Buku Solo III-Kumpulan Kisah Inspiratif Nubar Area I
BUKU SOLO III
ANTOLOGI NUBAR
KISAH INSPIRATIF I
(Kumpulan
Antologi dari Event Nubar Area)
PTNA-SALAWU
2020-2021
DAFTAR ISI
1.
NUBARAREA_THE REAL SAHABAT_SAHABATKU ISTRI SUAMIKU
2.
NUBAR AREA_SAMARA BERSAMAMU_CINTA PENUH
PENGORBANAN
3.
NUBAR AREA_ANAKKU INSPIRASIKU_AKHIRNYA AKU BISA
4.
NUBAR AREA_AKU
INGIN LEPAS_RIBA ITU MENCEKIK LEHER IBUKU
5.
NUBAR AREA_AKU INGIN LEPAS_RIBA ITU MERUSAK PERSAUDARAAN
6.
NUBAR AREA_RATIH, DEMI EMAK PULANGLAH!
7.
NUBAR AREA_FINALLY I FOUND SOMEONE_IBADAH
CINTA SEINDAH SURGA
8.
NUBAR
AREA_KAMBING HITAM TAK SELAMANYA HITAM_“MAAFKAN KETELANJURKU, SAHABAT!”
9.
NUBAR
AREA_SUSPEND EPISODE_NYARIS
10.
NUBAR
AREA_BERKAH DOA IBU_TETES KESADARAN
DARI KETULUSAN DOA I
11.
NUBAR AREA_JEJAK MEMOAR_MY DAD, MY HERO
12.
NUBAR AREA_JEJAK MEMOAR_ JANGAN MENYERAH MALA (CATATAN PERJUANGAN SEORANG SAHABAT)
13.
NUBAR AREA_ HATI YANG TERTINGGAL_PERPISAHAN BIRU
14.
NUBAR AREA_SUPER MOM_KAYUHAN
SEPEDA EMAK
15.
NUBAR AREA_INSPIRING LEADER_KEIKHLASAN
MENGALAHKAN SEGALANYA
16.
NUBAR AREA_KALIAN LUAR BIASA_JALAN BERLIKU MENCARI GURU
17.
NUBAR AREA_GENERASI DI UJUNG BELATI _Selamatkan Anakku, Ya Rabb
18.
NUBAR AREA_STTT JANGAN GHIBAH!_GHIBAH, PERCIK API PERMUSUHAN
19.
NUBAR AREA_MENANTI SEKEPING HATI_PELABUHAN CINTA MARUTI
20.
NUBAR AREA_RINDU YANG TERHEMPAS_ LAATAQRABUZZINA BENTENG KESUCIAN
PERGAULAN ISLAMI
21.
NubarArea_The
Real Sahabat_Sahabatku Istri Suamiku_Khadijah Hanif
SAHABATKU
ISTRI SUAMIKU
Menikah dan memiliki momongan menjadi
impian bagi tiap pasangan suami istri.
Kehadiran anak-anak ibarat bunga bermekaran di tengah taman. Anak-anak adalah cahaya mata di taman cinta
kami berdua.
“Sekarang kandunganmu udah berapa
bulan, Bun?” tanya Mas Saif lembut sambil membelai perutku.
“Baru satu bulan, Ayah.”
“Bunda harus menjaganya, Sayang. Buah cinta ini akan menjadi penerus
perjuangan kita, orang tuanya. Menjadi
harta paling berharga bukan hanya di dunia tapi juga setelah kematian
kita. Bahkan menjadi peringan beban
akhirat kita. Jika kita mendidik amanah
ini dengan benar.”
Mendengar harapan Mas Saif, membuat
kepalaku berdenyut. Entah mengapa aku
merasa mendidik anak bukan hal yang mudah buatku. Dari dulu aku kurang suka dengan
anak-anak. Sebagai anak bungsu, aku
cenderung kurang perhatian dengan anak-anak.
Ngidam di bulan-bulan
awal membuatku sangat kerepotan.
Penciuman ini beratus kali lipat lebih peka daripada kondisi
normal. Makanan di depan mata seakan
berubah pekat karena baunya terlalu menyengat.
“Maaf Ayah, Bunda nggak bisa. Bunda mau ke kamar mandi sebentar.” Aku langsung lari menuju toilet dan seluruh
isi perut terburai. Rasa pahit memenuhi
rongga mulutku, bau tidak sedap membuat kepalaku makin berat, semua seakan
berputar dan aku tak ingat apa-apa lagi.
***
Tiba-tiba aku sudah berada di atas
dipan dan kasur bahkan ruangan serba putih.
Di tangan kiriku terlilit selang bening, infus. Mas Saif ada di sampingku dengan guratan
wajah cemas.
“Aku pingsan, Ayah? Aduh perutku sakit.” Aku mengaduh, menggigit bibir menahan sakit
di perutku.”
“Tenang, Bun. Sabar ya, Allah belum mempercayai kita untuk
menerima amanah.” Mas Saif berusaha
menenangkan aku, tapi aku menangkap kegelisahan dan kecewa yang mendalam di
sorot mata elangnya. Dua alis tebalnya
hampir bertemu menanggung beratnya keputusasaan.
Aku memaklumi sepenuhnya rasa kecewa
Mas Saif. Kali ini sudah ketigakalinya
aku mengalami keguguran,” Maafkan aku, Mas.
Aku bukan ladang yang baik, bukan kebun yang subur untuk menanam benih
yang kau semaikan.” Aku memendam dalam
batin suara-suara yang membuat air mataku mengalir deras, tanpa aksara.
“Sudahlah, Bun. Allah akan memberikan pada saat yang
tepat. Pada momentum yang terbaik dan
terindah.” Tangan kekar Mas Saif
mengusap linangan air mataku penuh kelembutan.
Menyingkirkan beban di dadaku yang telalumenghimpit.
Di saat sedih seperti ini, aku raih
gawaiku buat menghubungi Tania. Sahabat
terdekatku sejak SMP lima belas tahun silam.
Sempat terpisah saat SMA kemudian bersama lagi saat kuliah. Kesibukan kerja merenggangkan kami dalam tiga
tahun terakhir.
Meskipun badanku terasa lemas,
dorongan hati untuk mengobati lara cukup menguatkan aku. Satu ibu jari kananku mulai membariskan huruf
satu persatu.
“Assalamualaikum, Tania. Ini aku, Kania sahabatmu, masih
ingatkah?” Aku memulai chat WA.
Seperti biasa Tania selalu merespon
cepat kalau mendapat chat dariku.
Meskipun tidak sering berbagi kabar, tapi di saat-saat sangat penting
kami akan saling menghubungi.
“Waalaikumsalam. Kamu Kania, mana bisa aku lupa? Kamu selalu hadir di saat yang tepat. Dari dulu zaman BBM sampai zaman gawai
begini, kamu seakan pahlawan buat aku.
Semua masalah seberat apapun selalu bisa kita urai berdua. Aku punya feeling, kamu sedang dalam masalah,
benarkah?”
“Tebakanmu selalu tepat, Tania. Tapi bukan berarti aku kontek kamu saat ada
masalah, lho.” Aku mencoba menutupi rasa
malu yang hadir tiba-tiba. “Aku hanya
ingin kamu datang ke rumahku. Aku lagi
sakit. Keguguran untuk yang ketiga
kalinya bukan hal yang mudah buat aku mengatasi trauma ini. Aku masih dirawat di klinik bersalin.”
“Siap, aku akan segera datang. Shareloc alamat tempat kamu dirawat ya,
Say.” Tania yang dari dulu kukenal gesit
itu selalu saja alreadystock buat aku.
Tania tinggal di kota kabupaten
sebelah. Jarak dari tempat kerjanya
dengan tempat tinggalku dapat ditempuh dalam waktu satu jam. Kalau menaiki kendaraan pribadi akan lebih
cepat. Aku hanya ditemani Mas Saif dan
Bunda Rina, ibu mertuaku.
“Assalamu’alaikum, Kania.” Sosok tinggi semampai dengan setelan hijab
syari memasuki ruang inapku. Tania
memakai masker senada dengan hijabnya.
Meskipun begitu aku sangat bisa mengenalinya dari suaranya yang
khas. Ingin sekali aku memeluknya, tapi
masa pandemi menyekat kami dalam jarak aman.
Kami hanya bisa saling bergenggaman
tangan. Kehangatan persahabatan di masa
SMP dulu seakan merayap di jari jemariku.
Rasa saling berterima kasih mengiringi ketulusan persahabatan kami.
Dengan halus aku meminta Mas Saif
untuk membiarkan kami berdua. Sementara
Bunda Rina sedang menunggu waktu Salat Magrib di musala
"Tania, aku sudah tiga kali
hamil dan selalu keguguran. Sepertinya
aku punya beban psikologis tiap kali hamil.
Kau tahu sendiri aku bukan tipe penyuka anak kecil kayak kamu."
"Kania, tenang aja, kamu pasti
bisa. Dulu kamu sering ragu buat
menjalani tugas-tugas organisasi. Kamu
merasa nggak bisa. Dan ternyata kamu
bisa melakukan yang terbaik."
Aku tersenyum mengingat peristiwa di
masa kuliah dulu. " Iya, aku selalu
bisa karena ada kamu di dekat aku. Aku tahu yang perfect itu kamu bukan
aku."
"Atau aku harus jadi babysitter
buat bayi kamu supaya kamu tenang begitu?" tanya Tania meledekku.
Aku menonjok lengannya,
gemas." Nggakgitu juga kali. Aku
ingin kamu mendampingi aku buat Mas Saif.
Bersediakah kamu, sahabatku?"
Tania terbeliak setengah tidak
percaya dengan tawaranku ini. Dia tidak
pernah keberatan untuk membantu apapun kesulitanku tapi permintaanku kali ini
sangat mengagetkannya. Mata bekelnya
seakan mau keluar dari tempurungnya.
Aku berhenti membicarakan
permintaanku itu. Aku alihkan pada
perbincangan yang lain. Namun Tania mengembalikan
perbincangan pada permintaanku.
"Pantesan kamu mengajakku
berpoligami. Semalam aku mimpi duduk di
samping kiri Mas Saif dan kamu di samping kanannya."
"Persis, aku juga mimpi hal
serupa tapi seminggu yang lalu. Aku
mencoba memaknai mimpi itu. Apakah ini
berarti kita harus membina dua cinta dalam satu atap? Makanya aku istikhrah dan
jawabannya Mas Saif serahkan semua pada keputusan kita." Aku menandaskan niat baikku pada sahabat
karib di depanku ini.
Tania menanyakan filosofi di balik
poligami yang akan kami bangun. Lalu aku
menjawab sesuai apa yang diungkap Mas Saif, sesuatu yang membuat aku makin
makin bertekad bulat buat mempraktikkannya.
“Mas Saif bilang, yang pertama mesti
niat lillah. Bahwa ada perintah di balik poligami ini. Bahwa tiap keimanan harus dibuktikan,
bukankah tidak sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya seperti
dia mencintai dirinya sendiri. Poligami
adalah tester terbaik mengetahui kecintaan seseorang pada saudaranya.
Yang kedua niat membela agama Allah
dan Rasulnya. Poligami dianggap titik
lemah agama ini dengan tuduhan merendahkan wanita, memihak pada dominasi pria
di atas wanita. Belum lagi tuduhan
terlalu keji terhadap Rasulullah yang membawa ajaran berpoligami sekaligus
sebagai pengamalnya. Satu-satunya cara
efektif menjawab tuduhan mereka adalah dengan melawan praktik poligami salah
dengan poligami salih sesuai sunah. Jadi
poligami bagian dari perjuangan agama fii sabilillah.
Ketiga, pendidikan ruhani melalui
poligami sangatlah banyak. Diantaranya menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada pria,
mengasah ketajaman akalnya. Pada diri
wanita, poligami dapat mendidik sembilan napsu wanita. Iri dengki, kesombongan, bangga diri, merasa
diri lebih baik dari orang lain. Kikir
enggan berbagi, mementingkan diri sendiri yang berawal dari cinta dunia. Bukankah di luar sana banyak wanita yang
harus dibela.”
Aku memberikan kuliah poligami tiga
SKS pada Tania. Buah diskusi kami selama
dua tahun pernikahan.
"Aku tertarik dengan point
kedua, Kania. Sangat masuk akal dan
menantang keinginan berpetualangku. Tapi aku minta waktu satu pekan buat
istikharah. Bagaimanapun nggak mudah
membuat keputusan yang anti mainstream begini, Kania. Pandangan miring masyarakat tentang poligami
adalah tantangan terbesar. Belum lagi
berbagai pertanyaan orang tua. Tapi ada
hal yang akan sangat membantunya meringankan penentangan orang tuanya, satu
kartu kunci, permintaanku sebagai istri pertama.
***
Acara lamaran menjadi moment
istimewa. Bisa dikatakan kejadian langka istri pertama melamarkan istri
berikutnya buat suami. Aku merasa
beruntung, diberkahi dan mendapat hadiah besar dari Allah SWT. Tentu saja di balik itu semua, peranan Mas
Saif dalam membagi kepahaman padaku.
Pernikahan negara dilangsungkan
sebulan sesudah acara lamaran. Sementara
itu pernikahan agama langsung kami lakukan setelah lamaran. Cukup dengan menghadirkan Tania dan Mas Saif
sebagai mempelai, mahar, wali dari pihak Tania dan saksi.
Saat surat Arrahman dilantunkan
sebagai mahar, berdesir hatiku, ada rasa iri yang segera kupadamkan dengan
kasih sayang buat Tania. “Kania, jangan
bikin malu diri sendiri. Bukankah kau
sendiri yang meminta kesediaan Tania.
Apakah setelah kau yang meminta, kau jua yang hendak menyudahi
ikatannya?”. Aku berkompromi dengan diriku sendiri
Entah dari mana, peristiwa aku
melamar Tania cepat tersebar. Padahal
aku tidak pernah memberi tahu rekan-rekan kantorku. "Kania, kamu bisa-bisanya mengambil
langkah nggak biasa ini? Kamu gila, ya?!" Pertanyaan dari teman-teman
kerja mencecarku di gawai.
Dengan santai aku menjawab
keheranan mereka. “Mas Saif menjelaskan
semua tentang poligami. Dia punya dalil
yang jelas, argumen yang tak terbantahkan.
Dia juga punya kesabaran, pengertian, pengorbanan. Sikap manis dan perhatian dia, membuatku
memiliki cinta yang tak biasa. Sebuah
cinta yang dimaknai memberi tanpa meminta, berkorban tanpa menuntut pengorbanan,
membeei pengertian tanpa meminta untuk dimengerti. Sifat ini membuat kami merasa pantas memberi
cinta tulus buatnya. Cinta itu pula yang ada antara aku dan Tania".
"Jadi kamu nggak takut cinta
Mas Saif nggak utuh kagi buat kamu?"
"Cinta itu abstrak. Nggak mengenal utuh dan tidak utuh. Karunia dari Yang Mahacinta. Segenggam cinta
untuk satu orang. Dan cinta seluas samudra untuk sejuta orang. Mana yang lebih mencukupi dan memadai? Buatku
makin banyak hati makin banyak cinta. Mengapa aku harus takut?"
Tak terasa dua puluh pernikahan
kami. Aku dikaruniai tiga anak dan Tania
dua anak. Kami saling rukun, berkasih
sayang. Bahkan anak-anak kami menjadi
perekat, mereka begitu takut kehilangan kami berdua. Saat asam garam berumah
tangga menghampiri kami, merekalah yang merayu kami untuk tidak ada luka.
Terima kasih Tania kau telah
lengkapi hidupku sebagai sahabat satu hati sekaligus istri satu suami.
CINTA PENUH PENGORBANAN
(Khadijah Hanif)
“Biar Abi aja yang nyuci,” sahut
suamiku saat aku menuju kamar mandi untuk mencuci pakaian.
“Jangan, Abi, Ummi malu sama
tetangga. Masak membiarkan Abi ngerjain
pekerjaan Ummi?” Aku bergegas takut
keduluan suamiku. Dan ternyata pekerjaan
rumah sudah diselesaikannya dengan rapih.
Aku tidak bisa memutar waktu untuk membuat pekerjaan itu aku kerjakan
sendiri. “Masya Allah Allah, terima
kasih, Abi, semuanya udah beres. Maafin
Ummi, ya?” ungkapku dipenuhi rasa bersalah.
“Tak apa, sesekali Abi yang kerja
rumah. Apalagi Ummi sedang nggak enak
badan, kan?” ucapnya ringan sambil
tersenyum . Padahal suamiku juga sedang
batuk pilek. Sakitnya pun lebih berat
dari apa yang aku rasakan. Setiap kali
batuk, hernianya akan membesar dan ia harus menahan rasa sakit.
Aku ciumi tangannya sambil
berkali-kali mengucap rasa terimakasihku.
Ia pun memeluk dan mencium keningku, mesra. Aku menghela napas panjang, ada penyesalan,
ada rasa sayang, rasa terimakasih, bercampur aduk jadi satu.
Tidak terasa pernikahan kami sudah
memasuki tahun kedua puluh tiga.
Berbagai kisah telukis di sepanjang waktu kami bersama. Ada suka duka, pahit manis selayaknya
perjalanan hidup manusia. Akan tetapi
kebersamaan, saling pengertian dan
perasa cinta membuat kami mampu melalui setiap fase dengan memohon
pertolongan hanya pada-Nya.
Ada satu hal yang kental aku rasakan
dari suamiku, dia tipe orang yang romantis.
Dia bisa bermesraan kapan pun saat kami hanya berdua. Alhamdulillah aku bisa mengimbangi sikap
romantisnya sehingga ia tidak merasa aku abaikan.
Sebaliknya, aku adalah tipe istri
yang tidak ingin membebani suami. Segala
kepahitan lebih baik aku telan sendiri daripada aku bagi dengan suamiku. Kebahagiaanku justru saat melihatnya
bahagia. Itulah yang membuat hampir
semua kerja kantor, organisasi dan bahkan naskah khutbah di beberapa majelis selalu berusaha aku
kerjakan. Itu juga yang membuatku
berusaha menutupi kebutuhan keluarga selama aku mampu, aku akan meminta jika
semua jalan sudah tertutup.
“Ummi, minta uang buat kegiatan,”
ucap anak sulungku di seberang sana.
Wa-calling yang paling sering aku terima dari anak-anak kami yang
semuanya sudah kami pesantrenkan.
“Sabar, banyak berdoa, baca Waqiah
banyak-banyak. Semoga Allah beri
kemudahan buat kita.” Jawaban seperti
itu aku biasakan untuk anak-anakku supaya mereka menyadari semua kemudahan
berasal dari pertolongan Allah SWT.
Aku memutar otak, permintaan
anak-anak untuk kegiatan di luar budget pasti akan membebani
suamiku. Jalan pintas yang paling mudah
adalah meminta pada bendahara kantor.
Aku mengambil gaji lebih awal untuk dipotongkan dari gaji bulan depan. Kadang aku gunakan uang pemberian ibuku,
hasil panen sawah peninggalah almarhum bapak, atau apa saja yang penting
suamiku tidak banyak terbebani.
Rasa cinta yang menggumpal di dadaku
ini aku rasakan sebagai karunia besar dari Allah SWT. Tanpa itu aku tidak akan merasa bahagia. Kadang aku bertanya, adakah ia memiliki rasa
cinta sebesar cintaku padanya?
Perjalanan waktu membuktikan cintanya padaku lebih dari cintaku padanya.
“Abi, bagaimana kalau kita mencoba
meniru rumah tangga Rasulullah?” tanyaku suatu hari dengan serius.
“Maksud Ummi apa?” Suamiku balik bertanya heran. “Bukankan kita sudah berusaha menjalankan
sunahnya?” imbuhnya.
“Maksud Ummi, Ummi ingin
menghadiahkan satu lagi bidadari buat Abi.
Ummi sudah melakukan pendekatan pada Ukhti Nadia.”
Ekspresi suamiku datar atas apa yang
aku rencanakan untuknya. Kami memang
terbiasa mendiskusikan tentang keluarga poligami. Cara hidup berpoligami memang tidak asing
bagi kami. Para guru, ustaz dan masayikh
kami melakukannya. Mereka pun
memberikan contoh yang baik tentang cara hidup yang telah lama dirusak oleh
praktisi poligami yang tidak sesuai sunah.
Seandainya suamiku berminat niscaya
dia akan segera menanggapi niatku dengan meminta Ukhti Nadia pada orang
tuanya. Akan tetapi dia tidak pernah
punya niat untuk menikah lagi. Padahal
aku sudah memilihkan seorang akhwat salihah dan penghafal Alquran. Aku membayangkan keluarga ini akan lebih
lengkap dengan hadirnya seorang hafizah yang turut mendidik anak-anak
kami. Semuanya aku serahkan pada Allah
SWT. Mungkin kami belum mampu membangun
rumah tangga seatap bertabur cinta dengan hadirnya istri kedua.
Aku merasakan ada kekecewaan
terselip dalam lembar hatiku.
Cita-citaku memberi hadiah
terindah kandas oleh tanggapan suamiku yang hambar. Tapi aku berusaha meredam kecewa ini dengan
rasa syukur. Bukankan dengan memiliki
lebih dari satu istri akan membuatnya bertambah beban dan tanggung jawab. Aku merasa iba juga bila beban hidupnya
bertambah berat.
“Abi, kenapa nggak mau
berpoligami. Bukankan menghidupkan sunah
Rasulullah akan mendapat ganjaran seratus pahala syahid?” tanyaku serius.
“Abi percaya dengan ketulusan Ummi,
tapi entah mengapa Abi mengkhawatirkan perasaan Ummi.”
“Abi nggak percaya atas ketulusan
hati Ummi?”
“Bukan begitu, Abi yakin selama ini
Ummi selalu qanaah. Tapi kita
tidak tahu dengan sifat Ukhti Nadia ke depannya. Apakah dia juga mau diajak hidup sederhana,
apa adanya? Kita bukan keluarga kaya dan
berlebih. Allah memilih rezeki yang
pas-pasan buat kita. Pas butuh pasti
ada. Itu pun harus kita iringi dengan
rintihan dan doa. Baru Allah datangkan
dari jalan yang tidak terduga.”
“Bukankan ada salah satu pintu
dibukakannya rezeki itu dari menikah, Abi?”
Aku terus merayunya untuk membukakan hatinya buat wanita lain.
“Itu benar, tapi kita juga harus
menjaga hati anak-anak kita. Apakah
mereka siap dengan ucapan teman-temannya kalau abinya punya istri lagi? Budaya kita masih jauh dari menerima
poligami, Ummi. Apalagi masyarakat kita
dicekoki dengan cerita dan sinetron yang selalu mendiskreditkan ibu tiri.”
Berbagai macam cara aku lakukan
untuk membuatnya percaya diri melamar wanita lain. Bahkan aku sanggup untuk menyediakan mahar
dan acara lamarannya meskipun sederhana.
Tetapi lagi-lagi ia menolaknya.
Sebagai timbal baliknya ia makin
bersikap mesra denganku.
Memasuki usia kepala lima, kasih
sayang itu tidak berkurang tapi makin bertambah. Aku kadang khawatir tidak akan mampu
mengimbanginya saat menopause. Ah, aku
tidak ingin jauh berprasangka buruk atas apa yang belum terjadi. Sesungguhnya Allah bersama prasangka
hamba-Nya.
Sampai saat ini aku yakin perasaan
cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.
Dimanapun kami berdua singgah, kesempatan bercinta selalu hadir. Setiap kami melakukan ibadah cinta, dia
selalu ingin aku mendaki hingga puncak kebahagiaan. Ia takkan pernah rela mendahului kebahagiaanku. Di sinilah cinta penuh pengorbanan aku
persembahkan sekali lagi untuk membalas cinta dan pengorbanannya. Ah, qku tak mampu mengungkapkan secuil
rahasia bahagiaku ini pada siapa pun kecuali pada Tuhanku saja.
Mungkin orang menilai kebahagiaan
dalam kepura-puraan adalah kebahagiaan semu.
Akan tetapi tidak demikian dengan prinsip hidupku. Kebahagiaan adalah saat melihat orang yang
kita cintai menemukan kebahagiaannya.
Rasa cinta ini kadang menyiksaku
juga, yaitu saat orang lain menyakitinya.
Aku akan dengan mudah meradang membela kehormatannya. Berkali-kali rasa sakit itu singgah di hatiku
saat ada orang yang melukai hatinya.
Suatu ketika ada prahara di tempat
kami mengabdi dan mewakafkan jiwa raga, Pesantren Amarul Wustha. Ada perombakan besar-besaran di tubuh
yayasan. Kondisi pancaroba membuat semua
kegiatan harus tetap berjalan, suamiku mendapat dua belas amanah kegiatan dalam
satu tahun. Aku all out dalam membantunya. Mulai dari administrasi hingga pelaporan
kegiatan. Alhamdulillah Alwustha bisa
terselamatkan. Hanya saja keberhasilan
suamiku berbuntut iri dengki dari orang-orang yang tidak senang melihat
keberhasilannya.
“Mana semua laporan kegiatan dalam
satu tahun ini,” tantang Pak Hadi selaku bendahara Yayasan Amarul Wustha. “Jangan menjadi benalu di pesantren ini. Mengambil keuntungan dan kesempatan
memperkaya diri.”
Aku adalah orang yang paling sakit
dengan tuduhan itu. Aku yang paling tahu
setelah Allah dan malaikat-Nya tentang keuangan yang dipegang suamiku.
“Ini apa lagi. Mengapa pengasuh santri bisa mendapat
tanggung jawab mesin fotokopi? Harusnya
bagian unit usaha,” cecar Ibu Naila tak kalah sengit.
“Pengurusan mesin fotokopi itu bukan
keinginan saya tapi ada SK dari pimpinan pondok.” Suamiku menjawab datar.
Pimpinan pondok mengernyitkan dahi,
“Saya tidak merasa mengeluarkan SK tanggung jawab fotokopi pada Ustaz
Sabri.” Aku sudah menduga pasti aka nada
drama cuci tangan.
“Ummi tolong ambilkan SK Abi di
rumah. Semua yang berkaitan dengan
pekerjaan Abi satu tahun ini,” pinta suamiku dengan wajah tenang.
Aku segera mencarinya di rumah. Qadarullah aku tidak menemukannya. Aku ingat salinan SK ada di kantor
administrasi. Sore itu aku bergegas ke
kantor Tata Usaha. Alhamdulillah ada Ibu
Halimah di sana. Orang yang paling baik
di pesantren ini.
“Ibu, mohon maaf, bisa minjam
salinan SK suami saya?”
“Tadi ada yang pesan SK Ustaz Sabri
jangan dikasih ke siapa-siapa. Hal ini
untuk menyelamatkan kehormatan pimpinan.”
“Justru kejujuran ini akan
menyelamatkan bapak pimpinan dari murka Allah.
Keadilannya akan menyelamatkan pimpinan dari siksa akhirat. Tolong ya, Bu. Saya pinjam sebentar saja.” Aku terus membujuk sebisaku. Ibu Halimah orang yang hanif, ia memberikan
lembaran SK itu.
Aku segera membawa berkas itu ke
pertemuan. Senyum cinta, terima kasih,
kebahagiaan terpancar saat suamiku menerima lembaran itu.
Satu
persatu SK tugas dipertunjukkan suamiku di hadapan para pengurus yayasan. Semua tertunduk dalam diam. Justru aku yang merasakan sakit hati sangat
dalam atas perlakuan mereka pada suamiku.
“Ummi, tak baik membiarkan hati luka
berkepanjangan. Allah akan melihat hati
kita penuh guratan rasa sakit dan kekeruhan dendam. Biarkan saja yang sudah berlalu, kita lupakan
kesalahan sesame. Bukankah Allah sudah
memberikan pembelaan-Nya pada kita sore itu?”
Ucapan bijaknya seakan oase di padang pasir nan gersang. Aku peluk suamiku penuh cinta.
Terima kasih Tuhan, Kau karuniakan
cinta penuh pengorbanan pada kami.
AKHIRNYA AKU
BISA
By: Khadijah
Hanif
"Kamu pingin kuliah? Jangan mimpi, deh! Kuliah itu mahal butuh biaya besar. Aku aja nggak berani bermimpi!" ledek
Kang Eman saat aku mengungkap harapanku setelah lulus SMA. Kalimat iu seakan selalu basah di
telingaku. Aku sulit melupakannya.
Sejak
mendengar ucapan itu, hatiku makin
ciut. "Benar juga, buat apa aku
kuliah kalau hanya membebani orang tua.
Ibu sudah makin tua dan sakit-sakitan sementara ayah belum juga kembali
dari perantauan. Kebutuhanku banyak
ditanggung kakak sulungku, Kang Mahfuz,"gumamku lirih.
"Eh, Surya, ngapain sendirian di sini. Sebentar lagi bel masuk. Biasanya kamu belajar. Ini malah ngalamun!" Lukman mengagetkanku. Ya, aku hilang semangat sejak kakak kelasku
mencibir cita-citaku. Biasanya di
saat-saat penilaian akhir seperti ini aku selalu berusaha keras mempertahankan
ranking pertamaku. Aku pikir buat apa
aku terlalu serius toh aku nggak mungkin bisa kuliah.
Saat pembagian rapot pun tiba dan
aku kurang bersemangat menerimanya.
Paling-paling bakal terjun bebas.
Boro-boro tiga besar,
rasa-rasanya bisa masuk sepuluh besar juga sudah beruntung banget. Panggung samenan tertata megah, hasil kerja keras anggota OSIS yang juga
panitia samen, tetepi terasa hambar.
Tidak ada yang istimewa di sana.
Tanpa darah aku mengikuti acara
ini. Apalagi kedua orang tuaku tidak
bisa hadir. Rasanya aku ingin segera
pulang.
"Acara selanjutnya adalah
puncak dari acara samen kita, yaitu pengumuman siswa berprestasi dan
pembagian penghargaan." Pembawa
acara menyampaikan agenda selanjutnya. Terselip
rasa sesal, seandainya aku tetap bersungguh-sungguh belajar, setidaknya aku
masih bisa berbangga di hadapan seseorang yang singgah di hatiku, Amalia.
"Peringkat ketiga Kelas sebelas
MIPA satu diberikan pada Ananda Susi Sulastr.
Ananda Susi Sulastri dimohon menaiki panggung. Selanjutnya peringkat kedua diraih oleh
Ananda Yusuf Efendi. Kepada Ananda Yusuf
dipersilahkan menaiki panggung. Dan yang
terakhir, peringkat pertama diraih oleh Amalia Fauzunnisa. Kepada Ananda Amalia kami panggil untuk
menaiki panggung samen." Suara
tepuk tangan riuh rendah mengiringi senyuman orang-orang yang berbahagia saat
ini.
Pengumuman dari MC menegaskan
kebenaran dugaanku. Semua sesuai dengan
pengorbananku yang ala kadarnya di akhir semester ini. Aku makin tenggelam ke dasar impianku untuk
mengenyam pendidikan tinggi.
"Surya, kamu nggak asik lagi
deh sekarang," sapa Amalia menghentikan langkah gontaiku.
"Emang aku bukan Surya yang kau
kenal dulu, Lia. Kita nggak bisa lagi berkejar peringkat di kelas.” Aku menjawab sekenanya sambil berusaha
menyelami perasaannya.
"Kenapa begitu?" Aku
membiarkan Amalia penasaran. Gadis hijaber
itu memacu langkah bersama sahabat karibnya, Nuria, meninggalkanku berjalan di koridor sekolah
sendirian.
Di gerbang sekolah, seseorang meraih
tanganku yang kebas oleh rasa lelah. Aku
mengarahkan pandanganku pada pemilik tangan itu, ternyata Pak Sumardi, guru
BP-ku.
"Surya, ikut bapak
sebentar. Ada yang ingin saya
sampaikan."
"Hmmm... Pasti Pak Mardi akan
menyoal prestasiku yang terjun bebas," batinku, "Iya, Pak. Ada apa,
ya?" tanyaku pura-pura beloon.
“Saya nggak melanggar peraturan sekolah, Pak
Pak Sumardi memang sangat mahir
dalam mengorek permasalahan anak bimbingnya.
Meskipun aku baru kali ini diajak berdialog dengan beliau, aku tahu
bagaimana teman-teman sekelompok bimbingan bisa keluar dari permasalahan
masing-masing.
Kami berjalan menyusuri koridor
menembus arus anak-anak yang pulang
menuju gerbang sekolah, menuju ruang konseling.
Ruang yang belum pernah aku masuki karena aku tak pernah mengalami
masalah serius.
"Surya, saya tahu nilai-nilai
kamu bagus selama ini. Prestasimu juga
selalu menonjol. Di bidang akademik kamu tidak pernah lenyap dari tiga
besar. Dalam bidang olah raga juga kamu
tim inti volly sekolah kita. Pasti ada
penyebab yang cukup meresahkan hatimu."
Semua dugaan Pak Sumardi membuatku mati kutu, tak bisa mengelak dan
membenarkannya.
Tanpa merasa dipaksa dan malu untuk
curhat, aku mengungkap pergolakan batinku yang cukup mengganggu selama ini. Guru favorit anak-anak bermasalah itu
mendengarkan kesahku dengan sabar.
Beliau tidak memotong ceritaku sedikitpun. Seakan ia menikmati ceritaku..
"Bapak bisa turut merasakan
kegundahan kamu, Surya. Apakah kamu
masih punya keinginan kuliah?"
Aku mengangguk dan tertunduk dalam.
"Bapak ada kawan yang menjadi
salah satu pengelola Dompet Dhuafa. Bapak akan coba menghubungi beliau. Semoga ada jalan rezeki dari Allah SWT untuk
kamu. Banyak-banyaklah berdoa dan jangan
pernah putus asa. Karena Allah tidak
akan menyia-nyiakan doa dan ikhtiar kita.
Kalau ada yang mencibir keadaan kita, jadikan itu cambuk untuk
memperbaiki dan mengubah keadaan. Kalau
perkataan orang mudah mengubah sikap dan tindakan kita, berarti kita belum
menemukan keikhlasan lillah." Nasihat
Pak Sumardi begitu menyejukkan dan menghujam di relung-relung kalbuku.
"Insya Allah, Pak, nasihat
Bapak akan saya jadikan penyuluh semangat saya.”
Semangatku pulih semula, seperti
tanaman layu yang tersiram air hujan semalaman.
"Nah, gini, dong! Sahabatku yang asyik is reborn,” ujar Amalia lucu menanggapi pulihnya
semangatku dalam segala hal.
"Reborn gimana, Lia, aku
biasa-biasa aja, kok!" Aku mengelak
dari tuduhannya yang tak bisa kupungkiri itu.
"Semua orang juga tahu kamu
berubah, seperti... Orang yang sedang
patah hati," celoteh Nuria.
"Cie...cie...boleh, dong, kita
tahu pematah hati Surya," lanjut Nita makin tidak jelas.
Aku jengah juga duduk di antara
mereka bertiga, para anggota rohis yang cukup gaul itu. Lebih baik aku menghindar dan kembali
menikmati hobbi lamaku, ke perpustakaan.
Di gudang ilmu itu aku melihat Kang
Eman sedang memilih buku perpustakaan.
Sejak cibiran itu terlontar seakan ada tembok besar penghalang antara
kami berdua.
Aku segera mencari tempat tenang dan
menyendiri. Aku tidak mau mengambil
risiko kehilangan semangat oleh kata-katanya yang panas.
Tidak terasa satu tahun
berlalu. Kelulusan sudah di depan
mata. Aku kembali meraih predikat
terbaik seangkatanku.
"Surya, kamu masih ingat janji
saya?" tanya Pak Mardi begitu aku turun dari panggung.
Aku hanya
tersenyum," kamu terekomendasi untuk mendapat beasiswa Dompet Dhuafa,
sekolah gratis dimana pun kamu diterima kuliah, di kampus negeri ataupun swasta. Ini surat rekomendasinya, kamu sebagai utusan sekolah memenuhi undangan
Dompet Dhuafa."
"Terima kasih banyak Pak, ada
syarat lain yang harus saya penuhi, Pak?" Aku menerima sepucuk amplop itu dengan
hati riang, penuh rasa syukur.
"Kamu harus tinggal di masjid Baitus
Salam dan mengikuti program tahfiz.
Syarat kedua yang kedua taatilah ustaz Salehudin sebagai pembimbing
sekaligus guru di Baitus Salam. Kerjakan
apa yang menjadi amanahnya. Insya Allah
semua maslahat untukmu.
***
Dua syarat yang dikemukakan Pak
Sumardi berusaha aku jalani. Membagi
waktu antara kuliah, menghafal Alquran dan berkhidmat pada Ustaz Saleh tidaklah
berat buat aku. Beruntung selama sekolah
aku terbiasa sibuk dengan kegiatan mulai dari organisasi, ekstrakurikuler,
belajar dan membantu orang tua yang kesusahan dari segi ekonomi dan
kesehatan.
Satu tahun, dua tahun berlalu sesuai
izinNya. Hafalanku perlahan tapi pasti
makin bertambah. Targetku tidak terlalu
muluk, mencapai sepuluh
juz hingga lulus pun
sangat aku syukuri.
Kedekatanku pada Ustaz Saleh juga
memberikan pengalaman sangat berharga.
Aku banyak bertemu dengan orang-orang hebat di tanah air. Jaringan yang luas dan tidak aku ketahui sebelumnya
membuka peluang pada dunia marketing yang aku rintis sesuai jurusan kuliah yang
aku ambil. Semua tak lepas dari berkah
hafalan yang aku punya. Pada acara yang
mengundang Ustaz Saleh sebagai pembicaranya, maka aku sering tercurahi berkah
untuk membaca Alquran.
Akhirnya kelulusan itu tiba. Aku mendapat nilai sangat memuaskan.
“Surya, Bapak memberi kebebasan pada
kamu. Setelah kelulusan ini kamu boleh
terus ikut Bapak dan menambah hafalan, atau lepas dari Bapak untuk meniti karir
di asuransi syariah yang kamu rintis.”
Kalimat bijak itu makin menambah karisma beliau sebagai seorang
ulama. Sangat bijak dan meneduhkan.
“Saya tidak bisa berkata-kata untuk
semua kebaikan dan ketulusan yang Bapak berikan. Ilmu, kesempatan, kebutuhan dan apapun yang
saya terima di sini akan selalu saya kenang dan saya syukuri sebagai karunia
Allah SWT. Sebenarnya saya berat untuk
berpisah dari Bapak, tapi saya juga merasa terlalu jauh menyita kasih sayang
bapak pada putra kandung Bapak sendiri.
Rasanya saya harus tahu diri dan turut merasakan apa yang diinginkan keluarga
Bapak.” Dengan sangat terpaksa aku
mengungkapkan kegundahanku, yang sebenarnya juga disadari oleh Ustaz Saleh.
Aku berpamitan pada keluarga Ustaz
Saleh juga pada santri Baitus Salam.
Perpisahan yang menyayat hati tapi menjadi sebuah keniscayaan sebagai
pasangan dari pertemuan.
Asuransi syariah yang aku rintis
bersama beberapa teman kuliahku makin berkembang. Aku menjadi motivator pada acara-acara
promosi asuransi syariah ini. Jam
terbangku makin tinggi seiring karunia yang Allah limpahkan. Bukan hanya kota-kota besar di tanah air
tetapi juga merambah ke manca negara.
“Assalamualaikum.” Seseorang menyapaku, sudah lama aku tak
mendengarnya, lebih dari tujuh tahun yang lalu. S uara yang selalu aku hindari
karena takut melelehkan semangatku.
“Kang Eman, Kakang ada di
sini?” Aku menatapnya iba. Sosok itu terlihat lusuh dan kurus. Spontan aku raih jabat tangannya dan aku
peluk dengan tulus. Lebur semua sakit
yang dulu pernah terselip di lembaran hatiku.
“Maafkan saya, atas segala ucap yang
mungkin dulu melukai Pak Surya.” Kalimat
itu begitu sejuk membasuh bersih semua rasa sakit yang bersisa.
“Kang Eman jangan panggil aku Pak
Surya, aku masih Surya yang Kang Eman kenal dulu. Sekarang kita bincang-bincang di rumah
aja. Biar leluasa.” Aku menuntun tangan kasar yang kekar
itu. Jejak-jejak kerasnya kehidupan ada
di sana. Bagaimanapun aku bersyukur
dengan apa yang pernah terjadi antara aku dan Kang Eman. Kalau tidak, mungkin Pak Sumantri tidak
pernah menawariku beasiswa yang menjadi wasilah keberuntunganku hingga saat
ini.
‘Ala kulli hallin Alhamdulillah.
AKU INGIN LEPAS
RIBA ITU
MENCEKIK LEHER IBUKU
Sudah
tiga bulan aku tidak menengok ibuku.
Kesibukan kantor benar-benar menyita waktuku untuk sekedar menengok
kedua orang tuaku.
“Dik,
kita sowan ibu-bapak, yuk!” ajakku pada Rania, istriku. Kami menikah setahun yang lalu tapi belum
dikaruniai momongan.
Sepulang
dari kantor perusahaan obat-obatan tradisional terbesar di tanah air, istriku
mengingatkanku tentang rencana menengok kedua orang tuaku. Akupun segera bersiap-siap, mumpung week end
kami punya dua hari untuk berbakti pada orang tua.
Perjalanan
kali ini tidak seperti biasa, aku sangat rindu dan ingin bertemu keduanya. Entah mengapa.
“Mas,
saya mau bicara, tapi Mas Widi jangan marah, ya.”
“Tumben kamu
minta izin buat bicara. Biasanya juga
ceplas-ceplos. Dan aku suka itu.” Aku cubit dagu kekasihku itu mesra.
“Kata ibuku,
apa nggak sebaiknya Mas Widi resign dari kantor?” Seperti mendapat tamparan aku mendengar
pertanyaan Rania. Tapi aku coba
mendengar apa keinginan Rania dan keluarganya. “Soalnya ada subhat di tempat
kerja Mas Widi. Bayangkan bank hanya
akan hidup bila ada yang menyimpan dan meminjam . Orang yang menyimpan enak-enak menunggu bunga
sementara peminjam harus memutar otak mengembalikan pinjaman yang sering kali
bocor sana-sini untuk memperlancar usahanya.”
Aku mengiyakan
dalam hati apa yang dikeluhkan Rania.
Akan tetapi nafsuku berkelit selincah mungkin. “Rania, bank hanya membantu menyediakan
modal. Kalaupun ada bunga, bukan yang
berlipat-lipat seperti yang disebutkan dalam Alquran. 5% itu sangat ringan. Justru bank menyelamatkan mereka dari jerat
rentenir. Bayangkan kalau mereka
meminjam dari rentenir bisa bunganya 100% bahkan 200%.”
Penjelasanku
cukup untuk membungkam permintaan Rania.
Aku merasa menang untuk saat ini.
Tiga jam
perjalanan kami, akhirnya sampai juga di plataran rumah peristirahatan ibu dan
bapakku di masa tuanya. Rumah yang penuh
dengan kenangan. Memori masa kecilku
berdatangan, silih berganti.
Aku memarkir
mobil, mematikan mesin dan mnguncinya stir.
Turun dengan hati berdebar-debar ingin segera memeluk ibu dan bapak.
“Mas, lihat
sini!” Rania bicara setengah teriak.
“Ada apa sih,
Rania, kamu bikin aku kaget aja!” ujarku sambil mendekati Rania
“Siapa yang
menyegel rumah ini?” Tanya Rania heran
Aku tidak kalah
kagetnya dengan Rania. Aku baca tulisan
di dinding rumah “Rumah ini telah disegel oleh…..” Nama sebuah bank tertera di sana.
“Jadi
rumah ini sudah tidak dihuni lagi?” tanya Rania sedih. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Baru saja aku disodori permintaan resign,
sekarang keluargaku sendiri yang menjadi korban riba.
“Kita ke rumah nenek saja. Saya
yakin ibu sama bapak ada di sana.”. Kami
mengendarai mobil kembali untuk mencari tahukeberadaan orang tuaku. Ingin rasanya betanya ke grup wa
keluarga. Akan tetapi rasa malu
mengurungkan niatku. Akuputuskan untuk menelfon
lewat jaringan selular biasa. Usia ibu
orangtuaku sudah kepala tujuh, tidak terbiasa menggunakan android yang aku
belikan.
Terdengar suara di seberang sana. “Maafkan Bapak, aku tidak bisa mengendalikan ibumu.” Suara parau bapak makin terdengar tua.
“Kita bisa bicarakan masalah keluarga kita, Pak. Yang penting Widi harus ketemu Bapak dan ibu
dulu. Bapak tinggal dimana sekarang?”
tanyaku cemas.
“Kami di rumah nenekmu di kota.
Kamu di mana, Wid?”
“Aku sama Rania akan segera menemui Bapak dan ibu.”
Aku mengendarai mobil dengan lebih kencang. Rania mengingatkan aku supaya lebih lambat,
tapi rasa penasaran mengabaikan permintaan istriku.
Dengan gumpalan rasa di dada, aku cium tangan bapak dan ibu. Tangan dan wajah keriput itu menyuguhkan
teka-teki yang ingin segera aku pecahkan.
Apa sebenarnya penyebab rumah itu disegel?
Kami duduk di sofa tua yang tertata rapi di ruang tamu rumah zaman
Belanda itu. Rumah berpondasi
tinggi. Tatanan batunya masih khas rumah
mewah tahun 1940-an. Langit-langitnya tinggi,
ruangannya luas. Cat temboknya pun
dibiarkan sama dengan saat pembuatannya, putih dengan bingkai jendela dan pintu
berwarna biru langit.
“Kami meminta maaf sama kamu, Widi.
Juga pada anak-anak yang lain.
Seharusnya di usia kami, waktu dihabiskan untuk ibadah. Mengumpulkan bekal menghadap Allah. Tapi seorang mengajak ibumu bekerjasama jual
beli permata. Orang itu menjanjikan
modal kembali dalam enam bulan, selebihnya tinggal menerima keuntungan. Ibumu langsung percaya dan mengambil pinjaman
ke bank. Pihak bank seperti mendapat ikan
pada pancingannya. Tapi sayang seribu
sayang seseorang yang mengajak bisnis itu membawa kabur uang ratusan juta
itu. Cicilan modal tidak kunjung
datang. Apalagi keuntungan. Yang ada buntung. Pinjaman di bank hanya bisa terbayar bunganya
saja. Pokoknya tidak berkurang sedikit
pun. Sampai akhirnya apa jaminan itu
disegel pihak bank.”
Bapak bercerita panjang lebar dengan rasa bersalah yang dalam. Sementara ibu hanya bisa terdiam. Wajah ibu dingin, ada ambisi di sorot mata
berusia enam puluh lima itu. Ibu tiri
yang sudah aku anggap ibuku sendiri.
“Untuk kehormatan keluarga kita, biarlah Widi lunasi hutang ke
bank. Bapak dan ibu bisa pulang setelah
semua urusan dengan bank selesai.” Aku
mengalah demi kebaikan keluarga kami dengan syarat ibu tidak mengulangi kembali
kecerobohannya.
Terlihat wajah ibu berseri kembali seakan menemukan ekspresinya. Aku agak ragu akankah ibu benar-benar
bertaubat dari ambisinya selama ini.
Peristiwa ini bukan pertama, tetapi menjadi belitan riba terbesar yang
menimpa ibu.
Aku bahagia, akhirnya bapak dan ibu kembali ke rumah besar kami. Rumah itu aku ganti warna bernuansa putih
apel dengan persetujuan bapak dan ibu.
Sementara pintu dan jendela aku pilihkan warna hijau pucuk daun. Harapanku, semoga warna itu membawa suasana
hati yang lebih bening dan luas.
“Mas, aku khawatir tempat kerjamu yang sekarang ini kurang berkah,”
ungkap Rania, mengingatkanku pada permintaan ibu mertuaku untuk resign.
“Aku juga sedang berusaha untuk mencari peluang baru Rania. Tapi nggak mau aku mengambil risiko keluar
begitu saja sebelum ada pengganti dari pekerjaanku yang lama. Tentu kamu bisa
memahami alasanku, bukan?”
“Ketaatan pada Allah itu hal utama, Mas.
Insya Allah Dia akan menyediakan jalan-Nya.” Rania terus mendesak dengan lembut. Aku tak sanggup untuk marah menghadapi tutur
kata halusnya.
Entahlah, mungkin karena lemahnya iman yang membuatku berat mengundurkan
diri dari bank tempat kerjaku. Gaji
puluhan juta dan kedudukanku yang makin mapan menjadi penyebab utamanya. Kadang bisikan nafsuku berkata, “Siapa yang
akan menjamin hari tua kedua orang tuamu kalau kamu kehilangan pekerjaan. Lagi pula kamu menjadi andalan keluarga saat
ada masalah. Pengobatan ayah kamu,
tebusan pinjaman ibu tiri kamu, semua hanya kamu yang bisa
menyelesaikannya. Bukan kakak-kakakmu
yang hidup pas-pasan itu!”
Siang itu aku pulang dari kantor lebih dulu, rumah besar ini begitu sepi
tanpa kehadiran anak-anak. Hambar
rasanya rumah tangga ini. Saat aku duduk
melamun di sofa, gawaiku berbunyi.
“Assalamualaikum, Widi, bapak di rumahku. Ibu pergi entah kemana. Kalau mau ketemu bapak jangan ke kampung, ke
rumahku saja. Rumah kita sudah disegel
lagi sama bank. Aku nggak mau keluarga
kita menjadi bahan cibiran tetangga di kampung.
Makanya aku kabari kamu secepatnya.”
Suara Mas Anwar dari jauh terdengar sengau.
Seperti tersambar petir di siang bolong, aku lunglai. Haruskah aku menebus rumah itu untuk yang
kedua kalinya? Rasa capai sepulang kerja
seakan ribuan kali lebih berat, penat sekali rasanya. Apa yang harus aku katakana pada Rania. Aku malu dengan pengorbanannya menambah
kekurangan uang tebusan ke bank.
Haruskan aku meminta bantuannya lagi kali ini?
Aku tak mampu lagi berbuat apa-apa kecuali mengambil air wudu. Bukan untuk salat lima waktu tapi untuk
melepas semua beban di pundak ini.
Menyerahkan segalanya pada Yang Maha Memiliki.
Seakan ada yang membimbingku di sela kepasrahan yang luar biasa
ini. Aku memilih mandi taubat untuk
membasuh sekujur tubuh yang penuh dengan gaji jasa menjalankan sistem
riba. Perkataan Rania dan juga ibu
mertuaku tentang pekerjaanku terngiang sangat jelas. Aku menghanyutkan air mata penyesalan bersama
tiap guyuran air pertaubatan ini.
“Rania, aku sudah menyiapkan surat pengunduran diriku ke kantor. Mohon kamu dukung aku dengan posisiku sebagai
pengangguran, ya, Sayang.” Aku memulai
perbincangan kami di meja makan pagi itu sebelum berangkat ke kantor.
“Alhamdulillah, benarkah, Mas?”
Rania membeliakkan matanya. Ada
binary indah di sana. “Allah akan
menjawab ketaatan Mas dengan balasan yang lebih indah. Aku yakin itu, Mas,” ungkap Rania menyejukkan
hatiku seakan oase di padang gersang.
Hari ini aku siap dengan melepas segala jabatan empuk di kantor. Aku berniat memberi tahu Mas Anwar. Belum sempat aku mengklik nomor tujuan, ada
panggilan video call adikku, Kayla.
“Mas, rumah kita nggak jadi disegel.
Rekan bisnis ibu memenuhi janjinya.
Alhamdulillah Allah menyalehkan hatinya.” Kayla membetiku kabar dengan wajah
berseri-seri.
Aku langsung sujud syukur. Aku
makin yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang bertaubat dan
ingin menyerahkan diri dengan penuh ketaatan padaNya.
***
Beratnya Dosa Riba
Berbagai istilah bermunculan untuk mengamuflase sebuah keburukan. Misalnya saja brand yang keren untuk khamar,
LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) untuk penyimpangan homoseksual,
PSK(Pekerja Seks Komersial) untuk
pelacur, interest (bunga) untuk riba.
Semua kamuflase itu bertujuan memasyarakatkan keburukan agar tampak
sebagai kebaikan. Pencitraan melalui
bahasa ini bertujuan mengaburkan makna sebenarnya dari sebuah kata atau
istilah.
Ketika sesuatu yang buruk diperkenalkan dengan nama yang berbeda akan
menimbulkan keraguan. Sebagai contoh,
riba yang akan kita bahas ini. Apakah
interest atau bunga itu sama dengan Riba?
Apa makna dan batasan sesuatu itu dapat disebut riba?
Salah satu
makna riba adalah tambahan nilai
hutang sebagai imbalan karena tempo pengembalian hutang yang ditangguhkan. Riba jenis ini disebut Riba Annasiah,
misalnya hutang dalam jual beli barang atau peminjaman uang.
Riba jenis ini diharamkan
berdasarkan dalil Alquran surat
Albaqarah (QS:2) ayat 278-279.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ﴿٢٧٨﴾
فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ
مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا
تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ﴿٢٧٩﴾
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh dan tinggalkan
sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika
kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allâh dan
Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba),
maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.
Riba jenis
kedua adalah Riba Alfadil (riba
kelebihan), yaitu riba karena kelebihan pada barang-barang sejenis saat
dipertukarkan. Berdasarkan hadis riwayat
Imam Muslim, ada tujuh contoh riba dari pertukaran barang, yaitu emas dengan
emas, perak dengan perak, bur (sejenis gandum) dengan bur, syair (sejenis
gandum) dengan syair, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, harus sama
(timbangannya), serah terima di tempat (tangan dengan tangan langsung).
Barangsiapa menambah atau minta tambahan berarti dia melakukan riba, yang
mengambil dan yang memberi dalam hal ini adalah hukumnya sama.
Islam benar-benar
memelihara umat manusia dari ketidakadilan dan kekotoran riba, sehingga ancaman
perbuatan ribu bukan main beratnya. Ancamannya
pun neraka, sebagaimana firman Allah SWT :
فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا
سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ
ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya: Orang-orang yang telah sampai
kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba),
maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan
urusannya (terserah) kepada Allâh. Orang yang kembali (mengambil riba), maka
orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Albaqarah:275)
Hikmah
diharamkannya riba sangatlah banyak, diantaranya Allah firmankan dalam Alquran
bahwa Allah tidak menghendaki kekayaan hanya berputar-putar pada segelintir
orang saja. Yaitu pada mereka yang
memiliki keberanian mengambil risiko usaha dengan meminjam modal di bank-bank
riba.
Manusia
memiliki dasar sifat buruk (fujur), cenderung serakah dan ambisius. Pemberian modal yang tak terbatas
melambungkan angan untuk memiliki kekayaan tanpa batas juga. Dengan tekanan risiko uang dan bunga harus
dikembalikan, mendorong peminjam memutar otak bahkan terjerat pada menghalalkan
segala cara, mengeksploitasi tenaga kerja juga sumber daya alam.
Target
pengembalian hutang yang mengandung riba, mendorong pengusaha ingin meraup
keuntungan sebesar mungkin dengan modal sekecil-kecilnya. Prinsip ini sangat merusak alam. Belum lagi dampak kerusakan sosial atas
eksploitasi sumber daya manusia yang makin mengarah pada materalisme. Pantaslah jika Allah SWT melarang riba, bukan
hanya yang berlipat ganda tapi juga persentase sekecil apapun karena melanggar
prinsip-prinsip keadilan. Apalagi
praktik riba yang main ambil aset saat pengembalian hutang tidak lancar. Sungguh sangat jauh dari nilai keadilan
bahkan kemanusiaan.
RATIH, DEMI
EMAK PULANGLAH!
(by: Khadijah Hanif)
“Kamu
harusnya bersyukur. Gusti Allah wis
maringi rahmat sing akeh.Wis pira cacahe anakmu kabeh? Kenapa tidak seorang pun cucuku yang kau
bawa?” Sorot mata tajam ibu menguliti
hati Ratih. Hanya air mata yang bisa ia
persembahkan buat orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Ibu.
“Kowe
kudu bisa momong atine wong tuwa.
Keriput di wajahnya selalu bertambah tiap kali kamu pulang tanpa suami
dan anak-anakmu.” Mbak Yu Ginah
ikut-ikutan mengeroyok Ratih tanpa ampun.
***
Pernikahan
dengan Wisnu memang menjadi dambaan Ratih.
Diam-diam dalam tiga tahun setelah Ratih lulus kuliah dan mendapat
pekerjaan, ada seseorang yang hinggap di hatinya. Tidak banyak alasan yang dapat Ratih rangkum
hingga menjatuhkan pilihan pada lelaki itu.
Teman
sekantor Ratih di perusahaan properti.
Wisnu Prasetya, sosok yang membuatnya kagum. Bukan karena keramahan, romantisme, keakraban
atau hal-hal lembut yang disukai perempuan.
Ratih menyukai ketegasan yang ditampakkannya saat menertibkan segala
urusan kantor. Manajer yang berwibawa menurutnya. Kaku menurut orang lain. Tapi Ratih tidak peduli dengan penilaian
orang tentang diri Wisnu. Ratih tetap kukuh dengan penilaiannya sendiri. Segala bentuk kekaguman Ratih membuatnya
ingin tampil sempurna di depan
Wisnu. Semua tugas ingin Ratih
selesaikan . Ia bertekad menjadi yang
terbaik di hadapan pujaan hatinya itu.
“Ratih,
saya puas dan pas dengan hasil kerja kamu.
Saya bisa mempromosikan kenaikan jabatan untuk prestasi yang sudah kamu
tunjukkan.” Pujian dan janji jabatan
yang Wisnu ungkapkan bukan sekedar pemanis bibir. Dalam tiga tahun sebelum pernikahan mereka, Ratih
telah mengalami beberapa pemindahan tugas yang lebih menjanjikan.
“Ratih,
kantor kita sedang heboh. Kamu tahu,
nggak?” tukas Kesih saat mereka berdua
makan siang di kantin kantor.
“Aku
kurang banyak ngegosip bareng temen-temen kantor, Kesih. Kamu tahu sendiri, aku ketimbun tugas dari
Pak Wisnu. Selesai satu dokumen, dia
akan memberiku tugas dokumen berikutnya.”
Rasa
penasaran mengaduk-aduk hati Ratih tentang gosip di kantor menyangkut dirinya
dan Wisnu. Kesih mulai bercerita tentang
suatu hal yang membuatnya malu. Ada yang
tahu detail rahasia hatinya.
“Aku
dapat tugas dari Pak Wisnu buat mencari dokumen tiga tahun lalu, tentang detail
kegiatan kantor kita. Seseorang petinggi
KPK menemukan penyimpangan keuangan yang dilakukan pejabat. Nah, salah satu aliran dana yang pernah
terendus KPK ke kantor kita. Kamu jangan
marah, ya. Ternyata di gudang kantor itu
ada diary kamu. Maafkan aku dengan
sangat terpaksa aku baca.”
Ratih
terbeliak seakan mimpi di siang bolong.
Kesibukan kantor membuatnya lupa menyimpan baik-baik rahasia hati yang
telanjur tertoreh pena. Ratih
benar-benar speechless dengan nasib naas yang menimpanya “Tahu bahwa
rahasia hatinya diketahui orang lain.”
Ekspresi
marahnya dituangkan dalam diam. Kesih
salah tingkah dengan respon negatif Ratih.
Segala
daya upaya Kesih kerahkan untuk membuat Ratih tersenyum.
Ratih
mencoba membongkar memori tentang diary yang pernah hilang. Perlahan Ratih ingat kembali diary pink
hadiah ulang tahun dari Mbak Yu Ginah.
Diary itu pernah dua hari membuatnya uring-uringan. Mencari dan nihil.
Diary
itu berisi kegiatan penting hariannya di kantor, curahan hati dan perenungan
diri. Ratih masih sangat ingat
perasaannya tentang Wisnu. Kekagumannya
bukan hanya pada fisiknya yang mendekati ideal tapi lebih pada profesionalisme
sebagai rekan kerja.
“Ratih,
maafkan aku, ya. Tapi tenanglah hanya
aku dan Pak Wisnu yang tahu rahasia kamu.
Jadi kamu nggak perlu malu.”
Kesih mencoba menangkap rona merah jambu di dua pipi Ratih. Ia sangat memahami perasaan Ratih. Itulah yang menjadi alasan kedekatan
mereka.
“Justru
aku nggak mau dia tahu. Kalau cuma kamu,
aku nggak keberatan.”
“Apa
yang membuatmu keberatan, Ratih.
Bukankah ini kesempatan buat kamu keluar dari siksaan hati? Aku menangkap ketulusan hati pada diarymu. Sebagai teman terdekat, pantaskah aku
membiarkan rasa hatimu hampa?”
Kemurnian
kasih pesahabatan tercium kental pada ungkapan Kesih. Ratih mencoba mengembangkan senyum. Mencairkan kebekuan bersama harapan cinta
yang akan terbalaskan.
“Aku
nggak akan cerita ke kamu sebelum aku yakin kalau cintamu bakal terbalaskan,
Ratih. I can guarantee.”
“Terimakasih
untuk pengertianmu, Kesih. Lalu gosip
apa yang beredar di kantor?”
“Pak
Wisnu akan melamar kamu.”
“Secepat
ini, kah? Lalu kenapa bisa jadi gosip
temen-temen kantor?” tanya Ratih polos.
“Ratih,
tiga tahun masih kamu anggap cepat?
Cukup sulit buat meyakinkan Pak Wisnu bahwa kamu gadis yang pas untuk
dia. Perjuangan aku membuahkan hasil. Keperluan lamaran, aku yang memesankan buat
kalian. Lama-lama temen kantor pada
tahu.”
Ratih
merasa bersyukur dengan semua pengorbanan Kesih. Siang itu Ratih menyadari pentingnya
kehadiran sahabat sejati.
***
Kedatangan
keluarga Wisnu mengagetkan keluarga Ratih.
Ratih belum sempat bercerita tentang rasa hatinya pada Sang Arjuna. Hari itu juga setelah Kesih menyampaikan niat
lamaran Wisnu, mereka sudah berada di depan rumah. Secepat kilat.
Ada
tanya dalam hati Ratih. Benarkah Wisnu
tipe dambaannya? Rasanya tidak. Tidak ada kemesraan yang membuatnya berbunga-bunga.
Setahun,
dua tahun, lima tahun bahkan hingga lima belas tahun, datar. Meskipun begitu, lahir juga anak-anak
mereka. Juwita, Reza, Mufti, Farrah dan
Zuma. Mereka tumbuh menjadi anak-anak
yang lucu dan menyenangkan.
Semua
kebahagiaan ini tak pernah lepas dari kehadiran Kesih. Dia telah terlibat jauh dalam kehidupan
pribadi mereka bahkan sejak sebelum pernikahan Ratih dengan Wisnu.
“Ma,
kamu lebih cocok jadi istri kantorku daripada istri di rumah. Semua urusan rumah tangga kita banyak
melibatkan Kesih.” Seakan sambaran petir
kalimat itu menyerang Ratih. Kesadaran
akan keadaan ini menyeruak di relung kalbuku.
Ratih tidak bisa mengelak dan pasrah dengan penilaian Wisnu.
“Bukankah
Papa yang meminta dia mengurus semuanya?
Dia sekretaris pribadi Papa.
Sementara aku sekretaris administrasi di kantor ini.”
Sekelebat
senyum suaminya terbayang begitu mesra pada Kesih. Bukan sekali dua kali. Ratih tak pernah mendapatkan senyuman
itu. Senyuman itu berbeda. Lebih dari senyum yang ia dapat saat tugas
kantor terselesaikan rapih sesuai pesanan Wisnu.
“Ratih,
ulang tahun Juwita yang ketiga belas sudah aku urus. Keperluan syukuran jangan sampai mengganggu
tugas kantor yang banyak menyita waktu kamu.”
Tawaran Kesih tak pernah mampu
Ratih tolak, demi kelancaran urusan rumah dan kantor. Kesih seperti wanita lain dalam kehidupan
rumah tangga mereka. Bahkan anak-anak
pun begitu dekat dengan Kesih. Ratih
dilanda cemburu tapi ia tak bisa mengelak dari keterlibatan Kesih.
Bertubi-tubi
tawaran jasa baiknya ternyiang di telinga Ratih, tentang syukuran tujuh bulan
anak-anaknya, ulang tahun mereka, persiapan wisata bersama teman sekantor dan
banyak hal lainnya.
Tiba-tiba
dada Ratih sesak. Selama ini Ratih hanya
menganggapnya sebagai sahabat terbaik.
Tidak lebih. Tapi setelah Wisnu
mengungkit keterlibatan Kesih, ada rasa yang lain dalam hatinya.
“Ma,
kamu tidak memperhatikan nasib sahabat baikmu itu?” tanya Wisnu di sela
kesibukannya mengerjakan tugas kantor.
“Maksud
Papa?” Ratih balik bertanya.
“Pernahkan
kamu menanyakan kapan dia mau menikah?”
Ratih
memalingkan pandangannya dari layar pendar.
Tersadar bahwa ia terlalu egois.
Semua rutinitas membuatnya seperti robot. Hidup dari satu file ke file lain. Dari dokumen ke dokumen. Usia Kesih sudah memasuki kepala empat, dua
tahun di atasnya. Namun belum pernah ia
ikut membantu mencarikan atau sekedar memikirkan jodoh buat Kesih.
“Papa
sebagai atasnya seharusnya bisa mencarikan jodoh buat Kesih.” Ratih ngeles untuk kemudian kembali memainkan
tuts keyboard laptopnya.
“Aku
berniat melamarnya. Dan itu butuh
persetujuan kamu, Ma. Aku bisa
terjerumus dalam dosa kalau kamu tidak menerima dia dalam keluarga kita.”
Ratih
hanya diam. Tanpa memberi jawaban. Sebuah tiket kereta api online ia pesan. “Aku harus pergi,” bisikan batinnya
berhembus terlampau kuat. “Biarlah Mas
Wisnu memilih Kesih. Aku bisa hidup di
apartemen dengan tabungan kerjaku selama ini.
Aku akan mencari peluang kerja di perusahaan lain.”
Gawai
Ratih berdenting. “Ma, pulanglah. Perusahaan butuh kehadiran kamu. Aku tidak bisa mencari pengganti seterampil
kamu. Tanpa kamu perusahaan terancam
mundur.” Wisnu masih terus menghubungi
Ratih.
Dia
tidak menceritakan keadaan anak-anak.
Anak-anak tidak menghubungi
Ratih, sebagaimana kerinduan anak pada ibunya.
Ratih sendiri tidak merasa kehilangan anak-anaknya. Yang Ratih rasakan hanya nyeri, merasa tidak
dicintai oleh suami dan anak-anak. Dia merasa terasing.
Tidak
ada keinginan lain. Ratih tak ingin bertemu mereka kembali. Digantinya nomor gawai. Ratih menghapus semua nomor yang
mengingatkannya pada kehidupan kantor dan rumah tangganya. Ratih ingin menjadi manusia baru.
***
Sejak
minggat dari rumah, ada perubahan mengkhawatirkan pada diri Emak. Emak sama sekali tidak mau keluar rumah. Tidak mau ketemu orang selain anak-anaknya
saja. Makan tidak enak, tidur pun tak
pernah nyenyak. Menanggung rasa malu
yang menyiksa. Lirikan mata tetangga,
sapa ramah mereka seakan berubah menjadi cibiran dan hinaan yang menyiksa.
“Emak,
kenapa emak jadi begini?” tanya Ratih saat menjaga emak di rumah sakit. Badan emak urus kering. Infus yang menetes satu-satu, selang oksigen
melingkar di tubuh ringkih emak yang kini berusia delapan puluh tahun.
“Ratih,
perut Emak mual. Ambilkan baskom, Nduk!” Suara Emak lirih, hampir tak terdengar.
“Lihatlah
Ratih, kamu tidak iba dengan keadaan Emak?
Dia yang sudah membesarkan kita hingga sedewasa sekarang. Emak hanya minta kamu pulang ke suami dan
anak-anak,” kata Zizah mengingatkan kembali dengan lembut. “Ratih, kalau kamu tidak mengikuti kata-kata
Emak dan terjadi apa-apa padanya, kamu akan dikejar rasa bersalah. Selamanya.”
Dinding
rumah sakit terasa makin sempit menghimpit.
Ada desakan keputusan yang harus diambil segera.
“Bagi
kebanyakan perempuan, poligami itu sangat berat. Emak pun belum sempat menjalankannya meskipun
ada cita-cita ke arah sana. Coba baca
buku ini, semoga membantumu mengambil keputusan.” Emak dengan sisa tenaganya menyerahkan
sebentuk buku. Ratih meraihnya dan
memerhatikan judulnya, “Manisnya Madu” karya Ustaz Ashari bin Muhammad.
“Emak,
maafkan Ratih. Ratih akan mencoba
menjalaninya demi Emak. Tapi tolong Emak
berjanji sama Ratih akan membuang semua beban di hati Emak. Emak harus kuat dan mengantarkan Ratih
kembali pada Mas Wisnu.” Isak tangis
Ratih tak terbendung, diikuti tangisan Zizah dan senyuman Emak penuh harap pada
kebagahagiaan buah hatinya, Ratih. Juga
nama baik dan kehormatan keluarga besarnya.
Glosarium:
1. Gusti Allah wis maringi rahmat sing
akeh.Wis pira cacahe anakmu kabeh?=Tuhan sudah memberi rahmat yang banyak. Sudah berapa semua anakmu?
2. Kowe kudu bisa momong atine wong
tuwa=Kamu harus memelihara
perasaan hati orang tua
3. Lunga seka omah iku pada karo mlayu
seka medan perang! =Pergi dari
rumah itu sama saja dengan lari dari medan peperangan
4. Aku ngerti Kesih iku sapa!=Aku tahu Kesih itu siapa!
Nubar Sumatra_Finally I found Someone
IBADAH CINTA SEINDAH SURGA
By:Khadijah Hanif
Buletin mingguan Iqra’
yang Rahma tunggu-tunggu sudah tergolek di atas meja ruang tamu. Sepertinya habis dibaca Ilyas, kakaknya. Ilyas kelas dua SMA, aktivis rohis, sementara
Rahma kelas satu di sekolah yang sama.
Rahma memang haus bacaan yang mencerahkan
seperti buletin ini. Satu persatu rubrik
ia lalap dalam sekali duduk. Pacaran
dalam Pandangan Islam, Tiga Amalan
Utama, Fikih Empat Mazhab dan terakhir tentang Wajah Islam di New
Mexico.
“Sebuah perkampungan Islam di New
Mexico, negara bagian Amerika Serikat yang berbatasan dengan Mexico, menyajikan
pemandangan yang sangat berbeda dari komunitas lain di negara bebas seperti
Amerika. Sulitnya mendapatkan produk
halal adalah pendorong utama masyarakat perkampungan ini membentuk komunitas
sendiri.
Dengan jumlah kepala keluarga
sebanyak 51 orang, mereka menjadi komunitas yang paling variatif karena terdiri
dari berbagai suku bangsa tetapi memiliki cita-cita yang sama. Menjaga ketaatan pada Allah SWT yang juga berarti
meraih ketakwaan.
Kemandirian dari kampung ini sangat kental. Di sini masyarakat membuat unit-unit usaha
untuk menyediakan kebutuhan masyarakatnya tanpa harus meragukan
kehalalannya. Tempat pemotongan hewan
ternak, pabrik roti, restoran-restoran halal mudah dijumpai di sini.”
Penggalan berita yang sampai saat
ini begitu menginspirasi dan selalu
menjadi impian Rahma. “Bisakah aku hidup
dalam komunitas yang serba yakin tanpa waswas dan tidak bercampur dengan hal
subhat atau meragukan?” batinnya.
***
Lima tahun kemudian, Allah SWT mendekatkan doa dan impian Rahma
dengan realita.
Siang
itu selepas salat Zuhur, bersama Asdiani, sahabat karibnya, Rahma berjalan
menyusuri kampus mereka di Bogor.
Tiba-tiba pandangan Rahma tercekat oleh tulisan pada spanduk membentang
di atas jalan yang mereka lalui.
“Dian,
lihat spanduk itu ‘Pameran Perkembangan Peradaban Islam’.” Rahma mengeja judul pameran yang tertulis
dalam huruf paling besar.
“Oh,
itu dia pameran yang sering diobrolin temen seprodiku,“ ucap Asdiani antusias. “Kata temenku
pamerannya seru. Ada produk muslim
halal, stan ormas, stan pesantren, stan yayasan juga ada. Yang paling bin aku penasaran, ada pameran
buku islami juga. Pokoknya harus penuhin
isi kantong dulu biar bisa puas belanja bukunya.” Asdiani dan Rahma memang punya hobi yang
sama, koleksi buku islami.
Mereka
bersepakat menyambangi pameran itu.
Masih ada waktu satu jam untuk jadwal kuliah berikutnya. Tempat pamerannya ada di gedung alumni, dua
puluh meter dari jalan yang sedang mereka susuri.
Pameran
yang cukup besar. Pandangan Rahma
tertumpu pada sebuah stan tiga meter di depannya. Stan itu dijaga oleh tiga orang pemuda yang
menurutnya berpenampilan aneh tapi memancarkan aura penuh wibawa. Pakaian mereka jubah semua, kemas berbahan
safari. Di atas kepala mereka bertengger
kopiah dan lilitas serban yang elegan.
Rahma langsung ingat dengan materi kajian terakhir bersama murabiyahnya. Mungkin merekalah yang pantas untuk
menyandang gelar Alghuraba, orang yang asing, di tengah hiruk pikuk fashion
dan style.
“Rahma,
ngapain kamu bengong begitu? Kayak
ngeliat hantu aja.” Asdiani menyadarkan
Rahma dari keterpesonaannya.
“Lihat
penjaga stan di depan kita itu. Rapih
sekali mereka mejalankan sunnah Rasulullah.
Apa kamu tidak sependapat dengan aku?”
“Eh,
hati-hati kamu. Pandangan mata itu salah
satu dari panah-panah setan.”
Asdiani mengingatkan. Ada rasa hangat menyaput wajahnya. Rahma mencoba mencairkan rasa aneh di hatinya, berharap rona merah jambu tak telanjur muncul
di sana.
Melihat
mereka berdua tertegun, penjaga stan itu menghampiri.
“Assalamualaikum,
Ukhti. Ada yang bisa kami bantu?”
Mereka
menjawab salam. Gumpalan kekaguman Rahma
hadir untuk mereka. Seakan berada
di kota Rasulullah, lebih 1400 tahun silam.
Senyum ramah itu memancarkan rasa kasih sayang pada sesama, tulus.
“Boleh
tahu stan apa ini, ya, Akhi?” Penasaran
yang kental mengalahkan campur aduk rasa aneh yang sedari tadi hadir di hati
Rahma.
“Kami
dari Yayasan Alqiyam Indonesia. Kalau
ukhti ingin tahu banyak tentang kami, silakan baca buku-buku kami.”
Mereka
mendekati stan beberapa langkah. Harum
minyak salat non-alkohol sangat menenteramkan jiwa. Rahma langsung membuka buku lux berjudul ’25
Tahun Darul Qiyam’, penuh ilustrasi, fullcolour, berukuran F4. Rahma memandangi satu per satu foto-foto
itu. Telaga bening di kedua pelupuk
matanya tak mampu dibendung, menganak sungai.
“Ukhti,
ada yang salah dari stan kami? Silakan
tulis di buku tamu, nama, alamat, no telpon berikut kesan pesannya, ya?” Pemuda yang usianya mungkin dua atau tiga
tahun di bawah Rahma itu menodorkan buku tamu.
“Tidak. Tidak ada yang salah. Saya hanya menemukan apa yang selama ini saya
impikan. Kehidupan Qurani, menjalankan
sunnah dengan sempurna.” Rahma menyeka
air mata dengan tisu yang disodorkan pemuda itu.
“Kalau
ukhti tertarik, ini alamat komunitas kami di Bogor. Kapanpun ukhti ingin mengunjungi kami, dengan
senang hati kami menerima siapa saja tetamu yang datang.”
Rahma
mencermati kartu nama itu. Terpaku pada
sebuah nama ‘Muhammad Fadillah-Amir Wilayah Bogor’. Alamat lengkap tersemat di sana. Rahma dan Asdiani bermaksud menyambangi
mereka dalam waktu dekat ini.
***
Kesibukan kuliah, mengaji kitab
kuning dan halaqah membenam Rahma dalam aktivitas rutin yang tanpa terasa
memakan usianya. Niatan mengunjungi
Darul Qiyam seakan tenggelam bersama tugas praktikum dan paper yang
memaksa harus selesai tepat waktu. Juga jadwal kajian kitab yang disepakati
semua penghuni rumah kos.
“Assalamualaikum, Rahma….” Sapaan lembut itu membuat hati Rahma
berdebar. Rahma tidak mengerti apa
maksud Rafli yang selalu saja menyapanya dengan nada istimewa.
Rahma
bisa merasakan getar rasa pada sapaan yang tak biasa itu. “Ah, kamu terlalu gede rasa, Rahma. Wajar dia menyapa kamu, Rafli seprodi dengan kamu. Satu kelompok praktikum lagi,” kata batin
Rahma nyinyir. Rahma mencoba membenarkan
kata hatinya itu.
“Rahma,
laporan Biotan kelompok kita sudah selesai?”
tanya Rafli di kantin jurusan.
“Oh,
belum?” jawab Rahma singkat.
“Boleh
aku bantu setelah kuliah malam ini?” Rafli menawarkan sesuatu yang tak pernah
Rahma bayangkan sebelumnya. Mengerjakan
laporan berdua lepas kuliah malam.
Kira-kira jam sembilan mereka keluar dari ruang kuliah.
“Boleh,
tapi harus dengan Rudi atau Maya, Rafli.”
Rahma menyebut dua teman lain anggota kelompok praktikum mereka.
“Memang
kenapa? Mereka sering aku ajak, tapi
selalu saja sok sibuk. Kamu tahu sendiri
mereka malasnya minta ampun.”
Otak
Rahma berputar kesana-kemari. Mencari
alasan supaya Rafli tidak memaksanya menyelesaikan laporan bareng.
“Gimana
kalau aku coba dulu buat nyelesaiin laporan sampai besok. Kalau besok belum juga selesai, boleh deh,
kita kerja bareng.”
“Kamu
itu aneh, Rahma, sulit banget memenuhi
tawaran baikku. Jujur saja, sikap kamu
bikin aku penasaran. Kalau jalan
nunduk. Bicara nggak pernah mau ngeliat
mukaku. Memang mukaku jelek, ya?
Serem?” Kali ini pertanyaan-pertanyaan
Rafli sedikit menggambarkan kekesalannya.
“Rafli,
maafkan aku. Aku hanya seseorang yang
diberi tahu tentang perintah Allah dan Rasulullah. Kemudian aku berusaha menjalankannya. Meskipun selangkah demi selangkah.” Rahma sangat ingin mengais pengertian dari
Rafli. “ Mungkin langkahku kini kau
anggap sudah terlalu jauh dan aku menjadi asing menurutmu.” Suara hati itu hanya menggema pada
dinding-dinding batinnya, percuma.
Perhatian
Rafli makin mengusik ketenangan hati Rahma.
Diam-diam Rahma memendam bunga-bunga cinta yang tak ingin diketahui
siapapun. Ia mulai merasa ada penyakit
kepura-puraan yang menggoda imannya. Apalagi saat Rafli menyatakan isi hatinya
lewat Asdiani.
“Dian,
kamu kawan dekat Rahma, kan? Sebenernya
aku ingin tahu lebih banyak tentang Rahma.
Sampaikan perasaanku ini ke Rahma, ya?”
“Aku
nggak bisa, Rafli. Khawatir hati Rahma
terfitnah.”
“Terfitnah
gimana, aku bukan bermaksud mempermainkan dia.
Aku juga bisa serius. Melamarnya
pun aku berani. Mau bukti?” Rafli menunjukkan keseriusannya.
Dalam
pandangan Rahma, Rafli mahasiswa yang baik, tanggung jawab dengan kuliahnya,
tidak banyak tingkah dan tampan. Paling
tidak gossip mahasiswi junior tentang Rafli menjadi bukti penilaian Rahma
itu.
Dua
insan saling memendam rasa, juga asa.
Sikap Rahma yang dingin-dingin saja membuat Rafli merencanakan manufer
berbeda. Rahma tetap memerhatikan perubahan sikap yang aneh pada diri
Rafli. Penampilannya yang biasa rapih
tiba-tiba berubah gondrong dan mulai dekat dengan mahasiswi tanpa batas boleh
dan tidak dalam ukuran nilai yang Rahma pegang dan ia yakini.
“Riana,
malam minggu ada film romantis di Bogor Cinema.
Kita nonton, yuk!” Rafli mencoba
menggoda Riana di depan Rahma. Riana mahasiswi
sosialita yang cantik dan tajir.
Ada
rasa tak rela muncul dari lembaran batin Rahma.
“Kamu kenapa Rafli?” tanya Rahma dalam hati.
Dalam
kesendiriannya kadang Rahma tergoda mencermati wajah Rafli di album kegiatan
organisasi kampus. “Astaghfirullah hal
azim, Rabb selamatkanlah hati hamba-Mu.”
Hanya pada Allah Rahma mengadukan derita batinnya itu.
Tanpa
pikir panjang, Rahma menulis surat pada kakak seniornya. Seseorang yang dekat dengan Rafli, bernama
Arman.
Assalamu’alaikum, wr.wb.
Kang Arman yang dikasihi Allah SWT.
Pujian hanya milik Allah SWT, Zat yang Maha Sempurna tanpa cacat
dan kekurangan. Shalawat dan salam
semoga tercurahlimpahkan pada panutan alam, Rasulullah SAW. Insan yang paling berjasa membawa cahaya
Islam hingga sampai pada kita, ummatnya di akhir zaman
Dengan surat ini, saya memohon bantuan Kang Arman. Tolong bantu Rafli untuk menjadi pribadi yang
lebih baik. Mau mengisi waktunya untuk
hal-hal positif, terutama mendalami Islam sebagai jalan dan petunjuk
hidup. Kang Arman tentu ingin
keselamatan untuk sebanyak-banyak saudara seiman juga saudara dalam
kemanusiaan.
Saya beranikan diri menulis surat ini, karena rasa sayang dan
keinginan saya untuk selamat dan
menyelamatkan sesama. Terutama
Rafli. Selama ini saya mengenal dia
sebagai mahasiswa yang baik. Tapi
belakangan ini ia berubah.
Tolong rahasiakan surat yang saya tulis ini. Hanya dengan cara ini saya berusaha membantu
Rafli memperbaiki diri. Semua atas dasar
sayang karena Allah. Bukan atas dasar
keinginan memiliki tapi keinginan menyelamatkan orang yang kita sayangi di
dunia dan akhirat.
Terimakasih bila Kang Arman sudi membaca surat ini. Terlebih lagi bila Kang Arman bersedia
membimbing Rafli untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Wassalamu’alaikum, wr.wb.
Yang Banyak Dosa
Rahma Khairunnisa
Rahma memasukkan surat itu ke dalam
amplop, membubuhinya dengan alamat lengkap.
Ia segera menuju kantor pos.
Ada rasa lega tetapi sekaligus malu
yang luar biasa begitu surat itu diserahan pada pertugas pos. “Pantaskah aku sebagai seorang perempuan,
dipandang sebagai aktivis dakwah kampus, meluahkan isi hati yang teramat pribadi
seperti ini?” batin Rahma bergejolak.
Rahma gelisah dan tidak bisa tidur malam itu. Satu hal yang diinginkannya, pergi jauh dari
tempat kos. Mencari tempat lain dan
tidak pernah bertemu Kang Arman dan Rafli.
Pukul delapan malam, telpon rumah
kos berdering.
“Rahma, ada telpon!!!” Asdiani memanggilnya.
Dari seberang sana suara yang asing
namun penuh wibawa menyapanya.
“Ukhti Rahma Khairunnisa?”
“Iya, saya sendiri.”
“Saya Fadillah, Amir Wilayah Alqiyam
Bogor, kami mengundang Ukhti untuk hadir dalam Peringatan Hari Besar Tahun Baru
Islam. Dimohon kehadirannya. Alamat saya ada di kartu nama yang Ukhti
dapat dari pameran peradaban Islam setahun yang lalu. Apakah Ukhti masih menyimpannya?”
Rahma bernapas lega. Mungkinkah ini solusi yang dipanjatkan seharian
ini pada Allah? Hanya satu keinginannya
saat ini, pergi jauh dari sini. Segera
dicarinya kartu nama yang masih tersimpan rapih di antara deretan kartu lain
dalam dompet.
“Besok
aku harus berangkat,” gumam Rahma
***
Beruntung semester ini Rahma sudah
tidak ada kuliah. Jumlah SKS yang
diambilnya selalu maksimal tiap semesternya.
Memasuki semester ke tujuh perkuliahan, Rahma sudah jarang ke kampus. “Sekaranglah waktu yang tepat untuk pindah
kos,” pikirnya.
Undangan Darul Qiyam dua hari
lagi. Rahma dan Asdiani siap-siap untuk
berangkat mengunjungi komunitas muslim yang selama ini dirindukannya.
Dua
jam perjalanan, mereka sampai juga.
Sebuah perkampungan kecil, tidak lebih dari sepuluh rumah. Siapapun yang memasuki kawasan ini akan
terpesona dengan lingkungannya yang asri bersih, tanpa satu pun sampah berserak. Panitia acara menyambut mereka dengan sangat
ramah.
Untuk
pertama kalinya Rahma melihat Ustaz Fadillah yang menjadi MC pada acara
ini. Di sini penampilan mereka seperti
saudara seikatan darah, lelakinya berpakaian jubah serban dan perempuannya
kebanyakan memakai tutup muka.
Selesai
acara, para tamu undangan di jamu di homestay. Rahma dan Asdiani menyaksikan langsung cara
hidup komunitas mereka. Makan bersama
dalam satu talam tanpa menyisakan satu butir nasipun. Bahkan mereka berlomba membuat talam mereka
paling bersih. Taharahnya juga nyaris
sempurna. Sandal di dalam kamar
mandi. Tempat salat wangi dan serba
putih bersih. Cara hidup sunnah
dipampang di hampir tiap ruangan. Charta-charta penuh ilmu menghiasi dinding,
terutama di ruang tamu, ruang salat dan ruang tengah. Rahma tak jemu-jemu memandangi, membaca dan
mencoba memahami charta-charta itu.
“Dian,
sepertinya aku akan pindah dan tinggal bersama komunitas ini. Kamu mau, nggak?” tanyanya pada Asdiani.
“Sebenarnya
aku mau banget tinggal di tempat seperti ini.
Tapi aku masih ada mata kuliah yang belum beres. Insyaallah semester depan aku menyusul,
Rahma. Kalau aku jadi kamu, pasti aku
akan pindah ke sini. Ini hanya soal
waktu. Kamu bisa bayangkan bagaimana aku
karus bolak-balik kuliah Cikoneng-Baranangsiang tiga hari seminggu. Tga kali naik angkot sekali jalan. Bisa jebol kantongku. Belum lagi tenaga dan waktu. Kamu duluan aja deh Rahma. Hitung-hitung percobaan. Kalau kamu betah, aku nyusul.”
“Licik kamu. Emang aku kelinci percobaan? Sepertinya aku bakal di sini sampai
wisuda. Insyaallah.”
Kepindahan Rahma sempat mengagetkan
teman satu kosnya. Bahkan Rafli pun tahu
rencananya ini.
“Rahma,
kenapa kamu pindah? Bukankan sebentar
lagi penelitian kamu bakal dimulai.”
Rafli menghubungi Rahma via telepon.
“Penelitianku
di kebun percobaan Darmaga. Aku lebih
dekat dengan tempat kos baruku daripada
aku tetap di sini, ” jelas Rahma sambil mencoba membariskan napasnya. Kalau tidak nervous-nya akan ketahuan someone
special di seberang sana
Rafli
mengungkap kekecewaan atas kepindahan Rahma.
Rafli tahu tentang surat yang Rahma kirim buat Kang Arman.
“Maafkan
aku Rafli. Aku berharap kamu tidak lagi
terganggu oleh tingkah dan perbuatanku.”
Kalimat itu mengakhiri perbincangan mereka.
Satu
bulan berada di komunitas Alqiyam sangat mengobati dahaga Rahma pada kehidupan Islami. Rahma benar-benar merasakan kebahagiaan. Impiannya tentang masyarakat Islam sejak di
bangku SMA terjawab sudah. Akan tetapi
kebiasaan Rahma yang sering pulang malam, menjadi sorotan muslimah yang lain.
“Ukhti
Rahma, kalau boleh saya tahu, apa kegiatan Ukhti sampai-sampai sering pulang
malam?” tanya Ustazah Fatimah
“Saya
sedang penelitian, Ustazah. Salah satu
perlakuannya harus diterapkan jam delapan malam. Sebenarnya saya was-was juga pergi ke kebun
percobaan itu. Lokasinya jauh dari
perkampungan penduduk.” Rahma
menjelaskan kesulitan yang dihadapinya
“Ukhti
sendirian ke kebun itu?”
“Seringnya,
sih, minta antar temen, Ustazah. Tapi
kalau lagi pada sibuk, saya terpaksa pergi sendiri.”
“Innalillahi
wa inna ilaihi raji’uun.” Ustazah
Fatimah benar-benar menunjukkan ekspresi kagetnya dengan cerita Rahma.
“Ada
apa, Ustazah?”
“Setelah
saya mengetahui hal ini, dosa hukumnya kalau saya membiarkan Ukhti penelitian
di kebun yang sepi, malam hari lagi.
Anti harus segera dicarikan muhrim.”
Sejak
perbincangan Rahma dengan Ustazah Fatimah, ia mendapat fasilitas khusus. Pendamping saat penelitian di kebun
percobaan. Bukan hanya saat malam hari,
bahkan pagi hari sekalipun. Mereka
begitu menjaga dan menghormati perempuan.
Rahma merasa tersanjung.
Ada
kenangan indah yang tak pernah bisa Rahma lupakan. Saat itu tidak ada satu orang pun yang bisa
mengantarnya, kecuali Ustaz Fadil.
Ustaz
Fadil masih muda. Usianya baru tiga
puluh tahun tapi sangat berwibawa.
Penampilannya selalu memakai jubah, serban, celak mata sunnah tak pernah
lepas dari dua garis matanya. Rahma
begitu mudah jatuh cinta pada para pengamal sunnah Rasulullah itu, cinta yang
tumbuh karena kecintaan pada utusan-Nya.
“Ukhti,
saya naik motor. Anti di depan naik
becak ini, saya ngikut dari
belakang.” Ustaz Fadil mengarahkan
dengan nada tegas. Sangat jauh dari
merayu atau menginginkan kedekatan.
Rahma
tidak berani bicara banyak. Khawatir
salah. Sesampai di kebun percobaan,
Rahma segera mengambil sample populasi hama di malam hari. Rembulan purnama bulat penuh membantunya
dalam mengambil sampel. Sesekali
diperhatikannya siluet Ustaz Fadil sedang berbincang dengan tukang becak yang
menunggunya selesai kegiatan.
Jam
tangannya menunjukkan pukul sembilan malam.
Pengambilan sample dan beberapa perlakuan telah selesai. Rahma menghampiri Amang Becak yang akan
mengantarnya sampai jalan utama.
“Ukhti,
malam ini tidak ada angkot ke arah Cikoneng.
Semua tukang angkot demo meminta kenaikan tarif trayek. Anti tidak bisa pulang ke Cikoneng kecuali
anti bisa naik motor ini. Motor anti
yang pakai, saya bisa naik ojek.”
“Maaf
saya belum bisa naik motor sendiri, Ustaz.”
“Kalau
begitu anti menginap saja di rumah saudara saya. Ikuti saja saya dari belakang. Saya akan menaiki motor ini pelan-pelan. Tidak jauh dari sini, lima ratus meter. Memasuki perkampungan dan gang yang agak
berkelok jadi tolong berjalannya agak dipercepat.” Keteguhannya memegang prinsip dan syariat
makin membuat Rahma kagum pada Ustaz Fadil.
Dialah salah satu Alghuraba itu.
Rahma
bermalam di rumah Kak Suraya, saudara sepupu Ustaz Fadil. Sebelum Rahma pulang, ada secarik kertas yang
ditemukannya di bawah bantal. Awalnya
Rahma tidak tertarik untuk membukanya, tapi ada sebaris huruf-huruf bertuliskan
namanya ‘Untuk ukhti Rahma’. Dibukanya
lipatan kertas itu dengan perasaan datar.
“Assalamu’alaikum, wr.wb.
Bismillah, walhamdulillah, Assalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, Amma
ba’du.
Ukhti Rahma yang dikasihi Allah SWT. Keadaan telah memaksa kita mengambil sebuah
keputusan. Menjadi darurat mutlak bahwa
ukhti harus memiliki mukhrim yang menjaga anti, melindungi anti dari durhaka
dan bermaksiat kepada Allah.
Maka dengan kerendahan hati saya bermaksud memghalalkan kedudukan
ukhti di sisi saya. Kiranya maukah ukhti
menerima saya sebagai pendamping hidup, penjaga dan pelindung Ukhti dari bermaksiat dan durhaka pada Allah
SWT.
Saya sudah melakukan istikharah dan jawabannya, saya meyakini ukhti
adalah pasangan yang saya dambakan selama ini.
Ukhti berhak melakukan istiharah juga.
Saya tunggu jawaban ukhti.
Wassamu’alaikum,
wr,wb
Alfakir,
Muhammad Fadillah
Rahma
tak bisa berkata apa-apa. Mengalir rasa
sejuk dan membahagiakan dari celah-celah hatinya. Beberapa baris kalimat yang ia torehkan di
balik secarik kertas itu.
“Bila Allah menghendaki perjodohan ini sebagai jalan yang Dia
ridhoi maka tidak ada sesuatu apapun yang bisa menghalanginya. Meskipun semua jin dan manusia bersekutu
melawan kehendakNya maka sia-sialah segala perlawanan itu. Sebaliknya bila Allah SWT tidak mengizinan
sesuatu terjadi maka tida ada gunanya segala daya dan upaya.
Sebagai adab seorang muslimah, maka haram hukumnya menolak maksud
baik dari seorang pria yang saleh. Pria
yang akan membawa pada keselamatan dunia akhirat. Pria yang akan membimbing untuk cinta Allah
dan Rasulnya. Mengamalkan firman-Nya
juga sunnah utusan-Nya yang mulia. Yang
membangun mahligai rumah tangga karena Allah bukan karena balutan nafsu
semata.”
Rahma
mengembalikan kertas itu pada
tempatnya. Berharap seseorang yang tepat
akan mengambil surat itu kembali.
Kemudian membawanya pada kebahagiaan sejati. Memberinya gambaran surga yang
dipercepat. Janatul Ajilah.
***
Dua
puluh dua tahun sudah pernikahan ini mereka jalani. Benarlah kiranya, cinta adalah anugerah yang
agung. Saat kita menjaga hubungan dengan
Allah SWT maka Dia Sang Maha Cinta akan menaburkan bunga-bunga pada dua hati
yang berbeda.
Dua
insan itu saling memadu kasih karena Dia dan atas nama cinta pada-Nya. Keindahan surga menghampiri mereka selama ada
cinta pada-Nya. Berjuta rasa cinta
terkalahkan oleh cinta yang bersih suci karena niatan meraih keridaan Allah dan
Rasul-Nya.
“Terimakasih,
Abi. Bimbingan Abi membuat Ummi selalu
merasakan kebahagiaan yang teramat dekat.
Ada di sini, dalam hati yang selamat, hati yang tunduk pada
kehendak-Nya.” Untuk kesekiannya kali
kalimat itu mengalir dari lisan Rahma selepas melakukan ritual ibadah cinta,
meskipun dalam lafal yang berbeda.
“Abi
juga berterimakasih. Akhirnya bidadari
itu Allah segerakan saat aku hidup di dunia.
Saat kita berada di surga yang sebenarnya, Ummi akan menjadi anugerah
yang beribu kali lipat lebih indah dari yang wujud hari saat ini.”
“Alhamdulillah,
ya Rabb. Kau pilihkan seseorang yang
tepat yang aku temukan saat jiwa dan jasadku masih bersatu. Izinkan kami terus
bersama. Juga saat perjumpaan
dengan-Mu.” Batin Rahma mengalunkan
kidung kesyukuran yang terlalu indah untuk dilukiskan. Hanya ia dan Pencipta-Nya saja yang
menyaksikan kemolekan itu.
PASANGAN KITA, PAKAIAN KITA
By: Khadijah Hanif
Rumah tangga tidak selamanya mulus
tanpa masalah dan konflik antara suami dan istri. Akan tetapi antisipasi dari potensi masalah
telah dirumuskan oleh Allah SWT dalam surat cintaNya pada kita. Yuk, kita kaji ayat berikut!
هُنَّ
لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
Artinya: Mereka pakaian bagimu dan engkau pun pakaian
bagi mereka
Pada
penggalan ayat ke-187 dari Alquran Surat
Albaqarah, Allah SWT membuat perumpamaan yang sangat indah penuh makna
bila kita renungkan dan kita selami. Perumpamaan ini memudahkan kita untuk
mengaplikasi pesan -Nya. Bila kita ingin
hubungan dengan pasangan tetap harmonis, maka kata harus memosisikan diri kita
sebagai pakaian buat pasangan kita.
Sebaliknya, kita harus juga memperlakukan pakaian (pasangan) kita dengan
baik pula.
1.
Menjadi pakaian yang baik.
Dalam Islam, pakaian yang sesuai syariat adalah pakaian yang
menutup aurat secara sempurna, tidak membentuk lekuk tubuh dan tidak
transparan. Maka kita harus menutupi
segala aib dan kekurangan pasangan kita juga secara sempurna. Cukuplah aib dan kekurangan itu menjadi
konsumsi internal rumah tangga kita saja.
Bahkan tidak juga untuk diketahui anak-anak kita.
Saat pasangan saling menutupi aib, kita akan makin percaya satu
sama lain. Akan timbul rasa bahwa
pasangan kita benar-benar sayang dan menjaga perasaan hati kita. Rasa
bahwa pasangan kita adalah orang yang paling istimewa pun akan muncul.
Biarlah detail kekurangan dari pasangan kita hanya kita saja yang tahu. Bukan berarti kita berbohong atau melakukan
pencitraan, tapi cukup orang lain tak mampu melihat gurat salah, noda dan dosa
dari pasangan kita.
2.
Memperlakukan pakaian kita dengan cara yang baik.
Kita tentu sering
bahkan selalu membersihkan pakaian kita yang ternoda agar bersih kembali. Ada kalanya nodanya membandel hingga kita
harus sungguh-sungguh mencari pembersih atau pemutih yang ampuh. Dalam waktu yang bersamaan kita juga sangat
berhati-hati agar pakaian kita tidak rusak saat dibersihkan.
Saling mengingatkan,
saling menasihati adalah cara kita membersihkan pasangan kita. Saat kesalahannya berat dan sulit
diluruskan, kita tentu akan mencari cara agar pasangan kita bisa kembali
bersih, tanpa membuat pasangan kita terlukai hatinya.
KAMBING
HITAM TAK SELAMANYA HITAM
“MAAFKAN KETELANJURKU,
SAHABAT!”
By: Khadijah Hanif
“Ummi
Zulfan, sekarang giliran iuran Ummi.
Soalnya saya akan bayar Mang Jana awal bulan depan.” Gawai sudah
berdenting lagi. Tagihan pemeliharaan
kebun bersama menjadi hal yang sangat mengganggu buat Bu Yuni di saat sulit
begini.
“Insya
Allah, Bu, maaf saya terlambat terus. Zulfan
mau daurah butuh uang satu juta. Saya
nggak tahu mesti dari mana nyari tambahan.
Untuk daurah memang di luar budget Nizar sudah dua bulan belum bayar uang syahriah
di pondoknya. Belum lagi Tifah belum
saya penuhi daftar ulangnya tahun ini.
Mohon pengertian dari Ibu.” Panjang lebar Bu Yuni menulis balasan pesan
pribadi dari Bu Kania.
“Ya,
sudah saya tunggu sampai Sabtu, ya, Ummi.”
Jawaban pendek itu sedikit membuat lega Bu Yuni. Artinya, masih ada lima hari ke depan ia bisa
berusaha mencari uang tiga ratus ribu dalam waktu dekat ini.
Ditatapnya
barisan buku bacaan yang selama ini ia tawarkan pada siapa saja yang
datang. Atau untuk kali ini, Bu Yuni
harus bawa kemana pun ia pergi dan bertandang ke rumah orang lain. Sebagai ibu rumah tangga, Bu Yuni memilih
menjadi penulis untuk menambah penghasilan keluarga.
“Ibu,
saya bawa buku cerita anak. Isinya bagus
buat pendidikan mereka insya Allah dari legenda ini banyak nilai-nilai positif
yang bisa ditanamkan buat anak kita.” Bu
Yuni tidak kenal kata putus asa. Tentu
saja tagihan dari Bu Kania menjadi semangat terbesarnya. Rasa malu untuk menawarkan dagangan door
to door, menjadi mental block buatnya. Akan tetapi sejak sore itu, ia mampu
meruntuhkan penghalang terbesar. Jaga image
untuk sesuatu yang baik dan bahkan sunah adalah kebodohan.
Rasa
syukur yang tidak terkira, ternyata menjajakan barang jualannya kali ini cukup
untuk membayar tagihan Bu Kania.
Keuntungan tiga ratus ribu rupiah ia peroleh dalam lima hari
perjuangannya. Tidak menunggu lama, ia
segera membayarkan uang itu. Khawatir
akan terpakai bila dibiarkan dalam dompet.
Maklumlah, kebutuhan harian sekarang makin terasa melilit, terutama
sangat terasa buat ibu rumah tangga.
Kadang dambaan perubahan menjadi impian besar buat emak-emak.
Kebun
bersama menjadi milik mereka bertiga, Bu
Yuni, Bu Kania dan Bu Zenab memang.
Dalam kondisi sulit, kebun itu menjadi buah simalakama terutama buat Bu
Yuni. Bagaimana tidak kebun itu mereka
beli bertiga dengan alasan membantu sahabat mereka yang anaknya akan dioperasi. Butuh uang yang cukup besar untuk pengobatan
anak perempuan satu-satunya Bu Rima.
Tumor saluran pencernaan. Bila
tidak dioperasi akan berkembang menjadi kanker.
Sekarang kebon yang tidak bertanda batas itu dirawat oleh Mang
Jana. Iuran perempatbulannya tiga ratus
ribu. Dalam keadaan tertentu iuran itu
terasa berat buat Bu Yuni. Apalagi kalau
dibandingkan dengan hasilnya yang bisa dibilang nihil. Tanaman kayu yang ada di kebon itu akan panen
lima hingga sembilan tahun ke depan.
Penantian yang lama dan memberatkan.
Sore
itu Bu Yuni menuju rumah Bu Kania untuk menyerahkan uang iuran. “Ibu,
Alhamdulillah udah ada buat iurannya,” ucap Bu Yuni begitu pintu rumah terbuka
dan Bu Kania menjawab salamnya.
“Makasih
ya, Bu. Ini buat gaji Mang Jana. Saya hanya membantu mengelola keuangan kebun
kita. Jadi maaf kalau saya cerewet nagih
sana-sini berulang kali.”
“Justru
saya yang minta maaf, Bu. Kadang-kadang
suka telat dan ngeropotin Ibu.”
Mereka
memang sahabat akrab sejak SMA. Satu
sama lain saling tahu keadaan dan kesulitan, kecuali hal-hal yang sangat
privasi. Meskipun dari dulu selalu
bersama, nasib dan keadaan ekonomi keluarga mereka sangatlah jauh berbeda. Keluarga Bu Yuni sangat sederhana dengan
suaminya yang menjadi karyawan swasta.
Sementara Bu Kania dan suaminya, sama-sama menjadi PNS.
Kadang
Bu Yuni menghela nafas panjang.
Membatin, ”Bukankan aku dulu lebih berprestasi dari pada Kania? Nilai-nilaiku lebih bagus Aku selalu menempati tiga besar, sementara
Kania selalu sepuluh besar dari belakang.
Ternyata prestasi tak berbanding lurus dengan rezeki?!”
***
Waktu
terus berpacu sesuai kehendak Yang Kuasa.
Ramadan sudah tiba kembali tahun ini.
Masa-masa daurah Alquran yang diminta Zulfan tinggal satu pekan
lagi.
“Ummi,
jangan lupa ya, Zulfan mau ikut daurah tiga pekan. Biayanya satu juta.” Dari seberang sana suara Zulfan terdengar
penuh harap.
“Sabar,
Sayang, Ummi masih mau berusaha seminggu ini.
Baru ada lima ratus ribu, Nak.
Semoga ada rezeki buat daurah kamu. Doakan Ummi, ya. Baca Waqiah sesudah salat Asar tiga
kali. Ummi minta bantuan, ya,
Sayang.” Bu Yuni melipur anaknya.
Daurah ini penting
untuk memperbaiki hafalan Alqurannya yang kini baru masuk juz ke-20. Sementara Fariz, anak pertama Bu Kania sudah
masuk juz ke-30. Tidak bisa dipungkiri
Fariz lebih cepat menghafal dibandingkan Zulfan. Banyak faktor penyebabnya, diantaranya tentu
berbagai kemudahan fasilitas menghafal yang mendapat dukungan penuh dari kedua
orang tuanya. Berbeda sekali dengan
Zulfan yang harus banyak mujahadah.
Sebagai sahabat sekelas dan satu pesantren, kadang ada kerendahdirian
Zulfan bila melihat kemajuan Faris. Bu
Yuni memahami perasaan hati buah hatinya itu.
Maka sedapat mungkin ia tidak pernah menuding Zulfan atas prestasi
belajarnya. Ia khawatir Zulfan akan
makin tertekan bila ia menuntut banyak.
Baginya dua puluh juz itu untuk disyukuri bukan untuk dipermasalahkan.
Pagi
itu hari kedua bulan Ramadan.
“Bu,
saya pamit dulu, ya. Mau menjemput
dan mengantar Fariz daurah di
Bekasi.” Ada rasa gemuruh di dada Bu
Yuni saat mendengar Bu Kania berpamitan.
“Oh,
kapan berangkatnya, Bu?” tanya Bu Yuni menyembunyikan segala rasa agar tidak
terbaca oleh sahabatnya itu.
“Hari
ini. Mohon doanya, ya. Semoga lancar. Programnya untuk tiga puluh juz mutqin.”
“Iya,
Bu. Semoga dilancarkan segala
sesuatunya.” Ada rasa yang mendesak dari
dadanya. Membekaskan rasa panas di
pelupuk matanya. Bu Yuni segera masuk ke
dalam rumah. Bukan iri dengki yang
mendera hatinya, tapi sebentuk ketakberdayaan.
“Ya
Rabb. Cukupkan hamba dengan merelakan
segenap nikmat dan karunia yang Kau limpahkan pada saudaraku seiman. Rabb hamba rela dengan semua kenikmatan yang
Kau Takdirkan pada sahabat hamba, Kania.
Bahkan pada setiap hamba yang Kau Kehendaki. Bahkan pada seluruh makhluk yang Kau bagikan
kasih pada mereka.” Cucuran
air mata tak terbendung lagi. Di bawah
selimut waktu Dhuha yang syahdu, Bu Yuni bersimpuh penuh kepasrah.
Hingga
suara salam memecah khusyuknya.
“Ummi,
ternyata Fariz mengikuti daurah ini.”
Ustaz Arsyad, suami Bu Yuni menunjukkan sebuah flyer daurah
gratis di Bekasi.
“Terakhir
pendaftarannya kapan, Abi?”
“Dua
hari kemarin.”
Bu
Yuni tak bisa menyimpan kesedihannya lebih lama. Air mata makin deras bercucuran.
“Ummi
kenapa sedih?”
“Abi,
gimana nggak sedih. Bu Kania itu temen
deket Ummi sejak SMA. Dia tahu persis
kesulitan kita. Bahkan saya pernah
bilang kalau Zulfan mau ikut daurah tapi Ummi nggak ada budget ke
sana. Dia tahu Abi. Tapi kenapa dia menutupi informasi daurah
Fariz ke Bekasi yang gratis ini. Coba
Abi bayangkan. Persahabatan macam apa
ini?” Bu Yuni menangis tersedan. Air matanya menganak sungai. Ustaz Arsyad hanya bisa mendekapnya erat,
sambil terus berusaha mengobati lara istrinya tercinta.
“Sabar,
Ummi. Kalau Allah nggak mengizinkan
sesuatu hal pasti ada hikmah di balik semua itu. Berbaiksangkalah pada Dia Yang Maha Tahu
segalanya.”
“Ummi
rela Abi dengan ketentuan Allah Apapun
itu. Tapi untuk sikap Kania, Ummi belum
bisa mencari jalan untuk bisa memakluminya.”
Ustaz
Arsyad hanya bisa membelai orang terdekatnya dengan mengusap lembut kepala yang
terbalut mukena itu. Hatinya pun ikut
merasakan kepedihan yang dirasakan
isrinya.
“Mungkin
ada alasan tertentu yang membuat Bu Kania nggak cerita. Yang entah apa alasannya.”
“Abi,
kenapa membela Kania. Apa Abi nggak bisa
merasakan kepedihan hati Ummi. Dalam
segala hal memang kita lebih lemah dari mereka.
Tapi setidaknya kalau ada peluang baik yang bisa meringankan beban kita,
kenapa dia nggak mau berbagi?”
“Ummi,
maafin Abi. Sebagai kepala keluarga yang
berkewajiban memenuhi kebutuhan belum bisa memenuhi harapan Ummi dan
anak-anak.” Ustaz Arsyad mencium kening
istrinya itu, penuh kasih. ”Ini ada sedikit rezeki. Tadi ada yang memberi uang jasa reparasi
komputer dan install ulang. Ada beberapa
komputer yang Abi betulkan. Semoga cukup
untuk daurah Zulfan.
Bu
Yuni menatap raut rupawan di hadapannya, haru.
Pengorbanan suaminya yang sering kali pulang malam karena lembur
reparasi komputer, ia terima dengan penuh rasa syukur. Sepuluh amplop putih itu masih utuh. Isinya pun belum tersentuh
oleh Ustaz Arsyad.
“Semoga
sedikit mengobati luka hatimu, Sayang.”
Ustaz Arsyad membatin penuh harap.
Bu
Yuni masih khusyuk. Tenggelam dalam doa
dan munajat yang makin menggoreskan rasa kehambaan.
“Ya Rabb, berikan kesabaran buat hamba, untuk bisa kembali pada
pengakuan atas kebesaran-Mu. Semua
terjadi karena kerendahan kedudukanku di sisiMu. Karena dosa-dosaku. Wahai Allah, janganlah hubunganku dengan
anakku, Muhammad Zulfan bin Arsyad Al Jundi selama ini menjadi penghalang
karunia-Mu untukNya. Aku ikrarkan
keridaan hatiku, ya Rabb. Janganlah
kekecewaanku pada Zulfan menghalangi karunia-Mu untuknya. Ya Rabb, hamba selalu berusaha menerima
segala ketentuan-Mu. Qada dan
qadar-Mu. Hamba selalu memohon pada-Mu
atas kisah hidup yang lebih baik lagi Engkau ridai. Juga untuk keluarga kami.
Wahai Rabb, salahkah hamba
yang merasa kecewa pada ketidakpedulian sahabat atas kesulitan diri ini? Yang tahu keadaan hamba, masalah hamba tapi
tidak ada empati untuk memudahkan jalan hamba?
Rabb, bukankah dia tahu kesusahan hamba.
Bukankah dia tahu hamba sedang kesulitan mengirimkan Zulfan untuk ikut
daurah. Lalu kenapa dia sembunyikan
kabar ini? Rabb ampuni hamba yang sedang
dipenuhi prasangka ini.
Rabb, untuk segala nikmat-Mu yang menjadi bagian dia dan siapapun
juga, hamba rela. Dan untuk segala
karunia yang Kau takdirkan bagi hamba dan keluarga hamba bersyukur. Berilah kelapangan dari segala kesempitan
hati ini.”
Perlahan
tangisan Bu Yuni mereda. Wajah muramnya
sedikit tersaput senyuman. Hanya
membekaskan sembab merah di kedua matanya yang sayu. Makin sayu.
Seperti
biasa, saat hatinya terselimuti gulana, ia ambil pena untuk mengabadikan tiap
peristiwa yang penting dalam hidupnya.
Diary yang dipenuhi puisi-puisi
menguras perasaan. Bukan hanya
sedih, tapi juga haru, bahagia, marah, malu.
Penuh warna.
HANYA KAMU, 2
RAMADAN 1436 H
Tak ada pilihan
Untuk hatiku
yang teserpih
Terlanda
gelombang tanya menggelora
Ketika iba tak
hendak dia lontarkan
Sedang diri
ingin berbagi kemudahan
Membuntal
segala peluang gembira
Menutup rapat
meski hanya sebentuk aroma
Atau secuil
kabar pengantar senyuman
Sedang dia tahu
segala curahan gelisahku
Kesulitan yang
membelit tangan, kaki bahkan anggota
Ketika siang
itu aku ungkap
Kata maaf atas
segala ketakberdayaan
Tentang harapan
buah hati
Yang terlalu
sulit tuk kepenuhi
Dan dia hanya
bungkam seribu bahasa
Tentang
kemudahan bebas biaya
Sampailah saat
aku tahu untuk waktu yang tak bersisa
Hanya
menyisakan kecewa dan tanda tanya
Tuhan, sungguh
bukan ketentuanMu yang kugugat
Dan bukan pula
hakku menuntut qadarMu
Tapi segenap
rasa kemanusiaanku mendera
Bertanya
mengapa, bukankah telah diungkap
Segala kesah
tentang kepapaan
Rabb, hamba
mohon kebaikan diri dan juga dia
Biar kulebur
semua tanya pada DiriMu Yang Serba Agung
Beri hamba
jalan terbaik
Melepaskan
semua gundah pada sesama
Biar Kau saja
pemberi jalan terindah
Rabb beri aku
daya dan upaya
Meraih
kerelaanMu
Bu Yuni menutup kembali diary
puisinya dan melarutkan segala rasa.
Mencoba memaafkan. Dan tampaknya
berkah Ramadan lebih membuatnya cepat membebaskan beban dengan sesama.
***
Tak sabar, selepas Zuhur, ia ingin
segera memberi kabar baik buat Zulfan. Diputuskannya untuk menelfon anak
sulungnya itu. Apalagi kalau bukan
keputusan mengikuti daurah Alquran selama Ramadan.
“Assalamualaikum, Zul. Ini Ummi. Zulfan sehat?”
“Waalaikumsalam. Alhamdulillah Ummi. Ummi dan Abi sehat di rumah?”
Keakraban itu sedikit melepas
kerinduan. Jarak terjeda cukup
jauh. Kudus dan Tasikmalaya, membuat
mereka harus cukup puas bertemu setengah putaran matahari.
“Zulfan, Alhamdulillah uang untuk daurahnya
ada, Sayang. Kamu daftar aja. Nanti Ummi transfer, ya?! O’ya, kalau Ummi boleh tahu, kenapa kamu
nggak ikutan daurah bareng Fariz?” tanya Bu Yuni hati-hati.
“Maafin Zulfan, Ummi. Zulfan sudah mencoba daftar dan ikut
seleksi. Ternyata hanya tiga terbaik
yang diambil dan Zulfan gagal. Lagi pula
daurah itu hanya untuk yang pernah hafal tiga puluh juz, Ummi. Maafin Zulfan. Zulfan tahu kalau Zulfan berhasil tentu akan
sangat meringankan beban Ummi.” Ada isak
tangis dari seberang sana. Isak tangis
yang menyapu terbang semua kecurigaan pada sahabat dekatnya, Bu Kania.
“Jangan sedih, Sayang. Yang penting Allah memberikan jalan buat kamu
ikutan daurah. Caranya bisa
seribu satu cara, bukan? Dapat gratisan,
rezeki minallah. Dapat biaya ikut
daurah juga rezeki dari-Nya.
Bahkan dengan infak berarti tangan kita sedang ada di atas. Jadi Allah beri kita rezeki sekaligus kemuliaan
berinfak.” Bu Yuni berusaha meredakan
gejolak hati Zulfan. Perlahan isak
tangis pilu itu berubah menjadi haru.
Begitu menutup perbincangan dengan
Zulfan, Bu Yuni kembali diliputi perasaan bersalah. Prasanga buruk pada sahabatnya tertepis
sudah, tanpa sisa.
“Aku harus mengucapkan selamat untuk
keberhasilan Fariz lolos seleksi. Bahkan
menjadi kabar membanggakan untuk keberhasilan Faris hafal tiga puluh juz.” Bu Yuni membatin. Ia pun mulai membuka WA dan membariskan
huruf-huruf pada layar pendar gawainya.
“Assalamu’alaikum, Bu Kania,
selamat, ya. Saya baru dapat kabar dari
Zulfan kalau Fariz lolos seleksi hafiz tiga puluh juz. Wah, ikut bangga dan bahagia, Bu. Semoga bisa mutqin di daurah Ramadan
ini.”
Ceklis biru sudah tampak di layar
pendar. Biasanya Bu Kania akan segera
membalas.
“Waalaikumsalam. Makasih doanya, Ummi. Semoga Fariz bisa istikamah dan dapat
memanfaatkan ilmunya.”
“Salam buat Fariz. Minta doa dari Fariz, ya, Bu. Doakan saya dan keluarga bisa menjadi ahlulquran
yang benar-benar mencintai Alquran. Bilkhusus
buat Zulfan. Semoga hafalannya juga bisa
makin banyak dan baik. Insya Allah doa
dari penghafal Alquran makbul.”
“Insya Allah, amiin.”
“Tapi ada satu yang mau saya
sampaikan. Sekali lagi maaf ya, Bu. Sepertinya saya kan lepas kebon saya. Saya merasa terlalu berat buat iuran
pemeliharaan bersama.”
“Nggak sayang sama pohon kayu kita,
Ummi? Lima sampai Sembilan tahun lagi
harganya bakalan lumayan. Sepohon bisa
nyampai enam juta, lho. Sepertinya
begitu Faris dan Zulfan masuk kuliah bisa kita jual kayunya. Lumayan buat ngeringanin biaya kuliah
mereka.”
“Tapi
saya butuh banyak uang untuk anak-anak, Bu.
Rasanya tidak perlu saya tuliskan lagi kesulitan saya. Kalau Ibu bersedia saya mau tawarkan ke Ibu
saja bagaimana?”
“Wah,
boro-boro buat nggantiin tanah Ummi.
Saya juga banyak keperluan.
Coba Ummi tawarin aja ke Bu
Zenab! Barangkali beliau mau. Untuk iuran bisa cicil lima puluh ribu
perbulan, kok. Masak ummi masih
keberatan?”
Bu
Yuni enggan menjawab pesan terakhir kiriman Bu Kania. Kadang tidak semua kesusahan dibeberkan
dengan vulgar. Cukup satu kali saja,
saat terdesak oleh tagihan Bu Kania. Sejak
kesedihan yang dialaminya hari ini ia bertekat untuk bicara hanya pada
Tuhan. Setelah itu baru suami. Selebihnya terasa sangat hampa, sia-sia.
Pikir
Bu Yuni, masih ada jalan lain untuk menghindari iuran. Ia akan menawarkan kebon itu ke Bu
Zenab. Melalui pesan WA, ia mencoba
menawarkan kebon bagiannya. Setelah
negosiasi yang panjang, tawaran Bu Yuni
ternyata mendapat penolakan yang halus dari Bu Zenab.
Rupanya
Bu Zenap menceritakan niat Bu Yuni pada Bu Kania. Hingga suatu hari, Bu Kania menyanggupi
tawaran kebon itu dengan harga pas-pasan.
Bu Yuni merasa tertolong dengan bantuan Bu Kania. Paling tidak biaya pendidikan anak-anaknya
tertutupi dari hasil penjualan tanah itu.
Ada
rasa terimakasih yang bergumul dengan rasa kecewa. Harga yang yang mereka sepakati benar-benar
harga keterpaksaan. Kapepet ku butuh
untuk Bu Yuni dan sesuai ketersediaan uang pada Bu Kania. Bu Yuni hanya bisa menghela napas panjang
uang sebesar itulah yang dulu dikeluarkannya untuk membeli kebun tiga tahun
yang lalu. Jadi praktis harga pohon
tidak diperhitungkan.
***
Lima
tahun bukan waktu yang lama. Saat-saat
kuliah Zulfan dan Fariz pun makin dekat.
Zulfan yang telah hafal tiga puluh juz dalam waktu lima tahun pendidikan
pesantren, ingin melanjutkan ke Yaman.
Ia berhasil menyusul hafalan sahabat dekatnya itu. Sementara Fariz berhasil lolos seleksi
dengan hafalan Alquran. Jalur tahfiz
menjadi wasilah keberhasilannya meraih
satu kursi di perguruan tinggi negeri terbaik.
Setiap selesai sholat fardu, Bu Yuni memohon lewat bacaan Alquran satu juz
sebelum beranjak dari bentangan sajadah panjangnya. Satu permohonan yang selalu
dipanjatkannya, Zulfan bisa meneruskan
kuliah ke Yaman.
“Assalamualaikum.” Seseorang membunyikan bel dan mengucap salam.
Ternyata Bu Kania. Tidak biasanya dia berkunjung tanpa mengirim
pesan wa.
“Masya Allah, Bu Kania. Selamat, ya, Fariz udah diterima lewat jalur
tahfiz.” Bu Yuni segera mengucapkan
selamat untuk keberhasilan Fariz memasuki bangku kuliah.
“Saya dapat kabar dari Fariz kalau
Zulfan juga diterima di Tarim, Yaman.
Saya ikut bangga. Semoga bisa
jadi dai kondang seperti Ustaz Somad atau Ustaz Adi atau Buya Yahya.”
Bu Yuni tersipu malu dengan ucapan
tulus sahabatnya itu. Dalam hatinya
berkelebat rasa bersalah yang dulu sempat singgah. Kadang rasa bersalah itu membuatnya jenggah. Tapi Alhamdulillah muamalah yang terjaga baik
makin mengikis rasa tidak etis itu.
Dalam hati Bu Yuni, selalu
terucap kata maaf yang tak mencoba ia ucapkan.
Karena akan membuka luka lama yang hanya disebabkan kata ‘tahu’.
“Dulu, waktu saya beli kebun Ummi,
saya niatkan ngasih pinjaman aja, Ummi.
Kemarin ada yang menawar kayu kita.
Alhamdulillah semua terjual dengan harga sepatutnya. Semua ada sembilan puluh pohon. Satu pohonya rata-rata terjual empat
juta. Semua jadi 364.000.000. Bagian ibu 121.333.000. Dipotong pinjaman 21.000.000 dan pemeliharaan
selama lima tahun sebesar satu juta rupiah.
Jadi saya serahkan ini sebesar 99.333.000. Semoga bisa digunakan buat uang sekolah anak-anak.
“
Bu Yuni kehilangan kata-kata. Sesuatu yang tak pernah dibayangkannya
sebelum ini. Dipeluknya sahabat
terbaiknya selama ini. Betapa tulus dan
mulia tawaran bantuan dari sosok sahabat sejati. Selama ini ia terlanjur berprasangka buruk
bahkan memendam selapis rasa iri.
Berbaris bait pada diary puisi Bu
Yuni, kembali menanti pena menari di
atasnya.
KETULUSAN, 17
Ramadan 1440 H
Berjuta kisah
kita lalui bersama
Kau biasa-biasa
saja
Membidikku
dengan cerita yang lebih indah berseri
Dan aku telan
sendiri segala keterbatasan hati
Tidak ada yang
istimewa selain ketersisihan
Ketakberdayaan,
keterbatasan
Berkali
menggoreskan luka yang dalam
Teramat letih
untuk kurajut
Dengan benang
pesahabatan dan jarum kesenjangan
Terselubungi
senyum kepura-puraan
Semua sirna
sudah
Melibas
debu-debu yang hinggap
Pada pekat
hari, mungkin iri dengki
Juga prasangka
yang menjadi prahara
Terlumatkan
oleh ketulusanmu sore ini
Menjelang malam
lebih mulia dari seribu bulan
Turunnya
Alquran yang menyinari kegelapan
Kau cahayai
hatiku dengan tulusnya persahabatan
Dan aku kembali
malu
Bersimpuh di
hadapanMu yang serba tahu
Terimakasih
untuk teguranMu yang indah
Tanda kasih
yang tak kan pernah kulupa
KehendakMu
mengalahkan segala
Juga kerak
hitam di dasar hati
Atas nama
ketelanjuran yang menuntut
Kata maaf dan
pertaubatan.
Diary itu akan mengikuti kemanapun
Bu Yuni Pergi. Baris huruf dan kata menunggu terangkai hikmah demi
hikmah. Pahala Allah selalu menanti
bahkan untuk setiap kebaikan yang dipilih setiap insan. Baik urusan lahir maupun batin. Urusan dunia dan akhirat. Semua akan dimintai pertanggungjawaban
pada-Nya. Dan selalu ada kata maaf
memaafkan yang berpendar indah. Seindah
kilauan pengampunan Rabb pada hambanya yang bertaubat.
NYARIS
By: Khadijah Hanif
Arman menatap wajah istrinya, Nina
lekat-lekat. Penuh rasa iba, dibelainya
rambut Nina yang makin tak terawat, ”Bun, ingatlah masa-masa indah kita. Saat
awal kita berjumpa dan
membangun mahligai rumah tangga. Juga
saat kita bersama menyusuri pantai sekeluarga,” tutur Arman lembut. Mengharapkan jawaban dari istri tercintanya
yang hampir sepekan tidak menunjukkan respon positif.
“Sudah! Cukup! Aku tidak kenal kalian semua!”
teriak Nina marah.
Wajahnya merah merona. Suaranya
pun berat, seakan erangan harimau. Suara itu tidak seperti
dulu yang selalu lembut dan penuh kasih sayang. “Aku tidak mengerti
dengan segala cerita kamu itu. Aku tidak
pernah bersama kalian sebelum ini!” Nina
kembali mengelak.
Semua tertunduk sedih. Nina tak ubahnya jasad yang terisi jiwa yang
lain. Entah siapa, darimana, dan
kemana jiwa Nina tersembunyi? Air mata
mulai mengalir di pipi Salsa, anak pertama mereka yang sudah menginjak usia tiga
belas tahun. Sementara adiknya Lania dan
Farhan, baru berusia enam tahun, kembar.
Kedua anak itu belum mengerti apa yang terjadi. Ketakutan menyelimuti wajah mereka.
“Aku bukan Nina, ha...ha...ha....! Aku akan kembalikan Nina di tengah
kalian. Aku juga akan segera pergi
asalkan salah satu anggota keluarga ini mau ikut bersamaku!” Tatapan mata tajam Nina tertuju pada anak
pertama mereka, Salsa.
“Tidak! Aku tidak mau!” Salsa berteriak meninggalkan kamar itu. Berlari menuju rumah kakeknya yang hanya terpisahkan gang
sempit.
“Salsa, jangan tinggalkan rumah. Kita harus selalu bersama! Kita dalam masalah!” Arman meraih tangan Salsa. Keadaan begitu makin mengkhawatirkan. Ancaman-ancaman dari makhluk lain itu menghantui semuanya.
Mereka kembali bersama di kamar lima kali enam
meter itu. Cat biru dan merah muda tidak
lagi memancarkan serinya. Nina hanya bisa terbaring di atas springbed
dikelilingi orang-orang terdekatnya.
Sesekali Nina tertidur atau lebih tepatnya makhluk jahat itu meninggalkan jasad
Nina. Nina akan terlihat seperti
seseorang yang tertidur pulas dan dalam.
“Salsa, Lania dan Farhan. Ayah mengkhawatirkan
keselamatan kalian. Ayah tidak bisa mengabaikan ancaman makhluk yang memasuki raga bunda. Maka semua
harus saling bantu. Ayah yakin, kalau
kita mengikuti nasihat kakek, kita semua akan selamat.” Ayah Arman seorang ajengan,
ulama yang ‘alim tetapi tidak termasyhur. Uniknya, meskipun tidak masyhur, ia banyak
didatangi tetamu.
Ada amalan yang terus mereka lakukan. Lania dan Farhan memegang tasbih untuk
berzikir kalimat tauhid sebanyak mungkin.
Sementara ayah dan Salsa harus mengkhatamkan
Alquran setiap pekannya. Bacaan-bacaan
itulah yang membuat mereka terus bertahan.
***
Malam ini, pengaruh makhluk jahat
itu pergi entah kemana. Jasad Nina
terbujur kaku, ada napas satu-satu tapi Nina belum juga terjaga. Koma.
“Pak, izinkan saya membawa Nina
untuk suluk ke lembah Ciwulan. Saya
mendapat firasat untuk membersihkan jasadnya.
Pengaruh makhluk gaib yang selama ini memasuki jasadnya harus segera
kita kalahkan.” Arman meminta izin
kepada mertuanya.
Lembah Ciwulan adalah lembah yang
cukup dalam, dibelah oleh Sungai yang masih asri dan berair bening. Sebuah saung milik keluarga Nina yang selama
ini kosong akan digunakan Arman untuk proses pemulihan Nina.
“Bapak nggak keberatan, Arman. Bapak sebenarnya ingin menemani kamu membantu
kesembuhan Nina. Tapi anak-anak harus
dijaga juga. Sekolah mereka juga tidak
boleh terganggu.”
“Nggak apa-apa, Pak. Biar saya berdua dengan Nina. Kami justru meminta maaf harus membebani
Bapak dan Emak dengan anak-anak. Saya
khawatir dengan keadaan Nina. Bapak
lihat sendiri. Dia terlalu lama tak
sadarkan diri. Badannya makin
kurus. Saya pikir akan sangat berbahaya
kalau dia dekat dengan anak-anak.
Sewatu-waktu, makhluk jahat itu
bisa merasuki tubuhnya.” Arman tertunduk
lesu. Beban hidup terasa begitu
berat. Beruntung bos tempatnya kerja
mengizinan cuti sampai keadaan Nina membaik.
Kadang terlintas rasa tidak enak hati terutama pada rekan kerjanya. Akan tetapi buat Arman, keluarga adalah
segala-galanya.
Arman memberitahukan ancaman
terakhir makhluk jahat pada keluarganya.
Pak Sadeli, mertua Arman hanya bisa mengurut dada dan berusaha
menenangkan menantunya itu.
“Mantapkan hatimu, Arman. Biar aku yang menjaga anak-anak. Berangkatlah!”
Perbincangan mereka tiba-tiba
terhenti oleh sesuatu yang aneh.
“Perasaan nggak hujan, tapi…kenapa
atap kita bocor, Pak?” Arman mendongak
ke arah atap, tepat di atasnya. Dan….
“Arman, di muka kamu, ada
tetesan….darah! Cepat kau basuh, Bapak
merasa ada yang janggal. Sebelum darah
itu memengaruhi kamu.”
Arman tersentak bau hanyir darah itu
busuk. Diusapnya tetesan itu dengan jemarinya.
Merah tua. Kalimat istighfar,
istirja’ keluar dari lisannya. Tak
berhenti. Panik. Apa yang terjadi dengan keluarganya? Nina, Salsa, Lania dan Farhan. Wajah orang-orang terdekat memekatkan
pandangannya.
Sementara itu….
Di rumah, ketiga anaknya ditemani
seorang pembantu terus menjaga Nina. Ini
adalah hari pertama Bi Timah mendapat amanah menjaga anak-anak sebelum Arman
membawa Nina menuju lembah Ciwulan.
“Kasihan sekali Neng Nina ini. Dulu wajahnya cantik. Sekarang mulai membiru dan kurus. Wajahnya jadi mengerikan. Matanya cekung, rambutnya kusut. Aku akan mencoba merapikan rambutnya. Kebetulan aku punya minyak kletik yang
aku tuangkan di daun pandan. Pasti akan
mudah merapikannya.” Sedikit ragu Bi
Timah mendekati raga yang hanya terdiam itu.
Bulu kuduknya meremang. Tapi
mengingat kebaikan hati dan kedermawanan Nina,
dalam hati Bi Timah timbul rasa kasih dan iba.
Wanita paruh baya itu mendekati
Nina. Wajahnya yang sederhana
memancarkan kesalehan. Disentuhnya rambut kusut itu sambil terus melantunkan
salawat.
“Punten ya, Neng. Saya lancang. Allahumma sholli ‘ala nuril
anwar wa sirril asrar wa tiryaqil aghyar wa miftahi babil yasar sayyidina wa
maulana muhammadinil mukhtar wa alihil ath-har wa ash-habihil akhyar ‘adada
ni’amillahi wa ifdhalih.” Berkali-kali
salawat itu terlantun dengan merdu.
Bi Timah begitu sabar menyisir
rambut itu hingga rapih. Tiba-tiba
sentuhan tangan lemah memegang tangan kisutnya.
Bersamaan dengan itu cahaya putih memasuki raga Nina.
“Masya Allah, cahaya apa yang
masuk ke badan Neng Nina?” Bi Timah mempercepat dan mengeraskan salawatnya.
“Siapa ini? Salsakah?” Suara lemah Nina mengagetkan Bi Timah.
“Eh, Neng Nina. Alhamdulillah, Neng sudah sadar? Saya Bi Timah, Neng. Neng Nina ingat saya, nggak?” tanya Bi Timah
tanpa rasa takut. Beruntung kabar
tentang penyakit Nina hanya diketahui keluarga Arman dan mertuanya. Para tetangga tidak dibiarkan mengetahui
secara detail. Termasuk juga Bi Timah.
Nina mulai mengangkat
tangannya. Tenaganya belum sepenuhnya
pulih. “Berapa lama aku tertidur, Bi?
Kenapa aku jadi kurus begini?”
“Kata Jang Arman, udah dua
pekan, Neng!”
“Anak-anak saya mana?”
“Ada, Neng. Sedang belajar di ruang tengah.”
Di kamarnya, Salsa keluar dari
toilet, mengambil wudlu. Hari ini
tinggal satu juz ia dan ayahnya akan mengkhatamkan dua kali Alquran. Baru saja tangannya ingin menyentuh Alquran,
sesuatu yang tak lazim terjadi. Semua
badannya tiba-tiba kaku. Segaris merah
darah tergores di dinding warna biru muda kamarnya.
“Agh...agh….!!!” suara erangan
kesakitan seakan muncul dari dinding bergores darah itu. Tetesan segarnya membercak di atas bedcover
pink Salsa. ”Aku tak kan biarkan kalian lepas begitu saja. Ibu kalian bisa kembali tapi, kau harus ikut
aku!” Suara yang sama dengan makhluk
jahat itu menggetarkan tubuh Salsa yang kini kaku, terpaku pada tempatnya
berpijak.
“Tolong, Ayah!!!! Lania,
Farhan, Bi Timah!!!!” Salsa berusaha
memanggil siapa saja di tengah isak tangis yang makin pilu.
Lania dan Farhan bergegas
menuju kamar Salsa. Dua anak kecil itu
ingin meraih tangan Salsa. Namun jasad
itu memudar bersama tawa kemenangan makhluk jahat pengganggu Nina selama ini.
“Teh Salsa, jangan pergi! Teh,
Nia takut!” teriak Lania
“Iya, Teh, bunda juga belum
kembali kenapa Teteh harus pergi. Hai, Iblis, kamu jahat sama keluarga
kami! Kami akan membalas!” Farhan mengepalkan tangan geram. Mereka belum tahu bahwa Nina, ibu mereka
sudah sadar dari komanya.
Mereka tidak menuju ke kamar
ibunya, tapi mencari ayah mereka. Sore
itu sebelum azan Maghrib berkumandang.
Dua anak kembar berlarian menuju rumah kakek mereka.
“Ayah, Kakek, Teh Salsa
hilang!” Farhan dan Lania menangis
sejadi-jadinya. Ketakutan yang makin
pekat. Mereka menghambur pada pelukan
ayahnya. “Ayah, Farhan nggak mau pulang lagi ke rumah kita,” ungkap Farhan.
Lania mencoba mengatur napas dan
suaranya. Kemudian bercerita. “Tadi Teh Salsa tiba-tiba hilang, hanya
jeritan suaranya yang kami dengar. Dia
minta tolong. Kasihan Teh Salsa. Suaranya terdengar sedih, Ayah!”
Arman makin bimbang. Dia berusaha tetap tenang meskipun hatinya
berkeping-keping.
“Sabar, sayang. Semua akan segera baik. Ayah akan mengobati bunda. Setelah itu Teh Salsa akan kembali.” Arman baru teringat bahwa hari ini tepat
sebelum Subuh, ia dan Salsa seharusnya
telah mengkhatamkan Alquran. Tinggal
satu juz. Berarti syarat keselamatan
keluarganya tidak terpenuhi. Rupanya
ancaman makhluk jahat itu tidak
main-main.
Ingatannya kembali pada Nina. Ia sedang ada di rumah bersama Bi Timah.
“Pak, saya harus segera menemui
Nina. Saya juga harus berusaha
menyelamatkan Salsa.” Arman menahan rasa sedih yang hampir pecah. Tak ada air mata. Hanya rasa duka tertahan membekaskan warna
merah pada dua matanya.
***
Hari ketiga kepergian Salsa. Semua masih dirundung duka. Bi Minah masih setia membersihkan bekas
garis-garis merah pada dinding kamar Salsa.
Semampunya dibasuh warna itu hingga tak berbekas. Bau anyir itu lama kelamaan sirna juga dengan
minyak gaharu yang disapukannya pada dinding, hingga cat biru mudanya turut
memudar. Lagi-lagi salawat membasahi bibirnya yang tak pernah kering dari
zikir. Keluarga Arman beruntung memiliki
asisten rumah tangga sebaik Bi Timah.
“Allahumma sholli ‘ala nuril
anwar wa sirril asrar wa tiryaqil aghyar wa miftahi babil yasar sayyidina wa
maulana muhammadinil mukhtar wa alihil ath-har wa ash-habihil akhyar ‘adada
ni’amillahi wa ifdhalih”
Arman ikut memerhatikan
kebiasaan Bi Timah yang tak biasa itu.
Dia sangat berbeda dari semua pembantu yang pernah bekerja di rumahnya.
“Bi Timah, coba Bibi ceritakan
apa yang terjadi sore itu. Saat Nina
mulai tersadar,” tanya Arman di ruang tengah.
Semua anggota keluarga berkumpul kecuali Salsa.
Bi Timah menceritakan semua
yang dialaminya saat menemani Nina.
“Bunda kelihatannya sudah agak
sehat. Sudah tidak pucat lagi. Bisa menceritakan apa yang Bunda alami dalam
dua pekan Bunda meninggalkan kami?”
Arman bertanya lembut. Semua
kejadian yang menimpa Nina membuat dia makin sayang pada Nina dan ingin
menjaganya.
Dibalut setelan hijab syari
kasual, warna dominan ungu muda, bermotif bunga ungu tua. Cantik dan anggun. Matanya sembab oleh air mata yang tak juga
berhenti, memikirkan Salsa, anak sulungnya.
“Bunda seakan meninggalkan
jasad malam itu. Bunda tahu ayah sedang
salat malam. Bunda juga bisa melihat
jasad Bunda sendiri. Tiba-tiba datang
sosok yang mengerikan.”
***
“Kamu harus ikut aku!” Sosok berwajah hitam legam. Berkepala harimau tapi tubuhnya manusia. Suaranya berat setengah mengaum. Seperti seekor macan.
“Aku tidak mau. Aku tidak ada urusan sama kamu!” Bunda
berontak. “Kenapa aku harus ikut
kamu. Aku punya keluarga dan anak-anak
yang tak bisa aku tinggalkan begitu saja.”
Sosok itu membeberkan semua
yang akan menimpa Bunda. Katanya ada
leluhur kita yang akan memakai jasad Bunda dan akan membawa manfaat bagi mereka
yang mengalami gangguan jin.
“Aku dari bangsa jin. Pekerjaanku mengganggu manusia. Kalau aku biarkan kamu tinggal di dunia, jasadmu bisa dipakai leluhurmu untuk
melepaskan penderitaan manusia dari gangguanku.”
Makhluk itu mengikat Bunda
dengan rantai besi. Bunda tidak bisa
kemana-mana. Entah berapa lama. Di sana Bunda tidak diberi makan
sedikitpun. Sampai datang sekelebat
cahaya, berpakaian serba putih. Serban
dan jubahnya pun putih. Bunda tidak bisa
melihat wajahnya. Dialah yang melepaskan
Bunda dari rantai besi dan kembali.
“Anaking, Nina. Pejamkan mata dan pegang erat lengan
saya. Saya akan membantu mengembalikan
kamu pulang.”
“Bapak siapa? Saya tidak
kenal.”
“Kamu tidak perlu mengenal
saya. Yang jelas saya tidak akan
menyusahkan kamu. Ikhlaskan jika saya
akan hadir saat ada yang membutuhkan.”
***
Semua mendengar
dengan seksama cerita dari Nina.
Tiba-tiba Nina kembali pingsan.
“Bunda, jangan
tinggalkan kami lagi!” Arman panik dan trauma pada kejadian yang menimpa
keluargannya. Salsa yang belum juga
kembali, Nina yang dibawa jin berkepala harimau. Ah…sampai kapan derita ini terus mendera?
Tidak lama
kemudian, Nina terbangun. Tapi lagi-lagi
keanehan terjadi. Suara yang berbeda
keluar dari lisan Nina. Kali ini suara
orang tua, parau dan berat. Perkataannya
lembut dan sorot matanya teduh.
“Sabar, Anaking Salsa
dalam pengawasan saya. Saya akan
berusaha membebaskannya dari jerat jahat jin harimau. Tapi ada syarat yang harus kalian
lakukan. Salatlah tepat jam duabelas
malam, setelah bangun tidur. Tempatnya harus sama dengan saat Salsa menghilang. Baca ayat ruqyah dari ma’tsurat qubra. Tutup dengan salawat Nuril Anwar. Begitu tercium aroma wewangian, bacalah
basmalah tiga kali. Panggil
namanya. Kamu akan melihat sekelebat
sosok Salsa. Peluk erat-erat dia, dia akan
kembali.”
“Apakah Anda yang
menyelamatkan istri saya? Siapa Anda
sebenarnya? Dan bagaimana kami harus
memanggil nama Anda?” Arman mencoba
mengetahui ruh atau entah apa nama makhluk yang telah memasuki jasad Nina itu.
“Itu tidak
penting. Pangil saja saya, Aki. Jangan lupa berterimakasih pada Bi Timah,
lantunan salawatnya memudahkan aku membantu istrimu pulang. Yang lebih utama, kalian ikuti saranku bila
ingin Salsa selamat. Saya harus pergi
sekarang juga. Ingat kesempatannya
hanya sekali dan hanya malam ini. Saya
akan bantu Salsa untuk bisa kembali. Wassalamu’alaikum”
“Waalaikumussalam. Terimakasih, Aki.”
Raga Nina tiba-tiba
pingsan kembali untuk kemudian sadarkan diri.
“Eh….apa yang
terjadi? Tadi sampai mana Bunda
cerita. Oh, iya, Bunda akhirnya selamat
dan bisa pulang kembali. Alhamdulillah.”
Semua terdiam. Keanehan demi keanehan begitu menyisakan
teka-teki. Buat Arman semua menjadi
tidak penting karena yang paling penting adalah kembalinya Salsa.
***
Arman sengaja tidur lepas salat Isya. Sepulang dari salat berjamaah di masjid,
Arman tidur di kamar Salsa. Ditemani
Nina.
Ada kesedihan saat mereka mulai memasuki kamar itu. Air mata mengalir tak henti dari mata
Nina. Seorang ibu tentu sangat
mengkhawatirkan keadaan anaknya.
“Ya Allah, hindarkan Salsa dari penderitaan. Kembalikan dia bersama kami.”
Setelah mengambil air wudhu, bersiwak dan salat dua rakaat,
mereka mulai memejamkan mata. Nina tidak
bisa tidur. Isak tangisnya tertahan
karena khawatir mengganggu istirahat suaminya.
Hanya air mata yang tak henti mengalir hingga menjelang tengah
malam. Akhirnya Nina kembali pingsan dan
jiwa yang lain itu datang……
“Anaking, bangun!”
Suara parau dan berat itu kembali keluar dari lisan Nina
Arman terkejut mendengar suara parau itu. “Ini pasti bukan Nina, tapi seseorang yang
memperkenalkan diri dengan nama Aki.”
Arman membatin.
Mereka bangun, mengambil air wudhu dan salat malam
bersama. Jam meja Salsa menunjukkan
waktu tepat 12.00. Zikir dan salawat
mulai mereka lantunkan bersama. Seirama
dengan detak detik jarum jam, satu-satu.
“Aki, saya sudah merasakan aroma itu. Apa yang harus aku lakukan?”
“Bacalah basmalah tiga kali satu napas. Cepat, sekarang juga Arman! Kita tidak punya banyak waktu.”
“Bismillahir rahmanir rahiim. Bismillahir rahmanir rahiim. Bismillahir
rahmanir rahiim!” Arman berusaha
melafalkannya dalam satu napas.
“Panggil nama anakmu, sekarang juga!”
“Salsabila Anindia binti Arman. Ini ayah! Kemarilah!” Suara Arman bergetar, cemas.
Sesosok halus berkelebat menghampiri Arman. Antara percaya dan tidak, antara takut gagal
dan harapan ingin berhasil memeluk anaknya membuat jantung Arman berdegup
kencang.
“Ayah……!!!!!” Suara
itu sangat dikenalnya. Salsa. Ya, Salsabila telah kembali di pelukan Arman.
Tangisan haru pecah dari seseorang yang selama ini teramat tegar menghadapi
ujian hidup. Betapa tidak? Pertaruhan antara kehilangan Salsa
selama-lamanya atau bersatu kembali terjadi di keheningan malam ini.
Wajah Salsa terlihat pucat.
Dibenamkan wajah itu dalam-dalam pada dada bidang sang ayah. Terasa begitu damai dan tenteram. Isaknya pecah, perlahan mereda bersama usapan
lembut tangan kekar Arman.
“Alhamdulillah.
Terimakasih ya Allah, Kau kembalikan anak dan istriku. Mereka semua titipanMu yang harus
kujaga. Izinkan kami utuh saat
menghadapMu di syurga nanti.” Arman
berdoa tulus.
“Ayah, Salsa lelah,” ucap Salsa lirih.
“Ayah mengerti, Nak.
Istirahat dulu, ya, Salsa. Jangan
pernah takut. Teruslah meminta
perlindungan sama Allah. Kita akan
lanjutkan baca Alquran bersama, ya. Syukur-syukur
kita bisa menghafal sehari satu ayat.”
Arman membopong tubuh Salsa dan membaringkannya di atas dipan. Di kecupnya kening Salsa sambil mengucap doa
sebelum tidur.
“Nggak lapar Salsa?
Sudah tiga hari kamu nggak makan?”
“Tidak, Ayah. Ada seorang
kakek yang baik. Dia memberi makanan
yang belum pernah Salsa makan sebelumnya.
Enak…banget.” Salsa tersenyum
manis. Seakan tak ingin melepaskan
kenangan indah bersama seseorang di alam lain yang menjumpainya.
“Oh, Ayah tahu. Pasti
dia bernama Aki?!”
“Kok, Ayah tahu?”
Arman tersenyum.
“Ceritanya panjang sayang. Insya
Allah masih ada hari esok buat kita saling berbagi cerita. Sudah malam, tidurlah!”
“Salsa ingin tahu satu hal, Ayah?
“Apa, sayang….”
“Kata Aki, Bunda sudah pulang. Benarkah?”
“Alhamdulillah, lihat siapa yang tertidur di atas
sajadah itu?”
Salsa mencoba bangun.
Arman membantu mendudukkan anak gadisnya. Salsa tersenyum. Ia ingin memeluk bundanya, tapi melihat Nina
begitu lelap ia mengurungkan niatnya.
Salsa segera tertidur.
Kepalanya di sebelah barat. Ia
memiringkan badan ke kanan. Tangan kanannya diletakkan di bawah
pipi. Tidur sunah yang Arman ajarkan
sejak kecil begitu mudah Salsa lakukan.
Senyum bahagia mengembang di bibir Arman. Tidak terasa sudut matanya melembab.
Perhatian Arman tertuju pada sosok di sebelahnya. Tergolek di atas sajadah masih lengkap dengan
mukenanya.
“Nina, agak sulit menerima kenyataan ini. Antara anugerah dan ujian. Kini ada jiwa lain dalam jasadmu. Semoga aku bisa menerima takdir ini, apa
adanya. Bagaimanapun aku bersyukur. Karena takdir ini juga yang telah menjadi
wasilah kita utuh berkumpul kembali.”
Arman mengusap lembut kepala dan punggung istrinya itu. Penuh kasih sekaligus kerinduan.
Nina terusik dengan belaian Arman. “Innalillahi, Ayah! Jam berapa sekarang? Jangan sampai terlambat! Salsa harus kita selamatkan!” Nina terkejut dari tidurnya.
“Stttt! Tenang, Bun!”
Arman memberi isyarat supaya Nina tenang. ”Lihat siapa yang berbaring di
atas dipan?”
“Alhamdulillah!
Salsa, kau sudah pulang, Nak!”
Nina bangkit dan memeluk Salsa yang tertidur pulas.
Keluarga
ini kembali utuh setelah melewati masa yang nyaris merusak keutuhannya.
Babak baru dari kisah hidup keluarga Arman baru saja
dimulai. Satu per satu kisah penuh
misteri menyambangi kehidupan Nina. Ya, melepaskan bani Adam dari berbagai
gangguan di luar nalar dan logika. Akan
tetapi nyata dan sangat lekat dengan kehidupan manusia.
TETES KESADARAN DARI KETULUSAN DOA IBU
By: Khadijah Hanif
“Lora,
cepat berangkat, itu ayah sudah menunggu di depan rumah!” Ibu meneriaki Lora yang tak juga keluar dari
kamarnya.
Hampir
setiap pagi suasana tegang itu mewarnai keluarga Lora. Gara-garanya, selalu saja Lora melakukan slow
motion dalam tiap hal yang di lakukannya.
Bangun dan salat Subuh telat.
Menjelang beberapa menit menjelang terbit baru bangun. Bahkan lewat terbit matahari baru memulai
aktifitas.
“Kamu
itu bagaimana? Ayah malu kalau harus terlambat ngantor. Hanya gara-gara menunggu kamu.” Gantian ayah yang tak bisa memendam
kekesalan. Pasalnya, Lora berangkat
sekolah selalu bersama ayahnya, Pak Surya.
Kebiasaan telatnya membuat Pak Surya tidak tega membiarkan Lora
berangkat sendiri. Pasti akan makin
terlambat dan terancam tidak bisa memasuki gerbang sekolah. Satpam akan mengunci pintu gerbang lima menit
setelah tanda bel masuk.
Pak
Surya adalah salah satu guru di sekolah itu.
Selalu saja beliau bisa melewati pintu gerbang meskipun terlambat. Dengan begitu Lora pun bebas dari hukuman
keterlambatannya. Hanya saja Pak Surya
selalu dihinggapi rasa jengah pada satpam, kepala sekolah, rekan guru,
karyawan, juga murid-muridnya.
Beberapa
kali Pak Surya ingin memberi pelajaran pada Lora dengan meninggalkannya. Tapi alih-alih Lora bergerak cepat malah Pak
Surya yang memutar arah kembali menjemput Lora dengan bentakan marah.
“Kamu
ingin Ayahmu ini stress, ya? Kamu nggak
lihat sekarang ini banyak orang stroke gara-gara hal sepele . Apalagi kalau tiap hari harus terlambat
gara-gara menunggu kamu!”
Suatu
saat Pak Surya benar-benar meninggalkannya.
Akibatnya Lora berangkat dari rumah pukul tujuh pagi. Sedangkan sekolah dimulai pada jam
tersebut. Bisa dibayangkan Lora yang
tinggal di kampung harus berjalan kaki menuju jalan utama untuk mendapatkan
angkutan umum.
Pukul
delapan Lora baru sampai ke sekolah.
Sebuah dilemma buat satpam sekolah.
“Mas Lora kok berangkat sendiri.
Nggak sama bapak?” tanya Pak Pardi, satpam sekolah.
“Ia,
Pak. Maaf saya terlambat. Tadi ayah marah dan meninggalkan saya. Saya harus jalan kaki.” Lora berkata memelas tanpa menjelaskan bahwa
dia yang bersalah karena lambat dalam segala hal.
“Ya
sudah. Pak Pardi mau bantu tapi jangan
diulang lagi. Saya akan membuka pintu
gerbang. Mas Lora langsung ke ruang UKS. Jangan sampai melewati kantor. Nanti saya yang akan ditegur kepala
sekolah.” Kerjasama itu berjalan
baik. Lora berpura-pura sakit di UKS di
jam pertama hingga istirahat pertama.
Tentu dengan bantuan Pak Pardi yang menyampaikan informasi bahwa Lora
sakit di UKS.
Keadaan
ini sangat berbeda dengan Salma, Adiknya.
Salma selalu cekatan dan sigap.
Salma yang sekolah di tempat yang sama, sering jadi sasaran pujian tapi
juga ledekan dari sahabatnya.
“Kamu
beda banget ya sama Mas Lora. Bagai bumi
dan langit. Sepertinya ibu kamu dulu
seneng ngelat slow motion show pas hamilnya Mas Lora. Atau jijik dan kesel sama siput.
Jadinya Mas Lora suka gerak lambat.”
Salma
hanya bisa tersenyum kecut. Kemudian
mengadukan hal itu pada ibunya, Bu
Atikah.
“Ibu
juga sudah kehabisan akal menasihati kakakmu yang satu itu, Salma. Kamu tahu sendiri bagaimana Ayah dan Ibu
mengajaknya bicara untuk mengubah sikap.”
Kebiasaan
serba terlambat ini tidak hanya saat mau berangkat sekolah saja tapi dalam
segala hal. Termasuk mengerjakan suruhan
ayah dan ibunya. Yang uniknya lagi,
gerak lambat itu ternyata disebabkan was-was yang menggelayuti hati dan akal
pikirannya. Saat menutup pintu, Lora
akan membuka dan menutupnya sampai lebih dari lima kali. Begitu juga saat membuka dan menutup kembali
laci meja atau lemari. Bahkan saat
membetulkan posisi kursi maka ia akan mengulangi gerak itu berkali kali.
Seperti orang gagap dalam bentuk perbuatan bukan perkataan.
Bu
Atikah mencermati hal ini. Ternyata
hampir pada semua yang dilakukan Lora selalu diulang-ulang. Hari Ahad pagi, Lora mendapat bagian menjemur
baju. Bu Atikah dan Salma yang mencuci.
“Salma,
coba perhatikan Mas Lora saat ngejemur apakah dia mengulangi gerakannya?”
Salma
berdiri dan melihat bagaimana Lora menjemur pakaian. Setiap sisi akan dibuatnya simetris. Kalaupun sudah simetris, tidak membuat puas
sampai di situ. Ia akan mengulangi tiga
hingga lima kali.
Melihat
keadaan ini, Bu Atikah merasa prihatin.
Ia sangat khawatir bila anak sulungnya terhambat dalam segala hal. Gejala ini makin parah ketika melihat
nilai-nilai Lora yang jeblok. Bukan
karena salah mengerjakan, tapi dari soal yang diberikan guru, Lora hanya
mengerjakan kurang dari setengahnya.
Tentu saja nilainya selalu di bawah lima.
Julukan
slow motion boy beralih ke repetition
boy.
Bu
Atikah mulai gusar. Doa yang selalu
dipanjatkannya untuk anak-anak semakin kuat.
Teristimewa untuk Lora. Bangun
tengah malam sekitar jam dua tidak pernah terlalaikan. Di pekatnya malam, Bu Atikah mengambil
wudu. Tidak peduli cuaca dingin ataupun
cuaca hujan, ia selalu mengambil wudu di jamban yang terpisah tiga meter dari
rumah.
Sajadah
dihamparnya di kamar Lora. Di samping
dipan, Bu Atikah terisak untuk kebaikan buah hatinya.
“Astaghfirullahal’adzim.
Astaghfirullahal’adzim. Astaghfirullahal’adzim. Lanaa waliwaalidainaa warhamhumaa kamaa rabbayaanaa
shighaaraa. Allahumma shalli wassalim
‘alaa sayyidinaa wa maulanaa Muhammad wa’ala alihi wa shahbihi wassalam. Waradhiallahu tabaraka wa ta’ala ankulli shahaabati rasuulillahi
ajmaiin.
Rabb, Engkau adalah Pencipta kami, dan kami ini hanyalah hambaMu
yang lemah. Tiada daya upaya dan
kekuatan hanya milikMu, Ya Rahman. Hamba
menghadapMu malam ini, di tengah malam yang hening. Untuk memohon dan berharap semata-mata
padaMu.
Hamba bawa serta nama anak yang Kau titipkan ini Lora Fauzi Wibawa
bin Suryadinata, dengan segala keadaannya.
Dia sedang mendapat ujian keraguan dalam hatinya. Wahai Yang Menggenggam dan membolak-balikkan
hati kembalikan keteguhan hati yang dulu pernah dimilikinya. Hindarkan dia dari keraguan dalam tiap
langkah dan tindakannya.
Rabb, hamba khawatir kebiasaan buruknya mengulang gerakannya akan
merugikan masa depannya. Maka kembalikan
dia dalam keadaan normalnya dulu wahai Yang Menguasai setiap makhluk.
Bila ada perbuatan dosa kami yang membuat anak kami terlilit rasa
ragu, kami mohon ampuni kami. Tunjuki
kami jalan selamat untuk terhindar dari dosa dan maksiat. Baik itu yang kami sadari atau tidak.
Rabb, Engkau satu-satunya Tuhan tempat kami bermohon. Menggantungkan harapan, bila Engkau tidak
perkenankan maka kepada siapa lagi kami harus memohon. Maka perkenankan doa kami. Beri kami jalan kesadaran untuk anak
kami. Dengan cara-Mu, dengan kuasa-Mu.
Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanah wa fil’aakhirati hasanah waqinaa
‘adzaabannar. Subhana rabbika rabbil
‘izzati ‘amma yasifuun wassalamun’alal mursaliin walhamdulillahi rabbil’aalamiin.
Pundak
Bu Atikah berguncang, tenggelam dalam tangisan yang tak pernah disadari Lora
yang tertidur lelap.
***
Seluruh anggota keluarga perlahan
memahami kelemahan yang dihadapi Lora.
Nasihat-nasihat lembut mulai mengganti kemarahan yang meledak dari Pak
Surya.
“Lora, cobalah untuk mengurangi
gerakan ulangmu itu dari lima kali, cukup tiga kali misalnya. Insya Allah akan makin berkurang. Apa yang kamu ulang-ulang itu tidak perlu
alias mubazir. Mubazir bukan sekedar
berlebihan dalam makan, minum, berpakaian atau menikmati karunia Allah
lainnya. Termasuk dalam tindakan, gerak
dan perbuatan yang diulang tanpa manfaat, itu juga mubazir..”
Perbincangan dan nasihat berulang
kali disampaikan, tapi perubahan berarti belum tampak. Sampai akhirnya Lora meminta kendaraan
bermotor di kelas tiga SMA.
“Ibu, kasihan ayah, masih juga
terlambat. Ini berarti aku sudah dua
tahun menyusahkan ayah. Boleh aku pakai
motor Ibu buat ke sekolah?” tanya Lora suatu sore akhir pekan yang santai.
Pak Surya yang sudah pusing dengan
teguran kepala sekolah langsung setuju dengan permintaan Lora. “Kalau begutu
segera urus SIM sama paman kamu di kepolisian.
Semua akan lancar dengan bantuan dia sebagai polisi di polsek kita. Lagi pula kamu sudah tujuh belas tahun
lebih. Ayah rasa sudah waktunya kamu
punya tanggung jawab sendiri.”
“Tapi Ayah, bagaimana kalau terjadi
apa-apa dengan Lora. Dia masih belum
lepas dari kebiasaan repetisinya.” Bu Atikah mengungkap kekhawatirannya.
“Sudahlah,
Bu. Semua orang memiliki titik
balik. Apalagi kebiasaan buruk Lora
bukan bawaan lahir. Kita doakan saja
akibat baik buat anak kita.” Pak Surya
tetap memutuskan untuk mengizinkan Lora memakai kemdaraan sendiri ke sekolah.
Dalam
hati Bu Atikah, doa-doa tulus terus diucapkannya., “ Rabb kabulkan
permohonan kami untuk kebaikan Lora dengan cara terbaik yang engkau pilihkan.”
Pengurusan
SIM berjalan lancar. Dengan berbekal KTP
dan kemampuan menaiki sepeda motor keliling kampung selama ini, Lora lulus
mendapatkan SIM-C.
Pak
Surya bisa sedikit bernapas lega. Ia tidak harus terlambat karena Lora. Kini di belakangnya, ia membonceng Salma yang
selalu membuatnya bangga. Rajin, berprestasi, tidak penah melanggar, terutama
tidak pernah terlambat masuk sekolah.
Sementara
itu Lora berusaha bangun lebih pagi sebagai kompensasi izin memakai motor. Bagaimanapun tetap dia sampai di sekolah
tepat saat pintu gerbang mau ditutup.
Ada
sedikit perkembangan baik tapi prestasi belajarnya tetap jeblok. Lora belum bisa mengatasi repetition act-nya
. Hingga siang itu, kehendak Allah
mengubah semuanya.
Motor
milik ibunya selalu setia menemani Lora sepanjang hari hingga pulang
sekolah. Lora sering pulang terlambat
dibanding Salma dan Pak Surya. Ada saja
alasannya. Perlajaran tambahan, belajar
bersama hingga ikut bimbingan belajar.
Ayahnya berusaha memperoleh kebenaran alasan Lora dari wali kelas dan
teman sekelasnya, ternyata Lora tidak berbohong. Pak Surya pun maklum, kelas XII sedang
mendapat pemadatan menghadapi UNBK dan SMNPTN.
Sebagai ayah, Pak Surya tidak
pernah keberatan memenuhi kebutuhan finansial untuk kemajuan belajar Lora.
Sepulang
sekolah di bawah hujan gerimis yang kian akrab.
Lora memacu sepeda motor matik milik ibunya. Sesampai
di tempat bimbingan, Lora mengunci motor dan menyimpan kunci itu di saku
celana.
Menjelang
Magrib, bimbingan belajar berakhir. Keributan terjadi di depan lembaga bimbingan
belajar itu.
“Mana
motor saya. Tadi saya parkir di sini diantara
motor ninja dan vespa ini. Kok, sekarang
nggak ada?” Lora tidak habis pikir. Sedangkan tempat ini dijaga satpam. Tidak mungkin motornya dicuri. Ia sudah merasa rapi menguncinya. Bahkan seperti biasa berulang kali memutar
kunci, buka-kunci-buka-kunci.
Semua
persendianya terasa lemas. Lora
terjongkok di tempat ia memarkir motor.
Kedua tangannya diletakkan di tengkuk.
Frustasi.
“Tadi
memang ada yang menuntun dan menyalakan motor ini. Tapi tidak ada yang mencurigakan. Begitu mudah mereka menggeser motor ini. Mungkin kamu lupa menguncinya?” Satpam lembaga kursus itu menjelaskan. Dalam hatinya ketar-ketir takut disalahkan
oleh Lora atau mungkin kena tegur pemilik lembaga karena kurang mampu menjaga keamanan.
Lora
mencoba mengingati penyebab hilangnya motor itu. Ia baru ingat saat putaran kunci yang
berulang-ulang itu, sangat mungkin dia mencabut kunci dalam posisi buka.
“Sandi,
tolong anter aku pulang! Aku harus
segera minta maaf pada orang tuaku,” pinta Lora pasrah.
Mereka
menerobos hujan tanpa peduli. Dalam dada
Lora ada gemuruh penyesalan yang ingin segera dilumatkankan dalam satu kata
maaf.
Sesampai
di halaman rumah. Bu Atikah sudah
melihat gelagat kurang baik. Melihat
Lora yang gontai menjinjing helm tanpa motornya. Begitu pintu depan dibuka Lora menghambur dan
mencium dua kaki ibunya. Menangis,
meminta maaf.
“Ibu
maafin Lora. Ini semua karena Lora nggak
juga menghentikan kebiasaan buruk mengulang perbuatan yang nggak perlu. Saat memutar kunci motor berulang-ulang, aku
mencabut pada posisi tidak terkunci.”
Bu
Atikah meraih pundak anak jejaka tunggalnya itu untuk tegak berdiri. Dipeluknya penuh kasih tanpa berbicara
apapun. Hanya sebait doa dari hatinya
yang sunyi.”Ya Rabb, hamba rela atas musibah ini asalkan anakku Kau sembuhkan
dari kebiasaan buruknya. Kembalikan Lora
yang dulu. Yang melakukan segala sesuatu
dengan cekatan tanpa keraguan.” Air
mata Bu Atikah membasahi punggung Lora yang kuyup oleh rinai hujan.
Doa
yang selalu dipanjatkannya tidak sia-sia.
Meskipun harus dibayar dengan hilangnya sebuah sepeda motor. Akan tetapi perkembangan positif buah hatinya
lebih berharga dari apapun. Hari demi
hari Lora membuktikan kesadarannya.
Datang ke sekolah lebih cepat, nilainya perlahan terus membaik. Julukan repetition boy pun mulai lepas dari
dirinya.
Di
akhir tahun, nilai UNBK-nya mendekati rata-rata delapan. Meskipun tidak lulus SMNPTN, Lora terus
berpacu dengan peluang. Nilainya yang
kurang bagus di kelas X dan XI ditebus dengan persiapan tembus test
bersama. Doa ibu yang selalu
mengiringinya. Sejalan juga dengan usaha
sungguh-sungguh selama kelas XII membuatnya lulus SBMPTN. Sebuah perguruan tinggi bergengsi menunggu
kehadirannya tahun ini.
My Dad, My Hero
By: Khadijah
Hanif
Segala kenangan tentang ayah tak
akan mampu kuurai dalam barisan huruf dan rangkaian kata. Semua bersemayam dalam perasaan
terdalamku. Akan tetapi cinta ini telah
memaksaku mengungkap rasa meskipun takkan mampu sedalam hatiku mencintai dan
mengagumi ayah.
Buatku ayah adalah sosok yang sukses
mendidik kami anak-anaknya, hingga kami bisa seperti sekarang. Ya, aku anak bungsu dari empat bersaudara,
merasakan benar bagaimana ayah memperjuangkan keluarga. Penjagaan terhadap kami, anak-anaknya juga
harta yang menjadi peninggalan orang tua secara turun temurun.
Tanpa mengecilkan peran ibu dengan
segenap kesabarannya, aku ingin bertutur tentang sosok ayah yang aku anggap
pahlawan keluarga kami. Bukan karena aku
melebihkan kasihku pada ayah daripada ibu, tapi lebih pada kerinduanku pada ayah yang kini telah
tiada. Biarlah tulisan ini menjadi tanda
mata di tahun ke-5 selepas kepergiannya.
Keluarga Kecil
yang Bahagia
Tahun 1978, usiaku memasuki angka
empat. Awal mula aku bisa mengenang satu
persatu peristiwa. Saat itu aku belum
mengenal ayah sedalam sekarang. Aku
hanya ingat bahwa ada sosok yang sering disebut ibu saat kami sulit diatur.
“Asti, ayo jangan bandel, ya! Nanti ayah marah.” Kalimat itu sering aku dengar hingga aku
beranggapan bahwa ayah adalah seseorang yang senang memarahi kami.
Begitu juga bila kakak-kakakku
berbuat salah. Saat mereka saat menggodaku, maka kalimat itu akan muncul
lagi. “Rangga, jangan kau bercandai adik
kami berlebihan! Kalau ayah tahu, dia
akan marah,” tegur Ibu pada Mas Rangga, kakakku yang kedua. Hingga aku beranggapan bahwa ayah juga sosok
yang senang melindungiku dari gangguan kakak-kakakku.
Tahun delapan puluhan, usiaku
memasuki sepuluh tahun. Saat itu sangat
sedikit yang memiliki televisi. Terpaksa
aku curi waktu bersama kakak untuk menonton ke rumah tetangga. Ya, aku menonton televise di rumah tante
Dahlia. Satu-satunya pemilik televise
hitam putih di kampung kami.
Saat maghrib menjelang, kami masih
asyik menonton satu-satunya stasiun televisi, TVRI. Film kartun favorit ditayangkan sore hari
menjelang maghrib.
“Asti, kamu dicari ayahmu. Cepat pulang!” ucap Adit temanku, mengingatkan aku. Aku bergeming melihat film itu sampai habis. Begitu film kartun selesai, hari sudah mulai
petang. Tanpa rasa bersalah aku pulang.
Betapa kagetnya aku, ayah sudah
menyediakan rotan dan memukul kakiku.
“Dipanggil orang tua tidak
menyahut!” Hanya kalimat itu yang ayah
ucapkan sambil memukuliku. Aku hanya
bisa menangis tak mengerti.
Bersama tumbuh kembangku, aku
mengenal ayah sebagai seseorang penuh wibawa.
Ia mampu mengendalikan kami
dengan rasa takut berbuat untuk berbuat salah.
Sejak peristiwa itu, aku benar-benar
memerhatikan waktu bermainku.
Keherananku atas sikap ayah tiap kali aku bermain di rumah Tante Dahlia
akhirnya terungkap saat aku duduk di bangku SMP. Ada
banyak peristiwa yang menimpa gadis kampung ketika terlalu dekat dengan
Tante Dahlia. Kebanyakan mereka kabur
dari rumah, disembunyikan di kota. Entah
apa yang dialami para gadis itu yang jelas ada yang sampai rusak akhlak,
ganti-ganti pasangan, kawin cerai hingga menjual diri.
Bergidik bulu kudukku mengenang
semua itu. Beruntung ayah selalu
mengawalku tanpa menceritakan aib Tante Dahlia.
Saat aku memasuki akil baligh aku banyak tahu tentang Tante Dahlia dari
orang-orang dewasa di sekitarku. “Terima
kasih, Ayah, untuk setiap penjagaanmu yang tak pernah sempat aku ucapkan saat
Ayah masih ada. Tak terbayang bila aku
menjadi mangsa Tante Dahlia. Nauzubillahiminzalik. Tak ada sisa dendam dari ketakmengertianku
pada kemarahan dan pukulan ayah yang pedih.
Yang ada perasaan sayang yang makin mendalam, rasa beruntung memiliki
orang tua setegas ayah.”
Ujian Itu
Menghampiri
Tahun 1979, usiaku baru lima tahun,
ujian berat untuk keluargaku datang tiba-tiba.
Kakak pertamaku mengalami sakit lumpuh, padahal sebelumnya ia dapat
berjalan normal. Berawal dari jatuh saat
bermain bola sambil berhujan-hujanan.
Mas Bara mengalami panas tinggi dan demam. Ayah segera memanggil mantri kesehatan. Mantri itu begitu baik, selalu siap dipanggil
saat keluarga kami membutuhkan.
Suntikan mereda rasa sakit dan demam
segera diberikan, namun malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Awalnya panas dan demam kakak sulungku reda,
tetapi seminggu kemudian kakakku merasakan sakit yang tak tertanggungkan di
bagian tulang belakang sejajar pinggang.
Dosis pemberian analgesic antipiretik terus ditambahkan. Hasilnya nihil. Keputusannya kakakku harus dioperasai. Operasi gagal, berakhir pada mati rasa organ
kaki dari pinggang hingga ujung kaki.
Ayah sebagai kepala keluarga tentu
menjadi yang paling terpukul. Ia harus
mengusahakan biaya pengobatan, sekaligus membesarkan jiwa anak sulungnya.
“Logam diciptakan Allah untuk bisa
ditempa dan dibentuk. Lihatlah besi,
bagaimana ia bisa setajam itu? Karena
besi dibakar sampai membara, kemudian ditempa berkali-kali untuk menjadi tajam
dan membawa manfaat. Demikian juga emas,
ia harus dipanaskan hingga mencair dan dicetak.
Itulah perumpamaan hidup manusia.
Manusia diuji karena memang ia punya kemampuan untuk menerima ujian
itu. Orang yang diuji berarti ia
dianggap kuat oleh Pencipta kita, Allah SWT.
Ujian itu pula bukan tidak ada hikmah dan tujuannya. Ia penuh hikmah dan tujan mulia, yaitu untuk
membuat kita menjadi manusia yang bermanfaat karena manusia yang diuji akan
kaya dengan pengalaman hidup.”
Baris-baris nasihat itu ayah
tuturkan saat Mas Bara merasa lelah
dengan ujian yang menimpanya. Aku turut
menjadi saksi kata-kata bijak ayah.
Demi kesembuhan Mas Bara, ayah rela
mengikuti saran dokter. Apapun itu. Selama dua puluh empat tahun sejak sakitnya
Mas Bara, ayah tidak pernah sedikitpun mengabaikan ikhtiar pengobatan. Satu per satu saran dokter dijalani ayah
dengan segala risiko biaya dan kemungkinan mal praktik. Ayah menjadi sosok orang tua penuh tanggung
jawab untuk keluarganya.
“Kita tidak tahu apa yang akan
terjadi kemudian. Tapi setidaknya kita
mengikuti saran mereka yang ahli.
Hasilnya kita terus mintakan pada Allah SWT. Yang penting kamu menjalani semua ini dengan
ikhlas. Insya Allah itu akan lebih baik
untuk kesembuhanmu, Bara.”
“Tapi Ayah, telah terlalu banyak
biaya yang Ayah korbankan buat Bara. Dua
kendaraan bermotor sudah Ayah jual untuk Bara.
Emas yang ibu pakai pun sudah
satu persatu ditanggalkan. Apakah kita
akan jatuh miskin gara-gara penyakitku., Ayah?”
Kakakku menitikkan air mata. Ada
bongkah-bongkah rasa bersalah di dadanya.
“Bara, apa yang kau duga dari apa
yang kau lihat tidak selamanya sesuai dengan kenyataan. Lihatlah bukankah Ayah bisa menambah sawah garapan
dari tetangga yang menjualnya?” Ayah selalu berusaha membesarkan hati
kakakku. Ia tak ingin ada kehhawatiran
dan beban batin pada kakakku. Sementara
kelumpuhannya yang tiba-tiba telah membuatnya cukup menderita. Masa remajanya yang semula ceria, penuh tawa
tiba-tiba hilang. Hobinya untuk
mengakrabi alam bersama ayah, tiba-tiba serba terbatas. Selama ini Mas Bara selalu ikut ayah mencari
anggrek hutan atau berburu di alam lepas.
Pandangannya pun kini harus dibatasi oleh dinding-dinding rumah kami. Ia juga harus akrab dengan bau obat di rumah
sakit yang pengap saat ada panggilan treatment dari dokter.
Zikir Ikhtiar
Ayah
Ayah tak pernah mau menyerah pada
keadaan. Kebutuhan yang terus mendesak
terutama pengobatan kakakku selalu ia penuhi.
Di pagi hari ayah mengajar Fisika di sebuah sekolah negeri. Sorenya menambah honor di sekolah
swasta. Setelah Asar ayah akan
menggarap sawah kami petak demi petah.
Demikian pula waktu pagi lepas Subuh, beliau masih menyempatkan pergi ke
sawah, ladang atau kebun untuk melakukan apa saja yang bisa membawa manfaat dan
berkah buat keluarga kami.
Zikir ikhtiarnya terus mengalun pada
tiap ayunan cangkul yang melegamkan punggungnya, mengekarkan lengannya. Bila hama tiba, punggungnya selalu siap
membawa tanki sprayer yang berisi 20 liter air.
Ia rela melakukan sendiri walaupun berat. Semua demi mempertahankan tiap jengkal tanah
dari pemubaziran. Demi mengutip tiap
biaya untuk buruh sawah yang bisa disisihkan untuk menambah biaya berobat juga biaya sekolah kami.
Terlalu banyak lembaran kertas
dibutuhkan untuk mengungkap perjuangannya.
Ayah menanam apa saja. Kelapa
hingga lebih dari lima puluh pohon. Kopi
yang memenuhi seperempat hektar kebun kami.
Salak yang hingga kini masih ada, lebih dari seratus rumpun. Pohon kayu seperti Albasia, Jabon dan Kayu
Jati, silih berganti. Ayah menanamnya
sendiri, memelihara, hingga saat panen
tiba, menebang, menjual dan metanam kembali.
Ayah tak pernah kehabisan pundi-pundi uangnya karena tiap detik waktu ia
gunakan untuk berkarya.
Saat kami bertiga kuliah, Mas Bara
di Universitas Terbuka karena kondisi disabilitasnya, Mas Rangga di UNS dan aku
di IPB. Bukan sedikit biaya yang harus
ayah keluarkan. Akan tetapi yang
membuatku kagum, tiada subutir tanah pun terlepas dari kepemilikannya. Padahal rayuan para pengusaha serakah
hampir-hampir menggoda hati ayah. Betapa
tidak, segepok uang dengan mudah ayah dapatkan
dari para cukong. Bila ikhtiar tidak
menyatu dalam zikir amal perbuatannya, tentu Ayah memilih uang para pengusaha
itu. Bukankah akan terasa ringan
menikmati uang itu daripada harus
meneteskan keringat, menentang panas matahari dan derasnya hujan?
Zikir ikhtiarnya masih terus
terbayang di pelupuk mata. Ayahku
seorang pembelajar sejati. Bacaan
langganannya adalah majalah pertanian.
Ayah selalu ingin mencoba hal baru dalam bertanam, berternak atau
menanam ikan. Sejak aku bisa mengingat,
ayah selalu mencoba menggeluti banyak hal yang berbeda. Kadang dalam waktu bersamaan, kadang
bergantian sesuai kegemaran yang sedang ingin ayah akrabi. Beternak kelinci Australia yang besarnya bisa
setengah ekor kambing. Beternak lebah
hingga lebih dari sepuluh kotak. Lebah
itu ayah tangkap sendiri dari hutan dan diternakkan di rumah. Memelihara puluhan burung hias. Ada juga ratusan burung dara yang awalnya
hanya dua pasang saja. Aku sangat kagum
dengan tangannya yang berkah.
Ayah juga pernah beternak lele dan
memijahkannya. Tidak tanggung-tanggung,
ayah menyiapkan sendiri tiga kolam besar untuk pemeliharaan dan enam kolam
kecil untuk memijahkan lele. Layaknya
seorang yang professional, ayah menerima pemesan hingga Solo dan Semarang.
Suatu hari yang teramat indah yang
takkan pernah kulupakan, Ayah mengajakku melepas ikan di lahan mina-padi
kami. Enam bulan kemudian, kami
memanennya, di satu siang yang terik.
Menangkap ikan yang tiga kali lipat lebih besar dibanding saat
melepasnya, membawa kebahagiaan
tersendiri. Di sela-sela rasa khawatir
ikan tinggal sedikit, ternyata Allah begitu sayangnya mengabulkan harapan kami
dengan keuntungan yang berlipat ganda.
“Alhamdulillah, terimakasih Ayah.”
Aku juga berterima kasih untuk kopi
yang aku petik. Ada sensasi nikmat
surgawi saat aku memegang ranumnya buah kopi yang matang sempurna. Juga bunga cengkih yang aku kutip saat
membantu ayah di kebun. Enam puluh lima
pohon cengkih yang siap panen itu sempat mengecewakan ayah karena harganya
tiba-tiba jatuh.
“Inilah kalau pembelaan pada petani
tidak ada. Saat belum menanam diberi
janji dan harapan harga tinggi. Begitu
panen modal pun tidak ketutup. Kamu
belajar di IPB saja, Asti. Nanti kamu
perjuangkan nasib petani seperti Ayah ini.”
Sempat keluhan ini memantik cita-citaku untuk masuk IPB. Semoga aku menjadi orang penting yang sedikit
banyak bisa menyumbang hal positif untuk pertanian di Indonesia.
Meskipun hasil panen sering kali
tidak sesuai dengan pengorbanan, ayah tak pernah berhenti berikhtiar. Ia akan kembali bergumul dengan lumpur sawah, atau debu-dubu
ladang saat hujan lama tak turun. Tiap
tarikan napasnya yang tersengal seirama dengan putaran tasbih para penghamba
Tuhan.
Kesudahan yang
Baik
Kami bertiga kini telah berumah
tangga. Mas Bara menjadi programmer
komputer dan instruktur komputerisasi kantor tingkat nasional. Aku sendiri menjadi pengelola pesantren dan
anggota yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Sementara Mas Rangga menjadi PNS di sebuah
SMA Negeri.
Seolah purna sudah janji bakti ayah
setelah merelakan seperempat bagian tanah yang dimilikinya untuk wakaf
mendirikan pesantren. Tanah yang ia
pertahankan tiap jengalnya dari rayuan cukong pengusaha. Jerih payah ayah menyisakan nyeri dan ngilu
di persendiannya tiap menjelang istirahat malam.
Pagi itu ayah kembali ke sawah,
selepas tahajud untuk menyalurkan air di persemaian padi yang di taburnya siang
tadi. Ayah kembali pulang untuk salat
Subuh dan tiba-tiba….ayah terjatuh, tak sadarkan diri.
Ibu panik
langsung membawa ayah ke rumah sakit.
Sebuah perjuangan panjang bermula.
Melewati tujuh hari koma.
Akhirnya ayah menghembuskan nafas terakhir dengan wajah putih berseri.
Aku turut memandikan dengan menahan
butiran air mata sebagaimana pesan ayah.
“Kakekmu meninggal tanpa air mata anak-anaknya. Ayah pun ingin kalian tak usah menangisi
keberangkatan ayah. Bila tiba waktunya
biar ayah berangkat dengan tenang tanpa rasa sakit karena tangisan pilu
kalian.”
Banyak pesan yang ayah sampaikan
saat kami bersama, saat liburan panjang menyatukan kami. Keluarga kecil yang telah berkembang menjadi
keluarga besar. “Ayah ingin di akhir hayat Ayah, kalian mendampingi kepergian
Ayah untuk berjumpa dengan Allah SWT.
Ayah juga tidak ingin merepotkan kaliandengan kerentaan Ayah . Cukup di detik-detik terakhir saja, kita bisa
bersama.”
Sungguh doa tulus yang
dikabulkan. Kami semua sempat menuntun kalimat
thayyibah menjelang sakaratul mautnya.
Ayah pun meninggal di hari
Jumat pagi setelah membuang semua
kotoran dari perutnya. Saat aku dan
kakak memandikannya, tidak ada sedikitpun kotoran keluar. Wajahnya putih berseri, kulitnya halus dan
bersih.
Kami segera membawa ayah meninggalkan rumah sakit. Biaya pengobatan sama persis jumlahnya dengan
uang takziah dari mereka yang menengok ayah selama sakit. Sungguh ajaib. Doa yang terkabul. Ayah tidak sedikitpun membebani kami.
Ayah
menutup mata bersama perjuangannya pada petak sawah, ladang dan
kebun. Cinta dan zikir ikhtiarnya telah
mengantar ayah pada wasilah akhir kehidupan.
Pembuluh darah di kepala ayah pecah cukup parah. Dokter berniat melakukan operasi, tetapi
pendarahan itu terlalu hebat dan tak akan menjanjikan perbaikan. Akhirnya malaikat maut menjemput Ayah dengan
satu tarikan lembut bersama syahadah yang kami tuntunkan.
“Ayah, selamat jalan. Terlalu banyak kebijakan yang Ayah
wariskan. Kehati-hatian ayah dalam
menjaga hak orang lain. Aku masih ingat
kau memintaku mengembalikan tiga batang paku yang ayah pinjam dari paman adik
Ayah. Aku masih ingat tentang zakat 2,5%
yang kau sisihkan dari gaji pensiunan yang sangat jauh dari nisab. Ayah
simpan 10% zakat panen kita seberapapun hasilnya. Lalu ayah bagi pada yang membutuhkan. Ayah, aku masih ingat dan akan terus
meneruskan amalan yang Ayah contohkan, salat awal waktu berjamaah ditambah
sunah yang ayah kekalkan. Ayah, sungguh
berkah dari amal salem Ayah telah memberi berkah pada kehidupan kami. Izinkan aku menyematkan namamu sebagai
pahlawan dalam hatiku.”
JANGAN MENYERAH
MALA
(Catatan
Perjuangan Seorang Sahabat)
By: Khadijah Hanif
Namanya Laila Komalasari, nama yang
kadang membuatnya merenung dalam kebimbangan.
Adakah ini semua karena nama yang disandangnya? Bukankah nama adalah doa? Malam kelam dengan
penyakit yang terus menyelimuti hari-harinya dalam empat tahun terakhir
ini.
Mala menepis semua pikiran buruk
yang berseliweran dengan memori yang tak mampu disekanya. Ia tak ingin berprasangka buruk pada kedua
orang tua yang memberinya nama. Ia juga
tidak mau berburuk sangka pada Zat yang MenciptakanNya.
Pernikahan
Istimewa
Memasuki usia sembilan belas, Mala
adalah seorang gadis yang sehat meskipun tergolong gemuk untuk ukuran tinggi
badannya.
“Mala, kamu sudah dewasa, sudah
saatnya menikah,” tutur Ustazah Mae, guru di pesantren Nurul Ihsan. Sudah sejak kecil Mala mengaji bersama
Ustazah Maesarah dari mengenal alif-ba-ta hingga membuka kitab kuning.
“Emang ada yang mau sama saya,
Bunda? Saya orangnya boloho,
nggak punya bekel ilmu agamanya.”
“Ada, sekarang kamu istikharah dulu,
ini foto dan biodata jodoh yang ingin kami pertemukan untukmu.” Bunda Mae menyodorkan selembar foto, di
belakangnya ada sedikit kalimat taaruf
yang membuat Mala degdegan.
Ternyata yang dijodohkan oleh Bunda
Mae dan Kiai Hasan adalah Ustaz Fauzan.
Ustaz Hafiz Alquran, 30 juz mutqin. Hampir-hampir Mala tidak percaya pada tawaran
Bunda Mae. Dipandanginya sosok dalam
foto itu, juga kertas taaruf yang ada di genggaman tangan kanannya. Disana tertulis kelemahan Ustaz Fauzan yang
lemah pendengaran dan pengelihatan.
Terbayang bagaimana ia akan kerepotan membimbing dan menuntun Ustaz
Fauzan saat sudah menikah nanti.
“Mala, janganlah kekurangan fisik
menjadikan kamu ragu. Justru
kekurangannya itu yang turut menjaga hafalannya tetap baik. Tidak ada maksiat yang sempat ia
kerjakan. Hari-hari pendengarannya
adalah Alquran. Begitu juga
pengelihatannya lebih banyak pada mushaf.”
“Tapi Bunda…” Perkataan Mala
Tercekat. Bagaimanapun Mala ingin suami
yang sempurna lahir batin. Supaya ia
tidak harus banyak membimbing dan menuntun suami tapi ia juga ingin dibimbing
diantar kemana pun pergi layaknya seorang istri yang punya suami.
“Sudahlah jangan ragu. Jawablah dengan hati. Ustaz Fauzan termasuk santri yang
langka. Para hafiz yang benar-benar
terjaga dari maksiat itu, jaminannya surga bahkan bisa membawa dua puluh
kerabat yang beriman selamat di akhirat sana.
Niatkan saja untuk ibadah dengan membantu meringankan urusannya.”
Mala tidak bisa berkata apa-apa
lagi. Besok ia akan puasa tiga hari
kemudian salat Istakharah tiga malam berturut-turut menjelang tidur. Di hari ketiga, Allah memberinya mimpi yang
istimewa. Ia berjalan bersama Ustaz
Fauzan dan seorang anak entah siapa anak itu.
Menyusuri jalan sepi, panjang berliku, ada duri dan kerikil tajam. Tapi Ustaz Fauzan selalu berhasil
menyingkirkannya. Mala dan anak kecil
itu berjalan di belakang dan akhirnya mereka pun sampai di sebuah istana teramat
megah, berkilauan. Inikah surga itu?
Mala terperanjat, bangun dari
tidurnya. Dalam hatinya sudah ada satu
tekad untuk menerima tawaran Bunda Mae.
Penantian
Panjang
Pada tahun 2004, pernikahan Mala dan
Ustaz Fauzan berlangsung sederhana namun khidmat. Terutama saat Ustaz Fauzan melantunkan
hafalannya dengan sempurna. Pembacaan
ini diteruskan hingga tiga puluh juz hingga malam hari, dengan maksud mengambil
berkah dari bacaan itu. Semua berharap
rumah tangga yang mereka bangun bisa meraih sakinah, mawadah, warahmah.
Segala risiko yang akan
dikhawatirkan Mala ternyata tidak terjadi.
Meskipun ia tidak bisa meminta banyak dimanja dan diperhatikan Ustaz
Fauzan, setidaknya Ustaz Fauzan terbiasa mandiri dalam segala hal. Kadang ia ingin merasakan bagaimana memiliki
suami yang normal seperti akhwat-akhwat yang lain. Mala juga ingin dibonceng kemana pun pergi,
didampingi saat ada urusan. Namun semua
harapan itu berusaha ia tepis sendiri
dengan rasa syukur. Bayangan tentang
keindahan akhirat dalam mimpinya selalu ia rindukan.
Detik waktu terus bergulir, seiring
peristiwa yang bergilir. Tidak terasa
pernikahan mereka sudah menjelang sepuluh tahun. Akan tetapi mereka belum juga dikaruniai
momongan.
“Aa, bagaimana nasib pernikahan
kita? Sampai saat ini kita belum
dikaruniai momongan. Jangan-jangan Ummi
nggak normal.” Keluhan Mala hanya
ditanggapi dengan senyuman oleh Ustaz Fauzan.
Keluhan Mala makin sering
terdengar. Rasa rindu akan hadirnya anak
juga dirasakan Ustaz Fauzan . Keluarga
ini terasa kurang lengkap tanpa hadirnya celoteh anak kecil. Doa malamnya makin dalam, memohon pada Allah
SWT akan hadirnya zuriat penerus cita-cita mereka.
Pagi itu di bulan September, Mala
merasa mual dan ingin muntah. Berulang
kali Mala memasuki kamar mandi tapi keadaannya tak juga membaik.
“Aa, anter Mala periksa ke mantri,
ya,” pinta Mala manja.
“Apa nggak sebaiknya ke bidan
saja? Aku yakin kamu hamil, Mala,” ucap
Ustaz Fauzan berbunga-bunga.
Mala pergi ke Bidan Susanti. Tidak seperti biasanya, Ustaz Fauzan begitu
semangat kali ini. Ia berjalan lebih
cepat dari biasanya seakan gangguan pengelihatannya hilang tiba-tiba. Ternyata firasat Ustaz Fauzan benar adanya. Mala dinyatakan positif mengandung anak
pertama mereka. Hari-hari ceria
menyertai mereka setelah penantian panjang itu.
Ketika Ujian
Menyapa
(Tiga Operasi,
Empat Belas Kemo dan Radioterapi)
Mala dan Ustaz Fauzan menanti
kelahiran dengan penuh harap. Semoga
semua ada dalam kelancaran. Satu pekan
menjelang perkiraan dari bidan, air ketuban tiba-tiba pecah. Mungkin karena kelelahan. Mala segera menuju Bidan Susan, diantar
mudabir akhwat, Annisa dengan motornya.
Bidan Susanti merasa heran dengan
kondisi Mala. “Ibu, saya tidak mau mengambil risiko. Ketuban sudah pecah tapi belum ada pembukaan
dan kontraksi. Ibu harus mendapat
penanganan dari dokter ahli kandungan,” tegas Bidan Susan.
Tidak ada jalan lain. Mala segera diantar Bidan Susan menuju RSU
Rancamaya Kabupaten Tasikmalaya.
Keputusan dokter, Mala harus menjalani operasi caesar. Demi keselamatan buah hatinya, Mala mengikuti saran dokter. Dilawannya segala rasa cemas dan
bimbang. Seumur hidup baru kali ini Mala
menghadapi operasi. Sesuatu yang tak
ingin dibayangkannya.
Atribut pasien segera
dikenakannya. Treatment pembiusan
dilakukan. Dengan operasi jenis anestesi
epidural, Mala tidak kehilangan kesadaran sepenuhnya. Telinganya
sayup-sayup mendengar percakapan dokter tapi rasa sakit sama sekali
tidak terasa. Ustaz Fauzan beringsut
dari ruangan bedah. Sambil terus berdoa
untuk keselamatan istri dan zuriatnya.
Sekitar satu jam operasi berjalan
lancar. Mala segera dipindah dari ruang
bedah ke ruang rawat inap. Berbagai rasa
tak nyaman mulai dirasakan seiring
pulihnya kesadaran. Mual, haus,
dan tenggorokan terasa kering.
“Aa, aku haus. Mana air minum?” Setengah sadar Mala meminta air minum. Rasa mual datang tiba-tiba, isi perut seakan
mau keluar. “Aa, ada sesuatu yang bisa
dimakan? Aku mau muntah.”
“Sabar Mala, kata dokter kamu harus
buang angin dulu baru boleh masuk makan minum.
Kalau kamu makan sekarang, bisa bahaya.
Tenanglah, anak kita sudah lahir.
Alhamdulillah anak kita selamat.”
Ustaz Fauzan berusaha memecah perhatian Mala dari apa yang ia rasakan.
“Alhamdulillah. Mala tersenyum manis. Semua derita seakan sirna demi mendengar buah
hati mereka selamat. Sebaris nama menari
dalam benak Mala ‘Ishaq’. Nama untuk
mengabadikan penantian panjang mereka, sebagaimana penantian Nabiyallah Ibrahim
dan Siti Sarah. Tentu dengan harapan
agar anaknya bisa mengikuti kesalihan
para nabi.
Hari-hari ceria menyambangi mereka
dengan hadirnya Ishaq. Dengan air susu
yang deras dan banyak, Ishaq tumbuh cepat dan montok. Siapapun yang melihatnya merasa gemas. Memasuki usia delapan bulan, Ishaq enggan
minum lewat payudara kanan Mala. Entah
mengapa. Kalau kata orang tua ‘cai
enenna bari’. Orang-orang terdekat
Mala menyarankan payudara kanannya dikompres dengan air hangat dan disedot
untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
Segala upaya telah dilakukan. Ishaq tetap hanya mau minum dari payudara
kiri. Dua bulan kemudian, air susu
benar-benar berhenti mengalir dari payu dara kanan. Yang membuat Mala khawatir, ada benjolan di
payudara kanan yang terasa nyeri. Kata
dokter ada potensi kanker payudara yang harus ditangani serius. Bahkan dokter menyarankan untuk dioperasi.
Teringat betapa tidak nyamannya
menjalani operasi dan takut kehilangan kesempurnaan anggota badan, Mala memilih
berikhtiar dengan herbal alami. Berbagai
obat herbal ia konsumsi dari mulai madu pahit, kapsul sambiloto, mangkudu,
rumput mutiara, kangen water pH 11,
semua dicobanya. Ada perkembangan
baik dari ikhtiarnya. Rasa nyeri pada
benjolan itu sempat menghilang walaupun benjolan tetap ada dengan ukuran
mengecil. Akan tetapi entah mengapa
muncul lebam di permukaan kulit payudaranya dan kulit itu menjadi keriput
kemerahan.
“Ibu Mala, Ibu harus segera
menjalani operasi kalau tidak ingin kankernya menyebar. Kanker payudara Ibu sudah sampai pada
stadium empat.” Dokter Herda memberi
saran yang tak dapat ditolak oleh Mala.
Kali ini Mala harus menghadapi
operasi keduanya. Tidak seperti operasi
pertama, kali ini ia berusaha menghadapinya dengan lebih tenang dan
pasrah. Mala memasuki ruang bedah yang
beraroma obat bius pekat. Perlahan
kesadaran Mala menghilang. Pendengaran
dan pengelihatannya kabur. Mala seakan
tertidur pulas.
Operasi mastektomi, pengangkatan payudara
secara sempurna berjalan lancar.
Sebelumnya mala harus berpuasa
dalam 12 jam. Operasi dilakukan
dalam tiga jam, cukup lama bila dibandingkan saat operasi caesar.
“Aa, maafkan Mala. Sekarang Mala tidak sempurna.” Mala menangis sedih sambil mencium tangan suaminya.
“Tidak ada manusi yang sempurna,
Mala. Semua yang ada pada ita sekedar
titipan. Jangankan hanya sebagian
anggota badan kita, semua jasad, bahkan nyawa kita, semua milik Allah SWT. Sabar, Sayang. Cintaku takkan pernah berubah sedikit
pun.” Ustaz Fauzan menghibur istri
tercintanya.
Setelah dua hari dirawat
paskaoperasi, Mala diperbolehkan pulang.
Empat bulan setelah operasi, lukanya telah benar-benar kering. Perjuangan yang cukup berat untuk membuat
luka itu cepat rapat. Mala harus
memperhatikan benar makanannya.
Penggantian perban pun harus benar-benar steril dan rapi. Mengingat perjuangan itu, Mala sangat
bersyukur akhirnya lukanya sembuh total.
Keadaan Mala makin membaik, ia
kembali beraktifitas sebagai ibu Asrama di pesantren tempat Ustaz Fauzan
mewakafkan dirinya. Mala tenggelam dalam
aktifitas membangunkan santriwati untuk tahajud atau sahur puasa sunnah Senin
Kamis. Bila waktu makan tiba, ia
mendampingi cara makan mereka agar tetap sesuai sunnah Rasulullah.
Akan tetapi hal itu tidak
berlangsung lama, hanya lima bulan .
Keluhan baru tiba-tiba terasa.
Mala mengalami gangguan nyeri pada punggung bawah hingga paha. Buang air kecil makin sering terasa. Dari USG dan gejala yang dirasakan, dokter
mendiagnosa Mala mengidap Kista Ovarium.
Secara psikologis Mala langsung menduga bahwa ia harus menjalani operasi
ketiga. Pengangkatan kista di
ovariumnya.
Benar saja, Mala harus menjalani
operasi ketiga. Operasi berjalan baik
dengan tambahan treatment, Mala harus menjalani kemoterapi dengan jadwal
ditentukan dokter. Dokter Herda selaku
ahli onkologi memantau perkembangan Mala dan menentukan jadwal treatment tiap
kali control rutin per dua pekan.
Kemoterapi pertama Mala berlangsung
lancar. Dr Herda memasang infuse pada
nadi tangan Mala. Tiga jarum dipasang
untuk memasukkan obat ke dalam tubuhnya.
Awalnya Mala tidak mengalami gangguan serius akibat kemoterapi. Akan tetapi satu jam setelah sampai di rumah,
Mala mengalami kelelahan yang amat sangat.
Yang ia inginkan hanya istirahat dan tidur pulas. Belum lagi rasa mual dan pusing yang
mendera.
Satu pekan setelah kemoterapi
gangguan yang sangat membuatnya tidak nyaman mereda bersama konsumsi obat dari
dokter. Akan tetapi sesuatu yang aneh
kembali terjadi, helai demi helai rambutnya tanggal hingga habis. Bukan hanya rambut epala tetapi seluruh
badan. Memar di bagian kuku membuat kuku
Mala menghitam. Demikian pula daerah
sekitar mata menjadi legam.
Ishaq yang mulai bisa bicara pun tak
mau mendekati bundanya. “Aku nggak mau
sama Bunda. Bunda mirip hantu.” Ishaq meronta tiap Mala mendekat. Ia memilih lari ke asrama daripada dekat
bundanya. Mala hanya bisa meneteskan air
mata.
Tidak terasa kemoterapi terjadwal
yang ia jalani memasuki treatment yang ke-13.
Ia berangkat sendiri ke RS. Rancamaya.
Seperti biasa ia menemui dokter Herda di ruang khusus kemoterapi.
“Ibu Mala hebat banget. Temen-temen seangkatan Ibu sudah pada
‘Out’.” Dokter Herda bicara tanpa
beban. Mungin ia bermaksud untuk
bercanda dan menghibur Mala.
“Maafkan saya Dokter, mungkin Pak
Dokter bosan ketemu saya terus. Maaf
saya telah merepotkan Pak Dokter.” Mala
meneteskan air mata. Belakangan ini ia
begitu sensitif dengan hal-hal yang
menyangkut penyakitnya.
Dokter Herda merasa bersalah dan
mengalihkan pembicaraan. “Maksud saya,
Ibu hebat. Fisik Ibu kuat sekali. Insya Allah Ibu akan menang melawan kanker
ini.”
Tiga pekan setelah kemoterapi yang
ke-13, saat Mala mandi, ia meraba bagian bawah ketiak kirinya. Ada sekepal daging yang tumbuh di sana
sementara di bagian kanan tidak ada.
Hampir Mala menjerit memikirkan keadaannya.
“Astaghfirullahhalazim… Ujian apa lagi yang akan Kau timpakan pada
hamba ya Rabb.” Batin Mala menjerit
sejadi-jadinya. Ia berniat segera
konsultasi pada dokter Herda.
“Ibu harus menjalani terapi
radiologi. Ini surat rujukan untuk
penyinaran di RS Santosa Bandung.”
Betapa lelahnya jiwa Mala. Saat-saat putus asa mendera, Ustaz Fauzan
menjadi pendukung setia. Mereka
memutuskan untuk menerima treatment radioterapi. Sambil menunggu antrian treatment,
Mala menempati rumah singgah khusus pasien yang berasal dari luar kota.
Hari penyinaran pun tiba. Mala harus berbaring di atas meja beroda
dengan pakaian lengkap. Atribut yang
dipakainya hanyalah topeng pengekang juga sabuk pengikat di bagian perut dan
kaki. Kata dokter, supaya penyinaran
berlangsung sempurna dan tepat sasaran.
“Bismillah, ya Rabb au berlindung
dengan kalimatMu yang sempurna dari kejahatan makhluk ciptaanMu.” Doa itu memenuhi rongga hati Mala. Badan Mala telah terbujur di atas. Rasa dingin menyelimuti sekujur
badannya. Sekali penyinaran hanya 1-5
menit tapi karena harus dilakukan sepekan berturut-turut, treatment kali ini
menjadi terasa berat.
Sejak penyinaran diterapkan pada
ketiak kirinya, Mala belum pernah merasa sehat dan nyaman. Ada saja yang
dideritanya. Asam urat yang tinggi,
sakit di ulu hati, mual-mual dan kelu di lidah.
Bila sakit panas demam datang, Mala sering merintih tanpa ada siapapun
yang bisa meringankan rasa sakit itu.
Belakangan setelah kemoterapi yang
ke-14, Mala tidak bisa tidur tiap malam atau pun siang. Anehnya tidak ada rasa pusing sedikit pun
karena kurang tidur. Ingatannya
melayang pada mereka yang telah menghadap Sang Khalik.
Hingga kini rasa nyeri itu masih
mendera bahkan untuk bergeser dari tempai Mala duduk dan berpijak.Mala tinggal
di rumah dalam kebimbangan. Dua dokter
yang menanganinya menyarankan dua hal yang kontradiktif. Dokter ahli onkologi mengatakan, rasa
nyerinya karena kemoterapi yang tak ditepati jadwalnya. Sementara ahli penyakit dalam menyarankan
kondisi Mala harus benar-benar dalam keadaan sehat untuk menjalani kemoterapi.
“Ya Rabb, hanya padaMu hamba
bergantung dan berserah diri. Bahkan
bila Engkau memanggilku pulang, sudahi hidupku dengan Husnulkhatimah. Bukan perlawanku pada penyakit yang aku ingin
menang tapi dari godaan setan dan nafsu yang selalu menggodaku untuk tidak rela
pada ketentuanMu. Rabb… ampuni segala
kelemahan daya upayaku dan kelemahan diriku melawan nafsu.” Mala berada dalam puncak kelemahan yang menenangkan.
Event Hati yang Tertinggal
PERPISAHAN BIRU (Khadijah Hanif)
Matahari menyalak siang itu,
menjejakkan suasana terik yang kurang nyaman.
Beruntung angin menerpaku dengan sapuan yang menyejukkan, mengurangi
garangnya surya. Rombongan kami baru
saja sampai di Batukaras Pangandaran, sepuluh tahun silam pantai ini masih
masuk Kabupaten Ciamis. Ada kenangan
yang takkan pernah aku lupakan, seakan sepasi hatiku masih tertinggal di sana.
“Irsyad, jangan jauh-jauh dari Ummi,
Nak!” Aku memanggil anakku yang baru
berusia lima tahun. Ia sedang lincah-lincahnya mengenali dunia luar. “Aduh, jangan terlalu ke tengah, Abang!” Aku menarik tangan anak keduaku yang sedari
tadi aku gandeng tangannya. “Kita baru
sampai, jangan langsung main air, kita tata dulu semua perbekalan. Ummi kesusahan ngawasin kalian jadinya!” Nada bicaraku meninggi.
“Nggak apa-apa Ummi, Zaid sudah
sembilan tahun, sudah besar sekarang, bisa main sendiri,” tukas Zaid sambil
berjalan menjauhi tepi pantai. Aku tetap
memegangi tang tangannya, makin erat.
Tidak lama kemudian, kami menemukan Irsyad bermain pasir di daerah yang
bertanda pita merah.
“Subhanallah, Irsyad, nggak boleh
main di situ, kalau pasirnya berputar kita bisa tersedot!” teriakku. Aku melihat Irsyad dari kejauhan, tak sabar
untuk meraih tangannya dan membawanya sejauh mungkin dari tepi pantai. Ia sudah berada di daerah berpita merah.
“Mohon para pengunjung untuk tidak
mendekati area bertanda khusus, pusaran air dan pasir sangat berbahaya bagi
keselamatan anda dan keluarga,” Penjaga
pantai memyampaikan pengumuman melalui speaker.”
Aku terus berlari. Terasa benar pasir yang kuinjak tidak begitu
kompak. Buktinya, kakiku menerobos pasir
hingga pertengahan betis. Aku tidak
peduli kaos kaki dan gamisku basah, yang aku pikirkan hanyalah keselamatan
anak-anakku.
Lima meter lagi aku makin dekat
dengan Irsyad, sambil terus memaksa Zaid tak lepas dari genggaman tanganku. Tinggal kurang dari satu meter, aku merasakan
ada pergeseran pasir yang aku pijak. Aku berusaha menghindari geseran itu
sekuat tenaga. Tangan kiriku meraih Irsyad
dan…
Aku terengah, napasku
terputus-putus, memeluk erat kedua anakku setelah menjauhi tanda wilayah
berbahaya itu. “Alhamdulillah, kita terhindar
dari pusaran pasir,” batinku sambil menata napas yang memburu. Aku sapukan pandangan, tidak ada seorang pun
di dekat kami. Rupanya mereka tahu betul
tempat ini bukan area berenang.
Perlahan aku berjalan menuju
penginapan yang telah disewa rombongan pesantren. Semua keluarga ustaz yang ikut berwisata
berada dalam deretan penginapan yang sama, kecuali keluarga kami. Dalam hati, aku sempat bertanya-tanya, kenapa
kami terkucilkan? Akan tetapi aku
berusaha mengais prasangka baik di sudut hatiku, “Ah, mungkin suamiku sebagai
penanggung jawab pengasuhan santri bisa lebih mudah mengawasi dan mengomandoi
kegiatan anak-anak santri dan santriwati.
Masa remaja seusia mereka sangat rawan terjadi pelanggaran bila lenggah
pengawasannya.”
Panas terik udara pantai di siang
hari menguyupkanku dengan keringat.
Perasaan tidak nyaman berkali-kali menyapaku sejak aku kehilangan si
bungsu, Irsyad. Tiba-tiba aku ingin
membuka media sosial barangkali ada
pengumuman dari grup pesantren kami.
Perasaan tidak enak hati justru makin kental. Aku memperhatikan posting demi posting dari
keluarga rekan seperjuangan, mereka selalu bersama, makan bersama,
bercengkerama akrab. Semua hadir kecuali
keluargaku.
Sekali lagi aku harus berusaha
menghibur diri, ”Tak apa aku menemani suami di sini, lagi pula tak mungkin
tigaratus lima puluh santri dibiarkan tanpa pengawasan, sementara yang memegang
komando anak-anak adalah suamiku.” Akan
tetapi sisi sensifitasku tak mampu aku paksa membendung genangan di sudut
mataku, meratapi perlakuan tidak adil pada belahan jiwaku itu. Aku memilih segera tidur malam itu untuk
melarutkan buruk sangka dan kecengengan yang childish ini.
“Ade, kenapa kelihatan sedih?” tanya suamiku selepas bangun tidur untuk
qiyamullail bersama anak-anak santri
“Enggak, kok, biasa aja, Mas.” Aku mengelak dan berusaha menutupi
perasaanku.
Rupanya jawabanku tidak memuaskan
rasa ingin tahu suamiku. Akhirnya aku
ceritakan semua perasaan hatiku.
“Jangan berpikiran yang
tidak-tidak. Kita berangkat ke sini
memang bukan untuk bersenang-senang tapi mengasuh, mengawasi, menjaga anak-anak
supaya bisa berwisata tetapi tetap menjalankan sunnah pondok. Melatih mereka untuk terus menjadi santri di
manapun mereka berada. Itulah ladang
amal dan perjuangan kita. Aku mengenal
baik Haji Azis, dia sahabatku sejak masih sama-sama di remaja masjid.”
Terlintas semua kebaikan Haji Azis
pada kami sekeluarga. Saat walimatul
‘ursy, tak mampu kami balas. Waktu itu Haji Azis belum menjadi pimpinan
pesantren. Lembaran memori bersama Haji
Azis dan keluarga memenuhi benakku.
Juga ketika kedua anakku dikhitan, semua dimudahkan dengan bantuan Haji
Azis.
“Tahun ini ada saldo operasional
pondok. Saya rasa yang paling berhak
menikmatinya adalah para ustaz yang bermukim di wisma pesantren. Karena jerih payah dan pengorbanan antum semua, pesantren ini bisa
terus maju dan berkembang,” papar Haji Azis.
Hadiah yang kami terima dari kemurahan dan kerendahan hati Haji Azis
berupa satu set laptop untuk seluruh keluarga badan pengelola pesantren. Sebuah anugerah dan berkah bagi kami
menjelang tahun dua ribu sepuluh.
Aku malu pada diriku sendiri karena
telah bembiarkan bisikan suuzan terselip di kelopak batinku.
Matahari perlahan menyapa dalam
keindahan sunraise di tepi pantai Batukaras.
Kami tak ingin kehilangan moment indah ini. Warna semburat merah mulai tampak, mentari
malu-malu mengintip di balik mega, seakan dia tahu berjuta manusia di bumi
menunggui kehadirannya. Piringan merah
menyembul di balik cakrawala, disambut riuh rendah suara anak-anak. Mereka tidak ingin kehilangan sunraise yang
indah pagi ini dengan foto bersama.
Gemuruh ombak pantai, kicauan burung
hutan pantai pagi hari, hangatnya sang surya mengakrabi kami. Keindahan demi keindahan mengingatkan kami
pada kehadiran dan kuasa Allah SWT. Kami
melanjutkan kegiatan dengan berenang dan berjalan-jalan menyusuri tepi pantai.
“Ustaz Maher mana, Bu?” Suara yang sangat kukenal menyapaku. Haji Azis dan istrinya, Ustazah Noor memilih
berjalan pagi daripada berenang, sama sepertiku. Berenang terlalu pagi kurang nyaman menurut
kami, dingin.
“Biasa Pak Haji, ngasuh anak-anak.”
“Kenapa tadi malam nggak gabung
kita, ada acara bakar ikan,” sambung Ustazah Noor.
“Kalau malam-malam anak-anak tidak
didampingi, bisa pada bikin janjian, Ustazah.”
Aku menjawab ringan, menyembunyikan rasa malu karena buruknya
prasangkaku.
“Ini ikan bakar buat Ustazah Via dan
keluarga. Maaf karena nggak sempet
mengantar ke penginapan tadi malam.”
Bungkusan itu seakan menampar perasaanku, meyakinkanku bahwa Pak Haji
Azis dan Ustazah Noor benar-benar sosok keluarga pemimpin yang memahami anak
buahnya.
***
Tiga hari berlalu, kebahagiaan
terpancar pada wajah-wajah yang bergumul dengan keindahan Batukaras. Saatnya kami harus meninggalkan kenangan di sini
dan kembali berjuang dalam titian ilmu di pesantren.
Seusai Salat Zuhur, suamiku
menginstruksikan seluruh santri terlebih dulu operasi semut. Bis tidak akan
diberangkatkan sebelum semua bersih seperti sedia kala.
Seperti
kegiatan wisata sebelumnya, penutupan
rihlah selalu dilakukan dengan upacara, berkumpul bersama dan mendengarkan
sepatah dua patah kata dari pimpinan. Suasana
yang begitu panas terik jam 13.13 membuat anak-anak ikhwan yang tidak mendapat
naungan kegerahan dan berkeluh kesah. Sambutan
Haji Azis tidak begitu terdengar melalui
cemprengnya suara megaphone ditambah suasana terik yang amat sangat.
Namun masih terdengar jelas olehku
kalimat demi kalimat, tentang tahun perkembangan pesantren, tentang harapan
beliau pada perkembangan dan perbaikan pesantren.
”Mungkin hari ini adalah pertemuan
terakhir saya dengan kalian”
Kalimat
selanjutnya tak begitu aku dengar. Aku
berbicara dengan Ustazah Noor yang berdiri di sampingku.
”Bu,
apa-apaan ini? Lho, ini mah pengunduran diri. Yang bener, Bu?”
“Wah,
saya juga nggak tahu.” Hanya itu jawaban
yang beliau utarakan waktu itu.
Airmata menitik seketika, tidak percaya.
Berbagai
ekspresi muncul, anak-anak kami yang duduk di bangku SMA menunduk sedih. Akan tetapi
sebagian masih belum begitu paham apa yang terjadi siang hari ini. Sementara
itu guru-guru yang terlihat shock, diam seribu bahasa. Gemuruh pertanyaan dalam hati masing-masing
yang sebagian terjawab sebagian tidak. Sebagian
jawaban itu ada yang benar dan ada pula yang tidak.
Rombongan
berangkat, aku menemani suami mengendarai motor. Sepanjang jalan sesekali kami membahas apa
yang telah terjadi. Tapi setiap selesai
membicarakan sesuatu, Allah selalu menegur kami dengan cara yang sangat luar biasa.
“Keputusan Haji Azis sudah sangat
bijak. Beliau tidak mau timbul fitnah di pesantren. Beliau ingin memberi kesempatan pada yayasan
untuk melanjutkan perjuangannya.”
“Tapi Mas aku khawatir pesantren
akan terpuruk lagi kalau dikelola tanpa rasa ikhlas. Aku melihat keikhlasan memimpin pada diri
Haji Azis. Siapa yang rela melepas semua
gaji dan mengembalikannya ke pondok.
Nggak ada, Mas. Hasilnya bisa
kita lihat, dapam lima tahun beliau memimpin, santri kita sudah bertambah lima
kali lipat.”
Mas Maher terdiam. Aku tahu ia pun menyayangkan perpisahan ini,
tetapi ia tak ingin perbincangan ini berujung ghibah pada keluarga yayasan Kami sibuk dengan kata hati kami masing-masing.
Akhirnya puisi hatiku kembali
berdenting dalam liris yang berbaris.
Perpisahan
Biru (Untuk Sahabat, Guru dan Pemimpinku).
Terimakasih
sahabatku, pemimpin dan sekaligus guruku.
Terlalu banyak pelajaran yang kau berikan. Dua kali aku mendapatkan guru seperti dirimu. Di sini di makhad ini. Ikhlasmu membuatmu tidak mengambil seperakpun
materi. Aku hanya bisa mengikuti jejakmu
dengan sumbangan tenagaku yang makin lelah.
Aku hanya bisa mencintai ma’had ini dengan tak seberapa, sekemampuan
yang bisa aku pertaruhkan. Sikapmu
begitu menginspirasi langkah-langkahku di sini.
Sahabatku… Sikapmu selama ini. Mengingatkanku untuk selalu berkaca pada diri
Instropeksi pada segenap dosa dan kesalahan. Hingga menitik air mata ini mengakui
kesalahan diri. Kekurangan dan kelemahan. Hingga sanggup aku berbaik sangka pada sesame. Menerima karunia yang Allah bagi pada orang
lain. Tanpa pengakuan diri sulit kuusir
setan yang berbisik. Nafsu yang menggoda. Ujub yang mendera. Sombong yang bertahta. Terimakasih Sahabatku
Kau
pemimpin yang selalu menerima. Memaafkan,
memaklumi kekurangan kami
Bahkan kau berikan ungkapan terima kasih. Dengan sesuatu yang tak pantas kami terima. Yang dengan itu kau temukan masalah. Maafkan aku yang tak bisa menyempurnakan
ikhtiar dan ketaatan. Maafkan aku yang
tak sepenuhnya menjalankan amanah. dan
kepercayaan yang kau berikan
Terngiang
nasihat Rasulullah, mengingat 4 perkara dan melupakan 4 perkara
*Ingatlah jasa baik orang lain, agar ummat ini
pandai berterima kasih
*Ingatlah karunia dan kenikmatan Allah, agar
ummat ini pandai bersyukur
*Ingatlah kesalahan diri pada orang lain, agar
ummat ini tawadhu dan mau meminta maaf
*Ingatlah dosa yang diperbuat pada Allah SWT, agar
ummat ini terhindar dari ujub, sombong
*Lupakanlah jasa dan kebaikan diri pada orang
lain, agar ummat ini begitu ikhlas dengan apa yang telah berikan
*Lupakanlah takdir buruk dan musibah dari Allah,
agar ummat ini senantiasa optimis dan penuh harap akan karunia Allah
*Lupakanlah kesalahan orang lain, agar ummat ini
menjadi pemaaf
*Lupakanlah amal ibadah untuk Allah yang telah
dilakukan, agar ummat ini terhindar dari ujub dan sumah dan meraih sifat
kehambaan
Selamat
jalan, Sahabat, harapan baru terbentang di hadapanmu. Sejarah telah kau ukir begitu indah di hati
orang-orang yang mencintaimu. Do’akan
kami dan do’a kami senantiasa menyertaimu.
Kami akan berusaha meneruskan apa yang kau cita-citakan
Cintamu
pada kami dan makhad ini telah tumbuh sejak dulu lagi. Dan cinta itu makin subur saat kau berada di
tengah kami. Allah, Rasul dan ummat ini
menyaksikan segenap pengorbananmu. Bebatuan,
pasir, dinding-dinding bangunan, tetumbuhan telah merekam
Semua kejadian hingga alam keabadian
Masih
kuingat pesanmu, “Teruslah berjuang! Hingga
takdir menghentikan perjuangan itu. Selama
masih ada ruang, waktu dan kesempatan. Jangan
pernah mundur
Almarhum telah membangun pondasi bangunan ini. Kita memperindah dindingnya
Semoga hari esok ada yang menyempurnakan
atapnya”
Aku
belajar dari keikhlasanmu. Aku belajar
dari kebesaran jiwamu. Ketika cinta
merubah dendam menjadi kemaafan. Ketika
cinta merubah pamrih menjadi keikhlasan
Ketika cinta merubah lelah menjadi kekuatan. Ketika cinta merubah amarah jadi keramahan
Ketika cinta merubah derita menjadi bahagia. Terimakasih sahabat, guru dan pemimpinku.
KAYUHAN SEPEDA EMAK
By: Khadijah Hanif
Subuh masih dua
jam lagi, Mak Bibah sudah terbangun dari tidurnya yang tak begitu lelap. Jam weaker
pemberian Ai Lena, anaknya selalu setia membangunkan di sepertiga malam
terakhir.
Mak Bibah
beringsut dari dipannya yang jauh dari nyaman. Ia menggumam dengan doa bangun
tidur, “Alhamdulillahilladzi ahyanaa bakda maa amatanaa wailaihinnushuur.” Tanpa rasa malas, Mak Bibah segera menuju
jamban di luar rumah. Jaraknya dua puluh
meter dari rumahnya, di pinggir kolam ikan milik tetangganya.
Dingin musim yang
kering menggigit kulit membisikkan kata mesra, merayunya untuk bergumul dengan
selimut tebal. Tapi tekad yang membaja
menampar semua bisikan kemalasan.
Mak Bibah yang telah memasuki kepala empat, makin menikmati
kemesraannya dengan Tuhan. Ia yakin tiap rasa dingin yang mencekam akan
dibalasi kebaikan lebih dari pori-pori sekujur kulitnya. Tiap tetes air wudhu akan menyuburkan
cintaNya pada Tuhan karena ia percaya bahwa Allah SWT akan membalasi tiap
tetesan itu dengan sepuluh kebaikan. Keimanannya
pada janji Allah SWT menegarkan langkahnya, setiap hari menembus dingin bahkan
saat musim hujan tiba.
“Mak, kamu rajin amat salat
Tahajud, nggak bosan? Sedangkan Gusti Allah nggak pernah mengabulkan
permohonan kamu. Coba bikin daftar doa
dan kenyataan! Kamu bakal menemukan
benang merah, kemana larinya doa kamu itu.”
Mang Jiman, suaminya, mencibir
keistikamahan Mak Bibah. Ingin ia menjawab cibiran itu tapi urung. Tidak ada gunanya, karena hanya akan berakhir
dengan debat dan keributan.
“Pak, nikmat Tuhan tidak bisa dipungkiri. Doa tidak selamanya terbayar seperti yang
kita ucapkan. Kadang yang kita pinta tak
segera terwujud dan banyak kebaikan Dia beri tanpa kita harus meminta dan
memohonkannya. Yang lebih penting dari tengadah tangan kita itu, nikmat iman
dan Islam yang masih mau singgah di hati kita.”
Mak Bibah asyik mengakrabi hati nuraninya. Bicara dalam sunyi, bertutur dalam diam,
berharap suatu saat rasa hatinya teraba suaminya itu.
Selesai salat
malam, sekitar pukul dua pagi, elf langganannya akan membunyikan klakson. Panggilan perjuangan untuk menjemput rezeki
yang Allah SWT janjikan. Emak segera melipat mukena lusuh dan sajadah baru,
hadiah dari tetangga sebelah yang baru pulang haji.
“Mbak Yu Bibah, lama
amat. Pasti salat malam dulu calon bu
haji kita ini,” ucap Yu Darmi sinis.
“Maaf, suami saya sedang nggak
enak badan. Saya sediain jamu dulu di rumah,” jawab Mak Bibah tenang.
“Memang para suami itu maunya seenaknya
sendiri. Kita yang mumet nyari
nafkah buat keluarga. Pagi gulita begini
harus keluyuran ke pasar.” Yu Darmi nyerocos tanpa henti. Ibu-ibu perkasa yang
lain memilih diam. Wajah mereka
menampakkan keikhlasan yang indah.
Mereka turun ke
pasar terdekat, Harganya sedikit lebih
mahal dari pasar pusat kota, tapi faktor kedekatan lebih mereka pilih. Mereka mengejar waktu berdagang. Makin awal mereka mulai berdagang keliling
maka risiko dagangan bersisa cukup rendah.
Azan Subuh
terdengar sayup-sayup dari pasar tradisional wilayah kecamatan. Mak Bibah segera menyambut panggilan
Tuhan. Wudhu untuk salat malam masih
mengizinkannya untuk salat Subuh. Dipakainya
mukena paling bersih yang tersedia di mushala pasar. Mushala kecil itu cukup
terawat, hanya saja tidak ada marbot yang merawatnya khusus sebagai penanggung
jawab. Mak Bibahlah yang menyapu
mushala empat kali tiga meter persegi itu tiap pagi Subuh. Tidak lama hanya
butuh tiga menit. Sesekali ia mengepel
lantainya dengan lap yang di bawanya dari rumah.
Selesai salat
Subuh Mak Bibah berjalan cepat menuju elf yang biasa mereka tumpangi
untuk kembali, malangnya kali ini Mak Bibah tertinggal. Barang-barang yang sudah diletakkan di dalam elf
itu terbawa. Terbayang dalam benaknya,
gerutu penumpang elf lain hingga mereka tega meninggalkannya.
Ada rasa cemas
atas keamanan barang dagangannya. Mak Bibah hanya bisa pasrah. Ia terpaksa
menaiki angkotan kota yang menuju desanya.
“Aku harus
mengeluarkan ongkos buat angkot. Kenapaereka
tega meninggalkan aku, ya? Padahal aku
selesai salat lebih awal dari hari biasanya.
Ya, Allah, hamba serahkan penjagaan hak milik hanya padaMu.”
Rasa cemas
sekaligus heran masih mendera batinnya.
Belumlagi bayangan kemarahan Mang Jiman.
Mang Jimam pasti akan
menjejalinya dengan sumpah serapah. Tentang
salat yang mencelakalan, tentang doa yang terbalas sengsara. Luapan buruk sangka suaminya pada Sang
Pencipta harus menyambangi telinganya.
Sesuatu yang sangat tak
diinginkan Emak.
Sesampai di
rumah, Emak tidak bercerita apapun tentang barang dagangannya. Mang Jiman telah bersiaga dengan sumpah serapahnya
“Mak, mana barang
dagangamnya? Kamu pulang terlalu
siang. Kamu ketinggalan elf lagi
ya? Nggak kapok-kapok dengan pengalaman
kamu yang sudah-sudah?. Barang daganganmu bakal busuk kalo nggak segera kau
edarkan atau mungkin hilang tak bertuan! Begini, ya, hasil dari ibadahmu siang
malam itu?” Mang Jiman masih juga
memarahi istri yang penyabar itu, padahal tadi pagi Mang Jiman mengeluh tidak
enak badan.
“Pak,
Allah tidak akan menukarkan rezeki kita pada orang lain. Pasti ada hikmahnya, Pak.
Dulu juga Emak dapat rugi tapi Allah kasih hadiah sepeda lewat prestasi anak
kita. Dan sekarang aku bisa jualan keliling
dengan sepeda. Emak Bibah memberanikan
diri menjawab kemarahan suaminya. Semoga
jawabannya itu meredam suasana tak nyaman ini.
“Tapi
kalau kamu tidak kehilangan barang dagangan, tentu kamu tidak hanya mendapat
sepeda tapi juga keuntungan berdagang hari itu.” Mang Jiman begitu sulit untuk berucap satu
tanda kesyukuran, hamdalah telah menjauhi dirinya.
Mak
Bibah mengakhiri perdebatan untuk menuju ke ruang makan. Ia menyiapkan makanan yang dibelinya dari
pasar, khusus buat Mang Jiman. Mereka hanya tinggal berdua, kedua anak mereka
belajar di pesantren.
Biasanya
Mak Bibah memasak dulu sebelum berangkat berjualan dengan sepedanya, tapi kali
ini ia harus berkejaran dengan waktu. Ia
harus mencari keberadaan barang dagangannya, menatanya di atas rak serupa
sangkar di atas sepedanya.
“Mak
Bibah, Mak! “ seseorang memanggilnya keras-keras diiringi tepuk tangan yang
nyaring.
Mak
Bibah mempertambat kayuhannya, memutar sepeda dan membelokkan arak ke sumber
teriakan yang memanggilnya.
“Neng
Tari, ada apa manggil Emak?”
“
Ini ada titipan barang dagangan buat Mak Bibah.
Tadi pagi-pagi sekali elp yang biasa membawa belanjaan Emak
meletakkan semua ini di depan rumahku, Mak,” jelas Tari sambil memakai
sepatunya.
“Alhamdulillah,
terima kasih, Neng Tari. Emak sudah
khawatir kehilangan barang dagangan.”
Senyum lebar Mak Bibah mebariskan gigi putihnya yang rapi.
***
Mak Bibah turun dari sepedanya,
menyandarkan pada pagar rumah Tari.
Penuh semangat ia menata sayur-sayuran itu. Ada tiga kilogram mentimun, sepuluh ikat
bayam, sepuluh ikat kangkung, dan berbagai rempah-rempah bumbu dapur. Tidak ketinggalanbeberapa macam lauk pauk
seperti ikan segar, ikan asin, daging ayam, tahu, tempe. Buah-buahan juga ada walaupun hanya satu atau
dua kilogram, seperti mangga, jeruk, jambu biji juga jambu air.
Dua karung barang dagangan itu kini
telah bertengger di rak sangkar penyimpanannya.
Rak berukuran satu kali setengah kali satu meter dengan dikelilingi
kawat serupa sangkar telah penuh dan setia menemani Mak Bibah berjualan
keliling. Mungkin berat semua barang itu
hampir sama dengan berat tubuhnya, enam puluh satu kilogram.
“Bismillahirrahmaanirahiim,
bismillahi tawakaltu ‘alallah laahaula walaaquwata illa billah.” Doa itu mengawali kayuhan demi kayuhan sepeda
Mak Bibah. Gabungan antara semangat dan tekat niat lillah dan berserah diri
dengan apapun takdir yang akan Allah pilihkan untuknya.
“Sayur… Lauk…
Buah… Semua segar murah
meriah.” Iklan alami keluar dari lisan
Mak Bibah untuk menarik pelanggan dan pembeli barunya. Diselingi bunyi bel sepeda yang dibuat khas
agar kedatangannya mudah dikenali calon pembeli. Dengan kreatifitas dan kegigihannya, Mak
Bibah bisa merambah lima desa, dalam waktu lima jam. Lepas Zuhur barang dagangannya tinggal sedikit
sekali bahkan kadang kala sudah habis.
Namun hidup bak roda pedati, kadang
di atas penuh kemudahan, kadang di bawah penuh kesulitan. Begitu pula apa yang dialami Mak Bibah dengan
jualannya. Saat rezeki pelanggannya banyak,
ia ikut mendapat berkahnya, belanjaan cepat habis. Begitu pun sebaliknya saat musim paceklik,
dagangan sepi, kadang bersisa, modal pun tak sepenuhnya kembali.
“Mak, Ade belum dapet uang jajan
bulan ini,” rengek Arini terdengar di hp jadulnya. Arini baru tahun ini berpisah dari ibunya,
masih dalam tahap adaptasi. Ditambah
lagi kondisi keuangan yang sedang sulit oleh lesunya perekonomian karena
kemarau panjang.
“Sabar dulu, Nak. Emak selalu ingat kebutuhan kamu. Insya Allah besok Emak tengok kamu ke
pesantren, ya.” Mak Bibah menghibur
Arini sebisanya.
Mak Bibah memutar otak bagaimanapun
ia harus mengadakan uang satu setengah juta untuk dua buah hatinya itu.
Di tengoknya barang dagangan yang
bersisa seraya bergumam, “Aku harus mengolahnya supaya keuntungannya bisa
menambah bekal buat anak-anak.”
Ide untuk membuat dan menjual
makanan jadi pun bermunculan di benaknya.
Segera diraciknya bumbu berbagai masakan untuk mengolah bahan mentah
itu.
Saat Mak Bibah sedang
sibuk-sibuknya, tiba-tiba telpon genggam jadulnya bordering lagi.
“Assalamualaikum, bisa bicara dengan
orang tua Arini?” Suara samar dari
seberang sana terdengar. Ternyata
panggilan itu dari pengasuh Pesantren Al Hidayatul Muna tempat Arini belajar.
Seketika jantung Mak Bibah berpacu
dua kali lebih kencang. Ada firasat
buruk terkait Arini.
“Waalaikumsalam, iya saya
sendiri. Ada apa ya, Ustazah?” tanya Mak
Bibah penuh rasa penasaran
“Emak jangan kaget dan pihak pondok
akan ikut membantu mengatasi masalah ini.
Arini mengambil uang kawannya, jadi Ibu atau Bapak dimohon hadir di
pesantren.”
“Ya, Allah, Arini…” Mak Bibah tak mampu meneruskan
ucapannya. Telpon genggam di tangannya
terjatuh bersama linangan Kristal bening di sudut matanya. “Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun. Rabb Engkau mengujiku dengan kemarahan suami,
hamba bisa bertahan. Engkau menguji
dengan kesulitan rezeki, hamba bisa tahan.
Tapi kali ini, hamba mohon Kau kuatkan hamba. Aku menitipkan anak-anak amanah dariMu ke
pesantren untuk menjadi anak yang salehah.
Anak yang mampu membedakan benar-salah, baik-buruk. Tapi kenapa keringat yang tercurah untuk
kebaikan mereka seakan sia-sia.”
Dering telepon kembali
menyadarkannya dari kesedihan yang dalam.
Sekuat tenaga diraihnya telpon itu.
“Ibu, kenapa Ibu memutus
perbincangan ini? Kami dari pihak
pesantren berkewajiban memperbaiki akhlak anak-anak yang diamanahkan pada
kami. Pemanggilan ini bukan untuk
mempermalukan orang tua dan anak yang melanggar, Bu. Tapi lebih pada kerjasama antara orang tua
dan pesantren untuk mendukung perubahan anak-anak kea rah yang lebih
baik.” Suara Ustazah Noor bagaikan oase
di padang gersang. Menegarkan kembali
semua yang kerontang juga jiwa Mak Bibah.
“Iya, Ustazah, saya akan
datang. Terima kasih atas bimbingan
Ustazah pada anak saya Masfufah dan Arini.”
Ketegaran jiwa Mak Bibah pulih
kembali, Ia tak ingin tiap tetes
keringat, naik turunnya nafas yang terengah dan kayuhan yang ia ayun selama ini
sia-sia oleh keputusasaan.
“Layukalifullaahu nafsan illa
wusaha, Allah memberimu ujian karena
kamu mampu menanggungnya, Bibah. Ada
hikmah di setiap ujian. Mungkin kamu
harus lebih sering menyebut nama anak-anakmu untuk kau titipkan pada Allah yang
Maha Memberi Petunjuk.” Sebait bisikan
lembut mengembalikan ketegaran yang selama ini dijiwainya.
KEIKHLASAN
MENGALAHKAN SEGALANYA
By:
Khadijah Hanif
Sebut saja namanya Agus Darmawan, nama yang sederhana, tetapi membekaskan kenangan di hati orang-orang yang pernah dipimpinnya. Baik saat ia memimpin pesantren ataupun perusahaan. Ketika menjadi pemimpin perusahaan ia akan memberi kesempatan pada karyawannya untuk berkembang, memiliki usaha sendiri, meskipun besar kemungkin akan menjadi pesaingnya. Ketika memimpin sebuah pesantren, jabatan bukanlah menjadi apa yang diburunya. Begitu mudah ia melepaskan jabatan itu setelah ratusan juta dikorbankannya untuk pesantren. Kalau ada yang tidak menginginkan keberadaannya maka dengan mudah ia akan melepaskan kedudukannya tanpa rasa dendam.
Insting
memimpinnya kembali muncul saat kondisi pesantren Baitul Amanah sudah sangat
memprihatinkan. Pesantren yang dirintis dan didirikan oleh mertuanya, Haji
Banna, mengalami kondisi tidak menguntungkan.
Ia seakan ingin selalu hadir untuk memberi solusi sebatas kemampuannya.
Permasalahan
yang membelit Baitul Amanah kental terlihat pada jumlah santri yang kurang dari
sepuluh orang perjenjang kelas.
Akibatnya, pemasukan tidak seimbang dengan biaya operasional. Para ustaz, ustazah, staf, karyawan dan semua
yang terlibat di dalam pesantren tak
lagi terbela kesejahteraannya.
Hak kebajikan perbulannya hanya terbayar tak lebih dari
sepertiganya. Yayasan tak mampu lagi
memberi subsidi terhadap kebutuhan pesantren. Ibarat kata pepatah pesantren ini
sudah berada di ujung tanduk. Pelayanan pendidikan
berkurang, berefek pada makin berkurangnya jumlah santri yang mendaftar. Isu
kebangkrutan merebak memenuhi langit desa tempat Baitul Amanah bertengger.
Rapat
yayasan menyimpulkan bahwa pesantren harus segera dilimpahkan ke yayasan lain.
Yayasan yang lebih besar dan settle.
“Yayasan
kita sudah tidak bisa menopang dan mengayomi keberadaan Baitul Amanah
lagi," keluh Andeni, bendahara perusahaan.
“Sejak
perusahaan almarhum bapak terdampak krisis moneter 1998 aku sudah tak mampu
memperbaiki kinerja karyawan. Tuntutan kenaikan gaji sudah tak bisa kita penuhi
terpaksa kita harus melakukan melakukan perampingan. Akhirnya DLLAJR memangkas
tender kita. Itu pun harus ada uang perpanjangan proyek. Kita akan memenangkan
tender bila bisa melampaui pesaing kita. Mereka menyanggupi enam ratus juta
rupiah. Jumlah ini di luar kemampuan kita,” papar Husain, putra sulung yang
mengganti pimpinan perusahaan setelah Haji Banna wafat.
"Aku
usulkan bagaimana kalau kita bergabung dengan Yayasan Al Munawarah. Mereka
yayasan besar yang menaungi pesantren besar. Mereka sudah punya banyak cabang
dengan banyak santri," usul Nadia, anak kedua keluarga itu. Tawaran solusi dari Nadia terdengar begitu menyakitkan
telinga bahkan menghunjam di hati Talita, sepedih sembilu. Talita adalah anak terakhir dan juga istri
dari Agus Darmawan.
“Mohon maaf saya membawa pesan dari
Mas Agus, seandainya diberi kepercayaaan dan kesempatan, dia mau mencoba menata
Baitul Amanah.” Talita memberanikan diri
untuk menyampaikan kesanggupan suaminya sambil menunduk malu. Ia tak ingin menangkap sorot mata dari
kakak-kakaknya. Talita cukup tahu diri
bahwa suaminya bukan lulusan pesantren, bukan ustaz, bukan keturunan ajengan,
bukan siapa-siapa, kecuali hanya seseorang yang memiliki bekal kepemimpinan dan
manajerial.
Peserta rapat saling menatap,
pandangan keraguan memancar dari lubuk hati terdalam.
“Kami yang banyak mengenyam
pendidikan agama pun tidak berani mengambil resiko. Tapi baiklah, kita beri kesempatan satu tahun
ini. Kalau kondisi Baitul Amanah makin
buruk, usulan Nadia akan kita pertimbangkan.”
Kalimat ini menutup rapat darurat Yayasan Baitul Amanah
***
Agus Darmawan menginjakkan kaki
sebagai pemimpin di Baitul Amanah untuk pertama kalinya. Sorot mata ragu tertangkap dari para Anshoru
Ma’had. Kecuali beberapa gelintir
saja yang menyambutnya penuh penghormatan.
Di antara yang sedikit itu adalah Mang Oding, pesuruh Ma’had dan
keluarga Ustaz Ubaidillah. Mereka
menyambut gembira dan yakin akan kapasitas Agus Darmawan, karena kedua orang
ini telah mengenal dengan baik.
Rapat badan pengelola sefera
dilakukan sekaligus penyambutan atas kedatangan pemimpin baru mereka.
“Kalau dia datang tidak bisa
memperbaiki kesejahteraan dan mengembalikan hak-hak pengelola, buat apa dia
kemari?” Cibiran terlontar dari beberapa
anggota badan pengelola.
“Biarkanlah dia berbuat kesalahan
dan kita lihat apa yang akan dilakukannya.”
Salah satu pengelola senior berusaha menenangkan kasak-kusuk yang tak
sedap itu.
Darmawan menangkap atmosfer kurang
menyenangkan itu tapi ia telah menyiapkan penangkal dalam hatinya. Sebuah kalimat yang tak lepas dari
lisannya, laahaula walaaquwata illa
billahil’aliyil’adziim.
“Terimakasih atas sambutan dan
penerimaan yang baik atas kehadiran saya di sini. Seperti yang antum semua ketahui, saya
beradadi sini untuk sama-sama memecahkan permasalahan Baitul Amanah. Saya tidak punya kemampuan apa-apa kecuali
apa yang Allah izinkan pada saya. Oleh karena
itu kita harus memperkokoh tiga pilar pokok dalam berjamaah atau pun
berorganisasi sebagaimana nasihat guru saya.
Pertama iman, kuat keyakinan, kedua ukhuwah cinta sesama saudara dan
yang ketiga keselarasan dan kesepahaman.
Maka ada beberapa hal baru yang akan saya usulkan disini. Dan satu lagi saya sampaikan, saya di sini
tidak akan mengambil gaji sebagai pimpinan, tapi saya infakkan untuk rekrutment
santri baru di tiap menjelang tahun ajaran baru.” Darmawan menyampaikan sambutannya dengan
tulus. Semua yang hadir terkesima. Ada karisma memimpin di sebalik kesederhanaan
dan segala alasan yang membekaskan keraguan di hati para pengelola.
Langkah pertama yang dilakukan Agus
Darmawan adalah berbelanja masalah dari siapa saja. Santri, para ustaz dan muraqib bahkan pegawai
dapur. Semua masalah itu menghasilkan
banyak kebijakan baru yang harus segera dilakukan. Di antaranya penambahan personal, pergantian
bahkan sampai pemberhentian untuk mereka
yang mengganggu mekanisme pondok.
“Mas, jangan terlalu cepat
bergeraknya, nanti pengelola kaget. Apalagi penggantian pengurus dapur
pesantren. Bagian ini dari dulu sejak
bapak masih ada, selalu saja menjadi biang keretakan keluarga.” Talita menyampaikan uneg-unegnya sepulang
dari Bibi Aliyah, kepala dapur yang
masih kerabat Ibu Hajah Maunah, ibu kandung Talita.
“Aku tahu ini risiko terbesar
kita. Tapi aku sudah bicara baik-baik
sama Bibi Aliyah dan beliau bisa menerima alasanku,” tutur Darmawan menenangkan
istrinya, “salah satu problem besar pesantren ada di dapur jadi dengan sangat
terpaksa aku lakukan ini. Tapi tenang
Talita aku memberikan jabatan lain buat Bi Aliyah. Beliau memegang koperasi pondok. Aku rasa beliau lebih punya keleluasaan di
sana karena urusannya langsung pada yayasan bukan mencorak asupan gizi santri.”
Talita terdiam. Masih terngiang ungkapan bernada sumbang dari
Bibi Aliyah, tapi ia tak ingin membebani perasaan suami yang amat disayanginya
itu.
Gebrakan dilakukan dengan cepat.
Darmawan membagi waktunya dengan bijak sepekan untuk pesantren dan sepekan
untuk perusahaan. Keduanya dilakukan
seefektif mungkin. Gebrakan di pesantren
dilakukan dengan rapat mingguan. Di
dalam rapat itulah Darmawan menanamkan tiga pilar organisasi yang dinasihatkan
gurunya. Kultum secara bergilir dari asatiz
untuk tema iman, ukhuwah dan kesepahaman dalam berorganisasi. Dilanjutkan dengan evaluasi program sepekan
ke belakang dan rencana program sepekan ke depan.
Musyawarah selalu di kedepankan dan
hasilnya, tahun ini Asrama untuk putrid akan dibuka. Rekrutment santri dilakukan besar-besar,
mulai dari bersilaturahmi kepada wali santri dan melibatkan mereka dalam
penerimaan santri baru. Gebrakan
selanjutnya membuka program khusus satu
kali bayar untuk bebas pendidikan enam tahunan.
Dalam bidang muatan pendidikan diadakan program vokasi perjenjang
pendidikan. Mulai dari menganyam, budi daya
jamur, mengelas, tata boga, pertanian organik, hidroponik, penyaringan air
minum kemasan, peternakan sapi dan lain sebagainya.
Semua langkah ini bukan tanpa
pengorbanan. Pengadaan alat dan modal
vokasi adalah pembiayaan terbesar yang harus dirogoh dari dompetnya
sendiri. Alhamdulillah, dengan komunikasi
yang baik antara pesantren dan wali santri, biaya tambahan untuk vokasi
disepakati bersama orang tua melalui komite pesantren.
Di tahun ketiga kepemimpinannya,
Agus Darmawan berhasil membentuk majelis syura yang menjadi lembaga tertinggi
di pesantren yang di dalamnya menghimpun yayasan, badan pengelola, komite
pesantren, alumni dan tokoh masyarakat.
Majelis ini diharapkan m
Empat tahun berlalu, perputaran
keuangan pesantren mulai menggiurkan dalam hitungan satu milyar lebih. Santri yang mondok menggelembung lima kali
lipat. Awalnya hanya tujuh puluh orang,
kini telah mencapai tigaratus lima puluh orang putra-putri.
“Tahun ini kita memiliki saldo
seratus juta. Saya berterimakasih pada
semua terutama asatiz mukimin yang mewakafkan waktu, tenaga, pikiran selama dua
puluh empat jam. Sebagai tanda
terimakasih itu saya bermaksud setegah bagian saldo untuk melengkapi fasilitas
TKIT/TPAIT. Setengahnya lagi untuk
inventaris asatiz yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan, saya ingin
setiap ustaz memiliki satu laptop. Atau
terserah bagaimana baiknya untuk kemaslahatan para ustaz barangkali memiliki
keperluan mendesak yang lainnya.”
Perhatian dan kasih sayang yang
diperlihatkan oleh Darmawan mendapat respon positif dari badan pengelola. Sebagian dari mereka yang pernah curiga, ragu
bahkan mencibirnya tertunduk malu. Bukan
hanya gaji utuh yang mereka terima tetapi juga sisa gaji yang belum terbayar
pada masa kepemimpinan sebelumnya berhasil terlunasi.
“Wah, ternyata Allah SWT memberi
karunia pada pesantren ini melalui tangan Pak Haji Agus Darmawan. Nggak nyangka, ya,” ungkap Ustazah Naira,
salah satu Pembina santri putri.
“Makanya kita tidak boleh
memandang sebelah mata. Khawatir kita
dirasuki hasad dengki dan kesombongan, merendahkan orang lain,” imbuh Ustaz
Nandang, suami Ustazah Naira.
Ketika dunia menghampiri, firnah pun
datang bertubi-tubi. Bermula dari hadiah
saldo keuangan di tiap akhir tahun kepada para pengelola.
“Kalau Darmawan terlalu lama
memimpin, yayasan akan jadi korban.
Sekarang segala sesuatunya harus sama majelis syura, bukankah itu
tanda-tanga kelemahan yayasan. Apa
bedanya dengan menyerahkan pesantren ini ke yayasan lain?” Bibi Aliyah mulai memprovokasi Hajah Maunah
sebagai muwaqif.
Rapat yayasan berlangsung alot
antara dua kubu mencabut mandat pada Agus Darmawan atau mempertahankannya,
semua memiliki pertimbangan masing-masing.
Akan tetapi aroma perselisihan makin pekat. Darmawan mulai merasa tidak nyaman dengan
gangguan dari kerabatnya sendiri.
Kehadiran kerabatnya di pesantren membuat program berantakan, bahkan
mulai menjalar pada kenyamanan santri.
Kegiatan di luar musyawarah kerja membuat antar bagian bersitegang. Agus Darmawan peka dengan kondisi ini.
“Mas, rasanya cukup sampai di sini
Mas Agus memimpin Baitul Amanah. Aku
pikir cukuplah dengan jumlah santri tigaratus lima puluh orang ini, yayasan
terlibat aktif kembali. Aku nggak kuat
dengan keributan diantara saudara-saudara kita,” pinta Talita satu hari.
“Buat aku nggak masalah, Lita. Semoga mereka bisa meneruskan Baitul Amanah
dengan ikhlas. Sebab tanpa sepenggal
kata itu, semua nikmat akan Allah cabut kembali.”
Setelah menjalani istikharah, Agus
Darmawan menyampaikan pengunduran dirinya, di tepi pantai Batu Karas yang
menyimpan kenangan pilu orang-orang yang merasakan kepemimpinannya.
“Dengan berat hati, mungkin ini
adalah perjalanan wisata kita bersama untuk yang terakhir kalinya. Saya sudah bersama kalian dalam lima tahun
kepemimpinan saya. Saya berharap saat
saya datang kembali ke Baitul Amanah, perubahan kearah perbaikan akan terus
terjadi. Bahkan mungkin santrinya akan
bertambah dua atau tiga kali lipat dengan luas lahan dan bangunan yang makin
banyak pula. Saya mohon maaf atas semua
kesilapan saya, mohon diikhlaskan apapun yang pernah terjadi selama perjumpaan
kita.” Semua santri, santriwati,
karyawan dan para ustaz diam seribu bahasa, tidak ada yang mampu menimpali
ucapan perpisahan ini kecuali desak kecewa dan kekhawatiran atas nasib Baitul
Amanah.
Sepeninggal Agus Darmawan sembilan
tahun yang lalu Baitul Amanah kembali dengan jumlah santri yang merosot hingga
seratus santri. Sementara Agis Darmawan
kembali meniti jalan perjuangan, membangun pesantren baru, Izzatul Ummah. Kecintaannya terus terpancar bersama ide yang
terus mengalir seirama dengan keikhlasannya pada perjuangan agama.
RIBA ITU
MERUSAK PERSAUDARAAN
By: Khadijah
Hanif
Gawai
Lutfia berdenting tak henti. Lutfia yang sedang menggerakkan kegiatan literasi di taman
bacaan merasa sangat terganggu. Tidak
mudah mengumpulkan anak-anak tetangga buat membaca dan membuat review.
“Anak-anak,
sebentar, ya. Teteh ada telfon. Jangan pada bubar, Teteh punya kejutan
menarik buat kalian.”
Lutfia
segera menyambar gawai di atas rak buku.
Muncul di layar pendar itu satu nama yang membuat Lutfia trauma
untuk nerima telfonnya ’Marisa’. Lutfia menolak pangilan videonya, kalau tidak
bisa dua jam Marisa bicara. Begitulah
kebiasaan Marisa yang membuat Lutfia enggan bicara lewat gawai. Ia balas panggilan itu dengan chating wa.
“Assalamualaikum,
Marisa. Maaf aku sedang ada pertemuan,
nggak bisa nerima video call dari kamu.”
“Waalaikumsalam,
oh, iya. Aku maklum, kok, kamu pasti
sibuk. Sorry aku udah ganggu kamu.”
Marisa
teman baik Lutfia, mereka sudah akrab sejak masih SMA. Satu sama lain saling tahu sifat
masing-masing.
“Aku
mau nyampein masalah aku sama adik kamu, Fia.”
“Ada
apa, ya, aku jadi deg-degan.”
“Dia
pinjam uang tiga ratus juta.”
“Besar
sekali Marisa. Kamu percaya begitu saja
sama Sania tanpa minta pertimbangan dari aku?”
“Dia
keberatan kalau ada yang tahu, khawatir bisnisnya akan terganggu.”
Chating mereka sudah memasuki menit
ke-15. Lutfia cermati jam yang melingkar manis di tangan kirinya, 14.30.
Sebentar lagi waktu sembahyang Asar. Suara hiruk pikuk anak-anak mulai
terdengar.
“Marisa,
sorry, ya. Sebaiknya kita ketemu langsung aja. Aku rasa masalah ini sangat
berat buat aku dan keluarga. Terutama buat adikku, Sania.”
“Aku setuju, tolong ajak Sania
sekalian. Pertemuannya di rumahku aja.”
Lutfia
terpaksa mengakhiri chat yang mendebarkan itu.
Lutfia matikan gawainya. Rasa
penasaran akan mengganggu aktifitasnya. Yang jelas masalah itu sudah masuk
dalam ranah pendengaran dan pengetahuan Lutfia, menggumpal di sudut hati yang
tak bisa ia cairkan dengan suara nurani.
Dia hanya bisa sedikit menenangkan hati, laahaula walaquwwata illa
billah.
Sekuat
tenaga Lutfia mengendalikan anak-anak Taman Literasi Bismirabbi
rintisannya. Alhamdulillah mereka mudah
diatur dan bisa mengerti penjelasannya tentang cara membuat review fishbone,
AIH dan Y-Chart.
Ingatan
Lutfia tentang hutang yang melilit Sania sangat kental. Kerjasama bisnis antara Nia dan Marisa
berubah menjadi masalah yang teramat rumit. Nia mengajak
Marisa menanam modal sebesar tiga ratus juta rupiah dengan iming-iming enam
bulan modal kembali plus keuntungan dua
puluh persen setiap bulannya. Sementara
Marisa tidak tahu apa-apa tentang usaha adik bungsunya itu. Sebagai kakak sulung, Lutfia merasa seakan
tersambar geledek korban Sania adalah teman baiknya selama ini, Marisa.
Lutfia
tahu persis perjalanan hidup Sania. Manis
mulutnya sangat mudah membuat orang percaya.
Bisa dikatakan Sania memaksakan diri untuk menjadi korban rentenir dan
mengondisikan orang yang diajak berbisnis menjadi rentenir. Dalam usahanya mendapatkan modal Sania
menjanjikan keuntungan yamg irrasional. “Ya Rabb beri petunjuk pada Sania,
berikan dia keinsyafan,” bisik hati Lutfia.
Janji
pertemuan Lutfia, Sania dan Marisa makin hampir menemui takdirnya. Lutfia ingin menemui Sania untuk memastikan
masalah antara Sania dan Marisa. Maksudnya supaya ia lebih siap memberi
masukan untuk adik dan teman dekatnya itu.
Sudah
lama Lutfia hilang kontak dengan Sania.
Sania menghilang setelah peristiwa penggelapan uang milyaran dari puluhan
investor. Lagi-lagi para pemilik modal
itu ceroboh mempercayai janji Sania begitu saja tanpa bukti hitam di atas
putih. Yang membuat dada Lutfia sesak, korban itu Marisa, orang yang sangat
dikenalnya. Rasa malu menguasai
hatinya. Kegiatan reuni SMA menjadi kegiatan pertama yang wajib dihapus dari
daftar kegiatannya, selanjutnya menarik diri dari grup wa alumni.
“Mas,
aku harus melacak keberadaan Sania. Adikku
yang satu ini bener-bener bikin repot!” geram Lutfia terlampiaskan pada orang
terdekatnya.
“Sebentar
aku masih menyimpan akun terbarunya @AinasaPutri. Barangkali masih aktif,” balas Ahsan tenang.
“Mas
Ahsan masih kontakan dengan dia? Kok nggak ngasih tahu aku, sih, Mas?” Lutfia
mencubit lembut lengan suaminya.
“Kamu
pernah bilang nggak mau melibatkan masalah Sania dalam kehidupan kita, kan?”
Ahsan balas bertanya.
Lutfia
mencoba membuka akun melalui kolom pencarian, @AinasaPutri. Berjajar nama serupa yang muncul di
laptopnya.
“Bismillah, barangkali yang ini.” Sania
mengklik akun dengan foto profil Randi, Suami Sania.
Dilihatnya
akun Sania terdapat beberapa unggahan foto yang tentu akan membuat sesak para
investor yang ditipunya. Terakhir sebulan yang lalu, perjalanan Sania ke
Australia.
Tanpa
peduli aktif atau tidaknya akun itu, Lutfia segera mengirim pesan.
“Sania,
aku kangen pingin ketemu boleh tahu alamat kamu sekarang? Sejak kamu menarik diri dari keluarga besar
kita, ibu makin saring sakit. Mungkin
ibu kangen sama kamu. Balas ya, Nia.”
Pesan
itu tidak segera dibaca. Keesokan harinya, ada balasan dari Sania.
“Mbak,
aku nggak bisa menemui Mbak Fia di rumah.
Kita temuan aja di Taman Lodaya. Kamis
jam sepuluh pagi.”
“Alhamdulillah,
terima kasih, Adikku cantik.”
Taman
Lodaya ada di pusat kota kabupaten, taman kebanggaan warga, sedang
indah-indahnya. Asri dipenuhi beragam bunga bermekaran ada enam set meja kursi
dan kanopi bulat untuk melindungi pengunjung dari terik matahari. Taman itu
masih sepi. Mungkin karena hari kerja. Lutfia memaksakan diri tidak masuk
kantor demi pertemuannya dengan Sania.
Sepuluh
menit menunggu, Sania sampai juga di taman itu. Menggendarai mobil sport warna
merah, ia menggenakan stelan casual bernuansa merah. Gayanya tajir benar.
Kemewahan yang menyimpan aib di sebalik tampilannya.
Mereka
saling berpelukan. Lutfia berusaha meleburkan perasaan jengkel dengan perilaku
adiknya itu. Ia tukar dengan kasih sayang untuk menyelamatkan Sania dari
kubangan riba menjijikkan, tapi dinikmatinya itu.
“Nia,
Marisa ingin ketemu kamu. Ia sedang
dikejar-kejar debt colector. Dia
bilang, uang yang kamu pinjam darinya dapet minjem dari bank.” Lutfia mencoba
membuka masalah inti setelah berbasa-basi dengan cerita ringan seputar keluarga
mereka.
Sania
tidak begitu kaget dengan terbongkarnya rahasia ini. Cepat atau lambat Marisa pasti akan
menghubungi Lutfia.
“Kenapa
kamu nggak kapok-kapok nipu orang dengan alasan investasi. Ini fiktif Nia. Kalaupun kamu mengembalikan
penuh uang mereka, berarti kamu paksa mereka makan riba. Uang lebihan dari apa
yang kamu pinjam, itulah ribanya.”
“Mbak,
aku sendiri bingung dengan keadaanku ini.
Aku terpaksa menipu untuk menutupi lubang yang aku buat sendiri. Semua berawal dari hutang pertama yang tak
bisa aku lunasi kecuali dengan meminjam lagi.
Sekarang sekarang hutangku sudah milyaran, Mbak. Sebagian dari mereka sudah melaporkan ke
polisi. Sebenarnya aku sedang dalam
penyamaran. Makanya aku menarik diri
dari keluarga dan semua orang yang aku kenal”
“Nia,
aku heran dengan apa yang merasuki pikiran kamu. Nggak ada cara lain. Kamu serahkan diri pada yang berwajib. Lalu segera beratubat. Ini lebih baik daripada siksa akhirat
nanti. Tinggalkan harta yang masih kamu
nikmati. Kamu sudah penuhi hidup kamu
dengan harta haram hasil menipu dan kau suapkan riba pada orang yang meminjami
kamu uang.”
Sania
mulai gelisah dengan semua wejangan kakaknya.
Tiba-tiba...
“Masya
Allah, Lutfia, Sania, kalian ada di sini? Alhamdulillah, kita bisa bicara di sini saja
ya.” Marisa memergoki mereka di taman
itu.
Marisa
duduk di kursi kosong yang masih tersisa.
Sania salah tingkah dengan kehadiran mangsanya, ia mati kutu.
“Qadarullah
kita bisa segera selesaikan urusan kita di sini, Marisa. Lutfia mencoba menjelaskan duduk persoalan
sebenarnya tentang usaha fiktif Sania.
“Aku
nggak mau tahu tentang usaha apa yang Sania jalankan. Yang jelas gara-gara
janji manis itu aku jadi punya hutang di bank. Sekarang hutang itu sudah jatuh tempo. Debt colector sudah mendatangi terus
rumahku. Sania yang salahnya aku yang
terkena batunya. Satu-satunya mobilku terancam disita. Aku nggak mau tahu serahkan apa saja yang
kamu miliki buat bayar hutang kamu ke bank, Sania!” Perbincangan itu menjadi panas dan
membingungkan Lutfia. Dua orang dekatnya
itu terlalu mudah berurusan dengan riba.
“Dosa
teringan riba itu seperti menzinai ibu sendiri. Kenapa kalian terus bermain-main dengannya. Sania menjadi seperti ini juga diawali dengan
pinjaman bank yang tidak mampu dibayarnya akhirnya mecari jalan mudah menutup
hutang ke bank dengan cara menipu. Aku
tahu, Sania, cara termudah itu dengan memberi iming-iming keuntungan yang tidak
pernah ada.”
“Sania
udah ngasih cicilan beberapa kali ke Mbak Marisa. Total cicilannya udah sekitar
seratus juta dalam tiga tahun sejak aku pinjam.
Berarti aku tinggal bayar sisanya, ya Mbak?” pinta Sania.
“Tidak
bisa, yang seratus juta itu aku anggap janji keuntungan dua puluh persen usaha kamu.
Selama ini aku setor bunganya aja. Kan, kamu janji dalam enam bulan
bakal ngembaliin pinjaman. Jadi hutangku
ke bank masih utuh tiga ratus juta.”
Lutfia
mulai pusing dengan perbincangan dua orang yang asik berenang di kubangan riba.
Cara hidup mereka sangat aneh menurut Lutfia.
“Dengerin
aku dulu, atau aku lepas tangan dengan urusan kalian!” Lutfia mulai marah
melihat pertengkaran mereka. “Marisa sudah tahu kalau bisnis Sania nggak ada.
Kelebihan uang dari Sania itu riba bukan keuntungan,” lanjut Lutfia.
“Soal
ada dan tidaknya bisnis, aku nggak mau tahu. Yang aku pegang mulut manis dia.
Aku nggak terima kalau keuntungan dari Sania dianggap riba.” Marisa tidak mau mengalah, desakan bank dan
ancaman debt colector memenuhi isi kepalanya.
“Jadi
bagaimana mau kamu, Marisa?” tanya Lutfia pasrah.
“Serahkan
apa aja yang Sania punya dan jangan sampai yang bank menyita barang yang
kupunya. Atau aku sudah menyiapkan ini. Tolong kamu tanda tangani sebagai
saksi, Lutfia!” Marisa mengeluarkan selembar kertas perjanjian.
Lutfia
membaca surat itu dengan teliti. Ada
tiga poin yang diinginkan Marisa, yaitu bahwa hutang Sania masih sebesar tiga
ratus juta, jatuh tempo hutang terbaru dan bagian warisan Sania yang masih ada
di pegang ibu adalah hak Marisa, kalau masih belum tertutupi seluruh hutang
dengan warisan Sania, Sania tetap harus membayar sisanya.
“Marisa,
kamu tega memaksa sebagian rumah yang kami tempati, satu-satunya harta mama
kami menjadi jaminan pembayaran hutang Sania?
Aku nggak terima, Marisa. Mama
masih hidup dan kau menunggu kematiannya supaya Sania bisa membayar hutangnya?
Sebaiknya aku berlepas tangan dari urusan yang menjijikkan ini. Terserah apa yang akan kalian putuskan.
Kalian manusia-manusia merdeka dan dewasa. Silahkan selesaikan urusan kalian
sendiri.”
Lutfia beranjak dari tempat
itu. Kepalanya dipenuhi tanda tanya. Beginikah orang-orang yang terbiasa dengan
riba? Pantaslah jika kelak mereka akan
dibangkitkan dalam keadaan mabuk. Di
dunia pun mereka seakan kehilangan kesadaran, pertimbangan akal dan hati
nurani.
Sebulan setelah pertemuan itu, Lutfia
membuka email yang masuk di inbox. Sebuah
akun mengiriminya pesan.
“Mbak,
aku akan menyerahkan diri ke pihak berwajib. Terima kasih atas saran Mbak Fia. Mungkin saat Mbak baca email ini, aku sudah
ada di penjara. Semua yang aku nikmati
sudah aku lepas. Aku sudah nggak punya
apa-apa lagi. Sepulang dari penjara
tolong terima aku sebagai manusia baru, bukan Sania yang dulu. Aku ingin bertaubat dari riba dan
menipu.”
Tak
terasa ada butiran bening meluncur di pipi Lutfia,
“Aku akan menerimamu dengan tangan
terbuka Sania. Taubat itu membersihkan dosa anak Adam seperti kertas putih
bersih tanpa noda,” balas Lutfia via emailnya.
JALAN BERLIKU
MENCARI GURU
By: Khadijah
Hanif
Allah
SWT menyediakan petunjuk begitu banyak pada hambaNya. Tiap detik waktu bahkan, Ia selalu menyapa
manusia untuk mengingati Dia Yang Mahaagung.
Melalui angin yang membelai tubuh, air yang menetes dari langitNya
hingga masuk ke dalam kerongkongan, menyatu dengan tubuh.
Akan
tetapi tetapi manusia kadang terlupa dengan tiap karunia karena semua dianggap
biasa. Hanya orang-orang yang mau
mengambil pelajaran saja yang mau berpikir.
Salah satu di antara yang peka menyambut hidayah itu Muhammad
Alfiansyah. Ia seorang santri di salah
pesantren modern di tanah air.
Hidayah
itu berawal dari kesibukannya sebagai petugas perpustakaan di pesantrennya,
Perpustakaan Pesantren Modern Darulqiyam.
“Mulai
hari ini kamu resmi membantu saya di
perpustakaan Darulqiyam. Ini rincian
tugas yang harus kamu jalani selama menjadi pustakawan,” Akhi Irsyad Maulana
memberikan kartu panduan untuk pustakawan.
Kartu itu memudahkan Alfian dalam mengingat tugasnya, walaupun ia sudah
mendapatkan pelatihan selama sepekan di Darulqiyam tentang berbagai hal terkait
tugasnya sebagai pustakawan.
Kegemarannya
membaca membuat perpustakaan adalah tempat ternyaman buat Alfian setelah
masjid. Setiap lepas Asar Alfian
bertugas melayani pengunjung yang sebagian besar dalah santri Darulqiyam.
“Ada wakaf
majalah yang baru datang, Alfian. Harus kita susun di rak majalah.” Akhi Irsyad
mengacak-acak imajinasi Alfian pada
batas baca yang ia beri tanda.
Rasa
penasaran menggumpal dalam dada, gerangan apa majalah yang menyapa mereka.
Pasti banyak informasi penting terbaru yang bisa menjadi nutrisi informasi buat
santri.
“Masya
Allah, majalah Islami dari Malaysia. Ada Al Furqan, An Nasihah dan Buletin
Muslimah. Ada keterangan pengirimnya siapa, Akhi?” tanyaku serius.
“Ada,
nih, resi pengirimannya,” sahut Akhi Irsyad pendek.
“Rahmat
Fauzi, Wisma Al Ghuraba Madiun.” Alfian
mengeja tiap huruf yang berbaris di kertas selembar itu, aku catat alamat
lengkap pengirimnya. Maksudnya untuk menambah korespondensi siapa saja yang
mungkin menjadi penopang perpustakaan.
Mereka
segera mencap majalah dan buletin itu, memberi tanda inventaris di bagian bawah
lipatan majalah. Pesan dari Akhi Ramdan, bahwa apapun benda pustaka yang masuk
harus ditulis dalam katalog atau daftar inventaris.
“Alhamduliĺah, selesai juga.
Sekarang giliran melalap habis majalah-majalah dan buletin baru itu,” gumam
Alfian penasaran.
Satu
per satu Alfian membaca halaman demi halaman majalah itu. Sungguh mengesankan,
terutama artikel tentang perkampungan Islam ke-30 yang diresmikan seseorang
yang penuh dengan cahaya sunnah Rasulullah SAW.
Mata
Alfian tertumpu pada deskripsi foto yang bertengger di pojok kiri bawah halaman
itu. Sosok itu bernama Ustaz Fathurrahman pimpinan Jamah Al Ghuraba. Alfian terus menyimak gambar pemotong pita
peresmian itu. Wajahnya berseri, dari
atas hingga ke bawah seakan ia temukan sosok contoh dalam kitab hadits yang
dipelajarinya di pondok. Tutup kepala khilafah, serban imamah, selendang atau
rida hijau tergantung melingkar dengan tenang di lehernya. Jubah yang
kenakannya hijau penuh wibawa, tidak melebihi mata kaki. Wajahnya teduh tapi penuh wibawa. Ada atsar sujud di
keningnya. Celak mata menghias keliling matanya. Di sakunya terselip sebatang
siwak.
Alfian
jatuh cinta pada pandangan pertama. Tampilan sunnahnya yang kental tetapi
kemas, rapi, berwibawa. Tiba-tiba kerinduannya pada apa yang dicontohkan
Rasulullah menyusup dalam relung-relung hatinya.
Alfian
terus membaca majalah itu, tak ingin berhenti. Deskripsi tentang Perkampungan
Islam Batu Hampar, Perak Malaysia, membelalakkan matanya. Mengaktifkan sel-sel otaknya untuk menyadari
bahwa Islam sebagai suatu sistem hidup bukanlah sekedar teori bukan impian dan
angan yang tak bisa dibumikan. Islam bukan sekedar mental exercise yang
dibicarakan dalam kajian dan seminar tetapi ia nyata dalam keseharian.
Dicermati lebih dalam artikel demi
artikel. Sampailah Alfian pada
kesimpulan bahwa Al Ghuraba adalah sebuah jamaah yang meletakkan azas kekuatan
dalam berjamaah dengan 3 hal pokok. Yang pertama ikatan iman yang kokoh, kuat
keyakinan. Kedua ukhuwah, tali persaudaraan yang didasarkan pada iman. Yang
ketiga adanya kepahaman dan keselarasan dalam berjamaah, ada pemimpin ada yang
dipimpin, semua berada dalam keadaan terbaik sesuai posisinya.
Antara
firman Allah, hadits dan juga mahfuzat berseliweran dalam ingatannya, seakan
tersaji dalam realita di hadapannya.
Buah
pikiran Sang Guru tertata apik seakan kucuran ilham yang tak terputus dari
Rabbul 'Izzati. Ada empat artikel yang
sampai sekarang tak akan pernah dilupakannya, berikut dalil Alquran dan
haditsnya. Alfian sengaja mencatatnya di
buku khusus untuk mengikat pengetahuan yang belum didapatkan sebelumnya.
“
Delapan syarat untuk menjadi insan bertakwa, pertama faham Islam, yakin, mengamalkan ilmu yang
dipahami dan diyakini, bermujahadah, istiqamah beramal, ada guru mursyid, yang
memberi ilmu dengan bimbingan dari Allah SWT
dan yang terakhir berdoa kepada Allah.”
Alfian membaca ulang catatan itu.
Di bagian ada guru mursyid
diulang-ulanginya beberapa kali hingga Akhi Irsyad pun menegurnya, “Alfian,
catatan apa yang kamu ulang-ulang itu, ada guru mursyid?”
Teguran Akhi Irsyad menyadarkan
Alfian dari lamunannya. Dua hal baru
yang ditemuinya, sosok yang memancarkan cahaya sunah Rasulullah dan syarat
untuk meraih gelar takwa. Ada dorongan
batin yang sangat mengusiknya.
“Siapakah sosok mursyid yang harus
aku dapatkan, siapa sebenarnya seseorang yang menggunting pita peresmian
perkampungan Islam itu?” Pertanyaan-pertanyaan
itu silih berganti memenuhi benaknya.
Sesak.
***
Pengalaman di perpustakaan sore itu
terus menginspirasi hatinya. Tiap
ingatan takwa diserukan saat khutbah Jumat, khutbah Salat Id dan saat
penjelasan tentang takwa dari kiai selalu saja membangunkan impiannya untuk
berjumpa sosok mursyid.
“Takwa adalah gelaran tertinggi
setelah muslim dan mukmin. Ia bisa
menjadi jaminan kita di sisi Allah sebagaimana janjinya dalam banyak ayat
Alquran,” ungkap Kiai Luthfi mengawali nasihatnya.
Alfiansyah mencatat dengan rapi keutamaan takwa yang disampaikan
gurunya itu. Yang pertama mendapatkan penjagaan dan
perlindungan dari musuh, selalu bersama Allah di manapun berada dan Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang bertaqwa, akan diselamatkan
dari kesulitan dan diberi rezeki dari tempat yang tidak terduga, diterima
amalnya, mendapatkan kemuliaan dan kehormatan, dan masih banyak lagi keutamaan
taqwa berjajar dalam buku catatannya.
Kerinduan pada gelar takwa makin mengharubirukan perasaannya.
Kerinduan Alfian sedikit terobati
dengan hadirnya para pendakwah dari Jamaah Alghuraba, satu tahun setelah
kelulusannya dari Darulqiyam. Tanpa
keraguan Alfian bergabung secara penuh dalam jamaah itu. Jamaah yang memadukan kekuatan aqidah,
kehati-hatian dalam bersyariat, juga keindahan akhlak dalam tasawuf dan
tarikat.
Suatu saat ujian berat itu datang. Alfian tiba-tiba dilanda fitnah dari sebuah
keluarga bangsawan yang tidak menyukai kehadiran Alghuraba di Indonesia. Tuduhan yang dilontarkan, bahwa Alfian melarikan
anak bangsawan itu dari orang tuanya.
Fitnah itu makin santer bak air bah yang turun dari
lereng gunung yang curam, melibas apapun tanpa peduli kebenaran yang
sesungguhnya terjadi. Alfian tiba-tiba
menjadi buronan polisi dan terancap ditangkap.
Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawa dan nama baiknya adalah
meninggalkan tanah air. Negara terdekat
yang mungkin menjadi tujuannya, Malaysia.
Di sela-sela kegentingan itu, Alfian merasa bersyukur karena peluang
berjumpa Ustaz Fathurrahman terbuka luas di negeri jiran.
Akan tetapi sungguh malang, namanya telah masuk daftar
hitam pencekalan ke luar negeri. Beberapa media masa memuat pencarian
dirinya. Suasana sudah sangat
mengerikan, mengancam diri dan keluarganya.
“Mana yang namanya Alfian. Serahkan pada kami segera atau kami
obrak-abrik rumah ini?” bentak seorang
bertubuh tegap dengan pakaian biasa.
Entah siapa mereka yang datang itu.
“Mohon maaf ada masalah apa, ya? Apa tidak sebaiknya kita
bicarakan baik-baik?” Ayah Alfian
mencoba meredam suasana. Sementara
Alfian segera meninggalkan rumah, menemui salah satu gurunya di
Darulqiyam. Ibu melepaskan kepergian
Alfian dengan derai air mata, teriring doa keselamatan untuk buah hatinya.
Keesokan harinya di kaca pintu ruang tamu tertulis ‘segera
serahkan saudara Alfian 1x24 jam’.
Di Darulqiyam, Alfian meminta solusi dari Kiai Muchtar.
“Alfian, masih ada peluang kamu meninggalkan Indonesia
dengan jalur illegal. Jalur ini beresiko
tapi tidak sebesar risiko bila kamu tertangkap oleh pihak kepolisian,” ungkap
Kiai Muchtar.
Pada usianya yang kurang dari duapuluh tahun, Alfian
terpaksa meninggalkan keluarganya, sanak saudara dan segala kenangan tentang
tanah air. Berada dalam kebimbangan
antara selamat dan tidak, mengarungi samudera luas dalam waktu dua jam lebih
dari Dumai ke pulau kecil di perbatasan.
Sungguh kesedihan itu menggelayuti hati.
Semua karena kebencian beberapa gelintir orang. Dimanakah rasa kasih sayang pada sesama
saudara seiman?
Perahu tongkang berkapasitas lima belas sampai tiga puluh
orang itu membawa penumpang illegal dengan berbagai alasan. Salah satu di antara mereka sosok remaja
sembilan belas tahun yang mencari
selamat dari fitnah. Hampir-hampir saja
kristal bening meluncur dari sudut matanya.
Akan tetapi ia tahan dengan sekuat daya upaya. Di sudut belakang sampan, Alfian melihat
sesosok remaja yang lebih belia dari dirinya.
Sesaat ia menghela nafas lega, bahwa banyak mereka yang senasib
dengannya.
Pengemudi sampan tidak berani mengantar penumpang sampai
daratan. Mereka diturunkan sekitar satu
kilometer dari tepi pantai. Risiko
terburuk, sampan tidak akan dikembalikan lagi
oleh pemerintah negeri jiran bila ketahuan menyelundupkan warga negara
asing.
Mereka sampai sekitar pukul dua dini hari. Hal paling menegangkan adalah bertemu dengan
patroli Kepolisian Diraja Malaysia. Itu
pula yang sangat dihindari para penyeberang illegal. Alfian dan duapuluh penumpang lainnya
berenang ke tepi pantai, sebagian yang tidak bisa berenang berjalan kaki dengan
air laut sebatas dada-dada mereka.
Dari kejauhan lampu senter petugas patrol sudah mencari
mangsanya. Alfian segera menemui
penduduk di tepi pantai. Rata-rata
mereka bersikap baik dan siap membantu.
Demikian pula dengan Pak Cik Ramlan yang Alfian datangi rumahnya, sangat
menghendaki keselamatan untuk Alfian.
“Pak Cik ade kandang ayam di belakang rumah. Bersembunyilah di sane. Nanti kalau patrol sudah lewat. Biar Pak Cik bagi tahu jalan menuju Batu
Hampar,” ucap Pak Cik membuka harapan untuk Alfian bisa selamat dari patrol
kepolisian. Beruntunglah Alfian bertemu
dengan saudara seiman yang menghendaki keselamatan dirinya.
Semua ketegangan batin selama di tanah air juga di daerah
perbatasan luntur sudah. Kini Alfian
berada di Perkampungan Islam Batu Hampar, Perak, Malaysia. Udara segar merasuki hati dan jiwanya bersama
sambutan saudara seiman yang ingin saling menyelamatkan.
Di hadapannya berdiri sosok mursyid yang dirindukannya
selama ini. Seseorang yang ditatapnya
dalam-dalam di majalah dakwah tiga tahun yang lalu. Seakan impian yang terjawab, berjumpa dengan
seorang yang alim dengan pancaran cahaya sunah dari ujung kepala hingga
kakinya. Wibawa yang terpancar darinya
membuat Alfian tak sanggup mengarahkan mata pada wajah itu. Alfian hanya mampu menyalami dan mencium
takzim tangan guru mursyid yang dicarinya selama ini.
“Terimakasih, Ya Rabb, atas hikmah dari derita dan tekanan yang hamba
alami. Akhirnya aku bisa bertemu dengan
guru yang aku cari selama ini.” Batin
Alfian menggelegak bersama terburainya genangan telaga yang tak lagi sanggup
ditahannya.
GENERASI DI UJUNG BELATI
Selamatkan Anakku, Ya Rabb
By: Khadijah Hanif
Bunda Devi, seorang ibu yang tidak
bisa lagi dibilang muda. Di usianya yang
keempat puluh tiga, dia memiliki empat anak.
Qadarullah, Bunda Devi tidak menemui banyak kesulitan dalam mendidik
anak. Ia dan suaminya berkomitmen untuk
mendidik anak-anak dengan ilmu agama sejak dini.
Seorang ustaz dimohon untuk ke rumah
sepekan sekali. Ustaz Abdullah Muqbil
selalu hadir dalam kondisi apapun. Tidak
peduli hujan dan jarak jauh yang harus ia tempuh, Ustaz Muqbil selalu siap membagikan
ilmunya. Bunda Devi tidak
mengkhawatirkan perkembangan putra-putrinya kecuali Febyan. Anaknya yang bungsu ini memang berbeda. Pemahamannya terhadap apapun amat kurang.
Kalau melihat perkembangan Febyan
yang lambat, bicaranya yang gagap, artikulasinya yang kurang jelas, Bunda Devi
selalu terkenang peristiwa beberapa tahun yang lalu. Waktu itu Bunda Devi sedang sibuk mencuci
dengan mesin cuci. Febyan yang masih
berusia dua tahun ikut ke mana pun Bunda pergi.
Febyan dibiarkan asyik bermain air pada satu ember besar.
Terdengar kecipak air yang cukup
mengagetkan. Febyan terjerembab pada
ember besar berisi air itu. “Masya Allah,
Feby. Maafin Bunda.”. Mata Bunda Devi
berkaca-kaca. Diambilnya Febyan dalam
kondisi shock. Napasnya tertahan oleh
tegukan air yang tak seharusnya memenuhi pangkal tenggorokannya. Rasa bersalah
menggelayut dalam hatinya.
Beruntung Bunda Devi pernah mahir
dalam di kegiatan pramuka semasa sekolah dulu.
Masih lekat dalam memorinya bagaimana memberi pertolongan pertama pada
orang yang tenggelam. Ditelungkupkannya
Febyan, dipukulnya bagian tengkuk dengan tenaga sedang. Febyan tidak bereaksi, bergeming. Bunda Devi makin cemas, naluri keibuannya
yang ingin buah hatinya selamat terus mencari cara. Dimasukkannya telunjuk pada mulut Febyan,
tepat di anak tekak. Tidak lama
kemudian, terdengar suara batuk diikuti muntah dari buah hatinya.
Terasa lega hatinya dari sesakan rasa
bersalah. Dipeluknya Febyan yang sudah
mulai bernapas lega. Akan tetapi mata
Febyan belum bisa focus menatapnya.
Sejak saat itu Febyan berkembang lambat, padahal sebelumnya banyak yang
memuji kemajuannya dalam merespon sesuatu, melebihi anak batita sebayanya.
Kelambatan
Febyan membuat Bunda kesulitan memberi kepahaman akan banyak hal pada
Febyan. Febyan tidak mudah untuk memperhatikan hal-hal serius, termasuk pertemuan dengan
Ustaz Muqbil. Begitu sulit memaksanya
mengikuti pelajaran apapun juga saat menempuh pendidikan di sekolah dasar. Akibatnya Febyan lebih senang bermain
daripada harus duduk berlama-lama untuk belajar dengan serius.
“Febyan,
sampai kapan kamu hanya main-main saja.
Kamu sudah makin berumur. Untuk
mendapat ijazah SD Bunda harus banyak koban perasaan, meminta-minta ke sekolah
kamu.” Suatu saat Bunda Devi kehilangan
kesabarannya.
“Feb…Feb…Febyan
nggak bisa dipaksa, Bunda. Su…su….sudah
berusaha belajar juga Febyan nggak bisa mengerti pelajaran-palajaran itu. Mendingan Febyan ikut klub olah raga aja.”.
Baru kali ini Febyan berterus terang atas ketidakberdayaannya dalam belajar.
Akhirnya
Bunda mengalah. Rasanya terlalu sulit
untuk membekali Febyan dengan ijazah meskipun hanya untuk setingkat SMP. Selebihnya Bunda hanya bisa pasrah.
Bunda
memilih untuk mengalah pada keinginan Febyan.
Didaftarkannya Febyan ke sebuah klub sepakbola tingkat kecamatan. Ternyata justru inilah awal dari masalah besar
yang melilit buah hati juga keluarganya.
“Febyan,
cepat gantian, Bang Naufal mau mandi.
Sebentar lagi aku harus berangkat sekolah!” teriak Naufal tak sabar
menunggu adiknya yang sudah lebih setengah jam berada di kamar mandi.
Febyan
keluar toilet dengan mata merah. Cara
jalannya pun tidak seperti biasa. Naufal
agak kesal dengan tingkah Febyan yang selalu saja membuatnya terancam
terlambat.
“Kamu
nyimeng, ya! Lama banget di toiletnya!”
bentak Naufal ketus. Ia teringat
ciri-ciri pemakai narkoba dari pelajaran Biologi. Perubahan yang cukup drastic dari Febyan,
berlama-lama di kamar kecil, cepat marah dan cenderung kasar.
“E….e….enak
aja. Enggg….a….a….aku nggak kenal apa itu cimeng. Loe jangan asal nuduh,
ya! Fitnah itu dosa besar, lebih kejam
dari ngebunuh!!! Bagaimana kalau balasan
fitnahan itu, gue bunul loe, aja ya!” cecar Febyan makin tidak terkendali. Menambah deret catatan keanehan Febyan.
Dialog
terhenti. Naufal menunda kemarahannya, ia tidak punya
banyak waktu berdebat dengan adiknya yang paling santai itu. Pagi
hari selalu menjadi waktu yang tidak menyenangkan. Berbagai masalah dari masing-masing anggota
keluarga seakan tumpah ruah di meja makan untuk sarapan pagi.
“Gawai
Wulan hilang, Bunda, gimana Wulan bisa ngerjain banyak tugas sekolah? Aku harus browsing proyek pelajaran Fisika
sepekan ini!” keluh Wulan mebeberkan kegelisahannya.
“Wah,
Kak Wulan kehilangan gawai? Aku juga
kehilangan duit OSIS. Nggak sedikit
jumlahnya, tiga ratus ribu. Gimana coba
aku harus ngembaliinnya?” Faris yang
mendapat amanah menjadi bendahara di SMP-nya kelimpungan. Hampir-hampir air matanya tumpah kalau tidak
ingat posisinya sebagai anak laki-laki.
“Raket mahal milik temanku juga
hilang kemarin. Aku sampai malu banget,”
tambah Luki anak ketiga Bunda Devi.
Bunda
Devi dan Pak Suryadinata merasakan kegelisahan di dalam keluarganya. “Ada apa ini, ya, Rabb. Berikan kami jawaban untuk menyelesaikan masalah
ini,” batin Bunda Devi.
“Febyan dimana, Ayah jarang melihatnya bersama-sama kita?” Pak Surya mulai curiga.
Semua
anggota keluarga melaporkan pandangannya masing-masing tentang Febyan. Pak Surya dan Bunda Devi mengumpulkan semua informasi
dan menuju pada satu kesimpulan, Febyan mengonsumsi narkoba jenis sabu-sabu.
Dalam buku diarynya, Bunda Devi
membuat check list antara ciri pemakai dan apa yang terjadi pada Febyan. Mata Bunda Devi menatap nanar table yang
dibuatnya sendiri. Lebih dari sepuluh
cirri pemakai sabu ada pada diri Febyan.
Yang sangat memprihatinkan adalah emosi tidak terkendali, suka berbohong
dan mencuri demi mendapat uang dan membeli sabu-sabu.
“Ya Rabb, berikan petunjuk dan kekuatan pada kami untuk menyelamatkan
Febyan.” Bunda Devi mengambil air wudu
untuk sembahyang malam, tepat pukul tiga pagi.
Setelah mandi taubat yang khusyuk, Bunda Devi membalut tubuhnya dengan
mukena putih bersih. Diambilnya
wewangian parfum salat nonalkohol beraroma melati kesukaannya.
Sepenuh
permohonan ia mendirikan salat Taubat, disambung dengan salat Tahajud. Ia tak mampu membendung air matanya. Mengenang segala dosa dan beban hidup yang
ditimbulkan ketelanjuran Febyan.
Segala
cara dilakukan Febyan untuk memenuhi nafsunya.
Sesuatu yang amat memaksa mendorongnya untuk selalu mengobsumsi
sabu-sabu. Kecanduan telah merasuki
badannya.
Gumpalan rasa sesal atas perilaku Febyan berbaur dengan rasa kasih ingin
melepas buah hatinya dari jerat derita khamar.
Wahai generasi akankah kau binasa oleh belati khamar yang
terlaknat. Khamar yang merenggut
kesadaran, akal, pikiran juga hati nurani.
Terganti dengan kesempitan nafsu hanya ingin memenuhi desakan kebutuhan
yang tak semestinya ada. Semua terjadi
karena barang haram yang telanjur bersarang di badan.
“Astaghfirullahal’aziim, Ya Rabb, Ampuni segala dosa kami, dosa anak-anak
kami. Sesungguhnya Engaku menyukai
orang-orang yang bertaubat, maka karuniakan kami taubatannasuha. Wahai Yang Maha Memelihara, peliharalah
anak-anak kami dengan pemeliharaan yang sempurna. Terutama anak kami Febyan yang Engkau
amanahkan untuk kami didik, kami asuh, kami besarkan dengan pengertian,
pemahaman dan pengamalan terhadap agamaMu, ya Allah. Lepaskan dia dari jerat khamar yang mungkit
bukan atas kesengajaan diri, tetapi karena teman dan lingkungan
pergaulannya. Atau mungkin juga karena
terjebak para Bandar yang haus darah.
Sementara usianya belum akil balig, Ya rabb. Selamatkan anak kami, lepaskan kami dari orang-orang
yang zalim.”
Doa panjang Bunda Devi terjawab juga
pagi itu. Saat membuka channel televisi,
Muhibah Pesantren menayangkan tentang Pesantren Innabah Suryalaya. Reportase yang cukup jelas tentang pesantren
itu membuka gerbang harapan untuk Febyan.
“Aku akan membawa Febyan ke
sana. Secepat mungkin, sebelum
keadaannya makin parah.”
***
Pengorbanan Bunda Devi tidak
sia-sia. Satu tahun berada di Pesantren
Inabah membawa hasil yang menggembirakan.
Febyan sudah meninggalkan sabu.
Kesabarannya mengikuti majelis ilmu pun sudah jauh membaik. Febyan seakan telah terlahir kembali.
Sekilas Pesantren Inabah*
Di Tahun 1970-an Pesantren Suryalaya membentuk sebuah pondok
atau asrama khusus untuk pecandu narkoba.
Saat itu pemakai narkotika dan obat terlarang tidak sebanyak saat
ini.
Pondok Inabah diawali dengan penitipan seorang anak pejabat
yang menjadi pecandu narkoba. Penerapan
metode inabah berhasil melepaskannya dari jerat narkoba. Pasien berdatangan hingga 15 orang dan kini
mencapai paling banyak 40 orang satu asrama.
Jarak antara berdirinya Pesantren Suryalaya dengan Pondok Inabah cukup
jauh yaitu 65 tahun. Pendiri Suryalaya adalah Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad
atau Abah Sepuh dilanjutkan oleh Almarhum KH. Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom). Sementara Pondok Inabah dibentuk oleh Abah
Anom dan diteruskan oleh putranya, KH
Zaenal Abidin Anwar,
Metode yang digunakan Pesantren
Inabah adalah model rehabilitasi menggunakan ilmu tasawuf, sebagaimana makna
dari inabah adalah kembali ke jalan Allah.
Pemakaian narkoba disebabkan oleh
kelalaian manusia akan hakikat dirinya sebagai hamba Allah SWT, maka penyadaran
dilakukan dengan pengenalan akan hakikat diri.
Setiap insan memiliki asal yang sama, yaitu diciptakan oleh Tuhan, dihidupkan
untuk menjadi hamba dan khalifah di muka bumi, selanjutnya kembali kepada Allah
sebagai tempat setelah kematian.
Secara ilmiah telah dilakukan
penelitian dan disimpulkan bahwa metode
inabah terbukti efektif dengan 90% keberhasilan rehabilitasi pecandu
narkoba.
Proses rehabilitasi meliputi pembersihan, pemantapan,
penguatan iman, dan menahan pengaruh dari luar.
Jadwal rutin pondok Inabah adalah bangun pukul 02.00 untuk mandi taubat,
dilanjutkan dengan amalan-amalan harian.
Amalan ini meliputi salat sunah Syukrul
Wudlu, Tahiyatul Masjid, Taubat, Tahajud, Tasbih, witir, zikir, membaca
Alquran, penanaman keimanan sampai pukul 21.00. Jadi aktivitas para pecandu narkoba dipenuhi
dengan ingatan pada Allah melalui ibadah.
*)
Disimpulkan dari berbagai sumber
GHIBAH, PERCIK API PERMUSUHAN
By: Khadijah Hanif
Aku sudah tidak mampu
menahan rindu pada ibu. Hampir satu
tahun aku tidak sowan dan sungkem di kakinya yang kian rapuh. Kesibukan dan beban hidup begitu menguras
peluh. Ah, aku tak mampu menahan keluh,
hanya pada-Nya aku bersimpuh. Pada Dia Yang Mahaampuh aku berani
mengaduh.
“Duh Gusti, kian hari aku kian jauh dari
berbakti. Sementara tengadah amanah-Mu
telah menanti. Tiap saat mereka meminta
aku harus siap sedia dan harus ada. Rabb, kuatkan hamba-Mu”
Sebagai anak perempuan satu-satunya, seharusnya aku
setia menemani ibu di masa senjanya.
Namun, apa boleh buat, ketaatan pada suami adalah segalanya
untukku. Bukankan surgaku ada dalam
bimbingan suami?
Dengan segenap daya upaya, doaku terjawab juga. Ada rizki min haitsu laa yahtashib
yang tidak terduga. Aku langsung
merengek meminta pulang pada Mas Hakam.
“Abi, antar aku pulang, ya. Lagi pula ibu sangat mengharapkan kehadiran
Mas Hakam di kepulangan hajinya.
Please….” Aku merayu Mas Hakam
yang aku paham benar dia super sibuk.
“Iya, kita Insya Allah pasti pulang, tapi kita harus
mengatur waktu baik-baik. Jangan sampai ma’had
yang kita tinggalkan berantakan.”
Kami mengatur semuanya, menyerahkan beberapa amanah
pada para muraqib yang gesit dan masih muda.
Setelah semua kelar, kami pun berangkat.
Sungguh kebahagiaan yang tiada tara.
Rasa syukurku terus aku lantunkan, ketika Allah SWT mengizinkan aku
membuktikan bakti yang tak seberapa buat ibu.
Allah merejekikan pada kami untuk bisa menyiapkan sebagian oleh-oleh
haji buat para tamu yang pasti sangat banyak.
Perjalanan terasa lama, sembilan jam yang
melelahkan. Apalagi kami hanya berdua,
ketiga anak kami sedang menimba ilmu di pesantren. Saat kantuk melanda, Mas Hakam banyak
istirahat di rest area. Aku
terkadang merasa kasihan kalau dia sudah lelah membawa kendaraan. Sementara aku hanya bisa membantu mengurangi
rasa capainya dengan memijat semampuku.
Sesampai di rumah ibu, aku tertegun dengan perubahan
yang ada. Halaman depan sudah diplester
dengan semen, ada kanopi cukup tinggi yang terlihat megah. Belum lagi di sebelah kanan halaman ada
saung-saung untuk mobil kami bertiga saat berkunjung ke rumah ibu. Dari dulu ibu memang senang menata
rumah. Usianya yang sudah memasuki
kepala tujuh tidak menghalangi geraknya.
“Alhamdulillah, Bu Lik sudah pulang. Ibu akan bahagia disambut anak
kesayangannya.” Mbak Sri, iparku
menyambut dengan suara khasnya yang ramah.
Aku cium tangannya, aku peluk penuh kerinduan.
“Bu Dhe, makasih, ya, udah nitipin ibu. Mbak Sri bikin aku tenang di perantauan.”
“Walah, kok pake bilang makasih, tho! Kan, saya anaknya ibu juga. Aku juga punya kewajiban, tho, Bu Lik.” Jawaban Mbak Sri selalu membuatku tenang,
rasa bersalah yang selama ini melilit hatiku, perlahan mengendor. Kakak iparku, istri dari Mas Irfan, kakak
lelaki sulungku ini, memang pandai menyenangkan lawan bicaranya.
Aku memasuki ruang tamu. Lagi-lagi aku tertegun dengan perabotan baru
yang dijaga oleh ibu. Tangan terampilnya
membuatku kagum. Meja kursi yang
direparasi, lemari dan rak buku baru, semuanya memberikan suasana baru di
rumah. Hmmm, sepertinya aku akan betah
berlama-lama di sini.
Aku dan Mas Hakam menyapa kerabat dan tetangga yang
sedang bergotong-royong di dapur dan ruang tengah. Mereka turut bahagia menyambut kepulangan ibu dari tanah
suci. Betapa sibuknya mereka menyiapkan
hidangan untuk tamu. Sebagian sedang
mengemas oleh-oleh haji yang baru saja diturunkan dari mobil kami. Kami segera pamit untuk istirahat melepas
penat lelah perjalanan panjang ini.
Tidak lama setelah aku memasuki kamar ada seseorang
yang mengetuk pintu kamarku.
“Assalamualaikum, Mbak Nabila.” Aku membuka pintu. Adik sepupuku, Rinina dengan tergopoh-gopoh menemuiku. Celemek masih melekat di bagian depan
tubuhnya, Rinina menatapku dengan pandangan cemas.
“Ada apa, Nina?
Sepertinya ada yang sangat penting.”
Aku menanggapi serius kehadiran Rinina. Aku tahu persis bagaimana
membahagiakan Nina yang hobinya cerita.
“Boleh aku masuk kamar, Mbak?”
“Boleh. Mas Hakam sedang keluar merapikan mobil. Ayo, kamu masuk aja!”
Satu persatu kata-kata yang tak terduga mengalir dari
lisannya. Ia bercerita tentang keadaan
ibu selama aku jauh darinya.
“Mbak, kasihan Bu Dhe Tyas. Hampir tiap hari saya yang membawakan makanan
buat beliau. Kalau tidak, bisa-bisa Bu
Dhe ndak makan. Tahu ndak, Mbak Sri itu
jahat banget sama Bu Dhe Tyas.”
“Jahat gimana, Nin.
Mbak Sri itu sangat sayang sama ibu.
Aku nggak bisa ngebayangin kalau Mbak Sri nggak ada. Aku sampai malu kalau dibandingkan dengan
Mbak Sri dalam baktinya sama ibu.” Aku
mencoba membela Mbak Sri. Di mataku Mbak
Sri lebih pantas menyita kasih sayang ibu dibandingkan aku yang tidak banyak
mendampingi ibu.
“Iya, Mbak Sri itu baiknya kalau ada Mbak Bila
aja. Coba gimana sakitnya hati Bu Dhe
Tyas, kalau hampir tiap hari diberi harapan palsu.” Aku mendengarkan cerita Nina tanpa sedikit
pun memotong pembicaraannya. “Jadi Mbak Sri bilang, Bu Dhe ndak boleh masak
supaya ndak capai, ndak repot. Semua
makanan untuk Bu Dhe akan dikirim sama Mbak Sri. Kalau Bu Dhe belanja dan ketahuan Mbak Sri,
dia akan marah sama Bu Dhe. Katanya
bikin malu anak-anaknya saja disangka orang, Bu Dhe ndak keurus. Kenyataannya Mbak Sri ndak tiap hari ngirim
makanannya. Malah Bu Dhe suka datang ke
rumah aku, minta makan. Aku ndak tega
Mbak. Akhirnya tiap hari, aku yang
nganterin makanan buat Bu Dhe. Mbak
Nabila tahu sendiri keadaan keluargaku.
Masih serba susah.”
Aku terhenyak.
Berbagai macam perasaan campur aduk mengisi ruang hatiku. Kecewa, marah, sidih, merasa bersalah, malu
sana Nina.
“Tega sekali Mbak Sri.
Aku minta maaf ya Nin, seharusnya aku yang berbakti sama ibu. Ini malah kamu yang repot. Biar aku ganti biaya kamu mengirim makanan
buat ibu. Kalau begitu sekalian aku kasih
buat kamu tiap bulannya, khusus buat ibu dan sedikit buat kamu.” Aku mengeluarkan lima lembar uang seratus
ribu dari dompet. ”Ini untuk menggantikan apa yang udah kamu belanjakan. Untuk selanjutnya biar aku transfer aja, ya?”
“Wah, jangan, Mbak.
Bu Dhe Tyas orang tua aku juga, kan?
Jadi udah kewajibanku menjaga beliau.
Lagi pula bukan ini maksud saya.” Rinina menolak pemberianku, tapi aku
memaksanya untuk menerima. Aku melihat
ada binar bahagia saat aku menyodorkan lembaran warna merah dan biru itu. Aku tahu persis dia butuh uang itu untuk
kelima anaknya.
“Aku masih heran dengan sikap Mbak Sri. Setahuku dia sangat baik sama ibu. Biaya persiapan pemberangkatan dan
perpulangan ibu, semua dibiayai sama Mbak Sri.
Bagaimana aku bisa ragu dengan kebaikannya? Semua acara keluarga, Mbak Sri yang selalu
memberi kontribusi terbesar. Aku masih
nggak percaya Mbak Sri sejahat itu.”
“Mbak Nabila belum tahu, ya?” Rinina menarik lenganku dan membisikkan
sesuatu. “Hidangan yang sekarang ini
kurang pantas buat keluarga besar Bapak Almarhum Sumargono. Kami sebenarnya ingin menyajikan yang pantas
dengan penataan yang lebih pas. Tapi
lagi-lagi Mbak Sri menguasai segalanya, bahkan sampai letak kursi. Kami ndak ada kesempatan sedikitpun ikut
mengatur.”
“Sabar Rinina, biarkan saja Mbak Sri yang ngatur. Bukankah semua biayanya Mbak Sri yang
nanggung. Anggap saja dia sedang menata
acaranya sendiri.”
Aku mencoba memaklumi sekuat tenagaku. Terus terang cerita dari Nina membuatku
menyisipkan rasa tidak suka pada Mbak Sri, walaupun tidak tega aku untuk
membencinya. Aku mencari seribu satu
alasan untuk memaklumi sikapnya.
Nina terus saja menceritakan hal-hal yang aku tidak
tahu. Ia bercerita bagaimana emas
simpanan ibu habis terjual. Semua untuk
biaya walimatussafar yang aku kira dari Mbak Sri semua. Benarkah?
Jantungku berdebar kencang, tega sekali Mbak Sri. Masih terbaca jelas pesan chat wa darinya.
“Bu Lik kebagian menyiapkan oleh-oleh haji. Saya yang nyiapin hidangan pemberangkatan dan
perpulangan.” Aku mengiyakan semua saran
Mbak Sri, tapi sejak hari ini aku harus berani berkata tidak.
***
Kedatangan ibu tinggal menunggu waktu.
Aku membuka android, baru jam tujuh pagi. Sekitar dua jam lagi ibu sampai di pendopo
kabupaten. Kami anak-anaknya juga
kerabat sudah berjajar menyambut kedatangannya.
Kami rela menunggu dengan setia, mengambil berkah dari tetamu Allah
bersama Malaikat Rahmat yang mendampingi mereka.
Gangguan batin yang dipicu oleh cerita Rinina masih menggumpal di
dada. Senyumku pada Mbak Sri terasa aku
paksakan. Mungkin Mbak Sri tahu
perubahan itu, tapi aku tidak peduli.
“Ummi, Abi merasa ada yang nggak beres dari sikapmu ke Mbak Sri. Biasanya Ummi senang berlama-lama, melepas
rindu sama Mbak Sri. Abi lihat Ummi
lebih sering menghindar. “ Mas Hakam
menangkap gelagat anehku. Dia merasa
ada tidak beres dari sikapku pada Mbak
Sri.
Aku menarik nafas dalam-dalam.
Ada sesuatu yang ingin aku lepas tapi rasanya sangat sulit. Akhirnya aku putuskan untuk menceritakan apa
yang disampaikan Rinina padaku kemarin.
“Kenapa kamu membiarkan Rinina bergunjing tentang Mbak Sri. Akibatnya timbul rasa benci, kan? Kalau sudah ada gejala bakalan terjadi ghibah, sebaiknya kita alihkan
pembicaraannya.”
“Tapi Abi, gimana Ummi bisa tahu keadaan yang sebenarnya kalau nggak ada
yang menyampaikan ke kita. Sementara itu
rumah kita jauh, bukankah kita perlu orang ketiga?”
“Apapun yang kita dengar, kita harus tabayun. Yang lebih baik dan utama, kita dengar langsung
dari Mbak Sri. Di sinilah kedewasaan
kita diuji. Kemampuan mengendalikan
emosi. Semua harus dalam keadaan tenang
dan komunikatif. Bukankah salah satu
nikmat terbesar pada manusia itu nikmat menyebut nama benda, itulah kemampuan
berbahasa. Selain untuk bicara, ianya
juga untuk menjalin hubungan baik sesame manusi dan menghindari perpecahan
diantara manusia. Agar kita terhindar
dari kerusakan.” Mas Hakam terus saja
menaihatiku dengan kalimat-kalimat yang menyejukkan.
Aku mengiyakan semua nasihat Mas Hakam. Aku ingin memadamkan semua percikan api
kebencian yang siap membakar hatiku.
Terbayang apa yang akan terjadi kalau aku mengikuti nafsuku, sedangkan berbagai rencana sudah bermain di
benakku..
“Bu Lik, jangan mudah percaya hasutan dari orang lain. Aku ndak pernah nelantarin ibu. Bu Lik bisa tanyakan langsung sama ibu. Juga masalah emas yang dijual, semua dipakai
untuk perbaikan rumah ibu,” ungkap Mbak Sri. “Kalau boleh tahu siapa yang
ngarang cerita tentang aku. Aku jadi
penasaran.”
“Aku rasa nggak perlu Bu Dhe, biarlah hati kita bersih
tanpa musuh yang bersemayam dan bersembunyi.
Ternyata musuh itu mampir bersama ghibah yang kita lakukan, ya?”
Mbak Sri hanya tersenyum. Memelukku penuh kasih sayang.
***
Ghibah Dosa Besar Lisan
Ghibah atau menggunjing hari ini telah menjadi budaya buruk yang meraja
lela. Memasuki rumah-rumah umat Islam melalui televisi. Ia telah menjadi obyek bisnis untuk meraup
keuntungan melalui infotainment, berkedok informasi dan hiburan padahal
ghibah dan menyebarluaskan dosa dan maksiat.
Ghibah jenis ini sangat berbahaya karena memicu kebanggaan pada
maksiat. Menumpang tenar dengan jalan
salah dan dosa.
Mengapa ghibah sangat digemari?
Penyebabnya adalah kolaborasi setan menunggangi kendaraan nafsu. Bukankah setan selalu menampakkan hal buruk
menjadi baik dan mengasikkan? Sementara
nafsu yang jahat akan senang melihat atau mendengar orang lain susah dan susah
melihat orang lain senang. Nah, jadilah
ghibah ini menjadi perkara yang mudah dilakukan padahal konsekwensinya besar
dan berat.
Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Alhujurat ayat 12:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا
مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ
بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ
مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Artinya:
“Wahai
orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian
prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan
janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di
antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu
merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima
tobat, Maha Penyayang.”
Rasulullah juga berpesan dalam
sebuah hadits:
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ
الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا
عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ
عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya, namun keimanan
itu belum masuk ke dalam hatinya! Janganlah kalian mengghibah (menggunjing) kaum
Muslimin. Jangan pula mencari-cari aib mereka. Barangsiapa yang mencari-cari
aib mereka, (maka) Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang Allah
mencari-cari aibnya, niscaya Allah akan membeberkan aibnya, meskipun dia di
dalam rumahnya.”
Bila kita masih
gemar menggunjing maka iman kita belum sempurna. Iman kita masih diragukan. Bukankah kita tidak ingin menghadap Allah di
hari akhirat dengan iman yang tertolak?
MENANTI SEKEPING HATI_PELABUHAN
CINTA MARUTI
By: Khadijah Hanif
Yanuar namanya.
Siapa sih, yang tidak mengenal dia di kampung itu? Pemuda lugu berparas
rupawan. Bahkan paling rupawan untuk usia menjelang dua puluh. Bak buah dia
sedang ranum-ranumnya.
Bukan hanya parasnya yang
menjadi buah bibir, budi pekertinya yang elok lebih-lebih lagi menawan
hati. Kumpulan sifat baik ada padanya. Selain rasa kasih oleh keindahan budi dan
paras, rasa iba pada keadaannya yang sebatang kara pun makin sulit membuat orang tak mengenal
siapa Yanuar.
“Yanuar, kamu tinggal saja di
rumah Ibu. Banyak yang bisa kamu kerjakan di sini.” Bu Mariah sekali lagi
membujuk Yanuar. Bu Mariah memang berkali-kali didesak anak semata wayangnya,
Maruti untuk mengangat Yanuar sebagai anaknya.
“Maaf, Bu. Bukannya saya
menolak perintah ibu. Amanat dari almarhumah ibu saya tidak bisa saya khianati.
Saya harus mengajar anak-anak di musala dekat gubug saya,” tolak Yanuar santun.
“Iyalah, Kang.....sesekali Akang
tidur di sini. Bapak mau berangkat ke kota. Kami cuma berdua.” Suara lembut nan manja Maruti makin
menunjukkan bukti, Yanuar istimewa di hatinya. Maruti melirik dengan mata lentiknya. Yanuar bergeming, dingin. Pandangannya segera ia palingkan dalam-dalam,
seakan tak peduli.
“Maaf, Neng. Akang bukannya
tidak mau. Tapi ada yang Akang khawatirkan menimpa diri Akang untuk tinggal di
rumah mewah ini. Lagi pula Neng dan Bu
Mariah bukan muhrim Akang. Mohon
pengertian dari Neng dan Ibu.”
“Ya sudah, kalau kamu
keberatan, biar kami berdua saja. Semoga
tidak ada apa-apa. Doakan biar kami selamat.” Bu Mariah begitu mudah memaklumi dan menerima
penolakan Yanuar. Ada rasa yang
mendalam di hatinya, ia sendiri sulit mengeja rasa itu.
Berulang kali
Yanuar memohon maaf sekaligus berterima kasih atas pengertian Bu Mariah. Tanpa
rasa iba Bu Mariah pada keadaan dirinya mungkin telah lama ia tak lagi
mengabdikan diri di rumah itu.
Matahari sebentar lagi memasui
peraduannya. Anak-anak, gadis dan pemuda
kampung sudah menunggunya di musala.
Perasaan hatinya tak menentu namun lantunan zikir hatinya membuatnya
tenang kembali.
Yanuar mengayun
langkahnya gegas. Memendam kerinduan
yang ia tambatkan pada diri Maruti.
Namun kesadaran hati sepenuhnya mengendalikan langkah dan keputusannya. “Ah, sudahlah Yanuar, hentikan khayalanmu
sebelum kau kecewa jan terjatuh! Maruti
dan kamu bak langit dan bumi.
Berpijaklah pada kenyataan dan berkaca dengan keadaan.” Suara batin Yanuar memadamkan rasa.
Sementara
itu.....
Lepas isya, Juragan Subagja
berangkat ke kota didampingi orang kanannya.
Maruti dan Bu Mariah tinggal berdua di istana termegah di tepi kampung. Rumah itu makin jauh dari rumah tetangganya
karena berada di tengah kebun aneka buah. Tidak tanggung-tanggung luas kebun
buah itu hampir dua hektar. Pabrik
penggilingan padi ada di sebelah utara rumah mewah mereka.
“Ibu, kurang cantik apa aku. Tega sekali Kang Yanuar menolak permintaanku. Hanya untuk menemani kita selama bapak pergi.”
Maruti kesal sambil menyusut semua dandanan yang ia persiapkan untuk meluluhkan
hati Yanuar.
“Sabar anakku, mungkin kita
yang harus memahami selera Yanuar. Ibu rasa ia lebih suka perempuan yang
berkerudung rapi. Ibu lihat gadis-gadis
yang mengaji di musala Yanuar semua berjilbab,” ungkap Bu Mariah.
Seakan mendapatkan inspirasi
jitu dari sang ibu, Maruti melonjak kegirangan.
“Kalau begitu aku harus
merubah penampilanku.”
Malam semakin pekat. Maruti mematut-matut diri dengan berbagai
dandanan muslimah yang dilihatnya di internet. Hadiah jilbab dari bapaknya yang selama ini
dibiarkannya teronggok di lemari masih terbungkus rapi, dicobanya satu per
satu.
“Hmmm, aku tak kan kalah
cantik dengan gadis kampung murid Kang Yanuar. Akan kubuktikan Kang Yanuar bakal berlabuh di
hatiku.” Maruti dilanda cemburu pada
gadis-gadis santri Yanuar.
“Krek...krekkkk!” Tiba-tiba ada suara genting
pecah terinjak. “Stttt!!!!Stttt!!!!”
Pelan terdengar dari kamar Maruti seseorang memberi kode untuk diam.
“Gawat, berarti ada orang
berniat jahat ke sini. Dan mereka tidak
hanya satu!” gumam Maruti cemas.
Maruti berusaha membangunkan Bu Mariah, namun
bergeming. Maruti tahu persis percuma
membangunkan ibunya. Ia hanya akan
terbangun kalau matahari sudah mulai benderang jam enam pagi.
Segera
diraihnya gawai di sampingnya.
“Assalamualaikum, Kang Yanuar,
Uti dalam bahaya. Rumah ini benar-benar
disatronin orang jahat. Akang harus
segera kemari, atau Uti bakal jadi korban!” Maruti berusaha meyakinkan Yanuar. Isakan tangisnya menjadi penguat Yanuar untuk
segera datang.
“Iya, Akang segera kesana! Banyak
berdoa, Neng, semoga Neng Maruti dan ibu
selamat!”
Maruti kegirangan di sela
kecemasannya. Ia yakin Yanuar yang jago
Silat Citbitik itu akan dengan mudah membekuk penjahat di atas atap rumahnya.
Tapi....
“Oalah....bagaimana kalo
penjahatnya banyak dan Kang Yanuar dikeroyok?”
Maruti memutar otak. Ia segera menuju dapur. Bubuk cabai bercampur air ia siapkan di botol
pewangi pakaian. Kalaupun ada yang
mengeroyok Yanuar, ia akan membantu pujaan hatinya itu melumpuhkan lawan.
Lima menit kemudian, pintu
dapur diketuk dari luar. Yanuar datang
sebelum maling-maling itu beraksi.
“Akang,
terimakasih Akang mau datang.”
“Maaf, Neng
saya nggak sendiri, ini Arman.”
Ada gurat
kecewa di wajah Maruti, kalaulah Yanuar datang sendiri pasti mainan rasa dalam
hatinya akan lebih berbunga indah.
“Beruntung Akang bawa temen, Arman
bisa mbantuin Uti nyerang pakai ini,” kata Maruti sambil menunjukkan semprotan
bubuk cabai senjatanya. Ia tak ingin
rasa kecewa itu terbaca oleh Arman.
“Neng Uti,
sudah pakai hijab?” tanya Yanuar keheranan sekaligus turut senang. Maruti makin memesona dengan balutan kain
suci itu mengganti mahkota mayang terurainya.
“Bruuuuk, bruuuk!” Dua suara
benda jatuh dari atas genting. Mereka
bertiga terhenyak. Seakan bahaya itu makin dekat dan....
“Kalian masuk saja. Biar Akang
yang menghadapi mereka. Akang yakin mereka hanya dua orang.”
“Bagaimana kalau mereka
banyakan?” Maruti cemas.
“Akang yakin mereka berdua
Durja dan Durna yang selama ini bikin onar di beberapa kampung tetangga.
Sekarang mereka mau main-main dengan kita. Cukup Akang saja yang menghadapi mereka dan
bubuk cabenya Akang bawa. Kalau Neng
Uti yang nyempotin bisa-bisa terkena mata Akang.”
Maruti menurut saja kata
Yanuar. Hatinya makin kagum sekaligus berbunga-bunga. Rasa dilindungi oleh Sang
Arjuna membuat rasa cintanya makin menyala. Yang lebih indah dirasakan, ia
menganggap Yanuar melakukan semua untuk membalas cintanya.
Yanuar mematikan lampu dan
menunggu di balik pintu dapur, sambil memasang kuda-kuda. Pintu dapur yang sedikit dibuka membuat
para pencuri itu terpancing memasuki dapur.
“Ciat, brukkk!” Tendangan kaki
Yanuar mengenai kepala Durna. Durna
mengaduh memegangi kepalanya yang pening.
“Kang Durna, cilaka! Di rumah
ini ada bodigadnya! Kita salah sangka!” Durja panik.
“Sudah kepalang! Kita lawan dia!” Dua maling kembar menjauhi dapur yang gelap
itu. Mereka lebih senang berlaga di luar ruangan, di bawah keremangan rembulan
sepertiga bulan.
Yanuar tahu keinginan mereka. Dikejarnya dua maling kembar itu dan pertempuran
sengit terjadi. Saling tendang dan saling tinju terjadi, mencekam. Dua maling kembar kewalahan dan mengambil
senjata mereka. Melihat pertarungan
bakal membahayakan nyawa diri atau dua musuhnya, Yanuar menyemprotkan cairan
bubuk cabai ke arah dua musuhnya dan.....
“Aduh, kurang ajar mataku
pedih aku tidak bisa melihat!” Durna-Durja menyerang membabi buta. Mereka
salah sasaran dan saling mengenai mereka sendiri.
“Sudahlah, menyerah dan
bertaubat. Allah akan menghapus semua dosa yang telah kalian perbuat. Atau aku serahkan pada aparat desa?”
“Ampun! Lepaskan kami dan kami
akan bertaubat,” ujar Durja sambil memegang matanya yang pedih dan lengannya
yang luka terkena golok Durna. Begitupun
Durna, kali ini pelipisnya yang terluka, menambah bakal condet di mukanya.
***
Sejak peristiwa
mencekam itu, Yanuar resmi diangkat menjadi satpam keluarga Gan Bagja. Yanuar
menyanggupi dengan catatan jam kerjanya selepas Isya dan disediakan ruang
khusus sebagai musala. Lama kelamaan,
Yanuar seakan menjadi anggota keluarga mereka.
Tidak terasa
lima tahun Yanuar tinggal bersama keluarga Maruti. Bukan hanya bertugas sebagai satpam, Yanuar
kini menjadi ustaz untuk keluarga dan pekerja Gan Bagja.
Maruti makin mengenal dari dekat siapa
Yanuar. Sedikit demi sedikit Maruti
belajar Islam dari perbuatan dan nasihat pujaan hatinya itu. Salat wajib tidak pernah lagi ia tinggalkan,
bahkan ibadah-ibadah sunah yang dilakukan Yanuar pun ia coba lakukan.
Kekaguman
Maruti atas kedalaman pemahaman agama Yanuar membuncahkan rindu yang makin
menyiksa. Harapan Maruti saat ini hanya
satu, Yanuar mengerti atas penantian cintanya.
Maruti lebih
sering bangun malam untuk mengadukan rasa hatinya pada Sang Pencipta. Siangnya pun Maruti berpuasa, menginginkan
pujaan hatinya melengkapi keping hati yang sepi. Ia merindu separuh jiwanya. Semua masih rahasia, entah siapa yang
disandingkan dengan namanya di Lauh Mahfuz.
Namun dambaan itu tetap tertuju pada seuntai nama Yanuar
Assadullah. Hingga suatu saat tiba-tiba
ia pingsan sepulang kuliah di kota kabupaten.
Maruti dirawat
dengan diagnosa anemia. Hari itu, Yanuar
ditugaskan untuk menunggui Maruti. Ada
Arman di sampingnya.
“Neng, makan
dulu, ya. Akang mohon izin buat nyuapin
Neng.” Yanuar terpaksa menyuapi anak
majikannya itu. Ada getar rasa yang
ingin dipadamkannya, tapi ia tak kuasa. “ Kata dokter, Neng harus banyak makan. Mereka bilang aneh, anak Juragan Bagja yang
terkenal kaya bisa terkena anemia.
Kurang makan katanya.” Yanuar
berusaha menyembunyikan kekakuan ini dengan sedikit bercanda.
Butiran bening
air di sudut mata lentik Maruti menetes satu-satu.
“Neng, kenapa
menangis?”
“Akang bukan
muhrimku. Bukankah fitnah hati ini akan
jadi bara api neraka bila tidak diikat dalam perjanjian suci. Akad yang menghalalkan yang haram. Bukankah itu yang Akang nasihatkan pada
majelis-majelis Akang?” Maruti mencoba
bicara, lemah.
Terhenyak
Yanuar mendengar keimanan Maruti yang begitu mendarah daging. Seakan nasihat yang kembali dilemparkan ke
mukanya.
“Bukankah Akang
yang menasihatkan, mereka yang menghadapi fitnah hati untuk bermunajat pada
Allah. Menundukkan pandangan, menjaga
kemaluan dan berpuasa?”
Yanuar kembali
menangkap rasa pilu pada ucapan Maruti.
Yanuar pernah mendengar cerita Bu Mariah tentang perubahan Maruti. Beribadah di malam hari dan berpuasa di
siangnya.
“Seandainya
Neng Maruti memang memendam rasa pada seseorang, kenapa Neng Maruti tidak
bicara pada Gan Bagja. Lagi pula Neng
Maruti sudah banyak dipinang oleh mereka yang sedarjat dan sepangkat dengan
keluarga Neng.”
“Cintaku bukan
untuk mereka, Kang.”
“Lalu untuk
siapa, biar Akang bantu untuk menyampaikannya.
Bukankah selama ini Akang sudah Neng anggap bagian dari keluarga?”
Maruti tidak
sanggup mengungkapkan isi hatinya. Ia
menyerahkan diarynya. Ia sudah pasrah
dengan apa yang akan menjadi keputusan Yanuar.
Ia hanya berharap Yanuar Assadullah adalah nama yang tersanding dengan
Maruti Pangestuti di Lauh Mahfuz.
Yanuar membaca
diary Maruti. Diari dari seseorang yang
memendam rasa amat dalam hingga terjatuh sakit, tergolek tanpa daya.
“Neng, bukannya
Akang tidak tahu apa yang Neng rasakan. Dari semua sikap dan perhatian Neng ke Akang.
Akang bisa merasakan harapan Neng.”
“Lalu
kenapa Akang diam saja. Aku sudah cukup menderita selama ini, Kang.” Isak
tangis Maruti makin pilu.
“Terus terang Akang juga
tergoda rasa itu tapi Akang ingin Neng Uti terjaga dari fitnah hati yang sulit
ini.”
“Percuma, Kang. Sebagaimana
pun Akang bersikap tak acuh, Maruti tetap mencintai Akang. Uti berharap Akang
meminta Uti ke Abah dan Mamah. Tapi ternyata.......”
Yanuar tidak menyangka sejauh
itu Maruti mengharapkannya. Selama ini tidak ada sedikitpun keberanian dalam
dirinya untuk melamar Maruti. Disadari
kedudukannya hanya sebatas abdi. Pemuda miskin, sebatangkara tanpa sanak dan
juga saudara.
“Apakah Gan Bagja dan Bu
Mariah akan menerima Akang sebagai menantunya? Sementara deretan pemuda kaya menunggu
jawaban dari Neng Uti?”
“ Sudah lebih dari lima pemuda
yang melamar Uti, Uti tolak. Semua demi
Kang Yanuar. Apakah Akang masih meragukan ketulusan cinta Uti?”
Isakan pilu Maruti meluluhkan
segala keraguan Yanuar.
“Baiklah, Neng. Akang akan
bicara sama Gan Bagja sepulang dari sini.”
Senyum merekah
di bibir Maruti melenyapkan pucat pasi di wajahnya. Berganti dengan harapan terbalasnya cinta
suci, secerah mentari pagi.
***
“Kang,
terimakasih telah menjawab penantian Uti.
Sekeping hati yang aku cari dan aku pintakan pada Allah dalam doa-doa malam
Uti sekarang ada di sisiku. Hampir-hampir aku
putus asa diantara kebekuan sikap Akang selama ini. Kini kaulah imamku untuk menuntunku menuju surga,” ucap Maruti lembut,
mendesirkan dada Yanuar. Desiran yang
indah tanpa batas, melengkapi sepi kepingan hatinya yang mendamba dalam diam.
Maruti menatap
lukisan indah di hadapannya. Tatapan
ibadah. Yanuar pun menikmati tiap detail cantik di wajah kekasih halalnya itu.
Tatapan yang menenteramkan, Alhamdulillah.
Fabiayyi aalairobikumatukadziban. Hafalan Arrahman terlantun di bibir Yanuar.tatapan
yang mengobati kerinduan.
“Kau adalah setengah agama
buat Akang, Neng. Sikap Akang yang tak
acuh semata-mata karena Akang sama Neng.
Rasa sayang dan cinta yang tak ingin membekaskan sedikitpun noda dan dosa
dalam catatan amal kita. Biarkan kerinduan
dalam penantian yang tertahan itu menjadi bukti iman dan taat kita pada
Allah, Sayang.”
Mereka tenggelam dalam ibadah
cinta yang menggelorakan kebahagiaan surgawi.
Setan pun menangis atas bertemunya
dua kepingan hati dalam keutuhan rumah tangga Islami.
LAATAQRABUZZINA
BENTENG
KESUCIAN PERGAULAN ISLAMI
(By: KHADIJAH
HANIF)
Islam adalah agama yang sangat menjaga
kesucian umatnya. Kesucian dalam segala
hal, baik urusan global kenegaraan, berbangsa dan bernegara hingga kesucian
individu. Maka tidak mengherankan bila
pembelajaran pertama dari berbagai kitab fikih adalah tentang bersuci. Bersuci menjadi langkah pertama dalam urusan
agama seorang muslim.
Dalam bergaul, kesucian juga menjadi landasan muamalah.
Kesucian seperti apa yang dikehendaki Islam?
Tentu saja kesucian yang bersumber dari Allah SWT, Sang Pemilik Asma
indah Alquddus(Yang Mahasuci).
Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat Albaqarah ayat 222, bagian
akhirnya.
إِنَّ
اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Artinya:
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang
menyucikan diri.
Kesucian diri dari dosa sangat
dipengaruhi oleh sejauh mana kita memahami kehendak Allah SWT dalam Alquran dan petunjuk melalui utusanNya yang
termaktub dalam hadis. Wajib ain
hukumnya bagi tiap mukalaf (mereka yang terbebani hukum agama) untuk memahami
perintah dan laranganNya.
Nah,
dari sekian aturan yang Allah gariskan untuk manusia, ada beberapa
bagian terpenting yang harus kita pahami sebagai umat Islam, yaitu:
aqidah, fikih, akhlak, dan ilmussaah (ilmu tentang akhir
zaman). Hal ini disandarkan pada hadits
ke-2 Hadits Arba’in Imam Nawawi Addamsyiqi yang diriwayatkan oleh Bukhari
Muslim dari Sayidina Umar bin Khathab.
Dalam tiap aspek kehidupan seorang
muslim, lima hukum selalu menjadi tolak ukur sebuah perbuatan, apakah ia
tergolong wajib, sunnah, mubah, makruh ataukah haram. Wajib berarti harus dilakukan, sunah
sebaiknya dilakukan, mubah dapat dijadikan ibadah dengan menempuh syarat
ibadah, makhruh sebaiknya ditinggalkan dan haram harus ditinggalkan. Wajib bagi kita memahami kedudukan perkara
dari sudut pandang hukum Islam ini.
Sesuatu yang selalu dialami anak
manusia dalam tumbuh kembangnya, adalah masa balig. Masa-masa ini seringkali disebut sebagai masa
pubertas, masa pancaroba atau masa pencarian jati diri. Pada saat ini mulailah masing-masing anak
Adam menerima buku catatan amal yang ditugaskan pada Raqib-Atid.
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ
الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ
عَتِيدٌ (18)
Artinya: Wahai
manusia, ingatlah ketika dua malaikat yang ditugaskan mencatat amal setiap amal
manusia saling bertemu. Yang satu berada di sebelah kanan dan yang lain duduk
di sebelah kirinya. Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di
sisinya Raqib dan Atid.(QS. Qaaf: 17–18).
Perintah
dan Allah SWT dalam Pergaulan Laki-laki dan Perempuan
Allah SWT bukan hanya melarang perzinahan tapi hal-hal
yang dapat mendekatkan kita pada zina.
Sebagaimana firman-Nya dalam Alquran Surat Alisra ayat 32:
وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء
سَبِيلاً
Artinya:
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.
Dari larangan ini Allah SWT memberikan rincian teknis
agar kita tidak mendekati zina.
a.
Menundukkan Pandangan dan Menjaga Kemaluan
Laki-laki dan perempuan bukan muhrim hendaklah menjaga
diri dari melihat aurat, tidak memandang dengan syahwat, tidak memandang
berlama-lama baik langsung maupun tidak. Dengan menundukkan pandangan maka kemaluan
akan terjaga dari godaan nafsu dan syahwat
قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَ يَحْفَظُوْا قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ
وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ
لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah
mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu
adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
mereka perbuat".(Surah Annûr,
24:31)
وَ قُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ
يَغْضُضْنَ مِنَ أَبْصَارِهِنَّ وَ يَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ
Artinya
:Dan katakanlah kepada para mu'minât
perempuan, agar mereka juga menahan
pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka. (Surah
Annûr, 24:31)
b.
Larangan Berkhalwat dan Berikhtilat
Khalwat dalam
pergaulan laki-laki dan perempuan bermakna dua orang menyendiri tanpa mahram,
baik langsung maupun tidak. Dalam dunia
nyata maupun alam maya melalui internet.
Sementara ikhtilat adalah percampuran secara kolektif antara laki-laki
dan perempuan bukan muhrim dalam satu aktivitas tanpa hijab.
Hal ini
ditegaskan dalam ayat Alahzab ayat 53:
لَكُمْ إِلَىٰ
طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا
طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ
كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي
مِنَ الْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ
حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ
أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ
أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi
kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu
masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu
selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan.
Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu
(untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.
Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi),
maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi
hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan
tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat.
Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.
Adapun larangan
ikhtilat termaktub dalamhaditsRasulullah SAW.
Jangan
sekali-kali seorang lak-laki menyendiri (khalwat) dengan wanita kecuali ada
mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya. (HR
Bukhori, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Tabrani, Baihaqi dan lain-lain).
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari
akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang
tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan. (HR.
Ahmad)
c.
Larangan
Bersentuhan
Bersentuhan kulit tanpa penghalang menjadi
rangsangan pertama timbulnya syahwat selain pandangan.
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan
wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia kepada pemimpin).” (HR.
Bukhari).
“Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan
jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal
baginya.” (HR.
Thabrani dengan sanad hasan)
d.
Larangan
Melembutkan Suara
Suara mendesah, lembut mendayu menjadi potensi
terfitnahnya hati. Suara bisa menjadi
kode suasana hati seseorang, tanda ketertarikan ataupun perasaan hati yang
terbalut syahwat
Allah berfirman dalan Alquran Surat Alahzab
ayat 32:
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ
كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ
فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا
Artinya:
Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain,
jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga
berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan
yang baik
e.
Menutup
Aurat
Islam
sangat memerhatikan batasan aurat baik bagi laki-laki maupun perempuan, dalam
berbagai situasi dan kondisi. Batasan
aurat dalam pergaulan laki-laki dan perempuan bukan mahram terdapat dalam QS
Annur 31
وَ
لاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ لْيَضْرِبْنَ
بِخُمُوْرِهِنَّ عَلَى جُيُوْبِهِنَّ
Artinya
:Dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya (muka dan telapak tangan). Dan hendaklah mereka menutupkan kain
kerudung ke dadanya.
Aturan
Syariat dalam berpakaian adalah:
* Menutup seluruh tubuh selain
muka dan telapak tangan
*Bukan menggunakan kain yang
tipis transparan
* Modelnya tidak memperlihatkan
lekuk tubuh
Tujuan darimenutup aurat adalah supaya muslimah lebih
mudah untuk dikenal, sehingga tidak terganggu.
f.
Larangan Menyengaja Menarik Perhatian Lawan Jenis (Bertabaruj)
Hal-hal yang dapat menarik perhatian lawan jenis antara lain:
* Berdandan berlebihan
* Memakai wewangian secara berlebihan
Allah berfirman
dalam Surat Alahzab ayat 33:
وَقَرْنَ فِي
بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ
وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ
وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
Artinya:
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan
bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah
shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah
bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan
kamu sebersih-bersihnya.
Hikmah
dalam Perintah dan Larangan Allah SWT
a.
Mencegah Jalan Masuknya Setan
Setan telah berjanji menyengsarakan anak cucu Adam saat
di dunia hingga kelak di dalam kehidupan
akhirat. Ia akan berjuang siang
dan malam, mengintai pintu yang bisa dia masuki untuk menyengsarakan kita.
Oleh karena itu, manusia harus dibentengi dari godaan
setan dengan menutup sebanyak mungkin pintu masuknya setan. Di antara pintu masuk yang menggelincirkan
manusia pada kehinaan adalah zina.
b.
Mendidik Nafsu
Nafsu dalam diri manusia memiliki dua peluang, terdidik
menjadi nafsu mahmudah yangsenantiasa mengajak pada hal-hal baik. Akan tetapi bila terbiar tanpa aturan, nafsu
akan berada pada sifat asalnya yaitu mengajak
pada kejahatan yang disebut nafsu mazmumah.
Larangan dan perintah Allah terkait pergaulan laki-laki
dan perempuan bertujuan mendidik nafsu agar cenderung pada keridaan Allah. Taat dan patuh pada perintah serta menjauhi larangannya.
c.
Menyelamatkan Manusia dari Kerusakan
Tanpa aturan dan tuntunan, manusia kan binasa, berbuat
sekehendak diri tanpa petunjuk.
Kebebasan yang dikehendaki nafsu adalah penjajahan pertama dan perampas
kemerdekaan fitrah kemanusiaan seseorang.
Maka manusia sangat butuh aturan.
Kita dapat menyaksikan kehinaan dan kesengsaraan yang
ditimbulkan oleh pergaulan bebas. Nasab
yang tidak terbela, hak pemeliharaan dari orang tua yang tidak diterima oleh
anak hasil perzinaan. Jatuhnya nama baik
adalah hukuman sosial yang cukup menyakitkan.
Bila dikaitkan dengan jaminan pendidikan anak dan masa depan mereka,
maka problematika sosial jangka panjang menjadi wajah buruk akibat pergaulan
bebas.
d.
Menuntun pada Kehidupan Akhirat
Akhirat adalah negeri abadi. Di sana
Allah SWT berkuasa mutlak atas nasib jin dan manusia. Tidak ada kawan mengadu, tidak ada kerabat
yang menolong selain amalan dan rahmat-Nya.
Janji kebahagiaan di akhirat hanyalah bagi mereka yang
bertakwa. Mereka itulah yang menjalankan
perintah dan menjauhi larangan-Nya. Jadi
tuntunan dalam perintah dan larangannya adalah kunci untuk mendapatkan
ketakwaan.

Komentar
Posting Komentar