulullah Saw selalu memuliakan, memberikan kasih sayang pada mereka dengan tulus. Beliau juga selalu menjadi solusi bagi siapapun, apalagi khadimat yang teramat dekat hubungan muamalahnya dengan Rasulullah Saw.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

لَـقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

"Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman."(QS. At-Taubah 9: Ayat 128)

Rasulullah Saw., sebagaimana digambarkan pada Al-Qur'an surah At-taubah ayat 128 adalah seseorang adalah sosok penyayang dan perhatian, seakan merasakan benar kesusahan dan kesulitan yang dirasakan para sahabatnya. Apalagi orang-orang yang tiap saat berada di sekitar beliau, ahlul bait dah khadimatnya.

Rabi’ah bin Ka’ab ra. bercerita sebagaimana termaktub dalam hadits riwayat Ahmad dalam musnadnya.

Rabiah adalah seorang yang membantu Nabi Saw, suatu saat pernah ditanya tentang hal yang sangat pribadi, "Wahai Rabi’ah, apakah kau tidak ingin menikah?” tanya Rasulullah Saw.

“Demi Allah, wahai Rasulullah, aku belum ingin menikah. Aku tak punya sesuatu yang bisa menanggung seorang wanita. Selain itu, aku tak ingin ada hal yang membuatku sibuk dari melayanimu," jawab sahabat Rabi'ah ra.

Perbincangan ini seakan tidak serius. Sambil lalu dan keduanya menjalankan aktivitasnya masing-masing. Akan tetapi di lain kesempatan Rasulullah bertanya hal serupa untuk kedua kalinya. “Wahai Rabi’ah, apakah kau tidak ingin menikah?”

Sahabat Rabi'ah ra. menjawab dengan hal serupa, “Aku belum ingin menikah. Aku tak punya sesuatu yang bisa menanggung seorang wanita. Selain itu, aku tak ingin ada sesuatu yang membuatku sibuk dari melayanimu.”

Rasulullah Saw. pun berlalu meninggalkan Rabi'ah. Akan tetapi pertanyaan yang keduakalinya ini membuat sahabat Rabiah merenung lebih dalam. “Demi Allah, sungguh Rasulullah Saw. tahu sesuatu yang terbaik untuk kehidupan duniaku dan akhiratku. Dia lebih tahu dari diriku. Demi Allah. seandainya ia kembali bertanya tentang menikah, akan kukatakan kepadanya, "Iya Rasulullah, perintahkanlah aku dengan sesuatu yang engkau kehendaki’," gumam Rabi’ah.

Benar saja dugaan sahabat Rabi'ah. Rasulullah Saw. bertanya untuk yang ketiga kalinya, “Wahai Rabi’ah, apakah kau tidak ingin menikah?”

“Tentu mau, perintahkan aku dengan apa yang Anda kehendaki," jawab sahabat Rabi'ah

"Pergilah ke keluarga Fulan. Suatu kampung dari kalangan Anshar," sabda Rasulullah Saw. Mereka lambat menunaikan perintah Nabi Saw. untuk menikahkan anaknya. “Katakan pada mereka, bahwa Rasulullah mengutusku kepada kalian. Dia memerintahkan agar kalian menikahkanku dengan Fulanah, salah seorang wanita dari kalangan kalian," lanjut Rasulullah Saw.

Sahabat Rabiah pun pergi. Beliau menyampaikan pada mereka bahwa Rasulullah Saw mengutusnya untuk datang kepada mereka. "Rasulullah memerintahkan agar kalian menikahkanku dengan Fulanah," ujar sahabat Rabi'ah. Mereka dari keluarga Anshar itu pun menjawab, “Selamat datang kepada Rasulullah dan utusan Rasulullah Saw. Demi Allah, utusannya Rasulullah Saw. tidak akan pulang kecuali keperluannya telah terpenuhi.”

Keluarga Anshar menikahkan sahabat Rabi'ah dan bersikap lemah lembut terhadapnya. Mereka sama sekali tidak minta penjelasan apapun dari sahabat Rabi'ah. Kemudian sahabat Rabi'ah kembali menemui Rasulullah Saw. dalam keadaan penuh haru.

"Apa yang terjadi padamu wahai Rabi’ah?” tanya Rasulullah Saw.

“Wahai Rasulullah, aku menemui suatu kaum yang mulia. Mereka menikahkanku, memuliakanku, dan bersikap baik kepadaku. Mereka sama sekali tidak meminta bukti. Hanya sayangnya, aku tidak memiliki mas kawin," jawab sahabat Rabi'ah.

“Wahai Buraidah al-Aslami, kumpulkan untuknya sebiji emas," perintah Rasulullah Saw.

Mendengar hal itu, para sahabat mengumpulkan biji emas untuk sahabat Rabi'ah. Sahabat Rubi'ah mengambil apa yang telah dikumpulkan para sahabat yang lain. Kemudian sahabat Rabi'ah kembali menghadap Nabi Saw.

"Pergilah kepada mereka dengan membawa ini. Katakan! ini adalah mas kawinnya" perintah Rasulullah Saw’.

Sahabat Rabi'ah pun berangkat menemui keluarga Ansar dan menyampaikan mas kawin tersebut. “Ini mas kawinnya," ungkapnya.

Keluarga itu pun ridha dan menerimanya. “Mas kawin seperti ini sudah sangat banyak dan baik sekali," lanjut mereka.

Sahabat Rabi'ah kemudian pulang kembali menemui Rasulullah dalam keadaan sedih. “Wahai Rabi’ah kenapa kamu bersedih?” tanya Rasulullah penuh pengertian akan kegalauan sahabat sekaligus khadimatnya itu.

"Wahai Rasulullah, aku tak pernah melihat kaum yang lebih mulia dari mereka. Mereka rela dengan apa yang kuberikan dan berlaku sangat baik. Kata mereka, ini sangat banyak dan bagus. Hanya sayang, aku tak punya sesuatu yang bisa kugunakan untuk mengadakan walimah."

"Wahai Buraidah, tolong kumpulkan kambing untuknya," perintah Rasulullah Saw. segera setelah sahabat Rabi'ah menyatakan kesulitannya

Lalu para sahabat mengumpulkan kambing yang banyak dan gemuk. Setelah itu, Rasulullah Saw. berkata pada sahabat Rabi'ah, “Pergilah dan temuilah Aisyah dan katakan padanya agar dia mengirim beberapa keranjang berisi makanan”.

Sahabat Rabi'ah pergi menemui Ummul mukminin Aisyah ra. dan menyampaikan maksud sebagaimana perintah Rasulullah Saw.

“Ini keranjang berisi sembilan sha’ gandum. Demi Allah, jika besok ada makanan lain, ambillah," ujar Siti Aisyah ra.

Sahabat Rabi'ah mengambil makanan itu dan membawanya ke hadapan Rasulullah Saw. Beliau mengabarkan apa yang disampaikan Ummul mukminin.

"Bawalah barang-barang ini ke sana, dan katakan pada mereka agar mereka gunakan untuk membuat roti," tutur Rasulullah kemudian.

Sahabat Rabi'ah pun berangkat lagi ke sana. Membawa l dan berangkat bersama beberapa orang dari Aslam.

"Tolong besok barang-barang ini telah diolah menjadi roti," kata salah seorang dari rombongan Aslam. "Tolong besok gandum ini diolah menjadi roti, dan kambing ini telah dimasak," lanjut salah satu anggota rombongan yang lain.

Keluarga Anshar itu menjawab, “Untuk membuat roti, cukuplah kami saja. Tapi untuk menyembelih kambing, kalianlah yang mengerjakannya”.

Segera rombongan Aslam mengambil kambing yang ada. Mereka menyembelihnya, lalu membersihkannya dan memasaknya. Akhirnya tersedialah daging dan roti.

Sahabat Rabi'ah mengadakan walimah dengan mengundang Rasulullah Saw dan beliau pun memenuhi undangan tersebut.

Masya Allah, luar biasa kisah teladan yang menggambarkan peri kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Semoga kita bisa mengikuti Sunnah Rasulullah Saw. dan sahabatnya yang mulia.

Nah, ada beberapa hikmah yang bisa kita petik dari kisah ini:

1. Kepedulian, simpati dan empat pada orang terdekat kita hingga peduli akan urusan pernikahannya. Tentu pada orang-orang yang berada di bawah kepemimpinan kita. Anak kandung, keponakan, anak angkat, anak buah di lingkungan kerja, ataupun rakyat dalam hubungan kemasyarakatan. Demikian pula dengan kerabat dekat dan handai taulan

2. Saling paham, saling bantu baik secara material maupun spiritual untuk mendukung penuh keperluan dan kepentingan sesama

3. Adanya kesepahaman dan keselarasan gerak di antara para sahabat.

4. Ketaatan penuh pada kepemimpinan Rasulullah Saw hingga pada urusan pernikahan

5. Peradaban islami yang utuh terealisasikan dalam kehidupan sehari-hari, saling memberi dan menerima yang tulus di antara orang-orang beriman.

Kita akan lanjut dengan kisah nikah yang inspiratif selanjutnya. Insya Allahu ta'ala

 

Hari ke-22

KISAH NIKAH SHAHABAT 2

Kali ini kita akan ngekinians (ngebahas kisah nikah antar shahabah dan shahabiyah)-sorry Reader istilah singkatannya baru ketemu di kisah kedua. Kali ini kisah tentang pernikahan sahabat Julaibib, yang diadaptasi dari Hadits Riwayat Muslim.

Tiap kisah sahabat selalu menarik dan penuh hikmah buat diungkap. Yuk, Gercep-gerak cepat mengungkap kisahnya.

2. Kisah Nikah Sahabat Julaibib

Julaibib, sosok sahabat yang sederhana. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Bahkan bisa dikatakan wajahnya kurang bagus, postur tubuhnya pendek, kulitnya hitam legam dan penampilannya kurang rapih.

Dari segi nasab, Julaibib tidak mengenal siapa ayah dan ibunya. Kemungkinan besar ayah ibunya malu memiliki anak dengan fisik seperti ini, kemudian membuangnya. Tanpa keluarga dan sanak saudara. Julaibib menggelandang dan luntang-lantung di Yatsrib (Madinah).

Meskipun dari segi fisik Julaibib memiliki banyak kekurangan, tetapi ia memiliki kelebihan yang luar biasa. Ia selalu berada pada shaf terdepan ketika salat berjamaah dan juga di medan pertempuran. Semangat berbuat baiknya menutupi kekurangan fisik yang Allah takdirkan. Kekuatan iman Julaibib terwujud dalam ghirah ketakwaan yang tinggi. Rasa takutnya hanyalah pada Allah sehingga fisik tak menghalangi tekatnya berbuat baik.

Julaibib seakan membuktikan kebenaran kata hikmah:

"Barangsiapa takut kepada Allah, maka Allah akan membuat segala sesuatu takut kepadanya. Barangsiapa takut kepada manusia, Allah akan membuatnya takut kepada segala sesuatu”.

Julaibib adalah julukan untuknya yang berarti "orang yang berjubah sangat kecil". Tubuhnya mungil untuk ukuran bangsa Arab Quraisy. Karena nasabnya tidak diketahui Julaibib tidak dikenal sebagai bagian dari kabilah manapun.

Sebagai utusan Allah SWT., Rasulullah Saw. memiliki kepekaan yang luar biasa. Kasih sayang dan perhatiannya tertuju pada seluruh ummat. Bukan basa-basi tapi murni dari hati sanubari. Tak terkecuali Julaibib. Suatu saat lagi-lagi Rasulullah khairulkhalqillah menanyakan hal yang sangat penting bagi orang yang telah dewasa dan matang.

"Tidakkah engkau ingin pula menikah, ya Julaibib?" tanya Rasulullah Saw suatu ketika dengan penuh kasih.

Julaibib seakan meraba keadaannya dan berkaca tentang keadaan dirinya. "Adakan seseorang yang mau menikahkan putrinya dengan seseorang yang buruk rupa dan menggelandang di Yatsrib?" gumam hati Julaibib.

"Wahai Rasulullah, adakah orang yang mau menikahkan seseorang buruk rupa lagi miskin, seorang gelandangan seperti saya?" jawab Julaibib rendah diri.

Mendengar jawaban Julaibib, Rasulullah Saw tidak berhenti menanyakan hal yang sama pada hari-hari berikutnya. Sampailah pada pertanyaan yang sama untuk ketigakalinya.

Tidak hanya bertanya, bahkan Rasulullah langsung mengapit lengan Julaibib. Beliau yang mulia dengan segala nama besar yang suci penuh wibawa membawa Julaibib melamar seorang gadis. Yaitu putri seorang pembesar Anshar.

"Aku hendak menikahkan putri kalian," sabda Rasulullah Saw kepada salah seorang pemimpin Anshar tersebut.

Wajah pembesar Anshar itu berubah penuh seri. Mereka mengira bahwa Rasulullah Saw yang mulialah yang hendak meminang putri mereka, "Dengan senang hati, Wahai Rasul mulia. Kami sangat tersanjung untuk menerima pinanganmu pada putri kami."

Rasulullah segera menukas, "Bukan buatku. aku meminang putri kalian untuk Julaibib."

Ayah si gadis langsung terbeliak. Sampai-sampai Julaibib merasa rendah diri yang amat sangat demi melihat ekspresi keheranan ayah gadis itu.

Julaibib bertanya dalam hati, mengapakah Rasulullah sampai senekat itu hendak menikahkan dia yang kecil, buruk rupa tanpa nasab pada putri bangsawan kaya.

Maka bertanyalah seseorang pada gadis putri bangsawan itu perihal pinangan Rasulullah terhadap dirinya untuk Julaibib. Jawaban gadis itu teramat mengejutkan. Amazing sangat, apalagi untuk ukuran iman akhir zaman. Yuk, kita dengar apa jawabannya.

"Apakah ayah dan ibu akan menolak permintaan Rasulullah Saw? Demi Allah, kirim aku padanya. Jika Rasulullah Saw yang meminta, maka pasti beliau tidak akan membawa kehancuran dan kerugian untukku," tegas si gadis shalihah itu mengharukan.

Ia kemudian membacakan ayat berikut:

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَا كَا نَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۤ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًا

"Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata."(QS al-Ahzab: 36).

Finally, menikahlah Julaibib yang miskin, buruk rupa, dan tak punya nasab tersebut dengan gadis shalihah bernasab bangsawan dari kalangan Anshar.

Kisah ini menjadi bukti bahwa pernikahan itu sebaiknya dilakukan antar mereka yang sekufu itu berdasarkan keimanan dan ketakwaannya. Bukan berpatokan pada harta benda dan kekayaan, bukan pada pangkat dan kedudukan, bukan pada nasab dan keturunan, bukan pada wajah yang cantik dan tampan.

Hikmah dari sebalik kisah:

1. Kisah ini mengajarkan para sahabat ketika itu dan umat Nabi Muhammad SAW, bahwa di mata Allah SWT semua manusia sama. Yang membedakan derajat mereka hanyalah ketaqwaan saja. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw berikut:

, "عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Juga apa yang Allah firmankan dalam surat Alhujurat ayat 13

ٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لِتَعَا رَفُوْا ۗ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.

2. Jangan pernah kecil hati dengan kelemahan atribut dunia yang melekat pada diri kita Allah sebaik-baik penentu kehidupan makhlukNya. Seperti apapun keadaan kita fokus pada pencapaian takwa, maka Dia akan memberi karunia dari jalan yang tak terduga.

3. Dalam sistem Islam, seorang pemimpin sangat berperan dalam marriage by design. Cukup dengan kata sami'naa waatha'na maka keberkahan dan kemaslahatan akan teraih.

 

Hari ke-23

Kisah Nikah Sahabat 3

Kita memasuki kisah pernikahan sahabat yang ketiga, Reader. Tidak lengkap rasanya kalau tidak menghadirkan pasangan istimewa sahabat sekaligus ahlul bait Rasulullah Saw, yaitu Sayidina Ali dan Sayidatina Fatimah Az-Zahra.

Kisah ini Writer kutip langsung dari situs merdeka.com ://m.merdeka.com/peristiwa/ini-cerita-pernikahan-ali- dan-fatimah-yang-bikin-hati-meleleh.html/diakses 18 Mei 2022), gegaranya terkejar deadline sarkat, nih!

Yuk, kita simak kisah agungnya!

3. Kisah Nikah Sahabat Ali dan Siti Fatimah

Para sahabat nabi memberi tauladan dalam kehidupan. Banyak kisah menarik yang sampai membuat air mata menetes karena keteladanan mereka.

Sebuah kisah datang dari putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra, dan Ali Bin Abi Talib. Pintu hati Ali terketuk pertama kali saat Fatimah dengan sigap membasuh dan mengobati luka ayahnya, Muhammad SAW yang luka parah karena berperang.

Dari situ, dia bertekad untuk melamar putri nabi. Lantas dengan tekun dia kumpulkan uang untuk membeli mahar dan mempersunting Fatimah. Malang, belum genap uang Ali untuk membeli Mahar, sahabat nabi Abu Bakar sudah terlanjur melamar Fatimah.

Hancur hati Ali, namun dia sadar diri kalau saingan ini punya kualitas iman dan Islam yang jauh lebih tinggi dari dirinya. Walau dikenal sebagai pahlawan Islam yang gagah berani, Ali dikenal miskin. Hidupnya dihabiskan untuk berdakwah di jalan Allah.

Namun mendung seakan sirna saat Ali mendengar Fatimah menolak lamaran Abu Bakar.

Tapi keceriaan Ali kembali sirna saat orang dekat nabi lainnya, Umar Bin Khatab meminang Fatimah. Lagi-lagi Ali hanya bisa pasrah karena dia tidak mungkin bersaing dengan Umar yang gagah perkasa. Tapi takdir kembali berpihak kepadanya. Umar mengalami nasib serupa dengan Abu Bakar.

Tapi saat itu Ali belum berani mengambil sikap, dia sadar dia hanya pemuda miskin. Bahkan harta yang dia miliki hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Kepada Abu Bakar As Siddiq, Ali mengatakan, "Wahai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang sebelumnya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah kerana aku tidak mempunyai apa-apa."

Abu Bakar terharu dan mengatakan, "Wahai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya, dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu-debu bertaburan belaka!"

Mendengar jawaban Abu Bakar, kepercayaan diri Ali kembali muncul untuk melamar gadis pujaannya saat teman-temannya sudah mendorong agar Ali berani melamar Fatimah.

Dengan ragu-ragu dia menghadap Rasulullah. Dari hadist riwayat Ummu Salamah diceritakan bagaimana proses lamaran tersebut.

"Ketika itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum baginda berkata kepada Ali bin Abi Talib, 'Wahai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal mas kawin?"

"Demi Allah," jawab Ali bin Abi Talib dengan terus terang, "Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."

Tentang pedangmu itu," kata Rasulullah menanggapi jawaban Ali bin Abi Talib, "Engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga perlu untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, engkau wajib bergembira, sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!". Demikianlah riwayat yang diceritakan Ummu Salamah r.a.

Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dan disaksikan oleh para sahabat, Rasulullah mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya,

"Bahwasanya Allah SWT memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas mas kawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu."

Maka menikahlah Ali dengan Fatimah. Pernikahan mereka penuh dengan hikmah walau diarungi di tengah kemiskinan. Bahkan disebutkan Rasulullah sangat terharu melihat tangan Fatimah yang kasar karena harus menepung gandum untuk membantu suaminya.

Dari kisah ini mengajarkan kita tentang kemurahan dan kemudahan yang Allah sajikan untuk hamba-hambanya memasuki gerbang nikah. Bahwa pernikahan Lillah tidak seharusnya meletakkan alasan duniawi untuk mengarunginya. Sementara koridor syar'i banyak yang dilanggar demi meraih brand gengsi dan trendy.

Ada beberapa hikmah yang bisa kita simpulkan dari kisah ini, ya,Reader:

1. Menolak pinangan itu hak wanita yang harus dihargai dan dihormati. Bahkan untuk seseorang dengan keimanan terbaik pun sahabiyah mencontohkannya. Tentu hal ini terkait dengan masalah hati, yang tentu saja tak bisa dipaksakan.

2. Ternyata pernikahan zaman Rasulullah Saw, sahabat dan salafusshalih itu tidak memandang usia tapi murni muncul dari hati dan lillah. Jarak usia kadang sangat jauh lebih dari 20 tahun dan beberapa kisah, istri lebih tua hingga terpaut puluhan tahun pun terjadi.

3. Kekurangan harta tidak seharusnya menghalangi hasrat menikah. Keselamatan, kehormatan diri dan tertegaknya syariat lebih utama daripada kekhawatiran atas kurangnya atribut dunia.

4. Kesederhanaan semestinya menjadi alasan Izzah ummat bila yang menjadi landasannya adalah meneladani Rasulullah Saw dan para sahabat

 

Hari ke-24

Kisah Nikah Sahabat 4

Kisah selanjutnya menjadi kisah terakhir yang akan kita ungkap di sini. Kisah teragung tentang pernikahan dan sekilas perjalanan rumah tangga khairulkhalqillah, Rasulullah Saw. Bersama siapa nih kira-kira, Reader? Yang paling seru dan mengharu biru. Ada yang menebak Rasulullah bersama Siti Khadijah dan ada juga yang menebak bersama Siti Aisyah.

Okey, kita tuncep-tulisin cepet kisah agung yang terukir indah dalam sejarah. Menjadi teladan abadi dari generasi ke generasi

4. Kisah Nikah Rasulullah Saw Bersama Ibunda Khadijah

Kita bedah kisah, ya, Reader. Sumber utamanya adalah tarikh sebelum diutus menjadi rasul.

Siti Khadijah, seorang saudagar wanita yang sangat kaya. Bahkan paling kaya di kota Mekah. Bernasab mulia bangsawan Quraisy, ayahnya bernama Khuwailid. Kemampuan entrepreneurnya membuatnya menjadi ekspostir antar wilayah di jazirah Arab.

Sementara itu pemuda Muhammad adalah sosok yang jujur, amanah, santun, pemurah dan berbagai kumpulan sifat baik ada pada pribadi beliau. Pemuda Muhammad sudah cukup termasyhur di kota Mekah karena akhlaknya dan juga nasabnya sebagai cucu pelayan tamu baitullah.

Kemasyhuran sifat mulia pemuda Muhammad sangat menarik hati siapa saja, tak terkecuali Siti Khadijah. Hingga ia ingin mempercayakan barang dagangannya pada pemuda Muhammad untuk di perdagangkan ke Syam.

Pemuda Muhammad menerima tawaran itu. Dengan didampingi Maisarah, khadimat Siti Khadijah.

Pemuda Muhammad pulang dari Syam dan barang dagangannya habis dengan keuntungan yang berlipat ganda. Kekaguman dan cinta mulai bersemi di hati Siti Khadijah. Tampak benar sifat amanah dan bukti gelaran Al-Amin yang tersemat untuk pemuda Muhammad. Ditambah lagi dengan kesaksian Maisarah tentang kemuliaan sifat pemuda Muhammad selama perjalanan dagang itu. Timbullah keinginan Siti Khadijah menikahi pemuda Muhammad.

Akan tetapi keraguan muncul pada diri Siti Khadijah saat mengingat usianya terpaut 15 tahun dengan pemuda Muhammad. Ditambah lagi Siti Khadijah pernah menikah dua kali sebelumnya. Di sinilah Nafisah binti Munyah, sahabat karib Siti Khadijah.

"Menurut saya, anda pantas untuk menjadi pendamping Muhammad. Anda kaya raya, cantik, keturunan bangsawan Quraisy. Walaupun anda sudah berusia 40 tahun dan 15 tahun lebih tua, tetapi anda kelihatan masih muda dan kuat. Anda masih bisa mengatur usaha dan memiliki banyak kafilah dagang."

Nafisah menjadi perantara ta'aruf antara Siti Khadijah dengan pemuda Muhammad. Kecerdikan Nafisah sebagai comblang terus diuji. Suatu ketika Nafisah mengunjungi pemuda Muhammad.

"Ya Muhammad, Al Aamiin, aku Nafisah binti Munyah hendak menyampaikan sesuatu padamu, bahwa ada seorang wanita yang agung, suci, lagi mulia. Dia sangat sempurna, pokoknya cocok denganmu. Jika engkau bersedia akan aku sebut namamu disisinya."

Pemuda Muhammad tertegun dengan pertanyaan yang tak biasa itu. Melihat pemuda Muhammad tidak segera menjawab, Nafisah menyampaikan strateginya kembali. "Engkau tidak harus menjawabnya saat ini juga tapi sampai ada kemantapan hati untuk menjadi pendamping wanita mulia itu," lanjut Nafisah

Waktu jeda untuk membuat keputusan digunakan kedua pihak baik Siti Khadijah dan pemuda Muhammad untuk berdiskusi dengan keluarga besar masing-masing. Sebagai hasilnya, pihak keluarga Nabi Muhammad menemui paman Siti Khadijah yang bernama Amr bin As'ad. Tujuannya melaksanakan khitbah dan niat mempersunting Siti Khadijah. Bertindak sebagai juru bicara keluarga Nabi Muhammad adalah pamanda Abu Thalib.

"Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita anak keturunan Ibrahim, hasil tumbuhan Ismail, dan berasal usul dari Ma'ad, serta unsur kejadian dari Mudhar. (Segala puji bagi-Nya) yang menjadikan pemelihara rumah-Nya, pengelola tanah suci-Nya, dan menganugerahi kita rumah (Ka'bah) yang dikunjungi, wilayah yang aman, dan menjadikan kita penguasa-penguasa atas manusia. Selanjutnya, anak saudaraku ini, Muhammad, adalah dia yang tidak diukur seorang pemuda pun dari Quraisy, kecuali dia mengunggulinya dalam kemuliaan, keluhuran, keutamaan, dan akal. Kendati dalam hal harta dia memiliki sedikit, tetapi harta adalah bayangan yang hilang dan pinjaman yang harus dikembalikan. Muhammad adalah siapa yang hadirin telah kenal keluarganya. Dia melamar Khadijah putri Khuwailid, dan bersedia memberi mahar dari harta milikku yang jumlahnya secara tunda sekian dan kontan sekian. Di samping itu, dia, demi Allah, sungguh bakal menjadi berita penting dan peristiwa agung.”. Demikian ungkapan khutbah khitbah Abu Thalib.

"Ini adalah unta jantan yang tidak dipotong (ditandai) hidungnya," jawaban singkat Amr bin As'ad. Kalimat ini menjadi isyarat diterimanya suatu lamaran di jazzirah Arab waktu itu. Unta jantan tidak ditandai artinya termasuk bibit unggul yang akan dipertemukan dengan unta betina agar meneruskan keturunan. Sementara unta yang ditandai akan dipisahkan dan tidak untuk diteruskan keturunannya.

Pada sebagian riwayat lain, sambutan khutbah balasan disampaikan oleh Waraqah bin Naufal, paman Siti Khadijah. "Segala puji bagi Allah yang menjadikan kita sebagaimana yang anda sebut-sebut. Kita adalah pemuka-pemuka masyarakat Arab dn pemimpin-pemimpinnya. Saudara-saudara wajar untuk kemulian itu, keluarga besar pun tidak mengingkari keutamaan saudara-saudara, tidak juga seorang pun bisa menapik kebanggaan dan kemuliaan saudara-saudara. Kami senang menjalin hubungan dengan saudara-saudara dan menghubungkan (diri) dengan kemuliaan saudara-saudara. Maka bersaksilah atasku wahai masyarakat Quraisy bahwa sesungguhnya aku telah menikahkan Khadijah binti Khuwailid dengan Muhammad bin Abdullah, dengan mahar empat ratus dinar."

"Aku suka bila pamannya ikut serta denganmu (dalam menikahkan mereka)," balas pamanda Nabi Muhammad. Abu Thalib.

"Bersaksilah atasku, bahwa aku telah menikahkan Muhammad bin Abdullah dengan Khadijah binti Khuwailid," ujar paman Siti Khadijah, Amr bin As'ad.

Akhirnya Nabi Muhammad dan Siti Khadijah resmi menikah.

Pernikahan itu sangat terjaga secara syariat walaupun terhitung mundur lima belas tahun sebelum risalah Islam diturunkan. Sebuah tipe pernikahan yang islami, bermula dari ta'aruf, khitbah dan nikah. Ini salah satu bukti pemeliharaan Allah pada nabi dan rasul bahkan sebelum diangkat lagi.

Ta'aruf pemuda Muhammad terbungkus syariat dengan perantara, yaitu Nafisah binti Munyah, sahabat Siti Khadijah. Prosesi khitbah telah melibatkan dua keluarga besar calon mempelai. Pelaksanaan nikah dihadiri wali dan para saksi, ada mahar pula yang ditunaikan. Betapa Allah memelihara peri kehidupan para calon nabi dan rasulNya.

Hikmah di balik kisah:

1. Usia tidah pernah menjadi penghalang jalinan cinta, pihak wanita tidak selalunya harus lebih muda dari pihak pria.

2. Tatacara nikah islami telah dicontohkan Rasulullah Saw sejak beliau belum diangkat menjadi rasul, yaitu melalui ta'aruf dengan perantara, khitbah yang melibatkan dua keluarga dan nikah sesuai syarat dan rukunnya

3. Pernikahan tidak mensyaratkan sekufu dalam jumlah harta. Siti Khadijah memiliki harta berlimpah tapi tetap rendah hati menerima pemuda Muhammad bukan karena banyaknya harta, tingginya kedudukan, tapi karena kemuliaan keluhuran akhlaknya

4. Jika kemantapan hati telah nyata, jagalah muamalah terbalut syariat bahwa niat suci melalui proses ta'aruf sebagai kewajiban perintah Allah, khitbah sebagai ucapan sopan santun memasuki keluarga orang, nikah penuh berkah sebagai prosesi pindah pertanggungjawaban.

 

Hari ke-25

NIKAH ITU INDAH

Sepertinya bagian ini yang paling dinantikan Reader calon ratu dan raja sehari. Tapi buat Writer justru bagian ini menjadi bagian paling mengkhawatirkan. Bagaimana tidak. Tulisan yang disajikan harus tetap memiliki dasar syar'i, sopan, tapi di sisi lain harus jelas dan menjelaskan. Tujuannya:

1. Tulisan menambah ilmu buat Reader. Dalam artian ada dasar Nash Qot'i atau sumber aautentiknya dari Qur'an Hadits, Atsar Shahabat ataupun pendapat ulama dalam kitab mereka

2. Menyajikan kesiapan psikologis maupun fiqhiyah tentang ibadah nikah

3. Memegang teguh kesopanan agar terhindar dari pornografi maupun nilai-nilai kesopanan

4. Menjelaskan hingga gamblang pada tingkat praktis sebagai upaya hadirnya kesiapan berumah tangga. Baik di dapur, sumur dan tempat tidur.

Hmm...baiklah, kita awali dengan basmallah semoga Allah buka rahmat-Nya kita ambil berkat-Nya. Kita akan maraton membahas satu bab ini dalam satu kali posting, karena sarkat tinggal 5 hari lagi. Insya Allah, dengan izinNya. Tarik napas, deh Writer.

1. Malam Pertama yang Mendebarkan

Dua hati yang disatukan dalam mahligai rumah tangga. So sweet, ya Reader. Makin tipis-tipis saja awal taarufnya, makin banyak kejutan yang akan mereka jumpai. Tapi makin dalam masa ta'aruf, rasanya kurang ada sensasi.

Di tiap-tiap hal ada kebaikannya dan ada juga keburukannya. Hanya saja tebal tipisnya kebaikan dan keburukan yang harus kita timbang. Buang buruknya, ambil baiknya. Seperti kata pepatah, segemul-gemuk ikan pasti ada durinya, sekurus-kurus ikan pula pasti ada dagingnya.

Tebal tipis ta'aruf tidak begitu menjadi masalah dalam rumah tangga. Bukankan ada yang taaruf bertahun-tahun bahkan puluhan tahun tapi kandas dalam beberapa bulan? Sebaliknya banyak juga yang ta'aruf dalam beberapa saat dengan hanya beberapa kali pertemuan, tapi Allah SWT kekalkan hingga akhir hayat? Saling setia, menjaga komitmen dan selalu menjaga balutan kasih sayang karena Allah.

Kembali ke malam pertama yang mendebarkan, Writer akan ungkap tata cara dan adab dua mempelai di dalam kamar pengantin mereka di malam pertama. Kita kupas dari sumber ilmunya, ya, Reader?

Dalam Kitab Qurratul 'Uyun karya Syaikh Muhammad At Tahami, pada bagian yang membahas malam pertama. Sebagaimana permulaan kitab fiqih, di kitab nikah ini juga mengedepankan thaharah. Kebersihan dan kesucian kondisi dua pasutri. Yuk, kita runut prosesi ibadah yang indah ini:

1. Berwudhu ataupun mandi

Sebelum saling menunaikan hak dan kewajiban di malam pertama, sebagaimana pembahasan tiap literatur fiqih, maka langkah pertama selalu terkait thaharah. Menjaga kesucian diri dari hadas besar dan kecil, suci tempat, pakaian, badan terbebas dari najis.

Berwudhu pun ada adab-adabnya. Oh, ya, mengapa penting untuk membahas adab? Tentu harapannya adalah agar saat bersebadan dan diizinkan Allah pertemuan dua Nutfah menjadi insan bashari, zuriat yang dilahirkan ke alam fana menjadi insan berakhlak mulia dengan adab Islami.

Adab memasuki toilet:

a. Membaca doa sebelum masuk toilet

اَللّٰهُمَّ اِنّىْ اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَآئِثِ

"Ya, Allah, sesungguhnya aku berlindung padamu dari (godaan) syaitan laki-laki dan setan perempuan"

b. Melangkah dengan kaki kiri sambil memakai alas kaki khusus toilet, karena lantai toilet tentu rawan najis meskipun disiram air suci.

c. Berdoa saat melihat air

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي جَعَلَ اْلمَاءَ طَهُوْرًا

"Segala puji bagi Allah yangenjadikan air ini menyucikan"

d. Mengerjakan wudhu ataupun mandi

e. Keluar toilet dengan melepas sendal,elangkah keluar toilet dengan kaki kanan

f. Membaca doa keluar toilet

غُفْرَانَكَ الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَذْهَبَ عَنّى اْلاَذَى وَعَافَانِىْ

"Ampunan adalah milikMu, segala puji bagi Allah yang menghilangkan penyakit dan memberi kesehatan."

Adab berwudhu:

a. Membasuh telapak tangan sambil membersihkan sela-sela jari

اللَّهُمَّ احْفَظْ يَدِيْ مِنْ مَعَاصِيْكَ كُلِّه

"Ya Allah, jagalah kedua tanganku dari semua perbuatan maksiat."

b. Berkumur-kumur

اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ اللَّهُمَّ اسْقِنِي مِنْ حَوْضِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأْسًا لَا أَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا

"Ya Allah, tolonglah aku (untuk selalu) mengingat dan bersyukur pada-Mu. Ya Allah beri aku minuman dari telaga Kautsar Nabi Muhammad, yang begitu menyegarkan hingga aku tidak merasa haus selamanya."

c. Membersihkan Lubang Hidung dengan menghirup air dan mengeluarkannya kembali melalui mulut atau hidung

اللَّهُمَّ أَرِحْنِي رَائِحَةَ الْجَنَّةِ اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنِيْ رَائِحَةَ نِعَمِكَ وَجَنَّاتِك

"Ya Allah (izinkan) aku mencium wewangian surga. Ya Allah, jangan halangi aku mencium wanginya nikmat-nikmatmu dan wanginya surga."

d. Membasuh Wajah

* Berniat dalam hati dengan melafazkan niat wudhu

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

"Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadast kecil fardu karena Allah".

* Dimulai dari ujung kepala tumbuhnya rambut sampai bawah dagu. Membaca doa :

اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

"Ya Allah, putihkanlah wajahku di hari ketika wajah-wajah memutih dan menghitam"

e. Membasuh tangan dari ujung jari hingga dengan doa

membasuh tangan kanan

اللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِينِيْ وَحَاسِبْنِيْ حِسَابًا يَسِيرًا

"Ya Allah, berikanlah kitab amalku (kelak di akhirat) pada tangan kananku, dan hisablah aku dengan hisab yang ringan."

Doa membasuh tangan kiri :

اللَّهُمَّ لَا تُعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِشِمَالِيْ وَلَا مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِيْ

"Ya Allah, jangan kau berikan kitab amalku (kelak di akhirat) pada tangan kiriku, dan janganlah pula diberikan dari balik punggungku."

f. Mengusap rambut kepala diiringi doa:

اللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ عَلَى النَّارِ وَأَظِلَّنِيْ تَحْتَ عَرْشِكَ يَوْمَ لَا ظِلَّ إلَّا ظِلُّك

"Ya Allah, halangi rambut dan kulitku dari sentuhan api neraka, dan naungi aku dengan naungan singgasana-Mu, pada hari ketika tak ada naungan selain naungan dari-Mu."

g. Mengusap telinga dengan doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

"Ya Allah, jadikanlah aku orang-orang yang mampu mendengar ucapan dan mampu mengikuti apa yang baik dari ucapan tersebut."

h. Membasuh kaki dari ujung jari kaki hingga mata kaki diiringi doa membasuh kaki kanan :

اللهم اجْعَلْهُ سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمِيْ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ الْأَقْدَامُ

"Ya, Allah, jadikanlah (segenap langkahku) sebagai usaha yang disyukuri, sebagai penyebab terampuninya dosa dan sebagai amal yang diterima. Ya Allah, mantapkanlah telapak kakiku saat melintasi jembatan shirathal mustaqim, kelak di hari ketika banyak telapak kaki yang tergelincir."

Doa membasuh kaki kiri :

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ تَنْزِلَ قَدَمِيْ عَنِ الصِّرَاطِ يَوْمَ تَنْزِلُ فِيْهِ أَقْدَامُ الْمُنَافِقِيْنَ

"Ya Allah, aku berlindung pada-Mu, dari tergelincir saat melintasi jembatan shirathal mustaqim, kelak di hari ketika banyak telapak kaki orang munafik yang tergelincir."

i. Doa setelah berwudhu

أَشْهَدُ أَنْ لآّاِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِىْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk dalam golongan orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk dalam golongan orang-orang yang bersuci (shalih)."

j. Diwajibkan tertib berurutan

k.Disunnahlan mendahulukan anggota kanan dan diulang tiga kali pada tiap bagiannya

l. Membaca doa selepas wudhu

اشْهَدُ اَنْ لاَّاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِىْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ، وَجْعَلْنِيْ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ

"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu hamba dan utusanNya. Ya Allah! Jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci dan jadikanlah aku bagian dari hamba-hamba-Mu yang sholeh."

Adab mandi taubat

1. Didahului dengan berwudhu tanpa membasuh kaki

2. Niat mandi taubat

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِلتَّوْبَتِ عَنْ جَمِعِ الذُّنُوْبِ

“Aku berniat mandi taubat dari segala dosa"

2. Menuangkan air pada kedua telapak tangan lalu membasuh kedua tangan sebanyak tiga kali.

3. Membasuh daerah kemaluan dengan tangan kiri.

4. Membersihkan seluruh anggota badan dengan sabun seperti saat mandi pada umumnya dan menggosok badan dengan tangan kiri.

5. Selanjutnya berwudhu seperti urutan saat berwudhu seperti biasanya kemudian mencuci pergelangan tangan sampai dengan kaki.

6. Membasuh dan mencuci sela rambut dengan mencelupkan jari dengan air ke setiap sela rambut sampai kulit kepala, tetapi ada beberapa pendapat hal ini tidak sepenuhnya mutlak dilakukan.

7. Menyiramkan air tiga kali pada kepala mulai dari bagian kepala kanan kemudian ke kiri.

8. Meratakan air ke seluruh tubuh dimulai dari kanan kemudian ke kiri.

9. Membasuh kaki dan sela jari kaki.

10. Melaksanakan shalat taubat dua rakaat, dilanjutkan berdzikir dengan banyak membaca satyidul istighfar

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba–Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan–Mu semampuku. Aku berlindung kepada–Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat–Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampuniah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau. (HR Al–Bukhari, Ahmad, an–Nasai)

11. Memanjatkan doa taubat dan bersedekah.

اَللَّهُمَّ اِنِّى اَسْاَلُكَ تَوْ فِيْقَ اَهْلِ الْهُدَى وَاَعْمَالَ اَهْلِ التَّوْبَةِ وَعَزْمَ اَهْلِ الصَّبْرِ وَجِدَّ اَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ اَهْلِ الرَّ غْبَةِ وَتَعَبُّدَ اَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ اَهْلِ الْعِلْمِ حَتَّى اَخَافَكَ . اَللَّهُمَّ اِنِّى اَسْاَلُكَ مَخَا فَةً تَحْجُزُ نِى عَنْ مَعَاصِيْكَ حَتَّى اَعْمَلَ بِطَا عَتِكَ عَمَلاً اَسْتَحِقُّ بِهِ رِضَاكَ حَتَّى اُنَا صِحَكَ فِىالتَّوْ بَةِ خَوْ فًا مِنْكَ وَحَتَّى اَخْلِصَ لَكَ النَّصِيْحَةَ حُبًّا لَكَ وَحَتَّى اَتَوَ كَّلَ عَلَيْكَ فَ اْلاُمُوْرِ كُلِّهَاوَحُسْنَ ظَنٍّ بِكَ . سُبْحَانَ خَالِقِ نُوْرٍ

“Ya Allah sesungguhnya hamba memohon kepadaMu Taufiq (pertolongan)nya orang-orang yang mendapatkan petunjuk(hidayah),dan perbuatannya orang-orang yang bertaubat, dan cita-cita orang-orang yang sabar, dan kesungguhan orang-orang yang takut, dan pencariannya orang-orang yang cinta, dan ibadahnya orang-orang yang menjauhkan diri dari dosa (wara’), dan ma’rifatnya orang-orang berilmu sehingga hamba takut kepada-Mu

Salat Sunnah taubat menjadi bagian sangat penting sebelum berjimak di malam pertama. Semoga saat kesucian diri terjaga, zuriat yang tercipta pun dijaga kesuciannya dengan selalu mendapat bimbingan Allah SWT

Hal ini bagian dari ikhtiar terbaik dalam menyambut indahnya pernikahan. Semoga dengan salat taubat bersama, Allah Swt mengangkat segala dosa pasutri sebelum berjimak. Insya Allah Rahmat dan Berkah Allah untuk keluarga yang sedang mereka bangun.

2. Menyikat gigi atau bersiwak

Kebersihan mulut menjadi syarat mutlak kenikmatan bercinta di malam pertama. Sesuatu yang teramat istimewa mesti dipelihara momentumnya sehingga menjadi bagian Mada terindah dalam gerbang rumah tangga. Menjadi sesuatu yang spesial untuk membangkitkan keindahan pada masa-masa berikutnya. Oleh karena itu menjadi tugas. Kewajiban dan tanggung jawab bersama untuk menjadikannya seistimewa mungkin.

Adab bersiwak:

Berikut kesunnahan dalam bersiwak sesuai dengan kitab Al Baijujuri:

a. Dimulai dengan niat, i'tibak pada Sunnah Rasul dan mengikuti perintah Allah Swt untuk senantiasa menjaga kebersihan sekaligus meneladani Rasulullah Saw.

b. Bersiwak dengan tangan kanan sebagaimana Sunnah Rasulullah Saw untuk selalu melakukan kebaikan dengan tangan kanan.

c. Posisi jari kelingking di bawah batang siwak, jari manis, jari tengah dan jari telunjuk di atas batang siwak dan jempol berada di bawah bagian kepala siwak.

d. Selesai bersiwak batang siwak diletakkan di bagian belakang telinga kiri.

ويسن ان يجعل الخنصر من اسفله والبنصر والوسطى والسبابة فوقه والإبهام

اسفل رأسه ثم يضعه بعد ان يستاك خلف أذنه اليسرى لخبر فيه

"Disunnahkan jari kelingking berada di bawah batang siwak, jari manis, tengah dan telunjuk di atasnya dan jempol di bagian atas kepala siwak. Setelah bersiwak, kayu siwak diletakkan di belakang telinga bagian kiri.

e. Membaca doa saat mulai bersiwak

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ بِهِ أَسْنَانِيْ، وَشُّدُّ بِهِ لِثَاتِىْ، وَثَبِّتْ بِهِ لَهَاتِيْ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ ياَ اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ,

"Ya Allah, semoga Engkau putihkan gigi-gigiku, kokohkan gusi-gusiku, kuatkan katup nafas kami, berilah kami keberkahan, wahai Dzat yang Maha-paling kasih.”

f. Menelan ludah pada kali pertama memulai bersiwak walaupun kayu atau batang siwak tidak lagi baru.

g. Sunnah menyuci batang siwak pada setiap kali bersiwak

h. Panjang batang sikat gigi atau kayu siwak cukup sejengkal, selebihnya makruh karena ditumpangi setan atas keberlebihannya.

i. Disunnahkan pada bagian kepala siwak terdapat guritan bulu halus

j. Bersiwak dalam keadaan diam dan tenang, makruh sambil bicara

k. Disunnahkan memulai bersiwak dari area mulut bagian kanan sampai separuh pada bagian luar dan dalam. Disusul bagian kiri.

l. Menggosok pangkal gigi geraham naik membujur maupun melintang.

m. Menggosok langit-langit mulut dan gigi-gigi lain yang belum digosok secara melintang.

n. Menggosok lidah secara membujur.

o. Saat menggosok dilakukan dengan lembut dan pelan

3. Berhias dan memakai wewangian.

Di antara yang dapat membangkitkan keinginan pada pasangan adalah rapih, indah, rupawan dan wewangian. Maka disunahkan berhias dan memakai wewangian dalam kadar kepatutan. Kepatutan di sini harus disesuaikan dengan selera pasangan, maka perlu dikomunikasikan antara keduanya tentang wewangian yang disukai oleh keduanya. Demikian juga cara berhias.

Saat kedua pasangan sudah berhias pujilah pasangan sebagai bentuk penghormatan. Apa bila ada yang dirasa kurang dapat didiskusikan lain waktu. Jangan dipatahkan dengan pertanyaan atau ungkapan yang menghilangkan mood bercinta. Misalnya:

"Ih, pakai apa ini kok merah pipinya" tapi katakanlah,"Adik, tambah cantik dengan make up ini, Abang suka"

"Abang lebih suka Adik nggak pake make up lebih cantik alami" tapi katakan,"Tanpa berhias pun Adik udah cantik apalagi setelah berhias, tambah cantik banget"

Dan berbagai ungkapan lain yang intinya menyenangkan hati pasangan. Hargai pengorbanan pasangan kita yang berniat menyenangkan kita.

4. Sholat sunnah dua rakaat.

Disarankan untuk melakukan sholat sunnah mutlak sebelum bersebadan. Tujuannya untuk membuat keduanya siap bersebadan, mengendorkan syaraf-syaraf supaya rileks dan nyaman. Salat ini juga menjadi isyarat kesepakatan bahwa pasutri akan bersebadan. Pada masa-masa ke depan pada persebadanan berikutnya akan menghilangkan kendala bersebadan seperti tidak mood bercinta, terlalu lelah, banyak pikiran, stress dan lain sebagainya.

Imam Nawawi berkata:

ومنه ركعتا الزفاف تسن هذه الصلاة لكل من الزوج والزوجة ينوي بها سنة الزفاف

“Bagian dari shalat sunnah adalah dua rakaat zifaf. Shalat ini disunnahkan bagi suami dan istri dengan niat melakukan shalat sunnah zifaf.”

Dasar dalil salat sunnah Zifaf ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnya al-Mushannaf, dari Abu Said, dia bercerita bahwa ketika menikah terdapat sejumlah sahabat Nabi Saw yang hadir, antara lain Ibnu Mas’ud, Abu Zar dan Huzaifah. Kemudian mereka berkata:

إذا أدخل عليك أهلك فصل عليك ركعتين ، ثم سل الله تعالى من خير ما دخل عليك ، وتعوذ به من شره ، ثم شأنك وشأن أهلك

“Jika kamu menemui istrimu, maka salatlah dua rakaat. Kemudian mintalah kepada Allah kebaikan dari yang dimasukkan kepadamu, dan minta perlindungan kepada Allah dari keburukannya. Setelah itu, lakukan urusanmu dan urusan istrimu.”

Bahasan tata cara salat Sunnah sebelum jinak akan dibahas pada sarkat berikutnya, ya, Reader!

 

Hari ke-26

Adab Salat Zifaf:

1. Melafazkan niat

أُصَـلِّىْ سُنَّةَ لَيْلَةِ الزِّفَافِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّـهِ تَعَالَى

“Saya salat sunnah malam pengantin dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

2. Pada rakaat pertama dan kedua setelah al-Fatihah boleh membaca surah al-Quran dan boleh tidak membaca. Jika hendak membaca surah al-Quran, maka boleh membaca surah apa saja dari surah-surah al-Quran.

Jika bersebadan di siang hari Alfatihah dan surat pengiringnya dibaca sir (lirih). Sebaliknya jika hubungan dilakukan malam hari, bacaannya jahr (jelas)

3. Membaca doa selepas salam:

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻚَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ، ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﻣَﺎ ﺟَﺒَﻠْﺘَﻬَﺎﻋَﻠَﻴْﻪِ ، ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّﻫَﺎ ﻭَﺷَﺮِّ ﻣَﺎ ﺟَﺒَﻠْﺘَﻬَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya (istri) dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan padanya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan apa yang Engkau ciptakan padanya.

4. Mengucap salam pada istri seperti Rasulullah Saw contohkan:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

"Keselamatan atasmu, Rahmat dan keberkahan"

5. Melafazkan doa sambil memegang ubun-ubun isteri;

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ(رواه أبو داود و حسنه الألباني فى سنن أبي داود)

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau berikan kepadanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang Engkau berikan kepadanya.” (HR. Abu Daud dalam sunannya)

6. Mengucapkan kata rayuan yang romantis dan senda gurau untuk mencairkan suasana agar tidak tegang. Tentu saja suasana yang tegang tidak akan nyaman bagi pasutri. Sebaliknya ketika suasana santai dan rileks maka pasutri akan lebih bisa menikmati momen romantis ini.

Contoh kata-kata romantis:

a. Kau adalah segalanya bagiku setelah Allah dan RasulNya

b. Meski mendung menggantung di langit biru, yang penting senyummu menyapu mendung di hatiku

c. Mengingatimu menyematkan senyum di wajahku, apalagi mengingati penciptamu

d. Engkau adalah anugerah terindah setelah iman

e. Biarlah semua orang membenciku yang penting kau selalu kau membelaku

f. Musuh seribu tiada arti asalkan kau tetap mencintaiku

g. Biarlah semua mengabaikanmu yang penting aku kan selalu hadir untukmu

h. Bila cintaku padamu harus kutulis, niscaya habislah tinta sedalam samudera

i. Cintaku padamu ibarat udara yang terus berhembus dan air yang akan terus mengalir, ia akan berakhir bila zaman terhenti

j. Diantara sekian yang singgah di hati hanya kamu anugerah terindah yang Allah beri.

k. Diantara kebahagiaan yang Allah anugerah kan, bersamamu adalah bahagia yang terindah

l. Takut yang indah itu, takut kehilanganmu

m. Mencintaimu itu indah tapi saat kau menyadari cintaku, itu lebih indah.

n. Hujan itu anugerah musim kemarau, awan itu anugerah di tengah terik sang surya tapi kau adalah anugerah terindahku

o. Ingin aku hadiahkan mata ini untukmu tapi aku takut tak dapat melihat keindahan mu

p. Hati paling ajaib adalah hatimu yang menerima cintaku, suara paling merdu adalah bisikanmu tapi sesuatu terindah adalah mencintaimu

q. Jika bintang bisa bicara, aku kan meminta mereka berkata bahwa aku mencintaimu.

r. Tahukah kamu apa beda suara senapan dengan suaramu? Suara senapan mencabut nyawa tapi suaramu membangkitkan hasrat bercinta

s. Getaran gempa memang menggemparkan semua orang tapi getaran cintamu membangkitkan gairahku

t. Bibirmu merah semerah hatiku yang menginginkanmu

u. Wajahmu lebih cerah dari purnama karena wajahmu selalu membinarkan rasa cinta di hatiku.

v. Aku cinta Adek lillah, hati dan jiwa ikhlasmu menerimaku adalah alasanku untuk bahagia, yang lebih membahagiakan lagi Allah titipkan anugerah cinta ini di hati Abang untukmu

w. Karena cinta, engkaulah yang terindah, Allah kabulkan doaku, kaulah qurataa'yun, cahaya mata dan hatiku

x. Aku menerimamu bukan karena atribut dunia yang ada padamu tapi aku berharap cinta lillah ini menuntun kita bertemu Allah secepat kilatan cahaya.

y. Memandangku saja menggetarkan sukmaku apalagi jika kita bersatu tubuh, aku tak kuat lagi menahan rindu

z. Syurga dunia itu ia adalah penyatuan cinta lillah kita, masih adakah sabar jika kenikmatan bersatu tubuh itu seumpama seperseribu bagian dari perjumpaan denganNya.

aa. Aku bukan pujangga yang pandai mengukir kata, nggak pakai lama, aku ingin kita segera saling berbagi rasa

ab. Kepada siapa aku harus meluahkan gelora rasa, cinta ini ingin segera berlabuh di dermaga, dan kau dermaga rinduku

ac. Bila hasrat ini sudah memuncak, akan kulumat semua yang ada padamu, tubuhmu tubuhku juga, tubuhku tubuhmu juga.

8. Melafazkan doa dan niat bersebadan karena Allah agar bernilai ibadah.

Doa bersetubuh

*Doa sebelum bersetubuh

بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan menyebut nama Allah Swt, ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami."(HR Bukhari Muslim)

*Doa setelah keluar air mani

اَللّهُـــمَّ اجْعَــلْ نُطْفَتَــنَا ذُرّ ِيَّةً طَيِّــبَةً

"Ya Allah, jadikanlah nutfah kami ini menjadi keturunan yang saleh.”

*Doa setelah bersetubuh

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ المْـَــاءِ بَشَـــرًا

"Segala puji bagi Allah Swt. yang telah menjadikan air mani ini menjadi keturunan.”

Sesuai dengan kandungan doa bersebadan, ada beberapa tujuan dari doa ini:

-membentengi diri dari godaan setan

-menghindarkan zuriat dari gangguan dan campur tangan setan selama berhubungan

-memohon keturunan yang shalih

-memuji Allah sebagai pencipta Nutfah dan zuriat yang Dia amanahkan

9. Melakukan hal sekehendak pasutri

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

نِسَآ ؤُكُمْ حَرْثٌ لَّـكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوْا لِاَ نْفُسِكُمْ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّکُمْ مُّلٰقُوْهُ ۗ وَ بَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ

"Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 223)

Kepahaman akan hal-hal yang dimakruhkan lebih mengarah pada bagaimana mata, kemaluan satu sama lain dan lubang masuk terjaga. Untuk suara, gerak, posisi dan rabaan diserahkan sepenuhnya pada pasutri. Semua halal dan boleh.

Baiklah kita bahas keharaman dan kemakruhan dalam bersebadan agar lebih jelas dan kita bisa terhindar darinya.

Hal yang diharamkan:

a. Bersebadan saat haid dan nifas

b. Bersebadan dengan memasukkan zakar pada dubur

c. Bersebadan dengan membayangkan orang lain, dihukumi serupa dengan zina

d. Bersebadan dengan membawa ayat-ayat Al Quran nama-nama Allah SWT, Nabi. Malaikat dan lain lain seperti azimat.

e. Bersebadan dalam Masjid atau Mushalah

f. Bersebadan saat berpuasa di bulan Ramadan.

g. Bersebadan dalam ihram Haji atau ihram Umrah

h. Bersebadan di tempat terbuka (tempat awam) sehingga terlihat

i. Bersebadan tanpa diawali dosangan memulai hubungan intim tanpa doa

“Apabila salah seorang mereka akan menggauli istrinya, hendaklah ia membaca: “Bismillah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami”. Sebab jika ditakdirkan hubungan antara mereka berdua tersebut membuahkan anak, maka setan tidak akan membahayakan anak itu selamanya.” (Shahih Muslim)

j. Bersebadan tanpa warming up

Rasulullah bersabda, “Siapa pun di antara kamu, janganlah menyamai isterinya seperti seekor hewan bersenggama, tapi hendaklah ia dahului dengan perantaraan. Selanjutnya, ada yang bertanya: Apakah perantaraan itu ? Rasul Allâh SAW bersabda, “yaitu ciuman dan ucapan-ucapan romantis”. (HR. Bukhâriy dan Muslim).

k. Bersebadan tanpa peduli kepuasan pasangan

Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang diantara kamu menjima’ istrinya, hendaklah ia menyempurnakan hajat istrinya. Jika ia mendahului istrinya, maka janganlah ia tergesa meninggalkannya.” (HR. Abu Ya’la)

l. Mendatangi istri diam-diam dan langsung minta bersebadan

Rasulullah Saw bersabda,

إِذَا قَدِمَ أَحَدُكُمْ لَيْلاً فَلاَ يَأْتِيَنَّ أَهْلَهُ طُرُوْقًا حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمَغِيْبَةُ وَتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ

“Jika salah seorang dari kalian datang pada malam hari maka janganlah ia mendatangi istrinya. (Berilah kabar terlebih dahulu) agar wanita yang ditinggal suaminya mencukur bulu-bulu kemaluannya dan menyisir rambutnya” (HR. Bukhari dan Muslim ).

Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَطْرُقَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلاً يَتَخَوَّنُهُمْ أَوْ يَلْتَمِسُ عَثَرَاتِهِمْ

“Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam melarang seseorang mendatangi istrinya di malam hari untuk mencari-cari tahu apakah istrinya berkhianat atau untuk mencari-cari kesalahannya” (HR. Muslim)

m. Bersebadan dengan direkam dan disebarkan.

10. Makruh bertelanjang bulat karena malaikat malu untuk memasuki kamar kita. Sebaiknya bersatu selimut agar kemaluan tertutup dan tidak saling bisa memandangnya.

Beberapa yang dihukumi makruh dalam bersebadan antara lain:

a. Makruh jima pada malam dua Hari Raya malam 10 Dzuhijah dan 1 Syawal serta pada awal, pertengahan dan akhir tiap-tiap bulan Islam.

b. Makruh jima di bawah matahari atau bulan mengambang artinya saat matahari atau bulan tepat di atas kepala.

c. Makruh jima selepas salat Zuhur hingga ke petang.

d. Makruh melihat kemaluan pasangan

e. Makruh jima jika dapat dilihat atau didengar orang tanpa sengaja

 

Hari ke-27

Bahasan kita masih seputar nikah indah. Yaitu adab malam pertama. Karena semuanya dilakukan dalam bingkai ibadah pada Allah Swt maka pasti akan berkaitan dengan syariat dan hukum-hukum fiqhiyah. Kita memasuki adab yang terakhir, yang keduabelas

12. Diharamkan menggauli istri yang sedang dalam keadaan haid. Akan tetapi masih diperbolehkan bercumbu. Percumbuan diperbolehkan sesuka hati pasutri asalkan tidak memasukkanzakar pada faraz dan dubur.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَ يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ ۙ قُلْ هُوَ اَذًى فَا عْتَزِلُوْا النِّسَآءَ فِى الْمَحِيْضِ ۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ فَاِ ذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّا بِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

"Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, "Itu adalah sesuatu yang kotor." Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri."

(QS. Al-Baqarah 2: 222)

Juga sabda Rasulullah Saw berikut ini:

مَلْعُوْنٌ مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِيْ دُبُوْرِهَا

Terlaknat siapa saja yang mendatangi istrinya pada duburnya." (HR. Abu Dawud)

لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلاً أَوْ امْرَأَةً فِيْ الدُبُرِ

"Allah SWT tidak memandang laki-laki yang menyetubuhi istrinya pada duburnya." (HR. Ahmad dan At-Tarmidzi)

13. Mandi junub setelah berhubungan suami istri.

Mandi junub atau mandi janabah adalah mandi yang bertujuan menghilangkan hadas besar. Sering juga dalam istilah masyarakat kita disebut mandi besar.

Bahasan mandi besar ini menjadi sangat penting karena menurut aturan fiqhiyah, banyak ibadah yang dilaarang melakukannya bila keadaan seseorang masih berhadas besar. Antara lain:

a. Menunaikan shalat

Bersesuaian dengan Firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ

“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah .” (QS. Al-Maidah: 6)

b. I'tikaf

Larangan berdiam diri di Masjidil terdapat dalam Al-Qur'an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلاَ جُنُباً إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىَ تَغْتَسِلُواْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub , terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi..”(QS. An-Nisa’: 43)

c. Memegang mushaf dan membacanya, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:

لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“ tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”(QS. Al-Waqiah: 79)

Demikian juga menurut riwayat hadis berikut ini:

*Riwayat Imam Tirmidzi dan Ibnu Mahjah

لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن

Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda, "Wanita haid dan orang yang junub tidak boleh membaca Alquran (walaupun satu ayat).”

*Riwayat Imam Tirmidzi dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرئنا القرآن ما لم يكن جنباً

"Adalah Rasulullah Saw selalu membacakan Alquran untuk kami selama tidak dalam keadaan junub"

*Riwayat Imam Ad Daruquthni dari Jabir RA

لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئًا من القرآن

"Wanita haid dan nifas serta orang junub tidak boleh membaca Alquran.”

d. Thowaf di sekeliling Kakbah

Suatu saat di musim ibadah haji, sayyidah Aisyah mendampingi Rasulullah Saw. Wajahnya tampak sedih lalu menangis. Sebab tangisan sayyidah Aisyah adalah haid yang membuatnya khawatir kehilangan kesempatan ibadahnya. Rasulullah Saw pun bersabda

إنَّ هذا شيءٌ كتبَهُ اللَّهُ عزَّ وجلَّ على بَناتِ آدمَ، افعلي ما يفعل الحاج غير أن لا تطوفي بالبيت حتى تطهري

Yang artinya, “Haid itu ketentuan Allah SWT untuk kaum perempuan. Lakukan apa saja yang dilakukan jamaah haji yang lain, selain thawaf kecuali kami telah bersuci"

Dalil pada point-d sering dijadikan hujjah bahwa haid boleh melakukan ibadah lain seperti mana ora-orang yang sedang berhaji, artinya, membaca Alquran pun boleh

Jangan jadi bingung ya Reader dalam perkara fiqhiyah, hal furu' atau cabang justru menambah kekayaan ummat ini. Kaya akan kedalaman ilmu, kaya kedewasaan batin untuk selalu saling menghargai.

Kita agak keluar jalur nikah indah, nih. Tapi ini penting untuk membekali pasutri agar tiap langkah jadi ibadah. Bukankah kunci ibadah itu niat taat lillah. Bagaimana kita yakin berada dalam ketaatan jika kita masih belum memahami apa yang menjadi perintah Allah dan rasulNya?

Penting juga kita tahu penyebab junub itu apa saja, sih!Selain berhubungan suami istri yang membuat seseorang berada dalam keadaan junub adalah:

1. Keluar mani dari perempuan dan laki-laki baik melalui hubungan suami istri, mempermainkan alat kemaluan (onani dan masturbasi), mimpi basah, maupun ghairah oleh khayalan, pengelihatan dan pikiran

2. Jimak atau berhubungan seksual meskipun tidak mengeluarkan mani

Adab mandi wajib:

1. Berniat, yakni kesengajaan dari dalam hati untuk melakukan satu perbuatan.

. . نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ اْلحَدَثِ اْلأَكْبَرِ مِنَ اْلِجنَابَةِ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

"Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari janabah, fardhu karena Allah ta'ala."

Menurut imam Syafi'i, niat haruslah bersamaan dengan air yang pertama kali mengguyur tubuh.

2. Meratakan air dengan mengguyur seluruh bagian luar badan. Pada bagian berambut dan berbulu, air harus masuk hingga permukaan kulit dan sela-sela rambut atau bulu.

Sedangkan menurut Imam al-Ghazali dalam kitab Bidâyatul Hidâyah diperinci sebagai berikut:

1. saat masuk ke kamar mandi ambilah air lalu basuhlah tangan terlebih dahulu hingga tiga kali.

2. membersihkan segala kotoran atau najis yang menempel di badan.

3. berwudhu sebagaimana wudhu untuk salat termasuk doa-doanya hingga menyiram kedua kaki

4. mulai mandi janabah dengan mengguyur kepala sebanyak tiga kali bersamaan dengan itu niat menghilangkan hadats dari janabah.

5. mengguyur bagian badan sebelah kanan hingga tiga kali, kemudian bagian badan sebelah kiri juga hingga tiga kali

6. menggosok-gosok tubuh, depan maupun belakang, sebanyak tiga kali

7. menyela-nyela rambut dan jenggot

8. memastikan air mengalir hinggar lipatan-lipatan kulit dan pangkal rambut

9. menghindarkan tangan dari menyentuh kemaluan, jika tersentuh harus berwudhulah lagi.

Mandi janabah yang disertai adab ini mengandung hikmah yaitu disiplin, tertib dan sabar. Bagian yang diluar dua dari pendapat imam Syafi'i bersifat sunnah muakad, untuk menambal kekurangan dari kefardhuan.

 

Hari ke-28

Bahasan kita tentang indahnya menikah berlanjut dengan bagaimana melahirkan generasi berkualitas hasil dari pernikahan dua insan. Buah hati, buah cinta yang senantiasa menghadirkan cahaya di mata kita. Anak-anak yang menumbuhkan cinta dua suami istri makin bersemi.

Yuk, kita lanjutkan bahasan kita dengan mengharap berkah dari Allah SWT. Dzat yang berkuasa melimpahkan manfaat melalui jalan yang Dia kehendaki. Juga tulisan yang akan kita nikmati bersama ini.

2. Kiat Melahirkan Anak Salih yang Jenius

Kewajiban tiap diri untuk memperbaiki generasi penerusnya agar lebih kuat dan berkualitas dalam berbagai hal. Keimanan, keislaman, akhlak, bahkan ekonomi.

Sebagaimana seruan Allah dalam Al-Qur'an surat Annisa ayat 9:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَا فُوْا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا

"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar."

Ayat ini mengisyaratkan perintah untuk bertakwa dan berkata benar dan jujur agar meninggalkan generasi kuat pula.

Sedangkan pada hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Saw bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu setan.”

Mukmin yang kuat disini diisyaratkan sebagai mereka yang terus bersemangat tinggi dalam kebaikan, selalu meminta tolong pada Allah, beriman dengan kuat, yaitu meyakini segala yang terjadi adalah takdir Allah yang harus diterima dengan kelapangan hati. Mereka menutup pintu-pintu godaan setan dengan keimanannya.

Untuk melahirkan generasi yang kuat ada lima tahap yang harus dilalui, yaitu:

a. Pranikah

b. Masa nikah dan persebadanan

c. Masa dalam kandungan

d. Persalinan

e. Pengasuhan

*Golden age (0-7) tahun

*Usia remaja (7-14) tahun

*Fase gerbang akil baligh (14-21) tahun

Kita kupas yuk satu-satu bagaimana melahirkan anak salih yang jenius

a. Pranikah

* Taaruf

Kita sudah membahas perkara ini mulai dari ta'aruf islami hingga khitbah. Bagaimana menjatuhkan keputusan dengan istikharah dan lain-lain.

Intinya masa pranikah adalah penjajakan bukan pacaran. Penjajakan diiringi niat dan iktikad baik untuk serius ke jenjang pernikahan. Hubungan ini dilandasi keinginan mentaati Allah dan RasulNya, menjalankan sunnahnya.

Sementara itu, pacaran adalah menjalin hubungan khusus dan istimewa dengan segenap rasa cinta sebelum ada ikatan sah. Pacaran tergolong dalam larangan Allah dalam Al-Qur'an

َا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَا نَ فَا حِشَةً ۗ وَسَآءَ سَبِيْلًا

"Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk."

(QS. Al-Isra' 17: Ayat 32)

Mendekati zina di sini bermakna membuka peluang terjadinya zina yang nyata. Yaitu, masuknya zakar pada faraz. Atau bisa dikatagorikan hal-hal yang membuat kemaluan kita tidak terpelihara. Misalnya, berkhayal melakukan zina, bermain dengan tangan untuk onani dan masturbasi, berhubungan khusus selain nikah yang meningkatkan libido syahwat.

Berpacaran sangat dekat dengan bercinta. Bermula dari lirikan, timbul ketertarikan, saling berkenalan, terjadilah tembak menembak. Tembakan apa yang tidak mematikan hanya membuat pelakunya melayang? Itulah tembakan mengajak pacaran.

Anak muda sekarang kadang nakal kreatif juga, hati-hati dengan kata ta'aruf berkedok pacaran. Cirinya ta'aruf tidak ada bumbu bercintanya. Sementara pacaran, tidak serius berkenalan, malah minta berbagai macam bentuk perhatian. Ujung-ujungnya minta permainan mulai dari voice call, video call sampai minta bercinta via life camera. Nauzubillah minzalik, sungguh maksiat dimana-mana. Semoga Allah Swt selalu lindungi kita.

Nah, waspadalah para calon bapak dan ibu yang salih salihah! Mempersiapkan Nutfah terbaik itu harus dilakukan dengan terus menjaga kesucian lahir bathinnya

* Khitbah

Bagian dari pranikah adalah khitbah. Pada bagian yang telah berlalu dalam kebersamaan kita dengan KMO, hal ini pernah dibahas sepintas. Kali ini writer akan sedikit menulis tentang pentingnya menjaga kesucian lepas khitbah.

Ada sebagian yang berpandanggan bahwa khitbah separuh nikah sehingga kebebasan bergaulnya pun seakan terjustifikasi. Padahal yang menghalalkan haramnya pergaulan dua insan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram adalah akad. Maka hati-hatilah untuk melambatkan nikah selepas khitbah.

Rasulullah dan para sahabat memberi contoh jarak nikah. Dan khitbah sangat dipersingkat. Yang terjadi pada masa ini banyak pasangan terikat khitbah kurang menjaga satu sama lain. Media sosial dengan voice call, video call melonggarkan syariat pergaulannya, seakan sudah merasa saling memiliki. Sebagian lagi sanggup bepergian kesana kemari berduaan sebelum ikatan pernikahan. Hati-hati perangkap syaithan. Pada sebagian pasangan terjadi kegagalan menuju jenjang pernikahan meskipun sudah ada proses khitbah. Artinya Allah berhak menentukan perjodohan diantara hamba-hamba-Nya. Maka salah satu menjaga kesucian diri lepas khitbah adalah menyegerakan nikah.

Wahai para calon mempelai, sebaiknya buatlah komitmen untuk menentukan waktu nikah selepas khitbah. Jadi jarak khitbah kepada nikah bisa dikelola sedemikian rupa.

 

Hari ke-29

Qadarullah kita sudah memasuki sarapan kata hari ke-29. Tinggal satu step lagi, Reader. Terimakasih buat KMO(Komunitas menulis Online) yang selalu memacu adrenalin buat merangkai huruf, membariskan kata dalam kalimat, membanjarkan kalimat dalam paragraph. Alinea demi alinea tak terasa mengalir deras. Tak peduli netra memerah karena fokus pada layar pendar disela aktivitas dan perjalanan jauh dari writer.

Ingin rasanya berkisah mengapa akhirnya tulisan ini lahir. Tetapi biarlah waktu berbicara, semoga sempat terungkap di akhir tulisan ini.

Oya, kita masih membahas kiat melahirkan anak saleh yang jenius. Ini bagian paling seru, ya, Reader. Bismillah tarik napas dulu, ya?

b. Masa nikah dan persebadanan

Pada bahasan sebelumnya kita sudah membahas tentang adab bersebadan. Pada bagian ini kita akan bahas lebih detail cara menuju puncak asmara yang diajarkan Rasulullah Saw dan para ulama.

Sebenarnya ada larangan membincangkan pengalaman ranjang masing-masing pasangan oleh yang bersangkutan, ya Reader. Coba kita bahas sejenak larangan itu

lain.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال ‏أن رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله وسلم فلما سلم أقبل عليهم بوجهه فقال مجالسكم هل منكم الرجل إذا أتى أهله أغلق بابه وأرخى ستره ثم يخرج فيحدث فيقول فعلت بأهلي كذا وفعلت بأهلي كذا فسكتوا فأقبل على النساء فقال هل منكم من تحدث فجثت فتاة كعاب على إحدى ركبتيها وتطاولت ليراها رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله وسلم ويسمع كلامها فقالت أي واللّه أنهم يتحدثون وأنهن ليتحدثن فقال هل تدرون مامثل من فعل ذلك أن مثل من فعل مثل شيطان وشيطانة لقى أحدهما صاحبه بالسكة فقضى حاجته منها والناس ينظرون إليه‏

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata ketika Rasulullah selesai mengucapkan salam kepada pengujung salatnya, lalu beliau menghadapkan wajah kearah jamaah (makmum) seraya bertanya:

"Majelis yang berbahagia, apakah ada di antara kalian yang mencampuri istri dengan menutup pintu dan merapatkan tabir, akan tetapi, kemudian membicarakan kejadian itu kepada orang lain dengan mengucapkan, bahwa aku telah melakukan begini dan begitu terhadap istriku?"

Mendengar perkataan itu, para jamaah laki-laki berdiam diri. lalu Beliau menghadap ke arah jamaah wanita seraya menanyakan: "Apakah ada di antara kalian yang membicarakannya?

Kemudian ada seorang wanita muda duduk di atas kedua lututnya sembari mengangkat kepala agar terlihat dan terdengar suaranya oleh Rasulullah berkata: "Demi Allah mereka semua jamaah laki-laki dan juga jamaah wanita membicarakannya. Kemudian beliau bertanya: "Apakah kalian mengetahui perumpamaan orang yang melakukan hal itu?"

"Sesungguhnya perumpamaan orang semacam itu seperti setan laki-laki dan perempuan, di mana salah satu dari mereka bertemu pasangannya di tengah jalan lalu buang air besar di sana, sedangkan orang-orang tengah melihat kepadanya." (HR Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Dari Abu Sa'id RA, dia berkata; bahwa Nabi SAW bersabda:

عن أبي سعيد رضي الله عنه قال أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ‏أن النبي صلى اللّه عليه وآله وسلم قال ان من شر الناس عند اللّه منزلة يوم القيامة يفضي إلى المرأة وتفضي إليه ثم ينشر سرها‏ .

"Sesungguhnya di antara orang yang terburuk kedudukannya disisi Allah pada hari kiamat kelak adalah seorang laki-laki yang mengetahui rahasia istrinya atau seorang istri yang mengetahui rahasia suaminya kemudian menceritakan rasa itu kepada orang lain." (HR Muslim dan Ahmad).

Nah, bagaimana dengan membincangkan cara bercinta seperti yang akan kita lakukan ini? Jangan khawatir karena ada juga kebolehannya, yaitu:

1. Bukan menceritakan pengalaman ranjang pribadi

2. Membincangkan cara bersebadan dalam rangka keilmuan untuk meraih rumah tangga yang harmonis

3. Disertai dalil dari Rasulullah, sahabat, tabiin, tabiinattabiin dan salafusshalih serta para ulama.

Manakah dalil pembolehan itu? Tentu ada dalil yang langsung menunjukkan perkara hubungan seksualitas antara lain QS Al-Baqarah ayat 222, masih ingat redaksinya, kan?

Beberapa hal yang membantu meraih puncak asmara antara lain ada 3 tahapan:

1. Muqadimah

a. Mengajak pasangan buat bercinta, pakailah kalimat sindiran yang indah atau bisa juga to the point tergantung selera. Jika romantisme sudah biasa terjalin diantara kedua pasutri sejak awal pernikahan lagi, maka rayuan mesra akan menjadi pemanis. Jika tidak terbiasa ladang akan mendapatkan lontaran reply yang nggak mengenakkan. Gombal, lebay, sok romantis, bisa jadi malah membuyarkan hasrat. Jadi mukadimah ini khas untuk masing-masing pasangan. Tapi dengan sindiran akan terasa kemesraannya dan tentu lebih romantis.

Contoh kalimat ajakan bisa kita lontarkan seperti berikut:

*Mungkin diluar sana banyak yang rupawan, tapi hanya kau seorang yang jadi tumpuan rinduku. Aku ingin memadu rindu denganmu

*Kaulah satu-satunya pelabuhan cintaku, anugerah terindah, siapkah bila aku ingin berlabuh sekali lagi, kali ini?

*Beb, ibadah indah itu bersatu denganmu, adakah kerelaan malam ini kita berbagi?

*Gersangnya ladang kita bila lama tak tersirami. Biarkan ia tumbuh menjadi taman subur untuk generasi kita. Apakah kau bersedia?

Kalaupun pasutri tidak terbiasa merangkai kata dan lebih suka dengan ajakan simple, atau lebih menyukai bahasa tubuh, ajakan itu akan sangat mengesankan bagi dua orang yang saling mencintai. Mukadimah bisa diberikan dengan kerlingan mata, tarikan tangan mesra dan lembut. Ciuman mesra sepenuh hati pada tangan atau bagian wajah atau bagian manapun yang disukai pasutri. Semua itu isyarat hasrat. Dan yang tak kalah mewakili keinginan kita adalah tatapan mata dan desah napas.

b.Mukadimah selanjutnya adalah menunaikan adab bersebadan. Masih ingatkah reader adab bersebadan agar menjadi ibadah? Tentu dengan i'tibak pada apa yang dicontohkan Rasulullah Saw. Yaitu bersama sama secara berjamaah melakukan langkah-langkah berikut:

1. Berwudhu, mandi taubat untuk mensucikan diri

2. Membersihkan gigi, kuku dan merapihkan bulu

3. Memakai wewangian dan berhias yang dapat meningkatkan hasrat pasutri

4. Shalat taubat dua rakaat dan shalat zifaf dua rakaat. Writer sudah menyampaikan dua adab shalat ini. Tujuan dua shalat ini:

*Menyucikan diri sebelum bersebadan agar Allah kabulkan segala permohonan dan dipilihkan Nutfah terbaik dari kesucian pasutri

*Menyiapkan lahir batin dua pasutri untuk beribadah menunaikan perintah Allah. Meninggalkan yang haram kepada yang halal, mengubah maksiat menjadi ibadah.

5. Mempersiapkan diiri berbaju seminim mungkin dan berlindung dibalik satu selimut berdua.

b. Bagian inti meliputi warming up, duhul dan relaksasi. Bagian ini hanya untuk dibaca pasutri, ya, Reader. Jadi mohon maaf untuk tidak membacanya bagi yang single. Praktiknya pun hanya berlaku untuk pasutri, pasangan halal. Sepakat, ya, ini bukan pornografi tapi ilmu untuk ibadah indah.

1. Warming up adalah pemanasan setelah pasutri benar- benar meraih ketenangan dari shalat taubat dan shalat zifaf.

Pemanasan bertujuan menaikkan puncak hasrat yang ditandai dengan ereksi maksimal pada zakar sementara pada faraz akan terasa menghangat bahkan memanas disertai keluarnya pelumas yang memudahkan penetrasi.

Cara melakukan warming up meliputi tiga hal:

^Pertama suara. Desahan lembut, hembusan napas pada bagian sensitif seperti telinga, leher, tengkuk, dada, punggung, anggota di sekitar dubur dan khubul.

^Kedua rabaan dan sentuhan dengan tangan ataupun lidah atau kecupan pada bagian sensitif yang sensasi rasa indah dan nikmatnya dirasakan khas oleh masing-masing pasangan. Pengalaman bercinta akan membuat pasangan saling mengetahui mana bagian sensitifnya masing-masing. Maha suci Allah yang menciptakan manusia Fii ahsani takwim. Termasuk anggota yang khas untuk merasakan kenikmatan bercinta. Bagian klitoris pada faraz akan menimbulkan sensasi nikmat yang luar biasa maka suami harus menemukan bagian ini. Istri pun jangan malu untuk mengekspresikan nikmat karena tersentuhnya bagian ini. Katakan pada pasangan bahwa bagian itu telah tepat sasaran. Adapun pada zakar ada bagian paling sensitif yaitu dibagian paling ujung depan dan sekitarnya.

^Ketiga gerakan. Gerakan yang nakal juga bisa memunculkan hasrat. Liukan seperti ular, gerakan seperti dua ekor kucing yang tengah bercanda, semua Allah sediakan sebagai perumpamaan untuk dijadikan bahan contoh dan pelajaran.

2. Duhul hendaklah dilakukan dengan lemah lembut dan tidak kasar yang dapat menyakiti istri

* Membaca doa duhul

Rasulullah SAW bersabda, "Jangan sekali-kali seseorang di antara kamu mencampuri istri seperti bercampurnya binatang. Tetapi, hendaklah ada pengantarnya." Ada yang bertanya, "Apakah pengantarnya itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ciuman dan perkataan." (HR Abu Manshur dan Ad Dailami dalam musnad Al Firdaus dari Hadis Anas).

Suami hendaklah mengatur ritme agar puncak asmara bisa dirasakan keduanya. Yang terbaik bersamaan. Bila tidak istri harus terpuaskan terlebih dahulu karena kepuasan istri sangat tergantung ritme yang dimainkan suami. Sementara itu kepuasan suami lebih mudah dan sangat jelas diketahui tandanya, yaitu dengan ejakulasi.

Imam Al-Ghazali berpesan hendaknya suami tidak egois saat mau meraih puncak tahan dulu sampai istri juga merasakan hal yang sama. Bila suami egois asal mencapai puncaknya sendiri dan tak peduli dengan perasaan istri, hal ini bisa menyakiti hati istri dan menjadi bibit ketidak harmonisan dalam rumah tangga.

Mengenai posisi, terserah dua pasangan yang penting tidak duhul pada bagian dubur. Selebihnya diperbolehkan, Maha Pemurahnya Allah SWT. Sesuatu yang dilarang pun karena membawa mudharat pada manusia. Tahukah reader, persebadanan melalui dubur meningkatkan resiko HIV AIDS karena sperma yang bercampur dengan kotoran?

Nah, dalam kitab nikah yang cukup tersohor di kalangan santri yaitu qurutul 'uyun, ulama penulis kitab ini menganjurkan untuk tidah meninggalkan posisi istri menduduki paha suami. Posisi ini cukup baik untuk banyak pasangan mendapatkan puncak asmara. Tetapi tentu masing-masing dapat meraih pengalaman terindahnya masing-masing, ya, Reader. Itu bagian dari rezeki minallah yang harus kita pinta dan kita usahakan dengan mensalihkan diri mendekatiNya. Insya Allah, niscaya didekatkan pada syurga baik syurga dunia maupun syurga akhirat.

* Membaca doa setelah keluarnya sperma bagi suami dan setelah ejakulasi berupa denyutan bagian dalam faraz pada wanita.

3. Relaksasi yaitu mengendornya otot tubuh setelah olah raga dan olah jiwa serta rasa selama duhul. Hal ini ditandai dengan lemasnya otot-otot tubuh setelah puncaknya nikmat selama ibadah nikah. Tenaga seakan hilang dan ingin istirahat

Akan tetapi jangan bersegera meninggalkan istri bagi suami. Demikian juga istri jangan melakukan aktifitas yang lain terlebih dahulu. Buatlah refleksi positif yang indah setelah bersebadan. Tentang kenikmatan tentang rasa cinta dan terimakasih pada pasangan. Hal ini akan makin memupuk cinta kasih. Berbeda halnya bila persebadanan tidak diakhiri dengan indah, bisa berakibat pada saling marah dan curiga.

Contoh kalimat relaksasi:

*Makasih cinta, kau beri surga sebelum surga malam ini. Aku makin cinta dan sayang kamu

*Makin meraih puncak asmara, aku melihatmu makin indah, terimakasih atas semuanya

Membaca doa agar Nutfah yang bertemu menjadi generasi istimewa.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugerahilah kami keturunan yang termasuk orang-orang yang salih"

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pandangan mata yang menyejukkan dari para istri dan anak keturunan kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَوْلَادِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاحْفَظْهُمْ وَلَا تَضُرَّهُمْ وَارْزُقْنَا بِرَّهُمْ

"Ya Allah berkahilah kami di dalam anak-anak dan keturunan kami, jagalah mereka (dari segala kejelekan), jangan Kau bahayakan mereka, dan berilah kami kebaikan mereka.”

Doa-doa di atas dimaksudkan untuk:

1. Memohon keturunan yang salih

2. Memohon keturunan yang bertakwa

3. Memiliki keturunan yang mengajak dan mengajarkan ketakwaan

4. Memiliki keturunan yang terpelihara dari keburukan, yang terhindar dari marabahaya

5. Memiliki keturunan yang berbakti pada kedua orang tua.

 

Hari ke-30

Melahirkan generasi salih yang jenius memerlukan kesungguhan. Sebagaimana mendapat mutiara berkualitas tempatnya di dasar lautan di tubuh kerang. Mendapatkan intan permata di dalam tanah yang dalam setelah karbon sisa kehidupan mendapat tekanan dan suhu tinggi dalam waktu lama.

Kini kita sudah sampai pada proses membesarkan dan mendidik janin semasa ada dalam rahim ibu. Semoga bahasan kita kali ini Allah berkati

c. Masa dalam kandungan

Mendidik anak bukan hanya saat anak tersebut lahir tetapi sejak masih dalam kandungan lagi. Lho, kok, bisa? Memangnya Janin sudah bisa mendengar dan merespon stimulus dari luar? Apakah janin sudah memiliki pendengaran, pengelihatan dan hati untuk menangkap hidayah dari luar dirinya? Mungkin pertanyaan itu cukup menggelitik kita. Penasaran, kan? Yuk, kita lanjutkan bahasan kita.

Hasil penelitian para ahli menunjukkan,

Petunjuk hadis Rasulullah Saw mengisyaratkan bahwa janin sudah dapat merespon stimulus dari luar apalagi bila datang dari ibu yang mengandungnya. Justru emosi positif ibu yang menjadi tempat janin menempel dan hidup itulah yang sangat berpengaruh. Maka dari itu Rasulullah Saw memerintahkan para ibu membaca surat tertentu saat seorang ibu mengandung.

Pendidikan dalam kandungan melibatkan peran ibu yang mengandungnya. Apa saja, sih, yang dapat dilakukan seorang ibu selama mengandung?

1. Melakukan berbagai amal ibadah wajib dan Sunnah

a. Menjaga salat lima waktu, tepat waktu dan berjamaah

b. Berpuasa jika tidak terganggu kondisi kesehatannya atau tidak mengkhawatirkan kondisi janin

c. Menunaikan zakat, infak, sedekah untuk menyalurkan jiwa sosial dan kedermawanan

d. Memperbanyak doa dan shalawat

e. Membaca Alquran secara rutin misalnya satu juz perhari

2. Menjaga asupan gizi dalam makan dan minumnya.

a. Makanan yang dikonsumsi haruslah yang halal, bersih, bergizi dan tidak membahayakan kesehatan.

*Cukup karbohidrat, protein, vitamin dan mineral secara seimbang

*Perbanyak sayuran hijau, buah-buahan

*Cuci pada air yang mengalir setiap hendak masal termasuk mencuci telor

*Hindarkan dari makan minum berpengawet dan siap saji dalam kemasan

*Hindari makanan terlalu pedas, asam, asin karena berpotensi mengganggu fitalitas tubuh

*Makan sesuai adab i'tibak pada Rasulullah

-makan berjamaah, di antara Sunnah yang terlupakan adalah makan bersama. Dan lebih utama dalam satu talam dengan menggunakan tangan.

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ ». قَالَ أَبُو دَاوُدَ إِذَا كُنْتَ فِى وَلِيمَةٍ فَوُضِعَ الْعَشَاءُ فَلاَ تَأْكُلْ حَتَّى يَأْذَنَ لَكَ صَاحِبُ الدَّارِ.

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda, “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.” (HR. Abu Daud)

-duduk makan sunah yaitu menduduki telapak kaki kiri, kaki kanan ditekuk, berdiri di depan dada

-membasuh tangan dengan air mengalir

-awali dengan minum sedikit air, hindari dari minim di tengah-tengah waktu makan kecuali terpaksa

-membaca doa hendak makan

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau limpahkan kepada kami dan jauhkanlah kami dari siksa neraka"

-sediakan seketul garam, jilat dengan bantuan jari manis

-ambil makanan terdekat

-tidak tergesa-gesa tapi tunggu kunyah sekitar 20 kali kunyahan hingga tertelan

-mengatur ritme makan agar selesai bersamaan

-membaca doa selesai makan

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِيْنَ

"Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, Serta menjadikan kami termasuk golongan orang-orang muslim"

-basuh tangan kembali

-minum di akhir waktu makan

Pola makan ini sangat penting untuk kesehatan lahir dan batin ibu juga janin. Makanan adalah pembentuk darah dan daging dalam tubuh. Maka kita harus ingat sabda Rasulullah Saw berikut ini:

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari dan Muslim)

Suatu saat seseorang bertanya pada salah satu imam mahzab,Imam Ahmad bin Hambal, "Apa yang bisa melembutkan hati, Wahai Abu Abdillah?" Imam Ahmad tercenung sejenak lalu menjawab,"Makanan halal".

3. Memperdengarkan suara indah merdu dan suara kebenaran. Bacaan ayat suci Alquran baik diperdengarkan secara rutin misalnya satu juz perhari, baik dari muratal atau dari orang-orang di sekitarnya. Akan tetapi yang terbaik adalah bacaan langsung sang ibu. Pengaruhnya ada pada aktivitas otak kanan, mempercepat kedewasaan, kepedulian, empati, lebih mandiri dan berbagai perasaan positif lainnya.

Membaca Alquran pada ayat atau surah khusus untuk permohonan tertentu:

*Surat Yusuf agar anak yang dikandung berwajah rupawan lagi salih/salihah

*Surat Maryam untuk memohon kemudahan dalam kehamilan hingga persalinan serta kesalihananak yang dikandung

*Surat Alfatihah agar anak memiliki daya ingat yang bagus

*Asysyam agar anak yang dikandung dikaruniai kecerdasan

*Alinsyirah agar dikaruniai kemudahan baik bagi ibu, janin dan anak setelah dilahirkan

4. Menjaga kestabilan emosi ibu agar janin turut merasakan kenyamanan dalam rahim. Bila emosi tidak stabil, bahkan depresi, napas tidak teratur, peredaran darah tidak lancar, maka akan mengganggu kesehatan ibu juga sekaligus janin. Maka menjaga agar ibu tenang, emosi stabil, permasalahan tidak muncul. Bila ada masalah segera diusahakan solusinya.

Sangat tidak baik bila ibu hamil mendapatkan berbagai beban tanpa perhatian orang di sekitarnya.

5. Senantiasa menjaga kebersihan hati, hindarkan banyak mengeluh, dendam, bermusuhan, menghibah, namimah, fitnah dan lain sebagainya. Menghiasi hati dengan tawadhuk, ridho pada keadaan, berbaik sangka, murah hati, berkasih sayang.

6. Hindari dari maksiat lahir dan batin. Menjaga diri dari dosa baik pada Allah SWT maupun sesama manusia

7. Menjaga kesehatan dengan olah raga khusus bumil (ibu hamil).

Beberapa metode pendidikan janin selama di kandungan:

1. Metode sentuhan dengan memberi kasih sayang berupa usapan pada perut ibu. Energi positif dari perasaan yang baik akan turut mensupport tumbuh kembang janin.

2. Metode dialog, mengajak berbincang hal-hal positif pada janin. Kata-kata yang baik berarti doa baik juga

3. Metode doa, mendoakan kebaikan dan keselamatan bagi janin

4. Metode ibadah, segala sesuatu dilakukan dengan menempuh lima syarat:

*Niat lillah

*Perkara yang dilakukan bukan hal haram atau makruh

*Cara melakukan sesuai syariat

*Selama melakukan tidak meninggalkan ibadah wajib

*Natijahnya harus baik

5. Metode tilawah Alquran

*Memperdengarkan tilawah Al-Qur'an saat janin dalam kandungan. Ulang-ulang kembali dari juz ke-1 hingga juz ke-30 baik melalui muratal maupun langsung

*Bacaan dari ibu atau adalah yang paling cepat direspon janin karena selain ibu seraga dengan janin juga ada tetesan darah daging ayah dan ibu pada diri anak

Tarik nafas dulu, Reader. Rileks dan santai, ya. Kita nikmati bersama hidangan bergizi tentang pregnancy. Kunyah lembut perlahan dan lama ya, biar gizi terserap sempurna.

 

Hari ke-31

Melanjutkan tantangan secara mandiri ternyata berat juga. Tanpa pemicu kecuali niatan lillah dalam hati. Semoga Allah memberikan iradah pada Writer ya Reader....

Membentuk generasi salih yang jenius sudah selesai kita bahas. Jelas secara praktikal namun mengacu pada ilmu dan batas kesopanan.

Setelah bersebadan diharapkan Allah SWT menitipkan insan pada pasutri. Zuriat yang fiiahsani takwim, sempurna secara jasad juga secara ruhiah. Tak kalah pentingnya mempersiapkan saat persalinan.

d. Persalinan

Saat persalinan menjadi bagian mendebarkan sekaligus menyenangkan dan penuh pengharapan. Persalinan meliputi persiapan, pelaksanaan dan paska persalinan.

1. Persiapan:

*Persiapan fisik

- olah raga ringan terutama gerakan merangkak seperti orang mengepel lantai. Ini bertujuan memperbaiki posisi janin

- memperbanyak sujud untuk memperbaiki posisi janin mendekati lubang keluarannya dan menjadi posisi terdekat hamba dengan Sang Pencipta

- mengonsumsi minuman pelancar seperti rendaman rumput Fatimah

- mengonsumsi minyak zaitun satu sendok makan perhari

- hindari pakaian ketat berbahan nilon karena dapat menghalangi sinar matahari mencapai tubuh sehingga ibu kurang vitamin B dan D

* Persiapan mental emosional dan spiritual

- menjaga ketenangan bathin dengan banyak beribadah

- memperbaiki muamalah uuntuk mendapatkan doa-doa baik.

- banyak berzikir dan zikir terbaik adalah bacaan Al-Qur'an

- mendapat perhatian dari suami dan diringankan dari pekerjaan berat yang bisa mengganggu psikisnya

2. Persalinan

* Menguatkan psikisnya

-Berikan motivasi rindu pada persalinan bukan ditakut-takuti dan dibuat khawatir dengan kisah sulitnya melahirkan.

Rasulullah Saw bersabda:

Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku cuma sedikit. Orang yang mati berjihad di jalan Allah, syahid, orang yang mati karena Tha’un, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena sakit perut, syahid. Dan wanita yang mati karena nifas, dia akan ditarik oleh anaknya menuju surga dengan tali pusarnya.” (HR. Ahmad)

-Membaca ayat yang mempermudah persalinan yaitu Al-Insyiqaq ayat 1-5

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِذَا السَّمَآءُ انْشَقَّتْ

وَاَ ذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ

وَاِ ذَا الْاَ رْضُ مُدَّتْ

وَاَ لْقَتْ مَا فِيْهَا وَتَخَلَّتْ

وَاَ ذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ

"Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh, dan apabila bumi diratakan,dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh."

-Ditemani orang-orang terdekat terutama suami. Kalau suami tidak tega melihat persalinan istri hendaklah membuat majelis doa untuk janin.

-Ditangani oleh ahlinya seperti bidan dan paraji yang memahami syariat sehingga selalu mengiringi persalinan dengan zikir dan doa-doa.

-Jaga aurat ibu selama melahirkan agar kehormatannya tetap terpelihara

-Diperdengarkan murotal yang sejuk dan menenangkan dengan volume lirih

-Senantiasa sabar dan ikhlas selama persalinan

*Menguatkan fisiknya

- Meringankan rasa sakit saat bersalin dengan ramuan herbal seperti kunyit mendekati persalinan

- Mandi air hangat untuk membantu relaksasi

- Berlatih pernapasan, salah satunya napas dengan mulut terbuka.

- kurangi makan berlebihan karena mengganggu suplai tenaga saat hendak bersalin

- perbanyak makanan dengan kualitas gizi dan energi tinggi, hindari sembelit dengan minum secukupnya.

3. Paska persalinan

* Banyak bersyukur persalinan selamat

* Bayi diambil dan dibersihkan oleh para medis dengan air hangat

* Bayi dibalut dengan kain untuk menghangatkan.

* Ayah meraih anak dan memperdengarkan Azan di telinga kanan dan Iqomah di telinga kiri

* Ibu melaksanakan mandi wiladah

Mandi wiladah, yaitu mandi wajib untuk wanita yang telah melahirkan baik normal maupun melalui operasi Caesar. Bahkan juga untuk mereka yang mengalami keguguran. Darah yang keluar disebut darah nifas tergolong hadats besar. Bagi mereka yang terlupa mandi wiladah maka wajib niat mandi wiladah saat ingat.

Adab mandi wiladah:

a. Niat Mandi Wiladah

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْوِلاَدَةِ ِللهِ تَعَالَى

"Saya niat mandi menghilangkan hadats wiladah karena Allah Ta’ala."

b. Membaca basmalah dalam hati

c. Membasuh telapak tangan

d. Membasuh kemaluan dengan air mengalir hingga bersih

e. Berwudhu seperti tatacara yang disebutkan sebelum bahasan ini.

f. Menyiram rambut kepala sebanyak tiga kali. Awali dari anggota bagian kanan. Saat mandi wiladah rambut boleh diikat, dengan catatan air akan meresap dan merata pada rambut dan kepala

g. Meratakan air ke seluruh tubuh hingga bagian tersembunyi dan terlipat seperti ketiak, lutut, tumit, dan bagian tubuh lainnya.

h. Membasuh kaki setelah selesai meratakan air ke seluruh tubuh.

* Ibu mandi besar setelah selesai nifas

Nifas adalah darah yang menyertai darah melahirkan. Mandi nifas berbeda dari mandi wiladah. Lamanya nifas 1 hari hingga 40 hari. Berikut ini akan kita bahas adab mandi nifas.

Adab mandi nifas:

a. Melafazkan niat

نَوَيْتُ الْ غُسْلَ لِرَف ْعِ حَدَثِ ا لنِّفَاسِ ِل لهِ تَعَالَى

" Aku niat mandi wajib untuk mensucikan hadas besar dari nifas karena Allah Ta'ala."

Niat dilafazkan di awal mau mandi, ini adalah pembeda antara mandi nifas denganandi wajib lain yang niatnya berbarengan dengan guyuran air pertama. Seperti biasa niat bisa jahat atau sir.

b. Mencuci tangan sampai tiga kali agar bebas dari najis saat membersihkan anggota badan yang lainnya

c. Membersihkan bagian tubuh yang tersembunyi dengan tangan kiri, dubur, hubul, ketiak, dan pusar.

d. Membersihkan tangan bekas basuh anggota badan sebanyak tiga kali

e. Berwudhu seperti adab wudhu saat mau shalat

f. Menyela pangkal rambut dengan jari hingga rata di kulit kepala.

g. Mengguyur kepala tiga kali hingga rambut rata dengan air

j. Meratakan air ke seluruh permukaan kulit dengan guyuran dari ujung rambut ke ujung kaki

k. Dari seluruh bagian anggota mandi, selalu dimulai dari anggota sebelah kanan.

*Mempersiapkan asupan terbaik yaitu ASI

Untuk memperoleh ASI terbaik, ada beberapa hal yang bisa dilakukan seorang calon ibu:

a. Menjaga asupan hanya dengan makanan yang halal dan baik, hal ini pernah kita bahas dalam melahirkan generasi kuat

b. Menjaga asupan yang baik kualitas ASI terbaik:

- banyak konsumsi sayur dan buah

- cukup asupan protein dengan susu khusus ibu hamil

- mengonsumsi sayuran khusus seperti daun katuk, daun pepaya, rebusan pepaya setengah masak dan lain-lain

c. Menjaga organ menyusui agar selalu bersih dan dipersiapkan bentuknya agar mudah dihisap bayi.

Hmmm, panjang juga, ya, Reader, tentang proses persalinan baik pra hingga paska. Semua diatur dalam Islam. Detail, sistematis dan amat mudah diamalkan. Petunjuk Allah, Rasulullah Saw dan ulama menuntun ummat pada keselamatan. Masya Allah. Semoga kita sebagai ummatnya melapangkan hati untuk berdisiplin, ya, Reader....

 

Hari ke-32

Hari ini hari kedua sarkat sendiri. Mungkin lebih tepat rehat kata daripada sarapan kata. Soalnya...Writer menulis kapan saja di waktu senggang. Kadang siang, ladang pagi atau petang menunggu senja hadir lalu menghilang. Sering juga malam hari hingga larut karena sedang merasa asyik bermain kata. Jadi kesannya lebih menjadi hiburan buat Writer. Semua berkat sarkat KMO yang sudah bikin Writer ketagihan menulis.

Wah, cukup dulu, deh, curhat bahagia dan bangga Writer pada KMO. Sekarang kita bahas hal serius berikutnya, yaitu pengasuhan atau parenting. Parenting adalah bagian paling penting nikah berkah agar tujuan membentuk generasi Abid, salih, bertakwa dapat terwujud

e. Pengasuhan

Menurut para masayikh, ulama dan asatiz kita, pengasuhan ini bisa dibagi dalam tiga fase, massa anak-anak (0-7) tahun, masa remaja (7-14) tahun, masa baligh (14-22) tahun. Pembagian fase ini bisa berbeda-beda di kalangan para ahli parenting.

Rasulullah Saw mengingatkan kita tentang peran penting orang tua dalam parenting. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan imam Muslim, Rasulullah Saw bersabda

*كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.* فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَرَأَيْتَ لَوْ مَاتَ قَبْلَ ذلِكَ؟ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: *اللهُ اَعْلَمُ بِمَا كَانُوْا عَامِلِيْنَ*

"Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka ibu bapaknya yang menjadikan agamanya yahudi atau nasrani atau majusi. Maka ada orang yang bertanya: Ya Rasulullah, apa pendapat engkau tentang orang yang meninggal sebelum itu? Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:

Allah lebih mengetahui tentang apa yang mereka kerjakan.“

Peran orang tua yang paling awal adalah dalam pertemuan dua Nutfah bergabung dan membelah berulang menjadi alaqah (segumpal darah) kemudian mudhghah(segumpal daging). Permulaan yang baik untuk mempertemukan dua karakter bawaan genetik dari masing-masing Nutfah. Bila diawali dengan taqwa, insya Allah, Dia yang Maha Pencipta berkehendak memilihkan gen-gen terbaik.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al Mukminin ayat 12-14

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ

"dan sungguh, kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah."

ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَا رٍ مَّكِيْنٍ

"Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim)."

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَ ۗ فَتَبٰـرَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَ

"Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik."

Pendidikan selanjutnya telah kita bahas perkembangan insan di dalam rahim. Saatnya persalinan dan pendidikan minal mahdi ilallah di dimulai, seperti kata mahfudhat

أُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إلى اللَّهْدِ

Carilah ilmu mulai dari ayunan, hingga liang lahat (kuburan).

Praktik pendidikan dari buaian pertama kali diperankan oleh seorang ayah, yaitu memperdengarkan Azan dan Iqamah. Mengharu-biru di hati seorang ayah menerima amanah pengasuhan anaknya. Yuk, kita cermati kandungan azan dan Iqamah serta falsafah di balik lafalnya yang membumi itu. Bukankah Azan dan Iqamah tidak pernah berhenti berkumandang seiring bergulirnya matahari?

Lafaz azan dan Iqamah yang ditujukan pada janin adalah sebagai berikut:

(٢x) اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ

(٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ

(٢x) اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

(٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

(٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

(١x) اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ

(١x) لَا إِلَهَ إِلَّاالله

Kedalaman pendidikan di balik azan ini mengajarkan banyak hal:

1. Ketawadhuan seorang hamba bahwa hanya Allah SWT Yang Mahabesar, selain Allah kecil adanya apalagi seorang anak manusia. Tidak lebih besar dari sebutir debu di keluasan alam semesta. Perasaan diri kecil sekedar hamba inilah yang akan memudahkan seseorang menerima hidayahNya. Bekal keselamatan mengarungi kehidupan dunia yang gelap gulita, ilmu adalah cahaya petunjuk Allah SWT.

2. Syahadatain, sebuah pengakuan bahwa Allah satu-satunya yang berhak dan wajib disembah, diagungkan, dicintai, ditaati melibihi apapun dan siapapun. Pengakuan atas kerasulan Nabi Muhammad Saw, utusan Allah SWT dan teladan, panutan yang sempurna. Sebaik-baik makhlukNya adalah Rasulullah Saw.

3. Senantiasa menegakkan shalat, yaitu mengerjakan shalat sekaligus menunaikan falsafah shalat dalam kehidupan dan keseharian. Nilai-nilai shalat seperti kesucian diri dengan thaharah berarti pula menjaga diri dari yang haram, makruh dan subhat. Menghargai waktu bermakna kedisiplinan. Berjamaah bermakna senang berorganisasi, bersinergi untuk meraih target bersama yaitu Ridha Allah SWT. Kerapatan shaf bermakna tertib, saling peduli, melibatkan diri hadir dengan manfaat pada sesama, memahami kondisi saudara seimannya sehingga muncul ta'aruf, tada'u, taawun.

4. Bersama-sama menuju kejayaan dan kemenangan sebagai berkah mendirikan shalat. Kejayaan dan kemenangan akan diraih ummat bila selalu dalam keadaan menegakkan falsafah shalat bukan sekedar mengerjakannya.

5. Lafaz Azan ditutup kembali dengan membesarkan asmaNya dalan takbir dan menutupnya dengan kunci syurga, laailaha illallah

Telinga kiri mendengarkan Iqamah dimana iqamah adalah setengah Azan.

اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ

أَشْهَدُ اَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّااللهُ

اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ ،قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ

اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ

Makna yang terkandung di dalamnya pun serupa. Hanya saja ada satu kalimat yang berbeda, yaitu pemberitahuan untuk segera berdiri melakukan shalat. Iqamah adalah penanda shalat jamaah akan segera dimulai. Ini bermakna bahwa anak sebagai generasi penerus diharapkan menjadi perindu kehidupan amal jama'i.

Pendidikan anak adalah tanggung jawab ayah dan ibu. Tidak boleh saling mengandalkan dan berlepas tangan. Kalimat seperti berikut tak boleh terlontar:

"Anak-anak urusan ibu, ayah sudah lelah seharian bekerja"

Atau lontaran kekesalan istri dengan berucap, "Anak-anak hanya nurut sama Ayah. Tugas ibu mengurus rumah, memasak. Selebihnya ibu nggak sanggup."

Menurut kata pepatah yang masyhur dikatakan:

الأم مدرسة الأولى

Ibu adalah madrasah pertama, sangatlah tepat. Rumah pertama insan adalah alam rahim. Lepas dari alam ruh yang suci, ditempatkan di tempat asing di alam dunia. Rahim yang benar-benar pilihan Allah semata bukan pilihan kita. Kasih kedua orang tua adalah uluran tangan pertama diatas ketidakberdayaan anak manusia. Oleh karena itu kasih sayang orang tua begitu berharga. Pada siapa sebujur jabang bayi hendak mengantungkan asa selain pada orang-orang di sekitarnya?

Peranan ayah pula banyak disiratkan dalam Alquran dan dicontohkan oleh nabi, rasul dan para salihin:

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰبُنَيَّ اِنَّهَاۤ اِنْ تَكُ مِثْقَا لَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَ رْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ

"(Luqman berkata), "Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Mengetahui."

(QS. Luqman 31: Ayat 16)

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِا لْمَعْرُوْفِ وَا نْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَا صْبِرْ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَكَ ۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُ مُوْرِ ۚ

"Wahai anakku! Laksanakanlah sholat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting."

(QS. Luqman 31: Ayat 17)

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّا سِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَ رْضِ مَرَحًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَا لٍ فَخُوْرٍ

"Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri."

(QS. Luqman 31: Ayat 18)

وَا قْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَا غْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَ صْوَا تِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ

"Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.""

(QS. Luqman 31: Ayat 19)

Lukman memberi contoh bagaimana mendidik anak:

1. Untuk berhati-hati dengan berinfak karena semua kebaikan sekecil apapun dibalasi, keburukan pun akan dibalasi.

2. Memperkenalkan sifat Allah sebagai Yang Mahahalus

3. Menegakkan shalat

4. Amar ma'ruf nahi Munkar

5. Selalu bersabar dan bersabar adalah perkara yang penting

6. Senantiasa tawadhuk di hadapan manusia

7. Tidak sombong dan angkuh karena Allah benci mereka yang takabur

8. Menyederhanakan suara, tidak membanggakan diri dengan kesombongan.

Disini sangat penting agar ayah selalu menasihati anak-anaknya dengan dasar ilmu. Wibawa seorang ayah, keuletan, ketelatenan dalam mendidik anak. Tak pernah jemu membuat taklimat dalam keluarga untuk istri dan anak-anaknya serta anggota keluarga yang lain.

Abu Darda meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda:

الْوَالِدُ وْسَطُ ُبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوْ احْفَظْهُ

“Ayah adalah tengah dari gerbang Surga, jadi tetaplah di gerbang ini atau lepaskan.” (Sunan At-Tirmizi)

الْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الأمَّهَات؛ مَن شِئن أدخلن، ومَنْ شِئن أخْرَجن

“Surga di bawah telapak kaki ibu. Siapa yang dikehendaki (diridhai) para ibu, mereka bisa memasukkannya (ke surga); siapa yang dikehendaki (tidak diridhai), mereka bisa mengeluarkannya (dari surga)"

Jadi, keduanya memiliki kewajiban untuk mendidik anak agar meraih Ridha Allah dan berkumpul bersama di syurga. Rasanya tidak penting memperdebatkan siapa yang lebih wajib membimbing anak dan mendidik mereka.

Kita belum masuk ke fase-fase pendidikan anak, ya, Reader. Baru pembukaannya pun sudah cukup penjang lebar. Betapa makin menyelam makin dalam petunjuk Allah melalui RasulNya dan diteruskan oleh para ulama.

 

Hari ke-33

Innailaihi, postingan sarkat kali ini telat dua hari ya Reader. Inilah kendala disiplin nulis seorang diri. Tapi Writer akan terus berjuang sampai selesai, insya Allah ta'ala akan diijabah harapan Writer. Semoga begitu juga harapan Reader. Biar harapan kita bertemu dengan indah. Wah so sweet ya kita...

Bahasan kita selanjutnya tentang fase-fase pendidikan anak. Apa saja yang bisa kita bekalkan pada mereka sikap parenting dan hasil yang bisa jadi raihan atau capaian anak untuk masing-masing fase.

1. Golden Age fase 1 (0-3) tahun:

Menunaikan tujuh Sunnah setelah bayi lahir:

a. Mengumandangkan azan di telinga kanan dan Iqamah di telinga kiri

b. Mentahnik yaitu mengunyah kurma kering dang mengusapkan pada lidah dan langit-langit baayi. Tujuannya memperkuat otot bagian mulut bayi agar kuat mengisap susu ibu. Kalau tidak ada kurma kering bisa kurma basah, atau kalau terpaksa tidak ada kurma, bila tidak ada bisa dengan madu. Glukosa yang dioleskan bermaksud menstimulasi otot mulut.

c. Mengaqiqahkan dengan seekor kambing untuk bayi perempuan dan dua ekor kambing untuk bayi laki-laki

d. Memberi nama yang baik sebagai doa dan harapan orang tua. Semoga Allah mengijabah agar karakter anak sesuai dengan nama yang tersemat pada dirinya. Menamai sesuai dengan gender, jangan sampai mengakibatkan kebingungan pada anak dan orang yang memanggilnya. Kesalahan fatal orang tua saat memberi nama terbalik dengan jinsiyahnya sehingga turut mengganggu perkembangan karakter dan jati diri anak.

عَنْ اَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِاَسْمَا ئِكُمْ وَبِاَسْمَاءِ آبَائِكُمْ . فَاَحْسِنُوْا اَسْمَائَكُمْ. ابوداود ، منقطع، لان عبد الله بن ابى زكرياء لم يدرك ابا الدرداء

Dari Abu Darda’, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari qiyamat dengan namamu dan nama ayahmu, maka baguskanlah nama kalian”. (HR. Abu Dawud)

e. Mencukur seluruh rambut, menimbang dan menyedekahkan emas atau perak seberat rambutnya. Sedekah diberikan pada fakir miskin.

f. Dibacakan doa terbaik

*Membaca adzan pada telinga bayi sebelah kanan

*Membaca iqamah pada telinga bayi sebelah kiri

*Membaca doa dan zikir di telinga kanan:

-membaca doa memohon ketakwaan

اللهم اجْعَلْهُ بَارًّا تَقِيًّا رَشِيْدًا وَأَنْبِتْهُ فِي الْإِسْلَامِ نَبَاتًا حَسَنًا

“Ya Allah, jadikanlah ia (bayi) orang yang baik, bertakwa, dan cerdas. Tumbuhkanlah ia dalam islam dengan pertumbuhan yang baik."

-membaca surah al-Ikhlâsh

-membaca surah al-Qadr

-membaca ayat QS Ali Imran (3: 36)

وَإِنّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari pada setan yang terkutuk."

-membaca doa perlindungan

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَآمَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَآمَّةٍ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah dari segala setan, kesusahan, dan pandangan yang jahat."

g. Berikhtiar dengan menghadirkan guru Mursyid dan memintakan doa darinya semooga menjadi bekal anak dalam mengarungi kehidupan dunia hingga akhir hayatnya dalam petunjuk dan lindungan Allah SWT

Usia ini menjadi usia yang paling tajam dalam menangkap dan merekam pesan. Umur yang seharusnya mendapat perhatian dan kehati-hatian bagi orang yang lebih dewasa dalam bersikap, bertutur kata, bertindak tanduk, bahkan berekspresi. Kita hendaklah memperhatikan apa yang masuk melalui mata, pendengaran dan hati mereka.

Allah berfirman:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (An-Nahl 78)

Usia ini mampu merekam sekian banyak kosa kata hingga mereka bisa bicara. Usia ini ingin meniru hingga mampu bergerak sebanyak mungkin dari sekitarnya. Bukankah mereka belajar berjalan di usia ini?

Oleh karena itu memperdengarkan doa-doa bersama doa kita akan membuat mereka mampu menghafal doa itu. Demikian juga dengan shalawat dan bacaan Alquran. Membuat mereka bisa familiar dengan kalam Allah SWT.

Jadi apa saja yang bisa kita lakukan pada mereka di usia ini?

1. Aktif mengajak bicara agar sebanyak mungkin mereka merekam kosa kata. Hal ini akan membantu mereka cepat dapat berbicara

2. Sesering mungkin memperdengarkan doa, muratal Alquran, shalawat, bacaan shalat dan hal positif lain. Ini melatih ketajaman fitrah suci anak agar kelak mudah menerima hidayah dan kebenaran. Juga meminimalisir gangguan buruk jin ataupun setan.

3. Memberikan teladan adab dalam 24 jam kehidupan kita ajak bicara tentang bagaimana adab tersebut sambil kita praktikkan. Secara otomatis anak akan merekam dan menerima pengajaran jika kita komunikasikan apa yang kita lakukan.

4. Hindarkan dari mendengar musik cadas, lucah, cinta syahwati. Hal yang buruk akan mentransfer energi buruk pada si kecil. Bukankan penelitian seorang doktor di Jepang telah membuktikan bahwa musik cadas direspon buruk oleh partikel air? Apa lagi kita sebagai insan yang hidup dan 80% bagian tubuh kita terdiri atas air.

5. Hindarkan dari tumpahan emosi negatif dalam bentuk apapun. Marah pada anggota keluarga, maupun orang lain baik diekspresikan dalam kata maupun perbuatan.

6. Ajak anak berinteraksi dengan alam, bermain, berbicara dengan lingkungannya dengan memperlihatkan benda-benda. Kalimat komunikasi yang kita sampaikan antara lain:

"Ini namanya bunga mawar. Apa, Nak? Mawar. Yuk, kita sapa nawarnya. Hai, mawar kamu cantik sekali. Siapa penciptamu? Pasti Allah SWT yang Mahahebat. Kamu cantik tapi banyak durinya. Oh, ini pasti Allah ciptakan supaya kau terlindung dari tangan-tangan yang tertarik buat memetikmu. Soalnya kamu cantik banget."

7. Jauhkan dari gadget. Meluangkan qualified time, waktu yang benar-benar khusus buat anak tumbuh dan berkembang. Bila kita sering mengasuh sambil memegang gawai, bukan salah anak jika mereka merengek meminta gawai kita.

Sikap yang harus kita ambil saat berinteraksi dengan anak dalam rentang usia ini adalah:

1. Membiasakan untuk menatap mata anak, latih agar kemampuan fokusnya berkembang. Tentu dengan tatapan lembut penuh kasih sayang. Ini akan membangun rasa percaya diri pada anak

2. Responsif terhadap kebutuhan anak. Perhatikan saat anak menangis bahkan sebelum anak menangis usahakan mereka terpenuhi kebutuhannya.

3. Tidak mengajarkan cara berucap dengan bahasa bayi, tetapi dengan bahasa kita dalam lafaz yang benar. Ini akan mempercepat bayi dapat berbicara.

4. Memfasilitasi dengan alat dan lingkungan yang mendukung perkembangan dan peningkatan kemampuan anak, misalnya, pegangan tangan untuk merambat, alat baby walker untuk latihan berjalan.

5. Mendukung anak dalam mencoba sendiri melakukan kegiatannya. Berikan ruang untuk rasa percaya dirinya berkembang. Perasaan berhasil setelah si kecil mencoba sendiri apa yang diinginkannya memberikan pengalaman berharga dan rasa percaya diri.

6. Sembunyikan rasa dan ekspresi cemas yang berlebihan yang dapat mengagetkan dan membuat anak takut. Yang penting anak dikondisikan dalm keadaan aman. Terhindar dari benda-benda berbahaya.

Selanjutnya penting juga kita memahami target capaian anak sesuai perkembangan usianya. Berikut ini perkembangan yang harusnya diraih anak usia 0-3 tahun

Bulan pertama,

Pada usia ini anak sedang beradaptasi dari alam rahim ke alam dunia. Pengelihatannya belum sempurna. Fokus mata baru sampai pada jarak 30 cm. Sementara itu kekuatan tulang dan ototnya baru bisa sedikit mengangkat kepalanya.

Pada masa ini anak baru dibekali hidayah insting atau hidayah ilham, petunjuk yang dibekalkan pada anak oleh Allah SWT secara otomatis melekat pada dirinya. Misalnya menangis saat memiliki keinginan untuk makan karena lapar, minum karena haus tidak nyaman karena pipis atau buang air besar.

Waktu banyak digunakan untuk tidur. Di awal-awal adaptasi dapat mencapai durasi 24 jam. Bertambahnya hari waktu tidurnya makin berkurang.

Hidayah hawasi yang masuk melalui indera baru pada sentuhan dan sedikit pendengaran. Bonding antara orang tua dan anak terjalin lewat sentuhan dan irama batin

Asupan gizi sebaiknya khusus ASI. Pada usia ini bayi tidak boleh diberi makanan lain termasuk susu formula. Sebelum memutuskan memberi susu formula karena ASI kurang. lebih baik berikhtiar dengan memacu produksi ASI atau mencarikan ibu susu.

Bulan kedua-ketiga,

Muncul ekspresi tersenyum dan tertawa karena pengelihatannya mulai merespon kebahagiaan dan keceriaan di sekitarnya.

Kekuatan otot dan tulangnya sudah membantunya menahan kepala. Anak berusaha miring hingga telungkup atau tengkurap. Akan tetapi pada beberapa kasus anak tidak melalui fase tengkurap tapi lebih memilih untuk duduk.

Motoriknya mulai berkembang dengan kemampuan menggenggam, memegang dan mengambil benda. Pada usia ini, interaksi anak dan orang tua mulai terjalin lebih baik.

Proses bonding secara indrawi terjadi disini. Dengan makin berfungsinya pengelihatan, pendengaran, perabaaan, penciuman dan pengecapan anak banyak merespon hal di luar dirinya.

Bulan keempat hingga keenam,

Di usia ini, anak sudah dikenalkan MPASI (solid food). Tapi akan lebih baik bila ASI eksklusif diberikan hingga usia enam bulan. Dengan catatan ASI cukup, anak tidak rewel dan perkembangannya bagus. Dalam artian perkembangan berat badan normal.

Kemampuan anak di usia ini sudah bisa duduk sendiri merangkak dan mengambil benda-benda di sekitarnya. Pendengaran, pengelihatan sudah sempurna demikian juga Indra peraba, penciuman dan perasa. Hidayah Hawasi sudah terbekalkan pada usia ini.

Bulan ketujuh hingga kedua belas

Perkembangan motorik halus dan kasar berkembang pesat. Anak lebih interaktif dengan sekitarnya. Keinginan untuk mengeksplorasi lingkungannya dengan mencari, menemukan dan menjelajah apa yang ada di sekitarnya.

Kemandirian untuk duduk, merangkak, berdiri dan berjalan sudah bisa dilakukan. Gigi mulai tumbuh dengan rasa gatal di gusi hingga sedikit meriang. Suhu badan naik karena perubahan morfologis. Kemampuan vokalnya pun mulai berkembang dengan mengoceh dan menirukan gerak orang dewasa di sekitarnya

Pada usia keduabelas bulan, motorik halusnya berkembang bagus dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk untuk mengambil benda-benda kecil

Bulan ke-13 hingga ke-24

Anak mampu berdiri dan berjalan. Kemampuan bicaranya sudah mampu mengucapkan dua hingga tiga kata sekaligus dengan benar dan jelas.

Kemampuan motorik halusnya bisa memegang gelas kecil, minum sendiri, memakan dengan tangan dan sendok sendiri. Kemampuan motorik kasar meliputi buka baju sendiri, senang memanjat, naik tangga dengan ditatih, bisa berjinjit dan melompat.

Secara emosional, si kecil bisa berekspresi menunjukkan empati. Rasa kasihan, ingin menolong. Begitu juga rasa tidak senang terhadap sesuatu.

Tahun ke-2 hingga ke-3

Pada usia ini si kecil sudah dapat meniru gerakan orang tua seperti merapikan tempat tidur atau bekas mainannya. Anak senang melakukan kerja-kerja mandiri seperti makan sendiri, mengganti baju, menyisir rambut, memakai sendal sendiri.

Anak telah mengenal banyak kosa kata baru. Mereka harus disterilkan dari kata-kata buruk, jorok dan tak bermakna.

Saat ini anak sudah mulai menangkap hidayah Irsyad, hidayah akal dalam tahap permulaan. Anak sudah mulai menalar sebab akibat. Ia dapat memahami konsekwensi dari satu perbuatan. Senang dan mampu memahami cerita pendek. Dapat merespon pertanyaan singkat dan mengajukan pertanyaan sederhana. Kemampuan imajinasinya membuatnya senang berpura-pura. Senang bernyangi dan bercerita singkat.

Motorik kasar berkembang bagus dengan kemampuan berlari dengan stabil, melompat dan melempar mainannya. Mulai bisa bekerjasama dengan orang lain.

Begitu banyak enrichment yang dapat ditangkap anak usia 0-3 tahun. Semoga Allah mudahkan kita dalam membekali generasi penerus dengan hal-hal positif. Proses pendidikan anak adalah bagian dari kuu anfusakum wa ahlikum naaraa. Harapan orang tua tentunya, hal ini menjadi jariah yang tak terputus hingga akhirat. Di dunia bahagia dengan cahaya petunjuk. Di akhirat selamat dengan rahmatNya.

 

Hari ke-34

Makin dalam membicarakan parenting, ya, Reader. Sekarang kita akan bahas golden age fase kedua. Yaitu usia 4 hingga 7 tahun. Usia dimana Afidah, pikiran sudah mulai berkembang dengan baik. Maka saat kita dewasa sekarang sering kali teringat memori pertama kita.

Buat Writer sendiri hal pertama yang diingat adalah terkena semburan api yang Writer mainkan sendiri dari kompor. Traumatik sekali memang. Juga saat berkelahi dengan tetangga di atas tumpukan jerami gara-gara diledek tentang rok yang writer pakai. Sebenernya dua-duanya kenangan pahit tapi itulah yang paling lekat hingga kini. Sampai-sampai warna baju yang writer pakai masih ingat, lho!

Nah, berhubung fungsi Afidah yang terkait hati, akal dan kemampuan berpikir sudah berkembang, maka memberikan bekal-bekal pengetahuan bisa dilakukan di usia ini. Bercerita dengan gambar, memperdengarkan hafalan akan mudah mereka tangkap. Paling efektif justru sambil bermain bukan fokus duduk diam.

Sebagaimana di awal usia 0-3 tahun, hal-hal positif tentang keteladanan tetap terus harus dipertahankan. Ekspresi emosi positif juga makin kuat ditanamkan pada anak. Emosi negatif dijaga agar tidak membekas sebagai contoh buruk bagi anak. Lalu bagaimana anak mengenal baik buruk? Kita bisa menjelaskan saat ada pengalaman dari lingkungannya, bahwa ini buruk sebaiknya begini bukan begitu.

Berdasarkan Islamic Hypnoparenting ada beberapa hal yang harus diperhatikan di masa fase ke-2 golden age.

1. Anak memiliki kemampuan merekam yang amat baik. Orang tua lebih baik menghindari kata jangan bila respon anak justru sebaliknya. Tapi gunakan kalimat anjuran yang memang lebih memutar kemampuan komunikasi kita. Misalnya:

"Jangan menangis" diubah menjadi "Ayo, hapus dulu air matanya biar keliatan cakepnya, ya, sayang"

"Jangan lari-larian" diubah jadi "Duduk sini,anak shalih, ummi tunjukin gambar bagus."

Bekal mendidik anak adalah kesabaran dan keikhlasan. Terkadang saat anak sulit diatur muncul kalimat-kalimat kurang baik misalnya "dasar anak nakal, susah di atur, mau jadi apa kamu?". Cap ini akan sangat membekas dan jadi doa buruk bagi anak.

2. Memperkenalkan dan menanamkan tauhid pada anak bahwa Allah SWT adalah Allah yang memiliki sifat wujud, qidam, baqa, mukhalafatul lilhawaditsi, qiyamuhu binnafsihi, wahdaniyah qudrat, iradat, ilmun, hayyun, sama', bashar, kalamu, qadiran, muridan , 'aliman, hayyan, sami'an, bashiran, mutakaliman.

Sehingga sifat yang berkebalikan dari sifat wajibnya adalah sifat mustahil. Al Adam, Al Huduuts, Al Fana, Al Mumaatsalatu lilhawaditsi, Al Ikhtiyaaju lighairihi, Wujudusysyariik ( At Ta'addud), Al 'Ajzu, Al Karaahiyatu, Al Jahlu, AlMaitu, Ash Shaman, Al 'Amaa, Al Bakamu, 'Ajizan, Murahan, Mayyitan, Ashamma, A'ma, Abkam.

Bahwa Allah itu wujud ada, tanpa butuh tempat. Ada tanpa tergantung waktu, ada selamanya sejak dulu hingga kekal selamanya. Allah ada dengan sendirinya tanpa diawali ketiadaan, tanpa ada yang mengadakan karena dialah dan pencipta yang tak pernah diciptakan.

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَـقُّ ۚ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

"Sungguh, ini adalah kisah yang benar. Tidak ada tuhan selain Allah, dan sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 62)

وَاِ لٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّا حِدٌ ۚ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ

"Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 163)

Anak dipahamkan dengan akal yang dimilikinya bahwa mustahil alam semesta raya ada tanpa ada yang mengadakannya. Dia yang Mahaada yang mengadakan segalanya. Sedangkan sekecil apapun seperti penghapus, meja, kursi pun ada yang membuat dan mengadakannya

Allah Qidam, terdahulu dan tidak ada yang mendahului. Dialah yang mendahului segala sesuatu tanpa didahului sesuatu apapun. Hanya Dia yang paling permulaan tanpa diawali ketiadaan.

هُوَ الْاَ وَّلُ وَا لْاٰ خِرُ وَا لظَّاهِرُ وَا لْبَا طِنُ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

"Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."

(QS. Al-Hadid 57: Ayat 3)

Mustahil Allah yang mencipta segala yang luar biasa ini, gunung, lautan, bulan, bintang jika punya sifat yang lemah. Dia sempurna adanya. Jika dia memiliki permulaan berarti diawali dengan ketiadaan. Yang diawali dengan ketiadaan berarti Dia lemah. Hanya yang Mahahebat yang tidak memerlukan permulaan. Pastilah Dia tuhan Yang paling awal tanpa diawali.

Allah Baqa, kekal selamanya tidak mengenal kata musnah. Berkurang kesempurnaan-Nya pun tidak pernah apalagi musnah. Semua bisa Dia musnahkan dengan kehendakNya, makhlukNya bisa ia kekalkan dengan izinNya pula.

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۘ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ كُلُّ شَيْءٍ هَا لِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَـهُ الْحُكْمُ وَاِ لَيْهِ تُرْجَعُوْن

"Dan jangan (pula) engkau sembah Tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan."

(QS. Al-Qasas 28: Ayat 88)

هُوَ الْحَيُّ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ فَا دْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ۗ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

"Dialah yang hidup kekal, tidak ada Tuhan selain Dia; maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam."

(QS. Ghafir 40: Ayat 65)

Mustahil Tuhan Yang Mahasempurna berakhir dengan ketiadaan. Segala sesuatu yang berakhir dengan ketiadaan berarti lemah. Mahasuci Allah dari segala sifat kekurangan.

Allah Mukhalafatul lilhawaditsi, Dia tidah serupa dengan apapun, Dia berlainan dengan makhluk sehingga tidak mampu manusia menggambar, membuat bentukan bahkan berimajinasi wujud dzat Allah pun tak mampu. Karena imajinasi kita adalah bagian dari alam ciptaanNya. Dia terlalu sempurna untuk dibayangkan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَا طِرُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ جَعَلَ لَـكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا وَّ مِنَ الْاَ نْعَا مِ اَزْوَا جًا ۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِ ۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

"(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat."

(QS. Asy-Syura 42: Ayat 11)

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

"Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia."

(QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 4)

Jika ada yang serupa dengan Dia maka Dia tertandingi oleh makhluk. Sedangkan Dialah yang Mahasempurna tanpa tanding tiada banding.

Allah Qiyamuhu binnafsihi, berdiri sendiri. Dia tidak butuh sandaran, tempat bergantung ataupun kawan dan partner. Malaikat yang selalu setia patuh pada perintahNya pun Dia ciptakan sebagai bagian bukti kebesaran kerajaaNya, bukan karena Dia membutuhkan bantuan.

اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَـيُّ الْقَيُّوْمُ ۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ ۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا بِاِ ذْنِهٖ ۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ ۚ وَلَا يَــئُوْدُهٗ حِفْظُهُمَا ۚ وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang berdiri sendiri (terus-menerus mengurus makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 255)

Di antara sifat lemah itu membutuhkan sandaran dan Allah yang memiliki wujud kekal, paling awal tanpa diawali, tanpa akhir paling akhir tiada akhir, maka mustahil dia bergantung pada yang lain. Dia sempurna lagi berdiri sendiri.

Allah wahdaniyah, hanya satu, Dialah Dzat yang Mahaabesar, Mahatinggi. Selain Dia, tinggi karena ditinggikan olehNya. Besar karena dibesarkan olehNya. Satu-satunya Tuhan dengan segala kesempurnaan sifatNya wajib disembah oleh makhluk ciptaanNya.

(QS. Al Ikhlas ayat 1)

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ

"Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa."

dan (QS Al Baqarah ayat 163)

Jika Allah lebih dari satu berarti memiliki tandingan. Jika Allah lebih dari satu maka mereka berkolaborasi, berinteraksi, berdiskusi. Akan ada peluang saling kontradiksi. Tentu alam ini tidak akan harmoni seperti sekarang ini.

Allah Qudrat Iradat, Allah Maha Berkuasa, Berkehendak tanpa ada yang memaksa dan memerintahNya. Allah juga muridan keadaan Dzatnya senantiasa berkehendak. Segala sesuatu han ya akan terjadi saat Allah SWT mengizinkannya maka bersabar ikhlas menerima kehendakNya adalah bukti penghayatan dan penerimaan terhadap sifatNya Yang Maha Berkehendak. Demikian juga saat harapan menjadi kenyataan, bersyukur atas kasihNya Qudrat IradatNya teraih segala cita, tidak ada alasan untuk jumawa.

يَكَا دُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ اَبْصَا رَهُمْ ۗ كُلَّمَاۤ اَضَآءَ لَهُمْ مَّشَوْا فِيْهِ ۙ وَاِ ذَاۤ اَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَا مُوْا ۗ وَلَوْ شَآءَ اللّٰهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَاَ بْصَا رِهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

"Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 20)

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَا دِهٖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً ۗ حَتّٰۤى اِذَا جَآءَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُـنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُوْنَ

"Dan Dialah penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya."

(QS. Al-An'am 6: Ayat 61)

اِنَّمَاۤ اَمْرُهٗۤ اِذَاۤ اَرَا دَ شَیْئًـا اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu."

(QS. Ya-Sin 36: Ayat 82)

Dia yang Mahasempurna mustahil terpaksa atau berbuat atas perintah selain Dia. Allah-lah yang Mahatinggi mengatur dengan kuasaNya dengan kehendakNya.

Allah Ilmun Yang Maha Mengetahui dan 'Aliman yang keadaan DzatNya senantiasa mengetahui tanpa perantaraan untuk tahu atau diberi tahu. Dia tahu yang telah, sedang dan akan terjadi. Dia tahu yang lahir dan yang bathin. Dia tahu yang nyata dan yang tersembunyi

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَـكُمْ مَّا فِى الْاَ رْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰۤى اِلَى السَّمَآءِ فَسَوّٰٮهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

"Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 29)

Mustahil pencipta tidak tahu terhadap ciptaannya. Sedangkan Allah khalik selain Allah makhluk. Maka Dialah yang palin tahu atas segala sesuatu.

Allah Hayat yang Maha Hidup dan Dia Hayyan, keadaan DzatNya senantiasa hidup tanpa dihidupkan. Dia Hidup yang menghidupkan yang mati, Dia juga yang mematikan yang hidup.

(QS. Al Baqarah ayat 255)

Mustahil bagiNya mati karena mati adalah sifat lemahnya makhluk hidup.

Allah Sama' yang maha mendengar dan Dia sami'an, keadaan Dzatnya senantiasa mendengar tanpa alat bantu pendengaran. Dia mendengar hingga bisikan hati manusia. Hingga kegelapan dalam samudra. Gerak debu dan hembusan angin.

قُلْ اَ تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَـكُمْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا ۗ وَا للّٰهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

"Katakanlah (Muhammad), "Mengapa kamu menyembah yang selain Allah, sesuatu yang tidak dapat menimbulkan bencana kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?" Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 76)

Mustahil baginya tuli. Karena tuli ada sifat lemah makhluk. Sedangkan Dia adalah pencipta yang mengadakan semua yang mendengar.

Allah Bashar yang maha Melihat' dan Dia Bashiran, keadaan DzatNya senantiasa melihat tanpa alat bantu melihat. Ia melihat hingga dasar bumi yang paling dalam, hingga luasnya alam semesta dalam taburan bintang. Hingga alam halus elektron, neutron dan proton. Dia melihat dengan pengelihatan yang sempurna. Maka tidak perlu khawatir karena kita sellalu dalam pantauan PengelihatanNya.

اَوَلَمْ يَرَوْا اِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صٰٓـفّٰتٍ وَّيَقْبِضْنَ ۘ مَا يُمْسِكُهُنَّ اِلَّا الرَّحْمٰنُ ۗ اِنَّهٗ بِكُلِّ شَيْءٍۢ بَصِيْرٌ

"Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia Maha Melihat segala sesuatu."

(QS. Al-Mulk 67: Ayat 19)

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّاۤ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَا مَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَ سْوَا قِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً ۗ اَتَصْبِرُوْنَ ۚ وَكَا نَ رَبُّكَ بَصِيْرًا

"Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat."

(QS. Al-Furqan 25: Ayat 20)

Mustahil bagi pencipta kita bersifat buta sementara Dia mengawasi, memelihara makhlukNya tanpa henti. Betapa sibuknya Dia tapi teramat Mahabisa karena sempurnaNya.

Allak Kalam wa Mutakaliman. Dia Maha berbicara dan keadaan Dzatnya senantiasa berbicara. Dia berbicara tanpa alat ucap. Dia berbicara tanpa proses seperti makhluk.

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنٰهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۗ وَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًا

"Dan ada beberapa rasul yang telah Kami kisahkan mereka kepadamu sebelumnya dan ada beberapa rasul (lain) yang tidak Kami kisahkan mereka kepadamu. Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung."

(QS. An-Nisa' 4: Ayat 164)

Mustahil Dia Yang serba hebat dan sempurna memiliki sifat bisu. Oleh karena bisu hanyalah melekat pada makhluk bukan pada Khaliq.

Allah bersifat Jaiz dalam perbuatanNya. Dia Yang Berdiri Sendiri berhak menentukan satu perbuatan ataupun tidak. Dia berkehendak mutlak terhadap apa yang akan diperbuatnya. Tidak ada yang bisa mengintervensi sedikitpun. Tidak juga dengan doa seorang hamba. Dikabul tidaknya adalah mutlak kehendakNya.

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخْتَا رُ ۗ مَا كَا نَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

"Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan."

(QS. Al-Qasas 28: Ayat 68)

Pemahaman sifat Allah dalam sifat 20 atau 10 dan ditambah satu sifat Jaiz tidak bermakna kita membatasi sifat Allah yang Mahasempurna. Akan tetapi para ulama membantu ummat untuk munasabah, mencukupkan diri dengan pegangan tauhid yang kuat agar tidak mudah berubah keyakinan, menyembah tuhan yang palsu.

Tidak ada bedanya dengan sifat yang ada dalam 99 nama Allah. Bukankah kita tidak sedang membatasi kemahahebatanNya? Tidak demikian, tetapi kita sedang memahami Dia melalui Nash qat'i yang Allah tunjukkan dan Dia mudahkan kita dalam mengenalnya.

Semua asma dan sifat itu juga melekat secara sempurna pada Dzat Allah SWT. Tiap sifat yang melekat itu pun masing massing penuh kesempurnaan sebagaimana kesempurnaan DzatNya. Dia wujud dengan wujud yan sempurna, Dia melihat dengan pengelihatan yang sempurna, Dia melihat dengan pengelihatan yang sempurna. Jadi jangan ragu untuk mengenalNya dengan petunjuk para ulama. Para ulama dengan petunjuk Allah mengemukakan metode yang mempermudah ummat berma'rifat padaNya. Semua didasarkan pada Al Qur'an dan Hadits Rasulullah Saw.

Jadi jangan pernah ragu, ya, Reader untuk menghayati sifat Allah dalam Aqidah Asy'ariyah maupun maturidiyah. Mereka melakukan kajian usuludin ini dilatarbelakangi oleh kesesatan para mujasimah yang menyerupakan Allah dengan makhluk. Tentu hal ini merisaukan ahli 'ilmu.

Nah, pengenalan nilai-nilai tauhid juga bisa kita berikan melalui Asmaul Husna. Bahkan kita bisa mengajak anak-anak memohon dengan AsmaNya sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al A'raf: 80

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Artinya: Allah mempunyai asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan".

Kita bisa mengajarkan pada anak-anak untuk menguatkan tauhidnya dengan melafazkan doa dengan bertawasul pada asmaulhusna berikut ini:

"Ya Allah dengan keagungan Asmaul Husna yang Engkau miliki, berikanlah kami ........... Yaa..........(Pilih asma yang bersesuaian dengan doa kita misalnya Yaa Razaq bila kita memohon rezeki yang halal berkah manfaat).

Ar Rahman الرحمن = Yang Maha Pengasih

Ar Rahiim الرحيم = Yang Maha Penyayang

Al Malik الملك = Yang Maha Merajai atau menguasai

Al Quddus القدوس = Yang Maha Suci

As Salaam السلام = Yang Maha Memberi Kesejahteraan

Al Mu`min المؤمن = Yang Maha Memberi Keamanan

Al Muhaimin المهيمن = Yang Maha Mengatur

Al Aziz العزيز = Yang Maha Perkasa

Al Jabbar الجبار = Yang Memiliki Mutlak Kegagahan

Al Mutakabbir المتكبر = Yang Maha Megah

Al Khaliq الخالق = Yang Maha Pencipta

Al Baari البارئ = Yang Maha Pembuat atau Perancang

Al Mushawwir المصور = Yang Maha Membentuk Rupa

Al Ghaffaar الغفار = Yang Maha Pengampun

Al Qahhaar القهار = Yang Maha Memaksa

Al Wahhaab الوهاب = Yang Maha Pemberi Karunia

Ar Razzaaq الرزاق = Yang Maha Pemberi Rezeki

Al Fattaah الفتاح = Yang Maha Pembuka Rahmat

Al `Aliim العليم = Yang Maha Mengetahui

Al Qaabidh القابض = Yang Maha Menyempitkan

Al Baasith الباسط = Yang Maha Melapangkan

Al Khaafidh الخافض = Yang Maha Merendahkan

Ar Raafi الرافع = Yang Maha Meninggikan

Al Mu`izz المعز = Yang Maha Memuliakan

Al Mudzil المذل = Yang Maha Menghinakan

Al Samii السميع = Yang Maha Mendengar

Al Bashiir البصير = Yang Maha Melihat

Al Hakam الحكم = Yang Maha Menetapkan

Al `Adl العدل = Yang Maha Adil

Al Lathiif اللطيف = Yang Maha Lembut atau Maha Teliti.

Al Khabiir الخبير = Yang Maha Mengenal atau mengetahui.

Al Haliim الحليم = Yang Maha Penyantun

Al `Azhiim العظيم = Yang Maha Agung

Al Ghafuur الغفور = Yang Maha Memberi Pengampunan

As Syakuur الشكور = Yang Maha Pembalas Budi

Al `Aliy العلى = Yang Maha Tinggi

Al Kabiir الكبير = Yang Maha Besar

Al Hafizh الحفيظ = Yang Maha Memelihara

Al Muqiit المقيت = Yang Maha Pemberi Kecukupan

Al Hasiib الحسيب = Yang Maha Membuat Perhitungan

Al Jaliil الجليل = Yang Maha Luhur

Al Kariim الكريم = Yang Maha Pemurah

Ar Raqiib الرقيب = Yang Maha Mengawasi

Al Mujiib المجيب = Yang Maha Mengabulkan

Al Waasi الواسع = Yang Maha Luas

Al Hakiim الحكيم = Yang Maha Maka Bijaksana

Al Waduud الودود = Yang Maha Mengasihi

Al Majiid المجيد = Yang Maha Mulia

Al Baa`its الباعث = Yang Maha Membangkitkan

As Syahiid الشهيد = Yang Maha Menyaksikan

Al Haqq الحق = Yang Maha Benar

Al Wakiil الوكيل = Yang Maha Memelihara

Al Qawiyyu القوى = Yang Maha Kuat

Al Matiin المتين = Yang Maha Kokoh

Al Waliyy الولى = Yang Maha Melindungi

Al Hamiid الحميد = Yang Maha Terpuji

Al Muhshii المحصى = Yang Maha Menghitung

Al Mubdi المبدئ = Yang Maha Memulai

Al Mu`iid المعيد = Yang Maha Mengembalikan Kehidupan

Al Muhyii المحيى = Yang Maha Menghidupkan

Al Mumiitu المميت = Yang Maha Mematikan

Al Hayyu الحي = Yang Maha Hidup

Al Qayyuum القيوم = Yang Maha Mandiri

Al Waajid الواجد = Yang Maha Penemu

Al Maajid الماجد = Yang Maha Mulia

Al Wahid الواحد = Yang Maha Tunggal

Al Ahad الاحد = Yang Maha Esa

As Shamad الصمد = Yang Maha Dibutuhkan

Al Qaadir القادر = Yang Maha Menentukan

Al Muqtadir المقتدر = Yang Maha Berkuasa

Al Muqaddim المقدم = Yang Maha Mendahulukan

Al Mu`akkhir المؤخر = Yang Maha Mengakhirkan

Al Awwal الأول = Yang Maha Awal

Al Aakhir الأخر = Yang Maha Akhir

Az Zhaahir الظاهر = Yang Maha Nyata

Al Baathin الباطن = Yang Maha Ghaib

Al Waali الوالي = Yang Maha Memerintah

Al Muta`aalii المتعالي = Yang Maha Tinggi

Al Barru البر = Yang Maha Penderma

At Tawwaab التواب = Yang Maha Penerima Tobat

Al Muntaqim المنتقم = Yang Maha Pemberi Balasan

Al Afuww العفو = Yang Maha Pemaaf

Ar Ra`uuf الرؤوف = Yang Maha Pengasuh

Malikul Mulk مالك الملك = Yang Maha Penguasa Kerajaan

Dzul Jalaali Wal Ikraam ذو الجلال و الإكرام = Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan

Al Muqsith المقسط = Yang Maha Pemberi Keadilan

Al Jamii` الجامع = Yang Maha Mengumpulkan

Al Ghaniyy الغنى = Yang Maha Kaya

Al Mughnii المغنى = Yang Maha Pemberi Kekayaan

Al Maani المانع = Yang Maha Mencegah

Ad Dhaar الضار = Yang Maha Penimpa Kemudharatan

An Nafii النافع = Yang Maha Memberi Manfaat

An Nuur النور = Yang Maha Bercahaya

Al Haadii الهادئ = Yang Maha Pemberi Petunjuk

Al Badii’ البديع = Yang Maha Pencipta

Al Baaqii الباقي = Yang Maha Kekal

Al Waarits الوارث = Yang Maha Pewaris

Ar Rasyiid الرشيد = Yang Maha Pandai

As Shabuur الصبور = Yang Maha Sabar

Menyeru asmanya bisa diulang sebanyak mungkin.

3. Memerintah dengan anjuran bukan arahan. Kita bisa menggunakan dalil Al-Qur'an dan Hadits untuk menunjukkan bahwa Allah dan RasulNya yang memerintah bukan kita. Insya Allah dengan mendudukkan kemuliaan dan keberkahan dari Allah dan RasulNya akan lebih berenergi dan berdaya ubah.

4. Mengiringi tiap langkah mendidik dengan do'a. Bila kita praktikan tawasul dengan Asmaulhusna maka doa mendidik anak bisa kita rangkai sebagai berikut:

"Ya Allah, dengan keagungan asmaulhusna yang Engkau miliki. Ya Hamiidu Ya Majiidu, karuniakan kemuliaan akhlak dan terpujinya Budi pekertin anak-anak kami. Jadikan amanahMu ini bisa kami didik dalam ketaatan padaMu. Ya Hamiidu Ya Majiid (sebanyak mungkin bilangan)"

Saat kita menginginkan dikaruniai kesabaran, ketelitian dan keuletan maka bisa kita memohon dengan asmaNya, Yaa Shobur.

Reader, untuk golden age fase ke-2 kita cukupkan sampai di sini. Insya Allah kita jumpa di sarkat berikutnya. Semoga tidak jemu dengan tema parenting kita kali ini, ya...

 

Hari ke-35

Kita telah membahas tentang tiga sikap orang tua yang harus dilakukan orang tua dalam Islamic Hypnoparenting yaitu:

1. Menghindari kata jangan dan memperkatakan kejengkelan dengan ekspresi yang buruk. Memilih kata yang tepat dengan kesabaran saat anak tidak memahami keinginan dan perintah orang tua

2. Mengajarkan tauhid sejak dini, iman, Islam dan Ihsan

3. Mengganti perintah menjadi anjuran dengan menyertakan perintah Allah dan RasulNya

4. Iringi tiap ikhtiar dengan doa terbaik.

Membekali anak dengan nilai-nilai naik meliputi 7 tahapan yang harus terus diamalkan oleh orang tua:

1. Memahami fase perkembangan anak sesuai usia mereka. Pada usia 0-7 tahun adalah masa bermain. Sebaiknya tidak dituntut untuk serius belajar keras tapi belajar sambil bermain

2. Memberikan anjuran dekan kata sebaiknya, alangkah bahagianya, kata Rasulullah, seruan Allah.

Contoh kalimat anjuran:

"Akan lebih baik kalau kita merapikan kamar ini bersama, yuk!"

"Rasulullah berpesan kalau di tiap butir makanan ada berkahnya. Barangkali di suapan terakhir justru paling berkah. Yuk kita habiskan makanannya."

Selain memberi anjuran, kita juga harus melakukan pembiasaan yang baik. Misanya membiasakan untuk shalat mengaji, hal-hal baik pekerjaan harian lainnya.

3. Memberi sugesti positif terhadap perilaku diri tetapi juga mengenalkan nilai-nilai negatif dari peristiwa yang ditemukan sehari-hari. Tujuannya agar anak memosisikan diri pada keadaan dan hal positif tetapi tahu mana hal yang negatif di luar dirinya.

Misalnya anak jatuh karena batu yang diletakkan seseorang di jalan respon positif kita:

Raih anak kita, beri empati, obati bagian tubuh yang luka atau sakit sambil berucap, "Innalilahi, Akang buru-buru ya, batunya sampai nggak kelihatan. Sabar, ya, Akang kuat dan bakal lekas sembuh. Yuk, kita singkirkan batunya ke tempat yang nggak dipakai jalan orang."

Banyak nilai yang bisa kita tanamkan di sini, mulai dari empati, nilai tauhid, menunjukkan kesalahan anak tanpa menyakitinya, memperbaiki penyebab jatuh anak tanpa menyalahkan orang lain.

Bandingkan dengan respon negatif ini:

"Akang gimana, sih? Makanya lain kali hati-hati. Gara-gara batu, nih. Ihh, kita ganti pukul batunya biar kapok. Lagian siapa, sih, ngeletakin batu sembarangan. Nyelakain orang lewat aja!

Sebuah pengajaran emosi negatif dengan menyalahkan. Jika diiringi nada tinggi maka akan menyakiti hati anak yang sedang merasa kesakitan. Menyalahkan batu yang jelas-jelas tidak bersalah.

4. Melatih imajinasi positif dengan gambaran masa depan yang baik bila kita berbuat baik. Sebaliknya masa depan suram adalah konsekwensi dari perbuatan buruk hari ini. Hal ini akan membatu melatih anak tentang hubungan sebab akibat dan konsekwensi. Diharapkan anak akan memahami dan memiliki rasa tanggung jawab.

5. Memberikan anchoring atau jakarisasi untuk anak. Stimulus agar mau melakukan hal positif. Orang tua harus memahami dengan cara apa anak lebih mudah melakukan arahan.

6. Memberikan coaching question, yaitu pertanyaan dalam rangka membimbing untuk menambah atau mengetahui kemampuan anak

Contoh:

a. Parent:Kemanakah kita harus menyimpan bekas makan kita, Akang?

Child: Ke toilet

Parent: Bisa juga, tapi ke wastafel dapur lebih baik, sayang.

b. Parent: sebelum shalat kita harus ngapain dulu, ya?

Child: Berwudhu

Parent: Jempol buat Akang. Yuk, kita wudhu dulu!

7. Repetition, pengulangan. Pengulangan bermakna makin menguatkan anak dengan edukasi yang kita berikan Dalam Islamic Hypnoparenting, tingkat pengulangannya sangat tinggi sehingga buruk keterampilan komunikasi yang baik. Qualified Time dibutuhkan bila orang tua sibuk.

Adapun waktu yang tepat untuk memberi asupan edukatif pada anak adalah saat anak berada dalam frekuensi gelombang theta dan alpha. Berikut ini kondisi anak pada posisi frekuensi gelombang yang berbeda

1. Beta

Pada frekuensi gelombang Beta, otak berada dalam keadaan sadar sepenuhnya. Kondisi ini kurang tepat untuk menerima sugesti karena otak tidak sedang rileks. Dalam frekwensi gelombang Beta, anak bisa berpikir 3-4 hal lain yang berbeda. Misalnya sedang belajar di kelas, tetapi juga berpikir pulang sekolah ada jemputan atau tidak. Di rumah apa lauk untuk makan siang atau memikirkan rencana jajan baso sebelum pulang. Pemberian sugesti akan makin menambah sibuk otak sadarnya.

2. Alpha

Kondisi frekuensi gelombang alpha terjadi saat anak lelah lepas bermain. Anak sedang menginginkan kondisi santai, nyaman, damai dan tenang. Maka memberikan sugesti pada keadaan ini sangatlah tepat. Anak akan lebih siap dan mudah menerima sugesti.

3. Theta

Kondisi frekuensi otak sangat rileks, otak sadar tidak dominan dan otak bawah sadar lebih dominan. Sugesti positif akan mudah masuk dan tersimpan. Hal ini terjadi saat anak menjelang tidur, sangat mengantuk atau terlalu lelah. Kalimat positif yang diafirmasikan beragam sesuai problem pada anak. Misalnya, untuk anak yang masih mengompol, katakan: "Aku bisa bangun saat mau buang air kecil. Aku sudah bisa menahannya dan tidak akan mengompol lagi." Jika anak hiperaktif, katakan: "Aku bisa lebih tenang, bisa fokus dalam mengerjakan sesuatu."

4. Delta

Keadaan anak tertidur lelap. Otak sedang tidak aktif baik otak sadar maupun bawah sadar. Tidak ada sugesti yang bisa diterima dalam kondisi ini.

Penting juga buat kita untuk mengetahui capaian normal anak usia 4-7 tahun. Berikut ini kemampuan fisik sosial emosional dan kognitif anak pada masing-masing usia.

Tahun ke-4

Kemampuan fisik

Anak telah mampu untuk melompat satu kaki, menggunting, membasuh dan mengeringkan wajah, menggambar orang sederhana, memakai pakaian sendiri kecuali mengikat tali sepatu, melempar bola dan memiliki keinginan bergerak tinggi

Kemampuan sosial

Anak senang bermain dalam kerjasama (kooperatif), senang ditemani anak lain, senang berperilaku sosial, aktif bicara, terampil bercerita

Perkembangan emosional

Mulai tumbuh perasaan yakin dan percaya pada diri sendiri,

bertingkah laku berbeda dari kebiasaan, seringkali berpikir negatif, suka menguji diri sendiri, ingin diberi kebebasan

Kemampuan kognitif

Bisa membuat kalimat lengkap terdiri dari subjek, predikat, obyek, mampu mengingat kosakata hingga 1540 kata, terus menerus bertanya sesuatu yang ingin diketahuinya, mulai belajar menjeneralisasi, mampu berimajinasi, mencoba bermain peran

Tahun ke-5

Kemampuan dan keterampilan fisik

Anak mampu menggambar obyek yang dikenal, melompat dan meloncat, berpakaian sendiri, memiliki keseimbangan yang bagus, gerakan otot lebih lancar, mengendarai mobil-mobilan listrik sendiri, menggunakan tangan yang dominan lebih terlatih, bisa menalikan sepatu sendiri. Pada anak perempuan setahun lebih cepat berkembang motorik halusnya

Perkembangan sosial

Anak senang bermain kooperatif tingkat tinggi, sudah memiliki teman akrab, senang dengan kegiatan terorganisir, menikmati permainan meja yang menggunakan aturan, senang masuk sekolah

Perkembangan emosional

Merasa bangga pada apa yang dimiliki, bersemangat mengambil tanggung jawab, percaya diri, stabil, bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, senang mengasosiasikan dengan kapabilitas, punya kritik sendiri terhadap satu keadaan, menikmati tanggung jawab, suka dan bisa mengikuti aturan

Kemampuan kognitif

Anak mengenal dan memiliki kosa kata sebanyak 2,072 kata, bisa bercerita dengan dongeng yang panjang, dapat menjalankan arahan dengan benar, dapat membaca nama sendiri, mampu menghitung hingga dua puluh, dapat menanyakan arti kata, mengenal warna, memahami fakta dan kebohongan, tertarik dengan kondisi sekitar

Usia ke-6 dan ke-7

Kemampuan dan keterampilan fisik

Anak dapat berjalan mundur, berjinjit, lompat hingga 3-10 kali berturut-turut, berlari ke depan dengan menendang bola yang menggelinding, berjalan di atas Titian dengan jinjit atau tidak, melempar bola dengan sikap yang benar, melipat kertas diagonal , merapihkan baju, menggambar orang dengan lengkap, menirukan bentuk persegi panjang, segitiga, belah ketupat, menyusun menara 12 balok, menggunting bentuk

Perkembangan sosial:

Anak menyukai permainan bersama dengan 1 atau 2 orang selama 20 menit, bermain dua atau tiga permainan meja (halma, ular tangga, remi kuartet), bermain permainan yang menggunakan aturan yang sederhana, bekerja dalam kelompok kecil sedikitnya selama 20 menit, senang membual cerita, hiperbolik, dapat membedakan antara sekolah dan rumah (sering muncul kalimat: Kata pak atau Bu guru....), dapat meniru karakter tokoh atau orang dewasa, berteman dekat dengan 1 atau 2 teman sejenis

Perkembangan emosional:

Anak merasa putus asa saat merasa gagal dan tidak mau minta bantuan orang lain, ingin mengerjakan segala sesuatu sendiri, mulai membandingkan capaian diri dengan orang, sangat menginginkan apa yang dimiliki orang lain

menanggapi dengan senang hati apa yang terjadi di sekitarnya, memperhatikan detail kecil, makhluk hidup, benda sekitar

Kognitif

Anak emiliki lebih dari 3000 kosa kata, menikmati tugas, belajar banyak mengenai sebab akibat, mulai menggambar dengan detail, menikmati pekerjaan dengan warna, menjawab pertanyaan dengan jawaban lengkap, bercerita dengan alur dari awal hingga akhir, mengeja satu kata, menulis huruf dan angka secara mandiri

Dari capaian dan perkembangan di, orang tua dapat mengantisipasi perbaikan bila ada perkembangan anak yang dirasa lambat. Kita juga bisa mencegah berkembangnya emosi negatifnya.

Masya Allah, Wallahu a'lamu 'alakulli syaiin. Semoga ttulisan ini menjadi wasilah perbaikan kita dalam mendidik anak, ya, Reader. Sambil tetap berikhtiar tapi juga tidak memaksakan capaian pada anak. Tidak perlu juga terlalu cemas jika capaian anak tidak sesuai dengan apa yang tertera di atas. Paling tidak kita tidak memaksa anak untuk melampaui target-target di atas kemampuan mereka.

 

 

Hari ke-36

Kali ini pembahasan akan Writer fokuskan pada pendidikan di usia tujuh tahun. Sekian lama interaksi kita menggunakan sapaan Writer, Reader, semoga tidak keberatan adanya. Bukankah Writer-Reader kalau di singkat menjadi WR, kita adalah We are, meskipun saat spelling nya jadi 'double yu ar'. We are menjadi simbiosis yang mutualistis, bukan? Semoga ikatan ini Allah kekalkan sebagai tanda bukti keimanan kita.

Yuk, kita lanjut! (Jadi ingat kata Si Unyil di tahun 80-an. 'Yuk kita kemon')

Tahun ketujuh adalah fase golden age terakhir. Ada tuntunan Rasulullah Saw pada usia ini sebagaimana sabdanya. Diusia ini Rasulullah Saw mengingatkan kita untuk mulai mengajarkan shalat, tatacara dan adab-adabnya.

عن عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جده -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: مُرُوا أولادَكم بالصلاةِ وهم أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، واضْرِبُوهُمْ عليها، وهم أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المَضَاجِعِ

Artinya: Dari Amr Bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Perintahkan anak-anakmu melaksanakan sholat sedang mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka karena tinggal sholat sedang mereka berusia 10 tahun dan pisahkan antara mereka di tempat tidurnya.” (H.R Abu Daud)

Pada bagian adab berwudhu hal ini sudah di bahas tapi untuk bacaan shalat belum ya Reader. Insya Allah akan kita sertakan di sini sebagai bekal mendidik anak yang teramat penting.

Adab shalat:

A. Menunggu waktu shalat dengan kerinduan. Mengajak si kecil ke masjid, duduk sejenak bersama kita sambil membaca shalawat Nuril Anwar atau shalawat yang lain tentu akan memberi kesan buat si kecil. Pembiasaan yang akan mencahayai hari-harinya kini dan kelak.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى نُوْرِ اْلأَنْوَارِ وَسِرِّ الأَسْرَارِ وَتِرْيَاقِ اْلاَغْيَارِ وَمِفتَاحِ بَابِ الْيَسَارِ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ نِالْمُخْتَارِ وَآلِهِ اْلأَطْهَارِ وَاَصْحَابِهِ اْلاَخْيَارِ عَدَدَ نِعَمِ اللهِ وَاِفضَالِهِ

"Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada cahaya dari segala cahaya, belakang layar dari segenap rahasia, penawar sedih dan kebingungan, pembuka pintu kemudahan, yakni junjungan kami, Nabi Muhammad shalallalu alaihi wasallam yang terpilih, keluarganya yang suci, dan para sahabatnya yang mulia sebanyak hitungan nikmat Yang Mahakuasa dan karunia-Nya."

B. Menyempurnakan wudhu atau membiasakan menjaga wudhu. Berikan keteladanan untuk selalu berwudhu sehabis batal wudhu. Sambil dikisahkan keutamaan menjaga wudhu. Misalnya, kisah Sahabat Bilal bin Rabah yang suara terompahnya sudah terdengar oleh Rasulullah ada di syurga.

Sempurna wudhu di sini berarti:

-Cukup terpenuhi wajib wudhu

-Memenuhi Sunnah wudhu

-Penghayatan dengan disertai doa wudhu tiap membasuh anggota wudhu

- Memahami syarat dan rukun wudhu, Sunnah dan makruh wudhu

C.Berwudhu dari Rumah Sebelum ke Masjid

Rasulullah Saw bersabda

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci dari rumahnya kemudian berjalan ke salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) untuk menunaikan salah satu dari kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan, maka kedua langkahnya salah satunya akan menghapus dosa dan langkah yang lainnya akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim 1553)

Lebih dalam tentang wudhu, rasanya penting buat bekal mendidik anak untuk mengungkap pengetahuan tentang wudhu yang dinukilkan dari kitap fiqih Saffinatnnaja karya Syeikh Salim bin Semir Alhadromi, ulama dari mahzab Syafi'i yang wafat di Jakarta.

Syarat Sah Wudhu

1. Menggunakan air mutlak, yaitu air suci lagi mensucikan.

إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ

“Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang dapat menajiskannya.”(HR. Tirmidzi)

2. Menggunakan air yang halal secara zat dan secara hukum

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil…”(QS. An Nisa : 29)

3. Tidak ada benda yang menghalangi air untuk membasahi anggota wudhu

أَنَّ رَجُلًا تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ ، فَرَجَعَ ثُم

"Kemudian beliau membasuh tangannya yang kanan sampai siku sebanyak tiga kali, kemudian membasuh tangannya yang kiri sampai siku sebanyak tiga kali…”(HR. Muttafaqun Alaihi).

4. Mengusap kepala (tersambung mengusap kedua telinga)

« ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ، حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى الْمَكَانِ الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ »

“Kemudian beliau membasuh mengusap kepala dengan tangannya,(dengan cara) menyapunya ke depan dan ke belakang. Beliau memulainya dari bagian depan kepalanya ditarik ke belakang sampai ke tengkuk kemudian mengembalikannya lagi ke bagian depan kepalanya.”(HR. Bukhari-Muslim)

5. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki.

« ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ »

“…Kemudian beliau membasuh kedua kakinya hingga dua mata kaki…”(HR. Bukhari-Muslim).

6. Tertib (berurutan, mendahulukan yang harusnya lebih dulu, mengakhirkan yang harusnya akhir)

فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“…maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,”(QS. Al-Maidah : 6)

Jarak antara dua anggota wudhu tidak boleh terlalu lama sehingga basuhan mengering.

أَنَّ رَجُلاً تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ ». فَرَجَعَ ثُمَّ صَلَّى

“ada seseorang yang berwudhu lantas bagian kuku kakinya tidak terbasuh, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya dan bersabda, “Ulangilah, perbaguslah wudhumu.” Lantas ia pun mengulangi dan kembali shalat.”(HR. Muslim no. 243)

Sunnah Wudhu

1. Bersiwak

2. Membaca bismillah sambil mencuci kedua telapak tangan hingga pergelangan tangan

3. Madhmadhah (berkumur-kumur)

4. Istinsyaq (menghirup air ke hidung)

5. Menggabungkan antara madhmadhah dan istinsyaq

6. Berwudhu dengan pengulangan tiga kali anggota wudhu

7. Mengusap seluruh kepala

8. Mengusap kedua telinga, bersama lubang telinga

9. Menyela-nyela jari tangan dan kaki

10. Muwalah, tidak sampai ketika mengusap yang kedua anggota yang sebelumnya kering

11. Tayamun, mendahulukan yang kanan

12. Ithalah al-ghurrah wa at-tahjiil, melebarkan membasuh wajah, kedua lengan, dan kedua kaki

13. Tidak meminta tolong dalam berwudhu

Makruh wudhu

1. Meninggalkan madhmadhah (memasukkan air ke mulut) dan istinsyaq (menghirup air ke hidung)

2. Tidak mendahulukan anggota yang kanan

3. Bersuci dari bekas wudhu wanita

4. Menambah lebih dari tiga, dalam keadaan yakin telah melakukan tiga kali ulangan (israf dengan sengaja bukan karena lupa)

5. Kurang dari tiga basuhan

6. Meminta tolong membasuh anggota wudhunya tanpa ada uzur

7. Berwudhu dengan air yang tergenang

8. Israf (boros) dalam menyiram dengan jumlah air yang banyak atau berlebihan

9. Haram menggunakan air yang disediakan untuk diminum dan masih menjadi milik orang lain padahal belum diketahui ridanya

D. Mengutamakan Shalat Berjamaah

Anak diperkenalkan untuk shalat berjamaah lima waktu. Dimanapun dan kapanpun, bisa di rumah bersama anggota keluarga, di masjid ataupun di perjalanan.

Kepahaman anak tentang keutamaan shalat berjamaah harus dipupuk. Berikut ini keutamaan atau Fadhillah shalat berjamaah

1. Terdapat pahala yang lebih besar

Yakinkan anak dengan keutamaan shalat berjamaah. Gunakan logika keuntungan duniawi yang sering disukai anak-anak. Misalnya anak suka buku, kita bisa katakan: "Akang milih bunda beri satu buku atau dua puluh tujuh?" Rangsang kegemaran shalat jamaahnya dengan kesukaannya. Kalau shalat sendiri kita tambahkan 1000 di kotak tabungannya, saat berjamaah kita beri 27000.

Menyertakan sabda Rasulullah juga sangat baik agar anak familiar danmencintai Rasulullah Saw. Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda,

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Shalat jamaah lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak 27 derajat. (HR. Bukhari)

2.Nilai Shalat Berjamaah

Diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

الصَّلاَةُ فِى جَمَاعَةٍ تَعْدِلُ خَمْسًا وَعِشْرِينَ صَلاَةً فَإِذَا صَلاَّهَا فِى فَلاَةٍ فَأَتَمَّ رُكُوعَهَا وَسُجُودَهَا بَلَغَتْ خَمْسِينَ صَلاَةً

Shalat jamaah itu senilai dengan 25 shalat. Jika seseorang mengerjakan shalat ketika dia bersafar, lalu dia menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, maka shalatnya tersebut bisa mencapai pahala 50 shalat. (HR. Abu Daud)

3. Jumlah jamaah menggandakan pahala.

Alangkah bangganya kita saat ummat Rasulullah Saw taat pada Allah dan Rasulnya, hingga kita dibanggakan di hadapan para malaikat.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda,

وَإِنَّ صَلَاةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ، وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ، وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

"Sesungguhnya shalat seorang lelaki bersama satu orang lelaki lebih baik daripada shalat sendirian. Shalatnya bersama dua orang lelaki lebih baik daripada shalat bersama seorang lelaki. Makin banyak itu makin dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla." (HR. An-Nasa’i)

4. Terbebas dari api neraka

Sabda Rasulullah Saw dalam Hadits Riwayat Tirmidzi

مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ

Barangsiapa yang shalat berjamaah selama 40 hari dan selalu mendapati takbir pertama, maka dia akan terbebas dari dua perkara, (yaitu) terbebas dari neraka dan terbebas dari nifak (kemunafikan).

5. Keutamaan Shalat Isya dan Subuh Berjamaah

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ، وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

Barangsiapa yang melaksanakan shalat isya berjamaah, maka seperti shalat setengah malam. Barangsiapa yang shalat isya dan subuh berjamaah, maka seperti shalat sepanjang malam. (HR. Abu Dawud)

6. Keutamaan shalat berjamaah di masjid

a. Diterangi Cahaya di hari Kiamat

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan ke masjid dalam kegelapan dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat. (HR. Abu Dawud)

b. Pahala di Setiap Langkahnya

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda,

مَنْ رَاحَ إِلَى مَسْجِدِ الْجَمَاعَةِ فَخَطْوَةٌ تَمْحُو سَيِّئَةً، وَخَطْوَةٌ تُكْتَبُ لَهُ حَسَنَةٌ، ذَاهِبًا وَرَاجِعًا

Barangsiapa yang berangkat menuju masjid untuk shalat berjamaah, maka satu langkah akan menghapus dosa dan langkah berikutnya dicatat sebagai kebaikan, baik pada saat berangkat maupun kembali. (HR. Ahmad)

c. Makin awal pahala makin besar

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wwa Sallam berikut ini,

إِذَا تَطَهَّرَ الرَّجُلُ، ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ يَرْعَى الصَّلَاةَ، كَتَبَ لَهُ كَاتِبَاهُ أَوْ كَاتِبُهُ، بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الْمَسْجِدِ عَشْرَ حَسَنَاتٍ، وَالْقَاعِدُ يَرْعَى الصَّلَاةَ كَالْقَانِتِ، وَيُكْتَبُ مِنَ الْمُصَلِّينَ مِنْ حِينِ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْهِ

Jika seseorang Jika seseorang bersuci kemudian pergi ke masjid untuk memelihara shalatnya, maka dicatat baginya sebanyak sepuluh kebaikan untuk setiap langkahnya ke masjid. Dan orang yang duduk (menunggu shalat) untuk memelihara shalatnya, dia seperti orang yang melaksanakan ketaatan dan dicatat sebagai orang yang mengerjakan shalat ketika keluar dari rumahnya sampai kembali lagi. (HR. Ibnu Hibban)

d. Pahala Besar Seumpama Haji dan Umroh

Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Barangsiapa yang melaksanakan shalat subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian melaksanakan shalat dua rakaat, maka baginya pahala sebagaimana pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna, dan sempurna. (HR. Tirmizi)

E. Berpakaian Bagus

Allah Ta’ala berfirman

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al A’raf: 31).

Diantara Sunnah berhias bagi laki-laki adalah memakai wangi-wangian yang bersahaja.

F. Membaca Doa Menuju Masjid

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ يُقَالُ حِينَئِذٍ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ

“Jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya lalu mengucapkan: “Bismillahi tawakkaltu ‘alallaahi, laa haula wa laa quuwata illa billah” (Dengan nama Allah aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah). ‘ Beliau bersabda, “Maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya, ‘Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan, dan mendapat penjagaan’, hingga setan-setan menjauh darinya. Lalu setan yang lainnya berkata kepadanya (setan yang akan menggodanya, pent.), “Bagaimana (engkau akan mengoda) seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan, dan penjagaan.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi)

Ketika hendak menuju masjid, dianjurkan membaca :

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا وَفَوْقِي نُورًا وَتَحْتِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَخَلْفِي نُورًا وَاجْعَلْ لِي نُورًا

“ Ya Allah jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam penglihatanku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dari kananku, cahaya dari kiriku, cahaya dari belakangku, dan jadikanlah untukku cahaya” (H.R Muslim)

G. Berdoa Ketika Masuk Masjid

Abu Sa’id Ra berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ. وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

“Jika salah seorang di antara kalian memasuki masjid, maka ucapkanlah, ‘Allahummaftahlii abwaaba rahmatik’ (Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu). Jika keluar dari masjid, ucapkanlah: ‘Allahumma inni as-aluka min fadhlik’ (Ya Allah, aku memohon pada-Mu di antara karunia-Mu).” (HR. Muslim)

H. Tidak melewati orang yang sedang shalat

Rasulullah Saw bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَي الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ، لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِيْنَ، خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

“Seandainya orang yang lewat di depan orang yang shalat mengetahui (dosa) yang ditanggungnya, niscaya ia memilih untuk berhenti selama 40 ( tahun), itu lebih baik baginya daripada lewat di depan orang yang sedang shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

I. Menunaikan shalat Tahiyatulmasjidkecualienjelang khutbah Jum'at

Rasulullah Saw bersabda :

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِ

“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

J. Menghadap pembatas atau sutrah saat shalat

Sutrah adalah pembatas agar orang lain tidak melewati batas tersebut. Bisa berupa tongkat, tas, kain, disyariatkan bagi imam atau orang yang shalat sendiri. Rasulullah Saw bersabda

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا

“Apabila salah seorang di antara kalian shalat, hendaknya ia shalat dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya” (HR. Abu Daud)

K. Menjawab azan

Rasulullah Saw bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ

“Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cara menjawab azan diajarkan Rasulullah Saw sebagai berikut:

إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، فَقاَلَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ ثُمَّ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Apabila muadzin mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka hendaklah kalian yang mendengar menjawab, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Kemudian muadzin mengatakan, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah”, maka dijawab, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah.” Muadzin mengatakan setelah itu, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, maka maka dijawabSaat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alash Shalah”, maka maka dijawab “Laa Haula wala Quwwata illa billah.” Saat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alal Falah”, maka maka dijawab “Laa Haula wala Quwwata illa billah.” Kemudian muadzin berkata, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka dijawab, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Dan muadzin berkata, “Laa Ilaaha illallah”, maka dijawab, “La Ilaaha illallah” Bila yang menjawab adzan ini mengatakannya dengan keyakinan hatinya niscaya ia pasti masuk surga.” (HR. Muslim)

L. Membaca doa selepas azan

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang setelah mendengar adzan membaca doa : Allahumma Robba hadzihid da’wattit taammah was shalatil qaaimah, aati muhammadanil wasiilata wal fadhiilah wab’atshu maqaamam mahmuudanil ladzi wa ‘adtahu “(Ya Allah pemilik panggilan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan berilah Muhammad wasilah dan keutamaan dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan padanya) melainkan dia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

M. Berdiam di masjid hingga selesai shalat berjamaah kecuali uzur dan keperluan mendesak lainnya

Dari Abu as Sya’tsaa ra. berkata:

كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَأَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ الْمَسْجِدِ يَمْشِي فَأَتْبَعَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ بَصَرَهُ حَتَّى خَرَجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Kami pernah duduk bersama Abu Hurairah dalam sebuah masjid. Kamudian muadzin mengumandangkan adzan. Lalu ada seorang laki-laki yang berdiri kemudian keluar masjid. Abu Hurairah melihat hal tersebut kemudian beliau berkata : “ Perbuatan orang tersebut termasuk bermaksiat terhadap Abul Qasim (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam” (H.R Muslim)

N. Memanfaatkan Waktu Antara Adzan dan Iqomah

Rasulullah Saw bersabda:

الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة

“Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة أو قال في الصلاة

“Ketahuilah, kalian semua sedang bermunajat kepada Allah, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain. Janganlah kalian mengeraskan suara dalam membaca Al Qur’an,’ atau beliau berkata, ‘Dalam shalat’,” (HR. Abu Daud,

Ahmad)

O. Meninggalkan amalan lain saat Iqamah dikumandangkan

termasuk shalat sunnah

وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Jika shalat wajib telah dilaksanakan, maka tidak beleh ada shalat lain selain shalat wajib” (H.R Muslim)

P. Berlomba di shaf terdepan

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda,

خَيْرُ صُفُوفِ الِرجَالِ أَوِّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir. Sebaik-baik shaf wanita adalah yang terakhir dan seburuk-buruknya adalah yang pertama.” (H.R.Muslim 440)

Rasulullah Saw pernah bersabda:

لَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ لاَسْتَهَمُوْا

“Seandainya mereka mengetahui keutamaan (pahala) yang diperoleh dalam shaf yang pertama, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Q. Meluruskan shaf

Perkara yang harus diperhatikan dengan serius dan tidak boleh diremehkan adalah permasalahan lurus dan rapatnya shaf (barisan dalam shalat). Masih banyak kita dapati di sebagian masjid, barisan shaf yang tidak rapat dan lurus

Rasulullah Saw bersabda :

لَتُسَوُّنَّ سُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ

“Hendaknya kalian bersungguh- sungguh meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah sungguh-sungguh akan memperselisihkan di antara wajah-wajah kalian” (HR. Bukhari dan Muslim)

R. Tidak mendahuli imam. Bergerak saat imam selesai membaca takbir tanda perubahan gerakan. Dari Abu Hurairah Ra Rasulullah Saw bersabda :

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ

“Sesungguhnya imam hanya untuk diikuti, maka janganlah menyelisihnya. Apabila ia ruku’, maka ruku’lah. Dan bila ia mengatakan ‘sami’allahu liman hamidah’, maka katakanlah,’Rabbana walakal hamdu’. Apabila ia sujud, maka sujudlah. Dan bila ia shalat dengan duduk, maka shalatlah kalian dengan duduk semuanya“. (H.R. Bukhari)

Rasulullah memberikan ancaman keras bagi seseorang yang mendahului imam, seperti disebutkan dalam hadits berikut:

َ أَمَا يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَار

“Tidakkah orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam takut jika Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai? “(H.R Bukhari)

S. Keluar masjid dengan kaki kiri dahulu sambil membaca doa keluar masjid

Dari Abu Humaid atau dari Abu Usaid dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka hendaknya dia membaca, “Allahummaftahli abwaaba rahmatika” (Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu). Dan apabila keluar, hendaknya dia mengucapkan, “Allahumma inni as-aluka min fadhlika (Ya Allah, aku meminta kurnia-Mu).” (HR. Muslim)

Tarik nafas dulu, ya Reader. Cukup panjang bahasan kita tentang shalat karena memang shalat adalah ibadah paling utama bagi muslim. Dia adalah tiang agama. Shalat juga amalan pertama yang dihisap allah. Shalat juga wasiat Rasulullah Saw sebagai pendidikan awal anak.

 

Hari ke-37

Bahasan kita masih mengenai shalat saking pentingnya ibadah ini. Sebagai mahzab dari mayoritas muslim di Asia Tenggara, Writer memilih kitab Saffinatnnaja karya Syeikh Salim bin Semir Alhadromi dalam mendalami shalat dan segala yang terkait dengan hukum di dalamnya. Syarat sah, hal yang diperbolehkan, hal yang makruh, hingga yang membatalkan.

Siap, ya Reader, GPL kita langsung ke syarat sahnya shalat!

Syarat sahnya shalat antara lain:

1. Beragama Islam

2. Mumayyiz (bisa membedakan baik buruk)

3. Sudah masuk waktu shalat

Shubuh: semenjak fajar sidik hingga sebelum terbit matahari

Dzuhur: setelah matahari tergelincir dari tepat di atas kepala, condong ke barat, sampai bayang-bayang sepanjang badan, serta belum masuk waktu Ashar

Ashar: setelah matahari membentuk bayang-bayang lebih panjang dari benda sampai menjelang matahari terbenam, matahari belum menjingga.

Maghrib: setelah matahari tenggelam sampai hilang warna merah lembayung

Isya: setelah hilang lembayung atau semburat merah sampai sebelum fajar sidik.

4. Mengetahui fardhu-fardhu dan sunah-sunnah dalam shalat dan tidak menukar hukum antara keduanya

5. Suci dari hadats kecil dan besar

6. Suci dari najis, baik pakaian, badan, maupun tempat shalat

7. Menutup aurat bagi perempuan seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, laki-laki antara lutut dan pusarnya

8. Menghadap kiblat (kecuali bagi musafir yang melaksanakan shalat sunah, orang yang dalam kecamuk perang, dan orang yang buta arah ‘isytibahul qiblah’).

9. Hanya mengucap bacaan shalat

10. Tidak banyak bergerak selain gerakan shalat (Imam Syafi’i tidak melebihi tiga gerakan berturut-turut dalam satu rukun)

11. Tidak makan dan minum

12. Tidak dalam keraguan apakah sudah bertakbiratulihram atau belum

13. Tidak berniat merubah niat shalat baik untuk shalat yang lain atau untuk memutuskan shalat

14. Tidak menggantungkan kebatalan shalatnya dengan sesuatu apa pun, misalnya aku akan berhenti shalat jika terjadi sesuatu.

Rukun Shalat yaitu apa-apa yang fardhu, harus dilakukan selama shalat.

1. Niat

2. Berdiri bagi yang mampu

صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Lakukanlah shalat dengan berdiri. Bila kau tak mampu, maka dengan duduk. Bila kau tak mampu juga, maka dengan tidur miring,” (HR Imam Bukhari).

مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ، وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَائِمِ، وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَاعِدِ

"Barangsiapa yang shalat dengan berdiri, maka itu lebih utama. Barangsiapa yang shalat dengan duduk, maka baginya separuh pahala orang yang shalat dengan berdiri. Barangsiapa yang shalat dengan tidur (miring), maka baginya separo pahala orang yang shalat dengan duduk

3. Takbiratulihram disertai niat dalam hati

4. Membaca surah al-Fatihah

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Surat al-Fatihah.”(HR. Bukhari).

Dan hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلَاةً، لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ، فَهِيَ خِدَاجٌ– ثَلاَثًا – غَيْرُ تَمَامٍ.

Barangsiapa yang shalat lalu tidak membaca Ummul Qur’an, maka shalatnya kurang—beliau mengulanginya tiga kali—tidak sempurna.” (HR. Muslim)

5. Rukuk

6. Tumakninah sekira satu bacaan subhanallah setelah selesai membaca doa rukuk

7. I’tidal

8. Tumakninah selesai bacaan i'tidal

9. Sujud

10. Tumakninah setelah bacaan sujud

11. Duduk di antara dua sujud

12. Thuma’ninah setelah selesai membaca bacaan duduk antara dua sujud

13. Tasyahhud akhir

14. Membaca shalawat Nabi setelah tasyahhud akhir

15. Melafalkan salam

16. Duduk untuk membaca tasyahud akhir, shalawat Nabi, dan salam

17. Tertib sesuai urutan

Berikut ini tambahan pengetahuan seputar shalat yang cukup lengkap tentang makruh, mubah dan yang membatalkan shalat. Writer ambil dari sumber online situsnya, https://almanhaj.or.id/589-dimakruhkan-dalam.../diakses 31 Mei 2022, dengan perubahan.

Hal makruh dalam shalat:

1. Bermain-main dengan pakaian atau anggota badan tanpa keperluan

2. Berkacak pinggang

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda berkata:

نُهِيَ أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُخْتَصَرًا

“Dilarang shalat sambil berkacak pinggang.”

3. Mengangkat pandangan ke langit

Dari Abu Hurairah ra.bahwa Rasulullah Saw bersabda:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ رَفْعِهِمْ أَبْصَارَهُمْ عِنْدَ الدُّعَاءِ فِي الصَّلاَةِ إِلَى السَّمَاءِ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ

“Hendaklah orang-orang berhenti mengangkat pandangan mereka ke langit ketika berdo’a dalam shalat atau mata mereka akan tersambar.”

4. Menoleh tanpa keperluan Dari ‘Aisyah ra, dia berkata,

“Aku bertanya kepada Rasulullah Saw tentang menoleh dalam shalat. Lalu beliau bersabda:

هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ

Ia merupakan sebuah curian yang dilakukan syaitan terhadap shalat seorang hamba.”

5. Memandang pada sesuatu yang memalingkan Dari ‘Aisyah ra, Rasul Saw shalat dengan mengenakan pakaian yang ada tandanya.

Kemudian beliau bersabda:

شَغَلَتْنِيْ أَعْلاَمُ هذِهِ، اِذْهَبُوْا بِهَـا إِلَى أَبِيْ جَهْمٍ، وَأْتُوْنِـيْ بِأَنْبِجَانِيَّةِ.

“Tanda pada pakaian ini telah menyibukkanku. Bawalah ia ke Abu Jahm dan bawakan aku anbijaniyyah (pakaian tebal dari wol yang tidak ada tandanya).“

6. Sadl (mengulurkan pakaian hingga menyentuh tanah)dan menutup mulut

Dari Abu Hurairah ra.

أَنَّ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ السَّدْلِ فِي الصَّلاَةِ وَأَنْ يَغْطِيَ الرَّجُلُ فَاهُ

"Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sadl dan menutup mulut ketika shalat.”

7. Menguap

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw bersabda:

اَلتَّثَـاؤُبُ فِي الصَّلاَةِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا تَثَـاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ

"Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Jika salah seorang dari kalian menguap, maka tahanlah sebisa mungkin.“

8. Meludah ke arah kiblat atau ke kanan

Dari Jabir ra, dia mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قِبَلَ وَجْهِهِ، فَلاَ يَبْصُقَنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ وَلاَ عَنْ يَمِيْنِهِ. وَلِيَبْصُقْ عَنْ يَسَـارِهِ تَحْتَ رِجْلِهِ الْيُسْرَى، فَإِنْ عَجِلَتْ بِهِ بَادِرَةٌ فَلْيَقُلْ بِثَوْبِهِ هكَذَا. ثُمَّ طَوَى ثَوْبَهُ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ

"Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian berdiri untuk shalat, maka sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala berada di hadapannya. Maka janganlah ia meludah ke arah depan atau ke kanan. Hendaklah ia meludah ke sebelah kiri di bawah kaki kirinya. Dan jika terlanjur keluar, maka hendaklah ia tumpahkan ke pakaiannya.” Beliau kemudian melipat bajunya satu sama lain

9. Menyilangkan jari-jemari

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda:

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فِيْ بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ كَانَ فِي صَلاَةٍ حَتَّى يَرْجِعَ، فَلاَ يَقُلْ هكَذَا، وَشَبَكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

"Jika salah seorang di antara kalian wudhu’ di rumahnya kemudian mendatangi masjid, maka dia berada dalam sebuah shalat hingga pulang. Janganlah ia melakukan seperti ini.” Beliau menyilangkan jari-jemarinya.

10. Menggulung rambut dan pakaian

Dari Ibnu ‘Abbas ra, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةٍ، لاَ أَكِفَّ شَعْرًا وَلاَ ثَوْبًا

"Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh (anggota sujud) dan tidak menggulung rambut maupun pakaian.”

11. Mendahulukan kedua lutut daripada kedua tangan ketika sujud

Dari Abu Hurairah ra, dia mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيْرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ

"Jika salah seorang di antara kalian hendak sujud, maka janganlah turun sebagaimana unta menderum. Hendaklah ia letakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.”

12. Membentangkan kedua tangan (menempel dengan lantai) ketika sujud

Dari Anas ra, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:

اِعْتَدِلُوْا فِـي السُّجُوْدِ، وَلاَ يَبْسُطُ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ اِنْبِسَاطَ الْكَلْبِ

"Bersikaplah pertengahan ketika sujud, dan janganlah salah seorang di antara kalian membentangkan tangannya sebagaimana anjing.”

13. Shalat ketikan hidangan sudah disajikan atau menahan buang air besar dan kecil

Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ، وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ اْلأَخْبَثَانِ

“Tidak (sempurna) shalat ketika hidangan sudah disajikan, dan tidak (sempurna) pula shalat orang yang menahan buang air besar atau kecil.”

14. Mendahului imam

Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:

أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ اْلإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ يَجْعَلَ اللهُ صُوْرَتَهُ صُوْرَةَ حِمَارٍ

“Tidakkah salah seorang di antara kalian takut, Allah menjadikan kepalanya seperti kepala keledai bila dia mengangkat kepalanya sebelum imam. Atau menjadikan rupanya seperti rupa keledai.”

Hal mubah dalam shalat

1. Berjalan untuk keperluan

Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, “Rasulullah Saw pernah shalat di dalam rumah sedangkan pintunya tertutup. Lalu aku datang dan minta dibukakan. Kemudian beliau berjalan dan membukakan pintu untukku. Setelah itu beliau kembali ke tempat shalatnya. ‘Aisyah menyifatkan bahwa pintu tersebut berada di arah Kiblat.”

2. Menggendong anak kecil

Dari Abu Qatadah: “Rasulullah Saw pernah shalat sambil menggendong Umamah, puteri Zainab binti Rasulullah Saw dan Abu al-‘Ash bin ar-Rabi’. Jika beliau berdiri, beliau menggendongnya. Namun jika sujud, beliau meletakkannya.”

3. Membunuh al-aswadain (kalajengking dan ular)

Dari Abu Hurairah ra, “Rasulullah Saw menyuruh agar membunuh dua binatang hitam dalam shalat, yaitu kalajengking dan ular.”

4. Menoleh dan memberi isyarat untuk keperluan

Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Saw menderita sakit. Lalu kami shalat di belakang beliau yang shalat dalam keadaan duduk. Kemudian beliau menoleh dan melihat kami berdiri. Kemudian beliau mengisyaratkan kepada kami (untuk duduk), lalu kami pun duduk."

5. Meludah di baju atau mengeluarkan sapu tangan dari saku

Dalilnya telah disebutkan dalam hadits Jabir tentang larangan meludah ke arah kiblat.

6. Memberi isyarat untuk menjawab salam

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra, dia berkata, “Rasulullah Saw keluar menuju Quba’ untuk shalat di sana. Tak lama kemudian datanglah orang-orang Anshar dan mengucapkan salam kepada beliau yang sedang shalat. Lalu aku berkata pada Bilal, “Bagaimana engkau melihat Rasulullah Saw menjawab salam ketika mereka memberi salam kepada beliau padahal beliau sedang shalat?” Dia berkata, “Beliau memberi isyarat seperti ini.” Dia membuka telapak tangannya. Ja’far bin ‘Aun (perawi hadits) pun membuka telapak tangannya. Ia jadikan bagian dalamnya menghadap ke bawah dan bagian luarnya ke atas.”

7. Mengucapkan tasbih bagi laki-laki dan bertepuk tangan bagi wanita jika terjadi sesuatu dalam shalat

Dari Sahl bin Sa’d ra, Rasulullah Saw bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَا لَكُمْ حِيْنَ نَابَكُمْ شَيْءٌ فِي الصَّلاَةِ أَخَذْتُمْ فِي التَّصْفِيْقِ، إِنَّمَا التَّصْفِيْقُ لِلنِّسَاءِ، مَنْ نَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلاَتِهِ فَلْيَقُلْ: سُبْحَانَ اللهِ، فَإِنَّهُ لاَ يَسْمَعُهُ أَحَدٌ حِيْنَ يَقُوْلُ سُبْحَانَ اللهِ إِلاَّ الْتَفَت

"Wahai manusia, kenapa jika terjadi sesuatu dalam shalat kalian bertepuk tangan? Sesungguhnya bertepuk tangan adalah untuk wanita. Barangsiapa menemui kejadian dalam shalatnya, hendaklah ia mengucapkan: subhaanallah. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mendengarnya ketika ia mengucap: subhaanallah melainkan ia telah berpaling…

8. Mengingatkan imam

Dari Ibnu ‘Umar ra: “Rasulullah Saw mengerjakan suatu shalat lalu membaca surat dan bacaannya tercampur (keliru). Ketika selesai beliau berkata pada Ubay, “Apakah engkau shalat bersama kami?” Dia berkata, “Ya.” Beliau berkata, “Lalu, apakah yang menghalangimu (untuk membenarkan bacaanku tadi?”

9. Mencolek kaki orang yang sedang tidur

Dari ‘Aisyah ra dia berkata, “Aku menyelonjorkan kakiku pada kiblat Rasulullah Saw yang sedang shalat. Jika sujud, beliau mencolekku dan aku pun mengangkatnya. Jika beliau berdiri aku menyelonjorkannya lagi.”

10.Menahan orang yang ingin lewat di depannya

Dari Abu Sa’id ra, dia berkata, “Aku mendengar Nabi Saw bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ، فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يُجْتَـازُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْ فِي نَحْرِهِ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

“Jika salah seorang di antara kalian shalat menghadap ke sesuatu yang menjadi pembatas baginya dari manusia, kemudian seseorang hendak lewat di depannya, maka doronglah pada lehernya. Jika dia menolak, maka perangilah (lawanlah) dia. Karena sesungguhnya dia adalah syaitan.”

11. Menangis

Dari ‘Ali ra, dia berkata, “Tidak ada seorang penunggang kuda pun di antara kami pada hari perang Badar selain al-Miqdad. Aku tidak melihat seorang pun di antara kami melainkan sedang tidur (malam). Kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shalat sambil menangis di bawah sebuah pohon hingga Shubuh.”

Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat

1. Yakin adanya hadats

Dari ‘Abbad bin Tamim ra, dari pamannya:

"Ada seseorang yang mengadu kepada Rasulullah Saw. tentang sesuatu (hadats) yang seolah-olah terjadi dalam shalatnya. Lalu beliau bersabda:

لاَ يَنْفَتِلْ -أَوْ لاَ يَنْصَرِفْ- حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحًا

“Janganlah ia membubarkan (membatalkan shalatnya) atau berpaling hingga dia mendengar suara atau mencium bau.“

2. Meninggalkan salah satu rukun atau syarat dengan sengaja atau tanpa alasan

Berdasarkan sabda Rasulullah Saw kepada orang yang buruk shalatnya:

اِرْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

"Kembali dan shalatlah, karena engkau belum shalat.”

Juga perintah beliau terhadap orang yang pada punggung telapak kakinya terdapat sedikit bagian yang tidak terkena air wudhu’ agar mengulang wudhu’ dan shalatnya.

3. Makan dan minum dengan sengaja Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,

“Para ahlul ilmi sepakat bahwa orang yang makan atau minum dengan sengaja ketika shalat wajib, maka dia wajib mengulang shalatnya.”

Begitupula pada shalat sunnah menurut jumhur (mayoritas ulama. Karena apa yang membatalkan shalat wajib, juga membatalkan shalat sunnah.

2.Berbicara dengan sengaja bukan untuk kemaslahatan shalat

Dari Zaid bin Arqam, dia berkata, “Dulu kami berbicara dalam shalat. Seseorang di antara kami bercakap-cakap dengan kawan di sebelahnya yang sedang shalat. Hingga turunlah ayat:

وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

" … Dan berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.’ [Al-Baqarah: 238].

Kami pun diperintah diam dan dilarang berbicara.”

5. Tertawa Ibnul Mundzir rahimahullah menukil ijma’ bahwa tertawa membatalkan shalat.

6. Lewatnya perempuan baligh, keledai, atau anjing hitam di antara orang yang shalat dan tempat sujudnya .

Berdasarkan sabda Rasulullah Saw :

إِذَا قَـامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي، فَإِنَّهُ يَسْتُرُهُ إِذَا كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ. فَإِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ آخِرَةِ الرَّحْلِ فَإِنَّهُ يَقْطَعُ صَلاَتَهُ الْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ وَالْكَلْبُ اْلأَسْوَد

“Jika salah seorang dari kalian shalat, maka dia terbatasi jika di hadapannya terdapat (pembatas) seukuran pelana hewan tunggangan. Jika di hadapannya tidak terdapat (pembatas) seukuran pelana hewan tunggangan, maka shalatnya terputus oleh keledai, wanita, dan anjing hitam."

Hal yang membatalkan shalat menurut Kitab Saffinatunnaja:

1. Berhadats (seperti kencing dan buang air besar).

2. Terkena najis, jika tidak dihilangkan seketika, tanpa dipegang atau diangkat (dengan tangan atau selainnya).

3. Aurat terbuka kecuali bila langsung ditutup.

4. Mengucapkan dua huruf atau satu huruf yang dapat difahami.

5. Mengerjakan sesuatu yang membatalkan puasa dengan sengaja.

6. Makan yang banyak sekalipun lupa.

7. Bergerak dengan tiga gerakan berturut-turut sekalipun lupa.

8. Melompat yang luas.

9. Memukul yang keras.

10. Menambah rukun yang bersifat fi’liyah secara sengaja

11. Mendahului imamnya dengan 2 rukun yang bersifat fi’liyah

12. Tertinggal imam dengan dua rukun yang bersifat fi’liyah tanpa adanya udzur

13. Niat membatalkan dan menggantungkan sholat karena suatu hal (misal, niat jika turun hujan akan membatalkan sholat) dan

14. Mensyaratkan berhenti sholat dengan sesuatu dan ragu dalam memberhentikannya.

Bahasan terakhir kita tentang shalat writer nukil dari sumber online: https://rumaysho.com/22957-manhajus.../diakses1Juni2022

Yaitu tentang Sunnah dalam shalat berdasar mahzab Imam Syafi'i yang terbagi atas Sunnah fi'liyah dan Sunnah qauliyah

1. Sunnah berupa ucapan

1. Doa iftitah

2. Isti’adzah

3. Membaca “aamiin” setelah Alfatihah

4. Membaca surah (selain Al-Fatihah) atau sebagian surah pada tiap rakaat dari rakaat pertama dan kedua, bisa juga dibaca kadang-kadang pada rakaat ketiga dan keempat.

5. Takbir intiqaal (berpindah rukun).

6. Membaca dzikir ketika rukuk dan sujud.

7. Membaca at-tasmii’ (sami’allahu liman hamidah) dan at-tahmid (robbanaa wa lakal hamdu). Hal ini berlaku bagi imam dan makmum sebagaimana jadi pendapat dalam madzhab Syafii.

8. Doa di antara dua sujud dan doa ketika tasyahud seperti berlindung dari empat hal (dari siksa Jahannam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati, serta kejelekan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal).

9. Membaca shalawat ketika tasyahud (awal dan akhir). Dalam madzhab Syafii, dalam tasyahud awal juga disunnahkan membaca shalawat.

10. Salam kedua, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kadang-kadang salam hanya sekali.

Sunnah berupa perbuatan

1. Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, rukuk, bangkit dari rukuk, dan bangkit dari tasyahud awwal.

2. Meletakkan tangan di bawah dada atau perut bagian atas (Bagian antara dada dan perut)

3. Membuka kedua telapak kaki sedikit.

4. Membaca bacaan dengan jahar pada shalat yang diperintahkan untuk jahar, membaca bacaan dengan lirih pada shalat yang diperintahkan untuk lirih.

5. Membaca Alquran dengan tartil, dan berhenti pada setiap ayat.

6. Membaca surah pilihan dari muffashal (ada surah yang panjang dan pendek) pada shalat tertentu, misalnya shalat

7. Shubuh dianjurkan membaca surah thiwalul mufashshal.

8. Memegang lutut dengan telapak tangan, sambil jari tangannya direnggangkan ketika rukuk. Sedangkan punggung dalam keadaan rata dengan kepala, juga menjauhkan lengan dari lambung.

9. Mendahulukan kedua telapak tangan dari lutut ketika turun sujud. Bisa pula sebaliknya yaitu mendahulukan lutut dahulu kemudian telapak tangan sebagaimana pendapat jumhur ulama dari Syafiiyah, Hanafiyah, Hambali.

10. Bangkit dari sujud untuk berdiri dengan bertumpu pada tangan sebagaimana pendapat Malikiyyah, Syafiiyyah, dan sebagian salaf

11.Menjadikan kepala di antara dua telapak tangan ketika sujud dan lengan dibuat terbuka, lalu jari-jari kaki dihadapkan ke arah kiblat. Dilarang kedua lengan iftirasy yaitu menempel pada lantai sebagaimana jadi pendapat empat madzhab.

12. Duduk iq’a’ saat duduk di antara dua sujud (kadang-kadang) dan duduk iftirasy ketika itu, begitu pula duduk iftirasy saat tasyahud awwal.

13. Duduk istirahat setelah sujud kedua sebelum bangkit ke rakaat kedua atau ke rakaat keempat.

14. Meletakkan kedua tangan pada paha pada saat duduk dan saat tasyahud.

15. Duduk tawarruk pada rakaat terakhir.

16. Melihat pada jari telunjuk dan berisyarat dengannya ketika tasyahud.

17. Menoleh ke kanan dan ke kiri saat salam.

18. Salam kedua.

Alhamdulillahirrabbil'alamiin, akhirnya selesai juga bahasan shalat kita. Semoga generasi penerus kita bisa menegakkan shalat dalam keseharian mereka. Shalat adalah tiang agama, salat adalah pesan pengajaran pertama dari Rasulullah yang berbentuk ibadah pembiasaan. Sholat adalat adalah amal utama yang akan dihisab di hari penghitungan. Maka shalat tidak bisa dianggap perkara ringan dan sepele.

Selain ilmu yang dibekalkan, pembiasaan tak kalah pentingnya karena ilmu tanpa amal tak kan berbuah. Sementara amal tanpa ilmu akan menjadi buah tanpa manfaat.

 

Hari Ke-38

 

Sudah dua hari ini Writer tidak melakukan sarapan kata self-challenge. Dengan tekad baja akhirnya Writer berusaha menulis kembali, semoga Allah yang Maha Berkehendak menyampaikan niat ini. Aamiin ya Rabb.

Bahasan kiat melahirkan anak salih yang melebar hingga masalah pendidikan anak. Harap maklum ya Reader, karena memang pada ikhtiar keshalihan anak peran orang tua secara serius harus dititikberatkan. Terutama pada fase golden age, ikatan orang tua dan anak diharap memupuk subur tumbuh kembang anak ada seluruh aspek. Spiritual dengan bekal tauhid, emosional dengan perkenalan anak terhadap nilai-milai baik buruk, benar salah.

Setelah membahas fase golden age, Writer hanya akan mengupas sedikit tentang pendidikan anak di fase remaja dan baligh. Tentu masih dalam sudut pandang Islamic Hypnoparenting.

Rasulullah Saw adalah sosok pendidik terbaik. Interaksi beliau dalam proses pendidikan anak telah melahirkan generasi kuat, berakhlak mulia dan memiliki karakter terpuji. Sebagai Uswatun Hasanah, Rasulullah Saw selalu memberikan contoh terhadap apa yang beliau perkatakan. Perbuatannya mendahului lisannya, beiau selalu lemah lembut dalam teramat berkasih sayang.

Ada dua hadits yang akan diungkap di sini tentang bagaimana rasa belas kasihan Rasulullah Saw. Beliau sering mengungkap rasa kasih sayangnya pada anak-anak, dalam sebuah hadita riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah RA. diriwayatkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سُوقٍ مِنْ أَسْوَاقِ المَدِينَةِ ، فَانْصَرَفَ فَانْصَرَفْتُ ، فَقَالَ : أَيْنَ لُكَعُ - ثَلاَثًا - ادْعُ الحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ . فَقَامَ الحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ يَمْشِي وَفِي عُنُقِهِ (وهو نوع من الطيب الصلب) ونحوه، وليس فيها من اللؤلؤ والجوهر شيء> السِّخَابُ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ هَكَذَا ، فَقَالَ الحَسَنُ بِيَدِهِ هَكَذَا ، فَالْتَزَمَهُ فَقَالَ : اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ ، وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّهُ

“Saya pergi bersama Rasulullah SAW pada suatu waktu di siang hari tetapi dia tidak berbicara dengan saya dan saya tidak berbicara dengannya sampai dia mencapai Pasar Banu Qainuqa`. Dia kembali ke tenda Fatimah dan berkata, “Apakah orang kecil (artinya Al-Hasan) di sana?” Kami mendapat kesan ibunya telah menahannya untuk memandikan dan mendandaninya dan menghiasinya dengan karangan bunga manis.

Tidak banyak waktu yang telah berlalu sampai dia (Al-Hasan) datang berlari hingga keduanya saling berpelukan, kemudian Rasulullah SAW berkata, “Ya Allah, aku mencintainya, cintai dia dan cintai orang yang mencintainya." (HR Muslim)

Rasulullah juga selalu berlemah lembut pada mereka yang masih suci dari dosa. Kisah ini menjadi teladan kelembutan orang tua dalam mendidik anak.

Suatu saat, Rasulullah Saw ditemui oleh seorang perempuan yan bernama Sa'idah binti Jazi. Ia membawa serta anaknya yang masih berusia satu setengah tahun dalam gendongannya. Rasulullah Saw mengambil anak tersebut dan menggendongnya. Tiba-tiba anak itu buang air kecil (mengompol) di pangkuan Rasulullah Saw. Refleks Sa'idah binti Jazi merenggut anak itu dari pangkuan Rasulullah dengan kasar. Rasulullah Saw langsung menasihati Sa'idah. “Dengan satu gayung air bajuku yang terkena najis karena kencing anakmu bisa dibersihkan. Akan tetapi luka hati anakmu karena renggutanmu dari pangkuanku tidak bisa diobati dengan bergayung-gayung air,” ungkap Rasulullah. Ibrah yang bisa diambil dari kisah ini adalah bahwa kita harus bersabar dalam mendidik anak dan menjauhi sikap kasar terhadap mereka. Terutama di usia kurang dari tujuh tahun.

Nah, bagaimana untuk anak usia lebih dari tujuh tahun hingga 14 tahun? Insya Allah kita akan bincangkan bersama.

Pada usia ini, kita perlu menanamkan kediplinan. Pada usia 7-14 tahun, barulah upaya kedisiplinan anak bisa kita bentuk. Pendidikan ketegasan tanpa bentakan. Subhanallah, bisa tidak, ya Reader. Menurut para psiolog dan pakar Islamic Hypnoparenting, bentakan di usia ini bisa berakibat fatal secara psikis. Misalnya dapat mengkbatkn depresi, menghambat pertumbuhan, mengurangi kepercayaan diri, peragu dengan rasa takut salah dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana ketika anak susah diatur, seperti malas mengaji, malas shalat atau melakukan kesalahan dalam urusan agama lainnya? Kita tidak boleh memarahi anak dengan kekerasan atau bentakan, tapi mengingatkan mereka dengan cara yang baik, memberi contoh, mengajak anak berdialog. KOMUNIKASI adalah kunci utama.

1. Kondisikan anak dalam keadaan nyaman, tenang sebelum memberi masukan yang positif.

2. Mudahkan anak memahami hal baik dan buruk dengan perbandingan dengan ilmu yang menguatkan keimanan dan keyakinan. Berikan kepahaman Iman, Islam, Ihsan dan alamatussaah. Nerikut penjabarannya sebagai bekal ilmu fardhu'ain pada anak.

3. Nikmati tiap interaksi dengan anak sebagai bagian pendidikan yang akan menjadi jariah kita hingga akhirat.

4. Katakan kita kasih dan sayang pada mereka bahwa kita harus selamat bersama menghadap Allah SWT.

5. Sikapi tiap hasil mendidik kita dengan doa dan rasa syukur atas capaian anak.

Nah, bagaimana mengekspresikan kemarahan saat anak melakukan kesalahan? Cukup dengan diam dan mita bantun pada pasangan untuk mengomunikasikan pada anak bahwa kita sedang marah. Sampaikan sebab-sebab kemarahan kita hingga anak paha bahwa apa yang dilakukannya dalah kesalahan. Insya Allah ia akan segera minta maaf. Kalaupun mereka tidak minta maaf, pasangan kita akan memberi nasihat dan mengarahkan anak-anak supaya meminta maaf. Apalagi kalau anak-anak responsif dan menanyakan harus bagaimana, orang tua akan dengan mudah meberi saran dan nasihat terbaik.

Kadang manusia dengn segala keterbatasannya hilang kesabaran. Tiba-tiba ingin menumpahkan kemarahan apalagi bila kondisi kita sedang underpressure. Langkah jitu telah diajarkan Rasulullah Saw. Sebagaimana petunjuknya dalam hadits:

1. Dari Abu Ad-Darda’ ra, ia berkata, “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan dalam surga.” Lantas Rasulullah Saw bersabda,

“Jangan engkau marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani)

2. Dari Abu Dzarr ra. Rasulullah Saw bersabda,

“Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud).

3. Dari Athiyyah As-Sa’di ra, Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu Daud.

Jadi, langkah yang harus diambil saat marah adalah:

1. Beristighfar, karena amarah bisa memasukkan kita dalam keadaan salah dan dosa.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 133-134 sebagai berikut:

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ (134)

Artinya: "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."

Bukankah Rasulullah Saw telah bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قال: "لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرُعة، وَلَكِنَّ الشَّدِيدَ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ".

Artinya: "Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Orang yang kuat itu bukanlah karena jago gulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah." (HR Bukhari dan Muslim).

2. Berikan pelukan pada anak dan doakan kebaikan, kendalikan diri dari keinginan membentak dan memarahi

Rasulullah berpesan dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ :أَنَّ الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ أَبْصَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ الْحَسَنَ فَقَالَ إِنَّ لِي عَشْرَةً مِنْ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ وَاحِدًا مِنْهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ. (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah r.a ia berkata : bahwa Aqra’ bin Habis pernah melihat Nabi saw sedang mencium Hasan. Dia (Aqra’ bin Habis) lalu berkata: Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak namun aku tidak pernah mencium satupun dari mereka. Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya barang siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi”. (HR. Muslim)

3. Jika tetap marah, diam lalu duduk. Jika masih marah maka berbaring. Jika masih marah maka berwudhu. Jika masih marah maka shalat dua rakaat.

Sekarang kita akan membahas tentang asupan pendidikan di usia 7-14 tahun ini:

Berbeda dengan usia 0-7 tahun dimana kita perlakukan anak kita sebagaimana raja maka si usia 7-14 tahun kita memperlakukan anak seperti tawanan. Demikian pola pendidikan yang dianjurkan khalifah ke-4, Ali ra.

Tawanan adalah sesorang yang dikenai berbagai aturan kedisiplinan. Artinya kita mulai memperkenalkan berbagai aturan kedisiplinan. Manakah yang merupakan kewajiban dan mana yang merupakan larangan. Sebagai orang tua kita mesti pertindak proporsional tentang hak dan kewajiban anak. Secara bertahp dan tentu sesuai kemampuan, disertai pembiasaan.

Asupan berupa ilmu dan kepahaman terus diberikan, pokok-pokok keimanan mulai diberikan agar kedisiplinan bisa dibagun seiring kepahaman anak. Konsekwensi dari pelanggaran terhadap kewajiban dan larangan

dapat disampaikan.

Dalam hadits pembiasaan shalat telah diungkap dalam bahasan yang telah lampau. Bahwa pemukulan bisa diberikan diusia 10 tahun. Akan tetapi perlu diingat bahwa pukulan diberikan setelah tiga tahun mada pemahaman dan pembiasaan. Pukulan pun bukan tas dasar amarah tapi kasih sayang. Sebelum emukul lakukan hal-hal berikut:

1. Ajak anak menyepi

2. Katakan bahwa memukul karena meninggalkan shalat adalah perintah nabi, bahwa pukulan ini dalam rangka kepatuhan terhadap perintah Allah dam RasulNya

3. Katakan bahwa pukulan ini atas dasar rasa kasih sayang dan ingin menyelamatkan dunia akhirat

"Anakku, Ayah ingin seluruh keluarga kita selamat dunia akhirat. Alla berfirman bahwa shalat akan menolong kita dari kesulitan dnia akhirat. Dan shalat adalah penentu keselamatan kita soalnya shalat yang pertama kali bakalan dihisab dan diperiksa. Jika lulus kita dalam shalat insya Allah lulus untuk pemeriksaan selanjutnya."

4. Ucapkan maaf lalu pukul pada bagian yang aman yaitu pantat dan paha sekira-kira cukup sakit dan memberi efek jera tanpa menciderai.

5. Peluk anak dan doakan untuk keshalihannya, meminta maaf sekali lagi dan katakan:

"Akang sakit? Semoga rasa sakit ini menjadi kifarah dosa akang sudah sengaja meninggalkan perintah shalat dari Allah dan RasulNya. Semoga Akang memilih shalat daripada pukulan Ayah. Insya Allah pukulan Ayah lebih sangat ringan daripada hukuman Allah kelak di akhirat."

Di samping memberi hukuman, kita juga wajib mengapresiasi prestasi:

1. Beri pujian ringan setiap saat anak berbuat baik

2. Bagi hadiah saat anak meraih prestasi secara berkala. Misalnya sepekan berturt-turut selalu shalat maka beri hadiah kesukaannya, misalnya makan di luar bersama keluarga. Mainan yang mendidik dan lain sebagainya.

Tarik nafas dulu, ya Reader, kita akan memasuki tahap ke-3 yaitu usia 14-21 tahun, alias akil baligh.

Perlakuan kita berubah dari memperlakukan tawanan menjadi sahabat. Yaitu membuat mereka nyaman berbagi dengan kita. Terutama berbagi cerita, berbagi kisah untuk meluahkan isi hati. Juga berbagi untuk memecahkan berbagai masalah yang mereka temukan dalam kehidupan ini.

Kita perlu waspada bila pada usia ini justru mereka tertutup. Tidak mau berterus terang dan merahasiakan sesuatu. Ini adalah pertanda bahwa mereka menemui masalah besar atau memang tidak menganggap kita sahabat yang bisa dipercaya.

Bila gejala ini timbul maka perlu melakukan komunikasi kembali untuk tahap ketiga.

1. Kondisikan anak dalam keadaan siap untuk berdikusi tentang berbagai hal yang menjadi konsekwensi masa dewasa. Tentang tanggung jawab, permulaan catatan amal baik dan buruk. Tentang reward dan punishment dari Allah SWT sesuai petunjuk Alquran dan hadits. Pahamkan tentang menghadapi berbagai problematik dalam hidup dan pentingnya kemandirian. Beri bekal ilmu dan amal yang membuat mereka memiliki skill utuk hidup mandiri.

2. Mudahkan anak memahami hal konsekwensi dengan bekal kekuatan iman pada petunjuk Allah dan RasulNya.

3. Nikmati tiap interaksi dengan anak sebagai bagian pendidikan yang akan menjadi jariah kita hingga akhirat.

4. Katakan kita kasih dan sayang pada mereka bahwa kita harus selamat bersama menghadap Allah SWT.

5. Sikapi tiap hasil mendidik kita dengan doa dan rasa syukur atas capaian anak.

Dengan langkah KOMUNIKASI di atas, InsyaAlla anakakan tumbuh dan berkembang dengan baik menjadi pribadi mandiri, menemukan potensi, percaya diri, tanggung jawab dan pemberani. Latihan kemandirian akan membuatnya berdikari dan tidak menggantungkan hidupnya pada orang tua, saudara, teman, sahabat, kerabat ataupu tetangga juga orang lain di luar dirinya.

Saat baligh adalah saat mereka menerima tanggung jawab namun orang tua tetap berperanan. Yaitu mengawasi dari jauh, mendoakan dan tetap menyediakan solusi saat mereka menemukan kesulitan dan permasalahan.

Parenting memang selalu saja menjadi topik menarik dalam kehidupan kita, ya, Reader. Karena ikatan darah yang menjadi Amanah Allah ini adalah ikatan dunia dan akhirat. Ikatan yang tidak akan bisa diputuskan selagi ikatan iman laa ilaha illallah masih mengikat hingga alam keabadian.

Sepertinya bahasan nikah indah tentang parenting Writer cukupkan sampai di sini, ya Reader. Jika ada yang penasaran kenapa parenting tidak include dalam nikah berkah? Ini karena kita perlu sugesti bahwa parenting itu indah seindah saat memadu kasih untuk melahirkan generasi.

 

Hari Ke-39

 

Masya Allah, rasanya belum bisa move on untuk bahasan parenting kita, Ya Reader. Sebelum kita tutup bahasan parenting ada 10 hal yang umum harus dilakukan untuk semua usia. Semoga ini menjadi penguatan untuk semua bahasan kita sebelumnya.

Yuk, kita simak 10 hal untuk semua usia!

1. Mendekat pada Allah melalui shalat, shalawat dan doa.

Sejak awal anak dalam kandungan, mental orang tua mesti siap untuk menerima amanah. Demikian juga saat anak sudah hadir ke dunia, dengan bijak katakanlah,

"Ya Bunayya aku memperbanyak shalat, shalawat dan doa-doa karena kami ingin kau selalu dalam lindungan Allah SWT"

2. Tahan amarah dan dahulukan komunikasi.

Rasulullah Saw pernah menasihati seseorang yang mudah marah:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR Bukhâri].

Nah, dalam mendidik anak, sesulit apapun akan menjadi mudah saat kita terus berdoa dan mendahulukan komunikasi sebelum menumpahkan amarah.

Ajak bicara anak kita, dengarkan kemauannya. Bukan untuk dimanja tetapi untuk membuka pintu komunikasi. Semoga dengan begitu proses pendidikan dan pemahaman anak bisa berjalan lancar.

3. Berlemah lembut terhadap seluruh anggota keluarga.

Jika kelemahlembutan sudah menjadi budaya dalam keluarga maka pancaran kasih sayang akan tampak dengan sendirinya.

Allah SWT berfirman:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِا لْحِكْمَةِ وَا لْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَا دِلْهُمْ بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِا لْمُهْتَدِيْنَ

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk."

(QS. An-Nahl 16: Ayat 125)

Juga dalam ayat berikut ini Allah SWT berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَا نْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَا عْفُ عَنْهُمْ وَا سْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَ مْرِ ۚ فَاِ ذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

"Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal."

(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 159)

Di antara harapan dalam doa yang mesti kita pintakan pada Allah adalah agar kita senantiasa bisa bersabar dan berlemah lembut dalam mendidik anak. Insya Allah kita akan dapati harapan memiliki anak shalih.

4. Mengondisikan suasana yang Islami

Suasana Islamislami bermakna menjadikan Islam sebagai cara hidup, petunjuk hidup, cara hidup. Dan Islam sebagai diinulhayyah mengatur semua hal dalam 24 jam hidup manusia. Meliputi seluruh aspek hidup manusia. Maka ada 5 hukum Islam yang memosisikan tiap perbuatan dalam salah satu di antaranya. Apakan suat perbuatan tergolong wajib sunah, mubah, makruh ataupun haram.

Selaras dengan tujuan hidup manusia segala sesuatu bisa dijadikan ibadah selagi hukum pokoknya bukan perkara haram.

Allah SWT berfirman:

يايُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا قُوْآ اَنْفُسَكُمْ وَ اَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَ اْلحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَّ يَعْصُوْنَ اللهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ. التحريم:6

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6)

Menciptakan suasana Islami adalah salah satu upaya terpenting dalam menjadikan Islam is the way of life. Hingga mendarah daging dalam amalan harian kita.

5. Membiasakan amalan sunnah

Sunnah dengan niat i'tibak pada nabi adalah salah satu bukti kecintaan kita pada Rasulullah Saw. Bila amalan Sunnah ini dibiasakan sejak kecil, insyaAllah akan menjadi jalan keberkahan dan kemudahan hidup kita. Adapun amalan Sunnah yang sebaiknya dikekalkan sesuai nasihat ulama ahli dzikir Allahuyarham Ust. Arifin Ilham adalah sebagai berikut:

1. Salat Tahajjud atau qiyamullail. Menghidupkan malam dengan ibadah shalat Sunnah muakad. Shalat ini menjadi amalan sepanjang hayat Rasulullah Saw. Bahkan sebelum ada perintah shalat wajib lima waktu saat Isra' Mi'raj Nabi.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

"Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (Surah Al-Isra' ayat 79)

2. Tilawatil Qur'an.

Sebaiknya kita mengawali hari dengan tilawah Al-Qur'an. Fadillah dari bacaan Alquran ini adalah:

-menerangi alam kubur pembacanya

-menjadi cahaya di hari berbangkit sebagai tanda cahaya bagi ahlul Qur'an

-dimuliakan Allah dengan memperbaiki bacaan dan menambah hafalan

3. Bersegeralah untuk berjamaah menuju masjid

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw didatangi seorang lelaki buta. Ia berkata, 'Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid. Maka ia meminta kepada Rasulullah untuk memberinya keringanan sehingga bisa salat di rumahnya. Lalu Rasulullah Saw memberinya keringanan tersebut. Namun ketika orang itu berbalik, Beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya, "Apakah engkau mendengar panggilan shalat?' Ia menjawab, "Ya". Beliau bersabda, "Maka penuhilah panggilan azan tersebut."

"Barang siapa yang salat Isya berjamaah maka seolah-olah dia telah salat selama separuh malam. Dan barang siapa yang salat subuh berjamaah, maka seolah-olah dia telah salat seluruh malamnya."

Kedua hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dalam hadits lain Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak." (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Salat Dhuha.

Waktu Dhuha adalah sekitar 10 menit setelah shalat Israk atau setelah matahari naik sepenggalah hingga jelang Dzuhur. Sementara Shalat Israk sekira-kira 10 menit setelah terbit matahari. Jadi Dhuha sekira-kira 20 menit setelah terbit matahari hingga sekitar 10 menit sebelum Zuhur. Perlu diperhatikan untuk tidak shalat ketika matahari tepat di atas kepala.

Keutamaan shalat Dhuha:

-mengganti sedekah untuk tiap persendian yang jumlahnya hingga 360

-amalan untuk kelapangan rezeki

5. Berinfak dan sedekah.

Allah Ta'ala berfirman:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

"Dan infaqkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu. Lalu dia berkata (menyesali), 'Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh'. (Surah Al-Munafiqun ayat 10)

Membiasakan sedekah bisa dilakukan tiap pagi selepas shalat Subuh berjamaah. Atau dapat juga dengan mengisi wadah khusus sedekah harian.

6. Menjaga wudhu

Berwudhu dengan menjaga adabnya akan membuat wudhu kita sempurna.

Dari 'Abdullah bin 'Amr, ia berkata, "Kami pernah tertinggal dari Rasulullah Saw dalam suatu safar. Kami lalu menyusul Beliau dan Ketinggalan salat yaitu salat Ashar. Kami berwudhu sampai bagian kaki hanya diusap (tidak dibasuh). Lalu Nabi memanggil dengan suara keras dan berkata, "Celakalah tumit-tumit dari api neraka." Beliau menyebut dua atau tiga kali." (HR. Bukhari dan Muslim)

Diantara adab berwudhu adalah membasuh tangan sebelum berwudhu.

Rasulullah Saw bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka jangan mencelupkan tangannya ke dalam bejana sebelum ia mencucinya tiga kali. Karena ia tidak mengetahui di mana letak tangannya semalam." (HR Bukhari, Muslim)

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sabda Rasulullah Saw, "Siapa yang berwudhu dengan memperbagus wudhunya lalu ia mengucapkan: ' Asyhadu Allaa Ilaaha Ilallaah Wahdahu Laa Syarikalah Wa Asyhadu Anaa Muhammadan 'Abduhu Wa Rasuluh. Allaahummaj’alnii Minattawwaabiina Waj'’alnii Minal Mutathahhiriin ' (Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang bertaubat dan jadikanlah aku sebagai orang yang bersuci), dengan ia Membacanya melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga, ia akan masuk lewat pintu mana saja yang ia mau)." (HR. Tirmidzi)

7. Istighfar

Rasulullah SAW tidak pernah kurang dari 100 kali beristighfar dalam sehari padahal Rasulullah Maksum dan dijamin memasuki syurga tertinggi. Ini karena Rasulullah Saw sedang memberi contoh pada kita selaku umatnya. Sekaligus ekspresi penghambaan dari ciptaan terindah, Khairulkhalqillah dan khairulbariyyah.

Lafaz istighfar ada 3:

1. Lafaz Astaghfirullaah

أَسْتَغْفِرُ الله

2. Lafaz " Subhaanallaahu wa Bihamdihi Astaghfirullaah wa Atubu Ilaih "

سُبْحَانَ اللهُ وَبِحَمْدِهِ، أَسْتَغْفِرُالله وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

3. Lafaz terlengkap adalah Sayyidul Istighfar .

اللهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ، لآ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ لَكَ بِذَنْبِيْ، فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

" Ya Allah Engkaulah Tuhan-ku. Tiada Tuhan уаng berhak diibadahi ԁеngаn benar ѕеӏаіn Engkau. Engkau yаng tеӏаһ menciptakanku, ԁаn aku аԁаӏаһ Hamba-Mu. Aku аkаn mеnјаgа janji-Mu sebaik уаng aku mampu. Aku berlindung kepada-Mu ԁагі keburukan segala уаng aku perbuat. Aku kеmbаӏі kepada-Mu ԁеngаn (mengakui) segala nikmat-Mu kepadaku. Dаn akupun kеmbаӏі kepada-Mu ԁеngаn (mengakui) sеmuа dosaku. Maka ampunilah aku. Kагеnа sesungguhnya tiada уаng bіѕа mengampuni dosa-dosa ѕеӏаіn һаnуа Engkau ".

8. Banyak doa dan berzikir terutama di saat sujud, sedanfkan zikir terbaik adalah lafaz Al Qur'an.

Rasulullah Saw bersabda: "Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah berdoa saat itu." (HR. Muslim)

Dzikir terbaik adalah bacaan Al-Qur'an. Berikut ini ayat-ayat dzikir yang bisa kita himpun dan amalkan:

* Surat Al Hasyr ayat 21-24 dengan dibaca saat anak tidur dan ditiupkan pada ubun-ubun anak-anak

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰ نَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَ يْتَهٗ خَا شِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗ وَتِلْكَ الْاَ مْثَا لُ نَضْرِبُهَا لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir."

هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَا لشَّهَا دَةِ ۚ هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ

"Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang."

هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَـبَّا رُ الْمُتَكَبِّرُ ۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

"Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Maha Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan."

هُوَ اللّٰهُ الْخَـالِـقُ الْبَا رِئُ الْمُصَوِّرُ لَـهُ الْاَ سْمَآءُ الْحُسْنٰى ۗ يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

"Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana."

(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 24)

* Surat Al Iklhas, Al Falaq dan Annas tiupkan pada tangan dan usapkan ke seluruh tubuhnya.

* Surat Thaha ayat 1-5 ditiup bersama hirupan nafas anak.

طٰهٰ

"Thaha."

مَاۤ اَنْزَلْـنَا عَلَيْكَ الْـقُرْاٰ نَ لِتَشْقٰۤى

"Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah;"

اِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى

"melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),"

تَنْزِيْلًا مِّمَّنْ خَلَقَ الْاَ رْضَ وَا لسَّمٰوٰتِ الْعُلٰى

"diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi,"

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى

"(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas 'Arsy."

6. Menyikapi kesulitan dengan penuh kesabaran.

Kesabaran tanda keikhlasan dalam beramal. Sehingga sabar juga kunci menjadi kunci diterimanya ibadah. Dalam mendidik anak kadang kita dihadapi berbagai kesulitan dalam membantu tumbuh kembang mereka. Saat terasa lelah, surat cintaNya adalah hiburan penyemangat.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَا لْمَلٰٓئِکَةِ وَا لْكِتٰبِ وَا لنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰ تَى الْمَا لَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَا لْمَسٰكِيْنَ وَا بْنَ السَّبِيْلِ ۙ وَا لسَّآئِلِيْنَ وَفِى الرِّقَا بِ ۚ وَاَ قَا مَ الصَّلٰوةَ وَاٰ تَى الزَّکٰوةَ ۚ وَا لْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عٰهَدُوْا ۚ وَا لصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ ۗ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 177)

Juga firmanNya dalam Al Qur'an surat Annahl ayat 96

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ بَا قٍ ۗ وَلَـنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْۤا اَجْرَهُمْ بِاَ حْسَنِ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ

"Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."

(QS. An-Nahl 16: Ayat 96)

7. Memberlakukan reward (untuk semua usia) dan punishment (antara 7-14 tahun)

Reward di sini mulai dari pujian yang menyenangkan hingga hal yang bersesuaian dengan keinginan buah hati.

Sementara itu, hukuman bersifat memberikn efek jera agar tidak mengulangi lagi. Kangan sampai anak justru memilih dihukum karena saking ringannya hukuman. Atau mungkin merasa ebih memilih dihukum daripada berbuat kebaikan.

9. Jangan pernah bertindak dan bersikap kasar

Dalam bahasan terdahulu kita pernah embahas seorang ibu yang merenggut anaknya dengan kasar. Siapa namanya, ya Reader? Betul sekali, Sa'idah binti Jazi. Rasulullah Saw menegurnya untuk tidak melukai hati anak. Karena luka hati tak bisa dibasuh dengan berulang kali siraman air.

10. Tidak berlebihan memanjakan anak

Di antara memanjakan anak adalah selalu memenuhi permintaan anak. Sehingga terkesan kita terlalu menuruti keinginan mereka. Biasanya penyebab mengalahnya orang tua:

1. Perasaan bahwa memenuhi keinginan bagian dari kewajiban dan prestasi

2. Sayang berlebihan tak kuat melihat anak menangis dan merengek

3. Merasa malu dengan rengekan anak di tempat umum, gengsi bila dianggap tidak mampu memenuhi keinginan anak

4. Merasa mampu dan tak perlu menolak keinginan anak.

Efek negatif selalu menuruti keinginan anak:

1. Muncul rasa jumawa diri anak berada di atas orang tua dalam hal pengutamaan kehendak

2. Membuat anak sulit diatur karena merasa bisa mengendalikan orang tua

3. Menurunkan nilai kemandirian dengan selalu meminta.

Selanjutnya kita akan membahas hal terpenting khusus seputar upaya menanamkan nilai tauhid. Sejatinya nilai ini menjadi bagin awal dan terpenting pendidikan. Mengatasi kemampuan anak dalam membaca Alquran, fiqih praktis dan penerapan akhlak. Hanya saja satu sama lain bukan untuk dipisah-pisahkan karena kehidupn bergulir utuh. Anak bisa diberi asupan kebaikan sebanyak mungkin dengan contoh-contoh dan interaksi inderawi, yaitu melihat, mendengar, meraba, merasa dan mencium.

Inilah yang membuat Islam memiliki generasi terhebat di kurun Rasulullah Saw atau 100 tahun generasi awal. Mereka menjadi generasi terbaik karena keimanannya tumbuh sebagai hasil didikan dan keteladanan Rasulullah Saw.

Pendidikan tauhid perlu dikhususkan saat daya nalarnya berkembang, afidahnya berfungsi di fase kedua golden age.

Sepuluh perkara tauhid mendasar yang perlu ditanamkan:

1. Tanamkan pada diri anak bahwa ia hanyalah Hamba Allah. Dicipta dan ditiupkan ruh kita ke dalam jasad di dalam rahim ibu. Dialah yang berkuasa menempatkan kita di mana saja, pada siapa saja mengamanahkan ruh kita ini.

Ajaklah ia merenung bila ruh kita ditiupkan pada wanita musyrik di negeri yang jauh maka kita akan berada di sana dengan keluarga yang tida mengenal Tuhan yang sebena dn berhak disembah.

Ajarkan mereka untuk mensyukuri bahwa sampai saat ini mereka mengenal Allah melalui bimbingan kedua orang tuanya.

Nilai kesyukuran dan kerendahan hati kita pupuk dari sini. Insya Allah anak-anak akan dapat menanggalkan kesombongan dari hati dan jiwanya.

2. Tanamkan rasa bahwa segala yang ada adalah milik Allah semata. Dialah Pemilik segalanya.

Ajaklah anak untuk melihat bayi yang baru lahir ke dunia. Tanpa nama, tanpa busana. Semua Allah yang sediakan melalui perantaraan kedua orang tuanya.

Ajak serta anak dalam takziah orang yang meninggal. Bantu anak untuk merenungkan, apa yang dibawa oleh mayat ke ling lahat. Tidak ada selain hanya kain pembungkus jasad. Semua terlepas dari kepemilikan bahkan orang-orang terdekat, harta benda yang dicintai telah ditinggalkannya dan meninggalkannya.

Kesadaran ini akan membuat anak paham kuasa Allah dan kelemhan diri. Sekeras apapun hatnya akan melunak dengan kepahaman ini. Saatnya menanamkan cinta akhirat lebih di atas cinta pada dunia.

3. Tanamkan anak untuk cinta sedekah. Ajari tentang keinginan mereka yang telah berada di alam barzah adalah kembali ke dunia untuk bersedekah.

Sedekah disini dalam arti yang luas tentunya, yaitu berbuat kebaikan meskipyn hanya sebiji sawi.

4. Tanamkan tentang lima alam perjalanan manusia, yaitu:

* alam ruh saat Allah menciptakan jwa dari cahaya dari sisiNya kemudian diambil persaksian bahwa kita mengakui Allah sebagai Tuhan kita Rabb kita

* alam rahim saat ruh ditiupkan pada janin dalam rahim ibu kita

* alam dunia saat jasad dan ruh telah siap hidup terpisah dari jasad dan jiwa ibu. Saat kita menerima pendengaran, pengelihatn dan hati. Saat kita mengemban amanah menjadi hamba yang beribada pada Allah dan khalifah di muka bumi. Untuk mengelola bumi di atas petunjuk Allah SWT dan RasulNya.

* alam barzakh saat kita menanti hari berbangkit dengan berbagai kisahnya masing-masing. Dalam nikmat kubur atau siksaannya. Seperti orang tidur terlelap sambil melihat bayangan syurga buah amalan dan rahmatNya, berteman amal yng menjelma rupawan dengan wewangian dan cahaya terang benderang. Atau tersiksa dengan deraan, teman yang bau dan buruk rupa serta tempat yang sempit gelap gulita. Memandangi bayangan neraka dengan ketakutan yang menyiksa.

*alam akhirat saat dibangkitkan hidup kembali:

-yaumul ba,ats hari dibangkitkan, semua anak adam tumbuh dengan jasad baru sesuai amalannya. Yang pertama dibangkitkan adalah Rasulullah Saw dan beliau memanggil ummatnya, "ummatii...ummatii...ummatii..." persis saat beliau diwafatkan. Kalimat penuh cinta kasih itu beliau ucap karena khawatir atas keselamatan ummatnya.

- yaumul mahsyar, saat pengumpulan seluruh bani Adam dalam satu tempat yang amat luas dan matahari sejengkal di atas kita. Panas terik luar biasa yang tiada satupun naungan kecuali naunganNya. Hari-hari begitu lama, manusia menunggu hisab yang tak kunjung dimulai. Semua manusi gelisah mencari perlindungan dan safaat. Ingin hisab segera dilakukan. Tiada satupun nabi sanggup memohonkan dipercepatnya hisab. Lalu manusia meminta pada Rasulullah untuk meohon pada Allah agar segera melaksanakan perhitungan amal. Saat itu Rasulullah bersujud dengan pepujian yang teramat indah, merayu pada Allah dengan doa terindah yang belum pernah ada doa seindah doa itu di dunia. Maka dikabulkanlah doa Rasulullah, Allah menyuruh baginda Rasulullah Saw bangkit dari sujudnya.

-yaumul hisab, saat amal dihitung banyak atau sedikit, catatan amal diperiksa. Perbuatan baik dan buruk dari sejak akil baligh hingga mau menjemput dipertontonkan. Tidak ada yang bisa mengelak hingga rasa malu menggugurkan kulit wajah manusia berdosa. Malu luar biasa karena apa yang disebunyikan dipertontonkan pada seluruh umat manusia. Kecuali Allah tutupi aibnya di akhirat, yaitu mereka yang:

Memohon ampun dengan taubat nasuha kemudian Allah mengampuninya

Menutupi aib saudaranya

-yaumulmizan, saat amalan ditimbang berdasarkan kualitasnya. Manakah amal yang diterima dengan bobot yang besar. Diantara amalan yang dianggap berkualitas adalah: ^amalan yang diterima setelah menempuh lima syarat jadi ibadah. Masih ingat, ya Reader? Biar mudah buat ingat kita buat akronimnya: "nibuham tiasya nama". Niat ikhlas, perkara bukan haram dan makruh, tidak meninggalkan ibadah azas, cara sesuai syariat, natijahnya maslahat

^amalan istiqamah walaupun sedikit

-yaumussirath, saat melewati titian serambut dibelah tujuh, jalan ini menjadi saringan antara orang munafik dan orang yang beriman

Allah dan RasulNya memberi petunjuk melalui Al Quran dan Al Hadits sebagai berikut:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَى عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُؤْمِنَةٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنا فَلا يَذْكُرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا

“Allah akan memanggil umat manusia di akhirat nanti dengan nama-nama mereka ada tirai penghalang dari-Nya. Adapun di atas jembatan Allah memberikan cahaya kepada setiap orang beriman dan orang munafiq. Bila mereka telah berada di tengah jembatan, Allah-pun segera merampas cahaya orang-orang munafiq. Mereka menyeru kepada orang-orang beriman: ”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kamu.” (QS Al-Hadid ayat 13)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْۤا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًا ۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَـكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ ۙ يَوْمَ لَا يُخْزِى اللّٰهُ النَّبِيَّ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ ۚ نُوْرُهُمْ يَسْعٰى بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَ يْمَا نِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَاۤ اَ تْمِمْ لَـنَا نُوْرَنَا وَا غْفِرْ لَـنَا ۚ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.""

(QS. At-Tahrim 66: Ayat 😎

"Ketika itulah setiap orang tidak akan ingat orang lain.” (HR. Thabrani)

Ada amalan yang akan menyelamatkan kita dari tergelincir di jembatan shirath dengan rahmatNya:

1. Bertaubat dengan taubatannasuha (Qs Attahrim ayat 😎

2. Menunaikan shalat berjamaah di masjid dalam keadaan gelap di perjalanan

بَشِّرْ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan menuju masjid-masjid dalam kegelapan dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR. Ibnu Majah)

3. Menyelamatkan orang-orang beriman dari gangguan kaum munafik.

مَنْ حَمَى مُؤْمِنًا مِنْ مُنَافِقٍ أُرَاهُ قَالَ بَعَثَ اللَّهُ مَلَكًا يَحْمِيلَحْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ وَمَنْ رَمَى مُسْلِمًا بِشَيْءٍ يُرِيدُشَيْنَهُ بِهِ حَبَسَهُ اللَّهُ عَلَى جِسْرِ جَهَنَّمَ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ

“Barangsiapa melindungi seorang Mukmin dari kejahatan orang Munafik, Allah akan mengutus malaikat untuk melindungi daging orang itu –pada hari Kiamat– dari neraka jahannam. Barangsiapa menuduh seorang Muslim dengan tujuan ingin mencemarkannya, maka Allah akan menahannya di atas jembatan neraka jahannam hingga orang itu dibersihkan dari dosa perkataan buruknya.” (HR. Abu Dawud )

5. Tanamkan kecintaan dan keyakinan atas kebenaran Alquran. Kenalkan pada anak, apa itu Alquran. Pahamkan bahwa Alquran adalah petunjuk hidup dunia akhirat

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam surah Albaqarah ayat 2-5:

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ

"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,"

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِا لْغَيْبِ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

"(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,"

وَا لَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَاۤ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِا لْاٰ خِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ

"dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat."

اُولٰٓئِكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

"Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung"

Empat ayat ini memberi petunjuk bahwa:

^Alquran adalah kitab yang nilai kebenarannya mutlak

^Alquran adalah petuntuk untuk meraih ketakwaan

^Alquran adalah petunjuk untuk beriman pada yang ghaib, untuk mendirikan shalat, untuk menginfakkan sebagian rezeki

^Alquran adalah kitab yang diturunkan pada Rasulullah Muhammad Saw sebagai penyempurna dan pembeda dari kitab terdahulu yang telah mengalami pengubahan oleh orang fasik lagi melampaui batas

^Alquran memberitakan pada manuaia untuk beriman pada hari akhirat

^Alquran memberi petunjuk agar manusia memperoleh keberuntungan

6. Tanamkan bahwa rezeki adalah milik Sang Pencipta yang Mahamemberi Rezeki. Asma Allah diantaranya adalah Arrazaq maka memintalah rezeki padaNya dengan menyebut Yaa Razaq.

Hal ini untuk menanamkan:

^rasa syukur pada Pencipta

^rasa bergantung hanya padaNya

^rasa terimakasih pada sesama manusia tanpa merasa terjajah dengan hutang budi

^ingin berbalas jasa dengan rasa merdeka sebagai hamba yang hanya meminta padaNya

7. Tanamkan rasa bertanggug jawab. Bebani dengan tugas yang bersesuaian dengan ilmu dan perkembangan umurnya. Bantu mereka untuk bisa menyelesaikan tugas dengan lapang hati, suka cita tanpa rasa beban yang melelahkan.

8. Tanamkan pembiasaan ibadah sebagai bagian dari tujuan manusia dihidupkan yaitu untuk beribadah pada Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."

(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

Juga untuk menjadi khalifah yang mengurus bumi sebagai wakil Allah yang tentu bersesuaian dengan petunjuk dan kehendak Allah. Bukan sekehendak nafsu dan bimbingan syaithan.

وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.""

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)

Disinilah pada anak ditanamkan niat apapun adalah dalam rangka ketaatan seorang hamba dengan menempuh "nibuham tiasya nama"

9. Tanamkan cinta pada keluarga. Tumbuhkan rasa bahwa keluarga adalah harta sangat berharga. Beban melekat pada keluarga adaah "kuu anfusakum wa ahlikum naaraa". Perintah yang harus dijalani tanpa kompromi.

Rasa yang dipupuk disini adalah:

^kasih sayang dalam keluarga

^saling peduli untuk selamat bersama hingga syurga Allah SWT

^melantakkan sangka buruk atas kebencian

^menumbuhkan baik sangka atas dasar kasih sayang

^sakinah mawaddah warahah pada masing-masing anggota keluarga

10. Tanamkan rasa bahwa tiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Tiap kepemilikan akan berakhir dengan kehilangan karena semua adalah titipan. Hanya jiwa yang kekal abadi akan melanjutkan perjalanan hingga perjumpaan dengan Allah SWT. Maka saling doa adalah pengikatnya.

Biasakan untuk saling mendoakan. Saat masih bersama di alam dunia atau telah memasuki barzakh dan melanjutkan dua alam berikutnya.

Rasanya sudah tidak sabar ya Reader untuk pernikahan indah dengan bahasan agar seindah malam pertama. Semoga sarkat berikutnya kita bisa ungkap dengan koridor syariat, ya Reader. Biar menjadi jalan ibadah buat W&R (jangan lupa bacanya We're).

 

Hari Ke 40

 

Sarkat hari kemarin benar-benar menguras enegi, ya Reader. Bayangkan, tiga jam nonstop Writer mengotak-atik ide. Meramu dari beberapa sumber akhirnya lebih dari tiga ribu kata. Semoga berkah manfaat.

Waktu bahasan nikah indah, kita pernah bahas hal yang mungkin bagi sebagian orang dianggap tabu tapi sebenarnya dalam Islam selagi apa yang kita bahas bukan hal dosa, tetap diperbolehkan, ya Reader. Artinya dalam koridor syariat. Buktinya para ulama menuliskan berbagai pernak-pernik nikah dan rumah tangga pada buku-buku mereka.

Untuk bahasan Agar Seindah Malam Pertama kita akan menyamakan persepsi dulu, nih, apakah malam pertama selalu indah. Dan bagaimana menyikapi berbagai kejutan malam pertama bahkan seandainya malam pertama tidak seindah harapan dan impian, apa yang seharusnya kita kelola pada perasaan pengantin baru. Yuk, kita cermati dulu kejutan-kejutan malam pertama.

Berikut ini hal-hal yang perlu diketahui mukalaf( yang sudah baligh dan dibebani kewajiban agama) tentang malam pertama. Apalagi buat mereka yang akan memasuki gerbang rumah tangga. Pengetahuan dan kesiapan mental seperti apa yang harus dimiliki?

1. Selalu mendahulukan adab bersebadan. Wudhu shalat taubat sholat zifaf, niat lillah bermain cinta, tidak bertelanjang atau bertelanjang di bawah selimut, melakukan mukadimah, warming up, kegiatan inti dan relahsasi dan penutup dengan. Selalu mengiringi dengan doa pada tiap sesinya.

2. Siapkan mental dan persepsi kita terhadap hubungan bersebadan. Sejauh apa yang kita lakukan sehat secara kedokteran dan halal secara syariat, maka bersebadan adalah satu kelumrahan. Sesuai dengan fitrah bahwa menyalurkan hasrat seksual pada yang halal adalah bagian dari ibadah dan berpahala. Nikmat sekaligus berpahala, itulah ibadah nikah.

3. Malam pertama tidak seharusnya menjadi beban target bagi pengantin baru untuk meraih malam puncak cinta. Target yang menimbulkan stress justru tidak sehat bagi pasutri dan bisa menghambat capaian lain yang lebih utama. Berhasil tidaknya puncak asmara di malam pertama tidak ada kaitannya sama sekali dengan prestasi berumah tangga.

Jadi lebih baik mempersiapkan dua opsi untuk malam pertama kita. Yang pertama meraih puncak dengan cara terbaik, yang kedua menikmati kebersamaan untuk saling menjajaki kenyamanan kedua belah pihak. Artinya, kebersamaan yang menentramkan adalah hal yang lebih utama dan membahagiakan kedua belah pihak.

Pesta seharian bisa jadi menguras tenaga dan melelahkan, maka menunda puncak asmara di malam-malam berikutnya tidak ada salahnya. Bahkan mungkin lebih maslahat. Malam pertama cukup diisi dengan bermesraan, beristirahat dengan saling berpelukan dengan busana yang minimalis.

Segala sesuatu yang alami akan lebih indah untuk dinikmati daripada sesuatu yang dipaksakan. Rileks setelah walimah justru akan memperbaiki persebadanan di hari-hari berikutnya.

4. Pada perawan ada selaput dara yang menjadi tanda kesucian. Suami hendaklah berhati-hati saat melakukan penetrasi. Sangat mungkin akan timbul rasa sakit karena sobeknya selaput dara dan juga oleh tekanan. Rasa sakit ini variatif pada masing-masing wanita. Tetapi jangan khawatir karena rasa sakit ini akan terimbangi dengan rasa nikmat danenyenangkan dari bersebadan.

Seandainya istri mengalami rasa sakit berlebihan, sebaiknya hentikan dulu penetrasi. Istirahat sejenak dan temukan cara untuk proses lubrikasi (persiapan faraz dalam menerima penetrasi dengan keluarnya pelumas alami dari faraz perempuan). Lubrikasi akan maksimal jika pemanasan dilakukan berulang-ulang. Saat peluumas cukup faraz akan lebih rileks dan nyaman. Tanda rangsangan maksimum akan timbul rasa hangat dan tarikan dari dalam untuk segera menerima penetrasi.

5. Pendarahan pertama. Kebanyakan perempuan akan mengalami pendarahan karena pecah dara. Kondisi selaput keperawanan yang berbeda akan membuat tumpah darah yang berbeda pula. Hanya sedikit wanita yang terlahir tanpa selaput dara. Atau dalam beberapa kasus perempuan mengalami pecah dara karena kecelakaan, jatuh yang serius dan menciderai faraz.

Pendarahan yang disebabkan oleh robeknya jaringan dalam vagina. Jika terjadi pendarahan yang serius maka jangan memaksa terus melakukan persebadanan hingga mencapai orgasme. Berhenti lalu bisa berkonsultasi atau melakukan pemeriksaan terhadap selaput dara.

Jadi jangan kecewa bila saat persebadanan pertama ini tidak mengakibatkan pendarahan karena pecah dara. Hindari dari menuduh dan meragukan keperawanan pasangan karena apapun kisah yang pernah dialami pasangan seharusnya ditutup untuk mulai dari kini dan sekarang.

Sekali lagi pahami lebih dalam tentang selaput dara karena ini bisa menjadi awal ketidakharmonisan bila tak cepat segera dipahami dan diantisipasi. Tiap wanita memiliki jaringan himen yang berbada-beda. Ada yang tebal ada yang tipis. Ada yang aus beriring jalannya waktu. Ada juga yang jumlah pembuluh darahnya tidak terlalu banyak ada yang sangat banyak. Peristiwa masa lalu juga bisa membuatnya sobek karena aktivitas fisik, olah raga berat dan lain-lain. Jadi simpan dulu rasa curiga tentang ketidakperawanan. Apalagi jika hal ini dikaitkan dengan pengalaman seksual istri di masa lalu. Sepertinya kurang adil untuk memfonis secara sepihak.

Terus terang, Writer juga termasuk perawan yang tidak mengalami pecah dara di malam pertama. Padahal rasa sakit itu ada saat pengalaman bersebadan pertama. Tapi entah mengapa tidak ada pendarahan sama sekali. Pengertian seorang suami yang tulus menerima adalah anugerah yang luar biasa.

6. Selalu mengawali pengamalan bersebadan dengan warming up atau foreplay (mencium, mendekap, menjilat, mengecup bagian sensitif, meniup bagian sensitif) akan memberi sensasi yang indah untuk menuju puncak hasrat.

Keenam, jangan lewati foreplay (mencium, mendekap, memeluk, meniup-niup telinga istri).

Makin banyak aktivitas foreplay sebelum inti penetrasi maka semakin mudah untuk mencapai orgasme. Saat hasrat memuncak biasanya keduanya akan saling mendesak untuk melakukan inti hubungan intim.

Jadi, jangan lakukan inti hubungan sebelum warming up karena akan menyakiti salah satu pasangan yang belum siap kegiatan penetrasi.

7. Kadang pelumas di faraz istri tidak segera terproduksi dan membuat semuanya lebih baik dan nikmat, maka lakukan pelumasan buatan dari zat berbahan dasar air atau silikon. Bahan ini bisa didapat di apotik atau secara online. Baca aturan pakainya.

8. Perbaiki persepsi kita tentang orgasme. Bahwa tidak sepantasnya mencapai puncak asmara selalu menjadi tujuan utama. Saling memadu kasih, membagi kenikmatan dengan rabaan, gerakan, sentuhan, kecupan, jilatan, tiupan nafas adalah pengalaman yang menyenangkan. Terus belajar dan mengeksplorasi apa yang disukai dan tidak disukai pasangan juga menjadi jalan memberi nafkah batin yang tepat untuk pasangan.

Puncak mungkin hanya beberapa menit saja tapi permainan cinta yang menjadi ibadah bisa seratus kali lebih lama dari puncak yang kita cari sensasi rasanya

9. Pada pria umumnya akan mengalami puncak asmara yang lebih cepat. Sementara wanita lebih lambat maka wanita harus berterus terang tentang gerakan, posisi dan perilaku terindah yang dirasakan saat berhubungan. Tidak perlu malu berterus terang agar sama-sama tahu seiring sejalan meraih puncak bahagia.

Hai ini ditandai dengan tarikan dari dalam untuk meremas dengan gerakan refleks dan terkuat. Sampai-sampai denyutan itu terasa oleh zakar suami. Saat bersamaan suami seharusnya langsung merespon dan menambah tekanan agar bisa merasakan puncaknya secara bersamaan.

Maka bagi para suami pandai-pandailah dalam mengendalikan diri. Rasa kasih dan peduli bahwa kewajiban memberi nafkah batin adalah tanggung jawab bersama akan lebih menimbulkan keinginan serius memberi puncak kenikmatan pada pasangan.

10. Bisa jadi seseorang memiliki gangguan syaraf sehingga sulit berereksi. Jangan merasa bahwa hal ini suatu aib, cacat atau rusak. Cari upaya dan jalan keluar bersama. Bukan menjadi alasan untuk segera mengakhirinya dengan perpisahan.

Bila permasalahan agak serius dan terjadi dalam jangka lama, bincangkan dengan istri seandainya ia mau meraih kepuasan dengan artificial seks. Saat ini banyak dijual alat tiruan untuk memuaskan wanita. Dengan catatan, upayya pengobatan terus dilakukan.

Ada beberapa penyebab disfungi ereksi antara lain:

^efek samping obat-obatan

^gaya hidup tidak sehat seperti merokok, narkoba, onani berlebihan

^proses penuaan

^gangguan psikologis

^cedera

^penyakit tertentu: gangguan hormon, diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan otot panggul dll

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk disfungsi ereksi dan ejakulasi dini:

*Berolah raga teratur tidak kurang dari 30 menit perhari, senam kegel dan olah raga yang mengencangkan otot pinggul dan kemaluan.

*Melakukan hubungan seks yang halal, baik dan sehat pada pasangan yang syah

*Menjaga berat badan ideal hindari obesitas

*Mengatur pola makan sehat dan seimbang

*Menjaga kesehatan hati agar selalu lapang, bahagia, tenang, lakukan hypnotherapy untuk relaksasi dan self healing

*Menghindari pola hidup serampangan seperti konsumsi rokok, alkohol dan narkoba

*Tidak menghisap bebauan yang menimbulkan kecanduan

*Menghindari jamu dan obat yang menimbulkan ketergantungan

*Berkomunikasi dengan pasangan tentang apapun problem seksual yang dialami masing-masing.

*Mengatur cara berhubungan agar tidak mempercepat ejakulasi, ubah cara on top dengan posisi on ground

*Memakai kondom jika zakar terlalu sensitif

11. Pengalaman bersebadan adalah bersifat khas pada masing-masing pasangan. Jangan pernah menganggap bahwa apa yang dilihat didengar tentang persebadanan adalah pembanding dari pengalaman kita. Berobsesi dari apa yang dilihat dan didengar tentang persebadanan akan membuat kita tidak puas dan kecewa terhadap pasangan. Semoga Allah menjaga mata, pengelihatan, pendengaran dan hati kita dari pengalaman persebadanan yang disajikan tanpa batasan syariat. Pornografi dan pornoaksi yang ditayangkan hanya akan menggelapkan kita dari cahaya.

Oleh karena itu, pilihlah pengalaman bersebadan hanya dari pasangan saat sudah halal. Bekal pendidikan seks bida didapat dari buku-buku para ulama atau seksiologi yang bermarojikan kitab para ulama yang diungkap secara syar'i. Termasuk buku yang ada di hadapan Reader semuanya, Insya Allah.

jadi, hadapi, eksplorasi, lakukan, nikmati, syukuri, evaluasi, ulangi. Demikian seterusnya hingga hubungan badan tidak pernah mencapai kejenuhan. Selalu ada pengalaman baru dan kenikmatan yang berulang tidak menjemukan tiap melakukan ibadah murah mudah indah berkah ini.

12. Komunikasi menjadi kekhasan manusia dibanding makhluk lain. Perlu perbincangan serius tentang keluarga terencana. Tentang kapan siap memiliki momongan, bagaimana mempersiapkan pendidikan anak. Hal ini bisa dilakukan saat ta'aruf untuk memahami visi Missi masing-masing. Juga tentang malam pertama bisa dipersiapkan saat ta'aruf lanjutan selepas khitbah. Tentu dengan bahasa yang santun.

13. Bila persebadanan tak sesuai harapan dan impian, tidak perlu kecewa dan khawatir karena permainan selanjutnya bisa jadi lebih indah dari pengalaman malam pertama. Tetap bersyukur atas capaian apapun agar Allah SWT menambah lagi kenikmatan buat keluarga kita.

Apapun yang didapat dari pengalaman malam pertama, selalulah bersyukur. Lepaskan diri dari pikiran negatif yang tidak seharusnya meretakkan keharmonisan. Letakkan janji setia menjadi alasan untuk terus bertahan. Tekad mendayung biduk rumah tangga hingga saat perjumpaan dengannya.

Bagaimana, nih, Reader? Apakah malam pertama selalu seindah dongeng asmara? Sepertinya malam pertama buat pasutri ada beragam situasi dan kondisi.

1. Pasangan terlalu lelah setelah seharian menjadi ratu dan raja yang menjadi pusat perhatian para tetamu

2. Masih kaku dan saling malu karena ta'aruf yang terlalu singkat. Segalanya tak selancar harapan dan impian tak mengerti apa yang mesti dilakukan. Keduanya masih lugu untuk memerankan adegan dewasa

3. Ta'aruf telah berlangsung lama bahkan melewati masa pacaran yang kebablasan. Malam pertama seakan bukan moment spesial lagi

4. Kondisi lelah bisa di atasi. Ta'aruf telah tercukupi dengan beberapa kali pertemuan syar'i. Prosesi nikah telah disepakati sejak jauh hari. Malam pertama yang dinanti benar-benar terjadi. Bekal ilmu telah cukup dipelajari. Tinggal mempraktikkan ibadah indah nan suci.

Inti dari bersebadan adalah saling menafkahi kebutuhan bathin pasangan. Ada kasih sayang, keteduhan bagi mereka yang kegersangan cinta. Ada penyaluran hasrat yang selama ini melayang terbang ke mana tak tentu arah. Kadang bertengger di angan-angan. Sesekali tertuju pada wajah-wajah artis yang memesona tapi tak hadir ketenangan di sana. Atau sesama rekan yang tak pasti status dan kedudukannya. Kini ada karunia Allah, pilihan Allah sebagai hakikat, dihalalkan dalam ikatan yang Dia izinkan untuk kita. Pasangan kita bukanlah milik kita tapi Allah titipkan untuk saling membahagiakan. Lalu nikmat apa lagi yang hendak kita dustakan?

Please, deh, Reader. Bersyukur itu kewajiban. Jadi untuk terus seindah malam pertama (atau kita ralat, deh), lebih tepatnya untuk seindah pasangan di syurga, bersyukur adalah kunci utama. Lalu timbulkan rasa untuk memadu kasih atas dasar niat ibadah. Jika bermaksud ibadah kembali lagi ke nibuhan :

1. Niat karena taat pada Allah. Diawali dengan niat taat menyelamatkan diri dari maksiat dan hasrat yang tak sehat. Diniatkan untuk senantiasa bersyukur atas karunia dan nikmat diberi pasangan hidup oleh yang Maha menentukan dan menyatukan. Yakin sepenuhnya tiada daun kering jatuh kecuali atas izin dan kehendakNya. Tiada debu terbang kecuali dalam pemeliharaanNya. Apalagi pertemuan dua insan yang saling cinta.

2. Perkara yang dibuat bukan haram atau makruh. Hukum nikahnya tergolong mubah, Sunnah ataupun wajib. Hal ini pernah kita bahas di pekan pertama Sarkat, ya, Reader.

3. Dilakukan sesuai syariat, langkah-langkah melakukannya sesuai contoh dari Rasulullah Saw. Masih ingat kan point pertama kita pada bahasan ASMaP(Agar Seindah Malam Pertama) ini? Atau ASPaS (Agar Seindah Pasangan di Syurga)

4. Tidak meninggalkan perkara azas. Hindari waktu bersebadan di sekitar waktu shalat fardhu. Perhatikan waktu puasa Ramadan. Lakukan di tengah malam, hindari waktu-waktu menjelang Subuh

5. Natiahnya maslahat, makin bikin sayang pasangan, makin bersyukur, makin dekat dan tulus. Semoga dititipi zuriat yang Shalih dan meneruskan perjuangan para nabi dan rasul, yaitu mengajak sebanyak-banyak manusia untuk taat pada Allah.

Semoga bagian ASMaP dan ASPaS ini menjadi sedikit pencerahan untuk terus bahagia pada tiap sentuhan bahkan hembusan nafas. Bukankan memaknai kebersamaan adalah bagian dari nikmat yang luar biasa? Kehadiran satu-satunya insan yang berhak merasakan seluruh bagian tubuh adalah keajaiban kasih sayangNya. Bukankan ini menjadi kemudahan bagi satu sama lain untuk saling bantu saling memelihara tanpa batasan aurat. Di saat-saat darurat, kedua insan bisa saling memperkuat. Karunia pernikahan benar-benar keajaiban Rahman dan RahimNya.

 

 

HARI KE-41

MEMBERKAHKAN PERNIKAHAN

 

Self Challenge retekat, rehat berteman kata, perlahan tapi pasti memasuki hari ke-41. Sambil terus editing sarkat dan retekat tetap berlanjut, merajut kata, membanjar kalimat. Writer sudah pernah ungkapkan bahwa nikah indah meliputi prosesi pesta asmara dan merancang zuriat yang shalih. Sementara itu nikah berkah meliputi:

a. Pasangan adalah Pakaian Penghias

b. Mengikat Persaudaraan

c. Poligami yang Tak Kontroversif

d. Cinta yang Evergreen

Semoga kita bisa bahas satu persatu dalam satu Sarkar saja, ya, Reader. Sebelumnya sepakat dulu bahwa kita sama-sama kosongkan semua isi hati yang lain kecuali cahaya ilmu dan hidayah, agar kebenaran bisa masuk ruang hati kita dengan leluasa dan nyaman. Bila kita kosongkan hati dari persepsi insya Allah yang berbicara bukan emosi tapi hati nurani yang penuh limpahan cahaya suci.

a. Pasangan Kita adalah Pakaian.

Alquran menyebutkan bahwa suami istri adalah pasangan yang saling berfungsi sebagai pakaian. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اُحِلَّ لَـکُمْ لَيْلَةَ الصِّيَا مِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَآئِكُمْ ۗ هُنَّ لِبَا سٌ لَّـكُمْ وَاَ نْـتُمْ لِبَا سٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّکُمْ كُنْتُمْ تَخْتَا نُوْنَ اَنْفُسَکُمْ فَتَا بَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَا لْــئٰنَ بَا شِرُوْهُنَّ وَا بْتَغُوْا مَا کَتَبَ اللّٰهُ لَـكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَا شْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الْخَـيْطُ الْاَ بْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَ سْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَا مَ اِلَى الَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَا شِرُوْهُنَّ وَاَ نْـتُمْ عٰكِفُوْنَ ۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

 

"Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 187)

Sebuah ayat yang cukup panjang memaparkan tentang bagaimana seharusnya hubungan suami istri dilakukan selama bulan Ramadhan. Perumpamaan dengan pakaian memiliki falsafah yang luar biasa penuh makna. Dilanjutkan dengan bagaimana pemenuhan hak dan kewajiban suami istri tetap dalam koridor yang Allah SWT gariskan agar manusia dapat meraih ketakwaan.

Kembali pada bahasan kita, ya Reader, bahwa pernikahan yang berkah itu menjadikan suami istri sebagai pakaian bagi satu sama lain. Pakaian dalam persepsi Islam memiliki tiga fungsi yaitu fungsi sebagai:

1. pemenuhan kebutuhan pokok

2. menutupi aurat sesuai dengan batasan yang Allah SWT perintahkan

3. mendukung terpenuhinya kesehatan jasmani

4. menjadi hiasan sebagai fungsi estetika.

Reader, yuk kita bahas satu-satu untuk empat point fungsi pakaian.

Pertama, pakaian adalah bagian dari kebutuhan pokok. Sebagaimana berpasangan yang merupakan kebutuhan pokok bagi insan pada umumnya. Karena berpasangan adalah kebutuhan pokok, maka pencariannya pun seharusnya memenuhi kesungguhan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pakaian didapat dari bahan baku yang halal dijadikan pakaian. Terkait dengan pasangan, syarat pertama pasangan mesti halal dinikahi. Nah, untuk pasang yang halal di nikahi ada di sarapan kata di lima hari pertama kita. Masih ingatkah? Intip kembali syarat nikah halal, ya?

Semua bahasan tentang hukum nikah yang menjadi ibadah telah kita kupas tuntas, baiklah kita tegaskan lagi di sini tentang nikah yang halal.

Kedua, pakaian adalah penutup aurat kita. Aurat adalah sesuatu yang memalukan apabila diketahui oleh orang yang tidak berhak melihatnya. Aurat di sini berarti aib dan kekurangan. Pakaian yang baik secara syar'i memiliki tiga syarat yaitu menutupi batasan aurat, tidak transparan, dan tidak mencetak bentuk tubuh.

Falsafahnya, pasangan yang baik itu adalah suami yang dapat menjaga rahasia

Berbicara tentang pakaian, pakaian yang baik adalah pakaian yang memenuhi syarat fungsinya

2. Membangun Peradaban Mulai dari Keluarga

a. Negara Kecil dalam Keluarga

b. Keluarga adalah Tim

c. Peran Kepemimpinan Ayah

Semoga kita bisa bahas satu persatu dalam satu Sarkar saja, ya, Reader. Sebelumnya sepakat dulu bahwa kita sama-sama kosongkan semua isi hati yang lain kecuali cahaya ilmu dan hidayah, agar kebenaran bisa masuk ruang hati kita dengan leluasa dan nyaman. Bila kita kosongkan hati dari persepsi insya Allah yang berbicara bukan emosi tapi hati nurani yang penuh limpahan cahaya suci.

a. Pasangan Kita adalah Pakaian.

Alquran menyebutkan bahwa suami istri adalah pasangan yang saling berfungsi sebagai pakaian. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اُحِلَّ لَـکُمْ لَيْلَةَ الصِّيَا مِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَآئِكُمْ ۗ هُنَّ لِبَا سٌ لَّـكُمْ وَاَ نْـتُمْ لِبَا سٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّکُمْ كُنْتُمْ تَخْتَا نُوْنَ اَنْفُسَکُمْ فَتَا بَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَا لْــئٰنَ بَا شِرُوْهُنَّ وَا بْتَغُوْا مَا کَتَبَ اللّٰهُ لَـكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَا شْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الْخَـيْطُ الْاَ بْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَ سْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَا مَ اِلَى الَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَا شِرُوْهُنَّ وَاَ نْـتُمْ عٰكِفُوْنَ ۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

"Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 187)

Sebuah ayat yang cukup panjang memaparkan tentang bagaimana seharusnya hubungan suami istri dilakukan selama bulan Ramadhan. Perumpamaan dengan pakaian memiliki falsafah yang luar biasa penuh makna. Dilanjutkan dengan bagaimana pemenuhan hak dan kewajiban suami istri tetap dalam koridor yang Allah SWT gariskan agar manusia dapat meraih ketakwaan.

Kembali pada bahasan kita, ya Reader, bahwa pernikahan yang berkah itu menjadikan suami istri sebagai pakaian bagi satu sama lain. Pakaian dalam persepsi Islam memiliki tiga fungsi yaitu fungsi sebagai:

1. pemenuhan kebutuhan pokok

2. menutupi aurat sesuai dengan batasan yang Allah SWT perintahkan

3. mendukung terpenuhinya kesehatan jasmani

4. menjadi hiasan sebagai fungsi estetika.

Reader, yuk kita bahas satu-satu untuk empat point fungsi pakaian.

Pertama, pakaian adalah bagian dari kebutuhan pokok. Sebagaimana berpasangan yang merupakan kebutuhan pokok bagi insan pada umumnya. Karena berpasangan adalah kebutuhan pokok, maka pencariannya pun seharusnya memenuhi kesungguhan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pakaian didapat dari bahan baku yang halal dijadikan pakaian. Terkait dengan pasangan, syarat pertama pasangan mesti halal dinikahi. Nah, untuk pasang yang halal di nikahi ada di sarapan kata di lima hari pertama kita. Masih ingatkah? Intip kembali syarat nikah halal, ya?

Semua bahasan tentang hukum nikah yang menjadi ibadah telah kita kupas tuntas, baiklah kita tegaskan lagi di sini tentang nikah yang halal.

Kedua, pakaian adalah penutup aurat kita. Aurat adalah sesuatu yang memalukan apabila diketahui oleh orang yang tidak berhak melihatnya. Aurat di sini berarti aib dan kekurangan. Pakaian yang baik secara syar'i memiliki tiga syarat yaitu menutupi batasan aurat, tidak transparan, dan tidak mencetak bentuk tubuh.

Falsafahnya, pasangan yang baik itu adalah suami yang dapat menjaga rahasia

Berbicara tentang pakaian, pakaian yang baik adalah pakaian yang memenuhi syarat fungsinya

2. Membangun Peradaban Mulai dari Keluarga

a. Negara Kecil dalam Keluarga

b. Keluarga adalah Tim

c. Peran Kepemimpinan Ayah

 

HARI KE-42

E. Duri Qalbu dalam Rumah Tangga

1. Curiga

2. Cemburu

3. Dayyuts

4. Jenuh

5. Kemewahan atau Kesederhanaan

 

Hari KE-43

F. Ketika Prahara Melanda

1. Hadirnya The Other Person

2. Jika Rezeki Tak Juga Mencukupi

3. Mengapa Cinta Tak Kunjung Tiba

4. Perpisahan yang Solutif

5. Kisah Perceraian Syar'i

6. Agar Tidak Jadi Benci

 

Hari Ke-44

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA