BUKU SOLO IV-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA II
Buku Solo IV
KUMPULAN NUBAR
AREA
KISAH INSPIRATIF II
OLEH: KHADIJAH HANIFPTNA-SALAWU
2018-2020
DAFTAR ISI
1. NUBAR AREA_GURU INSPIRATIF _BINAR EMBUN KEIKHLASAN
2. NUBAR AREA_SEPUCUK SURAT UNTUK BUAH HATI _TEMUI TUHANMU SECEPAT KILATAN CAHAYA
3.
NUBAR AREA_SCRIBBLES IN
JANUARY_ IMPIAN YANG TERTUNDA
4.
NUBAR AREA_TEMAN JADI
MANTAN_YANG DATANG KEMBALI
5.
NUBAR AREA_PATAHAN
HATI_PENGORBANAN CINTA-1
6.
NUBARAREA_MENITIJALANHIJRAH_SELALU ADA PINTU BERTAUBAT
7.
NUBARAREA_DESEMBERTERSENYUM_KADO BUAT UMMI
8.
NUBAR AREA_BISIKAN CINTA_CINTA LILLAH
REZA
9.
NUBAR AREA_MI
FAMILIA_KEMAAFAN AYAH
10. NUBAR AREA SUMATRA_ ADA CINTA DI TIAP AKSARA_ ASA DAN CINTA BUAT TASYA
11. NUBAR AREA_OASIS FEBRUARI_CINTA PUTIH SYAKILLA
12. NUBAR AREA_KESETIAAN_AKU TETAP
MENUNGGU
13. NUBAR AREA_NASIHAT BAPAK_ BENTANGKAN SAYAPMU MERAIH ILMU
14. NUBAR AREA_KINDNESS HUNTERS DIARY_TAMU
15. NUBAR AREA_SUPPORT SYSTEM_JANGAN KATAKAN ‘TAK BISA’
16. NUBAR AREA _SENI MENYIKAPI KETELANJURAN_YANG TERBAIK
17. NUBAR AREA_MENDEKAP TAKWA_ANA UHIBBUKA LILLAH
18. NUBAR RUMEDIA_SANG PENGGODA_KHADIJAH HANIF_DAYYUTS
19. NUBAR AREA_HEMAT MENGELOLA UANG BELANJA_MANAJEMEN KEUANGAN KELUARGA SATU PINTU
20. NUBAR AREA_DERAP LANGKAH GENERASI MILLENIAL_BE HERO FROM ZERO
13.
BINAR EMBUN
KEIKHLASAN
Oleh: Khadijah
Hanif
“Ayolah, Miqdam, kamu harus segera kembali ke
pondok! Sudah sebulan kamu di
rumah. Banyak waktu mubazir, Nak. Tidur, nonton tivi, main ke rumah temen. Mama lihat kerjaanmu itu saja. Sayang dengan ibadahmu yang begitu banyak di
pondok tidak bisa kau istiqamahkan di rumah.”
Mama berulang kali membujukku dengan berbagai cara. Tapi aku bergeming. Belum ada gerakan hatiku untuk segera
berangkat ke pondok lagi.
“Mama,
Miqdam masih gatal, nih. Belum sembuh
benar. Nanti kalau kambuh, Mama lagi
yang repot. Please, Ma, Miqdam belum
siap buat pulang ke pondok. Miqdam janji
bakalan mejaga amalan yang Miqdam kerjakan di pesantren.”
Keputusan
harus segera aku ambil, terus atau putus.
Bekas guratan sakit kulit menyisakan rasa malas kembali ke pesantren. Hatiku seakan digelayuti beban
berton-ton. Di atas dipan kamarku aku
sapukan pandangan ke seluruh ruangan.
Mataku terhenti pada sebingkai hiasan dinding. Tulisan tangan berisi bait-bait nasihat, entah siapa yang menulis dengan
guratan indah itu, mungkin kakek. Ia
seorang wartawan sekaligus seniman yang belum terbuncah ke permukaan dengan
kemasyhuran.
Baru
kali ini aku melihat tulisan itu. Aku
yakin ibu yang menggantungkannya di dinding kamarku. Tiba-tiba aku ingin membaca.
“Anak-anakku
yang kucintai. Kini aku relakan engkau
berjalan dan kuikhlaskan engkau pergi.
Semoga engkau mendapat tuntunan iman dan petunjuk Allah yang Mahasuci. Sekarang ini saya sudah tua, siap menunggu
panggilan. Doakan Husnul Khatimah dan
Pesantren tetap menjadi medan
ibadah. Allahumma Aamiin.”
Berjalanlah anakku...
Tujulah pulau idaman. Sebarkan
benih di tangan... Tuhan Allah
menyertaimu. Tunjukkan baktimu pada
ummat, perlihatkanlah darmamu pada masyarakat.
Maskipun hanya guru ngaji di langgar kecil, ganjarannya mungkin melebihi
pembesar Negara. Allah Yang Maha
Mengetahui akan memberimu rahmat.
Selamat jalan anakku...
Selamat jalan pahlawan! Ya Allah lindungilah dia!” (Wasiat KH. Zainal Arifin,
Pelepasan yang Mengharukan)
Ternyata
nasihat itu dari Pak Yai tempat aku mondok.
Barisan kalimat itu menamparku lembut.
Aku seakan mendapat teguran dari sana, “Kalau kamu mundur, kamu bukan
pahlawan tapi pecundang. Kalau kamu
terus berarti kamu lulus. Insya Allah
tidak akan sia-siakan segala pengorbananmu sejauh ini. Dapatkan benih-benih ilmu dan amalan yang
akan kau semai di tengah umat dan masyarakat.
Berbakti meskipun menjadi guru mengaji dengan hanya satu santri.” Batinku turut menguatkanku untuk segera
kembali ke pesantren.
Saat
aku datang, teman-teman satu kamarku berekspresi gembira. Ingatanku pada keseruan berakitifitas bersama
mereka adalah bahan bakar yang penuh energi untukku berjuang.
Aku
bersyukur berada di tempat ini, mendapat guru dan sekaligus orang tua. Di masa tumbuh kembang usia belasan tahun,
saat masih dalam tahap pencarian jati diri
Allah rezekikan aku mendapat bimbingan dari guru. Seseorang yang begitu ikhlas mendedikasikan
hidup untuk membentuk insan Rabbani.
Beliaulah KH. Zainal Arifin.
Aku
takkan pernah melupakan didikan beliau yang tulus. Tidak pernah 'nuput' (bahasa kami untuk
mereka yang menjaga wibawa atau jaga image alias jaim untuk bahasa anak
sekarang). Saking ikhlasnya, beliau
tidak pernah peduli pandangan manusia terhadap dirinya. Yang beliau pedulikan adalah pandangan Allah
dan bagaimana santri bisa berkembang menjadi insan yang baik dan mulia.
Pelajaran
berharga yang aku rasakan adalah nilai-nilai kedisiplinan dan kesungguh
sungguhan. Karena tuntutan itu, kami
selalu berusaha melakukan tugas sebaik mungkin.
"Miqdam, You have to be MC for the important event
tomorrow?" tanya Mahrus
saat aku berlatih membaca susunan acara.
"Yes, wish me lucky, OK?" Saat itu pekan bahasa
Inggris sedang diterapkan di asrama.
Keistimewaan
pondokku, semua kegiatan selalu harus rapi dan berjalan lancar. Kuncinya pada gladi kotor bersama
pengurus dan gladi resik langsung
dipantau oleh pimpinan pesantren, KH. Zainal Arifin. Malam itu, aku optimis akan dapat menjalankan
latihan sebagai MC dengan baik. Saat
gladi kotor tidak ada kendala.
"Do
your job well, don't make our rois dissappointed!" Akhi Junaidi sebagai
penanggung jawab kepanitiaan mengingatkanku
Aku
menaiki panggung aula dengan percaya diri.
Pak Zain (demikian panggilan akrab kami pada KH. Zainal Arifin yang
penuh wibawa itu) berdiri tegap mengawasi kami.
"Susunan
acara penyambutan tamu resmi Pondok Pesantren Modern Darul Akhirah , 23
November 1984, pertama pembukaan, kedua......"
"Tolol... Tolol...
Tolol..." Tiga perkataan
yang sering kami dengar saat beliau tidak berkenan. Aku langsung menghentikan pembacaan. Jantungku berpacu tiga kali lebih cepat. Keringat dingin merayapi punggung dan mukaku.
Innalillahi wainna ilaihi raaji'un. Lajaula walaaquwata illa billahil 'aliyil
aziim. Aku penuhi hatiku dengan
dzikir. Adakah yang tidak beres dariku.
Penampilan, cara membaca teks atau apa? Aku galau sendiri, aku merasa tidak
berbeda dengan cara aku membaca saat gladi kotor.
"MC
terlalu lambat membawakan acaranya, ganti!" Keputusan beliau tidak bisa diganggu gugat,
aku harus tahu diri dan segera turun dari panggung aula. Mungkin wajahku saat itu sudah pucat pasi.
"So
sorry, Miqdam I have to shift your job." Mahrus yang sudah terbiasa
menjadi MC langsung ditunjuk Pak Zain menggantikanku.
Ada
rasa kecewa sesaat atas gagalnya penampilanku.
Anehnya rasa kecewa itu justru membuatku ingin berhasil suatu saat
nanti. Aku baru menyadari dengan
berjalannya waktu, bahwa keikhlasan beliau telah menjadi bagian dari proses
pembentukanku. Pembentukan untuk menjadi
insan yang utuh, selalu siap menerima keadaan apapun. Ada pelajaran berharga untuk selalu berbaik
sangka pada guru.
Terlalu
banyak kenangan indah bersamanya, pengorbanan demi pegorbanan membinarkan
pancaran keikhasan hati. Meskipun
organisasi pelajar selalu siap untuk menjadi perpanjangan tangan Pak Yai tapi
beliau selalu terdepan membimbing kami.
Membangunkan qiyamullail, mendampingi salat wajib, membimbing halaqah,
memberi tausiah adalah kegiatan rutinnya.
Bukan hanya itu, bahkan saat makan pun ia selalu berusaha hadir. Tak mengherankan, kami sangat dekat
dengannya, meskipun ada rasa segan karena takut salah di mata beliau.
“Kalau
aku meninggal jangan kalian tangisi dengan air mata dan ratapan, tapi hiasi
perbuatan kalian dengan nasihat dan pesan-pesanku,” pesan Pak Yai beberapa hari
sebelum dirawat.
Dalam
kondisi kritisnya, kami sedang belajar di pondok. Kami menerima kabar kewafatan begitu jenazah
alahuyarham enam petang. Karena tidak
ingin mengganggu santri yang sedang ujian, beliau berpesan unntuk dibawa ke
pesantren sekitar pukul sebelas malam.
Aku yakin ia tidak ingin disambut dengan kesedihan para santi.
Kesedihan
meliputi langit di atas Darul Akhirah.
Seluruh keluarga besar pondok pesantren modern bergerak cepat. Semua hak
terhadap jenazah segera dilakukan. Memandikan, Mengafani bukan oleh kami karena pengumuman
kewafatannya pun hanya dari telinga ke telinga.
Luar biasa sampai pada saat wafatnya pun beliau tidak mau mengganggu
proses belajar santri.
Bakda
Asar beliau disalatkan oleh seluruh keluarga besar pondok. Selamat tinggal wahai guru, nasihatmu akan
kami amalkan, ilmu darimu akan kami sebar luaskan dan cita-citamu akan kami
realisasikan sekemampuan kami.
Mataku
menghangat, ada rasa pedih di sana. Pandanganku perlahan buram, genangan itu
siap untuk tumpah. Bagaimana kami tidak
bersedih ditinggalkan oleh seseorang yang mewakafkan dirinya, mengorbandan
waktunya untuk perkembangan kami. Sebagian santri sampai pingsan kehilangan
guru yang amat berjasa. Kami tak peduli
sebutan cengeng atau lemah. Tapi ekspresi mahabah telah memenuhi hati dan
perasaan kami
KH.
Zainal Arifin dimakamkan di pemakaman keluarga, tepat di samping asrama
kami Guruku, banyak hal yang aku dapat
selama kita bertemu. Keikhlasanmu adalah cermin yang aku bawa kemanapun aku
pergi.
Masih
terbayang betapa kemarahanmu adalah bagian dari perjuangan karena Allah. Kau
akan berdiri paling depan saat disiplin santri, pengurus hingga ustaz sekalipun
tidak ditegakkan. Di hadapanku engkau bagaikan singa Allah dalam dakwah dan
tarbiyah.
Berbaris-baris
bahkan ribuan baris kata hikmah, keikhlasan nasihat darimu masih berjajar rapih
di buku harianku.
“Ada keindahan dalam memaafkan
dan meminta maaf
Bila datang berita ada seseorang
membencimu maka kirimkan hadiah untuk yang membencimu itu. Insya Allah akan
berubah menjadi cinta dan kasih sayang
Ketika kesusahan dan kesulitan datang...berbahagialah karena
Allah akan memberikan kemudahan, nantikan dengan penuh kerinduan kejutan
dariNya, entah apa karena masih rahasia. Maka tetaplah tersenyum
Biarlah segala kekurangan ini membuatku ingin mendekatiMu,
merasa membutuhkan pertolonganMu
Tiap peristiwa adalah panggilanNya. Kita dapat rasakan panggilan
mana yang paling indah...Sungguh segala rasa kehambaan itu seperti janatun al
ajilah
Kebahagiaan sejati adalah saat
kita menjadi jalan bagi kebahagiaan orang lain.
Bila dua hamba saling berkasih sayang di jalanNya maka karunia
Allah menyertai mereka, kelapangan dada adalah nikmat yang sangat indah.
Jangan pernah mengorek masalah karena masalah itu akan bertambah
besar menyelimuti hati kita. Bila ada masalah pikirkan bagaimana kita menjadi
bagian dari solusi
Cukupkan bahagia itu dengan selalu ingin menghargai orang lain.
Sekecil apapun penghargaan akan bermakna bila diliputi keikhlasan.
Milik kita adalah hari ini. Karena hari yang lalu tak mungkin
kembali tuk diperbaiki. semua tertulis dan tercatat, tidak pula terhapuskan.
Sedangkan hari esok masih sangat2 rahasia. Berbuat sebaik mungkin di hari ini
berarti memberi kebaikan untuk diri sendiri. Segala perbuatan akan kembali pada
yang berbuat apapun itu.
Dari bangun tidur hingga tidur lagi kita jumpai sekian banyak
pilihan kata, pilihan sikap dan keputusan. Beruntunglah yang dapat memilih
dengan berserah pada keredhoan Allah
Tidak ada yang salah dengan masalah, masalah sebenarnya timbul
ketika kita salah menyikapi masalah. Tidak ada yang harus disedihkan dari
penderitaan justru kesedihan muncul ketika salah menykapi penderitaan itu
sendiri.
Dicaci adalah anugerah bila dengan dicaci itu menambah kedekatan
kita pada Allah SWT. sanjungan menjadi musibah bila membuat kita sombong dan
jauh dari Allah SWT. Begitu pula
keterbatasan dan kelebihan yang kita miliki. Tidak perlu khawatir dengan
keadaan yang menimpa kita yang harus kita khawatirkan adalah bila suatu keadaan
membuat kita jauh dariNya.
Pakailah ilmu kelapa, jatuh dari ketinggian,
dicabik hingga gundul, dipukul hingga pecah, dicukil dan dikuliti, diparut dan
diperas, barulah ia menghasilkan santan yang berguna. Itulah saripati tauhid
akan hadir setelah melewati berbagai rintangan, celaan, hinaan dan ujian hidup.
Makin sabar makin dekat seseorang dengan hakikat kebenaran.
Ciri kesombongan adalah merasa diri kita lebih baik dari orang
lain atau merasa orang lain lebih buruk dari kita
Keberuntungan terbesar adalah mengenal Allah, memungkinkan kita
memohon dan berharap hanya pada-Nya
Di antara sebab yang membuat penolakan seseorang untuk nikmat
Allah itu adalah berpikir begitu berat pada kedatangan ujian, sehingga
melupakan nikmat yang tak terhitung jumlahnya dari Allah, fa biayyi aalaai
robbikumatukadzibaan.
Salah satu tingkatan yang tinggi dalam sabar adalah meninggalkan
sesuatu demi keridhoan Allah SWT. Mungkin ada kesedihan, ada kehilangan dan
merasakan berbagai hal yang tidak menyenangkan menurut nafsu. Namun yakinlah
ketika kita berhasil meninggalkannya akan terasa manisnya iman buah dari rasa
penghambaan. Sebaliknya bermaksiat pada Allah mungkin akan menimbulkan
kesenangan, kegembiraan sesaat menurut nafsu. Namun ketahuilah di sebalik itu
siksaan karena hilangnya kemanisan iman akan membuat derita yang
berkepanjangan.
Kala
terasa tiada cinta yang menyapa cukuplah keyakinan bahwa tangan yang di atas
lebih baik dari tangan yang di bawah. Berusaha memberi cinta tanpa menanti
balasan rasa seperti contoh Rasulullah dalam mewujudkan rahman rahimNya
Dibutuhkan cara pandang yang berbeda untuk merasakan kebahagiaan
pada tiap keadaan. Yaitu ketika sumber bahagia itu ada pada ridho Allah dan
keyakinan atas karuniaNya yang akan selalu mengiringi ketaatan padaNya.
Dia tahu segala sesuatu hingga apa yang ada dalam hati kita.
Maka jangan pernah kehilangan harapan untuk menjadi lebih baik hari demi hari
Mata diciptakan Allah sebagai bekal manusia menemukan Dia lewat
kebesaranNya yang hadir tiap saat dan dapat kita lihat. Telinga diciptakanNya
untuk mendengar panggilanNya hingga kita sampai pada keimanan. Hati diciptakan
untuk merasakan keberadaanNya di tiap detik waktu. Akal diciptakan untuk
memikirkan ciptaanNya hingga kita sampai padaNya.
Di antara salah satu sunnah Rasulullah yang utama adalah membalas
keburukan orang lain dengan kebaikan. Maka akan terasa indahnya keimanan
Kita sesungguhnya bukan penduduk bumi ini, kita hanya
menggantikan orang-orang terdahulu. Dan kelak kita akan digantikan oleh
orang-orang kemudian. Sesungguhnya tiada harta yang kita punya, kita hanya
memakai apa-apa yang pernah dipakai orang-orang sebelum kita. Kalaupun ada yang
baru dibuat atau diciptakan fanaadanya dan akan kita tinggalkan.
Pakailah ilmu kelapa, jatuh dari ketinggian, dicabik hingga
gundul, dipukul hingga pecah, dicukil dan dikuliti, diparut dan diperas,
barulah ia menghasilkan santan yang berguna. Itulah saripati tauhid akan hadir
setelah melewati berbagai rintangan, celaan, hinaan dan ujian hidup. Makin
sabar makin dekat seseorang dengan hakikat kebenaran.
Mengapa kita mesti marah atau kecewa bila datang ujian berupa
sesuatu yang tidak mengenakkan. Bukankah dengan begitu akan datang berita
gembira berupa kemudahan. Jadi apa pun keadaannya....yang penting nikmati aja.
Itulah bahagia.
Dunia dan seisinya tidak akan mendatangkan
keajaiban apapun, sesungguhnya Allahlah pemilik keajaiban itu. Segala sesuatu
terjadi atas izinNya, mengapa tidak kita ketuk pintuNya untuk memohon izin atas
permintaan, harapan dan keinginan kita. Ketukan yang penuh adab, penuh harap
dan kesungguhan. Maka tunggulah keajaiban itu akan datang sebagai jawaban atas
segala masalah dan keadaan”
Aku merasa
beruntung mengenal sosok Pak Yai. Bening
binar pendar keikhlasan itu terpancar dalam kata, tindak tanduk dan nasihat yang terabadikan dalam cerotan
pena di atas buku harianku ini.
Nubar
Area_Sepucuk Surat untuk Buah Hati
TEMUI TUHANMU
SECEPAT KILATAN CAHAYA_Khadijah Hanif
Anakku, maafkan Bunda, selama ini
Bunda selalu menjadi pemenang.
Setidaknya itulah yang menjadi keyakinanmu setiap kamu mengeluh.
“Aku tidak pernah punya pilihan
sendiri semua harus sesuai apa yang Bunda mau.”
Itulah yang berkali-kali kau ungkapkan tiap kali kebuntuan hadir di
antara kita. Tiap kali kau merasa
mendapat masalah besar.
Ya, Bunda mengakui ketaatanmu,
Anakku. Dan Bunda menyadari konsekwensi
dari ketaatan itu. Tiap kau mendapatkan
masalah pasti Bunda yang akan kau salahkan.
Tapi buada yakin bahwa kau akan mampu keluar dari masalah itu. Serumit apapun, dan itu selalu terbukti. Karena Allah tidak akan membiarkan ketaatanmu
pada kami sia-sia. Doa kami pun akan
selalu Allah dengar.
Kami berterima kasih atas ketaatanmu
dan kami memaafkan tiap keluh kesah yang kau lemparkan. Kalimat menyalahkan itu akan kami lantunkan
dalam doa-doa kami. Semoga Allah SWT
segera mengeluarkanmu dari belitan rasa berat itu.
Anakku, biarkan Bunda mengenang
perjalanan kita sejak kau masih di kandungan.
Bunda merasa kau adalah anugerah yang tiada taranya. Lebih dari itu Allah SWT selalu memberikan rezeki
dari jalan yang tak disangka-sangka.
“Bu Kamila, ini ada perlengkapan
bayi. Ini tersimpan di kardus. Saat Kayla lahir saya nggak
menemukannya. Barangkali memang rezeki
buat calon bayi Ibu.” Bu Indah, tetangga
kita memberikan pernak-pernik bayi saat usia kandungan Bunda baru empat bulan.
Bukan
hanya itu, hampir tiap bulan selalu ada yang datang, seakan mereka merindukan
kehadiranmu. Keranjang tidur bayi mewah
dari Tante Nia. Dorongan bayi dari Bude
Sarah, bak mandi bayi. Boleh dikatakan
bunda tidak perlu banyak pengeluaran untuk menyongsong kelahiranmu.
Tahukah
kamu, saat Bunda bertaruh nyawa melahirkanmu dalam waktu hampir dua belas jam,
kami kedatangan tamu istimewa. Rombongan
pejuang Alquran, penemu metode Albadar dan seorang ulama besar dari Malaysia,
Ustaz Halim Abbas. Ulama yang harus
hijrah dari negeri jiran untuk menyampaikan kebenaran dan mempertahankan
keyakinan. Ulama itu juga yang
menyematkan nama untukmu. Ulama itu juga
yang memberikan khutbah nikah saat kami melangsungkan walimah. Semua ini bukan kebetulan tapi sebuah
anugerah.
“Keunggulan
Islam di Indonesia adalah semangat untuk bisa bersatu. Setiap ada mahzab baru akan timbul gesekan
kecil. Setelah itu saling menerima. Salah satunya dengan jalan pernikahan antar
mahzab sebagaimana dicontohkan para pendahulu kita. Bahkan salah satu penyebaran Islam yang cukup
pesat melalui jalur pernikahan. Setelah para wanita diislamkan, maka pendakwah
menikahi mereka.” Nasihat itu masih
terngiang di telingan Bunda, bahwa pernikahan seharusnya diniatkan untuk
membela dan mengokohkan agama.
Kehadiran
kedua dari Ustaz Halim tepat dengan hari kelahiranmu. Bunda merasakan bahwa kau anak bertuah. Lalu disematkannya nama terindah, Shefra yang bermakna keemasan. Sebuah harapan akan zaman keemasan agama ini
dan semoga kelak saat kau dewasa kau adalah salah pemegang peranan untuk agama.
Anakku,
doa itu terus tertambat dalam dirimu dengan namamu. Karakter kuat terlihat sejak kau kecil
lagi. Punya pendapat dan pendirian
sendiri tapi mudah menuruti kemauan kami.
Sekolah di tempat yang menempamu dengan berbagai keadaan.
“Bunda,
Shefra nggak mau di sini. Nggak enak
diajar sama Ayah sama Bunda. Kalau niali
jelek diledek. Giliran nilai bagus
dicurigai. Serba salah,” keluhmu suatu
hari.
Lalu
Bunda hanya bisa berusaha meluluhkan hatimu dengan satu janji bahwa di sini
kamu hanya tiga tahun saja. Selanjutnya
kau akan jauh berpisah dengan kami. Kami
hanya ingin kamu punya kecintaan pada tempat perjuangan Ayah Bunda. Menjadi alumni dan keluarga besar pesantren
ini.
Waktu
berlalu dengan liku-liku yang kau keluhkan pada Bunda. Puncak kegundahanmu saat kamu duduk di kelas
dua SMP. Kepala penuh luka bukan karena
kurangnya kebersihan di asrama. Semua
karena depresi ringan yang kau alami.
“Sefra,
jangan pulang terus. Ini bisa dianggap
pelanggaran oleh musrif kamu.” Bunda
selalu menegur kamu saat ke rumah.
Padahal kamu ke rumah bersama santriwati yang lain. Kadang nada suara bunda meninggi. Maafkan Bunda, Anakku. Bunda sadar teguran iniberlebihan. Padahal bukan hanya akamu yang sering
pulang. Anak sesama rekan guru pun
demikian.
Bunda
memaklumi semua, prestasi belajarmu tidak begitu membanggakan. Hanya di area rata-rata. Secara psikologis tentu kamu tidak nyaman
belajar di sini.
“Bunda
pingin tahu bacaan Alquran Shefra, boleh?”
tanya Bunda setelah kelulusan.
Betapa sedihnya
Bunda, bacaanmu sangat jauh dari baik.
Akhirnya kami putuskan mengirimkanmu ke pesantren tahfiz untuk belajar
tahsin selama Ramadan. Alhamdulillah,
bacaanmu sudah jauh lebih baik.
“Bun, Shefra kita kirim selama
setahun di Pesantren Darul Falah Amtsilati aja, ya?” Ayah menyampaikan sarannya pada Bunda. Kami ingin mengkhususkan belajarmu pada ilmu
alat. Awal kamu berpisah jauh dengan
kami pasti menjadi hari yang berat buatmu, Nak.
Hampir tiap pekan kamu menelpon kami dengan berbagai macam keluhan. Tanggapan tak jua kami berikan. Hingga kau berusaha menelfon paman-pamanmu,
barangkali ada yang mau mengikuti permintaanmu.
Lima kali pulang karena sakit adalah
waktu yang cukup sering bagi para pemburu ilmu.
Sakit gigi, sakit telinga, mag hingga scabies. Maafkan kami, bukan kami tak peduli, tapi
cita-cita yang tersemat dalam namamu itu membuat kami yakin kamu bisa.
“Shefra, Ayah berharap suatu saat
kamu kembali kesini. Kamu harus selesai
praktik dua, pendalaman kitab dan diwisuda.”
Harapan ayah padamu begitu besar, Nak.
“Kalau
begitu, aku cuti ajam Ayah,” ungkapmu riang pada kami. Terlihat guratan keinginan untuk kembali ke
Darul Falah menandakan bahwa kamu sudah nyaman dan mampu beradaptasi. “Padahal aku sudah banyak teman di sini. Aku ingin lanjut sekolah atas di sini,
Yah.”
Lagi-lagi
kamu seakan tidak punya pilihan lain selain mengalah dan menuruti keinginan
kami. “Teman kamu ada yang depresi di
sekolahnya. Coba kamu dampingi dia. Bukankah kamu teman akrabnya?” Alasan berkorban untuk orang lain menjadi
sebab kami memindahkanmu. Kau pun setuju
tanpa banyak melawan. Ya Rabb, saat itu
kami tidak tahu bahwa kepindahamu akan kami sesali di kelak kemudian hari.
Anakku,
waktu berlalu sesuai qadar-Nya dan akhirnya kau mendampingi sahabat karibmu
itu. Sebuah sekolah berasrama dengan
program unggulan tahfiz dan enterpreuneur.
Sekolah itu murni beasiswa.
Awalnya kau merasa betah di sana.
Tidak ada keluhan sedikit pun tentang teman, makan maupun pembelajaran.
“Bunda,
pokoknya Shefra harus pindah sekarang juga.
Shefra kena uji. Tiap hari Shefra
dihukum buat mbersihin kamar mandi.”
Tangisanmu pecah, tapi lagi-lagi Bunda memintamu buat bertahan. Peristiwa itu terjadi saat kamu duduk di
bangku kelas dua.
Bunda
masih menganggap semua itu dalam batas kewajaran. Bahkan Bunda anggap itu hanya kemanjaanmu tak
ingin melanjutkan pendidikan. Maafkan
Bunda, Anakku. Keluhanmu yang hampir
tiap pekan selama tiga bulan itu harusnya meluluhkan hati Bunda.
“Sabarlah,
Shefra. Kalau ada yang bilang kamu nggak
berhak belajar di sana karena bukan termasuk dhuafa. Sadarilah bahwa tiap diri hamba adalah
dhuafa.. Tidak ada manusia yang punya
selain dipunyakan oleh Allah. Tidak ada
yang kaya melainkan dikayakan. Tidak ada
yang kuat kecuali di kuatkan. Kalau kita
merasa lebih dari mereka yang ada di sana, khawatir kita termasuk orang yang
sombong. Bila kamu harus membersihkan
kamar mandi, ambilah berkah kelebihan pada gurumu. Semoga saat kau dewasa nanti kebaikan itu ada
padamu.” Masihkah kamu ingat nasihat
Bunda, Nak.
Waktu
kelulusan dan pengabdian berlalu sesuai kehendak-Nya. Hingga qadarullah, rahasia kegundahanmu
terbongkar juga. Seseorang datang tanpa
diundang. Bercerita tanpa ditanya. “Kak Shefra dituduh tidak membayar
hutang. Dia dihukum dan dijatuhkan di
depan semua siswa. Piring plastik kecil
sampai belah dipakai menamparnya. Kami
semua iba.” Cerita ini memaksa air mata
Bunda terjatuh dari genangannya, sebelum sempat Bunda seka.
Anakku,
biarlah tempaan itu menjadikan besi siap pakai sebagai senjata. Bukankah hanya bahan baku yang mahal yang
dapat di tempa? Bukankah dengan padas
dan pukulan logam bisa menjadi barang berharga dan membawa manfaat untuk
sesama?
Kau
adalah anak bertuah. Allah meliputi kamu
dengan kemudahan dan keberuntungan. Saat
persaingan perguruan tinggi negeri makin ketat, kau diterima di sebuah
Universitas Islam Negeri terbaik.
Setelah mengalahkan sekian ribu pesaing, kau adalah salah satu yang beruntung
itu. Lagi-lagi kau harus mengalah dengan
keputusan kami. “Shefra, kamu bilang
ingin ke LIPIA? Ini ada kampus
berasrama, berkurikulum sama dengan LIPIA.
Dosennya banyak yang native dan lulusan timur tengah. Sepertinya cocok dengan keinginan kamu,”
ungkapku memberikan pilihan.
“Bunda,
sayang kalau Shefra melepas kesempatan kuliah di universitas negeri. Tapi terserah Bunda sama Ayah, lah.” Kamu menyerah lagi.
Hari-hari
kau lalui dengan berat di kampus lokal.
Kesulitan dalam menghafal Alquran membuatmu pusing tak tertahankan. Sekali lagi kau mengeluhkan untuk berhenti
berjuang. “Bunda, aku malu. Aku tertinggal jauh dan merasa paling bodoh,”
keluhmu kembali mengiris hati Bunda.
“Shefra,
Bunda tidak pernah menuntutmu harus bisa, tapi sejauh yang kamu bisa. Bunda berdoa dan menyediakan biaya
sepermintaan kamu. Sayang kalau kamu
harus mundur dari medan tempur. Ayolah,
kamu akan bisa lulus.”
Puncak
dari keluhanmu, kamu pulang dalam keadaan sakit kepala yang berat. Diantar oleh seorang teman, kau berada di
rumah selama tiga hari. Bunda tidak
berusaha memberikan perhatian yang kau pinta tapi justru menyuruhmu segera
pulang ke asrama. Dengan nada suara
tegas terbalut amarah. Kaupun menyerah
dan berangkat dengan kerutan di wajah yang makin payah.
Anakku,
bukan aku Bunda berniat kejam padamu, tapi Bunda yakin kau akan melampaui masa
sulit ini dengan prestasi. Terapi ruqyah
pada sahabat yang mumpuni sedikit membantu tumpukan beban pada lelah jiwamu.
Dua
tahun masa sulit di kampus pun berlalu.
Bunda tidak mendengar lagi keluhanmu.
Kemudian rencana Allah membuka kisa baru tentangmu. Seseorang yang istimewa datang meminta. Dia adalah dambaan bagi begitu banyak calon
mertua, termasuk juga Bunda. Hadirnya
menjadi buah bibir para gadis. Kebaikannya
menjadi rujukan bagi para orang tua.
“Kalau
mencari suami, usahakan yang seperti Kang Azzam. Seseorang yang banyak kemampuan agama. Bagus dan merdu suaranya. Punya tim panggung seni. Ngajar apa aja bisa, khat, marawis,
qiraah. Pokoknya lengkap. Dia juga seseorang yang baik perangainya,
sabar, tawadhu, penyayang, ganteng pula.”
Suatu hari seorang ibu mengatakan hal ini pada anak gadisnya.
Bunda
sering menyampaikan tentang Azzam padamu, tapi kau hanya tersipu dan tak mau
menunjukkan perasaanmu padanya. Bunda
akhirnya tahu penyebabnya, bahwa kamu sudah punya seseorang yang lain di
hatimu.
“Bunda,
jangan kaget kalau tiba-tiba ada yang datang melamar Shefra. Mereka sudah buat komitmen menikah dua tahun
kedepan, Bun.” Berita dari seorang
sahabatmu ini begitu merisaukan Bunda.
Apa bedanya dengan berpacaran bila komitmen dibuat antara dua insan yang
tidak punya ikatan yang diperbolehkan?
Terlalu banyak fitnah hati yang akan kau rasakan bila sering bertemu
dalam satu ruang kelas perkuliahan. Dua
tahun bukan waktu yang sebentar untuh dua hati saling setia dan saling
menanti. Belum lagi mulut usil yang
akan memercikkan bunga api hembusan setan.
Kuasa
Allah melampaui semua rencana hambanya.
Keluarga Azzam memintamu dengan setulus hati. Hasil dukungan banyak pihak dan istikharah
cinta Azzam. Saat lamaran tiba, kau tak
punya pilihan lain selain mengikuti yang terbaik menurut kami. Seakan secepat kilat, pernikahan berlangsung
di masa pandemi setelah lima belas hari khitbah yang diberkahi.
Kini
Azzam adalah suamimu. Suami yang sah
Allah hadirkan sebagai hadiah atas hati yang terlalu sering
berkeping-keping. Kau akui atau tidak,
kau sadari atau tidak, Azzam adalah karunia terbesar dari Allah. Berkah dari ketaatanmu pada kami selama
ini. Mungkin kau merasa kami telah
mematahkan hatimu yang sedang jatuh cinta pada seseorang yang lain. Namun, yakinlah Anakku, dia adalah Sang
Penyelamat hatimu. Allah tidak rela hati
yang biasa terselimuti derita itu, dikotori oleh rasa yang terlarang.
Anakku,
mungkin kau merasa cintamu pada seseorang yang baru saja bersemi direnggut
paksa dan membekaskan luka. Tenanglah,
Sayang. Allah ingin cinta yang tumbuh di
hatimu adalah cinta lillah. Cinta yang
suci tanpa pacaran. Cinta karena
kerelaan diri sebagai hamba. Cinta yang
tumbuh pada seseorang yang cinta pada Allah.
Cinta yang tumbuh untuk saling menyelamatkan di dunia dan akhirat. Cinta yang akan membawa
kalian menghadap Allah kelak secepat kilatan cahaya.
Elegi untuk
Shefra
Kau bunga di
taman hati, cantik indah bestari
Kau susuri
jalan penuh onak duri, mengikuti jejak langkah kami
Menggenggam
sunah bak bara api
Jalan itu masih
berliku, sering kau terjatuh dan luka
Lalu kau
nikmati tiap derita dalam batin yang lara
Hingga kau
sadari bahwa duka itu akrab menyapa
Kau bilang biar
saja, sudah biasa
Berbahagialah
Shefra, saat hamba menyerahkan segala
Salat, ibadah,
hidup, mati, cinta adalah untuk dan karena Dia
Tiada sisa
puing jumawa
Petiklah
bahagia
Kencana cinta
akan menjemput kalian berdua
Menghadap Tuhan
secepat kilatan cahaya, senyum bahagia ada di sana
Sedangkan
mereka masih begitu lama menanti di pintu surga
NUBAR
AREA_SCRIBBLES IN JANUARY_
Impian yang
Tertunda_Khadijah Hanif
“Abi, kalau memang bukan takdir
Ummi,sudahlah Ummi mau berhenti bermimpi.”
Aku menumpahkan kegundahan hati ini pada orang yang paling setia di
hadapanku ini.
“Kenapa
Ummi bilang begitu. Selama ini Abi
selalu mendukung impian Ummi. Aktif
proyek menulis, perlombaan menulis juga keterlibatan Ummi dalam kegiatan
dinas,” ungkap suamiku seakan menyanggah keinginanku berhenti bermimpi.
“Ummi
tidak menafikan semua dukungan Abi.
Tapi...” Perbincangan kami
tercekat oleh suara dari balik pintu ruang tamu.
Kami
sangat familiar dengan suara salam itu.
Seorang sahabat karib dari Bandung mendatangi rumah kami. Haji Jamal juga salah satu donatur penting di
pesantren yang kami asuh saat ini.
“Silahkan
masuk, Pak Haji. Masyaallah mimpi apa
ini, kami kedatangan tamu agung.”
Suamiku menyapa renyah penuh keakraban.
Rombongan keluarga, suami istri dan keempat anaknya. Aku sibuk menyediakan dua kursi tambahan
supaya cukup untuk berdelapan.
Seperti
biasa bila ada tamu datang, aku langsung sibuk di dapur. Menyediakan air manis dingin sangat pas untuk
siang yang cukup panas ini. Sedikit
frozen food aku goreng dan cepat tersaji di atas meja. Aku tahu persis kesukaan anak-anak. Nuget, otak-otak dan sosis berkualitas akan
lebih baik buat anak-anak. Sekeranjang
buah juga aku sajikan segera lengkap dengan pisau kupas, tatakan dan garpu
tusuknya.
“Wah,
Ustazah Nisa jadi kerepotan dengan kedatangan kami, ya?” ungkap Kak Nabilah,
istri Haji Jamal.
“Tidak
ada yang kerepotan, kami justru senang kedatangan tamu istimewa,” jawabku
ringan
Setelah
memulai dengan perbincangan santai, saling bercerita keluarga kami masing-masing,
obrolan serius mulai dibuka oleh Haji Jamal.
“Kapan
Ustaz Agam mau memulai pesantren di kota kelahiran?” selidik Pak Haji Jamal.
“Wah,
Pak Haji tahu dari mana rencana saya itu?
Saya belum sempat menyebar flyer ataupun proposal tentang rencana pendirian
pesantren.” Suamiku bertanya keheranan.
“Mohon
maaf saya lancang membaca master plan di flashdisk Ustaz yang tertinggal di
Kantor Alfatah. Sekalian saya kemari mau
mengembalikan flashdisk ini. Khawatir
Ustaz perlu.” Pak Haji Jamal memberikan
sebentuk flashdisk yang kami cari-cari dua hari belakangan ini.
Kami
menerimanya dengan penuh rasa syukur.
Sejak laptop kami mengalami gangguan, file-file penting satu-satunya
tersimpan di sana. Kami belum sempat
menyimpannya di google-drive.
“Begini
Pak Haji, kami akan segera mengurus ikrar wakaf, akte wakaf, sertifikat wakaf
kemudian membentuk yayasan. Saya sangat
berharap Pak Haji bersedia menjadi bagian dari badan penasihat yayasan kami.”
“Justru
itu, saya datang kemari untuk memberi dukungan moril dan sedikit materi untuk
pembangunan pesantren Ustaz. Setelah
saya baca konsepnya, saya sangat tertarik.
Sebuah pesantren tahfiz, memadukan antara kegiatan pertanian, bisnis dan
pariwisata. Sangat lengkap menurut
saya. Apalagi menyediakan pendidikan
bebas biaya. Saya akan support
sepenuhnya. Tapi saya mohon jangan
tinggalkan pesantren ini. Anak-anak
masih membutuhkan kehadiran Ustaz dan keluarga.
Coba Ustaz urus wakaf dengan Nadzir perseorangan di saat-saat liburan.”
Ungkapan
tulus Haji Jamal sangat membahagiakan kami.
Bulan Januari yang diberkahi, sebuah awal yang akan membuka harapan
baru. Aku yang diamanahi untuk menjadi
nadzir wakaf sering dilanda rasa bersalah.
Tahun ini dua tahun sejak ayah meninggal, wakaf itu belum juga kami
urus.
Libur
pesantren masih ada dua pekan lagi.
Pandemi Corona-19 sungguh alasan yang jitu untuk perubahan schedule
mendadak. Semua orang seakan begitu
mudah memaklumi untuk alasan yang satu ini.
Aku ambil hikmah dari keadaan ini.
“Abi,
sebaiknya kita urus segera wakaf ayah.
Mumpung liburan agak panjang, kita pulang kampung, yuk!” Aku melontarkan ide pada Abi.
“Baiklah
kita berangkat lepas Asar, kalau perjalanan malam, Insyaallah kita bisa
lolospemeriksaan. Kabarnya di SPBU dan
rest area banyak posko-COVID.”
“Kalau
kita merasa sehat kenapa harus ikut pemeriksaan, Abi?”
“Entahlah,
mungkin karena banyak OTG alias orang tanpa gejala.”
“Semoga
perjalanan kami Kau beri kelancaran, ya, Rabb!”
Kuhela napas panjang untuk keadaan yang masih belum sepenuhnya normal
ini.
Keberangkatan
kami tepat sesuai rencana, bakda Asar.
Kami hanya berdua karena anak-anak sudah kami titipkan kembali ke
pesantren mereka masing-masing.
Di
tengah perjalanan empat jam dari rumah, kami telah memasuki Jawa Tengah. “Subhanallah, Abi, Ummi lupa nggak membawa
kunci rumah. Nanti kalau rumah ibu
dikunci kita bakalan lama di teras.
Orang-orang akan mempermasalahkan kedatangan kita.”
“Sebaiknya
telpon ibu dulu, Ummi. Biar ada yang
terjaga dan begitu sampai, kita bisa langsung masuk rumah.”
Gawai yang ada di dalam tas aku
ambil. Satu-satunya cara berkomunikasi
dengan ibu, hanya melalui panggilan telpon biasa.
“Assalamualaikum, Bu. Gimana kabar Ibu? Semoga ibu sehat selalu.”
Dari seberang sana suara parau ibu
yang sudah memasuki usia delapan puluh tahun terdengar lemah. “Waalaikumsalam, ibu di sini baik-baik
saja. Gimana liburan sekolah, kalian
pulang, kan?”
“Kami sedang dalam perjalanan,
Bu. Anak-anak nggak ikut soalnya
pesantren mereka memilih anak-anak tetap ada di dalam dan nggak dipulangkan.”
“Aku udah kangen Liza, Raysa dan
Rangga. Kapan lagi bisa ketemu selain
liburan? Lebaran kemarin kita nggak
ketemu karena lockdown, sekarang pesantren yang nggak meliburkan anak-anak.” Nada kecewa begitu berat menghentikan suara
ibu. Isak tangis mulai terdengar
mengharu biru.
Hanya pesan kesabaran yang bisa aku
sampaikan. Aku hibur ibu bahwa semua ini
karena Allah sayang ingin melindungi hambaNya dari penyakit dan mara
bahaya. Kami terus melanjutkan
perjalanan. Tanki bensin sengaja kami
penuhi sejak masih di kota domisili.
Tempat berhenti hanya masjid besar di waktu salat tiba.
Alhamdulillah kami sampai di tujuan
jam satu pagi. Suasana hening disaput
tiupan dingin angin malam. Rumah kami
masih seperti saat terakhir aku tinggalkan.
Sepi dengan dua wanita penghuni, ibu dan adik sepupuku.
Begitu kami ucap salam, ibu langsung
membukakan pintu. Aku peluk erat raga
ringkihnya. Rasa bersalah menggumpal di
dada. Kucairkan bongkahan rasa bersalah
dengan mencium kakinya. Ibu, maafkan
anakmu yang tak mampu hanya untuk sekedar mengusir rasa sepi masa tuamu.
“Sudah jangan kau bersimpuh seperti
ini. Ibu rela kamu bakti dengan
suamimu. Sini masuk.” Suara paraunya tetap menyejukkan hatiku. Mengobati hati yang kering oleh rindu kasih
tulusnya.
Lembar
kenangan masa lalu melintas cepat, mengingatkanku atas balas jasa pada
cintanya.
“Nisa, jangan dulu berangkat ibu punya pin senada dengan seragam
sekolahmu. Lho, sarapannya harus habis.
Ini nasi bekel kamu. Ingat jangan
jajan sembarangan. Dalam kotak ini ibu
buatkan lauk kesukaan kamu.”
“Tapi Nisa pingin jajan, Bu.
Temen-temen pada jajan.” Aku
merajuk ingin dapat izin jajan.
Kalau aku pulang sekolah, ibu selalu memeriksa tasku. “Kamu makan siang, ya, Ibu mau lihat ada PR apa tidak.” Rutinitas yang dulu menjengkelkanku itu
menambah barisan kesadaranku akan kasih ibu yang sesungguhnya.
Sentuhan
tangan Mas Agam, suamiku, melepaskan pelukan kami. Ibu memeluk Mas Agam dan selalu berterima
kasih atas perlindungan dan pembelaan Mas Agam padaku dan anak-anak. Akhlak ibu begitu mulia, ia tahu betul batas
hak dan kewajiban diantara kami.
“Ibu
belum istirahat? Kok, ibu yang
membukakan pintu bukan Nida?” Aku
menanyakan keberadaan Nida, sepupuku yang selalu menemani Ibu.
“Ibu
biasa bangun tengah malam, setelah itu tidak bisa tidur lagi sampai Israk. Waktu panjang buat mendoakan kalian.” Kami berbincang sambil bebenah barang bawaan
kami. Aku menata oleh-oleh di atas
meja. Untuk ibu dan dua kakakku. Seharusnya aku bisa mempersembahkan lebih
dari ini. Namun, batas kemampuan yang
membuatku harus menerima.
Cerita
ibu makin membuat jurang kasih antara orang tua dan anak terasa tegas. Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak
sepanjang galah. Begitu kata pepatah.
***
Hari
ini hari ketiga aku di rumah ibu. Rencana
ke Kantor Urusan Agama untuk mengurus wakaf disetujui ibu. KUA kecamatan tidak jauh dari rumah, hanya
lima belas menit ditempuh dengan kendaraan pribadi.
Sesampai
di KUA aku terpaku pada dua banner berdiri yang memberi informasi tentang
wakaf. Aku mencermati satu per satu
butir-butir persyaratan wakaf. Kami
bernapas lega saat tidak ada satu butir pun yang memberatkan kami.
“Mohon maaf,
untuk nadzir atau penerima wakaf perorangan, ada beberapa hal yang harus Bapak
Ibu ketahui.” Petugas KUA menyodorkan
peraturan PeraturanPemerintahRepublik
IndonesiaNomor 42 Tahun 2006TentangPelaksanaanUndang-UndangNomor 41 Tahun
2004TentangWakaf.
Petugas memberi kesempatan kami membaca satu persatu tentang nadzir
wakaf. Fokus kami pada Bagian Kedua
tentang Nadzir Perseorangan:
Pasal4
Nadzir Perseorangan
(1)NazhirperseoranganditunjukolehWakif
denganmemenuhipersyaratanmenurutundang-undang.
(2)Nazhirsebagaimanadimaksudpadaayat
(1) wajibdidaftarkanpadaMenteridan BWI
melalui Kantor UrusanAgama setempat.
(3)Dalamhaltidakterdapat
Kantor Urusan Agama setempatsebagaimanadimaksudpadaayat (2), pendaftaranNazhirdilakukanmelalui Kantor Urusan Agama terdekat,
Kantor Departemen Agama, atauperwakilanBadanWakaf Indonesia di
provinsi/kabupaten/kota.
(4)BWI menerbitkantandabuktipendaftaranNazhir.
(5)Nazhirperseoranganharusmerupakansuatukelompokyang
terdiridari paling sedikit 3 (tiga) orang, dansalahseorangdiangkatmenjadiketua.
(6)Salah seorangNazhirperseorangansebagaimanadimaksudpadaayat
(5) hams bertempattinggal dikecamatantempatbendawakafberada.
Kami terhenti saat membaca poin keenam. Apakah ini pertanda kami harus hijrah
sepenuhnya. Menemani dan berbakti pada
ibu di masa senjanya. Lalu bagaimana
pesantren tempat perjuangan kami.
Haruskah perjuangan setengah abad itu kami tinggalkan begitu saja?
Kebimbangan memenuhi hatiku. Keputusan pindah domisili, mengurus kartu
keluarga baru bergabung dengan ibu.
Semua keputusan ada di tangan Mas Agam sebagai imamku. Ya, Rabb, Ya, Qawiyu, beri kami kekuatan
menyusun langkah terbaik yang Kau ridai.
“Ummi, bismillah kita pindah. Hijrah bukan perkara yang mudah. Tapi niatan lillah mengemban amanah, pasti
akan Allah permudah.” Mas Agam mengungkap
tekadnya di depan ibu.
“Terima kasih, Nak Agam.
Ibu sudah menunggu kepulangan kalian sejak ayah berniat mewakafkan
tanahnya. Yakinlah, doa ibu menyertai
kalian.” Butiran bening menetes dari
mata yang warnanya mulai memudar itu.
Ya ilahanaa, izinkan kami membahagiakan ibu juga ayah di
alam sana. Januari terus meniti
hari-harinya seiring rintikan hujan.
Butirannya makin kerap mengiringi doa-doa di tiap tarikan napas kami
untuk mewujudkan impian yang sempat tertunda.
NUBAR AREA_
TEMAN JADI MANTAN_Yang Datang Kembali
Awalnya aku
tidak pernah menyangka aku dan Kang Surya akan bertemu kembali setelah kami
sama-sama dewasa. Lima belas tahun yang
lalu, kami masih sering berlarian di antara pohon tebu kebun tetangga. Kang Surya berjarak dua tahun usianya
denganku tapi dia adalah teman yang paling dekat dan perhatian padaku. Saat itu aku belum begitu memahami arti
kedekatan kami.
“Anak-anak cepat masuk kelas, kenapa
kalian berlarian di kebun orang. Mereka
akan marah kalau tanaman tebu itu pada rebah.
Belum lagi kalau ada yang dipotong, pasti kalian yang akan jadu sasaran
tuduhan.” Bu Fatimah, guru madrasah
diniyah mengingatkan kami untuk segera masuk kelas.
“Kita sembunyi di sini aja! Aku
tertusuk paku, nih! Aduh!” Kang Surya
meringis kesakitan. Menahan suaranya
supaya tidak diketahui Bu Fatimah.
Aku
sendiri panik tak tahu harus berbuat apa. Beruntungnya aku baru saja disuruh ibu untuk
beli minyak tawon di apotik. Aku
memberanikan diri mencabut paku di kaki Surya.
“Tahan
rasa sakitnya, Kang Surya! Aku mau
mencabut pakunya”. Aku tumpangkan kaki
Surya di atas batu, aku takut darahnya mengenai rokku. Perlahan aku cabut paku itu dan sekuat tenaga
aku keluarkan darah dari tumitnya.
“Sakit
banget, Sintia!” Ada butiran bening yang
hampir tumpah tapi rasa malu membuat Surya segera menyeka sudut matanya sebelum
cairan bening itu tumpah.
Aku
segera menumpahkan minyak tawon ke luka itu setelah darah kotor berhasil
dikeluarkan. Beruntung aku ikut kegiatan
palang merah di sekolah. Aku tutup luka
dengan sapu tangan yang selalu kubawa.
Maklum tanganku sering basah oleh keringat.
“Nah,
sekarang udah beres, Kang. Semoga nggak
infeksi.” Aku sempat melirik
wajahnya. Mata kami bertatapan, Kang
Surya tersenyum manis. Tiba-tiba ada
desiran halus di hatiku. Aku segera
menghindar. Rasa malu meronakan dua
bilah pipi yang tiba-tiba terasa hangat.
***
Takdir
bergulir sesuai dengan kehendak yang mengukirnya. Kami berpisah cukup lama. Aku menempuh pendidikan umum di SMP dan
SMA. Sementara Kang Surya melanjutkan
pendidikan di pesantren modern.
“Naura,
ada acara di Pantai Anyer Serang, kita ikut yuk!” ajakku pada Naura, teman sekamar di rumah kos
Muslimah Santun.
“Kayaknya
seru juga, ya, tapi jauh amat. Dari
Bogor ke Serang ada kali tiga jam perjalanan?“
Naura tampak ragu.
“Ayolah,
mumpung ada yang ngajakin. Kita
rombongan, lho. Mbak Nurul ngajakin aku
ke acara ekspedisi komunitas mereka.”
“Wah,
jadinya gratis, dong! Iya, deh, aku
mau!” Naura riang begitu tahu acara itu
bebas biaya.
“Kamu
ini penampilan aja gaya. Eh, nggak
tahunya mental gratisan.” Kami tertawa
renyah lalu masing-masing sibuk dengan kegiatan packing untuk dua hari
menginap. Qadarallah acaranya Sabtu
Ahad, jadi kami bebas tugas kuliah.
Sepanjang
perjalanan aku lebih sering bicara sama Naura, sesekali sama Mbak Nurul. Naura yang senang bercanda sering kali
berisik sendiri di dalam mobil berpenumpang sembilan orang itu. Cukup padat untuk ukuran Granmax yang
berkapasitas maksimal sebelas orang itu.
Sekitar
tiga jam perjalanan akhirnya kami sampai di Pantai Anyer. Angin pantai dengan aroma khas pasir putih
mulai terhirup begitu kaki ini menginjak halaman penginapan. Ternyata peserta kegiatan ini cukup
banyak. Berasal dari daerah Jabodetabek
(Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi).
Pembagian
kamar penginapan dibedakan dalam kamar jomblo dan kamar yang sudah
berkeluarga. Akhirnya tiga gadis berada
dalam kamar yang sama, aku, Naura dan Mbak Nurul ditambah tiga orang dari
daerah lain. Keluarga Ustaz Agus yang
satu rombongan dengan kami menempati kamar di sebelah.
Total
kamar yang kami sewa ada sebelas. Kamar
yang cukup lux seluas delapan kali sepuluh meter. Di dalamnya terdapat dua dipan tiga kali dua
meter. Lengkap dengan AC, televisi, dan
kamar mandinya pun difasilitasi dengan heater.
Wangi aroma terapi dari vas khusus membuatku makin nyaman. Suasana panas siang hari di tepi pantai tak
terasa sama sekali.
“Ayo,
Muslimah, kita siap-siap ke pendopo, kegiatan akan segera dimulai.” Suara mbak Nurul mengagetkan aku yang sedang
rileks, bertelentang di atas dipan.
“Siap,
Mbak!” tukasku yang sudah latah dengan kata-kata ini. Sesuatu yang ingin aku hindari tapi sulitnya
bukan kepalang.
Luar
biasa, aku sudah merasa gesit bebenah diri menuju pendopo. Ternyata di sana sudah dimulai. Muslimah ada di barisan belakang. Aku melayangkan pandanganku ke sekeliling
pendopo. Sangat estetik, bangunannya
setengah terbuka. Beratap sempurna
berbentuk joglo, ada lima pilar. Kami
duduk lesehan di atas karpet berbahan karet tebal tapu cukup empuk.
“Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakaatuh.” Seorang
pemuda berdiri di balik podium, berbicara dengan mix, membuka pertemuan. Bahasa Arabnya fasih. Aku begitu terkesan, sekilas wajahnya seperti
aku kenal. Tapi dimana, ya? Siapa, ya? Ada sedikit kemiripan dengan Kang Surya tapi
mungkinkah aku bertemu lagi dengan dia di sini?Kami sudah tidak pernah berkomunikasi
sama sekali.
Sosok
tinggi dan gagah itu makin berwibawa dengan jubah dan serban yang terlilit di
atas kepalanya. Dari dagu lancip dan
bibir tebal tapi indah. Aku sangat yakin
dia adalah Kang Surya. Juga alis dan
mata sayunya. Sedangkan dari suara aku
sama sekali tidak menemukan kemiripan.
Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar, semua begitu cepat berubah.
Aku
beranikan diri untuk bertanya pada Mbak Nurul, seniorku di komunitas ini,
barangkali dia tahu. “Maaf, Mbak, MC di
depan sana siapa, ya?”
“Oh,
yang jadi pembawa acara itu, Ustaz Fadillah Muhammad.”
Hatiku
menciut kembali. “Sudahlah, Tia. Dia
bukan Kang Surya. Sepertinya masih ada
bunga cinta yang kau simpan dalam hatimu?
Malulah kau sebagai muslimah bukan memenuhi hati dengan ingatan pada
Tuhan tapi malah pada ikhwan.” Suara
batinku membully habis perasaan rindu yang tiba-tiba hadir. Ingatan saat menjadi teman sepermainan
berkelebat begitu cepat.
Rasa
penasaranku tak mampu kupadamkan begitu saja.
Aku mencoba mencari nama di akun facebook. Nama Suryadinata tak pernah sesuai dengan
nama yang Kang Surya yang aku maksud.
Aku mencoba mencari sebaris nama Fadillah Muhammad dan aku menemukannya. Masyaallah, mataku terbeliak. Ini benar-benar Kang Surya. Semua nama keluarganya aku kenal dengan
baik.
Memang
aku tak berteman lagi dengan mereka sejak ayah pindah ke ibu kota. Saudara sekandung ayah pun semua
merantau. Kami praktis tidak pernah
pulang kampung karena Kakek sudah meninggal dan nenek ikut adik ayah yang
terkecil.
Notifikasi
wa berdenting penanda pesan masuk.
“Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakaatuh, benarkah ini Sintia Pangastuti? Maaf ana lancang menghubungi anti lewat nomor
yang anti tulis di daftar hadir.”
“Waalaikum
salam warahmatullahi wabarakaatuh.” Aku
menjawab salam dengan stiker salam terindah yang aku punya. “Iya saya, anda
siapa, ya?”
“Ana
Suryadinata tapi nama hijrah ana Fadillah Muhammad. Salam silaturahim kembali dari ana. Kita sudah lima belas tahun tidak mengetahui
sedikitpun kabar anti.”
Sungguh
sulit membayangkan perasaan apa yang ada dalam hati ini. Kedekatan yang dulu pernah kami jalin di
madrasah kembali menyemikan rasa itu.
Rasa yang tak pernah kami ungkapkan tapi hadir pada tatap mata dan cara
kami bicara.
***
“Anti
harusnya tahu tiap hari Senin dan Kamis itu kegiatan ngaji di kampus. Masjid Alhuriyah tempat kita berkumpul jam
13.00 pas.” Suara dari seberang sana
menegas tanda ada kemarahan yang ditahan.
Kang Surya mengingatkanku tentang kajian rutin di Alhuriyah.
“Iya,
maaf, sorry, Kang, eh, Ustaz Fadil.” Aku
menanggapi nervous suara tegas di seberang sana.
“Anti
boleh memanggil saya dengan nama kecil itu, saya lebih suka.” Kalimat itu melunak mengobati rasa bersalah
di hatiku. Aku kadang lupa mencatat
scedule kegiatan komunitas. Pelajaran
penting yang tak boleh aku lalaikan lagi.
Sejak
pertemuan di Pantai Anyer itu, kami sering terlibat dalam kegiatan yang
sama. Sebagai new comer aku belum banyak
terlibat dalam kepanitiaan tapi lebih sering menjadi mustamik dan Kang Surya
menjadi pembicaranya.
Isi
kajiannya aku catat lengkap dalam buku khusus.
Kedalaman ilmunya diam-diam membuatku terpesona. Bahkan mungkin saat mendengarkan kajian
pipiku merona dan hatiku berbunga-bunga.
Tapi apa daya, rasa malu ini hanya sanggup menunggu saja. Ungkapan rasa yang tulus untuk sang
pendamba. Ah, biarkan aku ungkap semua
ini di sepertiga malamku bersama-Nya.
Dia yang Maha Menentukan segalanya.
“Ukhti,
rasanya ana harus berterus terang pada anti.
Kalau melalui chattingan, ana rasa takut timbul fitnah juga. Ana akan datang di tempat kos anti. Untuk menghindari khalwat ana akan bawa adik
ana sebagai mahram dalam pertemuan kita.
Anti punya waktu bakda Asar dua hari ke depan?”
Aku
membuka chat di massenger. Langsung aku
jawab chat itu, bahwa aku ada waktu lusa bakda Asar.
Tiba-tiba
aku sibuk sendiri. Aku tidak memberi
tahu Naura tentang rencana Kang Surya.
Aku tidak ingin bercerita tentang Kang Surya padanya. Naura benar-benar mengagumi Kang Sura baik
dari kedalaman ilmunya maupun dari penampilan fisiknya. Aku memilih diam dan biar waktu yang
berbicara.
Melalui
toko online aku memesan satu set meja dan kursi sederhana untuk menerima Kang
Surya dan adiknya. Tempat kos kami
memang tidak menyediakan meja kursi di teras. Sebagai pelengkap aku pesan
beberapa tangkai bunga segar, krissan orange dan sedap malam.
“Tia,
sibuk amat kamu. Emangnya mau ada
siapa? Sepertinya tamu istimewa.” Naura penasaran bukan main.
“Nggak,
Naura, aku pingin aja. Kalau kita
kedatangan temem mereka pada duduk di lantai.
Kasihan, kan?”
“Kita
sering kedatangan temen-temen tapi kamu nyantai aja. Nggak kayak sekarang. Kamu udah main rahasia sama aku, ya?” Naura mencubit daguku, gemas.
“Nanti
juga kamu bakal tahu.”
“Nggak
ah, aku pingin tahu dari kamu. Ayo,
bilang nggak?” Naura mengambil vas dan
bunga dari atas meja.
“Naura
jangan. Aku harus selesai semua sebelum
Asar. Kamu malah gangguin aku.”
“Makanya
bilang. Sejak kapan kamu nggak terus
terang sama aku.”
“Ustaz
fadil mau datang sama adiknya.” Aku
terpaksa bercerita, pelan.
“Oh, selamat, ya, Tia. Akhirnya Ustaz Fadil menentukan pilihannya.”
Naura langsung meletakkan vas di atas meja dan masuk ke kamar. Semburat kecewa ada di raut wajahnya,
Meskipun ia berusaha menutupi dengan senyum tipis. Aku tahu benar dia mengharapkan Kang Surya.
“Maafkan
aku, Naura. Ustaz Fadil itu sebenarnya
Kang Surya, teman kecilku. Dia hanya mau
bersilaturahim, nggak lebih.”
“Nggak
usah menghiburku, Tia. Tenang aja, masih
banyak kumbang di luar sana.” Naura
pergi meninggalkanku sendiri. Ya Rabb,
semoga Naura baik-baik saja. Ada
kelindan rasa kasihan di permukaan batinku.
Makin
dekat waktu kunjungan Kang Surya, hatiku makin berdebar.
“Assalamualaikum,
Tia.” Suara penuh wibawa itu mencekat
mataku yang sedang asik membaca majalah islami langgananku.
Aku
tatap sekilas dua pemuda di depanku.
Kang Surya dan adiknya.
“Waalaikum
salam, silahkan duduk Kang. Ini pasti
Ihsan. Masyaallah udah besar, ya? Kelas berapa sekarang?”
“Kelas
tiga SMA, Mbak.” Ihsan menjawab
pendek. Perbincangan ringan tentang
kenangan lima belas tahun lalu mewarnai pertemuan kami. Ihsan yang pandai bercanda membuat suasana
sore itu begitu akrab.
“Ana
datang kemari untuk memastikan dan menanyakan status anti. Ana merasa perlu segera menyampaikan
ini. Terus terang ana merasa sangat
terganggu dengan kehadiran anti.” Kang
Surya mulai serius dan menuju pada inti kunjungannya.
“Wah,
jadi kehadiran saya sangat merugikan?” tanyaku benar-benar tak mengerti.
“Bukan
begitu, Tia, justru kehadiran anti, ana harapkan setiap saat dan tiap detik
waktu. Mengiringi perjuangan ana.”
“Bukankah
saya sudah sepenuhnya mendukung komunitas dan dakwah Kang Surya?”
“Lebih
dari itu, Tia. Ana ingin anti menjadi
penyempurna agama buat ana. Apakah anti
belum menjalin ikatan dengan ikhwan lain?”
Seakan
berada di alam mimpi. Awalnya aku tidak
sanggup mengharapkan Kang Surya. Ia
adalah ustaz idola di kampus. Tiba-tiba
ia menjatuhkan pilihannya ke aku yang sangat banyak kekurangan ini.
“Tia
boleh tahu alasan Kang Surya menjatuhkan pilihan ke Tia?” tanyaku malu.
“Ana
khawatir fitnah hati ini tak bisa ana tutupi lagi. Terus terang ingatan ana selalu ke anti. Makanya ana datang kemari. Setelah ada jawaban dari anti, ana akan
meminta anti pada ayah ibu anti. Biarlah
jalinan pertemanan kita dulu berlanjut hingga jannah. Would you like to be my best friend
forever?” Bahasa Inggrisnya yang fasih
baru kali ini aku dengar.
Aku
masih menunduk dan mengatakan bahwa aku masih sendiri. Mekar bunga krisan dan harum sedap malam
menambah indah perasaan hatiku yang begitu tersanjung atas kejujuran Kang
Surya.
Nubar Area_
Patahan Hati_PENGORBANAN CINTA-1
Syair tentang cinta telah banyak
dilukiskan oleh para pujangga.
Ternyata mengagungkan cinta, harus ditebus dengan duka lara, tetapi
akan tetap kuhayati, hikmah sakit hati ini, telah sempurnakan kekejamanmu (Ebit G. Ade)
Sekian
tahun menapaki garis takdir-Nya, ada berkali-kali goresan luka
tertoreh di hatiku. Patahan hatiku berulangkali retak, terburai
berkeping-keping. Saat aku meletakkan kecintaan
pada agama dan ummat ini.
Cinta
pada agama adalah anugerah yang tak ternilai oleh apapun. Aku merasa bahwa perasaan itu merupakan
karunia iman yang Allah SWT titipkan buatku.
Kesadaran cinta muncul sejak kami sekeluarga rutin dan selalu mendengar
ceramah dai sejuta ummat yang fenomenal di tahun depan puluhan. Ceramah KH. Zainuddin MZ telah mengubah cara
berpikir ummat sekaligus menghibur hati banyak ummat Islam.
Ceramahnya yang segar, kreatif,
lucutapisekaligusmendidikmembuatkesadarandankecintaan kami sekeluargapada agama
makinlekat.
Perlahan
tapi pasti timbul cinta dan cita-cita untuk tahu, paham, menghayati dan
mengamalkan Islam. Islam bukan hanya
sebatas nama tapi Islam yang hadir sebagai cara hidup, the light and the way of
life.
Melalui
diskusi ringan hingga serius dengan keluarga, munculah ide-ide untuk menjalankan
perintah Allah SWT secara menyeluruh, kaffah dalam komunitas sendiri dan
mandiri.
“Islam
tidak akan bisa ditegakkan bila kita tidak membuat komunitas. Rasulullah bersabda bahwa Dajjal akan
memasuki kota-kota dan tidak memasuki desa-desa. Artinya kalau kita ingin mendapatkan takwa
maka harus mau membuat komunitas setaraf perkampungan.” Aku terlibat perbincangan serius dengan
kakakku, Mas Gigih.”
“Aku
setuju dengan pendapat kamu, Intan. Kalau kita punya komunitas impianmu itu,
aku mau deh jadi lurahnya.” Aku memukul
lengan Mas Gigih, entah kapan impian ini bakal terwujud.
Waktu
terus berlalu. Pendidikanku pun
mengiringi langkahku bersama umur yang terus bertambah. Di usia ke-17 aku
menginjakkan kaki ke sebuah institut ternama di Bogor, IPB. Saat pertama kali harus mandiri dan berpisah
dari orang tua aku masih belum mau mengenal hal lain selain fokus pada kuliah.
Perkenalanku
dengan senior membuatku ingin menambah aktifitas lain di kampus, kegiatan yang
aku senangi adalah memperdalam pemahaman agama.
Aku sering kali mengikuti banyak majelis, dari kajian ke kajian dari masjid ke masjid bahkan
dari pesantren ke pesantren.
Siang
itu pukul sepuluh pagi, bulan Oktober, Aku dan Asmi berjalan gontai selepas
pulang kajian dan kami terlibat perbincangan serius.
“Ilmu
yang bermanfaat itu, walaupun sedikit kita bisa amalkan, Asmi. Tapi aku pikir
hanya sebatas fardhu ‘ain yang bisa kita lakukan.”
“Bukankah
kita biasa melakukan fardhu kifayah seperti mengurus jenazah, memilih pemimpin
di kalangan orang-orang beriman?”
“Kamu
lupa bahwa berekonomi secara syariah, memproduksi barang-barang kebutuhan
ummat, juga termasuk kewajiban yang harus dipenuhi di antara mukmin.” Aku memulai diskusi serius dengan teman
karibku itu.
“Sabar,
Wulan. Nggak mudah mengamalkan semua
yang kita tahu. Tapi Allah menghibur kita laa yukalifullahu nafsan Illaa
wusahaa.” Asmi menimpali pendapatku.
“Menurutku
semua akan mudah seandainya kita punya komunitas khusus. Bukankah saat individunya baik, sebuah
keluarga akan baik.
Keluarga-keluarga yang baik akan
membentuk masyarakat yang baik. Sebenarnya kuncinya ada pada komunitas.”
Kami
asik dengan pembahasan kajian pagi
tadi. Tiba-tiba pandanganku tercekat
pada spanduk berdiri tegak menantang dua meter di hadapan kami. “Hadirilah
pameran peradaban Islam di gedung Pascasarjana, Magister Manajemen
Baranangsiang Bogor, 11-15 Desember, buka 08.00 tutup 21.00.” Aku mengeja
harisan huruf di spanduk itu. Kemudian
berhenti sejenak.
“Sepertinya
cocok dengan diskusi kita kali ini, Wulan.
Sebaiknya kita singgah dulu dan kita sambangi pamerannya,” ungkapam Asmi
riang.
Kami
segera menuju gedung paskasarjana yang jaraknya tak lebih dari lima puluh
meter. Kami asik mengamati stan demi
stan, mulai dari pondok pesantren, yayasan hingga ormas. Ada satu stan yang sangat menarik
perhatianku.
“Asmi,
yuk kita ke Stan Darul Qiyam!” Aku
menunjuk satu stan yang dijaga oleh tiga orang ikhwan dengan penampilan sangat
eksklusif. Mereka menggenakan baju gamis
berbahan safari. Tampak gagah dengan
seban, celak mata dan memelihara jenggot.
Ingatanku
pada kajian Kitab Syamail karya Imam Attirmizi.
Kitab yang menceritakan gerak-gerik, perilaku dan penampilan Rasulullah
SAW, seakan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari para pemuda itu.
Aku
dan Asmi mulai melihat-lihat produk yang dipamerkan. Ada majalah, produk audio visual, buletin,
saus, kecap, gula, pembalut, toileter lengkap, roti, tepung gandum semua
bermerek sama “Darul Qiyam Alghuraba”.
Terus terang aku takjub,
masyaallah, fardhu kifayah itu seakan tertunai di Yayasan Darul Qiyam
Indonesia.
“Afwan
Akhi, boleh saya melihat-lihat buku ini?” tanyaku pada salah seorang pemuda
penjaga stan.
“Tentu
saja boleh, Ukhti, tafadholi.” Jawaban ramah
itu begitu mengesankan.
Aku
mulai membuka satu persatu lembaran itu dan aku melihat semua obsesiku tentang
sistem Islam kaffah ada di sana. Empat
puluh tiga perkampungan yang aku diskusikan dengan Mas Gigih seakan menjelma di
depan mata. Aku sangat ingin bergabung,
berjuang bersama mereka. Dan perjuangan
awal itu adalah membeli semua produk mereka sesuai kekuatan keuangan yang aku
punya.
Sebuah
kartu nama aku dapat dari mereka. Aku
harus berkunjung ke wisma mereka.
Kunjungan pertama aku lakukan sebulan setelah pameran itu, masih bersama
sahabat karibku, Asmi. Kunjungan ini membuat cintaku makin dalam. Taharah mereka begitu sempurna. Hampir tidak ada satu sudut pun yang tidak
terbebas dari najis. Kamar mandi pun
sangat bersih dan ada sepasang sandal khusus di dalamnya.
Nasihat
kebaikan terpampang dengan cara yang elegan.
Tiap ruangan di wisma itu dipenuhi carta-carta perkembangan dakwah
mereka. Tiap pengunjung dapat membaca
kutipan Alquran, Hadis atau nasihat pemimpin mereka yang mereka sebut dengan
The Mind of Abuya.
Cara
mereka menerima tamu sangat istimewa.
Tidak pernah aku berkunjung kecuali pulang dalam keadaan kenyang. Jamuan makan bersama dalam satu talam dengan
menggunakan tangan. Setiap kali makan
selalu diawali dengan doa bersama. Menjilat
butiran garam menjadi pembuka yang tak pernah terlewatkan. Lagi-lagi ingatan pada cara hidup Rasulullah
SAW melintas nyata.
Dua tahun aku merawat cinta ini pada
perjuangan mereka, tiba-tiba berita duka menyapa. “Abuya dijemput paksa oleh polisi kerajaan di
Thailand, setelah tiga tahun lebih tidak boleh memasuki Malaysia. Dengan menggunakan helikopter Abuya dibawa
dan ditahan tanpa proses peradilan.
Semua aset diambil, semua perkampungan ditutup. Yang paling menyedihkan apa yang dicontohkan
Abuya sebagai pengamalan terhadap sunah Rasulullah SAW dinyatakan sebagai
ajaran sesat dan organisasinya dilarang.”
Penjelasan Ustaz Fadillah,
pemimpin kami di wilayah membuat hati kami tersayat-sayat. Kepingannya terbutai bersama air mata yang
pecah.
Inikah sabda Rasulullah SAW bahwa
salah satu fase yang akan dialami ummat Islam adalah fase mulkan jabariyan,
pemimpin diktator yang memaksakan kuasanya atas rakyat yang tak berdaya tanpa
senjata? Bukankah Abuya penganut aqidah Asyariyah,
fiqih Syafiiyah, tasawuf Ghazaliyah dan pengamal salah satu tariqat
muktabarah? Dakwah bilhal yang lemah
lembutdan taat aturan negara itu harus kandas dengan cap ‘sesat’. Bukankah menyesatkan apa yang disampaikannya
berarti menyesatkan jumhur kaum muslimin? Andai saja cinta itu bisa menyatukan, menganggap perbedaan sebagai rahmat tentu
saling menyesatkan tidak akan pernah terjadi di antara sesama ahli kiblat.
***
Aku mengayun langkahku dengan
kepasrahan. Cinta yang bersemayam di
hati ini tak pernah padam. Berpisah dengan
Darul Qiyam bukan berarti aku harus menanggalkan rasa cinta. Justru cinta ini makin dalam. Aku terus berusaha mengenal dan berukhuwah
dengan jamaah minal muslimin.
Berbagai pergerakan aku pelajari dan aku datangi. Kenikmatan ukhuwah dan obat dari ashobiyah
aku dapati dengan cara ini. Aku
berusaha membedakan antara perbedaan yang merupakan rahmat dan penyimpangan
yang dilarang agama. Membedakan antara
perbedaan dalam ushul yang dilarang dan perbedaan furuk yang
masih diperbolehkan.
Lagi-lagi cinta itu berlabuh pada
sosok kedua setelah Abuya. Abuya tetap
mursyidku yang tak tergantikan tapi keluasan cintaku pada zuriyat Rasulullah
menambatkan cinta ini pada Habibanaa.
Saat itu di tahun 2006 aku sedang
meniti puncak karirku di sebuah pesantren.
Mendampingi suami sebagai pengasuh di sana. Aku sendiri diamanahi untuk mengatur
kurikulum pendidikan. Seorang dai
ilallah kami undang untuk menyampaikan orasinya. Susunan pembicaraannya sangat aku sukai,
menyampaikan dalil ilmu, mengungkapkan permasalahan kontemporer yang
bertentangan dengan dalil kemudian menyampaikan solusi yang harus diambil
sesuai dalil yang menjadi pijakan dalam bersikap.
Semua permasalahan terkini tidak
luput dari sentilannya yang mendidik.
Keberaniannya menyentuh tiap lini kehidupan menandakan keikhlasan
perjuangannya. Aku makin asik menyelami
kedalaman ilmu yang disampaikannya. Bila
kabar tentang acara tablighnyakami dengar maka kami akan datang selama
jarak masih terjangkau.
Puncak dari perjuangannya masih
sangat terkenang pada tiga aksi pembelaan agama. Masih dengan tiga fase orasi yang sangat
mengesankan. Dalil agama, permasalahan
dan diakhiri dengan pemecahan terhadap masalah sesuai dalil yang ditunjukkan
oleh Allah dan Rasul-Nya.
“Bun, ada aksi di Jakarta dua hari
ke depan. Kita siap-siap berangkat,
ya?” Ajak suamiku sehabis mengajar
sebelum Asar.
“Aksi apa, Ayah?” Aku yang belum berselancar di dunia maya
keheranan.
“Ayah share kegiatan dari grup. Tunggu sebentar.” Aku tak sabar melihat flyer yang akan dikirim
suami melalui WA.
Aku mengeja satu per satu barisan
huruf di layar pendar gawaiku. Kami
langsung sepakat untuk mengikuti Aksi Bela Islam tanggal 2 bulan 12 itu.
Atribut lengkap sudah kami siapkan
baju putih dan bendera tauhid.
“Bun, kita naik bis aja. Soalnya kalau memakai kendaraan pribadi akan
sangat padat di Jakarta”.
“Bunda setuju, Yah. Lagi pula Ayah nggak bakalan kecapaian kalau
naik bis.”
Beangkat sekitar pukul sebelas malam
menggunakan bis dari depan gerbang pesantren.
Kami ingin sekali mengajak para santri, tapi mereka sedang menghadapi
ujian lisan semester gasal. Sepanjang
perjalanan kami memantau keadaan melalui berita di internet. Alhamdulillah nampaknya semua berjalan aman
dan terkendali. Sungguh untuk aksi
sebesar ini ada rahmat yang Allah karuniakan untuk Indonesia.
Menjelang Jum’at aku terpisah dari
suami karena aku harus bersatu dengan barisan jemaah wanita. Komunikasi lewat gawai kami pastikan selalu
on. Aku tak mampu melihat semua yang
terjadi di podium secara langsung. Live Streaming
membantuku melihat apa yang terjadi di depan sana.
Di luar dugaan yang memberi khutbah
adalah Habibanaa. Rasa cinta pada zuriat
Rasulullah SAW bembungakan hatiku. Pesan
Habibana sangat berkesan bagi siapa saja yang meluruskan hati untuk Allah dan
Rasul-Nya:
“Ayat suci harus berada di atas
ayat konstitusi, ayat konstitusi tidak boleh bertentangan dengan ayat
suci. Karena ayat suci adalah kalam
ilahi, ayat suci adalah firman ilahi. Sehingga
menjadi harga mati untuk dipatuhi, untuk ditaati, tidak boleh diganti, tidak
boleh direvisi. Sedangkan ayat
konstitusi adalah produk akal bashari, produk akal insani, sehingga tidak boleh
bertentangan dengan ayat suci, Ibadallah”.
Keistiqamahan habibana tak tergantikan oleh dunia dan seisinya. Dimanapun, kapanpun, di hadapan siapapun
Habibanaa akan selalu menyuarakan kebenaran tapa rasa takut pada siapapun. Rasa takutnya hanya untuk Allah semata.
Seusai acara, semua peserta aksi
membubarkan diri dengan tertib. Sungguh
ajaib tidak lebih dari setengah jam, semua keadaan kembali bersih seakan tidak
ada acara besar yang baru saja terjadi di sini.
Sambil menunggu suami, aku berbincang dengan seseorang perempuan yang
sangat menggelitik hatiku. Ia tidak
berhijab, rambutnya bercat keemasan dan dari matanya aku tahu dia bukanlah
pribumi.
“Mohon
maaf, sepertinya anda mualaf?” Aku
bertanya hati-hati.
“Bukan,
saya Kristiani”.
“Boleh
tahu alasan anda ikut aksi?”
“Sudah
lama saya simpati dengan gerak anak muda berseragam putih-putih itu. Waktu kampung kami kebanjiran, kami menunggu
dievakuasi. Ternyata yang mengevakuasi
kami anak-anak muda itu. Sunyum mereka
tulus, gerak mereka sigap, serius dalam menolong siapapun. Baru kali itu keluarga kami diperlakukan
begitu baik. Selepas evakuasi, kami
ditampung di posko mereka. Kami dilayani
dengan penuh kasih. Saya rasa apa yang
mereka perjuangkan benar. Sesama anak
bangsa tidak boleh ada saling hina dan saling merendahkan. Apalagi berkaitan dengan kitab suci Tuhan.”
***
Hiruk pikuk di
penghujung tahun ini mengingatkanku pada goresan luka lama. Patahan hati ini masih terasa begitu
pilu. Pembantaian enam syuhada,
penangkapan Habibanaa, pembubaran ormas Islam tanpa dialog dan proses demokratis
kembali mengiris hatiku. Air mata
kesedihan seakan belum mau berhenti dari sudut mataku.
Ternyata mengagungkan cinta, harus ditebus dengan duka lara, tetapi
akan tetap kuhayati, hikmah sakit hati ini, telah sempurnakan kekejamanmu (Ebit G. Ade). Syair itu
kembali menyadarkanku bahwa cinta selalu
meminta pengorbanan, seumpama iman yang meminta pembuktian.
NubarArea_MenitiJalanHijrah
SELALU ADA PINTU BERTAUBAT_Kadijah Hanif
Aku tertegun melihat sosok di depanku ini,Mbak
Lastri. Tiga puluh tahun lebih kami
tidak bertemu, terpisah oleh garis takdir masing-masing yang harus kami
lalui. Kini saat Idul Fitri menyapa
kembali, kami bertemu dalam keharuan dan kerinduan.
Pertemuan yang mengharukan. Ada kesedihan atas masa lalu yang kelam. Ada kebahagiaan atas perubahan penampilan
yang menunjukkan tanda-tanda hijrah Mbak Lastri.
“Ini Mbak Lastri?
Ya Allah, tambah cantik Mbak, awet muda lagi. Kayak nggak berubah.”
Mbak Lastri tersipu malu dengan pujianku. Setelan hijab syari berwarna ungu muda
membuatnya tampak segar, tanpa saputan kosmetik di wajah ayunya. Kemudian aku teringat segala kenangan masa
lalu itu.
***
“Las, luwih becik ra sah bali. Kamu tiap pulang selalu menangis nggak jelas
terus minta uang sama Emak. Kalau cuma
seratus dua ratus ribu, Emak juga masih bisa ngasih kamu bekel. Ini lima belas juta dari mana Emak mesti
cari?” Makde Narti mulai marah dengan
sikap Mbak Lastri yang tak kunjung berubah.
Anak angkat Makde Narti ini masih kerabat dekatku
juga. Mbak Lastri kakak sepupuku dari
pihak ibu. Sementara makde kakak
ayahku. Aku juga sering menemani makde
dan Mbak Lastri saat hari libur sekolah.
Atau sambil lewat aku biasa mampir ke rumahnya sepulang sekolah.
“Nadia, alhamdulillah kamu datang. Tolong temani Makde ya, Mbakyumu iku kumat
maneh edane. Bola bali minggat
ninggal anak bojo. Wis ora urus banget.” Aku setia mendengarkan keluhan Makde Narti.
“Kalau Nadia boleh tahu, kenapa Mbak Lastri pergi tanpa
izin, Makde?”
“Dia punya laki-laki lain. Sesuatu yang memalukan. Makde wanti-wanti kamu tidak boleh ikut jejak
Lastri, ya. Kamu harus sekolah sampai tinggi,
belajar agama dan amalkan. Jangan sampai
seperti Lastri. Aku sekolahkan sampai
PGA tapi sedikitpun kelakuannya tak berpijak dengan ilmu yang diketahuinya. Sejak Pakde Harun meninggal, Lastri makin
berani.”
Aku tak habis pikir, Mas Danang suami Mbak Lastri adalah
tipe laki-laki yang setia. Sudah tiga
kali Mbak Lastri mengkhianatinya tapi PNS di sebuah kantor kabupaten itu tetap
setia. Bahkan Mas Danang sanggup
membantu makde untuk menggarap tanah
yang luasnya tidak kurang dari tiga hektar itu. Buat makde, Mas Danang adalah penghibur lara
karena perilaku Mbak Lastri. Bagai bumi
dengan langit.
“Barangkali Mbak Lastri pernah kecewa atau punya harapan
yang tak terpenuhi?” tanyaku
memberanikan diri.
Makde diam sejenak.
“Dulu saat pakde masih ada, dia keras dalam mendidik anak. Semua keputusan terbaik selalu ia usahakan
untuk kami. Seorang pemuda kaya dan
rupawan melamar Lastri. Karena perilaku
pemuda itu kurang baik, bapak langsung menolak pemuda itu. Sepertinya Lastri sangat terpukul. Sebagai gantinya, bapak mencarikan jodoh buat
Lastri. Qadarullah, Dananglah jodoh
Lastri.”
Seandainya Mbak Lastri menghadapi semua dengan iman,
tentu dia tidak akan menyalahkan siapapun.
Bukankah segala sesuatu berlaku atas kehendak dan izin Allah SWT?
Jangankan peristiwa besar yang dihadapi makhluk bernama manusia. Daun jatuh
hingga debu beterbangan pun dalam pengetahuan Allah. Manusia sebagai
makhluk-Nya hanya diwajibkan berikhtiar sebaik mungkin dan berserah terhadap
takdir seikhlas mungkin.
Kalau aku ada di posisi Mbak Lastri aku akan sangat
bersyukur. Mas Danang orang yang sangat penyabar. Ia telah beberapa kali ditinggal pergi Mbak
Lastri. Namun Mas Danang tetap mau
mengurus empat anaknya.
Hingga satu ketika....
"Mak, saya mohon maaf. Saya tidak mampu mendidik Lastri. Sebagai suami saya kurang tegas. Dia tidak mau mendengar kata-kata saya
lagi." Mas Danang menyela
perbincangan kami.
"Maksud kamu gimana, Nang? Kamu mau menyudahi pernikahannya dengan
Lastri?
Mas Danang hanya terdiam, tertunduk dalam.
"Kamu tega samaEmak? Emak ndak punya siapa-siapa
lagi..” Air mata Makde Narti tak
terbendung.Mengiris hati siapapun yang
mendengarnya. Aku bisa merasakan
kekhawatiran atas kesendirian yang menghantui masa senjanya.
"Bukannya saya nggak mau menemani Emak. Saya berat melepaskan ikatan ini. Tapi kehadiran saya hanya memperburuk sifat
Dik Lastri. Seandainya saya nggak egois
memiliki Dik Lastri saat itu mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini."
"Mohon maaf, Mas.
Bukannya Nadia ingin campur tangan.
Nadia hanya nggak tega sama Makde Narti juga anak-anak. Luki, Sandi, Nabila dan Marsya masih butuh
ayahnya. Keadaan mereka tetap akan lebih
baik dengan kehadiran Mas Danang meskipun tanpa Mbak Lastri."
Aku berharap perbincangan kamisetidaknyasedikit menahan
niatan Mas Danang untuk menyudahi pernikahannya. Namun kebutuhan orang dewasa yang saat itu
belum aku pahami, tetap memaksa Mas Danang menceraikan Mbak Lastri. Semua keluarga besar kami merasa sedih dan
menyayangkan peristiwa ini. Kehilangan
Mr. Perfect adalah musibah. Selama ini
Mas Danang menjadi perekat di antara kami.
Sikapnya yang santun, pembawaannya yang supel juga wajah yang tak kalah
rupawan dengan mantan Mbak Lastri.
Sebenarnya deretan kelebihan Mas Danang lebih dari cukup buat Mbak
Lastri mencintai Mas Danang dengan sepenuh hati.
"Silahkan kalian berpisah, tapi anak-anak harus sama
aku. Biar semua aku yang
tanggung." Makde Narti menghadapi
Mas Danang dan Mbak Lastri dengan amarah.
Keputusan pengadilan menyatakan bahwa Mbak Lastri
dianggap tidak akan mampu mendidik anak-anaknya dengan baik. Hak asuh diberikan pada Mas Danang, kecuali
Luki. Luki lebih memilih ibunya. Aku melihat ada kemiripan sikap antara mereka
berdua
“Lastri, kelakuan kamu sudah tidak bisa Emak terima. Sebagai anak angkat kamu sudah
keterlaluan. Mau saja kamu diperas sama
Samsul. Suami macam apa dia. Otak kamu ini sudah miring ya? Danang yang baik luar biasa kamu
sia-siakan. Samsul yang lebih mirip
bajungan itu kamu pelihara? Lihat ini
sawah Emak tinggal tiga petak lagi.”
Emak menunjukkan sertifikat tanah yang masih tersisa.
“Emak baru sadar, ya?
Aku siap keluar dari rumah ini.
Lagi pula harta Emak sudah habis.
Nggak ada yang bisa diharapkan lagi.”
Mbak Lastri benar-benar lebih mirip monster pemeras ketimbang anak yang
harusnya berbakti pada orang tua.
“Sekarang juga kamu harus keluar dari rumah ini. Bawa Luki sekalian. Aku sudah tak sanggup menghadapi sifat buruk
kalian.” Makde Narti seakan mendapatkan
kesadaran baru bahwa harta dan harga dirinya sudah diinjak-injak oleh anak
angkatnya itu.
“Iya Mak, aku akan segera pergi. Lagi pula sudah ada Nadia di sini. Tentu dia akan lebih bisa membahagiakan
Emak.” Cara Mbak Lastri menatapku
menunjukkan kemarahannya. Aku mencoba
tersenyum tapi wajahnya berpaling.
Sejak kepergiannya senja itu, kami tak pernah bertemu
laki dengan Mbak Lastri. Yang ada hanya
kabar miring tentang Mbak Lastri dan Luki.
Kawin cerai dan berganti-ganti pasangan menjadi aib bagi kami. Belum lagi Luki yang mengikuti jejak Mbak
Lastri makin mencoreng nama baik keluarga besar kami.
***
“Mbak, maafin Nadia, ya.
Nadia takut Mbak Lastri marah sama aku.
“Kamu nggak salah, Nad.
Justru aku berterima kasih kamu mau njagain Emak selepas kepergianku.
“Kalau Mbak Lastri nggak keberatan, boleh dong ceritain
aku sampai Mbak Lastri bisa berhijrah.”
Aku memasang muka serius untuk mencari tahu proses Mbak Lastri dalam
menemukan kesadaran.
“Aku dan Luki pergi ke kota sore itu, setelah Emak
mengusir kami. Aku numpang hidup di
rumah seorang bos pembuat minuman keras.
Bukan hanya minuman keras tapi juga pembuat pil-pil narkoba. Aku menjadi salah satu karyawannya. Suatu ketika sweeping laskar ormas Islam
berpakaian serba putih menggerebek tempat usaha kami. Luki yang menghalangi kedatangan mereka
terciduk dan dibawa ke basecamp mereka.
Karena takut terjadi apa-apa dengan Luki, aku menjemputnya untuk di bawa
pulang.”
Aku tertegun dengan cerita Mbak Lastri. Kudengar dengan cermat kisahnya. Aku tahu persis laskar itu, bahkan aku
sekarang sering bergabung dengan majelis-majelis mereka. Aku turut hadir dari tabligh akbarke tabligh
akbaryang menampilkan mubaligh mereka. Saat Habibanaa hadir aku tidak akan pernah
melewatkan nasihatnya.
“Terus Mbak Lastri bergabung dengan mereka?”
“Aku tidak langsung belajar dari mereka tapi aku mulai
nyaman saat berbincang dengan para mujahidah.
Apa yang mereka ucapkan mengingatkan aku pada masa-masa aku masih
sekolah di PGA. Keresahanku pada perilaku
Luki juga membulatkan tekatku bahwa aku harus berubah. Ajakan para mujahidah itu memberikan peranan
penting munculnya kesadaran batinku.”
Aku memeluk Mbak Lastri erat-erat. “Bersyukurlah pada Allah, Mbak. Dia Maha Menerima Taubat. Meskipun dosa kita seumpama pasir di lautan dan
ditambah lagi dengan dosa seluruh manusia maka ampunanNya lebih luas dari semua
itu. Kecuali dosa menyekutukan Dia
dengan sesembahan yang lain.”
“Hanya satu yang membuatku bimbang, Nadia. Apakah Emak sudah mengikhlaskan
kesalahanku. Aku hanya punya doa buat
Emak.” Butiran bening menganak sungai, membasahi
pipi Mbak Lastri.
“Waktu Makde Narti meninggal, ibuku yang merawat
beliau. Ibu yang membimbing makde sampai
hembusan napas terakhir, agar makde bisa melafazkan kalimah tayibah. Ibu juga sering mengingatkan makde untuk
mengikhlaskan siapapun yang pernah berbuat salah pada makde. Alhamdulillah makde sempat mendoakan Mbak
Lastri supaya selalu dalam bimbingan Allah SWT.
Mbak Lastri bisa menebus kesalahan dengan meniatkan pahala amal baik
Mbak buat Emak. Jangan lupa untuk terus
mendoakan Emak. Insyaallah sampai,
Mbak.”
Mbak Lastri tersenyum manis sekali. Kami yakin kemaafan Makde Narti turut
memudahkan jalan hijrah Mbak Lastri.
“Nadia, anter Mbak Lastri ke makam Emak, ya. Sekarang.”
Mbak Lastri menghela napas lega bersama runtuhnya beban dosa pada makde
selama ini.
Glossarium:
1.
“Las, luwih becik ra sah bali=Las,
lebih baik nggak usah pulang.
2. Mbakyumu iku
kumat maneh edane. Bola bali minggat
ninggal anak bojo. Jan ora urus banget= Kakakmu itu kambuh gilanya. Berkali-kali meninggalkan anak dan suami. Benar-benar nggak peduli.
NubarArea_DesemberTersenyum_
KADO BUAT UMMI_Khadijah Hanif
Hujan rintik-rintik
mengguyur seantero kota. Jam lima sore
terasa lebih senja daripada biasanya.
Sosok berkepala empat dengan gamis biru tua mulai menutup toko yang
sudah sepi pembeli. Saat Ummi Kania
hendak menutup toko buku dan busana muslimnya, ia terhenyak dengan suara
tangisan yang memilukan.
Seorang gadis berbaju lusuh duduk melipat muka diantara
dua lututnya. Pakaian berbahan kaosnya
robek di sana-sini.
“Neng, kenapa kamu ada di sini sendirian? Ayo ikut ummi ke dalam!” ajak Ummi Kania
penuh kasih sayang. Jiwa keibuannya tak
mampu membiarkan sesosok gadis kecil itu bersedih tanpa pembelaan.
Gadis kecil itu hanya terpaku. Mendongakkan sebagian wajahnya kemudian
tertunduk lagi.
“Kamu jangan takut dan khawatir, Ummi hanya ingin
membuatmu tidak sendirian lagi. Nanti
kita saling bercerita banyak hal di dalam rumah Ummi. Siapa namamu, Neng?”
Anak itu tidak segera menjawab, kemudian suara lirih
keluar dari mulut mungilnya, ”Sil...Silsa, Bu!”
Satu perkembangan yang bagus saat gadis kecil itu mulai percaya pada
Ummi Kania.
Beberapa kali Ummi Kania menemukan anak-anak jalanan di
depan tokonya. Semampunya, ia menampung
mereka di lantai dua rukonya. Sejak suami
dan anak-anaknya meninggal akibat bencana longsor yang menimbun kampungnya,
Ummi Kania memilih merantau ke kota menyewa ruko dan mengisi harinya untuk
menampung mereka yang menderita.
Kali ini Silsa Salsabila menjadi anak asuhnya. Beberapa anak diasuhnya hingga dewasa. Sebagian dititipkannya ke panti asuhan jika
tak sebanding dengan kemampuan ekonominya.
Ada juga yang dikirim ke pesantren
untuk menempuh pendidikan.
“Silsa, hari ini Silsa harus ikut apapun yang sedang Ummi
lakukan. Siap?” tanya Ummi Kania pada Silsa.
“Siap Ummi. Silsa
akan jadi anak manis buat Ummi.” Silsa
kini berusia lima belas tahun. Tiga
tahun bertambah usianya sejak ditemukan di depan toko sore itu.
“Kita akan belajar berwirausaha. Membuat cilok dan menjualnya. Nanti keuntungannya Silsa tabung buat
persiapan masuk pesantren tahun depan.”
Ummi Kania terus berusaha menyemangati Silsa untuk mau memulai usaha
baru mereka.
“Ummi, di mana garamnya?”
“Itu di keranjang bumbu.”
Ummi Kania menjawab tanpa melihat kembali bubuk putih terbungkus plastik
yang diambil Silsa.
Mereka memyelesaikan pekerjaan di dapur diiringi canda
tawa penuh keceriaan.
“Nah, kini saatnya kita mencicipi barang dagangan kita,
Silsa.” Ummi mengambil satu bulatan
cilok hasil karya mereka. Ada ekspresi
aneh dari wajah Ummi Kania. “Kok
ciloknya manis?Apanya yang salah ya?
Coba mana tadi garam yang kita pakai, Silsa?”
Silsa segera mengambil bubuk putih di keranjang bumbu di
dapur. “Ini, Ummi.”
“Masyaallah, ini mah gula halus. Pantesan manis.” Mereka tertawa menanggapi kekonyolan mereka
pagi ini.
Sejak kaca mata Ummi pecah beberapa bulan lalu, ada saja
kerepotan yang mereka hadapi. Penyakit
mata minus Ummi yang sudah sampai angka lima menjadi masalah serius buat
mereka. Beruntungnya, sejak kejadian itu,
Silsa selalu meneliti apapun yang diminta oleh ummi. Mulai dari tepung tapioka, tepung terigu,
garam, gula dan barang-barang yang digunakannya. Khawatir ummi salah pengelihatan.
Cilok spesial buatan mereka berdua sudah siap dalam kemasan pagi ini. Cilok isi bervariasi, mulai bumbu
kacang hingga sosis dan daging ayam.
Dengan kuah bening dan orak-arik telor membuat cilok mereka cepat
dikenal sebagi cilok sehat dan bergizi.
Di masa pandemi Silsa punya banyak waktu luang untuk
berjualan di sela-sela belajar daringnya “Cilok isi kuah, cilok
isi kuah. Dibeli dibeli harga
murah. Terjangkau kantong, enak sekali,
hanya dua ribu sebungkus.” Tanpa lelah
Silsa menjajakan cilok tiap pagi. Pukul
sepuluh biasanya cilok Silsa sudah habis tak bersisa. Ia segera pulang dan memberikan seluruh uang
pada Ummi Kania.
“Silsa, ini dua puluh ribu simpan di kaleng tabunganmu,
ya!” .
“Siap Ummi. Tapi
Ummi, ini bukan dua puluh ribu.” Silsa
menyerahkan lembaran uanga di tangannya.
“Aduh, maaf. Mata
Ummi tambah rabun. Jangan-jangan Ummi
salah memilah uang kita di brangkas.
Innalillahi wainna ilaihi raaji’uun.“
Ummi teringat uang yang dipakainya buat kembalian dua ribuan. Khawatir tertukar dengan lembaran dua puluh
ribuan.
Mereka segera memeriksa brangkas uang, dan benar saja
Ummi Kania salah memisahkan uangnya.
Mereka berdua sibuk menghitung uang yang seharusnya ada di brangkas.
“Ya Allah, Ummi rugi lima ratus ribu, Silsa.” Ummi Kania tampak kecewa dengan
keteledorannya kali ini. Mungkin sudah
beberapa kali Ummi salah memberikan uang kembalian.
“Sabar Ummi, nanti pasti bakal Allah ganti yang lebih
banyak.” Silsa berusaha menghibur.
Hari-hari berlalu.
Ummi terlihat makin berusaha teliti dalam segala hal. Dipicingkannya mata saat mengamati
apapun. Ummi tidak mau kesalahan serupa
terulang kembali.
Usaha mereka semakin besar bahkan keuntungan berjualan
makanan melebihi keuntungan toko. Silsa
sudah mulai mendagangkan cilok mereka secara online. Sebagian dibekukan di kulkas. Toko-toko frozen mulai mereka rambah untuk mendongkrak
penghasilan.
Siang ini mendung menggantung di langit kota. Hujan tak juga turun membuat udara gerah
memaksa keringat Silsa jatuh satu-satu.
Dibukanya album kenangan keluarga Ummi Kania. Keluarga utuh mereka lebih dua puluh tahun
silam. Sebuah keluarga yang utuh dan
bahagia. Abi dan dua anak Ummi yang
masih balita. Ada satu foto yang menarik
hatinya. Sebuah acara pesta kecil ulang
tahun Ummi Kania. Di pojok kanan bawah
foto bertuliskan sebelas Desember.
“Wah, ulang tahun ummi tanggal sebelas Desember
kah?” Silsa bergumam sendiri. “Aku mau kasih kejutan buat Ummi.” Silsa melonjak kegirangan, masuk ke kamar
tidurnya dan mengunci pintu dari dalam.
Silsa menjajarkan tiga kaleng tabungan hasil dagangnya
selama delapan bulan. Dihitungnya satu
persatu lembaran uang itu dua puluh, sepuluh, lima, dua dan seribuan.
“Enam ratus dua puluh tiga ribu.”
Silsa membuka gadget pemberian Ummi Kania karena
berhasil menjadi tiga terbaik di sekolahnya.
Belanja online menjadi sasaran selancarnya kali ini. Pandangannya tertumpu pada sebingkai kaca
mata minus. Silsa segera memesan kaca
mata itu melalui nomor wa yang tertera pada toko online. Dia lebih senang sistem bayar di tempat daripada
sistem transfer.
“Pesanan bersifat segera tolong jangan lewat dari tanggal
sepuluh Desember ini. Soalnya aku mau
ngasih kejutan buat Ummi aku di tanggal sebelas. Aku harus ngemas kadonya sebelum hari H.”
Pesanan Silsa segera disetujui dan dikemas. Menurut info dari toko online, pesanan akan
sampai dalam dua hari. Menunggu waktu
pesanan datang cukup membosankan buat Silsa, apalagi ia ingin memberikan hadiah
itu tepat tanggal sebelas.
Berulang kali Silsa membuka pelacakan pesanan. Tanggal sepuluh pesanan itu justru ada di
sebuah kota di Jawa Tengah.
“Ya Allah kapan sampainya kalau begini.” Silsa geregetan dan melempar gadgetnya ke
atas tempat tidur. Ia keluar kamar dan
mengerjakan apa saja buat melupakan kegelisahannya.
“Silsa, dari tadi kamu bolak-balik kamar seperti orang
gelisah. Kalau ada masalah bilang aja
sama Ummi. Jangan suka memendam
masalah.” Ummi mendekati Silsa dan
membelai rambutnya.
“Nggak kenapa-kenapa Ummi. Silsa cuman sakit perut. Jadinya pingin ke toilet melulu.”
“Makanya harus jaga makanan, Neng. Jangan terlalu pedas. Nggak baik buat gadis, lho!”
Silsa hanya tersenyum simpul.
Setelah hampir tiap jam Silsa membuka kembali pelacakan
barang pesanan, akhirnya . Jam dua siang
ia merasa lega barang pesanan sudah sampai ke pusat kota.
“Silsa, ini ada paket pesanan kamu, Neng!” Suara Ummi Kania dari arah toko bukunya.
“Iya, Ummi, Silsa segera datang!” Silsa meloncat kegirangan, kejutan buat Ummi
akan segera ia serahkan.
Ummi Kania yang sedang melayani pembeli tidak banyak
bertanya tentang paket barang yang
dibeli Silsa Ummi hanya
menanyakan barang apa yang dipesan Silsa tanpa memerhatikan jawaban Silsa.
Silsa segera membuka kemasan barang pesanannya. Kertas
kado bermotif love warna pink ditatanya membungkus sebentuk wadah kristal
berwarna hitam transparan. Disisipkannya
selembar kertas berwarna gradasi pink biru.
Buat Yang Tersayang....
Ummiku
Ummi, terimakasih sudah mengajak Silsa tinggal bersama
Ummi. Ummi didik Silsa untuk mengaji,
belajar salat dan semuanya. Ummi
mencukupi segala keperluan Silsa hingga Silsa tidak kedinginan lagi di luar sana. Hingga Silsa nggak kelaparan lagi.
Tidak ada yang bisa Silsa balaskan buat Ummi kecuali doa
dan sedikit bingkisan tak berharga ini.
Mohon Ummi pakai supaya Ummi nggak susah dan salah pengelihatan
lagi. Semoga nyaman dan cocok.
Semoga Allah SWT melindungi Ummi, mengaruniakan pada Ummi
rejeki yang berkah dan berlimpah.
Mohon maaf Silsa nggak minta izin Ummi dulu manfaatin
tabungan hasil dagang Silsa buat beli kaca mata ini.
Yang sayang Ummi
Silsa Salsabila
Kado di tangan Silsa
tampak rapih dan cantik, dililit pita biru tua di bagian tengahnya. Perlahan ia melangkah menuruni tangga ke
lantai bawah. Mencermati apakah di toko
Ummi sedang tidak melayani pembeli.
Dilihatnya Ummi Kania sedang tenggelam dalam bacaan Alquran yang merdu.
“Ummi, bisa ganggu sebentar?”
ucap Silsa hati-hati.
“Tentu saja bisa,
Neng.” Ummi membalas lembut.
“Barakallah fiiumriki,
Ummi.”
Ummi Kania terkejut dengan
ucapan ulang tahun yang hampir tiga puluh tahun tak menyambanginya. Ada lapisan bening di matanya yang akhirnya
tumpah juga. Ingatannya menyisir
peristiwa-peristiwa silam. Saat ia belum
sebatang kara.
“Seandainya mereka masih
ada, anak bungsu Ummi sudah sebesar kamu, Neng.
Terima kasih udah mau temenin Ummi di usia Ummi yang makin tua. Kita akan terus bersama sampai kamu menemukan
pasangan dan berumah tangga.” Ummi Kania
memeluk erat satu-satunya orang terdekat yang menemani usia senjanya.
Perlahan dibukanya
bingkisan cantik itu.
“Masyaallah, kaca
mata! Bagus sekali Silsa. Pasti ini mahal.” Ummi membuka kotak kristal dan memakai kaca
mata itu.
“Nggak mahal Ummi. Nggak sebanding dengan kasih sayang Ummi buat
Silsa.”
Ummi mengitarkan
pandangannya ke sekeliling ruangan. “Enak banget Silsa. Kaca mata ini cocok buat mata minus Ummi.”
Sekali lagi mereka berpelukan
saling melantunkan doa dan harapan indah tentang masa depan, tentang kehidupan
di alam keabadian.
Selama ini Ummi Kania merasa kehambaran pada wajah-wajah
rata dan serupa. Alhamdulillah, di
pekan kedua bulan Desember ini senyuman kembali hadir di wajah-wajah
penyapanya. Dengan kaca mata kado ulang
tahun Silsa, Ummi dapat melihat detail ekspresi siapapun yang ada di
depannya.
Nubar Area_Bisikan Cinta_
CINTA LILLAH REZA_Khadijah Hanif
“Mama, kenapa selalu
menuntut Naira buat mencinta orang yang sama sekali nggak aku kenal? Mama nggak adil!” Naira membanting pintu dan mengunci diri di
kamarnya.
Mama Aini hanya bisa
mengurut dada atas apa yang disampaikan putri semata wayangnya itu. “Naira,
buka pintu dulu, Nak! Untuk sebuah
takdir yang Allah gariskan, haruskah seorang hamba menolaknya tanpa menyadari
diri hanya sekedar hamba?”
“Kalau begini terus, Naira bisa depresi, Ma! Biarin Naira mau bunuh diri aja!” Keluhan Nairamenimbulkan ketakutan mendalam
pada Mama Aini. Terbayang anak perempuan
semata wayangnya itu mengambil benda tajam untuk memutuskan nadinya. Atau loncat dari apartemen lantai sepuluh
milik mereka.
“Naira, jangan nekat, Nak! Atau Mama teriak biar Papa dan abang kamu
terbangun.” Mama Aini sekuat tenaga
berusaha membuka pintu. Mencongkel
engsel atau apa saja yang bisa ia lakukan demi menyelamatkan anak
kesayangannya.
Keributan itu akhirnya membuat Naira keluar kamar. “Mama, ngapain ngerusak pintu kamar. Naira baik-baik aja. Lagi pula Naira juga masih punya iman. Nggak mungkinlah Naira bunuh diri.” Naira masih menghadapi Mama Aini dengan muka
masam.
Pernikahan yang terlalu cepat membuat Naira serba
salah. Antara kebingungan bagaimana
harus menghadapi suami. Menjaga sikap
baik pada seseorang yang dianggapnya sempurna bukan hal yang mudah. Ya, Reza, suaminya adalah idola di antara
teman sejawat Mamanya di kantor. Sosok
sempurna itu membuat Naira kikuk, canggung harus berbuat apa atau bahkan takut dalam
bersikap.
“Mama belum sempat mendidik aku bagaimana berumah tangga
dan Naira tiba-tiba harus berubah status menjadi istri Mas Reza. Mama tahu sendiri Naira ini orangnya pemalu,
Mah. Nggak mudah buat mencintai
seseorang sesempurna apapun orang itu.”
Naira kembali meluahkan alasan sikap kurang baiknya pada Reza.
Pertemuan dua keluarga yang merancang pernikahan
ini. Sementara Naira sedang menempuh
pendidikan terakhir di kampusnya. Hanya
komunikasi ala kadarnya melalui gawai yang mereka berdua lakukan untuk saat
bertaaruf. Itu pun atas dorongan dari
orang tua. Taaruf mereka jauh dari
insiatif dua insan yang akan melangsungkan pernikahan itu.
Mama Aini dan Bunda Lela memang teman akrab satu
pengajian. Sementara Reza sekantor
dengan Mama Aini. Kerjasama yang intens
antara Mama Aini dan Reza membuat Mama Aini sangat yakin bahwa Reza adalah
jodoh terbaik buat Naira.
Sosok berusia dua puluh empat tahun itu sangat lebih
dewasa dibanding mereka yang seusia dengannya.
Dikenal sangat ringan tangan.
Lulusan sarjana teknik informatika itu selalu ringan tangan untuk
membantu siapa saja. Mulai dari
membenahi perangkat komputer di kantor, membetulkan gawai bermasalah tanpa
menerima upah sedikit pun. Belum lagi
kalau ada pekerjaan office boy yang terbengkalai karena Ujang tidak masuk
kantor, maka Rezalah yang menghandle semuanya.
Latar belakang pendidikan pesantren membuat Reza tumbuh
menjadi pribadi sederhana, mandiri, ringan tangan dan dalam pengetahuan
agamanya. Banyak hal yang dikuasainya
mulai dari bahasa Arab dan Inggris, baca dan tulisan Arab indah dan ilmu-ilmu
dasar keagamaan. Tidak heran rekan-rekan
sesama ibu-ibu di kantor memperebutkan Reza bak buah ranum matang di pohon.
Seharusnya Mama Aini menjadi ibu yang paling beruntung
menjadi pemenang mendapatkan Reza. Akan
tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Pernikahan ini seakan menjadi tamparan di muka Mama Aini. Tidak lain dan tidak bukan, penyebabnya
adalah sikap dingin Naira pada Reza.
Tak terbitung berapa tetesan air mata Mama Aini tumpah
ruah dalam sujudnya. Bahkan Reza tahu
persis duka mendalam ibu mertuanya itu.
“Reza, maafkan Mama.
Reza layak untuk mendapatkan istri yang salihah. Yang bisa menyapa Reza dengan senyuman saat
Reza pulang dari kantor dalam keadaan lelah.”
Mama Aini memanggil Reza di ruang kantor pribadinya. Sebagai manajer perusahaan, Mama Aini bisa memanggil
anak buahnya kapan saja. Linangan air
mata tak mampu ditahannya juga rasa malu meronakan dua pipinya.
“Istri saya baik-baik saja Mama. Mama nggak perlu sedih dan berpikir berat
tentang Naira. Reza menerima apa adanya
Naira.”
Mama Aini makin tak mampu menahan kesedihannya. Betapa salih dan sabarnya Reza. Pemuda berhidung mancung, bermata elang
dengan alis hitam tebal, kulit putih bersih itu berhak mendapatkan istri yang
sesempurna dirinya.
“Reza, Mama hanya minta kasih sayang Reza buat
Naira. Sebenarnya ia anak yang baik dan
penurut. Tapi terus terang Mama kecewa
atas sikap dia. Sebagai suami Reza
berhak mendidiknya dengan tegas kalau dia menolak permintaan kamu.”
“Mama, Naira itu istri yang baik. Dia masih menunaikan kewajibannya pada Allah. Dia salat, mengaji dan mengulang hafalan
Alqurannya. Reza udah cukup bersyukur
dengan sikap dia, Mama. Saya rida dengan
istri saya. Jadi Mama jangan
sedih.” Reza menjawab semua keluhan Mama
Aini dengan ringan. “Harusnya Mama bahagia dengan pernikahan kami.
Di peluknya pemuda berperawakan tinggi dan kekar di
depannya itu. Terlintas dalam benaknya
untuk mencarikan pengganti Naira. Mahar
itu masih utuh tak tersentuh itu seperti tak tersentuhnya Naira oleh kejantanan
Reza.
Bagaimanapun Mama Aini merasa berdosa memiliki anak yang
menolak permintaan suami untuk melayaninya.
Bukankah Allah melaknat mereka yang membiarkan permintaan suami di atas
ranjang? Bukankah orang tua yang
memiliki anak salihah akan turut mendapat rida Allah? Pun sebaliknya, saat istri mendapat murka
Allah maka orang tuanya akan ambil bagian dari kemurkaan itu? Semua pertanyaan itu mendera dan berkecamuh
dalam dada Mama Aini. Keinginan
menyadarkan Naira atas kewajiban mencintai suaminya tak bisa diwar lagi.
“Mama ingin mencarikan pengganti Naira. Apakah kamu siap, Reza?”
“Maksud Mama?”
Reza benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud Mama Aini.
“Kamu berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dari
Aini. Mama akan menggunakan mahar yang
kamu berikan pada Aini untuk menjari istri kedua buat kamu. Bukankah penolakan Naira dalam melayanimu,
menghalalkan mahar itu buat kau tarik kembali?”
“Jangan, Mama.
Aini istri yang baik, dia tidak pernah mengeluh perihal apapun. Dia selalu tersenyum menyambutku pulang. Kalaupun kami belum dikaruniai momongan
setelah setahun menikah bukan berarti dia nggak mau melayani Reza.” Reza berusaha meyakinkan ibu mertuanya itu
atas kebaikan istrinya.
Mama Aini makin tak mampu menahan kesedihan hatinya. Reza benar-benar seseorang yang paham agama,
akhlaknya terlalu mulia untuk mendapatkan perlakuan buruk Naira. Reza adalah pakaian terbaik buat Naira,
seandainya Naira menyadari itu, tentu bisikan cinta akan hadir di hatinya.
“Reza, jangan anggap mama tidak tahu apa-apa tentang
rumah tangga kalian. Mama sudah mendapatkan calon untuk menjadi istri kedua
kamu. Namanya Maya. Dia sahabat terbaik Naira sejak dia SMP
hingga kuliah pun mereka selalu bersama.
Maya cantik, salihah, hafizah, lemah lembut dan halus tutur bahasanya.”
“Tidak Ma, Naira adalah jodoh yang Allah titipkan buat
Reza. Dia adalah jawaban dari sujud di
sepertriga malam saya. Kenapa Mama tidak
percaya dengan anak Mama sendiri? Baik
buruknya Naira sekarang sudah menjadi bagian dari tanggung jawab Reza. Kalau Mama menyediakan istri kedua, Reza
khawatir mentalnya belum siap”
Mama Aini melepaskan pelukannya. Reza mencium tangan orang tuanya,
takzim. Kemudian beringsut pamit dari
ruang manajer personalia sekaligus ibu yang sangat ia hormati itu. “
Bukankah Mama pernah menasihati kami bahwa dua insan yang salin
mencintai karena Allah itu akan memasuki pintu syurga secepat kilatan
cahaya? Mama jug ayang menasihati bahwa
cinta lilah itu ada dua. Cinta pada
mereka yang cinta pada Allah SWT dan cinta yang saling membimbing, mengingatkan
untuk taat pada Allah? Doakan kami,
bimbing kami agar rumah tangga ini bisa kami banggakan di hadapan Allah SWT
kelak. Bisa kami banggakan di hadapan
Rasulullah SAW. Doa dan kesabaran Mama
yang Reza pinta. Segala pengorbanan ini
biar Allah balasi dengan surga yang menjadi impian Reza, tempat terbaik untuk
kembali.” Lapisan sebening kaca di mata
pemuda tampan itu hampir tumpah. Namun
kedewasaannya mengatasi semua kegundahan hatinya.
Mama Aini sempat menangkap beban berat kesabaran menerima
sikap dan perilaku Naira selama satu tahun ini.
Tanggal lima belas tinggal menghitung hari. Tanggal tepat setahun Reza dan Naira membina
rumah tangga. Mama Aini ingin memberikan
kejutan anniversary buat mereka berdua.
Sebuah gawai merek ternama yang menjadi dambaan Naira selama ini. Bukan hanya gawai istimewa, lebih dari itu
Mama Aini menyimpan rekaman percakapannya dengan Reza di ruang manajer
personalia beberapa hari lalu.
Buat Naira dan Reza tersayang
Mama dan Papa sudah makin berusia, sangat merindukan
momongan, generasi penerus perjuangan para nabi dan rasul. Semoga jalinan cinta lillah yang kalian
bangun menjadi kereta kencana yang membawa kalian menghadap Allah secepat
kilatan cahaya.
Cinta lillah itu:
1. Cinta pada
mereka yang mencintai Allah SWT dengan cinta sejati hamba pada penciptanya.
2. Cinta yang
menghantarkan kita untuk saling memelihara, saling mengingatkan untuk meniti
jalan takwa. Cinta yang membawa serta
seseorang yang kita cintai untuk taat pada Allah SWT.
Kedua cinta di atas sangat mulia, Mama mohon kalian bisa saling
memperjuangkannya, jaminan Allah adalah surgaNya. Bukankah tidak ada yang lebih baik sebagai
tempat kembali selain surga Allah?
Yang
selalu mendoakan
Mama
Naira dan Reza menerima
kejutan dari Mama Aini sore itu. Senja
nampak sayu di batas cakrawala. Gerimis
kecil yang mendinginkan suasana, membuat nuansa romantis di lantai lima
apartemen Reza.
Reza dan naira membuka
perlahan kado istimewa itu. Kejutan
pertamatak terduga di hari jadi pernikahan mereka. Naira masih saja berwajah datar. Entah mengapa bisikan cinta itu belum juga
singgah di hatinya.
“Masyaallah gawai impian
aku. Mama beliin juga akhirnya.”
Naira membuka aplikasi
satu persatu dan menemukan rekaman audio.
Percakapan yang Mama Aini rekam saat Reza dipanggil di ruang personalia.
Naira membuka rekaman
percakapan itu, sementara Reza sedang menyiapkan kejutan yang kedua
kalinya. Ketulusan cinta Reza seperti
oase di tengah padang pasir terik dan gersang.
Naira membayangkan seandainya mamanya nekat melamarkan
Maya untuk Reza. Maya yang begitu
sempurna itu sangat serasi bila beriringan dengan Reza. Lalu Reza menolak? Sungguh hanya laki-laki berhati malaikat yang
bisa melakukannya.
“Mas Reza....!”
Naira berteriak sambil menangis.
Menghampiri sosok sempurna yang sedang menata meja makan buat dinner
istimewa malam ini. “Jangan tinggalkan
Naira. Naira bukan orang yang baik buat
Mas Reza, tapi bimbinglah aku buat sejajar dengan sifat dan kebaikan Mas Reza.”
Reza terkesiap dengan perubahan sikap Naira. Ia tak tahu bahwa rekaman cinta lillahnya
didengar oleh wanita di hadapannya itu.
Suara sayup Azan Magrib menyapa telinga mereka dari
kejauhan. Malam Jum’at ini akan menjadi malam pertama mereka yang
tertunda satu tahun lamanya.
Nubar Area_MI FAMILIA_
Kemaafan Ayah_Khadijah Hanif
Menikah sambil kuliah, di usia muda dan masih belum mapan secara
ekonomi adalah pengalaman penuh liku.
Kenangannya menjejakkan berbagai rasa di hatiHafsah. Nilai-nilai kesadaran ikut memperkaya
khazanah batinnya.
"Ayah, mohon maaf bukan Hafsah lancang tidak melibatkan
keluarga dalam pernikahan ini." Hafsah memberanikan diri memberi tahu
keluarga kenapa ia memutuskan menerima pinangan Ustaz Harris. Seorang ustaz muda aktivis kampus dalam
prosesi darurat yang sangat sederhana.
"Ayah nggak mempersoalkan apapun, yang Ayah khawatirkan justru
hukum sah dan tidaknya pernikahan kamu.
Belum lagi pandangan miring keluarga dan tetangga yang tak bisa menerima
alasan kamu."
Nada suaranya meninggi, menciutkan dada Hafsah yang telah dengan susah
payah mengumpulkan energi buat menelpon
Pak Hasan, ayahnya.
"Ampun maaf, Ayah.
Hafsah dalam kondisi terdesak.
Issue pembunuhan dan pemerkosaan di kampus sedang marak. Sementara Hafsah harus segera menyelesaikan
penelitian Hafsah. Salah satu perlakuan
dan pengambilan datanya dilakukan malam hari, Ayah". Hafsah berusaha memohon pengertian ayahnya di
sela isak tangis yang tak terbendung.
"Kamu bisa memberitahukan dulu pada Ayah. Bagaimana Ayah menutupi rasa malu karena
omongan tetangga yang nggak mau tahu?"
“Kalau Hafsah beritahu Ayah, Hafsah khawatir Ayah marah dan nggak
ngasih izin. Sementara Hafsah perlu
mahram segera, Ayah.”
Ayah menutup perbincangan tanpa memberinya kesempatan lebih
lama. Hafsah hanya bisa menahan napas
dalam-dalam. Sesak di dada mulai
menggelayuti simpul-simpul hatinya dan Hafsah mulai menyerah.
***
Mendung di hatitak mampu disembunyikannya. Saputannya menyayukan sorot mata Hafsah.
"Adik,
kenapa galau begini. Abang tahu pasti
Ayahmu belum menerima keputusan kita.
Boleh aku pinjam gawainya? Biar
Abang yang mewakili Adik buat chat ke Ayah."
Hafsah memaksakan diri buat tersenyum. "Maafkan aku Bang, tidak mampu membuat
semua terlihat baik-baik saja," ucap batin Hafsah tanpa berwujud sepatah
katapun
"Ayah tidak bisa kita hubungi via medsos Bang, beliau tidak
biasa memegang Android."
"Baiklah, Abang akan mengirim surat buat Ayah. Semoga keadaan ini bisa membaik.” Menghadapi
kesedihan Hafsah, Harris segera mencari solusi terbaik. Satu hal yang membuat Hafsah yakin akan cinta
dan kasih sayang Harris.
"Coba baca ini, Dik."
Harris menyerahkan selembar surat.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Salam kenal, Ayah. Semoga
Ayah selalu dalam lindungan Allah, diberi umur panjang yang berkah dengan
ibadah.
Mohon dimaafkan kelancangan saya melamar dan menikahi putri Ayah
tanpa meminta pada Ayah. Sandaran saya
hanya petunjuk Allah dan RasulNya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَحِلُّ لامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ
لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ
“Tidak halal (boleh) bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah
dan hari akhir safar sejauh sehari semalam (perjalanan) dengan tanpa mahram
(yang menyertainya)”. [HSR. Imam Bukhari (Fathul Baari II/566), Muslim (hal.
487)
Mohon maaf sekali lagi kelancangan saya bertujuan menyelamatkan
Hafsah yang sedang mengejar target penelitiannya. Dia pergi ke lahan percobaan tanpa mahram di
waktu malam. Saya tergerak untuk
menikahinya secara agama.
Sekali lagi mohon maaf Ayah, bukan mau menggurui tapi semata-mata
terdorong keinginan menyelamatkannya.
Semoga Ayah dan keluarga memaafkan kelancangan saya ini. Saya akan segera mempersiapkan segala
sesuatunya untuk nikah negara.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh
Hafsah baca berulang surat itu.
Surat sederhana tapi sarat makna.
Meskipun tetap hadir tanda tanya akankah Ayah menerima?
Selang beberapa hari setelah surat itu dikirim melalui POS, balasan
Ayah mereka terima melalui WA Zakki, kakak Hafsah.
“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh
Terimakasih atas surat Nak Harris pada saya. Meskipun saya anggap terlambat. Ini Ibu, membalas surat kalian lewat wa Mas
Zakki. Ayah tidak bisa membalas karena beliau sedang dirawat di rumah sakit
daerah.
Beban pikiran, perasaan dan rasa malu telah membuat hipertensi Ayah
tambah parah. Beberapa hari ini Ayah
dirawat di rumah sakit. Ibu rasa
kedatangan Nak Harris dan Hafsah akan mengobati tekanan batin Ayah.
Kami menunggu Nak Harris di Rumah Sakit, sebelum keadaan Ayah
tambah parah.
Hafsah segera membalas chat dengan perasaan tak menentu.
“Assalamu'alaikum, Mas Zakki, kami merasa bersalah tidak memberi
tahu prosesi nikah kami. Terus terang
kami memutuskan ini dalam keadaan khawatir karena prasangka kami bahwa Ayah
tidak akan memberikan restunya. Mas
Zakki tahu sendiri, beberapa lamaran sebelumnya tidak dikabulkan Ayah dengan
alasan Hafsah masih harus menyelesaikan studi Hafsah.
Dari
kami yang mengaku bersalah
Harris-Hafsah”
“Waalaikum salam, Hafsah dan salam kenal buat Harris. Mas paham
sepenuhnya keputusan Hafsah dan Harris.
Mas juga telah merasakan bagaimana Ayah mengatur pernikahan Mas
tanpa mengerti kondisi hati Mas.
Sekarang Aku harus menjaga segala hal yang ada pada diri istri Mas. Istri pilihan Ayah. Meskipun di awalnya terlalu susah payah,
Alhamdulillah Mas menikmatinya sebagai bentuk bakti pada Ayah.
Tapi kalau hal pahit itu kamu rasakan juga sebaiknya tidak. Semoga keputusan kalian benar-keputusan
terbaik di sisi Allah SWT.
Kabar kriminalitas di sekitar kampus Hafsah juga kami dengar di
ini. Pernikahan ini justru melegakan
hatiku.”
Jawaban Mas Zakki seakan dinding sandaran yang mengokohkan dua
lutut Hafsah yang mulai lelah menopang beban perasaan bersalah terutama pada
ayahnya.
***
Memenuhi permintaan ibu, mereka berdua meninggalkan Bogor
menggunakan bis antar provinsi. Antara
khawatir dan bimbang seandainya ayah menumpahkan kemarahan di rumah sakit, atau
ayah memaafkan sepenuhnya apa yang telah terjadi. Dada Hafsah berdebar-debar tiap kali ingat
apa gerangan sikap keluarga yang akan mereka terima.
Perjalanan empat belas jam mereka tempuh. Berangkat pukul delapan pagi, dan sekarang
sudah jam sepuluh malam.
Langkah mereka satu-satu, beriringan di koridor rumah sakit menuju
ruang kelas VIP-Cempaka 5.
“Assalamu’alaikum.” Harris
mengetuk pintu perlahan. Khawatir
mengganggu istirahat ayah.
Dari balik pintu muncul sosok setengah baya, berbalut jilbab rapih
dan untaian tasbih di tangannya.
“Waalaikumsalam. Hafsah,
alhamdulillah akhirnya kamu pulang, Nduk!”
Hafsah menciumi kedua tangan ibunya, kemudian bersimpub mencium dua
kaki sosok di hadapannya itu.
“Sudahlah Hafsah, kamu tidak bersalah. Alhamdulillah, ini Nak Harris, bukan?” Bu Zainab, ibu Hafsah langsung memeluk
menantunya itu. “Ibu berterima kasih Nak
Harris sudah membuat Ibu tenang. Sebelum
tahu Nak Harris menikahi Hafsah ibu selalu dihantui mimpi buruk tentang
Hafsah. Berita kriminal itu sangat
mengkhawatirkan Ibu.”
“Maafkan Harris ibu, Harris lancang dan tidak tahu diri meminang
langsung Hafsah dan bukan meminta pada Ayah.”
“Tidak mengapa, Ayah Hafsah memang keras untuk masalah
pernikahan. Tapi Ibu setuju dengan
penjelasan Harris melalui surat beberapa pekan lalu. Dalam kondisi darurat ada beberapa hal diluar
kebiasaan yang harus kita tempuh.”
“Tapi bagaimana dengan Ayah, Bu?
Bukankan pernikahan Hafsah yang sudah membuat Ayah sakit?” tanya Harris santun.
“Ibu sudah berusaha meminta pengertian darinya, semoga Ayah bisa
memahami semua yang sudah terjadi.
Beliau sedang tidur, jadi biarkan saja beliau istirahat. Tapi tadi diperiksa dokter tekanannya udah
sedikit turun.
“Alhamdulillah. Semoga ayah
lekas sembuh.”
Bu Zainab mempersilahkan anggota baru keluarganya itu masuk dan
duduk di sofa. Ruangan VIP ini lebih
mirip kamar hotel. Ber-AC, televisi flat
ukuran besar, lemari pakaian dan sofa.
Harris memilih masjid rumah sakit daripada kamar rawat inap
itu. Hafsah turut di belakangnya, tidak
berani menghadapi ayahnya tanpa kehadiran Harris. Khawatir saat ayah terbangun dan mendapati
Hafsah sendirian akan memicu kemarahan ayah.
Mereka mengambil air wudhu dan menuju masjid. Di dalam masjid tampak seseorang yang sedang
serius dengan gawainya.
“Bang, ada mas Zakki, tuh!”
Hafsah menunjuk kakak semata wayangnya.
Mereka menghampiri Zakki.
Kali ini Hafsah tidak terlalu khawatir Zakki akan menghadapinya dengan
kemarahan. Chat terakhirnya dengan Zakki
justru turut menguatkannya untuk pulang menemui ayah.
Saat mereka berbincang, siluet dua orang berjalan menuju masjid
rumah sakit. Satu orang pria berusia
enam puluhan duduk di kursi roda.
Sementara wanita di belakangnya mendorong kursi roda itu.
“Hafsah, Harris, ini Ayah, Nak, menunggu kalian datang. Ayah nggak marah, Ayah hanya ingin kalian
datang. Ayah khawatir kehilangan Hafsah,
anak perempuan satu-satunya yang Ayah punya.”
Ayah menumpahkan perasaannya di pintu masjid. Hafsah dan Haris segera menyambut ayah dengan
segenap rasa kesyukuran. Mereka bertiga
saling memeluk dan sujud di kaki sang ayah.
Keharuan begitu kental menyelimuti suasana malam itu.
“Besok ayah sudah boleh pulang.
Tadi dokter jaga memeriksa ayah dan tekanan darahnya udah normal, “ kata
ibu menjelaskan keadaan ayah.
“Besok kita adakan syukuran sederhana dengan tetangga dan saudara
dekat buat menyambut kehadiran Nak Harris yang sudah resmi jadi anggota
keluarga kita. Semoga dengan syukuran
ini mereka bisa turut faham hukum agama kita.
Tidak asal menilai atau mencap orang lain tanpa tahu dasar hukumnya,”
ucap Pak Hasan disambut senyuman lebar semua anggota lengkap keluarganya.
“Terimakasih Ayah sudah mau memaafkan Harris. Padahal saya udah lancang mengambil Hafsah
jadi istri saya.”
“Saya justru berterimakasih berkat kehadiran Nak Harris, penelitian
Hafsah berjalan lancar. Lagi pula isu
kriminalitas sekitar kampus tempat Hafsah menempuh pendidikan sangat meresahkan
kami. Terutama ibunya Hafsah.
Suasana cair itu makin membahagiakan hati semua anggota keluarga Pak
Hasan. Keluarga yang utuh, penuh
pengertian dan saling mendukung satu sama lain.
NUBAR AREA
SUMATRA_ASA DAN CINTA BUAT TASYA_
ADA CINTA DI
TIAP AKSARA
Khadijah Hanif
“Assalamualaikum,
Dian. Apa kabar? Aku mau titip Tasya buat tinggal di pesantren
tempat kamu ngabdi. Bisa nggak? Tasya sekarang udah lulus dari SMP, sambil
menunggutahun ajaran baru, boleh aku titip Tasya belajar agama di tempat kamu?” Aku tatap jejeran huruf di gawaiku. Mbak Novi saudara sepupuku tiba-tiba
menghubungiku via chat wa. Ada rasa
bersalah menjalar di ruang hatiku.
Betapa jarangnya aku menyapa mereka meskipun kami berada dalam grup yang
sama, Kelurga Besar Subagya.
“Waalaikumsalam,
Mbak, Alhamdulillah kami baik-baik semua.
Semoga Mbak Novi juga begitu.
Aduh... maafin aku yang jarang kontek ke Mbak Novi. Aku jarang pegang gawai. Soalnya aku sedang sibuk mengurus proyek
workshop di pesantren. Tasya itu putri
pertama Mbak Novi, ya? Pasti dia udah
besar dan cantik seperti bundanya.”
“Alhamdulillah
Tasya banyak punya sifat baik secarasosial ke orang lain, kecuali sama
aku. Kami seperti Tom and Jerry. Kalau aku naik satu kalimat dia bisa tiga
empat kalimat. Di depan aku dia selalu
terlihat penuh kekurangan. Sukanya
rebahan, males-malesan, nggak bisa kerja-kerja rumah. Yang dia urusin masalah dunia terus. Main, belanja, belum bisa baca Alquran dan
salat. Entah apa yang membuatnya jadi
seperti ini. Mungkin trauma masa
kecilnya dengan Mas Angga.”
Rasa
bersalah ini makin pekat, aku biarkan kerabatku sendiri jauh dari agama. Sementara di sini aku mendidik dan mengasuh
banyak remaja dari berbagai daerah di Indonesia. Aku juga sadar bahwa selama ini kurang
memperhatikan keluarga. Derasnya
interaksi sosial melalui media kurang aku manfaatkan untuk saling berbagi kasih,
menebar manfaat dan berkat.
Kabar
terbaru tentang Mbak Novi aku dapat dari Mamah.
Mbak Novi bercerai untuk yang kedua kalinya dan pernikahan terakhirnya
dengan seorang pengusaha sukses.
Meskipun
aku jarang menghubunginya lewat gawai, Mbak Novi sesekali datang ke pesantren
untuk mencurahkan segala penderitaan hidup yang sering kali tak mampu ia pikul
sendiri. Jarak yang membuat kami jarang
bertemu. Bahkan momentum lebaran pun
tidak selalu membuat kami bisa saling bertemu.
***
Enam
tahun yang silam Mbak Novi datang ke rumahku, di bawah guyuran hujan deras yang
menguyupi tubuh mungilnya. Tasya ikut
serta. Dari tatap matanya, tampaknya
memendam rasa takut yang dalam.
“Aku
nggak kuat lagi Dian, ternyata Mas Angga menyiksa Tasya di belakangku. Aku nggak terima perlakuan dia.”
“Sabar,
Mbak. Allah pasti menyediakan hiburan
setelah kesedihan ini berlalu.” Aku
mengambilkan handuk dan baju gamis untuk mereka. “Mbak dan Tasya mandi dulu,
ganti pakaian dan kita minum jahe hangat bersama di ruang tamu.”
Kami
melanjutkan perbincangan yang turut melecutkan rasa trenyuhku pada penderitaan
dua wanita ayu di depanku ini. Mas
Bagas, suamiku turut serta dalam perbincangan kami.
“Aku
memutuskan untuk cerai dari Mas Angga.
Lihat ini telinga Tasya, infeksi setelah dipukul ayah tirinya.” Mbak Novi memperlihatkan telinga Tasya yang
mengeluarkan cairan bening bersaput warna merah muda.
“Tasya,
kamu pusing ya?” tanya Mas Bagas mencoba turut merasakan apa yang diderita
Tasya.
“Nggak,
Ami.” Tasya menjawab pendek
sambil bersandar di pundak bundanya.
“Tapi
badan kamu hangat. Ayo istirahat
dulu.” Aku menyentuhkan telapak tanganku
di keningnya. Aku raih tangannya dan
kutuntun menuju kamar istirahat yang kusiapkan buat mereka. Mbak Novi mengikuti kami ke kamar istirahat.
Perbincangan
berlanjut tanpa kehadiran Mas Bagas yang kami tinggalkan sendiri di ruang tamu.
“Tiga
tahun pernikahanku dengan Mas Angga membuat aku merasa bersalah sama
Tasya. Ia tumbuh menjadi gadis
pemberontak. Di depan Mas Angga dia
diliputi ketakutan, menjadi sosok anak penurut.
Sementara di depanku, saat kami hanya berdua, dia selalu melawan. Dia memendam ketakutannya sendiri selama tiga
tahun. Sampai aku melihat di depan
batang hidungku, Mas Angga memukul Tasya hanya karena dia terlambat membawakan
rokok untuknya. Lihat bekas-bekas luka
ini.” Mbak Novi menyingkap kaki Tasya
yang sedang pulas dengan balutan selimut.
“Belum lagi cubitan, tendangan dan berbagai suruhan yang harusnya
dikerjakan orang dewasa. Pernah Tasya
disuruh memindahkan air panas satu panci penuh dalam keadaan mendidih. Sejak pemukulan itu aku korek semua tentang
perlakuan Mas Angga ke Tasya.”
Aku
miris melihat tanda-tanda bekas luka sundutan rokok itu. Banyangan derita Tasya berkelebat dalam
benakku, memaksa butiran bening di sudut mataku mengalir. Anak sekecil Tasya di usia sembilan tahun harus mengalami hal perlakuan
kejam di luar nalar kemanusiaan.
Kabar
perceraian Mbak Novi dengan Mas Angga menjadi kabar baik buat keluarga besar
kami. Setidaknya harapan akan nasib baik
dan masa depan Tasya kembali berbinar setelah mereka lepas dari Mas Angga.
***
“Ummi,
kenapa ngalamun?” Suara lembut Mas Bagas
membuyarkan ingatanku tentang Mbak Novi dan Tasya. “Ada tamu istimewa,
tuh. Mbak Novi, Mas Sofyan, Tasya sama
anak bungsu mereka, Naira.”
“Masyaallah,
beneran, Mas?” Aku tersentak. Diskusi kami tentang Tasya menuju pada satu
titik yang sama, Tasya tinggal di rumah kami dan tidak melibatkan pengasuhan di
pesantren. Alasannya karena tidak ada
pelayanan untuk santri yang tinggal sementara.
Semua harus setingkat SMP dan SMA.
Aku akan bisa membimbingnya di sela-sela tugas mengajar.
Aku
segera menemui mereka di ruang tamu. Aku
peluk Mbak Novi, Tasya dan Naira.
Wajah-wajah mereka nampak ceria.
Sangat berbeda dari keadaan mereka enam tahun silam. Memakai stelan gamis syari lengkap dengan
penutup muka, aku seakan berhadapan dengan sosok manusia baru yang tak
kukenal. Tasya sudah mau berhijab.
“Dian,
Bagas, kenalin ini Mas Sofyan. Dia
keajaiban yang hadir untuk keluarga kami.
Berkat bimbingannya, kesabaran dan kasih sayangnya yang tulus, kami
bersepakat untuk hijrah bersama-sama.”
Mbak Novi menampakkan kebahagiaannya di depan suami ketiganya. Aku dapat merasakan kebaikan dari Mas Sofyan
baik dari segi sikap maupun penampilannya.
Aku turut bersyukur.
Pesan
terakhir Mbak Novi sebelum mereka pulang, aku diharapkan bisa membimbing Tasya
dalam membaca Alquran, bacaan salat, taharah, akhlak dan juga kerja-kerja di
rumah.
Hari
itu juga Tasya langsung tinggal di rumah kami.
Rumah yang jauh lebih kecil daripada rumah mereka di Surabaya. Tampaknya Tasya tidak begitu kesulitan
beradaptasi di lingkungan barunya. Ia
pun cepat akrab dengan kami juga dengan santriat di asrama
Aku
mulai memikirkan langkah yang harus kulakukan dalam membimbing Tasya. Satu kata kunci, bahwa aku harus menghadirkan
cinta pada keponakanku ini. Bayangan
akan derita masa lalu Tasya lalu membuatku merasa wajib membayar semua hak
Tasya yang tertunda. Ditinggal pergi
ayah kandung saat baru berusia dua bulan dan hingga kini belum berjumpa ayah
kandungnya. Yang dia tahu ayahnya sudah
meninggal. Derita itu makin sempurna
dengan kehadir ayah tirinya, Mas Angga.
Perlahan
namun pasti rasa sayang ini memenuhi ruang rasa. Aku harus selamatkan Tasya.
“Tasya,
coba kamu baca Alquran ini, Amah pingin tahu bacaan Tasya.”
Tasya
menuruti suruhanku. Surat Fatihah
dibacanya lancar tapi mahrajul hurufnya berantakan. Memasuki surat Albaqarah, Tasya mengeja
satu-satu huruf dengan sebutan yang
salah. Apalagi tajwidnya sangat jauh
dari baik dan benar. Aku menghela napas
panjang.
“Tasya,
kamu pernah belajar iqra?”
“Pernah
Amah. Tapi baru sampai iqra
tiga. Itu pun nggak tamat.”
Aku
segera meraih jajaran buku iqra di rak buku yang biasa dipakai membimbing anak
diniyah. Aku segera membuka iqra tiga
dan meminta Tasya untuk membacanya.
Huruf
demi huruf diejanya dengan sabar sesuai petunjukku. Sesekali aku membenahi tempat keluarnya huruf
atau nama huruf yang tertukar. Aku
mencoba menyempatkan waktu tiap lepas salat lima waktu.
“Tasya,
selain menyelesaikan target baca iqra, Tasya juga harus belajar hal yang
terkait ibadah. Mulai dari taharah,
berwudu, salat. Pokoknya banyak hal yang
Tasya harus pelajari. Tapi jangan
khawatir. Tasya pasti bakalan bisa. Yang penting Tasya bisa baca Quran dulu.”
“Iya,
Amah. Tasya pingin bisa seperti
Naira. Dia sudah mau masuk pesantren
sejak usia SD. Sekarang dia udah bisa
banyak hal. Tasya ketinggalan
banyak. Tasya juga pingin bisa jadi
kebanggaan bunda seperti Naira. Selama ini aku dan bunda lebih banyak ributnya
ketimbang damainya. Kasihan bunda sering
nangis gara-gara aku.”
Aku
belai rambut Tasya. Ternyata rasa cinta
dan kasih sayang itu anugerah Allah yang tiada taranya. Bisa membuat hambaNya berhijah untuk terus
memperbaiki diri.
Aksara
demi aksara makin mengakrabkan aku dengan Tasya. Tiap memasuki lembar baru, aku selipkan doa
buat Tasya, semoga apa yang aku sampaikan bisa dia serap dan dia pahami dengan
baik. Dalam waktu kurang dari sebulan
Tasya sudah masuk ke bagian ebta iqra enam.
Aku
merasa beruntung sebagai pembimbingnya, dia sangat penurut. Jauh dari apa yang Mbak Novi ceritakan
padaku. Sepertinya ada pola asuh yang
kurang tepat antara Mbak Novi dan Tasya.
Tasya hanya membutuhkan penghargaan, sanjungan dan pujian saat dia mau
berbuat baik. Itulah yang membuatnya
merasa dibutuhkan.
Dia
bukan gadis yang pemalas di depanku.
Kadang-kadang dia bisa bangun malam lebih awal buat salat Tahajud.
“Tasya,
Amah rasa kamu anak yang sangat rajin.
Tapi kenapa di depan bunda kamu dianggap pemalas?’
Tasya
tidak segera menjawab, ia diam sejenak, “Habisnya bunda selalu curigain
aku. Kata bunda, Tasya rajin kalau ada
maunya. Terus bunda ngeluarin uang saku
tambahan buat Tasya. Padahal aku
mbantuin bunda karena kasihan sama bunda yang banyak kerjaan. Terus kalau beberes atau nyuci selalu ada
yang disalahin bunda. Kurang rapih,
kurang bersih, ngilangin arsip.” Tasya
mengeluarkan semua unek-unek di hatinya.
“Seperinya bunda nggak sayang Tasya,” imbuhnya.
“Nggak
gitu Tasya, bunda hanya ingin anak gadisnya tumbuh sempurna. Itu karena saking sayangnya. Mana mau bunda membesarkan kalian berdua
seorang diri saat ayah kalian meninggalkan bunda. Tapi bunda tetap kuat dan tegar mengorbankan
waktu, tenaga, pikiran supaya kalian tumbuh besar.”
Tasya
tersenyum lebar tanda dia setuju dengan pendapatku. Aku raih tubuh langsingnya, aku memeluknya
erat. “Dalam satu bulan ini tasya harus
tunjukkan bahwa Tasya bisa jadi kebanggaan bunda, okey?”
“Siap
Amah, Tasya janji.”
***
Siang
ini aku dan Mas Bagas ingin memberi hadiah ulang tahun buat Tasya. Kami sepakat untuk menghadiahi Tasya beberapa
buah buku. Satu buku kisah inspiratif
dan dua buku keagamaan untuk membangun kesadaran perubahan akhlak Tasya. .
Mataku
tertambat pada beberapa deretan buku salah satunya tentang realitas takdir
karya Syeikh Abdul Qadir jaelani. Untuk kisah inspiratif ada beberapa buku
antologiku terbitan Nubar Area yang aku hadiahan buat Tasya, juga novel
pertamaku yang berjudul Talbiyah Cinta dari Kampung Naga.
“Tasya,
Amah rasa kamu punya banyak waktu luang di sini apalagi Tasya udah bisa
baca Quran sendiri. Ini ada beberapa
buku. Tugas Tasya menyelesaikan buku ini
dalam satu pekan ini. Tasya sanggup?”
“Insyaallah,
Amah. Makasih udah kasih Tasya hadiah
ulang tahun,” ungkap Tasya dengan mata berbinar,”selama ini Tasya nggak pernah
dapat hadiah ulang tahun,”lanjutnya.
Sebenarnya
aku juga tidak pernah mengkhususkan hari ulang tahun sebagai hari
istimewa. Tapi aku butuh momentum yang
tepat untuk menyentuh hati Tasya. Untuk
membuat Tasya yakin bahwa ada cinta buat dia.
“Amah
punya nasihat baik buat Tasya,
خَيْرُ جَلِيْسٍ فيِ الزَّمَانِ كِتَابٌ
Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah buku. Kalau Tasya pingin punya teman baik,
banyaklah membaca.”
Target
membaca tiga buku dalam sepekan ini bisa terlewati dengan baik. Sebenarnya Tasya anak yang cukup cerdas dan
cekatan. Saat aku sibuk di asrama dan
kelas, Tasya selalu mengerjakan kerja-kerja rumah. Menyapu, mengepel lantai, mencuci piring,
bahkan menyeterika.
“Tasya,
jangan semua kerja rumah kamu selesaiin.
Nanti Amah bakal kehilangan banget saat kamu harus pulang ke Surabaya,”
tegurku suatu hari.
“Amah
nggak boleh ngelarang Tasya. Kan, amanah
bunda, Tasya harus pandai mengurus rumah?”
Derai tawa menyegarkan hari-hari kami.
“Amah, Tasya udah selesai baca bukunya. Boleh Tasya minjem buku lagi? Tasya suka buku kisah inspiratifnya. Apa lagi ada tulisan Amah, Tasya jadi bangga
dan pingin bisa nulis seperti Amah,” ungkap Tasya melambungkan rasa
ketersanjunganku.
“Masyaallah, tentu boleh Tasya. Amah masih ada tiga puluh buku antologi dari
berbagai penerbit. Tapi ada
syaratnya.” Aku mengambil kertas format
review selama aku menjadi perintis literasi di pesantren. Ada tugas tambahan buat Tasya selain membaca
yaitu membuat review.
“Wah, aku harus mereview buku yang aku baca? Aku belum pernah melakukan ini, Amah. Apa aku bakalan bisa?” Tasya menatapku polos.
Kuambil contoh review karya beberapa santri yang
mengikuti kegiatan literasi. Format Fishbone,
Aih dan Y-Chart aku jelaskan satu persatu. Tasya mendengar dengan penuh perhatian,
kemudian menyatakan kesanggupannya.
“Ini buku antologi Amah dan ini format
reviewnya.” Tantangan kedua buat Tasya
aku berikan.
“Banyak banget Amah!”
Mata Tasya terbeliak dengan hadiah buku yang aku berikan.
“Ini baru sedikit Tasya, doain Amah bisa terus produktif
nulisnya. Amah masih punya cita-cita
buat nerbitin buku best seller.”
“Apa buku best seller itu, Amah?
“Sebuah buku itu sedang laris, dicari
banyak orang, telah dibaca banyak manusia, terbukti dari hasil penjualannya
yang tinggi.”
“Kalau gitu aku juga mau ngikutin
jejak Amah.”
“Langkah pertamanya, Tasya harus
banyak membaca dan mau buat mulai menulis.”
Tasya begitu antusias menyambut
tugas-tugas dariku. Aku berharap Tasya
bisa meraih asanya sekaligus menemukan cinta dari ayah kandungnya yang hingga
saat ini belum juga menemuinya.
NUBAR
AREA_OASIS FEBRUARI
CINTA PUTIH
SYAKILLA
Oleh: Khadijah
Hanif
Siang
ini udara panas menuntun Syakilla menuju kantin sekolah. Kantin yang ditata artistik bernuansa
bambu. Syakilla yang hobi desain ikut
menyumbangkan ide interior kantin. Rumah
panggung khas etnik Sunda. Sekeliling dinding saung dibiarkan terbuka. Suasana asri sekitar saung terlihat jelas
dari dalam saung, menambah nyaman para pengunjung.
"Baso
setengah porsi sama juz jeruk. Banyakin
esnya, ya, Teh," pesan Syakilla pada penjaga kantin.
Syakilla
mencari posisi di tepi saung, sambil menikmati bunga berwarna-warni yang
ditanamnya bersama anak-anak. Ada Anyelir,
Krisan dan begonia.
Seperti
biasa Syakilla tidak pernah melepas tab sebesar buku. Ia siap mengamati siapapun yang menunjukkan
gejala tidak atau kurang wajar kemudian menulisnya. Sebagai lulusan S1 bimbingan konseling (BK),
tiga bulan lalu, semua pemahamannya tentang BK masih hangat tersimpan di
labirin memorinya. Kemudian ia tuangkan
dalam rencana konseling yang harus dipersiapkannya tiap hari.
"Menyendiri,
murung, tidak bergabung dengan teman yang lain.
Wajahnya lesu, makanan dan minuman yang dipesannya hanya dimainin,
disentuh beberapa suap untuk kemudian meninggalkan kantin. Langkahnya terlalu cepat dibanding dengan
orang lain.
Namanya Lutfia,
kelas 8D." Syakilla membuka format jurnal hariannya,
mencatat gejala yang diamati calon konseli individunya. Kali ini bertengger nama Lutfia. Gadis yang menarik perhatian selama ia
menikmati hidangan di kantin.
Syakilla
menuju kasir untuk membayar semua pesanannya.
"Teh, saya minta tolong bungkusin makanan dan juz di meja nomor
tujuh. Oya, apakah siswa yang memesan
makanan itu sudah bayar?" tanya Syakilla penasaran.
"Siap,
Bu. Tapi buat apa makanan sisa siswa
dibungkus?" Teh Bibah balik bertanya keheranan.
"Ceritanya
panjang. Lain kali kita ngobrol
banyak. Tapi Teh Bibah nggak akan pernah
puas dengan cerita saya. Jadi guru BK
itu harus pandai menyimpan rahasia siswanya.
Teteh, mah, ditanya balik nanya.
Makanan itu udah dibayar belum?”
Syakilla terpaksa mengeluarkan nada tegas meninggi.
Bibah
mengecek semua pembayaran hari ini. Meja
tujuh belum ada yang membayarnya siang ini.
Kalaupun ada yang pesan sebelum bel sekolah mulai.
"Waduh,
kenapa itu anak sampai lupa bayar, ya?
Kalau ada sepuluh orang aja kayak gini, bisa bangkrut kantin
sekolah. Harus ada yang mengawasi
pelanggan, Teh!" Syakilla sebagai
salah satu tim pengelolaan unit usaha sekolah mengingatkan penjaga kantin. "Kita harus buat rapat evaluasi
segara," tegas Syakilla. Kepalanya
tiba-tiba merasa berat. Ada dua masalah
yang harus diselesaikannya. Problem yang
dihadapi siswa juga unit usaha.
"Ibu,
kenapa bengong. Total pesanan di meja
tujuh, tiga puluh ribu."Tanpa pikir panjang Syakilla membayar semuanya.
"Atuh
Bu...kenapa Ibu yang bayar. Biar aja
kami yang nagih ke Lutfia."
"Nggak
papa, sekalian saya panggil dia buat ngasih bungkusan makanan ini. Sayang, kan, mubazir." Syakilla menyerahkan uang lembaran seratus
ribu. "Udah kembaliannya buat Teteh aja, saya habis dapet bonus dari
papah."
"Ya
Allah, Bu, makasih banyak. Tapi saya izin infak ibu saya masukin kepemasukan
unit usaha boleh?"
"Jangan,
saya ngasih buat Teh Bibah, tapi terserah Teteh itu udah jadi hak Teteh,"
ungkap Syakilla ringan sambil menjinjing bungkusan buat Lutfia.
Tiga
jam setelah istirahat pertama ada waktu untuk mempersiapkan rencana konseling pribadi
buat Luthfia. Konseli yang menggelitik
hati untuk dipecahkan permasalahannya.Jam istirahat kedua menjadi terasa lama.
Cara
Syakilla memecahkan masalah siswanya memang cukup unik, ia memprioritaskan
konseling pribadi berdasarkan tingkat kesulitan dan juga hari istimewa calon
konselinya. Misalnya bulan ulang tahun
siswa yang bersangkutan. Biasanya momen
khusus sangat membantu konselinya menemukan titik balik untuk memecahkan
masalahnya sendiri.
Syakillah
membuka data siswa di laptopnya, Lutfia, 15 Februari 2007. Senyuman mengembang di wajah ayunya. Melalui wali kelas 8D ia memanggil Lutfia.
Waktu
untuk konseling individu hanya jam istirahat dan pulang sekolah. Sedangkan konseling klasikal sudah terjadwal
dari wakil kepala sekolah urusan kurikulum.
"Assalamu'alaikum. Ibu memanggil saya?" tanya sosok tinggi
semampai berseragam putih biru, berhijab rapih.
Siapa lagi kalau bukan Lutfia.
Siswa yang sejak tadi ditunggunya.
"Wa'alaikumsalam,
Alhamdulillah, dari tadi ibu tungguin kamu."
Lutfia
segera duduk setelah dipersilahkan Syakilla. Dua gadis berjeda delapan tahun
itu seperti adik kakak.
"Kamu
ketinggalan ini di kantin sekolah tadi pagi.
Ibu mohon habiskan makanan sama minuman yang udah kamu pesan. Nggak baik menyia-nyiakan rezeki minallah"
"Masya
Allah, ibu, saya lupa belum bayar makanan ini.
Saya pamit ke kantin dulu ya Bu.
Saya segera kemari khawatir lupa lagi."
"Tenang
aja Lutfia, ibu udah membayar semuanya."
Lutfia
mengurungkan niatnya menuju kantin. Ada
rasa malu sekaligus terima kasih pada bu
guru cantik di depannya itu.
"Biar
Fia ganti uang Ibu." Gadis itu berusaha
mencari uang di dompet, tas, hingga saku bajunya. Namun nihil. Syakilla melihat Lutfia sibuk
mencari meskipun sudah berulang kali ia melarangnya, Lutfia seakan mencari sesuatu yang ia tahu tidak
ada.
Lutfia
kembali duduk tenang setelah Syakilla mengembalikan konsentrasinya pada
pertemuan siang itu.
Ruang
konseling yang luasnya lima kali empat meter itu makin terasa sempit buat
Lutfia. Nuansa hijau dan aroma therapy pengharum ruangan tak sedikit pun
membuat kegelisahannya berkurang.
Syakilla
memberikan segelas air hangat untuk menenangkan konselinya."Fia, ibu mau
tahu siapa temen deket kamu di sekolah ini?"
Fia
diam dan menggelengkan kepala."Dulu aku punya tapi sekarang tidak
lagi. Mereka hanya dekat saat aku punya
uang atau makanan. Mereka hanya mau
senangnya aja."
"Memang
Fia nggak punya uang sekarang?"
Belum
selesai perbincangan mereka, dari luar ruangan seseorang mencari Lutfia dengan
nada amarah
"Itu
suara ayah. Ibu tolongin aku, aku nggak
mau pindah dari sekolah ini."
Ekspresi wajah Lutfia diselimuti rasa takut yang mendalam.
Syakilla
keluar ruangan, menemui ayah Lutfia."Bapak, sabar dulu. Kurang baik bila permasalahan keluarga diketahui semua warga sekolah. Apapun permasalahannya, pasti Allah sediakan
solusinya. Sekecil apapun yang bisa saya lakukan, saya akan berusaha
meringankan beban Bapak."
"Jangan
sok jadi malaikat, Bu. Di zaman serba
gila ini saya sudah puas menjadi mangsa sesama manusia yang buas menerkam
saudaranya. Kebuasan ini harus dihadapi
dengan kebuasan atau kita tertindas selamanya."
"Saya
bukan malaikat atau sok mau jadi
malaikat, Pak. Tapi saya hanya ingin menjadi jalan rahmat Allah bagi siapa saja
semampu yang Allah berikan pada saya.”
Syakilla
berusaha mencegah pertengkaran di ruangnya.
Hatinya diliputi doa penuh cinta pada sesamanya. "Bihaqi
Rasulillah SAW, Ya Allah izinkan aku menyampaikan pesan rahmat-Mu. Ringankan
lisanku, lembutkan hati lawan bicaraku." Syakira terus berdoa lisannya
tak henti menyebutkan asma-Nya, Allathif Arrahman, Arrahiim.
“Sebaiknya
kita berbicara dan berusaha memecahkan masalah kita bersama, ya, Pak?” Suara Syakilla melembut.
Pak
Juanda, sosok berusia enam puluhan itu mulai menurunkan ketegangan di raut
wajahnya. "Saya sudah lima bulan kehilangan usaha. Dua bulan issue
covid-19 menghabiskan pelanggan rumah makan kami. Modal dan aset yang kami punya dibawa lari
orang kepercayaan kami. Ada seseorang yang mau menolong kami dengan catatan
Lutfia harus tinggal bersamanya. Pak
Galang, rekan bisnis kami, orang itu satu-satunya yang mau menolong
kami." Tiba-tiba saja Pak Juanda
mengungkap permasalahan yang dialaminya. "Solusi apa yang ibu tawarkan
buat kami sekeluarga?" tantang Psk Juanda tanpa rasa sungkan.
"Baru
saja Bapak bilang semua tega makan sesamanya.
Apakah Bapak nggak khawatir dengan nasib Fia? Bukankah Lutfia jadi
barang jaminan untuk bantuan yang ditawarkan Pak Galang?
Mungkin untuk
sementara masalah ekonomi keluarga akan terselesaikan tapi ingat masalah
kejiwaan Lutfia, Pak. Jiwa lebih
berharga dari harta. Kalau jiwa dan hati
terluka bagaimana kita Meu memperbaikinya?
"Tapi
kesediaan Lutfia akan menyelamatkan lima anggota keluarga kami."
"Dengan
memutuskan masa depan Lutfia? Membuatnya menangis tiap hari? Lutfia sudah menyatakan keberatannya. Apa itu
tidak cukup membuat Bapak iba?"
"Terus
saya harus bagaimana? Semua jalan buntu. Hutang saya makin banyak."
"Wastainu
bisshobri washsholaah. Allah menyediakan
solusi untuk tiap masalah yang hadir."
"Dulu
saat kami dalam limpahan nikmat, saya salat tapi sejak musibah penipuan itu,
saya merasa tak ada gunanya salat. Saya
merasa Tuhan tidak lagi mau mendengar doa atau menerima ibadah saya."
“Bapak
sudah berburuk sangka sama Tuhan.
Padahal permasalahan Bapak sebentar lagi akan terselesaikan.”
“Maksud
Bu Syakilla?”
Belakangan
ini ayah saya meminta tolong sama saya untuk mencari pengelola toko kami di
kota ini. Syaratnya orangnya harus
berpengalaman dalam bidang wirausaha dan harus mendirikan salat lima waktu. Saya rasa Bapak adalah orang yang tepat. Saya akan berusaha meyakinkan ayah saya.”
Pak
Juanda hanya bisa terbengong-bengong dengan tawaran solusi Syakilla. Ada rasa malu, sekaligus bersyukur. Malu atas dosa hatinya yang telah berburuk
sangka pada Allah. Bersyukur atas
kesempatan yang Allah datangkan melalui Syakilla. Kesempatan untuk kembali bersujud pada Yang
Mahakuasa.
Berulang
kali Pak Juanda berterimakasih dan meminta maaf telah mendatangi sekolah ini
dengan jumawa, tanpa adab dan akhlak kesopanan.
“Bapak
tidak perlu berterima kasih pada saya, pujian dan kesyukuran hanya hak
Allah. Sudah menjadi kewajiban setiap
umat Islam untuk mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Jadi semua yang saya sampaikan semata-mata
karena rahmat-Nya. Jawaban Allah atas
ibadah ikhlas Bapak sebelum Bapak berputus asa.”
Lutfia
mengikuti perkembangan nasib dirinya dalam perbincangan itu. Dua insan yang turut menjadi jalan untuk
lepas dari cengkeraman Om Galang. Cinta
Syakilla seakan Oasis di padang gersang.
Di ulang tahunnya yang ke-16 di bulan Februari ini, uluran tangan
Syakilla adalah hadiah terindah di sepanjang langkah hidupnya.
KESETIAAN_AKU TETAP MENUNGGU
Khadijah Hanif
Mungkin kami adalah generasi aneh
yang masih tersisa di zaman ini. Zaman
di mana semua koneksi manusia begitu mudah dan terfasilitasi teknologi. Atau, sebagian orang akan menilai aku dan
istriku sebagai orang ‘kuper’, kurang pergaulan dan ketinggalan zaman. Ya, betapa tidak, kami belum pernah mengenal
satu sama lain. Tiba-tiba kami
dipertemukan dengan takdir Allah SWT dalam satu ikatan pernikahan.
“Gila kamu, Zein. Kamu terima
perjodohan ini begitu saja? Taaruf itu
penting. Kamu dan istri kamu memang aku
akui orang saleh di zaman edan ini. Tapi
menikah itu bukan main-main. Kalau bisa
sekali buat selamanya?” Irfan, sahabat
dekatku tiba-tiba mencak-mencak mendengar aku memutuskan menikahi Liana. Seorang gadis penghafal Alquran yang
menghabiskan usianya dari satu pesantren ke pesantren lain.
“Aku memang gila, Irfan, tapi lebih
baik gila tapi benar daripada waras tapi salah,” tukasku santai. Irfan terdiam dan tidak melanjutkan
protesnya. “Aku tahu risiko yang bakal
aku hadapi, doakan aja aku siap menghadapi semuanya. Aku yakin setiap takdir yang hadir ada
hikmahnya.”
Di malam pertama, semua terasa begitu
gamang. Tidak semudah kisah Ayat-Ayat
Cinta. Untuk bicara berdua pun kami
saling segan.
“Amu sudah siap buat punya
momongan?” tanyaku hati-hati. Aku
memilihkan panggilan sederhana yang bisa mewakili rasa sayangku pada Liana, aku
cinta kamu.
Ada rona merah di wajahnya. “Belum,
Kak. Aku ingin menyelesaikan tugas
kuliah dan organisasi di kampus. Maafin
aku, ya, Kak.” Suara berat Liana
berselaput rasa bersalah yang sepenuhnya aku maklumi. Alasan ini pula yang membuatku takut untuk
menyentuhnya lebih dalam.
Pekan awal pernikahan kami, semua terasa baik-baik
saja. Liana bersikap manis dan menuruti
apa yang menjadi ajakanku.
“Amu, kita belanja, yuk!” pintaku
suatu sore.
“Belanja apa, Kak?
Bukannya di kulkas masih banyak persediaan makanan?” Liana menatapku
dengan balutan senyum manis di wajahnya.
“Kakak mau membeli baju tidur buat kita berdua.”
“Oh, iya atuh. Tunggu
sebentar aku siap-siap dulu.” Liana
mematut diri di kamar. Ada beberapa
kosmetik yang dia pakai.
“Amu, kita hanya sebentar.
Ngapain dandan berlama-lama?”
Raut muka Liana berubah seketika. Kucoba meraba perasaannya dan kemudian
meminta maaf. Aku harus mengatur ritme
kebiasaanku yang serba cepat saat belum menikah. Kini aku tidak sendiri mengayun langkah. Ada Liana yang tidak boleh tertinggal di
belakang. Dia adalah pendamping yang
harus ada di sampingku.
Awal yang berat buat kami saling memahami. Dalam pengamatanku, Liana seorang wanita yang
serba rapi dan perfeksionis memerhatikan penampilannya. Dia tidak akan membiarkan sedikit pun noda di
gamis atau jilbabnya. Sementara aku,
cenderung cuek dan ala kadarnya. Baju
yang aku pakai kadang bisa bertahan tiga hari di gantungan. Tidak seperti Liana yang tiap hari berganti
pakaian. Aku kadang menilai ia boros
dalam memelihara pakaiannya, sabun, pewangi, pelicin, semua harus
tersedia. Banyak perbedaan di antara
kami.
“Amu, Kakak pingin makan di luar malam ini.” Malam Ahad ini genap sepekan pernikahan kami.
Perubahan drastis aku rasakan pada sikap Liana. Dia hanya menggeleng dengan seutas senyum
tipis yang berkesan dipaksakan.
Liana tiba-tiba terlihat menjadi wanita pemalas. Tiap aku pulang kantor, Liana sedang rebahan
di atas dipan. Dia tidak lagi
menyambutku dan mencium tanganku. Begitu
pun saat aku mau berangkat kerja, tidak ada sarapan yang tersedia di atas meja.
“Boleh Kakak tahu apa yang menjadi beban pikiran atau
perasaan Amu?” tanyaku kebingungan sendiri.
“Nggak apa-apa, Kak.”
Liana menjawab singkat
Tiba-tiba rumah kami menjadi kuburan, sepi. Pertanyaanku hanya dijawab beberapa patah
kata. Ya dan tidak atau bahkan hanya
anggukan atau gelengan. Ada kalanya aku
merasa dianggap seperti patung saat aku tak sempat melihat anggukan dan
gelengannya.
Saat kami berdua di kamar, aku tak henti-hentinya berusaha
menyentuhnya. Tapi belum juga tanganku
sampai, tubuh Liana terlihat kaku dan ingin menolakku. Aku mengurungkan niatku. Tak jarang dia membuat jarak bahkan
membelakangiku. Ya Tuhan, bukankah dia
tahu agama dan belajar bagaimana bersikap pada suami? Aku tak habis pikir, apa yang menyebabkan ini
semua?
Keadaan ini tidak berlangsung singkat. Aku selalu berharap Liana akan kembali
bersikap manis sebagaimana pekan awal kami menikah. Akan tetapi harapanku tak kunjung hadir. Satu bulan, dua bulan, bahkan enam bulan
sikapnya belum juga membaik.
Di tengah kebingungan yang mendera, aku berusaha menuruti
apa yang menjadi keinginan hatinya.
“Kak, kegiatan
kampus memerlukan keberadaanku di tengah anak-anak. Aku minta izin kembali ke asrama
kampus.” Liana akhirnya bicara juga, meskipun
dengan nada datar. Terus terang aku
keberatan dengan permintaannya yang satu ini.
Aku tahu Liana dekat dengan seseorang di kampusnya.
“Kita baru saja
menikah, jalinan hubungan kita dingin-dingin saja. Lalu kamu mau ninggalin
aku. Ini apa maksudnya?! Kamu pingin dekat dengan Alfian, partner
organisasi kampus?” Kali ini aku tidak
bisa membiarkannya berbuat sesuka hati.
“Inilah yang
aku khawatirkan dari pernikahan, semua jadi terhambat. Kuliah, organisasi, bisnis. Aku sudah bilang aku belum siap menikah, aku
masih banyak keinginan. Tapi Kakak nekat
melamarku.” Liana meluahkan isi hatinya untuk kemudian terdiam. Setelah itu, rumah ini lebih sepi dari
kuburan
Hubunganku dengan
Liana berusaha aku rahasiakan serapat mungkin, terutama pada ibu. Beliau orang yang paling perhatian seumur
hidupku. Beberapa hari setelah keributan
malam itu, ibu datang menyambangi kami.
“Dalam berumah tangga itu ada seni untuk saling memahami,
saling mengerti keinginan masing-masing.
Komunikasikan baik-baik apa yang menjadi harapan dari masing-masing
kalian. Saling percaya harus kalian
bangun. Awal keretakan itu dari saling
curiga dan saling memendam rahasia,” ungkap Ibu menyejukkan hati kami. “Coba
Liana katakan apa yang menjadi harapan kamu, Nduk?”
“Liana hanya ingin membantu organisasi kampus yang sedang
berada dalam kesulitan. Temen-temen udah
berkali-kali minta Liana dateng. Tapi
Kak Zein nggak ngasih izin, Bu.”
Perbincangan kami sedikit mencairkan suasana dan aku
akhirnya mengalah. Mencoba mengenyahkan
bongkahan ego di hatiku. “Yang Amu
anggap baik, lakukan saja. Kakak tidak
akan menghalangi kegiatan yang masih harus Amu lakukan. Semoga banyak
berkah dan manfaatnya."
Beberapa kali kami berpisah dan berkumpul kembali. Aku mencoba selalu mengalah demi keutuhan
rumah tangga yang berusaha kami bangun.
Saat sendiri, aku putuskan untuk banyak mendekatkan diri
pada Sang Pencipta, Sang Penentu Takdir yang sering kali tidak terjangkau oleh
kemampuan akal dan logikaku. Dalam salat
malam aku lantukan doa terindah pada Yang Maha Tahu.
“Ya Rabb, sejak Kau takdirkan aku
ucapkan akad itu, aku yakin dengan ketentuan terbaik yang Engkau putuskan. Istikharah yang Kau jawab dengan ijab kabul
adalah jalan terbaik yang Kau pilihkan untuk kami. Maka jangan Engkau putuskan harapan kami
untuk meraih sakinah, mawadah wa rahmah.
Rabbii, bukan mudah untuk menolak keinginan berpisah dari rasa hati yang
sakit ini. Ya Rabb, izinkan kami
memandang kesucian ikatan pernikahan yang Kau takdirkan. Jauhkan kami dari keputusasaan. Izinkan aku untuk menjadi pemimpin buat istri
hamba. Lembutkan hatinya untuk memaafkan
hamba, jika hamba bersalah.”
Ponsel di sampingku berdenting tanda chat WA masuk. Aku segera membukanya, mungkin ada jawaban
yang Allah sediakan melalui hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.
Dari notifikasi, pesan terbaru dari ibu mertuaku, Bunda
Dewi.
“Assalamualaikum, Zein, gimana kabar kalian? Bunda selalu mendoakan yang terbaik. Bunda hanya bisa ikut menasihasi Liana supaya
bisa menjadi istri salihah. Terus terang
dia belum cukup matang untuk berumah tangga.
Maafin kami mengamanahkan jiwa raga, lahir batin Liana, semoga menjadi
ladang amal ibadah buatmu, Zein.”
Aku segera membalas dengan
kalimat-kalimat yang membahagiakan beliau.
Meskipun aku berbohong, semoga kebohongan ini bernilai ibadah atas niat
baikku.
“Waalaikumsalam, alhamdulillah, Bun. Liana seorang istri yang baik dan
salihah. Kami baik-baik aja, berkat doa
Bunda.”
“Terima kasih, Zein, Bunda merasa lega. Terimalah dia apa adanya, kalian dipertemukan
Allah untuk saling melengkapi. Melihat
dan mengumpulkan kebaikan dari masing-masing pasangan. Membuang yang tidak baik dan mengambil sifat
baik dari masing-masing pasangan, semoga kalian bisa saling memperbaiki.”
“Beri nasihat pada Zein, Bunda. Apa yang harus Zein lakukan buat ngebahagiain
Liana.”
“Sebenarnya sederhana, Zein.
Liana sangat memerhatikan penampilan.
Dia selalu ingin tampak rapi, dia tidak betah dengan bau keringat
walaupun setetes. Coba untuk merawat
diri seperti yang Liana lakukan.”
Percakapan singkat kami malam ini seakan membuka tabir
kebingungan yang mendera perasaanku. Aku
mendatangi Liana yang masih berbaring di atas dipan. Aku ingin membangunkannya untuk salat malam
bersama. Serpihan keberanian di hatiku
harus aku rekatkan kembali.
“Liana, aku tahu kamu belum bisa
menerima aku apa adanya. Aku akan setia
menunggu cinta itu hadir di hatimu.
Cinta yang tidak menerima apa adanya, tetapi cinta yang menginginkan aku
menjadi pribadi yang sempurna. Terima
kasih atas kehadiranmu, aku akan mencoba menjadi seseorang yang membahagiakan
hatimu.”
Kutunda niat membangunkan Liana. Aku ambil kunci motor dan mencari mini market
terdekat yang buka 24 jam. Aku mencari
kebutuhan perawatan pria yang disukai Liana terutama dalam aroma. Mulai dari shampoo, sabun mandi, deodoran dan
minyak rambut.
Pakaian dalam yang lama sudah sering Liana ingatkan untuk
menggantinya. Aku mencari stan pakaian,
beruntung ada etalase khusus pakaian pria.
Aku mencari pakaian pria dengan model trendy yang disukai
Liana. Aku habiskan dua juta menjelang
Subuh ini, khusus buat membahagiakan Liana.
Sesampai di rumah, aku melihat Liana sedang salat
malam. Ada isak tangis terdengar dari
dalam kamar. Aku duduk di balik
tirai. Sepertinya Liana tidak mengetahui
kehadiranku.
“Ya Allah, jangan biarkan hamba
terus berdosa dengan sikap buruk hamba pada suami hamba. Hamba tahu sikap hamba selama ini salah dan
menyakitinya. Tapi hamba juga tidak
mampu mengendalikan semua ini, Ya Rabb.
Bila dia adalah jodoh terbaik buat hamba, perbaiki perasaan hati ini
untuk menerima dia apa adanya. Waktu
enam bulan bukan sebentar dia membuktikan kasih sayang, kesabaran dan
kesetiaan. Terima kasih Ya Allah, Kau
kirimkan aku suami yang terlalu baik untuk hamba-Mu yang banyak dosa dan masih
cinta dunia ini.”
Aku terhenyak dengan doa tulusnya, ingin rasanya aku segera
menemui Liana dan memeluknya. Tapi aku
harus membuat kejutan untuknya menjelang Subuh ini. Aku mengendap-endap masuk ke kamar mandi,
mematut diri dengan penampilan yang Liana sukai.
Ternyata cukup lama juga aku harus berdandan. Setengah jam.
Padahal biasanya aku hanya menghabiskan lima menit di kamar mandi. Awalnya aku hampir putus asa, tapi aku harus
mencoba. Dengan penampilanku ini aku
akui sepuluh kali lipat aku lebih handsome. Aku tersenyum sendiri di depan cermin di
kamar mandi.
“Assalamualaikum, Amu.”
Pelan aku menyapa Liana yang sedang murajaah Alquran. Kuakui bacaannya lebih baik dariku.
Liana menoleh ditatapnya aku dari ujung rambut hingga ujung
kaki. “Ini beneran Kak Zein, suami aku?”
Senyuman Liana mengembang seperti saat malam pertama kami
bersama. Sepihan keberanian itu memenuhi
rongga batinku. Aku tidak ingin
kehilangan kesempatan membahagiakan dia seutuhnya.
“Liana, izinkan aku menyentuhmu. Amu sudah siap memiliki momongan?” Liana tenggelam dalam pelukanku. Ia mengangguk, menunduk dalam, penuh rasa
malu.
Aku sentuh dua pipinya, wajah kami begitu dekat. Rona merah jambu menghangatkan raut wajahnya
yang seribu kali lebih rupawan. Pagi ini
menjadi saat terindah dalam hidup kami.
Tetesan embun yang sejuk itu siap membasahi halaman cinta yang kami jaga
dengan sabar dan kesetiaan. Setan-setan
pengganggu hubungan kami lari tunggang langgang dan malaikat pun bertasbih
bersama cinta yang makin bersemi di taman hati kami.
BENTANGKAN SAYAPMU MERAIH ILMU
Khadijah Hanif
Memandang wajah tirusnya selalu
membuat benaman cinta dalam hatiku makin kuat tertancap. Abah, Pahlawan keluarga kami ini menjadi
sumber inspirasi kami yang tak pernah kering.
“Biarkanlah kepedihan masa lalu Abah
menjadi sejarah. Menjadi pelajaran
berharga buat kalian bahwa semua harus diraih dengan ilmu.” Abah tak pernah lelah menasihati kami untuk
terus belajar.
Di sela-sela kebersamaan kami, Abah
selalu bercerita tentang perjuangan berat hidupnya.
“Sejak unur sepuluh tahun, Abah
sudah jadi anak yatim. Tidak ada yang
membiayai Abah belajar kecuali keluhuran budi Mamak Ajengan. Seorang Kyai di kampung kita ini. Beliau menganggap Abah sebagai anak beliau
sendiri. Abah lebih meletakkan diri sebagai
murid bahkan abdi buat Mamak, karena Abah yakin dengan ambil berkah ajengan,
hidup Abah akan diberkahi.”
“Maksud ambil berkat itu apa, Bah?”
tanyaku polos sebagaimana anak-anak usia SD pada umumnya.
“Ambil berkat atau tabarukan itu,
melayani apa pun yang diperintahkan ajengan.
Bahkan tanpa disuruh pun kita harus tahu hal-hal yang harus dilakukan untuk mendatangkan rida
ajengan.”
“Terus apa aja yang Abah lakukan
waktu itu?” tanya Kang Alif, kakak pertamaku.
Abah berhenti sejenak
mengingat-ingat apa yang terjadi lebih dari empat puluh tahun yang lalu.
“Abah bangun jam tiga pagi. Mengisi bak tempat santri berwudhu. Dulu belum ada mesin pompa listrik. Semua masih serba manual. Abah menimba air dengan ember. Setelah qiyamullail, Abah menyalakan tungku
dapur Mamak untuk keperluan rumah tangga beliau. Memasak air dan
menanak nasi. Kalau memasak, Bu Nyai
tidak pernah mempercayakan pada orang lain.
Setelah Subuh kami mendengarkan pangaosan
sambil membuka kitab kuning sampai jam tujuh.
Selepas pangaosan, Abah
kembali kerja di rumah Mamak, membersihkan rumah, menyapu, dan mengepel
lantai. Agak siangan Abah cari kayu
kering di kebon buat bahan bakar dapur, sambil mencari rumput buat makan
kambing.”
Kami terkagum-kagum mendengar cerita
Abah. Terbayang usianya yang masih
sepuluh tahun, tetapi waktunya habis buat
berhidmat dan belajar.
“Selama di kebon Abah selalu
menyempatkan diri buat salat Dhuha di tajuk. Sebelum Zuhur tiba Abah berusaha memasuki
masjid pesantren buat salat berjamaah.
Rasanya sayang kalau salat sendirian sementara perbedaan pahalanya dua
puluh tujuh kali lipat bisa kita raih.”
Abah melanjutkan ceritanya, “Setelah
Zuhur, Abah biasa menyeterika baju keluarga Mamak dengan seterika arang. Bakda Asar, Abah bisa belajar kitab lagi
sampai Maghrib. Kegiatan bakda Magrib
diserahkan pada masing-masing santri.
Abah biasa menghabiskan waktu untuk mengamalkan bacaan yang diijazahkan
Mamak. Habis Isya, pembimbing Abah yang
ditunjuk Mamak akan mengulang pembelajaran kitab yang Abah terima tiap
harinya.”
“Luar biasa. Waktu Abah nggak ada yang sia-sia. Biasanya Abah tidur malam jam berapa?” tanya Kang Ilyas,
kakakku yang kedua.
“Sekitar jam sebelas.”
Pantaslah Abah mahir membuka kitab
tanpa harakat yang berjejer rapi di
rak buku koleksi kitabnya. Ternyata
selama dua puluh tahun tinggal bersama Mamak Ajengan Mustafa, waktunya habis
untuk ibadah, khidmat, dan belajar.
“Kalian harus lebih berhasil
dariAbah. Abah belajar tanpa mendapat
gelar. Untuk kuliah saja tidak punya
biaya, apalagi belajar sampai ke luar
negeri, impian belaka.”
Rupanya impian yang tak pernah
terwujud itu membuat Abah bertekad membiayai kami sampai ke mana pun kami
belajar.
“Abah kamu itu istimewa, ya,
Idah. Nggak punya kerjaan tapi bisa
nguliahin kakak-kakak kamu sampai ke luar negeri. Bukan cukup sampai S1, tapi S2. Bibik nggak sanggup kalau harus seperti Abah
dan emakmu.” Sore itu sepulang membantu
Abah di sawah aku berpapasan dengan Bi Asih, adik Emak.
“Beginilah, Bi. Abah hanya nyangkul di sawah Kakek Uwa. Pergi jam delapan pagi pulang jam
sebelas. Berangkat lagi jam satu siang,
pulang menjelang Asar.”
“Tapi, tamu Abah yang datang tanpa
diundang, menjadi bukti kalau Abah kamu itu orang pintar.”
Aku geli dengan sebutan orang pintar
yang diutarakan Bi Asih. Sebenarnya Abah
memang orang alim, berilmu. Bahkan
sebelum tersaingi oleh pesantren modern yang memiliki sekolah, Abah sempat
mendirikan pesantren di lahan wakaf Haji Imran, tetangga kami. Pesantren salaf tradisional yang murni
mengajarkan kitab kuning itu akhirnya ditinggalkan santri-santrinya.
Tanpa memasang atribut apa pun di
rumah, para tamu datang untuk berkonsultasi di rumah.
“Kalau kisanak mau meminta amalan
dari saya, syaratnya tiga. Pertama
jangan tinggalkan salat, jangan lupa bersedekah, dan jadilah keluarga pecinta
ilmu. Biarkan anak-anak kita tumbuh
kembang dalam kecintaan pada ilmu.
Masukkan anak-anak kisanak ke pesantren.
Kalau bisa pergi ke negeri-negeri jauh yang menjadi gudang ilmu. Baru saya akan beri kunci-kunci amalan
rahasia untuk membuka pertolongan Allah SWT.”
Aku mendengarkan nasihat Abah pada para tetamu dari balik tirai
kamar.
Masa belajarku di pesantren
Darussalam tinggal menghitung hari. Abah
sudah mulai menanyakan kelanjutan pendidikanku.
“Idah anak perempuan, sebaiknya kita
nikahkan saja, Bah.” Emak mengungkapkan
ide yang membuatku kaget. Terus terang
aku belum siap untuk berumah tangga.
Abah masih asyik menyeruput
secangkir kopi di teras rumah kami yang sederhana. Rumah yang tak pernah sempat kami renovasi
karena uang Abah selalu diprioritaskan untuk biaya sekolah. Dua kakakku yang masih belajar di Sudan, aku,
dan Teh Bibah masih di pesantren sambil sekolah dan kuliah. Dua adikku masih sekolah di SD dan SMP
negeri.
“Kemarin anak Pak Lurah Surya datang
kemari nanyain Idah. Emak bilang masih
sekolah,” lanjut Emak serius.
“Abah tidak akan menikahkan Idah
sebelum dia lulus S1. Sekalian saja biar
Faridah nyusul Kakak Ilyas ke Sudan.
Biar menggantikan Alif yang sudah tamat S2.” Pancaran optimisme Abah dengan jelas
tertangkap dari sorot matanya yang tajam.
“Kalau anak-anak dikirim ke luar
negeri terus, kapan kita membenahi rumah kita yang nggak punya langit-langit
ini, Bah? Belum lagi lantainya yang baru
saja sempat kita keramik, tapi sudah belah di sana-sini. Lihat ini Abah, lantai rumah kita sudah nggak
rata.” Emak terlihat serius mengharap
rumah ini segera direnovasi.
“Kalau harta sewaktu-waktu dengan
mudah Allah ambil. Ada bencana, ada
kecurian, ada kerusakan bahkan saat maut tiba akan kita tinggalkan. Tapi, kalau ilmu, akan terus mengikuti kita
sampai liang lahat bahkan akhirat. Ilmu
akan meninggikan darjat di sisi Allah di dunia bahkan di akhirat. Jadi mana yang lebih utama, Mak?” Nada suara Abah meninggi.
Tanda bahwa Abah tak mau dibantah
lagi. Emak tahu persis bahwa ia harus
diam dan menerima alasan Abah.
Aku belum sempat menjawab pertanyaan
Abah, tentang rencana kuliahku. Yang
jelas, masa-masa pandemi COVID-19 ini aku banyak tinggal di rumah bersama Abah
dan Emak. Pesantrenku termasuk yang
sangat hati-hati mengumpulkan santri di pondok.
Sudah satu bulan kami dipulangkan karena ada keluarga yayasan yang ‘katanya’ terpapar
COVID. Meskipun yang bersangkutan sudah sembuh, tetap kami
belum boleh memasuki pesantren. Semua pembelajaran
dilakukan daring.
“Idah, kakakmu, Ilyas sudah
mengusahakan keberangkatanmu ke Sudan.
Perkiraan pemberangkatan sebulan setelah kamu lulus. Jadi siapkan beberapa hal penting yang harus
ada sebagai syarat kuliah di sana.” Abah
menodongku dengan selembar kertas berisi persyaratan kuliah di Sudan.
Ada perasaan campur aduk dalam
hatiku. Di satu sisi aku merasa
beruntung punya abah yang begitu peduli dengan perkembangan belajar
anaknya. Aku hanya berharap semoga
ketaatanku membawa berkah buat diri, keluarga dan orang lain juga sesama.
Kelulusanku dari sekolah dan
pesantren akhirnya terlewati juga. Masa
pandemi yang melelahkan itu tak akan pernah mampu menahan qadar Allah SWT. Saatnya aku fokus mempesiapkan persyaratan
kuliah di ruar negeri. Persyaratan yang
diminta sudah aku penuhi. Ijazah yang
sudah diterjemahkan dalam bahasa Arab, nilai rapot, bukti setifikat hafalan
sepuluh juz, foto kopi KTP, pernyataan sehat, rekomendasi sekolah dan pesantren
serta pernyataan orang tua.
***
Dorongan Abah untuk melanjutkan
pendidikan ke luar negeri membuatku makin bersemangat melengkapi
persyaratan. Dalam waktu dua pekan aku
sudah mendapatkan semuanya.
“Abah, ini Idah udah dapet semua
persyaratan kuliahnya.” Aku mencari Abah
ke kamar dan ruang tengah, tetapi
nihil. Rumah sepi tanpa siapa pun. Aku mencari ponsel, barang kali ada petunjuk
ke mana Abah dan Emak.
Dari grup keluarga, aku membuka foto
Abah dibawa ke rumah sakit sejam yang lalu.
Ada rasa cemas menggelayuti hatiku.
Ya, Allah, sehatkan Abah,
panjangkan umurnya. Izinkan ia melihat
kami dengan tatapan bahagia saat harapan-harapannya bisa kami wujudkan. Aku terus berdoa dalam hati.
Aku meraih kunci motor di atas meja,
lalu melajukannya agarsegera menemui
Abah. Aku ingin mengembangkan senyum di
wajah tirusnya. Senyum bahagia karena
anaknya akan segera membentangkan sayap meraih cahaya ilmu.
Rumah Sakit Umum Daerah hanya
berjarak lima kilometer dari rumah kami.
Aku mencari IGD yang ditunjukkan Kang Alif melalui shareloc WA.
“Kang, Abah udah dapat kamar
belum?” tanyaku via chat WA.
“Alhamdulillah, sudah. Ruang Mawar nomor 24.”
Menyusuri koridor rumah sakit yang
sepi pembesuk, aku menanyakan pada bagian informasi. Tidak sampai tiga menit, aku berhasil
menemukan ruang inap Abah. Alhamdulillah
dengan selalu mengikuti protokol kesehatan, aku tidak banyak mengalami
kesulitan pemeriksaan di saat pandemi ini.
Kang Alif berada di luar kamar,
duduk di sofa ruang kelas satu yang cukup nyaman ini. sementara Abah dan Emak
ada di dalam tersekat oleh tirai berwarna hijau muda.
“Abah sakit apa, Kang?” tanyaku
pelan
“Maagnya kambuh, biasa Abah selalu
puasa kalau sedang mendoakan kita.”
“Maksud Kang Alif, Abah sedang riyadhah buat kelancaran keberangkatanku
ke Sudan?”
“Betul sekali. Tapi kamu jangan khawatir, Abah akan
baik-baik saja.”
Aku ingin segera memeluk Abah. Aku intip tirai di samping shofa. Selang infuse mulai bekerja membantu asupan
cairan di pergelangan tangan kiri Abah.
Emak sedang menyuapkan makan siang yang disediakan rumah sakit.
“Assalamualaikum, Abah, Emak, maafin
Idah. Abah sampai sakit memperjuangkan
pemberangkatan Idah.” Aku mencium tangan
kisut Abah.
Telapak tangannya terlalu akrab dengan
kerja keras. Tangan yang akan membawa
Abah ke surge kelak.
Abah mengusap lembut kepalaku yang
terbalut hijab. “Bagaimana persiapan
berkas kamu, Idah. Sudah lengkap?” Aku tahu pasti pertanyaan itu yang akan Abah
lontarkan.
“Abah jangan banyak beban memikirkan
Idah. Yang penting Abah sembuh
dulu.” Aku tak mampu menahan genangan
bening di sudut mataku.
Aku mengeluarkan map dari dalam tas
punggung, lalu membuka satu per satu berkas yang diperlukan berikut paspor dan
visa. Bahkan tiket pesawat pun telah aku
booking online.
Abah tersenyum lebar, penuh
kebanggaan. “Berangkatlah, Anakku, jangan pernah ragu. Abah akan segera sehat. Ini untuk pertama kali Abah melepas anak
perempuan Abah ke negeri yang jauh. Kapan
kamu berangkat?”
“Empat hari lagi, Abah.”
“Besok pagi Abah harus pulang dari
sini. Kita persiapkan semuanya bersama-sama.” Abah memelukku erat. Tidak ada tanda-tanda sakit di wajahnya. Kebahagiaan itu begitu terpancar bersama
bentangan ilmu yang menanti di hadapanku.
Nubar
Area_Kindness Hunter’s Diary_Tamu_Khadijah Hanif
TAMU
Siang terik hari ini sebelum Zuhur,
aku langsung pulang untuk melepas penat setelah pulang kantor. Tempat yang terindah yang aku dambakan bisa melepaskan
segala beban kerja adalah rumah. Ya, meskipun rumah kami sederhana, berukuran
tidak lebih dari delapan kali delapan meter.
Rumah bercat putih yang mulai lusuh dan terkelupas di sana sini karena
lembab. Rumah yang hanya terbagi enam
ruang, dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang tengah atau ruang serba
guna, satu ruang dapur dan satu kamar mandi.
Kami bersyukur tinggal di rumah sederhana ini karena rumah inilah yang
menghimpun kami dalam kasih sayang, saling mengerti dan saling berbagi apa
saja.
Begitu memasuki rumah, aku mencoba
mencari sesuatu yang dapat diminum di dalam kulkas. Masya Allah begitu terkejutnya aku, kulkas penuh
dengan berbagai macam buah-buahan. Nanas yang ranum masih dengan tunasnya ada
enam. Alpukat besar-besar entah berapa
jumlahnya aku enggan menghitung. Sirsak
lima buah sebagian sudah empuk dan yang lainnya hampir matang, pepaya masak
empat buah mungkin satu kiloan beratnya masing-masing.
Rasa hausku tiba-tiba lenyap oleh
rasa kaget.
“Bibi, kemari sebentar!” Aku mepanggil
bibi yang sedang sibuk menyetelika baju di ruang tengah. “Bi, ini buah-buahan banyak sekali siapa yang
mengirim?” To the point aku interogasi bibi.
Sosok sederhana, terbalut baju
muslimah yang sudah usang itu hanya menundukkan kepala dalam-dalam. Mungkin panggilanku tadi terlalu keras saking
kagetnya. Mengingat segala kebaikannya,
pengorbanannya mendampingi tugasku di rumah, bibi adalah pahlawan buatku. Tanpa bantuannya entah bagaimana aku
menyelesaikan tugas-tugas kantor yang kadang terkejar dead line, sementara
deretan kerja rumah menumpuk tiada henti.
“Kenapa Bi, nunduk terus. Ibu nggak
marah kok. Kalau manggil Bibi agak kenceng itu karena kaget aja. Itu kulkas penuh amat sama buah-buahan dari
mana ya?”
“Itu Bu, tadi ada tamu yang menitip
barang-barang itu. Katanya tolong
diterima dulu, besok dia akan kemari lagi.”
Bibi mulai sedikit mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk.
“Bibi tanya nggak siapa orang
itu. Maksud saya kalau yang datang bukan
orang baik-baik atau ternyata barang itu barang curian, akan berbahaya buat
kita. Kalau ada orang yang mau memfitnah
kita, akan dengan mudah kita jadi sasaran empuknya.” Aku menjelaskan panjang
lebar.
“Maafkan saya Bu, saya cuma kasihan
sama orang itu. Sepertinya datang dari
jauh membawa barang ini sendirian. Usianya juga sudah sepuh, saya yakin orang
itu bukan orang jahat. Pakaiannya juga
tertutup rapih, tutur katanya halus.”
Bibi berusaha meyakinkanku.
Aku memutuskan untuk diam dan
menghentikan perdebatan ini. Khawatir
membuat bibi makin merasa bersalah.
“Semoga tidak ada apa-apa. Kita berbaik sangka aja, tamu kemarin orang
baik-baik. Tapi pesan saya jangan diterima
kalau ijab kabulnya nggak jelas. Apapun
barangnya, apalagi kalau barangnya barang berharga. Alhamdulillah ini hanya buah-buahan.”
Bibi melanjutkan pekerjaannya dan
aku memutuskan untuk segera berwudhu sepuluh menit lagi waktu Dzuhur tiba
***
Sehari dua hari kami menunggu tamu
itu tidak datang juga. Buah-buahan sudah
mulai mubadzir kalau tidak dimanfaatkan.
Hari ini hari Kamis, kami biasa mengadakan Majelis Yatama. Anggotanya anak yatim atau piatu atau yatim
piatu yang mesantren di pondok kami. Seperti
biasa anak-anak santri dan santriwati puasa Senin-Kamis. Jam lima sore kami sibuk menyiapkan makanan
buat takjil yatama.
“Ukhti Annisa, tolong kupas nanasnya,
ya. Caranya seperti ini. Kupas merata tidak perlu terlalu dalam yang penting
kulitnya habis, mata yang tersisa dibersihkan dengan arah miring melingkar. “
Aku memberi contoh pada salah satu santriwati anggota Yatama tingkat lima.
“Subhanalloh Ummi…banyak sekali
buah-buahannya. Ummi habis panen?”
Annisa terheran-heran karena memang tidak biasanya acara Majelis Yatama kami
menyajikan buah-buahan begitu banyak.
“Panen dari mana Ukhti,” aku biasa
memanggil para santriwati dengan sebutan ukhti,” ini dari tamu yang datang hari
Selasa kemarin. Meninggalkan begitu saja
buah-buahan ini. Sampai sekarang tidak
jelas ini milik siapa.”
“Barang subhat dong Bu?” Lulu yang
aku suruh membuat jus alpukat menimpali.
“Bagaimana lagi, kalau mubadzir
berteman dengan syetan bukan?” Annisa mendahului jawabanku
“Jangan-jangan yang datang itu bukan
manusia biasa. Malaikat kali menyerupai
manusia, mengirim buah-buahan ini, sebagai balasan Ummi yang selalu baik ke
kita-kita.” Lulu asik mengarang
imajinasinya sendiri.
“Allahualam. Kita serba tidak tahu. Kita doakan saja ini
barang halal. Kalau suatu saat pemiliknya
datang tinggal kita beli.” Aku mengambil kesimpulan untuk menenangkan mereka.
Seperempat jam menjelang Maghrib,
aku baru dua langkah meninggalkan rumah untuk menuju Aula tempat kegiatan
yatama dilakuka.
“Assalamualaikum.” Seseorang tak dikenal datang, aku masih ingat
ciri-ciri tamu yang diceritakan bibi padaku.
“Waalaikum salam.” Aku mengurungkan
langkahku menghadiri Majelis Yatama, “Oh, Ibu yang hari Selasa kemarin membawa
buah-buahan kemari?”
Aku mempersilahkan tamu itu untuk
masuk rumah dan duduk di ruang tamu di atas karpet bludru. Tidak ada shofa di rumah kami kecuali
meja-meja pendek dan kami duduk lesehan.
Aku pergi ke dapur untuk mengambil air minum dan sedikit kue yang biasa
kami sediakan buat tamu yang datang.”
“Silahkan Bu, diminum dulu.”
“Apa sudah maghrib Bu?”
“Dua menit lagi. Ibu puasa?” tanyaku agak lega. Minimal aku yakin Ibu ini baik dan salihah
dan buah-buahan itu tidak menyisakan masalah.
Adzan Magrib berkumandang dari arah
Masjid Jami’ Alkautsar. Kami buka
bersama kemudian aku persilahkan tamu itu untuk mengambil wudhu dan
sholat. Tapi ternyata wanita berusia
sekitar enam puluhan tahun itu telah berwudhu, dia biasa mendawamkannya.
Aku meletakkan nasi dan lauk pauk
ala kadarnya di atas meja makan. Acar ikan patin, sayur lodeh, kerupuk dan
sambal. Semua bikinan bibi yang memang
pandai memasak.
Aku perhatikan tamuku yang satu ini
begitu istimewa. Tertib sekali dia makan, menandakan ia berilmu. Mencuci tangan, mengelap dengan tissue,
mengangkat tangan dan berdoa. Aku terus
perhatikan dia memperbaiki cara duduknya. Telapak kaki kiri diduduki dan kaki
kanan dilipat depan dada.
“Ibu maaf ada garam?”
“Ada. Sebentar saya ambil dulu. ” Aku lupa
menyediakan garam. Biasanya kalau aku
makan bersama suamiku, aku sediakan garam meja untuk sedikit dicicipi pada
jilatan pertama. Tamuku kali ini
benar-benar istimewa itu kesimpulan pertama yang aku ambil. Tidak semua orang tahu bahwa menjilat garam
sebelum makan adalah sunnah.
“Maaf kalau saya kurang sopan dan
banyak permintaan.”
“Tidak mengapa Bu, malah saya
berterima kasih sudah diingatkan.”
Aku mencoba membuka pembicaraan
tentang buah-buahan itu. “Ibu mohon maaf buah-buahan yang ibu titipkan pada
kami saya manfaatkan sebagian. Saya
khawatir busuk dan mubadzir kalau nunggu dikupas besok. Alhamdulillah hari ini ada Majelis Yatama
jadi kami gunakan untuk jamuan anak-anak Yatim.”
“Saya justru yang minta maaf,
sebenarnya buah-buahan itu bukan kepunyaan saya.”
Aku hampir tersedak demi mendengar
kalau buah-buah itu milik orang lain. Aku tahan dengan segera minum air putih.
“Tapi jangan khawatir, buah-buahan
itu bukan barang curian.”
Dia mulai bercerita.
“Kampung saya ada di kaki Gunung
Cikijing. Jauh dari jalan raya. Tidak ada kendaraan yang bisa memasuki
kampung kami karena jalanan rusak dan berbatu.
Lalu lalang kendaraan bermuatan kayu merusak jalan desa. Kikisan hujan tahun ini makin membuat jalan
rusak menjadi mirip sungai kering. Kebanyakan
kami adalah petani yang menurut ukuran orang kota ‘miskin’. Tapi Alhamdulillah kami tidak pernah merasa
miskin. Bagi kami bisa makan, minum,
berpakaian dan ada rumah panggung buat berteduh, itu sudah lebih dari cukup. Kami juga memiliki masjid dan majelis taklim
yang diisi oleh dua ajengan di sana. Dulu desa kami hijau ridang dan Gunung Cikijing masih banyak
memiliki hutan alami. Keadaan nyaman ini
mulai terusik dengan berkurangnya pohon di puncak gunung. Seiring dengan penebangan pohon, pelahan-lahan
air sumur di tengah kampung mulai mongering.
Penggali sumur makin sulit mendapatkan air pada kedalaman biasa. Malangnya lagi sungai yang bisa mengairi
lahan pertanian kami tidak lagi sederas dulu, leuwi nya sudah mulai
hilang. Sawah kami mulai mengandalkan
hujan dan sebagian beralih menjadi ladang.”
Aku mendengar dengan tekun kalimat
demi kalimat yang mengalir begitu tertib.
Aku yakin ibu di depanku ini bukan wanita kampung biasa. Kata-katanya tertata dan kalimatnya
menandakan tingkat intelektualitasnya.
Kemudian ia melanjutkan kisahnya.
“Jalan yang kami miliki mulai rusak
karena truk besar memaksa masuk membawa kayu hasil tebangan. Jalan desa yang ada cukup untuk masuk
kendaraan kolbak yang mengambil hasil bumi ke kota. Pencari hasil bumi biasa memasuki desa kami. Kami tinggal diam saja para pencari hasil
bumi berdatangan mengambil hasil bumi kami.
Tapi sejak jalan rusak dan diperparah dengan kikisan air hujan, kami
seolah terperangkap. Kebutuhan hidup
memaksa kami berpikir keras bagaimana menukar hasil bumi ini dengan uang. Akhirnya kami berbagi tugas, harus ada yang
mau jalan ke kota. Harus ada yang mau
keluar membawa hasil lading dan sawah kami kemana saja. Salah satunya saya. Jadi buah-buahan yang saya bawa dua hari yang
lalu milik beberapa orang.”
Kisah tamuku membuka segala misteri
yang membuatku penasaran beberapa tiga hari ini. Banyak pelajaran berharga yang bisa kudapat
dari kisahnya, tapi ada satu yang sangat mengganjal. Ternyata perbuatan dosa dan dzalim seseorang
(dalam hal ini pengusaha kayu), bisa membuat menderita penduduk satu desa
bahkan mungkin lebih. Aku pikir semua
yang menggunakan jalan rusak itu merasa terganggu. Sementara semua yang membuat rusak jalan itu
menikmati hasil usahanya untuk memenuhi isi kantongnya
Kisah ini hanya miniatur kecil
kisah-kisah serupa betapa rakyat kecil sering kali menderita oleh ulang
penguasa dan pengusaha.
Aku masih menemani tamu istimewaku.
Kami berbincang kecil untuk sekedar tahu dan kenal keluarga kami masing-masing.
“Ibu sampai maghrib begini dari mana
saja?”
“Biasa Neng, membawa hasil
bumi. Kali ini saya menitipkan ke
warung. Setelah laku semua nanti baru
bisa saya ambil hasilnya.”
“Kalau buah-buahan yang ibu bawa
kemarin berapa harganya? Kita belum
sepakat apakah harganya satuan, atau kiloan.
Lagi pula kalau kiloan saya lupa menimbang alpokat yang sebagian sudah
dibuat jus sama anak-anak.”
“Untuk yang kemarin teu langkung,
Neng. Berapapun saya terima. Lagi pula itu kesalahan saya meletakkan barang
dagangan tanpa akad.”
Aku kebingungan sendiri. Kira-kira
berapa uang yang harus aku bayar untuk membeli semuanya. Tanpa pikir panjang aku ambil amplop vakasi
mengawas ujian nasional selama empat hari.
Aku berikan utuh dan amplopnya pun masih tertutup. Niatku bukan membayar barang dagangan tapi
menghargai pengorbanan tamuku juga sedikit menghibur kesusahannya.
Ibu itu langsung memasukkan amplop
pemberianku dalam dompet lusuhnya. Tanpa
membuka berapa isinya. Kemuadian dia pamit pulang. Aku sempat membekalinya dengan sekantong
beras sebelum kami berpisah.
“Ibu, sebaiknya ibu menginap
saja. Ada kamar kosong. Saya tinggal
berdua sama suami. Semua anak-anak saya
sudah saya titipkan ke pesantren lain.
Ada yang di Jakarta, Jepara dan Gontor.”
Aku tidak tega membayangkan ibu ini berjalan sendiri malam-malam. Apa
lagi keadaan sekarang banyak kriminalitas.
Miras dan oplosan tidak terkendalikan dengan baik oleh aparat. Sementara ormas Islam anti-maksiat justru
ditekan.
“Tidak usah Bu. Saya harus segera membagikan uang ini sama
mereka yang menitipkan hasil bumi. Lagi
pula saya biasa berjalan malam dan Alhamdulillah tidak ada apa-apa.” Tamuku
tetap tidak bisa ditahan untuk tinggal barang semalam, “Terimakasih atas segala
kebaikan Ibu. Saya mohon diikhlaskan apa
yang saya minum, apa yang saya makan, dan yang saya pakai. Assalamualaikum.”
“Ya, sudah kalau Ibu tidak mau
menginap. Hati-hati ya Bu, semoga
selamat sampai rumah. Waalaikumsalam."
Seraut wajah cerah dan senyumannya
mengakhiri perjumpaanku dengannya petang ini.
NubarArea_Support
System_
JANGAN KATAKAN
‘TAK BISA’
Oleh: Khadijah
Hanif
Ruang rapat malam itu berubah
menjadi dingin. Kelesuan memapar nyata
wajah Mas Hadi. Kakak tertuaku yang
sudah memasuki usia enam puluh itu mulai bertutur berat. “Peraturan terbaru dari dinas pendidikan
sangat mungkin akan memusnahkan semua impian kita.”
Mas Hadi membagikan secarik kertas
pada masing-masing peserta rapat, tanpa beringsut dari tempat duduknya. Kertas yang berpindah dari orang ke orang
itu sampai juga di depanku yang duduk di samping kiri Mas Hadi.
Dengan rasa penasaran kucermati
huruf demi huruf di kertas itu. Sesuatu
yang membuat Mas Hadi resah.
Berdasarkan regulasi terbaru tentang
rombongan belasar diatur dengan pasal 24 Permendikbud No. 17 Tahun 2017
bahwa jumlah peserta didik dalam satu rombongan belajar diatur sebagai
berikut:
1.
SD dalam satu
kelas berjumlah paling sedikit 20 (dua puluh) peserta didik dan paling banyak
28 (dua puluh delapan) peserta didik;
2.
SMP dalam satu
kelas berjumlah paling sedikit 20 (dua puluh) peserta didik dan paling banyak
32 (tiga puluh dua) peserta didik;
3.
SMA dalam satu
kelas berjumlah paling sedikit 20 (dua puluh) peserta didik dan paling banyak
36 (tiga puluh enam) peserta didik;
4.
SMK dalam satu
kelas berjumlah paling sedikit 15 (lima belas) peserta didik dan paling banyak
36 (tiga puluh enam) peserta didik.
5.
Sekolah Dasar
Luar Biasa (SDLB) dalam satu kelas berjumlah paling banyak 5 (lima) peserta
didik; dan
6.
Sekolah
Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) dan Sekolah Menengah Atas Luar Biasa
(SMALB) dalam satu kelas berjumlah paling banyak 8 (delapan) peserta didik.
“Apabila suatu
satuan pendidikan tidak memenuhi syarat minimum tersebut maka rombongan
belajarnya tidak akan terbaca oleh sistem pendataan yang kita kenal dengan
dapodik. Konsekwensinya, kita tidak bisa menerbitkan rapot, ijazah dan segala
bentuk bantuan akan terhenti karena sekolah kita tidak dikenal dan tidak
terdata. Kita harus bergabung dengan
sekolah lain,” lanjut Mas Hadi.
“Wah,
ndak bisa dibiarkan begitu saja hal itu terjadi, Nak Hadi. Bapak sebagai tim yang memperjuangkan sekolah
ini dengan susah payah bersama almarhum Pak Haji Ahmad, tidak sampai hati untuk
menggabungkan sekolah ini dengan sekolah lain.
Kami sudah cukup merasakan bagaimana kesusahan menginduk ke sekolah
lain. Tiga tahun kami memperjuangkan
izin operasional sekolah ini.” Abah
Mustafa mengernyitkan dahi. Beliau teman
dekat almarhum bapak yang menjadi perintis Baitul Izzah. “Pesantren
ini awalnya dari tanah sewa. Kami
berdua memandang perlu didirikannya pesantren yang memadukan pendidikan umum
dan pendidikan agama. Kami sangat
prihatin dengan merosotnya akhlak anak-anak muda di kampung kita ini. Baitul Izzah di awal tahun delapan puluhan
adalah sekolah Islam pertama yang berasrama di kecamatan ini. Sekolah serupa baru menjamur di permulaan
tahun dua ribu.” Kami mendengarkan
dengan serius kisah Abah tentang sekolah ini.
Bisa aku bayangkan betapa sulitnya dua orang guru honorer ini harus
menyisihkan gaji kecilnya untuk menjadi penggerak lembaga pendidikan Islam.
Abah
Mustafa terus melanjutkan kisahnya tentang bagaimana sulitnya mendapat uang
untuk mendirikan bangunan. Silaturahim
dari rumah ke rumah untuk mendapatkan dukungan materi maupun moral. Belum lagi penentangan dari orang-orang yang
tidak senang dengan berdirinya sekolah Islam.
Beragam alasan ketidaksetujuan mereka, mulai dari yang bersifat pribadi
hingga hal prinsip. Izin operasional
sekolah pun bukan hal mudah, penuh perjuangan.
Dalam waktu tiga tahun mereka harus banyak berkorban fisik dan psikis
belum lagi finansial.
“Setelah kita mendengarkan
penjelasan Abah, siapa yang sanggup memberikan ide, sumbangan pikiran, tenaga,
atau apapun untuk memperbaiki keadaan ini?
Tidakkah kita merasa bersalah tidak mampu melanjutkan perjuangan
almarhum dan juga Abah?” Pertanyaan
bertubi-tubi dari Mas Hadi menghujam di benakku. Sebagai anggota termuda dan baru saja lulus
dari Manajemen Pendidikan, aku merasa terpanggil memperbaiki keadaan ini.
“Mas, izinkan Ajeng
berpendapat. Bukannya Ajeng mau
mengajarkan sesuatu pada parasenior di sini.
Ajeng yakin semua sangat lebih berpengalaman dari saya.”
“Ajeng, semua yang hadir di sini punya
kedudukan yang sama. Tidak ada
senioritas. Aku justru sangat
mengharapkan peran kamu. Terapkan hasil
belajar kamu sebagai master manajemen pendidikan di sekolah kita ini. Secara usia dan pengalaman, bisa jadi kamu
paling muda tapi dari segi ilmu, aku yakin kamu di atas kami.” Tiba-tiba Mas Hadi memotong
pembicaraanku. Sesuatu yang menumbuhkan
rasa percaya diri, penghargaan sekaligus tantangan yang meminta pembuktian.
Aku telah lama mencoba menganalisis
apa yang terjadi dengan Baitul Izzah.
Aku meriset dari dokumen yang ada dari tahun ke tahun. Sekolah dengan siswa wajib tinggal di asrama
seperti Baitul Izzah memiliki masalah yang sangat kompleks. Masalah terbesar adalah minat anak usia SMP
dan SMA untuk tinggal di asrama dengan
berbagai aturan yang super ketat. Bahkan
gadget yang menjadi kebutuhan pokok remaja milenial pun dilarang di pesantren
ini.
“Saya mencoba mengurai permasalahan
yang kita hadapi. Dari dokumen foto dan
file-file perkembangan dalam tiga puluh tahun berdirinya Baitul Izzah. Terutama dari segi manajemen
organisasi.” Aku membuka laptop dan
kuhubungkan dengan proyektor supaya bisa dimengerti oleh semua yang hadir. Dokumentasi foto membuat peserta rapat seakan
terbawa pada masa kejayaan Baitul Izzah.
Sepuluh tahun yang lalu adalah puncak kejayaan pondok. Santri dan santriwati yang tinggal di asrama
mencapai lebih dari empat ratus orang.
Kini jumlah itu tinggal kurang dari seperempatnya. Sementara syarat jumlah minimum dari dinas
harus memenuhi tiga rombel untuk masing-masing satuan pendidikan. Tingkat SMP dan SMA masing-masing sebanyak
enam puluh orang. Sedangkan Baitul Izah
hanya memiliki sembilan puluh sembilan santri.
Masih kurang dua puluh santri.
“Allahumaghfirlahu warhamhu
waafihi wa’fuanhu,” doa Mbak Rahayu penuh haru saat foto almarhum Bapak
muncul di layar proyektor. Bahkan
orang-orang yang mencintai beliau termasuk juga aku tak mampu membendung telaga
bening di sudut mata ini.
“Ada beberapa langkah yang harus
kita ambil. Yang pertama, penataan
lingkungan. Lahan-lahan yang kosong dan
tampak kumuh bisa kita sulap menjadi taman-taman kecil sederhana tapi tetap
indah. Pengelolaan sampah harus
dilakukan dengan menyediakan tempat sampah yang telah terpilih dan
terpilah. Yang kedua, penggunaan
teknologi harus kita buka selebar mungkin akan tetapi dalam koridor pengawasan
ketat dari pengasuh asrama. Yang ke
empat, program unggulan yang dulu pernah menjadi kurikulum prioritas harus
dimunculkan kembali. Program tahfidz,
cara cepat membaca kitab kuning dan bahasa harus mendapat titik tekan
anggaran. Yang ketiga, penataan kembali
organisasi. Mas Hadi sudah tepat dalam
memilih orang-orang yang Mas Hadi percaya untuk menjalankan roda pesantren dan
sekolah hanya saja perlu the right man on the right place. Pengaturan posisi bisa becermin dari awal
tahun dua ribu saat kita bisa merekrut empat ratus santri dan santriwati di
pesantren ini. Bukan pemberhentian tapi
perubahan posisi. Insyaallah
sebagai anak buah, kami akan menerima dengan lapang hati demi kebaikan Baitul
Izzah yang sama kita cintai ini.” Aku
mengakhiri pemaparan.
“Masyaallah, tabarakallah,
aku bangga dengan kamu Ajeng. Nggak
sia-sia Mas Hadi menyekolahkan kamu juah-jauh sampai S2. Aku setuju dengan semua usulan kamu. Dan aku langsung tunjuk kamu buat menata
lingkungan pesantren. Mas Hadi serahkan
sepenuhnya kreasi dan kreatifitas pada kamu, Ajeng.”
Penghargaan Mas Hadi benar-benar
mendorong semangat mudaku untuk memberikan sumbangsih pada Baitul Izzah.
***
Aku mulai merancang program penataan
lingkungan, tanpa modal sedikitpun dari pesantren. Aku memutar otak untuk mendapatkan dana. Sembilan puluh Sembilan santri adalah aset
berharga. Rata-rata jajan mereka dalam
sehari mencapai sepuluh ribu. Aku harus
bisa menyerap setengah dari perputaran uang untuk dana penataan lingkungan.
“Ajeng, kamu sudah sibuk sekali
sepagi ini. Belum juga Azan Subuh, kamu
sudah masak?” sapa lembut ibu membuatku
sejenak berhenti beraktifitas. Aku hadapi
muatiaraku yang masih tinggal bersama kami penuh hormat.
“Ibu, doakan Ajeng, ya, Ajeng ingin
menyulap pesantren ini menjadi pesantren berbasis lingkungan yang indah,
bersih, rapih dan memenuhi persyaratan sanitasi. Tapi bendahara tidak punya anggaran buat
program ini. Ibu tahu sendiri gaji guru
dan staf pun baru dibayarkan tiap akhir bulan.
Ajeng harus mendapatkan dana dari keringat Ajeng sendiri.”
“Ya Allah, semoga cita-cita Ajeng
tercapai dan selalu mendapat kemudahan.
Maafin Ibu ndak bisa bantuin Ajeng.
Buat berdiri lama Ibu udah ndak bisa.”
“Nggak apa-apa, Ibu. Doa dan restu Ibu sudah melebihi bantuan
apapun.”
Aku melanjutkan pekerjaanku,
mengupas pisang, membuat adonan roti goreng, memotong sayuran buat bakwan,
sambil menunggu Azan Subuh berkumandang dari masjid. Begitu Azan terdengar, aku bergabung dengan
santriwati buat menunaikan salat berjamaah.
Aktivitas aku lanjutkan lepas Salat
Subuhhingga pukul setengah tujuh, setengah jam sebelum para santri makan
pagi. Memasak untuk jualan sore hari aku
lakukan lepas Salat Asar dan pukul lima sudah dijajakan oleh pengurus. Kerjasama dengan pengurus sangat membantu
sirkulasi keuangan, sebagai imbalannya aku memberikan mereka sepuluh persen
dari omset untuk dana kegiatan mereka.
Begitulah kegiatan harianku.
Berjualan, mengajar dan merancang penataan lingkungan.
Dalam waktu kurang dari dua bulan
aku sudah mengumpulkan dana satu juta untuk menyediakan alat pembuatan
taman. Aku memilih konsep bercocok tanam
tanpa tanah. Media yang aku pilih sekam
bakar. Sekam bisa aku dapat gratis dari
pabrik penggilingan padi langganan kami membeli beras buat keperluan makan
santri.
Tiap ada lahan kosong aku selalu
merancang taman yang indah tentu dengan menampung keinginan dan selera
anak-anak. Tipografi aku rancang dengan
membuat pagar-pagar bambu yang kubuat rapat untuk menahan sekam. Terasering dengan bambu terselesaikan dalam
setengah bulan. Tiba saatnya mengisi
terasering pagar bambu dengan menggunakan sekam yang telah dicampur dengan
kompos dari masyarakat peternak di kampung kami. Aku biarkan sekam itu selama sepekan untuk
siap ditanami. Tiap pagi dan sore para
santri menyiram sekam itu supaya siap menjadi media tanam. Sementara untuk sekam bakar langsung bisa
ditanami.
“Ibu, indah juga, ya. Meskipun dengan dana yang minimalis,
landscape rancangan ibu sangat bagus,”
ungkap Lina, santriwati yang crazy about gardening.
“Ibu rasa justru rancangan taman ini
menjadi indah karena masukan dan bantuan dari kalian semua.”
“Kami hanya bantu dikit-dikit,
Ibu. Ide dan peran Ibu lebih banyak
daripada kami.” Lina mengapresiasi
pekerjaanku membuat semua lelah hilang.
Terganti dengan komentar kepuasan mereka.
Setiap kegiatan yang kami lakukan
selalu aku coba untuk expose dan publish melalui media
sosial. Aku yakin kemunduran Baitul
Izzah karena kurang dikenal secara luas.
Internet akan aku manfaatkan untuk rekrutment santri baru. Channel Youtube menjadi andalanku. Konten-konten menarik dengan judul yang marketable
aku unggah. Hobi fotografiku dibantu salah
satu santri yang punya passion dalam vedio editing sangat membantu publikasi
Baitul Izzah.
“Hai, Ajeng, berani-beraninya kamu
menggunakan lahan ini buat taman! Mas
Hadi udah menyerahkan lahan ini buat café.
Dan aku yang yang bertanggung jawab penuh dengan lahan ini!” Suara Mbak Intan membuatku kaget. Salah satu staf Baitul Izzah yang juga
sepupuku itu mengancam untuk membongkar taman yang sedang indah-indahnya. Bunga angrek tanah sudah mulai bermekaran
penuh warna. Delima pun sedang berbuah
ranum. Satu baris bunga mawar sedang
berbunga mekar.
Bersyukur, Mas Hadi segera hadir
saat Mbak Intan melampiaskan kemarahannya.
“Intan, aku belum menyetujui
rancangan program unit usaha yang kamu ajukan.
SEmentara surat keputusan untuk Ajeng sudah terlebih dulu terbit. Kamu tidak berhak untuk membongkar taman
ini. Jerih payah Ajeng sudah mulai
menampakkan hasil. Santri lebih betah
tinggal di asrama. Para tamu yang survey
pesantren untuk memasukkan putra-putrinya ke pesantren ini juga jauh lebih
banyak dari tahun lalu.” Mas Hadi
menghentikan kemarahan Mbak Intan.
Dengan muka masam, Mbak Intan yang
temperamental itu meninggalkan kami berdua.
Tantangan pertama aku dapat dari sepupuku sendiri. Tapi aku tidak boleh mundur. Baitul Izzah membutuhkan jiwa-jiwa gigih yang
tak pernah menyerah dengan kata tak bisa.
Nasihat yang sangat menginspirasi terngiang kembali di telingaku. “Jangan katakana tak bisa hingga kau mati
dalam mencobanya-Muhammad Alfatih-1437M”
NUBAR AREA _SENI
MENYIKAPI KETELANJURAN_YANG TERBAIK
Suasana
di kantor kami selalu hirup pikuk setiap Ustaz Fadillah datang. Ustaz muda itu selalu menjadi perhatian para
gadis yang masih setia menyendiri atau menanti seseorang datang untuk melamar
mereka.
Buatku
suasana hiruk pikuk memperebutkan Ustaz Fadillah di antara para gadis ini
sangat tidak nyaman. Terlalu banyak hati
yang terfitnah dengan kesalehan Ustaz Fadillah.
Sarjana
pendidikan agama yang menjadi penanggung jawab masjid perusahaan kami itu
adalah sosok yang sangat bertanggung jawab.
Berbagai kegiatan sosial, keagamaan dan tour sering dijalankannya. Kami sebagai peserta kegiatan sangat puas
apabila Ustaz Fadillah yang menjadi ketua panitia.
Ustaz
Fadillah sosok yang kalem, selalu tersenyum, tidak pernah marah dan siap
membantu siapa saja. Hal inilah yang
membuat banyak gadis lajang ingin mendapat perlindungan dan bimbingannya. Bahkan tidak sedikit emak-emak selalu
mendamba kehadirannya untuk menjadi son in law.
Aku
sendiri sebagai barisan emak-emak di perusahaan termasuk yang menganggapnya
sebagai calon mantu idaman. Anak
pertamaku sudah memasuki tahun terakhir perkuliahan. Rasanya tidak ada salahnya kalau aku
merancang pernikahan buat dia. Tapi
terkadang aku ragu. Banyak hal yang
membuatku berpikir ulang untuk meneruskan niat ini. Aisyah, anakku, haruskah aku menawarkannya
seperti barang dagangan? Tentu
tidak. Lalu bagaimana caranya? Aku harus
bisa menemukan jalan. Sementara banyak
hati para gadis yang harus aku selamatkan dari fitnah.
Selama
ini aku sudah berusaha untuk menjadi perantara Ustaz Fadillah dalam menemukan
jodohnya. Sebut saja Salsabila, Nadia,
Latifah dan Kania. Mereka adalah
bunga-bunga ranum yang bermekaran di perusahaan kami. Akan tetapi Ustaz Fadil selalu menolak dengan
halus.
Puncak
dari kerisauanku, saat Ustaz Fadil mendapat perlakuan yang jauh dari batas
kesopanan. Saat beberapa karyawan
perempuan tepergok menarik-narik baju Ustaz Fadil.
Aku
berusaha menenangkan keributan itu dengan membawa gadis-gadis itu ke ruang
kerjaku, jaraknya hanya puluhan meter dari kejadian itu.
“Nah,
ini tugas saya sebagai Manajer Personalia di perusahaan ini. Ustaz Fadil ada bersama tim saya dalam hal
ini. Tapi kalian harus tahu bahwa tiap
penanganan kasus harus melalui saya terlebih dahulu. Saya yang akan membagikan tugas penangannya
pada tim. Jadi tolong kalian langsung ke
saya, bila ada masalah yang dapat
mengganggu kinerja kalian di perusahaan.”
Rasanya
aku harus segera menghentikan gejala tidak sehat ini. Bagaimanapun kesalehan Ustaz Fadillah bisa
teruji oleh kekaguman mereka.
Sebenarnya
wajah Ustaz Fadil berada dalam rata-rata pemuda Indonesia, sederhana. Tetapi aura dan wibawa yang terpancar pada
kesalehan hatinya justru yang membuat mereka mendamba untuk dijadikan pasangan
hidup.
***
“Bunda,
Kakak udah boleh meninggalkan asrama semester tujuh ini. Kakak bisa menyelesaikan tugas akhir dari
rumah. Kakak pingin banget bisa
dampingin bunda.” Chat WA dari Aisyah
memecahkan lamunanku. Tidak terasa
anakku sudah memasuki tingkat akhir
“Kak,
Bunda punya rencana buat kamu,” balasanku
lebih cepat dari biasanya. Aku
begitu antusias untuk menjodohkan Ustaz Fadil dengan Aisyah. Bismillah…
Semoga bunga di taman hatiku mau menerima tawaranku.
“Apa
itu, Bunda?”
“Kamu
kenal Ustaz Fadil? Pengurus masjid perusahaan
tempat Bunda kerja?”
“Iya,
Bunda tapi lupa-lupa ingat. Kakak ketemu
beliau empat tahun lalu saat dia mengantarkan berkas dari perusahaan.”
Aku
segera mengirim foto dan nomor WA Ustaz Fadil pada Aisyah. Panjang lebar aku menjelaskan biodata Ustaz
Fadil sebagai langkah pertama proses taaruf.
Usianya baru dua puluh lima tahun, amanah dari perusahaan untuknya aku
tulis lengkap, berikut job-jobnya di perusahaan kami. Khatib tetap di sebuah masjid di Jakarta dan
masjid perusahaan, penasihat spiritual utama perusahaan. Dia juga trainer multi talent berbagai
kegiatan seni Islami, kaligrafi, qiraah, orasi, hadrah, nasyid dan marawis.
“Bunda
yakin Ustaz Fadil yang digandrungi banyak gadis itu mau sama Kakak? Kadang orang yang terlalu saleh itu punya
idealisme buat memilih pasangannya, Bun.”
“Bunda
udah bicara langsung sama beliau dan beliau sudah Salat Istikharah. Beliau mantap untuk memilih kamu, Sayang.”
“Bunda
yang nawarin Kakak, ya, ke dia. Kakak
malu, nggak mau, ah! Kakak pingin lulus
dulu. Masih pingin sama temen-temen
sampai wisuda. Lagian dia mau sama Kakak
karena Bunda atasannya dan ayah dosen dia, kan?” Gambar emotikon sedih muncul
di baris kalimat terakhir chat WA-nya.
Sejak
itu Aisyah tidak menjawab panjang lebar chat-ku. Tapi aku terus menyampaikan nasihat-nasihat
baikku tanpa putus asa. Aku berharap
nasihatku bisa meluluhkan hatinya.
Hari-hari
menjadi terasa berat buatku. Air mataku
menjadi begitu mudah mengalir tiap kali ingat Aisyah. Anak perempuanku satu-satunya ini memiliki
pembawaan yang keras memegang idealisme dan pendapat yang diyakininya
benar. Ia juga cenderung ekstrovert
terutama padaku. Ia masih manja meskipun
sebelas tahun mendapat pendidikan di pesantren bahkan hingga saat ia
kuliah. Aisyah memang tak pernah lepas
dari kehidupan pesantren. Lima pesantren
dengan berbagai pola didik dan asuh yang berbeda turut membangun jiwanya. Aku yakin Aisyah akan menemukan kebahagiaan
dan kematangan di bawah bimbingan Ustaz Fadil.
Pendekatanku
pada Aisyah tidak sia-sia. Dia mulai
membuka hati untuk Ustaz Fadil. Berbagai
artikel dan kisah aku kirimkan melalui chat-WA pada mereka berdua.
Proses
taaruf mengalami banyak kemajuan. Aku
merasa beruntung Ustaz Fadil dan Mas Farhan, suamiku cukup dekat. Ustaz Fadil adalah salah satu mahasiswanya di
mata kuliah Filsafat. Mereka sangat
serasi saat diskusi tentang filsafat di rumah.
Filsafat yang dipandu Alquran dan Sunnah ternyata mengasyikkan juga untuk
didengar dan dicerna. Aku merasa makin
mudah meminta dukungan Mas Farhan buat menyukseskan perjodohan ini.
Jam
dua siang kami sampai di kampus Aisyah.
Sebuah kampus sekaligus pesantren yang sangat bersih. Aku merasa tidak salah menempatkan Aisyah di
sini. Meskipun hafalannya baru tiga
belas juz, aku tidak menuntut banyak darinya.
Aku hanya bertugas memotivasinya bahwa suatu saat dia akan bisa mengejar
ketertinggalan. Apalagi kalau Aisyah dan
Ustaz Fadil berjodoh, aku yakin Aisyah akan banyak menemukan kemajuan.
Dari
dalam mobil aku melihat dua gadis berniqab di depan masjid pesantren. Kami menunggu di dalam mobil. Aisyah tidak juga mendekat. Akhirnya aku turun untuk menemuinya. Aku bisa
merasakan rasa malu itu pekat menggelayuti hatinya.
Berdebar-debar
juga jantungku, khawatir Aisyah marah dan tidak mau menemui ustaz Fadil. Betapa malunya kami kalau Aisyah lari menjauh
dari kami.
Alhamdulillah
bayangan Aisyah akan menghindar sirna.
Dia mau aku bujuk untuk memasuki mobil.
Perbincangan
mengalir dari aku dan Mas Farhan.
Sementara mereka diam seribu basa.
“Bunda
dan Ayah mau kalian mempertimbangkan untuk segera menikah bulan depan. Keluarga Ustaz Fadil akan datang dan
mengkhitbah kamu tiga hari dari sekarang.”
Aisyah
kaget mendengar rencana yang berada di luar dugaannya itu.
“Mohon
maaf pada Ayah, Bunda dan Ustaz Fadil.
Peraturan di sini nggak mengizinkan khitbah ataupun nikah sebelum
semester tujuh. Aisyah bisa kena sanksi
kalau melanggar ketentuan ini.” Suara
Aisyah lirih dan berat, seberat melawan rasa malu yang memenuhi ruang hatinya.
“Sanksi
apa itu, Aisyah?” tanyaku penasaran
“Semua
yang melakukan khitbah maupun akad sebelum semester tujuh akan diusir dari
asrama dan tidak berhak diwisuda oleh makhad.
Kakak akan menanggung malu di depan temen-temen. Maafin Aisyah baru menyampaikan peraturan ini
karena memang baru diberlakukan tahun ini.
Mungkin makhad menilai banyak yang nggak selesai kuliah setelah
pernikahan.”
Kami
semua diam. Segala persiapan seakan
buyar dengan peraturan pesantren Aisyah.
Pertemuan
ini seakan menjadi penghalang besar semua rencana yang kami susun. Aku harus menyiapkan bahasa yang tepat untuk
menunda khitbah dan akad nikah yang sudah kami sepakati waktunya.
***
Rabb,
saatnya aku membuktikan niat lillah dalam perjodohan ini. Sampai saat ini aku harus rela menjadi
perantara komunikasi mereka melalui chat-WA.
Semoga dengan begitu kesucian hubungan mereka terjaga hingga akad
menghalalkan yang awalnya diharamkan.
Doaku tak pernah putus untuk Aisyah dan Ustaz Fadil.
Notifikasi
WA berdenting. Aku membuka beberapa
pesan masuk. Salah satunya dari pengasuh
makhad, Bunda Latifah.
“Menyikapi
upaya penanggulangan Pandemi Covid-19, kegiatan perkuliahan dilakukan secara
online. Informasi selengkapnya bisa
dibaca pada surat edaran dari makhad.”
Aku
membalas chat Bunda Latifah dengan pertanyaan yang menggelayuti ruang hati
kami. Rombongan keluarga Ustaz Fadil
harus dikabari secepatnya tentang peraturan makhad supaya khitbah ditunda.
“Bunda,
afwan mau menanyakan aturan makhad yang belum begitu saya pahami. Benarkah kalau mengadakan khitbah ataupun
akad sebelum semester tujuh akan mendapat sanksi berat dari makhad? Mohon jawabannya, Bunda.”
“Selama
perkuliahan online Aisyah sudah tidak tinggal di asrama lagi, jadi peraturan
asrama tidak berlaku. Kita memang sedang
dibingungkan dengan berbagai perubahan peraturan pemerintah karena wabah
ini. Tapi ada hikmah dan berkahnya juga
buat mereka yang akan melangsungkan pernikahan.
Jadi semua mahasiswa semester enam dianggap sudah memasuki semester
tujuh.”
Aku
langsung menghadap kiblat buat sujud syukur atas kemudahan yang bertubi-tubi
ini. Sesungguhnya di tiap-tiap sesuatu
selalu ada hikmahnya. Selalu ada dua
kemudahan yang menyertai satu kesulitan dan hambatan. Kejadian ini mengajarkanku bagaimana
menyikapi ketelanjuran dengan terus memohon pada Allah dan berbaik sangka pada
Allah SWT, berharap hanya pada-Nya.
Untuk selalu merasakan bahwa ketentuan Dia adalah yang terbaik untuk
hamba-hambaNya yang senantiasa rida, ikhlas dengan apapun yang terjadi.
ANA UHIBBUKA
LILLAH (Khadijah Hanif)
Persiapan
akad nikah tinggal sehari lagi. Aku
masih serasa di dalam alam mimpi.
Benarkah aku yang masih jauh dari salihah ini akan menjadi istri Ustaz
Fadillah?
“Aisyah,
kamu sebentar lagi akan menempati rumah sendiri begitu acara akad besok. Perusahaan sudah menyediakan rumah dinas
untuk kalian. Kamu boleh melihat-lihat
atau ikut menata rumah yang akan kamu tempati.”
Ungkap bunda penuh keceriaan dan rasa bahagia. Sementara aku, sedikitpun belum ada keinginan
buat menikah.
Aku
heran dengan sikap orang-orang dewasa di sekitarku. Aku bilang bahwa aku belum siap buat menikah,
tetapi semua orang seakan sibuk mengantarkan aku ke pelaminan. Belum lagi kondisi darurat COVID-19 yang
membatasi segala kegiatan sosial seakan tidak mereka pedulikan. Semua disibukkan oleh acara akad besok.
Di
kamarku yang berukuran tujuh kali delapan meter ini aku merasa sesak. Semua nuansa pink biru di dalam kamar tidak
lagi membekaskan keceriaan. Padahal
sebelumnya aku selalu merindukannya saat perpulangan dan libur dari makhad. Dinding bercat biru muda, atap berwarna
pink, spring bed dengan bedcover
bermotif pinky hello kitty, lengkap
dengan bantal dan gulingnya mengobati segala keterbatasan di makhad.
“Bunda,
sampai saat ini aku belum siap buat nikah.
Ais lagi seneng-senengnya main sama anak-anak makhad. Ais baru tahun ini diangkat jadi ketua
mahasiswi. Sebelumnya Bunda tahu sendiri
Ais nggak pernah dipeduliin sama dosen, sama temen. Nggak penah punya prestasi sedikitpun. Sekarang tuh, Ais lagi nikmat-nikmatnya
kuliah. Bunda juga tahu dua tahun awal
di makhad Ais hampir-hampir nggak kuat, Bunda.
Belum lagi Bunda suka ngebandingin Ais dengan Nita yang udah hafal 30
juz. Ais juga punya cita-cita buat hafal
30 juz seperti Nita yang bisa ngebanggain orang tuanya. Ais baru nyampai 13 juz, Bunda. Aku dan Harris juga merencanakan pernikahan
setahun setelah kami lulus.” Aku menulis
sendiri segala keresahan hati ini dilayar pendar Android untuk kemudian aku
hapus lagi. Menguap bersama
ketaksanggupanku menentang bunda dan ayah.
Di
tengah kegalauanku gawai berdencing tanda pesan masuk.
“Aisyah,
tolong informasikan ke mahasiswa lain ada perubahan kuliah online hari
ini. Aktifkan zoom jam empat sore
pas. Pastikan semua bisa mengikuti
program dengan baik.” Professor Guntur
mengintruksikan perubahan jadwal kuliah.
Pikiranku yang sedang galau makin kacau.
Terus terang aku tidak ingin berbuat apa-apa kecuali tidur, melupakan
segala hal tentang pernikahan yang aku pikir akan memutuskan semua impian dan
cita-cita, menambah beban dan tak memberikan kebaikan sedikit pun.
Sore
ini bunda membawa baju pengantin yang sudah dikirim toko online. Aku sendiri yang memilih untuk Kak Fadil,
jubah keren dan mahal. Sementara aku
memilih gaun putih sewarna dengan jubah Kak Fadil. Aku sendiri heran di tengah keengananku
menikah, aku masih sempat memilih pakaian buat pernikahan kami. Bahkan mendesain flyer pernikahan pun aku
lakukan sendiri, meskipun bagian nama mempelai pria aku kosongkan. Berat rasanya menuliskan nama Muhammad Fadillah
di samping namaku.
“Bun,
aku masih bisa menolak pernikahan dengan Kak Fadil nggak?” rengekku pada bunda,
mengharap ada pilihan takdir yang lain.
“Bukankah banyak karyawati perusahaan yang mau sama beliau? Kenapa harus aku yang masih kekanak-kanakan?”
“Masya
Allah, Ais, kalau kamu mau menolak harusnya saat acara khitbah sepuluh hari
yang lalu. Bukan sekarang. Jangan sampai kita dianggap plin-plan!” Suara bunda mulai naik. Aku takut ayah akan mendengar perbincangan
kami dan menambah hatiku berkeping-keping.
***
Hari
pernikahanku akhirnya berlangsung juga, 30 Syaban, satu hari menjelang bulan
Ramadan. Tante Prita dan Bu Dena
bekerjasama dalam penyediaan hidangan
untuk para tamu. Sejak perkenalan
pertamaku dengan kak Fadil, Tante Prita selalu setia menjadi pendukung utama
pernikahan kami. Dia begitu semangat
dengan urusanku yang satu ini.
“Kakak,
beruntung Ustaz Fadil menjatuhkan pilihan ke kamu, banyak gadis yang mengalami
hari berkabung nasional hari ini.” Tante
Prita melempar guyonan segar sambil mendandaniku. Aku hanya bisa tersenyum, ingin melawan tapi
tak berdaya. “Kenapa diam? Apakah ada seseorang yang lain di hati
Kakak?” tanyanya mengagetkanku.
“Nggak,
Tante. Mana ada yang mau sama Ais. Ais nggak cantik. Kalau bukan karena bunda, Kak Fadil juga
belum tentu mau sama Ais,” jawabku sekenanya.
“Siapa
bilang Kakak nggak cantik? Di mata suami
yang salih dan taat sama Allah, cantik itu akan hadir karena ketakwaannya. Allah yang akan menghadirkan kecenderungan
hati dan rasa cinta. Makanya cantik,
tampan dan keindahan paras itu relatif.
Bunda Alma pernah cerita ada seseorang bernama Harris mau serius sama
Kakak tapi dua tahu lagi. Itu sama aja
ngajak pacaran, Kak. Itu bukan ikhwan
tapi bakwan.” Derai tawa Tante Prita
mengguncangkan pundakku. Ada rasa tidak
rela Harris yang pernah singgah di hatiku dinilai seperti itu sama Tante Prita.
Tamu
rombongan sudah hadir di Masjid Baitul Ihsan.
Masjid di dekat gerbang kawasan
perusahaan itu sudah ditata sedemikian rupa untuk acara akad nikah kami. Masjid yang cukup luas dan indah. Dinding dan lantainya terselimuti marmer yang
makin menambah kemegahannya.
Aku
tidak menyangka, di tengah isu COVID-19, pernikahan ini bisa dihadiri lebih
dari seratus orang. Para karyawan,
kolega ayah dan bunda, rekan-rekan kampus ayah juga teman-teman sekolahku
banyak yang hadir. Yang membuatku
kecewa, teman kampusku yang hadir hanya Nita.
Tapi aku maklum karena kebanyakan mereka tidak berdomisili sedaerah
denganku kecuali Nita. Teman kecilku yang
saat kuliah kembali sekampus denganku.
Prosesi
demi prosesi berlangsung dengan khidmat.
Semua kepanitian dipegang rekan ayah dan bunda. Bagian yang paling mengharukan adalah
penyerahan hak dan tanggung jawab dari ayah ke Kak Fadil. Suasana berubah hening terbawa suasana
emosional dari nasihat ayah.
“Hari
ini telah aku sempurnakan bimbingan untuk anakku Aisyah Nurhayati binti Ahmad
Farhan Fauzan dalam sebelas tahun perjalanan hidupnya dalam perjuangan agama
Allah SWT. Setengah usianya telah ia
jalani dari satu makhad ke makhad yang lain, tiga tahun di Nurul Amanah, tahsin
Alquran di Nurul Iman, satu tahun di Amtsilati Darul Falah, empat tahun di
Khadijah Islamic School dan tiga tahun di KMI Alkautsar. Kini saatnya bimbingan itu saya pindah
tangankan pada Ustaz Muhammad Fadillah bin Abdul Azis Karim, mohon kiranya
diterima dengan sepenuh keikhlasan hati dan jiwa Ustaz Fadillah. Kekurangan anak kami tentu sebagai insan
sangatlah banyak, kelebihannya yang sangat sedikit semata-mata adalah karunia
dari yang Maha Pemurah. Maka kesabaran
dan keikhlasan dalam menjalani hidup berumah tangga dalam naungan petunjuk
Allah SWT dan RasulNya adalah kunci kebahagiaan dalam mengarungi samudera
kehidupan ini.”
Aku
dan Nita sibuk membuat life streaming instagram. Aku sebenarnya keberatan memenuhi permintaan
mereka. Pernikahan yang seba cepat ini
seakan tak mau peduli pada perasaanku bahwa aku belum pantas menjadi seorang
istri. Bahwa aku masih ingin berbagi
ceria dengan teman-teman. Jujur aku
bercita-cita menikah setahun setelah lulus kuliah. Mungkin sekitar dua tahunan lagi. Tapi takdir ini begitu memaksaku.
Akad
nikah dilafazkan antara ayah dan Kak Fadil dalam bahasa Arab yang fasih. Mahar dua puluh enam gram emas sesuai usia
Kak Fadil dan hafalan surat Arrahman.
Semua berjalan lancar. Suara
merdu Kak Fadil dalam membacakan Arrahman seakan menghipnosis para tetamu. Aku yakin bunda dan ayah menjadi orang tua
yang paling bahagia. Sedangkan aku? Entah perasaan apa yang menguasai
hatiku. Di sudut masjid di antara tetamu
pria sosok. Aku begitu kaget dan tidak
menyangka Harris datang bersama Lutfia?
Kalau aku tidak memakai niqab tentu keherananku akan diketahui semua
orang. Selama ini Lutfia yang
mencomblangi aku dengan Harris dan mereka jadian? Dalam hatiku aku membenarkan penilaian Tante
Prita. Haruskah aku mempertahankan
namanya dalam hatiku?
***
Malam
pertamaku tepat di malam Jumat. Selepas
tarawih di Masjid Baitul Ihsan dengan Imam suamiku sendiri, Kak Fadil. Aku begitu menikmati suaranya yang merdu. Kata orang-orang keistimewaan yang banyak
membuat gadis jatuh cinta pada Kak Fadil adalah suaranya. Perlahan ada getaran halus dalam hatiku saat
imam dalam keluargaku juga menjadi imam salatku. Malam ini untuk pertama kalinya aku merasa
beruntung dikhitbah dan dinikahi oleh seseorang yang terpandang. Dikenal banyak orang dengan ketawadhuan dan
kesalihannya. Aku menyaksikan sendiri
penghormatan orang-orang padanya.
Selepas
Tarawih, Kak Fadil mengisi kajian.
Meskipun hanya di hadiri karyawan yang tinggal di kompleks perusahaan
dan sebagian masyarakat sekitar, aku bisa merasakan penghormatan mereka pada
Ustaz Fadil. Ustaz muda dengan kedalaman
ilmu yang dia miliki bisa aku dengar dari kematangannya menyampaikan
kajian.
Aku
tiba-tiba malu pada diriku sendiri.
Betapa tidak mampunya aku mensyukuri nikmat yang Allah datangkan
bertubi-tubi. Berkah dari kesalihan ayah
dan bunda yang memperjuangkan pernikahanku dengan Kak Fadil. Puasa bunda, salat malam bunda, ibadah-ibadah
ayah yang tulus mereka tujukan untuk kebahagiaanku.
Mala
mini juga aku langsung menempati rumah dinas yang disediakan perusahaan. Jauh lebih kecil dari rumah ayah dan bunda,
tapi sangat luas untuk kami tempati berdua saja.
“Amu,
maafin aku dengan segala keterbatasanku, memindahkan Amu dari istana megah ke
gubuk mungil ini.” Sapaan mesra itu
mendesirkan dadaku. Mungkin rona merah
membara di sana.
“Ana
uhibbuka lillah, Kak. Terimakasih udah
tulus mencintaku, mau mengkhitbah aku dan mengucapkan akad agung hari ini. Kakak yang telah menyelamatkan hati aku dari
segala kepongahan tentang cita-cita, kemandirian, organisasi kampus. Aku yakin ada keindahan lain selain
impian-impianku itu.”
“Amu,
aku tidak akan pernah memutuskan cita-cita Amu, bahkan kita akan saling bantu,
bekerjasama untuk cita-cita kita bersama.”
Aku merasakan kehangatan dan ketulusan ucapannya. Aku ingin tenggelam dalam pelukannya, dada
bidang itu akan menjadi tumpuan segala keluh kesahku setelah aku lepas dari
bunda.
“Maka
nikmat Tuhanmu mana lagi yang hendak engkau dustakan, wahai Aisyah.” Teguran itu menghentak dadaku melecut
kesadaranku.
NUBAR RUMEDIA_SANG
PENGGODA_KHADIJAH HANIF_DAYYUTS
DAYYUTS (Khadijah Hanif)
“Sabarlah,
Hardi. Istrimu dulu ketika kamu minta
dari orang tuanya, dalam usia yang masih terlalu muda. Ia perlu waktu untuk menjadi dewasa dan
mengerti kedudukannya sebagai istri. Kamu dulu yang keukeuh menginginkan
dia. Bukankah bapak almarhum sudah
mengingatkanmu waktu itu. Bahkan kamu
bilang tidak mengapa meski harus memanggul batu kemanapun kamu pergi asalkan
bisa menikahi Renya?” Gatot menasihati
Hardi, adiknya, dengan penuh kasih
sayang dan rasa prihatin. Ingatan
tentang awal proses pernikahan diharapkan menjadi perekat paling efektif saat
rumah tangga dilanda prahara.
“Aku
sudah kelewat sabar, Mas. Ini sudah
ketiga kalinya ia membawa pria yang bukan muhrim. Mereka bermaksiat di atas tempat kami
bercinta.” Mendung menyaput wajahnya,
makin keruh.
“Kamu
tahu dari mana kalau istrimu lelah bermaksiat pada Allah dan juga padamu sebagai
suaminya? Dalam syariat, tuduhan berzina
itu harus nyata, ada yang menyaksikan kejadiannya.” Pembelaan Gatot pada Renya cukup mengena,
perlahan Hardi menepis amarah yang sedari tadi sudah di ujung lisannya.
“Didiklah
dia tapi jangan pula kamu hilang cemburu dan rasa marah atas perbuatan Renya,”
tegas Gatot.
Rencana untuk mengembalikan Renya
pada orang tuanya akhirnya urung.
Hardi mencoba menerima takdir
yang menimpanya. Serangan dari tetangga
mulai memekakkan telinga. Akan tetapi
beribu alasan telah ia siapkan untuk membela Renya.
Suatu
ketika Renya dan Surya, seorang pria warga kampung sebelah ditemukan tinggal
berdua di rumah sementara Hardi pergi ke kantor. Masyarakat yang gerah dengan kenyataan ganjil
ini segera bertindak. Beberapa tokoh masyarakat
dan pejabat desa mempertanyakan keberadaan Surya sebagai orang ketiga di rumah
Hardi.
“Pak
Hardi, mohon maaf, kami selaku tokoh di kampung ini, merasa keberatan dengan
keberadaan Surya di rumah Bapak. Memang
itu semua wewenang Bapak tapi kami berkewajiban turut mendidik seluruh warga
untuk menjaga perikehidupan yang berlandaskan agama dan budi pekerti
mulia. Adat ketimuran juga harus kita
lestarikan. Kebebasan tanpa dasar agama
dan keluhuran budi akan merusak tatanan masyarakat kita, Pak.” Pak Haji Saleh memulai perbincangan dengan
bijak dan hati-hati.
Hardi
menyadari arah perbincangan para tamunya itu.
“Kalau semua keputusan didasarkan pada prasangka, maka semua orang akan
dengan mudah diperlakukan sesuai sangkaan kita.
Bukti yang paling nyata adalah pembelaan saya. Mana mungkin saya sebagai seorang suami diam
bahkan membela istri yang telah berkhianat?”
Senjata pamungkas yang paling ampuh untuk membebaskan Renya dari
serangan apapun terkait
Berjalannya
waktu, keluarga Hardi makin hangat
dengan hadirnya dua anak laki-laki yang lucu
menemani mereka, memeriahkan suasana, Hardi makin mudah menimbun semua kenyataan
terkait kenakalan istrinya.
Kasak-kusuk
di luar sana makin santer. Renya
dianggap telah memelihara seorang gigolo.
Lelaki bayaran untuk memuaskan nafsu birahi perempuan gatal.
Tidak
sedikit laki-laki yang jatuh ke pangkuannya.
Korbannya pun tak dipilih-pilihnya, tetangga, kakak ipar, juga kerabat
dekat harus siap jika suatu saat terjerat manteranya. Mantera itu ia dapat dari seorang kakek tua
yang siap dijadikan konsultan pemuas nafsunya.
“Mbah,
saya minta bagaimana caranya supaya suami saya diam tak berdaya dengan kelakuan
saya. Bahkan ia akan membela saya dan
selalu menganggap perbuatan saya benar, Mbah,” pinta Renya pada sesosok tua
berambut putih tergerai. Wajahnya legam
kehijauan Sebentuk ikat kepala
melingkar, menutupi dahi lebarnya.
Kepulan asap dari bakaran dupa dan temaran lampu kemerahan menambah
suasana magis di ruangan itu.
“Sangat
mudah, anakku. Tambahkan setetes air
senimu pada minuman atan makanan yang kau hidangkan untuknya. Maka dia takkan bisa berkutik. Ia akan berbuat sesuai dengan kemauanmu,
seperti kerbau yang dicocok hidungnya.”
“Baiklah,
Mbah, aku akan segera mencobanya. Ini
uang buat Mbah, kalau ternyata resep Mbah nggak manjur, aku bakalan menambah
uang upah ini dua kali lipat.” Renya
mengambil segepok uang kertas satu juta rupiah.
Orang
tua di depan Renya tersenym lebar, gigi
drakulanya tampak runcing, selebihnya gigis terkikis usia.
Bukan
Renya kalau tidak nekat dengan segala ambisinya. Bukan hanya suami yang ingin dia takhlukkan
tetapi juga kedua anaknya, bahkan siapapun yang berani makan atau minum di
rumahnya. Setetes air najis itu telah
menjadi racun pemerdaya akal sehat dan pertimbangan kebijakan.
Beruntung
Hardi adalah tipe laki-laki saleh.
Kesabaran dan kesungguhannya menjaga keutuhan rumah tangan menjadi
teladan yang tak pernah bisa dilupakan orang.
Ada resep rahasia yang ia pegang demi keutuhan rumah tangga. Sebagaimana Renya yang berkonsultasi ke orang
tua, Hardi pun berusaha mendapat solusi dari seorang ajengan.
“Ajengan,
saya punya masalah yang cukup berat.”
Hardi mengawali rangkaian cerita panjangnya.
“Tak
perlu kau ceritakan semua, aku sudah tahu apa yang ada dalam lubuh
hatimu.” Seseorang berwajah bersih penuh
ketenangan. Jenggot dan rambut
kepalanya belum banyak beruban sehingga
ia Nampak jauh lebih muda dari umur sebenarnya. “Istri hideup telah jauh
melangkah, melanggar banyak hal yang dilarang Gusti Allah. Nafsu terhadap harta, syahwat birahi dan
kedudukan telah membutakan dirinya dari jalan yang Gusti Allah ridhoi,”
lanjutnya tanpa bisa dibantah sedikitpun oleh Hardi. Semua perkataan yang diucapkan ajengan itu
sembilan puluh sembilan persen benar. Ia
makin yakin bahwa ia pergi ke tempat yang tidak salah untuk menyelamatkan rumah
tangganya.
Ajengan
itu membekalinya pegangan berupa amal zikir yang harus diamalkannya. “Amalan ini harus juga diiringi dengan
kesempurnaan amalan wajib. Sholat lima
waktu di masjid berjamaah. Ikuti juga
dengan puasa Senin Kamis. Puasa ini akan
membantu membersihkan sihir najis yang terlanjur mengalir bersama aliran darah hideup. Saya ingin pesan pada hideup. Jangan sampai sifat dayyuts itu
membuat istrimu tergelincir jauh pada jurang dosa dan maksiat.”
Semua
amalan dari Ajengan Mukmin dijalani Hardi dengan tekun dan istikamah. Hasilnya perlahan-lahan bisa
dirasakannya. Rumah tangganya tetap
adem, jauh dari percekcokan. Ia niatkan
semua ini untuk keselamatan lahir batin anak-anaknya. Mereka harus tumbuh normal, memiliki masa
depan dan dapat meraih cita-citanya. Ia
tak peduli dengan kelakuan Renya yang makin menjadi. Kedua anaknya adalah hiburan sejati.
“Bapak,
alhamdulilah, aku diterima di universitas favorit di Jogja. Aku ngambil fakultas pertanian.” Kabar gembira dari Purnama, putra sulungnya,
ia terima dengan sujud syukur yang dalam.
Ia sering berpikir dan khawatir bila contoh buruk dari istrinya
mendominasi sikap dan sifat anak-anaknya.
Kabar
membahagiakan selanjutnya datang satu
tahun kemudian saat anak keduanya diterima di Akademi Militer tempat Tentara
Nasional Indonesia mendapat gemblengan untuk menjadi para pembela tanah
air.
Meskipun
anak-anak mereka sudah dewasa, meraih kesuksesan dan membangun rumah tangganya
masing-masing, Renya belum juga menemukan titik balik. Seakan
taubat itu begitu jauh dari jangkauannya. Bayangkan di uasia kepala lima dan sudah
memiliki cucu, kebiasaan judi dan pergaulan dengan orang-orang setipe dengannya
masih tetap berlanjut. Pekerjaannya
hanya berjalan-jalan, mengayuh sepeda bersama, keluar masuk fitness untuk ngegym. Yang paling membahayakan dirinya adalah
kebiasaan berjudi.
Gaya
hidup Renya telah menjeratnya pada lingkaran riba yang melilit dirinya. Tawaran untuk meminjam uang di bank tidak
mampu Renya tolak karena penghasilan dari suaminya telah habis untuk memenuhi
nafsunya.
“Ibu,
kamu kenapa berani-beraninya meminjam uang bank tanpa izin aku? Rumah ini terancam kena sita kalau kita tidak
mampu mencicil pokok berikut bunganya.”
Hardi marah besar terhadap kelakuan Renya kali ini.
“Gampang,
Pak, anak-anak udah pada dewasa. Kita
bisa tinggal bersama mereka. Bapak sama
Purnama dan aku bisa tinggal sama Reza.”
Renya selalu menjawab enteng kerisauan suaminya.
Hardi
hanya bisa mengurut dada. Ada rasa tak
berdaya menghadapi tingkah istrinya, ada rasa bersalah tak mampu mendidiknya
untuk menjadi wanita salehah. Semua
berkecamuk menjadi satu. Tak satupun
kebiasaan buruk Renya lepas dari sikap dan sifatnya.
“Aku sudah
tidak kuat dengan kelakuan Ibu. Malu,
Pak. Mau ditaruh di mana muka kita. Semua tetangga sudah tahu dan melihat akibat
kebiasaan buruk ibu.” Purnama
menyalahkan ayahnya yang tidak mampu membimbing ibunya kea rah yang lebih baik.
Beberapa
hari yang lalu Purnama baru saja menebus rumah yang di segel pihak bank. Belum sampai satu tahun setelah Purnama
menebus rumah itu, segel serupa sudah
tertera lagi di pintu depan rumah malang itu.
“Innalillahi,
Ibu, setan mana yang telah menggodamu, rumah ini sudah disegel lagi?”
gumam Reza saat berniat mengunjungi dua
orang tuanya itu. “Apakah kiriman dua
juta sebulan yang Reza berikan sebagai bakti Reza masih belum cukup?” batin Reza
berkecamuk. Kali ini Reza bersedia
menebus rumah itu. Namun seluruh surat-surat
ia amankan supaya tidak dijadikan agunan lagi oleh Renya.
Kini
wanita penggoda itu pergi entah kemana.
Ada rasa sedih di hati Hardi, Purnama dan Reza. Bagaimanapun ada kenangan indah yang pernah
mereka ukir bersama. Di balik segala
kekurangan Renya, ada ketulusan kasih sayang yang ia bagi untuk anak-anaknya
bahkan ia paling senang berbagi pada kerabatnya.
Sementara
itu warga kampung terutama kaum Hawa merasa lega, Allah SWT telah menjauhkan
Sang Penggoda dari kampung halaman mereka.
Glosarium:
Hideup =
bahasa halus bermakna kamu
(bahasa Sunda)
Keukeuh = bersi keras (bahasa Sunda)
Dayyuts = sifat
suami yang hilang cemburu atas maksiat yang dilakukan istri (bahasa Arab)
MANAJEMEN KEUANGAN KELUARGA SATU PINTU
(Khadijah Hanif)
Uang memang bukan segalanya, tapi
pada kenyataannya segala memerlukan uang.
Kalimat ini sering kali kita dengar dan siapapun mengakui hal ini. Oleh karena itu tidak semestinya kita salah
dalam menyikapi dan mengelola uang.
Apalagi saat kita sudah berumah tangga.
Mengatur keuangan menjadi satu keniscayaan.
Masing-masing keluarga punya gaya
dan cara tersendiri dalam mengelola keuangannya. Tipe-tipe itu antara lain:
1. Semua uang dipegang istri,
anggota keluarga mendapat jatah kebutuhan harian
2. Semua uang dipegang suami,
anggota keluarga mendapat jatah kebutuhan harian
3. Semua anggota keluarga
memegang uang sesuai jatah dan keperluannya masing-masing dalam jangka waktu
tertentu, perpekan, persepuluh hari, perdua pekan, dst.
Dari
ketiga tipe, semua memiliki sisi positif dan negatifnya masing-masing, sesuai
dengan kecenderungan karakter dari anggota keluarga.
Tipe pertama cocok bila seorang
istri panda mengatur keuangan keluarga dan bertindak sebagaimana bendahara
keluarga. Pada tipe ini, istri harus tahu
semua sumber keuangan yang bisa menambah kas keluarga. Istri punya kreatifitas untuk menambah
keuangan dan menggunakannya dengan sebaik mungkin.
Sebaliknya, tipe kedua sangat cocok
bila suami adalah seseorang yang pandai mengelola keuangan. Akan tetapi bagi keluarga dengan suami
sebagai tulang punggung keluarga dan istri murni sebagi ibu rumah tangga, tipe
ini akan terlalu membenani suami. Ia
harus mencari nafkah sekaligus juga manajer keluarga.
Tipe ketiga cocok untuk melatih
semua anggota keluarga pandai mengatur uang jatah perbulannya
masing-masing. Tipe ini sangat rawan
kebocoran terutama bila masing-masing kurang mampu mengendalikan keinginannya. Saat pola ini diterapkan, dampak positif
negatifnya harus dievaluasi oleh seluruh anggota keluarga sebagai bentuk
pendidikan.
Kiat hebat mengatur uang belanja ini
ditujukan untuk keluarga yang punya tipe keluarga boros. Baik itu boros dalam berbelanja maupun dalam
bersedekah. Adakah bersedekah masuk dalam
ranah sifat boros? Tentu saja bisa,
yaitu apabila sedekah sudah mengganggu pos penting dan wajib ada dalam
pengeluaran rumah tangga.
Allah dan RasulNya mengingatkan kita bahwa sebaik-baik urusan
berada di pertengahan, tidak terlalu boros dan tidak terlalu hemat, dalam
urusan apapun. Termasuk bersedekah,
semua ada takaran dan aturannya.
Manajemen keuangan keluarga satu
pintu pada keluarga dengan karakter personal yang cenderung boros akan sangat
mengurangi kebocoran keuangan. Keluarga
tidak akan kehabisan stok uang kebutuhan hingga akhir bulan.
Nah, berikut ini langkah penting
yang harus diambil dalam mengelola keuangan terpusat:
1. Menentukan bendahara
keluarga.
Bendahara keluarga
haruslah orang yang paling hemat diantara seluruh anggota keluarga, disiplin
dalam pengaturan dan pencatatan keuangan.
Selain itu juga sebaiknya dipilih yang memiliki beban tidak terlalu
berat agar tidak terjadi penumpukan beban.
Bahkan seandainya dalam keluarga ada anak yang sudah dewasa dan dapat
mengemban amanah, ia bisa ditunjuk menjadi bendahara keluarga
2. Membuat pos-pos
pengeluaran, antara lain:
a. Pos Birrul Walidain
i.
hadiah atau dana kebutuhan untuk orang tua
ii.
hadiah atau dana kebutuhan untuk mertua
Dana ini menjadi
pembuka pintu keberkahan atas ketaatan pada perintah Allah SWT untuk selalu berbuat baik pada kedua orang tua.
b. Pos infak, zakat dan
sedekah (2,5%-10%)
i. infak, zakat dan sedekah
sewaktu waktu dalam jumlah besar
ii. infak, zakat dan sedekah
harian
c. Pos pengeluaran rutin:
i. kebutuhan pendidikan
ii. kebutuhan harian anggota keluarga (uang saku)
iii. listrik, air, pulsa,
wifi
iv. transportasi, mobilitas dan pemeliharaan
kendaraan
v. belanja dapur harian (bahan makanan segar)
vi. belanja dapur bulanan
vii. belanja toileters (sabun mandi, sabun cuci,
shampoo, alat dan bahan kebersihan lainnya)
d. Pos pengeluaran tak terduga
i. dana kesehatan
ii. dana kebajikan
(kebutuhan yang bersifat sumbangan kekeluargaan seperti pernikahan, khitan,
kelahiran, dll)
e. Pos dana investasi (menyisihkan sebagian
penghasilan untuk ditabung)
3. Mengadakan evaluasi
.
Dalam pertemuan
keluarga, keuangan bisa dibahas secara rutin untuk mengecek kesesuaian antara
rencana anggaran dan realisasinya.
Diskusi ini juga dilakukan untuk menjadi media komunikasi kebutuhan
anggota keluarga yang mungkin saja bersifat tak terduga.
Evaluasi juga sangat penting untuk
menampung ide anggota keluarga terkait peluang penambahan penghasilan dan usaha
yang dijalankan anggota keluarga. Bahkan
sebagai latihan enterpreuner, anak-anak dapat dibekali kemandirian dan
keinginan berjual beli. Banyak hal
positif dari latihan mandiri ini, yaitu kesadaran pentingnya memutar keuangan
agar bertambah dan berkah.
Evaluasi keuangan bisa diselipkan
sebagai salah satu item dalam perbincangan santai keluarga, bukan sebagai hal
pokok layaknya organisasi pada sebuah kantor atau lembaga. Sehingga suasana hangat tetap bisa diciptakan
tanpa berkesan mengaudit keuangan keluarga.
4. Melakukan tindak lanjut.
Tindak lanjut
sangat tergantung pada kondisi keuangan keluarga. Bila dijumpai ada devisit atau kekurangan
maka kesepakatan mengencangkan ikat pinggang bisa dilakukan dengan mengurangi
pos-pos gemuk yang bisa dihemat. Apabila ada problem tak terduga seperti kehilangan,
maka perlu kesepakatan anggota keluarga untuk mengeluarkan uang tabungan. Apabila terdapat kebutuhan tak terduga dalam
jumlah besar, maka perlu merencanakan bisnis keluarga misalnya.
Semua perbincangan
keluarga ini akan bisa menjadi jembatan positif dalam rangka mengokohkan
ekonomi keluarga.
Bagi keluarga
dengan penghasilan tetap, perancangan tentang rencana pengeluaran mungkin akan
lebih mudah daripada keluarga dengan penghasilan tidak tetap. Terutama tentang ketersediaan seluruh dana di
awal bulan. Akan tetapi jangan kecil
hati, sistem pencatatan keluar masuknya uang dengan rapi akan menutupi
keperluan sesuai skala prioritas.
Selamat menikmati
manajemen keuangan keluarga! Semoga
keluarga-keluarga kokoh dapat dibangun dengan pengorganisasian yang baik. Pengelolaan keluarga meliputi segi keuangan, pembagian peran dalam keluarga,
proses saling membantu dalam perbaikan diri, dll.
Bukankah
Rasulullah penah berpesan agar kita tidak meninggalkan generasi yang
lemah. Bukankah Allah lebih mencintai
hambanya yang kuat?
Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Annisa ayat 9:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ
خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ
وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya:
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang
mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab
itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang benar.
Bukankah
generasi yang lemah sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah. Lemah iman, lemah fisik, lemah akal, lemah
kemauan, lemah ekonomi, semua itu tidak diharapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
BE HERO FROM ZERO
(Khadijah Hanif)
Aku
mengenal baik keluarga besar mereka, lebih dari para subscriber yang
menggandrungi keluarga itu. Youtuber
paling popular di tanah air bahkan merambah Asia. Mereka adalah keluarga hebat dengan kerja tim
yang solid dan penuh disiplin. Satu atap dengan tigabelas anggota keluarga. Ayah, ibu dan sebelas anak.
Suatu
hal yang fantastik di zaman ini, di mana
orang takut memiliki banyak anak dengan alasan finansial. Keluarga ini seakan menjadi bukti bahwa
keyakinan dan iman mengatasi segala kekhawatiran yang tak beralasan untuk
membatasi jumlah anak. Keluarga besar
Samudra Clan-13 atau SC-13 adalah keluarga contoh bagaimana seseorang bisa
menjadi besar dengan menguasai teknologi informasi dan digital di era milenial
ini.
Salah
satu yang menonjol dari mereka adalah putra sulungnya, seseorang tanpa
pengalaman sekolah formal, belajar seumur hidup di universitas kehidupan,
tiba-tiba kini menjelma menjadi milyader di usia menjelang dua puluh enam
tahun. Lalu apakah perjuangan mereka
semudah membalikkan telapak tangan?
Tentu tidak.
Aku
mengenal mereka sejak tahun 1989 di sebuah kampus ternama di Indonesia, Samudra
seorang anak muda cerdas, berdialog denganku tentang Islam. Kami belajar bersama penuh kasih sayang dan
rasa persaudaraan dalam naungan kalimat tauhid “lailaha illallah”. Kedekatan itu membuatku seperti anak angkat
bagi keluarga besar Samudra.
“Syarat
seseorang untuk meraih gelar takwa itu harus memiliki guru mursyid.Guru yang
mendapat petunjuk Allah SWT, sangat besar rasa takut dan cintanya pada
Allah. Kehidupannya mencontoh sunah
Rasulullah secara kaffah.”
“Adakah
seseorang seperti itu, Ustaz Ghani?” tanyanya dengan raut muka serius.
“Tentu
ada karena Allah SWT selalu memperbaharui agama-Nya tiap seratus tahun ada satu
teladan untuk dijadikan cermin bagaimana mengamalkan Islam,” jawabku penuh
keyakinan.
Di
sinilah hijrah seorang Samudra menjadi murid yang taat pada guru bermula. Hingga keberkahannya terasa oleh seluruh
anggota keluarga. Jiwa kepemimpinannya
sebagai putra sulung mampu menggerakkan seluruh anggota keluarga untuk berguru
pada satu mursyid, Abuya Ashari Attamimi.
Kecintaan itu pula yang membuatnya begitu dekat dengan mursyid, mendapat
kepercayaan memimpin komunitas zikir kami.
Ia telah jauh melangkah meninggalkanku.
Sebagai
komunitas zikir, kami menerapkan sistem pernikahan Islami tanpa pacaran. Samudra pun mendapatkan jodoh lebih awal
daripada aku. Seorang akhwat
berkarakter, cerdas dan mandiri kami pertemukan dengan Samudra, namanya Clania
Hafiz.
Pernikahan
yang berkah ini berlangsung lebih dari seperempat abad dan lahirlah sebelas
putra-putri yang cerdas dan lucu.
Berpuluh tahun Samudra hidup dalam komunitas zikir kami, sementara aku
hidup di luar komunitas. Meskipun begitu
aku tetap mengamalkan zikir yang menjadi pengikat kami.
Sejak
aku hidup di luar komunitas, aku tidak pernah berjumpa dengan Samudra dan keluarganya. Akan tetapi aku terus mengikuti perkembangan
komunitas kami dari jauh. Juga
perkembangan sahabat terbaikku itu, Samudra Buana. Ibarat kata pepatah jauh di
mata dekat di hati.
Sebagai
pendakwah, Samudra, Sang Nahkoda selalu mendidik anak-anaknya dalam ketegasan
dan suasana yang kental dengan nuansa agama.
Sesuatu yang tidak pernah ditinggalkannya adalah salat berjamaah lima
waktu dan zikir pengikat komunitas kami.
Satu hal yang ia terima dari mursyid dan terus dikekalkan hingga kini
adalah pembagian tugas dalam keluarga dan pendidikan kemandirian.
Sejak
kecil semua anggota keluarga harus berusaha menjual sesuatu, melaporkan hasil
jualan mereka dan memberi reward sesuai hasil yang mereka bawa. Perlahan tapi pasti, kesebelas anaknya
berkembang menjadi enterpreuner sesuai bakat mereka masing masing. Pembagian tugas di rumah telah mereka
kembangkan menjadi ladang usah dengan pangsa pasar yang lebih luas. Laundry, chatering, pencucian mobil dan
cleaning service, penataan taman dan arsitektur landscape. Semua itu menjadi
pundi-pundi uang buat keluarga SC-13.
Kepemimpinan
Samudra menurun pada putra sulungnya.
Lukman Ashari, anak kecil yang dulu aku gendong dan turut aku asuh itu,
telah menjadi yang terbaik di dunianya.
Youtuber paling laris, bintang iklan dan selebritis.
“Lukman,
nanti kalau sudah besar pingin jadi apa, Nak?” tanyaku padanya suatu hari.
“Jadi
bintang di langit, Ami,” jawabnya polos khas anak-anak.
“Wah,
banyak sekali bintang-bintang itu.
Bintang yang mana, Lukman?”
“Yang
paling besar dan terang,” ungkap Lukman kecil dengan nada riang.
“Semoga
cita-cita Lukman bisa tercapai. Lukman
berdoa pada Allah, ya. Ami yang
mengaminkan.”
Lukman
kecil menengadahkan tangan mungilnya.
Doa anak tanpa dosa dan masih polos itu mengalir tulus.
Perjalanan
hidup mereka tidak seindah hasil yang kini mereka nikmati. Ada satu fase kehidupan yang harus mereka
lalui. Titik nadir yang membuat mereka
menjadi zero man with nothing.
Yaitu saat Sang Ayah mendapat didikan dari mursyid. Semua atribut kepemimpinan di komunitas zikir
dilucuti. Kehidupan seakan berputar
seratus delapan puluh derajat. Kesulitan
demi kesulitan melanda. Keperluan hidup
yang awalnya bisa dipenuhi dengan duduk di balik meja, kini harus didapat dari
tiap tetes keringat dengan jumlah anak yang sangat banyak.
Dengan
terus bersandar pada Allah SWT dan bimbingan rohani dari mursyid, Samudra
memutuskan hidup di luar komunitas.
Bukan untuk memutuskan berkah mursyid tapi untuk menata keluarga agar
semua anak-anaknya bisa terurus dengan baik.
Keluarga
SC-13 merangkak dari nol, memulai usaha dan memasarkan dengan penuh
kesabaran. Awalnya mereka terpaksa
berjualan apa saja untuk menyambung hidup.
Modal mereka kumpulkan hingga Sang Ayah memiliki counter kartu
perdana. Usaha berkembang menjadi
counter HP. Lukman Ashari sebagai kapten
banting setir dengan jual beli mobil bekas. Era
informasi dan teknologi turut mendorong usaha Lukman Ashari. Prinsip pemasaran dengan memperkenalkan
barang jualan pada sebanyak mungkin orang benar-benar dikuasainya. Media
social, youtube, facebook, tweeter, instagram semua menjadi media promosi yang
sangat murah bahkan bebas biaya. Di
sinilah usahanya terus berkembang.
Tidak
puas dengan apa yang didapat, keluarga SC-13 bertekat membuat Channel Youtube,
membuat dan mengunggah vlog dengan konten yang marketable. Jumlah anggota keluarga yang gemuk memberi
berkah tersendiri bagi SC-13. Betapa
tidak, tiga belas anak tanpa pendidikan
formal telah mampu menunjukkan bakatnya.
Mereka lebih pandai daripada mereka yang mengenyam pendidikan
formal. Pandai dalam mengelola bakat
menjadi tontonan yang menarik untuk dikonsumsi.
Berkat
kepiawaian Lukman Ashari lebih dari duapuluh juta subscriber tersedot
memperhatikan videonya. Sebutan youtuber
termuda dan terpopuler di Asia Tenggara telah mengantarkannya menjadi
milyader.
Aliran
dana mengalir deras setiap bulannya ke Channel SC-13, ClanSam, Lukman Ashari,
Syakila, Syaula, Faqih, Syafiq, Medina, Faris, Zaid, Mariam, Tazaka dan
Asad. Semua memiliki subscriber yang
bervariasi dengan pemilik subscriber terbanyak adalah Sang Kapten, Lukman
Ashari.
Ketenaran
Lukman Ashari membuat banyak perusahaan menjalin kerjasama dengannya sebagai
bintang iklan. Sebuah smartphone, kartu
perdana hingga produk kopi mencoba menaikkan penjualan melalui kehadiran
Lukman. Sekali lagi rezeki mengalir
menuju kantongnya.
Melihat
kemajuan keluarga samudra aku turut berbangga dan berbahagia. Meskipun hanya sepercik air yang dibawa
burung gelatik untuk memadamkan api Namrud, aku terus berdoa. Harapan tulusku, aku bisa kembali berjuang
bersama sahabat terbaikku itu suatu saat nanti seperti saat pertama kami
berjumpa di tahun 1989.
Melalui
semilir hembusan angin menjelang senja, aku menitipkan salam ridu dan ukhuwah
untuk mereka. Khusus untuk Lukman
Ashari, aku bangga dengan kebesaran nama yang Allah karuniakan padamu, Nak. Jadilah derap langkahmu sebagai generasi
milenial adalah derap langkah kemuliaan.
Ada keteladanan yang kau lukiskan bersama jejak langkah kakimu. Tinta emas sejarah telah menorehkannya namamu
dalam kanvas kehidupan.
Namun
anakku, ada nama mursyid yang tersemat di belakan namamu, Ashari. Jadilah engkau kebanggaan untuk mursyid
kita. Seandainya langkahmu tak seirama
dengan derap langkah guru kita, aku ingin meraih tanganmu, menapaki jejaknya
yang masih basah dan tampak nyata. Tidakkan
kau rindu kebersamaan kita di satu malam di bawah langit jernih penuh gemintang?
(Dituturkan
kembali oleh suami penulis dengan perubahan nama tokoh)

Komentar
Posting Komentar