BUKU SOLO X
5-AH SEPUTAR NIKAH
(Ibadah, Mudah, Murah, Berkah, Indah)
(Sebuah buku pintar, kado pernikahan terlengkap)
HARI I
5-AH SEPUTAR NIKAH
(Ibadah, Mudah, Murah, Berkah, Indah)
A. Nikah Itu Ibadah
1. Ta'rif Nikah
2. Hukum Nikah dalam Islam
a. Pernikahan Wajib
b. Pernikahan Sunnah
c. Pernikahan Mubah
d. Pernikahan Makruh
e. Pernikahan Haram
3. Makna Ibadah
4. 5 Syarat Ibadah
5. Sifat Ibadah Nikah
a. Munculnya Kecenderungan Rasa
Tentram dan Nyaman
b. Kecenderungan Ingin Selalu Bersama
c. Komitmen sepanjang hayat
d. Haram yang Dihalalkan
B. Nikah Itu Mudah dan Murah
1. Langkah Menuju Gerbang Nikah
a. Taaruf
b. Khitbah
c. Nikah
2. Walimah sesuai Sunnah
3. Kisah-Kisah Walimah Shohabiyah
C. Nikah Itu Indah
1. Malam Pertama yang Mendebarkan
2. Kiat Melahirkan Anak Salih yang
Jenius
3. Agar Selalu Seindah Malam Pertama
D. Nikah Itu Berkah
1. Memberkahkan Pernikahan
a. Pasangan adalah Pakaian Penghias
b. Mengikat Persaudaraan
c. Poligami yang Tak Kontroversif
d. Cinta yang Evergreen
2. Membangun Peradaban Mulai dari
Keluarga
a. Negara Kecil dalam Keluarga
b. Keluarga adalah Tim
c. Peran Kepemimpinan Ayah
E. Duri Qalbu dalam Rumah Tangga
1. Curiga
2. Cemburu
3. Dayyuts
4. Jenuh
5. Kemewahan atau Kesederhanaan
F. Ketika Prahara Melanda
1. Hadirnya The Other Person
2. Jika Rezeki Tak Juga Mencukupi
3. Mengapa Cinta Tak Kunjung Tiba
4. Perpisahan yang Solutif
5. Kisah Perceraian Syar'i
6. Agar Tidak Jadi Benci
A. Nikah Itu Ibadah
Sudah menjadi mafhum di kalangan para
jomblo maupun para pasutri yang baru memasuki gerbang rumah tangga, bahasan
nikah bak santapan baso di kala lapar atau camilan yang sulit dihentikan saat
waktu senggang. Perbincangan tentang nikah akan selalu up to date untuk
didiskusikan.
Sudah menjadi sunatullah bahwa setiap
bani Adam menginginkan pelengkap hidup. Sebagaimana kakek kita yang merasa sepi
diciptakan seorang diri. Meskipun surga penuh dengan kenikmatan, serasa ada
yang kurang ketika Adam menghadapi semuanya sendiri. Allah Yang Mahatahu
memenuhi keinginan hati Adam dengan menciptakan Hawa dari tulang rusuknya. Ini
berarti, sudah menjadi fitrah murni manusia ingin menemukan pasangannya.
Walaupun terdapat beberapa kasus,
banyak juga yang lebih nyaman hidup sendiri. Akan tetapi tentu saja hal itu di
luar kelaziman. Menurut catatan statistic terdapat 5 % saja dari seluruh pria
dewasa di Indonesia yang tidak pernah menikah dan hanya satu dari 10 responden
yang benar-benar menginginkan hidup sendiri.
Rasulullah bersabda dalam hadits
riwayat Ibnu Majah.,
عَنْ
عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
“النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِيْ فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
وَتَزَوَّجُوا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ
فَلْيَنْكِحْ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ
وِجَاءٌ” رواه ابن ماجه
Artinya: "Dari Aisyah, beliau
berkata, bersabda Rasulullah SAW: Nikah itu sunnahku maka barang siapa yang
tidak beramal dengan sunnahku maka mereka bukan dari bagianku. Menikahlah,
sungguh aku membanggakan kalian di atas ummat-umat yang lain. Barang siapa yang
memiliki kekayaan maka menikahlah. Barang siapa yang tidak mampu, maka
berpuasalah, karena berpuasa itu adalah tameng."
Hadits ini menyampaikan bahwa sunnah
itu membawa maslahat, lho. Tentu saja nikah yang bersesuaian dengan contoh dari
Rasulullah SAW.
1. Ta'rif Nikah
Pernikahan dalam beberapa sumber
literasi disebut dalam dua kata, yaitu (نكح)
dan (زواج), digunakan dalam bahasa Arab dalam makna
aslinya adalah hubungan seksual, hubungan badan antara dua orang pria dan
wanita. Secara hokum, nikah adalah akad, perjanjian suci antara seorang pria
dan seorang wanita yang dengan itu mereka telah dihalalkan dalam melakukan
hubungan seksual. Ikatan ini bukan sekenar mainan lisan akan tetapi menjadi
ikrar suci untuk membentuk keluarga bahagia selamanya.
Nah, untuk makna nikah dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa nikah adalah ikatan (akad) perkawinan
yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Alhamdulillah,
tata nilai ini melekat dalam akan budaya kita sehingga makna nikah tidak
mengalami pergeseran yang menghawatirkan.
Berdasarkan peraturan
perundang-undanga, ada upaya pihak-pihak tertentu yang ingin menggantikan
difinisinya, tetapi sampai saat ini wakil rakyat kita masih konsisten
mempertahankan makna nikah sesuai aturan agama. (Belakangan ini ada upaya untuk
mengubahnya menjadi ikatan lahir batin antara dua insan tanpa menyebut
jinsiahnya, tentu ini akan memberi peluang pada nikah sejenis.
Naudzubillahimindzalik) Dalam undang-undang perkawinan, yaitu Undang-undang
Nomor 1 tahun 1974, perkawinan (pernikahan) ialah ikatan lahir batin antara
seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk
keluarga rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa.
Jadi, menikah adalah komitmen
panjang, sepanjang hayat masih dikandung badan. Bukan pada saat akad saja,
selanjutnya terserah anda. Akan tetapi ada banyak hal yang bernilai ibadah di
dalamnya apabila cara menjalankan keluarga sesuai dengan perintah Allah dan
contoh dari Rasulullah SAW.
2. Lima Hukum Nikah
Kita mengenal ada lima hukum Islam.
Wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah atau jaiz. Dari bangun tidur hingga
tidur lagi sebagai ummat Islam, kita selalu terikat lima hukum ini. Haram bila
sesuatu itu tidak diperbolehkan untuk diamalkan, atau harus ditinggalkan.
Sunnah bila dianjurkan untuk dilakukan, artinya berpahala bila dilakukan dan
tidak berdosa bila ditinggalkan. Sementara itu haram kebalikan dari wajib dan
makruh kebalikan dari sunnah. Satu lagi ada yang dihukumi mubah, alias tidak
mengapa, boleh diamalakan boleh juga tidak diamalakan
Tiga hukum nikah ini tentusaja dibaca
secara kontekstual, sesuai masing-masing kasus yang terjadi.
a. Pernikahan Wajib
Pernikahan yang dihukumi wajib adalah
pernikahan yang dapat menyelamatkan seseorang dari terjerumus dalam maksiat dan
perzinahan. Jika cinta sudah bersemi di dalam hati, rindu dendam sudah membuat
dua sijoli ingin terus bertemu, maka solusi wajibnmya adalah menikah.
Atau, seseorang yang karena kebutuhan
biologisnya atau libidonya membuatnya ingin menyalurkan hasrat pada hal-hal
yang dilarang agama. Kebutuhan biologisnya membuat dia tak mampu menahan
pandangan. Ingatannya selalu ingin melihat hal-hal yang merusak kebeningan hati
dan jiwanya, maka saluran yang paling menyelamatkan dan memuliakan dirinya
adalah menikah.
Menikah dengan alasan di atas akan
membuat seseorang mendapat pertolongan Allah SWT. Rasulullah bersabda pada
hadits riwayat Ahmad
ثَلَاثٌ
كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُ: الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللهِ،
وَالنَّاكِحُ الْمُسْتَعْفِفُ، وَالْمُكَاتَبُ يُرِيدُ الْأَدَاءَ
Artinya: ”Ada tiga kelompok manusia
yang pasti ditolong oleh Allah: (1) mujahid di jalan Allah; (2) pemuda yang
menikah untuk menjaga kehormatan diri; dan (3) budak yang berusaha memerdekakan
diri (agar lebih leluasa beribadah).” (HR. Ahmad no. 7416.)
Hari ke-2
b. Pernikahan Sunnah
Tipe keadaan yang membuat pernikahan
dinilai sunnah, atau sebaiknya dilakukan adalah bila seseorang telah mampu
menikah baik dari segi usia maupun kesiapan materi. Akan tetapi tidak sampai
jatuh pada hal-hal hal yang menjatuhkan kehormatan diri. Seseorang yang masih
dalam taraf kemampuan mengendalikan diri tapi kemuliaannya akan bertambah
apabila seseorang itu menikah.
إِذَا
تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي
النِّصْفِ البَاقِي
Artinya: “Jika seseorang menikah,
maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada
Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi)
Sunnah yang menyempurnakan agama
seseorang adalah nikah. Setengah yang lainnya ada pada ketakwaan. Jadi dengan
seseorang belum dikatakan meraih gelar takwa bila dia menolak pernikahn.
Kita pernah mendengar beberapa kisa
ulama ataupun wali Allah yang memilih tidak menikah. Hal ini tidak akan kita
bahas pada bagian ini karena ulama dan wali Allah memiliki kedudukan khusus di
sisi Allah. Yang akan kita bahas adalah level kita sebagai orang kebanyakan.
Mereka punya alasan yang sangat urgen
dengan keputusan tidak menikah. Misalnya, Syeikh Nawawi al Bantani tidak
menikah karena tersibukkan dengan pengabdiannya pada ilmu, yang mencukupkan
mereka meraih keutamaan di sisi Allah SWT. Akan tetapi mereka mengambil
keputusan sebagai langkah personal, artinya tidak karena menolak syariat nikah
dan tidak pula melakukan propaganda penolakan terhadap pernikahan.
c. Menikah Mubah
Salah satu ulama yang berpendapat
hokum asal dari nikah itu mubah adalah Imam Syafi'i. Jika menikah tidak berdosa
dan tidak pula berpahala. Demikian juga saat meninggalkannya. Istilah lain jaiz
saja.
Pernikahan yang mubah hukumnya adalah
pernikahan bagi mereka yang memiliki harta kekayaan, tetapi apabila tidak
melakukan pernikahan tidak khawatir akan berkurang kemuliaan. Apa bila menikah
pun tidak ada ke khawatiran akan saling menyia-nyiakan pasangan. Pernikahan
hanya bertujuan untuk memenuhi kesenangan.
Contohnya, dua orang sudah ada rasa
saling suka. Keduanya pun siap secara finansial berumah tangga. Tetapi mereka
tidak sangat berhasrat hingga sering melakukan aktivitas pendekatan yang
berlebihan.
Mungkin ada sedikit kebingungan
antara kedudukan nikah sunnah dan mubah. Lebih sederhananya, nikah akan menjadi
sunah bila tujuannya mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan akan mubah bila
tujuannya mencari hiburan dan kesenangan saja.
Pada dasarnya hukum mubah ini
bersifat fleksibel. Baik buruknya sangat tergantung pada masing-masing
pengamalnya. Apalagi di dalam Alquran, Allah berfirman dalam beberapa ayat
bahwa pernikahan sangat berkaitan dengan pasangan yang Allah ciptakan untuk
masing-masing manusia. Sebagaimana firman Allah dalam Alqur'an Surat Annisa
ayat pertama
يٰۤـاَيُّهَا
النَّا سُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّا حِدَةٍ
وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَا لًا كَثِيْرًا وَّنِسَآءً ۚ
وَا تَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهٖ وَا لْاَ رْحَا مَ ۗ اِنَّ
اللّٰهَ كَا نَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
"Wahai manusia! Bertakwalah
kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan
(Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah
memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada
Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan
kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."
Untuk mereka yang tidak berjodoh di
duniapun akan memperoleh pasangannya di akhirat sebagai hadiah atas ketaatannya
sebagai hamba Allah SWT.
d. Menikah Makruh
Wah, pernikahan bisa juga tidak
disukai Allah, ya! Yang bagaimanakah pernikahan yang dibenci itu? Sebelumnya
kita bahas sejenak makna makruh. Makhruh artinya dibenci atau cenderung
dilarang. Bila dilakukan tidak berdosa tetapi bila ditinggalkan berpahala. Jadi
sebaiknya jangan dilakukan.
Pernikahan jenis ini berlaku pada
mereka yang mampu secara materi, mereka cukum mampu untuk menghindarkan diri
dari perzinahan. Akan tetapi ada kekhawatiran salah satu pihak atau dua pihak
tidak akan mampu melaksanakan kewajiban mereka masing-masing. Yang berarti juga
aka nada pihak-pihak yang hak-haknya tidak tertunaikan.
Contoh kasus, dua orang yang cukup
usia, memiliki materi yang cukup untuk menikah tetapi belum punya keinginan
untuk berumah tangga. Sehingga rumah tangga yang mereka bangun akan terasa
hambar dan akhirnya berpotensi untuk merusak binaan keluarga yang mereka
bangun.
e. Menikah Haram
Kedudukan menikah jenis ini lebih
mengerikan. Haram berarti dilarang, bila memaksa dilakukan hukumnya berdosa.
Jika kita menghindarinya dan mencegahnya justru berpahala.
Pernikahan haram bagi orang yang
belum berkeinginan serta tidak memiliki kemampuan secara materiil. Salah satu
atau dua pihak tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan kewajiban-kewajiban
pernikahan. Pernikahan semacam ini berpotensi akan menyengsarakan salah satu
atau dua pihak. Pernikahan menjadi jembatan untuk saling melakukan penzaliman
dan penzaliman itu dilarang dalam Islam.
Contoh kasus, seorang berniat
menikahi seseorang karena kekayaannya dan tidak akan memenuhi kewajiban
terhadap pasangannya karena alas an tidak cinta dan tidak berhasrat.
Adalagi pernikahan yang sangat
dilarang bahkan dilaknat Agama. Yaitu pernikahan yang menyimpang karena dua
pihak yang menikah haram hukumnya untuk dinikahi. Misalnya saja nikah satu
gender dan juga nikah dengan mahram (nauzubillahi min zalik)
Jangan salah, di akhir zaman ini ada
saja dalih penghalalan nikah sejenis, bahkan dalil Alquran menjadi alasan
penyimpangan ini. Kira-kira apa,ya, alasan mereka untuk nikah sejenis?
Ini dia ayat itu, Allah Subhanahu Wa
Ta'ala berfirman:
وَمِنْ
اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا لِّتَسْكُنُوْۤا
اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ
يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
"Dan di antara tanda-tanda
(kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu
sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan
di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 21)
Jangan sampai terkecoh. Sejenis
disini maknanya sama-sama manusia
Hari ke-3
B. MAKNA IBADAH
Setelah berbincang tentang lima hukum
nikah sesuai perspektif hukum Islam, kita bahas sejenak tentang apa itu ibadah.
Hal ini penting karena kita akan lebih dalam memaknai nikah sebagai ibadah.
Sebelum kolaborasi antara nikah dan ibadah, kita pahami dulu makna ibadah.
Ibadat atau ibadah berasal dari
bahasa Arab "ibadah(عبادة). Yaitu suatu
aktivitas yang menghubungkan antara hamba dengan Tuhannya, Allah Swt, karena
perbuatan itu diniatkan untuk taat padaNya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia
ibdah bermakna, perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah Swt., yang
didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan
makna ibadat sebagai padanan kata dari ibadah adalah, segala usaha lahir dan
batin sesuai dengan perintah Tuhan untuk mendapatkan kebahagiaan dan
keseimbangan hidup, baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat maupun
terhadap alam semesta.
Menurut bahasa ibadah adalah
merendahkan diri, ketundukan dan kepatuhan atas perintah-perintah agama.
Sedangkan menurut istilah syar'i, ibadah mencakup segala sesuatu yang
mendatangkan kecintaan pada Allah Swt dan diridhai-Nya. Baik berupa perkataan
maupun perbuatan, yang tersembunyi (bathin) dan yang nampak (lahir).
Masya Allah, sangat luasnya makna
ibadah menurut pandangan Islam. Betapa Mahabaiknya Allah Swt yang memandang
setiap perbuatan baik itu digolongkan dalam ibadah. Tentu saja tiap ibadah ini
akan mendapat balasan dari Allah SWT sebagaimana janji dalam FirmanNya dalam
Quran Surat Azzalzalah ayat 7-8),
فَمَنْ
يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ
"Maka barang siapa mengerjakan
kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
وَمَنْ
يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ
"Dan barang siapa mengerjakan
kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
Berikut firman Allah dalam Alquran
terkait siapa saja yang melakukan ibadah
1. Orang yang senantiasa beribadah
adalah orang yang berada dalam jalan yang lurus (Shirathal Mustaqim), yaitu
jalan yang di dalamnya penuh kenikmatan karena menetapi apa-apa yang Allah
perintahkan. Sebagaimana yang termaktub dalam surat Yasin ayat 61
وَّاَنِ
اعْبُدُوْنِيْ ۗ هٰذَا صِرَا طٌ مُّسْتَقِيْمٌ
"Dan hendaklah kamu
menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus"
dan Alfatihah ayat 6-7
صِرَا
طَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا
الضَّآلِّيْنَ
اِهْدِنَا
الصِّرَا طَ الْمُسْتَقِيْمَ
"(yaitu) jalan orang-orang yang
telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan
bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
2. Orang yang beribadah adalah mereka
yang menyelarasaskan hidupnya dengan tujuan penciptaannya, dimana penciptaan
manusia bertujuan agar manusia itu senantiasa beribadah kepada Allah SWT
(Adz-Dzariyat ayat 56).
وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
Dalam hal ini ibadah bukan hanya yang
bersifat mahdhah atau ritual habluminallah yang bersifat vertical antara hamba
dan Pencipta. Akan tetapi juga ibadah ghairu mahdhah yang bersifat horizontal,
yang menghubungkan manusia dengan sesame ciptaanNya
3. Orang dikatakan berada dalam
keadaan beribadah adalah apa bila senantiasa berpegang teguh pada apa-apa yang
diwahyukan Allah Swt.
فَا
سْتَمْسِكْ بِا لَّذِيْۤ اُوْحِيَ اِلَيْكَ ۚ اِنَّكَ عَلٰى صِرَا طٍ
مُّسْتَقِيْمٍ
"Maka berpegang teguhlah engkau
kepada (agama) yang telah diwahyukan kepadamu. Sungguh, engkau berada di jalan
yang lurus."Mereka yang dalam melangkah senantiasa mencari jalan terbaik
dengan menggunakan petunjuk Allah. (Az Zuhruf ayat 43)
Nah, dari berbagai sumber di atas, di
sini bisa kita simpulkan beberapa hal terkait ibadah sebagai berikut:
1. Ibadah adalah segala aktivitas
yang diniatkan atas ketaatan pada Allah SWT
2. Ibadah diatur dan dijalankan sesuai
petunjukNya
3. Ibadah menghasilkan kemaslahatan
bagi sesama juga semesta.
C. LIMA SYARAT IBADAH
Seorang ulama besar yang berasal dari
negeri jiran, Malaysia, Syeikh Asy'ari bin Muhammad Attamimi (1937-2010)
menyampaikan pandangannya tentang syarat setiap perbuatan itu bernilai ibadah.
Beliau adalah ulama yang mencoba menerapkan Islam pada tiap aspek kehidupan
segaligus menjadikan segala sesuatu dapat dinilai ibadah oleh Sang Khaliq.
Kenalkah kalian pada beliau?
Apa sajakah syarat-syarat tiap
perbuatan menjadi ibadah?
1. Niat Harus Lillah
Sebagaimana dalam sebuah hadits yang
sangat masyhur termaktub dalam kitan hadits riwayat Bukhari Muslim,
ٍعَنْ
عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا
الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ
إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ
هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى
مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
"Tiap amalan tergantung niatnya,
dan seseorang hanya akan mendapatkan sesuai niatnya.
Barang siapa berhijrah karena Allah
dan Rasulnya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya. Dan barangsiapa yang
hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya , maka hijrahnya
kea rah mana sesuai yang diniatkannya."
Niat menjadi bagian terpenting
sebelum kita melakukan suatu amalan. Bisa jadi ibadah mahdhah yang terlihat
secara lahiriah tidak akan bernilai ibadah karena niatnya tidak lillahi ta'ala.
Sebaliknya bias jadi sesuatu itu dianggap bukan ibadah karena berupa amalan
perbuatan yang seakan amalan dunia, tapi karena niat yang tepat maka dinilai
ibadah oleh Allah SWT.
Jadi, penting buat kalian yang mau
menikah memperbaharui niat. Jangan sampai nikah karena ingin mendapatkan
hartanya. Atau punya rencana memperdagangkan wajah pasangan karena kecantikan
dan ketampanannya. Atau menikah karena ingin nebeng tenar dari pasangan. Itu
namanya bukan lillah lagi.
Lalu bagaimana niat lillah itu, sih?
Kita menikah atas dasar perintah sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran
Surat Annur ayat 31
وَاَ
نْكِحُوا الْاَ يَا مٰى مِنْكُمْ وَا لصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَا دِكُمْ وَاِ
مَآئِكُمْ ۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ
وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
"Dan nikahkanlah orang-orang
yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah)
dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin,
Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha
Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui "
Demikian juga seruan Rasulullah SAW
tentang menikah sangatlah banyak diantaranya adalah hadits berikut
يَا
مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ،
فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.
Artinya:
“Wahai para pemuda! Barangsiapa di
antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu
lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan
barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu
dapat membentengi dirinya.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan lainnya).
Dari dua nash ini jelaslah bahwa kita
harus meniatkan nikah karena mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya
2. Perkara yang Diamalkan Bukan
Perkara yang Haram
Artinya, hal yang dilakukan tidak
menyimpang dari garis batas yang diperbolehkan. Terkait bahasan kita kali ini
maka agar menjadi ibadah, jenis hokum nikahnya bukan makruh atau pun haram.
Jadi nikah akan jadi ibadah bila jenis hokum nikahnya mubah, sunnah hingga
wajib. Barulah pernikahan itu dapat dikatagorikan dalam ibadah
Hari ke-4
2. Perkara yang Diamalkan Bukan
Perkara yang Haram
Artinya, hal yang dilakukan tidak
menyimpang dari garis batas yang diperbolehkan. Terkait bahasan kita kali ini
maka agar menjadi ibadah, jenis hukum nikahnya bukan makruh atau pun haram.
Jadi nikah akan jadi ibadah bila jenis hokum nikahnya mubah, sunnah hingga
wajib. Barulah pernikahan itu dapat dikatagorikan dalam ibadah.
Kalau demikian berarti saat melangkah
gerbang nikah, kita harus tahu betul hukum nikah yang kita lakukan. Jika
diawali dengan perkara haram dan makruh rasanya akan sulit untuk mengarahkan
mahligai rumah tangga dalam katagori ibadah.
Sebagaimana makanan, ada dua jenis
makanan haram yaitu berdasarkan zatnya atau berdasarkan hukumnya. Keharaman
menikah bias jadi karena factor kondisional dari calon pasangan dan bias jadi
karena cara melakukannya yang tidak sesuai syari'at
a. Haram dari Sisi Calon Mempelai
i. Pernikahan dengan mahram
Makna mahram adalah yang haram
dinikahi karena kedekatan ikatan pertalian darah maupun pertalian hukum syariat
melalui pernikahan.
Berikut ini mahram yang haram
dinikahi:
*Mahram karena nasab:
ü Ayah
dan anak perempuannya, ibu dan anak laki-lakinya
ü
Saudara kandung
ü Paman
dan keponakan perempuan, bibi dan keponakan laki-laki, baik dari
ü
saudara perempuan maupun laki-laki
ü Kakek
dengan cucu perempuan, nenek dan cucu laki-laki
*Mahram karena pernikahan
ü -Mertua
laki-laki dengan menantu perempuan, mertua perempuan dengan menantu laki-laki
ü -Anak
tiri laki-laki dengan ibu sambung, anak tiri perempuan dengan bapak sambung
ü
-Mertua perempuan sambung dengan menantu laki-laki, mertua perempuan sambung
dengan menantu perempuan
*Mahram karena persusuan
Ukuran persesusuan adalah bila telah
lima kali menyusu hingga kenyang dan bayi tersebut menyusu sebelum usianya
lewat dua tahun.. Adapun mahram karena persesusuan adalah:
ü suami
dari ibu susu dan anak susu perempuan, ibu susu dan anak yang disusui
ü
saudara sepersusuan laki-laki dan perempuan yang dipersusukan, saudara
sepersusuan perempuan dan laki-laki yang dipersusukan
ü
saudara laki-laki ibu susu dan perempuan yang dipersusukan, saudara perempuan
ibu susu dari laki-laki yang dipersusukan
ü ayah
dari wanita yang menyusui dan perempuan yang dipersusukan, ibu dari ibu susu
dan laki-laki yang dipersusukan
ü
mertua laki-laki ibu susu dan perempuan yang dipersusukan, mertua perempuan ibu
susu dan laki-laki yang dipersusukan
ü ipar
laki-laki ibu susu dan perempuan yang dipersusukan, ipar perempuan ibu susu dan
laki-laki yang dipersusukan
ü
laki-laki dan perempuan yang memiliki ibu susu yang sama
Subhanallah, betapa lengkapnya syariat
Islam mengatur hubungan mahram ini. Selain tinjauan kesehatan dan pernikahan
dengan kedekatan genetis, Islam juga mempertimbangkan keharmonisan muamalah
yang perlu dijaga sehingga mahram dibahas detail dalam fiqih muamalah.
Hal ini penting dibahas, karena
kecenderungan yang memprihatinkan di kalangan masyarakat, dimana batasan mahram
dan bukan sudah tidak diperhatikan lagi. Padahal batasan ini selain menjadi
koridor dakam menikahkan, juga dalam batasan aurat antara laki-laki dan
perempuan. Semoga sedikit share ini menimbulkan kepahaman batas aurat dan batas
pernikaha yang diharamkan.
ii. Pernikahan sesama jenis
Pernikahan seperti ini bukan hanya
dilarang bahkan dilaknat dalam Islam.
اِنَّكُمْ
لَـتَأْتُوْنَ الرِّجَا لَ شَهْوَةً مِّنْ دُوْنِ النِّسَآءِ ۗ بَلْ اَنْـتُمْ
قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ
"Sungguh, kamu telah
melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu
benar-benar kaum yang melampaui batas.""(QS. Al-A'raf 7: Ayat 81)
Juga pesan Rasulullah SAW dalam
sebuah hadits riwayat Tirmidzi
إِنَّ
أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ
"Sesungguhnya yang paling aku
takuti menimpa umatku adalah perbuatan kaum Luth"
Dari dua nash di atas jelaslah bahwa
pernikahan sejenis tidak dibenarkan. Meskipun mereka yang melaksanakannya
saling suka, rasa suka yang menyimpang ini harus diupayakan terapi dan
rehabilitasinya. Salah satu upaya pencegahan paling awal dari Rasulullah adalah
larangan penyerupaan wanita seperti pria dan sebaliknya pria menyerupai wanita,
baik dalam penampilan, tingkah laku, gaya bicara dal lain sebagainya.
iii. Pernikahan karena keterpaksaan,
bukan atas dasar ridha birridha
Kedua mempelai mestilah memiliki rasa
kecenderunga, suka, cinta atau paling tidak, tidak merasa terpaksa menjalani
pernikahan. Untuk itulah perlunya ta'aruf. Tanpa taaruf akan terjadi kendala di
kemudian hari yang tidak diinginkan.
Cinta bisa hadir dengan waktu tidak
selamanya bisa dijadikan alas an untuk memaksa dua orang berbeda jenis, berbeda
karakter, berbeda latar belakang dan pengalaman hidup itu memasiki gerbang
nikah.
Meskipun ada juga yang menemukan
cinta selepas nikah tapi elok tanyakan perasaan masing-masing tentang calon
pasangannya.
iv. Pernikahan yang berpotensi
menimbulkan penzaliman
Pernikahan yang dimana salah satu
atau kedua pihak berniat tidak akan memenuhi kewajibannya. Bisa juga karena
memang salah satu atau kedua pihak tidak dapat memenuhi kewajibannya. Misalnya,
punya penyakit yang dirahasiakan dan akan mengakibatkan tidak akan mampu
memenuhi kewajiban
v. Pernikahan beda agama
Baru-baru ini kita disajikan berita
terutama infotainment tentang pernikahan beda agama dan sekaligus perpindahan
agama. Jika pernikahan terjadi setelah keduanya memiliki kesamaan agama itu
bukan hal yang meresahkan. Karena tiap agama mengatur hokum nikahnya
masing-masing.
Allah SWT memmperingatkan dengan
jelas dan tegas tentang larangan ini:
تُنْكِحُوا
الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ
مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰٓئِكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّا رِ ۖ وَا للّٰهُ
يَدْعُوْۤا اِلَى الْجَـنَّةِ وَا لْمَغْفِرَةِ بِاِ ذْنِهٖ ۚ وَيُبَيِّنُ
اٰيٰتِهٖ لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ
"Dan janganlah kamu nikahi
perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang
beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan
janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang
beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman
lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka
mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan
izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat ayat-Nya kepada manusia agar mereka
mengambil pelajaran." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 221)
Alasan ketertarikan tidak seharusnya
mengabaikan larangan Allah SWT, karena harga keimanan itu lebih berat
timbangannya daru dunia dan seisinya.
Jadi hati-hatilah kita dalam
menempatkan kecenderungan hati. Seseorang yang menempatkan cinta agung pada
Allah SWT tentu akan ikut cemburu saat Allah SWT cemburu dan disekutukzn. Hati
seseorang yang lurus imannya akan menfilter dengan sendirinya rasa jatuh cinta,
suka, kenyaman pada mereka yang memiliki keyakinan sama.
Hari ke-5
ita masih membahas lanjutan lima
syarat ibadah. Bagian kedua dari syarat setelah meluruskan niat adalah, bahwa
amalan itu bukan sesuatu yang haram atau dilarang agama. Nah, bahasan tentang
keharaman seputar nikah karena pelaksanaannya tidak sesuai dengan hokum
pernikahan dalam islam
Masih semangat buat menyelami samudra
wawasan pernikahan dengan segala pernak-perniknya? Yuk kita lanjut!
b. Haram dari hukum pelaksanaannya
i. Pernikahan yang tidak memenuhi
syarat dan rukun nikah
Apa sajakah syarat itu? Bagi
perempuan ada lima syarat, yaitu:
ü bukan
dalam masa idah,
ü tidak
dalam status sebagai istri orang lain,
ü tidak
dalam haji dan umrah,
ü tidak
dalam keadaan terpaksa,
ü bukan
perempuan musyrik
Sementara itu untuk laki-laki ada
tiga syarat:
ü tidak
dalam keadaan terpaksa
ü tidak
sedang melaksanakan haji dan umrah
ü
beragama Islam
Sedangkan rukun nikah ada lima,
yaitu:
ü ada
mempelai pria
ü ada
mempelai wanita
ü ada
saksi dua orang laki-laki
ü ada
mahar
ü ada
wali.
Khusus untuk wali ada beberapa
ketentuan. Nah berikut ini kita kupas siapa yang bisa menjadi wali:
*Wali Nasab
ü Ayah,
kakek seterusnya keatas
ü
Saudara laki laki kandung seayah seibu
ü
Saudara laki-laki seayah berbeda ibu
ü
Keponakan laki-laki dari saudara kandung laki-laki
ü
Keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seayah
ü Paman
sekandung dengan ayah
ü Paman
seayah dengan ayah tapi berbeda ibu
ü
Saudara sepupu, anak paman sekandung dengan ayah
ü
Saudara sepupu, anak paman seayah dengan ayah
* Wali Hakim
Wali hakim adalah wali yang
disediakan oleh kantor urusan agama untuk menikahkan dua mempelai.
Ada beberapa penyebab wali hakim bisa
mengganti wali nasap, yuk kita bahas detail apa saja penyebab wali hakim bisa
menggantikan wali nasab:
ü Wali
nasab sudah tidak ada atau sudah meninggal, ini berarti ayah, kakek, paman dari
pihak ayah, anak laki-laki paman dari pihak ayah dan seterusnya tidak ada atau
telah meninggal dunia
ü Wali
nasab kehilangan hak atas perwaliannya karena berpindah agama. Juga karena anak
tersebut lahir tanpa pernikahan yang sah berdasarkan syariat. Sebagai contoh,
hamil di luar nikah atau dinikahi saat hamil, atau nikahnya masih dalam masa
iddah dan lain sebagainya
ü Wali
nasab pergi jauh dan tak memungkinkan untuk hadir sedangkan ianya tidak memberi
kuasa pada wali nasab yang lain
ü Wali
nasab menolak menjadi wali dan melepas hak dan kewajiban perwaliannya
ü Wali
nasab sedang haji atau umrah
ü Wali
nasab menjadi mempelai laki-laki, dimana pernikahannya bukan sedarah, misalnya
wanita yang menikah dengan sepupunya.
* Wali Muhakkam
Adalah wali pilihan terakhir jika
mempelai perempuan tidak memiliki wali nasab dan juga tidak ada wali hakim yang
sanggup menikahkan karena khawatir akan adanya konflik keluarga.
Contoh kasus, bila ada seorang
laki-laki ingin menikahi seorang mualaf. Wanita ini tidak memiliki wali nasab
yang seiman. Sementara itu wali hakim dari KUA tidak ada karena mengkhawatirkan
kedudukan keluarganya. Maka mempelai pria boleh mencarikan dan mengangkat
seorang wali untuk melangsungkan pernikahan.
ii. Nikah Mut'ah (Nikah Kontrak)
Makna nikah mut'ah adalah nikah
dengan niat memutuskannya dalam jangka waktu tertentu sesuai kesepakatan atau
bisa diktakan perkawinan sementara. Dari segi tujuannya, sangat jauh dari nikah
yang disunahkan oleh Rasulullah SAW.
Ada formula khusus dalam prosesi
nikah mut'ah yaitu lafaz "zawajtuka nafsi" (saya nikahkan diriku)
dari pihak mempelai wanita dan jawaban dari mempelai pria "qabiltu al
tajwiz" (saya terima nikahnya).
Ciri-ciri nikah mut'ah ini adalah:
ü Ijab
qabul dengan kata nikah atau mut'ah
ü
Terdapat batas waktu hubungan suami istri
ü Suami
istri tidak saling mewarisi
ü Tidak
menghadirkan wali
ü Tidak
menghadirkan saksi
ü Tidak
mengenal talak karena talak berlangsung dengan sendirinya setelah habis masa
kontrak
Nikah jenis ini sangat jauh dari
tujuan nikah sunnah, yaitu:
ü
Menjalankan perintah Allah dan Rasulnya dengan menikah berarti melanjutkan
keturunan, memenuhi bumi dengan generasi yang taat pada Allah dan RasulNya
ü
Mengendalikan diri, menyalurkan hasrat kebutuhan seksual pada yang halal,
menghindarkan manusia dari berlaku seperti binatang.
ü
Menjalin hubungan persaudaraan yang erat antara dua keluarga mempelai.
Sementara itu ditinjau dari praktik
pelaksanaan mut'ah maka nikah mut'ah keluar dari tujuan-tujuan mulia
pernikahan. Meskipun dari segi nafsu dan keinginan manusia untuk bebas
menikmati hubungan seksual mut'ah ini menggiurkan. Bahkan bisa menjadi
prostitusi berkedok agama. Melaksanakan praktik prostitusi sambil menghilangkan
rasa bersalah karena menganggapnya sah-sah saja di hadapan Allah dan RasulNya.
Kita mesti berhati-hati untuk menjaga kemaluan dengan menolak praktik mut'ah.
Disamping meyakini keharamannya di sisi hukum Allah, kita juga bisa menolak
dari kemurnian fitrah nurani kita. Bukankan dengan mut'ah akan banyak wanita
yang dirugikan? Resiko kehamilan dan pertanggungjawaban dari anak yang
dikandung menjadi taruhannya.
Kita memasuki syarat amalan menjadi
ibadah yang ketiga yaitu…
c. Cara melaksanakannya tidak
melanggar apa-apa yang telah menjadi ketentuan agama
Kita akan bahas secara runut
bagaimana agar pelaksanaan nikah sesuai dengan apa yang diperintah dan yang
disunnahkan, terhindar dari apa-apa yang dilarang dan dibenci Allah SWT
Sebelum menikah ada beberapa langkah
menuju ke gerbang nikah da nada beberapa ibadah paska nikah
ü
Pranikah: taaruf dan khitbah
ü Pelaksanaan
nikah: akad nikah dan walimatu 'urusy
ü Paska
nikah: membangun biduk rumah tangga, menjalankan bahtera menuju destinasi
Hari ke-6
Kita memasuki syarat amalan menjadi
ibadah yang ketiga yaitu…
c. Cara melaksanakannya tidak
melanggar apa-apa yang telah menjadi ketentuan agama
Kita akan bahas secara runut
bagaimana agar pelaksanaan nikah sesuai dengan apa yang diperintah dan yang
disunnahkan, terhindar dari apa-apa yang dilarang dan dibenci Allah SWT
Sebelum menikah ada beberapa langkah
menuju ke gerbang nikah da nada beberapa ibadah paska nikah
ü
Pranikah: taaruf dan khitbah
ü
Pelaksanaan nikah: akad nikah dan walimatu 'urusy
ü Paska
nikah: membangun biduk rumah tangga, menjalankan bahtera menuju destinasi
Kita akan ngarah (ngebahas perkara
ibadah) bareng secara sepintas tentang apa saja adab-adab dan cara-cara
bermuamalah yang menjadikannya bernilai ibadah.
Secara detail ada pembahasan detail
di bagian kedua tentang menuju gerbang nikah.
Islam sebagai tuntunan hidup yang
sempurna mengatur semua aspek kehidupan termasuk adab-adab. Mulai dari bangun
tidur hingga tidur lagi. Mulai berakhlak pada khaliq, Akhlak pada sesame
manusia, akhlak pada sesama makhluk Tuhan bahkan akhlak pada lingkungan dan
benda mati.
Terkait dengan pernikahan kita akan
bahas adap pergaulan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dalam Islam.
ü Tidak
diperbolehkan berkhalwat atau berdua-dua dengan lawan jenis yang bukan mahram.
Sayidina Ummar bin Khathab suatu
ketika pernah berkhutbah, menyampaikan sabda rasulullah SAW tentang khalwat.
لاَ
يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا
“Janganlah salah seorang diantara
kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan
adalah orang ketiganya, maka barangsiap yang bangga dengan kebaikannya dan
sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad,
sanad hadits ini shahih)
Larangan ini dikaitkan dengan
keimanan bagi mereka yang berbesar hati dengan kebaikan dan merasa sedih dengan
kebutrukan yang berpotensi menjerumuskan pada dosa.
Mengapa khalwat diiringi oleh setan
sebagai pihak ketiga? Karena setan selalu menghembus-hembuskan godaannya agar
manusia terjerumus dalam dosa. Apalagi dosa besar perzinahan, tarikan ini
sangat kuat bila manusia tidak berhati-hati. Jangan heran bagi mereka yang
sedang jatuh cinta akan memiliki dorongan berlipat-lipat melakukan apa saja
untuk menyenangkan yang dicintainya. Di sinilah setan membisikkan hal buruk
pada satu atau dua belah pihak untuk melakukan zina. Mulai dari zina fikiran atau
hati, zina mata, zina tangan dan zina kemaluan. Nauzubillahi min zalik.
ü
Menjaga aurat sesuai dengan batas yang disyariatkan:
Menjaga aurat ini ada tiga macam,
yaitu dari segi bahan pakaian, bentuk pakaian dan batas bagian tubuh yang harus
ditutup pakaian tersebut. Bahan pakaian mestilah tidak transparan atau tidak
tembus pandang dan juga bukan bahan yang jatuh dan mudah melekat pada bagian
tubuh kita. Model pakaiannya tidak ketat dan tidak membentuk tubuh,
Adapun batas aurat wanita yang harus
ditutup menurut Imam Syafi'i ada beberapa kekentuan sesuai keadaan
i. Aurat dalam alat: seluruh tubuh
kecuali muka dan telapak tangan
ii. Aurat di luar salat dihadapan
mahramnya dan di depan wanita muslimah: sebatas lutut sampai dengan pusar
iii. Aurat di luar salat di depan
wanita tidak beriman: seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan
iv. Aurat di depan laki-laki yang
bukan mahram: seluruh bagian tubuhnya
Memelihara aurat penting untuk
dipahami agar perempuan tidak begitu saja memamerkan keindahan tubuhnya pada
sembarang laki-laki termasuk yang serius ingin menjalin hidup berumah tangga.
Rasulullah bersabda:
الْمَرْأَةُ
عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
“Wanita itu adalah aurat. Jika dia
keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi,
shahih)
Agar klemurnian ketaatan itu bisa
terus terjaga, saat bergaul dengan calon pasangan,
masing-masing harus saling menjaga
auratnya.
Lalu bagaimana untuk batas aurat
laki-laki? Yang perlu diperhatikan adalah antara pusar dengan lutut sebagaimana
sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Ahmad.
Rasulullah SAW bersabda:
فَإِنَّ
مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلَى رُكْبَتِهِ مِنَ الْعَوْرَةِ
Artinya: "Karena di antara pusar
sampai lutut adalah aurat." (HR. Ahmad)
Meskipun batasan aurat pusar sampai
lulut, Rasulullah memberi teladan bagaimana berpakaian sopan yang penuh adab
dan terbalut rasa malu. Rasulullah menutup kepakanya dengan serban atau rida
dan mengenakan jubah di atas mata kaki.
Adab berpakaian ini sangat terkait
dengan saling menyelamatkan agar dua insan berbeda jenis dapat saling bantu
menundukkan pandangannya.
ü
Menundukkan Pandangan
Masa bermuamalah antara dua insan
beda jenis dan bukan mahram akan terus terjaga kesuciannya dengan menundukkan
pandangan. Betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW dan betapa kuatnya penjagaan
beliau pada ummat yang disayanginya. Yuk, kita simak hadits dari Jabir bin
Abdullah yang berkata:
سَأَلْتُ
رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ
أَصْرِفَ بَصَرِى.
“Aku bertanya kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai pandangan
yang tidak di sengaja. Maka beliau
memerintahkanku supaya memalingkan
pandanganku.” (HR. Muslim)
Bagaimana kita menjaga pandangan di
era yang deras dengan saling berbagi informasi saat ini, berbagi ucapan hingga
memberikan perhatian? Bertukar foto hingga voice note dan video call? Dengan
sedikit edit, filter dan berbagai aplikasi, semua wajah menjadi cantik dan
rupawan. Rasanya ujian menundukkan pandangan berkali lipat lebih sulit dilakukan.
Caranya…tiap habis ada kiriman foto
segera hapus. Bila ada ajakan video call, cobalah untuk membuat grup sehingga
tidak hanya berdua-duaan dengan yang bukan mahram. Tambahkan peserta lain yang
akan menghindarkan diri dari berkhalwat online. Jika lawan bicara tidak
keberatan berarti kalian sudah memiliki persepsi yang sama tentang khalwat.
Bila belum punya persepsi yang sama, saling memperbaiki persersi adalah jalan
yang tepat untuk memberkahkan perhaulan dan muamalah.
Lagi-lagi filternya adalah keimanan.
Untuk mempertebal iman kita bisa sering mendengarkan kajian atau mengikuti grup
komunitas hijrah dan komunitas positif lainnya.
ü
Menghindari ikhtilat, yaitu bercampur baur antara laki-laki perempuan yang
bukan mahram. Kalupun ada pertemuan bersama cobalah untuk berada pada
lingkungan yang menjaga batas hijab laki-laki dan perempuan. Hal ini lebih
selamat dan menyelamatkan dari hal-hal yang tak diinginkan seperti pergaulan
bebas.
Menjaga hijab berarti kita masih
memelihara rasa malu. Rasa malu itu sebagian dari iiman.
ü
Memelihara kemaluan. Dari sekian adap bergaul laki-laki dan perempuan di atas,
pada tujuan pokoknya adalah menjaga kemaluan.
Allah SWT berfirman:
قُل
لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ۚ
ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ
Artinya: “Katakanlah kepada orang
laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan
memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.
Kesucian menjelang nikah yang selalu
dipelihara insya Allah akan turut menentukan kesucian langkah berikutnya.
Dengan demikian every singgle second kita akan terbimbing dalam kesucian oleh
Yang Mahasuci, Allah SWT.
Hari ke-7
Kita masaih ngarah, nih! Ngebahas
perkara ibadah. Cukup panjang juga bahasan ini. Karena memang ibadah adalah
setengah dari tujuan manusia diciptakan sementara itu setengah tujuan
penciptaan yang lain adalah sebagai khalifah di muka bumi. Dimana makna
khalifah disini adalah wakil Allah untuk mengelola bumi sesuai dengan aturan
yang Allah gariskan, tetapi mencakupi seluruh perbuatan. Ini berarti, pada
setengah tujuan yang lain mesti dalam koridor niat beribadah pula. Pada bahasan
kita sebelumnya tentang ibadah, disimpulkan bahwa ibadah adalah seluruh amalan
dalam rangka taat pada Allah SWT.
Dalam proses taaruf, ada beberapa hal
yang menjadi koridor muamalah dua insan berlawanan jenis yang bukan mahram.
Demikian juga saat khitbah. Kita bahas hal-hal yang dilarang dalam khitbah:
ü
Mengkhitbah tanpa proses taaruf. Kedua pihak atau salah satu pihak belum
mengenal sama-sekali calon pasangannya. Padahal tujuan khitbah adalah untuk
meminta persetujuan pihak perempuan melangkah ke jenjang yang lebih lanjut, yaitu
pernikahan
ü
Mengkhitbah seseorang yang berada dalam pinangan orang lain
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
َلا
يَخْطُبْ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ ،
أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الْخَاطِبُ
“Tidak boleh seorang lelaki
mengkhitbah di atas khitbah saudaranya, sampai pelamar pertama meninggalkan
(menolak atau ditolak) sang wanita atau pelamar pertama mengizinkan Sekarang
kita bahas syarat yang keempat agar perbuatan itu bernilai ibadah.
ü
Mengkhitbah wanita yang masih dalam masa idah
ü
Mengkhitbah seseorang yang berbeda iman dan keyakinan
ü
Mengkhitbah dengan perasaan hati yang memaksa harus diterima
ü
Mengkhitbah dalam posisi telah memiliki istri empat untuk dijadikan istri
kelima
ü
Mengkhitbah mahram
Tentang dasar hokum khitbah dan
aturannya dapat kita tazaburi dari firman Allah SWT dalam Surat Albaqarah ayat
235:
وَلَا
جُنَا حَ عَلَيْكُمْ فِيْمَا عَرَّضْتُمْ بِهٖ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَآءِ اَوْ
اَکْنَنْتُمْ فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ سَتَذْكُرُوْنَهُنَّ
وَلٰـكِنْ لَّا تُوَا عِدُوْهُنَّ سِرًّا اِلَّاۤ اَنْ تَقُوْلُوْا قَوْلًا
مَّعْرُوْفًا ۗ وَلَا تَعْزِمُوْا عُقْدَةَ النِّکَاحِ حَتّٰى يَبْلُغَ الْكِتٰبُ
اَجَلَهٗ ۗ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ فَا
حْذَرُوْهُ ۗ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ
"Dan tidak ada dosa bagimu
meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kamu sembunyikan
(keinginanmu) dalam hati. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut
kepada mereka. Tetapi janganlah kamu membuat perjanjian (untuk menikah) dengan
mereka secara rahasia kecuali sekadar mengucapkan kata-kata yang baik. Dan
janganlah kamu menetapkan akad nikah sebelum habis masa idahnya. Ketahuilah
bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya. Dan
ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun."
Sekilas tentang langkah selanjutnya,
yaitu akad dan walimatul 'ursy
Akad dianggap tidah sah apa bila
ü Tidak
menghadirkan wali
ü Tidak
menghadirkan dua saksi laki-laki
ü Tidak
menghadirkan salah satu atau dua calon pasangan
ü Tidak
ada mahar
ü
Pengucapan ijab qabul tidak menyertakan nama wanita yang akan ditikah, tidak
menyebut mahar
ü
Pengucapan ijab qabul oleh pihak pria tidak dalam satu kali nafas
ü
Pasangan yang menikah bukan yang dipebolehkan menikah oleh syariaat
Adapun dalam melakukan walimatul
ursy, kita mesti tahu dasar dan perintahnya.
Berdasarkan hadits dari Anas bin
Malik radhiallahu’anhu, ia berkata:
أنَّ
رسولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رأى على عبدِ الرَّحمنِ بنِ عوفٍ أثرَ صفرةٍ
فقالَ: ما هذا ؟. فقالَ: إنِّي تزوَّجتُ امرأةً على وزنِ نواةٍ من ذَهبٍ . فقالَ:
بارَكَ اللَّهُ لَكَ أولم ولو بشاةٍ
“Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam melihat pada pakaian Abdurrahman bin Auf ada bekas minyak wangi. Nabi
bertanya: ada apa ini Abdurrahman? Abdurrahman menjawab: saya baru menikahi
seorang wanita dengan mahar berupa emas seberat biji kurma. Nabi bersabda:
baarakallahu laka (semoga Allah memberkahimu), kalau begitu adakanlah walimah
walaupun dengan seekor kambing” (HR. Tirmidzi no. 1094, An Nasa-i no. 3372,
dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).
Dalam beberapa hadits Rasulullah
menyarankan hidangan yang berbeda-beda. Ini bermakna untuk ukuran sajian tidak
ditetrapkan. Ada yang dengan dua mud gandum, ada yang dengan menyembelih seekor
kambing, ada juga dengan sekeranjang kurma sebagaimana walimatul urusy antara
Ibunda Shafiah dan Rasulullah.
Beberapa yang harus dihindarkan dalam
walimatul Urusy agar tetap bernilai ibadah:
a. Utamakan kesederhanaan, tidah
bermewah-mewah, hindarkan pemubaziran
b. Hindari hiburan yang dilarang
agama, misalnya mengiringi walimah dengan music jahiliah yang mengundang
syahwat serta menghalangi diri dari mengingat Allah SWT atau WO (Wedding
Organizer) yang menghadirkan crew laki-laki menyerupai wanita atau sebaliknya
laki-laki menyerupai wanita
c. Hindari dari menyiksa dan
memaksakan diri untuk menikah mewah sehingga melibatkan riba sehingga dapat
menimbulkan masalah awal dalam rumah tangga
d. Menghindari ikhtilat, sebaiknya
ruang penerimaan tamu laki-laki dan perempuan di pisah agar tidak ada
desak-desakan dan saling sentuh antar tamu yang bukan mahram
Lanjut!!!!! Kita memasuki syarat amal
menjadi ibadah yang keempat, yaitu….
d. Tidak Meninggalkan Ibadah Azas
Ibadah azas bermakna ibadah pokok.
Ibadah wajib yang terikat oleh waktu. Misalnya salat lima waktu, salat Jum'at
bagi laki-laki, puasa wajib Bulan Ramadan, kewajiban zakat dan haji bagi yang
mampu.
Mengapa yang wajib ini mesti di
dahulukan? Karena tidak akan menjadi ibadah yang diterima apabila pada saat
yang sama kita mengebalangkangkan perintahNya. Kita tidak bisa menjadi hamba
yang taat dan dalam waktu bersamaan kita menjadi hamba yang durhaka.
Terkait dengan nikah kita bisa
mengambil contoh-contoh kasus
ü Saat
Taaruf
Ketika semua aturan syariat dipenuhi,
taaruf tidak mengakibatkan berkhalwat dan berikhtilat. Semua telah terjaga
senantiasa ada mahram yang mendampingi. Saat berbincang terdengar suara azan,
maka perbincangan itu harus segera dijeda untuk mengutamakan panggilan Allah SWT.
Hindarkan juga dari keakraban yang berlebihan hingga bermesraan dan berpegangan
tangan.
ü Saat
Khitbah
Silaturahim telah terjalin antara dua
keluarga calon mempelai. Di tengah acara terdengar azan maka sebaiknya ada yang
mengingatkan untuk salat tepat waktu berjamaah. Bila waktu khitbah sedang
berpuasa di bulan Ramadan maka tidak boleh ada hidangan yang dapat membatalkan
puasa meskipun alasannya menghormati tamu.
ü Saat
Walimah
Seringkali saat walimah waktu salat
diabaikan bahkan ada perlombaan suara toa antara music hiburan dan suara
hiburan. Alangkah baiknya jika hiburan dihentikan, tamu undangan diingatkan
oleh MC untuk menunaikan ibadah di masjid atau mushola terdekat. Jangan terlalu
pedulikan hasil dari ingatan kita itu yang penting kewajiban menyampaikan
kebenaran telah sampai.
Jadi agar amalan bernilai ibadah,
jangan sampai mengabaikan ibadah yang lebih utama.
Bila dikaitkan dengan ibadah pokok
yang lain seperti zakat dan haji, bisa dilakukan dengan mengutamakan zakat
sesuai persentase dari nishob yang dimiliki, selebihnya bisa digunakan untuk
persiapan pernikahan.
Lalu bagaimana dengan ibadah haji?
Jika kita sudah ada kemampuan maka sebaiknya menabung sejak awal untuk dana
haji. Karena sifatnya terikat kuota dan daftar antrian, maka sebatas ikhtiar
yang bisa kita lakukan dengan menabung secara berkala. Bila ada kemampuan lebih
dari itu bisa memenuhi simpanan untuk menentukan daftar tunggu.
Adakah muncul anggapan dalam hati
kita Islam itu ribet? Nauzubillahi min zalik. Islam sama sekali tidak memberatkan
umatnya sebagaimana firman Allah:
ۗ
يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ
وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ
وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ
Allah menghendaki kemudahan bagimu,
dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya
dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu
bersyukur."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)
Ayat ini didahului penjelasan detail
tentang Ramadan yzng di dzlzmmya diturunkan Alqur'an yang menjelaskan
keringanan-keringanan dalam berpuasa bagi mereka yang mengalami kesulitan dalam
mengamalkan ibadah saum. Kita bisa mengambil kesimpulan disini bahwa
aturan-aturan dalam Islam bukan untuk membuat kita ribet tapi justru termudahkan
dengan pegangan yang jelas. Bukankah hidup ini lebih ringan dan tertata,
teratur jika ada koridor yang jelas?
Hari ke-8
e. Natijah atau hasil dan akibat
beramalnya adalah sesuatu yang maslahat dan membawa manfaat ataupun keberkahan.
Kita sering mendengar bahwa hasil
adalah hak Allah sedangkan ikhtiar adalah bagian hamba. Hal ini ada benarnya
agar kita selalu bertawakal pada Allah atas hasil yang Allah karuniakan.
Allah SWT berfirman:
اِذْ
يَقُوْلُ الْمُنٰفِقُوْنَ وَا لَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ غَرَّ
هٰۤؤُلَآ ءِ دِيْنُهُمْ ۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَاِ نَّ اللّٰهَ
عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
"(Ingatlah), ketika orang-orang
munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata,
"Mereka itu (orang mukmin) ditipu agamanya." (Allah berfirman),
"Barang siapa bertawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Maha
Perkasa, Maha Bijaksana." (QS. Al-Anfal 8: Ayat 49)
Ayat di atas memerintahkan
bertawakal. Dalam hal ini bisa dikatakan dalam bertawakal bila telah diiringi
doa dan berikhtiar. Sebagaimana perintah ikhtiar pada ayat ke-11 surat Ar Ra'du
لَهٗ
مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ
اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ
نْفُسِهِمْ ۗ وَاِ ذَاۤ اَرَا دَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ
وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّا لٍ
"Baginya (manusia) ada
malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan
belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak
akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka
sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak
ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 11)
Dalam berikhtiar kita harus terbiasa
untuk menentukan target atau tujuan agar paling tidak hasilnya tidak terlalu
meleset dari apa yang menjadi harapan. Seorang hamba yang beriman akan
menentukan target yang baik-baik saja dan menghindarkan diri dari tujuan buruk.
Kembali pada tujuan nikah agar
hasilnya maslahat harus dikembalikan sesuai petunjuk agama:
1. Menyelamatkan hati yang telah
terbalut rasa cinta
2. Menyalurkan hasrat pada yang sah
dan halal sebagai bentuk ibadah
3. Memenuhi bumi dengan generasi
rabbani, pemuja Allah yang taat padaNya
4. Menjalin ukhuwah persaudaraan
antara dua keluarga
Tujuan di atas bukan tujuan sepihak
tapi tujuan bersama. Oleh karena itu dibutuhkan komitmen bersama. Komitmen
bermakna janji yang saling disepakati bersama.
Nah, komitmen apa saja yang harus
disepakati agar masing-masing tujuan tercapai?
1. Menyelamatkan hati yang telah
terbalut rasa cinta
Komitmen yang terkait dengan perasaan
cinta adalah untuk saling menjaga kasih saying dengan pasangan yang sah. Bila
berkasih saying pasca nikah adalah ibadah, maka semangat untuk merawat rasa
cinta mestinya semakin besar dan membara.
Hanya saja…sudah menjadi sifat
syaithan senantiasa menunggangi nafsu untuk merusak ibadah manusia. Saat
sebelun nikah ada potensi dosa dan maksiat maka hembusan cinta akan tertiup
kencang. Sementara itu kasih saying dan cinta setelah menikah justru terasa
lebih beras. Ada saja kreativitas nafsu berkolaborasi dengan syaithan yang
tidak ingin manusia mengumpulkan pundi-pundi pahala.
Oleh karena itu keyakinan bahwa kasih
saying yang ada dalam bingkai pernikahan adalah ibadah harus terus dipupuk dan
disuburkan bahwa sapaan lembut ibadah. Kata-kata mesra berpahala. Sentuhan
tangan berpahala, lirikan mata menjatangkan rahmatNya. Senyuman nakal seorang istri
menggugurkan dosa. Balasan senyuman suami membuat syaithan menangis. Pesan
Rasulullah mencontohkan bagaimana
beliau berkasih saying dengan istri-istrinya bahkan setelah istrinya meninggal
وَرَوَى
أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِي مِنِ طَرِيْقِ مَسْرُوْق عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ
رسول الله صلى الله سلم لَا يَكَادُ يَخْرُجُ مِن الْبَيْتِ حَتَّى يَذْكُرُ
خَدِيْجَةَ فَيُحُسِنُ الثَّنَاءَ عَلَيْهَا، فَذَكَرَهَا يَوْمًا مِن
الْأَيَّامِ، فَأَخَذَتْنِي الغِيْرَةُ فَقُلْتُ: هَلْ كَانَتْ اِلَّا عَجُوْزًا
قَدْ اَبْدَلَكَ الله خَيْرًا مِنْهَا؟. فَغَضَبَ ثُمَّ قَالَ: لَا واللهِ مَا
أَبْدَلَنِي اللهُ خَيْرًا مِنْهَا، آمَنَتْ إِذْ كَفَرَ النَّاسُ، وَصَدَّقَنِي
اِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ، وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَّمَنِي النَّاسُ،
وَرَزَقَنِي اللهُ مِنْهَا الوَلَدُ دُوْنَ غَيْرِهَا مِنَ النِّسَاءِ.
Artinya:
Imam Ahmad dan Thabrani meriwayatkan
dari Masruq dari Aisyah. Aisyah berkata: "Rasulullah itu hampir tidak
keluar rumah kecuali menyebut Khadijah dan memuji-mujinya. Aku pun cemburu,
lalu berkata pada beliau: 'Bukankah dia hanya perempuan tua yang telah diganti
oleh Allah dengan yang lebih baik?' Beliau pun lalu marah. Kemudian berkata:
'Demi Allah, Allah tidak menggantinya dengan yang lebih baik. Dia beriman di
saat orang-orang masih kufur. Dia mempercayaiku di saat yang lain
mendustakanku. Dia membantuku di saat yang orang-orang menghalangiku. Allah
telah memberikan rizki anak melalui dia dan tidak melalui yang lain'. Kemudian
Aisyah berkata: "Dalam hati aku berkata, 'aku tidak akan menyebut Khadijah
dengang sesuatu yang buruk selamanya'". (HR Ahmad dan Thabrani)
Diantara cara memupuk kasih saying,
dengan mengingat segala kebaikannya dan melupakan atau memaafkan kekurangannya.
Kekurangan seseorang adalah lading pahala kesabaran dan kesempatan saling
memperbaiki antara suami dan istri
Oleh karena itulah Allah SWT
mengajarkan kita untuk berdoa
وَا
لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا
قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا
"Dan orang-orang yang berkata,
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan
kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi
orang-orang yang bertakwa. " (QS. Al-Furqan 25: Ayat 74)
Kasih saying akan menghadirkan
seseorang yang kita cintai itu sebagai qurata a'yun. Memandang mereka akan
menyematkan senyuman di dalam hati dan bibir kita. Kasih saying yang murni itu
seperti seorang ibu yang memandang anaknya diusia sebelum mumayiz. Tidak ada
terselip kekesalan sebutir biji sawi sekalipun.
Akan tetapi berkasih saying bukan
bermakna memenuhi segala keinginan yang kita sayangi sebagai bentuk kemanjaan
atau memanjakan tetapi dalam bingkai yang jelas sebagaimana firman Allah dalam
Alquran Surat Attahrim ayat 66
يٰۤاَ
يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا
وَّقُوْدُهَا النَّا سُ وَا لْحِجَا رَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَا ظٌ شِدَا دٌ
لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman!
Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang
tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
Saling asah asih dan asuh di sini
sangat terikat erat dengan tujuan saling menyelamatkan "kuu anfusakum wa
ahlikum naaraa" Sehingga bukan termasuk dalam berkasih saying bila tidak
saling mengingatkan untuk taat pada Allah, saling mengingatkan saat ada yang
terjerumus dalam kedurhakaan padaNya
Hari ke-9
Kita memasuki komitmen yang harus
dibuat dan dijaga untuk tujuan pernikahan yang kedua. Wah rasanya makin
menjurus ke hal yang sensitif, nih. Writer sarankan bacanya habis berbuka puasa
saja, ya…. Writer juga nulisnya malam hari kok, paginya tinggal posting.
2. Menyalurkan hasrat pada yang sah
dan halal sebagai bentuk ibadah
Kata bijak ulama, tidak ada nikah
bila tidak ada hubungan suami istri. Jadi salah satu yang harus dilakukan agar
rumah tangga yang terjalin bisa awet dan menjadi ibadah seumur hidup sepanjang
hayat adalah dengan melakukan hubungan ini. Ini juga yang membedakan
relationship nikah dan bukan nikah.
Jadi bagi siapapun yang memasuki
gerbang nikah jangan sampai tidak membuat komitmen yang sat ini. Kalau ternyata
selepas nikah salah satu pihak atau dua pihak tidak mau melakukan hubungan
suami istri maka siap-siap rumah tangganya bubar. Atau tidak selalunya begitu.
Bila keduanya sepakat untuk sekedar saling memiliki teman hidup tanpa hubungan
suami istri pun tidak masalah. Yang jelas pernyataan sikapnya dilakukan sebelum
akad, bahwa memang karena kondisi tertentu mereka bersepakat tiadak melakukan
hubungan suami istri. Contoh kasus lansia yang merasa kesepian dan memerlukan
teman hidup.
Yang kita bahas lebih detail di sini
bila pasangannya masih muda usia dan secara biologis membutuhkan hasrat
seksual.
Bila dikaitkan dengan ibadah maka
akan selalu terdapat landasan yang disepakati bersama oleh dua pasangan.
Keduanya berkeyakinan bahwa menyalurkan hasrat adalah ibadah. Pengetahuan
tentang hadits dan nash Alquran perlu menjadi bahan bacaan dan referensi
pasangan yang hendak menikah.
Berikut ini writer ungkap kembali
buat menambah keyakinan bahwa nikah itu ibadah karena di perintah.
عَنْ
عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
“النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِيْ فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
وَتَزَوَّجُوا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ
فَلْيَنْكِحْ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ
وِجَاءٌ” رواه ابن ماجه
Artinya: "Dari Aisyah, beliau
berkata, bersabda Rasulullah SAW: Nikah itu sunnahku maka barang siapa yang
tidak beramal dengan sunnahku maka mereka bukan dari bagianku. Menikahlah,
sungguh aku membanggakan kalian di atas ummat-umat yang lain. Barang siapa yang
memiliki kekayaan maka menikahlah. Barang siapa yang tidak mampu, maka
berpuasalah, karena berpuasa itu adalah tameng."
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin
Mas’ud ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا
مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ
فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“ Wahai pemuda, barangsiapa diantara
kalian yang telah mampu memberi nafkah, maka hendaklah ia (segera) menikah.
Karna ia lebih menindukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa
belum mampu maka hendaklah ia berpuasa karna itu adalah pelindung baginya.”
Nash lain yang menguatkan adalah
perintah Allah dalam Alqur'an
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
نِسَآ
ؤُكُمْ حَرْثٌ لَّـكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوْا
لِاَ نْفُسِكُمْ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّکُمْ مُّلٰقُوْهُ ۗ وَ
بَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ
"Istri-istrimu adalah ladang
bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai.
Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan
ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira
kepada orang yang beriman."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 223)
Jika nikah diperintah, hubungan suami
istri pun di atur maka komitmen untuk selalu menjaga hasrat pada pasangan yang
sah adalah bentuk ibadah. Maka wahai pasutri jangan pernah mencoba menikmati
selain dari pasangan masing-masing. Tidak ada penyaluran hasrat lewat suara
seksi. Tidak ada penyaluran hasrat melalui video pada orang lain yang tidak
sah. Barulah tujuan nikah yang akan menjamin nikah sebagai ibadah tetap
terjalin.
Bagaimana bila ada godaan di layar
kaca atau di layar pendar gawai masing-masing. Ada penampakan yang lewat
menjadi panah setan. Solusinya kembali ke rumah temui pasangan dan
beribadahlah.
Bukankah melakukan hal untuk
menghindarkan diri dari maksiat juga merupakan bentuk ibadah?
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirmandalam
Alquran Surat An-Najm 53 Ayat 32
اَلَّذِيْنَ
يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰٓئِرَ الْاِ ثْمِ وَا لْفَوَا حِشَ اِلَّا اللَّمَمَ ۗ اِنَّ
رَبَّكَ وَا سِعُ الْمَغْفِرَةِ ۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَ كُمْ مِّنَ
الْاَ رْضِ وَاِ ذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ ۚ فَلَا
تُزَكُّوْۤا اَنْفُسَكُمْ ۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى
"(Yaitu) mereka yang menjauhi
dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh,
Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia
menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka
janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang
bertakwa."
Bila godaan dunia yang memuncakkan
hasrat terkadang mampir ke mata kita (secara tidak sengaja) maka beristighfar
dan segera menemui pasangan itulah ibadah yang menyelamatkan diri dari maksiat.
Kadang pula karena habis bepergian
suami melihat hal-hal yang memicu hasrat di perjalanan…jangan pula istri jadi
cemburu dengan mengatakan."Hayo, tadi mata Abang melihat apa.
Pulang-pulang langsung minta. Makanya kalau nggak ada istri tuh tunduk
pandangan Awas Abang ngadepin aku tapi bayangan ke yang lain-lain di jalanan
tadi!"
Sambutan ini bisa menghilangkan
hasrat yang seharusnya tersalurkan karena kecurigaan bisa membuat pasangan jadi
penasaran dan melakukan hal yang tidak kita inginkan.
Sebaik-baiknya sambutan adalah
sambutan mesra. Tersanjung karena pasangan kita masih membuat kehadiran kita
berharga. Bahwa keberadaan kita menjadi pelindung pasangan kita dari berbuat
maksiat.
Bentuk komitmen ini bisa dijabarkan
dalam kalimat kesepakatan sebagai berikut:
1. Apabila salah satu membutuhkan
penyaluran hasrat maka keduanya selalu siap untuk saling melayani
2. Apabila dalam kondisi terpaksa
seperti terlalu lelah atau sakit maka kedua belah pikah siap untuk melakukan
kompromi dan saling menghargai dan menunda hubungan suami istri sampai keadaan
normal dan siap untuk saling melayani
3. Ibadah rutin hubungan suami istri
akan dilakukan sesuai sunnah Rasulullah SAW yaitu malam Jum'at dan malam Senin
4. Tambahan waktu berhubungan suami
istri bisa dilakukan atas kesepakatan kedua belah pihak bila dibutuhkan dan
memungkinkan
5. Dan lain-lain sesuai keinginan
calon pasangan suami istri (kenapa calon, karena komitmen disusun sebelum
akad). Masya Allah, seperti perjanjian dalam negara ya, konstutusional. Iya,
dong! Bukankan keluarga itu bentuk tatanan negara terkecil yang membentuk
masyarakat dan masyarakat menyusun sebuah negara.
Lebih detail tentang hubungan suami istri
akan kita bahas pada bab-bab selanjutnya. Jadi tetap pantengin buku di depan
para reader semua. Okey???!!!
Hari ke-10
Natijah atau hasil amalan akan
menjadikan suatu ibadah yang berkah bila sesuai dengan harapan atau paling
tidak tetap membuahkan kebaikan meskipun tidak sama persis dengan target itu.
Target membutuhkan kerjama pasangan suami istri untuk bisa meraihnya. Kerjasama
bermakna perbuatan yang dilakukan dan diperjuangkan bersama. Kebersamaan akan
terikat erat dengan komitmen.
Berarti komitmen adalah salah satu
cara agar tujuan bersama dapat tercapai. Writer mengingatkan kembali tujuan
nikah selanjutnya yang ketiga yaitu…
3. Memenuhi bumi dengan generasi
rabbani, pemuja Allah yang taat padaNya
Tujuan ini sangat agung dan mulia.
Tujuan ini pula sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. Bahkan ini tujuan
mulia yang selalu diserukan para nabi dan rasul. Memenuhi bumi dengan insan
yang dapat menemukan real God and the only God yang berhak dan wajib disembah.
Bukan hanya itu bahkan menjadi insan yang bertakwa.
Bapak para nabi, Khalilullah Nabi
Ibrahim berdoa pada Allah dengan sangat indahnya. Sebagaimana yang terabadikan
dalam Alqur'an Surat Albaqarah ayat 128:
رَبَّنَا
وَا جْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَـكَ وَ مِنْ ذُرِّيَّتِنَاۤ اُمَّةً مُّسْلِمَةً
لَّكَ ۖ وَاَ رِنَا مَنَا سِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّا بُ
الرَّحِيْمُ
"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami
orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak-cucu kami (juga) umat yang
berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah
kami dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat,
Maha Penyayang."
Juga doa Nabi Ibrahim yang satu ini
رَبِّ
اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ
دُعَآءِ
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan
anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah
doaku." (QS. Ibrahim 14: Ayat 40)
Selanjutnya, pada tingkat gelaran
tertinggi sebagaimana pernah kita bahas sebelumnya pada Quran Surat Alfurqan
ayat 74 tentang doa Nabi Ibrahim
وَا
لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا
قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا
"Dan orang-orang yang berkata,
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami
sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang
yang bertakwa.""
Bukankan tujuan ini menjadi hal yang
sangat urgen bahkan wajib diteruskan oleh kita sebagai ummat rasul dan hamba
Allah SWT. Terdapat beberapa tujuan terkait dengan dzuriyat atau estafet
penghambaan pada generasi baru melalui pernikahan ini
1. Melahirkan generasi muslim dengan
sifat sebagai-berikut:
a. berserah diri pada aturan dan
hukum Allah SWT
b. berserah dengan keputusan Allah
SWT penuh kerelaan
2. Mencetak generasi yang senantiasa
mendirikan salat dengan ciri:
a. mengadapkan wajah pada Allah SWT
dengan kekhusyuan
b. melaksanakan falsafah salat
sebagai bentuk pengamalan salat dalam kehidupan sehari-
hari
3. Membentuk keluarga yang penuh
kebahagiaan, menyenangkan, menjadi hiburan karena ketakwaan anggota keluarga
itu. Bukan hanya takwa tapi mutaqin yang diikuti ketakwaannya. Artinya bertakwa
lagi mengajak pada ketakwaan.
Karena ketakwaan adalah darjat
tertinggi, sebuah tingkatan yang didahului oleh keislaman seseorang kemiubian
meningkat pada tahap beriman dan disempurnakan dengan ketakwaan, kita akan
ngopata nih (ngobrolin perkara takwa)
Ada delapan syarat taqwa menurut
seorang ulama besar dari negeri jiran Allahuyarham yang dikenal dengan gelaran
Abuya Syeikh Imam Asy'ari bin Muhammad. Ulama Ahlussunah dan ahli tariqat yang
teramat nyata wara'nya. Yuk, kita kupas satu satu. Ini terkait dengan komitn
apa yang harus dibuat oleh dua calon pasangan sebelum melangsungkan akad.
1. Dapat Hidayah dari Allah SWT
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
فَمَنْ
يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِ سْلَا مِ ۚ وَمَنْ
يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَ نَّمَا
يَصَّعَّدُ فِى السَّمَآءِ ۗ كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى
الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ
"Barang siapa dikehendaki Allah
akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima)
Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya
sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah
menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman."(QS. Al-An'am 6:
Ayat 125)
Meraih ketakwaan harus diawali dengan
ketukan pertama untuk mengakui bahwa Islam adalah agama kebenaran. Bahwa Islam
adalah petunjuk Allah SWT pada seluruh manusia sejah nabi Adam hingga akhir
zaman agar manusia berada dalam jalan yang lurus.
2. Paham agama
Setelah mengakui Islam agama yang
benar maka harus dilanjutkan dengan mendalami Islam hingga pada tingkat
kepahaman.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah
hadits:
مَنْ
يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ
“Barang siapa yang Allah hendak
jadikan dia orang baik, maka dia akan diberi faham tentang Islam"
Kepahaman akan Islam harus diperoleh
dengan memahami sumber utama hokum Islam yaitu Alquran dan hadits. Ada
pengajian yang mendalam dengan bimbingan orang-orang yang mendalaminya terlebih
dahulu. Mendengar bahasan Islam oleh para Asatiz dan masayikh, habaib dan ulama
yang beramal dengan ilmunya.
Paham bermakna mengetahui disertai
pembenaran oleh akal, hati dan ruh. Artinya tidak hanya tahu dan membenarkan
secara akal tapi melalui proses bertanya, muzakarah, murajaah, muthalaah hingga
meresap dalam hati. Karena hati ini yang merajai tubuh kita dan menjadi pusat
gerakan bukan hanya lahir tetapi juga batin.
أَلاَ
وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ،
وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu
ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak,
maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).”(HR.
Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Terlalu banyak sumber yang Allah
bentangkan saat ini melalui berbagai tayangan offline dan online juga tayangan
offline yang di-online-kan.
3. Yakin Percaya Sepenuhnya
Yakin adalah perkara iman yang sudah
mendarah daging. Tidak ada ragu sedikitpun. Tidak siselipi oleh Zan (25% tidak
percaya, 75% percaya), Syak (50% tidak percaya 50% percaya), Wahn (75% tidak
percaya, 25% percaya). Jadi yakin di sini sudah tidak menyisakan rasa tidak
percaya, semua diyakini benar.
Ciri seseorang sudah yakin, akal,
hati dan perbuatannya sudah menyatu dan mencerminkan keyakinan yang ada dalam
dirinya. Yakin tidak akan menyisakan berbagai perkataan baik lahir maupun batin
seperti, "Benarkah?" "Ah, mungkin bukan begini"
"Menurut saya yang benar tuh begini"
Oleh karena itu, sifat keyakinan ini
terlalu manis dan ia adalah nikmat yang luar biasa. Sami'na wa atha'na.
Menjalankan segala sesuatu dengan ringan jika sudah dilandasi iman dan
keyakinan.
Jadi iman itu adalah yakin hingga
masuk ke dalam hati, terucap dalam lisan sebagai bukti penguatan, tercermin
dalam perbuatan sebagai bukti dari iman itu sendiri.
Bahasan lanjutnya bisa kita teruskan
besok ya…Nice to be read by you, thanks for reading. Jazakumullah khairan
katsiraa
Hari ke-11
Ada yang tertinggal sedikit dari
bahasan kemarin, kita coba hadirkan ta'rif iman dari sebuah hadits dari Abu
Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
الإِيمَانُ
بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ
وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
“Iman itu ada 70 atau 60 sekian
cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada
sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah
menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari
iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).
Jadi iman disini bermakna keyakinan
dalam hati yang disertai dengan pengucapan oleh lisan dan perbuatan dengan
amalan yang mencerminkan adanya iman dalam hati. Jadi konseklwensi dari iman
itu adalan lisanya menyatakan dan amal perbuatannya pula mencerminkan apa yang
diyakininya itu.
Tidak sempurna keimanan bila hanya
salah satu diantara lisan dan perbuatannya saja yang membuktikan. Sementara
keyakinan dalam hati dan ruh tidak bisa ditawar lagi, harus hadir.
Kita ngopata lagi, nih! Masih
ingatkan apa itu Ngopata (ngobrolin perkara takwa). Langkah menggapai takwa
sudah sampai pada tahap ketiga, yaitu hidayah, paham dan yakin. Kita masih ada
empat steps lagi supaya ngopatanya tuntas.
4. Beramal
Beramal di sini sangat penting karena
ianya menjadi manifestasi keyakinan seseorang. Keyakinan menjadi landasan bagi
amal seseorang. Keyakinan pula hanya akan muncul bila seseorang itu paham.
Kepahaman adalah tanda bahwa dia mendapat hidayah. Semua menjadi satu rangkaian
syarat takwa yang tidak bisa dipisah-pisahkan.
Amalan seseorang yang beriman akan
tersuluh oleh imannya. Dalam tiap langkah hidup seorang mukmin mesti menimbang
lima hokum Islam yang mengikat hidup dan kehidupannya dari bangun tidur hingga
tidur lagi.
a. Wajib, terhadap yang wajib, seorang
mukmin akan mengambil berat. Keinginannya kuat melaksanakan karena hal itu
harus dilakukan. Bila tidak melakukannya, ia takut pada Allah Yang Mahatahu.
Dirinya khawatir akan catatan amal yang dilakukan Raqib Atid mempermalukan
wajahnya di akhirat kelak di hadapan Allah SWT.
b. Sunnah, terhadap yang sunah ia
akan mengutamakan. Keyakinan akan kebenaran Rasulullah sebagai teladan terbaik
akan mendorongnya mengamalkan yang sunah. Kebahagiaan baginya bila Allah
tersenyum ridha padanya
c. Makruk, terhadap yang makruh
seseornag yang beriman akan sensitive untuk menin ggalkannya. Tidak ada ruang
kecil dalam hatinya rela mendapatkan kebencian dari Allah. Menghindari yang
makruh adalah perkara utama.
d. Haram, terhadap yang
haram,seseorang yang beriman akan segera dengan midah menghindarinya. Jika
terhadap yang makruh seorang mukmin mampu menghindar maka apalagi untuk yang
haram
e. Mubah atau jaiz, seorang yang
beriman akan menempuh lima syarat jadi ibadah. Masih ingat? Yang pertama niat
lillah, perkaranya diperbolehkan bukan haram, caranya sesuai syariat, dalam
melakukannya tidak meninggalkan ibadah pokok yang wajib, hasilnya diusahakan
sebaik mungkin
Amalan orang yang beriman pula sesuai
dengan ilmu yang didapatnya, dipahaminya dan diyakininya.
أَفَمَنْ
يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى
Adakah orang yang mengetahui
bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan
orang yang buta? [Ar Ra`ad:19].
Kedudukan ilmu ini juga disampaikan
Rasulullah seperti termaktub dalam hadits riwayat Muslim nomor hadits 1718:
مَنْ
عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa yang beramal tanpa dasar dari
kami, maka amalan tersebut tertolak.”
Ulama tabiin yang ternama, Al Hasan
Al Bashri rahimahullah berkata,
العَامِلُ
عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ كَالسَّالِكِ عَلَى غَيْرِ طَرِيْقٍ وَالعَامِلُ عَلَى غَيْرِ
عِلْمٍ مَا يُفْسِدُ اَكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُ فَاطْلُبُوْا العِلْمَ طَلَبًا لاَ
تَضُرُّوْا بِالعِبَادَةِ وَاطْلُبُوْا العِبَادَةَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِلْمِ
فَإِنَّ قَومًا طَلَبُوْا العِبَادَةَ وَتَرَكُوْا العِلْمَ
“Orang yang beramal tanpa ilmu
seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang sebenarnya. Orang yang
beramal tanpa ilmu hanya membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan
kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh, namun jangan sampai
meninggalkan ibadah. Gemarlah pula beribadah, namun jangan sampai meninggalkan
ilmu. Karena ada segolongan orang yang rajin ibadah, namun meninggalkan
belajar.”
Sementara itu ilmu tanpa amal pun berbahaya
sebagaimana petikan nasihat ulama, Ibnu Qoyyim Aljauzi Rahimahullahu ta'ala:
كُلُّ
عِلْمٍ وَعَمَلٍ لاَ يَزِيْدُ الإِيمَانَ واليَقِيْنَ قُوَّةً فَمَدْخُوْلٌ،
وَكُلُّ إِيمَانٍ لاَ يَبْعَثُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدْخُوْلٌ
Setiap ilmu dan amal yang tidak
menambah kekuatan dalam keimanan dan keyakinan maka telah termasuki
(terkontaminasi), dan setiap iman yang tidak mendorong untuk beramal maka telah
termasuki (tercoreng).
Kedudukan ilmu sebagai landasan amal
sangatlah penting, maka belajar Islam adalah hal utama yang harus dilakukan.
Imam Alghazali pernah menasihati
muridnya, beliau mengutip sebuah hadits Rasulullah SAW
أَشَدُّ
النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ عَالِمٌ لَا يَنْفَعُهُ اللهُ بِعِلْمِه
Nabi Muhammad SAW bersabda,
"Manusia yang paling berat mendapatkan siksa di hari kiamat, yaitu orang
yang mempunyai ilmu, yang Allah tidak memberi manfaat atas ilmunya."
Nah, betapa konsekwensi jahiliah
tanpa ilmu itu berbahaya dan konsekwensi berilmu tanpa amalan pun merusak dan
mencoreng nama baik seseorang. Maka langkah terbaik adalah terus belajar sambil
memohon pada Allah sebagaimana doa kita saat hendak belajar
اَللَّهُمَّ
إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu
ilmu yang bermanfaat, dan berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak
bermanfaat". HR. Ibnu Hibban. Hadis hasan sahih
Ngopatanya kita lanjut dulu masih ada
kesempatan nih sebelum batas deadline habis. Kita akan membahas syarat takwa
yang kelima yaitu….
5. Mujahadatunnafsi
Mujahadatunafsi artinya bersungguh
sungguh memerangi hawa nafsu. Karena sekuat apapun iman, sedalam apapun
kepahaman, kesental apapun keyakinan, syaitan masih mengintip kelemahan dan
kelengahan manusia melalui nafsunya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَاۤ
اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَ مَّا رَةٌ بِۢا لسُّوْٓءِ اِلَّا مَا
رَحِمَ رَبِّيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Dan aku tidak (menyatakan)
diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong
kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang."(QS. Yusuf 12: Ayat 53)
Agar nafsu kita dirahmati Allah maka
kita mesti bermujahadah memeranginya, mendidiknya agar nafsu yang jahad bisa
berubah menjadi baik.
Adakah nafsu yang baik? Ada, yaitu
nafsu yang dirahmati. Pada dasrnya nafsu bermakna keinginan. Jadi jika nafsu
mazmumah yang buruk kita didik dengan baik, ia akan menjadi nafsu mahmudah atau
keinginan, hasrat, dorongan yang baik.
Misalnya nafsu kita masih buruk yaitu
kikir. Maunya menikmati semuanya sendiri. Atau kita masih didominasi sifat
kikir, pelir, cap jahe kata Dai Kondang Baheula, KH Zainudin MZ. Maka harus
dikikis, dibersihkan, dididik dengan memaksakan diri bersedekah . Tentu
didorong pula dengan keyakinan bahwa rezeki akhirat kita adalah apa yang kita
berikan untuk orang lain.
Kita harus kenali sifat nafsu kita
mana yang lebih dominan. Kesombongan merasa diri lebih baik dari orang lain dan
orang lain lebih baruk dari kita harus dididik agar berubah jadi tawadhu. Keluh
kesah, kufur nikmat dan tidak sabaran harus dididik untuk menjadi sabar penuh
kesyukuran, pandai mengingati nikmat dari pada kesulitan
Allah tidak akan menyia-nyiakan tiap
ikhtiar pembersihan hati ini sebagaimana janjinya dalam Al Qur'an Surat
Al-'Ankabut ayat 69)
وَا
لَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ
لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
"Dan orang-orang yang berjihad
untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan
Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik."
Hari ke-12
Dalam rangka ngobrolin perkara nikah
(Ngopeni) kita udah ngarah (ngebahas perkara ibadah) dan ngopata (ngobrolin
perkara takwa), nih! Maklum dalam rangka menggalakkan fungsi transportasi umum
dan jaran rumah mempelai cukup jauh jadinya kita ngopata. Sabar ya, reader…
Kita santai aja biar bacanya nggak stress sambil mikirin bekel khitbah dan
resepsi nikah. Writer doakan semuanya lancer menuju ridhoNya.
Bahasan terakhir kita tentang
mujahadatunnafsi. Ini bagian dari bekal calon pasutri supaya nikah niat lillah
nikah dapat diarahkan sesuai tujuannya. Dan komitmen yang dibuat adalah dalam
rangka mencapai tujuan itu.
Kedudukan mujahadatunnafsi sangat
penting bahkan Rasulullah bersabda
قدمتم
خير مقدم من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر . قالوا : وما الجهاد الأكبر ؟ قال :
مجاهدة العبد هواه
“Kalian datang dengan sebaik-baik
kedatangan, kalian datang dari jihad kecil menuju jihad besar.” Mereka
bertanya: “Apakah jihda besar itu?” Beliau bersabda: Mujahadahnya seorang hamba
terhadap hawa nafsunya. (HR. Al Baihaqi)
Mujahadah ini penting sekali tanpa
mujahadah seseorang yang sudah puluhan tahun beribadah pada Allah SWT bila
tidak bersungguh-sungguh bermujahadah bisa saja terjerumus dalam dosa besar.
Kisah ini disampaikan oleh Sayidina Ali, yaitu kisah Barsisha.
Sayidina Ali berkisah: Ada seorang
rahib yang dikenal rajin beribadah, sudah berlangsung selama 60 tahun. Syaitan
ingin menggoda dan menjauhkannya dari beribadah. Kemudian syaitan pergi pada
seorang wanita dan membuatnya menjadi gila. Wanita tersebut memiliki beberapa
saudara. Syaitan berkata pada saudara-saudara perempuan itu, " Coba kalian
bawa saudara perempuan kalian kepada rahib ini, dimana dia bisa mengobati
saudara perempuan kalian"
Mereka mengikuti saran syaitan lantas
membawa saudara perempuan mereka kepada rahib. Kemudian diobatilah perempuan
itu oleh rahib. Wanita it uterus beradia di sisi rahib selama proses
pengobatan. Suatu saat, rahib itu berada di sisi wanita itu. Lalu ketika itu timbul
ketertarikan rahib dengannya, kemudian didatangi dan dihamilinya. Kemudian
tanpa piker panjang rahib itu membunuhnya. Saudara dari wanita itu pun datang.
Saat itulah syaitan datang dan berkata pada rahib tersebut, "Aku ini
temanmu, aku bisa membantumu, aku bisa melakukan sesuatu untukmu, tapi taatlah
kepadaku, aku akan melepaskanmu dari masalahmu. Cukup kau sujud dengan sekali
sujud saja.
Rahib itu akhirnya sujud pada
syaitan. Kemudian syaitan berkata, "Aku berpaling darimu. Aku sendiri
sangat takut pada Allah Rabbul'alamiin."
Dari kisah ini kita mendapatkan
pelajaran berharga betapa napsu harus dijaga harus dididik, dilatih agar tidak
terjerumus ke dalam maksiat.
Allah tidak akan menyia-nyiakan tiap
ikhtiar pembersihan hati ini sebagaimana janjinya dalam Al Qur'an Surat
Al-'Ankabut ayat 69)
وَا
لَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ
لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
"Dan orang-orang yang berjihad
untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan
Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik."
Allah sanggat menganjurkan kita untuk
membersihkan nafsu kita dan Dia akan memberikan jalanNya yang lurus. Bukan
hanya itu bahkan Allah membersamai orang-orang yang berbuat kebaikan
Dalam Alqur'an Surat Asy Syam ayat
7-9
وَنَفْسٍ
وَّمَا سَوّٰٮهَا
فَاَ
لْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا
قَدْ
اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰٮهَا
وَقَدْ
خَا بَ مَنْ دَسّٰٮهَا
"Demi nafsu (jiwa) serta
penyempurnaan (penciptaan) nya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan
dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan
sungguh rugi orang yang mengotorinya."
Jadi dalam diri kita ada potensi
nafsu mazmumah (fujur) dan potensi nafsu mahmudah (takwa). Kewajiban kita
adalah membersihkan potensi jahat dan menghidupkan potensi takwa. Barulah kita
akan tergolong pada orang-orang yang beruntung.
Langkah takwa selanjutnya setelah
bermujahadah adalah...
6. Istiqamah
Apa sih, makna istiqamah itu? Kata
istiqamah berasal dari akar kata قام yang
bermakna bangkit atau berdiri tegak. Sementara makna istiqomah bermakna
kejujuran, integritas, kesehatan dan banyak makna yang lain. Sedangkan
berdasarkan istilah syariat, istiqomah adalah tetap atau konsisten pada jalan
yang lurus apapun yang berlaku.
Perintah istiqamah termaktup dalam
banyak ayat Alqur'an. Kita sematkan dua diantaranya:
فَا
سْتَقِمْ كَمَاۤ اُمِرْتَ وَمَنْ تَا بَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۗ اِنَّهٗ بِمَا
تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
"Maka tetaplah engkau (Muhammad)
(di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga)
orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia
Maha Melihat terhadap apa yang kamu kerjakan."
(QS. Hud 11: Ayat 112)
فَلِذٰلِكَ
فَا دْعُ ۚ وَا سْتَقِمْ كَمَاۤ اُمِرْتَ ۚ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَآءَهُمْ ۚ
وَقُلْ اٰمَنْتُ بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنْ كِتٰبٍ ۚ وَاُ مِرْتُ لِاَ عْدِلَ
بَيْنَكُمُ ۗ اَللّٰهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۗ لَـنَاۤ اَعْمَا لُـنَا وَلَـكُمْ
اَعْمَا لُكُمْ ۚ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۗ اَللّٰهُ يَجْمَعُ
بَيْنَنَا ۚ وَاِ لَيْهِ الْمَصِيْرُ
"Karena itu, serulah (mereka
beriman) dan tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan
kepadamu (Muhammad) dan janganlah mengikuti keinginan mereka dan katakanlah,
"Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar
berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami
perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu. Tidak (perlu) ada pertengkaran
antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita)
kembali.""
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 15)
Adapun perintah agar istiqamah diatas
jalan iman disampaikan Rasulullah SAW:
عَنْ
سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ
Dari Sufyan bin Abdullâh ats-Tsaqafi,
ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasûlullâh, katakan kepadaku di dalam Islam
satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun setelah Anda!”
Beliau menjawab: “Katakanlah, ‘aku beriman’, lalu istiqomahlah”. (HR Muslim,
no. 38)
Untuk meraih takwa, kita mesti
istiqamah dalam beramal dan tidak angin-anginan alias moody-an. Kalau ada mood
baru beramal. Kalau tidak mood akhirnya mager, tidak mau beramal bahkan tidak
mau beramal apapun. Seperti rebahan sambil menghibur diri dengan gawai.
Bukankah itu menyia-nyiakan waktu?
Bagaimana, ya, supaya kita bisa terus
istiqamah?
a. Biasakan diri secara rutin
mendengar nasihat baik. Bisa membaca Alquran dan Hadits, membaca buku islami,
mendengar kajian, melihat tayangan yang mencerahkan dan menambah iman. Nasihat
ini akan membantu kita membersihkan jiwa dari yang fujur dan memenuhinya dengan
takwa
b. Memahami, menghayati pentingnya
istiqamah dan manfaatnya bagi kita. Bahwa amalan yang sedikit tapi istiqamah
itu lebih dicintai Allah dari pada banyak tapi hanya sekali dua kali, lalu
berhenti. Istiqamah itu seperti membuat lubang dengan bor, bila sabar, tekun,
ulet dan terus menerus maka hasilnya aka nada. Natijahnya akan teraih. Seperti
wise word experience makes perfection. Atau expert by sustainability and
continuity
c. Berkumpul dengan orang-orang yang
shalih, saling menularkan kebaikan dan takwa. Membatasi diri dari bergaul yang
membuat kita cenderung berbuat fujur kecuali dengan tujuan dakwah
d. Meminta kepada Allah SWT untuk
diberi keistiqamahan
Hari ke-13
Ngopata kita sudah memasuki poss yang
ketujuh, yaitu…
7. Memiliki Guru Mursyid
Apa, sih, makna guru mursyid itu?
Kita sering dengar seseorang berkata "guru mursyid saya" atau
"mursyid saya" Biasanya kita temukan di kalangan ahli tariqat, yaitu
orang-orang yang memiliki amalan tertentu sebagai thariq atau jalan untuk
menuju Allah.
Makbna mursyid bisa dipahami dari
akar katanya arsyada-yursyidu-rusydan, bermakna memperoleh petunjuk, menjadi
lurus atau benar. Padanan katanya arsyada-yursyidu-irsyadan-mursyidan, bermakna
jalan yang lurus. Sehingga mursyis bisa dimaknai mereka yang memiliki petunjuk
jalan lurus sehingga bisa menunjuki jalan yang lurus pada orang lain. Jadi
mursyid adalah guru yang sekaligus pemimpin, dapat membimbing muridnya meniti
jalan lurus dan mendapat keridhaan Allah SWT.
Dalam Alqur'an, kata mursyid
termaktup dalam surat Al Kahfi ayat 17:
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَتَرَى
الشَّمْسَ اِذَا طَلَعَتْ تَّزٰوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَا تَ الْيَمِيْنِ وَاِ ذَا
غَرَبَتْ تَّقْرِضُهُمْ ذَا تَ الشِّمَا لِ وَهُمْ فِيْ فَجْوَةٍ مِّنْهُ ۗ ذٰلِكَ
مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ ۗ مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۚ وَمَنْ
يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا
"Dan engkau akan melihat
matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila
matahari itu terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada
dalam tempat yang luas di dalam (gua) itu. Itulah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)
Allah. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat
petunjuk; dan barang siapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan
seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya."
Pentingnya guru mursyid bahkan
perintah memiliki mursyid bisa kita ungkap dari beberapa nash Alquran dan
hadits berikut ini:
Rasulullah bersabda tentang guru
mursyid ,
مَنْ
لاَشَيْخٌ مُرْشِدٌ لَهُ فَمُرْشِدُهُ الشَّيْطَانُ
Artinya: “Barangsiapa yang tiada
Mursyid (Guru) yang memimpinnya ke jalan Allah, maka syaitanlah yang menjadi
gurunya"
عن دود
عن ابن مسعود قال رسول الله ص م : كُنْ مَعَ اللهِ وَاِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ اللهِ
فَكُنْ مَعَ مَنْ كَانَ مَعَ اللهِ فَإِنَّهُ يُوْصِلُكَ اِلَى اللهِ
Artinya: “Sertakan dirimu kepada
Allah, jika kamu belum dapat menyertakan dirimu kepada Allah, maka sertakanlah
dirimu kepada orang yang telah serta Allah, maka ia akan menyampaikan kepada
kamu pengenalan kepada Allah.” (H.R. Abu Dawud)
Firman Allah Swt;
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah / jalan yang mendekatkan
diri kepada-Nya dan berjihatlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat
keberuntungan." (QS. al Maidah : 35)
Guru mursyid bukan hanya sekedar
'alim tetapi ianya memperoleh ilmu yang berkah dan bermanfaat. Ilmu itu bisa
menjadi cahaya untuk kehidupannya, dirinya dan keluarganya bahkan orang-orang
yang mengikuti di belakangnya. Petunjuk yang Allah berikan benar-benar
dijadikan pakaian, sehingga orang lain akan dengan mudah melihat keteladanan
ittu terpancar pada perbuatannya. Perkataan, dan perbuatannya selaras dengan ilmu
yang dimiliki.
Guru yang menjadikan petunjuk hidayah
Islam bukan sekedar mental exercise tapi telah menjadi dinnul hayah, cara hidup
dan berkehidupan. Mursyid mestilah orang yang bertakwa. Mungkin dari segi ilmu
tidak selalunya unggul tapi dari segi ketakwaan, ianya termasuk orang yang
taqarub kepada Allah SWT. Hatinya begitu luas menerima kebenaran. Iradahnya
untuk menjalankan dan mengamalkan Islam begitu kuat. Sehingga ia memiliki
magnet untuk menarik orang lain yang ingin selamat dan terselamatkan.
Adapun ciri mursyid adalah sebagai
berikut:
1. Cenderung tersembunyi atau
disembunyikan oleh Allah SWT. Peranannya besar tapi tidak disebut-sebut
selayaknya ulama kondang. Ia hanya dikenal sangat baik dan dekat di kalangan
para muridnya
2. Hidupnya sederhana, menghindari
kemewahan dan pemubaziran
3. Ucapannya bijaksana, tidak suka
mengklaim sebagai yang lebih benar apalagi paling benar
4. Rasa takutnya pada Allah sangat
terlihat sehingga perbuatannya hati-hati dalam menghindari kemurkaan Allah SWT
5. Memiliki ilmu hikmah dan firasat
yang tajam mampu menyibak rahasia Allah SWT
اتقوا
فراسة المؤمن فاءنه ينظر بنور الله
Artinya: "Takutlah terhadap
firasat seorang mukmin, sebab ia melihat dengan cahaya Allah, kemudian membaca
ayat Inna fi dzalika li ayatin lilmutawassimin." (HR Tirmidzi)
6. Memiliki karamah dan firasat yang
tajam tidak mengenal rasa takut
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اَ
لَاۤ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
"Ingatlah wali-wali Allah itu,
tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih"
7. Hidupnya bergantung pada Allah
SWT, sehingga seakan dia sangat percaya diri dan terhindar dari bersandar pada
orang lain.
Itulah yang bisa kita intip di pos
ketujuh ngopata kita. Kita lanjut ke pos yang kedelapan yuk…!!!
Ngopata kita sampai pada pos
kedelapan, yaitu...
8. Berdoa
Senjata pamungkas seorang mukmin
adalah doa. Meskipun pamungkas, bukan berarti kita letakkan di akhir langkah
kita. Disebut pamungkas karena ianya menjadi sandaran yang kuat saat kita
ikhtiar dan mentok sana mentok sini. Justru langkah pertama dalam melakukan
sesuatu adalah doa. Bahkan sebelum melangkah pun diawali dengan doa. Bukankah
basmallah juga doa.
Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu
Hibban Rasulullah SAW bersabda:
كل أمر
ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله فهو أبتر
Segala urusan penting yang tidak
diawali bismillah, maka akan berkuran (atau bahkan hilang) keberkahannya. (HR.
Ibnu Hibban)
Dalam hal ini urusan terpenting bagi
hamba Allah SWT adalah meraih gelaran takwa. Gelar yang membuat seseorang
mendapat jaminan pertolongan dunia dan akhirat
وَمَنْ
يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا
يَحْتَسِبُ ۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗ اِنَّ اللّٰهَ
بَا لِغُ اَمْرِهٖ ۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Barang siapa bertakwa kepada Allah
niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki
dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada
Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah
melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap
sesuatu." (QS. At-Talaq 65: Ayat 2-3)
Betapa besar kedudukan takwa itu,
ganjaran yang dijanjikan adalah selesainya segala permasalahan. Jalan keluar
dari problematika kehidupan, rezeki min haitsu laa yahtashib, yang dating tanpa
diduga ataupun diusahakan karena Allah SWT yang memperjalankan urusannya.
Kehidupan dunia pun berpihak pada
orang yang bertakwa, apalagi kehidupan akhirat, sebagaimana firman Allah SWT
dalam Alqur'an
لِلَّذِينَ
اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ
بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
Untuk orang-orang yang bertakwa
(kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya
sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri
yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan
hamba-hamba-Nya.
Jika kedudukan takwa itu menjadikan
hamba Allah mendapatkan jaminan kehidupan dunia dan akhirat maka tentukah takwa
ini menjadi perkara besar yang tak boleh ddianggap enteng, bukan?
Hari ke-14
Semua pos telah kita lalui bersama
ngopata. Masih ingat kegiatan ngopata, kan? Ngobrol perkara takwa atau perihal
takwa juga boleh. Ringkasnya, untuk meraih takwa kita mesti mendapat hidayah
dari Allah SWT, paham Islam, yaqin, beramal dengan keyakinan, istiqamah
beramal, mujahadatunnafsi, memiliki guru Mursyid dan terakhir doa.
Terkait dengan komitmen apa yang
mesti disepakati agar derajat takwa bisa kita raih akan kita buat dalam daftar
dalam subbagian syarat takwa
1. Meraih Hidayah.
Agar keluarga yang dibangun mudah
meraih Hidayah Allah komitmen berikut bisa dicanangkan, misalnya:
a. Antar anggota keluarga harus
saling menasihati dengan lapang hati dan niat lillah
b. Penyampaian nasihat dengan cara
yang ahsan dan menghindari salah penerimaan
c. Keluarga menghidupkan kebiasaan
positif untuk menciptakan suasana teduh penuh taushiyah dari berbagai media
radio, televisi, internet, speaker aktif dan lain sebagainya
d. Menghidupkan suasana keilmuan
dengan literasi terbimbing guru perpekan untuk menyentuh tingkat kesadaran
e. Mempersiapkan hati yang lapang dan
terhadap nasihat dengan melantunkan zikir pelembut
2. Paham Islam
Setelah komitmen menjaring hidayah
terbangun dengan kuat, maka perlu kesepakatan untuk bisa memahami Islam dengan
langkah berikut:
a. Mengadakan diskusi untuk menyentuh
tingkat kepahaman
b. Meluangkan waktu mengadakan
muzakarah harian bila terkendala kesibukan maka dapat dengan memanfaatkan media
sosial
c. Membuat daftar hal fardhu a'in
yang wajib di PP ahami bersama:
*tauhid/usuludin untuk mengenal Allah
SWT
*syari'ah/fiqih untuk mencukupkan
sahnya ibadah
*akhlaq/tasawuf untuk memperbaiki
hubungan lahir batin dengan Allah dan juga sesama makhlukNya
*Ihsan untuk merasakan kehadiran
Tuhan dimanapun kita berada, apapun aktivitas kita
*ilmu akhir zaman yang mencukupkan
persiapan lahir batin terhadap dahsyatnya fitnah akhir zaman.
3. Memperkuat Keyakinan
Keyakinan bermakna mendarahdagingkan
kepahaman hingga akal, hati dan jiwa kita meyakininya. Yakin berkaitan dengan
iman. Iman adalah keyakinan hati yang terucapkan dan terpancar dalam perbuatan.
Kesepakatan untuk menguatkan iman, antara lain:
a. Mengaitkan apapun rangkaian
peristiwa dengan dasar keyakinan yang dimiliki dengan mengembalikan tiap
masalah dan persoalan dengan kacamata iman
b. Tidak melakukan tindakan apapun
yang bercanggah dari pokok-pokok keimanan
c. Saling tolong bantu untuk
menguatkan iman dengan menghadirkan keyakinan peranan Allah SWT di tiap detik
kehidupan.
d. Menyandarkan segala urusan pada
Allah SWT dengan ikhtiar sebagai bentuk ketaatan pada seruanNya untuk selalu
berusaha.
4. Mengamalkan Kepahaman
Mengamalkan ilmu berarti
mentransformasikan ilmu ke dalam tindakan praktis sehari-hari. Sesuai dengan
pembagian fardhu'ain, pengamalan akan terkait dengan pp0Bersama-sama memahami
pokok keimanan yang enam dan mengaplikasikan dalam keseharian.
b.syari'ah/fiqih untuk mencukupkan
sahnya ibadah
*Bersama-sama memahami rukun Islam
yang lima dan mengamalkan bersama dalam hidup berumah tangga.
*Bersyahadat dengan keyakinan,
mengamalkannya dalam tiap nafas dan langkah tanpa lelah rasa dan jiwa
*Tidak meninggalkan sholat fardhu
*Mendirikan sholat fardhu 5 waktu
dalam keadaan berjamaah
*Menunaikan puasa wajib dan sunnah
minimal yaumil bidh, atau Senin Kamis
*Membayar zakat 2,5% dari
penghasilan, 10% dari hasil pertanian dan lain sebagainya
*Membuka tabungan haji dan
menyisihkan harta untuk memenuhi dana haji sebesar 10% dari penghasilan
c.akhlaq/tasawuf untuk memperbaiki
hubungan lahir batin dengan Allah dan juga sesama makhlukNya
*Berakhlak pada Tuhan dengan selalu
mengingatiNya
*Berakhlak pada nabi dan rasul dengan
meneladani perbuatan mulia mereka
*Berakhlak pada para malaikat Allah
dengan meyakini tugas dan sifatnya
*Berakhlak pada sesama makhluk Allah
dengan menjaga keseimbangan kehidupan mereka dalam peranannya di alam
d.ihsan untuk merasakan kehadiran
Tuhan dimanapun kita berada, apapun aktivitas kita
*Menjadikan zikrullah sebagai
penghias lisan dan tindakan
*Menjaga tindakan dengan penuh rasa
malu pada Zat yang selalu mengawasi tiap hambanya
*Menjaga kekhusyuan sebagai bentuk
penghayatan ihsan
e. ilmu akhir zaman yang mencukupkan
persiapan lahir batin terhadap dahsyatnya fitnah akhir zaman.
*Mempersiapkan diri dan keluarga
dengan pengetahuan akan tanda-tanda akhir zaman
*Menjaga diri dan keluarga dari
fitnah akhir zaman sesuai ciri-ciri negative yang dapat meengancam keselamatan
keluarga
*Memagari diri dan keluarga dari
media yang melalaikan dari kedekatan pada Allah SWT
*Turut mempersiapkan diri dan
keluarga untuk menjadi bagian dari busyra akhir zaman
*Melayakkan diri menjadi ikhwan
Rasulullah di akhir zaman dengan sifat mulia yaitu berkasih sayang, berjuang
bagai singa di siang hari dan malamnya bagaikan rahib yang terhanyut dalam
ibadah pada Allah SWT
*Menjaga kecintaan pada Rasulullah
melebihi keluarga untuk melayakkan diri menjadi ikhwan Rasulullah SAW.
Baru empat point komitmen yang bisa
disepakati bersama untuk meraih ketakwaan. Komitmen yang ditulis writer hanya
sekedar contoh yang bisa diambil pasutri dalam mengarungi rumah tangga. Hal ini
tidak bersifat sebagai hal yang mengerikan dalam rumah tangga karena saking
banyaknya komitmen. Akan tetapi membuat komitmen tang lengkap ibarat buku putih
di sebuah pesantren untuk santrinya. Semua mengarahkan pada disiplin dan
mendekatkan anggota keluarga pada tujuan yang jelas dan lebih terarah
Hari ke-15
ita masih membahas tentang komitmen
dalam rumah tangga untuk meraih takwa. Ngopiko (Ngobrolin perihal Komitmen),
yuk, biar tidak ngantuk meneruskan tulisan ini. (Wah, bahaya, nih, kalau
tulisan ini udah membuat jenuh!)
Kita lanjut syarat takwa dan komitmen
apa yang bisa disepakati untuk meraihnya bersama-sama seutuhnya dalam satu
keluarga.
5. Istiqamah Beramal
Untuk bisa beramal dengan berterusan
atau berkesinambungan, pasutri harus memelihara kesemangatan dalam beramal.
Fastabiqul khairat dengan menyediakan reward bagi mereka yang terbaik bisa
diterapkan. Nah, untuk itu harus ada manajemen keluarga istiqamah beramal.
Seandainya berjalannya waktu menghadirkan amanah momongan maka dapat dilakukan
reorganisasi.
a. Membentuk kepengurusan kecil dalam
keluarga dengan job deskripsi pelaksanaan amal istiqamah
b. Pemberian reward atas kedisiplinan
anggota dan punishment bagi pelanggar kesepakatan amal istiqamah
c. Menyediakan anggaran khusus untuk
menjalankan manajemen amal istiqamah
d. Saling mengingatkan jika ada
tanda-tanda futur dari anggota keluarga
e. Mengadakan kegiatan di luar rumah
untuk menjalankan amal istiqamah dalam rangka menghindari kejenuhan
f. Melalukan muhibah ke pesantren
atau masjid untuk banyak melihat ahli ibadah yang istiqamah
g. Melihat tayangan secara bersama
dari berbagai media untuk memupuk amal istiqamah
h. Memahami bersama Fadillah amal
agar dapat menjaga amal dengan istiqamah
6. Mujahadatunnafsi
Pada bahasan tentang memerangi hawa
nafsu kita telah bersama-sama ngopata hingga pada mengenali diri sendiri. Sifat
mazmumah yang harus kita kenali, kita kosongkan kemudian kita isi dengan sifat
mahmudah. Sampai kita benar-benar dapat menghadapi tiap detik hidup ini dengan
pilihan rasa hati yang positif.
a. Komitmen membersihkan hati dari
sifat mazmumah
*Menghilangkan sifat kufur nikmat
dengan zikrullah, memujiNya dengan hamdalah dengan bilangan tertentu atau
sebanyak mungkin, secara berjamaah ataupun sendiri-sendiri
*Menghilangkan sifat pemarah dengan
mengedepankan dialog dan komunikasi agar muncul prasangka baik
*Menghilangkan perilaku syirik dengan
meniadakan sandaran selain Allah SWT baik dalam hati maupun dalam tindakan
*Menghilangkan sifat kikir dengan
keyakinan bahwa semua yang ada milik Allah dan atas kemurahan-Nya, menyisihkan
sebagian harta dalam sedekah harian
*Menghilangkan sifat pendendam dengan
menyebut kebaikan dari orang yang telah berbuat salah dan menghindari ghibah
yang hanya menambah amarah
*Menghilangkan sifat iri dengki
dengan menyadari segala karunia hamba adalah hak Allah untuk menganugerahkannya
pada siapapun. Menyadari bahwa iri dengki akan menjadi tanda kufur dari nikmat
yang telah Allah bagi buat kita.
*Menghilangkan sifat sombong,
takabur, ujub dan sum'ah dengan menyadari tiada yang hebat kecuali Allah SWT.
Menyadari bahwa segala yang ada atas izin Allah SWT termasuk tiap kebaikan
adalah anugerahNya. Menghadirkan rasa sebaik-baik diri lebih baik orang lain,
seburuk-buruk orang lain lebih buruk diri sendiri.
Merasakan bahwa selalu ada daging
pada ikan yang kurus. Artinya, pandai menyebut kebaikan orang meskipun orang
tersebut secara lahiriah banyak kekurangan hingga yang nampak kelebihannya
saja. Caranya mengingat dua dan melupakan dua, yaitu mengingat kesalahan diri
dan mengingat kebaikan sesama serta karunia Allah SWT. Sedangkan dua yang harus
dilupakan agar terhindar dari takabur adalah lupa atas kebaikan diri dan
keburukan orang lain
*Menghilangkan sifat rendah diri
dengan menyadari segala ujian datang dariNya untuk menghapus dosa, meninggikan
derajat, menjaga hambanya dari maksiat kesombongan
*Menghilangkan sifat mudah
berprasangka buruk pada Khaliq dan makhluk. Caranya adalah dengan mengingat dua
melupakan dua juga seperti terapi dari sifat sombong. Tetapi ada sedikit
perbedaan disini, mengingat dua yaitu karunia Allah dan kebaikan sesama.
Melupakan dua hal yaitu ujian Allah dan kesalahan sesama.
*Menghilangkan sifat malas dengan
menyadari hidup yang hanya bersifat tentatif, sementara. Bahwa hidup harus
diisi dengan bekalan menghadapNya yang sifatnya kekal abadi
b. Komitmen mengisi hati dengan sifat
mahmudah
*Menghiasi hati dengan sifat syukur
nikmat dengan menyebut dan mengingat nikmat Allah SWT. Merasakan tiap titik
nikmat adalah atas kasih sayang Allah meskipun diri kita tak layak mendapat
kasihNya karena dosa-dosa namun rahmatNya melebihi luasnya samudra
*Menghiasi hati dengan sifat sabar
dengan mengedepankan dialog dan komunikasi untuk memahami kekhilafan orang
lain, sabar dari amarah, sabar dari derita ujian dan musibah. sabar untuk
menjadi insan yang taat, dan sabar menjaga diri dari maksiat
*Menghiasi hati dengan nilai-nilai
tauhid, menyandarkan segala urusan hanya pada Allah, meyakini bahwa tiada
sebutir debu terbang dan daun berguguran kecuali dalam pengetahuanNya dan atas
izinNya
*Menghiasi diri dengan sifat pemurah,
selalu berbagi baik dalam sempit maupun lapang. Merasakan bahagia dengan
berbagi
*Menghiasi hati dengan sifat pemaaf,
memaklumi bahwa manusia selalu terbalut dengan kelemahan dosa, khilaf, lupa dan
tersilap
*Menghiasi diri dengan sifat rida,
rela karena segala yang terjadi atas qadar Allah SWT. Rela adalah syarat
seorang hamba mendapat Rida dari Allah SWT. Menyebut kerelaan atas nikmat orang
lain secara sengaja untuk menghiasi hati dengan sifat rela. Mengucapkan selamat
dan tahniah pada keberhasilan orang lain.
*Menghiasi diri dengan sifat dan
sikap tawadhu, rendah hati, dengan dilandasi kesadaran bahwa diri kita sekedar
hambaNya. Memiliki sesuatu hanya sekedar pinjaman sementara dari Allah SWT.
*Menghiasi diri dengan sifat optimis,
percaya diri yang dilandasi keyakinan atas kasih sayang Allah SWT. Merasakan
bahwa Rahmat Allah teramat luas melebihi kemurkaan atas maksiat hambanya.
Bermula dari optimisme itu muncul perilaku enerjik, gesit selalu sigap
berencana, berbuat dan melakukan amalan setelah selesai satu amalan. Pasutri
dapat melakukan kesepakatan melakukan kegiatan bersama dalam jadwal yang
tersusun ataupun pembagian tugas yang rapih dan tersepakati.
*Menghiasi hati dengan sifat berbaik
sangka pada Khaliq dan makhluk. Cirinya, mengingat dua yaitu karunia Allah dan
kebaikan sesama. Melupakan dua hal yaitu ujian Allah dan perilaku buruk orang
lain udah menjadi hal yang lumrah. Tidak perlu latihan namun sudah mudah begitu
saja di munculkan oleh perasaan hati.
*Menghiasi diri dengan sifat penuh
semangat, rajin melakukan amal-amal baik. Faidza faraghta fanshob sudah menjadi
pakaian dalam keseharian. Semua waktu yang Allah karuniakan tiap detiknya telah
menjadi amalan istiqamah.
Komitmen yang dibuat untuk meraih
gelar takwa hingga pos keenam seakan membawa kita pada tipikal keluarga
syurgawi. Setujukah, Reader?
Hari ke-16
Ngopiko lagi kita, masih pada bahasan tentang komitmen dalam rumah
tangga untuk meraih takwa. Makin semangat ya, Reader? Apalagi mereka-mereka
yang sudah makin mendekati gerbang nikah harus lebih semangat ding,
eh...maksudnya dong!
Dikarenakan rumah tangga itu bukan sekedar permainan cinta tapi ia
sebuah organisasi terkecil dan menjadi terpenting untuk membentuk peradaban,
maka perlu manajemen serius. Komitmen ibarat perencanaan matang dari sebuah
organisasi.
Nah, tentu saja para penghuninya, pembangunnya, anggotanya harus berada
dalam keteraturan tingkat tinggi. Pernah memperhatikan negeri semut, lebah
ataupun rayap? Mereka adalah makhluk-makhluk Allah dengan job deskripsi yang
sangat jelas, kedisiplinan dalam menjalankan tugas pun tak pernah berubah.
Mereka sangat konsisten dan tidak bosan terus menyelesaikan targetnya.
Pos ngopiko kita sudah masuk pos ke-7.
7. Komitmen Mencari, Menentukan dan Belajar pada Mursyid yang Sama.
Mencari Mursyid menurut imam Al-Ghazali ibarat mencari jarum pada
tumpukan jerami. Sulit kecuali atas petunjuk Allah SWT. Mursyid juga ibarat
sekuntum bunga di taman firdaus, artinya ia mudah didapati apa bila kita sudah
berada di tempat yang tepat. Apabila kita berada pada komunitas yang baik.
Komitmen Mencari mursyid sangat penting untuk menjadi pembimbing
spiritual keluarga. Baik dalam kondisi keduanya belum bermursyid, salah satu
sudah bermursyid atau keduanya memiliki Mursyid yang berbeda. Sebelum
menentukan Mursyid, ada beberapa kriteria dan ciri yang pernah kita bahas saat
ngopata bersama di pos ketujuh.
1. Cenderung tersembunyi atau disembunyikan oleh Allah SWT. Peranannya
besar tapi tidak disebut-sebut selayaknya ulama kondang. Ia hanya dikenal
sangat baik dan dekat di kalangan para muridnya
2. Hidupnya sederhana, menghindari kemewahan dan pemubaziran
3. Ucapannya bijaksana, tidak suka mengklaim sebagai yang lebih benar
apalagi paling benar
4. Rasa takutnya pada Allah sangat terlihat sehingga perbuatannya
hati-hati dalam menghindari kemurkaan Allah SWT
5. Memiliki ilmu hikmah dan firasat yang tajam mampu menyibak rahasia
Allah SWT
6. Memiliki karamah dan firasat yang tajam tidak mengenal rasa takut
7. Hidupnya bergantung pada Allah SWT, sehingga seakan dia sangat percaya
diri dan terhindar dari bersandar pada orang lain
Akan tetapi ada juga yang memberi kriteria berbeda. Menurut pendapat
Prof. Dr. Kadirrun Yahya, MA:
1. dicerdikkan oleh Allah, bukan oleh yang lain-lain dengan mendapat
izin Allah dan ridha-Nya.
2.ia adalah kamil lagi mukamil (sempurna lagi menyempurnakan) karena
karunia Allah.
3. pengajarannya, (kalau ia mengajar atau berdo’a, maka berbekas pada
murid, si murid berubah ke arah kebaikan)
4. masyhur ke sana ke mari
5. tidak dapat dicela oleh orang yang berakal akan pengajarannya, yakni
tidak dicela oleh al Qur’an dan al Hadist serta ilmu pengetahuan.
6. wara', tidak kuat mengerjakan yang subhat dan yang sia-sia, umpamanya
membuat hal-hal yang tidak murni halalnya.
7. tidak setengah kasih akan dunia, karena bulat hatinya. Ia kasih akan
Allah, ia bergelora dalam dunia, bekerja keras untuk mengabdi kepada Allah SWT
bukan untuk mencintai dunia.
Bila kita jumpai seseorang dengan kriteria di atas maka hal itu rezeki
dari Allah SWT. Diantara kriteria yang bisa kita utamakan adalah beramal dengan
ilmunya. Dia memberikan ilmu kemudian mudah diamalkan murid-muridnya.
Tentu akan mudah menandai kemursyidan seseorang yaitu kita mudah
berubah. Mudah untuk hijrah dari keburukan pada kebaikan. Kita mudah
mengamalkan ilmu setelah mendengar nasihatnya. Kehadirannya memudahkan kita
meraih takwa dan menjalani delapan syaratnya. Bahkan melihat wajahnya saja
sudah cukup menggetarkan jiwa membuat kita mudah mengingat Allah. Insya Allah
jika kita dapati seseorang seperti ini maka dialah Mursyid kita.
Sebenarnya kita sedang ngopiko, ya? Jadi kita kembalikan pada
kesepakatan apa yang bisa dibuat suami istri terkait pencarian guru Mursyid ada
beberapa contoh kriteria berikut:
1. Mendiskusikan dengan serius untuk menentukan guru Mursyid keluarga
2. Menentukan guru Mursyid keluarga
3. Mendatangi guru Mursyid secara rutin minimal sepekan sekali dalam
kunjungan jama'i
4. Melakukan tabaruan minimal sebulan sekali dalam kunjungan khusus
pribadi
5. Menyisihkan dana keluarga untuk ilhtiram pada Mursyid.
6. Melakukan konsultasi pribadi sebulan sekali untuk memecahkan masalah
keluarga dan anggotanya
7. Membuat daftar amalan nasihat mursyid, melakukan evaluasi keluarga
terhadap keterlaksanaan amalan dala. Bentuk muthabaah yaumiyah
8. Menyusun mutabaah yaumiyah untuk mengukur perubahan diri dan
keluarga.
9. Evaluasi perkembangan diri dan keluarga untuk mengevaluasi ketepatan
pemilihan Mursyid, jika perubahan signifikan tidak didapati.
Masya Allah memilih guru ternyata tidak mudah, ya. Karena tujuan kita
meraih takwa maka kita boleh mengukur ketakwaan kita. Bila tidak juga didapat,
barangkali kita belum mendapat pembimbing yang tepat atau mungkin juga kita
lupa untuk menjalani 6 langka sebelumnya. Jadi tidak semata-mata menyalahkan
satu faktor pada pos ketujuh tapi lebih menekankan pada introspeksi pos
sebelumnya. Akan tetapi jika 6 langkah sebelumnya lulus, otomatis guru yang
kita pilih juga sudah tepat. Keetujuh faktor pada syarat takwa tidak saling
berdiri sendiri.
Hidayah hadir, menerima Islam. Menerima Islam bermakna berusaha
memahaminya. Kepahaman akan membawa kita pada keyakinan. Keyakinan yang shahih
akan membuahkan amal. Amal yang salih akan melahirkan pribadi istiqamah dalam
beramal. Amal istiqamah memudahkan seseorang membersihkan hawa nafsunya dan
melahirkan akhlaq mulia. Semua itu harus diiringi dengan bimbingan Mursyid atau
terasah menjadi amal istiqamah dengan bimbingan Mursyid. Awal dari semua itu
adalah doa.
Lanjut ngopiko di pos doa. Kesepakatan terkait doa juga atas bimbingan
Mursyid. Tiap Mursyid akan memberikan amal istiqamah. Sebagian orang mengatakan
wirid atau zikir. Zikir wirid ini dikatakan sebagai thariqah, jalan menuju
Allah. Guru Mursyid memiliki susunan doa dan amalan untuk dilakukan dan
didirikan oleh murid secara istiqamah. Inilah rangkaian doa permintaan. Jalan
untuk meraih gelar taqwa.
Lebih dalam ngopiko doa, ada beberapa kesepakatan yang bisa
dissenaraikan sebagai berikut:
1. Mengambil sanad khusus yang merupakan rangkaian zikir, wirid dan doa
dari guru Mursyid
2. Menghafalkan, mengerti, memahami, menjiwai doa untuk meraih
kekhusyuan
3. Menjadikan shalat sebagai doa terpenting sesuaiakna sholat sebagai
do'a
4. Membuat kesepakatan mengamalkan doa secara bersama ataupun
sendiri-sendiri namun terpantau dalam mutabaah yaumiyah
5.Menjadikan doa sebagai bagian pencapaian darjat takwa yang diamalkan
secara istiqamah oleh seluruh anggota keluarga
6. Menghadiri majelis zikir, wirid dan doa minimal sebulan sekali.
Selesai sudah ngopiko kita dalam rangka meraih takwa. Jangan lupa ya,
bahasan kita sampai di sini terkait tujuan menikah untuk membentuk keluarga dan
melahirkan generasi bertakwa. Memakmurkan bumi Allah dengan para pemujaNya,
hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
Hari ke-17
KOMITMEN UNTUK MENYATUKAN DUA
KELUARGA
Tujuan pernikahan yang telah kita
bahas adalah mengikuti perintah Allah dan rasulnya agar menyalurkan hasrat pada
yang halal, memakmurkan bumi Allah dengan generasi Rabbani yang bertakwa dan
menjalin persaudaraan antar dua keluarga.
Kita akan bahas tujuan yang ketiga,
yaitu mempersaudaraan dua insan dan keluarga yang berbeda. Penyatuan ini
menjadi seni muamalah sepanjang hayat. Betapa sifat takwa yang berusaha diraih
dalam beberapa langkah komitmen membina rumah tangga akan sangat membantu
proses penyatuan ini.
Allah berfirman tentang keterlibatan
dua keluarga dalam proses pernikahan ini
وَأَنكِحُوا
اْلأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ إِن
يَكُونُوا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Dan kawinkanlah orang-orang yang
sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari
hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika
mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha
luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32)
Juga firman Allah dalam ayat berikut
ini:
وَلَا
تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَ مَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ
مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ
حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ
اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰٓئِكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّا رِ ۖ وَا للّٰهُ يَدْعُوْۤا
اِلَى الْجَـنَّةِ وَا لْمَغْفِرَةِ بِاِ ذْنِهٖ ۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّا
سِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ
"Dan janganlah kamu nikahi
perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang
beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan
janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang
beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman
lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka
mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan
izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat ayat-Nya kepada manusia agar mereka
mengambil pelajaran."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 221)
Ayat ini menunjukkan bahwa ada pihak
yang terlibat dalam menikahkan. Dalam hal ini adalah wali nasab terdekatnya adalah
ayah dari pihak wanita. Saat melepas masa lajang seorang perempuan berpindah
tanggung jawab dari ayah ke suaminya. Sementara seorang suami akan tetap
menjadi hak ibunya.
عَائِشَةَ
، قَالَتْ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ
النَّاسِ أَعْظَمُ حَقًّا عَلَى الْمَرْأَةِ ؟ قَالَ : " زَوْجُهَا " ،
قُلْتُ : فَأَيُّ النَّاسِ أَعْظَمُ حَقًّا عَلَى الرَّجُلِ ؟ قَالَ : "
أُمُّهُ "
Maknanya : "Dari Asiyah : “Aku
bertanya kepada Rasulullah saw”: “Siapa yang memiliki hak paling besar terhadap
wanita?” Rasulullah saw, berkata : “Suaminya”. Aku berkata : “Maka siapa yang
paling berhak atas laki-laki?” Rasulullah saw, berkata: “ibunya". (HR.
Hakim, Bazzar dan Thabrani).
Keterlibatan keluarga dalam
pernikahan diisyaratkan pula pada ayat berikut
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتًا غَيْرَ بُيُوْتِكُمْ حَتّٰى
تَسْتَأْنِسُوْا وَتُسَلِّمُوْا عَلٰۤى اَهْلِهَا ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman!
Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan
memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar
kamu (selalu) ingat."
(QS. An-Nur 24: Ayat 27)
Izin memasuki rumah bermakna pula
seorang pria dewasa yang ingin menikahi wanita harus melibatkan keluarga wanit,
meminta izin. Ketika sudah menjadi anggota dalam rumah pun senantiasa membawa
nuansa keselamatan sebagaimana saat hendak memasuki rumah.
Betapa indahnya Islam, mengaitkan
satu sama lain untuk menjadi satu kesatuan yang saling terhubung dan tak
terpisaphkan. Saat wanita menjadi hak suaminya dan suami hak ibunya, Islam
sedang mengikat dua keluarga agar tak terlepas begitu saja.
Lalu bagaimana dengan mertua dari
pihak perempuan?
Seorang anak tidak akan pernah lepas
dari kewajibannya terhadap orang tua, yaitu:
1. Terus berbakti pada orang tua
a. Berbuat baik selalu
b. Mengunjungi secara rutin
c. Selalu bersikap santun
2. Membahagiakan orang tua dalam
bingkai ketaatan pada Allah SWT
a. Menafkahinya dengan yang halal dan
baik
b. Memberikan hadiah yang menjadi
permintaannya
c. Selalu menghadirkan suasana
bahagia di depannya
d. Berlatih mengasah kemampuan
komunikasi untuk keharmonisan dalam keluarga
3. Menyelamatkan dalam naungan taat
dalam Islam
a. Menasihati saat mereka khilaf
dengan cara yang ahsan
b. Meringankan beban kifarah dan
fidyahnya serta ibadah lain yang tak dapat mereka lakukan dengan badal
4. Memelihara masa rentanya
a. Menawarkan diri memelihara
keduanya dengan tinggal bersama
b. Memenuhi permintaan mereka saat
ingin tinggal bersama kita
c. Memenuhi apa yang menjadi
kebutuhannya
5. Menjaga dan membela nama baiknya
a. Memelihara akhlak diri sebagai
pakaian dalam rangka menjaga nama baik keluarga terutama kedua orang tua
b. Meluruskan dan membersihkan nama
baiknya dari penilaian buruk orang lain ataupun kerabat.
Allah SWT berfirman dalam
وَقَضٰى
رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا
ۗ اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا
تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
وَا
خْفِضْ لَهُمَا جَنَا حَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا
كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًا
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan
agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu
bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia
lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan
kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak
keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap
keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku!
Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu
kecil."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 23-24)
Selain muamalah dengan kedua orang
tua, ada hubungan baik dengan kerabat yang harus dipelihara. Intinya adalah
mengekalkan hubungan kekeluargaan dan tidak memutuskannya. Kerabat pihak pria
adalah kerabat juga bagi pihak wanita, sebaliknya kerabat pihak wanita menjadi
kerabat pihak wanita. Bukankah ini menjadi wider relationship yang amazing dan
menjadi berkah jika bersandar dengan sikap berkasih sayang?
Sementara itu hak kerabat yang perlu
kita pahami adalah sebagai berikut:
1. Menyambungkan silaturahim dengan
saling berkasih sayang dan saling mengunjungi
2. Mengutamakan dan mendahulukan kaum
kerabat terdekat dibandikkan orang lain
3. Saling memaafkan, saling
mendoakan, saling membantu
Ada beberapa kesepakatan yang bisa
dibuat dalam rangka mencapai tujuan penyatuan dua keluarga:
1. Bersedia memenuhi keinginan orang
tua untuk tinggal dalam pemeliharaan kita sebagai peluang meraih syurgaNya
2. Menafkahi dengan proporsi yang
adil sesuai kebutuhan dan kemampuan untuk orang tua kedua belah pihak
3. Saling bantu dalam menyelesaikan
kewajiban agama dari orang tua kedua belah pihak
4. Mengunjungi orang tua atau kerabat
dalam jadwal yang disepakati bersama
5. Memasukkan nama orang tua dan
kerabat dalam doa-doa rutin ibadah khusus maupun umum.
6. Menyisihkan kebutuhan khusus
anggaran dari persentasi gaji untuk orang tua dan kaum kerabat
7. Menjalin komunikasi yang hangat
dalam rangka merajut ukhuwah.
Akhirnya kita selesai juga
ngopikonya. Cukup panjang juga ya Reader... Setelah ini kita bakalan ngabisani
alias ngebahas sifat ibadah nikah
Hari ke-18
SIFAT IBADAH NIKAH
Di hari kedelapan belas kita akan
ngabisani, ngebahas sifat ibadah nikah. Disebut ngabisani karena bahasan kita
kali ini hanya bersifat penguatan dari bahasan panjang tentang Nikah adalah
ibadah dalam 17 posting Sarapan Kata Jadi Buku di KMO Club.
GPL-gak Pake lama....yuk kita lanjut
ngabisani bersama.
A. Munculnya Kecenderungan Rasa
Tentram dan Nyaman
Sebelum melangkah dalam pernikahan
Allah SWT memberikan sinyal perjodohan dengan munculnya rasa saling nyaman.
Bahkan dari memandang wajahnya pun tanda-tanda berjodoh itu sudah ada
sebagaimana firman Allah
وَمِنْ
اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا لِّتَسْكُنُوْۤا
اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ
يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
"Dan di antara tanda-tanda
(kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu
sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan
di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."(QS.
Ar-Rum 30: Ayat 21)
Tentram dan nyaman menjadi sinyal
sebelum mengkhitbah dan mengucap akad. Nah, untuk mendapat kecenderungan ini,
peranan istikharah, meminta petunjuk Allah SWT menjadi hal terpenting. Kadang
kala wajah tidak bisa diandalkan untuk mendatangkan ketentraman. Keteduhan
hadir dari wajahnya saat dipandang siapapun. Apalagi zaman tipu-tipu filter
kamera ataupun make up natural yang bisa menyulap penampilan seseorang. Bisa
juga wajah tidak mendatangkan ketenteraman padahal saat berada dalam rumah
tangga sikap dan tutur katanya membuat kita dilimpahi keteduhan.
Tata cara istikharah perlu diketahui
agar petunjuk Allah benar-benar hadir:
1. Awali dengan memperbanyak shaum,
minimal tiga hari sebelum istikharah
2. Perbanyak istighfar, zikir, wirid
untuk taqarab illallah
3. Iringi dengan sedekah terbaik,
mohon agar istikharah kita tepat jawaban
4. Melakukan shalat dua rakaat dengan
memperhatikan syarat rukun shalat istikharah, yaitu menyempurnakan wudhu,
mengerjakan shalat dengan khusyuk, berdoa dengan sungguh-sungguh, tadharuk pada
Allah agar diberi petunjuk
5. Menerima apapun petunjukNya baik
berupa mimpi, nasihat baik hamba Allah yang Shalih, kemudahan langkah hingga
takdir kemudahan proses sebagai bagian dari petunjuk Allah
6. Baik sangka dengan tiap
ketentuanNya
b. Kecenderungan Ingin Selalu Bersama
Ketentraman dan ketenangan membuat
kita cenderung untuk selalu bersama. Ada rasa rindu ingin berjumpa. Rasanya
sepi tanpa kehadirannya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَا
لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا
قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا
"Dan orang-orang yang berkata,
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan
kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi
orang-orang yang bertakwa."
(QS.Alfurqan:74)
Inilah anugerah batin saat nikah
benar-benar bernilai ibadah. Tiap anggota keluarga selalu menghadirkan rasa
cinta, kasih dan sayang. Ada rasa kehilangan bila tidak ada salah satu dari
anggota keluarga. Ingin mengetahui kabar keadaan satu-sama lain. Maka hadirlah
saling mendoakan satu sama lain.
Betapa nikah yang bernilai ibadah itu
membahagiakan kita, menenangkan jiwa kita. Makin terasa bahwa Allah SWT
Mahakasih Mahasayang, Sang Penyemat cinta pada makhlukNya. Terasa indah syariat
Islam, terasa amat sangat bijaknya Sunnah Rasulullah SAW. Hingga ancaman para
penolak Sunnah nikah ini terkeluar dari golongan Rasulullah SAW.
c. Komitmen ibadah sepanjang hayat
Pada kegiatan ngopiko kita, yang
telah Reader baca di bab sebelumnya, kita sepakat, ya?! Bahwa rumah tangga yang
dibangun selepas nikah adalah organisasi terkecil pembangun peradaban.
Komitmen juga terkait dengan natijah
nikah harus maslahat. Natijah terkait syarat nikah jadi ibadah. Sementara
natijah sangat terkait dengan niat dan tujuan nikah. Masih ingat tujuan nikah?
1. Menjaga kesucian diri. Menyalurkan
hasrat pada yang dihalalkan
2. Melahirkan generasi bertakwa
3. Menyatukan keluarga dari dua belah
pihak
Mohon maaf, ya, Reader, bahasan kita
terulang-ulang. Namanya juga penguatan, makanya writer menekankan bagian
penting dengan mengulangi.
Oleh karena itu, perlu ada buku putih
komitmen berkeluarga. Di dalamnya ada kesepakatan yang harus dijalani bersama
ada point reward dan punishment. Di bagian akhir buku ini Writer akan sajikan
buku putih itu. Nantinya buku putih itu menjadi panduan keluarga samawa,
sakinah mawadah warahmah.
Akan tetapi seperti yang kita
diskusikan sebelumnya, komitmen bersifat fleksibel. Hasil diskusi dua pihak dan
dirasa nyaman buat melaksanakan.Tanpa komitmen tidak ada keharmonisan dalam
rumah tangga. Sebaliknya terlalu banyak komitmen tanpa realisasi dan disiplin
tinggi, bukan komitmen sebutannya namun permainan belaka.
Agar komitmen dapat dijalankan, perlu
suasana saling menyadarkan, memahamkan, mengingatkan dengan kasih sayang dalam
keluarga. Kepemimpinan seorang ayah dan ketaatan seorang ibu menjadi tonggak
awal taatnya tiap anggota keluarga.
d. Pembuka pintu rezeki
Saat masih sendiri, calon suami-istri
adalah bagian dari keluarga orang tuanya. Saluran rezeki ada pada ayah ibunya
hingga mereka mandiri. Ketika mereka membangun keluarga maka suami istri
menjadi saluran rezeki buat menghidupi keluarga mereka sendiri. Hadirnya
istri-istri juga akan menjadi tambahan jatah rezeki dari Allah SWT melalui
anggota keluarga yang mandiri dan punya pintu rezeki. Demikian pula hadirnya anak-anak
akan menambah jatah rezeki sebagaimana ketentuan rezeki Allah untuk tiap-tiap
makhlukNya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَلْيَسْتَعْفِفِ
الَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ نِكَا حًا حَتّٰى يُغْنِيَهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ
رٌ
"Dan orang-orang yang tidak
mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (dirinya), sampai Allah memberi
kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya." (Annur:33)
Ayat ini bermakna, karunia Allah bagi
mereka yang menjaga kesucian diri. Pernikahan adalah pintu untuk menjaga
kesucian diri. Allah-lah yang akan menjamin kelapangan rezeki untuk mereka dari
jalan yang tak disangkakan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَا
للّٰهُ جَعَلَ لَـكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا وَّ جَعَلَ لَـكُمْ مِّنْ
اَزْوَا جِكُمْ بَنِيْنَ وَحَفَدَةً وَّرَزَقَكُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ ۗ اَفَبِا
لْبَا طِلِ يُؤْمِنُوْنَ وَبِنِعْمَتِ اللّٰهِ هُمْ يَكْفُرُوْنَ
"Dan Allah menjadikan bagimu
pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan
cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. Mengapa
mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?"
(QS. An-Nahl 16: Ayat 72)
Ditegaskan kembali dengan ayat di
atas bahwa kehadiran anak cucu, jiwa-jiwa pada raga-raga yang baru. Allah-lah
pencukup setiap kebutuhan makhluknya.
e. Haram yang Dihalalkan
Perjanjian besar berupa akad nikah,
mengaitkan dua insan yang awalnya haram bersentuhan menjadi boleh bersentuhan.
Keduanya dianugerahi pahala saat bersentuhan, bahkan dosa-dosa digugurkan.
Rasulullah bersabda dalam sebuah
hadits riwayat Imam Muslim:
عَنْ
أَبِى ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالُوا
لِلنَّبِىِّ -صلىالله عليه وسلم - يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ
بِالأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ
وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ « أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ
اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ
تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ
وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِى بُضْعِ
أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا
شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى
حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى
الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ
Dari Abu Dzar RA, dia berkata,
“Sesungguhnya sebagian dari para sahabat berkata kepada Nabi SAW, “Wahai
Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan
sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan
mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.”
Nabi SAW kemudian bersabda, “Bukankah
Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya
tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap tahmid adalah sedekah, tiap-tiap
tahlil adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah
kemungkaran adalah sedekah dan persetubuhan salah seorang di antara kamu
(dengan istrinya) adalah sedekah.“ Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah
jika salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?”
Rasulullah SAW menjawab, “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya
pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika dia memenuhi syahwatnya itu
pada yang halal, dia mendapat pahala.” (HR Muslim no 2376)
Rasulullah juga meneladankan
romantisme ibadah nikah
قَلَّ
يَوْمٌ – إِلاَّ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَدْخُلُ عَلَى
نِسَائِهِ فَيَدْنُو مِنْ كُلِّ امْرَأَةٍ مِنْهُنَّ فِى مَجْلِسِهِ فَيُقَبِّلُ
وَيَمَسُّ مِنْ غَيْرِ مَسِيسٍ وَلاَ مُبَاشَرَةٍ. قَالَتْ ثُمَّ يَبِيتُ عِنْدَ
الَّتِى هُوَ يَوْمُهَا
“Jarang Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam tidak melakukan rutinitas menemui istri-istrinya, lalu mendekat ke
mereka, mencium mereka, membelai mereka tanpa hubungan badan dan bercumbu.
Kemudian beliau tidur di rumah istri yang menjadi gilirannya. (HR. Daruquthni)
Pernikahan adalah karunia besar yang
memungkinkan dua insan melepaskan batas aurat masing-masing ketika hanya berdua
di dalam kamar. Meskipun Rasulullah mengajarkan kita menjaga pandangan pada
sesuatu yang terlalu rahasia. Akan tetapi hikmah dari semua ini adalah kedua
insan suami istri bisa saling menolong saat diperlukan untuk urusan pengobatan
misalnya.
Bagian ini menjadi bahasan terakhir
nikah sebagai ibadah. Kita akan ngebahas nikah yang mudah (ngenadah). Pada
bahasan ini tidak akan sepanjang lebar ngarah karena hal yang paling mendalam
dan harus sangat dipahami adalah ibadah.
Moga berkah, ya,
Reader...mudah-mudahan tulisan ini mudah dipahami dan mudah diamalkan, dinilai
ibadah di sisiNya. Belum juga membahas nikah mudah kita sudah menemukan kata
mudah sebanyak enam kali. Mudah-mudahan semudah pembahasannya setelah ini
Hmmm....setujukah?
Hari ke-19
NIKAH IBADAH MUDAH DAN MURAH
Ngebahas nikah yang mudah dan murah
(kali ini sulit membuat akronimnya. Ngedarah? Ah, tidak cocok dan terkesan
seram). Untuk bahasan kali ini rasanya akan muncul polemik. Tidak semua orang
setuju dengan konsep yang satu ini. Apa lagi di zaman yang serba materialistis
ini, dimana kemewahan menjadi bagian dari prestasi dan prestise. Atau argumen
dengan wise word yang tidak selalunya wise. Easy come easy go, difficult come,
difficult go. Ada yang beranggapan saat menikah bersusah payah dengan biaya
yang besar tentu akan sayang juga untuk membiarkan pernikahan itu buyar dan
kandas di tengah jalan. Berbeda dengan pernikahan yang terlampau mudah dan
sederhana, rasanya tak akan ada pertimbangan mendalam dan pikir ulang untuk
berpisah.
Ada juga pepatah Jawa, jer basuki
mawa bea. Setiap kebaikan itu butuh biaya. Jadi orang berpendapat makin besar
pengorbanan makin banyak kebaikan yang didapat. Dalam menikah juga perlu biaya
besar supaya lebih berkah dan banyak kebaikan yang diraih.
Ditambah juga argumen begini...dengan
adanya perjuangan mempersiapkan segalanya berarti akan menjadi tantangan buat
laki-laki menyiapkan segalanya. Pria yang settle akan mudah memenuhi kebutuhan
keluarganya. Problem rumah tangga paska nikah tidak akan banyak terjadi
disebabkan faktor ekonomi sudah selesai.
Seakan-akan pendapat di atas benar,
ya, Reader? Tapi tunggu dulu. Untuk menentukan hukum kita sepakat dengan
Alquran, Hadits, Ijma dan Qiyas sebagai pegangan ahlussunah Wal jamaah.
Alquran sudah kita mafhum bersama
bahwa ianya adalah petunjuk Allah SWT yang harus menjadi landasan pertama
penentuan hukum. Sementara itu. Hadits adalah perkataan, perbuatan dan sikap
Rasulullah terhadap kejadian yang dialami shahabat dan shahabiyah. Sedangkan
Ijma adalah kesepakatan ulama dengan proses ijtihad bila perkara yang dijumpai
tak secara gamblang tidak termaktub dalam Qur'an dan Hadits. Qiyas adalah
mengambil hal sepadan dengan apa yang dilakukan Rasulullah disesuaikan dengan
kondisi wilayah setempat.
Dalam hadits Rasulullah SAW termaktub
pesan beliau, bagaimana agar kita mendapat petunjuk.
أصحابي
كالنُّجومِ، بأيِّهم اقتَدَيْتم اهتَدَيْتُم
Sahabatku ibarat bintang di langit.
Barang siapa diantara kalian meneladani mereka maka kalian mendapat petunjuk.
Karena, para sahabat adalah pantulan atau cerminan dari sosok Nabi, baik dalam
pola pikir maupun tindakannya. Bintang di sini juga bermakna cahaya yang nampak
lebih redup dibandingkan bulan purnama.
Oleh karena itu kita perlu menggali
contoh perikehidupan rasul, sahabat dan shahabiyah untuk menentukan sikap dan
pendapat. Semoga dengan meneladani Rasulullah dan orang-orang dekat Rasulullah,
kita akan meraih petunjukNya.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat
Ali Imran ayat 110:
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
كُنْتُمْ
خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ
لَكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَ كْثَرُهُمُ
الْفٰسِقُوْنَ
"Kamu (umat Islam/Rasul dan para
sahabat) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu)
menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman
kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi
mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang
fasik."
Petunjuk ibarat cahaya atau tongkat
penunjuk bagi si buta. Ataupun ibarat sandaran bagi mereka yang lelah
melangkah. Sementara tanpa petunjuk, segala tata cara aturan syariatnya membuat
hidup kita lebih mudah. Laaraiba fiihi, tidak ada keraguan dalam melangkah.
Kembali ke konsep nikah mudah dan
murah, rasanya perlu dilakukan survey, apakah makin mewah makin terjamin
langgengnya rumah tangga? Tapi Writer berani jamin bahwa perceraian ataupun
keawetan usia pernikahan tidak tergantung sederhana tidaknya pernikahan, tapi
lebih pada terpeliharanya tujuan nikah selama pasutri bermuamalah.
Rata-rata pernikahan artis selalu wah
dan megah. Akan tetapi tren bercerai di kalangan artis justru termasuk yang
sangat tinggi. Bahkan tren cerai lebih dulu dipelopori para artis.
Jadi setuju ya kita bahas nikah
ibadah mudah murah yang akhirnya membawa berkah dan indah? Mudah disini terkait
keseriusan kita mengikuti petunjuk Alah dan Rasulnya, murah terkait
kesederhanaan yang dicontohkan pernikahan para sahabat dan shahabiyah.
Kita coba langkah pertama memudahkan
nikah ini dengan cahaya petunjuk yang menuntun kita. Sebenarnya kita pernah
bahas ini pada bagian ibadah tentang bagaimana proses nikah yang bernilai
ibadah. Sekarang kita akan bahas yang lebih praktisnya sehingga memberi
penguatan tentang bagaimana langkah-langkah nikah bisa dijalankan oleh calon
mempelai
1.Langkah Menuju Gerbang Nikah
a. Ta'aruf
Ta'aruf bermakna saling mengenal. Dua
insan yang akan melangkah seayun, serasi ibarat kaki kiri dan kanan, tangan
kiri dan tangan kanan. Tidak boleh bergerak asal bersamaan, tetapi saling
mendukung dalam keharmonisan.
Tujuan ta'aruf:
1. Mengikuti perintah Allah dan
Rasulnya
2. Mengetahui latar belakang
keluarga, latar belakang pendidikan, latar belakang lingkungan pergaulan
sehingga lebih mudah mafhum sikap dan sifat pasangan
3. Mendekatkan pasangan pada keluarga
baru yang akan mereka masuki
4. Memudahkan dalam menyamakan
persepsi dan menyusun komitmen bersama
Tata cara ta'aruf:
1. Memakai curriculum vitae secara detail
dan penuh kejujuran yang meliputi, data pribadi, data singkat anggota keluarga,
pengalaman pendidikan, organisasi dan pendidikan, visi-missi dalam rumah
tangga.
2. Melakukan pertemuan langsung
dengan disertai mahram, bukan di tempat sepi dan tidak boleh berdua-dua
3. Melalui pihak ketiga yang dapat
dipercaya, dimana pihak ketiga benar-benar orang dekat, terpelihara akhlak dan
kejujurannya. Diutamakan dari kerabat aatau teman setia-soulmate.
4. Melalui media sosial, sehingga
perlu alat untuk menghubungi calon pasangan. Koridornya tidak melewati larut
malam karena setan siap-siap mengintai dan menggelincirkan. Cukup hingga jam
21.30 seperti layaknya etika bertamu. Untuk video call tidak dibenarkan hanya
berduaan tapi sertakan satu orang yang dipercaya hingga menjadi grup vc.
4. Tidak terlalu lama sehingga
melampaui masa tiga bulan menuju khitbah. Perlu ditopang semangat menegakkan
syariat agar kuat tekat segera dihalalkan
Hal-hal yang perlu dihindari saat
ta'aruf:
1. Khalwat yang menaikkan hasrat dan
syahwat
2. Memberi rayuan yang melenakan
3. Menanyakan hal-hal pribadi yang
sensitif dan rahasia sementara khitbah belum dilayangkan karena ta'aruf masih
penjajakan yang kadar kepastian perjodohannya masih fifty- fifty
4. Menanyakan hal yang dapat
menyinggung perasaan calon pasangan
b. Khitbah
Ada yang mengatakan khitbah adalah
setengah nikah. Ada juga istilah tanda jadi atau DP dalam jual beli. Yang jelas
khitbah adalah meminta kesediaan pihak wanita untuk dijadikan isteri.
Ayat khitbah:
Qur’an Surat Al-Baqarah 235.
وَلَا
جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ فِيمَا عَرَّضۡتُم بِهِۦ مِنۡ خِطۡبَةِ ٱلنِّسَآءِ أَوۡ
أَكۡنَنتُمۡ فِىٓ أَنفُسِكُمۡ ۚ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمۡ سَتَذۡكُرُونَهُنَّ
وَلَٰكِن لَّا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّآ أَن تَقُولُواْ قَوۡلًا مَّعۡرُوفًا
ۚ وَلَا تَعۡزِمُواْ عُقۡدَةَ ٱلنِّكَاحِ حَتّٰى يَبۡلُغَ ٱلۡكِتَٰبُ أَجَلَهُۥ ۚ
وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُ ۚ
وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang
wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini
mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka,
dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara
rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan
janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis
‘iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam
hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyantun
Tujuan khitbah:
1. Pernyataan keseriusan pihak pria
menjadikan pihak wanita sebagai istrinya
2. Meminta kesediaan pihak wanita
untuk dijadikan isteri atau ditikah
3. Saling memperkenalkan keluarga
besar kedua belah pihak sebagai awal penyatuan dua keluarga
4. Mengikat wanita agar tidak
menerima peluang ta'aruf dan khitbah dari pria lain
Tatacara khitbah:
1. Pihak pria dan keluarganya
mengunjungi pihak wanita dengan adab kesopanan sebagai tamu antara lain:
a. Memberitahukan rencana kedatangan
b. Mengucap salam sebelum memasuki
kediaman pihak perempuan
c. Kunjungan dilakukan pada waktu
yang maslahat untuk bertamu, yaitu waktu di antara dua salat wajib yang tidak
mengganggu ibadah pokok, tidak lewat dari pukul 21.00 juga tidak di waktu
terlalu pagi sehingga mengganggu aktivitas pihak wanita
d. Mengutarakan maksud dengan adab
dan sopan santun yang disunnahkan
e. Menyerahkan cinderamata dari pihak
pria ke pihak wanita dan buah tangan yang mempererat silaturahim dua keluarga
2. Pihak wanita menerima kunjungan
sesuai adab menerima tamu dan ihtiramudduyuf (penghormatan pada tamu)
a. Menyiapkan tempat yang nyaman
sesuai jumlah tamu yang akan hadir
b. Menyediakan tempat yang tidak
menimbulkan ihtilat campur baur laki-laki perempuan yang bukan mahram
c. Menyediakan akomodasi bagi yang
ingin istirahat
d. Menyediakan fasilitas ibadah di
mushola khusus di rumah atau menunjukkan tempat ibadah umum terdekat
e. Menyediakan jamuan yang baik tapi
tidak memberatkan
3. Pihak pria mengungkap maksud
kedatangan dengan santun. Berikut ini susunan ungkapan lamaran menikah dari
pihak pria:
a. Ucapan salam
b. Ucapan basmalah, hamdalah,
sholawat disertai penjabarannya dalam bahasa Indonesia
c. Sapaan pembuka kepada semua yang
hadir di pihak wanita (tokoh masyarakat asatiz, masayikh, keluarga wanita dari
yang tertua hingga dikhususkan pada orang tua pihak wanita)
d. Menyampaikan maksud:
Pertama: Silaturahim dari seluruh
keluarga besar pihak pria(sebut nama pihak pria dan kedua orang tuanya)
Kedua: Menyampaikan maksud pihak pria
dan kedua orang tuanya untuk meminta kesediaan menjadi pendamping pihak pria
Ketiga: Meminta maaf atas kelancangan
pihak pria melamar pihak wanita dengan segala kekurangan adab dan kesopanan
Keempat: Berterimakasih atas segala
penerimaan dari tuan rumah
e. Mengucapkan doa dan harapan baik
hingga pelaksanaan nikah bila lamaran diterima
f. Menutup dengan salam
4. Pihak wanita menyampaikan jawaban
atas khitbah pihak pria
a. Menjawab salam
b. Ucapan basmalah, hamdalah,
sholawat disertai penjabarannya dalam bahasa Indonesia
c. Sapaan pembuka kepada semua yang
hadir di pihak pria(tokoh masyarakat asatiz, masayikh, keluarga wanita dari
yang tertua hingga dikhususkan pada orang tua pihak pria)
d. Menyampaikan jawaban:
Pertama: Menerima silaturahim dari
seluruh keluarga besar pihak pria(sebut nama pihak pria dan kedua orang tuanya)
Kedua: Menyampaikan penerimaan pihak
wanita dan kedua orang tuanya dan menyampaikan kesediaan menjadi pendamping
pihak pria.
Ketiga: Meminta maaf atas kurangnya
penerimaan dari keluarga pihak wanita sebagai tuan rumah dengan segala
kekurangan adab kesopanan dan penghormatan.
Keempat: Berterimakasih atas
kunjungan dari pihak tamu yang hadir.
e. Mengucapkan doa dan harapan baik
hingga pelaksanaan nikah bila lamaran diterima
f. Menutup dengan salam
5. Saling bertukar cindera mata untuk
mempererat persaudaraan. Tidak disarankan menukar cincin emas karena diharamkan
laki-laki memakai cincin.
Yang dilarang setelah khitbah:
1. Menerima ta'aruf ataupun khitbah
orang lain
2. Menganggap khitbah sebagai
hubungan khusus yang melonggarkan batas hubungan pria dan wanita
3. Berkhalwat dengan calon pasangan
4. Saling memberi sebagai wujud
pemenuhan kewajiban dan hak suami istri
5. Menunda-nunda pernikahan hingga
menimbulkan fitnah hati antara dua belah pihak maupun pandangan buruk orang
lain jika keduanya tidak bisa mengendalikan kedekatan satu sama lain.
Hari ke-20
Nikah Mudah Murah dari Akad Hingga
Walimah
Akhirnya penantian panjang menuju
halal sampai juga di depan kita. Khitbah telah berlalu. Keluarga sudah makin
saling tahu dan makin dekat. Makin yakin. Jadi tunggu apa lagi. GPL-Gak Pake
Lama.
Proses akad pernah kita bahas saat
awal tulisan ini, yaitu pada bagian lima syarat menjadi ibadah. Di bagian
ngedarah (ngebahas nikah mudah murah) ini kita akan kupas sedikit lagi.
Kita coba mengenang Rasulullah SAW
dengan pesan-pesan indahnya, tentang nikah dan walimah, okey?
A. Hukum nikah dan walimah
Hukum nikah sudah pernah kita bahas
saat ngarah, yaitu:
1. Wajib bila untuk menyelamatkan
dari maksiat dengan menyalurkan hasrat pada yang halal
2. Sunnah bila untuk mencontohi rumah
tangga Rasulullah
3. Mubah kalau hanya untuk
bersenang-senang
4. Makruh jika berniat mencari harta
atau tujuan keuntungan dunia secara sepihak
5. Haram bila bertujuan dan berakibat
penzaliman satu atau dua pihak
Dalil-dalil terkait lima hukum nikah
telah termaktub sebelumnya. Kini kita akan bahas hukum walimah dan dalil yang
melandasinya.
1. Wajib
Berdasarkan hadits dari Anas bin
Malik radhiallahu’anhu, ia berkata:
أنَّ
رسولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رأى على عبدِ الرَّحمنِ بنِ عوفٍ أثرَ صفرةٍ
فقالَ: ما هذا ؟. فقالَ: إنِّي تزوَّجتُ امرأةً على وزنِ نواةٍ من ذَهبٍ . فقالَ:
بارَكَ اللَّهُ لَكَ أولم ولو بشاةٍ
“Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam melihat pada pakaian Abdurrahman bin Auf ada bekas minyak wangi. Nabi
bertanya: ada apa ini Abdurrahman? Abdurrahman menjawab: saya baru menikahi
seorang wanita dengan mahar berupa emas seberat biji kurma. Nabi bersabda:
baarakallahu laka (semoga Allah memberkahimu), kalau begitu adakanlah walimah
walaupun dengan seekor kambing” (HR. Tirmidzi dan An Nasa-i).
Ada perintah adakah maka kedudukan
amalnya menjadi wajib.
2. Mubah atau Mustahaq
Berdasarkan hadits dari Shafiyyah
bintu Syaibah radhiallahu’anha, ia berkata:
أولَمَ
النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم على بَعضِ نسائِه بمُدَّينِ مِن شَعيرٍ
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
mengadakan walimah pada pernikahan dengan sebagian istrinya dengan dua mud
gandum.” (HR. Bukhari)
Sebagian di sini memiliki makna tidak
semuanya di-walimah-kan. Atau bisa juga bermakna semua di-walimah-kan dengan
jamuan yang berbeda-beda.
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
memerintahkan:
أَعلِنوا
النِّكاحَ
“Umumkanlah pernikahan!” (HR. Ahmad)
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan:
أَعلِنوا
النِّكاحَ
“Umumkanlah pernikahan!” (HR. Ahmad).
Hukum walimah lebih condong kepada
wajib dengan tujuan-tujuan yang utama.
Tujuan Walimah:
1. Memberitahukan kepada khalayak
atas syahnya hubungan dua insan, laki-laki dan perempuan sebagai suami istri
2. Tasyakuran atas dihalalkannya dua
insan melaksanakan ibadah nikah
3. Meminta doa restu agar pernikahan
dan rumah tangga yang dibangun diberkahi Allah SWT dengan doa yang diajarkan
Rasulullah SAW.
a. Doa saat akad
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah,
Rasulullah bersabda tentang doa saat akad:
بَارَكَ
اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْكَمُاَ فِيْ خَيْرٍ
Artinya: “Semoga Allah Swt.
memberikan berkah kepadamu, memberi keberkahan atasmu, dan semoga Dia
mengumpulkan kalian berdua pada kebaikan.”
b. Doa setelah akad
Suami memegang ubun-ubun
istri(meletakkan telapak tangan kanan sambil berdoa:
اللَّهُمَّ
إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ
مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْ
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku
memohon kepadamu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tetapkan atas
dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang
Engkau tetapkan atas dirinya.”
c. Doa keharmonisan rumah tangga
Suami dan istri sering-sering
melantunkan doa berikut
اِذْ
اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ
رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا
Artinya: “Ya Allah, karuniakanlah
kami rahmat dari sisi-Mu, dan berilah kemudahan-kemudahan serta pimpinan kepada
kami untuk keselamatan agama kami.”
d. Doa bersetubuh
*Doa sebelum bersetubuh
بِسْمِ
اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah
Swt, ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah dari rezeki
yang Engkau anugerahkan kepada kami.”
*Doa setelah keluar air mani
اَللّهُـــمَّ
اجْعَــلْ نُطْفَتَــنَا ذُرّ ِيَّةً طَيِّــبَةً
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah nutfah
kami ini menjadi keturunan yang saleh.”
*Doa setelah bersetubuh
اَلْحَمْدُ
ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ المْـَــاءِ بَشَـــرًا
Artinya: “Segala puji bagi Allah Swt.
yang telah menjadikan air mani ini menjadi keturunan.”
Adab Walimah:
1. Niat harus tepat karena mengikuti
seruan Allah dan rasulNya, bukan riya' menginginkan pujian manusia ataupun
keuntungan materi lain dari cindera mata dan amplop tamu undangan
2. Menyediakan tempat yang tidak
membuat campur baur laki-laki dan perempuan, hijab yang menjaga dari ikhtilat
3. Menyajikan hidangan terbaik sesuai
kemampuan dan tidak berlebihan
4. Mengundang kaum kerabat, tetangga
dekat, sahabat dan kenalan
5. Mengundang fakir miskin, dhuafa
dan yatim piatu
6. Tidak berlebihan dalam mengadakan
resepsi
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يٰبَنِيْۤ
اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَا شْرَبُوْا
وَلَا تُسْرِفُوْا ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah
pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi
jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 31)
Ciri dari berlebihan disini, walimah
menyisakan masalah hutang dan melibatkan riba. Termasuk berlebihan juga adalah
banyaknya makanan yang mubazir, terbuang karena sisa.
7. Tidak melibatkan perkara maksiat,
misalnya:
Melibatkan hiburan yang mengurangi
kesucian ibadah nikah atau menggunakan jasa WO yang mempromosikan eksistensi
LGBT.
Yang harus dihindari dalam
pelaksanaan walimah:
1. Israf, berlebihan dalam kemewahan
dengan tujuan riya' ataupun memperoleh keuntungan materi dari resepsi walimah
2. Ikhtilat, bercampur baur tempat
jamuan laki-laki dan perempuan
3. Ghaflah, lalai dalam melaksanakan
ibadah wajib dengan mengulur waktu shalat, menyajikan makanan dan minuman
haram, hiburan jahiliah yang mengekspos aurat dan lain-lain
Walimah yang khidmat, sederhana namun
tetap menjaga sakralnya pernikahan telah dicontohkan melalui pernikahan masa
pandemi. Covid-19 dengan segala polemik yang membalutnya telah memberikan
hikmah yang besar. Terlepas dari berbagai dampak negatif yang merugikan ummat
dari sisi pelaksanaan ibadah salat, peluang silaturahim, prosesi pemakaman dan
lain sebagainya, pandemi ini memberi pelajaran berharga dalam pelaksanaan akad
dan walimah tanpa mengesampingkan sarat rukun dan sahnya pernikahan.
Sedikit kilas balik akad dan walimah
masa pandemi, berikut ini kesederhanaan yang membawa pada nikah mudah dan murah
ala pandemi covid-19:
1. Pakai masker, cuci tangan, jaga
jarak ber-impact pada terhindar dari ikhtilat dan pandangan syahwati
2. Pembatasan jumlah undangan yang
hadir mengajarkan kita membersihkan hati dari riya' dan bermewah-mewah
3. Pembatasan waktu kunjungan
bermakna menghindari ghaflah
4. Pembatasan hingar bingar hiburan
bermakna kesederhanaan dan kesahajaan
Lalu bagaimana rasul dan para sahabat
mencontohkan walimah mereka? Kita akan bahas pada sarkat berikutnya. Insya
Allah.
Hari ke-21
KISAH WALIMAH SHAHABAT
Bicara tentang kisah sahabat
sangatlah menarik karena selalu saja mengandung hikmah yang luar biasa. Ada
beberapa kisah yang akan disajikan di sini.
1. Kisah Rabi'ah bin Ka'ab al-Aslami
r.a.
Dalam rumah tangga Rasulullah Saw.,
terdapat beberapa khadimat atau pembantu rumah tangga. Tugas mereka melakukan
berbagai pekerjaan untuk meringankan beban Rasulullah Saw., baik sebagai kepala
keluarga, pemimpin bangsa, umat dan agama. Salah satu khadimat itu bernama
Rabi'ah bin Ka'ab al-Aslami.
Kedudukan para khadimat di sisi
Rasulullah Saw. tak ubahnya ahlul bait Rasulullah Saw. Rasulullah Saw selalu
memuliakan, memberikan kasih sayang pada mereka dengan tulus. Beliau juga
selalu menjadi solusi bagi siapapun, apalagi khadimat yang teramat dekat
hubungan muamalahnya dengan Rasulullah Saw.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
لَـقَدْ
جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ
عَلَيْكُمْ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
"Sungguh, telah datang kepadamu
seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu
alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun
dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman."(QS. At-Taubah 9: Ayat
128)
Rasulullah Saw., sebagaimana
digambarkan pada Al-Qur'an surah At-taubah ayat 128 adalah seseorang adalah
sosok penyayang dan perhatian, seakan merasakan benar kesusahan dan kesulitan
yang dirasakan para sahabatnya. Apalagi orang-orang yang tiap saat berada di
sekitar beliau, ahlul bait dah khadimatnya.
Rabi’ah bin Ka’ab ra. bercerita
sebagaimana termaktub dalam hadits riwayat Ahmad dalam musnadnya.
Rabiah adalah seorang yang membantu
Nabi Saw, suatu saat pernah ditanya tentang hal yang sangat pribadi,
"Wahai Rabi’ah, apakah kau tidak ingin menikah?” tanya Rasulullah Saw.
“Demi Allah, wahai Rasulullah, aku
belum ingin menikah. Aku tak punya sesuatu yang bisa menanggung seorang wanita.
Selain itu, aku tak ingin ada hal yang membuatku sibuk dari melayanimu,"
jawab sahabat Rabi'ah ra.
Perbincangan ini seakan tidak serius.
Sambil lalu dan keduanya menjalankan aktivitasnya masing-masing. Akan tetapi di
lain kesempatan Rasulullah bertanya hal serupa untuk kedua kalinya. “Wahai
Rabi’ah, apakah kau tidak ingin menikah?”
Sahabat Rabi'ah ra. menjawab dengan
hal serupa, “Aku belum ingin menikah. Aku tak punya sesuatu yang bisa
menanggung seorang wanita. Selain itu, aku tak ingin ada sesuatu yang membuatku
sibuk dari melayanimu.”
Rasulullah Saw. pun berlalu meninggalkan
Rabi'ah. Akan tetapi pertanyaan yang keduakalinya ini membuat sahabat Rabiah
merenung lebih dalam. “Demi Allah, sungguh Rasulullah Saw. tahu sesuatu yang
terbaik untuk kehidupan duniaku dan akhiratku. Dia lebih tahu dari diriku. Demi
Allah. seandainya ia kembali bertanya tentang menikah, akan kukatakan
kepadanya, "Iya Rasulullah, perintahkanlah aku dengan sesuatu yang engkau
kehendaki’," gumam Rabi’ah.
Benar saja dugaan sahabat Rabi'ah.
Rasulullah Saw. bertanya untuk yang ketiga kalinya, “Wahai Rabi’ah, apakah kau
tidak ingin menikah?”
“Tentu mau, perintahkan aku dengan
apa yang Anda kehendaki," jawab sahabat Rabi'ah
"Pergilah ke keluarga Fulan.
Suatu kampung dari kalangan Anshar," sabda Rasulullah Saw. Mereka lambat
menunaikan perintah Nabi Saw. untuk menikahkan anaknya. “Katakan pada mereka,
bahwa Rasulullah mengutusku kepada kalian. Dia memerintahkan agar kalian
menikahkanku dengan Fulanah, salah seorang wanita dari kalangan kalian,"
lanjut Rasulullah Saw.
Sahabat Rabiah pun pergi. Beliau menyampaikan
pada mereka bahwa Rasulullah Saw mengutusnya untuk datang kepada mereka.
"Rasulullah memerintahkan agar kalian menikahkanku dengan Fulanah,"
ujar sahabat Rabi'ah. Mereka dari keluarga Anshar itu pun menjawab, “Selamat
datang kepada Rasulullah dan utusan Rasulullah Saw. Demi Allah, utusannya
Rasulullah Saw. tidak akan pulang kecuali keperluannya telah terpenuhi.”
Keluarga Anshar menikahkan sahabat
Rabi'ah dan bersikap lemah lembut terhadapnya. Mereka sama sekali tidak minta
penjelasan apapun dari sahabat Rabi'ah. Kemudian sahabat Rabi'ah kembali
menemui Rasulullah Saw. dalam keadaan penuh haru.
"Apa yang terjadi padamu wahai
Rabi’ah?” tanya Rasulullah Saw.
“Wahai Rasulullah, aku menemui suatu
kaum yang mulia. Mereka menikahkanku, memuliakanku, dan bersikap baik kepadaku.
Mereka sama sekali tidak meminta bukti. Hanya sayangnya, aku tidak memiliki mas
kawin," jawab sahabat Rabi'ah.
“Wahai Buraidah al-Aslami, kumpulkan
untuknya sebiji emas," perintah Rasulullah Saw.
Mendengar hal itu, para sahabat
mengumpulkan biji emas untuk sahabat Rabi'ah. Sahabat Rubi'ah mengambil apa
yang telah dikumpulkan para sahabat yang lain. Kemudian sahabat Rabi'ah kembali
menghadap Nabi Saw.
"Pergilah kepada mereka dengan
membawa ini. Katakan! ini adalah mas kawinnya" perintah Rasulullah Saw’.
Sahabat Rabi'ah pun berangkat menemui
keluarga Ansar dan menyampaikan mas kawin tersebut. “Ini mas kawinnya,"
ungkapnya.
Keluarga itu pun ridha dan
menerimanya. “Mas kawin seperti ini sudah sangat banyak dan baik sekali,"
lanjut mereka.
Sahabat Rabi'ah kemudian pulang
kembali menemui Rasulullah dalam keadaan sedih. “Wahai Rabi’ah kenapa kamu
bersedih?” tanya Rasulullah penuh pengertian akan kegalauan sahabat sekaligus
khadimatnya itu.
"Wahai Rasulullah, aku tak
pernah melihat kaum yang lebih mulia dari mereka. Mereka rela dengan apa yang
kuberikan dan berlaku sangat baik. Kata mereka, ini sangat banyak dan bagus.
Hanya sayang, aku tak punya sesuatu yang bisa kugunakan untuk mengadakan
walimah."
"Wahai Buraidah, tolong
kumpulkan kambing untuknya," perintah Rasulullah Saw. segera setelah
sahabat Rabi'ah menyatakan kesulitannya
Lalu para sahabat mengumpulkan
kambing yang banyak dan gemuk. Setelah itu, Rasulullah Saw. berkata pada
sahabat Rabi'ah, “Pergilah dan temuilah Aisyah dan katakan padanya agar dia
mengirim beberapa keranjang berisi makanan”.
Sahabat Rabi'ah pergi menemui Ummul
mukminin Aisyah ra. dan menyampaikan maksud sebagaimana perintah Rasulullah
Saw.
“Ini keranjang berisi sembilan sha’
gandum. Demi Allah, jika besok ada makanan lain, ambillah," ujar Siti
Aisyah ra.
Sahabat Rabi'ah mengambil makanan itu
dan membawanya ke hadapan Rasulullah Saw. Beliau mengabarkan apa yang
disampaikan Ummul mukminin.
"Bawalah barang-barang ini ke
sana, dan katakan pada mereka agar mereka gunakan untuk membuat roti,"
tutur Rasulullah kemudian.
Sahabat Rabi'ah pun berangkat lagi ke
sana. Membawa l dan berangkat bersama beberapa orang dari Aslam.
"Tolong besok barang-barang ini
telah diolah menjadi roti," kata salah seorang dari rombongan Aslam. "Tolong
besok gandum ini diolah menjadi roti, dan kambing ini telah dimasak,"
lanjut salah satu anggota rombongan yang lain.
Keluarga Anshar itu menjawab, “Untuk
membuat roti, cukuplah kami saja. Tapi untuk menyembelih kambing, kalianlah
yang mengerjakannya”.
Segera rombongan Aslam mengambil
kambing yang ada. Mereka menyembelihnya, lalu membersihkannya dan memasaknya.
Akhirnya tersedialah daging dan roti.
Sahabat Rabi'ah mengadakan walimah
dengan mengundang Rasulullah Saw dan beliau pun memenuhi undangan tersebut.
Masya Allah, luar biasa kisah teladan
yang menggambarkan peri kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Semoga
kita bisa mengikuti Sunnah Rasulullah Saw. dan sahabatnya yang mulia.
Nah, ada beberapa hikmah yang bisa
kita petik dari kisah ini:
1. Kepedulian, simpati dan empat pada
orang terdekat kita hingga peduli akan urusan pernikahannya. Tentu pada
orang-orang yang berada di bawah kepemimpinan kita. Anak kandung, keponakan,
anak angkat, anak buah di lingkungan kerja, ataupun rakyat dalam hubungan
kemasyarakatan. Demikian pula dengan kerabat dekat dan handai taulan
2. Saling paham, saling bantu baik
secara material maupun spiritual untuk mendukung penuh keperluan dan
kepentingan sesama
3. Adanya kesepahaman dan keselarasan
gerak di antara para sahabat.
4. Ketaatan penuh pada kepemimpinan
Rasulullah Saw hingga pada urusan pernikahan
5. Peradaban islami yang utuh
terealisasikan dalam kehidupan sehari-hari, saling memberi dan menerima yang
tulus di antara orang-orang beriman.
Kita akan lanjut dengan kisah nikah
yang inspiratif selanjutnya. Insya Allahu ta'ala
Hari ke-22
KISAH NIKAH SHAHABAT 2
Kali ini kita akan ngekinians
(ngebahas kisah nikah antar shahabah dan shahabiyah)-sorry Reader istilah
singkatannya baru ketemu di kisah kedua. Kali ini kisah tentang pernikahan
sahabat Julaibib, yang diadaptasi dari Hadits Riwayat Muslim.
Tiap kisah sahabat selalu menarik dan
penuh hikmah buat diungkap. Yuk, Gercep-gerak cepat mengungkap kisahnya.
2. Kisah Nikah Sahabat Julaibib
Julaibib, sosok sahabat yang sederhana.
Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Bahkan bisa dikatakan wajahnya
kurang bagus, postur tubuhnya pendek, kulitnya hitam legam dan penampilannya
kurang rapih.
Dari segi nasab, Julaibib tidak
mengenal siapa ayah dan ibunya. Kemungkinan besar ayah ibunya malu memiliki
anak dengan fisik seperti ini, kemudian membuangnya. Tanpa keluarga dan sanak
saudara. Julaibib menggelandang dan luntang-lantung di Yatsrib (Madinah).
Meskipun dari segi fisik Julaibib
memiliki banyak kekurangan, tetapi ia memiliki kelebihan yang luar biasa. Ia
selalu berada pada shaf terdepan ketika salat berjamaah dan juga di medan
pertempuran. Semangat berbuat baiknya menutupi kekurangan fisik yang Allah
takdirkan. Kekuatan iman Julaibib terwujud dalam ghirah ketakwaan yang tinggi.
Rasa takutnya hanyalah pada Allah sehingga fisik tak menghalangi tekatnya
berbuat baik.
Julaibib seakan membuktikan kebenaran
kata hikmah:
"Barangsiapa takut kepada Allah,
maka Allah akan membuat segala sesuatu takut kepadanya. Barangsiapa takut kepada
manusia, Allah akan membuatnya takut kepada segala sesuatu”.
Julaibib adalah julukan untuknya yang
berarti "orang yang berjubah sangat kecil". Tubuhnya mungil untuk
ukuran bangsa Arab Quraisy. Karena nasabnya tidak diketahui Julaibib tidak
dikenal sebagai bagian dari kabilah manapun.
Sebagai utusan Allah SWT., Rasulullah
Saw. memiliki kepekaan yang luar biasa. Kasih sayang dan perhatiannya tertuju
pada seluruh ummat. Bukan basa-basi tapi murni dari hati sanubari. Tak
terkecuali Julaibib. Suatu saat lagi-lagi Rasulullah khairulkhalqillah
menanyakan hal yang sangat penting bagi orang yang telah dewasa dan matang.
"Tidakkah engkau ingin pula
menikah, ya Julaibib?" tanya Rasulullah Saw suatu ketika dengan penuh
kasih.
Julaibib seakan meraba keadaannya dan
berkaca tentang keadaan dirinya. "Adakan seseorang yang mau menikahkan
putrinya dengan seseorang yang buruk rupa dan menggelandang di Yatsrib?"
gumam hati Julaibib.
"Wahai Rasulullah, adakah orang
yang mau menikahkan seseorang buruk rupa lagi miskin, seorang gelandangan
seperti saya?" jawab Julaibib rendah diri.
Mendengar jawaban Julaibib,
Rasulullah Saw tidak berhenti menanyakan hal yang sama pada hari-hari
berikutnya. Sampailah pada pertanyaan yang sama untuk ketigakalinya.
Tidak hanya bertanya, bahkan Rasulullah
langsung mengapit lengan Julaibib. Beliau yang mulia dengan segala nama besar
yang suci penuh wibawa membawa Julaibib melamar seorang gadis. Yaitu putri
seorang pembesar Anshar.
"Aku hendak menikahkan putri
kalian," sabda Rasulullah Saw kepada salah seorang pemimpin Anshar
tersebut.
Wajah pembesar Anshar itu berubah
penuh seri. Mereka mengira bahwa Rasulullah Saw yang mulialah yang hendak
meminang putri mereka, "Dengan senang hati, Wahai Rasul mulia. Kami sangat
tersanjung untuk menerima pinanganmu pada putri kami."
Rasulullah segera menukas,
"Bukan buatku. aku meminang putri kalian untuk Julaibib."
Ayah si gadis langsung terbeliak.
Sampai-sampai Julaibib merasa rendah diri yang amat sangat demi melihat
ekspresi keheranan ayah gadis itu.
Julaibib bertanya dalam hati,
mengapakah Rasulullah sampai senekat itu hendak menikahkan dia yang kecil,
buruk rupa tanpa nasab pada putri bangsawan kaya.
Maka bertanyalah seseorang pada gadis
putri bangsawan itu perihal pinangan Rasulullah terhadap dirinya untuk
Julaibib. Jawaban gadis itu teramat mengejutkan. Amazing sangat, apalagi untuk
ukuran iman akhir zaman. Yuk, kita dengar apa jawabannya.
"Apakah ayah dan ibu akan
menolak permintaan Rasulullah Saw? Demi Allah, kirim aku padanya. Jika
Rasulullah Saw yang meminta, maka pasti beliau tidak akan membawa kehancuran
dan kerugian untukku," tegas si gadis shalihah itu mengharukan.
Ia kemudian membacakan ayat berikut:
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَا
كَا نَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۤ اَمْرًا
اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ
وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًا
"Dan tidaklah pantas bagi
laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya
telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka
tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka
sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata."(QS al-Ahzab:
36).
Finally, menikahlah Julaibib yang
miskin, buruk rupa, dan tak punya nasab tersebut dengan gadis shalihah bernasab
bangsawan dari kalangan Anshar.
Kisah ini menjadi bukti bahwa
pernikahan itu sebaiknya dilakukan antar mereka yang sekufu itu berdasarkan
keimanan dan ketakwaannya. Bukan berpatokan pada harta benda dan kekayaan,
bukan pada pangkat dan kedudukan, bukan pada nasab dan keturunan, bukan pada
wajah yang cantik dan tampan.
Hikmah dari sebalik kisah:
1. Kisah ini mengajarkan para sahabat
ketika itu dan umat Nabi Muhammad SAW, bahwa di mata Allah SWT semua manusia
sama. Yang membedakan derajat mereka hanyalah ketaqwaan saja. Sebagaimana sabda
Rasulullah Saw berikut:
, "عَنْ
أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ
وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak
melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat
pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).
Juga apa yang Allah firmankan dalam
surat Alhujurat ayat 13
ٰۤاَ
يُّهَا النَّا سُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ
شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لِتَعَا رَفُوْا ۗ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ
تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
"Wahai manusia! Sungguh, Kami
telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian
Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.
Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.
2. Jangan pernah kecil hati dengan
kelemahan atribut dunia yang melekat pada diri kita Allah sebaik-baik penentu
kehidupan makhlukNya. Seperti apapun keadaan kita fokus pada pencapaian takwa,
maka Dia akan memberi karunia dari jalan yang tak terduga.
3. Dalam sistem Islam, seorang
pemimpin sangat berperan dalam marriage by design. Cukup dengan kata sami'naa
waatha'na maka keberkahan dan kemaslahatan akan teraih.
Hari ke-23
Kisah Nikah Sahabat 3
Kita memasuki kisah pernikahan
sahabat yang ketiga, Reader. Tidak lengkap rasanya kalau tidak menghadirkan
pasangan istimewa sahabat sekaligus ahlul bait Rasulullah Saw, yaitu Sayidina
Ali dan Sayidatina Fatimah Az-Zahra.
Kisah ini Writer kutip langsung dari
situs merdeka.com
://m.merdeka.com/peristiwa/ini-cerita-pernikahan-ali-
dan-fatimah-yang-bikin-hati-meleleh.html/diakses 18 Mei 2022), gegaranya
terkejar deadline sarkat, nih!
Yuk, kita simak kisah agungnya!
3. Kisah Nikah Sahabat Ali dan Siti
Fatimah
Para sahabat nabi memberi tauladan
dalam kehidupan. Banyak kisah menarik yang sampai membuat air mata menetes
karena keteladanan mereka.
Sebuah kisah datang dari putri
Rasulullah, Fatimah Az-Zahra, dan Ali Bin Abi Talib. Pintu hati Ali terketuk
pertama kali saat Fatimah dengan sigap membasuh dan mengobati luka ayahnya,
Muhammad SAW yang luka parah karena berperang.
Dari situ, dia bertekad untuk melamar
putri nabi. Lantas dengan tekun dia kumpulkan uang untuk membeli mahar dan
mempersunting Fatimah. Malang, belum genap uang Ali untuk membeli Mahar,
sahabat nabi Abu Bakar sudah terlanjur melamar Fatimah.
Hancur hati Ali, namun dia sadar diri
kalau saingan ini punya kualitas iman dan Islam yang jauh lebih tinggi dari
dirinya. Walau dikenal sebagai pahlawan Islam yang gagah berani, Ali dikenal
miskin. Hidupnya dihabiskan untuk berdakwah di jalan Allah.
Namun mendung seakan sirna saat Ali
mendengar Fatimah menolak lamaran Abu Bakar.
Tapi keceriaan Ali kembali sirna saat
orang dekat nabi lainnya, Umar Bin Khatab meminang Fatimah. Lagi-lagi Ali hanya
bisa pasrah karena dia tidak mungkin bersaing dengan Umar yang gagah perkasa.
Tapi takdir kembali berpihak kepadanya. Umar mengalami nasib serupa dengan Abu
Bakar.
Tapi saat itu Ali belum berani
mengambil sikap, dia sadar dia hanya pemuda miskin. Bahkan harta yang dia
miliki hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar
untuk makannya. Kepada Abu Bakar As Siddiq, Ali mengatakan, "Wahai Abu
Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang sebelumnya tenang. Anda telah
mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki
Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah kerana aku
tidak mempunyai apa-apa."
Abu Bakar terharu dan mengatakan,
"Wahai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan
Rasul-Nya, dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu-debu bertaburan
belaka!"
Mendengar jawaban Abu Bakar,
kepercayaan diri Ali kembali muncul untuk melamar gadis pujaannya saat
teman-temannya sudah mendorong agar Ali berani melamar Fatimah.
Dengan ragu-ragu dia menghadap
Rasulullah. Dari hadist riwayat Ummu Salamah diceritakan bagaimana proses
lamaran tersebut.
"Ketika itu kulihat wajah
Rasulullah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum baginda berkata kepada Ali bin
Abi Talib, 'Wahai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal mas kawin?"
"Demi Allah," jawab Ali bin
Abi Talib dengan terus terang, "Engkau sendiri mengetahui bagaimana
keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak
mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor
unta."
Tentang pedangmu itu," kata
Rasulullah menanggapi jawaban Ali bin Abi Talib, "Engkau tetap
memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau
juga perlu untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau
memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkan
engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima
barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, engkau wajib bergembira, sebab Allah
sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku
menikahkan engkau di bumi!". Demikianlah riwayat yang diceritakan Ummu
Salamah r.a.
Setelah segala-galanya siap, dengan
perasaan puas dan hati gembira, dan disaksikan oleh para sahabat, Rasulullah
mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya,
"Bahwasanya Allah SWT
memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas mas kawin 400 dirham
(nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu."
Maka menikahlah Ali dengan Fatimah.
Pernikahan mereka penuh dengan hikmah walau diarungi di tengah kemiskinan.
Bahkan disebutkan Rasulullah sangat terharu melihat tangan Fatimah yang kasar
karena harus menepung gandum untuk membantu suaminya.
Dari kisah ini mengajarkan kita
tentang kemurahan dan kemudahan yang Allah sajikan untuk hamba-hambanya
memasuki gerbang nikah. Bahwa pernikahan Lillah tidak seharusnya meletakkan
alasan duniawi untuk mengarunginya. Sementara koridor syar'i banyak yang
dilanggar demi meraih brand gengsi dan trendy.
Ada beberapa hikmah yang bisa kita
simpulkan dari kisah ini, ya,Reader:
1. Menolak pinangan itu hak wanita
yang harus dihargai dan dihormati. Bahkan untuk seseorang dengan keimanan
terbaik pun sahabiyah mencontohkannya. Tentu hal ini terkait dengan masalah
hati, yang tentu saja tak bisa dipaksakan.
2. Ternyata pernikahan zaman
Rasulullah Saw, sahabat dan salafusshalih itu tidak memandang usia tapi murni
muncul dari hati dan lillah. Jarak usia kadang sangat jauh lebih dari 20 tahun
dan beberapa kisah, istri lebih tua hingga terpaut puluhan tahun pun terjadi.
3. Kekurangan harta tidak seharusnya
menghalangi hasrat menikah. Keselamatan, kehormatan diri dan tertegaknya
syariat lebih utama daripada kekhawatiran atas kurangnya atribut dunia.
4. Kesederhanaan semestinya menjadi
alasan Izzah ummat bila yang menjadi landasannya adalah meneladani Rasulullah
Saw dan para sahabat
Hari ke-24
Kisah Nikah Sahabat 4
Kisah selanjutnya menjadi kisah
terakhir yang akan kita ungkap di sini. Kisah teragung tentang pernikahan dan
sekilas perjalanan rumah tangga khairulkhalqillah, Rasulullah Saw. Bersama
siapa nih kira-kira, Reader? Yang paling seru dan mengharu biru. Ada yang
menebak Rasulullah bersama Siti Khadijah dan ada juga yang menebak bersama Siti
Aisyah.
Okey, kita tuncep-tulisin cepet kisah
agung yang terukir indah dalam sejarah. Menjadi teladan abadi dari generasi ke
generasi
4. Kisah Nikah Rasulullah Saw Bersama
Ibunda Khadijah
Kita bedah kisah, ya, Reader. Sumber
utamanya adalah tarikh sebelum diutus menjadi rasul.
Siti Khadijah, seorang saudagar
wanita yang sangat kaya. Bahkan paling kaya di kota Mekah. Bernasab mulia
bangsawan Quraisy, ayahnya bernama Khuwailid. Kemampuan entrepreneurnya
membuatnya menjadi ekspostir antar wilayah di jazirah Arab.
Sementara itu pemuda Muhammad adalah
sosok yang jujur, amanah, santun, pemurah dan berbagai kumpulan sifat baik ada
pada pribadi beliau. Pemuda Muhammad sudah cukup termasyhur di kota Mekah
karena akhlaknya dan juga nasabnya sebagai cucu pelayan tamu baitullah.
Kemasyhuran sifat mulia pemuda
Muhammad sangat menarik hati siapa saja, tak terkecuali Siti Khadijah. Hingga
ia ingin mempercayakan barang dagangannya pada pemuda Muhammad untuk di
perdagangkan ke Syam.
Pemuda Muhammad menerima tawaran itu.
Dengan didampingi Maisarah, khadimat Siti Khadijah.
Pemuda Muhammad pulang dari Syam dan
barang dagangannya habis dengan keuntungan yang berlipat ganda. Kekaguman dan
cinta mulai bersemi di hati Siti Khadijah. Tampak benar sifat amanah dan bukti
gelaran Al-Amin yang tersemat untuk pemuda Muhammad. Ditambah lagi dengan
kesaksian Maisarah tentang kemuliaan sifat pemuda Muhammad selama perjalanan
dagang itu. Timbullah keinginan Siti Khadijah menikahi pemuda Muhammad.
Akan tetapi keraguan muncul pada diri
Siti Khadijah saat mengingat usianya terpaut 15 tahun dengan pemuda Muhammad.
Ditambah lagi Siti Khadijah pernah menikah dua kali sebelumnya. Di sinilah
Nafisah binti Munyah, sahabat karib Siti Khadijah.
"Menurut saya, anda pantas untuk
menjadi pendamping Muhammad. Anda kaya raya, cantik, keturunan bangsawan
Quraisy. Walaupun anda sudah berusia 40 tahun dan 15 tahun lebih tua, tetapi
anda kelihatan masih muda dan kuat. Anda masih bisa mengatur usaha dan memiliki
banyak kafilah dagang."
Nafisah menjadi perantara ta'aruf
antara Siti Khadijah dengan pemuda Muhammad. Kecerdikan Nafisah sebagai
comblang terus diuji. Suatu ketika Nafisah mengunjungi pemuda Muhammad.
"Ya Muhammad, Al Aamiin, aku
Nafisah binti Munyah hendak menyampaikan sesuatu padamu, bahwa ada seorang
wanita yang agung, suci, lagi mulia. Dia sangat sempurna, pokoknya cocok
denganmu. Jika engkau bersedia akan aku sebut namamu disisinya."
Pemuda Muhammad tertegun dengan
pertanyaan yang tak biasa itu. Melihat pemuda Muhammad tidak segera menjawab,
Nafisah menyampaikan strateginya kembali. "Engkau tidak harus menjawabnya
saat ini juga tapi sampai ada kemantapan hati untuk menjadi pendamping wanita
mulia itu," lanjut Nafisah
Waktu jeda untuk membuat keputusan
digunakan kedua pihak baik Siti Khadijah dan pemuda Muhammad untuk berdiskusi
dengan keluarga besar masing-masing. Sebagai hasilnya, pihak keluarga Nabi
Muhammad menemui paman Siti Khadijah yang bernama Amr bin As'ad. Tujuannya
melaksanakan khitbah dan niat mempersunting Siti Khadijah. Bertindak sebagai
juru bicara keluarga Nabi Muhammad adalah pamanda Abu Thalib.
"Segala puji bagi Allah yang
telah menjadikan kita anak keturunan Ibrahim, hasil tumbuhan Ismail, dan
berasal usul dari Ma'ad, serta unsur kejadian dari Mudhar. (Segala puji
bagi-Nya) yang menjadikan pemelihara rumah-Nya, pengelola tanah suci-Nya, dan
menganugerahi kita rumah (Ka'bah) yang dikunjungi, wilayah yang aman, dan
menjadikan kita penguasa-penguasa atas manusia. Selanjutnya, anak saudaraku
ini, Muhammad, adalah dia yang tidak diukur seorang pemuda pun dari Quraisy,
kecuali dia mengunggulinya dalam kemuliaan, keluhuran, keutamaan, dan akal.
Kendati dalam hal harta dia memiliki sedikit, tetapi harta adalah bayangan yang
hilang dan pinjaman yang harus dikembalikan. Muhammad adalah siapa yang hadirin
telah kenal keluarganya. Dia melamar Khadijah putri Khuwailid, dan bersedia
memberi mahar dari harta milikku yang jumlahnya secara tunda sekian dan kontan
sekian. Di samping itu, dia, demi Allah, sungguh bakal menjadi berita penting
dan peristiwa agung.”. Demikian ungkapan khutbah khitbah Abu Thalib.
"Ini adalah unta jantan yang
tidak dipotong (ditandai) hidungnya," jawaban singkat Amr bin As'ad.
Kalimat ini menjadi isyarat diterimanya suatu lamaran di jazzirah Arab waktu
itu. Unta jantan tidak ditandai artinya termasuk bibit unggul yang akan
dipertemukan dengan unta betina agar meneruskan keturunan. Sementara unta yang
ditandai akan dipisahkan dan tidak untuk diteruskan keturunannya.
Pada sebagian riwayat lain, sambutan
khutbah balasan disampaikan oleh Waraqah bin Naufal, paman Siti Khadijah.
"Segala puji bagi Allah yang menjadikan kita sebagaimana yang anda
sebut-sebut. Kita adalah pemuka-pemuka masyarakat Arab dn pemimpin-pemimpinnya.
Saudara-saudara wajar untuk kemulian itu, keluarga besar pun tidak mengingkari
keutamaan saudara-saudara, tidak juga seorang pun bisa menapik kebanggaan dan
kemuliaan saudara-saudara. Kami senang menjalin hubungan dengan saudara-saudara
dan menghubungkan (diri) dengan kemuliaan saudara-saudara. Maka bersaksilah
atasku wahai masyarakat Quraisy bahwa sesungguhnya aku telah menikahkan
Khadijah binti Khuwailid dengan Muhammad bin Abdullah, dengan mahar empat ratus
dinar."
"Aku suka bila pamannya ikut
serta denganmu (dalam menikahkan mereka)," balas pamanda Nabi Muhammad.
Abu Thalib.
"Bersaksilah atasku, bahwa aku
telah menikahkan Muhammad bin Abdullah dengan Khadijah binti Khuwailid,"
ujar paman Siti Khadijah, Amr bin As'ad.
Akhirnya Nabi Muhammad dan Siti Khadijah
resmi menikah.
Pernikahan itu sangat terjaga secara
syariat walaupun terhitung mundur lima belas tahun sebelum risalah Islam
diturunkan. Sebuah tipe pernikahan yang islami, bermula dari ta'aruf, khitbah
dan nikah. Ini salah satu bukti pemeliharaan Allah pada nabi dan rasul bahkan
sebelum diangkat lagi.
Ta'aruf pemuda Muhammad terbungkus
syariat dengan perantara, yaitu Nafisah binti Munyah, sahabat Siti Khadijah.
Prosesi khitbah telah melibatkan dua keluarga besar calon mempelai. Pelaksanaan
nikah dihadiri wali dan para saksi, ada mahar pula yang ditunaikan. Betapa
Allah memelihara peri kehidupan para calon nabi dan rasulNya.
Hikmah di balik kisah:
1. Usia tidah pernah menjadi
penghalang jalinan cinta, pihak wanita tidak selalunya harus lebih muda dari
pihak pria.
2. Tatacara nikah islami telah
dicontohkan Rasulullah Saw sejak beliau belum diangkat menjadi rasul, yaitu
melalui ta'aruf dengan perantara, khitbah yang melibatkan dua keluarga dan
nikah sesuai syarat dan rukunnya
3. Pernikahan tidak mensyaratkan
sekufu dalam jumlah harta. Siti Khadijah memiliki harta berlimpah tapi tetap
rendah hati menerima pemuda Muhammad bukan karena banyaknya harta, tingginya
kedudukan, tapi karena kemuliaan keluhuran akhlaknya
4. Jika kemantapan hati telah nyata,
jagalah muamalah terbalut syariat bahwa niat suci melalui proses ta'aruf
sebagai kewajiban perintah Allah, khitbah sebagai ucapan sopan santun memasuki
keluarga orang, nikah penuh berkah sebagai prosesi pindah pertanggungjawaban.
Hari ke-25
NIKAH ITU INDAH
Sepertinya bagian ini yang paling
dinantikan Reader calon ratu dan raja sehari. Tapi buat Writer justru bagian
ini menjadi bagian paling mengkhawatirkan. Bagaimana tidak. Tulisan yang
disajikan harus tetap memiliki dasar syar'i, sopan, tapi di sisi lain harus
jelas dan menjelaskan. Tujuannya:
1. Tulisan menambah ilmu buat Reader.
Dalam artian ada dasar Nash Qot'i atau sumber aautentiknya dari Qur'an Hadits,
Atsar Shahabat ataupun pendapat ulama dalam kitab mereka
2. Menyajikan kesiapan psikologis
maupun fiqhiyah tentang ibadah nikah
3. Memegang teguh kesopanan agar
terhindar dari pornografi maupun nilai-nilai kesopanan
4. Menjelaskan hingga gamblang pada
tingkat praktis sebagai upaya hadirnya kesiapan berumah tangga. Baik di dapur,
sumur dan tempat tidur.
Hmm...baiklah, kita awali dengan
basmallah semoga Allah buka rahmat-Nya kita ambil berkat-Nya. Kita akan maraton
membahas satu bab ini dalam satu kali posting, karena sarkat tinggal 5 hari
lagi. Insya Allah, dengan izinNya. Tarik napas, deh Writer.
1. Malam Pertama yang Mendebarkan
Dua hati yang disatukan dalam
mahligai rumah tangga. So sweet, ya Reader. Makin tipis-tipis saja awal
taarufnya, makin banyak kejutan yang akan mereka jumpai. Tapi makin dalam masa
ta'aruf, rasanya kurang ada sensasi.
Di tiap-tiap hal ada kebaikannya dan
ada juga keburukannya. Hanya saja tebal tipisnya kebaikan dan keburukan yang
harus kita timbang. Buang buruknya, ambil baiknya. Seperti kata pepatah,
segemul-gemuk ikan pasti ada durinya, sekurus-kurus ikan pula pasti ada dagingnya.
Tebal tipis ta'aruf tidak begitu
menjadi masalah dalam rumah tangga. Bukankan ada yang taaruf bertahun-tahun
bahkan puluhan tahun tapi kandas dalam beberapa bulan? Sebaliknya banyak juga
yang ta'aruf dalam beberapa saat dengan hanya beberapa kali pertemuan, tapi
Allah SWT kekalkan hingga akhir hayat? Saling setia, menjaga komitmen dan
selalu menjaga balutan kasih sayang karena Allah.
Kembali ke malam pertama yang
mendebarkan, Writer akan ungkap tata cara dan adab dua mempelai di dalam kamar
pengantin mereka di malam pertama. Kita kupas dari sumber ilmunya, ya, Reader?
Dalam Kitab Qurratul 'Uyun karya
Syaikh Muhammad At Tahami, pada bagian yang membahas malam pertama. Sebagaimana
permulaan kitab fiqih, di kitab nikah ini juga mengedepankan thaharah. Kebersihan
dan kesucian kondisi dua pasutri. Yuk, kita runut prosesi ibadah yang indah
ini:
1. Berwudhu ataupun mandi
Sebelum saling menunaikan hak dan
kewajiban di malam pertama, sebagaimana pembahasan tiap literatur fiqih, maka
langkah pertama selalu terkait thaharah. Menjaga kesucian diri dari hadas besar
dan kecil, suci tempat, pakaian, badan terbebas dari najis.
Berwudhu pun ada adab-adabnya. Oh,
ya, mengapa penting untuk membahas adab? Tentu harapannya adalah agar saat
bersebadan dan diizinkan Allah pertemuan dua Nutfah menjadi insan bashari,
zuriat yang dilahirkan ke alam fana menjadi insan berakhlak mulia dengan adab
Islami.
Adab memasuki toilet:
a. Membaca doa sebelum masuk toilet
اَللّٰهُمَّ
اِنّىْ اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَآئِثِ
"Ya, Allah, sesungguhnya aku
berlindung padamu dari (godaan) syaitan laki-laki dan setan perempuan"
b. Melangkah dengan kaki kiri sambil
memakai alas kaki khusus toilet, karena lantai toilet tentu rawan najis
meskipun disiram air suci.
c. Berdoa saat melihat air
اَلْحَمْدُ
ِللهِ الَّذِي جَعَلَ اْلمَاءَ طَهُوْرًا
"Segala puji bagi Allah
yangenjadikan air ini menyucikan"
d. Mengerjakan wudhu ataupun mandi
e. Keluar toilet dengan melepas
sendal,elangkah keluar toilet dengan kaki kanan
f. Membaca doa keluar toilet
غُفْرَانَكَ
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَذْهَبَ عَنّى اْلاَذَى وَعَافَانِىْ
"Ampunan adalah milikMu, segala
puji bagi Allah yang menghilangkan penyakit dan memberi kesehatan."
Adab berwudhu:
a. Membasuh telapak tangan sambil
membersihkan sela-sela jari
اللَّهُمَّ
احْفَظْ يَدِيْ مِنْ مَعَاصِيْكَ كُلِّه
"Ya Allah, jagalah kedua
tanganku dari semua perbuatan maksiat."
b. Berkumur-kumur
اللَّهُمَّ
أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ اللَّهُمَّ اسْقِنِي مِنْ حَوْضِ نَبِيِّكَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأْسًا لَا أَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا
"Ya Allah, tolonglah aku (untuk
selalu) mengingat dan bersyukur pada-Mu. Ya Allah beri aku minuman dari telaga
Kautsar Nabi Muhammad, yang begitu menyegarkan hingga aku tidak merasa haus
selamanya."
c. Membersihkan Lubang Hidung dengan
menghirup air dan mengeluarkannya kembali melalui mulut atau hidung
اللَّهُمَّ
أَرِحْنِي رَائِحَةَ الْجَنَّةِ اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنِيْ رَائِحَةَ نِعَمِكَ
وَجَنَّاتِك
"Ya Allah (izinkan) aku mencium
wewangian surga. Ya Allah, jangan halangi aku mencium wanginya nikmat-nikmatmu
dan wanginya surga."
d. Membasuh Wajah
* Berniat dalam hati dengan
melafazkan niat wudhu
نَوَيْتُ
الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى
"Saya niat berwudhu untuk
menghilangkan hadast kecil fardu karena Allah".
* Dimulai dari ujung kepala tumbuhnya
rambut sampai bawah dagu. Membaca doa :
اللَّهُمَّ
بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ
"Ya Allah, putihkanlah wajahku
di hari ketika wajah-wajah memutih dan menghitam"
e. Membasuh tangan dari ujung jari
hingga dengan doa
membasuh tangan kanan
اللَّهُمَّ
أَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِينِيْ وَحَاسِبْنِيْ حِسَابًا يَسِيرًا
"Ya Allah, berikanlah kitab
amalku (kelak di akhirat) pada tangan kananku, dan hisablah aku dengan hisab
yang ringan."
Doa membasuh tangan kiri :
اللَّهُمَّ
لَا تُعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِشِمَالِيْ وَلَا مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِيْ
"Ya Allah, jangan kau berikan
kitab amalku (kelak di akhirat) pada tangan kiriku, dan janganlah pula
diberikan dari balik punggungku."
f. Mengusap rambut kepala diiringi
doa:
اللَّهُمَّ
حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ عَلَى النَّارِ وَأَظِلَّنِيْ تَحْتَ عَرْشِكَ يَوْمَ
لَا ظِلَّ إلَّا ظِلُّك
"Ya Allah, halangi rambut dan
kulitku dari sentuhan api neraka, dan naungi aku dengan naungan singgasana-Mu,
pada hari ketika tak ada naungan selain naungan dari-Mu."
g. Mengusap telinga dengan doa
اللَّهُمَّ
اجْعَلْنِي مِنْ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
"Ya Allah, jadikanlah aku
orang-orang yang mampu mendengar ucapan dan mampu mengikuti apa yang baik dari
ucapan tersebut."
h. Membasuh kaki dari ujung jari kaki
hingga mata kaki diiringi doa membasuh kaki kanan :
اللهم
اجْعَلْهُ سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمِيْ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ الْأَقْدَامُ
"Ya, Allah, jadikanlah (segenap
langkahku) sebagai usaha yang disyukuri, sebagai penyebab terampuninya dosa dan
sebagai amal yang diterima. Ya Allah, mantapkanlah telapak kakiku saat
melintasi jembatan shirathal mustaqim, kelak di hari ketika banyak telapak kaki
yang tergelincir."
Doa membasuh kaki kiri :
اَللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ تَنْزِلَ قَدَمِيْ عَنِ الصِّرَاطِ يَوْمَ تَنْزِلُ
فِيْهِ أَقْدَامُ الْمُنَافِقِيْنَ
"Ya Allah, aku berlindung pada-Mu,
dari tergelincir saat melintasi jembatan shirathal mustaqim, kelak di hari
ketika banyak telapak kaki orang munafik yang tergelincir."
i. Doa setelah berwudhu
أَشْهَدُ
أَنْ لآّاِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ
وَاجْعَلْنِىْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
"Aku bersaksi bahwa tidak ada
Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi
bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku
termasuk dalam golongan orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk
dalam golongan orang-orang yang bersuci (shalih)."
j. Diwajibkan tertib berurutan
k.Disunnahlan mendahulukan anggota
kanan dan diulang tiga kali pada tiap bagiannya
l. Membaca doa selepas wudhu
اشْهَدُ
اَنْ لاَّاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ
مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ
وَاجْعَلْنِىْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ، وَجْعَلْنِيْ مِنْ عِبَادِكَ
الصَّالِحِيْنَ
"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan
melainkan Allah, tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu
hamba dan utusanNya. Ya Allah! Jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang
bertaubat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci dan
jadikanlah aku bagian dari hamba-hamba-Mu yang sholeh."
Adab mandi taubat
1. Didahului dengan berwudhu tanpa
membasuh kaki
2. Niat mandi taubat
نَوَيْتُ
الْغُسْلَ لِلتَّوْبَتِ عَنْ جَمِعِ الذُّنُوْبِ
“Aku berniat mandi taubat dari segala
dosa"
2. Menuangkan air pada kedua telapak
tangan lalu membasuh kedua tangan sebanyak tiga kali.
3. Membasuh daerah kemaluan dengan
tangan kiri.
4. Membersihkan seluruh anggota badan
dengan sabun seperti saat mandi pada umumnya dan menggosok badan dengan tangan
kiri.
5. Selanjutnya berwudhu seperti
urutan saat berwudhu seperti biasanya kemudian mencuci pergelangan tangan
sampai dengan kaki.
6. Membasuh dan mencuci sela rambut
dengan mencelupkan jari dengan air ke setiap sela rambut sampai kulit kepala,
tetapi ada beberapa pendapat hal ini tidak sepenuhnya mutlak dilakukan.
7. Menyiramkan air tiga kali pada
kepala mulai dari bagian kepala kanan kemudian ke kiri.
8. Meratakan air ke seluruh tubuh
dimulai dari kanan kemudian ke kiri.
9. Membasuh kaki dan sela jari kaki.
10. Melaksanakan shalat taubat dua
rakaat, dilanjutkan berdzikir dengan banyak membaca satyidul istighfar
اَللَّهُمَّ
أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ،
وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا
صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ
لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku,
tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Engkau, Engkaulah
yang menciptakanku. Aku adalah hamba–Mu. Aku akan setia pada perjanjianku
dengan–Mu semampuku. Aku berlindung kepada–Mu dari kejelekan (apa) yang
kuperbuat. Aku mengakui nikmat–Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui
dosaku, oleh karena itu, ampuniah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat
mengampuni dosa kecuali Engkau. (HR Al–Bukhari, Ahmad, an–Nasai)
11. Memanjatkan doa taubat dan
bersedekah.
اَللَّهُمَّ
اِنِّى اَسْاَلُكَ تَوْ فِيْقَ اَهْلِ الْهُدَى وَاَعْمَالَ اَهْلِ التَّوْبَةِ
وَعَزْمَ اَهْلِ الصَّبْرِ وَجِدَّ اَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ اَهْلِ الرَّ
غْبَةِ وَتَعَبُّدَ اَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ اَهْلِ الْعِلْمِ حَتَّى
اَخَافَكَ . اَللَّهُمَّ اِنِّى اَسْاَلُكَ مَخَا فَةً تَحْجُزُ نِى عَنْ
مَعَاصِيْكَ حَتَّى اَعْمَلَ بِطَا عَتِكَ عَمَلاً اَسْتَحِقُّ بِهِ رِضَاكَ
حَتَّى اُنَا صِحَكَ فِىالتَّوْ بَةِ خَوْ فًا مِنْكَ وَحَتَّى اَخْلِصَ لَكَ
النَّصِيْحَةَ حُبًّا لَكَ وَحَتَّى اَتَوَ كَّلَ عَلَيْكَ فَ اْلاُمُوْرِ
كُلِّهَاوَحُسْنَ ظَنٍّ بِكَ . سُبْحَانَ خَالِقِ نُوْرٍ
“Ya Allah sesungguhnya hamba memohon
kepadaMu Taufiq (pertolongan)nya orang-orang yang mendapatkan
petunjuk(hidayah),dan perbuatannya orang-orang yang bertaubat, dan cita-cita
orang-orang yang sabar, dan kesungguhan orang-orang yang takut, dan
pencariannya orang-orang yang cinta, dan ibadahnya orang-orang yang menjauhkan
diri dari dosa (wara’), dan ma’rifatnya orang-orang berilmu sehingga hamba
takut kepada-Mu
Salat Sunnah taubat menjadi bagian
sangat penting sebelum berjimak di malam pertama. Semoga saat kesucian diri
terjaga, zuriat yang tercipta pun dijaga kesuciannya dengan selalu mendapat
bimbingan Allah SWT
Hal ini bagian dari ikhtiar terbaik
dalam menyambut indahnya pernikahan. Semoga dengan salat taubat bersama, Allah
Swt mengangkat segala dosa pasutri sebelum berjimak. Insya Allah Rahmat dan
Berkah Allah untuk keluarga yang sedang mereka bangun.
2. Menyikat gigi atau bersiwak
Kebersihan mulut menjadi syarat
mutlak kenikmatan bercinta di malam pertama. Sesuatu yang teramat istimewa
mesti dipelihara momentumnya sehingga menjadi bagian Mada terindah dalam
gerbang rumah tangga. Menjadi sesuatu yang spesial untuk membangkitkan
keindahan pada masa-masa berikutnya. Oleh karena itu menjadi tugas. Kewajiban
dan tanggung jawab bersama untuk menjadikannya seistimewa mungkin.
Adab bersiwak:
Berikut kesunnahan dalam bersiwak
sesuai dengan kitab Al Baijujuri:
a. Dimulai dengan niat, i'tibak pada
Sunnah Rasul dan mengikuti perintah Allah Swt untuk senantiasa menjaga
kebersihan sekaligus meneladani Rasulullah Saw.
b. Bersiwak dengan tangan kanan
sebagaimana Sunnah Rasulullah Saw untuk selalu melakukan kebaikan dengan tangan
kanan.
c. Posisi jari kelingking di bawah
batang siwak, jari manis, jari tengah dan jari telunjuk di atas batang siwak
dan jempol berada di bawah bagian kepala siwak.
d. Selesai bersiwak batang siwak
diletakkan di bagian belakang telinga kiri.
ويسن
ان يجعل الخنصر من اسفله والبنصر والوسطى والسبابة فوقه والإبهام
اسفل
رأسه ثم يضعه بعد ان يستاك خلف أذنه اليسرى لخبر فيه
"Disunnahkan jari kelingking
berada di bawah batang siwak, jari manis, tengah dan telunjuk di atasnya dan
jempol di bagian atas kepala siwak. Setelah bersiwak, kayu siwak diletakkan di
belakang telinga bagian kiri.
e. Membaca doa saat mulai bersiwak
اَللَّهُمَّ
بَيِّضْ بِهِ أَسْنَانِيْ، وَشُّدُّ بِهِ لِثَاتِىْ، وَثَبِّتْ بِهِ لَهَاتِيْ،
وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ ياَ اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ,
"Ya Allah, semoga Engkau
putihkan gigi-gigiku, kokohkan gusi-gusiku, kuatkan katup nafas kami, berilah
kami keberkahan, wahai Dzat yang Maha-paling kasih.”
f. Menelan ludah pada kali pertama
memulai bersiwak walaupun kayu atau batang siwak tidak lagi baru.
g. Sunnah menyuci batang siwak pada
setiap kali bersiwak
h. Panjang batang sikat gigi atau
kayu siwak cukup sejengkal, selebihnya makruh karena ditumpangi setan atas
keberlebihannya.
i. Disunnahkan pada bagian kepala
siwak terdapat guritan bulu halus
j. Bersiwak dalam keadaan diam dan
tenang, makruh sambil bicara
k. Disunnahkan memulai bersiwak dari
area mulut bagian kanan sampai separuh pada bagian luar dan dalam. Disusul
bagian kiri.
l. Menggosok pangkal gigi geraham
naik membujur maupun melintang.
m. Menggosok langit-langit mulut dan
gigi-gigi lain yang belum digosok secara melintang.
n. Menggosok lidah secara membujur.
o. Saat menggosok dilakukan dengan
lembut dan pelan
3. Berhias dan memakai wewangian.
Di antara yang dapat membangkitkan
keinginan pada pasangan adalah rapih, indah, rupawan dan wewangian. Maka
disunahkan berhias dan memakai wewangian dalam kadar kepatutan. Kepatutan di
sini harus disesuaikan dengan selera pasangan, maka perlu dikomunikasikan
antara keduanya tentang wewangian yang disukai oleh keduanya. Demikian juga
cara berhias.
Saat kedua pasangan sudah berhias
pujilah pasangan sebagai bentuk penghormatan. Apa bila ada yang dirasa kurang
dapat didiskusikan lain waktu. Jangan dipatahkan dengan pertanyaan atau
ungkapan yang menghilangkan mood bercinta. Misalnya:
"Ih, pakai apa ini kok merah
pipinya" tapi katakanlah,"Adik, tambah cantik dengan make up ini,
Abang suka"
"Abang lebih suka Adik nggak
pake make up lebih cantik alami" tapi katakan,"Tanpa berhias pun Adik
udah cantik apalagi setelah berhias, tambah cantik banget"
Dan berbagai ungkapan lain yang
intinya menyenangkan hati pasangan. Hargai pengorbanan pasangan kita yang
berniat menyenangkan kita.
4. Sholat sunnah dua rakaat.
Disarankan untuk melakukan sholat
sunnah mutlak sebelum bersebadan. Tujuannya untuk membuat keduanya siap
bersebadan, mengendorkan syaraf-syaraf supaya rileks dan nyaman. Salat ini juga
menjadi isyarat kesepakatan bahwa pasutri akan bersebadan. Pada masa-masa ke
depan pada persebadanan berikutnya akan menghilangkan kendala bersebadan
seperti tidak mood bercinta, terlalu lelah, banyak pikiran, stress dan lain
sebagainya.
Imam Nawawi berkata:
ومنه
ركعتا الزفاف تسن هذه الصلاة لكل من الزوج والزوجة ينوي بها سنة الزفاف
“Bagian dari shalat sunnah adalah dua
rakaat zifaf. Shalat ini disunnahkan bagi suami dan istri dengan niat melakukan
shalat sunnah zifaf.”
Dasar dalil salat sunnah Zifaf ini
diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnya al-Mushannaf, dari Abu
Said, dia bercerita bahwa ketika menikah terdapat sejumlah sahabat Nabi Saw
yang hadir, antara lain Ibnu Mas’ud, Abu Zar dan Huzaifah. Kemudian mereka
berkata:
إذا
أدخل عليك أهلك فصل عليك ركعتين ، ثم سل الله تعالى من خير ما دخل عليك ، وتعوذ به
من شره ، ثم شأنك وشأن أهلك
“Jika kamu menemui istrimu, maka salatlah
dua rakaat. Kemudian mintalah kepada Allah kebaikan dari yang dimasukkan
kepadamu, dan minta perlindungan kepada Allah dari keburukannya. Setelah itu,
lakukan urusanmu dan urusan istrimu.”
Bahasan tata cara salat Sunnah
sebelum jinak akan dibahas pada sarkat berikutnya, ya, Reader!
Hari ke-26
Adab Salat Zifaf:
1. Melafazkan niat
أُصَـلِّىْ
سُنَّةَ لَيْلَةِ الزِّفَافِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّـهِ تَعَالَى
“Saya salat sunnah malam pengantin
dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
2. Pada rakaat pertama dan kedua setelah
al-Fatihah boleh membaca surah al-Quran dan boleh tidak membaca. Jika hendak
membaca surah al-Quran, maka boleh membaca surah apa saja dari surah-surah
al-Quran.
Jika bersebadan di siang hari
Alfatihah dan surat pengiringnya dibaca sir (lirih). Sebaliknya jika hubungan
dilakukan malam hari, bacaannya jahr (jelas)
3. Membaca doa selepas salam:
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ
ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻚَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ، ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﻣَﺎ ﺟَﺒَﻠْﺘَﻬَﺎﻋَﻠَﻴْﻪِ ، ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ
ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّﻫَﺎ ﻭَﺷَﺮِّ ﻣَﺎ ﺟَﺒَﻠْﺘَﻬَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon
kepada-Mu kebaikannya (istri) dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan padanya.
Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan apa yang Engkau
ciptakan padanya.
4. Mengucap salam pada istri seperti
Rasulullah Saw contohkan:
السَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
"Keselamatan atasmu, Rahmat dan
keberkahan"
5. Melafazkan doa sambil memegang
ubun-ubun isteri;
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ
مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ(رواه أبو داود و حسنه
الألباني فى سنن أبي داود)
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon
kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau berikan kepadanya. Dan aku
berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang Engkau berikan
kepadanya.” (HR. Abu Daud dalam sunannya)
6. Mengucapkan kata rayuan yang
romantis dan senda gurau untuk mencairkan suasana agar tidak tegang. Tentu saja
suasana yang tegang tidak akan nyaman bagi pasutri. Sebaliknya ketika suasana
santai dan rileks maka pasutri akan lebih bisa menikmati momen romantis ini.
Contoh kata-kata romantis:
a. Kau adalah segalanya bagiku
setelah Allah dan RasulNya
b. Meski mendung menggantung di
langit biru, yang penting senyummu menyapu mendung di hatiku
c. Mengingatimu menyematkan senyum di
wajahku, apalagi mengingati penciptamu
d. Engkau adalah anugerah terindah
setelah iman
e. Biarlah semua orang membenciku
yang penting kau selalu kau membelaku
f. Musuh seribu tiada arti asalkan
kau tetap mencintaiku
g. Biarlah semua mengabaikanmu yang
penting aku kan selalu hadir untukmu
h. Bila cintaku padamu harus kutulis,
niscaya habislah tinta sedalam samudera
i. Cintaku padamu ibarat udara yang
terus berhembus dan air yang akan terus mengalir, ia akan berakhir bila zaman
terhenti
j. Diantara sekian yang singgah di
hati hanya kamu anugerah terindah yang Allah beri.
k. Diantara kebahagiaan yang Allah
anugerah kan, bersamamu adalah bahagia yang terindah
l. Takut yang indah itu, takut
kehilanganmu
m. Mencintaimu itu indah tapi saat
kau menyadari cintaku, itu lebih indah.
n. Hujan itu anugerah musim kemarau,
awan itu anugerah di tengah terik sang surya tapi kau adalah anugerah
terindahku
o. Ingin aku hadiahkan mata ini
untukmu tapi aku takut tak dapat melihat keindahan mu
p. Hati paling ajaib adalah hatimu
yang menerima cintaku, suara paling merdu adalah bisikanmu tapi sesuatu
terindah adalah mencintaimu
q. Jika bintang bisa bicara, aku kan
meminta mereka berkata bahwa aku mencintaimu.
r. Tahukah kamu apa beda suara
senapan dengan suaramu? Suara senapan mencabut nyawa tapi suaramu membangkitkan
hasrat bercinta
s. Getaran gempa memang menggemparkan
semua orang tapi getaran cintamu membangkitkan gairahku
t. Bibirmu merah semerah hatiku yang
menginginkanmu
u. Wajahmu lebih cerah dari purnama
karena wajahmu selalu membinarkan rasa cinta di hatiku.
v. Aku cinta Adek lillah, hati dan
jiwa ikhlasmu menerimaku adalah alasanku untuk bahagia, yang lebih
membahagiakan lagi Allah titipkan anugerah cinta ini di hati Abang untukmu
w. Karena cinta, engkaulah yang
terindah, Allah kabulkan doaku, kaulah qurataa'yun, cahaya mata dan hatiku
x. Aku menerimamu bukan karena
atribut dunia yang ada padamu tapi aku berharap cinta lillah ini menuntun kita
bertemu Allah secepat kilatan cahaya.
y. Memandangku saja menggetarkan
sukmaku apalagi jika kita bersatu tubuh, aku tak kuat lagi menahan rindu
z. Syurga dunia itu ia adalah
penyatuan cinta lillah kita, masih adakah sabar jika kenikmatan bersatu tubuh
itu seumpama seperseribu bagian dari perjumpaan denganNya.
aa. Aku bukan pujangga yang pandai
mengukir kata, nggak pakai lama, aku ingin kita segera saling berbagi rasa
ab. Kepada siapa aku harus meluahkan
gelora rasa, cinta ini ingin segera berlabuh di dermaga, dan kau dermaga
rinduku
ac. Bila hasrat ini sudah memuncak,
akan kulumat semua yang ada padamu, tubuhmu tubuhku juga, tubuhku tubuhmu juga.
8. Melafazkan doa dan niat bersebadan
karena Allah agar bernilai ibadah.
Doa bersetubuh
*Doa sebelum bersetubuh
بِسْمِ
اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
“Dengan menyebut nama Allah Swt, ya
Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah dari rezeki yang
Engkau anugerahkan kepada kami."(HR Bukhari Muslim)
*Doa setelah keluar air mani
اَللّهُـــمَّ
اجْعَــلْ نُطْفَتَــنَا ذُرّ ِيَّةً طَيِّــبَةً
"Ya Allah, jadikanlah nutfah
kami ini menjadi keturunan yang saleh.”
*Doa setelah bersetubuh
اَلْحَمْدُ
ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ المْـَــاءِ بَشَـــرًا
"Segala puji bagi Allah Swt.
yang telah menjadikan air mani ini menjadi keturunan.”
Sesuai dengan kandungan doa
bersebadan, ada beberapa tujuan dari doa ini:
-membentengi diri dari godaan setan
-menghindarkan zuriat dari gangguan
dan campur tangan setan selama berhubungan
-memohon keturunan yang shalih
-memuji Allah sebagai pencipta Nutfah
dan zuriat yang Dia amanahkan
9. Melakukan hal sekehendak pasutri
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
نِسَآ
ؤُكُمْ حَرْثٌ لَّـكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوْا
لِاَ نْفُسِكُمْ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّکُمْ مُّلٰقُوْهُ ۗ وَ
بَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ
"Istri-istrimu adalah ladang
bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai.
Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan
ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira
kepada orang yang beriman."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 223)
Kepahaman akan hal-hal yang
dimakruhkan lebih mengarah pada bagaimana mata, kemaluan satu sama lain dan
lubang masuk terjaga. Untuk suara, gerak, posisi dan rabaan diserahkan
sepenuhnya pada pasutri. Semua halal dan boleh.
Baiklah kita bahas keharaman dan
kemakruhan dalam bersebadan agar lebih jelas dan kita bisa terhindar darinya.
Hal yang diharamkan:
a. Bersebadan saat haid dan nifas
b. Bersebadan dengan memasukkan zakar
pada dubur
c. Bersebadan dengan membayangkan
orang lain, dihukumi serupa dengan zina
d. Bersebadan dengan membawa
ayat-ayat Al Quran nama-nama Allah SWT, Nabi. Malaikat dan lain lain seperti
azimat.
e. Bersebadan dalam Masjid atau Mushalah
f. Bersebadan saat berpuasa di bulan
Ramadan.
g. Bersebadan dalam ihram Haji atau
ihram Umrah
h. Bersebadan di tempat terbuka
(tempat awam) sehingga terlihat
i. Bersebadan tanpa diawali dosangan
memulai hubungan intim tanpa doa
“Apabila salah seorang mereka akan
menggauli istrinya, hendaklah ia membaca: “Bismillah. Ya Allah, jauhkanlah kami
dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami”.
Sebab jika ditakdirkan hubungan antara mereka berdua tersebut membuahkan anak,
maka setan tidak akan membahayakan anak itu selamanya.” (Shahih Muslim)
j. Bersebadan tanpa warming up
Rasulullah bersabda, “Siapa pun di
antara kamu, janganlah menyamai isterinya seperti seekor hewan bersenggama,
tapi hendaklah ia dahului dengan perantaraan. Selanjutnya, ada yang bertanya:
Apakah perantaraan itu ? Rasul Allâh SAW bersabda, “yaitu ciuman dan
ucapan-ucapan romantis”. (HR. Bukhâriy dan Muslim).
k. Bersebadan tanpa peduli kepuasan
pasangan
Rasulullah bersabda, “Apabila salah
seorang diantara kamu menjima’ istrinya, hendaklah ia menyempurnakan hajat
istrinya. Jika ia mendahului istrinya, maka janganlah ia tergesa
meninggalkannya.” (HR. Abu Ya’la)
l. Mendatangi istri diam-diam dan
langsung minta bersebadan
Rasulullah Saw bersabda,
إِذَا
قَدِمَ أَحَدُكُمْ لَيْلاً فَلاَ يَأْتِيَنَّ أَهْلَهُ طُرُوْقًا حَتَّى
تَسْتَحِدَّ الْمَغِيْبَةُ وَتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ
“Jika salah seorang dari kalian
datang pada malam hari maka janganlah ia mendatangi istrinya. (Berilah kabar
terlebih dahulu) agar wanita yang ditinggal suaminya mencukur bulu-bulu
kemaluannya dan menyisir rambutnya” (HR. Bukhari dan Muslim ).
Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata,
نَهَى
رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَطْرُقَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلاً
يَتَخَوَّنُهُمْ أَوْ يَلْتَمِسُ عَثَرَاتِهِمْ
“Rasulullah shallallahu ‘alihi wa
sallam melarang seseorang mendatangi istrinya di malam hari untuk mencari-cari
tahu apakah istrinya berkhianat atau untuk mencari-cari kesalahannya” (HR.
Muslim)
m. Bersebadan dengan direkam dan
disebarkan.
10. Makruh bertelanjang bulat karena
malaikat malu untuk memasuki kamar kita. Sebaiknya bersatu selimut agar
kemaluan tertutup dan tidak saling bisa memandangnya.
Beberapa yang dihukumi makruh dalam
bersebadan antara lain:
a. Makruh jima pada malam dua Hari
Raya malam 10 Dzuhijah dan 1 Syawal serta pada awal, pertengahan dan akhir
tiap-tiap bulan Islam.
b. Makruh jima di bawah matahari atau
bulan mengambang artinya saat matahari atau bulan tepat di atas kepala.
c. Makruh jima selepas salat Zuhur
hingga ke petang.
d. Makruh melihat kemaluan pasangan
e. Makruh jima jika dapat dilihat
atau didengar orang tanpa sengaja
Hari ke-27
Bahasan kita masih seputar nikah
indah. Yaitu adab malam pertama. Karena semuanya dilakukan dalam bingkai ibadah
pada Allah Swt maka pasti akan berkaitan dengan syariat dan hukum-hukum
fiqhiyah. Kita memasuki adab yang terakhir, yang keduabelas
12. Diharamkan menggauli istri yang
sedang dalam keadaan haid. Akan tetapi masih diperbolehkan bercumbu. Percumbuan
diperbolehkan sesuka hati pasutri asalkan tidak memasukkanzakar pada faraz dan
dubur.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَ
يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ ۙ قُلْ هُوَ اَذًى فَا عْتَزِلُوْا النِّسَآءَ
فِى الْمَحِيْضِ ۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ فَاِ ذَا
تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ
يُحِبُّ التَّوَّا بِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
"Dan mereka menanyakan kepadamu
(Muhammad) tentang haid. Katakanlah, "Itu adalah sesuatu yang kotor."
Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka
sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan
(ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang
yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri."
(QS. Al-Baqarah 2: 222)
Juga sabda Rasulullah Saw berikut
ini:
مَلْعُوْنٌ
مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِيْ دُبُوْرِهَا
Terlaknat siapa saja yang mendatangi
istrinya pada duburnya." (HR. Abu Dawud)
لاَ
يَنْظُرُ اللهُ إِلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلاً أَوْ امْرَأَةً فِيْ الدُبُرِ
"Allah SWT tidak memandang
laki-laki yang menyetubuhi istrinya pada duburnya." (HR. Ahmad dan
At-Tarmidzi)
13. Mandi junub setelah berhubungan
suami istri.
Mandi junub atau mandi janabah adalah
mandi yang bertujuan menghilangkan hadas besar. Sering juga dalam istilah
masyarakat kita disebut mandi besar.
Bahasan mandi besar ini menjadi
sangat penting karena menurut aturan fiqhiyah, banyak ibadah yang dilaarang
melakukannya bila keadaan seseorang masih berhadas besar. Antara lain:
a. Menunaikan shalat
Bersesuaian dengan Firman Allah,
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ
وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ
وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ
“ Hai orang-orang yang beriman,
apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu
sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua
mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah .” (QS. Al-Maidah: 6)
b. I'tikaf
Larangan berdiam diri di Masjidil
terdapat dalam Al-Qur'an:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى
حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلاَ جُنُباً إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ
حَتَّىَ تَغْتَسِلُواْ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang
kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub ,
terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi..”(QS. An-Nisa’: 43)
c. Memegang mushaf dan membacanya,
sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:
لَّا
يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
“ tidak menyentuhnya kecuali
orang-orang yang disucikan”(QS. Al-Waqiah: 79)
Demikian juga menurut riwayat hadis
berikut ini:
*Riwayat Imam Tirmidzi dan Ibnu Mahjah
لا
تقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن
Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW
bersabda, "Wanita haid dan orang yang junub tidak boleh membaca Alquran
(walaupun satu ayat).”
*Riwayat Imam Tirmidzi dari Sayyidina
Ali bin Abi Thalib:
كان
رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرئنا القرآن ما لم يكن جنباً
"Adalah Rasulullah Saw selalu
membacakan Alquran untuk kami selama tidak dalam keadaan junub"
*Riwayat Imam Ad Daruquthni dari
Jabir RA
لا
تقرأ الحائض ولا الجنب شيئًا من القرآن
"Wanita haid dan nifas serta
orang junub tidak boleh membaca Alquran.”
d. Thowaf di sekeliling Kakbah
Suatu saat di musim ibadah haji,
sayyidah Aisyah mendampingi Rasulullah Saw. Wajahnya tampak sedih lalu
menangis. Sebab tangisan sayyidah Aisyah adalah haid yang membuatnya khawatir
kehilangan kesempatan ibadahnya. Rasulullah Saw pun bersabda
إنَّ
هذا شيءٌ كتبَهُ اللَّهُ عزَّ وجلَّ على بَناتِ آدمَ، افعلي ما يفعل الحاج غير أن
لا تطوفي بالبيت حتى تطهري
Yang artinya, “Haid itu ketentuan
Allah SWT untuk kaum perempuan. Lakukan apa saja yang dilakukan jamaah haji
yang lain, selain thawaf kecuali kami telah bersuci"
Dalil pada point-d sering dijadikan
hujjah bahwa haid boleh melakukan ibadah lain seperti mana ora-orang yang
sedang berhaji, artinya, membaca Alquran pun boleh
Jangan jadi bingung ya Reader dalam
perkara fiqhiyah, hal furu' atau cabang justru menambah kekayaan ummat ini.
Kaya akan kedalaman ilmu, kaya kedewasaan batin untuk selalu saling menghargai.
Kita agak keluar jalur nikah indah,
nih. Tapi ini penting untuk membekali pasutri agar tiap langkah jadi ibadah.
Bukankah kunci ibadah itu niat taat lillah. Bagaimana kita yakin berada dalam
ketaatan jika kita masih belum memahami apa yang menjadi perintah Allah dan
rasulNya?
Penting juga kita tahu penyebab junub
itu apa saja, sih!Selain berhubungan suami istri yang membuat seseorang berada
dalam keadaan junub adalah:
1. Keluar mani dari perempuan dan
laki-laki baik melalui hubungan suami istri, mempermainkan alat kemaluan (onani
dan masturbasi), mimpi basah, maupun ghairah oleh khayalan, pengelihatan dan
pikiran
2. Jimak atau berhubungan seksual
meskipun tidak mengeluarkan mani
Adab mandi wajib:
1. Berniat, yakni kesengajaan dari
dalam hati untuk melakukan satu perbuatan.
. . نَوَيْتُ
الْغُسْلَ لِرَفْعِ اْلحَدَثِ اْلأَكْبَرِ مِنَ اْلِجنَابَةِ فَرْضًا لِلهِ
تَعَالَى
"Aku niat mandi untuk
menghilangkan hadats besar dari janabah, fardhu karena Allah ta'ala."
Menurut imam Syafi'i, niat haruslah
bersamaan dengan air yang pertama kali mengguyur tubuh.
2. Meratakan air dengan mengguyur
seluruh bagian luar badan. Pada bagian berambut dan berbulu, air harus masuk
hingga permukaan kulit dan sela-sela rambut atau bulu.
Sedangkan menurut Imam al-Ghazali
dalam kitab Bidâyatul Hidâyah diperinci sebagai berikut:
1. saat masuk ke kamar mandi ambilah
air lalu basuhlah tangan terlebih dahulu hingga tiga kali.
2. membersihkan segala kotoran atau
najis yang menempel di badan.
3. berwudhu sebagaimana wudhu untuk
salat termasuk doa-doanya hingga menyiram kedua kaki
4. mulai mandi janabah dengan
mengguyur kepala sebanyak tiga kali bersamaan dengan itu niat menghilangkan
hadats dari janabah.
5. mengguyur bagian badan sebelah
kanan hingga tiga kali, kemudian bagian badan sebelah kiri juga hingga tiga
kali
6. menggosok-gosok tubuh, depan
maupun belakang, sebanyak tiga kali
7. menyela-nyela rambut dan jenggot
8. memastikan air mengalir hinggar
lipatan-lipatan kulit dan pangkal rambut
9. menghindarkan tangan dari
menyentuh kemaluan, jika tersentuh harus berwudhulah lagi.
Mandi janabah yang disertai adab ini
mengandung hikmah yaitu disiplin, tertib dan sabar. Bagian yang diluar dua dari
pendapat imam Syafi'i bersifat sunnah muakad, untuk menambal kekurangan dari
kefardhuan.
Hari ke-28
Bahasan kita tentang indahnya menikah
berlanjut dengan bagaimana melahirkan generasi berkualitas hasil dari
pernikahan dua insan. Buah hati, buah cinta yang senantiasa menghadirkan cahaya
di mata kita. Anak-anak yang menumbuhkan cinta dua suami istri makin bersemi.
Yuk, kita lanjutkan bahasan kita dengan
mengharap berkah dari Allah SWT. Dzat yang berkuasa melimpahkan manfaat melalui
jalan yang Dia kehendaki. Juga tulisan yang akan kita nikmati bersama ini.
2. Kiat Melahirkan Anak Salih yang
Jenius
Kewajiban tiap diri untuk memperbaiki
generasi penerusnya agar lebih kuat dan berkualitas dalam berbagai hal.
Keimanan, keislaman, akhlak, bahkan ekonomi.
Sebagaimana seruan Allah dalam
Al-Qur'an surat Annisa ayat 9:
وَلْيَخْشَ
الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَا فُوْا
عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا
"Dan hendaklah takut (kepada
Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di
belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab
itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara
dengan tutur kata yang benar."
Ayat ini mengisyaratkan perintah
untuk bertakwa dan berkata benar dan jujur agar meninggalkan generasi kuat
pula.
Sedangkan pada hadits riwayat Muslim
dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Saw bersabda,
الْمُؤْمِنُ
الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى
كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا.
وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ
الشَّيْطَانِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan
lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap
memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta
tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah,
maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’
Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa
yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya)
dapat membuka pintu setan.”
Mukmin yang kuat disini diisyaratkan
sebagai mereka yang terus bersemangat tinggi dalam kebaikan, selalu meminta
tolong pada Allah, beriman dengan kuat, yaitu meyakini segala yang terjadi
adalah takdir Allah yang harus diterima dengan kelapangan hati. Mereka menutup
pintu-pintu godaan setan dengan keimanannya.
Untuk melahirkan generasi yang kuat
ada lima tahap yang harus dilalui, yaitu:
a. Pranikah
b. Masa nikah dan persebadanan
c. Masa dalam kandungan
d. Persalinan
e. Pengasuhan
*Golden age (0-7) tahun
*Usia remaja (7-14) tahun
*Fase gerbang akil baligh (14-21)
tahun
Kita kupas yuk satu-satu bagaimana
melahirkan anak salih yang jenius
a. Pranikah
* Taaruf
Kita sudah membahas perkara ini mulai
dari ta'aruf islami hingga khitbah. Bagaimana menjatuhkan keputusan dengan
istikharah dan lain-lain.
Intinya masa pranikah adalah
penjajakan bukan pacaran. Penjajakan diiringi niat dan iktikad baik untuk
serius ke jenjang pernikahan. Hubungan ini dilandasi keinginan mentaati Allah
dan RasulNya, menjalankan sunnahnya.
Sementara itu, pacaran adalah
menjalin hubungan khusus dan istimewa dengan segenap rasa cinta sebelum ada
ikatan sah. Pacaran tergolong dalam larangan Allah dalam Al-Qur'an
َا
تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَا نَ فَا حِشَةً ۗ وَسَآءَ سَبِيْلًا
"Dan janganlah kamu mendekati
zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang
buruk."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 32)
Mendekati zina di sini bermakna
membuka peluang terjadinya zina yang nyata. Yaitu, masuknya zakar pada faraz.
Atau bisa dikatagorikan hal-hal yang membuat kemaluan kita tidak terpelihara.
Misalnya, berkhayal melakukan zina, bermain dengan tangan untuk onani dan
masturbasi, berhubungan khusus selain nikah yang meningkatkan libido syahwat.
Berpacaran sangat dekat dengan
bercinta. Bermula dari lirikan, timbul ketertarikan, saling berkenalan,
terjadilah tembak menembak. Tembakan apa yang tidak mematikan hanya membuat
pelakunya melayang? Itulah tembakan mengajak pacaran.
Anak muda sekarang kadang nakal
kreatif juga, hati-hati dengan kata ta'aruf berkedok pacaran. Cirinya ta'aruf
tidak ada bumbu bercintanya. Sementara pacaran, tidak serius berkenalan, malah
minta berbagai macam bentuk perhatian. Ujung-ujungnya minta permainan mulai
dari voice call, video call sampai minta bercinta via life camera. Nauzubillah
minzalik, sungguh maksiat dimana-mana. Semoga Allah Swt selalu lindungi kita.
Nah, waspadalah para calon bapak dan
ibu yang salih salihah! Mempersiapkan Nutfah terbaik itu harus dilakukan dengan
terus menjaga kesucian lahir bathinnya
* Khitbah
Bagian dari pranikah adalah khitbah.
Pada bagian yang telah berlalu dalam kebersamaan kita dengan KMO, hal ini
pernah dibahas sepintas. Kali ini writer akan sedikit menulis tentang
pentingnya menjaga kesucian lepas khitbah.
Ada sebagian yang berpandanggan bahwa
khitbah separuh nikah sehingga kebebasan bergaulnya pun seakan terjustifikasi.
Padahal yang menghalalkan haramnya pergaulan dua insan laki-laki dan perempuan
yang bukan mahram adalah akad. Maka hati-hatilah untuk melambatkan nikah
selepas khitbah.
Rasulullah dan para sahabat memberi
contoh jarak nikah. Dan khitbah sangat dipersingkat. Yang terjadi pada masa ini
banyak pasangan terikat khitbah kurang menjaga satu sama lain. Media sosial
dengan voice call, video call melonggarkan syariat pergaulannya, seakan sudah
merasa saling memiliki. Sebagian lagi sanggup bepergian kesana kemari berduaan
sebelum ikatan pernikahan. Hati-hati perangkap syaithan. Pada sebagian pasangan
terjadi kegagalan menuju jenjang pernikahan meskipun sudah ada proses khitbah.
Artinya Allah berhak menentukan perjodohan diantara hamba-hamba-Nya. Maka salah
satu menjaga kesucian diri lepas khitbah adalah menyegerakan nikah.
Wahai para calon mempelai, sebaiknya
buatlah komitmen untuk menentukan waktu nikah selepas khitbah. Jadi jarak
khitbah kepada nikah bisa dikelola sedemikian rupa.
Hari ke-29
Qadarullah kita sudah memasuki
sarapan kata hari ke-29. Tinggal satu step lagi, Reader. Terimakasih buat
KMO(Komunitas menulis Online) yang selalu memacu adrenalin buat merangkai
huruf, membariskan kata dalam kalimat, membanjarkan kalimat dalam paragraph.
Alinea demi alinea tak terasa mengalir deras. Tak peduli netra memerah karena
fokus pada layar pendar disela aktivitas dan perjalanan jauh dari writer.
Ingin rasanya berkisah mengapa
akhirnya tulisan ini lahir. Tetapi biarlah waktu berbicara, semoga sempat
terungkap di akhir tulisan ini.
Oya, kita masih membahas kiat
melahirkan anak saleh yang jenius. Ini bagian paling seru, ya, Reader.
Bismillah tarik napas dulu, ya?
b. Masa nikah dan persebadanan
Pada bahasan sebelumnya kita sudah
membahas tentang adab bersebadan. Pada bagian ini kita akan bahas lebih detail
cara menuju puncak asmara yang diajarkan Rasulullah Saw dan para ulama.
Sebenarnya ada larangan membincangkan
pengalaman ranjang masing-masing pasangan oleh yang bersangkutan, ya Reader.
Coba kita bahas sejenak larangan itu
lain.
عن أبي
هريرة رضي الله عنه قال أن رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله وسلم فلما سلم أقبل
عليهم بوجهه فقال مجالسكم هل منكم الرجل إذا أتى أهله أغلق بابه وأرخى ستره ثم
يخرج فيحدث فيقول فعلت بأهلي كذا وفعلت بأهلي كذا فسكتوا فأقبل على النساء فقال هل
منكم من تحدث فجثت فتاة كعاب على إحدى ركبتيها وتطاولت ليراها رسول اللّه صلى
اللّه عليه وآله وسلم ويسمع كلامها فقالت أي واللّه أنهم يتحدثون وأنهن ليتحدثن
فقال هل تدرون مامثل من فعل ذلك أن مثل من فعل مثل شيطان وشيطانة لقى أحدهما صاحبه
بالسكة فقضى حاجته منها والناس ينظرون إليه
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata
ketika Rasulullah selesai mengucapkan salam kepada pengujung salatnya, lalu
beliau menghadapkan wajah kearah jamaah (makmum) seraya bertanya:
"Majelis yang berbahagia, apakah
ada di antara kalian yang mencampuri istri dengan menutup pintu dan merapatkan
tabir, akan tetapi, kemudian membicarakan kejadian itu kepada orang lain dengan
mengucapkan, bahwa aku telah melakukan begini dan begitu terhadap
istriku?"
Mendengar perkataan itu, para jamaah
laki-laki berdiam diri. lalu Beliau menghadap ke arah jamaah wanita seraya
menanyakan: "Apakah ada di antara kalian yang membicarakannya?
Kemudian ada seorang wanita muda
duduk di atas kedua lututnya sembari mengangkat kepala agar terlihat dan
terdengar suaranya oleh Rasulullah berkata: "Demi Allah mereka semua
jamaah laki-laki dan juga jamaah wanita membicarakannya. Kemudian beliau
bertanya: "Apakah kalian mengetahui perumpamaan orang yang melakukan hal
itu?"
"Sesungguhnya perumpamaan orang
semacam itu seperti setan laki-laki dan perempuan, di mana salah satu dari
mereka bertemu pasangannya di tengah jalan lalu buang air besar di sana,
sedangkan orang-orang tengah melihat kepadanya." (HR Imam Ahmad dan Abu
Dawud).
Dari Abu Sa'id RA, dia berkata; bahwa
Nabi SAW bersabda:
عن أبي
سعيد رضي الله عنه قال أن النبي صلى الله عليه وسلم قال أن النبي صلى اللّه عليه
وآله وسلم قال ان من شر الناس عند اللّه منزلة يوم القيامة يفضي إلى المرأة وتفضي
إليه ثم ينشر سرها .
"Sesungguhnya di antara orang
yang terburuk kedudukannya disisi Allah pada hari kiamat kelak adalah seorang
laki-laki yang mengetahui rahasia istrinya atau seorang istri yang mengetahui
rahasia suaminya kemudian menceritakan rasa itu kepada orang lain." (HR
Muslim dan Ahmad).
Nah, bagaimana dengan membincangkan
cara bercinta seperti yang akan kita lakukan ini? Jangan khawatir karena ada
juga kebolehannya, yaitu:
1. Bukan menceritakan pengalaman
ranjang pribadi
2. Membincangkan cara bersebadan
dalam rangka keilmuan untuk meraih rumah tangga yang harmonis
3. Disertai dalil dari Rasulullah,
sahabat, tabiin, tabiinattabiin dan salafusshalih serta para ulama.
Manakah dalil pembolehan itu? Tentu
ada dalil yang langsung menunjukkan perkara hubungan seksualitas antara lain QS
Al-Baqarah ayat 222, masih ingat redaksinya, kan?
Beberapa hal yang membantu meraih
puncak asmara antara lain ada 3 tahapan:
1. Muqadimah
a. Mengajak pasangan buat bercinta,
pakailah kalimat sindiran yang indah atau bisa juga to the point tergantung
selera. Jika romantisme sudah biasa terjalin diantara kedua pasutri sejak awal pernikahan
lagi, maka rayuan mesra akan menjadi pemanis. Jika tidak terbiasa ladang akan
mendapatkan lontaran reply yang nggak mengenakkan. Gombal, lebay, sok romantis,
bisa jadi malah membuyarkan hasrat. Jadi mukadimah ini khas untuk masing-masing
pasangan. Tapi dengan sindiran akan terasa kemesraannya dan tentu lebih
romantis.
Contoh kalimat ajakan bisa kita
lontarkan seperti berikut:
*Mungkin diluar sana banyak yang
rupawan, tapi hanya kau seorang yang jadi tumpuan rinduku. Aku ingin memadu
rindu denganmu
*Kaulah satu-satunya pelabuhan
cintaku, anugerah terindah, siapkah bila aku ingin berlabuh sekali lagi, kali
ini?
*Beb, ibadah indah itu bersatu
denganmu, adakah kerelaan malam ini kita berbagi?
*Gersangnya ladang kita bila lama tak
tersirami. Biarkan ia tumbuh menjadi taman subur untuk generasi kita. Apakah
kau bersedia?
Kalaupun pasutri tidak terbiasa
merangkai kata dan lebih suka dengan ajakan simple, atau lebih menyukai bahasa
tubuh, ajakan itu akan sangat mengesankan bagi dua orang yang saling mencintai.
Mukadimah bisa diberikan dengan kerlingan mata, tarikan tangan mesra dan
lembut. Ciuman mesra sepenuh hati pada tangan atau bagian wajah atau bagian
manapun yang disukai pasutri. Semua itu isyarat hasrat. Dan yang tak kalah
mewakili keinginan kita adalah tatapan mata dan desah napas.
b.Mukadimah selanjutnya adalah
menunaikan adab bersebadan. Masih ingatkah reader adab bersebadan agar menjadi
ibadah? Tentu dengan i'tibak pada apa yang dicontohkan Rasulullah Saw. Yaitu
bersama sama secara berjamaah melakukan langkah-langkah berikut:
1. Berwudhu, mandi taubat untuk
mensucikan diri
2. Membersihkan gigi, kuku dan
merapihkan bulu
3. Memakai wewangian dan berhias yang
dapat meningkatkan hasrat pasutri
4. Shalat taubat dua rakaat dan
shalat zifaf dua rakaat. Writer sudah menyampaikan dua adab shalat ini. Tujuan
dua shalat ini:
*Menyucikan diri sebelum bersebadan
agar Allah kabulkan segala permohonan dan dipilihkan Nutfah terbaik dari
kesucian pasutri
*Menyiapkan lahir batin dua pasutri
untuk beribadah menunaikan perintah Allah. Meninggalkan yang haram kepada yang
halal, mengubah maksiat menjadi ibadah.
5. Mempersiapkan diiri berbaju
seminim mungkin dan berlindung dibalik satu selimut berdua.
b. Bagian inti meliputi warming up,
duhul dan relaksasi. Bagian ini hanya untuk dibaca pasutri, ya, Reader. Jadi
mohon maaf untuk tidak membacanya bagi yang single. Praktiknya pun hanya
berlaku untuk pasutri, pasangan halal. Sepakat, ya, ini bukan pornografi tapi
ilmu untuk ibadah indah.
1. Warming up adalah pemanasan
setelah pasutri benar- benar meraih ketenangan dari shalat taubat dan shalat
zifaf.
Pemanasan bertujuan menaikkan puncak
hasrat yang ditandai dengan ereksi maksimal pada zakar sementara pada faraz
akan terasa menghangat bahkan memanas disertai keluarnya pelumas yang
memudahkan penetrasi.
Cara melakukan warming up meliputi
tiga hal:
^Pertama suara. Desahan lembut,
hembusan napas pada bagian sensitif seperti telinga, leher, tengkuk, dada,
punggung, anggota di sekitar dubur dan khubul.
^Kedua rabaan dan sentuhan dengan
tangan ataupun lidah atau kecupan pada bagian sensitif yang sensasi rasa indah
dan nikmatnya dirasakan khas oleh masing-masing pasangan. Pengalaman bercinta
akan membuat pasangan saling mengetahui mana bagian sensitifnya masing-masing.
Maha suci Allah yang menciptakan manusia Fii ahsani takwim. Termasuk anggota
yang khas untuk merasakan kenikmatan bercinta. Bagian klitoris pada faraz akan
menimbulkan sensasi nikmat yang luar biasa maka suami harus menemukan bagian
ini. Istri pun jangan malu untuk mengekspresikan nikmat karena tersentuhnya
bagian ini. Katakan pada pasangan bahwa bagian itu telah tepat sasaran. Adapun
pada zakar ada bagian paling sensitif yaitu dibagian paling ujung depan dan
sekitarnya.
^Ketiga gerakan. Gerakan yang nakal
juga bisa memunculkan hasrat. Liukan seperti ular, gerakan seperti dua ekor
kucing yang tengah bercanda, semua Allah sediakan sebagai perumpamaan untuk
dijadikan bahan contoh dan pelajaran.
2. Duhul hendaklah dilakukan dengan
lemah lembut dan tidak kasar yang dapat menyakiti istri
* Membaca doa duhul
Rasulullah SAW bersabda, "Jangan
sekali-kali seseorang di antara kamu mencampuri istri seperti bercampurnya
binatang. Tetapi, hendaklah ada pengantarnya." Ada yang bertanya,
"Apakah pengantarnya itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab,
"Ciuman dan perkataan." (HR Abu Manshur dan Ad Dailami dalam musnad
Al Firdaus dari Hadis Anas).
Suami hendaklah mengatur ritme agar
puncak asmara bisa dirasakan keduanya. Yang terbaik bersamaan. Bila tidak istri
harus terpuaskan terlebih dahulu karena kepuasan istri sangat tergantung ritme
yang dimainkan suami. Sementara itu kepuasan suami lebih mudah dan sangat jelas
diketahui tandanya, yaitu dengan ejakulasi.
Imam Al-Ghazali berpesan hendaknya
suami tidak egois saat mau meraih puncak tahan dulu sampai istri juga merasakan
hal yang sama. Bila suami egois asal mencapai puncaknya sendiri dan tak peduli
dengan perasaan istri, hal ini bisa menyakiti hati istri dan menjadi bibit
ketidak harmonisan dalam rumah tangga.
Mengenai posisi, terserah dua pasangan
yang penting tidak duhul pada bagian dubur. Selebihnya diperbolehkan, Maha
Pemurahnya Allah SWT. Sesuatu yang dilarang pun karena membawa mudharat pada
manusia. Tahukah reader, persebadanan melalui dubur meningkatkan resiko HIV
AIDS karena sperma yang bercampur dengan kotoran?
Nah, dalam kitab nikah yang cukup
tersohor di kalangan santri yaitu qurutul 'uyun, ulama penulis kitab ini
menganjurkan untuk tidah meninggalkan posisi istri menduduki paha suami. Posisi
ini cukup baik untuk banyak pasangan mendapatkan puncak asmara. Tetapi tentu
masing-masing dapat meraih pengalaman terindahnya masing-masing, ya, Reader.
Itu bagian dari rezeki minallah yang harus kita pinta dan kita usahakan dengan
mensalihkan diri mendekatiNya. Insya Allah, niscaya didekatkan pada syurga baik
syurga dunia maupun syurga akhirat.
* Membaca doa setelah keluarnya
sperma bagi suami dan setelah ejakulasi berupa denyutan bagian dalam faraz pada
wanita.
3. Relaksasi yaitu mengendornya otot
tubuh setelah olah raga dan olah jiwa serta rasa selama duhul. Hal ini ditandai
dengan lemasnya otot-otot tubuh setelah puncaknya nikmat selama ibadah nikah.
Tenaga seakan hilang dan ingin istirahat
Akan tetapi jangan bersegera
meninggalkan istri bagi suami. Demikian juga istri jangan melakukan aktifitas
yang lain terlebih dahulu. Buatlah refleksi positif yang indah setelah
bersebadan. Tentang kenikmatan tentang rasa cinta dan terimakasih pada
pasangan. Hal ini akan makin memupuk cinta kasih. Berbeda halnya bila
persebadanan tidak diakhiri dengan indah, bisa berakibat pada saling marah dan
curiga.
Contoh kalimat relaksasi:
*Makasih cinta, kau beri surga
sebelum surga malam ini. Aku makin cinta dan sayang kamu
*Makin meraih puncak asmara, aku
melihatmu makin indah, terimakasih atas semuanya
Membaca doa agar Nutfah yang bertemu
menjadi generasi istimewa.
رَبِّ
هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahilah kami
keturunan yang termasuk orang-orang yang salih"
رَبَّنَا
هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah
kepada kami pandangan mata yang menyejukkan dari para istri dan anak keturunan
kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
اَللّٰهُمَّ
بَارِكْ لَنَا فِي أَوْلَادِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاحْفَظْهُمْ وَلَا تَضُرَّهُمْ
وَارْزُقْنَا بِرَّهُمْ
"Ya Allah berkahilah kami di
dalam anak-anak dan keturunan kami, jagalah mereka (dari segala kejelekan),
jangan Kau bahayakan mereka, dan berilah kami kebaikan mereka.”
Doa-doa di atas dimaksudkan untuk:
1. Memohon keturunan yang salih
2. Memohon keturunan yang bertakwa
3. Memiliki keturunan yang mengajak
dan mengajarkan ketakwaan
4. Memiliki keturunan yang
terpelihara dari keburukan, yang terhindar dari marabahaya
5. Memiliki keturunan yang berbakti
pada kedua orang tua.
Hari ke-30
Melahirkan generasi salih yang jenius
memerlukan kesungguhan. Sebagaimana mendapat mutiara berkualitas tempatnya di
dasar lautan di tubuh kerang. Mendapatkan intan permata di dalam tanah yang
dalam setelah karbon sisa kehidupan mendapat tekanan dan suhu tinggi dalam
waktu lama.
Kini kita sudah sampai pada proses
membesarkan dan mendidik janin semasa ada dalam rahim ibu. Semoga bahasan kita
kali ini Allah berkati
c. Masa dalam kandungan
Mendidik anak bukan hanya saat anak
tersebut lahir tetapi sejak masih dalam kandungan lagi. Lho, kok, bisa?
Memangnya Janin sudah bisa mendengar dan merespon stimulus dari luar? Apakah
janin sudah memiliki pendengaran, pengelihatan dan hati untuk menangkap hidayah
dari luar dirinya? Mungkin pertanyaan itu cukup menggelitik kita. Penasaran,
kan? Yuk, kita lanjutkan bahasan kita.
Hasil penelitian para ahli
menunjukkan,
Petunjuk hadis Rasulullah Saw
mengisyaratkan bahwa janin sudah dapat merespon stimulus dari luar apalagi bila
datang dari ibu yang mengandungnya. Justru emosi positif ibu yang menjadi tempat
janin menempel dan hidup itulah yang sangat berpengaruh. Maka dari itu
Rasulullah Saw memerintahkan para ibu membaca surat tertentu saat seorang ibu
mengandung.
Pendidikan dalam kandungan melibatkan
peran ibu yang mengandungnya. Apa saja, sih, yang dapat dilakukan seorang ibu
selama mengandung?
1. Melakukan berbagai amal ibadah
wajib dan Sunnah
a. Menjaga salat lima waktu, tepat
waktu dan berjamaah
b. Berpuasa jika tidak terganggu
kondisi kesehatannya atau tidak mengkhawatirkan kondisi janin
c. Menunaikan zakat, infak, sedekah
untuk menyalurkan jiwa sosial dan kedermawanan
d. Memperbanyak doa dan shalawat
e. Membaca Alquran secara rutin
misalnya satu juz perhari
2. Menjaga asupan gizi dalam makan
dan minumnya.
a. Makanan yang dikonsumsi haruslah
yang halal, bersih, bergizi dan tidak membahayakan kesehatan.
*Cukup karbohidrat, protein, vitamin
dan mineral secara seimbang
*Perbanyak sayuran hijau, buah-buahan
*Cuci pada air yang mengalir setiap
hendak masal termasuk mencuci telor
*Hindarkan dari makan minum
berpengawet dan siap saji dalam kemasan
*Hindari makanan terlalu pedas, asam,
asin karena berpotensi mengganggu fitalitas tubuh
*Makan sesuai adab i'tibak pada
Rasulullah
-makan berjamaah, di antara Sunnah
yang terlupakan adalah makan bersama. Dan lebih utama dalam satu talam dengan
menggunakan tangan.
يَا
رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ
تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ
وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ ». قَالَ أَبُو
دَاوُدَ إِذَا كُنْتَ فِى وَلِيمَةٍ فَوُضِعَ الْعَشَاءُ فَلاَ تَأْكُلْ حَتَّى
يَأْذَنَ لَكَ صَاحِبُ الدَّارِ.
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami
makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda, “Kemungkinan kalian makan
sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Hendaklah kalian
makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi
berkah padanya.” (HR. Abu Daud)
-duduk makan sunah yaitu menduduki
telapak kaki kiri, kaki kanan ditekuk, berdiri di depan dada
-membasuh tangan dengan air mengalir
-awali dengan minum sedikit air,
hindari dari minim di tengah-tengah waktu makan kecuali terpaksa
-membaca doa hendak makan
اَللّٰهُمَّ
بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Allah, berkahilah kami dalam
rezeki yang telah Engkau limpahkan kepada kami dan jauhkanlah kami dari siksa
neraka"
-sediakan seketul garam, jilat dengan
bantuan jari manis
-ambil makanan terdekat
-tidak tergesa-gesa tapi tunggu
kunyah sekitar 20 kali kunyahan hingga tertelan
-mengatur ritme makan agar selesai
bersamaan
-membaca doa selesai makan
اَلْحَمْدُ
ِللهِ الَّذِىْ اَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِيْنَ
"Segala puji bagi Allah yang
telah memberi kami makan dan minum, Serta menjadikan kami termasuk golongan
orang-orang muslim"
-basuh tangan kembali
-minum di akhir waktu makan
Pola makan ini sangat penting untuk
kesehatan lahir dan batin ibu juga janin. Makanan adalah pembentuk darah dan
daging dalam tubuh. Maka kita harus ingat sabda Rasulullah Saw berikut ini:
أَلاَ
وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ،
وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu
ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak,
maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Suatu saat seseorang bertanya pada
salah satu imam mahzab,Imam Ahmad bin Hambal, "Apa yang bisa melembutkan
hati, Wahai Abu Abdillah?" Imam Ahmad tercenung sejenak lalu
menjawab,"Makanan halal".
3. Memperdengarkan suara indah merdu
dan suara kebenaran. Bacaan ayat suci Alquran baik diperdengarkan secara rutin
misalnya satu juz perhari, baik dari muratal atau dari orang-orang di
sekitarnya. Akan tetapi yang terbaik adalah bacaan langsung sang ibu.
Pengaruhnya ada pada aktivitas otak kanan, mempercepat kedewasaan, kepedulian,
empati, lebih mandiri dan berbagai perasaan positif lainnya.
Membaca Alquran pada ayat atau surah
khusus untuk permohonan tertentu:
*Surat Yusuf agar anak yang dikandung
berwajah rupawan lagi salih/salihah
*Surat Maryam untuk memohon kemudahan
dalam kehamilan hingga persalinan serta kesalihananak yang dikandung
*Surat Alfatihah agar anak memiliki
daya ingat yang bagus
*Asysyam agar anak yang dikandung
dikaruniai kecerdasan
*Alinsyirah agar dikaruniai kemudahan
baik bagi ibu, janin dan anak setelah dilahirkan
4. Menjaga kestabilan emosi ibu agar
janin turut merasakan kenyamanan dalam rahim. Bila emosi tidak stabil, bahkan
depresi, napas tidak teratur, peredaran darah tidak lancar, maka akan
mengganggu kesehatan ibu juga sekaligus janin. Maka menjaga agar ibu tenang,
emosi stabil, permasalahan tidak muncul. Bila ada masalah segera diusahakan
solusinya.
Sangat tidak baik bila ibu hamil
mendapatkan berbagai beban tanpa perhatian orang di sekitarnya.
5. Senantiasa menjaga kebersihan
hati, hindarkan banyak mengeluh, dendam, bermusuhan, menghibah, namimah, fitnah
dan lain sebagainya. Menghiasi hati dengan tawadhuk, ridho pada keadaan,
berbaik sangka, murah hati, berkasih sayang.
6. Hindari dari maksiat lahir dan
batin. Menjaga diri dari dosa baik pada Allah SWT maupun sesama manusia
7. Menjaga kesehatan dengan olah raga
khusus bumil (ibu hamil).
Beberapa metode pendidikan janin
selama di kandungan:
1. Metode sentuhan dengan memberi
kasih sayang berupa usapan pada perut ibu. Energi positif dari perasaan yang
baik akan turut mensupport tumbuh kembang janin.
2. Metode dialog, mengajak berbincang
hal-hal positif pada janin. Kata-kata yang baik berarti doa baik juga
3. Metode doa, mendoakan kebaikan dan
keselamatan bagi janin
4. Metode ibadah, segala sesuatu
dilakukan dengan menempuh lima syarat:
*Niat lillah
*Perkara yang dilakukan bukan hal
haram atau makruh
*Cara melakukan sesuai syariat
*Selama melakukan tidak meninggalkan
ibadah wajib
*Natijahnya harus baik
5. Metode tilawah Alquran
*Memperdengarkan tilawah Al-Qur'an
saat janin dalam kandungan. Ulang-ulang kembali dari juz ke-1 hingga juz ke-30 baik
melalui muratal maupun langsung
*Bacaan dari ibu atau adalah yang
paling cepat direspon janin karena selain ibu seraga dengan janin juga ada
tetesan darah daging ayah dan ibu pada diri anak
Tarik nafas dulu, Reader. Rileks dan
santai, ya. Kita nikmati bersama hidangan bergizi tentang pregnancy. Kunyah
lembut perlahan dan lama ya, biar gizi terserap sempurna.
Hari ke-31
Melanjutkan tantangan secara mandiri
ternyata berat juga. Tanpa pemicu kecuali niatan lillah dalam hati. Semoga
Allah memberikan iradah pada Writer ya Reader....
Membentuk generasi salih yang jenius
sudah selesai kita bahas. Jelas secara praktikal namun mengacu pada ilmu dan
batas kesopanan.
Setelah bersebadan diharapkan Allah
SWT menitipkan insan pada pasutri. Zuriat yang fiiahsani takwim, sempurna
secara jasad juga secara ruhiah. Tak kalah pentingnya mempersiapkan saat
persalinan.
d. Persalinan
Saat persalinan menjadi bagian
mendebarkan sekaligus menyenangkan dan penuh pengharapan. Persalinan meliputi
persiapan, pelaksanaan dan paska persalinan.
1. Persiapan:
*Persiapan fisik
- olah raga ringan terutama gerakan
merangkak seperti orang mengepel lantai. Ini bertujuan memperbaiki posisi janin
- memperbanyak sujud untuk
memperbaiki posisi janin mendekati lubang keluarannya dan menjadi posisi
terdekat hamba dengan Sang Pencipta
- mengonsumsi minuman pelancar
seperti rendaman rumput Fatimah
- mengonsumsi minyak zaitun satu
sendok makan perhari
- hindari pakaian ketat berbahan
nilon karena dapat menghalangi sinar matahari mencapai tubuh sehingga ibu
kurang vitamin B dan D
* Persiapan mental emosional dan
spiritual
- menjaga ketenangan bathin dengan
banyak beribadah
- memperbaiki muamalah uuntuk
mendapatkan doa-doa baik.
- banyak berzikir dan zikir terbaik
adalah bacaan Al-Qur'an
- mendapat perhatian dari suami dan
diringankan dari pekerjaan berat yang bisa mengganggu psikisnya
2. Persalinan
* Menguatkan psikisnya
-Berikan motivasi rindu pada
persalinan bukan ditakut-takuti dan dibuat khawatir dengan kisah sulitnya
melahirkan.
Rasulullah Saw bersabda:
Berarti orang yang mati syahid di
kalangan umatku cuma sedikit. Orang yang mati berjihad di jalan Allah, syahid,
orang yang mati karena Tha’un, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang
yang mati karena sakit perut, syahid. Dan wanita yang mati karena nifas, dia
akan ditarik oleh anaknya menuju surga dengan tali pusarnya.” (HR. Ahmad)
-Membaca ayat yang mempermudah
persalinan yaitu Al-Insyiqaq ayat 1-5
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِذَا
السَّمَآءُ انْشَقَّتْ
وَاَ
ذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ
وَاِ
ذَا الْاَ رْضُ مُدَّتْ
وَاَ
لْقَتْ مَا فِيْهَا وَتَخَلَّتْ
وَاَ
ذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ
"Apabila langit terbelah, dan
patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh, dan apabila bumi
diratakan,dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan
patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh."
-Ditemani orang-orang terdekat
terutama suami. Kalau suami tidak tega melihat persalinan istri hendaklah
membuat majelis doa untuk janin.
-Ditangani oleh ahlinya seperti bidan
dan paraji yang memahami syariat sehingga selalu mengiringi persalinan dengan
zikir dan doa-doa.
-Jaga aurat ibu selama melahirkan
agar kehormatannya tetap terpelihara
-Diperdengarkan murotal yang sejuk
dan menenangkan dengan volume lirih
-Senantiasa sabar dan ikhlas selama
persalinan
*Menguatkan fisiknya
- Meringankan rasa sakit saat
bersalin dengan ramuan herbal seperti kunyit mendekati persalinan
- Mandi air hangat untuk membantu
relaksasi
- Berlatih pernapasan, salah satunya
napas dengan mulut terbuka.
- kurangi makan berlebihan karena
mengganggu suplai tenaga saat hendak bersalin
- perbanyak makanan dengan kualitas
gizi dan energi tinggi, hindari sembelit dengan minum secukupnya.
3. Paska persalinan
* Banyak bersyukur persalinan selamat
* Bayi diambil dan dibersihkan oleh
para medis dengan air hangat
* Bayi dibalut dengan kain untuk
menghangatkan.
* Ayah meraih anak dan
memperdengarkan Azan di telinga kanan dan Iqomah di telinga kiri
* Ibu melaksanakan mandi wiladah
Mandi wiladah, yaitu mandi wajib
untuk wanita yang telah melahirkan baik normal maupun melalui operasi Caesar.
Bahkan juga untuk mereka yang mengalami keguguran. Darah yang keluar disebut
darah nifas tergolong hadats besar. Bagi mereka yang terlupa mandi wiladah maka
wajib niat mandi wiladah saat ingat.
Adab mandi wiladah:
a. Niat Mandi Wiladah
نَوَيْتُ
الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْوِلاَدَةِ ِللهِ تَعَالَى
"Saya niat mandi menghilangkan
hadats wiladah karena Allah Ta’ala."
b. Membaca basmalah dalam hati
c. Membasuh telapak tangan
d. Membasuh kemaluan dengan air
mengalir hingga bersih
e. Berwudhu seperti tatacara yang
disebutkan sebelum bahasan ini.
f. Menyiram rambut kepala sebanyak
tiga kali. Awali dari anggota bagian kanan. Saat mandi wiladah rambut boleh
diikat, dengan catatan air akan meresap dan merata pada rambut dan kepala
g. Meratakan air ke seluruh tubuh
hingga bagian tersembunyi dan terlipat seperti ketiak, lutut, tumit, dan bagian
tubuh lainnya.
h. Membasuh kaki setelah selesai
meratakan air ke seluruh tubuh.
* Ibu mandi besar setelah selesai
nifas
Nifas adalah darah yang menyertai
darah melahirkan. Mandi nifas berbeda dari mandi wiladah. Lamanya nifas 1 hari
hingga 40 hari. Berikut ini akan kita bahas adab mandi nifas.
Adab mandi nifas:
a. Melafazkan niat
نَوَيْتُ
الْ غُسْلَ لِرَف ْعِ حَدَثِ ا لنِّفَاسِ ِل لهِ تَعَالَى
" Aku niat mandi wajib untuk
mensucikan hadas besar dari nifas karena Allah Ta'ala."
Niat dilafazkan di awal mau mandi,
ini adalah pembeda antara mandi nifas denganandi wajib lain yang niatnya
berbarengan dengan guyuran air pertama. Seperti biasa niat bisa jahat atau sir.
b. Mencuci tangan sampai tiga kali
agar bebas dari najis saat membersihkan anggota badan yang lainnya
c. Membersihkan bagian tubuh yang
tersembunyi dengan tangan kiri, dubur, hubul, ketiak, dan pusar.
d. Membersihkan tangan bekas basuh
anggota badan sebanyak tiga kali
e. Berwudhu seperti adab wudhu saat
mau shalat
f. Menyela pangkal rambut dengan jari
hingga rata di kulit kepala.
g. Mengguyur kepala tiga kali hingga
rambut rata dengan air
j. Meratakan air ke seluruh permukaan
kulit dengan guyuran dari ujung rambut ke ujung kaki
k. Dari seluruh bagian anggota mandi,
selalu dimulai dari anggota sebelah kanan.
*Mempersiapkan asupan terbaik yaitu
ASI
Untuk memperoleh ASI terbaik, ada
beberapa hal yang bisa dilakukan seorang calon ibu:
a. Menjaga asupan hanya dengan
makanan yang halal dan baik, hal ini pernah kita bahas dalam melahirkan
generasi kuat
b. Menjaga asupan yang baik kualitas
ASI terbaik:
- banyak konsumsi sayur dan buah
- cukup asupan protein dengan susu
khusus ibu hamil
- mengonsumsi sayuran khusus seperti
daun katuk, daun pepaya, rebusan pepaya setengah masak dan lain-lain
c. Menjaga organ menyusui agar selalu
bersih dan dipersiapkan bentuknya agar mudah dihisap bayi.
Hmmm, panjang juga, ya, Reader,
tentang proses persalinan baik pra hingga paska. Semua diatur dalam Islam.
Detail, sistematis dan amat mudah diamalkan. Petunjuk Allah, Rasulullah Saw dan
ulama menuntun ummat pada keselamatan. Masya Allah. Semoga kita sebagai
ummatnya melapangkan hati untuk berdisiplin, ya, Reader....
Hari ke-32
Hari ini hari kedua sarkat sendiri.
Mungkin lebih tepat rehat kata daripada sarapan kata. Soalnya...Writer menulis
kapan saja di waktu senggang. Kadang siang, ladang pagi atau petang menunggu
senja hadir lalu menghilang. Sering juga malam hari hingga larut karena sedang
merasa asyik bermain kata. Jadi kesannya lebih menjadi hiburan buat Writer.
Semua berkat sarkat KMO yang sudah bikin Writer ketagihan menulis.
Wah, cukup dulu, deh, curhat bahagia
dan bangga Writer pada KMO. Sekarang kita bahas hal serius berikutnya, yaitu
pengasuhan atau parenting. Parenting adalah bagian paling penting nikah berkah
agar tujuan membentuk generasi Abid, salih, bertakwa dapat terwujud
e. Pengasuhan
Menurut para masayikh, ulama dan
asatiz kita, pengasuhan ini bisa dibagi dalam tiga fase, massa anak-anak (0-7)
tahun, masa remaja (7-14) tahun, masa baligh (14-22) tahun. Pembagian fase ini
bisa berbeda-beda di kalangan para ahli parenting.
Rasulullah Saw mengingatkan kita
tentang peran penting orang tua dalam parenting. Dalam hadis yang diriwayatkan
oleh imam Bukhari dan imam Muslim, Rasulullah Saw bersabda
*كُلُّ
مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ
يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.* فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ،
اَرَأَيْتَ لَوْ مَاتَ قَبْلَ ذلِكَ؟ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
*اللهُ اَعْلَمُ بِمَا كَانُوْا عَامِلِيْنَ*
"Setiap anak dilahirkan di atas
fitrah, maka ibu bapaknya yang menjadikan agamanya yahudi atau nasrani atau
majusi. Maka ada orang yang bertanya: Ya Rasulullah, apa pendapat engkau
tentang orang yang meninggal sebelum itu? Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam
menjawab:
Allah lebih mengetahui tentang apa
yang mereka kerjakan.“
Peran orang tua yang paling awal
adalah dalam pertemuan dua Nutfah bergabung dan membelah berulang menjadi
alaqah (segumpal darah) kemudian mudhghah(segumpal daging). Permulaan yang baik
untuk mempertemukan dua karakter bawaan genetik dari masing-masing Nutfah. Bila
diawali dengan taqwa, insya Allah, Dia yang Maha Pencipta berkehendak
memilihkan gen-gen terbaik.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman
dalam Al-Qur'an Surah Al Mukminin ayat 12-14
وَلَقَدْ
خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ
"dan sungguh, kami telah menciptakan
manusia dari saripati (berasal) dari tanah."
ثُمَّ
جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَا رٍ مَّكِيْنٍ
"Kemudian Kami menjadikannya air
mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim)."
ثُمَّ
خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا
الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا
اٰخَرَ ۗ فَتَبٰـرَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَ
"Kemudian, air mani itu Kami
jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan
segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya
makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling
baik."
Pendidikan selanjutnya telah kita bahas
perkembangan insan di dalam rahim. Saatnya persalinan dan pendidikan minal
mahdi ilallah di dimulai, seperti kata mahfudhat
أُطْلُبُ
الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إلى اللَّهْدِ
Carilah ilmu mulai dari ayunan,
hingga liang lahat (kuburan).
Praktik pendidikan dari buaian
pertama kali diperankan oleh seorang ayah, yaitu memperdengarkan Azan dan
Iqamah. Mengharu-biru di hati seorang ayah menerima amanah pengasuhan anaknya.
Yuk, kita cermati kandungan azan dan Iqamah serta falsafah di balik lafalnya
yang membumi itu. Bukankah Azan dan Iqamah tidak pernah berhenti berkumandang
seiring bergulirnya matahari?
Lafaz azan dan Iqamah yang ditujukan
pada janin adalah sebagai berikut:
(٢x) اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ
(٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ
(٢x) اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
(٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
(٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
(١x) اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
(١x) لَا إِلَهَ إِلَّاالله
Kedalaman pendidikan di balik azan
ini mengajarkan banyak hal:
1. Ketawadhuan seorang hamba bahwa
hanya Allah SWT Yang Mahabesar, selain Allah kecil adanya apalagi seorang anak
manusia. Tidak lebih besar dari sebutir debu di keluasan alam semesta. Perasaan
diri kecil sekedar hamba inilah yang akan memudahkan seseorang menerima
hidayahNya. Bekal keselamatan mengarungi kehidupan dunia yang gelap gulita,
ilmu adalah cahaya petunjuk Allah SWT.
2. Syahadatain, sebuah pengakuan
bahwa Allah satu-satunya yang berhak dan wajib disembah, diagungkan, dicintai,
ditaati melibihi apapun dan siapapun. Pengakuan atas kerasulan Nabi Muhammad
Saw, utusan Allah SWT dan teladan, panutan yang sempurna. Sebaik-baik
makhlukNya adalah Rasulullah Saw.
3. Senantiasa menegakkan shalat,
yaitu mengerjakan shalat sekaligus menunaikan falsafah shalat dalam kehidupan
dan keseharian. Nilai-nilai shalat seperti kesucian diri dengan thaharah
berarti pula menjaga diri dari yang haram, makruh dan subhat. Menghargai waktu
bermakna kedisiplinan. Berjamaah bermakna senang berorganisasi, bersinergi
untuk meraih target bersama yaitu Ridha Allah SWT. Kerapatan shaf bermakna
tertib, saling peduli, melibatkan diri hadir dengan manfaat pada sesama,
memahami kondisi saudara seimannya sehingga muncul ta'aruf, tada'u, taawun.
4. Bersama-sama menuju kejayaan dan
kemenangan sebagai berkah mendirikan shalat. Kejayaan dan kemenangan akan
diraih ummat bila selalu dalam keadaan menegakkan falsafah shalat bukan sekedar
mengerjakannya.
5. Lafaz Azan ditutup kembali dengan
membesarkan asmaNya dalan takbir dan menutupnya dengan kunci syurga, laailaha
illallah
Telinga kiri mendengarkan Iqamah
dimana iqamah adalah setengah Azan.
اَللهُ
اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
أَشْهَدُ
اَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّااللهُ
اَشْهَدُ
اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
حَيَّ
عَلَى الصَّلَاةِ
حَيَّ
عَلَى الْفَلَاحِ
قَدْ
قَامَتِ الصَّلَاةُ ،قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ
اَللهُ
اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
Makna yang terkandung di dalamnya pun
serupa. Hanya saja ada satu kalimat yang berbeda, yaitu pemberitahuan untuk
segera berdiri melakukan shalat. Iqamah adalah penanda shalat jamaah akan
segera dimulai. Ini bermakna bahwa anak sebagai generasi penerus diharapkan
menjadi perindu kehidupan amal jama'i.
Pendidikan anak adalah tanggung jawab
ayah dan ibu. Tidak boleh saling mengandalkan dan berlepas tangan. Kalimat
seperti berikut tak boleh terlontar:
"Anak-anak urusan ibu, ayah
sudah lelah seharian bekerja"
Atau lontaran kekesalan istri dengan
berucap, "Anak-anak hanya nurut sama Ayah. Tugas ibu mengurus rumah,
memasak. Selebihnya ibu nggak sanggup."
Menurut kata pepatah yang masyhur
dikatakan:
الأم
مدرسة الأولى
Ibu adalah madrasah pertama,
sangatlah tepat. Rumah pertama insan adalah alam rahim. Lepas dari alam ruh
yang suci, ditempatkan di tempat asing di alam dunia. Rahim yang benar-benar
pilihan Allah semata bukan pilihan kita. Kasih kedua orang tua adalah uluran
tangan pertama diatas ketidakberdayaan anak manusia. Oleh karena itu kasih
sayang orang tua begitu berharga. Pada siapa sebujur jabang bayi hendak
mengantungkan asa selain pada orang-orang di sekitarnya?
Peranan ayah pula banyak disiratkan
dalam Alquran dan dicontohkan oleh nabi, rasul dan para salihin:
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يٰبُنَيَّ
اِنَّهَاۤ اِنْ تَكُ مِثْقَا لَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ
اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَ رْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ
لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ
"(Luqman berkata), "Wahai
anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada
dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya
(balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Mengetahui."
(QS. Luqman 31: Ayat 16)
يٰبُنَيَّ
اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِا لْمَعْرُوْفِ وَا نْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَا
صْبِرْ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَكَ ۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُ مُوْرِ ۚ
"Wahai anakku! Laksanakanlah
sholat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari
yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang
demikian itu termasuk perkara yang penting."
(QS. Luqman 31: Ayat 17)
وَلَا
تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّا سِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَ رْضِ مَرَحًا ۗ اِنَّ
اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَا لٍ فَخُوْرٍ
"Dan janganlah kamu memalingkan
wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan
angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan
diri."
(QS. Luqman 31: Ayat 18)
وَا
قْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَا غْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَ صْوَا تِ
لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ
"Dan sederhanakanlah dalam
berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara
keledai.""
(QS. Luqman 31: Ayat 19)
Lukman memberi contoh bagaimana
mendidik anak:
1. Untuk berhati-hati dengan berinfak
karena semua kebaikan sekecil apapun dibalasi, keburukan pun akan dibalasi.
2. Memperkenalkan sifat Allah sebagai
Yang Mahahalus
3. Menegakkan shalat
4. Amar ma'ruf nahi Munkar
5. Selalu bersabar dan bersabar
adalah perkara yang penting
6. Senantiasa tawadhuk di hadapan
manusia
7. Tidak sombong dan angkuh karena
Allah benci mereka yang takabur
8. Menyederhanakan suara, tidak
membanggakan diri dengan kesombongan.
Disini sangat penting agar ayah
selalu menasihati anak-anaknya dengan dasar ilmu. Wibawa seorang ayah,
keuletan, ketelatenan dalam mendidik anak. Tak pernah jemu membuat taklimat
dalam keluarga untuk istri dan anak-anaknya serta anggota keluarga yang lain.
Abu Darda meriwayatkan Rasulullah SAW
bersabda:
الْوَالِدُ
وْسَطُ ُبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوْ
احْفَظْهُ
“Ayah adalah tengah dari gerbang
Surga, jadi tetaplah di gerbang ini atau lepaskan.” (Sunan At-Tirmizi)
الْجَنَّةُ
تَحْتَ أَقْدَامِ الأمَّهَات؛ مَن شِئن أدخلن، ومَنْ شِئن أخْرَجن
“Surga di bawah telapak kaki ibu.
Siapa yang dikehendaki (diridhai) para ibu, mereka bisa memasukkannya (ke
surga); siapa yang dikehendaki (tidak diridhai), mereka bisa mengeluarkannya
(dari surga)"
Jadi, keduanya memiliki kewajiban
untuk mendidik anak agar meraih Ridha Allah dan berkumpul bersama di syurga.
Rasanya tidak penting memperdebatkan siapa yang lebih wajib membimbing anak dan
mendidik mereka.
Kita belum masuk ke fase-fase
pendidikan anak, ya, Reader. Baru pembukaannya pun sudah cukup penjang lebar.
Betapa makin menyelam makin dalam petunjuk Allah melalui RasulNya dan
diteruskan oleh para ulama.
Hari ke-33
Innailaihi, postingan sarkat kali ini
telat dua hari ya Reader. Inilah kendala disiplin nulis seorang diri. Tapi
Writer akan terus berjuang sampai selesai, insya Allah ta'ala akan diijabah
harapan Writer. Semoga begitu juga harapan Reader. Biar harapan kita bertemu
dengan indah. Wah so sweet ya kita...
Bahasan kita selanjutnya tentang
fase-fase pendidikan anak. Apa saja yang bisa kita bekalkan pada mereka sikap
parenting dan hasil yang bisa jadi raihan atau capaian anak untuk masing-masing
fase.
1. Golden Age fase 1 (0-3) tahun:
Menunaikan tujuh Sunnah setelah bayi
lahir:
a. Mengumandangkan azan di telinga
kanan dan Iqamah di telinga kiri
b. Mentahnik yaitu mengunyah kurma
kering dang mengusapkan pada lidah dan langit-langit baayi. Tujuannya
memperkuat otot bagian mulut bayi agar kuat mengisap susu ibu. Kalau tidak ada
kurma kering bisa kurma basah, atau kalau terpaksa tidak ada kurma, bila tidak
ada bisa dengan madu. Glukosa yang dioleskan bermaksud menstimulasi otot mulut.
c. Mengaqiqahkan dengan seekor
kambing untuk bayi perempuan dan dua ekor kambing untuk bayi laki-laki
d. Memberi nama yang baik sebagai doa
dan harapan orang tua. Semoga Allah mengijabah agar karakter anak sesuai dengan
nama yang tersemat pada dirinya. Menamai sesuai dengan gender, jangan sampai
mengakibatkan kebingungan pada anak dan orang yang memanggilnya. Kesalahan fatal
orang tua saat memberi nama terbalik dengan jinsiyahnya sehingga turut
mengganggu perkembangan karakter dan jati diri anak.
عَنْ
اَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ بِاَسْمَا ئِكُمْ وَبِاَسْمَاءِ آبَائِكُمْ . فَاَحْسِنُوْا
اَسْمَائَكُمْ. ابوداود ، منقطع، لان عبد الله بن ابى زكرياء لم يدرك ابا الدرداء
Dari Abu Darda’, ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari
qiyamat dengan namamu dan nama ayahmu, maka baguskanlah nama kalian”. (HR. Abu
Dawud)
e. Mencukur seluruh rambut, menimbang
dan menyedekahkan emas atau perak seberat rambutnya. Sedekah diberikan pada
fakir miskin.
f. Dibacakan doa terbaik
*Membaca adzan pada telinga bayi
sebelah kanan
*Membaca iqamah pada telinga bayi
sebelah kiri
*Membaca doa dan zikir di telinga
kanan:
-membaca doa memohon ketakwaan
اللهم
اجْعَلْهُ بَارًّا تَقِيًّا رَشِيْدًا وَأَنْبِتْهُ فِي الْإِسْلَامِ نَبَاتًا
حَسَنًا
“Ya Allah, jadikanlah ia (bayi) orang
yang baik, bertakwa, dan cerdas. Tumbuhkanlah ia dalam islam dengan pertumbuhan
yang baik."
-membaca surah al-Ikhlâsh
-membaca surah al-Qadr
-membaca ayat QS Ali Imran (3: 36)
وَإِنّي
أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Aku memohon perlindungan untuknya serta
anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari pada setan yang
terkutuk."
-membaca doa perlindungan
أَعُوذُ
بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَآمَّةٍ وَمِنْ كُلِّ
عَيْنٍ لَآمَّةٍ
“Aku berlindung dengan
kalimat-kalimat Allah dari segala setan, kesusahan, dan pandangan yang
jahat."
g. Berikhtiar dengan menghadirkan
guru Mursyid dan memintakan doa darinya semooga menjadi bekal anak dalam
mengarungi kehidupan dunia hingga akhir hayatnya dalam petunjuk dan lindungan
Allah SWT
Usia ini menjadi usia yang paling
tajam dalam menangkap dan merekam pesan. Umur yang seharusnya mendapat
perhatian dan kehati-hatian bagi orang yang lebih dewasa dalam bersikap,
bertutur kata, bertindak tanduk, bahkan berekspresi. Kita hendaklah memperhatikan
apa yang masuk melalui mata, pendengaran dan hati mereka.
Allah berfirman:
وَاللَّهُ
أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ
لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari
perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (An-Nahl 78)
Usia ini mampu merekam sekian banyak
kosa kata hingga mereka bisa bicara. Usia ini ingin meniru hingga mampu
bergerak sebanyak mungkin dari sekitarnya. Bukankah mereka belajar berjalan di
usia ini?
Oleh karena itu memperdengarkan
doa-doa bersama doa kita akan membuat mereka mampu menghafal doa itu. Demikian
juga dengan shalawat dan bacaan Alquran. Membuat mereka bisa familiar dengan
kalam Allah SWT.
Jadi apa saja yang bisa kita lakukan
pada mereka di usia ini?
1. Aktif mengajak bicara agar
sebanyak mungkin mereka merekam kosa kata. Hal ini akan membantu mereka cepat
dapat berbicara
2. Sesering mungkin memperdengarkan
doa, muratal Alquran, shalawat, bacaan shalat dan hal positif lain. Ini melatih
ketajaman fitrah suci anak agar kelak mudah menerima hidayah dan kebenaran.
Juga meminimalisir gangguan buruk jin ataupun setan.
3. Memberikan teladan adab dalam 24
jam kehidupan kita ajak bicara tentang bagaimana adab tersebut sambil kita
praktikkan. Secara otomatis anak akan merekam dan menerima pengajaran jika kita
komunikasikan apa yang kita lakukan.
4. Hindarkan dari mendengar musik
cadas, lucah, cinta syahwati. Hal yang buruk akan mentransfer energi buruk pada
si kecil. Bukankan penelitian seorang doktor di Jepang telah membuktikan bahwa
musik cadas direspon buruk oleh partikel air? Apa lagi kita sebagai insan yang
hidup dan 80% bagian tubuh kita terdiri atas air.
5. Hindarkan dari tumpahan emosi
negatif dalam bentuk apapun. Marah pada anggota keluarga, maupun orang lain
baik diekspresikan dalam kata maupun perbuatan.
6. Ajak anak berinteraksi dengan
alam, bermain, berbicara dengan lingkungannya dengan memperlihatkan
benda-benda. Kalimat komunikasi yang kita sampaikan antara lain:
"Ini namanya bunga mawar. Apa,
Nak? Mawar. Yuk, kita sapa nawarnya. Hai, mawar kamu cantik sekali. Siapa
penciptamu? Pasti Allah SWT yang Mahahebat. Kamu cantik tapi banyak durinya.
Oh, ini pasti Allah ciptakan supaya kau terlindung dari tangan-tangan yang
tertarik buat memetikmu. Soalnya kamu cantik banget."
7. Jauhkan dari gadget. Meluangkan
qualified time, waktu yang benar-benar khusus buat anak tumbuh dan berkembang.
Bila kita sering mengasuh sambil memegang gawai, bukan salah anak jika mereka
merengek meminta gawai kita.
Sikap yang harus kita ambil saat
berinteraksi dengan anak dalam rentang usia ini adalah:
1. Membiasakan untuk menatap mata
anak, latih agar kemampuan fokusnya berkembang. Tentu dengan tatapan lembut
penuh kasih sayang. Ini akan membangun rasa percaya diri pada anak
2. Responsif terhadap kebutuhan anak.
Perhatikan saat anak menangis bahkan sebelum anak menangis usahakan mereka
terpenuhi kebutuhannya.
3. Tidak mengajarkan cara berucap
dengan bahasa bayi, tetapi dengan bahasa kita dalam lafaz yang benar. Ini akan
mempercepat bayi dapat berbicara.
4. Memfasilitasi dengan alat dan
lingkungan yang mendukung perkembangan dan peningkatan kemampuan anak,
misalnya, pegangan tangan untuk merambat, alat baby walker untuk latihan
berjalan.
5. Mendukung anak dalam mencoba
sendiri melakukan kegiatannya. Berikan ruang untuk rasa percaya dirinya
berkembang. Perasaan berhasil setelah si kecil mencoba sendiri apa yang
diinginkannya memberikan pengalaman berharga dan rasa percaya diri.
6. Sembunyikan rasa dan ekspresi
cemas yang berlebihan yang dapat mengagetkan dan membuat anak takut. Yang
penting anak dikondisikan dalm keadaan aman. Terhindar dari benda-benda
berbahaya.
Selanjutnya penting juga kita
memahami target capaian anak sesuai perkembangan usianya. Berikut ini
perkembangan yang harusnya diraih anak usia 0-3 tahun
Bulan pertama,
Pada usia ini anak sedang beradaptasi
dari alam rahim ke alam dunia. Pengelihatannya belum sempurna. Fokus mata baru
sampai pada jarak 30 cm. Sementara itu kekuatan tulang dan ototnya baru bisa
sedikit mengangkat kepalanya.
Pada masa ini anak baru dibekali
hidayah insting atau hidayah ilham, petunjuk yang dibekalkan pada anak oleh
Allah SWT secara otomatis melekat pada dirinya. Misalnya menangis saat memiliki
keinginan untuk makan karena lapar, minum karena haus tidak nyaman karena pipis
atau buang air besar.
Waktu banyak digunakan untuk tidur.
Di awal-awal adaptasi dapat mencapai durasi 24 jam. Bertambahnya hari waktu
tidurnya makin berkurang.
Hidayah hawasi yang masuk melalui
indera baru pada sentuhan dan sedikit pendengaran. Bonding antara orang tua dan
anak terjalin lewat sentuhan dan irama batin
Asupan gizi sebaiknya khusus ASI.
Pada usia ini bayi tidak boleh diberi makanan lain termasuk susu formula.
Sebelum memutuskan memberi susu formula karena ASI kurang. lebih baik
berikhtiar dengan memacu produksi ASI atau mencarikan ibu susu.
Bulan kedua-ketiga,
Muncul ekspresi tersenyum dan tertawa
karena pengelihatannya mulai merespon kebahagiaan dan keceriaan di sekitarnya.
Kekuatan otot dan tulangnya sudah
membantunya menahan kepala. Anak berusaha miring hingga telungkup atau
tengkurap. Akan tetapi pada beberapa kasus anak tidak melalui fase tengkurap
tapi lebih memilih untuk duduk.
Motoriknya mulai berkembang dengan
kemampuan menggenggam, memegang dan mengambil benda. Pada usia ini, interaksi
anak dan orang tua mulai terjalin lebih baik.
Proses bonding secara indrawi terjadi
disini. Dengan makin berfungsinya pengelihatan, pendengaran, perabaaan,
penciuman dan pengecapan anak banyak merespon hal di luar dirinya.
Bulan keempat hingga keenam,
Di usia ini, anak sudah dikenalkan
MPASI (solid food). Tapi akan lebih baik bila ASI eksklusif diberikan hingga
usia enam bulan. Dengan catatan ASI cukup, anak tidak rewel dan perkembangannya
bagus. Dalam artian perkembangan berat badan normal.
Kemampuan anak di usia ini sudah bisa
duduk sendiri merangkak dan mengambil benda-benda di sekitarnya. Pendengaran, pengelihatan
sudah sempurna demikian juga Indra peraba, penciuman dan perasa. Hidayah Hawasi
sudah terbekalkan pada usia ini.
Bulan ketujuh hingga kedua belas
Perkembangan motorik halus dan kasar
berkembang pesat. Anak lebih interaktif dengan sekitarnya. Keinginan untuk
mengeksplorasi lingkungannya dengan mencari, menemukan dan menjelajah apa yang
ada di sekitarnya.
Kemandirian untuk duduk, merangkak,
berdiri dan berjalan sudah bisa dilakukan. Gigi mulai tumbuh dengan rasa gatal
di gusi hingga sedikit meriang. Suhu badan naik karena perubahan morfologis.
Kemampuan vokalnya pun mulai berkembang dengan mengoceh dan menirukan gerak
orang dewasa di sekitarnya
Pada usia keduabelas bulan, motorik
halusnya berkembang bagus dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk untuk
mengambil benda-benda kecil
Bulan ke-13 hingga ke-24
Anak mampu berdiri dan berjalan.
Kemampuan bicaranya sudah mampu mengucapkan dua hingga tiga kata sekaligus
dengan benar dan jelas.
Kemampuan motorik halusnya bisa
memegang gelas kecil, minum sendiri, memakan dengan tangan dan sendok sendiri.
Kemampuan motorik kasar meliputi buka baju sendiri, senang memanjat, naik
tangga dengan ditatih, bisa berjinjit dan melompat.
Secara emosional, si kecil bisa
berekspresi menunjukkan empati. Rasa kasihan, ingin menolong. Begitu juga rasa
tidak senang terhadap sesuatu.
Tahun ke-2 hingga ke-3
Pada usia ini si kecil sudah dapat
meniru gerakan orang tua seperti merapikan tempat tidur atau bekas mainannya.
Anak senang melakukan kerja-kerja mandiri seperti makan sendiri, mengganti
baju, menyisir rambut, memakai sendal sendiri.
Anak telah mengenal banyak kosa kata
baru. Mereka harus disterilkan dari kata-kata buruk, jorok dan tak bermakna.
Saat ini anak sudah mulai menangkap
hidayah Irsyad, hidayah akal dalam tahap permulaan. Anak sudah mulai menalar
sebab akibat. Ia dapat memahami konsekwensi dari satu perbuatan. Senang dan
mampu memahami cerita pendek. Dapat merespon pertanyaan singkat dan mengajukan
pertanyaan sederhana. Kemampuan imajinasinya membuatnya senang berpura-pura.
Senang bernyangi dan bercerita singkat.
Motorik kasar berkembang bagus dengan
kemampuan berlari dengan stabil, melompat dan melempar mainannya. Mulai bisa
bekerjasama dengan orang lain.
Begitu banyak enrichment yang dapat
ditangkap anak usia 0-3 tahun. Semoga Allah mudahkan kita dalam membekali
generasi penerus dengan hal-hal positif. Proses pendidikan anak adalah bagian
dari kuu anfusakum wa ahlikum naaraa. Harapan orang tua tentunya, hal ini
menjadi jariah yang tak terputus hingga akhirat. Di dunia bahagia dengan cahaya
petunjuk. Di akhirat selamat dengan rahmatNya.
Hari ke-34
Makin dalam membicarakan parenting,
ya, Reader. Sekarang kita akan bahas golden age fase kedua. Yaitu usia 4 hingga
7 tahun. Usia dimana Afidah, pikiran sudah mulai berkembang dengan baik. Maka
saat kita dewasa sekarang sering kali teringat memori pertama kita.
Buat Writer sendiri hal pertama yang
diingat adalah terkena semburan api yang Writer mainkan sendiri dari kompor.
Traumatik sekali memang. Juga saat berkelahi dengan tetangga di atas tumpukan
jerami gara-gara diledek tentang rok yang writer pakai. Sebenernya dua-duanya
kenangan pahit tapi itulah yang paling lekat hingga kini. Sampai-sampai warna
baju yang writer pakai masih ingat, lho!
Nah, berhubung fungsi Afidah yang
terkait hati, akal dan kemampuan berpikir sudah berkembang, maka memberikan
bekal-bekal pengetahuan bisa dilakukan di usia ini. Bercerita dengan gambar,
memperdengarkan hafalan akan mudah mereka tangkap. Paling efektif justru sambil
bermain bukan fokus duduk diam.
Sebagaimana di awal usia 0-3 tahun,
hal-hal positif tentang keteladanan tetap terus harus dipertahankan. Ekspresi
emosi positif juga makin kuat ditanamkan pada anak. Emosi negatif dijaga agar
tidak membekas sebagai contoh buruk bagi anak. Lalu bagaimana anak mengenal
baik buruk? Kita bisa menjelaskan saat ada pengalaman dari lingkungannya, bahwa
ini buruk sebaiknya begini bukan begitu.
Berdasarkan Islamic Hypnoparenting
ada beberapa hal yang harus diperhatikan di masa fase ke-2 golden age.
1. Anak memiliki kemampuan merekam
yang amat baik. Orang tua lebih baik menghindari kata jangan bila respon anak
justru sebaliknya. Tapi gunakan kalimat anjuran yang memang lebih memutar
kemampuan komunikasi kita. Misalnya:
"Jangan menangis" diubah
menjadi "Ayo, hapus dulu air matanya biar keliatan cakepnya, ya,
sayang"
"Jangan lari-larian" diubah
jadi "Duduk sini,anak shalih, ummi tunjukin gambar bagus."
Bekal mendidik anak adalah kesabaran
dan keikhlasan. Terkadang saat anak sulit diatur muncul kalimat-kalimat kurang
baik misalnya "dasar anak nakal, susah di atur, mau jadi apa kamu?".
Cap ini akan sangat membekas dan jadi doa buruk bagi anak.
2. Memperkenalkan dan menanamkan
tauhid pada anak bahwa Allah SWT adalah Allah yang memiliki sifat wujud, qidam,
baqa, mukhalafatul lilhawaditsi, qiyamuhu binnafsihi, wahdaniyah qudrat,
iradat, ilmun, hayyun, sama', bashar, kalamu, qadiran, muridan , 'aliman,
hayyan, sami'an, bashiran, mutakaliman.
Sehingga sifat yang berkebalikan dari
sifat wajibnya adalah sifat mustahil. Al Adam, Al Huduuts, Al Fana, Al
Mumaatsalatu lilhawaditsi, Al Ikhtiyaaju lighairihi, Wujudusysyariik ( At
Ta'addud), Al 'Ajzu, Al Karaahiyatu, Al Jahlu, AlMaitu, Ash Shaman, Al 'Amaa,
Al Bakamu, 'Ajizan, Murahan, Mayyitan, Ashamma, A'ma, Abkam.
Bahwa Allah itu wujud ada, tanpa
butuh tempat. Ada tanpa tergantung waktu, ada selamanya sejak dulu hingga kekal
selamanya. Allah ada dengan sendirinya tanpa diawali ketiadaan, tanpa ada yang
mengadakan karena dialah dan pencipta yang tak pernah diciptakan.
اِنَّ
هٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَـقُّ ۚ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَاِ نَّ
اللّٰهَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
"Sungguh, ini adalah kisah yang
benar. Tidak ada tuhan selain Allah, dan sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha
Bijaksana."(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 62)
وَاِ
لٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّا حِدٌ ۚ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ
"Dan Tuhan kamu adalah Tuhan
Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha
Penyayang."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 163)
Anak dipahamkan dengan akal yang
dimilikinya bahwa mustahil alam semesta raya ada tanpa ada yang mengadakannya.
Dia yang Mahaada yang mengadakan segalanya. Sedangkan sekecil apapun seperti
penghapus, meja, kursi pun ada yang membuat dan mengadakannya
Allah Qidam, terdahulu dan tidak ada
yang mendahului. Dialah yang mendahului segala sesuatu tanpa didahului sesuatu
apapun. Hanya Dia yang paling permulaan tanpa diawali ketiadaan.
هُوَ
الْاَ وَّلُ وَا لْاٰ خِرُ وَا لظَّاهِرُ وَا لْبَا طِنُ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ
عَلِيْمٌ
"Dialah Yang Awal, Yang Akhir,
Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 3)
Mustahil Allah yang mencipta segala
yang luar biasa ini, gunung, lautan, bulan, bintang jika punya sifat yang
lemah. Dia sempurna adanya. Jika dia memiliki permulaan berarti diawali dengan
ketiadaan. Yang diawali dengan ketiadaan berarti Dia lemah. Hanya yang
Mahahebat yang tidak memerlukan permulaan. Pastilah Dia tuhan Yang paling awal
tanpa diawali.
Allah Baqa, kekal selamanya tidak mengenal
kata musnah. Berkurang kesempurnaan-Nya pun tidak pernah apalagi musnah. Semua
bisa Dia musnahkan dengan kehendakNya, makhlukNya bisa ia kekalkan dengan
izinNya pula.
وَلَا
تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۘ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ كُلُّ شَيْءٍ هَا
لِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَـهُ الْحُكْمُ وَاِ لَيْهِ تُرْجَعُوْن
"Dan jangan (pula) engkau sembah
Tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain
Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya,
dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan."
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 88)
هُوَ
الْحَيُّ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ فَا دْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ۗ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
"Dialah yang hidup kekal, tidak
ada Tuhan selain Dia; maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama
kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam."
(QS. Ghafir 40: Ayat 65)
Mustahil Tuhan Yang Mahasempurna
berakhir dengan ketiadaan. Segala sesuatu yang berakhir dengan ketiadaan
berarti lemah. Mahasuci Allah dari segala sifat kekurangan.
Allah Mukhalafatul lilhawaditsi, Dia
tidah serupa dengan apapun, Dia berlainan dengan makhluk sehingga tidak mampu
manusia menggambar, membuat bentukan bahkan berimajinasi wujud dzat Allah pun
tak mampu. Karena imajinasi kita adalah bagian dari alam ciptaanNya. Dia
terlalu sempurna untuk dibayangkan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
فَا
طِرُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ جَعَلَ لَـكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا
وَّ مِنَ الْاَ نْعَا مِ اَزْوَا جًا ۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِ ۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ
شَيْءٌ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
"(Allah) Pencipta langit dan
bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan
dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang
biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia
Yang Maha Mendengar, Maha Melihat."
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 11)
وَلَمْ
يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ
"Dan tidak ada sesuatu yang
setara dengan Dia."
(QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 4)
Jika ada yang serupa dengan Dia maka
Dia tertandingi oleh makhluk. Sedangkan Dialah yang Mahasempurna tanpa tanding
tiada banding.
Allah Qiyamuhu binnafsihi, berdiri
sendiri. Dia tidak butuh sandaran, tempat bergantung ataupun kawan dan partner.
Malaikat yang selalu setia patuh pada perintahNya pun Dia ciptakan sebagai
bagian bukti kebesaran kerajaaNya, bukan karena Dia membutuhkan bantuan.
اللّٰهُ
لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَـيُّ الْقَيُّوْمُ ۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا
نَوْمٌ ۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ
يَشْفَعُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا بِاِ ذْنِهٖ ۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا
خَلْفَهُمْ ۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ ۚ وَلَا يَــئُوْدُهٗ حِفْظُهُمَا ۚ
وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
"Allah, tidak ada tuhan selain
Dia. Yang Maha Hidup, yang berdiri sendiri (terus-menerus mengurus
makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit
dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya
tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di
belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya
melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia
tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 255)
Di antara sifat lemah itu membutuhkan
sandaran dan Allah yang memiliki wujud kekal, paling awal tanpa diawali, tanpa
akhir paling akhir tiada akhir, maka mustahil dia bergantung pada yang lain.
Dia sempurna lagi berdiri sendiri.
Allah wahdaniyah, hanya satu, Dialah
Dzat yang Mahaabesar, Mahatinggi. Selain Dia, tinggi karena ditinggikan
olehNya. Besar karena dibesarkan olehNya. Satu-satunya Tuhan dengan segala
kesempurnaan sifatNya wajib disembah oleh makhluk ciptaanNya.
(QS. Al Ikhlas ayat 1)
قُلْ
هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ
"Katakanlah (Muhammad), Dialah
Allah, Yang Maha Esa."
dan (QS Al Baqarah ayat 163)
Jika Allah lebih dari satu berarti memiliki
tandingan. Jika Allah lebih dari satu maka mereka berkolaborasi, berinteraksi,
berdiskusi. Akan ada peluang saling kontradiksi. Tentu alam ini tidak akan
harmoni seperti sekarang ini.
Allah Qudrat Iradat, Allah Maha
Berkuasa, Berkehendak tanpa ada yang memaksa dan memerintahNya. Allah juga
muridan keadaan Dzatnya senantiasa berkehendak. Segala sesuatu han ya akan
terjadi saat Allah SWT mengizinkannya maka bersabar ikhlas menerima kehendakNya
adalah bukti penghayatan dan penerimaan terhadap sifatNya Yang Maha
Berkehendak. Demikian juga saat harapan menjadi kenyataan, bersyukur atas
kasihNya Qudrat IradatNya teraih segala cita, tidak ada alasan untuk jumawa.
يَكَا
دُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ اَبْصَا رَهُمْ ۗ كُلَّمَاۤ اَضَآءَ لَهُمْ مَّشَوْا
فِيْهِ ۙ وَاِ ذَاۤ اَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَا مُوْا ۗ وَلَوْ شَآءَ اللّٰهُ
لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَاَ بْصَا رِهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيْرٌ
"Hampir saja kilat itu menyambar
penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah
(sinar) itu dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah
menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh,
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 20)
وَهُوَ
الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَا دِهٖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً ۗ حَتّٰۤى اِذَا
جَآءَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُـنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُوْنَ
"Dan Dialah penguasa mutlak atas
semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga
apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat
Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya."
(QS. Al-An'am 6: Ayat 61)
اِنَّمَاۤ
اَمْرُهٗۤ اِذَاۤ اَرَا دَ شَیْئًـا اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
"Sesungguhnya urusan-Nya apabila
Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka
jadilah sesuatu itu."
(QS. Ya-Sin 36: Ayat 82)
Dia yang Mahasempurna mustahil
terpaksa atau berbuat atas perintah selain Dia. Allah-lah yang Mahatinggi
mengatur dengan kuasaNya dengan kehendakNya.
Allah Ilmun Yang Maha Mengetahui dan
'Aliman yang keadaan DzatNya senantiasa mengetahui tanpa perantaraan untuk tahu
atau diberi tahu. Dia tahu yang telah, sedang dan akan terjadi. Dia tahu yang
lahir dan yang bathin. Dia tahu yang nyata dan yang tersembunyi
هُوَ
الَّذِيْ خَلَقَ لَـكُمْ مَّا فِى الْاَ رْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰۤى اِلَى
السَّمَآءِ فَسَوّٰٮهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
"Dialah (Allah) yang menciptakan
segala apa yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia
menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala
sesuatu."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 29)
Mustahil pencipta tidak tahu terhadap
ciptaannya. Sedangkan Allah khalik selain Allah makhluk. Maka Dialah yang palin
tahu atas segala sesuatu.
Allah Hayat yang Maha Hidup dan Dia
Hayyan, keadaan DzatNya senantiasa hidup tanpa dihidupkan. Dia Hidup yang
menghidupkan yang mati, Dia juga yang mematikan yang hidup.
(QS. Al Baqarah ayat 255)
Mustahil bagiNya mati karena mati
adalah sifat lemahnya makhluk hidup.
Allah Sama' yang maha mendengar dan
Dia sami'an, keadaan Dzatnya senantiasa mendengar tanpa alat bantu pendengaran.
Dia mendengar hingga bisikan hati manusia. Hingga kegelapan dalam samudra.
Gerak debu dan hembusan angin.
قُلْ
اَ تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَـكُمْ ضَرًّا وَّلَا
نَفْعًا ۗ وَا للّٰهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
"Katakanlah (Muhammad),
"Mengapa kamu menyembah yang selain Allah, sesuatu yang tidak dapat
menimbulkan bencana kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?" Dan Allah
Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 76)
Mustahil baginya tuli. Karena tuli
ada sifat lemah makhluk. Sedangkan Dia adalah pencipta yang mengadakan semua
yang mendengar.
Allah Bashar yang maha Melihat' dan
Dia Bashiran, keadaan DzatNya senantiasa melihat tanpa alat bantu melihat. Ia
melihat hingga dasar bumi yang paling dalam, hingga luasnya alam semesta dalam
taburan bintang. Hingga alam halus elektron, neutron dan proton. Dia melihat
dengan pengelihatan yang sempurna. Maka tidak perlu khawatir karena kita
sellalu dalam pantauan PengelihatanNya.
اَوَلَمْ
يَرَوْا اِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صٰٓـفّٰتٍ وَّيَقْبِضْنَ ۘ مَا يُمْسِكُهُنَّ
اِلَّا الرَّحْمٰنُ ۗ اِنَّهٗ بِكُلِّ شَيْءٍۢ بَصِيْرٌ
"Tidakkah mereka memperhatikan
burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak
ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia Maha
Melihat segala sesuatu."
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 19)
وَمَاۤ
اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّاۤ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ
الطَّعَا مَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَ سْوَا قِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ
فِتْنَةً ۗ اَتَصْبِرُوْنَ ۚ وَكَا نَ رَبُّكَ بَصِيْرًا
"Dan Kami tidak mengutus
rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan
berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi
sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat."
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 20)
Mustahil bagi pencipta kita bersifat
buta sementara Dia mengawasi, memelihara makhlukNya tanpa henti. Betapa
sibuknya Dia tapi teramat Mahabisa karena sempurnaNya.
Allak Kalam wa Mutakaliman. Dia Maha
berbicara dan keadaan Dzatnya senantiasa berbicara. Dia berbicara tanpa alat
ucap. Dia berbicara tanpa proses seperti makhluk.
وَرُسُلًا
قَدْ قَصَصْنٰهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۗ
وَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًا
"Dan ada beberapa rasul yang
telah Kami kisahkan mereka kepadamu sebelumnya dan ada beberapa rasul (lain)
yang tidak Kami kisahkan mereka kepadamu. Dan kepada Musa, Allah berfirman
langsung."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 164)
Mustahil Dia Yang serba hebat dan
sempurna memiliki sifat bisu. Oleh karena bisu hanyalah melekat pada makhluk
bukan pada Khaliq.
Allah bersifat Jaiz dalam
perbuatanNya. Dia Yang Berdiri Sendiri berhak menentukan satu perbuatan ataupun
tidak. Dia berkehendak mutlak terhadap apa yang akan diperbuatnya. Tidak ada
yang bisa mengintervensi sedikitpun. Tidak juga dengan doa seorang hamba. Dikabul
tidaknya adalah mutlak kehendakNya.
وَرَبُّكَ
يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخْتَا رُ ۗ مَا كَا نَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۗ سُبْحٰنَ
اللّٰهِ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
"Dan Tuhanmu menciptakan dan
memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Maha
Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan."
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 68)
Pemahaman sifat Allah dalam sifat 20
atau 10 dan ditambah satu sifat Jaiz tidak bermakna kita membatasi sifat Allah
yang Mahasempurna. Akan tetapi para ulama membantu ummat untuk munasabah,
mencukupkan diri dengan pegangan tauhid yang kuat agar tidak mudah berubah
keyakinan, menyembah tuhan yang palsu.
Tidak ada bedanya dengan sifat yang
ada dalam 99 nama Allah. Bukankah kita tidak sedang membatasi kemahahebatanNya?
Tidak demikian, tetapi kita sedang memahami Dia melalui Nash qat'i yang Allah
tunjukkan dan Dia mudahkan kita dalam mengenalnya.
Semua asma dan sifat itu juga melekat
secara sempurna pada Dzat Allah SWT. Tiap sifat yang melekat itu pun masing
massing penuh kesempurnaan sebagaimana kesempurnaan DzatNya. Dia wujud dengan
wujud yan sempurna, Dia melihat dengan pengelihatan yang sempurna, Dia melihat
dengan pengelihatan yang sempurna. Jadi jangan ragu untuk mengenalNya dengan
petunjuk para ulama. Para ulama dengan petunjuk Allah mengemukakan metode yang
mempermudah ummat berma'rifat padaNya. Semua didasarkan pada Al Qur'an dan
Hadits Rasulullah Saw.
Jadi jangan pernah ragu, ya, Reader
untuk menghayati sifat Allah dalam Aqidah Asy'ariyah maupun maturidiyah. Mereka
melakukan kajian usuludin ini dilatarbelakangi oleh kesesatan para mujasimah
yang menyerupakan Allah dengan makhluk. Tentu hal ini merisaukan ahli 'ilmu.
Nah, pengenalan nilai-nilai tauhid
juga bisa kita berikan melalui Asmaul Husna. Bahkan kita bisa mengajak
anak-anak memohon dengan AsmaNya sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surat
Al A'raf: 80
وَلِلّٰهِ
الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ
فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Artinya: Allah mempunyai asmaul
husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut)
nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah
mereka kerjakan".
Kita bisa mengajarkan pada anak-anak
untuk menguatkan tauhidnya dengan melafazkan doa dengan bertawasul pada
asmaulhusna berikut ini:
"Ya Allah dengan keagungan
Asmaul Husna yang Engkau miliki, berikanlah kami ........... Yaa..........(Pilih
asma yang bersesuaian dengan doa kita misalnya Yaa Razaq bila kita memohon
rezeki yang halal berkah manfaat).
Ar Rahman الرحمن
= Yang Maha Pengasih
Ar Rahiim الرحيم
= Yang Maha Penyayang
Al Malik الملك
= Yang Maha Merajai atau menguasai
Al Quddus القدوس
= Yang Maha Suci
As Salaam السلام
= Yang Maha Memberi Kesejahteraan
Al Mu`min المؤمن
= Yang Maha Memberi Keamanan
Al Muhaimin المهيمن
= Yang Maha Mengatur
Al Aziz العزيز
= Yang Maha Perkasa
Al Jabbar الجبار
= Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
Al Mutakabbir المتكبر = Yang Maha Megah
Al Khaliq الخالق
= Yang Maha Pencipta
Al Baari البارئ
= Yang Maha Pembuat atau Perancang
Al Mushawwir المصور = Yang Maha Membentuk Rupa
Al Ghaffaar الغفار
= Yang Maha Pengampun
Al Qahhaar القهار
= Yang Maha Memaksa
Al Wahhaab الوهاب
= Yang Maha Pemberi Karunia
Ar Razzaaq الرزاق
= Yang Maha Pemberi Rezeki
Al Fattaah الفتاح
= Yang Maha Pembuka Rahmat
Al `Aliim العليم
= Yang Maha Mengetahui
Al Qaabidh القابض
= Yang Maha Menyempitkan
Al Baasith الباسط
= Yang Maha Melapangkan
Al Khaafidh الخافض
= Yang Maha Merendahkan
Ar Raafi الرافع
= Yang Maha Meninggikan
Al Mu`izz المعز
= Yang Maha Memuliakan
Al Mudzil المذل
= Yang Maha Menghinakan
Al Samii السميع
= Yang Maha Mendengar
Al Bashiir البصير
= Yang Maha Melihat
Al Hakam الحكم
= Yang Maha Menetapkan
Al `Adl العدل
= Yang Maha Adil
Al Lathiif اللطيف
= Yang Maha Lembut atau Maha Teliti.
Al Khabiir الخبير
= Yang Maha Mengenal atau mengetahui.
Al Haliim الحليم
= Yang Maha Penyantun
Al `Azhiim العظيم
= Yang Maha Agung
Al Ghafuur الغفور
= Yang Maha Memberi Pengampunan
As Syakuur الشكور
= Yang Maha Pembalas Budi
Al `Aliy العلى
= Yang Maha Tinggi
Al Kabiir الكبير
= Yang Maha Besar
Al Hafizh الحفيظ
= Yang Maha Memelihara
Al Muqiit المقيت
= Yang Maha Pemberi Kecukupan
Al Hasiib الحسيب = Yang Maha Membuat Perhitungan
Al Jaliil الجليل
= Yang Maha Luhur
Al Kariim الكريم
= Yang Maha Pemurah
Ar Raqiib الرقيب
= Yang Maha Mengawasi
Al Mujiib المجيب
= Yang Maha Mengabulkan
Al Waasi الواسع
= Yang Maha Luas
Al Hakiim الحكيم
= Yang Maha Maka Bijaksana
Al Waduud الودود
= Yang Maha Mengasihi
Al Majiid المجيد
= Yang Maha Mulia
Al Baa`its الباعث
= Yang Maha Membangkitkan
As Syahiid الشهيد
= Yang Maha Menyaksikan
Al Haqq الحق
= Yang Maha Benar
Al Wakiil الوكيل
= Yang Maha Memelihara
Al Qawiyyu القوى
= Yang Maha Kuat
Al Matiin المتين
= Yang Maha Kokoh
Al Waliyy الولى
= Yang Maha Melindungi
Al Hamiid الحميد
= Yang Maha Terpuji
Al Muhshii المحصى
= Yang Maha Menghitung
Al Mubdi المبدئ
= Yang Maha Memulai
Al Mu`iid المعيد
= Yang Maha Mengembalikan Kehidupan
Al Muhyii المحيى
= Yang Maha Menghidupkan
Al Mumiitu المميت
= Yang Maha Mematikan
Al Hayyu الحي
= Yang Maha Hidup
Al Qayyuum القيوم
= Yang Maha Mandiri
Al Waajid الواجد
= Yang Maha Penemu
Al Maajid الماجد
= Yang Maha Mulia
Al Wahid الواحد
= Yang Maha Tunggal
Al Ahad الاحد
= Yang Maha Esa
As Shamad الصمد
= Yang Maha Dibutuhkan
Al Qaadir القادر
= Yang Maha Menentukan
Al Muqtadir المقتدر
= Yang Maha Berkuasa
Al Muqaddim المقدم
= Yang Maha Mendahulukan
Al Mu`akkhir المؤخر = Yang Maha Mengakhirkan
Al Awwal الأول
= Yang Maha Awal
Al Aakhir الأخر
= Yang Maha Akhir
Az Zhaahir الظاهر
= Yang Maha Nyata
Al Baathin الباطن
= Yang Maha Ghaib
Al Waali الوالي
= Yang Maha Memerintah
Al Muta`aalii المتعالي = Yang Maha Tinggi
Al Barru البر
= Yang Maha Penderma
At Tawwaab التواب
= Yang Maha Penerima Tobat
Al Muntaqim المنتقم
= Yang Maha Pemberi Balasan
Al Afuww العفو
= Yang Maha Pemaaf
Ar Ra`uuf الرؤوف
= Yang Maha Pengasuh
Malikul Mulk مالك الملك = Yang Maha Penguasa Kerajaan
Dzul Jalaali Wal Ikraam ذو الجلال و الإكرام = Yang Maha Pemilik
Kebesaran dan Kemuliaan
Al Muqsith المقسط
= Yang Maha Pemberi Keadilan
Al Jamii` الجامع
= Yang Maha Mengumpulkan
Al Ghaniyy الغنى
= Yang Maha Kaya
Al Mughnii المغنى
= Yang Maha Pemberi Kekayaan
Al Maani المانع
= Yang Maha Mencegah
Ad Dhaar الضار
= Yang Maha Penimpa Kemudharatan
An Nafii النافع
= Yang Maha Memberi Manfaat
An Nuur النور
= Yang Maha Bercahaya
Al Haadii الهادئ
= Yang Maha Pemberi Petunjuk
Al Badii’ البديع
= Yang Maha Pencipta
Al Baaqii الباقي
= Yang Maha Kekal
Al Waarits الوارث
= Yang Maha Pewaris
Ar Rasyiid الرشيد
= Yang Maha Pandai
As Shabuur الصبور
= Yang Maha Sabar
Menyeru asmanya bisa diulang sebanyak
mungkin.
3. Memerintah dengan anjuran bukan
arahan. Kita bisa menggunakan dalil Al-Qur'an dan Hadits untuk menunjukkan
bahwa Allah dan RasulNya yang memerintah bukan kita. Insya Allah dengan
mendudukkan kemuliaan dan keberkahan dari Allah dan RasulNya akan lebih
berenergi dan berdaya ubah.
4. Mengiringi tiap langkah mendidik
dengan do'a. Bila kita praktikan tawasul dengan Asmaulhusna maka doa mendidik
anak bisa kita rangkai sebagai berikut:
"Ya Allah, dengan keagungan
asmaulhusna yang Engkau miliki. Ya Hamiidu Ya Majiidu, karuniakan kemuliaan
akhlak dan terpujinya Budi pekertin anak-anak kami. Jadikan amanahMu ini bisa
kami didik dalam ketaatan padaMu. Ya Hamiidu Ya Majiid (sebanyak mungkin
bilangan)"
Saat kita menginginkan dikaruniai
kesabaran, ketelitian dan keuletan maka bisa kita memohon dengan asmaNya, Yaa
Shobur.
Reader, untuk golden age fase ke-2
kita cukupkan sampai di sini. Insya Allah kita jumpa di sarkat berikutnya.
Semoga tidak jemu dengan tema parenting kita kali ini, ya...
Hari ke-35
Kita telah membahas tentang tiga
sikap orang tua yang harus dilakukan orang tua dalam Islamic Hypnoparenting
yaitu:
1. Menghindari kata jangan dan
memperkatakan kejengkelan dengan ekspresi yang buruk. Memilih kata yang tepat
dengan kesabaran saat anak tidak memahami keinginan dan perintah orang tua
2. Mengajarkan tauhid sejak dini,
iman, Islam dan Ihsan
3. Mengganti perintah menjadi anjuran
dengan menyertakan perintah Allah dan RasulNya
4. Iringi tiap ikhtiar dengan doa
terbaik.
Membekali anak dengan nilai-nilai
naik meliputi 7 tahapan yang harus terus diamalkan oleh orang tua:
1. Memahami fase perkembangan anak
sesuai usia mereka. Pada usia 0-7 tahun adalah masa bermain. Sebaiknya tidak
dituntut untuk serius belajar keras tapi belajar sambil bermain
2. Memberikan anjuran dekan kata
sebaiknya, alangkah bahagianya, kata Rasulullah, seruan Allah.
Contoh kalimat anjuran:
"Akan lebih baik kalau kita
merapikan kamar ini bersama, yuk!"
"Rasulullah berpesan kalau di
tiap butir makanan ada berkahnya. Barangkali di suapan terakhir justru paling
berkah. Yuk kita habiskan makanannya."
Selain memberi anjuran, kita juga
harus melakukan pembiasaan yang baik. Misanya membiasakan untuk shalat mengaji,
hal-hal baik pekerjaan harian lainnya.
3. Memberi sugesti positif terhadap
perilaku diri tetapi juga mengenalkan nilai-nilai negatif dari peristiwa yang
ditemukan sehari-hari. Tujuannya agar anak memosisikan diri pada keadaan dan
hal positif tetapi tahu mana hal yang negatif di luar dirinya.
Misalnya anak jatuh karena batu yang
diletakkan seseorang di jalan respon positif kita:
Raih anak kita, beri empati, obati
bagian tubuh yang luka atau sakit sambil berucap, "Innalilahi, Akang
buru-buru ya, batunya sampai nggak kelihatan. Sabar, ya, Akang kuat dan bakal
lekas sembuh. Yuk, kita singkirkan batunya ke tempat yang nggak dipakai jalan
orang."
Banyak nilai yang bisa kita tanamkan
di sini, mulai dari empati, nilai tauhid, menunjukkan kesalahan anak tanpa
menyakitinya, memperbaiki penyebab jatuh anak tanpa menyalahkan orang lain.
Bandingkan dengan respon negatif ini:
"Akang gimana, sih? Makanya lain
kali hati-hati. Gara-gara batu, nih. Ihh, kita ganti pukul batunya biar kapok.
Lagian siapa, sih, ngeletakin batu sembarangan. Nyelakain orang lewat aja!
Sebuah pengajaran emosi negatif
dengan menyalahkan. Jika diiringi nada tinggi maka akan menyakiti hati anak
yang sedang merasa kesakitan. Menyalahkan batu yang jelas-jelas tidak bersalah.
4. Melatih imajinasi positif dengan
gambaran masa depan yang baik bila kita berbuat baik. Sebaliknya masa depan
suram adalah konsekwensi dari perbuatan buruk hari ini. Hal ini akan membatu
melatih anak tentang hubungan sebab akibat dan konsekwensi. Diharapkan anak
akan memahami dan memiliki rasa tanggung jawab.
5. Memberikan anchoring atau
jakarisasi untuk anak. Stimulus agar mau melakukan hal positif. Orang tua harus
memahami dengan cara apa anak lebih mudah melakukan arahan.
6. Memberikan coaching question,
yaitu pertanyaan dalam rangka membimbing untuk menambah atau mengetahui
kemampuan anak
Contoh:
a. Parent:Kemanakah kita harus
menyimpan bekas makan kita, Akang?
Child: Ke toilet
Parent: Bisa juga, tapi ke wastafel
dapur lebih baik, sayang.
b. Parent: sebelum shalat kita harus
ngapain dulu, ya?
Child: Berwudhu
Parent: Jempol buat Akang. Yuk, kita
wudhu dulu!
7. Repetition, pengulangan.
Pengulangan bermakna makin menguatkan anak dengan edukasi yang kita berikan
Dalam Islamic Hypnoparenting, tingkat pengulangannya sangat tinggi sehingga
buruk keterampilan komunikasi yang baik. Qualified Time dibutuhkan bila orang
tua sibuk.
Adapun waktu yang tepat untuk memberi
asupan edukatif pada anak adalah saat anak berada dalam frekuensi gelombang
theta dan alpha. Berikut ini kondisi anak pada posisi frekuensi gelombang yang
berbeda
1. Beta
Pada frekuensi gelombang Beta, otak
berada dalam keadaan sadar sepenuhnya. Kondisi ini kurang tepat untuk menerima
sugesti karena otak tidak sedang rileks. Dalam frekwensi gelombang Beta, anak
bisa berpikir 3-4 hal lain yang berbeda. Misalnya sedang belajar di kelas,
tetapi juga berpikir pulang sekolah ada jemputan atau tidak. Di rumah apa lauk
untuk makan siang atau memikirkan rencana jajan baso sebelum pulang. Pemberian
sugesti akan makin menambah sibuk otak sadarnya.
2. Alpha
Kondisi frekuensi gelombang alpha
terjadi saat anak lelah lepas bermain. Anak sedang menginginkan kondisi santai,
nyaman, damai dan tenang. Maka memberikan sugesti pada keadaan ini sangatlah
tepat. Anak akan lebih siap dan mudah menerima sugesti.
3. Theta
Kondisi frekuensi otak sangat rileks,
otak sadar tidak dominan dan otak bawah sadar lebih dominan. Sugesti positif
akan mudah masuk dan tersimpan. Hal ini terjadi saat anak menjelang tidur,
sangat mengantuk atau terlalu lelah. Kalimat positif yang diafirmasikan beragam
sesuai problem pada anak. Misalnya, untuk anak yang masih mengompol, katakan:
"Aku bisa bangun saat mau buang air kecil. Aku sudah bisa menahannya dan
tidak akan mengompol lagi." Jika anak hiperaktif, katakan: "Aku bisa
lebih tenang, bisa fokus dalam mengerjakan sesuatu."
4. Delta
Keadaan anak tertidur lelap. Otak
sedang tidak aktif baik otak sadar maupun bawah sadar. Tidak ada sugesti yang
bisa diterima dalam kondisi ini.
Penting juga buat kita untuk
mengetahui capaian normal anak usia 4-7 tahun. Berikut ini kemampuan fisik
sosial emosional dan kognitif anak pada masing-masing usia.
Tahun ke-4
Kemampuan fisik
Anak telah mampu untuk melompat satu
kaki, menggunting, membasuh dan mengeringkan wajah, menggambar orang sederhana,
memakai pakaian sendiri kecuali mengikat tali sepatu, melempar bola dan
memiliki keinginan bergerak tinggi
Kemampuan sosial
Anak senang bermain dalam kerjasama
(kooperatif), senang ditemani anak lain, senang berperilaku sosial, aktif
bicara, terampil bercerita
Perkembangan emosional
Mulai tumbuh perasaan yakin dan
percaya pada diri sendiri,
bertingkah laku berbeda dari
kebiasaan, seringkali berpikir negatif, suka menguji diri sendiri, ingin diberi
kebebasan
Kemampuan kognitif
Bisa membuat kalimat lengkap terdiri
dari subjek, predikat, obyek, mampu mengingat kosakata hingga 1540 kata, terus
menerus bertanya sesuatu yang ingin diketahuinya, mulai belajar menjeneralisasi,
mampu berimajinasi, mencoba bermain peran
Tahun ke-5
Kemampuan dan keterampilan fisik
Anak mampu menggambar obyek yang
dikenal, melompat dan meloncat, berpakaian sendiri, memiliki keseimbangan yang
bagus, gerakan otot lebih lancar, mengendarai mobil-mobilan listrik sendiri,
menggunakan tangan yang dominan lebih terlatih, bisa menalikan sepatu sendiri.
Pada anak perempuan setahun lebih cepat berkembang motorik halusnya
Perkembangan sosial
Anak senang bermain kooperatif
tingkat tinggi, sudah memiliki teman akrab, senang dengan kegiatan
terorganisir, menikmati permainan meja yang menggunakan aturan, senang masuk
sekolah
Perkembangan emosional
Merasa bangga pada apa yang dimiliki,
bersemangat mengambil tanggung jawab, percaya diri, stabil, bisa menyesuaikan
diri dengan lingkungan, senang mengasosiasikan dengan kapabilitas, punya kritik
sendiri terhadap satu keadaan, menikmati tanggung jawab, suka dan bisa
mengikuti aturan
Kemampuan kognitif
Anak mengenal dan memiliki kosa kata
sebanyak 2,072 kata, bisa bercerita dengan dongeng yang panjang, dapat
menjalankan arahan dengan benar, dapat membaca nama sendiri, mampu menghitung
hingga dua puluh, dapat menanyakan arti kata, mengenal warna, memahami fakta
dan kebohongan, tertarik dengan kondisi sekitar
Usia ke-6 dan ke-7
Kemampuan dan keterampilan fisik
Anak dapat berjalan mundur,
berjinjit, lompat hingga 3-10 kali berturut-turut, berlari ke depan dengan
menendang bola yang menggelinding, berjalan di atas Titian dengan jinjit atau
tidak, melempar bola dengan sikap yang benar, melipat kertas diagonal ,
merapihkan baju, menggambar orang dengan lengkap, menirukan bentuk persegi
panjang, segitiga, belah ketupat, menyusun menara 12 balok, menggunting bentuk
Perkembangan sosial:
Anak menyukai permainan bersama dengan
1 atau 2 orang selama 20 menit, bermain dua atau tiga permainan meja (halma,
ular tangga, remi kuartet), bermain permainan yang menggunakan aturan yang
sederhana, bekerja dalam kelompok kecil sedikitnya selama 20 menit, senang
membual cerita, hiperbolik, dapat membedakan antara sekolah dan rumah (sering
muncul kalimat: Kata pak atau Bu guru....), dapat meniru karakter tokoh atau
orang dewasa, berteman dekat dengan 1 atau 2 teman sejenis
Perkembangan emosional:
Anak merasa putus asa saat merasa
gagal dan tidak mau minta bantuan orang lain, ingin mengerjakan segala sesuatu
sendiri, mulai membandingkan capaian diri dengan orang, sangat menginginkan apa
yang dimiliki orang lain
menanggapi dengan senang hati apa
yang terjadi di sekitarnya, memperhatikan detail kecil, makhluk hidup, benda
sekitar
Kognitif
Anak emiliki lebih dari 3000 kosa
kata, menikmati tugas, belajar banyak mengenai sebab akibat, mulai menggambar
dengan detail, menikmati pekerjaan dengan warna, menjawab pertanyaan dengan
jawaban lengkap, bercerita dengan alur dari awal hingga akhir, mengeja satu
kata, menulis huruf dan angka secara mandiri
Dari capaian dan perkembangan di,
orang tua dapat mengantisipasi perbaikan bila ada perkembangan anak yang dirasa
lambat. Kita juga bisa mencegah berkembangnya emosi negatifnya.
Masya Allah, Wallahu a'lamu 'alakulli
syaiin. Semoga ttulisan ini menjadi wasilah perbaikan kita dalam mendidik anak,
ya, Reader. Sambil tetap berikhtiar tapi juga tidak memaksakan capaian pada
anak. Tidak perlu juga terlalu cemas jika capaian anak tidak sesuai dengan apa
yang tertera di atas. Paling tidak kita tidak memaksa anak untuk melampaui
target-target di atas kemampuan mereka.
Hari ke-36
Kali ini pembahasan akan Writer
fokuskan pada pendidikan di usia tujuh tahun. Sekian lama interaksi kita
menggunakan sapaan Writer, Reader, semoga tidak keberatan adanya. Bukankah
Writer-Reader kalau di singkat menjadi WR, kita adalah We are, meskipun saat
spelling nya jadi 'double yu ar'. We are menjadi simbiosis yang mutualistis,
bukan? Semoga ikatan ini Allah kekalkan sebagai tanda bukti keimanan kita.
Yuk, kita lanjut! (Jadi ingat kata Si
Unyil di tahun 80-an. 'Yuk kita kemon')
Tahun ketujuh adalah fase golden age
terakhir. Ada tuntunan Rasulullah Saw pada usia ini sebagaimana sabdanya. Diusia
ini Rasulullah Saw mengingatkan kita untuk mulai mengajarkan shalat, tatacara
dan adab-adabnya.
عن
عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جده -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه
وسلم-: مُرُوا أولادَكم بالصلاةِ وهم أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، واضْرِبُوهُمْ
عليها، وهم أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المَضَاجِعِ
Artinya: Dari Amr Bin Syu’aib dari
ayahnya dari kakeknya berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Perintahkan
anak-anakmu melaksanakan sholat sedang mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka
karena tinggal sholat sedang mereka berusia 10 tahun dan pisahkan antara mereka
di tempat tidurnya.” (H.R Abu Daud)
Pada bagian adab berwudhu hal ini
sudah di bahas tapi untuk bacaan shalat belum ya Reader. Insya Allah akan kita
sertakan di sini sebagai bekal mendidik anak yang teramat penting.
Adab shalat:
A. Menunggu waktu shalat dengan
kerinduan. Mengajak si kecil ke masjid, duduk sejenak bersama kita sambil
membaca shalawat Nuril Anwar atau shalawat yang lain tentu akan memberi kesan
buat si kecil. Pembiasaan yang akan mencahayai hari-harinya kini dan kelak.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلٰى نُوْرِ اْلأَنْوَارِ وَسِرِّ الأَسْرَارِ وَتِرْيَاقِ اْلاَغْيَارِ
وَمِفتَاحِ بَابِ الْيَسَارِ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ نِالْمُخْتَارِ
وَآلِهِ اْلأَطْهَارِ وَاَصْحَابِهِ اْلاَخْيَارِ عَدَدَ نِعَمِ اللهِ
وَاِفضَالِهِ
"Ya Allah, limpahkanlah rahmat
kepada cahaya dari segala cahaya, belakang layar dari segenap rahasia, penawar
sedih dan kebingungan, pembuka pintu kemudahan, yakni junjungan kami, Nabi
Muhammad shalallalu alaihi wasallam yang terpilih, keluarganya yang suci, dan
para sahabatnya yang mulia sebanyak hitungan nikmat Yang Mahakuasa dan
karunia-Nya."
B. Menyempurnakan wudhu atau
membiasakan menjaga wudhu. Berikan keteladanan untuk selalu berwudhu sehabis
batal wudhu. Sambil dikisahkan keutamaan menjaga wudhu. Misalnya, kisah Sahabat
Bilal bin Rabah yang suara terompahnya sudah terdengar oleh Rasulullah ada di
syurga.
Sempurna wudhu di sini berarti:
-Cukup terpenuhi wajib wudhu
-Memenuhi Sunnah wudhu
-Penghayatan dengan disertai doa
wudhu tiap membasuh anggota wudhu
- Memahami syarat dan rukun wudhu,
Sunnah dan makruh wudhu
C.Berwudhu dari Rumah Sebelum ke
Masjid
Rasulullah Saw bersabda
مَنْ
تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ
فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ
خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
“Barangsiapa yang bersuci dari
rumahnya kemudian berjalan ke salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid)
untuk menunaikan salah satu dari kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan, maka
kedua langkahnya salah satunya akan menghapus dosa dan langkah yang lainnya
akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim 1553)
Lebih dalam tentang wudhu, rasanya
penting buat bekal mendidik anak untuk mengungkap pengetahuan tentang wudhu
yang dinukilkan dari kitap fiqih Saffinatnnaja karya Syeikh Salim bin Semir
Alhadromi, ulama dari mahzab Syafi'i yang wafat di Jakarta.
Syarat Sah Wudhu
1. Menggunakan air mutlak, yaitu air
suci lagi mensucikan.
إِنَّ
الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ
“Sesungguhnya air itu suci, tidak ada
yang dapat menajiskannya.”(HR. Tirmidzi)
2. Menggunakan air yang halal secara
zat dan secara hukum
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil…”(QS. An
Nisa : 29)
3. Tidak ada benda yang menghalangi
air untuk membasahi anggota wudhu
أَنَّ
رَجُلًا تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : ارْجِعْ فَأَحْسِنْ
وُضُوءَكَ ، فَرَجَعَ ثُم
"Kemudian beliau membasuh
tangannya yang kanan sampai siku sebanyak tiga kali, kemudian membasuh
tangannya yang kiri sampai siku sebanyak tiga kali…”(HR. Muttafaqun Alaihi).
4. Mengusap kepala (tersambung
mengusap kedua telinga)
« ثُمَّ
مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ
رَأْسِهِ ، حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى الْمَكَانِ
الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ »
“Kemudian beliau membasuh mengusap
kepala dengan tangannya,(dengan cara) menyapunya ke depan dan ke belakang.
Beliau memulainya dari bagian depan kepalanya ditarik ke belakang sampai ke
tengkuk kemudian mengembalikannya lagi ke bagian depan kepalanya.”(HR.
Bukhari-Muslim)
5. Membasuh kedua kaki hingga mata
kaki.
« ثُمَّ
غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ »
“…Kemudian beliau membasuh kedua
kakinya hingga dua mata kaki…”(HR. Bukhari-Muslim).
6. Tertib (berurutan, mendahulukan
yang harusnya lebih dulu, mengakhirkan yang harusnya akhir)
فَاغْسِلُوا
وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ
وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
“…maka basuhlah mukamu dan tanganmu
sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua
mata kaki,”(QS. Al-Maidah : 6)
Jarak antara dua anggota wudhu tidak
boleh terlalu lama sehingga basuhan mengering.
أَنَّ
رَجُلاً تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِىُّ
-صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ ». فَرَجَعَ ثُمَّ
صَلَّى
“ada seseorang yang berwudhu lantas
bagian kuku kakinya tidak terbasuh, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
melihatnya dan bersabda, “Ulangilah, perbaguslah wudhumu.” Lantas ia pun
mengulangi dan kembali shalat.”(HR. Muslim no. 243)
Sunnah Wudhu
1. Bersiwak
2. Membaca bismillah sambil mencuci
kedua telapak tangan hingga pergelangan tangan
3. Madhmadhah (berkumur-kumur)
4. Istinsyaq (menghirup air ke
hidung)
5. Menggabungkan antara madhmadhah
dan istinsyaq
6. Berwudhu dengan pengulangan tiga
kali anggota wudhu
7. Mengusap seluruh kepala
8. Mengusap kedua telinga, bersama
lubang telinga
9. Menyela-nyela jari tangan dan kaki
10. Muwalah, tidak sampai ketika
mengusap yang kedua anggota yang sebelumnya kering
11. Tayamun, mendahulukan yang kanan
12. Ithalah al-ghurrah wa at-tahjiil,
melebarkan membasuh wajah, kedua lengan, dan kedua kaki
13. Tidak meminta tolong dalam
berwudhu
Makruh wudhu
1. Meninggalkan madhmadhah (memasukkan
air ke mulut) dan istinsyaq (menghirup air ke hidung)
2. Tidak mendahulukan anggota yang
kanan
3. Bersuci dari bekas wudhu wanita
4. Menambah lebih dari tiga, dalam
keadaan yakin telah melakukan tiga kali ulangan (israf dengan sengaja bukan
karena lupa)
5. Kurang dari tiga basuhan
6. Meminta tolong membasuh anggota
wudhunya tanpa ada uzur
7. Berwudhu dengan air yang tergenang
8. Israf (boros) dalam menyiram
dengan jumlah air yang banyak atau berlebihan
9. Haram menggunakan air yang
disediakan untuk diminum dan masih menjadi milik orang lain padahal belum
diketahui ridanya
D. Mengutamakan Shalat Berjamaah
Anak diperkenalkan untuk shalat
berjamaah lima waktu. Dimanapun dan kapanpun, bisa di rumah bersama anggota
keluarga, di masjid ataupun di perjalanan.
Kepahaman anak tentang keutamaan
shalat berjamaah harus dipupuk. Berikut ini keutamaan atau Fadhillah shalat
berjamaah
1. Terdapat pahala yang lebih besar
Yakinkan anak dengan keutamaan shalat
berjamaah. Gunakan logika keuntungan duniawi yang sering disukai anak-anak.
Misalnya anak suka buku, kita bisa katakan: "Akang milih bunda beri satu
buku atau dua puluh tujuh?" Rangsang kegemaran shalat jamaahnya dengan
kesukaannya. Kalau shalat sendiri kita tambahkan 1000 di kotak tabungannya,
saat berjamaah kita beri 27000.
Menyertakan sabda Rasulullah juga
sangat baik agar anak familiar danmencintai Rasulullah Saw. Diriwayatkan oleh
‘Abdullah bin ‘Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah
bersabda,
صَلاَةُ
الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
Shalat jamaah lebih utama daripada
shalat sendirian sebanyak 27 derajat. (HR. Bukhari)
2.Nilai Shalat Berjamaah
Diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al
Khudri, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
الصَّلاَةُ
فِى جَمَاعَةٍ تَعْدِلُ خَمْسًا وَعِشْرِينَ صَلاَةً فَإِذَا صَلاَّهَا فِى
فَلاَةٍ فَأَتَمَّ رُكُوعَهَا وَسُجُودَهَا بَلَغَتْ خَمْسِينَ صَلاَةً
Shalat jamaah itu senilai dengan 25
shalat. Jika seseorang mengerjakan shalat ketika dia bersafar, lalu dia
menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, maka shalatnya tersebut bisa mencapai pahala
50 shalat. (HR. Abu Daud)
3. Jumlah jamaah menggandakan pahala.
Alangkah bangganya kita saat ummat
Rasulullah Saw taat pada Allah dan Rasulnya, hingga kita dibanggakan di hadapan
para malaikat.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda,
وَإِنَّ
صَلَاةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ، وَصَلَاتُهُ
مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ، وَمَا كَثُرَ فَهُوَ
أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
"Sesungguhnya shalat seorang
lelaki bersama satu orang lelaki lebih baik daripada shalat sendirian.
Shalatnya bersama dua orang lelaki lebih baik daripada shalat bersama seorang
lelaki. Makin banyak itu makin dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla." (HR.
An-Nasa’i)
4. Terbebas dari api neraka
Sabda Rasulullah Saw dalam Hadits
Riwayat Tirmidzi
مَنْ
صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ
الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ
النِّفَاقِ
Barangsiapa yang shalat berjamaah
selama 40 hari dan selalu mendapati takbir pertama, maka dia akan terbebas dari
dua perkara, (yaitu) terbebas dari neraka dan terbebas dari nifak
(kemunafikan).
5. Keutamaan Shalat Isya dan Subuh
Berjamaah
مَنْ
صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ، وَمَنْ صَلَّى
الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ
Barangsiapa yang melaksanakan shalat
isya berjamaah, maka seperti shalat setengah malam. Barangsiapa yang shalat
isya dan subuh berjamaah, maka seperti shalat sepanjang malam. (HR. Abu Dawud)
6. Keutamaan shalat berjamaah di
masjid
a. Diterangi Cahaya di hari Kiamat
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam bersabda,
بَشِّرِ
الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
Berikanlah kabar gembira bagi
orang-orang yang berjalan ke masjid dalam kegelapan dengan cahaya yang sangat
terang pada hari kiamat. (HR. Abu Dawud)
b. Pahala di Setiap Langkahnya
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam pernah bersabda,
مَنْ
رَاحَ إِلَى مَسْجِدِ الْجَمَاعَةِ فَخَطْوَةٌ تَمْحُو سَيِّئَةً، وَخَطْوَةٌ
تُكْتَبُ لَهُ حَسَنَةٌ، ذَاهِبًا وَرَاجِعًا
Barangsiapa yang berangkat menuju
masjid untuk shalat berjamaah, maka satu langkah akan menghapus dosa dan
langkah berikutnya dicatat sebagai kebaikan, baik pada saat berangkat maupun
kembali. (HR. Ahmad)
c. Makin awal pahala makin besar
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wwa
Sallam berikut ini,
إِذَا
تَطَهَّرَ الرَّجُلُ، ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ يَرْعَى الصَّلَاةَ، كَتَبَ لَهُ
كَاتِبَاهُ أَوْ كَاتِبُهُ، بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الْمَسْجِدِ عَشْرَ
حَسَنَاتٍ، وَالْقَاعِدُ يَرْعَى الصَّلَاةَ كَالْقَانِتِ، وَيُكْتَبُ مِنَ
الْمُصَلِّينَ مِنْ حِينِ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْهِ
Jika seseorang Jika seseorang bersuci
kemudian pergi ke masjid untuk memelihara shalatnya, maka dicatat baginya
sebanyak sepuluh kebaikan untuk setiap langkahnya ke masjid. Dan orang yang
duduk (menunggu shalat) untuk memelihara shalatnya, dia seperti orang yang
melaksanakan ketaatan dan dicatat sebagai orang yang mengerjakan shalat ketika
keluar dari rumahnya sampai kembali lagi. (HR. Ibnu Hibban)
d. Pahala Besar Seumpama Haji dan
Umroh
Rasulullah Saw bersabda,
مَنْ
صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ
الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ
تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
Barangsiapa yang melaksanakan shalat
subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit,
kemudian melaksanakan shalat dua rakaat, maka baginya pahala sebagaimana pahala
haji dan umrah yang sempurna, sempurna, dan sempurna. (HR. Tirmizi)
E. Berpakaian Bagus
Allah Ta’ala berfirman
يَا
بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ
“Hai anak adam, pakailah pakaianmu
yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al A’raf: 31).
Diantara Sunnah berhias bagi
laki-laki adalah memakai wangi-wangian yang bersahaja.
F. Membaca Doa Menuju Masjid
Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah
Saw bersabda:
إِذَا
خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ يُقَالُ حِينَئِذٍ هُدِيتَ
وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ
آخَرُ كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ
“Jika seorang laki-laki keluar dari
rumahnya lalu mengucapkan: “Bismillahi tawakkaltu ‘alallaahi, laa haula wa laa
quuwata illa billah” (Dengan nama Allah aku bertawakal kepada Allah, tidak ada
daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah). ‘ Beliau bersabda, “Maka pada
saat itu akan dikatakan kepadanya, ‘Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi
kecukupan, dan mendapat penjagaan’, hingga setan-setan menjauh darinya. Lalu
setan yang lainnya berkata kepadanya (setan yang akan menggodanya, pent.),
“Bagaimana (engkau akan mengoda) seorang laki-laki yang telah mendapat
petunjuk, kecukupan, dan penjagaan.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi)
Ketika hendak menuju masjid,
dianjurkan membaca :
اللَّهُمَّ
اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَعَنْ
يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا وَفَوْقِي نُورًا وَتَحْتِي نُورًا
وَأَمَامِي نُورًا وَخَلْفِي نُورًا وَاجْعَلْ لِي نُورًا
“ Ya Allah jadikanlah cahaya dalam
hatiku, cahaya dalam penglihatanku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dari
kananku, cahaya dari kiriku, cahaya dari belakangku, dan jadikanlah untukku
cahaya” (H.R Muslim)
G. Berdoa Ketika Masuk Masjid
Abu Sa’id Ra berkata bahwa Rasulullah
Saw bersabda:
إِذَا
دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ
رَحْمَتِكَ. وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ
فَضْلِكَ
“Jika salah seorang di antara kalian
memasuki masjid, maka ucapkanlah, ‘Allahummaftahlii abwaaba rahmatik’ (Ya
Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu). Jika keluar dari masjid, ucapkanlah:
‘Allahumma inni as-aluka min fadhlik’ (Ya Allah, aku memohon pada-Mu di antara
karunia-Mu).” (HR. Muslim)
H. Tidak melewati orang yang sedang
shalat
Rasulullah Saw bersabda:
لَوْ
يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَي الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ، لَكَانَ أَنْ
يَقِفَ أَرْبَعِيْنَ، خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ
“Seandainya orang yang lewat di depan
orang yang shalat mengetahui (dosa) yang ditanggungnya, niscaya ia memilih
untuk berhenti selama 40 ( tahun), itu lebih baik baginya daripada lewat di
depan orang yang sedang shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
I. Menunaikan shalat
Tahiyatulmasjidkecualienjelang khutbah Jum'at
Rasulullah Saw bersabda :
إِذَا
دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِ
“Jika salah seorang dari kalian masuk
masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.” (H.R. Bukhari
dan Muslim)
J. Menghadap pembatas atau sutrah
saat shalat
Sutrah adalah pembatas agar orang lain
tidak melewati batas tersebut. Bisa berupa tongkat, tas, kain, disyariatkan
bagi imam atau orang yang shalat sendiri. Rasulullah Saw bersabda
إِذَا
صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا
“Apabila salah seorang di antara
kalian shalat, hendaknya ia shalat dengan menghadap sutrah dan mendekatlah
padanya” (HR. Abu Daud)
K. Menjawab azan
Rasulullah Saw bersabda:
إِذَا
سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ
“Apabila kalian mendengar adzan maka
ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Cara menjawab azan diajarkan
Rasulullah Saw sebagai berikut:
إِذَا
قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمُ: اللهُ
أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ،
فَقاَلَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ؛
ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا
بِاللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ
إِلاَّ بِاللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ
أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ ثُمَّ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، قَالَ: لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Apabila muadzin mengatakan, “Allahu
Akbar Allahu Akbar”, maka hendaklah kalian yang mendengar menjawab, “Allahu
Akbar Allahu Akbar.” Kemudian muadzin mengatakan, “Asyhadu An Laa Ilaaha
Illallah”, maka dijawab, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah.” Muadzin mengatakan
setelah itu, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, maka maka dijawabSaat
muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alash Shalah”, maka maka dijawab “Laa Haula wala
Quwwata illa billah.” Saat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alal Falah”, maka maka
dijawab “Laa Haula wala Quwwata illa billah.” Kemudian muadzin berkata, “Allahu
Akbar Allahu Akbar”, maka dijawab, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Dan muadzin
berkata, “Laa Ilaaha illallah”, maka dijawab, “La Ilaaha illallah” Bila yang
menjawab adzan ini mengatakannya dengan keyakinan hatinya niscaya ia pasti
masuk surga.” (HR. Muslim)
L. Membaca doa selepas azan
مَنْ
قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ
وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ
وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي
يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang setelah mendengar
adzan membaca doa : Allahumma Robba hadzihid da’wattit taammah was shalatil
qaaimah, aati muhammadanil wasiilata wal fadhiilah wab’atshu maqaamam
mahmuudanil ladzi wa ‘adtahu “(Ya Allah pemilik panggilan yang sempurna ini dan
shalat yang didirikan berilah Muhammad wasilah dan keutamaan dan bangkitkanlah
dia pada tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan padanya) melainkan dia
akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)
M. Berdiam di masjid hingga selesai
shalat berjamaah kecuali uzur dan keperluan mendesak lainnya
Dari Abu as Sya’tsaa ra. berkata:
كُنَّا
قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَأَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ
رَجُلٌ مِنْ الْمَسْجِدِ يَمْشِي فَأَتْبَعَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ بَصَرَهُ حَتَّى
خَرَجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ عَصَى
أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Kami pernah duduk bersama Abu
Hurairah dalam sebuah masjid. Kamudian muadzin mengumandangkan adzan. Lalu ada
seorang laki-laki yang berdiri kemudian keluar masjid. Abu Hurairah melihat hal
tersebut kemudian beliau berkata : “ Perbuatan orang tersebut termasuk bermaksiat
terhadap Abul Qasim (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam” (H.R Muslim)
N. Memanfaatkan Waktu Antara Adzan
dan Iqomah
Rasulullah Saw bersabda:
الدعاء
لا يرد بين الأذان والإقامة
“Doa di antara adzan dan iqamah tidak
tertolak” (HR. Tirmidzi)
Rasulullah shallallahu’alaihi wa
sallam bersabda:
لا إن
كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة أو قال في
الصلاة
“Ketahuilah, kalian semua sedang
bermunajat kepada Allah, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain.
Janganlah kalian mengeraskan suara dalam membaca Al Qur’an,’ atau beliau
berkata, ‘Dalam shalat’,” (HR. Abu Daud,
Ahmad)
O. Meninggalkan amalan lain saat
Iqamah dikumandangkan
termasuk shalat sunnah
وَسَلَّمَ
أَنَّهُ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ
Dari Abu Hurairah dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Jika shalat wajib telah
dilaksanakan, maka tidak beleh ada shalat lain selain shalat wajib” (H.R
Muslim)
P. Berlomba di shaf terdepan
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu
Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda,
خَيْرُ
صُفُوفِ الِرجَالِ أَوِّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِسَاءِ
آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
“Sebaik-baik shaf laki-laki adalah
yang pertama dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir. Sebaik-baik shaf wanita
adalah yang terakhir dan seburuk-buruknya adalah yang pertama.” (H.R.Muslim
440)
Rasulullah Saw pernah bersabda:
لَوْ
يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ لاَسْتَهَمُوْا
“Seandainya mereka mengetahui
keutamaan (pahala) yang diperoleh dalam shaf yang pertama, niscaya mereka akan
mengundi untuk mendapatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Q. Meluruskan shaf
Perkara yang harus diperhatikan
dengan serius dan tidak boleh diremehkan adalah permasalahan lurus dan rapatnya
shaf (barisan dalam shalat). Masih banyak kita dapati di sebagian masjid,
barisan shaf yang tidak rapat dan lurus
Rasulullah Saw bersabda :
لَتُسَوُّنَّ
سُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ
“Hendaknya kalian bersungguh- sungguh
meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah sungguh-sungguh akan memperselisihkan di
antara wajah-wajah kalian” (HR. Bukhari dan Muslim)
R. Tidak mendahuli imam. Bergerak
saat imam selesai membaca takbir tanda perubahan gerakan. Dari Abu Hurairah Ra
Rasulullah Saw bersabda :
إِنَّمَا
جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ فَإِذَا رَكَعَ
فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا
لَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا
جُلُوسًا أَجْمَعُونَ
“Sesungguhnya imam hanya untuk
diikuti, maka janganlah menyelisihnya. Apabila ia ruku’, maka ruku’lah. Dan
bila ia mengatakan ‘sami’allahu liman hamidah’, maka katakanlah,’Rabbana
walakal hamdu’. Apabila ia sujud, maka sujudlah. Dan bila ia shalat dengan
duduk, maka shalatlah kalian dengan duduk semuanya“. (H.R. Bukhari)
Rasulullah memberikan ancaman keras
bagi seseorang yang mendahului imam, seperti disebutkan dalam hadits berikut:
َ
أَمَا يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ
اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَار
“Tidakkah orang yang mengangkat
kepalanya sebelum imam takut jika Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala
keledai? “(H.R Bukhari)
S. Keluar masjid dengan kaki kiri
dahulu sambil membaca doa keluar masjid
Dari Abu Humaid atau dari Abu Usaid
dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا
دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ
رَحْمَتِكَ وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ
“Jika salah seorang di antara kalian
masuk masjid, maka hendaknya dia membaca, “Allahummaftahli abwaaba rahmatika”
(Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu). Dan apabila keluar, hendaknya dia
mengucapkan, “Allahumma inni as-aluka min fadhlika (Ya Allah, aku meminta
kurnia-Mu).” (HR. Muslim)
Tarik nafas dulu, ya Reader. Cukup
panjang bahasan kita tentang shalat karena memang shalat adalah ibadah paling
utama bagi muslim. Dia adalah tiang agama. Shalat juga amalan pertama yang
dihisap allah. Shalat juga wasiat Rasulullah Saw sebagai pendidikan awal anak.
Hari
ke-37
Bahasan kita masih mengenai shalat
saking pentingnya ibadah ini. Sebagai mahzab dari mayoritas muslim di Asia
Tenggara, Writer memilih kitab Saffinatnnaja karya Syeikh Salim bin Semir
Alhadromi dalam mendalami shalat dan segala yang terkait dengan hukum di
dalamnya. Syarat sah, hal yang diperbolehkan, hal yang makruh, hingga yang
membatalkan.
Siap, ya Reader, GPL kita langsung ke
syarat sahnya shalat!
Syarat sahnya shalat antara lain:
1. Beragama Islam
2. Mumayyiz (bisa membedakan baik
buruk)
3. Sudah masuk waktu shalat
Shubuh: semenjak fajar sidik hingga
sebelum terbit matahari
Dzuhur: setelah matahari tergelincir
dari tepat di atas kepala, condong ke barat, sampai bayang-bayang sepanjang
badan, serta belum masuk waktu Ashar
Ashar: setelah matahari membentuk
bayang-bayang lebih panjang dari benda sampai menjelang matahari terbenam,
matahari belum menjingga.
Maghrib: setelah matahari tenggelam
sampai hilang warna merah lembayung
Isya: setelah hilang lembayung atau
semburat merah sampai sebelum fajar sidik.
4. Mengetahui fardhu-fardhu dan
sunah-sunnah dalam shalat dan tidak menukar hukum antara keduanya
5. Suci dari hadats kecil dan besar
6. Suci dari najis, baik pakaian,
badan, maupun tempat shalat
7. Menutup aurat bagi perempuan
seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, laki-laki antara lutut dan
pusarnya
8. Menghadap kiblat (kecuali bagi
musafir yang melaksanakan shalat sunah, orang yang dalam kecamuk perang, dan
orang yang buta arah ‘isytibahul qiblah’).
9. Hanya mengucap bacaan shalat
10. Tidak banyak bergerak selain
gerakan shalat (Imam Syafi’i tidak melebihi tiga gerakan berturut-turut dalam
satu rukun)
11. Tidak makan dan minum
12. Tidak dalam keraguan apakah sudah
bertakbiratulihram atau belum
13. Tidak berniat merubah niat shalat
baik untuk shalat yang lain atau untuk memutuskan shalat
14. Tidak menggantungkan kebatalan
shalatnya dengan sesuatu apa pun, misalnya aku akan berhenti shalat jika
terjadi sesuatu.
Rukun Shalat yaitu apa-apa yang
fardhu, harus dilakukan selama shalat.
1. Niat
2. Berdiri bagi yang mampu
صَلِّ
قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
“Lakukanlah shalat dengan berdiri.
Bila kau tak mampu, maka dengan duduk. Bila kau tak mampu juga, maka dengan
tidur miring,” (HR Imam Bukhari).
مَنْ
صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ، وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ
القَائِمِ، وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَاعِدِ
"Barangsiapa yang shalat dengan
berdiri, maka itu lebih utama. Barangsiapa yang shalat dengan duduk, maka
baginya separuh pahala orang yang shalat dengan berdiri. Barangsiapa yang
shalat dengan tidur (miring), maka baginya separo pahala orang yang shalat
dengan duduk
3. Takbiratulihram disertai niat
dalam hati
4. Membaca surah al-Fatihah
لَا
صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak sah shalat seseorang yang
tidak membaca Surat al-Fatihah.”(HR. Bukhari).
Dan hadits riwayat Abu Hurairah bahwa
Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ
صَلَّى صَلَاةً، لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ، فَهِيَ خِدَاجٌ–
ثَلاَثًا – غَيْرُ تَمَامٍ.
Barangsiapa yang shalat lalu tidak
membaca Ummul Qur’an, maka shalatnya kurang—beliau mengulanginya tiga
kali—tidak sempurna.” (HR. Muslim)
5. Rukuk
6. Tumakninah sekira satu bacaan subhanallah
setelah selesai membaca doa rukuk
7. I’tidal
8. Tumakninah selesai bacaan i'tidal
9. Sujud
10. Tumakninah setelah bacaan sujud
11. Duduk di antara dua sujud
12. Thuma’ninah setelah selesai
membaca bacaan duduk antara dua sujud
13. Tasyahhud akhir
14. Membaca shalawat Nabi setelah
tasyahhud akhir
15. Melafalkan salam
16. Duduk untuk membaca tasyahud
akhir, shalawat Nabi, dan salam
17. Tertib sesuai urutan
Berikut ini tambahan pengetahuan
seputar shalat yang cukup lengkap tentang makruh, mubah dan yang membatalkan
shalat. Writer ambil dari sumber online situsnya, https://almanhaj.or.id/589-dimakruhkan-dalam.../diakses 31 Mei 2022, dengan perubahan.
Hal makruh dalam shalat:
1. Bermain-main dengan pakaian atau
anggota badan tanpa keperluan
2. Berkacak pinggang
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw
bersabda berkata:
نُهِيَ
أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُخْتَصَرًا
“Dilarang shalat sambil berkacak
pinggang.”
3. Mengangkat pandangan ke langit
Dari Abu Hurairah ra.bahwa Rasulullah
Saw bersabda:
لَيَنْتَهِيَنَّ
أَقْوَامٌ عَنْ رَفْعِهِمْ أَبْصَارَهُمْ عِنْدَ الدُّعَاءِ فِي الصَّلاَةِ إِلَى
السَّمَاءِ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ
“Hendaklah orang-orang berhenti
mengangkat pandangan mereka ke langit ketika berdo’a dalam shalat atau mata
mereka akan tersambar.”
4. Menoleh tanpa keperluan Dari
‘Aisyah ra, dia berkata,
“Aku bertanya kepada Rasulullah Saw
tentang menoleh dalam shalat. Lalu beliau bersabda:
هُوَ
اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ
Ia merupakan sebuah curian yang
dilakukan syaitan terhadap shalat seorang hamba.”
5. Memandang pada sesuatu yang memalingkan
Dari ‘Aisyah ra, Rasul Saw shalat dengan mengenakan pakaian yang ada tandanya.
Kemudian beliau bersabda:
شَغَلَتْنِيْ
أَعْلاَمُ هذِهِ، اِذْهَبُوْا بِهَـا إِلَى أَبِيْ جَهْمٍ، وَأْتُوْنِـيْ
بِأَنْبِجَانِيَّةِ.
“Tanda pada pakaian ini telah menyibukkanku.
Bawalah ia ke Abu Jahm dan bawakan aku anbijaniyyah (pakaian tebal dari wol
yang tidak ada tandanya).“
6. Sadl (mengulurkan pakaian hingga
menyentuh tanah)dan menutup mulut
Dari Abu Hurairah ra.
أَنَّ
رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ السَّدْلِ فِي
الصَّلاَةِ وَأَنْ يَغْطِيَ الرَّجُلُ فَاهُ
"Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam melarang sadl dan menutup mulut ketika shalat.”
7. Menguap
Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw
bersabda:
اَلتَّثَـاؤُبُ
فِي الصَّلاَةِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا تَثَـاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ
"Menguap dalam shalat adalah
dari syaitan. Jika salah seorang dari kalian menguap, maka tahanlah sebisa
mungkin.“
8. Meludah ke arah kiblat atau ke
kanan
Dari Jabir ra, dia mengatakan bahwa
Rasulullah Saw bersabda:
إِنَّ
أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قِبَلَ
وَجْهِهِ، فَلاَ يَبْصُقَنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ وَلاَ عَنْ يَمِيْنِهِ. وَلِيَبْصُقْ
عَنْ يَسَـارِهِ تَحْتَ رِجْلِهِ الْيُسْرَى، فَإِنْ عَجِلَتْ بِهِ بَادِرَةٌ فَلْيَقُلْ
بِثَوْبِهِ هكَذَا. ثُمَّ طَوَى ثَوْبَهُ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ
"Sesungguhnya jika salah seorang
dari kalian berdiri untuk shalat, maka sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala
berada di hadapannya. Maka janganlah ia meludah ke arah depan atau ke kanan.
Hendaklah ia meludah ke sebelah kiri di bawah kaki kirinya. Dan jika terlanjur
keluar, maka hendaklah ia tumpahkan ke pakaiannya.” Beliau kemudian melipat
bajunya satu sama lain
9. Menyilangkan jari-jemari
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw
bersabda:
إِذَا
تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فِيْ بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ كَانَ فِي صَلاَةٍ
حَتَّى يَرْجِعَ، فَلاَ يَقُلْ هكَذَا، وَشَبَكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ
"Jika salah seorang di antara
kalian wudhu’ di rumahnya kemudian mendatangi masjid, maka dia berada dalam sebuah
shalat hingga pulang. Janganlah ia melakukan seperti ini.” Beliau menyilangkan
jari-jemarinya.
10. Menggulung rambut dan pakaian
Dari Ibnu ‘Abbas ra, dari Rasulullah
Saw, beliau bersabda:
أُمِرْتُ
أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةٍ، لاَ أَكِفَّ شَعْرًا وَلاَ ثَوْبًا
"Aku diperintahkan untuk sujud
di atas tujuh (anggota sujud) dan tidak menggulung rambut maupun pakaian.”
11. Mendahulukan kedua lutut daripada
kedua tangan ketika sujud
Dari Abu Hurairah ra, dia mengatakan
bahwa Rasulullah Saw bersabda:
إِذَا
سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيْرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ
قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ
"Jika salah seorang di antara
kalian hendak sujud, maka janganlah turun sebagaimana unta menderum. Hendaklah
ia letakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.”
12. Membentangkan kedua tangan
(menempel dengan lantai) ketika sujud
Dari Anas ra, dari Rasulullah Saw,
beliau bersabda:
اِعْتَدِلُوْا
فِـي السُّجُوْدِ، وَلاَ يَبْسُطُ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ اِنْبِسَاطَ الْكَلْبِ
"Bersikaplah pertengahan ketika
sujud, dan janganlah salah seorang di antara kalian membentangkan tangannya
sebagaimana anjing.”
13. Shalat ketikan hidangan sudah
disajikan atau menahan buang air besar dan kecil
Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, “Aku
mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ
صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ، وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ اْلأَخْبَثَانِ
“Tidak (sempurna) shalat ketika
hidangan sudah disajikan, dan tidak (sempurna) pula shalat orang yang menahan
buang air besar atau kecil.”
14. Mendahului imam
Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah
Saw, beliau bersabda:
أَمَا
يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ اْلإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللهُ
رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ يَجْعَلَ اللهُ صُوْرَتَهُ صُوْرَةَ حِمَارٍ
“Tidakkah salah seorang di antara
kalian takut, Allah menjadikan kepalanya seperti kepala keledai bila dia
mengangkat kepalanya sebelum imam. Atau menjadikan rupanya seperti rupa
keledai.”
Hal mubah dalam shalat
1. Berjalan untuk keperluan
Dari ‘Aisyah ra, dia berkata,
“Rasulullah Saw pernah shalat di dalam rumah sedangkan pintunya tertutup. Lalu
aku datang dan minta dibukakan. Kemudian beliau berjalan dan membukakan pintu
untukku. Setelah itu beliau kembali ke tempat shalatnya. ‘Aisyah menyifatkan
bahwa pintu tersebut berada di arah Kiblat.”
2. Menggendong anak kecil
Dari Abu Qatadah: “Rasulullah Saw
pernah shalat sambil menggendong Umamah, puteri Zainab binti Rasulullah Saw dan
Abu al-‘Ash bin ar-Rabi’. Jika beliau berdiri, beliau menggendongnya. Namun
jika sujud, beliau meletakkannya.”
3. Membunuh al-aswadain (kalajengking
dan ular)
Dari Abu Hurairah ra, “Rasulullah Saw
menyuruh agar membunuh dua binatang hitam dalam shalat, yaitu kalajengking dan
ular.”
4. Menoleh dan memberi isyarat untuk
keperluan
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia
berkata, “Rasulullah Saw menderita sakit. Lalu kami shalat di belakang beliau
yang shalat dalam keadaan duduk. Kemudian beliau menoleh dan melihat kami
berdiri. Kemudian beliau mengisyaratkan kepada kami (untuk duduk), lalu kami
pun duduk."
5. Meludah di baju atau mengeluarkan
sapu tangan dari saku
Dalilnya telah disebutkan dalam
hadits Jabir tentang larangan meludah ke arah kiblat.
6. Memberi isyarat untuk menjawab
salam
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra, dia berkata,
“Rasulullah Saw keluar menuju Quba’ untuk shalat di sana. Tak lama kemudian
datanglah orang-orang Anshar dan mengucapkan salam kepada beliau yang sedang
shalat. Lalu aku berkata pada Bilal, “Bagaimana engkau melihat Rasulullah Saw
menjawab salam ketika mereka memberi salam kepada beliau padahal beliau sedang
shalat?” Dia berkata, “Beliau memberi isyarat seperti ini.” Dia membuka telapak
tangannya. Ja’far bin ‘Aun (perawi hadits) pun membuka telapak tangannya. Ia
jadikan bagian dalamnya menghadap ke bawah dan bagian luarnya ke atas.”
7. Mengucapkan tasbih bagi laki-laki
dan bertepuk tangan bagi wanita jika terjadi sesuatu dalam shalat
Dari Sahl bin Sa’d ra, Rasulullah Saw
bersabda:
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ مَا لَكُمْ حِيْنَ نَابَكُمْ شَيْءٌ فِي الصَّلاَةِ أَخَذْتُمْ
فِي التَّصْفِيْقِ، إِنَّمَا التَّصْفِيْقُ لِلنِّسَاءِ، مَنْ نَابَهُ شَيْءٌ فِي
صَلاَتِهِ فَلْيَقُلْ: سُبْحَانَ اللهِ، فَإِنَّهُ لاَ يَسْمَعُهُ أَحَدٌ حِيْنَ
يَقُوْلُ سُبْحَانَ اللهِ إِلاَّ الْتَفَت
"Wahai manusia, kenapa jika
terjadi sesuatu dalam shalat kalian bertepuk tangan? Sesungguhnya bertepuk
tangan adalah untuk wanita. Barangsiapa menemui kejadian dalam shalatnya,
hendaklah ia mengucapkan: subhaanallah. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang
mendengarnya ketika ia mengucap: subhaanallah melainkan ia telah berpaling…
8. Mengingatkan imam
Dari Ibnu ‘Umar ra: “Rasulullah Saw
mengerjakan suatu shalat lalu membaca surat dan bacaannya tercampur (keliru).
Ketika selesai beliau berkata pada Ubay, “Apakah engkau shalat bersama kami?”
Dia berkata, “Ya.” Beliau berkata, “Lalu, apakah yang menghalangimu (untuk
membenarkan bacaanku tadi?”
9. Mencolek kaki orang yang sedang
tidur
Dari ‘Aisyah ra dia berkata, “Aku
menyelonjorkan kakiku pada kiblat Rasulullah Saw yang sedang shalat. Jika
sujud, beliau mencolekku dan aku pun mengangkatnya. Jika beliau berdiri aku
menyelonjorkannya lagi.”
10.Menahan orang yang ingin lewat di
depannya
Dari Abu Sa’id ra, dia berkata, “Aku
mendengar Nabi Saw bersabda:
إِذَا
صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ، فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ
يُجْتَـازُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْ فِي نَحْرِهِ، فَإِنْ أَبَى
فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ
“Jika salah seorang di antara kalian
shalat menghadap ke sesuatu yang menjadi pembatas baginya dari manusia,
kemudian seseorang hendak lewat di depannya, maka doronglah pada lehernya. Jika
dia menolak, maka perangilah (lawanlah) dia. Karena sesungguhnya dia adalah
syaitan.”
11. Menangis
Dari ‘Ali ra, dia berkata, “Tidak ada
seorang penunggang kuda pun di antara kami pada hari perang Badar selain
al-Miqdad. Aku tidak melihat seorang pun di antara kami melainkan sedang tidur
(malam). Kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shalat sambil
menangis di bawah sebuah pohon hingga Shubuh.”
Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat
1. Yakin adanya hadats
Dari ‘Abbad bin Tamim ra, dari
pamannya:
"Ada seseorang yang mengadu
kepada Rasulullah Saw. tentang sesuatu (hadats) yang seolah-olah terjadi dalam
shalatnya. Lalu beliau bersabda:
لاَ
يَنْفَتِلْ -أَوْ لاَ يَنْصَرِفْ- حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحًا
“Janganlah ia membubarkan
(membatalkan shalatnya) atau berpaling hingga dia mendengar suara atau mencium
bau.“
2. Meninggalkan salah satu rukun atau
syarat dengan sengaja atau tanpa alasan
Berdasarkan sabda Rasulullah Saw
kepada orang yang buruk shalatnya:
اِرْجِعْ
فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ
"Kembali dan shalatlah, karena
engkau belum shalat.”
Juga perintah beliau terhadap orang
yang pada punggung telapak kakinya terdapat sedikit bagian yang tidak terkena
air wudhu’ agar mengulang wudhu’ dan shalatnya.
3. Makan dan minum dengan sengaja
Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,
“Para ahlul ilmi sepakat bahwa orang
yang makan atau minum dengan sengaja ketika shalat wajib, maka dia wajib
mengulang shalatnya.”
Begitupula pada shalat sunnah menurut
jumhur (mayoritas ulama. Karena apa yang membatalkan shalat wajib, juga
membatalkan shalat sunnah.
2.Berbicara dengan sengaja bukan
untuk kemaslahatan shalat
Dari Zaid bin Arqam, dia berkata,
“Dulu kami berbicara dalam shalat. Seseorang di antara kami bercakap-cakap
dengan kawan di sebelahnya yang sedang shalat. Hingga turunlah ayat:
وَقُومُوا
لِلَّهِ قَانِتِينَ
" … Dan berdirilah untuk Allah
(dalam shalatmu) dengan khusyu’.’ [Al-Baqarah: 238].
Kami pun diperintah diam dan dilarang
berbicara.”
5. Tertawa Ibnul Mundzir rahimahullah
menukil ijma’ bahwa tertawa membatalkan shalat.
6. Lewatnya perempuan baligh,
keledai, atau anjing hitam di antara orang yang shalat dan tempat sujudnya .
Berdasarkan sabda Rasulullah Saw :
إِذَا
قَـامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي، فَإِنَّهُ يَسْتُرُهُ إِذَا كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ
مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ. فَإِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ آخِرَةِ
الرَّحْلِ فَإِنَّهُ يَقْطَعُ صَلاَتَهُ الْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ وَالْكَلْبُ
اْلأَسْوَد
“Jika salah seorang dari kalian
shalat, maka dia terbatasi jika di hadapannya terdapat (pembatas) seukuran
pelana hewan tunggangan. Jika di hadapannya tidak terdapat (pembatas) seukuran
pelana hewan tunggangan, maka shalatnya terputus oleh keledai, wanita, dan
anjing hitam."
Hal yang membatalkan shalat menurut
Kitab Saffinatunnaja:
1. Berhadats (seperti kencing dan
buang air besar).
2. Terkena najis, jika tidak
dihilangkan seketika, tanpa dipegang atau diangkat (dengan tangan atau
selainnya).
3. Aurat terbuka kecuali bila
langsung ditutup.
4. Mengucapkan dua huruf atau satu
huruf yang dapat difahami.
5. Mengerjakan sesuatu yang
membatalkan puasa dengan sengaja.
6. Makan yang banyak sekalipun lupa.
7. Bergerak dengan tiga gerakan
berturut-turut sekalipun lupa.
8. Melompat yang luas.
9. Memukul yang keras.
10. Menambah rukun yang bersifat
fi’liyah secara sengaja
11. Mendahului imamnya dengan 2 rukun
yang bersifat fi’liyah
12. Tertinggal imam dengan dua rukun
yang bersifat fi’liyah tanpa adanya udzur
13. Niat membatalkan dan
menggantungkan sholat karena suatu hal (misal, niat jika turun hujan akan
membatalkan sholat) dan
14. Mensyaratkan berhenti sholat
dengan sesuatu dan ragu dalam memberhentikannya.
Bahasan terakhir kita tentang shalat
writer nukil dari sumber online: https://rumaysho.com/22957-manhajus.../diakses1Juni2022
Yaitu tentang Sunnah dalam shalat
berdasar mahzab Imam Syafi'i yang terbagi atas Sunnah fi'liyah dan Sunnah
qauliyah
1. Sunnah berupa ucapan
1. Doa iftitah
2. Isti’adzah
3. Membaca “aamiin” setelah Alfatihah
4. Membaca surah (selain Al-Fatihah)
atau sebagian surah pada tiap rakaat dari rakaat pertama dan kedua, bisa juga
dibaca kadang-kadang pada rakaat ketiga dan keempat.
5. Takbir intiqaal (berpindah rukun).
6. Membaca dzikir ketika rukuk dan
sujud.
7. Membaca at-tasmii’ (sami’allahu
liman hamidah) dan at-tahmid (robbanaa wa lakal hamdu). Hal ini berlaku bagi
imam dan makmum sebagaimana jadi pendapat dalam madzhab Syafii.
8. Doa di antara dua sujud dan doa
ketika tasyahud seperti berlindung dari empat hal (dari siksa Jahannam, siksa
kubur, fitnah hidup dan mati, serta kejelekan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal).
9. Membaca shalawat ketika tasyahud
(awal dan akhir). Dalam madzhab Syafii, dalam tasyahud awal juga disunnahkan
membaca shalawat.
10. Salam kedua, karena Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam kadang-kadang salam hanya sekali.
Sunnah berupa perbuatan
1. Mengangkat kedua tangan ketika
takbiratul ihram, rukuk, bangkit dari rukuk, dan bangkit dari tasyahud awwal.
2. Meletakkan tangan di bawah dada
atau perut bagian atas (Bagian antara dada dan perut)
3. Membuka kedua telapak kaki
sedikit.
4. Membaca bacaan dengan jahar pada
shalat yang diperintahkan untuk jahar, membaca bacaan dengan lirih pada shalat
yang diperintahkan untuk lirih.
5. Membaca Alquran dengan tartil, dan
berhenti pada setiap ayat.
6. Membaca surah pilihan dari
muffashal (ada surah yang panjang dan pendek) pada shalat tertentu, misalnya
shalat
7. Shubuh dianjurkan membaca surah
thiwalul mufashshal.
8. Memegang lutut dengan telapak
tangan, sambil jari tangannya direnggangkan ketika rukuk. Sedangkan punggung
dalam keadaan rata dengan kepala, juga menjauhkan lengan dari lambung.
9. Mendahulukan kedua telapak tangan
dari lutut ketika turun sujud. Bisa pula sebaliknya yaitu mendahulukan lutut
dahulu kemudian telapak tangan sebagaimana pendapat jumhur ulama dari
Syafiiyah, Hanafiyah, Hambali.
10. Bangkit dari sujud untuk berdiri
dengan bertumpu pada tangan sebagaimana pendapat Malikiyyah, Syafiiyyah, dan
sebagian salaf
11.Menjadikan kepala di antara dua
telapak tangan ketika sujud dan lengan dibuat terbuka, lalu jari-jari kaki
dihadapkan ke arah kiblat. Dilarang kedua lengan iftirasy yaitu menempel pada
lantai sebagaimana jadi pendapat empat madzhab.
12. Duduk iq’a’ saat duduk di antara
dua sujud (kadang-kadang) dan duduk iftirasy ketika itu, begitu pula duduk
iftirasy saat tasyahud awwal.
13. Duduk istirahat setelah sujud
kedua sebelum bangkit ke rakaat kedua atau ke rakaat keempat.
14. Meletakkan kedua tangan pada paha
pada saat duduk dan saat tasyahud.
15. Duduk tawarruk pada rakaat
terakhir.
16. Melihat pada jari telunjuk dan
berisyarat dengannya ketika tasyahud.
17. Menoleh ke kanan dan ke kiri saat
salam.
18. Salam kedua.
Alhamdulillahirrabbil'alamiin, akhirnya
selesai juga bahasan shalat kita. Semoga generasi penerus kita bisa menegakkan
shalat dalam keseharian mereka. Shalat adalah tiang agama, salat adalah pesan
pengajaran pertama dari Rasulullah yang berbentuk ibadah pembiasaan. Sholat
adalat adalah amal utama yang akan dihisab di hari penghitungan. Maka shalat
tidak bisa dianggap perkara ringan dan sepele.
Selain ilmu yang dibekalkan,
pembiasaan tak kalah pentingnya karena ilmu tanpa amal tak kan berbuah.
Sementara amal tanpa ilmu akan menjadi buah tanpa manfaat.
Hari Ke-38
Sudah dua hari ini Writer tidak
melakukan sarapan kata self-challenge. Dengan tekad baja akhirnya Writer
berusaha menulis kembali, semoga Allah yang Maha Berkehendak menyampaikan niat
ini. Aamiin ya Rabb.
Bahasan kiat melahirkan anak salih
yang melebar hingga masalah pendidikan anak. Harap maklum ya Reader, karena
memang pada ikhtiar keshalihan anak peran orang tua secara serius harus
dititikberatkan. Terutama pada fase golden age, ikatan orang tua dan anak
diharap memupuk subur tumbuh kembang anak ada seluruh aspek. Spiritual dengan
bekal tauhid, emosional dengan perkenalan anak terhadap nilai-milai baik buruk,
benar salah.
Setelah membahas fase golden age,
Writer hanya akan mengupas sedikit tentang pendidikan anak di fase remaja dan
baligh. Tentu masih dalam sudut pandang Islamic Hypnoparenting.
Rasulullah Saw adalah sosok pendidik
terbaik. Interaksi beliau dalam proses pendidikan anak telah melahirkan
generasi kuat, berakhlak mulia dan memiliki karakter terpuji. Sebagai Uswatun Hasanah,
Rasulullah Saw selalu memberikan contoh terhadap apa yang beliau perkatakan.
Perbuatannya mendahului lisannya, beiau selalu lemah lembut dalam teramat
berkasih sayang.
Ada dua hadits yang akan diungkap di
sini tentang bagaimana rasa belas kasihan Rasulullah Saw. Beliau sering
mengungkap rasa kasih sayangnya pada anak-anak, dalam sebuah hadita riwayat
Imam Muslim dari Abu Hurairah RA. diriwayatkan:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سُوقٍ مِنْ أَسْوَاقِ المَدِينَةِ ،
فَانْصَرَفَ فَانْصَرَفْتُ ، فَقَالَ : أَيْنَ لُكَعُ - ثَلاَثًا - ادْعُ الحَسَنَ
بْنَ عَلِيٍّ . فَقَامَ الحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ يَمْشِي وَفِي عُنُقِهِ (وهو نوع من
الطيب الصلب) ونحوه، وليس فيها من اللؤلؤ والجوهر شيء> السِّخَابُ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بِيَدِهِ هَكَذَا ، فَقَالَ الحَسَنُ بِيَدِهِ هَكَذَا ، فَالْتَزَمَهُ
فَقَالَ : اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ ، وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّهُ
“Saya pergi bersama Rasulullah SAW
pada suatu waktu di siang hari tetapi dia tidak berbicara dengan saya dan saya
tidak berbicara dengannya sampai dia mencapai Pasar Banu Qainuqa`. Dia kembali
ke tenda Fatimah dan berkata, “Apakah orang kecil (artinya Al-Hasan) di sana?”
Kami mendapat kesan ibunya telah menahannya untuk memandikan dan mendandaninya
dan menghiasinya dengan karangan bunga manis.
Tidak banyak waktu yang telah berlalu
sampai dia (Al-Hasan) datang berlari hingga keduanya saling berpelukan,
kemudian Rasulullah SAW berkata, “Ya Allah, aku mencintainya, cintai dia dan
cintai orang yang mencintainya." (HR Muslim)
Rasulullah juga selalu berlemah
lembut pada mereka yang masih suci dari dosa. Kisah ini menjadi teladan
kelembutan orang tua dalam mendidik anak.
Suatu saat, Rasulullah Saw ditemui
oleh seorang perempuan yan bernama Sa'idah binti Jazi. Ia membawa serta anaknya
yang masih berusia satu setengah tahun dalam gendongannya. Rasulullah Saw
mengambil anak tersebut dan menggendongnya. Tiba-tiba anak itu buang air kecil
(mengompol) di pangkuan Rasulullah Saw. Refleks Sa'idah binti Jazi merenggut
anak itu dari pangkuan Rasulullah dengan kasar. Rasulullah Saw langsung
menasihati Sa'idah. “Dengan satu gayung air bajuku yang terkena najis karena
kencing anakmu bisa dibersihkan. Akan tetapi luka hati anakmu karena
renggutanmu dari pangkuanku tidak bisa diobati dengan bergayung-gayung air,”
ungkap Rasulullah. Ibrah yang bisa diambil dari kisah ini adalah bahwa kita
harus bersabar dalam mendidik anak dan menjauhi sikap kasar terhadap mereka. Terutama
di usia kurang dari tujuh tahun.
Nah, bagaimana untuk anak usia lebih
dari tujuh tahun hingga 14 tahun? Insya Allah kita akan bincangkan bersama.
Pada usia ini, kita perlu menanamkan
kediplinan. Pada usia 7-14 tahun, barulah upaya kedisiplinan anak bisa kita
bentuk. Pendidikan ketegasan tanpa bentakan. Subhanallah, bisa tidak, ya
Reader. Menurut para psiolog dan pakar Islamic Hypnoparenting, bentakan di usia
ini bisa berakibat fatal secara psikis. Misalnya dapat mengkbatkn depresi,
menghambat pertumbuhan, mengurangi kepercayaan diri, peragu dengan rasa takut
salah dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana ketika anak susah
diatur, seperti malas mengaji, malas shalat atau melakukan kesalahan dalam
urusan agama lainnya? Kita tidak boleh memarahi anak dengan kekerasan atau
bentakan, tapi mengingatkan mereka dengan cara yang baik, memberi contoh,
mengajak anak berdialog. KOMUNIKASI adalah kunci utama.
1. Kondisikan anak dalam keadaan
nyaman, tenang sebelum memberi masukan yang positif.
2. Mudahkan anak memahami hal baik
dan buruk dengan perbandingan dengan ilmu yang menguatkan keimanan dan
keyakinan. Berikan kepahaman Iman, Islam, Ihsan dan alamatussaah. Nerikut
penjabarannya sebagai bekal ilmu fardhu'ain pada anak.
3. Nikmati tiap interaksi dengan anak
sebagai bagian pendidikan yang akan menjadi jariah kita hingga akhirat.
4. Katakan kita kasih dan sayang pada
mereka bahwa kita harus selamat bersama menghadap Allah SWT.
5. Sikapi tiap hasil mendidik kita
dengan doa dan rasa syukur atas capaian anak.
Nah, bagaimana mengekspresikan
kemarahan saat anak melakukan kesalahan? Cukup dengan diam dan mita bantun pada
pasangan untuk mengomunikasikan pada anak bahwa kita sedang marah. Sampaikan
sebab-sebab kemarahan kita hingga anak paha bahwa apa yang dilakukannya dalah
kesalahan. Insya Allah ia akan segera minta maaf. Kalaupun mereka tidak minta
maaf, pasangan kita akan memberi nasihat dan mengarahkan anak-anak supaya
meminta maaf. Apalagi kalau anak-anak responsif dan menanyakan harus bagaimana,
orang tua akan dengan mudah meberi saran dan nasihat terbaik.
Kadang manusia dengn segala
keterbatasannya hilang kesabaran. Tiba-tiba ingin menumpahkan kemarahan apalagi
bila kondisi kita sedang underpressure. Langkah jitu telah diajarkan Rasulullah
Saw. Sebagaimana petunjuknya dalam hadits:
1. Dari Abu Ad-Darda’ ra, ia berkata,
“Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan
dalam surga.” Lantas Rasulullah Saw bersabda,
“Jangan engkau marah, maka bagimu
surga.” (HR. Thabrani)
2. Dari Abu Dzarr ra. Rasulullah Saw
bersabda,
“Bila salah satu di antara kalian
marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah
cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud).
3. Dari Athiyyah As-Sa’di ra,
Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan
diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari
kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu Daud.
Jadi, langkah yang harus diambil saat
marah adalah:
1. Beristighfar, karena amarah bisa
memasukkan kita dalam keadaan salah dan dosa.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali
Imran ayat 133-134 sebagai berikut:
وَسَارِعُوٓا۟
إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ
أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ
وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ
وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ (134)
Artinya: "Dan bersegeralah kamu
kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan
bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang
menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang
yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai
orang-orang yang berbuat kebajikan."
Bukankah Rasulullah Saw telah
bersabda:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم،
قال: "لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرُعة، وَلَكِنَّ الشَّدِيدَ الَّذِي يَمْلِكُ
نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ".
Artinya: "Dari Abu Hurairah RA,
dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Orang yang kuat itu bukanlah karena jago
gulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang
marah." (HR Bukhari dan Muslim).
2. Berikan pelukan pada anak dan
doakan kebaikan, kendalikan diri dari keinginan membentak dan memarahi
Rasulullah berpesan dalam sebuah
hadits:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ :أَنَّ الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ أَبْصَرَ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ الْحَسَنَ فَقَالَ إِنَّ لِي عَشْرَةً مِنْ
الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ وَاحِدًا مِنْهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ. (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah r.a ia berkata :
bahwa Aqra’ bin Habis pernah melihat Nabi saw sedang mencium Hasan. Dia (Aqra’
bin Habis) lalu berkata: Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak namun
aku tidak pernah mencium satupun dari mereka. Kemudian Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya barang siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan
disayangi”. (HR. Muslim)
3. Jika tetap marah, diam lalu duduk.
Jika masih marah maka berbaring. Jika masih marah maka berwudhu. Jika masih
marah maka shalat dua rakaat.
Sekarang kita akan membahas tentang
asupan pendidikan di usia 7-14 tahun ini:
Berbeda dengan usia 0-7 tahun dimana
kita perlakukan anak kita sebagaimana raja maka si usia 7-14 tahun kita
memperlakukan anak seperti tawanan. Demikian pola pendidikan yang dianjurkan
khalifah ke-4, Ali ra.
Tawanan adalah sesorang yang dikenai
berbagai aturan kedisiplinan. Artinya kita mulai memperkenalkan berbagai aturan
kedisiplinan. Manakah yang merupakan kewajiban dan mana yang merupakan
larangan. Sebagai orang tua kita mesti pertindak proporsional tentang hak dan
kewajiban anak. Secara bertahp dan tentu sesuai kemampuan, disertai pembiasaan.
Asupan berupa ilmu dan kepahaman
terus diberikan, pokok-pokok keimanan mulai diberikan agar kedisiplinan bisa
dibagun seiring kepahaman anak. Konsekwensi dari pelanggaran terhadap kewajiban
dan larangan
dapat disampaikan.
Dalam hadits pembiasaan shalat telah
diungkap dalam bahasan yang telah lampau. Bahwa pemukulan bisa diberikan diusia
10 tahun. Akan tetapi perlu diingat bahwa pukulan diberikan setelah tiga tahun
mada pemahaman dan pembiasaan. Pukulan pun bukan tas dasar amarah tapi kasih
sayang. Sebelum emukul lakukan hal-hal berikut:
1. Ajak anak menyepi
2. Katakan bahwa memukul karena
meninggalkan shalat adalah perintah nabi, bahwa pukulan ini dalam rangka
kepatuhan terhadap perintah Allah dam RasulNya
3. Katakan bahwa pukulan ini atas
dasar rasa kasih sayang dan ingin menyelamatkan dunia akhirat
"Anakku, Ayah ingin seluruh
keluarga kita selamat dunia akhirat. Alla berfirman bahwa shalat akan menolong
kita dari kesulitan dnia akhirat. Dan shalat adalah penentu keselamatan kita
soalnya shalat yang pertama kali bakalan dihisab dan diperiksa. Jika lulus kita
dalam shalat insya Allah lulus untuk pemeriksaan selanjutnya."
4. Ucapkan maaf lalu pukul pada
bagian yang aman yaitu pantat dan paha sekira-kira cukup sakit dan memberi efek
jera tanpa menciderai.
5. Peluk anak dan doakan untuk
keshalihannya, meminta maaf sekali lagi dan katakan:
"Akang sakit? Semoga rasa sakit
ini menjadi kifarah dosa akang sudah sengaja meninggalkan perintah shalat dari
Allah dan RasulNya. Semoga Akang memilih shalat daripada pukulan Ayah. Insya
Allah pukulan Ayah lebih sangat ringan daripada hukuman Allah kelak di
akhirat."
Di samping memberi hukuman, kita juga
wajib mengapresiasi prestasi:
1. Beri pujian ringan setiap saat
anak berbuat baik
2. Bagi hadiah saat anak meraih
prestasi secara berkala. Misalnya sepekan berturt-turut selalu shalat maka beri
hadiah kesukaannya, misalnya makan di luar bersama keluarga. Mainan yang
mendidik dan lain sebagainya.
Tarik nafas dulu, ya Reader, kita
akan memasuki tahap ke-3 yaitu usia 14-21 tahun, alias akil baligh.
Perlakuan kita berubah dari
memperlakukan tawanan menjadi sahabat. Yaitu membuat mereka nyaman berbagi
dengan kita. Terutama berbagi cerita, berbagi kisah untuk meluahkan isi hati.
Juga berbagi untuk memecahkan berbagai masalah yang mereka temukan dalam
kehidupan ini.
Kita perlu waspada bila pada usia ini
justru mereka tertutup. Tidak mau berterus terang dan merahasiakan sesuatu. Ini
adalah pertanda bahwa mereka menemui masalah besar atau memang tidak menganggap
kita sahabat yang bisa dipercaya.
Bila gejala ini timbul maka perlu
melakukan komunikasi kembali untuk tahap ketiga.
1. Kondisikan anak dalam keadaan siap
untuk berdikusi tentang berbagai hal yang menjadi konsekwensi masa dewasa.
Tentang tanggung jawab, permulaan catatan amal baik dan buruk. Tentang reward
dan punishment dari Allah SWT sesuai petunjuk Alquran dan hadits. Pahamkan
tentang menghadapi berbagai problematik dalam hidup dan pentingnya kemandirian.
Beri bekal ilmu dan amal yang membuat mereka memiliki skill utuk hidup mandiri.
2. Mudahkan anak memahami hal
konsekwensi dengan bekal kekuatan iman pada petunjuk Allah dan RasulNya.
3. Nikmati tiap interaksi dengan anak
sebagai bagian pendidikan yang akan menjadi jariah kita hingga akhirat.
4. Katakan kita kasih dan sayang pada
mereka bahwa kita harus selamat bersama menghadap Allah SWT.
5. Sikapi tiap hasil mendidik kita
dengan doa dan rasa syukur atas capaian anak.
Dengan langkah KOMUNIKASI di atas,
InsyaAlla anakakan tumbuh dan berkembang dengan baik menjadi pribadi mandiri,
menemukan potensi, percaya diri, tanggung jawab dan pemberani. Latihan
kemandirian akan membuatnya berdikari dan tidak menggantungkan hidupnya pada
orang tua, saudara, teman, sahabat, kerabat ataupu tetangga juga orang lain di
luar dirinya.
Saat baligh adalah saat mereka
menerima tanggung jawab namun orang tua tetap berperanan. Yaitu mengawasi dari
jauh, mendoakan dan tetap menyediakan solusi saat mereka menemukan kesulitan
dan permasalahan.
Parenting memang selalu saja menjadi
topik menarik dalam kehidupan kita, ya, Reader. Karena ikatan darah yang
menjadi Amanah Allah ini adalah ikatan dunia dan akhirat. Ikatan yang tidak
akan bisa diputuskan selagi ikatan iman laa ilaha illallah masih mengikat
hingga alam keabadian.
Sepertinya bahasan nikah indah
tentang parenting Writer cukupkan sampai di sini, ya Reader. Jika ada yang
penasaran kenapa parenting tidak include dalam nikah berkah? Ini karena kita
perlu sugesti bahwa parenting itu indah seindah saat memadu kasih untuk
melahirkan generasi.
Hari Ke-39
Masya Allah, rasanya belum bisa move
on untuk bahasan parenting kita, Ya Reader. Sebelum kita tutup bahasan
parenting ada 10 hal yang umum harus dilakukan untuk semua usia. Semoga ini
menjadi penguatan untuk semua bahasan kita sebelumnya.
Yuk, kita simak 10 hal untuk semua
usia!
1. Mendekat pada Allah melalui
shalat, shalawat dan doa.
Sejak awal anak dalam kandungan,
mental orang tua mesti siap untuk menerima amanah. Demikian juga saat anak
sudah hadir ke dunia, dengan bijak katakanlah,
"Ya Bunayya aku memperbanyak
shalat, shalawat dan doa-doa karena kami ingin kau selalu dalam lindungan Allah
SWT"
2. Tahan amarah dan dahulukan
komunikasi.
Rasulullah Saw pernah menasihati
seseorang yang mudah marah:
عَنْ
أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ
مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab,
“Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang,
kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!”
[HR Bukhâri].
Nah, dalam mendidik anak, sesulit
apapun akan menjadi mudah saat kita terus berdoa dan mendahulukan komunikasi
sebelum menumpahkan amarah.
Ajak bicara anak kita, dengarkan
kemauannya. Bukan untuk dimanja tetapi untuk membuka pintu komunikasi. Semoga
dengan begitu proses pendidikan dan pemahaman anak bisa berjalan lancar.
3. Berlemah lembut terhadap seluruh
anggota keluarga.
Jika kelemahlembutan sudah menjadi
budaya dalam keluarga maka pancaran kasih sayang akan tampak dengan sendirinya.
Allah SWT berfirman:
اُدْعُ
اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِا لْحِكْمَةِ وَا لْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَا
دِلْهُمْ بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ
عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِا لْمُهْتَدِيْنَ
"Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka
dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa
yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat
petunjuk."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 125)
Juga dalam ayat berikut ini Allah SWT
berfirman:
فَبِمَا
رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ
لَا نْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَا عْفُ عَنْهُمْ وَا سْتَغْفِرْ لَهُمْ
وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَ مْرِ ۚ فَاِ ذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
"Maka berkat rahmat Allah engkau
berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati
kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah
mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka
dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka
bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang
bertawakal."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 159)
Di antara harapan dalam doa yang
mesti kita pintakan pada Allah adalah agar kita senantiasa bisa bersabar dan
berlemah lembut dalam mendidik anak. Insya Allah kita akan dapati harapan
memiliki anak shalih.
4. Mengondisikan suasana yang Islami
Suasana Islamislami bermakna
menjadikan Islam sebagai cara hidup, petunjuk hidup, cara hidup. Dan Islam
sebagai diinulhayyah mengatur semua hal dalam 24 jam hidup manusia. Meliputi
seluruh aspek hidup manusia. Maka ada 5 hukum Islam yang memosisikan tiap
perbuatan dalam salah satu di antaranya. Apakan suat perbuatan tergolong wajib
sunah, mubah, makruh ataupun haram.
Selaras dengan tujuan hidup manusia
segala sesuatu bisa dijadikan ibadah selagi hukum pokoknya bukan perkara haram.
Allah SWT berfirman:
يايُّهَا
الَّذِيْنَ امَنُوْا قُوْآ اَنْفُسَكُمْ وَ اَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا
النَّاسُ وَ اْلحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَّ يَعْصُوْنَ
اللهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ. التحريم:6
Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak
mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka
dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6)
Menciptakan suasana Islami adalah
salah satu upaya terpenting dalam menjadikan Islam is the way of life. Hingga
mendarah daging dalam amalan harian kita.
5. Membiasakan amalan sunnah
Sunnah dengan niat i'tibak pada nabi
adalah salah satu bukti kecintaan kita pada Rasulullah Saw. Bila amalan Sunnah
ini dibiasakan sejak kecil, insyaAllah akan menjadi jalan keberkahan dan
kemudahan hidup kita. Adapun amalan Sunnah yang sebaiknya dikekalkan sesuai
nasihat ulama ahli dzikir Allahuyarham Ust. Arifin Ilham adalah sebagai
berikut:
1. Salat Tahajjud atau qiyamullail.
Menghidupkan malam dengan ibadah shalat Sunnah muakad. Shalat ini menjadi
amalan sepanjang hayat Rasulullah Saw. Bahkan sebelum ada perintah shalat wajib
lima waktu saat Isra' Mi'raj Nabi.
وَمِنَ
اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ
مَقَامًا مَحْمُودًا
"Dan pada sebagian malam hari
bersembahyang tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu.
Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (Surah
Al-Isra' ayat 79)
2. Tilawatil Qur'an.
Sebaiknya kita mengawali hari dengan
tilawah Al-Qur'an. Fadillah dari bacaan Alquran ini adalah:
-menerangi alam kubur pembacanya
-menjadi cahaya di hari berbangkit
sebagai tanda cahaya bagi ahlul Qur'an
-dimuliakan Allah dengan memperbaiki
bacaan dan menambah hafalan
3. Bersegeralah untuk berjamaah
menuju masjid
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw
didatangi seorang lelaki buta. Ia berkata, 'Wahai Rasulullah, aku tidak
memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid. Maka ia meminta kepada
Rasulullah untuk memberinya keringanan sehingga bisa salat di rumahnya. Lalu
Rasulullah Saw memberinya keringanan tersebut. Namun ketika orang itu berbalik,
Beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya, "Apakah engkau mendengar
panggilan shalat?' Ia menjawab, "Ya". Beliau bersabda, "Maka
penuhilah panggilan azan tersebut."
"Barang siapa yang salat Isya
berjamaah maka seolah-olah dia telah salat selama separuh malam. Dan barang
siapa yang salat subuh berjamaah, maka seolah-olah dia telah salat seluruh
malamnya."
Kedua hadits tersebut diriwayatkan
oleh Imam Muslim.
Dalam hadits lain Rasulullah Saw
bersabda: "Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah
shalat Isya dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya,
niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak." (HR.
Bukhari dan Muslim)
4. Salat Dhuha.
Waktu Dhuha adalah sekitar 10 menit
setelah shalat Israk atau setelah matahari naik sepenggalah hingga jelang
Dzuhur. Sementara Shalat Israk sekira-kira 10 menit setelah terbit matahari.
Jadi Dhuha sekira-kira 20 menit setelah terbit matahari hingga sekitar 10 menit
sebelum Zuhur. Perlu diperhatikan untuk tidak shalat ketika matahari tepat di
atas kepala.
Keutamaan shalat Dhuha:
-mengganti sedekah untuk tiap
persendian yang jumlahnya hingga 360
-amalan untuk kelapangan rezeki
5. Berinfak dan sedekah.
Allah Ta'ala berfirman:
وَأَنْفِقُوا
مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ
رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ
الصَّالِحِينَ
"Dan infaqkanlah sebagian dari
apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah
seorang di antara kamu. Lalu dia berkata (menyesali), 'Ya Tuhanku, sekiranya
Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat
bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh'. (Surah Al-Munafiqun
ayat 10)
Membiasakan sedekah bisa dilakukan
tiap pagi selepas shalat Subuh berjamaah. Atau dapat juga dengan mengisi wadah
khusus sedekah harian.
6. Menjaga wudhu
Berwudhu dengan menjaga adabnya akan
membuat wudhu kita sempurna.
Dari 'Abdullah bin 'Amr, ia berkata,
"Kami pernah tertinggal dari Rasulullah Saw dalam suatu safar. Kami lalu
menyusul Beliau dan Ketinggalan salat yaitu salat Ashar. Kami berwudhu sampai
bagian kaki hanya diusap (tidak dibasuh). Lalu Nabi memanggil dengan suara
keras dan berkata, "Celakalah tumit-tumit dari api neraka." Beliau
menyebut dua atau tiga kali." (HR. Bukhari dan Muslim)
Diantara adab berwudhu adalah
membasuh tangan sebelum berwudhu.
Rasulullah Saw bersabda: "Jika
salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka jangan mencelupkan
tangannya ke dalam bejana sebelum ia mencucinya tiga kali. Karena ia tidak
mengetahui di mana letak tangannya semalam." (HR Bukhari, Muslim)
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ
وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ
Sabda Rasulullah Saw, "Siapa
yang berwudhu dengan memperbagus wudhunya lalu ia mengucapkan: ' Asyhadu Allaa
Ilaaha Ilallaah Wahdahu Laa Syarikalah Wa Asyhadu Anaa Muhammadan 'Abduhu Wa
Rasuluh. Allaahummaj’alnii Minattawwaabiina Waj'’alnii Minal Mutathahhiriin '
(Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata,
tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba
dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang bertaubat dan jadikanlah
aku sebagai orang yang bersuci), dengan ia Membacanya melainkan akan dibukakan
baginya delapan pintu surga, ia akan masuk lewat pintu mana saja yang ia
mau)." (HR. Tirmidzi)
7. Istighfar
Rasulullah SAW tidak pernah kurang
dari 100 kali beristighfar dalam sehari padahal Rasulullah Maksum dan dijamin
memasuki syurga tertinggi. Ini karena Rasulullah Saw sedang memberi contoh pada
kita selaku umatnya. Sekaligus ekspresi penghambaan dari ciptaan terindah,
Khairulkhalqillah dan khairulbariyyah.
Lafaz istighfar ada 3:
1. Lafaz Astaghfirullaah
أَسْتَغْفِرُ
الله
2. Lafaz " Subhaanallaahu wa
Bihamdihi Astaghfirullaah wa Atubu Ilaih "
سُبْحَانَ
اللهُ وَبِحَمْدِهِ، أَسْتَغْفِرُالله وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
3. Lafaz terlengkap adalah Sayyidul
Istighfar .
اللهُمَّ
أَنْتَ رَبِّيْ، لآ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا
عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا
صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ لَكَ بِذَنْبِيْ،
فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
" Ya Allah Engkaulah Tuhan-ku.
Tiada Tuhan уаng berhak diibadahi ԁеngаn benar ѕеӏаіn Engkau. Engkau yаng tеӏаһ
menciptakanku, ԁаn aku аԁаӏаһ Hamba-Mu. Aku аkаn mеnјаgа janji-Mu sebaik уаng
aku mampu. Aku berlindung kepada-Mu ԁагі keburukan segala уаng aku perbuat. Aku
kеmbаӏі kepada-Mu ԁеngаn (mengakui) segala nikmat-Mu kepadaku. Dаn akupun
kеmbаӏі kepada-Mu ԁеngаn (mengakui) sеmuа dosaku. Maka ampunilah aku. Kагеnа
sesungguhnya tiada уаng bіѕа mengampuni dosa-dosa ѕеӏаіn һаnуа Engkau ".
8. Banyak doa dan berzikir terutama
di saat sujud, sedanfkan zikir terbaik adalah lafaz Al Qur'an.
Rasulullah Saw bersabda:
"Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang
bersujud, maka perbanyaklah berdoa saat itu." (HR. Muslim)
Dzikir terbaik adalah bacaan
Al-Qur'an. Berikut ini ayat-ayat dzikir yang bisa kita himpun dan amalkan:
* Surat Al Hasyr ayat 21-24 dengan
dibaca saat anak tidur dan ditiupkan pada ubun-ubun anak-anak
لَوْ
اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰ نَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَ يْتَهٗ خَا شِعًا مُّتَصَدِّعًا
مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗ وَتِلْكَ الْاَ مْثَا لُ نَضْرِبُهَا لِلنَّا سِ
لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
"Sekiranya Kami turunkan
Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk
terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu
Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir."
هُوَ
اللّٰهُ الَّذِيْ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَا لشَّهَا دَةِ ۚ
هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ
"Dialah Allah, tidak ada tuhan
selain Dia. Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih,
Maha Penyayang."
هُوَ
اللّٰهُ الَّذِيْ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ
الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَـبَّا رُ الْمُتَكَبِّرُ ۗ سُبْحٰنَ
اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
"Dialah Allah, tidak ada tuhan
selain Dia. Maha Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga
Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang
Memiliki segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan."
هُوَ
اللّٰهُ الْخَـالِـقُ الْبَا رِئُ الْمُصَوِّرُ لَـهُ الْاَ سْمَآءُ الْحُسْنٰى ۗ
يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ
الْحَكِيْمُ
"Dialah Allah Yang Menciptakan,
Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa
yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa,
Maha Bijaksana."
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 24)
* Surat Al Iklhas, Al Falaq dan Annas
tiupkan pada tangan dan usapkan ke seluruh tubuhnya.
* Surat Thaha ayat 1-5 ditiup bersama
hirupan nafas anak.
طٰهٰ
"Thaha."
مَاۤ
اَنْزَلْـنَا عَلَيْكَ الْـقُرْاٰ نَ لِتَشْقٰۤى
"Kami tidak menurunkan Al-Qur'an
ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah;"
اِلَّا
تَذْكِرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى
"melainkan sebagai peringatan
bagi orang yang takut (kepada Allah),"
تَنْزِيْلًا
مِّمَّنْ خَلَقَ الْاَ رْضَ وَا لسَّمٰوٰتِ الْعُلٰى
"diturunkan dari (Allah) yang
menciptakan bumi dan langit yang tinggi,"
اَلرَّحْمٰنُ
عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى
"(yaitu) Yang Maha Pengasih,
yang bersemayam di atas 'Arsy."
6. Menyikapi kesulitan dengan penuh
kesabaran.
Kesabaran tanda keikhlasan dalam
beramal. Sehingga sabar juga kunci menjadi kunci diterimanya ibadah. Dalam
mendidik anak kadang kita dihadapi berbagai kesulitan dalam membantu tumbuh
kembang mereka. Saat terasa lelah, surat cintaNya adalah hiburan penyemangat.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
لَيْسَ
الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ
وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَا لْمَلٰٓئِکَةِ
وَا لْكِتٰبِ وَا لنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰ تَى الْمَا لَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى
الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَا لْمَسٰكِيْنَ وَا بْنَ السَّبِيْلِ ۙ وَا
لسَّآئِلِيْنَ وَفِى الرِّقَا بِ ۚ وَاَ قَا مَ الصَّلٰوةَ وَاٰ تَى الزَّکٰوةَ ۚ
وَا لْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عٰهَدُوْا ۚ وَا لصّٰبِرِيْنَ فِى
الْبَأْسَآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ ۗ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ
صَدَقُوْا ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
"Kebajikan itu bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah
(kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat,
kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada
kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan
(musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang
melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji
apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada
masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah
orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 177)
Juga firmanNya dalam Al Qur'an surat
Annahl ayat 96
مَا
عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ بَا قٍ ۗ وَلَـنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ
صَبَرُوْۤا اَجْرَهُمْ بِاَ حْسَنِ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ
"Apa yang ada di sisimu akan
lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan
memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa
yang telah mereka kerjakan."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 96)
7. Memberlakukan reward (untuk semua
usia) dan punishment (antara 7-14 tahun)
Reward di sini mulai dari pujian yang
menyenangkan hingga hal yang bersesuaian dengan keinginan buah hati.
Sementara itu, hukuman bersifat
memberikn efek jera agar tidak mengulangi lagi. Kangan sampai anak justru
memilih dihukum karena saking ringannya hukuman. Atau mungkin merasa ebih
memilih dihukum daripada berbuat kebaikan.
9. Jangan pernah bertindak dan
bersikap kasar
Dalam bahasan terdahulu kita pernah
embahas seorang ibu yang merenggut anaknya dengan kasar. Siapa namanya, ya
Reader? Betul sekali, Sa'idah binti Jazi. Rasulullah Saw menegurnya untuk tidak
melukai hati anak. Karena luka hati tak bisa dibasuh dengan berulang kali
siraman air.
10. Tidak berlebihan memanjakan anak
Di antara memanjakan anak adalah
selalu memenuhi permintaan anak. Sehingga terkesan kita terlalu menuruti
keinginan mereka. Biasanya penyebab mengalahnya orang tua:
1. Perasaan bahwa memenuhi keinginan
bagian dari kewajiban dan prestasi
2. Sayang berlebihan tak kuat melihat
anak menangis dan merengek
3. Merasa malu dengan rengekan anak
di tempat umum, gengsi bila dianggap tidak mampu memenuhi keinginan anak
4. Merasa mampu dan tak perlu menolak
keinginan anak.
Efek negatif selalu menuruti
keinginan anak:
1. Muncul rasa jumawa diri anak
berada di atas orang tua dalam hal pengutamaan kehendak
2. Membuat anak sulit diatur karena
merasa bisa mengendalikan orang tua
3. Menurunkan nilai kemandirian
dengan selalu meminta.
Selanjutnya kita akan membahas hal
terpenting khusus seputar upaya menanamkan nilai tauhid. Sejatinya nilai ini
menjadi bagin awal dan terpenting pendidikan. Mengatasi kemampuan anak dalam
membaca Alquran, fiqih praktis dan penerapan akhlak. Hanya saja satu sama lain
bukan untuk dipisah-pisahkan karena kehidupn bergulir utuh. Anak bisa diberi
asupan kebaikan sebanyak mungkin dengan contoh-contoh dan interaksi inderawi,
yaitu melihat, mendengar, meraba, merasa dan mencium.
Inilah yang membuat Islam memiliki
generasi terhebat di kurun Rasulullah Saw atau 100 tahun generasi awal. Mereka
menjadi generasi terbaik karena keimanannya tumbuh sebagai hasil didikan dan
keteladanan Rasulullah Saw.
Pendidikan tauhid perlu dikhususkan
saat daya nalarnya berkembang, afidahnya berfungsi di fase kedua golden age.
Sepuluh perkara tauhid mendasar yang
perlu ditanamkan:
1. Tanamkan pada diri anak bahwa ia
hanyalah Hamba Allah. Dicipta dan ditiupkan ruh kita ke dalam jasad di dalam
rahim ibu. Dialah yang berkuasa menempatkan kita di mana saja, pada siapa saja
mengamanahkan ruh kita ini.
Ajaklah ia merenung bila ruh kita
ditiupkan pada wanita musyrik di negeri yang jauh maka kita akan berada di sana
dengan keluarga yang tida mengenal Tuhan yang sebena dn berhak disembah.
Ajarkan mereka untuk mensyukuri bahwa
sampai saat ini mereka mengenal Allah melalui bimbingan kedua orang tuanya.
Nilai kesyukuran dan kerendahan hati
kita pupuk dari sini. Insya Allah anak-anak akan dapat menanggalkan kesombongan
dari hati dan jiwanya.
2. Tanamkan rasa bahwa segala yang
ada adalah milik Allah semata. Dialah Pemilik segalanya.
Ajaklah anak untuk melihat bayi yang
baru lahir ke dunia. Tanpa nama, tanpa busana. Semua Allah yang sediakan
melalui perantaraan kedua orang tuanya.
Ajak serta anak dalam takziah orang
yang meninggal. Bantu anak untuk merenungkan, apa yang dibawa oleh mayat ke
ling lahat. Tidak ada selain hanya kain pembungkus jasad. Semua terlepas dari
kepemilikan bahkan orang-orang terdekat, harta benda yang dicintai telah
ditinggalkannya dan meninggalkannya.
Kesadaran ini akan membuat anak paham
kuasa Allah dan kelemhan diri. Sekeras apapun hatnya akan melunak dengan
kepahaman ini. Saatnya menanamkan cinta akhirat lebih di atas cinta pada dunia.
3. Tanamkan anak untuk cinta sedekah.
Ajari tentang keinginan mereka yang telah berada di alam barzah adalah kembali
ke dunia untuk bersedekah.
Sedekah disini dalam arti yang luas
tentunya, yaitu berbuat kebaikan meskipyn hanya sebiji sawi.
4. Tanamkan tentang lima alam
perjalanan manusia, yaitu:
* alam ruh saat Allah menciptakan jwa
dari cahaya dari sisiNya kemudian diambil persaksian bahwa kita mengakui Allah
sebagai Tuhan kita Rabb kita
* alam rahim saat ruh ditiupkan pada
janin dalam rahim ibu kita
* alam dunia saat jasad dan ruh telah
siap hidup terpisah dari jasad dan jiwa ibu. Saat kita menerima pendengaran,
pengelihatn dan hati. Saat kita mengemban amanah menjadi hamba yang beribada
pada Allah dan khalifah di muka bumi. Untuk mengelola bumi di atas petunjuk
Allah SWT dan RasulNya.
* alam barzakh saat kita menanti hari
berbangkit dengan berbagai kisahnya masing-masing. Dalam nikmat kubur atau
siksaannya. Seperti orang tidur terlelap sambil melihat bayangan syurga buah
amalan dan rahmatNya, berteman amal yng menjelma rupawan dengan wewangian dan
cahaya terang benderang. Atau tersiksa dengan deraan, teman yang bau dan buruk
rupa serta tempat yang sempit gelap gulita. Memandangi bayangan neraka dengan
ketakutan yang menyiksa.
*alam akhirat saat dibangkitkan hidup
kembali:
-yaumul ba,ats hari dibangkitkan,
semua anak adam tumbuh dengan jasad baru sesuai amalannya. Yang pertama
dibangkitkan adalah Rasulullah Saw dan beliau memanggil ummatnya,
"ummatii...ummatii...ummatii..." persis saat beliau diwafatkan.
Kalimat penuh cinta kasih itu beliau ucap karena khawatir atas keselamatan
ummatnya.
- yaumul mahsyar, saat pengumpulan
seluruh bani Adam dalam satu tempat yang amat luas dan matahari sejengkal di
atas kita. Panas terik luar biasa yang tiada satupun naungan kecuali
naunganNya. Hari-hari begitu lama, manusia menunggu hisab yang tak kunjung
dimulai. Semua manusi gelisah mencari perlindungan dan safaat. Ingin hisab
segera dilakukan. Tiada satupun nabi sanggup memohonkan dipercepatnya hisab.
Lalu manusia meminta pada Rasulullah untuk meohon pada Allah agar segera
melaksanakan perhitungan amal. Saat itu Rasulullah bersujud dengan pepujian
yang teramat indah, merayu pada Allah dengan doa terindah yang belum pernah ada
doa seindah doa itu di dunia. Maka dikabulkanlah doa Rasulullah, Allah menyuruh
baginda Rasulullah Saw bangkit dari sujudnya.
-yaumul hisab, saat amal dihitung
banyak atau sedikit, catatan amal diperiksa. Perbuatan baik dan buruk dari
sejak akil baligh hingga mau menjemput dipertontonkan. Tidak ada yang bisa
mengelak hingga rasa malu menggugurkan kulit wajah manusia berdosa. Malu luar
biasa karena apa yang disebunyikan dipertontonkan pada seluruh umat manusia.
Kecuali Allah tutupi aibnya di akhirat, yaitu mereka yang:
Memohon ampun dengan taubat nasuha
kemudian Allah mengampuninya
Menutupi aib saudaranya
-yaumulmizan, saat amalan ditimbang
berdasarkan kualitasnya. Manakah amal yang diterima dengan bobot yang besar.
Diantara amalan yang dianggap berkualitas adalah: ^amalan yang diterima setelah
menempuh lima syarat jadi ibadah. Masih ingat, ya Reader? Biar mudah buat ingat
kita buat akronimnya: "nibuham tiasya nama". Niat ikhlas, perkara
bukan haram dan makruh, tidak meninggalkan ibadah azas, cara sesuai syariat,
natijahnya maslahat
^amalan istiqamah walaupun sedikit
-yaumussirath, saat melewati titian
serambut dibelah tujuh, jalan ini menjadi saringan antara orang munafik dan
orang yang beriman
Allah dan RasulNya memberi petunjuk
melalui Al Quran dan Al Hadits sebagai berikut:
إِنَّ
اللَّهَ تَعَالَى يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا
مِنْهُ عَلَى عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ
وَجَلَّ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُؤْمِنَةٍ نُورًا، وَكُلَّ
مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ
الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ انْظُرُونَا
نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا
نُورَنا فَلا يَذْكُرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا
“Allah akan memanggil umat manusia di
akhirat nanti dengan nama-nama mereka ada tirai penghalang dari-Nya. Adapun di
atas jembatan Allah memberikan cahaya kepada setiap orang beriman dan orang
munafiq. Bila mereka telah berada di tengah jembatan, Allah-pun segera merampas
cahaya orang-orang munafiq. Mereka menyeru kepada orang-orang beriman:
”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kamu.” (QS
Al-Hadid ayat 13)
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يٰۤاَ
يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْۤا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًا ۗ
عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَـكُمْ جَنّٰتٍ
تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ ۙ يَوْمَ لَا يُخْزِى اللّٰهُ النَّبِيَّ
وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ ۚ نُوْرُهُمْ يَسْعٰى بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَ
يْمَا نِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَاۤ اَ تْمِمْ لَـنَا نُوْرَنَا وَا غْفِرْ
لَـنَا ۚ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Wahai orang-orang yang beriman!
Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan
Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam
surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah
tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang
cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka
berkata, "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan
ampunilah kami; sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.""
(QS. At-Tahrim 66: Ayat ![]()
"Ketika itulah setiap orang
tidak akan ingat orang lain.” (HR. Thabrani)
Ada amalan yang akan menyelamatkan
kita dari tergelincir di jembatan shirath dengan rahmatNya:
1. Bertaubat dengan taubatannasuha
(Qs Attahrim ayat ![]()
2. Menunaikan shalat berjamaah di
masjid dalam keadaan gelap di perjalanan
بَشِّرْ
الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
“Berilah kabar gembira kepada
orang-orang yang berjalan menuju masjid-masjid dalam kegelapan dengan cahaya
yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR. Ibnu Majah)
3. Menyelamatkan orang-orang beriman
dari gangguan kaum munafik.
مَنْ
حَمَى مُؤْمِنًا مِنْ مُنَافِقٍ أُرَاهُ قَالَ بَعَثَ اللَّهُ مَلَكًا
يَحْمِيلَحْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ وَمَنْ رَمَى مُسْلِمًا
بِشَيْءٍ يُرِيدُشَيْنَهُ بِهِ حَبَسَهُ اللَّهُ عَلَى جِسْرِ جَهَنَّمَ حَتَّى
يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ
“Barangsiapa melindungi seorang
Mukmin dari kejahatan orang Munafik, Allah akan mengutus malaikat untuk
melindungi daging orang itu –pada hari Kiamat– dari neraka jahannam.
Barangsiapa menuduh seorang Muslim dengan tujuan ingin mencemarkannya, maka
Allah akan menahannya di atas jembatan neraka jahannam hingga orang itu dibersihkan
dari dosa perkataan buruknya.” (HR. Abu Dawud )
5. Tanamkan kecintaan dan keyakinan
atas kebenaran Alquran. Kenalkan pada anak, apa itu Alquran. Pahamkan bahwa
Alquran adalah petunjuk hidup dunia akhirat
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman
dalam surah Albaqarah ayat 2-5:
ذٰلِكَ
الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ
"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada
keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,"
الَّذِيْنَ
يُؤْمِنُوْنَ بِا لْغَيْبِ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ
يُنْفِقُوْنَ
"(yaitu) mereka yang beriman
kepada yang gaib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang
Kami berikan kepada mereka,"
وَا
لَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَاۤ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ
وَبِا لْاٰ خِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ
"dan mereka yang beriman kepada
(Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah
diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat."
اُولٰٓئِكَ
عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
"Merekalah yang mendapat
petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung"
Empat ayat ini memberi petunjuk
bahwa:
^Alquran adalah kitab yang nilai
kebenarannya mutlak
^Alquran adalah petuntuk untuk meraih
ketakwaan
^Alquran adalah petunjuk untuk
beriman pada yang ghaib, untuk mendirikan shalat, untuk menginfakkan sebagian
rezeki
^Alquran adalah kitab yang diturunkan
pada Rasulullah Muhammad Saw sebagai penyempurna dan pembeda dari kitab
terdahulu yang telah mengalami pengubahan oleh orang fasik lagi melampaui batas
^Alquran memberitakan pada manuaia
untuk beriman pada hari akhirat
^Alquran memberi petunjuk agar
manusia memperoleh keberuntungan
6. Tanamkan bahwa rezeki adalah milik
Sang Pencipta yang Mahamemberi Rezeki. Asma Allah diantaranya adalah Arrazaq
maka memintalah rezeki padaNya dengan menyebut Yaa Razaq.
Hal ini untuk menanamkan:
^rasa syukur pada Pencipta
^rasa bergantung hanya padaNya
^rasa terimakasih pada sesama manusia
tanpa merasa terjajah dengan hutang budi
^ingin berbalas jasa dengan rasa
merdeka sebagai hamba yang hanya meminta padaNya
7. Tanamkan rasa bertanggug jawab.
Bebani dengan tugas yang bersesuaian dengan ilmu dan perkembangan umurnya.
Bantu mereka untuk bisa menyelesaikan tugas dengan lapang hati, suka cita tanpa
rasa beban yang melelahkan.
8. Tanamkan pembiasaan ibadah sebagai
bagian dari tujuan manusia dihidupkan yaitu untuk beribadah pada Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)
Juga untuk menjadi khalifah yang
mengurus bumi sebagai wakil Allah yang tentu bersesuaian dengan petunjuk dan
kehendak Allah. Bukan sekehendak nafsu dan bimbingan syaithan.
وَاِ
ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ
قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ
وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا
لَا تَعْلَمُوْنَ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu
berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di
bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang
merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan
menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang
tidak kamu ketahui.""
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)
Disinilah pada anak ditanamkan niat
apapun adalah dalam rangka ketaatan seorang hamba dengan menempuh "nibuham
tiasya nama"
9. Tanamkan cinta pada keluarga.
Tumbuhkan rasa bahwa keluarga adalah harta sangat berharga. Beban melekat pada
keluarga adaah "kuu anfusakum wa ahlikum naaraa". Perintah yang harus
dijalani tanpa kompromi.
Rasa yang dipupuk disini adalah:
^kasih sayang dalam keluarga
^saling peduli untuk selamat bersama
hingga syurga Allah SWT
^melantakkan sangka buruk atas
kebencian
^menumbuhkan baik sangka atas dasar
kasih sayang
^sakinah mawaddah warahah pada
masing-masing anggota keluarga
10. Tanamkan rasa bahwa tiap
pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Tiap kepemilikan akan berakhir
dengan kehilangan karena semua adalah titipan. Hanya jiwa yang kekal abadi akan
melanjutkan perjalanan hingga perjumpaan dengan Allah SWT. Maka saling doa
adalah pengikatnya.
Biasakan untuk saling mendoakan. Saat
masih bersama di alam dunia atau telah memasuki barzakh dan melanjutkan dua
alam berikutnya.
Rasanya sudah tidak sabar ya Reader
untuk pernikahan indah dengan bahasan agar seindah malam pertama. Semoga sarkat
berikutnya kita bisa ungkap dengan koridor syariat, ya Reader. Biar menjadi
jalan ibadah buat W&R (jangan lupa bacanya We're).
Hari Ke 40
Sarkat hari kemarin benar-benar menguras enegi, ya Reader. Bayangkan,
tiga jam nonstop Writer mengotak-atik ide. Meramu dari beberapa sumber akhirnya
lebih dari tiga ribu kata. Semoga berkah manfaat.
Waktu bahasan nikah indah, kita pernah bahas hal yang mungkin bagi
sebagian orang dianggap tabu tapi sebenarnya dalam Islam selagi apa yang kita
bahas bukan hal dosa, tetap diperbolehkan, ya Reader. Artinya dalam koridor
syariat. Buktinya para ulama menuliskan berbagai pernak-pernik nikah dan rumah
tangga pada buku-buku mereka.
Untuk bahasan Agar Seindah Malam Pertama kita akan menyamakan persepsi
dulu, nih, apakah malam pertama selalu indah. Dan bagaimana menyikapi berbagai
kejutan malam pertama bahkan seandainya malam pertama tidak seindah harapan dan
impian, apa yang seharusnya kita kelola pada perasaan pengantin baru. Yuk, kita
cermati dulu kejutan-kejutan malam pertama.
Berikut ini hal-hal yang perlu diketahui mukalaf( yang sudah baligh dan
dibebani kewajiban agama) tentang malam pertama. Apalagi buat mereka yang akan
memasuki gerbang rumah tangga. Pengetahuan dan kesiapan mental seperti apa yang
harus dimiliki?
1. Selalu mendahulukan adab bersebadan. Wudhu shalat taubat sholat
zifaf, niat lillah bermain cinta, tidak bertelanjang atau bertelanjang di bawah
selimut, melakukan mukadimah, warming up, kegiatan inti dan relahsasi dan
penutup dengan. Selalu mengiringi dengan doa pada tiap sesinya.
2. Siapkan mental dan persepsi kita terhadap hubungan bersebadan. Sejauh
apa yang kita lakukan sehat secara kedokteran dan halal secara syariat, maka
bersebadan adalah satu kelumrahan. Sesuai dengan fitrah bahwa menyalurkan
hasrat seksual pada yang halal adalah bagian dari ibadah dan berpahala. Nikmat
sekaligus berpahala, itulah ibadah nikah.
3. Malam pertama tidak seharusnya menjadi beban target bagi pengantin
baru untuk meraih malam puncak cinta. Target yang menimbulkan stress justru tidak
sehat bagi pasutri dan bisa menghambat capaian lain yang lebih utama. Berhasil
tidaknya puncak asmara di malam pertama tidak ada kaitannya sama sekali dengan
prestasi berumah tangga.
Jadi lebih baik mempersiapkan dua opsi untuk malam pertama kita. Yang
pertama meraih puncak dengan cara terbaik, yang kedua menikmati kebersamaan
untuk saling menjajaki kenyamanan kedua belah pihak. Artinya, kebersamaan yang
menentramkan adalah hal yang lebih utama dan membahagiakan kedua belah pihak.
Pesta seharian bisa jadi menguras tenaga dan melelahkan, maka menunda
puncak asmara di malam-malam berikutnya tidak ada salahnya. Bahkan mungkin
lebih maslahat. Malam pertama cukup diisi dengan bermesraan, beristirahat
dengan saling berpelukan dengan busana yang minimalis.
Segala sesuatu yang alami akan lebih indah untuk dinikmati daripada
sesuatu yang dipaksakan. Rileks setelah walimah justru akan memperbaiki
persebadanan di hari-hari berikutnya.
4. Pada perawan ada selaput dara yang menjadi tanda kesucian. Suami
hendaklah berhati-hati saat melakukan penetrasi. Sangat mungkin akan timbul
rasa sakit karena sobeknya selaput dara dan juga oleh tekanan. Rasa sakit ini
variatif pada masing-masing wanita. Tetapi jangan khawatir karena rasa sakit
ini akan terimbangi dengan rasa nikmat danenyenangkan dari bersebadan.
Seandainya istri mengalami rasa sakit berlebihan, sebaiknya hentikan
dulu penetrasi. Istirahat sejenak dan temukan cara untuk proses lubrikasi
(persiapan faraz dalam menerima penetrasi dengan keluarnya pelumas alami dari faraz
perempuan). Lubrikasi akan maksimal jika pemanasan dilakukan berulang-ulang.
Saat peluumas cukup faraz akan lebih rileks dan nyaman. Tanda rangsangan
maksimum akan timbul rasa hangat dan tarikan dari dalam untuk segera menerima
penetrasi.
5. Pendarahan pertama. Kebanyakan perempuan akan mengalami pendarahan
karena pecah dara. Kondisi selaput keperawanan yang berbeda akan membuat tumpah
darah yang berbeda pula. Hanya sedikit wanita yang terlahir tanpa selaput dara.
Atau dalam beberapa kasus perempuan mengalami pecah dara karena kecelakaan,
jatuh yang serius dan menciderai faraz.
Pendarahan yang disebabkan oleh robeknya jaringan dalam vagina. Jika
terjadi pendarahan yang serius maka jangan memaksa terus melakukan persebadanan
hingga mencapai orgasme. Berhenti lalu bisa berkonsultasi atau melakukan
pemeriksaan terhadap selaput dara.
Jadi jangan kecewa bila saat persebadanan pertama ini tidak
mengakibatkan pendarahan karena pecah dara. Hindari dari menuduh dan meragukan
keperawanan pasangan karena apapun kisah yang pernah dialami pasangan
seharusnya ditutup untuk mulai dari kini dan sekarang.
Sekali lagi pahami lebih dalam tentang selaput dara karena ini bisa
menjadi awal ketidakharmonisan bila tak cepat segera dipahami dan diantisipasi.
Tiap wanita memiliki jaringan himen yang berbada-beda. Ada yang tebal ada yang
tipis. Ada yang aus beriring jalannya waktu. Ada juga yang jumlah pembuluh
darahnya tidak terlalu banyak ada yang sangat banyak. Peristiwa masa lalu juga
bisa membuatnya sobek karena aktivitas fisik, olah raga berat dan lain-lain.
Jadi simpan dulu rasa curiga tentang ketidakperawanan. Apalagi jika hal ini
dikaitkan dengan pengalaman seksual istri di masa lalu. Sepertinya kurang adil
untuk memfonis secara sepihak.
Terus terang, Writer juga termasuk perawan yang tidak mengalami pecah
dara di malam pertama. Padahal rasa sakit itu ada saat pengalaman bersebadan
pertama. Tapi entah mengapa tidak ada pendarahan sama sekali. Pengertian
seorang suami yang tulus menerima adalah anugerah yang luar biasa.
6. Selalu mengawali pengamalan bersebadan dengan warming up atau
foreplay (mencium, mendekap, menjilat, mengecup bagian sensitif, meniup bagian
sensitif) akan memberi sensasi yang indah untuk menuju puncak hasrat.
Keenam, jangan lewati foreplay (mencium, mendekap, memeluk, meniup-niup
telinga istri).
Makin banyak aktivitas foreplay sebelum inti penetrasi maka semakin
mudah untuk mencapai orgasme. Saat hasrat memuncak biasanya keduanya akan
saling mendesak untuk melakukan inti hubungan intim.
Jadi, jangan lakukan inti hubungan sebelum warming up karena akan
menyakiti salah satu pasangan yang belum siap kegiatan penetrasi.
7. Kadang pelumas di faraz istri tidak segera terproduksi dan membuat
semuanya lebih baik dan nikmat, maka lakukan pelumasan buatan dari zat berbahan
dasar air atau silikon. Bahan ini bisa didapat di apotik atau secara online.
Baca aturan pakainya.
8. Perbaiki persepsi kita tentang orgasme. Bahwa tidak sepantasnya
mencapai puncak asmara selalu menjadi tujuan utama. Saling memadu kasih,
membagi kenikmatan dengan rabaan, gerakan, sentuhan, kecupan, jilatan, tiupan
nafas adalah pengalaman yang menyenangkan. Terus belajar dan mengeksplorasi apa
yang disukai dan tidak disukai pasangan juga menjadi jalan memberi nafkah batin
yang tepat untuk pasangan.
Puncak mungkin hanya beberapa menit saja tapi permainan cinta yang
menjadi ibadah bisa seratus kali lebih lama dari puncak yang kita cari sensasi
rasanya
9. Pada pria umumnya akan mengalami puncak asmara yang lebih cepat.
Sementara wanita lebih lambat maka wanita harus berterus terang tentang
gerakan, posisi dan perilaku terindah yang dirasakan saat berhubungan. Tidak
perlu malu berterus terang agar sama-sama tahu seiring sejalan meraih puncak
bahagia.
Hai ini ditandai dengan tarikan dari dalam untuk meremas dengan gerakan
refleks dan terkuat. Sampai-sampai denyutan itu terasa oleh zakar suami. Saat
bersamaan suami seharusnya langsung merespon dan menambah tekanan agar bisa
merasakan puncaknya secara bersamaan.
Maka bagi para suami pandai-pandailah dalam mengendalikan diri. Rasa
kasih dan peduli bahwa kewajiban memberi nafkah batin adalah tanggung jawab
bersama akan lebih menimbulkan keinginan serius memberi puncak kenikmatan pada
pasangan.
10. Bisa jadi seseorang memiliki gangguan syaraf sehingga sulit berereksi.
Jangan merasa bahwa hal ini suatu aib, cacat atau rusak. Cari upaya dan jalan
keluar bersama. Bukan menjadi alasan untuk segera mengakhirinya dengan
perpisahan.
Bila permasalahan agak serius dan terjadi dalam jangka lama, bincangkan
dengan istri seandainya ia mau meraih kepuasan dengan artificial seks. Saat ini
banyak dijual alat tiruan untuk memuaskan wanita. Dengan catatan, upayya
pengobatan terus dilakukan.
Ada beberapa penyebab disfungi ereksi antara lain:
^efek samping obat-obatan
^gaya hidup tidak sehat seperti merokok, narkoba, onani berlebihan
^proses penuaan
^gangguan psikologis
^cedera
^penyakit tertentu: gangguan hormon, diabetes, hipertensi, penyakit
jantung, gangguan otot panggul dll
Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk disfungsi ereksi dan
ejakulasi dini:
*Berolah raga teratur tidak kurang dari 30 menit perhari, senam kegel
dan olah raga yang mengencangkan otot pinggul dan kemaluan.
*Melakukan hubungan seks yang halal, baik dan sehat pada pasangan yang
syah
*Menjaga berat badan ideal hindari obesitas
*Mengatur pola makan sehat dan seimbang
*Menjaga kesehatan hati agar selalu lapang, bahagia, tenang, lakukan
hypnotherapy untuk relaksasi dan self healing
*Menghindari pola hidup serampangan seperti konsumsi rokok, alkohol dan
narkoba
*Tidak menghisap bebauan yang menimbulkan kecanduan
*Menghindari jamu dan obat yang menimbulkan ketergantungan
*Berkomunikasi dengan pasangan tentang apapun problem seksual yang
dialami masing-masing.
*Mengatur cara berhubungan agar tidak mempercepat ejakulasi, ubah cara
on top dengan posisi on ground
*Memakai kondom jika zakar terlalu sensitif
11. Pengalaman bersebadan adalah bersifat khas pada masing-masing
pasangan. Jangan pernah menganggap bahwa apa yang dilihat didengar tentang
persebadanan adalah pembanding dari pengalaman kita. Berobsesi dari apa yang
dilihat dan didengar tentang persebadanan akan membuat kita tidak puas dan
kecewa terhadap pasangan. Semoga Allah menjaga mata, pengelihatan, pendengaran
dan hati kita dari pengalaman persebadanan yang disajikan tanpa batasan
syariat. Pornografi dan pornoaksi yang ditayangkan hanya akan menggelapkan kita
dari cahaya.
Oleh karena itu, pilihlah pengalaman bersebadan hanya dari pasangan saat
sudah halal. Bekal pendidikan seks bida didapat dari buku-buku para ulama atau
seksiologi yang bermarojikan kitab para ulama yang diungkap secara syar'i.
Termasuk buku yang ada di hadapan Reader semuanya, Insya Allah.
jadi, hadapi, eksplorasi, lakukan, nikmati, syukuri, evaluasi, ulangi.
Demikian seterusnya hingga hubungan badan tidak pernah mencapai kejenuhan.
Selalu ada pengalaman baru dan kenikmatan yang berulang tidak menjemukan tiap
melakukan ibadah murah mudah indah berkah ini.
12. Komunikasi menjadi kekhasan manusia dibanding makhluk lain. Perlu
perbincangan serius tentang keluarga terencana. Tentang kapan siap memiliki
momongan, bagaimana mempersiapkan pendidikan anak. Hal ini bisa dilakukan saat
ta'aruf untuk memahami visi Missi masing-masing. Juga tentang malam pertama
bisa dipersiapkan saat ta'aruf lanjutan selepas khitbah. Tentu dengan bahasa
yang santun.
13. Bila persebadanan tak sesuai harapan dan impian, tidak perlu kecewa
dan khawatir karena permainan selanjutnya bisa jadi lebih indah dari pengalaman
malam pertama. Tetap bersyukur atas capaian apapun agar Allah SWT menambah lagi
kenikmatan buat keluarga kita.
Apapun yang didapat dari pengalaman malam pertama, selalulah bersyukur.
Lepaskan diri dari pikiran negatif yang tidak seharusnya meretakkan
keharmonisan. Letakkan janji setia menjadi alasan untuk terus bertahan. Tekad
mendayung biduk rumah tangga hingga saat perjumpaan dengannya.
Bagaimana, nih, Reader? Apakah malam pertama selalu seindah dongeng
asmara? Sepertinya malam pertama buat pasutri ada beragam situasi dan kondisi.
1. Pasangan terlalu lelah setelah seharian menjadi ratu dan raja yang
menjadi pusat perhatian para tetamu
2. Masih kaku dan saling malu karena ta'aruf yang terlalu singkat.
Segalanya tak selancar harapan dan impian tak mengerti apa yang mesti
dilakukan. Keduanya masih lugu untuk memerankan adegan dewasa
3. Ta'aruf telah berlangsung lama bahkan melewati masa pacaran yang
kebablasan. Malam pertama seakan bukan moment spesial lagi
4. Kondisi lelah bisa di atasi. Ta'aruf telah tercukupi dengan beberapa
kali pertemuan syar'i. Prosesi nikah telah disepakati sejak jauh hari. Malam
pertama yang dinanti benar-benar terjadi. Bekal ilmu telah cukup dipelajari.
Tinggal mempraktikkan ibadah indah nan suci.
Inti dari bersebadan adalah saling menafkahi kebutuhan bathin pasangan.
Ada kasih sayang, keteduhan bagi mereka yang kegersangan cinta. Ada penyaluran
hasrat yang selama ini melayang terbang ke mana tak tentu arah. Kadang
bertengger di angan-angan. Sesekali tertuju pada wajah-wajah artis yang
memesona tapi tak hadir ketenangan di sana. Atau sesama rekan yang tak pasti
status dan kedudukannya. Kini ada karunia Allah, pilihan Allah sebagai hakikat,
dihalalkan dalam ikatan yang Dia izinkan untuk kita. Pasangan kita bukanlah
milik kita tapi Allah titipkan untuk saling membahagiakan. Lalu nikmat apa lagi
yang hendak kita dustakan?
Please, deh, Reader. Bersyukur itu kewajiban. Jadi untuk terus seindah
malam pertama (atau kita ralat, deh), lebih tepatnya untuk seindah pasangan di
syurga, bersyukur adalah kunci utama. Lalu timbulkan rasa untuk memadu kasih atas
dasar niat ibadah. Jika bermaksud ibadah kembali lagi ke nibuhan :
1. Niat karena taat pada Allah. Diawali dengan niat taat menyelamatkan
diri dari maksiat dan hasrat yang tak sehat. Diniatkan untuk senantiasa
bersyukur atas karunia dan nikmat diberi pasangan hidup oleh yang Maha
menentukan dan menyatukan. Yakin sepenuhnya tiada daun kering jatuh kecuali
atas izin dan kehendakNya. Tiada debu terbang kecuali dalam pemeliharaanNya.
Apalagi pertemuan dua insan yang saling cinta.
2. Perkara yang dibuat bukan haram atau makruh. Hukum nikahnya tergolong
mubah, Sunnah ataupun wajib. Hal ini pernah kita bahas di pekan pertama Sarkat,
ya, Reader.
3. Dilakukan sesuai syariat, langkah-langkah melakukannya sesuai contoh
dari Rasulullah Saw. Masih ingat kan point pertama kita pada bahasan ASMaP(Agar
Seindah Malam Pertama) ini? Atau ASPaS (Agar Seindah Pasangan di Syurga)
4. Tidak meninggalkan perkara azas. Hindari waktu bersebadan di sekitar
waktu shalat fardhu. Perhatikan waktu puasa Ramadan. Lakukan di tengah malam,
hindari waktu-waktu menjelang Subuh
5. Natiahnya maslahat, makin bikin sayang pasangan, makin bersyukur,
makin dekat dan tulus. Semoga dititipi zuriat yang Shalih dan meneruskan
perjuangan para nabi dan rasul, yaitu mengajak sebanyak-banyak manusia untuk
taat pada Allah.
Semoga bagian ASMaP dan ASPaS ini menjadi sedikit pencerahan untuk terus
bahagia pada tiap sentuhan bahkan hembusan nafas. Bukankan memaknai kebersamaan
adalah bagian dari nikmat yang luar biasa? Kehadiran satu-satunya insan yang
berhak merasakan seluruh bagian tubuh adalah keajaiban kasih sayangNya.
Bukankan ini menjadi kemudahan bagi satu sama lain untuk saling bantu saling
memelihara tanpa batasan aurat. Di saat-saat darurat, kedua insan bisa saling
memperkuat. Karunia pernikahan benar-benar keajaiban Rahman dan RahimNya.
HARI
KE-41
MEMBERKAHKAN
PERNIKAHAN
Self Challenge retekat, rehat berteman kata,
perlahan tapi pasti memasuki hari ke-41. Sambil terus editing sarkat dan
retekat tetap berlanjut, merajut kata, membanjar kalimat. Writer sudah pernah
ungkapkan bahwa nikah indah meliputi prosesi pesta asmara dan merancang zuriat
yang shalih. Sementara itu nikah berkah meliputi:
a.
Pasangan adalah Pakaian Penghias
b.
Mengikat Persaudaraan
c.
Poligami yang Tak Kontroversif
d.
Cinta yang Evergreen
Semoga kita bisa bahas satu persatu dalam satu
Sarkar saja, ya, Reader. Sebelumnya sepakat dulu bahwa kita sama-sama kosongkan
semua isi hati yang lain kecuali cahaya ilmu dan hidayah, agar kebenaran bisa
masuk ruang hati kita dengan leluasa dan nyaman. Bila kita kosongkan hati dari
persepsi insya Allah yang berbicara bukan emosi tapi hati nurani yang penuh
limpahan cahaya suci.
a.
Pasangan Kita adalah Pakaian.
Alquran
menyebutkan bahwa suami istri adalah pasangan yang saling berfungsi sebagai pakaian.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اُحِلَّ لَـکُمْ لَيْلَةَ الصِّيَا مِ الرَّفَثُ
اِلٰى نِسَآئِكُمْ ۗ هُنَّ لِبَا سٌ لَّـكُمْ وَاَ نْـتُمْ لِبَا سٌ لَّهُنَّ ۗ
عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّکُمْ كُنْتُمْ تَخْتَا نُوْنَ اَنْفُسَکُمْ فَتَا بَ
عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَا لْــئٰنَ بَا شِرُوْهُنَّ وَا بْتَغُوْا مَا
کَتَبَ اللّٰهُ لَـكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَا شْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ
الْخَـيْطُ الْاَ بْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَ سْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ
اَتِمُّوا الصِّيَا مَ اِلَى الَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَا شِرُوْهُنَّ وَاَ نْـتُمْ
عٰكِفُوْنَ ۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَا ۗ
كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
"Dihalalkan
bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian
bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak
dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu.
Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah
bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih
dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang)
malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid.
Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa."
(QS.
Al-Baqarah 2: Ayat 187)
Sebuah
ayat yang cukup panjang memaparkan tentang bagaimana seharusnya hubungan suami
istri dilakukan selama bulan Ramadhan. Perumpamaan dengan pakaian memiliki
falsafah yang luar biasa penuh makna. Dilanjutkan dengan bagaimana pemenuhan
hak dan kewajiban suami istri tetap dalam koridor yang Allah SWT gariskan agar
manusia dapat meraih ketakwaan.
Kembali
pada bahasan kita, ya Reader, bahwa pernikahan yang berkah itu menjadikan suami
istri sebagai pakaian bagi satu sama lain. Pakaian dalam persepsi Islam
memiliki tiga fungsi yaitu fungsi sebagai:
1.
pemenuhan kebutuhan pokok
2.
menutupi aurat sesuai dengan batasan yang Allah SWT perintahkan
3.
mendukung terpenuhinya kesehatan jasmani
4.
menjadi hiasan sebagai fungsi estetika.
Reader,
yuk kita bahas satu-satu untuk empat point fungsi pakaian.
Pertama,
pakaian adalah bagian dari kebutuhan pokok. Sebagaimana berpasangan yang merupakan
kebutuhan pokok bagi insan pada umumnya. Karena berpasangan adalah kebutuhan
pokok, maka pencariannya pun seharusnya memenuhi kesungguhan seseorang dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. Pakaian didapat dari bahan baku yang halal
dijadikan pakaian. Terkait dengan pasangan, syarat pertama pasangan mesti halal
dinikahi. Nah, untuk pasang yang halal di nikahi ada di sarapan kata di lima
hari pertama kita. Masih ingatkah? Intip kembali syarat nikah halal, ya?
Semua
bahasan tentang hukum nikah yang menjadi ibadah telah kita kupas tuntas,
baiklah kita tegaskan lagi di sini tentang nikah yang halal.
Kedua,
pakaian adalah penutup aurat kita. Aurat adalah sesuatu yang memalukan apabila
diketahui oleh orang yang tidak berhak melihatnya. Aurat di sini berarti aib
dan kekurangan. Pakaian yang baik secara syar'i memiliki tiga syarat yaitu
menutupi batasan aurat, tidak transparan, dan tidak mencetak bentuk tubuh.
Falsafahnya,
pasangan yang baik itu adalah suami yang dapat menjaga rahasia
Berbicara
tentang pakaian, pakaian yang baik adalah pakaian yang memenuhi syarat
fungsinya
2.
Membangun Peradaban Mulai dari Keluarga
a.
Negara Kecil dalam Keluarga
b.
Keluarga adalah Tim
c.
Peran Kepemimpinan Ayah
Semoga
kita bisa bahas satu persatu dalam satu Sarkar saja, ya, Reader. Sebelumnya
sepakat dulu bahwa kita sama-sama kosongkan semua isi hati yang lain kecuali
cahaya ilmu dan hidayah, agar kebenaran bisa masuk ruang hati kita dengan
leluasa dan nyaman. Bila kita kosongkan hati dari persepsi insya Allah yang
berbicara bukan emosi tapi hati nurani yang penuh limpahan cahaya suci.
a.
Pasangan Kita adalah Pakaian.
Alquran
menyebutkan bahwa suami istri adalah pasangan yang saling berfungsi sebagai
pakaian. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اُحِلَّ لَـکُمْ لَيْلَةَ الصِّيَا مِ الرَّفَثُ
اِلٰى نِسَآئِكُمْ ۗ هُنَّ لِبَا سٌ لَّـكُمْ وَاَ نْـتُمْ لِبَا سٌ لَّهُنَّ ۗ
عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّکُمْ كُنْتُمْ تَخْتَا نُوْنَ اَنْفُسَکُمْ فَتَا بَ
عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَا لْــئٰنَ بَا شِرُوْهُنَّ وَا بْتَغُوْا مَا
کَتَبَ اللّٰهُ لَـكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَا شْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ
الْخَـيْطُ الْاَ بْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَ سْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ
اَتِمُّوا الصِّيَا مَ اِلَى الَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَا شِرُوْهُنَّ وَاَ نْـتُمْ
عٰكِفُوْنَ ۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَا ۗ
كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
"Dihalalkan
bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian
bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak
dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu.
Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah
bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih
dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang)
malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid.
Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa."
(QS.
Al-Baqarah 2: Ayat 187)
Sebuah
ayat yang cukup panjang memaparkan tentang bagaimana seharusnya hubungan suami
istri dilakukan selama bulan Ramadhan. Perumpamaan dengan pakaian memiliki
falsafah yang luar biasa penuh makna. Dilanjutkan dengan bagaimana pemenuhan
hak dan kewajiban suami istri tetap dalam koridor yang Allah SWT gariskan agar
manusia dapat meraih ketakwaan.
Kembali
pada bahasan kita, ya Reader, bahwa pernikahan yang berkah itu menjadikan suami
istri sebagai pakaian bagi satu sama lain. Pakaian dalam persepsi Islam
memiliki tiga fungsi yaitu fungsi sebagai:
1.
pemenuhan kebutuhan pokok
2.
menutupi aurat sesuai dengan batasan yang Allah SWT perintahkan
3.
mendukung terpenuhinya kesehatan jasmani
4.
menjadi hiasan sebagai fungsi estetika.
Reader,
yuk kita bahas satu-satu untuk empat point fungsi pakaian.
Pertama,
pakaian adalah bagian dari kebutuhan pokok. Sebagaimana berpasangan yang
merupakan kebutuhan pokok bagi insan pada umumnya. Karena berpasangan adalah
kebutuhan pokok, maka pencariannya pun seharusnya memenuhi kesungguhan
seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pakaian didapat dari bahan baku
yang halal dijadikan pakaian. Terkait dengan pasangan, syarat pertama pasangan
mesti halal dinikahi. Nah, untuk pasang yang halal di nikahi ada di sarapan
kata di lima hari pertama kita. Masih ingatkah? Intip kembali syarat nikah
halal, ya?
Semua
bahasan tentang hukum nikah yang menjadi ibadah telah kita kupas tuntas,
baiklah kita tegaskan lagi di sini tentang nikah yang halal.
Kedua,
pakaian adalah penutup aurat kita. Aurat adalah sesuatu yang memalukan apabila
diketahui oleh orang yang tidak berhak melihatnya. Aurat di sini berarti aib
dan kekurangan. Pakaian yang baik secara syar'i memiliki tiga syarat yaitu
menutupi batasan aurat, tidak transparan, dan tidak mencetak bentuk tubuh.
Falsafahnya,
pasangan yang baik itu adalah suami yang dapat menjaga rahasia
Berbicara
tentang pakaian, pakaian yang baik adalah pakaian yang memenuhi syarat
fungsinya
2.
Membangun Peradaban Mulai dari Keluarga
a.
Negara Kecil dalam Keluarga
b.
Keluarga adalah Tim
c.
Peran Kepemimpinan Ayah
HARI KE-42
E. Duri Qalbu dalam Rumah Tangga
1. Curiga
2. Cemburu
3. Dayyuts
4. Jenuh
5. Kemewahan atau Kesederhanaan
Hari KE-43
F. Ketika Prahara Melanda
1. Hadirnya The Other Person
2. Jika Rezeki Tak Juga Mencukupi
3. Mengapa Cinta Tak Kunjung Tiba
4. Perpisahan yang Solutif
5. Kisah Perceraian Syar'i
6. Agar Tidak Jadi Benci
Hari Ke-44

Komentar
Posting Komentar