Buku Solo III-Kumpulan Kisah Inspiratif Nubar Area I


BUKU SOLO III

ANTOLOGI NUBAR


KISAH INSPIRATIF I

  OLEH: KHADIJAH HANIF

(Kumpulan Antologi dari Event Nubar Area)

 

PTNA-SALAWU

2020-2021



DAFTAR ISI

 

1.            NUBARAREA_THE REAL SAHABAT_SAHABATKU ISTRI SUAMIKU

2.            NUBAR AREA_SAMARA BERSAMAMU_CINTA  PENUH  PENGORBANAN

3.            NUBAR AREA_ANAKKU INSPIRASIKU_AKHIRNYA AKU BISA

4.            NUBAR AREA_AKU INGIN LEPAS_RIBA ITU MENCEKIK LEHER IBUKU

5.            NUBAR AREA_AKU INGIN LEPAS_RIBA ITU MERUSAK PERSAUDARAAN

6.            NUBAR AREA_RATIH, DEMI EMAK PULANGLAH!

7.            NUBAR AREA_FINALLY I FOUND SOMEONE_IBADAH CINTA SEINDAH SURGA

8.            NUBAR AREA_KAMBING HITAM TAK SELAMANYA HITAM_“MAAFKAN KETELANJURKU, SAHABAT!”

9.            NUBAR AREA_SUSPEND  EPISODE_NYARIS

10.        NUBAR AREA_BERKAH DOA IBU_TETES KESADARAN DARI KETULUSAN DOA I

11.        NUBAR AREA_JEJAK MEMOAR_MY DAD, MY HERO

12.        NUBAR AREA_JEJAK MEMOAR_ JANGAN MENYERAH MALA (CATATAN PERJUANGAN SEORANG SAHABAT)

13.        NUBAR AREA_ HATI YANG TERTINGGAL_PERPISAHAN BIRU

14.        NUBAR AREA_SUPER MOM_KAYUHAN SEPEDA EMAK

15.        NUBAR AREA_INSPIRING LEADER_KEIKHLASAN MENGALAHKAN SEGALANYA

16.        NUBAR AREA_KALIAN LUAR BIASA_JALAN BERLIKU MENCARI GURU

17.        NUBAR AREA_GENERASI DI UJUNG BELATI _Selamatkan Anakku, Ya Rabb

18.        NUBAR AREA_STTT JANGAN GHIBAH!_GHIBAH, PERCIK API PERMUSUHAN

19.        NUBAR AREA_MENANTI SEKEPING HATI_PELABUHAN CINTA MARUTI

20.        NUBAR AREA_RINDU YANG TERHEMPAS_ LAATAQRABUZZINA BENTENG KESUCIAN PERGAULAN ISLAMI

 


21.         

NubarArea_The Real Sahabat_Sahabatku Istri Suamiku_Khadijah Hanif

SAHABATKU ISTRI SUAMIKU

 

          Menikah dan memiliki momongan menjadi impian bagi tiap pasangan suami istri.  Kehadiran anak-anak ibarat bunga bermekaran di tengah taman.  Anak-anak adalah cahaya mata di taman cinta kami berdua.

          “Sekarang kandunganmu udah berapa bulan, Bun?” tanya Mas Saif lembut sambil membelai perutku.

          “Baru satu bulan, Ayah.”

          “Bunda harus menjaganya, Sayang.  Buah cinta ini akan menjadi penerus perjuangan kita, orang tuanya.  Menjadi harta paling berharga bukan hanya di dunia tapi juga setelah kematian kita.  Bahkan menjadi peringan beban akhirat kita.  Jika kita mendidik amanah ini dengan benar.”

          Mendengar harapan Mas Saif, membuat kepalaku berdenyut.  Entah mengapa aku merasa mendidik anak bukan hal yang mudah buatku.  Dari dulu aku kurang suka dengan anak-anak.  Sebagai anak bungsu, aku cenderung kurang perhatian dengan anak-anak.

Ngidam di bulan-bulan awal membuatku sangat kerepotan.  Penciuman ini beratus kali lipat lebih peka daripada kondisi normal.  Makanan di depan mata seakan berubah pekat karena baunya terlalu menyengat.

          “Maaf Ayah, Bunda nggak bisa.  Bunda mau ke kamar mandi sebentar.”  Aku langsung lari menuju toilet dan seluruh isi perut terburai.  Rasa pahit memenuhi rongga mulutku, bau tidak sedap membuat kepalaku makin berat, semua seakan berputar dan aku tak ingat apa-apa lagi.

***

         Tiba-tiba aku sudah berada di atas dipan dan kasur bahkan ruangan serba putih.  Di tangan kiriku terlilit selang bening, infus.  Mas Saif ada di sampingku dengan guratan wajah cemas.

         “Aku pingsan, Ayah?  Aduh perutku sakit.”  Aku mengaduh, menggigit bibir menahan sakit di perutku.”

         “Tenang, Bun.  Sabar ya, Allah belum mempercayai kita untuk menerima amanah.”  Mas Saif berusaha menenangkan aku, tapi aku menangkap kegelisahan dan kecewa yang mendalam di sorot mata elangnya.  Dua alis tebalnya hampir bertemu menanggung beratnya keputusasaan.

          Aku memaklumi sepenuhnya rasa kecewa Mas Saif.  Kali ini sudah ketigakalinya aku mengalami keguguran,” Maafkan aku, Mas.  Aku bukan ladang yang baik, bukan kebun yang subur untuk menanam benih yang kau semaikan.”  Aku memendam dalam batin suara-suara yang membuat air mataku mengalir deras, tanpa aksara.

          “Sudahlah, Bun.  Allah akan memberikan pada saat yang tepat.  Pada momentum yang terbaik dan terindah.”  Tangan kekar Mas Saif mengusap linangan air mataku penuh kelembutan.  Menyingkirkan beban di dadaku yang telalumenghimpit.

          Di saat sedih seperti ini, aku raih gawaiku buat menghubungi Tania.  Sahabat terdekatku sejak SMP lima belas tahun silam.  Sempat terpisah saat SMA kemudian bersama lagi saat kuliah.  Kesibukan kerja merenggangkan kami dalam tiga tahun terakhir.

          Meskipun badanku terasa lemas, dorongan hati untuk mengobati lara cukup menguatkan aku.  Satu ibu jari kananku mulai membariskan huruf satu persatu.

          “Assalamualaikum, Tania.   Ini aku, Kania sahabatmu, masih ingatkah?”  Aku memulai chat WA.

          Seperti biasa Tania selalu merespon cepat kalau mendapat chat dariku.  Meskipun tidak sering berbagi kabar, tapi di saat-saat sangat penting kami akan saling menghubungi.

          “Waalaikumsalam.  Kamu Kania, mana bisa aku lupa?  Kamu selalu hadir di saat yang tepat.  Dari dulu zaman BBM sampai zaman gawai begini, kamu seakan pahlawan buat aku.  Semua masalah seberat apapun selalu bisa kita urai berdua.  Aku punya feeling, kamu sedang dalam masalah, benarkah?”

          “Tebakanmu selalu tepat, Tania.  Tapi bukan berarti aku kontek kamu saat ada masalah, lho.”  Aku mencoba menutupi rasa malu yang hadir tiba-tiba.  “Aku hanya ingin kamu datang ke rumahku.  Aku lagi sakit.  Keguguran untuk yang ketiga kalinya bukan hal yang mudah buat aku mengatasi trauma ini.  Aku masih dirawat di klinik bersalin.”

          “Siap, aku akan segera datang.  Shareloc alamat tempat kamu dirawat ya, Say.”  Tania yang dari dulu kukenal gesit itu selalu saja alreadystock buat aku.

          Tania tinggal di kota kabupaten sebelah.  Jarak dari tempat kerjanya dengan tempat tinggalku dapat ditempuh dalam waktu satu jam.  Kalau menaiki kendaraan pribadi akan lebih cepat.  Aku hanya ditemani Mas Saif dan Bunda Rina, ibu mertuaku.

          “Assalamu’alaikum, Kania.”  Sosok tinggi semampai dengan setelan hijab syari memasuki ruang inapku.  Tania memakai masker senada dengan hijabnya.  Meskipun begitu aku sangat bisa mengenalinya dari suaranya yang khas.  Ingin sekali aku memeluknya, tapi masa pandemi menyekat kami dalam jarak aman. 

           Kami hanya bisa saling bergenggaman tangan.  Kehangatan persahabatan di masa SMP dulu seakan merayap di jari jemariku.  Rasa saling berterima kasih mengiringi ketulusan persahabatan kami.

           Dengan halus aku meminta Mas Saif untuk membiarkan kami berdua.  Sementara Bunda Rina sedang menunggu waktu Salat Magrib di musala

           "Tania, aku sudah tiga kali hamil dan selalu keguguran.  Sepertinya aku punya beban psikologis tiap kali hamil.  Kau tahu sendiri aku bukan tipe penyuka anak kecil kayak kamu."

           "Kania, tenang aja, kamu pasti bisa.  Dulu kamu sering ragu buat menjalani tugas-tugas  organisasi. Kamu merasa nggak bisa.  Dan ternyata kamu bisa melakukan yang terbaik."

           Aku tersenyum mengingat peristiwa di masa kuliah dulu.  " Iya, aku selalu bisa karena ada kamu di dekat aku. Aku tahu yang perfect itu kamu bukan aku."

           "Atau aku harus jadi babysitter buat bayi kamu supaya kamu tenang begitu?" tanya Tania meledekku.

 

            Aku menonjok lengannya, gemas." Nggakgitu juga kali.  Aku ingin kamu mendampingi aku buat Mas Saif.  Bersediakah kamu, sahabatku?"

            Tania terbeliak setengah tidak percaya dengan tawaranku ini.  Dia tidak pernah keberatan untuk membantu apapun kesulitanku tapi permintaanku kali ini sangat mengagetkannya.  Mata bekelnya seakan mau keluar dari tempurungnya.

           Aku berhenti membicarakan permintaanku itu.  Aku alihkan pada perbincangan yang lain.  Namun Tania mengembalikan perbincangan pada permintaanku.

           "Pantesan kamu mengajakku berpoligami.  Semalam aku mimpi duduk di samping kiri Mas Saif dan kamu di samping kanannya."

           "Persis, aku juga mimpi hal serupa tapi seminggu yang lalu.  Aku mencoba memaknai mimpi itu.  Apakah ini berarti kita harus membina dua cinta dalam satu atap? Makanya aku istikhrah dan jawabannya Mas Saif serahkan semua pada keputusan kita."  Aku menandaskan niat baikku pada sahabat karib di depanku ini. 

           Tania menanyakan filosofi di balik poligami yang akan kami bangun.  Lalu aku menjawab sesuai apa yang diungkap Mas Saif, sesuatu yang membuat aku makin makin bertekad bulat buat mempraktikkannya.

           “Mas Saif bilang, yang pertama mesti niat lillah. Bahwa ada perintah di balik poligami ini.  Bahwa tiap keimanan harus dibuktikan, bukankah tidak sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.  Poligami adalah tester  terbaik  mengetahui kecintaan seseorang pada saudaranya.

            Yang kedua niat membela agama Allah dan Rasulnya.  Poligami dianggap titik lemah agama ini dengan tuduhan merendahkan wanita, memihak pada dominasi pria di atas wanita.  Belum lagi tuduhan terlalu keji terhadap Rasulullah yang membawa ajaran berpoligami sekaligus sebagai pengamalnya.  Satu-satunya cara efektif menjawab tuduhan mereka adalah dengan melawan praktik poligami salah dengan poligami salih sesuai sunah.  Jadi poligami bagian dari perjuangan agama fii sabilillah.

            Ketiga, pendidikan ruhani melalui poligami sangatlah banyak. Diantaranya menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada pria, mengasah ketajaman akalnya.  Pada diri wanita, poligami dapat mendidik sembilan napsu wanita.  Iri dengki, kesombongan, bangga diri, merasa diri lebih baik dari orang lain.  Kikir enggan berbagi, mementingkan diri sendiri yang berawal dari cinta dunia.  Bukankah di luar sana banyak wanita yang harus dibela.”

           Aku memberikan kuliah poligami tiga SKS pada Tania.  Buah diskusi kami selama dua tahun pernikahan.

          "Aku tertarik dengan point kedua, Kania.  Sangat masuk akal dan menantang keinginan berpetualangku. Tapi aku minta waktu satu pekan buat istikharah.  Bagaimanapun nggak mudah membuat keputusan yang anti mainstream begini, Kania.  Pandangan miring masyarakat tentang poligami adalah tantangan terbesar.  Belum lagi berbagai pertanyaan orang tua.  Tapi ada hal yang akan sangat membantunya meringankan penentangan orang tuanya, satu kartu kunci, permintaanku sebagai istri pertama.

***

           Acara lamaran menjadi moment istimewa. Bisa dikatakan kejadian langka istri pertama melamarkan istri berikutnya buat suami.  Aku merasa beruntung, diberkahi dan mendapat hadiah besar dari Allah SWT.  Tentu saja di balik itu semua, peranan Mas Saif dalam membagi kepahaman padaku. 

            Pernikahan negara dilangsungkan sebulan sesudah acara lamaran.  Sementara itu pernikahan agama langsung kami lakukan setelah lamaran.  Cukup dengan menghadirkan Tania dan Mas Saif sebagai mempelai, mahar, wali dari pihak Tania dan saksi.

            Saat surat Arrahman dilantunkan sebagai mahar, berdesir hatiku, ada rasa iri yang segera kupadamkan dengan kasih sayang buat Tania.  “Kania, jangan bikin malu diri sendiri.  Bukankah kau sendiri yang meminta kesediaan Tania.  Apakah setelah kau yang meminta, kau jua yang hendak menyudahi ikatannya?”. Aku berkompromi dengan diriku sendiri

           Entah dari mana, peristiwa aku melamar Tania cepat tersebar.  Padahal aku tidak pernah memberi tahu rekan-rekan kantorku.  "Kania, kamu bisa-bisanya mengambil langkah nggak biasa ini? Kamu gila, ya?!" Pertanyaan dari teman-teman kerja mencecarku di gawai. 

            Dengan santai aku menjawab keheranan mereka.  “Mas Saif menjelaskan semua tentang poligami.  Dia punya dalil yang jelas, argumen yang tak terbantahkan.  Dia juga punya kesabaran, pengertian, pengorbanan.  Sikap manis dan perhatian dia, membuatku memiliki cinta yang tak biasa.  Sebuah cinta yang dimaknai memberi tanpa meminta, berkorban tanpa menuntut pengorbanan, membeei pengertian tanpa meminta untuk dimengerti.  Sifat ini membuat kami merasa pantas memberi cinta tulus buatnya. Cinta itu pula yang ada antara aku dan Tania".

           "Jadi kamu nggak takut cinta Mas Saif nggak utuh kagi buat kamu?"

           "Cinta itu abstrak.  Nggak mengenal utuh dan tidak utuh.  Karunia dari Yang Mahacinta. Segenggam cinta untuk satu orang. Dan cinta seluas samudra untuk sejuta orang.  Mana yang lebih mencukupi dan memadai? Buatku makin banyak hati makin banyak cinta. Mengapa aku harus takut?"       

            Tak terasa dua puluh pernikahan kami.  Aku dikaruniai tiga anak dan Tania dua anak.  Kami saling rukun, berkasih sayang.  Bahkan anak-anak kami menjadi perekat, mereka begitu takut kehilangan kami berdua. Saat asam garam berumah tangga menghampiri kami, merekalah yang merayu kami untuk tidak ada luka.

            Terima kasih Tania kau telah lengkapi hidupku sebagai sahabat satu hati sekaligus istri satu suami.


 

CINTA PENUH PENGORBANAN

(Khadijah Hanif)

 

            “Biar Abi aja yang nyuci,” sahut suamiku saat aku menuju kamar mandi untuk mencuci pakaian.

            “Jangan, Abi, Ummi malu sama tetangga.  Masak membiarkan Abi ngerjain pekerjaan Ummi?”  Aku bergegas takut keduluan suamiku.  Dan ternyata pekerjaan rumah sudah diselesaikannya dengan rapih.  Aku tidak bisa memutar waktu untuk membuat pekerjaan itu aku kerjakan sendiri.   “Masya Allah Allah, terima kasih, Abi, semuanya udah beres.  Maafin Ummi, ya?” ungkapku dipenuhi rasa bersalah.

            “Tak apa, sesekali Abi yang kerja rumah.  Apalagi Ummi sedang nggak enak badan, kan?”  ucapnya ringan sambil tersenyum .  Padahal suamiku juga sedang batuk pilek.  Sakitnya pun lebih berat dari apa yang aku rasakan.  Setiap kali batuk, hernianya akan membesar dan ia harus menahan rasa sakit. 

            Aku ciumi tangannya sambil berkali-kali mengucap rasa terimakasihku.  Ia pun memeluk dan mencium keningku, mesra.  Aku menghela napas panjang, ada penyesalan, ada rasa sayang, rasa terimakasih, bercampur aduk jadi satu.

            Tidak terasa pernikahan kami sudah memasuki tahun kedua puluh tiga.  Berbagai kisah telukis di sepanjang waktu kami bersama.  Ada suka duka, pahit manis selayaknya perjalanan hidup manusia.  Akan tetapi kebersamaan, saling pengertian dan  perasa cinta membuat kami mampu melalui setiap fase dengan memohon pertolongan hanya pada-Nya.

            Ada satu hal yang kental aku rasakan dari suamiku, dia tipe orang yang romantis.  Dia bisa bermesraan kapan pun saat kami hanya berdua.   Alhamdulillah aku bisa mengimbangi sikap romantisnya sehingga ia tidak merasa aku abaikan.

            Sebaliknya, aku adalah tipe istri yang tidak ingin membebani suami.  Segala kepahitan lebih baik aku telan sendiri daripada aku bagi dengan suamiku.  Kebahagiaanku justru saat melihatnya bahagia.  Itulah yang membuat hampir semua kerja kantor, organisasi dan bahkan naskah khutbah  di beberapa majelis selalu berusaha aku kerjakan.  Itu juga yang membuatku berusaha menutupi kebutuhan keluarga selama aku mampu, aku akan meminta jika semua jalan sudah tertutup.

            “Ummi, minta uang buat kegiatan,” ucap anak sulungku di seberang sana.  Wa-calling yang paling sering aku terima dari anak-anak kami yang semuanya sudah kami pesantrenkan.

            “Sabar, banyak berdoa, baca Waqiah banyak-banyak.  Semoga Allah beri kemudahan buat kita.”  Jawaban seperti itu aku biasakan untuk anak-anakku supaya mereka menyadari semua kemudahan berasal dari pertolongan Allah SWT.

            Aku memutar otak, permintaan anak-anak untuk kegiatan di luar budget pasti akan membebani suamiku.  Jalan pintas yang paling mudah adalah meminta pada bendahara kantor.  Aku mengambil gaji lebih awal untuk dipotongkan dari gaji bulan depan.  Kadang aku gunakan uang pemberian ibuku, hasil panen sawah peninggalah almarhum bapak, atau apa saja yang penting suamiku tidak banyak terbebani.

            Rasa cinta yang menggumpal di dadaku ini aku rasakan sebagai karunia besar dari Allah SWT.  Tanpa itu aku tidak akan merasa bahagia.  Kadang aku bertanya, adakah ia memiliki rasa cinta sebesar cintaku padanya?  Perjalanan waktu membuktikan cintanya padaku lebih dari cintaku padanya.

            “Abi, bagaimana kalau kita mencoba meniru rumah tangga Rasulullah?” tanyaku suatu hari dengan serius.

            “Maksud Ummi apa?”  Suamiku balik bertanya heran.  “Bukankan kita sudah berusaha menjalankan sunahnya?” imbuhnya.

            “Maksud Ummi, Ummi ingin menghadiahkan satu lagi bidadari buat Abi.  Ummi sudah melakukan pendekatan pada Ukhti  Nadia.”

            Ekspresi suamiku datar atas apa yang aku rencanakan untuknya.  Kami memang terbiasa mendiskusikan tentang keluarga poligami.  Cara hidup berpoligami memang tidak asing bagi kami.  Para guru, ustaz dan masayikh kami melakukannya.  Mereka pun memberikan contoh yang baik tentang cara hidup yang telah lama dirusak oleh praktisi poligami yang tidak sesuai sunah.

            Seandainya suamiku berminat niscaya dia akan segera menanggapi niatku dengan meminta Ukhti Nadia pada orang tuanya.  Akan tetapi dia tidak pernah punya niat untuk menikah lagi.  Padahal aku sudah memilihkan seorang akhwat salihah dan penghafal Alquran.  Aku membayangkan keluarga ini akan lebih lengkap dengan hadirnya seorang hafizah yang turut mendidik anak-anak kami.  Semuanya aku serahkan pada Allah SWT.  Mungkin kami belum mampu membangun rumah tangga seatap bertabur cinta dengan hadirnya istri kedua.

            Aku merasakan ada kekecewaan terselip dalam lembar hatiku.  Cita-citaku memberi hadiah  terindah kandas oleh tanggapan suamiku yang hambar.  Tapi aku berusaha meredam kecewa ini dengan rasa syukur.  Bukankan dengan memiliki lebih dari satu istri akan membuatnya bertambah beban dan tanggung jawab.  Aku merasa iba juga bila beban hidupnya bertambah berat.

            “Abi, kenapa nggak mau berpoligami.  Bukankan menghidupkan sunah Rasulullah akan mendapat ganjaran seratus pahala syahid?” tanyaku serius.

            “Abi percaya dengan ketulusan Ummi, tapi entah mengapa Abi mengkhawatirkan perasaan Ummi.”

            “Abi nggak percaya atas ketulusan hati Ummi?”

            “Bukan begitu, Abi yakin selama ini Ummi selalu qanaah.  Tapi kita tidak tahu dengan sifat Ukhti Nadia ke depannya.  Apakah dia juga mau diajak hidup sederhana, apa adanya?  Kita bukan keluarga kaya dan berlebih.  Allah memilih rezeki yang pas-pasan buat kita.  Pas butuh pasti ada.  Itu pun harus kita iringi dengan rintihan dan doa.  Baru Allah datangkan dari jalan yang tidak terduga.”

            “Bukankan ada salah satu pintu dibukakannya rezeki itu dari menikah, Abi?”  Aku terus merayunya untuk membukakan hatinya buat wanita lain.

            “Itu benar, tapi kita juga harus menjaga hati anak-anak kita.  Apakah mereka siap dengan ucapan teman-temannya kalau abinya punya istri lagi?  Budaya kita masih jauh dari menerima poligami, Ummi.  Apalagi masyarakat kita dicekoki dengan cerita dan sinetron yang selalu mendiskreditkan ibu tiri.”

            Berbagai macam cara aku lakukan untuk membuatnya percaya diri melamar wanita lain.  Bahkan aku sanggup untuk menyediakan mahar dan acara lamarannya meskipun sederhana.  Tetapi lagi-lagi ia menolaknya.  Sebagai timbal baliknya  ia makin bersikap mesra denganku. 

            Memasuki usia kepala lima, kasih sayang itu tidak berkurang tapi makin bertambah.  Aku kadang khawatir tidak akan mampu mengimbanginya saat menopause.  Ah, aku tidak ingin jauh berprasangka buruk atas apa yang belum terjadi.  Sesungguhnya Allah bersama prasangka hamba-Nya.

            Sampai saat ini aku yakin perasaan cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.  Dimanapun kami berdua singgah, kesempatan bercinta selalu hadir.  Setiap kami melakukan ibadah cinta, dia selalu ingin aku mendaki hingga puncak kebahagiaan.  Ia takkan pernah rela mendahului kebahagiaanku.  Di sinilah cinta penuh pengorbanan aku persembahkan sekali lagi untuk membalas cinta dan pengorbanannya.  Ah, qku tak mampu mengungkapkan secuil rahasia bahagiaku ini pada siapa pun kecuali pada Tuhanku saja.

            Mungkin orang menilai kebahagiaan dalam kepura-puraan adalah kebahagiaan semu.  Akan tetapi tidak demikian dengan prinsip hidupku.  Kebahagiaan adalah saat melihat orang yang kita cintai menemukan kebahagiaannya.

            Rasa cinta ini kadang menyiksaku juga, yaitu saat orang lain menyakitinya.  Aku akan dengan mudah meradang membela kehormatannya.  Berkali-kali rasa sakit itu singgah di hatiku saat ada orang yang melukai hatinya.

            Suatu ketika ada prahara di tempat kami mengabdi dan mewakafkan jiwa raga, Pesantren Amarul Wustha.  Ada perombakan besar-besaran di tubuh yayasan.  Kondisi pancaroba membuat semua kegiatan harus tetap berjalan, suamiku mendapat dua belas amanah kegiatan dalam satu tahun.  Aku all out dalam membantunya.  Mulai dari administrasi hingga pelaporan kegiatan.  Alhamdulillah Alwustha bisa terselamatkan.  Hanya saja keberhasilan suamiku berbuntut iri dengki dari orang-orang yang tidak senang melihat keberhasilannya.

            “Mana semua laporan kegiatan dalam satu tahun ini,” tantang Pak Hadi selaku bendahara Yayasan Amarul Wustha.  “Jangan menjadi benalu di pesantren ini.  Mengambil keuntungan dan kesempatan memperkaya diri.”

            Aku adalah orang yang paling sakit dengan tuduhan itu.  Aku yang paling tahu setelah Allah dan malaikat-Nya tentang keuangan yang dipegang suamiku.

            “Ini apa lagi.  Mengapa pengasuh santri bisa mendapat tanggung jawab mesin fotokopi?  Harusnya bagian unit usaha,” cecar Ibu Naila tak kalah sengit.

            “Pengurusan mesin fotokopi itu bukan keinginan saya tapi ada SK dari pimpinan pondok.”  Suamiku menjawab datar.

            Pimpinan pondok mengernyitkan dahi, “Saya tidak merasa mengeluarkan SK tanggung jawab fotokopi pada Ustaz Sabri.”  Aku sudah menduga pasti aka nada drama cuci tangan.

            “Ummi tolong ambilkan SK Abi di rumah.  Semua yang berkaitan dengan pekerjaan Abi satu tahun ini,” pinta suamiku dengan wajah tenang.

            Aku segera mencarinya di rumah.  Qadarullah aku tidak menemukannya.  Aku ingat salinan SK ada di kantor administrasi.  Sore itu aku bergegas ke kantor Tata Usaha.  Alhamdulillah ada Ibu Halimah di sana.  Orang yang paling baik di pesantren ini.

            “Ibu, mohon maaf, bisa minjam salinan SK suami saya?”

            “Tadi ada yang pesan SK Ustaz Sabri jangan dikasih ke siapa-siapa.  Hal ini untuk menyelamatkan kehormatan pimpinan.”

            “Justru kejujuran ini akan menyelamatkan bapak pimpinan dari murka Allah.   Keadilannya akan menyelamatkan pimpinan dari siksa akhirat.  Tolong ya, Bu.  Saya pinjam sebentar saja.”  Aku terus membujuk sebisaku.  Ibu Halimah orang yang hanif, ia memberikan lembaran SK itu.

            Aku segera membawa berkas itu ke pertemuan.  Senyum cinta, terima kasih, kebahagiaan terpancar saat suamiku menerima lembaran itu.

            Satu persatu SK tugas dipertunjukkan suamiku di hadapan para pengurus yayasan.  Semua tertunduk dalam diam.  Justru aku yang merasakan sakit hati sangat dalam atas perlakuan mereka pada suamiku.

            “Ummi, tak baik membiarkan hati luka berkepanjangan.  Allah akan melihat hati kita penuh guratan rasa sakit dan kekeruhan dendam.  Biarkan saja yang sudah berlalu, kita lupakan kesalahan sesame.  Bukankah Allah sudah memberikan pembelaan-Nya pada kita sore itu?”  Ucapan bijaknya seakan oase di padang pasir nan gersang.  Aku peluk suamiku penuh cinta.

            Terima kasih Tuhan, Kau karuniakan cinta penuh pengorbanan pada kami.


 

AKHIRNYA AKU BISA

By: Khadijah Hanif

 

            "Kamu pingin kuliah?  Jangan mimpi, deh!  Kuliah itu mahal butuh biaya besar.   Aku aja nggak berani bermimpi!" ledek Kang Eman saat aku mengungkap harapanku setelah lulus SMA.  Kalimat iu seakan selalu basah di telingaku.  Aku sulit melupakannya.

            Sejak mendengar ucapan itu,  hatiku makin ciut.  "Benar juga, buat apa aku kuliah kalau hanya membebani orang tua.   Ibu sudah makin tua dan sakit-sakitan sementara ayah belum juga kembali dari perantauan.  Kebutuhanku banyak ditanggung kakak sulungku, Kang Mahfuz,"gumamku lirih.

            "Eh, Surya,  ngapain sendirian di sini.   Sebentar lagi bel masuk.  Biasanya kamu belajar.  Ini malah ngalamun!"  Lukman mengagetkanku.   Ya, aku hilang semangat sejak kakak kelasku mencibir cita-citaku.  Biasanya di saat-saat penilaian akhir seperti ini aku selalu berusaha keras mempertahankan ranking pertamaku.  Aku pikir buat apa aku terlalu serius toh aku nggak mungkin bisa kuliah.

            Saat pembagian rapot pun tiba dan aku kurang bersemangat menerimanya.  Paling-paling bakal terjun bebas.  Boro-boro tiga besar,  rasa-rasanya bisa masuk sepuluh besar juga sudah beruntung banget.  Panggung samenan tertata megah,  hasil kerja keras anggota OSIS yang juga panitia samen, tetepi terasa hambar.  Tidak ada yang istimewa di sana.

            Tanpa darah aku mengikuti acara ini.  Apalagi kedua orang tuaku tidak bisa hadir.  Rasanya aku ingin segera pulang.

            "Acara selanjutnya adalah puncak dari acara samen kita, yaitu pengumuman siswa berprestasi dan pembagian penghargaan."  Pembawa acara menyampaikan agenda selanjutnya.       Terselip rasa sesal, seandainya aku tetap bersungguh-sungguh belajar, setidaknya aku masih bisa berbangga di hadapan seseorang yang singgah di hatiku, Amalia.

            "Peringkat ketiga Kelas sebelas MIPA satu diberikan pada Ananda Susi Sulastr.  Ananda Susi Sulastri dimohon menaiki panggung.  Selanjutnya peringkat kedua diraih oleh Ananda Yusuf Efendi.  Kepada Ananda Yusuf dipersilahkan menaiki panggung.  Dan yang terakhir, peringkat pertama diraih oleh Amalia Fauzunnisa.  Kepada Ananda Amalia kami panggil untuk menaiki panggung samen."  Suara tepuk tangan riuh rendah mengiringi senyuman orang-orang yang berbahagia saat ini.

            Pengumuman dari MC menegaskan kebenaran dugaanku.  Semua sesuai dengan pengorbananku yang ala kadarnya di akhir semester ini.  Aku makin tenggelam ke dasar impianku untuk mengenyam pendidikan tinggi.

            "Surya, kamu nggak asik lagi deh sekarang," sapa Amalia menghentikan langkah gontaiku.

            "Emang aku bukan Surya yang kau kenal dulu, Lia. Kita nggak bisa lagi berkejar peringkat di kelas.”  Aku menjawab sekenanya sambil berusaha menyelami perasaannya.

            "Kenapa begitu?" Aku membiarkan Amalia penasaran.  Gadis hijaber itu memacu langkah bersama sahabat karibnya, Nuria,  meninggalkanku berjalan di koridor sekolah sendirian.

            Di gerbang sekolah, seseorang meraih tanganku yang kebas oleh rasa lelah.  Aku mengarahkan pandanganku pada pemilik tangan itu, ternyata Pak Sumardi, guru BP-ku.

            "Surya, ikut bapak sebentar.  Ada yang ingin saya sampaikan." 

            "Hmmm... Pasti Pak Mardi akan menyoal prestasiku yang terjun bebas," batinku, "Iya, Pak. Ada apa, ya?" tanyaku pura-pura beloon.  “Saya nggak melanggar peraturan sekolah, Pak

            Pak Sumardi memang sangat mahir dalam mengorek permasalahan anak bimbingnya.  Meskipun aku baru kali ini diajak berdialog dengan beliau, aku tahu bagaimana teman-teman sekelompok bimbingan bisa keluar dari permasalahan masing-masing.

            Kami berjalan menyusuri koridor menembus arus anak-anak yang  pulang menuju gerbang sekolah, menuju ruang konseling.  Ruang yang belum pernah aku masuki karena aku tak pernah mengalami masalah serius.

            "Surya, saya tahu nilai-nilai kamu bagus selama ini.  Prestasimu juga selalu menonjol. Di bidang akademik kamu tidak pernah lenyap dari tiga besar.  Dalam bidang olah raga juga kamu tim inti volly sekolah kita.  Pasti ada penyebab yang cukup meresahkan hatimu."  Semua dugaan Pak Sumardi membuatku mati kutu, tak bisa mengelak dan membenarkannya.

            Tanpa merasa dipaksa dan malu untuk curhat, aku mengungkap pergolakan batinku yang cukup mengganggu selama ini.  Guru favorit anak-anak bermasalah itu mendengarkan kesahku dengan sabar.  Beliau tidak memotong ceritaku sedikitpun.  Seakan ia menikmati ceritaku..

            "Bapak bisa turut merasakan kegundahan kamu, Surya.  Apakah kamu masih punya keinginan kuliah?"

 

            Aku mengangguk dan tertunduk dalam.

            "Bapak ada kawan yang menjadi salah satu pengelola Dompet Dhuafa. Bapak akan coba menghubungi beliau.  Semoga ada jalan rezeki dari Allah SWT untuk kamu.  Banyak-banyaklah berdoa dan jangan pernah putus asa.  Karena Allah tidak akan menyia-nyiakan doa dan ikhtiar kita.  Kalau ada yang mencibir keadaan kita, jadikan itu cambuk untuk memperbaiki dan mengubah keadaan.  Kalau perkataan orang mudah mengubah sikap dan tindakan kita, berarti kita belum menemukan keikhlasan lillah."  Nasihat Pak Sumardi begitu menyejukkan dan menghujam di relung-relung kalbuku.

            "Insya Allah, Pak, nasihat Bapak akan saya jadikan penyuluh semangat saya.”

            Semangatku pulih semula, seperti tanaman layu yang tersiram air hujan semalaman.

            "Nah, gini, dong!  Sahabatku yang asyik is reborn,”  ujar Amalia lucu menanggapi pulihnya semangatku dalam segala hal.

            "Reborn gimana, Lia, aku biasa-biasa aja, kok!"  Aku mengelak dari tuduhannya yang tak bisa kupungkiri itu.

            "Semua orang juga tahu kamu berubah, seperti...  Orang yang sedang patah hati," celoteh Nuria.

            "Cie...cie...boleh, dong, kita tahu pematah hati Surya," lanjut Nita makin tidak jelas.

            Aku jengah juga duduk di antara mereka bertiga, para anggota rohis yang cukup gaul itu.  Lebih baik aku menghindar dan kembali menikmati hobbi lamaku, ke perpustakaan.

            Di gudang ilmu itu aku melihat Kang Eman sedang memilih buku perpustakaan.  Sejak cibiran itu terlontar seakan ada tembok besar penghalang antara kami berdua.

            Aku segera mencari tempat tenang dan menyendiri.  Aku tidak mau mengambil risiko kehilangan semangat oleh kata-katanya yang panas.

            Tidak terasa satu tahun berlalu.  Kelulusan sudah di depan mata.  Aku kembali meraih predikat terbaik seangkatanku.

            "Surya, kamu masih ingat janji saya?" tanya Pak Mardi begitu aku turun dari panggung.

Aku hanya tersenyum," kamu terekomendasi untuk mendapat beasiswa Dompet Dhuafa, sekolah gratis dimana pun kamu diterima kuliah, di kampus negeri ataupun swasta.  Ini surat rekomendasinya,  kamu sebagai utusan sekolah memenuhi undangan Dompet Dhuafa."

            "Terima kasih banyak Pak, ada syarat lain yang harus saya penuhi, Pak?" Aku menerima sepucuk amplop itu dengan hati riang, penuh rasa syukur.

            "Kamu harus tinggal di masjid Baitus Salam dan mengikuti program tahfiz.  Syarat kedua yang kedua taatilah ustaz Salehudin sebagai pembimbing sekaligus guru di Baitus Salam.  Kerjakan apa yang menjadi amanahnya.  Insya Allah semua maslahat untukmu.

***

            Dua syarat yang dikemukakan Pak Sumardi berusaha aku jalani.  Membagi waktu antara kuliah, menghafal Alquran dan berkhidmat pada Ustaz Saleh tidaklah berat buat aku.  Beruntung selama sekolah aku terbiasa sibuk dengan kegiatan mulai dari organisasi, ekstrakurikuler, belajar dan membantu orang tua yang kesusahan dari segi ekonomi dan kesehatan. 

            Satu tahun, dua tahun berlalu sesuai izinNya.  Hafalanku perlahan tapi pasti makin bertambah.  Targetku tidak terlalu muluk, mencapai sepuluh juz hingga lulus pun sangat aku syukuri. 

            Kedekatanku pada Ustaz Saleh juga memberikan pengalaman sangat berharga.  Aku banyak bertemu dengan orang-orang hebat di tanah air.  Jaringan yang luas dan tidak aku ketahui sebelumnya membuka peluang pada dunia marketing yang aku rintis sesuai jurusan kuliah yang aku ambil.  Semua tak lepas dari berkah hafalan yang aku punya.  Pada acara yang mengundang Ustaz Saleh sebagai pembicaranya, maka aku sering tercurahi berkah untuk membaca Alquran.

            Akhirnya kelulusan itu tiba.  Aku mendapat nilai sangat memuaskan. 

            “Surya, Bapak memberi kebebasan pada kamu.  Setelah kelulusan ini kamu boleh terus ikut Bapak dan menambah hafalan, atau lepas dari Bapak untuk meniti karir di asuransi syariah yang kamu rintis.”  Kalimat bijak itu makin menambah karisma beliau sebagai seorang ulama.  Sangat bijak dan meneduhkan.

            “Saya tidak bisa berkata-kata untuk semua kebaikan dan ketulusan yang Bapak berikan.  Ilmu, kesempatan, kebutuhan dan apapun yang saya terima di sini akan selalu saya kenang dan saya syukuri sebagai karunia Allah SWT.  Sebenarnya saya berat untuk berpisah dari Bapak, tapi saya juga merasa terlalu jauh menyita kasih sayang bapak pada putra kandung Bapak sendiri.  Rasanya saya harus tahu diri dan turut merasakan apa yang diinginkan keluarga Bapak.”  Dengan sangat terpaksa aku mengungkapkan kegundahanku, yang sebenarnya juga disadari oleh Ustaz Saleh.

            Aku berpamitan pada keluarga Ustaz Saleh juga pada santri Baitus Salam.  Perpisahan yang menyayat hati tapi menjadi sebuah keniscayaan sebagai pasangan dari pertemuan.

            Asuransi syariah yang aku rintis bersama beberapa teman kuliahku makin berkembang.  Aku menjadi motivator pada acara-acara promosi asuransi syariah ini.  Jam terbangku makin tinggi seiring karunia yang Allah limpahkan.  Bukan hanya kota-kota besar di tanah air tetapi juga merambah ke manca negara.

            “Assalamualaikum.”  Seseorang menyapaku, sudah lama aku tak mendengarnya, lebih dari tujuh tahun yang lalu. S uara yang selalu aku hindari karena takut melelehkan semangatku.

            “Kang Eman, Kakang ada di sini?”  Aku menatapnya iba.  Sosok itu terlihat lusuh dan kurus.  Spontan aku raih jabat tangannya dan aku peluk dengan tulus.  Lebur semua sakit yang dulu pernah terselip di lembaran hatiku.

            “Maafkan saya, atas segala ucap yang mungkin dulu melukai Pak Surya.”  Kalimat itu begitu sejuk membasuh bersih semua rasa sakit yang bersisa.

            “Kang Eman jangan panggil aku Pak Surya, aku masih Surya yang Kang Eman kenal dulu.  Sekarang kita bincang-bincang di rumah aja.  Biar leluasa.”  Aku menuntun tangan kasar yang kekar itu.  Jejak-jejak kerasnya kehidupan ada di sana.  Bagaimanapun aku bersyukur dengan apa yang pernah terjadi antara aku dan Kang Eman.  Kalau tidak, mungkin Pak Sumantri tidak pernah menawariku beasiswa yang menjadi wasilah keberuntunganku hingga saat ini.

            ‘Ala kulli hallin Alhamdulillah.


 

AKU INGIN LEPAS

RIBA ITU MENCEKIK LEHER IBUKU

 

            Sudah tiga bulan aku tidak menengok ibuku.  Kesibukan kantor benar-benar menyita waktuku untuk sekedar menengok kedua orang tuaku.

            “Dik, kita sowan ibu-bapak, yuk!” ajakku pada Rania, istriku.  Kami menikah setahun yang lalu tapi belum dikaruniai momongan.

            Sepulang dari kantor perusahaan obat-obatan tradisional terbesar di tanah air, istriku mengingatkanku tentang rencana menengok kedua orang tuaku.  Akupun segera bersiap-siap, mumpung week end kami punya dua hari untuk berbakti pada orang tua.

            Perjalanan kali ini tidak seperti biasa, aku sangat rindu dan ingin bertemu keduanya.  Entah mengapa.

            “Mas, saya mau bicara, tapi Mas Widi jangan marah, ya.”

“Tumben kamu minta izin buat bicara.  Biasanya juga ceplas-ceplos.  Dan aku suka itu.”  Aku cubit dagu kekasihku itu mesra.

“Kata ibuku, apa nggak sebaiknya Mas Widi resign dari kantor?”  Seperti mendapat tamparan aku mendengar pertanyaan Rania.  Tapi aku coba mendengar apa keinginan Rania dan keluarganya. “Soalnya ada subhat di tempat kerja Mas Widi.  Bayangkan bank hanya akan hidup bila ada yang menyimpan dan meminjam .  Orang yang menyimpan enak-enak menunggu bunga sementara peminjam harus memutar otak mengembalikan pinjaman yang sering kali bocor sana-sini untuk memperlancar usahanya.”

Aku mengiyakan dalam hati apa yang dikeluhkan Rania.  Akan tetapi nafsuku berkelit selincah mungkin.  “Rania, bank hanya membantu menyediakan modal.  Kalaupun ada bunga, bukan yang berlipat-lipat seperti yang disebutkan dalam Alquran.  5% itu sangat ringan.  Justru bank menyelamatkan mereka dari jerat rentenir.  Bayangkan kalau mereka meminjam dari rentenir bisa bunganya 100% bahkan 200%.”

Penjelasanku cukup untuk membungkam permintaan Rania.  Aku merasa menang untuk saat ini.

Tiga jam perjalanan kami, akhirnya sampai juga di plataran rumah peristirahatan ibu dan bapakku di masa tuanya.  Rumah yang penuh dengan kenangan.  Memori masa kecilku berdatangan, silih berganti.

Aku memarkir mobil, mematikan mesin dan mnguncinya stir.  Turun dengan hati berdebar-debar ingin segera memeluk ibu dan bapak.

“Mas, lihat sini!”  Rania bicara setengah teriak.

“Ada apa sih, Rania, kamu bikin aku kaget aja!” ujarku sambil mendekati Rania

“Siapa yang menyegel rumah ini?”  Tanya Rania heran

Aku tidak kalah kagetnya dengan Rania.  Aku baca tulisan di dinding rumah “Rumah ini telah disegel oleh…..”  Nama sebuah bank tertera di sana.

“Jadi rumah ini sudah tidak dihuni lagi?” tanya Rania sedih.  Aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu.  Baru saja aku disodori permintaan resign, sekarang keluargaku sendiri yang menjadi korban riba.

“Kita ke rumah nenek saja.  Saya yakin ibu sama bapak ada di sana.”.  Kami mengendarai mobil kembali untuk mencari tahukeberadaan orang tuaku.  Ingin rasanya betanya ke grup wa keluarga.  Akan tetapi rasa malu mengurungkan niatku.  Akuputuskan untuk menelfon lewat jaringan selular biasa.  Usia ibu orangtuaku sudah kepala tujuh, tidak terbiasa menggunakan android yang aku belikan.

Terdengar suara di seberang sana. “Maafkan Bapak,  aku tidak bisa mengendalikan ibumu.”  Suara parau bapak makin terdengar tua.

“Kita bisa bicarakan masalah keluarga kita, Pak.  Yang penting Widi harus ketemu Bapak dan ibu dulu.  Bapak tinggal dimana sekarang?” tanyaku cemas.

“Kami di rumah nenekmu di kota.  Kamu di mana, Wid?”

“Aku sama Rania akan segera menemui Bapak dan ibu.”

Aku mengendarai mobil dengan lebih kencang.  Rania mengingatkan aku supaya lebih lambat, tapi rasa penasaran mengabaikan permintaan istriku.

Dengan gumpalan rasa di dada, aku cium tangan bapak dan ibu.  Tangan dan wajah keriput itu menyuguhkan teka-teki yang ingin segera aku pecahkan.  Apa sebenarnya penyebab rumah itu disegel?

Kami duduk di sofa tua yang tertata rapi di ruang tamu rumah zaman Belanda itu.  Rumah berpondasi tinggi.  Tatanan batunya masih khas rumah mewah tahun 1940-an.  Langit-langitnya tinggi, ruangannya luas.  Cat temboknya pun dibiarkan sama dengan saat pembuatannya, putih dengan bingkai jendela dan pintu berwarna biru langit.

“Kami meminta maaf sama kamu, Widi.  Juga pada anak-anak yang lain.  Seharusnya di usia kami, waktu dihabiskan untuk ibadah.  Mengumpulkan bekal menghadap Allah.  Tapi seorang mengajak ibumu bekerjasama jual beli permata.  Orang itu menjanjikan modal kembali dalam enam bulan, selebihnya tinggal menerima keuntungan.  Ibumu langsung percaya dan mengambil pinjaman ke bank.  Pihak bank seperti mendapat ikan pada pancingannya.  Tapi sayang seribu sayang seseorang yang mengajak bisnis itu membawa kabur uang ratusan juta itu.  Cicilan modal tidak kunjung datang.  Apalagi keuntungan.  Yang ada buntung.  Pinjaman di bank hanya bisa terbayar bunganya saja.  Pokoknya tidak berkurang sedikit pun.  Sampai akhirnya apa jaminan itu disegel pihak bank.”  

Bapak bercerita panjang lebar dengan rasa bersalah yang dalam.  Sementara ibu hanya bisa terdiam.  Wajah ibu dingin, ada ambisi di sorot mata berusia enam puluh lima itu.  Ibu tiri yang sudah aku anggap ibuku sendiri.

“Untuk kehormatan keluarga kita, biarlah Widi lunasi hutang ke bank.  Bapak dan ibu bisa pulang setelah semua urusan dengan bank selesai.”  Aku mengalah demi kebaikan keluarga kami dengan syarat ibu tidak mengulangi kembali kecerobohannya.

Terlihat wajah ibu berseri kembali seakan menemukan ekspresinya.  Aku agak ragu akankah ibu benar-benar bertaubat dari ambisinya selama ini.  Peristiwa ini bukan pertama, tetapi menjadi belitan riba terbesar yang menimpa ibu.

Aku bahagia, akhirnya bapak dan ibu kembali ke rumah besar kami.  Rumah itu aku ganti warna bernuansa putih apel dengan persetujuan bapak dan ibu.  Sementara pintu dan jendela aku pilihkan warna hijau pucuk daun.  Harapanku, semoga warna itu membawa suasana hati yang lebih bening dan luas.

“Mas, aku khawatir tempat kerjamu yang sekarang ini kurang berkah,” ungkap Rania, mengingatkanku pada permintaan ibu mertuaku untuk resign. 

“Aku juga sedang berusaha untuk mencari peluang baru Rania.  Tapi nggak mau aku mengambil risiko keluar begitu saja sebelum ada pengganti dari pekerjaanku yang lama. Tentu kamu bisa memahami alasanku, bukan?”

“Ketaatan pada Allah itu hal utama, Mas.  Insya Allah Dia akan menyediakan jalan-Nya.”  Rania terus mendesak dengan lembut.  Aku tak sanggup untuk marah menghadapi tutur kata halusnya. 

Entahlah, mungkin karena lemahnya iman yang membuatku berat mengundurkan diri dari bank tempat kerjaku.  Gaji puluhan juta dan kedudukanku yang makin mapan menjadi penyebab utamanya.  Kadang bisikan nafsuku berkata, “Siapa yang akan menjamin hari tua kedua orang tuamu kalau kamu kehilangan pekerjaan.  Lagi pula kamu menjadi andalan keluarga saat ada masalah.  Pengobatan ayah kamu, tebusan pinjaman ibu tiri kamu, semua hanya kamu yang bisa menyelesaikannya.  Bukan kakak-kakakmu yang hidup pas-pasan itu!” 

Siang itu aku pulang dari kantor lebih dulu, rumah besar ini begitu sepi tanpa kehadiran anak-anak.  Hambar rasanya rumah tangga ini.  Saat aku duduk melamun di sofa, gawaiku berbunyi.

“Assalamualaikum, Widi, bapak di rumahku.  Ibu pergi entah kemana.  Kalau mau ketemu bapak jangan ke kampung, ke rumahku saja.  Rumah kita sudah disegel lagi sama bank.  Aku nggak mau keluarga kita menjadi bahan cibiran tetangga di kampung.  Makanya aku kabari kamu secepatnya.”  Suara Mas Anwar dari jauh terdengar sengau.

Seperti tersambar petir di siang bolong, aku lunglai.  Haruskah aku menebus rumah itu untuk yang kedua kalinya?  Rasa capai sepulang kerja seakan ribuan kali lebih berat, penat sekali rasanya.  Apa yang harus aku katakana pada Rania.  Aku malu dengan pengorbanannya menambah kekurangan uang tebusan ke bank.  Haruskan aku meminta bantuannya lagi kali ini?

Aku tak mampu lagi berbuat apa-apa kecuali mengambil air wudu.  Bukan untuk salat lima waktu tapi untuk melepas semua beban di pundak ini.  Menyerahkan segalanya pada Yang Maha Memiliki. 

Seakan ada yang membimbingku di sela kepasrahan yang luar biasa ini.  Aku memilih mandi taubat untuk membasuh sekujur tubuh yang penuh dengan gaji jasa menjalankan sistem riba.  Perkataan Rania dan juga ibu mertuaku tentang pekerjaanku terngiang sangat jelas.  Aku menghanyutkan air mata penyesalan bersama tiap guyuran air pertaubatan ini.

“Rania, aku sudah menyiapkan surat pengunduran diriku ke kantor.  Mohon kamu dukung aku dengan posisiku sebagai pengangguran, ya, Sayang.”  Aku memulai perbincangan kami di meja makan pagi itu sebelum berangkat ke kantor.

“Alhamdulillah, benarkah, Mas?”  Rania membeliakkan matanya.  Ada binary indah di sana.  “Allah akan menjawab ketaatan Mas dengan balasan yang lebih indah.  Aku yakin itu, Mas,” ungkap Rania menyejukkan hatiku seakan oase di padang gersang.

Hari ini aku siap dengan melepas segala jabatan empuk di kantor.  Aku berniat memberi tahu Mas Anwar.  Belum sempat aku mengklik nomor tujuan, ada panggilan video call adikku, Kayla.

“Mas, rumah kita nggak jadi disegel.  Rekan bisnis ibu memenuhi janjinya.  Alhamdulillah Allah menyalehkan hatinya.”  Kayla membetiku kabar dengan wajah berseri-seri.

Aku langsung sujud syukur.  Aku makin yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang bertaubat dan ingin menyerahkan diri dengan penuh ketaatan padaNya.

***

Beratnya Dosa Riba

 

Berbagai istilah bermunculan untuk mengamuflase sebuah keburukan.  Misalnya saja brand yang keren untuk khamar, LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) untuk penyimpangan homoseksual, PSK(Pekerja Seks Komersial)  untuk pelacur, interest (bunga) untuk riba.  Semua kamuflase itu bertujuan memasyarakatkan keburukan agar tampak sebagai kebaikan.  Pencitraan melalui bahasa ini bertujuan mengaburkan makna sebenarnya dari sebuah kata atau istilah.

Ketika sesuatu yang buruk diperkenalkan dengan nama yang berbeda akan menimbulkan keraguan.  Sebagai contoh, riba yang akan kita bahas ini.  Apakah interest atau bunga itu sama dengan Riba?  Apa makna dan batasan sesuatu itu dapat disebut riba?

Salah satu makna riba adalah tambahan nilai hutang sebagai imbalan karena tempo pengembalian hutang yang ditangguhkan.  Riba jenis ini disebut Riba Annasiah, misalnya hutang dalam jual beli barang atau peminjaman uang.

Riba jenis ini diharamkan berdasarkan dalil  Alquran surat Albaqarah (QS:2) ayat 278-279.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ﴿٢٧٨﴾

 فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ﴿٢٧٩

Artinya:  Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allâh dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

Riba jenis kedua adalah Riba Alfadil (riba kelebihan), yaitu riba karena kelebihan pada barang-barang sejenis saat dipertukarkan.  Berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim, ada tujuh contoh riba dari pertukaran barang, yaitu emas dengan emas, perak dengan perak, bur (sejenis gandum) dengan bur, syair (sejenis gandum) dengan syair, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, harus sama (timbangannya), serah terima di tempat (tangan dengan tangan langsung). Barangsiapa menambah atau minta tambahan berarti dia melakukan riba, yang mengambil dan yang memberi dalam hal ini adalah hukumnya sama.

Islam benar-benar memelihara umat manusia dari ketidakadilan dan kekotoran riba, sehingga ancaman perbuatan ribu bukan main beratnya.  Ancamannya pun neraka, sebagaimana firman Allah SWT :

فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya: Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allâh. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Albaqarah:275)

            Hikmah diharamkannya riba sangatlah banyak, diantaranya Allah firmankan dalam Alquran bahwa Allah tidak menghendaki kekayaan hanya berputar-putar pada segelintir orang saja.  Yaitu pada mereka yang memiliki keberanian mengambil risiko usaha dengan meminjam modal di bank-bank riba. 

            Manusia memiliki dasar sifat buruk (fujur), cenderung serakah dan ambisius.  Pemberian modal yang tak terbatas melambungkan angan untuk memiliki kekayaan tanpa batas juga.  Dengan tekanan risiko uang dan bunga harus dikembalikan, mendorong peminjam memutar otak bahkan terjerat pada menghalalkan segala cara, mengeksploitasi tenaga kerja juga sumber daya alam.

            Target pengembalian hutang yang mengandung riba, mendorong pengusaha ingin meraup keuntungan sebesar mungkin dengan modal sekecil-kecilnya.  Prinsip ini sangat merusak alam.  Belum lagi dampak kerusakan sosial atas eksploitasi sumber daya manusia yang makin mengarah pada materalisme.  Pantaslah jika Allah SWT melarang riba, bukan hanya yang berlipat ganda tapi juga persentase sekecil apapun karena melanggar prinsip-prinsip keadilan.  Apalagi praktik riba yang main ambil aset saat pengembalian hutang tidak lancar.  Sungguh sangat jauh dari nilai keadilan bahkan kemanusiaan.


 

RATIH, DEMI EMAK PULANGLAH!

(by: Khadijah Hanif)

 

“Kamu harusnya bersyukur.  Gusti Allah wis maringi rahmat sing akeh.Wis pira cacahe anakmu kabeh?   Kenapa tidak seorang pun cucuku yang kau bawa?”   Sorot mata tajam ibu menguliti hati Ratih.  Hanya air mata yang bisa ia persembahkan buat orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Ibu.

Kowe kudu bisa momong atine wong tuwa.  Keriput di wajahnya selalu bertambah tiap kali kamu pulang tanpa suami dan anak-anakmu.”  Mbak Yu Ginah ikut-ikutan mengeroyok Ratih tanpa ampun.

***

Pernikahan dengan Wisnu memang menjadi dambaan Ratih.  Diam-diam dalam tiga tahun setelah Ratih lulus kuliah dan mendapat pekerjaan, ada seseorang yang hinggap di hatinya.  Tidak banyak alasan yang dapat Ratih rangkum hingga menjatuhkan pilihan pada lelaki itu.

Teman sekantor Ratih di perusahaan properti.  Wisnu Prasetya, sosok yang membuatnya kagum.  Bukan karena keramahan, romantisme, keakraban atau hal-hal lembut yang disukai perempuan.  Ratih menyukai ketegasan yang ditampakkannya saat menertibkan segala urusan kantor.  Manajer  yang berwibawa menurutnya.  Kaku menurut orang lain.  Tapi Ratih tidak peduli dengan penilaian orang tentang diri Wisnu.  Ratih  tetap kukuh dengan penilaiannya sendiri.  Segala bentuk kekaguman Ratih membuatnya ingin tampil sempurna di depan  Wisnu.  Semua tugas ingin Ratih selesaikan .  Ia bertekad menjadi yang terbaik di hadapan pujaan hatinya itu.

“Ratih, saya puas dan pas dengan hasil kerja kamu.  Saya bisa mempromosikan kenaikan jabatan untuk prestasi yang sudah kamu tunjukkan.”  Pujian dan janji jabatan yang Wisnu ungkapkan bukan sekedar pemanis bibir.  Dalam tiga tahun sebelum pernikahan mereka, Ratih telah mengalami beberapa pemindahan tugas yang lebih menjanjikan.

“Ratih, kantor kita sedang heboh.  Kamu tahu, nggak?”  tukas Kesih saat mereka berdua makan siang di kantin kantor.

“Aku kurang banyak ngegosip bareng temen-temen kantor, Kesih.  Kamu tahu sendiri, aku ketimbun tugas dari Pak Wisnu.  Selesai satu dokumen, dia akan memberiku tugas dokumen berikutnya.”

Rasa penasaran mengaduk-aduk hati Ratih tentang gosip di kantor menyangkut dirinya dan Wisnu.  Kesih mulai bercerita tentang suatu hal yang membuatnya malu.  Ada yang tahu detail rahasia hatinya.

“Aku dapat tugas dari Pak Wisnu buat mencari dokumen tiga tahun lalu, tentang detail kegiatan kantor kita.  Seseorang petinggi KPK menemukan penyimpangan keuangan yang dilakukan pejabat.  Nah, salah satu aliran dana yang pernah terendus KPK ke kantor kita.  Kamu jangan marah, ya.  Ternyata di gudang kantor itu ada diary kamu.  Maafkan aku dengan sangat terpaksa aku baca.”

Ratih terbeliak seakan mimpi di siang bolong.  Kesibukan kantor membuatnya lupa menyimpan baik-baik rahasia hati yang telanjur tertoreh pena.  Ratih benar-benar speechless dengan nasib naas yang menimpanya “Tahu bahwa rahasia hatinya diketahui orang lain.”

Ekspresi marahnya dituangkan dalam diam.  Kesih salah tingkah dengan respon negatif Ratih.

Segala daya upaya Kesih kerahkan untuk membuat Ratih tersenyum.

Ratih mencoba membongkar memori tentang diary yang pernah hilang.  Perlahan Ratih ingat kembali diary pink hadiah ulang tahun dari Mbak Yu Ginah.  Diary itu pernah dua hari membuatnya uring-uringan.  Mencari dan nihil.

Diary itu berisi kegiatan penting hariannya di kantor, curahan hati dan perenungan diri.  Ratih masih sangat ingat perasaannya tentang Wisnu.  Kekagumannya bukan hanya pada fisiknya yang mendekati ideal tapi lebih pada profesionalisme sebagai rekan kerja.

“Ratih, maafkan aku, ya.  Tapi tenanglah hanya aku dan Pak Wisnu yang tahu rahasia kamu.  Jadi kamu nggak perlu malu.”  Kesih mencoba menangkap rona merah jambu di dua pipi Ratih.  Ia sangat memahami perasaan Ratih.  Itulah yang menjadi alasan kedekatan mereka. 

“Justru aku nggak mau dia tahu.  Kalau cuma kamu, aku nggak keberatan.”

“Apa yang membuatmu keberatan, Ratih.  Bukankah ini kesempatan buat kamu keluar dari siksaan hati?  Aku menangkap ketulusan hati pada diarymu.  Sebagai teman terdekat, pantaskah aku membiarkan rasa hatimu hampa?”

Kemurnian kasih pesahabatan tercium kental pada ungkapan Kesih.  Ratih mencoba mengembangkan senyum.  Mencairkan kebekuan bersama harapan cinta yang akan terbalaskan.

“Aku nggak akan cerita ke kamu sebelum aku yakin kalau cintamu bakal terbalaskan, Ratih. I can guarantee.”

“Terimakasih untuk pengertianmu, Kesih.  Lalu gosip apa yang beredar di kantor?”

“Pak Wisnu akan melamar kamu.”

“Secepat ini, kah?  Lalu kenapa bisa jadi gosip temen-temen kantor?” tanya Ratih polos.

“Ratih, tiga tahun masih kamu anggap cepat?  Cukup sulit buat meyakinkan Pak Wisnu bahwa kamu gadis yang pas untuk dia.  Perjuangan aku membuahkan hasil.  Keperluan lamaran, aku yang memesankan buat kalian.  Lama-lama temen kantor pada tahu.”

Ratih merasa bersyukur dengan semua pengorbanan Kesih.  Siang itu Ratih menyadari pentingnya kehadiran sahabat sejati.

***

Kedatangan keluarga Wisnu mengagetkan keluarga Ratih.  Ratih belum sempat bercerita tentang rasa hatinya pada Sang Arjuna.  Hari itu juga setelah Kesih menyampaikan niat lamaran Wisnu, mereka sudah berada di depan rumah.  Secepat kilat. 

Ada tanya dalam hati Ratih.  Benarkah Wisnu tipe dambaannya?  Rasanya tidak.  Tidak ada kemesraan yang membuatnya  berbunga-bunga. 

Setahun, dua tahun, lima tahun bahkan hingga lima belas tahun, datar.  Meskipun begitu, lahir juga anak-anak mereka.   Juwita, Reza, Mufti, Farrah dan Zuma.  Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang lucu dan menyenangkan.

Semua kebahagiaan ini tak pernah lepas dari kehadiran Kesih.  Dia telah terlibat jauh dalam kehidupan pribadi mereka bahkan sejak sebelum pernikahan Ratih dengan Wisnu.

“Ma, kamu lebih cocok jadi istri kantorku daripada istri di rumah.  Semua urusan rumah tangga kita banyak melibatkan Kesih.”  Seakan sambaran petir kalimat itu menyerang Ratih.  Kesadaran akan keadaan ini menyeruak di relung kalbuku.  Ratih tidak bisa mengelak dan pasrah dengan penilaian Wisnu.

“Bukankah Papa yang meminta dia mengurus semuanya?  Dia sekretaris pribadi Papa.  Sementara aku sekretaris administrasi di kantor ini.”

Sekelebat senyum suaminya terbayang begitu mesra pada Kesih.  Bukan sekali dua kali.  Ratih tak pernah mendapatkan senyuman itu.  Senyuman itu berbeda.  Lebih dari senyum yang ia dapat saat tugas kantor terselesaikan rapih sesuai pesanan Wisnu.

“Ratih, ulang tahun Juwita yang ketiga belas sudah aku urus.  Keperluan syukuran jangan sampai mengganggu tugas kantor yang banyak menyita waktu kamu.”   Tawaran Kesih tak pernah  mampu Ratih tolak, demi kelancaran urusan rumah dan kantor.  Kesih seperti wanita lain dalam kehidupan rumah tangga mereka.  Bahkan anak-anak pun begitu dekat dengan Kesih.  Ratih dilanda cemburu tapi ia tak bisa mengelak dari keterlibatan Kesih. 

Bertubi-tubi tawaran jasa baiknya ternyiang di telinga Ratih, tentang syukuran tujuh bulan anak-anaknya, ulang tahun mereka, persiapan wisata bersama teman sekantor dan banyak hal lainnya.

Tiba-tiba dada Ratih sesak.  Selama ini Ratih hanya menganggapnya sebagai sahabat terbaik.  Tidak lebih.  Tapi setelah Wisnu mengungkit keterlibatan Kesih, ada rasa yang lain dalam hatinya.

“Ma, kamu tidak memperhatikan nasib sahabat baikmu itu?” tanya Wisnu di sela kesibukannya mengerjakan tugas kantor.

“Maksud Papa?” Ratih balik bertanya.

“Pernahkan kamu menanyakan kapan dia mau menikah?”

Ratih memalingkan pandangannya dari layar pendar.  Tersadar bahwa ia terlalu egois.  Semua rutinitas membuatnya seperti robot.  Hidup dari satu file ke file lain.  Dari dokumen ke dokumen.  Usia Kesih sudah memasuki kepala empat, dua tahun di atasnya.  Namun belum pernah ia ikut membantu mencarikan atau sekedar memikirkan jodoh buat Kesih.

“Papa sebagai atasnya seharusnya bisa mencarikan jodoh buat Kesih.”  Ratih ngeles untuk kemudian kembali memainkan tuts keyboard laptopnya.

“Aku berniat melamarnya.  Dan itu butuh persetujuan kamu, Ma.  Aku bisa terjerumus dalam dosa kalau kamu tidak menerima dia dalam keluarga kita.”

Ratih hanya diam.  Tanpa memberi jawaban.  Sebuah tiket kereta api online ia pesan.   “Aku harus pergi,” bisikan batinnya berhembus terlampau kuat.  “Biarlah Mas Wisnu memilih Kesih.  Aku bisa hidup di apartemen dengan tabungan kerjaku selama ini.  Aku akan mencari peluang kerja di perusahaan lain.”

Gawai Ratih berdenting.  “Ma, pulanglah.  Perusahaan butuh kehadiran kamu.  Aku tidak bisa mencari pengganti seterampil kamu.   Tanpa kamu perusahaan terancam mundur.”  Wisnu masih terus menghubungi Ratih. 

Dia tidak menceritakan keadaan anak-anak.  Anak-anak  tidak menghubungi Ratih, sebagaimana kerinduan anak pada ibunya.  Ratih sendiri tidak merasa kehilangan anak-anaknya.  Yang Ratih rasakan hanya nyeri, merasa tidak dicintai oleh suami dan  anak-anak.  Dia merasa terasing.

Tidak ada keinginan lain.  Ratih  tak ingin bertemu mereka kembali.  Digantinya nomor gawai.   Ratih menghapus semua nomor yang mengingatkannya pada kehidupan kantor dan rumah tangganya.   Ratih ingin menjadi manusia baru.

***

Sejak minggat dari rumah, ada perubahan mengkhawatirkan pada diri Emak.  Emak sama sekali tidak mau keluar rumah.  Tidak mau ketemu orang selain anak-anaknya saja.  Makan tidak enak, tidur pun tak pernah nyenyak.  Menanggung rasa malu yang menyiksa.  Lirikan mata tetangga, sapa ramah mereka seakan berubah menjadi cibiran dan hinaan yang menyiksa.

“Emak, kenapa emak jadi begini?” tanya Ratih saat menjaga emak di rumah sakit.  Badan emak urus kering.  Infus yang menetes satu-satu, selang oksigen melingkar di tubuh ringkih emak yang kini berusia delapan puluh tahun.

“Ratih, perut Emak mual.  Ambilkan baskom, Nduk!”  Suara Emak lirih, hampir tak terdengar. 

“Lihatlah Ratih, kamu tidak iba dengan keadaan Emak?  Dia yang sudah membesarkan kita hingga sedewasa sekarang.  Emak hanya minta kamu pulang ke suami dan anak-anak,” kata Zizah mengingatkan kembali dengan lembut.  “Ratih, kalau kamu tidak mengikuti kata-kata Emak dan terjadi apa-apa padanya, kamu akan dikejar rasa bersalah. Selamanya.”

Dinding rumah sakit terasa makin sempit menghimpit.  Ada desakan keputusan yang harus diambil segera.

“Bagi kebanyakan perempuan, poligami itu sangat berat.  Emak pun belum sempat menjalankannya meskipun ada cita-cita ke arah sana.  Coba baca buku ini, semoga membantumu mengambil keputusan.”  Emak dengan sisa tenaganya menyerahkan sebentuk buku.  Ratih meraihnya dan memerhatikan judulnya, “Manisnya Madu” karya Ustaz Ashari bin Muhammad.

“Emak, maafkan Ratih.  Ratih akan mencoba menjalaninya demi Emak.  Tapi tolong Emak berjanji sama Ratih akan membuang semua beban di hati Emak.  Emak harus kuat dan mengantarkan Ratih kembali pada Mas Wisnu.”  Isak tangis Ratih tak terbendung, diikuti tangisan Zizah dan senyuman Emak penuh harap pada kebagahagiaan buah hatinya, Ratih.  Juga nama baik dan kehormatan keluarga besarnya.

 

Glosarium:

1.      Gusti Allah wis maringi rahmat sing akeh.Wis pira cacahe anakmu kabeh?=Tuhan sudah memberi rahmat yang banyak.  Sudah berapa semua anakmu?

2.      Kowe kudu bisa momong atine wong tuwa=Kamu harus memelihara perasaan hati orang tua

3.      Lunga seka omah iku pada karo mlayu seka medan perang! =Pergi dari rumah itu sama saja dengan lari dari medan peperangan

4.      Aku ngerti Kesih iku sapa!=Aku tahu Kesih itu siapa!


 

Nubar Sumatra_Finally I found Someone

IBADAH CINTA SEINDAH SURGA

By:Khadijah Hanif

 

            Buletin mingguan  Iqra’ yang Rahma tunggu-tunggu sudah tergolek di atas meja ruang tamu.  Sepertinya habis dibaca Ilyas, kakaknya.  Ilyas kelas dua SMA, aktivis rohis, sementara Rahma kelas satu di sekolah yang sama.

 Rahma memang haus bacaan yang mencerahkan seperti buletin ini.  Satu persatu rubrik ia lalap dalam sekali duduk.  Pacaran dalam Pandangan Islam,  Tiga Amalan Utama, Fikih Empat Mazhab dan terakhir tentang Wajah Islam di New Mexico.

            “Sebuah perkampungan Islam di New Mexico, negara bagian Amerika Serikat yang berbatasan dengan Mexico, menyajikan pemandangan yang sangat berbeda dari komunitas lain di negara bebas seperti Amerika.  Sulitnya mendapatkan produk halal adalah pendorong utama masyarakat perkampungan ini membentuk komunitas sendiri.

            Dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 51 orang, mereka menjadi komunitas yang paling variatif karena terdiri dari berbagai suku bangsa tetapi memiliki cita-cita yang sama.  Menjaga ketaatan pada Allah SWT yang juga berarti meraih ketakwaan.

Kemandirian dari kampung ini sangat kental.  Di sini masyarakat membuat unit-unit usaha untuk menyediakan kebutuhan masyarakatnya tanpa harus meragukan kehalalannya.  Tempat pemotongan hewan ternak, pabrik roti, restoran-restoran halal mudah dijumpai di sini.”

            Penggalan berita yang sampai saat ini begitu menginspirasi dan  selalu menjadi impian Rahma.  “Bisakah aku hidup dalam komunitas yang serba yakin tanpa waswas dan tidak bercampur dengan hal subhat atau meragukan?” batinnya.

***

            Lima tahun kemudian,  Allah SWT mendekatkan doa dan impian Rahma dengan realita. 

Siang itu selepas salat Zuhur, bersama Asdiani, sahabat karibnya, Rahma berjalan menyusuri kampus mereka di Bogor.  Tiba-tiba pandangan Rahma tercekat oleh tulisan pada spanduk membentang di atas jalan yang mereka lalui.

“Dian, lihat spanduk itu ‘Pameran Perkembangan Peradaban Islam’.”  Rahma mengeja judul pameran yang tertulis dalam huruf paling besar.

“Oh, itu dia pameran yang sering diobrolin temen seprodiku,“  ucap Asdiani antusias. “Kata temenku pamerannya seru.  Ada produk muslim halal, stan ormas, stan pesantren, stan yayasan juga ada.  Yang paling bin aku penasaran, ada pameran buku islami juga.  Pokoknya harus penuhin isi kantong dulu biar bisa puas belanja bukunya.”  Asdiani dan Rahma memang punya hobi yang sama, koleksi buku islami.

Mereka bersepakat menyambangi pameran itu.  Masih ada waktu satu jam untuk jadwal kuliah berikutnya.  Tempat pamerannya ada di gedung alumni, dua puluh meter dari jalan yang sedang mereka susuri.

Pameran yang cukup besar.  Pandangan Rahma tertumpu pada sebuah stan tiga meter di depannya.  Stan itu dijaga oleh tiga orang pemuda yang menurutnya berpenampilan aneh tapi memancarkan aura penuh wibawa.  Pakaian mereka jubah semua, kemas berbahan safari.  Di atas kepala mereka bertengger kopiah dan lilitas serban yang elegan.  Rahma langsung ingat dengan materi kajian terakhir bersama murabiyahnya.  Mungkin merekalah yang pantas untuk menyandang gelar Alghuraba, orang yang asing, di tengah hiruk pikuk fashion dan style.

“Rahma, ngapain kamu bengong begitu?  Kayak ngeliat hantu aja.”  Asdiani menyadarkan Rahma dari keterpesonaannya. 

“Lihat penjaga stan di depan kita itu.  Rapih sekali mereka mejalankan sunnah Rasulullah.  Apa kamu tidak sependapat dengan aku?”

“Eh, hati-hati kamu.  Pandangan mata itu salah satu dari panah-panah setan.”  Asdiani  mengingatkan.  Ada rasa hangat menyaput wajahnya.  Rahma mencoba mencairkan  rasa aneh di hatinya,  berharap rona merah jambu tak telanjur muncul di sana. 

Melihat mereka berdua tertegun, penjaga stan itu menghampiri.

“Assalamualaikum, Ukhti.  Ada yang bisa kami bantu?”

Mereka menjawab salam.  Gumpalan kekaguman  Rahma  hadir untuk mereka.  Seakan berada di kota Rasulullah, lebih 1400 tahun silam.  Senyum ramah itu memancarkan rasa kasih sayang pada sesama, tulus. 

“Boleh tahu stan apa ini, ya, Akhi?”  Penasaran yang kental mengalahkan campur aduk rasa aneh yang sedari tadi hadir di hati Rahma.

“Kami dari Yayasan Alqiyam Indonesia.  Kalau ukhti ingin tahu banyak tentang kami, silakan baca buku-buku kami.”

Mereka mendekati stan beberapa langkah.  Harum minyak salat non-alkohol sangat menenteramkan jiwa.  Rahma langsung membuka buku lux berjudul ’25 Tahun Darul Qiyam’, penuh ilustrasi, fullcolour, berukuran F4.  Rahma memandangi satu per satu foto-foto itu.  Telaga bening di kedua pelupuk matanya tak mampu dibendung, menganak sungai.

“Ukhti, ada yang salah dari stan kami?  Silakan tulis di buku tamu, nama, alamat, no telpon berikut kesan pesannya, ya?”  Pemuda yang usianya mungkin dua atau tiga tahun di bawah Rahma itu menodorkan buku tamu.

“Tidak.  Tidak ada yang salah.  Saya hanya menemukan apa yang selama ini saya impikan.  Kehidupan Qurani, menjalankan sunnah dengan sempurna.”  Rahma menyeka air mata dengan tisu yang disodorkan pemuda itu.

“Kalau ukhti tertarik, ini alamat komunitas kami di Bogor.  Kapanpun ukhti ingin mengunjungi kami, dengan senang hati kami menerima siapa saja tetamu yang datang.”

Rahma mencermati kartu nama itu.  Terpaku pada sebuah nama ‘Muhammad Fadillah-Amir Wilayah Bogor’.  Alamat lengkap tersemat di sana.  Rahma dan Asdiani bermaksud menyambangi mereka dalam waktu dekat ini.

***

            Kesibukan kuliah, mengaji kitab kuning dan halaqah membenam Rahma dalam aktivitas rutin yang tanpa terasa memakan usianya.  Niatan mengunjungi Darul Qiyam seakan tenggelam bersama tugas praktikum dan paper yang memaksa  harus selesai tepat waktu.  Juga jadwal kajian kitab yang disepakati semua penghuni rumah kos.

            “Assalamualaikum, Rahma….”  Sapaan lembut itu membuat hati Rahma berdebar.  Rahma tidak mengerti apa maksud Rafli yang selalu saja menyapanya dengan nada istimewa. 

Rahma bisa merasakan getar rasa pada sapaan yang tak biasa itu.  “Ah, kamu terlalu gede rasa, Rahma.  Wajar dia menyapa kamu,  Rafli seprodi dengan kamu.  Satu kelompok praktikum lagi,” kata batin Rahma nyinyir.  Rahma mencoba membenarkan kata hatinya itu.

“Rahma, laporan Biotan kelompok kita sudah selesai?”  tanya Rafli di kantin jurusan.

“Oh, belum?”  jawab Rahma singkat.

“Boleh aku bantu setelah kuliah malam ini?” Rafli menawarkan sesuatu yang tak pernah Rahma bayangkan sebelumnya.  Mengerjakan laporan berdua lepas kuliah malam.  Kira-kira jam sembilan mereka keluar dari ruang kuliah.  

“Boleh, tapi harus dengan Rudi atau Maya, Rafli.”  Rahma menyebut dua teman lain anggota kelompok praktikum mereka.

“Memang kenapa?  Mereka sering aku ajak, tapi selalu saja sok sibuk.  Kamu tahu sendiri mereka malasnya minta ampun.”

Otak Rahma berputar kesana-kemari.  Mencari alasan supaya Rafli tidak memaksanya menyelesaikan laporan bareng.

“Gimana kalau aku coba dulu buat nyelesaiin laporan sampai besok.  Kalau besok belum juga selesai, boleh deh, kita kerja bareng.”

“Kamu itu aneh, Rahma,  sulit banget memenuhi tawaran baikku.  Jujur saja, sikap kamu bikin aku penasaran.  Kalau jalan nunduk.  Bicara nggak pernah mau ngeliat mukaku.  Memang mukaku jelek, ya? Serem?”  Kali ini pertanyaan-pertanyaan Rafli sedikit menggambarkan kekesalannya.

“Rafli, maafkan aku.  Aku hanya seseorang yang diberi tahu tentang perintah Allah dan Rasulullah.  Kemudian aku berusaha menjalankannya.  Meskipun selangkah demi selangkah.”  Rahma sangat ingin mengais pengertian dari Rafli.  “ Mungkin langkahku kini kau anggap sudah terlalu jauh dan aku menjadi asing menurutmu.”  Suara hati itu hanya menggema pada dinding-dinding batinnya, percuma. 

Perhatian Rafli makin mengusik ketenangan hati Rahma.  Diam-diam Rahma memendam bunga-bunga cinta yang tak ingin diketahui siapapun.  Ia mulai merasa ada penyakit kepura-puraan yang menggoda imannya. Apalagi saat Rafli menyatakan isi hatinya lewat Asdiani.

“Dian, kamu kawan dekat Rahma, kan?  Sebenernya aku ingin tahu lebih banyak tentang Rahma.  Sampaikan perasaanku ini ke Rahma, ya?”

“Aku nggak bisa, Rafli.  Khawatir hati Rahma terfitnah.”

“Terfitnah gimana, aku bukan bermaksud mempermainkan dia.  Aku juga bisa serius.  Melamarnya pun aku berani.  Mau bukti?”  Rafli menunjukkan keseriusannya.

Dalam pandangan Rahma, Rafli mahasiswa yang baik, tanggung jawab dengan kuliahnya, tidak banyak tingkah dan tampan.  Paling tidak gossip mahasiswi junior tentang Rafli menjadi bukti penilaian Rahma itu. 

Dua insan saling memendam rasa, juga asa.  Sikap Rahma yang dingin-dingin saja membuat Rafli merencanakan manufer berbeda.  Rahma tetap memerhatikan  perubahan sikap yang aneh pada diri Rafli.  Penampilannya yang biasa rapih tiba-tiba berubah gondrong dan mulai dekat dengan mahasiswi tanpa batas boleh dan tidak dalam ukuran nilai yang Rahma pegang dan ia yakini.

“Riana, malam minggu ada film romantis di Bogor Cinema.  Kita nonton, yuk!”  Rafli mencoba menggoda Riana di depan Rahma.  Riana mahasiswi sosialita yang  cantik dan tajir. 

Ada rasa tak rela muncul dari lembaran batin Rahma.  “Kamu kenapa Rafli?” tanya Rahma dalam hati.

Dalam kesendiriannya kadang Rahma tergoda mencermati wajah Rafli di album kegiatan organisasi kampus.  “Astaghfirullah hal azim, Rabb selamatkanlah hati hamba-Mu.”  Hanya pada Allah Rahma mengadukan derita batinnya itu.  

Tanpa pikir panjang, Rahma menulis surat pada kakak seniornya.  Seseorang yang dekat dengan Rafli, bernama Arman. 

Assalamu’alaikum, wr.wb. 

Kang Arman yang dikasihi Allah SWT. 

Pujian hanya milik Allah SWT, Zat yang Maha Sempurna tanpa cacat dan kekurangan.  Shalawat dan salam semoga tercurahlimpahkan pada panutan alam, Rasulullah SAW.  Insan yang paling berjasa membawa cahaya Islam hingga sampai pada kita, ummatnya di akhir zaman

Dengan surat ini, saya memohon bantuan Kang Arman.  Tolong bantu Rafli untuk menjadi pribadi yang lebih baik.  Mau mengisi waktunya untuk hal-hal positif, terutama mendalami Islam sebagai jalan dan petunjuk hidup.  Kang Arman tentu ingin keselamatan untuk sebanyak-banyak saudara seiman juga saudara dalam kemanusiaan.

Saya beranikan diri menulis surat ini, karena rasa sayang dan keinginan saya untuk  selamat dan menyelamatkan sesama.  Terutama Rafli.  Selama ini saya mengenal dia sebagai mahasiswa yang baik.  Tapi belakangan ini ia berubah.

Tolong rahasiakan surat yang saya tulis ini.  Hanya dengan cara ini saya berusaha membantu Rafli memperbaiki diri.  Semua atas dasar sayang karena Allah.  Bukan atas dasar keinginan memiliki tapi keinginan menyelamatkan orang yang kita sayangi di dunia dan akhirat.

Terimakasih bila Kang Arman sudi membaca surat ini.  Terlebih lagi bila Kang Arman bersedia membimbing Rafli untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Wassalamu’alaikum, wr.wb.

Yang Banyak Dosa

Rahma Khairunnisa

            Rahma memasukkan surat itu ke dalam amplop, membubuhinya dengan alamat lengkap.  Ia segera menuju kantor pos.

            Ada rasa lega tetapi sekaligus malu yang luar biasa begitu surat itu diserahan pada pertugas pos.  “Pantaskah aku sebagai seorang perempuan, dipandang sebagai aktivis dakwah kampus, meluahkan isi hati yang teramat pribadi seperti ini?” batin Rahma bergejolak.  Rahma gelisah dan tidak bisa tidur malam itu.  Satu hal yang diinginkannya, pergi jauh dari tempat kos.  Mencari tempat lain dan tidak pernah bertemu Kang Arman dan Rafli.

            Pukul delapan malam, telpon rumah kos berdering.

            “Rahma, ada telpon!!!”  Asdiani memanggilnya.

            Dari seberang sana suara yang asing namun penuh wibawa menyapanya.

            “Ukhti Rahma Khairunnisa?”

            “Iya, saya sendiri.”

            “Saya Fadillah, Amir Wilayah Alqiyam Bogor, kami mengundang Ukhti untuk hadir dalam Peringatan Hari Besar Tahun Baru Islam.  Dimohon kehadirannya.  Alamat saya ada di kartu nama yang Ukhti dapat dari pameran peradaban Islam setahun yang lalu.  Apakah Ukhti masih menyimpannya?”

            Rahma bernapas lega.  Mungkinkah ini solusi yang dipanjatkan seharian ini pada Allah?  Hanya satu keinginannya saat ini, pergi jauh dari sini.  Segera dicarinya kartu nama yang masih tersimpan rapih di antara deretan kartu lain dalam dompet. 

“Besok aku harus berangkat,” gumam Rahma

***

            Beruntung semester ini Rahma sudah tidak ada kuliah.  Jumlah SKS yang diambilnya selalu maksimal tiap semesternya.  Memasuki semester ke tujuh perkuliahan, Rahma sudah jarang ke kampus.  “Sekaranglah waktu yang tepat untuk pindah kos,” pikirnya.

            Undangan Darul Qiyam dua hari lagi.  Rahma dan Asdiani siap-siap untuk berangkat mengunjungi komunitas muslim yang selama ini dirindukannya.

Dua jam perjalanan, mereka sampai juga.  Sebuah perkampungan kecil, tidak lebih dari sepuluh rumah.  Siapapun yang memasuki kawasan ini akan terpesona dengan lingkungannya yang asri bersih, tanpa satu pun sampah berserak.  Panitia acara menyambut mereka dengan sangat ramah.  

Untuk pertama kalinya Rahma melihat Ustaz Fadillah yang menjadi MC pada acara ini.  Di sini penampilan mereka seperti saudara seikatan darah, lelakinya berpakaian jubah serban dan perempuannya kebanyakan memakai tutup muka.

Selesai acara, para tamu undangan di jamu di homestay.  Rahma dan Asdiani menyaksikan langsung cara hidup komunitas mereka.  Makan bersama dalam satu talam tanpa menyisakan satu butir nasipun.   Bahkan mereka berlomba membuat talam mereka paling bersih.  Taharahnya juga nyaris sempurna.  Sandal di dalam kamar mandi.  Tempat salat wangi dan serba putih bersih.  Cara hidup sunnah dipampang di hampir tiap ruangan. Charta-charta penuh ilmu menghiasi dinding, terutama di ruang tamu, ruang salat dan ruang tengah.  Rahma tak jemu-jemu memandangi, membaca dan mencoba memahami charta-charta itu. 

“Dian, sepertinya aku akan pindah dan tinggal bersama komunitas ini.  Kamu mau, nggak?”  tanyanya pada Asdiani. 

            “Sebenarnya aku mau banget tinggal di tempat seperti ini.  Tapi aku masih ada mata kuliah yang belum beres.  Insyaallah semester depan aku menyusul, Rahma.  Kalau aku jadi kamu, pasti aku akan pindah ke sini.  Ini hanya soal waktu.  Kamu bisa bayangkan bagaimana aku karus bolak-balik kuliah Cikoneng-Baranangsiang tiga hari seminggu.  Tga kali naik angkot sekali jalan.  Bisa jebol kantongku.  Belum lagi tenaga dan waktu.  Kamu duluan aja deh Rahma.  Hitung-hitung percobaan.  Kalau kamu betah, aku nyusul.”

            “Licik kamu.  Emang aku kelinci percobaan?  Sepertinya aku bakal di sini sampai wisuda.  Insyaallah.”

            Kepindahan Rahma sempat mengagetkan teman satu kosnya.  Bahkan Rafli pun tahu rencananya ini.

“Rahma, kenapa kamu pindah?  Bukankan sebentar lagi penelitian kamu bakal dimulai.”  Rafli menghubungi Rahma via telepon.

“Penelitianku di kebun percobaan Darmaga.  Aku lebih dekat dengan tempat kos baruku daripada  aku tetap di sini, ” jelas Rahma sambil mencoba membariskan napasnya.  Kalau tidak nervous-nya akan ketahuan someone special di seberang sana

Rafli mengungkap kekecewaan atas kepindahan Rahma.  Rafli tahu tentang surat yang Rahma kirim buat Kang Arman.

“Maafkan aku Rafli.  Aku berharap kamu tidak lagi terganggu oleh tingkah dan perbuatanku.”  Kalimat itu mengakhiri perbincangan mereka.

Satu bulan berada di komunitas Alqiyam sangat mengobati dahaga  Rahma pada kehidupan Islami.  Rahma benar-benar merasakan kebahagiaan.  Impiannya tentang masyarakat Islam sejak di bangku SMA terjawab sudah.  Akan tetapi kebiasaan Rahma yang sering pulang malam, menjadi sorotan muslimah yang lain.

“Ukhti Rahma, kalau boleh saya tahu, apa kegiatan Ukhti sampai-sampai sering pulang malam?”  tanya Ustazah Fatimah

“Saya sedang penelitian, Ustazah.  Salah satu perlakuannya harus diterapkan jam delapan malam.  Sebenarnya saya was-was juga pergi ke kebun percobaan itu.  Lokasinya jauh dari perkampungan penduduk.”  Rahma menjelaskan kesulitan yang dihadapinya

“Ukhti sendirian ke kebun itu?”

“Seringnya, sih, minta antar temen, Ustazah.  Tapi kalau lagi pada sibuk, saya terpaksa pergi sendiri.”

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun.”  Ustazah Fatimah benar-benar menunjukkan ekspresi kagetnya dengan cerita Rahma.

“Ada apa, Ustazah?”

“Setelah saya mengetahui hal ini, dosa hukumnya kalau saya membiarkan Ukhti penelitian di kebun yang sepi, malam hari lagi.  Anti harus segera dicarikan muhrim.”

Sejak perbincangan Rahma dengan Ustazah Fatimah, ia mendapat fasilitas khusus.  Pendamping saat penelitian di kebun percobaan.  Bukan hanya saat malam hari, bahkan pagi hari sekalipun.  Mereka begitu menjaga dan menghormati perempuan.  Rahma merasa tersanjung.

Ada kenangan indah yang tak pernah bisa Rahma lupakan.  Saat itu tidak ada satu orang pun yang bisa mengantarnya, kecuali Ustaz Fadil. 

Ustaz Fadil masih muda.  Usianya baru tiga puluh tahun tapi sangat berwibawa.  Penampilannya selalu memakai jubah, serban, celak mata sunnah tak pernah lepas dari dua garis matanya.  Rahma begitu mudah jatuh cinta pada para pengamal sunnah Rasulullah itu, cinta yang tumbuh karena kecintaan pada utusan-Nya.

“Ukhti, saya naik motor.  Anti di depan naik becak ini,  saya ngikut dari belakang.”  Ustaz Fadil mengarahkan dengan nada tegas.  Sangat jauh dari merayu atau menginginkan kedekatan.

Rahma tidak berani bicara banyak.  Khawatir salah.  Sesampai di kebun percobaan, Rahma segera mengambil sample populasi hama di malam hari.  Rembulan purnama bulat penuh membantunya dalam mengambil sampel.  Sesekali diperhatikannya siluet Ustaz Fadil sedang berbincang dengan tukang becak yang menunggunya selesai kegiatan.

Jam tangannya menunjukkan pukul sembilan malam.  Pengambilan sample dan beberapa perlakuan telah selesai.  Rahma menghampiri Amang Becak yang akan mengantarnya sampai jalan utama.

“Ukhti, malam ini tidak ada angkot ke arah Cikoneng.  Semua tukang angkot demo meminta kenaikan tarif trayek.  Anti tidak bisa pulang ke Cikoneng kecuali anti bisa naik motor ini.  Motor anti yang pakai, saya bisa naik ojek.”

“Maaf saya belum bisa naik motor sendiri, Ustaz.”

“Kalau begitu anti menginap saja di rumah saudara saya.  Ikuti saja saya dari belakang.  Saya akan menaiki motor ini pelan-pelan.  Tidak jauh dari sini, lima ratus meter.  Memasuki perkampungan dan gang yang agak berkelok jadi tolong berjalannya agak dipercepat.”  Keteguhannya memegang prinsip dan syariat makin membuat Rahma kagum pada Ustaz Fadil.  Dialah salah satu Alghuraba itu.

Rahma bermalam di rumah Kak Suraya, saudara sepupu Ustaz Fadil.  Sebelum Rahma pulang, ada secarik kertas yang ditemukannya di bawah bantal.  Awalnya Rahma tidak tertarik untuk membukanya, tapi ada sebaris huruf-huruf bertuliskan namanya ‘Untuk ukhti Rahma’.  Dibukanya lipatan kertas itu dengan perasaan datar.

“Assalamu’alaikum, wr.wb.

Bismillah, walhamdulillah, Assalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, Amma ba’du.

Ukhti Rahma yang dikasihi Allah SWT.  Keadaan telah memaksa kita mengambil sebuah keputusan.  Menjadi darurat mutlak bahwa ukhti harus memiliki mukhrim yang menjaga anti, melindungi anti dari durhaka dan bermaksiat kepada Allah.

Maka dengan kerendahan hati saya bermaksud memghalalkan kedudukan ukhti di sisi saya.  Kiranya maukah ukhti menerima saya sebagai pendamping hidup,  penjaga dan pelindung  Ukhti dari bermaksiat dan durhaka pada Allah SWT. 

Saya sudah melakukan istikharah dan jawabannya, saya meyakini ukhti adalah pasangan yang saya dambakan selama ini.  Ukhti berhak melakukan istiharah juga.  Saya tunggu jawaban ukhti.

                                                                                    Wassamu’alaikum, wr,wb

                                                                                    Alfakir, Muhammad Fadillah

Rahma tak bisa berkata apa-apa.  Mengalir rasa sejuk dan membahagiakan dari celah-celah hatinya.  Beberapa baris kalimat yang ia torehkan di balik secarik kertas itu.

“Bila Allah menghendaki perjodohan ini sebagai jalan yang Dia ridhoi maka tidak ada sesuatu apapun yang bisa menghalanginya.  Meskipun semua jin dan manusia bersekutu melawan kehendakNya maka sia-sialah segala perlawanan itu.  Sebaliknya bila Allah SWT tidak mengizinan sesuatu terjadi maka tida ada gunanya segala daya dan upaya.

Sebagai adab seorang muslimah, maka haram hukumnya menolak maksud baik dari seorang pria yang saleh.  Pria yang akan membawa pada keselamatan dunia akhirat.  Pria yang akan membimbing untuk cinta Allah dan Rasulnya.  Mengamalkan firman-Nya juga sunnah utusan-Nya yang mulia.  Yang membangun mahligai rumah tangga karena Allah bukan karena balutan nafsu semata.”

Rahma mengembalikan  kertas itu pada tempatnya.  Berharap seseorang yang tepat akan mengambil surat itu kembali.  Kemudian membawanya pada kebahagiaan sejati.  Memberinya gambaran surga yang dipercepat.  Janatul Ajilah.

***

Dua puluh dua tahun sudah pernikahan ini mereka jalani.  Benarlah kiranya, cinta adalah anugerah yang agung.  Saat kita menjaga hubungan dengan Allah SWT maka Dia Sang Maha Cinta akan menaburkan bunga-bunga pada dua hati yang berbeda. 

Dua insan itu saling memadu kasih karena Dia dan atas nama cinta pada-Nya.  Keindahan surga menghampiri mereka selama ada cinta pada-Nya.  Berjuta rasa cinta terkalahkan oleh cinta yang bersih suci karena niatan meraih keridaan Allah dan Rasul-Nya.

“Terimakasih, Abi.  Bimbingan Abi membuat Ummi selalu merasakan kebahagiaan yang teramat dekat.  Ada di sini, dalam hati yang selamat, hati yang tunduk pada kehendak-Nya.”  Untuk kesekiannya kali kalimat itu mengalir dari lisan Rahma selepas melakukan ritual ibadah cinta, meskipun dalam lafal yang berbeda.

“Abi juga berterimakasih.  Akhirnya bidadari itu Allah segerakan saat aku hidup di dunia.  Saat kita berada di surga yang sebenarnya, Ummi akan menjadi anugerah yang beribu kali lipat lebih indah dari yang wujud hari saat ini.”

“Alhamdulillah, ya Rabb.  Kau pilihkan seseorang yang tepat yang aku temukan saat jiwa dan jasadku masih bersatu. Izinkan kami terus bersama.  Juga saat perjumpaan dengan-Mu.”  Batin Rahma mengalunkan kidung kesyukuran yang terlalu indah untuk dilukiskan.  Hanya ia dan Pencipta-Nya saja yang menyaksikan kemolekan itu.


PASANGAN KITA, PAKAIAN KITA

By: Khadijah Hanif

            Rumah tangga tidak selamanya mulus tanpa masalah dan konflik antara suami dan istri.  Akan tetapi antisipasi dari potensi masalah telah dirumuskan oleh Allah SWT dalam surat cintaNya pada kita.  Yuk, kita kaji ayat berikut!

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

Artinya:  Mereka pakaian bagimu dan engkau pun pakaian bagi mereka

Pada penggalan ayat ke-187 dari Alquran Surat  Albaqarah, Allah SWT membuat perumpamaan yang sangat indah penuh makna bila kita renungkan dan kita selami. Perumpamaan ini memudahkan kita untuk mengaplikasi pesan -Nya.  Bila kita ingin hubungan dengan pasangan tetap harmonis, maka kata harus memosisikan diri kita sebagai pakaian buat pasangan kita.  Sebaliknya, kita harus juga memperlakukan pakaian (pasangan) kita dengan baik pula.

1.       Menjadi pakaian yang baik.

Dalam Islam, pakaian yang sesuai syariat adalah pakaian yang menutup aurat secara sempurna, tidak membentuk lekuk tubuh dan tidak transparan.  Maka kita harus menutupi segala aib dan kekurangan pasangan kita juga secara sempurna.  Cukuplah aib dan kekurangan itu menjadi konsumsi internal rumah tangga kita saja.  Bahkan tidak juga untuk diketahui anak-anak kita. 

Saat pasangan saling menutupi aib, kita akan makin percaya satu sama lain.  Akan timbul rasa bahwa pasangan kita benar-benar sayang dan menjaga perasaan hati kita.   Rasa bahwa pasangan kita adalah orang yang paling istimewa pun akan muncul.

Biarlah detail kekurangan dari pasangan kita  hanya kita saja yang tahu.  Bukan berarti kita berbohong atau melakukan pencitraan, tapi cukup orang lain tak mampu melihat gurat salah, noda dan dosa dari pasangan kita.

2.    Memperlakukan  pakaian kita dengan cara yang baik.

            Kita tentu sering bahkan selalu membersihkan pakaian kita yang ternoda agar bersih kembali.  Ada kalanya nodanya membandel hingga kita harus sungguh-sungguh mencari pembersih atau pemutih yang ampuh.  Dalam waktu yang bersamaan kita juga sangat berhati-hati agar pakaian kita tidak rusak saat dibersihkan.

            Saling mengingatkan, saling menasihati adalah cara kita membersihkan pasangan kita.   Saat kesalahannya berat dan sulit diluruskan, kita tentu akan mencari cara agar pasangan kita bisa kembali bersih, tanpa membuat pasangan kita terlukai hatinya.

KAMBING HITAM TAK SELAMANYA HITAM

“MAAFKAN KETELANJURKU, SAHABAT!”

By: Khadijah Hanif

 

“Ummi Zulfan, sekarang giliran iuran Ummi.  Soalnya saya akan bayar Mang Jana awal bulan depan.” Gawai sudah berdenting lagi.  Tagihan pemeliharaan kebun bersama menjadi hal yang sangat mengganggu buat Bu Yuni di saat sulit begini.

“Insya Allah, Bu, maaf saya terlambat terus.  Zulfan mau daurah butuh uang satu juta.  Saya nggak tahu mesti dari mana nyari tambahan.  Untuk daurah memang di luar budget  Nizar sudah dua bulan belum bayar uang syahriah di pondoknya.  Belum lagi Tifah belum saya penuhi daftar ulangnya tahun ini.   Mohon pengertian dari Ibu.”  Panjang lebar Bu Yuni menulis balasan pesan pribadi dari Bu Kania.

“Ya, sudah saya tunggu sampai Sabtu, ya, Ummi.”  Jawaban pendek itu sedikit membuat lega Bu Yuni.  Artinya, masih ada lima hari ke depan ia bisa berusaha mencari uang tiga ratus ribu dalam waktu dekat ini.

Ditatapnya barisan buku bacaan yang selama ini ia tawarkan pada siapa saja yang datang.  Atau untuk kali ini, Bu Yuni harus bawa kemana pun ia pergi dan bertandang ke rumah orang lain.  Sebagai ibu rumah tangga, Bu Yuni memilih menjadi penulis untuk menambah penghasilan keluarga.

“Ibu, saya bawa buku cerita anak.  Isinya bagus buat pendidikan mereka insya Allah dari legenda ini banyak nilai-nilai positif yang bisa ditanamkan buat anak kita.”  Bu Yuni tidak kenal kata putus asa.  Tentu saja tagihan dari Bu Kania menjadi semangat terbesarnya.  Rasa malu untuk menawarkan dagangan door to door, menjadi mental block buatnya.  Akan tetapi sejak sore itu, ia mampu meruntuhkan penghalang terbesar.  Jaga image untuk sesuatu yang baik dan bahkan sunah adalah kebodohan.

Rasa syukur yang tidak terkira, ternyata menjajakan barang jualannya kali ini cukup untuk membayar tagihan Bu Kania.  Keuntungan tiga ratus ribu rupiah ia peroleh dalam lima hari perjuangannya.  Tidak menunggu lama, ia segera membayarkan uang itu.  Khawatir akan terpakai bila dibiarkan dalam dompet.  Maklumlah, kebutuhan harian sekarang makin terasa melilit, terutama sangat terasa buat ibu rumah tangga.  Kadang dambaan perubahan menjadi impian besar buat emak-emak.

Kebun bersama menjadi milik mereka bertiga,  Bu Yuni, Bu Kania dan Bu Zenab memang.  Dalam kondisi sulit, kebun itu menjadi buah simalakama terutama buat Bu Yuni.  Bagaimana tidak kebun itu mereka beli bertiga dengan alasan membantu sahabat mereka yang  anaknya akan dioperasi.  Butuh uang yang cukup besar untuk pengobatan anak perempuan satu-satunya Bu Rima.  Tumor saluran pencernaan.  Bila tidak dioperasi akan berkembang menjadi kanker.  Sekarang kebon yang tidak bertanda batas itu dirawat oleh Mang Jana.  Iuran perempatbulannya tiga ratus ribu.  Dalam keadaan tertentu iuran itu terasa berat buat Bu Yuni.  Apalagi kalau dibandingkan dengan hasilnya yang bisa dibilang nihil.  Tanaman kayu yang ada di kebon itu akan panen lima hingga sembilan tahun ke depan.  Penantian yang lama dan memberatkan.

Sore itu Bu Yuni menuju rumah Bu Kania untuk menyerahkan uang iuran. “Ibu, Alhamdulillah udah ada buat iurannya,” ucap Bu Yuni begitu pintu rumah terbuka dan Bu Kania menjawab salamnya.

“Makasih ya, Bu.  Ini buat gaji Mang Jana.  Saya hanya membantu mengelola keuangan kebun kita.  Jadi maaf kalau saya cerewet nagih sana-sini berulang kali.”

“Justru saya yang minta maaf, Bu.  Kadang-kadang suka telat dan ngeropotin Ibu.”

Mereka memang sahabat akrab sejak SMA.   Satu sama lain saling tahu keadaan dan kesulitan, kecuali hal-hal yang sangat privasi.  Meskipun dari dulu selalu bersama, nasib dan keadaan ekonomi keluarga mereka sangatlah jauh berbeda.  Keluarga Bu Yuni sangat sederhana dengan suaminya yang menjadi karyawan swasta.  Sementara Bu Kania dan suaminya, sama-sama menjadi PNS.

Kadang Bu Yuni menghela nafas panjang.  Membatin, ”Bukankan aku dulu lebih berprestasi dari pada Kania?  Nilai-nilaiku lebih bagus  Aku selalu menempati tiga besar, sementara Kania selalu sepuluh besar dari belakang.  Ternyata prestasi tak berbanding lurus dengan rezeki?!”

***

Waktu terus berpacu sesuai kehendak Yang Kuasa.  Ramadan sudah tiba kembali tahun ini.  Masa-masa daurah Alquran yang diminta Zulfan tinggal satu pekan lagi. 

“Ummi, jangan lupa ya, Zulfan mau ikut daurah tiga pekan.  Biayanya satu juta.”  Dari seberang sana suara Zulfan terdengar penuh harap.

“Sabar, Sayang, Ummi masih mau berusaha seminggu ini.  Baru ada lima ratus ribu, Nak.  Semoga ada rezeki buat daurah kamu.  Doakan Ummi, ya.  Baca Waqiah sesudah salat Asar tiga kali.  Ummi minta bantuan, ya, Sayang.”  Bu Yuni melipur anaknya. 

Daurah ini penting untuk memperbaiki hafalan Alqurannya yang kini baru masuk juz ke-20.  Sementara Fariz, anak pertama Bu Kania sudah masuk juz ke-30.  Tidak bisa dipungkiri Fariz lebih cepat menghafal dibandingkan Zulfan.  Banyak faktor penyebabnya, diantaranya tentu berbagai kemudahan fasilitas menghafal yang mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya.  Berbeda sekali dengan Zulfan yang harus banyak mujahadah.  Sebagai sahabat sekelas dan satu pesantren, kadang ada kerendahdirian Zulfan bila melihat kemajuan Faris.  Bu Yuni memahami perasaan hati buah hatinya itu.  Maka sedapat mungkin ia tidak pernah menuding Zulfan atas prestasi belajarnya.  Ia khawatir Zulfan akan makin tertekan bila ia menuntut banyak.  Baginya dua puluh juz itu untuk disyukuri bukan untuk dipermasalahkan.

Pagi itu hari kedua bulan Ramadan.

“Bu, saya pamit dulu, ya.  Mau menjemput dan  mengantar Fariz daurah di Bekasi.”  Ada rasa gemuruh di dada Bu Yuni saat mendengar Bu Kania berpamitan.

“Oh, kapan berangkatnya, Bu?” tanya Bu Yuni menyembunyikan segala rasa agar tidak terbaca oleh sahabatnya itu.

“Hari ini.  Mohon doanya, ya.  Semoga lancar.  Programnya untuk tiga puluh juz mutqin.”

“Iya, Bu.  Semoga dilancarkan segala sesuatunya.”  Ada rasa yang mendesak dari dadanya.  Membekaskan rasa panas di pelupuk matanya.  Bu Yuni segera masuk ke dalam rumah.  Bukan iri dengki yang mendera hatinya, tapi sebentuk ketakberdayaan.

Ya Rabb.  Cukupkan hamba dengan merelakan segenap nikmat dan karunia yang Kau limpahkan pada saudaraku seiman.  Rabb hamba rela dengan semua kenikmatan yang Kau Takdirkan pada sahabat hamba, Kania.  Bahkan pada setiap hamba yang Kau Kehendaki.  Bahkan pada seluruh makhluk yang Kau bagikan kasih pada mereka.  Cucuran air mata tak terbendung lagi.  Di bawah selimut waktu Dhuha yang syahdu, Bu Yuni bersimpuh penuh kepasrah.

Hingga suara salam memecah khusyuknya.

“Ummi, ternyata Fariz mengikuti daurah ini.”  Ustaz Arsyad, suami Bu Yuni menunjukkan sebuah flyer daurah gratis di Bekasi.

“Terakhir pendaftarannya kapan, Abi?”

“Dua hari kemarin.”

Bu Yuni tak bisa menyimpan kesedihannya lebih lama.  Air mata makin deras bercucuran.

“Ummi kenapa sedih?”

“Abi, gimana nggak sedih.  Bu Kania itu temen deket Ummi sejak SMA.  Dia tahu persis kesulitan kita.  Bahkan saya pernah bilang kalau Zulfan mau ikut daurah tapi Ummi nggak ada budget ke sana.  Dia tahu Abi.  Tapi kenapa dia menutupi informasi daurah Fariz ke Bekasi yang gratis ini.  Coba Abi bayangkan.  Persahabatan macam apa ini?”  Bu Yuni menangis tersedan.  Air matanya menganak sungai.  Ustaz Arsyad hanya bisa mendekapnya erat, sambil terus berusaha mengobati lara istrinya tercinta.

“Sabar, Ummi.  Kalau Allah nggak mengizinkan sesuatu hal pasti ada hikmah di balik semua itu.  Berbaiksangkalah pada Dia Yang Maha Tahu segalanya.”

“Ummi rela Abi dengan ketentuan Allah  Apapun itu.  Tapi untuk sikap Kania, Ummi belum bisa mencari jalan untuk bisa memakluminya.”

Ustaz Arsyad hanya bisa membelai orang terdekatnya dengan mengusap lembut kepala yang terbalut mukena itu.  Hatinya pun ikut merasakan kepedihan yang dirasakan  isrinya.

“Mungkin ada alasan tertentu yang membuat Bu Kania nggak cerita.  Yang entah apa alasannya.”

“Abi, kenapa membela Kania.  Apa Abi nggak bisa merasakan kepedihan hati Ummi.  Dalam segala hal memang kita lebih lemah dari mereka.  Tapi setidaknya kalau ada peluang baik yang bisa meringankan beban kita, kenapa dia nggak mau berbagi?”

“Ummi, maafin Abi.  Sebagai kepala keluarga yang berkewajiban memenuhi kebutuhan belum bisa memenuhi harapan Ummi dan anak-anak.”  Ustaz Arsyad mencium kening istrinya itu, penuh kasih. ”Ini ada sedikit rezeki.  Tadi ada yang memberi uang jasa reparasi komputer dan install ulang.  Ada beberapa komputer yang Abi betulkan.  Semoga cukup untuk daurah Zulfan.

Bu Yuni menatap raut rupawan di hadapannya, haru.  Pengorbanan suaminya yang sering kali pulang malam karena lembur reparasi komputer, ia terima dengan penuh rasa syukur.  Sepuluh amplop putih  itu masih utuh. Isinya pun belum tersentuh oleh Ustaz Arsyad.

“Semoga sedikit mengobati luka hatimu, Sayang.”  Ustaz Arsyad membatin penuh harap.

Bu Yuni masih khusyuk.  Tenggelam dalam doa dan munajat yang makin menggoreskan rasa kehambaan.

“Ya Rabb, berikan kesabaran buat hamba, untuk bisa kembali pada pengakuan atas kebesaran-Mu.  Semua terjadi karena kerendahan kedudukanku di sisiMu.  Karena dosa-dosaku.  Wahai Allah, janganlah hubunganku dengan anakku, Muhammad Zulfan bin Arsyad Al Jundi selama ini menjadi penghalang karunia-Mu untukNya.  Aku ikrarkan keridaan hatiku, ya Rabb.  Janganlah kekecewaanku pada Zulfan menghalangi karunia-Mu untuknya.  Ya Rabb, hamba selalu berusaha menerima segala ketentuan-Mu.  Qada dan qadar-Mu.  Hamba selalu memohon pada-Mu atas kisah hidup yang lebih baik lagi Engkau ridai.  Juga untuk keluarga kami.

 Wahai Rabb, salahkah hamba yang merasa kecewa pada ketidakpedulian sahabat atas kesulitan diri ini?  Yang tahu keadaan hamba, masalah hamba tapi tidak ada empati untuk memudahkan jalan hamba?  Rabb, bukankah dia tahu kesusahan hamba.  Bukankah dia tahu hamba sedang kesulitan mengirimkan Zulfan untuk ikut daurah.  Lalu kenapa dia sembunyikan kabar ini?  Rabb ampuni hamba yang sedang dipenuhi prasangka ini. 

Rabb, untuk segala nikmat-Mu yang menjadi bagian dia dan siapapun juga, hamba rela.  Dan untuk segala karunia yang Kau takdirkan bagi hamba dan keluarga hamba bersyukur.  Berilah kelapangan dari segala kesempitan hati ini.”

Perlahan tangisan Bu Yuni mereda.  Wajah muramnya sedikit tersaput senyuman.  Hanya membekaskan sembab merah di kedua matanya yang sayu.  Makin sayu.

Seperti biasa, saat hatinya terselimuti gulana, ia ambil pena untuk mengabadikan tiap peristiwa yang penting dalam hidupnya.  Diary yang dipenuhi puisi-puisi  menguras perasaan.  Bukan hanya sedih, tapi juga haru, bahagia, marah, malu.  Penuh warna.

 

HANYA KAMU, 2 RAMADAN 1436 H

 

Tak ada pilihan

Untuk hatiku yang teserpih

Terlanda gelombang tanya menggelora

Ketika iba tak hendak dia lontarkan

Sedang diri ingin berbagi kemudahan

 

Membuntal segala peluang gembira

Menutup rapat meski hanya sebentuk aroma

Atau secuil kabar pengantar senyuman

 

Sedang dia tahu segala curahan gelisahku

Kesulitan yang membelit tangan, kaki bahkan anggota

Ketika siang itu aku ungkap

Kata maaf atas segala ketakberdayaan

Tentang harapan buah hati

Yang terlalu sulit tuk kepenuhi

Dan dia hanya bungkam seribu bahasa

Tentang kemudahan bebas biaya

Sampailah saat aku tahu untuk waktu yang tak bersisa

Hanya menyisakan kecewa dan tanda tanya

 

Tuhan, sungguh bukan ketentuanMu yang kugugat

Dan bukan pula hakku menuntut qadarMu

Tapi segenap rasa kemanusiaanku mendera

Bertanya mengapa, bukankah telah diungkap

Segala kesah tentang kepapaan

 

Rabb, hamba mohon kebaikan diri dan juga dia

Biar kulebur semua tanya pada DiriMu Yang Serba Agung

 

Beri hamba jalan terbaik

Melepaskan semua gundah pada sesama

Biar Kau saja pemberi jalan terindah

Rabb beri aku daya dan upaya

Meraih kerelaanMu

 

            Bu Yuni menutup kembali diary puisinya dan melarutkan segala rasa.  Mencoba memaafkan.  Dan tampaknya berkah Ramadan lebih membuatnya cepat membebaskan beban dengan sesama.

***

            Tak sabar, selepas Zuhur, ia ingin segera memberi kabar baik buat Zulfan. Diputuskannya untuk menelfon anak sulungnya itu.  Apalagi kalau bukan keputusan mengikuti daurah Alquran selama Ramadan.

            “Assalamualaikum, Zul.  Ini Ummi. Zulfan sehat?”

            “Waalaikumsalam.  Alhamdulillah Ummi.  Ummi dan Abi sehat di rumah?”

            Keakraban itu sedikit melepas kerinduan.  Jarak terjeda cukup jauh.  Kudus dan Tasikmalaya, membuat mereka harus cukup puas bertemu setengah putaran matahari.

            “Zulfan, Alhamdulillah uang untuk daurahnya ada, Sayang.  Kamu daftar aja.  Nanti Ummi transfer, ya?!  O’ya, kalau Ummi boleh tahu, kenapa kamu nggak ikutan daurah bareng Fariz?” tanya Bu Yuni hati-hati. 

            “Maafin Zulfan, Ummi.  Zulfan sudah mencoba daftar dan ikut seleksi.  Ternyata hanya tiga terbaik yang diambil dan Zulfan gagal.  Lagi pula daurah itu hanya untuk yang pernah hafal tiga puluh juz, Ummi.  Maafin Zulfan.  Zulfan tahu kalau Zulfan berhasil tentu akan sangat meringankan beban Ummi.”  Ada isak tangis dari seberang sana.  Isak tangis yang menyapu terbang semua kecurigaan pada sahabat dekatnya, Bu Kania.

            “Jangan sedih, Sayang.  Yang penting Allah memberikan jalan buat kamu ikutan daurah.  Caranya bisa seribu satu cara, bukan?  Dapat gratisan, rezeki minallah.  Dapat biaya ikut daurah juga rezeki dari-Nya.  Bahkan dengan infak berarti tangan kita sedang ada di atas.  Jadi Allah beri kita rezeki sekaligus kemuliaan berinfak.”  Bu Yuni berusaha meredakan gejolak hati Zulfan.  Perlahan isak tangis pilu itu berubah menjadi haru.

            Begitu menutup perbincangan dengan Zulfan, Bu Yuni kembali diliputi perasaan bersalah.  Prasanga buruk pada sahabatnya tertepis sudah, tanpa sisa.

            “Aku harus mengucapkan selamat untuk keberhasilan Fariz lolos seleksi.  Bahkan menjadi kabar membanggakan untuk keberhasilan Faris hafal tiga puluh juz.”  Bu Yuni membatin.  Ia pun mulai membuka WA dan membariskan huruf-huruf pada layar pendar gawainya.

            “Assalamu’alaikum, Bu Kania, selamat, ya.  Saya baru dapat kabar dari Zulfan kalau Fariz lolos seleksi hafiz tiga puluh juz.  Wah, ikut bangga dan bahagia, Bu.  Semoga bisa mutqin di daurah Ramadan ini.”

            Ceklis biru sudah tampak di layar pendar.  Biasanya Bu Kania akan segera membalas.

            “Waalaikumsalam.  Makasih doanya, Ummi.  Semoga Fariz bisa istikamah dan dapat memanfaatkan ilmunya.”

            “Salam buat Fariz.  Minta doa dari Fariz, ya, Bu.  Doakan saya dan keluarga bisa menjadi ahlulquran yang benar-benar mencintai Alquran.  Bilkhusus buat Zulfan.  Semoga hafalannya juga bisa makin banyak dan baik.  Insya Allah doa dari penghafal Alquran makbul.”

            “Insya Allah, amiin.”

            “Tapi ada satu yang mau saya sampaikan.  Sekali lagi maaf ya, Bu.  Sepertinya saya kan lepas kebon saya.  Saya merasa terlalu berat buat iuran pemeliharaan bersama.”

            “Nggak sayang sama pohon kayu kita, Ummi?  Lima sampai Sembilan tahun lagi harganya bakalan lumayan.  Sepohon bisa nyampai enam juta, lho.  Sepertinya begitu Faris dan Zulfan masuk kuliah bisa kita jual kayunya.  Lumayan buat ngeringanin biaya kuliah mereka.”

“Tapi saya butuh banyak uang untuk anak-anak, Bu.  Rasanya tidak perlu saya tuliskan lagi kesulitan saya.  Kalau Ibu bersedia saya mau tawarkan ke Ibu saja bagaimana?”

“Wah, boro-boro buat nggantiin tanah Ummi.  Saya juga banyak keperluan.  Coba  Ummi tawarin aja ke Bu Zenab!  Barangkali beliau mau.  Untuk iuran bisa cicil lima puluh ribu perbulan, kok.  Masak ummi masih keberatan?”

Bu Yuni enggan menjawab pesan terakhir kiriman Bu Kania.  Kadang tidak semua kesusahan dibeberkan dengan vulgar.  Cukup satu kali saja, saat terdesak oleh tagihan Bu Kania.  Sejak kesedihan yang dialaminya hari ini ia bertekat untuk bicara hanya pada Tuhan.  Setelah itu baru suami.  Selebihnya terasa sangat hampa, sia-sia.

Pikir Bu Yuni, masih ada jalan lain untuk menghindari iuran.  Ia akan menawarkan kebon itu ke Bu Zenab.  Melalui pesan WA, ia mencoba menawarkan kebon bagiannya.  Setelah negosiasi yang panjang,  tawaran Bu Yuni ternyata mendapat penolakan yang halus dari Bu Zenab. 

Rupanya Bu Zenap menceritakan niat Bu Yuni pada Bu Kania.  Hingga suatu hari, Bu Kania menyanggupi tawaran kebon itu dengan harga pas-pasan.  Bu Yuni merasa tertolong dengan bantuan Bu Kania.  Paling tidak biaya pendidikan anak-anaknya tertutupi dari hasil penjualan tanah itu.

Ada rasa terimakasih yang bergumul dengan rasa kecewa.  Harga yang yang mereka sepakati benar-benar harga keterpaksaan.  Kapepet ku butuh untuk Bu Yuni dan sesuai ketersediaan uang pada Bu Kania.  Bu Yuni hanya bisa menghela napas panjang uang sebesar itulah yang dulu dikeluarkannya untuk membeli kebun tiga tahun yang lalu.  Jadi praktis harga pohon tidak diperhitungkan.

***

Lima tahun bukan waktu yang lama.  Saat-saat kuliah Zulfan dan Fariz pun makin dekat.  Zulfan yang telah hafal tiga puluh juz dalam waktu lima tahun pendidikan pesantren, ingin melanjutkan ke Yaman.  Ia berhasil menyusul hafalan sahabat dekatnya itu.   Sementara Fariz berhasil lolos seleksi dengan hafalan Alquran.  Jalur tahfiz menjadi wasilah keberhasilannya  meraih satu kursi di perguruan tinggi negeri terbaik.

            Setiap selesai sholat fardu,  Bu Yuni memohon lewat bacaan Alquran satu juz sebelum beranjak dari bentangan sajadah panjangnya.  Satu permohonan yang selalu dipanjatkannya,  Zulfan bisa meneruskan kuliah ke Yaman.

            “Assalamualaikum.”  Seseorang membunyikan bel dan mengucap salam.

            Ternyata Bu Kania.  Tidak biasanya dia berkunjung tanpa mengirim pesan wa.

            “Masya Allah, Bu Kania.  Selamat, ya, Fariz udah diterima lewat jalur tahfiz.”  Bu Yuni segera mengucapkan selamat untuk keberhasilan Fariz memasuki bangku kuliah.

            “Saya dapat kabar dari Fariz kalau Zulfan juga diterima di Tarim, Yaman.  Saya ikut bangga.  Semoga bisa jadi dai kondang seperti Ustaz Somad atau Ustaz Adi atau Buya Yahya.”

            Bu Yuni tersipu malu dengan ucapan tulus sahabatnya itu.  Dalam hatinya berkelebat rasa bersalah yang dulu sempat singgah.  Kadang rasa bersalah itu membuatnya jenggah.  Tapi Alhamdulillah muamalah yang terjaga baik makin mengikis rasa tidak etis itu.  Dalam hati Bu Yuni,  selalu terucap kata maaf yang tak mencoba ia ucapkan.  Karena akan membuka luka lama yang hanya disebabkan kata ‘tahu’.

            “Dulu, waktu saya beli kebun Ummi, saya niatkan ngasih pinjaman aja, Ummi.  Kemarin ada yang menawar kayu kita.  Alhamdulillah semua terjual dengan harga sepatutnya.  Semua ada sembilan puluh pohon.   Satu pohonya rata-rata terjual empat juta.  Semua jadi 364.000.000.  Bagian ibu 121.333.000.  Dipotong pinjaman 21.000.000 dan pemeliharaan selama lima tahun sebesar satu juta rupiah.  Jadi saya serahkan ini sebesar 99.333.000.  Semoga bisa digunakan buat uang sekolah anak-anak. “

            Bu Yuni kehilangan kata-kata.  Sesuatu yang tak pernah dibayangkannya sebelum ini.  Dipeluknya sahabat terbaiknya selama ini.  Betapa tulus dan mulia tawaran bantuan dari sosok sahabat sejati.   Selama ini ia terlanjur berprasangka buruk bahkan memendam selapis rasa iri.

            Berbaris bait pada diary puisi Bu Yuni,  kembali menanti pena menari di atasnya.

 

KETULUSAN, 17 Ramadan 1440 H

 

Berjuta kisah kita lalui bersama

Kau biasa-biasa saja

Membidikku dengan cerita yang lebih indah berseri

Dan aku telan sendiri segala keterbatasan hati

 

Tidak ada yang istimewa selain ketersisihan

Ketakberdayaan, keterbatasan

Berkali menggoreskan luka yang dalam

Teramat letih untuk kurajut

Dengan benang pesahabatan dan jarum kesenjangan

Terselubungi senyum kepura-puraan

 

Semua sirna sudah

Melibas debu-debu yang hinggap

Pada pekat hari, mungkin iri dengki

Juga prasangka yang menjadi prahara

Terlumatkan oleh ketulusanmu sore ini

Menjelang malam lebih mulia dari seribu bulan

Turunnya Alquran yang menyinari kegelapan

Kau cahayai hatiku dengan tulusnya persahabatan

 

Dan aku kembali malu

Bersimpuh di hadapanMu yang serba tahu

Terimakasih untuk teguranMu yang indah

Tanda kasih yang tak kan pernah kulupa

KehendakMu mengalahkan segala

Juga kerak hitam di dasar hati

Atas nama ketelanjuran yang menuntut

Kata maaf dan pertaubatan.

 

            Diary itu akan mengikuti kemanapun Bu Yuni Pergi.  Baris huruf  dan kata menunggu terangkai hikmah demi hikmah.   Pahala Allah selalu menanti bahkan untuk setiap kebaikan yang dipilih setiap insan.  Baik urusan lahir maupun batin.  Urusan dunia dan akhirat.  Semua akan dimintai pertanggungjawaban pada-Nya.  Dan selalu ada kata maaf memaafkan yang berpendar indah.  Seindah kilauan pengampunan Rabb pada hambanya yang bertaubat.


 

NYARIS

By: Khadijah Hanif

 

Arman menatap wajah istrinya, Nina lekat-lekat.  Penuh rasa iba, dibelainya rambut Nina yang makin tak terawat, Bun, ingatlah masa-masa indah kita.  Saat awal kita berjumpa dan membangun mahligai rumah tangga.  Juga saat kita bersama menyusuri pantai sekeluarga,” tutur Arman lembut.  Mengharapkan jawaban dari istri tercintanya yang hampir sepekan tidak menunjukkan respon positif.

“Sudah! Cukup! Aku tidak kenal kalian semua!” teriak Nina marah.  Wajahnya merah merona.  Suaranya pun berat, seakan erangan harimau.  Suara itu tidak seperti  dulu yang selalu lembut dan penuh kasih sayang. “Aku tidak mengerti dengan segala cerita kamu itu.  Aku tidak pernah bersama kalian sebelum ini!”  Nina kembali mengelak.

Semua tertunduk sedih.  Nina tak ubahnya jasad yang terisi jiwa yang lain.  Entah siapa, darimana, dan kemana jiwa Nina tersembunyi?  Air mata mulai mengalir di pipi Salsa, anak pertama mereka yang sudah menginjak usia tiga belas tahun.  Sementara adiknya Lania dan Farhan, baru berusia enam tahun, kembar.  Kedua anak itu belum mengerti apa yang terjadi.   Ketakutan menyelimuti wajah mereka.

“Aku bukan Nina, ha...ha...ha....!  Aku akan kembalikan Nina di tengah kalian.  Aku juga akan segera pergi asalkan salah satu anggota keluarga ini mau ikut bersamaku!”  Tatapan mata tajam Nina tertuju pada anak pertama mereka, Salsa.

“Tidak! Aku tidak mau!”  Salsa berteriak meninggalkan kamar itu.  Berlari menuju rumah kakeknya yang hanya terpisahkan gang sempit.

“Salsa, jangan tinggalkan rumah.  Kita harus selalu bersama!  Kita dalam masalah!”  Arman meraih tangan Salsa.  Keadaan begitu makin mengkhawatirkan.  Ancaman-ancaman dari makhluk lain itu menghantui semuanya.

Mereka kembali bersama di kamar lima kali enam meter itu.  Cat biru dan merah muda tidak lagi memancarkan serinya. Nina hanya bisa terbaring di atas springbed dikelilingi orang-orang terdekatnya.  Sesekali Nina tertidur atau lebih tepatnya makhluk  jahat itu meninggalkan jasad Nina.  Nina akan terlihat seperti seseorang yang tertidur pulas dan dalam.

“Salsa, Lania dan Farhan.  Ayah mengkhawatirkan keselamatan kalian. Ayah tidak bisa mengabaikan ancaman makhluk yang memasuki raga bunda.  Maka semua harus saling bantu.  Ayah yakin, kalau kita mengikuti nasihat kakek, kita semua akan selamat.”  Ayah Arman seorang ajengan, ulama yang ‘alim tetapi tidak termasyhur.  Uniknya, meskipun tidak masyhur, ia banyak didatangi tetamu.

Ada amalan yang terus mereka lakukan.  Lania dan Farhan memegang tasbih untuk berzikir kalimat tauhid sebanyak mungkin.  Sementara ayah dan Salsa harus mengkhatamkan Alquran setiap pekannya.  Bacaan-bacaan itulah yang membuat mereka terus bertahan.

***

Malam ini, pengaruh makhluk jahat itu pergi entah kemana.  Jasad Nina terbujur kaku, ada napas satu-satu tapi Nina belum juga terjaga.  Koma.

“Pak, izinkan saya membawa Nina untuk suluk ke lembah Ciwulan.  Saya mendapat firasat untuk membersihkan jasadnya.  Pengaruh makhluk gaib yang selama ini memasuki jasadnya harus segera kita kalahkan.”  Arman meminta izin kepada mertuanya.

Lembah Ciwulan adalah lembah yang cukup dalam, dibelah oleh Sungai yang masih asri dan berair bening.  Sebuah saung milik keluarga Nina yang selama ini kosong akan digunakan Arman untuk proses pemulihan Nina.

“Bapak nggak keberatan, Arman.  Bapak sebenarnya ingin menemani kamu membantu kesembuhan Nina.  Tapi anak-anak harus dijaga juga.  Sekolah mereka juga tidak boleh terganggu.”

“Nggak apa-apa, Pak.  Biar saya berdua dengan Nina.  Kami justru meminta maaf harus membebani Bapak dan Emak dengan anak-anak.  Saya khawatir dengan keadaan Nina.  Bapak lihat sendiri.  Dia terlalu lama tak sadarkan diri.  Badannya makin kurus.  Saya pikir akan sangat berbahaya kalau dia dekat dengan anak-anak.  Sewatu-waktu, makhluk  jahat itu bisa merasuki tubuhnya.”  Arman tertunduk lesu.  Beban hidup terasa begitu berat.  Beruntung bos tempatnya kerja mengizinan cuti sampai keadaan Nina membaik.  Kadang terlintas rasa tidak enak hati terutama pada rekan kerjanya.  Akan tetapi buat Arman, keluarga adalah segala-galanya.

Arman memberitahukan ancaman terakhir makhluk jahat pada keluarganya.  Pak Sadeli, mertua Arman hanya bisa mengurut dada dan berusaha menenangkan menantunya itu.

“Mantapkan hatimu, Arman.  Biar aku yang menjaga anak-anak.  Berangkatlah!”

Perbincangan mereka tiba-tiba terhenti oleh sesuatu yang aneh.

“Perasaan nggak hujan, tapi…kenapa atap kita bocor, Pak?”  Arman mendongak ke arah atap, tepat di atasnya. Dan….

“Arman, di muka kamu, ada tetesan….darah!  Cepat kau basuh, Bapak merasa ada yang janggal.  Sebelum darah itu memengaruhi kamu.”

Arman tersentak bau hanyir darah itu busuk. Diusapnya tetesan itu dengan jemarinya.  Merah tua.  Kalimat istighfar, istirja’ keluar dari lisannya.  Tak berhenti.  Panik.  Apa yang terjadi dengan keluarganya?   Nina, Salsa, Lania dan Farhan.  Wajah orang-orang terdekat memekatkan pandangannya.

Sementara itu….

Di rumah, ketiga anaknya ditemani seorang pembantu terus menjaga Nina.  Ini adalah hari pertama Bi Timah mendapat amanah menjaga anak-anak sebelum Arman membawa Nina menuju lembah Ciwulan.

“Kasihan sekali Neng Nina ini.  Dulu wajahnya cantik.  Sekarang mulai membiru dan kurus.  Wajahnya jadi mengerikan.  Matanya cekung, rambutnya kusut.  Aku akan mencoba merapikan rambutnya.  Kebetulan aku punya minyak kletik yang aku tuangkan di daun pandan.  Pasti akan mudah merapikannya.”  Sedikit ragu Bi Timah mendekati raga yang hanya terdiam itu.  Bulu kuduknya meremang.  Tapi mengingat kebaikan hati dan kedermawanan Nina,  dalam hati Bi Timah timbul rasa kasih dan iba.

Wanita paruh baya itu mendekati Nina.  Wajahnya yang sederhana memancarkan kesalehan. Disentuhnya rambut kusut itu sambil terus melantunkan salawat.

Punten ya, Neng.  Saya lancang. Allahumma sholli ‘ala nuril anwar wa sirril asrar wa tiryaqil aghyar wa miftahi babil yasar sayyidina wa maulana muhammadinil mukhtar wa alihil ath-har wa ash-habihil akhyar ‘adada ni’amillahi wa ifdhalih.”  Berkali-kali salawat itu terlantun dengan merdu.

Bi Timah begitu sabar menyisir rambut itu hingga rapih.  Tiba-tiba sentuhan tangan lemah memegang tangan kisutnya.  Bersamaan dengan itu cahaya putih memasuki raga Nina.

“Masya Allah, cahaya apa yang masuk ke badan Neng Nina?” Bi Timah mempercepat dan mengeraskan salawatnya.

“Siapa ini? Salsakah?”  Suara lemah Nina mengagetkan Bi Timah.

“Eh, Neng Nina.  Alhamdulillah, Neng sudah sadar?  Saya Bi Timah, Neng.  Neng Nina ingat saya, nggak?” tanya Bi Timah tanpa rasa takut.  Beruntung kabar tentang penyakit Nina hanya diketahui keluarga Arman dan mertuanya.  Para tetangga tidak dibiarkan mengetahui secara detail.  Termasuk juga Bi Timah.

Nina mulai mengangkat tangannya.  Tenaganya belum sepenuhnya pulih. “Berapa lama aku tertidur, Bi?  Kenapa aku jadi kurus begini?”

“Kata Jang Arman, udah dua pekan, Neng!”

“Anak-anak saya mana?”

“Ada, Neng.  Sedang belajar di ruang tengah.”

Di kamarnya, Salsa keluar dari toilet, mengambil wudlu.  Hari ini tinggal satu juz ia dan ayahnya akan mengkhatamkan dua kali Alquran.  Baru saja tangannya ingin menyentuh Alquran, sesuatu yang tak lazim terjadi.  Semua badannya tiba-tiba kaku.  Segaris merah darah tergores di dinding warna biru muda kamarnya.

“Agh...agh….!!!” suara erangan kesakitan seakan muncul dari dinding bergores darah itu.  Tetesan segarnya membercak di atas bedcover pink Salsa. ”Aku tak kan biarkan kalian lepas begitu saja.  Ibu kalian bisa kembali tapi, kau harus ikut aku!”  Suara yang sama dengan makhluk jahat itu menggetarkan tubuh Salsa yang kini kaku, terpaku pada tempatnya berpijak.

“Tolong, Ayah!!!! Lania, Farhan, Bi Timah!!!!”  Salsa berusaha memanggil siapa saja di tengah isak tangis yang makin pilu.

Lania dan Farhan bergegas menuju kamar Salsa.  Dua anak kecil itu ingin meraih tangan Salsa.  Namun jasad itu memudar bersama tawa kemenangan makhluk jahat pengganggu Nina selama ini.

“Teh Salsa, jangan pergi! Teh, Nia takut!” teriak Lania

“Iya, Teh, bunda juga belum kembali kenapa Teteh harus pergi. Hai, Iblis, kamu jahat sama keluarga kami!  Kami akan membalas!”  Farhan mengepalkan tangan geram.  Mereka belum tahu bahwa Nina, ibu mereka sudah sadar dari komanya.

Mereka tidak menuju ke kamar ibunya, tapi mencari ayah mereka.  Sore itu sebelum azan Maghrib berkumandang.  Dua anak kembar berlarian menuju rumah kakek mereka.

“Ayah, Kakek, Teh Salsa hilang!”  Farhan dan Lania menangis sejadi-jadinya.  Ketakutan yang makin pekat.  Mereka menghambur pada pelukan ayahnya. “Ayah, Farhan nggak mau pulang lagi ke rumah kita,” ungkap Farhan.

Lania mencoba mengatur napas dan suaranya.  Kemudian bercerita.  “Tadi Teh Salsa tiba-tiba hilang, hanya jeritan suaranya yang kami dengar.  Dia minta tolong.  Kasihan Teh Salsa.  Suaranya terdengar sedih, Ayah!”

Arman makin bimbang.  Dia berusaha tetap tenang meskipun hatinya berkeping-keping.

“Sabar, sayang.  Semua akan segera baik.  Ayah akan mengobati bunda.  Setelah itu Teh Salsa akan kembali.”  Arman baru teringat bahwa hari ini tepat sebelum Subuh, ia dan Salsa    seharusnya telah mengkhatamkan Alquran.  Tinggal satu juz.  Berarti syarat keselamatan keluarganya tidak terpenuhi.  Rupanya ancaman  makhluk jahat itu tidak main-main.

Ingatannya kembali pada Nina.  Ia sedang ada di rumah bersama Bi Timah.

“Pak, saya harus segera menemui Nina.  Saya juga harus berusaha menyelamatkan Salsa.” Arman menahan rasa sedih yang hampir pecah.  Tak ada air mata.  Hanya rasa duka tertahan membekaskan warna merah pada dua matanya.

***

Hari ketiga kepergian Salsa.  Semua masih dirundung duka.  Bi Minah masih setia membersihkan bekas garis-garis merah pada dinding kamar Salsa.  Semampunya dibasuh warna itu hingga tak berbekas.  Bau anyir itu lama kelamaan sirna juga dengan minyak gaharu yang disapukannya pada dinding, hingga cat biru mudanya turut memudar. Lagi-lagi salawat membasahi bibirnya yang tak pernah kering dari zikir.  Keluarga Arman beruntung memiliki asisten rumah tangga sebaik Bi Timah.

“Allahumma sholli ‘ala nuril anwar wa sirril asrar wa tiryaqil aghyar wa miftahi babil yasar sayyidina wa maulana muhammadinil mukhtar wa alihil ath-har wa ash-habihil akhyar ‘adada ni’amillahi wa ifdhalih”

Arman ikut memerhatikan kebiasaan Bi Timah yang tak biasa itu.  Dia sangat berbeda dari semua pembantu yang pernah bekerja di rumahnya.

“Bi Timah, coba Bibi ceritakan apa yang terjadi sore itu.  Saat Nina mulai tersadar,” tanya Arman di ruang tengah.  Semua anggota keluarga berkumpul kecuali Salsa.

Bi Timah menceritakan semua yang dialaminya saat menemani Nina.

“Bunda kelihatannya sudah agak sehat.  Sudah tidak pucat lagi.  Bisa menceritakan apa yang Bunda alami dalam dua pekan Bunda meninggalkan kami?”  Arman bertanya lembut.  Semua kejadian yang menimpa Nina membuat dia makin sayang pada Nina dan ingin menjaganya.

Dibalut setelan hijab syari kasual, warna dominan ungu muda, bermotif bunga ungu tua.  Cantik dan anggun.  Matanya sembab oleh air mata yang tak juga berhenti, memikirkan Salsa, anak sulungnya.

“Bunda seakan meninggalkan jasad malam itu.  Bunda tahu ayah sedang salat malam.  Bunda juga bisa melihat jasad Bunda sendiri.  Tiba-tiba datang sosok yang mengerikan.”

***

“Kamu harus ikut aku!”  Sosok berwajah hitam legam.  Berkepala harimau tapi tubuhnya manusia.  Suaranya berat setengah mengaum.  Seperti seekor macan.

“Aku tidak mau.  Aku tidak ada urusan sama kamu!” Bunda berontak.  “Kenapa aku harus ikut kamu.  Aku punya keluarga dan anak-anak yang tak bisa aku tinggalkan begitu saja.”

Sosok itu membeberkan semua yang akan menimpa Bunda.  Katanya ada leluhur kita yang akan memakai jasad Bunda dan akan membawa manfaat bagi mereka yang mengalami gangguan jin.

“Aku dari bangsa jin.  Pekerjaanku mengganggu manusia.  Kalau aku biarkan kamu tinggal di dunia,  jasadmu bisa dipakai leluhurmu untuk melepaskan penderitaan manusia dari gangguanku.”

Makhluk itu mengikat Bunda dengan rantai besi.  Bunda tidak bisa kemana-mana.  Entah berapa lama.  Di sana Bunda tidak diberi makan sedikitpun.  Sampai datang sekelebat cahaya, berpakaian serba putih.  Serban dan jubahnya pun putih.  Bunda tidak bisa melihat wajahnya.  Dialah yang melepaskan Bunda dari rantai besi dan kembali.

“Anaking, Nina.  Pejamkan mata dan pegang erat lengan saya.  Saya akan membantu mengembalikan kamu pulang.”

“Bapak siapa? Saya tidak kenal.”

“Kamu tidak perlu mengenal saya.  Yang jelas saya tidak akan menyusahkan kamu.  Ikhlaskan jika saya akan hadir saat ada yang membutuhkan.”

***

Semua mendengar dengan seksama cerita dari Nina.  Tiba-tiba Nina kembali pingsan.

“Bunda, jangan tinggalkan kami lagi!” Arman panik dan trauma pada kejadian yang menimpa keluargannya.  Salsa yang belum juga kembali, Nina yang dibawa jin berkepala harimau.  Ah…sampai kapan derita ini terus mendera?

Tidak lama kemudian, Nina terbangun.  Tapi lagi-lagi keanehan terjadi.  Suara yang berbeda keluar dari lisan Nina.  Kali ini suara orang tua, parau dan berat.  Perkataannya lembut dan sorot matanya teduh.

“Sabar, Anaking Salsa dalam pengawasan saya.  Saya akan berusaha membebaskannya dari jerat jahat jin harimau.  Tapi ada syarat yang harus kalian lakukan.  Salatlah tepat jam duabelas malam, setelah bangun tidur. Tempatnya harus sama dengan saat Salsa menghilang.  Baca ayat ruqyah dari ma’tsurat qubra.  Tutup dengan salawat Nuril Anwar.  Begitu tercium aroma wewangian, bacalah basmalah tiga kali.  Panggil namanya.  Kamu akan melihat sekelebat sosok Salsa.  Peluk erat-erat dia, dia akan kembali.”

“Apakah Anda yang menyelamatkan istri saya?  Siapa Anda sebenarnya?  Dan bagaimana kami harus memanggil nama Anda?”  Arman mencoba mengetahui ruh atau entah apa nama makhluk yang telah memasuki jasad Nina itu.

“Itu tidak penting.  Pangil saja saya, Aki.  Jangan lupa berterimakasih pada Bi Timah, lantunan salawatnya memudahkan aku membantu istrimu pulang.  Yang lebih utama, kalian ikuti saranku bila ingin Salsa selamat.   Saya harus pergi sekarang juga.   Ingat kesempatannya hanya sekali dan hanya malam ini.  Saya akan bantu Salsa untuk bisa kembali. Wassalamu’alaikum

Waalaikumussalam.  Terimakasih, Aki.”

Raga Nina tiba-tiba pingsan kembali untuk kemudian sadarkan diri.

“Eh….apa yang terjadi?  Tadi sampai mana Bunda cerita.  Oh, iya, Bunda akhirnya selamat dan bisa pulang kembali.  Alhamdulillah.

Semua terdiam.  Keanehan demi keanehan begitu menyisakan teka-teki.  Buat Arman semua menjadi tidak penting karena yang paling penting adalah kembalinya Salsa.

***

Arman sengaja tidur lepas salat Isya.  Sepulang dari salat berjamaah di masjid, Arman tidur di kamar Salsa.  Ditemani Nina.

Ada kesedihan saat mereka mulai memasuki kamar itu.  Air mata mengalir tak henti dari mata Nina.  Seorang ibu tentu sangat mengkhawatirkan keadaan anaknya.

“Ya Allah, hindarkan Salsa dari penderitaan.  Kembalikan dia bersama kami.”

Setelah mengambil air wudhu, bersiwak dan salat dua rakaat, mereka mulai memejamkan mata.  Nina tidak bisa tidur.  Isak tangisnya tertahan karena khawatir mengganggu istirahat suaminya.  Hanya air mata yang tak henti mengalir hingga menjelang tengah malam.  Akhirnya Nina kembali pingsan dan jiwa yang lain itu datang……

“Anaking, bangun!”  Suara parau dan berat itu kembali keluar dari lisan Nina

Arman terkejut mendengar suara parau itu.  “Ini pasti bukan Nina, tapi seseorang yang memperkenalkan diri dengan nama Aki.”  Arman membatin.

Mereka bangun, mengambil air wudhu dan salat malam bersama.  Jam meja Salsa menunjukkan waktu tepat 12.00.  Zikir dan salawat mulai mereka lantunkan bersama.  Seirama dengan detak detik jarum jam, satu-satu.

Aki, saya sudah merasakan aroma itu.  Apa yang harus aku lakukan?”

“Bacalah basmalah tiga kali satu napas.  Cepat, sekarang juga Arman!  Kita tidak punya banyak waktu.”

Bismillahir rahmanir rahiim.  Bismillahir rahmanir rahiim. Bismillahir rahmanir rahiim!”  Arman berusaha melafalkannya dalam satu napas.

“Panggil nama anakmu, sekarang juga!”

“Salsabila Anindia binti Arman.  Ini ayah! Kemarilah!”  Suara Arman bergetar, cemas.

Sesosok halus berkelebat menghampiri Arman.  Antara percaya dan tidak, antara takut gagal dan harapan ingin berhasil memeluk anaknya membuat jantung Arman berdegup kencang.

“Ayah……!!!!!”  Suara itu sangat dikenalnya.  Salsa.  Ya, Salsabila telah kembali di pelukan Arman. Tangisan haru pecah dari seseorang yang selama ini teramat tegar menghadapi ujian hidup.  Betapa tidak?  Pertaruhan antara kehilangan Salsa selama-lamanya atau bersatu kembali terjadi di keheningan malam ini.

Wajah Salsa terlihat pucat.  Dibenamkan wajah itu dalam-dalam pada dada bidang sang ayah.  Terasa begitu damai dan tenteram.  Isaknya pecah, perlahan mereda bersama usapan lembut tangan kekar Arman.

“Alhamdulillah.  Terimakasih ya Allah, Kau kembalikan anak dan istriku.  Mereka semua titipanMu yang harus kujaga.  Izinkan kami utuh saat menghadapMu di syurga nanti.”  Arman berdoa tulus.

“Ayah, Salsa lelah,” ucap Salsa lirih.

“Ayah mengerti, Nak.  Istirahat dulu, ya, Salsa.  Jangan pernah takut.  Teruslah meminta perlindungan sama Allah.  Kita akan lanjutkan baca Alquran bersama, ya.  Syukur-syukur kita bisa menghafal sehari satu ayat.”  Arman membopong tubuh Salsa dan membaringkannya di atas dipan.  Di kecupnya kening Salsa sambil mengucap doa sebelum tidur.

“Nggak lapar Salsa?  Sudah tiga hari kamu nggak makan?”

“Tidak, Ayah.  Ada seorang kakek yang baik.  Dia memberi makanan yang belum pernah Salsa makan sebelumnya.  Enak…banget.”  Salsa tersenyum manis.  Seakan tak ingin melepaskan kenangan indah bersama seseorang di alam lain yang menjumpainya.

“Oh, Ayah tahu.  Pasti dia bernama Aki?!”

“Kok, Ayah tahu?”

Arman tersenyum.  “Ceritanya panjang sayang.  Insya Allah masih ada hari esok buat kita saling berbagi cerita.  Sudah malam, tidurlah!”

“Salsa ingin tahu satu hal, Ayah?

“Apa, sayang….”

“Kata Aki, Bunda sudah pulang. Benarkah?”

Alhamdulillah, lihat siapa yang tertidur di atas sajadah itu?”

Salsa mencoba bangun.  Arman membantu mendudukkan anak gadisnya. Salsa tersenyum.  Ia ingin memeluk bundanya, tapi melihat Nina begitu lelap ia mengurungkan niatnya.

Salsa segera tertidur.  Kepalanya di sebelah barat.  Ia memiringkan badan  ke kanan.  Tangan kanannya diletakkan di bawah pipi.  Tidur sunah yang Arman ajarkan sejak kecil begitu mudah Salsa lakukan.  Senyum bahagia mengembang di bibir Arman.  Tidak terasa sudut matanya melembab. 

Perhatian Arman tertuju pada sosok di sebelahnya.  Tergolek di atas sajadah masih lengkap dengan mukenanya.

“Nina, agak sulit menerima kenyataan ini.  Antara anugerah dan ujian.  Kini ada jiwa lain dalam jasadmu.  Semoga aku bisa menerima takdir ini, apa adanya.  Bagaimanapun aku bersyukur.  Karena takdir ini juga yang telah menjadi wasilah kita utuh berkumpul kembali.”  Arman mengusap lembut kepala dan punggung istrinya itu.  Penuh kasih sekaligus kerinduan.

Nina terusik dengan belaian Arman. “Innalillahi, Ayah!  Jam berapa sekarang?  Jangan sampai terlambat!  Salsa harus kita selamatkan!”  Nina terkejut dari tidurnya.

“Stttt! Tenang, Bun!”  Arman memberi isyarat supaya Nina tenang. ”Lihat siapa yang berbaring di atas dipan?”

Alhamdulillah!  Salsa, kau sudah pulang, Nak!”  Nina bangkit dan memeluk Salsa yang tertidur pulas.

            Keluarga ini kembali utuh setelah melewati masa yang nyaris merusak keutuhannya.  

Babak baru dari kisah hidup keluarga Arman baru saja dimulai.  Satu per satu kisah penuh misteri menyambangi kehidupan Nina. Ya, melepaskan bani Adam dari berbagai gangguan di luar nalar dan logika.  Akan tetapi nyata dan sangat lekat dengan kehidupan manusia.


 

TETES KESADARAN DARI KETULUSAN DOA IBU

By: Khadijah Hanif

“Lora, cepat berangkat, itu ayah sudah menunggu di depan rumah!”  Ibu meneriaki Lora yang tak juga keluar dari kamarnya.

Hampir setiap pagi suasana tegang itu mewarnai keluarga Lora.  Gara-garanya, selalu saja Lora melakukan slow motion dalam tiap hal yang di lakukannya.  Bangun dan salat Subuh telat.  Menjelang beberapa menit menjelang terbit baru bangun.  Bahkan lewat terbit matahari baru memulai aktifitas.

“Kamu itu bagaimana? Ayah malu kalau harus terlambat ngantor.  Hanya gara-gara menunggu kamu.”  Gantian ayah yang tak bisa memendam kekesalan.  Pasalnya, Lora berangkat sekolah selalu bersama ayahnya, Pak Surya.  Kebiasaan telatnya membuat Pak Surya tidak tega membiarkan Lora berangkat sendiri.  Pasti akan makin terlambat dan terancam tidak bisa memasuki gerbang sekolah.  Satpam akan mengunci pintu gerbang lima menit setelah tanda bel masuk. 

Pak Surya adalah salah satu guru di sekolah itu.  Selalu saja beliau bisa melewati pintu gerbang meskipun terlambat.  Dengan begitu Lora pun bebas dari hukuman keterlambatannya.  Hanya saja Pak Surya selalu dihinggapi rasa jengah pada satpam, kepala sekolah, rekan guru, karyawan, juga murid-muridnya.

Beberapa kali Pak Surya ingin memberi pelajaran pada Lora dengan meninggalkannya.   Tapi alih-alih Lora bergerak cepat malah Pak Surya yang memutar arah kembali menjemput Lora dengan bentakan marah.

“Kamu ingin Ayahmu ini stress, ya?   Kamu nggak lihat sekarang ini banyak orang stroke gara-gara hal sepele .  Apalagi kalau tiap hari harus terlambat gara-gara menunggu kamu!”

Suatu saat Pak Surya benar-benar meninggalkannya.  Akibatnya Lora berangkat dari rumah pukul tujuh pagi.  Sedangkan sekolah dimulai pada jam tersebut.  Bisa dibayangkan Lora yang tinggal di kampung harus berjalan kaki menuju jalan utama untuk mendapatkan angkutan umum.  

Pukul delapan Lora baru sampai ke sekolah.  Sebuah dilemma buat satpam sekolah.  “Mas Lora kok berangkat sendiri.  Nggak sama bapak?” tanya Pak Pardi, satpam sekolah.

“Ia, Pak.  Maaf saya terlambat.  Tadi ayah marah dan  meninggalkan saya.  Saya harus jalan kaki.”  Lora berkata memelas tanpa menjelaskan bahwa dia yang bersalah karena lambat dalam segala hal. 

“Ya sudah.  Pak Pardi mau bantu tapi jangan diulang lagi.  Saya akan membuka pintu gerbang.  Mas Lora langsung ke ruang UKS.  Jangan sampai melewati kantor.  Nanti saya yang akan ditegur kepala sekolah.”  Kerjasama itu berjalan baik.  Lora berpura-pura sakit di UKS di jam pertama hingga istirahat pertama.  Tentu dengan bantuan Pak Pardi yang menyampaikan informasi bahwa Lora sakit di UKS.

Keadaan ini sangat berbeda dengan Salma, Adiknya.  Salma selalu cekatan dan sigap.  Salma yang sekolah di tempat yang sama, sering jadi sasaran pujian tapi juga ledekan dari sahabatnya.

“Kamu beda banget ya sama Mas Lora.  Bagai bumi dan langit.  Sepertinya ibu kamu dulu seneng ngelat slow motion show pas hamilnya Mas Lora.  Atau jijik dan kesel  sama siput.  Jadinya Mas Lora suka gerak lambat.”

Salma hanya bisa tersenyum kecut.  Kemudian mengadukan hal itu pada ibunya,  Bu Atikah.

“Ibu juga sudah kehabisan akal menasihati kakakmu yang satu itu, Salma.  Kamu tahu sendiri bagaimana Ayah dan Ibu mengajaknya bicara untuk mengubah sikap.”

Kebiasaan serba terlambat ini tidak hanya saat mau berangkat sekolah saja tapi dalam segala hal.  Termasuk mengerjakan suruhan ayah dan ibunya.  Yang uniknya lagi, gerak lambat itu ternyata disebabkan was-was yang menggelayuti hati dan akal pikirannya.  Saat menutup pintu, Lora akan membuka dan menutupnya sampai lebih dari lima kali.  Begitu juga saat membuka dan menutup kembali laci meja atau lemari.  Bahkan saat membetulkan posisi kursi maka ia akan mengulangi gerak itu berkali kali. Seperti orang gagap dalam bentuk perbuatan bukan perkataan.

Bu Atikah mencermati hal ini.  Ternyata hampir pada semua yang dilakukan Lora selalu diulang-ulang.  Hari Ahad pagi, Lora mendapat bagian menjemur baju.  Bu Atikah dan Salma yang mencuci.

“Salma, coba perhatikan Mas Lora saat ngejemur apakah dia mengulangi gerakannya?”

Salma berdiri dan melihat bagaimana Lora menjemur pakaian.  Setiap sisi akan dibuatnya simetris.  Kalaupun sudah simetris, tidak membuat puas sampai di situ.  Ia akan mengulangi tiga hingga lima kali.

Melihat keadaan ini, Bu Atikah merasa prihatin.  Ia sangat khawatir bila anak sulungnya terhambat dalam segala hal.  Gejala ini makin parah ketika melihat nilai-nilai Lora yang jeblok.  Bukan karena salah mengerjakan, tapi dari soal yang diberikan guru, Lora hanya mengerjakan kurang dari setengahnya.  Tentu saja nilainya selalu di bawah lima.

Julukan slow motion boy  beralih ke repetition boy.

Bu Atikah mulai gusar.  Doa yang selalu dipanjatkannya untuk anak-anak semakin kuat.  Teristimewa untuk Lora.  Bangun tengah malam sekitar jam dua tidak pernah terlalaikan.  Di pekatnya malam, Bu Atikah mengambil wudu.  Tidak peduli cuaca dingin ataupun cuaca hujan, ia selalu mengambil wudu di jamban yang terpisah tiga meter dari rumah.

Sajadah dihamparnya di kamar Lora.  Di samping dipan, Bu Atikah terisak untuk kebaikan buah hatinya.

“Astaghfirullahal’adzim.  Astaghfirullahal’adzim. Astaghfirullahal’adzim.  Lanaa waliwaalidainaa warhamhumaa kamaa rabbayaanaa shighaaraa.  Allahumma shalli wassalim ‘alaa sayyidinaa wa maulanaa Muhammad wa’ala alihi wa shahbihi wassalam.  Waradhiallahu tabaraka wa  ta’ala ankulli shahaabati rasuulillahi ajmaiin.

Rabb, Engkau adalah Pencipta kami, dan kami ini hanyalah hambaMu yang lemah.  Tiada daya upaya dan kekuatan hanya milikMu, Ya Rahman.  Hamba menghadapMu malam ini, di tengah malam yang hening.  Untuk memohon dan berharap semata-mata padaMu.

Hamba bawa serta nama anak yang Kau titipkan ini Lora Fauzi Wibawa bin Suryadinata, dengan segala keadaannya.  Dia sedang mendapat ujian keraguan dalam hatinya.  Wahai Yang Menggenggam dan membolak-balikkan hati kembalikan keteguhan hati yang dulu pernah dimilikinya.  Hindarkan dia dari keraguan dalam tiap langkah dan tindakannya.

Rabb, hamba khawatir kebiasaan buruknya mengulang gerakannya akan merugikan masa depannya.  Maka kembalikan dia dalam keadaan normalnya dulu wahai Yang Menguasai setiap makhluk.

Bila ada perbuatan dosa kami yang membuat anak kami terlilit rasa ragu, kami mohon ampuni kami.  Tunjuki kami jalan selamat untuk terhindar dari dosa dan maksiat.  Baik itu yang kami sadari atau tidak.

Rabb, Engkau satu-satunya Tuhan tempat kami bermohon.  Menggantungkan harapan, bila Engkau tidak perkenankan maka kepada siapa lagi kami harus memohon.  Maka perkenankan doa kami.  Beri kami jalan kesadaran untuk anak kami.  Dengan cara-Mu, dengan kuasa-Mu.

Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanah wa fil’aakhirati hasanah waqinaa ‘adzaabannar.  Subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yasifuun wassalamun’alal mursaliin walhamdulillahi rabbil’aalamiin.

Pundak Bu Atikah berguncang, tenggelam dalam tangisan yang tak pernah disadari Lora yang tertidur lelap.

***

            Seluruh anggota keluarga perlahan memahami kelemahan yang dihadapi Lora.  Nasihat-nasihat lembut mulai mengganti kemarahan yang meledak dari Pak Surya.

            “Lora, cobalah untuk mengurangi gerakan ulangmu itu dari lima kali, cukup tiga kali misalnya.  Insya Allah akan makin berkurang.  Apa yang kamu ulang-ulang itu tidak perlu alias mubazir.  Mubazir bukan sekedar berlebihan dalam makan, minum, berpakaian atau menikmati karunia Allah lainnya.  Termasuk dalam tindakan, gerak dan perbuatan yang diulang tanpa manfaat, itu juga mubazir..”

            Perbincangan dan nasihat berulang kali disampaikan, tapi perubahan berarti belum tampak.  Sampai akhirnya Lora meminta kendaraan bermotor di kelas tiga SMA.

            “Ibu, kasihan ayah, masih juga terlambat.  Ini berarti aku sudah dua tahun menyusahkan ayah.  Boleh aku pakai motor Ibu buat ke sekolah?” tanya Lora suatu sore akhir pekan yang santai.

            Pak Surya yang sudah pusing dengan teguran kepala sekolah langsung setuju dengan permintaan Lora. “Kalau begutu segera urus SIM sama paman kamu di kepolisian.  Semua akan lancar dengan bantuan dia sebagai polisi di polsek kita.  Lagi pula kamu sudah tujuh belas tahun lebih.  Ayah rasa sudah waktunya kamu punya tanggung jawab sendiri.”

            “Tapi Ayah, bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Lora.  Dia masih belum lepas dari kebiasaan repetisinya.” Bu Atikah mengungkap kekhawatirannya.

“Sudahlah, Bu.  Semua orang memiliki titik balik.  Apalagi kebiasaan buruk Lora bukan bawaan lahir.  Kita doakan saja akibat baik buat anak kita.”  Pak Surya tetap memutuskan untuk mengizinkan Lora memakai kemdaraan sendiri ke sekolah.

Dalam hati Bu Atikah, doa-doa tulus terus diucapkannya., “ Rabb kabulkan permohonan kami untuk kebaikan Lora dengan cara terbaik yang engkau pilihkan.”

Pengurusan SIM berjalan lancar.  Dengan berbekal KTP dan kemampuan menaiki sepeda motor keliling kampung selama ini, Lora lulus mendapatkan SIM-C.

Pak Surya bisa sedikit bernapas lega. Ia tidak harus terlambat karena Lora.  Kini di belakangnya, ia membonceng Salma yang selalu membuatnya bangga. Rajin, berprestasi, tidak penah melanggar, terutama tidak pernah terlambat masuk sekolah.

Sementara itu Lora berusaha bangun lebih pagi sebagai kompensasi izin memakai motor.  Bagaimanapun tetap dia sampai di sekolah tepat saat pintu gerbang mau ditutup.

Ada sedikit perkembangan baik tapi prestasi belajarnya tetap jeblok.  Lora belum bisa mengatasi repetition act-nya .  Hingga siang itu, kehendak Allah mengubah semuanya.

Motor milik ibunya selalu setia menemani Lora sepanjang hari hingga pulang sekolah.  Lora sering pulang terlambat dibanding Salma dan Pak Surya.  Ada saja alasannya.  Perlajaran tambahan, belajar bersama hingga ikut bimbingan belajar.  Ayahnya berusaha memperoleh kebenaran alasan Lora dari wali kelas dan teman sekelasnya, ternyata Lora tidak berbohong.  Pak Surya pun maklum, kelas XII sedang mendapat pemadatan menghadapi UNBK dan SMNPTN.  Sebagai ayah,  Pak Surya tidak pernah keberatan memenuhi kebutuhan finansial untuk kemajuan belajar Lora.

Sepulang sekolah di bawah hujan gerimis yang kian akrab.  Lora memacu sepeda motor matik milik ibunya.  Sesampai  di tempat bimbingan, Lora mengunci motor dan menyimpan kunci itu di saku celana.

Menjelang Magrib,  bimbingan belajar berakhir.  Keributan terjadi di depan lembaga bimbingan belajar itu.

“Mana motor saya.  Tadi saya parkir di sini diantara motor ninja dan vespa ini.  Kok, sekarang nggak ada?”  Lora tidak habis pikir.  Sedangkan tempat ini dijaga satpam.  Tidak mungkin motornya dicuri.  Ia sudah merasa rapi menguncinya.  Bahkan seperti biasa berulang kali memutar kunci, buka-kunci-buka-kunci. 

Semua persendianya terasa lemas.  Lora terjongkok di tempat ia memarkir motor.  Kedua tangannya diletakkan di tengkuk.  Frustasi.

“Tadi memang ada yang menuntun dan menyalakan motor ini.  Tapi tidak ada yang mencurigakan.  Begitu mudah mereka menggeser motor ini.  Mungkin kamu lupa menguncinya?”  Satpam lembaga kursus itu menjelaskan.  Dalam hatinya ketar-ketir takut disalahkan oleh Lora atau mungkin kena tegur pemilik lembaga karena kurang mampu  menjaga keamanan.

Lora mencoba mengingati penyebab hilangnya motor itu.  Ia baru ingat saat putaran kunci yang berulang-ulang itu, sangat mungkin dia mencabut kunci dalam posisi buka.

“Sandi, tolong anter aku pulang!  Aku harus segera minta maaf pada orang tuaku,” pinta Lora pasrah.

Mereka menerobos hujan tanpa peduli.  Dalam dada Lora ada gemuruh penyesalan yang ingin segera dilumatkankan dalam satu kata maaf.

Sesampai di halaman rumah.  Bu Atikah sudah melihat gelagat kurang baik.  Melihat Lora yang gontai menjinjing helm tanpa motornya.  Begitu pintu depan dibuka Lora menghambur dan mencium dua kaki ibunya.  Menangis, meminta maaf.

“Ibu maafin Lora.  Ini semua karena Lora nggak juga menghentikan kebiasaan buruk mengulang perbuatan yang nggak perlu.  Saat memutar kunci motor berulang-ulang, aku mencabut pada posisi tidak terkunci.”

Bu Atikah meraih pundak anak jejaka tunggalnya itu untuk tegak berdiri.  Dipeluknya penuh kasih tanpa berbicara apapun.  Hanya sebait doa dari hatinya yang sunyi.”Ya Rabb, hamba rela atas musibah ini asalkan anakku Kau sembuhkan dari kebiasaan buruknya.  Kembalikan Lora yang dulu.  Yang melakukan segala sesuatu dengan cekatan tanpa keraguan.”  Air mata Bu Atikah membasahi punggung Lora yang kuyup oleh rinai hujan.

Doa yang selalu dipanjatkannya tidak sia-sia.  Meskipun harus dibayar dengan hilangnya sebuah sepeda motor.  Akan tetapi perkembangan positif buah hatinya lebih berharga dari apapun.  Hari demi hari Lora membuktikan kesadarannya.  Datang ke sekolah lebih cepat, nilainya perlahan terus membaik.  Julukan repetition boy pun mulai lepas dari dirinya.

Di akhir tahun, nilai UNBK-nya mendekati rata-rata delapan.  Meskipun tidak lulus SMNPTN, Lora terus berpacu dengan peluang.  Nilainya yang kurang bagus di kelas X dan XI ditebus dengan persiapan tembus test bersama.  Doa ibu yang selalu mengiringinya.  Sejalan juga dengan usaha sungguh-sungguh selama kelas XII membuatnya lulus SBMPTN.  Sebuah perguruan tinggi bergengsi menunggu kehadirannya tahun ini.


 

My Dad, My Hero

By: Khadijah Hanif

 

            Segala kenangan tentang ayah tak akan mampu kuurai dalam barisan huruf dan rangkaian kata.  Semua bersemayam dalam perasaan terdalamku.  Akan tetapi cinta ini telah memaksaku mengungkap rasa meskipun takkan mampu sedalam hatiku mencintai dan mengagumi ayah.

            Buatku ayah adalah sosok yang sukses mendidik kami anak-anaknya, hingga kami bisa seperti sekarang.  Ya, aku anak bungsu dari empat bersaudara, merasakan benar bagaimana ayah memperjuangkan keluarga.  Penjagaan terhadap kami, anak-anaknya juga harta yang menjadi peninggalan orang tua secara turun temurun.

            Tanpa mengecilkan peran ibu dengan segenap kesabarannya, aku ingin bertutur tentang sosok ayah yang aku anggap pahlawan keluarga kami.  Bukan karena aku melebihkan kasihku pada ayah daripada ibu, tapi lebih pada  kerinduanku pada ayah yang kini telah tiada.  Biarlah tulisan ini menjadi tanda mata di tahun ke-5 selepas kepergiannya.

Keluarga Kecil yang Bahagia

            Tahun 1978, usiaku memasuki angka empat.  Awal mula aku bisa mengenang satu persatu peristiwa.  Saat itu aku belum mengenal ayah sedalam sekarang.  Aku hanya ingat bahwa ada sosok yang sering disebut ibu saat kami sulit diatur.

            “Asti, ayo jangan bandel, ya!  Nanti ayah marah.”  Kalimat itu sering aku dengar hingga aku beranggapan bahwa ayah adalah seseorang yang senang memarahi kami. 

            Begitu juga bila kakak-kakakku berbuat salah.  Saat mereka  saat menggodaku, maka kalimat itu akan muncul lagi.  “Rangga, jangan kau bercandai adik kami berlebihan!  Kalau ayah tahu, dia akan marah,” tegur Ibu pada Mas Rangga, kakakku yang kedua.  Hingga aku beranggapan bahwa ayah juga sosok yang senang melindungiku dari gangguan kakak-kakakku.

            Tahun delapan puluhan, usiaku memasuki sepuluh tahun.  Saat itu sangat sedikit yang memiliki televisi.  Terpaksa aku curi waktu bersama kakak untuk menonton ke rumah tetangga.  Ya, aku menonton televise di rumah tante Dahlia.  Satu-satunya pemilik televise hitam putih di kampung kami.

            Saat maghrib menjelang, kami masih asyik menonton satu-satunya stasiun televisi, TVRI.  Film kartun favorit ditayangkan sore hari menjelang maghrib.

            “Asti, kamu dicari ayahmu.  Cepat pulang!”  ucap Adit temanku, mengingatkan aku.  Aku bergeming melihat film itu sampai habis.  Begitu film kartun selesai, hari sudah mulai petang.  Tanpa rasa bersalah aku pulang.

            Betapa kagetnya aku, ayah sudah menyediakan rotan dan memukul kakiku.

            “Dipanggil orang tua tidak menyahut!”  Hanya kalimat itu yang ayah ucapkan sambil memukuliku.  Aku hanya bisa menangis tak mengerti.

            Bersama tumbuh kembangku, aku mengenal ayah sebagai seseorang penuh wibawa.  Ia  mampu mengendalikan kami dengan rasa takut berbuat untuk berbuat salah.           

            Sejak peristiwa itu, aku benar-benar memerhatikan waktu bermainku.  Keherananku atas sikap ayah tiap kali aku bermain di rumah Tante Dahlia akhirnya terungkap saat aku duduk di bangku SMP.  Ada  banyak peristiwa yang menimpa gadis kampung ketika terlalu dekat dengan Tante Dahlia.  Kebanyakan mereka kabur dari rumah, disembunyikan di kota.  Entah apa yang dialami para gadis itu yang jelas ada yang sampai rusak akhlak, ganti-ganti pasangan, kawin cerai hingga menjual diri.

            Bergidik bulu kudukku mengenang semua itu.  Beruntung ayah selalu mengawalku tanpa menceritakan aib Tante Dahlia.  Saat aku memasuki akil baligh aku banyak tahu tentang Tante Dahlia dari orang-orang dewasa di sekitarku.  “Terima kasih, Ayah, untuk setiap penjagaanmu yang tak pernah sempat aku ucapkan saat Ayah masih ada.  Tak terbayang bila aku menjadi mangsa Tante Dahlia.  Nauzubillahiminzalik.  Tak ada sisa dendam dari ketakmengertianku pada kemarahan dan pukulan ayah yang pedih.  Yang ada perasaan sayang yang makin mendalam, rasa beruntung memiliki orang tua setegas ayah.”

Ujian Itu Menghampiri

            Tahun 1979, usiaku baru lima tahun, ujian berat untuk keluargaku datang tiba-tiba.  Kakak pertamaku mengalami sakit lumpuh, padahal sebelumnya ia dapat berjalan normal.  Berawal dari jatuh saat bermain bola sambil berhujan-hujanan.  Mas Bara mengalami panas tinggi dan demam.  Ayah segera memanggil mantri kesehatan.  Mantri itu begitu baik, selalu siap dipanggil saat keluarga kami membutuhkan. 

            Suntikan mereda rasa sakit dan demam segera diberikan, namun malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih.  Awalnya panas dan demam kakak sulungku reda, tetapi seminggu kemudian kakakku merasakan sakit yang tak tertanggungkan di bagian tulang belakang sejajar pinggang.  Dosis pemberian analgesic antipiretik terus ditambahkan.  Hasilnya nihil.  Keputusannya kakakku harus dioperasai.  Operasi gagal, berakhir pada mati rasa organ kaki dari pinggang hingga ujung kaki.

            Ayah sebagai kepala keluarga tentu menjadi yang paling terpukul.  Ia harus mengusahakan biaya pengobatan, sekaligus membesarkan jiwa anak sulungnya.

            “Logam diciptakan Allah untuk bisa ditempa dan dibentuk.  Lihatlah besi, bagaimana ia bisa setajam itu?  Karena besi dibakar sampai membara, kemudian ditempa berkali-kali untuk menjadi tajam dan membawa manfaat.  Demikian juga emas, ia harus dipanaskan hingga mencair dan dicetak.  Itulah perumpamaan hidup manusia.  Manusia diuji karena memang ia punya kemampuan untuk menerima ujian itu.  Orang yang diuji berarti ia dianggap kuat oleh Pencipta kita, Allah SWT.  Ujian itu pula bukan tidak ada hikmah dan tujuannya.  Ia penuh hikmah dan tujan mulia, yaitu untuk membuat kita menjadi manusia yang bermanfaat karena manusia yang diuji akan kaya dengan pengalaman hidup.”

            Baris-baris nasihat itu ayah tuturkan saat  Mas Bara merasa lelah dengan ujian yang menimpanya.  Aku turut menjadi saksi kata-kata bijak ayah.

            Demi kesembuhan Mas Bara, ayah rela mengikuti saran dokter.  Apapun itu.  Selama dua puluh empat tahun sejak sakitnya Mas Bara, ayah tidak pernah sedikitpun mengabaikan ikhtiar pengobatan.  Satu per satu saran dokter dijalani ayah dengan segala risiko biaya dan kemungkinan mal praktik.  Ayah menjadi sosok orang tua penuh tanggung jawab untuk keluarganya.

            “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian.  Tapi setidaknya kita mengikuti saran mereka yang ahli.  Hasilnya kita terus mintakan pada Allah SWT.  Yang penting kamu menjalani semua ini dengan ikhlas.  Insya Allah itu akan lebih baik untuk kesembuhanmu, Bara.”

            “Tapi Ayah, telah terlalu banyak biaya yang Ayah korbankan buat Bara.  Dua kendaraan bermotor sudah Ayah jual untuk Bara.  Emas  yang ibu pakai pun sudah satu persatu ditanggalkan.  Apakah kita akan jatuh miskin gara-gara penyakitku., Ayah?”  Kakakku menitikkan air mata.  Ada bongkah-bongkah rasa bersalah di dadanya.

            “Bara, apa yang kau duga dari apa yang kau lihat tidak selamanya sesuai dengan kenyataan.  Lihatlah bukankah Ayah bisa menambah sawah garapan dari tetangga yang menjualnya?” Ayah selalu berusaha membesarkan hati kakakku.  Ia tak ingin ada kehhawatiran dan beban batin pada kakakku.  Sementara kelumpuhannya yang tiba-tiba telah membuatnya cukup menderita.  Masa remajanya yang semula ceria, penuh tawa tiba-tiba hilang.  Hobinya untuk mengakrabi alam bersama ayah, tiba-tiba serba terbatas.  Selama ini Mas Bara selalu ikut ayah mencari anggrek hutan atau berburu di alam lepas.  Pandangannya pun kini harus dibatasi oleh dinding-dinding rumah kami.  Ia juga harus akrab dengan bau obat di rumah sakit yang pengap saat ada panggilan treatment dari dokter.

Zikir Ikhtiar Ayah

            Ayah tak pernah mau menyerah pada keadaan.  Kebutuhan yang terus mendesak terutama pengobatan kakakku selalu ia penuhi.  Di pagi hari ayah mengajar Fisika di sebuah sekolah negeri.  Sorenya menambah honor di sekolah swasta.   Setelah Asar ayah akan menggarap sawah kami petak demi petah.  Demikian pula waktu pagi lepas Subuh, beliau masih menyempatkan pergi ke sawah, ladang atau kebun untuk melakukan apa saja yang bisa membawa manfaat dan berkah buat keluarga kami.

            Zikir ikhtiarnya terus mengalun pada tiap ayunan cangkul yang melegamkan punggungnya, mengekarkan lengannya.  Bila hama tiba, punggungnya selalu siap membawa tanki sprayer yang berisi 20 liter air.  Ia rela melakukan sendiri walaupun berat.  Semua demi mempertahankan tiap jengkal tanah dari pemubaziran.  Demi mengutip tiap biaya untuk buruh sawah yang bisa disisihkan untuk  menambah biaya berobat juga biaya sekolah kami. 

            Terlalu banyak lembaran kertas dibutuhkan untuk mengungkap perjuangannya.  Ayah menanam apa saja.  Kelapa hingga lebih dari lima puluh pohon.  Kopi yang memenuhi seperempat hektar kebun kami.  Salak yang hingga kini masih ada, lebih dari seratus rumpun.  Pohon kayu seperti Albasia, Jabon dan Kayu Jati, silih berganti.  Ayah menanamnya sendiri, memelihara,  hingga saat panen tiba, menebang, menjual dan metanam kembali.   Ayah tak pernah kehabisan pundi-pundi uangnya karena tiap detik waktu ia gunakan untuk berkarya.

            Saat kami bertiga kuliah, Mas Bara di Universitas Terbuka karena kondisi disabilitasnya, Mas Rangga di UNS dan aku di IPB.  Bukan sedikit biaya yang harus ayah keluarkan.  Akan tetapi yang membuatku kagum, tiada subutir tanah pun terlepas dari kepemilikannya.  Padahal rayuan para pengusaha serakah hampir-hampir menggoda hati ayah.  Betapa tidak,  segepok uang dengan mudah ayah dapatkan dari para cukong.  Bila ikhtiar tidak menyatu dalam zikir amal perbuatannya, tentu Ayah memilih uang para pengusaha itu.  Bukankah akan terasa ringan menikmati uang itu  daripada harus meneteskan keringat, menentang panas matahari dan derasnya hujan?

            Zikir ikhtiarnya masih terus terbayang di pelupuk mata.  Ayahku seorang pembelajar sejati.  Bacaan langganannya adalah majalah pertanian.  Ayah selalu ingin mencoba hal baru dalam bertanam, berternak atau menanam ikan.  Sejak aku bisa mengingat, ayah selalu mencoba menggeluti banyak hal yang berbeda.  Kadang dalam waktu bersamaan, kadang bergantian sesuai kegemaran yang sedang ingin ayah akrabi.  Beternak kelinci Australia yang besarnya bisa setengah ekor kambing.  Beternak lebah hingga lebih dari sepuluh kotak.  Lebah itu ayah tangkap sendiri dari hutan dan diternakkan di rumah.  Memelihara puluhan burung hias.  Ada juga ratusan burung dara yang awalnya hanya dua pasang saja.  Aku sangat kagum dengan tangannya yang berkah.

            Ayah juga pernah beternak lele dan memijahkannya.  Tidak tanggung-tanggung, ayah menyiapkan sendiri tiga kolam besar untuk pemeliharaan dan enam kolam kecil untuk memijahkan lele.  Layaknya seorang yang professional, ayah menerima pemesan hingga Solo dan Semarang.

            Suatu hari yang teramat indah yang takkan pernah kulupakan, Ayah mengajakku melepas ikan di lahan mina-padi kami.  Enam bulan kemudian, kami memanennya, di satu siang yang terik.  Menangkap ikan yang tiga kali lipat lebih besar dibanding saat melepasnya,  membawa kebahagiaan tersendiri.  Di sela-sela rasa khawatir ikan tinggal sedikit, ternyata Allah begitu sayangnya mengabulkan harapan kami dengan keuntungan yang berlipat ganda.  “Alhamdulillah, terimakasih Ayah.”

            Aku juga berterima kasih untuk kopi yang aku petik.  Ada sensasi nikmat surgawi saat aku memegang ranumnya buah kopi yang matang sempurna.  Juga bunga cengkih yang aku kutip saat membantu ayah di kebun.  Enam puluh lima pohon cengkih yang siap panen itu sempat mengecewakan ayah karena harganya tiba-tiba jatuh.

            “Inilah kalau pembelaan pada petani tidak ada.  Saat belum menanam diberi janji dan harapan harga tinggi.  Begitu panen modal pun tidak ketutup.  Kamu belajar di IPB saja, Asti.  Nanti kamu perjuangkan nasib petani seperti Ayah ini.”  Sempat keluhan ini memantik cita-citaku untuk masuk IPB.  Semoga aku menjadi orang penting yang sedikit banyak bisa menyumbang hal positif untuk pertanian di Indonesia.

            Meskipun hasil panen sering kali tidak sesuai dengan pengorbanan, ayah tak pernah berhenti berikhtiar.  Ia akan kembali  bergumul dengan lumpur sawah, atau debu-dubu ladang saat hujan lama tak turun.  Tiap tarikan napasnya yang tersengal seirama dengan putaran tasbih para penghamba Tuhan.

Kesudahan yang Baik

            Kami bertiga kini telah berumah tangga.  Mas Bara menjadi programmer komputer dan instruktur komputerisasi kantor tingkat nasional.  Aku sendiri menjadi pengelola pesantren dan anggota yayasan yang bergerak di bidang pendidikan.  Sementara Mas Rangga menjadi PNS di sebuah SMA Negeri.

            Seolah purna sudah janji bakti ayah setelah merelakan seperempat bagian tanah yang dimilikinya untuk wakaf mendirikan pesantren.  Tanah yang ia pertahankan tiap jengalnya dari rayuan cukong pengusaha.  Jerih payah ayah menyisakan nyeri dan ngilu di persendiannya tiap menjelang istirahat malam.

            Pagi itu ayah kembali ke sawah, selepas tahajud untuk menyalurkan air di persemaian padi yang di taburnya siang tadi.  Ayah kembali pulang untuk salat Subuh dan tiba-tiba….ayah terjatuh, tak sadarkan diri.

Ibu panik langsung membawa ayah ke rumah sakit.  Sebuah perjuangan panjang bermula.  Melewati tujuh hari koma.  Akhirnya ayah menghembuskan nafas terakhir dengan wajah putih berseri.

            Aku turut memandikan dengan menahan butiran air mata sebagaimana pesan ayah.  “Kakekmu meninggal tanpa air mata anak-anaknya.  Ayah pun ingin kalian tak usah menangisi keberangkatan ayah.  Bila tiba waktunya biar ayah berangkat dengan tenang tanpa rasa sakit karena tangisan pilu kalian.”

            Banyak pesan yang ayah sampaikan saat kami bersama, saat liburan panjang menyatukan kami.  Keluarga kecil yang telah berkembang menjadi keluarga besar. “Ayah ingin di akhir hayat Ayah, kalian mendampingi kepergian Ayah untuk berjumpa dengan Allah SWT.  Ayah juga tidak ingin merepotkan kaliandengan kerentaan Ayah .  Cukup di detik-detik terakhir saja, kita bisa bersama.”

            Sungguh doa tulus yang dikabulkan.  Kami semua sempat menuntun kalimat thayyibah menjelang sakaratul mautnya Ayah pun meninggal di hari Jumat pagi  setelah membuang semua kotoran dari perutnya.  Saat aku dan kakak memandikannya, tidak ada sedikitpun kotoran keluar.  Wajahnya putih berseri, kulitnya halus dan bersih.

            Kami segera membawa ayah  meninggalkan rumah sakit.  Biaya pengobatan sama persis jumlahnya dengan uang takziah dari mereka yang menengok ayah selama sakit.  Sungguh ajaib.  Doa yang terkabul.  Ayah tidak sedikitpun membebani kami.

            Ayah  menutup mata bersama perjuangannya pada petak sawah, ladang dan kebun.  Cinta dan zikir ikhtiarnya telah mengantar ayah pada wasilah akhir kehidupan.  Pembuluh darah di kepala ayah pecah cukup parah.  Dokter berniat melakukan operasi, tetapi pendarahan itu terlalu hebat dan tak akan menjanjikan perbaikan.  Akhirnya malaikat maut menjemput Ayah dengan satu tarikan lembut bersama syahadah yang kami tuntunkan.

            “Ayah, selamat jalan.  Terlalu banyak kebijakan yang Ayah wariskan.  Kehati-hatian ayah dalam menjaga hak orang lain.  Aku masih ingat kau memintaku mengembalikan tiga batang paku yang ayah pinjam dari paman adik Ayah.  Aku masih ingat tentang zakat 2,5% yang kau sisihkan dari gaji pensiunan yang sangat jauh dari nisab.  Ayah  simpan 10% zakat panen kita seberapapun hasilnya.  Lalu ayah bagi pada yang membutuhkan.   Ayah, aku masih ingat dan akan terus meneruskan amalan yang Ayah contohkan, salat awal waktu berjamaah ditambah sunah yang ayah kekalkan.  Ayah, sungguh berkah dari amal salem Ayah telah memberi berkah pada kehidupan kami.  Izinkan aku menyematkan namamu sebagai pahlawan dalam hatiku.”


 

JANGAN MENYERAH MALA

(Catatan Perjuangan Seorang Sahabat)

By: Khadijah Hanif

 

            Namanya Laila Komalasari, nama yang kadang membuatnya merenung dalam kebimbangan.  Adakah ini semua karena nama yang disandangnya?  Bukankah nama adalah doa? Malam kelam dengan penyakit yang terus menyelimuti hari-harinya dalam empat tahun terakhir ini.  

            Mala menepis semua pikiran buruk yang berseliweran dengan memori yang tak mampu disekanya.  Ia tak ingin berprasangka buruk pada kedua orang tua yang memberinya nama.  Ia juga tidak mau berburuk sangka pada Zat yang MenciptakanNya.

Pernikahan Istimewa

            Memasuki usia sembilan belas, Mala adalah seorang gadis yang sehat meskipun tergolong gemuk untuk ukuran tinggi badannya.

            “Mala, kamu sudah dewasa, sudah saatnya menikah,” tutur Ustazah Mae, guru di pesantren Nurul Ihsan.  Sudah sejak kecil Mala mengaji bersama Ustazah Maesarah dari mengenal alif-ba-ta hingga membuka kitab kuning.

            “Emang ada yang mau sama saya, Bunda?  Saya orangnya boloho, nggak punya bekel ilmu agamanya.”

            “Ada, sekarang kamu istikharah dulu, ini foto dan biodata jodoh yang ingin kami pertemukan untukmu.”  Bunda Mae menyodorkan selembar foto, di belakangnya ada sedikit kalimat taaruf  yang membuat Mala degdegan.

            Ternyata yang dijodohkan oleh Bunda Mae dan Kiai Hasan adalah Ustaz Fauzan.  Ustaz Hafiz Alquran, 30 juz mutqin.  Hampir-hampir Mala tidak percaya pada tawaran Bunda Mae.  Dipandanginya sosok dalam foto itu, juga kertas taaruf yang ada di genggaman tangan kanannya.  Disana tertulis kelemahan Ustaz Fauzan yang lemah pendengaran dan pengelihatan.  Terbayang bagaimana ia akan kerepotan membimbing dan menuntun Ustaz Fauzan saat sudah menikah nanti.

            “Mala, janganlah kekurangan fisik menjadikan kamu ragu.  Justru kekurangannya itu yang turut menjaga hafalannya tetap baik.  Tidak ada maksiat yang sempat ia kerjakan.  Hari-hari pendengarannya adalah Alquran.  Begitu juga pengelihatannya lebih banyak pada mushaf.”

            “Tapi Bunda…” Perkataan Mala Tercekat.  Bagaimanapun Mala ingin suami yang sempurna lahir batin.  Supaya ia tidak harus banyak membimbing dan menuntun suami tapi ia juga ingin dibimbing diantar kemana pun pergi layaknya seorang istri yang punya suami.

            “Sudahlah jangan ragu.  Jawablah dengan hati.  Ustaz Fauzan termasuk santri yang langka.  Para hafiz yang benar-benar terjaga dari maksiat itu, jaminannya surga bahkan bisa membawa dua puluh kerabat yang beriman selamat di akhirat sana.  Niatkan saja untuk ibadah dengan membantu meringankan urusannya.”

            Mala tidak bisa berkata apa-apa lagi.  Besok ia akan puasa tiga hari kemudian salat Istakharah tiga malam berturut-turut menjelang tidur.  Di hari ketiga, Allah memberinya mimpi yang istimewa.  Ia berjalan bersama Ustaz Fauzan dan seorang anak entah siapa anak itu.  Menyusuri jalan sepi, panjang berliku, ada duri dan kerikil tajam.  Tapi Ustaz Fauzan selalu berhasil menyingkirkannya.  Mala dan anak kecil itu berjalan di belakang dan akhirnya mereka pun sampai di sebuah istana teramat megah, berkilauan.  Inikah surga itu?

            Mala terperanjat, bangun dari tidurnya.  Dalam hatinya sudah ada satu tekad untuk menerima tawaran Bunda Mae. 

Penantian Panjang

            Pada tahun 2004, pernikahan Mala dan Ustaz Fauzan berlangsung sederhana namun khidmat.  Terutama saat Ustaz Fauzan melantunkan hafalannya dengan sempurna.   Pembacaan ini diteruskan hingga tiga puluh juz hingga malam hari, dengan maksud mengambil berkah dari bacaan itu.  Semua berharap rumah tangga yang mereka bangun bisa meraih sakinah, mawadah, warahmah.

            Segala risiko yang akan dikhawatirkan Mala ternyata tidak terjadi.  Meskipun ia tidak bisa meminta banyak dimanja dan diperhatikan Ustaz Fauzan, setidaknya Ustaz Fauzan terbiasa mandiri dalam segala hal.  Kadang ia ingin merasakan bagaimana memiliki suami yang normal seperti akhwat-akhwat yang lain.  Mala juga ingin dibonceng kemana pun pergi, didampingi saat ada urusan.  Namun semua harapan itu berusaha  ia tepis sendiri dengan rasa syukur.  Bayangan tentang keindahan akhirat dalam mimpinya selalu ia rindukan.

            Detik waktu terus bergulir, seiring peristiwa yang bergilir.  Tidak terasa pernikahan mereka sudah menjelang sepuluh tahun.  Akan tetapi mereka belum juga dikaruniai momongan.

            “Aa, bagaimana nasib pernikahan kita?  Sampai saat ini kita belum dikaruniai momongan.  Jangan-jangan Ummi nggak normal.”  Keluhan Mala hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Ustaz Fauzan. 

            Keluhan Mala makin sering terdengar.  Rasa rindu akan hadirnya anak juga dirasakan Ustaz Fauzan .  Keluarga ini terasa kurang lengkap tanpa hadirnya celoteh anak kecil.  Doa malamnya makin dalam, memohon pada Allah SWT akan hadirnya zuriat penerus cita-cita mereka.

            Pagi itu di bulan September, Mala merasa mual dan ingin muntah.  Berulang kali Mala memasuki kamar mandi tapi keadaannya tak juga membaik.

            “Aa, anter Mala periksa ke mantri, ya,” pinta Mala manja.

            “Apa nggak sebaiknya ke bidan saja?  Aku yakin kamu hamil, Mala,” ucap Ustaz Fauzan berbunga-bunga.

            Mala pergi ke Bidan Susanti.  Tidak seperti biasanya, Ustaz Fauzan begitu semangat kali ini.  Ia berjalan lebih cepat dari biasanya seakan gangguan pengelihatannya hilang tiba-tiba.  Ternyata firasat Ustaz Fauzan benar adanya.  Mala dinyatakan positif mengandung anak pertama mereka.  Hari-hari ceria menyertai mereka setelah penantian panjang itu.

Ketika Ujian Menyapa

(Tiga Operasi, Empat Belas Kemo dan Radioterapi)

 

            Mala dan Ustaz Fauzan menanti kelahiran dengan penuh harap.  Semoga semua ada dalam kelancaran.  Satu pekan menjelang perkiraan dari bidan, air ketuban tiba-tiba pecah.  Mungkin karena kelelahan.  Mala segera menuju Bidan Susan, diantar mudabir akhwat, Annisa dengan motornya. 

            Bidan Susanti merasa heran dengan kondisi Mala.    “Ibu, saya tidak mau mengambil risiko.  Ketuban sudah pecah tapi belum ada pembukaan dan kontraksi.  Ibu harus mendapat penanganan dari dokter ahli kandungan,” tegas Bidan Susan.

            Tidak ada jalan lain.  Mala segera diantar Bidan Susan menuju RSU Rancamaya Kabupaten Tasikmalaya.  Keputusan dokter, Mala harus menjalani operasi caesar.  Demi keselamatan buah hatinya,  Mala mengikuti saran dokter.  Dilawannya segala rasa cemas dan bimbang.  Seumur hidup baru kali ini Mala menghadapi operasi.  Sesuatu yang tak ingin dibayangkannya.

            Atribut pasien segera dikenakannya.  Treatment pembiusan dilakukan.  Dengan operasi jenis  anestesi epidural, Mala tidak kehilangan kesadaran sepenuhnya.    Telinganya  sayup-sayup mendengar percakapan dokter tapi rasa sakit sama sekali tidak terasa.  Ustaz Fauzan beringsut dari ruangan bedah.   Sambil terus berdoa untuk keselamatan istri dan zuriatnya.

            Sekitar satu jam operasi berjalan lancar.  Mala segera dipindah dari ruang bedah ke ruang rawat inap.  Berbagai rasa tak nyaman mulai dirasakan seiring  pulihnya kesadaran.  Mual, haus, dan tenggorokan terasa kering.

            “Aa, aku haus.  Mana air minum?”  Setengah sadar Mala meminta air minum.  Rasa mual datang tiba-tiba, isi perut seakan mau keluar. “Aa,  ada sesuatu yang bisa dimakan?  Aku mau muntah.”

            “Sabar Mala, kata dokter kamu harus buang angin dulu baru boleh masuk makan minum.  Kalau kamu makan sekarang, bisa bahaya.  Tenanglah, anak kita sudah lahir.  Alhamdulillah anak kita selamat.”  Ustaz Fauzan berusaha memecah perhatian Mala dari apa yang ia rasakan.

            “Alhamdulillah.  Mala tersenyum manis.  Semua derita seakan sirna demi mendengar buah hati mereka selamat.  Sebaris nama menari dalam benak Mala ‘Ishaq’.  Nama untuk mengabadikan penantian panjang mereka, sebagaimana penantian Nabiyallah Ibrahim dan Siti Sarah.  Tentu dengan harapan agar anaknya  bisa mengikuti kesalihan para nabi.

            Hari-hari ceria menyambangi mereka dengan hadirnya Ishaq.  Dengan air susu yang deras dan banyak, Ishaq tumbuh cepat dan montok.  Siapapun yang melihatnya merasa gemas.  Memasuki usia delapan bulan, Ishaq enggan minum lewat payudara kanan Mala.  Entah mengapa.  Kalau kata orang tua ‘cai enenna bari’.  Orang-orang terdekat Mala menyarankan payudara kanannya dikompres dengan air hangat dan disedot untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

            Segala upaya telah dilakukan.  Ishaq tetap hanya mau minum dari payudara kiri.  Dua bulan kemudian, air susu benar-benar berhenti mengalir dari payu dara kanan.  Yang membuat Mala khawatir, ada benjolan di payudara kanan yang terasa nyeri.  Kata dokter ada potensi kanker payudara yang harus ditangani serius.  Bahkan dokter menyarankan untuk dioperasi.

            Teringat betapa tidak nyamannya menjalani operasi dan takut kehilangan kesempurnaan anggota badan, Mala memilih berikhtiar dengan herbal alami.  Berbagai obat herbal ia konsumsi dari mulai madu pahit, kapsul sambiloto, mangkudu, rumput mutiara, kangen water pH 11,  semua dicobanya.  Ada perkembangan baik dari ikhtiarnya.  Rasa nyeri pada benjolan itu sempat menghilang walaupun benjolan tetap ada dengan ukuran mengecil.  Akan tetapi entah mengapa muncul lebam di permukaan kulit payudaranya dan kulit itu menjadi keriput kemerahan.

            “Ibu Mala, Ibu harus segera menjalani operasi kalau tidak ingin kankernya menyebar.   Kanker payudara Ibu sudah sampai pada stadium empat.”  Dokter Herda memberi saran yang tak dapat ditolak oleh Mala.

            Kali ini Mala harus menghadapi operasi keduanya.  Tidak seperti operasi pertama, kali ini ia berusaha menghadapinya dengan lebih tenang dan pasrah.  Mala memasuki ruang bedah yang beraroma obat bius pekat.  Perlahan kesadaran Mala menghilang.  Pendengaran dan pengelihatannya kabur.  Mala seakan tertidur pulas.

            Operasi mastektomi, pengangkatan payudara secara sempurna berjalan lancar.  Sebelumnya mala harus berpuasa  dalam 12 jam.  Operasi dilakukan dalam tiga jam, cukup lama bila dibandingkan saat operasi caesar. 

            “Aa, maafkan Mala.  Sekarang Mala tidak sempurna.”  Mala menangis sedih  sambil mencium tangan suaminya.

            “Tidak ada manusi yang sempurna, Mala.  Semua yang ada pada ita sekedar titipan.  Jangankan hanya sebagian anggota badan kita, semua jasad, bahkan nyawa kita, semua milik Allah SWT.  Sabar, Sayang.  Cintaku takkan pernah berubah sedikit pun.”  Ustaz Fauzan menghibur istri tercintanya.

            Setelah dua hari dirawat paskaoperasi, Mala diperbolehkan pulang.   Empat bulan setelah operasi, lukanya telah benar-benar kering.  Perjuangan yang cukup berat untuk membuat luka itu cepat rapat.  Mala harus memperhatikan benar makanannya.  Penggantian perban pun harus benar-benar steril dan rapi.  Mengingat perjuangan itu, Mala sangat bersyukur akhirnya lukanya sembuh total.

            Keadaan Mala makin membaik, ia kembali beraktifitas sebagai ibu Asrama di pesantren tempat Ustaz Fauzan mewakafkan dirinya.  Mala tenggelam dalam aktifitas membangunkan santriwati untuk tahajud atau sahur puasa sunnah Senin Kamis.   Bila waktu makan tiba, ia mendampingi cara makan mereka agar tetap sesuai sunnah Rasulullah.

            Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama, hanya lima bulan .  Keluhan baru tiba-tiba terasa.  Mala mengalami gangguan nyeri pada punggung bawah hingga paha.  Buang air kecil makin sering terasa.  Dari USG dan gejala yang dirasakan, dokter mendiagnosa Mala mengidap Kista Ovarium.  Secara psikologis Mala langsung menduga bahwa ia harus menjalani operasi ketiga.  Pengangkatan kista di ovariumnya.

            Benar saja, Mala harus menjalani operasi ketiga.   Operasi berjalan baik dengan tambahan treatment, Mala harus menjalani kemoterapi dengan jadwal ditentukan dokter.  Dokter Herda selaku ahli onkologi memantau perkembangan Mala dan menentukan jadwal treatment tiap kali control rutin per dua pekan. 

            Kemoterapi pertama Mala berlangsung lancar.  Dr Herda memasang infuse pada nadi tangan Mala.  Tiga jarum dipasang untuk memasukkan obat ke dalam tubuhnya.  Awalnya Mala tidak mengalami gangguan serius akibat kemoterapi.  Akan tetapi satu jam setelah sampai di rumah, Mala mengalami kelelahan yang amat sangat.  Yang ia inginkan hanya istirahat dan tidur pulas.  Belum lagi rasa mual dan pusing yang mendera. 

            Satu pekan setelah kemoterapi gangguan yang sangat membuatnya tidak nyaman mereda bersama konsumsi obat dari dokter.  Akan tetapi sesuatu yang aneh kembali terjadi, helai demi helai rambutnya tanggal hingga habis.  Bukan hanya rambut epala tetapi seluruh badan.  Memar di bagian kuku membuat kuku Mala menghitam.  Demikian pula daerah sekitar mata menjadi legam.

            Ishaq yang mulai bisa bicara pun tak mau mendekati bundanya.   “Aku nggak mau sama Bunda.  Bunda mirip hantu.”  Ishaq meronta tiap Mala mendekat.  Ia memilih lari ke asrama daripada dekat bundanya.  Mala hanya bisa meneteskan air mata.

            Tidak terasa kemoterapi terjadwal yang ia jalani memasuki treatment yang ke-13.  Ia berangkat sendiri ke RS. Rancamaya.  Seperti biasa ia menemui dokter Herda di ruang khusus kemoterapi.

            “Ibu Mala hebat banget.  Temen-temen seangkatan Ibu sudah pada ‘Out’.”  Dokter Herda bicara tanpa beban.  Mungin ia bermaksud untuk bercanda dan menghibur Mala.

            “Maafkan saya Dokter, mungkin Pak Dokter bosan ketemu saya terus.  Maaf saya telah merepotkan Pak Dokter.”  Mala meneteskan air mata.  Belakangan ini ia begitu sensitif dengan hal-hal yang  menyangkut penyakitnya. 

            Dokter Herda merasa bersalah dan mengalihkan pembicaraan.  “Maksud saya, Ibu hebat.  Fisik Ibu kuat sekali.  Insya Allah Ibu akan menang melawan kanker ini.”

            Tiga pekan setelah kemoterapi yang ke-13, saat Mala mandi, ia meraba bagian bawah ketiak kirinya.  Ada sekepal daging yang tumbuh di sana sementara di bagian kanan tidak ada.  Hampir Mala menjerit memikirkan keadaannya.

            “Astaghfirullahhalazim…  Ujian apa lagi yang akan Kau timpakan pada hamba ya Rabb.”  Batin Mala menjerit sejadi-jadinya.  Ia berniat segera konsultasi pada dokter Herda.

            “Ibu harus menjalani terapi radiologi.  Ini surat rujukan untuk penyinaran di RS Santosa Bandung.”

            Betapa lelahnya jiwa Mala.  Saat-saat putus asa mendera, Ustaz Fauzan menjadi pendukung setia.  Mereka memutuskan untuk menerima treatment radioterapi.  Sambil menunggu antrian treatment, Mala menempati rumah singgah khusus pasien yang berasal dari luar kota.

            Hari penyinaran pun tiba.  Mala harus berbaring di atas meja beroda dengan pakaian lengkap.  Atribut yang dipakainya hanyalah topeng pengekang juga sabuk pengikat di bagian perut dan kaki.  Kata dokter, supaya penyinaran berlangsung sempurna dan tepat sasaran.

            “Bismillah, ya Rabb au berlindung dengan kalimatMu yang sempurna dari kejahatan makhluk ciptaanMu.”  Doa itu memenuhi rongga hati Mala.  Badan Mala telah terbujur di atas.  Rasa dingin menyelimuti sekujur badannya.  Sekali penyinaran hanya 1-5 menit tapi karena harus dilakukan sepekan berturut-turut, treatment kali ini menjadi terasa berat.

            Sejak penyinaran diterapkan pada ketiak kirinya, Mala belum pernah merasa sehat dan nyaman. Ada saja yang dideritanya.  Asam urat yang tinggi, sakit di ulu hati, mual-mual dan kelu di lidah.  Bila sakit panas demam datang, Mala sering merintih tanpa ada siapapun yang bisa meringankan rasa sakit itu.

            Belakangan setelah kemoterapi yang ke-14, Mala tidak bisa tidur tiap malam atau pun siang.   Anehnya tidak ada rasa pusing sedikit pun karena kurang tidur.   Ingatannya melayang pada mereka yang telah menghadap Sang Khalik.

            Hingga kini rasa nyeri itu masih mendera bahkan untuk bergeser dari tempai Mala duduk dan berpijak.Mala tinggal di rumah dalam kebimbangan.  Dua dokter yang menanganinya menyarankan dua hal yang kontradiktif.  Dokter ahli onkologi mengatakan, rasa nyerinya karena kemoterapi  yang tak  ditepati jadwalnya.  Sementara ahli penyakit dalam menyarankan kondisi Mala harus benar-benar dalam keadaan sehat untuk menjalani kemoterapi.

            “Ya Rabb, hanya padaMu hamba bergantung dan berserah diri.  Bahkan bila Engkau memanggilku pulang, sudahi hidupku dengan Husnulkhatimah.  Bukan perlawanku pada penyakit yang aku ingin menang tapi dari godaan setan dan nafsu yang selalu menggodaku untuk tidak rela pada ketentuanMu.  Rabb… ampuni segala kelemahan daya upayaku dan kelemahan diriku melawan nafsu.”   Mala berada dalam puncak kelemahan  yang menenangkan.


 

Event Hati yang Tertinggal

PERPISAHAN BIRU (Khadijah Hanif)

           

            Matahari menyalak siang itu, menjejakkan suasana terik yang kurang nyaman.  Beruntung angin menerpaku dengan sapuan yang menyejukkan, mengurangi garangnya surya.  Rombongan kami baru saja sampai di Batukaras Pangandaran, sepuluh tahun silam pantai ini masih masuk Kabupaten Ciamis.    Ada kenangan yang takkan pernah aku lupakan, seakan sepasi hatiku masih tertinggal di sana.

            “Irsyad, jangan jauh-jauh dari Ummi, Nak!”  Aku memanggil anakku yang baru berusia lima tahun. Ia sedang lincah-lincahnya mengenali dunia luar.  “Aduh, jangan terlalu ke tengah, Abang!”  Aku menarik tangan anak keduaku yang sedari tadi aku gandeng tangannya.  “Kita baru sampai, jangan langsung main air, kita tata dulu semua perbekalan.  Ummi kesusahan ngawasin kalian jadinya!”  Nada bicaraku meninggi.

            “Nggak apa-apa Ummi, Zaid sudah sembilan tahun, sudah besar sekarang, bisa main sendiri,” tukas Zaid sambil berjalan menjauhi tepi pantai.  Aku tetap memegangi tang tangannya, makin erat.  Tidak lama kemudian, kami menemukan Irsyad bermain pasir di daerah yang bertanda pita merah.

            “Subhanallah, Irsyad, nggak boleh main di situ, kalau pasirnya berputar kita bisa tersedot!” teriakku.  Aku melihat Irsyad dari kejauhan, tak sabar untuk meraih tangannya dan membawanya sejauh mungkin dari tepi pantai.  Ia sudah berada di daerah berpita merah.          

            “Mohon para pengunjung untuk tidak mendekati area bertanda khusus, pusaran air dan pasir sangat berbahaya bagi keselamatan anda dan keluarga,”  Penjaga pantai memyampaikan pengumuman melalui speaker.”

            Aku terus berlari.  Terasa benar pasir yang kuinjak tidak begitu kompak.  Buktinya, kakiku menerobos pasir hingga pertengahan betis.  Aku tidak peduli kaos kaki dan gamisku basah, yang aku pikirkan hanyalah keselamatan anak-anakku.

            Lima meter lagi aku makin dekat dengan Irsyad, sambil terus memaksa Zaid tak lepas dari genggaman tanganku.  Tinggal kurang dari satu meter, aku merasakan ada pergeseran pasir yang aku pijak. Aku berusaha menghindari geseran itu sekuat tenaga.  Tangan kiriku meraih Irsyad dan…

            Aku terengah, napasku terputus-putus, memeluk erat kedua anakku setelah menjauhi tanda wilayah berbahaya itu.  “Alhamdulillah, kita terhindar dari pusaran pasir,” batinku sambil menata napas yang memburu.  Aku sapukan pandangan, tidak ada seorang pun di dekat kami.  Rupanya mereka tahu betul tempat ini bukan area berenang.

            Perlahan aku berjalan menuju penginapan yang telah disewa rombongan pesantren.  Semua keluarga ustaz yang ikut berwisata berada dalam deretan penginapan yang sama, kecuali keluarga kami.  Dalam hati, aku sempat bertanya-tanya, kenapa kami terkucilkan?  Akan tetapi aku berusaha mengais prasangka baik di sudut hatiku, “Ah, mungkin suamiku sebagai penanggung jawab pengasuhan santri bisa lebih mudah mengawasi dan mengomandoi kegiatan anak-anak santri dan santriwati.  Masa remaja seusia mereka sangat rawan terjadi pelanggaran bila lenggah pengawasannya.”

            Panas terik udara pantai di siang hari menguyupkanku dengan keringat.  Perasaan tidak nyaman berkali-kali menyapaku sejak aku kehilangan si bungsu, Irsyad.  Tiba-tiba aku ingin membuka media sosial barangkali  ada pengumuman dari grup pesantren kami.  Perasaan tidak enak hati justru makin kental.  Aku memperhatikan posting demi posting dari keluarga rekan seperjuangan, mereka selalu bersama, makan bersama, bercengkerama akrab.  Semua hadir kecuali keluargaku. 

            Sekali lagi aku harus berusaha menghibur diri, ”Tak apa aku menemani suami di sini, lagi pula tak mungkin tigaratus lima puluh santri dibiarkan tanpa pengawasan, sementara yang memegang komando anak-anak adalah suamiku.”  Akan tetapi sisi sensifitasku tak mampu aku paksa membendung genangan di sudut mataku, meratapi perlakuan tidak adil pada belahan jiwaku itu.  Aku memilih segera tidur malam itu untuk melarutkan buruk sangka dan kecengengan yang childish ini.

            “Ade, kenapa kelihatan sedih?”  tanya suamiku selepas bangun tidur untuk qiyamullail bersama anak-anak santri

            “Enggak, kok, biasa aja, Mas.”  Aku mengelak dan berusaha menutupi perasaanku.

            Rupanya jawabanku tidak memuaskan rasa ingin tahu suamiku.  Akhirnya aku ceritakan semua perasaan hatiku.

            “Jangan berpikiran yang tidak-tidak.  Kita berangkat ke sini memang bukan untuk bersenang-senang tapi mengasuh, mengawasi, menjaga anak-anak supaya bisa berwisata tetapi tetap menjalankan sunnah pondok.  Melatih mereka untuk terus menjadi santri di manapun mereka berada.  Itulah ladang amal dan perjuangan kita.  Aku mengenal baik Haji Azis, dia sahabatku sejak masih sama-sama di remaja masjid.”

            Terlintas semua kebaikan Haji Azis pada kami sekeluarga.  Saat walimatul ‘ursy,  tak mampu kami balas.  Waktu itu Haji Azis belum menjadi pimpinan pesantren.  Lembaran memori bersama Haji Azis dan keluarga memenuhi benakku.   Juga ketika kedua anakku dikhitan, semua dimudahkan dengan bantuan Haji Azis.

            “Tahun ini ada saldo operasional pondok.  Saya rasa yang paling berhak menikmatinya adalah para ustaz yang bermukim di wisma pesantren.  Karena jerih payah dan  pengorbanan antum semua, pesantren ini bisa terus maju dan berkembang,” papar Haji Azis.  Hadiah yang kami terima dari kemurahan dan kerendahan hati Haji Azis berupa satu set laptop untuk seluruh keluarga badan pengelola pesantren.  Sebuah anugerah dan berkah bagi kami menjelang tahun dua ribu sepuluh.

            Aku malu pada diriku sendiri karena telah bembiarkan bisikan suuzan terselip di kelopak batinku.

            Matahari perlahan menyapa dalam keindahan sunraise di tepi pantai Batukaras.  Kami tak ingin kehilangan moment indah ini.  Warna semburat merah mulai tampak, mentari malu-malu mengintip di balik mega, seakan dia tahu berjuta manusia di bumi menunggui kehadirannya.  Piringan merah menyembul di balik cakrawala, disambut riuh rendah suara anak-anak.  Mereka tidak ingin kehilangan sunraise yang indah pagi ini dengan foto bersama. 

            Gemuruh ombak pantai, kicauan burung hutan pantai pagi hari, hangatnya sang surya mengakrabi kami.  Keindahan demi keindahan mengingatkan kami pada kehadiran dan kuasa Allah SWT.  Kami melanjutkan kegiatan dengan berenang dan berjalan-jalan menyusuri tepi pantai.

            “Ustaz Maher mana, Bu?”  Suara yang sangat kukenal menyapaku.  Haji Azis dan istrinya, Ustazah Noor memilih berjalan pagi daripada berenang, sama sepertiku.  Berenang terlalu pagi kurang nyaman menurut kami, dingin.

            “Biasa Pak Haji, ngasuh anak-anak.”

            “Kenapa tadi malam nggak gabung kita, ada acara bakar ikan,” sambung Ustazah Noor.

            “Kalau malam-malam anak-anak tidak didampingi, bisa pada bikin janjian, Ustazah.”  Aku menjawab ringan, menyembunyikan rasa malu karena buruknya prasangkaku.

            “Ini ikan bakar buat Ustazah Via dan keluarga.  Maaf karena nggak sempet mengantar ke penginapan tadi malam.”  Bungkusan itu seakan menampar perasaanku, meyakinkanku bahwa Pak Haji Azis dan Ustazah Noor benar-benar sosok keluarga pemimpin yang memahami anak buahnya.

***

            Tiga hari berlalu, kebahagiaan terpancar pada wajah-wajah yang bergumul dengan keindahan Batukaras.  Saatnya kami harus meninggalkan kenangan di sini dan kembali berjuang dalam titian ilmu di pesantren.

            Seusai Salat Zuhur, suamiku menginstruksikan seluruh santri terlebih dulu operasi semut. Bis tidak akan diberangkatkan sebelum semua bersih seperti sedia kala.   
            Seperti kegiatan wisata sebelumnya,  penutupan rihlah selalu dilakukan dengan upacara, berkumpul bersama dan mendengarkan sepatah dua patah kata dari pimpinan.  Suasana yang begitu panas terik jam 13.13 membuat anak-anak ikhwan yang tidak mendapat naungan kegerahan dan berkeluh kesah.   Sambutan  Haji Azis tidak begitu terdengar melalui cemprengnya suara megaphone ditambah suasana terik yang amat sangat.

            Namun masih terdengar jelas olehku kalimat demi kalimat, tentang tahun perkembangan pesantren, tentang harapan beliau pada perkembangan dan perbaikan pesantren.

            ”Mungkin hari ini adalah pertemuan terakhir saya dengan kalian” 
            Kalimat selanjutnya tak begitu aku dengar.  Aku berbicara dengan Ustazah Noor yang berdiri di sampingku.
            ”Bu, apa-apaan ini?   Lho,  ini mah pengunduran diri. Yang bener, Bu?”
            “Wah, saya juga nggak tahu.”  Hanya itu jawaban yang beliau utarakan waktu itu.
Airmata menitik seketika, tidak percaya.
            Berbagai ekspresi muncul, anak-anak kami yang duduk di bangku SMA menunduk sedih.   Akan tetapi sebagian masih belum begitu paham apa yang terjadi siang hari ini. Sementara itu guru-guru yang terlihat shock, diam seribu bahasa.   Gemuruh pertanyaan dalam hati masing-masing yang sebagian terjawab sebagian tidak.  Sebagian jawaban itu ada yang benar dan ada pula yang tidak.
            Rombongan berangkat, aku menemani suami mengendarai motor.   Sepanjang jalan sesekali kami membahas apa yang telah terjadi.  Tapi setiap selesai membicarakan sesuatu, Allah selalu menegur kami dengan cara yang sangat luar biasa.   

            “Keputusan Haji Azis sudah sangat bijak.  Beliau tidak mau  timbul fitnah di pesantren.   Beliau ingin memberi kesempatan pada yayasan untuk melanjutkan perjuangannya.”

            “Tapi Mas aku khawatir pesantren akan terpuruk lagi kalau dikelola tanpa rasa ikhlas.  Aku melihat keikhlasan memimpin pada diri Haji Azis.  Siapa yang rela melepas semua gaji dan mengembalikannya ke pondok.  Nggak ada, Mas.  Hasilnya bisa kita lihat, dapam lima tahun beliau memimpin, santri kita sudah bertambah lima kali lipat.”

            Mas Maher terdiam.  Aku tahu ia pun menyayangkan perpisahan ini, tetapi ia tak ingin perbincangan ini berujung ghibah pada keluarga yayasan  Kami sibuk dengan kata hati kami masing-masing.

            Akhirnya puisi hatiku kembali berdenting dalam liris yang berbaris.
            Perpisahan Biru (Untuk  Sahabat, Guru dan Pemimpinku).
            Terimakasih sahabatku, pemimpin dan sekaligus guruku.  Terlalu banyak pelajaran yang kau berikan.  Dua kali aku mendapatkan guru seperti dirimu.  Di sini di makhad ini.  Ikhlasmu membuatmu tidak mengambil seperakpun materi.  Aku hanya bisa mengikuti jejakmu dengan sumbangan tenagaku yang makin lelah.  Aku hanya bisa mencintai ma’had ini dengan tak seberapa, sekemampuan yang bisa aku pertaruhkan.  Sikapmu begitu menginspirasi langkah-langkahku di sini. 

            Sahabatku…  Sikapmu selama ini.  Mengingatkanku untuk selalu berkaca pada diri
Instropeksi pada segenap dosa dan kesalahan.  Hingga menitik air mata ini mengakui kesalahan diri.  Kekurangan dan kelemahan.  Hingga sanggup aku berbaik sangka pada sesame.  Menerima karunia yang Allah bagi pada orang lain.  Tanpa pengakuan diri sulit kuusir setan yang berbisik.  Nafsu yang menggoda.  Ujub yang mendera.  Sombong yang bertahta.  Terimakasih Sahabatku
            Kau pemimpin yang selalu menerima.  Memaafkan, memaklumi kekurangan kami
Bahkan kau berikan ungkapan terima kasih.  Dengan sesuatu yang tak pantas kami terima.  Yang dengan itu kau temukan masalah.  Maafkan aku yang tak bisa menyempurnakan ikhtiar dan ketaatan.  Maafkan aku yang tak sepenuhnya menjalankan amanah.  dan kepercayaan yang kau berikan 
            Terngiang nasihat Rasulullah, mengingat 4 perkara dan melupakan 4 perkara
*Ingatlah jasa baik orang lain, agar ummat ini pandai berterima kasih
*Ingatlah karunia dan kenikmatan Allah, agar ummat ini pandai bersyukur
*Ingatlah kesalahan diri pada orang lain, agar ummat ini tawadhu dan mau meminta maaf
*Ingatlah dosa yang diperbuat pada Allah SWT, agar ummat ini terhindar dari ujub, sombong
*Lupakanlah jasa dan kebaikan diri pada orang lain, agar ummat ini begitu ikhlas dengan apa yang telah berikan
*Lupakanlah takdir buruk dan musibah dari Allah, agar ummat ini senantiasa optimis dan penuh harap akan karunia Allah
*Lupakanlah kesalahan orang lain, agar ummat ini menjadi pemaaf
*Lupakanlah amal ibadah untuk Allah yang telah dilakukan, agar ummat ini terhindar dari ujub dan sumah dan meraih sifat kehambaan
            Selamat jalan, Sahabat, harapan baru terbentang di hadapanmu.  Sejarah telah kau ukir begitu indah di hati orang-orang yang mencintaimu.  Do’akan kami dan do’a kami senantiasa menyertaimu.  Kami akan berusaha meneruskan apa yang kau cita-citakan 
            Cintamu pada kami dan makhad ini telah tumbuh sejak dulu lagi.  Dan cinta itu makin subur saat kau berada di tengah kami.  Allah, Rasul dan ummat ini menyaksikan segenap pengorbananmu.  Bebatuan, pasir, dinding-dinding bangunan, tetumbuhan telah merekam
Semua kejadian hingga alam keabadian 
            Masih kuingat pesanmu, “Teruslah berjuang!  Hingga takdir menghentikan perjuangan itu.  Selama masih ada ruang, waktu dan kesempatan.  Jangan pernah mundur
Almarhum telah membangun pondasi bangunan ini.  Kita memperindah dindingnya
Semoga hari esok ada yang menyempurnakan atapnya”
            Aku belajar dari keikhlasanmu.   Aku belajar dari kebesaran jiwamu.  Ketika cinta merubah dendam menjadi kemaafan.  Ketika cinta merubah pamrih menjadi keikhlasan
Ketika cinta merubah lelah menjadi kekuatan.  Ketika cinta merubah amarah jadi keramahan
Ketika cinta merubah derita menjadi bahagia.  Terimakasih sahabat, guru dan pemimpinku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

KAYUHAN SEPEDA EMAK

By: Khadijah Hanif

 

            Subuh masih dua jam lagi, Mak Bibah sudah terbangun dari tidurnya yang tak begitu lelap. Jam weaker pemberian Ai Lena, anaknya selalu setia membangunkan di sepertiga malam terakhir.

            Mak Bibah beringsut dari dipannya yang jauh dari nyaman. Ia menggumam dengan doa bangun tidur, “Alhamdulillahilladzi ahyanaa bakda maa amatanaa wailaihinnushuur.”  Tanpa rasa malas, Mak Bibah segera menuju jamban di luar rumah.  Jaraknya dua puluh meter dari rumahnya, di pinggir kolam ikan milik tetangganya.

            Dingin musim yang kering menggigit kulit membisikkan kata mesra, merayunya untuk bergumul dengan selimut tebal.  Tapi tekad yang membaja menampar semua bisikan kemalasan.

Mak Bibah yang telah memasuki kepala empat, makin menikmati kemesraannya dengan Tuhan. Ia yakin tiap rasa dingin yang mencekam akan dibalasi kebaikan lebih dari pori-pori sekujur kulitnya.  Tiap tetes air wudhu akan menyuburkan cintaNya pada Tuhan karena ia percaya bahwa Allah SWT akan membalasi tiap tetesan itu dengan sepuluh kebaikan.  Keimanannya pada janji Allah SWT menegarkan langkahnya, setiap hari menembus dingin bahkan saat musim hujan tiba.
            “Mak, kamu rajin amat salat Tahajud,  nggak bosan?  Sedangkan Gusti Allah nggak pernah mengabulkan permohonan kamu.  Coba bikin daftar doa dan kenyataan!  Kamu bakal menemukan benang merah, kemana larinya doa kamu itu.”  Mang Jiman, suaminya,  mencibir keistikamahan Mak Bibah. Ingin ia menjawab cibiran itu tapi urung.  Tidak ada gunanya, karena hanya akan berakhir dengan debat dan keributan.
            “Pak, nikmat Tuhan tidak bisa dipungkiri.  Doa tidak selamanya terbayar seperti yang kita ucapkan.  Kadang yang kita pinta tak segera terwujud dan banyak kebaikan Dia beri tanpa kita harus meminta dan memohonkannya. Yang lebih penting dari tengadah tangan kita itu, nikmat iman dan Islam yang masih mau singgah di hati kita.”  Mak Bibah asyik mengakrabi hati nuraninya.  Bicara dalam sunyi, bertutur dalam diam, berharap suatu saat rasa hatinya teraba suaminya itu.

            Selesai salat malam, sekitar pukul dua pagi, elf langganannya akan membunyikan klakson.  Panggilan perjuangan untuk menjemput rezeki yang Allah SWT janjikan. Emak segera melipat mukena lusuh dan sajadah baru, hadiah dari tetangga sebelah yang baru pulang haji. 
            “Mbak Yu Bibah, lama amat.  Pasti salat malam dulu calon bu haji kita ini,” ucap Yu Darmi sinis.
            “Maaf, suami saya sedang nggak enak badan. Saya sediain jamu dulu di rumah,” jawab Mak Bibah tenang.
            “Memang para suami itu maunya seenaknya sendiri.   Kita yang mumet nyari nafkah buat keluarga.  Pagi gulita begini harus keluyuran ke pasar.” Yu Darmi nyerocos tanpa henti. Ibu-ibu perkasa yang lain memilih diam.  Wajah mereka menampakkan keikhlasan yang indah.

            Mereka turun ke pasar terdekat,  Harganya sedikit lebih mahal dari pasar pusat kota, tapi faktor kedekatan lebih mereka pilih.  Mereka mengejar waktu berdagang.  Makin awal mereka mulai berdagang keliling maka risiko dagangan bersisa cukup rendah.

            Azan Subuh terdengar sayup-sayup dari pasar tradisional wilayah kecamatan.  Mak Bibah segera menyambut panggilan Tuhan.  Wudhu untuk salat malam masih mengizinkannya untuk salat Subuh.  Dipakainya mukena paling bersih yang tersedia di mushala pasar. Mushala kecil itu cukup terawat, hanya saja tidak ada marbot yang merawatnya khusus sebagai penanggung jawab.       Mak Bibahlah yang menyapu mushala empat kali tiga meter persegi itu tiap pagi Subuh. Tidak lama hanya butuh tiga menit.  Sesekali ia mengepel lantainya dengan lap yang di bawanya dari rumah.

            Selesai salat Subuh Mak Bibah berjalan cepat menuju elf yang biasa mereka tumpangi untuk kembali, malangnya kali ini Mak Bibah tertinggal.  Barang-barang yang sudah diletakkan di dalam elf itu terbawa.  Terbayang dalam benaknya, gerutu penumpang elf lain hingga mereka tega meninggalkannya.

            Ada rasa cemas atas keamanan barang dagangannya. Mak Bibah hanya bisa pasrah. Ia terpaksa menaiki angkotan kota yang menuju desanya.

            “Aku harus mengeluarkan ongkos buat angkot.  Kenapaereka tega meninggalkan aku, ya?  Padahal aku selesai salat lebih awal dari hari biasanya.  Ya, Allah, hamba serahkan penjagaan hak milik hanya padaMu.”

            Rasa cemas sekaligus heran masih mendera batinnya.  Belumlagi bayangan kemarahan Mang Jiman.   Mang Jimam pasti akan menjejalinya dengan sumpah serapah.  Tentang salat yang mencelakalan, tentang doa yang terbalas sengsara.  Luapan buruk sangka suaminya pada Sang Pencipta harus menyambangi telinganya.  Sesuatu yang sangat  tak diinginkan Emak.

            Sesampai di rumah, Emak tidak bercerita apapun tentang barang dagangannya.  Mang Jiman telah bersiaga dengan sumpah serapahnya
            “Mak, mana barang dagangamnya?  Kamu pulang terlalu siang.  Kamu ketinggalan elf lagi ya?   Nggak kapok-kapok dengan pengalaman kamu yang sudah-sudah?. Barang daganganmu bakal busuk kalo nggak segera kau edarkan atau mungkin hilang tak bertuan! Begini, ya, hasil dari ibadahmu siang malam itu?”  Mang Jiman masih juga memarahi istri yang penyabar itu, padahal tadi pagi Mang Jiman mengeluh tidak enak badan.

            “Pak, Allah tidak akan menukarkan rezeki kita pada orang lain. Pasti ada hikmahnya, Pak. Dulu juga Emak dapat rugi tapi Allah kasih hadiah sepeda lewat prestasi anak kita.  Dan sekarang aku bisa jualan keliling dengan sepeda.  Emak Bibah memberanikan diri menjawab kemarahan suaminya.  Semoga jawabannya itu meredam suasana tak nyaman ini.

            “Tapi kalau kamu tidak kehilangan barang dagangan, tentu kamu tidak hanya mendapat sepeda tapi juga keuntungan berdagang hari itu.”  Mang Jiman begitu sulit untuk berucap satu tanda kesyukuran, hamdalah telah menjauhi dirinya.

            Mak Bibah mengakhiri perdebatan untuk menuju ke ruang makan.  Ia menyiapkan makanan yang dibelinya dari pasar, khusus buat Mang Jiman. Mereka hanya tinggal berdua, kedua anak mereka belajar di pesantren. 

            Biasanya Mak Bibah memasak dulu sebelum berangkat berjualan dengan sepedanya, tapi kali ini ia harus berkejaran dengan waktu.  Ia harus mencari keberadaan barang dagangannya, menatanya di atas rak serupa sangkar di atas sepedanya.

            “Mak Bibah, Mak! “ seseorang memanggilnya keras-keras diiringi tepuk tangan yang nyaring.

            Mak Bibah mempertambat kayuhannya, memutar sepeda dan membelokkan arak ke sumber teriakan yang memanggilnya.

            “Neng Tari, ada apa manggil Emak?”

            “ Ini ada titipan barang dagangan buat Mak Bibah.  Tadi pagi-pagi sekali elp yang biasa membawa belanjaan Emak meletakkan semua ini di depan rumahku, Mak,” jelas Tari sambil memakai sepatunya.

            “Alhamdulillah, terima kasih, Neng Tari.  Emak sudah khawatir kehilangan barang dagangan.”  Senyum lebar Mak Bibah mebariskan gigi putihnya yang rapi.

***

            Mak Bibah turun dari sepedanya, menyandarkan pada pagar rumah Tari.  Penuh semangat ia menata sayur-sayuran itu.  Ada tiga kilogram mentimun, sepuluh ikat bayam, sepuluh ikat kangkung, dan berbagai rempah-rempah bumbu dapur.  Tidak ketinggalanbeberapa macam lauk pauk seperti ikan segar, ikan asin, daging ayam, tahu, tempe.  Buah-buahan juga ada walaupun hanya satu atau dua kilogram, seperti mangga, jeruk, jambu biji juga jambu air.

            Dua karung barang dagangan itu kini telah bertengger di rak sangkar penyimpanannya.  Rak berukuran satu kali setengah kali satu meter dengan dikelilingi kawat serupa sangkar telah penuh dan setia menemani Mak Bibah berjualan keliling.  Mungkin berat semua barang itu hampir sama dengan berat tubuhnya, enam puluh satu kilogram.

            “Bismillahirrahmaanirahiim, bismillahi tawakaltu ‘alallah laahaula walaaquwata illa billah.”  Doa itu mengawali kayuhan demi kayuhan sepeda Mak Bibah. Gabungan antara semangat dan tekat niat lillah dan berserah diri dengan apapun takdir yang akan Allah pilihkan untuknya.

            “Sayur…  Lauk…  Buah…  Semua segar murah meriah.”  Iklan alami keluar dari lisan Mak Bibah untuk menarik pelanggan dan pembeli barunya.  Diselingi bunyi bel sepeda yang dibuat khas agar kedatangannya mudah dikenali calon pembeli.  Dengan kreatifitas dan kegigihannya, Mak Bibah bisa merambah lima desa, dalam waktu lima jam.  Lepas Zuhur barang dagangannya tinggal sedikit sekali bahkan kadang kala sudah habis.

            Namun hidup bak roda pedati, kadang di atas penuh kemudahan, kadang di bawah penuh kesulitan.  Begitu pula apa yang dialami Mak Bibah dengan jualannya.  Saat rezeki pelanggannya banyak, ia ikut mendapat berkahnya, belanjaan cepat habis.  Begitu pun sebaliknya saat musim paceklik, dagangan sepi, kadang bersisa, modal pun tak sepenuhnya kembali.

            “Mak, Ade belum dapet uang jajan bulan ini,” rengek Arini terdengar di hp jadulnya.  Arini baru tahun ini berpisah dari ibunya, masih dalam tahap adaptasi.  Ditambah lagi kondisi keuangan yang sedang sulit oleh lesunya perekonomian karena kemarau panjang.

            “Sabar dulu, Nak.  Emak selalu ingat kebutuhan kamu.  Insya Allah besok Emak tengok kamu ke pesantren, ya.”  Mak Bibah menghibur Arini sebisanya.

            Mak Bibah memutar otak bagaimanapun ia harus mengadakan uang satu setengah juta untuk dua buah hatinya itu. 

            Di tengoknya barang dagangan yang bersisa seraya bergumam, “Aku harus mengolahnya supaya keuntungannya bisa menambah bekal buat anak-anak.”

            Ide untuk membuat dan menjual makanan jadi pun bermunculan di benaknya.  Segera diraciknya bumbu berbagai masakan untuk mengolah bahan mentah itu.

            Saat Mak Bibah sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba telpon genggam jadulnya bordering lagi.

            “Assalamualaikum, bisa bicara dengan orang tua Arini?”  Suara samar dari seberang sana terdengar.  Ternyata panggilan itu dari pengasuh Pesantren Al Hidayatul Muna tempat Arini belajar.

            Seketika jantung Mak Bibah berpacu dua kali lebih kencang.  Ada firasat buruk terkait Arini.

            “Waalaikumsalam, iya saya sendiri.  Ada apa ya, Ustazah?” tanya Mak Bibah penuh rasa penasaran

            “Emak jangan kaget dan pihak pondok akan ikut membantu mengatasi masalah ini.  Arini mengambil uang kawannya, jadi Ibu atau Bapak dimohon hadir di pesantren.”

            “Ya, Allah, Arini…”  Mak Bibah tak mampu meneruskan ucapannya.  Telpon genggam di tangannya terjatuh bersama linangan Kristal bening di sudut matanya.  “Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun.  Rabb Engkau mengujiku dengan kemarahan suami, hamba bisa bertahan.  Engkau menguji dengan kesulitan rezeki, hamba bisa tahan.  Tapi kali ini, hamba mohon Kau kuatkan hamba.  Aku menitipkan anak-anak amanah dariMu ke pesantren untuk menjadi anak yang salehah.  Anak yang mampu membedakan benar-salah, baik-buruk.  Tapi kenapa keringat yang tercurah untuk kebaikan mereka seakan sia-sia.”

            Dering telepon kembali menyadarkannya dari kesedihan yang dalam.  Sekuat tenaga diraihnya telpon itu.

            “Ibu, kenapa Ibu memutus perbincangan ini?  Kami dari pihak pesantren berkewajiban memperbaiki akhlak anak-anak yang diamanahkan pada kami.  Pemanggilan ini bukan untuk mempermalukan orang tua dan anak yang melanggar, Bu.  Tapi lebih pada kerjasama antara orang tua dan pesantren untuk mendukung perubahan anak-anak kea rah yang lebih baik.”  Suara Ustazah Noor bagaikan oase di padang gersang.  Menegarkan kembali semua yang kerontang juga jiwa Mak Bibah.

            “Iya, Ustazah, saya akan datang.  Terima kasih atas bimbingan Ustazah pada anak saya Masfufah dan Arini.”

            Ketegaran jiwa Mak Bibah pulih kembali,  Ia tak ingin tiap tetes keringat, naik turunnya nafas yang terengah dan kayuhan yang ia ayun selama ini sia-sia oleh keputusasaan. 

            “Layukalifullaahu nafsan illa wusaha,  Allah memberimu ujian karena kamu mampu menanggungnya, Bibah.  Ada hikmah di setiap ujian.  Mungkin kamu harus lebih sering menyebut nama anak-anakmu untuk kau titipkan pada Allah yang Maha Memberi Petunjuk.”  Sebait bisikan lembut mengembalikan ketegaran yang selama ini dijiwainya.


 

KEIKHLASAN MENGALAHKAN SEGALANYA

By: Khadijah Hanif

               Sebut saja namanya Agus Darmawan, nama yang sederhana, tetapi membekaskan kenangan di hati orang-orang yang pernah dipimpinnya. Baik saat ia memimpin pesantren ataupun perusahaan. Ketika menjadi pemimpin perusahaan ia akan memberi kesempatan pada karyawannya untuk berkembang, memiliki usaha sendiri, meskipun besar kemungkin akan menjadi pesaingnya.  Ketika memimpin sebuah pesantren, jabatan bukanlah menjadi apa yang diburunya. Begitu mudah ia melepaskan jabatan itu setelah ratusan juta dikorbankannya untuk pesantren. Kalau ada yang tidak menginginkan keberadaannya maka dengan mudah ia akan melepaskan kedudukannya tanpa rasa dendam.

            Insting memimpinnya kembali muncul saat kondisi pesantren Baitul Amanah sudah sangat memprihatinkan. Pesantren yang dirintis dan didirikan oleh mertuanya, Haji Banna, mengalami kondisi tidak menguntungkan.   Ia seakan ingin selalu hadir untuk memberi solusi sebatas kemampuannya.

            Permasalahan yang membelit Baitul Amanah kental terlihat pada jumlah santri yang kurang dari sepuluh orang perjenjang kelas.  Akibatnya, pemasukan tidak seimbang dengan biaya operasional.  Para ustaz, ustazah, staf, karyawan dan semua yang terlibat di dalam pesantren tak  lagi terbela kesejahteraannya.  Hak kebajikan perbulannya hanya terbayar tak lebih dari sepertiganya.  Yayasan tak mampu lagi memberi subsidi terhadap kebutuhan pesantren. Ibarat kata pepatah pesantren ini sudah berada di ujung tanduk.  Pelayanan pendidikan berkurang, berefek pada makin berkurangnya jumlah santri yang mendaftar. Isu kebangkrutan merebak memenuhi langit desa tempat Baitul Amanah bertengger.

            Rapat yayasan menyimpulkan bahwa pesantren harus segera dilimpahkan ke yayasan lain. Yayasan yang lebih besar dan settle.

            “Yayasan kita sudah tidak bisa menopang dan mengayomi keberadaan Baitul Amanah lagi," keluh Andeni, bendahara perusahaan.

            “Sejak perusahaan almarhum bapak terdampak krisis moneter 1998 aku sudah tak mampu memperbaiki kinerja karyawan. Tuntutan kenaikan gaji sudah tak bisa kita penuhi terpaksa kita harus melakukan melakukan perampingan. Akhirnya DLLAJR memangkas tender kita. Itu pun harus ada uang perpanjangan proyek. Kita akan memenangkan tender bila bisa melampaui pesaing kita. Mereka menyanggupi enam ratus juta rupiah. Jumlah ini di luar kemampuan kita,” papar Husain, putra sulung yang mengganti pimpinan perusahaan setelah Haji Banna wafat.

            "Aku usulkan bagaimana kalau kita bergabung dengan Yayasan Al Munawarah. Mereka yayasan besar yang menaungi pesantren besar. Mereka sudah punya banyak cabang dengan banyak santri," usul Nadia, anak kedua keluarga itu.  Tawaran solusi dari Nadia terdengar begitu menyakitkan telinga bahkan menghunjam di hati Talita, sepedih sembilu.  Talita adalah anak terakhir dan juga istri dari Agus Darmawan. 

            “Mohon maaf saya membawa pesan dari Mas Agus, seandainya diberi kepercayaaan dan kesempatan, dia mau mencoba menata Baitul Amanah.”  Talita memberanikan diri untuk menyampaikan kesanggupan suaminya sambil menunduk malu.  Ia tak ingin menangkap sorot mata dari kakak-kakaknya.  Talita cukup tahu diri bahwa suaminya bukan lulusan pesantren, bukan ustaz, bukan keturunan ajengan, bukan siapa-siapa, kecuali hanya seseorang yang memiliki bekal kepemimpinan dan manajerial.

            Peserta rapat saling menatap, pandangan keraguan memancar dari lubuk hati terdalam.

            “Kami yang banyak mengenyam pendidikan agama pun tidak berani mengambil resiko.  Tapi baiklah, kita beri kesempatan satu tahun ini.  Kalau kondisi Baitul Amanah makin buruk, usulan Nadia akan kita pertimbangkan.”  Kalimat ini menutup rapat darurat Yayasan Baitul Amanah

***

            Agus Darmawan menginjakkan kaki sebagai pemimpin di Baitul Amanah untuk pertama kalinya.  Sorot mata ragu tertangkap dari para Anshoru Ma’had.  Kecuali beberapa gelintir saja yang menyambutnya penuh penghormatan.  Di antara yang sedikit itu adalah Mang Oding, pesuruh Ma’had dan keluarga Ustaz Ubaidillah.  Mereka menyambut gembira dan yakin akan kapasitas Agus Darmawan, karena kedua orang ini telah mengenal dengan baik.

            Rapat badan pengelola sefera dilakukan sekaligus penyambutan atas kedatangan pemimpin baru mereka.

            “Kalau dia datang tidak bisa memperbaiki kesejahteraan dan mengembalikan hak-hak pengelola, buat apa dia kemari?”  Cibiran terlontar dari beberapa anggota badan pengelola.

            “Biarkanlah dia berbuat kesalahan dan kita lihat apa yang akan dilakukannya.”  Salah satu pengelola senior berusaha menenangkan kasak-kusuk yang tak sedap itu.

            Darmawan menangkap atmosfer kurang menyenangkan itu tapi ia telah menyiapkan penangkal dalam hatinya.  Sebuah kalimat yang tak lepas dari lisannya,  laahaula walaaquwata illa billahil’aliyil’adziim.

            “Terimakasih atas sambutan dan penerimaan yang baik atas kehadiran saya di sini.  Seperti yang antum semua ketahui, saya beradadi sini untuk sama-sama memecahkan permasalahan Baitul Amanah.  Saya tidak punya kemampuan apa-apa kecuali apa yang Allah izinkan pada saya.  Oleh karena itu kita harus memperkokoh tiga pilar pokok dalam berjamaah atau pun berorganisasi sebagaimana nasihat guru saya.  Pertama iman, kuat keyakinan, kedua ukhuwah cinta sesama saudara dan yang ketiga keselarasan dan kesepahaman.  Maka ada beberapa hal baru yang akan saya usulkan disini.  Dan satu lagi saya sampaikan, saya di sini tidak akan mengambil gaji sebagai pimpinan, tapi saya infakkan untuk rekrutment santri baru di tiap menjelang tahun ajaran baru.”  Darmawan menyampaikan sambutannya dengan tulus.  Semua yang hadir terkesima.  Ada karisma memimpin di sebalik kesederhanaan dan segala alasan yang membekaskan keraguan di hati para pengelola.

            Langkah pertama yang dilakukan Agus Darmawan adalah berbelanja masalah dari siapa saja.  Santri, para ustaz dan muraqib bahkan pegawai dapur.  Semua masalah itu menghasilkan banyak kebijakan baru yang harus segera dilakukan.  Di antaranya penambahan personal, pergantian bahkan sampai pemberhentian untuk  mereka yang mengganggu mekanisme pondok. 

            “Mas, jangan terlalu cepat bergeraknya, nanti pengelola kaget. Apalagi penggantian pengurus dapur pesantren.  Bagian ini dari dulu sejak bapak masih ada, selalu saja menjadi biang keretakan keluarga.”   Talita menyampaikan uneg-unegnya sepulang dari Bibi Aliyah,  kepala dapur yang masih kerabat Ibu Hajah Maunah, ibu kandung Talita.

            “Aku tahu ini risiko terbesar kita.  Tapi aku sudah bicara baik-baik sama Bibi Aliyah dan beliau bisa menerima alasanku,” tutur Darmawan menenangkan istrinya, “salah satu problem besar pesantren ada di dapur jadi dengan sangat terpaksa aku lakukan ini.  Tapi tenang Talita aku memberikan jabatan lain buat Bi Aliyah.  Beliau memegang koperasi pondok.  Aku rasa beliau lebih punya keleluasaan di sana karena urusannya langsung pada yayasan bukan mencorak asupan gizi santri.”

            Talita terdiam.  Masih terngiang ungkapan bernada sumbang dari Bibi Aliyah, tapi ia tak ingin membebani perasaan suami yang amat disayanginya itu.

            Gebrakan dilakukan dengan cepat. Darmawan membagi waktunya dengan bijak sepekan untuk pesantren dan sepekan untuk perusahaan.  Keduanya dilakukan seefektif mungkin.  Gebrakan di pesantren dilakukan dengan rapat mingguan.  Di dalam rapat itulah Darmawan menanamkan tiga pilar organisasi yang dinasihatkan gurunya.  Kultum secara bergilir dari asatiz untuk tema iman, ukhuwah dan kesepahaman dalam berorganisasi.  Dilanjutkan dengan evaluasi program sepekan ke belakang dan rencana program sepekan ke depan.

            Musyawarah selalu di kedepankan dan hasilnya, tahun ini Asrama untuk putrid akan dibuka.  Rekrutment santri dilakukan besar-besar, mulai dari bersilaturahmi kepada wali santri dan melibatkan mereka dalam penerimaan santri baru.  Gebrakan selanjutnya  membuka program khusus satu kali bayar untuk bebas pendidikan enam tahunan.  Dalam bidang muatan pendidikan diadakan program vokasi perjenjang pendidikan.  Mulai dari menganyam, budi daya jamur, mengelas, tata boga, pertanian organik, hidroponik, penyaringan air minum kemasan, peternakan sapi dan lain sebagainya. 

            Semua langkah ini bukan tanpa pengorbanan.  Pengadaan alat dan modal vokasi adalah pembiayaan terbesar yang harus dirogoh dari dompetnya sendiri.  Alhamdulillah, dengan komunikasi yang baik antara pesantren dan wali santri, biaya tambahan untuk vokasi disepakati bersama orang tua melalui komite pesantren.

            Di tahun ketiga kepemimpinannya, Agus Darmawan berhasil membentuk majelis syura yang menjadi lembaga tertinggi di pesantren yang di dalamnya menghimpun yayasan, badan pengelola, komite pesantren, alumni dan tokoh masyarakat.  Majelis ini diharapkan m

            Empat tahun berlalu, perputaran keuangan pesantren mulai menggiurkan dalam hitungan satu milyar lebih.  Santri yang mondok menggelembung lima kali lipat.  Awalnya hanya tujuh puluh orang, kini telah mencapai tigaratus lima puluh orang putra-putri.

            “Tahun ini kita memiliki saldo seratus juta.  Saya berterimakasih pada semua terutama asatiz mukimin yang mewakafkan waktu, tenaga, pikiran selama dua puluh empat jam.  Sebagai tanda terimakasih itu saya bermaksud setegah bagian saldo untuk melengkapi fasilitas TKIT/TPAIT.  Setengahnya lagi untuk inventaris asatiz yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan, saya ingin setiap ustaz memiliki satu laptop.  Atau terserah bagaimana baiknya untuk kemaslahatan para ustaz barangkali memiliki keperluan mendesak yang lainnya.” 

            Perhatian dan kasih sayang yang diperlihatkan oleh Darmawan mendapat respon positif dari badan pengelola.  Sebagian dari mereka yang pernah curiga, ragu bahkan mencibirnya tertunduk malu.  Bukan hanya gaji utuh yang mereka terima tetapi juga sisa gaji yang belum terbayar pada masa kepemimpinan sebelumnya berhasil terlunasi.

            “Wah, ternyata Allah SWT memberi karunia pada pesantren ini melalui tangan Pak Haji Agus Darmawan.  Nggak nyangka, ya,” ungkap Ustazah Naira, salah satu Pembina santri putri.

             “Makanya kita tidak boleh memandang sebelah mata.  Khawatir kita dirasuki hasad dengki dan kesombongan, merendahkan orang lain,” imbuh Ustaz Nandang, suami Ustazah Naira.

            Ketika dunia menghampiri, firnah pun datang bertubi-tubi.  Bermula dari hadiah saldo keuangan di tiap akhir tahun kepada para pengelola.

            “Kalau Darmawan terlalu lama memimpin, yayasan akan jadi korban.  Sekarang segala sesuatunya harus sama majelis syura, bukankah itu tanda-tanga kelemahan yayasan.  Apa bedanya dengan menyerahkan pesantren ini ke yayasan lain?”  Bibi Aliyah mulai memprovokasi Hajah Maunah sebagai muwaqif.

            Rapat yayasan berlangsung alot antara dua kubu mencabut mandat pada Agus Darmawan atau mempertahankannya, semua memiliki pertimbangan masing-masing.  Akan tetapi aroma perselisihan makin pekat.  Darmawan mulai merasa tidak nyaman dengan gangguan dari kerabatnya sendiri.  Kehadiran kerabatnya di pesantren membuat program berantakan, bahkan mulai menjalar pada kenyamanan santri.  Kegiatan di luar musyawarah kerja membuat antar bagian bersitegang.  Agus Darmawan peka dengan kondisi ini.

            “Mas, rasanya cukup sampai di sini Mas Agus memimpin Baitul Amanah.  Aku pikir cukuplah dengan jumlah santri tigaratus lima puluh orang ini, yayasan terlibat aktif kembali.  Aku nggak kuat dengan keributan diantara saudara-saudara kita,” pinta Talita satu hari.

            “Buat aku nggak masalah, Lita.  Semoga mereka bisa meneruskan Baitul Amanah dengan ikhlas.  Sebab tanpa sepenggal kata itu, semua nikmat akan Allah cabut kembali.”

            Setelah menjalani istikharah, Agus Darmawan menyampaikan pengunduran dirinya, di tepi pantai Batu Karas yang menyimpan kenangan pilu orang-orang yang merasakan kepemimpinannya.

            “Dengan berat hati, mungkin ini adalah perjalanan wisata kita bersama untuk yang terakhir kalinya.  Saya sudah bersama kalian dalam lima tahun kepemimpinan saya.  Saya berharap saat saya datang kembali ke Baitul Amanah, perubahan kearah perbaikan akan terus terjadi.  Bahkan mungkin santrinya akan bertambah dua atau tiga kali lipat dengan luas lahan dan bangunan yang makin banyak pula.  Saya mohon maaf atas semua kesilapan saya, mohon diikhlaskan apapun yang pernah terjadi selama perjumpaan kita.”  Semua santri, santriwati, karyawan dan para ustaz diam seribu bahasa, tidak ada yang mampu menimpali ucapan perpisahan ini kecuali desak kecewa dan kekhawatiran atas nasib Baitul Amanah.

            Sepeninggal Agus Darmawan sembilan tahun yang lalu Baitul Amanah kembali dengan jumlah santri yang merosot hingga seratus santri.  Sementara Agis Darmawan kembali meniti jalan perjuangan, membangun pesantren baru, Izzatul Ummah.  Kecintaannya terus terpancar bersama ide yang terus mengalir seirama dengan keikhlasannya pada perjuangan agama.

  


 

RIBA ITU MERUSAK PERSAUDARAAN

By: Khadijah Hanif

 

            Gawai Lutfia berdenting tak henti.  Lutfia  yang sedang menggerakkan kegiatan literasi di taman bacaan merasa sangat terganggu.  Tidak mudah mengumpulkan anak-anak tetangga buat membaca dan membuat review. 

            “Anak-anak, sebentar, ya.  Teteh ada telfon.  Jangan pada bubar, Teteh punya kejutan menarik buat kalian.”

            Lutfia segera menyambar gawai di atas rak buku.  Muncul di layar pendar itu satu nama yang membuat Lutfia trauma untuk  nerima telfonnya ’Marisa’.  Lutfia menolak pangilan videonya, kalau tidak bisa dua jam Marisa bicara.  Begitulah kebiasaan Marisa yang membuat Lutfia enggan bicara lewat gawai.  Ia balas panggilan itu dengan chating wa.

            “Assalamualaikum, Marisa.  Maaf aku sedang ada pertemuan, nggak bisa nerima video call dari kamu.”

            “Waalaikumsalam, oh, iya.  Aku maklum, kok, kamu pasti sibuk.  Sorry aku udah ganggu kamu.”

            Marisa teman baik Lutfia, mereka sudah akrab sejak masih SMA.  Satu sama lain saling tahu sifat masing-masing. 

            “Aku mau nyampein masalah aku sama adik kamu, Fia.”

            “Ada apa, ya, aku jadi deg-degan.”

            “Dia pinjam uang tiga ratus juta.”

            “Besar sekali Marisa.  Kamu percaya begitu saja sama Sania tanpa minta pertimbangan dari aku?”

            “Dia keberatan kalau ada yang tahu, khawatir bisnisnya akan terganggu.” 

            Chating mereka sudah memasuki menit ke-15. Lutfia cermati jam yang melingkar manis di tangan kirinya, 14.30. Sebentar lagi waktu sembahyang Asar. Suara hiruk pikuk anak-anak mulai terdengar.
            “Marisa, sorry, ya. Sebaiknya kita ketemu langsung aja. Aku rasa masalah ini sangat berat buat aku dan keluarga. Terutama buat adikku, Sania.”

            “Aku setuju, tolong ajak Sania sekalian.  Pertemuannya di rumahku aja.”
            Lutfia terpaksa mengakhiri chat yang mendebarkan itu.  Lutfia matikan gawainya.  Rasa penasaran akan mengganggu aktifitasnya. Yang jelas masalah itu sudah masuk dalam ranah pendengaran dan pengetahuan Lutfia, menggumpal di sudut hati yang tak bisa ia cairkan dengan suara nurani.  Dia hanya bisa sedikit menenangkan hati, laahaula walaquwwata illa billah
            Sekuat tenaga Lutfia mengendalikan anak-anak Taman Literasi Bismirabbi rintisannya.  Alhamdulillah mereka mudah diatur dan bisa mengerti penjelasannya tentang cara membuat review fishbone, AIH dan Y-Chart.
            Ingatan Lutfia tentang hutang yang melilit Sania sangat kental.  Kerjasama bisnis antara Nia dan Marisa berubah menjadi masalah yang teramat rumit.  Nia mengajak Marisa menanam modal sebesar tiga ratus juta rupiah dengan iming-iming enam bulan modal kembali plus keuntungan  dua puluh persen setiap bulannya.   Sementara Marisa tidak tahu apa-apa tentang usaha adik bungsunya itu.  Sebagai kakak sulung, Lutfia merasa seakan tersambar geledek korban Sania adalah teman baiknya selama ini, Marisa. 
            Lutfia tahu persis perjalanan hidup Sania.  Manis mulutnya sangat mudah membuat orang percaya.  Bisa dikatakan Sania memaksakan diri untuk menjadi korban rentenir dan mengondisikan orang yang diajak berbisnis menjadi rentenir.   Dalam usahanya mendapatkan modal Sania menjanjikan keuntungan yamg irrasional. “Ya Rabb beri petunjuk pada Sania, berikan dia keinsyafan,” bisik hati Lutfia.
            Janji pertemuan Lutfia, Sania dan Marisa makin hampir menemui takdirnya.  Lutfia ingin menemui Sania untuk memastikan masalah antara  Sania dan Marisa.   Maksudnya supaya ia lebih siap memberi masukan untuk adik dan teman dekatnya itu.

            Sudah lama Lutfia hilang kontak dengan Sania.  Sania menghilang setelah peristiwa penggelapan uang milyaran dari puluhan investor.   Lagi-lagi para pemilik modal itu ceroboh mempercayai janji Sania begitu saja tanpa bukti hitam di atas putih. Yang membuat dada Lutfia sesak, korban itu Marisa, orang yang sangat dikenalnya.   Rasa malu menguasai hatinya. Kegiatan reuni SMA menjadi kegiatan pertama yang wajib dihapus dari daftar kegiatannya, selanjutnya menarik diri dari grup wa alumni.
            “Mas, aku harus melacak keberadaan Sania.  Adikku yang satu ini bener-bener bikin repot!” geram Lutfia terlampiaskan pada orang terdekatnya.
            “Sebentar aku masih menyimpan akun terbarunya @AinasaPutri.  Barangkali masih aktif,” balas Ahsan tenang.
            “Mas Ahsan masih kontakan dengan dia? Kok nggak ngasih tahu aku, sih, Mas?” Lutfia mencubit lembut lengan suaminya.
            “Kamu pernah bilang nggak mau melibatkan masalah Sania dalam kehidupan kita, kan?” Ahsan balas bertanya.
            Lutfia mencoba membuka akun melalui kolom pencarian, @AinasaPutri.  Berjajar nama serupa yang muncul di laptopnya.

             “Bismillah, barangkali yang ini.” Sania mengklik akun dengan foto profil Randi, Suami Sania.
            Dilihatnya akun Sania terdapat beberapa unggahan foto yang tentu akan membuat sesak para investor yang ditipunya. Terakhir sebulan yang lalu, perjalanan Sania ke Australia.
            Tanpa peduli aktif atau tidaknya akun itu, Lutfia segera mengirim pesan.
            “Sania, aku kangen pingin ketemu boleh tahu alamat kamu sekarang?  Sejak kamu menarik diri dari keluarga besar kita, ibu makin saring sakit.  Mungkin ibu kangen sama kamu.   Balas ya, Nia.” 
            Pesan itu tidak segera dibaca. Keesokan harinya, ada balasan dari Sania.
            “Mbak, aku nggak bisa menemui Mbak Fia di rumah.  Kita temuan aja di Taman Lodaya.  Kamis jam sepuluh pagi.” 
            “Alhamdulillah, terima kasih, Adikku cantik.”
            Taman Lodaya ada di pusat kota kabupaten, taman kebanggaan warga, sedang indah-indahnya. Asri dipenuhi beragam bunga bermekaran ada enam set meja kursi dan kanopi bulat untuk melindungi pengunjung dari terik matahari. Taman itu masih sepi. Mungkin karena hari kerja. Lutfia memaksakan diri tidak masuk kantor demi pertemuannya dengan Sania.
            Sepuluh menit menunggu, Sania sampai juga di taman itu. Menggendarai mobil sport warna merah, ia menggenakan stelan casual bernuansa merah. Gayanya tajir benar. Kemewahan yang menyimpan aib di sebalik tampilannya.
            Mereka saling berpelukan. Lutfia berusaha meleburkan perasaan jengkel dengan perilaku adiknya itu. Ia tukar dengan kasih sayang untuk menyelamatkan Sania dari kubangan riba menjijikkan, tapi dinikmatinya itu.
            “Nia, Marisa ingin ketemu kamu.  Ia sedang dikejar-kejar debt colector.  Dia bilang, uang yang kamu pinjam darinya dapet minjem dari bank.” Lutfia mencoba membuka masalah inti setelah berbasa-basi dengan cerita ringan seputar keluarga mereka.
            Sania tidak begitu kaget dengan terbongkarnya rahasia ini.  Cepat atau lambat Marisa pasti akan menghubungi Lutfia.
            “Kenapa kamu nggak kapok-kapok nipu orang dengan alasan investasi.  Ini fiktif Nia. Kalaupun kamu mengembalikan penuh uang mereka, berarti kamu paksa mereka makan riba. Uang lebihan dari apa yang kamu pinjam, itulah ribanya.”
            “Mbak, aku sendiri bingung dengan keadaanku ini.  Aku terpaksa menipu untuk menutupi lubang yang aku buat sendiri.  Semua berawal dari hutang pertama yang tak bisa aku lunasi kecuali dengan meminjam lagi.  Sekarang sekarang hutangku sudah milyaran, Mbak.  Sebagian dari mereka sudah melaporkan ke polisi.  Sebenarnya aku sedang dalam penyamaran.  Makanya aku menarik diri dari keluarga dan semua orang yang aku kenal”
            “Nia, aku heran dengan apa yang merasuki pikiran kamu.  Nggak ada cara lain.  Kamu serahkan diri pada yang berwajib.   Lalu segera beratubat.  Ini lebih baik daripada siksa akhirat nanti.  Tinggalkan harta yang masih kamu nikmati.  Kamu sudah penuhi hidup kamu dengan harta haram hasil menipu dan kau suapkan riba pada orang yang meminjami kamu uang.”
            Sania mulai gelisah dengan semua wejangan kakaknya. 
            Tiba-tiba...
            “Masya Allah, Lutfia, Sania, kalian ada di sini?  Alhamdulillah, kita bisa bicara di sini saja ya.”  Marisa memergoki mereka di taman itu.
            Marisa duduk di kursi kosong yang masih tersisa.  Sania salah tingkah dengan kehadiran mangsanya, ia mati kutu.
            “Qadarullah kita bisa segera selesaikan urusan kita di sini, Marisa.  Lutfia mencoba menjelaskan duduk persoalan sebenarnya tentang usaha fiktif Sania. 
            “Aku nggak mau tahu tentang usaha apa yang Sania jalankan. Yang jelas gara-gara janji manis itu aku jadi punya hutang di bank.   Sekarang hutang itu sudah jatuh tempo.   Debt colector sudah mendatangi terus rumahku.  Sania yang salahnya aku yang terkena batunya. Satu-satunya mobilku terancam disita.  Aku nggak mau tahu serahkan apa saja yang kamu miliki buat bayar hutang kamu ke bank, Sania!”  Perbincangan itu menjadi panas dan membingungkan Lutfia.  Dua orang dekatnya itu terlalu mudah berurusan dengan riba.
            “Dosa teringan riba itu seperti menzinai ibu sendiri.  Kenapa kalian terus bermain-main dengannya.  Sania menjadi seperti ini juga diawali dengan pinjaman bank yang tidak mampu dibayarnya akhirnya mecari jalan mudah menutup hutang ke bank dengan cara menipu.  Aku tahu, Sania, cara termudah itu dengan memberi iming-iming keuntungan yang tidak pernah ada.”
            “Sania udah ngasih cicilan beberapa kali ke Mbak Marisa. Total cicilannya udah sekitar seratus juta dalam tiga tahun sejak aku pinjam.  Berarti aku tinggal bayar sisanya, ya Mbak?” pinta Sania.
            “Tidak bisa, yang seratus juta itu aku anggap janji keuntungan dua puluh persen  usaha kamu.  Selama ini aku setor bunganya aja. Kan, kamu janji dalam enam bulan bakal ngembaliin pinjaman.  Jadi hutangku ke bank masih utuh tiga ratus juta.”
            Lutfia mulai pusing dengan perbincangan dua orang yang asik berenang di kubangan riba. Cara hidup mereka sangat aneh menurut Lutfia.
            “Dengerin aku dulu, atau aku lepas tangan dengan urusan kalian!” Lutfia mulai marah melihat pertengkaran mereka. “Marisa sudah tahu kalau bisnis Sania nggak ada. Kelebihan uang dari Sania itu riba bukan keuntungan,” lanjut Lutfia.
            “Soal ada dan tidaknya bisnis, aku nggak mau tahu. Yang aku pegang mulut manis dia. Aku nggak terima kalau keuntungan dari Sania dianggap riba.”  Marisa tidak mau mengalah, desakan bank dan ancaman debt colector memenuhi isi kepalanya.
            “Jadi bagaimana mau kamu, Marisa?” tanya Lutfia pasrah. 
            “Serahkan apa aja yang Sania punya dan jangan sampai yang bank menyita barang yang kupunya. Atau aku sudah menyiapkan ini. Tolong kamu tanda tangani sebagai saksi, Lutfia!” Marisa mengeluarkan selembar kertas perjanjian. 
            Lutfia membaca surat itu dengan teliti.  Ada tiga poin yang diinginkan Marisa, yaitu bahwa hutang Sania masih sebesar tiga ratus juta, jatuh tempo hutang terbaru dan bagian warisan Sania yang masih ada di pegang ibu adalah hak Marisa, kalau masih belum tertutupi seluruh hutang dengan warisan Sania, Sania tetap harus membayar sisanya.
            “Marisa, kamu tega memaksa sebagian rumah yang kami tempati, satu-satunya harta mama kami menjadi jaminan pembayaran hutang Sania?  Aku nggak terima, Marisa.   Mama masih hidup dan kau menunggu kematiannya supaya Sania bisa membayar hutangnya? Sebaiknya aku berlepas tangan dari urusan yang menjijikkan ini.  Terserah apa yang akan kalian putuskan. Kalian manusia-manusia merdeka dan dewasa.  Silahkan selesaikan urusan kalian sendiri.” 

            Lutfia beranjak dari tempat itu.  Kepalanya dipenuhi tanda tanya.  Beginikah orang-orang yang terbiasa dengan riba?  Pantaslah jika kelak mereka akan dibangkitkan dalam keadaan mabuk.   Di dunia pun mereka seakan kehilangan kesadaran, pertimbangan akal dan hati nurani.

            Sebulan setelah pertemuan itu, Lutfia membuka email yang masuk di inbox.  Sebuah akun mengiriminya pesan.
            “Mbak, aku akan menyerahkan diri ke pihak berwajib. Terima kasih atas saran Mbak Fia.  Mungkin saat Mbak baca email ini, aku sudah ada di penjara.  Semua yang aku nikmati sudah aku lepas.   Aku sudah nggak punya apa-apa lagi.  Sepulang dari penjara tolong terima aku sebagai manusia baru, bukan Sania yang dulu.  Aku ingin bertaubat dari riba dan menipu.” 
            Tak terasa ada butiran bening meluncur di pipi Lutfia,

            “Aku akan menerimamu dengan tangan terbuka Sania. Taubat itu membersihkan dosa anak Adam seperti kertas putih bersih tanpa noda,” balas Lutfia via emailnya.

JALAN BERLIKU MENCARI GURU

By: Khadijah Hanif

 

            Allah SWT menyediakan petunjuk begitu banyak pada hambaNya.  Tiap detik waktu bahkan, Ia selalu menyapa manusia untuk mengingati Dia Yang Mahaagung.  Melalui angin yang membelai tubuh, air yang menetes dari langitNya hingga masuk ke dalam kerongkongan, menyatu dengan tubuh. 

            Akan tetapi tetapi manusia kadang terlupa dengan tiap karunia karena semua dianggap biasa.  Hanya orang-orang yang mau mengambil pelajaran saja yang mau berpikir.  Salah satu di antara yang peka menyambut hidayah itu Muhammad Alfiansyah.  Ia seorang santri di salah pesantren modern di tanah air.

            Hidayah itu berawal dari kesibukannya sebagai petugas perpustakaan di pesantrennya, Perpustakaan Pesantren Modern Darulqiyam.

            “Mulai hari ini kamu resmi membantu saya  di perpustakaan Darulqiyam.  Ini rincian tugas yang harus kamu jalani selama menjadi pustakawan,” Akhi Irsyad Maulana memberikan kartu panduan untuk pustakawan.   Kartu itu memudahkan Alfian dalam mengingat tugasnya, walaupun ia sudah mendapatkan pelatihan selama sepekan di Darulqiyam tentang berbagai hal terkait tugasnya sebagai pustakawan.

            Kegemarannya membaca membuat perpustakaan adalah tempat ternyaman buat Alfian setelah masjid.  Setiap lepas Asar Alfian bertugas melayani pengunjung yang sebagian besar dalah santri Darulqiyam.

            “Ada wakaf majalah yang baru datang, Alfian. Harus kita susun di rak majalah.” Akhi Irsyad mengacak-acak imajinasi Alfian  pada batas baca yang ia beri tanda.

            Rasa penasaran menggumpal dalam dada, gerangan apa majalah yang menyapa mereka. Pasti banyak informasi penting terbaru yang bisa menjadi nutrisi informasi buat santri.

            “Masya Allah, majalah Islami dari Malaysia. Ada Al Furqan, An Nasihah dan Buletin Muslimah. Ada keterangan pengirimnya siapa, Akhi?” tanyaku serius.

            “Ada, nih, resi pengirimannya,” sahut Akhi Irsyad pendek.

            “Rahmat Fauzi, Wisma Al Ghuraba Madiun.”  Alfian mengeja tiap huruf yang berbaris di kertas selembar itu, aku catat alamat lengkap pengirimnya. Maksudnya untuk menambah korespondensi siapa saja yang mungkin menjadi penopang perpustakaan.

            Mereka segera mencap majalah dan buletin itu, memberi tanda inventaris di bagian bawah lipatan majalah. Pesan dari Akhi Ramdan, bahwa apapun benda pustaka yang masuk harus ditulis dalam katalog atau daftar inventaris.
            “Alhamduliĺah, selesai juga. Sekarang giliran melalap habis majalah-majalah dan buletin baru itu,” gumam Alfian penasaran.

            Satu per satu Alfian membaca halaman demi halaman majalah itu. Sungguh mengesankan, terutama artikel tentang perkampungan Islam ke-30 yang diresmikan seseorang yang penuh dengan cahaya sunnah Rasulullah SAW.

            Mata Alfian tertumpu pada deskripsi foto yang bertengger di pojok kiri bawah halaman itu. Sosok itu bernama Ustaz Fathurrahman pimpinan Jamah Al Ghuraba.  Alfian terus menyimak gambar pemotong pita peresmian itu. Wajahnya berseri,  dari atas hingga ke bawah seakan ia temukan sosok contoh dalam kitab hadits yang dipelajarinya di pondok. Tutup kepala khilafah, serban imamah, selendang atau rida hijau tergantung melingkar dengan tenang di lehernya. Jubah yang kenakannya hijau penuh wibawa, tidak melebihi mata kaki. Wajahnya  teduh tapi penuh wibawa. Ada atsar sujud di keningnya. Celak mata menghias keliling matanya. Di sakunya terselip sebatang siwak.

            Alfian jatuh cinta pada pandangan pertama. Tampilan sunnahnya yang kental tetapi kemas, rapi, berwibawa. Tiba-tiba kerinduannya pada apa yang dicontohkan Rasulullah menyusup dalam relung-relung hatinya.

            Alfian terus membaca majalah itu, tak ingin berhenti. Deskripsi tentang Perkampungan Islam Batu Hampar, Perak Malaysia, membelalakkan matanya.  Mengaktifkan sel-sel otaknya untuk menyadari bahwa Islam sebagai suatu sistem hidup bukanlah sekedar teori bukan impian dan angan yang tak bisa dibumikan. Islam bukan sekedar mental exercise yang dibicarakan dalam kajian dan seminar tetapi ia nyata dalam keseharian.

            Dicermati lebih dalam artikel demi artikel. Sampailah Alfian  pada kesimpulan bahwa Al Ghuraba adalah sebuah jamaah yang meletakkan azas kekuatan dalam berjamaah dengan 3 hal pokok. Yang pertama ikatan iman yang kokoh, kuat keyakinan. Kedua ukhuwah, tali persaudaraan yang didasarkan pada iman. Yang ketiga adanya kepahaman dan keselarasan dalam berjamaah, ada pemimpin ada yang dipimpin, semua berada dalam keadaan terbaik sesuai posisinya.

            Antara firman Allah, hadits dan juga mahfuzat berseliweran dalam ingatannya, seakan tersaji dalam realita di hadapannya.

            Buah pikiran Sang Guru tertata apik seakan kucuran ilham yang tak terputus dari Rabbul 'Izzati.  Ada empat artikel yang sampai sekarang tak akan pernah dilupakannya, berikut dalil Alquran dan haditsnya.  Alfian sengaja mencatatnya di buku khusus untuk mengikat pengetahuan yang belum didapatkan sebelumnya. 

            “ Delapan syarat untuk menjadi insan bertakwa, pertama faham Islam, yakin, mengamalkan ilmu yang dipahami dan diyakini, bermujahadah, istiqamah beramal, ada guru mursyid, yang memberi ilmu dengan bimbingan dari Allah SWT  dan yang terakhir berdoa kepada Allah.”  Alfian membaca ulang catatan itu.  

            Di bagian ada guru mursyid diulang-ulanginya beberapa kali hingga Akhi Irsyad pun menegurnya, “Alfian, catatan apa yang kamu ulang-ulang itu, ada guru mursyid?”

            Teguran Akhi Irsyad menyadarkan Alfian dari lamunannya.  Dua hal baru yang ditemuinya, sosok yang memancarkan cahaya sunah Rasulullah dan syarat untuk meraih gelar takwa.  Ada dorongan batin yang sangat mengusiknya. 

            “Siapakah sosok mursyid yang harus aku dapatkan, siapa sebenarnya seseorang yang menggunting pita peresmian perkampungan Islam itu?”  Pertanyaan-pertanyaan itu silih berganti memenuhi benaknya.  Sesak.

***

            Pengalaman di perpustakaan sore itu terus menginspirasi hatinya.  Tiap ingatan takwa diserukan saat khutbah Jumat, khutbah Salat Id dan saat penjelasan tentang takwa dari kiai selalu saja membangunkan impiannya untuk berjumpa sosok mursyid.

            “Takwa adalah gelaran tertinggi setelah muslim dan mukmin.  Ia bisa menjadi jaminan kita di sisi Allah sebagaimana janjinya dalam banyak ayat Alquran,” ungkap Kiai Luthfi mengawali nasihatnya.

            Alfiansyah mencatat  dengan rapi keutamaan takwa yang disampaikan gurunya itu.  Yang pertama mendapatkan penjagaan dan perlindungan dari musuh, selalu bersama Allah di manapun berada dan Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang bertaqwa, akan diselamatkan dari kesulitan dan diberi rezeki dari tempat yang tidak terduga, diterima amalnya, mendapatkan kemuliaan dan kehormatan, dan masih banyak lagi keutamaan taqwa berjajar dalam buku catatannya.  Kerinduan pada gelar takwa makin mengharubirukan perasaannya.

            Kerinduan Alfian sedikit terobati dengan hadirnya para pendakwah dari Jamaah Alghuraba, satu tahun setelah kelulusannya dari Darulqiyam.  Tanpa keraguan Alfian bergabung secara penuh dalam jamaah itu.   Jamaah yang memadukan kekuatan aqidah, kehati-hatian dalam bersyariat, juga keindahan akhlak dalam tasawuf dan tarikat. 

            Suatu saat ujian berat itu datang.  Alfian tiba-tiba dilanda fitnah dari sebuah keluarga bangsawan yang tidak menyukai kehadiran Alghuraba di Indonesia.  Tuduhan yang dilontarkan, bahwa Alfian melarikan anak bangsawan itu dari orang tuanya.

            Fitnah itu makin santer bak air bah yang turun dari lereng gunung yang curam, melibas apapun tanpa peduli kebenaran yang sesungguhnya terjadi.  Alfian tiba-tiba menjadi buronan polisi dan terancap ditangkap.  Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawa dan nama baiknya adalah meninggalkan tanah air.  Negara terdekat yang mungkin menjadi tujuannya, Malaysia.  Di sela-sela kegentingan itu, Alfian merasa bersyukur karena peluang berjumpa Ustaz Fathurrahman terbuka luas di negeri jiran.

            Akan tetapi sungguh malang, namanya telah masuk daftar hitam pencekalan ke luar negeri. Beberapa media masa memuat pencarian dirinya.  Suasana sudah sangat mengerikan, mengancam diri dan keluarganya.

            “Mana yang namanya Alfian.  Serahkan pada kami segera atau kami obrak-abrik rumah ini?”  bentak seorang bertubuh tegap dengan pakaian biasa.  Entah siapa mereka yang datang itu.

            “Mohon maaf ada masalah apa, ya? Apa tidak sebaiknya kita bicarakan baik-baik?”  Ayah Alfian mencoba meredam suasana.  Sementara Alfian segera meninggalkan rumah, menemui salah satu gurunya di Darulqiyam.   Ibu melepaskan kepergian Alfian dengan derai air mata, teriring doa keselamatan untuk buah hatinya.

            Keesokan harinya di kaca pintu ruang tamu tertulis ‘segera serahkan saudara Alfian 1x24 jam’.  

            Di Darulqiyam, Alfian meminta solusi dari Kiai Muchtar.

            “Alfian, masih ada peluang kamu meninggalkan Indonesia dengan jalur illegal.  Jalur ini beresiko tapi tidak sebesar risiko bila kamu tertangkap oleh pihak kepolisian,” ungkap Kiai Muchtar.

            Pada usianya yang kurang dari duapuluh tahun, Alfian terpaksa meninggalkan keluarganya, sanak saudara dan segala kenangan tentang tanah air.  Berada dalam kebimbangan antara selamat dan tidak, mengarungi samudera luas dalam waktu dua jam lebih dari Dumai ke pulau kecil di perbatasan.  Sungguh kesedihan itu menggelayuti hati.  Semua karena kebencian beberapa gelintir orang.  Dimanakah rasa kasih sayang pada sesama saudara seiman?

            Perahu tongkang berkapasitas lima belas sampai tiga puluh orang itu membawa penumpang illegal dengan berbagai alasan.  Salah satu di antara mereka sosok remaja sembilan belas tahun  yang mencari selamat dari fitnah.  Hampir-hampir saja kristal bening meluncur dari sudut matanya.  Akan tetapi ia tahan dengan sekuat daya upaya.  Di sudut belakang sampan, Alfian melihat sesosok remaja yang lebih belia dari dirinya.  Sesaat ia menghela nafas lega, bahwa banyak mereka yang senasib dengannya.

            Pengemudi sampan tidak berani mengantar penumpang sampai daratan.  Mereka diturunkan sekitar satu kilometer dari tepi pantai.   Risiko terburuk, sampan tidak akan dikembalikan lagi  oleh pemerintah negeri jiran bila ketahuan menyelundupkan warga negara asing.

            Mereka sampai sekitar pukul dua dini hari.  Hal paling menegangkan adalah bertemu dengan patroli Kepolisian Diraja Malaysia.  Itu pula yang sangat dihindari para penyeberang illegal.    Alfian dan duapuluh penumpang lainnya berenang ke tepi pantai, sebagian yang tidak bisa berenang berjalan kaki dengan air laut sebatas dada-dada mereka.    

            Dari kejauhan lampu senter petugas patrol sudah mencari mangsanya.  Alfian segera menemui penduduk di tepi pantai.  Rata-rata mereka bersikap baik dan siap membantu.  Demikian pula dengan Pak Cik Ramlan yang Alfian datangi rumahnya, sangat menghendaki keselamatan untuk Alfian.

            “Pak Cik ade kandang ayam di belakang rumah.  Bersembunyilah di sane.  Nanti kalau patrol sudah lewat.  Biar Pak Cik bagi tahu jalan menuju Batu Hampar,” ucap Pak Cik membuka harapan untuk Alfian bisa selamat dari patrol kepolisian.   Beruntunglah Alfian bertemu dengan saudara seiman yang menghendaki keselamatan dirinya.

            Semua ketegangan batin selama di tanah air juga di daerah perbatasan luntur sudah.  Kini Alfian berada di Perkampungan Islam Batu Hampar, Perak, Malaysia.  Udara segar merasuki hati dan jiwanya bersama sambutan saudara seiman yang ingin saling menyelamatkan.

            Di hadapannya berdiri sosok mursyid yang dirindukannya selama ini.  Seseorang yang ditatapnya dalam-dalam di majalah dakwah tiga tahun yang lalu.  Seakan impian yang terjawab, berjumpa dengan seorang yang alim dengan pancaran cahaya sunah dari ujung kepala hingga kakinya.  Wibawa yang terpancar darinya membuat Alfian tak sanggup mengarahkan mata pada wajah itu.  Alfian hanya mampu menyalami dan mencium takzim tangan guru mursyid yang dicarinya selama ini.

            “Terimakasih, Ya Rabb, atas hikmah  dari derita dan tekanan yang hamba alami.  Akhirnya aku bisa bertemu dengan guru yang aku cari selama ini.”  Batin Alfian menggelegak bersama terburainya genangan telaga yang tak lagi sanggup ditahannya. 

 

 


 

GENERASI DI UJUNG BELATI

Selamatkan Anakku, Ya Rabb

By: Khadijah Hanif

 

            Bunda Devi, seorang ibu yang tidak bisa lagi dibilang muda.  Di usianya yang keempat puluh tiga, dia memiliki empat anak.  Qadarullah, Bunda Devi tidak menemui banyak kesulitan dalam mendidik anak.  Ia dan suaminya berkomitmen untuk mendidik anak-anak dengan ilmu agama sejak dini.

            Seorang ustaz dimohon untuk ke rumah sepekan sekali.  Ustaz Abdullah Muqbil selalu hadir dalam kondisi apapun.  Tidak peduli hujan dan jarak jauh yang harus ia tempuh, Ustaz Muqbil selalu siap membagikan ilmunya.  Bunda Devi tidak mengkhawatirkan perkembangan putra-putrinya kecuali Febyan.  Anaknya yang bungsu ini memang berbeda.  Pemahamannya terhadap apapun amat kurang.

            Kalau melihat perkembangan Febyan yang lambat, bicaranya yang gagap, artikulasinya yang kurang jelas, Bunda Devi selalu terkenang peristiwa beberapa tahun yang lalu.  Waktu itu Bunda Devi sedang sibuk mencuci dengan mesin cuci.  Febyan yang masih berusia dua tahun ikut ke mana pun Bunda pergi.  Febyan dibiarkan asyik bermain air pada satu ember besar. 

             Terdengar kecipak air yang cukup mengagetkan.  Febyan terjerembab pada ember besar berisi air itu.  “Masya Allah, Feby.  Maafin Bunda.”. Mata Bunda Devi berkaca-kaca.   Diambilnya Febyan dalam kondisi shock.  Napasnya tertahan oleh tegukan air yang tak seharusnya memenuhi pangkal tenggorokannya. Rasa bersalah menggelayut dalam hatinya.

            Beruntung Bunda Devi pernah mahir dalam di kegiatan pramuka semasa sekolah dulu.  Masih lekat dalam memorinya bagaimana memberi pertolongan pertama pada orang yang tenggelam.  Ditelungkupkannya Febyan, dipukulnya bagian tengkuk dengan tenaga sedang.   Febyan tidak bereaksi, bergeming.  Bunda Devi makin cemas, naluri keibuannya yang ingin buah hatinya selamat terus mencari cara.  Dimasukkannya telunjuk pada mulut Febyan, tepat di anak tekak.   Tidak lama kemudian, terdengar suara batuk diikuti muntah dari buah hatinya. 

           Terasa lega hatinya dari sesakan rasa bersalah.  Dipeluknya Febyan yang sudah mulai bernapas lega.  Akan tetapi mata Febyan belum bisa focus menatapnya.  Sejak saat itu Febyan berkembang lambat, padahal sebelumnya banyak yang memuji kemajuannya dalam merespon sesuatu, melebihi anak batita sebayanya.

            Kelambatan Febyan membuat Bunda kesulitan memberi kepahaman akan banyak hal pada Febyan.  Febyan tidak mudah untuk memperhatikan  hal-hal serius, termasuk pertemuan dengan Ustaz Muqbil.  Begitu sulit memaksanya mengikuti pelajaran apapun juga saat menempuh pendidikan di sekolah dasar.  Akibatnya Febyan lebih senang bermain daripada harus duduk berlama-lama untuk belajar dengan serius.

            “Febyan, sampai kapan kamu hanya main-main saja.  Kamu sudah makin berumur.  Untuk mendapat ijazah SD Bunda harus banyak koban perasaan, meminta-minta ke sekolah kamu.”  Suatu saat Bunda Devi kehilangan kesabarannya.

            “Feb…Feb…Febyan nggak bisa dipaksa, Bunda.  Su…su….sudah berusaha belajar juga Febyan nggak bisa mengerti pelajaran-palajaran itu.  Mendingan Febyan ikut klub olah raga aja.”. Baru kali ini Febyan berterus terang atas ketidakberdayaannya dalam belajar.

            Akhirnya Bunda mengalah.  Rasanya terlalu sulit untuk membekali Febyan dengan ijazah meskipun hanya untuk setingkat SMP.  Selebihnya Bunda hanya bisa pasrah.

            Bunda memilih untuk mengalah pada keinginan Febyan.  Didaftarkannya Febyan ke sebuah klub sepakbola tingkat kecamatan.  Ternyata justru inilah awal dari masalah besar yang melilit buah hati juga keluarganya.

            “Febyan, cepat gantian, Bang Naufal mau mandi.  Sebentar lagi aku harus berangkat sekolah!” teriak Naufal tak sabar menunggu adiknya yang sudah lebih setengah jam berada di kamar mandi.

            Febyan keluar toilet dengan mata merah.  Cara jalannya pun tidak seperti biasa.  Naufal agak kesal dengan tingkah Febyan yang selalu saja membuatnya terancam terlambat.

            “Kamu nyimeng, ya!  Lama banget di toiletnya!” bentak Naufal ketus.  Ia teringat ciri-ciri pemakai narkoba dari pelajaran Biologi.  Perubahan yang cukup drastic dari Febyan, berlama-lama di kamar kecil, cepat marah dan cenderung kasar.

            “E….e….enak aja. Enggg….a….a….aku nggak kenal apa itu cimeng. Loe jangan asal nuduh, ya!  Fitnah itu dosa besar, lebih kejam dari ngebunuh!!!  Bagaimana kalau balasan fitnahan itu, gue bunul loe, aja ya!” cecar Febyan makin tidak terkendali.  Menambah deret catatan keanehan Febyan.

            Dialog terhenti.   Naufal menunda kemarahannya, ia tidak punya banyak waktu berdebat dengan adiknya yang paling santai itu.   Pagi hari selalu menjadi waktu yang tidak menyenangkan.  Berbagai masalah dari masing-masing anggota keluarga seakan tumpah ruah di meja makan untuk sarapan pagi.

            “Gawai Wulan hilang, Bunda, gimana Wulan bisa ngerjain banyak tugas sekolah?  Aku harus browsing proyek pelajaran Fisika sepekan ini!” keluh Wulan mebeberkan kegelisahannya.

            “Wah, Kak Wulan kehilangan gawai?  Aku juga kehilangan duit OSIS.  Nggak sedikit jumlahnya, tiga ratus ribu.  Gimana coba aku harus ngembaliinnya?”  Faris yang mendapat amanah menjadi bendahara di SMP-nya kelimpungan.  Hampir-hampir air matanya tumpah kalau tidak ingat posisinya sebagai anak laki-laki.

            “Raket mahal milik temanku juga hilang kemarin.  Aku sampai malu banget,” tambah Luki anak ketiga Bunda Devi.

            Bunda Devi dan Pak Suryadinata merasakan kegelisahan di dalam keluarganya.  “Ada apa ini, ya, Rabb.  Berikan kami jawaban untuk menyelesaikan masalah ini,” batin Bunda Devi.

             “Febyan dimana, Ayah jarang  melihatnya bersama-sama kita?”  Pak Surya mulai curiga.

            Semua anggota keluarga melaporkan pandangannya masing-masing tentang Febyan.  Pak Surya dan Bunda Devi mengumpulkan semua informasi dan menuju pada satu kesimpulan, Febyan mengonsumsi narkoba jenis sabu-sabu.

           Dalam buku diarynya, Bunda Devi membuat check list antara ciri pemakai dan apa yang terjadi pada Febyan.   Mata Bunda Devi menatap nanar table yang dibuatnya sendiri.  Lebih dari sepuluh cirri pemakai sabu ada pada diri Febyan.  Yang sangat memprihatinkan adalah emosi tidak terkendali, suka berbohong dan mencuri demi mendapat uang dan membeli sabu-sabu.

“Ya Rabb, berikan petunjuk dan kekuatan pada kami untuk menyelamatkan Febyan.”   Bunda Devi mengambil air wudu untuk sembahyang malam, tepat pukul tiga pagi.  Setelah mandi taubat yang khusyuk, Bunda Devi membalut tubuhnya dengan mukena putih bersih.  Diambilnya wewangian parfum salat nonalkohol beraroma melati kesukaannya.

            Sepenuh permohonan ia mendirikan salat Taubat, disambung dengan salat Tahajud.  Ia tak mampu membendung air matanya.  Mengenang segala dosa dan beban hidup yang ditimbulkan  ketelanjuran Febyan.

            Segala cara dilakukan Febyan untuk memenuhi nafsunya.  Sesuatu yang amat memaksa mendorongnya untuk selalu mengobsumsi sabu-sabu.  Kecanduan telah merasuki badannya. 

Gumpalan rasa sesal atas perilaku Febyan berbaur dengan rasa kasih ingin melepas buah hatinya dari jerat derita khamar.  Wahai generasi akankah kau binasa oleh belati khamar yang terlaknat.  Khamar yang merenggut kesadaran, akal, pikiran juga hati nurani.  Terganti dengan kesempitan nafsu hanya ingin memenuhi desakan kebutuhan yang tak semestinya ada.  Semua terjadi karena barang haram yang telanjur bersarang di badan.

         “Astaghfirullahal’aziim, Ya Rabb,  Ampuni segala dosa kami, dosa anak-anak kami.  Sesungguhnya Engaku menyukai orang-orang yang bertaubat, maka karuniakan kami taubatannasuha.  Wahai Yang Maha Memelihara, peliharalah anak-anak kami dengan pemeliharaan yang sempurna.   Terutama anak kami Febyan yang Engkau amanahkan untuk kami didik, kami asuh, kami besarkan dengan pengertian, pemahaman dan pengamalan terhadap agamaMu, ya Allah.  Lepaskan dia dari jerat khamar yang mungkit bukan atas kesengajaan diri, tetapi karena teman dan lingkungan pergaulannya.  Atau mungkin juga karena terjebak para Bandar yang haus darah.  Sementara usianya belum akil balig, Ya rabb.  Selamatkan anak kami, lepaskan kami dari orang-orang yang zalim.”

            Doa panjang Bunda Devi terjawab juga pagi itu.  Saat membuka channel televisi, Muhibah Pesantren menayangkan tentang Pesantren Innabah Suryalaya.  Reportase yang cukup jelas tentang pesantren itu membuka gerbang harapan untuk Febyan.

            “Aku akan membawa Febyan ke sana.  Secepat mungkin, sebelum keadaannya makin parah.”

***

            Pengorbanan Bunda Devi tidak sia-sia.  Satu tahun berada di Pesantren Inabah membawa hasil yang menggembirakan.  Febyan sudah meninggalkan sabu.  Kesabarannya mengikuti majelis ilmu pun sudah jauh membaik.  Febyan seakan telah terlahir kembali.

 

Sekilas Pesantren Inabah*

 

Di Tahun 1970-an Pesantren Suryalaya membentuk sebuah pondok atau asrama khusus untuk pecandu narkoba.  Saat itu pemakai narkotika dan obat terlarang tidak sebanyak saat ini. 

Pondok Inabah diawali dengan penitipan seorang anak pejabat yang menjadi pecandu narkoba.   Penerapan metode inabah berhasil melepaskannya dari jerat narkoba.  Pasien berdatangan hingga 15 orang dan kini mencapai paling banyak 40 orang satu asrama.
           Jarak antara berdirinya Pesantren Suryalaya dengan Pondok Inabah cukup jauh yaitu 65 tahun.   Pendiri Suryalaya adalah
Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau Abah Sepuh dilanjutkan oleh Almarhum KH. Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom).  Sementara Pondok Inabah dibentuk oleh Abah Anom dan diteruskan  oleh putranya, KH Zaenal Abidin Anwar,
            Metode yang digunakan Pesantren Inabah adalah model rehabilitasi menggunakan ilmu tasawuf, sebagaimana makna dari inabah adalah kembali ke jalan Allah.
            Pemakaian narkoba disebabkan oleh kelalaian manusia akan hakikat dirinya sebagai hamba Allah SWT, maka penyadaran dilakukan dengan pengenalan akan hakikat diri.  Setiap insan memiliki asal yang sama, yaitu diciptakan oleh Tuhan, dihidupkan untuk menjadi hamba dan khalifah di muka bumi, selanjutnya kembali kepada Allah sebagai tempat setelah kematian.
            Secara ilmiah telah dilakukan penelitian dan disimpulkan bahwa  metode inabah terbukti efektif dengan 90% keberhasilan rehabilitasi pecandu narkoba. 

Proses rehabilitasi meliputi pembersihan, pemantapan, penguatan iman, dan menahan pengaruh dari luar.  Jadwal rutin pondok Inabah adalah bangun pukul 02.00 untuk mandi taubat, dilanjutkan dengan amalan-amalan harian.  Amalan ini meliputi  salat sunah Syukrul Wudlu, Tahiyatul Masjid, Taubat, Tahajud, Tasbih, witir, zikir, membaca Alquran, penanaman keimanan sampai pukul 21.00.   Jadi aktivitas para pecandu narkoba dipenuhi dengan ingatan pada Allah melalui ibadah.

 

*) Disimpulkan dari berbagai sumber


 

GHIBAH, PERCIK API PERMUSUHAN

By: Khadijah Hanif

 

            Aku sudah tidak mampu menahan rindu pada ibu.  Hampir satu tahun aku tidak sowan dan sungkem di kakinya yang kian rapuh.  Kesibukan dan beban hidup begitu menguras peluh.  Ah, aku tak mampu menahan keluh, hanya  pada-Nya aku bersimpuh.  Pada Dia Yang Mahaampuh aku berani mengaduh. 

“Duh Gusti, kian hari aku kian jauh dari berbakti.  Sementara tengadah amanah-Mu telah menanti.  Tiap saat mereka meminta aku harus siap sedia dan harus ada.  Rabb, kuatkan hamba-Mu”

Sebagai anak perempuan satu-satunya, seharusnya aku setia menemani ibu di masa senjanya.  Namun, apa boleh buat, ketaatan pada suami adalah segalanya untukku.  Bukankan surgaku ada dalam bimbingan suami?

Dengan segenap daya upaya, doaku terjawab juga.  Ada rizki min haitsu laa yahtashib yang tidak terduga.  Aku langsung merengek meminta pulang pada Mas Hakam.

“Abi, antar aku pulang, ya.  Lagi pula ibu sangat mengharapkan kehadiran Mas Hakam di kepulangan hajinya.  Please….”  Aku merayu Mas Hakam yang aku paham benar dia super sibuk.

“Iya, kita Insya Allah pasti pulang, tapi kita harus mengatur waktu baik-baik.  Jangan sampai ma’had yang kita tinggalkan berantakan.”

Kami mengatur semuanya, menyerahkan beberapa amanah pada para muraqib yang gesit dan masih muda.  Setelah semua kelar, kami pun berangkat.  Sungguh kebahagiaan yang tiada tara.  Rasa syukurku terus aku lantunkan, ketika Allah SWT mengizinkan aku membuktikan bakti yang tak seberapa buat ibu.  Allah merejekikan pada kami untuk bisa menyiapkan sebagian oleh-oleh haji buat para tamu yang pasti sangat banyak.

Perjalanan terasa lama, sembilan jam yang melelahkan.  Apalagi kami hanya berdua, ketiga anak kami sedang menimba ilmu di pesantren.  Saat kantuk melanda, Mas Hakam banyak istirahat di rest area.  Aku terkadang merasa kasihan kalau dia sudah lelah membawa kendaraan.  Sementara aku hanya bisa membantu mengurangi rasa capainya dengan memijat semampuku.

Sesampai di rumah ibu, aku tertegun dengan perubahan yang ada.  Halaman depan sudah diplester dengan semen, ada kanopi cukup tinggi yang terlihat megah.  Belum lagi di sebelah kanan halaman ada saung-saung untuk mobil kami bertiga saat berkunjung ke rumah ibu.  Dari dulu ibu memang senang menata rumah.   Usianya yang sudah memasuki kepala tujuh tidak menghalangi geraknya.

“Alhamdulillah, Bu Lik sudah pulang.  Ibu akan bahagia disambut anak kesayangannya.”  Mbak Sri, iparku menyambut dengan suara khasnya yang ramah.

Aku cium tangannya, aku peluk penuh kerinduan.

“Bu Dhe, makasih, ya, udah nitipin ibu.  Mbak Sri bikin aku tenang di perantauan.”

“Walah, kok pake bilang makasih, tho!  Kan, saya anaknya ibu juga.  Aku juga punya kewajiban, tho, Bu Lik.”  Jawaban Mbak Sri selalu membuatku tenang, rasa bersalah yang selama ini melilit hatiku, perlahan mengendor.  Kakak iparku, istri dari Mas Irfan, kakak lelaki sulungku ini, memang pandai menyenangkan lawan bicaranya.

Aku memasuki ruang tamu.  Lagi-lagi aku tertegun dengan perabotan baru yang dijaga oleh ibu.  Tangan terampilnya membuatku kagum.  Meja kursi yang direparasi, lemari dan rak buku baru, semuanya memberikan suasana baru di rumah.  Hmmm, sepertinya aku akan betah berlama-lama di sini.

Aku dan Mas Hakam menyapa kerabat dan tetangga yang sedang bergotong-royong di dapur dan ruang tengah.  Mereka turut bahagia  menyambut kepulangan ibu dari tanah suci.  Betapa sibuknya mereka menyiapkan hidangan untuk tamu.  Sebagian sedang mengemas oleh-oleh haji yang baru saja diturunkan dari mobil kami.   Kami segera pamit untuk istirahat melepas penat lelah perjalanan panjang ini.

Tidak lama setelah aku memasuki kamar ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku.

“Assalamualaikum, Mbak Nabila.”  Aku membuka pintu.  Adik sepupuku, Rinina dengan  tergopoh-gopoh menemuiku.  Celemek masih melekat di bagian depan tubuhnya, Rinina menatapku dengan pandangan cemas.

“Ada apa, Nina?  Sepertinya ada yang sangat penting.”  Aku menanggapi serius kehadiran Rinina. Aku tahu persis bagaimana membahagiakan Nina yang hobinya cerita.

“Boleh aku masuk kamar, Mbak?”

“Boleh. Mas Hakam sedang keluar merapikan mobil.  Ayo, kamu masuk aja!”

Satu persatu kata-kata yang tak terduga mengalir dari lisannya.  Ia bercerita tentang keadaan ibu selama aku jauh darinya.

“Mbak, kasihan Bu Dhe Tyas.  Hampir tiap hari saya yang membawakan makanan buat beliau.  Kalau tidak, bisa-bisa Bu Dhe ndak makan.  Tahu ndak, Mbak Sri itu jahat banget sama Bu Dhe Tyas.”

“Jahat gimana, Nin.  Mbak Sri itu sangat sayang sama ibu.  Aku nggak bisa ngebayangin kalau Mbak Sri nggak ada.  Aku sampai malu kalau dibandingkan dengan Mbak Sri dalam baktinya sama ibu.”  Aku mencoba membela Mbak Sri.  Di mataku Mbak Sri lebih pantas menyita kasih sayang ibu dibandingkan aku yang tidak banyak mendampingi ibu.

“Iya, Mbak Sri itu baiknya kalau ada Mbak Bila aja.  Coba gimana sakitnya hati Bu Dhe Tyas, kalau hampir tiap hari diberi harapan palsu.”  Aku mendengarkan cerita Nina tanpa sedikit pun memotong pembicaraannya. “Jadi Mbak Sri bilang, Bu Dhe ndak boleh masak supaya ndak capai, ndak repot.  Semua makanan untuk Bu Dhe akan dikirim sama Mbak Sri.  Kalau Bu Dhe belanja dan ketahuan Mbak Sri, dia akan marah sama Bu Dhe.  Katanya bikin malu anak-anaknya saja disangka orang, Bu Dhe ndak keurus.  Kenyataannya Mbak Sri ndak tiap hari ngirim makanannya.  Malah Bu Dhe suka datang ke rumah aku, minta makan.  Aku ndak tega Mbak.  Akhirnya tiap hari, aku yang nganterin makanan buat Bu Dhe.  Mbak Nabila tahu sendiri keadaan keluargaku.  Masih serba susah.”

Aku terhenyak.  Berbagai macam perasaan campur aduk mengisi ruang hatiku.  Kecewa, marah, sidih, merasa bersalah, malu sana Nina. 

“Tega sekali Mbak Sri.  Aku minta maaf ya Nin, seharusnya aku yang berbakti sama ibu.  Ini malah kamu yang repot.  Biar aku ganti biaya kamu mengirim makanan buat ibu.  Kalau begitu sekalian aku kasih buat kamu tiap bulannya, khusus buat ibu dan sedikit buat kamu.”  Aku mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu dari dompet. ”Ini untuk menggantikan apa yang udah kamu belanjakan.  Untuk selanjutnya biar aku transfer aja, ya?”

“Wah, jangan, Mbak.  Bu Dhe Tyas orang tua aku juga, kan?  Jadi udah kewajibanku menjaga beliau.  Lagi pula bukan ini maksud saya.” Rinina menolak pemberianku, tapi aku memaksanya untuk menerima.  Aku melihat ada binar bahagia saat aku menyodorkan lembaran warna merah dan biru itu.  Aku tahu persis dia butuh uang itu untuk kelima anaknya.

“Aku masih heran dengan sikap Mbak Sri.  Setahuku dia sangat baik sama ibu.  Biaya persiapan pemberangkatan dan perpulangan ibu, semua dibiayai sama Mbak Sri.  Bagaimana aku bisa ragu dengan kebaikannya?  Semua acara keluarga, Mbak Sri yang selalu memberi kontribusi terbesar.  Aku masih nggak percaya Mbak Sri sejahat itu.”

“Mbak Nabila belum tahu, ya?”  Rinina menarik lenganku dan membisikkan sesuatu.  “Hidangan yang sekarang ini kurang pantas buat keluarga besar Bapak Almarhum Sumargono.  Kami sebenarnya ingin menyajikan yang pantas dengan penataan yang lebih pas.  Tapi lagi-lagi Mbak Sri menguasai segalanya, bahkan sampai letak kursi.  Kami ndak ada kesempatan sedikitpun ikut mengatur.”

“Sabar Rinina, biarkan saja Mbak Sri yang ngatur.  Bukankah semua biayanya Mbak Sri yang nanggung.  Anggap saja dia sedang menata acaranya sendiri.”

Aku mencoba memaklumi sekuat tenagaku.  Terus terang cerita dari Nina membuatku menyisipkan rasa tidak suka pada Mbak Sri, walaupun tidak tega aku untuk membencinya.  Aku mencari seribu satu alasan untuk memaklumi sikapnya.

Nina terus saja menceritakan hal-hal yang aku tidak tahu.  Ia bercerita bagaimana emas simpanan ibu habis terjual.   Semua untuk biaya walimatussafar yang aku kira dari Mbak Sri semua.  Benarkah?  Jantungku berdebar kencang, tega sekali Mbak Sri.  Masih terbaca jelas pesan chat wa darinya.

“Bu Lik kebagian menyiapkan oleh-oleh haji.  Saya yang nyiapin hidangan pemberangkatan dan perpulangan.”  Aku mengiyakan semua saran Mbak Sri, tapi sejak hari ini aku harus berani berkata tidak.

***

Kedatangan ibu tinggal menunggu waktu.  Aku membuka android, baru jam tujuh pagi.  Sekitar dua jam lagi ibu sampai di pendopo kabupaten.  Kami anak-anaknya juga kerabat sudah berjajar menyambut kedatangannya.  Kami rela menunggu dengan setia, mengambil berkah dari tetamu Allah bersama Malaikat Rahmat yang mendampingi mereka.

Gangguan batin yang dipicu oleh cerita Rinina masih menggumpal di dada.  Senyumku pada Mbak Sri terasa aku paksakan.  Mungkin Mbak Sri tahu perubahan itu, tapi aku tidak peduli.

“Ummi, Abi merasa ada yang nggak beres dari sikapmu ke Mbak Sri.  Biasanya Ummi senang berlama-lama, melepas rindu sama Mbak Sri.  Abi lihat Ummi lebih sering menghindar. “  Mas Hakam menangkap gelagat anehku.  Dia merasa ada  tidak beres dari sikapku pada Mbak Sri.

Aku menarik nafas dalam-dalam.  Ada sesuatu yang ingin aku lepas tapi rasanya sangat sulit.  Akhirnya aku putuskan untuk menceritakan apa yang disampaikan Rinina padaku kemarin.

“Kenapa kamu membiarkan Rinina bergunjing tentang Mbak Sri.  Akibatnya timbul rasa benci, kan?  Kalau sudah ada gejala bakalan  terjadi ghibah, sebaiknya kita alihkan pembicaraannya.”

“Tapi Abi, gimana Ummi bisa tahu keadaan yang sebenarnya kalau nggak ada yang menyampaikan ke kita.  Sementara itu rumah kita jauh, bukankah kita perlu orang ketiga?”

“Apapun yang kita dengar, kita harus tabayun.  Yang lebih baik dan utama, kita dengar langsung dari Mbak Sri.  Di sinilah kedewasaan kita diuji.  Kemampuan mengendalikan emosi.  Semua harus dalam keadaan tenang dan komunikatif.  Bukankah salah satu nikmat terbesar pada manusia itu nikmat menyebut nama benda, itulah kemampuan berbahasa.  Selain untuk bicara, ianya juga untuk menjalin hubungan baik sesame manusi dan menghindari perpecahan diantara manusia.  Agar kita terhindar dari kerusakan.”  Mas Hakam terus saja menaihatiku dengan kalimat-kalimat yang menyejukkan.

Aku mengiyakan semua nasihat Mas Hakam.  Aku ingin memadamkan semua percikan api kebencian yang siap membakar hatiku.  Terbayang apa yang akan terjadi kalau aku mengikuti nafsuku,  sedangkan berbagai rencana sudah bermain di benakku..

“Bu Lik, jangan mudah percaya hasutan dari orang lain.  Aku ndak pernah nelantarin ibu.  Bu Lik bisa tanyakan langsung sama ibu.  Juga masalah emas yang dijual, semua dipakai untuk perbaikan rumah ibu,” ungkap Mbak Sri. “Kalau boleh tahu siapa yang ngarang cerita tentang aku.  Aku jadi penasaran.”

“Aku rasa nggak perlu Bu Dhe, biarlah hati kita bersih tanpa musuh yang bersemayam dan bersembunyi.  Ternyata musuh itu mampir bersama ghibah yang kita lakukan, ya?”

Mbak Sri hanya tersenyum.  Memelukku penuh kasih sayang.

***

Ghibah Dosa Besar Lisan

Ghibah atau menggunjing hari ini telah menjadi budaya buruk yang meraja lela.  Memasuki rumah-rumah  umat Islam melalui televisi.  Ia telah menjadi obyek bisnis untuk meraup keuntungan melalui infotainment, berkedok informasi dan hiburan padahal ghibah dan menyebarluaskan dosa dan maksiat.  Ghibah jenis ini sangat berbahaya karena memicu kebanggaan pada maksiat.  Menumpang tenar dengan jalan salah dan dosa.

Mengapa ghibah sangat digemari?  Penyebabnya adalah kolaborasi setan menunggangi kendaraan nafsu.  Bukankah setan selalu menampakkan hal buruk menjadi baik dan mengasikkan?  Sementara nafsu yang jahat akan senang melihat atau mendengar orang lain susah dan susah melihat orang lain senang.  Nah, jadilah ghibah ini menjadi perkara yang mudah dilakukan padahal konsekwensinya besar dan berat.

Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Alhujurat ayat 12:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: 

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

            Rasulullah juga berpesan dalam sebuah hadits:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya, namun keimanan itu belum masuk ke dalam hatinya!   Janganlah kalian mengghibah (menggunjing) kaum Muslimin. Jangan pula mencari-cari aib mereka. Barangsiapa yang mencari-cari aib mereka, (maka) Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang Allah mencari-cari aibnya, niscaya Allah akan membeberkan aibnya, meskipun dia di dalam rumahnya.”

            Bila kita masih gemar menggunjing maka iman kita belum sempurna.  Iman kita masih diragukan.  Bukankah kita tidak ingin menghadap Allah di hari akhirat dengan iman yang tertolak?


 

MENANTI SEKEPING HATI_PELABUHAN CINTA MARUTI

By: Khadijah Hanif

           

            Yanuar namanya. Siapa sih, yang tidak mengenal dia di kampung itu? Pemuda lugu berparas rupawan. Bahkan paling rupawan untuk usia menjelang dua puluh. Bak buah dia sedang ranum-ranumnya.
            Bukan hanya parasnya yang menjadi buah bibir, budi pekertinya yang elok lebih-lebih lagi menawan hati.  Kumpulan  sifat baik ada padanya.  Selain rasa kasih oleh keindahan budi dan paras, rasa iba pada keadaannya yang sebatang kara  pun makin sulit membuat orang tak mengenal siapa Yanuar.
            “Yanuar, kamu tinggal saja di rumah Ibu. Banyak yang bisa kamu kerjakan di sini.” Bu Mariah sekali lagi membujuk Yanuar. Bu Mariah memang berkali-kali didesak anak semata wayangnya, Maruti untuk mengangat Yanuar sebagai anaknya.
            “Maaf, Bu. Bukannya saya menolak perintah ibu. Amanat dari almarhumah ibu saya tidak bisa saya khianati. Saya harus mengajar anak-anak di musala dekat gubug saya,” tolak Yanuar santun.
            “Iyalah, Kang.....sesekali Akang tidur di sini. Bapak mau berangkat ke kota. Kami cuma berdua.”  Suara lembut nan manja Maruti makin menunjukkan bukti, Yanuar istimewa di hatinya.  Maruti melirik dengan mata lentiknya.  Yanuar bergeming, dingin.   Pandangannya segera ia palingkan dalam-dalam, seakan tak peduli.
            “Maaf, Neng. Akang bukannya tidak mau. Tapi ada yang Akang khawatirkan menimpa diri Akang untuk tinggal di rumah mewah ini.  Lagi pula Neng dan Bu Mariah bukan muhrim Akang.  Mohon pengertian dari Neng dan Ibu.”
            “Ya sudah, kalau kamu keberatan, biar kami berdua saja.  Semoga tidak ada apa-apa. Doakan biar kami selamat.”   Bu Mariah begitu mudah memaklumi dan menerima penolakan Yanuar.   Ada rasa yang mendalam di hatinya, ia sendiri sulit mengeja rasa itu.  

            Berulang kali Yanuar memohon maaf sekaligus berterima kasih atas pengertian Bu Mariah. Tanpa rasa iba Bu Mariah pada keadaan dirinya mungkin telah lama ia tak lagi mengabdikan diri di rumah itu. 
            Matahari sebentar lagi memasui peraduannya.  Anak-anak, gadis dan pemuda kampung sudah menunggunya di musala.  Perasaan hatinya tak menentu namun lantunan zikir hatinya membuatnya tenang kembali.

            Yanuar mengayun langkahnya gegas.  Memendam kerinduan yang ia tambatkan pada diri Maruti.  Namun kesadaran hati sepenuhnya mengendalikan langkah dan keputusannya.  “Ah, sudahlah Yanuar, hentikan khayalanmu sebelum kau kecewa jan terjatuh!  Maruti dan kamu bak langit dan bumi.   Berpijaklah pada kenyataan dan berkaca dengan keadaan.”  Suara batin Yanuar memadamkan rasa.

            Sementara itu.....
            Lepas isya, Juragan Subagja berangkat ke kota didampingi orang kanannya.  Maruti dan Bu Mariah tinggal berdua di istana termegah di tepi kampung.  Rumah itu makin jauh dari rumah tetangganya karena berada di tengah kebun aneka buah. Tidak tanggung-tanggung luas kebun buah itu hampir dua hektar.   Pabrik penggilingan padi ada di sebelah utara rumah mewah mereka.
            “Ibu, kurang cantik apa aku.  Tega sekali Kang Yanuar menolak permintaanku.  Hanya untuk menemani kita selama bapak pergi.” Maruti kesal sambil menyusut semua dandanan yang ia persiapkan untuk meluluhkan hati Yanuar.
            “Sabar anakku, mungkin kita yang harus memahami selera Yanuar. Ibu rasa ia lebih suka perempuan yang berkerudung rapi.  Ibu lihat gadis-gadis yang mengaji di musala Yanuar semua berjilbab,” ungkap Bu Mariah. 
            Seakan mendapatkan inspirasi jitu dari sang ibu, Maruti melonjak kegirangan.
            “Kalau begitu aku harus merubah penampilanku.”
            Malam semakin pekat.  Maruti mematut-matut diri dengan berbagai dandanan muslimah yang dilihatnya di internet.  Hadiah jilbab dari bapaknya yang selama ini dibiarkannya teronggok di lemari masih terbungkus rapi, dicobanya satu per satu.
            “Hmmm, aku tak kan kalah cantik dengan gadis kampung murid Kang Yanuar.   Akan kubuktikan Kang Yanuar bakal berlabuh di hatiku.”  Maruti dilanda cemburu pada gadis-gadis  santri Yanuar.  

             “Krek...krekkkk!” Tiba-tiba ada suara genting pecah terinjak.  “Stttt!!!!Stttt!!!!” Pelan terdengar dari kamar Maruti seseorang memberi kode untuk diam. 
            “Gawat, berarti ada orang berniat jahat ke sini.  Dan mereka tidak hanya satu!” gumam Maruti cemas.  

             Maruti berusaha membangunkan Bu Mariah, namun bergeming.  Maruti tahu persis percuma membangunkan ibunya.  Ia hanya akan terbangun kalau matahari sudah mulai benderang jam enam pagi.

            Segera diraihnya gawai di sampingnya.
            “Assalamualaikum, Kang Yanuar, Uti dalam bahaya.  Rumah ini benar-benar disatronin orang jahat.  Akang harus segera kemari, atau Uti bakal jadi korban!”  Maruti berusaha meyakinkan Yanuar.  Isakan tangisnya menjadi penguat Yanuar untuk segera datang.
            “Iya, Akang segera kesana! Banyak berdoa, Neng, semoga  Neng Maruti dan ibu selamat!”
            Maruti kegirangan di sela kecemasannya.  Ia yakin Yanuar yang jago Silat Citbitik itu akan dengan mudah membekuk penjahat di atas atap rumahnya. Tapi....
            “Oalah....bagaimana kalo penjahatnya banyak dan Kang Yanuar dikeroyok?”
            Maruti memutar otak.  Ia segera menuju dapur.  Bubuk cabai bercampur air ia siapkan di botol pewangi pakaian.  Kalaupun ada yang mengeroyok Yanuar, ia akan membantu pujaan hatinya itu melumpuhkan lawan. 
            Lima menit kemudian, pintu dapur diketuk dari luar.  Yanuar datang sebelum maling-maling itu beraksi.

            “Akang, terimakasih Akang mau datang.”  

            “Maaf, Neng saya nggak sendiri, ini Arman.” 

            Ada gurat kecewa di wajah Maruti, kalaulah Yanuar datang sendiri pasti mainan rasa dalam hatinya akan lebih berbunga indah.  
            “Beruntung Akang bawa temen, Arman bisa mbantuin Uti nyerang pakai ini,” kata Maruti sambil menunjukkan semprotan bubuk cabai senjatanya.   Ia tak ingin rasa kecewa itu terbaca oleh Arman.         

            “Neng Uti, sudah pakai hijab?” tanya Yanuar keheranan sekaligus turut senang.   Maruti makin memesona dengan balutan kain suci itu mengganti mahkota mayang terurainya.
            “Bruuuuk, bruuuk!” Dua suara benda jatuh dari atas genting.   Mereka bertiga terhenyak. Seakan bahaya itu makin dekat dan....
            “Kalian masuk saja. Biar Akang yang menghadapi mereka. Akang yakin mereka hanya dua orang.”
            “Bagaimana kalau mereka banyakan?” Maruti cemas.
            “Akang yakin mereka berdua Durja dan Durna yang selama ini bikin onar di beberapa kampung tetangga. Sekarang mereka mau main-main dengan kita.  Cukup Akang saja yang menghadapi mereka dan bubuk cabenya Akang bawa.   Kalau Neng Uti yang nyempotin bisa-bisa terkena mata Akang.”
            Maruti menurut saja kata Yanuar. Hatinya makin kagum sekaligus berbunga-bunga. Rasa dilindungi oleh Sang Arjuna membuat rasa cintanya makin menyala. Yang lebih indah dirasakan, ia menganggap Yanuar melakukan semua untuk membalas cintanya.
            Yanuar mematikan lampu dan menunggu di balik pintu dapur, sambil memasang kuda-kuda.         Pintu dapur yang sedikit dibuka membuat para pencuri itu terpancing memasuki dapur. 
            “Ciat, brukkk!” Tendangan kaki Yanuar mengenai kepala Durna.  Durna mengaduh memegangi kepalanya yang pening.
            “Kang Durna, cilaka! Di rumah ini ada bodigadnya! Kita salah sangka!” Durja panik.
            “Sudah kepalang!  Kita lawan dia!”  Dua maling kembar menjauhi dapur yang gelap itu. Mereka lebih senang berlaga di luar ruangan, di bawah keremangan rembulan sepertiga bulan.
Yanuar tahu keinginan mereka. Dikejarnya dua maling kembar itu dan pertempuran sengit terjadi. Saling tendang dan saling tinju terjadi, mencekam.  Dua maling kembar kewalahan dan mengambil senjata mereka.  Melihat pertarungan bakal membahayakan nyawa diri atau dua musuhnya, Yanuar menyemprotkan cairan bubuk cabai ke arah dua musuhnya dan.....
            “Aduh, kurang ajar mataku pedih aku tidak bisa melihat!” Durna-Durja menyerang membabi buta.   Mereka salah sasaran dan saling mengenai mereka sendiri.
            “Sudahlah, menyerah dan bertaubat. Allah akan menghapus semua dosa yang telah kalian perbuat.  Atau aku serahkan pada aparat desa?”
            “Ampun! Lepaskan kami dan kami akan bertaubat,” ujar Durja sambil memegang matanya yang pedih dan lengannya yang luka terkena golok Durna.  Begitupun Durna, kali ini pelipisnya yang terluka, menambah bakal condet di mukanya.

***

            Sejak peristiwa mencekam itu, Yanuar resmi diangkat menjadi satpam keluarga Gan Bagja. Yanuar menyanggupi dengan catatan jam kerjanya selepas Isya dan disediakan ruang khusus sebagai musala.  Lama kelamaan, Yanuar seakan menjadi anggota keluarga mereka. 

            Tidak terasa lima tahun Yanuar tinggal bersama keluarga Maruti.  Bukan hanya bertugas sebagai satpam, Yanuar kini menjadi ustaz untuk keluarga dan pekerja Gan Bagja.

             Maruti makin mengenal dari dekat siapa Yanuar.  Sedikit demi sedikit Maruti belajar Islam dari perbuatan dan nasihat pujaan hatinya itu.  Salat wajib tidak pernah lagi ia tinggalkan, bahkan ibadah-ibadah sunah yang dilakukan Yanuar pun ia coba lakukan.

            Kekaguman Maruti atas kedalaman pemahaman agama Yanuar membuncahkan rindu yang makin menyiksa.  Harapan Maruti saat ini hanya satu, Yanuar mengerti atas penantian cintanya.

            Maruti lebih sering bangun malam untuk mengadukan rasa hatinya pada Sang Pencipta.  Siangnya pun Maruti berpuasa, menginginkan pujaan hatinya melengkapi keping hati yang sepi.  Ia merindu separuh jiwanya.  Semua masih rahasia, entah siapa yang disandingkan dengan namanya di Lauh Mahfuz.  Namun dambaan itu tetap tertuju pada seuntai nama Yanuar Assadullah.  Hingga suatu saat tiba-tiba ia pingsan sepulang kuliah di kota kabupaten.

            Maruti dirawat dengan diagnosa anemia.  Hari itu, Yanuar ditugaskan untuk menunggui Maruti.  Ada Arman di sampingnya.

            “Neng, makan dulu, ya.  Akang mohon izin buat nyuapin Neng.”  Yanuar terpaksa menyuapi anak majikannya itu.  Ada getar rasa yang ingin dipadamkannya, tapi ia tak kuasa. “ Kata dokter, Neng harus banyak makan.  Mereka bilang aneh, anak Juragan Bagja yang terkenal kaya bisa terkena anemia.  Kurang makan katanya.”  Yanuar berusaha menyembunyikan kekakuan ini dengan sedikit bercanda.

            Butiran bening air di sudut mata lentik Maruti menetes satu-satu.

            “Neng, kenapa menangis?”

            “Akang bukan muhrimku.  Bukankah fitnah hati ini akan jadi bara api neraka bila tidak diikat dalam perjanjian suci.  Akad yang menghalalkan yang haram.  Bukankah itu yang Akang nasihatkan pada majelis-majelis Akang?”  Maruti mencoba bicara, lemah.

            Terhenyak Yanuar mendengar keimanan Maruti yang begitu mendarah daging.  Seakan nasihat yang kembali dilemparkan ke mukanya.

            “Bukankah Akang yang menasihatkan, mereka yang menghadapi fitnah hati untuk bermunajat pada Allah.  Menundukkan pandangan, menjaga kemaluan dan berpuasa?”

            Yanuar kembali menangkap rasa pilu pada ucapan Maruti.  Yanuar pernah mendengar cerita Bu Mariah tentang perubahan Maruti.  Beribadah di malam hari dan berpuasa di siangnya.

            “Seandainya Neng Maruti memang memendam rasa pada seseorang, kenapa Neng Maruti tidak bicara pada Gan Bagja.  Lagi pula Neng Maruti sudah banyak dipinang oleh mereka yang sedarjat dan sepangkat dengan keluarga Neng.”

            “Cintaku bukan untuk mereka, Kang.”

            “Lalu untuk siapa, biar Akang bantu untuk menyampaikannya.  Bukankah selama ini Akang sudah Neng anggap bagian dari keluarga?”

            Maruti tidak sanggup mengungkapkan isi hatinya.  Ia menyerahkan diarynya.  Ia sudah pasrah dengan apa yang akan menjadi keputusan Yanuar.  Ia hanya berharap Yanuar Assadullah adalah nama yang tersanding dengan Maruti Pangestuti di Lauh Mahfuz.

            Yanuar membaca diary Maruti.  Diari dari seseorang yang memendam rasa amat dalam hingga terjatuh sakit, tergolek tanpa daya.     

            “Neng, bukannya Akang tidak tahu apa yang Neng rasakan.  Dari semua sikap dan perhatian Neng ke Akang. Akang bisa merasakan harapan Neng.”
            “Lalu kenapa Akang diam saja. Aku sudah cukup menderita selama ini, Kang.” Isak tangis Maruti makin pilu.
            “Terus terang Akang juga tergoda rasa itu tapi Akang ingin Neng Uti terjaga dari fitnah hati yang sulit ini.”
            “Percuma, Kang. Sebagaimana pun Akang bersikap tak acuh, Maruti tetap mencintai Akang. Uti berharap Akang meminta Uti ke Abah dan Mamah. Tapi ternyata.......”
            Yanuar tidak menyangka sejauh itu Maruti mengharapkannya. Selama ini tidak ada sedikitpun keberanian dalam dirinya untuk melamar Maruti.   Disadari kedudukannya hanya sebatas abdi.   Pemuda miskin, sebatangkara tanpa sanak dan juga saudara.
            “Apakah Gan Bagja dan Bu Mariah akan menerima Akang sebagai menantunya?   Sementara deretan pemuda kaya menunggu jawaban dari Neng Uti?”
            “ Sudah lebih dari lima pemuda yang melamar Uti, Uti tolak.  Semua demi Kang Yanuar. Apakah  Akang  masih meragukan ketulusan cinta Uti?” 
            Isakan pilu Maruti meluluhkan segala keraguan Yanuar. 
            “Baiklah, Neng. Akang akan bicara sama Gan Bagja sepulang dari sini.”

            Senyum merekah di bibir Maruti melenyapkan pucat pasi di wajahnya.  Berganti dengan harapan terbalasnya cinta suci, secerah mentari pagi.

***

            “Kang, terimakasih telah menjawab penantian Uti.  Sekeping hati yang aku cari dan aku pintakan pada Allah dalam doa-doa malam Uti sekarang ada di sisiku. Hampir-hampir aku  putus asa diantara kebekuan sikap Akang selama ini.   Kini kaulah imamku untuk  menuntunku menuju surga,” ucap Maruti lembut, mendesirkan dada Yanuar.   Desiran yang indah tanpa batas, melengkapi sepi kepingan hatinya yang mendamba dalam diam.

            Maruti menatap lukisan indah di hadapannya.  Tatapan ibadah. Yanuar pun menikmati tiap detail cantik di wajah kekasih halalnya itu. Tatapan yang menenteramkan,            Alhamdulillah. Fabiayyi aalairobikumatukadziban. Hafalan Arrahman terlantun di bibir Yanuar.tatapan yang mengobati kerinduan.
            “Kau adalah setengah agama buat Akang, Neng.  Sikap Akang yang tak acuh semata-mata karena Akang sama Neng.  Rasa sayang dan cinta yang tak ingin membekaskan sedikitpun noda dan dosa dalam catatan amal kita.  Biarkan kerinduan dalam penantian yang  tertahan  itu menjadi bukti iman dan taat kita pada Allah, Sayang.”
            Mereka tenggelam dalam ibadah cinta yang menggelorakan kebahagiaan surgawi.   Setan pun menangis atas bertemunya dua kepingan hati dalam keutuhan rumah tangga Islami.


 

LAATAQRABUZZINA

BENTENG KESUCIAN PERGAULAN ISLAMI

(By: KHADIJAH HANIF)

 

            Islam adalah agama yang sangat menjaga kesucian umatnya.  Kesucian dalam segala hal, baik urusan global kenegaraan, berbangsa dan bernegara hingga kesucian individu.  Maka tidak mengherankan bila pembelajaran pertama dari berbagai kitab fikih adalah tentang bersuci.  Bersuci menjadi langkah pertama dalam urusan agama seorang muslim.

            Dalam bergaul,  kesucian juga menjadi landasan muamalah. Kesucian seperti apa yang dikehendaki Islam?  Tentu saja kesucian yang bersumber dari Allah SWT, Sang Pemilik Asma indah Alquddus(Yang Mahasuci).  Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat Albaqarah ayat 222, bagian akhirnya.

إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Artinya: Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri.

            Kesucian diri dari dosa sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kita memahami kehendak Allah SWT dalam  Alquran dan petunjuk melalui utusanNya yang termaktub dalam hadis.  Wajib ain hukumnya bagi tiap mukalaf (mereka yang terbebani hukum agama) untuk memahami perintah dan laranganNya.

            Nah,  dari sekian aturan yang Allah gariskan untuk manusia, ada beberapa bagian terpenting yang harus kita pahami sebagai umat Islam, yaitu: aqidah,  fikih,  akhlak, dan ilmussaah (ilmu tentang akhir zaman).  Hal ini disandarkan pada hadits ke-2 Hadits Arba’in Imam Nawawi Addamsyiqi yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Sayidina Umar bin Khathab.

            Dalam tiap aspek kehidupan seorang muslim, lima hukum selalu menjadi tolak ukur sebuah perbuatan, apakah ia tergolong wajib, sunnah, mubah, makruh ataukah haram.  Wajib berarti harus dilakukan, sunah sebaiknya dilakukan, mubah dapat dijadikan ibadah dengan menempuh syarat ibadah, makhruh sebaiknya ditinggalkan dan haram harus ditinggalkan.  Wajib bagi kita memahami kedudukan perkara dari sudut pandang  hukum Islam ini.

            Sesuatu yang selalu dialami anak manusia dalam tumbuh kembangnya, adalah masa balig.  Masa-masa ini seringkali disebut sebagai masa pubertas, masa pancaroba atau masa pencarian jati diri.  Pada saat ini mulailah masing-masing anak Adam menerima buku catatan amal yang ditugaskan pada Raqib-Atid.

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (18)

Artinya: Wahai manusia, ingatlah ketika dua malaikat yang ditugaskan mencatat amal setiap amal manusia saling bertemu. Yang satu berada di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kirinya. Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya Raqib dan Atid.(QS. Qaaf: 17–18).

Perintah dan Allah SWT dalam Pergaulan Laki-laki dan Perempuan

Allah SWT bukan hanya melarang perzinahan tapi hal-hal yang dapat mendekatkan kita pada zina.  Sebagaimana firman-Nya dalam Alquran Surat Alisra ayat 32:

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً

Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.

            Dari larangan ini Allah SWT memberikan rincian teknis agar kita tidak mendekati zina.

a.       Menundukkan Pandangan dan Menjaga Kemaluan

Laki-laki dan perempuan bukan muhrim hendaklah menjaga diri dari melihat aurat, tidak memandang dengan syahwat, tidak memandang berlama-lama baik langsung maupun tidak.  Dengan menundukkan pandangan maka kemaluan akan terjaga dari godaan nafsu dan syahwat

قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَ يَحْفَظُوْا قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ

وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".(Surah Annûr, 24:31)

وَ قُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنَ أَبْصَارِهِنَّ وَ يَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ

Artinya :Dan katakanlah kepada para mu'minât perempuan, agar mereka juga  menahan pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka. (Surah Anr, 24:31)

b.      Larangan Berkhalwat dan Berikhtilat

Khalwat dalam pergaulan laki-laki dan perempuan bermakna dua orang menyendiri tanpa mahram, baik langsung maupun tidak.  Dalam dunia nyata maupun alam maya melalui internet.  Sementara ikhtilat adalah percampuran secara kolektif antara laki-laki dan perempuan bukan muhrim dalam satu aktivitas tanpa hijab.

Hal ini ditegaskan dalam ayat Alahzab ayat 53:

 لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.

            Adapun larangan ikhtilat termaktub dalamhaditsRasulullah SAW.

Jangan sekali-kali seorang lak-laki menyendiri (khalwat) dengan wanita kecuali ada mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya. (HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Tabrani, Baihaqi dan lain-lain).

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan. (HR. Ahmad)

c.       Larangan Bersentuhan

Bersentuhan kulit tanpa penghalang menjadi rangsangan pertama timbulnya syahwat selain pandangan.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia kepada pemimpin).” (HR. Bukhari).

“Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani dengan sanad hasan)

d.      Larangan Melembutkan Suara

Suara mendesah, lembut mendayu menjadi potensi terfitnahnya hati.  Suara bisa menjadi kode suasana hati seseorang, tanda ketertarikan ataupun perasaan hati yang terbalut syahwat

Allah berfirman dalan Alquran Surat Alahzab ayat 32:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Artinya: Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik

e.       Menutup Aurat

Islam sangat memerhatikan batasan aurat baik bagi laki-laki maupun perempuan, dalam berbagai situasi dan kondisi.  Batasan aurat dalam pergaulan laki-laki dan perempuan bukan mahram terdapat dalam QS Annur 31

وَ لاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ لْيَضْرِبْنَ بِخُمُوْرِهِنَّ عَلَى جُيُوْبِهِنَّ

Artinya :Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya (muka dan telapak tangan). Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.

Aturan Syariat dalam berpakaian adalah:

* Menutup seluruh tubuh selain muka dan telapak tangan

*Bukan menggunakan kain yang tipis transparan

* Modelnya tidak memperlihatkan lekuk tubuh

             Tujuan darimenutup aurat adalah supaya muslimah lebih mudah untuk dikenal, sehingga tidak terganggu.

f.       Larangan Menyengaja Menarik Perhatian Lawan Jenis (Bertabaruj)

Hal-hal yang dapat menarik perhatian lawan jenis antara lain:

* Berdandan berlebihan

* Memakai wewangian secara berlebihan

            Allah berfirman dalam Surat Alahzab ayat 33:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Artinya: Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Hikmah dalam Perintah dan Larangan Allah SWT

a.         Mencegah Jalan Masuknya Setan

Setan telah berjanji menyengsarakan anak cucu Adam saat di dunia hingga kelak di dalam kehidupan  akhirat.  Ia akan berjuang siang dan malam, mengintai pintu yang bisa dia masuki untuk menyengsarakan kita.

Oleh karena itu, manusia harus dibentengi dari godaan setan dengan menutup sebanyak mungkin pintu masuknya setan.  Di antara pintu masuk yang menggelincirkan manusia pada kehinaan adalah zina.

b.        Mendidik Nafsu

Nafsu dalam diri manusia memiliki dua peluang, terdidik menjadi nafsu mahmudah yangsenantiasa mengajak pada hal-hal baik.  Akan tetapi bila terbiar tanpa aturan, nafsu akan berada pada sifat asalnya yaitu mengajak  pada kejahatan yang disebut nafsu mazmumah.

Larangan dan perintah Allah terkait pergaulan laki-laki dan perempuan bertujuan mendidik nafsu agar cenderung pada keridaan Allah.  Taat dan patuh pada  perintah serta menjauhi larangannya.

c.         Menyelamatkan Manusia dari Kerusakan

Tanpa aturan dan tuntunan, manusia kan binasa, berbuat sekehendak diri tanpa petunjuk.  Kebebasan yang dikehendaki nafsu adalah penjajahan pertama dan perampas kemerdekaan fitrah kemanusiaan seseorang.  Maka manusia sangat butuh aturan.

Kita dapat menyaksikan kehinaan dan kesengsaraan yang ditimbulkan oleh pergaulan bebas.  Nasab yang tidak terbela, hak pemeliharaan dari orang tua yang tidak diterima oleh anak hasil perzinaan.  Jatuhnya nama baik adalah hukuman sosial yang cukup menyakitkan.  Bila dikaitkan dengan jaminan pendidikan anak dan masa depan mereka, maka problematika sosial jangka panjang menjadi wajah buruk akibat pergaulan bebas.

d.        Menuntun pada Kehidupan Akhirat

Akhirat adalah negeri abadi.  Di sana  Allah SWT berkuasa mutlak atas nasib jin dan manusia.  Tidak ada kawan mengadu, tidak ada kerabat yang menolong selain amalan dan rahmat-Nya.

Janji kebahagiaan di akhirat hanyalah bagi mereka yang bertakwa.  Mereka itulah yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.  Jadi tuntunan dalam perintah dan larangannya adalah kunci untuk mendapatkan ketakwaan. 

 


 

 

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA