BUKU SOLO IV-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA II

 

Buku Solo IV

KUMPULAN NUBAR AREA

KISAH INSPIRATIF II

OLEH: KHADIJAH HANIF

PTNA-SALAWU

2018-2020

DAFTAR ISI

 

1.                 NUBAR AREA_GURU INSPIRATIF _BINAR EMBUN KEIKHLASAN

2.           NUBAR AREA_SEPUCUK SURAT UNTUK BUAH HATI _TEMUI TUHANMU SECEPAT   KILATAN CAHAYA

3.                 NUBAR AREA_SCRIBBLES IN JANUARY_ IMPIAN YANG TERTUNDA

4.                 NUBAR AREA_TEMAN JADI MANTAN_YANG DATANG KEMBALI

5.                 NUBAR AREA_PATAHAN HATI_PENGORBANAN CINTA-1

6.                 NUBARAREA_MENITIJALANHIJRAH_SELALU ADA PINTU BERTAUBAT

7.                 NUBARAREA_DESEMBERTERSENYUM_KADO BUAT UMMI

8.                 NUBAR AREA_BISIKAN CINTA_CINTA LILLAH REZA

9.                 NUBAR AREA_MI FAMILIA_KEMAAFAN AYAH

10.              NUBAR AREA SUMATRA_ ADA CINTA DI TIAP AKSARA_ ASA DAN CINTA  BUAT TASYA

11.        NUBAR AREA_OASIS FEBRUARI_CINTA PUTIH SYAKILLA

12.             NUBAR AREA_KESETIAAN_AKU TETAP MENUNGGU 

13.           NUBAR AREA_NASIHAT BAPAK_ BENTANGKAN SAYAPMU MERAIH ILMU 

14.        NUBAR AREA_KINDNESS HUNTERS DIARY_TAMU

15.        NUBAR AREA_SUPPORT SYSTEM_JANGAN KATAKAN ‘TAK BISA’

16.        NUBAR AREA _SENI MENYIKAPI KETELANJURAN_YANG TERBAIK

17.        NUBAR AREA_MENDEKAP TAKWA_ANA UHIBBUKA LILLAH

18.        NUBAR RUMEDIA_SANG PENGGODA_KHADIJAH HANIF_DAYYUTS

19.       NUBAR AREA_HEMAT MENGELOLA UANG BELANJA_MANAJEMEN KEUANGAN KELUARGA SATU PINTU

20.      NUBAR AREA_DERAP LANGKAH GENERASI  MILLENIAL_BE HERO FROM ZERO


13.             

BINAR EMBUN KEIKHLASAN

Oleh: Khadijah Hanif

 

“Ayolah,  Miqdam, kamu harus segera kembali ke pondok!  Sudah sebulan kamu di rumah.  Banyak waktu mubazir, Nak.  Tidur, nonton tivi, main ke rumah temen.  Mama lihat kerjaanmu itu saja.  Sayang dengan ibadahmu yang begitu banyak di pondok tidak bisa kau istiqamahkan di rumah.”  Mama berulang kali membujukku dengan berbagai cara.  Tapi aku bergeming.  Belum ada gerakan hatiku untuk segera berangkat ke pondok lagi.

“Mama, Miqdam masih gatal, nih.  Belum sembuh benar.  Nanti kalau kambuh, Mama lagi yang repot.  Please, Ma, Miqdam belum siap buat pulang ke pondok.  Miqdam janji bakalan mejaga amalan yang Miqdam kerjakan di pesantren.”

Keputusan harus segera aku ambil, terus atau putus.  Bekas guratan sakit kulit menyisakan rasa malas kembali ke pesantren.  Hatiku seakan digelayuti beban berton-ton.  Di atas dipan kamarku aku sapukan pandangan ke seluruh ruangan.  Mataku terhenti pada sebingkai hiasan dinding.  Tulisan tangan berisi bait-bait  nasihat, entah siapa yang menulis dengan guratan indah itu, mungkin kakek.  Ia seorang wartawan sekaligus seniman yang belum terbuncah ke permukaan dengan kemasyhuran.  

Baru kali ini aku melihat tulisan itu.  Aku yakin ibu yang menggantungkannya di dinding kamarku.  Tiba-tiba aku ingin membaca.

Anak-anakku yang kucintai.  Kini aku relakan engkau berjalan dan kuikhlaskan engkau pergi.  Semoga engkau mendapat tuntunan iman dan petunjuk Allah yang Mahasuci.  Sekarang ini saya sudah tua, siap menunggu panggilan.  Doakan Husnul Khatimah dan Pesantren  tetap menjadi medan ibadah.  Allahumma Aamiin.”

Berjalanlah anakku...  Tujulah pulau idaman.  Sebarkan benih di tangan...  Tuhan Allah menyertaimu.  Tunjukkan baktimu pada ummat, perlihatkanlah darmamu pada masyarakat.  Maskipun hanya guru ngaji di langgar kecil, ganjarannya mungkin melebihi pembesar Negara.  Allah Yang Maha Mengetahui akan memberimu rahmat.

Selamat jalan anakku...  Selamat jalan pahlawan! Ya Allah lindungilah dia!” (Wasiat KH.  Zainal Arifin, Pelepasan yang Mengharukan)

Ternyata nasihat itu dari Pak Yai tempat aku mondok.  Barisan kalimat itu menamparku lembut.  Aku seakan mendapat teguran dari sana, “Kalau kamu mundur, kamu bukan pahlawan tapi pecundang.  Kalau kamu terus berarti kamu lulus.  Insya Allah tidak akan sia-siakan segala pengorbananmu sejauh ini.  Dapatkan benih-benih ilmu dan amalan yang akan kau semai di tengah umat dan masyarakat.  Berbakti meskipun menjadi guru mengaji dengan hanya satu santri.”  Batinku turut menguatkanku untuk segera kembali ke pesantren.

Saat aku datang, teman-teman satu kamarku berekspresi gembira.  Ingatanku pada keseruan berakitifitas bersama mereka adalah bahan bakar yang penuh energi untukku berjuang.

Aku bersyukur berada di tempat ini, mendapat guru dan sekaligus orang tua.  Di masa tumbuh kembang usia belasan tahun, saat masih dalam tahap pencarian jati diri  Allah rezekikan aku mendapat bimbingan dari guru.  Seseorang yang begitu ikhlas mendedikasikan hidup untuk membentuk insan Rabbani.  Beliaulah KH. Zainal Arifin.

Aku takkan pernah melupakan didikan beliau yang tulus.  Tidak pernah 'nuput' (bahasa kami untuk mereka yang menjaga wibawa atau jaga image alias jaim untuk bahasa anak sekarang).  Saking ikhlasnya, beliau tidak pernah peduli pandangan manusia terhadap dirinya.  Yang beliau pedulikan adalah pandangan Allah dan bagaimana santri bisa berkembang menjadi insan yang baik dan mulia.

Pelajaran berharga yang aku rasakan adalah nilai-nilai kedisiplinan dan kesungguh sungguhan.  Karena tuntutan itu, kami selalu berusaha melakukan tugas sebaik mungkin.

"Miqdam, You have to be MC for the important event tomorrow?" tanya Mahrus saat aku berlatih membaca susunan acara.

"Yes, wish me lucky, OK?"  Saat itu pekan bahasa Inggris sedang diterapkan di asrama.

Keistimewaan pondokku, semua kegiatan selalu harus rapi dan berjalan lancar.  Kuncinya pada gladi kotor bersama pengurus  dan gladi resik langsung dipantau oleh pimpinan pesantren, KH. Zainal Arifin.  Malam itu, aku optimis akan dapat menjalankan latihan sebagai MC dengan baik.  Saat gladi kotor tidak ada kendala.

"Do your job well, don't make our rois dissappointed!" Akhi Junaidi sebagai penanggung jawab kepanitiaan mengingatkanku

Aku menaiki panggung aula dengan percaya diri.  Pak Zain (demikian panggilan akrab kami pada KH. Zainal Arifin yang penuh wibawa itu) berdiri tegap mengawasi kami. 

"Susunan acara penyambutan tamu resmi Pondok Pesantren Modern Darul Akhirah , 23 November 1984, pertama pembukaan, kedua......"

"Tolol...  Tolol...  Tolol..."  Tiga perkataan yang sering kami dengar saat beliau tidak berkenan.  Aku langsung menghentikan pembacaan.  Jantungku berpacu tiga kali lebih cepat.  Keringat dingin merayapi punggung dan mukaku. Innalillahi wainna ilaihi raaji'un. Lajaula walaaquwata illa billahil 'aliyil aziim.  Aku penuhi hatiku dengan dzikir.  Adakah yang tidak beres dariku. Penampilan, cara membaca teks atau apa? Aku galau sendiri, aku merasa tidak berbeda dengan cara aku membaca saat gladi kotor.

"MC terlalu lambat membawakan acaranya, ganti!"  Keputusan beliau tidak bisa diganggu gugat, aku harus tahu diri dan segera turun dari panggung aula.  Mungkin wajahku saat itu sudah pucat pasi.

"So sorry, Miqdam I have to shift your job." Mahrus yang sudah terbiasa menjadi MC langsung ditunjuk Pak Zain menggantikanku.

Ada rasa kecewa sesaat atas gagalnya penampilanku.  Anehnya rasa kecewa itu justru membuatku ingin berhasil suatu saat nanti.  Aku baru menyadari dengan berjalannya waktu, bahwa keikhlasan beliau telah menjadi bagian dari proses pembentukanku.  Pembentukan untuk menjadi insan yang utuh, selalu siap menerima keadaan apapun.  Ada pelajaran berharga untuk selalu berbaik sangka pada guru.

Terlalu banyak kenangan indah bersamanya, pengorbanan demi pegorbanan membinarkan pancaran keikhasan hati.   Meskipun organisasi pelajar selalu siap untuk menjadi perpanjangan tangan Pak Yai tapi beliau selalu terdepan membimbing kami.  Membangunkan qiyamullail, mendampingi salat wajib, membimbing halaqah, memberi tausiah adalah kegiatan rutinnya.  Bukan hanya itu, bahkan saat makan pun ia selalu berusaha hadir.  Tak mengherankan, kami sangat dekat dengannya, meskipun ada rasa segan karena takut salah di mata beliau.

“Kalau aku meninggal jangan kalian tangisi dengan air mata dan ratapan, tapi hiasi perbuatan kalian dengan nasihat dan pesan-pesanku,” pesan Pak Yai beberapa hari sebelum dirawat.

Dalam kondisi kritisnya, kami sedang belajar di pondok.  Kami menerima kabar kewafatan begitu jenazah alahuyarham enam petang.  Karena tidak ingin mengganggu santri yang sedang ujian, beliau berpesan unntuk dibawa ke pesantren sekitar pukul sebelas malam.  Aku yakin ia tidak ingin disambut dengan kesedihan para santi.

Kesedihan meliputi langit di atas Darul Akhirah.  Seluruh keluarga besar pondok pesantren modern bergerak cepat. Semua hak terhadap jenazah segera dilakukan. Memandikan, Mengafani  bukan oleh kami karena pengumuman kewafatannya pun hanya dari telinga ke telinga.  Luar biasa sampai pada saat wafatnya pun beliau tidak mau mengganggu proses belajar santri.

Bakda Asar beliau disalatkan oleh seluruh keluarga besar pondok.  Selamat tinggal wahai guru, nasihatmu akan kami amalkan, ilmu darimu akan kami sebar luaskan dan cita-citamu akan kami realisasikan sekemampuan kami.

Mataku menghangat, ada rasa pedih di sana. Pandanganku perlahan buram, genangan itu siap untuk tumpah.  Bagaimana kami tidak bersedih ditinggalkan oleh seseorang yang mewakafkan dirinya, mengorbandan waktunya untuk perkembangan kami. Sebagian santri sampai pingsan kehilangan guru yang amat berjasa.  Kami tak peduli sebutan cengeng atau lemah. Tapi ekspresi mahabah telah memenuhi hati dan perasaan kami

KH. Zainal Arifin dimakamkan di pemakaman keluarga, tepat di samping asrama kami  Guruku, banyak hal yang aku dapat selama kita bertemu. Keikhlasanmu adalah cermin yang aku bawa kemanapun aku pergi.

Masih terbayang betapa kemarahanmu adalah bagian dari perjuangan karena Allah. Kau akan berdiri paling depan saat disiplin santri, pengurus hingga ustaz sekalipun tidak ditegakkan. Di hadapanku engkau bagaikan singa Allah dalam dakwah dan tarbiyah.

Berbaris-baris bahkan ribuan baris kata hikmah, keikhlasan nasihat darimu masih berjajar rapih di buku harianku.

Ada keindahan dalam memaafkan dan meminta maaf 

Bila datang berita ada seseorang membencimu maka kirimkan hadiah untuk yang membencimu itu. Insya Allah akan berubah menjadi cinta dan kasih sayang  

Ketika kesusahan dan kesulitan datang...berbahagialah karena Allah akan memberikan kemudahan, nantikan dengan penuh kerinduan kejutan dariNya, entah apa karena masih rahasia.  Maka tetaplah tersenyum 

Biarlah segala kekurangan ini membuatku ingin mendekatiMu, merasa membutuhkan pertolonganMu

Tiap peristiwa adalah panggilanNya. Kita dapat rasakan panggilan mana yang paling indah...Sungguh segala rasa kehambaan itu seperti janatun al ajilah 

Kebahagiaan sejati adalah saat kita menjadi jalan bagi kebahagiaan orang lain. 

Bila dua hamba saling berkasih sayang di jalanNya maka karunia Allah menyertai mereka, kelapangan dada adalah nikmat yang sangat indah.

Jangan pernah mengorek masalah karena masalah itu akan bertambah besar menyelimuti hati kita. Bila ada masalah pikirkan bagaimana kita menjadi bagian dari solusi 

Cukupkan bahagia itu dengan selalu ingin menghargai orang lain. Sekecil apapun penghargaan akan bermakna bila diliputi keikhlasan. 

Milik kita adalah hari ini. Karena hari yang lalu tak mungkin kembali tuk diperbaiki. semua tertulis dan tercatat, tidak pula terhapuskan. Sedangkan hari esok masih sangat2 rahasia. Berbuat sebaik mungkin di hari ini berarti memberi kebaikan untuk diri sendiri. Segala perbuatan akan kembali pada yang berbuat apapun itu.

Dari bangun tidur hingga tidur lagi kita jumpai sekian banyak pilihan kata, pilihan sikap dan keputusan. Beruntunglah yang dapat memilih dengan berserah pada keredhoan Allah 

Tidak ada yang salah dengan masalah, masalah sebenarnya timbul ketika kita salah menyikapi masalah. Tidak ada yang harus disedihkan dari penderitaan justru kesedihan muncul ketika salah menykapi penderitaan itu sendiri. 

Dicaci adalah anugerah bila dengan dicaci itu menambah kedekatan kita pada Allah SWT. sanjungan menjadi musibah bila membuat kita sombong dan jauh dari Allah SWT.   Begitu pula keterbatasan dan kelebihan yang kita miliki. Tidak perlu khawatir dengan keadaan yang menimpa kita yang harus kita khawatirkan adalah bila suatu keadaan membuat kita jauh dariNya.

            Pakailah ilmu kelapa, jatuh dari ketinggian, dicabik hingga gundul, dipukul hingga pecah, dicukil dan dikuliti, diparut dan diperas, barulah ia menghasilkan santan yang berguna. Itulah saripati tauhid akan hadir setelah melewati berbagai rintangan, celaan, hinaan dan ujian hidup. Makin sabar makin dekat seseorang dengan hakikat kebenaran. 

Ciri kesombongan adalah merasa diri kita lebih baik dari orang lain atau merasa orang lain lebih buruk dari kita

Keberuntungan terbesar adalah mengenal Allah, memungkinkan kita memohon dan berharap hanya pada-Nya

Di antara sebab yang membuat penolakan seseorang untuk nikmat Allah itu adalah berpikir begitu berat pada kedatangan ujian, sehingga melupakan nikmat yang tak terhitung jumlahnya dari Allah, fa biayyi aalaai robbikumatukadzibaan.

Salah satu tingkatan yang tinggi dalam sabar adalah meninggalkan sesuatu demi keridhoan Allah SWT. Mungkin ada kesedihan, ada kehilangan dan merasakan berbagai hal yang tidak menyenangkan menurut nafsu. Namun yakinlah ketika kita berhasil meninggalkannya akan terasa manisnya iman buah dari rasa penghambaan. Sebaliknya bermaksiat pada Allah mungkin akan menimbulkan kesenangan, kegembiraan sesaat menurut nafsu. Namun ketahuilah di sebalik itu siksaan karena hilangnya kemanisan iman akan membuat derita yang berkepanjangan.

 Kala terasa tiada cinta yang menyapa cukuplah keyakinan bahwa tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Berusaha memberi cinta tanpa menanti balasan rasa seperti contoh Rasulullah dalam mewujudkan rahman rahimNya    

Dibutuhkan cara pandang yang berbeda untuk merasakan kebahagiaan pada tiap keadaan. Yaitu ketika sumber bahagia itu ada pada ridho Allah dan keyakinan atas karuniaNya yang akan selalu mengiringi ketaatan padaNya.

Dia tahu segala sesuatu hingga apa yang ada dalam hati kita. Maka jangan pernah kehilangan harapan untuk menjadi lebih baik hari demi hari

Mata diciptakan Allah sebagai bekal manusia menemukan Dia lewat kebesaranNya yang hadir tiap saat dan dapat kita lihat. Telinga diciptakanNya untuk mendengar panggilanNya hingga kita sampai pada keimanan. Hati diciptakan untuk merasakan keberadaanNya di tiap detik waktu. Akal diciptakan untuk memikirkan ciptaanNya hingga kita sampai padaNya. 

Di antara salah satu sunnah Rasulullah yang utama adalah membalas keburukan orang lain dengan kebaikan. Maka akan terasa indahnya keimanan

Kita sesungguhnya bukan penduduk bumi ini, kita hanya menggantikan orang-orang terdahulu. Dan kelak kita akan digantikan oleh orang-orang kemudian. Sesungguhnya tiada harta yang kita punya, kita hanya memakai apa-apa yang pernah dipakai orang-orang sebelum kita. Kalaupun ada yang baru dibuat atau diciptakan fanaadanya dan akan kita tinggalkan.

Pakailah ilmu kelapa, jatuh dari ketinggian, dicabik hingga gundul, dipukul hingga pecah, dicukil dan dikuliti, diparut dan diperas, barulah ia menghasilkan santan yang berguna. Itulah saripati tauhid akan hadir setelah melewati berbagai rintangan, celaan, hinaan dan ujian hidup. Makin sabar makin dekat seseorang dengan hakikat kebenaran.

Mengapa kita mesti marah atau kecewa bila datang ujian berupa sesuatu yang tidak mengenakkan. Bukankah dengan begitu akan datang berita gembira berupa kemudahan. Jadi apa pun keadaannya....yang penting nikmati aja. Itulah bahagia.

            Dunia dan seisinya tidak akan mendatangkan keajaiban apapun, sesungguhnya Allahlah pemilik keajaiban itu. Segala sesuatu terjadi atas izinNya, mengapa tidak kita ketuk pintuNya untuk memohon izin atas permintaan, harapan dan keinginan kita. Ketukan yang penuh adab, penuh harap dan kesungguhan. Maka tunggulah keajaiban itu akan datang sebagai jawaban atas segala masalah dan keadaan”

            Aku merasa beruntung mengenal sosok Pak Yai.  Bening binar pendar keikhlasan itu terpancar dalam kata, tindak tanduk dan nasihat yang terabadikan dalam cerotan pena di atas buku harianku ini.


 

Nubar Area_Sepucuk Surat untuk Buah Hati

TEMUI TUHANMU SECEPAT KILATAN CAHAYA_Khadijah Hanif

 

            Anakku, maafkan Bunda, selama ini Bunda selalu menjadi pemenang.  Setidaknya itulah yang menjadi keyakinanmu setiap kamu mengeluh.

            “Aku tidak pernah punya pilihan sendiri semua harus sesuai apa yang Bunda mau.”  Itulah yang berkali-kali kau ungkapkan tiap kali kebuntuan hadir di antara kita.  Tiap kali kau merasa mendapat masalah besar.

            Ya, Bunda mengakui ketaatanmu, Anakku.  Dan Bunda menyadari konsekwensi dari ketaatan itu.  Tiap kau mendapatkan masalah pasti Bunda yang akan kau salahkan.  Tapi buada yakin bahwa kau akan mampu keluar dari masalah itu.  Serumit apapun, dan itu selalu terbukti.  Karena Allah tidak akan membiarkan ketaatanmu pada kami sia-sia.  Doa kami pun akan selalu Allah dengar.

            Kami berterima kasih atas ketaatanmu dan kami memaafkan tiap keluh kesah yang kau lemparkan.  Kalimat menyalahkan itu akan kami lantunkan dalam doa-doa kami.  Semoga Allah SWT segera mengeluarkanmu dari belitan rasa berat itu.

            Anakku, biarkan Bunda mengenang perjalanan kita sejak kau masih di kandungan.  Bunda merasa kau adalah anugerah yang tiada taranya.  Lebih dari itu Allah SWT selalu memberikan rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka. 

            “Bu Kamila, ini ada perlengkapan bayi.  Ini tersimpan di kardus.  Saat Kayla lahir saya nggak menemukannya.  Barangkali memang rezeki buat calon bayi Ibu.”  Bu Indah, tetangga kita memberikan pernak-pernik bayi saat usia kandungan Bunda baru empat bulan.

Bukan hanya itu, hampir tiap bulan selalu ada yang datang, seakan mereka merindukan kehadiranmu.  Keranjang tidur bayi mewah dari Tante Nia.  Dorongan bayi dari Bude Sarah, bak mandi bayi.  Boleh dikatakan bunda tidak perlu banyak pengeluaran untuk menyongsong kelahiranmu.

Tahukah kamu, saat Bunda bertaruh nyawa melahirkanmu dalam waktu hampir dua belas jam, kami kedatangan tamu istimewa.  Rombongan pejuang Alquran, penemu metode Albadar dan seorang ulama besar dari Malaysia, Ustaz Halim Abbas.  Ulama yang harus hijrah dari negeri jiran untuk menyampaikan kebenaran dan mempertahankan keyakinan.  Ulama itu juga yang menyematkan nama untukmu.  Ulama itu juga yang memberikan khutbah nikah saat kami melangsungkan walimah.  Semua ini bukan kebetulan tapi sebuah anugerah.

“Keunggulan Islam di Indonesia adalah semangat untuk bisa bersatu.  Setiap ada mahzab baru akan timbul gesekan kecil.  Setelah itu saling menerima.  Salah satunya dengan jalan pernikahan antar mahzab sebagaimana dicontohkan para pendahulu kita.  Bahkan salah satu penyebaran Islam yang cukup pesat melalui jalur pernikahan. Setelah para wanita diislamkan, maka pendakwah menikahi mereka.”  Nasihat itu masih terngiang di telingan Bunda, bahwa pernikahan seharusnya diniatkan untuk membela dan mengokohkan agama.

Kehadiran kedua dari Ustaz Halim tepat dengan hari kelahiranmu.  Bunda merasakan bahwa kau anak bertuah.  Lalu disematkannya nama terindah,  Shefra yang bermakna keemasan.  Sebuah harapan akan zaman keemasan agama ini dan semoga kelak saat kau dewasa kau adalah salah pemegang peranan untuk agama.

Anakku, doa itu terus tertambat dalam dirimu dengan namamu.  Karakter kuat terlihat sejak kau kecil lagi.  Punya pendapat dan pendirian sendiri tapi mudah menuruti kemauan kami.  Sekolah di tempat yang menempamu dengan berbagai keadaan.

“Bunda, Shefra nggak mau di sini.  Nggak enak diajar sama Ayah sama Bunda.  Kalau niali jelek diledek.  Giliran nilai bagus dicurigai.  Serba salah,” keluhmu suatu hari.  

Lalu Bunda hanya bisa berusaha meluluhkan hatimu dengan satu janji bahwa di sini kamu hanya tiga tahun saja.  Selanjutnya kau akan jauh berpisah dengan kami.  Kami hanya ingin kamu punya kecintaan pada tempat perjuangan Ayah Bunda.  Menjadi alumni dan keluarga besar pesantren ini.

Waktu berlalu dengan liku-liku yang kau keluhkan pada Bunda.  Puncak kegundahanmu saat kamu duduk di kelas dua SMP.  Kepala penuh luka bukan karena kurangnya kebersihan di asrama.  Semua karena depresi ringan yang kau alami. 

“Sefra, jangan pulang terus.  Ini bisa dianggap pelanggaran oleh musrif kamu.”  Bunda selalu menegur kamu saat ke rumah.  Padahal kamu ke rumah bersama santriwati yang lain.  Kadang nada suara bunda meninggi.  Maafkan Bunda, Anakku.  Bunda sadar teguran iniberlebihan.  Padahal bukan hanya akamu yang sering pulang.  Anak sesama rekan guru pun demikian.

Bunda memaklumi semua, prestasi belajarmu tidak begitu membanggakan.  Hanya di area rata-rata.  Secara psikologis tentu kamu tidak nyaman belajar di sini.

“Bunda pingin tahu bacaan Alquran Shefra, boleh?”  tanya Bunda setelah kelulusan.

Betapa sedihnya Bunda, bacaanmu sangat jauh dari baik.  Akhirnya kami putuskan mengirimkanmu ke pesantren tahfiz untuk belajar tahsin selama Ramadan.   Alhamdulillah, bacaanmu sudah jauh lebih baik.

            “Bun, Shefra kita kirim selama setahun di Pesantren Darul Falah Amtsilati aja, ya?”  Ayah menyampaikan sarannya pada Bunda.  Kami ingin mengkhususkan belajarmu pada ilmu alat.  Awal kamu berpisah jauh dengan kami pasti menjadi hari yang berat buatmu, Nak.  Hampir tiap pekan kamu menelpon kami dengan berbagai macam keluhan.  Tanggapan tak jua kami berikan.  Hingga kau berusaha menelfon paman-pamanmu, barangkali ada yang mau mengikuti permintaanmu.

            Lima kali pulang karena sakit adalah waktu yang cukup sering bagi para pemburu ilmu.  Sakit gigi, sakit telinga, mag hingga scabies.  Maafkan kami, bukan kami tak peduli, tapi cita-cita yang tersemat dalam namamu itu membuat kami yakin kamu bisa. 

            “Shefra, Ayah berharap suatu saat kamu kembali kesini.  Kamu harus selesai praktik dua, pendalaman kitab dan diwisuda.”  Harapan ayah padamu begitu besar, Nak.

“Kalau begitu, aku cuti ajam Ayah,” ungkapmu riang pada kami.  Terlihat guratan keinginan untuk kembali ke Darul Falah menandakan bahwa kamu sudah nyaman dan mampu beradaptasi.  “Padahal aku sudah banyak teman di sini.  Aku ingin lanjut sekolah atas di sini, Yah.” 

Lagi-lagi kamu seakan tidak punya pilihan lain selain mengalah dan menuruti keinginan kami.  “Teman kamu ada yang depresi di sekolahnya.  Coba kamu dampingi dia.  Bukankah kamu teman akrabnya?”  Alasan berkorban untuk orang lain menjadi sebab kami memindahkanmu.  Kau pun setuju tanpa banyak melawan.  Ya Rabb, saat itu kami tidak tahu bahwa kepindahamu akan kami sesali di kelak kemudian hari. 

Anakku, waktu berlalu sesuai qadar-Nya dan akhirnya kau mendampingi sahabat karibmu itu.  Sebuah sekolah berasrama dengan program unggulan tahfiz dan enterpreuneur.  Sekolah itu murni beasiswa.  Awalnya kau merasa betah di sana.  Tidak ada keluhan sedikit pun tentang teman, makan maupun pembelajaran.

“Bunda, pokoknya Shefra harus pindah sekarang juga.  Shefra kena uji.  Tiap hari Shefra dihukum buat mbersihin kamar mandi.”  Tangisanmu pecah, tapi lagi-lagi Bunda memintamu buat bertahan.  Peristiwa itu terjadi saat kamu duduk di bangku kelas dua.

Bunda masih menganggap semua itu dalam batas kewajaran.  Bahkan Bunda anggap itu hanya kemanjaanmu tak ingin melanjutkan pendidikan.  Maafkan Bunda, Anakku.  Keluhanmu yang hampir tiap pekan selama tiga bulan itu harusnya meluluhkan hati Bunda.

“Sabarlah, Shefra.  Kalau ada yang bilang kamu nggak berhak belajar di sana karena bukan termasuk dhuafa.  Sadarilah bahwa tiap diri hamba adalah dhuafa..  Tidak ada manusia yang punya selain dipunyakan oleh Allah.  Tidak ada yang kaya melainkan dikayakan.  Tidak ada yang kuat kecuali di kuatkan.  Kalau kita merasa lebih dari mereka yang ada di sana, khawatir kita termasuk orang yang sombong.  Bila kamu harus membersihkan kamar mandi, ambilah berkah kelebihan pada gurumu.  Semoga saat kau dewasa nanti kebaikan itu ada padamu.”  Masihkah kamu ingat nasihat Bunda, Nak.

Waktu kelulusan dan pengabdian berlalu sesuai kehendak-Nya.  Hingga qadarullah, rahasia kegundahanmu terbongkar juga.   Seseorang datang tanpa diundang.  Bercerita tanpa ditanya.  “Kak Shefra dituduh tidak membayar hutang.  Dia dihukum dan dijatuhkan di depan semua siswa.  Piring plastik kecil sampai belah dipakai menamparnya.  Kami semua iba.”  Cerita ini memaksa air mata Bunda terjatuh dari genangannya, sebelum sempat Bunda seka.

Anakku, biarlah tempaan itu menjadikan besi siap pakai sebagai senjata.  Bukankah hanya bahan baku yang mahal yang dapat di tempa?  Bukankah dengan padas dan pukulan logam bisa menjadi barang berharga dan membawa manfaat untuk sesama?

Kau adalah anak bertuah.  Allah meliputi kamu dengan kemudahan dan keberuntungan.  Saat persaingan perguruan tinggi negeri makin ketat, kau diterima di sebuah Universitas Islam Negeri terbaik.  Setelah mengalahkan sekian ribu pesaing, kau adalah salah satu yang beruntung itu.  Lagi-lagi kau harus mengalah dengan keputusan kami.  “Shefra, kamu bilang ingin ke LIPIA?  Ini ada kampus berasrama, berkurikulum sama dengan LIPIA.  Dosennya banyak yang native dan lulusan timur tengah.  Sepertinya cocok dengan keinginan kamu,” ungkapku memberikan pilihan. 

“Bunda, sayang kalau Shefra melepas kesempatan kuliah di universitas negeri.  Tapi terserah Bunda sama Ayah, lah.”  Kamu menyerah lagi.

Hari-hari kau lalui dengan berat di kampus lokal.  Kesulitan dalam menghafal Alquran membuatmu pusing tak tertahankan.  Sekali lagi kau mengeluhkan untuk berhenti berjuang.  “Bunda, aku malu.  Aku tertinggal jauh dan merasa paling bodoh,” keluhmu kembali mengiris hati Bunda.

“Shefra, Bunda tidak pernah menuntutmu harus bisa, tapi sejauh yang kamu bisa.  Bunda berdoa dan menyediakan biaya sepermintaan kamu.  Sayang kalau kamu harus mundur dari medan tempur.  Ayolah, kamu akan bisa lulus.”

Puncak dari keluhanmu, kamu pulang dalam keadaan sakit kepala yang berat.  Diantar oleh seorang teman, kau berada di rumah selama tiga hari.  Bunda tidak berusaha memberikan perhatian yang kau pinta tapi justru menyuruhmu segera pulang ke asrama.  Dengan nada suara tegas terbalut amarah.  Kaupun menyerah dan berangkat dengan kerutan di wajah yang makin payah. 

Anakku, bukan aku Bunda berniat kejam padamu, tapi Bunda yakin kau akan melampaui masa sulit ini dengan prestasi.  Terapi ruqyah pada sahabat yang mumpuni sedikit membantu tumpukan beban pada lelah jiwamu.

Dua tahun masa sulit di kampus pun berlalu.  Bunda tidak mendengar lagi keluhanmu.  Kemudian rencana Allah membuka kisa baru tentangmu.  Seseorang yang istimewa datang meminta.  Dia adalah dambaan bagi begitu banyak calon mertua, termasuk juga Bunda.   Hadirnya menjadi buah bibir para gadis.  Kebaikannya menjadi rujukan bagi para orang tua.

“Kalau mencari suami, usahakan yang seperti Kang Azzam.  Seseorang yang banyak kemampuan agama.  Bagus dan merdu suaranya.  Punya tim panggung seni.  Ngajar apa aja bisa, khat, marawis, qiraah.  Pokoknya lengkap.  Dia juga seseorang yang baik perangainya, sabar, tawadhu, penyayang, ganteng pula.”  Suatu hari seorang ibu mengatakan hal ini pada anak gadisnya.

Bunda sering menyampaikan tentang Azzam padamu, tapi kau hanya tersipu dan tak mau menunjukkan perasaanmu padanya.  Bunda akhirnya tahu penyebabnya, bahwa kamu sudah punya seseorang yang lain di hatimu.

“Bunda, jangan kaget kalau tiba-tiba ada yang datang melamar Shefra.  Mereka sudah buat komitmen menikah dua tahun kedepan, Bun.”  Berita dari seorang sahabatmu ini begitu merisaukan Bunda.  Apa bedanya dengan berpacaran bila komitmen dibuat antara dua insan yang tidak punya ikatan yang diperbolehkan?  Terlalu banyak fitnah hati yang akan kau rasakan bila sering bertemu dalam satu ruang kelas perkuliahan.  Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuh dua hati saling setia dan saling menanti.   Belum lagi mulut usil yang akan memercikkan bunga api hembusan setan.

Kuasa Allah melampaui semua rencana hambanya.  Keluarga Azzam memintamu dengan setulus hati.  Hasil dukungan banyak pihak dan istikharah cinta Azzam.  Saat lamaran tiba, kau tak punya pilihan lain selain mengikuti yang terbaik menurut kami.  Seakan secepat kilat, pernikahan berlangsung di masa pandemi setelah lima belas hari khitbah yang diberkahi.

Kini Azzam adalah suamimu.  Suami yang sah Allah hadirkan sebagai hadiah atas hati yang terlalu sering berkeping-keping.  Kau akui atau tidak, kau sadari atau tidak, Azzam adalah karunia terbesar dari Allah.  Berkah dari ketaatanmu pada kami selama ini.  Mungkin kau merasa kami telah mematahkan hatimu yang sedang jatuh cinta pada seseorang yang lain.  Namun, yakinlah Anakku, dia adalah Sang Penyelamat hatimu.  Allah tidak rela hati yang biasa terselimuti derita itu, dikotori oleh rasa yang terlarang.

Anakku, mungkin kau merasa cintamu pada seseorang yang baru saja bersemi direnggut paksa dan membekaskan luka.  Tenanglah, Sayang.  Allah ingin cinta yang tumbuh di hatimu adalah cinta lillah.  Cinta yang suci tanpa pacaran.  Cinta karena kerelaan diri sebagai hamba.  Cinta yang tumbuh pada seseorang yang cinta pada Allah.  Cinta yang tumbuh untuk saling menyelamatkan di  dunia dan akhirat. Cinta yang akan membawa kalian menghadap Allah kelak secepat kilatan cahaya.

 

Elegi untuk Shefra

 

Kau bunga di taman hati, cantik indah bestari

Kau susuri jalan penuh onak duri, mengikuti jejak langkah kami

Menggenggam sunah bak bara api

 

Jalan itu masih berliku, sering kau terjatuh dan luka

Lalu kau nikmati tiap derita dalam batin yang lara

Hingga kau sadari bahwa duka itu akrab menyapa

Kau bilang biar saja, sudah biasa

 

Berbahagialah Shefra, saat hamba menyerahkan segala

Salat, ibadah, hidup, mati, cinta adalah untuk dan karena Dia

Tiada sisa puing jumawa

Petiklah bahagia

Kencana cinta akan menjemput kalian berdua

Menghadap Tuhan secepat kilatan cahaya, senyum bahagia ada di sana

Sedangkan mereka masih begitu lama menanti di pintu surga


 

NUBAR AREA_SCRIBBLES IN JANUARY_

Impian yang Tertunda_Khadijah Hanif

 

            “Abi, kalau memang bukan takdir Ummi,sudahlah Ummi mau berhenti bermimpi.”  Aku menumpahkan kegundahan hati ini pada orang yang paling setia di hadapanku ini.

“Kenapa Ummi bilang begitu.  Selama ini Abi selalu mendukung impian Ummi.  Aktif proyek menulis, perlombaan menulis juga keterlibatan Ummi dalam kegiatan dinas,” ungkap suamiku seakan menyanggah keinginanku berhenti bermimpi.

“Ummi tidak menafikan semua dukungan Abi.  Tapi...”  Perbincangan kami tercekat oleh suara dari balik pintu ruang tamu.

Kami sangat familiar dengan suara salam itu.  Seorang sahabat karib dari Bandung mendatangi rumah kami.  Haji Jamal juga salah satu donatur penting di pesantren yang kami asuh saat ini.

“Silahkan masuk, Pak Haji.  Masyaallah mimpi apa ini, kami kedatangan tamu agung.”  Suamiku menyapa renyah penuh keakraban.  Rombongan keluarga, suami istri dan keempat anaknya.  Aku sibuk menyediakan dua kursi tambahan supaya cukup untuk berdelapan.

Seperti biasa bila ada tamu datang, aku langsung sibuk di dapur.  Menyediakan air manis dingin sangat pas untuk siang yang cukup panas ini.  Sedikit frozen food aku goreng dan cepat tersaji di atas meja.  Aku tahu persis kesukaan anak-anak.  Nuget, otak-otak dan sosis berkualitas akan lebih baik buat anak-anak.  Sekeranjang buah juga aku sajikan segera lengkap dengan pisau kupas, tatakan dan garpu tusuknya.

“Wah, Ustazah Nisa jadi kerepotan dengan kedatangan kami, ya?” ungkap Kak Nabilah, istri Haji Jamal.

“Tidak ada yang kerepotan, kami justru senang kedatangan tamu istimewa,” jawabku ringan

Setelah memulai dengan perbincangan santai, saling bercerita keluarga kami masing-masing, obrolan serius mulai dibuka oleh Haji Jamal.

“Kapan Ustaz Agam mau memulai pesantren di kota kelahiran?” selidik Pak Haji Jamal.

“Wah, Pak Haji tahu dari mana rencana saya itu?  Saya belum sempat menyebar flyer ataupun proposal tentang rencana pendirian pesantren.”  Suamiku bertanya keheranan.

“Mohon maaf saya lancang membaca master plan di flashdisk Ustaz yang tertinggal di Kantor Alfatah.  Sekalian saya kemari mau mengembalikan flashdisk ini.  Khawatir Ustaz perlu.”  Pak Haji Jamal memberikan sebentuk flashdisk yang kami cari-cari dua hari belakangan ini.

Kami menerimanya dengan penuh rasa syukur.  Sejak laptop kami mengalami gangguan, file-file penting satu-satunya tersimpan di sana.  Kami belum sempat menyimpannya di google-drive.

“Begini Pak Haji, kami akan segera mengurus ikrar wakaf, akte wakaf, sertifikat wakaf kemudian membentuk yayasan.  Saya sangat berharap Pak Haji bersedia menjadi bagian dari badan penasihat yayasan kami.”

“Justru itu, saya datang kemari untuk memberi dukungan moril dan sedikit materi untuk pembangunan pesantren Ustaz.  Setelah saya baca konsepnya, saya sangat tertarik.  Sebuah pesantren tahfiz, memadukan antara kegiatan pertanian, bisnis dan pariwisata.  Sangat lengkap menurut saya.  Apalagi menyediakan pendidikan bebas biaya.  Saya akan support sepenuhnya.  Tapi saya mohon jangan tinggalkan pesantren ini.  Anak-anak masih membutuhkan kehadiran Ustaz dan keluarga.  Coba Ustaz urus wakaf dengan Nadzir perseorangan di saat-saat liburan.”

Ungkapan tulus Haji Jamal sangat membahagiakan kami.  Bulan Januari yang diberkahi, sebuah awal yang akan membuka harapan baru.  Aku yang diamanahi untuk menjadi nadzir wakaf sering dilanda rasa bersalah.  Tahun ini dua tahun sejak ayah meninggal, wakaf itu belum juga kami urus.

Libur pesantren masih ada dua pekan lagi.  Pandemi Corona-19 sungguh alasan yang jitu untuk perubahan schedule mendadak.  Semua orang seakan begitu mudah memaklumi untuk alasan yang satu ini.  Aku ambil hikmah dari keadaan ini.

“Abi, sebaiknya kita urus segera wakaf ayah.  Mumpung liburan agak panjang, kita pulang kampung, yuk!”  Aku melontarkan ide pada Abi.

“Baiklah kita berangkat lepas Asar, kalau perjalanan malam, Insyaallah kita bisa lolospemeriksaan.  Kabarnya di SPBU dan rest area banyak posko-COVID.”

“Kalau kita merasa sehat kenapa harus ikut pemeriksaan, Abi?”

“Entahlah, mungkin karena banyak OTG alias orang tanpa gejala.”

“Semoga perjalanan kami Kau beri kelancaran, ya, Rabb!”  Kuhela napas panjang untuk keadaan yang masih belum sepenuhnya normal ini.

Keberangkatan kami tepat sesuai rencana, bakda Asar.  Kami hanya berdua karena anak-anak sudah kami titipkan kembali ke pesantren mereka masing-masing.

Di tengah perjalanan empat jam dari rumah, kami telah memasuki Jawa Tengah.  “Subhanallah, Abi, Ummi lupa nggak membawa kunci rumah.  Nanti kalau rumah ibu dikunci kita bakalan lama di teras.  Orang-orang akan mempermasalahkan kedatangan kita.”

“Sebaiknya telpon ibu dulu, Ummi.  Biar ada yang terjaga dan begitu sampai, kita bisa langsung masuk rumah.”

            Gawai yang ada di dalam tas aku ambil.  Satu-satunya cara berkomunikasi dengan ibu, hanya melalui panggilan telpon biasa.

            “Assalamualaikum, Bu.  Gimana kabar Ibu?  Semoga ibu sehat selalu.”

            Dari seberang sana suara parau ibu yang sudah memasuki usia delapan puluh tahun terdengar lemah.  “Waalaikumsalam, ibu di sini baik-baik saja.  Gimana liburan sekolah, kalian pulang, kan?”

            “Kami sedang dalam perjalanan, Bu.  Anak-anak nggak ikut soalnya pesantren mereka memilih anak-anak tetap ada di dalam dan nggak dipulangkan.”

            “Aku udah kangen Liza, Raysa dan Rangga.  Kapan lagi bisa ketemu selain liburan?  Lebaran kemarin kita nggak ketemu karena lockdown, sekarang pesantren yang nggak meliburkan anak-anak.”  Nada kecewa begitu berat menghentikan suara ibu.  Isak tangis mulai terdengar mengharu biru.

            Hanya pesan kesabaran yang bisa aku sampaikan.  Aku hibur ibu bahwa semua ini karena Allah sayang ingin melindungi hambaNya dari penyakit dan mara bahaya.  Kami terus melanjutkan perjalanan.  Tanki bensin sengaja kami penuhi sejak masih di kota domisili.  Tempat berhenti hanya masjid besar di waktu salat tiba.

            Alhamdulillah kami sampai di tujuan jam satu pagi.  Suasana hening disaput tiupan dingin angin malam.  Rumah kami masih seperti saat terakhir aku tinggalkan.  Sepi dengan dua wanita penghuni, ibu dan adik sepupuku.

            Begitu kami ucap salam, ibu langsung membukakan pintu.  Aku peluk erat raga ringkihnya.  Rasa bersalah menggumpal di dada.  Kucairkan bongkahan rasa bersalah dengan mencium kakinya.  Ibu, maafkan anakmu yang tak mampu hanya untuk sekedar mengusir rasa sepi masa tuamu.

            “Sudah jangan kau bersimpuh seperti ini.  Ibu rela kamu bakti dengan suamimu.  Sini masuk.”  Suara paraunya tetap menyejukkan hatiku.  Mengobati hati yang kering oleh rindu kasih tulusnya. 

Lembar kenangan masa lalu melintas cepat, mengingatkanku atas balas jasa pada cintanya.

“Nisa, jangan dulu berangkat ibu punya pin senada dengan seragam sekolahmu. Lho, sarapannya harus habis.  Ini nasi bekel kamu.  Ingat jangan jajan sembarangan.  Dalam kotak ini ibu buatkan lauk kesukaan kamu.” 

“Tapi Nisa pingin jajan, Bu.  Temen-temen pada jajan.”  Aku merajuk ingin dapat izin jajan.

Kalau aku pulang sekolah, ibu selalu memeriksa tasku.  “Kamu makan siang, ya,  Ibu mau lihat ada PR apa tidak.”  Rutinitas yang dulu menjengkelkanku itu menambah barisan kesadaranku akan kasih ibu yang sesungguhnya.

Sentuhan tangan Mas Agam, suamiku, melepaskan pelukan kami.  Ibu memeluk Mas Agam dan selalu berterima kasih atas perlindungan dan pembelaan Mas Agam padaku dan anak-anak.  Akhlak ibu begitu mulia, ia tahu betul batas hak dan kewajiban diantara kami.

“Ibu belum istirahat?  Kok, ibu yang membukakan pintu bukan Nida?”  Aku menanyakan keberadaan Nida, sepupuku yang selalu menemani Ibu.

“Ibu biasa bangun tengah malam, setelah itu tidak bisa tidur lagi sampai Israk.  Waktu panjang buat mendoakan kalian.”  Kami berbincang sambil bebenah barang bawaan kami.  Aku menata oleh-oleh di atas meja.  Untuk ibu dan dua kakakku.  Seharusnya aku bisa mempersembahkan lebih dari ini.  Namun, batas kemampuan yang membuatku harus menerima.

Cerita ibu makin membuat jurang kasih antara orang tua dan anak terasa tegas.  Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.  Begitu kata pepatah.

***

Hari ini hari ketiga aku di rumah ibu.  Rencana ke Kantor Urusan Agama untuk mengurus wakaf disetujui ibu.  KUA kecamatan tidak jauh dari rumah, hanya lima belas menit ditempuh dengan kendaraan pribadi.

Sesampai di KUA aku terpaku pada dua banner berdiri yang memberi informasi tentang wakaf.  Aku mencermati satu per satu butir-butir persyaratan wakaf.  Kami bernapas lega saat tidak ada satu butir pun yang memberatkan kami.

“Mohon maaf, untuk nadzir atau penerima wakaf perorangan, ada beberapa hal yang harus Bapak Ibu ketahui.”  Petugas KUA menyodorkan peraturan PeraturanPemerintahRepublik IndonesiaNomor 42 Tahun 2006TentangPelaksanaanUndang-UndangNomor 41 Tahun 2004TentangWakaf.

Petugas memberi kesempatan kami membaca satu persatu tentang nadzir wakaf.  Fokus kami pada Bagian Kedua tentang Nadzir Perseorangan:

Pasal4

Nadzir Perseorangan

(1)NazhirperseoranganditunjukolehWakif denganmemenuhipersyaratanmenurutundang-undang.

(2)Nazhirsebagaimanadimaksudpadaayat (1) wajibdidaftarkanpadaMenteridan BWI melalui Kantor UrusanAgama setempat.

(3)Dalamhaltidakterdapat Kantor Urusan Agama setempatsebagaimanadimaksudpadaayat (2), pendaftaranNazhirdilakukanmelalui Kantor Urusan Agama terdekat, Kantor Departemen Agama, atauperwakilanBadanWakaf Indonesia di provinsi/kabupaten/kota.

(4)BWI menerbitkantandabuktipendaftaranNazhir.

(5)Nazhirperseoranganharusmerupakansuatukelompokyang terdiridari paling sedikit 3 (tiga) orang, dansalahseorangdiangkatmenjadiketua.

(6)Salah seorangNazhirperseorangansebagaimanadimaksudpadaayat (5) hams bertempattinggal dikecamatantempatbendawakafberada.

            Kami terhenti saat membaca poin keenam.  Apakah ini pertanda kami harus hijrah sepenuhnya.  Menemani dan berbakti pada ibu di masa senjanya.  Lalu bagaimana pesantren tempat perjuangan kami.  Haruskah perjuangan setengah abad itu kami tinggalkan begitu saja?

            Kebimbangan memenuhi hatiku.  Keputusan pindah domisili, mengurus kartu keluarga baru bergabung dengan ibu.  Semua keputusan ada di tangan Mas Agam sebagai imamku.  Ya, Rabb, Ya, Qawiyu, beri kami kekuatan menyusun langkah terbaik yang Kau ridai.

            “Ummi, bismillah kita pindah.  Hijrah bukan perkara yang mudah.  Tapi niatan lillah mengemban amanah, pasti akan Allah permudah.”  Mas Agam mengungkap tekadnya di depan ibu.

            “Terima kasih, Nak Agam.  Ibu sudah menunggu kepulangan kalian sejak ayah berniat mewakafkan tanahnya.  Yakinlah, doa ibu menyertai kalian.”  Butiran bening menetes dari mata yang warnanya mulai memudar itu.

            Ya ilahanaa, izinkan kami membahagiakan ibu juga ayah di alam sana.  Januari terus meniti hari-harinya seiring rintikan hujan.  Butirannya makin kerap mengiringi doa-doa di tiap tarikan napas kami untuk mewujudkan impian yang sempat tertunda.

 

 

 

 

NUBAR AREA_

TEMAN JADI MANTAN_Yang Datang Kembali

 

Awalnya aku tidak pernah menyangka aku dan Kang Surya akan bertemu kembali setelah kami sama-sama dewasa.   Lima belas tahun yang lalu, kami masih sering berlarian di antara pohon tebu kebun tetangga.  Kang Surya berjarak dua tahun usianya denganku tapi dia adalah teman yang paling dekat dan perhatian padaku.  Saat itu aku belum begitu memahami arti kedekatan kami.

            “Anak-anak cepat masuk kelas, kenapa kalian berlarian di kebun orang.  Mereka akan marah kalau tanaman tebu itu pada rebah.  Belum lagi kalau ada yang dipotong, pasti kalian yang akan jadu sasaran tuduhan.”  Bu Fatimah, guru madrasah diniyah mengingatkan kami untuk segera masuk kelas.

            “Kita sembunyi di sini aja! Aku tertusuk paku, nih! Aduh!”  Kang Surya meringis kesakitan.  Menahan suaranya supaya tidak diketahui Bu Fatimah. 

Aku sendiri panik tak tahu harus berbuat apa.  Beruntungnya aku baru saja disuruh ibu untuk beli minyak tawon di apotik.  Aku memberanikan diri mencabut paku di kaki Surya.

“Tahan rasa sakitnya, Kang Surya!   Aku mau mencabut pakunya”.  Aku tumpangkan kaki Surya di atas batu, aku takut darahnya mengenai rokku.  Perlahan aku cabut paku itu dan sekuat tenaga aku keluarkan darah dari tumitnya.

“Sakit banget, Sintia!”  Ada butiran bening yang hampir tumpah tapi rasa malu membuat Surya segera menyeka sudut matanya sebelum cairan bening itu tumpah.

Aku segera menumpahkan minyak tawon ke luka itu setelah darah kotor berhasil dikeluarkan.  Beruntung aku ikut kegiatan palang merah di sekolah.  Aku tutup luka dengan sapu tangan yang selalu kubawa.  Maklum tanganku sering basah oleh keringat.

“Nah, sekarang udah beres, Kang.  Semoga nggak infeksi.”  Aku sempat melirik wajahnya.  Mata kami bertatapan, Kang Surya tersenyum manis.  Tiba-tiba ada desiran halus di hatiku.  Aku segera menghindar.  Rasa malu meronakan dua bilah pipi yang tiba-tiba terasa hangat.

***

Takdir bergulir sesuai dengan kehendak yang mengukirnya.  Kami berpisah cukup lama.  Aku menempuh pendidikan umum di SMP dan SMA.  Sementara Kang Surya melanjutkan pendidikan di pesantren modern.

“Naura, ada acara di Pantai Anyer Serang, kita ikut yuk!”  ajakku pada Naura, teman sekamar di rumah kos Muslimah Santun.

“Kayaknya seru juga, ya, tapi jauh amat.  Dari Bogor ke Serang ada kali tiga jam perjalanan?“  Naura tampak ragu.

“Ayolah, mumpung ada yang ngajakin.  Kita rombongan, lho.  Mbak Nurul ngajakin aku ke acara ekspedisi komunitas mereka.”

“Wah, jadinya gratis, dong!  Iya, deh, aku mau!”  Naura riang begitu tahu acara itu bebas biaya. 

“Kamu ini penampilan aja gaya.  Eh, nggak tahunya mental gratisan.”  Kami tertawa renyah lalu masing-masing sibuk dengan kegiatan packing untuk dua hari menginap.  Qadarallah acaranya Sabtu Ahad, jadi kami bebas tugas kuliah.

Sepanjang perjalanan aku lebih sering bicara sama Naura, sesekali sama Mbak Nurul.  Naura yang senang bercanda sering kali berisik sendiri di dalam mobil berpenumpang sembilan orang itu.  Cukup padat untuk ukuran Granmax yang berkapasitas maksimal sebelas orang itu.

Sekitar tiga jam perjalanan akhirnya kami sampai di Pantai Anyer.  Angin pantai dengan aroma khas pasir putih mulai terhirup begitu kaki ini menginjak halaman penginapan.  Ternyata peserta kegiatan ini cukup banyak.  Berasal dari daerah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi).

Pembagian kamar penginapan dibedakan dalam kamar jomblo dan kamar yang sudah berkeluarga.  Akhirnya tiga gadis berada dalam kamar yang sama, aku, Naura dan Mbak Nurul ditambah tiga orang dari daerah lain.  Keluarga Ustaz Agus yang satu rombongan dengan kami menempati kamar di sebelah. 

Total kamar yang kami sewa ada sebelas.  Kamar yang cukup lux seluas delapan kali sepuluh meter.  Di dalamnya terdapat dua dipan tiga kali dua meter.  Lengkap dengan AC, televisi, dan kamar mandinya pun difasilitasi dengan heater.  Wangi aroma terapi dari vas khusus membuatku makin nyaman.  Suasana panas siang hari di tepi pantai tak terasa sama sekali.

“Ayo, Muslimah, kita siap-siap ke pendopo, kegiatan akan segera dimulai.”  Suara mbak Nurul mengagetkan aku yang sedang rileks, bertelentang di atas dipan.

“Siap, Mbak!” tukasku yang sudah latah dengan kata-kata ini.  Sesuatu yang ingin aku hindari tapi sulitnya bukan kepalang.

Luar biasa, aku sudah merasa gesit bebenah diri menuju pendopo.  Ternyata di sana sudah dimulai.  Muslimah ada di barisan belakang.  Aku melayangkan pandanganku ke sekeliling pendopo.  Sangat estetik, bangunannya setengah terbuka.  Beratap sempurna berbentuk joglo, ada lima pilar.  Kami duduk lesehan di atas karpet berbahan karet tebal tapu cukup empuk.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.”  Seorang pemuda berdiri di balik podium, berbicara dengan mix, membuka pertemuan.  Bahasa Arabnya fasih.  Aku begitu terkesan, sekilas wajahnya seperti aku kenal.  Tapi dimana, ya? Siapa, ya?  Ada sedikit kemiripan dengan Kang Surya tapi mungkinkah aku bertemu lagi dengan dia di sini?Kami sudah tidak pernah berkomunikasi sama sekali.

Sosok tinggi dan gagah itu makin berwibawa dengan jubah dan serban yang terlilit di atas kepalanya.  Dari dagu lancip dan bibir tebal tapi indah.  Aku sangat yakin dia adalah Kang Surya.  Juga alis dan mata sayunya.  Sedangkan dari suara aku sama sekali tidak menemukan kemiripan.  Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar, semua begitu cepat berubah.

Aku beranikan diri untuk bertanya pada Mbak Nurul, seniorku di komunitas ini, barangkali dia tahu.  “Maaf, Mbak, MC di depan sana siapa, ya?”

“Oh, yang jadi pembawa acara itu, Ustaz Fadillah Muhammad.”

Hatiku menciut kembali. “Sudahlah, Tia.  Dia bukan Kang Surya.  Sepertinya masih ada bunga cinta yang kau simpan dalam hatimu?  Malulah kau sebagai muslimah bukan memenuhi hati dengan ingatan pada Tuhan tapi malah pada ikhwan.”  Suara batinku membully habis perasaan rindu yang tiba-tiba hadir.  Ingatan saat menjadi teman sepermainan berkelebat begitu cepat.

Rasa penasaranku tak mampu kupadamkan begitu saja.  Aku mencoba mencari nama di akun facebook.  Nama Suryadinata tak pernah sesuai dengan nama yang Kang Surya yang aku maksud.  Aku mencoba mencari sebaris nama Fadillah Muhammad dan aku menemukannya.  Masyaallah, mataku terbeliak.  Ini benar-benar Kang Surya.  Semua nama keluarganya aku kenal dengan baik. 

Memang aku tak berteman lagi dengan mereka sejak ayah pindah ke ibu kota.  Saudara sekandung ayah pun semua merantau.  Kami praktis tidak pernah pulang kampung karena Kakek sudah meninggal dan nenek ikut adik ayah yang terkecil.

Notifikasi wa berdenting penanda pesan masuk.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, benarkah ini Sintia Pangastuti?  Maaf ana lancang menghubungi anti lewat nomor yang anti tulis di daftar hadir.”

“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh.”  Aku menjawab salam dengan stiker salam terindah yang aku punya. “Iya saya, anda siapa, ya?”

“Ana Suryadinata tapi nama hijrah ana Fadillah Muhammad.  Salam silaturahim kembali dari ana.  Kita sudah lima belas tahun tidak mengetahui sedikitpun kabar anti.”

Sungguh sulit membayangkan perasaan apa yang ada dalam hati ini.  Kedekatan yang dulu pernah kami jalin di madrasah kembali menyemikan rasa itu.  Rasa yang tak pernah kami ungkapkan tapi hadir pada tatap mata dan cara kami bicara.

***

“Anti harusnya tahu tiap hari Senin dan Kamis itu kegiatan ngaji di kampus.  Masjid Alhuriyah tempat kita berkumpul jam 13.00 pas.”  Suara dari seberang sana menegas tanda ada kemarahan yang ditahan.  Kang Surya mengingatkanku tentang kajian rutin di Alhuriyah.

“Iya, maaf, sorry, Kang, eh, Ustaz Fadil.”  Aku menanggapi nervous suara tegas di seberang sana. 

“Anti boleh memanggil saya dengan nama kecil itu, saya lebih suka.”  Kalimat itu melunak mengobati rasa bersalah di hatiku.  Aku kadang lupa mencatat scedule kegiatan komunitas.  Pelajaran penting yang tak boleh aku lalaikan lagi.

Sejak pertemuan di Pantai Anyer itu, kami sering terlibat dalam kegiatan yang sama.  Sebagai new comer aku belum banyak terlibat dalam kepanitiaan tapi lebih sering menjadi mustamik dan Kang Surya menjadi pembicaranya. 

Isi kajiannya aku catat lengkap dalam buku khusus.  Kedalaman ilmunya diam-diam membuatku terpesona.  Bahkan mungkin saat mendengarkan kajian pipiku merona dan hatiku berbunga-bunga.  Tapi apa daya, rasa malu ini hanya sanggup menunggu saja.  Ungkapan rasa yang tulus untuk sang pendamba.  Ah, biarkan aku ungkap semua ini di sepertiga malamku bersama-Nya.  Dia yang Maha Menentukan segalanya.

“Ukhti, rasanya ana harus berterus terang pada anti.  Kalau melalui chattingan, ana rasa takut timbul fitnah juga.  Ana akan datang di tempat kos anti.  Untuk menghindari khalwat ana akan bawa adik ana sebagai mahram dalam pertemuan kita.  Anti punya waktu bakda Asar dua hari ke depan?”

Aku membuka chat di massenger.  Langsung aku jawab chat itu, bahwa aku ada waktu lusa bakda Asar.

Tiba-tiba aku sibuk sendiri.  Aku tidak memberi tahu Naura tentang rencana Kang Surya.  Aku tidak ingin bercerita tentang Kang Surya padanya.  Naura benar-benar mengagumi Kang Sura baik dari kedalaman ilmunya maupun dari penampilan fisiknya.  Aku memilih diam dan biar waktu yang berbicara.

Melalui toko online aku memesan satu set meja dan kursi sederhana untuk menerima Kang Surya dan adiknya.  Tempat kos kami memang tidak menyediakan meja kursi di teras. Sebagai pelengkap aku pesan beberapa tangkai bunga segar, krissan orange dan sedap malam. 

“Tia, sibuk amat kamu.  Emangnya mau ada siapa?  Sepertinya tamu istimewa.”  Naura penasaran bukan main.

“Nggak, Naura, aku pingin aja.  Kalau kita kedatangan temem mereka pada duduk di lantai.  Kasihan, kan?”

“Kita sering kedatangan temen-temen tapi kamu nyantai aja.  Nggak kayak sekarang.  Kamu udah main rahasia sama aku, ya?”  Naura mencubit daguku, gemas.

“Nanti juga kamu bakal tahu.”

“Nggak ah, aku pingin tahu dari kamu.  Ayo, bilang nggak?”  Naura mengambil vas dan bunga dari atas meja.

“Naura jangan.  Aku harus selesai semua sebelum Asar.  Kamu malah gangguin aku.”

“Makanya bilang.  Sejak kapan kamu nggak terus terang sama aku.”

“Ustaz fadil mau datang sama adiknya.”  Aku terpaksa bercerita, pelan.

 “Oh, selamat, ya, Tia.  Akhirnya Ustaz Fadil menentukan pilihannya.” Naura langsung meletakkan vas di atas meja dan masuk ke kamar.  Semburat kecewa ada di raut wajahnya, Meskipun ia berusaha menutupi dengan senyum tipis.  Aku tahu benar dia mengharapkan Kang Surya.

“Maafkan aku, Naura.   Ustaz Fadil itu sebenarnya Kang Surya, teman kecilku.  Dia hanya mau bersilaturahim, nggak lebih.”

“Nggak usah menghiburku, Tia.  Tenang aja, masih banyak kumbang di luar sana.”  Naura pergi meninggalkanku sendiri.  Ya Rabb, semoga Naura baik-baik saja.  Ada kelindan rasa kasihan di permukaan batinku.

Makin dekat waktu kunjungan Kang Surya, hatiku makin berdebar. 

“Assalamualaikum, Tia.”  Suara penuh wibawa itu mencekat mataku yang sedang asik membaca majalah islami langgananku.

Aku tatap sekilas dua pemuda di depanku.  Kang Surya dan adiknya.

“Waalaikum salam, silahkan duduk Kang.  Ini pasti Ihsan.  Masyaallah udah besar, ya?  Kelas berapa sekarang?”

“Kelas tiga SMA, Mbak.”  Ihsan menjawab pendek.  Perbincangan ringan tentang kenangan lima belas tahun lalu mewarnai pertemuan kami.  Ihsan yang pandai bercanda membuat suasana sore itu begitu akrab.

“Ana datang kemari untuk memastikan dan menanyakan status anti.  Ana merasa perlu segera menyampaikan ini.  Terus terang ana merasa sangat terganggu dengan kehadiran anti.”  Kang Surya mulai serius dan menuju pada inti kunjungannya.

“Wah, jadi kehadiran saya sangat merugikan?” tanyaku benar-benar tak mengerti.

“Bukan begitu, Tia, justru kehadiran anti, ana harapkan setiap saat dan tiap detik waktu.  Mengiringi perjuangan ana.”

“Bukankah saya sudah sepenuhnya mendukung komunitas dan dakwah Kang Surya?”

“Lebih dari itu, Tia.  Ana ingin anti menjadi penyempurna agama buat ana.  Apakah anti belum menjalin ikatan dengan ikhwan lain?”

Seakan berada di alam mimpi.  Awalnya aku tidak sanggup mengharapkan Kang Surya.  Ia adalah ustaz idola di kampus.  Tiba-tiba ia menjatuhkan pilihannya ke aku yang sangat banyak kekurangan ini.

“Tia boleh tahu alasan Kang Surya menjatuhkan pilihan ke Tia?”  tanyaku malu. 

“Ana khawatir fitnah hati ini tak bisa ana tutupi lagi.  Terus terang ingatan ana selalu ke anti.  Makanya ana datang kemari.  Setelah ada jawaban dari anti, ana akan meminta anti pada ayah ibu anti.  Biarlah jalinan pertemanan kita dulu berlanjut hingga jannah.  Would you like to be my best friend forever?”  Bahasa Inggrisnya yang fasih baru kali ini aku dengar.

Aku masih menunduk dan mengatakan bahwa aku masih sendiri.  Mekar bunga krisan dan harum sedap malam menambah indah perasaan hatiku yang begitu tersanjung atas kejujuran Kang Surya.


 

Nubar Area_

Patahan Hati_PENGORBANAN CINTA-1

 

            Syair tentang cinta telah banyak dilukiskan oleh para pujangga. 

Ternyata mengagungkan cinta, harus ditebus dengan duka lara, tetapi akan tetap kuhayati, hikmah sakit hati ini, telah sempurnakan kekejamanmu (Ebit G. Ade)

Sekian tahun menapaki garis takdir-Nya, ada berkali-kali goresan luka tertoreh di hatiku. Patahan hatiku berulangkali retak, terburai berkeping-keping.  Saat aku meletakkan kecintaan pada agama dan ummat ini. 

Cinta pada agama adalah anugerah yang tak ternilai oleh apapun.  Aku merasa bahwa perasaan itu merupakan karunia iman yang Allah SWT titipkan buatku.  Kesadaran cinta muncul sejak kami sekeluarga rutin dan selalu mendengar ceramah dai sejuta ummat yang fenomenal di tahun depan puluhan.  Ceramah KH. Zainuddin MZ telah mengubah cara berpikir ummat sekaligus menghibur hati banyak ummat Islam.  Ceramahnya yang segar, kreatif, lucutapisekaligusmendidikmembuatkesadarandankecintaan kami sekeluargapada agama makinlekat.

Perlahan tapi pasti timbul cinta dan cita-cita untuk tahu, paham, menghayati dan mengamalkan Islam.  Islam bukan hanya sebatas nama tapi Islam yang hadir sebagai cara hidup, the light and the way of life. 

Melalui diskusi ringan hingga serius dengan keluarga, munculah ide-ide untuk menjalankan perintah Allah SWT secara menyeluruh, kaffah dalam komunitas sendiri dan mandiri.

“Islam tidak akan bisa ditegakkan bila kita tidak membuat komunitas.  Rasulullah bersabda bahwa Dajjal akan memasuki kota-kota dan tidak memasuki desa-desa.  Artinya kalau kita ingin mendapatkan takwa maka harus mau membuat komunitas setaraf perkampungan.”  Aku terlibat perbincangan serius dengan kakakku, Mas Gigih.”

“Aku setuju dengan pendapat kamu, Intan. Kalau kita punya komunitas impianmu itu, aku mau deh jadi lurahnya.”  Aku memukul lengan Mas Gigih, entah kapan impian ini bakal terwujud.

Waktu terus berlalu.  Pendidikanku pun mengiringi langkahku bersama umur yang terus bertambah. Di usia ke-17 aku menginjakkan kaki ke sebuah institut ternama di Bogor, IPB.  Saat pertama kali harus mandiri dan berpisah dari orang tua aku masih belum mau mengenal hal lain selain fokus pada kuliah. 

Perkenalanku dengan senior membuatku ingin menambah aktifitas lain di kampus, kegiatan yang aku senangi adalah memperdalam pemahaman agama.  Aku sering kali mengikuti banyak majelis, dari  kajian ke kajian dari masjid ke masjid bahkan dari pesantren ke pesantren.

Siang itu pukul sepuluh pagi, bulan Oktober, Aku dan Asmi berjalan gontai selepas pulang kajian dan kami terlibat perbincangan serius.

“Ilmu yang bermanfaat itu, walaupun sedikit kita bisa amalkan, Asmi. Tapi aku pikir hanya sebatas fardhu ‘ain yang bisa kita lakukan.”

“Bukankah kita biasa melakukan fardhu kifayah seperti mengurus jenazah, memilih pemimpin di kalangan orang-orang beriman?”

“Kamu lupa bahwa berekonomi secara syariah, memproduksi barang-barang kebutuhan ummat, juga termasuk kewajiban yang harus dipenuhi di antara mukmin.”  Aku memulai diskusi serius dengan teman karibku itu.

“Sabar, Wulan.  Nggak mudah mengamalkan semua yang kita tahu. Tapi Allah menghibur kita laa yukalifullahu nafsan Illaa wusahaa.”  Asmi menimpali pendapatku.

“Menurutku semua akan mudah seandainya kita punya komunitas khusus.  Bukankah saat individunya baik, sebuah keluarga akan baik.  Keluarga-keluarga  yang baik akan membentuk masyarakat yang baik. Sebenarnya kuncinya ada pada komunitas.”

Kami asik dengan pembahasan kajian  pagi tadi.  Tiba-tiba pandanganku tercekat pada spanduk berdiri tegak menantang dua meter di hadapan kami. “Hadirilah pameran peradaban Islam di gedung Pascasarjana, Magister Manajemen Baranangsiang Bogor, 11-15 Desember, buka 08.00 tutup 21.00.” Aku mengeja harisan huruf di spanduk itu.  Kemudian berhenti sejenak.

“Sepertinya cocok dengan diskusi kita kali ini, Wulan.  Sebaiknya kita singgah dulu dan kita sambangi pamerannya,” ungkapam Asmi riang.

Kami segera menuju gedung paskasarjana yang jaraknya tak lebih dari lima puluh meter.  Kami asik mengamati stan demi stan, mulai dari pondok pesantren, yayasan hingga ormas.  Ada satu stan yang sangat menarik perhatianku.

“Asmi, yuk kita ke Stan Darul Qiyam!”  Aku menunjuk satu stan yang dijaga oleh tiga orang ikhwan dengan penampilan sangat eksklusif.  Mereka menggenakan baju gamis berbahan safari.  Tampak gagah dengan seban, celak mata dan memelihara jenggot.

Ingatanku pada kajian Kitab Syamail karya Imam Attirmizi.  Kitab yang menceritakan gerak-gerik, perilaku dan penampilan Rasulullah SAW, seakan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari para pemuda itu.

Aku dan Asmi mulai melihat-lihat produk yang dipamerkan.  Ada majalah, produk audio visual, buletin, saus, kecap, gula, pembalut, toileter lengkap, roti, tepung gandum semua bermerek sama “Darul Qiyam Alghuraba”.  Terus terang aku takjub,  masyaallah, fardhu kifayah itu seakan tertunai di Yayasan Darul Qiyam Indonesia.

“Afwan Akhi, boleh saya melihat-lihat buku ini?” tanyaku pada salah seorang pemuda penjaga stan.

“Tentu saja boleh, Ukhti, tafadholi.”  Jawaban ramah itu begitu mengesankan.

Aku mulai membuka satu persatu lembaran itu dan aku melihat semua obsesiku tentang sistem Islam kaffah ada di sana.  Empat puluh tiga perkampungan yang aku diskusikan dengan Mas Gigih seakan menjelma di depan mata.  Aku sangat ingin bergabung, berjuang bersama mereka.  Dan perjuangan awal itu adalah membeli semua produk mereka sesuai kekuatan keuangan yang aku punya.

Sebuah kartu nama aku dapat dari mereka.  Aku harus berkunjung ke wisma mereka.  Kunjungan pertama aku lakukan sebulan setelah pameran itu, masih bersama sahabat karibku, Asmi. Kunjungan ini membuat cintaku makin dalam.  Taharah mereka begitu sempurna.  Hampir tidak ada satu sudut pun yang tidak terbebas dari najis.  Kamar mandi pun sangat bersih dan ada sepasang sandal khusus di dalamnya.

Nasihat kebaikan terpampang dengan cara yang elegan.  Tiap ruangan di wisma itu dipenuhi carta-carta perkembangan dakwah mereka.  Tiap pengunjung dapat membaca kutipan Alquran, Hadis atau nasihat pemimpin mereka yang mereka sebut dengan The Mind of Abuya.

Cara mereka menerima tamu sangat istimewa.  Tidak pernah aku berkunjung kecuali pulang dalam keadaan kenyang.  Jamuan makan bersama dalam satu talam dengan menggunakan tangan.  Setiap kali makan selalu diawali dengan doa bersama.  Menjilat butiran garam menjadi pembuka yang tak pernah terlewatkan.  Lagi-lagi ingatan pada cara hidup Rasulullah SAW melintas nyata.

            Dua tahun aku merawat cinta ini pada perjuangan mereka, tiba-tiba berita duka menyapa.  “Abuya dijemput paksa oleh polisi kerajaan di Thailand, setelah tiga tahun lebih tidak boleh memasuki Malaysia.  Dengan menggunakan helikopter Abuya dibawa dan ditahan tanpa proses peradilan.  Semua aset diambil, semua perkampungan ditutup.  Yang paling menyedihkan apa yang dicontohkan Abuya sebagai pengamalan terhadap sunah Rasulullah SAW dinyatakan sebagai ajaran sesat dan organisasinya dilarang.”  Penjelasan  Ustaz Fadillah, pemimpin kami di wilayah membuat hati kami tersayat-sayat.  Kepingannya terbutai bersama air mata yang pecah.

            Inikah sabda Rasulullah SAW bahwa salah satu fase yang akan dialami ummat Islam adalah fase mulkan jabariyan, pemimpin diktator yang memaksakan kuasanya atas rakyat yang tak berdaya tanpa senjata?  Bukankah Abuya penganut aqidah Asyariyah, fiqih Syafiiyah, tasawuf Ghazaliyah dan pengamal salah satu tariqat muktabarah?  Dakwah bilhal yang lemah lembutdan taat aturan negara itu harus kandas dengan cap ‘sesat’.  Bukankah menyesatkan apa yang disampaikannya berarti menyesatkan jumhur kaum muslimin?  Andai saja cinta itu bisa menyatukan,  menganggap perbedaan sebagai rahmat tentu saling menyesatkan tidak akan pernah terjadi di antara sesama ahli kiblat.

***

            Aku mengayun langkahku dengan kepasrahan.  Cinta yang bersemayam di hati ini tak pernah padam.  Berpisah dengan Darul Qiyam bukan berarti aku harus menanggalkan rasa cinta.  Justru cinta ini makin dalam.  Aku terus berusaha mengenal dan berukhuwah dengan jamaah minal muslimin.  Berbagai pergerakan aku pelajari dan aku datangi.  Kenikmatan ukhuwah dan obat dari ashobiyah aku dapati dengan cara ini.  Aku berusaha membedakan antara perbedaan yang merupakan rahmat dan penyimpangan yang dilarang agama.   Membedakan antara perbedaan dalam ushul yang dilarang dan perbedaan furuk yang masih diperbolehkan.

            Lagi-lagi cinta itu berlabuh pada sosok kedua setelah Abuya.  Abuya tetap mursyidku yang tak tergantikan tapi keluasan cintaku pada zuriyat Rasulullah menambatkan cinta ini pada Habibanaa.

            Saat itu di tahun 2006 aku sedang meniti puncak karirku di sebuah pesantren.  Mendampingi suami sebagai pengasuh di sana.  Aku sendiri diamanahi untuk mengatur kurikulum pendidikan.  Seorang dai ilallah kami undang untuk menyampaikan orasinya.  Susunan pembicaraannya sangat aku sukai, menyampaikan dalil ilmu, mengungkapkan permasalahan kontemporer yang bertentangan dengan dalil kemudian menyampaikan solusi yang harus diambil sesuai dalil yang menjadi pijakan dalam bersikap.

            Semua permasalahan terkini tidak luput dari sentilannya yang mendidik.  Keberaniannya menyentuh tiap lini kehidupan menandakan keikhlasan perjuangannya.  Aku makin asik menyelami kedalaman ilmu yang disampaikannya.  Bila kabar tentang acara tablighnyakami dengar maka kami akan datang selama jarak masih terjangkau.

            Puncak dari perjuangannya masih sangat terkenang pada tiga aksi pembelaan agama.  Masih dengan tiga fase orasi yang sangat mengesankan.  Dalil agama, permasalahan dan diakhiri dengan pemecahan terhadap masalah sesuai dalil yang ditunjukkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

            “Bun, ada aksi di Jakarta dua hari ke depan.  Kita siap-siap berangkat, ya?”  Ajak suamiku sehabis mengajar sebelum Asar.

            “Aksi apa, Ayah?”  Aku yang belum berselancar di dunia maya keheranan. 

            “Ayah share kegiatan dari grup.  Tunggu sebentar.”  Aku tak sabar melihat flyer yang akan dikirim suami melalui WA.

            Aku mengeja satu per satu barisan huruf di layar pendar gawaiku.  Kami langsung sepakat untuk mengikuti Aksi Bela Islam tanggal 2 bulan 12 itu.

            Atribut lengkap sudah kami siapkan baju putih dan bendera tauhid.

            “Bun, kita naik bis aja.  Soalnya kalau memakai kendaraan pribadi akan sangat padat di Jakarta”.

            “Bunda setuju, Yah.  Lagi pula Ayah nggak bakalan kecapaian kalau naik bis.”

            Beangkat sekitar pukul sebelas malam menggunakan bis dari depan gerbang pesantren.  Kami ingin sekali mengajak para santri, tapi mereka sedang menghadapi ujian lisan semester gasal.  Sepanjang perjalanan kami memantau keadaan melalui berita di internet.  Alhamdulillah nampaknya semua berjalan aman dan terkendali.  Sungguh untuk aksi sebesar ini ada rahmat yang Allah karuniakan untuk Indonesia.

            Menjelang Jum’at aku terpisah dari suami karena aku harus bersatu dengan barisan jemaah wanita.  Komunikasi lewat gawai kami pastikan selalu on.  Aku tak mampu melihat semua yang terjadi di podium secara langsung.  Live Streaming membantuku melihat apa yang terjadi di depan sana.

            Di luar dugaan yang memberi khutbah adalah Habibanaa.  Rasa cinta pada zuriat Rasulullah SAW bembungakan hatiku.  Pesan Habibana sangat berkesan bagi siapa saja yang meluruskan hati untuk Allah dan Rasul-Nya:

            “Ayat suci harus berada di atas ayat konstitusi, ayat konstitusi tidak boleh bertentangan dengan ayat suci.  Karena ayat suci adalah kalam ilahi, ayat suci adalah firman ilahi.  Sehingga menjadi harga mati untuk dipatuhi, untuk ditaati, tidak boleh diganti, tidak boleh direvisi.  Sedangkan ayat konstitusi adalah produk akal bashari, produk akal insani, sehingga tidak boleh bertentangan dengan ayat suci, Ibadallah”.  Keistiqamahan habibana tak tergantikan oleh dunia dan seisinya.   Dimanapun, kapanpun, di hadapan siapapun Habibanaa akan selalu menyuarakan kebenaran tapa rasa takut pada siapapun.  Rasa takutnya hanya untuk Allah semata.

            Seusai acara, semua peserta aksi membubarkan diri dengan tertib.  Sungguh ajaib tidak lebih dari setengah jam, semua keadaan kembali bersih seakan tidak ada acara besar yang baru saja terjadi di sini.  Sambil menunggu suami, aku berbincang dengan seseorang perempuan yang sangat menggelitik hatiku.  Ia tidak berhijab, rambutnya bercat keemasan dan dari matanya aku tahu dia bukanlah pribumi.

“Mohon maaf, sepertinya anda mualaf?”  Aku bertanya hati-hati.

“Bukan, saya Kristiani”.

“Boleh tahu alasan anda ikut aksi?”

“Sudah lama saya simpati dengan gerak anak muda berseragam putih-putih itu.  Waktu kampung kami kebanjiran, kami menunggu dievakuasi.  Ternyata yang mengevakuasi kami anak-anak muda itu.  Sunyum mereka tulus, gerak mereka sigap, serius dalam menolong siapapun.  Baru kali itu keluarga kami diperlakukan begitu baik.  Selepas evakuasi, kami ditampung di posko mereka.  Kami dilayani dengan penuh kasih.  Saya rasa apa yang mereka perjuangkan benar.  Sesama anak bangsa tidak boleh ada saling hina dan saling merendahkan.  Apalagi berkaitan dengan kitab suci Tuhan.”

***

Hiruk pikuk di penghujung tahun ini mengingatkanku pada goresan luka lama.  Patahan hati ini masih terasa begitu pilu.  Pembantaian enam syuhada, penangkapan Habibanaa, pembubaran ormas Islam tanpa dialog dan proses demokratis kembali mengiris hatiku.  Air mata kesedihan seakan belum mau berhenti dari sudut mataku.

Ternyata mengagungkan cinta, harus ditebus dengan duka lara, tetapi akan tetap kuhayati, hikmah sakit hati ini, telah sempurnakan kekejamanmu (Ebit G. Ade).  Syair itu kembali  menyadarkanku bahwa cinta selalu meminta pengorbanan, seumpama iman yang meminta pembuktian.


 

NubarArea_MenitiJalanHijrah

SELALU ADA PINTU BERTAUBAT_Kadijah Hanif

 

Aku tertegun melihat sosok di depanku ini,Mbak Lastri.  Tiga puluh tahun lebih kami tidak bertemu, terpisah oleh garis takdir masing-masing yang harus kami lalui.  Kini saat Idul Fitri menyapa kembali, kami bertemu dalam keharuan dan kerinduan.

Pertemuan yang mengharukan.  Ada kesedihan atas masa lalu yang kelam.  Ada kebahagiaan atas perubahan penampilan yang menunjukkan tanda-tanda hijrah Mbak Lastri.

“Ini Mbak Lastri?  Ya Allah, tambah cantik Mbak, awet muda lagi.  Kayak nggak berubah.”

Mbak Lastri tersipu malu dengan pujianku.  Setelan hijab syari berwarna ungu muda membuatnya tampak segar, tanpa saputan kosmetik di wajah ayunya.  Kemudian aku teringat segala kenangan masa lalu itu.

***

Las, luwih becik ra sah bali.  Kamu tiap pulang selalu menangis nggak jelas terus minta uang sama Emak.  Kalau cuma seratus dua ratus ribu, Emak juga masih bisa ngasih kamu bekel.  Ini lima belas juta dari mana Emak mesti cari?”   Makde Narti mulai marah dengan sikap Mbak Lastri yang tak kunjung berubah.

Anak angkat Makde Narti ini masih kerabat dekatku juga.  Mbak Lastri kakak sepupuku dari pihak ibu.  Sementara makde kakak ayahku.  Aku juga sering menemani makde dan Mbak Lastri saat hari libur sekolah.  Atau sambil lewat aku biasa mampir ke rumahnya sepulang sekolah.

“Nadia, alhamdulillah kamu datang.  Tolong temani Makde ya, Mbakyumu iku kumat maneh edane.  Bola bali minggat ninggal anak bojo.  Wis ora urus banget.”  Aku setia mendengarkan keluhan Makde Narti.

“Kalau Nadia boleh tahu, kenapa Mbak Lastri pergi tanpa izin, Makde?”

“Dia punya laki-laki lain.  Sesuatu yang memalukan.  Makde wanti-wanti kamu tidak boleh ikut jejak Lastri, ya.  Kamu harus sekolah sampai tinggi, belajar agama dan amalkan.  Jangan sampai seperti Lastri.  Aku sekolahkan sampai PGA tapi sedikitpun kelakuannya tak berpijak dengan ilmu yang diketahuinya.  Sejak Pakde Harun meninggal, Lastri makin berani.”

Aku tak habis pikir, Mas Danang suami Mbak Lastri adalah tipe laki-laki yang setia.  Sudah tiga kali Mbak Lastri mengkhianatinya tapi PNS di sebuah kantor kabupaten itu tetap setia.  Bahkan Mas Danang sanggup membantu makde untuk menggarap tanah  yang luasnya tidak kurang dari tiga hektar itu.  Buat makde, Mas Danang adalah penghibur lara karena perilaku Mbak Lastri.  Bagai bumi dengan langit.

“Barangkali Mbak Lastri pernah kecewa atau punya harapan yang tak terpenuhi?”  tanyaku memberanikan diri.

Makde diam sejenak.  “Dulu saat pakde masih ada, dia keras dalam mendidik anak.  Semua keputusan terbaik selalu ia usahakan untuk kami.  Seorang pemuda kaya dan rupawan melamar Lastri.  Karena perilaku pemuda itu kurang baik, bapak langsung menolak pemuda itu.  Sepertinya Lastri sangat terpukul.  Sebagai gantinya, bapak mencarikan jodoh buat Lastri.  Qadarullah, Dananglah jodoh Lastri.”

Seandainya Mbak Lastri menghadapi semua dengan iman, tentu dia tidak akan menyalahkan siapapun.  Bukankah segala sesuatu berlaku atas kehendak dan izin Allah SWT? Jangankan peristiwa besar yang dihadapi makhluk bernama manusia. Daun jatuh hingga debu beterbangan pun dalam pengetahuan Allah. Manusia sebagai makhluk-Nya hanya diwajibkan berikhtiar sebaik mungkin dan berserah terhadap takdir seikhlas mungkin.

Kalau aku ada di posisi Mbak Lastri aku akan sangat bersyukur.  Mas Danang orang yang sangat penyabar.  Ia telah beberapa kali ditinggal pergi Mbak Lastri.  Namun Mas Danang tetap mau mengurus empat anaknya.

Hingga satu ketika....

"Mak, saya mohon maaf.  Saya tidak mampu mendidik Lastri.  Sebagai suami saya kurang tegas.  Dia tidak mau mendengar kata-kata saya lagi."  Mas Danang menyela perbincangan kami.

"Maksud kamu gimana, Nang?  Kamu mau menyudahi pernikahannya dengan Lastri?

Mas Danang hanya terdiam, tertunduk dalam.

"Kamu tega samaEmak? Emak ndak punya siapa-siapa lagi..”  Air mata Makde Narti tak terbendung.Mengiris hati  siapapun yang mendengarnya.  Aku bisa merasakan kekhawatiran atas kesendirian yang menghantui masa senjanya.

"Bukannya saya nggak mau menemani Emak.  Saya berat melepaskan ikatan ini.  Tapi kehadiran saya hanya memperburuk sifat Dik Lastri.  Seandainya saya nggak egois memiliki Dik Lastri saat itu mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini."

 

"Mohon maaf, Mas.  Bukannya Nadia ingin campur tangan.  Nadia hanya nggak tega sama Makde Narti juga anak-anak.  Luki, Sandi, Nabila dan Marsya masih butuh ayahnya.  Keadaan mereka tetap akan lebih baik dengan kehadiran Mas Danang meskipun tanpa Mbak Lastri."

Aku berharap perbincangan kamisetidaknyasedikit menahan niatan Mas Danang untuk menyudahi pernikahannya.  Namun kebutuhan orang dewasa yang saat itu belum aku pahami, tetap memaksa Mas Danang menceraikan Mbak Lastri.  Semua keluarga besar kami merasa sedih dan menyayangkan peristiwa ini.  Kehilangan Mr. Perfect adalah musibah.  Selama ini Mas Danang menjadi perekat di antara kami.  Sikapnya yang santun, pembawaannya yang supel juga wajah yang tak kalah rupawan dengan mantan Mbak Lastri.  Sebenarnya deretan kelebihan Mas Danang lebih dari cukup buat Mbak Lastri mencintai Mas Danang dengan sepenuh hati.

"Silahkan kalian berpisah, tapi anak-anak harus sama aku.  Biar semua aku yang tanggung."  Makde Narti menghadapi Mas Danang dan Mbak Lastri dengan amarah. 

Keputusan pengadilan menyatakan bahwa Mbak Lastri dianggap tidak akan mampu mendidik anak-anaknya dengan baik.  Hak asuh diberikan pada Mas Danang, kecuali Luki.  Luki lebih memilih ibunya.  Aku melihat ada kemiripan sikap antara mereka berdua

“Lastri, kelakuan kamu sudah tidak bisa Emak terima.  Sebagai anak angkat kamu sudah keterlaluan.  Mau saja kamu diperas sama Samsul.  Suami macam apa dia.  Otak kamu ini sudah miring ya?  Danang yang baik luar biasa kamu sia-siakan.  Samsul yang lebih mirip bajungan itu kamu pelihara?  Lihat ini sawah Emak tinggal tiga petak lagi.”  Emak menunjukkan sertifikat tanah yang masih tersisa. 

“Emak baru sadar, ya?  Aku siap keluar dari rumah ini.  Lagi pula harta Emak sudah habis.  Nggak ada yang bisa diharapkan lagi.”  Mbak Lastri benar-benar lebih mirip monster pemeras ketimbang anak yang harusnya berbakti pada orang tua.

“Sekarang juga kamu harus keluar dari rumah ini.  Bawa Luki sekalian.  Aku sudah tak sanggup menghadapi sifat buruk kalian.”  Makde Narti seakan mendapatkan kesadaran baru bahwa harta dan harga dirinya sudah diinjak-injak oleh anak angkatnya itu.

“Iya Mak, aku akan segera pergi.  Lagi pula sudah ada Nadia di sini.  Tentu dia akan lebih bisa membahagiakan Emak.”  Cara Mbak Lastri menatapku menunjukkan kemarahannya.  Aku mencoba tersenyum tapi wajahnya berpaling. 

Sejak kepergiannya senja itu, kami tak pernah bertemu laki dengan Mbak Lastri.  Yang ada hanya kabar miring tentang Mbak Lastri dan Luki.  Kawin cerai dan berganti-ganti pasangan menjadi aib bagi kami.  Belum lagi Luki yang mengikuti jejak Mbak Lastri makin mencoreng nama baik keluarga besar kami.

***

“Mbak, maafin Nadia, ya.  Nadia takut Mbak Lastri marah sama aku.

“Kamu nggak salah, Nad.  Justru aku berterima kasih kamu mau njagain Emak selepas kepergianku.

“Kalau Mbak Lastri nggak keberatan, boleh dong ceritain aku sampai Mbak Lastri bisa berhijrah.”  Aku memasang muka serius untuk mencari tahu proses Mbak Lastri dalam menemukan kesadaran.

“Aku dan Luki pergi ke kota sore itu, setelah Emak mengusir kami.  Aku numpang hidup di rumah seorang bos pembuat minuman keras.  Bukan hanya minuman keras tapi juga pembuat pil-pil narkoba.  Aku menjadi salah satu karyawannya.  Suatu ketika sweeping laskar ormas Islam berpakaian serba putih menggerebek tempat usaha kami.  Luki yang menghalangi kedatangan mereka terciduk dan dibawa ke basecamp mereka.  Karena takut terjadi apa-apa dengan Luki, aku menjemputnya untuk di bawa pulang.”

Aku tertegun dengan cerita Mbak Lastri.  Kudengar dengan cermat kisahnya.  Aku tahu persis laskar itu, bahkan aku sekarang sering bergabung dengan majelis-majelis mereka.  Aku turut hadir dari tabligh akbarke tabligh akbaryang menampilkan mubaligh mereka.  Saat Habibanaa hadir aku tidak akan pernah melewatkan nasihatnya.

“Terus Mbak Lastri bergabung dengan mereka?”

“Aku tidak langsung belajar dari mereka tapi aku mulai nyaman saat berbincang dengan para mujahidah.  Apa yang mereka ucapkan mengingatkan aku pada masa-masa aku masih sekolah di PGA.  Keresahanku pada perilaku Luki juga membulatkan tekatku bahwa aku harus berubah.  Ajakan para mujahidah itu memberikan peranan penting munculnya kesadaran batinku.”

Aku memeluk Mbak Lastri erat-erat.  “Bersyukurlah pada Allah, Mbak.  Dia Maha Menerima Taubat.  Meskipun dosa kita seumpama pasir di lautan dan ditambah lagi dengan dosa seluruh manusia maka ampunanNya lebih luas dari semua itu.  Kecuali dosa menyekutukan Dia dengan sesembahan yang lain.”

“Hanya satu yang membuatku bimbang, Nadia.  Apakah Emak sudah mengikhlaskan kesalahanku.  Aku hanya punya doa buat Emak.”  Butiran bening menganak sungai, membasahi pipi Mbak Lastri.

“Waktu Makde Narti meninggal, ibuku yang merawat beliau.  Ibu yang membimbing makde sampai hembusan napas terakhir, agar makde bisa melafazkan kalimah tayibah.  Ibu juga sering mengingatkan makde untuk mengikhlaskan siapapun yang pernah berbuat salah pada makde.  Alhamdulillah makde sempat mendoakan Mbak Lastri supaya selalu dalam bimbingan Allah SWT.  Mbak Lastri bisa menebus kesalahan dengan meniatkan pahala amal baik Mbak buat Emak.  Jangan lupa untuk terus mendoakan Emak.  Insyaallah sampai, Mbak.”

Mbak Lastri tersenyum manis sekali.  Kami yakin kemaafan Makde Narti turut memudahkan jalan hijrah Mbak Lastri.

“Nadia, anter Mbak Lastri ke makam Emak, ya.  Sekarang.”   Mbak Lastri menghela napas lega bersama runtuhnya beban dosa pada makde selama ini.

 

Glossarium:

1.      Las, luwih becik ra sah bali=Las, lebih baik nggak usah pulang.

2.      Mbakyumu iku kumat maneh edane.  Bola bali minggat ninggal anak bojo. Jan ora urus banget= Kakakmu itu kambuh gilanya.  Berkali-kali meninggalkan anak dan suami.  Benar-benar nggak peduli.


 

NubarArea_DesemberTersenyum_

KADO BUAT UMMI_Khadijah Hanif

 

            Hujan rintik-rintik mengguyur seantero kota.  Jam lima sore terasa lebih senja daripada biasanya.  Sosok berkepala empat dengan gamis biru tua mulai menutup toko yang sudah sepi pembeli.  Saat Ummi Kania hendak menutup toko buku dan busana muslimnya, ia terhenyak dengan suara tangisan yang memilukan.

Seorang gadis berbaju lusuh duduk melipat muka diantara dua lututnya.  Pakaian berbahan kaosnya robek di sana-sini. 

“Neng, kenapa kamu ada di sini sendirian?  Ayo ikut ummi ke dalam!” ajak Ummi Kania penuh kasih sayang.  Jiwa keibuannya tak mampu membiarkan sesosok gadis kecil itu bersedih tanpa pembelaan.

Gadis kecil itu hanya terpaku.  Mendongakkan sebagian wajahnya kemudian tertunduk lagi.

“Kamu jangan takut dan khawatir, Ummi hanya ingin membuatmu tidak sendirian lagi.  Nanti kita saling bercerita banyak hal di dalam rumah Ummi.  Siapa namamu, Neng?”

Anak itu tidak segera menjawab, kemudian suara lirih keluar dari mulut mungilnya, ”Sil...Silsa, Bu!”  Satu perkembangan yang bagus saat gadis kecil itu mulai percaya pada Ummi Kania.

Beberapa kali Ummi Kania menemukan anak-anak jalanan di depan tokonya.  Semampunya, ia menampung mereka di lantai dua rukonya.  Sejak suami dan anak-anaknya meninggal akibat bencana longsor yang menimbun kampungnya, Ummi Kania memilih merantau ke kota menyewa ruko dan mengisi harinya untuk menampung mereka yang menderita.

Kali ini Silsa Salsabila menjadi anak asuhnya.  Beberapa anak diasuhnya hingga dewasa.  Sebagian dititipkannya ke panti asuhan jika tak sebanding dengan kemampuan ekonominya.  Ada  juga yang dikirim ke pesantren untuk menempuh pendidikan.

“Silsa, hari ini Silsa harus ikut apapun yang sedang Ummi lakukan.  Siap?”  tanya Ummi Kania pada Silsa.

“Siap Ummi.  Silsa akan jadi anak manis buat Ummi.”  Silsa kini berusia lima belas tahun.  Tiga tahun bertambah usianya sejak ditemukan di depan toko sore itu.

“Kita akan belajar berwirausaha.  Membuat cilok dan menjualnya.  Nanti keuntungannya Silsa tabung buat persiapan masuk pesantren tahun depan.”  Ummi Kania terus berusaha menyemangati Silsa untuk mau memulai usaha baru mereka.

“Ummi, di mana garamnya?”

“Itu di keranjang bumbu.”  Ummi Kania menjawab tanpa melihat kembali bubuk putih terbungkus plastik yang diambil Silsa.

Mereka memyelesaikan pekerjaan di dapur diiringi canda tawa penuh keceriaan.

“Nah, kini saatnya kita mencicipi barang dagangan kita, Silsa.”   Ummi mengambil satu bulatan cilok hasil karya mereka.  Ada ekspresi aneh dari wajah Ummi Kania.  “Kok ciloknya manis?Apanya yang salah ya?  Coba mana tadi garam yang kita pakai, Silsa?”

Silsa segera mengambil bubuk putih di keranjang bumbu di dapur.  “Ini, Ummi.”

“Masyaallah, ini mah gula halus.  Pantesan manis.”  Mereka tertawa menanggapi kekonyolan mereka pagi ini. 

Sejak kaca mata Ummi pecah beberapa bulan lalu, ada saja kerepotan yang mereka hadapi.  Penyakit mata minus Ummi yang sudah sampai angka lima menjadi masalah serius buat mereka.  Beruntungnya, sejak kejadian itu, Silsa selalu meneliti apapun yang diminta oleh ummi.  Mulai dari tepung tapioka, tepung terigu, garam, gula dan barang-barang yang digunakannya.  Khawatir ummi salah pengelihatan.

Cilok spesial buatan mereka berdua sudah siap dalam kemasan pagi ini.  Cilok isi bervariasi, mulai bumbu kacang hingga sosis dan daging ayam.  Dengan kuah bening dan orak-arik telor membuat cilok mereka cepat dikenal sebagi cilok sehat dan bergizi.

Di masa pandemi Silsa punya banyak waktu luang untuk berjualan di sela-sela belajar daringnya “Cilok isi kuah, cilok isi kuah.  Dibeli dibeli harga murah.  Terjangkau kantong, enak sekali, hanya dua ribu sebungkus.”  Tanpa lelah Silsa menjajakan cilok tiap pagi.  Pukul sepuluh biasanya cilok Silsa sudah habis tak bersisa.  Ia segera pulang dan memberikan seluruh uang pada Ummi Kania.

“Silsa, ini dua puluh ribu simpan di kaleng tabunganmu, ya!”  .

“Siap Ummi.  Tapi Ummi, ini bukan dua puluh ribu.”  Silsa menyerahkan lembaran uanga di tangannya.

“Aduh, maaf.  Mata Ummi tambah rabun.  Jangan-jangan Ummi salah memilah uang kita di brangkas.  Innalillahi wainna ilaihi raaji’uun.“  Ummi teringat uang yang dipakainya buat kembalian dua ribuan.  Khawatir tertukar dengan lembaran dua puluh ribuan.

Mereka segera memeriksa brangkas uang, dan benar saja Ummi Kania salah memisahkan uangnya.  Mereka berdua sibuk menghitung uang yang seharusnya ada di brangkas.

“Ya Allah, Ummi rugi lima ratus ribu, Silsa.”  Ummi Kania tampak kecewa dengan keteledorannya kali ini.  Mungkin sudah beberapa kali Ummi salah memberikan uang kembalian.

“Sabar Ummi, nanti pasti bakal Allah ganti yang lebih banyak.”  Silsa berusaha menghibur.

Hari-hari berlalu.  Ummi terlihat makin berusaha teliti dalam segala hal.  Dipicingkannya mata saat mengamati apapun.  Ummi tidak mau kesalahan serupa terulang kembali.

Usaha mereka semakin besar bahkan keuntungan berjualan makanan melebihi keuntungan toko.  Silsa sudah mulai mendagangkan cilok mereka secara online.  Sebagian dibekukan di kulkas.  Toko-toko frozen mulai mereka rambah untuk mendongkrak penghasilan.

Siang ini mendung menggantung di langit kota.  Hujan tak juga turun membuat udara gerah memaksa keringat Silsa jatuh satu-satu.  Dibukanya album kenangan keluarga Ummi Kania.  Keluarga utuh mereka lebih dua puluh tahun silam.  Sebuah keluarga yang utuh dan bahagia.  Abi dan dua anak Ummi yang masih balita.  Ada satu foto yang menarik hatinya.  Sebuah acara pesta kecil ulang tahun Ummi Kania.  Di pojok kanan bawah foto bertuliskan sebelas Desember.

“Wah, ulang tahun ummi tanggal sebelas Desember kah?”  Silsa bergumam sendiri.  “Aku mau kasih kejutan buat Ummi.”  Silsa melonjak kegirangan, masuk ke kamar tidurnya dan mengunci pintu dari dalam.

Silsa menjajarkan tiga kaleng tabungan hasil dagangnya selama delapan bulan.  Dihitungnya satu persatu lembaran uang itu dua puluh, sepuluh, lima, dua dan seribuan.

“Enam ratus dua puluh tiga ribu.”

Silsa membuka gadget pemberian Ummi Kania karena berhasil menjadi tiga terbaik di sekolahnya.  Belanja online menjadi sasaran selancarnya kali ini.  Pandangannya tertumpu pada sebingkai kaca mata minus.  Silsa segera memesan kaca mata itu melalui nomor wa yang tertera pada toko online.  Dia lebih senang sistem bayar di tempat daripada sistem transfer. 

“Pesanan bersifat segera tolong jangan lewat dari tanggal sepuluh Desember ini.  Soalnya aku mau ngasih kejutan buat Ummi aku di tanggal sebelas.  Aku harus ngemas kadonya sebelum hari H.”

Pesanan Silsa segera disetujui dan dikemas.   Menurut info dari toko online, pesanan akan sampai dalam dua hari.   Menunggu waktu pesanan datang cukup membosankan buat Silsa, apalagi ia ingin memberikan hadiah itu tepat tanggal sebelas.

Berulang kali Silsa membuka pelacakan pesanan.  Tanggal sepuluh pesanan itu justru ada di sebuah kota di Jawa Tengah.

“Ya Allah kapan sampainya kalau begini.”  Silsa geregetan dan melempar gadgetnya ke atas tempat tidur.  Ia keluar kamar dan mengerjakan apa saja buat melupakan kegelisahannya.

“Silsa, dari tadi kamu bolak-balik kamar seperti orang gelisah.  Kalau ada masalah bilang aja sama Ummi.  Jangan suka memendam masalah.”  Ummi mendekati Silsa dan membelai rambutnya.

“Nggak kenapa-kenapa Ummi.  Silsa cuman sakit perut.  Jadinya pingin ke toilet melulu.”

“Makanya harus jaga makanan, Neng.  Jangan terlalu pedas.  Nggak baik buat gadis, lho!”

Silsa hanya tersenyum simpul.

Setelah hampir tiap jam Silsa membuka kembali pelacakan barang pesanan, akhirnya .  Jam dua siang ia merasa lega barang pesanan sudah sampai ke pusat kota.

“Silsa, ini ada paket pesanan kamu, Neng!”  Suara Ummi Kania dari arah toko bukunya.

“Iya, Ummi, Silsa segera datang!”  Silsa meloncat kegirangan, kejutan buat Ummi akan segera ia serahkan.

Ummi Kania yang sedang melayani pembeli tidak banyak bertanya tentang paket barang yang  dibeli Silsa  Ummi hanya menanyakan barang apa yang dipesan Silsa tanpa memerhatikan jawaban Silsa. 

Silsa segera membuka kemasan barang pesanannya. Kertas kado bermotif love warna pink ditatanya membungkus sebentuk wadah kristal berwarna hitam transparan.  Disisipkannya selembar kertas berwarna gradasi pink biru.

Buat Yang Tersayang....

Ummiku

Ummi, terimakasih sudah mengajak Silsa tinggal bersama Ummi.  Ummi didik Silsa untuk mengaji, belajar salat dan semuanya.  Ummi mencukupi segala keperluan Silsa hingga Silsa tidak kedinginan lagi di luar sana.  Hingga Silsa nggak kelaparan lagi.

Tidak ada yang bisa Silsa balaskan buat Ummi kecuali doa dan sedikit bingkisan tak berharga ini.  Mohon Ummi pakai supaya Ummi nggak susah dan salah pengelihatan lagi.  Semoga nyaman dan cocok.

Semoga Allah SWT melindungi Ummi, mengaruniakan pada Ummi rejeki yang berkah dan berlimpah.

Mohon maaf Silsa nggak minta izin Ummi dulu manfaatin tabungan hasil dagang Silsa buat beli kaca mata ini.

Yang sayang Ummi

Silsa Salsabila

 

            Kado di tangan Silsa tampak rapih dan cantik, dililit pita biru tua di bagian tengahnya.  Perlahan ia melangkah menuruni tangga ke lantai bawah.  Mencermati apakah di toko Ummi sedang tidak melayani pembeli.  Dilihatnya Ummi Kania sedang tenggelam dalam bacaan Alquran yang merdu.

            “Ummi, bisa ganggu sebentar?” ucap Silsa hati-hati.

            “Tentu saja bisa, Neng.”  Ummi membalas lembut.

            “Barakallah fiiumriki, Ummi.”

            Ummi Kania terkejut dengan ucapan ulang tahun yang hampir tiga puluh tahun tak menyambanginya.  Ada lapisan bening di matanya yang akhirnya tumpah juga.  Ingatannya menyisir peristiwa-peristiwa silam.  Saat ia belum sebatang kara.

            “Seandainya mereka masih ada, anak bungsu Ummi sudah sebesar kamu, Neng.  Terima kasih udah mau temenin Ummi di usia Ummi yang makin tua.  Kita akan terus bersama sampai kamu menemukan pasangan dan berumah tangga.”  Ummi Kania memeluk erat satu-satunya orang terdekat yang menemani usia senjanya.

            Perlahan dibukanya bingkisan cantik itu.

            “Masyaallah, kaca mata!  Bagus sekali Silsa.  Pasti ini mahal.”  Ummi membuka kotak kristal dan memakai kaca mata itu.

            “Nggak mahal Ummi.  Nggak sebanding dengan kasih sayang Ummi buat Silsa.”

            Ummi mengitarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. “Enak banget Silsa.  Kaca mata ini cocok buat mata minus Ummi.”

            Sekali lagi mereka berpelukan saling melantunkan doa dan harapan indah tentang masa depan, tentang kehidupan di alam keabadian.

Selama ini Ummi Kania merasa kehambaran pada wajah-wajah rata dan serupa.   Alhamdulillah, di pekan kedua bulan Desember ini senyuman kembali hadir di wajah-wajah penyapanya.  Dengan kaca mata kado ulang tahun Silsa, Ummi dapat melihat detail ekspresi siapapun yang ada di depannya. 


 

Nubar Area_Bisikan Cinta_

CINTA LILLAH REZA_Khadijah Hanif

 

            “Mama, kenapa selalu menuntut Naira buat mencinta orang yang sama sekali nggak aku kenal?  Mama nggak adil!”  Naira membanting pintu dan mengunci diri di kamarnya.

            Mama Aini hanya bisa mengurut dada atas apa yang disampaikan putri semata wayangnya itu. “Naira, buka pintu dulu, Nak!  Untuk sebuah takdir yang Allah gariskan, haruskah seorang hamba menolaknya tanpa menyadari diri hanya sekedar hamba?”

“Kalau begini terus, Naira bisa depresi, Ma!  Biarin Naira mau bunuh diri aja!”  Keluhan Nairamenimbulkan ketakutan mendalam pada Mama Aini.  Terbayang anak perempuan semata wayangnya itu mengambil benda tajam untuk memutuskan nadinya.  Atau loncat dari apartemen lantai sepuluh milik mereka.

“Naira, jangan nekat, Nak!  Atau Mama teriak biar Papa dan abang kamu terbangun.”  Mama Aini sekuat tenaga berusaha membuka pintu.  Mencongkel engsel atau apa saja yang bisa ia lakukan demi menyelamatkan anak kesayangannya.

Keributan itu akhirnya membuat Naira keluar kamar.  “Mama, ngapain ngerusak pintu kamar.  Naira baik-baik aja.  Lagi pula Naira juga masih punya iman.  Nggak mungkinlah Naira bunuh diri.”  Naira masih menghadapi Mama Aini dengan muka masam.

Pernikahan yang terlalu cepat membuat Naira serba salah.  Antara kebingungan bagaimana harus menghadapi suami.  Menjaga sikap baik pada seseorang yang dianggapnya sempurna bukan hal yang mudah.  Ya, Reza, suaminya adalah idola di antara teman sejawat Mamanya di kantor.  Sosok sempurna itu membuat Naira kikuk, canggung harus berbuat apa atau bahkan takut dalam bersikap.

“Mama belum sempat mendidik aku bagaimana berumah tangga dan Naira tiba-tiba harus berubah status menjadi istri Mas Reza.  Mama tahu sendiri Naira ini orangnya pemalu, Mah.  Nggak mudah buat mencintai seseorang sesempurna apapun orang itu.”  Naira kembali meluahkan alasan sikap kurang baiknya pada Reza.

Pertemuan dua keluarga yang merancang pernikahan ini.  Sementara Naira sedang menempuh pendidikan terakhir di kampusnya.  Hanya komunikasi ala kadarnya melalui gawai yang mereka berdua lakukan untuk saat bertaaruf.  Itu pun atas dorongan dari orang tua.  Taaruf mereka jauh dari insiatif dua insan yang akan melangsungkan pernikahan itu.

Mama Aini dan Bunda Lela memang teman akrab satu pengajian.  Sementara Reza sekantor dengan Mama Aini.  Kerjasama yang intens antara Mama Aini dan Reza membuat Mama Aini sangat yakin bahwa Reza adalah jodoh terbaik buat Naira.

Sosok berusia dua puluh empat tahun itu sangat lebih dewasa dibanding mereka yang seusia dengannya.  Dikenal sangat ringan tangan.  Lulusan sarjana teknik informatika itu selalu ringan tangan untuk membantu siapa saja.  Mulai dari membenahi perangkat komputer di kantor, membetulkan gawai bermasalah tanpa menerima upah sedikit pun.  Belum lagi kalau ada pekerjaan office boy yang terbengkalai karena Ujang tidak masuk kantor, maka Rezalah yang menghandle semuanya.

Latar belakang pendidikan pesantren membuat Reza tumbuh menjadi pribadi sederhana, mandiri, ringan tangan dan dalam pengetahuan agamanya.  Banyak hal yang dikuasainya mulai dari bahasa Arab dan Inggris, baca dan tulisan Arab indah dan ilmu-ilmu dasar keagamaan.  Tidak heran rekan-rekan sesama ibu-ibu di kantor memperebutkan Reza bak buah ranum matang di pohon.

Seharusnya Mama Aini menjadi ibu yang paling beruntung menjadi pemenang mendapatkan Reza.  Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya.  Pernikahan ini seakan menjadi tamparan di muka Mama Aini.  Tidak lain dan tidak bukan, penyebabnya adalah sikap dingin Naira pada Reza.

Tak terbitung berapa tetesan air mata Mama Aini tumpah ruah dalam sujudnya.  Bahkan Reza tahu persis duka mendalam ibu mertuanya itu.

“Reza, maafkan Mama.  Reza layak untuk mendapatkan istri yang salihah.  Yang bisa menyapa Reza dengan senyuman saat Reza pulang dari kantor dalam keadaan lelah.”  Mama Aini memanggil Reza di ruang kantor pribadinya.  Sebagai manajer perusahaan, Mama Aini bisa memanggil anak buahnya kapan saja.  Linangan air mata tak mampu ditahannya juga rasa malu meronakan dua pipinya.

“Istri saya baik-baik saja Mama.  Mama nggak perlu sedih dan berpikir berat tentang Naira.  Reza menerima apa adanya Naira.”

Mama Aini makin tak mampu menahan kesedihannya.  Betapa salih dan sabarnya Reza.  Pemuda berhidung mancung, bermata elang dengan alis hitam tebal, kulit putih bersih itu berhak mendapatkan istri yang sesempurna dirinya.

“Reza, Mama hanya minta kasih sayang Reza buat Naira.  Sebenarnya ia anak yang baik dan penurut.  Tapi terus terang Mama kecewa atas sikap dia.  Sebagai suami Reza berhak mendidiknya dengan tegas kalau dia menolak permintaan kamu.”

“Mama, Naira itu istri yang baik.  Dia masih menunaikan kewajibannya pada Allah.  Dia salat, mengaji dan mengulang hafalan Alqurannya.  Reza udah cukup bersyukur dengan sikap dia, Mama.  Saya rida dengan istri saya.  Jadi Mama jangan sedih.”  Reza menjawab semua keluhan Mama Aini dengan ringan. “Harusnya Mama bahagia dengan pernikahan kami.

Di peluknya pemuda berperawakan tinggi dan kekar di depannya itu.  Terlintas dalam benaknya untuk mencarikan pengganti Naira.  Mahar itu masih utuh tak tersentuh itu seperti tak tersentuhnya Naira oleh kejantanan Reza.

Bagaimanapun Mama Aini merasa berdosa memiliki anak yang menolak permintaan suami untuk melayaninya.  Bukankah Allah melaknat mereka yang membiarkan permintaan suami di atas ranjang?  Bukankah orang tua yang memiliki anak salihah akan turut mendapat rida Allah?  Pun sebaliknya, saat istri mendapat murka Allah maka orang tuanya akan ambil bagian dari kemurkaan itu?  Semua pertanyaan itu mendera dan berkecamuh dalam dada Mama Aini.  Keinginan menyadarkan Naira atas kewajiban mencintai suaminya tak bisa diwar lagi.

“Mama ingin mencarikan pengganti Naira.  Apakah kamu siap, Reza?”

“Maksud Mama?”  Reza benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud Mama Aini.

“Kamu berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dari Aini.  Mama akan menggunakan mahar yang kamu berikan pada Aini untuk menjari istri kedua buat kamu.  Bukankah penolakan Naira dalam melayanimu, menghalalkan mahar itu buat kau tarik kembali?”

“Jangan, Mama.  Aini istri yang baik, dia tidak pernah mengeluh perihal apapun.  Dia selalu tersenyum menyambutku pulang.  Kalaupun kami belum dikaruniai momongan setelah setahun menikah bukan berarti dia nggak mau melayani Reza.”  Reza berusaha meyakinkan ibu mertuanya itu atas kebaikan istrinya.

Mama Aini makin tak mampu menahan kesedihan hatinya.  Reza benar-benar seseorang yang paham agama, akhlaknya terlalu mulia untuk mendapatkan perlakuan buruk Naira.  Reza adalah pakaian terbaik buat Naira, seandainya Naira menyadari itu, tentu bisikan cinta akan hadir di hatinya.

“Reza, jangan anggap mama tidak tahu apa-apa tentang rumah tangga kalian. Mama sudah mendapatkan calon untuk menjadi istri kedua kamu.  Namanya Maya.  Dia sahabat terbaik Naira sejak dia SMP hingga kuliah pun mereka selalu bersama.  Maya cantik, salihah, hafizah, lemah lembut dan halus tutur bahasanya.”

“Tidak Ma, Naira adalah jodoh yang Allah titipkan buat Reza.  Dia adalah jawaban dari sujud di sepertriga malam saya.  Kenapa Mama tidak percaya dengan anak Mama sendiri?  Baik buruknya Naira sekarang sudah menjadi bagian dari tanggung jawab Reza.  Kalau Mama menyediakan istri kedua, Reza khawatir mentalnya belum siap”

Mama Aini melepaskan pelukannya.  Reza mencium tangan orang tuanya, takzim.  Kemudian beringsut pamit dari ruang manajer personalia sekaligus ibu yang sangat ia hormati itu.    Bukankah Mama pernah menasihati kami bahwa dua insan yang salin mencintai karena Allah itu akan memasuki pintu syurga secepat kilatan cahaya?  Mama jug ayang menasihati bahwa cinta lilah itu ada dua.  Cinta pada mereka yang cinta pada Allah SWT dan cinta yang saling membimbing, mengingatkan untuk taat pada Allah?  Doakan kami, bimbing kami agar rumah tangga ini bisa kami banggakan di hadapan Allah SWT kelak.  Bisa kami banggakan di hadapan Rasulullah SAW.  Doa dan kesabaran Mama yang Reza pinta.  Segala pengorbanan ini biar Allah balasi dengan surga yang menjadi impian Reza, tempat terbaik untuk kembali.”  Lapisan sebening kaca di mata pemuda tampan itu hampir tumpah.  Namun kedewasaannya mengatasi semua kegundahan hatinya.

Mama Aini sempat menangkap beban berat kesabaran menerima sikap dan perilaku Naira selama satu tahun ini.

Tanggal lima belas tinggal menghitung hari.  Tanggal tepat setahun Reza dan Naira membina rumah tangga.  Mama Aini ingin memberikan kejutan anniversary buat mereka berdua.  Sebuah gawai merek ternama yang menjadi dambaan Naira selama ini.  Bukan hanya gawai istimewa, lebih dari itu Mama Aini menyimpan rekaman percakapannya dengan Reza di ruang manajer personalia beberapa hari lalu.

Buat Naira dan Reza tersayang

Mama dan Papa sudah makin berusia, sangat merindukan momongan, generasi penerus perjuangan para nabi dan rasul.  Semoga jalinan cinta lillah yang kalian bangun menjadi kereta kencana yang membawa kalian menghadap Allah secepat kilatan cahaya.

Cinta lillah itu:

1.    Cinta pada mereka yang mencintai Allah SWT dengan cinta sejati hamba pada penciptanya.

2.    Cinta yang menghantarkan kita untuk saling memelihara, saling mengingatkan untuk meniti jalan takwa.  Cinta yang membawa serta seseorang yang kita cintai untuk taat pada Allah SWT.

Kedua cinta di atas sangat mulia, Mama mohon kalian bisa saling memperjuangkannya, jaminan Allah adalah surgaNya.  Bukankah tidak ada yang lebih baik sebagai tempat kembali selain surga Allah?

                                                                                    Yang selalu mendoakan

                                                                                    Mama

 

            Naira dan Reza menerima kejutan dari Mama Aini sore itu.  Senja nampak sayu di batas cakrawala.  Gerimis kecil yang mendinginkan suasana, membuat nuansa romantis di lantai lima apartemen Reza.

            Reza dan naira membuka perlahan kado istimewa itu.  Kejutan pertamatak terduga di hari jadi pernikahan mereka.  Naira masih saja berwajah datar.  Entah mengapa bisikan cinta itu belum juga singgah di hatinya. 

            “Masyaallah gawai impian aku.  Mama beliin juga akhirnya.”

            Naira membuka aplikasi satu persatu dan menemukan rekaman audio.  Percakapan yang Mama Aini rekam saat Reza dipanggil di ruang personalia.

            Naira membuka rekaman percakapan itu, sementara Reza sedang menyiapkan kejutan yang kedua kalinya.  Ketulusan cinta Reza seperti oase di tengah padang pasir terik dan gersang. 

Naira membayangkan seandainya mamanya nekat melamarkan Maya untuk Reza.  Maya yang begitu sempurna itu sangat serasi bila beriringan dengan Reza.  Lalu Reza menolak?  Sungguh hanya laki-laki berhati malaikat yang bisa melakukannya.

“Mas Reza....!”  Naira berteriak sambil menangis.  Menghampiri sosok sempurna yang sedang menata meja makan buat dinner istimewa malam ini.  “Jangan tinggalkan Naira.  Naira bukan orang yang baik buat Mas Reza, tapi bimbinglah aku buat sejajar dengan sifat dan kebaikan Mas Reza.”

Reza terkesiap dengan perubahan sikap Naira.  Ia tak tahu bahwa rekaman cinta lillahnya didengar oleh wanita di hadapannya itu. 

Suara sayup Azan Magrib menyapa telinga mereka dari kejauhan.  Malam Jum’at  ini akan menjadi malam pertama mereka yang tertunda satu tahun lamanya.


 

Nubar Area_MI FAMILIA_

Kemaafan Ayah_Khadijah Hanif

 

Menikah sambil kuliah, di usia muda dan masih belum mapan secara ekonomi adalah pengalaman penuh liku.  Kenangannya menjejakkan berbagai rasa di hatiHafsah.  Nilai-nilai kesadaran ikut memperkaya khazanah batinnya.

"Ayah, mohon maaf bukan Hafsah lancang tidak melibatkan keluarga dalam pernikahan ini." Hafsah memberanikan diri memberi tahu keluarga kenapa ia memutuskan menerima pinangan Ustaz Harris.  Seorang ustaz muda aktivis kampus dalam prosesi darurat yang sangat sederhana. 

"Ayah nggak mempersoalkan apapun, yang Ayah khawatirkan justru hukum sah dan tidaknya pernikahan kamu.  Belum lagi pandangan miring keluarga dan tetangga yang tak bisa menerima alasan kamu."

Nada suaranya meninggi, menciutkan dada Hafsah yang telah dengan susah payah mengumpulkan energi buat menelpon  Pak Hasan, ayahnya.

"Ampun maaf, Ayah.  Hafsah dalam kondisi terdesak.  Issue pembunuhan dan pemerkosaan di kampus sedang marak.  Sementara Hafsah harus segera menyelesaikan penelitian Hafsah.  Salah satu perlakuan dan pengambilan datanya dilakukan malam hari, Ayah".  Hafsah berusaha memohon pengertian ayahnya di sela isak tangis yang tak terbendung.

"Kamu bisa memberitahukan dulu pada Ayah.  Bagaimana Ayah menutupi rasa malu karena omongan tetangga yang nggak mau tahu?"

“Kalau Hafsah beritahu Ayah, Hafsah khawatir Ayah marah dan nggak ngasih izin.  Sementara Hafsah perlu mahram segera, Ayah.”

Ayah menutup perbincangan tanpa memberinya kesempatan lebih lama.  Hafsah hanya bisa menahan napas dalam-dalam.  Sesak di dada mulai menggelayuti simpul-simpul hatinya dan Hafsah mulai menyerah.

***

Mendung di hatitak mampu disembunyikannya.  Saputannya menyayukan sorot mata Hafsah.

"Adik, kenapa galau begini.  Abang tahu pasti Ayahmu belum menerima keputusan kita.  Boleh aku pinjam gawainya?  Biar Abang yang mewakili Adik buat chat ke Ayah."

Hafsah memaksakan diri buat tersenyum.  "Maafkan aku Bang, tidak mampu membuat semua terlihat baik-baik saja," ucap batin Hafsah tanpa berwujud sepatah katapun

"Ayah tidak bisa kita hubungi via medsos Bang, beliau tidak biasa memegang Android."

"Baiklah, Abang akan mengirim surat buat Ayah.  Semoga keadaan ini bisa membaik.” Menghadapi kesedihan Hafsah, Harris segera mencari solusi terbaik.  Satu hal yang membuat Hafsah yakin akan cinta dan kasih sayang Harris.

"Coba baca ini, Dik."  Harris menyerahkan selembar surat.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Salam kenal, Ayah.  Semoga Ayah selalu dalam lindungan Allah, diberi umur panjang yang berkah dengan ibadah.

Mohon dimaafkan kelancangan saya melamar dan menikahi putri Ayah tanpa meminta pada Ayah.  Sandaran saya hanya petunjuk Allah dan RasulNya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh  Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ لامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ

“Tidak halal (boleh) bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir safar sejauh sehari semalam (perjalanan) dengan tanpa mahram (yang menyertainya)”. [HSR. Imam Bukhari (Fathul Baari II/566), Muslim (hal. 487)

Mohon maaf sekali lagi kelancangan saya bertujuan menyelamatkan Hafsah yang sedang mengejar target penelitiannya.  Dia pergi ke lahan percobaan tanpa mahram di waktu malam.  Saya tergerak untuk menikahinya secara agama. 

Sekali lagi mohon maaf Ayah, bukan mau menggurui tapi semata-mata terdorong keinginan menyelamatkannya.

Semoga Ayah dan keluarga memaafkan kelancangan saya ini.  Saya akan segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk nikah negara.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh

 

Hafsah baca berulang surat itu.  Surat sederhana tapi sarat makna.  Meskipun tetap hadir tanda tanya akankah Ayah menerima?

Selang beberapa hari setelah surat itu dikirim melalui POS, balasan Ayah mereka terima melalui WA Zakki, kakak Hafsah.

“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh

Terimakasih atas surat Nak Harris pada saya.  Meskipun saya anggap terlambat.  Ini Ibu, membalas surat kalian lewat wa Mas Zakki. Ayah tidak bisa membalas karena beliau sedang dirawat di rumah sakit daerah.

Beban pikiran, perasaan dan rasa malu telah membuat hipertensi Ayah tambah parah.  Beberapa hari ini Ayah dirawat di rumah sakit.  Ibu rasa kedatangan Nak Harris dan Hafsah akan mengobati tekanan batin Ayah.

Kami menunggu Nak Harris di Rumah Sakit, sebelum keadaan Ayah tambah parah.

Hafsah segera membalas chat dengan perasaan tak menentu. 

“Assalamu'alaikum, Mas Zakki, kami merasa bersalah tidak memberi tahu prosesi nikah kami.  Terus terang kami memutuskan ini dalam keadaan khawatir karena prasangka kami bahwa Ayah tidak akan memberikan restunya.  Mas Zakki tahu sendiri, beberapa lamaran sebelumnya tidak dikabulkan Ayah dengan alasan Hafsah masih harus menyelesaikan studi Hafsah. 

Dari kami yang mengaku bersalah

Harris-Hafsah”

 

“Waalaikum salam, Hafsah dan salam kenal buat Harris. Mas paham sepenuhnya keputusan Hafsah dan Harris.

Mas juga telah merasakan bagaimana Ayah mengatur pernikahan Mas tanpa mengerti kondisi hati Mas.  Sekarang Aku harus menjaga segala hal yang ada pada diri istri Mas.  Istri pilihan Ayah.  Meskipun di awalnya terlalu susah payah, Alhamdulillah Mas menikmatinya sebagai bentuk bakti pada Ayah.

Tapi kalau hal pahit itu kamu rasakan juga sebaiknya tidak.  Semoga keputusan kalian benar-keputusan terbaik di sisi Allah SWT.

Kabar kriminalitas di sekitar kampus Hafsah juga kami dengar di ini.  Pernikahan ini justru melegakan hatiku.”

Jawaban Mas Zakki seakan dinding sandaran yang mengokohkan dua lutut Hafsah yang mulai lelah menopang beban perasaan bersalah terutama pada ayahnya.

***

Memenuhi permintaan ibu, mereka berdua meninggalkan Bogor menggunakan bis antar provinsi.   Antara khawatir dan bimbang seandainya ayah menumpahkan kemarahan di rumah sakit, atau ayah memaafkan sepenuhnya apa yang telah terjadi.  Dada Hafsah berdebar-debar tiap kali ingat apa gerangan sikap keluarga yang akan mereka terima.

Perjalanan empat belas jam mereka tempuh.  Berangkat pukul delapan pagi, dan sekarang sudah jam sepuluh malam. 

Langkah mereka satu-satu, beriringan di koridor rumah sakit menuju ruang kelas VIP-Cempaka 5.  

“Assalamu’alaikum.”  Harris mengetuk pintu perlahan.  Khawatir mengganggu istirahat ayah.

Dari balik pintu muncul sosok setengah baya, berbalut jilbab rapih dan untaian tasbih di tangannya.

“Waalaikumsalam.  Hafsah, alhamdulillah akhirnya kamu pulang, Nduk!”

Hafsah menciumi kedua tangan ibunya, kemudian bersimpub mencium dua kaki sosok di hadapannya itu.

“Sudahlah Hafsah, kamu tidak bersalah.  Alhamdulillah, ini Nak Harris, bukan?”  Bu Zainab, ibu Hafsah langsung memeluk menantunya itu.  “Ibu berterima kasih Nak Harris sudah membuat Ibu tenang.  Sebelum tahu Nak Harris menikahi Hafsah ibu selalu dihantui mimpi buruk tentang Hafsah.  Berita kriminal itu sangat mengkhawatirkan Ibu.”

“Maafkan Harris ibu, Harris lancang dan tidak tahu diri meminang langsung Hafsah dan bukan meminta pada Ayah.”

“Tidak mengapa, Ayah Hafsah memang keras untuk masalah pernikahan.  Tapi Ibu setuju dengan penjelasan Harris melalui surat beberapa pekan lalu.  Dalam kondisi darurat ada beberapa hal diluar kebiasaan yang harus kita tempuh.”

“Tapi bagaimana dengan Ayah, Bu?  Bukankan pernikahan Hafsah yang sudah membuat Ayah sakit?”  tanya Harris santun.

“Ibu sudah berusaha meminta pengertian darinya, semoga Ayah bisa memahami semua yang sudah terjadi.  Beliau sedang tidur, jadi biarkan saja beliau istirahat.  Tapi tadi diperiksa dokter tekanannya udah sedikit turun.

“Alhamdulillah.  Semoga ayah lekas sembuh.”

Bu Zainab mempersilahkan anggota baru keluarganya itu masuk dan duduk di sofa.  Ruangan VIP ini lebih mirip kamar hotel.  Ber-AC, televisi flat ukuran besar, lemari pakaian dan sofa.

Harris memilih masjid rumah sakit daripada kamar rawat inap itu.  Hafsah turut di belakangnya, tidak berani menghadapi ayahnya tanpa kehadiran Harris.  Khawatir saat ayah terbangun dan mendapati Hafsah sendirian akan memicu kemarahan ayah.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  

Mereka mengambil air wudhu dan menuju masjid.  Di dalam masjid tampak seseorang yang sedang serius dengan gawainya.

“Bang, ada mas Zakki, tuh!”  Hafsah menunjuk kakak semata wayangnya.

Mereka menghampiri Zakki.  Kali ini Hafsah tidak terlalu khawatir Zakki akan menghadapinya dengan kemarahan.  Chat terakhirnya dengan Zakki justru turut menguatkannya untuk pulang menemui ayah.

Saat mereka berbincang, siluet dua orang berjalan menuju masjid rumah sakit.  Satu orang pria berusia enam puluhan duduk di kursi roda.  Sementara wanita di belakangnya mendorong kursi roda itu.

“Hafsah, Harris, ini Ayah, Nak, menunggu kalian datang.  Ayah nggak marah, Ayah hanya ingin kalian datang.  Ayah khawatir kehilangan Hafsah, anak perempuan satu-satunya yang Ayah punya.”  Ayah menumpahkan perasaannya di pintu masjid.  Hafsah dan Haris segera menyambut ayah dengan segenap rasa kesyukuran.  Mereka bertiga saling memeluk dan sujud di kaki sang ayah.  Keharuan begitu kental menyelimuti suasana malam itu. 

“Besok ayah sudah boleh pulang.  Tadi dokter jaga memeriksa ayah dan tekanan darahnya udah normal, “ kata ibu menjelaskan keadaan ayah.

“Besok kita adakan syukuran sederhana dengan tetangga dan saudara dekat buat menyambut kehadiran Nak Harris yang sudah resmi jadi anggota keluarga kita.  Semoga dengan syukuran ini mereka bisa turut faham hukum agama kita.  Tidak asal menilai atau mencap orang lain tanpa tahu dasar hukumnya,” ucap Pak Hasan disambut senyuman lebar semua anggota lengkap keluarganya.

“Terimakasih Ayah sudah mau memaafkan Harris.  Padahal saya udah lancang mengambil Hafsah jadi istri saya.”

“Saya justru berterimakasih berkat kehadiran Nak Harris, penelitian Hafsah berjalan lancar.  Lagi pula isu kriminalitas sekitar kampus tempat Hafsah menempuh pendidikan sangat meresahkan kami.  Terutama ibunya Hafsah.

Suasana cair itu makin membahagiakan hati semua anggota keluarga Pak Hasan.  Keluarga yang utuh, penuh pengertian dan saling mendukung satu sama lain. 


 

NUBAR AREA SUMATRA_ASA DAN CINTA BUAT TASYA_

ADA CINTA DI TIAP AKSARA

Khadijah Hanif

 

“Assalamualaikum, Dian.  Apa kabar?  Aku mau titip Tasya buat tinggal di pesantren tempat kamu ngabdi.  Bisa nggak?  Tasya sekarang udah lulus dari SMP, sambil menunggutahun ajaran baru, boleh aku titip Tasya belajar agama di tempat kamu?”  Aku tatap jejeran huruf di gawaiku.  Mbak Novi saudara sepupuku tiba-tiba menghubungiku via chat wa.  Ada rasa bersalah menjalar di ruang hatiku.  Betapa jarangnya aku menyapa mereka meskipun kami berada dalam grup yang sama, Kelurga Besar Subagya.

“Waalaikumsalam, Mbak, Alhamdulillah kami baik-baik semua.  Semoga Mbak Novi juga begitu.  Aduh... maafin aku yang jarang kontek ke Mbak Novi.  Aku jarang pegang gawai.  Soalnya aku sedang sibuk mengurus proyek workshop di pesantren.  Tasya itu putri pertama Mbak Novi, ya?  Pasti dia udah besar dan cantik seperti bundanya.”

“Alhamdulillah Tasya banyak punya sifat baik secarasosial ke orang lain, kecuali sama aku.  Kami seperti Tom and Jerry.  Kalau aku naik satu kalimat dia bisa tiga empat kalimat.  Di depan aku dia selalu terlihat penuh kekurangan.  Sukanya rebahan, males-malesan, nggak bisa kerja-kerja rumah.  Yang dia urusin masalah dunia terus.  Main, belanja, belum bisa baca Alquran dan salat.  Entah apa yang membuatnya jadi seperti ini.  Mungkin trauma masa kecilnya dengan Mas Angga.”

Rasa bersalah ini makin pekat, aku biarkan kerabatku sendiri jauh dari agama.  Sementara di sini aku mendidik dan mengasuh banyak remaja dari berbagai daerah di Indonesia.  Aku juga sadar bahwa selama ini kurang memperhatikan keluarga.  Derasnya interaksi sosial melalui media kurang aku manfaatkan untuk saling berbagi kasih, menebar manfaat dan berkat. 

Kabar terbaru tentang Mbak Novi aku dapat dari Mamah.  Mbak Novi bercerai untuk yang kedua kalinya dan pernikahan terakhirnya dengan seorang pengusaha sukses. 

Meskipun aku jarang menghubunginya lewat gawai, Mbak Novi sesekali datang ke pesantren untuk mencurahkan segala penderitaan hidup yang sering kali tak mampu ia pikul sendiri.  Jarak yang membuat kami jarang bertemu.  Bahkan momentum lebaran pun tidak selalu membuat kami bisa saling bertemu.

***

Enam tahun yang silam Mbak Novi datang ke rumahku, di bawah guyuran hujan deras yang menguyupi tubuh mungilnya.  Tasya ikut serta.  Dari tatap matanya, tampaknya memendam rasa takut yang dalam.

“Aku nggak kuat lagi Dian, ternyata Mas Angga menyiksa Tasya di belakangku.  Aku nggak terima perlakuan dia.”

“Sabar, Mbak.  Allah pasti menyediakan hiburan setelah kesedihan ini berlalu.”  Aku mengambilkan handuk dan baju gamis untuk mereka. “Mbak dan Tasya mandi dulu, ganti pakaian dan kita minum jahe hangat bersama di ruang tamu.”

Kami melanjutkan perbincangan yang turut melecutkan rasa trenyuhku pada penderitaan dua wanita ayu di depanku ini.  Mas Bagas, suamiku turut serta dalam perbincangan kami.

“Aku memutuskan untuk cerai dari Mas Angga.  Lihat ini telinga Tasya, infeksi setelah dipukul ayah tirinya.”  Mbak Novi memperlihatkan telinga Tasya yang mengeluarkan cairan bening bersaput warna merah muda.

“Tasya, kamu pusing ya?” tanya Mas Bagas mencoba turut merasakan apa yang diderita Tasya. 

“Nggak, Ami.”  Tasya menjawab pendek sambil bersandar di pundak bundanya.

“Tapi badan kamu hangat.  Ayo istirahat dulu.”  Aku menyentuhkan telapak tanganku di keningnya.  Aku raih tangannya dan kutuntun menuju kamar istirahat yang kusiapkan buat mereka.  Mbak Novi mengikuti kami ke kamar istirahat.  

Perbincangan berlanjut tanpa kehadiran Mas Bagas yang kami tinggalkan sendiri di ruang tamu.

“Tiga tahun pernikahanku dengan Mas Angga membuat aku merasa bersalah sama Tasya.  Ia tumbuh menjadi gadis pemberontak.  Di depan Mas Angga dia diliputi ketakutan, menjadi sosok anak penurut.  Sementara di depanku, saat kami hanya berdua, dia selalu melawan.  Dia memendam ketakutannya sendiri selama tiga tahun.  Sampai aku melihat di depan batang hidungku, Mas Angga memukul Tasya hanya karena dia terlambat membawakan rokok untuknya.  Lihat bekas-bekas luka ini.”  Mbak Novi menyingkap kaki Tasya yang sedang pulas dengan balutan selimut.  “Belum lagi cubitan, tendangan dan berbagai suruhan yang harusnya dikerjakan orang dewasa.  Pernah Tasya disuruh memindahkan air panas satu panci penuh dalam keadaan mendidih.  Sejak pemukulan itu aku korek semua tentang perlakuan Mas Angga ke Tasya.”

Aku miris melihat tanda-tanda bekas luka sundutan rokok itu.   Banyangan derita Tasya berkelebat dalam benakku, memaksa butiran bening di sudut mataku mengalir.  Anak sekecil Tasya  di usia sembilan tahun harus mengalami hal perlakuan kejam di luar nalar kemanusiaan.

Kabar perceraian Mbak Novi dengan Mas Angga menjadi kabar baik buat keluarga besar kami.  Setidaknya harapan akan nasib baik dan masa depan Tasya kembali berbinar setelah mereka lepas dari Mas Angga.

***

“Ummi, kenapa ngalamun?”  Suara lembut Mas Bagas membuyarkan ingatanku tentang Mbak Novi dan Tasya. “Ada tamu istimewa, tuh.  Mbak Novi, Mas Sofyan, Tasya sama anak bungsu mereka, Naira.”

“Masyaallah, beneran, Mas?”  Aku tersentak.  Diskusi kami tentang Tasya menuju pada satu titik yang sama, Tasya tinggal di rumah kami dan tidak melibatkan pengasuhan di pesantren.  Alasannya karena tidak ada pelayanan untuk santri yang tinggal sementara.  Semua harus setingkat SMP dan SMA.  Aku akan bisa membimbingnya di sela-sela tugas mengajar.

Aku segera menemui mereka di ruang tamu.  Aku peluk Mbak Novi, Tasya dan Naira.  Wajah-wajah mereka nampak ceria.  Sangat berbeda dari keadaan mereka enam tahun silam.  Memakai stelan gamis syari lengkap dengan penutup muka, aku seakan berhadapan dengan sosok manusia baru yang tak kukenal.  Tasya sudah mau berhijab.

“Dian, Bagas, kenalin ini Mas Sofyan.  Dia keajaiban yang hadir untuk keluarga kami.  Berkat bimbingannya, kesabaran dan kasih sayangnya yang tulus, kami bersepakat untuk hijrah bersama-sama.”  Mbak Novi menampakkan kebahagiaannya di depan suami ketiganya.  Aku dapat merasakan kebaikan dari Mas Sofyan baik dari segi sikap maupun penampilannya.  Aku turut bersyukur.

Pesan terakhir Mbak Novi sebelum mereka pulang, aku diharapkan bisa membimbing Tasya dalam membaca Alquran, bacaan salat, taharah, akhlak dan juga kerja-kerja di rumah. 

Hari itu juga Tasya langsung tinggal di rumah kami.  Rumah yang jauh lebih kecil daripada rumah mereka di Surabaya.  Tampaknya Tasya tidak begitu kesulitan beradaptasi di lingkungan barunya.  Ia pun cepat akrab dengan kami juga dengan santriat di asrama

Aku mulai memikirkan langkah yang harus kulakukan dalam membimbing Tasya.  Satu kata kunci, bahwa aku harus menghadirkan cinta pada keponakanku ini.  Bayangan akan derita masa lalu Tasya lalu membuatku merasa wajib membayar semua hak Tasya yang tertunda.  Ditinggal pergi ayah kandung saat baru berusia dua bulan dan hingga kini belum berjumpa ayah kandungnya.  Yang dia tahu ayahnya sudah meninggal.  Derita itu makin sempurna dengan kehadir ayah tirinya, Mas Angga. 

Perlahan namun pasti rasa sayang ini memenuhi ruang rasa.  Aku harus selamatkan Tasya.

“Tasya, coba kamu baca Alquran ini, Amah pingin tahu bacaan Tasya.”

Tasya menuruti suruhanku.  Surat Fatihah dibacanya lancar tapi mahrajul hurufnya berantakan.  Memasuki surat Albaqarah, Tasya mengeja satu-satu huruf  dengan sebutan yang salah.  Apalagi tajwidnya sangat jauh dari baik dan benar.  Aku menghela napas panjang.

“Tasya, kamu pernah belajar iqra?”

“Pernah Amah.  Tapi baru sampai iqra tiga.  Itu pun nggak tamat.”

Aku segera meraih jajaran buku iqra di rak buku yang biasa dipakai membimbing anak diniyah.  Aku segera membuka iqra tiga dan meminta Tasya untuk membacanya.

Huruf demi huruf diejanya dengan sabar sesuai petunjukku.  Sesekali aku membenahi tempat keluarnya huruf atau nama huruf yang tertukar.  Aku mencoba menyempatkan waktu tiap lepas salat lima waktu.

“Tasya, selain menyelesaikan target baca iqra, Tasya juga harus belajar hal yang terkait ibadah.  Mulai dari taharah, berwudu, salat.  Pokoknya banyak hal yang Tasya harus pelajari.  Tapi jangan khawatir.  Tasya pasti bakalan bisa.  Yang penting Tasya bisa baca Quran dulu.”

“Iya, Amah.  Tasya pingin bisa seperti Naira.  Dia sudah mau masuk pesantren sejak usia SD.  Sekarang dia udah bisa banyak hal.  Tasya ketinggalan banyak.  Tasya juga pingin bisa jadi kebanggaan bunda seperti Naira. Selama ini aku dan bunda lebih banyak ributnya ketimbang damainya.  Kasihan bunda sering nangis gara-gara aku.”

Aku belai rambut Tasya.  Ternyata rasa cinta dan kasih sayang itu anugerah Allah yang tiada taranya.  Bisa membuat hambaNya berhijah untuk terus memperbaiki diri.

Aksara demi aksara makin mengakrabkan aku dengan Tasya.  Tiap memasuki lembar baru, aku selipkan doa buat Tasya, semoga apa yang aku sampaikan bisa dia serap dan dia pahami dengan baik.  Dalam waktu kurang dari sebulan Tasya sudah masuk ke bagian ebta iqra enam. 

Aku merasa beruntung sebagai pembimbingnya, dia sangat penurut.  Jauh dari apa yang Mbak Novi ceritakan padaku.  Sepertinya ada pola asuh yang kurang tepat antara Mbak Novi dan Tasya.  Tasya hanya membutuhkan penghargaan, sanjungan dan pujian saat dia mau berbuat baik.  Itulah yang membuatnya merasa dibutuhkan. 

Dia bukan gadis yang pemalas di depanku.  Kadang-kadang dia bisa bangun malam lebih awal buat salat Tahajud.

“Tasya, Amah rasa kamu anak yang sangat rajin.  Tapi kenapa di depan bunda kamu dianggap pemalas?’

Tasya tidak segera menjawab, ia diam sejenak, “Habisnya bunda selalu curigain aku.  Kata bunda, Tasya rajin kalau ada maunya.  Terus bunda ngeluarin uang saku tambahan buat Tasya.  Padahal aku mbantuin bunda karena kasihan sama bunda yang banyak kerjaan.  Terus kalau beberes atau nyuci selalu ada yang disalahin bunda.  Kurang rapih, kurang bersih, ngilangin arsip.”  Tasya mengeluarkan semua unek-unek di hatinya.  “Seperinya bunda nggak sayang Tasya,” imbuhnya.

“Nggak gitu Tasya, bunda hanya ingin anak gadisnya tumbuh sempurna.  Itu karena saking sayangnya.  Mana mau bunda membesarkan kalian berdua seorang diri saat ayah kalian meninggalkan bunda.  Tapi bunda tetap kuat dan tegar mengorbankan waktu, tenaga, pikiran supaya kalian tumbuh besar.”

Tasya tersenyum lebar tanda dia setuju dengan pendapatku.  Aku raih tubuh langsingnya, aku memeluknya erat.  “Dalam satu bulan ini tasya harus tunjukkan bahwa Tasya bisa jadi kebanggaan bunda, okey?”

“Siap Amah, Tasya janji.”

***

Siang ini aku dan Mas Bagas ingin memberi hadiah ulang tahun buat Tasya.  Kami sepakat untuk menghadiahi Tasya beberapa buah buku.  Satu buku kisah inspiratif dan dua buku keagamaan untuk membangun kesadaran perubahan akhlak Tasya.  .

Mataku tertambat pada beberapa deretan buku salah satunya tentang realitas takdir karya Syeikh Abdul Qadir jaelani. Untuk kisah inspiratif ada beberapa buku antologiku terbitan Nubar Area yang aku hadiahan buat Tasya, juga novel pertamaku yang berjudul Talbiyah Cinta dari Kampung Naga.

“Tasya, Amah rasa kamu punya banyak waktu luang di sini apalagi Tasya udah bisa baca Quran sendiri.  Ini ada beberapa buku.  Tugas Tasya menyelesaikan buku ini dalam satu pekan ini.  Tasya sanggup?”

“Insyaallah, Amah.  Makasih udah kasih Tasya hadiah ulang tahun,” ungkap Tasya dengan mata berbinar,”selama ini Tasya nggak pernah dapat hadiah ulang tahun,”lanjutnya.

Sebenarnya aku juga tidak pernah mengkhususkan hari ulang tahun sebagai hari istimewa.  Tapi aku butuh momentum yang tepat untuk menyentuh hati Tasya.  Untuk membuat Tasya yakin bahwa ada cinta buat dia.

“Amah punya nasihat baik buat Tasya, 

خَيْرُ جَلِيْسٍ فيِ الزَّمَانِ كِتَابٌ

   Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah buku.  Kalau Tasya pingin punya teman baik, banyaklah membaca.”

            Target membaca tiga buku dalam sepekan ini bisa terlewati dengan baik.  Sebenarnya Tasya anak yang cukup cerdas dan cekatan.  Saat aku sibuk di asrama dan kelas, Tasya selalu mengerjakan kerja-kerja rumah.  Menyapu, mengepel lantai, mencuci piring, bahkan menyeterika.

            “Tasya, jangan semua kerja rumah kamu selesaiin.  Nanti Amah bakal kehilangan banget saat kamu harus pulang ke Surabaya,” tegurku suatu hari.

            “Amah nggak boleh ngelarang Tasya.  Kan, amanah bunda, Tasya harus pandai mengurus rumah?”  Derai tawa menyegarkan hari-hari kami.

            “Amah, Tasya udah selesai baca bukunya.  Boleh Tasya minjem buku lagi?  Tasya suka buku kisah inspiratifnya.  Apa lagi ada tulisan Amah, Tasya jadi bangga dan pingin bisa nulis seperti Amah,” ungkap Tasya melambungkan rasa ketersanjunganku.

            “Masyaallah, tentu boleh Tasya.  Amah masih ada tiga puluh buku antologi dari berbagai penerbit.  Tapi ada syaratnya.”  Aku mengambil kertas format review selama aku menjadi perintis literasi di pesantren.  Ada tugas tambahan buat Tasya selain membaca yaitu membuat review.

            “Wah, aku harus mereview buku yang aku baca?  Aku belum pernah melakukan ini, Amah.  Apa aku bakalan bisa?”  Tasya menatapku polos.

            Kuambil contoh review karya beberapa santri yang mengikuti kegiatan literasi.  Format Fishbone, Aih dan Y-Chart aku jelaskan satu persatu.  Tasya mendengar dengan penuh perhatian, kemudian menyatakan kesanggupannya.

            “Ini buku antologi Amah dan ini format reviewnya.”  Tantangan kedua buat Tasya aku berikan. 

            “Banyak banget Amah!”  Mata Tasya terbeliak dengan hadiah buku yang aku berikan.

            “Ini baru sedikit Tasya, doain Amah bisa terus produktif nulisnya.  Amah masih punya cita-cita buat nerbitin buku  best seller.”

            “Apa buku best seller itu, Amah?

            Sebuah buku itu sedang laris, dicari banyak orang, telah dibaca banyak manusia, terbukti dari hasil penjualannya yang tinggi.”

            “Kalau gitu aku juga mau ngikutin jejak Amah.”

            “Langkah pertamanya, Tasya harus banyak membaca dan mau buat mulai menulis.”

            Tasya begitu antusias menyambut tugas-tugas dariku.  Aku berharap Tasya bisa meraih asanya sekaligus menemukan cinta dari ayah kandungnya yang hingga saat ini belum juga menemuinya. 


 

NUBAR AREA_OASIS FEBRUARI

CINTA PUTIH SYAKILLA

Oleh: Khadijah Hanif

 

Siang ini udara panas menuntun Syakilla menuju kantin sekolah.  Kantin yang ditata artistik bernuansa bambu.  Syakilla yang hobi desain ikut menyumbangkan ide interior kantin.  Rumah panggung khas etnik Sunda. Sekeliling dinding saung dibiarkan terbuka.  Suasana asri sekitar saung terlihat jelas dari dalam saung, menambah nyaman para pengunjung.

"Baso setengah porsi sama juz jeruk.  Banyakin esnya, ya, Teh," pesan Syakilla pada penjaga kantin.

Syakilla mencari posisi di tepi saung, sambil menikmati bunga berwarna-warni yang ditanamnya bersama anak-anak.  Ada Anyelir, Krisan dan begonia.

Seperti biasa Syakilla tidak pernah melepas tab sebesar buku.  Ia siap mengamati siapapun yang menunjukkan gejala tidak atau kurang wajar kemudian menulisnya.  Sebagai lulusan S1 bimbingan konseling (BK), tiga bulan lalu, semua pemahamannya tentang BK masih hangat tersimpan di labirin memorinya.  Kemudian ia tuangkan dalam rencana konseling yang harus dipersiapkannya tiap hari.

"Menyendiri, murung, tidak bergabung dengan teman yang lain.  Wajahnya lesu, makanan dan minuman yang dipesannya hanya dimainin, disentuh beberapa suap untuk kemudian meninggalkan kantin.  Langkahnya terlalu cepat dibanding dengan orang lain.

Namanya Lutfia, kelas 8D."  Syakilla membuka format jurnal hariannya, mencatat gejala yang diamati calon konseli individunya.  Kali ini bertengger nama Lutfia.  Gadis yang menarik perhatian selama ia menikmati hidangan di kantin.

Syakilla menuju kasir untuk membayar semua pesanannya.  "Teh, saya minta tolong bungkusin makanan dan juz di meja nomor tujuh.  Oya, apakah siswa yang memesan makanan itu sudah bayar?" tanya Syakilla penasaran.

"Siap, Bu.  Tapi buat apa makanan sisa siswa dibungkus?" Teh Bibah balik bertanya keheranan.

"Ceritanya panjang.  Lain kali kita ngobrol banyak.  Tapi Teh Bibah nggak akan pernah puas dengan cerita saya.  Jadi guru BK itu harus pandai menyimpan rahasia siswanya.  Teteh, mah, ditanya balik nanya.  Makanan itu udah dibayar belum?”  Syakilla terpaksa mengeluarkan nada tegas meninggi.

Bibah mengecek semua pembayaran hari ini.  Meja tujuh belum ada yang membayarnya siang ini.  Kalaupun ada yang pesan sebelum bel sekolah mulai.

"Waduh, kenapa itu anak sampai lupa bayar, ya?  Kalau ada sepuluh orang aja kayak gini, bisa bangkrut kantin sekolah.  Harus ada yang mengawasi pelanggan, Teh!"  Syakilla sebagai salah satu tim pengelolaan unit usaha sekolah mengingatkan penjaga kantin.  "Kita harus buat rapat evaluasi segara," tegas Syakilla.  Kepalanya tiba-tiba merasa berat.  Ada dua masalah yang harus diselesaikannya.  Problem yang dihadapi siswa juga unit usaha.

"Ibu, kenapa bengong.  Total pesanan di meja tujuh, tiga puluh ribu."Tanpa pikir panjang Syakilla membayar semuanya.

"Atuh Bu...kenapa Ibu yang bayar.  Biar aja kami yang nagih ke Lutfia."

"Nggak papa, sekalian saya panggil dia buat ngasih bungkusan makanan ini.  Sayang, kan, mubazir."   Syakilla menyerahkan uang lembaran seratus ribu. "Udah kembaliannya buat Teteh aja, saya habis dapet bonus dari papah."

"Ya Allah, Bu, makasih banyak. Tapi saya izin infak ibu saya masukin kepemasukan unit usaha boleh?"

"Jangan, saya ngasih buat Teh Bibah, tapi terserah Teteh itu udah jadi hak Teteh," ungkap Syakilla ringan sambil menjinjing bungkusan buat Lutfia.

Tiga jam setelah istirahat pertama ada waktu  untuk mempersiapkan rencana konseling pribadi buat Luthfia.  Konseli yang menggelitik hati untuk dipecahkan permasalahannya.Jam istirahat kedua menjadi terasa lama.

Cara Syakilla memecahkan masalah siswanya memang cukup unik, ia memprioritaskan konseling pribadi berdasarkan tingkat kesulitan dan juga hari istimewa calon konselinya.  Misalnya bulan ulang tahun siswa yang bersangkutan.  Biasanya momen khusus sangat membantu konselinya menemukan titik balik untuk memecahkan masalahnya sendiri.

Syakillah membuka data siswa di laptopnya, Lutfia, 15 Februari 2007.  Senyuman mengembang di wajah ayunya.  Melalui wali kelas 8D ia memanggil Lutfia.

Waktu untuk konseling individu hanya jam istirahat dan pulang sekolah.  Sedangkan konseling klasikal sudah terjadwal dari wakil kepala sekolah urusan kurikulum.

"Assalamu'alaikum.  Ibu memanggil saya?" tanya sosok tinggi semampai berseragam putih biru, berhijab rapih.  Siapa lagi kalau bukan Lutfia.  Siswa yang sejak tadi ditunggunya.

"Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah, dari tadi ibu tungguin kamu."

Lutfia segera duduk setelah dipersilahkan Syakilla. Dua gadis berjeda delapan tahun itu seperti adik kakak.

"Kamu ketinggalan ini di kantin sekolah tadi pagi.  Ibu mohon habiskan makanan sama minuman yang udah kamu pesan.  Nggak baik menyia-nyiakan rezeki minallah"

"Masya Allah, ibu, saya lupa belum bayar makanan ini.  Saya pamit ke kantin dulu ya Bu.  Saya segera kemari khawatir lupa lagi."

"Tenang aja Lutfia, ibu udah membayar semuanya."

Lutfia mengurungkan niatnya menuju kantin.  Ada rasa malu sekaligus terima kasih pada  bu guru cantik di depannya itu.

"Biar Fia ganti uang Ibu."  Gadis itu berusaha mencari uang di dompet, tas, hingga saku bajunya.  Namun nihil. Syakilla melihat Lutfia sibuk mencari meskipun sudah berulang kali ia melarangnya,  Lutfia seakan mencari sesuatu yang ia tahu tidak ada.

Lutfia kembali duduk tenang setelah Syakilla mengembalikan konsentrasinya pada pertemuan siang itu.

Ruang konseling yang luasnya lima kali empat meter itu makin terasa sempit buat Lutfia. Nuansa hijau dan aroma therapy pengharum ruangan tak sedikit pun membuat kegelisahannya berkurang.

Syakilla memberikan segelas air hangat untuk menenangkan konselinya."Fia, ibu mau tahu siapa temen deket kamu di sekolah ini?"

Fia diam dan menggelengkan kepala."Dulu aku punya tapi sekarang tidak lagi.  Mereka hanya dekat saat aku punya uang atau makanan.  Mereka hanya mau senangnya aja."

"Memang Fia nggak punya uang sekarang?"

Belum selesai perbincangan mereka, dari luar ruangan seseorang mencari Lutfia dengan nada amarah

"Itu suara ayah.  Ibu tolongin aku, aku nggak mau pindah dari sekolah ini."  Ekspresi wajah Lutfia diselimuti rasa takut yang mendalam.

Syakilla keluar ruangan, menemui ayah Lutfia."Bapak, sabar dulu.  Kurang baik bila permasalahan  keluarga diketahui semua warga sekolah.  Apapun permasalahannya, pasti Allah sediakan solusinya. Sekecil apapun yang bisa saya lakukan, saya akan berusaha meringankan beban Bapak."

"Jangan sok jadi malaikat, Bu.  Di zaman serba gila ini saya sudah puas menjadi mangsa sesama manusia yang buas menerkam saudaranya.  Kebuasan ini harus dihadapi dengan kebuasan atau kita tertindas selamanya."

"Saya bukan  malaikat atau sok mau jadi malaikat, Pak. Tapi saya hanya ingin menjadi jalan rahmat Allah bagi siapa saja semampu yang Allah berikan pada saya.”

Syakilla berusaha mencegah pertengkaran di ruangnya.  Hatinya diliputi doa penuh cinta pada sesamanya. "Bihaqi Rasulillah SAW, Ya Allah izinkan aku menyampaikan pesan rahmat-Mu. Ringankan lisanku, lembutkan hati lawan bicaraku." Syakira terus berdoa lisannya tak henti menyebutkan asma-Nya, Allathif Arrahman, Arrahiim.

“Sebaiknya kita berbicara dan berusaha memecahkan masalah kita bersama, ya, Pak?”  Suara Syakilla melembut.

Pak Juanda, sosok berusia enam puluhan itu mulai menurunkan ketegangan di raut wajahnya. "Saya sudah lima bulan kehilangan usaha. Dua bulan issue covid-19 menghabiskan pelanggan rumah makan kami.  Modal dan aset yang kami punya dibawa lari orang kepercayaan kami. Ada seseorang yang mau menolong kami dengan catatan Lutfia harus tinggal bersamanya.  Pak Galang, rekan bisnis kami, orang itu satu-satunya yang mau menolong kami."  Tiba-tiba saja Pak Juanda mengungkap permasalahan yang dialaminya. "Solusi apa yang ibu tawarkan buat kami sekeluarga?" tantang Psk Juanda tanpa rasa sungkan.

"Baru saja Bapak bilang semua tega makan sesamanya.  Apakah Bapak nggak khawatir dengan nasib Fia? Bukankah Lutfia jadi barang jaminan untuk bantuan yang ditawarkan Pak Galang?

Mungkin untuk sementara masalah ekonomi keluarga akan terselesaikan tapi ingat masalah kejiwaan Lutfia, Pak.  Jiwa lebih berharga dari harta.  Kalau jiwa dan hati terluka bagaimana kita Meu memperbaikinya?

"Tapi kesediaan Lutfia akan menyelamatkan lima anggota keluarga kami."

"Dengan memutuskan masa depan Lutfia? Membuatnya menangis tiap hari?  Lutfia sudah menyatakan keberatannya. Apa itu tidak cukup membuat Bapak iba?"

"Terus saya harus bagaimana? Semua jalan buntu. Hutang saya makin banyak."

"Wastainu bisshobri washsholaah.  Allah menyediakan solusi untuk tiap masalah yang hadir."

"Dulu saat kami dalam limpahan nikmat, saya salat tapi sejak musibah penipuan itu, saya merasa tak ada gunanya salat.  Saya merasa Tuhan tidak lagi mau mendengar doa atau menerima ibadah saya."

“Bapak sudah berburuk sangka sama Tuhan.  Padahal permasalahan Bapak sebentar lagi akan terselesaikan.”

“Maksud Bu Syakilla?”

Belakangan ini ayah saya meminta tolong sama saya untuk mencari pengelola toko kami di kota ini.  Syaratnya orangnya harus berpengalaman dalam bidang wirausaha dan harus mendirikan salat lima waktu.  Saya rasa Bapak adalah orang yang tepat.  Saya akan berusaha meyakinkan ayah saya.”

Pak Juanda hanya bisa terbengong-bengong dengan tawaran solusi Syakilla.  Ada rasa malu, sekaligus bersyukur.  Malu atas dosa hatinya yang telah berburuk sangka pada Allah.  Bersyukur atas kesempatan yang Allah datangkan melalui Syakilla.  Kesempatan untuk kembali bersujud pada Yang Mahakuasa.

Berulang kali Pak Juanda berterimakasih dan meminta maaf telah mendatangi sekolah ini dengan jumawa, tanpa adab dan akhlak kesopanan.

“Bapak tidak perlu berterima kasih pada saya, pujian dan kesyukuran hanya hak Allah.  Sudah menjadi kewajiban setiap umat Islam untuk mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.  Jadi semua yang saya sampaikan semata-mata karena rahmat-Nya.  Jawaban Allah atas ibadah ikhlas Bapak sebelum Bapak berputus asa.”

Lutfia mengikuti perkembangan nasib dirinya dalam perbincangan itu.  Dua insan yang turut menjadi jalan untuk lepas dari cengkeraman Om Galang.  Cinta Syakilla seakan Oasis di padang gersang.  Di ulang tahunnya yang ke-16 di bulan Februari ini, uluran tangan Syakilla adalah hadiah terindah di sepanjang langkah hidupnya.


 

KESETIAAN_AKU TETAP MENUNGGU

Khadijah Hanif

 

            Mungkin kami adalah generasi aneh yang masih tersisa di zaman ini.  Zaman di mana semua koneksi manusia begitu mudah dan terfasilitasi teknologi.  Atau, sebagian orang akan menilai aku dan istriku sebagai orang ‘kuper’, kurang pergaulan dan ketinggalan zaman.  Ya, betapa tidak, kami belum pernah mengenal satu sama lain.  Tiba-tiba kami dipertemukan dengan takdir Allah SWT dalam satu ikatan pernikahan.

            “Gila kamu, Zein. Kamu terima perjodohan ini begitu saja?  Taaruf itu penting.  Kamu dan istri kamu memang aku akui orang saleh di zaman edan ini.  Tapi menikah itu bukan main-main.  Kalau bisa sekali buat selamanya?”  Irfan, sahabat dekatku tiba-tiba mencak-mencak mendengar aku memutuskan menikahi Liana.  Seorang gadis penghafal Alquran yang menghabiskan usianya dari satu pesantren ke pesantren lain.

            “Aku memang gila, Irfan, tapi lebih baik gila tapi benar daripada waras tapi salah,” tukasku santai.  Irfan terdiam dan tidak melanjutkan protesnya.  “Aku tahu risiko yang bakal aku hadapi, doakan aja aku siap menghadapi semuanya.  Aku yakin setiap takdir yang hadir ada hikmahnya.”

            Di malam pertama, semua terasa begitu gamang.  Tidak semudah kisah Ayat-Ayat Cinta.  Untuk bicara berdua pun kami saling segan.

            “Amu sudah siap buat punya momongan?” tanyaku hati-hati.  Aku memilihkan panggilan sederhana yang bisa mewakili rasa sayangku pada Liana, aku cinta kamu. 

            Ada rona merah di wajahnya. “Belum, Kak.  Aku ingin menyelesaikan tugas kuliah dan organisasi di kampus.  Maafin aku, ya, Kak.”  Suara berat Liana berselaput rasa bersalah yang sepenuhnya aku maklumi.  Alasan ini pula yang membuatku takut untuk menyentuhnya lebih dalam.

Pekan awal pernikahan kami, semua terasa baik-baik saja.  Liana bersikap manis dan menuruti apa yang menjadi ajakanku.

            “Amu, kita belanja, yuk!” pintaku suatu sore.

“Belanja apa, Kak?  Bukannya di kulkas masih banyak persediaan makanan?” Liana menatapku dengan balutan senyum manis di wajahnya.

“Kakak mau membeli baju tidur buat kita berdua.”

“Oh, iya atuh.  Tunggu sebentar aku siap-siap dulu.”  Liana mematut diri di kamar.  Ada beberapa kosmetik yang dia pakai.

“Amu, kita hanya sebentar.  Ngapain dandan berlama-lama?”

Raut muka Liana berubah seketika.  Kucoba meraba perasaannya dan kemudian meminta maaf.  Aku harus mengatur ritme kebiasaanku yang serba cepat saat belum menikah.  Kini aku tidak sendiri mengayun langkah.  Ada Liana yang tidak boleh tertinggal di belakang.  Dia adalah pendamping yang harus ada di sampingku.

Awal yang berat buat kami saling memahami.  Dalam pengamatanku, Liana seorang wanita yang serba rapi dan perfeksionis memerhatikan penampilannya.  Dia tidak akan membiarkan sedikit pun noda di gamis atau jilbabnya.  Sementara aku, cenderung cuek dan ala kadarnya.  Baju yang aku pakai kadang bisa bertahan tiga hari di gantungan.  Tidak seperti Liana yang tiap hari berganti pakaian.  Aku kadang menilai ia boros dalam memelihara pakaiannya, sabun, pewangi, pelicin, semua harus tersedia.  Banyak perbedaan di antara kami.

“Amu, Kakak pingin makan di luar malam ini.”  Malam Ahad ini genap sepekan pernikahan kami.

Perubahan drastis aku rasakan pada sikap Liana.  Dia hanya menggeleng dengan seutas senyum tipis yang berkesan dipaksakan. 

Liana tiba-tiba terlihat menjadi wanita pemalas.  Tiap aku pulang kantor, Liana sedang rebahan di atas dipan.  Dia tidak lagi menyambutku dan mencium tanganku.  Begitu pun saat aku mau berangkat kerja, tidak ada sarapan yang tersedia di atas meja.

“Boleh Kakak tahu apa yang menjadi beban pikiran atau perasaan Amu?” tanyaku kebingungan sendiri.

“Nggak apa-apa, Kak.”  Liana menjawab singkat

Tiba-tiba rumah kami menjadi kuburan, sepi.  Pertanyaanku hanya dijawab beberapa patah kata.  Ya dan tidak atau bahkan hanya anggukan atau gelengan.  Ada kalanya aku merasa dianggap seperti patung saat aku tak sempat melihat anggukan dan gelengannya.

Saat kami berdua di kamar, aku tak henti-hentinya berusaha menyentuhnya.  Tapi belum juga tanganku sampai, tubuh Liana terlihat kaku dan ingin menolakku.  Aku mengurungkan niatku.  Tak jarang dia membuat jarak bahkan membelakangiku.  Ya Tuhan, bukankah dia tahu agama dan belajar bagaimana bersikap pada suami?  Aku tak habis pikir, apa yang menyebabkan ini semua?

Keadaan ini tidak berlangsung singkat.  Aku selalu berharap Liana akan kembali bersikap manis sebagaimana pekan awal kami menikah.  Akan tetapi harapanku tak kunjung hadir.  Satu bulan, dua bulan, bahkan enam bulan sikapnya belum juga membaik.

Di tengah kebingungan yang mendera, aku berusaha menuruti apa yang menjadi keinginan hatinya.

“Kak, kegiatan kampus memerlukan keberadaanku di tengah anak-anak.  Aku minta izin kembali ke asrama kampus.”  Liana akhirnya bicara juga, meskipun dengan nada datar.  Terus terang aku keberatan dengan permintaannya yang satu ini.  Aku tahu Liana dekat dengan seseorang di kampusnya.

“Kita baru saja menikah, jalinan hubungan kita dingin-dingin saja. Lalu kamu mau ninggalin aku.  Ini apa maksudnya?!  Kamu pingin dekat dengan Alfian, partner organisasi kampus?”  Kali ini aku tidak bisa membiarkannya berbuat sesuka hati. 

“Inilah yang aku khawatirkan dari pernikahan, semua jadi terhambat.  Kuliah, organisasi, bisnis.  Aku sudah bilang aku belum siap menikah, aku masih banyak keinginan.  Tapi Kakak nekat melamarku.” Liana meluahkan isi hatinya untuk kemudian terdiam.  Setelah itu, rumah ini lebih sepi dari kuburan

 Hubunganku dengan Liana berusaha aku rahasiakan serapat mungkin, terutama pada ibu.  Beliau orang yang paling perhatian seumur hidupku.  Beberapa hari setelah keributan malam itu, ibu datang menyambangi kami.

“Dalam berumah tangga itu ada seni untuk saling memahami, saling mengerti keinginan masing-masing.  Komunikasikan baik-baik apa yang menjadi harapan dari masing-masing kalian.  Saling percaya harus kalian bangun.  Awal keretakan itu dari saling curiga dan saling memendam rahasia,” ungkap Ibu menyejukkan hati kami. “Coba Liana katakan apa yang menjadi harapan kamu, Nduk?”

“Liana hanya ingin membantu organisasi kampus yang sedang berada dalam kesulitan.  Temen-temen udah berkali-kali minta Liana dateng.  Tapi Kak Zein nggak ngasih izin, Bu.”

Perbincangan kami sedikit mencairkan suasana dan aku akhirnya mengalah.  Mencoba mengenyahkan bongkahan ego di hatiku.  “Yang Amu anggap baik, lakukan saja.  Kakak tidak akan menghalangi kegiatan yang masih harus Amu lakukan.  Semoga banyak  berkah dan manfaatnya."

Beberapa kali kami berpisah dan berkumpul kembali.  Aku mencoba selalu mengalah demi keutuhan rumah tangga yang berusaha kami bangun.

Saat sendiri, aku putuskan untuk banyak mendekatkan diri pada Sang Pencipta, Sang Penentu Takdir yang sering kali tidak terjangkau oleh kemampuan akal dan logikaku.  Dalam salat malam aku lantukan doa terindah pada Yang Maha Tahu.

“Ya Rabb, sejak Kau takdirkan aku ucapkan akad itu, aku yakin dengan ketentuan terbaik yang Engkau putuskan.  Istikharah yang Kau jawab dengan ijab kabul adalah jalan terbaik yang Kau pilihkan untuk kami.  Maka jangan Engkau putuskan harapan kami untuk meraih sakinah, mawadah wa rahmah.  Rabbii, bukan mudah untuk menolak keinginan berpisah dari rasa hati yang sakit ini.  Ya Rabb, izinkan kami memandang kesucian ikatan pernikahan yang Kau takdirkan.  Jauhkan kami dari keputusasaan.  Izinkan aku untuk menjadi pemimpin buat istri hamba.  Lembutkan hatinya untuk memaafkan hamba, jika hamba bersalah.”

Ponsel di sampingku berdenting tanda chat WA masuk.  Aku segera membukanya, mungkin ada jawaban yang Allah sediakan melalui hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.

Dari notifikasi, pesan terbaru dari ibu mertuaku, Bunda Dewi.

“Assalamualaikum, Zein, gimana kabar kalian?  Bunda selalu mendoakan yang terbaik.  Bunda hanya bisa ikut menasihasi Liana supaya bisa menjadi istri salihah.  Terus terang dia belum cukup matang untuk berumah tangga.  Maafin kami mengamanahkan jiwa raga, lahir batin Liana, semoga menjadi ladang amal ibadah buatmu, Zein.”

Aku segera membalas dengan kalimat-kalimat yang membahagiakan beliau.  Meskipun aku berbohong, semoga kebohongan ini bernilai ibadah atas niat baikku.

“Waalaikumsalam, alhamdulillah, Bun.  Liana seorang istri yang baik dan salihah.  Kami baik-baik aja, berkat doa Bunda.” 

“Terima kasih, Zein, Bunda merasa lega.  Terimalah dia apa adanya, kalian dipertemukan Allah untuk saling melengkapi.  Melihat dan mengumpulkan kebaikan dari masing-masing pasangan.  Membuang yang tidak baik dan mengambil sifat baik dari masing-masing pasangan, semoga kalian bisa saling memperbaiki.”

“Beri nasihat pada Zein, Bunda.  Apa yang harus Zein lakukan buat ngebahagiain Liana.”

“Sebenarnya sederhana, Zein.  Liana sangat memerhatikan penampilan.  Dia selalu ingin tampak rapi, dia tidak betah dengan bau keringat walaupun setetes.  Coba untuk merawat diri seperti yang Liana lakukan.”

Percakapan singkat kami malam ini seakan membuka tabir kebingungan yang mendera perasaanku.  Aku mendatangi Liana yang masih berbaring di atas dipan.  Aku ingin membangunkannya untuk salat malam bersama.  Serpihan keberanian di hatiku harus aku rekatkan kembali.

“Liana, aku tahu kamu belum bisa menerima aku apa adanya.  Aku akan setia menunggu cinta itu hadir di hatimu.  Cinta yang tidak menerima apa adanya, tetapi cinta yang menginginkan aku menjadi pribadi yang sempurna.  Terima kasih atas kehadiranmu, aku akan mencoba menjadi seseorang yang membahagiakan hatimu.”

Kutunda niat membangunkan Liana.  Aku ambil kunci motor dan mencari mini market terdekat yang buka 24 jam.  Aku mencari kebutuhan perawatan pria yang disukai Liana terutama dalam aroma.  Mulai dari shampoo, sabun mandi, deodoran dan minyak rambut. 

Pakaian dalam yang lama sudah sering Liana ingatkan untuk menggantinya.  Aku mencari stan pakaian, beruntung ada etalase khusus pakaian pria. 

Aku mencari pakaian pria dengan model trendy yang disukai Liana.  Aku habiskan dua juta menjelang Subuh ini, khusus buat membahagiakan Liana.

Sesampai di rumah, aku melihat Liana sedang salat malam.  Ada isak tangis terdengar dari dalam kamar.  Aku duduk di balik tirai.  Sepertinya Liana tidak mengetahui kehadiranku.

“Ya Allah, jangan biarkan hamba terus berdosa dengan sikap buruk hamba pada suami hamba.  Hamba tahu sikap hamba selama ini salah dan menyakitinya.  Tapi hamba juga tidak mampu mengendalikan semua ini, Ya Rabb.  Bila dia adalah jodoh terbaik buat hamba, perbaiki perasaan hati ini untuk menerima dia apa adanya.  Waktu enam bulan bukan sebentar dia membuktikan kasih sayang, kesabaran dan kesetiaan.  Terima kasih Ya Allah, Kau kirimkan aku suami yang terlalu baik untuk hamba-Mu yang banyak dosa dan masih cinta dunia ini.”

Aku terhenyak dengan doa tulusnya, ingin rasanya aku segera menemui Liana dan memeluknya.  Tapi aku harus membuat kejutan untuknya menjelang Subuh ini.  Aku mengendap-endap masuk ke kamar mandi, mematut diri dengan penampilan yang Liana sukai. 

Ternyata cukup lama juga aku harus berdandan.  Setengah jam.  Padahal biasanya aku hanya menghabiskan lima menit di kamar mandi.  Awalnya aku hampir putus asa, tapi aku harus mencoba.    Dengan penampilanku ini aku akui sepuluh kali lipat aku lebih handsome.  Aku tersenyum sendiri di depan cermin di kamar mandi.

“Assalamualaikum, Amu.”  Pelan aku menyapa Liana yang sedang murajaah Alquran.  Kuakui bacaannya lebih baik dariku.

Liana menoleh ditatapnya aku dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Ini beneran Kak Zein, suami aku?”

Senyuman Liana mengembang seperti saat malam pertama kami bersama.  Sepihan keberanian itu memenuhi rongga batinku.  Aku tidak ingin kehilangan kesempatan membahagiakan dia seutuhnya.

“Liana, izinkan aku menyentuhmu.  Amu sudah siap memiliki momongan?”  Liana tenggelam dalam pelukanku.  Ia mengangguk, menunduk dalam, penuh rasa malu.

Aku sentuh dua pipinya, wajah kami begitu dekat.  Rona merah jambu menghangatkan raut wajahnya yang seribu kali lebih rupawan.  Pagi ini menjadi saat terindah dalam hidup kami.  Tetesan embun yang sejuk itu siap membasahi halaman cinta yang kami jaga dengan sabar dan kesetiaan.  Setan-setan pengganggu hubungan kami lari tunggang langgang dan malaikat pun bertasbih bersama cinta yang makin bersemi di taman hati kami.


 

BENTANGKAN SAYAPMU MERAIH ILMU

Khadijah Hanif

 

            Memandang wajah tirusnya selalu membuat benaman cinta dalam hatiku makin kuat tertancap.  Abah, Pahlawan keluarga kami ini menjadi sumber inspirasi kami yang tak pernah kering.

            “Biarkanlah kepedihan masa lalu Abah menjadi sejarah.  Menjadi pelajaran berharga buat kalian bahwa semua harus diraih dengan ilmu.”  Abah tak pernah lelah menasihati kami untuk terus belajar.

            Di sela-sela kebersamaan kami, Abah selalu bercerita tentang perjuangan berat hidupnya.

            “Sejak unur sepuluh tahun, Abah sudah jadi anak yatim.  Tidak ada yang membiayai Abah belajar kecuali keluhuran budi Mamak Ajengan.  Seorang Kyai di kampung kita ini.  Beliau menganggap Abah sebagai anak beliau sendiri.  Abah lebih meletakkan diri sebagai murid bahkan abdi buat Mamak, karena Abah yakin dengan ambil berkah ajengan, hidup Abah akan diberkahi.”

            “Maksud ambil berkat itu apa, Bah?” tanyaku polos sebagaimana anak-anak usia SD pada umumnya.

            “Ambil berkat atau tabarukan itu, melayani apa pun yang diperintahkan ajengan.  Bahkan tanpa disuruh pun kita harus tahu hal-hal yang harus dilakukan untuk mendatangkan rida ajengan.”

            “Terus apa aja yang Abah lakukan waktu itu?” tanya Kang Alif, kakak pertamaku.

            Abah berhenti sejenak mengingat-ingat apa yang terjadi lebih dari empat puluh tahun yang lalu.

            “Abah bangun jam tiga pagi.  Mengisi bak tempat santri berwudhu.  Dulu belum ada mesin pompa listrik.  Semua masih serba manual.  Abah menimba air dengan ember.  Setelah qiyamullail, Abah menyalakan tungku dapur Mamak untuk keperluan rumah tangga beliau.  Memasak air dan menanak nasi.  Kalau memasak, Bu Nyai tidak pernah mempercayakan pada orang lain.  Setelah Subuh kami mendengarkan pangaosan sambil membuka kitab kuning sampai jam tujuh.  Selepas pangaosan, Abah kembali kerja di rumah Mamak, membersihkan rumah, menyapu, dan mengepel lantai.  Agak siangan Abah cari kayu kering di kebon buat bahan bakar dapur, sambil mencari rumput buat makan kambing.”

            Kami terkagum-kagum mendengar cerita Abah.  Terbayang usianya yang masih sepuluh tahun, tetapi waktunya habis buat berhidmat dan belajar.

            “Selama di kebon Abah selalu menyempatkan diri buat salat Dhuha di tajuk.  Sebelum Zuhur tiba Abah berusaha memasuki masjid pesantren buat salat berjamaah.  Rasanya sayang kalau salat sendirian sementara perbedaan pahalanya dua puluh tujuh kali lipat bisa kita raih.”

 

        Abah melanjutkan ceritanya, “Setelah Zuhur, Abah biasa menyeterika baju keluarga Mamak dengan seterika arang.  Bakda Asar, Abah bisa belajar kitab lagi sampai Maghrib.  Kegiatan bakda Magrib diserahkan pada masing-masing santri.  Abah biasa menghabiskan waktu untuk mengamalkan bacaan yang diijazahkan Mamak.  Habis Isya, pembimbing Abah yang ditunjuk Mamak akan mengulang pembelajaran kitab yang Abah terima tiap harinya.”

            “Luar biasa.  Waktu Abah nggak ada yang sia-sia.  Biasanya Abah tidur malam jam berapa?” tanya Kang Ilyas, kakakku yang kedua.

            “Sekitar jam sebelas.”

            Pantaslah Abah mahir membuka kitab tanpa harakat yang berjejer rapi di rak buku koleksi kitabnya.  Ternyata selama dua puluh tahun tinggal bersama Mamak Ajengan Mustafa, waktunya habis untuk ibadah, khidmat, dan belajar.

            “Kalian harus lebih berhasil dariAbah.  Abah belajar tanpa mendapat gelar.  Untuk kuliah saja tidak punya biaya,  apalagi belajar sampai ke luar negeri, impian belaka.”

            Rupanya impian yang tak pernah terwujud itu membuat Abah bertekad membiayai kami sampai ke mana pun kami belajar.

            “Abah kamu itu istimewa, ya, Idah.  Nggak punya kerjaan tapi bisa nguliahin kakak-kakak kamu sampai ke luar negeri.  Bukan cukup sampai S1, tapi S2.  Bibik nggak sanggup kalau harus seperti Abah dan emakmu.”  Sore itu sepulang membantu Abah di sawah aku berpapasan dengan Bi Asih, adik Emak.

            “Beginilah, Bi.  Abah hanya nyangkul di sawah Kakek Uwa.  Pergi jam delapan pagi pulang jam sebelas.  Berangkat lagi jam satu siang, pulang menjelang Asar.”

            “Tapi, tamu Abah yang datang tanpa diundang, menjadi bukti kalau Abah kamu itu orang pintar.”

            Aku geli dengan sebutan orang pintar yang diutarakan Bi Asih.  Sebenarnya Abah memang orang alim, berilmu.  Bahkan sebelum tersaingi oleh pesantren modern yang memiliki sekolah, Abah sempat mendirikan pesantren di lahan wakaf Haji Imran, tetangga kami.  Pesantren salaf tradisional yang murni mengajarkan kitab kuning itu akhirnya ditinggalkan santri-santrinya. 

            Tanpa memasang atribut apa pun di rumah, para tamu datang untuk berkonsultasi di rumah.

            “Kalau kisanak mau meminta amalan dari saya, syaratnya tiga.  Pertama jangan tinggalkan salat, jangan lupa bersedekah, dan jadilah keluarga pecinta ilmu.  Biarkan anak-anak kita tumbuh kembang dalam kecintaan pada ilmu.  Masukkan anak-anak kisanak ke pesantren.  Kalau bisa pergi ke negeri-negeri jauh yang menjadi gudang ilmu.  Baru saya akan beri kunci-kunci amalan rahasia untuk membuka pertolongan Allah SWT.”  Aku mendengarkan nasihat Abah pada para tetamu dari balik tirai kamar.

            Masa belajarku di pesantren Darussalam tinggal menghitung hari.  Abah sudah mulai menanyakan kelanjutan pendidikanku.

            “Idah anak perempuan, sebaiknya kita nikahkan saja, Bah.”  Emak mengungkapkan ide yang membuatku kaget.  Terus terang aku belum siap untuk berumah tangga.

            Abah masih asyik menyeruput secangkir kopi di teras rumah kami yang sederhana.  Rumah yang tak pernah sempat kami renovasi karena uang Abah selalu diprioritaskan untuk biaya sekolah.  Dua kakakku yang masih belajar di Sudan, aku, dan Teh Bibah masih di pesantren sambil sekolah dan kuliah.  Dua adikku masih sekolah di SD dan SMP negeri.

            “Kemarin anak Pak Lurah Surya datang kemari nanyain Idah.  Emak bilang masih sekolah,” lanjut Emak serius.

            “Abah tidak akan menikahkan Idah sebelum dia lulus S1.  Sekalian saja biar Faridah nyusul Kakak Ilyas ke Sudan.  Biar menggantikan Alif yang sudah tamat S2.”  Pancaran optimisme Abah dengan jelas tertangkap dari sorot matanya yang tajam.

            “Kalau anak-anak dikirim ke luar negeri terus, kapan kita membenahi rumah kita yang nggak punya langit-langit ini, Bah?  Belum lagi lantainya yang baru saja sempat kita keramik, tapi sudah belah di sana-sini.  Lihat ini Abah, lantai rumah kita sudah nggak rata.”  Emak terlihat serius mengharap rumah ini segera direnovasi.

            “Kalau harta sewaktu-waktu dengan mudah Allah ambil.  Ada bencana, ada kecurian, ada kerusakan bahkan saat maut tiba akan kita tinggalkan.  Tapi, kalau ilmu, akan terus mengikuti kita sampai liang lahat bahkan akhirat.  Ilmu akan meninggikan darjat di sisi Allah di dunia bahkan di akhirat.  Jadi mana yang lebih utama, Mak?”  Nada suara Abah meninggi. 

        Tanda bahwa Abah tak mau dibantah lagi.  Emak tahu persis bahwa ia harus diam dan menerima alasan Abah.

            Aku belum sempat menjawab pertanyaan Abah, tentang rencana kuliahku.  Yang jelas, masa-masa pandemi COVID-19 ini aku banyak tinggal di rumah bersama Abah dan Emak.  Pesantrenku termasuk yang sangat hati-hati mengumpulkan santri di pondok.  Sudah satu bulan kami dipulangkan karena ada  keluarga yayasan yang ‘katanya’ terpapar COVID.  Meskipun  yang bersangkutan sudah sembuh, tetap kami belum boleh memasuki pesantren.  Semua pembelajaran dilakukan daring. 

            “Idah, kakakmu, Ilyas sudah mengusahakan keberangkatanmu ke Sudan.  Perkiraan pemberangkatan sebulan setelah kamu lulus.  Jadi siapkan beberapa hal penting yang harus ada sebagai syarat kuliah di sana.”  Abah menodongku dengan selembar kertas berisi persyaratan kuliah di Sudan.

            Ada perasaan campur aduk dalam hatiku.  Di satu sisi aku merasa beruntung punya abah yang begitu peduli dengan perkembangan belajar anaknya.  Aku hanya berharap semoga ketaatanku membawa berkah buat diri, keluarga dan orang lain juga sesama.

            Kelulusanku dari sekolah dan pesantren akhirnya terlewati juga.  Masa pandemi yang melelahkan itu tak akan pernah mampu menahan qadar Allah SWT.  Saatnya aku fokus mempesiapkan persyaratan kuliah di ruar negeri.  Persyaratan yang diminta sudah aku penuhi.  Ijazah yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Arab, nilai rapot, bukti setifikat hafalan sepuluh juz, foto kopi KTP, pernyataan sehat, rekomendasi sekolah dan pesantren serta pernyataan orang tua.

***

Dorongan Abah untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri membuatku makin bersemangat melengkapi persyaratan.  Dalam waktu dua pekan aku sudah mendapatkan semuanya.

            “Abah, ini Idah udah dapet semua persyaratan kuliahnya.”  Aku mencari Abah ke kamar dan ruang tengah, tetapi nihil.  Rumah sepi tanpa siapa pun.  Aku mencari ponsel, barang kali ada petunjuk ke mana Abah dan Emak.

            Dari grup keluarga, aku membuka foto Abah dibawa ke rumah sakit sejam yang lalu.  Ada rasa cemas menggelayuti hatiku.  Ya, Allah, sehatkan Abah, panjangkan umurnya.  Izinkan ia melihat kami dengan tatapan bahagia saat harapan-harapannya bisa kami wujudkan.  Aku terus berdoa dalam hati.

            Aku meraih kunci motor di atas meja, lalu melajukannya agarsegera menemui Abah.  Aku ingin mengembangkan senyum di wajah tirusnya.  Senyum bahagia karena anaknya akan segera membentangkan sayap meraih cahaya ilmu.

            Rumah Sakit Umum Daerah hanya berjarak lima kilometer dari rumah kami.  Aku mencari IGD yang ditunjukkan Kang Alif melalui shareloc WA. 

            “Kang, Abah udah dapat kamar belum?”  tanyaku via chat WA.

            “Alhamdulillah, sudah.  Ruang Mawar nomor 24.”

            Menyusuri koridor rumah sakit yang sepi pembesuk, aku menanyakan pada bagian informasi.  Tidak sampai tiga menit, aku berhasil menemukan ruang inap Abah.  Alhamdulillah dengan selalu mengikuti protokol kesehatan, aku tidak banyak mengalami kesulitan pemeriksaan di saat pandemi ini.

            Kang Alif berada di luar kamar, duduk di sofa ruang kelas satu yang cukup nyaman ini. sementara Abah dan Emak ada di dalam tersekat oleh tirai berwarna hijau muda.

            “Abah sakit apa, Kang?” tanyaku pelan

            “Maagnya kambuh, biasa Abah selalu puasa kalau sedang mendoakan kita.”

            “Maksud Kang Alif, Abah sedang riyadhah buat kelancaran keberangkatanku ke Sudan?”

            “Betul sekali.  Tapi kamu jangan khawatir, Abah akan baik-baik saja.”

            Aku ingin segera memeluk Abah.  Aku intip tirai di samping shofa.  Selang infuse mulai bekerja membantu asupan cairan di pergelangan tangan kiri Abah.  Emak sedang menyuapkan makan siang yang disediakan rumah sakit.

            “Assalamualaikum, Abah, Emak, maafin Idah.  Abah sampai sakit memperjuangkan pemberangkatan Idah.”  Aku mencium tangan kisut Abah. 

        Telapak tangannya terlalu akrab dengan kerja keras.  Tangan yang akan membawa Abah ke surge kelak.

            Abah mengusap lembut kepalaku yang terbalut hijab.  “Bagaimana persiapan berkas kamu, Idah.  Sudah lengkap?”  Aku tahu pasti pertanyaan itu yang akan Abah lontarkan.

            “Abah jangan banyak beban memikirkan Idah.  Yang penting Abah sembuh dulu.”  Aku tak mampu menahan genangan bening di sudut mataku.

            Aku mengeluarkan map dari dalam tas punggung, lalu membuka satu per satu berkas yang diperlukan berikut paspor dan visa.  Bahkan tiket pesawat pun telah aku booking online.

            Abah tersenyum lebar, penuh kebanggaan. “Berangkatlah, Anakku, jangan pernah ragu.  Abah akan segera sehat.  Ini untuk pertama kali Abah melepas anak perempuan Abah ke negeri yang jauh.  Kapan kamu berangkat?”

            “Empat hari lagi, Abah.”

            “Besok pagi Abah harus pulang dari sini.  Kita persiapkan semuanya bersama-sama.”  Abah memelukku erat.  Tidak ada tanda-tanda sakit di wajahnya.  Kebahagiaan itu begitu terpancar bersama bentangan ilmu yang menanti di hadapanku.

 

 

 

Nubar Area_Kindness Hunter’s Diary_Tamu_Khadijah Hanif

TAMU

 

            Siang terik hari ini sebelum Zuhur, aku langsung pulang untuk melepas penat setelah pulang kantor.  Tempat yang terindah yang aku dambakan bisa melepaskan segala beban kerja adalah rumah. Ya, meskipun rumah kami sederhana, berukuran tidak lebih dari delapan kali delapan meter.  Rumah bercat putih yang mulai lusuh dan terkelupas di sana sini karena lembab.  Rumah yang hanya terbagi enam ruang, dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang tengah atau ruang serba guna, satu ruang dapur dan satu kamar mandi.  Kami bersyukur tinggal di rumah sederhana ini karena rumah inilah yang menghimpun kami dalam kasih sayang, saling mengerti dan saling berbagi apa saja.

            Begitu memasuki rumah, aku mencoba mencari sesuatu yang dapat diminum di dalam kulkas.  Masya Allah begitu terkejutnya aku, kulkas penuh dengan berbagai macam buah-buahan. Nanas yang ranum masih dengan tunasnya ada enam.   Alpukat besar-besar entah berapa jumlahnya aku enggan menghitung.  Sirsak lima buah sebagian sudah empuk dan yang lainnya hampir matang, pepaya masak empat buah mungkin satu kiloan beratnya masing-masing.

            Rasa hausku tiba-tiba lenyap oleh rasa kaget.

            “Bibi, kemari sebentar!” Aku mepanggil bibi yang sedang sibuk menyetelika baju di ruang tengah.  “Bi, ini buah-buahan banyak sekali siapa yang mengirim?” To the point aku interogasi bibi.

            Sosok sederhana, terbalut baju muslimah yang sudah usang itu hanya menundukkan kepala dalam-dalam.  Mungkin panggilanku tadi terlalu keras saking kagetnya.  Mengingat segala kebaikannya, pengorbanannya mendampingi tugasku di rumah, bibi adalah pahlawan buatku.  Tanpa bantuannya entah bagaimana aku menyelesaikan tugas-tugas kantor yang kadang terkejar dead line, sementara deretan kerja rumah menumpuk tiada henti.

            “Kenapa Bi, nunduk terus. Ibu nggak marah kok. Kalau manggil Bibi agak kenceng itu karena kaget aja.  Itu kulkas penuh amat sama buah-buahan dari mana ya?”

            “Itu Bu, tadi ada tamu yang menitip barang-barang itu.  Katanya tolong diterima dulu, besok dia akan kemari lagi.”  Bibi mulai sedikit mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk.

            “Bibi tanya nggak siapa orang itu.  Maksud saya kalau yang datang bukan orang baik-baik atau ternyata barang itu barang curian, akan berbahaya buat kita.  Kalau ada orang yang mau memfitnah kita, akan dengan mudah kita jadi sasaran empuknya.” Aku menjelaskan panjang lebar.

            “Maafkan saya Bu, saya cuma kasihan sama orang itu.  Sepertinya datang dari jauh membawa barang ini sendirian. Usianya juga sudah sepuh, saya yakin orang itu bukan orang jahat.  Pakaiannya juga tertutup rapih, tutur katanya halus.”  Bibi berusaha meyakinkanku.

            Aku memutuskan untuk diam dan menghentikan perdebatan ini.  Khawatir membuat bibi makin merasa bersalah. 

            “Semoga tidak ada apa-apa.   Kita berbaik sangka aja, tamu kemarin orang baik-baik.  Tapi pesan saya jangan diterima kalau ijab kabulnya nggak jelas.  Apapun barangnya, apalagi kalau barangnya barang berharga.  Alhamdulillah ini hanya buah-buahan.”

            Bibi melanjutkan pekerjaannya dan aku memutuskan untuk segera berwudhu sepuluh menit lagi waktu Dzuhur tiba

***

            Sehari dua hari kami menunggu tamu itu tidak datang juga.  Buah-buahan sudah mulai mubadzir kalau tidak dimanfaatkan.  Hari ini hari Kamis, kami biasa mengadakan Majelis Yatama.  Anggotanya anak yatim atau piatu atau yatim piatu yang mesantren di pondok kami.  Seperti biasa anak-anak santri dan santriwati puasa Senin-Kamis.  Jam lima sore kami sibuk menyiapkan makanan buat takjil yatama.

            “Ukhti Annisa, tolong kupas nanasnya, ya. Caranya seperti ini. Kupas merata tidak perlu terlalu dalam yang penting kulitnya habis, mata yang tersisa dibersihkan dengan arah miring melingkar. “ Aku memberi contoh pada salah satu santriwati anggota Yatama tingkat lima.

            “Subhanalloh Ummi…banyak sekali buah-buahannya.  Ummi habis panen?” Annisa terheran-heran karena memang tidak biasanya acara Majelis Yatama kami menyajikan buah-buahan begitu banyak.

            “Panen dari mana Ukhti,” aku biasa memanggil para santriwati dengan sebutan ukhti,” ini dari tamu yang datang hari Selasa kemarin.  Meninggalkan begitu saja buah-buahan ini.  Sampai sekarang tidak jelas ini milik siapa.”

            “Barang subhat dong Bu?” Lulu yang aku suruh membuat jus alpukat menimpali.

            “Bagaimana lagi, kalau mubadzir berteman dengan syetan bukan?” Annisa mendahului jawabanku

            “Jangan-jangan yang datang itu bukan manusia biasa.  Malaikat kali menyerupai manusia, mengirim buah-buahan ini, sebagai balasan Ummi yang selalu baik ke kita-kita.” Lulu asik mengarang  imajinasinya sendiri.

            “Allahualam.  Kita serba tidak tahu. Kita doakan saja ini barang halal.  Kalau suatu saat pemiliknya datang tinggal kita beli.” Aku mengambil kesimpulan untuk menenangkan mereka.

            Seperempat jam menjelang Maghrib, aku baru dua langkah meninggalkan rumah untuk menuju Aula tempat kegiatan yatama dilakuka.

            “Assalamualaikum.”  Seseorang tak dikenal datang, aku masih ingat ciri-ciri tamu yang diceritakan bibi padaku.

 

            “Waalaikum salam.” Aku mengurungkan langkahku menghadiri Majelis Yatama, “Oh, Ibu yang hari Selasa kemarin membawa buah-buahan kemari?”

            Aku mempersilahkan tamu itu untuk masuk rumah dan duduk di ruang tamu di atas karpet bludru.  Tidak ada shofa di rumah kami kecuali meja-meja pendek dan kami duduk lesehan.  Aku pergi ke dapur untuk mengambil air minum dan sedikit kue yang biasa kami sediakan buat tamu yang datang.”

            “Silahkan Bu, diminum dulu.”

            “Apa sudah maghrib Bu?”

            “Dua menit lagi.  Ibu puasa?” tanyaku agak lega.  Minimal aku yakin Ibu ini baik dan salihah dan buah-buahan itu tidak menyisakan masalah.

            Adzan Magrib berkumandang dari arah Masjid Jami’ Alkautsar.  Kami buka bersama kemudian aku persilahkan tamu itu untuk mengambil wudhu dan sholat.  Tapi ternyata wanita berusia sekitar enam puluhan tahun itu telah berwudhu, dia biasa mendawamkannya.

            Aku meletakkan nasi dan lauk pauk ala kadarnya di atas meja makan. Acar ikan patin, sayur lodeh, kerupuk dan sambal.  Semua bikinan bibi yang memang pandai memasak.

            Aku perhatikan tamuku yang satu ini begitu istimewa. Tertib sekali dia makan, menandakan ia berilmu.  Mencuci tangan, mengelap dengan tissue, mengangkat tangan dan berdoa.  Aku terus perhatikan dia memperbaiki cara duduknya. Telapak kaki kiri diduduki dan kaki kanan dilipat depan dada.

            “Ibu maaf ada garam?”

            “Ada.  Sebentar saya ambil dulu. ” Aku lupa menyediakan garam.  Biasanya kalau aku makan bersama suamiku, aku sediakan garam meja untuk sedikit dicicipi pada jilatan pertama.  Tamuku kali ini benar-benar istimewa itu kesimpulan pertama yang aku ambil.  Tidak semua orang tahu bahwa menjilat garam sebelum makan adalah sunnah.

            “Maaf kalau saya kurang sopan dan banyak permintaan.”

            “Tidak mengapa Bu, malah saya berterima kasih sudah diingatkan.”

            Aku mencoba membuka pembicaraan tentang buah-buahan itu. “Ibu mohon maaf buah-buahan yang ibu titipkan pada kami saya manfaatkan sebagian.  Saya khawatir busuk dan mubadzir kalau nunggu dikupas besok.  Alhamdulillah hari ini ada Majelis Yatama jadi kami gunakan untuk jamuan anak-anak Yatim.”

            “Saya justru yang minta maaf, sebenarnya buah-buahan itu bukan kepunyaan saya.”

            Aku hampir tersedak demi mendengar kalau buah-buah itu milik orang lain. Aku tahan dengan segera minum air putih.

            “Tapi jangan khawatir, buah-buahan itu bukan barang curian.”

 

            Dia mulai bercerita.

            “Kampung saya ada di kaki Gunung Cikijing.  Jauh dari jalan raya.  Tidak ada kendaraan yang bisa memasuki kampung kami karena jalanan rusak dan berbatu.  Lalu lalang kendaraan bermuatan kayu merusak jalan desa.  Kikisan hujan tahun ini makin membuat jalan rusak menjadi mirip sungai kering.          Kebanyakan kami adalah petani yang menurut ukuran orang kota ‘miskin’.  Tapi Alhamdulillah kami tidak pernah merasa miskin.  Bagi kami bisa makan, minum, berpakaian dan ada rumah panggung buat berteduh, itu sudah lebih dari cukup.  Kami juga memiliki masjid dan majelis taklim yang diisi oleh dua ajengan di sana.             Dulu desa kami  hijau ridang dan Gunung Cikijing masih banyak memiliki hutan alami.  Keadaan nyaman ini mulai terusik dengan berkurangnya pohon di puncak gunung.  Seiring dengan penebangan pohon, pelahan-lahan air sumur di tengah kampung mulai mongering.  Penggali sumur makin sulit mendapatkan air pada kedalaman biasa.  Malangnya lagi sungai yang bisa mengairi lahan pertanian kami tidak lagi sederas dulu, leuwi nya sudah mulai hilang.  Sawah kami mulai mengandalkan hujan dan sebagian beralih menjadi ladang.”

            Aku mendengar dengan tekun kalimat demi kalimat yang mengalir begitu tertib.  Aku yakin ibu di depanku ini bukan wanita kampung biasa.  Kata-katanya tertata dan kalimatnya menandakan tingkat intelektualitasnya.  Kemudian ia melanjutkan kisahnya.

            “Jalan yang kami miliki mulai rusak karena truk besar memaksa masuk membawa kayu hasil tebangan.  Jalan desa yang ada cukup untuk masuk kendaraan kolbak yang mengambil hasil bumi ke kota.  Pencari hasil bumi  biasa memasuki desa kami.  Kami tinggal diam saja para pencari hasil bumi berdatangan mengambil hasil bumi kami.  Tapi sejak jalan rusak dan diperparah dengan kikisan air hujan, kami seolah terperangkap.  Kebutuhan hidup memaksa kami berpikir keras bagaimana menukar hasil bumi ini dengan uang.  Akhirnya kami berbagi tugas, harus ada yang mau jalan ke kota.  Harus ada yang mau keluar membawa hasil lading dan sawah kami kemana saja.  Salah satunya saya.  Jadi buah-buahan yang saya bawa dua hari yang lalu milik beberapa orang.”

            Kisah tamuku membuka segala misteri yang membuatku penasaran beberapa tiga hari ini.  Banyak pelajaran berharga yang bisa kudapat dari kisahnya, tapi ada satu yang sangat mengganjal.  Ternyata perbuatan dosa dan dzalim seseorang (dalam hal ini pengusaha kayu), bisa membuat menderita penduduk satu desa bahkan mungkin lebih.  Aku pikir semua yang menggunakan jalan rusak itu merasa terganggu.  Sementara semua yang membuat rusak jalan itu menikmati hasil usahanya untuk memenuhi isi kantongnya

            Kisah ini hanya miniatur kecil kisah-kisah serupa betapa rakyat kecil sering kali menderita oleh ulang penguasa dan pengusaha.

            Aku masih menemani tamu istimewaku. Kami berbincang kecil untuk sekedar tahu dan kenal keluarga kami masing-masing.

            “Ibu sampai maghrib begini dari mana saja?”

            “Biasa Neng, membawa hasil bumi.  Kali ini saya menitipkan ke warung.  Setelah laku semua nanti baru bisa saya ambil hasilnya.”

            “Kalau buah-buahan yang ibu bawa kemarin berapa harganya?  Kita belum sepakat apakah harganya satuan, atau kiloan.  Lagi pula kalau kiloan saya lupa menimbang alpokat yang sebagian sudah dibuat jus sama anak-anak.”

            “Untuk yang kemarin teu langkung, Neng. Berapapun saya terima. Lagi pula itu kesalahan saya meletakkan barang dagangan tanpa akad.”

            Aku kebingungan sendiri. Kira-kira berapa uang yang harus aku bayar untuk membeli semuanya.  Tanpa pikir panjang aku ambil amplop vakasi mengawas ujian nasional selama empat hari.  Aku berikan utuh dan amplopnya pun masih tertutup.  Niatku bukan membayar barang dagangan tapi menghargai pengorbanan tamuku juga sedikit menghibur kesusahannya.

            Ibu itu langsung memasukkan amplop pemberianku dalam dompet lusuhnya.  Tanpa membuka berapa isinya. Kemuadian dia pamit pulang.  Aku sempat membekalinya dengan sekantong beras sebelum kami berpisah.

            “Ibu, sebaiknya ibu menginap saja.  Ada kamar kosong. Saya tinggal berdua sama suami.  Semua anak-anak saya sudah saya titipkan ke pesantren lain.  Ada yang di Jakarta, Jepara dan Gontor.”  Aku tidak tega membayangkan ibu ini berjalan sendiri malam-malam. Apa lagi keadaan sekarang banyak kriminalitas.  Miras dan oplosan tidak terkendalikan dengan baik oleh aparat.  Sementara ormas Islam anti-maksiat justru ditekan.

            “Tidak usah Bu.  Saya harus segera membagikan uang ini sama mereka yang menitipkan hasil bumi.  Lagi pula saya biasa berjalan malam dan Alhamdulillah tidak ada apa-apa.” Tamuku tetap tidak bisa ditahan untuk tinggal barang semalam, “Terimakasih atas segala kebaikan Ibu.  Saya mohon diikhlaskan apa yang saya minum, apa yang saya makan, dan yang saya pakai. Assalamualaikum.”

            “Ya, sudah kalau Ibu tidak mau menginap.  Hati-hati ya Bu, semoga selamat sampai rumah. Waalaikumsalam."

            Seraut wajah cerah dan senyumannya mengakhiri perjumpaanku dengannya petang ini.


 

NubarArea_Support System_

JANGAN KATAKAN ‘TAK BISA’

Oleh: Khadijah Hanif

 

            Ruang rapat malam itu berubah menjadi dingin.  Kelesuan memapar nyata wajah Mas Hadi.  Kakak tertuaku yang sudah memasuki usia enam puluh itu mulai bertutur berat.  “Peraturan terbaru dari dinas pendidikan sangat mungkin akan memusnahkan semua impian kita.”

            Mas Hadi membagikan secarik kertas pada masing-masing peserta rapat, tanpa beringsut dari tempat duduknya.   Kertas yang berpindah dari orang ke orang itu sampai juga di depanku yang duduk di samping kiri Mas Hadi.

            Dengan rasa penasaran kucermati huruf demi huruf di kertas itu.  Sesuatu yang membuat Mas Hadi resah.

            Berdasarkan regulasi terbaru tentang rombongan belasar diatur dengan pasal 24 Permendikbud No. 17 Tahun 2017 bahwa jumlah peserta didik dalam satu rombongan belajar diatur sebagai berikut: 

1.                  SD dalam satu kelas berjumlah paling sedikit 20 (dua puluh) peserta didik dan paling banyak 28 (dua puluh delapan) peserta didik;

2.                  SMP dalam satu kelas berjumlah paling sedikit 20 (dua puluh) peserta didik dan paling banyak 32 (tiga puluh dua) peserta didik;

3.                  SMA dalam satu kelas berjumlah paling sedikit 20 (dua puluh) peserta didik dan paling banyak 36 (tiga puluh enam) peserta didik;

4.                  SMK dalam satu kelas berjumlah paling sedikit 15 (lima belas) peserta didik dan paling banyak 36 (tiga puluh enam) peserta didik.

5.                  Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) dalam satu kelas berjumlah paling banyak 5 (lima) peserta didik; dan

6.                  Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) dan Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) dalam satu kelas berjumlah paling banyak 8 (delapan) peserta didik.

            “Apabila suatu satuan pendidikan tidak memenuhi syarat minimum tersebut maka rombongan belajarnya tidak akan terbaca oleh sistem pendataan yang kita kenal dengan dapodik. Konsekwensinya, kita tidak bisa menerbitkan rapot, ijazah dan segala bentuk bantuan akan terhenti karena sekolah kita tidak dikenal dan tidak terdata.  Kita harus bergabung dengan sekolah lain,” lanjut Mas Hadi.

            “Wah, ndak bisa dibiarkan begitu saja hal itu terjadi, Nak Hadi.  Bapak sebagai tim yang memperjuangkan sekolah ini dengan susah payah bersama almarhum Pak Haji Ahmad, tidak sampai hati untuk menggabungkan sekolah ini dengan sekolah lain.  Kami sudah cukup merasakan bagaimana kesusahan menginduk ke sekolah lain.  Tiga tahun kami memperjuangkan izin operasional sekolah ini.”  Abah Mustafa mengernyitkan dahi.  Beliau teman dekat almarhum bapak yang menjadi perintis Baitul Izzah.  “Pesantren  ini awalnya dari tanah sewa.  Kami berdua memandang perlu didirikannya pesantren yang memadukan pendidikan umum dan pendidikan agama.  Kami sangat prihatin dengan merosotnya akhlak anak-anak muda di kampung kita ini.  Baitul Izzah di awal tahun delapan puluhan adalah sekolah Islam pertama yang berasrama di kecamatan ini.  Sekolah serupa baru menjamur di permulaan tahun dua ribu.”  Kami mendengarkan dengan serius kisah Abah tentang sekolah ini.  Bisa aku bayangkan betapa sulitnya dua orang guru honorer ini harus menyisihkan gaji kecilnya untuk menjadi penggerak lembaga pendidikan Islam.

            Abah Mustafa terus melanjutkan kisahnya tentang bagaimana sulitnya mendapat uang untuk mendirikan bangunan.  Silaturahim dari rumah ke rumah untuk mendapatkan dukungan materi maupun moral.  Belum lagi penentangan dari orang-orang yang tidak senang dengan berdirinya sekolah Islam.  Beragam alasan ketidaksetujuan mereka, mulai dari yang bersifat pribadi hingga hal prinsip.  Izin operasional sekolah pun bukan hal mudah, penuh perjuangan.  Dalam waktu tiga tahun mereka harus banyak berkorban fisik dan psikis belum lagi finansial. 

            “Setelah kita mendengarkan penjelasan Abah, siapa yang sanggup memberikan ide, sumbangan pikiran, tenaga, atau apapun untuk memperbaiki keadaan ini?  Tidakkah kita merasa bersalah tidak mampu melanjutkan perjuangan almarhum dan juga Abah?”  Pertanyaan bertubi-tubi dari Mas Hadi menghujam di benakku.  Sebagai anggota termuda dan baru saja lulus dari Manajemen Pendidikan, aku merasa terpanggil memperbaiki keadaan ini.

            “Mas, izinkan Ajeng berpendapat.  Bukannya Ajeng mau mengajarkan sesuatu pada parasenior di sini.  Ajeng yakin semua sangat lebih berpengalaman dari saya.”

             “Ajeng, semua yang hadir di sini punya kedudukan yang sama.  Tidak ada senioritas.  Aku justru sangat mengharapkan peran kamu.  Terapkan hasil belajar kamu sebagai master manajemen pendidikan di sekolah kita ini.  Secara usia dan pengalaman, bisa jadi kamu paling muda tapi dari segi ilmu, aku yakin kamu di atas kami.”  Tiba-tiba Mas Hadi memotong pembicaraanku.  Sesuatu yang menumbuhkan rasa percaya diri, penghargaan sekaligus tantangan yang meminta pembuktian.

            Aku telah lama mencoba menganalisis apa yang terjadi dengan Baitul Izzah.  Aku meriset dari dokumen yang ada dari tahun ke tahun.   Sekolah dengan siswa wajib tinggal di asrama seperti Baitul Izzah memiliki masalah yang sangat kompleks.  Masalah terbesar adalah minat anak usia SMP dan SMA untuk  tinggal di asrama dengan berbagai aturan yang super ketat.  Bahkan gadget yang menjadi kebutuhan pokok remaja milenial pun dilarang di pesantren ini.

            “Saya mencoba mengurai permasalahan yang kita hadapi.  Dari dokumen foto dan file-file perkembangan dalam tiga puluh tahun berdirinya Baitul Izzah.  Terutama dari segi manajemen organisasi.”  Aku membuka laptop dan kuhubungkan dengan proyektor supaya bisa dimengerti oleh semua yang hadir.  Dokumentasi foto membuat peserta rapat seakan terbawa pada masa kejayaan Baitul Izzah.  Sepuluh tahun yang lalu adalah puncak kejayaan pondok.  Santri dan santriwati yang tinggal di asrama mencapai lebih dari empat ratus orang.  Kini jumlah itu tinggal kurang dari seperempatnya.  Sementara syarat jumlah minimum dari dinas harus memenuhi tiga rombel untuk masing-masing satuan pendidikan.  Tingkat SMP dan SMA masing-masing sebanyak enam puluh orang.  Sedangkan Baitul Izah hanya memiliki sembilan puluh sembilan santri.  Masih kurang dua puluh santri.

            Allahumaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu,” doa Mbak Rahayu penuh haru saat foto almarhum Bapak muncul di layar proyektor.  Bahkan orang-orang yang mencintai beliau termasuk juga aku tak mampu membendung telaga bening di sudut mata ini.

            “Ada beberapa langkah yang harus kita ambil.  Yang pertama, penataan lingkungan.  Lahan-lahan yang kosong dan tampak kumuh bisa kita sulap menjadi taman-taman kecil sederhana tapi tetap indah.  Pengelolaan sampah harus dilakukan dengan menyediakan tempat sampah yang telah terpilih dan terpilah.  Yang kedua, penggunaan teknologi harus kita buka selebar mungkin akan tetapi dalam koridor pengawasan ketat dari pengasuh asrama.  Yang ke empat, program unggulan yang dulu pernah menjadi kurikulum prioritas harus dimunculkan kembali.  Program tahfidz, cara cepat membaca kitab kuning dan bahasa harus mendapat titik tekan anggaran.  Yang ketiga, penataan kembali organisasi.  Mas Hadi sudah tepat dalam memilih orang-orang yang Mas Hadi percaya untuk menjalankan roda pesantren dan sekolah hanya saja perlu the right man on the right place.  Pengaturan posisi bisa becermin dari awal tahun dua ribu saat kita bisa merekrut empat ratus santri dan santriwati di pesantren ini.  Bukan pemberhentian tapi perubahan posisi.  Insyaallah sebagai anak buah, kami akan menerima dengan lapang hati demi kebaikan Baitul Izzah yang sama kita cintai ini.”  Aku mengakhiri pemaparan.

            Masyaallah, tabarakallah, aku bangga dengan kamu Ajeng.  Nggak sia-sia Mas Hadi menyekolahkan kamu juah-jauh sampai S2.  Aku setuju dengan semua usulan kamu.  Dan aku langsung tunjuk kamu buat menata lingkungan pesantren.   Mas Hadi serahkan sepenuhnya kreasi dan kreatifitas pada kamu, Ajeng.”

            Penghargaan Mas Hadi benar-benar mendorong semangat mudaku untuk memberikan sumbangsih pada Baitul Izzah. 

***

            Aku mulai merancang program penataan lingkungan, tanpa modal sedikitpun dari pesantren.  Aku memutar otak untuk mendapatkan dana.  Sembilan puluh Sembilan santri adalah aset berharga.  Rata-rata jajan mereka dalam sehari mencapai sepuluh ribu.  Aku harus bisa menyerap setengah dari perputaran uang untuk dana penataan lingkungan.

            “Ajeng, kamu sudah sibuk sekali sepagi ini.  Belum juga Azan Subuh, kamu sudah masak?”  sapa lembut ibu membuatku sejenak berhenti beraktifitas.  Aku hadapi muatiaraku yang masih tinggal bersama kami penuh hormat.

            “Ibu, doakan Ajeng, ya, Ajeng ingin menyulap pesantren ini menjadi pesantren berbasis lingkungan yang indah, bersih, rapih dan memenuhi persyaratan sanitasi.  Tapi bendahara tidak punya anggaran buat program ini.  Ibu tahu sendiri gaji guru dan staf pun baru dibayarkan tiap akhir bulan.  Ajeng harus mendapatkan dana dari keringat Ajeng sendiri.”

            “Ya Allah, semoga cita-cita Ajeng tercapai dan selalu mendapat kemudahan.  Maafin Ibu ndak bisa bantuin Ajeng.  Buat berdiri lama Ibu udah ndak bisa.”

            “Nggak apa-apa, Ibu.  Doa dan restu Ibu sudah melebihi bantuan apapun.”

            Aku melanjutkan pekerjaanku, mengupas pisang, membuat adonan roti goreng, memotong sayuran buat bakwan, sambil menunggu Azan Subuh berkumandang dari masjid.  Begitu Azan terdengar, aku bergabung dengan santriwati buat menunaikan salat berjamaah.

            Aktivitas aku lanjutkan lepas Salat Subuhhingga pukul setengah tujuh, setengah jam sebelum para santri makan pagi.  Memasak untuk jualan sore hari aku lakukan lepas Salat Asar dan pukul lima sudah dijajakan oleh pengurus.  Kerjasama dengan pengurus sangat membantu sirkulasi keuangan, sebagai imbalannya aku memberikan mereka sepuluh persen dari omset untuk dana kegiatan mereka.  Begitulah kegiatan harianku.  Berjualan, mengajar dan merancang penataan lingkungan.

            Dalam waktu kurang dari dua bulan aku sudah mengumpulkan dana satu juta untuk menyediakan alat pembuatan taman.  Aku memilih konsep bercocok tanam tanpa tanah.  Media yang aku pilih sekam bakar.  Sekam bisa aku dapat gratis dari pabrik penggilingan padi langganan kami membeli beras buat keperluan makan santri.

            Tiap ada lahan kosong aku selalu merancang taman yang indah tentu dengan menampung keinginan dan selera anak-anak.  Tipografi aku rancang dengan membuat pagar-pagar bambu yang kubuat rapat untuk menahan sekam.  Terasering dengan bambu terselesaikan dalam setengah bulan.  Tiba saatnya mengisi terasering pagar bambu dengan menggunakan sekam yang telah dicampur dengan kompos dari masyarakat peternak di kampung kami.  Aku biarkan sekam itu selama sepekan untuk siap ditanami.  Tiap pagi dan sore para santri menyiram sekam itu supaya siap menjadi media tanam.  Sementara untuk sekam bakar langsung bisa ditanami.

            “Ibu, indah juga, ya.  Meskipun dengan dana yang minimalis, landscape rancangan ibu sangat bagus,”  ungkap Lina, santriwati yang crazy about gardening.

            “Ibu rasa justru rancangan taman ini menjadi indah karena masukan dan bantuan dari kalian semua.”

            “Kami hanya bantu dikit-dikit, Ibu.  Ide dan peran Ibu lebih banyak daripada kami.”  Lina mengapresiasi pekerjaanku membuat semua lelah hilang.  Terganti dengan komentar kepuasan mereka.

            Setiap kegiatan yang kami lakukan selalu aku coba untuk expose dan publish melalui media sosial.  Aku yakin kemunduran Baitul Izzah karena kurang dikenal secara luas.  Internet akan aku manfaatkan untuk rekrutment santri baru.  Channel Youtube menjadi andalanku.  Konten-konten menarik dengan judul yang marketable aku unggah.  Hobi fotografiku dibantu salah satu santri yang punya passion dalam vedio editing sangat membantu publikasi Baitul Izzah.

            “Hai, Ajeng, berani-beraninya kamu menggunakan lahan ini buat taman!  Mas Hadi udah menyerahkan lahan ini buat café.  Dan aku yang yang bertanggung jawab penuh dengan lahan ini!”  Suara Mbak Intan membuatku kaget.  Salah satu staf Baitul Izzah yang juga sepupuku itu mengancam untuk membongkar taman yang sedang indah-indahnya.  Bunga angrek tanah sudah mulai bermekaran penuh warna.  Delima pun sedang berbuah ranum.  Satu baris bunga mawar sedang berbunga mekar.

            Bersyukur, Mas Hadi segera hadir saat Mbak Intan melampiaskan kemarahannya.

            “Intan, aku belum menyetujui rancangan program unit usaha yang kamu ajukan.  SEmentara surat keputusan untuk Ajeng sudah terlebih dulu terbit.  Kamu tidak berhak untuk membongkar taman ini.  Jerih payah Ajeng sudah mulai menampakkan hasil.  Santri lebih betah tinggal di asrama.  Para tamu yang survey pesantren untuk memasukkan putra-putrinya ke pesantren ini juga jauh lebih banyak dari tahun lalu.”  Mas Hadi menghentikan kemarahan Mbak Intan.

            Dengan muka masam, Mbak Intan yang temperamental itu meninggalkan kami berdua.  Tantangan pertama aku dapat dari sepupuku sendiri.  Tapi aku tidak boleh mundur.  Baitul Izzah membutuhkan jiwa-jiwa gigih yang tak pernah menyerah dengan kata tak bisa.  Nasihat yang sangat menginspirasi terngiang kembali di telingaku.  Jangan katakana tak bisa hingga kau mati dalam mencobanya-Muhammad Alfatih-1437M” 


 

NUBAR AREA _SENI MENYIKAPI KETELANJURAN_YANG TERBAIK

 

            Suasana di kantor kami selalu hirup pikuk setiap Ustaz Fadillah datang.  Ustaz muda itu selalu menjadi perhatian para gadis yang masih setia menyendiri atau menanti seseorang datang untuk melamar mereka.

            Buatku suasana hiruk pikuk memperebutkan Ustaz Fadillah di antara para gadis ini sangat tidak nyaman.  Terlalu banyak hati yang terfitnah dengan kesalehan Ustaz Fadillah. 

            Sarjana pendidikan agama yang menjadi penanggung jawab masjid perusahaan kami itu adalah sosok yang sangat bertanggung jawab.  Berbagai kegiatan sosial, keagamaan dan tour sering dijalankannya.  Kami sebagai peserta kegiatan sangat puas apabila Ustaz Fadillah yang menjadi ketua panitia.

            Ustaz Fadillah sosok yang kalem, selalu tersenyum, tidak pernah marah dan siap membantu siapa saja.  Hal inilah yang membuat banyak gadis lajang ingin mendapat perlindungan dan bimbingannya.  Bahkan tidak sedikit emak-emak selalu mendamba kehadirannya untuk menjadi son in law.

            Aku sendiri sebagai barisan emak-emak di perusahaan termasuk yang menganggapnya sebagai calon mantu idaman.  Anak pertamaku sudah memasuki tahun terakhir perkuliahan.  Rasanya tidak ada salahnya kalau aku merancang pernikahan buat dia.  Tapi terkadang aku ragu.  Banyak hal yang membuatku berpikir ulang untuk meneruskan niat ini.  Aisyah, anakku, haruskah aku menawarkannya seperti barang dagangan?  Tentu tidak.  Lalu bagaimana caranya? Aku harus bisa menemukan jalan.  Sementara banyak hati para gadis yang harus aku selamatkan dari fitnah.

            Selama ini aku sudah berusaha untuk menjadi perantara Ustaz Fadillah dalam menemukan jodohnya.  Sebut saja Salsabila, Nadia, Latifah dan Kania.  Mereka adalah bunga-bunga ranum yang bermekaran di perusahaan kami.  Akan tetapi Ustaz Fadil selalu menolak dengan halus.

            Puncak dari kerisauanku, saat Ustaz Fadil mendapat perlakuan yang jauh dari batas kesopanan.  Saat beberapa karyawan perempuan tepergok menarik-narik baju Ustaz Fadil.

            Aku berusaha menenangkan keributan itu dengan membawa gadis-gadis itu ke ruang kerjaku, jaraknya hanya puluhan meter dari kejadian itu.

            “Nah, ini tugas saya sebagai Manajer Personalia di perusahaan ini.  Ustaz Fadil ada bersama tim saya dalam hal ini.  Tapi kalian harus tahu bahwa tiap penanganan kasus harus melalui saya terlebih dahulu.  Saya yang akan membagikan tugas penangannya pada tim.  Jadi tolong kalian langsung ke saya, bila ada masalah  yang dapat mengganggu kinerja kalian di perusahaan.”

            Rasanya aku harus segera menghentikan gejala tidak sehat ini.  Bagaimanapun kesalehan Ustaz Fadillah bisa teruji oleh kekaguman mereka. 

            Sebenarnya wajah Ustaz Fadil berada dalam rata-rata pemuda Indonesia, sederhana.  Tetapi aura dan wibawa yang terpancar pada kesalehan hatinya justru yang membuat mereka mendamba untuk dijadikan pasangan hidup. 

***

            “Bunda, Kakak udah boleh meninggalkan asrama semester tujuh ini.  Kakak bisa menyelesaikan tugas akhir dari rumah.  Kakak pingin banget bisa dampingin bunda.”  Chat WA dari Aisyah memecahkan lamunanku.  Tidak terasa anakku sudah memasuki tingkat akhir

            “Kak, Bunda punya rencana buat kamu,” balasanku  lebih cepat dari biasanya.  Aku begitu antusias untuk menjodohkan Ustaz Fadil dengan Aisyah.  Bismillah…  Semoga bunga di taman hatiku mau menerima tawaranku.

            “Apa itu, Bunda?”

            “Kamu kenal Ustaz Fadil?  Pengurus masjid perusahaan tempat Bunda kerja?”

            “Iya, Bunda tapi lupa-lupa ingat.  Kakak ketemu beliau empat tahun lalu saat dia mengantarkan berkas dari perusahaan.”

            Aku segera mengirim foto dan nomor WA Ustaz Fadil pada Aisyah.  Panjang lebar aku menjelaskan biodata Ustaz Fadil sebagai langkah pertama proses taaruf.  Usianya baru dua puluh lima tahun, amanah dari perusahaan untuknya aku tulis lengkap, berikut job-jobnya di perusahaan kami.  Khatib tetap di sebuah masjid di Jakarta dan masjid perusahaan, penasihat spiritual utama perusahaan.  Dia juga trainer multi talent berbagai kegiatan seni Islami, kaligrafi, qiraah, orasi, hadrah, nasyid dan marawis.

            “Bunda yakin Ustaz Fadil yang digandrungi banyak gadis itu mau sama Kakak?  Kadang orang yang terlalu saleh itu punya idealisme buat memilih pasangannya, Bun.”

            “Bunda udah bicara langsung sama beliau dan beliau sudah Salat Istikharah.  Beliau mantap untuk memilih kamu, Sayang.”

            “Bunda yang nawarin Kakak, ya, ke dia.  Kakak malu, nggak mau, ah!  Kakak pingin lulus dulu.  Masih pingin sama temen-temen sampai wisuda.  Lagian dia mau sama Kakak karena Bunda atasannya dan ayah dosen dia, kan?” Gambar emotikon sedih muncul di baris kalimat terakhir chat WA-nya.

            Sejak itu Aisyah tidak menjawab panjang lebar chat-ku.  Tapi aku terus menyampaikan nasihat-nasihat baikku tanpa putus asa.  Aku berharap nasihatku bisa meluluhkan hatinya.

            Hari-hari menjadi terasa berat buatku.  Air mataku menjadi begitu mudah mengalir tiap kali ingat Aisyah.  Anak perempuanku satu-satunya ini memiliki pembawaan yang keras memegang idealisme dan pendapat yang diyakininya benar.  Ia juga cenderung ekstrovert terutama padaku.  Ia masih manja meskipun sebelas tahun mendapat pendidikan di pesantren bahkan hingga saat ia kuliah.  Aisyah memang tak pernah lepas dari kehidupan pesantren.  Lima pesantren dengan berbagai pola didik dan asuh yang berbeda turut membangun jiwanya.  Aku yakin Aisyah akan menemukan kebahagiaan dan kematangan di bawah bimbingan Ustaz Fadil.

            Pendekatanku pada Aisyah tidak sia-sia.  Dia mulai membuka hati untuk Ustaz Fadil.  Berbagai artikel dan kisah aku kirimkan melalui chat-WA pada mereka berdua.

            Proses taaruf mengalami banyak kemajuan.  Aku merasa beruntung Ustaz Fadil dan Mas Farhan, suamiku cukup dekat.  Ustaz Fadil adalah salah satu mahasiswanya di mata kuliah Filsafat.  Mereka sangat serasi saat diskusi tentang filsafat di rumah.  Filsafat yang dipandu Alquran dan Sunnah ternyata mengasyikkan juga untuk didengar dan dicerna.  Aku merasa makin mudah meminta dukungan Mas Farhan buat menyukseskan perjodohan ini.

            Jam dua siang kami sampai di kampus Aisyah.  Sebuah kampus sekaligus pesantren yang sangat bersih.  Aku merasa tidak salah menempatkan Aisyah di sini.  Meskipun hafalannya baru tiga belas juz, aku tidak menuntut banyak darinya.  Aku hanya bertugas memotivasinya bahwa suatu saat dia akan bisa mengejar ketertinggalan.  Apalagi kalau Aisyah dan Ustaz Fadil berjodoh, aku yakin Aisyah akan banyak menemukan kemajuan.

            Dari dalam mobil aku melihat dua gadis berniqab di depan masjid pesantren.  Kami menunggu di dalam mobil.  Aisyah tidak juga mendekat.  Akhirnya aku turun untuk menemuinya. Aku bisa merasakan rasa malu itu pekat menggelayuti hatinya.

            Berdebar-debar juga jantungku, khawatir Aisyah marah dan tidak mau menemui ustaz Fadil.  Betapa malunya kami kalau Aisyah lari menjauh dari kami.

            Alhamdulillah bayangan Aisyah akan menghindar sirna.  Dia mau aku bujuk untuk memasuki mobil. 

            Perbincangan mengalir dari aku dan Mas Farhan.  Sementara mereka diam seribu basa. 

            “Bunda dan Ayah mau kalian mempertimbangkan untuk segera menikah bulan depan.  Keluarga Ustaz Fadil akan datang dan mengkhitbah kamu tiga hari dari sekarang.”

            Aisyah kaget mendengar rencana yang berada di luar dugaannya itu.

            “Mohon maaf pada Ayah, Bunda dan Ustaz Fadil.  Peraturan di sini nggak mengizinkan khitbah ataupun nikah sebelum semester tujuh.  Aisyah bisa kena sanksi kalau melanggar ketentuan ini.”  Suara Aisyah lirih dan berat, seberat melawan rasa malu yang memenuhi ruang hatinya.

            “Sanksi apa itu, Aisyah?”  tanyaku penasaran

            “Semua yang melakukan khitbah maupun akad sebelum semester tujuh akan diusir dari asrama dan tidak berhak diwisuda oleh makhad.  Kakak akan menanggung malu di depan temen-temen.  Maafin Aisyah baru menyampaikan peraturan ini karena memang baru diberlakukan tahun ini.  Mungkin makhad menilai banyak yang nggak selesai kuliah setelah pernikahan.”

            Kami semua diam.  Segala persiapan seakan buyar dengan peraturan pesantren Aisyah.

            Pertemuan ini seakan menjadi penghalang besar semua rencana yang kami susun.  Aku harus menyiapkan bahasa yang tepat untuk menunda khitbah dan akad nikah yang sudah kami sepakati waktunya.

***

            Rabb, saatnya aku membuktikan niat lillah dalam perjodohan ini.  Sampai saat ini aku harus rela menjadi perantara komunikasi mereka melalui chat-WA.  Semoga dengan begitu kesucian hubungan mereka terjaga hingga akad menghalalkan yang awalnya diharamkan.  Doaku tak pernah putus untuk Aisyah dan Ustaz Fadil. 

            Notifikasi WA berdenting.  Aku membuka beberapa pesan masuk.  Salah satunya dari pengasuh makhad, Bunda Latifah.

            “Menyikapi upaya penanggulangan Pandemi Covid-19, kegiatan perkuliahan dilakukan secara online.  Informasi selengkapnya bisa dibaca pada surat edaran dari makhad.”

            Aku membalas chat Bunda Latifah dengan pertanyaan yang menggelayuti ruang hati kami.  Rombongan keluarga Ustaz Fadil harus dikabari secepatnya tentang peraturan makhad supaya khitbah ditunda.

            “Bunda, afwan mau menanyakan aturan makhad yang belum begitu saya pahami.  Benarkah kalau mengadakan khitbah ataupun akad sebelum semester tujuh akan mendapat sanksi berat dari makhad?  Mohon jawabannya, Bunda.”

            “Selama perkuliahan online Aisyah sudah tidak tinggal di asrama lagi, jadi peraturan asrama tidak berlaku.  Kita memang sedang dibingungkan dengan berbagai perubahan peraturan pemerintah karena wabah ini.  Tapi ada hikmah dan berkahnya juga buat mereka yang akan melangsungkan pernikahan.  Jadi semua mahasiswa semester enam dianggap sudah memasuki semester tujuh.”

            Aku langsung menghadap kiblat buat sujud syukur atas kemudahan yang bertubi-tubi ini.  Sesungguhnya di tiap-tiap sesuatu selalu ada hikmahnya.   Selalu ada dua kemudahan yang menyertai satu kesulitan dan hambatan.  Kejadian ini mengajarkanku bagaimana menyikapi ketelanjuran dengan terus memohon pada Allah dan berbaik sangka pada Allah SWT, berharap hanya pada-Nya.  Untuk selalu merasakan bahwa ketentuan Dia adalah yang terbaik untuk hamba-hambaNya yang senantiasa rida, ikhlas dengan apapun yang terjadi.


 

ANA UHIBBUKA LILLAH (Khadijah Hanif)

 

            Persiapan akad nikah tinggal sehari lagi.  Aku masih serasa di dalam alam mimpi.  Benarkah aku yang masih jauh dari salihah ini akan menjadi istri Ustaz Fadillah?

            “Aisyah, kamu sebentar lagi akan menempati rumah sendiri begitu acara akad besok.  Perusahaan sudah menyediakan rumah dinas untuk kalian.  Kamu boleh melihat-lihat atau ikut menata rumah yang akan kamu tempati.”  Ungkap bunda penuh keceriaan dan rasa bahagia.  Sementara aku, sedikitpun belum ada keinginan buat menikah.

            Aku heran dengan sikap orang-orang dewasa di sekitarku.  Aku bilang bahwa aku belum siap buat menikah, tetapi semua orang seakan sibuk mengantarkan aku ke pelaminan.  Belum lagi kondisi darurat COVID-19 yang membatasi segala kegiatan sosial seakan tidak mereka pedulikan.  Semua disibukkan oleh acara akad besok. 

            Di kamarku yang berukuran tujuh kali delapan meter ini aku merasa sesak.  Semua nuansa pink biru di dalam kamar tidak lagi membekaskan keceriaan.  Padahal sebelumnya aku selalu merindukannya saat perpulangan dan libur dari makhad.  Dinding bercat biru muda, atap berwarna pink,  spring bed dengan bedcover bermotif  pinky hello kitty, lengkap dengan bantal dan gulingnya mengobati segala keterbatasan di makhad.

            “Bunda, sampai saat ini aku belum siap buat nikah.  Ais lagi seneng-senengnya main sama anak-anak makhad.  Ais baru tahun ini diangkat jadi ketua mahasiswi.  Sebelumnya Bunda tahu sendiri Ais nggak pernah dipeduliin sama dosen, sama temen.  Nggak penah punya prestasi sedikitpun.  Sekarang tuh, Ais lagi nikmat-nikmatnya kuliah.  Bunda juga tahu dua tahun awal di makhad Ais hampir-hampir nggak kuat, Bunda.  Belum lagi Bunda suka ngebandingin Ais dengan Nita yang udah hafal 30 juz.  Ais juga punya cita-cita buat hafal 30 juz seperti Nita yang bisa ngebanggain orang tuanya.  Ais baru nyampai 13 juz, Bunda.  Aku dan Harris juga merencanakan pernikahan setahun setelah kami lulus.”  Aku menulis sendiri segala keresahan hati ini dilayar pendar Android untuk kemudian aku hapus lagi.  Menguap bersama ketaksanggupanku menentang bunda dan ayah.

            Di tengah kegalauanku gawai berdencing tanda pesan masuk.

            “Aisyah, tolong informasikan ke mahasiswa lain ada perubahan kuliah online hari ini.  Aktifkan zoom jam empat sore pas.  Pastikan semua bisa mengikuti program dengan baik.”  Professor Guntur mengintruksikan perubahan jadwal kuliah.  Pikiranku yang sedang galau makin kacau.  Terus terang aku tidak ingin berbuat apa-apa kecuali tidur, melupakan segala hal tentang pernikahan yang aku pikir akan memutuskan semua impian dan cita-cita, menambah beban dan tak memberikan kebaikan sedikit pun.

            Sore ini bunda membawa baju pengantin yang sudah dikirim toko online.  Aku sendiri yang memilih untuk Kak Fadil, jubah keren dan mahal.  Sementara aku memilih gaun putih sewarna dengan jubah Kak Fadil.  Aku sendiri heran di tengah keengananku menikah, aku masih sempat memilih pakaian buat pernikahan kami.  Bahkan mendesain flyer pernikahan pun aku lakukan sendiri, meskipun bagian nama mempelai pria aku kosongkan.  Berat rasanya menuliskan nama Muhammad Fadillah di samping namaku. 

            “Bun, aku masih bisa menolak pernikahan dengan Kak Fadil nggak?” rengekku pada bunda, mengharap ada pilihan takdir yang lain.  “Bukankah banyak karyawati perusahaan yang mau sama beliau?  Kenapa harus aku yang masih kekanak-kanakan?”

            “Masya Allah, Ais, kalau kamu mau menolak harusnya saat acara khitbah sepuluh hari yang lalu.  Bukan sekarang.  Jangan sampai kita dianggap plin-plan!”  Suara bunda mulai naik.  Aku takut ayah akan mendengar perbincangan kami dan menambah hatiku berkeping-keping.

***

            Hari pernikahanku akhirnya berlangsung juga, 30 Syaban, satu hari menjelang bulan Ramadan.  Tante Prita dan Bu Dena bekerjasama dalam penyediaan  hidangan untuk para tamu.  Sejak perkenalan pertamaku dengan kak Fadil, Tante Prita selalu setia menjadi pendukung utama pernikahan kami.  Dia begitu semangat dengan urusanku yang satu ini.

            “Kakak, beruntung Ustaz Fadil menjatuhkan pilihan ke kamu, banyak gadis yang mengalami hari berkabung nasional hari ini.”  Tante Prita melempar guyonan segar sambil mendandaniku.  Aku hanya bisa tersenyum, ingin melawan tapi tak berdaya.  “Kenapa diam?  Apakah ada seseorang yang lain di hati Kakak?” tanyanya mengagetkanku.

            “Nggak, Tante.  Mana ada yang mau sama Ais.  Ais nggak cantik.  Kalau bukan karena bunda, Kak Fadil juga belum tentu mau sama Ais,” jawabku sekenanya.

            “Siapa bilang Kakak nggak cantik?  Di mata suami yang salih dan taat sama Allah, cantik itu akan hadir karena ketakwaannya.  Allah yang akan menghadirkan kecenderungan hati dan rasa cinta.  Makanya cantik, tampan dan keindahan paras itu relatif.  Bunda Alma pernah cerita ada seseorang bernama Harris mau serius sama Kakak tapi dua tahu lagi.  Itu sama aja ngajak pacaran, Kak.  Itu bukan ikhwan tapi bakwan.”   Derai tawa Tante Prita mengguncangkan pundakku.   Ada rasa tidak rela Harris yang pernah singgah di hatiku dinilai seperti itu sama Tante Prita.

            Tamu rombongan sudah hadir di Masjid Baitul Ihsan.  Masjid  di dekat gerbang kawasan perusahaan itu sudah ditata sedemikian rupa untuk acara akad nikah kami.  Masjid yang cukup luas dan indah.  Dinding dan lantainya terselimuti marmer yang makin menambah kemegahannya.

            Aku tidak menyangka, di tengah isu COVID-19, pernikahan ini bisa dihadiri lebih dari seratus orang.  Para karyawan, kolega ayah dan bunda, rekan-rekan kampus ayah juga teman-teman sekolahku banyak yang hadir.  Yang membuatku kecewa, teman kampusku yang hadir hanya Nita.  Tapi aku maklum karena kebanyakan mereka tidak berdomisili sedaerah denganku kecuali Nita.  Teman kecilku yang saat kuliah kembali sekampus denganku.

            Prosesi demi prosesi berlangsung dengan khidmat.  Semua kepanitian dipegang rekan ayah dan bunda.  Bagian yang paling mengharukan adalah penyerahan hak dan tanggung jawab dari ayah ke Kak Fadil.  Suasana berubah hening terbawa suasana emosional dari nasihat ayah.

            “Hari ini telah aku sempurnakan bimbingan untuk anakku Aisyah Nurhayati binti Ahmad Farhan Fauzan dalam sebelas tahun perjalanan hidupnya dalam perjuangan agama Allah SWT.  Setengah usianya telah ia jalani dari satu makhad ke makhad yang lain, tiga tahun di Nurul Amanah, tahsin Alquran di Nurul Iman, satu tahun di Amtsilati Darul Falah, empat tahun di Khadijah Islamic School dan tiga tahun di KMI Alkautsar.  Kini saatnya bimbingan itu saya pindah tangankan pada Ustaz Muhammad Fadillah bin Abdul Azis Karim, mohon kiranya diterima dengan sepenuh keikhlasan hati dan jiwa Ustaz Fadillah.  Kekurangan anak kami tentu sebagai insan sangatlah banyak, kelebihannya yang sangat sedikit semata-mata adalah karunia dari yang Maha Pemurah.  Maka kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani hidup berumah tangga dalam naungan petunjuk Allah SWT dan RasulNya adalah kunci kebahagiaan dalam mengarungi samudera kehidupan ini.”

            Aku dan Nita sibuk membuat life streaming instagram.  Aku sebenarnya keberatan memenuhi permintaan mereka.  Pernikahan yang seba cepat ini seakan tak mau peduli pada perasaanku bahwa aku belum pantas menjadi seorang istri.  Bahwa aku masih ingin berbagi ceria dengan teman-teman.  Jujur aku bercita-cita menikah setahun setelah lulus kuliah.  Mungkin sekitar dua tahunan lagi.  Tapi takdir ini begitu memaksaku.

            Akad nikah dilafazkan antara ayah dan Kak Fadil dalam bahasa Arab yang fasih.  Mahar dua puluh enam gram emas sesuai usia Kak Fadil dan hafalan surat Arrahman.  Semua berjalan lancar.  Suara merdu Kak Fadil dalam membacakan Arrahman seakan menghipnosis para tetamu.  Aku yakin bunda dan ayah menjadi orang tua yang paling bahagia.  Sedangkan aku?  Entah perasaan apa yang menguasai hatiku.  Di sudut masjid di antara tetamu pria sosok.  Aku begitu kaget dan tidak menyangka Harris datang bersama Lutfia?  Kalau aku tidak memakai niqab tentu keherananku akan diketahui semua orang.  Selama ini Lutfia yang mencomblangi aku dengan Harris dan mereka jadian?  Dalam hatiku aku membenarkan penilaian Tante Prita.  Haruskah aku mempertahankan namanya dalam hatiku?

***

            Malam pertamaku tepat di malam Jumat.  Selepas tarawih di Masjid Baitul Ihsan dengan Imam suamiku sendiri, Kak Fadil.  Aku begitu menikmati suaranya yang merdu.  Kata orang-orang keistimewaan yang banyak membuat gadis jatuh cinta pada Kak Fadil adalah suaranya.  Perlahan ada getaran halus dalam hatiku saat imam dalam keluargaku juga menjadi imam salatku.  Malam ini untuk pertama kalinya aku merasa beruntung dikhitbah dan dinikahi oleh seseorang yang terpandang.  Dikenal banyak orang dengan ketawadhuan dan kesalihannya.  Aku menyaksikan sendiri penghormatan orang-orang padanya.

            Selepas Tarawih, Kak Fadil mengisi kajian.  Meskipun hanya di hadiri karyawan yang tinggal di kompleks perusahaan dan sebagian masyarakat sekitar, aku bisa merasakan penghormatan mereka pada Ustaz Fadil.  Ustaz muda dengan kedalaman ilmu yang dia miliki bisa aku dengar dari kematangannya menyampaikan kajian. 

            Aku tiba-tiba malu pada diriku sendiri.  Betapa tidak mampunya aku mensyukuri nikmat yang Allah datangkan bertubi-tubi.  Berkah dari kesalihan ayah dan bunda yang memperjuangkan pernikahanku dengan Kak Fadil.  Puasa bunda, salat malam bunda, ibadah-ibadah ayah yang tulus mereka tujukan untuk kebahagiaanku.

            Mala mini juga aku langsung menempati rumah dinas yang disediakan perusahaan.  Jauh lebih kecil dari rumah ayah dan bunda, tapi sangat luas untuk kami tempati berdua saja.

            “Amu, maafin aku dengan segala keterbatasanku, memindahkan Amu dari istana megah ke gubuk mungil ini.”  Sapaan mesra itu mendesirkan dadaku.  Mungkin rona merah membara di sana.

            “Ana uhibbuka lillah, Kak.  Terimakasih udah tulus mencintaku, mau mengkhitbah aku dan mengucapkan akad agung hari ini.  Kakak yang telah menyelamatkan hati aku dari segala kepongahan tentang cita-cita, kemandirian, organisasi kampus.  Aku yakin ada keindahan lain selain impian-impianku itu.”

            “Amu, aku tidak akan pernah memutuskan cita-cita Amu, bahkan kita akan saling bantu, bekerjasama untuk cita-cita kita bersama.”  Aku merasakan kehangatan dan ketulusan ucapannya.  Aku ingin tenggelam dalam pelukannya, dada bidang itu akan menjadi tumpuan segala keluh kesahku setelah aku lepas dari bunda.

            “Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang hendak engkau dustakan, wahai Aisyah.”  Teguran itu menghentak dadaku melecut kesadaranku.

NUBAR RUMEDIA_SANG PENGGODA_KHADIJAH HANIF_DAYYUTS

DAYYUTS (Khadijah Hanif)

 

            “Sabarlah, Hardi.  Istrimu dulu ketika kamu minta dari orang tuanya, dalam usia yang masih terlalu muda.  Ia perlu waktu untuk menjadi dewasa dan mengerti kedudukannya sebagai istri.  Kamu dulu yang keukeuh menginginkan dia.  Bukankah bapak almarhum sudah mengingatkanmu waktu itu.  Bahkan kamu bilang tidak mengapa meski harus memanggul batu kemanapun kamu pergi asalkan bisa menikahi Renya?”  Gatot menasihati Hardi, adiknya,  dengan penuh kasih sayang dan rasa prihatin.  Ingatan tentang awal proses pernikahan diharapkan menjadi perekat paling efektif saat rumah tangga dilanda prahara. 

            “Aku sudah kelewat sabar, Mas.  Ini sudah ketiga kalinya ia membawa pria yang bukan muhrim.  Mereka bermaksiat di atas tempat kami bercinta.”  Mendung menyaput wajahnya, makin keruh.

            “Kamu tahu dari mana kalau istrimu lelah bermaksiat pada Allah dan juga padamu sebagai suaminya?  Dalam syariat, tuduhan berzina itu harus nyata, ada yang menyaksikan kejadiannya.”  Pembelaan Gatot pada Renya cukup mengena, perlahan Hardi menepis amarah yang sedari tadi sudah di ujung lisannya. 

            “Didiklah dia tapi jangan pula kamu hilang cemburu dan rasa marah atas perbuatan Renya,” tegas Gatot.
            Rencana untuk mengembalikan Renya pada orang tuanya akhirnya urung.  Hardi  mencoba menerima takdir yang menimpanya.  Serangan dari tetangga mulai memekakkan telinga.  Akan tetapi beribu alasan telah ia siapkan untuk membela Renya.

            Suatu ketika Renya dan Surya, seorang pria warga kampung sebelah ditemukan tinggal berdua di rumah sementara Hardi pergi ke kantor.  Masyarakat yang gerah dengan kenyataan ganjil ini segera bertindak.  Beberapa tokoh masyarakat dan pejabat desa mempertanyakan keberadaan Surya sebagai orang ketiga di rumah Hardi.

            “Pak Hardi, mohon maaf, kami selaku tokoh di kampung ini, merasa keberatan dengan keberadaan Surya di rumah Bapak.  Memang itu semua wewenang Bapak tapi kami berkewajiban turut mendidik seluruh warga untuk menjaga perikehidupan yang berlandaskan agama dan budi pekerti mulia.  Adat ketimuran juga harus kita lestarikan.  Kebebasan tanpa dasar agama dan keluhuran budi akan merusak tatanan masyarakat kita, Pak.”  Pak Haji Saleh memulai perbincangan dengan bijak dan hati-hati.

            Hardi menyadari arah perbincangan para tamunya itu.  “Kalau semua keputusan didasarkan pada prasangka, maka semua orang akan dengan mudah diperlakukan sesuai sangkaan kita.  Bukti yang paling nyata adalah pembelaan saya.  Mana mungkin saya sebagai seorang suami diam bahkan membela istri yang telah berkhianat?”  Senjata pamungkas yang paling ampuh untuk membebaskan Renya dari serangan apapun terkait

            Berjalannya waktu,  keluarga Hardi makin hangat dengan hadirnya dua anak laki-laki yang lucu  menemani mereka, memeriahkan suasana,   Hardi makin mudah menimbun semua kenyataan terkait kenakalan istrinya.

            Kasak-kusuk di luar sana makin santer.  Renya dianggap telah memelihara seorang gigolo.  Lelaki bayaran untuk memuaskan nafsu birahi perempuan gatal.

            Tidak sedikit laki-laki yang jatuh ke pangkuannya.  Korbannya pun tak dipilih-pilihnya, tetangga, kakak ipar, juga kerabat dekat harus siap jika suatu saat terjerat manteranya.  Mantera itu ia dapat dari seorang kakek tua yang siap dijadikan konsultan pemuas nafsunya.

            “Mbah, saya minta bagaimana caranya supaya suami saya diam tak berdaya dengan kelakuan saya.  Bahkan ia akan membela saya dan selalu menganggap perbuatan saya benar, Mbah,” pinta Renya pada sesosok tua berambut putih tergerai.  Wajahnya legam kehijauan  Sebentuk ikat kepala melingkar, menutupi dahi lebarnya.  Kepulan asap dari bakaran dupa dan temaran lampu kemerahan menambah suasana magis di ruangan itu.

            “Sangat mudah, anakku.  Tambahkan setetes air senimu pada minuman atan makanan yang kau hidangkan untuknya.  Maka dia takkan bisa berkutik.  Ia akan berbuat sesuai dengan kemauanmu, seperti kerbau yang dicocok hidungnya.”  

            “Baiklah, Mbah, aku akan segera mencobanya.  Ini uang buat Mbah, kalau ternyata resep Mbah nggak manjur, aku bakalan menambah uang upah ini dua kali lipat.”  Renya mengambil segepok uang kertas satu juta rupiah.

            Orang tua di depan Renya tersenym lebar,  gigi drakulanya tampak runcing, selebihnya gigis terkikis usia.

            Bukan Renya kalau tidak nekat dengan segala ambisinya.  Bukan hanya suami yang ingin dia takhlukkan tetapi juga kedua anaknya, bahkan siapapun yang berani makan atau minum di rumahnya.  Setetes air najis itu telah menjadi racun pemerdaya akal sehat dan pertimbangan kebijakan.

            Beruntung Hardi adalah tipe laki-laki saleh.  Kesabaran dan kesungguhannya menjaga keutuhan rumah tangan menjadi teladan yang tak pernah bisa dilupakan orang.  Ada resep rahasia yang ia pegang demi keutuhan rumah tangga.  Sebagaimana Renya yang berkonsultasi ke orang tua, Hardi pun berusaha mendapat solusi dari seorang ajengan.

            “Ajengan, saya punya masalah yang cukup berat.”  Hardi mengawali rangkaian cerita panjangnya.

            “Tak perlu kau ceritakan semua, aku sudah tahu apa yang ada dalam lubuh hatimu.”  Seseorang berwajah bersih penuh ketenangan.   Jenggot dan rambut kepalanya  belum banyak beruban sehingga ia Nampak jauh lebih muda dari umur sebenarnya. “Istri hideup telah jauh melangkah, melanggar banyak hal yang dilarang Gusti Allah.  Nafsu terhadap harta, syahwat birahi dan kedudukan telah membutakan dirinya dari jalan yang Gusti Allah ridhoi,” lanjutnya tanpa bisa dibantah sedikitpun oleh Hardi.  Semua perkataan yang diucapkan ajengan itu sembilan puluh sembilan persen benar.  Ia makin yakin bahwa ia pergi ke tempat yang tidak salah untuk menyelamatkan rumah tangganya.

            Ajengan itu membekalinya pegangan berupa amal zikir yang harus diamalkannya.  “Amalan ini harus juga diiringi dengan kesempurnaan amalan wajib.  Sholat lima waktu di masjid berjamaah.  Ikuti juga dengan puasa Senin Kamis.  Puasa ini akan membantu membersihkan sihir najis yang terlanjur mengalir bersama aliran darah hideup.  Saya ingin pesan pada hideup.  Jangan sampai sifat dayyuts itu membuat istrimu tergelincir jauh pada jurang dosa dan maksiat.”

            Semua amalan dari Ajengan Mukmin dijalani Hardi dengan tekun dan istikamah.  Hasilnya perlahan-lahan bisa dirasakannya.  Rumah tangganya tetap adem, jauh dari percekcokan.  Ia niatkan semua ini untuk keselamatan lahir batin anak-anaknya.  Mereka harus tumbuh normal, memiliki masa depan dan dapat meraih cita-citanya.  Ia tak peduli dengan kelakuan Renya yang makin menjadi.  Kedua anaknya adalah hiburan sejati.

            “Bapak, alhamdulilah, aku diterima di universitas favorit di Jogja.  Aku ngambil fakultas pertanian.”  Kabar gembira dari Purnama, putra sulungnya, ia terima dengan sujud syukur yang dalam.  Ia sering berpikir dan khawatir bila contoh buruk dari istrinya mendominasi sikap dan sifat anak-anaknya.

            Kabar membahagiakan  selanjutnya datang satu tahun kemudian saat anak keduanya diterima di Akademi Militer tempat Tentara Nasional Indonesia mendapat gemblengan untuk menjadi para pembela tanah air. 

            Meskipun anak-anak mereka sudah dewasa, meraih kesuksesan dan membangun rumah tangganya masing-masing, Renya belum juga menemukan titik balik.  Seakan  taubat itu begitu jauh dari jangkauannya.  Bayangkan di uasia kepala lima dan sudah memiliki cucu, kebiasaan judi dan pergaulan dengan orang-orang setipe dengannya masih tetap berlanjut.  Pekerjaannya hanya berjalan-jalan, mengayuh sepeda bersama, keluar masuk fitness untuk ngegym.  Yang paling membahayakan dirinya adalah kebiasaan berjudi. 

            Gaya hidup Renya telah menjeratnya pada lingkaran riba yang melilit dirinya.  Tawaran untuk meminjam uang di bank tidak mampu Renya tolak karena penghasilan dari suaminya telah habis untuk memenuhi nafsunya.

            “Ibu, kamu kenapa berani-beraninya meminjam uang bank tanpa izin aku?  Rumah ini terancam kena sita kalau kita tidak mampu mencicil pokok berikut bunganya.”  Hardi marah besar terhadap kelakuan Renya kali ini.

            “Gampang, Pak, anak-anak udah pada dewasa.  Kita bisa tinggal bersama mereka.  Bapak sama Purnama dan aku bisa tinggal sama Reza.”  Renya selalu menjawab enteng kerisauan suaminya.

            Hardi hanya bisa mengurut dada.  Ada rasa tak berdaya menghadapi tingkah istrinya, ada rasa bersalah tak mampu mendidiknya untuk menjadi wanita salehah.  Semua berkecamuk menjadi satu.  Tak satupun kebiasaan buruk Renya lepas dari sikap dan sifatnya.

            “Aku sudah tidak kuat dengan kelakuan Ibu.  Malu, Pak.  Mau ditaruh di mana muka kita.  Semua tetangga sudah tahu dan melihat akibat kebiasaan buruk ibu.”  Purnama menyalahkan ayahnya yang tidak mampu membimbing ibunya kea rah yang lebih baik.

            Beberapa hari yang lalu Purnama baru saja menebus rumah yang di segel pihak bank.         Belum sampai satu tahun setelah Purnama menebus rumah itu, segel  serupa sudah tertera lagi di pintu depan rumah malang itu.

            “Innalillahi, Ibu, setan mana yang telah menggodamu, rumah ini sudah disegel lagi?” gumam  Reza saat berniat mengunjungi dua orang tuanya itu.  “Apakah kiriman dua juta sebulan yang Reza berikan sebagai bakti Reza masih belum cukup?” batin Reza berkecamuk.  Kali ini Reza bersedia menebus rumah itu.  Namun seluruh surat-surat ia amankan supaya tidak dijadikan agunan lagi oleh Renya.

            Kini wanita penggoda itu pergi entah kemana.  Ada rasa sedih di hati Hardi, Purnama dan Reza.  Bagaimanapun ada kenangan indah yang pernah mereka ukir bersama.  Di balik segala kekurangan Renya, ada ketulusan kasih sayang yang ia bagi untuk anak-anaknya bahkan ia paling senang berbagi pada kerabatnya.

            Sementara itu warga kampung terutama kaum Hawa merasa lega, Allah SWT telah menjauhkan Sang Penggoda dari kampung halaman mereka. 

Glosarium:

Hideup            =          bahasa halus bermakna kamu (bahasa Sunda)                       

Keukeuh          =          bersi keras (bahasa Sunda)     

Dayyuts           =          sifat suami yang hilang cemburu atas maksiat yang dilakukan istri                                        (bahasa Arab)                                                 

MANAJEMEN KEUANGAN KELUARGA SATU PINTU

(Khadijah Hanif)

 

            Uang memang bukan segalanya, tapi pada kenyataannya segala memerlukan uang.  Kalimat ini sering kali kita dengar dan siapapun mengakui hal ini.  Oleh karena itu tidak semestinya kita salah dalam menyikapi dan mengelola uang.  Apalagi saat kita sudah berumah tangga.  Mengatur keuangan menjadi satu keniscayaan.

            Masing-masing keluarga punya gaya dan cara tersendiri dalam mengelola keuangannya.  Tipe-tipe itu antara lain:

1.  Semua uang dipegang istri, anggota keluarga mendapat jatah kebutuhan harian

2.  Semua uang dipegang suami, anggota keluarga mendapat jatah kebutuhan harian

3.  Semua anggota keluarga memegang uang sesuai jatah dan keperluannya masing-masing dalam jangka waktu tertentu, perpekan, persepuluh hari, perdua pekan, dst.

Dari ketiga tipe, semua memiliki sisi positif dan negatifnya masing-masing, sesuai dengan kecenderungan karakter dari anggota keluarga.   

            Tipe pertama cocok bila seorang istri panda mengatur keuangan keluarga dan bertindak sebagaimana bendahara keluarga.  Pada tipe ini, istri harus tahu semua sumber keuangan yang bisa menambah kas keluarga.  Istri punya kreatifitas untuk menambah keuangan dan menggunakannya dengan sebaik mungkin.

            Sebaliknya, tipe kedua sangat cocok bila suami adalah seseorang yang pandai mengelola keuangan.  Akan tetapi bagi keluarga dengan suami sebagai tulang punggung keluarga dan istri murni sebagi ibu rumah tangga, tipe ini akan terlalu membenani suami.  Ia harus mencari nafkah sekaligus juga manajer keluarga. 

            Tipe ketiga cocok untuk melatih semua anggota keluarga pandai mengatur uang jatah perbulannya masing-masing.  Tipe ini sangat rawan kebocoran terutama bila masing-masing kurang mampu mengendalikan keinginannya.  Saat pola ini diterapkan, dampak positif negatifnya harus dievaluasi oleh seluruh anggota keluarga sebagai bentuk pendidikan.

            Kiat hebat mengatur uang belanja ini ditujukan untuk keluarga yang punya tipe keluarga boros.  Baik itu boros dalam berbelanja maupun dalam bersedekah.  Adakah bersedekah masuk dalam ranah sifat boros?  Tentu saja bisa, yaitu apabila sedekah sudah mengganggu pos penting dan wajib ada dalam pengeluaran rumah tangga. 

            Allah dan RasulNya  mengingatkan kita bahwa sebaik-baik urusan berada di pertengahan, tidak terlalu boros dan tidak terlalu hemat, dalam urusan apapun.  Termasuk bersedekah, semua ada takaran dan aturannya.

            Manajemen keuangan keluarga satu pintu pada keluarga dengan karakter personal yang cenderung boros akan sangat mengurangi kebocoran keuangan.  Keluarga tidak akan kehabisan stok uang kebutuhan hingga akhir bulan.

            Nah, berikut ini langkah penting yang harus diambil dalam mengelola keuangan terpusat:

1.  Menentukan bendahara keluarga. 

            Bendahara keluarga haruslah orang yang paling hemat diantara seluruh anggota keluarga, disiplin dalam pengaturan dan pencatatan keuangan.  Selain itu juga sebaiknya dipilih yang memiliki beban tidak terlalu berat agar tidak terjadi penumpukan beban.  Bahkan seandainya dalam keluarga ada anak yang sudah dewasa dan dapat mengemban amanah, ia bisa ditunjuk menjadi bendahara keluarga

2.  Membuat pos-pos pengeluaran, antara lain:

a.     Pos Birrul Walidain

        i.    hadiah atau dana kebutuhan untuk orang tua

        ii.   hadiah atau dana kebutuhan untuk mertua

        Dana ini menjadi pembuka pintu keberkahan atas ketaatan pada perintah Allah SWT untuk selalu  berbuat baik pada kedua orang tua.

b.     Pos infak, zakat dan sedekah (2,5%-10%)

i.    infak, zakat dan sedekah sewaktu waktu dalam jumlah besar

ii.   infak, zakat dan sedekah harian

c.     Pos pengeluaran rutin:

i.     kebutuhan pendidikan

ii.    kebutuhan harian anggota keluarga (uang saku)

iii.   listrik, air, pulsa, wifi

iv.   transportasi, mobilitas dan pemeliharaan kendaraan

v.    belanja dapur harian (bahan makanan segar)

vi.   belanja dapur bulanan

vii. belanja toileters (sabun mandi, sabun cuci, shampoo, alat dan bahan kebersihan lainnya)

d.     Pos pengeluaran tak terduga

i.    dana kesehatan

ii.   dana kebajikan (kebutuhan yang bersifat sumbangan kekeluargaan seperti pernikahan, khitan, kelahiran, dll)

e.     Pos dana investasi (menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung)

3.  Mengadakan evaluasi . 

            Dalam pertemuan keluarga, keuangan bisa dibahas secara rutin untuk mengecek kesesuaian antara rencana anggaran dan realisasinya.  Diskusi ini juga dilakukan untuk menjadi media komunikasi kebutuhan anggota keluarga yang mungkin saja bersifat tak terduga. 

Evaluasi juga sangat penting untuk menampung ide anggota keluarga terkait peluang penambahan penghasilan dan usaha yang dijalankan anggota keluarga.  Bahkan sebagai latihan enterpreuner, anak-anak dapat dibekali kemandirian dan keinginan berjual beli.  Banyak hal positif dari latihan mandiri ini, yaitu kesadaran pentingnya memutar keuangan agar bertambah dan berkah. 

Evaluasi keuangan bisa diselipkan sebagai salah satu item dalam perbincangan santai keluarga, bukan sebagai hal pokok layaknya organisasi pada sebuah kantor atau lembaga.  Sehingga suasana hangat tetap bisa diciptakan tanpa berkesan mengaudit keuangan keluarga.

4.  Melakukan tindak lanjut.

            Tindak lanjut sangat tergantung pada kondisi keuangan keluarga.  Bila dijumpai ada devisit atau kekurangan maka kesepakatan mengencangkan ikat pinggang bisa dilakukan dengan mengurangi pos-pos gemuk yang bisa dihemat.  Apabila  ada problem tak terduga seperti kehilangan, maka perlu kesepakatan anggota keluarga untuk mengeluarkan uang tabungan.  Apabila terdapat kebutuhan tak terduga dalam jumlah besar, maka perlu merencanakan bisnis keluarga misalnya.

            Semua perbincangan keluarga ini akan bisa menjadi jembatan positif dalam rangka mengokohkan ekonomi keluarga.

            Bagi keluarga dengan penghasilan tetap, perancangan tentang rencana pengeluaran mungkin akan lebih mudah daripada keluarga dengan penghasilan tidak tetap.  Terutama tentang ketersediaan seluruh dana di awal bulan.  Akan tetapi jangan kecil hati, sistem pencatatan keluar masuknya uang dengan rapi akan menutupi keperluan sesuai skala prioritas.

            Selamat menikmati manajemen keuangan keluarga!  Semoga keluarga-keluarga kokoh dapat dibangun dengan pengorganisasian yang baik.  Pengelolaan keluarga meliputi segi  keuangan, pembagian peran dalam keluarga, proses saling membantu dalam perbaikan diri, dll.

            Bukankah Rasulullah penah berpesan agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah.  Bukankah Allah lebih mencintai hambanya yang kuat?

Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Annisa ayat 9:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Bukankah generasi yang lemah sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah.  Lemah iman, lemah fisik, lemah akal, lemah kemauan, lemah ekonomi, semua itu tidak diharapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.


 

BE HERO FROM ZERO

(Khadijah Hanif)

 

            Aku mengenal baik keluarga besar mereka, lebih dari para subscriber yang menggandrungi keluarga itu.  Youtuber paling popular di tanah air bahkan merambah Asia.  Mereka adalah keluarga hebat dengan kerja tim yang solid dan penuh disiplin. Satu atap dengan tigabelas anggota keluarga.  Ayah, ibu dan sebelas anak. 

            Suatu hal yang fantastik di zaman ini,  di mana orang takut memiliki banyak anak dengan alasan finansial.  Keluarga ini seakan menjadi bukti bahwa keyakinan dan iman mengatasi segala kekhawatiran yang tak beralasan untuk membatasi jumlah anak.  Keluarga besar Samudra Clan-13 atau SC-13 adalah keluarga contoh bagaimana seseorang bisa menjadi besar dengan menguasai teknologi informasi dan digital di era milenial ini.

            Salah satu yang menonjol dari mereka adalah putra sulungnya, seseorang tanpa pengalaman sekolah formal, belajar seumur hidup di universitas kehidupan, tiba-tiba kini menjelma menjadi milyader di usia menjelang dua puluh enam tahun.  Lalu apakah perjuangan mereka semudah membalikkan telapak tangan?  Tentu tidak.

            Aku mengenal mereka sejak tahun 1989 di sebuah kampus ternama di Indonesia, Samudra seorang anak muda cerdas, berdialog denganku tentang Islam.  Kami belajar bersama penuh kasih sayang dan rasa persaudaraan dalam naungan kalimat tauhid “lailaha illallah”.  Kedekatan itu membuatku seperti anak angkat bagi keluarga besar Samudra.

            “Syarat seseorang untuk meraih gelar takwa itu harus memiliki guru mursyid.Guru yang mendapat petunjuk Allah SWT, sangat besar rasa takut dan cintanya pada Allah.  Kehidupannya mencontoh sunah Rasulullah secara kaffah.”

            “Adakah seseorang seperti itu, Ustaz Ghani?” tanyanya dengan raut muka serius.

            “Tentu ada karena Allah SWT selalu memperbaharui agama-Nya tiap seratus tahun ada satu teladan untuk dijadikan cermin bagaimana mengamalkan Islam,” jawabku penuh keyakinan.

            Di sinilah hijrah seorang Samudra menjadi murid yang taat pada guru bermula.  Hingga keberkahannya terasa oleh seluruh anggota keluarga.  Jiwa kepemimpinannya sebagai putra sulung mampu menggerakkan seluruh anggota keluarga untuk berguru pada satu mursyid, Abuya Ashari Attamimi.  Kecintaan itu pula yang membuatnya begitu dekat dengan mursyid, mendapat kepercayaan memimpin komunitas zikir kami.  Ia telah jauh melangkah meninggalkanku.      

            Sebagai komunitas zikir, kami menerapkan sistem pernikahan Islami tanpa pacaran.  Samudra pun mendapatkan jodoh lebih awal daripada aku.  Seorang akhwat berkarakter, cerdas dan mandiri kami pertemukan dengan Samudra, namanya Clania Hafiz.

            Pernikahan yang berkah ini berlangsung lebih dari seperempat abad dan lahirlah sebelas putra-putri yang cerdas dan lucu.  Berpuluh tahun Samudra hidup dalam komunitas zikir kami, sementara aku hidup di luar komunitas.  Meskipun begitu aku tetap mengamalkan zikir yang menjadi pengikat kami.

            Sejak aku hidup di luar komunitas, aku tidak pernah berjumpa dengan Samudra dan keluarganya.  Akan tetapi aku terus mengikuti perkembangan komunitas kami dari jauh.  Juga perkembangan sahabat terbaikku itu, Samudra Buana. Ibarat kata pepatah jauh di mata dekat di hati.

            Sebagai pendakwah, Samudra, Sang Nahkoda selalu mendidik anak-anaknya dalam ketegasan dan suasana yang kental dengan nuansa agama.  Sesuatu yang tidak pernah ditinggalkannya adalah salat berjamaah lima waktu dan zikir pengikat komunitas kami.  Satu hal yang ia terima dari mursyid dan terus dikekalkan hingga kini adalah pembagian tugas dalam keluarga dan pendidikan kemandirian.

            Sejak kecil semua anggota keluarga harus berusaha menjual sesuatu, melaporkan hasil jualan mereka dan memberi reward sesuai hasil yang mereka bawa.  Perlahan tapi pasti, kesebelas anaknya berkembang menjadi enterpreuner sesuai bakat mereka masing masing.  Pembagian tugas di rumah telah mereka kembangkan menjadi ladang usah dengan pangsa pasar yang lebih luas.  Laundry, chatering, pencucian mobil dan cleaning service, penataan taman dan arsitektur landscape. Semua itu menjadi pundi-pundi uang buat keluarga SC-13.

            Kepemimpinan Samudra menurun pada putra sulungnya.  Lukman Ashari, anak kecil yang dulu aku gendong dan turut aku asuh itu, telah menjadi yang terbaik di dunianya.  Youtuber paling laris, bintang iklan dan selebritis.

            “Lukman, nanti kalau sudah besar pingin jadi apa, Nak?” tanyaku padanya suatu hari.

            “Jadi bintang di langit, Ami,” jawabnya polos khas anak-anak.

            “Wah, banyak sekali bintang-bintang itu.  Bintang yang mana, Lukman?”

            “Yang paling besar dan terang,” ungkap Lukman kecil dengan nada riang.

            “Semoga cita-cita Lukman bisa tercapai.  Lukman berdoa pada Allah, ya.  Ami yang mengaminkan.”

            Lukman kecil menengadahkan tangan mungilnya.  Doa anak tanpa dosa dan masih polos itu mengalir tulus.

            Perjalanan hidup mereka tidak seindah hasil yang kini mereka nikmati.  Ada satu fase kehidupan yang harus mereka lalui.  Titik nadir yang membuat mereka menjadi zero man with nothing.  Yaitu saat Sang Ayah mendapat didikan dari mursyid.  Semua atribut kepemimpinan di komunitas zikir dilucuti.  Kehidupan seakan berputar seratus delapan puluh derajat.  Kesulitan demi kesulitan melanda.  Keperluan hidup yang awalnya bisa dipenuhi dengan duduk di balik meja, kini harus didapat dari tiap tetes keringat dengan jumlah anak yang sangat banyak.

            Dengan terus bersandar pada Allah SWT dan bimbingan rohani dari mursyid, Samudra memutuskan hidup di luar komunitas.  Bukan untuk memutuskan berkah mursyid tapi untuk menata keluarga agar semua anak-anaknya bisa terurus dengan baik. 

            Keluarga SC-13 merangkak dari nol, memulai usaha dan memasarkan dengan penuh kesabaran.  Awalnya mereka terpaksa berjualan apa saja untuk menyambung hidup.  Modal mereka kumpulkan hingga Sang Ayah memiliki counter kartu perdana.  Usaha berkembang menjadi counter HP.  Lukman Ashari sebagai kapten banting setir dengan jual beli mobil bekas.     Era informasi dan teknologi turut mendorong usaha Lukman Ashari.  Prinsip pemasaran dengan memperkenalkan barang jualan pada sebanyak mungkin orang benar-benar dikuasainya. Media social, youtube, facebook, tweeter, instagram semua menjadi media promosi yang sangat murah bahkan bebas biaya.  Di sinilah usahanya terus berkembang.

            Tidak puas dengan apa yang didapat, keluarga SC-13 bertekat membuat Channel Youtube, membuat dan mengunggah vlog dengan konten yang marketable.  Jumlah anggota keluarga yang gemuk memberi berkah tersendiri bagi SC-13.  Betapa tidak,  tiga belas anak tanpa pendidikan formal telah mampu menunjukkan bakatnya.  Mereka lebih pandai daripada mereka yang mengenyam pendidikan formal.  Pandai dalam mengelola bakat menjadi tontonan yang menarik untuk dikonsumsi.

            Berkat kepiawaian Lukman Ashari lebih dari duapuluh juta subscriber tersedot memperhatikan videonya.  Sebutan youtuber termuda dan terpopuler di Asia Tenggara telah mengantarkannya menjadi milyader. 

            Aliran dana mengalir deras setiap bulannya ke Channel SC-13, ClanSam, Lukman Ashari, Syakila, Syaula, Faqih, Syafiq, Medina, Faris, Zaid, Mariam, Tazaka dan Asad.  Semua memiliki subscriber yang bervariasi dengan pemilik subscriber terbanyak adalah Sang Kapten, Lukman Ashari.

            Ketenaran Lukman Ashari membuat banyak perusahaan menjalin kerjasama dengannya sebagai bintang iklan.  Sebuah smartphone, kartu perdana hingga produk kopi mencoba menaikkan penjualan melalui kehadiran Lukman.  Sekali lagi rezeki mengalir menuju kantongnya.

            Melihat kemajuan keluarga samudra aku turut berbangga dan berbahagia.  Meskipun hanya sepercik air yang dibawa burung gelatik untuk memadamkan api Namrud, aku terus berdoa.  Harapan tulusku, aku bisa kembali berjuang bersama sahabat terbaikku itu suatu saat nanti seperti saat pertama kami berjumpa di tahun 1989.

            Melalui semilir hembusan angin menjelang senja, aku menitipkan salam ridu dan ukhuwah untuk mereka.  Khusus untuk Lukman Ashari, aku bangga dengan kebesaran nama yang Allah karuniakan padamu, Nak.  Jadilah derap langkahmu sebagai generasi milenial adalah derap langkah kemuliaan.  Ada keteladanan yang kau lukiskan bersama jejak langkah kakimu.  Tinta emas sejarah telah menorehkannya namamu dalam kanvas kehidupan. 

            Namun anakku, ada nama mursyid yang tersemat di belakan namamu, Ashari.  Jadilah engkau kebanggaan untuk mursyid kita.  Seandainya langkahmu tak seirama dengan derap langkah guru kita, aku ingin meraih tanganmu, menapaki jejaknya yang masih basah dan tampak nyata.  Tidakkan kau rindu kebersamaan kita di satu malam di bawah langit jernih penuh gemintang?

            (Dituturkan kembali oleh suami penulis dengan perubahan nama tokoh) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU SOLO V-KUMPULAN KISAH INSPIRATIF NUBAR AREA III

Dongeng Anak Ke-3 KISAH PAK PANDIR

MODUL SANGGAR SASTRA